MAKALAH KOMUNITAS
MODEL COMMUNITY AS PARTNER
Dosen pengampu: Afniwati S,Kep,Ns,[Link]
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
1. Aljon Rizky Simatupang 11. Lisnawati Simbolon
2. Atikah Dara Yani Rambe 12. Maya Tasya Br Sebayang
3. Berkat Natalia Purba 13. Meli Indriana
4. Dinda Saputri 14. Nella Rosalina Simanullang
5. Esa Star Rosdina WG 15. Rati Afdaliani
6. Fara Zafira 16. Remunda Br Sembiring
7. Gresia Angelia 17. Tasya Yosepa Br Siregar
8. Helen Rahma Klani 18. Tesa Mutiara Sari Br Ginting
9. Indahyani Sihombing 19. Yemima Banjarnahor
10. Khatrin Hawila Sitorus 20. Yuslian
POLTEKKES KEMENKES RI MEDAN
PRODI D-III KEPERAWATAN
2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME., atas limpahan dan
rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Model
Community As
Partner”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan
Komunitas. Karena makalah ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari
pihak-pihak tertentu, maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih
yang sedalam-dalamnya kepada ibu Afniwati, [Link],Ns,[Link] selaku dosen
pengampu dalam tugas ini
Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa yang
jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang penulis
miliki, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca, agar pembuatan
makalah penulis yang berikutnya dapat menjadi lebih baik. Akhir kata semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Medan, 11 Februari 2023
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan,
serta bertambahnya penduduk dan masyarakat maka, maka perlu adanya perawat
kesehatan komunitas yang dapat melayani masyarakat dalam dal
am hal pencegahan, pemeliharaan, promosi kesehatan dan pemulihan
penyakit, yang bukan saja ditujukan kepada individu, keluarga, tetapi juga dengan
masyarakat dan inilah yang disebut dengan keperawatan komunitas.
Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan
profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok
resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui
pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan menjamin keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan melibatkan klien sebagai mitra dalam
perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan. (Pradley, 1985; Logan
dan Dawkin, 1987).
[Link] Masalah
1) Bagaimana Konsep Dasar Model Community As Partner ?
2) Bagaimana Proses Keperawatan Model Community As Partner ?
C. Tujuan.
Tujuan UmumMahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Konsep
Dasar Model Community As Partner.
1)Tujuan Khusus
Untuk Memahami Konsep Dasar Model Community As Partner.
Untuk Memahami Proses Keperawatan Model Community As Partner.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Model Community As Partner
Beberapa Teori & Model yang dapat digunakan didalam praktik
keperawatan komunitas :
1. Teori lingkungan oleh Nightingale (Nightingale’s theory of
environment)
2. Self-Care Model oleh Orem
3. Adaptation Model dari Roy, S.C
4. Health Care System Model oleh Betty Neuman
5. Community as Client or Partnership Model oleh McFarlane
Model : deskripsi atau analogi yg digunakan sebagai pola untuk menambah
pemahaman terhadap beberapa fakta atau realitas.
Model konseptual adalah sintesis seperangkat konsep dan pernyataan yang
mengintegrasikan konsep-konsep tersebut menjadi suatu kesatuan. Model
keperawatan dapat didefinisikan sebagai kerangka pikir, sebagai satu cara melihat
keperawatan, atau satu gambaran tentang lingkup keperawatan.
Model ini sebagai panduan proses keperawatan dalam pengkajian
komunitas; analisa dan diagnosa; perencanaan; implementasi komunitas yang
terdiri dari tiga tingkatan pencegahan; primer, sekunder, dan tersier, dan program
evaluasi (Hitchcock, Schubert, Thomas, 1999).
Konsep Community as Partner diperkenalkan Anderson dan McFarlane.
Model ini merupakan pengembangan dari model Neuman yang menggunakan
pendekatan totalitas manusia untuk menggambarkan status kesehatan klien.
Neuman memandang klien sebagai sistem terbuka dimana klien dan
lingkungannya berada dalam interaksi yang dinamis. Menurut Neuman, untuk
melindungi klien dari berbagai stressor yang dapat mengganggu keseimbangan,
klien memiliki tiga garis pertahanan, yaitu:
1. Fleksible Line Of Defense
Adalah batas luar ke garis pertahanan normal, garis perlawanan,
dan struktur inti.
Menjaga sistem bebas dari stres dan tergantung pada jumlah tidur,
status gizi, serta kualitas dan kuantitas stres yang dialami individu.
Jika garis pertahanan fleksibel gagal untuk memberikan
perlindungan yang memadai terhadap garis pertahanan normal,
garis perlawanan menjadi aktif.
2. Normal Line Of Defens
• Merupakan tingkat kesehatan biasa klien.
• Dapat berubah dari waktu ke waktu dalam menanggapi mengatasi
atau menanggapi lingkungan, yang meliputi kecerdasan, sikap,
pemecahan masalah dan kemampuan koping. Contohnya adalah
kulit yang terus-menerus halus dan adil akhirnya akan membentuk
berperasaan lebih kali.
3. Resistance Defense.
• Batas terakhir yang melindungi struktur dasar
• Melindungi struktur dasar dan menjadi aktif ketika stres
lingkungan menyerang garis pertahanan normal. Contoh akan
adalah bahwa ketika bakteri tertentu memasuki sistem kami, ada
peningkatan jumlah leukosit untuk memerangi infeksi.
• Jika garis resistensi yang efektif, sistem dapat menyusun kembali
dan jika garis resistance tidak efektif, kehilangan energi yang
dihasilkan dapat mengakibatkan kematian.
Agregat (kumpulan fakta yang diperoleh dari obyek yang kita amati,cara
memperoleh agregat: mengamati satu/sekelompok obyek secara berulang klien
dalam model) Community as Partner ini meliputi intrasistem dan ekstrasistem.
Intrasistem terkait adalah sekelompok orang-orang yang memiliki satu atau lebih
karakteristik (Stanhope & Lancaster, 2004). Agregat ekstrasistem meliputi delapan
subsistem yaitu komunikasi, transportasi dan keselamatan, ekonomi, pendidikan,
politik dan pemerintahan, layanan kesehatan dan sosial, lingkungan fisik dan
rekreasi (Helvie, 1998; Anderson & McFarlane, 2000; Ervin, 2002; Hitchcock,
Schubert, Thomas, 1999; Stanhope & Lancaster, 2004; Allender & Spradley,
2005).
Delapan subsistem dipisahkan dengan garis putus-putus artinya sistem satu
dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Di dalam komunitas ada lines of
resistance, merupakan mekanisme internal untuk bertahan dari stressor. Rasa
kebersamaan dalam komunitas untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan
contoh dari line of resistance. Anderson dan McFarlane (2000) mengatakan bahwa
dengan menggunakan model Community as Partner terdapat dua komponen
utama yaitu roda pengkajian komunitas dan proses keperawatan. Roda pengkajian
komunitas terdiri dari dua bagian utama yaitu inti dan delapan subsistem yang
mengelilingi inti yang merupakan bagian dari pengkajian keperawatan, sedangkan
proses keperawatan terdiri dari beberapa tahap mulai dari pengkajian, diagnosa,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Komunitas sebagai klien atau partner berarti kelompok masyarakat tersebut
turut berperan serta secara aktif meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengatasi
masalah kesehatannya.
B. Proses Keperawatan Model Community As Partner (CAP)
1 Pengkajian
Pengkajian adalah upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis
terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan yang
dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut
permasalahan pada fisiologis, psikologis dan sosial ekonomi maupun spiritual
dapat ditentukan.
Pengkajian keperawatan komunitas merupakan suatu proses tindakan untuk
mengenal komunitas. Mengidentifikasi faktor positif dan negatif yang berbenturan
dengan masalah kesehatan dari masyarakat hingga sumber daya yang dimiliki
komunitas dengan tujuan merancang strategi promosi kesehatan.
terdapat dua komponen utama dalam proses keperawatan CAP yaitu roda
pengkajian komunitas dan proses keperawatan. Roda pengkajian komunitas terdiri
dari :
(1) inti komunitas (the community core),
(2) subsistem komunitas (the community sub systems), dan
(3) persepsi ( perception).
Model ini lebih berfokus pada perawatan kesehatan masyarakat yang
merupakan praktek, keilmuan, dan metodenya melibatkan masyarakat untuk
berpartisipasi penuh dalam meningkatkan kesehatannya.
Dalam tahap pengkajian ini terdapat lima kegiatan, yaitu :
a. Pengumpulan Data
Tujuan pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi
mengenai masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat ditentukam
tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang
menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan spiritual serta faktor
lingkungan yang mempengaruhinya. Kegiatan pengkajian yang dilakukan
dalam pengumpulan data meliputi :
1) Data inti
a) Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
Riwayat terbentuknya sebuah komunitas (lama/baru). Tanyakan pada
orangorang yang kompeten atau yang mengetahui sejarah area atau
daerah itu.
b) Data demografi
Karakteristik orang-orang yang ada di area atau daerah tersebut,
distribusi (jenis kelamin, usia, status perkawinan, etnis), jumlah
penduduk,
c) Vital statistik
Meliputi kelahiran, kematian, kesakitan dan penyebab utama
kematian atau kesakitan.
d) Nilai dan kepercayaan
Nilai yang dianut oleh masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan,
kepercayaan-kepercayaan yang diyakini yang berkaitan dengan
kesehatan, kegiatan keagamaan di masyarakat, kegiatan-kegiatan
masyarakat yang mencerminkan nilai-nilai kesehatan.
2) Subsistem
a) Lingkungan fisik
Catat lingkungan tentang mutu air, flora, perumahan, ruang,
area hijau, binatang, orang-orang, bangunan buatan manusia,
keindahan alam, air, dan iklim.
b) Pelayanan kesehatan dan sosial
Catat apakah terdapat klinik, rumah sakit, profesi kesehatan
yang praktek, layanan kesehatan publik, pusat emergency, rumah
perawatan atau panti werda, fasilitas layanan sosial, layanan
kesehatan mental, dukun tradisional/pengobatan alternatif.
c) Ekonomi
Catat apakah perkembangan ekonomi di wilayah komunitas
tersebut maju dengan pesat, industri, toko, dan tempat-tempat untuk
pekerjaan, adakah pemberian bantuan sosial (makanan), seberapa
besar tingkat pengangguran, ratarata pendapatan keluarga,
karakteristik pekerjaan.
d) Keamanan dan transportasi
Apa jenis transportasi publik dan pribadi yang tersedia di
wilayah komunitas, catat bagaimana orang-orang bepergian, apakah
terdapat trotoar atau jalur sepeda, apakah ada transportasi yang
memungkinkan untuk orang cacat. Jenis layanan perlindungan apa
yang ada di komunitas (misalnya: pemadam kebakaran, polisi, dan
lain-lain), apakah mutu udara di monitor, apa saja jenis kegiatan yang
sering terjadi, apakah orang-orang merasa aman.
e) Politik dan pemerintahan
Catat apakah ada tanda aktivitas politik, apakah ada pengaruh
partai yang menonjol, bagaimana peraturan pemerintah terdapat
komunitas (misalnya: pemilihan kepala desa, walikota, dewan kota),
apakah orang-orang terlibat dalam pembuatan keputusan dalam unit
pemerintahan lokal mereka.
f) Komunikasi
Catat apakah oaring-orang memiliki tv dan radio, apa saja
sarana komunikasi formal dan informal yang terdapat di wilayah
komunitas, apakah terdapat surat kabar yang terlihat di stan atau kios,
apakah ada tempat yang biasanya digunakan untuk berkumpul.
g) Pendidikan
Catat apa saja sekolah-sekolah dalam area beserta kondisi,
pendidikan lokal, reputasi, tingkat drop-out, aktifitas-aktifitas
ekstrakurikuler, layanan kesehatan sekolah, dan tingkat pendidikan
masyarakat.
h) Rekreasi
Catat dimana anak-anak bermain, apa saja bentuk rekreasi utama,
siapa yang berpartisipasi, fasilitas untuk rekreasi dan kebiasaan
masyarakat menggunakan waktu senggang.
b. Jenis Data
Jenis data secara umum dapat diperoleh dari
1. Data subjektif: yaitu data yang diperoleh dari keluhan atau
masalah yang dirasakan oleh individu, keluarga, kelompok dan
komunitas, yang diungkapkan secara langsung melalui lisan.
2. Data objektif: data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan,
pengamatan dan pengukuran.
c. Sumber Data
1. Data primer: data yang dikumpulakn oleh pengkaji dalam hal
ini mahasiswa atau perawat kesehatan masyarakat dari individu,
keluarga, kelompok dan komunitas berdasarkan hasil
pemeriksaan atau pengkajian.
2. Data sekunder : data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat
dipercaya, misalnya : kelurahan, catatan riwayat kesejatan
pasien atau medical record. (wahit,
2005)
d. Cara Pengumpulan Data
1. Wawancara atatu anamnesa
2. pengamatan
3. Pemeriksaan fisik
e. Pengolahan Data
1. Klasifikasi data atau kategorisasi data
2. Perhitungan persentase cakupan dengan menggunakan tally
3. Tabulasi data
f. Interpretasi Data Analisis Data
Tujuan analisis data :
1. Menetapkan kebutuhan komuniti;
2. Menetapkan kekuatan;
3. Mengidentifikasi pola respon komuniti;
4. Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan
kesehatan.
g. Penentuan Masalah Atau Perumusan Masalah Kesehatan
h. Prioritas Masalah
Prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan perlu
mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria:
1. Perhatian masyarakat;
2. Prevalensi kejadian;
3. Berat ringannya masalah;
4. Kemungkinan masalah untuk diatasi;
5. Tersedianya sumber daya masyarakat;
6. Aspek politis.
Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hirarki
kebutuhan menurut Abraham H. Mashlow yaitu:
1. Keadaan yan mengancam kehidupan
2. Keadaan yang mengancam kesehatan
3. Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
B. Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan
baik yang aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah masalah yang
diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah
yang mungkin timbul kemudian. American Nurses Of Association (ANA).
Dengan demikian diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas,
padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi
dengan tindakan keperawatan. Contoh Diagnosa Keperawatan
1. Resiko terjadinya diare di RW. 02 Ds. Genuk Semarang suhubungan
dengan :
a. Sumber air tidak memenuhi syarat
b. Kebersihan perorangan kurang
c. Lingkungan yang buruk di manefestasikan oleh : banyaknya
sampah yang berserakan, penggunaan sungai sebagai tempat
mencuci, mandi dan pembuangan kotoran.
d. Tingginya kejadian karies gigi SMP 29 Semarang sehubungan
dengan :
e. Kurangnya pemeriksaan gigi
f. Kurangnya fluor pada air minum di manefestasikan: 62%
caries dengan inspeksi pada murid-murid SMP 29.
2. Kurangnya gizi pada balita di desa Karang Awen sehubungan dengan :
a. Banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan
b. Kurangnya jumlah kader
c. Kurangnya jumlah posyandu
d. Kurangnya jumlah pengetahuan masyarakat tentang gizi.
C. Perencanaan
Tahapan pengembangan masyarakat
1. Persiapan, penentuan prioritas daerah, pengorganisasian, pembentukan
pokjakes (kelompok kerja kesehatan) dilakukan dengan memilih araea/daerah
yang menjadi prioritas, menentukan cara untuk berhubungan dengan
masyarakat, mempelajari dan bekerjasama dengan masyarakat. Kelompok
kerja kesehatan adalah suatu wadah yang dibentuk oleh masyarakat secara
bergotong royong dengan kekeuatan sendiri, untuk :
1) Menolong diri mereka sendiri dalam mengenal dan memecahkan
masalah atau kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan.
2) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara kehidupan
yang sehat dan sejahtera.
3) Mengajak masyarakat berperan serta dalam pembangunan kesehatan di
wilayah RT/RW.
2. Pengorganisasian, pembentukan pokjakes (Kelompok Kerja Kesehatan).
Dengan persiapan pembentukan kelompok dan penyesuaian pola dalam
masyarakat yang dilanjutkan dengan pemilihan ketua kelompok dan pemilihan
pengurus inti.
Uraian tugas
a) Ketua
1) Mengkoordinir seluruh kegiatan pokjakes.
2) Memimpin pertemuan rutin pokjakes.
3) Membagi tugas kegiatan pokjakes kepada anggota.
4) Membantu anggota pokjakes dalam melaksanakan kesehatan,
menghimpun dana.
5) Mengkoordinir pengumpulan dana untuk kegiatan pemberian
makanan tanbahan tiap posyandu.
6) Memantau keaktifan kader.
7) Mengadakan penyelenggaraan kader bersama dengan puskesmas.
b) Sekretaris
1) Mencatat seluruh kegiatan pokjakes dari laporan masing – masing
seksi.
2) Membuat laporan hasil kegiatan pokjakes secara berkala yang
dilaporkan pada ketua RW dan masyarakat.
3) Mengurus surat menyurat dan kearsipan.
4) Menyelenggarakan pertemuan.
c) Bendahara
1) Menghimpun seluruh dana yang masuk dan keluar.
2) Mencatat pemasukan dan pengeluaran.
3) Membuat laporan keuangan rutin tiap bulan.
4) Melaporkan kepada anggota.
d) Kesehatan ibu dan balita
1) mengkoordinir kegiatan posyandu.
2) Membuat rekapitulasi data dari hasil kegiatan posyandu.
Mengkoordinir pengumpulan dana untuk kegiatan pemberian
makanan tambahan tiap posyandu.
3) Memantau keaktifan kader.
4) Mengadakan penyelenggaraan kader.
e) Kesehatan Lansia
1) Mengadakan penjajakan untuk pembentukan bina kesehatan
lansia.
2) Membentuk kader kesehatan dan menyelenggarakan penataan
kader bekerjasama dengan puskesmas.
3) Mengkoordinir senam lansia masing – masing wilayah.
4) Menyelenggarakan screening awal kesehatan lansia bekerjasma
dengan puskesmas.
f) Kesehatan Remaja
1) Membuat program kerja tahunan.
2) Bekerjasama dengan karang taruna mendata ulang jumlah remaja.
3) Membentuk kader – kader kesehatan remaja bersama karang
taruna.
4) Menyelenggarakan kegiatan – kegiatan :
Olah raga
Penyuluhan – penyuluhan tentena kesehatan
Seminar – seminar tentang kesehatan
5) Mengadakan screening urin dan darah terhadap pemakaian
narkoba bersama karang taruna bila memungkinkan.
6) Membina remaja – remaja bermasalah jika ada.
g) Seksi Kesehatan Lingkungan
1) Membuat program kerja tahunan.
2) Mengadakan pemetaan ulang tiap RT lengkap dengan sarana dan
prasarana yang ada bersama ketua RT.
3) Mengidentifikasi masalah – masalah kesehatan yang ada bersama
ketua RT.
4) Mengadakan musyawarah RW / RT untuk membahas masalah –
masalah kesehatan lingkungan.
3. Tahap kepemimpinan memberi kepemimpinan latihan keterampilan yang
meliputi perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan kegiatan
pemeliharaan kesehatan.
4. Tahap diklat meliuputi kegiatan-kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok
masyarakat yang melakukan pengkajian, membuat program berdasarkan
masalah atau diagnosa keperawatan, melatih kader kesehatan akan membina
warga masyarakat di lingkungannya dan pelayanan keperawatan langsung
terhadap individu, keluarga dan masyarakat.
5. Koordinasi intersektoral, akhir, supervisi atau kunjungan bertahap. Fase akhir
dilanjutkan dengan supervisi bertahap dan diakhiri dengan evaluasi dan
pemberian umpan balik dari hasil evaluasi untuk perbaikan kegiatan
kelompok kerja berikutnya.
Intervensi keperawatan yang dilakukan mencakup: pendidikan
kesehatan/keperawatan (Health Education), mendemonstrasikan keterampilan
dasar yang dapat dilakukan oleh komunitas, melakukan intervensi
keperawatan yang memerlukan keahlian perawat, misalnya konseling remaja,
pasangan yang akan menikah dan sebagainya, melakukan kerjasama lintas
program dan lintas sektoral untuk mengatasi masalah komunitas serta
melakukan rujukan keperawatan dan non keperawatan apabila diperlukan.
Intervensi keperawatan tersebut difokuskan pada 3 level pencegahan sbb :
a Prevensi Primer.
Pencegahan dalam arti sebenarnya, terjadi sebelum sakit atau
ketidakberfungsian dan diaplikasikan ke populasi sehat pada umumnya.
Pencegahan primer mencakup peningkatan kesehatan pada umumnya dan
perlindungan khusus terhadap penyakit. Contoh; Kegiatan di bidang
prevensi primer anatara lain :
1) Stimulasi dan bimbingan dini/awal dalam kesehatan keluarga
dan asuhan anak/balita. 2) Imunisasi
3) Penyuluhan tentang gizi balita
4) Penyuluhan tentang pencegahan terhadap kecelakaan
5) Asuhan prenatal.
6) Pelayanan Keluarga Berencana
7) Perlindungan gigi (dental prophylaxis)
8) Penyuluhan untuk pencegahan keracunan
b Prevensi sekunder
Pencegahan sekunder menekankan diagnosa dini dan intervensi yang
tepat untuk menghambat proses psikologik sehingga memperpendek
waktu sakit dan tingkat keparahan/keseriusan penyakit. Contoh: Kegiatan
di bidang prevensi sekunder antara lain:
1) Mengkaji keterbelakangan tumbuh kembang seorang anak/balita
2) Memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara
berkala termasuk gigi dan mata terhadap balita.
c Prevensi Tersier
Pencegahan tersier mulai pada saat cacat atau ketidakmampuan terjadi
sampai stabil/menetap atau dapat diperbaiki (irreversible). Rehabilitasi
sebagai tujuan pencegahan primer lebih dari upaya menghambat proses
penyakit sendiri, yaitu : mengembalikan individu keopada tingkat
berfungsi yang optimal dari ketidakmampuannya. Contoh : Kegiatan
dibidang Prevensi tersier antara lain :
1) perawat mengajar kepada keluarga untuk melakukan perawatan
anak dengan kolostomi di rumah.
2) Membantu keluarga yang mempunyai anak dengan
kelumpuhan anggota gerak untuk latihan secara teratur di
rumah.
Pada praktek keperawatan komunitas, prinsip-prinsip kesehatan
komunitas haruslah menjadi pertimbangan yaitu :
a. Pemanfaatan, Intervensi yang dilakukan harus memberikan manfaat
yang sebesar-besarnya bagi komunitas artinya ada keseimbangan
antara manfaat dengan kerugian.
b. Autonomi, Komunitas diberi kebebasan untuk melakukan atau
memilih alternatif yang terbaik yang disediakan untuk komunitas.
c. Keadilan, Melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan
kemampuan kapasitas komunitas.
D. Pelaksanaan/Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan (Gordon, 1994., dalam Potter & Perry, 1997).
Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien terkait dengan
dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi, pendidikan untuk
klien-keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul
dikemudian hari.
Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori
dari implementasi keperawatan, antara lain:
a. Cognitive implementations, meliputi pengajaran atau pendidikan,
menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup
sehari-hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi komunikasi,
memberikan umpan balik, mengawasi tim keperawatan, mengawasi
penampilan klien dan keluarga, serta menciptakan lingkungan sesuai
kebutuhan, dan lain lain.
b. Interpersonal implementations, meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan,
meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik,
menetapkan jadwal personal, pengungkapan perasaan, memberikan
dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan
lain lain.
c. Technical implementations, meliputi pemberian perawatan kebersihan
kulit, melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan
dari data dasar klien, mengorganisir respon klien yang abnormal,
melakukan tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan rujukan, dan
lain-lain.
E. Evaluasi atau penilaian
Menurut Ziegler, Voughan – Wrobel, & Erlen (1986) dalam Craven & Hirnle
(2000), evaluasi terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Evaluasi struktur
Evaluasi struktur difokuskan pada kelengkapan tata cara atau keadaan
sekeliling tempat pelayanan keperawatan diberikan. Aspek lingkungan
secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi dalam pemberian
pelayanan. Persediaan perlengkapan, fasilitas fisik, rasio perawat-klien,
dukungan administrasi, pemeliharaan dan pengembangan kompetensi staf
keperawatan dalam area yang diinginkan.
b. Evaluasi proses
Evaluasi proses berfokus pada penampilan kerja perawat dan apakah
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan merasa cocok, tanpa
tekanan, dan sesuai wewenang. Area yang menjadi perhatian pada evaluasi
proses mencakup jenis informasi yang didapat pada saat wawancara dan
pemeriksaan fisik, validasi dari perumusan diagnosa keperawatan, dan
kemampuan tehnikal perawat.
c. Evaluasi hasil
Evaluasi hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons prilaku
klien merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat
pada pencapaian tujuan dan kriteria hasil.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Konsep Community as Partner diperkenalkan Anderson dan McFarlane.
Model ini merupakan pengembangan dari model Neuman yang menggunakan
pendekatan totalitas manusia untuk menggambarkan status kesehatan klien.
Neuman memandang klien sebagai sistem terbuka dimana klien dan
lingkungannya berada dalam interaksi yang dinamis. Menurut Neuman, untuk
melindungi klien dari berbagai stressor yang dapat mengganggu keseimbangan,
klien memiliki tiga garis pertahanan, yaitu fleksible line of defense, normal line
of defense, dan resistance defense.
3.2 Saran
Untuk mencapai suatu keberhasilan yang baik dalam pembuatan makalah
selanjutnya, maka penulis memberikan saran kepada:
1 Mahasiswa
Dalam pengumpulan data, penulis mendapatkan berbagai
kesulitan. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, sehingga penulis
mendapatkan data untuk dapat menyelesaikan makalah ini.
2 Pendidikan
Pada Prodi Keperawatan, khususnya perpustakaan, agar dapat
menyediakan bukubuku yang sudah mengalami perubahan-perubahan
yang lebih maju sehingga buku tersebut bukan saja sebagai sumber
ilmu tetapi dapat dijadikan sumber referensi untuk materi makalah.
Khususnya untuk makalah-makalah yang akan dijadikan makalah
selanjutnya.
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada
makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik
yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih
baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Semoga
makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan pembuatan makalah Model
Community as Partner selanjutnya dan mahasiswa memahami asuhan
keperawatan melanoma maligna sehingga dapat mengaplikasikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Natsir Muhammad. 2014. Konsep-Community-as-Partner-Diperkenalkan-Anderson-
Dan-McFarlane-Model-Ini-Merupakan-Pengembangan-Dari-Model-Neuman-
YangMenggunakan-Pendeka.
[Link]
Konsep-Community-as-Partner-Diperkenalkan-Anderson-Dan-McFarlane-Model-Ini-
Merupakan-Pengembangan-Dari-Model-Neuman-Yang-Menggunak (diakses pada
hari Jumat tanggal 25 Maret 2016 pukul 19.30 wita)
Anderson, E.T., and McFarlane, J.(2000). Community as partner: Theory and
practice in nursing, [Link], Philadelpia: Lippincott
Allender, J.A., and Spradley, B.W.(2001). Community health nursing : Concepts and
practice, [Link], Philadelpia: Lippincott
Clark, M.J.(1999). Nursing in the community: Dimensions of community health
nursing,
Standford, Connecticut: Appleton & Lange
George B. Julia , Nursing Theories- The base for professional Nursing Practice , 3rd
ed. Norwalk, Appleton and Lange.
Hidayat Aziz Halimul. 2004. Pengantar Konsep Keperawatan Dasar. Salemba
Medika
:Jakarta.
Mubarak, Iqbal Wahit. 2009. Pengantar dan Teori Ilmu Keperawatan Komunitas 1.
Cv Sagung Seto : Jakarta
Craven, R. F dan Hirnle, C. J. 2000. Fundamental of Nursing: Human, Health and
function. Edisi 3. Phiadelphia: lippincott