RESPONS BANGSA INDONESIA TERHADAP
KOLONIALISME DAN IMPERIALISME DALAM
BIDANG POLITIK DAN EKONOMI
Kelas
XI
Semester II
Respons Bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme dan
Imperialisme dalam Bidang Politik dan Ekonomi
Awalnya, kedatangan bangsa Barat ke Indonesia dimotivasi keinginan mendapatkan
rempah-rempah sebagai salah satu komoditas tinggi di pasar Eropa. Keinginan bangsa Barat
untuk menjelajahi dunia baru di Kawasan Timur, termasuk Indonesia, didorong oleh motivasi
3G: Gold, Glory dan Gospel (Kekayaan, Kejayaan dan Penyebaran Agama. Secara umum,
bangsa Barat yang datang ke Indonesia diawali kegiatan perdagangan.
Perdagangan lama-kelamaan berkembang menjadi upaya mendominasi dan menjajah
Kepulauan Indonesia. Keserakahan dan keinginan bangsa Barat untuk menguasai Indonesia
lantas dipraktikkan dalam upaya-upaya monopoli perdagangan, mengadu domba
antarkerajaan, bahkan menduduki secara langsung wilayah Kepulauan Indonesia.
Imperialisme sendiri adalah sistem politik yang bertujuan menjajah bangsa atau negara
lain demi memperoleh kekuasaan dan keuntungan sepihak. Di sisi lain, kolonialisme adalah
penguasaan atas suatu wilayah dan penduduk suatu bangsa dengan tujuan militer maupun
ekonomi. Keberadaan bangsa Barat di Indonesia terutama Belanda adalah contoh nyata
kolonialisme dan imperialisme. Berbagai periode penjajahan bangsa Belanda yang
digambarkan di garis waktu di bawah ini.
1. Respons Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme Dan Imperialisme Dalam Bidang
Politik
Imperialisme dan kolonialisme di Indonesia mengakibatkan dampak nyata: aktivitas
pemerintahan berpusat di Pulau Jawa. Hal ini akhirnya terbawa sampai sekarang. Meskipun
saat ini pemerintah sudah melakukan desentralisasi, tetap saja terasa bahwa wilayah Jawa
menjadi pusat pemerintahan.
Tentu, saat pemerintah kolonial Belanda menguasai Indonesia, tidak sedikit
menimbulkan perlawanan. Salah satunya adalah perlawanan secara politis. Kebanyakan rakyat
NONI ALFIYANA 2
bergerak melalui organisasi dalam maupun luar negeri. Masa pergerakan nasional di Indonesia
ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa Pergerakan Nasional
(1908–1942) dibagi dalam tiga tahap berikut.
1. Masa penyusunan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan
Indische Partij.
2. Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis
Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
3. Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan
Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi
perempuan.
Dalam materi ini, diambil masing-masing dua contoh organisasi pergerakan nasional
dari periode berbeda, yaitu Budi Utomo dan Sarekat Islam mewakili masa penyusunan,
Perhimpunan Indonesia dan PNI mewakili masa radikal/non kooperasi,dan Parindra serta
GAPI mewakili masa moderat/loperasi. Sebagai informasi, organisasi-organisasi Pergerakan
Nasional dapat dilihat secara singkat pada gambar ini.
a. Organisasi Budi Utomo
Berdirinya Budi Utomo menandai kebangkitan nasional bangsa Indonesia untuk
mencapai kemerdekaan sekaligus penanda perkembangan nasionalisme Indonesia—meskipun
pendirian organisasi awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Hingga saat
ini, tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
NONI ALFIYANA 3
Budi Utomo (Boedi Oetomo) ialah organisasi yang didirikan
tahun 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA;
Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Wahidin
Sudirohusodo merupakan penggagas Budi Utomo dan namanya
selalu dikaitkan dengan sejarah Budi Utomo ataupun sejarah
berdirinya Budi Utomo.
Budi Utomo dipelopori oleh para pemuda dari STOVIA, Sekolah
Guru Bandung, Sekolah Pamong Praja Magelang dan Magelang,
Sekolah Peternakan dan Pertanian Bogor, dan Sekolah Sore
untuk Orang Dewasa di Surabaya. Para pelajar tersebut terdiri
dari Soeradji, Muhammad Saleh, Soewarno A, Goenawan
dr Soetomo
Mangoenkoesoemo, Suwarno B., R. Gumbreg, R. Angka, dan
Soetomo. Baca juga pahlawan nasional dari Jawa, pahlawan
nasional dari Madura, dan biodata pahlawan kemerdekaan dari
berbagai daerah di Indonesia.
Nama organisasi Budi Utomo diusulkan oleh Soeradji dan semboyannya ialah Indie
Vooruit (Hindia Maju) dan bukan Java Vooruit (Jawa Maju). Budi Utomo terdiri atas kata budi
yang berarti ‘perangai’ atau ‘tabiat’ dan utomo yang berarti ‘baik’ atau ‘luhur’. Perkumpulan
Budi Utomo dapat dimaknasi sebagai ‘perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan
keluhuran budi dan kebaikan perangai atau tabiat’.
Tujuan Budi Utomo yakni memperoleh kemajuan yang harmonis bagi nusa dan bangsa
Jawa serta Madura. Pada awalnya, Budi Utomo hanya mengendaki perbaikan sosial yang
meliputi Jawa dan Madura, sehingga kata kemerdekaan belum disebut. Usaha yang dilakukan
demi tujuan tersebut yaitu memajukan pengajaran sesuai dengan yang dicita-citakan oleh dr.
Wahidin: peternakan, pertanian, perdagangan, teknik, industri, dan menghidupkan kembali
kebudayaan.
b. Sarekat Islam (SI)
Kita kerap mendengar seruan untuk menjauhkan Islam dari gerakan politik. “Jangan
gunakan Islam sebagai alat politik”, begitu kira-kira seruan mereka. Mereka menginginkan
Islam diisolasi di ruang “netral”.
Sebetulnya ruang netral itu tidak ada, sebab hampir semua ruang kehidupan manusia
itu terkait dengan politik. Dan memang, jika kita menengok ke masa silam, Islam tidak berjarak
dengan politik. Itu terjadi pada permulaan abad ke-20, bersamaan dengan kebangkitan
perlawanan rakyat Indonesia menentang kolonialisme.
Di awal abad ke-20, terdapat organisasi sosial-politik yang sangat mencolok, yaitu
Sarekat Islam. Organisasi massa terbesar di zamannya. Tjokroaminoto, pimpinan SI yang kerap
disebut “Raja Jawa”, mengklaim jumlah anggotanya mencapai dua juta orang.
Sumber resmi mengatakan, SI lahir dari perkumpulan kaum pribumi yang
mengamankan Laweyan, daerah hunian saudagar batik di Solo. Pendirinya bernama Haji
Samanhudi. Awalnya, organisasi itu berawal dari organisasi ronda bernama “Rekso
Roemekso”. Pendapat ini diperkuat oleh Takashi Shiraishi dalam bukunya, Zaman Bergerak:
Radikalisme Rakyat Di Jawa (1912—1926).
NONI ALFIYANA 4
Versi lain yang lebih akurat menyatakan, SI berasal dari organisasi yang sebelumnya
bernama Sarekat Dagang Islamiyah (SDI). Pendirinya adalah seorang bekas murid STOVIA
yang terbakar api nasionalisme Tiongkok, Tirto Adhi Soerjo, pada tahun 1909. Pendapat ini
diusung oleh Pramoedya Ananata Toer dalam tetralogi bagian ketiganya, Jejak Langkah.
Namun, pada tahun 1913, sebagai upaya menjegal perkembangan SDI, penguasa kolonial
membuang Tirto ke Ambon. Kepengurusan SI pun berpindah ke Haji Samanhudi dan
kegiatannya berpusat di Solo.
Pendapat Pram itu hampir sejalan dengan pendapat Bung Hatta saat menyampaikan
ceramah berjudul “Dari Budi Utomo menuju Sarekat Islam” di gedung Kebangkitan Nasional
tanggal 22 Mei 1974. Menurut Bung Hatta, pendiri SDI adalah Tirto di Batavia tahun 1909.
Tirto kemudian melakukan tur keliling jawa, termasuk Solo. Dengan demikian, SDI Solo yang
diketuai Haji Samanhudi adalah cabang SDI-nya Tirto Adhisuryo.
SDI di bawah Haji Samanhudi terus berkembang. Sayang, Haji Samanhudi tidak bisa
mengendalikan organisasi yang terus berkembang itu. Ia juga tak kuasa melawan tekanan
penguasa kolonial. Akhirnya, pada tahun 1912, kepemimpinan SI diserahkan kepada
Tjokroaminoto, seorang teknisi di pabrik gula Rogojampi. Pusat kegiatan SI pun dipindahkan
ke Surabaya. Namanya pun berubah menjadi Sarekat Islam (SI).
c. Perhimpunan Indonesia
Selain rakyat yang ada di daerah kita, jiwa nasionalisme juga timbul dari luar negeri.
Para mahasiswa yang sedang belajar di Belanda, pada tahun 1908, membentuk Indische
Vereeniging. Pada mulanya, mereka membentuk ini atas dasar sosial. Namun, seiring
berjalannya waktu, namanya berubah menjadi Indonesia Vereeniging pada tahun 1922. Mereka
pun semakin melebarkan sayapnya dan memasuki dunia politik. Gagasan-gagasannya
disalurkan lewat majalah Hindia Putra. Sampai akhirnya, tiga tahun kemudian, mereka menjadi
lebih radikal dan mengganti namanya menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Mereka secara
tegas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
d. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Berdirinya partai-partai dalam pergerakan nasional banyak bermula dari klub studi,
salah satunya Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir di
Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club.
Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh kondisi sosiopolitik yang rumit. Pemberontakan PKI
pada tahun 1926 membangkitkan semangat untuk membentuk kekuatan baru dalam
menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr
Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo.
Pada permulaan berdirinya, PNI berkembang benar-benar cepat karena didukung oleh elemen-
faktor berikut.
1. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.
2. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
3. Propagandanya menarik dan memiliki orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung
Karno).
NONI ALFIYANA 5
Untuk mengobarkan motivasi perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi
sebagai pegangan pengorbanan PNI. Trilogi hal yang demikian mencakup (1) kesadaran
nasional, (2) kemauan nasional, dan (3) perbuatan nasional. Tujuan PNI adalah mencapai
Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menerapkan asas adalah self-help
(berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy—sikapnya kepada pemerintah juga
antipati dan nonkooperasi. Dasar perjuangannya yaitu marhaenisme. Kongres Partai Nasional
Indonesia yang pertama diadakan di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928.
Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Menyadari perlunya
pernyataan semua potensi rakyat, PNI memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-
Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI dicontoh oleh PSII (Partai
Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi,
Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club.
Melihat PNI pesat menarik massa, pemerintah kolonial Belanda betul-betul cemas.
Pengawasan kepada aktivitas politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan tindakan-
tindakan penggeledahan dan penangkapan. Dengan berkembangnya desas-desus bahwa PNI
akan mengadakan pemberontakan, empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkuprojo,
Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap dan dijatuhi sanksi oleh pengadilan
Bandung. Dalam proses peradilan itu, Ir. Soekarno melaksanakan advokasi yang diberikan
judul “Indonesia Menggugat”.
Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan pukulan berat dan
menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam suatu kongres luar umum yang diadakan di
Jakarta pada tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran
ini memunculkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo. Mereka yang
tak setuju dengan pembubaran dan usulan Sartono, lantas mendirikan Pendidikan Nasional
Indonesia (PNI-Baru) yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Baik
Partindo maupun PNI-Baru, masih menerapkan asas PNI yang lama yaitu selfhelp dan
nonkooperasi. Lewat di antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal strategi perjuangan.
PNI-Baru lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial, sedangkan Partindo mengutamakan
aksi massa sebagai senjata yang tepat untuk mencapai kemerdekaan
2. Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme Dan Imperialisme Dalam Bidang
Ekonomi
Bangsa Indonesia mulai mengenal industri pertambangan dengan dibukanya kilang
minyak bumi di Tarakan Kaltim oleh Belanda. Belanda membangun rel kereta api untuk
memperlancar arus perdagangan. Liberialisme ekonomi - Eksploitasi ekonomi, monopoli
dagang VOC menyebabkan mundurnya perdagangan nusantara di panggung perdagangan
internasional. Peranan syahbandar digantikan oleh paraCipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr.
Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Pada permulaan berdirinya, PNI
berkembang benar-benar cepat karena disupport oleh elemen-faktor berikut.
1. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.
2. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
3. Propagandanya menarik dan memiliki orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung
Karno).
NONI ALFIYANA 6
Untuk mengobarkan motivasi perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi
sebagai pegangan pengorbanan PNI. Trilogi hal yang demikian mencakup kesadaran nasional,
kemauan nasional, dan perbuatan nasional. Tujuan PNI yakni mencapai Indonesia merdeka.
Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menerapkan tiga asas adalah self help (berjuang dengan
usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya kepada pemerintah juga antipati dan nonkooperasi.
Dasar perjuangannya yaitu marhaenisme. Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama
diadakan di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928.
Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Menyadari perlunya
pernyataan semua potensi rakyat, PNI memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-
Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI dicontoh oleh PSII (Partai
Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi,
Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club.
Melihat PNI ini pesat menarik massa dan hal ini betul-betul mencemaskan pemerintah
kolonial Belanda. Pengawasan kepada aktivitas politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan
tindakantindakan penggeledahan dan penangkapan. Dengan berkembangnya desas desus
bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan, karenanya empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno,
R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap dan dijatuhi sanksi
oleh pengadilan Bandung. Dalam proses peradilan itu, Ir. Soekarno dengan kejagoannya
melaksanakan advokasi yang diberikan judul “Indonesia Menggugat”.
Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan pukulan berat dan
menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam suatu kongres luar umum yang diadakan di
Jakarta pada tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran
ini memunculkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo. Mereka yang
tak setuju dengan pembubaran dan usulan Sartono, lantas mendirikan Pendidikan Nasional
Indonesia (PNI-Baru) yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Baik
Partindo maupun PNI-Baru, masih menerapkan asas PNI yang lama yaitu self help dan
nonkooperasi. Lewat di antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal strategi perjuangan.
PNI-Baru lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial, sedangkan Partindo mengutamakan
aksi massa sebagai senjata yang tepat untuk mencapai kemerdekaan
2. Respons Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme Dan Imperialisme Dalam Bidang
Ekonomi
Bangsa Indonesia mulai mengenal industri pertambangan dengan dibukanya kilang
minyak bumi di Tarakan oleh Belanda. Belanda membangun rel kereta api untuk memperlancar
arus perdagangan, yang sekilas tampak menguntungkan Nusantara. Meskipun demikian,
monopoli dagang VOC malah menyebabkan mundurnya perdagangan di Nusantara. Peranan
syahbandar digantikan oleh para pejabat Belanda.
Berbagai upaya ekspor dilakukan oleh Belanda. Pedagang perantara dipegang oleh
orang Timur Asing terutama bangsa Cina. Bangsa Indonesia hanya menjadi pengecer, sehingga
tidak memiliki jiwa wiraswasta jenis tanaman baru serta cara memeliharanya. Dengan
dilaksanakannya politik pintu terbuka, pengusaha pribumi yang modalnya kecil kalah bersaing
sehingga gulung tikar. Perkebunan di Jawa berkembang sedangkan di Sumatra kesulitan tenaga
kerja sehingga dilakukan program transmigrasi. Untuk mendukung program tersebut,
dilakukan penanaman modal Barat di Indonesia. Pemerintah Belanda pun membangun origasi,
NONI ALFIYANA 7
waduk, jalan raya, jalan kereta api, dan pelabuhan. Tentu saja, pembangunan itu dilakukan
dengan memanfaatkan tenaga kerja rodi atau kerja paksa.
Informasi di atas adalah sederet perlakuan bangsa Belanda kepada Indonesia pada masa
penjajahan. Berbagai kerugian harus diderita bangsa Indonesia khususnya di bidang ekonomi.
Hal itu memancing berbagai respons perlawanan, di antaranya.
a. Perlawanan Rakyat Maluku
Demi menegakkan kekuasaan mereka di lawasan perdagangan Indonesia, Belanda
berupaya menduduki produsen rempah-rempah secara langsung, yaitu Maluku. Saat itu
kekuasaan di Maluku terdiri atas banyak kerajaan dan gubernur-gubernur yang satu sama lain
seringkali bertikai.
Sejak abad ke XVII, VOC selalu mengupayakan perjanjian yang mengikat antara VOC
dan para penguasa di Maluku. Tuntutan VOC adalah mereka diberikan hak menguasai
perdagangan rempah-rempah secara tunggal (monopoli). Sebagai imbalan bagi para penguasa
di Maluku, adalah uang ganti rugi yang besarannya sesuai kesepakatan. Hal ini membuat VOC
dan para penguasa di Maluku sejahtera, sementara kalangan petani dan pemiliki kebun
cengkeh, pala, dan bunga pala tidak mendapatkan keuntungan besar. Mereka harus menjual
kepada VOC yang telah menentukan harga jual seenaknya.
Respons bangsa Indonesia terhadap monopoli VOC muncul dari persekutuan orang-
orang Hitu (Ambon bagian Utara) dan pasukan Ternate yang berada di Hoalmoal dengan
dukungan kerajaan Makassar (Kerajaan Gowa). Dipimpin seorang Hitu bernama Kakiali,
bergelar “Kapitein Hitoe”. Kakiali terkenal sebagai pahlawan dalam Perang Hitu I tahun 1634–
164,3 melawan penjajah Belanda (VOC). Politik monopoli perdagangan dan hongi tochten
pada zaman VOC sangat menyengsarakan rakyat kerajaan Hitu.
Pada tahun 1634, peperangan mulai berkobar melawan Belanda. Rakyat Hitu dibantu
oleh Gimelaha Luhu dari Jasirah Hoamual di Seram Barat, para pejuang dari Hatuhaha di
Pulau Haruku, dan rakyat Iha dari Pulau Saparua. Selain itu, rakyat Hitu mendapat bantuan dari
Makassar dan Ternate. Setelah digempur armada oleh pasukan Belanda yang dikirim dari
Batavia (Jakarta), para pejuang Hitu terpaksa menyingkir dan bertahan di gunung Wawani yang
dijadikan benteng pertahanan dan dipimpin panglima Hitu Patiwani. Pada tahun 1635, Kakiali
dapat ditangkap dalam perundingan dengan Belanda. Ia dibuang ke Batavia. Tahun 1637,
Kakiali dipulangkan ke Hitu untuk menentramkan rakyat Hitu yang semakin bergolak.
Bersama dengan Kakiali, datang pula Gubernur Jenderal van Diemen. Ia meminta
bantuan Sultan Hamzah dari Ternate (politik adu domba) untuk bersama-sama melawan Hitu.
Kemudian diangkatlah Gubernur Gerard Demmer. Tokoh Belanda yang keras ini mulai
mengadakan serangan besar-besaran ke benteng Wawani. Pada tahun 1643, Belanda dapat
menduduki Wawani setelah perang tersebut dikosongkan pasukan Hitu dan Panglima Patiwani.
Kakiali kembali menyusun siasat baru melawan Belanda dengan rencana meminta bantuan
Makassar, namun dia dikhianati oleh teman-temannya sendiri. Pada 16 Agustus 1643, seorang
kenalannya yaitu Fransisco de Toire (seorang Spanyol) setelah disogok uang oleh Belanda,
membunuh Kakiali saat sedang tidur. Kakiali ditikam dengan sebilah keris. Pahlawan dari
Wawani ini meninggal seketika.
NONI ALFIYANA 8
Namun perlawanan rakyat Hitu belum berhenti. Peperangan diteruskan pada tahun
1643–1646 sebagai perang Hitu II yang dipimpin oleh Kapitan Tulukabessy dan Imam Rijali.
b. Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap Monopoli Belanda
Kehadiran orang-orang Belanda di Nusantara, termasuk di Banten, pada awalnya hanya
untuk berdagang. Mereka menawarkan beras untuk ditukar dengan komoditas rempah-rempah
yang laku di pasaran Eropa. Namun, dalam perdagangan itu, Belanda hendak memonopoli. Di
Banten pun terdapat sebuah kantor dagang Belanda.
Hubungan antara Banten dan VOC yang semula baik berubah seiring dengan naiknya
Sultan Banten Abu’l Fath Abdulfattah yang lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa
menjadi raja Banten pada tahun 1651. Sultan yang duduk di tahta saat berusia 20 tahun ini tidak
menyukai Belanda karena Belanda dalam pandangannya hanya merupakan penghalang
perdagangan Banten.
Sultan Ageng berusaha menghalangi upaya monopoli perdagangan Belanda. Selain itu,
orang-orang Banten diperintahkannya untuk melancarkan serangan-serangan gerilya terhadap
kedudukan Belanda di Jakarta, baik melalui darat maupun laut.
Setelah merasa penguasa Banten mempersulit usaha monopoli Belanda di Banter,
akhirnya VOC memblokir pelabuhan Banten sehingga merugikan perdagangan kerajaan
Banten. Sultan terpaksa mendekati Belanda untuk mengadakan perundingan. Perundingan itu
berlangsung sangat ketat karena Belanda tetap mempertahankan keinginan perdagangan
monopoli di Maluku dan Malaka yang sulit diterima oleh Banten. Akhirnya, disepakati bahwa
Belanda tetap mengadakan perdagangan dengan Maluku dan membayar ganti rugi kepada
Banten.
Di sisi lain, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menjalin hubungan dagang dan kerja sama
dengan pedagang-pedagang Eropa bukan Belanda. Pedagang-pedagang Inggris dan Denmark
misalnya, bebas membeli lada di seluruh wilayah kerajaan Banten. Dalam upaya mengimbangi
monopoli perdagangan yang dilakukan Belanda, Sultan Ageng berupaya untuk memberikan
berbagai kesempatan berdagang bagi seluruh bangsa Eropa yang datang ke Banten, seperti
Inggris dan Perancis.
Hubungan baik antara Inggris dan Perancis dengan Sultan Banten bagaimanapun mulai
mencemaskan pihak Belanda. Berkat taktik VOC, pada tahun 1676, Banten mulai goyah.
Dengan politik adu domba, Sultan Haji, putra Sultan Ageng, berhasil dipengaruhi sehingga
memusuhi ayahnya. Ia memang dikenal sebagai sosok yang sangat pro-Belanda. Akibatnya,
terjadi perselisihan antara anak dan ayah. Masyarakat pun terbagi dua. Sebagian tetap setia
kepada Sultan Ageng, sedangkan yang lain memihak Sultan Haji.
Ketegangan dengan Belanda memuncak pada tahun 1680 dengan berakhirnya perang
Trunojoyo. Sultan Ageng yang makin bertambah usianya harus menghadapi Belanda dan
puteranya, Sultan Haji. Pada tanggal 27 Februari 1682 pecah perang antara Sultan Ageng
dengan Belanda dan Sultan Haji. Pasukan Sultan Ageng berhasil merebut istana Sultan Haji di
Surosowan. Belanda melipatgandakan kekuatan.
Dengan bantuan Belanda, Sultan Haji berhasil mempertahankan diri dengan mengikuti
semua syarat yang diajukan Belanda yaitu bahwa semua orang Eropa harus meninggalkan
Banten. Pada bulan Agustus 1682, Sultan Haji menandatangani perjanjian yang mengakui
kekuasaan Belanda. Lama kelamaan, Sultan Ageng terdesak dan kekuatannya mulai lemah,
NONI ALFIYANA 9
tetapi ia tidak mau menyerah kepada Belanda. Pengikut-pengikutnya yang masih setia
melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman.
Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap dan dipenjarakan di Jakarta. Ia meninggal
dunia dalam penjara. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Banten di sebelah utara
Masjid Agung Banten. Atas jasa-jasanya pada negara, Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar
Pahlawan Nasional pada 1 Agustus 1970.
C. Rangkuman
1. Periode panjang penjajahan di sebagian wilayah Indonesia menyebabkan penderitaan dan
kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Munculnya berbagai perlawanan dari para tokoh bangsa
memberi gambaran betapa bangsa kita bukan bangsa yang diam saja ketika mengalami
penindasan.
2. Respons Bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda muncul dalam
berbagai bidang antara lain, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan.
3. Dalam bidang politik, muncul respons terhadap kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk
Pergerakan Nasional.
4. Masa-masa Pergerakan Nasional yang dilakukan demi tercapainya cita-cita bangsa dimulai
tahun 1908—pergerakan bersifat moderat hingga radikal—hingga pada titik tercapainya
Sumpah Pemuda untuk menyatukan visi misi bangsa Indonesia.
5. Respons bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda dalam bidang
ekonomi muncul dalam bentuk perlawanan terhadap monopoli Belanda.
6. Perlawanan terhadap monopoli Belanda antara lain dilakukan oleh masyarakat Hitu di
Maluku dan Kesultanan Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
1
NONI ALFIYANA
0