Asuhan Kebidanan di Puskesmas Ciampea
Asuhan Kebidanan di Puskesmas Ciampea
J
DI PUSKESMAS CIAMPEA KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2023
Disusun Oleh :
DIANA PUTRI
[Link]
TAHUN 2023
Disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktik klinik kebidanan III
Disusun Oleh :
DIANA PUTRI
[Link]
Mengetahui,
i
Meti Kusmiati,[Link]., [Link], [Link]
HALAMAN PENGESAHAN
1) ( )
2) ( )
Mengetahui,
Direktur Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor
ii
Meti Kusmiati,[Link]., [Link], [Link]
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Asuhan
Kebidanan Komprehensif dengan judul “ASUHAN KEBIDANAN
KOMPREHENSIF PADA NY. J DI PUSKESMAS CIAMPEA KABUPATEN
BOGOR TAHUN 2023” Dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Asuhan Kebidanan
Komprehensif ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mengikuti Praktik
Klinik Kebidanan II Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor.
Pada kesempatan ini saya banyak mendapat bimbingan, arahan dan dukungan
dari berbagai pihak, untuk itu saya mengucapkan banyak terimakasih kepada yang
terhormat:
1. H. Sokib. BSc selaku Ketua Yayasan Amal Husada Bogor yang saya hormati.
2. Ibu Meti Kusmiati, [Link]., [Link], [Link]. Selaku Direktur Akademi Kebidanan
Prima Husada Bogor yang saya hormati.
3. Ibu Bidan Yusni [Link] Selaku CI PKM Ciampea yang memberikan
bimbingan serta kesempatan bagi saya untuk mengambil pasien.
4. Ibu Nina Yusnia, [Link]., [Link] selaku pembimbing Asuhan Kebidanan
Komprehensif yang membantu membimbing saya selama penyusunan Asuhan
Kebidanan Komprehensif.
5. Ibu Selaku penguji Asuhan Kebidanan Komprehensif yang menguji saya.
6. Seluruh Dosen dan Staf Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor yang tidak
dapat saya sebutkan satu persatu.
7. Orang tua saya, Adik-adik saya serta seluruh keluarga yang mendukung saya
iv
baik dukungan doa, motivasi dan waktunya.
8. Kepada teman-teman seperjuanganku D-III Kebidanan yang tidak bisa
disebutkan satu persatu yang telah memberikan mendukung dalam
menyelesaikan tugas kompre ini.
Saya menyadari Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif ini masihjauh dari
sempurna, oleh Karena itu saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan
untuk kesempurnaan penulisan Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif ini. Semoga
Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif inidapat bermanfaat bagi perkembangan
ilmu kesehatan.
Diana Putri
v
SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT
Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan plagiat maka saya akan menerima
sanksi yang telah ditetapkan. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan
sebenar – benarnya.
Diana Putri
vi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ iv
BAB I ......................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
BAB II ........................................................................................................ 9
2.5.4. Penatalaksaan....................................................................... 68
DAFTAR PUSTAKA
x
DAFTAR TABEL
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR LAMPIRAN
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
1
merupakan Care Provider (penyedia layanan kesehatan) yang memiliki peran
strategis unik dengan memposisikan dirinya sebagai mitra perempuan di
masyarakat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan perempuan dalam
menjalani siklus kehidupan reproduksinya melalui asuhan secara keseluruhan
dan berkesinambungan atau komprehensif. Karena keunikan profesi Bidan
adalah memberi pelayanan kepada pasangan ibu sampai anak balita 2 sebagai
satu kesatuan sejak masa prakonsepsi sampai masa balita. Tujuan utama
asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi (mengurangi kesakitan
dan kematian). (Merlly Amalia, [Link]., 2021)
2
Menurut World Health Organization (WHO) Angka kematian ibu
(AKI) masih sangat tinggi, sekitar 810 wanita meninggal akibat komplikasi
terkait kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari, dan sekitar 295
000 wanita meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan. Angka
kematian ibu di negara berkembang mencapai 462/100.000 kelahiran hidup.
Sedangkan di negara maju sebesar 11/100.000 kelahiran hidup (WHO,
2020).Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia diketahui mortalitas
maternal tahun 2002 mencapai 307 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH) dan
penurunan mortalitas maternal di tahun 2007 yaitu 228 per 100.000 KH.
Namun angka tersebut masih jauh dari yang diharapkan untuk mencapai
target. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2010-2014
yaitu 118/100.000 KH dan target MDGs (Millenium Development Goals)
tahun 2015 yaitu 102/100.000 KH. Diperlukan adanya upaya dan komitmen
yang kuat serta terpadu untuk memenuhi target tesebut (KemenKes, 2018).
(Herman, 2020) Angka Kematian Ibu (AKI) di seluruh dunia menurut World
Health Organization(WHO) tahun 2020 menjadi 295.000 kematian dengan
penyebab kematian ibu adalah tekanan darah tinggi selama kehamilan (pre-
eklampsiaa dan eklampsia), pendarahan, infeksi postpartum, dan aborsi yang
tidak aman (WHO, 2021). Menurut data ASEAN AKI tertinggi berada di
Myanmar sebesar 282.00/100.000 KH tahun 2020 dan AKI yang terendah
terdapat di Singapura tahun 2020 tidak ada kematian ibu di Singapura
(ASEAN Secretariat, 2021) (Febriani et al., 2022).
3
Angka Kematian Ibu di Kabupaten Bogor Tahun 2013 masih
menggunakan Angka Kematian Ibu Jawa Barat yaitu sebesar 228 per 100.000
kelahiran hidup (SDKI 2007), Tahun 2014 dan Tahun 2015 menggunakan
Angka Kematian Ibu Jawa Barat berdasarkan SDKI 2012 yaitu sebesar 359
per 100.000 kelahiran hidup, di Tahun 2018menggunakan Angka Kematian
Ibu berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 sebesar 305
per 100.000 kelahiran hidup. (Brier & lia dwi jayanti, 2020)
Data kematian neonatal, bayi dan balita di Kabupaten Bogor tahun 2019
bersumber dari data dasar kesehatan anak yang tercatat dan dilaporkan oleh
puskesmas yaitu jumlah lahir mati sebanyak 167 kasus, jumlah kematian
neonatal umur (0-28 hari) sebanyak 91 kasus (neonatal 0-6 hari 83 kasus,
neonatal 7-28 hari 8 kasus) dan Kasus kematian ibu yang dilaporkan
berdasarkan laporan puskesmas (SP3) pada tahun 2019 sebanyak 72 terdiri
dari kematian ibu hamil sebanyak 17 orang, kematian ibu bersalin sebanyak
35 orang dan kematian ibu nifas sebanyak 20 orang. (Brier & lia dwi jayanti,
2020)
Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) juga
menjadi salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibitas
fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) Tahun 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup
dan berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2015
sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup, angka kematian ibu merupakan
kematian ibu yang terkait dengan ganggua kehamilan, persalinan dan masa
nifas (42 hari setelah melahirkan) pada setiap 100.00, kelahiran hidup dalam
suatu wilayah pada kurun waktu tertentu yang menujukkan derajat kesehatan
masyarakat di wilayah tersebut. Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal
Mortality Rate (MMR), tidak hanya merupakan indikator tingkat kesehatan
wanita, tetapi juga dapat lebih jelas menggambarkan tingkat akses, integritas
dan efektivitas sektor kesehatan. Oleh karena itu, MMR juga sering
digunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan dari suatu [Link]
4
Kematian Ibu Jawa Barat sebesar 321,15 per 100.000 Kelahiran Hidup
(Balitbang Daerah Prov Jabar 2003) masih jauh dari harapan target AKI
Nasional sebesar 150 per 100.000 Kelahiran Hidup. Berdasarkan Profil
Kesehatan Propinsi Jawa Barat Tahun 2001 bahwa dari hasil SKRT 1992
terungkap bahwa 45,8% kematian maternal terjadi pada waktu melahirkan
29,2% pada kehamilan berusia kurang dari 7 bulan, dan 20,8% terjadi pada
masa nifas, serta 4,2% terjadi karena keguguran. Menurut SKRT 1995, 36%
ibu hamil / bersalin mengalami komplikasi sewaktu hamil, bersalin atau nifas
dan 22% komplikasi paling sering timbul pada waktu bersalin. Hasil Survei
BPS Jawa Barat Tahun 2003 menunjukkan bahwa umumnya kematian ibu
terjadi pada saat melahirkan yaitu sebanyak 60,87% sedangkan yang
meninggal waktu nifas sebesar 30,43% dan yang meninggal waktu hamil
adalah 8,70% (Kemenkes RI, 2020).
Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah
jumlah kematian bayi dibawah usia satu tahun pada tiap 1000 kelahiran hidup
pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang sangat sensitif
terhadap kualitas dan pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama yang
berhubungan dengan perinatal,juga merupakan tolak ukur pembangunan
sosial ekonomi masyarakat menyeluruh, dimana angka kematian itu dihitung.
Kondisi sosial ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang
meningkat dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada
daya tahan terhadap infeksi penyakit. Kematian bayi adalah kematian yang
terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu
tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis
besar dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan
eksogen. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian
neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah
dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak
sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat
selama kehamilan. Kematian bayi eksogen atau kematian post neonatal,
adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang
5
usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan
pengaruh lingkungan luar. (Susilawati et al., 2018).
6
kontrasepsi/KB dan (8) pemeriksaan HIV dan Hepatitis B. Dan Upaya
kesehatan anak yang dimaksud dalam Permenkes Nomor 25 Tahun 2014
dilakukan melalui pelayanan kesehatan janin dalan kandungan, kesehatan
bayi baru lahir, kesehatan bayi, anak balita, dan prasekolah, kesehatan anak
usia sekolah dan remaja, dan perlindungan kesehatan anak. Dalam Profil
Kesehatan Indonesia ini data dan informasi mengenai upaya kesehatan anak
disajikan dalam indikator kesehatan anak yang meliputi: pelayanan kesehatan
neonatal, imunisasi rutin pada anak, pelayanan kesehatan pada anak sekolah,
dan pelayanan kesehatan peduli remaja.(Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 2019)
7
1.2 TUJUAN
8
7. Tanggal 20 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Nifas 4 hari
8. Tanggal 23 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Nifas 7 hari
9. Tanggal 23 Maret 2023 : Asuhan Bayi Baru Lahir ke II
10. Tanggal 30 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Nifas 2 Minggu
11. Tanggal 30 Maret 2023 : Asuhan Bayi Baru Lahir ke III
9
Pada BBL 1 jam keadaan umum bayi baik, menangis kuat, tonus otot
aktif, warna kulit kemerahan, diberikan Vit.K dengan dosis 1 mg secara
intramuskular di paha bagian kiri (6 jam kemudian pemberian imunisasi Hb0),
salep mata dan bayi sudah bisa menyusui. Pada Nifas 2 jam ibu keadaan umum
ibu baik, dan ibu mengeluhkan nyeri bekas jalan lahir, pemeriksaan TTV
dengan hasil TD 110/80 mmHg, Suhu 36.3°C, Respirasi 21x/Menit, Nadi
82x/Menit, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus keras, kandung kemih
kosong, pengeluaran lochea rubra.
Pada Nifas 6 jam keadaan umum ibu baik dengan keluhan nyeri pada
bekas jaitan, tanda-tanda vital : TD 120/80 mmHg, Suhu 36°C, Respirasi
21x/Menit, Nadi 80x/Menit, TFU 3 jari dibawah pusat, kontraksi uterus keras,
kandung kemih kosong, pengeluaran lochea rubra dan pemberian therapy oral
berupa amoxcilin, pct, dan Fe.
Pada Nifas 4 hari dilakukan tanggal 20 maret 2023 pukul 11.40 WIB,
keadaan umum baik, tidak ada keluhan, tanda tanda vital : TD 120/80 mmHg,
N 82x/menit, RR 21x/menit, TFU Pertengahan antara pusat dan symfisis,
kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, pengeluaran lochea
sangunoelenta, luka jahitan mulai mongering dan membaik. Pada BBL 4 hari
dilakukan pada tanggal 20 maret 2023 pukul 11.45 WIB, keadaan umum baik,
berat badan 3300 gr, panjang badan 48 cm, suhu 36.6’C, denyut jantung
120x/menit, RR 40x/menit, tali pusat belum puput, kulit bayi tidak kuning.
10
BAB I
TINJAUAN TEORI
11
2.1 KEHAMILAN
2.1.1. Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah hasil dari pertemuan anatara sperma dan sel telur.
Dalam prosesnya, perjalanan sperma untuk bertemu sel telur (ovum) betul-
betul penuh perjuangan. Dari sekitar 20-40 juta sperma yang dikeluarkan,
hanya sedikit yang survive dan berhasil mencapai tempat sel telur. Dari
jumlah yang sudah sedetik itu, hanya 1 sperma saja yang dapat membuahi
sel telur.
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila
sihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu (9-10 bulan) menurut kalender
internasional. Kehamilan terbagi menjadi 3 trimester, dimana trimester satu
berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 13-27 minggu, dan
trimester ketiga 28-40 minggu(Muslimin K, 2016).
12
kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya gangguan
pertumbuhan janin. Pengukuran tinggi badan pada pertama kali
kunjungan dilakukan untuk menapis adanya faktor risiko pada ibu
hamil. Tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm meningkatkan
risiko untuk terjadinya CPD (Cephalo Pelvic Disproportion)
13
dimaksudkanuntuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III
bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke
panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah
lain.
14
Table 2.1
Imunisasi TT
15
3) Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil
pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada
ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat
ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
16
Berikut beberapa masalah ketidak nyamanan yang akan dirasakan ibu
didalam Trimester 1,2 dan 3:
3. Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil
pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada
ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat
ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
17
4. Beri Tablet tambah darah (tablet besi)
6. Tatalaksana/penanganan Kasus
18
7. Temu wicara (konseling)
19
Sumber : (Javaid, 1995)
3. Tatalaksana/penanganan Kasus
20
4. Temu wicara (konseling)
21
a. Mual muntah pada pagi hari.
Mual muntah terjadi pada 50% wanita hamil. Mual
kadang-kadang sampai muntah yang terjadi pada ibu hamil
biasanya terjadi pada pagi hari sehingga disebut morning
sickness meskipun bisa juga terjadi pada siang atau sore hari.
Mual muntah ini lebih sering terjadi pada saat lambung dalam
keadaan kosong sehingga lebih sering terjadi pada pagi hari.
b. Sering BAK
Ibu hamil trimester I,II, dan III sering mengalami keluhan
sering Buang Air Kecil (BAK). Apabila sering BAK ini terjadi
pada malam hari akanmengganggu tidur sehingga ibu hamil
tidak dapat tidur dengan nyenyak, sebentar – sebentar
terbangun karena merasa ingin BAK.
c. Pica / Ngidam.
Pica atau ngidam sering terjadi pada ibu hamil trimester I
tetapi bisa juga dialami oleh ibu hamil sampai akhir
kehamilan. Ibu hamil sering menginginkan makanan yang
aneh – aneh, misalnya yang asam – asam, pedas–pedas.
Keinginan ibu hamil seperti keinginan yang harus dipenuhi,
kalau tidak dapat dipenuhi, ibu hamil merasa sangat kecewa,
kadang – kadangsampai menangis.
d. Kelelahan / Fatique.
Ibu hamil seringkali merasakan cepat lelah sehingga
kadang-kadang mengganggu aktifitas sehari–hari. Kelelahan
sering terjadi pada ibu hamil trimester I, penyebab yang pasti
sampai saat ini belum diketahui. Diduga hal ini berkaitan
dengan faktor metabolisme yang rata-rata menurun pada ibu
hamil. Sangat dianjurkan makan makanan yang seimbang,
tidur dan istirahat yang cukup, lakukan tidur siang. Ibu hamil
harus mengatur aktifitas sehari- hari untuk mendapatkan
22
istirahat ekstra.
e. Keputihan / Leukorrea.
Ibu hamil sering mengeluh mengeluarkan lendir dari
vagina yang lebih banyak sehingga membuat perasaan tidak
nyaman karena celana dalam sering menjadi basah sehingga
harus sering ganti celana dalam. Kejadian keputihan ini bisa
terjadi pada ibu hamil trimester pertama, kedua maupun
ketiga.
f. Keringat Bertambah.
Ibu hamil seringkali mengeluh kepanasan, mengeluarkan
keringat yang banyak. Keringat yang banyak menyebabkan
rasa tidak nyaman, kadang – kadang mengganggu tidur
sehingga ibu hamil merasa lelah karena kurang istirahat.
g. Sakit Kepala.
Ibu hamil sering mengeluh sakit kepala, keluhan ini bisa
dirasakan ibu hamil baik trimester I, trimester II maupun
trimester III. Faktor yang menjadi penyebab Kelelahan atau
keletihan. Spasme / ketegangan otot, ketegangan pada otot
mata, Kongesti (akumulasi abnormal / berlebihan cairan
tubuh), dinamika cairan syaraf yang berubah.
h. Edema.
Kadang-kadang kita temui edema pada ibu hamil trimester
II. Edema ini biasa terjadi pada kehamilan trimester II dan III.
Pembesaran uterus pada ibu hamil mengakibatkan tekanan
pada vena pelvik sehingga menimbulkan gangguan sirkulasi.
23
Hal ini terjadi terutama pada waktu ibu hamil duduk atau
berdiri dalam waktu yang lama.
i. Haemorroid
Haemorroid biasa disebut wasir biasa terjadi pada ibu
hamil trimester II dan trimester III. Beberapa faktor yang dapat
menyebabkannya adalah Konstipasi, progesteron
menyebabkan pristaltik usus lambat, vena haemorroid tertekan
karena pembesaran uterus.
24
nafas sesak oleh karenapembesaran uterus dan pergeseran
organ – organ abdomen. Pembesaran uterus membuat
pergeseran diafragma naik sekitar 4 cm. Ada kalanya terjadi
peningkatan hormon progesterone membuat hyperventilasi.
o. Konstipasi / Sembelit.
2.2. PERSALINAN
2.2.1. Definisi persalinan
25
Persalinan adalah akhir dari kehamilan dimana satu atau
lebih bayi meninggalkan rahim dengan melewati vagina atau
melalui operasi sesar. Yang usia kehamilan cukup bulan (37
minggu- 40 minggu), lahir secara spontan dengan presentasi
kepala tidak dengan komplikasi atau tanpa bantuan alat usia
kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai
adanya penyulit, persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi
dan menyebabkan perubahan pada serviks ( membuka dan
menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara
lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak
mengakibatkan perubahan serviks.
2.2.2. Tanda dan gejala persalinan
Adapun tanda dan gejala persalinan yang paling utama
menurut (Yulizawati et al., 2019)sebagai berikut :
1. Kontraksi (His)
Ibu terasa kenceng-kenceng sering, teratur dengan
nyeri dijalarkan dari pinggang ke paha. Hal ini
disebabkan karena pengaruh hormon oksitosin yang
secara fisiologis membantu dalam proses pengeluaran
janin. Ada 2 macam kontraksi yang pertama kontraksi
palsu (Braxton hicks) dan kontraksi yang sebenarnya.
Pada kontraksi palsu berlangsung sebentar, tidak terlalu
sering dan tidak teratur, semakin lama tidak ada
peningkatan kekuatan kontraksi. Sedangkan kontraksi
yang sebenarnya bila ibu hamil merasakan kenceng-
kenceng makin sering, waktunya semakin lama, dan
makin kuat terasa, diserta mulas atau nyeri seperti kram
perut. Perut bumil juga terasakencang.
Kontraksi bersifat fundal recumbent/nyeri yang
dirasakan terjadi pada bagian atas atau bagian tengah
perut atas atau puncakkehamilan (fundus), pinggang dan
26
panggul serta perut bagianbawah. Tidak semua ibu hamil
mengalami kontraksi (His) palsu. Kontraksi ini
merupakan hal normal untuk mempersiapkan rahim
untuk bersiap mengadapi persalinan.
2. Pembukaan
Serviks, dimana Primigravida >1,8cm dan
Multigravida 2,2cm Biasanya pada bumil dengan
kehamilan pertama, terjadinya pembukaan ini disertai
nyeri perut. Sedangkan pada kehamilan anak kedua dan
selanjutnya, pembukaan biasanya tanpa diiringi nyeri.
Rasa nyeri terjadi karena adanya tekanan panggul saat
kepala janin turun ke area tulang panggul sebagai akibat
melunaknya rahim. Untuk memastikan telah terjadi
pembukaan, tenaga medis biasanya akan melakukan
pemeriksaan dalam (vaginal toucher).
27
penipisan mulut rahim. Bloody show seperti lendir yang
kental dan bercampur darah. Menjelang persalinan
terlihat lendir bercampur darah yang ada di leher rahim
tsb akan keluar sebagai akibat terpisahnya membran
selaput yang menegelilingi janin dan cairan ketuban
mulai memisah dari dinding rahim.
Tanda selanjutnya pecahnya ketuban, di dalam selaput
ketuban (korioamnion) yang membungkus janin, terdapat
cairan ketuban sebagai bantalan bagi janin agar
terlindungi, bisa bergerak bebas dan terhindar dari
trauma luar. Terkadang ibu tidak sadar saat sudah
mengeluarkan cairan ketuban dan terkadang
menganggap bahwa yang keluar adalah air pipisnya.
Cairan ketuban umumnya berwarna bening, tidak berbau,
dan akan terus keluar sampai ibu akan melahirkan.
Keluarnya cairan ketuban dari jalan lahir ini bisa terjadi
secara normal namun bias juga karena ibu hamil
mengalami trauma, infeksi, atau bagian ketuban yang
tipis (locus minoris) berlubang dan pecah. Setelah
ketuban pecah ibu akan mengalami kontraksi atau nyeri
yang lebih intensif.
Terjadinya pecah ketuban merupakan tanda
terhubungnya dengan dunia luar dan membuka potensi
kuman/bakteri untuk masuk. Karena itulah harus segera
dilakukan penanganan dan dalam waktu kurang dari 24
jam bayi harus lahir apabila belum lahir dalam waktu
kurang dari 24 jam maka dilakukan penangana
selanjutnya misalnya Caesar.
2.2.3. Asuhan kebidanan pada persalinan
28
tercatat setiap langkah yang dikerjakan. Persiapan meliputi
persiapan tempat, keluarga menjadi fokus karena untuk
lainnya sudah dipastikan kesiapannya sebelum ibudatang
untuk mendapatkan pertolongan persalinan (Kemenkes,
2015). Berikut 60 langkah Asuhan Persalinan Normal
menurut Modul Midwifery Update (Kemenkes, 2015)
sebagai berikut:
1. Mengenali tanda dan gejala kala II
29
suntik (gunakan tangan yang memakai sarung
tangan DTT atau steril dan pastikan tidak terjadi
kontaminasi pada alat suntik)
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya
dengan hati- hatidari depan ke belakang dengan
menggunakan kapas atau kassa yang sudah
dibasahi air desifeksi tingkat tinggi.
8. Dengan menggunakan teknik aseptic, melakukan
pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa
pembukaan serviks sudah lengkap. Bila selaput
ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan
sudah lengkap, lakukan amniotomi
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara
mencelupkan tanganyang masih memakai sarung
tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan
kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik
serta merendamnya di dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti
diatas).
10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah
kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ
dalam batas normal(100-180 kali/menit)
11. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah
lengkap dankeadaan janin baik. Membantu ibu
berada dalam posisi yang nyaman sesuai
keinginannya.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan
posisi ibu untuk meneran. (Pada saat ada his, bantu
ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia
merasa nyaman)
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu
30
mempunyai dorongan yangkuat untuk meneran
14. Anjurkan ibu untuk mengambil posisi yang
nyaman jika belum ada keinginan untuk meneran
15. Meletakkan handuk bersih di atas perut ibu
untukmengeringkan bayi.
31
siku sebelah atas.
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, meneluruskan
tangan yang ada diatas (anterior) dari punggung kea
rah kaki bayi untuk menyangganya saat panggung
dari kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi
dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
25. Lakukan penilaian (selintas):
32
dengan satu tangan pada sekitar 5 cm dari pusar
bayi, kemudian jari telunjuk dan jari tengah tangan
lain menjepit tali pusat dan geser hingga 3 cm
proksimal dari pusar bayi. Klem tali pusat pada titik
tersebut kemudian tahan klem ini pada posisinya,
gunakan jari telunjuk dan tengah tangan lain unutk
mendorong isi tali pusat kea rah ibu (sekitar 5 cm)
dan klemtali pusat pada sekitar 2 cm distal dari klem
pertama.
31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat
33
tidak lahir setelah 30- 40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan menunggu hinggakontaksi
berikut mulai.
34
tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membilas
kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut
dengan air desinfeksi tingkat tinggi dan
mengeringkannya dengan kain yang bersih dan
kering.
43. Pastikan kandung kemih kosong.
44. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana
melakukan massase uterus dan memeriksa kontraksi
uterus.
45. Mengevaluasi kehilangan darah.
35
53. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan
klorin 0,5%, membalkkan bagian dalam ke luar dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5% Selma 10
menit.
54. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air
mengalir.\
55. Pakai sarung tangan bersih/DTT untuk melakukan
pemeriksaan fisik bayi.
56. Dalam satu jam pertama, beri salep/tetes mata
profilaksis infeksi, Vitamin K1 1 mg IM Dipaha
Kiri Bawah Lateral,pemeriksaan fisik bayi baru
lahir, pernapasan bayi (normal 40-60 kal/menit) dan
temperature tubuh (normal 36,5-37,5℃) setiap 15
menit.
57. Setelah 1 jam pemberian Vitamin K1 berikan
suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan bawah
lateral. Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar
sewaktu-waktu dapat disusukan.
36
keputusan klinik. Pencatatan partograf dimulai sejak fase
aktif persalinan (Kemenkes, 2015)
37
3. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang
memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan
dankelahiran (Yulizawati et al., 2019)
38
Nama, umur
a. DJJ
Menilai dan mencatat denyut jantung janin
(DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada
tanda-tanda gawat janin). Tiap kotak
menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di
sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ.
Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada
garis yang sesuai dengan angka yang
menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik
yang satu dengan titik lainnya dengan garis
tidak terputus. Kisaran normal DJJ 110-160
×/menit.
39
b. Warna dan adanya air ketuban
40
1: tulang-tulang kepa janin sudah
saling bersentuhan
2: tulang-tulang kepala janin saling
tumpangtindih tapi masih bisa
dipisahkan
3: tulang-tulang kepala janin saling
tumpangtindih dan tidak dapat
dipisahkan
3. Kemajuan persalinan
a. Pembukaan serviks
Angka pada kolom kiri 0-10
menggambarkan pembukaan serviks.
Menggunakan tanda X pada titik silang
antara angka yang sesuai dengan temuan
pertama pembukaan serviks pada fase aktif
dengan garis waspada. Hubungan tanda X
dengan garis lurus tidak terputus.
b. Penurunan bagian terbawah Janin
Tulisan “turunnya kepala” dan garis tidak
terputus dari 0-5 pada sisi yang sama
dengan angka pembukaan serviks. Berikan
tanda “·” pada waktu yang sesuai dan
hubungkan dengan garis lurus.
c. Jam dan Waktu
Waktu berada dibagian bawah kolom
terdiri atas waktu mulainya fase aktif
41
persalinan dan waktu aktual saat
pemeriksaan. Waktu mulainya fase aktif
persalinan diberi angka 1-16, setiap
kotak: 1 jam yang digunakan untuk
menentukan lamanya proses persalinan
telah berlangsung. Waktu aktual saat
pemeriksaan merupakan kotak kosong di
bawahnya yang harus diisi dengan waktu
yang sebenarnya saat kita melakukan
pemeriksaan.
4. Kontraksi Uterus
6. Kondisi Ibu
Catat nadi ibu setiap 30 menit dan beri tanda
titik padakolom yang sesuai. Ukur tekanan darah
ibu tiap 10 menit dan beri tanda ↕ pada kolom yang
sesuai. Temperatur dinilai setiap dua jam dan catat
42
di tempat yang sesuai.
Kala I
Kala II
Kala III
Kala IV
9. Diisi dengan tanda centang (√) dan diisi titik yang disediakan
43
44
Gambar 2.2 Halam belakang partograf
Sumber :
2.3. NIFAS
2.3.1. Definisi nifas
45
Masa nifas merupakan periode yang akan dilalui oleh ibu setelah
masa persalanian, yang dimulai dari setelah kelahiran bayi dan
plasenta, yakni setelah berakhirnya kala IV dalam persalinan dan
berakhir sampai dengan 6 minggu (42 hari) yang ditandai dengan
berhentinya perdarahan. Masa nifas berasal dari bahasa latin dari kata
puer yang artinya bayi, dan paros artinya melahirkan yang berarti
masa pulihnya kembali, mulai dari persalinan sampai organ-organ
reproduksi kembali seperti sebelum kehamilan .(Nurul Azizah, 2019)
1. Puerperium dini
Puerperium dini merupakan kepulihan, dimana ibu
diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan
aktivitas layaknya wanita normal lainnya.
2. Puerperium intermediate
Puerperium intermediet merupakan masa kepulihan
menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya sekitar 6-8
minggu.
3. Puerperium remote
46
[Link] Perubahan fisik
a. Uterus
Pada uterus setelah proses persalinan akan
terjadi proses involusi. Proses involusi
merupakan proses kembalinya uterus seperti
keadaan sebelum hamil danpersalinan. Proses ini
dimulai segera setelah plasenta keluar akibat
kontraksi otot-otot polos uterus. Pada tahap
ketiga persalinan uterus berada di garis tengah,
kira-kira2 cm di bawah umbilicus dengan bagian
fundus bersandar pada promontorium sakralis.
Pada saat ini, besar uterus kira-kira sama besar
uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu (kira-
kira sebesar jeruk asam) dan beratnya kira- kira
100 gr. Uterus pada waktu hamil penuh beratnya
11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi kira-kira
500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350
gr (11 sampai 12ons) 2 minggu setelah lahir.
Seminggu setelah melahirkanuterus akan berada
di dalam panggul. Pada minggu ke-6, beratnya
menjadi 50-60gr.
Perubahan uterus dapat diketahui dengan
melakukan pemeriksaan palpasi dengan meraba
bagian dari TFU (tinggi fundus uteri)
47
teraba pertengahan pusat simpisis dengan
berat 500gram.
4) Pada 2 minggu post partum, TFU teraba
diatassimpisis dengan berat 350gram.
5) Pada 6 minggu post partum , fundus uteri
mengecil (tidak teraba) dengan berat 50
gram.
48
merah dan mengandung darah dari
perobekan/luka pada plasenta dan serabut
dari desidua dan chorion. Lokhea terdiri
atas sel desidua, verniks caseosa, rambut
lanugo, sisa mekoneum, dan sisa darah.
2) Lokhea sanguinolenta
49
beberapa hari pascaproses persalinan, pada masa
ini terjadi penipisan mukosa vagina dan hilangnya
rugae yang diakibatkan karena penurunan
estrogen pasca persalinan. Vagina yang semula
sangat teregang akan kembali secara bertahap
pada ukuran sebelum hamil selama 6-8 minggu
setelah bayi lahir.
Pada perineum setelah melahirkan akan
menjadi kendur, karena sebelumnya teregang
oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Post natal
hari ke 5 perinium sudah mendapatkan kembali
tonusnya walapun tonusnya tidak seperti sebelum
hamil. Pada awalnya, introitus vagina mengalami
eritematosa dan edematosa, terutama pada daerah
episiotomy atau jahitan laserasi. (Nurul Azizah,
2019)
2. Perubahan sistem pencernaan
50
nifas akan
kesulitan untuk berkemih dalam 24 jam
pertama. Kemungkinan dari penyebab ini
adalah terdapar spasmesfinkter dan edema
leher kandung kemih yang telah
mengalami kompresi (tekanan) antara kepala janin
dan tulangpubis selama persalinan berlangsung.
Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam
12-36 jam post partum. Kadar hormon estrogen yang
bersifat menahan air akan mengalami penurunan
yang mencolok (diuresis). Ureter yang berdilatasi
akan kembali normal dalam6 minggu (Nurul Azizah,
2019)
4. Perubahan sistem muskuloskeletal/diastasis rekti
abdominalis
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah
persalinan. Pembuluh darah yang berada di
myometrium uterus akan menjepit, pada proses ini
akan menghentikan perdarahan setelah plasenta
dilahirkan. Ligamen, diafragma pelvis, serta fasia
yang meregang pada waktu persalinan, secara
berangsur angsur menjadi ciut dan pulih kembali
sehingga kadang membuat uterus jatuh kebelakang
dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum
menjadi [Link] ini akan kembali normal pada 6-
8 minggu setelah persalinan.(Nurul Azizah, 2019)
51
perubahan pada ibu nifas adalah hormone estrogen
dan progesterone, hormone oksitosin dan prolactin.
Hormon estrogen dan progesterone menurun secara
drastis, sehingga terjadi peningkatan kadar hormone
prolactin dan oksitosin.
Hormon oksitosin berperan dalam proses
involusi uteri dan juga memancarkan ASI, sedangkan
hormone prolactin berfungsi untuk memproduksi
ASI. Keadaan ini membuat proses laktasi dapat
berjalan dengan baik. Jadi semua ibu nifas
seharusnya dapat menjalani proses laktasi dengan
baik dan sanggup memberikan ASI eksklusif pada
bayinya (Nurul Azizah, 2019)
6. Perubahan tanda-tanda vital
52
payudara menjadi bengka, berwarna merah karena
banyaknya ASI. Dan Denyut nadi normal pada orang
dewasa 60-80 kali per menit. Sehabis melahirkan
biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat (Nurul
Azizah, 2019)
7. Perubahan sistem kardiovaskular
53
25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologi jika
wanita tersebut mengalami persalinan lama(Nurul
Azizah, 2019)
[Link] Perubahan psikologis
1. Fase taking in
54
tersinggung dan gampang marah sehingga kita
perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan
ibu. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan
karena saat ini merupakan kesempatan yang baik
untuk menerima berbagai masukan dalam
merawat diri dan bayinya sehingga timbul
percaya diri. Tugas sebagai tenaga kesehatan
yakni mengajarkan cara merawat bayi, cara
menyusui yang benar, cara merawat luka jahitan,
mengajarkan senam nifas, memberikan
pendidikan kesehatan yang diperlukan ibu
seperti gizi, istirahat, kebersihan diri, dan lain-
lain (Nurul Azizah, 2019)
3. Fase letting go
Fase letting go merupakan fase menerima
tanggung jawab akan peran barunya yang
berlangung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu
sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan
bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah
meningkat. Pendidian kesehatan yang kita
berikan pada fase sebelumnya akan sangat
berguna bagi ibu agar lebih mandiri dalam
memenuhi kebutuhan diri dan bayinya.
Dukungan dari suami dan keluarga masih sangat
diperlukan ibu. Suami dan keluarga dapat
membantu merawat bayi, mengerjakan urusan
rumah tangga sehingga ibu tidak terlalu lelah dan
terbebani. Ibu memerlukan istirahat yang cukup
sehinga mendapatkan kondisi fisik yang bagus
untuk dapat merawat bayinya. Pada periode ini
ibu mengambil tanggung jawab terhadap
55
perawatan bayi dan harus beradaptasi dengan
segala kebutuhan bayi sangat bergantung pada
ibu, hal ini menyebabkan berkurangnya hak ibu,
kebebasan serta hubungan sosial. Jika hal ini
tidak dapat dilalui dengan baik maka dapat
menyebabkan terjadinya post partum blues dan
depresi post partum(Nurul Azizah, 2019)
56
2. 6 hari setelah persalinan
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal,
uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus, tidak ada pendarahan abnormal,
tidak ada bau
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi,
dan pendarahan abnormal
57
dengan 28 (duapuluh delapan) hari pasca
persalinan;
4. KF 4 : pada periode 29 (dua puluh sembilan)
sampai dengan42(empat puluh dua) hari pasca
persalinan.
2) KB Alami
a) Metode Kalender
1) Pengertian
58
Metode kalender atau pantang berkala
adalah cara/metode kontrasepsi sederhana
yang dilakukan oleh pasangan suami istri
dengan tidak melakukan senggama atau
hubungan seksual pada masa subur/ovulasi.
59
16 jatuh pada tanggal 24 Maret. Jadi
masa subur yaitu sejak tanggal 20 Maret
hingga tanggal 24 Maret. Sehingga pada
masa ini merupakan masa pantang untuk
melakukan senggama. Apabila ingin
melakukan hubungan seksual harus
menggunakan kontrasepsi.
1) Pengertian
60
kontrasepsi.
1) Pengertian
61
ketebalannya, yaitu 0,02 mm (Rahayu, 2016)
a. Cara Pengunaan
1) Pengertian
62
efektif (tingkat kehamilan 0,7/100 tahun-wanita).
(Rahayu, 2016)
2) Cara Pengunaan
63
h. Bila tidak mendapatkan haid harus periksa
ke klinik untuk tes kehamilan.
i. Pada permulaan minum pil kadang-kadang
mual, pening atau sakit kepala, nyeri
payudara, spotting. Kelainan seperti ini
muncul terutama pada 3 bulan pertama dan
lama-kelamaan akan hilang dengan
sendirinya. Bila keluhan tetap muncul
silahkan konsultasi ke dokter (Rahayu,
2016)
e. Metode Suntik
1) Pengertian
a. Suntik 1 bulan (kombinasi)
Jenis suntik kombinasi adalah 25 mg Depo
Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg Estradiol
sipionat yang diberikan injeksi I.M sebulan
sekali (Cyclofem), dan 50 mg Noretindron
Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang
diberikan injeksi I.M sebulan sekali (Rahayu,
2016)
b. Suntik 2 dan 3 bulan (progestin)
Kontrasepsi suntikan di Indonesia
adalah salah satu kontrasepsi yang popular.
Kontrasepsi suntikan yang digunakan ialah
long-acting progestin, yaitu Noretisteron
enantat (NETEN) dengan nama dagang
Noristrat dan Depomedroksi progesterone
acetat (DMPA) dengan nama dagang
Depoprovera.
Suntikan diberikan pada hari ke 3-5 hari
pasca persalinan, segera setelah
64
keguguran, dan pada masa interval
sebelum hari kelima haid. Teknik
penyuntikannya yaitu secara intramusculer
dalam, di daerah m. gluteus maksimus atau
deltoideus. Kontraindikasi kontrasepsi
suntikan kurang lebih sama dengan
kontrasepsi hormonal lainnya. Efek
samping yang berupa gangguan haid ialah
amenorea, menoragia, dan spotting
(Rahayu, 2016)
2) Cara Penggunaan
a. Suntik 1 bulan (kombinasi)
Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan
dengan suntikan intramuskuler dalam. Klien
diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan
ulang dapat diberikan 7 hari lebih awal,
dengan kemungkinan terjadi gangguan
perdarahan. Dapat juga diberikan setelah 7
hari dari jadwal yang telah ditentukan, asal
saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak
dibenarkan melakukan hubungan seksual
selama 7 hari atau menggunakan metode
kontrasepsi yang lain untuk 7 hari saja
(Rahayu, 2016)
b. Suntik 3 bulan (progestin)
Suntikan diberikan pada hari ke 3-5 hari
pasca persalinan, segera setelah keguguran,
dan pada masa interval sebelum hari kelima
haid. Teknik penyuntikannya yaitu secara
intramusculer dalam, di daerah m. gluteus
maksimus atau deltoideus. Kontraindikasi
65
kontrasepsi suntikan kurang lebih sama
dengan kontrasepsi hormonal lainnya
(Rahayu, 2016)
c. Alat Kontrasepsi Dalam Kulit (Implant)
1) Mekanisme
Kontrasepsi implan menekan ovulasi,
mengentalkan lendir serviks, menjadikan selaput
rahim tipis dan atrofi, dan mengurangi transportasi
sperma. Implan dimasukkan di bawah kulit dan
dapat bertahan higga 3-7 tahun, tergantung
jenisnya. (Matahari et al., 2018)
2) Efek samping
Perubahan pola haid (pada beberapa bulan
pertama: haid sedikit dan singkat, haid tidak
teratur lebih dari 8 hari, haid jarang, atau tidak
haid;setelah setahun: haid sedikit dan singkat, haid
tidak teratur, dan haid jarang), sakit kepala, pusing,
perubahan suasana perasaan, perubahan berat
badan, jerawat (dapat membaik atau memburuk),
nyeri payudara, nyeri perut, dan mual.
9. KB Non Hormonal
a. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (IUD)
1) Mekanisme
AKDR dimasukkan ke dalam uterus. AKDR
menghambat (AKDR) kemampuan sperma untuk
masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilisasi
sebelum ovummencapai kavum uteri, mencegah
sperma dan ovumbertemu, mencegah implantasi
telur dalam uterus (Matahari et al., 2018)
2) Efek samping
Perubahan pola haid terutama dalam 3-6 bulan
66
pertama (haid memanjang dan banyak, haid tidak
teratur, dan nyeri haid) (Matahari et al., 2018)
b. Tubektomi
1) Mekanisme
Menutup tuba falopii (mengikat dan memotong
atau memasang cincin), sehingga sperma tidak
dapat bertemu dengan ovum (Matahari et al.,
2018)
2) Efek samping
Tidak ada (Matahari et al., 2018)
c. Vasektomi
1) Mekanisme
Menghentikan kapasitas reproduksi pria
dengan jalan melakukan oklusi vasa deferens
sehingga alur transportasi sperma terhambat dan
proses fertilisasi tidak terjadi (Matahari et al.,
2018)
67
2) Efek samping
2.4. NEONATUS
2.4.1. Definisi neonatus
1. Sistem Pernapasan
a. Perkembangan paru
Paru berasal dari benih yang tumbuh di rahim,
yg bercabang-cabang dan beranting menjadi
68
struktur pohon bronkus. Proses ini berlanjut dari
kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun ketika jumlah
bronkiol dan alveol sepenuhnya berkembang,
walaupun janin memperlihatkan gerakan
pernapasan pada trimester II dan III. Ketidak
matanganparu terutama akan mengurangi peluang
kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia
24 minggu. Keadaan ini karena keterbatasan
permukaan alveol, ketidakmatangan sistem kapiler
paru dan tidak mencukupinya jumlah surfaktan
b. Awal timbulnya pernapasan
69
mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk
menyelenggarakan sirkulasi terbaik mendukung
kehidupan luar rahim, harus terjadi :
a. Penutupan foramen ovale jantung
70
yang dingin, merupakan usaha utama seorang bayi
untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
4. Imunoglobulin
Sistem imunitas bayi baru lahir, masih belum
matang sehingga rentan terhadap berbagai infeksi dan
alergi. Sistem imunitas yang matang menyebabkan
kekebalan alami dan buatan. Kekebalan alami terdiri
dari struktur tubuh yg mencegah dan meminimalkan
infeksi.
5. Gastrointestinal
1) Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai
menghisap dan menelan.
2) Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang
sudah terbentuk baik pada saat lair.
3) Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan
untuk menelan dan mencerna makanan
(selain susu) masih terbatas.
4) Hubungan antara esofagus bawah dan
lambung masih belum sempurna yang
mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir
dan neonates
5) Kapasitas lambung masih terbatas kurang dari
30cc untuk bayi baru lahir cukup bulan.
6) Kapasitas lambung ini akan bertambah secara
lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi
baru lahir.
7) Pengaturan makanan yang diatur bayi sendiri
penting contohnya memberi ASI on demand.
71
sekolah, bayi baru lahir juga membutuhkan perawatan yang
dapat meningkatkan kesempatan menjalani masa transisi
dengan berhasil. Tujuan asuhan bidanan yang lebih luas
selama ini adalah memberikan perawatan komprehensif
kepada bayi baru lahir pada saat ia dalam ruang rawat, untuk
mengajarkan orangtua bagaimana merawat bayi mereka, dan
untuk memberi motivasi terhadap upaya pasangan menjadi
orangtua, sehingga orangtua percaya diri dan mantap.
1. Pencegahan Infeksi
Pencegahan Infeksi merupakan bagian
terpenting dari setiap komponen perawatan bayi baru
lahir yang sangat rentan terhadap infeksi karena sistem
imunitasnya masih kurangsempurna. Perlu diperhatikan
pada saat melakukan asuhan pada bayi baru lahir
pencegahan infeksi sangat penting. Beberapa asuhan
yang diberikan gada bayi segera setelah lahir adalah
dengan:
1) Perawatan tali pusar
Mencuci tangan dengan sabun dan air
sebelum dansesudah merawat tali pusar.
Menjaga agar tali pusar tetap kering
dan terkenaudara atau dibungkus longgar
dengan kain bersih.
Bersihkan tali pusar dengan sabun dan
air jikatercemar oleh urine dan kotoran.
Hindari:
2) Perawatan mata
Membersihkan mata segera setelah lahir.
72
Mengoleskan salf atau tetes mata
tetracycline ataueritromysin dalam jam
pertama setelah kelahiran.
Penyebab yang umum dari kegagalan profilaksis :
Memberi profilaksis setelah jam pertama.
Pembilasan mata setelah pemakaian
obat tetesmata.
3) Imunisasi
Vaksinasi BCG sedini mungkin.
Dosis tunggal untuk OPV atau dalam 2
minggusetelah kelahiran.
Vaksinasi hepatitis B sesegera mungkin.
2. Perawatan Umum
1) Gunakan sarung tangan dan celemek waktu
memegang BBL sampal dengan memandikan
bayi minimal 6 jam, tidak perlu memakal masker
atau gaun penutup dalam perawatan BBL.
2) Bersihkan darah dan cairan bayi dengan
menggunakan kapas yang direndam dalam air
hangat kemudian keringkan.
a. Bersihkan pantat dan sekitar anus bayi
setiap selesai mengganti popok atau
setiap diperlukan
73
dengan menggunakan kapas yang
direndam air hangat, air sabun dan
dikeringkan dengan hati- hati.
3) Gunakan sarung tangan waktu merawat tali
pusar.
1) Lahir spontan.
2) Bila lahir dengan tindakan dilakukan setelah
bayi cukupsehat.
3) Bayi yang lahir dengan SC dengan anastesi
umumdilakukan setelah ibu dan bayi sadar
penuh.
4) Tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilal
APGAR minimal 7).
74
jantung)
75
dengan infeksiberat.
76
dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang
berasal dari jalan lahir selalu harus diperhatikan yaitu sumber
dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi. Banyaknya
kasus laserasi jalan lahir pada ibu dengan persalinan normal
menimbulkan upaya untuk menekan bahkan mencegah
terjadinya kasus tersebut agar tidak meningkatkan Angka
Kematian Ibu (AKI).
77
Robekan perineum terbagi atas 4 derajat :
1) Derajat satu: robekan ini terjadi pada mukosa vagina,
vulva bagian depan, kulit perineum.
2.5.4. Penatalaksaan
78
Berikut tatalaksana penjaitan yang dilakukan pada
derajat I-IV :
1. Derajat I: robekan ini kalau tidak terlalu besar,
tidak perlu dijahit
1) Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas
pembalut. Setelah terbuka maka ada kemungkinan
terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang
tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu
dilakukan penggantian pembalut. Demikian pula
pada perineum ibu, untuk itu diperlukan
pembersihan perineum.
2) Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi
kontaminasi air seni pada rectum akibatnya dapat
memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk
itudiperlukan pembersihan perineum.
3) Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan
79
sisa-sisa kotoran disekitar anus. Untuk mencegah
terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke
perineum yang letaknya bersebelahan maka
diperlukan proses pembersihan anus dan perineum
secara keseluruhan (Rahmadhani & Hikmah, 2020)
GEOGRAFI
BATAS ADMINISTRASI
80
2.6.2 . Visi, Misi dan Tujuan
Visi
“Terwujudnya Masyarakat Ciampea yang Mandiriuntuk hidup sehat”
81
2.6.3. Struktur Organisasi
6.
82
BAB III
PERKEMBANGAN KASUS
3.1. KEHAMILAN
3.1.1. Kunjungan pertama
1. Data Subyektif
a. Identitas Klien
Ibu Suami
Nama Ny. J Tn. C
b. Riwayat kehamilan
2. TP : 22 Maret 2023
83
5. Tanda-tanda bahaya atau penyulit : Tidak ada
1. Jumlah kehamilan : 2
4. Jumlah keguguran :0
84
Imunisasi TT : TT5
1. Status perkawinan
Kawin : Ya
3. Riwayat KB
85
BAK : ± 10x / hari ; keluhan : Tidak ada.
Kegiatan seksual : Tidak menentu ; keluhan : Tidak ada.
Istirahat : ± 7-9 Jam / Hari ; keluhan : Tidak ada.
Personal hygiene : Ibu mandi dan menganti pakaian dalam 2
kali sehari, dan selalu memastikan kukunya terpotong rapih
dan bersih.
Merokok : Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak pernah
merokok.
Minum minuman keras : Ibu mengatakan bahwa dirinya
tidak meminum minuman keras.
Mengonsumsi obat terlarang : Ibu mengatakan bahwa dirinya
tidak pernah mengkonsumsi obat terlarang.
a. Pemeriksaan Fisik
BB sekarang : 62 Kg
TB : 151 Cm
LILA : 26 Cm
IMT : m2 (Normal)
86
Tanda tanda vital :
Suhu : 36,7°C
TFU : 33 cm
Leopold I : 1 jari dibawah prosesus xipoideus, Bokong.
Leopold II : Teraba Punggung kanan.
Leopold III : Teraba Kepala, sudah masuk PAP.
Leopold IV : Penurunan kepala 4/5.
DJJ : 147x/ Menit, irama teratur, punctum
maksimum pada abdomen bagian kanan bawah pusat
Ekstremitas : Tangan : Tidak ada oedema, kuku tidak pucat
Kaki :Tidak ada varises, tidak ada oedema.
Genetalia luar :
87
Pengeluaran dari uretra dan skene : Tidak ada
4. Penatalaksanaan
88
dan paham.
8. Menganjurkan ibu untuk sudah mempersiapkan kain – kain
keperluan persalinan. Ibu mengetahui dan paham.
9. Menganjurkan ibu untuk melanjutkan vitamin yang masih ada
diibu. Ibu mengetahui dan paham.
10. Menjadwalkan kunjungan ulang ibu 1 minggu kemudian (pada
tangga 22 Maret 2023), atau apa bila ibu merasakan tanda – tanda
persalinan atau tanda bahaya pada trimester 3. Ibu menyetujui dan
paham.
1. Data Subyektif
a. Identitas klien
Ibu Suami
Nama Ny. J Tn. C
89
b. Riwayat kehamilan
2. TP : 22 Maret 2023
1. Jumlah kehamilan : 2
4. Jumlah keguguran : 0
90
Malaria : Tidak ada.
Penyakit kelamin HIV/AIDS : Tidak ada.
Penyakit ginjal : Tidak ada.
Penyakit asthma : Tidak ada.
Lainnya/ Keluarga : Tidak ada.
Imunisasi TT : TT5
1. Status perkawinan
Kawin : Ya
Lama menikah : 11 tahun.
Usia suami dan istri saat menikah : 18 tahun dan 30 tahun.
2. Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
Respon ibu : Senang dan Bahagian karna ini kehamilan yang
diinginkan
Respon suami : Suami mendukung dan turut serta merawat
kehamilan ibu
3. Riwayat KB
4. Alat kontrasepsi yang pernah digunakan : Implant
Lamanya : 2 tahun
Alasan berhenti : Ingin mendapatkan momongan kembali.
5. Dukungan keluarga : Baik
6. Pengambilan keputusan dalam keluarga : Baik
7. Gizi yang dikonsumsi dan kebiasaan makan
Pola makan : 3X sehari.
Menu : Nasi, Sayur, Lauk pauk, danBuah-buahan.
Minum : ± 2 liter sehari.
8. Budaya dan kepercayaan yang berkaitan dengan kehamilan :
acara empat dan tujuh bulanan.
9. Kebiasaan hidup sehat
Eliminasi :
91
BAB : 1 x / hari ; keluhan : Tidak ada.
BAK : ± 10x / hari ; keluhan : Tidak ada.
Kegiatan seksual : Tidak menentu ; keluhan : Tidak ada.
Istirahat : ± 7-9 Jam / Hari ; keluhan : Tidak ada.
Personal hygiene : Ibu mandi dan menganti pakaian dalam 2 kali
sehari, dan selalu memastikan kukunya terpotong rapih dan
bersih.
Merokok : Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak pernah
merokok.
Minum minuman keras : Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak
meminum minuman keras.
Mengonsumsi obat terlarang : Ibu mengatakan bahwa dirinya
tidak pernah mengkonsumsi obat terlarang.
10. Beban Kerja sehari hari : Mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
11. Dan petugas kesehatan yang diinginkan untuk membantu
Persalinan normal
Tempat bersalin : Puskesmas Ciampea
Penolong : Bidan.
2. Data Objektif
a. Pemeriksaan Fisik
BB sekarang : 62 Kg
TB : 151 Cm
LILA : 26 Cm
IMT : m2 (Normal)
92
Tekanan darah : 120/80 mmHgNadi : 82x/ Menit
Suhu : 36,2°C
TFU : 33 cm
Leopold I : 1 jari dibawah prosesus xipoideus, Bokong.
Leopold II : Teraba Punggung kanan.
Leopold III : Teraba Kepala, sudah masuk PAP.
Leopold IV : Penurunan kepala 3/5.
DJJ : 135x/ Menit, irama teratur, punctum
maksimum pada abdomen bagian kanan bawah pusat
Ekstremitas : Tangan : Tidak ada oedema, kuku tidak pucat
Kaki :Tidak ada varises, tidak ada oedema.
Genetalia luar :
93
Pembesaran kelenjar bartholini : Tidak ada
4. Penatalaksanaan
1. Melakukan informed consent kepada ibu, Ibu mengetahui dan
menandatangani.
2. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu, ibu mengetahui kondisi
kesehatannya dan kondisi janinnya.
3. Memberitahu ibu tanda bahaya pada kehamilan di trimester 3 ini,
ibu mengetahui dan paham.
4. Memberikan informasi kepada ibu bahwa keluhan yang dialaminya
merupakan hal yang wajar karena telah masuk dalam trimester 3
akhir mendekati persalinan. Ibu mengerti dan mengetahui
penyebab keluhannya.
5. Mengajarkan ibu teknik relaksasi agar ibu tidak terlalu gelisah dan
dapat mengurangi rasa mulas yang hilang timbul (His palsu), ibu
mengetahui dan paham.
6. Mengajarkan ibu untuk bermain gym ball agar kepala bayi semakin
turun, jika tidak ada gym ball dirumah lakukan gerakan senam
lantai yang telah dicontohkan. Ibu mengetahui dan paham.
7. Memberitahu ibu tanda – tanda persalinan, seperti mules yang
semakin sering dengan frekuensi yang cukup lama da nada
pengeluaran lender bercampur darah. Ibu mengetahui dan paham.
8. Menganjurkan ibu untuk sudah mempersiapkan kain – kain
94
keperluan persalinan. Ibu mengetahui dan paham.
9. Menganjurkan ibu untuk melanjutkan vitamin yang masih ada
diibu. Ibu mengetahui dan paham.
10. Menjadwalkan kunjungan ulang ibu 1 minggu kemudian (pada
tangga 23 Maret 2023), atau apa bila ibu merasakan tanda – tanda
persalinan atau tanda bahaya pada trimester 3. Ibu menyetujui dan
bersedia kunjungan ulang
3.2. PERSALINAN
3.2.1. Kala I
1. Identitas Klien
Ibu Suami
2. Riwayat
95
sering, dan mengeluarkan lendir bercampur darah
Kapan mulai terasa kontraksi : pukul 19: 00 WIB
Frekuensi kontraksi : 3 x 10 menit
Durasi kontraksi. : 30 detik
Kekuatan, kontraksi : Adekuat
Pengeluaran cairan vagina : Ketuban belum pecah
Gerakan janin : Aktif
Istirahat terakhir : Tadi siang jam 13.00 s/d 15.30
Makan terakhir : Tadi sore jam 17.00 WIB
BAK/BAB terakhir : BAK tadi tam 22.30 WIB
BAB tadi jam 05.00 WIB
3. Riwayat Kehamilan Sekarang
HPHT : 15 Juni 2022
TP : 22 Maret 2023
Paritas : G3P2A0
Penyulit selama kehamilan : Tidak ada
96
2017 39 Tidak Spontan - Tidak Tidak L 3.1
kg
m ada ada ada
g
2023 Sekarang
Hipertensi : Tidak.
Diabetes : Tidak.
Malaria : Tidak.
2. Data Objektif
1. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg Suhu : 36,5°C
Nadi: 81×/menit Respirasi 22×/menit
Muka : Tidak ada oedema pada wajah.
Mata : Conjungtiva tidak pucat, sklera
Mulut : Rahang tidak pucat, gigi tidak ada carries.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe.
Payudara : Bentuk simetris, puting susu menonjol, Sudah ada
colostrum, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak
adaretraksi.
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi.
97
TFU: 33 cm
Leopold I : 1 jari dibawah PX, Teraba Bokong.
Leopold II : Teraba Punggung kanan.
Leopold III : Teraba Kepala, sudah masuk PAP
Leopold IV : Penurunan kepala 2/5.
DJJ : 140x/ Menit
Ekstremitas : Tangan : Tidak ada oedema, kuku tidak pucat
Kaki : Tidak ada varises, tidak ada oedema.
Genetalia luar :
Varices : Tidak ada
Pendarahan : Tidak ada
Luka : Tidak ada
Cairan : Tidak ada
Pengeluaran dari uretra dan skene : Tidak ada
Pembesaran kelenjar bartholini : Tidak ada
Genetalia dalam :
portio : Tebal lunak
ketuban : Utuh
Pembukaan : 5cm
3. Analisa
4. Penatalaksanaan
98
2. Melakukan informed consent pada ibu dan kelurga terkait
tindakan yang akan dilakukan. Suami ibu menandatangani
inform consent
3. Menganjurkan keluarga ibu untuk menemani ibu selama
persalinan, suami Ny. J menemani ibu selama proses
persalinan.
4. Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang mudah
dicerna seperti roti dan minum minuman berenergi seperti
teh manis, Ibu bersedia makan dan minum(Teh manis, air
putih dan air mineral).
5. Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan jika masih dapat
melakukannya atau tidur dengan posisi miring ke kiri. Ibu
memilih untuk tidur miring ke kiri karena tidak sanggup
untuk berjalan.
6. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai teknik
relaksasi yang benar pada ibu, Ibu dapat melakukan salah
satu teknik relaksasi yaitu menarik napas panjang saat
kontraksi secara berkesinambungan (SAP terlampir).
7. Memberikan sentuhan pada perut dan counterpressure pada
pinggang ibu saat ada kontraksi untuk mengatasai rasa
ketidaknyamanan, Ibu merasa lebih nyaman dan rileks saat
diberikan sentuhan dan counterpressure.
8. Menganjurkan ibu untuk buang air kecil secara mandiri jika
ingin buang air kecil, Ibu bersedia untuk buang air kecil
secara mandiri.
99
100
101
3.2.2. Kala II
KALA II
17-03-
2023
S: Ibu mengatkan sudah ingin meneran, seperti BAB keras. O:
Adanya dorongan untuk meneran
01:10
HIS 4x10 (45’), frekuensi 45 detik, interval 2 menit,
WIB
kekuatan adekuat, DJJ 145x/menit teratur.
V/V: Taka da kelainan, Terdapat bloodshow dengan
jumlah banyak, vulva dan vagina membuka,tanpa ada
pengeluaran cairan, selaput ketuban sudah pecah jam
01.00, tekanan pada anus, porsio tidak teraba, pembukaan
serviks lengkap, presentasi kepala, UUK kanan depan ,
HIII+, tidak ada bagian janin yang ikut turun, tidak ada
bagian yang berdenyut, tidak ada molase.
A: Inpartu kala II P:
Menginformasikan hasil pemeriksaan, ibu mengerti dan
dapat mengulangi penjelasan bidan.
Mengecek perlengkapan alat persalinan dan resusitasi,
lengkap.
Posisikan ibu, ibu sudah siap.
102
01.24 KALA III
S: Merasa mulas
O: perut teraba keras, uterus globuler, TFU sepusat, tidak ada janin
kedua, kandung kemih tidak terpalpasi, tali pusat memanjang di
depan vulva.
P:
Cek janin ke-2 dan mengecek kandung kemih, janin
tunggal, kandung kemih tidak terpalpasi
KALA IV
S : Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas dan bahagia atas
01.50
kelahiran bayinya
O: TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih tidak terpalpasi,
pengeluaran darah +100 cc
Genitalia : tampak laserasi grade II
103
A: Kala IV persalinan dengan laserasi jalan lahir grade II
(Diana Putri)
3.3. NIFAS
3.3.1. Nifas 2 jam
104
1. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas Klien
Ibu Ayah
105
BAB : belum BAB setelah melahirkan.
106
2. Data Objektif
107
banyak,ibu mengerti, ibu makan nasi sayur dan daging
ayam.
5. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara
eksklusif selama 6 bulan, ibu bersdia.
6. Memberitahu ibu gizi seimbang pada masa nifas, Ibu
bersedia untuk makan lauk pauk sayuran dan buah.
7. Memberitahu cara perawatan vulva hygine,ibu mengerti
dan akan melakukanya.
8. Memberitahu tanda bahaya pada masa nifas seperti demam,
perdarahan banyak, keluar cairan berbau dari jalan lahir,
payudara bengkak, bengkak pada wajah, tangan, kaki, atau
sakit kepala, Ibu mengetahui tanda bahaya nifas dan bisa
menyebutkan kembali.
9. Melakukan Pendokumentasian.
a. Identitas Klien
Ibu Ayah
108
Agama Islam Islam
109
Frekuensi : 4x
Lamanya : ±15 menit.
Masalah : Tidak ada masalah
k. Dukungan suami dan keluarga terhadap ibu : suami sangat
mendukung dan antusias ingin membantu ibu untuk
menjaga bayi mereka.
l. Tanda tanda bahaya
1. Kelelahan atau sulit tidur : Tidak ada
2. Demam: Tidak ada
3. Nyeri atau merasa panas pada waktu buang air kecil :
Tidak ada
4. Sembelit haemorrhoid : Tidak ada
5. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri, bengkak : Tidak
ada
6. Nyeri abdomen: Tidak ada
7. Cairan vagina/lochea yang berbau busuk : Tidak ada
8. Pembengkakan payudara dan berat, Pembesaran puting
atauputing pecah pecah/terbelah : Tidak ada
9. Kesulitan dalam menyusui : Tidak ada
10. Perasaan sedih : Tidak ada
11. Merasa kurang mampu merawat bayi secara memadai :
Tidak ada
2. Data Objektif
110
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar
limfe.
Payudara : Tidak ada benjolan, tidak ada pembesaran
kelenjar(abses), ASI kolostrum sudah keluar.
Abdomen :
TFU : 3 jari dibawah pusat
Kandung kemih : Kosong/ tidak terpalpasi
Kaki : Tidak ad avarices, tidak ada oedema.
Perineum : Luka jahit masih basah, tidak ada
pembengkakan.
Anus : Tidak ada hemoroid.
3. Analisa
111
1.3.3 Nifas 4 Hari
CATATAN PERKEMBANGAN II
(kunjungan 4 hari )
5. Data Subjektif
6. Data Objektif
112
7. Analisa
A. Data Subjektif
113
Ibu mengatakan tidak ada keluhan, sudah dapat mobilisasi, dan
ASI keluar banyak, ibu sudah dapat mengurus bayinya sendiri,
Ibu Tidak Mengalami Baby Blues.
B. Data Objektif
114
sepertiyang ditanyakan oleh ibu KB apa yang boleh ia
gunakan pada masa sekarang yang tidak mempengaruhi
ASI-nya. Menyarankan ibu mengunakan KB suntik 3
bulan, dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan KB
jenis lainnya. Ibu mengerti dan menyetujui.
4. Meminta ibu untuk mendiskusikan terlebih dahulu alat
kontrasepsi yang akan digunakan bersama dengan
suaminya. Ibu mengerti dan menyetujui.
5. Meminta ibu untuk dapat melakukan istirahat dikala
bayinya juga tertidur, atau ibu harus dapat
menjadwalkan antarakegiatan dan waktu tidurnya agar
keadaan ibu tetap baik. Ibu mengerti dan setuju.
6. Menjadwalkan kunjungan ulang nifas 6 minggu ibu
pada tanggal 27 April 2023. Ibu menyetujui dan paham.
3.4. NEONATUS
A. Data Subjektif
1. Identitas Klien
115
Umur 28 Tahun 41 Tahun
Alamat Warung
Borong RT
01/02
2. Riwayat
116
Berat badan bayi : 3.200 gram
Panjang badan : 48 cm
4. Kepala
Kontur tulang tengkorak, Sutura, Fontanel : Normal tidak
ada penonjolan daerah cekung
Lingkar kepala : 33 cm
5. Telinga
Hubungan letak mata dan telinga : Simetris
6. Mata
Tidak ada tanda tanda infeksi atau pus : tidak
Warna sklera mata : Putih.
Reflek glabella : (+)/ positif
7. Hidung dan mulut
Pernapasan cuping hidung : tidak terdapat pernafasan
cuping hidung
Bibir dan langit-langit :tidak ada sumbing atau kelainan
lainnya.
Refleks rooting : (+) / positif
Refleks sucking : (+) / positif Refleks swalowing : (+) /
positif
8. Leher
Tidak ada pembengkakan : Tidak terdapat pembengkakkan
kelenjar tiroid maupun getah bening.
9. Dada
Lingkar dada : 30 cm Bentuk : simetris
Puting simetris : Ya
Bunyi nafas : Normal.
Bunyi jantung : Teratur.
Tidak ada retraksi dinding dada : Tidak.
10. Bahu, Lengan, dan Tangan
Gerakan normal : Normal.
117
Jumlah jari : Lengkap.
Refleks palmar grasp : (+) / positif.
Sistem saraf :
Refleks moro : (+) / positif.
11. Perut
Bentuk : Simetris.
Penonjolan sekitar pusat saat menangis : Tidak ada.
Pendarahan tali pusat : Tidak ada.
Benjolan/massa : Tidak ada.
12. Alat genetalia
Testis berada dalam skrotum : Ya.
Penis berlubang : Ya
13. Tangan & Kaki Gerakan normal : Ya.
Tampak normal : Ya.
Jumlah jari : Lengkap.
Refleks plantar : (+) / positif.
Refleks babinski : (+) / positif.
14. Punggung & Anus
Tidak ada pembengkakan atau cekungan pada punggung :
Tidak.
D. Penatalaksanaan
118
1. Menjaga kehangatan bayi. Bayi sudah hangat.
2. Mengukur TTV dan menilai head totoe bayi. Semua
normal dan lengkap.
3. Memberikan salep mata pada bayi, dan memberitahu
ibu manfaatnya. Sudah diberikan dan ibu mengetahui.
4. Menyuntikan Vit. K disepertiga paha kiri luar, dan
memberitahu ibu maaf pemberian Vit. K. Sudah
diberikan dan ibu mengetahui manfaatnya.
5. Mengdukasi ibu cara perawatan tali pusat yang baik
dan benar. Ibu mengerti dan dapat mengulangi.
6. Memantau keadaan bayi.
7. 5 jam kemudian memandikan bayi, bayi sudah mandi.
8. Penyuntikan HB0 dilakukan 5 jam setelah pemberian
Vit K di sepertiga paha kanan bagian luar dan
memberitahu ibu manfaat pemberian HB0. Sudah
diberikan dan ibu paham dan menyetuji.
A. Data Subjektif
1. Identitas klien
119
2. Tujuan datang : Ingin melakukan imunisasi Hb0
8. Riwayat keganasan : -
B. Data Objektif
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB : 3.200 gr
Nadi/DJA (Detak Jantung Anak) : 140 ×/ menit
Suhu : 36,5°c
C. Analisa
120
imunisasi dan memberitahu cara penanganannya, ibu
mengerti dan bersedia
6. Menjadwalkan kunjungan ulang BBL 4 ha r i (tanggal
2 0 M a r e t 2 0 2 3 )kemudian bersamaan dengan ibu.
Ibu mengetahui dan bersedia.
CATATAN PERKEMBANGAN I
(Kunjungan Neonatus 4 hari)
A. Data Subjektif
1. Keadaan umum
Suhu : 36,5°C
Pernafasan : 48x/ Menit
Nadi : 138x/ Menit
Berat badan : 3.300 Gram
Gerakan : Aktif
Eliminasi : BAK : 7-8 x/ Hari,
BAB : 4-5 x/ hari.
2. Pemeriksaan fisik
Kepala : Normal
Telinga : Tidak ada pengeluaran cairan
121
Mata : Sklera putih, conjungtiva merah
muda
Hidung & Mulut : Bersih, langit-langit menyatu
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar
tiroid dan getah bening.
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada,
tidak terdengar bunyi grok.
Bahu & Lengan : Simetris, bergerak aktif
Perut : Tali pusat belum puput, tidak ada
benjolan dancekungan, tidak ada tanda infeksi.
Alat Genetalia : Testi telah turun kedalam skrotum.
Tangan & Kaki :Simetris, bergerak aktif, jari lengkap,
tidak ada trombofebritis pada kaki.
Kulit : Kemerahan.
C. Analisa
122
15 menit disetiap pagi depan dan belakang dalam keadaan
bayi telanjang yang ditutupi matan dan bagian vitalnya.
Ibu mengerti dan menyetujui
7. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang
bersamaan dengan ibu kembali diminggu ke2. Ibu
menyetujui dan paham.
1. Keadaan umum
Suhu : 36,5°C
Pernafasan : 48x/ Menit
Nadi : 138x/ Menit
Gerakan : Aktif
Eliminasi : BAK : 7-8 x/ Hari, BAB : 6 x/ hari.
2. Pemeriksaan fisik
Kepala : Normal
Telinga : Tidak ada pengeluaran cairan
Mata : Sklera putih, conjungtiva merah
123
muda, tidak ada kelainan.
Hidung & Mulut : Bersih, langit-langit menyatu, tidak ada
kelainan bawaan.
Leher : Tidak ada kelainan, tidak ada pembengkakan
kelenjartiroid dan getah bening.
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada, tidak
terdengar bunyigrok.
Bahu & Lengan : Simetris, bergerak aktif, , tidak ada
kelainan bawaan.
Perut : Tali pusat sudah puput, tidak ada benjolan dan
cekungan, tidak ada tanda infeksi.
Alat Genetalia : Testi telah turun kedalam skrotum.
Tangan & Kaki : Simetris, bergerak aktif, jari lengkap,
tidak adakelainan bawaan.
Kulit : Kemerahan.
C. Analisa
D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu dan keluarga tentang kondisi bayi, ibu
dan keluarga telah mengetahui kondisi bayi.
2. Menjaga kehangatan bayi dengan membedong bayi, Bayi
tampak nyaman.
3. Memberitahu hasil pemeriksaan pada bayi, Ibu
mengetahui hasil pemeriksaan.
4. Mengingatkan ibu agar terus memberikan ASI Eksklusif
kepada bayinya, ibu bersedia melakukannya.
5. Menganjurkan ibu untuk selalu menjemur bayinya selama
15 menit disetiap pagi depan dan belakang dalam keadaan
bayi telanjang yang ditutupi matan dan bagian vitalnya.
124
Ibu mengerti dan menyetujui.
6. Menganjurkan ibu untuk tidak sering memakaikan popok
agar tidak terjadi ruam pada area selakangan bayinya. Ibu
setuju dan paham.
7. Menganjurkan ibu untuk melakukan imunisasi BCG dan
polio tetes pertama pada usia 1 bulan sekitar tgl 17 April
2023 atau sesuai dengan penjadwalan imunisasi yang
dimiliki Puskesmas. Ibu setuju dan paham
125
BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
4.1 Kehamilan
4.2 Persalinan
Pada kala I terjadi fase aktif yang cepat yaitu dalam waktu 30 menit
pembukaan 8 cm ke 10 cm terjadi sangat cepat, lebih cepat dari teori yang
menyatakan fase aktif pada kehamilan multipara terjadi dari 1 cm hingga
2 cm perjam dalam setiap kenaikan pembukaan dengan berikut dapat
disimpulkan bahwa keadaan persalinan dapat berbeda dengan teori yang
dikemukakan oleh (Kemenkes RI, 2015).
4.3 Nifas
126
4.4 Bayi Baru Lahir
Pada bayi Ny. R asuhan sudah sesuai dengan teori, tidak ada
kesenjanganantara teori dan praktek menurut (NI Waya Armini, 2017).
127
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Penutup
Dari hasil pengamatan dalam proses kehamilan, persalinan,
ataupun nifas sampai Asuhan Bayi Baru Lahir pada Ny. J dimulai
dari Trimester III yang dilakukan sejak tanggal 09 Maret 2023
sampai 30 Maret 2023 di Puskesmas Ciampea dapat disimpulkan
bahwa :
128
komprehensif mulai dari ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru
lahir, ibu nifas dan keluarga berencana dalam upaya
mengurangi angkakematian ibu dan bayi sesuai dengan teori
menejemen kebidanan.
129
mengembangkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan serta
keterampilan tentang bagaimana proses pemeriksaan dimulai
dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, dan
keluarga berencana agar bias menjadi seorang bidan yang
berkualitas dengan menerapkan pelayanan yang berkualitas
untuk masyarakat khususnya ibu dan anak .
a) Diharapkan mahasiswa dapat memanfaatkan setiap
fasilitas dan waktu yang ada agar tercipta generasi pelajar
yang mampu bersaing dan dapat menjadi pelaksana
kesehatan yang terikini (tidak tertinggal jaman).
5. Bagi Mayarakat
130
DAFTAR PUSTAKA
Angriani, R., Sudaryati, E., & Lubis, Z. (2018). Hubungan frekuensi menyusui
dengan kelancaran produksi asi ibu post partum di wilayah kerja
puskesmas Peusangan Selatan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh Tahun
2017.
Armini, N. W., Sriasih, N. G. K., & Marhaeni, G. A. (2017). Asuhan Kebidanan
(Neonatus, Bayi, Balita & Anak Prasekolah). POLTEKKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN.
Idaman, M., & ., Niken. (2019). PENGARUH PIJATAN PERINEUM DAN
SENAM KEGEL TERHADAP PENGURANGAN RUPTUR PERINEUM
PADA IBU BERSALIN. Jurnal Kesehatan Medika Saintika, 10(1), 39.
[Link]
Javaid, I. (1995). Cultural Control Practices in Cotton Pest Management in
Tropical Africa. Journal of Sustainable Agriculture, 5(1–2), 171–185.
[Link]
Kemenkes, R. I. (2015). Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Pusat
Pendidikan Dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.
Kemenkes, R. I. (2021). Profil Kesehatan Indonesia 2020. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 139.
Legawati. (2018). ASUHAN PERSALINAN & BAYI BARU LAHIR. Wineka
Media.
Masa nifas - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. (n.d.). Retrieved
March 3, 2023, from [Link]
Muslimin K. (2016). BAB II TINJAUAN TEORI ERGONOMI 2.1 Pendahuluan
2.1.1 Definisi Ergonomi.
Nurul Azizah, N. A. (2019). Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas
dan Menyusui. Umsida Press. [Link]
78-2
POGI, G. H. W. O. A. M. D. (2016). Asuhan persalinan normal.
[Link]
131
Putri, R. A., & Lestari, P. (2020). ANALISIS FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA LASERASI JALAN LAHIR
PADA PERSALINAN NORMAL DI PMB SRI HARTI BANYU BIRU.
Indonesian Journal of Midwifery (IJM), 3(1).
[Link]
Rahmadhani, I., & Hikmah, F. (2020). Analisis Pelaksanaan Pelayanan Antenatal
Care (ANC) pada Ibu Hamil di Puskesmas Candipuro Kabupaten Lumajang.
J-REMI: Jurnal Rekam Medik Dan Informasi Kesehatan, 1(4), 553–563.
Siti, P., Jamil, N., Keb, M., Sukma, F., & Hamidah, M. K. (n.d.). ASUHAN
KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI, BALITA DAN ANAK PRA
SEKOLAH. [Link]
Wahyuni, E. D., & Wahyuni, E. D. (2018). Asuhan kebidanan nifas dan
menyusui. Pusdik SDM Kesehatan.
Wulandari, R. C. L., SiT, S., Keb, M., Risyati, B. L., Keb, M., Maharani, S., Keb,
M., Saleh, U. K. S., Kristin, D. M., & ST, S. (2021). Asuhan Kebidanan
Kehamilan. Media Sains Indonesia.
Yulizawati, A., Lusiana, F., & Feni, A. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan
Pada Persalinan. Sidoarjo: Indomedia Pustaka.
132
Lampiran 1 Surat pernyataan klien
133
134
Lampiran 2 Lembaran konsultasi bimbingan
135
136
Lampiran 3 Surat izin komprehensif
137
138
Lampiran 4 Surat balasan Izin komprehensif
139
Lampiran 5 Dokumentasi
No Keterangan Dokumentasi
1 ANC
(kunjungan pertama)
2 ANC
(kunjungan kedua)
140
INC
3 NIFAS
(nifas 6 jam)
141
(Lanjutan)
(nifas 4 hari)
(nifas 2 minggu)
4 BBL
(BBL 1 jam)
142
(Lanjutan)
(BBL 6 jam)
(BBL 4 hari)
(BBL 2 minggu)
143
Lampiran 6 Satuan Acara Penyuluhan (SAP)
Sasaran : Ny. J
Waktu : 10 menit
I. Tujuan Umum
2. Teknik relaksasi
3. Manfaat relaksasi
III. Metode
1. Ceramah
144
2. Tanya jawab
IV. Materi
Terlampir
No Kegiatan Waktu
145
VII. Evaluasi
Materi
Bentuk pernafasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernafasan
diafragma yang mengacu pada pendataran kubah diafragma selama inspirasi
yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan
desakan udara masuk selama inspirasi. Adapun langkah- langkah teknik
relaksasi nafas dalam adalah sebagai berikut :
1. Ciptakan lingkungan yang tenang, lalu letakkan satu tangan di perut,
tepat di bawah tulang rusuk.
2. Tarik nafas secara perlahan melalui hidung ke dalam paru-paru anda,
kemudian hitung sampai hitungan lima (hitung perlahan
“satu,dua,tiga,empat,lima). Jika anda bernafas perut anda seharusnya
akan terangkat. Dada akan bergerak sedikit dan perut anda akan
mengembang.
3. Jeda dan tahan nafas sampai hitungan lima, lalu buang nafas perlahan
melalui hidung atau mulut, sampai hitungan lima. Dan pastikan untuk
menghembuskan nafas sepenuhnya, biarkan seluruh tubuh
melepaskannya (viasualisasikan lengan dan kaki anda longgar dan
lemas)
4. Usahakan agar tetap konsentrasi/mata sambil terpejam . Pada saat
konsentrasi pusatkan pada daerah nyeri. Bila anda telah
menghembuskannya sepenuhnya ambillah nafas dalam ritme normal
anda. Kemudian ulangi langkah 3 sampai 5 pada siklus diatas.
5. Pertahankan latihan sampai 3-5 menit. Ulangi latihan sampai 5 kali.
6. Setiap menghembuskan nafas, bawalah diri anda pada keadaan
rileks.(Yousifet al., 2018)
146
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Sasaran : Ny. J
Waktu : 10 menit
I. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. R dapat
mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik
dan benar.
1. Pengertian ASI
147
IV. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. R dapat
mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik dan
benar.
V. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. R dapat mengetahui :
1. Pengertian ASI
VI. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
VII. Materi
Terlampir
1. Gambar
2. Buku online
148
IX. Proses kegiatan dilapangan
No Kegiatan Waktu
149
X. Proses kegiatan dilapangan
No Kegiatan Waktu
150
XI. Evaluasi
Materi
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu,
yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. Pengertian ASI eksklusif adalah
pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi
berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap
ASI eksklusif ini. ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada
bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI
merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga
dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pada tahun 2001 World
Health Organization menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan
pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan
sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku
lagi.(Elly Dwi Wahyuni, [Link], 2018)
Posisi dalam menyusui Para ibu harus mengerti perlunya posisi yang
nyaman dan mempertahankannya ketika menyusui untuk menghindari
perlekatan pada payudara yang tidak baik yang akan berakibat pada
pengeluaran ASI yang tidak efektif dan menimbulkan trauma. Beberapa hal
yang perlu diajarkan pada ibu untuk membantu mereka dalam mencapai
posisi yang baik agar dicapai perlekatan pada payudara dan
mempertahankannya secara efektif adalah sebagai berikut.
151
mendorong terbentuknya fil dan sebagai akibatnya akan
mengurangi suplai susu.
b) Kepala dan leher harus berada pada satu garis lurus. Posisi ini
memungkinkan bayi untuk membuka mulutnya dengan lebar,
dengan lidah pada dasar mulut untuk menyauk/mengangkat
payudara ke atas. Usahakan agar kepala dan leher jangan
terpilin karena hal ini juga akan melindungi jalan napas dan
akan membantu refleks mengisap- menelan-bernapas.
152
sebaliknya karena dapat merusak bentuk payudara.
e) Hidung harus menghadap ke arah puting Hal demikian akan
mendorong bayi untuk mengangkat kepalanya ke arah
belakang dan akan memandu pencarian payudara dengan
dagunya. Dengan posisi demikian, lidah juga akan tetap berada
di dasar mulut sehingga puting susu berada pada pertemuan
antara langit-langit keras dan lunak.
f) Dekati bayi ke payudara dengan dagu terlebih dahulu Dagu
akan melekukkan payudara ke dalam dan bayi akan menyauk
payudara masuk ke dalam mulutnya.(Elly Dwi Wahyuni, [Link],
2018)
153
(Lanjutan)
Sasaran : Ny. J
Waktu : 15 menit
I. Tujuan Umum
154
(Lanjutan)
III. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
IV. Materi
Terlampir
1. Gambar
2. Buku online
No Kegiatan Waktu
155
3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit
mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan
156
(Lanjutan)
VII. Evaluasi
Materi
Efek fisiologis dari pijat oksitosin ini adalah merangsang kontraksi
otot polos uterus baik pada proses saat persalinan maupun setelah persalinan
sehingga bisa mempercepat proses involusi uterus. Produksi ASI sangat
dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu menyusui. Saat ibu menyusui merasa
nyaman dan rileks pengeluaran oksitosin dapat berlangsung dengan baik.
Terdapat titik-titik yang dapat memperlancar ASI diantaranya, tiga titik di
payudara yakni titik di atas putting, titik tepat pada putting, dan titik di bawah
putting. Serta titik di punggung yang segaris dengan payudara. Pijat stimulasi
oksitosin untuk ibu menyusui berfungsi untuk merangsang hormon oksitosin
agar dapat memperlancar ASI dan meningkatan kenyamanan ibu.
157
(Lanjutan)
158
(Lanjutan)
Sasaran : Ny. J
Waktu : 10 menit
I. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. J dapat
mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik dan
benar.
159
(Lanjutan)
III. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
IV. Materi
Terlampir
1. Gambar
2. Buku online
No Kegiatan Waktu
160
(Lanjutan)
VII. Evaluasi
Materi
Pencegahan Infeksi merupakan bagian terpenting dari setiap
komponen perawatan bayi baru lahir yang sangat rentan terhadap infeksi
karena sistem imunitasnya masih kurang sempurna. Perlu diperhatikan pada
saat melakukan asuhan pada bayi baru lahir pencegahan infeksi sangat
penting. Beberapa asuhan yang diberikan gada bayi segera setelah lahir adalah
dengan:
161
(Lanjutan)
Waktu : 10 menit
I. Tujuan Umum
162
(Lanjutan)
III. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
IV. Materi
Terlampir
1. Gambar
2. Buku online
No Kegiatan Waktu
163
(Lanjutan)
VII. Evaluasi
Materi
Langkah-Langkah
1) PERSIAPAN :
• Perlak : diletakkan di meja ganti popok atau boks atau tempat tidur
bayi
2) PERLENGKAPAN :
164
(Lanjutan)
bak setinggi ¼ bak jika ukuran bak cukup besar atau ½ bak jika
ukurannya kecil. Ukur kehangatan air dengan mencelupkan siku
lengan.
3) CARA MEMANDIKAN :
Posisi bayi di air harus lebih rendah dari kepala. Lepaskan tangan
kanan dari kakinya, lalu bilas tubuh bagian depan, tangan dan kaki
hingga bersih. Tubuh bagian belakang bisa dibilas tanpa harus
membalikkan badan bayi.
165
(Lanjutan)
166
(Lanjutan)
Sub Pokok : Teknik perawatan luka jait yang baik dan benar.
Bahasaan
Sasaran : Ny. J
Waktu : 10 menit
I. Tujuan Umum
167
(Lanjutan)
III. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
IV. Materi
Terlampir
1. Gambar
2. Buku online
No Kegiatan Waktu
168
(Lanjutan)
VII. Evaluasi
Materi
Definisi Perawatan Luka Perineum Perawatan adalah proses pemenuhan
kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam
rentang sakit sampai dengan sehat. Perineum adalah daerah antara kedua
belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus. Jadi perawatan perineum adalah
pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi
vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai
dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Perawatan perineum dapat mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi
dengan cara menjaga kebersihan perineum. Caraperawatan luka jahitan pun
cukup mudah yaitu sebagai berikut Membersihkan vulva mulai dari labia
mayora kiri, labia mayora kanan, labia minora kiri, labia minora kanan,
vestibulum, perineum. Arah dari atas ke bawah dengan kapas basah (1 kapas,
1 kali usap). Perawatan luka perineum dapat dilakukan pada waktu-waktu
berikut ini.
2) Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut. Setelah
terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada
cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu
dilakukan penggantian pembalut. Demikian pula pada perineum ibu,
untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3) Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air
seni pada
169
(Lanjutan)
170