Penyempurnaan Filter Harmonisa
Penyempurnaan Filter Harmonisa
Azharia Mahdiya
NRP 0711 14 4000 0081
Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Margo Pujiantara, M.T.
Dedet C. Riawan, ST. [Link]. Ph. D.
Azharia Mahdiya
NRP 0711 14 4000 0081
Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Margo Pujiantara, M.T.
Dedet C. Riawan, ST. [Link]. Ph.
ABSTRAK
i
Halaman ini sengaja dikosongkan
i
IMPROVEMENT OF HARMONIC FILTERS TO REDUCE
STRAY CURRENT CORROSION ON PT. BATUTUA
TEMBAGA RAYA, WETAR
ABSTRACT
v
Halaman ini sengaja dikosongkan
v
KATA PENGANTAR
vi
sebesar-besarnya apabila ada kesalahan kata yang dapat menyinggung
pembaca. Saya ucapkan sekian dan terima kasih.
Penulis
vi
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan........................................................................i
Abstrak............................................................................................iii
Abstract...........................................................................................v
Kata Pengantar................................................................................vii
Daftar Isi..........................................................................................ix
Daftar Gambar................................................................................xi
Daftar Tabel.....................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................2
1.3 Batasan Masalah......................................................................2
1.4 Tujuan......................................................................................2
1.5 Metodologi...............................................................................2
1.6 Sistematika...............................................................................4
1.7 Relevansi..................................................................................5
i
2.5 Penerapan Filter Harmonisa......................................................28
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................................79
5.2 Saran...........................................................................................80
DAFTAR PUSTAKA......................................................................81
x
DAFTAR GAMBAR
x
Gambar 4.5 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100............48
(a) Spektrum harmonisa...............................................48
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................48
Gambar 4.6 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100............49
(a) Spektrum harmonisa...............................................49
(b) Bentuk gelombang arus..........................................49
Gambar 4.7 Harmonisa tegangan pada bus 36SB001 setelah
Difilter...........................................................................69
(a) Spektrum harmonisa...............................................69
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................70
Gambar 4.8 Harmonisa arus pada bus 36SB001 setelah difilter … 70
(a) Spektrum harmonisa...............................................70
(b) Bentuk gelombang arus..........................................71
Gambar 4.9 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100
setelah difilter...............................................................71
(a) Spektrum harmonisa...............................................71
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................72
Gambar 4.10 Harmonisa arus pada bus 21 dan bus 100 setelah
difilter.........................................................................72
(a) Spektrum harmonisa...............................................72
(b) Bentuk gelombang arus..........................................73
Gambar 4.11 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101
setelah difilter.............................................................73
(a) Spektrum harmonisa...............................................73
(b) Bentuk gelombang tegangan..................................74
Gambar 4.12 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101
setelah difilter.............................................................74
(a) Spektrum harmonisa...............................................74
(b) Bentuk gelombang arus..........................................75
x
DAFTAR TABEL
x
harmonisa........................................................................68
Tabel 4.6 Harmonisa Arus setelah pemasangan filter harmonisa....68
Tabel 4.7 Arus Pada Jaringan..........................................................76
x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak berkembangnya peralatan elektronika daya yang dimulai
pada tahun 1900, permasalahan harmonisa juga semakin
berkembang. Permasalahan harmonisa ini pertama kali ditemukan
antara tahun 1920 dan 1930 tepatnya di Negara Jerman. Saat itu
terjadi gangguan sistem tenaga listrik akibat static converter yang
banyak digunakan oleh industri. Setelah itu, berkembang pesat studi
mengenai converter yang menyebabkan harmonisa pada tahun
1950- 1960. Melihat perkembangan industri dari waktu ke waktu,
pembahasan masalah harmonisa menjadi bahan diskusi bahkan
sampai ke tingkat internasional.
Salah satu perusahaan yang mengalami permasalahan
harmonisa adalah perusahaan pertambangan tembaga di Maluku
Utara, PT. Batutua Tembaga Raya Wetar. Baru tiga bulan
beroperasi, perusahaan ini memiliki beberapa permasalahan
penting. Salah satunya adalah terkorosinya peralatan-peralatan yang
mengandung unsur besi di beberapa bagian pada perusahaan ini.
PT. Batutua Tembaga Raya memiliki berbagai macam
peralatan untuk menunjang proses pengolahan hasil tambangnya.
Sebagian besar dari peralatan pada perusahaan ini merupakan beban
non-linier sehingga menimbulkan harmonisa. Peralatan-peralatan
tersebut juga menggunakan listrik DC sehingga untuk
mengoperasikannya diperlukan penyearah 12 pulsa untuk
mengkonversi arus AC dari pembangkit menjadi DC untuk
digunakan pada peralatan. Namun, penyearah 12 pulsa ini memiliki
dampak negatif berupa harmonisa yang akan berpengaruh pada
jaringan sistem. Harmonisa ini dapat menyebabkan beberapa
permasalahan pada seluruh sistem kelistrikan dan juga pada
peralatan, termasuk terjadinya korosi pada material yang
mengandung unsur besi.. Sehingga pada tugas akhir ini akan
direncanakan dan disimulasikan sebuah filter untuk menghilangkan
harmonisa agar efek korosi harmonisa dapat dikurangi.
1
1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang akan dibahas dalam Tugas Akhir ini
yaitu:
1. Bagaimana pola sistem kelistrikan pada PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar?
2. Bagaimana permasalahan harmonisa yang terjadi di PT. Batutua
Tembaga Raya Wetar?
3. Bagaimana merancang filter harmonisa pada PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar agar korosi pada konduktor dapat dikurangi?
1.4 Tujuan
Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah:
1. Melakukan studi pada pola kelistrikan PT. Batutua Tembaga
Raya Wetar agar dapat mengetahui kesetimbangan antara daya
terbangkit dengan daya beban.
2. Melakukan studi mengenai harmonisa yang terjadi di PT.
Batutua Tembaga Raya Wetar.
3. Melakukan perancangan model filter harmonisa untuk
mereduksi harmonisa di PT. Batutua Tembaga Raya Wetar.
1.5 Metodologi
Metodologi yang digunakan pada Tugas Akhir ini yaitu :
1. Pengumpulan Data
2
line diagram dan data dari peralatan-peralatan listrik pada PT.
Batutua Tembaga Raya Wetar yang meliputi: pola operasi
keseluruhan, pola kerja kelistrikan per bagian dari perusahaan,
generator, rating kabel, transformator, motor listrik,
rectiformer, dan peralatan-peralatan lainnya.
2. Pemodelan Sistem
3
1.6 Sistematika
Sistematika penulisan dalam tugas akhir ini terdiri dari lima bab yang
berisi tentang :
BAB I : PENDAHULUAN
BAB V : PENUTUP
4
1.7 Relevansi
Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Dapat digunakan sebagai rekomendasi bagi PT. Batutua
Tembaga Raya Wetar untuk solusi dari permasalahan DC stray
current corrosion yang terjadi di beberapa bagian dari pabrik.
2. Dapat menjadi referensi terkait analisis arus, tegangan, daya,
dan harmonisa pada sistem kelistrikan industri untuk
penelitian selanjutnya.
5
Halaman ini sengaja dikosongkan
6
BAB II
TEORI PENUNJANG
2.1 Interferensi Arus Liar
Interferensi arus liar merupakan sebuah gangguan elektrikal
pada suatu struktur material yang disebabkan oleh arus liar atau arus
tersasar yang bisa disebut juga sebagai stray current. Salah satu
penyebab dari munculnya arus liar adalah harmonisa yang terjadi pada
jaringan sistem. Harmonisa akan mengakibatkan arus lebih pada
jaringan dan menyebabkan terkorosinya konstruksi peralatan yang
mengandung unsur besi.
Stray current bisa terjadi pada jaringan listrik AC (Alternating
Current) maupun DC (Direct Current). Desain rangkaian DC biasanya
merupakan floating null point system atau sistem yang tidak dibumikan.
Arus liar bisa saja mengalir dari konduktor ke tanah sehingga
mengindikasikan bahwa terdapat suatu jalur tak kasat mata dari
konduktor ke bumi dan dapat menyebabkan hubung singkat. Efek yang
dapat ditimbulkan dari stray current diantaranya adalah menurunkan
efisiensi arus, membuat biaya operasional lebih tinggi, mempercepat
korosi pada komponen logam, serta deposisi pertambahan metalik yang
tidak diinginkan.
Arus liar yang berasal dari arus searah (DC) dan tidak sengaja
memasuki konstruksi dari peralatan yang mengandung unsur besi,
kemudian meninggalkannya kembali menuju sumber arus, akan
menyebabkan karat pada titik dimana arus meninggalkan konstruksi
tersebut. Karat yang terjadi cukup serius dapat merusak konstruksi
tersebut dan menyebabkan terjadinya korosi. Indikasi bahwa terjadinya
korosi akibat stray current dapat dilihat ketika instalasi dilewati oleh
arus searah yang besar dan berada di sekitar struktur yang mengalami
korosi dan terutama bila terjadi korosi yang sangat cepat meskipun
sudah ada perlindungan katodik.
Berdasarkan Hukum Faraday 1 yang menyatakan bahwa massa
zat yang dibebaskan pada suatu elektrolisis berbanding lurus dengan
jumlah arus listrik yang mengalir, yang dapat dirumuskan dalam
persamaan (2.1) berikut [9].
7
𝑄 𝑀
𝑚 = ( )( ) (2.1)
𝐹 𝑧
Dengan m adalah massa zat yang terbebaskan dalam satuan gram (g), Q
adalah total muatan yang ditransfer dalam reaksi dengan satuan
Coulombs (C), F adalah konstanta Faraday 96,485 Coulomb per mol
electron (C/mol), M adalam massa molar zat dalam gram per mol
(g/mol), dan Z adalah jumlah mol electron yang ditransfer per jumlah
mol substrat. Maka semakin besar arus yang mengalir, peralatan akan
cepat mengalami korosi.
Pada PT. Batutua Tembaga Raya, pegangan katup 25mm
berubah warna menjadi hitam, serta terjadi perubahan warna pada
penopang baja tahan karat sisi positif bus utama dan gagang pintu baja
tahan karat pada bulan ketiga pengoperasian pabrik, yang
mengindikasikan bahwa hal tersebut diakibatkan oleh stray current.
2.2 Harmonisa
Sebenarnya, gelombang arus dan tegangan yang dikirim dari
sumber menuju beban merupakan gelombang sinusoidal murni dengan
frekuensi tunggal. Namun dalam proses pendistribusiannya, terjadi
berbagai gangguan sehingga bentuk gelombang tidak lagi sinusoidal
murni. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisa. Harmonisa merupakan
suatu gejala pembentukan gelombang sinusoidal dengan frekuensi
berbeda dimana nilai frekuensinya berupa perkalian bilangan bulat
dengan frekuensi dasarnya sehingga menjadikan gelombang sinusoidal
murni mengalami cacat gelombang, atau singkatnya dapat disebut
sebagai gangguan yang terjadi pada sistem tenaga listrik akibat dari
terjadinya distorsi gelombang arus dan tegangan. Ketika terjadi
superposisi antara gelombang frekuensi dasar dengan gelombang
harmonik, terbentuklah gelombang terdistorsi yang bentuknya sudah
tidak lagi sinusoidal. Bentuk gelombang tersebut digambarkn sebagai
berikut, dimana gambar (2.1) merupakan gelombang sinusoidal murni,
gambar (2.2) merupakan gelombang sinusoidal dan gelombang
harmonisa orde 3 dan orde 5, sedangkan gambar (2.3) merupakan
gelombang yang sudah terdistorsi.
8
v
t(s)
t(s)
t(s)
9
Zth
Eth ZL
Jika:
𝐸𝑡ℎ = 𝐸𝑚 sin 𝑛(𝜔𝑡) (2.2)
Beban ZL akan menyerap arus dengan persamaan sebagai berikut:
𝑖(𝑡) = ∑∞ 𝐼 𝑆𝑖𝑛 (𝜔 𝑡 + 𝜙 ) (2.3)
𝑛=1 𝑛 𝑛 𝑛
Karena Eth tidak memiliki komponen harmonisa, maka untuk n>1. Harga
Eth=0 dan arus:
𝑖(𝑡) = ∑∞ 𝐼 𝑆𝑖𝑛 (𝜔 𝑡 + 𝜙 ) (2.4)
𝑛=2 𝑛 𝑛 𝑛
Zth
Eth ZL
1
Karena 𝑖𝑛(𝑡) = −𝑖(𝑡) maka
𝑖𝑛(𝑡) = −𝑖(𝑡) = − 𝐼 𝑆𝑖𝑛 (𝜔 𝑡 + 𝜙 ) (2.5)
∑∞
𝑛=2 𝑛 𝑛 𝑛
Jika 𝜃𝑛 = 𝜙𝑛 + 𝜋 maka :
𝑖𝑛(𝑡) = 𝐼𝑛 𝑆𝑖𝑛(𝜔𝑛 𝑡 − 𝜃𝑛) (2.6)
Dengan rangkaian pengganti tergambar seperti pada gambar (2.6)
Zth
ZEth Ih
berikut.
1
Gambar 2.7 Komponen Urutan Positif
1
Komponen urutan negatif (negative sequence components) juga
terdiri dari tiga fasor yang sama besar dengan beda sudut antar fasanya
sebesar 120º, tetapi mempunyai urutan fasa yang berlawanan dengan
komponen urutan positif, yaitu a-c-b yang digambarkan pada gambar
(2.8). Sedangkan komponen urutan nol terdiri dari tiga fasa yang sama
besarnya, tidak ada perbedaan sdut antar fasa pada fasor a-b-c atau dapat
dikatakan saling berimpit seperti pada gambar (2.9).
Dari Persamaan (2.13), (2.14), dan (2.15) dapat dilihat bahwa untuk
harmonisa orde ketujuh mempunyai urutan fasa a-b-c dengan beda sudut
antar fasa 120º, sehingga harmonisa orde ketujuh termasuk komponen
urutan positif.
Jadi dapat disimpulkan bahwa harmonisa orde pertama
merupakan urutan positif, harmonisa orde kedua merupakan urutan
negatif, harmonisa orde ketiga adalah urutan nol.
Tabel 2.1 Urutan fasa harmonisa [3]
Orde Harmonisa Frekuensi (Hz) Urutan
1 50 Positif
2 100 Negatif
3 150 Nol
4 200 Positif
5 250 Negatif
6 300 Nol
1
Urutan tersebut berulang untuk harmonisa orde berikutnya, seperti pada
tabel (2.1). Setiap urutan harmonisa memiliki efek yang berbeda-beda
terhadap sistem tenaga listrik dan peralatan-peralatan listrik lainnya.
Harmonisa urutan nol yang umumnya berupa harmonisa kelipatan orde
tiga (triplen harmonics) yang dapat menimbulkan efek tambahan
kontribusi arus pada kawat netral. Harmonisa urutan negatif umumnya
menimbulkan torsi lawan pada motor listrik yang menyebabkan motor
berlawanan arah putarannya, hal ini dapat merusak motor. Sedangkan
harmonisa urutan positif umumnya menimbulkan panas tambahan pada
konduktor.
1
𝑎𝑛
cos(𝑛𝜔𝑡) +
𝑏𝑛sin( 𝑛𝜔𝑡)
1
2𝜋
𝜔= 𝑇 (2.17)
Maka, untuk kurva x(t) dengan periode dari -T/2 sampai dengan T/2 dapat
diperoleh dari persamaan (2.18) sampai (2.20) berikut :
𝑇⁄
1 2
𝑎 = ∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡
(2.18)
0 𝑇 −𝑇⁄2
2 𝑇⁄2
𝑎 = ∫ 𝑓(𝑡) cos(𝑛𝑤𝑡) 𝑑𝑡 (2.19)
𝑛 𝑇 −𝑇⁄2
2 𝑇⁄2
𝑏 = ∫ 𝑓(𝑡) sin(𝑛𝑤𝑡) 𝑑𝑡 (2.20)
𝑛 𝑇 −𝑇⁄2
dengan :
1 𝑇⁄2
𝑐 =𝑎 = ∫ 𝑓(𝑡) 𝑑𝑡 ,
𝜃 =0 (2.22)
0 0
𝑇 −𝑇⁄2 0
2
𝑐0 = √𝑎𝑛2 + 𝑏𝑛 (2.23)
𝜃𝑛 = tan−1 𝑏𝑛
(2.24)
𝑎𝑛
Untuk n>0
Terdapat sifat-sifat khusus yang dapat dilakukan untuk melakukan
penyederhanaan analisis Fourier, yaitu:
a. Bila luas siklus positif dan negatif dalam satu periode gelomban
sama, maka a0 = 0.
b. Bila f(t) = -f(t + T), atau fungsi mempunyai simetri setengah
1
gelombang maka tidak akan muncul harmonisa orde genap.
c. Bila fungsi merupakan fungsi genap, biasanya simetri terhadap
sumbu y, f(t) = f(-t), maka bn = 0.
1
d. Bila fungsi merupakan fungsi ganjil, biasanya suatu fungsi akan
kembali ke posisi semula jika dicerminkan terhadap sumbu x dan
dicerminkan lagi terhadap sumbu y, f(t) = -f(t), maka an = 0.
1
[Link] Mesin-Mesin Berputar
Generator sinkron dan motor induksi menghasilkan sejumlah
harmonisa. Pada generator sinkron, harmonisa disebabkan oleh distribusi
fluks yang tidak sinusoidal sehingga terbangkit emf tidak sinusoidal
sehingga akan menghasilkan harmonisa ketika dibebani.
2. 2.3.3 Tanur Busur Listrik
Tanur busur listrik adalah elemen non linier yang dalam
industri logam digunakan untuk melebur biji besi. Busur listrik yang
terjadi selama tanur listrik beroperasi hampir selalu tidak dalam keadaan
stabil akibat dari pengaruh perubahan elektroda, interaksi gaya
elektromagnetik busur, dan pengaruh riak permukaan biji yang telah
melebur.
Bentuk gelombang arus tanur busur listrik pada setiap periode
gelombang memiliki bentuk yang tidak sama sehingga bentuknya tidak
periodik dan dapat menimbulkan gangguan seperti :
1. distorsi harmonisa
2. Kerlip tegangan (voltage flicker)
3. Goncangan frekuensi
4. Ketidakseimbangan tegangan
Karena bentuk gelombangnya yang tidak sama pada tiap periode,
harmonisa yang dibangkitkan oleh tanur busur listrik tidak dapat
diprediksi dan selalu berubah-ubah tergantung pada kondisi tanur busur
listrik yang meliputi posisi elektrode, scrap baja, busur api antar
elektrode, dan elektrode beserta groundingnya. Keunikan karekteristik
dari sistem ini adalah munculnya sub-harmonisa, yaitu harmonisa
dengan frekuensi di bawah frekuensi fundamental (50 Hz). Untuk
mengetahui komponen harmonisa yang dibangkitkan, maka diperlukan
pengukuran.
2
1
𝑘
[∑ 𝑈𝑛]2
𝑇𝐻𝐷 = 2 𝑥100% (2.25)
𝑈1
2
Tabel 2.3 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE Std 519-1992
untuk sistem 69 kV sampai 161 kV[5].
Maksimum Distorsi Arus Harmonik dalam Persentase IL
Tabel 2.4 Maksimum distorsi arus berdasarkan IEEE Std 519-1992 untuk
sistem diatas 161 kV[5].
Maksimum Distorsi Arus Harmonik dalam Persentase IL
2
Tabel 2.5 Batas distorsi tegangan berdasarkan IEEE Std 519-1992 [3].
Individual
THD
Bus Voltage at PCC Voltage
(%)
Distortion (%)
69 kV and below 3,0 5,0
69,001 kV through 161 kV 1,5 2,5
161,001 kV and above 1,0 1,5
2
Kapasitansi dari
Kapasitor bank
sumberInduktansi harmonisa transformator
Kapasitor
bank
harmonisa
Gambar 2.10 Resonansi paralel pada sistem tenaga listrik
Sedangkan resonansi seri dapat terjadi saat sebuah sumber
konverter
harmonisa terletak pada busbar yang sama dengan sumber impedansi
seperti transformator, dan pada downfeeder busbar tersebut diletakkan
kapasitor bank (gambar 2.11). Akibat dari resonansi seri ini adalah
impedansi menjadi sangat kecil sehingga arus kapasitor yang tinggi
dapat mengalir untuk tegangan yang relatif kecil. Resonansi seri akan
terjadi ketika frekuensi resonansinya seperti berikut:
2
𝑓 =𝑓 ( − ) (2.27)
𝑝 𝑆𝑡 𝑆2
√ 𝑆𝑐
𝑆𝑐𝑍𝑡
harmonisa
Induktansi
transformator
konverter sumber
harmonisa
Kapasitor bank Kapasitansi dari
Kapasitor bank
2
2.3.2 Pengaruh Pada Mesin Induksi
Konduktor pada stator dan rotor mengalami rugi-rugi yang
disebabkan oleh resistansi akibat dari arus eddy dan skin effect. Adanya
harmonisa akan menambah rugi-rugi pada stator dan rotor. Arus
harmonisa timbul pada stator mesin AC menghasilkan aksi motor (slip
harmonisa positif, Sn). Aksi ini menghasilkan torsi shaft pada arah yang
sama dengan kecepatan medan harmonisa sehingga semua harmonisa
urutan positif membantu putaran torsi shaft sedangkann harmonisa
urutan negatif berlaku sebaliknya
2.3.3 Pengaruh Pada Transformator
Adanya harmonisa cukup berpengaruh terhadap kondisi
transformator. Arus harmonisa meningkatkan arus eddy, rugi-rugi
histerisis, dan tekanan isolasi. Pada transformator daya, muncul arus
sirkulasi triplen urutan nol pada belitan delta, dan arus sirkulasi ini dapat
melebihi batas kemampuan belitan. Selain itu, arus beban yang
mengandung komponen DC pada transformator yang mensupply beban
tidak seimbang dapat mengakibatkan kejenuhan pada rangkaian
magnetic transformator dan meningkatkan level komponen harmonisa
dari arus penguatan ac.
Pada transformator converter, rugi-rugi tembaga akibat arus
harmonisa lebih nyata. Hal ini terjadi karena transformator tersebut tidak
terpengaruh oleh adanya filter yang biasanya dihubungakn pada sisi
sistem ac. Transformator converter juga sering menimbulkan titik panas
pada tangkinya.
2.3.4 Pengaruh Pada Kapasitor Bank
Besarnya rugi daya pada kapasitor bank akibat adanya distorsi
tegangan dapat dirumuskan pada persamaan (2.28) berikut :
𝑃𝑙𝑜𝑠𝑠 = ∑∞ 2
𝐶(𝑡𝑎𝑛𝛿)𝜔𝑛 𝑉𝑛 (2.28)
𝑅𝑛
Dimana 𝑡𝑎𝑛𝛿 = 1
⁄𝜔𝐶
marupakan faktor rugi, = 2𝜋𝑓𝑛 dimana 𝑓𝑛
𝜔𝑛
adalah frekuensi harmonisa pada orde ke-n, dan 𝑉𝑛 adalah tegangan
harmonisa pada orde ke-n. sedangkan total daya reaktifnya adalah
𝑛=1
∞
𝑄=
2
𝑄𝑛
(2.29)
2
Terjadinya resonansi seri dan paralel antara kapasitor dengan
sistem dapat menyebabkan tegangan lebih dan dapat meningkatkan rugi-
rugi serta panas lebih pada kapasitor sehingga mengakibatkan kerusakan
pada kapasitor tersebut.
2.3.5 Pengaruh Pada Rele Pengaman
Harmonisa dapat mempengaruhi rele pengaman dengan
karakteristik operasi tertentu. Rele digital zero crossing cenderung
mengalami error ketika ada distorsi harmonisa. Sedangkan efek
frekuensi harmonisa terdapat pada pengukuran impedansi yang
menyebabkan kesalahan pengukuran dari rele jarak, karena rele jarak
disetting berdasarkan impedansi fumdamental dari saluran transmisi.
CL Z
R
PB
2R
R
ω/ωC
1 2
(a) (b)
2
Faktor kualitas (Q) filter didefenisikan sebagai perbandingan
antara induktansi (atau kapasitansi) pada saat resonansi dengan besarnya
resistansi.
𝑋𝑜
𝑄=
𝑅 (2.33)
dengan XL = XC = XO pada keadaan resonansi.
sama
dengan √2𝑅. Sedangkan hubungan faktor kualitas dan Pass Band (PB)
dinyatakan sebagai : 𝜔𝑜
𝑄= (2.34)
𝑃𝐵
C1 L1
R1
Ca
500
Cb
La Lb 400
Impedansi
Ra 300
Rb C2 L2
R2 R2 200
200 250 300 350 400 450
Frekuensi f (Hz)
100
2
(a) (b) (c)
3
Gambar 2.13 Rangkaian Filter Penalaan Ganda. (a) Transformasi Dari
Dua Filter Penalaan Tunggal, (b) Filter Penalaan Ganda, (c) Filter
Penalaan Ganda Ditala Orde Lima dan Tujuh
𝐶2
𝐶𝑎𝐶𝑏(𝐶𝑎+𝐶𝑏)(𝐿𝑎+𝐿𝑏)2 (2.36)
𝐿= (𝐿𝑎𝐶𝑎−𝐿𝑏𝐶𝑏)2
𝐿𝑎 𝐿𝑏 (2.37)
1 = 𝐿 +𝐿
𝑎 𝑏
2
𝐿2 = (𝐿𝑎𝐶𝑎−𝐿 𝑏𝐶 𝑏) (2.38)
(𝐶𝑎+𝐶𝑏)2(𝐿𝑎+𝐿𝑏)2
3
C C C1 C1
C2 C2
R R L L R
R L
Gambar 2.14 High Pass Damped Filter. (a.) Orde Satu; (b.) Orde Dua;
(c.) Orde Tiga; (d.) Tipe C
a) Filter orde satu tidak biasa digunakan, jenis ini akan memerlukan
kapasitor yang besar dan akan terjadi kerugian daya yang
berlebihan pada frekuensi dasarnya.
b) Filter orde dua memberi unjuk kerja yang baik tetapi memiliki
rugi-rugi yang lebih besar pada frekuensi fundamental
dibandingkan dengan filter damped orde tiga.
c) Filter orde tiga mempunyai keunggulan dibanding filter damped
orde dua yaitu mampu mengurangi rugi-rugi pada frekuensi
fundamental yang disebabkan oleh naiknya impedansi pada
frekuensi tersebutkarena kehadiran C2. Apalagi rating dari C2
adalah sangat kecil dibandingkan dengan kapasitor C1.
Keandalan dari filter jenis C berada diantara filter orde dua dan filter
orde tiga. Kelebihan filter damped jenis C adalah mampu mengurangi
rugi-rugi yang besar pada frekuensi fundamental ketika C2 dan L ditala
secara seri pada frekuensi tersebut. Filter ini lebih mudah terpengaruh
penyimpangan (deviasi) frekuensi fundamental dan pergeseran nilai
komponen.
Kelemahan dari damped filter diantaranya adalah untuk mendapatkan
level keandalan filter yang sama damped filter memerlukan perencanaan
VA rating fundamental yang lebih tinggi. Meskipun dalam kebanyakan
kasus keandalan filter yang bagus didapat pada batas yang dibutuhkan
untuk perbaikan faktor daya. Pada damped filter rugi-rugi resistor dan
reaktansi umumnya bernilai lebih besar.
Komponen-komponen pada filter pasif memiliki perannya
masing- masing. Untuk mencegah kerusakan komponen R, L, dan C
pada filter
3
pasif, rating dari komponen harus didasarkan pada beberapa kondisi,
yaitu tegangan fundamental tertinggi, keberadaan frekuensi tertinggi,
arus harmonisa dari sumber-sumber lain, serta dari resonansi yang
mungkin terjadi antara filter dan sistem AC.
Kapasitor tersusun dari unit standar yang dihubungkan seri
dan/atau paralel untuk memperoleh rating tegangan dan KVA yang
diinginkan. Hal-hal pokok dari kapasitor adalah :
3
12 pulsa. Perancangan filter pasif tersebut menggunakan simulasi
3
Simulink Matlab dengan perhitungan bank kapasitor sebagai perbaikan
faktor daya dan pemilihan filter jenis reaktor yang kemudian dipasang
seri dengan kapasitor untuk menala frekuensi harmonisa.
Ada pula usulan filter aktif untuk mereduksi harmonisa pada
penyearah jembatan tiga fasa tak terkonrol menggunakan filter aktif
yang dikontrol dengan PI (proportional integral) controller. Filter ini
berhasil menurunkan tingkat THD (toral harmonic distortion) arus dari
22,9% menjadi 3,1% dan untuk tegangan dari 4,4% menjadi 0,84%.
3
Halaman ini sengaja dikosongkan
3
BAB III
SISTEM KELISTRIKAN PT. BATUTUA TEMBAGA
RAYA
3.1 Sistem Kelistrikan PT. Batutua Tembaga Raya
PT. Batutua Tembaga Raya mulai mengoperasikan pabrik 25 KT
pada bulan Juli 2016. Sumber listrik pada perusahaan ini didapat dari 16
buah generator dan kini sedang dalam perencanaan penambahan dua
buah generator dengan kapasitas masing-masing 0,97 MW seperti pada
gambar (3.1) dan selengkapnya dilampirkan pada Lampiran 1.
Berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan pada plant PT. Batutua
Tembaga Raya, Wetar, Maluku, maka dapat disampaikan bahwa sistem
kelistrikan yang meliputi pembangkit dan bus dalam seluruh plant
seperti pada table (3.1) dan (3.2) berikut.
Tabel 3.1 Data Kapasitas Pembangkit di PT. Batutua Tembaga Raya
Rating
ID kV MW Mode Operasi %PF
Gen 1 0,4 1,2 Swing 90
Gen 2 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 3 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 4 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 5 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 6 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 7 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 8 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 9 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 10 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 11 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 12 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 13 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 14 0,4 1,2 Voltage Control 90
Gen 15 0,4 1,2 Swing 90
Gen 16 0,4 1,2 Swing 90
Gen 17 0,4 1,2 (Future) 90
Gen 18 0,4 1,2 (Future) 90
3
3
3
Terdapat dua jenis transformator yang digunakan di PT.
Batutua Tembaga Raya, yaitu transformator daya dan transformator
konverter. Transformator daya yang digunakan untuk menyalurkan daya
listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah dan sebaliknya
menggunakan jenis transformator dua belitan. Sedangkan transformator
konverter yang digunakan untuk mengalirkan daya sekaligus mengubah
listrik AC menjadi DC menggunakan transformator jenis tiga belitan.
Data dari transformator tersebut dijabarkan dalam tabel (3.3) berikut.
Tabel 3.3 Data Transformator PT. Batutua Tembaga Raya
ID Rating Daya (MVA) Rating Tegangan (kV)
PS-TX-001 3,15 0,4/20
PS-TX-002 3,15 0,4/20
PS-TX-003 3,15 0,4/20
PS-TX-004 3,15 0,4/20
PS-TX-005 3,15 0,4/20
PS-TX-006 3,15 0,4/20
T1 1,25 20/0,4
63TX001 0,5 20/0,4
3KTTX01 1,6 20/0,4
33TX01 1 20/0,4
37TX001 2,5 20/0,4
32TX001 1,6 20/0,4
34TX001 1,25 20/0,4
36TX01 1,6 20/0,4
32TX002 0,63 0,4/1
36TXRE001 5,2 20/1,53/1,53
36TXRE002 5,2 20/1,53/1,53
3
proses pemurnian tembaga, tahap cathode stripping untuk pelapisan
tembaga, dan tahap electrowinning berupa pelarutan tembaga yang akan
menghasilkan logam tembaga. Berdasarkan gambar (3.1), dapat dilihat
bahwa beb berupa motor listrik dan peralatan lainnya dikelompokkan
dalam network sesuai dengan lokasi dan fungsinya.
Untuk menunjang proses pengolahan tembaga tersebut,
perusahaan ini memiliki berbagai macam peralatan yang bekerja terus-
menerus dengan fungsinya masing-masing. Peralatan-peralatan tersebut
berada pada tegangan rendah 0,4 kV dan 1 kV. Tabel (3.4) berikut
merupakan data beban di PT. Batutua Tembaga Raya.
Tabel 3.4 Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 CAMP Feeder 750 kVA 20 Tidak Aktif
2 3KTMC001 1440 kW 20 Aktif
3 Charger01 1900 kVA 0,153 Aktif
4 Charger02 1900 kVA 0,153 Aktif
5 Charger03 1900 kVA 0,153 Aktif
6 Charger04 1900 kVA 0,153 Aktif
Network 63-MC-001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 63PP003 185 kW 0,4 Aktif
2 63-PP-002 185 kW 0,4 Tidak Aktif
3 63DB001 31 kVA 0,4 Aktif
Network 33-MC-001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 33AB008 11 kW 0,4 Aktif
2 33AB009 11 kW 0,4 Aktif
3 33AB010 11 kW 0,4 Aktif
4 33AB011 11 kW 0,4 Aktif
5 33AB012 11 kW 0,4 Aktif
6 33PP001 185 kW 0,4 Aktif
7 33PP002 90 kW 0,4 Aktif
8 33PP003 185 kW 0,4 Aktif
9 33PP004 90 kW 0,4 Aktif
10 33PP012 45 kW 0,4 Aktif
11 33PP013 90 kW 0,4 Tidak Aktif
3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
12 33PP014 75 kW 0,4 Aktif
13 33DB001 50 kVA 0,4 Aktif
14 33DB002 25 kVA 0,4 Aktif
15 CAP2 100 kVAR 0,4 Aktif
Network 37-MC-001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 34PP005 30 kW 0,4 Aktif
2 34PP006 30 kW 0,4 Tidak Aktif
3 37AB001 122 kVA 0,4 Aktif
4 37AB002 122 kVA 0,4 Tidak Aktif
5 37AC001 61 kVA 0,4 Aktif
6 37AC002 61 kVA 0,4 Tidak Aktif
7 37AG01 22 kW 0,4 Aktif
8 37AG02 22 kW 0,4 Aktif
9 37AG03 55 kW 0,4 Aktif
10 37AG04 55 kW 0,4 Aktif
11 37AG05 55 kW 0,4 Aktif
12 37AG06 55 kW 0,4 Aktif
13 37AG07 22 kW 0,4 Aktif
14 37FL001 26 kVA 0,4 Aktif
15 37HT001 31,8 kVA 0,4 Aktif
16 37PP003 22 kW 0,4 Aktif
17 37PP004 22 kW 0,4 Aktif
18 37PP005 11 kW 0,4 Aktif
19 37PP006 11 kW 0,4 Aktif
20 37PP007 30 kW 0,4 Aktif
21 37PP008 30 kW 0,4 Tidak Aktif
22 37PP009 11 kW 0,4 Aktif
23 37PP010 15 kW 0,4 Aktif
24 37PP011 15 kW 0,4 Aktif
25 37PP012 200 kW 0,4 Aktif
26 37PP013 200 kW 0,4 Tidak Aktif
27 37PP014 7,5 kW 0,4 Aktif
28 37PP015 200 kW 0,4 Aktif
29 37PP016 200 kW 0,4 Tidak Aktif
3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
30 37PP017 7,5 kW 0,4 Aktif
31 37PP018 7,5 kW 0,4 Aktif
32 37PP023 5,5 kW 0,4 Aktif
33 37PP024 5,5 kW 0,4 Tidak Aktif
34 37PP025 15 kW 0,4 Aktif
35 37PP026 15 kW 0,4 Aktif
36 37PP027 55 kW 0,4 Aktif
37 37PP028 18,5 kW 0,4 Aktif
38 37TH001 7,5 kW 0,4 Aktif
39 37XM001 55 kVA 0,4 Aktif
40 37DB001 50 kVA 0,4 Aktif
41 37DB002 20 kVA 0,4 Aktif
42 37DB003 10 kVA 0,4 Aktif
43 42CP005 30 kVA 0,4 Aktif
44 42CP006 30 kVA 0,4 Aktif
45 42CP007 0,24 kVA 0,4 Aktif
46 42PP015 22 kW 0,4 Aktif
47 42PP016 22 kW 0,4 Aktif
48 37ML001/1 6x55 kW 0,4 Aktif
49 48CP001 7,9 kVA 0,4 Aktif
50 63PP001 30 kW 0,4 Aktif
51 63PP002 30 kW 0,4 Tidak Aktif
52 37PF001 300 kVAR 0,4 Aktif
53 37UP001 4 kW 0,4/0,23 Aktif
Network 32MC001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 JW1150 110 kW 0,4 Aktif
2 CQ400EA 220 kW 0,4 Aktif
3 CQ400EB 220 kW 0,4 Aktif
4 SM2072E-A 90 kW 0,4 Aktif
5 SM2072E-B 90 kW 0,4 Aktif
6 32PF001 300 kVAR 0,4 Aktif
7 32AGG01 45 kW 0,4 Aktif
8 32GH001 180 kVA 1 Aktif
9 32GH002 180 kVA 1 Aktif
3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
Network 34MCOO1
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 34AB001 45 kW 0,4 Aktif
2 34AB002 45 kW 0,4 Aktif
3 34AB003 45 kW 0,4 Aktif
4 34AB004 45 kW 0,4 Aktif
5 34AB005 45 kW 0,4 Aktif
6 34AB006 45 kW 0,4 Aktif
7 34AB007 45 kW 0,4 Aktif
8 34PP002 132 kW 0,4 Aktif
9 34PP003 132 kW 0,4 Tidak Aktif
10 34PP007 37 kW 0,4 Aktif
11 34PP008 37 kW 0,4 Tidak Aktif
12 34PP010 185 kW 0,4 Aktif
13 34PP011 185 kW 0,4 Tidak Aktif
14 42PP001 22 kW 0,4 Aktif
15 42PP002 22 kW 0,4 Tidak Aktif
16 42CP002 95 kVA 0,4 Aktif
17 42CP003 0,7 kVA 0,4 Aktif
18 OTI1 1,3 kVA 0,4 Aktif
19 34DB001 50 kVA 0,4 Aktif
20 34DB002 25 kVA 0,40,4 Aktif
21 34PF001 300 kVAR 0,40,4 Aktif
Network 36MC001
No ID Kapasitas kV Keterangan
1 35AB001 15 kW 0,4 Aktif
2 35AG001 22 kW 0,4 Aktif
3 35AG002 4 kW 0,4 Aktif
4 35AG003 22 kW 0,4 Aktif
5 35AG004 4 kW 0,4 Aktif
6 35AG005 22 kW 0,4 Aktif
7 35AG006 4 kW 0,4 Aktif
8 35AG007 22 kW 0,4 Aktif
9 35AG008 4 kW 0,4 Aktif
10 35AG009 22 kW 0,4 Aktif
11 35AG010 4 kW 0,4 Aktif
3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
12 35AG011 2,2 kW 0,4 Aktif
13 35AG012 3 kW 0,4 Aktif
14 35CP002 30 kVA 0,4 Aktif
15 35PP001 7,5 kW 0,4 Aktif
16 35PP002 7,5 kW 0,4 Tidak Aktif
17 35PP003 1,1 kW 0,4 Aktif
18 35PP004 1,1 kW 0,4 Tidak Aktif
19 35PP005 55 kW 0,4 Aktif
20 35PP006 55 kW 0,4 Tidak Aktif
21 35PP008 2,2 kW 0,4 Aktif
22 35PP009 5,5 kW 0,4 Aktif
23 35PP010 5,5 kW 0,4 Aktif
24 35PP011 5,5 kW 0,4 Aktif
25 35PP012 5,5 kW 0,4 Aktif
26 35PP013 1,1 kW 0,4 Aktif
27 35PP014 10 kW 0,4 Aktif
28 35PP015 0,75 kW 0,4 Aktif
29 35CP001 10 kVA 0,4 Aktif
30 35PP016 1,1 kW 0,4 Aktif
31 35PP017 1,1 kW 0,4 Aktif
32 35PP018 5,5 kW 0,4 Aktif
33 36HT001 12 kVA 0,4 Aktif
34 36HT002 12 kVA 0,4 Aktif
35 36PF001 250 kVAR 0,4 Aktif
36 36PP007 10 kW 0,4 Aktif
37 36PP008 30 kW 0,4 Aktif
38 36PP011 5,5 kW 0,4 Aktif
39 36PP012 5,5 kW 0,4 Aktif
40 36PP013 5,5 kW 0,4 Aktif
41 36CP003 7 kVA 0,4 Aktif
42 36CP002 67 kVA 0,4 Aktif
43 36DB001 62,5 kVA 0,4 Aktif
44 36DB002 25 kVA 0,4 Aktif
45 36DB003 12,5 kVA 0,4 Aktif
46 36DB005 25 kVA 0,4 Aktif
3
Tabel 3.4 (Lanjutan) Beban di PT. Batutua Tembaga Raya
No ID Kapasitas kV Keterangan
47 36RE001 37,5 kVA 0,4 Aktif
48 36RE002 37,2 kVA 0,4 Aktif
49 36BC001 2,5 kVA 0,4 Aktif
50 42AC001 55,6 kVA 0,4 Aktif
51 42AC002 55,6 kVA 0,4 Tidak Aktif
52 36UP001 5 kVA 0,4 Aktif
53 36PP001 45 kW 0,4 Aktif
54 36PP002 45 kW 0,4 Aktif
55 36RE003 100 kVA 0,4 Aktif
56 36RE004 100 kVA 0,4 Aktif
4
Keempat converter tersebut menjadi sumber distorsi dengan harmonisa
yang dihasilkan dari masing-masingnya identik seperti pada tabel (3.6).
Berdasarkan data tersebut, , library nilai IHD tiap orde harmonisa untuk
rectifier pada simulasi di ETAP dibuat sama dengan hasil pengukuran.
Tanel 3.6 Harmonisa yang dihasilkan oleh konverter
Ia (%) Ib (%) Ic (%)
THD 7,02 6,76 7,28
Orde
2 0 0 0
3 0.15 0.5 0.38
4 0 0 0
5 3.4 3.18 3.29
6 0 0 0
7 1.52 1.29 1.66
8 0 0 0
9 0.21 0.17 0.35
10 0 0 0
11 1.94 1.75 1.96
12 0 0 0
13 1.66 1.58 1.86
14 0.1 0 0
15 0.57 0.24 0.54
16 0.13 0 0.1
17 3.5 3.21 3.22
18 0 0 0.17
19 3.16 3.54 3.22
20 0.14 0 0.11
21 0.51 0.47 0.27
22 0.15 0.13 0.1
23 1.89 1.85 2
24 0 0 0.15
25 1.69 1.23 1.3
26 0 0 0
27 0 0.12 0.17
28 0 0 0
29 0.11 0.13 0
4
Tanel 3.6 (Lanjutan) Harmonisa yang dihasilkan oleh konverter
Ia (%) Ib (%) Ic (%)
30 0 0 0
31 0 0 0.21
4
BAB IV
SIMULASI DAN
ANALISIS
Simulasi dan analisis pada sistem kelistrikan PT. Batutua
Tembaga Raya, Wetar meliputi perbaikan profil tegangan dan
peredaman gangguan harmonisa. Tahap-tahap yang akan dilakukan
dalam pembahasan bab ini adalah:
1. Simulasi load flow sistem kelistrikan pada kondisi normal load.
2. Simulasi harmonic load flow sistem kelistrikan pada kondisi
normal load.
3. Perhitungan nilai komponen R, L, dan C untuk pemasangan
filter harmonisa pasif.
4. Perbandingan tingkat distorsi harmonisa sebelum dan sesudah
pemasangan filter harmonisa pasif.
5. Perhitungan stray current corrosion yang dapat dikurangi.
4
Tabel 4.1 (Lanjutan) Perbandingan nilai tegangan bus terhadap nilai
standar
%V
No ID Bus Nominal kV Operasi Standar
6 36MC001 BUS A 0,4 97,09 98-102
7 36MC001 BUS C 0,4 97,09 98-102
8 S6MC002 BUS B 0,4 97,09 98-102
9 36SB001 20 98,88 98-102
10 37-MC-001 0,4 97,73 98-102
11 63MC002 0,4 99,15 98-102
12 Bus4 0,4 99,32 98-102
13 Bus5 0,4 98,63 98-102
14 Bus8 20 98,88 98-102
15 Bus10 0,4 98,36 98-102
16 Bus18 20 100,75 98-102
17 Bus21 0,153 97,53 98-102
18 Bus34 0,4 97,92 98-102
19 Bus76 0,4 97,47 98-102
20 Bus90 20 98,87 98-102
21 Bus91 0,4 98,11 98-102
22 Bus95 0,153 96,86 98-102
23 Bus96 20 100,75 98-102
24 Bus97 0,4 97,28 98-102
25 Bus99 20 100,75 98-102
26 Bus100 0,153 97,52 98-102
27 Bus101 0,153 96,87 98-102
28 Bus102 20 100,68 98-102
29 Bus103 0,4 98,96 98-102
30 Bus104 20 98,86 98-102
31 POLE 37B 20 98,93 98-102
32 PS HV SWGR 20 100,75 98-102
Terdapat perbedaan standar tegangan, menurut PLN (+5%) dan
(-10%) sehingga tegangan operasi yang diizinkan adalah 90% sampai
105%, menurut ANSI (-10%) dan (+4%) sehingga tegangan operasi
yang diizinkan adalah 90% sampai 104%, dan dari ETAP sendiri
terdapat batas marginal ±2% (98-102%), sehingga lebih baik apabila
kita menggunakan batas ±2%. Dari tabel (4.1) dapat dilihat bahwa ada
beberapa bus
4
tegangan rendah yang nilai tegangannya belum memenuhi standar.
Ketidak sesuaian nilai tegangan dengan standarnya dapat menyebabkan
ketidaksesuaian pada operasi peralatan di bus tersebut. Oleh sebab itu,
agar tegangan bus memenuhi standar, maka perlu dilakukan pengaturan
tap transformator.
Tabel (4.2) akan menunjukkan pengaturan tap transformator
beserta letaknya apakah di sisi primer atau sekunder, serta perbandingan
nilai persentase tegangan sebelum dan setelah adanya perubahan tap
transformator.
Tabel 4.2 Perbaikan nilai tegangan dengan pengaturan tap transformator
Trafo ID Tap Bus ID %V %V %V
Trafo Sebelum Setelah Standar
36MC001 97,09 100,02 98-102
Bus A
36MC001 97,09 100,02 98-102
Primer Bus B
36TX01
(-2,5%) 36MC001 97,09 100,02 98-102
BusC
Bus97 97,28 100,2 98-102
37MC001 97,73 100,63 98-102
Primer Bus34 97,92 100,82 98-102
37TX01
(-2,5%) Bus76 97,47 100,39 98-102
36TXRE Primer Bus21 97,53 100,42 98-102
001 (-2,5%) Bus101 96,87 99,71 98-102
36TXRE Primer Bus 95 96,86 99,77 98-102
002 (-2,5%) Bus 100 97,52 100,41 98-102
4
sistem, mulai dari sistem tegangan menengah sampai dengan sistem
pembangit. Sedangkan bus 21, bus 95, bus 100, dan bus 101 merupakan
bus tegangan rendah 153 V yang merupakan tempat peralatan dalam
proses electrowinning terjadi. Pemasangan filter pada bus tegangan
rendah ini dapat mengurangi arus yang masuk sehingga dapat
mengurangi efek dari stray current corrosion.
Gambar (4.1) dan gambar (4.2) akan menggambarkan
harmonisa tegangan dan harmonisa arus yang dialami oleh bus 36SB001.
Sedangkan gambar (4.3) dan (4.4) akan menggambarkan harmonisa
yang dialami oleh bus 95 dan bus 101, sedangkan gambar (4.5) dan (4.6)
akan menggambarkan harmonisa yang dialami oleh bus 21 dan bus 100.
Dapat dilihat bentuk gelombang terdistorsi dan persentase distorsi
harmonisa dari tiap-tiap ordenya, sehingga dapat menjadi acuan untuk
perancanaan filter harmonisa.
Pada gambar, akan diperlihatkan bahwa harmonisa terbesar
dihasilkan oleh orde 11, 13, dan 25 sehingga dibutuhkan filter harmonisa
untuk meredam harmonisa yang terjadi pada bus 36SB001 dengan tiga
buah single tuned filter untuk menala frekuensi pada orde 11, 13, dan
25. Hal ini akan menjadi acuan untuk perencanaan filter pasif untuk orde
11, 13, dan 25.
(a)
4
Waveform
36SB001 (20 kV)
(b)
Gambar 4.1 Harmonisa tegangan pada bus 36SB001. (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
(a)
4
Waveform
36SB001 (352,26 A)
(b)
Gambar 4.2 Harmonisa arus pada bus 36SB001. (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
(a)
4
Waveform
(b)
Gambar 4.3 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101, (a)
Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
(a)
5
Waveform
(b)
Gambar 4.4 Harmonisa arus pada bus 95 dan bus 101, (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa harmonisa orde 11, 13,
dan 25 cukup besar sehingga dibutuhkan filter harmonisa untuk
meredam harmonisa yang terjadi pada bus 95 dan bus 101 dengan tiga
buah single tuned filter untuk menala frekuensi pada orde 11, 13, dan
25.
Spectrum
(a)
5
Waveform
(b)
Gambar 4.5 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100. (a)
Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
(a)
5
Waveform
(b)
Gambar 4.6 Harmonisa arus pada bus 21 dan bus 100. (a) Spektrum
harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Dapat dilihat bahwa harmonisa terbesar dihasilkan oleh orde
15, 21, dan 27 sehingga dibutuhkan filter harmonisa untuk meredam
harmonisa yang terjadi pada bus 21 dan bus 101 dengan tiga buah single
tuned filter untuk menala frekuensi pada orde 15, 21, dan 27.
5
Tabel 4.3 (Lanjutan) Ketika Menggunakan Capacitor Sebagai Filter
Orde %Magnitude Orde %Magnitude
4 0,16 4 0
5 0,45 5 6,76
6 0 6 0
7 0,98 7 1,55
8 0 8 9
9 0 9 0,2
10 0 10 0
11 1,08 11 0,96
12 0 12 0
13 0,62 13 0,21
14 0 14 0
15 0,17 15 0
16 0 16 0
17 1,37 17 0,6
18 0 18 0,11
19 1,39 19 0,92
20 0 20 0,15
21 0,26 21 0
22 0,12 22 0,11
23 2,48 23 1,02
24 0,14 24 0,14
25 3,42 25 1,84
26 0,16 26 0
27 0 27 0
28 0 28 0,11
29 0,37 29 0,18
30 0 30 0
31 0 31 0
Dari data pada tabel (4.3) dapat dilihat bahwa nilai dari harmonisa arus
berada diatas standar dari IEEE Std. 519-1992, sedangkan pada
harmonisa tegangan, terdapat nilai orde yang juga diatas standar. Hal ini
berarti bahwa kapasitor yang digunakan sebagai filter harmonisa
tidaklah
5
efektif, karena fungsi dari kapasitor bank adalah sebagai kompensasi
daya reaktif dan untuk memperbaiki faktor daya.
5
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0) (4.5)
Dengan kVAR adalah nilai dari 𝛥𝑄 atau kompensasi daya reaktif yang
sudah dihitung pada persamaan (4.1), 𝑉𝑙−𝑛 adalah nilai tegangan line to
netral atau tegangan satu fasa, C adalah nilai kapasitansi kapasitor
dalam satuan 𝜇𝐹, dan 𝑓0 merupakan frekuensi fundamental 50 Hz .
3) Menentukan nilai induktor (L)
𝑋𝐿 = 𝑋𝐶 (4.6)
1
𝜔 𝐿=
(4.7)
𝑛 𝜔𝑛×𝐶
1
𝐿=
𝜔𝑛2×𝐶 (4.8)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶 (4.9)
Dengan L merupakan nilai induktansi dari induktor (H), C merupakan
hasil yang didapat dari perhitungan dalam persamaan (4.5), dan 𝑓𝑛
merupakan frekuensi pada orde harmonisa ke-n.
4) Setelah menentukan nilai L, tentukan nilai reaktansi (𝑋𝐿)
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿 (4.10)
Dimana L merupakan hasil dari perhitungan pada persamaan (4.9) dan
𝑓0 merupakan frekuensi fundamental 50 Hz.
5) Menentukan nilai Resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴 (4.11)
6) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅 (4.12)
Dengan 𝑋𝐿 didapat dari perhitungan pada persamaan (4.10) dan R
merupakan hasil dari perhitungan pada persamaan (4.11).
4.3.1. Filter Untuk Bus 36SB001
5
Bus 36SB001 memiliki faktor daya 86% lagging. Perbaikan
faktor daya pada bus ini diencanakan mencapai 95%. Besarnya daya
reaktif yang dibutuhkan adalah
𝛥𝑄 = 𝑃[tan(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 )]
𝛥𝑄 = 2374.189 𝑘𝑉𝐴𝑅
Nilai 𝛥𝑄 diatas adalah nilai untuk 3 fasa. Karena untuk mengatur
parameter dari komponen filter pada ETAP 12.6 menggunakan
pemodelan 1 fasa, maka besarnya daya reaktif yang akan diinjeksikan ke
bus 36SB001 bernilai
2374.189 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝛥𝑄1 = = 791.3963 𝑘𝑉𝐴𝑅
3
𝑝ℎ𝑎𝑠𝑒
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
264 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (20 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 6,30574 𝜇𝐹
2) Menentukan nilai induktor (L)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋550)2×6,30574 𝜇𝐹
𝐿 = 0.013293 𝐻
5
3) Menentukan nilai reaktansi (XL)
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0.013293 𝐻
𝑋𝐿 = 4.17397 𝛺
4) Menentukan nilai resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴
𝐼 = 3,5 % × 302 𝐴
𝐼 = 10,57 𝐴
4,17397 𝗇
𝑄 = 0,0206664 𝗇
𝑄 = 201,9
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
264 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (20 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
5
𝐶 = 6,30574 𝜇𝐹
𝐿 = 0.0095173941 𝐻
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0.0095173941 𝐻
𝑋𝐿 = 2.98846 𝛺
𝐼 = 3 % × 302 𝐴
𝐼 = 9,06 𝐴
2.98846 𝗇
𝑄 = 0,0260432 𝗇
5
𝑄 = 114,75
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
264 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (20 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 6,30574 𝜇𝐹
𝐿 = 0.0025735034 𝐻
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0.0025735034 𝐻
𝑋𝐿 = 0.80808 𝛺
𝐼 = 4,37 % × 302 𝐴
𝐼 = 913,1974 𝐴
6
Sehingga dipilih AWG 10 dengan rating arus 15 A, dengan 𝑅 =
3,27639 𝛺/𝑘𝑚 . dengan 𝑙 = 5𝑚, maka
𝗇
𝑅 = 3,27639
𝑘𝑚 × 0,005 𝑘𝑚 = 0,01638195 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅
0.80808 𝗇
𝑄 = 0,01638195 𝗇
𝑄 = 49,3275
𝛥𝑄 = 𝑃[tan(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 )]
𝛥𝑄 = 467,74 𝑘𝑉𝐴𝑅
Nilai 𝛥𝑄 diatas adalah nilai untuk 3 fasa. Karena untuk mengatur
parameter dari komponen filter pada ETAP 12.6 menggunakan
pemodelan 1 fasa, maka besarnya daya reaktif yang akan diinjeksikan ke
bus 95 dan bus 101 bernilai
467,74 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝛥𝑄1 = = 155,9132 𝑘𝑉𝐴𝑅
3
𝑝ℎ𝑎𝑠𝑒
Sehingga besarnya daya yang akan diinjeksikan ke bus 95 dan bus 101
sebesar 𝟏𝟓𝟓, 𝟗𝟏𝟑𝟐 kVAR. Filter yang akan dipasang pada bus 95 dan
bus 101 ini direncanakan lebih dari satu filter, sehingga dilakukan
pembagian kompensator daya reaktif untuk masing-masing filter melalui
pendekatan nilai distorsi harmonisa dari masing-masing orde.
6
a. Filter untuk harmonisa orde 11
1) Menentukan nilai kapasitor (C)
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
55.9 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 22988,82718 𝜇𝐹
2) Menentukan nilai induktor (L)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋550)2×22988.82718 𝜇𝐹
𝐿 = 3,6462 𝜇𝐻
3) Menentukan nilai reaktansi (XL)
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 3,6462 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0,00114 𝛺
4) Menentukan nilai resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴
𝐼 = 3,9 % × 7223 𝐴
𝐼 = 281,697 𝐴
6
𝗇
𝑅 = 0,16072
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0,00016072 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅
0,00114 𝗇
𝑄 = 0,00016072 𝗇
𝑄 = 7,0931
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹
𝐿 = 2,9186 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 2,9186 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0,00092 𝛺
6
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴
𝐼 = 2,73 % × 7223 𝐴
𝐼 = 197,19 𝐴
0,00092 𝗇
𝑄 = 0,000202704 𝗇
𝑄 = 4,5386
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹
6
𝐿 = 0,7892 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0,3182 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0,00025 𝛺
𝐼 = 42.21 % × 7223 𝐴
𝐼 = 159,628 𝐴
0.00025 𝗇
𝑄 = 0.000255512 𝗇
𝑄 = 1,9784
6
𝛥𝑄 = 𝑃[𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑡𝑎𝑛(𝑐𝑜𝑠−1𝜑𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 )]
Sehingga besarnya daya yang akan diinjeksikan ke bus 21 dan bus 100
sebesar 𝟏𝟓𝟓, 𝟗𝟏𝟑𝟐 kVAR. Filter yang akan dipasang pada bus 21 dan
bus 100 ini direncanakan lebih dari satu filter, sehingga dilakukan
pembagian kompensator daya reaktif untuk masing-masing filter melalui
pendekatan nilai distorsi harmonisa dari masing-masing orde.
a. Filter untuk harmonisa orde 15
1) Menentukan nilai kapasitor (C)
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
55.9 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 22988,82718 𝜇𝐹
2) Menentukan nilai induktor (L)
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋750)2×22988,82718 𝜇𝐹
𝐿 = 1,9608 𝜇𝐻
3) Menentukan nilai reaktansi (XL)
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
6
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 1,9608 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0,00062 𝛺
4) Menentukan nilai resistor (R)
𝑙
𝑅=𝜌
𝐴
𝐼 = 3,9 % × 7223 𝐴
𝐼 = 281,697 𝐴
0,00062 𝗇
𝑄 = 0,00016072 𝗇
𝑄 = 3,8576
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹
6
1
𝐿 = (2𝜋𝑓 2
𝑛) ×𝐶
1
𝐿=
(2𝜋1050)2×20562,45723 𝜇𝐹
𝐿 = 1,1185 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 1,1185 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0.00035 𝛺
𝐼 = 2,73 % × 7223 𝐴
𝐼 = 197,19 𝐴
0,00035 𝗇
𝑄 = 0,000202704 𝗇
𝑄 = 1,72665
6
c. Filter untuk harmonisa ke 27
𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶= 𝑉𝑙−𝑛2×(2𝜋𝑓0)
50 𝑘𝑉𝐴𝑅
𝐶 = (0.153 𝑘𝑉) ×(2𝜋50)
2
√3
𝐶 = 20562,45723 𝜇𝐹
𝐿 = 0,6766 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 2𝜋𝑓0 × 𝐿
𝑋𝐿 = 2𝜋50 × 0,27283 𝜇𝐻
𝑋𝐿 = 0.00021 𝛺
𝐼 = 42.21 % × 7223 𝐴
𝐼 = 159,628 𝐴
6
𝗇
𝑅 = 0.255512
𝑘𝑚 × 0,001 𝑘𝑚 = 0.000255512 𝛺
5) Menentukan faktor kualitas (Q)
𝑋𝐿
𝑄=
𝑅
0.00021 𝗇
𝑄 = 0.000255512 𝗇
𝑄 = 0,82314
7
Tabel 4.4 (Lanjutan) Faktor daya setelah pemasangan filter
Faktor Daya Faktor Daya
ID Bus kV
Sebelum (%) Setelah (%)
Bus5 0,4 -100 -99,9
Bus10 0,4 96,5 96,7
Bus18 20 86.5 96,8
Bus21 0,153 86,6 94,5
Bus34 0,4 97 97,2
Bus76 0,4 91,5 91,5
Bus90 20 85,4 93,7
Bus91 0,4 98,9 99,1
Bus95 0,153 86,6 94,5
Bus96 20 86,5 96,8
Bus97 0,4 93,3 93,8
Bus99 20 86,5 96,8
Bus100 0,153 86,6 94,5
Bus101 0,153 86,6 94,5
Bus102 20 79 79,1
Bus103 0,4 79 79,1
Bus104 20 85,4 93,1
POLE 37B 20 89 98,2
PS HV SWGR 20 88,7 97,9
Dari tabel (4.4) tersebut dapat dilihat bahwa setelah pemasangan filter
harmonisa, faktor daya pada bus lebih baik dari sebelumnya. Hal ini
menunjukkan bahwa komponen C (kapasitor) dengan fungsi sebagai
kompensasi daya bekerja dengan baik.
7
Tabel 4.5 Harmonisa Tegangan setelah pemasangan filter harmonisa
THDV (%)
ID Bus kV Sebelum Setelah
LVPS001 0,4 7,54 0,5
PS HV SWGR 20 11,01 0,71
POLE 37B 20 12,96 0,83
36SB001 20 13,06 0,84
Bus18 20 11,01 0,71
Bus21 0,153 17,69 3,09
Bus90 20 13,06 0,84
Bus95 0,153 18,58 2,66
Bus96 20 11,01 0,71
Bus99 20 11.01 0,71
Bus100 0,153 17,69 3,09
Bus101 0,153 18,58 2,66
Bus104 20 13,07 0,84
Dapat dilihat bahwa tingkat distorsi harmonisa menurun setelah
pemasangan single tuned filter. Nilai distorsi pada seluruh bus yang
sebelumnya diatas standar IEEE Std 519-1992, kini seluruhnya sudah
memenuhi standar harmonisa yan diizinkan.
Dapat dilihat bahwa jumlah arus yang mengalir pada tiap-tiap kabel
sudah menurun. Hal ini membuktikan bahwa arus harmonisa sudah
dialirkan ke single tuned filter yang terpasang. Dilihat dari nilai
THDnya, nilai distorsi harmonisa sudah menurun jauh pada kabel bus
36SB001-P. Namun masih ada yang belum memenuhi standar.
Meskipun belum memenuhi standar,
7
menurunnya arus yang mengalir akan mengurangi efek dari stray current
corrosion.
(a)
7
Waveform
36SB001 (20 kV)
(b)
(a)
7
Waveform
(b)
(a)
7
Waveform
-Bus
-Bus100
21 (0.15
(0,15 kV)
kV)
(b)
Gambar 4.9 Harmonisa tegangan pada bus 21 dan bus 100 setelah
difilter. (a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
Cab21(9681.61A) Cab 101 (9950,01A)
(a)
7
Waveform
-Cab21(9681.61A) -Cab 101 (9950,01A)
(b)
Gambar 4.10 Harmonisa arus pada bus 21 dan bus 100 setelah difilter.
(a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
Bus 95 (0,15 kV) Bus 101 (0.15 kV)
(a)
7
Waveform
-Bus 95 (0,15 kV) -Bus 101 (0.15 kV)
(b)
Gambar 4.11 Harmonisa tegangan pada bus 95 dan bus 101 setelah
difilter. (a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
Spectrum
Cab 95 (9963,79 A) Cab 101 (9693,31A)
(a)
7
Waveform
-Cab 95 (9963,79 A) -Cab 101 (9693,31A)
(b)
Gambar 4.12 Harmonisa arus pada bus 95 dan bus 101 setelah difilter.
(a) Spektrum harmonisa, (b) Bentuk gelombang tegangan
7
� 1
� 𝐶 = 1𝐴
𝐼= =
𝑡 1𝑠
satu tahun sama dengan 31.536.000 detik. Berarti, jika stray current
dalam suatu kandungan unsur besi bernilai 1 A, maka dalam satu tahun
satu tahun akan menjadi:
𝐶
𝑄 = 𝐼𝑡 = 1 × 31.536.000𝑠 = 31.536.000 𝐶
𝑠
Jumlah mol elektron yang ditransfer dalam reaksi dapat diperoleh dari
total muatan yang ditransfer dan juga dari konstanta Faraday.
𝑄
31.536.000
=
𝐹 = 327 𝑚𝑜𝑙
96485
Sehingga massa besi yang dikonsumsi oleh 327 mol elektron dan berat
setara 27.923 gram per mol elektron adalah
𝑄
𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 327 × 27,923 = 9131 𝑔
𝐹 𝑧
Berarti tiap 1 ampere arus liar dapat mengakibatkan korosi sebesar 9131g
per tahunnya.
8
Selanjutnya akan dilakukan perhitungan terhadap stray current corrosion.
8
Sehingga dengan turunnya arus sebesar 991,21A, dalam satu
tahun akan ada 9.046.374,381 g atau sama dengan 9.046 besi
yang terhindar dari korosi.
𝑀 55,845 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑧 = 2 𝑚𝑜𝑙 = 27,923 𝑔
𝐶
𝑄 = 𝐼𝑡 = 824,94 × 31.536.000𝑠 = 2,602 × 10 10𝐶
𝑠
𝑄
2,602×1010
= = 269.630,594 𝑚𝑜𝑙
𝐹 96485
𝑄 𝑀
𝑚 = ( ) ( ) = 269.630,594 × 27,923 = 7.528.895,07 𝑔
𝐹 𝑧
8
Halaman ini sengaja dikosongkan
8
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
8
5.2 Saran
Dalam penyelesaiain tugas akhir ini, saran yang dapat diberikan
untuk kedepannya antara lain:
8
DAFTAR PUSTAKA
[1] Ashari, Mochamad, “Konverter AC”, ITS Press, Surabaya,
Bab.1, 2006
[5] Chang, G.W, S.Y. Chu, and H.L. Wang, “A New Approach for
Placement of Single-Tuned Passive Harmonic Filter in a Power
System” IEEE, pp. 814-817, 2002
8
[11] Pujiantara, Margo. Diktat Kuliah Desain dan Instalasi Tenaga
Listrik: Harmonisa, Departemen Teknik Elektro ITS
8
BIOGRAFI PENULIS
8
Halaman ini sengaja dikosongkan