0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan86 halaman

Kecemasan dan Preeklamsia di Makassar

Skripsi ini membahas hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Pertiwi Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecemasan ibu hamil dengan terjadinya preeklamsia. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang dengan sampel sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kece

Diunggah oleh

Coco Momo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan86 halaman

Kecemasan dan Preeklamsia di Makassar

Skripsi ini membahas hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Pertiwi Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecemasan ibu hamil dengan terjadinya preeklamsia. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang dengan sampel sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kece

Diunggah oleh

Coco Momo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA

DI RSKD IBU DAN ANAK PERTIWI MAKASSAR

Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar
Sarjana Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter
Pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Oleh:

MUHAMMAD SADDAM

NIM: 70600118025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS


KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2022
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Saddam

NIM : 70600118025
Tempat/Tgl. Lahir : Pinrang, 02 September 1998
Jurusan : Pendidikan Dokter
Fakultas : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Alamat : Kaballangang, Pinrang

Judul : Hubungan Antara Kecemasan dengan Kejadian


Preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi
Makassar”.
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini
benar adalah hasil karya sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa ia
merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian
atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal
demi hukum.

Makassar, 17 Agustus 2022

Muhammad Saddam
NIM: 70600118025

ii
iii
iv
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah Swt. berkat
petunjuk dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
proposal yang berjudul “Hubungan Antara Kecemasan Dengan Kejadian
Preeklamsia Di RSKD Ibu Dan Anak Pertiwi Makassar”. Proposal ini
disusun sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar Sarjana
Kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri Alauddin Makassar.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan
proposal ini terdapat banyak kekurangan, namun penulis berusaha
semaksimal mungkin untuk menyelesaikan proposal ini dan berharap
semoga apa yang telah ditulis dalam proposal ini dapat bermanfaat bagi
banyak orang. Selesainya penyusunan proposal ini tidak lepas dari
bimbingan dari berbagai pihak dengan kerendahan hati, penulis
menyampaikan segenap rasa terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada
kedua orang tua yaitu H. Mustari dan Hj. Andi Muni dan seluruh rekan saya
yang ikut berperan dalam membantu penyusunan proposal ini.
Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan rasa terima
kasih sebesar-besarnya, rasa hormat dan penghargaan atas segala bantuan
dan dukungannya kepada:

1. Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D. selaku Rektor UIN Alauddin


Makassar beserta seluruh staf dan jajarannya.
2. Dr. dr. Syatirah, Sp.A., [Link]. selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan serta para Wakil Dekan dan Staf Akademik yang telah
membantu mengatur dan mengurus dalam hal administrasi serta bantuan
kepada penulis selama menjalankan pendidikan.
3. dr. Rini Fitriani, [Link]. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter
dan dr. Andi Tihardimanto, [Link]., [Link] selaku Sekretaris Program
Studi Pendidikan Dokter beserta dosen pengajar mata kuliah yang telah

v
memberikan ilmu yang bermanfaat selama penulis menempuh bangku
kuliah di Program Studi Pendidikan Dokter UIN Alauddin Makassar.

4. Ayahanda dr. Saharuddin, [Link]. selaku pembimbing I dan dr.


Purnamaniswaty Yunus, [Link]. selaku pembimbing II, yang telah
meluangkan waktu perbaikan kepada penulis baik dalam bentuk arahan,
bimbingan, motivasi dan pemberian informasi yang lebih aktual.
5. Penguji I dan penguji II, yang telah meluangkan waktunya terkait
perbaikan penyusunan skripsi baik dalam bentuk arahan, bimbingan,
motivasi dan pemberian informasi yang tepat.
6. Staf akademik yang telah membantu mengatur dan mengurus dalam hal
administrasi serta bantuan lainnya kepada penyusun.
7. Direktur RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar beserta seluruh staf
rumah sakit yang telah membantu.
8. Sahabat-sahabat yang selalu memotivasi, dan memberi dorongan demi
terselesaikannya proposal ini.
9. Teman-teman F18RON3KTIN angkatan 2018.
Atas segala bentuk perhatian dan bantuan dari semua pihak yang ikut
berkontribusi dalam penulisan proposal ini, penulis menghanturkan doa
kepada Allah Swt. Semoga diberikan balasan oleh-Nya dengan pahala yang
berlipat ganda. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada
semua pihak yang turut berperan dalam penyelesaian proposal ini, semoga
dapat bernilai ibadah di
sisi Allah Swt. Sekian dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Makassar, 17 Agustus 2022

Muhammad Saddam
NIM 70600118025

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ....................................................................ii

PERETUJUAN UJIAN HASIL..................................................................................iii

PENGESAHAN SKRIPSI...........................................................................................iv

KATA PENGANTAR.................................................................................................v

DAFTAR ISI...............................................................................................................vii

DAFTAR TABEL ......................................................................................................x

DAFTAR BAGAN .....................................................................................................xi

DAFTAR LAMPIRAN..............................................................................................xii

ABSTRAK...................................................................................................................xi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

A. Latar Belakang................................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 6

C. Hipotesis ......................................................................................................... 6

D. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian ....................................... 7

vii
E. Kajian Pustaka ................................................................................................10

F. Tujuan Penelitian ............................................................................................12

G. Manfaat Penelitian ..........................................................................................12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................14

A. Konsep Dasar Preeklamsia............................................................................. 14

B. Kecemasan .....................................................................................................20

C. Hubungan Kecemasan Dengan Preeklamsia....................................................25

D. Kerangka Teori ...............................................................................................33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................................34

A. Desain Penelitian.............................................................................................34

B. Lokasi dan Waktu Penenlitian .........................................................................34

C. Populasi dan Sampel .......................................................................................34

D. Teknik Pengambilan Sampel ...........................................................................34

E. Cara Pengumpulan Data ...................................................................................35

F. Instrumen Penelitian .......................................................................................36

viii
G. Kerangka Konsep ...........................................................................................37

H. Kerangka Kerja ...............................................................................................38

I. Langkah Pengolahan Data ...............................................................................39

J. Analisis Data ..................................................................................................40

K. Etika Penelitian ...............................................................................................40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................42

A. Hasil....................................................................................................................42

B. Pembahasan.........................................................................................................47

C. Keterbatasan Penelitian.......................................................................................51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................52

A. Kesimpulan..........................................................................................................52

B. Saran....................................................................................................................52

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................54

LAMPIRAN ...........................................................................................................59

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Definisi Operasional ............................................................................... 7


Tabel 1.2 Kajian Pustaka ........................................................................................10
Tabel 4.1 Tabel Karakteristik Data Ibu di Rumah Sakit Daerah Ibu dan Anak
Pertiwi Makassar Tahun 2022.................................................................43
Tabel 4.2 Hubungan Antara Kecemasan dengan Kejadian Preeklamsia
di Rumah Sakit Deerah Ibu dan Anak Pertiwi Makassar Tahun 2022.....46

x
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Teori ...................................................................................33


Bagan 3.1 Kerangka Konsep ...............................................................................37
Bagan 3.2 Kerangka Kerja...................................................................................38
Bagan 4.1 Distribusi Frekuensi Kecemasan Pada Preeklamsia………………...43
Bagan 4.2 Distribusi Frekuensi Kecemasan Pada Tidak Preeklamsia………….44

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Layak Etik..........................................................................60


Lampiran 2 Surat izin Penelitian.................................................................... 61
Lampiran 3 Dokumentasi Penelitian.............................................................. 62
Lampiran 4 Surat Selesai Penelitian...............................................................63
Lampiran 5 Hasil Pengolahan Data SPSS..................................................... 64
Lampiran 6 Persetujuan Informed Consent................................................... 68
Lampiran 7 Kuesioner Penelitian.................................................................. 69

xii
Hubungan Antara Kecemasan Dengan Kejadian Preeklamsia
Muhammad Saddam1, Saharuddin2, Purnamaniswaty Yunus3, Rini Fitriani4,
M. Galib5
1,2,3,4,5
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, Indonesia
*Email Korespondensi: muhsaddamm@[Link]
Telp: 085342415772

ABSTRAK
Latar belakang: Preeklamsia masih menjadi tiga besar penyebab kematian ibu
dalam bidang obstetri. Preeklamsia menduduki peringkat dua sebagai penyebab
kematian langsung pada ibu hamil dan mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan perasaan, keadaan
emosional yang dimiliki oleh seseorang pada saat menghadapi kenyataan atau
kejadian dalam hidupnya. Hal ini meningkatkan eksresi hormon vasoaktif atau
neuroendokrin lainnya yang dapat meningkatkan risiko hipertensi dan juga memicu
perubahan pembuluh darah sehingga menyebabkan terjadinya preeklamsia.
Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analitik korelatif,
dengan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel 93 responden (1:2) yang
dikumpulkan secara Puposive sampling.
Hasil: Hasil uji statistik diperoleh P-value ≤ 0,05 dan PR = 4,646 (95% CI 1,824-
7,288).
Kesimpulan: Pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara
kecemasan dengan kejadian preeklamsia di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan
Anak Pertiwi Makassar.

Kata kunci: Kecemasan; preeklamsia

xiii
The Relationship Between Anxiety and Occurences of Preeclampsia at Makassar
Regional Hospital of Mother and Child

Muhammad Saddam1, Saharuddin2, Purnamaniswaty Yunus3, Rini Fitriani4, M. Galib5


1,2,3,4,5
Medical Education Program, Faculty of Medicine and Health Sciences, Alauddin State
Islamic University of Makassar, Indonesia
E-mail : 1muhsaddamm@[Link]

Abstract
Preeclampsia is currency in the top three as the major cause of maternal death in obstetrics.
Preeclampsia even ranks second as a direct cause of death in pregnant women, and this number
gradually grows every year. Anxiety is a psychological aspect that describes the emotions of a
person characterized by feelings of tension and worried thoughts, especially in facing the life’s
problems. This feeling of anxiety may increase the excretion of vasoactive hormones or
neuroendocrine hormones that might increase the risk of hypertension and trigger changes in
blood vessels which may cause preeclampsia. The major purpose of this study was to examine
the relationship between anxiety and occurrences of preeclampsia. The methodological
approach used in this research was correlative analytic by using a cross sectional approach. The
samples of this research consisted of 93 respondents (1:2) selected by a purposive sampling
method. The results of the statistical data revealed that P value 0.05 and PR = 4.646 (95% CI
1.824-7.288). This study concluded that there was a significant relationship between anxiety
and occurrences of preeclampsia at Makassar Regional Hospital of Mother and Child.
Key words: Anxiety, Preeclampsia

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan satu dari sekian indikator kesuksesan
pelayanan di suatu negara. Tiap harinya, terdapat kurang lebih 830 wanita yang
meninggal disebabkan oleh masalah yang dapat dicegah berkaitan dengan kehamilan
dan persalinan. 99% di seluruh kematian ibu terjadi pada negara yang berkembang.
Terdapat kurang lebih 830 wanita meninggal karena komplikasi kehamilan atau
persalinan di seluruh dunia setiap harinya. Diantara target Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB) ialah untuk mengurangi rasio kematian ibu yang melakukan
persalinan secara global menjadi dibawah dari 70 per 100.000 kelahiran, dengan
harapan tidak ada lagi negara yang memiliki angka kematian diatas dari dua kali rata-
rata global. Komplikasi utama yang mengakibatkan hampir 75% keseluruhan kematian
ibu adalah perdarahan hebat sesudah persalinan seperti adanya infeksi, tekanan darah
yang tinggi selama kehamilan (preeklamsia dan eklamsia), komplikasi karena
persalinan, serta aborsi yang tidak sesuai prosedur. (WHO, 2018).

Preeklamsia menjadi penyebab ke tiga besar kematian ibu dalam bidang obstetri.
Preeklamsia berada pada peringkat dua sebagai alasan kematian langsung pada ibu
hamil dan mengalami peningkatan di tiap tahunnya. Pada beberapa penelitian,
kematian ibu karena preeklamsia disebabkan oleh adanya faktor risiko seperti umur
ibu, jumlah paritas, jarak kehamilan, kehamilan multi/ ganda, riwayat preeklamsia
sebelumnya, riwayat keturunan, riwayat penyakit sebelumnya diantaranya diabetes,
hipertensi dan penyakit ginjal juga beberapa faktor seperti keadaan status sosial
ekonomi, riwayat pemeriksaan ANC dan perasaan cemas. (Purwati dan Alfi Noviyana,
2020).

Terdapat lebih dari 4 juta ibu hamil mengalami preeklamsia setiap tahunnya. Setiap
tahun, diperkirakan sebanyak 50.000 sampai 70.000 wanita meninggal disebabkan oleh

1
preeklamsia serta 500.000 bayi meninggal. Preeklamsia merupakan penyebab 15– 20%
kematian ibu hamil di seluruh dunia serta penyebab utama mortalitas dan morbiditas
pada janin (Raghupathy, 2013).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, kematian pada
ibu hamil di tahun 2018 yang tercatat terdapat sebanyak 139 ibu atau 92.28 per 100.000
kelahiran hidup. Yang terdiri dari kematian pada ibu hamil sebanyak 23 ibu (16,55%),
kematian ibu bersalin sebanyak 47 (33,81%), dan kematian pada ibu nifas sebanyak 69
orang (49,64%). (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2020).

Adapun jumlah kematian ibu tahun 2019 yang dilaporkan sebanyak 144 orang atau

94.29 per 100.000 kelahiran hidup dan diantaranya terdapat 41 ibu yang meninggal
disebabkan karena preeklamsia/eklampsia. Terdiri dari kematian ibu hamil 31 orang
(22%), kematian ibu bersalin 36 orang (25%), kematian ibu nifas 77 orang (53%).
(Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2020).

Data yang didapatkan dari Rekam Medik RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar
pada tahun 2019 jumlah ibu hamil yang dirawat diruangan nifas sebanyak 958 dan yang
terdiagnosa preeklamsia sebanyak 67 orang dan pada tahun 2020 jumlah ibu hamil
yang dirawat di ruangan nifas sebanyak 1176 orang dan yang terdiagnosa preeklamsia
sebanyak 59 orang, (Rekam Medik RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar).

Kecemasan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya preeklamsia,


kecemasan ialah sensasi takut yang terus menerus tapi hanya sebatas perasaan saja dan
tidak nyata. Gejala cemas berbeda-beda setiap orang. Adapun gejalanya yaitu gelisah,
pusing, dada berdebar, tremor/gemetar dan sebagainya. Kecemasan dapat dirasakan
oleh setiap orang apabila mengalami tekanan atau perasasan mendalam yang
menyebabkan masalah psikiatri dan dapat meningkat dalam kurun waktu yang lama
(Purwati dan Alfi Noviyana, 2020).

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa ibu hamil dengan gangguan kecemasan


berkaitan dengan peningkatan risiko mengalami preeklamsia. Depresi atau kecemasan
antenatal meningkatkan eksresi hormon vasoaktif atau neuroendokrin lainnya yang
dapat meningkatkan risiko hipertensi dan juga memicu perubahan pembuluh darah dan

2
peningkatan resistensi arteri uterine yang mana hal tersebut ditemukan pada kasus
preeklamsia (Purwati and Alfi Noviyana, 2020).

Upaya untuk meminimalkan kematian ibu yang diakibatkan preeklamsia adalah


dengan cara Antenatal care (ANC) secara rutin. Tenaga kesehatan melakukan deteksi
dini pada ibu hamil melalui ANC terpadu dan memberikan informasi pada ibu hamil
agar selalu rutin dalam melakukan ANC. Diharapkan tanda gejala preeklamsia
diketahui sedini mungkin sehingga kematian akibat preeklamsia dapat menurun
(Purwati and Alfi Noviyana, 2020).

Dalam Q.S. Ar-Rad ayat 8 Allah SWT berfirman:


ّ ( ٨ ‫ش ْي ٍء ِع ْندٰ ٗه بِ ِم ْقدٰ ٍار‬
)8 :13/‫الرعد‬ ٰ ‫اْل ْر ٰحا ُم ٰو ٰما ت ْٰزدٰاد ُ ٰۗوكُ ُّل‬ ُ ‫ّللَاُ يٰ ْعلٰ ُم ٰما ت ٰ ْح ِم ُل كُ ُّل ا ُ ْن ٰثى ٰو ٰما ت ٰ ِغي‬
ٰ ْ ‫ْض‬ ‫ٰه‬
Artinya: “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan
kandungan rahim yang kurang Sempurna dan yang bertambah. dan segala sesuatu pada
sisi-Nya ada ukurannya.”

Menurut Tafsir Al-Misbah Jilid 6 ialah membuktikan kekuasaan Allah tentang


kandungan. Allah membentuk sperma untuk membuahi ovum yang kemudian akan
menempel di dinding rahim yang membentuk jenis kelamin, berat badan dan bentuk
dari janin. Allah juga mengetahui apa yang kurang di dalam rahim yang dapat
mengakibatkan janin lahir cacat atau keguguran.

Dalam Q.S. Al-A’raf Ayat 189 Allah SWT juga berfirman:

ْ ٰ‫ي ٰخلٰقٰكُ ْم ّم ِْن نَّ ْف ٍس َّواحِ دٰةٍ َّو ٰج ٰع ٰل ِم ْن ٰها زٰ ْو ٰج ٰها ِل ٰي ْس ُكنٰ اِلٰ ْي ٰه ۚا فٰلٰ َّما تٰغٰشهى ٰها ٰح ٰمل‬
ْ ‫ت ٰح ْم اًل ٰخ ِف ْيفاا فٰ ٰم َّر‬
ٓ‫ت ِب ٖه ۚفٰلٰ َّما‬ ْ ‫ه ُٰو الَّ ِذ‬
)189 :7/‫ ( اْلعراف‬١٨٩ ٰ‫صا ِل احا َّلنٰكُ ْون َّٰن مِنٰ الشهك ِِريْن‬ ٰ ‫ّللَا ٰر َّب ُه ٰما لٰ ِٕى ْن ٰات ٰ ْيتٰنٰا‬ ْ ٰ‫ا ٰثْقٰل‬
ٰ َّ‫ت د‬
ٰ ‫ع ٰوا ه‬
Artinya: “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia
menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya,
isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan
(beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri)
bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau
memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur".

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan dari jenis yang

3
satu, dan dari jenis yang satu itu diciptakan pasangannya, maka hiduplah mereka
berpasangan pria-wanita (suami-isteri) dan tenteramlah dia dengan isterinya itu. Hidup
berpasangan suami-isteri merupakan tuntutan kodrati manusia rohaniyah dan
jasmaniah. Bila seseorang telah mencapai usia dewasa, timbullah keinginan untuk
hidup berpasangan sebagai suami-isteri, dan dia akan mengalami keguncangan batin
apabila keinginan itu tidak tercapai. Sebab dalam berpasangan suami-isteri itulah
terwujud ketenteraman. Ketenteraman tidak akan terwujud dalam diri manusia diluar
hidup berpasangan suami-isteri. Maka tujuan kehadiran seorang isteri pada seorang
laki-laki di dalam agama Islam ialah menciptakan hidup berpasangan itu sendiri. Islam
mensyariatkan manusia agar mereka hidup berpasangan suami-isteri, karena dalam
situasi hidup demikian itu manusia menemukan ketenteraman dan kebahagian
rohaniyah dan jasmaniah.
Bila kedua suami-isteri itu berkumpul, mulailah isterinya mengandung benih.
Saat permulaan dari pertumbuhan benih itu terasa ringan. Pertama-tama terhentinya
haid dan selanjutnya benih itu terus berproses, perlahan-lahan. Maka ketika
kandungannya mulai berat, ibu-bapak memanjatkan doa kepada Allah agar keduanya
dianugerahi anak yang saleh, sempurna jasmani, berbudi luhur, cakap melaksanakan
tugas kewajiban sebagai manusia. Kedua, isteri itu berjanji akan mewajibkan atas
dirinya sendiri untuk bersyukur kepada Allah karena menerima nikmat itu dengan
perkataan, perbuatan dan keyakinan.
Dalam QS. As-Saffat Ayat 100 Allah SWT berfirman :
‫ ( ال ّٰۤ ه‬١٠٠ ٰ‫صلِحِ يْن‬
)100 :37/‫صفهت‬ ‫ٰربّ ِ هٰبْ ِل ْي مِنٰ ال ه‬
Artinya : “ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang yang shalih.”
Ayat ini mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim dalam perantauan memohon kepada
Tuhan agar dianugerahi seorang anak yang saleh dan taat serta dapat menolongnya
dalam menyampaikan dakwah dan mendampinginya dalam perjalanan dan menjadi
kawan dalam kesepian.
Kehadiran anak itu sebagai pengganti dari keluarga dan kaumnya yang
ditinggalkannya. Permohonan Nabi Ibrahim ini diperkenankan oleh Allah. Kepadanya
disampaikan berita gembira bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya seorang

4
anak laki-laki yang punya sifat sangat sabar.
Sifat sabar itu muncul pada waktu balig. Karena pada masa kanak-kanak sedikit
sekali didapati sifat-sifat seperti sabar, tabah, dan lapang dada. Anak remaja itu ialah
Ismail, anak laki-laki pertama dari Ibrahim, ibunya bernama Hajar istri kedua dari
Ibrahim. Putra kedua ialah Ishak, lahir kemudian sesudah Ismail dari istri pertama
Ibrahim yaitu Sarah. (Kementrian Agama RI)

Telah ditemukan di atas bahwa salah satu akibat terjadinya morbiditas dan
mortalitas ibu disebabkan karena preeklamsia. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk
meneliti tentang “Hubungan Antara Kecemasan Dengan Kejadian Preeklamsia di
RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar”. Dan apabila terdapat kasus preeklamsia yang
disebabkan oleh kecemasan pada ibu hamil perlu adanya kewaspadaan untuk terjadinya
eklamsia sehingga kita dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu
hamil akibat preeklamsia.

5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah apakah ada hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD
Ibu dan Anak Pertiwi Makassar.
C. Hipotesis
1. Hipotesis nol (H0)
Tidak ada hubungan kecemasan dengan kejadian preeklamsia pada di RSKD Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar.
2. Hipotesis alternatif (Ha)
Terdapat hubungan kecemasan dengan kejadian preeklamsia pada di RSKD Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar.

6
D. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian

1. Definisi Operasional

Tabel 1.1 Definisi Operasional

Definisi
NO Variabel Cara Ukur Kriteria Objektif Skala
Operasional

Variabel Independen

Kecemasan Perasaan khawatir Kuesioner Cemas : Skor ≥ 14 Nominal


1.
pada diri Hamilton Tidak cemas : Skor < 14
seseorang dalam Anxiety
menghadapi Rating
situasi tertentu. Scale
(HARS)

7
Tabel 1.1. Definisi Operasional (lanjutan)

NO Variabel Definisi Cara ukur Kriteria Objektif Skala


Operasional

Variabel Dependen

2. Preeklamsia Hipertensi yang Melihat • Berdasarkan data Nominal


timbul setelah usia status dan rekam medis dengan
kehamilan 20 biodata diagnosis Preeklamsia
minggu disertai pasien pada dan Preeklamsia berat.
dengan proteinuria. rekam • Seluruh
medis. diagnosis Preeklamsia
dan Preeklamsia Berat
akan dikategorikan
sebagai Preeklamsia

8
2. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar untuk
mengetahui Hubungan antara Kecemasan dengan Kejadian Preeklamsia di RSKD Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar dengan dengan melihat satus rekam medik pasien yang
sesuai dengan kriteria insklusi dan ekslusi dan kemudian melakukan pengisian
kueisoner.

9
E. Kajian Pustaka

Tabel 1.2. Kajian Pustaka

NO Peneliti Judul Metode Jumlah Cara Hasil


Sampel Pengukuran

1. (KARA and Effects of anxiety Jenis Jumlah Data Penelitian ini


NAZİK, 2021) and social support penelitian ini sampel yang dikumpulkan menunjukkan bahwa
levels on the adalah case digunakan dengan ibu hamil
prenatal attachment control 101 menggunakan preeklamsia
of pregnant women Preeklamsia formulir mengalami lebih
with preeclampsia dan 210 informasi banyak kecemasan
control pribadi, dan membutuhkan
Multidimensional lebih banyak
Scale of dukungan sosial.
Perceived Social
Support
(MSPSS), State-
Trait Anxiety
Inventory (SAI-
TAI), dan
Prenatal
Attachment
Inventory (PAI).

10
NO Peneliti Judul Metode Jumlah Cara Hasil
Sampel Pengukuran

2. Alfi Noviyana Hubungan Jenis 36 Sampel Kuesioner dan Tidak ada hubungan
dan Purwati Kecemasan dan penelitian ini data rekam secara statistik antara

(2020) Kejadian Pre adalah analitik medis kecemasan dan


kejadian preeklamsi di
Eklamsia di RSUD korelatif
RSUD Goeteng
dr. R. Goeteng dengan desain
Tarunadibrata
Tarunadibrata case control.
Purbalingga
Purbalingga

3. Anxiety during Jenis Jumlah Kuesioner dan Hasil penelitian ini


(Kordi et al.,
Pregnancy and penelitian ini sampel 150 data rekam menunjukkan bahwa
2017)
Preeclampsia: A adalah analitik ibu yang medis kecemasan
Case-Control obeservasional preeklamsia meningkatkan risiko
dengan desain dan 150 ibu terjadinya
Study
case control. dengan preeklamsia.
diagnosis
normal

4. The Relationship Desain Jumlah Menggunakan Hasil penelitian


Lidya Amal
Family Emotional penelitian sampel kuisioner menunjukkan bahwa
Huda, dkk.
SupportWith dalam sebanyak 57 kecemasan pada ibu
(2020)
Anxiety of penelitian ini ibu hamil hamil preeklampsia
Preeclamsia menggunakan preeklamsia. sebagian besar
Preganant Mother korelasional mengalami
dengan kecemasan ringan.
rancangan

11
NO Peneliti Judul Metode Jumlah Cara Hasil
Sampel Pengukuran

cross-
sectional.

F. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecemasan
dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar.

G. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk mengembangkan dan menambah
pengetahuan yang ada tentang kejadian preeklamsia dalam kehamilan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan
wawasan bagi peneliti tentang hubungan antara kecemasan dengan
kejadian preeklamsia, serta sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Pendidikan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin
Makassar.
b. Bagi institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan di
perpustakaan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin
Makassar dan sebagai acuan bagi mahasiswa yang akan melakukan
penelitian selanjutnya.

12
c. Bagi tempat penelitian
Diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi pihak RSKD
Ibu dan Anak Pertiwi Makassar dalam penyusunan perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi program upaya pencegahan preeklamsia.

3. Manfaat Komunitas
Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan pengetahuan masyarakat
tentang kecemasan dan preeklamsia.

13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Preeklamsia

1. Definisi Preeklamsia

Preeklamsia adalah timbulnya tekanan darah tinggi (hipertensi) yang disertai


dengan adanya protein dalam air kemih (proteinuria) dan edema yang muncul
setelah usia kehamilan 20 minggu sampai dengan akhir minggu pertama setelah
melahirkan (Saito, 2018). Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan dan
merupakan salah satu penyebab utama dari kesakitan dan kematian ibu hamil di
Indonesia. Preeklamsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah (hipertensi),
ditemukannya protein dan albumin dalam urine dan edema. Preeklamsia dapat
terjadi pada sekitar 3% sampai 5% (Tolinggi, Mantulangi and Nuryani, 2018).

2. Klasifikasi Preeklamsia

Klasifikasi preeklamsia terbaru tidak lagi membagi ke dua bagian yaitu


‘ringan’ dan ‘berat’, namun dibagi menjadi preeklamsia ‘disertai gejala berat’ ( with
severe features) dan ‘tanpa disertai gejala berat’ (without severe features). Hal ini
bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan pada seluruh kasus preeklamsia yang
dapat memburuk kapan saja. Selanjutnya preeklamsia tanpa disertai gejala berat
disebut sebagai PE, sedangkan preeklamsia dengan gejala berat disebut sebagai
preeklamsia berat (PEB) (Akbar dkk, 2020).

Disebut PEB jika tekanan darah sistolik > 160 mmHg, tekanan darah
diastolik > 110 mmHg, serum kreatinin >1,1 mg/dl, terdapat edema paru, kadar
trombosit < 100.000/uL dan terjadi peningkatan fungsi hati (lebih dari dua kali
normal) serta keluhan nyeri kepala, gangguan penglihatan dan nyeri ulu hati (Akbar
dkk, 2020).

Prediksi ideal untuk terjadinya PE belum didapatkan, namun didapatkan


beberapa faktor risiko yang meningkatkan insiden PE (riwayat PE dari pasien
maupun keluarga, riwayat penyakit hipertensi kronis, diabetes mellitus, penyakit

14
ginjal, trombofilia, systemic lupus erythematosus (SLE), obesitas, umur > 35 tahun,
kehamilan kembar). Beberapa prediksi PE dapat dilakukan menggunakan
pemeriksaan sederhana seperti roll over test (ROT) > 15 mmHg, mean arterial
pressure (MAP) > 90 hingga pemeriksaan Doppler velocimetry (DV) arteri uterina
(peningkatan resistensi lebih 0,7 dan atau adanya notching ) dan juga penggunaan
biomarker angiogenesis, seperti Pregnancy associated plasma protein A (PAPP-A),
soluable Fms like tyrosine kinase (sFlt) dan Placental Growth Factor (PlGF)
(Akbar dkk, 2020).

3. Etiologi Preeklamsia

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab preeklamsia, namun
dari beberapa teori menjalaskan bahwa penyebab dari preeklamsia diantaranya
ialah; adanya kehamilan ganda, meningkatnya frekuensi pada kehamilan
primigraviditas, terjadinya mola hidatidosa, obesitas pada ibu hamil, usia ibu hamil
yang kurang dari 18 tahun dan usia ibu hamil lebih dari 35 tahun. Sedangkan teori
lain juga menyebutkan bahwa preeklamsia disebabkan karena beberapa kelainan
yang disebut juga dengan the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara
lain:

a. Peran Prostasiklin dan Tromboksan

Hormon yang dikeluarkan akan menimbulkan efek perlawanan pada tubuh,


seperti organ tubuh yang kekurangan zat asam, akan terjadi penimbunan zat
pembeku darah dan pembuluh darah menyempit sehingga menyebabkan
meningkatnya tekanan darah (Sukarni, 2013).

b. Peran Faktor Imunologis

Terjadinya pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta


tidak sempurna sehingga pada kasus preeklamsia sering terjadi pada primigravida
dan tidak muncul lagi di kehamilan berikutnya (Sukarni, 2013).

c. Peran Faktor Genetik

15
Terdapat faktor risiko pada anak dari ibu yang mengalami preeklamsia dan
peranan Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS) yang berperan dalam
faktor genetik, sehingga dilakukan pemantauan fungsi ginjal lewat protein urin dan
fungsi hati dengan mengontrol menu makanan sehari-hari (Sukarni, 2013).

4. Faktor Risiko Preeklamsia

Menurut Lalage (2013) Ada beberapa faktor risiko preeklamsia yaitu;


Nuliparitas, diabetes, riwayat preeklamsia sebelumnya, usia ibu kurang dari
15 tahun atau lebih dari 35 tahun, riwayat preeklamsia dalam keluarga,
hipertensi kronik, penyakit ginjal kronik, kehamilan kembar, sindrom antibodi
antifosfolipid, penyakit vascular kolagen, kegemukan dan, kurang gizi.

5. Dampak Preeklamsia

Pada ibu hamil yang mengalami preeklamsia akan rentang berdampak


terjadinya gangguan fisik dan gangguan psikologis. Ibu hamil dengan preeklamsia
biasanya akan mengalami gangguan fisik dengan keluhan seperti pusing, nyeri pada
epigastrium serta seringnya terjadi pembengkakan (edema) di sekitar area
ekstremitas atas dan bawah bahkan sampai ke wajah, jika sudah terlalu parah akan
mengalami gangguan penglihatan. Sehingga dari beberapa gangguan fisik yang
dialami dapat membuat ibu hamil mengalami gangguan psikologis seperti
kecemasan merasa khawatir yang berlebihan, mudah marah, mudah tersinggung
dan sering mengalami ketakutan yang berlebihan karna takut mati, takut berpisah
dengan bayi dan ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah.
(Rudiyanti & Erike, 2017).

6. Patofisiologi Preeklamsia

Preeklamsia memiliki patofisiologi yang sangat kompleks, namun pada


umumnya terdapat dua tahapan terjadinya preeklamsia yaitu, dengan plasenta
abnormal (penurunan perfusi plasenta) kemungkinan hal tersebut disebabkan
karena implantasi abnormal dan adanya perkembangan abnormal dari pembuluh
darah plasenta. Pada kasus perkembangan plasenta normal ditandai dengan invasi
arteri spiralis uterus desidua dan miometrium oleh sitotrofoblas yang sangat besar.
16
Hal tersebut dapat mengubah pembuluh uterus dari kecil kemudian menjadi
bertahan sesuai dengan kapasitas caliber yang tinggi. Perubahan ini yang akan
meningkatakan aliran darah uterus yang dibutuhkan untuk mempertahankan janin
pada masa kehamilan. Selain itu juga terjadinya peningkatan tekanan oksigen, yang
merangsang sitorofoblas dan mengadopsi fenotip adhesi pada permukaan endotel.

Pada kejadian preeklamsia menunjukkan keadaan yang abnormal. Karena


invasi arteri yang terbatas pada desidua superficial, yang membuat segmen
miometrium menjadi sempit dan tidak berair. Hal tersebut dapat menyebabkan ibu
hamil kekurangan suplai darah, yang dapat menyebabkan hipoksia pada janin yang
dapat berkepanjangan dan pembentukan pembuluh darah plasenta yang
menyimpang. Jika tekanan oksigen tidak berubah maka endolisasi gagal terjadi.

Pada tahap kedua terjadi disfungsi endotel yang dikaitkan dengan protein
antiangiogenik. Ketidakseimbangan pada faktor-faktor angiogenik yang menjadi
perantara antara plasenta abnormal yang terjadi pada tahap kedua ini. Protein
antiangogenik yang disebut tirosin kinase yang larut dalam (sFlt-1) dan memblokir
reseptor transmembran untuk faktor pertumbuhan endotel vascular (VEGF) dan
menghambat pertumbuhan plasenta (PIGF). Konsentrasi sFlt-1 yang tinggi
ditunjukkan pada kejadian preeklamsia dan hal tersebut dikaitkan dengan
penurunan konsentrasi VEGF dan PIGF dalam darah. Sehingga secara klinis,
tindakan ini disebut sebagai peningkatan tekanan darah dan proteinuria dengan
melibatkan sistem multiorgan. (Uzan dkk, 2011).

7. Manifestasi Klinis Preeklamsia

Menurut Reeder dkk (2011) menyebutkan bahwa ada beberapa ciri-ciri


terjadinya preeklamsia, yaitu.

a. Terjadinya hipertensi (tekanan darah tinggi), terjadinya tekanan darah antara


140/90 mmHg yang dianggap sebagai salah satu gejala awal pada wanita hamil.

b. Proteinuria (protein dalam urin), proteinuria yang dikeluarkan antara 300 mg


atau lebih yang dikeluarkan dalam urin selama 24 jam.

17
c. Kenaikan berat badan, hal ini dinilai dari terjadinya kenaikan berat badan yang
berlebihan, dalam seminggu peningkatan BB normal adalah 0,5 kg tetapi jika
dalam seminggu BB naik mencapai 1 kg maka kemungkinan dapat dicurigai
terjadinya preeklamsia.

d. Sakit kepala yang tidak bisa sembuh jika diberikan analgesik biasa

e. Edema (pembengkakan), terjadinya pembengkakan pada area tangan, lengan


wajah dan kaki

f. Gangguan penglihatan, pandangan kabur atau terdapat bintik-bintik

g. Mengalami kebingungan atau disorientasi

h. Mual muntah yang terjadi kembali setelah pertengahan kehamilan

i. Nyeri pada epigastrium, merupakan keluhan yang sering ditemukan pada PEB,
hal tersebut disebakan adanya tekanan pada kapsula hepar akibat edema atau
perdarahan.

j. mengalami sesak napas bisa dikarenakan adanya edema paru (kelebihan cairan
di paru-paru)

8. Diagnosis Preeklamsia

Kriteria diagnosis preeklamsia meliputi tekanan darah tinggi (hipertensi) dinilai


dari tingkat diastolik dan sistolik masing-masing mencapai tekanan darah sistolik ≥
140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg dengan selisih pengukuran 4 jam, saat usia
kehamilan setelah 20 minggu, sedangkan dalam hitungan menit dapat dikatakan
hipertensi jika tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan diastolik ≥ 110 mmHg.
Untuk kriteria diagnosis proteinuria yaitu ≥ 300 mg/ 24 jam atau protein yang
diukur dengan kreatinin dalam urin yaitu ≥ 3.0 mg/dL. Terjadi edema paru,
peningkatan fungsi hati > 2 kali dan trombosit > 100.000, terdapat gangguan
serebral atau penglihatan. Tes darah bisa jadi salah satu diagnosis pendukung
dengan mengukur kadar protein yang biasa disebut faktor pertumbuhan plasenta
(PIGF), jika kadar PIGF ibu hamil tinggi maka kemungkinan besar ibu hamil tidak

18
mengalami preeklamsia, tetapi jika kadar PIGF rendah maka bisa kemungkinan
mengalami preeklamsia dengan dilakukan tes lebih lanjut (American College of
Obstetricians and Gynecologists, 2013).

9. Komplikasi Preeklamsia

Preeklamsia dapat melibatkan komplikasi pada seluruh organ:

a. Maternal: HELLP syndrome, gagal ginjal, solusio plasenta, gagal liver, edema
paru, perdarahan otak, progresitifitas menjadi eklamsia.

b. Janin: pertumbuhan janin terhambat, kematian pada janin, dan persalinan


preterm. (Akbar dkk, 2020)

10. Penatalaksanaan Preeklamsia

Pada penderita preeklamsia, kehamilan dapat terjadi sampai 37 minggu dan


kemudian dilakukan persalinan. Preeklamsia dengan gambaran klinis berat, pasien
yang dilakukan rawat inap, pencegahan dilakukan dengan pemberian MgS04,
pemberian antihipertensi bila tekanan >160/110 mmHg. Terminasi kehamilan
tergantung dari usia kehamilan. Pada kehamilan < 24 minggu, dipertimbangkan
untuk tidak diteruskan kehamilannya mengingat perawatan janin membutuhkan
waktu lama yang mungkin akan mempengaruhi kondisi ibunya. Pada usia
kehamilan 28 minggu atau lebih, dilakukan perawatan konservatif dengan
pemberian maturasi paru dengan deksametason 16 mg dan ulangan selang 24 jam
dengan dosis yang sama. Dilakukan pengakhiran kehamilan bila ada pemburukan
atau bila usia kehamilan > 34 minggu. Pada usia kehamilan > 34 minggu dapat
dilakukan pengakhiran kehamilan setelah stabilisasi ibu (Akbar dkk, 2020).

Upaya untuk meminimalkan kematian ibu yang diakibatkan preeklamsia


adalah dengan cara Antenatal care (ANC) secara rutin. Tenaga kesehatan
melakukan deteksi dini pada ibu hamil melalui ANC terpadu dan memberikan
informasi pada ibu hamil agar selalu rutin dalam melakukan ANC. Diharapkan
tanda gejala preeklamsia diketahui sedini mungkin sehingga kematian akibat
preeklamsia dapat menurun (Noviyana, 2020).

19
11. Prognosis Preeklamsia

Jika tidak disertai pemburukan pada organ-organ, prognosis baik. PE memiliki


efek jangka panjang baik terhadap ibu maupun janin, seperti terjadinya hipertensi
kronis, PE pada kehamilan selanjutnya, diabetes melitus dan kelainan
kardiovaskular pada ibu serta gangguan autisme dan beberapa kelainan kongenital
seperti hipospadia dan mikrosefali yang berhubungan dengan Intrauterine Growth
Restriction (IUGR) janin (Akbar dkk, 2020).

B. Kecemasan

1. Definisi Kecemasan

Kecemasan diartikan sebagai perasaan khawatir atau gelisah mengenai sesuatu

hasil yang tidak pasti yang mempengaruhi atau menyebabkan depresi (Kajdy and

Feduniw, 2020).

Merujuk DSM V, gangguan kecemasan merupakan kekuatan yang tidak

terkontrol, berlebihan dan kronis disertai berbagai gejala yang disebabkan

gangguan signifikan dalam kehidupan sosial atau pekerjaan atau menimbulkan

stres nyata pada seseorang. Kecemasan tersebut terjadi terus menerus (relasi

interpersonal, kesehatan, keuangan daily hassles) bahkan mengenai hal-hal kecil

(American Psychiatric Association, 2013).

2. Tingkat Kecemasan

Menurut (American Psychiatric Association, 2013), tingkat kecemasan dibagi

menjadi beberapa tingkatan yaitu sebagai berikut.

a. Kecemasan Ringan

Tingkat kecemasan ringan adalah cemas yang normal yang biasa menjadi
20
bagian di kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada

dan meningkatkan perhatian, tetapi seseorang masih mampu mengendalikan

masalah.

b. Kecemasan Sedang

Tingkat kecemasan sedang biasanya terjadi jika seseorang memusatkan hal-

hal yang penting ditandai dengan perhatian menurun, penyelesaian masalah

menurun, tidak sabar, mudah tersinggung, ketegangan otot, tanda-tanda vital

meningkat, mulai berkeringat, sering mondar-mandir, sering berkemih dan

sakit kepala.

c. Kecemasan Berat

Tingkat kecemasan berat ditandai dengan kurangnya persepsi seseorang yang

cenderung memusatkan perhatian pada sesuatu yang spesifik, dan tidak dapat

berpikir tentang hal yang lain.

d. Panik

Tingkat panik dari suatu kecemasan berhubungan dengan ketakutan karena

seseorang mengalami kehilangan kendali. Seseorang yang mengalami panik

tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik melibatkan

gangguan kepribadian misalnya terjadi peningkatan aktivitas motorik,

21
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang

menyimpang dan kehilangan pemikiran yang tidak dapat rasional.

3. Faktor yang memengaruhi kecemasan

Faktor yang memengaruhi kecemasan dibagi menjadi dua yaitu, faktor


predisposisi dan faktor presitipasi.

a. Faktor predisposisi

Faktor predisposisi biasa juga disebut dengan faktor pencetus atau


penyebab utama timbulnya gangguan pada seseorang (Azizah, 2011).
Faktor ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu.

1. Faktor biologis

Faktor ini menunjukkan bahwa regulasi otak berhubungan dengan


aktivitas neurotransmitter gamma-aminobutyric acid (GABA), yang
memiliki peranan dalam aktivitas yang berkaitan dengan mekanisme
biologis sehingga menyebabkan kondisi kecemasan. Seseorang yang
mengalami gangguan kecemasan akan memiliki penurunan anti
kecemasan yang berasal dari reseptor GABA, yang dapat membuat
seseorang lebih sensitif terhadap kecemasan hingga mengalami
kepanikan.

2. Faktor Psikologis

Dari segi psikoanalitik dapat dikatakan bahwa kecemasan adalah


terjadinya masalah emosional yang melibatkan dua elemen
keperibadian yaitu id dan superego pada seseorang. Id adalah dorongan
insting dan impuls, sedangkan superego dikendalikan oleh norma
budaya yang dimiliki individu dan dapat mencerminkan hati nurani
individu tersebut. Dari segi interpersonal kecemasan terjadi karena
adanya perasaan takut dan penolakan secara interpersonal. Sehingga
jika seseorang mengalami harga diri rendah akan mudah mengalami

22
kecemasan berat. Dari segi pandangan perilaku menunjukkan
kecemasan yang menjadi pusat frustasi yang mengakibatkan segala
sesuatu yang mengganggu akan dapat memengaruhi pencapaian
seseorang. Dalam hal ini seseorang akan sering menunjukkan
kecemasan dalam hidupnya.

3. Sosial budaya

Terjadinya kecemasan pada diri seseorang juga berkaitan dengan


sosial dan budaya, seperti keadaan ekonomi dan latar belakang
pendidikan.

b. Faktor Presipitasi

Merupakan suatu stimulus yang diperspsikan individu sebagai


tantangan bagi individu itu sendiri. Atau biasa disebut sebagai faktor
yang memperparah atau memperberat suatu keadaan (Azizah, 2011).
Faktor presipitasi dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu ancaman
integritas fisik dan ancaman terhadap sistem diri.

a. Ancaman integritas fisik mengakibatkan penurunan


kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, karena terjadinya
ketidakmampuan pada fisiologis seseorang. Ancaman ini dipengaruhi
oleh dua sumber yaitu sumber internal dan eksternal. Sumber internal
seperti; terjadinya kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun,
perubahan biologis normal dan regulasi suhu tubuh. Sedangkan sumber
eksternal seperti; terpaparnya tubuh terhadap infeksi dari virus dan
bakteri, polusi lingkungan, kekurangan nutrsi dan terjadinya
kecelakaan.

b. Ancaman terhadap sistem diri merupakan ancaman yang


melibatkan bahaya identitas, harga diri dan fungsi sosial seseorang yang
teritegrasi. Ancaman ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal
yaitu, internal seperti; munculnya kesulitan dalam penyesuian peran diri
pada situasi baru, kesulitan dalam berhubungan secara interpersonal di
23
lingkungan keluarga dan lingkungan kerja. Sedangkan sumber
eksternal seperti; merasakan kehilangan orang yang dicintai bisa karena
terjadinya perceraian dan terjadinya perubahan dalam status pekerjaan.
(Stuart, 2013).

4. Jenis Gangguan Kecemasan

Kecemasan terdiri dari dua jenis yaitu kecemasan normal dan kecemasan
patologis. Kecemasan normal merupakan suatu perasaan yang sering dialami
setiap orang. Cemas dalam batas normal ini juga merupakan respon bawaan
dalam menghadapi ancaman yang membahayakan keselamatan dan dapat
menimbulkan gangguan kognitif (khawatir) serta gangguan somatik (jantung
berdebar-debar, berkeringat, gemetar, kedinginan, dll) (Mozo, 2017).
Kecemasan patologis terjadi jika kecemasan bersifat menetap dan
menyebabkan gangguan secara fisik sehingga dapat mengganggu aktivitas
seseorang. Kecemasan patologis ini terjadi karena seseorang tidak mampu lagi
mengendalikan atau mengatasi situasi lingkungan sekitarnya (Mozo, 2017).

5. Etiologi Kecemasan
Menurut Sadock (2007) Terdapat tiga teori psikologi yang menyebutkan
tentang penyebab dari kecemasan, yaitu:
a. Teori psikoanalitik
Kecemasan sebagai tanda adanya bahaya yang tidak disadari. Kecemasan
dipandang sebagai hasil konflik psikis antara keinginan yang agresif atau
dorongan seksual yang tidak disadari dengan ancaman yang datang secara
bersamaan dari superego atau kenyataan eksternal. Sebagai respon terhadap
sinyal ini, ego menciptakan mekanisme pertahanan untuk mencegah pikiran atau
perasaan yang tidak dapat diterima keluar ke alam sadar.

b. Teori perilaku
Teori ini mengemukakan bahwa kecemasan merupakan respon yang dapat
dikondisikan sesuai dengan adanya stimulus yang spesifik berasal dari

24
lingkungan. Individu menerima rangsangan stimulus tertentu sebagai stimulus
yang tidak disukai, sehingga menyebabkan kecemasan. Setelah terjadi berulang-
ulang akhirnya akan menjadi kebiasaan untuk menghindari stimulus tersebut.

c. Teori eksistensial

Teori ini memberikan model-model dari kecemasan secara menyeluruh, di


mana tidak ada stimulus yang dapat diidentifikasi untuk perasaan cemas yang
bersifat kronik. Konsep inti dari teori ini adalah bahwa orang mengalami
perasaan hidup dalam dunia yang tanpa tujuan. Kecemasan merupakan respon
terhadap persepsi kehampaan tersebut.

Ditinjau dari aspek biologis, ada beberapa hal yang kemungkinan menjadi
penyebab dari kecemasan, antara lain:

1) Sistem saraf otonom

Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan gejala-gejala tertentu seperti:


kardiovaskuler (misalnya takikardi), muskuler (misalnya nyeri kepala),
gastrointestinal (misalnya diare), dan respirasi (misalnya takipneu).

Sistem saraf otonom pada pasien dengan gangguan kecemasan, terutama


gangguan panik, menunjukkan peningkatan tonus simpatik, beradaptasi lambat
terhadap stimulus yang berulang, dan beradaptasi secara berlebihan terhadap
stimulus dengan intensitas sedang.

2) Neurotransmiter

Ada tiga neurotransmiter utama yang berkaitan dengan kecemasan


berdasarkan penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat, yaitu:

a. Norepinefrin

Gejala-gejala kronik yang dialami oleh pasien dengan kecemasan, misalnya


serangan panik, insomnia, ketakutan, dan peningkatan aktivitas otonomik,
ditandai dengan peningkatan fungsi noradrenergik. Teori umum tentang peranan
epinefrin dalam gangguan kecemasan adalah bahwa pasien mungkin memiliki

25
sistem noradrenergik yang tidak teregulasi dengan baik disertai ledakan aktivitas
pada saat-saat tertentu.

b. Serotonin

Penelitian terhadap fungsi 5-hydroxytryptamine (5-HT) dalam gangguan


kecemasan memberikan hasil yang berbeda-beda sehingga pola abnormalitasnya
belum dapat dijelaskan.

c. Gamma-aminobutyric acid (GABA)

Peranan GABA dalam gangguan kecemasan didukung kuat oleh efikasi


benzodiazepin yang tidak diragukan lagi dalam mengatasi gangguan kecemasan.
Obat-obatan tersebut meningkatkan aktivitas GABA pada reseptor GABA tipe
A.

Para peneliti berhipotesis bahwa beberapa pasien dengan gangguan


kecemasan memiliki reseptor GABA tipe A yang abnormal, meskipun hubungan
langsung di antara keduanya belum dapat dijelaskan.

6. Tanda dan Gejala Kecemasan

Terdapat beberapa tanda dan gejala yang muncul pada pasien dengan
kecemasan, diantaranya yaitu :

a. Mengalami firasat buruk, perasaan khawatir, cemas dan mudah bingung


karena takut akan pikirannya sendiri.

b. Mengalami gangguan konsentrasi dan daya ingat.

c. Mengalami gangguan pola tidur dan sering mengalami mimpi yang


menakutkan.

d. Mudah gelisah, sering mengalami ketegangan dan gampang terkejut.

e. Jika berada dalam keramaian, akan mudah takut karena seseorang tersebut
sendirian.

f. Mengalami keluhan somatik seperti sesak napas, sakit kepala, pendengaran

26
berdenging, dan mengeluhkan rasa sakit pada tulang belakang dan otot-ototnya

(Livia Prajogo and Yudiarso, 2021).

7. Patofisiologi Kecemasan

Neurotransmitter adalah pembawa pesan kimiawi di otak yang mengatur

perasaan dan pikiran seseorang. Masalah kecemasan terkait dengan fungsi

pembawa pesan di otak yang terkait dengan ketidakseimbangan neurotransmiter

atau kimia otak. Paparan stressor menghasilkan stimulus pada sistem saraf pusat

yang selanjutnya akan menstimulasi sistem kelenjar sebagai respon fisiologis tubuh

baik secara keseluruhan maupun lokal. Tiga neurotransmitter utama yang terkait

dengan kecemasan berdasarkan penelitian adalah norephinephrine (NE), serotonin,

dan gamma-aminobutyric (GABA). Sistem norepinefrin sebagai reseptor terhadap

respon dengan neurotransmiter ke struktur otak lain yang terkait dengan

kecemasan, yaitu amigdala, hipocampus, dan korteks serebral (berpikir,

menafsirkan, dan merencanakan). Disregulasi serotonin akan berperan dalam

kecemasan seseorang yang pernah mengalami gangguan hipersensitivitas reseptor

5-HT. Aktivitas gamma-aminobutyric neurotransmitter (GABA), mengontrol

aktivitas neuron di bagian otak yang bertanggung jawab atas terjadinya suatu

peristiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, individu merespon stres dimana situasi

tersebut akan dihadapkan pada berbagai kecemasan (anxiety) yang selalu dalam

respon berkisar dari ringan, sedang, berat hingga panik (Stuart, 2012).

Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis,

perilaku, kognitif dan efektif melalui munculnya gejala atau mekanisme sebagai

upaya melawan kecemasan. Respon fisiologis pada kardiovaskuler adalah


27
palpitasi, palpitasi, tekanan darah tinggi, pingsan. Pada sistem pernapasan akan

menyebabkan napas cepat, sesak napas, rasa tercekik, tekanan pada dada. Pada

sistem neuromuskular termasuk mata berkedip, tremor, ketegangan wajah, kaki

goyah, gerakan canggung, dan kelemahan umum. Pada kulit akan menyebabkan

wajah pucat, berkeringat di sekujur tubuh, wajah memerah dan panas dingin.

Sedangkan respon perilaku berupa kecemasan, ketegangan fisik, tremor, kurang

koordinasi dan bicara cepat. Respon kognitif yang ditimbulkan adalah gangguan

perhatian, konsentrasi yang buruk, kebingungan, ketakutan akan cedera atau

kematian dan mimpi buruk. Respon afektif yang ditimbulkan adalah kecemasan,

ketegangan, ketakutan, frustrasi, mati rasa dan ketidakberdayaan (American

Psychiatric Association, 2013).

28
Jenis kelamin perempuan ( dapat
Genetis (Sejerah Teori biologis lainnya
berkaitan dengan faktor hormonal,
internal focus of control kurang, keuarga positif) (dalam penelitian)
tingkat pelaporan lebih tinggi)

Predisposisi kecemasan: Kemampuan hipokampus


untuk secara normal
Funsi yang tidak seimbang dan/ atau abnormal dari norepinefrin, mengintegrasikan stimulasi Disregulasi
serotonin, dopamine, dan gamma-aminobutric acid (GABA) mood
dari lingkungan melemah

Kerusakan
memori
Presepsi ancaman Hipokampus dan Cingulate Gyrus Ukuran hipokampus
lingkungan menyusut
Secara abnormal memproses ancaman

Modulasi Korteks Aktivitas kronis dari


Amigdala secara maladaptive hormone stress sepanjang
Prefrontal dari waktu menyebabkan Hubungan
amigdala rusak mengaktivasi respon takut matinya neuron di kuat aantara
hipokampus gangguan
kecemadan
dan depresi

Aktivitas system syaraf


Aktivasi aksis korteks
otonom dan medulla Peningkatan reaksi
hipotalamus-pituitari-
aderenal fisiologi

 Pelepasan kortisol  Pelepasan epinefrin Perasaan penuh


firasat buruk atau
Gangguan kecemasan :

Hormon stress berinteraksi dengan otak


Ketegangan yang tidak
Kondisi emosi maladaptive yang menyebabkan rasa
dan tubuh dalam berbagai mekanisme takut, khawatir, dan stress berlebih, yang ditandai oleh
menyenangkan
yang kompleks
(Yu, 2013)
29
8. Alat Ukur Kecemasan

a. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)

Salah satu alat ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan ibu
hamil preeklamsia yaitu Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) pertama
kali dikemukakan oleh Max Hamilton tahun 1959 dan dikembangkan oleh
Maslim (2013). Instrumen terdiri dari 14 pertanyaan terkait mencakup
Perasaan cemas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan
kecerdasan, perasaan depresi (murung), gejala somatik/fisik (otot), gejala
somatik/fisik (sensorik), gejala kardiovaskuler, gejala respiratory
(pernapasan), gejala gastrointestinal (pencernaan), gejala urogenital
(perkemihan dan kelamin), gejala autonomi, tingkah laku (sikap). Dengan
empat skala likert dan masing-masing skala likert diberi nilai 0,1,2,3 dan
4 yaitu skor 0 (tidak ada gejala atau keluhan); 1 (gejala ringan); 2 (gejala
sedang); 3 (gejala berat); 4 (gejala berat sekali. Skala HARS merupakan
skala baku yang memiliki validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas
menggunakan korelasi Product moment dengan nilai validitas 0,93.
Sedangkan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach didapatkan nilai
0,97 (Meranti, 2015).

b. Depression Anxiety Stress Scale (DASS)

DASS merupakan kuesioner yang berisi 42 pertanyaan yang


digunakan untuk mengukur tiga emosi negative, yaitu depresi, kecemasan,
dan stress. Kuesioner DASS bagian depresi berfokus pada rendahnya
motivasi, kepercayaan diri, dan suasana hati yang buruk/tidak baik.
Apabila DASS bagian kecemasan berfokus pada panik, ketakutan, dan
gairah fisik. Apabila DASS bagian stress berfokus pada ketegangan dan
sifat mudah tersinggung (Parkitny dan McAuley, 2010) Kemudian skor
dalam kuesioner ini yaitu antara lain :

1. Nilai 0 = tidak sesuai sama sekali, atau tidak pernah

30
2. Nilai 1 = sesuai dengan saya untuk beberapa derajat atau kadang-kadang

3. Nilai 2 = sesuai dengan saya sampai tingkat tertentu atau sering

4. Nilai 3 = sangat sesuai dengan saya, atau sering sekali

Kemudian, dari 42 pertanyaan akan dijumlahkan, dan hasil skornya tesebut


derajat kecemasan akan diketahui, antara lain :

1. Total nilai 0-7 = tidak ada kecemasan

2. Total nilai 8-9 = kecemasan ringan

3. Total nilai 10-14 = kecemasan sedang

4. Total nilai 15-19 = kecemasan berat

5. Total nilai 20< = kecemasan berat sekali.

9. Islam memandang kecemasan

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‫ب َو ََل ه ٍَم َو ََل ُح ْز ٍن َو ََل أَذًى َو ََل غ ٍَم َحتَّى‬ ٍ ‫ص‬َ ‫ب َو ََل َو‬ ٍ ‫ص‬ َ َ‫يب ْال ُم ْس ِل َم ِم ْن ن‬
ُ ‫ُص‬ ِ ‫َما ي‬
‫طا َيا ُه‬ َّ ‫ش ْو َك ِة يُشَاكُ َها ِإ ََّل َكفَّ َر‬
َ ‫َّللاُ ِب َها ِم ْن َخ‬ َّ ‫ال‬

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau


kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya
melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-
Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573) (An-Nawawi, 2015)

Dalam QS. Al-Baqarah: 250 Allah SWT juga berfirman:

َ‫ع َلى ْالقَ ْو ِم ْال ٰكف ِِريْن‬ ُ ‫ت ا َ ْقدَا َمنَا َوا ْن‬
َ ‫ص ْرنَا‬ ْ ِ‫صب ًْرا َّوثَب‬
َ ‫ع َل ْينَا‬ ْ ‫َربَّنَا ٓ اَ ْف ِر‬
َ ‫غ‬

Artinya: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah
pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir”

Umat Islam diharuskan bersabar dalam melewati cobaan dan ujian yang silih
berganti berdatangan, termasuk pada saat menghadapi kehamilan. Doa diatas

31
merupakan doa untuk meminta kesabaran kepada Allah SWT. Setiap muslim dapat
berdoa memohon kesabaran dan keikhlasan hati dalam menjalani kehidupan.
Misalnya, saat menghadapi kehamilan. Doa minta ketabahan ini bertujuan agar
tidak menghadapi masalah dengan hati kacau, emosi, marah, dan kehilangan
kendali. Sebab marah hanya dapat memperburuk masalah.

C. Hubungan Kecemasan Dengan Preeklamsia

Ibu hamil yang mengalami kecemasan dan stress dapat menyebabkan tekanan
darah naik. Perasaan cemas dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas system
saraf simpatis, perubahan tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dengan warna
kulit dan apabila tidak segera diatasi maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang,
takut dan stress. Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil dapat
menyebabkan bayi yang dilahirkan memiliki berat lahir rendah, bahkan kematian.

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya Preeklamsia pada ibu hamil
adalah kecemasan. Penelitian yang sama yang menyertakan variabel anxiety
(kecemasan) sebagai salah satu faktor risiko dari kejadian preeklamsia pada ibu
hamil mendapatkan hasil variabel kecemasan ini berkorelasi dengan kejadian
preeklamsia pada ibu hamil dan bahkan beberapa penelitian mendapatkan OR (odds
ratio)/ RR (relatives risk) bernilai tinggi. Kecemasan adalah merupakan respon
individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan,kecemasan pada suami
istri yang berkaitan dengan kelahiran termasuk dalam tingkat kecemasan sedang
(Isworo, 2012).

32
A. Kerangka Berpikir

1. Kerangka Teori

Kecemasan
1. Perasaan cemas
Faktor –faktor Kecemasan 2. Ketegangan Tidak ada

3. Ketakutan kecemasan
1. Faktor predisposisi
4. Gangguan tidur
2. Faktor presitipasi 5. Gangguan kecerdasan Ringan

6. Perasaan depresi
7. Gejala Somatik
8. Gejala sensorik Sedang

9. Gejala kardiovaskuler
10. Gejala pernafasan Berat
Faktor Risiko Preeklamsia
11. Gejala
Nuliparitas
gastrointestinal
Diabetes
12. Gejala urogenital Sangat Berat
Riwayat
13. Gejala vegetative
preeklamsia
14. Tingkah laku pada
sebelumnya
saat wawancara
Usia ibu kurang dari 15
tahun atau lebih dari 35
tahun  TD ≥ 140/90
mmHg pada usia
Riwayat preeklamsia kehamilan > 20
dalam keluarga minggu
Preeklamsia
Hipertensi kronik  proteinuria >1+
(PE)
Penyakit ginjal kronik
 Tekanan darah ≥
Kehamilan kembar 160/110 mmHg
Preeklamsia
pada usia
Sindrom antibodi antifosfolipid
Berat (PEB) kehamilan >20
Penyakit vascular kolagen minggu
Kegemukan  proteinuria >2+
Kurang gizi

33
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Pada penelitian ini, desain penelitian yang digunakan adalah desain
penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Desain analitik cross
sectional merupakan penelitian yang mempelajari korelasi antara sebab
(independen) dengan akibat (dependen) dengan proses pengumpulan data
dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu (Masturoh, 2018).
B. Lokasi dan Waktu Penenlitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu Maret-Juni 2022.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Rumah Sakit Ibu dan
Anak Pertiwi Makassar tahun 2021 yaitu sebanyak 1346.

2. Sampel
Sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah sampel yang telah
memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Besar sampel minimal dihitung dengan
rumus besar Slovin, dengan rumus :

n
n = 1+𝑁 (𝑑2)
Keterangan :

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah Populasi

(d)2 = Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (10%=0,1)

Besar populasi 1346 responden, maka dapat di tentukan besar sampel

34
adalah:
1346
n= 2
1+ 641(0.1 )

n = 93,08
n = 93 sampel

Berdasarkan perhitungan jumlah diatas, maka ditentukan jumlah sampel


preeklamsia dan tidak preeklamsia dengan perbandingan 1:2 dengan
jumlah sampel 93 responden yaitu 31 responden preeklamsia dan 62
responden tidak preeklamsia.

D. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Penelitian ini menggunakan teknik Non Probability Sampling dengan


jenis Puposive sampling dimana penentuan sampel disesuaikan dengan
kriteria inklusi dan ekslusi berdasarkan tujuan penelitian.

1. Kriteria Inklusi

a. Ibu hamil di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar


b. Umur kehamilan ≥20 minggu
c. Rekam medik Lengkap
d. Mampu berkomunikasi dengan baik dan bersedia mengikuti
penelitian dengan mengisi Informed Consent
2. Kriteria Ekslusi

a. Riwayat penyakit hipertensi kronis


b. Kehamilan ganda
c. Riwayat penyakit ginjal

35
E. CARA PENGUMPULAN DATA

1. Data Sekunder

Data sekunder didapatkan dengan cara melihat data rekam


medik di Rumah Sakit yaitu data pasien yang mengalami
preeklamsia.

2. Data Primer

Data primer didapatkan dengan cara memberika kueisioner kepada


responden yang telah memenuhi kriteria insklusi dan ekslusi dari
data rekam medik.

F. INSTRUMEN PENELITIAN

1. Rekam Medis

Penelitian ini di lakukan menggunakan data rekam medik di


Rumah Sakit yaitu data pasien yang mengalami preeklamsia.

2. Instrumen Kecemasan

Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dikemukakan oleh Max


Hamilton tahun 1959 dan dikembangkan oleh Sativa (2018). Instrumen
terdiri dari 14 pertanyaan mencakup Perasaan cemas, ketegangan,
ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan, perasaan depresi
(murung), gejala somatik/fisik (otot), gejala somatik/fisik (sensorik),
gejala kardiovaskuler, gejala respiratory (pernapasan), gejala
gastrointestinal (pencernaan), gejala urogenital (perkemihan dan
kelamin), gejala autonomi, tikah laku (sikap). Dengan empat skala likert
dan masing-masing skala likert diberi nilai 0,1,2,3 dan 4 yaitu skor 0
(tidak ada gejala atau keluhan); 1 (gejala ringan); 2 (gejala sedang); 3
(gejala berat); 4 (gejala berat sekali. Dengan nilai kecemasan 14-20
kecemasan ringan, 21-27 kecemasan sedang, 28-41 kecemasan berat,
42-56 kecemasan berat.

36
G. Kerangka Konsep

Variabel Independen:
Kecemasan

Variabel Dependen :
 Cemas : ≥ 14
Preeklamsia
 Tidak Cemas :  14

 Preeklamsia

Keterangan :  Tidak Preeklamsia

: Diteliti

: Memengaruhi

37
H. ALUR PENELITIAN

Populasi:

Seluruh ibu hamil di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar tahun
2021-2022.

Sampel :
Purposive Sampling Seluruh ibu hamil yang telah memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi peneliti di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar

Pengumpulan data :
Pengumpulan data menggunakan data sekunder yaitu data rekam
medik dan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)

Pengelolaan data :
Analisis data dengan menggunakan uji Chi-Square,
kemudian dimasukkan dalam program SPSS

Penyajian data dan pembahasan

Kesimpulan hasil penelitian

38
I. LANGKAH PENGOLAHAN DATA
1. Penyunting Data (editing)
Peneliti akan memeriksa setiap data rekam medis pasien dengan
riwayat preeklamsia

2. Pengkodean (coding)
Pengkodean data dilakukan dengan memberikan tanda atau kode
pada hasil data rekam medik dengan riwayat preeklamsia yang diambil
sesuai dengan kriteria inklusi

3. Entri Data
Entri data dilakukan dengan cara memasukkan setiap data yang di
ambil ke dalam program komputer untuk membuat distribusi frekuensi
sederhana.

4. Tabulasi (Tabulating)
Data dimasukkan dalam bentuk tabel untuk menganalisis data sesuai
tujuan penelitian

5. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi


Dalam penelitian, peneliti akan melakukan penarikan kesimpulan
dan verifikasi dengan cara mencari makna hubungan antara variabel yang
telah di teliti dan ditulis dalam bentuk narasi.

39
J. ANALISIS DATA
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk menjelaskan masing-masing
frekuensi distribusi, berupa gambaran karakteristik responden, variabel
dependen dan variabel independen.

2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan menggunakan uji

Chi Square untuk menguji hubungan atau pengaruh dari dua variabel

kategorik dan mengukur kuatnya hubungan antara kedua variabel.

Rumus uji Chi Square :

(0 − 𝐸)2
𝑥2 = ∑ 𝐸

Keterangan :

x²: chi square

0: frekuensi observasi

E: frekuensi harapan

K. ETIK PENELITIAN

Dalam melakukan sebuah penilitian wajib mengajukan permohonan


persetujuan etik penelitian ke komite etik penelitian kesehatan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Adapun prinsip-prinsip etika penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Respect for the person

40
Menghormati segala harkat martabat manusia sebagai pribadi yang
mempunyai kebebasan berkehendak atau memilih dan bertanggung jawab
terhadap keputusannya sendiri

2. Beneficence dan nonmaleficence

Berkewajiban untuk membantu orang lain dengan dengan berbuat baik


dan tidak merugikan siapapun

3. Justice
Obyek penelitian berhak menerima perlakuan yang benar dan layak serta
manfaat yang seimbang, peneliti tidak boleh mengambil kesempatan dan
keutungan dari ketidakmampuan masyarakat

41
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Penelitian ini dilaksanakan di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar
dari Tahun 2021-2022. Desain penelitian yang digunakan adalah desain
penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah populasi
seluruh ibu hamil yaitu sebanyak 1346, pengambilan sampel pada penelitian
ini menggunakan teknik Puposive sampling dengan jumlah 93 sampel yang
telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan perbandingan 1:2 yaitu
31 responden preeklamsia dan 62 responden tidak preeklamsia.
Pengumpulan data ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi
Makassar. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
aplikasi SPSS, yang terlebih dahulu dilakukan uji analisis univariat
kemudian dilanjutkan analisis uji bivariat yaitu menggunakan uji Chi-
Square.
Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan,
maka disajikan hasil penelitian sebagai berikut:

42
1. Analisis Univariat
 Tabel 4.1, Tabel Karakteristik Data Ibu di Rumah Sakit Daerah Ibu
dan Anak Pertiwi Makassar Tahun 2022

Karakteristik n %
Usia Ibu
< 20 Tahun 4 4.3
20-35 Tahun 71 76.3
>35 Tahun 18 19.4

Pendidikan
SD 13 14.0
SMP 43 46.2
SMA 13 14.0
S1 24 25.8
Pekerjaan
IRT 56 60.2
Wirausaha 16 17.2
PNS 21 22.6

Jarak Kehamilan
< 2 tahun 44 47.3
≥ 2 tahun 49 52.7
Paritas
Primipara 42 45.2
Multipara 49 52.7

Abortus
Ya 12 12.9
Tidak 81 87.1
Total 93 100.0
Sumber : Data Sekunder 2022

Berdasarkan tabel 4.1, Karakteristik data, didapatkan distribusi data


usia pada < 20 tahun yakni sebanyak 4 responden (4,3%), ibu berusia 20-35
tahun sebanyak 71 responden (76,3%), dan ibu dengan usia > 35 tahun
sebanyak 18 responden ( 19,4%).

43
Distribusi data riwayat pendidikan pada Ibu dengan pendidikan SD
sebanyak 13 responden (14,0%) , SMP sebanyak 43 responden (46,2%),
SMA sebanyak 13 responden (14,0%) dan ibu dengan pendidikan S1
sebanyak 24 responden (25.8%).
Distribusi data pekerjaan pada Ibu yakni Ibu IRT sebanyak 56
responden (60,2%), sebagai wirausaha sebanyak 16 responden (17,2%), dan
ibu yang bekerja sebagai PNS sebanyak 21 responden (22,6%).
Distribusi data jarak kehamilan pada Ibu yakni < 2 tahun sebanyak
44 responden (47,3%) dan ≥ 2 tahun sebanyak 49 responden (52,7%).
Distribusi data riwayat paritas pada Ibu yakni primipara sebanyak
42 responden (45,2%) dan multipara sebanyak 49 responden (52,7%).
Distribusi data riwayat abortus pada Ibu dengan riwayat abortus
sebanyak 12 responden (12,9%) dan riwayat tidak abortus sebanyak 81
responden (87.1%).

Distribusi Frekuensi Kecemasan Pada Preeklamsia

25

20

15

10

0
74.20% 25.80%

Cemas Tidak cemas

Bagan 4.1, Distribusi Frekuensi Kecemasan Pada Preeklamsia


Dari bagan 4.1 di atas terdapat keterangan karakteristik variabel
preeklamsia.
44
Dari jumlah sampel sebanyak 31 (100%), terdapat 23 (74,2%) ibu hamil
yang mengalami kecemasan dengan status preeklamsia dan 8 (25,8%) Ibu
hamil yang tidak mengalami kecemasan dengan status preeklamsia.

Distribusi Frekuensi Kecemasan Pada Tidak Preeklamsia

45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
29.00% 71.00%

Cemas Tidak cemas

Bagan 4.2, Distribusi Frekuensi Kecemasan Pada Tidak


Preeklamsia
Dari bagan 4.2 di atas terdapat keterangan karakteristik variabel
preeklamsia. Dari jumlah sampel sebanyak 62 (100%), terdapat 18 (29,0%)
ibu hamil yang mengalami kecemasan dengan status tidak preeklamsia dan
44 (71,0%) Ibu hamil yang tidak mengalami kecemasan dengan status tidak
preeklamsia.

45
2. Analisis Bivariat
 Tabel 4.2 Hubungan Antara Kecemasan dengan Kejadian Preeklamsia
di Rumah Sakit Deerah Ibu dan Anak Pertiwi Makassar Tahun 2022
Preeklamsia
Total PR 95%
Kecemasan Ya Tidak CI P-value
n % n % n %
Cemas 23 56.1 18 43.9 41 100 4,646
Tidak Cemas 8 15.4 44 84.6 52 100 0,000
Total 31 33.3 62 66.7 93 100
Sumber : Data Sekunder dan Data Primer 2022
Berdasarkan tabulasi tabel 4.2, didapatkan bahwa Ibu hamil yang
mengalami kecemasan lebih banyak pada Ibu hamil preeklamsia sebanyak
23 responden (56.1%) dibandingkan dengan Ibu hamil yang tidak
mengalami preeklamsia sebanyak 18 responden (43.9 %). Sedangkan Ibu
hamil yang tidak mengalami kecemasan pada Ibu hamil preeklamsia
sebanyak 8 responden (15.4%) dan Ibu hamil yang tidak mengalami
kecemasan pada ibu yang tidak preeklamsia sebanyak 44 responden
(84.6%).
Hasil uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan
antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia (P value ≤ 0,05). Hasil
perhitungan Prevalence Ratio (PR) menunjukkan bahwa ibu hamil yang
mengalami kecemasan berisiko 4,646 kali mengalami kejadian preeklamsia
(95% CI 1,824-7,288).

46
B. Pembahasan
Berdasarkan sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi
dengan perbandingan 1:2 terdapat 31 (33.3%) orang yang mengalami
preeklamsia dan 62 (66.7%) yang tidak preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak
Pertiwi Makassar tahun 2022.
Ibu hamil preeklamsia mempunyai kecemasan tinggi dalam menghadapi
persalinan, dikarenakan risiko yang besar yang akan dihadapi oleh dirinya
maupun bayi yang dilahirkan. Kondisi tersebut akan bertambah sulit jika ibu
hamil preeklamsia memiliki perasaan-perasaan yang mengancam seperti
munculnya perasaan khawatir yang berlebihan, kecemasan dalam menghadapi
kelahiran, ketidakpahaman mengenai apa yang akan terjadi di waktu
persalinannya. Gejala-gejala tersebut akan mempengaruhi kondisi ibu hamil
preeklamsia baik secara fisik maupun psikis.
Tingginya kasus preeklamsia dalam penelitian ini juga dipengaruhi oleh
status RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar yang merupakan salah satu rumah
sakit rujukan tertinggi yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk itu
diperlukan pengetahuan yang baik agar ibu hamil dapat mendeteksi lebih dini
gejala preeklamsia, sehingga ibu hamil dapat segera mencari pertolongan bila
merasakan gejala preeklamsia.
Diharapkan seiring bertambahnya pengetahuan yang dimiliki oleh ibu, ibu
akan memeriksakan kehamilannya lebih teratur sesuai standar pemeriksaan
ANC yang mengalami peningkatan dari yang dulunya dianjurkan minimal 4 x
selama kehamilan, sekarang menjadi minimal 6 kali selama kehamilan agar
resiko terjadinya preeklamsia dapat terdeteksi sedini mungkin dan dapat
dilakukan penanganan segera. (Rosyida, 2019)
Berdasarkan dari hasil penelitian terdapat 31 responden ibu hamil yang
mengalami preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak Pertiwi Makassar terdapat 23
(74,2%) ibu hamil yang mengalami kecemasan dan 8 (25,8%) Ibu hamil yang tidak
mengalami kecemasan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Hardianti,dkk (2018) yang berjudul “Kecemasan, Riwayat Preeklampsia dan
47
Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil Multigravida” bahwa didapatkan hubungan
antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil dengan hasil uji
statistik Chi-Square didapatkan hasil r = 0,00 < α = 0,05.
Pada penelitian diatas, ibu hamil dengan kecemasan disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya adalah usia yang terlalu muda atau usia yang terlalu
tua, tingkat pendidikan rendah, jumlah paritas, dan pekerjaan. Usia yang terlalu
muda dapat menyebabkan belum matangnya keadaan psikis dari ibu. Usia yang
terlalu tua dapat menyebabkan ibu merasa cemas karena ibu akan merasa bahwa
kemampuan dan tenaga ibu untuk melahirkan akan berkurang atau tidak maksimal.
Pada hasil penelitian, tingkat kecemasan responden dalam kehamilan yang
paling tinggi adalah responden yang mengalami preeklamsia yaitu sebanyak 23
(74,2%) orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden yang mengalami
preeklamsia, penyebab kecemasan dan ketakutan yang terjadi diantaranya ialah :
kecemasan terhadap diri sendiri yang seperti: takut akan kematian, takut berpisah
dengan bayi yang dikandung, cemas terhadap kesehatan, khawatir terhadap rasa
nyeri pada saat persalinan, terdapat kemungkinan komplikasi saat hamil atau pada
saat bersalin, cemas tidak segera mendapat bantuan dan perawatan saat persalinan.
Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rudiyanti Novita
dengan penelitian yang berjudul “Tingkat Kecemasan pada Ibu Hamil dengan
Kejadian Preeklampsia di Sebuah RS Provinsi Lampung” dari penelitian ini
menunjukan bahwa terdapat hubungan tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan
kejadian preeklamsia P Value = 0.005
Ibu hamil dengan kecemasan dapat menyebabkan tekanan darahnya
bertambah. Preeklamsia pada ibu yang hamil dapat mengakibatkan bayi yang
dikandung akan memiliki berat lahir yang rendah, bahkan mengalami kematian.
Bayi dalam rahim dapat merasakan dan merespon apa yang sedang dirasakan
ibunya, diantaranya pada detak jantung ibu, semakin cepat detak jantung pada ibu,
semakin cepat juga pergerakan janin didalam rahim.
Ibu hamil yang mengalami kecemasan dapat meningkatkan frekuensi detak
jantung, dan ibu hamil yang mengalami hipertensi memiliki perasaan khawatir yang

48
tinggi karena senantiasa berpikir tentang bagaimana kelangsungan hidup janin
samapi masa persalinan.(Yulita, 2018)
Kecemasan merupakan sebuah emosi dan pengalaman yang bersifat subjektif
dari setiap individu. Artinya, kecemasan adalah suatu kondisi yang membuat
sesorang tidak nyaman dan terbagi dalam beberapa tingkatan. Jadi, cemas
berhubungan dengan perasaan yang tidak pasti dan keadaan yang tidak berdaya.
(Muyasaroh, 2020)
Kelainan pada sistem pengolah pusat konflik dapat mengakibatkan
peningkatan kadar hormon katekolamin, yang tidak hanya menimbulkan gejala
somatik dan afektif kecemasan, tapi juga mengakibatkan peningkatan resistensi
pada pembuluh darah perifer dan tekanan darah. (Anggraeni, 2018)
Saat hamil, terjadi peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan
gangguan perasaan dan membuat ibu cepat lelah sehingga memberikan efek cemas
pada ibu hamil. Hormon adrenalin juga mengalami peningkatan sehingga
menimbulkan disregulasi biokimia tubuh sehingga terdapat ketegangan pada fisik
ibu hamil seperti cepat marah, mudah gelisah, tidak mampu berkonsentrasi, dan
mengalami kecemasan. (Wulandari, dkk. 2019)
Perubahan pada keadaan psikologis pada kehamilan mengharuskan ibu hamil
agar dapat membiasakan diri, kecemasan merupakan bentuk dari adaptasi psikis
tersebut, tapi jika berlangsung dengan jangka waktu yang lama maka akan
menyebabkan stres yang berlebihan bahkan menjadi depresi. Pada ibu hamil yang
mengalami kecemasan dapat meningkatkan tekanan darahnya. Pada kecemasan
terjadi sekresi hormon adrenalin yang berlebihan hingga mengakibatkan tekanan
darah tinggi. (Donsu, 2017)
Terdapat respon fisiologis yang muncul ketika seseorang mengalami
keemasan yaitu, terdapat napas pendek, meningkatnya denyut nadi dan tekanan
darah, wajah yang berkerut dan bibir yang bergetar. Pada respon kognitif
didapatkan lapang persepsi melebar, dapat menerima rangsangan yang kompleks
dan masih dapat fokus serta menjelaskan situasi. Sedangkan pada respon perilaku
dan emosi yang didapatkan gemetar halus pada tangan, tidak dapat duduk dengan
tenang, serta kadang suara meninggi. (Anggraeni, 2018)
49
Aspek religius sangat penting dalam mengatasi bagaimana seseorang dapat
menerima segala sesuatu yang menimpanya, baik dalam hal positif maupun dalam
hal negatif. Jika seseorang memiliki keyakinan dengan agamanya dan Tuhannya,
maka seseorang tersebut akan lebih dapat menerima dengan lapang dada apa yang
menimpa pada kehidupannya. Salah satu bentuk religius adalah kebiasaan berzikir,
saat ibu hamil membiasakan diri untuk berzikir maka ibu hamil akan merasa dekat
dengan Allah SWT, hal tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan
aman semakin meningkat sehingga kecemasan yang dirasakan ibu hamil akan jauh
lebih berkurang. (Rahman, 2020)
Kecemasan merupakan situasi kejiwaan yang hampir selalu dirasakan oleh
setiap individu. Hal tersebut muncul jika seseorang mendapati persoalan yang berat
atau situasi yang membuat tidak tenang, sehingga timbulnya, gelisah, panik,
bingung, dan ketidaktentraman jiwa. Jika ibu senantiasa melakukan zikir, ibu akan
merasa dirinya dekat dengan Tuhan, merasa dalam penjagaan dan lindungan-Nya,
kalimat zikir yang digunakan yaitu kalimat istigfar : astagfirullahaladzim (saya
memohon ampunan kepada Allah yang maha agung) dan salawat. Kalimat zikir
tersebut dapat dibaca berulang – ulang dengan maksud dan tujuan sebagai proses
pembelajaran serta melatih untuk membangun koneksi demi meraih rida dan cinta
dari sang pencipta. (Rahman, 2020)
Jika dipandang dari segi kesehatan jiwa, doa dan zikir memiliki unsur
psikoteraupetik yang mendalam. Terapi psikoreligius juga memiliki kekuatan
spritual atau kerohanian yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan optimisme
serta menstabilkan kesehatan jiwa raga. Rasulullah SAW, dalam sabdanya:
ُ ‫ َو َرزَ قَهُ مِ ْن َح ْي‬، ‫ َومِ ْن ُك ِل ه ٍَم فَ َر ًجا‬، ‫ق َم ْخ َر ًجا‬
ُ‫ث ََل يَحْ تَسِب‬ ِ ‫َّللاُ لَهُ مِ ْن ُك ِل‬
ٍ ‫ضي‬ َ ‫َم ْن لَ ِز َم ِاَل ْس ِت ْغف‬
َّ ‫َار َجعَ َل‬
“Barang siapa yang sering melakuan istigfar, maka Allah akan memberikan
kegembiraan di setiap kesedihannya dan kelapangan bagi setiap kesempitan dan
memberinya rejeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka’’ (HR. Abu Daud Ibnu
Majah dan Ahmad)

50
C. Keterbatasan Penelitian
Saat penelitian ini dilaksanakan peneliti mengalami beberapa keterbatasan
dan hambatan yaitu: Pada saat penelitian dilakukan, ada beberapa responden
yang tidak kooperatif, seperti meninggalkan proses pengisisan kuesioner di
waktu yang telah ditentukan sehingga memakan waktu yang cukup lama pada
saat dilakukan pengisian kuesioner kembali. Penelitian ini juga mengambil data
dari berkas rekam medik sehingga validitas data sangat bergantung dengan
validitas data yang terdapat dalam rekam medik.

51
BAB V
Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan
Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian dan pembahasan tentang
hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan Anak
Pertiwi Makassar adalah sebagai berikut :
a. Sebagian besar responden memiliki usia 20-35 Tahun yaitu 71 orang (81.7 %),
pendidikan terakhir ibu hamil yang paling banyak yaitu 43 orang (46,2%),
Pekerjaan ibu hamil paling banyak tidak bekerja/ibu rumah tangga yaitu 56
orang (60,2%), paritas ibu hamil preeklamsia paling banyak multipara 49 orang
(52,7%) , semua responden ibu hamil preeklamsia menikah, dan sebagian besar
tidak ada riwayat abortus 81 orang (87,1%).
b. Responden yang mengalami preeklamsia lebih banyak mengalami kecemasan
yaitu 23 (56,1%) dibanding responden yang tidak mengalami preeklamsia 18
(43.9%).
c. Ada hubungan antara kecemasan dengan kejadian preeklamsia di RSKD Ibu dan
Anak Pertiwi Makassar
2. Saran
a. Ibu Hamil
Bagi ibu hamil disarankan agar melakukan ANC secara rutin paling sedikit
6 kali selama kehamilannya, hal tersebut dapat memberikan informasi yang
berkaitan dengan kehamilan ibu, sehingga kesehatan ibu dan janin dapat
terkontrol dengan baik.
b. Tenaga Kesehatan
Bagi tenaga kesehatan diharapkan lebih meningkatkan informasi terkait
dengan kesehatan seputar kehamilan pada ibu hamil.
c. Penelitian yang lain
Untuk peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini dengan jumlah
populasi yang berbeda misalnya pada ibu hamil dengan status paritas
52
primigravida atau multigravida dengan populasi lebih banyak lagi sehingga
hasil penelitian diharapkan akan lebih bervariasi.
Disarankan juga bagi peneliti yang menggunakan kuesioner HARS
sebagai alat penelitian pada saat pengisian kuesioner sebaiknya responden di
dampingi karena beberapa isi pertanyaan dari kuesioner tidak menggunakan
bahasa umum (bahasa medis) atau tidak dimengerti orang awam.

53
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, M. I. A., Tjokroprawiro, B. A., & Hendarto, H. (2020). Obstetri Praktis


Komprehensif (Vol. 1). Airlangga University Press.
Al-Jauziyyah, I. I. Q. (2020) Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib.
Bethsaida, Janiwarty., dan Pieter, Herri Zan. (2013). Pendidikan Psikologi
American College of Obstetricans and Gynecologists (ACOG). 2013.
Hypertension in Pregnancy. Washington DC: Women Health Care
Physicians.
American Psychiatric Association. (2013). ‘Diagnostic and Statistical Manual of
Mentall Disorder’, American Psychiatric Publishing: Washington.

An-Nawawi, I. (2015) Riyadhus Shalihin. Pustaka Al-Kautsar.


Bidan. Yogyakarta: Rapha Publishing
Corwin, Elizabeth J., 2000. Bab 11. Sistem Kardiovaskular. Dalam Buku Saku
Patofisiologi. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC, pp. 358-9
Cunningham, FG.,(2013). Obstetri Williams (Williams Obstetri) .
Jakarta : EGC Departemen Agama RI. (2012). ‘Al – Quran dan
Terjemahannya’. Departemen Agama RI: Jakarta.
Dewi Nadia Nurhasanah, Indriani, 2016, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
Kejadian Preeklamsia pda Ibu Hamil di RSUD Penembahan Senopati Bantul,
Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah, Universitas Aisyiyah Yogyakarta
diakses tanggal 15 Oktober 2021
Elsevier. Terjemahan oleh Keliat. 2016. Prinsip dan Praktik Keperawatan
Kesehatan Jiwa Stuart. Edisi 1. Jakarta: Elsevier.
Faridah Kusumawati, H. Y. (2011) Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta.
Hardianti FA, Mairo QKN. Kecemasan, Riwayat Preeklampsia dan Kejadian
Preeklampsia Pada Ibu Hamil Multigravida. J Appl Nurs (Jurnal Keperawatan
Ter. 2018;4(1):21.

Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Journal of Physiotherapy. 65: 204.


Kajdy, A. and Feduniw (2020) ‘Risk factors for anxiety and depression among
54
pregnant women during the COVID-19 pandemic: A web-based cross-
sectional survey’, Medicine, 99(30), p. e21279. doi:
10.1097/MD.0000000000021279.
KARA, P. and NAZİK, E. (2021) ‘Effects of anxiety and social support levels on
Kemenkes RI. 2015. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
Kordi, M. et al. (2017) ‘Anxiety during pregnancy and preeclampsia: a case -
control study’, Journal of Midwifery and Reproductive Health, 5(1), pp. 814–
820. doi: 10.22038/jmrh.2016.7881.

Kusmiyati, Yuni, dkk. 2009. Hubungan kecemasan dengan hipertensi.


Lalage, Z. 2013. Menghadapi Kehamilan Beresiko Tinggi. Edisi 1. Klaten: Abata
Press.
Lalenoh, D. C. 2018. Preeklamsia Berat dan Eklampsia: Tatalaksana Anestesia
Perioperatif. Edisi Pertama. Yogyakarta: Deepublish.
Livia Prajogo, S. and Yudiarso, A. (2021) ‘Metaanalisis Efektivitas Acceptance and
Commitment Therapy untuk Menangani Gangguan Kecemasan Umum’,
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 26(1), pp. 85–100.
doi: 10.20885/psikologika.vol26.iss1.art5.
Manuaba (2012) Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.
Masturoh, I. (2018) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta Selatan: Pusat
Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan. MENENTUKAN
KECEMASAN PADA HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale), Universitas
Muhammadiyah Jember.
Muyasaroh H. Kajian Jenis Kecemasan Masyarakat Cilacap dalam menghadapi
Pandemi Covid 19. LP2M UNUGHA Cilacap [Internet]. 2020;3. Available
from: [Link]

Meranti, D, (2015). IMPLEMENTASI METODE BAYESIAN DALAM


Mozo, B.S, (2017). ‘Journal of Chemical Information and Modeling’. Jakarta.
Noviyana, A. (2020). Studi Kualitatif: Kecemasan pada Penderita Preeklamsia.
Infokes: Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan, 10(1), 23-27.
Novriani, Wira., dan Sari, Febria Syafyu. (2017). Dukungan Keluarga dengan

55
Kecemasan Menjelang Persalinan Trimester III. Jurnal Ipteks Terapan, Vol. 11,
No. 1, Maret 2017, ISSN: 1979-9292\
Nurbaedah Wa Ode Sitti (2011) Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Hamil
Trimester II Dalam Menghadapi Persalinan di Wilayah Keja Puskesmas
Katobu.

Nursal, D. G. A., Tamela, P., & Fitrayeni, F. (2017). Faktor Risiko Kejadian
Preeklamsia pada Ibu Hamil di Rsup Dr. M. Djamil Padang Tahun 2014.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 10(1), 38-44.
Parkitny, L dan McAuley, J. 2010. The Depression Anxiety Stress Scale (DASS).
Prawirohardjo, S. (2018) Ilmu kandungan. Edisi keti. PT Bina Pustaka.
Purwati and Alfi Noviyana (2020) ‘Studi Kualitatif: Kecemasan Pada Penderita
Preeklamsia’, Infokes: Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan,
10(1), pp. 23–27. doi: 10.47701/infokes.v10i1.844.
Pebriani Pongmanda, Hendra Yulita Y. Hubungan Status Gizi Dan Stress Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Lepo-Lepo
Kota Kendari Tahun 2018. 2018. 89 p.
Qiu, C. et al. (2009) ‘Preeclampsia risk in relation to maternal mood and anxiety
disorders diagnosed before or during early pregnancy’, American Journal of
Hypertension, 22(4), pp. 397–402. doi: 10.1038/ajh.2008.366.
Rahman, A. (2020) ‘Terapi Dzikir Dalam Islam Terhadap Tingkat Kecemasan Pada
Ibu Hamil’, Jurnal Tarbawi, 5(1), p. 76.
Reeder, S.J., L.L. Martin, D.K. Griffin. 2003. Maternity Nursing: Family, Newborn,
and Women’s Health Care, 18th Ed. USA: Lippincott-Raven. Terjemahan oleh
Y. Afiyanti. 2011. Keperawatan Maternitas: Kesehatan Wanita, Bayi, dan
Keluarga. Edisi 18. Jakarta: EGC.
Rengganis, I., Kedokteran, F. and Maret, U. S. (2010) ‘digilib . uns . ac . id’.
Rohmaningsih, N., & Fitrikasari, A. (2013). Hubungan antara Kualitas Tidur
dengan Tingkat Kecemasan Studi pada Mahasiswa/i Angkatan 2011 Program
Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
(Doctoral dissertation, Faculty of Medicine Diponegoro University).
Rudiyanti, N., Erike, R. 2017. Tingkat Kecemasan pada Ibu
56
Hamil dengan Kejadian Pre Eklampsia di Sebuah RS Provinsi Lampung. Jurnal
Keperawatan. Lampung : 13(2).
Rosyida, D. A. C. (2019). Pengaruh Edukasi Metode Wish and Care Program
Terhadap Perilaku Deteksi Dini Kanker Serviks. Embrio, 11(1), 8–16.
[Link]
Saito, S. 2018. Preeklamsia: Basic, Genomic, and Clinical. Japan: Springer.
Stuart, G.W. 2013. Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Singapore:
Shihab, M. Q. (2012) Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Sukarni, I. dan W.P. 2013. Buku Ajar Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.
T Kurki, V Hiilesmaa, R Raitasalo, H Mattila, O. Y. (2010) ‘Depression and anxiety
in early pregnancy and risk for preeclampsia’, 95(4), pp. 487–490.
the prenatal attachment of pregnant women with preeclampsia’, Cukurova
Medical Journal, 46(3), pp. 889–896. doi: 10.17826/cumj.894664.
Tolinggi, S., Mantulangi, K. and Nuryani (2018) ‘Kejadian Preeklamsia dan Faktor
Risiko yang Mempengaruhinya Preeclampsia Incidence and Its Related Risk
Factors’, Gorontalo Journal of Public Health, 1(2), pp. 85–91.
Triasani, D. and Hikmawati, R. (2016) ‘Hubungan Kecemasan Ibu Hamil Terhadap
Kejadian Preeklamsia Di RSUD Majalaya Kabupaten Bandung’, Jurnal Ilmiah
Bidan, 1(3), pp. 14–18. Available at: [Link]
[Link]/[Link]/jib/article/view/13.

Trisani D, Hikmawati R. 2016. Hubungan Kecemasan Ibu Hamil Terhadap


Kejadian Pre Eklamsia di RSUD Majalaya Kabupaten [Link] Ilmiah.
Vol I(3) : 14-18
Uzan, J., M. Carbonnel, O. Piconne, R. Asmar, dan J.M. Ayoubi. 2011. Pre-
eclampsia: Pathophysiology, diagnosis, and management. Vascular Health and
Risk Management. 7: 467-474
WHO 2018 [Link]
Wibowo B., Rachimhadi T., 2006. Preeklamsia dan Eklampsia, dalam : Ilmu
Kebidanan. Edisi III. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
pp. 281-99

57
Wulandari, P., Sofitamia, A. and Kustriyani, M. (2019) ‘The Effect of Guided I
magery to The Level of Anxiety of Trimester III Pregnant Woman in The
Working Area of Mijen Health Center in Semarang City’, Media Keperawatan
Indonesia, 2(1), p. 29. doi: 10.26714/mki.2.1.2019.29-37.

Yogyakarta:Fitramaya.
Yu, Y. (2013) ‘Patogenesis Kecemasan’, The Calgary Guide to Understanding
Disease.

58
Lampiran 1

59
Lampiran 2

60
Lampiran 3

61
62
Lampiran 4

63
Lampiran 5

64
65
66
67
Lampiran 5

LEMBAR PERSETUJUAN INFORMED CONSENT


Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
Setelah mendapatkan keterangan yang cukup dari peneliti serta menyadari
manfaat dari penelitian tersebut di bawah ini yang berjudul:

“Hubungan Antara Kecemasan Dengan Kejadian Preeklamsia di RSKD


Ibu dan Anak Pertiwi Makassar”

Dengan sukarela dan tanpa paksaan menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian
ini. Apabila suatu saat merasa dirugikan dalam bentuk apapun, berhak membatalkan
persetujuan ini serta berhak untuk mengundurkan diri.

Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan semestinya

Makassar, 2022

Mengetahui, Yang menyatakan

Penanggung jawab penelitian Responden Penelitian

( ) ( )

68
Lampiran 6

Hamilton Rating Scale For Anxiety

(HARS)HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY(HARS)

Nomor Responden :

Nama Responden :

Tanggal Pemeriksaan :

Skor : 0 = tidak ada


1 = ringan
2 = sedang
3 = berat
4 = berat sekali

Total Skor : < 14 = tidak ada kecemasan


14 – 20 = kecemasan ringan
21 – 27 = kecemasan sedang
28 – 41 = kecemasan berat
42 – 56 = kecemasan berat sekali

69
No Pertanyaan 0 1 2 3 4
1 Perasaan Ansietas
- Cemas
- Firasat Buruk
- Takut Akan Pikiran Sendiri
- Mudah Tersinggung
2 Ketegangan
- Merasa Tegang
- Lesu
- Tak Bisa Istirahat Tenang
- Mudah Terkejut
- Mudah Menangis
- Gemetar
- Gelisah
3 Ketakutan
- Pada Gelap
- Pada Orang Asing
- Ditinggal Sendiri
- Pada Binatang Besar
- Pada Keramaian Lalu Lintas
- Pada Kerumunan Orang Banyak
4 Gangguan Tidur
- Sukar Tidur
- Terbangun Malam Hari
- Tidak Nyenyak
- Bangun dengan Lesu
- Banyak Mimpi-Mimpi
- Mimpi Buruk
- Mimpi Menakutkan
5 Gangguan Kecerdasan
- Sukar Konsentrasi
- Daya Ingat Buruk
6 Perasaan Depresi
- Hilangnya Minat
- Berkurangnya Kesenangan Pada Hobi
- Sedih
- Bangun Dini Hari
- Perasaan Berubah-Ubah Sepanjang Hari
7 Gejala Somatik (Otot)
- Sakit dan Nyeri di Otot-Otot
- Kaku
- Kedutan Otot
- Gigi Gemerutuk
- Suara Tidak Stabil

70
8 Gejala Somatik (Sensorik)
- Sensasi telinga berdenging
- Penglihatan Kabur
- Muka Merah atau Pucat
- Merasa Lemah
- Perasaan ditusuk-Tusuk
9 Gejala Kardiovaskuler
- Takikardia
- Berdebar
- Nyeri di Dada
- Perasaan Lesu/Lemas Seperti Mau Pingsan
10 Gejala Respiratori
- Rasa Tertekan atau Sempit di Dada
- Perasaan Tercekik
- Sering Menarik Napas
- Napas Pendek/Sesak
11 Gejala Gastrointestinal
- Sulit Menelan
- Perut Melilit
- Gangguan Pencernaan
- Nyeri Sebelum dan Sesudah Makan
- Perasaan Terbakar di Perut
- Rasa Penuh atau Kembung
- Mual
- Muntah
- Kehilangan Berat Badan
- Sukar Buang Air Besar (Konstipasi)
12 Gejala Urogenital
- Sering Buang Air Kecil
- Tidak Dapat Menahan Air Seni
- Amenorrhoe
- Menorrhagia
13 Gejala Otonom
- Mulut Kering
- Muka Merah
- Mudah Berkeringat
- Pusing, Sakit Kepala
- Bulu-Bulu Berdiri
14 Tingkah Laku Pada Wawancara
- Gelisah
- Tidak Tenang
- Jari Gemetar
- Kerut Kening
- Muka Tegang
- Tonus Otot Meningkat
- Napas Pendek dan Cepat
- Muka Merah
Skor Total =

71
RIWAYAT HIDUP

A. Identitas Penulis
1. Nama : Muhammad Saddam
2. NIM : 70600118025
3. Jurusan : Pendidikan Dokter
4. Jenis Kelamin : Laki-laki
5. Agama : Islam
6. Alamat : Kaballangang, Pinrang.
7. Nama Orang Tua
a. Ayah : Mustari
b. Ibu : Andi Muni
B. Riwayat Pendidikan
1. SDN : 39 Batri
2. SMP : MTs Al- Badar Parepare
3. SMA : MA Al-Badar Parepare
4. S1 : Pendidikan Dokter UIN Alauddin Makassar

72

Anda mungkin juga menyukai