Kecemasan dan Preeklamsia di Makassar
Kecemasan dan Preeklamsia di Makassar
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar
Sarjana Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter
Pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Oleh:
MUHAMMAD SADDAM
NIM: 70600118025
NIM : 70600118025
Tempat/Tgl. Lahir : Pinrang, 02 September 1998
Jurusan : Pendidikan Dokter
Fakultas : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Muhammad Saddam
NIM: 70600118025
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah Swt. berkat
petunjuk dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
proposal yang berjudul “Hubungan Antara Kecemasan Dengan Kejadian
Preeklamsia Di RSKD Ibu Dan Anak Pertiwi Makassar”. Proposal ini
disusun sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar Sarjana
Kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri Alauddin Makassar.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan
proposal ini terdapat banyak kekurangan, namun penulis berusaha
semaksimal mungkin untuk menyelesaikan proposal ini dan berharap
semoga apa yang telah ditulis dalam proposal ini dapat bermanfaat bagi
banyak orang. Selesainya penyusunan proposal ini tidak lepas dari
bimbingan dari berbagai pihak dengan kerendahan hati, penulis
menyampaikan segenap rasa terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada
kedua orang tua yaitu H. Mustari dan Hj. Andi Muni dan seluruh rekan saya
yang ikut berperan dalam membantu penyusunan proposal ini.
Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan rasa terima
kasih sebesar-besarnya, rasa hormat dan penghargaan atas segala bantuan
dan dukungannya kepada:
v
memberikan ilmu yang bermanfaat selama penulis menempuh bangku
kuliah di Program Studi Pendidikan Dokter UIN Alauddin Makassar.
Muhammad Saddam
NIM 70600118025
vi
DAFTAR ISI
PENGESAHAN SKRIPSI...........................................................................................iv
KATA PENGANTAR.................................................................................................v
DAFTAR ISI...............................................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN..............................................................................................xii
ABSTRAK...................................................................................................................xi
A. Latar Belakang................................................................................................. 1
C. Hipotesis ......................................................................................................... 6
vii
E. Kajian Pustaka ................................................................................................10
B. Kecemasan .....................................................................................................20
A. Desain Penelitian.............................................................................................34
viii
G. Kerangka Konsep ...........................................................................................37
A. Hasil....................................................................................................................42
B. Pembahasan.........................................................................................................47
C. Keterbatasan Penelitian.......................................................................................51
A. Kesimpulan..........................................................................................................52
B. Saran....................................................................................................................52
LAMPIRAN ...........................................................................................................59
ix
DAFTAR TABEL
x
DAFTAR BAGAN
xi
DAFTAR LAMPIRAN
xii
Hubungan Antara Kecemasan Dengan Kejadian Preeklamsia
Muhammad Saddam1, Saharuddin2, Purnamaniswaty Yunus3, Rini Fitriani4,
M. Galib5
1,2,3,4,5
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, Indonesia
*Email Korespondensi: muhsaddamm@[Link]
Telp: 085342415772
ABSTRAK
Latar belakang: Preeklamsia masih menjadi tiga besar penyebab kematian ibu
dalam bidang obstetri. Preeklamsia menduduki peringkat dua sebagai penyebab
kematian langsung pada ibu hamil dan mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan perasaan, keadaan
emosional yang dimiliki oleh seseorang pada saat menghadapi kenyataan atau
kejadian dalam hidupnya. Hal ini meningkatkan eksresi hormon vasoaktif atau
neuroendokrin lainnya yang dapat meningkatkan risiko hipertensi dan juga memicu
perubahan pembuluh darah sehingga menyebabkan terjadinya preeklamsia.
Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analitik korelatif,
dengan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel 93 responden (1:2) yang
dikumpulkan secara Puposive sampling.
Hasil: Hasil uji statistik diperoleh P-value ≤ 0,05 dan PR = 4,646 (95% CI 1,824-
7,288).
Kesimpulan: Pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara
kecemasan dengan kejadian preeklamsia di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan
Anak Pertiwi Makassar.
xiii
The Relationship Between Anxiety and Occurences of Preeclampsia at Makassar
Regional Hospital of Mother and Child
Abstract
Preeclampsia is currency in the top three as the major cause of maternal death in obstetrics.
Preeclampsia even ranks second as a direct cause of death in pregnant women, and this number
gradually grows every year. Anxiety is a psychological aspect that describes the emotions of a
person characterized by feelings of tension and worried thoughts, especially in facing the life’s
problems. This feeling of anxiety may increase the excretion of vasoactive hormones or
neuroendocrine hormones that might increase the risk of hypertension and trigger changes in
blood vessels which may cause preeclampsia. The major purpose of this study was to examine
the relationship between anxiety and occurrences of preeclampsia. The methodological
approach used in this research was correlative analytic by using a cross sectional approach. The
samples of this research consisted of 93 respondents (1:2) selected by a purposive sampling
method. The results of the statistical data revealed that P value 0.05 and PR = 4.646 (95% CI
1.824-7.288). This study concluded that there was a significant relationship between anxiety
and occurrences of preeclampsia at Makassar Regional Hospital of Mother and Child.
Key words: Anxiety, Preeclampsia
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan satu dari sekian indikator kesuksesan
pelayanan di suatu negara. Tiap harinya, terdapat kurang lebih 830 wanita yang
meninggal disebabkan oleh masalah yang dapat dicegah berkaitan dengan kehamilan
dan persalinan. 99% di seluruh kematian ibu terjadi pada negara yang berkembang.
Terdapat kurang lebih 830 wanita meninggal karena komplikasi kehamilan atau
persalinan di seluruh dunia setiap harinya. Diantara target Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB) ialah untuk mengurangi rasio kematian ibu yang melakukan
persalinan secara global menjadi dibawah dari 70 per 100.000 kelahiran, dengan
harapan tidak ada lagi negara yang memiliki angka kematian diatas dari dua kali rata-
rata global. Komplikasi utama yang mengakibatkan hampir 75% keseluruhan kematian
ibu adalah perdarahan hebat sesudah persalinan seperti adanya infeksi, tekanan darah
yang tinggi selama kehamilan (preeklamsia dan eklamsia), komplikasi karena
persalinan, serta aborsi yang tidak sesuai prosedur. (WHO, 2018).
Preeklamsia menjadi penyebab ke tiga besar kematian ibu dalam bidang obstetri.
Preeklamsia berada pada peringkat dua sebagai alasan kematian langsung pada ibu
hamil dan mengalami peningkatan di tiap tahunnya. Pada beberapa penelitian,
kematian ibu karena preeklamsia disebabkan oleh adanya faktor risiko seperti umur
ibu, jumlah paritas, jarak kehamilan, kehamilan multi/ ganda, riwayat preeklamsia
sebelumnya, riwayat keturunan, riwayat penyakit sebelumnya diantaranya diabetes,
hipertensi dan penyakit ginjal juga beberapa faktor seperti keadaan status sosial
ekonomi, riwayat pemeriksaan ANC dan perasaan cemas. (Purwati dan Alfi Noviyana,
2020).
Terdapat lebih dari 4 juta ibu hamil mengalami preeklamsia setiap tahunnya. Setiap
tahun, diperkirakan sebanyak 50.000 sampai 70.000 wanita meninggal disebabkan oleh
1
preeklamsia serta 500.000 bayi meninggal. Preeklamsia merupakan penyebab 15– 20%
kematian ibu hamil di seluruh dunia serta penyebab utama mortalitas dan morbiditas
pada janin (Raghupathy, 2013).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, kematian pada
ibu hamil di tahun 2018 yang tercatat terdapat sebanyak 139 ibu atau 92.28 per 100.000
kelahiran hidup. Yang terdiri dari kematian pada ibu hamil sebanyak 23 ibu (16,55%),
kematian ibu bersalin sebanyak 47 (33,81%), dan kematian pada ibu nifas sebanyak 69
orang (49,64%). (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2020).
Adapun jumlah kematian ibu tahun 2019 yang dilaporkan sebanyak 144 orang atau
94.29 per 100.000 kelahiran hidup dan diantaranya terdapat 41 ibu yang meninggal
disebabkan karena preeklamsia/eklampsia. Terdiri dari kematian ibu hamil 31 orang
(22%), kematian ibu bersalin 36 orang (25%), kematian ibu nifas 77 orang (53%).
(Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2020).
Data yang didapatkan dari Rekam Medik RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar
pada tahun 2019 jumlah ibu hamil yang dirawat diruangan nifas sebanyak 958 dan yang
terdiagnosa preeklamsia sebanyak 67 orang dan pada tahun 2020 jumlah ibu hamil
yang dirawat di ruangan nifas sebanyak 1176 orang dan yang terdiagnosa preeklamsia
sebanyak 59 orang, (Rekam Medik RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar).
2
peningkatan resistensi arteri uterine yang mana hal tersebut ditemukan pada kasus
preeklamsia (Purwati and Alfi Noviyana, 2020).
ْ ٰي ٰخلٰقٰكُ ْم ّم ِْن نَّ ْف ٍس َّواحِ دٰةٍ َّو ٰج ٰع ٰل ِم ْن ٰها زٰ ْو ٰج ٰها ِل ٰي ْس ُكنٰ اِلٰ ْي ٰه ۚا فٰلٰ َّما تٰغٰشهى ٰها ٰح ٰمل
ْ ت ٰح ْم اًل ٰخ ِف ْيفاا فٰ ٰم َّر
ٓت ِب ٖه ۚفٰلٰ َّما ْ ه ُٰو الَّ ِذ
)189 :7/ ( اْلعراف١٨٩ ٰصا ِل احا َّلنٰكُ ْون َّٰن مِنٰ الشهك ِِريْن ٰ ّللَا ٰر َّب ُه ٰما لٰ ِٕى ْن ٰات ٰ ْيتٰنٰا ْ ٰا ٰثْقٰل
ٰ َّت د
ٰ ع ٰوا ه
Artinya: “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia
menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya,
isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan
(beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri)
bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau
memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur".
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan dari jenis yang
3
satu, dan dari jenis yang satu itu diciptakan pasangannya, maka hiduplah mereka
berpasangan pria-wanita (suami-isteri) dan tenteramlah dia dengan isterinya itu. Hidup
berpasangan suami-isteri merupakan tuntutan kodrati manusia rohaniyah dan
jasmaniah. Bila seseorang telah mencapai usia dewasa, timbullah keinginan untuk
hidup berpasangan sebagai suami-isteri, dan dia akan mengalami keguncangan batin
apabila keinginan itu tidak tercapai. Sebab dalam berpasangan suami-isteri itulah
terwujud ketenteraman. Ketenteraman tidak akan terwujud dalam diri manusia diluar
hidup berpasangan suami-isteri. Maka tujuan kehadiran seorang isteri pada seorang
laki-laki di dalam agama Islam ialah menciptakan hidup berpasangan itu sendiri. Islam
mensyariatkan manusia agar mereka hidup berpasangan suami-isteri, karena dalam
situasi hidup demikian itu manusia menemukan ketenteraman dan kebahagian
rohaniyah dan jasmaniah.
Bila kedua suami-isteri itu berkumpul, mulailah isterinya mengandung benih.
Saat permulaan dari pertumbuhan benih itu terasa ringan. Pertama-tama terhentinya
haid dan selanjutnya benih itu terus berproses, perlahan-lahan. Maka ketika
kandungannya mulai berat, ibu-bapak memanjatkan doa kepada Allah agar keduanya
dianugerahi anak yang saleh, sempurna jasmani, berbudi luhur, cakap melaksanakan
tugas kewajiban sebagai manusia. Kedua, isteri itu berjanji akan mewajibkan atas
dirinya sendiri untuk bersyukur kepada Allah karena menerima nikmat itu dengan
perkataan, perbuatan dan keyakinan.
Dalam QS. As-Saffat Ayat 100 Allah SWT berfirman :
( ال ّٰۤ ه١٠٠ ٰصلِحِ يْن
)100 :37/صفهت ٰربّ ِ هٰبْ ِل ْي مِنٰ ال ه
Artinya : “ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang yang shalih.”
Ayat ini mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim dalam perantauan memohon kepada
Tuhan agar dianugerahi seorang anak yang saleh dan taat serta dapat menolongnya
dalam menyampaikan dakwah dan mendampinginya dalam perjalanan dan menjadi
kawan dalam kesepian.
Kehadiran anak itu sebagai pengganti dari keluarga dan kaumnya yang
ditinggalkannya. Permohonan Nabi Ibrahim ini diperkenankan oleh Allah. Kepadanya
disampaikan berita gembira bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya seorang
4
anak laki-laki yang punya sifat sangat sabar.
Sifat sabar itu muncul pada waktu balig. Karena pada masa kanak-kanak sedikit
sekali didapati sifat-sifat seperti sabar, tabah, dan lapang dada. Anak remaja itu ialah
Ismail, anak laki-laki pertama dari Ibrahim, ibunya bernama Hajar istri kedua dari
Ibrahim. Putra kedua ialah Ishak, lahir kemudian sesudah Ismail dari istri pertama
Ibrahim yaitu Sarah. (Kementrian Agama RI)
Telah ditemukan di atas bahwa salah satu akibat terjadinya morbiditas dan
mortalitas ibu disebabkan karena preeklamsia. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk
meneliti tentang “Hubungan Antara Kecemasan Dengan Kejadian Preeklamsia di
RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar”. Dan apabila terdapat kasus preeklamsia yang
disebabkan oleh kecemasan pada ibu hamil perlu adanya kewaspadaan untuk terjadinya
eklamsia sehingga kita dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu
hamil akibat preeklamsia.
5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah apakah ada hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD
Ibu dan Anak Pertiwi Makassar.
C. Hipotesis
1. Hipotesis nol (H0)
Tidak ada hubungan kecemasan dengan kejadian preeklamsia pada di RSKD Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar.
2. Hipotesis alternatif (Ha)
Terdapat hubungan kecemasan dengan kejadian preeklamsia pada di RSKD Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar.
6
D. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian
1. Definisi Operasional
Definisi
NO Variabel Cara Ukur Kriteria Objektif Skala
Operasional
Variabel Independen
7
Tabel 1.1. Definisi Operasional (lanjutan)
Variabel Dependen
8
2. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar untuk
mengetahui Hubungan antara Kecemasan dengan Kejadian Preeklamsia di RSKD Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar dengan dengan melihat satus rekam medik pasien yang
sesuai dengan kriteria insklusi dan ekslusi dan kemudian melakukan pengisian
kueisoner.
9
E. Kajian Pustaka
10
NO Peneliti Judul Metode Jumlah Cara Hasil
Sampel Pengukuran
2. Alfi Noviyana Hubungan Jenis 36 Sampel Kuesioner dan Tidak ada hubungan
dan Purwati Kecemasan dan penelitian ini data rekam secara statistik antara
11
NO Peneliti Judul Metode Jumlah Cara Hasil
Sampel Pengukuran
cross-
sectional.
F. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecemasan
dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar.
G. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk mengembangkan dan menambah
pengetahuan yang ada tentang kejadian preeklamsia dalam kehamilan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan
wawasan bagi peneliti tentang hubungan antara kecemasan dengan
kejadian preeklamsia, serta sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Pendidikan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin
Makassar.
b. Bagi institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan di
perpustakaan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin
Makassar dan sebagai acuan bagi mahasiswa yang akan melakukan
penelitian selanjutnya.
12
c. Bagi tempat penelitian
Diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi pihak RSKD
Ibu dan Anak Pertiwi Makassar dalam penyusunan perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi program upaya pencegahan preeklamsia.
3. Manfaat Komunitas
Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan pengetahuan masyarakat
tentang kecemasan dan preeklamsia.
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Preeklamsia
2. Klasifikasi Preeklamsia
Disebut PEB jika tekanan darah sistolik > 160 mmHg, tekanan darah
diastolik > 110 mmHg, serum kreatinin >1,1 mg/dl, terdapat edema paru, kadar
trombosit < 100.000/uL dan terjadi peningkatan fungsi hati (lebih dari dua kali
normal) serta keluhan nyeri kepala, gangguan penglihatan dan nyeri ulu hati (Akbar
dkk, 2020).
14
ginjal, trombofilia, systemic lupus erythematosus (SLE), obesitas, umur > 35 tahun,
kehamilan kembar). Beberapa prediksi PE dapat dilakukan menggunakan
pemeriksaan sederhana seperti roll over test (ROT) > 15 mmHg, mean arterial
pressure (MAP) > 90 hingga pemeriksaan Doppler velocimetry (DV) arteri uterina
(peningkatan resistensi lebih 0,7 dan atau adanya notching ) dan juga penggunaan
biomarker angiogenesis, seperti Pregnancy associated plasma protein A (PAPP-A),
soluable Fms like tyrosine kinase (sFlt) dan Placental Growth Factor (PlGF)
(Akbar dkk, 2020).
3. Etiologi Preeklamsia
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab preeklamsia, namun
dari beberapa teori menjalaskan bahwa penyebab dari preeklamsia diantaranya
ialah; adanya kehamilan ganda, meningkatnya frekuensi pada kehamilan
primigraviditas, terjadinya mola hidatidosa, obesitas pada ibu hamil, usia ibu hamil
yang kurang dari 18 tahun dan usia ibu hamil lebih dari 35 tahun. Sedangkan teori
lain juga menyebutkan bahwa preeklamsia disebabkan karena beberapa kelainan
yang disebut juga dengan the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara
lain:
15
Terdapat faktor risiko pada anak dari ibu yang mengalami preeklamsia dan
peranan Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS) yang berperan dalam
faktor genetik, sehingga dilakukan pemantauan fungsi ginjal lewat protein urin dan
fungsi hati dengan mengontrol menu makanan sehari-hari (Sukarni, 2013).
5. Dampak Preeklamsia
6. Patofisiologi Preeklamsia
Pada tahap kedua terjadi disfungsi endotel yang dikaitkan dengan protein
antiangiogenik. Ketidakseimbangan pada faktor-faktor angiogenik yang menjadi
perantara antara plasenta abnormal yang terjadi pada tahap kedua ini. Protein
antiangogenik yang disebut tirosin kinase yang larut dalam (sFlt-1) dan memblokir
reseptor transmembran untuk faktor pertumbuhan endotel vascular (VEGF) dan
menghambat pertumbuhan plasenta (PIGF). Konsentrasi sFlt-1 yang tinggi
ditunjukkan pada kejadian preeklamsia dan hal tersebut dikaitkan dengan
penurunan konsentrasi VEGF dan PIGF dalam darah. Sehingga secara klinis,
tindakan ini disebut sebagai peningkatan tekanan darah dan proteinuria dengan
melibatkan sistem multiorgan. (Uzan dkk, 2011).
17
c. Kenaikan berat badan, hal ini dinilai dari terjadinya kenaikan berat badan yang
berlebihan, dalam seminggu peningkatan BB normal adalah 0,5 kg tetapi jika
dalam seminggu BB naik mencapai 1 kg maka kemungkinan dapat dicurigai
terjadinya preeklamsia.
d. Sakit kepala yang tidak bisa sembuh jika diberikan analgesik biasa
i. Nyeri pada epigastrium, merupakan keluhan yang sering ditemukan pada PEB,
hal tersebut disebakan adanya tekanan pada kapsula hepar akibat edema atau
perdarahan.
j. mengalami sesak napas bisa dikarenakan adanya edema paru (kelebihan cairan
di paru-paru)
8. Diagnosis Preeklamsia
18
mengalami preeklamsia, tetapi jika kadar PIGF rendah maka bisa kemungkinan
mengalami preeklamsia dengan dilakukan tes lebih lanjut (American College of
Obstetricians and Gynecologists, 2013).
9. Komplikasi Preeklamsia
a. Maternal: HELLP syndrome, gagal ginjal, solusio plasenta, gagal liver, edema
paru, perdarahan otak, progresitifitas menjadi eklamsia.
19
11. Prognosis Preeklamsia
B. Kecemasan
1. Definisi Kecemasan
hasil yang tidak pasti yang mempengaruhi atau menyebabkan depresi (Kajdy and
Feduniw, 2020).
stres nyata pada seseorang. Kecemasan tersebut terjadi terus menerus (relasi
2. Tingkat Kecemasan
a. Kecemasan Ringan
Tingkat kecemasan ringan adalah cemas yang normal yang biasa menjadi
20
bagian di kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada
masalah.
b. Kecemasan Sedang
sakit kepala.
c. Kecemasan Berat
cenderung memusatkan perhatian pada sesuatu yang spesifik, dan tidak dapat
d. Panik
21
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
a. Faktor predisposisi
1. Faktor biologis
2. Faktor Psikologis
22
kecemasan berat. Dari segi pandangan perilaku menunjukkan
kecemasan yang menjadi pusat frustasi yang mengakibatkan segala
sesuatu yang mengganggu akan dapat memengaruhi pencapaian
seseorang. Dalam hal ini seseorang akan sering menunjukkan
kecemasan dalam hidupnya.
3. Sosial budaya
b. Faktor Presipitasi
Kecemasan terdiri dari dua jenis yaitu kecemasan normal dan kecemasan
patologis. Kecemasan normal merupakan suatu perasaan yang sering dialami
setiap orang. Cemas dalam batas normal ini juga merupakan respon bawaan
dalam menghadapi ancaman yang membahayakan keselamatan dan dapat
menimbulkan gangguan kognitif (khawatir) serta gangguan somatik (jantung
berdebar-debar, berkeringat, gemetar, kedinginan, dll) (Mozo, 2017).
Kecemasan patologis terjadi jika kecemasan bersifat menetap dan
menyebabkan gangguan secara fisik sehingga dapat mengganggu aktivitas
seseorang. Kecemasan patologis ini terjadi karena seseorang tidak mampu lagi
mengendalikan atau mengatasi situasi lingkungan sekitarnya (Mozo, 2017).
5. Etiologi Kecemasan
Menurut Sadock (2007) Terdapat tiga teori psikologi yang menyebutkan
tentang penyebab dari kecemasan, yaitu:
a. Teori psikoanalitik
Kecemasan sebagai tanda adanya bahaya yang tidak disadari. Kecemasan
dipandang sebagai hasil konflik psikis antara keinginan yang agresif atau
dorongan seksual yang tidak disadari dengan ancaman yang datang secara
bersamaan dari superego atau kenyataan eksternal. Sebagai respon terhadap
sinyal ini, ego menciptakan mekanisme pertahanan untuk mencegah pikiran atau
perasaan yang tidak dapat diterima keluar ke alam sadar.
b. Teori perilaku
Teori ini mengemukakan bahwa kecemasan merupakan respon yang dapat
dikondisikan sesuai dengan adanya stimulus yang spesifik berasal dari
24
lingkungan. Individu menerima rangsangan stimulus tertentu sebagai stimulus
yang tidak disukai, sehingga menyebabkan kecemasan. Setelah terjadi berulang-
ulang akhirnya akan menjadi kebiasaan untuk menghindari stimulus tersebut.
c. Teori eksistensial
Ditinjau dari aspek biologis, ada beberapa hal yang kemungkinan menjadi
penyebab dari kecemasan, antara lain:
2) Neurotransmiter
a. Norepinefrin
25
sistem noradrenergik yang tidak teregulasi dengan baik disertai ledakan aktivitas
pada saat-saat tertentu.
b. Serotonin
Terdapat beberapa tanda dan gejala yang muncul pada pasien dengan
kecemasan, diantaranya yaitu :
e. Jika berada dalam keramaian, akan mudah takut karena seseorang tersebut
sendirian.
26
berdenging, dan mengeluhkan rasa sakit pada tulang belakang dan otot-ototnya
7. Patofisiologi Kecemasan
atau kimia otak. Paparan stressor menghasilkan stimulus pada sistem saraf pusat
yang selanjutnya akan menstimulasi sistem kelenjar sebagai respon fisiologis tubuh
baik secara keseluruhan maupun lokal. Tiga neurotransmitter utama yang terkait
aktivitas neuron di bagian otak yang bertanggung jawab atas terjadinya suatu
tersebut akan dihadapkan pada berbagai kecemasan (anxiety) yang selalu dalam
respon berkisar dari ringan, sedang, berat hingga panik (Stuart, 2012).
perilaku, kognitif dan efektif melalui munculnya gejala atau mekanisme sebagai
menyebabkan napas cepat, sesak napas, rasa tercekik, tekanan pada dada. Pada
goyah, gerakan canggung, dan kelemahan umum. Pada kulit akan menyebabkan
wajah pucat, berkeringat di sekujur tubuh, wajah memerah dan panas dingin.
koordinasi dan bicara cepat. Respon kognitif yang ditimbulkan adalah gangguan
kematian dan mimpi buruk. Respon afektif yang ditimbulkan adalah kecemasan,
28
Jenis kelamin perempuan ( dapat
Genetis (Sejerah Teori biologis lainnya
berkaitan dengan faktor hormonal,
internal focus of control kurang, keuarga positif) (dalam penelitian)
tingkat pelaporan lebih tinggi)
Kerusakan
memori
Presepsi ancaman Hipokampus dan Cingulate Gyrus Ukuran hipokampus
lingkungan menyusut
Secara abnormal memproses ancaman
Salah satu alat ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan ibu
hamil preeklamsia yaitu Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) pertama
kali dikemukakan oleh Max Hamilton tahun 1959 dan dikembangkan oleh
Maslim (2013). Instrumen terdiri dari 14 pertanyaan terkait mencakup
Perasaan cemas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan
kecerdasan, perasaan depresi (murung), gejala somatik/fisik (otot), gejala
somatik/fisik (sensorik), gejala kardiovaskuler, gejala respiratory
(pernapasan), gejala gastrointestinal (pencernaan), gejala urogenital
(perkemihan dan kelamin), gejala autonomi, tingkah laku (sikap). Dengan
empat skala likert dan masing-masing skala likert diberi nilai 0,1,2,3 dan
4 yaitu skor 0 (tidak ada gejala atau keluhan); 1 (gejala ringan); 2 (gejala
sedang); 3 (gejala berat); 4 (gejala berat sekali. Skala HARS merupakan
skala baku yang memiliki validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas
menggunakan korelasi Product moment dengan nilai validitas 0,93.
Sedangkan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach didapatkan nilai
0,97 (Meranti, 2015).
30
2. Nilai 1 = sesuai dengan saya untuk beberapa derajat atau kadang-kadang
ب َو ََل ه ٍَم َو ََل ُح ْز ٍن َو ََل أَذًى َو ََل غ ٍَم َحتَّى ٍ صَ ب َو ََل َو ٍ ص َ َيب ْال ُم ْس ِل َم ِم ْن ن
ُ ُص ِ َما ي
طا َيا ُه َّ ش ْو َك ِة يُشَاكُ َها ِإ ََّل َكفَّ َر
َ َّللاُ ِب َها ِم ْن َخ َّ ال
َع َلى ْالقَ ْو ِم ْال ٰكف ِِريْن ُ ت ا َ ْقدَا َمنَا َوا ْن
َ ص ْرنَا ْ ِصب ًْرا َّوثَب
َ ع َل ْينَا ْ َربَّنَا ٓ اَ ْف ِر
َ غ
Artinya: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah
pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir”
Umat Islam diharuskan bersabar dalam melewati cobaan dan ujian yang silih
berganti berdatangan, termasuk pada saat menghadapi kehamilan. Doa diatas
31
merupakan doa untuk meminta kesabaran kepada Allah SWT. Setiap muslim dapat
berdoa memohon kesabaran dan keikhlasan hati dalam menjalani kehidupan.
Misalnya, saat menghadapi kehamilan. Doa minta ketabahan ini bertujuan agar
tidak menghadapi masalah dengan hati kacau, emosi, marah, dan kehilangan
kendali. Sebab marah hanya dapat memperburuk masalah.
Ibu hamil yang mengalami kecemasan dan stress dapat menyebabkan tekanan
darah naik. Perasaan cemas dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas system
saraf simpatis, perubahan tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dengan warna
kulit dan apabila tidak segera diatasi maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang,
takut dan stress. Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil dapat
menyebabkan bayi yang dilahirkan memiliki berat lahir rendah, bahkan kematian.
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya Preeklamsia pada ibu hamil
adalah kecemasan. Penelitian yang sama yang menyertakan variabel anxiety
(kecemasan) sebagai salah satu faktor risiko dari kejadian preeklamsia pada ibu
hamil mendapatkan hasil variabel kecemasan ini berkorelasi dengan kejadian
preeklamsia pada ibu hamil dan bahkan beberapa penelitian mendapatkan OR (odds
ratio)/ RR (relatives risk) bernilai tinggi. Kecemasan adalah merupakan respon
individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan,kecemasan pada suami
istri yang berkaitan dengan kelahiran termasuk dalam tingkat kecemasan sedang
(Isworo, 2012).
32
A. Kerangka Berpikir
1. Kerangka Teori
Kecemasan
1. Perasaan cemas
Faktor –faktor Kecemasan 2. Ketegangan Tidak ada
3. Ketakutan kecemasan
1. Faktor predisposisi
4. Gangguan tidur
2. Faktor presitipasi 5. Gangguan kecerdasan Ringan
6. Perasaan depresi
7. Gejala Somatik
8. Gejala sensorik Sedang
9. Gejala kardiovaskuler
10. Gejala pernafasan Berat
Faktor Risiko Preeklamsia
11. Gejala
Nuliparitas
gastrointestinal
Diabetes
12. Gejala urogenital Sangat Berat
Riwayat
13. Gejala vegetative
preeklamsia
14. Tingkah laku pada
sebelumnya
saat wawancara
Usia ibu kurang dari 15
tahun atau lebih dari 35
tahun TD ≥ 140/90
mmHg pada usia
Riwayat preeklamsia kehamilan > 20
dalam keluarga minggu
Preeklamsia
Hipertensi kronik proteinuria >1+
(PE)
Penyakit ginjal kronik
Tekanan darah ≥
Kehamilan kembar 160/110 mmHg
Preeklamsia
pada usia
Sindrom antibodi antifosfolipid
Berat (PEB) kehamilan >20
Penyakit vascular kolagen minggu
Kegemukan proteinuria >2+
Kurang gizi
33
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Pada penelitian ini, desain penelitian yang digunakan adalah desain
penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Desain analitik cross
sectional merupakan penelitian yang mempelajari korelasi antara sebab
(independen) dengan akibat (dependen) dengan proses pengumpulan data
dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu (Masturoh, 2018).
B. Lokasi dan Waktu Penenlitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu Maret-Juni 2022.
2. Sampel
Sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah sampel yang telah
memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Besar sampel minimal dihitung dengan
rumus besar Slovin, dengan rumus :
n
n = 1+𝑁 (𝑑2)
Keterangan :
n = Jumlah Sampel
N = Jumlah Populasi
34
adalah:
1346
n= 2
1+ 641(0.1 )
n = 93,08
n = 93 sampel
1. Kriteria Inklusi
35
E. CARA PENGUMPULAN DATA
1. Data Sekunder
2. Data Primer
F. INSTRUMEN PENELITIAN
1. Rekam Medis
2. Instrumen Kecemasan
36
G. Kerangka Konsep
Variabel Independen:
Kecemasan
Variabel Dependen :
Cemas : ≥ 14
Preeklamsia
Tidak Cemas : 14
Preeklamsia
: Diteliti
: Memengaruhi
37
H. ALUR PENELITIAN
Populasi:
Seluruh ibu hamil di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar tahun
2021-2022.
Sampel :
Purposive Sampling Seluruh ibu hamil yang telah memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi peneliti di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar
Pengumpulan data :
Pengumpulan data menggunakan data sekunder yaitu data rekam
medik dan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
Pengelolaan data :
Analisis data dengan menggunakan uji Chi-Square,
kemudian dimasukkan dalam program SPSS
38
I. LANGKAH PENGOLAHAN DATA
1. Penyunting Data (editing)
Peneliti akan memeriksa setiap data rekam medis pasien dengan
riwayat preeklamsia
2. Pengkodean (coding)
Pengkodean data dilakukan dengan memberikan tanda atau kode
pada hasil data rekam medik dengan riwayat preeklamsia yang diambil
sesuai dengan kriteria inklusi
3. Entri Data
Entri data dilakukan dengan cara memasukkan setiap data yang di
ambil ke dalam program komputer untuk membuat distribusi frekuensi
sederhana.
4. Tabulasi (Tabulating)
Data dimasukkan dalam bentuk tabel untuk menganalisis data sesuai
tujuan penelitian
39
J. ANALISIS DATA
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk menjelaskan masing-masing
frekuensi distribusi, berupa gambaran karakteristik responden, variabel
dependen dan variabel independen.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan menggunakan uji
Chi Square untuk menguji hubungan atau pengaruh dari dua variabel
(0 − 𝐸)2
𝑥2 = ∑ 𝐸
Keterangan :
0: frekuensi observasi
E: frekuensi harapan
K. ETIK PENELITIAN
40
Menghormati segala harkat martabat manusia sebagai pribadi yang
mempunyai kebebasan berkehendak atau memilih dan bertanggung jawab
terhadap keputusannya sendiri
3. Justice
Obyek penelitian berhak menerima perlakuan yang benar dan layak serta
manfaat yang seimbang, peneliti tidak boleh mengambil kesempatan dan
keutungan dari ketidakmampuan masyarakat
41
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Penelitian ini dilaksanakan di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar
dari Tahun 2021-2022. Desain penelitian yang digunakan adalah desain
penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah populasi
seluruh ibu hamil yaitu sebanyak 1346, pengambilan sampel pada penelitian
ini menggunakan teknik Puposive sampling dengan jumlah 93 sampel yang
telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan perbandingan 1:2 yaitu
31 responden preeklamsia dan 62 responden tidak preeklamsia.
Pengumpulan data ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi
Makassar. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
aplikasi SPSS, yang terlebih dahulu dilakukan uji analisis univariat
kemudian dilanjutkan analisis uji bivariat yaitu menggunakan uji Chi-
Square.
Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan,
maka disajikan hasil penelitian sebagai berikut:
42
1. Analisis Univariat
Tabel 4.1, Tabel Karakteristik Data Ibu di Rumah Sakit Daerah Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar Tahun 2022
Karakteristik n %
Usia Ibu
< 20 Tahun 4 4.3
20-35 Tahun 71 76.3
>35 Tahun 18 19.4
Pendidikan
SD 13 14.0
SMP 43 46.2
SMA 13 14.0
S1 24 25.8
Pekerjaan
IRT 56 60.2
Wirausaha 16 17.2
PNS 21 22.6
Jarak Kehamilan
< 2 tahun 44 47.3
≥ 2 tahun 49 52.7
Paritas
Primipara 42 45.2
Multipara 49 52.7
Abortus
Ya 12 12.9
Tidak 81 87.1
Total 93 100.0
Sumber : Data Sekunder 2022
43
Distribusi data riwayat pendidikan pada Ibu dengan pendidikan SD
sebanyak 13 responden (14,0%) , SMP sebanyak 43 responden (46,2%),
SMA sebanyak 13 responden (14,0%) dan ibu dengan pendidikan S1
sebanyak 24 responden (25.8%).
Distribusi data pekerjaan pada Ibu yakni Ibu IRT sebanyak 56
responden (60,2%), sebagai wirausaha sebanyak 16 responden (17,2%), dan
ibu yang bekerja sebagai PNS sebanyak 21 responden (22,6%).
Distribusi data jarak kehamilan pada Ibu yakni < 2 tahun sebanyak
44 responden (47,3%) dan ≥ 2 tahun sebanyak 49 responden (52,7%).
Distribusi data riwayat paritas pada Ibu yakni primipara sebanyak
42 responden (45,2%) dan multipara sebanyak 49 responden (52,7%).
Distribusi data riwayat abortus pada Ibu dengan riwayat abortus
sebanyak 12 responden (12,9%) dan riwayat tidak abortus sebanyak 81
responden (87.1%).
25
20
15
10
0
74.20% 25.80%
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
29.00% 71.00%
45
2. Analisis Bivariat
Tabel 4.2 Hubungan Antara Kecemasan dengan Kejadian Preeklamsia
di Rumah Sakit Deerah Ibu dan Anak Pertiwi Makassar Tahun 2022
Preeklamsia
Total PR 95%
Kecemasan Ya Tidak CI P-value
n % n % n %
Cemas 23 56.1 18 43.9 41 100 4,646
Tidak Cemas 8 15.4 44 84.6 52 100 0,000
Total 31 33.3 62 66.7 93 100
Sumber : Data Sekunder dan Data Primer 2022
Berdasarkan tabulasi tabel 4.2, didapatkan bahwa Ibu hamil yang
mengalami kecemasan lebih banyak pada Ibu hamil preeklamsia sebanyak
23 responden (56.1%) dibandingkan dengan Ibu hamil yang tidak
mengalami preeklamsia sebanyak 18 responden (43.9 %). Sedangkan Ibu
hamil yang tidak mengalami kecemasan pada Ibu hamil preeklamsia
sebanyak 8 responden (15.4%) dan Ibu hamil yang tidak mengalami
kecemasan pada ibu yang tidak preeklamsia sebanyak 44 responden
(84.6%).
Hasil uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan
antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia (P value ≤ 0,05). Hasil
perhitungan Prevalence Ratio (PR) menunjukkan bahwa ibu hamil yang
mengalami kecemasan berisiko 4,646 kali mengalami kejadian preeklamsia
(95% CI 1,824-7,288).
46
B. Pembahasan
Berdasarkan sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi
dengan perbandingan 1:2 terdapat 31 (33.3%) orang yang mengalami
preeklamsia dan 62 (66.7%) yang tidak preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak
Pertiwi Makassar tahun 2022.
Ibu hamil preeklamsia mempunyai kecemasan tinggi dalam menghadapi
persalinan, dikarenakan risiko yang besar yang akan dihadapi oleh dirinya
maupun bayi yang dilahirkan. Kondisi tersebut akan bertambah sulit jika ibu
hamil preeklamsia memiliki perasaan-perasaan yang mengancam seperti
munculnya perasaan khawatir yang berlebihan, kecemasan dalam menghadapi
kelahiran, ketidakpahaman mengenai apa yang akan terjadi di waktu
persalinannya. Gejala-gejala tersebut akan mempengaruhi kondisi ibu hamil
preeklamsia baik secara fisik maupun psikis.
Tingginya kasus preeklamsia dalam penelitian ini juga dipengaruhi oleh
status RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar yang merupakan salah satu rumah
sakit rujukan tertinggi yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk itu
diperlukan pengetahuan yang baik agar ibu hamil dapat mendeteksi lebih dini
gejala preeklamsia, sehingga ibu hamil dapat segera mencari pertolongan bila
merasakan gejala preeklamsia.
Diharapkan seiring bertambahnya pengetahuan yang dimiliki oleh ibu, ibu
akan memeriksakan kehamilannya lebih teratur sesuai standar pemeriksaan
ANC yang mengalami peningkatan dari yang dulunya dianjurkan minimal 4 x
selama kehamilan, sekarang menjadi minimal 6 kali selama kehamilan agar
resiko terjadinya preeklamsia dapat terdeteksi sedini mungkin dan dapat
dilakukan penanganan segera. (Rosyida, 2019)
Berdasarkan dari hasil penelitian terdapat 31 responden ibu hamil yang
mengalami preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar terdapat 23
(74,2%) ibu hamil yang mengalami kecemasan dan 8 (25,8%) Ibu hamil yang tidak
mengalami kecemasan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Hardianti,dkk (2018) yang berjudul “Kecemasan, Riwayat Preeklampsia dan
47
Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil Multigravida” bahwa didapatkan hubungan
antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil dengan hasil uji
statistik Chi-Square didapatkan hasil r = 0,00 < α = 0,05.
Pada penelitian diatas, ibu hamil dengan kecemasan disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya adalah usia yang terlalu muda atau usia yang terlalu
tua, tingkat pendidikan rendah, jumlah paritas, dan pekerjaan. Usia yang terlalu
muda dapat menyebabkan belum matangnya keadaan psikis dari ibu. Usia yang
terlalu tua dapat menyebabkan ibu merasa cemas karena ibu akan merasa bahwa
kemampuan dan tenaga ibu untuk melahirkan akan berkurang atau tidak maksimal.
Pada hasil penelitian, tingkat kecemasan responden dalam kehamilan yang
paling tinggi adalah responden yang mengalami preeklamsia yaitu sebanyak 23
(74,2%) orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden yang mengalami
preeklamsia, penyebab kecemasan dan ketakutan yang terjadi diantaranya ialah :
kecemasan terhadap diri sendiri yang seperti: takut akan kematian, takut berpisah
dengan bayi yang dikandung, cemas terhadap kesehatan, khawatir terhadap rasa
nyeri pada saat persalinan, terdapat kemungkinan komplikasi saat hamil atau pada
saat bersalin, cemas tidak segera mendapat bantuan dan perawatan saat persalinan.
Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rudiyanti Novita
dengan penelitian yang berjudul “Tingkat Kecemasan pada Ibu Hamil dengan
Kejadian Preeklampsia di Sebuah RS Provinsi Lampung” dari penelitian ini
menunjukan bahwa terdapat hubungan tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan
kejadian preeklamsia P Value = 0.005
Ibu hamil dengan kecemasan dapat menyebabkan tekanan darahnya
bertambah. Preeklamsia pada ibu yang hamil dapat mengakibatkan bayi yang
dikandung akan memiliki berat lahir yang rendah, bahkan mengalami kematian.
Bayi dalam rahim dapat merasakan dan merespon apa yang sedang dirasakan
ibunya, diantaranya pada detak jantung ibu, semakin cepat detak jantung pada ibu,
semakin cepat juga pergerakan janin didalam rahim.
Ibu hamil yang mengalami kecemasan dapat meningkatkan frekuensi detak
jantung, dan ibu hamil yang mengalami hipertensi memiliki perasaan khawatir yang
48
tinggi karena senantiasa berpikir tentang bagaimana kelangsungan hidup janin
samapi masa persalinan.(Yulita, 2018)
Kecemasan merupakan sebuah emosi dan pengalaman yang bersifat subjektif
dari setiap individu. Artinya, kecemasan adalah suatu kondisi yang membuat
sesorang tidak nyaman dan terbagi dalam beberapa tingkatan. Jadi, cemas
berhubungan dengan perasaan yang tidak pasti dan keadaan yang tidak berdaya.
(Muyasaroh, 2020)
Kelainan pada sistem pengolah pusat konflik dapat mengakibatkan
peningkatan kadar hormon katekolamin, yang tidak hanya menimbulkan gejala
somatik dan afektif kecemasan, tapi juga mengakibatkan peningkatan resistensi
pada pembuluh darah perifer dan tekanan darah. (Anggraeni, 2018)
Saat hamil, terjadi peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan
gangguan perasaan dan membuat ibu cepat lelah sehingga memberikan efek cemas
pada ibu hamil. Hormon adrenalin juga mengalami peningkatan sehingga
menimbulkan disregulasi biokimia tubuh sehingga terdapat ketegangan pada fisik
ibu hamil seperti cepat marah, mudah gelisah, tidak mampu berkonsentrasi, dan
mengalami kecemasan. (Wulandari, dkk. 2019)
Perubahan pada keadaan psikologis pada kehamilan mengharuskan ibu hamil
agar dapat membiasakan diri, kecemasan merupakan bentuk dari adaptasi psikis
tersebut, tapi jika berlangsung dengan jangka waktu yang lama maka akan
menyebabkan stres yang berlebihan bahkan menjadi depresi. Pada ibu hamil yang
mengalami kecemasan dapat meningkatkan tekanan darahnya. Pada kecemasan
terjadi sekresi hormon adrenalin yang berlebihan hingga mengakibatkan tekanan
darah tinggi. (Donsu, 2017)
Terdapat respon fisiologis yang muncul ketika seseorang mengalami
keemasan yaitu, terdapat napas pendek, meningkatnya denyut nadi dan tekanan
darah, wajah yang berkerut dan bibir yang bergetar. Pada respon kognitif
didapatkan lapang persepsi melebar, dapat menerima rangsangan yang kompleks
dan masih dapat fokus serta menjelaskan situasi. Sedangkan pada respon perilaku
dan emosi yang didapatkan gemetar halus pada tangan, tidak dapat duduk dengan
tenang, serta kadang suara meninggi. (Anggraeni, 2018)
49
Aspek religius sangat penting dalam mengatasi bagaimana seseorang dapat
menerima segala sesuatu yang menimpanya, baik dalam hal positif maupun dalam
hal negatif. Jika seseorang memiliki keyakinan dengan agamanya dan Tuhannya,
maka seseorang tersebut akan lebih dapat menerima dengan lapang dada apa yang
menimpa pada kehidupannya. Salah satu bentuk religius adalah kebiasaan berzikir,
saat ibu hamil membiasakan diri untuk berzikir maka ibu hamil akan merasa dekat
dengan Allah SWT, hal tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan
aman semakin meningkat sehingga kecemasan yang dirasakan ibu hamil akan jauh
lebih berkurang. (Rahman, 2020)
Kecemasan merupakan situasi kejiwaan yang hampir selalu dirasakan oleh
setiap individu. Hal tersebut muncul jika seseorang mendapati persoalan yang berat
atau situasi yang membuat tidak tenang, sehingga timbulnya, gelisah, panik,
bingung, dan ketidaktentraman jiwa. Jika ibu senantiasa melakukan zikir, ibu akan
merasa dirinya dekat dengan Tuhan, merasa dalam penjagaan dan lindungan-Nya,
kalimat zikir yang digunakan yaitu kalimat istigfar : astagfirullahaladzim (saya
memohon ampunan kepada Allah yang maha agung) dan salawat. Kalimat zikir
tersebut dapat dibaca berulang – ulang dengan maksud dan tujuan sebagai proses
pembelajaran serta melatih untuk membangun koneksi demi meraih rida dan cinta
dari sang pencipta. (Rahman, 2020)
Jika dipandang dari segi kesehatan jiwa, doa dan zikir memiliki unsur
psikoteraupetik yang mendalam. Terapi psikoreligius juga memiliki kekuatan
spritual atau kerohanian yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan optimisme
serta menstabilkan kesehatan jiwa raga. Rasulullah SAW, dalam sabdanya:
ُ َو َرزَ قَهُ مِ ْن َح ْي، َومِ ْن ُك ِل ه ٍَم فَ َر ًجا، ق َم ْخ َر ًجا
ُث ََل يَحْ تَسِب ِ َّللاُ لَهُ مِ ْن ُك ِل
ٍ ضي َ َم ْن لَ ِز َم ِاَل ْس ِت ْغف
َّ َار َجعَ َل
“Barang siapa yang sering melakuan istigfar, maka Allah akan memberikan
kegembiraan di setiap kesedihannya dan kelapangan bagi setiap kesempitan dan
memberinya rejeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka’’ (HR. Abu Daud Ibnu
Majah dan Ahmad)
50
C. Keterbatasan Penelitian
Saat penelitian ini dilaksanakan peneliti mengalami beberapa keterbatasan
dan hambatan yaitu: Pada saat penelitian dilakukan, ada beberapa responden
yang tidak kooperatif, seperti meninggalkan proses pengisisan kuesioner di
waktu yang telah ditentukan sehingga memakan waktu yang cukup lama pada
saat dilakukan pengisian kuesioner kembali. Penelitian ini juga mengambil data
dari berkas rekam medik sehingga validitas data sangat bergantung dengan
validitas data yang terdapat dalam rekam medik.
51
BAB V
Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian dan pembahasan tentang
hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak
Pertiwi Makassar adalah sebagai berikut :
a. Sebagian besar responden memiliki usia 20-35 Tahun yaitu 71 orang (81.7 %),
pendidikan terakhir ibu hamil yang paling banyak yaitu 43 orang (46,2%),
Pekerjaan ibu hamil paling banyak tidak bekerja/ibu rumah tangga yaitu 56
orang (60,2%), paritas ibu hamil preeklamsia paling banyak multipara 49 orang
(52,7%) , semua responden ibu hamil preeklamsia menikah, dan sebagian besar
tidak ada riwayat abortus 81 orang (87,1%).
b. Responden yang mengalami preeklamsia lebih banyak mengalami kecemasan
yaitu 23 (56,1%) dibanding responden yang tidak mengalami preeklamsia 18
(43.9%).
c. Ada hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan
Anak Pertiwi Makassar
2. Saran
a. Ibu Hamil
Bagi ibu hamil disarankan agar melakukan ANC secara rutin paling sedikit
6 kali selama kehamilannya, hal tersebut dapat memberikan informasi yang
berkaitan dengan kehamilan ibu, sehingga kesehatan ibu dan janin dapat
terkontrol dengan baik.
b. Tenaga Kesehatan
Bagi tenaga kesehatan diharapkan lebih meningkatkan informasi terkait
dengan kesehatan seputar kehamilan pada ibu hamil.
c. Penelitian yang lain
Untuk peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini dengan jumlah
populasi yang berbeda misalnya pada ibu hamil dengan status paritas
52
primigravida atau multigravida dengan populasi lebih banyak lagi sehingga
hasil penelitian diharapkan akan lebih bervariasi.
Disarankan juga bagi peneliti yang menggunakan kuesioner HARS
sebagai alat penelitian pada saat pengisian kuesioner sebaiknya responden di
dampingi karena beberapa isi pertanyaan dari kuesioner tidak menggunakan
bahasa umum (bahasa medis) atau tidak dimengerti orang awam.
53
DAFTAR PUSTAKA
55
Kecemasan Menjelang Persalinan Trimester III. Jurnal Ipteks Terapan, Vol. 11,
No. 1, Maret 2017, ISSN: 1979-9292\
Nurbaedah Wa Ode Sitti (2011) Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Hamil
Trimester II Dalam Menghadapi Persalinan di Wilayah Keja Puskesmas
Katobu.
Nursal, D. G. A., Tamela, P., & Fitrayeni, F. (2017). Faktor Risiko Kejadian
Preeklamsia pada Ibu Hamil di Rsup Dr. M. Djamil Padang Tahun 2014.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 10(1), 38-44.
Parkitny, L dan McAuley, J. 2010. The Depression Anxiety Stress Scale (DASS).
Prawirohardjo, S. (2018) Ilmu kandungan. Edisi keti. PT Bina Pustaka.
Purwati and Alfi Noviyana (2020) ‘Studi Kualitatif: Kecemasan Pada Penderita
Preeklamsia’, Infokes: Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan,
10(1), pp. 23–27. doi: 10.47701/infokes.v10i1.844.
Pebriani Pongmanda, Hendra Yulita Y. Hubungan Status Gizi Dan Stress Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Lepo-Lepo
Kota Kendari Tahun 2018. 2018. 89 p.
Qiu, C. et al. (2009) ‘Preeclampsia risk in relation to maternal mood and anxiety
disorders diagnosed before or during early pregnancy’, American Journal of
Hypertension, 22(4), pp. 397–402. doi: 10.1038/ajh.2008.366.
Rahman, A. (2020) ‘Terapi Dzikir Dalam Islam Terhadap Tingkat Kecemasan Pada
Ibu Hamil’, Jurnal Tarbawi, 5(1), p. 76.
Reeder, S.J., L.L. Martin, D.K. Griffin. 2003. Maternity Nursing: Family, Newborn,
and Women’s Health Care, 18th Ed. USA: Lippincott-Raven. Terjemahan oleh
Y. Afiyanti. 2011. Keperawatan Maternitas: Kesehatan Wanita, Bayi, dan
Keluarga. Edisi 18. Jakarta: EGC.
Rengganis, I., Kedokteran, F. and Maret, U. S. (2010) ‘digilib . uns . ac . id’.
Rohmaningsih, N., & Fitrikasari, A. (2013). Hubungan antara Kualitas Tidur
dengan Tingkat Kecemasan Studi pada Mahasiswa/i Angkatan 2011 Program
Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
(Doctoral dissertation, Faculty of Medicine Diponegoro University).
Rudiyanti, N., Erike, R. 2017. Tingkat Kecemasan pada Ibu
56
Hamil dengan Kejadian Pre Eklampsia di Sebuah RS Provinsi Lampung. Jurnal
Keperawatan. Lampung : 13(2).
Rosyida, D. A. C. (2019). Pengaruh Edukasi Metode Wish and Care Program
Terhadap Perilaku Deteksi Dini Kanker Serviks. Embrio, 11(1), 8–16.
[Link]
Saito, S. 2018. Preeklamsia: Basic, Genomic, and Clinical. Japan: Springer.
Stuart, G.W. 2013. Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Singapore:
Shihab, M. Q. (2012) Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Sukarni, I. dan W.P. 2013. Buku Ajar Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.
T Kurki, V Hiilesmaa, R Raitasalo, H Mattila, O. Y. (2010) ‘Depression and anxiety
in early pregnancy and risk for preeclampsia’, 95(4), pp. 487–490.
the prenatal attachment of pregnant women with preeclampsia’, Cukurova
Medical Journal, 46(3), pp. 889–896. doi: 10.17826/cumj.894664.
Tolinggi, S., Mantulangi, K. and Nuryani (2018) ‘Kejadian Preeklamsia dan Faktor
Risiko yang Mempengaruhinya Preeclampsia Incidence and Its Related Risk
Factors’, Gorontalo Journal of Public Health, 1(2), pp. 85–91.
Triasani, D. and Hikmawati, R. (2016) ‘Hubungan Kecemasan Ibu Hamil Terhadap
Kejadian Preeklamsia Di RSUD Majalaya Kabupaten Bandung’, Jurnal Ilmiah
Bidan, 1(3), pp. 14–18. Available at: [Link]
[Link]/[Link]/jib/article/view/13.
57
Wulandari, P., Sofitamia, A. and Kustriyani, M. (2019) ‘The Effect of Guided I
magery to The Level of Anxiety of Trimester III Pregnant Woman in The
Working Area of Mijen Health Center in Semarang City’, Media Keperawatan
Indonesia, 2(1), p. 29. doi: 10.26714/mki.2.1.2019.29-37.
Yogyakarta:Fitramaya.
Yu, Y. (2013) ‘Patogenesis Kecemasan’, The Calgary Guide to Understanding
Disease.
58
Lampiran 1
59
Lampiran 2
60
Lampiran 3
61
62
Lampiran 4
63
Lampiran 5
64
65
66
67
Lampiran 5
Dengan sukarela dan tanpa paksaan menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian
ini. Apabila suatu saat merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan
persetujuan ini serta berhak untuk mengundurkan diri.
Makassar, 2022
( ) ( )
68
Lampiran 6
Nomor Responden :
Nama Responden :
Tanggal Pemeriksaan :
69
No Pertanyaan 0 1 2 3 4
1 Perasaan Ansietas
- Cemas
- Firasat Buruk
- Takut Akan Pikiran Sendiri
- Mudah Tersinggung
2 Ketegangan
- Merasa Tegang
- Lesu
- Tak Bisa Istirahat Tenang
- Mudah Terkejut
- Mudah Menangis
- Gemetar
- Gelisah
3 Ketakutan
- Pada Gelap
- Pada Orang Asing
- Ditinggal Sendiri
- Pada Binatang Besar
- Pada Keramaian Lalu Lintas
- Pada Kerumunan Orang Banyak
4 Gangguan Tidur
- Sukar Tidur
- Terbangun Malam Hari
- Tidak Nyenyak
- Bangun dengan Lesu
- Banyak Mimpi-Mimpi
- Mimpi Buruk
- Mimpi Menakutkan
5 Gangguan Kecerdasan
- Sukar Konsentrasi
- Daya Ingat Buruk
6 Perasaan Depresi
- Hilangnya Minat
- Berkurangnya Kesenangan Pada Hobi
- Sedih
- Bangun Dini Hari
- Perasaan Berubah-Ubah Sepanjang Hari
7 Gejala Somatik (Otot)
- Sakit dan Nyeri di Otot-Otot
- Kaku
- Kedutan Otot
- Gigi Gemerutuk
- Suara Tidak Stabil
70
8 Gejala Somatik (Sensorik)
- Sensasi telinga berdenging
- Penglihatan Kabur
- Muka Merah atau Pucat
- Merasa Lemah
- Perasaan ditusuk-Tusuk
9 Gejala Kardiovaskuler
- Takikardia
- Berdebar
- Nyeri di Dada
- Perasaan Lesu/Lemas Seperti Mau Pingsan
10 Gejala Respiratori
- Rasa Tertekan atau Sempit di Dada
- Perasaan Tercekik
- Sering Menarik Napas
- Napas Pendek/Sesak
11 Gejala Gastrointestinal
- Sulit Menelan
- Perut Melilit
- Gangguan Pencernaan
- Nyeri Sebelum dan Sesudah Makan
- Perasaan Terbakar di Perut
- Rasa Penuh atau Kembung
- Mual
- Muntah
- Kehilangan Berat Badan
- Sukar Buang Air Besar (Konstipasi)
12 Gejala Urogenital
- Sering Buang Air Kecil
- Tidak Dapat Menahan Air Seni
- Amenorrhoe
- Menorrhagia
13 Gejala Otonom
- Mulut Kering
- Muka Merah
- Mudah Berkeringat
- Pusing, Sakit Kepala
- Bulu-Bulu Berdiri
14 Tingkah Laku Pada Wawancara
- Gelisah
- Tidak Tenang
- Jari Gemetar
- Kerut Kening
- Muka Tegang
- Tonus Otot Meningkat
- Napas Pendek dan Cepat
- Muka Merah
Skor Total =
71
RIWAYAT HIDUP
A. Identitas Penulis
1. Nama : Muhammad Saddam
2. NIM : 70600118025
3. Jurusan : Pendidikan Dokter
4. Jenis Kelamin : Laki-laki
5. Agama : Islam
6. Alamat : Kaballangang, Pinrang.
7. Nama Orang Tua
a. Ayah : Mustari
b. Ibu : Andi Muni
B. Riwayat Pendidikan
1. SDN : 39 Batri
2. SMP : MTs Al- Badar Parepare
3. SMA : MA Al-Badar Parepare
4. S1 : Pendidikan Dokter UIN Alauddin Makassar
72