MAKALAH
MATA KULIAH FILSAFAT DAKWAH
“ Kerangka Berpikir dalam Mengkaji Filsafat Dakwah
Dosen Pengampu : Aizzatun Nisak, M. Ag.
Disusun Oleh :
Camila Alfian Shofana (2240410042)
Muhammad Akbar Ramadlan (2240410044)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa berkat limpahan rahmat dan lindungan-
nya. Akhimya makalah ini kami selesaikan dengan lancar. Makalah ini saya susun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Dakwah yang dibimbing oleh Aizzatun Nisak, [Link].
Selain itu saya menyusun makalah ini untuk menambah wawasan dan untuk memahami.
Mungkin makalah yang saya buat ini belum sempurna karena saya juga masih dalam
tahap belajar, oleh karena itu saya menerima saran ataupun kritikan dari segala pihak agar
makalah selanjutnya bisa lebih baik dari sebelumnya. Dalam makalah ini saya membahas
tentang Kerangka Berfikir Dalam Mengkaji Filsafat Dakwah.
Demikianlah makalah yang saya susun dan jika ada kesalahan dalam penulisan kami
mohon maaf sebesar-besarnya, semoga makalah ini bermanfaat buat pembaca.
Kudus, 2 April 2023
Penyusun
II
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR.............................................................................................. II
DAFTAR ISI.............................................................................................................. III
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... IIV
A. LATAR BELAKANG MASALAH
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................. V
A. PENGERTIAN KERANGKA BERFIKIR
B. KERANGKA BERFIKIR FILSAFAT DAKWAH..................................... VI
C. TUJUAN KERANGKA BERFIKIR FILSAFAT DAKWAH
BAB III PENUTUP.................................................................................................... VII
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. VIII
III
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia di ciptakan Allah dengan penciptaan paling baik dan memiliki derajat
tinggi karena manusia diberikan akal. Dengan akal, manusia mampu mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia bangga memiliki akal, namun yang lebih
penting itu manusia harus bisa menggunakan akal tersebut secara maksimal. Namun,
kemampuan itu bersifat statis, untuk mengubahnya menjadi dinamis, maka diperlukan
rasa keingintahuan yang tinggi.1
Sedangkan menurut Al- Razi akal adalah ukuran pengendali dan pengatur sehingga
manusia harus mengikuti gerak akal. Gerakan akal inilah yang membuat ruh menjadi
sadar atas kebenaran melalui jalan filsafat.2 Dan didorong dengan pemahaman dengan
konsep filsafat yang tentunya berfikir tentang realistik atau sesuai dengan nalar
pikiran, dalam membentuk suatu pemahaman berfikir tentang filsafat harus ada
beberapa konsep atau tata cara yang wajib dipahami untuk mencapai ketepatan
pemahaman dan pengetahuan tersebut, dan hal inilah yang disebut sebagai kerangka
berfikir.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud Kerangka Berfikir?
2. Bagaimana Kerangka berfikir filsafat dakwah?
3. Bagaimana Tujuan Kerangka berfikir filsafat dakwah?
C. TUJUAN
1. Mengetahui devinisi kerangka berfikir
2. Mengetahui Kerangka befikir filsafat dakwah
3. Mengetahui Tujuan Kerangka Berfikir filsafat dakwah
1
Muhammad In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat, ( Malang : UIN- Maliki Press, 2010)
2
Dikutip dari pendapat Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, ( Yogyakarta: SI-Press,1993),
hlm. 46
IV
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir adalah dasar pemikiran yang menjelaskan secara garis besar alur
logika berjalannya sebuah pemikiran. Kerangka berfikir tidak lepas dari kemampuan
akal manusia. Menurut Ibnu Khaldun, kemampuan akal memiliki tiga tingkatan, yang
apabila manusia dapat menggunakan ketiga tingkatan akal tersebut, akan membawa
manusiakepada suatu realita sebagai manusia seutuhnya ( al- haqiqah al-insaniyyah)
atau manusia sempurna.
Kemampuan berpikir manusia layak untuk dikembangkan dan difungsikan dalam
mengarungi kehidupan manusia yang semakin kompleks dan penuh tantangan.
Manusia dituntut terus-menerus untuk melakukan inovasi dan kreasi dalam berbagai
bidang kehidupan. Jika akal manusia tidak difungsikan,untuk berfikir, maka
kehidupan manusia akan mengalami kesulitan- kesulitan dan bahkan akan mengalami
kematian.
Di banyak tempat di dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang mendorong manusia
untuk menggunakan akalnya. Demikian juga, hadis-hadis Nabi memerintahkan
manusia untuk menggunakan akalnya. Salah satunya hadis yang berbunyi "al-diin
huwa al-aql la al-diina liman la aqla lah" (agama itu akal dan tidak ada agama bagi
orang-orang yang tidak berakal). 3 Artinya manusia diperintahkan untuk menggunakan
akalnya dalam memahami ajaran agama dan tidak boleh taqlid begitu saja ketika
menerima ajaran Islam.
Ada beberapa prinsip dasar yang dapat dijadikan pedoman berfikir islam agar
mengahasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan nilai- nilai Islam
yaitu, Pertama, membebaskan pemikiran dari belenggu taqlid dan menggunakan
kebebasan berfikir sesuai dengan prinsip-prinsip pengetahuan. Kedua, melakukan
meditasi dan poencarian bukti atau data ilmiah empiris. Ketiga, melakukan analisis,
pertimbangan dan induksi. Keempat, membuat keputusan ilmiah yang didasarkan atas
argument dan bukti ilmiah.4 Adapun metode-metode berfikir yang banyak digunakan
oleh para filsuf diantaranya yaitu:
1. Berfikir Deduktif, yaitu berfikir dari hal-hal yang umum dan menghasilkan
kesimpulan yang bersifat khusus.
2. Berfikir Induktif, yaitu berfikir dengan cara menarik kesimpulan umum dari
berbagai kejadian yang ada di sekitarnya.
3
Fauz Noor, Berpikir Seperti Nabi,( Yogyakarta: LKIS,2009) hlm. 467
4
Netien Jurnalism, “ Kerangka Berfikir dalam Mengkaji Filsafat Dakwah”,di akses dari [Link]
[Link]/2015/08/[Link]?m=1 pada tanggal 2 April 2023 pukul
20:30
V
3. Berfikir Analogis, adalah mengambil kesimpulan dengan cara menggantikan
apa yang diusahakan untuk dibuktikan dengan hal yang serupa, namun lebih dikenal.
4. Berfikir Komparatif, adalah mengambil kesimpulan dengan cara menghadapkan
apa yang akan dibuktikan dengan sesuatu yang mempunyai kesamaan dengannya.
B. Kerangka Berfikir Filsafat Dakwah
Menurut Jalaluddin Rakhmat, setiap proses berpikir yang dilakukan oleh manusia
akan melibatkan semua proses sensasi, persepsi, dan memori. Artinya ketika manusia
berpikir akan melibatkan alat indra untuk menangkap informasi dari lingkungannya.
Kemudian dan tangkapan indra tersebut diberikan makna dan direkam dalam otak
manusia, yang selanjutnya diwujudkan dalam bentuk konsep dan lambang sebagai
pengganti objek dan peristiwa. Jadi berpikir itu tidak mungkin jika tidak menggunakan
konsep atau bahasa dan lambang- lambang verbal.5
Berpikir dalam filsafat tentunya adalah berpikir yang realistik atau berpikir nalar
(reasoning), bukan berpikir yang autistik. Dalam berpikir nalar akan ada aturan-aturan atau
pola berpikir tertentu sehingga hasil berpikirnya mengandung unsur kebenaran dan
ketepatan. Cara berpikir menurut aturan tertentu inilah yang disebut dengan metode
berpikir. Secara umum, metode berpikir dalam filsafat adalah mengajukan kritik atas
makna suatu fakta, pengalaman, dan rumusan yang telah ada melalui proses analisis.
Kemudian menarik kesimpulan secara umum dari fakta tersebut melalui proses sintesis
dan akhirnya menilai baik-buruknya atau tepat tidaknya suatu gagasan.
Ada beberapa prinsip dasar yang dapat dijadikan pedoman dalam berpikir menurut Islam
agar menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam,
yaitu:
Pertama, membebaskan pemikiran dari belenggu taqlid dan menggunakan
kebebasan berpikir sesuai dengan prinsip-prinsip pengetahuan.
Kedua, melakukan meditasi dan pencarian bukti atau data ilmiah empiris.
Ketiga, melakukan analisis, pertimbangan dan induksi. Langkah ini merupakan
penalaran dengan berpedoman pada prinsip-prinsip penalaran untuk menemukan
kebenaran ilmiah dari data-data empiris yang ditemukan.
Keempat, membuat keputusan ilmiah yang didasarkan atas argumen dan bukti
ilmiah.
B. Tujuan Kerangka Berfikir Filsafat Dakwah
1. Merasakan adanya masalah.
2. Merumuskan masalah secara khusus dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan.
3. Memberikan jawaban sementara atau hipotesis atau masalah yang diajukan.
4. Mengumpulkan serta mengolah data dan informasi dalam rangka menguji tepat
tidaknya jawaban sementara yang diberikan.
5. Merumuskan kesimpulan mengenai pemecahan masalah tersebut dan metode
melihat kemungkinan penerapan dari kesimpulan itu.6
5
Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004). Hlm.67.
6
Abdul Basith, Filsafat Dakwah, ( Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2013). Hlm. 41.
VI
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kerangka berfikir adalah dasar pemikiran yang menjelaskan secara garis besar
alur logika berjalannya sebuah pemikiran. Konsep filsafat yang tentunya berfikir
tentang realistik atau sesuai dengan nalar pikiran. Dalam membentuk suatu
pemahaman berfikir tentang filsafat harus ada beberapa konsep atau tata cara
yang wajib dipahami untuk mencapai ketepatan pemahaman dan pengetahuan
tersebut.
Adapun metode-metode berfikir yang banyak digunakan oleh para filsuf
diantaranya yaitu: Berfikir Deduktif, berfikir Induktif, berfikir Analogis,dan
berfikir Komparatif. Inti tujuan dari kerangka berfikir filsafat dakwah adalah
ketepatan berfilsafat, khususnya filsafat dakwah. Mengingat filsafat dakwah
merupakan bagian dari ilmu dakwah yang notabene dalam kerangka berpikirnya
tidak lepas dari epistemologi keilmuan islam, maka metode berpikir yang
digunakan oleh filsafat dakwah juga tidak lepas dari kerangka berpikir yang ada
dalam keilmuan islam.
B. Saran
Demikian karya tulis ilmiah ini disusun dengan harapan semoga bermanfaat
bagi pembaca. Penulis menyadari dalam penulisan masih terdapat kesalahan.
Untuk itu penulis menerima saran dan kritik baik posistif maupun negatif agar
penulis dapat memperbaiki karya tulis ilmiah menjadi lebih baik.
VII
DAFTAR PUSTAKA
Basith, A. (2013). Filsafat Dakwah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Esha, M. I. (2010). Menuju Pemikiran Filsafat. Malang: UIN-Maliki Press.
Mulkhan, A. M. (1993). Paradigma Intelektual. Yogyakrta: SI- Press.
Noor, F. (2009). Berpikir Seperti Nabi. Yogyakarta: LKIS.
Rahmat, J. (2004). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rondakaya.
VIII