0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan23 halaman

Teori Reward dan Punishment dalam Pendidikan

Teori reward dan punishment merupakan metode untuk memotivasi siswa dalam belajar dan menegakkan kedisiplinan, namun pelaksanaan punishment fisik perlu diperhatikan agar tidak mengarah pada tindak kekerasan."

Diunggah oleh

Oka Suarartawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan23 halaman

Teori Reward dan Punishment dalam Pendidikan

Teori reward dan punishment merupakan metode untuk memotivasi siswa dalam belajar dan menegakkan kedisiplinan, namun pelaksanaan punishment fisik perlu diperhatikan agar tidak mengarah pada tindak kekerasan."

Diunggah oleh

Oka Suarartawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEORI REWARD DAN PUNISHMENT

Dosen Pengampu:

Ni Putu Sri Ratna Dewi, [Link]., [Link].

Disusun Oleh:

Zelika Dinda Mugti Briliani (2213041021)

Diyas Anggun Kharisma Putri (2213041025)

Nurul Maulidia (2213041029)

Ni Putu Dian Eka Laksmi (2213041035)

PROGRAM S1 STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN BIOLOGI DAN PERIKANAN KELAUTAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat karunianya
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah berjudul “Teori Reward dan Punishment”.
Makalah ini penulis susun berdasarkan data dari berbagai sumber yang penulis dapatkan dan
penulis mencoba menyusun data-data itu hingga menjadi sebuah karya tulis ilmiah yang
berbentuk makalah. Selama proses pembuatan makalah ini, banyak hal yang penulis dapatkan,
termasuk ilmu pengetahuan baru tepatnya mengenai materi “Teori Reward dan Punishment”
secara mendalam.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini bisa memberikan manfaat bagi pembacanya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini banyak kekurangan, sebab
pengetahuan penulis yang sangat terbatas, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis
harapkan agar kedepannya dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.

Singaraja, 10 Desember 2022

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................................................................
KATA PENGANTAR .........................................................................................................................2
DAFTAR ISI ........................................................................................................................................3
BAB I.....................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN ................................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................................................2
1.3 Tujuan .........................................................................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan .....................................................................................................................2
BAB II ...................................................................................................................................................4
PEMBAHASAN ...................................................................................................................................4
2.1 Teori Reward Dan Punisment ..................................................................................................4
2.2 Kelebihan dan Kelemahan Pelaksanaan Reward dan Punishment ....................................17
BAB III ...............................................................................................................................................19
PENUTUP ..........................................................................................................................................19
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................... 19
3.2 Saran ......................................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................... 20

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu hal yang harus dikembangkan dan didapat oleh keselurahan
umat manusia. Proses Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang utuh dan cakap
dalam menghadapi tentangan dan dinamis dunia. Fungsi terpenting Pendidikan adalah
menghasilkan manusia yang terintegrasi, yang mampu menyatu dengan kehidupan sebagai
satu kesatuan. Pendidikan memiliki cakupan yang sangat luas diantaranya pendidikan di
rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Salah satu usaha untuk mencapai keberhasilan
dalam sebuah pendidikan adalah dengan menerapkan kedisiplinan kepada para murid.
Tanpa adanya suatu kedisiplinan yang tinggi maka hasil dari suatu pendidikan tidak akan
dapat kita capai. Menurut Hurlock dalam Rusydiana Hamid, secara umum konsep disiplin
adalah sama dengan punishment (Rusydiana, 2006: 66).
Penegakan kedisiplinan tersebut diperlukan jika adanya gejala-gejala pelanggaran yang
dilakukan oleh peserta didik. Kedisiplinan diterapkan bukanlah untuk memberatkan
apalagi membebani peserta didik. Kedisiplinan bertujuan untuk pembentukan karakter dan
juga membimbing mereke pada pembentukan tingkah laku yang lebih baik lagi.
Pendisiplinan yang diterapkan kepada peserta didik diperlukan suatu pengawasan yang
dilakukan oleh guru ataupun pihak-pihak yang terkait. Tanpa adanya pengawasan yang
baik, maka kedisipilnan tersebut tidak akan dapat berjalan dengan baik. Sehingga rambu
rambu kedisiplinan tersebut hanya sebatas aturan-aturan yang tertulis dilembaran-lembaran
kertas. Berbicara masalah kedisiplinan pada peserta didik, maka akan kita dapati siswa
yang memiliki komitmen tinggi terhadap aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Dan
ada pula siswa yang menganggap remeh aturan yang telah disepakati tersebut.
Untuk dapat menegakkan tingkat kedisiplinan sorang murid perlu diadakannya sebuah
motode Reward dan Punishment. Reward dan punishment merupakan dua bentuk metode
dalam memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan prestasi
maupun kedisplinannya. Kedua metode ini sudah cukup lama dikenal dalam dunia
pendidikan. Reward artinya ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan. Dalam konsep

1
pendidikan, reward merupakan salah satu alat untuk peningkatan motivasi dan semangat
bagi para siswa. Sementara punishment diartikan sebagai hukuman atau sanksi. Jika reward
merupakan bentuk reinforcement yang positif; maka punishment sebagai bentuk
reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat
motivasi. Keduaduanya bertujuan untuk memperbaiki siswa dalam proses belajar mengajar
dan juga untuk memperbaiki dan mendidik kedisiplinan serta kepribadian siswa kearah
yang lebih baik.
Namun dalam pelaksanaannya, metode Punishment fisik (Hukuman fisik) sering menjadi
persoalan. Hukuman fisik yang dilakukan oleh guru yang bertujuan untuk mendisiplinkan
anak didiknya, sering diartikan dengan tindakan kekerasan oleh orang tua murid. Sejak saat
itu adanya pemberian hukuman terhadap anak di sekolah menjadi sensasi yang
memunculkan isu isu negatif tentang bagaimana seharusnya cara guru mendidik.
Berdasarkan hal tersebut, guru yang tidak selektif memberi hukuman bisa berdampak
timbulnya tindak pidana kekerasan. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa hal seperti
memformulasikan pelaksanaan sebuah Reward dan Punishment berdasarkan
Undangundang Anti Kekekrasan untuk menghindari hukuman fisik yang bersifat Absolute
yang mengarah pada tindak pidana kekerasan oleh guru terhadap anak didiknya.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang di atas, maka dapat kami rumuskan beberapa masalah
yaitu:
1. Bagaimana teori Reward dan Punishment?
2. Apa-apa saja kelebihan dan kekurangan dari teori Reward dan Punishment ?
1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa saja teori Reward dan Punishment dan bagimana bentuk, jenis,
macam-macam, dan lain sebagainya.
2. Untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan teori Reward dan Punishment.
1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat pembuatan dari makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
wawasan bagi mahasiswa untuk memperdalam teori yang berkaitan dengan sistem reward

2
dan punishment dan formulasinya dalam undang-undang anti kekerasan dalam membantu
mengembangkan kepribadian dan kedisiplinan seorang murid yang akan diterapkan oleh
tenanga pandidik maupun sekolah dalam dunia pendidikan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Reward Dan Punisment

Membicarakan tentang reward dan punishment, dalam konteks pendidikan, tidak terlepas
dari pembicaraan mengenai teori awal yang mendasarinya, yakni teori Stimulus-Respon (
teori S-R). Teori S-R menurut asal usulnya disebut suatu teori laboratorium.
Sesungguhnya teori S-R tidak tunggal, melainkan merupakan gugusan teori yang lebih
kurang mirip satu sama lain, yang memiliki kualitas kualitas unik tertentu. Sistem ini
bermula sebagai usaha untuk menjelaskan akuisisi atau perolehan dan retensi atau
penyimpanan bentuk-bentuk tingkah laku baru yang muncul akibat pengalaman. Maka
tidak heran bahwa proses belajar diberi tekanan yang sangat menonjol. Meskipun faktor
faktor bawaaan tidak diabaikan, para teoritikus S-R terutama menaruh perhatian pada
proses dimana individu menjembatani antara sederetan respon dan beranekaragam
stimulasi (internal dan eksternal) yang dijumpainya.

Beberapa tokoh yang menemukan dan mengembangkan teori S-R ini antara lain, Ivan
Pavlov, John B, Watson, Edward L. Thorndike. Dan Skinner. Dari semua pendukung teori
tingkahlaku, teori Skinner yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori
belajar. Skinner membedakan antara tingkah laku responden dan tingkah laku operant.
Sesuai dengan 2 behavior (tingkah laku) ini, maka ada 2 macam Conditioning yaitu:
1. Responding Conditioning. Disebut juga conditioning tipe S, karena menitik beratkan
pada stimulus. Conditioning tipe S ini sama dengan conditioning klasik dari Pavlov.
2. Operant conditioning. Disebut juga conditioning tipe R, karena menitik beratkan pada
pentingnya Respon.

Dalam operant conditioning ada 2 prinsip umum yaitu: 1) Setiap respon yang diikuti
Stimulus yang memperkuat atau reward (hadiah), akan cenderung diulangi. 2) Reinforcing
stimulus atau stimulus yang bekerja memperkuat atau reward, akan meningkatkan

4
kecepatan (rate) terjadinya respon operant. Dengan kata lain reward akan meningkatkan
diulanginya suatu respon. Dalam operant conditioning, organisme harus berbuat aktivitas
sedemikian rupa untuk memperoleh reward.

Teori operant conditioning yaitu suatu teori yang menggunakan konsekuen yang
menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkah laku. Adapun istilah
yang digunakan yaitu berupa reinforcement daripada reward, karena reward
diinterpretasikan sebagai tingkah laku subjektif yang dihubungkan dengan kesenangan.
Karena istilah reinforcement dianggap netral. Konsekuen yang menyenangkan akan
memperkuat tingkah laku, sementara konsekuen yang tidak menyenangkan akan
memperlemah tingkah laku. Jadi, konsekuen yang menyenangkan akan bertambah
frekuensinya, sementara konsekuensi yang tidak menyenangkan akan berkurang
frekwensinya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa teori operant conditioning yaitu
suatu teori yang menggunakan konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
dalam mengubah tingkah laku. Yang mana dalam pelaksanaannya ada pemberian reward
(hadiah) dan adanya hukuman (punishment).

2.1.1 Teori Reward (Penghargaan)


A. Pengertian Reward

Reward berasal dari bahasa Inggris yang artinya hadiah, ganjaran, penghargaan atau
imbalan. Reward sebagai alat pendidikan diberikan ketika siswa melakukan sesuatu yang
baik. Menurut Djamarah (2008: 182), reward (hadiah) adalah memberikan sesuatu
kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cenderamata. Hadiah
yang diberikan kepada orang lain berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi.
Bentuk reward yang lain juga bisa disesuaikan dengan prestasi yang dicapai oleh
seseorang. Semua orang berhak menerima hadiah dari seseorang dengan motif-motif
tertentu.
Menurut Slameto (2010: 171), reward merupakan suatu penghargaan yang diberikan
guru kepada siswa sebagai hadiah karena siswa tersebut telah berperilaku baik dan sudah
berhasil melaksanakan tugas yang diberikan guru dengan baik. Sementara itu Purwanto
(2011: 182) mengemukakan reward adalah alat untuk mendidik anak-anak supaya anak

5
merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat [Link]
dengan itu Hamalik (2009: 184) mengatakan bahwa reward memiliki tujuan untuk
membangkitkan atau mengemban minat, reward ini hanya berupa alat untuk
membangkitkan minat saja bukanlah sebagai tujuan. Tujuan pemberian penghargaan
dalam belajar adalah bahwa seseorang akan menerima penghargaan setelah melakukan
pembelajaran dengan baik dan akan melakukan pembelajaran sendiri di luar kelas.
Reward juga bisa dikatakan sebagai motivasi yang diberikan oleh guru kepada siswanya
(Sardiman, 2007: 92).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa reward adalah segala
sesuatu yang berupa penghargaan yang menyenangkan perasaan yang diberikan kepada
siswa karena telah berperilaku baik, mendapat hasil atau telah berhasil melaksanakan
tugas yang diberikan guru dengan baik sehingga siswa senantiasa termotivasi untuk
mengulang perbuatannya kembali. Diharapkan dari pemberian reward tersebut muncul
keinginan dari diri anak untuk lebih semangat belajar yang tumbuh dari dalam diri
peserta didik.
B. Tujuan Pemberian Reward

Ngalim Purwanto (2002:182) menjelaskan tujuan pemberian reward adalah untuk


mendidik anak supaya dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya
mendapatkan penghargaan. Selain itu, tujuan dari pemberian reward juga untuk
meningkatkan kemauan siswa untuk memperbaiki atau mempertinggi prestasi yang telah
dicapai. Dengan diberikan reward, guru bertujuan untuk membentuk kemauan siswa
yang lebih keras.
Moh Uzer Usman (2006: 81) menyebutkan tiga tujuan pemberian penguatan, yaitu
meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran; merangsang dan meningkatkan
motivasi belajar, meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku siswa yang
produktif. Sementara itu, Buchari Alma (2010: 40) menyebutkan tujuan reward seperti
berikut:

1. Meningkatkan perhatian siswa

2. Memperlancar/memudahkan proses belajar

3. Membangkitkan dan mempertahankan motivasi

6
4. Mengontrol atau mengubah sikap suka mengganggu dan menimbulkan tingkah
laku belajar yang produktif
5. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar
6. Mengarahkan kepada cara berpikir yang baik/divergen dan inisiatif pribadi

Berdasarkan beberapa uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan pemberian


reward secara umum adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan untuk
mempertahankan perilaku yang positif serta produktif. Tujuan dari pemberian reward ini
akan dapat tercapai dan efektif apabila pemberian reward ini dilakukan dengan cara dan
prinsip yang tepat.

C. Bentuk-Bentuk Pemberian Reward

Reward yang diberikan kepada siswa bentuknya bermacam-macam, secara garis besar
reward dapat dibedakan menjadi empat macam, (Djamarah, 2008: 124-134) yaitu:
a Pujian merupakan salah satu bentuk reward yang paling mudah dilakukan. Pujian
dapat berupa kata-kata, seperti: bagus, baik,bagus sekali, dan sebagainya. Selain
pujian berupa kata-kata, pujian dapat juga berupa isyarat atau pertanda, misalnya
dengan menunjukkan ibu jari (jempol), dengan menepuk bahu siswa, dengan tepuk
tangan, dan sabagainya.
b Penghormatan,reward berupa penghormatan ada dua macam, yang pertama
berbentuk semacam penobatan, yaitu anak yang mendapat penghormatan
diumumkan dan ditampilkan dihadapan teman sekelas, temasuk satu sekolah atau
mungkin dihadapan orang tua murid. Penghormatan kedua berbentuk pemberian
kekuasaan untuk melakukan sesuatu, misalnya siswa yang mendapat nilai tertinggi
saat mengerjakan soal latihan dipilih sebagai ketua kelompok diskusi.
c Hadiah yang dimaksud disini adalah reward yang berbentuk barang. Hadiah yang
diberikan dapat berupa alat-alat keperluan sekolah, seperti pensil, penggaris, buku,
penghapus, dan sebagainya. Reward berupa hadiah disebut juga reward materil. d
Tanda Penghargaan,reward yang berupa tanda penghargaan disebut juga dengan
reward simbolis. Tanda penghargaan tidak dinilai dari segi harga dan kegunaan

7
barangbarangtersebut, melainkan tanda penghargaan yang dinilai dari segi kesan
atau nilai kegunaannya.
Dari keempat macam reward tersebut di atas, dalam penerapannya seorang guru dapat
memilih bentuk macam-macam reward yang cocok dengan siswa, dan disesuaikan
dengan kondisi dan situasi, baik situasi dan kondisi siswa atau situasi dan kondisi
keuangan, jika hal itu menyangkut masalah keuangan. Dalam memberikan reward
seorang guru hendaknya dapat mengetahui siapa yang berhak mendapatkan reward,
seorang guru harus selalu ingat akan maksud reward dari pemberian reward itu. Seorang
siswa yang pada suatu ketika menunjukkan hasil dari biasanya, sangat baik diberi reward.
Dalam hal ini seorang guru hendaklah bijaksana jangan sampai reward menimbulkan iri
hati pada siswa yang lain yang merasa dirinya lebih pandai, tetapi tidak mendapatkan
reward.

D. Syarat-syarat Pemberian Penghargaan (reward)

Dari uraian di atas, kita tentang maksud atau tujuan hadiah, untuk apa dan siapa yang
layak mendapatkan hadiah, dan bentuk-bentuk gajaran seperti apa yang akan diberikan
kepada anak didik, setelah mengetahui hal tersebut ternyata memberikan hadiah kepada
seseorang tidak mudah. Karena kalau kita kurang memahami, tentu hadiah yang kita
berikan akan berubah menjadi upah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, ada beberapa hal
yang perlu kita perhatikan dalam memberikan hadiah bagi anak didik. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam memberikan ganjaran/hadiah adalah :
a Hadiah yang diberikan kepada anak didik hendaknya yang bersifat mendidik.
Dalam memberika hadiah, guru harus mengenal betul karakter anak didiknya dan
juga tahu hadiah seperti apa yang layak diberikan kepada anak didik. Jika hadiah
atau penghargaan yang diberikan tidak tepat, akan membawa dampak yang tidak
diinginkan.
b Hadiah atau penghargaan hendaknya tidak menimbulkan iri hati kepada anak didik
yang lain. Dalam memberikan hadiah, hadiah yang diberikan memungkinkan anak
didik lain yang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik juga mendapatkan hadiah.
c Pendidik dalam memberikan hadiah harus berhati-hati, karena jika kurang
berhatihati tujuan dari pemberian hadiah akan berubah menjadi upah.

8
d Pemberian hadiah tidak dilakukan terlalu sering, dikhawatirkan jika terlalu sering
akan menimbulkan ketergatungan bagi anak didik. Sehingga motivasi belajar siswa
hanya bergantung jika ada hadiah dan jika tidak tidak ada hadiah anak didik tidak
ada motivasi untuk belajar.
e Janganlah memberikan hadiah dengan menjanjikan lebih dahulu apalagi kepada
seluruh kelas sebelum anak-anak menunjukkan prestasi. Jika guru menjanjikan
hadiah kepada anak didik, akan menjadikann anak menjadi terburu-buru dalam
mengerjakan tugas, dan dapat menimbulkan kesukaran-kesukaran bagi peserta
didik yang kurang pandai.
E. Prinsip Prinsip Pemberian Reward

Penghargaan kepada peserta didik diberikan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:


1) Kehangatan dan keantusiasan. Pada saat memberikan penghargaan, peserta didik
harus tahu atau dapat merasakan kehangatan dan keantusiasan pendidik secara
efektif, baik suara, mimik maupun body language.
2) Bermakna. Penghargaan diberikan secara wajar dalam arti penghargaan
diberikan karena peserta didik mencapai sesuatu hal dengan jerih payah sendiri.
Tidak dipungkiri, ada peserta didik yang mungkin mencapai sesuatu hal karena
bantuan pihak lain. Penghargaan yang diberikan kepada peserta didik dengan
model seperti ini tidak bermakna. Sebaliknya sangat bermakna manakala
penghargaan diberikan karena hasil kerja keras peserta didik itu sendiri.
3) Jujur. Pendidik harus menanamkan kejujuran kepada peserta didik supaya
berjuang mendapatkan penghargaan dengan hasil karya sendiri, bukan karya
orang lain. Tindakan ini merupakan salah satu cara mengajarkan kepada peserta
didik agar tidak menghalalkan praktek plagiat.
4) Menghindari respon negatif. Komentar bernada menghina, ejekan, kasar,
sindiran, makian, dsb. harus dihindari karena dapat meruntuhkan semangat
peserta didik dalam mengembangkan dirinya. Kritik juga perlu dihindari.
5) Bervariasi. Pemberian penghargaan hendaknya tidak terpaku pada satu macam
saja.
6) Langsung. Dilakukan pada saat peserta didik melakukan sesuatu hal yang benar.

9
Tidak ditunda.
F. Fungsi Pemberian Reward

Wina Sanjaya (2009: 37) menyebutkan bahwa fungsi reward adalah untuk memberikan
ganjaran kepada siswa sehingga siswa akan berbesar hati dan meningkatkan partisipasi
dalam setiap proses pembelajaran. Pemberian penghargaan mempunyai peranan penting
dalam mengembangkan perilaku siswa. Maria J. Wantah (2005: 165) mengemukakan
fungsi pemberian penghargaan sebagai berikut:
1. Penghargaan mempunyai nilai mendidik. Penghargaan yang diberikan kepada anak
menunjukkan bahwa perilaku yang dilakukan anak sesuai dengan norma dan aturan
yang berlaku. Apabila anak melakukan sesuatu yang disetujui oleh kelompok lalu
mendapatkan penghargaan, maka anak akan memperoleh kepuasan, dan kepuasan
itu akan mempertahankan, memperkuat dan mengembangkan tingkah laku baik.
2. Penghargaan berfungsi sebagai motivasi pada anak untuk mengulangi atau
mempertahankan perilaku yang disetujui secara sosial. Pengalaman anak
mendapatkan penghargaan yang menyenangkan akan memperkuat motif untuk
bertingkah laku baik. Dengan adanya penghargaan di masa mendatang anak akan
berusaha sedemikian rupa untuk berperilaku lebih baik agar mendapat
penghargaan.
3. Penghargaan berfungsi memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial. Apabila
anak menampilkan tingkah laku yang diharapkan secara berkesinambungan dan
konsisten, maka ketika perilaku itu dihargai anak 30 akan merasa bangga.
Kebanggaan itu akan menjamin anak untuk terus mengulangi bahkan
meningkatkan kualitas perilaku tersebut.

Reward adalah alat yang mendidik, maka dari itu reward tidak boleh berubah sifatnya
menjadi upah. Upah adalah sesuatu yang mempunyai nilai sebagai ganti rugi dari suatu
pekerjaan atau suatu jasa. Upah adalah sebagai pembayar suatu tenaga, pikiran, atau
pekerjaan yang telah dilakukan seseorang. Sedangkan reward sebagai alat pendidik
tidaklah demikian, untuk itu seorang guru harus selalu ingat maksud dari pemberian
reward tersebut yaitu untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
2.1.2 Teori Punishment (Hukuman)

10
A. Pengertian Punishment

Punishment berasal dari Bahasa Inggris yang artinya hukuman. Menurut Baharuddin
(2010:74), hukuman adalah menghadirkan atau memberikan sebuah situasi yang ingin
dihindari untuk menurunkan tingkah laku. Mengenai hukuman itu, ada beberapa
pandangan filsafat atau kepercayaan yang menganggap bahwa hidup ini termasuk
sebagai suatu hukuman, karena kehidupan ini identik dengan penderitaan. Pandangan
hidup yang demikian menganjurkan agar manusia menghindari diri dari hukuman atau
penderitaan yang ada di dalam kehidupan ini. Hukuman merupakan suatu tindakan yang
kurang menyenangkan, yaitu berupa penderitaan yang diberikan kepada siswa atau anak
secara sadar dan sengaja, sehingga siswa atau anak tidak mengulagi kesalahannya lagi.
Hukuman diberikan sebagai akibat dari pelanggaran, kejahatan, atau kesalahan yang
dilakukan siswa. Tidak seperti reward, hukuman atau punishment mengakibatkan
penderitaan atau kedukaan bagi anak didik yang menerimanya (Djamarah,2010:196).

Punishment atau hukuman menurut Ahmadi dan Uhbyati (dalam Yanuar, 2012:16)
adalah suatu perbuatan, di mana kita secara sadar dan 18 sengaja, menjatuhkan nestapa
kepada orang lain, yang mana baik dari segi kejasmanian maupun kerohanian, orang lain
tersebut mempunyai kelemahan jika dibandingkan dengan diri [Link] hendaknya
tidak terlalu berat ataupun terlalu ringan. Hukuman yang terlalu berat dapat membuat
anak menjadi trauma dan tertekan, sedangkan hukuman yang terlalu ringan dapat
disepelekan oleh anak. Dari beberapa pendapat yang diutarakan oleh para ahli dapat
disimpukan bahwa punishment atau hukuman adalah suatu tindakan kurang
menyenangkan yang dilakukan terhadap seseorang secara sadar dan sengaja untuk
menurunkan atau mengurangi terjadinya pelanggaran atau kesalahan. Punishment juga
dapat dikatakan sebagai penguat yang negatif, tetapi kalau hukuman itu diberikan secara
tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.

B. Tujuan Pemberian Punishment

Dalam dunia pendidikan, tujuan pemberian hukuman dapat dikelompokkan menjadi dua
macam, yaitu tujuan jangka pendek dan jangka [Link] dari tujuan jangka
pendek pemberian hukuman adalah untuk menghentikan tingkah laku yang salah,

11
sedangkan tujuan jangka panjang hukuman yaitu untuk mengajar dan mendorong anak
agar dapat menghentikan sendiri tingkah laku yang salah (Yanuar A, 2012:59). Tujuan
dari pemberian sanksi atau hukuman kepada anak dari guru atau orang tua itu ada tujuan
yang bermacam-macam. Guru memberikan hukuman pada anak sejatinya hanya untuk
memberikan efek jera pada anak agar tidak mengulangi kesalahan yang telah
dilakukaknnya. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan teori hukuman yang telah banyak
dikemukakan oleh beberapa pakar pendidikan.
Tujuan hukuman berdasarkan teori-teori hukuman tersebut dapat dijabarkan sebagai
berikut:
a Teori perbaikan
Berdasarkan teori ini, jika dikaitkan dengan dunia pendidikan. Hukuman diberikan
untuk memperbaiki anak yang berbuat salah dengan harapan agar selanjutnya tidak
mengulangi kesalahannya lagi dan sadar atas kesalahannya (Yanuar A, 2012: 60).
b Teori perlindungan
Teori perlindungan ini, hukuman diadakan untuk melindungi masyarakat dari
perbuatanperbuatan tidak wajar yang dilakukan oleh seseorang. Dengan adanya
hukuman yang berlandaskan pada teori ini,maka masyarakat dapat dilindungi dari
kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan oleh pelanggar atau terhukum (Yanuar
A,2012: 61).
c Teori ganti kerugian
Menurut teori ini, hukuman dilakukan untuk mengganti kerugian-kerugian yang
telahdiakhibatkan oleh kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan pelanggar atau
terhukum. Hukuman ini lebih banyak diterapkan dalam pemerintahan atau
masyarakat (Yanuar A, 2012: 62), sedangkan dalam dunia pendidikan teori ini
dapat diterapkan sebagai salah satu teori menghukum akan tetapi skala yang
diberikan dalam skala yang kecil.
d Teori menakut-nakuti
Berdasarkan teori ini, hukuman ini diberikan untuk menimbulkan perasaan takut
kepada anak yang melakukan pelanggaran akan akibat pelanggaran yang telah
diperbuatnya, sehingga menimbulkan perasaan takut untuk mengulanginya
kembali dan mau meninggalkan perbuatan yang salah (Yanuar A, 2012: 62). Teori

12
ini dapat diterapkan dalam pelaksanaan hukuman pada anak, karena menakuti
sebagai alat yang ampuh agar anak tidak mau mengulangi melakukan perbuatan
yang salah.
C. Bentuk-Bentuk Punishment

Pemakaian dari alat pendidikan yang berupa ganjaran atau hadiah akan lebih tepat guna
bila dalam pelaksanaannya selalu menyesuaikan kondisi, dimana memang pemberian
hadiah itu harus dilakukan oleh seorang guru sebagai motivator belajar anak didik.
Selanjutnya ada beberapa jenis hukuman, yakni sebagai berikut:
1) Hukuman membalas dendam: orang yang merasa tidak senang karena anak berbuat
salah, anak lalu dihukum.
2) Hukuman badan/jasmani: hukuman ini memberi akibat yang merugikan anak,
karena bahkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi anak.
3) Hukuman jeruk manis (sinaas appel): menurut tokoh yang mengemukakan teori
hukuman ini, Jan Ligthart, anak yang nakal tidak perlu dihukum, tetapi didekati
dan diambil hatinya.
4) Hukuman alam : dikemukakan oleh J.J. Rousseau dari aliran Naturalisme,
berpendapat, kalau ada anak yang nakal, jangan dihukum, biarlah kapok/jera
dengan sendirinya.

William Sterm membedakan tiga macam punishment yang disesuaikan dengan tingkat
perkembangan anak anak yang mendapatkan hukuman tersebut yakni punishment
asosiatif, punishment logis dan juga punishment normatif.
1) Punishment Asosiatif
Seorang anak biasanya mengasosiasikan antara punishment dan kejahatan atau
pelanggaran antara penderitaan yang disebabkan dari punishment dengan
perbuatan pelanggaran yang sudah dilakukan. Untuk menghilangkan perasaan
tidak enak atau hukum tersebut, maka umumnya seorang anak akan menjauh dari
perbuatan yang tidak baik atau yang sudah dilarang, Punishment jenis ini bisa
diterapkan untuk anak usia dini yang hanya bisa merasakan dan juga
mengasosiasikan sesuatu sebagai macam macam gaya belajar.

13
2) Punishment Logis
Punishment ini dipakai untuk anak yang sudah lebih besar. Dengan punishment ini,
maka seorang anak bisa mengerti tentang hukuman adalah akibat yang logis dari
perbuatan yang tidak baik. Seorang anak akan mengerti jika ia mendapatkan
punishment tersebut karena kesalahan yang sudah dilakukan. Sebagai contoh,
seorang anak diperintahkan untuk menghapus papan tulis sampai bersih karena
sudah mengotori atau mencoret coret papan tulis tersebut.
3) Punishment Normatif
Punishment normatif merupakan hukuman yang bertujuan untuk memperbaiki
moral seorang anak dan juga perkembangan memori pada anak. Punishment ini
dilakukan pada pelanggaran mengenai norma etika seperti berbohong, menipu atau
mencuri dan juga kedisiplinan. Untuk itu punishment normatif sangat berkaitan
dengan pembentukan watak dan kepribadian anak anak. Dengan punishment ini,
pendidik akan berusaha untuk mempengaruhi kata hati anak, menginsafkan anak
terhadap perbuatan salah yang sudah dilakukan sekaligus memperkuat keinginan
untuk selalu bisa berbuat baik dan menghindari kejahatan.

Menurut Hartono (2017), berdasarkan bentuk tindakan yang diberikan, hukuman atau
punishment dibagi dalam tiga jenis, yaitu:
1) Hukuman presentasi. Hukuman prestasi adalah penggunaan konsekuensi yang
tidak menyenangkan atau rangsangan yang tidak disukai, seperti siswa disuruh
menulis seperti "Saya tidak akan mengganggu kelas" 100 kali atau cacian atau
tamparan, serta bisa juga bentakan.
2) Hukuman penghapusan. Hukuman penghapusan adalah menghapus penguatan,
contohnya yaitu siswa dihukum dengan tidak boleh beristirahat, berdiri didepan
kelas, atau dihilangkan hak-haknya.
3) Time out. Time out adalah menghukum siswa yang tingkah lakunya melanggar tata
tertib kelas dengan menyuruh berdiri di sudut kelas, dengan tujuan agar tingkah
laku nakal itu dapat hilang atau agar siswa lain terhindar dari tingkah lakunya yang
nakal.

14
Menurut Sabri (1999), berdasarkan efek yang diberikan, hukuman atau punishment
dibagi dalam tiga bentuk, yaitu:
1) Punishment badan, yaitu hukuman yang dikenakan terhadap badan seperti pukulan.
Hukuman jenis ini memiliki efek yang membekas berupa rasa sakit di badan atau
fisik yang diberi hukuman.
2) Punishment perasaan, seperti ejekan bagi siswa yang melanggar, dipermalukan,
dan dimaki. Hukuman jenis ini tidak menciderai fisik atau badan seseorang namun
lebih kepada efek emosi dalam hati seseorang karena melakukan pelanggaran.
3) Punishment intelektual, yaitu hukuman yang diberikan berupa kegiatan tertentu
sebagai punishment dengan pertimbangan kegiatan tersebut dapat membawanya ke
arah perbaikan. Hukuman jenis ini tidak memberikan efek negatif baik cidera
badan ataupun melukai emosi.
D. Syarat Syarat Punishment

Beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum memberikan sebuah hukuman atau
punishment kepada seseorang, yaitu sebagai berikut:
1) Hukuman yang diberikan harus dapat dipertanggung-jawabkan. Ini artinya
hukuman yang diberikan tidak boleh dilakukan dengan semena-mena dan pendidik
dibatasi oleh peraturan hukum dan batas-batas yang ditentukan oleh norma-noma
yang berlaku.
2) Hukuman yang diberikan bersifat memperbaiki. Ini artinya, hukuman yang
diberikan mempunyai nilai mendidik bagi peserta didik agar tidak melakukan
perbuatan tersebut kembali.
3) Hukuman yang diberikan tidak boleh bersifat ancaman atau balas dendam. Karena
jika hukuman ini diberikan akan menimbulkan hubungan yang tidak baik antara
pendidik da peserta didik.
4) Hukuman yang diberikan harus sesuai denngan perbuatan yang dilakukan anak.
Hal ini dilakukan agar anak menyadari akan kesalahan yang dilakukannya.
5) Hukuman dilakukan secara adil dan tidak dilakukan ketika sedang marah. Karena
jika hukuman dilakukan ketika sedang marah, hukuman tidak adil dan akan

15
memberatkan anak. Sehingga keputusan hukuman yang diberikan lebih bersifat
emosional.
6) Guru bersedia meminta maaf setelah anak menyadari akan kesalahan yang
dilakukan anak. Hal ini dilakukan agar hubungan baik antara guru dan anak akan
tetap terpelihara.

E. Prinsip Prinsip Punishment

Menurut M. J Langeveld (Kompri, 2016), dalam memberikan suatu hukuman atau


punishment, hendaknya berpedoman kepada prinsip Punitur, Quia Peccatum est, yang
artinya dihukum karena telah bersalah, serta Punitur, ne Peccatum yang artinya
dihukum agar tidak lagi berbuat kesalahan. Selain itu terdapat beberapa prinsip yang
harus dipegang dalam pemberian hukuman atau punishment, yaitu sebagai berikut:
1) Hukuman hendaknya dapat dirasakan sebagai suatu yang tidak enak atau
mencekam pada waktu dikenakan, sehingga subjek hukuman menyadari bahwa
pemberi hukuman berharap agar ia menghentikan perbuatan yang menyimpang
tersebut.
2) Pemberian hukuman hendaknya dengan bijaksana, hati-hati, dan teliti agar subjek
hukuman tidak menaruh sakit hati pada pemberi hukuman.
3) Hukuman hendaknya dapat diberikan dalam ukuran yang sekecil-kecilnya dengan
bobot seringan-ringannya tetapi sudah cukup dirasakan oleh subjek penerima
hukuman sebagai alat untuk memotivasi pengurangan perilaku menyimpang.
4) Pemberian hukuman hendaknya dikombinasikan dengan pernyataan positif, seperti
agar subjek menaati peraturan.
5) Hendaknya pemberian hukuman disertai dengan sesuatu yang positif yang akan
diberikan kepada subjek penerima hukuman setelah mereka menunjukkan bahwa
perilakunya sudah berubah.
F. Fungsi Punishment

Fungsi diterapkannya punishment atau hukuman adalah sebagai alat pendidikan terhadap
seseorang sebagai pelaku pelanggaran agar tidak mengulangi kesalahannya lagi dan
menghalangi untuk melakukan tindakan pelanggaran. Hukuman juga digunakan sebagai

16
bentuk motivasi untuk menghindari perilaku atau sikap yang melanggar peraturan.
Menurut Wiyani (2013), fungsi punishment atau hukuman adalah sebagai berikut:
1) Hukuman adalah menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang
tidak diinginkan oleh masyarakat.
2) Hukuman adalah mendidik. Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat
belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat
hukuman.
3) Memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima oleh
masyarakat. Pengetahuan tentang akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai
motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.

2.2 Keunggulan dan Kelemahan Pelaksanaan Reward dan Punishment dalam


Perkembangan Individu

2.2.1 Keunggulan dan Kelemahan Teori Reward


A. Keunggulan Pemberian Reward:
Kelebihan Diakui bahwa pendekatan reward memiliki banyak kelebihan, namun secara
umum dapat disebutkan sebagai berikut:
1) Memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk
melakukan perbuatan yang positif dan bersikap progresif.
2) Dapat menjadi pendorong bagi anak-anak didik lainnya untuk mengikuti yang telah
memperoleh pujian dari guru-gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan santun atau
pun semangat dan motivasinya dalam berbuat yang lebih baik.
Proses ini sangat besar kontribusinya dalam memperlancar pencapaian tujuan
pendidikan. Melihat kelebihan reward di atas, maka reward sangat perlu diadakan agar
para peserta didik lebih meningkatkan pendidikannya. Agar peserta didik termotivasi
dengan proses pembelajaran yang berlangsung.
B. Kelemahan Pemberian Reward:
Di samping mempunyai kelebihan, pendekatan reward juga memiliki kelemahan antara
lain:

17
1) Dapat menimbulkan dampak negatif apabila guru melakukannya secara berlebihan,
sehingga mungkin bisa mengakibatkan muridmenjadi merasa bahwa dirinya lebih
tinggi dari teman-temannya.

2) Umumnya “reward” membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya, dan


lainlain. Seorang pendidik harus benar-benar berhati-hati dalam memilih reward
yang akan diberikan kepada peserta didik. Agar peserta didik tidak merasa
berbangga hati dan puas atas reward yang diperoleh
2.2.2 Keunggulan dan Kelemahan Teori Punishment

Punishment atau hukuman juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut ini kebihan
dan kekurangan dari punishment menurut Amal Arief:

A. Keunggulan Pemberian Punishment

1) Punishment akan menjadikan perbaikan-perbaikan terhadap kesalahan murid.


2) Murid tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
3) Merasakan perbuatannya sehingga ia akan menghormati dirinya.
B. Kekurangan Pemberian Punishment

Sementara kekurangannya adalah apabila punishment yang tidak diberikan tidak efektif,
maka akan timbul beberapa kelemahan antara lain:
1) Akan membangkitkan suasana rusuh, takut dan kurangnya percaya diri.
2) Murid akan selalu merasa sempit hati, bersifat pemalas, serta akan menyebabkan
ia suka berdusta (karena takut dihukum)
3) Mengurangi keberanian anak untuk bertindak
4) Jika dilakukan dengan marah yang berlebihan dapat melukai perasaan dan harga
diri anak,sehingga anak akan cenderung tetap mencari-cari kesalahan

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Reward dan punishment merupakan suatu metode dalam dunia pendidikan yang tujuannya
adalah untuk memberikan motivasi agar prestasi dan minat siswa dapat ditingkatkan. Penerapan
reward dan punishment dalam dunia pendidikan haruslah mengikuti aturan dan rambu-rambu yang
telah ditentukan oleh agama maupun disiplin ilmu kependidikan itu sendiri. Sedangkan punishment
digunakan untuk mencegah siswa dari berbuat suatu pelanggaran dan memberikan efek jera kepada
siswa yang telah berbuat suatu pelanggaran. Sama halnya dengan reward, penerapan punishment
hendaknya memperhatikan rambu-rambu yang ada sehingga punishment tersebut tidak
menimbulkan efek yang negatif kepada peserta didik. Jadi hadiah dan hukuman merupakan bentuk
yang dilakukan oleh pendidik atas perbuatan yang telah dilakukan oleh anak didik. Hukuman
dijatuhkan atas perbuatan-perbuatan yang jahat atau buruk. Sedangkan hadiah diberikan atas
perbuatanperbuatan yang baik. Jadi, keduanya merupakan alat Pendidikan yang bertujuan untuk
memperbaiki siswa dalam proses belajar mengajar.

3.2 Saran

Dalam menerapkan metode atau konsep Reward dan Punishment hendaklah memperhatikan
setiap aspek pentingnya seperti tujuan memberikan reward atau punishment, prinsip dan syarat
agar tidak melewati batas wajar dan menimbulkan persepsi lain dari pihak orang tua maupun
lingkungan sekolah. Memberikan reward dan punishment pada siswa haruslah selaras dengan
beberapa undang-undang yang mengatur tentang perlindangan anak agar tidak mengarah pada
terjadinya tindak pidana kekerasan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Kosim, Muhammad. 2008. Antara Reward dan Punishment. Rubrik Artikel: Padang Ekspres.

Muhhamad Rosikhu. 2017. “Tindak Pidana Kekekrasan Terhadap Anak Didik Dalam Dunia
Pendidikan” Jurnal Ilmu Hukum. Vol. 32, No.3.
Purwanto, [Link]. 2007. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya

Rakhil, Fajrin. Urgensi Reward dan Punishment dalam Pendidikan Anak Perspektif Psikologi
Perkembangan.
Riadi, Muchlisin. 2020. Punishment atau Hukuman(Pengertian, Tujuan, Bentuk dan Prinsip)
[Link]
[Link] [Diakses pada 22 Oktober 2021)
Rifa’I, Ahmad dan Catharina, Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes.

Sabri, Alisuf. 1999. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

20

Anda mungkin juga menyukai