TUGAS MAKALAH
PERANAN SUNAN GUNUNG JATI DALAM PENYEBARAN AGAMA
ISLAM DI KESULTANAN CIREBON
Disusun oleh:
1. Aulia Rahmadina
2. Mazidatun Nuril Hilmia
3. Soraya Syifaul Jannah
4. Tio Ganda Pratama
MADRASAH ALIYAH NEGERI 2
KOTA PROBOLINGGO
Jalan Soekarno Hatta No. 255, Curahgrinting
Kecamatan Kanigaran
Kota Probolinggo, Jawa Timur 67212
TAHUN AJARAN 2022-2023
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat dan Hidayah-Nya dan juga shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad
Shallahu Alaihi Wassalam. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah
dengan judul “PERANAN SUNAN GUNUNG JATI DALAM PENYEBARAN
AGAMA ISLAM DI KESULTANAN CIREBON.”
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas akhir mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam. Namun demikian penyusun sadar masih banyak kekurangan
dalam penyusunan makalah [Link] demikian, penyusun telah berusaha
dengan semaksimal mungkin demi kesempurnaan penyusunan makalah. Saran dan
kritik yang sifatnya membangun sangat diharapkan oleh penyusun demi
kesempurnaan dalam penulisan makalah berikutnya. Dalam kesempatan ini,
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyususn makalah ini, diantaranya :
1. Bapak Drs. Moh. Alfan Makmur, M.M selaku Kepala Madrasah MAN 2
Kota Probolinggo.
2. Bapak M. Abdul Basit Al Arzak,[Link] selaku pembimbing dari mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
3. Rekan sekelompok.
Akhir kata, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta
dapat membantu bagi kemajuan serta perkembangan MAN 2 Kota Probolinggo.
Sekali lagi kami ucapkan banyak terima kasih dan mohon maaf jika terdapat
kekurangan dan kesahalan dalam penulisan makalah ini.
Probolinggo, 05 November 2022
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................ii
BAB I (Pendahuluan)..........................................................................................................1
a. Latar Belakang ........................................................................................................1
b. Rumusan Masalah ...................................................................................................1
c. Tujuan ......................................................................................................................1
BAB II (Pembahasan)..........................................................................................................2
a. Biografi......................................................................................................................2
b. Metode Dakwah........................................................................................................3
c. Karya.........................................................................................................................4
BAB III (Kesimpulan).........................................................................................................5
a. Rangkuman...............................................................................................................5
b. Peran Siswa...............................................................................................................5
Daftar Pustaka......................................................................................................................6
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Penyebaran dan perkembangan agama islam di Indonesia tidak
muncul begitu saja, melainkan melalui proses sejarah yang cukup panjang.
Hal ini juga terjadi berkat kontribusi dari para tokoh agama yang sangat
berjasa dalam perjalanan sejarahnya. Salah satu pihak yang sangat
berperan adalah para wali yang berjumlah sembilan orang atau yang lebih
dikenal dengan sebutan wali [Link] para wali songo ada salah satu
wali yang ikut serta menyebarkan agama islam di Cirebon yaitu Sunan
Gunung Jati.
Selain dikenal sebagai anggota wali songo, Sunan Gunung Jati
dikenal juga sebagai seorang pemimpin spiritual,sufi,mubaligh dan da’i
yang juga merangkap sebagai seorang raja di Kessultanan Cirebon.
Bahkan, beliau tercatat sebagai sulatan pertama Kesultanan Cirebon yang
pada awalnya bernama Keraton Pakungwati. Sunan Gunung Jati
mengambil peranan penting untuk membangun Kota Cirebon sebagai
pemimpin perkampungan Muslim yang sebeelumnya telah dibuat oleh
Pangeran Cakrabuana. Setelah berhasil memimpin Cirebon, Sunan
Gunung Jati semakin memperluas wilayah kekuasaannya, hal ini
dilakukannya dengan cara mendirikan Kesultanan Banten.
b. Rumusan Masalah
1. Bagaimana riwayat hidup Sunan Gunung Jati dalam penyebaran agama
islam di Kesultanan Cirebon?
2. Bagaimana metode dakwah Sunan Gunung Jati dalam penyebaran
agama islam di Kesultanan Cirebon?
3. Apa saja karya Sunan Gunung Jati dalam penyebaran agama islam di
Kesultanan Cirebon?
c. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui riwayat hidup Sunan Gunung Jati dalam
penyebaran agama islam di Kesultanan Cirebon.
2. Untuk mengetahui metode dakwah Sunan Gunung Jati dalam
penyebaran agama islam di Kesultanan Cirebon.
3. Untuk mengetahui karya Sunan Gunung Jati dalam penyebaran agama
islam di Kesultanan Cirebon.
BAB II
PEMBAHASAN
a. Biografi Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Sultan Syarif Hidayatullah
Al-Azhamatkhan, yang lebih dikenal sebagai Syarif Hidayatullah, yang
lahir pada tahun 1448. Orang tua Sunan Gunung Jati adalah Raja Abdullah
(Syarif Abdullah) dengan ibunya bernama Rara Santang yang merupakan
putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran dengan gelar Syarifah Mudaim. Di
Cirebon, Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Ratu Pakungwati yang
merupakan putri Pangeran Cakrabuana, penguasa Cirebon. Setelah
Pangeran Cakrabuana wafat kemudian kekuasaan atas negeri Cirebon
diserahkan kepada menantunya yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung
Jati diketahui memiliki beberapa istri yaitu Nyi Mas Babadan yaitu Putri
Ki Gede Babadan, Nyi Mas Pakungwati yaitu Putri Pangeran Cakrabuana,
Nyi Mas Kawunganten yaitu Putri Sang Surosowan, Ratu Pakungwati
yaitu anak Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Rara Jati (Syarifah
Bagdad) yaitu Putri Ki Gede Jati, dan Ong Tien yaitu Putri Cina yang
berganti nama menjadi Rara Sumanding. Dari pernikahan dengan Nyi Mas
Pakungwati mereka dikaruniai dua anak yaitu Ratu Ayu (istri Fatahillah)
dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin). Sementara dari
pernikahan dengan Nyi Mas Kawunganten mereka dikaruniai dua anak
yaitu Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I).
Kemudian dari pernikahannya dengan Nyi Mas Rara Jati mereka
dikaruniai dua anak yaitu Pangeran Jaya Kelana dan Pangeran Brata
Kelana.
Dengan kepiawaiannya dalam berpolitik, Sunan Gunung Jati bisa
mengubah Cirebon menjadi pusat industri niaga terbesar di Pulau Jawa.
Seiring dengan banyaknya pendatang dan orang yang berdagang di
Cirebon, ajaran Islam mulai dikenal hingga ke luar Pulau Jawa. Saat
menjabat sebagai Sultan Cirebon, beliau membangun banyak masjid dan
pesantren di daerah Jawa Barat dengan basis dakwah yang berlokasi di
Cirebon. Beliau juga menerapkan ajaran Islam dalam setiap transaksi jual
beli, sewa menyewa, hingga bagi hasil dengan menggunakan akad. Sunan
Gunung Jati juga telah mengubah sistem dan struktur kepemerintahan
dengan dasar kekuasan religius yang mengajarkan kalau kekuasaan
bukanlah berasal dari manusia, melainkan dari Allah SWT. Selain
memiliki keahlian di bidang politik, Sunan Gunung Jati juga memiliki
keahlian lainnya.
Tercatat ada 4 keahlian utama yang dimilikinya, yaitu:
1. Ahli Pendidikan
Sunan Gunung Jati sangat cerdas dan piawai dalam mengajar murid-
muridnya, baik itu mengajar ilmu keagamaan hingga keterampilan
lainnya. Beliau masuk ke dalam pelosok-pelosok desa guna
memberikan pendidikan secara gratis kepada masyarakat setempat
yang kondisi ekonominya kurang baik. Berkat cara mengajarnya yang
piawai inilah para muridnya yang berasal dari luar daerah bahkan rela
datang ke Cirebon pada malam Jumat setiap satu bulan sekali untuk
mendengarkan pengajian dari Sunan Gunung Jati. Hingga kini, tradisi
menggelar pengajian sebulan sekali masih ada dan banyak yang
melakukannya meski yang mengajar bukan Sunan Gunung Jati.
2. Ahli Bahasa
Sunan Gunung Jati sangat lihai dalam berbahasa, tak hanya bahasa
daerah saja, tapi juga bahasa asing. Diketahui beliau telah menguasai
hingga 99 bahasa. Hal ini dikarenakan, beliau merasa harus
menguasai bahasa lain supaya memudahkan dalam berkomunikasi,
berdakwah, hingga membuat kesepakatan politik nantinya dengan
pihak lain.
3. Ahli Ilmu Kedokteran
Salah satu keahlian yang dimiliki oleh Sunan Gunung Jati adalah
ilmu kedokteran. Beliau memiliki keterampilan dalam dunia medis,
mulai dari mengetahui penyakit seseorang dengan gejala-gejala yang
dimilikinya hingga bagaimana cara pengobatan yang harus dilakukan.
Suatu ketika beliau pernah bertemu pasangan suami istri yang
berselisih paham mengenai perut istrinya yang membesar. Sang
suami mengatakan kalau istrinya hamil, sementara sang istri
mengatakan kalau dirinya tidak hamil. Mereka pun memutuskan
untuk datang ke Sunan Gunung Jati dan saat diperiksa ternyata perut
yang membesar tersebut adalah karena tumor. Setelah mengetahui
adanya tumor dalam perut tersebut, Sunan Gunung Jati mengeluarkan
tumor tersebut tanpa operasi bedah.
4. Ahli Strategi Perang
Keahlian lain yang dimiliki oleh Sunan Gunung Jati adalah ahli
strategi perang. Menjadi Raja Cirebon membuatnya perlu menguasai
strategi perang supaya bisa mempertahankan wilayah kekuasaannya.
Berkat kelihaiannya dalam berstrategi perang, beliau berhasil
menaklukkan Kerajaan Rajagaluh, Kuningan, dan Talaga. Beliau
bahkan bisa menguasai Sunda Kelapa. Bisa dikatakan kalau wilayah
kekuasaan Kesultanan Cirebon bisa mencapai seluruh Jawa Barat dan
hampir separuh Jawa Tengah berkat strategi perang darinya.
b. Metode Dakwah Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati menggunakan pendekatan sosial budaya untuk
dakwahnya, yang membuat ajaran Islam dapat dengan mudah diterima
oleh masyarakat. Metode dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati
sangat unik. Dengan mengadaptasi tradisi Cirebon, dakwah yang
dilakukan beliau dilakukan dengan cara-cara yang menarik perhatian.
Beberapa hal yang dimanfaatkan Sunan Gunung Jati dengan kekuasaannya
adalah untuk membangun sarana dan prasarana ibadah di seluruh wilayah
kekuasaannya. Kemudian Sunan Gunung Jati juga membagun jalur
transportasi sebagai penunjang pelabuhan dan sungai untuk memudahkan
penyebaran agama Islam. Secara tidak langsung dampaknya juga terasa di
bagi masyarakat luas hingga Cirebon pun berkembang dengan pesat.
Penyebaran ajaran Islam juga dilakukan Sunan Gunung Jati dengan
menikahi gadis setempat. Tercatat dalam buku sejarah, istri dari Sunan
Gunung Jati lebih dari tiga. Istri yang pertama Sunan Gunung Jati adalah
Nyi Babadan adalah salah satu putri Ki Ageng Babadan. Dari pernikahan
ini Sunan Gunung Jati bisa memperluas pengaruhnya dari Cirebon hingga
ke Babadan.
Dalam naskah-naskah tradisi Cirebon, diketahui banyak metode
yang dilakukan Sunan Gunung Jati dalam proses Islamisasi. Sunan
Gunung Jati adalah seorang propagandis Islam di Jawa Barat (the
propagator of Islam in West Java), dalam aktivitasnya ia melakukan
perjalanan dakwah kepada penduduk Pulau Jawa bagian barat untuk
menganut Islam. Dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati dalam
pengislaman masyarakat Cirebon banyak dijumpai keajaiban, keanehan,
dan tidak rasional. Oleh karena itu, pembatasan metode dakwah dalam
penulisan ini menjadi dakwah yang umumnya dilakukan para walisongo
dalam mengislamkan tanah Jawa yaitu metode struktural dan metode
kultural.
c. Karya Sunan Gunung Jati
Penyebaran islam di bumi Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari Syekh
Syarif Hidayatullah . Salah satu wali songo yang dikenal dengan nama
Sunan Gunung Jati juga meninggalkan banyak jejak penyebaran islam,
beberapa diantarnya adalah sebagai berikut:
1. Keraton
Sunan Gunung Jati meninggalkan sebuah bangunan istana yang
memiliki nilai sejarah dan kebudayaan tinggi. Keraton
peninggalannya tersebut terdiri atas Dalem Agung Pakem Wati, yang
semasa hidupnya dijadikan istana. Kemudian, sitinggil,yang bangun
pada tahun 1425 M. Bangunan ini terdiri dari beberapa buah
bangunan yang umumnya tidak berdinding, antara lain bangunan
Pendawa Lima yang bertiang lima yang melambangkan lima rukun
Islam. Dikatakan, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para
pengawal Sultan.
Selain itu, ada juga Semar Kenandu, yaitu sebuah bangunan
bertiang dua buah yang melambangkan Syahadat. Tempat ini
merupakan tempat duduk para penasehat Sultan. Malang Semirang,
yaitu bangunan yang terletak di samping Semar Kenandu. Tempat ini
merupakan tempat duduk Sultan saat melihat alun-alun atau
mengadili terdakwa yang dituntut hukuman mati. Mande Karesmen,
yaitu tempat yang digunakan untuk mementaskan gamelan Sekaten
pada tanggal 10 Syawal dan 10 Dzulhijjah. Dan, Mande Pengiring,
yaitu ruangan yang digunakan untuk para pengiring Sultan, atau
dijadikan sebagai tempat hakim ketika menyidang terdakwa.
2. Jembatan Kreteg Pengrawit
Jembatan ini di atas saluran air yang bernama Sepadu, yang
merupakan batas antara masyarakat umum dengan penghuni Keraton.
Jembatan tersebut memiliki makna, yaitu orang yang masuk ke
Keraton harus mempunyai tujuan yang baik, sebagaimana yang
dimaksud dengan Pengrawit yang dalam bahasa Jawa berarti lembut
dan penuh perasaan. Selain itu, terdapat pula Panca Ratna, yang
berarti jalan kesenangan. Panca Ratna memiliki fungsi sebagai tempat
seba pejabat desa atau kampong kepada Sultan.
3. Masjid
Sunan Gunung Jati juga meninggalkan tempat ibadah, yaitu
Masjid. Masjid peninggalan ini di beri nama Masjid Agung Cirebon
atau Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Pada mulanya, masjid tersebut
disebut Masjid Pakungwati. Disebut demikian karena letaknya
berdekatan dengan Keraton Pakungwati, yaitu di sisi barat Alun-alun
Keraton Kesepuhan atau Kerang Pakungwati. Setelah berganti
Kesepuhan, masjid ini kemudian dikenal dengan nama Masjid Agung
Kesepuhan.
Masjid Agung Kesepuhan tergolong masjid tertua di Pulau Jawa.
Hal ini disebabkan dalam sejarah lokal. Masjid ini dijadikan tempat
pertemuan Wali Sanga. Sebetulnya, masjid tersebut didirikan oleh
Wali Sanga, yaitu atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Berdasarkan
sebuah litaratur, masjid ini didirikan pada tahun 1422 S atau 1500 M.
BAB III
KESIMPULAN
a. Rangkuman
Sultan Syarif Hidayatullah Al-Azhamatkan atau yang lebih dikenal
dengan Sunan Gunung Jati adalah salah satu tokoh penting dalam
penyebaran Islam di Pulau Jawa terutama Cirebon. Sunan Gunung Jati
memiliki kelihaian dalam urusan berpolitik sehingga beliau bisa merubah
Cirebon menjadi pusat industri niaga terbesar di Pulau Jawa dan dari sana
juga Islam mulai dikenal hingga ke luar Pulau Jawa. Banyak karya-karya
beliau dalam bidang arsitek, yakni Keraton, Jembatan Kreteg Pengrawit,
dan Masjid Agung Kesepuhan. Selain itu, beliau memiliki 4 keahlian yang
tercatat, beliau ahli dalam Pendidikan, ahli Bahasa, ahli Ilmu Kedokteran,
dan ahli Strategi Perang. Metode dakwah yang digunakan Sunan Gunung
Jati cukup banyak dan unik, salah satunya yaitu menggunakan pendekatan
sosial budaya kepada masyarakat. Dari metode tersebut Islam bisa dikenal
dan berkembang secara pesat di dalam hingga ke luar Pulau Jawaa.
b. Pesan Siswa
Dari perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama
islam di tanah Jawa khususnya di Kesultanan Cirebon kita belajar bahwa
penyebaran islam di tanah Jawa tidak mudah. Oleh karena itu kita sebagai
generasi muda yang menikmati islam dengan mudah harus bisa lebih patuh
akan syariat islam. Selain itu, sebaiknya kita sebagai siswa lebih banyak
menggali informasi mengenai penyebaran islam di jawa dengan membaca
buku atau dengan mengunjungi makam para wali songo agar dapat
menghormati dan menghargai jasa para wali songo terhadap penyebaran
islam di tanah Jawa.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi,Julia.2018. “Makalah Sunan Gunung Jati”,
[Link]
[Link]?m=1,diakses pada 4 November 2022.
Kompas.2022. “Sunan Gunung Jati: Nama Asli, Silsilah, Wilayah dan Cara
Dakwah”, [Link]
gunung-jati-nama-asli-silsilah-wilayah-dan-cara-dakwah,diakses pada 4
November 2022.
Merna.2022 “Kisah Sunan Gunung Jati, Ahli Pendidikan dan Strategi Perang yang
Berdakwah Lewat Jalur Politik”, [Link]
gunung-jati,diakses pada 4 November 2022.
Islam Kaffah.2019. “Metode Dakwa Sunan Gunung Djati Dalam Proses
Islamisasi”, [Link]
proses-islamisasi/,diakses pada 5 November 2022.
Aminullah.2015. “Peranan Sunan Gunung Jati Dalam Islamisasi Di Kesultanan
Cirebon”, [Link]
[Link],diakses pada 5 November 2022.