0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan20 halaman

(Coconut Óleum Virginale) : Disusun Oleh Gian Widiatmoko 20102100053

Proposal ini membahas optimasi formulasi sediaan lipbalm dengan penambahan vitamin E sebagai antioksidan dan variasi beeswax sebagai basis serta VCO sebagai emolien menggunakan metode SLD. Penelitian akan dilakukan selama 1 bulan untuk mengetahui pengaruh komposisi terhadap sifat fisik lipbalm dan daya lembabnya.

Diunggah oleh

gian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
93 tayangan20 halaman

(Coconut Óleum Virginale) : Disusun Oleh Gian Widiatmoko 20102100053

Proposal ini membahas optimasi formulasi sediaan lipbalm dengan penambahan vitamin E sebagai antioksidan dan variasi beeswax sebagai basis serta VCO sebagai emolien menggunakan metode SLD. Penelitian akan dilakukan selama 1 bulan untuk mengetahui pengaruh komposisi terhadap sifat fisik lipbalm dan daya lembabnya.

Diunggah oleh

gian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL MINI INDUSTRI

OPTIMASI FORMULASI SEDIAAN LIPBALM


DENGAN PENAMBAHAN VITAMIN E SEBAGAI ANTIOKSIDAN
DENGAN VARIASI BEESWAX SEBAGAI BASIS
DAN VCO (coconut óleum virginale) SEBAGAI EMOLIEN
DENGAN MENGGUNAKAN METODE SLD
11 Juli 2022 – 13 Agustus 2022

DISUSUN OLEH

GIAN WIDIATMOKO 20102100053

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2022

i
PROPOSAL MINI INDUSTRI
OPTIMASI FORMULASI SEDIAAN LIPBALM
DENGAN PENAMBAHAN VITAMIN E SEBAGAI ANTIOKSIDAN
DENGAN VARIASI BEESWAX SEBAGAI BASIS
DAN VCO (coconut óleum virginale) SEBAGAI EMOLIEN DENGAN
MENGGUNAKAN METODE SLD
11 Juli 2022 – 13 Agustus 2022

Disetujui Oleh:

Pembimbing Akademik Pembimbing Mini Industri

(apt. Fadzil Latifah, [Link]) (apt. Ika Buana Januarti, [Link].)

Mengetahui,
Ketua program Studi Profesi
Apoteker Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sultan Agung Semarang

(Prof. Dr. apt. Suwaldi Martodihardjo, M. Sc.)

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME atas segala berkat dan anugerahNya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di
wahana Mini Industri Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang di mulai
tanggal dengan lancar. Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk mencapai gelar Apoteker pada Program Profesi Apoteker
di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Profesi ini dapat diselesaikan atas
bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala
kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. H. Setiyo Trisnadi Sp.K.F. SH selaku Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sultan Agung.
2. Prof. Dr. Apt. Suwaldi Martodihardjo, M. Sc selaku Ketua Program Studi
Profesi Apoteker Universitas Islam Sultan Agung Semarang
3. apt. Fadzil Latifah, [Link] selaku Dosen Pembimbing Akademik (DPA)
PKPA Mini Industri yang telah membimbing dan mengarahkan sehingga
penyusunan laporan selesai dengan baik.
4. apt Ika Buana Januarti, [Link]., Apt sebagai Pembimbing Mini Industri yang
telah membimbing dan mengarahkan sehingga penyusunan laporan selesai
dengan baik.
5. Seluruh dosen dan civitas prodi profesi apoteker yang membantu pelaksanaan
praktek kerja profesi apoteker hingga penelitian terlaksana dengan baik.
6. Rekan mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker angkatan V di Universitas
Islam Islam Sultan Agung Semarang.

Semarang, Juli 2022

Penulis
iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................ii
KATA PENGANTAR.........................................................................................iii
DAFTAR ISI........................................................................................................iv
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Tujuan PKPA............................................................................................2
C. Manfaat PKPA..........................................................................................2

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara beriklim tropis karena berada ditengah garis khatulistiwa. Hal
ini berpotensi menyebabkan bibir kering, pecah-pecah. Proses perbaikan untuk mengatasi
bibir yang pecah-pecah diperlukan sediaan kosmetik berupa lipbalm. Lipbalm tidak hanya
berfungsi sebagai lip moisturizer yang memberi kelembapan bibir namun lipbalm juga
dapat memberikan lapisan occlusive sebagai perlindungan
Bibir merupakan salah satu bagian pada wajah yang penampilannya mempengaruhi
persepsi estetis wajah. Lapisan korneum pada bibir mengandung sekitar 3 sampai 4 lapis
dan sangat tipis dibanding kulit wajah biasa. Kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan
tidak ada kelenjar keringat yang berfungsi untuk melindungi bibir dari lingkungan luar
(Kadu, dkk., 2014).
Kosmetik memiliki peran penting dalam gaya hidup saat ini dikarenakan kosmetik
digunakan untuk membersihkan, mempercantik dan mengubah aroma tubuh menjadi lebih
baik. Kosmetik pada bibir digunakan untuk mendapatkan perlindungan bibir yang lebih
baik sehingga menambah kecantikan dan daya tarik pada wajah. Kandungan pada kosmetik
bibir umumnya mengandung bahan yang dapat mencegah bibir menjadi kering dan pecah-
pecah (Baki, 2015) Salah satu contoh bahan yang umum digunakan adalah minyak almond.
Dari berbagai penelitian, ditemukan fakta bahwa vitamin E sangat bermanfaat untuk
mengatasi kerusakan kulit. Vitamin E mengandung senyawa tokoferol yang memiliki
aktivitas biologi yang tinggi sebagai antioksidan yaitu mampu menangkap radikal bebas
yang berpotensi merusak serta menyebabkan kelainan pada kulit Selain itu, vitamin E juga
berperan menjaga kelembaban kulit dengan cara mempertahankan ikatan air dalam kulit
dan menjaga stabilitas jaringan ikat dalam sel (Sulastomo, 2013).
VCO merupakan minyak alami yang dapat digunakan sebagai emollient karena
mengandung banyak vitamin E yang dapat melembabkan bibir akibat dehidrasi.
Lip balm (balsam bibir) digunakan sebagai langkah awal untuk mencegah terjadinya
masalah pada bibir. Lip balm merupakan sediaan kosmetik dengan komponen utama seperti
lilin, lemak dan minyak dari ekstrak alami atau yang disintesis dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya kekeringan pada bibir dengan meningkatkan kelembaban bibir dan
melindungi pengaruh buruk lingkungan pada bibir. Dengan adanya lip balm, kelembaban
akan terakumulasi pada lapisan korneum yang berfungsi sebagai lapisan pelindung pada
bibir (Kwunsiriwong, 2016; Madans, dkk., 2012).
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk memformulasi sediaan lip balm yang
mengandung vitamin E sebagai pelembab antioksidan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Apakah VCO dapat diformulasikan dalam sediaan lipbalm?
2. Apakah perbedaan VCO dalam sediaan lipbalm mempengaruhi efektifitas sebagai
pelembab bibir?
3. Apakah penggunaan sediaan lipbalm yang mengandung VCO menunjukan peningkatan
kelembapan yang lebih baik dibandingkan oleum yang lain?
C. Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui apakah VCO dapat diformulasikan dalam sediaan lipbalm?
2. Untuk mengetahui apakah perbedaan VCO dalam sediaan lipbalm dapat mempengaruhi
efektifitas sebagai pelembap bibir?
3. Untuk mengetahui apakah penggunaan sediaann lipbalm yang mengandung VCO dapat
menunjukan peningkatan kelembapan yang lebih baik dibandingkan oleum yang lain?
D. Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi ilmiah tentang VCO yang
diformulasikan dalam sediaan lip balm yang memiliki efek sebagai pelembab.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan teori
1. Pengertian kosmetik
Definisi kosmetika menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
1175/MENKES/PER/VIII/2010, tentang Izin Produksi Kosmetika, kosmetika adalah bahan
atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia
(epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan membran
mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan
atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik
(Permenkes, 2010).
2. Penggolongan kosmetik
a) Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, kosmetik dibagi menjadi
13 preparat sebagai berikut:
1. Preparat yang digunakan untuk bayi, misalnya bedak bayi, minyak bayi, parfum bayi
dan lain-lain.
2. Preparat yang digunakan untuk mandi, misalnya sabun mandi, bath capsule dan lain-
lain.
3. Preparat untuk mata, misalnya maskara, eye-shayow, pensil alis dan lain-lain.
4. Preparat wangi-wangian, misalnya parfum, toilet water dan lain-lain.
5. Preparat untuk rambut, misalnya hair spray, cat rambut dan lain-lain.
6. Preparat pewarna rambut, misalnya cat rambut dan lain-lain.
7. Preparat make up (kecuali mata), misalnya bedak, lipstik, blush on dan lain-lain.
8. Preparat untuk menjaga kebersihan mulut, misalnya pasta gigi, mouth washes dan
lain-lain.
9. Prepaat pewarnaan kulit, misalnya pembersih, pelembab, dan lain-lain.
10. Preparat untuk kuku, misalnya cat kuku, lotion kuku dan lain-lain
11. Preparat perawatan kulit, misalnya pembersih, pelembab, pelindung, cream dan lain-
lain.
12. Preparat cukur, misalnya sabun cukur dan lain-lain.
13. Preparat untuk suntan dan suncreen, misalnya suncreen foundation, dan lain-lai
b) Penggolongan kosmetika menurut kegunaannya bagi kulit tubuh:
1. Kosmetika perawatan kulit (skin care cosmetics) Kosmetika jenis ini diperlukan
untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk di dalamnya:
a. Kosmetika untuk membersihkan kulit (cleanser) seperti sabun wajah,
cleansing cream, cleansing milk, dan penyegar kulit (fresh toner).
b. Kosmetika untuk melembabkan kulit (moisturizer) seperti moisturizer cream,
night cream, anti wrinkle cream.
c. Kosmetika untuk pelindung kulit seperti sunscreen cream, sunscreen
foundation, dan sunblock lotion.
d. Kosmetika untuk menipiskan kulit atau menghilangkan bekas jerawat
(peeling) seperti scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi
sebagai pengamplas.
2. Kosmetika riasan (sebagai dekoratif atau make up) Kosmetika jenis ini di perlukan
untuk merias dan menutupi cacat pada kulit sehingga penampilan menjadi lebih
cantik dan menarik serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya
diri. Kosmetika dekoratif dikategorikan menjadi dua golongan, meliput
(Tranggono, 2007):
a. Kosmetika dekoratif yang hanya memberikan efek pada permukaan dan
pemakaian sebentar, seperti: lipstik, bedak, pemerah pipi (blush on), eye-
shadow dan lain-lain.
b. Kosmetika dekoratif yang memberikan efek mendalam dan biasanya
membutuhkan waktu lama untuk luntur, seperti kosmetika pemutih kulit, cat
rambut dan lain-lain
3. Bibir
a. Anatomi dan Fisiologi Kulit Bibir
Kulit bibir mengandung sel melanin yang sangat sedikit, pembuluh darah lebih jelas
terlihat melalui kulit bibir yang memberi warna bibir kemerahan yang indah. Lapisan
korneum pada kulit biasanya memiliki 15 sampai 16 lapisan untuk tujuan perlindungan.
Lapisan korneum pada bibir mengandung sekitar 3 sampai 4 lapisan dan sangat tipis
dibanding kulit wajah biasa. Kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan tidak ada
kelenjar keringat yang berfungsi untuk melindungi bibir dari lingkungan luar (Kadu
dkk., 2014). Berikut adalah Gambar 2.2 struktur anatomi kulit bibir.
Karena kulit bibir lebih tipis, bibir menjadi lebih mudah luka dan mengalami
perdarahan (Wibowo, 2005). Lapisan bibir yang tipis inimenyebabkan bibir mudah
ditembus oleh cahaya sehingga terlihat merah akibat pembuluh darah yang berada di
bawahnya (Madans dkk., 2012).
b. Bibir kering
Bibir kering dan pecah-pecah merupakan gangguan yang umum terjadi pada bibir.
Penyebab umum terjadinya bibir kering dan pecah-pecah yaitu kerusakan sel keratin
karena sinar matahari dan dehidrasi. Sel keratin merupakan sel yang melindungi
lapisan luar pada bibir. Paparan sinar matahari menyebabkan pecahnya lapisan
permukaan sel keratin. Sel keratin yang pecah akan rusak. Sel yang rusak akan terjadi
secara terus menerus sampai sel tersebut terkelupas dan tumbuh sel yang baru
(Jacobsen, 2011).
Selain itu, penyebab bibir kering dan pecah-pecah adalah dehidrasi. Air merupakan
material yang sangat penting terhadap kelembapan kulit. Dehidrasi terjadi karena
asupan cairan yang tidak cukup atau kehilangan cairan yang berlebihan disebabkan
oleh pengaruh lingkungan (Jacobsen, 2011).
4. Vitamin E
Vitamin E atau tokoferol merupakan zat gizi yang penting dan unik. Karena memiliki
sifat antioksidan sehingga dapat menghambat atau mencegah terjadinya penyakit
degeneratif.
Secara fisik vitamin E lamt dalam lemak. Vitamin ini tidak dapat disintesa oleh tubuh
sehingga hams dikonsumsi dari makanan dan suplemen. Selain tokoferol, tokoferoI juga
mempakan nama Iain dari vitamin E. Tokoferol dan tokotrienol dikenal mempunyai
aktif1as biologis vitamin E. Di alam diketemukan 8 jenis senyawa yang mengandung aNifitas
vitamin E, yaitu : d alfa tokofeol, d beta tokoferol, d gama tokoferol, d deha tokofeol, d
alfa tokotrienol, d beta tocotrienol, gama tokotrienol, d delta tokotrienol.
Fungsi terpenting vitamin E adalah sebagai antioksidan. Adapun fungsi vitamin E yang
Iain dapat menoimulasi respon imunologi. Kemampu- an peningkatan imunologi terlihat
dalam pening- katan kekebalan tubuh. Dari beberapa penelitian mengemukakan, bahwa
kejadian infeksi akan berkurang bilamana kadar vitamin E dalam tubuh meningkat.
Pada sel membran, vitamin E akan mencegah oksidasi lemak khususnya Poly
[Link] Fatty Acid (PUFA), serta senyawa lain seperti vitamin A. Vitamin E pada
mitokondria sel akan terlindungi bagian metabolik yang akan meitransformasi bahan
bakar energi dari ATP.
5. VCO
Sifat-sifat kimia dan fisika dari VCO :

Pemerian Cairan minyak tidak berwarna.


Aroma Ada sedikit berbau asam ditambah karamel.
Kelarutan Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkohol (1:1)
Berat jenis 0,883 g/ml pada suhu 20ºC
Titik cair 20-25ºC
Titik didih 225ºC
Kerapatan uap 6,91
Tekanan uap 1 mmHg pada suhu 121ºC
Penguapan Tidak menguap pada suhu 210C (0%)
pH Tidak terukur karena tidak larut dalam air. Namun
karena termasuk dalam senyawa asam maka
dipastikan memiliki pH kurang dari 7

VCO merupakan minyak stabil, minyak ini tidak mudah rusak dengan adanya
panas serta tahan terhadap cahaya dan udara, jika dipanaskan akan menimbulkan asap
pada suhu 198ºC serta mengandung vitamin E (tokoferol) yang berperan menjaga
kestabilan minyak dan melindungi ketengikan. VCO dapat disimpan pada suhu kamar
selama bertahun-tahun tanpa perubahan sifat. Dibandingkan dengan minyak nabati
lainnya, minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak yang paling tinggi, minyak ini
tidak mudah tengik karena kandungan asam lemak jenuhnya tinggi sehingga proses
oksidasi tidak mudah terjadi, namun bila kualitas VCO rendah, proses ketengikan akan
berjalan lebih awal, hal ini disebabkan oleh pengaruh oksigen, keberadaan air dan
mikroba yang mengurangi kandungan asam lemak yang berada dalam VCO menjadi
komponen lain (Darmoyuwono, 2006).
VCO biasa digunakan untuk kesehatan dan kosmetik. Kandungan asam lemak
(terutama asam laurat dan oleat) dalam VCO berpotensi untuk dikembangkan sebagai
bahan pembawa sediaan obat, diantaranya sebagai peningkat penetrasi dan moisturizer.
Disamping itu, VCO efektif dan aman digunakan sebagai moisturizer pada kulit
sehingga dapat meningkatkan kelembapan kulit dan mempercepat penyembuhan luka
pada kulit (Lucida dkk., 2008).
6. Lipbalm
Lip balm merupakan sediaan kosmetik dengan komponen utama seperti lilin, lemak dan
minyak dari ekstrak alami atau yang disintesis dengan tujuan untuk mencegah terjadinya
kekeringan dengan meningkatkan kelembaban bibir dan melindungi pengaruh buruk
lingkungan pada bibir (Kwunsiriwong, 2016)
Aplikasi lip balm tidak memberikan efek warna seperti lipstik. Lip balm hanya
memberikan sedikit kesan basah dan cerah pada bibir. Lip Balm memang dirancang untuk
melindungi dan menjaga kelembaban bibir. Kandungan yang terdapat dalam lip balm
adalah zat pelembab dan vitamin untuk bibir (Sulastomo, 2013).
Saat lip balm dioleskan ke bibir, ia bertindak sebagai sealant mencegah hilangnya
kelembaban melalui penguapan. Perlindungan ini memungkinkan bibir untuk rehidrasi
melalui akumulasi kelembaban pada antarmuka lip balm-stratum corneum (Madans dkk,
2012).
a. Manfaat lipbalm
1) Lip balm memberikan nutrisi yang dibutuhkan agar bibir tetap lembut dan sehat
2) Lip balm dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan
3) Produk lip balm membantu melindungi bibir dari keadaan luka, kering, pecah-
pecah dan cuaca dingin dan kering.
4) Kontak produk dengan kulit tidak akan menyebabkan gesekan atau kekeringan,
dan harus memungkinkan pembentukan lapisan homogen di atas bibir untuk
melindungi lendir labial yang rentan terhadap faktor lingkungan seperti radiasi
UV,
5) kekeringan dan polusi.
6) Penggunaan kosmetik bibir alami untuk memperbaiki penampilan wajah dan
kondisi kulit bibir (Fernandes, dkk., 2013).
b. Komponen lipbalm
1) Lilin
Secara kimia, wax (lilin) adalah campuran hidrokarbon dan asam lemak yang
kompleks dikombinasikan dengan ester. Lilin lebih keras, kurang berminyak dan
lebih rapuh daripada lemak. Lilin sangat tahan terhadap kelembaban, oksidasi dan
bakteri. Ada empat kategori dari lilin sebagai berikut: (a) Lilin hewani, contohmya
yaitu lilin lebah, lanolin, Spermaceti; (B) Lilin nabati, contohnya yaitu carnauba,
candelilla, jojoba; (C) Lilin mineral, contohnya yaitu ozokerite, parafin,
mikrokristalin, ceresin; (D) Lilin sintetis, contohnya yaitu polyethylene, carbowax,
acrawax, stearon. Lilin yang paling banyak digunakan untuk kosmetik adalah lilin
lebah (beeswax), carnauba dan candelilla wax. Secara fisik, lilin ditandai dengan
titik leleh tinggi (50 -100oC). Lilin yang paling banyak digunakan adalah beeswax
yang merupakan emolien yang bagus dan pengental. Dua wax alami lainnya sering
digunakan dalam kosmetik adalah lilin carnauba dan candelilla. Keduanya lebih
keras dan memiliki titik leleh yang lebih tinggi membuat mereka lebih stabil
(Kadu, 2014).
2) Lemak
Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk
membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang lembut, mengurangi
efek berkeringat dan pecah pada lip balm. Fungsi yang lain dalam proses
pembuatan lip balm adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan
fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat yang biasa
digunakan dalam basis lip balm adalah lemak coklat, lanolin, lesitin, minyak
terhidrogenisasi dan lain-lain (Kadu, 2014).
3) Minyak
Asam lemak dapat berupa asam lemak jenuh atau tidak jenuh yang menentukan
stabilitas dari minyak. Minyak dengan asam lemak jenuh tingkat tinggi (laurat,
miristat, palmitat dan asam stearat) termasuk minyak kelapa, minyak biji kapas,
dan minyak kelapa sawit. Minyak dengan tingkat asam lemak tak jenuh yang
tinggi (asam oleat, arakidonat, linoleat) misalnya minyak canola, minyak zaitun,
minyak jagung, minyak almond, minyak jarak dan minyak alpukat. Minyak
dengan asam lemak jenuh lebih stabil dan tidak menjadi anyir secepat minyak tak
jenuh. Namun, minyak dengan asam lemak tidak jenuh lebih halus, lebih mahal,
kurang berminyak, dan mudah diserap oleh kulit (Kadu, 2014).
7. Zat tambahan yang digunakan
1) Lanolin atau lemak bulu domba adalah zat serupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari
bulu domba Ovis aries Linne yang dibersihkan dan dihilangkan warna dan baunya.
Pemeriannya yaitu massa seperti lemak, lengket, warna kuning dan bau khas (Ditjen POM,
1995).
2) Setil alcohol digunakan sebagai pengemulsi dan bahan pengeras pada sediaan topical. Setil
alcohol dapat meningkatkan viskositas dan kestabilan sediaan. Kelarutan dapat meningkat
bila adanya kenaikan suhu. Titik lelehnya 45-52 C dan titik didihnya 344 C. Larut dalam
etanol 95% dan eter, kelarutan meningkat dengan meningkatnya temperature, bercampur
bila dilelehkan dengan lemak, paraffin, dan isopropyl miristat (Anonim, 1986).
3) metil paraben memiliki pemerian yaitu hablur kecil, tidak berwarna, tidak berbau atau
berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam
air dan benzen, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen
glikol, dan dalam gliserol. Suhu leburnya antara 125-128 °C. Khasiatnya adalah sebagai zat
tambahan (zat pengawet) (Ditjen POM, 1995). Metil paraben digunakan sebagai pengawet
dalam sediaan topikal dalam jumlah 0,02-0,3% (Rowe, dkk., 2009).
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian


Metode penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian meliputi formulasi sediaan,
pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi pemeriksaan organoleptis, pemeriksaan
homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, uji stabilitas sediaan dan, uji efektivitas
sediaan.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasi Universitas Islam Sultan Agung
Semarang
2. Waktu
Penelitian dilaksanakan pada 18 Juli-25 Juli 2022
C. Variabel Penelitian
1. Variable Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi beeswax dan VCO (virgin
coconut oil).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah organoleptis, daya sebar, pH, daya lekat,
homogenitas.
D. Definisi Operasional
1. Lipbalm adalah bahan dari lilin yang diaplikasikan secara topical pada bibir untuk
mengurangi bibir kering.
2. Setilalkohol adalah campuran dari alcohol anafilaktik yang sering digunakan sebagai
pengemulsi dan bahan pengeras dalam sediaan topical.
3. Vitamin E adalah vitamin yang umumnya dikenal sebagai tokoperol dan tocotrienol,
merupakan antioksidan alami larut dalam lemak yang dapat mencegah terjadinya
oksidasi asam lemak tidak jenuh pada produk. Vitamin yang dapat menangkal
radikal bebas adalah vitamin E.
4. Minyak almond merupakan minyak alami yang dapat digunakan sebagai emollient
karena mengandung banyak vitamin E yang dapat melembabkan bibir akibat
dehidrasi.
E. Bahan dan Alat Penelitian
1. Alat
Alat yang digunakan untuk penelitian antara lain: Alat – alat gelas, cawan penguap,
kaca objek, kertas perkamen, neraca analitik, penangas air, penjepit tabung, pH meter,
pipet tetes, spatula, sudip, dan wadah lip balm.
2. Bahan
Beeswax, setilalkohol, kaolin, metilparaben, olive oil, almond oil, cocos oil, vitamin E.
Formula dasar yang dipilih pada pembuatan lip balm dalam penelitian ini dengan
komposisi sebagai berikut:

Kkonsentrasi
Bahan Standar Kkontrol Formula B Formula C Formul Pembanding
aC
Beeswax 5-20%
(cahyadi,
2009)
Setil alcohol 2-5%
Kaolin 4%
Metilparaben 0,02-0,3%
Olive oil 5%
Almond oil 5%
Cocos oil 5%
Vit E 1-5%

F. Prosedur pembuatan sediaan

Persiapkan alat dan Bahan

Timbang semua bahan

Beeswax dan setilalkohol dimasukan kedalam cawan penguap dan dilebur


dipenangas air dengan suhu 70 C

Bahan yang sudah dilebur dimasukan kedalam mortir panas dan diaduk hingga
homogen.
(+) metilparaben sedikit demi sedikit, aduk ad homogen

(+) kaolin sedikit demi sedikit, aduk ad homogen

(+) olive oil kedalam basis sedikit demi sedikit, aduk ad homogen
(+) vitamin E, aduk ad homogen

(+) essence/pewarna, aduk ad homogen

Masukkan kedalam pot/lipbalm tube

Lakukan pengujian

G. Metode pengujian
a. Uji organoleptis
Organoleptis adalah suatu pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat
utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap suatu sediaan. Macam-macam uji
yang dilakukan yaitu dengan melihat warna, rasa, bau, dan bentuk.
b. Uji daya sebar
Sampel sediaan lip balm ditimbang sebanyak 0,5 gram diletakkan di atas alat uji daya
sebar yang berupa lempengan kaca beralaskan kertas skala,tutup dengan kaca
pasangannya (yang sebelumnya sudah ditimbang), dan dibiarkan selama 1 menit,
diukur diameter penyebaran lip balm dengan cara mengukur dari berbagai sisi dan
dihitung rata-ratanya, diulang sebanyak 3 kali replikasi dengan cara yang sama dengan
penambahan beban secara berkala (50 g, 100 g, 150g, 200g) (Voight, 1994).
c. Uji daya lekat
Sampel sediaan lip balm ditimbang sebanyak 0,25 gram, lalu diletakkan diatas gelas
objek. Kedua gelas objek ditempelkan sampai menyatu. Kemudian diletakkan dengan
beban seberat 1 kg selama 5 menit setelah itu dilepaskan, laludiberi beban 80 gram dan
dicatat waktunya hingga kedua gelas obyek tersebut terlepas. Replikasi dilakukan
sebanyak 3 kali.
d. Uji pH
Pengukuran pHdilakukan dengan menggunakan alat Indikator pH Universal, dan
masing-masing formula direplikasi 3 [Link] Indikator pH dicelupkan kedalam
sediaan lip balm dan dibiarkan beberapa detik, lalu warna pada kertas dibandingkan
dengan pembanding pada kemasan.
e. Uji Homogenitas
Masing-masing sediaan lip balm dengan bahan aktif ekstrak kayu secang diperiksa
homogenitasnya dengan cara mengoleskan 1 gram sediaan pada kaca objek, lalu
diamati partikel yang kasar dengan cara diraba dan sediaan harus menunjukkan
susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir-butir kasar (Dirjen POM, 1995)
H. Perhitungan Formulasi dengan SLD
Range Konsentrasi bahan berdasarkan Handbook Pharmaceutical Excipient Edisi 8

Bahan Fungsi Range Konsentrasi


Vitamin E Bahan aktif 1-5%
Yellow Beeswax Basis 5-20% (p.1027)
Setil alcohol Stiffening agent 2-10%% (p. 219)
Kaolin Pemberi tekstur 4% (p.499)
Metilparaben Pengawet 0,02-0,3% (p.604)
Coconut oil Emolien 5% (p.184)
Strawberry essence

Hasil Optimasi formula dengan SLD (Variasi: beeswax dan olive oil)
Beeswax range 5-20%
Run Beeswax %konsentrasi = fx (batas atas-batas bawah) + batas bawah
(formula)
1 1 1 (20-5) + 5 =20%
2 1 1 (20-5) + 5 =20%
3 0,5 0,5 (20-5) + 5 = 10%
4 0,25 0,25 (20-5) + 5 = 5%
5 0,75 0,75 (20-5) + 5 = 15%
6 0,5 0,5 (20-5) + 5 = 10%
7 0 0 (20-5) + 5 = 0%
8 0 0 (20-5) + 5 = 0%

VCO range 1-5%


Run VCO %konsentrasi = fx (batas atas-batas bawah) + batas bawah
(formula)
1 0 0 (5-1) + 1 = 0%
2 0 0 (5-1) + 1 = 0%
3 0,5 0,5 (5-1) + 1 = 2,5%
4 0,75 0,75 (5-1) + 1 = 3,75%
5 0,25 0,25 (5-1) + 1 = 1,25%
6 0,5 0,5 (5-1) + 1 = 2,5%
7 1 1 (5-1) + 1 = 5%
8 1 1 (5-1) + 1 = 5%
Sehingga didapatkan formula sebagai berikut:
Bahan Konsentrasi
F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8
Vitamin E 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5%
Beeswax 20% 20% 10% 5% 15% 10% 0% 0%
Setil 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10%
alkohol
Kaolin 4% 4% 4% 4% 4% 4% 4% 4%
Metilparab 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03% 0,03%
en % % % % % %
VCO 0% 0% 2,5% 3,75 1,25 2,5% 5% 5%
% %
Essence 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 1%
DAFTAR PUSTAKA

Aramo. 2012. Skin and Hair Diagnosis System. Sungnam: Aram Huvis Korea Ltd. Hal.1-10.

Cahyadi, W. 2009. Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Bumi Aksara. Halaman 63-74.

Dirjen POM.(1995). Farmakope Indonesia Edisi [Link] : Depkes RI.

Mukul, S., Surabhi K., and Atul N. (2011). Cosmetical For Skin: An Overview. Asian Journal
of Pharmaceutical and Clinical Research. Vol.4 : 974-2441.

Nesaretnam, K., R. et al. (2004). Tocotrienol-rich fraction from palm oil affect gene expression in
tumors resulting from MCF-7 cell. Lipids. 39(5): p.459-67

Rowe et al., (2017). Handbook of Pharmaceuticals Excipients. London: Pharmaceutical Press.

Tranggono, R. I., dan Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT
Gramedia Pusaka Utama. Hal.11-32, 167.

Voight, R., 1994, Buku Pengantar Teknologi Farmasi, 572- 574, diterjemahkan oleh Soedani, N.,
Edisi V, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.

Anda mungkin juga menyukai