0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
209 tayangan115 halaman

Tradisi Mandi Kembang Perempuan Melayu

Skripsi ini membahas tentang tradisi mandi kembang yang masih dilakukan kaum perempuan di Desa Sungai Nipah, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah. Tradisi ini dilakukan dengan harapan dapat memecahkan masalah yang dihadapi, seperti mendapatkan jodoh atau pekerjaan. Penelitian ini mendeskripsikan motivasi dan proses ritual mandi kembang serta menganalisis makna simbolik benda-benda yang digunakan. Has

Diunggah oleh

Pjk Sukses
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
209 tayangan115 halaman

Tradisi Mandi Kembang Perempuan Melayu

Skripsi ini membahas tentang tradisi mandi kembang yang masih dilakukan kaum perempuan di Desa Sungai Nipah, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah. Tradisi ini dilakukan dengan harapan dapat memecahkan masalah yang dihadapi, seperti mendapatkan jodoh atau pekerjaan. Penelitian ini mendeskripsikan motivasi dan proses ritual mandi kembang serta menganalisis makna simbolik benda-benda yang digunakan. Has

Diunggah oleh

Pjk Sukses
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

SKRIPSI

TRADISI MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN


DI DESA SUNGAI NIPAH KECAMATAN JONGKAT
KABUPATEN MEMPAWAH

Program Studi Antropologi Sosial

Oleh:

Nur Kasih Prihartini


NIM. E1121161009

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
2

SKRIPSI

TRADISI MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN


DI DESA SUNGAI NIPAH KECAMATAN JONGKAT
KABUPATEN MEMPAWAH

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh


Gelar Sarjana Antropologi Sosial

Program Studi Antropologi Sosial

Oleh:
Nur Kasih Prihartini
NIM. E1121161009

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2020
3
4
5

ABSTRAK

NUR KASIH PRIHARTINI : Tradisi Mandi Kembang Kaum Perempuan Di


Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah. Skripsi
Progam Studi Antropologi Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Tanjungpura Pontianak.

Penelitan ini didasarkan oleh kepercayaan sebagian Masyarakat Melayu yang


berada di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah, adanya
tradisi mandi kembang yang masih diyakini masyarakat lokal khususnya kaum
perempuan. Mandi kembang memiliki keterkaitan dengan konsep religi dimana
ada ritual yang dilakukan untuk melakukan mandi kembang yang berlandaskan
kepada kepercayaan serta doa-doa yang ada pada sistem religi masyarakatnya.
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan motivasi kaum perempuan
melakukan mandi kembang, bagaimana proses mandi kembang dan menganalisis
makna yang terdapat pada media yang digunakan pada proses mandi kembang.
Digunakannya teori ritual, dikemukakan oleh Turner yang berkaitan dengan
makna mandi kembang. Informan yang dipilih berupa paranormal, kaum
perempuan, tokoh agama dan masyarakat lokal, berdasarkan dari pengetahuan
serta pengalaman yang mereka miliki terhadap mandi kembang. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa tradisi mandi kembang merupakan salah satu tradisi yang
masih diyakini sebagian masyarakat sebagai salah satu bentuk usaha yang dapat
dilakukan manusia agar dapat mempermudah mencapai harapan yang
diinginkannya.

Kata Kunci: Mandi Kembang, Kaum Perempuan, Ritual

iv
6

ABSTRACT
NUR KASIH PRIHARTINI : Flower Bath Tradition for Women in Sungai
Nipah Village, Jongkat Sub-District, Mempawah Regency. Thesis Social
Antropology Study Program. Faculty of Social and Political Sciencess,
Tanjungpura University, Pontianak.

This research is based on the belief that a portion of Malay community residing in
Sungai Nipah Village, Jongkat Sub-District, Mempawah Regency has. The flower
bath tradition is still belived by the local community, especially women. Flower
bath is related to the religious concept, in which a part of the ritual involves
prayers that exist in the religious system of the community. This research aims to
describe the motivation that women have to practice bath flower bath and the
process on how to practice flower bath. The aim is also to analyze the meanings
behind the media used for the process of flower bath. This research uses the
theory of ritual by Turner releted to the meanings of flower bath. Informants
chosen for this research include psychics, women, religious figures and the local
community based on the knowledge and experience that they have about flower
bath. It can be concluded that flower bath tradition is one of traditions still
believed by a portion of the community as an effort made by humans in order to
ease the process of achieving what they wish.

Keywords: Flower Bath, Women, Ritual

v
7

RINGKASAN SKRIPSI

Skripsi ini berjudul “Tradisi Mandi Kembang Kaum Perempuan Di Desa

Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah”. Judul ini dipilih

karena belum ada mahasiswa Universitas Tanjungpura yang meneliti bagaimana

tradisi mandi kembang yang dilakukan kaum perempuan. Alasan dari pemilihan

lokasi pada penelitian di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten

Mempawah karena Desa Sungai Nipah dengan mayoritas masyarakat Melayu,

memiliki tradisi mandi kembang. Mandi Kembang salah satu tradisi yang masih

dilakukan sebagian kaum perempuan yang memiliki permasalahan yang berkaitan

dengan jodoh, membuka aura dan ingin mendapatkan pekerjaan.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode

etnografi yang bertujuan mendeskripsikan sejarah dan motivasi kaum perempuan

tertarik melakukan mandi kembang, mendeskripsikan proses mandi kembang

serta untuk menganalisis makna simbolik terhadap media yang digunakan oleh

paranormal dalam prosesi mandi kembang. Teknik pengumpulan data dengan

menggunakan observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Observasi

partisipan di mana peneliti melakukan pengamatan dan berperan serta ikut dalam

melakukan prosesi mandi kembang. Peneliti melakukan wawancara mendalam

terhadap tujuh orang informan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan

yang bersangkutan dengan penelitian. Pada dokumentasi peneliti menggunakan

kamera handpone dan alat perekam sebagai alat dokumentasi. Subjek penelitian

ini merupakan kaum perempuan yang melakukan mandi kembang dan paranormal

yang memandikan pada prosesi mandi kembang.

vi
8

Desa Sungai Nipah merupakan desa yang terbagi menjadi dua dusun yaitu

Dusun Mawar dan Dusun Melati, jarak tempuh yang ingin dicapai dari desa ke

ibukota provinsi sekitar 35 km dan jarak tempuh dari desa dengan ibukota

Kabupaten Mempawah sekitar 47 km. Dengan mayoritas penduduk beretnis

Melayu dan beragama Islam, kebudayaan yang berkembang di desa tersebut

berkaitan dengan sistem religi masyarakatnya. Sebagian besar mata pencaharian

penduduk Desa Sungai Nipah merupakan petani, sehingga hampir semua lahan

yang mereka punya dimanfaatkan dengan menanam padi dan bahkan sekarang

berkembang sebagai lahan perkebunan dengan menanam pohon kelapa.

Pada penelitian ini sebuah kebudayaan dibentuk oleh masyarakat, adanya

makna dari ritual mandi kembang membuat masih ada kaum perempuan yang

melakukannya. Ritual tersebut dimulai dari tata cara melakukannya, media yang

akan digunakan, masyarakat yang melakukannya dan makna dilakukannya sebuah

ritual tersebut. Makna yang diperoleh juga dapat berbeda jika ritual tersebut

dilakukan oleh etnis lain dan memberikan makna sesuai pengetahuannya. Mandi

kembang sudah menjadi budaya yang mengakar pada kehidupan masyarakatnya,

meskipun begitu tidak semua masyarakat melakukannya hanya dilakukan oleh

kaum perempuan yang mulai putus asa pada kehidupannya.

vii
9

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama Mahasiswa : Nur Kasih Prihartini

Tempat Tanggal Lahir : Jungkat, 03 April 1998

Nomor Mahasiswa : E1121161009

Program Studi : Antropologi Sosial

Fakultas : Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Penulis menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis ini merupakan hasil karya sendiri

dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar keserjanaan disuatu

perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan penulis dalam Skripsi ini tidak

terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain,

kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar

pustaka.

Pontianak, 20 April 2020


Yang membuat pernyataan

Nur Kasih Prihartini

viii
10

MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN

“Selalu ada harapan bagi orang yang berdoa dan selalu ada jalan bagi orang yang
mau berusaha”

Bismillahirohmanirohim

Alhamdullillahirabbiil’alamin…. Alhamdullillahirabbiil’alamin….

Alhamdullillahirabbiil’alamin….

Dengan rahmat Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang selalu
memberikan rahmatnya

Ku persembahkan karya sederhana ini.

Khususnya untuk kedua orang tua yang selalu mendukung, menyemangatiku dan
mendoakan tanpa henti-hentinya karena aku bukanlah siapa-siapa tanpa kalian
berdua untuk Ibu yang tersayang yang selalu memberikan yang terbaik untukku
rasanya belum dapat aku membalas jasa-sajamu dan Bapak tersayang akhirnya
anakmu dapat memperoleh gelar dengan kerja kerasnya sendiri, nasehat-
nasehatmu yang selalu membuatku bangkit dari keputusasaan serta selalu
mengingatkan untuk berdoa dan terus sholat agar dipermudah segala urusannya.

Kepada Comdev Outrecing terimakasih atas beasiwa yang kalian berikan, terima
kasih atas kesempatan yang sebesar-besarnya hingga akhirnya dapat
menyelesaikan kuliah tepat dengan waktunya.

Ahkir kata, semoga skripsi ini membawa manfaat untuk semua pembaca agar
dapat menjadi refrensi tambahan pengetahuan. Jika hidup bisa kuceritakan di atas
kertas, entah berapa banyak yang dibutuhkan hanya untuk aku ucapkan terima
kasih.

ix
11

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadiran Allah SWT, karena atas berkat

dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini yang berjudul

“Tradisi Mandi Kembang Kaum Perempuan Di Desa Sungai Nipah Kecamatan

Jongkat Kabupaten Mempawah”.

Tujuan dari penulisan skripsi ini, merupakan salah satu syarat dalam

memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Tanjungpura Pontianak. Selanjutnya penulis menyadari bahwa didalam penulisan

skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, hal ini dikarenakan kemampuan dan

pengalaman penulis dalam penulisan suatu karya ilmiah masih sangat terbatas

perlu banyak belajar.

Terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari tuntunan Tuhan

Yang Maha Esa dan bantuan dari berbagai pihak yang berperan dalam memberian

dorongan, semangat serta masukan bagi penulis, sehingga dapat menyelesaikan

tepat pada waktunya .Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih

yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. H. Martoyo, [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Tanjungpura Pontianak.

2. Dr. Hj. Dahniar [Link], [Link] selaku Pembimbing Utama yang telah

memberikan arahan, motivasi, kritikan dan saran dalam penulisan.

3. Dr. Pabali Musa, [Link] selaku Pembimbing Pendamping yang telah

memberikan arahan, kritikan dan saran.

4. Dr. Hj. Hasanah, [Link] selaku Penguji Pertama yang telah memberikan

x
12

kritikan dan saran dalam penulisan ini.

5. Dr. Syf. Ema Rahmaniah, [Link] selaku peguji Kedua yang telah

memberikan masukan, serta arahannya terkait penulisan ini

6. Dr. Hj. Hasanah, [Link] selaku Dosen Pembimbing Akademik (PA) selama

penulis menjalani perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Tanjungpura.

7. Wakil Dekan, Bapak/Ibu Dosen, Staf Tata Usaha dan Akademik Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura yang telah banyak

memberikan motivasi dan dukungan yang sangat besar selama proses penulisan

maupun perkuliahan.

8. Rekan-rekan seperjuangan Program Studi Antropologi Sosial angkatan 2016

yang telah memberikan dukungannya yang sangat besar dalam penulisan ini.

9. Kepala Desa Sungai Nipah beserta jajaran, tokoh-tokoh masyarakat serta

masyarakat Sungai Nipah yang telah bersedia menerima peneliti untuk

melakukan penelitian di Desa Sungai Nipah dan bersedia memberikan

informasi terkait penelitian ini.

Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan,

penulis mengharapkan kritik maupun saran yang membangun, agar dapat

memperbaiki segala bentuk kekurangan guna penyempurnaaan tulisan ini.

Pontianak, 20 April 2020

Nur Kasih Prihartini

xi
13

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................iii

ABSTRAK ........................................................................................................iv

ABSTRACT ......................................................................................................v

RINGKASAN SKRIPSI ..................................................................................vi

PERNYATAAN KEASLIAN .......................................................................viii

MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................ix

KATA PENGANTAR ......................................................................................x

DAFTAR ISI ...................................................................................................xii

DAFTAR TABEL ...........................................................................................xv

DAFTAR GAMBAR .....................................................................................xvi

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1

1.1. Latar Belakang ................................................................................1


1.2. Indentifikasi Masalah ......................................................................4
1.3. Fokus Penelitian...............................................................................4
1.4. Rumusan Masalah ...........................................................................5
1.5. Tujuan Penelitian ............................................................................5
1.6. Manfaat Penelitian ..........................................................................5
1.6.1. Manfaat Teoritis ...................................................................5
1.6.2. Manfaat Praktis .....................................................................6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ...........................................................................7

2.1. Sistem Religi ...................................................................................7


2.1.1. Kebudayaan .......................................................................10
2.1.2. Tradisi ...............................................................................12
2.1.3. Ritual Mandi Kembang .....................................................13
2.1.4. Paranormal ........................................................................14
2.2. Kajian Teori ..................................................................................16
2.2.1. Teori Ritual .........................................................................16
2.3. Penelitian Yang Relevan ...............................................................18
2.4. Kerangka Berfikir .........................................................................20

xii
14

BAB III METODOLOGI PENELITAN ......................................................22

3.1. Jenis Penelitian ............................................................................22


3.2. Langkah-Langkah Penelitian .......................................................22
3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................23
3.3.1. Lokasi Penelitian ...............................................................23
3.3.2. Waktu penelitian ...............................................................24
3.4. Subjek dan Objek Penelitian .......................................................24
3.4.1. Subjek Penelitian ..............................................................24
3.4.2. Objek Penelitian ................................................................23
3.5. Instrumen Pengumpulan Data .....................................................25
3.6. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ...........................................26
3.6.1. Teknik Observasi ..............................................................26
3.6.2. Teknik Wawancara ...........................................................26
3.6.3. Teknik Dokumentasi .........................................................27
3.7. Teknik Analisis Data ...................................................................28
3.8. Teknik Keabsahan Data ..............................................................29

BAB IV GAMBARAN UMUM DESA SUNGAI NIPAH ...........................30

4.1. Letak geografis Desa Sungai Nipah ..............................................30


4.2. Jumlah Penduduk Desa Sungai Nipah ...........................................31
4.3. Mata Pencaharian Pokok Desa Sungai Nipah ..............................33
4.4. Tingkat Pendidikan Desa Sungai Nipah .......................................35
4.5. Penduduk Menurut Agama dan Keyakinan Desa Sungai Nipah ...37
4.6. Penduduk Berdasarkan Etnis Desa Sungai Nipah ........................39
4.7. Tenaga Kesehatan Desa Sungai Nipah ..........................................40
4.8. Sarana Transportasi dan Komunikasi ............................................40
4.9. Profil Informan ..............................................................................41

BAB V MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN DI DESA SUNGAI


NIPAH .............................................................................................44

5.1. Motivasi Kaum Perempuan Pada Mandi Kembang ......................44


5.2. Pandangan Masyarakat Terhadap Mandi Kembang ......................50
5.3. Prosesi Mandi Kembang ................................................................53
5.4. Makna Mandi Kembang ................................................................65
5.4.1. Makna Kembang .................................................................65
5.4.2. Makna Hari Selasa dan Jumat .............................................74
5.4.3. Makna Kain Untuk Mandi ..................................................75
5.5. Pantangan Pada Mandi Kembang ..................................................75
5.5.1. Peralatan Mandi Bukan Dari Kamar Mandi ......................76
5.5.2. Perempuan Dalam Keadaan Haid .....................................76
5.5.3. Berdasarkan Keinginan Bukan Paksaan ............................77
5.5.4. Bunga Tidak Memiliki Duri .............................................77

xiii
15

5.5.5. Mandi di Tempat Terbuka .................................................78

BAB VI PENUTUP .........................................................................................79

6.1. Kesimpulan ....................................................................................79


6.2. Saran ..............................................................................................81

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................93

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................86

Lampiran 1 Pedoman Wawancara ........................................................86

Lampiran 2 Pedoman Observasi ...........................................................88

Lampiran 3 Foto Bersama Narasumber ................................................91

Lampiran 4 Surat Tugas .......................................................................95

Lampiran 4 Daftar Riwayat Hidup .......................................................96

xiv
16

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Jadwal Kegiatan ..............................................................................24

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Menurut Umur ...................................................32

Tabel 4.2. Jumlah Jenis Kelamin ......................................................................33

Tabel 4.3. Tingkat Pendidikan ..........................................................................36

Tabel 4.4. Fasilitas Pendidikan .........................................................................37

Tabel 4.5. Penduduk Menurut Agama dan keyakinan .....................................38

Tabel 4.6. Data Sarana Ibadah ..........................................................................39

Tabel 4.7. Tenaga Kesehatan ............................................................................40

xv
17

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1. Sketsa Desa Sungai Nipah ...........................................................30

Gambar 4.2. Kantor Desa Sungai Nipah ..........................................................31

Gambar 4.3. Lahan Pertanian Desa Sungai Nipah ...........................................34

Gambar 5.1. Tempat Melakukan Mandi Kembang ..........................................55

Gambar 5.2. Wadah dan Air .............................................................................56

Gambar 5.3. Kembang Untuk Mandi ..............................................................57

Gambar 5.4. Air Kembang ..............................................................................58

Gambar 5.5. Menyiram Pangkal Kepala .........................................................59

Gambar 5.6. Menyiram Bagian Kanan ............................................................60

Gambar 5.7. Menyiram Bagian Kiri ................................................................61

Gambar 5.8. Menghidupkan Stanggih .............................................................62

Gambar 5.9. Stanggih Dengan Foto ................................................................64

Gambar 5.10. Bunga Kembang Sepatu ............................................................67

Gambar 5.11. Bunga Melati .............................................................................68

Gambar 5.12. Bunga Asoka .............................................................................69

Gambar 5.13. Bunga Zinnia ............................................................................70

Gambar 5.14. Bunga Adenium ........................................................................71

Gambar 5.15. Bunga Kenanga ..........................................................................72

Gambar 5.16. Bunga Tapak Dara ...................................................................73

xvi
18

xiv
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebagian masyarakat Melayu tersebar luas di daerah Kalimantan

Barat, di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah

merupakan salah satu desa yang mayoritasnya adalah masyarakat Melayu.

Masyarakat Melayu dikenal memiliki berbagai macam kebudayaan yang

khas, hampir semua masyarakat Melayu menganut agama Islam dengan

berbagai macam kebudayaan yang berkaitan dengan kepercayaannya.

Sistem keyakinan atau ritual yang berkembang pada masyarakat

Melayu bermacam-macam, salah satunya pada prosesi mandi kembang.

Tradisi mandi kembang merupakan sebuah tradisi melakukan mandi dengan

kembang (bunga). Mandi kembang kebanyakan dilakukan oleh kaum

perempuan, yang mulai putus asa terhadap permasalahan yang ada di

hidupnya. Tradisi mandi kembang ini menjadi salah satu alternatif usaha

yang dilakukan yang dipercayai akan memberikan jalan keuar terhadap

permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan.

Mandi kembang jika dilihat dari perspektif antropologi memiliki

keterkaitan dengan kepercayaan masyarakat tetang ilmu gaib, yang dimana

pembuktiannya tidak dapat dijelaskan secara teoritis ataupun dengan nalar

manusia. Berkaitan dengan itu, mandi kembang terus berkembang hingga

sekarang, meskipun tidak semua kaum perempuan mempercayainya dan

melakukannya. Tetapi mandi kembang masih menjadi sebuah tradisi pada


2

masyarakat Desa Sungai Nipah.

Kepercayaan ini tumbuh karena adanya pengetahuan yang diwarisi

secara turun-temurun tentang khasiat yang terdapat pada kembang (bunga),

sebagai mandi pada seseorang. Mandi kembang dihubungkan dengan doa-

doa pada prosesinya yang dianggap sebagai penghantar harapan yang

hendak di capai dengan bantuan bunga yang memiliki manfaat yang baik.

Serta memiliki tata cara yang yang tidak sembarangan untuk melakukannya.

Sebagian kaum perempuan percaya dengan tradisi mandi kembang

akan membuat tujuan yang diinginkannya dapat terkabul, biasanya mereka

yang ingin mandi kembang mendapatkan informasi dari orang yang sudah

pernah melakukan prosesi mandi kembang dan sudah tercapai tujuannya.

Sehingga timbul keinginannya untuk mencoba prosesi mandi kembang.

Permasalahan yang dihadapi seseorang sehingga melakukan mandi

kembang juga bermacam-macam. Misalnya dapat berupa tidak kunjung

mendapatkan pekerjaan padahal orang tersebut sudah banyak melamar

pekerjaan, sulitnya mendapatkan jodoh apalagi pada kaum perempuan yang

tinggal di desa akan malu ketika menikah dengan umur yang sudah tua, serta

ingin membuka aura agar hubungan rumah tangga menjadi harmonis dan

banyak orang lain yang senang ketika berdekatan dengan orang tersebut.

Pada prosesi mandi kembang ini dilakukan oleh seorang paranormal,

peran paranormal sebagai orang yang memandikannya memiiki pengetahuan

yang didapatkan secara turun-temurun. Di sini paranormal bukan sebagai

dukun-dukun kampung pada umumnya. Disebut paranormal karena di sana


3

orang tersebut dapat melihat kejadian yang dialami oleh seseorang, ini

biasanya didapatkan melalui bakat alami yang diturunkan dari generasi

sebelumnya atau turun-temurun yang dapat melihat sesuatu yang tidak dapat

dilihat manusia lain.

Prosesi mandi kembang harus terdiri dari berbagai jenis bunga yang

berbeda-beda, ini dikarenkan ada makna tertentu dan tidak boleh dari bunga

yang memiliki duri seperti bunga mawar. Bunga yang digunakan juga harus

dalam jumlah yang ganjil seperti 3 (tiga), 5 (lima), 7 (tujuh) dan 9

(sembilan). Serta adanya pantangan-pantangan dan aturan lain yang harus

dilakukan ketika seseorang ingin melakukan mandi kembang. Oleh sebab

itu, pada prosesi mandi kembang harus dilakukan dengan bantuan seorang

paranormal yang juga kaum perempuan.

Budaya yang dipercayai sebagian masyarakat inilah mengandung

makna dan berpengaruh terhadap kehidupannya. Mandi kembang memiliki

simbol tersendiri pada penilaian masyarakat, tersirat makna dari mandi

kembanglah yang membuat masih terus dilakukan hingga sekarang. Kaitan

mandi kembang juga tidak terlepas dari peran masyarakat di mana ada rasa

kepercayaan ketika melakukan mandi tersebut.

Mandi kembang masih menjadi salah satu solusi dalam permasalahan

kehidupannya, Masyarakat lokal yang meyakini tradisi ini bukan berarti

mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka masih mempercayai agama

yang sudah melekat dengannya sejak lahir. Apalagi mayoritas masyarakat

lokal yang tinggal di sana memeluk agama Islam dan bersuku Melayu,
4

sehingga sistem religi saling berkaitan dengan kebudayaan yang dipercayai

masyarakat lokal.

Atas dasar inilah saya tertarik untuk meneliti mandi kembang pada

kaum perempuan yang ada di Desa Sungai Nipah, sebab fenomena seperti

ini unik bagi saya, karena adanya kepercayaan masyarakat yaitu dengan

melakukan prosesi mandi kembang akan memecahkan permasalahan yang

dihadapinya. Bahkan sudah ada yang merasakan keberhasilan setelah

melakukan prosesi mandi kembang, serta dalam prosesi mandi kembang

terdapat makna yang terkandung disetiap peralatan yang digunakan.

1.2. Indentifikasi Masalah

1. Sebagian kaum perempuan menganggap bahwa mandi kembang sebagai

salah satu usaha kaum perempuan untuk membuka aura agar mudah

mendapatkan jodoh.

2. Sebagian kaum perempuan menganggap bahwa mandi kembang sebagai

salah satu usaha dimudahkan dalam mencari pekerjaan.

3. Sebagian kaum perempuan menganggap bahwa mandi kembang sebagai

salah satu usaha yang dapat dilakukan agar banyak orang yang senang

dekat denganya serta semakin diperhatikan, dicintai dan disayangi oleh

suami.

1.3. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan oleh penulis dalam

penyusunan penelitian yang membahas mandi kembang yang ada di Desa

Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah. Agar pembahasan

selanjutnya dapat terarah dan mencapai sasaran yang diinginkan, penelitian


5

fokus pada mandi kembang yang dilakukan bagi kaum perempuan.

1.4. Rumusan Masalah

Adapun masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana proses

mandi kembang yang dilakukan oleh paranormal di Desa Sungai Nipah”.

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan motivasi kaum perempuan tertarik melakukan

mandi kembang.

2. Untuk mendeskripsikan proses mandi kembang yang dilakukan

paranormal di Desa Sungai Nipah.

3. Untuk menganalisis makna simbolik terhadap media yang digunakan

oleh paranormal dalam prosesi mandi kembang.

1.6. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini sangat berguna baik secara teoritis

maupun praktis, yaitu:

1.6.1. Manfaat Teoritis

Saya berharap penelitian yang dilakukan ini, dapat memberikan

sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan khususnya ilmu antropologi

sosial dan diharapkan dapat memperkaya konsep atau teori yang mendukung

perkembangan ilmu pengetahuan tentang makna simbolik mandi kembang,

serta harapannya dalam penelitian berikutnya saya akan meneliti dengan

tema yang sama namun dengan perspektif yang berbeda.

1.6.2. Manfaat Praktis


6

Bagi masyarakat dan pemerintah diharapkan penelitian ini bisa

menjadi wawasan pengetahuan tentang makna simbolik mandi kembang,

serta bisa menjadi bahan rujukan atau sumber informasi bagi penulis lainnya

dalam melakukan penelitian tentang makna simbolik mandi kembang.


7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Sistem Religi

Religi berasal dari kata religare dan relegare (latin). Religare

memiliki makna suatu perbuatan yang “memperhatikan kesungguh-

sungguhan dalam melakukannya”. Relegare memiliki arti “perbuatan

bersama dalam ikatan saling mengasihi”. Kedua istilah ini memiliki corak

individual dan sosial dalam suatu perbuatan religius. Leslie A. White (dalam

buku pengantar antropologi 2016:88) berpendapat bahwa religi atau salah

satu unsur yang membentuk religi tersebut yakni keyakinan (belief),

merupakan salah satu bagian dari sistem idiologi, sistem tersebut merupakan

salah satu wujud kebudayaan.

Menurut Firth (1972:216) dalam buku pengantar antropologi,

keyakinan belum dapat dikatakan sebagai religi apabila tidak diikuti dengan

upacara yang terkait dengan keyakinan tersebut. Keyakinan dan upacara

adalah unsur penting dalam religi yang saling memperkuat. Sejalan dengan

itu, Koenjaraningrat mendefinisikan religi yang memuat hal-hal tentang

keyakinan, upacara, dan peralatannya, sikap dan perilaku, alam pikiran dan

hal-hal yang menyangkut para penganutnya sendiri. Definisi ini dipengaruhi

konsepsi unsur dasar religi yaitu:

1. Emosi Keagamaan

2. Sistem Kepercayaan

3. Sistem Upacara Keagamaan


8

4. Peralatan atau perlengkapan upacara

5. Kelompok keagamaan

Emosi keagamaan yang menjadi dasar dari kelakuan serba religi itu

menyebabkan munculnya sifat keramat (scacred value) pada kelakukan

tersebut. Munculnya emosi keagamaan pada diri manusia dapat dikarenakan

menyakini adanya kekuatan supranatural yang ada disekitar lingkungannya

serta keyakinan adanya gejala-gejala alam yang tidak dapat dinalar oleh akal

manusia.

Emosi kegaamaan tersebut dapat berupa adanya kepercayaaan

Masyarakat Desa Sungai Nipah terhadap gejala alam yang dilakukan dengan

ritual mandi kembang, diyakini aura yang ada pada bunga dapat bepindah

pada seseorang yang menggunakannya untuk mandi, serta adanya doa-doa

sebagai tata cara pemandiannya dipercaya akan mempermudah segala

harapan yang diinginkan.

Pada sistem kepercayaan yang menjadi salah satu dorongan kaum

perempuan melakukan mandi kembang, mereka menghubungkan adanya

kekuatan gaib yang terdapat pada doa-doa pada prosesi mandi kembang.

sistem kepercayaan ini dapat berupa konsepsi tentang faham-faham yang

berkembang pada pemahaman dalam sistem kepercayaan religinya. Dimana

doa-doa yang dilakukan dikaitkan dengan doa-doa yang terdapat pada sistem

religi masyarakat lokal.

Adanya sistem upacara keagamaan untuk dapat melaksankan ritual

mandi kembang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan berkembang oleh
9

masyarakatnya. Upacara berupaya membuktikan adanya keyakinan terhadap

sesuatu dan sekaligus memantapkannya, mempertegasnya dengan membaca

doa, tindakan maupun perbuatan. Setiap upacara keagamaan bertujuan untuk

mencari hubungan antara manusia dengan dunia gaib atas kepercayaan yang

dimilikinya atau agar dapat dipermudahkannya segala urusannya.

Dalam setiap upacara keagaman adanya tempat dilakukannya ritual

tersebut, seperti mandi kembang dilakukan di pelantaran dapok yang harus

memiliki sekat penutup agar terlindungi dari pandangan orang lain. Selain

itu ada penentuan kapan dilaksanakannya, yang telah ditetapkan yaitu hari

selasa dan hari jumat, bebas memilih kapan waktu yang diinginkan sesuai

dengan kesepakatan antara perempuan yang mandi dengan paranormal.

Terdapat pantang atau larangan yang harus diikuti sebelum melakukan ritual

mandi kembang. Terakhir terdapat rangkaian tata cara untuk melakukan

mandi kembang yang terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan.

Peralatan yang digunakan juga merupakan unsur yang tidak dapat

dipisahkan, karena sudah menjadi sebuah komponen penting dalam mandi

kembang. Pada sistem religi masyarakat bersahaja, suatu upacara tidak dapat

dilaksanakan dan dipandang tidak sah apabila peralatan atau perlengkapan

yang menyertai dalam proses upacaranya tersedia. Benda-benda tersebut

dapat berupa benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kelompok keagamaan disini dapat merupakan kesatuan masyarakat

yang mengkonsepsikan suatu religi beserta sistem upacara keagamaannya.

Pada kelompok tersebut dibentuk berdasarkan kepercayaan yang mereka


10

yakini dan berkembang sehingga dilakukan menjadi sebuah kebudayaan.

Kelompok tersebut dapat berupa keluarga inti atau kerabat kecil, kelompok-

kelompok kekerabatan unilineal yang lebih besar seperti klen, kesatuan

hidup setempat atau komunitas dan kesatuan-kesatuan sosial dengan

orientasi yang khas.

Kelompok keagamaan yang hidup di Di Desa Sungai Nipah,

melakukan mandi kembang sebagai ritual keyakinan terhadap harapan yang

akan dipermudah dalam membuka aura seseorang dengan bantuan doa dan

melakukan mandi kebang. Masih terus diyakini oleh masyarakat khususnya

kaum perempuan karena dipercaya dalam membawa kabaikan dalam

kehidupan.

Dalam pandangan Geertz (2000:1700) religi adalah sebuah

pengalaman unik yang bermakna, memuat identitas diri dan kekuatan

tertentu. Sebagai sebuah pengalaman, religi akan behubungan dengan rasa,

tindakan dan pengalaman nyata yang berbeda-beda dengan orang lain.

Karena setiap orang memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda dalam

menjalankan religi masing-masing.

2.1.1. Kebudayaan

Definisi kebudayaan yang paling tua dikemukakan oleh Edward

B. Taylor pada tahun 1871. Kebudayaan menurut Taylor didefinisikan

sebagai “keseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan,

kesenian, hukum, moral, adat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang

diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Selanjutnya Alfread Weber


11

mendefinisikan kebudayaan sebagai “suatu bentuk ekspresional spiritual dan

intelektual dalam substansi kehidupan atau suatu sikap spiritual dan

intelektual terhadap substansi kehidupan itu”.

Selain itu Cliffort Geertz (1973:89) mendefinisikan kebudayaan

sebagai suatu sistem simbol dari makna-makna. Kebudayaan adalah sesuatu

yang dengannya manusia memahami dan memberi makna pada hidupnya.

Kebudayaan mengacu kepada suatu pola-pola makna yang diwujudkan

dalam simbol-simbol yang diturun alihkan secara historis, suatu sistem

gagasan-gagasan yang diwarisi dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk

simbolik yang dengannya manusia menyampaikan, melestarikan dan

mengembangkan pengetahuan mengenai sikap dan pendirian terhadap

kehidupan.

Berdasarkan berberapa definisi kebudayaan, terdapat konsep

dasar tentang kebudayaan yang berkaitan dengan penelitian ini, kebudayaan

merupakan hasil karya manusia yang diciptakan melalui pengetahuan yang

dimiliki manusia. Terjadinya sebuah kebudayaan karena dilakukan secara

berulang-ulang, hingga terus dilakukan dan diwarisi ke generasi berikutnya.

Ritual mandi kembang merupakan salah satu tradisi yang masih

dilakukan oleh masyarakat Desa Sungai Nipah khususnya kaum perempuan,

meskipun tidak banyak yang melakukannya tetapi tradisi ini menjadi salah

kebudayaan yang masih dipercayai oleh masyarakat karena mereka

menghubungkan dengan kepercayaan melalui doa yang mereka yakini.


12

2.1.2. Tradisi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2001:1208)

tradisi adalah sebuah kata yang tidak asing didengar disegala bidang apalagi

dalam kehidupan masyarakat, tradisi juga mengacu kepada adat dan

kebiasaaan yang turun-temurun diwarisi ataupun atauran yang dijalankan

masyarakat.

Tradisi dalam kamus Antropologi memiki kesamaan dengan adat

istiadat yang artinya sebuah kebiasaan yang bersifat magis-religus dari

kehidupan penduduk asli yang di dalamnya meliputi norma-norma, nilai

budaya, hukum dan aturan-aturan yang berkaitan. Selanjutnya dari tradisi

tersebut terbentuklah sebuah sistem atau peraturan yang sudah mantap, yang

mencangkup segala konsepsi sistem budaya dari suatu kebudayaan untuk

mengatur tindakan seseorang.

Menurut Esten (1991:21), tradisi merupakan kebiasaan turun-

temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang

bersangkutan. Jadi tradisi merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan

secara terus-menerus oleh masyarakat dan akan diwarisi secara turun-

temurun. Dilihat dari aspek gagasan, tradisi bisa dilihat dengan adanya

keyakinan, kepercayaan, simbol-simbol, nilai, aturan dan idiologi yang

semuanya merupakan peninggalan masalalu yang hingga kini masih

dilakukan.
13

2.1.3. Ritual Mandi Kembang

“Mandi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki

pengertian membersihkan tubuh dengan air dan sabun (dengan cara

menyiramkan, merendamkan diri dalam air dan sebagiannya). Secara umum

mandi merupakan salah satu sarana untuk membersihkan badan seperti

kotoran yang melekat pada badan yang secara umum dilakukan setiap hari

bahkan lebih dari sekali. Mandi artinya mengalirkan air keseluruh badan

dengan air (Rasyid, 2012:34).

Salah satu bagian dari tumbuhan yang memiliki manfaat bagi

manusia adalah bunga. Bunga atau kembang merupakan sesuatu yang tidak

terpisahkan dalam kehidupan manusia, karena manfaat dari bunga yang

dirasakan oleh manusia. Dalam penerapannya bunga juga banyak digunakan

sebagai mandi, aroma yang dihasilkan oleh bunga tersebut yang membawa

kedamaian dan banyak digunakan sebagai aroma terapi untuk ketenangan

jiwa.

Mandi kembang biasanya dilakukan dengan menggunakan bunga

yang berbeda-beda jenisnya, setiap bunga memiliki ciri khasnya sendiri yang

dapat menimbulkan aroma wanginya. Pada umumnya mandi kembang

identik dengan hal-hal mistis, tetapi sebenarnya mandi kembang memiliki

manfaat bagi tubuh karena mimiliki khasiat tertentu disetiap jenis-jenis

bunga itu sendiri.


14

2.1.4. Paranormal

Paranormal pada Kajian Pemikiran Rasional (Dndi, 2008:1)

berasal dari kata “para” yang artinya melebihi, sedangkan “norma” artinya

biasa. Secara umum dapat diartikan sebagai manusia yang melebihi manusia

pada umumnya, paranormal juga orang yang memiliki ilmu Metafisika,

sehingga mampu mengerjakan, melihat ataupun berhubungan dengan hal-hal

alam gaib (kasat mata), yang tidak dapat diraih oleh manusia biasa. Sebagian

dari mereka memanfaatkan ilmunya untuk dijadikan pekerjaan tetap mereka

untuk mencari nafkah dengan membantu masyarakat sekitar.

Seseorang yang memiliki bakat paranormal mampu menciptakan

fenomena seperti: peramalan, penyembuhan, melihat-mendengar-merasakan

tanpa indra, mengetahui suatu peristiwa pada masa lalu dan lain-lain.

Fenomena paranormal tersebut dipelajari dalam bidang ilmu parapsikologi

(Kartoatmodjo, 1985:13). Oleh sebab itu, paranormal memiliki kelebihan

dibandingkan manusia lainnya yang terkadang tidak dapat dipikirkan oleh

nalar manusia.

Paranormal mendapatkan ilmunya dengan berbagai macam cara,

baik itu belajar sendiri, belajar dengan orang lain, memperdalam ilmu agama

dan lain sebagiannya. Dalam pewarisan doa-doa tidak sembarangan orang

dapat diwarisi, walaupun orang tersebut memiliki ikatan keluarga, yang

dapat diwarisi adalah orang yang memiliki indra keenam yang mampu

melihat sesuatu yang tidak semua manusia lain bisa melihatnya.

Biasanya orang yang memiliki indra keenam dapat melihat masa


15

depan ataupun masalah yang ada dalam hidup seseorang. Sehingga dia

mampu membantu seseorang dalam memberikan saran saat mereka

berkonsultasi pada masalah kehidupannya. Oleh sebab itu, kelebihan yang

ada pada parnormal bukan disebabkan karena keinginannya, melainkan

pewarisan dan bakat alam yang tertanam dalam dirinya.

Menurut Suharyanto (2015:197), ada sebagian paranormal yang

merangkap dirinya sebagai dukun, tetapi ada juga sebagian lainnya yang

tidak, bahkan mereka sangat tersinggung bilamana dirinya dianggap sebagai

dukun. Begitu juga sebaliknya, banyak masyarakat yang selalu menafsirkan

bahwa paranormal adalah dukun. Mereka sangat dekat dengan hal-hal yang

berbau supranatural.

Supranatural (Suharyanto, 2015:197) adalah segala sesuatu

fenomena atau kejadian yang tidak umum atau tidak lazim atau dianggap

diluar batas kemampuan manusia pada umumnya dan tidak sesuai dengan

hukum alam. Sebenarnya kemampuan ini bisa di dapat dengan

mengembangkan cakra atau pusat-pusat energi dalam tubuh.

Peran paranormal di Desa Sungai Nipah bukanlah seperti dukun

yang dapat memiliki ilmu gaib seperti santet, dukun pelet dan dukun yang

mengarah pada perbuatan yang ingin mencelakakan orang lain. Di sini

paranormal yang ada di Desa Sungai Nipah, hanya dapat membantu

seseorang yang ingin mandi [Link] paranormal di sini percaya

mandi kembang memiliki makna simbolik memberikan aura positif bagi

seseorang yang merasa dirinya sedang dalam kebingungan dan merasakan


16

hambatan dalam hidupnya.

Disinilah paranormal memberikan doa-doa yang berkaitan

dengan permasalahan yang dihadapkan oleh orang tersebut. Doa itu

didapatkan secara turun-temurun yang diwarisi melalui orangtua, keluarga

ataupun yang memiliki ikatan persaudaraan. Pada doa tersebut juga

merupakan doa-doa yang berkaitan dengan agama kepercayaan mereka.

Pewarisan doa-doa juga tidak sembarangan orang dapat diwarisi,

walupun orang tersebut memiliki ikatan keluarga, yang dapat diwarisi adalah

orang yang memiliki indra keenam yang mampu melihat sesuatu yang tidak

semua manusia lain bisa melihatnya. Biasanya orang yang memiliki indra

keenam dapat melihat masa depan ataupun masalah yang ada dalam hidup

seseorang. Sehingga dia mampu membantu seseorang dalam memberikan

saran saat mereka berkonsultasi pada masalah kehidupannya.

2.2. Kajian Teori

2.2.1. Teori Ritual

Membahas religi juga memiliki keterkaitan dengan ritual teori

yang cukup representatif untuk meneliti simbol ritual antara lain The Ritual

Process; Struktur and Anti-Stucture (1996). Dalam kajian ritual tidak hanya

terbatas pada aspek proses ritual saja, melainkan juga makna simbolik ritual

tersebut. Tegasnya dua buku itu telah memberikan arah bagaimana peneliti

ritual melakukan pengkajian mendalam.

Menurut Turner (Turner, 2982:19 dalam Endaswara, 2003:172)

menyatakan bahwa “The Symbol is the small-lest unit of ritual which still
17

retains the specific properties of ritual behavior. It the ultimate unit of

specific structure in a ritual con-text.” Dalam teori yang dikatakan Turner

simbol adalah unit atau bagian terkecil dalam ritual yang mengandung

makna dari tingkah laku ritual yang bersifat khusus. Simbol tersebut

merupakan unit pokok dari struktur khusus dalam konteks ritual. Itulah

sebabnya, Turner (1981:2) juga mengatakan bahwa “the ritual is an

aggregation of symbols”.

Menurut Turner (dalam Winangun, 1990:19) ciri khas simbol

yaitu: (a) multivokal, artinya simbol memiliki banyak arti yang menunjuk

pada banyak hal atau fenomena. (b) polarisasi simbol, karena simbol

memiliki banyak arti sering ada arti simbol yang bertentangan. (c) unifikasi,

artinya memiiki arti terpisah. Turner (1967:9) juga mensugestikan bahwa

melalui analisis simbol ritual akan membantu menjelaskan secara benar nilai

yang ada dalam masyarakat dan akan menghilangkan keraguan-keraguan

tentang kebenaran sebuah penjelasan.

Menurut Turner (1967:50-51) untuk menganalisis makna simbol

dalam aktifitas ritual digunakan teori penafsiran yang dikemukakan yaitu :

1. Exegetical meaning yaitu makna yang diperoleh dari informan warga

setempat tentang perilaku ritual yang diamati. Dalam hal ini, perlu

dibedakan antara informasi yang diberikan informan awam dan pakar,

antara interpretasi esoteric dan eksoterik.

2. Operational meaning yaitu makna yang diperoleh tidak terbatas pada

perkataan informan, melainkan dari tindakan yang dilakukan dalam


18

ritual.

3. Positional meaning yaitu makna yang diperoleh melalui interpretasi

terhadap simbol dalam hubungannya dengan simbol lain secara totalitas.

Tingkatan makna ini langsung dihubungkan pada pemilik simbol ritual.

Dilihat dari pemberian makna pada mandi kembang didapatkan

melalui masyarakat setempat maupun orang yang berperan dalam melakukan

mandi kembang. Ketika simbol itu diberi makna, maka makna tersebut dapat

memiliki berbagai arti ketika yang diberi makna tersebut dilakukan oleh

kelompok lain.

2.3. Penelitian Yang Relevan

Penulis menggunakan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh

peneliti sebelumnya untuk memperkuat tema dalam penulisan ini. Rujukan

yang penulis ambil disesuaikan dengan permasalahan yang terkait pada

penelitian ini.

Penelitian pertama, yang dilakukan oleh Sofyan Mokhamad (2012)

tentang “Persepsi Masyarakat kelurahan Sumbergedang Kabupaten Pasuruan

Tentang Manfaat Ritual Mandi Kembang Bagi Kehamilan”. Pada penelitian

ini menggunakan teori persepsi, dengan metode kualitatif menggunakan

skala likert. Bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap

mandi kembang dan mengetahui macam-macam bunga yang digunakan

untuk menjalani ritual mandi kembang. Hasilnya bunga dipercaya memiliki

efek aromaterapi, sehingga bermanfaat bagi kesehatan [Link] sebab

itu, mandi kembang digunakan sebagai ritual untuk orang yang sedang hamil
19

untuk mempermudah persalinannya nanti.

Penelitian yang kedua, yang dilakukan oleh Khoiri (2017) tentang

“Antara Adat dan Syarat: Studi Kasus Tentang Tradisi Mandi Safar di Tasik

Nambus, Riau, ditinjau dari Perspektif Islam”. Penelitian ini mengkaji ritual

mandi Safar di Tasik Nambus yang dilakukan setiap hari Rabu terakhir

dibulan Safar, sebelum melakukan ritual mandi Safar terlebih dahulu harus

memetik bunga Bakung, bunga ini tumbuh disekitar Tasik Nambus. Bunga

tersebut dicampurkan dengan air yang akan digunakan untuk mandi. Pada

saat mandi dilakukan prosesi berdoa agar dijauhkan dari bala dan bencana

dan dilanjutkan dengan makan bersama setelah ritual mandi tersebut selesai.

Hasil penilitiannya mandi safar dianggap secara eksplisit tidak ditemukan

dalam ajaran agama Islam apalagi dengan mandi tersebut dapat terhindar

dari bala yang tidak berasal dari ajaran agama Islam, sehingga hanya

dianggap bentuk kekayaan daerah.

Penelitian ketiga, yang dilakukan oleh Rofiq Ahsanur (2018) tentang

“Makna Simbol Kembang Dalam Ritual Kirab Malam 1 Suro”. Pada

penelitian ini menggunakan teori makna dan simbol dengan metode

penelitian lapangan (Field Reasearch). Hasil penelitiannya kembang

digunakan sebagai salah satu benda yang digunakan sebagai syarat yang

tidak boleh dipisahkan pada ritual kirab malam 1 suro di Keraton Kasunanan

Surakarta Hadininingrat. Di mana terdapat makna yang terkandung dalam

kembang yang digunakan untuk mencuci barang-barang pusaka. Serta

adanya sesaji yang digunakan dalam proses ritualnya. Kembang tersebut


20

memiliki makna disetiap jenis bunganya yang dikaitkan dengan kehidupan

masyarakatnya.

Penelitian sebelumnya tidak ditemukan kesamaan penelitian yang

saya lakukan yaitu “Tradisi Mandi Kembang Pada Kaum Perempuan di Desa

Sungai Nipah, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah”. Sehingga di

sini saya akan mengemukakan secara spesifik tentang penelitian yang saya

lakukan.

2.4. Kerangka Berfkir

Untuk mempermudah penelitan perlu dibuat kerangka berfikir atau

konsep dengan tujuan membuat arah penelitian menjadi jelas. Kebudayaan

tidak lepas dari simbol-simbol. Simbol inilah yang menjadi ciri khas atau

yang memperkaya kehidupan masyarakat terutama masyarakat yang tinggal

di pedesaan.

Tradisi mandi kembang yang biasanya dilakukan kaum perempuan

memiliki tujuan tertentu, seperti untuk mendapatkan jodoh, membuka aura

dan mendapatkan hal-hal baik dalam hidupnya. Desa Sungai Nipah

merupakan salah satu desa yang memaknai simbol mandi kembang memiliki

hal baik yang dapat merubah kehidupannya.

Mandi kembang inilah yang diberi simbol dalam prosesinya dan

makna yang diberikan tersebut membuat mandi kembang memiliki keunikan

ketika seseorang mempercayai fenomena ini. Oleh sebab itu, sesuai dengan

latar belakang masalah penelitian yang telah dikemukakan maka dapat

diformulasikan sebagai berikut :


R"BU
SN
jK
A
vw
PJpD
bladhgtkcyf.M
BAB III

METODE PENELITIAN
eoriTun(1982:),sm
21
22

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan metode

etnografi. Menurut Satori dan Aan (2012:22), penelitian kualitatif

merupakan pendekatan penelitian yang mengungkap situasi sosial tertentu

dengan cara mendeskripsikan secara benar, dibentuk menggunakan kata-kata

serta dengan observasi secara langsung.

Menurut Malinowski (dalam penelitian kebudayaan 1922:7),

etnografi adalah metode untuk menangkap sudut pandang yang asli,

sehingga tujuan utamanya untuk memahami suatu pandangan hidup dari

sudut pandang penduduk asli. Jenis penelitian kualitatif dengan metode

etnografi ini berusaha mengembangkan pemahaman dan menjelaskan

fenomena sosial budaya yang ada di dalam masyarakat diantaranya adalah

fenomena pemaknaan mandi kembang.

3.2. Langkah-Langkah Penelitian

Adapun proses dalam memperoleh data untuk kelangsungan

penelitian ini, maka diperlukan langkah-langkah penelitian guna untuk

mencari data yang relevan dan sesuai dengan judul penelitian ini. Menurut

Moleong (2014:129) tahapan dalam penelitian terdiri oleh berbagai tahapan

yaitu:

1. Tahap Pra-lapangan, pada tahap ini sebelum melakukan penelitian tahap

awalnya dengan membuat proposal penelitian yang didalamnya

menentukan masalah yang akan dikaji, fokus penelitian, menyiapkan

subjek dan objek penelitian dan membuat surat izin untuk melakukan
23

penelitian, serta melakukan konsultasi kepada pembimbing sebelum

penelitian di lapangan.

2. Tahap Pekerjaan Lapangan, pada tahap ini peneliti turun langsung ke

lapangan dan ikut terlibat dalam prosesi mandi kembang yang di lakukan

oleh kaum perempuan di Desa Sungai Nipah, Kecamatan Jongkat,

Kabupaten Mempawah.

3. Tahap Analisis Data, pada tahap ini peneliti menganalisis data yang

diperoleh yang didapat di lapangan berupa observasi, wawancara dan

dokumentasi. Selanjutnya peneliti melanjutkan dengan berkonsultasi

dengan dosen pembimbing agar data sesuai dengan permasalahan yang

dikaji, serta dilanjutkan dengan penulisan hasil laporan.

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.3.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Sungai Nipah,

Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah. Di sana merupakan desa yang

letaknya tidak begitu jauh dari Kota Pontianak, hanya memakan waktu 1 jam

untuk kecepatan standar untuk menempuh desa tersebut. Ada sebagian dari

masyarakatnya memaknai mandi kembang sebagai simbol untuk

mendapatkan hal-hal baik dalam kehidupannya. Sehingga saya tertarik

mengambil tema ini karena saya ingin mengkaji lebih dalam terkait mandi

kembang yang di lakukan kaum perempuan di Desa Sungai Nipah.

3.3.2. Waktu Penelitian

Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan
24

Nama Bulan
No Nama Kegiatan Ok Ja Ma
Sep t Nov Des n Feb r Apr
1 Persiapan
2 Outline
3 Pra Penelitian
Penyusunan
4 Proposal
Penelitian
Konsultasi
5
Proposal
6 Seminar Proposal
Pelaksanaan
7
Penelitian
8 Pengelolaan Data
Penulisan Skripsi
9
dan Konsultasi
10 Ujian Skripsi

3.4. Subjek dan Objek Penelitian

3.4.1. Subjek Penelitian

Menurut Moleong (2010:132) mendeskripsikan subjek penelitian

sebagai orang yang diamati sebagai sasaran penelitian. Berdasarkan

pengertian tersebut peneliti mendeskripsikan subjek penelitian sebagai

pelaku atau orang yang akan diamati sebagai sasaran penelitian.

Penentuan informan ditentukan dengan teknik purposive

sampling. Menurut Sugiono (2017:95-96) purposive sampling adalah teknik

pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Berdasarkan

penelitian tersebut peneliti mendeskripsikan subjek penelitiannya adalah

perempuan yang melakukan prosesi mandi kembang dan paranormal sebagai


25

orang yang memandikan pada prosesi mandi kembang.

3.4.2. Objek Penelitian

Objek penelitian merupakan hal yang menjadi titik perhatian dari

suatu [Link] perhatian tersebut berupa subtansi atau materi yang

diteliti atau dipecahkan permasalahannya menggunakan teori-teori yang

bersangkutan yaitu makna simbolik mandi kembang. Objek penelitian ini

adalah semua aspek yang berkaitan dengan sejarah dan motivasi kaum

perempuan melakukan prosesi mandi kembang, serta makna simbolik yang

terdapat pada media yang digunakan dalam prosesi mandi kembang.

3.5. Instrumen Pengumpulan Data

Dalam sebuah penelitian kualitatif (Sugiono, 2017:222), yang

menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri, karena

peneliti kualitatif sebagai human instrument yang berfungsi menetapkan

fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, menilai kualitas

data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan pada

temuannya. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh akurat dan valid,

maka penulis bertindak sebagai intrumen utama (key instrument) atau terjun

langsung ke lapangan dan menyatu dengan sumber data dalam situasi yang

alamiah (natural setting).

3.6. Teknik dan Alat Pengumpulan Data


26

3.6.1. Teknik Obsevasi

Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan

untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan

(Bungin, 2007:115). Menurut Adler (2009:523) faktor terpenting dalam

observasi adalah pengamat (observer) dan orang yang diamati yang

kemudian juga berfungsi sebagai pemberi informasi, yaitu informan.

Observasi juga menyajikan sudut pandang menyeluruh mengenai ke hidupan

sosial budaya tertentu.

Jenis observasi yang digunakan merupakan observasi partisipan

menurut Riyanto (2010:98-100) observasi partisipan di mana orang (peneliti)

melakukan pengamatan berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan

orang yang diobservasi. Peneliti ikut andil dan terjun langsung dan

mengikuti aktifitas yang dilakukan subjeknya.

Alat pengumpulan data yang digunakan berupa pengamatan

secara langsung, serta berlandaskan pedoman yang telah didapatkan dari

pengamatan sejak turun kelapangan. Sehingga menemukan data-data secara

nyata sesuai apa yang ada di lapangan dalam panduan observasi.

3.6.2. Teknik Wawancara

Menurut Satori dan Aan (2011:129) wawancara dapat digunakan

sebagai teknik pengumpulan data dengan menemukan permasalahan-

permasalahan yang diteliti dan peneliti berkeinginan untuk mengetahui hal-

hal yang berhubungan dengan informan lebih [Link] wawancara

berarti melakukan interaksi komunikasi antara pewawancara (interviewer)


27

dan terwawancara (interviewee) dengan maksud untuk mendapatkan

informasi.

Wawancara adalah metode pengumpulan data yang amat popular,

karena itu banyak digunakan diberbagai penelitian (Bungin, 2003:155).

Teknik yang dilakukan dalam wawancara penelitian ini adalah wawancara

terstruktur, hal ini dilakukan untuk mencari jawaban hipotesis, untuk itu

pertanyaan yang disusun secara ketat dan pertanyaan yang diajukan sama

untuk setiap subjek (Bungin, 2003:155). Teknik ini dilakukan dengan

pertanyaan terbuka dan biasa sehari-hari, tujuan dilakukannya agar mampu

menggali kejujuran atas jawaban-jawaban yang telah diberikan oleh

informan

Alat yang digunakan dalam panduan wawancara berisi tentang

daftar pertanyaan yang akan ditanyakan peneliti pada saat mewawancarai

informan, serta alat perekam, kamera untuk mendokumentasikan dan buku

tulis untuk mencatat hasil wawancara yang telah dilakukan. Hal ini

dilakukan agar memudahkan menambah informasi dalam penelitian.

3.6.3. Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi merupakan pencarian data mengenai hal-hal

atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,

notulen rapat, agenda dan lain sebagiannya (Arikunto, 1998:236). Menurut

Moleong (2005:217-218) bahwa dokumen dibedakan menjadi dua, yaitu

dokumentasi pribadi dan dokumentasi resmi.

Dokumentasi pribadi adalah catatan atau karangan secara tertulis


28

tentang tindakan, pengalaman dan kepercayaan. Dokumentasi pribadi

mencakup buku harian, surat pribadi dan otobiografi. Sedangkan dokumen

resmi terbagi atas dokumen internal dan dokumen [Link]

internal berupa memo, pengumuman dan [Link] dokumen

eksternal berisi bahan-bahan informasi yang dihasilkan suatu lembaga sosial,

seperti majalah dan berita yang disiarkan kepada media masa.

Alat-alat yang digunakan untuk melengkapi tekniknya berupa

buku-buku yang berkaitan dengan simbolik dan kebudayaan manusia, jurnal-

jurnal penelitian, serta catatan-catatan pribadi yang saya peroleh dari

pengalaman yang telah dikumpulkan untuk memperkuat penelitian ini.

Untuk mendokumentasikan hasil penelitian bisa juga berbentuk gambar,

sehingga saya juga mengambil gambar (foto) pada dokumentasi.

3.7. Teknik Analisis Data

Pada teknik analisis data yang digunakan berdasarkan model deduktif

atau deduksi, di mana teori masih menjadi alat penelitian sejak memilih dan

menemukan masalah membangun hipotesis maupun melakukan pengamatan

dilapangan dengan menguji data. Teori digunakan sebagai awal menjawab

pertanyaan penelitian bahwa sesunggguhnya pandangan deduktif penuntun

penelitian dengan terlebih dahulu menggunakan teori sebagai alat, ukuran

dan bahkan instrumen untuk membangun hipotesis, sehingga secara tidak

langsung peneliti akan menggunakan teori sebagai “kacamata kuda” dalam

melihat masalah penelitian (Bungin, 201:28).

3.8. Teknik Keabsahan Data


29

Untuk memeriksa keabsahan data, maka dilakukan dengan:

1. Ketekunan Pengamatan, yaitu dengan mengadakan observasi secara

intensif terhadap objek dan subjek penelitian agar dapat memahami

gejala yang lebih mendalam terhadap aspek-aspek penting kaitannya

dengan tema dan fokus penelitian.

2. Triangulasi, yaitu mengecek keabsahan data dengan memanfaatkan

berbagai sumber di luar data tertentu sebagai bahan perbandingan.

Trigulasi yang digunakan adalah trigulasi teknik yaitu dengan cara

membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara dan

data hasil pengamatan dengan dokumentasi.

3. Pengecekan anggota, dengan cara meneliti melibatkan informan untuk

mengecek keabsahan data. Ini dilakukan untuk mengkonfirmasikan

antara interpretasi peneliti dengan subjek penelitian.


30

BAB IV

GAMBARAN UMUM DESA SUNGAI NIPAH

4.1. Letak Geogafis Desa Sungai Nipah

Gambar 4.1
Seketsa Desa Sungai Nipah

Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat terletak pada ketinggian

sekitar 1 Meter diatas permukaan laut (mdpl), sedangkan untuk

topografisnya berada disebelah pada 0°04'20.5" Lintang Utara dan

109°11'30.5" Bujur Timur dengan suhu udara rata-rata sekitar 25 ͦ C – 37 ͦ C,

dengan curah hujan 30 mm dalam setiap tahunnya dan kelembaban

mencapai 70%.

Terbagi dalam 2 dusun, yaitu Dusun Mawar dan Dusun Melati, serta

terdiri dari 22 RT dan 4 RW. Jarak tempuh yang ingin dicapai dari desa

dengan ibukota provinsi sekitar 35 km, sedangkan jarak tempuh dari desa
31

dengan ibukota Kabupaten Mempawah sekitar 47 km. Desa Sungai Nipah

memiliki luas wilayah 1.110 ha, memiliki batas wilayah di sebelah utara

Desa Peniti Luar, sebelah selatan Desa Jungkat, sebelah barat Laut Natuna

dan sebelah timur Desa Jungkat.

Gambar 4.2
Kantor Desa Sungai Nipah

Sumber : Profil Desa Sungai Nipah 2019

4.2. Jumlah Penduduk Desa Sungai Nipah

Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah tahun

2019 tercatat keseluruhan penduduk menurut umur atau jenis kelamin

berjumlah 4.648 jiwa. Dengan usia balita 0-4 tahun berjumlah 311 jiwa,

usia 5-9 tahun berjumlah 428 jiwa, usia 10-14 tahun berjumlah 426 jiwa, 15-

19 tahun berjumlah 422 jiwa, 20-24 tahun berjumlah 397 jiwa, 25-29 tahun

berjumlah 321 jiwa, 30-34 tahun berjumlah 371 jiwa, 35-39 tahun berjumlah

384 jiwa, 40-44 tahun berjumlah 294 jiwa, 45-49 tahun berjumlah 273 jiwa,

usia 50-54 tahun berjumlah 237 jiwa, usia 60-64 tahun berjumlah 150 jiwa,

usia 55-59 tahun 193 jiwa, usia 70-74 tahun berjumlah 121 jiwa, usia lebih

dari 74 tahun 82 jiwa, dibuktikan dengan tabel berikut ini:


32

Klasifikasi penduduk menurut usia sangat dibutuhkan sebagai alat

pemetaan potensi sumber daya manusia, berdasarkan usia produktif dan usia

non produktif yang akan berkaitan langsung dengan tingkat sosial ekonomi

dalam masyarakat. Selain itu dapat memudahkan langkah-langkah

indentifikasi suatu permasalahan, susunan penduduk menurut usia dapat

dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Menurut Umur
Kelompok Usia (tahun) Jumlah (jiwa)
0–4 311
5–9 428
10 – 14 426
15 – 19 422
20 – 24 397
25 – 29 321
30 – 34 371
35 – 39 384
40 – 44 294
45 – 49 273
50 – 54 237
55 – 59 193
60 – 64 150
65 – 69 120
70 – 74 121
‘> 74 82
Sumber : Profil Desa Sungai Nipah 2019

Berdasarkan tabel diatas dapat dapat dilihat dan diambil kesimpulan

bahwa jumlah penduduk terbanyak pada usia 5-9 tahun sebesar 428 jiwa dan

jumlah yang paling sedikit pada usia 74 tahun ke atas yang berjumlah 82

jiwa.

Melihat kondisi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelaminnya,

jumlah penduduk di Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten


33

Mempawah dapat dilihat dari tabel di berikut:

Tabel 4.2
Jumlah Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki 2.339 Jiwa

Perempuan 2.309 Jiwa

Jumlah 4.648 Jiwa


Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Menurut data yang diperoleh dari profil Desa Sungai Nipah pada

tahun 2019 jumlah penduduk menurut jenis kelamin, jumlah laki-laki lebih

besar dari jumlah penduduk perempuan, jumlah penduduk laki-laki 2.339

jiwa sedangkan perempuan berjumlah 2.309 jiwa.

4.3. Mata Pencaharian Pokok Desa Sungai Nipah

Manusia bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, bekerja

merupakan bagian dari usaha yang dilakukan manusia untuk memperoleh

penghasilan. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan

pokok sehari-hari, baik material ataupun spiritual. Mata pencaharian

merupakan pokok dalam kehidupan manusia yang perlu diusahakan dalam

menjalani roda kehidupan.

Desa Sungai Nipah terbagi menjadi 2 wilayah, yaitu wilayah pesisir

di bagian barat dan wilayah dataran rendah di bagian timur. Luas lahan yang

dimiliki Desa Sungai Nipah yang ada terbagi dalam beberapa peruntukan,

seperti untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan

lain-lainnya.
34

Desa Sungai Nipah memiliki beragam aset sebagai kekayaan yang

dimiliki desa meliputi tanah kas desa, bengkok desa (tanah yang tidak dapat

diperjual belikan tanpa persetujuan masyarakat desa tetapi dapat disewa),

bangunan milik desa (Balai Desa, Posyandu, PAUD, dll), tanah lapang dan

pelayanan pendukung untuk kepentingan pemerintahan desa.

Masyarakat di Desa Sungai Nipah mayoritas mempunyai mata

pencaharian sebagai petani. Maka dari itu, seluruh lahan tegalan yang ada

dikelola untuk pertanian. Pada umumnya, masyarakat Desa Sungai Nipah

bercocok tanam berupa tanaman padi. Namun masih ada sebagian

masyarakat yang mengolah perkebunan seperti kelapa, sehingga tidak heran

banyak sekali sawah dan kebun kelapa di desa tersebut.

Gambar 4.3
Lahan Pertanian Desa Sungai Nipah

Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Sebagian besar penggunaan lahan di Desa Sungai Nipah Kecamatan

Jongkat Kabupaten Mempawah, diperuntukkan untuk lahan pertanian. Dari

total luas wilayah administratif Desa Sungai Nipah sejumlah 1.110 hektar,

seluas 600 hektar digunakan sebagai lahan pertanian. Selebihnya

diperuntukan untuk sarana umum dan pemukiman penduduk.


35

4.4. Tingkat Pendidikan Desa Sungai Nipah

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk kehidupan

masyarakat dan memiliki keterkaitan dalam kemajuan perekonomian pada

masyarakatnya, karena dengan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan

mendongkrak tingkat kecakapan. Tingkat kecakapan juga akan mendorong

tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan, sehingga dapat membantu kemajuan

perekonomian.

Jumlah pendidikan yang tinggi akan mendorong munculnya lapangan

pekerjaan baru, sehingga dengan sendirinya akan membantu program

pemerintah untuk pembukaan lapangan kerja, guna mengatasi

pengangguran. Pendidikan biasanya akan dapat mempertajam sistimatika

pikir atau pola pikir individu, selain itu akan lebih mudah menerima

informasi yang lebih maju.

Dalam rangka memajukan pendidikan, Desa Sungai Nipah akan

secara bertahap merencanakan dan mengganggarkan bidang pendidikan baik

melalui ADD, swadaya masyarakat, program pemerintah, dan sumber-

sumber dana yang sah lainnya, guna mendukung program pemerintah yang

termuat dalam RPJM Daerah Kabupaten Mempawah.

Untuk melihat taraf atau tingkat pendidikan penduduk Desa Sungai

Nipah, jumlah angka putus sekolah serta jumlah sekolah dan siswa menurut

jenjang pendidikan, dapat dilihat di tabel di bawah ini :

Tabel 4.3
Tingkat Pendidikan

Kelompok Usia Sekolah Jumlah (jiwa)


36

Tidak / Belum Sekolah 457


Tidak Tamat SD 500
Tamat SD 949
Tamat SLTP 998
Tamat SLTA 109
Diploma II 40
Diploma III 63
Strata 1 65
Strata 2 2
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Berdasarkan data tersebut, tingkat pendidikan penduduk di Desa

Sungai Nipah masih sangat rendah. Berdasarkan data kependudukan

tersebut, jumlah penduduk tidak/belum sekolah mencapai 11,43%, yang

tidak tamat SD/Sederajat mencapai 16,17%. Sementara penduduk yang

tamat SD, SLTP dan SMU masing-masing hanya 20,74%, 23,64% dan

24,16%. Sedangkan jumlah penduduk yang tamat Diploma II, Diploma III

dan Sarjana masing-masing hanya 0,98%, 1,54% dan 1,37%.

Meningkatkan jumlah pendidikan menjadi tantangan yang sangat

besar bsagi desa Sungai Nipah. Masyarakat Sungai Nipah yang akan datang

atau generasi berikutnya harus memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik,

agar dapat membantu peningkatan kualitas produksi pertanian yang menjadi

sumber utama pendapatan masyarakat Desa Sungai Nipah.

Tabel 4.4
Fasilitas Pendidikan
Fasilitas Pendidikan Jumlah

PAUD 2
37

TK 0
SD/MI 2
SMP 0
SMU 1
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Pada tabel diatas dapat dilihat dan disimpulkan bahwa untuk fasilitas

pendidikan Desa Sungai Nipah masih dikategorikan rendah, karena fasilitas

yang kurang mendukung bagi masyarakatnya hanya memiliki 2 PAUD, 2

SD dan 1SMU. Sehingga untuk menjenjang pendidikan SMP masyarakat

Desa Sungai Nipah harus ke desa lain, karena tidak memiliki fasilitas SMP.

4.5. Penduduk Menurut Agama dan Keyakinan di Desa Sungai

Nipah

Memeluk salah satu agama di Indonesia merupakan hak asasi

manusia yang pal ing hakiki dimiliki setiap orang. Kehidupan beragama di

Indonesia adalah cerminan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila

khususnya sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara Indonesia

memandang agama dan kepercayaan sebagai unsur utama yang tidak dapat

dilepaskan dari kehidupan masyarakat.

Masyarakat Desa Sungai Nipah terdiri dari berbagai macam agama,

namun dapat hidup berdampingan dan terjalin kerukunan hidup beragama

dalam pergaulan antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama

yang lainnya. Nilai-nilai agama yang mereka yakini menjadi landasan bagi

masyarakat Desa Sungai Nipah menjalani kehidupan sesuai dengan agama

dan kepercayaannya.

Desa Sungai Nipah mempunyai penduduk yang heterogen dilihat dari


38

agama dan keyakinan mereka. Perkembangan pembangunan di bidang

spiritual dapat dilihat dari banyaknya sarana peribadatan masing-masing

agama. Dari hasil pendataan penduduk yang beragama islam, Kristen,

Katholik, Budha, Hindu, Konghucu sebagaimana terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4.5
Penduduk Menurut Agama dan Keyakinan
Agama Jumlah (jiwa)

Islam 4.049
Kristen 4
Katolik 41
Hindu -
Budha 0
Konghucu 396
Kepercayaan 0
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Berdasarkan tabel diatas bahwa mayoritas penduduk beragama Islam

sebanyak 4.049, berarti dalam pembinaan yang bersifat keagama harus bisa

diintensifkan sebagai upaya peningkatan hidup umat beragama yang ada di

Desa Sungai Nipah, agar menciptakan suasana yang aman, damai dan

sejahterah.

Setiap pemeluk agama tidak akan terlepas dari berbagai aktifitas

keagamaan, untuk melaksanakan aktifitas keagamaannya dibutuhkan sarana

tempat ibadah sebagai tempat berkumpulnya dalam rangka ibadah. Adapun

pembangunan tempat ibadah harus berdasarkan dari berbagai pertimbangan

seperti azas keadilan dan azaz kemanfaat.

Selain itu keberadaan sarana ibadah hendaknya dimanfaatkan sebaik-


39

baiknya, agar aktivitas keagamaan dapat berjalan dengan lancar sesuai

dengan kegiatan agama masing-masing. Adapun Sarana Ibadah di Desa

Sungai Nipah dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6.
Data Sarana Ibadah
Sarana Ibadah Jumlah

Masjid 3
Surau 8
Gereja 0
Kelenteng 2
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Berdasarkan data diatas dapat diambil kesimpulan jumlah prasarana

ibadah yang terdapat di Desa Sungai Nipah keseluruhan memiliki 13

prasarana ibadah, memiliki 8 surau, 3 masjid dan 2 kelenteng dan tidak

memiliki gereja.

4.6. Penduduk Berdasarkan Etnis Desa Sungai Nipah

Penduduk yang ada di Desa Sungai Nipah memiliki berbagai macam

etnis, yaitu Melayu, Bugis, Tionghoa, Jawa dan Madura. Mayoritas

penduduknya merupakan Masyarakat Melayu sekitar 80%, sehingga tidak

heran kebudayaan-kebudayaan pada masyarakat Melayu masih sangat kental

dan terus dibudayakan dari generasi ke genarasi berikutnya.

4.7. Tenaga Kesehatan Desa Sungai Nipah

Sarana tenaga kerja menjadi penunjang untuk menggambarkan

kesehatan di suatu lingkungan masyarakat. Berikut ini data tenaga kesehatan


40

di desa Sungai Nipah :

Tabel 4.7
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan Jumlah

Dokter 0
Bidan 3
Mantri 1
Dukun 9
Sumber: Profil Desa Sungai Nipah 2019

Berdasarkan data diatas dapat diambil kesimpulan tenaga kesehatan

yang dimiliki Desa Sungai Nipah cukup rendah, masyarakat masih banyak

yang berobat dengan dukun kampung apalagi jumlah dukun kampung yang

dimiliki cukup banyak disbanding tenaga kesehatan yang lain yaitu

berjumlah Sembilan orang. Sedangkan untuk alternatif pengobatan secara

medis, masyarakatnya biasa menggunakan mantri, walaupun hanya tersedia

satu mantri. Ada juga bidan yang berjumlah tiga orang, walaupun dokter

belum ada.

4.8. Sarana Transportasi dan Komunikasi

Daerah tidak akan berkembang jika sarana transportasi dan sarana

komunikasinya tidak mendukung, karena akan menghambat perkembangan

desa. Di Desa Sungai Nipah masyarakatnya menggunakan transportasi

bermacam-macam, dulunya masyarakatnya menggunakan sampan sebagai

alat transpotrasi air karena dekat dekat dengan pesisir. Sekarang setelah

mengalami banyak pembangunan, transportasi yang digunakan berupa

sepeda, motor dan mobil. Jalan yang dimiliki Desa Sungai Nipah cukup baik
41

untuk dilalui kendaraan roda dua ataupun roda empat.

Kendaraan roda duaseperti motor sudah menjadi kebutuhan primer,

bukan lagi sekunder. Karena hampir setiap rumah memiliki motor dan

bahkan ebih dari satu. Meskipun begitu sebagian banyak orang tua yang

masih menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya untuk ke pasar

bahkan ke masjid.

Pada bidang komunikasinya di sana sudah terdapat tower untuk

medapatkan sinyal, masyarakatnya sudah menggunakan handpone untuk

komunikasi. Meskipun masih ada masyarakat yang gaptek, tetapi anak-

anaknya sudah banyak mengunakan handphone untuk berkomunikasi

dengan orang lain. Sedangkan untuk televisi digunakan sebagai salah satu

sarana hiburan dan bahkan sarana untuk mendapatkan informasi tentang

berita-berita yang sedang berkembang.

4.9. Profil Informan

Sebelum penulis memaparkan lebih jauh mengenai penelitian yang

dilakukan, yaitu penelitian dengan judul “Tradisi Mandi Kembang Kaum

Perempuan Desa Sungai Nipah Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah”,

dilakukan dengan mewawancarai berberapa informan. Dimana dalam

penelitian ini penulis terlebih dahulu memaparkan profil informan, yang

menjadi informan adalah kaum perempuan dan seorang paranormal. Dalam

penelitian ini, peneliti menggunakan nama singkatan, karena sebelumnya

peneliti dan informan telah membuat persetujuan untuk merahasiakan

identitas informan dalam penelitian ini.


42

Adapun jumlah informan yang penulis maksud adalah berjumlah

tujuh orang yang terdiri dari satu paranormal, satu tokoh agama dan lima

kaum perempuan yang melakukan prosesi mandi kembang. Dilihat dari segi

umur informan, rata-rata berusia 20-60 tahun, dengan demikian informan

dianggap memiliki kemampuan untuk memberikan informasi, pengalaman

serta data yang penulis butuhkan. Berikut akan penulis urikan karakteristik

dari tujuh informan yang telah peneliti wawancara:

1. Informan AU

Informan yang pertama berinisial AU yaitu seorang perempuan yang

berumur 32 tahun, pendidikan terakhir SMA. Kesehariannya tidak

bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga. Merupakan salah satu

perempuan yang melakukan prosesi mandi kembang.

2. Informan SB

Informan yang kedua berinisial SB yaitu seseorang perempuan yang

berusia 34 tahun, pendidikan terakhir SMA. Pada kehidupan sehari-

harinya sebagai ibu rumah tangga. Merupakan salah satu perempuan

yang melakukan prosesi mandi kembang.

3. Informan MR

Informan yang ketiga berinisial MR yaitu seorang perempuan yang

berumur 38 tahun, pendidikan terakhir SMA. Pekerjaannya sebagai

wirausaha. Merupakan salah satu perempuan yang melakukan prosesi

mandi kembang.

4. Informan SR
43

Informan yang keempat berinisial SR yaitu seorang perempuan yang

berumur 28 tahun, pendidikan terkhir SMA. Pekerjaannya sebagai

buruh disalah satu pabrik. Merupakan salah satu perempuan yang

melakukan prosesi mandi kembang.

5. Informan FR

Informan yang kelima berinisial FR yaitu seorang perempuan yang

berumur 25 tahun, pendidikan terakhir S1. Belum memiliki pekerjaan.

Merupakan salah satu perempuan yang melakukan prosesi mandi

kembang.

6. Informan HN

Informan yang keenam berinisial HN yaitu seorang perempuan yang

berusia 60 tahun, pendidikan terakhir SD. Pekerjaan sehari-hari sebagai

petani. Merupakan paranormal yang biasa memandikan pada prosesi

mandi kembang.

7. Informan Ismail

Informan yang ketujuh bernama Ismail yaitu seorang laki-laki yang

berusia 45 tahun, pendidikan terakhirnya SMA. Pekerjaannya sebagai

pengajar ngaji dan mengisi acara-acara religi. Meruapakan salah satu

tokoh agama yang ada di Desa Sungai Nipah.


44

BAB V

TRADISI MANDI KEMBANG KAUM PEREMPUAN DI DESA

SUNGAI NIPAH

5.1. Motivasi Kaum Perempuan Pada Mandi Kembang

Kaum perempuan yang melakukan ritual mandi kembang pastinya

memiliki alasan tertentu, mereka merasa putus asa dengan permasalahan

yang ada pada hidupnya dan melakukan mandi kembang. Mereka percaya

mandi kembang dapat memberikan aura posiif dan membuang kotoran-

kotoran jahat pada tubuhnya.

Mandi kembang dijadikan alternatif cara lain yang dapat dilakukan

dalam bentuk usaha, budaya ini digunakan bagi seseorang yang memiliki

permasalahan yang berkaitan dengan mencari jodoh, membuka aura untuk

suaminya dan dipermudahkannya dalam mencari kerja. Latar belakang kaum

perempuan yang melakukan mandi kembang juga bermacam-macam mulai

dari remaja hingga dewasa dengan berbagai macam permasalahan-

permasalahan dalam kehidupannya.

Ritual Mandi kembang sudah tidak banyak lagi yang melakukannya,

karena di kehidupan modern seperti sekarang ini, masyarakat kurang percaya

terhadap sesuatu yang tidak rasional dengan melakukan mandi kembang

dapat mengabulkan harapannya. Meskipun begitu masih ada masyarakat

yang percaya dan masih melakukan mandi kembang, khususnya kaum

perempuan.

Kaum perempuan mendapatkan informasi untuk melakukan mandi


45

kembang melalui mulut ke mulut masyarakat yang mengetahui, karena

jumlah orang yang dapat memandikan orang lain pada mandi kembang

sangatlah sedikit. Bahkan tidak banyak masyarakat yang mengetahui adanya

orang yang dapat memandikan pada mandi kembang.

Salah satu faktor sedikitnya orang yang mengetahuinya disebabkan

mandi kembang dilakukan oleh orang yang memiliki indra keenam atau

dapat melihat kejadian yang sedang terjadi pada orang lain dan tidak banyak

orang yang memiliki kemampuan seperti tersebut. Ketika seseorang

memiliki kemampuan seperti paranormal, orang tersebut biasanya diwarisi

ilmu tentang tata cara melakukan mandi kembang dan doa-doa yang akan

dibacakan.

Doa-doa yang dilakukan juga sebenarnya doa-doa yang ada pada

ajaran agama tetapi adanya budaya yang melekat pada masyarakat tentang

mandi kembang, sehingga mereka melakukan mandi kembang tidak keluar

dari perintah-perintah agama. Apalagi mayoritas masyarakat Desa Sungai

Nipah beragama Islam yang kental akan budaya dan Islamnya.

Dari hasil wawancara dengan narasumber yang melakukan mandi

kembang dan paranormal yang mamandikan, mereka banyak menceritakan

permasalahan-permasalahan yang dihadapinya, sehingga mereka melakukan

mandi kembang dan pengalaman yang dihadapi oleh paranormal saat

memandikan orang lain. Dari hasil wawancara dengan narasumber informan

AU berusia 32 tahun, Ibu AU ini ingin membuka auranya agar suaminya

kembali menyayanginya, karena suaminya diketahui telah berselingkuh


46

dengan perempuan lain, saat peneliti mewawancarai informan, subjek

menyatakan sebaga berikut:

“Awalnye saye ni suke kelai same suami, die suke balek


malam kadang malah tak balek kerumah. Taunye die selingkuh 2
hari die tinggal same perempuan tu, rase putus dah harapan saye.
Udah saye bawa berobat ke dukon kampong biar die pisah same
perempuan itu tadak gak die pisah. Mak saye nyarankan suruh saye
mandi kembang soalnye dulu mak saye ngalami hal yang same gak.
Akhirnye ketemu kawan yang pernah mandi kembang die suruh cobe,
akhirnye mandilah. Saye mandi setiap hari jumat, mandi yang
pertame kali jumat siang dan mandi yang kedua kali jumat malam.
Setelah mandi yang kedua suami saye balek kerumah.”

Dari hasil wawancara dengan Ibu AU yang pernah melakukan mandi

kembang, permasalahan yang dihadapinya merupakan permasalahan rumah

tangga. Dengan melakukan mandi kembang diharapkannya aura baik dalam

tubuhnya dapat keluar dan dapat membuat suaminya tidak berpaling ke

perempuan lain. Memiliki permasalahan yang sama Ibu SB berumur 34

tahun menceritakan motivasinya melakukan mandi kembang, hasil

wawancara oleh SB sebagai berikut:

“Sudah lamak dah tadak pernah bertegur sapa same suami,


padahal tinggal serumah dan sekarang kondisinye agik hamil besar.
Jangankan nak ngomong natap muke istri sendiri tadak maok, suami
saye suke mukul ape agik kalau die marah langsung ringan tangan.
Rasenye udah tadak kuat same die tapi kasian same anak-anak kalau
saye pisah. Dulu masih anak pertame udah mandi kembang same
orang lain, baik die sebentar tapi tak lamak mulai main tangan agik.
Udah dibawa ruqiah mulai baik die, tapi saat die keterima kerje di
hulu sifatnye berubah agik same saye. Setiap mandang saye kayak
benci gitu. Lalu mak saye kasian liat kondisi rumah tangga anaknye,
disarankan mandi kembang agik dengan tetangga dekat rumahnye
siape tau bise baik agik same saye. Saye udah mandi ke tige kalinye,
mandi yang pertame same kedua hari selase, mandi yang kedua
kalinye suami udah mulai mau ngomong sedekar nanyak mau cek
47

kandungan atau tadak, pokonye udah mulai peduli. Mandi yang


ketige suami kadang mulai ngomong sepatah dua patah.”

Permasalahan yang dialami Ibu SB ini merupakan masalah kekerasan

rumah tangga, suaminya tidak mencukupi kebutuhannya secara batin. Dia

ada tapi seakan-akan tidak ada di mata suaminya. Permasalahan tersebutlah

yang membuat Ibu SB melakukan mandi kembang yang kedua kalinya

dengan orang yang berbeda, meskipun hasil yang ditimbulkan setelah

melakukan mandi kembang tidak berubah secara drastis. Ibu SB

mempercayai selain berdoa usaha juga perlu dilakukan, mandi kembang

sejak dahulu dipercayai membawa aura baik pada tubuh, selagi tidak

merugikan diri sendiri tidak ada salahnya usaha yang dilakukan yaitu mandi

kembang.

Salah satu motivasi perempuan melakukan mandi kembang ingin

mendapatkan kemudahan dalam mencari jodoh, karena ketika tinggal di desa

perempuan yang umurnya di atas 20 tahun pasti akan selalu ditanya kapan

ingin menikah. Tidak kunjung mendapatkan jodoh merupakan salah satu

masalah seorang perempuan, sehingga timbul rasa resah ketika berada pada

posisi tersebut. Seperti wawancara dengan informan MR, subjek menyatakan

sebagai berikut:

“Udah 38 tahun masih belom dapatkankan jodoh, rasenye


udah capek nak carinye. Sekali maok same laki-laki malah die
betingkah, ade laki-laki yang cinte malah ndak suke same laki-laki
itu. Udah berkali-kali kayak gitu terus, pernah udah mau nikah laki-
lakinye tibe-tibe ninggalkan. Akhirnye cobe-cobe ngelakukan mandi
kembang siape tau dengan usaha mandi kembang jodoh bakalan
datang. Cuman sekali jak mandi hari jumat pagi karne ndak sempat
48

buat mandi agik karne sebok dan kadang tak punye waktu, memang
ndak langsung kelihatan hasil yang didapat dari mandi kembang.
Tapi yang namenye usahe mane gak tau, Alhamdulillah selepas enam
bulan mandi akhirnye dapat jodoh orang batak dan die milih masuk
Islam biar bise nikah same saye.”

Ketika sebuah doa mungkin belum dikabulkan, dengan pengaruh

budaya yang dipercayai MR melakukan usaha dengan melakukan mandi

kembang. Meskipun butuh waktu yang lama harapan yang diinginkan dapat

terwujud, MR percaya mungkin dengan usaha tersebut yang diharapkannya

akan terkabul.

Permasalahan terkait dengan jodoh juga dirasakan SR berusia 28

tahun yang setatusnya menjadi janda, salah satu perempuan yang melakukan

mandi kembang dengan harapan mendapatkan jodoh. Peneliti mewawancarai

subjek, penuturannya sebagai berikut:

“Saye pernah nikah sekali diumur yang mude, tapi berape


tahun kemudian pisah karne memang udah same kurang cocok dan
tadak bise nafkahi sebagai suami. Akhirnye pengen mandi kembang
dan nanyak kesana-kesini walaupun susah nemukan orang yang bise
mandikan, akhirnye ketemu gak dan melakukan mandi sebanyak 3
kali setiap jumat sore. Tujuan awalnye sih pengen buka aura biar
ketemu same jodoh yang sayang same saye dan tadak mampu dengan
omongan tetangga yang selalu mandang negatif jande yang umurnye
masih mude, selang delapan bulan mandi ketemu same cowok dan
niat serius dan mau nak nikah same jande.”

Permalasahan yang sedang dihadapi SR yang statusnya janda muda

membuat resah dirinya, omongan tentang hal-hal negatif selalu datang dan

akhirnya memutuskan melakukan mandi kembang dengan harapan dapat

menemukan jodoh yang bisa menerima statusnya sekarang, meskipun butuh


49

waktu yang lama untuk mendapatkan seseorang yang dapat menerimanya.

Menurutnya hal yang sangat wajar, mandi kembang hanyalah tradisi yang

masih diyakini sebagai usaha dan tidak bisa didapatkan secara instan tanpa

sebuah doa.

Manusia pasti memiliki permasalahan bahkan masalah itu datang

tidak mengenal umur, seorang perempuan FR berumur 25 tahun dihadapkan

dengan permasalahan yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan sejak lulus

kuliah. Semua perusahaan dan kantor menolak lamaran kerjanya dan

membuatnya putus asa. Peneliti mewawancarai FR, penuturan subjek

sebagai berikut:

“Sejak lulus sebagai sarjana sudah 2 tahun menganggur,


melamar diberbagai tempat belom ade panggilan. Saat itulah
pengen mencobe mandi kembang, dapat informasi dari tetangga
yang nyarankan. Niat awalnye pengen cobe karne sering dengar
cerite datok kalau mandi kembang bise bawa pengaruh baik, orang
jadi suke same kite. Mak pon udah mandi kembang gak, dan
jualannye di Malaysia udah ramai, orang-orang di sana jadi lebih
baik same mak sejak mandi kembang. Jadi cobelah ngeyakinkan diri
semoge hal-hal baik dari kembang balik agik ke diri sendiri, udah
tige kali ngelakukan mandi kembang setiap jumat sore. Sebulan
kemudian dapat panggilan kerje di perusahaan yang tadak terlalu
jauh dari rumah.”

Selain melakukan wawancara dengan kaum perempuan, peneliti juga

mewawancarai paranormal selaku orang yang memandikan permpuan,

penuturannya sebagai berikut:

“Sudah banyak perempuan yang sudah melakukan mandi


kembang, ade yang umurnye 17 tahun dan bahkan ade yang tue.
Semuenye ade masalah masing-masing. Saye tidak bise manstikan
dapat terkabul atau ndaknye, karne saye cuman nolong orang atas
50

kemampuan yang saye punye dan tradisi turun temurun yang


dipercaye. Ade gak yang belom terkabul harapannye, ade gak yang
terkabul. Itu semue balek agik kediri sendiri yakin ndak harapannye
nanti terkabul, intinye segale sesuatu tu harus yakin jak.”

Dari hasil wawancara dengan paranormal yang memandikan dia

menceritakan motivasi kaum perempuan melakukan mandi kembang banyak

dipengaruhi oleh berbagai macam alasan, salah satunya adanya dorongan

kepercayaan yang diyakini sebagai budaya yang tumbuh di dalam kehidupan

masyarakat, sehingga mencoba melakukannya. Manusia boleh meyakini

sebuah budaya, bukan berarti budaya tersebut menjadi sasaran utama

patokan keberhasilannya. Tidak semua harapan yang diinginkan dapat

terkabul dengan begitu cepat, karna tradisi ini sudah dikenal sejak dulunya

maka bisa dikatakan sebagai alternatif yang dapat dilakukan.

5.2. Pandangan Masyarakat Terhadap Mandi Kembang

Pandangan kaum perempuan yang melihat orang lain melakukan

tradisi ini bermacam-macam, ada yang pro dan kontra. Kaum perempuan

yang pernah melakukan mandi kembang mereka menilai orang yang

melakukan mandi kembang merupakan sebuah hal yang biasa, mereka

beranggapan karena telah putus asa salah satu usaha selain doa yang dapat

dicoba yaitu dengan melakukan mandi kembang.

Apalagi mandi kembang sebenarnya sudah dikenal sejak zaman

kerajaan dimana digunakan oleh ratu-ratu untuk mandi dan dilakukan hingga

sekarang, meskipun disetiap tempat mengenal dan melakukan prosesi mandi

kembang dengan prosesi dan pantang larang yang bermacam-macam,


51

bahkan ada cara yang berbeda-beda disetiap wilayah, sebenarnya tujuan

yang dilakukannya itu sama yaitu untuk mendapatkan sesuatu yang baik-

baik.

Sebaliknya kaum perempuan yang tidak percaya menilai budaya

melakukan mandi kembang adalah sesuatu yang tidak masuk akal, apalagi

ketika dikaitkan dengan kehidupan modern yang sudah canggih dan harus

berfikir luas dan bukan melakukan sesuatu yang tidak rasional dengan

percaya kepada hal-hal yang lebih bersifat mistis. Karena banyak masyarakat

awam menilai mandi kembang selalu berkaitan dengan dunia mistis, tetapi

sebenarnya kembali lagi budaya mana yang melakukan hal tersebut. Budaya

bisa saja sama tetapi tata cara dan makna yang disampaikan bisa memiliki

perbedaan.

Selain itu peneliti juga melakukan wawancara terhadap salah satu

tokoh agama yang ada di Desa Sungai Nipah, yang bernama Ismail yang

berusia 45 tahun, kegiatan sehari-harinya mengajar anak-anak mengaji dan

mengikuti kegiatan yang bersifat religius. Dari hasil wawancara mengenai

tanggapannya adanya tradisi mandi kembang sebagai berikut:

”Adenye kepercayaan masyarakat dengan mandi kembang


sebenarnye timbul dari rase kepercayaan sebuah budaye, memang
didalam agama tak ade istilah mandi dapat ngabulkan harapan. Tapi
karne masyarakat melayu ni banyak tradisinye kayak tradisi buang-
buang, tradisi robo-robo. Itukan tradisi yang emang tak ade
diajarkan agama tapi tetap dilakukan dan adenye makna dari tradisi
itu yang tak bise ditinggalkan meskipun udah sebagian masyarakat
yang ninggalkannye, jike diambil secara rasional mungkin mandi
kembang niatnye untuk membersihkan diri, karne dengan mandi
akan menghilangkan kotoran-kotoran pada tubuh”.

Dari penuturan salah satu tokoh agama di sana bahwa di dalam


52

ajaran agama Islam tidak terdapat adanya ketentuan melakukan mandi

kembang, adanya tradisi ini dikarenakan kepercayaan masyarakat yang

sudah mengakar yang mengaitkan adanya ajaran agama dengan alam sekitar

yang dianggap berperan penting dan memberikan manfaat pada kehidupan.

Apalagi Masyarakat Melayu banyak memiliki tradisi yang berkaitan

dengan alam salah satu contohnya seperti tradisi buang-buang (memberikan

makanan yang nantinya dibuang di sungai). Terdapat ritual dan doa-doa

pada proses melakukannya dan doa tersebut dikaitkan dengan sistem religi

masyarakat.

Masyarakat sulit menemukan seseorang yang melakukan mandi

kembang, karena memang perempuan yang ingin melakukan mandi

kembang tersebut lebih bersifat tertutup. Pengertian tertutup ini dalam artian

mereka melakukannya secara diam-diam, perempuan yang melakukan mandi

kembang ini merasa malu jika masyarakat mengetahui permasalahan yang

ada pada hidupnya.

Oleh sebab itu mandi kembang mulai hilang dan hanya sedikit sekali

yang mengetahuinya dan mulai hilang rasa keyakinannya pada tradisi mandi

kembang. Sebenarnya mandi kembang juga dapat dilakukan oleh laki-laki,

tetapi karena paranormal yang melakukan mandi kembang itu biasanya

perempuan, maka mandi kembang banyak diminati oleh kaum perempuan.

Kebanyakan paranormal tidak mau memandikan laki-laki takut terjadi fitnah

oleh masyarakat lokal yang masih kental akan hukum adatnya.

Mandi kembang tidak bisa di nilai salah atau benar, karena termasuk
53

bagian kebudayaan yang dilakukan masyarakat. Kebudayaan tersebut

diciptakan oleh pengetahuan masyarakat yang mengkaitkannya memiliki

makna ketika hal tersebut dilakukan, makna tersendiri diciptakan juga oleh

masyarakat baik itu berdasarkan pengetahuan yang diwarisi oleh nenek

moyangnya maupun pengetahuan yang diciptakan masyarakat melalui

pengalaman. Kebudayaan tersebut dapat diikuti oleh satu keluarga inti,

sekumpulan komunitas bisa berdasarkan wilayah tertentu.

5.3. Prosesi Mandi Kembang

Sebelum melakukan prosesi mandi kembang, terlebih dahulu harus

berkonsultasi kepada paranormal tentang permasalahan yang dihadapi,

setelah itu paranormal memberikan saran kepada orang yang ingin mandi

dan menginformasikan perlengkapan yang harus disediakan saat melakukan

prosesi mandi kembang.

Mandi kembang dilaksanakan pada hari selasa dan jumat, paling

banyak dilakukan 3 (tiga) kali pemandian dan paling sedikit 1 (satu) kali

pemandian. Banyak sedikitnya melakukan mandi kembang tergantung dari

keberhasilan terkabulnya harapan seseorang tersebut atau tergantung dari

kaum perempuan ingin melakukan mandi kembang berapa kali, jika sudah

tiga (3) kali melakukan mandi kembang tetapi harapan yang diinginkan

belum terkabul, orang tersebut harus menunggu dan diiringi dengan doa.

Keberhasilan yang didapat dari mandi kembang tidak selalu cepat terkabul

dan selalu terkabul, terkadang butuh waktu yang lama agar harapaan yang

diinginkan seseorang setelah mandi kembang itu dapat terkabul.


54

Keberhasilan dikabulkannya sebuah harapan yang diinginkan setelah

melakukan mandi kembang sebenarnya kembali lagi pada orang tersebut.

Semakin seseorang percaya dan yakin akan terkabulnya harapannya serta

selalu berdoa kepada Tuhan, harapan yang diinginkan orang tersebut

dipercaya akan lebih cepat terkabul.

Pada prosesi mandi kembang memiliki berbagai macam tahapan agar

mandi kembang tersebut dapat dilakukan, mandi kembang dilakukan oleh

seorang paranormal. Menurut paranormal sendiri bahwa:

“Sebelum melakukan mandi ini sebaiknye berwudhu baik itu


yang pengen mandi maupun yang memandikan biar lebih afdol,
diharuskannye berwudhu karne ape yang ade didalam badan ni yang
kotor-kotor dapat pergi itulah awal dilakukannye mandi kembang”

Menurut penuturan paranormal tersebut bahwa dengan berwudhu

terlebih dahulu akan membawa dampak yang lebih baik, karena mayoritas

yang melakukan mandi kembang ini adalah beragama Islam, jadi tidak

masalah jika mereka harus berwudhu terlebih dahulu sebelum melakukan

prosesi mandi kembang.

Berikut adalah tata cara yang akan dilakukan pada prosesi mandi kembang :

1. Menyediakan lokasi untuk melakukan prosesi mandi kembang

Lokasi yang dimaksudkan berupa tempat akan dilakukannya prosesi

mandi kembang, lokasi ini biasanya ditentukan oleh orang yang ingin mandi

kembang ataupun berdasarkan persetujuan bersama dengan paranormal.

Gambar 5.1
Tempat Melakukan Mandi Kembang
55

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Dari gambar di atas merupakan tempat yang bisa digunakan pada

prosesi mandi kembang, masyarakat Desa Sungai Nipah menyebutnya

pelantaran dapok. Diartikan sebagai tempat yang digunakan sebagai tempat

mencuci piring, tempat mencuci baju dan bahkan tempat mandi. Pelantaran

dapok ini memiliki dinding-dinding yang melindungi agar tidak mudah

dilihat oleh masyarakat umum.

Pada prosesi mandi kembang harus dilakukan di tempat yang

memiliki sekat atau dinding-dinding pelindung agar orang lain tidak bisa

dengan mudahnya melihat saat berlangsungnya prosesi mandi kembang.

Biasanya pelantaran dapok ini terletak dibagian belakang rumah dan


56

menyatu dengan rumah, memiliki lantai kayu maupun lantai yang sudah di

semen dengan ditutupi dinding di sekelilingnya.

2. Menyediakan air dan kembang

Gambar 5.2
Wadah dan Air

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Dari gambar di atas adalah wadah dan air yang akan digunakan untuk

mandi kembang. Wadah yang digunakan boleh apa saja, bisa berupa ember,

baskom atau tempat lain yang dapat menampung air yang cukup banyak

untuk mandi. Air yang digunakan juga boleh air apa saja, asalkan air yang

mengalir. Bisa berupa air sungai, air keran dan lain sebagiannya.

Air yang menglir bermakna air yang dapat menhantarkan sumber

kehidupan yang selalu dibutuhkan manusia. Air mengalir digunakan untuk

melakukan mandi kembang agar air tersebut dapat mengalirkan kotoran

jahat pada tubuh dan membuangnya. Air yang mengalir dipercaya lebih

bersih dari pada air endapan, dikhawatirkan ada kotoran binatang yang
57

terkena pada air tersebut ataupun najis-najis lain.

Gambar 5.3
Kembang Untuk Mandi

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Setelah menyiapkan air untuk mandi, siapkan juga berbagai jenis

kembang yang bisa didapatkan disekitar lingkungan atau yang mudah

ditemui dan jangan menggunkan kembang yang memiliki duri pada bagian

daun maupun tangkainya. Kembang tersebut diletakkan ke dalam wadah

yang nantinya kan dibacakan oleh paranormal.

Dalam wadah tersebut paranormal membacakan doa kepada Tuhan

agar harapan yang diinginkan orang yang mandi kembang ini dapat terkabul,

karena niat utamanya melakukan mandi kembang untuk membersihkan diri

dari segala macam kejahatan yang ada pada tubuh. Air tersebutlah yang di

namakan air kembang pada ritual mandi kembang, air itu difungsikan

sebagai salah satu prantara aura baik yang ada pada kembang tersebut keluar
58

setelah dicampurkannya kedalam air.

Gambar 5.4
Air Kembang

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Kembang yang sudah dibacakan doa selanjutnya dicampur dengan

air yang sudah disiapkan di dalam wadah, bisa dilihat pada gambar diatas.

Saat mencampurkan kembang seorang paranormal mengawalinya dengan

membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan berdoa ke pada Tuhan, dengan

sambil diaduk sebanyak 3 (tiga) kali.

3. Langkah –langkah pada mandi kembang

Pada tahapan ini mulai dilakukannya prosesi mandi kembang, yang

terdiri dari 3 (tiga) hal yang wajib dilakukan. Tahap yang pertama dengan

menyiram pangkal kepala, selanjutnya menyiram bagian kanan badan dan


59

yang terakhir menyiram bagian kiri badan. Serta dilanjutkan menyiram

seluruh bagian badan tetapi ini dilakukan oleh orang yang mandi atau kaum

perempuan, bukan dilakukan oleh paranormal.

Gambar 5.5
Menyiram Pangkal Kepala

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Memasuki tata cara pemandian pada mandi kembang, perempuan

harus wajib melakukan tahapan ini, karena tahap dimulainya sebuah ritual

pada mandi kembang. Pada tahapan awal ini dimulai dari seorang

paranormal melakukan menyiram pangkal kepala perempuan yang

melakukan mandi kembang. Pangkal kepala di maknakan sebagai awal

bagian tubuh yang mana akan mengalirkan hal-hal jahat turun kebawah dan

keluar dari tubuh perempuan tersebut.


60

Setiap melakukan penyiraman seorang paranormal mengucapkan

salam kepada Rasullah S.A.W. dan doa-doa yang diucapkannya dengan

suara yang tidak keras melainkan di dalam hati. Penyiraman dilakukan

sebanyak tiga kali, selanjutnya dilanjutkan menyiram tubuh bagian kanan.

Gambar 5.6
Menyiram Bagian Kanan

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Pada penyiraman tubuh yang diutamakan adalah bagian kanan

terlebih dahulu yang bermakna sesuatu yang baik, dalam kepercayaan sistem

religi Masyarakat Melayu kanan banyak digunakan untuk hal-hal kebaikan,

Misalnya memberi menggunakan tangan kanan, melangkahkan ke tempat

ibadah menggunakan tangan kanan, maka dari itu diutamakan mandi pada
61

bagian kanan terlebih dahulu, agar hal utama yang selalu datang pada

perempuan tersebut adalah sebuah kebaikan. Penyiraman dilakukan

sebanyak tiga kali dengan diiringi doa yang dibacakan paranormal di dalam

hati.

Gambar 5.7
Menyiram Bagian Kiri

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Tahapan yang ketiga dengan menyiram bagian kiri tubuh, ini

dilakukan agar seuruh tubuh dapat terkena air kembang, tahapan yang ketiga

ini juga dilakukan penyiraman sebanyak tiga kali dengan diiringi doa yang

dibacakan oleh paranormal didalam hati. Makna dilakukannya penyiraman

dibagian kiri supaya tubuh dapat seimbang antara kiri dan kanan, jika kanan
62

mendapatkan hal baik yang kiri demikian.

Setelah melakukan penyiraman sebanyak tiga kali pada pangkal

kepala, tubuh sebelah kanan dan tubuh sebelah kiri. Air kembang yang

tersisa harus dihabiskan dan dilanjutkan peyiraman oleh perempuan yang

melakukan mandi kembang sampai air kembang itu benar-benar habis. Saat

perempuan yang mandi menyiram tubuhnya, sebaiknya mengucapkan

harapan-harapan yang diinginkan didalam hati dapat juga berupa doa-doa

sesuai keyakinannya.

Gambar 5.8
Menghidupkan Stanggih

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019


63

Setelah selesai melakukan mandi kembang dan telah menggunakan

pakaian, dilanjutkan dengan menghidupkan stanggih. Masyarakat Desa

Sungai Nipah biasa menyebut gambar di atas sebagai stanggih, ini bisa

didapatkan di toko-toko terdekat dan banyak sekali yang menjualnya.

Stangggih yang digunakan merupakan stanggih Arab atau bisa di sebut

dupa.

Stanggih ini di letakan di wadah yang lebarnya keatas dan dapat diisi

dengan beras, wadah yang digunakan bisa berupa gelas, botol dan lain

sebagiannya. Digunakannya beras fungsinya sebagai penahan agar stanggih

tersebut dapat tegak, selesai stanggih digunakan beras tersebut tidak perlu

dibuang dan masih bisa digunakan untuk makan.

Makna dihidupkannya stanggih selesai melakukan mandi kembang

agar aroma harum stanggih tersebut melekat pada tubuh dan menambah

semangat pada perempuan tersebut, serta asap yang dikeluarkan dari

stanggih akan mendatangkan sesuatu yang baik-baik. Stanggih Arab ini

banyak digunakan saat kegiatan keagamaan maupun kegiatan budaya pada

masyarakat Desa Sungai Nipah, itulah sebabnya stanggih juga dipakai pada

prosesi mandi kembang.

Jika permasalahan yang dihadapi seseorang berupa masalah konfilk

hubungan rumah tangga dan ingin membuka auranya untuk suaminya,

biasanya disamping beras yang telah dihidupakan stanggih diletakkan foto

ataupun kertas yang terdapat gambar suaminya. Nantinya akan gambar

tersebut akan dibacakan Al-Fatihah oleh paranormal, agar hati suaminya


64

luluh untuk istrinya.

Asap yang ditimbulkan dari membakar stanggih ini dihapkan akan

menghantarkan harapan yang ingin dicapai, masyarakat lokal percaya roh-

roh seperti malaikat senang dengan aroma wangi, dengan menghidupkan

stanggih maka diharapkan disitu juga ada malaikat yang dapat mengaminkan

harapan yang diinginkan oleh perempuan tersebut.

Gambar 5.9
Stangih Dengan Foto

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Dari gambar di atas merupakan stanggih yang diletakkan foto, bisa


65

berupa kertas yang terdapat gambar suaminya. Setelah dibacakan Al-

Fatihah, stangih boleh dimatikan ataupun tetap dihidupkan sampai stanggih

tersebut habis, biasanya stanggih dimatikan jika terasa aroma ruangan

beraroma stanggih.

5.4. Makna Mandi Kembang

Adanya sesuatu yang diyakini dan dilakukan oleh manusia pasti

memiliki makna yang terkandung didalamnya, makna tersebut bisa diperoleh

melalui sejarah, pengalaman, kebiasaan dan kepercayaan setiap masyarakat.

Mandi kembang memiliki makna yang terkandung didalamnya, baik berupa

alat dan bahannya maupun makna dilakukannya proses mandi kembang itu

sendiri.

Dari adanya proses wawancara dengan paranormal yang memiiki

informasi mengenai makna yang terkandung dari mandi kembang hingga

dapat dipercayai kaum perempuan hingga masih dilakukan hinga saat ini

yang dipercaya dapat membawa kebaikan ketika orang itu memandikannya.

5.4.1. Makna Kembang

Bunga atau kembang merupakan bagian yang tidak terpisahkan

dalam kehidupan, karena pada umumnya bunga banyak digunakan

diberbagai macam kegiatan manusia. Selain dapat menjadi hiasan, bunga

juga memiliki simbol-simbol disetiap pemaknaannya, salah satunya bunga

atau kembang ini digunakan pada prosesi mandi kembang.

Kembang merupakan penyebutan bunga, masyarakat menyebut


66

mandi bunga sebagai mandi kembang. Bunga sendiri merupakan salah satu

hal yang sangat penting pada mandi kembang, karena menjadi salah satu

syarat yang wajib ada. Masyarakat Desa Sungai Nipah biasa menggunakan

bunga apa saja yang tumbuh dilingkungannya, terkecuali bunga yang

memiliki batang maupun daun yang berduri.

Bunga dimaknai sebagai prantara mengahantarkan kebaikan,

karena bunga memiliki wangi dan banyak yang menyukainya, baik itu

binatang maupun manusia. Apalagi sejak zaman dahulu bunga banyak

digunakan oleh ratu-ratu sebagai bahan tambahan untuk mandi maupun

aroma wewangian, dengan mandi menggunakan bunga bermakna hal-hal

baik akan datang pada tubuh dan membuang hal-hal yang kotor.

Selain itu mandi kembang dipercaya menaikan seri wajah karena

badan menjadi segar disebabkan oleh khasiat berbagai macam bunga-bunga

tersebut. Mandi kembang dipercaya akan menyerap tenaga matahari yang

terbaik dan kebaikannya akan diturunkan bagi orang yang memandikannya,

serta mandi kembang berkhasiat menambah energi pada tubuh dan

menghilangkan bau badan. Oleh sebab, itu mandi kembang memiliki banyak

manfaat bagi seseorang yang memandikannya.

Pada proses mandi kembang, kembang yang digunakan harus

memiliki jumlah nilai yang ganjil yaitu 3, 5, 7 dan 9 (tiga, lima, tujuh dan

sembilan). Bagi yang ingin mandi kembang bebas memilih jumlah bunga

yang akan digunakan, tetapi lebih banyak lebih baik. Semakin banyak bunga

yang digunakan, maka mandi kembang tersebut akan menimbulkan aroma


67

yang wangi dan lebih berkhasiat.

Penggunaan jumlah ganjil dalam mandi kembang bermakna

dapat mendatangkan hal-hal yang baik, ketika hal-hal baik itu diakukan

maka akan mendatangkan kebaikan juga. Oleh sebab itu, dalam prosesi

mandi kembang selalu menggunakan bunga dalam jumlah yang ganjil.

Berikut bunga-bunga yang sering dipakai pada prosesi mandi kembang yang

dilakukan oleh kaum perempuan di Desa Sungai Nipah.

Gambar 5.10
Bunga Kembang Sepatu

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Bunga kembang sepatu atau nama latinnya Hibiscus rosa-

sinensis tanaman ini merupakan tanaman yang sering tumbuh bebas di

lingkungan masyarakat Desa sungai Nipah. Bunga ini merupakan salah satu

bunga yang digunakan pada prosesi mandi kembang. Digunakannya bunga

ini karena mudah ditemukan dan dipercaya memiliki khasiat menjaga


68

kesehatan kulit, minyak yang terkandung di dalam bunga kembang sepatu

bisa membantu membersihkan kulit mati dan membuat kulit lebih halus.

Pada saat bunga kembang sepatu ini mekar sangatlah indah

seperti memancarkan kebahagian, sehinggga dimaknakan saat bunga

kembang sepatu digunakan pada prosesi mandi kembang dapat membuat

orang yang mandi menjadi seperti bunga kembang sepatu yaitu tampak

selalu bahagia.

Gambar 5.11
Bunga Melati

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Bunga melati atau nama latinnya Jasminum merupakan salah satu

bunga yang digunakan pada proses mandi kembang, bunga putih ini

memiliki aroma yang sangat wangi. Bunga melati ini banyak digunakan

pada prosesi mandi kembang karena memiliki banyak manfaat dan memiliki

aroma yang sangat khas, siapapun yang mencium aromanya pasti mengenali

bunga tersebut.
69

Bunga melati juga bisa ditemui di Desa Sungai Nipah, karena

biasa ditanam di pekarangan rumah. Salah satu manfaat yang dimliki oleh

bunga melati adalah dapat menghilangkan stres, aroma yang dimiliki dapat

menjadi terapi bagi tubuh. Apalagi digunakan sebagai bahan campuran

dalam mandi kembang dipercaya aroma wanginya akan berpindah pada

tubuh.

Gambar 5.12
Bunga Asoka

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Bunga asoka atau nama latinnya Saraca indica salah satu bunga

yang biasa digunakan pada prosesi mandi kembang. Bunga ini memiliki

warna yang cerah dan sering digunakan anak-anak untuk bermain, selain itu

bunga asoka dipercaya memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan tubuh.

Karena bunga ini banyak tumbuh dilingkungan masyarakat, bunga ini sering
70

digunakan pada mandi kembang.

Digunakannya bunga ini pada prosesi mandi kembang karena

bunga ini seperti gerombolan orang yang saling menyayangi, dikelilingi

bunga yang sama dan saling menyatu. Sehingga bermakna jika

digunakannya bunga itu pada prosesi mandi kembang, orang yang mandi

tersebut diharapkan dapat seperti bunga yang selalu hidup rukun pada

masyarakat sekelilingnya.

Gambar 5.13
Bunga Zinnia

Sumber : Koleksi pribadi pada saat penelitian tahun 2019

Bunga zinnia dengan nama latinnya Zinia elegans ini biasa

disebut dengan bunga kertas, karena bunga ini memiliki kelopak bunga yang

terasa seperti kertas. Bunga ini banyak tumbuh di Desa Sungai Nipah dan
71

menjadi salah satu bunga yang sering digunakan pada prosesi mandi

kembang. Umumnya bunga dijadikan sebagai tanaman hias perkarangan

rumah karena bentuknya yang cantik dan mudah tumbuh di Desa Sungai

Nipah.

Bunga yang indah ini banyak digunakan pada prosesi mandi

kembang karena bunga ini cantik dan menarik, ketika bunga ini dipakai pada

proses mandi kembang dapat bermakna bunga tersebut dapat menghantarkan

kecantikan dan banyak orang yang tertarik pada orang melakukan mandi

kembang.

Gambar 5.14
Bunga Adenium

Sumber : foto pribadi pada saat penelitian

Adenium atau kemboja yang memiliki nama latinnya Adenium


72

obesum merupakan tanaman yang sering dijadikan tanaman hias. Bunga ini

merupakan salah satu bunga yang digunakan pada prosesi mandi kembang.

Masyarakat Desa Sunga Nipah sering menyebutnya bunga kamboja, bunga

ini jarang dijumpai karena banyak dijadikan sebagai tanaman hias dan

bunganya sangat dirawat.

Bunga ini digunakan karena bermakna tanaman yang mahal sulit

dicari dan disukai banyak orang, banyak yang rela menghabiskan uangnya

untuk merawat dan membeli tanaman tersebut. Sehingga jika menggunakan

bunga kamboja pada mandi kembang diharapkan banyak juga orang yang

menyukainya seperti orang menyukai bunga tersebut.

Gambar 5.15
Bunga Kenanga

Sumber : foto pribadi pada saat penelitian

Bunga kenanga atau nama latinnya Cananga odorata merupakan

salah satu bunga yang juga bisa dipakai pada mandi kembang, bunga
73

kenanga ini sekarang sudah jarang ditemukan dipekarangan rumah

masyarakat Desa Sungai Nipah. Tetapi masih ada sebagian rumah yang

menanam bunga kenanga tersebut.

Bunga kenanga memiliki wangi yang sangat khas, aromanya khas

membuat bunga ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain itu bunga terebut

memiliki manfaat yang baik untuk tubuh jika digunakan untuk bahan

campuran mandi, aromanya yang begitu wangi membuatnya seperti melekat

pada tubuh. Bunga kenanga dimaknakan harum yang dimilikinya dapat

mengaharumi orang yang mandi kembang.

Gambar 5.16
Bunga Tapak Dara

Sumber : foto pribadi pada saat penelitian

Bunga tapak dara atau nama latinnya Catharanthus roseus Don


74

merupakan salah satu bunga yang sering digunakan pada prosesi mandi

kembang. Bunganya yang memiliki banyak warna yang indah-indah, bunga

tapak dara putih hampir mirip bunga melati. Bunga ini sering digunakan

karena mudah ditemui di Desa Sungai Nipah dan banyak tumbuh liar.

Salah satu manfaat yang diberikan pada bunga ini dapat menjadi

relaksasi dan penghilang setres jika digunakan sebagai tambahan mandi

kembang. Digunakannya bunga ini untuk mandi kembang bermakna semoga

dipermudahkannya juga harapan yang diinginkan orang yang melalukan

mandi kembang karena bunga ini sangat mudah ditemukan.

5.4.2. Makna Hari Selasa dan Jumat

Untuk melakukan mandi kembang dilakukan sebanyak 3 (tiga)

kali yaitu hari selasa ataupun jumat, ketentuan itu ditetapkan oleh

paranormal. Waktu yang dapat dipilih untuk melakukan mandi kembang

tidak memiliki batasan, bisa dilakukan pagi, siang, sore dan malam.

Seseorang yang ingin mandi kembang dapat memilih kapan waktu luang

untuk bisa melakukan mandi kembang, sesuai kesepakatan bersama dengan

paranormal.

Hari selasa dan hari jumat tersebut bukan semata-mata ditentukan

oleh seorang paranormal, tapi sudah tradisinya melakukannya pada hari

tersebut. Makna hari selasa untuk melakukan mandi kembang diartikan

sebagai hari baik, karena hari selasa adalah hari ketiga dari satu pekan. Tiga

itu di simbolkan sesuatu yang baik seperti diibaratkan berwudhu yang

dilakukan sebanyak tiga kali.


75

Mandi kembang juga boleh diakukan pada hari jumat, hari

tersebut dianggap baik dalam masyarakat Melayu, meskipun semua hari

sebenarnya hari yang baik. Hari jumat seperti hari yang tepat untuk

membersihkan hal-hal yang buruk pada diri manusia, masyarakat

beranggapan hari jumat hari yang baik untuk memotong kuku, memotong

rambut dan hari yang baik untuk membersihkan rumah. Begitu juga

melakukan mandi kembang dipercaya dapat membersihkan hal-hal yang

buruk pada tubuh.

Kaum perempuan yang ingin melakukan mandi kembang banyak

yang memilih hari jumat, sebab menurut mereka hari tersebut lebih baik.

Ada juga yang melakukannya pada hari selasa, meskipun orang yang

melakukan mandi kembang pada hari itu tidak sebanyak hari jumat.

5.4.3. Makna Kain Untuk Mandi

Saat melakukan proses mandi kembang seorang perempuan yang

akan melakukan mandi mengenakan kain untuk menutup tubuhnya, yang

merupakan kain panjang biasa disebut kain kemban atau kain basah oleh

masyarakat Desa Sungai Nipah. Kain tersebut merupakan kain yang

digunakan kaum perempuan untuk mandi, nantinya kain tersebut akan

dibasahi ketika mandi.

Digunakannya kain untuk menutupi tubuh perempuan, karena

tidak mungkin perempuan yang mandi kembang tidak menutup tubuhnya

dan jika menggunakan baju saat melakukan mandi kembang dikhawatirkan

air kembang tersebut tidak banyak terserap oleh tubuh, sehingga akan hilang
76

manfaat yang didapat saat melakukan prosesi mandi kembang.

5.5. Pantangan Pada Mandi Kembang

Tradisi mandi kembang terdapat pantangan yang harus diketahui

sebelum melakukannya, ini bukan hanya berlaku pada perempuan yang ingin

mandi, tetapi berlaku juga untuk paranormal yang memandikan. Pantangan

ini sudah berlaku sejak dahulu, mungkin ada perbedaan pantangan ketika

mandi kembang ini dilakukan di wilayah lain.

Setiap tempat atau wilayah tertentu bisa saja memiliki tradisi

mandi kembang dan kemungkinan pantangan yang dimiliki ada yang

berbeda dan ada yang sama. Semuanya itu didapatkan dari pengetahuan

yang sudah berkembang dikehidupannya, diwariskan hinggga menjadi

budaya yang mengakar hingga saat ini masih terus dilakukan.

5.5.1. Peralatan Mandi Bukan Dari Kamar Mandi

Peralatan mandi yang digunakan dilarang menggunakan sesuatu

yang pernah masuk ke dalam kamar mandi, biasanya kamar mandi yang ada

Di Desa Sungai Nipah bergabung dengan tempat WC (water closet).

Dilarangnya menggunakan peralatan yang berasal dari kamar mandi dan

bahkan pernah digunakan di kamar mandi itu karena dikhawatirkan

mengandung najis.

Ketika hendak melakukan prosesi mandi kembang di wajibkan

menggunakan peralatan yang tidak pernah digunakan untuk keperluan kamar

mandi, lebih baik menggunakan barang-barang yang baru agar

mengantisipasi barang tersebut tidak pernah masuk kedalam kamar mandi


77

ataupun digunakan di kamar mandi.

5.5.2. Perempuan Dalam Keadaan Haid

Seseorang yang ingin melakukan mandi kembang sangat dilarang

jika dia sedang berhalangan atau haid. Jika perempuan tersebut ingin mandi

dan dia sedang berhalangan, maka harus menunggu sampai haidnya selesai.

Begitu juga paranormal yang memandikannya memiliki larangan yang sama,

jika sedang berhalangan maka tidak boleh memandikan orang lain.

Sebab dilarangnya dikarenakan haid merupakan saat seseorang

sedang mengeluarkan darah kotor, sedangkan tujuan melakukannya mandi

kembang untuk mendapatkan hal-hal yang baik sehingga harus berasal dari

yang bersih-bersih. Apalagi sebelum melakukan mandi kembang perempuan

maupun paranormal di wajibkan mengambil wudhu agar selalu terhindar

dari kotoran dan selalu bersih. Itu sebabnya dilarangnya seseorang yang

sedang haid pada mandi kembang.

5.5.3. Berdasarkan Keinginan Bukan Paksaan

Melakukan mandi kembang harus berdasarkan kemauan sendiri

dan keyakinan dapat terkabulnya harapan yang diinginkan, ketika ada yang

melakukan mandi kembang tetapi atas dasar paksaan orang lain sebaiknya

jangan dilakukan karena tidak akan mendatangkan kebaikan untuknya.

Sesuatu yang dipaksa dan dilakukan oleh orang tersebut tidak mendatangkan

sebuah kebaikan, ini sangat dilarang saat seseorang ingin melakukan mandi

kembang.

5.5.4. Bunga Tidak Memiliki Duri


78

Bunga jenis apapun tidak memiliki larangan asalkan didapat

dengan mudah dan tidak memberatkan, salah satu hal yang harus

diperhatikan saat memilih bunga yang akan digunakan adalah tidak boleh

menggunakan bunga yang memiliki batang atau daun yang memiliki duri.

Dilarangnya menggunakan bunga berduri karena dianggap

sebagai penghabat harapan seseorang yang akan dipenuhi oleh rintangan dan

duri-duri kehidupan. Bunga berduri misalnya bunga mawar, bunga tersebut

dihindarkan untuk mandi kembang agar tidak membawa hal-hal buruk

terjadi.

5.5.5. Mandi Di Tempat Terbuka

Tempat terbuka yang di maksudkan merupakan tempat yang

dapat dilihat dengan bebas oleh orang lain, hal itu dikarenakan akan

membuat perempuan tersebut tidak nyaman ketika auratnya dilihat orang

lain karena hanya mengggunakan kain. Tempat yang digunakan sebaiknya

tempat yang memiliki penutup agar tidak mudah dilihat oleh orang lain.

Larangan ini sebenarnya bermakna agar menjaga perempuan dari

niatan jahat orang lain ketika melihat tubuh perempuan yang sedang mandi

serta menjaga agar tidak terjadinya gunjingan masyarakat sekitar yang

nantinya menilai hal-hal yang buruk bagi perempuan yang mandi. Karena

biasanya perempuan yang melakukan mandi kembang lebih bersifat tertutup

untuk melakukan mandi kembang, mereka takut masalah pribadinya menjadi

cemoohan masyarakat sekitar dan menjadi pembicaraan.


79

BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Perempuan yang melakukan mandi kembang karena mereka mulai

putus asa dengan permasalahan yang dihadapinya, adanya pengetahuan

budaya yang berkembang dilingkungannya mengenai mandi kembang

menjadi salah satu motivasi kaum perempuan melakukan mandi kembang.

Tradisi ini banyak dilakukan oleh kaum perempuan, sebenarnya mandi

kembang ini dapat dilakukan juga oleh laki-laki tetapi yang memandikannya

seorang perempuan, jarang sekali paranormal tersebut mau memandikan

laki-laki.

Tradisi ini banyak dilakukan oleh kaum perempuan yang meyakini

dengan melakukan mandi kembang akan membawa manfaat yang baik.

Apalagi pada masa kerajaan para ratu terdahulu memanfaatkan kembang

dalam campuran air mandinya, hingga dilakukan dan menjadi budaya

masyarakat. Sudah banyak kaum perempuan yang merasakan keberhasilan

setelah melakukan mandi kembang, meskipun harapan yang diinginkan tidak

langsung terkabul dan terkadang butuh waktu yang lama. Meskipun begitu

tidak menutup kemungkinan harapan tersebut dapat terkabul, itu semua

kembali lagi kepada orang yang melakukan mandi kembang seberapa yakin

harapannya dapat terkabul dengan prantara mandi kembang.

Mandi kembang merupakan budaya yang dibuat oleh masyarakat

yang dipecaya memberikan manfaat dari makna-makna yang terdapat pada


80

kembang dan media yang digunakan. Meskipun budaya ini merupakan

sebuah budaya yang dianggap tidak rasional jika melakukan mandi kembang

harapan yang diinginkan dapat terkabul, sebenarnya tradisi ini merupakan

sebuah usaha yang dilakukan kaum perempuan selain berdoa.

Paranormal berperan penting terlaksananya proses mandi kembang,

mulai dari tahapan memberikan saran pada orang yang ingin melakukan

mandi kembang, memandikannya dan memberikan arahan-arahan agar

seseorang yang mulai putus asa bangkit dan mulai yakin harapannya dapat

terkabul. Mandi kembang juga memiiki ritual disetiap proses melakukannya

adanya doa-doa yang kaitkan dengan kepercyaan sistem religi masyarkatnya.

Makna pada mandi kembang maupun media yang digunakan untuk

melakukan mandi kembang diciptakan melalui pengetahuan yang dimiliki

masyarakat lokal tentang manfaat kembang, terdapat pantang larang dalam

melakukan mandi kembang, itu semua dilandaskan oleh kepercayaan yang

diyakininya. Makna yang diciptakan juga dapat berbeda jika mandi kembang

itu dilakukan ditempat lain dan masyarakatnya memiliki pengetahuan yang

berbeda dengan masyarakat Desa Sungai Nipah. Karena budaya bisa sama

tapi makna yang disampaikan dapat berbeda-beda tergantung pengetahuan

masyarakatnya.

Terkabulnya harapan seseorang setelah melakukan mandi kembang,

sebenarnya merupakan manfaat yang didapat dari mandi yang menggunakan

bunga, manfaat bunga dapat menjadi relaksasi penghilang stress yang

dihadapi seseorang. Aroma yang dimiliki bunga akan membawa kesegaran


81

dan dengan melakukan mandi kembang orang akan menjadi lebih semangat

dalam menjalani hidup karena dalam pikirannya setelah mandi kembang

harapannya akan dapat terkabul sehingga membuat yang telah lebih percaya

diri.

6.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka penulis memberikan berberapa

saran atau masukan yang akan diajukan, yaitu kepada:

1. Masyarakat

Sebagai manusia yang hidup dalam berbagai macam budaya, kita

tidak bisa menilai bahwa budaya itu baik atau buruk. Budaya diciptakan

karena kebiasaan dan pengetahuan seseorang yang akhirnya diterapkan oleh

individu maupun kelompok. Budaya bisa saja hilang jika tidak ada yang

menerapkannya, masih banyak budaya yang mungkin belum diketahui oleh

orang awan dan mengkaitkannya dengan hal-hal buruk. Kebudayaan tersebut

bisa saja membawa hal baik jika dilihat dari sudut pandang lain.

Mandi kembang bisa saja dilakukan dan menjadi sebuah tradisi oleh

etnis lain dan memiliki makna yang berbeda pada ritualnya. Oleh sebab itu

budaya bisa saja sama tetapi makna yang disampaikan berbeda juga berbeda-

beda. Ketika Masyarakat Desa Sungai Nipah mengkaitkan budaya ini pada

sistem religinya mungkin berdasarkan kepercayaaannya dan pengalaman

masyaraktnya.
82

2. Pemerintah

Terciptanya masyarakat yang harmonis dan rukun karena adanya

keanekaragaman yang melatarbelakangi kehidupan masyarakatnya. Oleh

karena itu pemerintah harus mendukung budaya yang berkembang pada

kehidupan masyarakatnya. Jika budaya tersebut dianggap sebagai sesuatu

yang menyimpang dari sudut pandang pemerintah, alangkah baiknya

pemerintah juga melihat dari sudut padang masyarakatnya dan melihat

apakah budaya tersebut merugikan bagi banyak orang atau tidak.


83

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suhasimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek.


Jakarta: PT Rineka Cipta.

Berger, Atur Asa. 2005. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer,


Suatu Pengantar Semiotika. Yogyakarta: Tira Wacana.

Budiono. 2001. Simbolisme-Simbolisme Pada Budaya Jawa. Yogyakarta:


Hanindita Graha Widia.

Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja


Grafindo Persada.

-------. 2015. Metodologi Penelitian Kualitatif : Aktualisasi Metodologi ke


Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Kebudayaan.


Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Esten, Mursal.1991. Kajian Transformasi Budaya. Bandung: Angkasa.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kartinus.

Gulo, W. [Link] Penelitian. Jakarta: PT Grahasindo.

Hartoko, Dick., dan B. Rahmanto. [Link] Istiah [Link]:


Kartinus.

Kartoatmojo, Susanto. 1995. Prapsikologi (parapsikologi, parergi, dan data


paranormal). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Kunjara, Esther. 2006. Penelitian Kebudayaan sebuah Panduan


[Link]: Graha Ilmu.

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian kulitatif. Bandung: Remaja


Rosda Karya.

-------. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda


Karya.

-------. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda


Karya.
84

Peursen, Van .1976. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Kanisus.

Rasyid, Sulaiman. 2010. Buku Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru


Algensindo.

Satori, Djam’an., dan Aan Komariah. 2011. Metode Penelitian Kualitatif.


Bandung : Alfabeta.

Sedyawati, Edi. 2012. Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni dan


Sejarah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Soekanto, Soerjono.1983. Kamus Sosiologi. Jakarta: CV. Rajawali.

Sugiono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.


Bandung: PT Alfabet.

Suyono, Arriyono., dan Aminuddin Siregar. 1985. Kamus Antropologi.


Jakarta: Akademik Preindo.

Syaifudin, Ernest Cassirer. 1987. Sebuah Essai Tentang


[Link] Alois A. Nugroho. Jakarta: Gramedia.

Yuwono, Untung., dan T Christomy. 2004. Semiotika Budaya. Jakarta: Pusat


Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan
Pengabadian Masyarakat Universitas Indonesia.

Sumber Internet

Hidayatullah, Rachmat. 2010. “Tinjauan Hadis Terhadap Praktek


[Link] Tafsir [Link] Islam Negeri Syarif
Hidayatullah”.[Link]
89/6139/1/RACHMAT%[Link] Diakses
pada tanggal 1 November 2019.

Khoiri. 2017. ”Antara Adat dan Syariat: Studi Tentang Tradisi Mandi Safar
di Tasik Nambus, Riau, ditinjau dari Perspektif Islam”.Jurnal ilmi
Islam Futura, 16 (2), [Link]://[Link]-
[Link]/[Link]/islamfutura/article/download/873/1144.
Diakses pada tanggal 1 November 2019.

Suharyanto, Agung. 2015. “Eksistensi dan Penyembuhan Alternatif dalam


Masyarakat Medan”, Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan
Budaya, 1 (2):196-201.
[Link]
/6244/5508 Diakses pada tanggal 1 November 2019.
85

Rofiq, Ahsanur. 2018.” Makna Simbol Kembang dalam Ritual Kirab Malam
1 Suro”. Jurusan Aqidah dan Filsafat [Link] Islam
Negeri [Link]://[Link]/1951/1/AHSANUR
%[Link] Diakses pada tanggal 7 November 2019.

Mokhammad, Sofyan. 2012. Persepsi Masyarakat Kelurahan


Sumbergedang kabupaten Pasuruan Tentang Manfaat Ritual Mandi
Kembang Bagi Kehamilan. Sarjana Thesis. Universitas
[Link]://[Link]/8750261/PERSEPSI_MASYA
RAKAT_KELURAHAN_SUMBERGEDANG_KABUPATEN_PAS
URUAN_TENTANG_MANFAAT_RITUAL_MANDI_KEMBANG
_BAGI_KEHAMILAN Diakses pada tanggal 9 November 2019.
86

Lampiran 1

PEDOMAN WAWANCARA

Profil Informan

a. Nama :

b. Umur :

c. Pekerjaan :

d. Pendidikan Terakhir :

Pertanyaan Untuk Paranormal

1. Sejak kapan mulai memandikan kaum perempuan dengan kembang.

2. Kenapa mandi kembang hanya dilakukan untuk kaum perempuan.

3. Berapa kali seseornag dapat melakukan mandi kembang.

4. Jenis bunga apa yang digunakan pada mandi kembang.

5. Kenapa tidak boleh menggunakan bunga mawar.

6. Bagaimana proses dalam melakukan mandi kembang.

7. Apakah dalam memandikan seseorang pernah ada yang tidak

berhasil.

8. Apa makna yang terkandung dalam proses mandi kembang.

9. Pantang larang apa yang tidak boleh dilanggar oleh yang melakukan

mandi kembang.

Pertanyaan Untuk Kaum Perempuan

1. Dari mana memperoleh informasi adanya mandi kembang.

2. Permasalahan apa yang dialami sehingga ingin melakukan mandi


87

kembang.

3. Sejak kapan sudah melakukan mandi kembang.

4. Apakah setelah melakukan mandi kembang harapan yang diinginkan

terkabul.

5. Bagaimana ketika sudah mandi kembang harapan yang dinginkan

tidak terkabul.

6. Bagaimana pandangan anda ketika melihat seorang perempuan

melakukan mandi kembang.

Pertanyaan Untuk Masyarakat Desa Sungai Nipah

1. Bagaimana pandangan anda mengenai perempuan yang melakukan

mandi kembang.

2. Apakah anda pernah melakukan mandi kembang.

3. Apakah anda sering melihat orang yang melakukan mandi kembang

di sekitar lingkungan anda.


88

Lampiran 2

PEDOMAN OBSERVASI

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


1 18-12- 2019 Kantor 1. Menyerahkan Berkunjung ke
Desa surat tugas Kantor Desa Sungai
Sungai 2. Meminta Nipah dan bertemu
Nipah profil Desa dengan Kepala Desa
Sungai Nipah dengan tujuan untuk
mendapatkan profil
desa.

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


2 19-12- 2019 Rumah 1. Berkunjung Melakukan
Paranormal 2. Melakukan wawancara untuk
Wawancara mendapatkan
informasi mengenai
kaum perempuan yang
melakukan mandi
kembang dan
menggali infomasi
sudah berapa banyak
yang melakukan
mandi kembang.

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


3 24-12- 2019 Rumah 1. Melakukan Melakukan observasi
Paranormal Mandi partisipan dimana ikut
Kembang teribat pada prosesi
mandi kembang.
89

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


4 05-01- 2020 Rumah 1. Berkunjung Melakukan kunjungan
informan 2. Melakukan untuk mendapatkan
yang wawancara informasi mengenai
pernah mandi kembang.
melakukan
mandi
kembang

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


5 31-01- 2020 Rumah 1. Melihat Melakukan
informan Proses kunjungan untuk
yang ingin Mandi mendapatkan
melakukan Kembang informasi mengenai
mandi prosesi dan alat yang
kembang akan digunakan pada
mandi kembang.

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


6 04-02- 2020 Rumah 1. Melihat Melakukan
informan Proses kunjungan untuk
yang ingin Mandi mendapatkan
melakukan Kembang informasi mengenai
mandi prosesi dan alat yang
kembang akan digunakan pada
mandi kembang.
90

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


7 15-02- 2020 Rumah 1. Berkunjung Melakukan kunjungan
salah satu 2. Melakukan kesalah satu tokoh
toko agama wawancara agama yang ada di
yang ada Desa Sungai Nipah
Desa untuk mendapatkan
Sungai informasi mengenai
Nipah pandangannya pada
mandi kembang

No Tanggal Tempat Aktifitas Keterangan


8 17-02- 2020 Rumah 1. Kunjungan Melakukan kunjungan
masyarakat 2. Melakukan untuk mendapatkan
Desa wawancara informasi mengenai
Sungai pandangannya
Nipah terhadap mandi
kembang
91

Lampiran 3

FOTO BERSAMA NARASUMBER

Keterangan: foto bersama kepala Desa Sungai Nipah


92

Keterangan: foto saat diskusi bersama perangkat Desa Sungai Nipah


93

Keterangan: foto bersama informan yang melakukan mandi kembang

Keterangan: foto bersama informan yang melakukan mandi kembang


94

Keterangan: foto bersama informan yang melakukan mandi kembang

Keterangan : foto bersama informan yang memandikan pada mandi

kembang
95

Keterangan: foto bersama salah satu tokoh agama

Lampiran 4
96

Keterangan: surat tugas penelitian


97

Lampiran 5
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Nur Kasih Prihartini


2. Tempat/Tanggal Lahir : Jungkat, 03 April 1998
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Suku : Jawa
6. Status : Belum Menikah
7. Alamat : Jalan Budi Utomo
8. Pekerjaan : Mahasiswa
9. Riwayat Pendidikan :
a. MI AL-IHSAN PONTIANAK
b. MTS AL-IHSAN PONTIANAK
c. SMA NEGERI 9 PONTIANAK
d. Terdaftar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Tanjungpura Pontianak Tahun 2016
10. Nama Orangtua :
a. Ayah : Kusmiyanto
b. Ibu : Mariani
11. Pekerjaan Orangtua :
a. Ayah : Buruh
b. Ibu : Ibu Rumah Tangga

Pontianak 20 April 2020

Nur Kasih Prihartini


E1121161009

Anda mungkin juga menyukai