KONSEPSI ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
HUBUNGANNYA MANUSIA DENGAN TANGGUNG JAWAB
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar pada
Semester Genap (2)
Dosen Pengampu : Idan Setiari, Drs., [Link].
Disusun oleh :
1. Abdullah Mubarok / NIM 7011220158
2. Alpin Gina Romdoni / NIM 7011220083
3. Kuswana / NIM 7011220027
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2023
ii
KATA PENGANTAR
Kurang biasa bikin ginian.
Ciamis, 04 April 2023
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang Penelitian...................................................................1
1.2 Masalah Penelitian..............................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................2
1.4 Metode Penelitian...............................................................................2
1.5 Manfaat Penelitian..............................................................................2
BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................3
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Kurang biasa bikin ginian
i
1.2 Masalah Penelitian
Bagaimanakah Konsepsi Ilmu Sosial Budaya Dasar Hubungannya
Manusia Dengan Tanggung Jawab?.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk menjelaskan Konsepsi Ilmu Sosial Budaya Dasar
Hubungannya Manusia Dengan Tanggung Jawab.
1.4 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi
kepustakaan. Studi kepustakaan adalah pengumpulan data dengan
melakukan penelahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai
laporan berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Penelitian ini
termasuk studi kepustakaan karena informasinya diperoleh dari buku-buku,
karya ilmiah, internet dan sumber-sumber lain.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat Teoretis
1. Mampu mengetahui Konsepsi Ilmu Sosial Budaya Dasar Hubungannya
Manusia Dengan Tanggung Jawab.
Manfaat Praktis
1. Pembaca dapat diharapkan mengetahui kesalahan-kesalahan berbahasa
pada Konsepsi Ilmu Sosial Budaya Dasar Hubungannya Manusia
Dengan Tanggung Jawab.
ii
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi seseorang atau
suatu kelompok terhadap tindakan atau keputusan yang diambil, serta akibat yang
ditimbulkan dari tindakan atau keputusan tersebut. Tanggung jawab dapat
diartikan sebagai suatu konsekuensi dari tindakan atau keputusan yang diambil, di
mana seseorang atau kelompok harus mempertanggungjawabkan tindakan atau
keputusan tersebut.
Beberapa ahli yang memberikan pengertian tentang tanggung jawab antara lain:
1. Peter F. Drucker, seorang filsuf manajemen, mendefinisikan tanggung jawab
sebagai kebutuhan untuk bertanggung jawab atas hasil, serta tindakan dan
keputusan yang diambil dalam mencapai hasil tersebut.
2. Stephen Covey, seorang penulis dan motivator, menjelaskan bahwa tanggung
jawab merupakan kemampuan untuk mengambil tindakan yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan, serta menerima konsekuensi dari tindakan tersebut.
3. James Reason, seorang pakar dalam bidang keselamatan dan manajemen risiko,
mengartikan tanggung jawab sebagai kemampuan untuk memahami dan
mengelola risiko yang terkait dengan tindakan atau keputusan yang diambil.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab merupakan
kewajiban untuk bertanggung jawab atas tindakan atau keputusan yang diambil,
serta menerima konsekuensi dari tindakan atau keputusan tersebut. Tanggung
jawab juga melibatkan kemampuan untuk mengelola risiko dan memahami akibat
dari tindakan atau keputusan yang diambil.
2.2. Hakikat Tanggung Jawab Menurut Levinas
a. Tanggung Jawab sebagai Fakta Terberi Eksistensial
Levinas telah meletakkan etika-tanggung jawab yang pada dasarnya
ia pahami sebagai tanggung jawab melalui dan bagi yang lain.
Tanggung jawab terjadi pada saat Wajah tampil dan sifatnya absolut.
Pada hakekatnya, tanggung jawab bagi Yang Lain bukan berasal dari
inisiatifku, melainkan menduhului kebebasanku. Tanpa diperintah
oleh pihak lain, saya sudah dan harus bertanggung jawab pada
Wajah yang tampil. Dengan kata lain, bertanggung jawab terhadap
i
orang lain bukanlah suatu perintah. Karena bukan suatu perintah,
maka saya tidak dapat mengelak dari tanggung jawab itu (Nuyen,
2000: 414).
Tanggung jawab sudah mendahului atau mendasari sikap
dalam bahasa sehari-hari kita sebut “tanggung jawab” (misalnya
tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak mereka). Levinas
menegaskan bahwa begitu seseorang menghadap, dan sebelum saya
sempat mengambil sikap terhadapnya - misalnya apakah saya
menerima baik, atau menolak orang itu - saya sudah dibebani
tanggung jawab atasnya. Tanggung jawab primordial itu baru
membuka kemungkinan untuk mau bersikap tanggung jawab atau
tidak mau (Magnis-Suseno, 2006: 86-87). Tanggung jawab sudah
diatributkan pada saya sebelum atau mendahului inisiatifku. Artinya,
tanggung jawab bukanlah suatu dorongan atau sikap altruistik.
Tanggung jawab adalah data pertama yang mendasari segala sikap
yang diambil. Tanggun jawab menjadi data paling mendasar dan titik
tolak segala sikap dan tindakan, yakni saya ada demi orang lain.
Jelaslah bahwa tanggung jawab yang dimaksudnya adalah tanggung
jawab yang bukan dimulai dari suatu komitmen dan keputusan, tanpa
prinsip (arche) dan asal usul (origin), karena tanggung jawab itu
berada di luar pengetahuan (Levinas, OTB, 1978: 10).
b. Tanggung Jawab Substitusional
Levinas memahami tanggung jawab atas perbuatan dan kesalahan
orang lain. Dalam konteks inilah, ia menggunakan istilah
substitution. Substitution berarti saya mengganti tempat orang lain
atau menjadi sandera bagi orang lain. Ia menunjukkan bahwa dalam
tanggung jawab primordial atas orang lain terjadi suatu substitusi
atau pergantian: saya mengambil tempat orang lain. Tanggung jawab
saya atas orang lain itu bersifat total. Total dalam arti saya
tersubtitusi bagi orang lain atau saya berada di tempatnya. Beban
orang lain menjadi beban saya, tanggung jawab orang lain menjadi
ii
tanggung saya. Artinya, tanggung jawab harus dipahami secara pasif,
yang mana tanggung jawab itu berlangsung di luar kebebasanku
(MagnisSuseno, 2006: 102-103). Dalam tanggung jawab saya
serentak menggantikan posisi orang lain pada saat yang sama.
Tanggung jawab seperti ini berbeda sekali dengan pemahaman
tanggung jawab secara ontologis (Bertens, 1985: 468). Tanggung
jawab tidak dapat diukur menurut kebebasan. Saya bertanggung
jawab atas apa yang tidak saya perbuat, malah atas apa yang
diperbuat orang terhadap saya. Saya bertanggung jawab atas
kesalahan dan kelalaian orang lain. Saya bertanggung jawab atas
kemalangan, kebiadaban atau luka dari orang lain. Bertanggung
jawab atas orang lain adalah bertanggung jawab atas luka dan
penderitaan orang lain (Nuyen, 2000: 414; Levinas, OTB, 1978: 10).
Dengan kata lain, saya menjadi sandera dan terdakwa (accesary to
his fault). Saat bertemu dengan orang lain, seluruh perhatian saya
dibajak oleh orang lain. Sebelum saya mengambil sikap atau aksi,
saya sudah tersandera. Tanpa berbuat apa-apa, saya sudah menjadi
terdakwa atau teraniaya oleh orang lain karena tanggung jawab
terhadapnya bersifat total. Karena itu saya mengambil tempatnya
atau saya menjadi substitutnya (Magnis-Suseno, 2006: 103). Levinas
menyebut tanggung jawab ini sebagai tanggung jawab substitusional
(substitutional responsibility).
2.2. Karakteristik Tanggung Jawab
c. Tanggung Jawab Bersifat Konkrete
Levinas memahami tanggung jawab sebagai tanggung jawab yang
bersifat konkret. Konkret dalam arti saya sebagai subjek yang
bertanggung jawab dan konkret dalam tindakan. Penulis telah
menguraikan sebelumnya bahwa salah satu hakekat tanggung jawab
bertumpu pada saya. Saya yang bertanggung jawab adalah saya yang
benar-benar konkret. Oleh karena itu arah tanggung jawab pun harus
bersifat konkret pula. Misalnya, Levinas menegaskan bahwa
i
tanggung jawabku pada Allah harus mendapat bentuk konkretnya
dalam tanggung jawabku kepada sesama, orang lain (Levinas,
TI,1979: 75). Saya yang konkret harus bertanggung jawab terhadap
orang lain secara konkret. Saya harus menunjang dan melengkapi
Kosmas Sobon 69 kehidupannya. Karena orang lain itu mewahyukan
diri sebagai yang melarat, miskin, telanjang dan lapar, (Levinas, TI,
1979: 75), maka saya harus mengambil sikap tanggung jawab
atasnya dengan seluruh keberadaannya. Saya tidak mungkin tinggal
diam atau membiarkannya begitu saja, karena dia selalu memohon
bantuan dari saya. Mengakui orang lain sebagai yang konkret berarti
saya harus mendekatinya dan memberikan sesuatu sesuai
kebutuhannya. Artinya, saya tidak boleh mendekatinya dengan
tangan kosong (approaching the Other with empty hands).
2.2.1 Pandangan Hidup Menurut Para Ahli
a. Menurut Machiavelli, pandangan hidup adalah sistem dalam
perlindungan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa di suatu
wilayah tertentu.
b. Menurut Thomas Hobbes, adalah segala cara untuk melindungi
kekuasaan pemerintah agar agar dapat bertahan mengatur rakyatnya.
c. Menurut Descartes, adalah intisari dari pemikiran manusia.
d. Menurut Karl Marx, adalah suatu media untuk mencapai
kesejahteraan dan kesetaraan bersama dalam masyarakat.
e. Menurut Francis Bacon, adalah semua gabungan pemikiran dan
panduan yang mendasari suatu konsep.
f. Menurut Prof. Lowenstein, adalah suatu gabungan pola pemikiran
dan kepercayaan, atau pemikiran bertukar menjadi kepercayaan,
penerangan sikap manusia tentang hidup dan kehadirannya dalam
masyarakat serta mengusulkan sesuatu kepemimpinan dan
menyeimbangkannya berdasarkan pemikirannya dan kepercayaan
itu.
ii
g. Menurut Napoleon, adalah semua pemikiran politik dari musuh-
musuhnya.
h. Menurut [Link] Shaleh, adalah buah dari pemikiran yang
mempunyai ide berupa konsepsi rasional, yang meliputi aqidah dan
solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Selain itu,
pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode
mempertahankan dan metode menyebarkannya ke seluruh dunia
untuk menjabarkan ide dan jalan keluarnya.
i. Menurut The American Heritage dan Dictionary of The English
Language, Fourth Edition, adalah sekumpulan ajaran atau
kepercayaan yang membentuk dasar-dasar politik, ekonomi, dan
sistem-sistem yang lain yang menggambarkan harapan, kebutuhan-
kebutuhan, dan tujuan sosial dari individu, kelompok, golongan atau
budaya.
j. Menurut Sastrapratedja, adalah kumpulan ide, pemikiran dan
gagasan yang berorientasi pada tindakan yang terstruktur dna
terorganisis menjadi suatu sistem yang teratur dan ideologi adalah
ilmu yang berkaitan dengan cita-cita, yang terdiri atas seperangkat
gagasan-gagasan atau pemikiran manusia mengenai soal-soal cita
politik, doktrin atau ajaran, nilai-nilai yang berhubungan dengan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
k. Menurut Random House Unabridged Dictionary, adalah sekumpulan
ajaran, cerita suatu bangsa, kepercayaan dan lain-lain yang menuntut
individu, gerakan sosial, institusi, golongan, atau kelompok yang
besar.
2.2.2 Pandangan Hidup Menurut Islam
Pandangan hidup yang baik menurut agama.
1. Mengenali diri sendiri.
Untuk menjalani hidup yang baik alangkah baik nya kita mengenali
diri sendiri bagai mana kepribadian kita, bagaimana sikap kita, apa
kekurangan dan kelebihan kita dan lain-lain.
i
2. Taat kepada Allah SWT.
Beribadah adalah tugas yang wajib bagi umat islam untuk
mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat, seperti sholat 5 waktu,
membaca al-quran, berpuasa dan menjauhi larangan-nya.
3. Mengikuti tata cara menjalani hidup dalam agama islam.
Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Qur’an, Hadist dan ijmak itu dan
bagaimana ketiganya itu mengatur kehidupan baik di dunia maupun di
akherat Selain itu juga kita mengerti untuk apa dan dari mana Al Qur’an,
hadist, dan ijmak itu. Sehingga dengan demikian mempunyai suatu
konsep pengertian tentang pandangan hidup dalam Agama Islam.
4. Melakukan validasi atas informasi dengan akal sehat.
Mengapa kita harus memvalidasi informasi yang kita dapat ? contoh
: islam radikal yang menjerumuskan umat-umat muslim. Merka
adalah korban dari paham radikalisme yang di buat oleh
sekelompok manusia untuk menghancurkan dan menjatuhkan
agama islam. Oleh karena itu kita wajib mencari tahu sumber
sebuah informasi yang kita dapat dan memahami nya dengan akal
sehat.
ii
BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1.1 Problematika Peradaban Pada Kehidupan Manusia
Peradaban adalah sebuah istilah yang digunakan untuk
menyebutkan bagian-bagian atau unsur kebudayaan yang dianggap
halus, indah dan maju. Konsep kebudayaan adalah perkembagan
kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang tercermin dalam
tingkat intelektual, keindahan, teknologi, spiritual yang terlihat pada
masyarakatnya. Kebudayaan bersifat dinamis. Oleh sebab itu ia dapat
mengalami perubahan atau pergeseran. Faktor utama dalam perubahan
ini adalah adanya [Link] adalah suatu fenomena khusus
dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global
dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran
teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi
proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting
kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan
permasalahan baruyang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya
memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Wacana
globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu
mengubah dunia secara mendasar.
Problematika peradaban di Indonesia yang timbul akibat
globalisasi diantaranya dapat dilihat dalam bidang bahasa, kesenian,
juga yang terpenting- kehidupan sosial. Akibat perkembangan teknologi
yang begitu pesat, terjadi transkultur dalam kesenian tradisional
Indonesia. Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan
berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian
tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional
yang perlu dijaga kelestariannya. Dengan teknologi informasi yang
semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi banyak alternatif tawaran
i
hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih
menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan
televisi, masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang
bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Hal ini
menyebabkan terpinggirkannya kesenian asli Indonesia.
Problematika peradaban yang penting lainnya adalah adanya
kemungkinan punahnya suatu bahasa di daerah tertentu disebabkan
penutur bahasanya telah “terkontaminasi” oleh pengaruh globalisasi.
Contoh kasusnya ialah seperti yang terjadi di Sumatera Barat. Di daerah
ini sering kali kita temukan percampuran bahasa (code mixing) yang
biasanya dituturkan oleh anak muda di Sumater Barat, seperti
pencampuran Bahasa Betawi dan Minang dalam percakapan sehari-hari
(kama lu?, gak tau gua do, dan lain-lain). Hal ini jelas mengancam
eksistensi bahasa di suatu [Link] ini, penyebaran internet telah
mengubah perhatian masyarakat terhadap pengaruh media baru. Salah
satunya mengubah persepsi masyarakat tentang media-media baru.
Lahirlah beberapa studi yang meneliti mengenai dampak penggunaan
media baru ini, hingga pada akhirnya disimpulkan beberapa dampak
yang dibawa oleh kemajuan teknologi [Link]
komunikasi bermediakan komputer berjalan seiring dengan tumbuh
suburnya nilai-nilai menyimpang yang dihasilkan oleh tangan-tangan
tidak bertanggung jawab. Sejauh ini, para ilmuwan menyimpulkan
bahwa kekerasan pada games di komputer memiliki pengaruh yang
sama kuatnya dengan tayangan kekerasan di televisi. Bahkan studi
tertentu mengatakan bahwa video games mempunyai kemampuan lebih
kuat untuk mempengaruhi anak-anak jika dibandingkan dengan
tayangan TV atau tindakan kekerasan yang sebenarnya disaksikan oleh
[Link] itu, pornografi yang marak di internet juga ikut
meracuni otak anak-anak. Pelakunya dengan sengaja memberi link dari
situs-situs yang biasanya dikunjungi oleh anak-anak ke situs-situs yang
seharusnya tak pantas dikunjungi anak-anak dibawah umur. Sedangkan
ii
pada orang dewasa, pornografi tidak menunjukkan hasil penyimpangan
yang signifikan seperti pada anak-anak apabila dilihat dari sisi
agresivitas dan perilakunya.
3.2 Hasil analisis
3.2.1
i
Daftar Pusaka
Colin,Davis, 1996,Levinas: An Introduction, Politer Press,Oxford.
Bakker, Anton, 2000, Antropologi Metafisik: Manusia Mengakui Diri dan Yang-Lain
sebagai Substansi dan Subjek. Yogyakarta: Kanisius. Bertens, K, 1985,Filsafat Barat Abad
XX,Jilid II Prancis,PT Gramedia,Jakarta. Brouwer, M, A, W,1986, Badan Manusia dalam
Cahaya Psikologi Fenomenologi, PT Gramedia,Jakarta. Buber, Martin, 1996,I and Thou,
Translated by Ronald G. Smith. The Cromwell Press,Wiltshire. Colin,Davis, 1996,Levinas:
An Introduction, Politer Press,Oxford. Dister, Nico Syukur, 1998,Filsafat
Kebebasan,Kanisius, Yogyakarta. Duncan, Roger, 2001, “Buber or Levinas? A Response to
Maurice Friedman,”Philosophy Today 45/24. 72 Jurnal Filsafat, Vol. 28, No. 1, Februari
2018 Dussel, Enrique,1999, “Sensibility and Otherness in Emmanuel Levinas,” Philosophy
Today 43/2. Hintze, Denna,. Knut Are Romann-Aas,. Hanne Kristin Aas, 2015, Between
You and Me: A Comparison of Proximity Ethics and Process Education. International
Journal of Process Education (June 2015, Volume 7 Issue 1). Lanur, Alex,1985,
“Hubungan Antarpribadi menurut Emmanuel Levinas,” Sekitar Manusia-Bunga Rampai
tentang Filsafat Manusia. diredaksi oleh Poespowardojo Soejanto dan K. Bertens.
Gramedia,Jakarta. Lechte, John,2001, 50 Filsuf Kontemporer,Terjemahan A. Gunawan
Admiranto,Kanisius,Yogyakarta. Levinas, Emmanuel, 1973, The Theory of Intuition in
Husserl’s Phenomenology. Translated by Andre Orianne, Northwestern University
Press,Evanston. ______, 1978, Existence and Existents, Translated by Alphonso Lingis,
Martinus Nijhoff Publishere,The Hague. ______, 1978, Otherwise Than Being or Beyond
Essence, Translated by Alphonso Lingis, Martinus Nijhoff Publishere, The Hague. ______,
1985,Totality and Infinity, Translated By Alphonso Lingis, Martinus Nijhoff
Publishere,The Hague. ______, 1985,Ethics and Infinity, Translated by Richard A. Cohen,
Dusquesne University Press,Pittsburgh. ______, 1987,Time and The Other. Translated by
Richard A. Cohen. Pittsburgh: Dusquesne University Press. Magnis-Suseno, Franz, 2000,
12 Tokoh Etika Abad ke-20: Emmanuel Levinas, Tanggung Jawab atas Orang Lain,
Kanisius,Yogyakarta. ______, 2005,Pijar-Pijar Filsafat,. Kanisius,Yogyakarta. ______,
2006, Etika Abad Kedua Puluh: Emmanuel Levinas, Panggilan Orang Lain,
Kanisius,Yogyakarta. Noddings, Nel,1984, Caring: A Feminine Approach to Ethics and
Moral Education (Berkley: University of California Press, 1984). This work will be cited as
Caring in the text for all subsequent references. Nuyen, T., 2000, “Levinas and the Ethics
ii
of Pity,” InternationalPhilosophical Quarterly 90/4. Kosmas Sobon 73 Sharon Todd,2001,
“Guilt, Suffering and Responsibility.” Journal of Philosophy of Education, Vol. 35, No. 4.
2001, page 598-614. [Link]/8539/1/document%2828%[Link]
Vasey, Craig R,1981, “Emmanuel Levinas: from Intentionality to Proximity,” Philosophy
Today Vol. 3 No. 4