0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan33 halaman

Pola Asuh Otoriter dan Kekerasan Anak

Proposal penelitian ini membahas hubungan antara pola asuh otoriter orang tua dengan sikap mereka terhadap kekerasan pada anak di TK Harapan Bunda. Tujuannya adalah mengetahui gambaran karakteristik orang tua, hubungan pola asuh dengan sikap terhadap kekerasan, dan manfaatnya bagi pencegahan kekerasan pada anak.

Diunggah oleh

Erica Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan33 halaman

Pola Asuh Otoriter dan Kekerasan Anak

Proposal penelitian ini membahas hubungan antara pola asuh otoriter orang tua dengan sikap mereka terhadap kekerasan pada anak di TK Harapan Bunda. Tujuannya adalah mengetahui gambaran karakteristik orang tua, hubungan pola asuh dengan sikap terhadap kekerasan, dan manfaatnya bagi pencegahan kekerasan pada anak.

Diunggah oleh

Erica Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN POLA ASUH OTORITER DENGAN


SIKAP ORANGTUA TENTANG KEKERASAN
PADA ANAK DI TK HARAPAN BUNDA
TAHUN 2023

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memenuhi


Tugas Mata Kuliah Skripsi Pada Program Studi Sarjana Kebidanan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indramayu

Oleh :
FEBRIYANA YANI KARTIKA SARI
NIM R. 1905009

YAYASAN INDRA HUSADA INDRAMAYU


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDRAMAYU
PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN
2023
BAB I
PENDAHULUAN

[Link] Belakang

Kekerasan pada anak adalah sebuah kondisi dimana seseorang yang

merampas hak pada anak tersebut dan yang dapat membahayakan nyawa anak

tersebut. Kebanyakan pelaku yang melakukan kekerasan pada anak adalah orang

terdekatnya (Sugijokanto, 2014). Dampak yang akan terjadi pada anak yang

terkena kekerasan sangat memepengaruhi perkembangan sosial emosional,

kognitif, bahasa, motorik, dan moral anak dan akan membawa dampak dalam

pembentukan sikap anak dan kepribadian (Yufi Fisalma, 2022)

Keluarga adalah suatu tempat pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi

dengan orang lain. Tindakan kekerasan sangat berpengaruh terhadap pembentukan

konsep diri pada anak, semakin tinggi kekerasan yang dialami oleh anak tersebut

maka akan semakin negatif konsep diri yang dimiliki oleh anak . kekerasan yang

terjadi pada anak biasanya tergantung oleh pola asuh yang diterapkan oleh orang

tuanya/pengasuhnya, semakin sering dibentak,dimarahi,bahkan disakiti secara

fisik maka anak tersebut akan ragu-ragu akan bertindak karena takut salah, anak

tersebut akan lebih menutup dirinya dan tidak mementingkan perasaan orang lain,

akan agresif menanggapi respon dari orang lain, dan akan mengalami kegagalan

dalam pertemananya (Ariani,2021).


Pengartian menurut Worid Health Organization (WHO) melakukan

kekerasan pada anak adalah perbuatan yang salah baik secara fisik, emosional,

seksual, penelantaran, dan eksploitasi yang dampaknya akan sangat

membahayakan anak dalam pekembangan anak dan harga diri dalam konteks

hubungan tanggung jawab. Berdasarkan pengertian diatas bahwa kekerasan pada

anak dapat berupa kekerasan fisik,kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan

kekerasan psikis (Margani, 2018).

Berdasarkan data Kementrian Pemberdaya Perempuan dan Perlindungan

Anak (PPPA), ada 21.241 kasus anak yang menjadi korban kekerasan, kekerasan

tersebut bukan hanya kekerasan fisik tetapi kekerasan, seksual, psikis,

penelantaran, perdagangan orang, hingga eksploitasi. Dapat disimpulkan bahwa

korban kekerasan seksual sebanyak 9.588, kekerasan psikis 4.162 anak, kekerasan

fisik 3.746 anak, korban penelantaran sebanyak 1.269, anak yang menjadi

tindakan pidana perdagangan orang (TPPO) sebanyak 219, dan anak yang

menjadi korban eksploitasi sebanyak 216 anak, dan 2,041 anak yang menjadi

korban kekerasan dalam bentuk lainya (Pratiwi, 2023).

Berdasarkan data di dinas pemberdayaan perempuan perlindungan anak dan

keluarga berencana (DP2AKB) jawa barat mencatat 268 kasus kekerasan terhadap

anak (Rizky, 2022).

Di dalam Undang-undang dasar republik Indonesia pasal 28b ayat 2

mengatakan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,tumbuh,dan

berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. dan

pada undang-undang 12 Tahun 2022 pasal 4 ayat 1 bab 2 menyebutkan bahwa.


Tindakan pidana kekerasan seksual terdiri atas pelecehan seksual nonfisik,

pelecehan seksual fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan

perkawinan, eksploitasi seksual, perbudakan seksual, dan kekerasan seksual

berbasis elektronik. Negara dan pemerintah menjamin perlindungan,pemeliharaan

dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua,

wali, atau orang lain secara hukum yang sudah di tentukan dan bertanggung jawab

terhadap anak. (Darmini. 2021 ).

Pola asuh adalah suatu sikap orang tua dalam berinteraksi,membimbing,

membina dan mendidik anak-anaknya (Fatmawati, 2021). Pola asuh orang tua

adalah interaksi antara anak terhadap orang tua selama mengadakan suatu

kegiatan pendidikan atau membimbing anak. Seorang orang tua sangat penting

dalam mendidik, menjaga, merawat, atau mendidik anaknya untuk mengetahui,

mengenal dan anak bisa menerapkan dengan tingkah laku yang baik terhadap

orang lain dan keluarga.(Evy, 2020).

Jenis kekerasan itu dibagi menjadi empat antara lain : kekerasan fisik,

kekerasan emosional, kekerasan seksual, penelantaran (Ariani, 2021). Kekerasan

yang sering terjadi pada anak karena anak adalah seorang yang tidak berdaya,

seorang yang rentan, dan sangat mudah untuk di manipulasi oleh pelaku dengan

cara memberikan mainan atau makanan ringan saja anak-anak mudah tergiur

dengan ajakan orang yang tidak dikenal, maka dari itu seorang anak akan lebih

mudah menjadi korban kekerasan.

Derdasarkan penelitian terdahulu bahwa pola asuh yang diterapkan oleh

orang tua pada anaknya seperti pola asuh otoriter dan permisif dapat
mempengaruhi sikap agresif pada anak (Gastanadela, 2020). Meneliti parenting

influences on the sosial goal of aggressive childen. Analisah T-test menunjukan

bahwa pola asuh orang tua sangat mempengaruhi motivasi sosial juga dapat

mendasari prilaku agresif dengan nilai (p=0,03) (Mcdonald et al, 2019).

Berdasarkan latar belakan tersebut, maka peneliti ingin meneliti mengenai “

Hubungan pola asuh otoriter dengan sikap orang tua terhadap kekerasan

pada anak di TK Budi mekar Tahun 2023”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan pola asuh otoriter dengan sikap orang

tua terhadap kekerasan pada anak TK Harapan bunda tahun 2023 “ ?

[Link]

1. Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Hubungan pola asuh otoriter

dengan sikap orang tuua terhadap kekerasan pada anak TK Harapan bunda Tahun

2023

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik orang tua terhadap kekerasan

pada [Link] 2023.

b. Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap kekerasan

pada anak Tahun 2023.

c. Untuk mengetahui sikap orang tua terhadap kekerasan pada anak Tahun

2023.
d. Untuk mengetahui hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap

kekerasan anak Tahun 2023.

D. Manfaat

Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat bermanfaat dalam membawa

wawasan tentang Hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap kekerasan

pada anak.

1. Bagi Institusi

Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat bermanfaat dalam membawa

wawasan tentang Hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap kekerasan

anak.

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan menerapkan ilmu tentang hubungan pola asuh

dengan sikap orang tua terhadap kekerasan pada anak.

3. Bagi Responden

Sebagai sumber informasi bagi orang tua dan masyarakat yang mempuntai

anak untuk meningkatkan pengetahuan tetang pencegah terjadinya kekerasan pada

anak.

4. Bagi Penelitian

Memberikan informasi terkait hasil penelitian dilapangan untuk menjadi

bahan pengetahuan dan pencegahan terjadinya kekerasan pada anak.

E. Ruang Lingkup

Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini pasti mengalami hambatan

dan banyaknya kendala. Hal ini bukan karena kesenjangan melainka terjadi karena
adanya keterbatasan dalam melakukan penelitian. Adapun keterbatasan yang di

alami peneliti ini adalah pengukuran peneliti yang hanya meneliti tentang

hubungan pola asuh dengan sikap orang tua terhadap kejadian kekerasan pada

anak di TK Harapan bunda.

Selain itu, tempat yang akan di teliti hanya sebatas di TK Harapan bunda

Kabupaten Indramayu, untuk itu adanya penelitian lebih lanjut oleh penelitian

selanjutnya untuk melanjutkan membahas hubungan pola asuh dengan sikap

orang tua terhadap kekerasan terhadap anak di TK Harapan bunda Karena pada

dasarnya penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan pola asuh dengan

sikap orang tua terhadap kekerasan pada anak di TK Harapan bunda.

Dengan menggunakan variable dependen dan independen. Variable

dependen (kejadian kekerasan pada anak) dan variable independen (pola asuh

dengan sikap orang tua).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pola asuh

1. Pengertian pola asuh

Pola asuh yang terdiri dari 2 kata pola dan asuh, dalam kamus besar bahasa

Indonesia “pola” yang di artikan sebagai sistem kerja orang tua, sedangkan “asuh”

diartika sebagai menjaga, merawat, membimbing, atau mendidik. Pola asuh orang

tua adalah interaksi antara anak terhadap orang tua selama mengadakan suatu

kegiatan pendidikan atau membimbing anak. Seorang orang tua sangat penting

dalam mendidik, menjaga, merawat, atau mendidik anaknya untuk mengetahui,

mengenal dan anak bisa menerapkan dengan tingkah laku yang baik terhadap

orang lain dan keluarga.(Evy, 2020).

2. Macam-macam pola asuh orang tua

Hurlock (Amseke el al, 2021) mengurangi tipe pola asuh orang tua yaitu :

a. Pola asuh otoriter

Pola asuh otoriter ini merupaka pola asuh yang mengutamakan

menggunakan pembentukan kepribadian anak dengan kemauan orang tuanya dan

mempunyai peraturan-peraturan yang wajib dituruti oleh anak, jika peraturan-

peraturan tersebut tidak dilakukan maka anakn di berikan hukuman atau ancaman

pada anak, ciri yang dimiliki oleh pola asuh otoriter ini adalah seorang anak harus

terus mengikuti aturan orang tuanya, orang tua yang selalu mengontrol anaknya

dengan ketat, jika anak tersebut melakukan kemenangan atau nilainya bagus anak
tersebut tidak pernah di beri pujian oleh orang tuanya, dan keluarga ini biasanya

dalam komunikasi hanya satu arah dan orang tuanya tidak bisa di kompromi.

Menurut hurlock berpendapat bahwa pola asuh otoriter ini adalah cara orang

tua untuk mendisiplinkan anaknya dengan diadakan peraturan-peraturan yang di

buat oleh orang tuanya, teknik yang dilakukan dengan pola asuh otoriter ini sangat

berat, dengan melakukan hukuman seperti hukuman badan (contohnya :

menyubit, memukul dengan alat, menjewer dan lain-lain), dalam pola asuh ini

seorang anak biasanya tidak dapat pujian atau penghargaan jika anak tersebut

tidak melakukan sesuai standar yang diberikan orang tuanya.

Pola asuh ini gaya yang membatasi dan bersifat hukuman jika anak tersebut

tidak melakukan hal yang tidak sesuai dengan peraturan orang tuanya, pola asuh

ini akan berakibat terhadap anak yang membuat anak ini tidak percaya diri,

menjadi penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, suka melanggar norma,

gemar menantang orang yang lebih tua, menjadi anak yang lemah,dan sering

menarik diri dari lingkungan sosial. Pola asuh ini bisa menghasilkan orang yang

bertingkah laku pasif dan cenderung menarik diri dan menghambat anak untuk

inisiatif karena selalu di atur oleh orang tuanya jadi anak tersebut tidak bisa

berinisiatif sendiri.

Pada pola asuh ini anak tidak diberikan kesempatan untuk berpendapat

mengenai peraturan yang diberikan oleh orang tuanya, orang tua yang otoriter

tidak responsif terhadap apa yang diburuhkan oleh anaknya dan umunya mereka

tidak mengasuh. Anak- anak dengan pola asuh ini cenderung mempunyai

karakterristik yaitu :
 Cenderung memiliki disposisi yang tidak bahagia

 Kurang mandiri

 Tanpak tidak aman

 Memiliki harga diri yang lebih rendah

 Menunjukan lebih banyak prilaku yang bermasalah

 Berperan lebih buruk dalam akademis

 Memiliki keterampilan sosial yang buruk

 Lebih rentan dalam masalah mental

 Lebih cenderung memiliki masalah penggunaan narkoba

b. Pola asuh permisif

Pola asuh ini adalah pola asuh orang tua yang membentuk kepribadian anak

dengan cara memberikan pengawasan yang sangat longgar agar anak tersebut bisa

melakukan hal yang dia inginkan dengan memberikan pengawasan orang tua yang

cukup. Pola asuh ini cenderung membebaskan anaknya dalam melakukan anaknya

akan tetapi jika anak tersebut dalam bahaya orang tua hanya memperingatkan

anaknya, dan sangat sedikitnya bimbingan yang diberikan oleh orang tuanya.

Sikap yang dimiliki oleh pola asuh orang tua ini bisanya bersikap hangat kepada

anaknya yang membuat anak tersebut sangat suka dengan orang tuanya. Contoh

pola asuh ini adalah anak yang keluar malam tanpa izin dari orangtuanya, masuk

kedalam kamar orang tua tanpa mengetuk pintu, dan melihat vidio yang tidak

layak dilihat pada anak pada umumnya, biasanya orang tua yang menerapkan pola

asuh ini adalah orang tua yang tidak ingin konflik dengan anaknya.
Hurlock berpendapat bahwa pola asuh ini sangat sedikit berdisiplin atau

tidak berdisiplin, biasanya pola asuh ini tidak membimbing anak sampai prilaku

yang di stujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman . anak dibiarkan

untuk meraba situasi yang sangat sulit untuk ditanggulangi oleh anak tanpa

bimbingan dan pengendalian.

c. Pola asuh demokratis

Pola asuh ini adalah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dengan

prilaku kepada anak dalam rangka membentuk kepribadian anak dengan

memprioritaskan kepentingan anakyang bersikap rasional atau pemikir-pemikir.

Menurut Hurlock bahwa pola asuh ini menggunakan penjelasan, penalayan,

diskusi untuk membantu anak mengerti mengapa prilaku itu diharapkan. Biasanya

metode ini memberikan edukasi. Pola asuh ini adalah tipe kebebasan kepada anak

untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatan orangtua yang

bersikap hangat kepada anaknya.

Pola asuh ini dalah pola asuh yang komunikatif yang terjadi anatra dua

belah arah orangtua yang bersikap mengasuh dan mendukung kepada anaknya,

anak yang di asuh dengan pola asuh ini akan terlihat lebih

dewasa,mandiri,ceria,mampu mengendalikan diri, meriorientasi terhadap prestasi

dan mampu mengatasi kesetresan dengan baik.

3. Faktor yang mempengaruhi pola asuh

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anak

antara lain :

a. Status ekonomi keluarga


Status ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang sangat mempengarusi

pola asuh yang diterapkan oleh orangtua, status ekomoni mencangkup dari

penghasilan, pendidikan, dan pekerjaan orang tua. Seorang yang mempunyai

status ekonomi kurang atau rendah besar kemungkinan akan lebih mengutamakan

dirinya untuk bekeja. Orang tua yang bekerja akan menghabiskan waktunya jauh

dari anak karena mereka lebih mengutamakan pekerjaanya karena pekerjaan

adalah tugas utamanya. Dan orang tua akan menghabiskan waktunya diluar

rumah, tidak akan mampu mengamati peroses-proses pekembangan anaknya baik

dari segi kognitif, afekstif, maupun psikomotoriknya.

b. Status pendidikan

Pendidikan yang didapatkan oleh orang tua anak berbeda-beda, maka tak

heran jika pendidikan yang diterima oleh anak juga berbeda. Pendidikan dan

pengalaman orang tua sangat mempengaruhi dalam persiapan menjalankan

pengasuhan terhadap anaknya, ada beberapa cara agar orang tua lebih siap dalam

pengasuhan anak antara lain orang tua harus peka dalam pendidikan anak,

mengamati berorientasi dalam masalah anak, menilai fungsi keluarga dan

kepercayaan anak.

c. Budaya atau adat pola asuh orangtua terdahulu

Orang tua dizaman dulu masih banyak menerapkan pola asuh otoriter yaitu

pola asuh yang lebih menekankan aturan dan hukuman, tak salah bahwa masih

ada orang tua di zaman sekarang menerapkan pola asuh otoriter. Namun ada

beberapa orang tua yang meninggalkan atau tidak menerapkan pola asuh yang

pernah diberikan orangtuanya saat dulu karena orang tua zaman sekarang ingin
mengubah konsep agar anaknya bisa berkembang jauh lebih baik bagi

perkembangan baik dalam kecerdasan, emosi, atau sosialnya.

Keluarga adalah sebuah lingkungan sosial yang pertama yang ditemui oleh

seorang individu sejak mereka lahir di dunia. Lingkungan keluarga pertama

adalah ayah, ibu dan individu itu sendiri, hubungan antara anak dan orang tua

adalah hubungan timbal balik dimana terdapat interaksi di dalamnya. Orang tua

sendiri akan mendidik anaknya yang lebih baik dan keinginan tersebut akan

memunculkan pola pengasuhan yang cocok untuk diterapkan oleh orang tua

terhadap keluaranya.

d. Kepribadian orang tua

Setiap orang berbeda-beda dalam kepribadian, kesabaran, intelegensi, sikap

dan kematangannya. Karakteristik ini dapat mempengaruhi orang tua dalam

memenuhi tuntunan sebagai peran sebagai orang tua dan bagaimana orang tua

peka dalam kebutuhan anaknya

e. Keyakinan

Orang yang berpatokan terhadap al-qur’an dan hadis akan mengajarkan

pergaulan hidupyaang berbeda. Jika patokan terpenuhi akan mempengaruhi dalam

mengasuh anaknya. Beberapa aturan yan telah diajukan dalam islam seperti

larangan mengeraskan suara kepada orang yang lebih tua, dan menyayangi yang

lebih muda. (Abdul, 2020).

f. Persamaan pola asuh yang di terima orang tua

Bila orang tua merasa bahwa didikan orang tua terdahulunya itu berhasil

biasanya orang tua akan mendidik hal yang sama dengan pola asuh yang di
dapatkan oleh orang tua terdahulunya, jika pola asuh yang diterapkan orang

tuanya yang terdahulu kurang tepat maka orang tua akan beralih adau tiadak akan

menerapkan pola asuh yang pernah diterapkan oleh orang tuanya.

1) Penyesuaian dengan cara distujui oleh kelompok

Orang tua yang baru memiliki anak atau yang lebih muda dan kurang

berpengalaman lebih dipengaruhi oleh orang tua yang terdahulu (keluarga

besarnya, atau masyarakat).

2) Usia orang tua

Orang tua yang berusia muda adan cenderung berdemokratis dari ada orang

tua yang lebih tua.

3) Pendidikan orang tua

Orang tua yang berpendidikan tinggi dan mengikuti pelatihan dalam

mengurus anak akan lebih memilih teknik pengasuhan authoritative di banding

dengan orang tua yang berpendidikan rendah dan tidak mengikuti pelatihan

mengurus anak.

4) Jenis kelamin

Ibu pada umunya lebih mengerti anak dn cenderung kurang otoriter bila

dibandingkan dengan seorang ayah

5) Usia anak

Usia anak dapat mempengaruhi tugas-tugas dan harapan orang tua

6) Temperamen
Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua akan mempengaruhi temperamen

seorang anak. Anak yang menarik dan dapat beradaptasi akan berbeda

pengasuhanya dengan anak yang cerewet dan kaku.

7) Kemampuan anak

Orang tua harus membedakan perlakuanya dengan anak yang berbakat

dengan anak yang memiliki masalah dalam pertumbuhanya

8) Stuasi

Anak yang mengalami rasa takut dan kecemasan biasanya tidak diberi

hkuman oleh orang tuanya. Tetapi jika seorang anak agresif dan cenderung

menantang orang yang lebih tua kemungkinan anak tersebut mendapatkan

hukuman karena orang tua menerapkan pola asuh outhoritatif atau demokratif.

B. Sikap

1. Pengertian sikap

Pensikap adalah suatu perasaan seseorang dalam merefleksikan kesukaan

atau ketidak sukaan terhadap suatu objek (Damiati 2017) sikap adalah

kecenderungan tentang prilaku seseorang dalam suatu objek. Kecenderungan ini

diperlihatkan dengan hal kesetujuan atau ketidak setujuan dalam suatu hal yang

menjadi sasaran kecenderungan tersebut. (Subaryono, 2016) Sedangkat Menurut

para ahli sikap adalah :

a. Thurstone et al., mendefinisikan sikap adalah suatu bentukk evaluasi atau

reaksi perasaan. Sikap seorang dalam suatu objek dalam perasaan yang
mendukung atau memihak (favorabel) atau pun perasaan yang tidak mendukung

atau tidak memihak (unfavorabel) pada suatu objek (Sugiyoni,2016).

b. LaPierre (1934) mendefinisikan sikap adalah suatu sikap suatu pola

prilaku, tendensi atau suatu kesiapan antisipasi,predisposisi untuk menyelesaikan

diri pada suatu situasi sosial, atau secara sederhana sikap adalah suatu stimulasi

darisuatu situasi yang terkondisikan (Sugiyono,2016).

c. Allport mendefinisikan sikap sebagai mental, yaitu suatu peroses yang

ada di diri seseorang yang berlangsung dengan sendirinya,bersama dengan

penalaman diri masing-masing (Sugiyono,2016).

Dari definisi-defimisi di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu

kecenderungan dan keyakinan terhadap situasi yang bersifat mendekati (positif)

dan menjauhi (negatif) mengarah kedalam kognitif dan afektif dalam sebuah

prilaku tertentu.

2. Komponen sikap

Komponen ada tiga yaitu :

a. Komponen kognitif adalah suatu yang berhubungan dengan

kepercayaan dan keyakinan, ide, konsep. Komponen kognitif yang di di dasari

oleh suatu objek bagian dari komponen kognitif adalah persepsi,opini yang

dimiliki oleh suatu individu. (Sugiyono,2016).

b. Komponen afeksi adalah suatu sikap yang dimiliki oleh suatu individu

atau objek yang berhubungan dengan emosional. Komponen ini adalah komponen

rasa senang atau tidak senang pada suatu objek (Sugiyono,2016).


c. Komponen konatif adalah yang berkaitan dengan kemungkinan atau

kecenderungan bahwa seseorang akan melakukan suatu terkaitan pada suatu objek

sikap (Damiati, 2017).

C. Pengertian orang tua

Orang tua dapat dibagi menjadi dua aitu umun dan khusus, pengertian orang

tua umun adalah orang tua (dewasa) yang dituntu bertanggung jawab terhadap

kelangsungan hidup anaknya, yaitu ayah, kakek, nenek, ibu, paman, bibi, kaka,

atau [Link] dalam arti khusus orang tua adalah hanya ayah dan ibu (Tim dosen,

2016). Orang tua adalah seseorang yang memiliki tanggungjawab dalam

membentuk serta membina anaknya baik dari segi psikologis maupun fisiologis.

Orang tua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mendidik anaknya agar bisa

menjadi orang-orang hebat atau menjadi generasi-generasi yang sesuai dengan

tujuan [Link] orang tua harus bisa menjalani suatu peran dan tugas yang

penting untuk keluarganya, adapun tugas dan peran menjadi orang tua adalah

1. Melahirkan

2. Mengasuh atau mendidik

3. Membesarkan dan

4. Mengarahkan menuju kepada kedewasaan serta menanamkan norma-

norma dan nilai-nilai yang berlaku

D. Kekerasan

1. Penertian kekerasan
Kekerasan adalah suatu bentuk perbuatan yang bisa menyebabkan orang

lain cidera atau meninggalatau mengakibatkan kerusakan secara fisik sehingga

tergolong dengan perbuatan kriminal (Ariani, 2021).

Pengertian kekerasan menurut para ahli yaitu :

1. Pengertian kekerasan menurut WHO melakukan kekerasan pada anak

adalah perbuatan yang salah baik secara fisik, emosional, seksual, penelantaran,

dan eksploitasi yang dampaknya akan sangat membahayakan anak dalam

perkembangan anak dan harga diri dalam konteks hubungan tanggung jawab.

2. Soerjono seokamto pengertian kekerasan adalah pelaku yang

dipergunakan oleh individu atau sebuah kelompok untuk memaksakan kehendak

kepada pihak lain.

3. Thomas hoobbes, kekerasan adalah sebuah sifat yang sudah melekat di

diri manusia sejak lahir yang harus di kendalikan.

4. James B,Blue, kekerasan adalah sebuah perbuatan seseorang yang

brutal sehingga bisa menjadikan tindakan yang primitis, karena kekerasan selalu

ditebarkan dengan ancaman.

5. Huraerah, kekerasan adalah suatu tindakan yang berulang dilakukan

dengan seseorang sehingga dianggap sebagai anacaman didalam peroses

kehidupan manusia.

6. N.J Smelser, kekerasan adalah tindakan yang melkai orang lain yang

berawal dengan pemikiran dan gagasanya.

2. Jenis-jenis kekerasan
Kekerasan pada anak terbagi menjadi empat tipe yaitu : kekerasan fisik,

kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan penelantaran.

a. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik adalah melakukan aktivitas fisik yang dilakukan pada

seorang anak oleh orang dewasa. Kejahatan fisik mengakibatkan seorng anak

mengalami cedera serius atau berakibat menjadi kematian ini adalah suatu

tindakan yang ilegal, memar, goresan, luka bakar, patah tulang, leserasi, serta

tindakan kasar yang menyebabkan cedera fisik. Pelecehan fisik dapat terjadi

dalam berbagai bentuk, namun komite Hak asasi manusia perserikatan Bangsa

Bangsa telah menyatakan lerangan untuk memberikan hukuman berupa fisik pada

anak (Abbasi et al, 2015).

Kekerasan fisik terjadi jika anak disiksa secara fisik dan cedera yang terlihat

pada badan anak akibat dari kekerasan tersebut. Kekerasan ini dilakukan dengan

sengaja kepada anak. Bentuk ini paling mudah di kenali, katagori dari kekerasan

jenis ini adalah menampar, menyubit, menjewer, memukul, mencekik, mendorong

menggigit, membenturkan, dan mengancam dengan benda tajam. (Ariani, 2021).

b. Kekerasan seksual

Kekerasan seksual adalah sebuah tindakan pelecehan anak dimana orang

dewasa atau remaja yang melakukan pelecehan terhadap anak karena rangsangan

seksual. Bentuk dari pelecehan seksual adalah sebuah pemaksaan atau pemintaan

seseorang terhadap anak untuk melakukan aktivitas seksual, mempertontonkan

jenis kelamin yang tidak senonoh kepada anak,menampilkan ponografi, kontak


seksual dengan seorang anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak, atau

menggunakan anak untuk menghasilkan ponografi anak (Ariani, 2021).

c. Kekerasan emosional atau psikologis

Kekerasan emosional didefinisikan sebagai tindakan yang mengganggu

psikologi dan sosial dalam pertumbuhan anak. Contoh dari kekerasan ini yaitu :

memanggil dengan panggilan yang tidak pantas, ejekan, berbicara keras terhadap

anak, bersikap kasar, mengeritik pedas, pencemaran nama, penghinaan rutin, dan

tuntutan yang tidak pantas atau berlebihan.

Kekerasan psikologis anak atau emosional yaitu kegagalan dalam suatu

pembentukan anak, kurang mendukungnya lingkungan, menyebabkan seorang

anak tidak dapat berkembang dalam emosi dan sosial (Ariani, 2021)

Kekerasan ini sangat besar berakibat dalam kesehatan, fisik, perkembangan

mental, spiritual, moral, atau sosial yang buruk. Bentuk kekerasan ini bisa berupa

nonverbal atau nonfisik contohnya yaitu : permusuhan, penolakan perawatan,

merusak barang anak, mematikan hewan kesayanganya, memutus komunikasi,

meremehkan, merendahkan, mengkambing hitamkan, mengancam, menakut-

nakuti, mengejek, mengkritik, menghina dan sebagainya.

d. Kekerasan penelantaran

Penelantaran anak adalah seseorang yang melepaskan tanggung jawa

terhadap seorang anak. Penelantaran ini akan menyebabkan efek merugikan,

seperti masalah kognitif anak, sosial dan emosional, anak dapat menggunakan

narkoba, melukai diri sendiri, masalah dalam kejiwaan, kemampuan hidup sosial

yang rendah.
Ekspoitasi anak menuju pada situasi tindakan penggunaan anak untuk

memanfaatkan orang lain, kepuasan atau keuntungan yang bisa termasuk ke

prilaku yang tidak adil, kejam, berbahaya, terhadap anak. Contohnya : menjadikan

anak sebagai pengemis, pemulung atau pekerjaan lain ang memaksa anak untuk

bekerja. Dampak ekspoitasi pada anak yaitu anak akan menjadi seorang yang

berbohong, ketakutan, dapat kurang mengenal kasih sayang dan cinta, sulit

percaya kepada orang lain, harga diri rendah, mengalami gangguan dalam

perkembangan psikologis dan interaksi sosial.

3. Faktor-faktor mempengaruhi terjadinya kekerasan pada

anak

Faktor penyebab atau resiko terjaidnya kekerasan dan penelantaran terhadap

anak di bagi menjadi 3 bagian yaitu : faktor orang tua atau keluarga, faktor

lingkungan atau komunitas, dan faktor anak itu sendiri :

a. Faktor orang tua memegang peran penting dalam terjadinja kekerasan

dan penelantaran pada anak, faktor-faktornya yaitu :

1) Praktik-praktik budaya yang diterapkanoleh orang tua terhadap anak

yang dapat merugikan anak : kepatuhan anak kepada orang tua,dan hubungan

asimetris.

2) Dibesarkan dengan penganiyayaan.

3) Gangguan mental

4) Belum mencapai menatangan fisik, emosional, maupun sosial mereka

yang mempunyai anak sebelum 20 tahun.

5) Pecandu minuman keras dan obat


b. Faktor lingkungan sosial juga dapat menyebabkan penelantaran dan

kekerasan pada anak, faktornya antara lain :

1) Kemiskinan masyarakat dan tekanan nilai rialistis.

2) Kondisi sosial ekonomi yang rendah.

3) Adanya nilai masyarakat bahwa anak punya orang tua sendiri.

4) Status wanita yang dipandang rendah.

5) Sistem keluarga patriarki.

6) Nilai masyarakat yang terlalu individual.

c. Faktor anak itu sendiri yaitu :

1) Penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis

disebabkan ketergantungan anak dengan lingkungan.

2) Prilaku yang menyimpang terhadap anak.

4. Dampak dari kekerasan pada anak

Dampak dari kekerasan pada anak yaitu ada dua, dampak yang berjangka

pendek dan dampak yang berjangka panjang :

a) Dampak jangka pendek

Dampak jangka pendek dari kekerasan pada anak paling terlihat yang

berhubungan dengan prilaku fisik antara lain : lebam, lecet, luka bakar, patah

tulang, kerusakan organ, robeknya selaput darah,keracunan, gangguan susunan

saraf pusat, depresi, kemurungan, gangguan emosional, menyendiri dan

kegelisahan (Rini,2020).

b) Dampak jangka panjang


Dampak jangka panjang yang dialami oleh korban kekerasan fisik,

emosional, maupun seksual antara lain : kecacatan yang mengganggu fungsi

anggota tubuh, kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual

termasuk HIV/AIDS, gangguan/kerusakan organ reproduksi, tidak percaya diri,

depresi, cemas, sukar bergaul, rasa malu dan bersalah, gangguan pengendalian

diri, kepribadian ganda, gangguan tidur, efek psikologis jangka panjang yang

dapat terlihat dari gangguan seksual, penyimpangan seksual, kecemasan yang

tidak terkendali, agresivitas, keinginan bunuh diri, melakukan kekerasan seksual

karena ingin balas dendam (Rini, 2020).

E. Pengertian anak

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyabutkan bahwa anak usia dini

merupakan individu penduduk yang berusia antara 0-6 tahun. Anak usia dini

adalah kelompok anak yang berada diperoses pertumbuhan dan perkembangan

yang bersifst unik (Fadlillah, 2014). Anak usia dini adalah individu yang sedang

ada di fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan

sebagai lompatan perkembangan.


BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPRASIONAL,
DAN HIPOTESIS PENELITI

[Link] Konsep

Kerangka konsep adalah suatu model kerangka tentang teori yang dapat

berhubungan dengan suatu faktor yang telah di definisikan sebagai masalah yang

penting. Kerangka konsep ini adalah sebuah campuran tentang hubungan variable

dengan sebuah teori yang dideskripsikan, setelah di deskripsikan maka akan

dianalisah secara kritis dan sistemais, sehingga dapat menghasilkan campuran

hubungan variable tersebut (Sugiyono, 2020).

Kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut :

Variable Independen Variable Dependen

pola asuh
Kekerasan terhadap anak

Sikap orang tua

1. Variable Penelitian

Variable penelitian adalah suatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan

peneliti untuk dipelajari sehingga dapat diperoleh informasi tentang hal tersebut

dan bisa di tarik kesimpulanya (Sugiyoni, 2020).


Variable ini ada 2 macam yaitu Variable Independen dan Variable

dependen. Variable Independen adalah variable ini sering disebut sebagai variable

bebas. Variable bebas adalah suatu variable yang dapat mempengaruhi atau yang

menjadi sebab penelitian atau menjadi timbulnya variable dependen. Variable

dependen adalah suatu variable yang terkait, variable ini adalah veriable yang

menjadi akibat atau dipengaruhi karena adanya veriable bebas.

B. Definisi Operasional

Definisi oprasional dalah suatu cara mengukur variabel yang ditunjukan

kepada peneliti, dengan kata lain definisi oprasional merupakan informasi secara

ilmiah yang membuat peneliti lain ingin meneliti dengan variable yang sama

(Idrus, 2021)

Tabel 3.1 Definisi Oprasional

N Variable Definisi Cara Alat ukur Hasil ukur Sekala

o Independe Oprasion ukur

n al

1. Pola asuh Pola asuh Melihat Kuesioner [Link] Nomin

otoriter otoriter hasil menggunak al

yang jawaban an

diterapkan responden [Link]

oleh orang kan

tua

2. Sikap Sikap Pertanyaa Kuesioner [Link] baik ordinal

orang tua n yang [Link]


terhadap ada di cukup,

kekerasan kuesioner [Link]

pada anak berjumlah kurang

30

pertanyaa

n.

Pertanyaa

n yang

mengenai

sikap ada

15

N Variable Definisi Cara Alat ukur Hasil ukur Sekala

o dependen oprasiona ukur

3. Kekerasan Kekerasan Melihat Kuesioner [Link] jika

pada anak pada anak hasil bernilai

jawaban >75%

responden [Link] jika

bernilai 50-

75%

[Link]

jika bernilai

<56%
[Link]

Hipotesis adalah jawaban sementara dalam sebuah rumusan masalah

penelitian, yang dimana rumusan masalah penelitian sudah ditanyakan dalam

bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan

baru berdasarkan teori yang relevan belum didasari dengan fakta empiris yang

didapatkan melalui pengumpulan data (Ridwan, 2021).

Jenis penelitian yang menggunakan kuantitatif bertujuan untuk menguji

rumusan hipotesis secara static yang dinyatakan dengan symbol-symbol.

Hipotesis terdapat dua macam yaitu hipotesis nol (Ho) dan hipotesia altenatif

(Ha). Jika salah satu hipotesis di tolak maka yang lain diterima, maka dapat

disimpulkan jika Ho di tolak maka Ha diterima (Handayani, 2020).


BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Rencana penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah obserfasi

dengan pendekatan secara cross sectional ini adalah rencana peneliti yang

melakukan pengukuran dan pengamatan dalam satu waktu saja.

Pada penelitian ini akan diperoleh efek suatu fenomena (kekerasan pada

anak) dan akan dihubungkan dengan penyebab (pola asuh dengan sikap orang tua

di TK Hrapan bunda). Pada penelitian ini peneliti akan memberikan kuesoner

tetang pola asuh dengan sikap orang tua sebagai (Variable independen) kemudian

menilai tentang kekerasan pada anak sebagai (Variable dependen).

B. Populasi dan sempel


1. Populasi peneliti
Populasi adalah suatu yang membentuk gagasan yang terdiri atas objek atau

subjek yang mempunyai kuantitas atau gambaran tertentu yang dapat di terapkan

seorang penlis untuk dipelajari dan bisa ditarik kesimpulanya (Sugiyono, 2011).

2. Sempel peneliti
a) Sempel peneliti ini adalah orang tua yang mempunyai anak di TK

Harapan bunda yang berjumlah 25 orang.

b) Dari berdasarkan sempel dari penelitian ini ditemukan menggunakan

rumus slovin :

N
n=
1+ N ¿ ¿
Keterangan :

n : Besarnya sempel dalam penelitian

N : Besar populasi dalam penelitian

d : 0,1 derajat penelitian

25
n=
1+2 5 ¿ ¿

25
¿
1+ 25,01

25
¿
26,01

¿ 10

[Link] peneliti
Penelitian ini akan dilaksanakan di TK Harapan bunda desa Karangsong

Kabupaten indramayu Kecamatan Indramayu.

D. Waktu peneliti

Penelitian ini akan dilaksanakan pada Bulan Mei awal

E. Etika penelitian

Etika penelitian adalah yang berkaitan dengan beberapa norma, yaitu norma

sopan santun yang memperlihatkan konversi dan kebiasaan dalam tatanan di

masyarakat.

1. Right to self determination


Peneliti mempersiapkan inform consent (lembar persetujuan untuk menjadi

responden) sehingga tidak dilakukan pemaksaan untuk menjadi responden.

2. Right to privacy and dignity

Peneliti meminta responden hanya menuliskan inisial saja pada lembar

kuesioner dan peneliti akan merahasiakan jawaban dari masing-masing responden

pada saat pengelola data.

3. Right to anonymity and convidentiality

Dalam penelitian ini semua responden akan mendapatkan penjelasan yang

sama tentang tujuan penelitian dan prosedur pengisian kuesioner yang dibagikan

4. Right to fair treatment

Peneliti dan tim akan melakukan prilaku yang adil atau sama terhadap

responden dan menghormati persetujuan dari responden.

5. Right to protection from discomforet and harm

Responden berhak untuk tidak meneruskan pengisian atau mundur dari

penelitian.

F. Alat pengumpulan data penelitian

Alat pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner, yang

berisikan pertanyaan tentang pola asuh, sikap dan kekerasan pada anak. Kuesioner

adalah suatu peknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan

pertanyaan atau pernyataan kepada responden dan harus di jawab oleh responden

(Sugiyono, 2010).

1. Pola asuh otoriter


Aspek pengukuran pola asuh otoriter di dasari dengan jawaban responden

dari semua jawaban yang diberikan instrumen pengukuran menggunakan skala

Guatmen dengan dua pilihan jawaban Ya atau Tidak jika ya diberikan nilai=1 dan

Tidak diberikan nilai = 0

2. Sikap orang tua

Aspek pengukuran sikap didasari pada jawaban responden dari sumuan

jawaban yang diberikan. Instrumen pengukuran menggunakan skala liter dengan

tiga pilihan yaitu baik, kurang dan cukup.

3. Kekerasan pada anak

Aspek pengukuran kekerasan didasari pada jawaban responden dari semua

jawaban yang diberikan. Instrumen yang digunakan adalah skala liter dengan 3

pilihan yaitu baik yang bernilai < 75%, kurang < 50-75 %, dan cukup <56%.

G. Prosedur pengumpulan data

1. Tahap persiapan penelitiian

a) Mengumpulkan data awal yang bertujuan mendapatkan data-data

pendukung penulisan proposal penelitian.

b) Konsultasi dengan dosen pembimbing untuk pembuatan proposal.

c) Seminar proposal, revisi hasil seminar proposal, pengesahan hasil

seminar proposal.

2. Melakukan penelitian

a) Mengurus izin penelitian

b) Mengumpulkan data dari responden


Sebelum melakukan pengumpulan data melakukan briefing terlebih dahulu

dengan enumerator untuk menyamakan persepsi. Adapun langkah-

langkahnya :

1) Pembagian lembar persetujuan menjadi responden kepada responden

oleh peneliti dan tim.

2) Penjelasan tujuan pengisian lembar persetujuan dalam kuesioner oleh

peneliti dan tim dengan waktu 10-15 menit.

3) Pengisian lembar persetujuan dan kuesioner oleh responden.

4) Pengumplan lembar persetujuan dan kuesoner oleh peneliti dan tim.

5) Penghitungan lembar persetujuan dan kuesioner agar tidak ada yang

hilang dilakukan oleh peneliti dan tim.

c) Melakukan koreksi kuesioner.

3. Penyelesaian peneliti

a) Melakukan pengelolaan analisi data

b) Menyusun dan mendokumentasikan laporan peneliti

H. Rencana analisi data

Analisis data adalah bagian dalam proses penelitian yang sangat penting.

Kegiatan ini untuk memanfaatkan data sehingga dapat diperoleh suatu kebenaran

atau ketidak benaran.

1. Analisis Unvariat

Analisis unvariat dapat dilakukan terhadap setiap variable masing-masing

variable akan dibuat gambaran distribusi dan presentasi. Data tersebut

ditampilkan.
2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan untuk menganalisi antar

dua variable atau lebih. Sedangkan untuk menguji hipotesis, menggunakan uji

spearman dengan derajat kepercayaan 95% (a=0,05), jika nilai p-value < 0,05

berarti H0 di tolak dan Ha diterima yang menunjukan terhadap variable

independen (Pola asuh otoriter dengan sikap) terhadap kekerasan pada anak. Jika

nilai p-velue > 0,05 berarti Ho diterima dan Ha di tolak yang menunjukan tidak

ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan sikap terhadap kekerasan pada

anak

Anda mungkin juga menyukai