1
SKRIPSI
TRADISI MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN
DI DESA SUNGAI NIPAH KECAMATAN JONGKAT
KABUPATEN MEMPAWAH
Program Studi Antropologi Sosial
Oleh:
Nur Kasih Prihartini
NIM. E1121161009
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
2
SKRIPSI
TRADISI MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN
DI DESA SUNGAI NIPAH KECAMATAN JONGKAT
KABUPATEN MEMPAWAH
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Antropologi Sosial
Program Studi Antropologi Sosial
Oleh:
Nur Kasih Prihartini
NIM. E1121161009
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
3
4
5
ABSTRAK
NUR KASIH PRIHARTINI : Tradisi Mandi Kembang Kaum Perempuan Di
Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah. Skripsi
Progam Studi Antropologi Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Tanjungpura Pontianak.
Penelitan ini didasarkan oleh kepercayaan sebagian Masyarakat Melayu yang
berada di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah, adanya
tradisi mandi kembang yang masih diyakini masyarakat lokal khususnya kaum
perempuan. Mandi kembang memiliki keterkaitan dengan konsep religi dimana
ada ritual yang dilakukan untuk melakukan mandi kembang yang berlandaskan
kepada kepercayaan serta doa-doa yang ada pada sistem religi masyarakatnya.
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan motivasi kaum perempuan
melakukan mandi kembang, bagaimana proses mandi kembang dan menganalisis
makna yang terdapat pada media yang digunakan pada proses mandi kembang.
Digunakannya teori ritual, dikemukakan oleh Turner yang berkaitan dengan
makna mandi kembang. Informan yang dipilih berupa paranormal, kaum
perempuan, tokoh agama dan masyarakat lokal, berdasarkan dari pengetahuan
serta pengalaman yang mereka miliki terhadap mandi kembang. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa tradisi mandi kembang merupakan salah satu tradisi yang
masih diyakini sebagian masyarakat sebagai salah satu bentuk usaha yang dapat
dilakukan manusia agar dapat mempermudah mencapai harapan yang
diinginkannya.
Kata Kunci: Mandi Kembang, Kaum Perempuan, Ritual
iv
6
ABSTRACT
NUR KASIH PRIHARTINI : Flower Bath Tradition for Women in Sungai
Nipah Village, Jongkat Sub-District, Mempawah Regency. Thesis Social
Antropology Study Program. Faculty of Social and Political Sciencess,
Tanjungpura University, Pontianak.
This research is based on the belief that a portion of Malay community residing in
Sungai Nipah Village, Jongkat Sub-District, Mempawah Regency has. The flower
bath tradition is still belived by the local community, especially women. Flower
bath is related to the religious concept, in which a part of the ritual involves
prayers that exist in the religious system of the community. This research aims to
describe the motivation that women have to practice bath flower bath and the
process on how to practice flower bath. The aim is also to analyze the meanings
behind the media used for the process of flower bath. This research uses the
theory of ritual by Turner releted to the meanings of flower bath. Informants
chosen for this research include psychics, women, religious figures and the local
community based on the knowledge and experience that they have about flower
bath. It can be concluded that flower bath tradition is one of traditions still
believed by a portion of the community as an effort made by humans in order to
ease the process of achieving what they wish.
Keywords: Flower Bath, Women, Ritual
v
7
RINGKASAN SKRIPSI
Skripsi ini berjudul “Tradisi Mandi Kembang Kaum Perempuan Di Desa
Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah”. Judul ini dipilih
karena belum ada mahasiswa Universitas Tanjungpura yang meneliti bagaimana
tradisi mandi kembang yang dilakukan kaum perempuan. Alasan dari pemilihan
lokasi pada penelitian di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten
Mempawah karena Desa Sungai Nipah dengan mayoritas masyarakat Melayu,
memiliki tradisi mandi kembang. Mandi Kembang salah satu tradisi yang masih
dilakukan sebagian kaum perempuan yang memiliki permasalahan yang berkaitan
dengan jodoh, membuka aura dan ingin mendapatkan pekerjaan.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode
etnografi yang bertujuan mendeskripsikan sejarah dan motivasi kaum perempuan
tertarik melakukan mandi kembang, mendeskripsikan proses mandi kembang
serta untuk menganalisis makna simbolik terhadap media yang digunakan oleh
paranormal dalam prosesi mandi kembang. Teknik pengumpulan data dengan
menggunakan observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Observasi
partisipan di mana peneliti melakukan pengamatan dan berperan serta ikut dalam
melakukan prosesi mandi kembang. Peneliti melakukan wawancara mendalam
terhadap tujuh orang informan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang bersangkutan dengan penelitian. Pada dokumentasi peneliti menggunakan
kamera handpone dan alat perekam sebagai alat dokumentasi. Subjek penelitian
ini merupakan kaum perempuan yang melakukan mandi kembang dan paranormal
yang memandikan pada prosesi mandi kembang.
vi
8
Desa Sungai Nipah merupakan desa yang terbagi menjadi dua dusun yaitu
Dusun Mawar dan Dusun Melati, jarak tempuh yang ingin dicapai dari desa ke
ibukota provinsi sekitar 35 km dan jarak tempuh dari desa dengan ibukota
Kabupaten Mempawah sekitar 47 km. Dengan mayoritas penduduk beretnis
Melayu dan beragama Islam, kebudayaan yang berkembang di desa tersebut
berkaitan dengan sistem religi masyarakatnya. Sebagian besar mata pencaharian
penduduk Desa Sungai Nipah merupakan petani, sehingga hampir semua lahan
yang mereka punya dimanfaatkan dengan menanam padi dan bahkan sekarang
berkembang sebagai lahan perkebunan dengan menanam pohon kelapa.
Pada penelitian ini sebuah kebudayaan dibentuk oleh masyarakat, adanya
makna dari ritual mandi kembang membuat masih ada kaum perempuan yang
melakukannya. Ritual tersebut dimulai dari tata cara melakukannya, media yang
akan digunakan, masyarakat yang melakukannya dan makna dilakukannya sebuah
ritual tersebut. Makna yang diperoleh juga dapat berbeda jika ritual tersebut
dilakukan oleh etnis lain dan memberikan makna sesuai pengetahuannya. Mandi
kembang sudah menjadi budaya yang mengakar pada kehidupan masyarakatnya,
meskipun begitu tidak semua masyarakat melakukannya hanya dilakukan oleh
kaum perempuan yang mulai putus asa pada kehidupannya.
vii
9
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama Mahasiswa : Nur Kasih Prihartini
Tempat Tanggal Lahir : Jungkat, 03 April 1998
Nomor Mahasiswa : E1121161009
Program Studi : Antropologi Sosial
Fakultas : Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Penulis menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis ini merupakan hasil karya sendiri
dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar keserjanaan disuatu
perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan penulis dalam Skripsi ini tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain,
kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar
pustaka.
Pontianak, 20 April 2020
Yang membuat pernyataan
Nur Kasih Prihartini
viii
10
MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN
“Selalu ada harapan bagi orang yang berdoa dan selalu ada jalan bagi orang yang
mau berusaha”
Bismillahirohmanirohim
Alhamdullillahirabbiil’alamin…. Alhamdullillahirabbiil’alamin….
Alhamdullillahirabbiil’alamin….
Dengan rahmat Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang selalu
memberikan rahmatnya
Ku persembahkan karya sederhana ini.
Khususnya untuk kedua orang tua yang selalu mendukung, menyemangatiku dan
mendoakan tanpa henti-hentinya karena aku bukanlah siapa-siapa tanpa kalian
berdua untuk Ibu yang tersayang yang selalu memberikan yang terbaik untukku
rasanya belum dapat aku membalas jasa-sajamu dan Bapak tersayang akhirnya
anakmu dapat memperoleh gelar dengan kerja kerasnya sendiri, nasehat-
nasehatmu yang selalu membuatku bangkit dari keputusasaan serta selalu
mengingatkan untuk berdoa dan terus sholat agar dipermudah segala urusannya.
Kepada Comdev Outrecing terimakasih atas beasiwa yang kalian berikan, terima
kasih atas kesempatan yang sebesar-besarnya hingga akhirnya dapat
menyelesaikan kuliah tepat dengan waktunya.
Ahkir kata, semoga skripsi ini membawa manfaat untuk semua pembaca agar
dapat menjadi refrensi tambahan pengetahuan. Jika hidup bisa kuceritakan di atas
kertas, entah berapa banyak yang dibutuhkan hanya untuk aku ucapkan terima
kasih.
ix
11
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadiran Allah SWT, karena atas berkat
dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini yang berjudul
“Tradisi Mandi Kembang Kaum Perempuan Di Desa Sungai Nipah Kecamatan
Jongkat Kabupaten Mempawah”.
Tujuan dari penulisan skripsi ini, merupakan salah satu syarat dalam
memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Tanjungpura Pontianak. Selanjutnya penulis menyadari bahwa didalam penulisan
skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, hal ini dikarenakan kemampuan dan
pengalaman penulis dalam penulisan suatu karya ilmiah masih sangat terbatas
perlu banyak belajar.
Terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari tuntunan Tuhan
Yang Maha Esa dan bantuan dari berbagai pihak yang berperan dalam memberian
dorongan, semangat serta masukan bagi penulis, sehingga dapat menyelesaikan
tepat pada waktunya .Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih
yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Dr. H. Martoyo, [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Tanjungpura Pontianak.
2. Dr. Hj. Dahniar [Link], [Link] selaku Pembimbing Utama yang telah
memberikan arahan, motivasi, kritikan dan saran dalam penulisan.
3. Dr. Pabali Musa, [Link] selaku Pembimbing Pendamping yang telah
memberikan arahan, kritikan dan saran.
4. Dr. Hj. Hasanah, [Link] selaku Penguji Pertama yang telah memberikan
x
12
kritikan dan saran dalam penulisan ini.
5. Dr. Syf. Ema Rahmaniah, [Link] selaku peguji Kedua yang telah
memberikan masukan, serta arahannya terkait penulisan ini
6. Dr. Hj. Hasanah, [Link] selaku Dosen Pembimbing Akademik (PA) selama
penulis menjalani perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Tanjungpura.
7. Wakil Dekan, Bapak/Ibu Dosen, Staf Tata Usaha dan Akademik Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura yang telah banyak
memberikan motivasi dan dukungan yang sangat besar selama proses penulisan
maupun perkuliahan.
8. Rekan-rekan seperjuangan Program Studi Antropologi Sosial angkatan 2016
yang telah memberikan dukungannya yang sangat besar dalam penulisan ini.
9. Kepala Desa Sungai Nipah beserta jajaran, tokoh-tokoh masyarakat serta
masyarakat Sungai Nipah yang telah bersedia menerima peneliti untuk
melakukan penelitian di Desa Sungai Nipah dan bersedia memberikan
informasi terkait penelitian ini.
Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan,
penulis mengharapkan kritik maupun saran yang membangun, agar dapat
memperbaiki segala bentuk kekurangan guna penyempurnaaan tulisan ini.
Pontianak, 20 April 2020
Nur Kasih Prihartini
xi
13
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................iii
ABSTRAK ........................................................................................................iv
ABSTRACT ......................................................................................................v
RINGKASAN SKRIPSI ..................................................................................vi
PERNYATAAN KEASLIAN .......................................................................viii
MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................ix
KATA PENGANTAR ......................................................................................x
DAFTAR ISI ...................................................................................................xii
DAFTAR TABEL ...........................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................xvi
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1
1.1. Latar Belakang ................................................................................1
1.2. Indentifikasi Masalah ......................................................................4
1.3. Fokus Penelitian...............................................................................4
1.4. Rumusan Masalah ...........................................................................5
1.5. Tujuan Penelitian ............................................................................5
1.6. Manfaat Penelitian ..........................................................................5
1.6.1. Manfaat Teoritis ...................................................................5
1.6.2. Manfaat Praktis .....................................................................6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ...........................................................................7
2.1. Sistem Religi ...................................................................................7
2.1.1. Kebudayaan .......................................................................10
2.1.2. Tradisi ...............................................................................12
2.1.3. Ritual Mandi Kembang .....................................................13
2.1.4. Paranormal ........................................................................14
2.2. Kajian Teori ..................................................................................16
2.2.1. Teori Ritual .........................................................................16
2.3. Penelitian Yang Relevan ...............................................................18
2.4. Kerangka Berfikir .........................................................................20
xii
14
BAB III METODOLOGI PENELITAN ......................................................22
3.1. Jenis Penelitian ............................................................................22
3.2. Langkah-Langkah Penelitian .......................................................22
3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................23
3.3.1. Lokasi Penelitian ...............................................................23
3.3.2. Waktu penelitian ...............................................................24
3.4. Subjek dan Objek Penelitian .......................................................24
3.4.1. Subjek Penelitian ..............................................................24
3.4.2. Objek Penelitian ................................................................23
3.5. Instrumen Pengumpulan Data .....................................................25
3.6. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ...........................................26
3.6.1. Teknik Observasi ..............................................................26
3.6.2. Teknik Wawancara ...........................................................26
3.6.3. Teknik Dokumentasi .........................................................27
3.7. Teknik Analisis Data ...................................................................28
3.8. Teknik Keabsahan Data ..............................................................29
BAB IV GAMBARAN UMUM DESA SUNGAI NIPAH ...........................30
4.1. Letak geografis Desa Sungai Nipah ..............................................30
4.2. Jumlah Penduduk Desa Sungai Nipah ...........................................31
4.3. Mata Pencaharian Pokok Desa Sungai Nipah ..............................33
4.4. Tingkat Pendidikan Desa Sungai Nipah .......................................35
4.5. Penduduk Menurut Agama dan Keyakinan Desa Sungai Nipah ...37
4.6. Penduduk Berdasarkan Etnis Desa Sungai Nipah ........................39
4.7. Tenaga Kesehatan Desa Sungai Nipah ..........................................40
4.8. Sarana Transportasi dan Komunikasi ............................................40
4.9. Profil Informan ..............................................................................41
BAB V MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN DI DESA SUNGAI
NIPAH .............................................................................................44
5.1. Motivasi Kaum Perempuan Pada Mandi Kembang ......................44
5.2. Pandangan Masyarakat Terhadap Mandi Kembang ......................50
5.3. Prosesi Mandi Kembang ................................................................53
5.4. Makna Mandi Kembang ................................................................65
5.4.1. Makna Kembang .................................................................65
5.4.2. Makna Hari Selasa dan Jumat .............................................74
5.4.3. Makna Kain Untuk Mandi ..................................................75
5.5. Pantangan Pada Mandi Kembang ..................................................75
5.5.1. Peralatan Mandi Bukan Dari Kamar Mandi ......................76
5.5.2. Perempuan Dalam Keadaan Haid .....................................76
5.5.3. Berdasarkan Keinginan Bukan Paksaan ............................77
5.5.4. Bunga Tidak Memiliki Duri .............................................77
xiii
15
5.5.5. Mandi di Tempat Terbuka .................................................78
BAB VI PENUTUP .........................................................................................79
6.1. Kesimpulan ....................................................................................79
6.2. Saran ..............................................................................................81
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................93
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................86
Lampiran 1 Pedoman Wawancara ........................................................86
Lampiran 2 Pedoman Observasi ...........................................................88
Lampiran 3 Foto Bersama Narasumber ................................................91
Lampiran 4 Surat Tugas .......................................................................95
Lampiran 4 Daftar Riwayat Hidup .......................................................96
xiv
16
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Jadwal Kegiatan ..............................................................................24
Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Menurut Umur ...................................................32
Tabel 4.2. Jumlah Jenis Kelamin ......................................................................33
Tabel 4.3. Tingkat Pendidikan ..........................................................................36
Tabel 4.4. Fasilitas Pendidikan .........................................................................37
Tabel 4.5. Penduduk Menurut Agama dan keyakinan .....................................38
Tabel 4.6. Data Sarana Ibadah ..........................................................................39
Tabel 4.7. Tenaga Kesehatan ............................................................................40
xv
17
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1. Sketsa Desa Sungai Nipah ...........................................................30
Gambar 4.2. Kantor Desa Sungai Nipah ..........................................................31
Gambar 4.3. Lahan Pertanian Desa Sungai Nipah ...........................................34
Gambar 5.1. Tempat Melakukan Mandi Kembang ..........................................55
Gambar 5.2. Wadah dan Air .............................................................................56
Gambar 5.3. Kembang Untuk Mandi ..............................................................57
Gambar 5.4. Air Kembang ..............................................................................58
Gambar 5.5. Menyiram Pangkal Kepala .........................................................59
Gambar 5.6. Menyiram Bagian Kanan ............................................................60
Gambar 5.7. Menyiram Bagian Kiri ................................................................61
Gambar 5.8. Menghidupkan Stanggih .............................................................62
Gambar 5.9. Stanggih Dengan Foto ................................................................64
Gambar 5.10. Bunga Kembang Sepatu ............................................................67
Gambar 5.11. Bunga Melati .............................................................................68
Gambar 5.12. Bunga Asoka .............................................................................69
Gambar 5.13. Bunga Zinnia ............................................................................70
Gambar 5.14. Bunga Adenium ........................................................................71
Gambar 5.15. Bunga Kenanga ..........................................................................72
Gambar 5.16. Bunga Tapak Dara ...................................................................73
xvi
18
xiv
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagian masyarakat Melayu tersebar luas di daerah Kalimantan
Barat, di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah
merupakan salah satu desa yang mayoritasnya adalah masyarakat Melayu.
Masyarakat Melayu dikenal memiliki berbagai macam kebudayaan yang
khas, hampir semua masyarakat Melayu menganut agama Islam dengan
berbagai macam kebudayaan yang berkaitan dengan kepercayaannya.
Sistem keyakinan atau ritual yang berkembang pada masyarakat
Melayu bermacam-macam, salah satunya pada prosesi mandi kembang.
Tradisi mandi kembang merupakan sebuah tradisi melakukan mandi dengan
kembang (bunga). Mandi kembang kebanyakan dilakukan oleh kaum
perempuan, yang mulai putus asa terhadap permasalahan yang ada di
hidupnya. Tradisi mandi kembang ini menjadi salah satu alternatif usaha
yang dilakukan yang dipercayai akan memberikan jalan keuar terhadap
permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan.
Mandi kembang jika dilihat dari perspektif antropologi memiliki
keterkaitan dengan kepercayaan masyarakat tetang ilmu gaib, yang dimana
pembuktiannya tidak dapat dijelaskan secara teoritis ataupun dengan nalar
manusia. Berkaitan dengan itu, mandi kembang terus berkembang hingga
sekarang, meskipun tidak semua kaum perempuan mempercayainya dan
melakukannya. Tetapi mandi kembang masih menjadi sebuah tradisi pada
2
masyarakat Desa Sungai Nipah.
Kepercayaan ini tumbuh karena adanya pengetahuan yang diwarisi
secara turun-temurun tentang khasiat yang terdapat pada kembang (bunga),
sebagai mandi pada seseorang. Mandi kembang dihubungkan dengan doa-
doa pada prosesinya yang dianggap sebagai penghantar harapan yang
hendak di capai dengan bantuan bunga yang memiliki manfaat yang baik.
Serta memiliki tata cara yang yang tidak sembarangan untuk melakukannya.
Sebagian kaum perempuan percaya dengan tradisi mandi kembang
akan membuat tujuan yang diinginkannya dapat terkabul, biasanya mereka
yang ingin mandi kembang mendapatkan informasi dari orang yang sudah
pernah melakukan prosesi mandi kembang dan sudah tercapai tujuannya.
Sehingga timbul keinginannya untuk mencoba prosesi mandi kembang.
Permasalahan yang dihadapi seseorang sehingga melakukan mandi
kembang juga bermacam-macam. Misalnya dapat berupa tidak kunjung
mendapatkan pekerjaan padahal orang tersebut sudah banyak melamar
pekerjaan, sulitnya mendapatkan jodoh apalagi pada kaum perempuan yang
tinggal di desa akan malu ketika menikah dengan umur yang sudah tua, serta
ingin membuka aura agar hubungan rumah tangga menjadi harmonis dan
banyak orang lain yang senang ketika berdekatan dengan orang tersebut.
Pada prosesi mandi kembang ini dilakukan oleh seorang paranormal,
peran paranormal sebagai orang yang memandikannya memiiki pengetahuan
yang didapatkan secara turun-temurun. Di sini paranormal bukan sebagai
dukun-dukun kampung pada umumnya. Disebut paranormal karena di sana
3
orang tersebut dapat melihat kejadian yang dialami oleh seseorang, ini
biasanya didapatkan melalui bakat alami yang diturunkan dari generasi
sebelumnya atau turun-temurun yang dapat melihat sesuatu yang tidak dapat
dilihat manusia lain.
Prosesi mandi kembang harus terdiri dari berbagai jenis bunga yang
berbeda-beda, ini dikarenkan ada makna tertentu dan tidak boleh dari bunga
yang memiliki duri seperti bunga mawar. Bunga yang digunakan juga harus
dalam jumlah yang ganjil seperti 3 (tiga), 5 (lima), 7 (tujuh) dan 9
(sembilan). Serta adanya pantangan-pantangan dan aturan lain yang harus
dilakukan ketika seseorang ingin melakukan mandi kembang. Oleh sebab
itu, pada prosesi mandi kembang harus dilakukan dengan bantuan seorang
paranormal yang juga kaum perempuan.
Budaya yang dipercayai sebagian masyarakat inilah mengandung
makna dan berpengaruh terhadap kehidupannya. Mandi kembang memiliki
simbol tersendiri pada penilaian masyarakat, tersirat makna dari mandi
kembanglah yang membuat masih terus dilakukan hingga sekarang. Kaitan
mandi kembang juga tidak terlepas dari peran masyarakat di mana ada rasa
kepercayaan ketika melakukan mandi tersebut.
Mandi kembang masih menjadi salah satu solusi dalam permasalahan
kehidupannya, Masyarakat lokal yang meyakini tradisi ini bukan berarti
mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka masih mempercayai agama
yang sudah melekat dengannya sejak lahir. Apalagi mayoritas masyarakat
lokal yang tinggal di sana memeluk agama Islam dan bersuku Melayu,
4
sehingga sistem religi saling berkaitan dengan kebudayaan yang dipercayai
masyarakat lokal.
Atas dasar inilah saya tertarik untuk meneliti mandi kembang pada
kaum perempuan yang ada di Desa Sungai Nipah, sebab fenomena seperti
ini unik bagi saya, karena adanya kepercayaan masyarakat yaitu dengan
melakukan prosesi mandi kembang akan memecahkan permasalahan yang
dihadapinya. Bahkan sudah ada yang merasakan keberhasilan setelah
melakukan prosesi mandi kembang, serta dalam prosesi mandi kembang
terdapat makna yang terkandung disetiap peralatan yang digunakan.
1.2. Indentifikasi Masalah
1. Sebagian kaum perempuan menganggap bahwa mandi kembang sebagai
salah satu usaha kaum perempuan untuk membuka aura agar mudah
mendapatkan jodoh.
2. Sebagian kaum perempuan menganggap bahwa mandi kembang sebagai
salah satu usaha dimudahkan dalam mencari pekerjaan.
3. Sebagian kaum perempuan menganggap bahwa mandi kembang sebagai
salah satu usaha yang dapat dilakukan agar banyak orang yang senang
dekat denganya serta semakin diperhatikan, dicintai dan disayangi oleh
suami.
1.3. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan oleh penulis dalam
penyusunan penelitian yang membahas mandi kembang yang ada di Desa
Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah. Agar pembahasan
selanjutnya dapat terarah dan mencapai sasaran yang diinginkan, penelitian
5
fokus pada mandi kembang yang dilakukan bagi kaum perempuan.
1.4. Rumusan Masalah
Adapun masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana proses
mandi kembang yang dilakukan oleh paranormal di Desa Sungai Nipah”.
1.5. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan motivasi kaum perempuan tertarik melakukan
mandi kembang.
2. Untuk mendeskripsikan proses mandi kembang yang dilakukan
paranormal di Desa Sungai Nipah.
3. Untuk menganalisis makna simbolik terhadap media yang digunakan
oleh paranormal dalam prosesi mandi kembang.
1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini sangat berguna baik secara teoritis
maupun praktis, yaitu:
1.6.1. Manfaat Teoritis
Saya berharap penelitian yang dilakukan ini, dapat memberikan
sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan khususnya ilmu antropologi
sosial dan diharapkan dapat memperkaya konsep atau teori yang mendukung
perkembangan ilmu pengetahuan tentang makna simbolik mandi kembang,
serta harapannya dalam penelitian berikutnya saya akan meneliti dengan
tema yang sama namun dengan perspektif yang berbeda.
1.6.2. Manfaat Praktis
6
Bagi masyarakat dan pemerintah diharapkan penelitian ini bisa
menjadi wawasan pengetahuan tentang makna simbolik mandi kembang,
serta bisa menjadi bahan rujukan atau sumber informasi bagi penulis lainnya
dalam melakukan penelitian tentang makna simbolik mandi kembang.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Sistem Religi
Religi berasal dari kata religare dan relegare (latin). Religare
memiliki makna suatu perbuatan yang “memperhatikan kesungguh-
sungguhan dalam melakukannya”. Relegare memiliki arti “perbuatan
bersama dalam ikatan saling mengasihi”. Kedua istilah ini memiliki corak
individual dan sosial dalam suatu perbuatan religius. Leslie A. White (dalam
buku pengantar antropologi 2016:88) berpendapat bahwa religi atau salah
satu unsur yang membentuk religi tersebut yakni keyakinan (belief),
merupakan salah satu bagian dari sistem idiologi, sistem tersebut merupakan
salah satu wujud kebudayaan.
Menurut Firth (1972:216) dalam buku pengantar antropologi,
keyakinan belum dapat dikatakan sebagai religi apabila tidak diikuti dengan
upacara yang terkait dengan keyakinan tersebut. Keyakinan dan upacara
adalah unsur penting dalam religi yang saling memperkuat. Sejalan dengan
itu, Koenjaraningrat mendefinisikan religi yang memuat hal-hal tentang
keyakinan, upacara, dan peralatannya, sikap dan perilaku, alam pikiran dan
hal-hal yang menyangkut para penganutnya sendiri. Definisi ini dipengaruhi
konsepsi unsur dasar religi yaitu:
1. Emosi Keagamaan
2. Sistem Kepercayaan
3. Sistem Upacara Keagamaan
8
4. Peralatan atau perlengkapan upacara
5. Kelompok keagamaan
Emosi keagamaan yang menjadi dasar dari kelakuan serba religi itu
menyebabkan munculnya sifat keramat (scacred value) pada kelakukan
tersebut. Munculnya emosi keagamaan pada diri manusia dapat dikarenakan
menyakini adanya kekuatan supranatural yang ada disekitar lingkungannya
serta keyakinan adanya gejala-gejala alam yang tidak dapat dinalar oleh akal
manusia.
Emosi kegaamaan tersebut dapat berupa adanya kepercayaaan
Masyarakat Desa Sungai Nipah terhadap gejala alam yang dilakukan dengan
ritual mandi kembang, diyakini aura yang ada pada bunga dapat bepindah
pada seseorang yang menggunakannya untuk mandi, serta adanya doa-doa
sebagai tata cara pemandiannya dipercaya akan mempermudah segala
harapan yang diinginkan.
Pada sistem kepercayaan yang menjadi salah satu dorongan kaum
perempuan melakukan mandi kembang, mereka menghubungkan adanya
kekuatan gaib yang terdapat pada doa-doa pada prosesi mandi kembang.
sistem kepercayaan ini dapat berupa konsepsi tentang faham-faham yang
berkembang pada pemahaman dalam sistem kepercayaan religinya. Dimana
doa-doa yang dilakukan dikaitkan dengan doa-doa yang terdapat pada sistem
religi masyarakat lokal.
Adanya sistem upacara keagamaan untuk dapat melaksankan ritual
mandi kembang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan berkembang oleh
9
masyarakatnya. Upacara berupaya membuktikan adanya keyakinan terhadap
sesuatu dan sekaligus memantapkannya, mempertegasnya dengan membaca
doa, tindakan maupun perbuatan. Setiap upacara keagamaan bertujuan untuk
mencari hubungan antara manusia dengan dunia gaib atas kepercayaan yang
dimilikinya atau agar dapat dipermudahkannya segala urusannya.
Dalam setiap upacara keagaman adanya tempat dilakukannya ritual
tersebut, seperti mandi kembang dilakukan di pelantaran dapok yang harus
memiliki sekat penutup agar terlindungi dari pandangan orang lain. Selain
itu ada penentuan kapan dilaksanakannya, yang telah ditetapkan yaitu hari
selasa dan hari jumat, bebas memilih kapan waktu yang diinginkan sesuai
dengan kesepakatan antara perempuan yang mandi dengan paranormal.
Terdapat pantang atau larangan yang harus diikuti sebelum melakukan ritual
mandi kembang. Terakhir terdapat rangkaian tata cara untuk melakukan
mandi kembang yang terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan.
Peralatan yang digunakan juga merupakan unsur yang tidak dapat
dipisahkan, karena sudah menjadi sebuah komponen penting dalam mandi
kembang. Pada sistem religi masyarakat bersahaja, suatu upacara tidak dapat
dilaksanakan dan dipandang tidak sah apabila peralatan atau perlengkapan
yang menyertai dalam proses upacaranya tersedia. Benda-benda tersebut
dapat berupa benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kelompok keagamaan disini dapat merupakan kesatuan masyarakat
yang mengkonsepsikan suatu religi beserta sistem upacara keagamaannya.
Pada kelompok tersebut dibentuk berdasarkan kepercayaan yang mereka
10
yakini dan berkembang sehingga dilakukan menjadi sebuah kebudayaan.
Kelompok tersebut dapat berupa keluarga inti atau kerabat kecil, kelompok-
kelompok kekerabatan unilineal yang lebih besar seperti klen, kesatuan
hidup setempat atau komunitas dan kesatuan-kesatuan sosial dengan
orientasi yang khas.
Kelompok keagamaan yang hidup di Di Desa Sungai Nipah,
melakukan mandi kembang sebagai ritual keyakinan terhadap harapan yang
akan dipermudah dalam membuka aura seseorang dengan bantuan doa dan
melakukan mandi kebang. Masih terus diyakini oleh masyarakat khususnya
kaum perempuan karena dipercaya dalam membawa kabaikan dalam
kehidupan.
Dalam pandangan Geertz (2000:1700) religi adalah sebuah
pengalaman unik yang bermakna, memuat identitas diri dan kekuatan
tertentu. Sebagai sebuah pengalaman, religi akan behubungan dengan rasa,
tindakan dan pengalaman nyata yang berbeda-beda dengan orang lain.
Karena setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda dalam
menjalankan religi masing-masing.
2.1.1. Kebudayaan
Definisi kebudayaan yang paling tua dikemukakan oleh Edward
B. Taylor pada tahun 1871. Kebudayaan menurut Taylor didefinisikan
sebagai “keseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, hukum, moral, adat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang
diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Selanjutnya Alfread Weber
11
mendefinisikan kebudayaan sebagai “suatu bentuk ekspresional spiritual dan
intelektual dalam substansi kehidupan atau suatu sikap spiritual dan
intelektual terhadap substansi kehidupan itu”.
Selain itu Cliffort Geertz (1973:89) mendefinisikan kebudayaan
sebagai suatu sistem simbol dari makna-makna. Kebudayaan adalah sesuatu
yang dengannya manusia memahami dan memberi makna pada hidupnya.
Kebudayaan mengacu kepada suatu pola-pola makna yang diwujudkan
dalam simbol-simbol yang diturun alihkan secara historis, suatu sistem
gagasan-gagasan yang diwarisi dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk
simbolik yang dengannya manusia menyampaikan, melestarikan dan
mengembangkan pengetahuan mengenai sikap dan pendirian terhadap
kehidupan.
Berdasarkan berberapa definisi kebudayaan, terdapat konsep
dasar tentang kebudayaan yang berkaitan dengan penelitian ini, kebudayaan
merupakan hasil karya manusia yang diciptakan melalui pengetahuan yang
dimiliki manusia. Terjadinya sebuah kebudayaan karena dilakukan secara
berulang-ulang, hingga terus dilakukan dan diwarisi ke generasi berikutnya.
Ritual mandi kembang merupakan salah satu tradisi yang masih
dilakukan oleh masyarakat Desa Sungai Nipah khususnya kaum perempuan,
meskipun tidak banyak yang melakukannya tetapi tradisi ini menjadi salah
kebudayaan yang masih dipercayai oleh masyarakat karena mereka
menghubungkan dengan kepercayaan melalui doa yang mereka yakini.
12
2.1.2. Tradisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2001:1208)
tradisi adalah sebuah kata yang tidak asing didengar disegala bidang apalagi
dalam kehidupan masyarakat, tradisi juga mengacu kepada adat dan
kebiasaaan yang turun-temurun diwarisi ataupun atauran yang dijalankan
masyarakat.
Tradisi dalam kamus Antropologi memiki kesamaan dengan adat
istiadat yang artinya sebuah kebiasaan yang bersifat magis-religus dari
kehidupan penduduk asli yang di dalamnya meliputi norma-norma, nilai
budaya, hukum dan aturan-aturan yang berkaitan. Selanjutnya dari tradisi
tersebut terbentuklah sebuah sistem atau peraturan yang sudah mantap, yang
mencangkup segala konsepsi sistem budaya dari suatu kebudayaan untuk
mengatur tindakan seseorang.
Menurut Esten (1991:21), tradisi merupakan kebiasaan turun-
temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang
bersangkutan. Jadi tradisi merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan
secara terus-menerus oleh masyarakat dan akan diwarisi secara turun-
temurun. Dilihat dari aspek gagasan, tradisi bisa dilihat dengan adanya
keyakinan, kepercayaan, simbol-simbol, nilai, aturan dan idiologi yang
semuanya merupakan peninggalan masalalu yang hingga kini masih
dilakukan.
13
2.1.3. Ritual Mandi Kembang
“Mandi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki
pengertian membersihkan tubuh dengan air dan sabun (dengan cara
menyiramkan, merendamkan diri dalam air dan sebagiannya). Secara umum
mandi merupakan salah satu sarana untuk membersihkan badan seperti
kotoran yang melekat pada badan yang secara umum dilakukan setiap hari
bahkan lebih dari sekali. Mandi artinya mengalirkan air keseluruh badan
dengan air (Rasyid, 2012:34).
Salah satu bagian dari tumbuhan yang memiliki manfaat bagi
manusia adalah bunga. Bunga atau kembang merupakan sesuatu yang tidak
terpisahkan dalam kehidupan manusia, karena manfaat dari bunga yang
dirasakan oleh manusia. Dalam penerapannya bunga juga banyak digunakan
sebagai mandi, aroma yang dihasilkan oleh bunga tersebut yang membawa
kedamaian dan banyak digunakan sebagai aroma terapi untuk ketenangan
jiwa.
Mandi kembang biasanya dilakukan dengan menggunakan bunga
yang berbeda-beda jenisnya, setiap bunga memiliki ciri khasnya sendiri yang
dapat menimbulkan aroma wanginya. Pada umumnya mandi kembang
identik dengan hal-hal mistis, tetapi sebenarnya mandi kembang memiliki
manfaat bagi tubuh karena mimiliki khasiat tertentu disetiap jenis-jenis
bunga itu sendiri.
14
2.1.4. Paranormal
Paranormal pada Kajian Pemikiran Rasional (Dndi, 2008:1)
berasal dari kata “para” yang artinya melebihi, sedangkan “norma” artinya
biasa. Secara umum dapat diartikan sebagai manusia yang melebihi manusia
pada umumnya, paranormal juga orang yang memiliki ilmu Metafisika,
sehingga mampu mengerjakan, melihat ataupun berhubungan dengan hal-hal
alam gaib (kasat mata), yang tidak dapat diraih oleh manusia biasa. Sebagian
dari mereka memanfaatkan ilmunya untuk dijadikan pekerjaan tetap mereka
untuk mencari nafkah dengan membantu masyarakat sekitar.
Seseorang yang memiliki bakat paranormal mampu menciptakan
fenomena seperti: peramalan, penyembuhan, melihat-mendengar-merasakan
tanpa indra, mengetahui suatu peristiwa pada masa lalu dan lain-lain.
Fenomena paranormal tersebut dipelajari dalam bidang ilmu parapsikologi
(Kartoatmodjo, 1985:13). Oleh sebab itu, paranormal memiliki kelebihan
dibandingkan manusia lainnya yang terkadang tidak dapat dipikirkan oleh
nalar manusia.
Paranormal mendapatkan ilmunya dengan berbagai macam cara,
baik itu belajar sendiri, belajar dengan orang lain, memperdalam ilmu agama
dan lain sebagiannya. Dalam pewarisan doa-doa tidak sembarangan orang
dapat diwarisi, walaupun orang tersebut memiliki ikatan keluarga, yang
dapat diwarisi adalah orang yang memiliki indra keenam yang mampu
melihat sesuatu yang tidak semua manusia lain bisa melihatnya.
Biasanya orang yang memiliki indra keenam dapat melihat masa
15
depan ataupun masalah yang ada dalam hidup seseorang. Sehingga dia
mampu membantu seseorang dalam memberikan saran saat mereka
berkonsultasi pada masalah kehidupannya. Oleh sebab itu, kelebihan yang
ada pada parnormal bukan disebabkan karena keinginannya, melainkan
pewarisan dan bakat alam yang tertanam dalam dirinya.
Menurut Suharyanto (2015:197), ada sebagian paranormal yang
merangkap dirinya sebagai dukun, tetapi ada juga sebagian lainnya yang
tidak, bahkan mereka sangat tersinggung bilamana dirinya dianggap sebagai
dukun. Begitu juga sebaliknya, banyak masyarakat yang selalu menafsirkan
bahwa paranormal adalah dukun. Mereka sangat dekat dengan hal-hal yang
berbau supranatural.
Supranatural (Suharyanto, 2015:197) adalah segala sesuatu
fenomena atau kejadian yang tidak umum atau tidak lazim atau dianggap
diluar batas kemampuan manusia pada umumnya dan tidak sesuai dengan
hukum alam. Sebenarnya kemampuan ini bisa di dapat dengan
mengembangkan cakra atau pusat-pusat energi dalam tubuh.
Peran paranormal di Desa Sungai Nipah bukanlah seperti dukun
yang dapat memiliki ilmu gaib seperti santet, dukun pelet dan dukun yang
mengarah pada perbuatan yang ingin mencelakakan orang lain. Di sini
paranormal yang ada di Desa Sungai Nipah, hanya dapat membantu
seseorang yang ingin mandi [Link] paranormal di sini percaya
mandi kembang memiliki makna simbolik memberikan aura positif bagi
seseorang yang merasa dirinya sedang dalam kebingungan dan merasakan
16
hambatan dalam hidupnya.
Disinilah paranormal memberikan doa-doa yang berkaitan
dengan permasalahan yang dihadapkan oleh orang tersebut. Doa itu
didapatkan secara turun-temurun yang diwarisi melalui orangtua, keluarga
ataupun yang memiliki ikatan persaudaraan. Pada doa tersebut juga
merupakan doa-doa yang berkaitan dengan agama kepercayaan mereka.
Pewarisan doa-doa juga tidak sembarangan orang dapat diwarisi,
walupun orang tersebut memiliki ikatan keluarga, yang dapat diwarisi adalah
orang yang memiliki indra keenam yang mampu melihat sesuatu yang tidak
semua manusia lain bisa melihatnya. Biasanya orang yang memiliki indra
keenam dapat melihat masa depan ataupun masalah yang ada dalam hidup
seseorang. Sehingga dia mampu membantu seseorang dalam memberikan
saran saat mereka berkonsultasi pada masalah kehidupannya.
2.2. Kajian Teori
2.2.1. Teori Ritual
Membahas religi juga memiliki keterkaitan dengan ritual teori
yang cukup representatif untuk meneliti simbol ritual antara lain The Ritual
Process; Struktur and Anti-Stucture (1996). Dalam kajian ritual tidak hanya
terbatas pada aspek proses ritual saja, melainkan juga makna simbolik ritual
tersebut. Tegasnya dua buku itu telah memberikan arah bagaimana peneliti
ritual melakukan pengkajian mendalam.
Menurut Turner (Turner, 2982:19 dalam Endaswara, 2003:172)
menyatakan bahwa “The Symbol is the small-lest unit of ritual which still
17
retains the specific properties of ritual behavior. It the ultimate unit of
specific structure in a ritual con-text.” Dalam teori yang dikatakan Turner
simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung
makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut
merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual. Itulah
sebabnya, Turner (1981:2) juga mengatakan bahwa “the ritual is an
aggregation of symbols”.
Menurut Turner (dalam Winangun, 1990:19) ciri khas simbol
yaitu: (a) multivokal, artinya simbol memiliki banyak arti yang menunjuk
pada banyak hal atau fenomena. (b) polarisasi simbol, karena simbol
memiliki banyak arti sering ada arti simbol yang bertentangan. (c) unifikasi,
artinya memiiki arti terpisah. Turner (1967:9) juga mensugestikan bahwa
melalui analisis simbol ritual akan membantu menjelaskan secara benar nilai
yang ada dalam masyarakat dan akan menghilangkan keraguan-keraguan
tentang kebenaran sebuah penjelasan.
Menurut Turner (1967:50-51) untuk menganalisis makna simbol
dalam aktifitas ritual digunakan teori penafsiran yang dikemukakan yaitu :
1. Exegetical meaning yaitu makna yang diperoleh dari informan warga
setempat tentang perilaku ritual yang diamati. Dalam hal ini, perlu
dibedakan antara informasi yang diberikan informan awam dan pakar,
antara interpretasi esoteric dan eksoterik.
2. Operational meaning yaitu makna yang diperoleh tidak terbatas pada
perkataan informan, melainkan dari tindakan yang dilakukan dalam
18
ritual.
3. Positional meaning yaitu makna yang diperoleh melalui interpretasi
terhadap simbol dalam hubungannya dengan simbol lain secara totalitas.
Tingkatan makna ini langsung dihubungkan pada pemilik simbol ritual.
Dilihat dari pemberian makna pada mandi kembang didapatkan
melalui masyarakat setempat maupun orang yang berperan dalam melakukan
mandi kembang. Ketika simbol itu diberi makna, maka makna tersebut dapat
memiliki berbagai arti ketika yang diberi makna tersebut dilakukan oleh
kelompok lain.
2.3. Penelitian Yang Relevan
Penulis menggunakan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh
peneliti sebelumnya untuk memperkuat tema dalam penulisan ini. Rujukan
yang penulis ambil disesuaikan dengan permasalahan yang terkait pada
penelitian ini.
Penelitian pertama, yang dilakukan oleh Sofyan Mokhamad (2012)
tentang “Persepsi Masyarakat kelurahan Sumbergedang Kabupaten Pasuruan
Tentang Manfaat Ritual Mandi Kembang Bagi Kehamilan”. Pada penelitian
ini menggunakan teori persepsi, dengan metode kualitatif menggunakan
skala likert. Bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap
mandi kembang dan mengetahui macam-macam bunga yang digunakan
untuk menjalani ritual mandi kembang. Hasilnya bunga dipercaya memiliki
efek aromaterapi, sehingga bermanfaat bagi kesehatan [Link] sebab
itu, mandi kembang digunakan sebagai ritual untuk orang yang sedang hamil
19
untuk mempermudah persalinannya nanti.
Penelitian yang kedua, yang dilakukan oleh Khoiri (2017) tentang
“Antara Adat dan Syarat: Studi Kasus Tentang Tradisi Mandi Safar di Tasik
Nambus, Riau, ditinjau dari Perspektif Islam”. Penelitian ini mengkaji ritual
mandi Safar di Tasik Nambus yang dilakukan setiap hari Rabu terakhir
dibulan Safar, sebelum melakukan ritual mandi Safar terlebih dahulu harus
memetik bunga Bakung, bunga ini tumbuh disekitar Tasik Nambus. Bunga
tersebut dicampurkan dengan air yang akan digunakan untuk mandi. Pada
saat mandi dilakukan prosesi berdoa agar dijauhkan dari bala dan bencana
dan dilanjutkan dengan makan bersama setelah ritual mandi tersebut selesai.
Hasil penilitiannya mandi safar dianggap secara eksplisit tidak ditemukan
dalam ajaran agama Islam apalagi dengan mandi tersebut dapat terhindar
dari bala yang tidak berasal dari ajaran agama Islam, sehingga hanya
dianggap bentuk kekayaan daerah.
Penelitian ketiga, yang dilakukan oleh Rofiq Ahsanur (2018) tentang
“Makna Simbol Kembang Dalam Ritual Kirab Malam 1 Suro”. Pada
penelitian ini menggunakan teori makna dan simbol dengan metode
penelitian lapangan (Field Reasearch). Hasil penelitiannya kembang
digunakan sebagai salah satu benda yang digunakan sebagai syarat yang
tidak boleh dipisahkan pada ritual kirab malam 1 suro di Keraton Kasunanan
Surakarta Hadininingrat. Di mana terdapat makna yang terkandung dalam
kembang yang digunakan untuk mencuci barang-barang pusaka. Serta
adanya sesaji yang digunakan dalam proses ritualnya. Kembang tersebut
20
memiliki makna disetiap jenis bunganya yang dikaitkan dengan kehidupan
masyarakatnya.
Penelitian sebelumnya tidak ditemukan kesamaan penelitian yang
saya lakukan yaitu “Tradisi Mandi Kembang Pada Kaum Perempuan di Desa
Sungai Nipah, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah”. Sehingga di
sini saya akan mengemukakan secara spesifik tentang penelitian yang saya
lakukan.
2.4. Kerangka Berfkir
Untuk mempermudah penelitan perlu dibuat kerangka berfikir atau
konsep dengan tujuan membuat arah penelitian menjadi jelas. Kebudayaan
tidak lepas dari simbol-simbol. Simbol inilah yang menjadi ciri khas atau
yang memperkaya kehidupan masyarakat terutama masyarakat yang tinggal
di pedesaan.
Tradisi mandi kembang yang biasanya dilakukan kaum perempuan
memiliki tujuan tertentu, seperti untuk mendapatkan jodoh, membuka aura
dan mendapatkan hal-hal baik dalam hidupnya. Desa Sungai Nipah
merupakan salah satu desa yang memaknai simbol mandi kembang memiliki
hal baik yang dapat merubah kehidupannya.
Mandi kembang inilah yang diberi simbol dalam prosesinya dan
makna yang diberikan tersebut membuat mandi kembang memiliki keunikan
ketika seseorang mempercayai fenomena ini. Oleh sebab itu, sesuai dengan
latar belakang masalah penelitian yang telah dikemukakan maka dapat
diformulasikan sebagai berikut :
R"BU
SN
jK
A
vw
PJpD
bladhgtkcyf.M
BAB III
METODE PENELITIAN
eoriTun(1982:),sm
21
22
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan metode
etnografi. Menurut Satori dan Aan (2012:22), penelitian kualitatif
merupakan pendekatan penelitian yang mengungkap situasi sosial tertentu
dengan cara mendeskripsikan secara benar, dibentuk menggunakan kata-kata
serta dengan observasi secara langsung.
Menurut Malinowski (dalam penelitian kebudayaan 1922:7),
etnografi adalah metode untuk menangkap sudut pandang yang asli,
sehingga tujuan utamanya untuk memahami suatu pandangan hidup dari
sudut pandang penduduk asli. Jenis penelitian kualitatif dengan metode
etnografi ini berusaha mengembangkan pemahaman dan menjelaskan
fenomena sosial budaya yang ada di dalam masyarakat diantaranya adalah
fenomena pemaknaan mandi kembang.
3.2. Langkah-Langkah Penelitian
Adapun proses dalam memperoleh data untuk kelangsungan
penelitian ini, maka diperlukan langkah-langkah penelitian guna untuk
mencari data yang relevan dan sesuai dengan judul penelitian ini. Menurut
Moleong (2014:129) tahapan dalam penelitian terdiri oleh berbagai tahapan
yaitu:
1. Tahap Pra-lapangan, pada tahap ini sebelum melakukan penelitian tahap
awalnya dengan membuat proposal penelitian yang didalamnya
menentukan masalah yang akan dikaji, fokus penelitian, menyiapkan
subjek dan objek penelitian dan membuat surat izin untuk melakukan
23
penelitian, serta melakukan konsultasi kepada pembimbing sebelum
penelitian di lapangan.
2. Tahap Pekerjaan Lapangan, pada tahap ini peneliti turun langsung ke
lapangan dan ikut terlibat dalam prosesi mandi kembang yang di lakukan
oleh kaum perempuan di Desa Sungai Nipah, Kecamatan Jongkat,
Kabupaten Mempawah.
3. Tahap Analisis Data, pada tahap ini peneliti menganalisis data yang
diperoleh yang didapat di lapangan berupa observasi, wawancara dan
dokumentasi. Selanjutnya peneliti melanjutkan dengan berkonsultasi
dengan dosen pembimbing agar data sesuai dengan permasalahan yang
dikaji, serta dilanjutkan dengan penulisan hasil laporan.
3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Sungai Nipah,
Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah. Di sana merupakan desa yang
letaknya tidak begitu jauh dari Kota Pontianak, hanya memakan waktu 1 jam
untuk kecepatan standar untuk menempuh desa tersebut. Ada sebagian dari
masyarakatnya memaknai mandi kembang sebagai simbol untuk
mendapatkan hal-hal baik dalam kehidupannya. Sehingga saya tertarik
mengambil tema ini karena saya ingin mengkaji lebih dalam terkait mandi
kembang yang di lakukan kaum perempuan di Desa Sungai Nipah.
3.3.2. Waktu Penelitian
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan
24
Nama Bulan
No Nama Kegiatan Ok Ja Ma
Sep t Nov Des n Feb r Apr
1 Persiapan
2 Outline
3 Pra Penelitian
Penyusunan
4 Proposal
Penelitian
Konsultasi
5
Proposal
6 Seminar Proposal
Pelaksanaan
7
Penelitian
8 Pengelolaan Data
Penulisan Skripsi
9
dan Konsultasi
10 Ujian Skripsi
3.4. Subjek dan Objek Penelitian
3.4.1. Subjek Penelitian
Menurut Moleong (2010:132) mendeskripsikan subjek penelitian
sebagai orang yang diamati sebagai sasaran penelitian. Berdasarkan
pengertian tersebut peneliti mendeskripsikan subjek penelitian sebagai
pelaku atau orang yang akan diamati sebagai sasaran penelitian.
Penentuan informan ditentukan dengan teknik purposive
sampling. Menurut Sugiono (2017:95-96) purposive sampling adalah teknik
pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Berdasarkan
penelitian tersebut peneliti mendeskripsikan subjek penelitiannya adalah
perempuan yang melakukan prosesi mandi kembang dan paranormal sebagai
25
orang yang memandikan pada prosesi mandi kembang.
3.4.2. Objek Penelitian
Objek penelitian merupakan hal yang menjadi titik perhatian dari
suatu [Link] perhatian tersebut berupa subtansi atau materi yang
diteliti atau dipecahkan permasalahannya menggunakan teori-teori yang
bersangkutan yaitu makna simbolik mandi kembang. Objek penelitian ini
adalah semua aspek yang berkaitan dengan sejarah dan motivasi kaum
perempuan melakukan prosesi mandi kembang, serta makna simbolik yang
terdapat pada media yang digunakan dalam prosesi mandi kembang.
3.5. Instrumen Pengumpulan Data
Dalam sebuah penelitian kualitatif (Sugiono, 2017:222), yang
menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri, karena
peneliti kualitatif sebagai human instrument yang berfungsi menetapkan
fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, menilai kualitas
data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan pada
temuannya. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh akurat dan valid,
maka penulis bertindak sebagai intrumen utama (key instrument) atau terjun
langsung ke lapangan dan menyatu dengan sumber data dalam situasi yang
alamiah (natural setting).
3.6. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
26
3.6.1. Teknik Obsevasi
Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan
untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan
(Bungin, 2007:115). Menurut Adler (2009:523) faktor terpenting dalam
observasi adalah pengamat (observer) dan orang yang diamati yang
kemudian juga berfungsi sebagai pemberi informasi, yaitu informan.
Observasi juga menyajikan sudut pandang menyeluruh mengenai ke hidupan
sosial budaya tertentu.
Jenis observasi yang digunakan merupakan observasi partisipan
menurut Riyanto (2010:98-100) observasi partisipan di mana orang (peneliti)
melakukan pengamatan berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan
orang yang diobservasi. Peneliti ikut andil dan terjun langsung dan
mengikuti aktifitas yang dilakukan subjeknya.
Alat pengumpulan data yang digunakan berupa pengamatan
secara langsung, serta berlandaskan pedoman yang telah didapatkan dari
pengamatan sejak turun kelapangan. Sehingga menemukan data-data secara
nyata sesuai apa yang ada di lapangan dalam panduan observasi.
3.6.2. Teknik Wawancara
Menurut Satori dan Aan (2011:129) wawancara dapat digunakan
sebagai teknik pengumpulan data dengan menemukan permasalahan-
permasalahan yang diteliti dan peneliti berkeinginan untuk mengetahui hal-
hal yang berhubungan dengan informan lebih [Link] wawancara
berarti melakukan interaksi komunikasi antara pewawancara (interviewer)
27
dan terwawancara (interviewee) dengan maksud untuk mendapatkan
informasi.
Wawancara adalah metode pengumpulan data yang amat popular,
karena itu banyak digunakan diberbagai penelitian (Bungin, 2003:155).
Teknik yang dilakukan dalam wawancara penelitian ini adalah wawancara
terstruktur, hal ini dilakukan untuk mencari jawaban hipotesis, untuk itu
pertanyaan yang disusun secara ketat dan pertanyaan yang diajukan sama
untuk setiap subjek (Bungin, 2003:155). Teknik ini dilakukan dengan
pertanyaan terbuka dan biasa sehari-hari, tujuan dilakukannya agar mampu
menggali kejujuran atas jawaban-jawaban yang telah diberikan oleh
informan
Alat yang digunakan dalam panduan wawancara berisi tentang
daftar pertanyaan yang akan ditanyakan peneliti pada saat mewawancarai
informan, serta alat perekam, kamera untuk mendokumentasikan dan buku
tulis untuk mencatat hasil wawancara yang telah dilakukan. Hal ini
dilakukan agar memudahkan menambah informasi dalam penelitian.
3.6.3. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi merupakan pencarian data mengenai hal-hal
atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,
notulen rapat, agenda dan lain sebagiannya (Arikunto, 1998:236). Menurut
Moleong (2005:217-218) bahwa dokumen dibedakan menjadi dua, yaitu
dokumentasi pribadi dan dokumentasi resmi.
Dokumentasi pribadi adalah catatan atau karangan secara tertulis
28
tentang tindakan, pengalaman dan kepercayaan. Dokumentasi pribadi
mencakup buku harian, surat pribadi dan otobiografi. Sedangkan dokumen
resmi terbagi atas dokumen internal dan dokumen [Link]
internal berupa memo, pengumuman dan [Link] dokumen
eksternal berisi bahan-bahan informasi yang dihasilkan suatu lembaga sosial,
seperti majalah dan berita yang disiarkan kepada media masa.
Alat-alat yang digunakan untuk melengkapi tekniknya berupa
buku-buku yang berkaitan dengan simbolik dan kebudayaan manusia, jurnal-
jurnal penelitian, serta catatan-catatan pribadi yang saya peroleh dari
pengalaman yang telah dikumpulkan untuk memperkuat penelitian ini.
Untuk mendokumentasikan hasil penelitian bisa juga berbentuk gambar,
sehingga saya juga mengambil gambar (foto) pada dokumentasi.
3.7. Teknik Analisis Data
Pada teknik analisis data yang digunakan berdasarkan model deduktif
atau deduksi, di mana teori masih menjadi alat penelitian sejak memilih dan
menemukan masalah membangun hipotesis maupun melakukan pengamatan
dilapangan dengan menguji data. Teori digunakan sebagai awal menjawab
pertanyaan penelitian bahwa sesunggguhnya pandangan deduktif penuntun
penelitian dengan terlebih dahulu menggunakan teori sebagai alat, ukuran
dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak
langsung peneliti akan menggunakan teori sebagai “kacamata kuda” dalam
melihat masalah penelitian (Bungin, 201:28).
3.8. Teknik Keabsahan Data
29
Untuk memeriksa keabsahan data, maka dilakukan dengan:
1. Ketekunan Pengamatan, yaitu dengan mengadakan observasi secara
intensif terhadap objek dan subjek penelitian agar dapat memahami
gejala yang lebih mendalam terhadap aspek-aspek penting kaitannya
dengan tema dan fokus penelitian.
2. Triangulasi, yaitu mengecek keabsahan data dengan memanfaatkan
berbagai sumber di luar data tertentu sebagai bahan perbandingan.
Trigulasi yang digunakan adalah trigulasi teknik yaitu dengan cara
membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara dan
data hasil pengamatan dengan dokumentasi.
3. Pengecekan anggota, dengan cara meneliti melibatkan informan untuk
mengecek keabsahan data. Ini dilakukan untuk mengkonfirmasikan
antara interpretasi peneliti dengan subjek penelitian.
30
BAB IV
GAMBARAN UMUM DESA SUNGAI NIPAH
4.1. Letak Geogafis Desa Sungai Nipah
Gambar 4.1
Seketsa Desa Sungai Nipah
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat terletak pada ketinggian
sekitar 1 Meter diatas permukaan laut (mdpl), sedangkan untuk
topografisnya berada disebelah pada 0°04'20.5" Lintang Utara dan
109°11'30.5" Bujur Timur dengan suhu udara rata-rata sekitar 25 ͦ C – 37 ͦ C,
dengan curah hujan 30 mm dalam setiap tahunnya dan kelembaban
mencapai 70%.
Terbagi dalam 2 dusun, yaitu Dusun Mawar dan Dusun Melati, serta
terdiri dari 22 RT dan 4 RW. Jarak tempuh yang ingin dicapai dari desa
dengan ibukota provinsi sekitar 35 km, sedangkan jarak tempuh dari desa
31
dengan ibukota Kabupaten Mempawah sekitar 47 km. Desa Sungai Nipah
memiliki luas wilayah 1.110 ha, memiliki batas wilayah di sebelah utara
Desa Peniti Luar, sebelah selatan Desa Jungkat, sebelah barat Laut Natuna
dan sebelah timur Desa Jungkat.
Gambar 4.2
Kantor Desa Sungai Nipah
Sumber : Profil Desa Sungai Nipah 2019
4.2. Jumlah Penduduk Desa Sungai Nipah
Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah tahun
2019 tercatat keseluruhan penduduk menurut umur atau jenis kelamin
berjumlah 4.648 jiwa. Dengan usia balita 0-4 tahun berjumlah 311 jiwa,
usia 5-9 tahun berjumlah 428 jiwa, usia 10-14 tahun berjumlah 426 jiwa, 15-
19 tahun berjumlah 422 jiwa, 20-24 tahun berjumlah 397 jiwa, 25-29 tahun
berjumlah 321 jiwa, 30-34 tahun berjumlah 371 jiwa, 35-39 tahun berjumlah
384 jiwa, 40-44 tahun berjumlah 294 jiwa, 45-49 tahun berjumlah 273 jiwa,
usia 50-54 tahun berjumlah 237 jiwa, usia 60-64 tahun berjumlah 150 jiwa,
usia 55-59 tahun 193 jiwa, usia 70-74 tahun berjumlah 121 jiwa, usia lebih
dari 74 tahun 82 jiwa, dibuktikan dengan tabel berikut ini:
32
Klasifikasi penduduk menurut usia sangat dibutuhkan sebagai alat
pemetaan potensi sumber daya manusia, berdasarkan usia produktif dan usia
non produktif yang akan berkaitan langsung dengan tingkat sosial ekonomi
dalam masyarakat. Selain itu dapat memudahkan langkah-langkah
indentifikasi suatu permasalahan, susunan penduduk menurut usia dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Menurut Umur
Kelompok Usia (tahun) Jumlah (jiwa)
0–4 311
5–9 428
10 – 14 426
15 – 19 422
20 – 24 397
25 – 29 321
30 – 34 371
35 – 39 384
40 – 44 294
45 – 49 273
50 – 54 237
55 – 59 193
60 – 64 150
65 – 69 120
70 – 74 121
‘> 74 82
Sumber : Profil Desa Sungai Nipah 2019
Berdasarkan tabel diatas dapat dapat dilihat dan diambil kesimpulan
bahwa jumlah penduduk terbanyak pada usia 5-9 tahun sebesar 428 jiwa dan
jumlah yang paling sedikit pada usia 74 tahun ke atas yang berjumlah 82
jiwa.
Melihat kondisi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelaminnya,
jumlah penduduk di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten
33
Mempawah dapat dilihat dari tabel di berikut:
Tabel 4.2
Jumlah Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah
Laki-laki 2.339 Jiwa
Perempuan 2.309 Jiwa
Jumlah 4.648 Jiwa
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Menurut data yang diperoleh dari profil Desa Sungai Nipah pada
tahun 2019 jumlah penduduk menurut jenis kelamin, jumlah laki-laki lebih
besar dari jumlah penduduk perempuan, jumlah penduduk laki-laki 2.339
jiwa sedangkan perempuan berjumlah 2.309 jiwa.
4.3. Mata Pencaharian Pokok Desa Sungai Nipah
Manusia bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, bekerja
merupakan bagian dari usaha yang dilakukan manusia untuk memperoleh
penghasilan. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pokok sehari-hari, baik material ataupun spiritual. Mata pencaharian
merupakan pokok dalam kehidupan manusia yang perlu diusahakan dalam
menjalani roda kehidupan.
Desa Sungai Nipah terbagi menjadi 2 wilayah, yaitu wilayah pesisir
di bagian barat dan wilayah dataran rendah di bagian timur. Luas lahan yang
dimiliki Desa Sungai Nipah yang ada terbagi dalam beberapa peruntukan,
seperti untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan
lain-lainnya.
34
Desa Sungai Nipah memiliki beragam aset sebagai kekayaan yang
dimiliki desa meliputi tanah kas desa, bengkok desa (tanah yang tidak dapat
diperjual belikan tanpa persetujuan masyarakat desa tetapi dapat disewa),
bangunan milik desa (Balai Desa, Posyandu, PAUD, dll), tanah lapang dan
pelayanan pendukung untuk kepentingan pemerintahan desa.
Masyarakat di Desa Sungai Nipah mayoritas mempunyai mata
pencaharian sebagai petani. Maka dari itu, seluruh lahan tegalan yang ada
dikelola untuk pertanian. Pada umumnya, masyarakat Desa Sungai Nipah
bercocok tanam berupa tanaman padi. Namun masih ada sebagian
masyarakat yang mengolah perkebunan seperti kelapa, sehingga tidak heran
banyak sekali sawah dan kebun kelapa di desa tersebut.
Gambar 4.3
Lahan Pertanian Desa Sungai Nipah
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Sebagian besar penggunaan lahan di Desa Sungai Nipah Kecamatan
Jongkat Kabupaten Mempawah, diperuntukkan untuk lahan pertanian. Dari
total luas wilayah administratif Desa Sungai Nipah sejumlah 1.110 hektar,
seluas 600 hektar digunakan sebagai lahan pertanian. Selebihnya
diperuntukan untuk sarana umum dan pemukiman penduduk.
35
4.4. Tingkat Pendidikan Desa Sungai Nipah
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk kehidupan
masyarakat dan memiliki keterkaitan dalam kemajuan perekonomian pada
masyarakatnya, karena dengan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan
mendongkrak tingkat kecakapan. Tingkat kecakapan juga akan mendorong
tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan, sehingga dapat membantu kemajuan
perekonomian.
Jumlah pendidikan yang tinggi akan mendorong munculnya lapangan
pekerjaan baru, sehingga dengan sendirinya akan membantu program
pemerintah untuk pembukaan lapangan kerja, guna mengatasi
pengangguran. Pendidikan biasanya akan dapat mempertajam sistimatika
pikir atau pola pikir individu, selain itu akan lebih mudah menerima
informasi yang lebih maju.
Dalam rangka memajukan pendidikan, Desa Sungai Nipah akan
secara bertahap merencanakan dan mengganggarkan bidang pendidikan baik
melalui ADD, swadaya masyarakat, program pemerintah, dan sumber-
sumber dana yang sah lainnya, guna mendukung program pemerintah yang
termuat dalam RPJM Daerah Kabupaten Mempawah.
Untuk melihat taraf atau tingkat pendidikan penduduk Desa Sungai
Nipah, jumlah angka putus sekolah serta jumlah sekolah dan siswa menurut
jenjang pendidikan, dapat dilihat di tabel di bawah ini :
Tabel 4.3
Tingkat Pendidikan
Kelompok Usia Sekolah Jumlah (jiwa)
36
Tidak / Belum Sekolah 457
Tidak Tamat SD 500
Tamat SD 949
Tamat SLTP 998
Tamat SLTA 109
Diploma II 40
Diploma III 63
Strata 1 65
Strata 2 2
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Berdasarkan data tersebut, tingkat pendidikan penduduk di Desa
Sungai Nipah masih sangat rendah. Berdasarkan data kependudukan
tersebut, jumlah penduduk tidak/belum sekolah mencapai 11,43%, yang
tidak tamat SD/Sederajat mencapai 16,17%. Sementara penduduk yang
tamat SD, SLTP dan SMU masing-masing hanya 20,74%, 23,64% dan
24,16%. Sedangkan jumlah penduduk yang tamat Diploma II, Diploma III
dan Sarjana masing-masing hanya 0,98%, 1,54% dan 1,37%.
Meningkatkan jumlah pendidikan menjadi tantangan yang sangat
besar bsagi desa Sungai Nipah. Masyarakat Sungai Nipah yang akan datang
atau generasi berikutnya harus memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik,
agar dapat membantu peningkatan kualitas produksi pertanian yang menjadi
sumber utama pendapatan masyarakat Desa Sungai Nipah.
Tabel 4.4
Fasilitas Pendidikan
Fasilitas Pendidikan Jumlah
PAUD 2
37
TK 0
SD/MI 2
SMP 0
SMU 1
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Pada tabel diatas dapat dilihat dan disimpulkan bahwa untuk fasilitas
pendidikan Desa Sungai Nipah masih dikategorikan rendah, karena fasilitas
yang kurang mendukung bagi masyarakatnya hanya memiliki 2 PAUD, 2
SD dan 1SMU. Sehingga untuk menjenjang pendidikan SMP masyarakat
Desa Sungai Nipah harus ke desa lain, karena tidak memiliki fasilitas SMP.
4.5. Penduduk Menurut Agama dan Keyakinan di Desa Sungai
Nipah
Memeluk salah satu agama di Indonesia merupakan hak asasi
manusia yang pal ing hakiki dimiliki setiap orang. Kehidupan beragama di
Indonesia adalah cerminan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
khususnya sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara Indonesia
memandang agama dan kepercayaan sebagai unsur utama yang tidak dapat
dilepaskan dari kehidupan masyarakat.
Masyarakat Desa Sungai Nipah terdiri dari berbagai macam agama,
namun dapat hidup berdampingan dan terjalin kerukunan hidup beragama
dalam pergaulan antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama
yang lainnya. Nilai-nilai agama yang mereka yakini menjadi landasan bagi
masyarakat Desa Sungai Nipah menjalani kehidupan sesuai dengan agama
dan kepercayaannya.
Desa Sungai Nipah mempunyai penduduk yang heterogen dilihat dari
38
agama dan keyakinan mereka. Perkembangan pembangunan di bidang
spiritual dapat dilihat dari banyaknya sarana peribadatan masing-masing
agama. Dari hasil pendataan penduduk yang beragama islam, Kristen,
Katholik, Budha, Hindu, Konghucu sebagaimana terlihat pada tabel berikut :
Tabel 4.5
Penduduk Menurut Agama dan Keyakinan
Agama Jumlah (jiwa)
Islam 4.049
Kristen 4
Katolik 41
Hindu -
Budha 0
Konghucu 396
Kepercayaan 0
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Berdasarkan tabel diatas bahwa mayoritas penduduk beragama Islam
sebanyak 4.049, berarti dalam pembinaan yang bersifat keagama harus bisa
diintensifkan sebagai upaya peningkatan hidup umat beragama yang ada di
Desa Sungai Nipah, agar menciptakan suasana yang aman, damai dan
sejahterah.
Setiap pemeluk agama tidak akan terlepas dari berbagai aktifitas
keagamaan, untuk melaksanakan aktifitas keagamaannya dibutuhkan sarana
tempat ibadah sebagai tempat berkumpulnya dalam rangka ibadah. Adapun
pembangunan tempat ibadah harus berdasarkan dari berbagai pertimbangan
seperti azas keadilan dan azaz kemanfaat.
Selain itu keberadaan sarana ibadah hendaknya dimanfaatkan sebaik-
39
baiknya, agar aktivitas keagamaan dapat berjalan dengan lancar sesuai
dengan kegiatan agama masing-masing. Adapun Sarana Ibadah di Desa
Sungai Nipah dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6.
Data Sarana Ibadah
Sarana Ibadah Jumlah
Masjid 3
Surau 8
Gereja 0
Kelenteng 2
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Berdasarkan data diatas dapat diambil kesimpulan jumlah prasarana
ibadah yang terdapat di Desa Sungai Nipah keseluruhan memiliki 13
prasarana ibadah, memiliki 8 surau, 3 masjid dan 2 kelenteng dan tidak
memiliki gereja.
4.6. Penduduk Berdasarkan Etnis Desa Sungai Nipah
Penduduk yang ada di Desa Sungai Nipah memiliki berbagai macam
etnis, yaitu Melayu, Bugis, Tionghoa, Jawa dan Madura. Mayoritas
penduduknya merupakan Masyarakat Melayu sekitar 80%, sehingga tidak
heran kebudayaan-kebudayaan pada masyarakat Melayu masih sangat kental
dan terus dibudayakan dari generasi ke genarasi berikutnya.
4.7. Tenaga Kesehatan Desa Sungai Nipah
Sarana tenaga kerja menjadi penunjang untuk menggambarkan
kesehatan di suatu lingkungan masyarakat. Berikut ini data tenaga kesehatan
40
di desa Sungai Nipah :
Tabel 4.7
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan Jumlah
Dokter 0
Bidan 3
Mantri 1
Dukun 9
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019
Berdasarkan data diatas dapat diambil kesimpulan tenaga kesehatan
yang dimiliki Desa Sungai Nipah cukup rendah, masyarakat masih banyak
yang berobat dengan dukun kampung apalagi jumlah dukun kampung yang
dimiliki cukup banyak disbanding tenaga kesehatan yang lain yaitu
berjumlah Sembilan orang. Sedangkan untuk alternatif pengobatan secara
medis, masyarakatnya biasa menggunakan mantri, walaupun hanya tersedia
satu mantri. Ada juga bidan yang berjumlah tiga orang, walaupun dokter
belum ada.
4.8. Sarana Transportasi dan Komunikasi
Daerah tidak akan berkembang jika sarana transportasi dan sarana
komunikasinya tidak mendukung, karena akan menghambat perkembangan
desa. Di Desa Sungai Nipah masyarakatnya menggunakan transportasi
bermacam-macam, dulunya masyarakatnya menggunakan sampan sebagai
alat transpotrasi air karena dekat dekat dengan pesisir. Sekarang setelah
mengalami banyak pembangunan, transportasi yang digunakan berupa
sepeda, motor dan mobil. Jalan yang dimiliki Desa Sungai Nipah cukup baik
41
untuk dilalui kendaraan roda dua ataupun roda empat.
Kendaraan roda duaseperti motor sudah menjadi kebutuhan primer,
bukan lagi sekunder. Karena hampir setiap rumah memiliki motor dan
bahkan ebih dari satu. Meskipun begitu sebagian banyak orang tua yang
masih menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya untuk ke pasar
bahkan ke masjid.
Pada bidang komunikasinya di sana sudah terdapat tower untuk
medapatkan sinyal, masyarakatnya sudah menggunakan handpone untuk
komunikasi. Meskipun masih ada masyarakat yang gaptek, tetapi anak-
anaknya sudah banyak mengunakan handphone untuk berkomunikasi
dengan orang lain. Sedangkan untuk televisi digunakan sebagai salah satu
sarana hiburan dan bahkan sarana untuk mendapatkan informasi tentang
berita-berita yang sedang berkembang.
4.9. Profil Informan
Sebelum penulis memaparkan lebih jauh mengenai penelitian yang
dilakukan, yaitu penelitian dengan judul “Tradisi Mandi Kembang Kaum
Perempuan Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah”,
dilakukan dengan mewawancarai berberapa informan. Dimana dalam
penelitian ini penulis terlebih dahulu memaparkan profil informan, yang
menjadi informan adalah kaum perempuan dan seorang paranormal. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan nama singkatan, karena sebelumnya
peneliti dan informan telah membuat persetujuan untuk merahasiakan
identitas informan dalam penelitian ini.
42
Adapun jumlah informan yang penulis maksud adalah berjumlah
tujuh orang yang terdiri dari satu paranormal, satu tokoh agama dan lima
kaum perempuan yang melakukan prosesi mandi kembang. Dilihat dari segi
umur informan, rata-rata berusia 20-60 tahun, dengan demikian informan
dianggap memiliki kemampuan untuk memberikan informasi, pengalaman
serta data yang penulis butuhkan. Berikut akan penulis urikan karakteristik
dari tujuh informan yang telah peneliti wawancara:
1. Informan AU
Informan yang pertama berinisial AU yaitu seorang perempuan yang
berumur 32 tahun, pendidikan terakhir SMA. Kesehariannya tidak
bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga. Merupakan salah satu
perempuan yang melakukan prosesi mandi kembang.
2. Informan SB
Informan yang kedua berinisial SB yaitu seseorang perempuan yang
berusia 34 tahun, pendidikan terakhir SMA. Pada kehidupan sehari-
harinya sebagai ibu rumah tangga. Merupakan salah satu perempuan
yang melakukan prosesi mandi kembang.
3. Informan MR
Informan yang ketiga berinisial MR yaitu seorang perempuan yang
berumur 38 tahun, pendidikan terakhir SMA. Pekerjaannya sebagai
wirausaha. Merupakan salah satu perempuan yang melakukan prosesi
mandi kembang.
4. Informan SR
43
Informan yang keempat berinisial SR yaitu seorang perempuan yang
berumur 28 tahun, pendidikan terkhir SMA. Pekerjaannya sebagai
buruh disalah satu pabrik. Merupakan salah satu perempuan yang
melakukan prosesi mandi kembang.
5. Informan FR
Informan yang kelima berinisial FR yaitu seorang perempuan yang
berumur 25 tahun, pendidikan terakhir S1. Belum memiliki pekerjaan.
Merupakan salah satu perempuan yang melakukan prosesi mandi
kembang.
6. Informan HN
Informan yang keenam berinisial HN yaitu seorang perempuan yang
berusia 60 tahun, pendidikan terakhir SD. Pekerjaan sehari-hari sebagai
petani. Merupakan paranormal yang biasa memandikan pada prosesi
mandi kembang.
7. Informan Ismail
Informan yang ketujuh bernama Ismail yaitu seorang laki-laki yang
berusia 45 tahun, pendidikan terakhirnya SMA. Pekerjaannya sebagai
pengajar ngaji dan mengisi acara-acara religi. Meruapakan salah satu
tokoh agama yang ada di Desa Sungai Nipah.
44
BAB V
TRADISI MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN DI DESA
SUNGAI NIPAH
5.1. Motivasi Kaum Perempuan Pada Mandi Kembang
Kaum perempuan yang melakukan ritual mandi kembang pastinya
memiliki alasan tertentu, mereka merasa putus asa dengan permasalahan
yang ada pada hidupnya dan melakukan mandi kembang. Mereka percaya
mandi kembang dapat memberikan aura posiif dan membuang kotoran-
kotoran jahat pada tubuhnya.
Mandi kembang dijadikan alternatif cara lain yang dapat dilakukan
dalam bentuk usaha, budaya ini digunakan bagi seseorang yang memiliki
permasalahan yang berkaitan dengan mencari jodoh, membuka aura untuk
suaminya dan dipermudahkannya dalam mencari kerja. Latar belakang kaum
perempuan yang melakukan mandi kembang juga bermacam-macam mulai
dari remaja hingga dewasa dengan berbagai macam permasalahan-
permasalahan dalam kehidupannya.
Ritual Mandi kembang sudah tidak banyak lagi yang melakukannya,
karena di kehidupan modern seperti sekarang ini, masyarakat kurang percaya
terhadap sesuatu yang tidak rasional dengan melakukan mandi kembang
dapat mengabulkan harapannya. Meskipun begitu masih ada masyarakat
yang percaya dan masih melakukan mandi kembang, khususnya kaum
perempuan.
Kaum perempuan mendapatkan informasi untuk melakukan mandi
45
kembang melalui mulut ke mulut masyarakat yang mengetahui, karena
jumlah orang yang dapat memandikan orang lain pada mandi kembang
sangatlah sedikit. Bahkan tidak banyak masyarakat yang mengetahui adanya
orang yang dapat memandikan pada mandi kembang.
Salah satu faktor sedikitnya orang yang mengetahuinya disebabkan
mandi kembang dilakukan oleh orang yang memiliki indra keenam atau
dapat melihat kejadian yang sedang terjadi pada orang lain dan tidak banyak
orang yang memiliki kemampuan seperti tersebut. Ketika seseorang
memiliki kemampuan seperti paranormal, orang tersebut biasanya diwarisi
ilmu tentang tata cara melakukan mandi kembang dan doa-doa yang akan
dibacakan.
Doa-doa yang dilakukan juga sebenarnya doa-doa yang ada pada
ajaran agama tetapi adanya budaya yang melekat pada masyarakat tentang
mandi kembang, sehingga mereka melakukan mandi kembang tidak keluar
dari perintah-perintah agama. Apalagi mayoritas masyarakat Desa Sungai
Nipah beragama Islam yang kental akan budaya dan Islamnya.
Dari hasil wawancara dengan narasumber yang melakukan mandi
kembang dan paranormal yang mamandikan, mereka banyak menceritakan
permasalahan-permasalahan yang dihadapinya, sehingga mereka melakukan
mandi kembang dan pengalaman yang dihadapi oleh paranormal saat
memandikan orang lain. Dari hasil wawancara dengan narasumber informan
AU berusia 32 tahun, Ibu AU ini ingin membuka auranya agar suaminya
kembali menyayanginya, karena suaminya diketahui telah berselingkuh
46
dengan perempuan lain, saat peneliti mewawancarai informan, subjek
menyatakan sebaga berikut:
“Awalnye saye ni suke kelai same suami, die suke balek
malam kadang malah tak balek kerumah. Taunye die selingkuh 2
hari die tinggal same perempuan tu, rase putus dah harapan saye.
Udah saye bawa berobat ke dukon kampong biar die pisah same
perempuan itu tadak gak die pisah. Mak saye nyarankan suruh saye
mandi kembang soalnye dulu mak saye ngalami hal yang same gak.
Akhirnye ketemu kawan yang pernah mandi kembang die suruh cobe,
akhirnye mandilah. Saye mandi setiap hari jumat, mandi yang
pertame kali jumat siang dan mandi yang kedua kali jumat malam.
Setelah mandi yang kedua suami saye balek kerumah.”
Dari hasil wawancara dengan Ibu AU yang pernah melakukan mandi
kembang, permasalahan yang dihadapinya merupakan permasalahan rumah
tangga. Dengan melakukan mandi kembang diharapkannya aura baik dalam
tubuhnya dapat keluar dan dapat membuat suaminya tidak berpaling ke
perempuan lain. Memiliki permasalahan yang sama Ibu SB berumur 34
tahun menceritakan motivasinya melakukan mandi kembang, hasil
wawancara oleh SB sebagai berikut:
“Sudah lamak dah tadak pernah bertegur sapa same suami,
padahal tinggal serumah dan sekarang kondisinye agik hamil besar.
Jangankan nak ngomong natap muke istri sendiri tadak maok, suami
saye suke mukul ape agik kalau die marah langsung ringan tangan.
Rasenye udah tadak kuat same die tapi kasian same anak-anak kalau
saye pisah. Dulu masih anak pertame udah mandi kembang same
orang lain, baik die sebentar tapi tak lamak mulai main tangan agik.
Udah dibawa ruqiah mulai baik die, tapi saat die keterima kerje di
hulu sifatnye berubah agik same saye. Setiap mandang saye kayak
benci gitu. Lalu mak saye kasian liat kondisi rumah tangga anaknye,
disarankan mandi kembang agik dengan tetangga dekat rumahnye
siape tau bise baik agik same saye. Saye udah mandi ke tige kalinye,
mandi yang pertame same kedua hari selase, mandi yang kedua
kalinye suami udah mulai mau ngomong sedekar nanyak mau cek
47
kandungan atau tadak, pokonye udah mulai peduli. Mandi yang
ketige suami kadang mulai ngomong sepatah dua patah.”
Permasalahan yang dialami Ibu SB ini merupakan masalah kekerasan
rumah tangga, suaminya tidak mencukupi kebutuhannya secara batin. Dia
ada tapi seakan-akan tidak ada di mata suaminya. Permasalahan tersebutlah
yang membuat Ibu SB melakukan mandi kembang yang kedua kalinya
dengan orang yang berbeda, meskipun hasil yang ditimbulkan setelah
melakukan mandi kembang tidak berubah secara drastis. Ibu SB
mempercayai selain berdoa usaha juga perlu dilakukan, mandi kembang
sejak dahulu dipercayai membawa aura baik pada tubuh, selagi tidak
merugikan diri sendiri tidak ada salahnya usaha yang dilakukan yaitu mandi
kembang.
Salah satu motivasi perempuan melakukan mandi kembang ingin
mendapatkan kemudahan dalam mencari jodoh, karena ketika tinggal di desa
perempuan yang umurnya di atas 20 tahun pasti akan selalu ditanya kapan
ingin menikah. Tidak kunjung mendapatkan jodoh merupakan salah satu
masalah seorang perempuan, sehingga timbul rasa resah ketika berada pada
posisi tersebut. Seperti wawancara dengan informan MR, subjek menyatakan
sebagai berikut:
“Udah 38 tahun masih belom dapatkankan jodoh, rasenye
udah capek nak carinye. Sekali maok same laki-laki malah die
betingkah, ade laki-laki yang cinte malah ndak suke same laki-laki
itu. Udah berkali-kali kayak gitu terus, pernah udah mau nikah laki-
lakinye tibe-tibe ninggalkan. Akhirnye cobe-cobe ngelakukan mandi
kembang siape tau dengan usaha mandi kembang jodoh bakalan
datang. Cuman sekali jak mandi hari jumat pagi karne ndak sempat
48
buat mandi agik karne sebok dan kadang tak punye waktu, memang
ndak langsung kelihatan hasil yang didapat dari mandi kembang.
Tapi yang namenye usahe mane gak tau, Alhamdulillah selepas enam
bulan mandi akhirnye dapat jodoh orang batak dan die milih masuk
Islam biar bise nikah same saye.”
Ketika sebuah doa mungkin belum dikabulkan, dengan pengaruh
budaya yang dipercayai MR melakukan usaha dengan melakukan mandi
kembang. Meskipun butuh waktu yang lama harapan yang diinginkan dapat
terwujud, MR percaya mungkin dengan usaha tersebut yang diharapkannya
akan terkabul.
Permasalahan terkait dengan jodoh juga dirasakan SR berusia 28
tahun yang setatusnya menjadi janda, salah satu perempuan yang melakukan
mandi kembang dengan harapan mendapatkan jodoh. Peneliti mewawancarai
subjek, penuturannya sebagai berikut:
“Saye pernah nikah sekali diumur yang mude, tapi berape
tahun kemudian pisah karne memang udah same kurang cocok dan
tadak bise nafkahi sebagai suami. Akhirnye pengen mandi kembang
dan nanyak kesana-kesini walaupun susah nemukan orang yang bise
mandikan, akhirnye ketemu gak dan melakukan mandi sebanyak 3
kali setiap jumat sore. Tujuan awalnye sih pengen buka aura biar
ketemu same jodoh yang sayang same saye dan tadak mampu dengan
omongan tetangga yang selalu mandang negatif jande yang umurnye
masih mude, selang delapan bulan mandi ketemu same cowok dan
niat serius dan mau nak nikah same jande.”
Permalasahan yang sedang dihadapi SR yang statusnya janda muda
membuat resah dirinya, omongan tentang hal-hal negatif selalu datang dan
akhirnya memutuskan melakukan mandi kembang dengan harapan dapat
menemukan jodoh yang bisa menerima statusnya sekarang, meskipun butuh
49
waktu yang lama untuk mendapatkan seseorang yang dapat menerimanya.
Menurutnya hal yang sangat wajar, mandi kembang hanyalah tradisi yang
masih diyakini sebagai usaha dan tidak bisa didapatkan secara instan tanpa
sebuah doa.
Manusia pasti memiliki permasalahan bahkan masalah itu datang
tidak mengenal umur, seorang perempuan FR berumur 25 tahun dihadapkan
dengan permasalahan yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan sejak lulus
kuliah. Semua perusahaan dan kantor menolak lamaran kerjanya dan
membuatnya putus asa. Peneliti mewawancarai FR, penuturan subjek
sebagai berikut:
“Sejak lulus sebagai sarjana sudah 2 tahun menganggur,
melamar diberbagai tempat belom ade panggilan. Saat itulah
pengen mencobe mandi kembang, dapat informasi dari tetangga
yang nyarankan. Niat awalnye pengen cobe karne sering dengar
cerite datok kalau mandi kembang bise bawa pengaruh baik, orang
jadi suke same kite. Mak pon udah mandi kembang gak, dan
jualannye di Malaysia udah ramai, orang-orang di sana jadi lebih
baik same mak sejak mandi kembang. Jadi cobelah ngeyakinkan diri
semoge hal-hal baik dari kembang balik agik ke diri sendiri, udah
tige kali ngelakukan mandi kembang setiap jumat sore. Sebulan
kemudian dapat panggilan kerje di perusahaan yang tadak terlalu
jauh dari rumah.”
Selain melakukan wawancara dengan kaum perempuan, peneliti juga
mewawancarai paranormal selaku orang yang memandikan permpuan,
penuturannya sebagai berikut:
“Sudah banyak perempuan yang sudah melakukan mandi
kembang, ade yang umurnye 17 tahun dan bahkan ade yang tue.
Semuenye ade masalah masing-masing. Saye tidak bise manstikan
dapat terkabul atau ndaknye, karne saye cuman nolong orang atas
50
kemampuan yang saye punye dan tradisi turun temurun yang
dipercaye. Ade gak yang belom terkabul harapannye, ade gak yang
terkabul. Itu semue balek agik kediri sendiri yakin ndak harapannye
nanti terkabul, intinye segale sesuatu tu harus yakin jak.”
Dari hasil wawancara dengan paranormal yang memandikan dia
menceritakan motivasi kaum perempuan melakukan mandi kembang banyak
dipengaruhi oleh berbagai macam alasan, salah satunya adanya dorongan
kepercayaan yang diyakini sebagai budaya yang tumbuh di dalam kehidupan
masyarakat, sehingga mencoba melakukannya. Manusia boleh meyakini
sebuah budaya, bukan berarti budaya tersebut menjadi sasaran utama
patokan keberhasilannya. Tidak semua harapan yang diinginkan dapat
terkabul dengan begitu cepat, karna tradisi ini sudah dikenal sejak dulunya
maka bisa dikatakan sebagai alternatif yang dapat dilakukan.
5.2. Pandangan Masyarakat Terhadap Mandi Kembang
Pandangan kaum perempuan yang melihat orang lain melakukan
tradisi ini bermacam-macam, ada yang pro dan kontra. Kaum perempuan
yang pernah melakukan mandi kembang mereka menilai orang yang
melakukan mandi kembang merupakan sebuah hal yang biasa, mereka
beranggapan karena telah putus asa salah satu usaha selain doa yang dapat
dicoba yaitu dengan melakukan mandi kembang.
Apalagi mandi kembang sebenarnya sudah dikenal sejak zaman
kerajaan dimana digunakan oleh ratu-ratu untuk mandi dan dilakukan hingga
sekarang, meskipun disetiap tempat mengenal dan melakukan prosesi mandi
kembang dengan prosesi dan pantang larang yang bermacam-macam,
51
bahkan ada cara yang berbeda-beda disetiap wilayah, sebenarnya tujuan
yang dilakukannya itu sama yaitu untuk mendapatkan sesuatu yang baik-
baik.
Sebaliknya kaum perempuan yang tidak percaya menilai budaya
melakukan mandi kembang adalah sesuatu yang tidak masuk akal, apalagi
ketika dikaitkan dengan kehidupan modern yang sudah canggih dan harus
berfikir luas dan bukan melakukan sesuatu yang tidak rasional dengan
percaya kepada hal-hal yang lebih bersifat mistis. Karena banyak masyarakat
awam menilai mandi kembang selalu berkaitan dengan dunia mistis, tetapi
sebenarnya kembali lagi budaya mana yang melakukan hal tersebut. Budaya
bisa saja sama tetapi tata cara dan makna yang disampaikan bisa memiliki
perbedaan.
Selain itu peneliti juga melakukan wawancara terhadap salah satu
tokoh agama yang ada di Desa Sungai Nipah, yang bernama Ismail yang
berusia 45 tahun, kegiatan sehari-harinya mengajar anak-anak mengaji dan
mengikuti kegiatan yang bersifat religius. Dari hasil wawancara mengenai
tanggapannya adanya tradisi mandi kembang sebagai berikut:
”Adenye kepercayaan masyarakat dengan mandi kembang
sebenarnye timbul dari rase kepercayaan sebuah budaye, memang
didalam agama tak ade istilah mandi dapat ngabulkan harapan. Tapi
karne masyarakat melayu ni banyak tradisinye kayak tradisi buang-
buang, tradisi robo-robo. Itukan tradisi yang emang tak ade
diajarkan agama tapi tetap dilakukan dan adenye makna dari tradisi
itu yang tak bise ditinggalkan meskipun udah sebagian masyarakat
yang ninggalkannye, jike diambil secara rasional mungkin mandi
kembang niatnye untuk membersihkan diri, karne dengan mandi
akan menghilangkan kotoran-kotoran pada tubuh”.
Dari penuturan salah satu tokoh agama di sana bahwa di dalam
52
ajaran agama Islam tidak terdapat adanya ketentuan melakukan mandi
kembang, adanya tradisi ini dikarenakan kepercayaan masyarakat yang
sudah mengakar yang mengaitkan adanya ajaran agama dengan alam sekitar
yang dianggap berperan penting dan memberikan manfaat pada kehidupan.
Apalagi Masyarakat Melayu banyak memiliki tradisi yang berkaitan
dengan alam salah satu contohnya seperti tradisi buang-buang (memberikan
makanan yang nantinya dibuang di sungai). Terdapat ritual dan doa-doa
pada proses melakukannya dan doa tersebut dikaitkan dengan sistem religi
masyarakat.
Masyarakat sulit menemukan seseorang yang melakukan mandi
kembang, karena memang perempuan yang ingin melakukan mandi
kembang tersebut lebih bersifat tertutup. Pengertian tertutup ini dalam artian
mereka melakukannya secara diam-diam, perempuan yang melakukan mandi
kembang ini merasa malu jika masyarakat mengetahui permasalahan yang
ada pada hidupnya.
Oleh sebab itu mandi kembang mulai hilang dan hanya sedikit sekali
yang mengetahuinya dan mulai hilang rasa keyakinannya pada tradisi mandi
kembang. Sebenarnya mandi kembang juga dapat dilakukan oleh laki-laki,
tetapi karena paranormal yang melakukan mandi kembang itu biasanya
perempuan, maka mandi kembang banyak diminati oleh kaum perempuan.
Kebanyakan paranormal tidak mau memandikan laki-laki takut terjadi fitnah
oleh masyarakat lokal yang masih kental akan hukum adatnya.
Mandi kembang tidak bisa di nilai salah atau benar, karena termasuk
53
bagian kebudayaan yang dilakukan masyarakat. Kebudayaan tersebut
diciptakan oleh pengetahuan masyarakat yang mengkaitkannya memiliki
makna ketika hal tersebut dilakukan, makna tersendiri diciptakan juga oleh
masyarakat baik itu berdasarkan pengetahuan yang diwarisi oleh nenek
moyangnya maupun pengetahuan yang diciptakan masyarakat melalui
pengalaman. Kebudayaan tersebut dapat diikuti oleh satu keluarga inti,
sekumpulan komunitas bisa berdasarkan wilayah tertentu.
5.3. Prosesi Mandi Kembang
Sebelum melakukan prosesi mandi kembang, terlebih dahulu harus
berkonsultasi kepada paranormal tentang permasalahan yang dihadapi,
setelah itu paranormal memberikan saran kepada orang yang ingin mandi
dan menginformasikan perlengkapan yang harus disediakan saat melakukan
prosesi mandi kembang.
Mandi kembang dilaksanakan pada hari selasa dan jumat, paling
banyak dilakukan 3 (tiga) kali pemandian dan paling sedikit 1 (satu) kali
pemandian. Banyak sedikitnya melakukan mandi kembang tergantung dari
keberhasilan terkabulnya harapan seseorang tersebut atau tergantung dari
kaum perempuan ingin melakukan mandi kembang berapa kali, jika sudah
tiga (3) kali melakukan mandi kembang tetapi harapan yang diinginkan
belum terkabul, orang tersebut harus menunggu dan diiringi dengan doa.
Keberhasilan yang didapat dari mandi kembang tidak selalu cepat terkabul
dan selalu terkabul, terkadang butuh waktu yang lama agar harapaan yang
diinginkan seseorang setelah mandi kembang itu dapat terkabul.
54
Keberhasilan dikabulkannya sebuah harapan yang diinginkan setelah
melakukan mandi kembang sebenarnya kembali lagi pada orang tersebut.
Semakin seseorang percaya dan yakin akan terkabulnya harapannya serta
selalu berdoa kepada Tuhan, harapan yang diinginkan orang tersebut
dipercaya akan lebih cepat terkabul.
Pada prosesi mandi kembang memiliki berbagai macam tahapan agar
mandi kembang tersebut dapat dilakukan, mandi kembang dilakukan oleh
seorang paranormal. Menurut paranormal sendiri bahwa:
“Sebelum melakukan mandi ini sebaiknye berwudhu baik itu
yang pengen mandi maupun yang memandikan biar lebih afdol,
diharuskannye berwudhu karne ape yang ade didalam badan ni yang
kotor-kotor dapat pergi itulah awal dilakukannye mandi kembang”
Menurut penuturan paranormal tersebut bahwa dengan berwudhu
terlebih dahulu akan membawa dampak yang lebih baik, karena mayoritas
yang melakukan mandi kembang ini adalah beragama Islam, jadi tidak
masalah jika mereka harus berwudhu terlebih dahulu sebelum melakukan
prosesi mandi kembang.
Berikut adalah tata cara yang akan dilakukan pada prosesi mandi kembang :
1. Menyediakan lokasi untuk melakukan prosesi mandi kembang
Lokasi yang dimaksudkan berupa tempat akan dilakukannya prosesi
mandi kembang, lokasi ini biasanya ditentukan oleh orang yang ingin mandi
kembang ataupun berdasarkan persetujuan bersama dengan paranormal.
Gambar 5.1
Tempat Melakukan Mandi Kembang
55
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Dari gambar di atas merupakan tempat yang bisa digunakan pada
prosesi mandi kembang, masyarakat Desa Sungai Nipah menyebutnya
pelantaran dapok. Diartikan sebagai tempat yang digunakan sebagai tempat
mencuci piring, tempat mencuci baju dan bahkan tempat mandi. Pelantaran
dapok ini memiliki dinding-dinding yang melindungi agar tidak mudah
dilihat oleh masyarakat umum.
Pada prosesi mandi kembang harus dilakukan di tempat yang
memiliki sekat atau dinding-dinding pelindung agar orang lain tidak bisa
dengan mudahnya melihat saat berlangsungnya prosesi mandi kembang.
Biasanya pelantaran dapok ini terletak dibagian belakang rumah dan
56
menyatu dengan rumah, memiliki lantai kayu maupun lantai yang sudah di
semen dengan ditutupi dinding di sekelilingnya.
2. Menyediakan air dan kembang
Gambar 5.2
Wadah dan Air
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Dari gambar di atas adalah wadah dan air yang akan digunakan untuk
mandi kembang. Wadah yang digunakan boleh apa saja, bisa berupa ember,
baskom atau tempat lain yang dapat menampung air yang cukup banyak
untuk mandi. Air yang digunakan juga boleh air apa saja, asalkan air yang
mengalir. Bisa berupa air sungai, air keran dan lain sebagiannya.
Air yang menglir bermakna air yang dapat menhantarkan sumber
kehidupan yang selalu dibutuhkan manusia. Air mengalir digunakan untuk
melakukan mandi kembang agar air tersebut dapat mengalirkan kotoran
jahat pada tubuh dan membuangnya. Air yang mengalir dipercaya lebih
bersih dari pada air endapan, dikhawatirkan ada kotoran binatang yang
57
terkena pada air tersebut ataupun najis-najis lain.
Gambar 5.3
Kembang Untuk Mandi
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Setelah menyiapkan air untuk mandi, siapkan juga berbagai jenis
kembang yang bisa didapatkan disekitar lingkungan atau yang mudah
ditemui dan jangan menggunkan kembang yang memiliki duri pada bagian
daun maupun tangkainya. Kembang tersebut diletakkan ke dalam wadah
yang nantinya kan dibacakan oleh paranormal.
Dalam wadah tersebut paranormal membacakan doa kepada Tuhan
agar harapan yang diinginkan orang yang mandi kembang ini dapat terkabul,
karena niat utamanya melakukan mandi kembang untuk membersihkan diri
dari segala macam kejahatan yang ada pada tubuh. Air tersebutlah yang di
namakan air kembang pada ritual mandi kembang, air itu difungsikan
sebagai salah satu prantara aura baik yang ada pada kembang tersebut keluar
58
setelah dicampurkannya kedalam air.
Gambar 5.4
Air Kembang
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Kembang yang sudah dibacakan doa selanjutnya dicampur dengan
air yang sudah disiapkan di dalam wadah, bisa dilihat pada gambar diatas.
Saat mencampurkan kembang seorang paranormal mengawalinya dengan
membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan berdoa ke pada Tuhan, dengan
sambil diaduk sebanyak 3 (tiga) kali.
3. Langkah –langkah pada mandi kembang
Pada tahapan ini mulai dilakukannya prosesi mandi kembang, yang
terdiri dari 3 (tiga) hal yang wajib dilakukan. Tahap yang pertama dengan
menyiram pangkal kepala, selanjutnya menyiram bagian kanan badan dan
59
yang terakhir menyiram bagian kiri badan. Serta dilanjutkan menyiram
seluruh bagian badan tetapi ini dilakukan oleh orang yang mandi atau kaum
perempuan, bukan dilakukan oleh paranormal.
Gambar 5.5
Menyiram Pangkal Kepala
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Memasuki tata cara pemandian pada mandi kembang, perempuan
harus wajib melakukan tahapan ini, karena tahap dimulainya sebuah ritual
pada mandi kembang. Pada tahapan awal ini dimulai dari seorang
paranormal melakukan menyiram pangkal kepala perempuan yang
melakukan mandi kembang. Pangkal kepala di maknakan sebagai awal
bagian tubuh yang mana akan mengalirkan hal-hal jahat turun kebawah dan
keluar dari tubuh perempuan tersebut.
60
Setiap melakukan penyiraman seorang paranormal mengucapkan
salam kepada Rasullah S.A.W. dan doa-doa yang diucapkannya dengan
suara yang tidak keras melainkan di dalam hati. Penyiraman dilakukan
sebanyak tiga kali, selanjutnya dilanjutkan menyiram tubuh bagian kanan.
Gambar 5.6
Menyiram Bagian Kanan
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Pada penyiraman tubuh yang diutamakan adalah bagian kanan
terlebih dahulu yang bermakna sesuatu yang baik, dalam kepercayaan sistem
religi Masyarakat Melayu kanan banyak digunakan untuk hal-hal kebaikan,
Misalnya memberi menggunakan tangan kanan, melangkahkan ke tempat
ibadah menggunakan tangan kanan, maka dari itu diutamakan mandi pada
61
bagian kanan terlebih dahulu, agar hal utama yang selalu datang pada
perempuan tersebut adalah sebuah kebaikan. Penyiraman dilakukan
sebanyak tiga kali dengan diiringi doa yang dibacakan paranormal di dalam
hati.
Gambar 5.7
Menyiram Bagian Kiri
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Tahapan yang ketiga dengan menyiram bagian kiri tubuh, ini
dilakukan agar seuruh tubuh dapat terkena air kembang, tahapan yang ketiga
ini juga dilakukan penyiraman sebanyak tiga kali dengan diiringi doa yang
dibacakan oleh paranormal didalam hati. Makna dilakukannya penyiraman
dibagian kiri supaya tubuh dapat seimbang antara kiri dan kanan, jika kanan
62
mendapatkan hal baik yang kiri demikian.
Setelah melakukan penyiraman sebanyak tiga kali pada pangkal
kepala, tubuh sebelah kanan dan tubuh sebelah kiri. Air kembang yang
tersisa harus dihabiskan dan dilanjutkan peyiraman oleh perempuan yang
melakukan mandi kembang sampai air kembang itu benar-benar habis. Saat
perempuan yang mandi menyiram tubuhnya, sebaiknya mengucapkan
harapan-harapan yang diinginkan didalam hati dapat juga berupa doa-doa
sesuai keyakinannya.
Gambar 5.8
Menghidupkan Stanggih
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
63
Setelah selesai melakukan mandi kembang dan telah menggunakan
pakaian, dilanjutkan dengan menghidupkan stanggih. Masyarakat Desa
Sungai Nipah biasa menyebut gambar di atas sebagai stanggih, ini bisa
didapatkan di toko-toko terdekat dan banyak sekali yang menjualnya.
Stangggih yang digunakan merupakan stanggih Arab atau bisa di sebut
dupa.
Stanggih ini di letakan di wadah yang lebarnya keatas dan dapat diisi
dengan beras, wadah yang digunakan bisa berupa gelas, botol dan lain
sebagiannya. Digunakannya beras fungsinya sebagai penahan agar stanggih
tersebut dapat tegak, selesai stanggih digunakan beras tersebut tidak perlu
dibuang dan masih bisa digunakan untuk makan.
Makna dihidupkannya stanggih selesai melakukan mandi kembang
agar aroma harum stanggih tersebut melekat pada tubuh dan menambah
semangat pada perempuan tersebut, serta asap yang dikeluarkan dari
stanggih akan mendatangkan sesuatu yang baik-baik. Stanggih Arab ini
banyak digunakan saat kegiatan keagamaan maupun kegiatan budaya pada
masyarakat Desa Sungai Nipah, itulah sebabnya stanggih juga dipakai pada
prosesi mandi kembang.
Jika permasalahan yang dihadapi seseorang berupa masalah konfilk
hubungan rumah tangga dan ingin membuka auranya untuk suaminya,
biasanya disamping beras yang telah dihidupakan stanggih diletakkan foto
ataupun kertas yang terdapat gambar suaminya. Nantinya akan gambar
tersebut akan dibacakan Al-Fatihah oleh paranormal, agar hati suaminya
64
luluh untuk istrinya.
Asap yang ditimbulkan dari membakar stanggih ini dihapkan akan
menghantarkan harapan yang ingin dicapai, masyarakat lokal percaya roh-
roh seperti malaikat senang dengan aroma wangi, dengan menghidupkan
stanggih maka diharapkan disitu juga ada malaikat yang dapat mengaminkan
harapan yang diinginkan oleh perempuan tersebut.
Gambar 5.9
Stangih Dengan Foto
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Dari gambar di atas merupakan stanggih yang diletakkan foto, bisa
65
berupa kertas yang terdapat gambar suaminya. Setelah dibacakan Al-
Fatihah, stangih boleh dimatikan ataupun tetap dihidupkan sampai stanggih
tersebut habis, biasanya stanggih dimatikan jika terasa aroma ruangan
beraroma stanggih.
5.4. Makna Mandi Kembang
Adanya sesuatu yang diyakini dan dilakukan oleh manusia pasti
memiliki makna yang terkandung didalamnya, makna tersebut bisa diperoleh
melalui sejarah, pengalaman, kebiasaan dan kepercayaan setiap masyarakat.
Mandi kembang memiliki makna yang terkandung didalamnya, baik berupa
alat dan bahannya maupun makna dilakukannya proses mandi kembang itu
sendiri.
Dari adanya proses wawancara dengan paranormal yang memiiki
informasi mengenai makna yang terkandung dari mandi kembang hingga
dapat dipercayai kaum perempuan hingga masih dilakukan hinga saat ini
yang dipercaya dapat membawa kebaikan ketika orang itu memandikannya.
5.4.1. Makna Kembang
Bunga atau kembang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dalam kehidupan, karena pada umumnya bunga banyak digunakan
diberbagai macam kegiatan manusia. Selain dapat menjadi hiasan, bunga
juga memiliki simbol-simbol disetiap pemaknaannya, salah satunya bunga
atau kembang ini digunakan pada prosesi mandi kembang.
Kembang merupakan penyebutan bunga, masyarakat menyebut
66
mandi bunga sebagai mandi kembang. Bunga sendiri merupakan salah satu
hal yang sangat penting pada mandi kembang, karena menjadi salah satu
syarat yang wajib ada. Masyarakat Desa Sungai Nipah biasa menggunakan
bunga apa saja yang tumbuh dilingkungannya, terkecuali bunga yang
memiliki batang maupun daun yang berduri.
Bunga dimaknai sebagai prantara mengahantarkan kebaikan,
karena bunga memiliki wangi dan banyak yang menyukainya, baik itu
binatang maupun manusia. Apalagi sejak zaman dahulu bunga banyak
digunakan oleh ratu-ratu sebagai bahan tambahan untuk mandi maupun
aroma wewangian, dengan mandi menggunakan bunga bermakna hal-hal
baik akan datang pada tubuh dan membuang hal-hal yang kotor.
Selain itu mandi kembang dipercaya menaikan seri wajah karena
badan menjadi segar disebabkan oleh khasiat berbagai macam bunga-bunga
tersebut. Mandi kembang dipercaya akan menyerap tenaga matahari yang
terbaik dan kebaikannya akan diturunkan bagi orang yang memandikannya,
serta mandi kembang berkhasiat menambah energi pada tubuh dan
menghilangkan bau badan. Oleh sebab, itu mandi kembang memiliki banyak
manfaat bagi seseorang yang memandikannya.
Pada proses mandi kembang, kembang yang digunakan harus
memiliki jumlah nilai yang ganjil yaitu 3, 5, 7 dan 9 (tiga, lima, tujuh dan
sembilan). Bagi yang ingin mandi kembang bebas memilih jumlah bunga
yang akan digunakan, tetapi lebih banyak lebih baik. Semakin banyak bunga
yang digunakan, maka mandi kembang tersebut akan menimbulkan aroma
67
yang wangi dan lebih berkhasiat.
Penggunaan jumlah ganjil dalam mandi kembang bermakna
dapat mendatangkan hal-hal yang baik, ketika hal-hal baik itu diakukan
maka akan mendatangkan kebaikan juga. Oleh sebab itu, dalam prosesi
mandi kembang selalu menggunakan bunga dalam jumlah yang ganjil.
Berikut bunga-bunga yang sering dipakai pada prosesi mandi kembang yang
dilakukan oleh kaum perempuan di Desa Sungai Nipah.
Gambar 5.10
Bunga Kembang Sepatu
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Bunga kembang sepatu atau nama latinnya Hibiscus rosa-
sinensis tanaman ini merupakan tanaman yang sering tumbuh bebas di
lingkungan masyarakat Desa sungai Nipah. Bunga ini merupakan salah satu
bunga yang digunakan pada prosesi mandi kembang. Digunakannya bunga
ini karena mudah ditemukan dan dipercaya memiliki khasiat menjaga
68
kesehatan kulit, minyak yang terkandung di dalam bunga kembang sepatu
bisa membantu membersihkan kulit mati dan membuat kulit lebih halus.
Pada saat bunga kembang sepatu ini mekar sangatlah indah
seperti memancarkan kebahagian, sehinggga dimaknakan saat bunga
kembang sepatu digunakan pada prosesi mandi kembang dapat membuat
orang yang mandi menjadi seperti bunga kembang sepatu yaitu tampak
selalu bahagia.
Gambar 5.11
Bunga Melati
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Bunga melati atau nama latinnya Jasminum merupakan salah satu
bunga yang digunakan pada proses mandi kembang, bunga putih ini
memiliki aroma yang sangat wangi. Bunga melati ini banyak digunakan
pada prosesi mandi kembang karena memiliki banyak manfaat dan memiliki
aroma yang sangat khas, siapapun yang mencium aromanya pasti mengenali
bunga tersebut.
69
Bunga melati juga bisa ditemui di Desa Sungai Nipah, karena
biasa ditanam di pekarangan rumah. Salah satu manfaat yang dimliki oleh
bunga melati adalah dapat menghilangkan stres, aroma yang dimiliki dapat
menjadi terapi bagi tubuh. Apalagi digunakan sebagai bahan campuran
dalam mandi kembang dipercaya aroma wanginya akan berpindah pada
tubuh.
Gambar 5.12
Bunga Asoka
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Bunga asoka atau nama latinnya Saraca indica salah satu bunga
yang biasa digunakan pada prosesi mandi kembang. Bunga ini memiliki
warna yang cerah dan sering digunakan anak-anak untuk bermain, selain itu
bunga asoka dipercaya memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan tubuh.
Karena bunga ini banyak tumbuh dilingkungan masyarakat, bunga ini sering
70
digunakan pada mandi kembang.
Digunakannya bunga ini pada prosesi mandi kembang karena
bunga ini seperti gerombolan orang yang saling menyayangi, dikelilingi
bunga yang sama dan saling menyatu. Sehingga bermakna jika
digunakannya bunga itu pada prosesi mandi kembang, orang yang mandi
tersebut diharapkan dapat seperti bunga yang selalu hidup rukun pada
masyarakat sekelilingnya.
Gambar 5.13
Bunga Zinnia
Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019
Bunga zinnia dengan nama latinnya Zinia elegans ini biasa
disebut dengan bunga kertas, karena bunga ini memiliki kelopak bunga yang
terasa seperti kertas. Bunga ini banyak tumbuh di Desa Sungai Nipah dan
71
menjadi salah satu bunga yang sering digunakan pada prosesi mandi
kembang. Umumnya bunga dijadikan sebagai tanaman hias perkarangan
rumah karena bentuknya yang cantik dan mudah tumbuh di Desa Sungai
Nipah.
Bunga yang indah ini banyak digunakan pada prosesi mandi
kembang karena bunga ini cantik dan menarik, ketika bunga ini dipakai pada
proses mandi kembang dapat bermakna bunga tersebut dapat menghantarkan
kecantikan dan banyak orang yang tertarik pada orang melakukan mandi
kembang.
Gambar 5.14
Bunga Adenium
Sumber : foto pribadi pada saat penelitian
Adenium atau kemboja yang memiliki nama latinnya Adenium
72
obesum merupakan tanaman yang sering dijadikan tanaman hias. Bunga ini
merupakan salah satu bunga yang digunakan pada prosesi mandi kembang.
Masyarakat Desa Sunga Nipah sering menyebutnya bunga kamboja, bunga
ini jarang dijumpai karena banyak dijadikan sebagai tanaman hias dan
bunganya sangat dirawat.
Bunga ini digunakan karena bermakna tanaman yang mahal sulit
dicari dan disukai banyak orang, banyak yang rela menghabiskan uangnya
untuk merawat dan membeli tanaman tersebut. Sehingga jika menggunakan
bunga kamboja pada mandi kembang diharapkan banyak juga orang yang
menyukainya seperti orang menyukai bunga tersebut.
Gambar 5.15
Bunga Kenanga
Sumber : foto pribadi pada saat penelitian
Bunga kenanga atau nama latinnya Cananga odorata merupakan
salah satu bunga yang juga bisa dipakai pada mandi kembang, bunga
73
kenanga ini sekarang sudah jarang ditemukan dipekarangan rumah
masyarakat Desa Sungai Nipah. Tetapi masih ada sebagian rumah yang
menanam bunga kenanga tersebut.
Bunga kenanga memiliki wangi yang sangat khas, aromanya khas
membuat bunga ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain itu bunga terebut
memiliki manfaat yang baik untuk tubuh jika digunakan untuk bahan
campuran mandi, aromanya yang begitu wangi membuatnya seperti melekat
pada tubuh. Bunga kenanga dimaknakan harum yang dimilikinya dapat
mengaharumi orang yang mandi kembang.
Gambar 5.16
Bunga Tapak Dara
Sumber : foto pribadi pada saat penelitian
Bunga tapak dara atau nama latinnya Catharanthus roseus Don
74
merupakan salah satu bunga yang sering digunakan pada prosesi mandi
kembang. Bunganya yang memiliki banyak warna yang indah-indah, bunga
tapak dara putih hampir mirip bunga melati. Bunga ini sering digunakan
karena mudah ditemui di Desa Sungai Nipah dan banyak tumbuh liar.
Salah satu manfaat yang diberikan pada bunga ini dapat menjadi
relaksasi dan penghilang setres jika digunakan sebagai tambahan mandi
kembang. Digunakannya bunga ini untuk mandi kembang bermakna semoga
dipermudahkannya juga harapan yang diinginkan orang yang melalukan
mandi kembang karena bunga ini sangat mudah ditemukan.
5.4.2. Makna Hari Selasa dan Jumat
Untuk melakukan mandi kembang dilakukan sebanyak 3 (tiga)
kali yaitu hari selasa ataupun jumat, ketentuan itu ditetapkan oleh
paranormal. Waktu yang dapat dipilih untuk melakukan mandi kembang
tidak memiliki batasan, bisa dilakukan pagi, siang, sore dan malam.
Seseorang yang ingin mandi kembang dapat memilih kapan waktu luang
untuk bisa melakukan mandi kembang, sesuai kesepakatan bersama dengan
paranormal.
Hari selasa dan hari jumat tersebut bukan semata-mata ditentukan
oleh seorang paranormal, tapi sudah tradisinya melakukannya pada hari
tersebut. Makna hari selasa untuk melakukan mandi kembang diartikan
sebagai hari baik, karena hari selasa adalah hari ketiga dari satu pekan. Tiga
itu di simbolkan sesuatu yang baik seperti diibaratkan berwudhu yang
dilakukan sebanyak tiga kali.
75
Mandi kembang juga boleh diakukan pada hari jumat, hari
tersebut dianggap baik dalam masyarakat Melayu, meskipun semua hari
sebenarnya hari yang baik. Hari jumat seperti hari yang tepat untuk
membersihkan hal-hal yang buruk pada diri manusia, masyarakat
beranggapan hari jumat hari yang baik untuk memotong kuku, memotong
rambut dan hari yang baik untuk membersihkan rumah. Begitu juga
melakukan mandi kembang dipercaya dapat membersihkan hal-hal yang
buruk pada tubuh.
Kaum perempuan yang ingin melakukan mandi kembang banyak
yang memilih hari jumat, sebab menurut mereka hari tersebut lebih baik.
Ada juga yang melakukannya pada hari selasa, meskipun orang yang
melakukan mandi kembang pada hari itu tidak sebanyak hari jumat.
5.4.3. Makna Kain Untuk Mandi
Saat melakukan proses mandi kembang seorang perempuan yang
akan melakukan mandi mengenakan kain untuk menutup tubuhnya, yang
merupakan kain panjang biasa disebut kain kemban atau kain basah oleh
masyarakat Desa Sungai Nipah. Kain tersebut merupakan kain yang
digunakan kaum perempuan untuk mandi, nantinya kain tersebut akan
dibasahi ketika mandi.
Digunakannya kain untuk menutupi tubuh perempuan, karena
tidak mungkin perempuan yang mandi kembang tidak menutup tubuhnya
dan jika menggunakan baju saat melakukan mandi kembang dikhawatirkan
air kembang tersebut tidak banyak terserap oleh tubuh, sehingga akan hilang
76
manfaat yang didapat saat melakukan prosesi mandi kembang.
5.5. Pantangan Pada Mandi Kembang
Tradisi mandi kembang terdapat pantangan yang harus diketahui
sebelum melakukannya, ini bukan hanya berlaku pada perempuan yang ingin
mandi, tetapi berlaku juga untuk paranormal yang memandikan. Pantangan
ini sudah berlaku sejak dahulu, mungkin ada perbedaan pantangan ketika
mandi kembang ini dilakukan di wilayah lain.
Setiap tempat atau wilayah tertentu bisa saja memiliki tradisi
mandi kembang dan kemungkinan pantangan yang dimiliki ada yang
berbeda dan ada yang sama. Semuanya itu didapatkan dari pengetahuan
yang sudah berkembang dikehidupannya, diwariskan hinggga menjadi
budaya yang mengakar hingga saat ini masih terus dilakukan.
5.5.1. Peralatan Mandi Bukan Dari Kamar Mandi
Peralatan mandi yang digunakan dilarang menggunakan sesuatu
yang pernah masuk ke dalam kamar mandi, biasanya kamar mandi yang ada
Di Desa Sungai Nipah bergabung dengan tempat WC (water closet).
Dilarangnya menggunakan peralatan yang berasal dari kamar mandi dan
bahkan pernah digunakan di kamar mandi itu karena dikhawatirkan
mengandung najis.
Ketika hendak melakukan prosesi mandi kembang di wajibkan
menggunakan peralatan yang tidak pernah digunakan untuk keperluan kamar
mandi, lebih baik menggunakan barang-barang yang baru agar
mengantisipasi barang tersebut tidak pernah masuk kedalam kamar mandi
77
ataupun digunakan di kamar mandi.
5.5.2. Perempuan Dalam Keadaan Haid
Seseorang yang ingin melakukan mandi kembang sangat dilarang
jika dia sedang berhalangan atau haid. Jika perempuan tersebut ingin mandi
dan dia sedang berhalangan, maka harus menunggu sampai haidnya selesai.
Begitu juga paranormal yang memandikannya memiliki larangan yang sama,
jika sedang berhalangan maka tidak boleh memandikan orang lain.
Sebab dilarangnya dikarenakan haid merupakan saat seseorang
sedang mengeluarkan darah kotor, sedangkan tujuan melakukannya mandi
kembang untuk mendapatkan hal-hal yang baik sehingga harus berasal dari
yang bersih-bersih. Apalagi sebelum melakukan mandi kembang perempuan
maupun paranormal di wajibkan mengambil wudhu agar selalu terhindar
dari kotoran dan selalu bersih. Itu sebabnya dilarangnya seseorang yang
sedang haid pada mandi kembang.
5.5.3. Berdasarkan Keinginan Bukan Paksaan
Melakukan mandi kembang harus berdasarkan kemauan sendiri
dan keyakinan dapat terkabulnya harapan yang diinginkan, ketika ada yang
melakukan mandi kembang tetapi atas dasar paksaan orang lain sebaiknya
jangan dilakukan karena tidak akan mendatangkan kebaikan untuknya.
Sesuatu yang dipaksa dan dilakukan oleh orang tersebut tidak mendatangkan
sebuah kebaikan, ini sangat dilarang saat seseorang ingin melakukan mandi
kembang.
5.5.4. Bunga Tidak Memiliki Duri
78
Bunga jenis apapun tidak memiliki larangan asalkan didapat
dengan mudah dan tidak memberatkan, salah satu hal yang harus
diperhatikan saat memilih bunga yang akan digunakan adalah tidak boleh
menggunakan bunga yang memiliki batang atau daun yang memiliki duri.
Dilarangnya menggunakan bunga berduri karena dianggap
sebagai penghabat harapan seseorang yang akan dipenuhi oleh rintangan dan
duri-duri kehidupan. Bunga berduri misalnya bunga mawar, bunga tersebut
dihindarkan untuk mandi kembang agar tidak membawa hal-hal buruk
terjadi.
5.5.5. Mandi Di Tempat Terbuka
Tempat terbuka yang di maksudkan merupakan tempat yang
dapat dilihat dengan bebas oleh orang lain, hal itu dikarenakan akan
membuat perempuan tersebut tidak nyaman ketika auratnya dilihat orang
lain karena hanya mengggunakan kain. Tempat yang digunakan sebaiknya
tempat yang memiliki penutup agar tidak mudah dilihat oleh orang lain.
Larangan ini sebenarnya bermakna agar menjaga perempuan dari
niatan jahat orang lain ketika melihat tubuh perempuan yang sedang mandi
serta menjaga agar tidak terjadinya gunjingan masyarakat sekitar yang
nantinya menilai hal-hal yang buruk bagi perempuan yang mandi. Karena
biasanya perempuan yang melakukan mandi kembang lebih bersifat tertutup
untuk melakukan mandi kembang, mereka takut masalah pribadinya menjadi
cemoohan masyarakat sekitar dan menjadi pembicaraan.
79
BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Perempuan yang melakukan mandi kembang karena mereka mulai
putus asa dengan permasalahan yang dihadapinya, adanya pengetahuan
budaya yang berkembang dilingkungannya mengenai mandi kembang
menjadi salah satu motivasi kaum perempuan melakukan mandi kembang.
Tradisi ini banyak dilakukan oleh kaum perempuan, sebenarnya mandi
kembang ini dapat dilakukan juga oleh laki-laki tetapi yang memandikannya
seorang perempuan, jarang sekali paranormal tersebut mau memandikan
laki-laki.
Tradisi ini banyak dilakukan oleh kaum perempuan yang meyakini
dengan melakukan mandi kembang akan membawa manfaat yang baik.
Apalagi pada masa kerajaan para ratu terdahulu memanfaatkan kembang
dalam campuran air mandinya, hingga dilakukan dan menjadi budaya
masyarakat. Sudah banyak kaum perempuan yang merasakan keberhasilan
setelah melakukan mandi kembang, meskipun harapan yang diinginkan tidak
langsung terkabul dan terkadang butuh waktu yang lama. Meskipun begitu
tidak menutup kemungkinan harapan tersebut dapat terkabul, itu semua
kembali lagi kepada orang yang melakukan mandi kembang seberapa yakin
harapannya dapat terkabul dengan prantara mandi kembang.
Mandi kembang merupakan budaya yang dibuat oleh masyarakat
yang dipecaya memberikan manfaat dari makna-makna yang terdapat pada
80
kembang dan media yang digunakan. Meskipun budaya ini merupakan
sebuah budaya yang dianggap tidak rasional jika melakukan mandi kembang
harapan yang diinginkan dapat terkabul, sebenarnya tradisi ini merupakan
sebuah usaha yang dilakukan kaum perempuan selain berdoa.
Paranormal berperan penting terlaksananya proses mandi kembang,
mulai dari tahapan memberikan saran pada orang yang ingin melakukan
mandi kembang, memandikannya dan memberikan arahan-arahan agar
seseorang yang mulai putus asa bangkit dan mulai yakin harapannya dapat
terkabul. Mandi kembang juga memiiki ritual disetiap proses melakukannya
adanya doa-doa yang kaitkan dengan kepercyaan sistem religi masyarkatnya.
Makna pada mandi kembang maupun media yang digunakan untuk
melakukan mandi kembang diciptakan melalui pengetahuan yang dimiliki
masyarakat lokal tentang manfaat kembang, terdapat pantang larang dalam
melakukan mandi kembang, itu semua dilandaskan oleh kepercayaan yang
diyakininya. Makna yang diciptakan juga dapat berbeda jika mandi kembang
itu dilakukan ditempat lain dan masyarakatnya memiliki pengetahuan yang
berbeda dengan masyarakat Desa Sungai Nipah. Karena budaya bisa sama
tapi makna yang disampaikan dapat berbeda-beda tergantung pengetahuan
masyarakatnya.
Terkabulnya harapan seseorang setelah melakukan mandi kembang,
sebenarnya merupakan manfaat yang didapat dari mandi yang menggunakan
bunga, manfaat bunga dapat menjadi relaksasi penghilang stress yang
dihadapi seseorang. Aroma yang dimiliki bunga akan membawa kesegaran
81
dan dengan melakukan mandi kembang orang akan menjadi lebih semangat
dalam menjalani hidup karena dalam pikirannya setelah mandi kembang
harapannya akan dapat terkabul sehingga membuat yang telah lebih percaya
diri.
6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka penulis memberikan berberapa
saran atau masukan yang akan diajukan, yaitu kepada:
1. Masyarakat
Sebagai manusia yang hidup dalam berbagai macam budaya, kita
tidak bisa menilai bahwa budaya itu baik atau buruk. Budaya diciptakan
karena kebiasaan dan pengetahuan seseorang yang akhirnya diterapkan oleh
individu maupun kelompok. Budaya bisa saja hilang jika tidak ada yang
menerapkannya, masih banyak budaya yang mungkin belum diketahui oleh
orang awan dan mengkaitkannya dengan hal-hal buruk. Kebudayaan tersebut
bisa saja membawa hal baik jika dilihat dari sudut pandang lain.
Mandi kembang bisa saja dilakukan dan menjadi sebuah tradisi oleh
etnis lain dan memiliki makna yang berbeda pada ritualnya. Oleh sebab itu
budaya bisa saja sama tetapi makna yang disampaikan berbeda juga berbeda-
beda. Ketika Masyarakat Desa Sungai Nipah mengkaitkan budaya ini pada
sistem religinya mungkin berdasarkan kepercayaaannya dan pengalaman
masyaraktnya.
82
2. Pemerintah
Terciptanya masyarakat yang harmonis dan rukun karena adanya
keanekaragaman yang melatarbelakangi kehidupan masyarakatnya. Oleh
karena itu pemerintah harus mendukung budaya yang berkembang pada
kehidupan masyarakatnya. Jika budaya tersebut dianggap sebagai sesuatu
yang menyimpang dari sudut pandang pemerintah, alangkah baiknya
pemerintah juga melihat dari sudut padang masyarakatnya dan melihat
apakah budaya tersebut merugikan bagi banyak orang atau tidak.
83
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suhasimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Berger, Atur Asa. 2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer,
Suatu Pengantar Semiotika. Yogyakarta: Tira Wacana.
Budiono. 2001. Simbolisme-Simbolisme Pada Budaya Jawa. Yogyakarta:
Hanindita Graha Widia.
Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
-------. 2015. Metodologi Penelitian Kualitatif : Aktualisasi Metodologi ke
Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta : PT Raja Grafindo.
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Kebudayaan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Esten, Mursal.1991. Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Angkasa.
Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kartinus.
Gulo, W. [Link] Penelitian. Jakarta: PT Grahasindo.
Hartoko, Dick., dan B. Rahmanto. [Link] Istiah [Link]:
Kartinus.
Kartoatmojo, Susanto. 1995. Prapsikologi (parapsikologi, parergi, dan data
paranormal). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Kunjara, Esther. 2006. Penelitian Kebudayaan sebuah Panduan
[Link]: Graha Ilmu.
Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian kulitatif. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
-------. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
-------. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
84
Peursen, Van .1976. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Kanisus.
Rasyid, Sulaiman. 2010. Buku Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Satori, Djam’an., dan Aan Komariah. 2011. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung : Alfabeta.
Sedyawati, Edi. 2012. Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni dan
Sejarah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Soekanto, Soerjono.1983. Kamus Sosiologi. Jakarta: CV. Rajawali.
Sugiono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: PT Alfabet.
Suyono, Arriyono., dan Aminuddin Siregar. 1985. Kamus Antropologi.
Jakarta: Akademik Preindo.
Syaifudin, Ernest Cassirer. 1987. Sebuah Essai Tentang
[Link] Alois A. Nugroho. Jakarta: Gramedia.
Yuwono, Untung., dan T Christomy. 2004. Semiotika Budaya. Jakarta: Pusat
Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan
Pengabadian Masyarakat Universitas Indonesia.
Sumber Internet
Hidayatullah, Rachmat. 2010. “Tinjauan Hadis Terhadap Praktek
[Link] Tafsir [Link] Islam Negeri Syarif
Hidayatullah”.[Link]
89/6139/1/RACHMAT%[Link] Diakses
pada tanggal 1 November 2019.
Khoiri. 2017. ”Antara Adat dan Syariat: Studi Tentang Tradisi Mandi Safar
di Tasik Nambus, Riau, ditinjau dari Perspektif Islam”.Jurnal ilmi
Islam Futura, 16 (2), [Link]://[Link]-
[Link]/[Link]/islamfutura/article/download/873/1144.
Diakses pada tanggal 1 November 2019.
Suharyanto, Agung. 2015. “Eksistensi dan Penyembuhan Alternatif dalam
Masyarakat Medan”, Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan
Budaya, 1 (2):196-201.
[Link]
/6244/5508 Diakses pada tanggal 1 November 2019.
85
Rofiq, Ahsanur. 2018.” Makna Simbol Kembang dalam Ritual Kirab Malam
1 Suro”. Jurusan Aqidah dan Filsafat [Link] Islam
Negeri [Link]://[Link]/1951/1/AHSANUR
%[Link] Diakses pada tanggal 7 November 2019.
Mokhammad, Sofyan. 2012. Persepsi Masyarakat Kelurahan
Sumbergedang kabupaten Pasuruan Tentang Manfaat Ritual Mandi
Kembang Bagi Kehamilan. Sarjana Thesis. Universitas
[Link]://[Link]/8750261/PERSEPSI_MASYA
RAKAT_KELURAHAN_SUMBERGEDANG_KABUPATEN_PAS
URUAN_TENTANG_MANFAAT_RITUAL_MANDI_KEMBANG
_BAGI_KEHAMILAN Diakses pada tanggal 9 November 2019.
86
Lampiran 1
PEDOMAN WAWANCARA
Profil Informan
a. Nama :
b. Umur :
c. Pekerjaan :
d. Pendidikan Terakhir :
Pertanyaan Untuk Paranormal
1. Sejak kapan mulai memandikan kaum perempuan dengan kembang.
2. Kenapa mandi kembang hanya dilakukan untuk kaum perempuan.
3. Berapa kali seseornag dapat melakukan mandi kembang.
4. Jenis bunga apa yang digunakan pada mandi kembang.
5. Kenapa tidak boleh menggunakan bunga mawar.
6. Bagaimana proses dalam melakukan mandi kembang.
7. Apakah dalam memandikan seseorang pernah ada yang tidak
berhasil.
8. Apa makna yang terkandung dalam proses mandi kembang.
9. Pantang larang apa yang tidak boleh dilanggar oleh yang melakukan
mandi kembang.
Pertanyaan Untuk Kaum Perempuan
1. Dari mana memperoleh informasi adanya mandi kembang.
2. Permasalahan apa yang dialami sehingga ingin melakukan mandi
87
kembang.
3. Sejak kapan sudah melakukan mandi kembang.
4. Apakah setelah melakukan mandi kembang harapan yang diinginkan
terkabul.
5. Bagaimana ketika sudah mandi kembang harapan yang dinginkan
tidak terkabul.
6. Bagaimana pandangan anda ketika melihat seorang perempuan
melakukan mandi kembang.
Pertanyaan Untuk Masyarakat Desa Sungai Nipah
1. Bagaimana pandangan anda mengenai perempuan yang melakukan
mandi kembang.
2. Apakah anda pernah melakukan mandi kembang.
3. Apakah anda sering melihat orang yang melakukan mandi kembang
di sekitar lingkungan anda.
88
Lampiran 2
PEDOMAN OBSERVASI
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
1 18-12- 2019 Kantor 1. Menyerahkan Berkunjung ke
Desa surat tugas Kantor Desa Sungai
Sungai 2. Meminta Nipah dan bertemu
Nipah profil Desa dengan Kepala Desa
Sungai Nipah dengan tujuan untuk
mendapatkan profil
desa.
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
2 19-12- 2019 Rumah 1. Berkunjung Melakukan
Paranormal 2. Melakukan wawancara untuk
Wawancara mendapatkan
informasi mengenai
kaum perempuan yang
melakukan mandi
kembang dan
menggali infomasi
sudah berapa banyak
yang melakukan
mandi kembang.
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
3 24-12- 2019 Rumah 1. Melakukan Melakukan observasi
Paranormal Mandi partisipan dimana ikut
Kembang teribat pada prosesi
mandi kembang.
89
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
4 05-01- 2020 Rumah 1. Berkunjung Melakukan kunjungan
informan 2. Melakukan untuk mendapatkan
yang wawancara informasi mengenai
pernah mandi kembang.
melakukan
mandi
kembang
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
5 31-01- 2020 Rumah 1. Melihat Melakukan
informan Proses kunjungan untuk
yang ingin Mandi mendapatkan
melakukan Kembang informasi mengenai
mandi prosesi dan alat yang
kembang akan digunakan pada
mandi kembang.
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
6 04-02- 2020 Rumah 1. Melihat Melakukan
informan Proses kunjungan untuk
yang ingin Mandi mendapatkan
melakukan Kembang informasi mengenai
mandi prosesi dan alat yang
kembang akan digunakan pada
mandi kembang.
90
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
7 15-02- 2020 Rumah 1. Berkunjung Melakukan kunjungan
salah satu 2. Melakukan kesalah satu tokoh
toko agama wawancara agama yang ada di
yang ada Desa Sungai Nipah
Desa untuk mendapatkan
Sungai informasi mengenai
Nipah pandangannya pada
mandi kembang
No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan
8 17-02- 2020 Rumah 1. Kunjungan Melakukan kunjungan
masyarakat 2. Melakukan untuk mendapatkan
Desa wawancara informasi mengenai
Sungai pandangannya
Nipah terhadap mandi
kembang
91
Lampiran 3
FOTO BERSAMA NARASUMBER
Keterangan: foto bersama kepala Desa Sungai Nipah
92
Keterangan: foto saat diskusi bersama perangkat Desa Sungai Nipah
93
Keterangan: foto bersama informan yang melakukan mandi kembang
Keterangan: foto bersama informan yang melakukan mandi kembang
94
Keterangan: foto bersama informan yang melakukan mandi kembang
Keterangan : foto bersama informan yang memandikan pada mandi
kembang
95
Keterangan: foto bersama salah satu tokoh agama
Lampiran 4
96
Keterangan: surat tugas penelitian
97
Lampiran 5
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1. Nama : Nur Kasih Prihartini
2. Tempat/Tanggal Lahir : Jungkat, 03 April 1998
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Suku : Jawa
6. Status : Belum Menikah
7. Alamat : Jalan Budi Utomo
8. Pekerjaan : Mahasiswa
9. Riwayat Pendidikan :
a. MI AL-IHSAN PONTIANAK
b. MTS AL-IHSAN PONTIANAK
c. SMA NEGERI 9 PONTIANAK
d. Terdaftar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Tanjungpura Pontianak Tahun 2016
10. Nama Orangtua :
a. Ayah : Kusmiyanto
b. Ibu : Mariani
11. Pekerjaan Orangtua :
a. Ayah : Buruh
b. Ibu : Ibu Rumah Tangga
Pontianak 20 April 2020
Nur Kasih Prihartini
E1121161009