0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan110 halaman

Penyempurnaan Filter Harmonisa

Tugas akhir ini membahas tentang penyempurnaan filter harmonisa untuk mengurangi efek korosi akibat arus liar pada PT Batutua Tembaga Raya di Pulau Wetar. Perusahaan ini mengalami masalah harmonisa dari penyearah tegangan yang menurunkan kualitas listrik dan menimbulkan panas berlebih serta korosi. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan telah menggunakan filter harmonisa berbasis kapasitor namun belum optimal. Oleh k

Diunggah oleh

Firman Syah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan110 halaman

Penyempurnaan Filter Harmonisa

Tugas akhir ini membahas tentang penyempurnaan filter harmonisa untuk mengurangi efek korosi akibat arus liar pada PT Batutua Tembaga Raya di Pulau Wetar. Perusahaan ini mengalami masalah harmonisa dari penyearah tegangan yang menurunkan kualitas listrik dan menimbulkan panas berlebih serta korosi. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan telah menggunakan filter harmonisa berbasis kapasitor namun belum optimal. Oleh k

Diunggah oleh

Firman Syah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR – TE 141599

PENYEMPURNAAN FILTER HARMONISA UNTUK


MENGURANGI EFEK STRAY CURRENT CORROSION
PADA [Link] TEMBAGA RAYA, WETAR

Azharia Mahdiya
NRP 0711 14 4000 0081

Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Margo Pujiantara, M.T.
Dedet C. Riawan, ST. [Link]. Ph. D.

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO


Fakultas Teknologi Elektro
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya 2018
TUGAS AKHIR – TE 141599

IMPROVEMENT OF HARMONISA FILTERS TO REDUCE


STRAY CURRENT CORROSION EFFECT ON
[Link] TEMBAGA RAYA, WETAR

Azharia Mahdiya
NRP 0711 14 4000 0081

Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Margo Pujiantara, M.T.
Dedet C. Riawan, ST. [Link]. Ph.

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO


Fakultas Teknologi Elektro
Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya 2017
PENYEMPURNAAN FILTER HARMONISA UNTUK
MENGURANGI EFEK STRAY CURRENT CORROSION
PADA PT. BATUTUA TEMBAGA RAYA, WETAR

Nama : Azharia Mahdiya


Pembimbing I : Dr. Ir. Margo Pujiantara, M.T.
Pembimbing II : Dedet C. Riawan ST., M. Eng., Ph. D.

ABSTRAK

Harmonisa menjadi masalah yang patut diperhatikan karena semakin


berkembangnya teknologi, peralatan elektronika daya juga makin
berkembang, dan permasalahan harmonisa bisa menjadi lebih serius.
Salah satu perusahaan yang berlokasi di Pulau Wetar Maluku Utara, PT.
Batutua Tembaga Raya, yang bergerak di bidang pertambangan tembaga
ini mengalami masalah harmonisa. Dalam proses kerjanya, perusahaan
ini terbagi atas beberapa bagian untuk proses pengolahan hasil tambang.
Sebagian dari peralatan yang tersebut menggunakan listrik DC (arus
searah) sehingga terdapat penyearah 12 pulsa untuk mengubah arus
bolak-balik dari pembangkit menjadi arus searah untuk digunakan pada
peralatan. Namun, proses penyearahan ini berdampak pada timbulnya
harmonisa sehingga kualitas daya listrik menurun, menimbulkan panas
lebih, bahkan menyebabkan korosi pada material yang mengandung
unsur besi akibat dari arus yang besar. Korosi tersebut dapat
menyebabkan kerusakan pada konstruksi peralatan. Stray current atau
arus lebih merupakan arus yang tidak diinginkan namun mengalir pada
sistem. Arus tersebut salah satunya berasal dari harmonisa. Untuk
mengatasi hal tersebut, perusahaan sudah merancang filter harmonisa
menggunakan kapasitor, namun ternyata filter tersebut tidak bekerja
secara optimal. Oleh karena itu, pada tugas akhir ini akan direncanakan
dan disimulasikan sebuah filter untuk mereduksi harmonisa agar efek
korosi akibat stray current dan harmonisa dapat dikurangi. Ketika filter
harmonisa bekerja dengan baik, arus lebih akibat dari harmonisa tidak
akan mengalir lagi pada sistem sehingga efek stray current corrosion
dapat dikurangi. Setelah pemasangan single tuned filter, nilai THD arus
dan tegangan berkurang, nilai arus yang masuk dalam bus juga
berkurang. Berkurangna arus yang masuk dapat mengurangi efek dari
stray current corrosion.
Kata Kunci : Stray Current Corrosion, Harmonisa, Filter Pasif

i
Halaman ini sengaja dikosongkan

i
IMPROVEMENT OF HARMONIC FILTERS TO REDUCE
STRAY CURRENT CORROSION ON PT. BATUTUA
TEMBAGA RAYA, WETAR

Nama : Azharia Mahdiya


Advisor I : Dr. Ir. Margo Pujiantara, M.T.
Advisor II : Dedet C. Riawan ST., M. Eng., Ph. D.

ABSTRACT

Harmonics are a matter of concern because as technology develops,


power electronics equipment is also growing, and harmonics problems
can become more serious. One of the companies engaged in Wetar
Island North Maluku, PT. Batutua Copper Raya, which is engaged in
copper mining is experiencing harmonic problems. In the work process,
the company is divided into several parts for the processing of mining
products. (Unidirectional) so that there is a rectifier of 12 pulses to
convert the alternating current from energy into direct current for use on
the equipment. However, this rectification process has an impact on the
emergence of harmonics because the quality of power is reduced, the
more heat, even causing corrosion in materials containing iron elements
due to currents. Such corrosion may cause damage to the construction of
the equipment. Stray current is the undesirable current flowing in the
system. The current one of them comes from harmonics. To overcome
this, the company has compiled a harmonic filter using capacitors, but it
turns out the filter is not working optimally. Therefore, in this final
project will be planned and simulated a filter to eliminate harmonics so
that the corrosion effect due to stray currents and harmonics can be
reduced. When filtered harmonics work well, more current from the
harmonics will no longer flow to the system because the current stray
corrosion effect can be reduced. After installing a single tuned filter, the
current and its entry. Reduced incoming currents can reduce the effect of
stray current corrosion.

Key Word : Stray Current Corrosion, Harmonisa, Filter Pasif

v
Halaman ini sengaja dikosongkan

v
KATA PENGANTAR

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat


Allah S.W.T. Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat dan
hidayat-Nya, saya selaku penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir
yang berjudul: “Penyempurnaan Filter Harmonisa Untuk
Mengurangi Efek Stray Current Corrosion Pada PT. Batutua
Tembaga Raya, Wetar” dengan baik. Penulis berharap Tugas Akhir ini
dapat bermanfaat bagi orang lain terutama pembaca.
Sehubungan dengan proses penyusunan Tugas Akhir ini, penulis
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin
menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada semua pihak yang membantu dan membimbing dalam proses
pengerjaan Tugas Akhir ini.
Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Keluarga tercinta terutama papa Boy Tirta Sumriyadi, M.M. dan
mama Ratna Ahsanty, [Link]. dan tiga adik-adik yang senantiasa
memberikan semangat, dukungan dan doa yang sangat berarti.
2. Bapak Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT. dan Bapak Dedet Candra
Riawan, ST., [Link]., Ph.D. selaku dosen pembimbing, serta
dosen jurusan Teknik Elektro yang telah membimbing dengan
sabar dan memberikan beberapa saran dan masukan yang sangat
penting bagi penulis.
3. Bapak Dr. Ir. Margo Pujiantara, MT. selaku kepala laboratorium
LIPIST yang telah membina dan memfasilitasi asisten
laboratorium.
4. Irfano Azmi yang merupakan sahabat dekat dan senantiasa
memberikan masukan, dukungan, semangat dan doa.
5. Asisten Lab LIPIST yang telah mengisi hari-hari dengan
semangat dalam proses penyelesaian Tugas Akhir ini.
6. Rekan-rekan E54 yang telah memberikan semangat dan motivasi
untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.
7. Semua mahasiswa di Departemen Teknik Elektro ITS yang telah
memberikan semangat dan motivasi untuk menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
8. Seluruh teman - teman CMBBS yang telah memberikan
dukungan dan doa untuk menyelesaikan tugas akhir ini
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih terhadap pihak-
pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Mohon maaf yang

vi
sebesar-besarnya apabila ada kesalahan kata yang dapat menyinggung
pembaca. Saya ucapkan sekian dan terima kasih.

Surabaya, Januari 2018

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan........................................................................i
Abstrak............................................................................................iii
Abstract...........................................................................................v
Kata Pengantar................................................................................vii
Daftar Isi..........................................................................................ix
Daftar Gambar................................................................................xi
Daftar Tabel.....................................................................................xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................2
1.3 Batasan Masalah......................................................................2
1.4 Tujuan......................................................................................2
1.5 Metodologi...............................................................................2
1.6 Sistematika...............................................................................4
1.7 Relevansi..................................................................................5

BAB II TEORI PENUNJANG


2.1 Interferensi Arus Liar................................................................7
2.2 Harmonisa.................................................................................8
2.2.1 Pengertian Harmonisa.......................................................9
2.2.2 Analisis Harmonisa dengan Metode Fourier...................14
2.2.3 Sumber Harmonisa..........................................................16
[Link] Konverter.................................................................16
[Link] Mesin-mesin berputar...............................................16
[Link] Tanur Busur Listrik.................................................17
2.2.4 Perhitungan Harmonisa....................................................17
2.3 Pengaruh Harmonisa.................................................................19
2.3.1 Resonansi..........................................................................20
2.3.2 Pengaruh Pada Mesin Induksi..........................................21
2.3.3 Pengaruh Pada Transformator..........................................21
2.3.4 Pengaruh Pada Kapasitor Bank........................................22
2.3.5 Pengaruh Pada Rele Pengaman........................................22
2.4 Desain Filter..............................................................................22

i
2.5 Penerapan Filter Harmonisa......................................................28

BAB III SISTEM KELISTRIKAN PT. BATUTUA TEMBAGA


RAYA
3.1 Sistem Kelistrikan PT. Batutua Tembaga Raya........................29
3.2 Beban di PT. Batutua Tembaga Raya.......................................32
3.3 Harmonisa pada Sistem Kelistrikan PT. Batutua Tembaga
Raya...........................................................................................38
3.4 Langkah-Langkah Meredam Harmonisa di PT. Batuta
Tembaga Raya Wetar................................................................40

BAB IV SIMULASI DAN ANALISIS


4.1 Evaluasi Sistem Kelistrikan PT. Batutua Tembaga Raya.........41
4.1.1 Kondisi Eksisting Tegangan.............................................41
4.1.2 Kondisi Harmonisa...........................................................43
4.2 Ketika Menggunakan Capacitor Bank Sebagai Peredam
Harmonisa.................................................................................50
4.3 Penentuan Peralatan Peredam Harmonisa.................................51
4.3.1 Filter Untuk Bus 36SB001................................................53
4.3.2 Filter Untuk Bus 95 dan Bus 101.....................................57
4.3.2 Filter Untuk Bus 21 dan Bus 100.....................................62
4.4 Simulasi Sistem Setelah Pemasangan Filter Harmonisa...........66
4.4.1 Faktor Daya Setelah Pemasangan Filter............................66
4.4.2 Harmonisa Sistem Setelah Pemasangan Filter
Harmonisa.........................................................................68
4.5 Pengaruh Pemasangan Filter Harmonisa Terhadap Stray
Current Corrosion......................................................................75

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................................79
5.2 Saran...........................................................................................80

DAFTAR PUSTAKA......................................................................81

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Gelombang sinusoidal murni frekuensi fundamental ... 8


Gambar 2.2 Gelombang harmonisa...................................................9
Gambar 2.3 Gelombang terdistorsi...................................................9
Gambar 2.4 Rangkaian pengganti Thevenin untuk jaringan
sistem tenaga listrik.......................................................9
Gambar 2.5 Rangkaian pengganti untuk n>1..................................10
Gambar 2.6 Elemen non linier sebagai sumber arus harmonisa …
11 Gambar 2.7 Komponen Urutan Positif.......................................11
Gambar 2.8 Komponen Urutan Negatif..........................................12
Gambar 2.9 Komponen Urutan Nol.................................................12
Gambar 2.10 Resonansi paralel pada sistem tenaga listrik..............20
Gambar 2.11 Resonansi seri pada sistem tenaga listrik...................21
Gambar 2.12 (a) Rangkaian Filter Penalaan Tungggal....................24
(b) Grafik Impedansi Filter Terhadap Frekuensi.......24
Gambar 2.13 Rangkaian Filter Penalaan Ganda..............................25
(a) Transformasi Dari Dua Filter Penalaan Tunggal. .25
(b) Filter Penalaan Ganda..........................................25
(c) Filter Penalaan Ganda Ditala Orde Lima dan
Tujuh.....................................................................25
Gambar 2.14 High Pass Damped Filter...........................................26
(a.) Orde Satu.............................................................26
(b.) Orde Dua.............................................................26
(c.) Orde Tiga.............................................................26
(d.) Tipe C..................................................................26
Gambar 3.1 Kelistrikan di PT. Batutua Tembaga............................30
Gambar 4.1 Harmonisa tegangan pada bus 36SB001......................44
(a) Spektrum harmonisa...............................................44
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................44
Gambar 4.2 Harmonisa arus pada bus 36SB001..............................45
(a) Spektrum harmonisa...............................................45
(b) Bentuk gelombang arus..........................................45
Gambar 4.3 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101............46
(a) Spektrum harmonisa...............................................46
(b) Bentuk gelombang arus..........................................46
Gambar 4.4 Harmonisa arus pada bus 95 dan bus 101....................47
(a) Spektrum harmonisa...............................................47
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................47

x
Gambar 4.5 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100............48
(a) Spektrum harmonisa...............................................48
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................48
Gambar 4.6 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100............49
(a) Spektrum harmonisa...............................................49
(b) Bentuk gelombang arus..........................................49
Gambar 4.7 Harmonisa tegangan pada bus 36SB001 setelah
Difilter...........................................................................69
(a) Spektrum harmonisa...............................................69
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................70
Gambar 4.8 Harmonisa arus pada bus 36SB001 setelah difilter … 70
(a) Spektrum harmonisa...............................................70
(b) Bentuk gelombang arus..........................................71
Gambar 4.9 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100
setelah difilter...............................................................71
(a) Spektrum harmonisa...............................................71
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................72
Gambar 4.10 Harmonisa arus pada bus 21 dan bus 100 setelah
difilter.........................................................................72
(a) Spektrum harmonisa...............................................72
(b) Bentuk gelombang arus..........................................73
Gambar 4.11 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101
setelah difilter.............................................................73
(a) Spektrum harmonisa...............................................73
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................74
Gambar 4.12 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101
setelah difilter.............................................................74
(a) Spektrum harmonisa...............................................74
(b) Bentuk gelombang arus..........................................75

x
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Urutan fasa harmonisa......................................................13


Tabel 2.2 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE
Std 519-1992 untuk sistem 120 V sampai 69 kV.............18
Tabel 2.3 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE
Std 519-1992 untuk sistem 69 kV sampai 161 kV...........18
Tabel 2.4 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE
Std 519-1992 untuk sistem diatas 161 kV.......................19
Tabel 2.5 Maksimum distorsi tegangan berdasarkan IEEE
Std 519-1992....................................................................19
Tabel 3.1 Data Kapasitas Pembangkit di PT. Batutua Tembaga
Raya..................................................................................29
Tabel 3.2 Data Bus dan Rating Tegangan.......................................31
Tabel 3.3 Data Transformator PT. Batutua Tembaga Raya.............32
Tabel 3.4 Beban di PT. Batutua Tembaga Raya..............................33
Tabel 3.5 Data Konverter di PT. Batutua Tembaga Raya................38
Tanel 3.6 Harmonisa yang dihasilkan oleh converter......................39
Tabel 4.1 Perbandingan nilai tegangan bus terhadap nilai standar...41
Tabel 4.2 Perbaikan nilai tegangan dengan pengaturan
tap transformator..............................................................43
Tabel 4.3 Ketika Menggunakan Capacitor Sebagai Filter...............50
Tabel 4.4 Faktor daya setelah pemasangan filter.............................66
Tabel 4.5 Harmonisa Tegangan setelah pemasangan filter

x
harmonisa........................................................................68
Tabel 4.6 Harmonisa Arus setelah pemasangan filter harmonisa....68
Tabel 4.7 Arus Pada Jaringan..........................................................76

x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak berkembangnya peralatan elektronika daya yang dimulai
pada tahun 1900, permasalahan harmonisa juga semakin
berkembang. Permasalahan harmonisa ini pertama kali ditemukan
antara tahun 1920 dan 1930 tepatnya di Negara Jerman. Saat itu
terjadi gangguan sistem tenaga listrik akibat static converter yang
banyak digunakan oleh industri. Setelah itu, berkembang pesat studi
mengenai converter yang menyebabkan harmonisa pada tahun
1950- 1960. Melihat perkembangan industri dari waktu ke waktu,
pembahasan masalah harmonisa menjadi bahan diskusi bahkan
sampai ke tingkat internasional.
Salah satu perusahaan yang mengalami permasalahan
harmonisa adalah perusahaan pertambangan tembaga di Maluku
Utara, PT. Batutua Tembaga Raya Wetar. Baru tiga bulan
beroperasi, perusahaan ini memiliki beberapa permasalahan
penting. Salah satunya adalah terkorosinya peralatan-peralatan yang
mengandung unsur besi di beberapa bagian pada perusahaan ini.
PT. Batutua Tembaga Raya memiliki berbagai macam
peralatan untuk menunjang proses pengolahan hasil tambangnya.
Sebagian besar dari peralatan pada perusahaan ini merupakan beban
non-linier sehingga menimbulkan harmonisa. Peralatan-peralatan
tersebut juga menggunakan listrik DC sehingga untuk
mengoperasikannya diperlukan penyearah 12 pulsa untuk
mengkonversi arus AC dari pembangkit menjadi DC untuk
digunakan pada peralatan. Namun, penyearah 12 pulsa ini memiliki
dampak negatif berupa harmonisa yang akan berpengaruh pada
jaringan sistem. Harmonisa ini dapat menyebabkan beberapa
permasalahan pada seluruh sistem kelistrikan dan juga pada
peralatan, termasuk terjadinya korosi pada material yang
mengandung unsur besi.. Sehingga pada tugas akhir ini akan
direncanakan dan disimulasikan sebuah filter untuk menghilangkan
harmonisa agar efek korosi harmonisa dapat dikurangi.

1
1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang akan dibahas dalam Tugas Akhir ini
yaitu:
1. Bagaimana pola sistem kelistrikan pada PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar?
2. Bagaimana permasalahan harmonisa yang terjadi di PT. Batutua
Tembaga Raya Wetar?
3. Bagaimana merancang filter harmonisa pada PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar agar korosi pada konduktor dapat dikurangi?

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah pada tugas akhir ini yaitu:
1. Menganalisis aliran daya pada keseluruhan sistem di PT.
Batutua Tembaga Raya Wetar.
2. Menganalisis harmonisa yang terjadi pada sebagian sistem PT.
Batutua Tembaga Raya Wetar.
3. Membuat simulasi rancangan filter pasif harmonisa dengan
software ETAP 12.6.

1.4 Tujuan
Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah:
1. Melakukan studi pada pola kelistrikan PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar agar dapat mengetahui kesetimbangan antara daya
terbangkit dengan daya beban.
2. Melakukan studi mengenai harmonisa yang terjadi di PT.
Batutua Tembaga Raya Wetar.
3. Melakukan perancangan model filter harmonisa untuk
mereduksi harmonisa di PT. Batutua Tembaga Raya Wetar.

1.5 Metodologi
Metodologi yang digunakan pada Tugas Akhir ini yaitu :

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data-data


yang dibutuhkan dalam pengerjaan Tugas Akhir, seperti single

2
line diagram dan data dari peralatan-peralatan listrik pada PT.
Batutua Tembaga Raya Wetar yang meliputi: pola operasi
keseluruhan, pola kerja kelistrikan per bagian dari perusahaan,
generator, rating kabel, transformator, motor listrik,
rectiformer, dan peralatan-peralatan lainnya.

2. Pemodelan Sistem

Pemodelan sistem dirancang dalam bentuk Single line diagram


dengan software ETAP 12.6 sekaligus memasukkan data-data.
Pemodelan sistem dilakukan agar dapat dilakukan analisis
aliran daya dan harmonisa.

3. Simulasi dan Analisis Aliran Daya

Melakukan simulasi Aliran Daya pada sistem kelistrikan yang


ada di PT. Batutua Tembaga Raya Wetar dengan software
ETAP
12.6. Hasil simulasi kemudian digunakan untuk mengetahui
aliran daya pada sistem kelistrikan di PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar dan dilakukan analisis mengenai skema operasi
yang digunakan. Simulasi tersebut akan dijadikan acuan untuk
melakukan studi harmonisa.

4. Pemodelan Filter Harmonisa

Melakukan pemodelan filter harmonisa dengan software ETAP


12.6 dan melakukan pengamatan mengenai respon harmonisa
sebelum dan setelah dilakukan pemodelan filter tersebut. Data
yang akan dianalisis, yaitu reduksi harmonisa arus dan
tegangan.

5. Penulisan Buku Tugas Akhir

Penulisan buku dilakukan sebagai penggambaarn kesimpulan


dari tugas akhir ini. Kesimpulan tersebut membahas tentang
harmonisa di PT. Batutua Tembaga Raya Wetar serta
merekomendasikan filter harmonisa sebagai pengganti
kapasitor terpasang untuk mereduksi harmonisa.

3
1.6 Sistematika
Sistematika penulisan dalam tugas akhir ini terdiri dari lima bab yang
berisi tentang :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini merupakan bagian awal yang berisi latar belakang,


perumusan masalah, tujuan, metodologi, sistematika, dan relevansi
atau manfaat penulisan tugas akhir.

BAB II : TEORI PENUNJANG

Bagian ini membahas dasar teori tentang harmonisa, pengruh


harmonisa, dan desain filter harmonisa, serta tinjauan pustaka
berupa penerapan filter harmonisa yang sudah pernah ada.

BAB III : SISTEM KELISTRIKAN PT. BATUTUA TEMBAGA RAYA

Bagian ini membahas tentang sistem kelistrikan di PT. Batutua


Tembaga Raya secara menyeluruh. Mulai dari detail pembangkit,
beban, sampai dengan harmonisa yang terjadi.

BAB IV : SIMULASI DAN ANALISIS

Mensimulasikan sistem kelistrikan di PT. Batutua Tembaga Raya


Wetar menggunakan software ETAP 12.6 yang meliputi studi
aliran daya dan fenomena harmonisa. Akan dipaparkan pula
bagaimana kondisi harmonisa ketika hanya menggunakan kapasitor
sebagai filter harmonisa, seperti kondisi di PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar saat ini. Kemudian memberikan detail perhitungan
perhitungan komponen dari filter harmonisa pasif yang digunakan
sebagai peredam harmonisa.

BAB V : PENUTUP

Merupakan bagian akhir yang berisi kesimpulan yang diperoleh


dari penelitian yang telah dilakukan, serta saran-saran untuk
pengembangan penelitian selanjutnya.

4
1.7 Relevansi
Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Dapat digunakan sebagai rekomendasi bagi PT. Batutua
Tembaga Raya Wetar untuk solusi dari permasalahan DC stray
current corrosion yang terjadi di beberapa bagian dari pabrik.
2. Dapat menjadi referensi terkait analisis arus, tegangan, daya,
dan harmonisa pada sistem kelistrikan industri untuk
penelitian selanjutnya.

5
Halaman ini sengaja dikosongkan

6
BAB II
TEORI PENUNJANG
2.1 Interferensi Arus Liar
Interferensi arus liar merupakan sebuah gangguan elektrikal
pada suatu struktur material yang disebabkan oleh arus liar atau arus
tersasar yang bisa disebut juga sebagai stray current. Salah satu
penyebab dari munculnya arus liar adalah harmonisa yang terjadi pada
jaringan sistem. Harmonisa akan mengakibatkan arus lebih pada
jaringan dan menyebabkan terkorosinya konstruksi peralatan yang
mengandung unsur besi.
Stray current bisa terjadi pada jaringan listrik AC (Alternating
Current) maupun DC (Direct Current). Desain rangkaian DC biasanya
merupakan floating null point system atau sistem yang tidak dibumikan.
Arus liar bisa saja mengalir dari konduktor ke tanah sehingga
mengindikasikan bahwa terdapat suatu jalur tak kasat mata dari
konduktor ke bumi dan dapat menyebabkan hubung singkat. Efek yang
dapat ditimbulkan dari stray current diantaranya adalah menurunkan
efisiensi arus, membuat biaya operasional lebih tinggi, mempercepat
korosi pada komponen logam, serta deposisi pertambahan metalik yang
tidak diinginkan.
Arus liar yang berasal dari arus searah (DC) dan tidak sengaja
memasuki konstruksi dari peralatan yang mengandung unsur besi,
kemudian meninggalkannya kembali menuju sumber arus, akan
menyebabkan karat pada titik dimana arus meninggalkan konstruksi
tersebut. Karat yang terjadi cukup serius dapat merusak konstruksi
tersebut dan menyebabkan terjadinya korosi. Indikasi bahwa terjadinya
korosi akibat stray current dapat dilihat ketika instalasi dilewati oleh
arus searah yang besar dan berada di sekitar struktur yang mengalami
korosi dan terutama bila terjadi korosi yang sangat cepat meskipun
sudah ada perlindungan katodik.
Berdasarkan Hukum Faraday 1 yang menyatakan bahwa massa
zat yang dibebaskan pada suatu elektrolisis berbanding lurus dengan
jumlah arus listrik yang mengalir, yang dapat dirumuskan dalam
persamaan (2.1) berikut [9].

7
𝑄 𝑀
𝑚 = ( )( ) (2.1)
𝐹 𝑧

Dengan m adalah massa zat yang terbebaskan dalam satuan gram (g), Q
adalah total muatan yang ditransfer dalam reaksi dengan satuan
Coulombs (C), F adalah konstanta Faraday 96,485 Coulomb per mol
electron (C/mol), M adalam massa molar zat dalam gram per mol
(g/mol), dan Z adalah jumlah mol electron yang ditransfer per jumlah
mol substrat. Maka semakin besar arus yang mengalir, peralatan akan
cepat mengalami korosi.
Pada PT. Batutua Tembaga Raya, pegangan katup 25mm
berubah warna menjadi hitam, serta terjadi perubahan warna pada
penopang baja tahan karat sisi positif bus utama dan gagang pintu baja
tahan karat pada bulan ketiga pengoperasian pabrik, yang
mengindikasikan bahwa hal tersebut diakibatkan oleh stray current.

2.2 Harmonisa
Sebenarnya, gelombang arus dan tegangan yang dikirim dari
sumber menuju beban merupakan gelombang sinusoidal murni dengan
frekuensi tunggal. Namun dalam proses pendistribusiannya, terjadi
berbagai gangguan sehingga bentuk gelombang tidak lagi sinusoidal
murni. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisa. Harmonisa merupakan
suatu gejala pembentukan gelombang sinusoidal dengan frekuensi
berbeda dimana nilai frekuensinya berupa perkalian bilangan bulat
dengan frekuensi dasarnya sehingga menjadikan gelombang sinusoidal
murni mengalami cacat gelombang, atau singkatnya dapat disebut
sebagai gangguan yang terjadi pada sistem tenaga listrik akibat dari
terjadinya distorsi gelombang arus dan tegangan. Ketika terjadi
superposisi antara gelombang frekuensi dasar dengan gelombang
harmonik, terbentuklah gelombang terdistorsi yang bentuknya sudah
tidak lagi sinusoidal. Bentuk gelombang tersebut digambarkn sebagai
berikut, dimana gambar (2.1) merupakan gelombang sinusoidal murni,
gambar (2.2) merupakan gelombang sinusoidal dan gelombang
harmonisa orde 3 dan orde 5, sedangkan gambar (2.3) merupakan
gelombang yang sudah terdistorsi.

8
v

t(s)

Gambar 2.1 Gelombang sinusoidal murni frekuensi fundamental [7]

t(s)

Gambar 2.2 Gelombang harmonisa [7]

t(s)

Gambar 2.3 Gelombang terdistorsi [7]


2.2.1 Pengertian Harmonisa
Berikut penjelasan dari harmonisa yang timbul pada sistem
tenaga pada gambar (2.4) sampai dengan gambar (2.6) berikut.

9
Zth

Eth ZL

Gambar 2.4 Rangkaian pengganti Thevenin untuk jaringan


sistem tenaga listrik [3]
Misal suatu sistem tenaga listrik merupakan rangkaian pengganti
Thevenin dari suatu jaringan sistem tenaga listrik AC seperti pada
gambar (2.4), Eth adalah generator yang dimisalkan menjadi sumber
tegangan sebagai penghasil tegangan sinusoidal, Zth sebagai beban linier,
dan ZL sebagai beban non linier.

Jika:
𝐸𝑡ℎ = 𝐸𝑚 sin 𝑛(𝜔𝑡) (2.2)
Beban ZL akan menyerap arus dengan persamaan sebagai berikut:
𝑖(𝑡) = ∑∞ 𝐼 𝑆𝑖𝑛 (𝜔 𝑡 + 𝜙 ) (2.3)
𝑛=1 𝑛 𝑛 𝑛

Karena Eth tidak memiliki komponen harmonisa, maka untuk n>1. Harga
Eth=0 dan arus:
𝑖(𝑡) = ∑∞ 𝐼 𝑆𝑖𝑛 (𝜔 𝑡 + 𝜙 ) (2.4)
𝑛=2 𝑛 𝑛 𝑛

Zth

Eth ZL

Gambar 2.5 Rangkaian pengganti untuk n>1


Gambar (2.5) menggambarkan kondisi persamaan (2.4), terlihat
bahwa nilai i(t) tetap ada meskipun Eth=0. Oleh karena itu, elemen ZL
dapat dipandang sebagai sumber arus dan tegangan (generator)
sedangkan Eth sebagai sebuah impedansi Eth.

1
Karena 𝑖𝑛(𝑡) = −𝑖(𝑡) maka
𝑖𝑛(𝑡) = −𝑖(𝑡) = − 𝐼 𝑆𝑖𝑛 (𝜔 𝑡 + 𝜙 ) (2.5)
∑∞
𝑛=2 𝑛 𝑛 𝑛

Jika 𝜃𝑛 = 𝜙𝑛 + 𝜋 maka :
𝑖𝑛(𝑡) = 𝐼𝑛 𝑆𝑖𝑛(𝜔𝑛 𝑡 − 𝜃𝑛) (2.6)
Dengan rangkaian pengganti tergambar seperti pada gambar (2.6)

Zth

ZEth Ih

berikut.

Gambar 2.6 Elemen non linier sebagai sumber arus harmonisa


Dalam analisis harmonisa sistem tiga fasa, harmonisa ditinjau
berdasarkan teori komponen simetris. Arus dari sumber harmonisa pada
sistem tiga fasa seimbang dapat dikelompokkan menurut arah putaran
fasanya. Jika diasumsikan urutan fasanya a-b-c berarti putaran fasornya
adalah fasa a akan datang terlebih dahulu, dilanjutkan fasa b, dan fasa c.
Urutan tersebut terdiri dari tiga fasor yang sama besarnya namun
terpisah sejauh 120º, memiliki arah putaran fasor yang berlawanan
dengan arah jarum jam (counterclockwise), dan dikenal sebagai
komponen urutan positif (positive sequence components) seperti pada
gambar (2.7) berikut.
c

1
Gambar 2.7 Komponen Urutan Positif

1
Komponen urutan negatif (negative sequence components) juga
terdiri dari tiga fasor yang sama besar dengan beda sudut antar fasanya
sebesar 120º, tetapi mempunyai urutan fasa yang berlawanan dengan
komponen urutan positif, yaitu a-c-b yang digambarkan pada gambar
(2.8). Sedangkan komponen urutan nol terdiri dari tiga fasa yang sama
besarnya, tidak ada perbedaan sdut antar fasa pada fasor a-b-c atau dapat
dikatakan saling berimpit seperti pada gambar (2.9).

Gambar 2.8 Komponen Urutan Negatif.


a
b
c

Gambar 2.9 Komponen Urutan Nol


Komponen harmonisa juga memiliki urutan positif, urutan
negatif, dan urutan nol. Urutan-urutan harmonisa tersebut dapat
ditentukan dari hubungan fasor arus harmonisa. Sebagai contoh, diambil
tiga orde harmonisa, yaitu harmonisa orde ketiga, orde kelima, dan orde
ketujuh.
1. Harmonisa orde tiga.
𝑖𝑎3 = 𝐼𝑎3 . sin 3𝜔𝑡 (2.7)
𝑖𝑏3 = 𝐼𝑏3 . sin 3(𝜔𝑡 − 120) = 𝐼𝑏3 . sin (3𝜔𝑡 − 360)
𝑖𝑏3 = 𝐼𝑏3 . sin 3𝜔𝑡 (2.8)
𝑖𝑐3 = 𝐼𝑐3 . sin 3(𝜔𝑡 − 240) = 𝐼𝑐3 . sin (3𝜔𝑡 − 720)
1
𝑖𝑐3 = 𝐼𝑐3 . sin 3𝜔𝑡 (2.9)
Dari Persamaan (2.7), (2.8), dan (2.9) dapat dilihat bahwa untuk
harmonisa orde ketiga tidak mempunyai beda sudut antar fasanya,
sehingga harmonisa orde ketiga termasuk komponen urutan nol.
2. Harmonisa orde kelima
𝑖𝑎5 = 𝐼𝑎5 . sin 5𝜔𝑡 (2.10)
𝑖𝑏5 = 𝐼𝑏5 . sin 5(𝜔𝑡 − 120) = 𝐼𝑏3 . sin (5𝜔𝑡 − 600)
𝑖𝑏5 = 𝐼𝑏5 . sin (5𝜔𝑡 − 240) (2.11)
𝑖𝑐5 = 𝐼𝑐5 . sin 5(𝜔𝑡 − 240) = 𝐼𝑐5 . sin (5𝜔𝑡 − 1200)
𝑖𝑐5 = 𝐼𝑐5 . sin (5𝜔𝑡 − 120) (2.12)
Dari Persamaan (2.10), (2.11) dan (2.12) dapat dilihat bahwa untuk
harmonisa kelima mempunyai urutan fasa yang berlawanan dengan
komponen urutan positif. Sehingga harmonisa orde kelima termasuk
komponen urutan negatif.
3. Harmonisa orde ketujuh
𝑖𝑎7 = 𝐼𝑎7 . sin 7𝜔𝑡 (2.13)
𝑖𝑏7 = 𝐼𝑏7 . sin 7(𝜔𝑡 − 120) = 𝐼𝑏7 . sin (7𝜔𝑡 − 840)
𝑖𝑏7 = 𝐼𝑏7 . sin (7𝜔𝑡 − 120) (2.14)
𝑖𝑐7 = 𝐼𝑐7 . sin 7(𝜔𝑡 − 240\) = 𝐼𝑐7 . sin (7𝜔𝑡 − 1680)
𝑖𝑐7 = 𝐼𝑐7 . sin (7𝜔𝑡 − 240) (2.15)

Dari Persamaan (2.13), (2.14), dan (2.15) dapat dilihat bahwa untuk
harmonisa orde ketujuh mempunyai urutan fasa a-b-c dengan beda sudut
antar fasa 120º, sehingga harmonisa orde ketujuh termasuk komponen
urutan positif.
Jadi dapat disimpulkan bahwa harmonisa orde pertama
merupakan urutan positif, harmonisa orde kedua merupakan urutan
negatif, harmonisa orde ketiga adalah urutan nol.
Tabel 2.1 Urutan fasa harmonisa [3]
Orde Harmonisa Frekuensi (Hz) Urutan
1 50 Positif
2 100 Negatif
3 150 Nol
4 200 Positif
5 250 Negatif
6 300 Nol

1
Urutan tersebut berulang untuk harmonisa orde berikutnya, seperti pada
tabel (2.1). Setiap urutan harmonisa memiliki efek yang berbeda-beda
terhadap sistem tenaga listrik dan peralatan-peralatan listrik lainnya.
Harmonisa urutan nol yang umumnya berupa harmonisa kelipatan orde
tiga (triplen harmonics) yang dapat menimbulkan efek tambahan
kontribusi arus pada kawat netral. Harmonisa urutan negatif umumnya
menimbulkan torsi lawan pada motor listrik yang menyebabkan motor
berlawanan arah putarannya, hal ini dapat merusak motor. Sedangkan
harmonisa urutan positif umumnya menimbulkan panas tambahan pada
konduktor.

2.2.2 Analisis Harmonisa dengan Metode Fourier


Transformasi Fourier diperkenalkan oleh seorang ahli matematika
dan fisika asal Prancis, Jean Baptiste Joseph Fourier. Transformasi
Fourier adalah metode yang digunakan untuk mengubah suatu fungsi
waktu yang periodik (berulang) menjadi penjumlahan dari fungsi-fungsi
sinus dan cosinus dalam berbagai frekuensi. Transformasi Fourier
biasanya digunakan untuk menganalisis suatu sistem dalam kondisi tidak
ideal, seperti sistem kelistrikan DC yang mengandung riak gelombang,
bentuk gelombang yang tidak sinusoidal pada kelistrikan, dan
sebagainya.
Suatu fungsi 𝑥(𝑡) dapat dikatakan fungsi periodik jika memenuhi
syarat-syarat berikut [7]:
1. 𝑥(𝑡) = 𝑥(𝑡 + 𝑇); 𝑇 adalah periode
2. Selama periode tertentu, fungsi harus mempunyai harga rata-
rata tertentu.
3. Jika k adalah bilangan integer, maka x(t + kT) = x(t) untuk
semua nilai t.
4. Jika dua fungsi x1(t) dan x2(t) mempunyai periode sama
maka x3(t) = ax1(t) +bx2(t), a dan b konstanta.
5. Dalam satu periode T, fungsi harus mempunyai harga
maksimum atau minimum yang jumlahnya tertentu.
Suatu fungsi periodik 𝑥(𝑡) dapat diuraikan dalam bentuk deret
Fourier seperti pada persamaan𝑛 (2.16) berikut [1]:
Dengan = 𝑎0 + ∑∞
𝑓(
𝑡)

1
𝑎𝑛
cos(𝑛𝜔𝑡) +
𝑏𝑛sin( 𝑛𝜔𝑡)

1
2𝜋
𝜔= 𝑇 (2.17)
Maka, untuk kurva x(t) dengan periode dari -T/2 sampai dengan T/2 dapat
diperoleh dari persamaan (2.18) sampai (2.20) berikut :
𝑇⁄
1 2
𝑎 = ∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡
(2.18)
0 𝑇 −𝑇⁄2
2 𝑇⁄2
𝑎 = ∫ 𝑓(𝑡) cos(𝑛𝑤𝑡) 𝑑𝑡 (2.19)
𝑛 𝑇 −𝑇⁄2
2 𝑇⁄2
𝑏 = ∫ 𝑓(𝑡) sin(𝑛𝑤𝑡) 𝑑𝑡 (2.20)
𝑛 𝑇 −𝑇⁄2

Transformasi Fourier juga dapat disajikan dalam bentuk konstanta dan


sudut fasa. Persamaan ini disebut Transformasi Fourier bentuk kedua
yang dapat dituliskan seperti persamaan (2.21) berikut:
𝑓(𝑡) =
∑∞ 𝑐 . cos (𝑛𝜔𝑡 + 𝜃𝑛) (2.21)
𝑛
𝑛

dengan :
1 𝑇⁄2
𝑐 =𝑎 = ∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡 ,
𝜃 =0 (2.22)
0 0
𝑇 −𝑇⁄2 0

Untuk n=0, dan

2
𝑐0 = √𝑎𝑛2 + 𝑏𝑛 (2.23)

𝜃𝑛 = tan−1 𝑏𝑛
(2.24)
𝑎𝑛

Untuk n>0
Terdapat sifat-sifat khusus yang dapat dilakukan untuk melakukan
penyederhanaan analisis Fourier, yaitu:
a. Bila luas siklus positif dan negatif dalam satu periode gelomban
sama, maka a0 = 0.
b. Bila f(t) = -f(t + T), atau fungsi mempunyai simetri setengah

1
gelombang maka tidak akan muncul harmonisa orde genap.
c. Bila fungsi merupakan fungsi genap, biasanya simetri terhadap
sumbu y, f(t) = f(-t), maka bn = 0.

1
d. Bila fungsi merupakan fungsi ganjil, biasanya suatu fungsi akan
kembali ke posisi semula jika dicerminkan terhadap sumbu x dan
dicerminkan lagi terhadap sumbu y, f(t) = -f(t), maka an = 0.

Dengan analisis fourier pada bentuk gelombang arus yang


diserap oleh komponen atau beban penyebab harmonisa, maka dapat
ditentukan komponen-komponen harmonisa yang dibangkitkan.
2.2.3 Sumber Harmonisa
Penyebab dari timbulnya harmonisa adalah beban non linier.
Beban non linier merupakan beban yang mendapat catu tegangan AC
sinusoida, namun arus yang masuk berbentuk non sinusoida. Peralatan
elektronika daya ialah peralatan yang menggunakan komponen tiristor
dan dioda seperti inverter, konverter statis, konverter PWM, pengendali
motor listrik, electronic ballast, dan sebagainya. Peralatan elektronika
daya ini biasa digunakan sebagai penyearah atau digunakan dalam
proses peralihan (switching). Berikut adalah beberapa contoh peralatan
yang merupakan sumber harmonisa [1].
[Link] Konverter
Penggunaan konverter sebagai sumber daya searah dapat
merusak bentuk tegangan dan arus bolak-balik sehingga bentuk
gelombangnya tidak lagi sinusoidal murni. Bentuk gelombang arus dan
tegangan yang tidak lagi sinusoidal tersebut mengandung gelombang
frekuensi dasar dan frekuensi harmonisa yang dapat menyebabkan
gangguan sistem tenaga listrik. Dari bentuk gelombang arus di sisi arus
AC pada peralatan konverter dapat diperoleh beberapa hal penting
berikut:
1. Tidak ada harmonisa kelipatan tiga
2. Pada penyearah enam pulsa, harmonisa yang terjadi hanya pada
orde 6k±1, dimana k merupakan bilangan integer, 6k+1 untuk
harmonisa urutan negatif dan 6k-1 untuk harmonisa urutan
positif
3. Pada penyearah dua belas pulsa, harmonisa yang terjadi berada
pada orde 12k±1.

1
[Link] Mesin-Mesin Berputar
Generator sinkron dan motor induksi menghasilkan sejumlah
harmonisa. Pada generator sinkron, harmonisa disebabkan oleh distribusi
fluks yang tidak sinusoidal sehingga terbangkit emf tidak sinusoidal
sehingga akan menghasilkan harmonisa ketika dibebani.
2. 2.3.3 Tanur Busur Listrik
Tanur busur listrik adalah elemen non linier yang dalam
industri logam digunakan untuk melebur biji besi. Busur listrik yang
terjadi selama tanur listrik beroperasi hampir selalu tidak dalam keadaan
stabil akibat dari pengaruh perubahan elektroda, interaksi gaya
elektromagnetik busur, dan pengaruh riak permukaan biji yang telah
melebur.
Bentuk gelombang arus tanur busur listrik pada setiap periode
gelombang memiliki bentuk yang tidak sama sehingga bentuknya tidak
periodik dan dapat menimbulkan gangguan seperti :
1. distorsi harmonisa
2. Kerlip tegangan (voltage flicker)
3. Goncangan frekuensi
4. Ketidakseimbangan tegangan
Karena bentuk gelombangnya yang tidak sama pada tiap periode,
harmonisa yang dibangkitkan oleh tanur busur listrik tidak dapat
diprediksi dan selalu berubah-ubah tergantung pada kondisi tanur busur
listrik yang meliputi posisi elektrode, scrap baja, busur api antar
elektrode, dan elektrode beserta groundingnya. Keunikan karekteristik
dari sistem ini adalah munculnya sub-harmonisa, yaitu harmonisa
dengan frekuensi di bawah frekuensi fundamental (50 Hz). Untuk
mengetahui komponen harmonisa yang dibangkitkan, maka diperlukan
pengukuran.

2.2.4 Perhitungan Harmonisa


Dalam harmonisa, dikenal istilah Total Harmonic Distortion
(THD). THD merupakan persentase total komponen harmonisa terhadap
komponen fundamentalnya atau berapa persen gelombang yang
terdistorsi dari total gelombang seluruhnya. Total Harmonic Distorsion
(THD) dapat dituliskan dengan persamaan (2.25) berikut :

2
1
𝑘
[∑ 𝑈𝑛]2
𝑇𝐻𝐷 = 2 𝑥100% (2.25)
𝑈1

Dengan 𝑈𝑛 merupakan nilai komponen harmonisa baik dalam arus


maupun tegangan, dan 𝑈1merupakan komponen fundamentalnya baik
dalam arus maupun tegangan, sedangkan k merupakan komponen
harmonisa maksimum yang diamati. Untuk gelombang sinusoidal
sempurna pada frekuensi dasar, THD-nya adalah nol. Sama dengan
pengukuran distorsi harmonisa pada orde ke-1 untuk tegangan dan arus
orde ke-h bahwa Vh / V1 dan Ih / I1. Nilai THD dapat mencapai lebih dari
100%.
Berdasarkan standar dari IEEE Std. 519-1992, terdapat dua
kriteria limitasi (batas maksimum) yang digunakan dalam analisis
distorsi harmonisa yaitu limitasi untuk distorsi arus yang dijabarkan
pada tabel (2.2) sampai dengan tabel (2.4) dan limitasi untuk distorsi
tegangan dijabarkan pada tabel (2.5). maksimum distorsi arus dan
tegangan memiliki standar nilai yang berbeda berdasarkan pada nilai
tegangan sistem. Tabel (2.2) akan memaparkan maksimum distorsi arus
berdasarkan IEEE Std 519-1992 untuk sistem 120 V sampai 69 kV, tabel
(2.3) akan memaparkan maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE Std
519-1992 untuk sistem 69 kV sampai 161 kV, dan tabel (2.4)
Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE Std 519-1992 untuk sistem
diatas 161 kV.
Tabel 2.2 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE Std 519-1992 untuk
sistem 120 V sampai 69 kV [5].
Maksimum Distorsi Arus Harmonik dalam Persentase IL
Individual Harmonic Order (ODD)
ISC/IL <11 11≤h<17 17≤h<23 23≤h<35 35≤h TDD
<20* 4.0 2.0 1.5 0.6 0.3 5.0
20<50 7.0 3.5 2.5 1.0 0.5 8.0
50<100 10.0 4.5 4.0 1.5 0.7 12.0
100<1000 12.0 5.5 5.0 2.0 1.0 15.0
>1000 15.0 7.0 6.0 2.5 1.4 20.0

2
Tabel 2.3 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE Std 519-1992
untuk sistem 69 kV sampai 161 kV[5].
Maksimum Distorsi Arus Harmonik dalam Persentase IL

Individual Harmonic Order (ODD)


ISC/IL <11 11≤h<17 17≤h<23 23≤h<35 35≤h TDD
<20* 2.0 1.0 0.75 0.3 0.15 2.5
20<50 3.5 1.75 1.25 0.5 0.25 4.0
50<100 5.0 2.25 2.0 0.75 0.35 6.0
100<1000 6.0 2.75 2.5 1.0 0.5 7.5
>1000 7.5 3.5 3.0 1.25 0.7 10.0

Tabel 2.4 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE Std 519-1992 untuk
sistem diatas 161 kV[5].
Maksimum Distorsi Arus Harmonik dalam Persentase IL

Individual Harmonic Order (ODD)


ISC/IL <11 11≤h<17 17≤h<23 23≤h<35 35≤h TDD
<50 2.0 1.0 0.75 0.3 0.15 2.5
≥50 3.0 1.5 1.15 0.45 0.22 3.75

Dengan keterangan bahwa IL merupakan arus maksimum beban, ISC


merupakan arus maksimum ketika terjadi hubung singkat, ISC / IL
merupakan arus hubung singkat pada point of common coupling
terhadap arus beban nominal pada frekuensi fundamental, dan TDD
merupakan distorsi arus total. Berikut merupakan batas distorsi tegangan
berdasarkan IEEE Std 519-1992.

2
Tabel 2.5 Batas distorsi tegangan berdasarkan IEEE Std 519-1992 [3].

Individual
THD
Bus Voltage at PCC Voltage
(%)
Distortion (%)
69 kV and below 3,0 5,0
69,001 kV through 161 kV 1,5 2,5
161,001 kV and above 1,0 1,5

2.3 Pengaruh Harmonisa


Pengaruh harmonisa pada suatu sistem kelistrikan tergantung
pada karakteristik sumber harmonisa, letak sumber harmonisa, dan
karakteristik jaringannya. Berikut merupakan beberapa pengaruh dari
harmonisa.
2.3.1 Resonansi
Dalam perbaikan faktor daya, kapasitor bank sering digunakan.
Namun, ternyata kapasitor bank dapat menimbulkan resonansi yang
diikuti dengan kenaikan arus yang sangat besar dan dapat merusak
kapasitor itu sendiri. Resonansi terbagi atas dua jenis yaitu resonansi
paralel dan resonansi seri. Resonansi paralel dapat terjadi pada beberapa
kondisi, salah satunya yaitu ketika sebuah kapasitor duhubungkan
dengan busbar yang sama dengan sumber harmonisa (gambar 2.10).
Resonansi ini dapat menaikkan tegangan harmonisa dan menghasilkan
impedansi yang tinggi pada frekuensi resonansi. Asumsikan sumber
harmonisa bersifat induktif, maka frekuensi resonansinya adalah:
𝑆𝑠
𝑓𝑝 = 𝑓√ (2.26)
𝑆𝑐

Dengan 𝑓𝑝 merupakan frekuensi resonansi paralel dan 𝑓 merupakan


frekuensi fundamental dengan satuan Hertz, 𝑆𝑠 merupakan rating hubung
singkat sumber dan 𝑆𝑐 adalah rating kapasitor dalam satuan VAR.

2
Kapasitansi dari
Kapasitor bank
sumberInduktansi harmonisa transformator
Kapasitor
bank

harmonisa
Gambar 2.10 Resonansi paralel pada sistem tenaga listrik
Sedangkan resonansi seri dapat terjadi saat sebuah sumber
konverter
harmonisa terletak pada busbar yang sama dengan sumber impedansi
seperti transformator, dan pada downfeeder busbar tersebut diletakkan
kapasitor bank (gambar 2.11). Akibat dari resonansi seri ini adalah
impedansi menjadi sangat kecil sehingga arus kapasitor yang tinggi
dapat mengalir untuk tegangan yang relatif kecil. Resonansi seri akan
terjadi ketika frekuensi resonansinya seperti berikut:
2
𝑓 =𝑓 ( − ) (2.27)
𝑝 𝑆𝑡 𝑆2
√ 𝑆𝑐
𝑆𝑐𝑍𝑡

Dengan 𝑓𝑠 merupakan frekuensi resonansi seri dan 𝑓 merupakan


frekuensi fundamental dengan satuan Hertz, 𝑆𝑡 merupakan rating
transformator,
𝑆1merupakan rating beban, dan 𝑆𝑐 merupakan rating dari kapasitor bank
dimana rating-rating tersebut dalam satuan VAR, dan 𝑍𝑡 adalah
impedansi transformator (pu).

harmonisa
Induktansi
transformator

konverter sumber
harmonisa
Kapasitor bank Kapasitansi dari
Kapasitor bank

Gambar 2.11 Resonansi seri pada sistem tenaga listrik

2
2.3.2 Pengaruh Pada Mesin Induksi
Konduktor pada stator dan rotor mengalami rugi-rugi yang
disebabkan oleh resistansi akibat dari arus eddy dan skin effect. Adanya
harmonisa akan menambah rugi-rugi pada stator dan rotor. Arus
harmonisa timbul pada stator mesin AC menghasilkan aksi motor (slip
harmonisa positif, Sn). Aksi ini menghasilkan torsi shaft pada arah yang
sama dengan kecepatan medan harmonisa sehingga semua harmonisa
urutan positif membantu putaran torsi shaft sedangkann harmonisa
urutan negatif berlaku sebaliknya
2.3.3 Pengaruh Pada Transformator
Adanya harmonisa cukup berpengaruh terhadap kondisi
transformator. Arus harmonisa meningkatkan arus eddy, rugi-rugi
histerisis, dan tekanan isolasi. Pada transformator daya, muncul arus
sirkulasi triplen urutan nol pada belitan delta, dan arus sirkulasi ini dapat
melebihi batas kemampuan belitan. Selain itu, arus beban yang
mengandung komponen DC pada transformator yang mensupply beban
tidak seimbang dapat mengakibatkan kejenuhan pada rangkaian
magnetic transformator dan meningkatkan level komponen harmonisa
dari arus penguatan ac.
Pada transformator converter, rugi-rugi tembaga akibat arus
harmonisa lebih nyata. Hal ini terjadi karena transformator tersebut tidak
terpengaruh oleh adanya filter yang biasanya dihubungakn pada sisi
sistem ac. Transformator converter juga sering menimbulkan titik panas
pada tangkinya.
2.3.4 Pengaruh Pada Kapasitor Bank
Besarnya rugi daya pada kapasitor bank akibat adanya distorsi
tegangan dapat dirumuskan pada persamaan (2.28) berikut :

𝑃𝑙𝑜𝑠𝑠 = ∑∞ 2
𝐶(𝑡𝑎𝑛𝛿)𝜔𝑛 𝑉𝑛 (2.28)
𝑅𝑛
Dimana 𝑡𝑎𝑛𝛿 = 1
⁄𝜔𝐶
marupakan faktor rugi, = 2𝜋𝑓𝑛 dimana 𝑓𝑛
𝜔𝑛
adalah frekuensi harmonisa pada orde ke-n, dan 𝑉𝑛 adalah tegangan
harmonisa pada orde ke-n. sedangkan total daya reaktifnya adalah
𝑛=1

𝑄=
2
𝑄𝑛
(2.29)

2
Terjadinya resonansi seri dan paralel antara kapasitor dengan
sistem dapat menyebabkan tegangan lebih dan dapat meningkatkan rugi-
rugi serta panas lebih pada kapasitor sehingga mengakibatkan kerusakan
pada kapasitor tersebut.
2.3.5 Pengaruh Pada Rele Pengaman
Harmonisa dapat mempengaruhi rele pengaman dengan
karakteristik operasi tertentu. Rele digital zero crossing cenderung
mengalami error ketika ada distorsi harmonisa. Sedangkan efek
frekuensi harmonisa terdapat pada pengukuran impedansi yang
menyebabkan kesalahan pengukuran dari rele jarak, karena rele jarak
disetting berdasarkan impedansi fumdamental dari saluran transmisi.

2.4 Desain Filter


Filter harmonisa hadir sebagai pereduksi amplitudo frekuensi
tertentu dari sebuah tegangan atau arus agar penyebaran arus harmonisa
ke seluruh jaringan dapat diminimalisir. Selain itu filter harmonisa juga
digunakan untuk menyediakan sebagian daya reaktif yang dikonsumsi
oleh sumber harmonic atau beban-beban lainnya. Terdapat dua macam
filter harmonisa yaitu filter aktif dan filter pasif [4].
Untuk mereduksi harmonisa, filter aktif memiliki prinsip kerja
membangkitkan arus atau tegangan yang sesuai dengan bentuk sinyal
harmonisa pada sistem namun berbeda fasa 180 0 sehingga penjumlahan
total sama dengan nol. Peralatan switching yang digunakan pada filter
aktif dapat berupa mosfet, IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor),
transistor daya, trafo GTO, dan PWM (Pulse Width Modulaton).
Filter pasif tersusun dari komponen pasif seperti induktor,
kapasitor, dan resistor. Secara sederhana, filter pasif dapat dikatakan
sebagai “jalan” yang akan dilewati harmonisa agar harmonisa tidak
lewat pada sistem atau beban lain yang dapat menyebabkan
terganggunya sesitem. Filter pasif banyak digunakan pada industri. Filter
pasif bekerja untuk mengurangi amplitudo dari satu atau lebih frekuensi
tertentu pada sebuah tegangan atau arus dengan cara menyediakan jalur
dengan impedansi rendah pada frekuensi harmonisa. Namun terdapat
beberapa kelemahan pada filter ini yaitu ketergantungannya terhadap
impedansi sumber sistem tenaga, frekuensi sistem, dan toleransi
komponen. Secara umum, filter pasif dapat dibedakan dalam beberapa
jenis, diantaranya
2
yaitu filter dengan penalaan tunggal (Single Tuned Filter), filter dengan
penalaan ganda (Double Tuned Filter), dan High Pass Damp Filter.
Filter dengan penalaan tunggal adalah filter yang menala salah
satu orde harmonik. Filter ini terdiri dari rangkaian seri kapasitor,
reaktor dan resistor (RLC). Impedansi dari rangkaian Gambar 2.17.a.
dinyatakan dalam persamaan,
1
𝑍 = 𝑅 + 𝑗(𝜔 𝐿 −
) (2.30)
𝐹 𝑟 𝜔𝑟𝐶
Jika frekuensi sudut saat resonansi adalah
𝜔𝑟 = 2𝜋𝑓0ℎ𝑟 (2.31)
Dimana ℎ𝑟merupakan orde harmonisa, maka saat resonansi terjadi
dimana nilai reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif sama besar, maka
dapat diperoleh impedansi dari single tuned filter seperti pada persamaan
(2.32) berikut
𝑍𝐹 = 𝑅 (2.32)
Rangkaian filter ini mempunyai impedansi yang rendah pada
frekuensi resonansinya. Single tuned filter yang diletakkan secara paralel
akan men-short circuit-kan arus harmonisa yang berada dekat dengan
sumber distorsi. Kualitas atau Quality Factor (Q) sebuah filter
ditentukan dari ketajaman pada penalaannya. Filter dengan Q yang
tinggi ditala secara tajam pada satu frekuensi harmonik yang rendah
(contohnya ke-5) dan nilai yang umum diantara 30 sampai 60. Filter
dengan Q yang rendah biasanya bernilai antara 0,5 sampai 5 memiliki
impedansi yang rendah pada jangkauan frekuensi yang lebar.

CL Z
R

PB
2R
R
ω/ωC
1 2

(a) (b)

Gambar 2.12 (a) Rangkaian Filter Penalaan Tungggal, (b) Grafik


Impedansi Filter Terhadap Frekuensi

2
Faktor kualitas (Q) filter didefenisikan sebagai perbandingan
antara induktansi (atau kapasitansi) pada saat resonansi dengan besarnya
resistansi.
𝑋𝑜
𝑄=
𝑅 (2.33)
dengan XL = XC = XO pada keadaan resonansi.

Seperti yang telah ditunjukkan dalam Gambar (2.17.b) Pass Band


(PB) dari filter didefeniskan sebagai batas frekuensi filter sama dengan
resistansinya yaitu sudut impedansinya 45o dan besarnya impedansi

sama
dengan √2𝑅. Sedangkan hubungan faktor kualitas dan Pass Band (PB)
dinyatakan sebagai : 𝜔𝑜
𝑄= (2.34)
𝑃𝐵

dengan ωo adalah frekuensi sudut panalaan dalam rad/sec. Single tuned


filter yang merupakan hubungan seri dari komponen R, L, dan C
memberikan keuntungan bagi sistem tenaga listrik, yaitu mampu
mereduksi harmonisa, memperbaiki faktor daya, serta induktornya yang
berfungsi sebagai filter dapat melindungi kapasitor dari over
capacitance akibat adanya resonansi.

Filter Dengan Penalaan Ganda memiliki nilai impedansi


ekivalen dari dua buah filter penalaan tunggal dengan frekuensi
resonansi yang berdekatan seperti pada gambar (2.18.a). Dalam
prakteknya, filter tersebut sama dengan konfigurasi sebuah filter
penalaan ganda yang ditunjukkan pada Gambar (2.18.b.)

C1 L1
R1
Ca
500
Cb

La Lb 400
Impedansi

Ra 300
Rb C2 L2

R2 R2 200
200 250 300 350 400 450
Frekuensi f (Hz)
100

2
(a) (b) (c)

3
Gambar 2.13 Rangkaian Filter Penalaan Ganda. (a) Transformasi Dari
Dua Filter Penalaan Tunggal, (b) Filter Penalaan Ganda, (c) Filter
Penalaan Ganda Ditala Orde Lima dan Tujuh

Bila dibandingkan dengan filter penalaan tunggal, penggunaan


filter penalaan ganda memiliki kelebihan dapat meredam lebih dari satu
orde frekuensi, namun kelemahannya adalah bila salah satu
komponennya rusak entah komponen L atau komponen C maka filter
tersebut menjadi tidak dapat digunakan sama sekali. Sehingga bisa
dikatakan bahwa filter penalan tunggal masih lebih andal bila
dibandingkan dengan filter penalaan ganda.
Adapun untuk perhitungan hubungan antara komponen dalam
rangkaian filter penalaan ganda ini adalah sebagai berikut:
𝐶1=𝐶𝑎 + 𝐶𝑏 (2.35)

𝐶2
𝐶𝑎𝐶𝑏(𝐶𝑎+𝐶𝑏)(𝐿𝑎+𝐿𝑏)2 (2.36)
𝐿= (𝐿𝑎𝐶𝑎−𝐿𝑏𝐶𝑏)2
𝐿𝑎 𝐿𝑏 (2.37)
1 = 𝐿 +𝐿
𝑎 𝑏

2
𝐿2 = (𝐿𝑎𝐶𝑎−𝐿 𝑏𝐶 𝑏) (2.38)
(𝐶𝑎+𝐶𝑏)2(𝐿𝑎+𝐿𝑏)2

𝑅 = 𝑎2(1−𝑋2) ]+ 1−𝑋2 ]+ (1−𝑋2)(1−𝑎𝑋2)


𝑅 [ 𝑅 [ 𝑅 [ ]
2 𝑎 (1+𝑎𝑋2)2(1+𝑋2) 𝑏 1
(1+𝑎𝑋2)2(1+𝑋2) (1+𝑎𝑋2)2(1+𝑋2)
(2.39)
𝐶𝑎 𝐿𝑏𝐶𝑏
dimana 𝑎 = dan 𝑋 = √ (2.40)
𝐶𝑏 𝐿𝑎 𝐶𝑎

High pass damped filter memilki beberapa sifat, yaitu kurang


peka terhadap perubahan suhu, perubahan frekuensi, toleansi komponen
dari pabrik dan rugi-rugi dari kapasitor. Selain itu, high pass damped
filter memebuat impedansi yang rendah untuk spektrum frekuensi
harmonik yang lebar tanpa memerlukan pembagian cabang-cabang
paralel yang meningkatkan permasalahan switching dan perawatan.
Terdapat empat jenis damped filter seperti yang ditunjukkan pada
Gambar (2.14) yaitu damped filter orde satu,orde dua, orde tiga dan
jenis damped filter tipe C. Berikut merupakan gambar dan keterangan
dari masing-masing jenis high pass damped filter.

3
C C C1 C1
C2 C2
R R L L R
R L

(a) (b) (c) (d)

Gambar 2.14 High Pass Damped Filter. (a.) Orde Satu; (b.) Orde Dua;
(c.) Orde Tiga; (d.) Tipe C

a) Filter orde satu tidak biasa digunakan, jenis ini akan memerlukan
kapasitor yang besar dan akan terjadi kerugian daya yang
berlebihan pada frekuensi dasarnya.
b) Filter orde dua memberi unjuk kerja yang baik tetapi memiliki
rugi-rugi yang lebih besar pada frekuensi fundamental
dibandingkan dengan filter damped orde tiga.
c) Filter orde tiga mempunyai keunggulan dibanding filter damped
orde dua yaitu mampu mengurangi rugi-rugi pada frekuensi
fundamental yang disebabkan oleh naiknya impedansi pada
frekuensi tersebutkarena kehadiran C2. Apalagi rating dari C2
adalah sangat kecil dibandingkan dengan kapasitor C1.
Keandalan dari filter jenis C berada diantara filter orde dua dan filter
orde tiga. Kelebihan filter damped jenis C adalah mampu mengurangi
rugi-rugi yang besar pada frekuensi fundamental ketika C2 dan L ditala
secara seri pada frekuensi tersebut. Filter ini lebih mudah terpengaruh
penyimpangan (deviasi) frekuensi fundamental dan pergeseran nilai
komponen.
Kelemahan dari damped filter diantaranya adalah untuk mendapatkan
level keandalan filter yang sama damped filter memerlukan perencanaan
VA rating fundamental yang lebih tinggi. Meskipun dalam kebanyakan
kasus keandalan filter yang bagus didapat pada batas yang dibutuhkan
untuk perbaikan faktor daya. Pada damped filter rugi-rugi resistor dan
reaktansi umumnya bernilai lebih besar.
Komponen-komponen pada filter pasif memiliki perannya
masing- masing. Untuk mencegah kerusakan komponen R, L, dan C
pada filter
3
pasif, rating dari komponen harus didasarkan pada beberapa kondisi,
yaitu tegangan fundamental tertinggi, keberadaan frekuensi tertinggi,
arus harmonisa dari sumber-sumber lain, serta dari resonansi yang
mungkin terjadi antara filter dan sistem AC.
Kapasitor tersusun dari unit standar yang dihubungkan seri
dan/atau paralel untuk memperoleh rating tegangan dan KVA yang
diinginkan. Hal-hal pokok dari kapasitor adalah :

a. Koefisien suhu dari komponen kapasitor.


b. Daya reaktif per unit volume.
c. Rugi-rugi daya.
d. Reliability.
e. Harga.
Kapasitor mendapatkan daya reaktif yang besar per unit volume dengan
cara memiliki losses yang rendah dan dengan dioperasikan pada
tegangan tinggi. Untuk alasan ini maka operasi yang lama pada tegangan
lebih harus dihindari untuk mencegah terjadinya kerusakan dielektrik
akibat panas. Rating daya reaktif kapasitor adalah penjumlahan daya
reaktif pada masing-masing frekuensi yang diinginkan.
Induktor yang digunakan dalam rangkaian filter dirancang
mampu menahan selubung frekuensi tinggi di antara efek kulit dan rugi-
rugi histerisis harus dimasukkan dalam perhitungan rugi-rugi daya.
Begitu juga efek dari level fluks dari inti besi, yaitu penalaan ulang yang
disebabkan oleh magnetisasi yang tidak linier sehingga harus
dipertimbangkan. Komponen induktor pada filter lebih baik dirancang
dengan inti nonmagnetic. Rating induktor tergantung pada arus rms
maksimum dan pada level isolasi yang dibutuhkan agar tahan terhadap
surja hubung. Umumnya R dan L ditempatkan di bagian bawah dari
filter.

2.5 Penerapan Filter Harmonisa


Pernah diusulkan perancangan filter pasif untuk mengatasi
harmonisa pada gardu penyearahan pusat listrik aliran atas pada [Link]
Commuter Jabodetabek Indonesia yang mengatasi harmonisa akibat
penyearah 6 pulsa dan 12 pulsa dengan menala frekuensi harmonisa ke-
11 dan dapat menurunkan nilai distorsi arus dari 25,36% menjadi 0,91%
untuk penyearah 6 pulsa dan dari 11,64% menjadi 0,43% untuk
penyearah

3
12 pulsa. Perancangan filter pasif tersebut menggunakan simulasi

3
Simulink Matlab dengan perhitungan bank kapasitor sebagai perbaikan
faktor daya dan pemilihan filter jenis reaktor yang kemudian dipasang
seri dengan kapasitor untuk menala frekuensi harmonisa.
Ada pula usulan filter aktif untuk mereduksi harmonisa pada
penyearah jembatan tiga fasa tak terkonrol menggunakan filter aktif
yang dikontrol dengan PI (proportional integral) controller. Filter ini
berhasil menurunkan tingkat THD (toral harmonic distortion) arus dari
22,9% menjadi 3,1% dan untuk tegangan dari 4,4% menjadi 0,84%.

3
Halaman ini sengaja dikosongkan

3
BAB III
SISTEM KELISTRIKAN PT. BATUTUA TEMBAGA
RAYA
3.1 Sistem Kelistrikan PT. Batutua Tembaga Raya
PT. Batutua Tembaga Raya mulai mengoperasikan pabrik 25 KT
pada bulan Juli 2016. Sumber listrik pada perusahaan ini didapat dari 16
buah generator dan kini sedang dalam perencanaan penambahan dua
buah generator dengan kapasitas masing-masing 0,97 MW seperti pada
gambar (3.1) dan selengkapnya dilampirkan pada Lampiran 1.
Berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan pada plant PT. Batutua
Tembaga Raya, Wetar, Maluku, maka dapat disampaikan bahwa sistem
kelistrikan yang meliputi pembangkit dan bus dalam seluruh plant
seperti pada table (3.1) dan (3.2) berikut.
Tabel 3.1 Data Kapasitas Pembangkit di PT. Batutua Tembaga Raya
Rating
ID kV MW Mode Operasi %PF
Gen 1 0,4 1,2 Swing 90
Gen 2 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 3 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 4 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 5 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 6 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 7 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 8 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 9 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 10 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 11 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 12 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 13 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 14 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 15 0,4 1,2 Swing 90
Gen 16 0,4 1,2 Swing 90
Gen 17 0,4 1,2 (Future) 90
Gen 18 0,4 1,2 (Future) 90

3
3

Gambar 3.1 Kelistrikan di PT. Batutua Tembaga


Tabel 3.2 Data Bus dan Rating Tegangan
No ID Bus Tegangan (kV)
1 32-MC-001 0,4
2 32KTMC001 0,4
3 32MC002 1
4 33MC001 0,4
5 34-MC-001 0,4
6 36MC001 BUS A 0,4
7 36MC001 BUS B 0,4
8 36MC001 BUS C 0,4
9 36SB001 20
10 37-MC-001 0,4
11 63MC002 0,4
12 Bus4 0,4
13 Bus5 0,4
14 Bus8 20
15 Bus10 0,4
16 Bus18 20
17 Bus21 0,153
18 Bus34 0,4
19 Bus76 0,4
20 Bus90 20
21 Bus91 0,4
22 Bus95 0,153
23 Bus96 20
24 Bus97 0,4
25 Bus99 20
26 Bus100 0,153
27 Bus101 0,153
28 Bus102 20
29 Bus103 0,4
30 Bus104 20
31 POLE 37B 20
32 PS HV SWGR 20

3
Terdapat dua jenis transformator yang digunakan di PT.
Batutua Tembaga Raya, yaitu transformator daya dan transformator
konverter. Transformator daya yang digunakan untuk menyalurkan daya
listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah dan sebaliknya
menggunakan jenis transformator dua belitan. Sedangkan transformator
konverter yang digunakan untuk mengalirkan daya sekaligus mengubah
listrik AC menjadi DC menggunakan transformator jenis tiga belitan.
Data dari transformator tersebut dijabarkan dalam tabel (3.3) berikut.
Tabel 3.3 Data Transformator PT. Batutua Tembaga Raya
ID Rating Daya (MVA) Rating Tegangan (kV)
PS-TX-001 3,15 0,4/20
PS-TX-002 3,15 0,4/20
PS-TX-003 3,15 0,4/20
PS-TX-004 3,15 0,4/20
PS-TX-005 3,15 0,4/20
PS-TX-006 3,15 0,4/20
T1 1,25 20/0,4
63TX001 0,5 20/0,4
3KTTX01 1,6 20/0,4
33TX01 1 20/0,4
37TX001 2,5 20/0,4
32TX001 1,6 20/0,4
34TX001 1,25 20/0,4
36TX01 1,6 20/0,4
32TX002 0,63 0,4/1
36TXRE001 5,2 20/1,53/1,53
36TXRE002 5,2 20/1,53/1,53

3.2 Beban di PT. Batutua Tembaga Raya


Ada beberapa tahapan yang dilakukan pada PT. Batutua
Tembaga Raya dalam mengolah bijih tembaga menjadi logam tembaga.
Tahapan tersebut terdiri dari tahap kominisi berupa penggerusan untuk
membebaskan mineral tembaga, tahap konsentrasi flotasi berupa
pemisahan mineral dan konsentrasi, proses matte smelting berupa
peleburan konsentrat tembaga menjadi lelehan, tahap fire refining
berupa

3
proses pemurnian tembaga, tahap cathode stripping untuk pelapisan
tembaga, dan tahap electrowinning berupa pelarutan tembaga yang akan
menghasilkan logam tembaga. Berdasarkan gambar (3.1), dapat dilihat
bahwa beb berupa motor listrik dan peralatan lainnya dikelompokkan
dalam network sesuai dengan lokasi dan fungsinya.
Untuk menunjang proses pengolahan tembaga tersebut,
perusahaan ini memiliki berbagai macam peralatan yang bekerja terus-
menerus dengan fungsinya masing-masing. Peralatan-peralatan tersebut
berada pada tegangan rendah 0,4 kV dan 1 kV. Tabel (3.4) berikut
merupakan data beban di PT. Batutua Tembaga Raya.
Tabel 3.4 Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 CAMP Feeder 750 kVA 20 Tidak Aktif
2 3KTMC001 1440 kW 20 Aktif
3 Charger01 1900 kVA 0,153 Aktif
4 Charger02 1900 kVA 0,153 Aktif
5 Charger03 1900 kVA 0,153 Aktif
6 Charger04 1900 kVA 0,153 Aktif
Network 63-MC-001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 63PP003 185 kW 0,4 Aktif
2 63-PP-002 185 kW 0,4 Tidak Aktif
3 63DB001 31 kVA 0,4 Aktif
Network 33-MC-001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 33AB008 11 kW 0,4 Aktif
2 33AB009 11 kW 0,4 Aktif
3 33AB010 11 kW 0,4 Aktif
4 33AB011 11 kW 0,4 Aktif
5 33AB012 11 kW 0,4 Aktif
6 33PP001 185 kW 0,4 Aktif
7 33PP002 90 kW 0,4 Aktif
8 33PP003 185 kW 0,4 Aktif
9 33PP004 90 kW 0,4 Aktif
10 33PP012 45 kW 0,4 Aktif
11 33PP013 90 kW 0,4 Tidak Aktif

3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
12 33PP014 75 kW 0,4 Aktif
13 33DB001 50 kVA 0,4 Aktif
14 33DB002 25 kVA 0,4 Aktif
15 CAP2 100 kVAR 0,4 Aktif
Network 37-MC-001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 34PP005 30 kW 0,4 Aktif
2 34PP006 30 kW 0,4 Tidak Aktif
3 37AB001 122 kVA 0,4 Aktif
4 37AB002 122 kVA 0,4 Tidak Aktif
5 37AC001 61 kVA 0,4 Aktif
6 37AC002 61 kVA 0,4 Tidak Aktif
7 37AG01 22 kW 0,4 Aktif
8 37AG02 22 kW 0,4 Aktif
9 37AG03 55 kW 0,4 Aktif
10 37AG04 55 kW 0,4 Aktif
11 37AG05 55 kW 0,4 Aktif
12 37AG06 55 kW 0,4 Aktif
13 37AG07 22 kW 0,4 Aktif
14 37FL001 26 kVA 0,4 Aktif
15 37HT001 31,8 kVA 0,4 Aktif
16 37PP003 22 kW 0,4 Aktif
17 37PP004 22 kW 0,4 Aktif
18 37PP005 11 kW 0,4 Aktif
19 37PP006 11 kW 0,4 Aktif
20 37PP007 30 kW 0,4 Aktif
21 37PP008 30 kW 0,4 Tidak Aktif
22 37PP009 11 kW 0,4 Aktif
23 37PP010 15 kW 0,4 Aktif
24 37PP011 15 kW 0,4 Aktif
25 37PP012 200 kW 0,4 Aktif
26 37PP013 200 kW 0,4 Tidak Aktif
27 37PP014 7,5 kW 0,4 Aktif
28 37PP015 200 kW 0,4 Aktif
29 37PP016 200 kW 0,4 Tidak Aktif

3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
30 37PP017 7,5 kW 0,4 Aktif
31 37PP018 7,5 kW 0,4 Aktif
32 37PP023 5,5 kW 0,4 Aktif
33 37PP024 5,5 kW 0,4 Tidak Aktif
34 37PP025 15 kW 0,4 Aktif
35 37PP026 15 kW 0,4 Aktif
36 37PP027 55 kW 0,4 Aktif
37 37PP028 18,5 kW 0,4 Aktif
38 37TH001 7,5 kW 0,4 Aktif
39 37XM001 55 kVA 0,4 Aktif
40 37DB001 50 kVA 0,4 Aktif
41 37DB002 20 kVA 0,4 Aktif
42 37DB003 10 kVA 0,4 Aktif
43 42CP005 30 kVA 0,4 Aktif
44 42CP006 30 kVA 0,4 Aktif
45 42CP007 0,24 kVA 0,4 Aktif
46 42PP015 22 kW 0,4 Aktif
47 42PP016 22 kW 0,4 Aktif
48 37ML001/1 6x55 kW 0,4 Aktif
49 48CP001 7,9 kVA 0,4 Aktif
50 63PP001 30 kW 0,4 Aktif
51 63PP002 30 kW 0,4 Tidak Aktif
52 37PF001 300 kVAR 0,4 Aktif
53 37UP001 4 kW 0,4/0,23 Aktif
Network 32MC001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 JW1150 110 kW 0,4 Aktif
2 CQ400EA 220 kW 0,4 Aktif
3 CQ400EB 220 kW 0,4 Aktif
4 SM2072E-A 90 kW 0,4 Aktif
5 SM2072E-B 90 kW 0,4 Aktif
6 32PF001 300 kVAR 0,4 Aktif
7 32AGG01 45 kW 0,4 Aktif
8 32GH001 180 kVA 1 Aktif
9 32GH002 180 kVA 1 Aktif

3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
Network 34MCOO1
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 34AB001 45 kW 0,4 Aktif
2 34AB002 45 kW 0,4 Aktif
3 34AB003 45 kW 0,4 Aktif
4 34AB004 45 kW 0,4 Aktif
5 34AB005 45 kW 0,4 Aktif
6 34AB006 45 kW 0,4 Aktif
7 34AB007 45 kW 0,4 Aktif
8 34PP002 132 kW 0,4 Aktif
9 34PP003 132 kW 0,4 Tidak Aktif
10 34PP007 37 kW 0,4 Aktif
11 34PP008 37 kW 0,4 Tidak Aktif
12 34PP010 185 kW 0,4 Aktif
13 34PP011 185 kW 0,4 Tidak Aktif
14 42PP001 22 kW 0,4 Aktif
15 42PP002 22 kW 0,4 Tidak Aktif
16 42CP002 95 kVA 0,4 Aktif
17 42CP003 0,7 kVA 0,4 Aktif
18 OTI1 1,3 kVA 0,4 Aktif
19 34DB001 50 kVA 0,4 Aktif
20 34DB002 25 kVA 0,40,4 Aktif
21 34PF001 300 kVAR 0,40,4 Aktif
Network 36MC001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 35AB001 15 kW 0,4 Aktif
2 35AG001 22 kW 0,4 Aktif
3 35AG002 4 kW 0,4 Aktif
4 35AG003 22 kW 0,4 Aktif
5 35AG004 4 kW 0,4 Aktif
6 35AG005 22 kW 0,4 Aktif
7 35AG006 4 kW 0,4 Aktif
8 35AG007 22 kW 0,4 Aktif
9 35AG008 4 kW 0,4 Aktif
10 35AG009 22 kW 0,4 Aktif
11 35AG010 4 kW 0,4 Aktif

3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
12 35AG011 2,2 kW 0,4 Aktif
13 35AG012 3 kW 0,4 Aktif
14 35CP002 30 kVA 0,4 Aktif
15 35PP001 7,5 kW 0,4 Aktif
16 35PP002 7,5 kW 0,4 Tidak Aktif
17 35PP003 1,1 kW 0,4 Aktif
18 35PP004 1,1 kW 0,4 Tidak Aktif
19 35PP005 55 kW 0,4 Aktif
20 35PP006 55 kW 0,4 Tidak Aktif
21 35PP008 2,2 kW 0,4 Aktif
22 35PP009 5,5 kW 0,4 Aktif
23 35PP010 5,5 kW 0,4 Aktif
24 35PP011 5,5 kW 0,4 Aktif
25 35PP012 5,5 kW 0,4 Aktif
26 35PP013 1,1 kW 0,4 Aktif
27 35PP014 10 kW 0,4 Aktif
28 35PP015 0,75 kW 0,4 Aktif
29 35CP001 10 kVA 0,4 Aktif
30 35PP016 1,1 kW 0,4 Aktif
31 35PP017 1,1 kW 0,4 Aktif
32 35PP018 5,5 kW 0,4 Aktif
33 36HT001 12 kVA 0,4 Aktif
34 36HT002 12 kVA 0,4 Aktif
35 36PF001 250 kVAR 0,4 Aktif
36 36PP007 10 kW 0,4 Aktif
37 36PP008 30 kW 0,4 Aktif
38 36PP011 5,5 kW 0,4 Aktif
39 36PP012 5,5 kW 0,4 Aktif
40 36PP013 5,5 kW 0,4 Aktif
41 36CP003 7 kVA 0,4 Aktif
42 36CP002 67 kVA 0,4 Aktif
43 36DB001 62,5 kVA 0,4 Aktif
44 36DB002 25 kVA 0,4 Aktif
45 36DB003 12,5 kVA 0,4 Aktif
46 36DB005 25 kVA 0,4 Aktif

3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
47 36RE001 37,5 kVA 0,4 Aktif
48 36RE002 37,2 kVA 0,4 Aktif
49 36BC001 2,5 kVA 0,4 Aktif
50 42AC001 55,6 kVA 0,4 Aktif
51 42AC002 55,6 kVA 0,4 Tidak Aktif
52 36UP001 5 kVA 0,4 Aktif
53 36PP001 45 kW 0,4 Aktif
54 36PP002 45 kW 0,4 Aktif
55 36RE003 100 kVA 0,4 Aktif
56 36RE004 100 kVA 0,4 Aktif

3.3Harmonisa pada Sistem Kelistrikan PT. Batutua Tembaga


Raya
Konverter 12 pulsa memiliki kontribusi besar pada distorsi
harmonisa yang terjadi di PT. Batutua Tembaga Raya sehingga Total
Harmonic Distortion (THD) arus dan tegangan melebihi standar IEEE
519-1992. Konverter 12 pulsa digunakan untuk menyearahkan listrik
AC menjadi DC. Selanjutnya listrik DC tersebut digunakan untuk
mencatu alat pelebur tembaga serta beberapa proses lainnya seperti
ekstraksi untuk mengubah ion hidrogen pada tembaga, electrowinning
untuk pembentukan solid metal, dan netralisasi. Adanya proses
switching dalam proses penyearahan listrik ini menyebabkan terjadinya
gangguan harmonisa. Tabel (3.5) berikut menyajikan data converter
pada PT. Batutua Tembaga Raya

Tabel 3.5 Data Konverter di PT. Batutua Tembaga Raya


Rating
ID kV kVA Keterangan
Recti01 1,35 3500 Aktif
Recti02 1,35 3500 Aktif
Recti03 1,35 3500 Aktif
Recti04 1,35 3500 Aktif

4
Keempat converter tersebut menjadi sumber distorsi dengan harmonisa
yang dihasilkan dari masing-masingnya identik seperti pada tabel (3.6).
Berdasarkan data tersebut, , library nilai IHD tiap orde harmonisa untuk
rectifier pada simulasi di ETAP dibuat sama dengan hasil pengukuran.
Tanel 3.6 Harmonisa yang dihasilkan oleh konverter
Ia (%) Ib (%) Ic (%)
THD 7,02 6,76 7,28
Orde
2 0 0 0
3 0.15 0.5 0.38
4 0 0 0
5 3.4 3.18 3.29
6 0 0 0
7 1.52 1.29 1.66
8 0 0 0
9 0.21 0.17 0.35
10 0 0 0
11 1.94 1.75 1.96
12 0 0 0
13 1.66 1.58 1.86
14 0.1 0 0
15 0.57 0.24 0.54
16 0.13 0 0.1
17 3.5 3.21 3.22
18 0 0 0.17
19 3.16 3.54 3.22
20 0.14 0 0.11
21 0.51 0.47 0.27
22 0.15 0.13 0.1
23 1.89 1.85 2
24 0 0 0.15
25 1.69 1.23 1.3
26 0 0 0
27 0 0.12 0.17
28 0 0 0
29 0.11 0.13 0

4
Tanel 3.6 (Lanjutan) Harmonisa yang dihasilkan oleh konverter
Ia (%) Ib (%) Ic (%)
30 0 0 0
31 0 0 0.21

3.4 Langkah-Langkah Meredam Harmonisa dan Analisisnya


Tujuan dari pengerjaan tugas akhir ini adalah melaksanakan
studi mengenai penentuan peralatan peredam harmonisa pada sistem
kelistrikan di PT. Batutua Tembaga Raya, Wetar dengan melakukan
identifikasi dari karakteristik harmonisa terlebih dahulu. Metodologi
yang digunakan dalam tugas akhir ini diawali dengan pengumpulan data
berupa gambaran dari Single Line Diagram (SLD), datasheet peralatan,
serta referensi ilmiah tentang teori yang berhubungan dengan harmonisa.
Dari data-data yang terkumpul, dapat dibuat pemodelan sistem
menggunakan software ETAP 12.6. Pada pemodelan ini, akan dilakukan
analisis aliran daya dan harmonisa yang terjadi di PT. Batutua Tembaga
Raya, Wetar.
Dari pemodelan dan aliran daya, dapat dilihat kondisi tegangan,
arus, dan faktor daya pada bagian bus. Sementara dari pemodelan dan
analisis harmonisa, dapat dilihat besarnya harmonisa yang terjadi pada
tiap-tiap bus, khususnya pada tugas akhir ini yaitu pada tegangan
menengah 20 kV yang berdekatan dengan sumber harmonisa berupa
rectifier. Dari analisis tersebut, akan didapatkan karakteristik harmonisa
dari segi orde yang dominan dan magnitude tiap orde harmonisa, baik
harmonisa tegangan maupun harmonisa arus. Selanjutnya, dapat
ditentukan jenis peralatan yang paling tepat untuk meredam harmonisa
yang terjadi.
Sebelumnya, PT. Batutua Tembaga Raya Wetar menggunakan
capacitor bank sebagai peredam harmonisa. Namun yang terjadi adalah
harmonisa arus meningkat meskipun harmonisa tegangan sudah turun.
Setelah penentuan peralatan peredam harmonisa (filter harmonisa), filter
tersebut ditempatkan di lokasi dengan harmonisa paling tinggi.
Selanjutnya akan dilakukan perbandingan indeks harmonisa pada tiga
keadaan, yaitu ketika tidak ada filter, ketika filter hanya berupa
kapasitor, dan ketika menggunakan filter yang ditentukan dalam tugas
akhir ini.

4
BAB IV
SIMULASI DAN
ANALISIS
Simulasi dan analisis pada sistem kelistrikan PT. Batutua
Tembaga Raya, Wetar meliputi perbaikan profil tegangan dan
peredaman gangguan harmonisa. Tahap-tahap yang akan dilakukan
dalam pembahasan bab ini adalah:
1. Simulasi load flow sistem kelistrikan pada kondisi normal load.
2. Simulasi harmonic load flow sistem kelistrikan pada kondisi
normal load.
3. Perhitungan nilai komponen R, L, dan C untuk pemasangan
filter harmonisa pasif.
4. Perbandingan tingkat distorsi harmonisa sebelum dan sesudah
pemasangan filter harmonisa pasif.
5. Perhitungan stray current corrosion yang dapat dikurangi.

4.1. Evaluasi Sistem Kelistrikan PT. Batutua Tembaga Raya


Dalam bab ini akan disimulasikan sistem kelistrikan PT.
Batutua Tembaga Raya, Wetar yang berkaitan dengan permasalahan
nilai profil tegangan sekaligus permasalahan harmonisa. Simulasi ini
menggunakan software ETAP 12.6, karena worksheet untuk analisis
harmonik sudah cukup memadai dan sesuai untuk simulasi analisis
harmonisa.
4.1.1. Kondisi Eksisting Tegangan
Setelah dilakukan simulasi loadflow, didapatkan hasil dari
profil tegangan tiap bus pada sistem kelistrikan di PT. Batutua Tembaga
Raya, Wetar yang dirangkum dalam tabel (4.1) berikut.
Tabel 4.1 Perbandingan nilai tegangan bus terhadap nilai standar
%V
No ID Bus Nominal kV Operasi Standar
1 32-MC-001 0,4 98,04 98-102
2 32KTMC001 0,4 98,75 98-102
3 32MC002 1 100,22 98-102
4 33MC001 0,4 98,23 98-102
4
5 34-MC-001 0,4 98,52 98-102

4
Tabel 4.1 (Lanjutan) Perbandingan nilai tegangan bus terhadap nilai
standar
%V
No ID Bus Nominal kV Operasi Standar
6 36MC001 BUS A 0,4 97,09 98-102
7 36MC001 BUS C 0,4 97,09 98-102
8 S6MC002 BUS B 0,4 97,09 98-102
9 36SB001 20 98,88 98-102
10 37-MC-001 0,4 97,73 98-102
11 63MC002 0,4 99,15 98-102
12 Bus4 0,4 99,32 98-102
13 Bus5 0,4 98,63 98-102
14 Bus8 20 98,88 98-102
15 Bus10 0,4 98,36 98-102
16 Bus18 20 100,75 98-102
17 Bus21 0,153 97,53 98-102
18 Bus34 0,4 97,92 98-102
19 Bus76 0,4 97,47 98-102
20 Bus90 20 98,87 98-102
21 Bus91 0,4 98,11 98-102
22 Bus95 0,153 96,86 98-102
23 Bus96 20 100,75 98-102
24 Bus97 0,4 97,28 98-102
25 Bus99 20 100,75 98-102
26 Bus100 0,153 97,52 98-102
27 Bus101 0,153 96,87 98-102
28 Bus102 20 100,68 98-102
29 Bus103 0,4 98,96 98-102
30 Bus104 20 98,86 98-102
31 POLE 37B 20 98,93 98-102
32 PS HV SWGR 20 100,75 98-102
Terdapat perbedaan standar tegangan, menurut PLN (+5%) dan
(-10%) sehingga tegangan operasi yang diizinkan adalah 90% sampai
105%, menurut ANSI (-10%) dan (+4%) sehingga tegangan operasi
yang diizinkan adalah 90% sampai 104%, dan dari ETAP sendiri
terdapat batas marginal ±2% (98-102%), sehingga lebih baik apabila
kita menggunakan batas ±2%. Dari tabel (4.1) dapat dilihat bahwa ada
beberapa bus

4
tegangan rendah yang nilai tegangannya belum memenuhi standar.
Ketidak sesuaian nilai tegangan dengan standarnya dapat menyebabkan
ketidaksesuaian pada operasi peralatan di bus tersebut. Oleh sebab itu,
agar tegangan bus memenuhi standar, maka perlu dilakukan pengaturan
tap transformator.
Tabel (4.2) akan menunjukkan pengaturan tap transformator
beserta letaknya apakah di sisi primer atau sekunder, serta perbandingan
nilai persentase tegangan sebelum dan setelah adanya perubahan tap
transformator.
Tabel 4.2 Perbaikan nilai tegangan dengan pengaturan tap transformator
Trafo ID Tap Bus ID %V %V %V
Trafo Sebelum Setelah Standar
36MC001 97,09 100,02 98-102
Bus A
36MC001 97,09 100,02 98-102
Primer Bus B
36TX01
(-2,5%) 36MC001 97,09 100,02 98-102
BusC
Bus97 97,28 100,2 98-102
37MC001 97,73 100,63 98-102
Primer Bus34 97,92 100,82 98-102
37TX01
(-2,5%) Bus76 97,47 100,39 98-102
36TXRE Primer Bus21 97,53 100,42 98-102
001 (-2,5%) Bus101 96,87 99,71 98-102
36TXRE Primer Bus 95 96,86 99,77 98-102
002 (-2,5%) Bus 100 97,52 100,41 98-102

4.1.2 Kondisi Harmonisa


Pengukuran harmonnisa dilakukan pada bus 36SB001 sebagai
bus yang paling dekat dengan sumber harmonisa dan mengalami distorsi
yang cukup besar, dan juga bus dengan arus yang sangat besar yaitu bus
21, bus 95, bus 100, dan bus 101. Mengacu pada pola operasinya, bus 95
identik dengan bus 101, dan bus 21 identik dengan bus 100 sehingga
distorsi yang terjadi pada bus tersebut adalah sama. 36SB001 merupakan
bus yang beroperasi pada tegangan menengah 20 kV sehingga
pemasangan filter pada bus tersebut akan berdampak pada keseluruhan

4
sistem, mulai dari sistem tegangan menengah sampai dengan sistem
pembangit. Sedangkan bus 21, bus 95, bus 100, dan bus 101 merupakan
bus tegangan rendah 153 V yang merupakan tempat peralatan dalam
proses electrowinning terjadi. Pemasangan filter pada bus tegangan
rendah ini dapat mengurangi arus yang masuk sehingga dapat
mengurangi efek dari stray current corrosion.
Gambar (4.1) dan gambar (4.2) akan menggambarkan
harmonisa tegangan dan harmonisa arus yang dialami oleh bus 36SB001.
Sedangkan gambar (4.3) dan (4.4) akan menggambarkan harmonisa
yang dialami oleh bus 95 dan bus 101, sedangkan gambar (4.5) dan (4.6)
akan menggambarkan harmonisa yang dialami oleh bus 21 dan bus 100.
Dapat dilihat bentuk gelombang terdistorsi dan persentase distorsi
harmonisa dari tiap-tiap ordenya, sehingga dapat menjadi acuan untuk
perancanaan filter harmonisa.
Pada gambar, akan diperlihatkan bahwa harmonisa terbesar
dihasilkan oleh orde 11, 13, dan 25 sehingga dibutuhkan filter harmonisa
untuk meredam harmonisa yang terjadi pada bus 36SB001 dengan tiga
buah single tuned filter untuk menala frekuensi pada orde 11, 13, dan
25. Hal ini akan menjadi acuan untuk perencanaan filter pasif untuk orde
11, 13, dan 25.

36SB001 (20 kV) Spectrum

(a)

4
Waveform
36SB001 (20 kV)

(b)
Gambar 4.1 Harmonisa tegangan pada bus 36SB001. (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan

36SB001 (352,26 A) Spectrum

(a)

4
Waveform
36SB001 (352,26 A)

(b)
Gambar 4.2 Harmonisa arus pada bus 36SB001. (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum

(a)

4
Waveform

(b)
Gambar 4.3 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101, (a)
Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum

(a)

5
Waveform

(b)
Gambar 4.4 Harmonisa arus pada bus 95 dan bus 101, (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa harmonisa orde 11, 13,
dan 25 cukup besar sehingga dibutuhkan filter harmonisa untuk
meredam harmonisa yang terjadi pada bus 95 dan bus 101 dengan tiga
buah single tuned filter untuk menala frekuensi pada orde 11, 13, dan
25.
Spectrum

(a)

5
Waveform

(b)
Gambar 4.5 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100. (a)
Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum

(a)

5
Waveform

(b)
Gambar 4.6 Harmonisa arus pada bus 21 dan bus 100. (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Dapat dilihat bahwa harmonisa terbesar dihasilkan oleh orde
15, 21, dan 27 sehingga dibutuhkan filter harmonisa untuk meredam
harmonisa yang terjadi pada bus 21 dan bus 101 dengan tiga buah single
tuned filter untuk menala frekuensi pada orde 15, 21, dan 27.

4.2 Ketika Menggunakan Capacitor Bank Sebagai Peredam


Harmonisa
Selama ini, PT. Batutua Tembaga Raya Wetar hanya
menggunakan kapasitor dengan kapasitas 4200 kVAR untuk
mengkompensasi daya reaktif sekaligus sebagai filter harmonisa.
Namun, harmonisa setelah dilakukan pemasangan kapasitor tersebut
adalah seperti pada tabel (4.3) berikut.
Tabel 4.3 Ketika Menggunakan Capacitor Sebagai Filter
THDV THDI
4,9 % 7,42 %
Orde %Magnitude Orde %Magnitude
2 0 2 0,33
3 0,11 3 0,14

5
Tabel 4.3 (Lanjutan) Ketika Menggunakan Capacitor Sebagai Filter
Orde %Magnitude Orde %Magnitude
4 0,16 4 0
5 0,45 5 6,76
6 0 6 0
7 0,98 7 1,55
8 0 8 9
9 0 9 0,2
10 0 10 0
11 1,08 11 0,96
12 0 12 0
13 0,62 13 0,21
14 0 14 0
15 0,17 15 0
16 0 16 0
17 1,37 17 0,6
18 0 18 0,11
19 1,39 19 0,92
20 0 20 0,15
21 0,26 21 0
22 0,12 22 0,11
23 2,48 23 1,02
24 0,14 24 0,14
25 3,42 25 1,84
26 0,16 26 0
27 0 27 0
28 0 28 0,11
29 0,37 29 0,18
30 0 30 0
31 0 31 0

Dari data pada tabel (4.3) dapat dilihat bahwa nilai dari harmonisa arus
berada diatas standar dari IEEE Std. 519-1992, sedangkan pada
harmonisa tegangan, terdapat nilai orde yang juga diatas standar. Hal ini
berarti bahwa kapasitor yang digunakan sebagai filter harmonisa
tidaklah

5
efektif, karena fungsi dari kapasitor bank adalah sebagai kompensasi
daya reaktif dan untuk memperbaiki faktor daya.

4.3. Penetuan Peralatan Peredam Harmonisa


Dengan mengetahui data aliran daya dan karakteristik
harmonisa berdasarkan pengukuran maupun simulasi, maka dapat
ditentukan jenis alat peredam harmonisa yang paling efektif. Peralatan
yang dibahas dalam tugas akhir ini adalah filter harmonisa pasif dengan
jenis single tuned filter atau filter penala tunggal.
Pada bab 2.3 mengenai jenis-jenis filter, dapat dilihat bahwa
single tuned filter memiliki impedansi minimum. Oleh karena itu, filter
ini akan menyerap semua arus harmonisa yang dekat dengan frekuensi
orde yang diinjeksikan. Sebelum menentukan nilai R, L, dan C, ada dua
hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu faktor kualitas (quality factor, Q)
dan penyimpangan frekuensi relative (relative frequency deviation, 𝛿).
Setelah itu, nilai THD dan IHD tengangan pada bus yang akan dipasang
filter harus diketahui. Selanjutnya yaitu menentukan orde harmonisa
yang paling dominan, karena nilai frekuensi dari orde tersebut akan
digunakan sebagai frekuensi tuning. Setelah itu, penentuan daya reaktif
yang dibutuhkan untuk memperbaiki faktor daya. Dengan perencanaan
filter dipasang dalam hubungan wye-connection, maka perhitungan
komponen filter adalah seperti persamaan (4.1) sampai (4.12) berikut.
1) Menentukan daya reaktif untuk perbaikan faktor daya

𝛥𝑄 = 𝑃[tan(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 )] (4.1)

Dengan 𝛥𝑄 merupakan nilai kompensasi daya reaktif yang dibutuhkan


(kVAR), P adalah daya satu fasa (kW), 𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙 adalah sudut dari faktor
daya awal, dan 𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 adalah sudut dari faktor daya yang diinginkan.

2) Menentukan nilai kapasitor (C)


𝑉𝑙−𝑛2
𝑘𝑉𝐴𝑅 =
𝑋𝐶 (4.2)
2
𝑘𝑉𝐴𝑅 = 𝑉𝑙−𝑛 × 𝜔0𝐶 (4.3)
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×𝜔0 (4.4)

5
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0) (4.5)
Dengan kVAR adalah nilai dari 𝛥𝑄 atau kompensasi daya reaktif yang
sudah dihitung pada persamaan (4.1), 𝑉𝑙−𝑛 adalah nilai tegangan line to
netral atau tegangan satu fasa, C adalah nilai kapasitansi kapasitor
dalam satuan 𝜇𝐹, dan 𝑓0 merupakan frekuensi fundamental 50 Hz .
3) Menentukan nilai induktor (L)

𝑋𝐿 = 𝑋𝐶 (4.6)
1
𝜔 𝐿=
(4.7)
𝑛 𝜔𝑛×𝐶
1
𝐿=
𝜔𝑛2×𝐶 (4.8)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶 (4.9)
Dengan L merupakan nilai induktansi dari induktor (H), C merupakan
hasil yang didapat dari perhitungan dalam persamaan (4.5), dan 𝑓𝑛
merupakan frekuensi pada orde harmonisa ke-n.
4) Setelah menentukan nilai L, tentukan nilai reaktansi (𝑋𝐿)
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿 (4.10)
Dimana L merupakan hasil dari perhitungan pada persamaan (4.9) dan
𝑓0 merupakan frekuensi fundamental 50 Hz.
5) Menentukan nilai Resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴 (4.11)
6) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅 (4.12)
Dengan 𝑋𝐿 didapat dari perhitungan pada persamaan (4.10) dan R
merupakan hasil dari perhitungan pada persamaan (4.11).
4.3.1. Filter Untuk Bus 36SB001

5
Bus 36SB001 memiliki faktor daya 86% lagging. Perbaikan
faktor daya pada bus ini diencanakan mencapai 95%. Besarnya daya
reaktif yang dibutuhkan adalah

𝛥𝑄 = 𝑃[tan(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 )]

𝛥𝑄 = 8970 𝑘𝑊 [tan(𝑐𝑜𝑠−1 0,86) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1 0,9)]

𝛥𝑄 = 2374.189 𝑘𝑉𝐴𝑅
Nilai 𝛥𝑄 diatas adalah nilai untuk 3 fasa. Karena untuk mengatur
parameter dari komponen filter pada ETAP 12.6 menggunakan
pemodelan 1 fasa, maka besarnya daya reaktif yang akan diinjeksikan ke
bus 36SB001 bernilai
2374.189 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝛥𝑄1 = = 791.3963 𝑘𝑉𝐴𝑅
3
𝑝ℎ𝑎𝑠𝑒

Sehingga besarnya daya yang akan diinjeksikan ke bus 36SB001 sebesar


791,3963 kVAR. Filter yang akan dipasang pada bus 36SB001 ini
direncanakan lebih dari satu filter, sehingga dilakukan pembagian
kompensator daya reaktif untuk masing-masing filter melalui
pendekatan nilai distorsi harmonisa dari masing-masing orde.
a. Filter untuk harmonisa orde 11
1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

264 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (20 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 6,30574 𝜇𝐹
2) Menentukan nilai induktor (L)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋550)2×6,30574 𝜇𝐹

𝐿 = 0.013293 𝐻

5
3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0.013293 𝐻
𝑋𝐿 = 4.17397 𝛺
4) Menentukan nilai resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 3,5 % × 302 𝐴

𝐼 = 10,57 𝐴

Sehingga dipilih AWG 11 dengan rating arus 12 A, dengan 𝑅 =


4,1328𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 5𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 4,1328
𝑘𝑚 × 0,005 𝑘𝑚 = 0,020664 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

4,17397 𝗇
𝑄 = 0,0206664 𝗇

𝑄 = 201,9

b. Filter untuk harmonisa orde 13

1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

264 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (20 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

5
𝐶 = 6,30574 𝜇𝐹

2) Menentukan nilai induktor (L)


1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋650)2×6,30574 𝜇𝐹

𝐿 = 0.0095173941 𝐻

3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿

𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0.0095173941 𝐻

𝑋𝐿 = 2.98846 𝛺

4) Menentukan nilai resistor (R)


𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 3 % × 302 𝐴

𝐼 = 9,06 𝐴

Sehingga dipilih AWG 12 dengan rating arus 9,3 A, dengan 𝑅 =


5,20864 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 5𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 5,20864
𝑘𝑚 × 0,005 𝑘𝑚 = 0,0260432 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

2.98846 𝗇
𝑄 = 0,0260432 𝗇

5
𝑄 = 114,75

c. Filter untuk harmonisa ke 25

1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

264 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (20 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 6,30574 𝜇𝐹

2) Menentukan nilai induktor (L)


1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋1250)2×6,30574 𝜇𝐹

𝐿 = 0.0025735034 𝐻

3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿

𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0.0025735034 𝐻

𝑋𝐿 = 0.80808 𝛺

4) Menentukan nilai resistor (R)


𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 4,37 % × 302 𝐴

𝐼 = 913,1974 𝐴

6
Sehingga dipilih AWG 10 dengan rating arus 15 A, dengan 𝑅 =
3,27639 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 5𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 3,27639
𝑘𝑚 × 0,005 𝑘𝑚 = 0,01638195 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

0.80808 𝗇
𝑄 = 0,01638195 𝗇

𝑄 = 49,3275

4.3.2. Filter Untuk Bus 95 dan Bus 101


Bus 95 dan bus 101 memiliki karakteristik yang identik,
sehingga nilai dari komponen filter yang ajan dipasang adalah sama. Bus
95 dan bus 101 memiliki faktor daya 80% lagging. Perbaikan faktor
daya pada bus ini diencanakan mencapai 98%. Besarnya daya reaktif
yang dibutuhkan adalah

𝛥𝑄 = 𝑃[tan(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 )]

𝛥𝑄 = 2030 𝑘𝑊 [tan(𝑐𝑜𝑠−1 0,86) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1 0,94)]

𝛥𝑄 = 467,74 𝑘𝑉𝐴𝑅
Nilai 𝛥𝑄 diatas adalah nilai untuk 3 fasa. Karena untuk mengatur
parameter dari komponen filter pada ETAP 12.6 menggunakan
pemodelan 1 fasa, maka besarnya daya reaktif yang akan diinjeksikan ke
bus 95 dan bus 101 bernilai
467,74 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝛥𝑄1 = = 155,9132 𝑘𝑉𝐴𝑅
3
𝑝ℎ𝑎𝑠𝑒

Sehingga besarnya daya yang akan diinjeksikan ke bus 95 dan bus 101
sebesar 𝟏𝟓𝟓, 𝟗𝟏𝟑𝟐 kVAR. Filter yang akan dipasang pada bus 95 dan
bus 101 ini direncanakan lebih dari satu filter, sehingga dilakukan
pembagian kompensator daya reaktif untuk masing-masing filter melalui
pendekatan nilai distorsi harmonisa dari masing-masing orde.

6
a. Filter untuk harmonisa orde 11
1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

55.9 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 22988,82718 𝜇𝐹
2) Menentukan nilai induktor (L)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋550)2×22988.82718 𝜇𝐹

𝐿 = 3,6462 𝜇𝐻
3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 3,6462 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0,00114 𝛺
4) Menentukan nilai resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 3,9 % × 7223 𝐴

𝐼 = 281,697 𝐴

Sehingga dipilih AWG 000 dengan rating arus 302 A, dengan 𝑅 =


0,16072 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 1 𝑚, maka

6
𝗇
𝑅 = 0,16072
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0,00016072 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

0,00114 𝗇
𝑄 = 0,00016072 𝗇

𝑄 = 7,0931

b. Filter untuk harmonisa orde 13

1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹

2) Menentukan nilai induktor (L)


1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋650)2×20562,45723 𝜇𝐹

𝐿 = 2,9186 𝜇𝐻

3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿

𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 2,9186 𝜇𝐻

𝑋𝐿 = 0,00092 𝛺

4) Menentukan nilai resistor (R)

6
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 2,73 % × 7223 𝐴

𝐼 = 197,19 𝐴

Sehingga dipilih AWG 000 dengan rating arus 239 A, dengan 𝑅 =


0,202704 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 1𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 0,202704
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0,000202704 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

0,00092 𝗇
𝑄 = 0,000202704 𝗇

𝑄 = 4,5386

c. Filter untuk harmonisa ke 25

1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹

2) Menentukan nilai induktor (L)


1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋1250)2×20562,45723 𝜇𝐹

6
𝐿 = 0,7892 𝜇𝐻

3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿

𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0,3182 𝜇𝐻

𝑋𝐿 = 0,00025 𝛺

4) Menentukan nilai resistor (R)


𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 42.21 % × 7223 𝐴

𝐼 = 159,628 𝐴

Sehingga dipilih AWG 00 dengan rating arus 190 A, dengan 𝑅 =


0.255512 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 1𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 0.255512
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0.000255512 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

0.00025 𝗇
𝑄 = 0.000255512 𝗇

𝑄 = 1,9784

4.3.3 Filter Untuk Bus 21 dan Bus 100


Bus 21 dan bus 100 memiliki karakteristik yang identik,
sehingga nilai dari komponen filter yang ajan dipasang adalah sama. Bus
21 dan bus 100 memiliki faktor daya 80% lagging. Perbaikan faktor
daya pada bus ini diencanakan mencapai 98%. Besarnya daya reaktif
yang dibutuhkan adalah

6
𝛥𝑄 = 𝑃[𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 )]

𝛥𝑄 = 2030 𝑘𝑊 [𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1 0,86) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1 0,94)]


𝛥𝑄 = 467,74 𝑘𝑉𝐴𝑅
Nilai ΔQ diatas adalah nilai untuk 3 fasa. Karena untuk mengatur
parameter dari komponen filter pada ETAP 12.6 menggunakan
pemodelan 1 fasa, maka besarnya daya reaktif yang akan diinjeksikan ke
bus 95 dan bus 101 bernilai
467,74 kVAR
ΔQ1 phase = = 155,9132 kVAR
3

Sehingga besarnya daya yang akan diinjeksikan ke bus 21 dan bus 100
sebesar 𝟏𝟓𝟓, 𝟗𝟏𝟑𝟐 kVAR. Filter yang akan dipasang pada bus 21 dan
bus 100 ini direncanakan lebih dari satu filter, sehingga dilakukan
pembagian kompensator daya reaktif untuk masing-masing filter melalui
pendekatan nilai distorsi harmonisa dari masing-masing orde.
a. Filter untuk harmonisa orde 15
1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

55.9 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 22988,82718 𝜇𝐹
2) Menentukan nilai induktor (L)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋750)2×22988,82718 𝜇𝐹

𝐿 = 1,9608 𝜇𝐻
3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿

6
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 1,9608 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0,00062 𝛺
4) Menentukan nilai resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 3,9 % × 7223 𝐴

𝐼 = 281,697 𝐴

Sehingga dipilih AWG 000 dengan rating arus 302 A, dengan 𝑅 =


0,16072 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 1 𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 0,16072
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0,00016072 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

0,00062 𝗇
𝑄 = 0,00016072 𝗇

𝑄 = 3,8576

b. Filter untuk harmonisa orde 21

1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹

2) Menentukan nilai induktor (L)

6
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋1050)2×20562,45723 𝜇𝐹

𝐿 = 1,1185 𝜇𝐻

3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿

𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 1,1185 𝜇𝐻

𝑋𝐿 = 0.00035 𝛺

4) Menentukan nilai resistor (R)


𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 2,73 % × 7223 𝐴

𝐼 = 197,19 𝐴

Sehingga dipilih AWG 000 dengan rating arus 239 A, dengan 𝑅 =


0,202704 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 1𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 0,202704
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0,000202704 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

0,00035 𝗇
𝑄 = 0,000202704 𝗇

𝑄 = 1,72665

6
c. Filter untuk harmonisa ke 27

1) Menentukan nilai kapasitor (C)

𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)

50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3

𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹

2) Menentukan nilai induktor (L)


1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋1250)2×20562,45723 𝜇𝐹

𝐿 = 0,6766 𝜇𝐻

3) Menentukan nilai reaktansi (XL)

𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿

𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0,27283 𝜇𝐻

𝑋𝐿 = 0.00021 𝛺

4) Menentukan nilai resistor (R)


𝑙
𝑅=𝜌
𝐴

Berdasarkan American Wire Gauge (AWG), dengan mempertimbangkan


rating arus, dengan nilai arus adalah %IHD x I fundamental, maka

𝐼 = 42.21 % × 7223 𝐴

𝐼 = 159,628 𝐴

Sehingga dipilih AWG 00 dengan rating arus 190 A, dengan 𝑅 =


0.255512 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 1𝑚, maka

6
𝗇
𝑅 = 0.255512
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0.000255512 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅

0.00021 𝗇
𝑄 = 0.000255512 𝗇
𝑄 = 0,82314

4.4 Simulasi Sistem Setelah Pemasangan Filter Harmonisa


Setelah filter harmonisa dipasang, dilakukan running simulasi
sistem untuk melihat efek dari pemasangan filter. Berikut merupakan
pengaruh pemasangan filter harmonisa pada sistem kelistrikan PT.
Batutua Tembaga Raya

4.4.1 Faktor Daya Setelah Pemasangan Filter

Faktor daya dapat dilihat dengan simulasi aliran daya. Tabel


(4.4) menunjukkan faktor daya pada bus setelah pemasangan filter
harmonisa.

Tabel 4.4 Faktor daya setelah pemasangan filter

Faktor Daya Faktor Daya


ID Bus kV
Sebelum (%) Setelah (%)
32-MC-001 0,4 98,9 99,1
32KTMC001 0,4 90 90
32MC002 1 85 85
33MC001 0,4 96,5 96,7
34-MC-001 0,4 -100 -99,9
36MC001 BUS A 0,4 93,3 94,7
36MC001 BUS B 0,4 87 87
36MC001 BUS C 0,4 82,7 82,7
36SB001 20 86,2 99,4
37-MC-001 0,4 97 97,2
63MC002 0,4 90,4 90,4
Bus4 0,4 90,4 90,4

7
Tabel 4.4 (Lanjutan) Faktor daya setelah pemasangan filter
Faktor Daya Faktor Daya
ID Bus kV
Sebelum (%) Setelah (%)
Bus5 0,4 -100 -99,9
Bus10 0,4 96,5 96,7
Bus18 20 86.5 96,8
Bus21 0,153 86,6 94,5
Bus34 0,4 97 97,2
Bus76 0,4 91,5 91,5
Bus90 20 85,4 93,7
Bus91 0,4 98,9 99,1
Bus95 0,153 86,6 94,5
Bus96 20 86,5 96,8
Bus97 0,4 93,3 93,8
Bus99 20 86,5 96,8
Bus100 0,153 86,6 94,5
Bus101 0,153 86,6 94,5
Bus102 20 79 79,1
Bus103 0,4 79 79,1
Bus104 20 85,4 93,1
POLE 37B 20 89 98,2
PS HV SWGR 20 88,7 97,9

Dari tabel (4.4) tersebut dapat dilihat bahwa setelah pemasangan filter
harmonisa, faktor daya pada bus lebih baik dari sebelumnya. Hal ini
menunjukkan bahwa komponen C (kapasitor) dengan fungsi sebagai
kompensasi daya bekerja dengan baik.

4.4.2 Harmonisa Sistem Setelah Pemasangan Filter Harmonisa

Hasil perbandingan harmonisa sebelum dan setelah


pemasangan filter harmonisa dapat dilihat pada tabel (4.5) untuk
harmonisa tegangan, dan tabel (4.6) untuk harmonisa arus. Hasil tersebut
meliputi bus tegangan rendah dan bus tegangan menengah sampai
dengan area sistem pembangkitan.

7
Tabel 4.5 Harmonisa Tegangan setelah pemasangan filter harmonisa
THDV (%)
ID Bus kV Sebelum Setelah
LVPS001 0,4 7,54 0,5
PS HV SWGR 20 11,01 0,71
POLE 37B 20 12,96 0,83
36SB001 20 13,06 0,84
Bus18 20 11,01 0,71
Bus21 0,153 17,69 3,09
Bus90 20 13,06 0,84
Bus95 0,153 18,58 2,66
Bus96 20 11,01 0,71
Bus99 20 11.01 0,71
Bus100 0,153 17,69 3,09
Bus101 0,153 18,58 2,66
Bus104 20 13,07 0,84
Dapat dilihat bahwa tingkat distorsi harmonisa menurun setelah
pemasangan single tuned filter. Nilai distorsi pada seluruh bus yang
sebelumnya diatas standar IEEE Std 519-1992, kini seluruhnya sudah
memenuhi standar harmonisa yan diizinkan.

Tabel 4.6 Harmonisa Arus setelah pemasangan filter harmonisa

Bus Cable I (A) THDI (%)


Sebelum Setelah Sebelum Setelah
36SB001-P 352,26 297,08 7,93 0,45
Cab21 10431,69 9681,61 7,21 6,89
Cab95 10875 9963,79 7,21 6,89
Cab100 10774,95 9950,01 7,19 6,71
Cab101 10520,44 9693 7,19 6,71

Dapat dilihat bahwa jumlah arus yang mengalir pada tiap-tiap kabel
sudah menurun. Hal ini membuktikan bahwa arus harmonisa sudah
dialirkan ke single tuned filter yang terpasang. Dilihat dari nilai
THDnya, nilai distorsi harmonisa sudah menurun jauh pada kabel bus
36SB001-P. Namun masih ada yang belum memenuhi standar.
Meskipun belum memenuhi standar,

7
menurunnya arus yang mengalir akan mengurangi efek dari stray current
corrosion.

Gambar (4.7) dan gambar (4.8) akan menggambarkan


harmonisa tegangan dan harmonisa arus pada bus 36SB001 setelah
dipasang filter. Begitu pula dengan gambar (4.9) dan (4.10) yang akan
menunjukkan spektrum dan bentuk gelombang dari arus dan tegangan
setelah dipasang filter pada bus 95 dan bus 101. Gambar (4.5) dan (4.6)
juga akan menggambarkan harmonisa pada bus 21 dan bus 100. Dapat
dilihat bentuk gelombang terdistorsi dan persentase distorsi harmonisa
dari tiap- tiap ordenya yang sudah mengalami penurunan sehingga dapat
dikatakan bahwa filter yang dipasang berhasil mereduksi harmonisa
sesuai dengan yang diharapkan.

36SB001 (20 kV) Spectrum

(a)

7
Waveform
36SB001 (20 kV)

(b)

Gambar 4.7 Harmonisa tegangan pada bus 36SB001 setelah difilter.


(a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
36SB001 (297,08 A)

(a)

7
Waveform

(b)

Gambar 4.8 Harmonisa arus pada bus 36SB001 setelah difilter.


(a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan

Bus 21 (0,15 kV) Spectrum


Bus 100 (0.15 kV)

(a)

7
Waveform
-Bus
-Bus100
21 (0.15
(0,15 kV)
kV)

(b)

Gambar 4.9 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100 setelah
difilter. (a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
Cab21(9681.61A) Cab 101 (9950,01A)

(a)

7
Waveform
-Cab21(9681.61A) -Cab 101 (9950,01A)

(b)

Gambar 4.10 Harmonisa arus pada bus 21 dan bus 100 setelah difilter.
(a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
Bus 95 (0,15 kV) Bus 101 (0.15 kV)

(a)

7
Waveform
-Bus 95 (0,15 kV) -Bus 101 (0.15 kV)

(b)

Gambar 4.11 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101 setelah
difilter. (a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
Cab 95 (9963,79 A) Cab 101 (9693,31A)

(a)

7
Waveform
-Cab 95 (9963,79 A) -Cab 101 (9693,31A)

(b)

Gambar 4.12 Harmonisa arus pada bus 95 dan bus 101 setelah difilter.
(a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan

4.5 Pengaruh Pemasangan Filter Harmonisa Terhadap Stray


Current Corrosion
Dengan dipasangnya single tuned filter , tabel (4.6) menunjukkan
bahwa arus yang melewati jaringan sudah berkurang nilainya. Hal ini
berarti bahwa efek stray current corrosion dapat dikurangi. Berikut
perhitungan dekomposisi besi akibat arus listrik.

Untuk keadaan ionisasi pertama besi dari atom netral Fe ke ion


ferrous Fe+2, berat ekivalen diperoleh dari massa molar M sebesar
55,845 gram per mol, dan z adalah jumlah moil yang ditransfer dalam
reaksi.
𝑀
55,845 𝑔/𝑚𝑜𝑙
=
𝑧 = 27,923 𝑔
2 𝑚𝑜𝑙
Sekarang, akan dihitung massa besi yang diubah, dengan aliran satu
ampere arus liar selama setahun ampere setara dengan arus 1 Coulomb
muatan per detik.

7
� 1
� 𝐶 = 1𝐴
𝐼= =
𝑡 1𝑠
satu tahun sama dengan 31.536.000 detik. Berarti, jika stray current
dalam suatu kandungan unsur besi bernilai 1 A, maka dalam satu tahun
satu tahun akan menjadi:
𝐶
𝑄 = 𝐼𝑡 = 1 × 31.536.000𝑠 = 31.536.000 𝐶
𝑠
Jumlah mol elektron yang ditransfer dalam reaksi dapat diperoleh dari
total muatan yang ditransfer dan juga dari konstanta Faraday.
𝑄
31.536.000
=
𝐹 = 327 𝑚𝑜𝑙
96485
Sehingga massa besi yang dikonsumsi oleh 327 mol elektron dan berat
setara 27.923 gram per mol elektron adalah
𝑄
𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 327 × 27,923 = 9131 𝑔
𝐹 𝑧
Berarti tiap 1 ampere arus liar dapat mengakibatkan korosi sebesar 9131g
per tahunnya.

Tabel (4.7) berikut akan menunjukkan penurunan arus yang


mengalir pada jaringan dari tiap-tiap bus. Pada tabel tersebut, I*
merupakan selisih arus sebelum dan setelah pemasangan filter
harmonisa, atau nilai dari penurunan arus.

Tabel 4.7 Arus Pada Jaringan

Bus Cable I (A) I* (A)


Sebelum Setelah
36SB001-P 352,26 297,08 55,18
Cab21 10431,69 9681,61 750,08
Cab95 10875 9963,79 991,21
Cab100 10774,95 9950,01 824,94
Cab101 10520,44 9693 827.44

8
Selanjutnya akan dilakukan perhitungan terhadap stray current corrosion.

a. Stray Current Corrosion yang dapat dikurangi pada 36SB001-P


𝑀 55,845 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑧 = 2 𝑚𝑜𝑙 = 27,923 𝑔
𝐶
𝑄 = 𝐼𝑡 = 55,18 × 31.536.000𝑠 = [Link] 𝐶
𝑠
𝑄
[Link]
= = 18.035,51308 𝑚𝑜𝑙
𝐹 96485
𝑄 𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 18.035,51308 × 27,923 = 503.605,63 𝑔
𝐹 𝑧

Sehingga dengan turunnya arus sebesar 55,18 A, dalam satu


tahun akan ada 503.605,63 g atau sama dengan 503,606 kg
besi yang terhindar dari korosi.

b. Stray Current Corrosion yang dapat dikurangi pada Cab21


𝑀 55,845 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑧 = 2 𝑚𝑜𝑙 = 27,923 𝑔
𝐶
𝑄 = 𝐼𝑡 = 750,08 × 31.536.000𝑠 = 2,366 × 10 10 𝐶
𝑠
𝑄
2,366×1010
= = 245.219,464 𝑚𝑜𝑙
𝐹 96485
𝑄 𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 245.219,464 × 27,923 = 6.847.263,1 𝑔
𝐹 𝑧

Sehingga dengan turunnya arus sebesar 750,08A, dalam satu


tahun akan ada 6.847.263,1 g atau sama dengan 6.847 kg besi
yang terhindar dari korosi.

c. Stray Current Corrosion yang dapat dikurangi pada Cab95


𝑀 55,845 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑧 = 2 𝑚𝑜𝑙 = 𝐶27,923 𝑔
𝑄 = 𝐼𝑡 = 991,21 × 31.536.000𝑠 = 3,126 × 10 10 𝐶
𝑠
𝑄
3,126×1010
= = 323.975,7326 𝑚𝑜𝑙
𝐹 96485
𝑄 𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 323.975,7326 × 27,923 = 9.046.374,381 𝑔
𝐹 𝑧

8
Sehingga dengan turunnya arus sebesar 991,21A, dalam satu
tahun akan ada 9.046.374,381 g atau sama dengan 9.046 besi
yang terhindar dari korosi.

d. Stray Current Corrosion yang dapat dikurangi pada Cab100

𝑀 55,845 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑧 = 2 𝑚𝑜𝑙 = 27,923 𝑔
𝐶
𝑄 = 𝐼𝑡 = 824,94 × 31.536.000𝑠 = 2,602 × 10 10𝐶
𝑠
𝑄
2,602×1010
= = 269.630,594 𝑚𝑜𝑙
𝐹 96485
𝑄 𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 269.630,594 × 27,923 = 7.528.895,07 𝑔
𝐹 𝑧

Sehingga dengan turunnya arus sebesar 824,94 A, dalam satu


tahun akan ada 7.528.895,07 g atau sama dengan 7.528 kg
besi yang terhindar dari korosi.

e. Stray Current Corrosion yang dapat dikurangi pada Cab101


𝑀 55,845 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑧 = 2 𝑚𝑜𝑙 = 27,923 𝑔
𝐶
𝑄 = 𝐼𝑡 = 827.44 × 31.536.000𝑠 = 2,609 × 10 10 𝐶
𝑠
𝑄
2,609×1010
= = 270.404,7261 𝑚𝑜𝑙
𝐹 96485
𝑄 𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 270.404,7261 × 27,923 = 7.550.511,166 𝑔
𝐹 𝑧

Sehingga dengan turunnya arus sebesar 55,18 A, dalam satu


tahun akan ada 7.550.511,166 g atau sama dengan 7.550 kg
besi yang terhindar dari korosi.

8
Halaman ini sengaja dikosongkan

8
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Sistem kelistrikan di PT. Batutua Tembaga Raya, Wetar belum


memiliki kualitas daya yang baik. Hingga ketika baru tiga bulan
beroperasi, sudah terjadi korosi pada peralatan yang mengandung unsur
besi di beberapa bagian pada pabrik tambang tersebut. Hal ini terjadi
akibat adanya arus liar atau arus yang seharusnya tidak berada pada
elemen tersebut, atau bisa disebut sebagai arus lebih yang salah satunya
adalah akibat dari harmonisa yang tinggi. Pada pabrik sudah digunakan
kapasitor bank sebagai peredam harmonisa, namun hasilnya, harmonisa
arus semakin tinggi. Oleh karena itu, untuk meredam harmonisa tersebut
perlu direncanakan filter pasif di beberapa bagian. Hasil simulasi dan
analisis pemasangan filter pasif pada PT. Batutua Tembaga Raya didapat
sebagai berikut:

1. Sudah dilakukan perbaikan profil tegangan dengan cara tap


suatu sisi di transformator.
2. Bus tegangan menengah dengan ID 36SB001 dipasang tiga
buah single tuned filter orde 11,13, dan 25 karena bus 36SB001
memiliki THD sampai dengan 14,8% dengan orde harmonisa
dominan berada di orde 11, 13, dan 25.
3. Bus 21, bus 95, bus 100, dan bus 101 merupakan bus tegangan
rendah yang dipasang filter karena pada area tersebut, arus
sangat besar dan paling banyak terjadi fenomena stray current
corrosion sehingga dengan diberi filter dan arus berkurang,
diharapkan akan mampu mengurangi korosi kedepannya.
4. Harmonisa tegangan dan harmonisa arus berhasil diturunkan.
5. Faktor daya berhasil diperbaiki.
6. Dengan menurunnya distorsi harmonisa, arus yang mengalir
dalam jaringan semakin turun, maka efek dari stray current
corrosion dapat dikurangi.

8
5.2 Saran
Dalam penyelesaiain tugas akhir ini, saran yang dapat diberikan
untuk kedepannya antara lain:

1. Perlu adanya studi mengenai interferensi arus liar yang dapat


menyebabkan korosi (stray current corrosion) karena
penyebabnya bukan hanya dari harmonisa saja.
2. Perlu adanya studi harmonisa pada sistem kelistrikan karena
semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak peralatan
elektronika daya seperti converter yang digunakan. S hal
tersebut memungkinkan permasalahan harmonisa yang lebih
luas seiring dengan penggunaan converter yang akan semakin
banyak.

8
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ashari, Mochamad, “Konverter AC”, ITS Press, Surabaya,
Bab.1, 2006

[2] Ashari, Mochamad, “Konverter DC”, ITS Press, Surabaya,


Bab.1 dan Bab 4, 2006

[3] Awadalla, M, Omer, M, & Mohamed, A, “Single Tuned Filter


Design for Harmonic Mitigation and Optimization with
Capacitor Banks”, International Conference on Computing,
Control, Networking, Electronics and Embedded Systems
Engineering, 2015

[4] Badrzadeh, B, Smith, K, & Wilson, R, “Designing Passive


Harmonic Filters for an Alumunium Smelting Plant”, IEEE
Transactions On Industry Applications, Vol. 47, No. 2, 2011

[5] Chang, G.W, S.Y. Chu, and H.L. Wang, “A New Approach for
Placement of Single-Tuned Passive Harmonic Filter in a Power
System” IEEE, pp. 814-817, 2002

[6] Grady, Mack, “Understanding Power System Harmonics” Sept.


of Electrical & Computer Engineering University of Texas at
Austin, Chapter 1, 2006

[7] Heydar, R, Soeprijanto, A & Penangsang O, “Studi Harmonik


Filter Pasif pada Sisi Tegangan Rendah pada Sistem Kelistrikan
PT. Semen Tonasa V Sulawesi Selatan”, ITS Paper.

[8] Hoevenaars, T, LeDoux, K & Colosino, M, ‘Interpreting IEEE


Std 519 and Meeting its Harmonic Limits in VFD
Applications’
IEEE Paper, Paper No. PCIC-2003-15, 2003

[9] Pete, G, McGrath, M, “AC Versus DC Stray Current Corrosion,


Analysis and Measurement”, July 2010

[10] Pramnanto, A “Analisis Penggunaan Single Tuned Filter Pada


Saluran Distribusi”. Skripsi Universitas Indonesia. 2008

8
[11] Pujiantara, Margo. Diktat Kuliah Desain dan Instalasi Tenaga
Listrik: Harmonisa, Departemen Teknik Elektro ITS

[12] Ruben, J, Wibowo, R & Penangsang, O 2012, “Analisis Unjuk


Kerja Filter Pasif dan Filter Aktif pada Sisi Tegangan Rendah
di Perusahaan Semen Tuban, Jawa Timur”, ITS Paper, 2012

[13] Sabri, Y, Kurniawa, E, “Perancangan Filter Pasif Untuk


Mengatasi Harmonisa pada Gardu Penyearahan Pusat Listrik
Aliran Atas-PT KAI Commuter Jabodetabek Indonesia”, ITB
Paper, 2013

[14] Utomo, B, “Interferensi Arus Liar”, dilihat 16 April 2017,


<URL: [Link]
arus-liar-stray-current-interference/>, 2016

8
BIOGRAFI PENULIS

Azharia Mahdiya dengan nama panggilan


rumah ‘Ary’ dan selain di rumah dipanggil
‘Aza’ adalah anak pertama dari empat
bersaudara yang lahir di Jakarta pada tanggal 6
Maret 1996. Memiliki ayah super bernama Drs.
Boy Tirta Sumriyadi, MM. dan seorang ibu
tangguh bernama Ratna Ahsanty, [Link]., serta
memiliki tiga orang adik perempuan, Alyfia
Maitsaa yang saat ini menempuh semester 3 di
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Aqyla
Muqsitha yang saat
ini kelas 9 di SMPIT Tunas Harapan Ilahi, dan Aghnia Muthya
yang saat ini bersekolah di SDIT Tunas Harapan Ilahi kelas 6.
Bertempat tinggal di Kota Tangerang dengan sebagian besar
keluarga berada disekitar JABODETABEK namun memilih
menghabiskan beberapa semester tinggal di Surabaya untuk kuliah
di ITS.

8
Halaman ini sengaja dikosongkan

Anda mungkin juga menyukai