Pola Asuh Otoriter dan Kekerasan Anak
Pola Asuh Otoriter dan Kekerasan Anak
Oleh :
FEBRIYANA YANI KARTIKA SARI
NIM R. 1905009
[Link] Belakang
merampas hak pada anak tersebut dan yang dapat membahayakan nyawa anak
tersebut. Kebanyakan pelaku yang melakukan kekerasan pada anak adalah orang
terdekatnya (Sugijokanto, 2014). Dampak yang akan terjadi pada anak yang
kognitif, bahasa, motorik, dan moral anak dan akan membawa dampak dalam
Keluarga adalah suatu tempat pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi
konsep diri pada anak, semakin tinggi kekerasan yang dialami oleh anak tersebut
maka akan semakin negatif konsep diri yang dimiliki oleh anak . kekerasan yang
terjadi pada anak biasanya tergantung oleh pola asuh yang diterapkan oleh orang
fisik maka anak tersebut akan ragu-ragu akan bertindak karena takut salah, anak
tersebut akan lebih menutup dirinya dan tidak mementingkan perasaan orang lain,
akan agresif menanggapi respon dari orang lain, dan akan mengalami kegagalan
kekerasan pada anak adalah perbuatan yang salah baik secara fisik, emosional,
membahayakan anak dalam pekembangan anak dan harga diri dalam konteks
Anak (PPPA), ada 21.241 kasus anak yang menjadi korban kekerasan, kekerasan
korban kekerasan seksual sebanyak 9.588, kekerasan psikis 4.162 anak, kekerasan
fisik 3.746 anak, korban penelantaran sebanyak 1.269, anak yang menjadi
tindakan pidana perdagangan orang (TPPO) sebanyak 219, dan anak yang
menjadi korban eksploitasi sebanyak 216 anak, dan 2,041 anak yang menjadi
keluarga berencana (DP2AKB) jawa barat mencatat 268 kasus kekerasan terhadap
berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. dan
dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua,
wali, atau orang lain secara hukum yang sudah di tentukan dan bertanggung jawab
membina dan mendidik anak-anaknya (Fatmawati, 2021). Pola asuh orang tua
adalah interaksi antara anak terhadap orang tua selama mengadakan suatu
kegiatan pendidikan atau membimbing anak. Seorang orang tua sangat penting
mengenal dan anak bisa menerapkan dengan tingkah laku yang baik terhadap
Jenis kekerasan itu dibagi menjadi empat antara lain : kekerasan fisik,
yang sering terjadi pada anak karena anak adalah seorang yang tidak berdaya,
seorang yang rentan, dan sangat mudah untuk di manipulasi oleh pelaku dengan
cara memberikan mainan atau makanan ringan saja anak-anak mudah tergiur
dengan ajakan orang yang tidak dikenal, maka dari itu seorang anak akan lebih
orang tua pada anaknya seperti pola asuh otoriter dan permisif dapat
mempengaruhi sikap agresif pada anak (Gastanadela, 2020). Meneliti parenting
bahwa pola asuh orang tua sangat mempengaruhi motivasi sosial juga dapat
Hubungan pola asuh otoriter dengan sikap orang tua terhadap kekerasan
B. Rumusan Masalah
penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan pola asuh otoriter dengan sikap orang
[Link]
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Hubungan pola asuh otoriter
dengan sikap orang tuua terhadap kekerasan pada anak TK Harapan bunda Tahun
2023
2. Tujuan Khusus
c. Untuk mengetahui sikap orang tua terhadap kekerasan pada anak Tahun
2023.
d. Untuk mengetahui hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap
D. Manfaat
wawasan tentang Hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap kekerasan
pada anak.
1. Bagi Institusi
wawasan tentang Hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap kekerasan
anak.
2. Bagi Peneliti
3. Bagi Responden
Sebagai sumber informasi bagi orang tua dan masyarakat yang mempuntai
anak.
4. Bagi Penelitian
E. Ruang Lingkup
dan banyaknya kendala. Hal ini bukan karena kesenjangan melainka terjadi karena
adanya keterbatasan dalam melakukan penelitian. Adapun keterbatasan yang di
alami peneliti ini adalah pengukuran peneliti yang hanya meneliti tentang
hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap kejadian kekerasan pada
Selain itu, tempat yang akan di teliti hanya sebatas di TK Harapan bunda
Kabupaten Indramayu, untuk itu adanya penelitian lebih lanjut oleh penelitian
orang tua terhadap kekerasan terhadap anak di TK Harapan bunda Karena pada
dasarnya penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan pola asuh dengan
dependen (kejadian kekerasan pada anak) dan variable independen (pola asuh
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pola asuh
Pola asuh yang terdiri dari 2 kata pola dan asuh, dalam kamus besar bahasa
Indonesia “pola” yang di artikan sebagai sistem kerja orang tua, sedangkan “asuh”
diartika sebagai menjaga, merawat, membimbing, atau mendidik. Pola asuh orang
tua adalah interaksi antara anak terhadap orang tua selama mengadakan suatu
kegiatan pendidikan atau membimbing anak. Seorang orang tua sangat penting
mengenal dan anak bisa menerapkan dengan tingkah laku yang baik terhadap
Hurlock (Amseke el al, 2021) mengurangi tipe pola asuh orang tua yaitu :
peraturan tersebut tidak dilakukan maka anakn di berikan hukuman atau ancaman
pada anak, ciri yang dimiliki oleh pola asuh otoriter ini adalah seorang anak harus
terus mengikuti aturan orang tuanya, orang tua yang selalu mengontrol anaknya
dengan ketat, jika anak tersebut melakukan kemenangan atau nilainya bagus anak
tersebut tidak pernah di beri pujian oleh orang tuanya, dan keluarga ini biasanya
dalam komunikasi hanya satu arah dan orang tuanya tidak bisa di kompromi.
Menurut hurlock berpendapat bahwa pola asuh otoriter ini adalah cara orang
buat oleh orang tuanya, teknik yang dilakukan dengan pola asuh otoriter ini sangat
menyubit, memukul dengan alat, menjewer dan lain-lain), dalam pola asuh ini
seorang anak biasanya tidak dapat pujian atau penghargaan jika anak tersebut
Pola asuh ini gaya yang membatasi dan bersifat hukuman jika anak tersebut
tidak melakukan hal yang tidak sesuai dengan peraturan orang tuanya, pola asuh
ini akan berakibat terhadap anak yang membuat anak ini tidak percaya diri,
gemar menantang orang yang lebih tua, menjadi anak yang lemah,dan sering
menarik diri dari lingkungan sosial. Pola asuh ini bisa menghasilkan orang yang
bertingkah laku pasif dan cenderung menarik diri dan menghambat anak untuk
inisiatif karena selalu di atur oleh orang tuanya jadi anak tersebut tidak bisa
berinisiatif sendiri.
Pada pola asuh ini anak tidak diberikan kesempatan untuk berpendapat
mengenai peraturan yang diberikan oleh orang tuanya, orang tua yang otoriter
tidak responsif terhadap apa yang diburuhkan oleh anaknya dan umunya mereka
tidak mengasuh. Anak- anak dengan pola asuh ini cenderung mempunyai
karakterristik yaitu :
Cenderung memiliki disposisi yang tidak bahagia
Kurang mandiri
Pola asuh ini adalah pola asuh orang tua yang membentuk kepribadian anak
dengan cara memberikan pengawasan yang sangat longgar agar anak tersebut bisa
melakukan hal yang dia inginkan dengan memberikan pengawasan orang tua yang
cukup. Pola asuh ini cenderung membebaskan anaknya dalam melakukan anaknya
akan tetapi jika anak tersebut dalam bahaya orang tua hanya memperingatkan
anaknya, dan sangat sedikitnya bimbingan yang diberikan oleh orang tuanya.
Sikap yang dimiliki oleh pola asuh orang tua ini bisanya bersikap hangat kepada
anaknya yang membuat anak tersebut sangat suka dengan orang tuanya. Contoh
pola asuh ini adalah anak yang keluar malam tanpa izin dari orangtuanya, masuk
kedalam kamar orang tua tanpa mengetuk pintu, dan melihat vidio yang tidak
layak dilihat pada anak pada umumnya, biasanya orang tua yang menerapkan pola
asuh ini adalah orang tua yang tidak ingin konflik dengan anaknya.
Hurlock berpendapat bahwa pola asuh ini sangat sedikit berdisiplin atau
tidak berdisiplin, biasanya pola asuh ini tidak membimbing anak sampai prilaku
yang di stujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman . anak dibiarkan
untuk meraba situasi yang sangat sulit untuk ditanggulangi oleh anak tanpa
Pola asuh ini adalah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dengan
diskusi untuk membantu anak mengerti mengapa prilaku itu diharapkan. Biasanya
metode ini memberikan edukasi. Pola asuh ini adalah tipe kebebasan kepada anak
untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatan orangtua yang
Pola asuh ini dalah pola asuh yang komunikatif yang terjadi anatra dua
belah arah orangtua yang bersikap mengasuh dan mendukung kepada anaknya,
anak yang di asuh dengan pola asuh ini akan terlihat lebih
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anak
antara lain :
pola asuh yang diterapkan oleh orangtua, status ekomoni mencangkup dari
status ekonomi kurang atau rendah besar kemungkinan akan lebih mengutamakan
dirinya untuk bekeja. Orang tua yang bekerja akan menghabiskan waktunya jauh
adalah tugas utamanya. Dan orang tua akan menghabiskan waktunya diluar
b. Status pendidikan
Pendidikan yang didapatkan oleh orang tua anak berbeda-beda, maka tak
heran jika pendidikan yang diterima oleh anak juga berbeda. Pendidikan dan
pengasuhan terhadap anaknya, ada beberapa cara agar orang tua lebih siap dalam
pengasuhan anak antara lain orang tua harus peka dalam pendidikan anak,
kepercayaan anak.
Orang tua dizaman dulu masih banyak menerapkan pola asuh otoriter yaitu
pola asuh yang lebih menekankan aturan dan hukuman, tak salah bahwa masih
ada orang tua di zaman sekarang menerapkan pola asuh otoriter. Namun ada
beberapa orang tua yang meninggalkan atau tidak menerapkan pola asuh yang
pernah diberikan orangtuanya saat dulu karena orang tua zaman sekarang ingin
mengubah konsep agar anaknya bisa berkembang jauh lebih baik bagi
Keluarga adalah sebuah lingkungan sosial yang pertama yang ditemui oleh
adalah ayah, ibu dan individu itu sendiri, hubungan antara anak dan orang tua
adalah hubungan timbal balik dimana terdapat interaksi di dalamnya. Orang tua
sendiri akan mendidik anaknya yang lebih baik dan keinginan tersebut akan
memunculkan pola pengasuhan yang cocok untuk diterapkan oleh orang tua
terhadap keluaranya.
memenuhi tuntunan sebagai peran sebagai orang tua dan bagaimana orang tua
e. Keyakinan
mengasuh anaknya. Beberapa aturan yan telah diajukan dalam islam seperti
larangan mengeraskan suara kepada orang yang lebih tua, dan menyayangi yang
Bila orang tua merasa bahwa didikan orang tua terdahulunya itu berhasil
biasanya orang tua akan mendidik hal yang sama dengan pola asuh yang di
dapatkan oleh orang tua terdahulunya, jika pola asuh yang diterapkan orang
tuanya yang terdahulu kurang tepat maka orang tua akan beralih adau tiadak akan
Orang tua yang baru memiliki anak atau yang lebih muda dan kurang
Orang tua yang berusia muda adan cenderung berdemokratis dari ada orang
dengan orang tua yang berpendidikan rendah dan tidak mengikuti pelatihan
mengurus anak.
4) Jenis kelamin
Ibu pada umunya lebih mengerti anak dn cenderung kurang otoriter bila
5) Usia anak
6) Temperamen
Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua akan mempengaruhi temperamen
seorang anak. Anak yang menarik dan dapat beradaptasi akan berbeda
7) Kemampuan anak
8) Stuasi
Anak yang mengalami rasa takut dan kecemasan biasanya tidak diberi
hkuman oleh orang tuanya. Tetapi jika seorang anak agresif dan cenderung
hukuman karena orang tua menerapkan pola asuh outhoritatif atau demokratif.
B. Sikap
1. Pengertian sikap
atau ketidak sukaan terhadap suatu objek (Damiati 2017) sikap adalah
diperlihatkan dengan hal kesetujuan atau ketidak setujuan dalam suatu hal yang
reaksi perasaan. Sikap seorang dalam suatu objek dalam perasaan yang
mendukung atau memihak (favorabel) atau pun perasaan yang tidak mendukung
diri pada suatu situasi sosial, atau secara sederhana sikap adalah suatu stimulasi
dan menjauhi (negatif) mengarah kedalam kognitif dan afektif dalam sebuah
prilaku tertentu.
2. Komponen sikap
oleh suatu objek bagian dari komponen kognitif adalah persepsi,opini yang
b. Komponen afeksi adalah suatu sikap yang dimiliki oleh suatu individu
atau objek yang berhubungan dengan emosional. Komponen ini adalah komponen
kecenderungan bahwa seseorang akan melakukan suatu terkaitan pada suatu objek
Orang tua dapat dibagi menjadi dua aitu umun dan khusus, pengertian orang
tua umun adalah orang tua (dewasa) yang dituntu bertanggung jawab terhadap
kelangsungan hidup anaknya, yaitu ayah, kakek, nenek, ibu, paman, bibi, kaka,
atau [Link] dalam arti khusus orang tua adalah hanya ayah dan ibu (Tim dosen,
membentuk serta membina anaknya baik dari segi psikologis maupun fisiologis.
Orang tua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mendidik anaknya agar bisa
tujuan [Link] orang tua harus bisa menjalani suatu peran dan tugas yang
penting untuk keluarganya, adapun tugas dan peran menjadi orang tua adalah
1. Melahirkan
3. Membesarkan dan
D. Kekerasan
1. Penertian kekerasan
Kekerasan adalah suatu bentuk perbuatan yang bisa menyebabkan orang
adalah perbuatan yang salah baik secara fisik, emosional, seksual, penelantaran,
perkembangan anak dan harga diri dalam konteks hubungan tanggung jawab.
brutal sehingga bisa menjadikan tindakan yang primitis, karena kekerasan selalu
kehidupan manusia.
6. N.J Smelser, kekerasan adalah tindakan yang melkai orang lain yang
2. Jenis-jenis kekerasan
Kekerasan pada anak terbagi menjadi empat tipe yaitu : kekerasan fisik,
a. Kekerasan fisik
seorang anak oleh orang dewasa. Kejahatan fisik mengakibatkan seorng anak
mengalami cedera serius atau berakibat menjadi kematian ini adalah suatu
tindakan yang ilegal, memar, goresan, luka bakar, patah tulang, leserasi, serta
tindakan kasar yang menyebabkan cedera fisik. Pelecehan fisik dapat terjadi
dalam berbagai bentuk, namun komite Hak asasi manusia perserikatan Bangsa
Bangsa telah menyatakan lerangan untuk memberikan hukuman berupa fisik pada
Kekerasan fisik terjadi jika anak disiksa secara fisik dan cedera yang terlihat
pada badan anak akibat dari kekerasan tersebut. Kekerasan ini dilakukan dengan
sengaja kepada anak. Bentuk ini paling mudah di kenali, katagori dari kekerasan
b. Kekerasan seksual
dewasa atau remaja yang melakukan pelecehan terhadap anak karena rangsangan
seksual. Bentuk dari pelecehan seksual adalah sebuah pemaksaan atau pemintaan
psikologi dan sosial dalam pertumbuhan anak. Contoh dari kekerasan ini yaitu :
memanggil dengan panggilan yang tidak pantas, ejekan, berbicara keras terhadap
anak, bersikap kasar, mengeritik pedas, pencemaran nama, penghinaan rutin, dan
anak tidak dapat berkembang dalam emosi dan sosial (Ariani, 2021)
mental, spiritual, moral, atau sosial yang buruk. Bentuk kekerasan ini bisa berupa
d. Kekerasan penelantaran
seperti masalah kognitif anak, sosial dan emosional, anak dapat menggunakan
narkoba, melukai diri sendiri, masalah dalam kejiwaan, kemampuan hidup sosial
yang rendah.
Ekspoitasi anak menuju pada situasi tindakan penggunaan anak untuk
prilaku yang tidak adil, kejam, berbahaya, terhadap anak. Contohnya : menjadikan
anak sebagai pengemis, pemulung atau pekerjaan lain ang memaksa anak untuk
bekerja. Dampak ekspoitasi pada anak yaitu anak akan menjadi seorang yang
berbohong, ketakutan, dapat kurang mengenal kasih sayang dan cinta, sulit
percaya kepada orang lain, harga diri rendah, mengalami gangguan dalam
anak
anak di bagi menjadi 3 bagian yaitu : faktor orang tua atau keluarga, faktor
yang dapat merugikan anak : kepatuhan anak kepada orang tua,dan hubungan
asimetris.
3) Gangguan mental
Dampak dari kekerasan pada anak yaitu ada dua, dampak yang berjangka
Dampak jangka pendek dari kekerasan pada anak paling terlihat yang
berhubungan dengan prilaku fisik antara lain : lebam, lecet, luka bakar, patah
kegelisahan (Rini,2020).
depresi, cemas, sukar bergaul, rasa malu dan bersalah, gangguan pengendalian
diri, kepribadian ganda, gangguan tidur, efek psikologis jangka panjang yang
E. Pengertian anak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyabutkan bahwa anak usia dini
merupakan individu penduduk yang berusia antara 0-6 tahun. Anak usia dini
yang bersifst unik (Fadlillah, 2014). Anak usia dini adalah individu yang sedang
ada di fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan
[Link] Konsep
Kerangka konsep adalah suatu model kerangka tentang teori yang dapat
berhubungan dengan suatu faktor yang telah di definisikan sebagai masalah yang
penting. Kerangka konsep ini adalah sebuah campuran tentang hubungan variable
pola asuh
Kekerasan terhadap anak
1. Variable Penelitian
Variable penelitian adalah suatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan
peneliti untuk dipelajari sehingga dapat diperoleh informasi tentang hal tersebut
dependen. Variable Independen adalah variable ini sering disebut sebagai variable
bebas. Variable bebas adalah suatu variable yang dapat mempengaruhi atau yang
dependen adalah suatu variable yang terkait, variable ini adalah veriable yang
B. Definisi Operasional
kepada peneliti, dengan kata lain definisi oprasional merupakan informasi secara
ilmiah yang membuat peneliti lain ingin meneliti dengan variable yang sama
(Idrus, 2021)
n al
yang jawaban an
tua
30
pertanyaa
n.
Pertanyaa
n yang
mengenai
sikap ada
15
jawaban >75%
bernilai 50-
75%
[Link]
jika bernilai
<56%
[Link]
baru berdasarkan teori yang relevan belum didasari dengan fakta empiris yang
Hipotesis terdapat dua macam yaitu hipotesis nol (Ho) dan hipotesia altenatif
(Ha). Jika salah satu hipotesis di tolak maka yang lain diterima, maka dapat
A. Rencana penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah obserfasi
dengan pendekatan secara cross sectional ini adalah rencana peneliti yang
Pada penelitian ini akan diperoleh efek suatu fenomena (kekerasan pada
anak) dan akan dihubungkan dengan penyebab (pola asuh dengan sikap orang tua
tetang pola asuh dengan sikap orang tua sebagai (Variable independen) kemudian
subjek yang mempunyai kuantitas atau gambaran tertentu yang dapat di terapkan
seorang penlis untuk dipelajari dan bisa ditarik kesimpulanya (Sugiyono, 2011).
2. Sempel peneliti
a) Sempel peneliti ini adalah orang tua yang mempunyai anak di TK
rumus slovin :
N
n=
1+ N ¿ ¿
Keterangan :
25
n=
1+2 5 ¿ ¿
25
¿
1+ 25,01
25
¿
26,01
¿ 10
[Link] peneliti
Penelitian ini akan dilaksanakan di TK Harapan bunda desa Karangsong
D. Waktu peneliti
E. Etika penelitian
Etika penelitian adalah yang berkaitan dengan beberapa norma, yaitu norma
masyarakat.
sama tentang tujuan penelitian dan prosedur pengisian kuesioner yang dibagikan
Peneliti dan tim akan melakukan prilaku yang adil atau sama terhadap
penelitian.
berisikan pertanyaan tentang pola asuh, sikap dan kekerasan pada anak. Kuesioner
adalah suatu peknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan
pertanyaan atau pernyataan kepada responden dan harus di jawab oleh responden
(Sugiyono, 2010).
Guatmen dengan dua pilihan jawaban Ya atau Tidak jika ya diberikan nilai=1 dan
jawaban yang diberikan. Instrumen yang digunakan adalah skala liter dengan 3
pilihan yaitu baik yang bernilai < 75%, kurang < 50-75 %, dan cukup <56%.
seminar proposal.
2. Melakukan penelitian
langkahnya :
3. Penyelesaian peneliti
Analisis data adalah bagian dalam proses penelitian yang sangat penting.
Kegiatan ini untuk memanfaatkan data sehingga dapat diperoleh suatu kebenaran
1. Analisis Unvariat
ditampilkan.
2. Analisis Bivariat
dua variable atau lebih. Sedangkan untuk menguji hipotesis, menggunakan uji
spearman dengan derajat kepercayaan 95% (a=0,05), jika nilai p-value < 0,05
independen (Pola asuh otoriter dengan sikap) terhadap kekerasan pada anak. Jika
nilai p-velue > 0,05 berarti Ho diterima dan Ha di tolak yang menunjukan tidak
ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan sikap terhadap kekerasan pada
anak