0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan57 halaman

Ornamen dalam Seni Islam Mesir Kuno

Seni ornamen Islam di Mesir mengalami masa keemasan pada zaman Kerajaan Fathimiyyah. Seni ornamen Islam di Mesir dipengaruhi oleh seni ornamen Mesir kuno melalui proses stilisasi, abstraksi, dan denaturalisasi. Seni ornamen Islam menggunakan pola geometris tanpa gambar manusia atau hewan sebagai ciri khas peradaban Islam. Bangunan-bangunan seperti masjid dan istana banyak menggunakan seni ornamen Islam.

Diunggah oleh

Supriyanto h Rahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan57 halaman

Ornamen dalam Seni Islam Mesir Kuno

Seni ornamen Islam di Mesir mengalami masa keemasan pada zaman Kerajaan Fathimiyyah. Seni ornamen Islam di Mesir dipengaruhi oleh seni ornamen Mesir kuno melalui proses stilisasi, abstraksi, dan denaturalisasi. Seni ornamen Islam menggunakan pola geometris tanpa gambar manusia atau hewan sebagai ciri khas peradaban Islam. Bangunan-bangunan seperti masjid dan istana banyak menggunakan seni ornamen Islam.

Diunggah oleh

Supriyanto h Rahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

BAB II
ISI DAN ANALISIS

A. Gambaran Seni Ornamen Islam di Mesir

Manusia yang pertama kali menjejakan telapak kakinya di lembah sungai Nil

ialah Misraim bin Haam bin Nuh. Misraim adalah cucu dari Nabi Nuh yang pada

mulanya tinggal di benua Asia. Lembah Nil yang subur dan makmur, telah menarik

sebagian suku bangsa Misram untuk datang ke sana. Misraim yang pertama kali

datang ke sana, maka penduduk lembah Nil itu dinamakan bangsa Misra atau Mesir,

yaitu bangsa keturunan Misraim (Israr, 1978:130). Dimulai dari suku ini, peradaban

sosial budaya Mesir muncul. Jika tidak ada sungai Nil yang ketika banjir lembah

sungai tersebut menjadi subur maka tidak ada pula manusia yang datang dan tinggal

serta tidak akan ada pula peradaban Mesir.

Pada peradaban Mesir juga dikenal dengan kepercayaan penghormatan

terhadap dewa dan roh leluhur. Dilihat dengan adanya mitologi dewa dalam

peradaban Mesir kuno, contohnya dewa Ra yaitu dewa matahari dan Osiris yaitu

dewa kematian. Masyarakat Mesir menggunakan seni ornamen pada makam para

dewa dan leluhurnya untuk menggambarkan keagungan dan menghormati mereka.

Penggunaan ornamen pada saat itu dapat dikelompokan menjadi tiga jenis ornamen

Mesir seperti yang diungkapkan oleh Jones, pertama seni ornamen Mesir digunakan

seabagai konstruksi, yang berupa hiasan seperti kelopak bunga atau batang pada

sebuah pilar yang berfungsi untuk menutupi kerangka dasar pilar tersebut. Kedua,

ornamen Mesir digunakan untuk representasi dari penghormatan manusia

commit to user

21
[Link] [Link]

22

kepada dewa dan roh leluhur pada sebuah bangunan berupa makam atau dindingnya.

Ketiga, ornamen sederhana yang dapat digunakan dalam keperluan sehari-hari

masyarakat Mesir, dapat digunakan pada peralatan. Seni ornamen pada masa Mesir

kuno menggunakan simbol-simbol seperti manusia, hewan, tumbuhan dan garis

geometri. Ciri ornamen Mesir, selain penggunaan simbol juga penggunaan warna

pada ornamen. Masyarakat Mesir senang mewarnai segala apa yang mereka ciptakan

seperti sebuah ornamen, teknik pewarnaan juga telah mengenal dengan teknik

bayangan dari warna yang dihasilkan. Warna yang digunakan berupa warna merah

biru dan kuning, warna hitam dan putih untuk membatasi dan memberikan kekhasan

“the colours used by the Egyptian were principally red, blue, and yellow, with black

and white to define and give distinctiveness” (Jones, 1856:25). Pembuatan seni

ornamen Mesir kuno terinspirasi oleh lingkungan sekitar masyarakat, contohnya

batang papyrus yang tumbuh subur di lembah sungai Nil menjadi salah satu inspirasi

pembuatan ornamen pada tiang-tiang bangunan, seperti yang diungkapkan oleh Jones

“ the lotus and papyrus, growing on the banks of their river, symbolising the food for

the body and the mind” (Jones, 1856 : 22).

Pembuatan seni ornamen pada waktu itu telah banyak menggunakan bahan

material berupa batu, dan kayu. Pola karakteristik motif dasar ornamen Mesir yang

paling populer pada saat itu antara lain adalah lotus atau teratai, papyrus, zigzag,

persegi, dan beberapa yang terdiri dari hiasan hieroglyph (Wornum, 1879:42). Pola

lotus atau perpaduan dengan pola geometris, spiral atau bergelung dan bergelombang

secara natural yang dipadukan secara simetris dan disetiap detailnya memiliki makna,

merupakan pola yang paling banyak ditemui didalam ornamen (Wornum, 1879:42).
commit to user
[Link] [Link]

23

Pembuatan ornamen dimasyarakat saat itu tidak ditemukan jejak adanya sebuah

infansi atau sebuah pengaruh dari asing, pembuatan ornamen tersebut mengacu pada

alam yang terdapat disekitarnya, seperti yang diungkapkan oleh Jones “in the

Egyptian we have no trace of infancy or of any foreign influence, and we must,

therefore, believe that they want inspiration direct from nature” (Jones, 1856:22) dan

ini yang menjadikan ornamen di Mesir menjadi kuat. Masyarakat Mesir tidak dapat

dipisahkan dengan kepercayaan yang masih melekat, yaitu kepercayaan dengan

kekuatan dewa dan roh para leluhur. Kepercayaan mistik tersebut membentuk corak

kehidupan masyarakat Mesir dan menjadi pondasi dalam penciptaan seni.

Seni Islam yang mulai menunjukan keberadaannya awalnya hanya sebagai

tujuan tersier atau maslachah tachsi>niyyah, yang menjadi tujuan pertama dalam

ajaran Islam yaitu pemantapan aqidah dan fiqih. Seni Islam di Mesir mencapai masa

kejayaan pada pemerintahan kerajaan Fathimiyyah dan beberapa abad kemudian

(Israr, 1978:153). Terjadilah akulturasi ornamen antara Islam dengan ornamen yang

sudah ada yaitu dengan proses stilisasi, abstraksi dan denaturalisasi. Stilisasi adalah

pembentukan model baru dari objek. Abstraksi adalah menyembunyian objek

inderawi dalam bentuk abstrak tanpa harus meninggalkan secara totalitas semua

bentuk representasi. Denaturalisasi adalah pelepasan unsur-unsur alam dalam

pembuatannya ([Link], 2012:96).

Islam tidak melupakan sisi keindahan sebagai nilai yang penting dalam

kehidupan, kerana keindahan satu bukti yang menunjukan kesempurnaan dan

keagungan peradaban Islam. Keindahan yang merupakan fitrah dalam diri manusia

telah berinteraksi dengan peradaban Islam. Ditunjukkan dengan ketertarikan atau


commit to user
[Link] [Link]

24

kesukaan sesuatu yang indah. Menurut As-Sirjani bahwa peradaban Islam itu terkait

dengan seni keindahan dan ekspresi perasaan manusia.

Tidak diragukan lagi bahwa seni membentuk dimensi utama dalam peradaban
Islam. Namun, jika peradaban tersebut kosong dari unsur keindahan dan tidak
memiliki sarana-sarana untuk mengekspresikannya adalah peradaban yang tidak
berinteraksi dengan perasaan-perasaan manusia dan tidak memenuhi kebutuhan
jiwa yang selalu merindukan akan sesuatu yang indah” (As-Sirjani, 2012:669).

Seni merupakan fenomena penting dalam sejarah kebudayaan manusia pada

umumnya dan Islam pada khususnya. Seni juga merupakan ungkapan dari bentuk

suatu peradaban Islam. Seni Islam menjadi cermin yang terang terhadap peradaban

manusia karena seni Islam dinilai sebagai seni yang paling agung diantara seni-seni

yang dihasilkan oleh peradaban dunia pada zaman dahulu dan sekarang (As-Sirjani,

2012:670). Seni Islam di Mesir cukup banyak macamnya, sehingga seni tersebut telah

membentuk karakter yang menjadikan ciri khas pada seni tersebut, antara lain adalah

seni bangunan, seni hiasan atau seni ornamen, seni khat Arab, seni musik, seni tarian

dan sebagainya. Pada bidang ornamen, seni tersebut telah menjadi karakteristik di

dalam peradaban seni Islam sejak zaman mesir kuno hingga sekarang.

Pada seni Islam, khususnya seni ornamen seni Islam para muslim mengarah

ke dunia baru yang lepas dari gambar manusia, hewan, alam atau tumbuhan, sehingga

seni ornamen menjadi sebuah ikon atau ciri khas dan pengaruh dari kebangkitan

peradaban Islam. Ornamen tersebut telah mencapai pada tingkatan seni tinggi, yang

dilihat dari aspek rancangan, tema maupun gayanya.

Ornamentasi atau zukhruf bukanlah sesuatu yang ditambahkan secara superficial


(dangkal) pada karya seni yang sudah selesai untuk menghias karya ini tanpa ada
artinya. Ia juga bukan sarana untuk memuaskan selera orang-orang yang mencari
kenikmatan semata. Ornamentasi tidak dipandang sebagai pengisi ruang kosong
semata. Justru desain rumit yang indah dari objek seni yang dijumpai di setiap

commit to user
[Link] [Link]

25

wilayah dan pada setiap abad sejarah Islam dapat memenuhi empat fungsi (Al-
Faruqi, 2000:412).

Penggunaan seni ornamen di Mesir pada masa itu banyak digunakan pada

bangunan istana, sekolah, masjid, makam dan bangunan arsitektural yang terdapat

seni ornamen. Bangunan masjid Al-Azhar di masa Fatimiyyah misalnya, banyak

menggunakan seni ornamen yang terdapat pada menara, dinding, dan mihrab. Serta

bermacam pula motif dari ornamen yang digunakan. Adapun bangunan arsitektural di

Mesir yang tidak bercirikan arsitektural Islam juga memiliki ornamen, hal itu dapat

terjadi karena adanya pengaruh seni Islam seiring dengan kekuasaan Islam yang

berkembang, misalnya gereja arsitektural bangunan ini juga terdapat ornamen seni

Islam yang dipakai didalamnya. Pada seni Islam semua bentuk ornamentasi ini tidak

digunakan secara efektif guna menghasilkan desain-desain yang indah.

B. Ciri Ornamen Islam

Estetika merupakan cabang dari filsafat yang mempelajari aspek-aspek

keindahan dan dalam tradisi manapun, di Yunani dan Eropa, Cina, India, Persia,

Arab, Melayu dan Jawa lahirnya aneka ekspresi seni terkait dengan aliran-aliran

falsafah yang berkembang dan dominan pada masa tertentu, melalui falsafah inilah

karya seni dapat dijelaskan kaitannya dengan agama dan kebudayaan (Abdul Hadi

W.M dalam Leaman, 13:2005). Seni Islam memiliki tujuan yang sama dengan tujuan

Al Qur’an, yaitu mengajarkan dan memperkuat anggapan tentang ketauhidan Allah

dalam diri seorang muslim, sehingga dapat dikatakan bahwa seni Islam adalah seni

tauhid. Seni Islam merupakan seni yang diciptakan dengan tujuan memberikan

commit to user
[Link] [Link]

26

sebuah gambaran tentang ketuhanan, sehingga seni Islam diciptakan berdasar dan

sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.

Seni ornamen Islam diciptakan dengan tujuan untuk mengingat Allah atau

dzikrullah, penciptaan seni untuk mengingat Allah berarti pembuatan seni ornamen

Islam tidak meniru dengan ciptaan Allah secara nyata, naturalis. Seni ornamen Islam

tidak diciptakan secara figuratif, namun secara abstrak, stilis dan denaturalisasi.

Menurut Al-Faruqi (Leaman, 2005:14) seni rupa Islam yang khas adalah seni

kaligrafi, arabes dan geometris kesenian tersebut memuaskan seniman-seniman yang

menumpukan perhatian pada jenis-jenis lukisan yang bertolak belakang dari tiga

bentuk seni rupa ini. Sama dengan Seyyed Hossein Nasr yang berpendapat bahwa

kaligrafi, arabes dan geometri sebagai bentuk-bentuk pencapaian paling tinggi dalam

seni Islam.

Berdasarkan penelitian tentang seni ornamen Islam yang terdapat pada

bangunan arsitektural di wilayah Mesir penulis mencirikan ornamen Islam sebagai

berikut:

1. Abstraksi

Secara umum pengertian abstraksi adalah proses yang dilakukan untuk

sampai pada tujuan yang berkonsep universal, yaitu melepaskan konsep

individual dari objek dan membentuk konsep yang universal. Abstraksi

memberikan simbol yang secara konseptual dan imajinatif pada suatu objek.

Pembuatan ornamen seni Islam di Mesir memiliki ciri yang becirikan

penggambaran makhluk tanpa mengurangi unsur figuratif pada makhluk

tersebut, sehingga unsur asli yang terdapat pada makhluk yang digambar tidak
commit to user
[Link] [Link]

27

hilang dan masih bisa diketahui unsur figuratifnya. Proses abstraksi dapat

terjadi pada semua objek seni ornamen, seperti hewan, tumbuhan, manusia

dan lain sebagainya. Contohnya pada bangunan masjid Ibnu Thulun terdapat

ornamen berupa motif tumbuhan yang dibentuk secara abstraksi. Namun dari

bentuk baru dari tumbuhan dapat diketahui bahwa ornamen tersebut bermotif

tumbuhan yaitu daun.

Gambar 1. Abstraksi daun pada masjid Ibn Thulun.

Motif di atas merupakan motif pada masa dinasti Thuluniyyah yang

ketika itu berkuasa, kemudian membangun masjid yang dinamakan dengan

masjid Ibn Thulun yang model arsitekturnya sama dengan masjid di Samara,

dan ornamennya juga merupakan ornamen yang sengaja dipakai di masjid

tersebut. Selain pada masjid Ibn Thulun ornamen yang mengalami abstraksi

juga terdapat pada madrasah Emir Sarghitmis. Ornamen tersebut juga

bermotif tumbuhan berupa daun.

Gambar 2. Abstraksi daun pada madrasah dan mausoleum Emir Sarghitmish


commit to user
[Link] [Link]

28

Contoh ornamen seni Islam diatas merupakan contoh dari proses

abstraksi. Daun yang diciptakan dengan bentuk tidak nyata, tidak secara

natural melainkan diciptakan dengan mengubah bentuk dari daun yang alami

ke bentuk daun yang tidak nyata tanpa mengurangi esensi atau unsur yang

menunjukan ornamen tersebut bermotif daun.

2. Struktur Modular

Struktur modular merupakan pembentukan ornamen dengan cara

penggabungan unsur yang dapat menghasilkan suatu desain corak yang baru.

Penggabungan unsur tersebut dapat menjadi desain yang lebih besar dan

berkembang dengan unsur yang digunakan dapat menggunakan satu

komponen yang sama yang digabungkan. Contohnya pada dinding masjid Al-

Burdayni terdapat struktur modular yang membentuk ciri ornamennya.

Gambar 3. Struktur Modular pada dinding Masjid Al Burdayni

Pada gambar diatas merupakan gabungan dari bebrapa unsur sehingga

membentuk suatu komponen yang sama dalam penggabungannya. Unsur yang

digunakan adalah bangun berupa bintang, segi enam yang digabungkan secara

commit to user
[Link] [Link]

29

modular sehingga memberikan bentuk komponen baru. Selain itu juga

terdapat pada jendela masjid Qaysun.

Gambar 4. Struktur Modular pada jendela masjdi Qaysum

Jendela pada masjid Qaysun merupakan struktur modular yang terdapat pada

jendela tersebut dibentuk dari unsur bangun bintang, segi lima, dan trapesium

tidak beraturan yang digabungkan dengan menghasilkan desain yang lebih

besar dan berkembang.

3. Kombinasi Berurutan

Kombinasi merupakan sebuah komposisi dalam penyusunan suatu hal

yang memberikan kesan keteraturan. Berurutan merupakan suatu tatanan urut

yang statis, sehingga kombinasi berurutan ini adalah keteratuan urutan yang

statis tanpa ada pemisah pada prosesnya. Pada seni ornamen Islam di Mesir

pola yang telah bergabung atau modular maka akan terdapat keteraturan

dalam coraknya. Kombinasi berurutan pada ornamen tidak akan

commit to user
[Link] [Link]

30

menghilangkan unsur pembentuk yang kecil, meskipun dihasilkan ornamen

dengan kombinasi yang lebih besar dan berkembang. Pola ornamen kombinasi

berurutan ini dapat di temukan salah satunya pada mimbar di masjid Qus.

Pada pola kombinasi berurutan inilah maka didapatkan motif ornamen yang

berkesan seni bermacam-macam atau heterogen. Dapat dilihat dari sisi

samping mimbar merupakan pola berurutan karena motif yang diciptakan

memiliki keteraturan penempatannya.

Gambar 5. Pola Berurutan pada mimbar di Masjid Qus.

Contoh seni ornamen yang berpola kombinasi berurutan dapat ditemukan

pada mimbar di Masjdi Qus. Kombinasi berurutan tersebut berbentuk segi

empat, bintang dan garis silang yang tersusun secara berurutan.

4. Repetisi

Repetisi adalah pengulangan, selain itu adalah proses penekanan ulang

satuan-satuan visual pada suatu pola. Pada pengulangan pola repetisi tidak

selalu duplikasi secara persis, melainkan juga kemiripan. Ciri ornamen seni
commit to user
[Link] [Link]

31

Islam di Mesir terdapat repetisi atau pengulangan didalamnya. Ornamen seni

Islam dapat memberikan kesan tersendiri ketika terdapat pengulangan dalam

pembuatannya. Hal ini berguna untuk menambahkan nilai keindahan dalam

pembuatan ornamen maka perlu dilakukan proses pengulangan yang

diterapkan, sehingga kesan yang tak pernah putus akan tercipta. Variasi yang

dibentuk oleh repetisi dapat memperkuat daya tarik penikmatnya sehingga

tidak menimbulkan suatu kebosanan pada pola ornamen seni Islam.

Gambar 6. Repetisi pada mihrab di masjid Al Burdayni.

Gambar contoh diatas merupakan ciri repetisi, ornamen seni Islam

yang dibentuk dengan bentuk bintang. Bintang yang pertama dengan ukuran

yang kecil, bintang yang kedua dengan ukuran yang lebih besar, kemudian

keduanya digabungkan dengan ditambahkan bentuk bidang seperti huruf Y

dan segi empat kecil. Semua pola yang telah digabungkan sedemikian rupa

kemudian pola tersebut diciptakan secara berulang.

5. Dinamisme

Desain corak ornamen seni Islam yang diciptakan harus dapat

dinikmati sepanjang waktu. Desain ornamen yang telah diciptakan akan

memanfaatkan dan mengisi kekosongan ruang dan memanfaatkan unsur

commit to user
[Link] [Link]

32

ruang. Pengisian ini dapat berupa titik, garis, bentuk dan isi dalam membuat

seni ornamen.

Pola arabesque yang dinamis tidak mungkin menjadi komposisi yang

statis, namun sebaliknya apresiasi pola arabes memiliki proses yang dinamis

dalam bentuk motif, struktur secara berturut-turut. Hal ini menjadi bentuk seni

yang paling dinamis dan secara estetis paling aktif dari semua bentuk seni.

Dinamisme inilah yang menjadikan ekspresi pada semua seni yang

membutuhkan waktu tertentu dalam memahaminya. Hingga saat ini seni

ornamen Islam yang ada pada bangunan arsitektural di Mesir dapat dinikmati

dari masa ke masa.

6. Intrikasi

Intrikasi adalah kerumitan. Kerumitan akan terjadi ketika seseorang

berusaha mencari dan menemukan titik akhir pada ornamen seni Islam yang

membutuhkan waktu untuk menemukannya. Kerumitan merupakan

keseluruhan hasil ornamen yang telah diciptakan. Ornamen yang telah

diciptakan tersebut akan memberikan kesan kerumitan dari gabungan unsur

yang digunakan dalam pembuatan ornamen, yang juga bertujuan memberikan

perhatian pada penikmatnya. Proses intrikasi yang terdapat pada ornamen

akan menghasilkan kesan hipnotis kepada penikmat sehingga mereka akan

memikirkan pola kerumitan ornamen. Keragaman unsur internal dan rumitnya

pembuatan serta kombinasi maka sifat dinamisme dan momen dengan pola

intrikasi ini dapat diwujudkan.

commit to user
[Link] [Link]

33

Gambar 7. Pola Intrikasi pada masjid Al Zahir

Contoh di atas merupakan pola intrikasi, pola ornamen seni Islam pada

bangunan arsitektur di Mesir yang memiliki kerumitan. Pola intrikasi tersebut

berupa tangkai atau sulur yang memanjang saling berkaitan antara satu

dengan yang lainnya. Motifnya berupa abstraksi daun, yang masing-masing

memiliki titik simetris. Inilah yang menjadikan salah satu ciri ornamen seni

Islam yang kerumitannya menjadi salah satu ciri khas seni ornamen Islam.

7. Denaturalisasi

Denaturalisasi merupakan istilah yang memiliki arti yaitu perubahan

atau pembuatan suatu pola yang tidak alami. Denaturalisasi menunjukan

sebuah proses yang terjadi perubahan pada suatu objek yang terjadi karena

adanya suatu pengaruh terhadap objek tersebut. Seni Islam, khususnya

ornamen seni Islam denaturalisasi adalah pembuatan seni yang tidak

mengikuti bentuk-bentuk secara alami yaitu dengan melalui gubahan, hal ini

terjadi karena terdapat faktor Islam yang menjadikan ornamen berubah.

misalnya bentuk alami adalah tumbuhan, binatang, manusia dan benda alam

lainnya. Pola denaturalisasi pada ornamen seni Islam juga terdapat pada

bangunan arsitektural di Mesir yang dapat diaplikasikan pada lantai dan

dinding bangunan.
commit to user
[Link] [Link]

34

Gambar 8. Pola denaturalisasi pada masjid Sulayman Pasha.

Pola denaturalisasi pada masjid Sulayman Pasha tersebut berpola

denaturalisasi. Ditunjukan dengan gambar bunga dan daun yang digubah

bentuknya yang dibuat dengan tidak sama seperti aslinya, melainkan dibuat

dengan memberikan kesan sederhana namun masih mudah diketahui bentuk

aslinya. Begitu juga dengan tangkai yang dibuat dengan sederhana hanya

dengan garis lengkung dan mudah dilihat.

Ciri ornamen seni Islam yang terdapat di Indonesia banyak terdapat ciri

abstraksi dan denaturalisasi. Ornamen seni Islam di Indonesia terdapat pada bangunan

masjid dan rumah adat. Khususnya di Jawa Tengah, masjid dan rumah diwilayah ini

terdapat ornamen dengan ciri abstraksi dan denaturalisasi yang bermotif tumbuhan

hewan. Motif ini dapat ditemukan pada pilar, pintu, langit-langit rumah. Penggunaan

motif ini dapat dimaknai secara sosial pada kehidupan masyarakat setempat.

Contohnya pada Masjid Agung Demak terdapat ornamen bermotif hewan berupa

kura-kura. Kura-kura tersebut merupakan sebuah makna yang dimaknakan dengan

tahun pembuatan masjid, yaitu dengan makna berupa angka tahun 1401. Bentuk kura-

kura yang memiliki empat kaki, satu kepala, satu ekor, dan badan. Masing-masing
commit to user
[Link] [Link]

35

memiliki makna, kepala bermakna angka 1, kaki bermakna angka 4, badan bermakna

angka 0, dan ekor bermakna angka 1. Bangunan dengan arsitektur modern di

Indonesia juga terdapat pola dengan motif geometris. Salah satunya adalah pada

masjid Nurul Huda Islamic Center di Universitas Sebelas Maret Surakarta, terdapat

pola yang bermotif geometris yang bercirikan struktur modular, kombinasi berurutan,

dan repetisi. Pola yang digunakan ini memiliki makna bahwa sifat Allah yang tidak

terbatas, yang menguasai segalanya.

C. Struktur Ornamen Islam di Mesir

Stuktur adalah cara sesuatu yang disusun atau dibangun dengan pola tertentu

dengan pengaturan unsur pada suatu benda dengan sebuah ketentuan yang diberikan

untuk unsur-unsur dari suatu benda. Ornamen seni Islam yang terdapat di Mesir

tersusun dengan beberapa macam struktur yang menjadi dari bagian ornamen

tersebut, berikut ini adalah penjelasan tentang struktur ornamen seni Islam yang

terdapat di Mesir :

1. Struktur Geometris

Istilah geometris berasal dari kata geo yang memiliki arti keadaan, dan mertic

yang berarti garis, sehingga pada dasarnya geometris adalah ilmu yang mempelajari

tentang garis. Struktur geometris menggunakan dasar dari pola kotak, bulat, segitiga

dan lain sebagainya. Geometris yang digunakan juga akan berhubungan dengan ritme

sehingga dapat tersusun dengan seimbang.

Struktur geometris merupakan pola yang terbentuk dengan unsur bentuk

bangun maupun garis yang digabungkan, sehingga menimbulkan kesatuan yang

serasi. Salah satu yang menarik dalam pola struktur geometris terdapat dari jenis
commit to user
[Link] [Link]

36

ilustrasi yang sangat umum dalam seni Islam adalah keseimbangannya. Pola struktur

geometris juga menggunakan ketepatan simetris serta bersangkutan antar unsur

pembentuk yang sangat luar biasa pada berbagai media dalam seni maupun arsitektur.

Para seniman menciptakan pola struktur geometris dengan menggunakan

bentuk yang sederhana dari bentuk lingkaran, persegi, segi enam, bintang dan lain

sebagainya. Kemampuan yang dimiliki seniman untuk menyusun bentuk tersebut

sangat bagus dan menghasilkan kerumitan yang memukau para penikmatnya.

Komposisi bentuk yang dirangkai dapat memberikan efek hipnotis penikmatnya,

sehingga mereka berkeinginan untuk mencari desain bentuk dasar pembentuk struktur

geometrisnya. Motif yang paling populer pada struktur geometris ini adalah bentuk

bintang dan yang paling umum adalah bentuk bintang yang bersudut.

Gambar 9. Pola geometris pada stucco

2. Struktur Arabesque

Arabesque merupakan gambar hiasan atau ornamen yang bermotif bunga,

daun, sulur, binatang, dan garis didalam satu jalinan pola yang rumit dan terperinci.

Struktur arabesque adalah struktur yang polanya tidak terbatas, berulang dan

commit to user
[Link] [Link]

37

beranekaragam macamnya. Pola struktur tak terbatas ini merupakan ekspresi estetis,

hal ini tidak dibatasi dengan jumlah unsur pembentuk dari pola ini. Justru entetis

struktural itulah yang selaras dengan prinsip estetis ideologi Islam (Al-Faruqi,

2000:197). Pola arabesque membangkitkan pemandangnya pada kemampuan kualitas

yang tidak terbatas yang berada diluar ruang dan waktu. Pola arabesque yang tak

berawal dan tak berakhir yang telah memberikan kesan tak terbatas merupakan cara

yang terbaik dalam arabesque mengekspersikan ajaran ketauhidan dalam seni Islam.

Struktur arabesque merupakan struktur yang paling menonjol dan paling

banyak ditemukan dalam seni ornamen Islam yang berkaitan dengan estetika

kesenian Islam. Pola arabesque menjadi tak terbatas maknanya dalam ornamen, motif

dan dapat termasuk ke dalam bidang seni yang lain seperti seni sastra, musik yang

berhubungan dengan tauhid.

Gambar 10. Struktur Arabesque pada Bayt El Emir.

Ornamen pada bangunan arsitektural di Mesir memiliki berbagai macam pola

struktur pembentuknya. Pola ini yang menjadikan ornamen di Mesir dapat

digolongkan menjadi beberapa jenis. Pola struktur berkembang dan tak terbatas atau

commit to user
[Link] [Link]

38

yang sering disebut dengan pola struktur arabesque. Pola ini sering dipakai dalam

desain karpet, dekorasi al Qur’an, keramik, bangunan dan lain sebagainya. Ternyata

sesuai dengan sejumlah tipe struktural pola ini dapat ditemukan dan dikenal dalam

karya seni yang telah tercipta empat belas abad yang lalu (Al-Faruqi, 2000:418).

Maka dengan pola tersebut akan dijelaskan klasifikasi pola srtuktur arabesque sebagai

berikut :

1. Struktur Multiunit

Multiunit struktur yang terbentuk secara terikat yang lebih dari satu

dan berdiri sendiri. Menurut (Al-Faruqi, 2000:437) struktur ini tersusun dari

beberapa bagian atau modul yang bercirikhas yang digabungkan dengan cara

aditif atau menambahkan dan repretitif atau pengulangan. Stuktur multiunit

salah satunya terdapat pada ukiran di masjid Burdayani, seperti gambar

dibawah ini. Gambar ilustrasi menunjukan adanya susunan modul yang berciri

kemudian digabungkan dan menciptakan motif tersebut.

Gambar 11. Struktur ornament multiunit pada Masjdi Burdayani.


commit to user
[Link] [Link]

39

Gambar diatas terdapat unsur bentuk bintang yang berdiri sendiri

dengan beberapa jumlahnya, kemudian dari bentuk bintang tersebut terikat

dengan bentuk silang yang digabungkan sehingga terbentuk dengan

sedemikian rupa menjadikan bentuk modul yang berciri khas dan bergabung

secara berulang.

2. Struktur Saling Berpotongan

Menurut (Al-Faruqi, 2000:437) stuktur saling berpotongan tidak jauh

beda dengan struktur multiunit, karena sejumlah modul digabungkan, namun

saling menekan unsur-unsur desain hasil perpaduan unit-unit. Struktur ini

memiliki pengulangan dan keragaman titik fokus yang berfungsi memberikan

kesan suksesi tanpa akhir.

Gambar 12. Srtuktur Arabesque Saling Berpotongan pada Bayt Al Shalabi

Dari gambar ilustrasi diatas, dapat diketahui bahwa unsur modul yang

dipakai berupa bintang yang digabungkan dengan unsur modul segi dua belas

yang hampir membentuk lingkaran. Kemudian dua unsur tersebut di

gabungkan maka akan menghasilkan modul atau bentuk yang baru. Modul

yang baru tersebut kemudian disusun dengan cara saling berkaitan satu

commit to user
[Link] [Link]

40

dengan yang lain sehingga pada hasil akhirnya akan menghasilkan modul baru

yang seimbang dan berkaitan. Gambar tersebut juga memiliki keragaman titik

fokus, yaitu titik fokus terdapat pada pola bintang dan segi duabelas, dan hasil

dari kaitan kedua bentuk yang membentuk seperti huruf Y yang bisa

menimbulkan titik fokus baru.

3. Struktur Berjalin

Merupakan struktur yang berangkai bergandeng antara satu dengan

yang lain. Misalnya berupa sulur seperti pohon anggur, yang kelihatannya

tidak berujung dan polanya saling menyusul. Dengan struktur berjalin,

memberikan kesan yang tak terputus dan tidak berhenti.

Gambar 13. Struktur Arabesque berjalin pada masjid Burdayni

4. Struktur Berkembang

Struktur berkembang adalah struktur terbuka atau membentang yang

pada dasarnya dapat berupa kuncup atau sesuatu yang berlipat yang

menjadikan kuncup tersebut menjadi merata, besar dan luas. Struktur

berkembang memberikan kesan desan eksplosif atau letupan yang senantiasa

berkembang, dan menghasilkan pola yang seimbang. Struktur ini memiliki

satu titik kembang yang dapat menyebar rata pada media seni, dan juga dapat

commit to user
[Link] [Link]

41

memiliki lebih dari satu titik kembang tergantung dengan luasan media yang

dipakai.

Gambar 14. Srtuktur Arabesque Berkembang pada masjid Sultan Barquq

Contoh gambar di atas yang terdapat pada mimbar di masjid Sultan

Barquq. Ornamen di atas menunjukan bahwa satu titik berkembang berada di

tengah, kemudian motifnya berkembang merata dan meluas. Dapat dilihat

pada masing-masing pojok juga merupakan perkembangan motif dari titik

yang lain.

D. Motif Ornamen di Mesir

Motif adalah corak dari suatu benda yang dapat menghasilkan sebuah

identitas yang muncul ketika corak tersebut di kenali dan menjadi ciri tersendiri bagi

barang produksi seni atau yang lain. Sub bab penelitian ini akan menjelaskan ragam

motif yang ada pada bangunan arsitektural di Mesir. Berikut penjelasanya:

1. Ragam Motif Geometris

Ragam Motif yang merupakan motif geometris adalah ragam motif yang

mengandung unsur garis, seperti garis miring, lengkung, serta bangun, seperti

commit to user
[Link] [Link]

42

persegi, lingkaran segitiga, bentuk meander, swastika, dan bentuk pilin L/T dan

lain-lain. Ragam hias geometris pada awalnya dibuat dengan guratan-guratan

mengikuti bentuk objek yang dihiasnya. Selain itu, pembuatan motif ini juga

dengan penggabungan antar unsur sehingga menghasilkan bentuk ornamen yang

seimbang.

Bangunan arsitektur di Mesir salah satunya pada kubah masjid Mahmud

Janum. Kubah tersebut terdapat motif garis berbentuk zig zag yang melingkari

seluruh kubah. Penempatan garis tersebut disusun secara seimbang dan teratur

menyesuaikan dengan bidang yang dipakai. Motif garis yang terdapat pada kubah

tersebut memberikan kesan tegas dan menyatu pada satu titik yaitu pada ujung

kubahnya.

Gambar 15. Motif Geometris pada kubah masjid Emir Mahmud Janum

Selama perkembangannya motif geometris dapat diterapkan pada berbagai

tempat dan teknik, misalnya bisa dipahat, dicetak, dan digambar. Hasil motif ini

juga sering diaplikasikan pada kubah masjid, keramik, pintu, jendela, mimbar

dan hiasan pinggir seni kaligrafi.


commit to user
[Link] [Link]

43

2. Ragam Motif Manusia

Manusia merupakan salah satu objek dalam penciptaan motif ornamen yang

mempunyai satu kesatuan utuh maupun terpisah. Secara utuh manusia

digambarkan dengan keadaan yang dilihatnya, namun jika tidak secara utuh

manusia dapat digambarkan dengan salah satu bagian darinya, misalnya wajah.

Hal ini sama dengan penggambaran wajah manusia berupa topeng.

Gambar 16. Motif Manusia pada

Pada gambar diatas merupakan motif manusia secara utuh. Motif tersebut

terdapat pada priamid Saqqara, yang menggambarkan bahwa di tempat tersebut

terdapat gambar seorang penjaga atau pengawal di makam Mere Ruka. Gambar

utuhnya terdapat tangan, badan, kaki dan kepala. Penggambaran manusia tidak

hanya berupa apa yang ada dalam manusia dalam arti bentuknya. Namun

penggambaran manusia juga bisa digambarkan dengan suasana sekitar manusia.

Motif manusia saat itu digambarkan dengan suasana kerajaannya, suasana

kedekatan seorang raja dengan rakyatnya, suasana seorang raja sedang berburu

dan bahkan kewibawaan seorang raja yang digambarkan dengan figur raja
commit to user
[Link] [Link]

44

tersebut. Penggambaran manusia,dengan demikian bisa dikatakan adalah istana

sentris.

Gambar 17. Motif Manusia pada ukiran muristan Qalawaun

Ornamen diatas menunjukan seseorang yang mulia yang berada ditengah-

tengah makhluk hidup berwujud burung dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini

menunjukan bahwa seseorang yang mulia dapat memberikan pengayoman,

perlindungan kepada semua makhluk yang ada disekitarnya, yaitu rakyatnya atau

manusia, hewan dan tumbuhan yang dapat dijaganya dengan serasi, dan selaras.

Seorang yang mulia juga menunjukan ketidak sewenangan pada siapapun,

sehingga ia akan dihormati oleh siapapun.

3. Ragam Motif Binatang

Penggambaran binatang sebagai motif ornamen sebagian besar merupakan

hasil dari gubahan atau stilirisasi, yaitu penciptaan motif yang tidak natural

seperti aslinya. Walaupun sudah mengalami stilirisasi bentuk binatang tersebut

masih dapat dikenali jeninya. Adapun bentuk visualisasi dari binatang yang telah

mengalami gubahan atau stilirisasi hanya diambil pada bagian tertentu saja dan
commit to user
[Link] [Link]

45

dapat dikombinasikan dengan motif yang lainnya. Jenis binatang yang dapat

dijadikan gubahan antara lain, burung, singa, ular, gajah dan lain sebagainya.

Gambar 18. Motif binatang ukiran muristan Qalawaun

Tampak pada gambar diatas merupakan motif burung yang terdapat pada

ukiran pintu di Muristan Qalawun. Penggambaran yang stilis tampak mudah

dikenali meskipun telah mengalami perubahan.

Gambar 19. Motif binatang ukiran muristan Qalawaun

commit to user
[Link] [Link]

46

4. Ragam Motif Tumbuhan

Penggambaran motif tumbuhan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan

cara natural, digambar sesuai dengan aslinya dan dengan cara stilirisasi sesuai

dengan keinginan penciptanya. Penggambaran tumbuhan dengan stilirisasi

digubah dengan sedemikian rupa sehingga tidak mudah dikenali dari jenis dan

bentuk tumbuhan apa sebenarnya yang distilisasi, karena telah mengalami

perubahan bentuk yang sangat jauh dari bentuk tumbuhan aslinya.

Motif tumbuhan berkembang lebih maju dengan menyederhanakan atau

menstilisasi bentuknya, sehingga tampilan tumbuhan tidak alamiah lagi. Motif

tumbuhan berupa vegetasi, sulur-sulur, dan daun yang distilisasi. Motif ini

memiliki kelenturan yang dapat membentuk pola simetris mengikuti luas bidang

yang dipakai.

Gambar 20. Motif Tumbuhan pada masjid Saydah Zaynab

commit to user
[Link] [Link]

47

Gambar ilustrasi diatas merupakan ornamen motif tumbuhan yang terdapat

pada kaca patri masjid Saydah Zaynab. Menggambarkan tumbuhan yang berbuah

anggur di bentuk secara stilis dan seimbang antara kedua sisinya.

5. Ragam Motif Lainnya

Ragam motif lainnya dapat berupa benda-benda alam seperti gunung,

matahari, batu, air awan dan lain sebagainya. Adapun penciptaannya dirubah

dengan sedemikian rupa dan dalam pengubahan itu disesuaikan dengan karakter

yang sesuai dengan sifat dari benda yang digambar secara stilirisasi, yang

berdasakan dengan estetika. Misalnya motif air biasanya ditempatkan pada

bagian bawah suatu bidang yang akan dihias dengan motif tersebut dengan

bentuk stilisasi dari air yang berombak.

Gambar 21. Motif Air Bergelombang

Gambar diatas merupakan ornamen bermotif air yang terdapat disebuah

dinding di pinggir jalan, yang menunjukan bahwa keindahan keluwesan ornamen

dapat digunakan pada media apapun, yang setiap motif ornamen tersebut dengan

mudah diterima oleh masyarakat karena nilai keindahan yang muncul pada

commit to user
[Link] [Link]

48

ornamen tersebut. Ornamen di atas juga menunjukan bahwa air juga merupakan

salah satu unsur penting dalam kehidupan yang selalu dibutuhkan oleh manusia.

E. Analisis

Berdasarkan dari berbagai pengertian ornamen seni Islam yang telah

dijabarkan. Maka penulis mengungkapkan beberapa fungsi dari ragam struktur dan

motif ornamen seni Islam pada bangunan arsitektural di Mesir. Fungsi ornamen Islam

tersebut diklasifikasikan menjadi tiga macam, antara lain sebagai berikut :

1. Fungsi Estetis

Istilah estetika berasal dari bahasa Yunani yaitu aistheton yang berarti

kemampuan melihat lewat penginderaan. Tujuan dari estetika adalah keindahan,

maka sejak itu istilah estetika digunakan dalam pembahasan filsafat yang

berkenaan dengan benda-benda seni. Istilah estetika muncul pada tahun 1750

oleh seorang filsuf bernama A.G. Baumgarten (Sumardjo, 2000:5). Estetika

memiliki unsur yang mendasar, yaitu wujud, isi dan penyajian karya seni. Wujud

merupakan bentuk dasar dari unsur yang membentuk karya seni dapat berupa

struktur ataupun susunannya. Isi merupakan makna atau nilai yang terkandung

didalam benda seni yang telah berwujud. Penyajian merupakan cara menyajian

hasil karya seni yang dituangkan pada sebuah media seni sehingga dapat

memberikan perhatian pada pemerhatinya. Istilah estetika menurut AAM

Djelantik didalam buku estetika makna, simbol dan daya menyebutkan bahwa

“estetika merupakan suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan

dengan keindahan, mempelajari semua aspek yang disebut keindahan” (Sachari,

commit to user
[Link] [Link]

49

2002 : 3). Nilai keindahan bersifat ideal, suatu benda dikatakan indah karena

keindahan tidak terletak pada suatu benda itu sendiri, melainkan perasaan yang

dihayati yang diresapi ketika kita mengalami karya itu sendiri. Keindahan

merupakan suatu sifat yang melekat pada objek, yang dapat menimbulkan

kesenangan tertentu bagi diri kita. Seni dan estetika merupakan asas penting

untuk memberikan asas, peranan dan pengarahan yang sangat berpengaruh dalam

perkembangan kebudayaan suatu masyarakat. Keindahan yang secara luas dapat

meliputi keindahan alam, seni, moral, dan intelektual. Karya estetis merupakan

himpunan dari kegiatan budi pikiran masyarakat yang menjadikan karya tersebut

sebagai wadah pengungkapan ekspresi masyarakat, seperti yang diungkapkan

filsuf The Liang Gie “karya estetis adalah sekumpulan segenap kegiatan budi

pikiran seorang seniman yang secara mahir mampu menciptakan suatu karya

sebagai pengungkapan perasaan manusia” (Sachari, 2002:58).

Ornamen seni Islam memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi. Keindahan

ini disebabkan oleh pola ornamen yang secara intrinsik memimbulkan keindahan

yang dapat dipandang. Keindahan yang sangat tinggi ini merupakan wujud lahir

yang nampak pada ornamen menimbulkan seni yang dapat dinikmati secara

inderawi. Keindahan tersebut juga merupakan wujud batin yang nampak pada

esensi didalam karya ornamen seni Islam, wujud batin yang dapat bermakna

kepada sifat keesaan Allah. Berdasarkan pengertian diatas keindahan yang

terdapat pada ornamen seni Islam dapat menimbulkan rasa kagum, yang didalam

batinnya akan mengagungkan keesaan Allah, melalui karya ornamen ciptaan para

seniman yang bermakna keesaan Allah. M. Farkhan mengungkapkan “karya seni


commit to user
[Link] [Link]

50

dapat dikatakan tinggi nilainya karena memiliki jangkauan di luar sensitifitas,

karena karya seni itu bukan sekedar sebuah benda tetapi karena didalamnya ada

makna” (M. Farkhan, 2012:96).

Nilai keindahan inilah berupa keserasian dan komposisi yang menjadikan

indah antara lain warna, dan bentuk pola ornamen yang beragam. Ornamen seni

Islam pada bangunan arsitektural di Mesir telah memberikan suatu dimensi

keindahan kepada penikmatnya, karena objek yang digunakan dalam ornamen

memberikan keindahan untuk mengungkapkan tauhid, karena inilah ekspresi

keindahan. Tujuan estetika adalah mengekspresikan gagasan dan perasan.

Berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 6 yang berkaitan

dengan keindahan adalah sebagai berikut:

‫َو َو ُك ْم ا ِفْمْي َو ا َوَو ٌلاا ِف ْم َو ا ُكِفْم ُك ْم َو ا َو ا ِف ْم َو ا َو َو َو ُك ْم َوا‬


Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu
membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke
tempat penggembalaan [QS (16) An-Nahl : 6].

Firman Allah diatas maka menunjukan bahwa Allah memberikan gambaran

nilai keindahan atau estetika dalam kehidupan yang digambarkan dengan

penggembalaan ternak pada pagi dan sore hari yang terdapat keindahan berupa

keseimbangan antara kesenangan hati dengan keindahan alam. Kesenangan

ketika bintang ternak itu pulang kekandang dalam keadaan kenyang disore hari

dan binatang tersebut kembali digembalakan dipagi hari, dan keindahan alam

ketika merasakan keserasian suasana dari pagi hingga sore hari yang

menimbulkan suasana indah dan mengagumkan. Kesenangan, kebanggaan yang

commit to user
[Link] [Link]

51

dimiliki sesorang terhadap keindahan sekitar akan membawa seseorang tersebut

kembali kepada sebuah nilai rohani. Selain itu juga Rasulullah bersabda yaitu:

‫ِف ِف‬ ‫ِف‬


‫ااْلَو َوم َواا‬
‫ب ْم‬ ‫إ َّ ااهللَوا َو ْم ٌللا ُك ُك‬
Allah maha indah dan menyukai keindahan (HR. Muslim).

Pengertian dari ayat dan hadits menjelaskan bahwa estetika seni Islam dapat juga

diartikan sebagai upaya menuturkan kebesaran Allah yang dapat diungkapkan

dengan berbagai aspek kehidupan terutama esensi ketauhidan. Inilah yang

dimaksud dengan estetika transenden.

Segala sesuatu yang memiliki nilai estetika keagamaan pada akhirnya akan

menjadi ketauhidan atau keesaan. Ajaran dalam Islam yang menghasilkan nilai

estetika memperbolehkan umatnya untuk menghayati dan menikmati pada

berbagai hal, tidak hanya seni. Estetika, khususnya dalam seni Islam banyak

mengandung unsur sakral dalam estetikanya, sehingga estetika seni Islam

memiliki kedekatan dengan sifat-sifat Allah. Agar benda seni yang diciptakan

memiliki tujuan akhir, dan hal ini merupakan anggapan bahwa nilai keesaan tetap

digunakan dan seni tersebut dapat dibentuk, dirubah subtansi, struktur dan

kondisi yang hubungannya dengan tujuan manusia mencipta seni yaitu tauhid.

Ornamen seni Islam merupakan salah satu ikonografis atau simbol Islam,

karena ornamen seni Islam diciptakan melalui gagasan-gagasan yang fungsional

dan cara mengerti subtansi yang terkandungnya melalui sebuah pengertian.

Seperti yang diungkapakan oleh Ernst Cassrier “dengan adanya simbol, manusia

dapat menciptakan suatu dunia kultural yang didalamnya terdapat bahasa, mitos,

commit to user
[Link] [Link]

52

agama, kesenian dan ilmu pengetahuan. Manusia tidak dapat diartikan sebagai

subtansi tetapi dimengerti melalui gagasan-gagasannya yang amat fungsional”

(Sachari, 2002:14). Simbol yang diciptakan yaitu ornamen seni Islam memiliki

pesan untuk dipahami dan diresapi. Susanne K. Langer mengungkapkan bahwa

“simbol estetik adalah satu dan utuh, karena tidak menyampaikan makna untuk

dimengerti atau tidak dimengerti, melainkan pesan untuk diresapi. Akan tetapi,

dalam pesan penyandaran terdapat nilai-nilai yang hendak dikomunikasikan”

(Sachari, 2002:19). Pengertian diatas menyebutkan pada estetika, simbol juga

merupakan salah satu tanda yang digunakan untuk menyampaikan baik informasi

visual, untuk menghemat waktu, sehingga suatu simbol berdiri untuk suatu yang

lainnya.

Nilai estetika yang terdapat pada seni ornamen Islam lebih menonjolkan

bentuk-bentuk yang berulang dan tak terbatas sehingga menciptakan suatu

keseimbangan yang harmonis. Estetika Islam menggambarkan jiwa manusia

yang berhubungan dengan Allah melalui dzikir. Salah satu konsep kunci estetika,

menurut Leaman sama dengan salah satu konsep kunci agama, yaitu dengan cara

memandang sesuatu sebagai sesuatu yang lain, yakni sesuatu itu tidak sekedar

sesuatu, tetapi juga menyimpulkan atau berkaitan dengan yang lain, yang lebih

besar atau yang lebih kecil, yang lebih luas atau lebih dalam. Seni ornamen Islam

merupakan seni visual atau seni dhahir (lahir) yang dimaknai secara bathin

(batin), yang maknanya mengarah pada sifat ketuhanan. Oleh sebab itu para

seniman muslim mengubah material yang digunakan pada ornamen seni Islam

yang tujuannya mengarahkan pikiran penikmatnya kepada Allah melalui proses


commit to user
[Link] [Link]

53

transfigurasi material dan transfigurasi struktur. Adapun dengan transfigurasi

tersebut tidak mengubah esensi dari material yang digunakan dan bentuk. Berikut

adalah fungsi estetika juga memiliki proses transfigurasi material dan

transfigurasi struktur :

a. Transfigurasi Material

Transfigurasi merupakan perubahan bentuk yang dialami oleh suatu

benda yang tidak mempengaruhi hakikat benda tersebut. Material adalah

bahan yang digunakan dalam pembuatan sutau objek. Jadi istilah

transfigurasi material adalah perubahan bentuk pada suatu benda tanpa

merubah hakikat benda tersebut. Pada pembuatan ornamen seni Islam

material yang digunakan para seniman dalam membuat ornamen

dipengaruhi oleh keinginan untuk mengekspresikan seni ornamen Islam

pada material tersebut yang sesuai dengan ideologi seniman. Seni

ornamen Islam mengalami transfigurasi material ketika seni ornamen

yang diciptakan mengalami perubahan bentuk atau tampilan yang tidak

merubah substansi ornamen tersebut.

Hal inilah yang terjadi dalam seni ornamen Islam, sebagai contoh

adalah kayu yang digunakan sebagai bahan pembuatan ornamen seni

Islam kayu tersebut mengalami perubahan bentuk dari semula yang

berbentuk polos menjadi desain bermotif seni ornamen Islam. Begitu juga

dengan material lainnya seperti batu granit, logam, dan kaca bahan-bahan

tersebut tetap memiliki sifat yang sama sebelum mengalami proses

ornamentasi (Al-Faruqi, 2000:413).


commit to user
[Link] [Link]

54

Ornamen seni Islam yang terdapat di Mesir dapat ditemukan pada

material yang berasal dari batu, kayu dan keramik. Bahan tersebut

digunakan pada bangunan arsitektural di Mesir yaitu pada masjid, gedung

sekolah, gereja dan rumah. Ornamen seni Islam yang ditemukan di masjid

yaitu pada kubah masjid, dinding, pilar, hiasan pintu,hiasan jendela, dan

mihrab dengan pola ornamen yang bermacam-macam. Transfigurasi

material yang terjadi berbahan material batu yang semula tidak bermotif,

dengan diaplikasikan ornamen pada bangunan yang memiliki ruang

kosong maka esensi dari material itu tidak akan berubah, hanya saja

bentuk tampilan yang berubah menjadi bermotif.

Gambar 22. Transfigurasi material yang terdapat ornamentasi pada masjid Ibn Thulun.

Gambar diatas menunjukan bahwa dinding yang memiliki ruang dapat

diaplikasikan ornamen seni Islam yang memiliki fungsi transfigurasi

material, dengan transfigurasi material dapat menambah nilai keindahan

commit to user
[Link] [Link]

55

atau nilai estetis pada bangunan arsitektural tersebut. Ornamen juga

menunjukan dapat diaplikasikan pada berbagai media untuk

menyampaikan pesan dan keindahan.

b. Transfigurasi Struktur

Perubahan fungsi material menjadi fungsi ornamental mengalami

proses pemaknaan secara batin atau esoterik. Perubahan itulah yang

menjadikan kemuliaan atau nilai spiritualitas. Hakikat atau esensi seni

dipahami lewat pembacaan secara aktif dari dalam yang dihubungkan

dengan sublimitas ketuhanan. Sublimitas menurut Kant “adanya

kemampuan manusia untuk menampilkan fakultas pemikiran di atas

semua standar sensitifitas perasaan” (M. Farkhan, 2012:96). Hal ini

selaras dengan sumbangan ornamentasi dalam seni Islam. Dengan

transfigurasi material ini dapat memunculkan metode dalam pemakaian

seni ornamen Islam di Mesir. Konstruktif, yaitu bentukan bagian dari

sebuah bangunan atau monumen yang merupakan unsur luar untuk

menambahi keindahan atau menutup kerangka bangunan tersebut, atau

yang berfungsi sebagai pelapis (Jones, 1856:23). Sebagai contoh tiang

sebuah bangunan yang pada ujung atasnya dihiasi dengan pola batang

papyrus. Proses fungsi transfigurasi material yang terjadi ketika

pembuatan ornamen dapat dilakukan pada kayu, batu, kaca yang sudah

dilebur atau dipatri.

Fungsi material yaitu berubah wujudnya. Trasnfigurasi Struktur sama

halnya dengan transfigurasi material, transfigurasi struktur juga


commit to user
[Link] [Link]

56

merupakan perubahan bentuk yang dialami oleh objek, dalam hal ini

adalah perubahan bentuk strukutur atau susunan. Pembuatan seni

ornamen Islam di Mesir semua menggunakan kerangka dasar ornamen,

yaitu sebuah objek natural. Fungsi dari transfigurasi stuktur inilah muncul

perubahan kerangka dasar ornamen yang menjadi samar atau tidak

natural. Ornamen karya seni Islam berperan mengubah secara struktural,

dengan menyembunyikan bentuk dasar atau meminimalkan pengaruh-

pengaruhnya pada pemandangannya (Al-Faruqi, 2000:415). Dengan

demikian perubahan struktur ornamen ini membawa para penikmatnya

tidak ke dalam hal keduniawian, namun akan menuju ke tataran ungkapan

makna yang lebih tinggi dari semuanya. Ornamen yang diciptakan secara

aktual natural tidak akan memberikan kesan tersendiri bagi penikmatnya.

Dengan adanya transfigurasi struktural ini dapat memberikan ingatan

estetis tentang kualitas Ilahiah. Nasr mengungkapkan “simbolisme

abstrak seni Islam menunjukan realitas transendental yang dapat terjadi

dimana-mana” (Sachari, 2002:24). Proses transfigurasi struktur ini

memiliki tujuan yaitu denaturalisasi, yaitu pembentukan seni yang tidak

mengikuti bentuk-bentuk secara alami melalui proses gubahan.

Pada ornamen seni Islam pada banguan arsitektural di Mesir

mengalami proses transfigurasi struktural. Salah satu contohnya pada

bangunan masjid Qaitbay dibawah ini.

commit to user
[Link] [Link]

57

Gambar 23. Transfigurasi struktur yang menggambarkan ornamen bermotif daun.

Gambar di atas menunjukan adanya proses transfigurasi struktur daun

yang diciptakan dengan proses denaturalisasi. Motif tersebut berupa daun

yang bersulur, dan unsur figuratif yang atau esensi bentuk daun yang

masih nampak dan mudah diketahui. Unsur figuratif merupakan unsur

yang memberikan identitas pada suatu benda sehingga dapat dikenali dan

mudah dipahami, walaupun benda tersebut mengalami proses gubahan.

2. Fungsi Ideologis

Ideologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu idea dan

logos. Fungsi ideologi memberikan pemahaman bahwa ragam struktur dan

ornament seni Islam pada bangunan arsitektural di Mesir terdapat gagasan

ketuhanan. Kata idea memiliki arti mengetahui pikiran, melihat dengan budi,

sedangkan kata logos memliki arti gagasan, pengertian, kata dan ilmu. Jadi

ideologi adalah gagasan atau pemahaman ([Link] diakses

tanggal 17 Mei 2014:pukul 16.00 WIB). Pembahasan ideologi memiliki tataran

commit to user
[Link] [Link]

58

yang sangat luas cakupannya, dari ideologi ekonomi, ideologi negara, ideologi

agama dan lain sebagainya. Khusus dalam penelitian ini pembahasan tentang

fungsi ideologi dalam ornamen berkaitan dengan ideologi agama, khususnya

agama Islam. Sebuah kesenian tentunya berkaitan dengan kemanusiaan, sehingga

dapat dengan mudah kita temukan kaitannya dengan agama khususnya agama

Islam. Islam diturunkan untuk memberi petunjuk dan menyelamatkan manusia di

dunia dan di akhirat.

Seni ornamen Islam dalam penciptaannya harus berpegang dan berpandangan

pada ajaran Islam yaitu al Qur’an dan al-Sunnah. Islam dibangun dari sebuah

pemikiran yang rasional tentang kehidupan, alam semesta, dan manusia bahwa

semuanya itu adalah ciptaan Allah swt. Islam telah memberikan pengaruh

terhadap perkembangan pada setiap cabang pembahasan seni, dan bahkan Islam

memberikan arah perkembangan yang berpengaruh pada peradaban Islam

didunia. Sidi Gazalba telah mengilustrasikan dalam bukunya Asas Kebudayaan

Islam tentang proses terciptanya budaya Islam.

III KEBUDAYAAN

II AGAMA
AQIDAH
I

Bagan Asas kebudayaan.

Gambar bagan di atas menunjukkan bahwa hal yang mendasari penciptaan

karya seni Islam yang pertama adalah aqidah, merupakan asas pondasi yang

berkaitan dengan ajaran dan amalan Islam atau aqidah, yang diatasnya terdapat

agama yang tegak berdiri diatas aqidah atau pondasi ajaran Islam, sehingga
commit to user
[Link] [Link]

59

dengan terciptanya kekokohan dalam iman dan agama akan menghasilkan

kebudayaan. Kebudayaan yang dihasilkan merupakan kebudayaan Islam, karena

hasil dari kebudayaan Islam berlandaskan agama, sehingga kebudayaan Islam

yang dihasilkan akan membina dalam kehidupan yang mengerucut pada tujuan

rohaniah. Hal ini merupakan sebuah pemikiran spiritualitas Islam, yaitu

terdapatnya hubungan antara unsur agama yaitu Islam dengan akal pikiran,

sehingga pemikiran atau ideologi Islam berkaitan dengan al-Qur’an dan al-

Sunnah. Seperti yang diungkapkan oleh Samsul Hadi, “pemikiran mengenai

spiritualitas dalam Islam dikenal dengan tasawuf, mistisisme Islam atau sufisme.

Al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi sumber pemahaman spiritual (Hadi, 2007:7).

Turunnya al-Qur’an dari langit (al lawh al mahfu>zh), maka terdapat sebuah

gerak kosmogonis, al qaws al nuzu>li, yaitu gerak dari atas ke bawah yang

merupakan adanya dasar agama yang digunakan dalam pembuatan ornamen seni

Islam. Pengertian diatas dapat diarahkan pada pembuatan ornamen seni Islam di

Mesir dapat direduksikan lagi pada keesaan Allah atau al qaws al shu’u>di.

Terdapat beberapa tingkatan ideologi dalam Islam, antara lain sebagai berikut,

yang pertama adalah syariat, merupakan aspek luar atau aspek eksoterik yang

menampilkan berupa wujud karya Islam, produk kebudayaan Islam. Produk

kebudayaan Islam yang sesuai adalah produk yang memiliki manfaat secara

agama, tidak menimbulkan kemusyrikan, dan unsur pornografi. Kedua adalah

hakikat, merupakan perpaduan esensi dan substansi dari produk kebudayaan

Islam, esensi berupa nilai yang terkandung, sedangkan substansi berupa

ungkapan yang disampaikan. Ketiga adalah Ma’rifat adalah esensi batin atau
commit to user
[Link] [Link]

60

esoterik, yang menunjukan nilai kebatinan yang berupa nilai suffisme yang

mengarah kepada ketuhanan.

Tingkatan ideologi Islam yang lainnya adalah Islam, iman, dan ikhsan.

Pertama, Islam adalah sebuah wadah formal yang memiliki beberapa aturan yang

berdasarkan al Qur’an dan al-Sunnah. Kedua, adalah iman, merupakan tindakan

atau realisasi yang tidak mengabaikan aspek landasan beragama yang berupa

aturan formal dalam Islam, dari yang berupa verbal kemudian keyakinan dan

pembuktian. Ketiga, adalah ikhsan, merupakan tingkatan batin berupa nilai

kedekatan diri pada Allah dan bukan dimensi benda melainkan dimensi spiritual.

Penjabaran dari masing-masing tingkatan ideologi dalam Islam memiliki

kesamaan, maksud dan tujuan. Ideologi Islam memiliki maksud bahwa seni yang

diciptakan dengan ciri Islam maka perpegang dengan pedoman Islam, ajaran

Islam yang diaplikasikan pada seni, dan hasil dari seni Islam dapat mengarah

pada spiritualitas seni Islam.

Fungsi ornamen secara Islam adalah penggambaran sifat-sifat ketuhanan

berdasarkan sumber spritualitas Islam yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, dalam

wujud realitas batin melalui substansi jiwa Nabi yang tetap hadir secara gaib di

dunia Islam, bukan hanya melalui hadits, tetapi juga jalan yang tak dapat diraba

di dalam hati mereka yang mencari Tuhan, serta nafas para pemohon yang

meniupkan dan terus meniupkan keberkahan namaNya (Nasr, 1993:16). Seni

ornamen Islam juga dapat memberikan suatu keberkahan sebagai akibat dari

hubungan batin dengan dimensi spiritualitas Islam yang mengingatkan kehadiran

Allah dimanapun manusia berada (Nasr, 1993:214, 17). Keberkahan tidak hanya
commit to user
[Link] [Link]

61

bagi untuk seniman pembuat ornamen seni Islam, melainkan juga mengalir

kepada para penikmatnya, karena seniman akan menuangkan dakwah agama

didalam karya seninya yang berkaitan dengan sifat Allah yang sebelumnya

diasimilasikan pada jiwa seniman kemudian ditunjukkan pada penikmatnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Iqbal dalam tulisannya Sachari

“seniman sejati adalah seorang yang bertujuan mencapai asimilasi sifat-sifat

Tuhan di dalam dirinya dan mampu memberikan apresiasi tak terbatas pada

manusia” (Sachari, 2002:22).

Pada ornamen seni Islam di Mesir yang berfungsi sebagai spiritualitas Islam

memberikan arah pada dunia spiritual, baik spiritualitas dalam kerangka

kosmologis atau spiritualitas dalam kerangka psikologis, seperti yang

diungkapakan oleh Samsul Hadi, “pemikiran spiritual mengacu kepada dunia

spiritual baik dunia spiritual dalam kerangka kosmologis maupun dalam dunia

spiritual kerangka dalam psikologis manusia” (Hadi, 2007:7). Spiritual kerangka

kosmologis mencakup seluruh ciptaan Allah yang merupakan sebuah tanda,

tanda yang dimaksud adalah kekuasaan Allah Yang Maha segalanya yang

menguasai alam semesta ini. Sedangkan spiritual kerangka psikologis merupakan

sebuah spiritual question yang diperoleh dari proses agama, pengalaman

beragama sehingga menumbuhkan kesadaran dalam diri manusia yang

berpengaruh sehingga dapat menimbulkan sebuah keyakinan terkait dengan

beragama dan ketuhanan.

Sementara itu, dunia spiritual dapat dipahami manusia dan juga dihayati lewat

lembaga agama, lembaga filsafat dan lembaga seni. Seni dapat dimasukkan
commit to user
[Link] [Link]

62

dalam lembaga kebenaran yang bersifat spiritual sejajar dengan agama dan

filsafat (Sumardjo, 2000:7). Pada seni ornamen Islam yang terdapat di Mesir

memiliki fungsi ideologi yaitu ornamen merupakan kategori yang tergolong pada

seni suci, yang merupakan seni yang berhubungan dengan praktek-praktek utama

dalam agama dan kehidupan keagamaan. Contohnya adalah seni kaligrafi, seni

arsitektur masjid.

Seni ornamen merupakan sebagai pengisi dari seni suci, karena seni ornamen

ini dapat menjadi pengisi dalam keagamaan dengan cara menjadi ornamen atau

hiasan seni kaligrafi, seni arsitektur masjid. Seni ornamen juga menggambarkan

prinsip-prinsip agama dan spiritualisme tetapi dengan cara tidak langsung yang

merupakan seni tradisional dan yang subyeknya atau fungsinya bertema

keagamaan namun bentuk dan cara pelaksanaannya tidak bersifat tradisional

merupakan seni religius. Tetapi, bahwa desain-desain tersebut mesti mendorong

kita untuk memikirkan gagasan-gagasan yang tampak sangat tidak masuk akal

(Leaman, 2005:120).

Bentuk-bentuk geometris menjadi paling dekat menggambarkan sebuah

konsep Tuhan yang abstrak, karena bentuk-bentuk geometris menandakan sifat

Tuhan yang tidak tebatas (Leaman, 2005:119). Ornamen seni Islam di Mesir

merupakan salah satu wujud renungan pada pencipta alam dan merupakan suatu

titik yang tinggi pada sebuah pemikiran seperti yang diungkapkan Sayyed H.

Nasr :

Ornamen yang rumit, melingkar ke atas, melingkar lagi hingga menuju kubah,
dan berhenti disuatu titik, untuk kemudian menembus alam raya melalui puncak
kubah tertinggi. Hal itu sebagai suatu simbol yang tiada tara, yang saatnya akan
commit to user
[Link] [Link]

63

sampai pada titik kulminasi, lepas diri kea lam yang bebas dan membahagiakan.
Kubah dalam kebudayaan Islam dikenal sebagai simbol tauhid, sebuah fenomena
kontemplasi tertinggi terhadap sang Khalik (Sachari, 2002:23).

Ideologi sangat penting dimiliki oleh setiap manusia, bahkan negara. Karena

ideologi digunakan sebagai pondasi dalam memahami dan menafsirkan kejadian-

kejadian lingkungan sekitarnya. Ideologi juga membantu dalam membuka pintu

wawasan dalam tujuan dalam sebuah kehidupan. Seperti halnya dengan ideologi

Islam yang digunakan dalam menciptakan seni ornamen Islam, para seniman

berlandaskan agama Islam dengan berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah dalam

penciptaannya. Terlebih pada al-Qur’an yang terdapat surat Az-Zukhruf yang

berarti perhiasan, menjelaskan bahwa orang-orang kafir dan musyrikin lebih

mementingkan gemerlap perhiasan didunia yang menyebabkan mereka dapat

menyombongkan diri mereka, mengukur derajat manusia dengan perhiasan yang

mereka miliki. Orang kafir dan musyrikin menggambarkan perhiasan di dunia

yang nilainya lebih tinggi daripada kepentingan kehidupan di akhirat. Sesuai

yang difirmankan oleh Allah pada surat tersebut ayat 33-35, sebagai berikut :

   


  
  
   
  
  
  
    
   
   
  
Dan sekiranya bukan Karena hendak menghindari manusia menjadi umat
yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang
yang kafir kepada Tuhan yang Maha Pemurah loteng- loteng perak bagi
rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya
commit to user
[Link] [Link]

64

(33). Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah


mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya
(34). Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk
mereka). dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan
dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-
orang yang bertakwa (35) [QS (43) Az-Zukhruf : 33-35].

Dari ayat diatas dapat dijelaskan bahwa hiasan didunia hanyalah sebuah

kesenangan jika tidak diberikan nilai-nilai keagamaan, sehingga ornamen seni

Islam sebagai sebuah hiasan, adapaun hiasan itu digunakan untuk memberikan

nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai keesaan Allah dan tidak menimbulkan sebuah

madharat. Zukhruf istilah yang menjadi nama surat di dalam al-Qur’an dengan

nama az-Zukhruf, sebab digunakan istilah zukhruf karena orang-orang kafir dan

musyrikin menyukai perhiasan, dan orang-orang taqwa akan diberikan kehidupan

yang menyenangkan di akhirat, sesuai yang difirmankan Allah didalam surat

tersebut pada ayat 35. Keindahan yang diciptakan oleh para seniman Mesir pada

ornamen seni Islam menunjukan tanda adanya kuasa Allah dalam penciptaan,

sehingga seniman muslim mengaplikasikan ideologi agama pada ornamen seni

Islam. Tujuan dari penciptaan seni ornamen Islam di Mesir memiliki tujuan

keagamaan, dengan selalu mengingat akan keesaan Allah dialam semesta.

Berdasarkan ideologi Islam para seniman terdorong untuk menciptakan karya

seni ornamen yang menunjukan transendensi Allah.

Allah di dalam al Qur’an digambarkan sebagai wujud yang trasenden, yaitu

bahwa manusia tidak dapat menangkap wujud visual Allah dengan panca

inderanya. Sesuai yang difirmakan oleh Allah dalam surat al An’am ayat 103

sebagai berikut :
commit to user
[Link] [Link]

65

‫اَّ ُك ْم ِفُك ُكاااَوْم َو ُك ا َو ُك َو ُك ْم ِف ُك اااَوْم َو َو ا َو ُك َوا لَّ ِف ْم ُك ْم‬


‫اااَوِفْمْي ُكا‬
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat
segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.
[QS (6) Al-An’am : 103]

Seni Islam juga mengekspresikan dimensi positif sehingga dapat memberikan

tekanan tentang ketuhanan. Seni Islam khususnya seni ornamen memiliki tujuan

yang sama dengan tujuan al-Qur’an, yaitu memperkuat dan mempertegas dengan

adanya ketuhidan dalam diri manusia. Letak tujuan ornamen yang sama dalam

hal ini adalah sebagai fungsi dari ornamen seni Islam, baik fungsi secara lahir

maupun secara batin. Secara spiritualitas seni Islam mencerminkan nilai-nilai

ajaran Islam sehingga tidak ada seni yang disebut dengan seni sekuler, serta

menjelaskan kualitas-kualitas spiritual Islam yang santun akibat pengaruh nilai-

nilai suffisme, selain itu seni Islam juga terdapat hubungan saling melengkapi

antar kekosongan tempat.

Tauhid merupakan sebuah kenyataan yang memberikan pelajaran bahwa

semua makhluk hidup merupakan ciptaan Allah. Berdasarkan tauhid tidak ada

bentuk sekutu bagi Allah, sehingga seni ornamen Islam yang diciptakan harus

memiliki manfaat bagi penikmatnya, bukan memberi keburukan bagi penikmat.

Seni ornamen Islam harus menggambarkan sebuah keagungan yang tidak akan

menjerumuskan manusia pada persekutuan terhadap Allah. Allah telah

menciptakan manusia supaya mereka membuktikan dirinya bahwa mereka

bermoral melalui perbuatannya. Hal ini juga diungkapkan oleh Qardhawi, “Islam

itu menjadikan tujuan akhir dan sasarannya yang jauh kedepan dengan menjaga

commit to user
[Link] [Link]

66

hubungan antara manusia dengan Allah untuk mencapai ridha-Nya, karena

manusia memiliki tujuan dan sudut pandang” (Qardhawi, 1996:1).

Tauhid mempengaruhi segala aspek perubahan peradaban Islam, sehingga

tauhid berperan dalam mencipatakan pola dari masing-masing hasil kebudayaan

tersebut. Tanpa mengubah unsur yang membentuk sehingga perubahan tersebut

memberikan watak baru dalam peradaban. Pada tataran tauhid terdapat dualitas

antara Allah dan bukan Allah, didalam Islam tidak ada sekutu bagi Allah Yang

Maha Esa dan Maha menguasai segalanya, namun berbeda dengan yang bukan

Allah, yaitu makhluk ciptaan-Nya, mereka tidak dapat meniru apa yang Allah

ciptakan, sehingga Allah tidak bisa disamakan dengan ciptaan-Nya dan makhluk

ciptaan-Nya tidak bisa disamakan dengan Allah. Pada akhirnya seni ornamen

Islam dapat dikatakan bahwa ini merupakan refleksi ketauhidan, antara makhluk-

Nya, yaitu manusia kepada Allah, bukan Allah kepada manusia.

Ornamen seni Islam pada bangunan arsitektural di Mesir dapat memberikan

kesan kagum kepada penikmatnya. Kekaguman itu yang dapat mengarahkan

pikiran para penikmatnya ke arah yang lebih menuju oleh siapa seni berciri Islam

ini dibentuk dan akan menimbulkan sebuah konklusi, seni ornamen ini adalah

hasil peradaban Islam yang sangat agung. Kekaguman itu memberikan pesan

ajaran yang mengarah pada kesan keindahan kepada penikmatnya, sehingga para

penikmat merasakan betapa indahnya ketidak keterbatasan kreatifitas manusia

yang memiliki cipta, rasa, karsa, dan akal dalam menciptakan seni ornamen

Islam yang berdasarkan ajaran Islam yang turut menjadi media refleksi keesaan,

Maha Agung Allah atas segala makhluk ciptaanNya.


commit to user
[Link] [Link]

67

3. Fungsi Sosial dan Budaya

Istilah sosial budaya merupakan gabungan dari kata sosial dan budaya, sosial

yang dimaksud adalah sekumpulan masyarakat dan budaya adalah hasil dari

sekumpulan masyarakat (Sudibyo, 2013:7). Pada akhirnya arti sosial budaya

secara luas mencakup seluruh aspek kehidupan dimasyarakat, oleh karena itu

konsep sosial budaya dapat diperoleh rumusan berupa tata nilai, tata sosial yang

merupakan manifestasi masyarakat yang berwujud karya, rasa, dan cipta. Wujud

dari sosial budaya akan memberikan suatu arahan yang akan mengatur,

mengendalikan dan memahamkan manusia. Pada wujud suatu kebudayaan yang

dapat berupa fisik dan non fisik. Kebudayaan fisik adalah hasil budaya yang

dapat dilihat dan dinikmati oleh manusia melalui inderawinya, sedangkan hasil

kebudayaan non fisik dapat berupa tata nilai, tata adat istiadat. Salah satunya

kesenian, merupakan bagian hasil dari kegiatan sosial dan budaya pada suatu

masyarakat, yang merupakan hasil budaya fisik. Kesenian khususnya ornamen

seni Islam memiliki fungsi seni dalam masyarakat memiliki tatanan kriteria yaitu,

pada konteks sosial adalah sebagai media komunikasi dan akulturasi. Pada

konteks budaya sebagai pengetahuan dan kreatifitas. Penjelasan masing-masing

konteks antara lain sebagai berikut :

a. Media Komunikasi

Media komunikasi merupakan fasilitas yang digunakan untuk

menyalurkan informasi atau suatu gagasan yang disalurkan kepada suatu

penerimaan dengan maksud mengubah tingkah laku penerima. Penyaluran

informasi ini dapat menggunakan sebuah media yang difungsikan untuk


commit to user
[Link] [Link]

68

memindahkan pesan informasi yang ditujukan kepada penerima. Informasi

yang disampaikan dapat melalui media langsung dan tidak langsung.

Media langsung, menyampaikan informasi dengan bertemu langsung,

sedangkan media tidak langsung, menyampaikan informasi dengan

melalui perantara media. Melalui penyaluran pesan ini, penerima pesan

dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan penerimanya sehingga akan

mempengaruhi penerima dengan menelaah pesan yang diterimanya.

Dengan demikian fungsi komunikasi yaitu menunjukan identitas dari

pemberi informasi untuk membangun interaksi sosial kepada

penerimanya, yang pada akhirnya dapat memberikan pengaruh pada

penerima untuk berpikir, berperilaku seperti tujuan dari yang disampaikan.

Salah satu media komunikasi adalah melalui seni, seni juga merupakan

gambaran suatu pola kehidupan dari masyarakat, sehingga seni

menjadikan ciri dari budaya atau masyarakat yang menciptakannya. Pada

seni dapat mengandung nilai-nilai yang disampaikan melalui media seni.

Nilai yang terkandung dalam sebuah seni antara lain adalah nilai

komunikasi, nilai pendidikan, nilai agama dan sebagainya. Pada penelitian

ragam struktur dan motif ornamen seni Islam pada bangunan arsitektural

di Mesir mengungkapkan bahwa seni ornamen yang secara Islam

memunculkan nilai dari seni itu sendiri, yaitu salah satunya adalah nilai

agama yang ditinjau dari sisi sosial dan budaya, karena seni dan agama

adalah hasil dari kebudayaan. Perlu diketahui bahwa ornamen seni Islam

commit to user
[Link] [Link]

69

di Mesir berfungsi sebagai penyampai pesan keagamaan yang akan

diterima oleh penikmatnya.

Ornamen seni Islam sebagai media komunikasi juga menghasilkan

budaya Islam yang berkembang. Budaya Islam terbentuk dikarenakan

dengan dasar agama yang memiliki pengaruh terhadap kesenian, sehingga

kesenian tersebut berciri budaya Islam atau budaya agama. Pada

pembuatan ornamen seni Islam memiliki pengaruh budaya Islam sehingga

seni tersebut merupakan nilai Islam. Ornamen seni Islam juga merupakan

salah satu sebagai media komunikasi dalam hal pendidikan, yaitu dengan

diajarkan nilai-nilai agama dan pendidikan sehingga manusia dapat

menghasilkan ornamen seni Islam yang sesuai dengan kaidah Islam, dan

memberikan pendidikan tentang kesenian yang merupakan hasil budaya

Islam.

Ornamen seni Islam di Mesir juga sebagai media dakwah dalam

menyebarkan agama Islam. Melalui ornamen ini masyarakat penikmat

ornamen dihantarkan pada nilai-nilai ketuhanan yang terkandung di dalam

motif, struktur ornamen. Ornamen seni Islam ini yang menjadikan sebuah

dakwah dapat mudah tersebar ke seluruh wilayah. Faktor ideologis Islam

ini yang membawakan Islam berkembang melalui seni Islam. Aspek yang

berkaitan dengan dakwah Islam adalah kemampuan untuk menyampaikan

esensi Islam melalu cara yang lebih langsung dan dapat dipahami

dibandingkan dengan penjelasan secara ilmiah (Nasr, 1993:213).

commit to user
[Link] [Link]

70

   


 
  
   
     
    
 
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk [QS (16) An-
Nahl, 125].
Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan
antara yang hak dengan yang bathil.

Kutipan ayat di atas menunjukan bahwa dakwah dapat dipahami dan

diterima masyarakat adalah dakwah yang baik, yang dapat menyampaikan

pesan atau perkataan yang tegas dapat membenarkan hal yang benar dan

yang salah. Al-Faruqi mengungkapkan “dakwah meliputi tugas

mengajarkan kebenaran kepada mereka yang mengabaikan kebenaran”

(Al-Faruqi, 2000:219). Ornamen seni Islam merupakan sebuah dakwah

dengan situasi kontekstual, yaitu dakwah yang menggunakan media seni

berupa ornamen. Pola struktur yang tidak terbatas merupakan pola yang

menyimbolkan kekuasaan Allah yang tidak terhingga, dengan pola tidak

terhingga pada ornamen seni Islam di Mesir mengantarkan pikiran

penikmatnya kepada pesan-pesan atau makna ilahiah secara infiniti atau

makna yang tak terhinggaan. Sifat infiniti ini yang dimiliki oleh Allah

yang dituangkan dalam ornamen seni Islam.

commit to user
[Link] [Link]

71

Seni ornamen Islam juga untuk kriteria menentukan apakah gerakan

sosial, kultural dan politik benar-benar autentik Islami atau hanya

menggunakan simbol sebagai kriteria untuk menentukan tingkat hubungan

intelektual dan religius didalam masyarakat muslim (Nasr, 1993:218).

Pengaruh fungsi sosial budaya yang akan menjadi sebuah fungsi ketika

Islam menguasai hampir seperempat dunia, maka disitulah akan muncul

sebuah akulturasi dengan budaya dan pada bangunan arsitektural

setempat. Hal ini didapat dilihat dengan perubahan fungsi pada sebuah

bangunan arsitektur yang beralih fungsi selama Islam dan Nasrani

berkuasa. Pada bangunan gereja, ketika Islam berkuasa maka gereja

tersebut akan beralih fungsi menjadi masjid. Namun ketika Islam telah

tidak berkuasa maka gereja akan kembali ke fungsi awal bagi kaum

Nasrani. Dengan demikian maka elemen dalam gereja akan berubah dan

bahkan akan tetap digunakan. Begitu juga dengan ornamen Islam yang

terdapat di bangunan tersebut juga merupakan salah satu bukti bahwa

kekuasaan akan berpengaruh pada penggunaannya

b. Akulturasi

Akulturasi merupakan proses sosial yang muncul karena adanya

percampuran dua budaya atau lebih yang saling mempengaruhi. Pada

proses akulturasi, budaya yang datang dapat diterima secara langsung

secara utuh, atau menerima budaya itu dengan proses pemilahan budaya

yang baik untuk diterima masyarakat. Pada penelitian ini, ornamen seni

Islam mengalami akulturasi dengan budaya yang ada sebelumnya, dapat


commit to user
[Link] [Link]

72

diketahui dari ornamen Mesir kuno menerima unsur budaya Islam dan

kemudian menjadi ornamen seni Islam Mesir. Perkembangan Islam yang

sangat maju di berbagai aspek, dapat memberi pengaruh pada ornamen

pada daerah kekuasaan Islam saat itu. Wilayah kekuasaan Islam mencapai

seperempat dunia, yang menguasai berbagai keadaan agama dimasyarakat

yang berbeda-beda, sehingga ornamen seni Islam juga dapat digunakan

pada bangunan yang tidak bercirikan Islam. Ornamen seni Islam yang

terdapat pada gereja tetap digunakan ketika kedua tempat itu beralih

fungsi selama kekuasaan Islam ataupun Nasrani. Dengan ornamen yang

memiliki struktur dan motif yang sama dengan kriteria seni ornamen Islam

maka dapat dikatakan bahwa seni Islam dan Nasrani berakulturasi dalam

lingkup sosial dan budaya. Seni Islam dapat berinteraksi dengan budaya

yang lain tanpa meninggalkan kebudayaan yang menjadi jati diri seni

Islam.

Akulturasi budaya Islam dengan budaya setempat dapat menimbulkan

sebuah pengetahuan khususnya pengetahuan yang berkaitan dengan

budaya dan agama, yang dapat berpengaruh dengan perkembangan

peradaban Islam. Pengetahuan pembaruan peradaban Islam tidak toleran

terhadap lukisan manusia, khususnya gambar binatang yang memiliki tiga

dimensi. Gambar-gambar itu lebih dominan oleh bentuk-bentuk abstrak

(yang lebih sesuai dengan jiwa aqidah dan tauhid), bukan yang tiga

dimensi (yang lebih identik dengan tradisi agama berhala) dengan

berbagai tingkatannya (Qardhawi, 1998:111).


commit to user
[Link] [Link]

73

Pengaplikasian atau penggunaan hasil budaya Islam yaitu ornamen

seni Islam banyak digunakan pada bangunan arsitektural di Mesir.

Penggunaan ornamen ini yang menjadikan benda berornamen menjadi

benda berciri peradaaban Islam, dengan demikian peradaban Islam itu

dapat dikenali dari karya-karya seniman muslim yang dapat dinikmati

hingga saat ini.

c. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari manusia dalam pemikiran,

pemahaman, penelitian, penginderaan. Pengetahuan merupakan informasi

yang telah mengalami pemrosesan dan pengorganisasian untuk

memperoleh pemahaman, sehingga hasil dari pengetahuan tersebut dapat

disalurkan pada masyarakat.

Ornamen seni Islam merupakan hasil dari sebuah pengetahuan, karena

melalui pemahaman, pemikiran maka akan dapat menimbulkan suatu

bentuk ornamen seni yang berciri Islam dengan melalui proses, proses

tersebut dapat berupa abstraksi, stilisasi dan denaturalisasi.

Pengetahuan yang berupa pengetahuan agama yang ada pada

masyarakat beragama khususnya Islam, yang menjadi nilai dasar

pembuatan seni Islam adalah penegetahuan ajaran agama yang mengarah

kepada kesempurnaan berseni Islam, yang nilai seni Islam berlandaskan

oleh ajaran agama.

Seni Islam memiliki landasan pengetahuan yang diilhami nilai

spiritual, dan oleh sebab itu intelektualitas dan spiritualitas tidak dapat
commit to user
[Link] [Link]

74

dipisahkan (Nasr, 1993:18). Pada akhirnya ornamen akan memunculkan

sesuatu yang baru yang dapat menjadi ciri dari peradaban Islam. Ornamen

seni Islam di Mesir muncul karena adanya pengetahuan agama yang

menjadi dasar dari pembuatan ornamen.

Pengetahuan yang bernafaskan agama ini telah menciptakan suatu

bentuk baru yaitu ornamen seni Islam. Ornamen seni Islam merupakan

contoh dari proses pengetahuan yang menghantarkan kepada tataran

makna batin, berdasarkan tradisi dan ritual bukan semata-mata hasil

rasiosinasi atau empirisisme sprirtualitas, seperti yang diungkapkan oleh

Nasr “seni Islam tidak meniru bentuk-bentuk lahir alam, tetapi

memantulkan prinsip-prinsipnya. Ia berdasarkan pada suatu ilmu

pengetahuan yang bukan merupakan hasil rasiosinasi ataupun

empirisisme, melainkan sebuah scientia sacra yang hanya dapat dicapai

berdasarkan cara-cara yang disediakan oleh tradisi” (Nasr, 1993:19).

Makna ritual ditunjukan pada ornamen dengan gambaran keesaan

Allah yang dicirikan pada pola arabesque dan geometris. Maka dengan

produk ornamen seni Islam ini dapat membawa para penikmatnya kepada

kekuasaan Allah. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa, ornamen seni

Islam merupakan definisi dari keesaan Allah yang diterjemahkan, yang

dituangkan dalam bentuk ornamen yang dapat dimengerti oleh

penikmatnya dan sebagai salah satu usaha para penikmatnya untuk

memahami dan mengetahui maknanya.

d. Kreativitas
commit to user
[Link] [Link]

75

Kreativitas merupakan kemampuan manusia untuk mengungkapkan

idea atau gagasanya dalam berbagai media, pada ornamen seni Islam

seniman dituntut untuk memiliki kreativitas untuk menuangkan ide atau

gagasannya melalui media ornamen seni Islam. Secara umum kreativitas

dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu dengan

cara yang baru dan tidak biasa sehingga menghasilkan keunikan sebuah

karya. Kreativitas dapat menghasilkan sifat yang baru, bermanfaat dan

mudah dipahami.

Kreativitas adalah unsur penting dalam pembuatan seni. Kreativitas

akan terlihat nilai estetik atau keindahan dari sebuah seni. Seni muncul

berdasarkan dari pemikiran kreatif. Seniman kreatif selalu memiliki ide

imajinatif untuk membuat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya

sehingga setiap karya seni yang dihasilkan merupakan bentuk yang baru,

yang unik dan orisinal. Ornamen seni Islam memiliki sifat yang baru

karena sifat dari ornamen ini belum ada inovasi pembaruan sebelum

Islam, sehingga dengan datangnya Islam dapat menciptakan sifat yang

baru atau sebuah inovasi.

Ornamen seni Islam bersifat manfaat, dapat dikatakan demikian karena

ornamen dapat menjadi media pengembangan seni, mendidik secara

Islam. Ketika ornamen seni Islam mudah dipahami, maka pada ornamen

itu terdapat nilai yang terkandung yang tersirat didalamnya, nilai tersebut

terdapat nilai keindahan dan keagamaan. Kreativitas berkaitan secara

langsung dan khusus yaitu dengan umat Islam yang menikmati hasil
commit to user
[Link] [Link]

76

kesenian ini. Seni ornamen Islam di Mesir khususnya, juga mendorong

keadaan sosial dan budaya masyarakat tersebut, yang menjadikan ciri dari

masyarakat Mesir pada masa Islam.

Berdasarkan pada ranah sosial, masyarakat menjadi aktif dalam

menciptakan sebuah karya seni berupa seni ornamen, walau hanya

sebagian masyarakatnya yang aktif dalam menciptakan seni tersebut,

sehingga seni yang dihasilkan tetap dapat dinikmati masyarakat Mesir dan

sekitarnya. Islam membenarkan dan bahkan mendorong hadirnya seni dan

keindahan dalam kehidupan, berikut segala perilaku menikmati dan

mengapresiasi keindahan. Tidak ada yang dilarang oleh syariat, kecuali

sesuatu yang pasti membawa kemadharatan bagi manusia. Selain itu

didalam urusan diluar ibadah mahdah maka hukumnya boleh, demikian

kaidah-kaidah fiqih (Qardhawi, 1998:142).

Ornamen seni Islam diciptakan bergantung juga dengan pengetahuan

seniman yang diperoleh dari lingkungan atau pengalaman kerohanian

seniman, sehingga hasil dari kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang

menuju tujuan akhir yang berkaitan dengan lingkungan atau pengalaman

rohani seniman.

Seorang seniman muslim juga bertanggung jawab atas apa yang

diciptakan, khususnya ornamen seni Islam, secara hubungan dengan

manusia dan dengan Allah, maka seni yang diciptakan tidak mengandung

kejenuhan dan dapat memberikan pengajaran terhadap penikmatnya.

Hubungan tersebut, menyebabkan para seniman memiliki sebuah prinsip


commit to user
[Link] [Link]

77

aksiologi yang berarti manusia dapat membuktikan diri bernilai secara

moral melalui perbuatannya, seperti yang diungkapkan oleh Al Faruqi

bahwa “Tuhan menciptakan umat manusia agar manusia dapat

membuktikan diri bernilai secara moral melalui perbuatannya” (Al-Faruqi,

2000:119). Seni adalah sebuah kreativitas yang memiliki nilai.

KOMUNIKASI
SOSIAL
AKULTURASI
SOSIAL BUDAYA
PENGETAHUAN
BUDAYA
KREATIVITAS

Bagan Sosial Budaya.

Berdasarkan penjelasan fungsi sosial budaya dapat diproleh bahwa sosial budaya

merupakan fungsi yang dapat membentuk masyarakat Mesir menjadi informan

dan dakwah Islam melalui komunikasi dan akulturasi. Menjadikan budaya

ornamen seni Islam di Mesir berkembang dengan adanya pengetahuan yang

mendasari pembuatan ornamen seni Islam dan menjadikan seniman muslim di

Mesir kreatif dalam membuat ornamen seni Islam dengan bentuk yang baru.

Ornamen seni Islam yang terdapat di Mesir bukan hanya memliki fungsi

kenikmatan, keindahan bentuknya, namun juga memiliki keindahan isinya.

commit to user

Anda mungkin juga menyukai