0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan185 halaman

Asuhan Kebidanan di Puskesmas Ciampea

Dokumen tersebut merupakan laporan asuhan kebidanan komprehensif yang membahas tentang asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. J di Puskesmas Ciampea pada tahun 2023. Laporan tersebut membahas tentang tinjauan teori kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, dan robekan perineum serta gambaran lokasi praktik.

Diunggah oleh

Khairunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan185 halaman

Asuhan Kebidanan di Puskesmas Ciampea

Dokumen tersebut merupakan laporan asuhan kebidanan komprehensif yang membahas tentang asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. J di Puskesmas Ciampea pada tahun 2023. Laporan tersebut membahas tentang tinjauan teori kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, dan robekan perineum serta gambaran lokasi praktik.

Diunggah oleh

Khairunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY.

J
DI PUSKESMAS CIAMPEA KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2023

Disusun Oleh :
DIANA PUTRI
[Link]

AKADEMI KEBIDANAN PRIMA HUSADA BOGOR


BOGOR
2021
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. J
DI PUSKESMAS CIAMPEA KABUPATEN BOGOR

TAHUN 2023

Disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktik klinik kebidanan III

Disusun Oleh :
DIANA PUTRI
[Link]

AKADEMI KEBIDANAN PRIMA HUSADA BOGOR


BOGOR
2023
HALAMAN PERSETUJUAN

Asuhan Kebidanan Komprehensif Dengan Judul “ASUHAN KEBIDANAN


KOMPREHENSIF PADA NY. J DI PUSKESMAS CIAMPEA 2023” Telah disetujui
untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Asuhan Kebidanan Komprehensif Akademi
Kebidanan Prima Husada Bogor.

Bogor, Februari 2023


Pembimbing

Lela Zakiah, [Link]., [Link].

Mengetahui,

Direktur Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor

i
Meti Kusmiati,[Link]., [Link], [Link]

HALAMAN PENGESAHAN

Asuhan Kebidanan Komprehensif Dengan Judul “ASUHAN KEBIDANAN


KOMPREHENSIF PADA NY. J DI PUSKESMAS CIAMPEA KABUPATEN
BOGOR TAHUN 2023” Telah diperiksa dan disahkan oleh Tim Penguji Asuhan
Kebidanan Komprehensif Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor.

Bogor, Februari 2023


Tim Penguji :

1) ( )

2) ( )

Mengetahui,
Direktur Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor

ii
Meti Kusmiati,[Link]., [Link], [Link]
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Diana Putri


Tempat, Tanggal Lahir : Bogor, 26 Oktober 2002
Agama : Islam
Alamat : Kp. Jeletreng RT 02/04
Riwayat Pendidikan : 1. SDN Dewantara 01 (2012)
2. MTs Sirajul Falah (2018)
3. SMK Yapia Parung (2021)
4. Akbid Prima Husada Bogor (2021-
2023)

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Asuhan
Kebidanan Komprehensif dengan judul “ASUHAN KEBIDANAN
KOMPREHENSIF PADA NY. J DI PUSKESMAS CIAMPEA KABUPATEN
BOGOR TAHUN 2023” Dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Asuhan Kebidanan
Komprehensif ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mengikuti Praktik
Klinik Kebidanan II Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor.
Pada kesempatan ini saya banyak mendapat bimbingan, arahan dan dukungan
dari berbagai pihak, untuk itu saya mengucapkan banyak terimakasih kepada yang
terhormat:
1. H. Sokib. BSc selaku Ketua Yayasan Amal Husada Bogor yang saya hormati.
2. Ibu Meti Kusmiati, [Link]., [Link], [Link]. Selaku Direktur Akademi Kebidanan
Prima Husada Bogor yang saya hormati.
3. Ibu Bidan Yusni [Link] Selaku CI PKM Ciampea yang memberikan
bimbingan serta kesempatan bagi saya untuk mengambil pasien.
4. Ibu Nina Yusnia, [Link]., [Link] selaku pembimbing Asuhan Kebidanan
Komprehensif yang membantu membimbing saya selama penyusunan Asuhan
Kebidanan Komprehensif.
5. Ibu Selaku penguji Asuhan Kebidanan Komprehensif yang menguji saya.

6. Seluruh Dosen dan Staf Akademi Kebidanan Prima Husada Bogor yang tidak
dapat saya sebutkan satu persatu.
7. Orang tua saya, Adik-adik saya serta seluruh keluarga yang mendukung saya
iv
baik dukungan doa, motivasi dan waktunya.
8. Kepada teman-teman seperjuanganku D-III Kebidanan yang tidak bisa
disebutkan satu persatu yang telah memberikan mendukung dalam
menyelesaikan tugas kompre ini.
Saya menyadari Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif ini masihjauh dari
sempurna, oleh Karena itu saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan
untuk kesempurnaan penulisan Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif ini. Semoga
Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif inidapat bermanfaat bagi perkembangan
ilmu kesehatan.

Bogor, Februari 2023

Diana Putri

v
SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Diana Putri
NPM : 04419615007
Tahun Akademik : 2022-2023

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan


komprehensif saya yang berjudul :

”ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. J DI


PUSKEMAS CIAMPEA KABUPATEN BOGOR TAHUN 2023”

Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan plagiat maka saya akan menerima
sanksi yang telah ditetapkan. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan
sebenar – benarnya.

Bogor, Februari 2023

Diana Putri

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... ii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ................................................................... iii

KATA PENGANTAR................................................................................ iv

SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT............................................. vi

DAFTAR ISI ............................................................................................ vii

DAFTAR TABEL ....................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xi

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xii

BAB I ......................................................................................................... 1

PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1. LATAR BELAKANG ..................................................................... 1

1.2. TUJUAN ......................................................................................... 5

1.2.1. Tujuan Umum ........................................................................ 5

1.2.2. Tujuan Khusus ....................................................................... 5

1.3. WAKTU DAN TEMPAT PENGAMBILAN KASUS ..................... 5

1.4. GAMBARAN KASUS .................................................................... 6

BAB II ........................................................................................................ 9

TINJAUAN TEORI .................................................................................... 9

2.1. KEHAMILAN ................................................................................ 9

2.1.1. Definisi Kehamilan ................................................................ 9


vii
2.1.2. Standar Asuhan Antenatal ...................................................... 9

2.2. PERSALINAN .............................................................................. 17

2.2.1. Definisi persalinan ............................................................... 17

2.2.2. Tanda dan gejala persalinan ................................................. 18

2.2.3. Asuhan kebidanan pada persalinan ....................................... 20

2.2.4. Partograf .............................................................................. 27

2.3. NIFAS ........................................................................................... 36

2.3.1. Definisi nifas ....................................................................... 36

2.3.2. Perubahan fisik dan psikologis pada masa nifas.................... 37

2.3.3. Asuhan kebidanan pada masa nifas ...................................... 46

2.4. NEONATUS ................................................................................. 57

2.4.1. Definisi neonatus ................................................................. 57

2.4.2. Perubahan fisik pada neonatus ............................................. 57

2.4.3. Asuhan kebidanan pada neonatus ......................................... 61

2.5. RUPTUR PERENIUM .................................................................. 65

2.5.1. Pengertian ............................................................................ 65

2.5.2. Klasifikasi luka robekan perenium ....................................... 66

2.5.3. Penyebab robekan ................................................................ 67

2.5.4. Penatalaksaan....................................................................... 68

2.6. GAMBARAN LAHAN PRAKTEK .............................................. 69

2.6.1 Gambaran Umum ............................................................................

2.6.2 Visi, Misi dan Tujuan .......................................................................

2.6.3 Struktur Organisasi ..........................................................................


viii
2.6.4 Kegiatan KIA, KB dan RB ........................................................... 70

BAB III PERKEMBANGAN KASUS ...................................................... 70

3.1. KEHAMILAN .............................................................................. 70

3.1.1. Kunjungan pertama .............................................................. 70

3.2. PERSALINAN .............................................................................. 76

3.2.1. Kala I ................................................................................... 76

3.2.2. Kala II.................................................................................. 84

3.3. NIFAS ........................................................................................... 86

3.3.1. Nifas 2 jam .......................................................................... 86

3.3.2. Nifas 6 jam .......................................................................... 90

3.3.3. Nfas 10 jam.......................................................................... 94

3.3.4. Nifas 7 hari .......................................................................... 95

3.3.5. Nifas 14 hari ........................................................................ 97

3.3. NEONATUS ................................................................................. 99

3.4.1. Bayi baru lahir ..................................................................... 99

3.4.2. Neonatus 10 jam ................................................................ 105

3.4.3. Neonatus 7 hari .................................................................. 106

3.4.3. Neonatus 14 hari ................................................................ 108

3.4.4. Neonatus 1 bulan ............................................................... 110

BAB IV PEMBAHASAN KASUS.......................................................... 112

4.1 Kehamilan ................................................................................... 112

4.2 Persalinan .................................................................................... 112

4.3 Nifas ........................................................................................... 112


ix
4.4 Bayi Baru Lahir ........................................................................... 113

BAB V PENUTUP.................................................................................. 114

5.1. KESIMPULAN......................................................................... 114

5.2. SARAN .................................................................................... 114

DAFTAR PUSTAKA

x
DAFTAR TABEL

Table 2.1 Imunisasi TT……………………………………………11

Tabel 2.2 Nilai Apgar……………………………………………...63

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Halam depan partograf .................................................................... 34

Gambar 2.2 Halam belakang partograf ............................................................... 35

Gambar 2.3 Perubahan TFU selama masa nifas .................................................. 38

Gambar 2.4 Derajat luka perenium ..................................................................... 67

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat pernyataan klien


Lampiran 2 : Lembaran konsultasi bimbingan Lampiran 3 : Surat izin
komprehensif
Lampiran 4 : Surat balasan Izin komprehensif
Lampiran 5 : Dokumentasi
Lampiran 6 : SAP Teknik relaksasi
SAP Cara pemberian ASI
SAP Perawatan payudara
SAP Perawatan tali pusat SAP Cara memandikan bayi
SAP Cara perawatan luka perenium

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kehamilan merupakan proses alami dan normal dalam kehidupan
wanita pada masa reproduksi (Putri et al., 2018). Masa kehamilan yaitu
dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah
280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid
terakhir. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-
kira 280 hari, dan tidak lebih 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini
disebut matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut
kehamilan postmatur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan
premature(Yusuf et al., 2022). Akhir dari kehamilan adalah Persalinan
normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam
uterus melalui vagina ke dunia luar yang terjadi pada kehamilan yang cukup
bulan (37–42 minggu) dengan ditandai adanya kontraksi uterus yang
menyebabkan terjadinya penipisan, dilatasi serviks, dan mendorong janin
keluar melalui jalan lahir dengan presentase belakang kepala tanpa alat atau
bantuan (lahir spontan) serta tidak ada komplikasi pada ibu dan janin.
persalinan ditandai dengan keluarnya bayi yang lahir dalam presentasi
belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan
genap 37 minggu sampai 42 minggu, dengan berat badan lahir 2500 - 4000
gram, dengan nilai apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan yang disebut Bayi Baru
Lahir (Indah et al., 2019). Yang dilajutkan dengan Masa nifas adalah periode
waktu atau dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak
hamil. Masa ini dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika organ-organ
reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil (Ilmu & Journal, 2020).
Dalam peranan melayani asuhan tersebut tenaga kesehatan yang
menyediakan layanan kesehatan tersebut ialah Bidan, karena bidan

1
merupakan Care Provider (penyedia layanan kesehatan) yang memiliki peran
strategis unik dengan memposisikan dirinya sebagai mitra perempuan di
masyarakat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan perempuan dalam
menjalani siklus kehidupan reproduksinya melalui asuhan secara keseluruhan
dan berkesinambungan atau komprehensif. Karena keunikan profesi Bidan
adalah memberi pelayanan kepada pasangan ibu sampai anak balita 2 sebagai
satu kesatuan sejak masa prakonsepsi sampai masa balita. Tujuan utama
asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi (mengurangi kesakitan
dan kematian). (Merlly Amalia, [Link]., 2021)

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015


memperlihatkan angka kematian ibu tiga kali lipat dibandingkan target
MDGs. Pada tahun 2018, AKI mengalami penurunan sebanyak 205 kematian
ibu per 100.000 kelahiran hidup di Indonesia. Berdasarkan laporan Ditjen
Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI tahun 2020 menunjukkan bahwa,
jumlah kematian ibu menurut provinsi tahun 2018-2019 terdapat penurunan
dari 4.226 menjadi 4.221 kematian ibu di Indonesia. Jumlah kematian ibu di
Jawa Barat tahun 2018 sebanyak 79,7 jiwa dari 100.000 jumlah lahir hidup
dan pada tahun 2019 di Jawa Barat mengalami penurunan sebanyak 78,3 jiwa
dari 100.000 jumlah lahir hidup (Kemenkes RI, 2019). Pada tahun 2019
penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan (1.280 kasus), hipertensi
dalam kehamilan (1.066 kasus), dan infeksi (207 kasus). Hal tersebut, yang
menyebabkan AKI yang salah satunya dipengaruhi oleh faktor risiko yang
terjadi pada ibu hamil (Kemenkes RI, 2019). Kehamilan risiko tinggi adalah
kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang
lebih besar baik pada ibu maupun pada janin dalam kandungan serta
menyebabkan kematian, kesakitan, kecacatan, dan ketidak nyamanan.
Kehamilan risiko tinggi ditemukan pada ibu hamil yang terlalu tua (diatas 35
tahun), terlalu muda (dibawah 20 tahun), terlalu banyak (lebih dari 4 kali),
dan terlalu dekat (jarak melahirkan kurang dari 2 tahun) atau lebih dikenal
dengan 4 Terlalu (4T) ([Link] & Sulistiyowati, 2004). (Hazairin et al.,
2021)

2
Menurut World Health Organization (WHO) Angka kematian ibu
(AKI) masih sangat tinggi, sekitar 810 wanita meninggal akibat komplikasi
terkait kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari, dan sekitar 295
000 wanita meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan. Angka
kematian ibu di negara berkembang mencapai 462/100.000 kelahiran hidup.
Sedangkan di negara maju sebesar 11/100.000 kelahiran hidup (WHO,
2020).Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia diketahui mortalitas
maternal tahun 2002 mencapai 307 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH) dan
penurunan mortalitas maternal di tahun 2007 yaitu 228 per 100.000 KH.
Namun angka tersebut masih jauh dari yang diharapkan untuk mencapai
target. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2010-2014
yaitu 118/100.000 KH dan target MDGs (Millenium Development Goals)
tahun 2015 yaitu 102/100.000 KH. Diperlukan adanya upaya dan komitmen
yang kuat serta terpadu untuk memenuhi target tesebut (KemenKes, 2018).
(Herman, 2020) Angka Kematian Ibu (AKI) di seluruh dunia menurut World
Health Organization(WHO) tahun 2020 menjadi 295.000 kematian dengan
penyebab kematian ibu adalah tekanan darah tinggi selama kehamilan (pre-
eklampsiaa dan eklampsia), pendarahan, infeksi postpartum, dan aborsi yang
tidak aman (WHO, 2021). Menurut data ASEAN AKI tertinggi berada di
Myanmar sebesar 282.00/100.000 KH tahun 2020 dan AKI yang terendah
terdapat di Singapura tahun 2020 tidak ada kematian ibu di Singapura
(ASEAN Secretariat, 2021) (Febriani et al., 2022).

Di Indonesia indikator statuskesehatan masih ketinggalan darinegara-


negara ASEAN seperti Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi
masih cukup tinggi, target MPS yang ditetapkan untuk tahun 2016 adalah
menurunkan AKI menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup. Data yang
diperoleh dari Direktorat Bina Kesehatan Ibu dan Anak dari daerah pada
2016, jumlah ibu yang meninggal karena kehamilan, persalinan, dan nifas
pada 2016 sebanyak 2.019 kasus. (Susilawati et al., 2018)

3
Angka Kematian Ibu di Kabupaten Bogor Tahun 2013 masih
menggunakan Angka Kematian Ibu Jawa Barat yaitu sebesar 228 per 100.000
kelahiran hidup (SDKI 2007), Tahun 2014 dan Tahun 2015 menggunakan
Angka Kematian Ibu Jawa Barat berdasarkan SDKI 2012 yaitu sebesar 359
per 100.000 kelahiran hidup, di Tahun 2018menggunakan Angka Kematian
Ibu berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 sebesar 305
per 100.000 kelahiran hidup. (Brier & lia dwi jayanti, 2020)

Data kematian neonatal, bayi dan balita di Kabupaten Bogor tahun 2019
bersumber dari data dasar kesehatan anak yang tercatat dan dilaporkan oleh
puskesmas yaitu jumlah lahir mati sebanyak 167 kasus, jumlah kematian
neonatal umur (0-28 hari) sebanyak 91 kasus (neonatal 0-6 hari 83 kasus,
neonatal 7-28 hari 8 kasus) dan Kasus kematian ibu yang dilaporkan
berdasarkan laporan puskesmas (SP3) pada tahun 2019 sebanyak 72 terdiri
dari kematian ibu hamil sebanyak 17 orang, kematian ibu bersalin sebanyak
35 orang dan kematian ibu nifas sebanyak 20 orang. (Brier & lia dwi jayanti,
2020)

Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) juga
menjadi salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibitas
fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) Tahun 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup
dan berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2015
sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup, angka kematian ibu merupakan
kematian ibu yang terkait dengan ganggua kehamilan, persalinan dan masa
nifas (42 hari setelah melahirkan) pada setiap 100.00, kelahiran hidup dalam
suatu wilayah pada kurun waktu tertentu yang menujukkan derajat kesehatan
masyarakat di wilayah tersebut. Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal
Mortality Rate (MMR), tidak hanya merupakan indikator tingkat kesehatan
wanita, tetapi juga dapat lebih jelas menggambarkan tingkat akses, integritas
dan efektivitas sektor kesehatan. Oleh karena itu, MMR juga sering
digunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan dari suatu [Link]

4
Kematian Ibu Jawa Barat sebesar 321,15 per 100.000 Kelahiran Hidup
(Balitbang Daerah Prov Jabar 2003) masih jauh dari harapan target AKI
Nasional sebesar 150 per 100.000 Kelahiran Hidup. Berdasarkan Profil
Kesehatan Propinsi Jawa Barat Tahun 2001 bahwa dari hasil SKRT 1992
terungkap bahwa 45,8% kematian maternal terjadi pada waktu melahirkan
29,2% pada kehamilan berusia kurang dari 7 bulan, dan 20,8% terjadi pada
masa nifas, serta 4,2% terjadi karena keguguran. Menurut SKRT 1995, 36%
ibu hamil / bersalin mengalami komplikasi sewaktu hamil, bersalin atau nifas
dan 22% komplikasi paling sering timbul pada waktu bersalin. Hasil Survei
BPS Jawa Barat Tahun 2003 menunjukkan bahwa umumnya kematian ibu
terjadi pada saat melahirkan yaitu sebanyak 60,87% sedangkan yang
meninggal waktu nifas sebesar 30,43% dan yang meninggal waktu hamil
adalah 8,70% (Kemenkes RI, 2020).

Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah
jumlah kematian bayi dibawah usia satu tahun pada tiap 1000 kelahiran hidup
pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang sangat sensitif
terhadap kualitas dan pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama yang
berhubungan dengan perinatal,juga merupakan tolak ukur pembangunan
sosial ekonomi masyarakat menyeluruh, dimana angka kematian itu dihitung.
Kondisi sosial ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang
meningkat dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada
daya tahan terhadap infeksi penyakit. Kematian bayi adalah kematian yang
terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu
tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis
besar dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan
eksogen. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian
neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah
dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak
sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat
selama kehamilan. Kematian bayi eksogen atau kematian post neonatal,
adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang

5
usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan
pengaruh lingkungan luar. (Susilawati et al., 2018).

Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan, karena ibu dan anak


merupakan kelompok rentan terhadap keadaan keluarga dan sekitarnya secara
umum. Sehingga penilaian terhadap status kesehatan dan kinerja upaya
kesehatan ibu dan anak penting untuk dilakukan. Keberhasilan program
kesehatan ibu dan anak dapat dinilai melalui indikator utama Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Dalam hal ini upaya
yang dilakukan oleh kementrian kesehatan untuk mengurangi AKI berupa
menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang
berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, perawatan
pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi
komplikasi, pelayanan imunisasi Tetanus bagi wanita usia subur dan ibu
hamil, pemeriksaan HIV dan Hepatitis B, pemberian tablet tambah darah,
Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dan pelayaan keluarga
berencana termasuk KB pasca persalinan.(Podungge, 2020).

Upaya pemerintah percepatan penurunan AKI dilakukan dengan


menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang
berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, perawatan
pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi
komplikasi, dan pelayanan keluarga berencana termasuk KB pasca
persalinan. Pada bagian berikut, gambaran upaya kesehatan ibu yang
disajikan terdiri dari: (1) pelayanan kesehatan ibu hamil, (2) pelayanan
imunisasi Tetanus bagi wanita usia subur dan ibu hamil, (3) pemberian tablet
tambah darah, (4) pelayanan kesehatan ibu bersalin, (5) pelayanan kesehatan
ibu nifas, (6) Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), (7) pelayanan

6
kontrasepsi/KB dan (8) pemeriksaan HIV dan Hepatitis B. Dan Upaya
kesehatan anak yang dimaksud dalam Permenkes Nomor 25 Tahun 2014
dilakukan melalui pelayanan kesehatan janin dalan kandungan, kesehatan
bayi baru lahir, kesehatan bayi, anak balita, dan prasekolah, kesehatan anak
usia sekolah dan remaja, dan perlindungan kesehatan anak. Dalam Profil
Kesehatan Indonesia ini data dan informasi mengenai upaya kesehatan anak
disajikan dalam indikator kesehatan anak yang meliputi: pelayanan kesehatan
neonatal, imunisasi rutin pada anak, pelayanan kesehatan pada anak sekolah,
dan pelayanan kesehatan peduli remaja.(Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 2019)

Asuhan Kebidanan Komprehensif adalah asuhan yang diberikan secara


berkesinambungan kepada ibu selama kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi
baru lahir (BBL). Asuhan ini dilaksanakan dengan pendekatan manajemen
Varney dan pendokumentasian melalui metode SOAP. (Introduction, 2021)
Asuhan kebidanan Komprehensif yaitu manajemen kebidanan yang dimulai
dari ibu hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir agar persalinan dapat
berlangsung dengan aman dan bayi yang dilahirkan aman dan sehat sampai
masa nifas. Asuhan berkelanjutan tenaga kesehatan, pelayanana kebidanan
dilakukan mulai dari prakonsepsi, awal kehamilan, selama semua trimester,
persalinan, hingga 6 minggu pertama nifas.(Aprillia et al., 2020).

Asuhan kebidanan berfokus pada pencegahan dan promosi kesehatan


yang bersifat keseluruhan, diberikan dengan cara yang kreatif dan fleksibel,
suportif, peduli, bimbingan, monitor dan pendidikan berpusat pada
perempuan. Serta asuhan komprehensif sesuai keinginan dan tidak otoriter
serta menghormati pilihan perempuan. Sehingga berdasarkan uraian dan latar
belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan pengolahan data
komprehensif yang berjudul “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. J
DI PUSKESMAS CIAMPEA KABUPATEN BOGOR TAHUN 2023”

7
1.2 TUJUAN

1.2.1 Tujuan Umum


Untuk memberikan Asuhan Kebidanan Komprehensif kepada ibu
dan bayi berdasarkan data sekunder pada Asuhan Kebidanan
Komprehensif Pada Ny. J di Puskesmas Ciampea selama kehamilan,
persalinan, nifas, dan bayi baru lahir secara komprehensif dengan
menggunakan manajemen kebidanan.

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Memberikan asuhan ibu dari masa hamil trimester III, bersalin, nifas
dan bayi baru lahir dengan pendekatan manajemen kebidanan.
2. Dapat membandingkan asuhan yang diberikan pada ibu Hamil
dengan SOP ( Standar Operasional Prosedur).
3. Dapat membandingkan asuhan yang diberikan pada ibu Bersalin
dengan SOP ( Standar Operasional Prosedur).
4. Dapat membandingkan asuhan yang diberikan pada ibu Nifas dengan
SOP ( Standar Operasional Prosedur).
5. Dapat membandingkan asuhan yang diberikan pada Bayi dengan
SOP ( Standar Operasional Prosedur).

1.3 WAKTU DAN TEMPAT PENGAMBILAN KASUS


Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. H Dilakukan di
puskesmas Ciampea dengan menerapkan asuhan kebidanan yang dimulai
tanggal 20 Februari sampai dengan 06 April 2023. Dengan rentan waktu
yang lebih spesifik sebagai berikut :
1. Tanggal 09 Februari 2023 : Asuhan pada ibu Hamil kunjungan ke I
2. Tanggal 16 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Hamil kunjungan ke II
3. Tanggal 17 Maret 2023 : Asuhan Persalinan
4. Tanggal 17 Maret 2023 : Asuhan Bayi Baru Lahir ke I
5. Tanggal 17 Maret 2023 : Asuhan pada ibu nifas 2 jam
6. Tanggal 17 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Nifas 6 jam

8
7. Tanggal 20 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Nifas 4 hari
8. Tanggal 23 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Nifas 7 hari
9. Tanggal 23 Maret 2023 : Asuhan Bayi Baru Lahir ke II
10. Tanggal 30 Maret 2023 : Asuhan pada ibu Nifas 2 Minggu
11. Tanggal 30 Maret 2023 : Asuhan Bayi Baru Lahir ke III

1.4 GAMBARAN KASUS

Dalam laporan studi kasus ini penulis mengambil pasien di Puskesmas


Ciampea atas nama Ny. J yang ber alamat Warung borong 04/01 Kabupaten
Bogor, Ny. J cukup kooperatif dalam mengambil data laporan studi kasus ini.
Sedangkan lingkup masalahnya, yaitu melakukan Asuhan Kebidanan
Antenatal Care (ANC) pada Ny. J usia 29 tahun, Suku Sunda, Agama Islam,
Pendidikan terakhir SMA, Pekerjaan Ibu Rumah Tangga, dengan suami
bernama Tn. C umur 41 Tahun, Suku Sunda, Agama Islam, Pendidikan terakhir
SMA, Pekerjaan Wiraswasta yang ber alamat di Warung borong 04/01
Kabupaten Bogor.

Pada tanggal 09 Maret 2023 dilakukan pemeriksaan kehamilan pada


pukul 09.30 WIB ibu datang mengeluh merasa perut terasa kencang dan sakit
pada perut bawah. Dilakukan pemeriksaan TTV dengan hasil TB 153 cm, BB
62 Kg, TD 110/70 mmHg, Suhu 36,7°C, Respirasi 23x/Menit, Nadi 82x/Menit.
Usia kehamilan 37 Minggu 5 hari. Pemeriksaan kehamilan yang ke-2
dilakukan pada tanggal 16 Maret 2023 pukul 10.30 dengan keluhan perut terasa
kencang dan terasa mulas yang hilang timbul. Pada tanggal 17 Maret pukul
00.30 WIB. Hasil pemeriksaan ditemukan bahwa ibu sudah masuk dalam
proses inpartu kala 1 fase aktif. Dengan pemeriksaan dalam ditemukan
pembukaan 7cm. Ketuban pecah jam 01.00 WIB. Pembukaan lengkap Pukul
01.10 WIB. bayi lahir spontan pukul 01.23, dengan jenis kelamin Laki-laki,
berat badan 3200gram, panjang badan 48cm, lingkar kepala 33cm, lingkar dada
32cm, lingkar perut 33cm, plasenta lahir lengkap pukul pukul 01.32 WIB.
Keadaan ibu pada kala IV baik dan tidak ada kelainan.

9
Pada BBL 1 jam keadaan umum bayi baik, menangis kuat, tonus otot
aktif, warna kulit kemerahan, diberikan Vit.K dengan dosis 1 mg secara
intramuskular di paha bagian kiri (6 jam kemudian pemberian imunisasi Hb0),
salep mata dan bayi sudah bisa menyusui. Pada Nifas 2 jam ibu keadaan umum
ibu baik, dan ibu mengeluhkan nyeri bekas jalan lahir, pemeriksaan TTV
dengan hasil TD 110/80 mmHg, Suhu 36.3°C, Respirasi 21x/Menit, Nadi
82x/Menit, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus keras, kandung kemih
kosong, pengeluaran lochea rubra.

Pada Nifas 6 jam keadaan umum ibu baik dengan keluhan nyeri pada
bekas jaitan, tanda-tanda vital : TD 120/80 mmHg, Suhu 36°C, Respirasi
21x/Menit, Nadi 80x/Menit, TFU 3 jari dibawah pusat, kontraksi uterus keras,
kandung kemih kosong, pengeluaran lochea rubra dan pemberian therapy oral
berupa amoxcilin, pct, dan Fe.

Pada Nifas 4 hari dilakukan tanggal 20 maret 2023 pukul 11.40 WIB,
keadaan umum baik, tidak ada keluhan, tanda tanda vital : TD 120/80 mmHg,
N 82x/menit, RR 21x/menit, TFU Pertengahan antara pusat dan symfisis,
kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, pengeluaran lochea
sangunoelenta, luka jahitan mulai mongering dan membaik. Pada BBL 4 hari
dilakukan pada tanggal 20 maret 2023 pukul 11.45 WIB, keadaan umum baik,
berat badan 3300 gr, panjang badan 48 cm, suhu 36.6’C, denyut jantung
120x/menit, RR 40x/menit, tali pusat belum puput, kulit bayi tidak kuning.

10
BAB I
TINJAUAN TEORI

11
2.1 KEHAMILAN
2.1.1. Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah hasil dari pertemuan anatara sperma dan sel telur.
Dalam prosesnya, perjalanan sperma untuk bertemu sel telur (ovum) betul-
betul penuh perjuangan. Dari sekitar 20-40 juta sperma yang dikeluarkan,
hanya sedikit yang survive dan berhasil mencapai tempat sel telur. Dari
jumlah yang sudah sedetik itu, hanya 1 sperma saja yang dapat membuahi
sel telur.
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila
sihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu (9-10 bulan) menurut kalender
internasional. Kehamilan terbagi menjadi 3 trimester, dimana trimester satu
berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 13-27 minggu, dan
trimester ketiga 28-40 minggu(Muslimin K, 2016).

2.1.2. Standar Asuhan Antenatal

Menurut peraturan permenkes No.97 tahun 2014 (Javaid,


1995).Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus
memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari 10 T
sebagai berikut:
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan

Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal


dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.
Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama
kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya
menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin badan yang
kurang dari 9 kilogram selama kehamilan atau kurang dari 1

12
kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya gangguan
pertumbuhan janin. Pengukuran tinggi badan pada pertama kali
kunjungan dilakukan untuk menapis adanya faktor risiko pada ibu
hamil. Tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm meningkatkan
risiko untuk terjadinya CPD (Cephalo Pelvic Disproportion)

2. Ukur Tekanan darah

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal


dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah ≥
140/90 mmHg) pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai
edema wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria)

3. Nilai status Gizi (Ukur lingkar lengan atas /LiLA)


Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama oleh
tenaga kesehatan di trimester I untuk skrining ibu hamilberisiko
KEK. Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil yang
mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa
bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan
KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).

4. Ukur Tinggi fundus uteri Pengukuran tinggi fundus

Pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi


pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan. Jika
tinggifundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada
gangguanpertumbuhan janin. Standar pengukuran menggunakan pita
pengukursetelah kehamilan 24 minggu.

5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)


Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II
dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini

13
dimaksudkanuntuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III
bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke
panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah
lain.

Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya


setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120
kali/menit atau DJJ cepat lebih dari 160 kali/menit menunjukkan
adanya gawat janin.

6. Skrining Status Imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus


Toksoid (TT) bila diperlukan

Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus


mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil
diskrining statusimunisasi T-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu
hamil, disesuai dengan status imunisasiTibu saat ini. Ibu hamil
minimalmemiliki status imunisasi T2agar mendapatkan
perlindungan terhadap infeksi tetanus. Ibu hamil dengan status
imunisasi T5 (TTLong Life) tidak perlu diberikan imunisasi TT lagi.

Pemberian imunisasi TT tidak mempunyai interval maksimal,


hanya terdapat interval minimal. Interval minimal pemberian
imunisasi TT dan lama perlindungannya dapat dilihat pada table
berikut :

14
Table 2.1

Imunisasi TT

Selang waktu minimal


Imunisasi TT Lama perlindungan
pemberian imunisasi
Langkah awal pembentukan
TT1 kekebalan tubuh terhadap
penyakit tetanus
TT2 1 bulan setelah TT1 3 tahun
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun
TT4 12 bulan setelah TT3 10 tahun
TT5 12 bulan setelah TT4 >25 tahun

Sumber : (Javaid, 1995)

1) Beri Tablet tambah darah (tablet besi)


Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus
mendapat tablet tambah darah (tablet zat besi)dan Asam Folat
minimal 90 tablet selama kehamilan yang diberikan sejak kontak
pertama.

2) Periksa laboratorium (rutin dan khusus)


Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil
adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus. Pemeriksaan
laboratorium rutin adalah pemeriksaan laboratorium yang harus
dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu golongan darah,
hemoglobin darah, dan pemeriksaan spesifik daerah
endemis/epidemi (malaria, HIV, dll). Sementara pemeriksaan
laboratorium khusus adalah pemeriksaan laboratorium lain yang
dilakukan atas indikasi pada ibu hamil yang melakukan
kunjungan antenatal.

15
3) Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil
pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada
ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat
ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.

4) Temu wicara (konseling)


Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap kunjungan
antenatal yang meliputi : Kesehatan ibu, Perilaku hidup bersih
dan sehat, Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan
perencanaan persalinan, Tanda bahaya pada kehamilan,
persalinan dan nifas serta kesiapan menghadapi komplikasi,
Asupan gizi seimbang, Gejala penyakit menular dan tidak
menular, Penawaran untuk melakukan tes HIV dan Konseling di
daerah Epidemi meluas dan terkonsentrasi atau ibu hamil
dengan IMS dan TB di daerahepidemic rendah, Inisiasi Menyusu
Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif, KB paska persalinan,
Imunisasi, Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan
(Brain booster).

Adapun ketidaknyamanan yang dirasakan ibu hamil akibat perubahan


yang cukup signifikat bagi tubuh, membuat tubuh harus beradaptasi,
apabila tubuh tidak mampu beradaptasi maka akan menimbulkan suatu
masalah. Supaya ibu hamil dapat beradaptasi terhadap ketidaknyamanan
yang dirasakan maka ibu hamil perlu memahami apa penyebab terjadi
ketidaknyamanan yang dirasakan dan bagaimana cara mencegah atau
menanggulanginya (Wulandari et al., 2021)

16
Berikut beberapa masalah ketidak nyamanan yang akan dirasakan ibu
didalam Trimester 1,2 dan 3:

Sumber : (Javaid, 1995)

1. Beri Tablet tambah darah (tablet besi)


Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus
mendapat tablet tambah darah (tablet zat besi)dan Asam Folat
minimal 90 tablet selama kehamilan yang diberikan sejak kontak
pertama.

2. Periksa laboratorium (rutin dan khusus)


Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil
adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus. Pemeriksaan
laboratorium rutin adalah pemeriksaan laboratorium yang harus
dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu golongan darah,
hemoglobin darah, dan pemeriksaan spesifik daerah
endemis/epidemi (malaria, HIV, dll). Sementara pemeriksaan
laboratorium khusus adalah pemeriksaan laboratorium lain yang
dilakukan atas indikasi pada ibu hamil yang melakukan
kunjungan antenatal.

3. Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil
pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada
ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat
ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.

17
4. Beri Tablet tambah darah (tablet besi)

Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus


mendapat tablet tambah darah (tablet zat besi)dan Asam Folat
minimal 90 tablet selama kehamilan yang diberikan sejak kontak
pertama.

5. Periksa laboratorium (rutin dan khusus)

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil


adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus. Pemeriksaan
laboratorium rutin adalah pemeriksaan laboratorium yang harus
dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu golongan darah,
hemoglobin darah, dan pemeriksaan spesifik daerah
endemis/epidemi (malaria, HIV, dll). Sementara pemeriksaan
laboratorium khusus adalah pemeriksaan laboratorium lain yang
dilakukan atas indikasi pada ibu hamil yang melakukan
kunjungan antenatal.

6. Tatalaksana/penanganan Kasus

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil


pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada
ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat
ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan

18
7. Temu wicara (konseling)

Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap kunjungan


antenatal yang meliputi : Kesehatan ibu, Perilaku hidup bersih
dan sehat, Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan
perencanaan persalinan, Tanda bahaya pada kehamilan,
persalinan dan nifas serta kesiapan menghadapi komplikasi,
Asupan gizi seimbang, Gejala penyakit menular dan tidak
menular, Penawaran untuk melakukan tes HIV dan Konseling di
daerah Epidemi meluas dan terkonsentrasi atau ibu hamil
dengan IMS dan TB di daerahepidemic rendah, Inisiasi Menyusu
Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif, KB paska persalinan,
Imunisasi, Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan
(Brain booster).

Adapun ketidaknyamanan yang dirasakan ibu hamil akibat


perubahan yang cukup signifikat bagi tubuh, membuat tubuh harus
beradaptasi, apabila tubuh tidak mampu beradaptasi maka akan
menimbulkan suatu masalah. Supaya ibu hamil dapat beradaptasi terhadap
ketidaknyamanan yang dirasakan maka ibu hamil perlu memahami apa
penyebab terjadi ketidaknyamanan yang dirasakan dan bagaimana cara
mencegah atau menanggulanginya (Wulandari et al., 2021)

Berikut beberapa masalah ketidak nyamanan yang akan dirasakan ibu


didalam Trimester 1,2 dan 3:

19
Sumber : (Javaid, 1995)

1. Beri Tablet tambah darah (tablet besi)

Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus


mendapat tablet tambah darah (tablet zat besi)dan Asam Folat
minimal 90 tablet selama kehamilan yang diberikan sejak kontak
pertama.

2. Periksa laboratorium (rutin dan khusus)

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil


adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus. Pemeriksaan
laboratorium rutin adalah pemeriksaan laboratorium yang harus
dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu golongan darah,
hemoglobin darah, dan pemeriksaan spesifik daerah
endemis/epidemi (malaria, HIV, dll). Sementara pemeriksaan
laboratorium khusus adalah pemeriksaan laboratorium lain yang
dilakukan atas indikasi pada ibu hamil yang melakukan
kunjungan antenatal.

3. Tatalaksana/penanganan Kasus

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil


pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada
ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat
ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.

20
4. Temu wicara (konseling)

Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap


kunjungan antenatal yang meliputi : Kesehatan ibu, Perilaku
hidup bersih dan sehat, Peran suami/keluarga dalam
kehamilan dan perencanaan persalinan, Tanda bahaya pada
kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan menghadapi
komplikasi, Asupan gizi seimbang, Gejala penyakit menular
dan tidak menular, Penawaran untuk melakukan tes HIV dan
Konseling di daerah Epidemi meluas dan terkonsentrasi atau
ibu hamil dengan IMS dan TB di daerahepidemic rendah,
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif,
KB paska persalinan, Imunisasi, Peningkatan kesehatan
intelegensia pada kehamilan (Brain booster).

Adapun ketidaknyamanan yang dirasakan ibu hamil


akibat perubahan yang cukup signifikat bagi tubuh, membuat
tubuh harus beradaptasi, apabila tubuh tidak mampu
beradaptasi maka akan menimbulkan suatu masalah. Supaya
ibu hamil dapat beradaptasi terhadap ketidaknyamanan yang
dirasakan maka ibu hamil perlu memahami apa penyebab
terjadi ketidaknyamanan yang dirasakan dan bagaimana cara
mencegah atau menanggulanginya (Wulandari et al., 2021)

Berikut beberapa masalah ketidak nyamanan yang akan dirasakan


ibu didalam Trimester 1,2 dan 3:

21
a. Mual muntah pada pagi hari.
Mual muntah terjadi pada 50% wanita hamil. Mual
kadang-kadang sampai muntah yang terjadi pada ibu hamil
biasanya terjadi pada pagi hari sehingga disebut morning
sickness meskipun bisa juga terjadi pada siang atau sore hari.
Mual muntah ini lebih sering terjadi pada saat lambung dalam
keadaan kosong sehingga lebih sering terjadi pada pagi hari.

b. Sering BAK
Ibu hamil trimester I,II, dan III sering mengalami keluhan
sering Buang Air Kecil (BAK). Apabila sering BAK ini terjadi
pada malam hari akanmengganggu tidur sehingga ibu hamil
tidak dapat tidur dengan nyenyak, sebentar – sebentar
terbangun karena merasa ingin BAK.

c. Pica / Ngidam.
Pica atau ngidam sering terjadi pada ibu hamil trimester I
tetapi bisa juga dialami oleh ibu hamil sampai akhir
kehamilan. Ibu hamil sering menginginkan makanan yang
aneh – aneh, misalnya yang asam – asam, pedas–pedas.
Keinginan ibu hamil seperti keinginan yang harus dipenuhi,
kalau tidak dapat dipenuhi, ibu hamil merasa sangat kecewa,
kadang – kadangsampai menangis.

d. Kelelahan / Fatique.
Ibu hamil seringkali merasakan cepat lelah sehingga
kadang-kadang mengganggu aktifitas sehari–hari. Kelelahan
sering terjadi pada ibu hamil trimester I, penyebab yang pasti
sampai saat ini belum diketahui. Diduga hal ini berkaitan
dengan faktor metabolisme yang rata-rata menurun pada ibu
hamil. Sangat dianjurkan makan makanan yang seimbang,
tidur dan istirahat yang cukup, lakukan tidur siang. Ibu hamil
harus mengatur aktifitas sehari- hari untuk mendapatkan

22
istirahat ekstra.

e. Keputihan / Leukorrea.
Ibu hamil sering mengeluh mengeluarkan lendir dari
vagina yang lebih banyak sehingga membuat perasaan tidak
nyaman karena celana dalam sering menjadi basah sehingga
harus sering ganti celana dalam. Kejadian keputihan ini bisa
terjadi pada ibu hamil trimester pertama, kedua maupun
ketiga.

Penyebab utama adalah meningkatnya kadar hormon


estrogen pada ibu hamil trimester I dapat menimbulkan
produksi lendir servix [Link] ibu hamil terjadi
hyperplasia pada mukosa vagina.

f. Keringat Bertambah.
Ibu hamil seringkali mengeluh kepanasan, mengeluarkan
keringat yang banyak. Keringat yang banyak menyebabkan
rasa tidak nyaman, kadang – kadang mengganggu tidur
sehingga ibu hamil merasa lelah karena kurang istirahat.

g. Sakit Kepala.
Ibu hamil sering mengeluh sakit kepala, keluhan ini bisa
dirasakan ibu hamil baik trimester I, trimester II maupun
trimester III. Faktor yang menjadi penyebab Kelelahan atau
keletihan. Spasme / ketegangan otot, ketegangan pada otot
mata, Kongesti (akumulasi abnormal / berlebihan cairan
tubuh), dinamika cairan syaraf yang berubah.

h. Edema.
Kadang-kadang kita temui edema pada ibu hamil trimester
II. Edema ini biasa terjadi pada kehamilan trimester II dan III.
Pembesaran uterus pada ibu hamil mengakibatkan tekanan
pada vena pelvik sehingga menimbulkan gangguan sirkulasi.

23
Hal ini terjadi terutama pada waktu ibu hamil duduk atau
berdiri dalam waktu yang lama.

i. Haemorroid
Haemorroid biasa disebut wasir biasa terjadi pada ibu
hamil trimester II dan trimester III. Beberapa faktor yang dapat
menyebabkannya adalah Konstipasi, progesteron
menyebabkan pristaltik usus lambat, vena haemorroid tertekan
karena pembesaran uterus.

j. Insomnia (Sulit Tidur).


Insomnia dapat terjadi pada wanita hamil maupun wanita
yang tidak hamil. Insomnia ini biasanya dapat terjadi mulai
pada pertengahan masa kehamilan. Insomnia dapat disebabkan
oleh perubahan fisik yaitu pembesaran uterus, dapat juga
disebabkan oleh karena perubahan psikologis misalnya
perasaan takut, gelisah atau khawatir karena menghadapi
kelahiran. Adakalanya ditambahin oleh sering BAK dimalam
hari / nochturia

k. Mati Rasa (Baal), Rasa Perih Pada Jari Tangan/Kaki.


Mati rasa ini dapat terjadi pada kehamilan trimester II dan
trimester III. Mati rasa (baal) dapat disebabkan oleh karena
terjadinya pembesaran uterus membuat sikap/postur ibu hamil
mengalami perubahan pada titik pusat gaya berat sehingga
karena postur tersebut dapat menekan syaraf ulna. Di samping
itu hyperventilasi dapat juga menjadi penyebab rasa baal pada
jari, namun hal ini jarang terjadi. Untuk meringankan atau
mencegah, ibu hamil dapat dianjurkan untuk tidur berbaring
miring kekiri, postur tubuh yang benar saat duduk atau berdiri.
l. Nafas Sesak.
Sesak nafas ini biasanya mulai terjadi pada awal trimester
II sampai pada akhir kehamilan. Ibu hamil dapat terserang

24
nafas sesak oleh karenapembesaran uterus dan pergeseran
organ – organ abdomen. Pembesaran uterus membuat
pergeseran diafragma naik sekitar 4 cm. Ada kalanya terjadi
peningkatan hormon progesterone membuat hyperventilasi.

m. Sakit Punggung Atas dan Bawah.


Sakit punggung pada ibu hamil terjadi pada ibu hamil
trimester II dan III. Faktor penyebab pembesaran payudara
dapat berakibat ketegangan otot, keletihan, posisi tubuh
membungkuk ketika mengangkat barang, kadar hormon yang
meningkat menyebabkan cartilage pada sendi besar menjadi
lembek, posisi tulang belakang hiperlordosis.

n. Varises Pada Kaki / Vulva.


Varises pada kaki menyebabkan perasaan tidak nyaman
pada ibu hamil, biasa terjadi pada kehamilan trimester II dan
Trimester III. Faktor penyebab cenderung karena bawaan
keluarga, peningkatan hormon estrogen berakibat jaringan
elastic menjadi rapuh, jumlah darah pada vena bagian bawah
yang meningkat.

o. Konstipasi / Sembelit.

Konstipasi adalah BAB keras atau susah BAB biasa terjadi


pada ibu hamiltrimester II dan III. Faktor penyebab peristaltik
usus lambat disebabkan meningkatnya hormon progesterone,
motilitas usus besar lambat sehingga menyebabkan penyerapan
air pada usus meningkat, suplemen zat besi, tekanan uterus
yang membesar pada usus (Wulandari et al., 2021)

2.2. PERSALINAN
2.2.1. Definisi persalinan

25
Persalinan adalah akhir dari kehamilan dimana satu atau
lebih bayi meninggalkan rahim dengan melewati vagina atau
melalui operasi sesar. Yang usia kehamilan cukup bulan (37
minggu- 40 minggu), lahir secara spontan dengan presentasi
kepala tidak dengan komplikasi atau tanpa bantuan alat usia
kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai
adanya penyulit, persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi
dan menyebabkan perubahan pada serviks ( membuka dan
menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara
lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak
mengakibatkan perubahan serviks.
2.2.2. Tanda dan gejala persalinan
Adapun tanda dan gejala persalinan yang paling utama
menurut (Yulizawati et al., 2019)sebagai berikut :
1. Kontraksi (His)
Ibu terasa kenceng-kenceng sering, teratur dengan
nyeri dijalarkan dari pinggang ke paha. Hal ini
disebabkan karena pengaruh hormon oksitosin yang
secara fisiologis membantu dalam proses pengeluaran
janin. Ada 2 macam kontraksi yang pertama kontraksi
palsu (Braxton hicks) dan kontraksi yang sebenarnya.
Pada kontraksi palsu berlangsung sebentar, tidak terlalu
sering dan tidak teratur, semakin lama tidak ada
peningkatan kekuatan kontraksi. Sedangkan kontraksi
yang sebenarnya bila ibu hamil merasakan kenceng-
kenceng makin sering, waktunya semakin lama, dan
makin kuat terasa, diserta mulas atau nyeri seperti kram
perut. Perut bumil juga terasakencang.
Kontraksi bersifat fundal recumbent/nyeri yang
dirasakan terjadi pada bagian atas atau bagian tengah
perut atas atau puncakkehamilan (fundus), pinggang dan

26
panggul serta perut bagianbawah. Tidak semua ibu hamil
mengalami kontraksi (His) palsu. Kontraksi ini
merupakan hal normal untuk mempersiapkan rahim
untuk bersiap mengadapi persalinan.
2. Pembukaan
Serviks, dimana Primigravida >1,8cm dan
Multigravida 2,2cm Biasanya pada bumil dengan
kehamilan pertama, terjadinya pembukaan ini disertai
nyeri perut. Sedangkan pada kehamilan anak kedua dan
selanjutnya, pembukaan biasanya tanpa diiringi nyeri.
Rasa nyeri terjadi karena adanya tekanan panggul saat
kepala janin turun ke area tulang panggul sebagai akibat
melunaknya rahim. Untuk memastikan telah terjadi
pembukaan, tenaga medis biasanya akan melakukan
pemeriksaan dalam (vaginal toucher).

 Fase Laten Kala I Persalinan dimulai sejak awal


berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan secara bertahap, berlangsung hingga
serviks membuka kurang dari 4 jam. Pada
umumnya fase laten berlangsung kurang lebih 8
jam.
 Fase Aktif Kala I Persalinan adalah pembukaan 4
cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10
cm, akanterjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm
per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari
1 cm hingga 2 cm ( multipara)(Kemenkes, 2015).
3. Pecahnya Ketuban dan Keluarnya Bloody Show

Dalam bahasa medis disebut bloody show karena


lendir ini bercampur darah. Itu terjadi karena pada saat
menjelang persalinan terjadi pelunakan, pelebaran, dan

27
penipisan mulut rahim. Bloody show seperti lendir yang
kental dan bercampur darah. Menjelang persalinan
terlihat lendir bercampur darah yang ada di leher rahim
tsb akan keluar sebagai akibat terpisahnya membran
selaput yang menegelilingi janin dan cairan ketuban
mulai memisah dari dinding rahim.
Tanda selanjutnya pecahnya ketuban, di dalam selaput
ketuban (korioamnion) yang membungkus janin, terdapat
cairan ketuban sebagai bantalan bagi janin agar
terlindungi, bisa bergerak bebas dan terhindar dari
trauma luar. Terkadang ibu tidak sadar saat sudah
mengeluarkan cairan ketuban dan terkadang
menganggap bahwa yang keluar adalah air pipisnya.
Cairan ketuban umumnya berwarna bening, tidak berbau,
dan akan terus keluar sampai ibu akan melahirkan.
Keluarnya cairan ketuban dari jalan lahir ini bisa terjadi
secara normal namun bias juga karena ibu hamil
mengalami trauma, infeksi, atau bagian ketuban yang
tipis (locus minoris) berlubang dan pecah. Setelah
ketuban pecah ibu akan mengalami kontraksi atau nyeri
yang lebih intensif.
Terjadinya pecah ketuban merupakan tanda
terhubungnya dengan dunia luar dan membuka potensi
kuman/bakteri untuk masuk. Karena itulah harus segera
dilakukan penanganan dan dalam waktu kurang dari 24
jam bayi harus lahir apabila belum lahir dalam waktu
kurang dari 24 jam maka dilakukan penangana
selanjutnya misalnya Caesar.
2.2.3. Asuhan kebidanan pada persalinan

Bidan dalam melaksanakan langkah kegiatan Asuhan


Persalinan sesuai dengan standar operasional prosedur, dan

28
tercatat setiap langkah yang dikerjakan. Persiapan meliputi
persiapan tempat, keluarga menjadi fokus karena untuk
lainnya sudah dipastikan kesiapannya sebelum ibudatang
untuk mendapatkan pertolongan persalinan (Kemenkes,
2015). Berikut 60 langkah Asuhan Persalinan Normal
menurut Modul Midwifery Update (Kemenkes, 2015)
sebagai berikut:
1. Mengenali tanda dan gejala kala II

a. Mendengar dan melihat tanda kala dua


persalinan

b. Ibu merasa ada dorongan kuat meneran.

c. Ibu merasakan tekanan yang semakin


meningkat pada rectumdan vaginanya.
d. Perineum tampak menonjol.

e. Vulva dan sfingter ani membuka.

2. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-


obatan esensial untuk menolong persalinan dan
menatalaksana komplikasi segera pada ibu dan
bayi baru lahir.
3. Pakai celemek plastic atau dari bahan yang tidak
tembus cairan

4. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan


yang dipakaicuci tangan dengan sabun dan air
bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan
dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih dan
kering.
5. Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan
digunakan untuk periksa dalam.
6. Masukkan oksitosin 10 unit ke dalam tabung

29
suntik (gunakan tangan yang memakai sarung
tangan DTT atau steril dan pastikan tidak terjadi
kontaminasi pada alat suntik)
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya
dengan hati- hatidari depan ke belakang dengan
menggunakan kapas atau kassa yang sudah
dibasahi air desifeksi tingkat tinggi.
8. Dengan menggunakan teknik aseptic, melakukan
pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa
pembukaan serviks sudah lengkap. Bila selaput
ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan
sudah lengkap, lakukan amniotomi
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara
mencelupkan tanganyang masih memakai sarung
tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan
kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik
serta merendamnya di dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti
diatas).
10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah
kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ
dalam batas normal(100-180 kali/menit)
11. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah
lengkap dankeadaan janin baik. Membantu ibu
berada dalam posisi yang nyaman sesuai
keinginannya.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan
posisi ibu untuk meneran. (Pada saat ada his, bantu
ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia
merasa nyaman)
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu

30
mempunyai dorongan yangkuat untuk meneran
14. Anjurkan ibu untuk mengambil posisi yang
nyaman jika belum ada keinginan untuk meneran
15. Meletakkan handuk bersih di atas perut ibu
untukmengeringkan bayi.

16. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di


bawah bokong ibu.

17. Membuka partus set dan periksa kembali


kelengkapan peralatan dan bahan.
18. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada
kedua tangan

19. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter


5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan
yang dilapisi kain bersih dan kering, tangan yang
lain menahan belakang kepala untuk
mempertahankan posisi defleksi dan membantu
lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran secara
efektif untuk bernafas cepat da dangkal.

20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil


tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan
kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran
paksi luarsecara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar,
pegang kepala bayi secara bipariental.
Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontaksi
berikutnya.
23. Setelah kedua bahu dilahirkan, keser tangan bawah
untuk menopang kepala dan bahu. Gunakan tangan
atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan

31
siku sebelah atas.
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, meneluruskan
tangan yang ada diatas (anterior) dari punggung kea
rah kaki bayi untuk menyangganya saat panggung
dari kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi
dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
25. Lakukan penilaian (selintas):

a. Apakah bayi cukup bulan?

b. Apakah bayi menagis kuat dana tau bernafas


tanpakesulitan?
c. Apakah bayi bergerak dengan aktif?

d. Bila salah satu jawaban adalah “TIDAK”,


lanjut ke langkah resusitasi pada bayi baru
lahir dengan asfiksia. Bila semuajawaban
“YA”, lanjut ke-26.
26. Keringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan
bagian tubuh lainnya (kecuali kedua tangan) tanpa
membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
handuk/kain kering. Pastikan bayi dalam posisi dan
kondisi aman di perut bagian bawah ibu.
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan hanya
satu bayi yanglahir (hamil tunggal) dan bukan
kehamilan ganda (gemeli).
28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin
agar uterus berkontaksi baik.

29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan


oksitosin 10 intaunit (intamuskular) di 1/3 distal
lateral pada (lakukan aspirasi sebelum
menyuntikkan oksitosin).
30. Setelah 2 menit sejak bayi lahir, pegang tali pusat

32
dengan satu tangan pada sekitar 5 cm dari pusar
bayi, kemudian jari telunjuk dan jari tengah tangan
lain menjepit tali pusat dan geser hingga 3 cm
proksimal dari pusar bayi. Klem tali pusat pada titik
tersebut kemudian tahan klem ini pada posisinya,
gunakan jari telunjuk dan tengah tangan lain unutk
mendorong isi tali pusat kea rah ibu (sekitar 5 cm)
dan klemtali pusat pada sekitar 2 cm distal dari klem
pertama.
31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat

32. Letakkan bayi tengkurap di dada ibu untuk kontak


kulit ibu- bayi. Luruskan bahu bayi sehingga dada
bayi menempel di dada ibunya. Usahakan kepala
bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi
lebih rendah dari putting susu atau aerola mamae
ibu.
33. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak
5-10 cm dari vulva.
34. Meletakkan satu tangan diatas kain yang ada di
perut ibu, tepat di atas tulang pubis, dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi
kontaksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali
pusat dan klem dengan tangan yang lain untuk
menegangkan tali pusat.
35. Menunggu uterus berkontaksi dan kemudian
melakukan penegangankearah bawah pada tali pusat
dengan [Link] tekanan yang berlawanan
arah pada bagian bawah uterus dengan cara
menekan uterus kea rah atas dan belakang (dorso
kranial) dengan hati-hati untuk membantu
mencegah terjadinya inversion uteri. Jika plasenta

33
tidak lahir setelah 30- 40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan menunggu hinggakontaksi
berikut mulai.

36. Bila ada penekanan bagian bawah dinding depan


uterus kearah dorsal ternyata diikuti dengan
pergeseran tali pusat kearah distal maka lanjutkan
dorongan kearah kranial hingga plasenta dapat
dilahirkan.
37. Jika plasenta terlihat di introitus vagina,
melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta
dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar
plasenta hingga selaput ketuban terpilih. Dengan
lembut perlahan melahirkan selaput ketuban
tersebut.
38. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir,
melakukan masase uterus, meletakkan telapak
tangan di fundus dan melakukan massase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus
berkontraksi (fundus menjadi keras).
39. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel
ke ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk
memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan
utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantung plastic
atau tempat khusus.
40. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan
perineum dan segera menjahit laserasi yang
mengalami perdarahan aktif.
41. Menilai ulang uterus dan memastikannya
berkontraksi dengan baik.
42. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung

34
tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membilas
kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut
dengan air desinfeksi tingkat tinggi dan
mengeringkannya dengan kain yang bersih dan
kering.
43. Pastikan kandung kemih kosong.
44. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana
melakukan massase uterus dan memeriksa kontraksi
uterus.
45. Mengevaluasi kehilangan darah.

46. Memeriksa nadi ibu dan pastikan keadaan umum ibu


baik.
47. Pantau keadaan bayi dan pastikan bahwa bayi
bernafas dengan baik (40-60 kali/menit).
48. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan
klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit).
Mencuci dan membilas peralatan setelah
dekontaminasi.
49. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke
dalam tempat sampah yang sesuai.
50. Membersihkan ibu dengan menggunakan air
desinfeksi tingkat tinggi. Membersihkan cairan
ketuban, lender dan darah. Membantu ibu memakai
pakaian yang bersih dan kering.
51. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu
memberikan ASI. Menganjurkan keluarga untuk
memberikan ibu minuman dan makanan yang
diinginkan.
52. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk
melahirkan dengan larutan klorin 0,5% dan
membilas dengan air bersih.

35
53. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan
klorin 0,5%, membalkkan bagian dalam ke luar dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5% Selma 10
menit.
54. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air
mengalir.\
55. Pakai sarung tangan bersih/DTT untuk melakukan
pemeriksaan fisik bayi.
56. Dalam satu jam pertama, beri salep/tetes mata
profilaksis infeksi, Vitamin K1 1 mg IM Dipaha
Kiri Bawah Lateral,pemeriksaan fisik bayi baru
lahir, pernapasan bayi (normal 40-60 kal/menit) dan
temperature tubuh (normal 36,5-37,5℃) setiap 15
menit.
57. Setelah 1 jam pemberian Vitamin K1 berikan
suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan bawah
lateral. Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar
sewaktu-waktu dapat disusukan.

58. Lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan


rendam di dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit.
59. Cuci kedua tangan degan sabun dan air mengalir
kemudian keringkan dengan tissue atau handuk
pribadi yang bersih dan kering.
60. Melengkapi partograf (halaman depan dan
belakang), periksa tanda-tanda vital dan asuhan kala
IV persalinan. (Ikatan Bidan Indonesia, 2016)
2.2.4. Partograf
1. Definisi partograf
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan
kala satu persalinan dan informasi untuk membuat

36
keputusan klinik. Pencatatan partograf dimulai sejak fase
aktif persalinan (Kemenkes, 2015)

2. Tujuan utama penggunanan partograf:


1. Mencatat hasil observasi dan menilai kemajuan
persalinan
2. Mendeteksi apakah persalinan berjalan normal atau
terdapat penyimpangan, dengan demikian dapat
melakukan deteksi dini setiap kemungkinan
terjadinya partus lama (Yulizawati et al., 2019)
3. Partograf harus digunakan:
1. Untuk semua ibu dalam kala I fase aktif (fase laten
tidak dicatat di partograf tetapi di tempat terpisah
seperti di KMS ibu hamil atau rekam medik)
2. Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat
(spesialis obgyn, bidan, dokter umum, residen
swasta, rumah sakit, dll)

37
3. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang
memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan
dankelahiran (Yulizawati et al., 2019)

4. Kondisi ibu dan bayi yang dicatat dalam partograf:


1. DJJ tiap 30 menit
2. Frekuensi dan durasi kontraksi tiap 30 menit
3. Nadi tiap 30 menit
4. Pembukaan serviks tiap 4 jam
5. Penurunan bagian terbawah janin tiap 4 jam
6. Tekanan darah dan temperatur tubuh tiap 4 jam
7. Urin, aseton dan protein tiap 2-4 jam (Yulizawati et
al., 2019)
5. Partograf tidak boleh dipergunakan pada kasus:
1. Wanita pendek, tinggi kurang dari 145 cm
2. Perdarahan antepartum
3. Preeklamsi – eklamsi
4. Persalinan prematur
5. Bekas sectio sesarea
6. Kehamilan ganda
7. Kelainan letak janin
8. Fetal distress
9. Dugaan distosia karena panggul sempit
10. Kehamilan dengan hidramnion
11. Ketuban pecah dini
12. Persalinan dengan induksi.

6. Pencatatan kondisi ibu dan janin dalam partograf


meliputii
1. Informasi tentang ibu

38
 Nama, umur

 Gravida, para, abortus

 Nomor catatan medis/nomor puskesmas

 Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di


rumah, tanggal dan waktu penolong
persalinan mulai merawat ibu). Lengkapi
bagian awal (atas) partograf secara teliti pada
saat memulai asuhan persalinan. Waktu
kedatangan (tertulis sebagai “jam”) dan
perhatikan kemungkinan ibu datang dalam
fase laten persalinan. Tidak kalah penting,
catat waktu terjadinya pecah ketuban.
2. Kondisi bayi
Kolom pertama adalah digunakan untuk
mengamati kondisi janin. Yang diamati dari kondisi
bayi adalah DJJ, air ketuban dan penyusupan
(kepala janin)

a. DJJ
Menilai dan mencatat denyut jantung janin
(DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada
tanda-tanda gawat janin). Tiap kotak
menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di
sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ.
Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada
garis yang sesuai dengan angka yang
menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik
yang satu dengan titik lainnya dengan garis
tidak terputus. Kisaran normal DJJ 110-160
×/menit.

39
b. Warna dan adanya air ketuban

Menilai air ketuban dilakukan bersamaan


denganperiksa dalam. Warna air ketuban hanya
bisa dinilai jika selaput ketuban telah pecah.
Lambang untuk menggambarkan ketuban atau
airnya:

 U : selaput ketuban utuh (belum pecah)


 J : selaput ketuban telah pecah dan
air ketubanjernih
 M : selaput ketuban telah pecah dan
air ketubanbercampur mekonium
 D : selaput ketuban telah pecah dan
air ketubanbercampur darah
 K : selaput ketuban telah pecah dan
air ketubankering (tidak mengalir lagi)

Mekonium dalam air ketuban tidak


selalu berarti gawat janin. Merupakan
indikasi gawat janin jika juga disertai DJJ di
luar rentang nilai normal.

c. Penyusupan (molase) tulang kepala

Penyusupan tulang kepala merupakan


indikasi penting seberapa jauh janin dapat
menyesuaikan dengan tulang panggul ibu.
Semakin besar penyusupan semakin besar
kemungkinan disporposi kepal panggul.
Lambang yang digunakan:

 0: tulang –tulang kepala janin


terpisah, sutura mudah dipalpasi

40
 1: tulang-tulang kepa janin sudah
saling bersentuhan
 2: tulang-tulang kepala janin saling
tumpangtindih tapi masih bisa
dipisahkan
 3: tulang-tulang kepala janin saling
tumpangtindih dan tidak dapat
dipisahkan
3. Kemajuan persalinan

Kolom kedua untuk mengawasi kemajuan persalinan


yang meliputi: pembukaan serviks, penurunan bagian
terbawah janin, garis waspada dan garis bertindak dan
waktu.

a. Pembukaan serviks
Angka pada kolom kiri 0-10
menggambarkan pembukaan serviks.
Menggunakan tanda X pada titik silang
antara angka yang sesuai dengan temuan
pertama pembukaan serviks pada fase aktif
dengan garis waspada. Hubungan tanda X
dengan garis lurus tidak terputus.
b. Penurunan bagian terbawah Janin
Tulisan “turunnya kepala” dan garis tidak
terputus dari 0-5 pada sisi yang sama
dengan angka pembukaan serviks. Berikan
tanda “·” pada waktu yang sesuai dan
hubungkan dengan garis lurus.
c. Jam dan Waktu
Waktu berada dibagian bawah kolom
terdiri atas waktu mulainya fase aktif

41
persalinan dan waktu aktual saat
pemeriksaan. Waktu mulainya fase aktif
persalinan diberi angka 1-16, setiap
kotak: 1 jam yang digunakan untuk
menentukan lamanya proses persalinan
telah berlangsung. Waktu aktual saat
pemeriksaan merupakan kotak kosong di
bawahnya yang harus diisi dengan waktu
yang sebenarnya saat kita melakukan
pemeriksaan.
4. Kontraksi Uterus

Terdapat lima kotak mendatar untuk


kontraksi. Pemeriksaan dilakukan setiap 30
menit, raba dan catat jumlah dan durasi kontaksi
dalam 10 menit. Misal jika dalam 10 menit ada 3
kontraksi yang lamanya 20 setik maka arsirlah
angka tiga kebawah dengan warna arsiran yang
sesuai untuk menggambarkan kontraksi 20 detik
(arsiran paling muda warnanya).
5. Obat-obatan dan cairan yang diberikan

Catat obat dan cairan yang diberikan di kolom


yang sesuai. Untuk oksitosin dicantumkan jumlah
tetesan dan unit yang diberikan.

6. Kondisi Ibu
Catat nadi ibu setiap 30 menit dan beri tanda
titik padakolom yang sesuai. Ukur tekanan darah
ibu tiap 10 menit dan beri tanda ↕ pada kolom yang
sesuai. Temperatur dinilai setiap dua jam dan catat

42
di tempat yang sesuai.

7. Volume urine, protein dan aseton

Lakukan tiap 2 jam jika memungkinkan.

8. Data lain yang darus dilengkapi dari partograf


adalah:

 Data atau informasi umum

 Kala I

 Kala II

 Kala III

 Kala IV

 Bayi baru lahir

9. Diisi dengan tanda centang (√) dan diisi titik yang disediakan

Gambar 2.1 Halam depan partograf

43
44
Gambar 2.2 Halam belakang partograf

Sumber :

2.3. NIFAS
2.3.1. Definisi nifas

45
Masa nifas merupakan periode yang akan dilalui oleh ibu setelah
masa persalanian, yang dimulai dari setelah kelahiran bayi dan
plasenta, yakni setelah berakhirnya kala IV dalam persalinan dan
berakhir sampai dengan 6 minggu (42 hari) yang ditandai dengan
berhentinya perdarahan. Masa nifas berasal dari bahasa latin dari kata
puer yang artinya bayi, dan paros artinya melahirkan yang berarti
masa pulihnya kembali, mulai dari persalinan sampai organ-organ
reproduksi kembali seperti sebelum kehamilan .(Nurul Azizah, 2019)

Menurut (Wikipedia, 2021) Post partum adalah masa nifas yang


dimulai sejak bayi lahir dan plasenta bayi dilahirkan hingga keadaan
kandungan kembali seperti saat sebelum hamil. Masa ini biasanya
terjadi sekitar 6 minggu. Berikut beberapa tahapan pada masa nifas
menurut (Nurul Azizah, 2019) tahapan pada masa nifas hanya terbagi
menjadi 3 sebagai berikut :

1. Puerperium dini
Puerperium dini merupakan kepulihan, dimana ibu
diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan
aktivitas layaknya wanita normal lainnya.
2. Puerperium intermediate
Puerperium intermediet merupakan masa kepulihan
menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya sekitar 6-8
minggu.
3. Puerperium remote

Remote puerperium yakni masa yang diperlukan untuk


pulih dan sehat sempurna terutama apabila selama hamil atau
persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat
sempurna dapat berlangsung berminggu-minggu, bulanan,
bahkan tahunan.
2.3.2. Perubahan fisik dan psikologis pada masa nifas

46
[Link] Perubahan fisik

1. Perubahan Sistem Reproduksi

a. Uterus
Pada uterus setelah proses persalinan akan
terjadi proses involusi. Proses involusi
merupakan proses kembalinya uterus seperti
keadaan sebelum hamil danpersalinan. Proses ini
dimulai segera setelah plasenta keluar akibat
kontraksi otot-otot polos uterus. Pada tahap
ketiga persalinan uterus berada di garis tengah,
kira-kira2 cm di bawah umbilicus dengan bagian
fundus bersandar pada promontorium sakralis.
Pada saat ini, besar uterus kira-kira sama besar
uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu (kira-
kira sebesar jeruk asam) dan beratnya kira- kira
100 gr. Uterus pada waktu hamil penuh beratnya
11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi kira-kira
500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350
gr (11 sampai 12ons) 2 minggu setelah lahir.
Seminggu setelah melahirkanuterus akan berada
di dalam panggul. Pada minggu ke-6, beratnya
menjadi 50-60gr.
Perubahan uterus dapat diketahui dengan
melakukan pemeriksaan palpasi dengan meraba
bagian dari TFU (tinggi fundus uteri)

1) Pada saat bayi lahir, fundus uteri setinggi


pusat dengan berat 1000gram.
2) Pada akhir kala III, TFU teraba 2 jari
dibawahpusat.
3) Pada 1 minggu post partum, TFU

47
teraba pertengahan pusat simpisis dengan
berat 500gram.
4) Pada 2 minggu post partum, TFU teraba
diatassimpisis dengan berat 350gram.
5) Pada 6 minggu post partum , fundus uteri
mengecil (tidak teraba) dengan berat 50

gram.

Gambar 2.3 Perubahan TFU selama


masa nifas

(Dewi Puspitaningrum, 2012)


Pada saat pengecilan uterus akan mengeluarkan
desidua dan darah yang bercampur menjadi
cairan yang disebut lokhea. Dan cairan ini
menjadi sebuah tanda normalnya proses
pengecilan uterus. Pengeluaran lokhea dapat
dibagi berdasarkan waktu dan warnanya di
antaranya sebagai berikut:

1) Lokhea rubra/merah (kruenta)

Lokhea ini muncul pada hari pertama


sampai hari ketiga masa postpartum. Sesuai
dengan namanya, warnanya biasanya

48
merah dan mengandung darah dari
perobekan/luka pada plasenta dan serabut
dari desidua dan chorion. Lokhea terdiri
atas sel desidua, verniks caseosa, rambut
lanugo, sisa mekoneum, dan sisa darah.
2) Lokhea sanguinolenta

Lokhea ini berwarna merah kecoklatan dan


berlendir karena pengaruh plasma darah,
pengeluarannya pada hari ke 4 hingga hari
ke 7 haripostpartum.
3) Lokhea serosa

Lokhea ini muncul pada hari ke 7 hingga


hari ke 14 pospartum. Warnanya biasanya
kekuningan atau kecoklatan. Lokhea ini
terdiri atas lebih sedikit darah dan lebih
banyak serum, juga terdiri atas leukosit dan
robekan laserasi plasenta.
4) Lokhea alba

Lokhea ini muncul pada minggu ke 2


hingga minggu ke 6 postpartum. Warnanya
lebih pucat, putih kekuningan, serta lebih
banyak mengandung leukosit, sel desidua,
sel epitel, selaput lender serviks, dan
serabut jaringan yang mati.

b. Perubahan Pada Vulva, Vagina Dan Perineum

Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta


peregangan yang sangat besar selama proses
persalinan, akibat dari penekanan tersebut vulva
dan vagina akanmengalami kekenduran, hingga

49
beberapa hari pascaproses persalinan, pada masa
ini terjadi penipisan mukosa vagina dan hilangnya
rugae yang diakibatkan karena penurunan
estrogen pasca persalinan. Vagina yang semula
sangat teregang akan kembali secara bertahap
pada ukuran sebelum hamil selama 6-8 minggu
setelah bayi lahir.
Pada perineum setelah melahirkan akan
menjadi kendur, karena sebelumnya teregang
oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Post natal
hari ke 5 perinium sudah mendapatkan kembali
tonusnya walapun tonusnya tidak seperti sebelum
hamil. Pada awalnya, introitus vagina mengalami
eritematosa dan edematosa, terutama pada daerah
episiotomy atau jahitan laserasi. (Nurul Azizah,
2019)
2. Perubahan sistem pencernaan

Sistem pencernaan selama kehamilan


dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya
kadar progesteron yang dapat mengganggu
keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol
darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos.
Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai
menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan
waktu 3-4 hari untuk kembali normal. Beberapa hal
yang berkaitan dengan perubahan pada sistem
pencernaan, antara lain Nafsu makan, Motilitas, dan
Pengosongan usus.(Wahyuni & Wahyuni, 2018)
3. Perubahan sistem perkemihan

Setelah proses persalinan berlangsung, ibu

50
nifas akan
kesulitan untuk berkemih dalam 24 jam
pertama. Kemungkinan dari penyebab ini
adalah terdapar spasmesfinkter dan edema
leher kandung kemih yang telah
mengalami kompresi (tekanan) antara kepala janin
dan tulangpubis selama persalinan berlangsung.
Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam
12-36 jam post partum. Kadar hormon estrogen yang
bersifat menahan air akan mengalami penurunan
yang mencolok (diuresis). Ureter yang berdilatasi
akan kembali normal dalam6 minggu (Nurul Azizah,
2019)
4. Perubahan sistem muskuloskeletal/diastasis rekti
abdominalis
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah
persalinan. Pembuluh darah yang berada di
myometrium uterus akan menjepit, pada proses ini
akan menghentikan perdarahan setelah plasenta
dilahirkan. Ligamen, diafragma pelvis, serta fasia
yang meregang pada waktu persalinan, secara
berangsur angsur menjadi ciut dan pulih kembali
sehingga kadang membuat uterus jatuh kebelakang
dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum
menjadi [Link] ini akan kembali normal pada 6-
8 minggu setelah persalinan.(Nurul Azizah, 2019)

5. Perubahan sistem endokrin

Perubahan sistem endokrin yang terjadi pada


masa nifas adalah perubahan kadar hormon dalam
tubuh. Adapaun kadar hormon yang mengalami

51
perubahan pada ibu nifas adalah hormone estrogen
dan progesterone, hormone oksitosin dan prolactin.
Hormon estrogen dan progesterone menurun secara
drastis, sehingga terjadi peningkatan kadar hormone
prolactin dan oksitosin.
Hormon oksitosin berperan dalam proses
involusi uteri dan juga memancarkan ASI, sedangkan
hormone prolactin berfungsi untuk memproduksi
ASI. Keadaan ini membuat proses laktasi dapat
berjalan dengan baik. Jadi semua ibu nifas
seharusnya dapat menjalani proses laktasi dengan
baik dan sanggup memberikan ASI eksklusif pada
bayinya (Nurul Azizah, 2019)
6. Perubahan tanda-tanda vital

Beberapa perubahan tanda-tanda vital biasa


terlihat jika wanita dalam keadaan normal,
peningkatan kecil sementara, baik peningkatan
tekanan darah systole maupun diastole dapat timbul
dan berlangsung selama sekitar 4 hari setelah wanita
melahirkan. Fungsi pernapasan kembail pada fungsi
saat wanita tidak hamil yaitu pada bulan keenam
setelah wanita melahirkan. Setelah rahim kosong,
diafragma menurun, aksis jantung kembali normal,
serta impuls danEKG kembali normal.
Sedangkan Satu hari (24 jam) post partum suhu
badan akan naik sedikit (37,5-38 C̊ ) sebagai
akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan
cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu
badan menjadi biasa. Biasanya pada hari ke-3 suhu
badan naik lagi kaena ada pembentukan ASI dan

52
payudara menjadi bengka, berwarna merah karena
banyaknya ASI. Dan Denyut nadi normal pada orang
dewasa 60-80 kali per menit. Sehabis melahirkan
biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat (Nurul
Azizah, 2019)
7. Perubahan sistem kardiovaskular

Perubahan volume darah bergantung pada


beberapa factor, misalnya kehilangan darah selama
melahirkan dan mobilisasi, serta pengeluaran cairan
ekstravaskuler (edema fisiologis). Kehilangan darah
merupakan akibat penurunanvolume darah total yang
cepat, tetapi terbatas. Setelah ituterjadi perpindahan
normal cairan tubuh yang menyebabkan volume
darah menurun dengan lambat. Pada minggu ke-3 dan
ke-4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya
menurun sapai mencapai volume darah sebelum
hamil. Pada persalinan per vaginam, ibu kehilangan
darah sekitar 300-400 cc. (Nurul Azizah, 2019)
8. Perubahan sistem hematologi

Selama kehamilan, kadar fibrinogen dan


plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah
meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar
fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi
darah lebih mengental dengan peningkatan
viskositas sehingga meningkatkan faktor
pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat di
mana jumlah sel darah putihdapat mencapai 15.000
selama persalinan akan tetap tinggidalam beberapa
hari pertama dari masa postpartum. Jumlah sel
darah putih tersebut masih biasa naik sampai

53
25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologi jika
wanita tersebut mengalami persalinan lama(Nurul
Azizah, 2019)
[Link] Perubahan psikologis
1. Fase taking in

Fase taking in yaitu periode


ketergantungan berlangsung pada hari pertama
sampai hari kedua setelah melahirkan. Ibu baru
umumnya pasif dan tergantung, perhatiannya
tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya.
Pengalaman selama proses persalinan berulang
kali diceritakannya. Hal ini membuat ibu
cenderung menjadi pasif terhadap
lingkungannya. Kemampuan mendengarkan
(listening skills) dan menyediakan waktu yang
cukup merupakan dukungan yang tidak ternilai
bagi ibu. Kehadiran suami dan keluarga sangat
diperlukan pada fase ini. Petugas kesehatan dapat
menganjurkan kepada suami dan keluarga untuk
memberikan dukungan moril dan menyediakan
waktu untuk mendengarkan semua yang
disampaikan oleh ibu agar dia dapat melewati
fase ini dengan baik (Nurul Azizah, 2019)

2. Fase taking hold


Fase taking hold adalah fase/periode yang
berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase ini, ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung
jawabnya dalam merawat bayi. Ibu memiliki
perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah

54
tersinggung dan gampang marah sehingga kita
perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan
ibu. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan
karena saat ini merupakan kesempatan yang baik
untuk menerima berbagai masukan dalam
merawat diri dan bayinya sehingga timbul
percaya diri. Tugas sebagai tenaga kesehatan
yakni mengajarkan cara merawat bayi, cara
menyusui yang benar, cara merawat luka jahitan,
mengajarkan senam nifas, memberikan
pendidikan kesehatan yang diperlukan ibu
seperti gizi, istirahat, kebersihan diri, dan lain-
lain (Nurul Azizah, 2019)
3. Fase letting go
Fase letting go merupakan fase menerima
tanggung jawab akan peran barunya yang
berlangung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu
sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan
bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah
meningkat. Pendidian kesehatan yang kita
berikan pada fase sebelumnya akan sangat
berguna bagi ibu agar lebih mandiri dalam
memenuhi kebutuhan diri dan bayinya.
Dukungan dari suami dan keluarga masih sangat
diperlukan ibu. Suami dan keluarga dapat
membantu merawat bayi, mengerjakan urusan
rumah tangga sehingga ibu tidak terlalu lelah dan
terbebani. Ibu memerlukan istirahat yang cukup
sehinga mendapatkan kondisi fisik yang bagus
untuk dapat merawat bayinya. Pada periode ini
ibu mengambil tanggung jawab terhadap

55
perawatan bayi dan harus beradaptasi dengan
segala kebutuhan bayi sangat bergantung pada
ibu, hal ini menyebabkan berkurangnya hak ibu,
kebebasan serta hubungan sosial. Jika hal ini
tidak dapat dilalui dengan baik maka dapat
menyebabkan terjadinya post partum blues dan
depresi post partum(Nurul Azizah, 2019)

2.3.3. Asuhan kebidanan pada masa nifas


Pada kebijakan program nasional masa nifas paling sedikit
4 kali kunjungan yang dilakukan. Hal ini untuk menilai status
ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah, mendeteksi , dan
menangani masalah-masalah yang terjadi antara lain sebagai
berikut:
1. 6-8 jam setelah persalinan
a. Mencegah pendarahan masa nifas karena
atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
pendarahan, rujuk bila pendarahan berlanjut
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah
satu anggota keluarga bagaimana mencegah
pendarahan masa nifas karena atonia uteri
d. Pemberian ASI awal
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
baru lahir
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara
mencegah hipotermi

Catatan: Jika petugas kesehatan menolong


persalinan ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru
lahir selama 2 jam post partum, serta hingga dalam
keadaan stabil

56
2. 6 hari setelah persalinan
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal,
uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus, tidak ada pendarahan abnormal,
tidak ada bau
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi,
dan pendarahan abnormal

c. Memastikan ibu mendapatkan cukup


makanan, cairan, dan istirahat
d. Memastikan ibu menyusi dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai
asuhan pada bayi dan tali pusat, serta menjaga
bayi tetaphangat dan merawat bayi sehari-hari
3. 2 minggu setelah persalinan
Memastikan rahim sudah kembali normal
denganmengukur dan meraba bagian Rahim
4. 6 minggu setelah persalinan
a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-
penyulit yang ibu atau bayi alami

Memberikan konseling untuk KB secara dini


(Nurul Azizah, 2019)

Sedangkan menurut (Kemenkes RI, 2020b)


kunjungan nifas yangdiselengarakan adalah sebagai
berikut :

1. KF 1 : pada periode 6 (enam) jam sampai dengan 2


(dua) haripasca persalinan;
2. KF 2 : pada periode 3 (tiga) hari sampai dengan 7
(tujuh) haripasca persalinan;
3. KF 3 : pada periode 8 (delapan) hari sampai

57
dengan 28 (duapuluh delapan) hari pasca
persalinan;
4. KF 4 : pada periode 29 (dua puluh sembilan)
sampai dengan42(empat puluh dua) hari pasca
persalinan.

Kunjungan tersebut dilakukan dengan tujuan dan


penatalaksaan yang sama dengan asuhan kunjungan nifas
lainnya (Kemenkes, 2021)

Pada masa nifas, kunjungan nifas minggu ke 2 mulai


dilakukan pemberian konsultasi tentang alat kontrasepsi
keluarga berencana dan pada minggu ke 6 akan pasien akan
ditanyakan kembali untuk keputusantentang alat kontrasepsi
keluarga berencana. Berikut tentang apa itu keluarga
berencana.

a. Definisi keluarga berencana

KB adalah merupakan salah satu usaha untuk


mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan
nasehat perka- winan,pengobatan kemandulan dan
penjarangan kelahiran. KB merupakan tindakan
membantu individu atau pasangan suami istri untuk
menghindari kelahiran yang tidak diingin- kan,
mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan,
mengatur interval diantara kelahiran. KB adalah proses
yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah
dan jarak anak serta waktu kelahiran.
b. Metode kontrasepsi

2) KB Alami

a) Metode Kalender

1) Pengertian

58
Metode kalender atau pantang berkala
adalah cara/metode kontrasepsi sederhana
yang dilakukan oleh pasangan suami istri
dengan tidak melakukan senggama atau
hubungan seksual pada masa subur/ovulasi.

Hal yang perlu diperhatikan pada


siklus menstruasi wanita sehat ada tiga
tahapan:
(1) Pre ovulatory infertility phase (masa
tidak subur sebelum ovulasi).
(2) Fertility phase (masa subur).

(3) Post ovulatory infertility phase (masa


tidak subursetelah ovulasi).

Perhitungan masa subur ini akan


efektif bila siklus menstruasinya normal
yaitu 21-35 hari. Pemantauan jumlahhari
pada setiap siklus menstruasi dilakukan
minimal enam kali siklus berturut-turut.
Kemudian hitung periode masa subur
dengan melihat data yang telah dicatat.

(1) Bila haid teratur (28 hari)

Hari pertama dalam siklus haid


dihitung sebagaihari ke-1 dan masa subur
adalah hari ke-12 hingga hari ke-16 dalam
siklus haid. Contoh: Seorang wanita/istri
mendapat haid mulai tanggal 9 Maret.
Tanggal 9 Maret ini dihitung sebagai hari
ke-1. Makahari ke-12 jatuh pada tanggal
20 Maret dan hari ke

59
16 jatuh pada tanggal 24 Maret. Jadi
masa subur yaitu sejak tanggal 20 Maret
hingga tanggal 24 Maret. Sehingga pada
masa ini merupakan masa pantang untuk
melakukan senggama. Apabila ingin
melakukan hubungan seksual harus
menggunakan kontrasepsi.

(2) Bila haid tidak teratur Jumlah hari terpendek


dalam 6kali siklus haid dikurangi 18.
Hitungan ini menentukan hari pertama
masa subur. Jumlah hari terpanjang selama 6
siklus haid dikurangi 11. Hitungan ini
menentukan hari terakhir masa subur.
Rumus:

 Hari pertama masa subur =


Jumlah hariterpendek – 18.
 Hari terakhir masa subur =
Jumlah hariterpanjang –
11.(Rahayu, 2016)

c. Metode Amenore Laktasi

1) Pengertian

MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan


pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya
diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman
apapun lainnya (Setya & Sujiyatini, 2009, hal. 68).
MAL menggunakan praktik menyusui untuk
menghambat ovulasi sehingga berfungsi sebagai

60
kontrasepsi.

Apabila seorang wanita memiliki seorang bayi


berusia kurang dari6bulandanamenoreserta menyusui
penuh, kemungkinan kehamilan terjadi hanya sekitar
2%. Namun, jika tidak menyusui penuh atau tidak
amenorea, risiko kehamilan akan lebih besar. Banyak
wanita akan memilih bergantung pada metode
kontrasepsi lain seperti pil hanya progesteron serta
MAL.
a. Cara Pengunaan

Proses menyusui dapat menjadi metode kontrasepsi


alami karena hisapan bayi pada puting susu dan areola
akan merangsang ujung-ujung saraf sensorik,
rangsangan ini dilanjutkan kehipotalamus, hipotalamus
akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang
menghambat sekresi prolaktin namun sebaliknya akan
merangsang faktor-faktor tersebut merangsang hipofise
anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin.
Hormon prolaktin akan merangsang sel-sel alveoli
yang berfungsi untuk memproduksi susu (Rahayu,
2016)
d. Metode Kondom

1) Pengertian

Kondom merupakan selubung/sarung karet yang


terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks (karet),
plastik (vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang
dipasang pada penis saat berhubungan. Kondom
terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder,
dengan muaranya berpinggir tebal, yang digulung
berbentuk rata. Standar kondom dilihat dari

61
ketebalannya, yaitu 0,02 mm (Rahayu, 2016)
a. Cara Pengunaan

Alat kontrasepsi kondom mempunyai cara kerja


sebagai berikut:
 Mencegah sperma masuk ke saluran
reproduksi wanita.
 Sebagai alat kontrasepsi.

 Sebagai pelindung terhadap infeksi atau


transisi mikroorganisme penyebab (IMS
termasuk HBV dan HIV/AIDS) dari satu
pasangan kepada pasangan yang lain (khusus
kondom yang terbuat dari lateks dan vinil)
(Rahayu, 2016)
b. KB Hormonal

a. Metode Pil kombinasi

1) Pengertian

Pil kombinasi ini dipakai oleh lebih dari 65 juta


wanita di seluruh dunia. Dalam satu pil terdapat baik
estrogen maupun progestin sinetik. Pil diminum
setiap hari selama 3 minggu, diikuti dengan 1
minggu tanpa pil atau plasebo, pada saat mana suatu
perdarahan surut akan terjadi. Estrogennya ialah
etinil estradiol atau mestranol, dalam dosis 0.05;
0,08; atau 0,1 mg per tablet. Progestinnya
bervariasi: yang merupakan androgen, yang
merupakan progesteron, atau mempunyai pengaruh
estrogen instrinsik. Efektivitas secara teorotis
hampir 100% (tingkat kehamilan 0,1/100 tahun-
wanita). Efektivitas pemakaian ialah 95- 98%

62
efektif (tingkat kehamilan 0,7/100 tahun-wanita).
(Rahayu, 2016)
2) Cara Pengunaan

a. Tunjukkan cara mengeluarkan pil dari


kemasannya dan ikuti panah yang
menunjuk deretan berikut.
b. Pil diminum setiap hari, lebih baik pada
saat yang sama setelah makan malam.
c. Sangat dianjurkan diminum pada hari
pertama haid.

d. Bila paket 28 tablet mulai diminum pada


hari pertama haid dan dilanjutkan terus
tanpa terputus dengan rangkaian yang
baru tanpa menghiraukan ada tidaknya
haid. Bila paket pil yang berisi 20,21 dan
22 mulai diminum pada hari kelima haid
diteruskan sampai habis kemudian tunggu
satu minggu baru mulai minum pil dari
paket baru.
e. Bila muntah dalam waktu 2 jam setelah
menggunakan pil, gunakan metode
kontrasepsi yang lain.
f. Bila terjadi muntah hebat atau diare lebih
dari 24 jam, maka bila keadaan
memungkinkan dan tidak memperburuk
keadaan anda, pil dapat diteruskan.
g. Bila lupa minum pil 3 kali berturut-turut
mungkin si ibu akan mengalami haid dan
hentikan minum pil, minumlah pil yang
baru mulai hari kelima haid.

63
h. Bila tidak mendapatkan haid harus periksa
ke klinik untuk tes kehamilan.
i. Pada permulaan minum pil kadang-kadang
mual, pening atau sakit kepala, nyeri
payudara, spotting. Kelainan seperti ini
muncul terutama pada 3 bulan pertama dan
lama-kelamaan akan hilang dengan
sendirinya. Bila keluhan tetap muncul
silahkan konsultasi ke dokter (Rahayu,
2016)
e. Metode Suntik
1) Pengertian
a. Suntik 1 bulan (kombinasi)
Jenis suntik kombinasi adalah 25 mg Depo
Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg Estradiol
sipionat yang diberikan injeksi I.M sebulan
sekali (Cyclofem), dan 50 mg Noretindron
Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang
diberikan injeksi I.M sebulan sekali (Rahayu,
2016)
b. Suntik 2 dan 3 bulan (progestin)
Kontrasepsi suntikan di Indonesia
adalah salah satu kontrasepsi yang popular.
Kontrasepsi suntikan yang digunakan ialah
long-acting progestin, yaitu Noretisteron
enantat (NETEN) dengan nama dagang
Noristrat dan Depomedroksi progesterone
acetat (DMPA) dengan nama dagang
Depoprovera.
Suntikan diberikan pada hari ke 3-5 hari
pasca persalinan, segera setelah

64
keguguran, dan pada masa interval
sebelum hari kelima haid. Teknik
penyuntikannya yaitu secara intramusculer
dalam, di daerah m. gluteus maksimus atau
deltoideus. Kontraindikasi kontrasepsi
suntikan kurang lebih sama dengan
kontrasepsi hormonal lainnya. Efek
samping yang berupa gangguan haid ialah
amenorea, menoragia, dan spotting
(Rahayu, 2016)

2) Cara Penggunaan
a. Suntik 1 bulan (kombinasi)
Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan
dengan suntikan intramuskuler dalam. Klien
diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan
ulang dapat diberikan 7 hari lebih awal,
dengan kemungkinan terjadi gangguan
perdarahan. Dapat juga diberikan setelah 7
hari dari jadwal yang telah ditentukan, asal
saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak
dibenarkan melakukan hubungan seksual
selama 7 hari atau menggunakan metode
kontrasepsi yang lain untuk 7 hari saja
(Rahayu, 2016)
b. Suntik 3 bulan (progestin)
Suntikan diberikan pada hari ke 3-5 hari
pasca persalinan, segera setelah keguguran,
dan pada masa interval sebelum hari kelima
haid. Teknik penyuntikannya yaitu secara
intramusculer dalam, di daerah m. gluteus
maksimus atau deltoideus. Kontraindikasi

65
kontrasepsi suntikan kurang lebih sama
dengan kontrasepsi hormonal lainnya
(Rahayu, 2016)
c. Alat Kontrasepsi Dalam Kulit (Implant)
1) Mekanisme
Kontrasepsi implan menekan ovulasi,
mengentalkan lendir serviks, menjadikan selaput
rahim tipis dan atrofi, dan mengurangi transportasi
sperma. Implan dimasukkan di bawah kulit dan
dapat bertahan higga 3-7 tahun, tergantung
jenisnya. (Matahari et al., 2018)
2) Efek samping
Perubahan pola haid (pada beberapa bulan
pertama: haid sedikit dan singkat, haid tidak
teratur lebih dari 8 hari, haid jarang, atau tidak
haid;setelah setahun: haid sedikit dan singkat, haid
tidak teratur, dan haid jarang), sakit kepala, pusing,
perubahan suasana perasaan, perubahan berat
badan, jerawat (dapat membaik atau memburuk),
nyeri payudara, nyeri perut, dan mual.
9. KB Non Hormonal
a. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (IUD)
1) Mekanisme
AKDR dimasukkan ke dalam uterus. AKDR
menghambat (AKDR) kemampuan sperma untuk
masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilisasi
sebelum ovummencapai kavum uteri, mencegah
sperma dan ovumbertemu, mencegah implantasi
telur dalam uterus (Matahari et al., 2018)
2) Efek samping
Perubahan pola haid terutama dalam 3-6 bulan

66
pertama (haid memanjang dan banyak, haid tidak
teratur, dan nyeri haid) (Matahari et al., 2018)
b. Tubektomi
1) Mekanisme
Menutup tuba falopii (mengikat dan memotong
atau memasang cincin), sehingga sperma tidak
dapat bertemu dengan ovum (Matahari et al.,
2018)
2) Efek samping
Tidak ada (Matahari et al., 2018)

c. Vasektomi
1) Mekanisme
Menghentikan kapasitas reproduksi pria
dengan jalan melakukan oklusi vasa deferens
sehingga alur transportasi sperma terhambat dan
proses fertilisasi tidak terjadi (Matahari et al.,
2018)

67
2) Efek samping

Tidak ada (Matahari et al., 2018)

2.4. NEONATUS
2.4.1. Definisi neonatus

Bayi Baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam


presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat,
pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai 42 minggu,
dengan berat badan lahir 2500 - 4000 gram, dengan nilai apgar
> 7 dan tanpa cacat bawaan. (Siti et al., n.d.)
Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran
dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke
kehidupan ekstra uterin. Tiga faktor yang mempengaruhi
perubahan fungsi dan peoses vital neonatus yaitu maturasi,
adaptasi dan toleransi. Empat aspek transisi pada bayi baru
lahir yang paling dramatik dan cepat berlangsung adalah pada
sisem pernafasan, sirkulasi, kemampuan menghasilkan
glukosa (Siti et al., n.d.)
2.4.2. Perubahan fisik pada neonatus
Menurut (A et al., 2016) menjelaskan bahwa adaptasi bayi
baru lahir adalah proses penyesuaian fungsional neonatus dari
kehidupan di dalam uterus ke kehidupan di luar uterus.
Beberapa perubahan fisiologi yang dialami bayi baru lahir
antara lain yaitu:

1. Sistem Pernapasan
a. Perkembangan paru
Paru berasal dari benih yang tumbuh di rahim,
yg bercabang-cabang dan beranting menjadi

68
struktur pohon bronkus. Proses ini berlanjut dari
kelahiran hingga sekitar usia 8 tahun ketika jumlah
bronkiol dan alveol sepenuhnya berkembang,
walaupun janin memperlihatkan gerakan
pernapasan pada trimester II dan III. Ketidak
matanganparu terutama akan mengurangi peluang
kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia
24 minggu. Keadaan ini karena keterbatasan
permukaan alveol, ketidakmatangan sistem kapiler
paru dan tidak mencukupinya jumlah surfaktan
b. Awal timbulnya pernapasan

Dua faktor yang berperan pada rangsangan


napas pertama bayi :
1) Hipoksia pada akhir persalinan dan
rangsangan fisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernapasan di otak.
2) Tekanan dalam dada, yang terjadi melalui
pengempisan paru selama persalinan,
merangsang masuknya udara ke dalam paru
secara mekanik. Interaksi antara sistem
pernapasan, kardiovaskuler, dan susunan
saraf pusat menimbulkan pernapasan yang
teratur dan berkesinambungan serta denyut
yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi
sistem- sistem harus berfungsi secara
normal.
2. Sirkulasi Darah

Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus


melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna

69
mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk
menyelenggarakan sirkulasi terbaik mendukung
kehidupan luar rahim, harus terjadi :
a. Penutupan foramen ovale jantung

b. Penutupan duktus arteriosus antara arteri


paru dan aorta.
Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam sistem
pembuluh darah
a. Saat tali pusat dipotong, resistensi
pembuluh sistemik meningkat dan tekanan
atrium kananmenurun.
b. Tekanan atrium kanan menurun karena
berkurangnya aliran darah ke atrium kanan
yang mengurangi volume dan tekanannya.
Kedua kejadian ini membantu darah dengan
kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru utk
menjalani proses oksigenasi ulang.
3. Thermogulasi / pengaturan suhu tubuh

Suhu tubuh bayi baru lahir harus dipertahankan


antara 36,5 oC dan 37 oC. Hipotermia pada bayi baru
lahir didefinisikan sebagai suhu kurang dari 35 oC.
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya,
suhu dikendalikan daripusat penurun panas dan pusat
peningkatan panas di hipotalamus, area otak di dekat
kelenjar hipofisis, sehingga bayi akan mengalami
stress dengan adanya perubahan perubahan
lingkungan. Pada saat bayi meninggalkanlingkungan
dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang
suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan
air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan

70
yang dingin, merupakan usaha utama seorang bayi
untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
4. Imunoglobulin
Sistem imunitas bayi baru lahir, masih belum
matang sehingga rentan terhadap berbagai infeksi dan
alergi. Sistem imunitas yang matang menyebabkan
kekebalan alami dan buatan. Kekebalan alami terdiri
dari struktur tubuh yg mencegah dan meminimalkan
infeksi.
5. Gastrointestinal
1) Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai
menghisap dan menelan.
2) Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang
sudah terbentuk baik pada saat lair.
3) Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan
untuk menelan dan mencerna makanan
(selain susu) masih terbatas.
4) Hubungan antara esofagus bawah dan
lambung masih belum sempurna yang
mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir
dan neonates
5) Kapasitas lambung masih terbatas kurang dari
30cc untuk bayi baru lahir cukup bulan.
6) Kapasitas lambung ini akan bertambah secara
lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi
baru lahir.
7) Pengaturan makanan yang diatur bayi sendiri
penting contohnya memberi ASI on demand.

2.4.3. Asuhan kebidanan pada neonatus


Menurut (Armini et al., 2017)pada bukunya yang berjudul
Asuhan Kebidanan Neonatus, bayi, balita dan anak pra

71
sekolah, bayi baru lahir juga membutuhkan perawatan yang
dapat meningkatkan kesempatan menjalani masa transisi
dengan berhasil. Tujuan asuhan bidanan yang lebih luas
selama ini adalah memberikan perawatan komprehensif
kepada bayi baru lahir pada saat ia dalam ruang rawat, untuk
mengajarkan orangtua bagaimana merawat bayi mereka, dan
untuk memberi motivasi terhadap upaya pasangan menjadi
orangtua, sehingga orangtua percaya diri dan mantap.
1. Pencegahan Infeksi
Pencegahan Infeksi merupakan bagian
terpenting dari setiap komponen perawatan bayi baru
lahir yang sangat rentan terhadap infeksi karena sistem
imunitasnya masih kurangsempurna. Perlu diperhatikan
pada saat melakukan asuhan pada bayi baru lahir
pencegahan infeksi sangat penting. Beberapa asuhan
yang diberikan gada bayi segera setelah lahir adalah
dengan:
1) Perawatan tali pusar
 Mencuci tangan dengan sabun dan air
sebelum dansesudah merawat tali pusar.
 Menjaga agar tali pusar tetap kering
dan terkenaudara atau dibungkus longgar
dengan kain bersih.
 Bersihkan tali pusar dengan sabun dan
air jikatercemar oleh urine dan kotoran.
Hindari:

 Sering menyentuh tall pusar dan tangan


tidak bersih.

2) Perawatan mata
 Membersihkan mata segera setelah lahir.

72
 Mengoleskan salf atau tetes mata
tetracycline ataueritromysin dalam jam
pertama setelah kelahiran.
Penyebab yang umum dari kegagalan profilaksis :
 Memberi profilaksis setelah jam pertama.
 Pembilasan mata setelah pemakaian
obat tetesmata.
3) Imunisasi
 Vaksinasi BCG sedini mungkin.
 Dosis tunggal untuk OPV atau dalam 2
minggusetelah kelahiran.
 Vaksinasi hepatitis B sesegera mungkin.

2. Perawatan Umum
1) Gunakan sarung tangan dan celemek waktu
memegang BBL sampal dengan memandikan
bayi minimal 6 jam, tidak perlu memakal masker
atau gaun penutup dalam perawatan BBL.
2) Bersihkan darah dan cairan bayi dengan
menggunakan kapas yang direndam dalam air
hangat kemudian keringkan.
a. Bersihkan pantat dan sekitar anus bayi
setiap selesai mengganti popok atau
setiap diperlukan

73
dengan menggunakan kapas yang
direndam air hangat, air sabun dan
dikeringkan dengan hati- hati.
3) Gunakan sarung tangan waktu merawat tali
pusar.

Sasaran dan Syarat:

1) Lahir spontan.
2) Bila lahir dengan tindakan dilakukan setelah
bayi cukupsehat.
3) Bayi yang lahir dengan SC dengan anastesi
umumdilakukan setelah ibu dan bayi sadar
penuh.
4) Tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilal
APGAR minimal 7).

Klasifikasi klinik nilai APGAR


a) Nilai 7-10 bayi normal
b) Nilai 4-6 bayi asfiksia ringan/sedang
c) Nilai 0-3 bayi asfiksia berat

Tabel 2.2 Nilai Apgar


Tampilan 0 1 2

A Appearance Pucat Badan merah, Seluruh tubuh


ekstremitas kemerah-
(warna Kulit)
biru merahan

P Pulse rate Tidak ada Kurang dari Lebih dari 100


(frek. Denyut 100

74
jantung)

G Grimace Tidak ada Sedikit gerak Menangis,


(Reaksi mimik batuk/bersin
terhadap
rangsangan)

A Activity (tonus Lumpuh Ekstremitas Gerak aktif


sedikit fleksi
otot)

R Respiration Tidak ada Lemah, tidak Menangis kuat


(pernapasan) teratur

Sumber (Siti et al., n.d.)

5) Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.

6) Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih.

7) Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.


8) Bayi dan ibu sehat.

Sedangkan bayi yang tidak memenuhi syarat


untukdilakukan rawat gabung:

1) Bayi yang sangat prematur.


2) Berat kurang dari 2000-2500 gram.
3) Bayi dengan sepsis.
4) Bayi dengan gangguan napas.
5) Bayi dengan cacat bawaan berat. Ibu

75
dengan infeksiberat.

Adapun waktu kunjungan neonatal adalah sebagai


berikut :
1. KN 1 : pada periode 6 (enam) jam sampai dengan
48 (empat puluh delapan) jam setelah lahir;
2. KN 2 : pada periode 3 (tiga) hari sampai dengan 7
(tujuh) harisetelah lahir;
3. KN3 : pada periode 8 (delapan) hari sampai
dengan 28 (duapuluh delapan) hari setelah lahir
(Kemenkes RI, 2020b)

2.5. RUPTUR PERENIUM


2.5.1. Pengertian

Perineum merupakan bagian permukaan dari pintu


bawah panggul yang terletak antara vulva dan anus.
Perineumterdiri dari otot dan fascia urogenitalis serta
diafragma pelvis. Terletak antara vulva dan anus, panjangnya
kira-kira 4 cm. Diafragma pelvis terdiri dari muskulus levator
ani dan muskulus koksigis di bagian posterior serta selubung
fasia dari otot-otot ini. Muskulus levator ani membentuksabuk
otot yang lebar bermula dari permukaan posterior ramus
phubis superior, dari permukaan dalam spina ishiaka dan dari
fasia obturatorius.(Kemenkes, 2021)

Laserasi atau robekan jalan lahir adalah robekan yang


terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala
janin lahir terlalu cepat saat persalinan, sudut arkus pubis lebih
kecil daripada biasa, kepala janin melewati panggul dengan
ukuran yang lebih besar. Laserasi terjadi hampir pada semua
persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan
berikutnya. Laserasi jalan lahir selalu memberikan perdarahan

76
dalam jumlah yang bervariasi banyaknya. Perdarahan yang
berasal dari jalan lahir selalu harus diperhatikan yaitu sumber
dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi. Banyaknya
kasus laserasi jalan lahir pada ibu dengan persalinan normal
menimbulkan upaya untuk menekan bahkan mencegah
terjadinya kasus tersebut agar tidak meningkatkan Angka
Kematian Ibu (AKI).

Salah satu upaya pencegahan terjadinya laserasi jalan


lahir adalah dengan melaksanakan asuhan persalinan normal
sesuai prosedur. Asuhan persalinan normal yang
dilaksanakan tenaga kesehatan terutama bidan bertujuan
mencapai derajat kesehatan yang optimal serta menjaga
kelangsungan hidup bagi ibu dan bayi. (Putri & Lestari,
2020)
2.5.2. Klasifikasi luka robekan perenium

Klasifikasi ruptur perineum terbagi dua bagian yaitu:

1. Ruptur perineum spontan

Ruptur perineum spontan luka pada perineum


yang terjadi karena sebab-sebab tertentu tanpa
dilakukan tindakan perobekan atau disengaja. Luka
ini terjadi pada saat persalinan dan biasanya tidak
teratur.
2. Ruptur perineum yang disengaja (episiotomi)
Ruptur perineum yang disengaja (episiotomi)
adalah luka perineum yang terjadi karena dilakukan
pengguntingan atau perobekan pada perineum.
Episiotomi adalah torehanyang dibuat pada perineum
untuk memperbesar saluran keluar vagina (Angriani
et al., 2018)

77
Robekan perineum terbagi atas 4 derajat :
1) Derajat satu: robekan ini terjadi pada mukosa vagina,
vulva bagian depan, kulit perineum.

2) Derajat dua: robekan ini terjadi pada mukosa vagina,


vulva bagian depan, kulit perineum dan otot – otot
perineum.
3) Derajat tiga: robekan ini terjadi pada mukosa vagina,
vulva bagian depan, kulit perineum dan otot – otot
perineum dan sfingter ani eksterna
4) Derajat empat: robekan dapat terjadi pada seluruh
perineum dan sfingter ani yang meluas sampai ke
mukosa.(Legawati, 2018)

Gambar 2.4 Derajat luka perenium


Sumber :(Legawati, 2018)
2.5.3. Penyebab robekan
Faktor yang mempengaruhi terjadinya ruptur perineum
antara lain adalah faktor maternal, faktor janin, dan faktor
penolong. Faktor maternal antara lain paritas, umur ibu,
keadaan perineum, kelenturan perineum, mengejan terlalu
kuat. Faktor janin antara lain berat janin dan posisi janin
oksipito posterior, presentasi muka. Faktor penolong adalah
dalam cara memimpin mengejan, keterampilan menahan
perineum saat ekspulsi kepala, posisi meneran dan faktor
persalinan pervaginam(Idaman & ., 2019)

2.5.4. Penatalaksaan

78
Berikut tatalaksana penjaitan yang dilakukan pada
derajat I-IV :
1. Derajat I: robekan ini kalau tidak terlalu besar,
tidak perlu dijahit

2. Derajat II: lakukan penjahitan


3. Derajat III dan IV: lakukan rujukan(Legawati,
2018)
Perawatan perineum dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya infeksi dengan cara menjaga kebersihan perineum.
Cara perawatan luka jahitan pun cukup mudah yaitu sebagai
berikut Membersihkan vulva mulai dari labia mayora kiri,
labia mayora kanan, labia minora kiri, labia minora kanan,
vestibulum, perineum. Arah dari atas ke bawah dengan kapas
basah (1 kapas, 1 kali usap). Perawatan luka perineum dapat
dilakukan pada waktu-waktu berikut ini.

1) Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas
pembalut. Setelah terbuka maka ada kemungkinan
terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang
tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu
dilakukan penggantian pembalut. Demikian pula
pada perineum ibu, untuk itu diperlukan
pembersihan perineum.
2) Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi
kontaminasi air seni pada rectum akibatnya dapat
memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk
itudiperlukan pembersihan perineum.
3) Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan

79
sisa-sisa kotoran disekitar anus. Untuk mencegah
terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke
perineum yang letaknya bersebelahan maka
diperlukan proses pembersihan anus dan perineum
secara keseluruhan (Rahmadhani & Hikmah, 2020)

2.6 GAMBARAN LAHAN PRAKTEK

Puskesmas Ciampea berdiri sejak tahun 1968. Terletak di


Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

2.6.1. Gambaran Umum

 GEOGRAFI

UPT Puskesmas Ciampea terletak di


Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor
Provinsi Jawa Barat

 BATAS ADMINISTRASI

UTARA : Kecamatan Ranca Bungur


TIMUR : Kecamatan Dramaga
SELATAN : Kecamatan Tenjolaya
BARAT : Kecamatan Cibungbulang

80
2.6.2 . Visi, Misi dan Tujuan

 Visi
“Terwujudnya Masyarakat Ciampea yang Mandiriuntuk hidup sehat”

 Misi dan Tujuan

 Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu,merata dan


terjangkau.

 Memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat secara

mandiri sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan.

 Melakukan upaya penggerakan pembangunan


berwawasan kesehatan di wilayah kerja
puskesmas,serta pemantauan dampak
pembangunan tersebut terhadap masyarakat..

 Menggalang,menggerakan dan mewujudkan kemitraan dalam


upaya kesehatan.

 Meningkatkan kualitas, kuantitas dan kompetensi petugas.

81
2.6.3. Struktur Organisasi

6.

2.6.4. Kegiatan KIA dan KB

82
BAB III

PERKEMBANGAN KASUS

3.1. KEHAMILAN
3.1.1. Kunjungan pertama

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. J USIA 29


TAHUN UK 37 MINGGU G3P2A0 DENGAN KEHAMILAN
NORMAL DI PUSKESMAS CIAMPEA TAHUN 2023

Hari/ Tanggal pengkajian : Kamis, 09 Maret 2023


Jam pengkajian : 09:30 WIB.

1. Data Subyektif
a. Identitas Klien
Ibu Suami
Nama Ny. J Tn. C

Umur 28 Tahun 41 Tahun


Suku/Bangsa Sunda Sunda

Agama Islam Islam


Pendidikan terakhir SMA SMA

Pekerjaan IRT Wiraswasta

Alamat Kp. Warung Borong RT 01/02

b. Riwayat kehamilan

1. HPHT : 15 Juni 2022

2. TP : 22 Maret 2023

3. Gerakan janin : Aktif

4. Keluhan umum : Merasa kencang-kencang dan mulas yang


hilang timbul.

83
5. Tanda-tanda bahaya atau penyulit : Tidak ada

6. Obat-obatan yang di konsumsi : Tidak ada

7. Kekhawatiran - khawatiran khusus : Tidak

c. Riwayat kehamilan yang lalu

1. Jumlah kehamilan : 2

2. Jumlah anak yang lahir hidup : 2

3. Jumlah kelahiran premature : 0

4. Jumlah keguguran :0

5. Persalinan dengan tindakan (Sc, Forceps, Vacum) : Tidak

6. Riwayat pendarahan pada persalinan atau pasca persalinan:


Tidak pernah .

7. Kehamilan dengan tekanan darah tinggi : Tidak pernah .

8. Berat bayi <2,5 kg atau >4 kg : Tidak ada.

9. Masalah lain : Tidak ada.

d. Riwayat penyakit (termasuk penyakit yang diidap dahulu dan


sekarang)
 Masalah cardiovaskuler : Tidak ada.

 Hipertensi : Tidak ada.

 Diabetes : Tidak ada.

 Malaria : Tidak ada.

 Penyakit kelamin HIV/AIDS : Tidak ada.

 Penyakit ginjal : Tidak ada.

 Penyakit asthma : Tidak ada.

 Lainnya/ Keluarga : Tidak ada.

84
 Imunisasi TT : TT5

e. Riwayat Sosial Ekonomi

1. Status perkawinan

Kawin : Ya

Lama menikah : 11 tahun.

Usia suami dan istri saat menikah : 17 tahun dan 30 tahun.

2. Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan

Respon ibu : Senang dan Bahagian karna ini kehamilan yang


diinginkan
Respon suami : Suami mendukung dan turut serta merawat
kehamilan ibu

3. Riwayat KB

Alat kontrasepsi yang pernah digunakan : Implant


Lamanya : 2 tahun
Alasan berhenti : Ingin mendapatkan momongan kembali.

4. Dukungan keluarga : Baik

5. Pengambilan keputusan dalam keluarga : Baik

6. Gizi yang dikonsumsi dan kebiasaan makan

Pola makan : 3x sehari.


Menu : Nasi, Sayur, Lauk pauk, dan Buah-buahan.
Minum : ± 2 liter sehari.
7. Budaya dan kepercayaan yang berkaitan dengan kehamilan
: acara empat dan tujuh bulanan.
8. Kebiasaan hidup sehat
Eliminasi :
BAB : 1 x / hari ; keluhan : Tidak ada.

85
BAK : ± 10x / hari ; keluhan : Tidak ada.
Kegiatan seksual : Tidak menentu ; keluhan : Tidak ada.
Istirahat : ± 7-9 Jam / Hari ; keluhan : Tidak ada.
Personal hygiene : Ibu mandi dan menganti pakaian dalam 2
kali sehari, dan selalu memastikan kukunya terpotong rapih
dan bersih.
Merokok : Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak pernah
merokok.
Minum minuman keras : Ibu mengatakan bahwa dirinya
tidak meminum minuman keras.
Mengonsumsi obat terlarang : Ibu mengatakan bahwa dirinya
tidak pernah mengkonsumsi obat terlarang.

9. Beban Kerja sehari hari : Mengerjakan pekerjaan rumah


tangga.
10. Dan petugas kesehatan yang diinginkan untuk membantu
Persalinan normal
Tempat bersalin : Puskesmas Ciampea
Penolong : Bidan.
2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Fisik

Berat badan sebelum hamil : 50 Kg

BB sekarang : 62 Kg

Kenaikan berat badan : 12 Kg (normal sesuai IMT)

TB : 151 Cm

LILA : 26 Cm

IMT : m2 (Normal)

(penambahan BB menurut IMT : 11,3 - 15,9 Kg)

86
Tanda tanda vital :

Tekanan darah : 110/70 mmHgNadi : 82x/ Menit

Suhu : 36,7°C

Respirasi : 23×/Menit Kepala dan leher

Muka : Tidak ada oedema pada wajah

Mata : Conjungtiva tidak pucat, sklera putih

Mulut : Rahang tidak pucat, gigi tidak ada carries

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe


Payudara : Bentuk simetris, puting susu menonjol, Sudah ada
colostrum, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak
adaretraksi.

Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi

TFU : 33 cm
Leopold I : 1 jari dibawah prosesus xipoideus, Bokong.
Leopold II : Teraba Punggung kanan.
Leopold III : Teraba Kepala, sudah masuk PAP.
Leopold IV : Penurunan kepala 4/5.
DJJ : 147x/ Menit, irama teratur, punctum
maksimum pada abdomen bagian kanan bawah pusat
Ekstremitas : Tangan : Tidak ada oedema, kuku tidak pucat
Kaki :Tidak ada varises, tidak ada oedema.
Genetalia luar :

 Varices : Tidak ada

 Pendarahan : Tidak ada

 Luka : Tidak ada

 Cairan : Tidak ada

87
 Pengeluaran dari uretra dan skene : Tidak ada

 Pembesaran kelenjar bartholini : Tidak ada

Anus : Tidak ada hemoroid


b. Pemeriksaan Penunjang
HB : 11,5 gr/dl (09-03-2023)
Protein : Negative (09-03-2023)
Glukosa : Negative (09-03-2023)
3. Analisa

G3P2A0 hamil 37 minggu 5 hari; janin tunggal hidup, presentasi


kepala.

4. Penatalaksanaan

1. Melakukan informed consent kepada ibu, Ibu mengetahui dan


menandatangani.
2. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu, ibu mengetahui kondisi
kesehatannya dan kondisi janinnya.
3. Memberitahu ibu tanda bahaya pada kehamilan di trimester 3 ini,
ibu mengetahui dan paham.
4. Memberikan informasi kepada ibu bahwa keluhan yang dialaminya
merupakan hal yang wajar karena telah masuk dalam trimester 3
akhir mendekati persalinan. Ibu mengerti dan mengetahui
penyebab keluhannya.
5. Mengajarkan ibu teknik relaksasi agar ibu tidak terlalu gelisah dan
dapat mengurangi rasa mulas yang hilang timbul (His palsu), ibu
mengetahui dan paham.
6. Mengajarkan ibu untuk bermain gym ball agar kepala bayi semakin
turun, jika tidak ada gym ball dirumah lakukan gerakan senam
lantai yang telah dicontohkan. Ibu mengetahui dan paham.
7. Memberitahu ibu tanda – tanda persalinan, seperti mules yang
semakin sering dengan frekuensi yang cukup lama. Ibu mengetahui

88
dan paham.
8. Menganjurkan ibu untuk sudah mempersiapkan kain – kain
keperluan persalinan. Ibu mengetahui dan paham.
9. Menganjurkan ibu untuk melanjutkan vitamin yang masih ada
diibu. Ibu mengetahui dan paham.
10. Menjadwalkan kunjungan ulang ibu 1 minggu kemudian (pada
tangga 22 Maret 2023), atau apa bila ibu merasakan tanda – tanda
persalinan atau tanda bahaya pada trimester 3. Ibu menyetujui dan
paham.

3.1.2. Kunjungan kedua

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. J


USIA 29 TAHUN UK 37 MINGGU G3P2A0 DENGAN
KEHAMILAN NORMAL DI PUSKESMAS CIAMPEA
TAHUN 2023

Hari/ Tanggal pengkajian : Kamis, 16 Maret 2023.


Jam pengkajian : 11:30 WIB.

1. Data Subyektif
a. Identitas klien

Ibu Suami
Nama Ny. J Tn. C

Umur 28 Tahun 41 Tahun


Suku/Bangsa Sunda Sunda

Agama Islam Islam


Pendidikan terakhir SMA SMA

Pekerjaan IRT Wiraswasta

Alamat Kp. Warung Borong RT 01/02

89
b. Riwayat kehamilan

1. HPHT : 15 Juni 2022.

2. TP : 22 Maret 2023

3. Gerakan janin : Aktif

4. Keluhan umum : Merasa kencang-kencang dan mulas yang


hilang timbul.

5. Tanda-tanda bahaya atau penyulit : Tidak Ada.

6. Obat-obat yang dikonsumsi : Tidak Ada.

7. Kekhawatiran - khawatiran khusus : Tidak Ada.

c. Riwayat kehamilan yang lalu

1. Jumlah kehamilan : 2

2. Jumlah anak yang lahir hidup : 2

3. Jumlah kelahiran premature : 0

4. Jumlah keguguran : 0

5. Persalinan dengan tindakan (Sc, Forceps, Vacum) : Tidak.

6. Riwayat pendarahan pada persalinan atau pasca persalinan:


Tidak pernah .

7. Kehamilan dengan tekanan darah tinggi : Tidak pernah .

8. Berat bayi <2,5 kg atau >4 kg : Tidak ada.

9. Masalah lain : Tidak ada.

d. Riwayat penyakit (termasuk penyakit yang diidap dahulu dan


sekarang)
 Masalah cardiovaskuler : Tidak ada.
 Hipertensi : Tidak ada.
 Diabetes : Tidak ada.

90
 Malaria : Tidak ada.
 Penyakit kelamin HIV/AIDS : Tidak ada.
 Penyakit ginjal : Tidak ada.
 Penyakit asthma : Tidak ada.
 Lainnya/ Keluarga : Tidak ada.
 Imunisasi TT : TT5

e. Riwayat Sosial Ekonomi

1. Status perkawinan
Kawin : Ya
Lama menikah : 11 tahun.
Usia suami dan istri saat menikah : 18 tahun dan 30 tahun.
2. Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
Respon ibu : Senang dan Bahagian karna ini kehamilan yang
diinginkan
Respon suami : Suami mendukung dan turut serta merawat
kehamilan ibu
3. Riwayat KB
4. Alat kontrasepsi yang pernah digunakan : Implant
Lamanya : 2 tahun
Alasan berhenti : Ingin mendapatkan momongan kembali.
5. Dukungan keluarga : Baik
6. Pengambilan keputusan dalam keluarga : Baik
7. Gizi yang dikonsumsi dan kebiasaan makan
Pola makan : 3X sehari.
Menu : Nasi, Sayur, Lauk pauk, danBuah-buahan.
Minum : ± 2 liter sehari.
8. Budaya dan kepercayaan yang berkaitan dengan kehamilan :
acara empat dan tujuh bulanan.
9. Kebiasaan hidup sehat
Eliminasi :

91
BAB : 1 x / hari ; keluhan : Tidak ada.
BAK : ± 10x / hari ; keluhan : Tidak ada.
Kegiatan seksual : Tidak menentu ; keluhan : Tidak ada.
Istirahat : ± 7-9 Jam / Hari ; keluhan : Tidak ada.
Personal hygiene : Ibu mandi dan menganti pakaian dalam 2 kali
sehari, dan selalu memastikan kukunya terpotong rapih dan
bersih.
Merokok : Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak pernah
merokok.
Minum minuman keras : Ibu mengatakan bahwa dirinya tidak
meminum minuman keras.
Mengonsumsi obat terlarang : Ibu mengatakan bahwa dirinya
tidak pernah mengkonsumsi obat terlarang.
10. Beban Kerja sehari hari : Mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
11. Dan petugas kesehatan yang diinginkan untuk membantu
Persalinan normal
Tempat bersalin : Puskesmas Ciampea
Penolong : Bidan.
2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Fisik

Berat badan sebelum hamil : 50 Kg

BB sekarang : 62 Kg

Kenaikan berat badan : 12 Kg (normal sesuai IMT)

TB : 151 Cm

LILA : 26 Cm

IMT : m2 (Normal)

(penambahan BB menurut IMT : 11,3 - 15,9 Kg)

Tanda tanda vital :

92
Tekanan darah : 120/80 mmHgNadi : 82x/ Menit

Suhu : 36,2°C

Respirasi : 21×/Menit Kepala dan leher

Muka : Tidak ada oedema pada wajah

Mata : Conjungtiva tidak pucat, sklera putih

Mulut : Rahang tidak pucat, gigi tidak ada carries

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan


limfe Payudara : Bentuk simetris, puting susu menonjol,
Sudah adacolostrum, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan,
tidak adaretraksi.

Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi

TFU : 33 cm
Leopold I : 1 jari dibawah prosesus xipoideus, Bokong.
Leopold II : Teraba Punggung kanan.
Leopold III : Teraba Kepala, sudah masuk PAP.
Leopold IV : Penurunan kepala 3/5.
DJJ : 135x/ Menit, irama teratur, punctum
maksimum pada abdomen bagian kanan bawah pusat
Ekstremitas : Tangan : Tidak ada oedema, kuku tidak pucat
Kaki :Tidak ada varises, tidak ada oedema.
Genetalia luar :

 Varices : Tidak ada

 Pendarahan : Tidak ada

 Luka : Tidak ada

 Cairan : Tidak ada

 Pengeluaran dari uretra dan skene : Tidak ada

93
 Pembesaran kelenjar bartholini : Tidak ada

Anus : Tidak ada hemoroid


b. Pemeriksaan Penunjang
HB : 11,5 gr/dl (09-03-2023)
Protein : Negative (09-03-2023)
Glukosa : Negative (09-03-2023)
3. Analisa

G3P2A0 hamil 38 minggu 5 hari; janin tunggal hidup, presentasi


kepala.

4. Penatalaksanaan
1. Melakukan informed consent kepada ibu, Ibu mengetahui dan
menandatangani.
2. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu, ibu mengetahui kondisi
kesehatannya dan kondisi janinnya.
3. Memberitahu ibu tanda bahaya pada kehamilan di trimester 3 ini,
ibu mengetahui dan paham.
4. Memberikan informasi kepada ibu bahwa keluhan yang dialaminya
merupakan hal yang wajar karena telah masuk dalam trimester 3
akhir mendekati persalinan. Ibu mengerti dan mengetahui
penyebab keluhannya.
5. Mengajarkan ibu teknik relaksasi agar ibu tidak terlalu gelisah dan
dapat mengurangi rasa mulas yang hilang timbul (His palsu), ibu
mengetahui dan paham.
6. Mengajarkan ibu untuk bermain gym ball agar kepala bayi semakin
turun, jika tidak ada gym ball dirumah lakukan gerakan senam
lantai yang telah dicontohkan. Ibu mengetahui dan paham.
7. Memberitahu ibu tanda – tanda persalinan, seperti mules yang
semakin sering dengan frekuensi yang cukup lama da nada
pengeluaran lender bercampur darah. Ibu mengetahui dan paham.
8. Menganjurkan ibu untuk sudah mempersiapkan kain – kain

94
keperluan persalinan. Ibu mengetahui dan paham.
9. Menganjurkan ibu untuk melanjutkan vitamin yang masih ada
diibu. Ibu mengetahui dan paham.
10. Menjadwalkan kunjungan ulang ibu 1 minggu kemudian (pada
tangga 23 Maret 2023), atau apa bila ibu merasakan tanda – tanda
persalinan atau tanda bahaya pada trimester 3. Ibu menyetujui dan
bersedia kunjungan ulang

3.2. PERSALINAN
3.2.1. Kala I

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. J USIA 29


TAHUN 38 MINGGU G3P2A0 DENGAN PERSALINAN NORMAL
DI PUSKESMAS CIAMPEA TAHUN 2022

Hari/Tanggal Pengkajian : 16 Maret 2023


Jam Pengkajian : 23.00 WIB
1. DATA SUBJEKTIF

1. Identitas Klien

Ibu Suami

Nama Ny. J Tn. C

Umur 28 Tahun 41 Tahun

Suku/Bangsa Sunda Sunda

Agama Islam Islam

Pendidikan terakhir SMA SMA

Pekerjaan IRT Wiraswasta

Alamat Kp. Warung Borong RT 01/02

2. Riwayat

Keluhan yang dirasakan ibu : Mules- mules yang semakin

95
sering, dan mengeluarkan lendir bercampur darah
Kapan mulai terasa kontraksi : pukul 19: 00 WIB
Frekuensi kontraksi : 3 x 10 menit
Durasi kontraksi. : 30 detik
Kekuatan, kontraksi : Adekuat
Pengeluaran cairan vagina : Ketuban belum pecah
Gerakan janin : Aktif
Istirahat terakhir : Tadi siang jam 13.00 s/d 15.30
Makan terakhir : Tadi sore jam 17.00 WIB
BAK/BAB terakhir : BAK tadi tam 22.30 WIB
BAB tadi jam 05.00 WIB
3. Riwayat Kehamilan Sekarang
HPHT : 15 Juni 2022
TP : 22 Maret 2023
Paritas : G3P2A0
Penyulit selama kehamilan : Tidak ada

4. Riwayat Kehamilan & Persalinan Lalu

Tahu Kehamilan Persalinan Nifas Keadaan


n
anak
U Penyulit Jenis penolon Penyulit Penyulit JK BB
K g
lahi
M r
g
2011 3 Tidak Sponta Bidan Tidak Tidak L 3.2
8 n Kg
ada ada ada
m
g

96
2017 39 Tidak Spontan - Tidak Tidak L 3.1
kg
m ada ada ada
g
2023 Sekarang

5. Riwayat Penyakit ibu dan keluarga

 Masalah cardiovaskuler : Tidak.

 Hipertensi : Tidak.

 Diabetes : Tidak.

 Malaria : Tidak.

 Penyakit kelamin HIV/AIDS : Tidak.

 Penyakit ginjal : Tidak.

 Penyakit asthma : Tidak.

2. Data Objektif
1. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg Suhu : 36,5°C
Nadi: 81×/menit Respirasi 22×/menit
Muka : Tidak ada oedema pada wajah.
Mata : Conjungtiva tidak pucat, sklera
Mulut : Rahang tidak pucat, gigi tidak ada carries.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe.
Payudara : Bentuk simetris, puting susu menonjol, Sudah ada
colostrum, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak
adaretraksi.
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi.

97
TFU: 33 cm
Leopold I : 1 jari dibawah PX, Teraba Bokong.
Leopold II : Teraba Punggung kanan.
Leopold III : Teraba Kepala, sudah masuk PAP
Leopold IV : Penurunan kepala 2/5.
DJJ : 140x/ Menit
Ekstremitas : Tangan : Tidak ada oedema, kuku tidak pucat
Kaki : Tidak ada varises, tidak ada oedema.
Genetalia luar :
 Varices : Tidak ada
 Pendarahan : Tidak ada
 Luka : Tidak ada
 Cairan : Tidak ada
 Pengeluaran dari uretra dan skene : Tidak ada
 Pembesaran kelenjar bartholini : Tidak ada
Genetalia dalam :
 portio : Tebal lunak

 ketuban : Utuh

 Pembukaan : 5cm

 Penurunan kepala : Hodge III UUK : Kanan depan

Anus : Tidak ada hemoroid.

3. Analisa

G3P2A0 hamil 38 Minggu 6 hari dalam inpartu kala I fase


aktif. Janin tunggal hidup, presentasi kepala.

4. Penatalaksanaan

1. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluaga


bahwa ibu sudah memasuki fase persalinan. ibu dan
keluarga mengetahui hasil pemeriksaan

98
2. Melakukan informed consent pada ibu dan kelurga terkait
tindakan yang akan dilakukan. Suami ibu menandatangani
inform consent
3. Menganjurkan keluarga ibu untuk menemani ibu selama
persalinan, suami Ny. J menemani ibu selama proses
persalinan.
4. Menganjurkan ibu untuk makan makanan yang mudah
dicerna seperti roti dan minum minuman berenergi seperti
teh manis, Ibu bersedia makan dan minum(Teh manis, air
putih dan air mineral).
5. Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan jika masih dapat
melakukannya atau tidur dengan posisi miring ke kiri. Ibu
memilih untuk tidur miring ke kiri karena tidak sanggup
untuk berjalan.
6. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai teknik
relaksasi yang benar pada ibu, Ibu dapat melakukan salah
satu teknik relaksasi yaitu menarik napas panjang saat
kontraksi secara berkesinambungan (SAP terlampir).
7. Memberikan sentuhan pada perut dan counterpressure pada
pinggang ibu saat ada kontraksi untuk mengatasai rasa
ketidaknyamanan, Ibu merasa lebih nyaman dan rileks saat
diberikan sentuhan dan counterpressure.
8. Menganjurkan ibu untuk buang air kecil secara mandiri jika
ingin buang air kecil, Ibu bersedia untuk buang air kecil
secara mandiri.

9. Memberikan dukungan dan semangat pada ibu, Ibu terlihat


santai dan siap menjalani proses persalinannya.
10. Menyiapkan peralatan pertolongan persalinan, baju bayi
dan baju ganti ibu, sudah disiapkan
11. Menyiapkan alat partus dan resusitasi, sudah disiapkan
12. Memantau kemajuan persalinan, Terlampir dalam partograf

99
100
101
3.2.2. Kala II

Tgl/ Jam Catatan Perkembangan

KALA II
17-03-
2023
S: Ibu mengatkan sudah ingin meneran, seperti BAB keras. O:
 Adanya dorongan untuk meneran
01:10
 HIS 4x10 (45’), frekuensi 45 detik, interval 2 menit,
WIB
kekuatan adekuat, DJJ 145x/menit teratur.
 V/V: Taka da kelainan, Terdapat bloodshow dengan
jumlah banyak, vulva dan vagina membuka,tanpa ada
pengeluaran cairan, selaput ketuban sudah pecah jam
01.00, tekanan pada anus, porsio tidak teraba, pembukaan
serviks lengkap, presentasi kepala, UUK kanan depan ,
HIII+, tidak ada bagian janin yang ikut turun, tidak ada
bagian yang berdenyut, tidak ada molase.
A: Inpartu kala II P:
 Menginformasikan hasil pemeriksaan, ibu mengerti dan
dapat mengulangi penjelasan bidan.
 Mengecek perlengkapan alat persalinan dan resusitasi,
lengkap.
 Posisikan ibu, ibu sudah siap.

 Menolong persalinan sesuai prosedur.


 Bayi lahir spontan, langsung menangis kuat,
kulit kemerahan, tonus otot aktif, JK: laki – laki.
01.23

102
01.24 KALA III

S: Merasa mulas

O: perut teraba keras, uterus globuler, TFU sepusat, tidak ada janin
kedua, kandung kemih tidak terpalpasi, tali pusat memanjang di
depan vulva.

A: Kala III Persalinan

P:
 Cek janin ke-2 dan mengecek kandung kemih, janin
tunggal, kandung kemih tidak terpalpasi

 Menyutikan oksitoksin 10 IU secara IM,


kontraksi bertambah.

 Menjepit, memotong, mengikat tali pusat, tali pusat telah


terikat.
 Memfasilitasi IMD.

 Melakukan PTT, terlihat semburan darah dan tali pusat


memanjang.
01.35
 Melahirkan plasenta. Lengkap

 Melakukan masase, kontraksi uterus teraba keras.

KALA IV
S : Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas dan bahagia atas
01.50
kelahiran bayinya
O: TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih tidak terpalpasi,
pengeluaran darah +100 cc
Genitalia : tampak laserasi grade II

103
A: Kala IV persalinan dengan laserasi jalan lahir grade II

Melakukan pemeriksaan TD dan nadi ibu, TD 120/80


mmHg, nadi 85x/menit.

Memeriksa kontraksi, kandung kemih, dan pengeluaran


darah ( kontraksi baik, kandung kemih tidak terpalpasi,
pengeluaran darah +/- 100 cc)

Melakukan penjahitan robekan jalan lahir grade II pada


kulit dan otot dengan teknik tunggal, sudah dilakukan
Memfasilitasi pemenuhan nutrisi dan eliminasi, Ibu makan
nasi dan BAK.
Membersihkan ibu, ibu sudah bersih.
Mendekontaminasi alat, alat sudah didekontaminasi.
Observasi keadaan ibu dan bayi (hasil terlampir).
TTD Penolong

(Diana Putri)

3.3. NIFAS
3.3.1. Nifas 2 jam

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. J


NIFAS NORMAL 2 JAM DI PUSKESMAS CIAMPEA
TAHUN 2022
Hari / Tanggal pengkajian : Jumat, 17 Maret 2023
Jam Pengkajian : 03.50 WIB

104
1. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas Klien

Ibu Ayah

Nama Ny. J Tn. C

Umur 28 Tahun 41 Tahun

Suku/Bangsa Sunda Sunda

Agama Islam Islam

Pendidikan terakhir SMA SMA

Pekerjaan IRT Wiraswasta

Alamat Kp. Warung Borong RT 01/02

1. Keluhan yang dirasakan ibu : Nyeri pada bekas jaitan.

2. Keluhan-keluhan ibu dan pertanyaan yang ingin diketahui


: tidak ada

3. Konsumsi zat besi : Iya, selama kehamilan dan setelah


persalinan.

4. Konsumsi obat-obatan lain : Tidak mengkonsumsi obat


– obatanlain.
5. Gizi yang di konsumsi dan kebiasaan makan Pola makan :
Menu : Setelah melahirkan sudah makan roti 1 bungkus
Minum : Sudah minum teh manis 1 gelas
Pantangan makan : Tidak ada.
Keluhan/masalah : Tidak ada.
6. Pola eliminasi : BAK : hari ini sudah 1× setelah
melahirkan.

105
BAB : belum BAB setelah melahirkan.

7. Pola istirahat : setelah melahirkan ibu dapat beristirahat ±


1 jam.
8. Aktivitas/Kegiatan sehari-hari : setelah melahirkan ibu
sudah dapat berjalan dan BAK ke kamar mandi sendiri.
9. Pemberian ASI : 1 Jam
Frekuensi : 4x
Lamanya : ±15 menit.
Masalah : Tidak ada masalah
10. Dukungan suami dan keluarga terhadap ibu : suami sangat
mendukung dan antusias ingin membantu ibu untuk
menjaga bayi mereka.
11. Tanda tanda bahaya
 Kelelahan atau sulit tidur : Tidak ada
 Demam: Tidak ada
 Nyeri atau merasa panas pada waktu buang air kecil
: Tidak ada
 Sembelit haemorrhoid : Tidak ada
 Sakit kepala yang terus menerus, nyeri, bengkak :
Tidak ada
 Nyeri abdomen: Tidak ada
 Cairan vagina/lochea yang berbau busuk : Tidak ada
 Pembengkakan payudara dan berat, Pembesaran
puting atauputing pecah pecah/terbelah : Tidak ada
 Kesulitan dalam menyusui : Tidak ada
 Perasaan sedih : Tidak ada
 Merasa kurang mampu merawat bayi secara memadai
: Tidak ada

106
2. Data Objektif

Keadaan umum : Baik


Tanda tanda vital :
Tekanan darah :110/ 80 mmHg
Suhu : 36,3 °C
Nadi :80×/ menit

Respirasi : 21×/ menit

Mata : Conjungtiva tidak pucat, sclera putih.

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar


limfe. Payudara : Tidak ada benjolan, tidak ada
pembesaran kelenjar(abses), ASI kolostrum sudah keluar.
Abdomen :

TFU : 2 jari dibawah pusat

Kandung kemih : Kosong/ tidak terpalpasiKaki : Tidak


ad avarices, tidak ada oedema.
Perineum : Luka jahit masih basah, tidak ada
pembengkakan. Anus : Tidak ada hemoroid.
3. Analisa

P3A0 post partum 2 jam dalam keadaan normal.


4. Penatalaksanaan

1. Memberitahukan hasil pemeriksaan TD : 110/80 mmHg,


kontraksi baik, Tfu 2 jari dibawah pusat, kandung kemih
kosong, dan perdarahan normal, Ibu mengetahui hasil
pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik.
2. Mengajarkan ibu massase pada ibu dan keluarga. Ibu dan
keluarga mengetahui.
3. Mengajurkan ibu untuk istirahat yang cukup, ibu bersedia
4. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum yang

107
banyak,ibu mengerti, ibu makan nasi sayur dan daging
ayam.
5. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara
eksklusif selama 6 bulan, ibu bersdia.
6. Memberitahu ibu gizi seimbang pada masa nifas, Ibu
bersedia untuk makan lauk pauk sayuran dan buah.
7. Memberitahu cara perawatan vulva hygine,ibu mengerti
dan akan melakukanya.
8. Memberitahu tanda bahaya pada masa nifas seperti demam,
perdarahan banyak, keluar cairan berbau dari jalan lahir,
payudara bengkak, bengkak pada wajah, tangan, kaki, atau
sakit kepala, Ibu mengetahui tanda bahaya nifas dan bisa
menyebutkan kembali.
9. Melakukan Pendokumentasian.

3.3.2. Nifas 6 jam

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. J


NIFAS NORMAL 6 JAM DI PUSKESMAS CIAMPEA
TAHUN 2023

Hari / Tanggal pengkajian : Jumat, 17 Maret


Jam Pengkajian : 07. 50 WIB
1. Data Subjektif

a. Identitas Klien

Ibu Ayah

Nama Ny. J Tn. C

Umur 28 Tahun 41 Tahun

Suku/Bangsa Sunda Sunda

108
Agama Islam Islam

Pendidikan terakhir SMA SMA

Pekerjaan IRT Wiraswasta

Alamat Kp. Warung Borong RT 01/02

b. Keluhan yang dirasakan ibu : Nyeri pada bekas jaitan.

c. Keluhan-keluhan ibu dan pertanyaan yang ingin diketahui


: Tidak ada

d. Konsumsi zat besi : Iya, selama kehamilan dan setelah


persalinan.

e. Konsumsi obat-obatan lain : Tidak mengkonsumsi obat


– obatan lain.
f. Gizi yang di konsumsi dan kebiasaan makanPola makan :
Setelah melahirkan sudah makan 1 porsi habis
Menu : Nasi, lauk, sayur dan buah- buahan.
Minum : Ibu sudah minum air putih 4 gelas dan 2 gelas
teh manis
Pantangan makan : Tidak ada.
Keluhan/masalah : Tidak ada.
g. Pola eliminasi : BAK : hari ini sudah 2× setelah
melahirkan.
BAB : belum BAB setelah melahirkan.

h. Pola istirahat : setelah melahirkan ibu dapat beristirahat ±


2 jam.

i. Aktivitas/Kegiatan sehari-hari : setelah melahirkan ibu


sudah dapat berjalan, dan BAK kekamar mandi sendiri.
j. Pemberian ASI : 1 jam

109
Frekuensi : 4x
Lamanya : ±15 menit.
Masalah : Tidak ada masalah
k. Dukungan suami dan keluarga terhadap ibu : suami sangat
mendukung dan antusias ingin membantu ibu untuk
menjaga bayi mereka.
l. Tanda tanda bahaya
1. Kelelahan atau sulit tidur : Tidak ada
2. Demam: Tidak ada
3. Nyeri atau merasa panas pada waktu buang air kecil :
Tidak ada
4. Sembelit haemorrhoid : Tidak ada
5. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri, bengkak : Tidak
ada
6. Nyeri abdomen: Tidak ada
7. Cairan vagina/lochea yang berbau busuk : Tidak ada
8. Pembengkakan payudara dan berat, Pembesaran puting
atauputing pecah pecah/terbelah : Tidak ada
9. Kesulitan dalam menyusui : Tidak ada
10. Perasaan sedih : Tidak ada
11. Merasa kurang mampu merawat bayi secara memadai :
Tidak ada
2. Data Objektif

Keadaan umum : Baik

Tanda tanda vital


Tekanan darah :110/ 80 mmHg
Suhu : 36,3 °C
Nadi :80×/ menit

Respirasi : 21×/ menit


Mata : Conjungtiva tidak pucat, sclera putih.

110
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar
limfe.
Payudara : Tidak ada benjolan, tidak ada pembesaran
kelenjar(abses), ASI kolostrum sudah keluar.
Abdomen :
TFU : 3 jari dibawah pusat
Kandung kemih : Kosong/ tidak terpalpasi
Kaki : Tidak ad avarices, tidak ada oedema.
Perineum : Luka jahit masih basah, tidak ada
pembengkakan.
Anus : Tidak ada hemoroid.
3. Analisa

P3A0 post partum 6 jam dalam keadaan normal.


4. Penatalaksanaan
1. Melakukan pemantauan dan pemerikasaan ttv,
kontraksi, perdarah dan tfu. Sudah dilakukan
2. Mobilisasi, ibu dapat berjalan dan melakukan BAK
sendiri.
3. Memberikan nutrisi dan hidrasi, ibu mendapatkan
nutrisi dan hidrasi.
4. Mengedukasi dan mendukung ibu untuk melakukan
pemberian ASI eksklusif. Ibu mengerti dan paham.
5. Mengedukasi ibu teknik pemberian ASI yang benar, ibu
sudah mengetahui dan paham.
6. Mengedukasi ibu teknik breast care kepada ibu dan
keluarga, ibu dan kelurga dapat mengulangi gerakan. Ibu
dan keluarga mengerti dan paham.
7. Mengedukasi ibu cara perawatan luka jaitan yang baik
dan benar, ibu mengetahui dan paham.

111
1.3.3 Nifas 4 Hari

CATATAN PERKEMBANGAN II
(kunjungan 4 hari )

Hari/tanggal : Senin, 20 Maret 2023


Waktu: 11.40 WIB

5. Data Subjektif

Ibu mengatakan tidak ada keluhan, sudah dapat mobilisasi,


dan ASI keluar lancar.

6. Data Objektif

Keadaan Umum : Baik


Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Respirasi : 22×/ Menit
Nadi : 82×/ Menit
Suhu : 36°C
Mata : Conjungtiva tidak pucat, sclera putih.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar
limfe.
Payudara : Tidak ada benjolan, tidak ada pembesaran kelenjar
(abses), ASI sudah keluar dan melimpah ruah.
Abdomen : Palpasi fundus uteri : Pertengahan pusat dan
syimphisis.
Kandung kemih : Tidak terpalpasi/ kosong.
Kaki : Tidak ada oedema, dan tidak ada varises.
Perineum : Lochea sanguinolenta, luka jahitan masih sedikit
basah.
Anus : Tidak ada hemoroid.

112
7. Analisa

P3A0 post partum 4 hari dalam keadaan normal.


8. Penatalaksanaan

1. Melakukan pemeriksaan dan memberitahu hasil


pemeriksaantanggal 30 Maret TTV, kontraksi, lochea,
TFU, dan luka bekas jahit kepada ibu. Ibu mengetahui
dan paham.
2. Mengedukasi ibu untuk memberikan ASI ekslusif .Ibu
mengerti dan paham.
3. Memberitahu ibu untuk tetap tidak membumbui apapun
pada area kemaluannya agar tidak terjadi infeksi pada
area kemaluannya. Ibu mengerti dan menyetujui.
4. Mengedukasi ibu cara membersihkan area
kemaluannya dengan benar dan baik, minta ibu untuk
tidak ragu untuk mengusap dan membersihkannya. Ibu
mengerti dan menyetujui.
5. Memberikan ibu therapy oral berupa amoxcilin 3 X 1,
ibu mengerti dan menyetujui.
6. Menjadwalkan kunjungan ulang nifas 2 minggu ibu
(pada 2023). Ibu menyetujui

1.3.4 Nifas 14 Hari

CATATAN PERKEMBANGAN III


(kunjungan 2 minggu)

Hari/tanggal : Kamis, 30 Maret 2023


Waktu : 16:00 WIB

A. Data Subjektif

113
Ibu mengatakan tidak ada keluhan, sudah dapat mobilisasi, dan
ASI keluar banyak, ibu sudah dapat mengurus bayinya sendiri,
Ibu Tidak Mengalami Baby Blues.
B. Data Objektif

Keadaan Umum : Baik


Tanda-tanda Vital :

T : 110/80 mmHg R : 22×/


D Menit

N : 83×/ Menit S : 36°C

Mata : Conjungtiva tidak pucat, sclera putih.


Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar
limfe.
Payudara : Tidak ada benjolan, tidak ada pembesaran kelenjar
(abses), ASI sudah keluar dan melimpah ruah.
Abdomen : Palpasi fundus uteri : tidak teraba.
Kandung kemih : Tidak terpalpasi/ kosong.
Kaki : Tidak ada oedema, dan tidak ada varises.
Perineum : Lochea serosa, luka jahitan sudah kering dan rapih.
Anus : Tidak ada hemoroid.
C. Analisa

P3A0 post partum 14 hari dalam keadaan normal.


D. Penatalaksanaan
1. Melakukan pemeriksaan dan memberitahu hasil
pemeriksaan TTV, kontraksi, lochea, TFU, dan luka
bekas jahit kepada ibu. Ibu mengetahui dan paham.
2. Mengedukasi ibu untuk memberikan ASI ekslusif .Ibu
mengerti dan paham.
3. Mengedukasi ibu tentang pemakaian alat kontrasepsi,

114
sepertiyang ditanyakan oleh ibu KB apa yang boleh ia
gunakan pada masa sekarang yang tidak mempengaruhi
ASI-nya. Menyarankan ibu mengunakan KB suntik 3
bulan, dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan KB
jenis lainnya. Ibu mengerti dan menyetujui.
4. Meminta ibu untuk mendiskusikan terlebih dahulu alat
kontrasepsi yang akan digunakan bersama dengan
suaminya. Ibu mengerti dan menyetujui.
5. Meminta ibu untuk dapat melakukan istirahat dikala
bayinya juga tertidur, atau ibu harus dapat
menjadwalkan antarakegiatan dan waktu tidurnya agar
keadaan ibu tetap baik. Ibu mengerti dan setuju.
6. Menjadwalkan kunjungan ulang nifas 6 minggu ibu
pada tanggal 27 April 2023. Ibu menyetujui dan paham.

3.4. NEONATUS

3.4.1. Bayi baru lahir


ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA BY. NY. J
BARULAHIR NORMAL 0-6 JAM DI PUSKESMAS
CIAMPEA TAHUN 2023

Hari / Tanggal Pengkajian : Jumat, 17 Maret 2022


Waktu pengkajian : 01.23

A. Data Subjektif

1. Identitas Klien

Nama Bayi : By. Ny. J


Ibu Ayah

Nama Ny. J Tn. C

115
Umur 28 Tahun 41 Tahun

Suku/Bangsa Sunda Sunda

Agama Islam Islam

Pendidikan SMA SMA


terakhir

Pekerjaan IRT Wiraswast


a

Alamat Warung
Borong RT
01/02

2. Riwayat

Faktor lingkungan : Tidak ada polusi udara


Faktor genetik : Tidak ada riwayat alergi, tidak ada riwayat
kembar.
Faktor sosial : Bayi yang lahir merupakan bayi yang
diinginkan. Faktor ibu dan perinatal : Bayi lahir spontan,
tidak ada penyulit. Faktor neonatal : Tidak ada penyulit.
B. Data Objektif
1. Keadaan Umum
Tonus dan tingkat aktivitas : Aktif
Warna kulit dan tingkat aktivitas : Kemerahan Tangisan
bayi : Kuat
2. Tanda-tanda vital
Laju nafas : Ada tarikan dinding dada
Laju jantung : Normal, 135×/ menit.
Suhu : normal, 36,5 °C
3. Badan

116
Berat badan bayi : 3.200 gram
Panjang badan : 48 cm
4. Kepala
Kontur tulang tengkorak, Sutura, Fontanel : Normal tidak
ada penonjolan daerah cekung
Lingkar kepala : 33 cm
5. Telinga
Hubungan letak mata dan telinga : Simetris
6. Mata
Tidak ada tanda tanda infeksi atau pus : tidak
Warna sklera mata : Putih.
Reflek glabella : (+)/ positif
7. Hidung dan mulut
Pernapasan cuping hidung : tidak terdapat pernafasan
cuping hidung
Bibir dan langit-langit :tidak ada sumbing atau kelainan
lainnya.
Refleks rooting : (+) / positif
Refleks sucking : (+) / positif Refleks swalowing : (+) /
positif
8. Leher
Tidak ada pembengkakan : Tidak terdapat pembengkakkan
kelenjar tiroid maupun getah bening.
9. Dada
Lingkar dada : 30 cm Bentuk : simetris
Puting simetris : Ya
Bunyi nafas : Normal.
Bunyi jantung : Teratur.
Tidak ada retraksi dinding dada : Tidak.
10. Bahu, Lengan, dan Tangan
Gerakan normal : Normal.

117
Jumlah jari : Lengkap.
Refleks palmar grasp : (+) / positif.
Sistem saraf :
 Refleks moro : (+) / positif.
11. Perut
Bentuk : Simetris.
Penonjolan sekitar pusat saat menangis : Tidak ada.
Pendarahan tali pusat : Tidak ada.
Benjolan/massa : Tidak ada.
12. Alat genetalia
Testis berada dalam skrotum : Ya.
Penis berlubang : Ya
13. Tangan & Kaki Gerakan normal : Ya.
Tampak normal : Ya.
Jumlah jari : Lengkap.
Refleks plantar : (+) / positif.
Refleks babinski : (+) / positif.
14. Punggung & Anus
Tidak ada pembengkakan atau cekungan pada punggung :
Tidak.

Anus berlubang : Ya.


15. Kulit
Verniks : Terdapat verniks.
Warna kulit dan bibir : Kemerahan.
Tidak ada pembengkakan dan bercak hitam : Tidak ada.
Tidak ada tanda lahir : Tidak ada.
C. Analisa

By. NY. J Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan, Usia


1 Jam normal.

D. Penatalaksanaan

118
1. Menjaga kehangatan bayi. Bayi sudah hangat.
2. Mengukur TTV dan menilai head totoe bayi. Semua
normal dan lengkap.
3. Memberikan salep mata pada bayi, dan memberitahu
ibu manfaatnya. Sudah diberikan dan ibu mengetahui.
4. Menyuntikan Vit. K disepertiga paha kiri luar, dan
memberitahu ibu maaf pemberian Vit. K. Sudah
diberikan dan ibu mengetahui manfaatnya.
5. Mengdukasi ibu cara perawatan tali pusat yang baik
dan benar. Ibu mengerti dan dapat mengulangi.
6. Memantau keadaan bayi.
7. 5 jam kemudian memandikan bayi, bayi sudah mandi.
8. Penyuntikan HB0 dilakukan 5 jam setelah pemberian
Vit K di sepertiga paha kanan bagian luar dan
memberitahu ibu manfaat pemberian HB0. Sudah
diberikan dan ibu paham dan menyetuji.

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF IMUNISASI


HB0 PADABY. NY. R BARU LAHIR NORMAL 6 JAM DI
PMB NY. KUSMIYATI TAHUN 2022

Hari / Tanggal Pengkajian : Jumat, 17 Maret 2023


Waktu pengkajian : 07.50 WIB

A. Data Subjektif

1. Identitas klien

Nama bayi : By. Ny. J

Tanggal lahir : 17 Maret 2023

Nama ayah : Tn. C


Nama ibu : Ny. J

119
2. Tujuan datang : Ingin melakukan imunisasi Hb0

3. Keluhan : Tidak ada

4. Riwayat Imunisasi sebelumnya : -

5. Riwayat kejang demam : -

6. Riwayat syok setelah pemberian imunisasi : -

7. Dengan orang dengan imunodefisiensi : -

8. Riwayat keganasan : -
B. Data Objektif
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB : 3.200 gr
Nadi/DJA (Detak Jantung Anak) : 140 ×/ menit
Suhu : 36,5°c
C. Analisa

By. Ny. J Usia 6 jam dengan keadaan normal.


D. Penatalaksanaan

1. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu bahwa


bayinya dalam keadaan normal (ibu mengetahui hasil
pemeriksaan)

2. Memberitahu ibu bahwa bayinya akan disuntikan


Imunisasi Hbo di sepertiga paha luar bagian kanan,
manfaat imunisasi untuk mencegah penyakit hepatitis.
Ibu mengetahui, paham dan menyetujui.
3. Menyiapkan alat imunisasi uninject, kapas alcohol.
Sudah siap.
4. Menyuntikan imunisasi kepada bayi, bayi sudah di
suntik.
5. Menjelaskan kembali efek samping setelah pemberian

120
imunisasi dan memberitahu cara penanganannya, ibu
mengerti dan bersedia
6. Menjadwalkan kunjungan ulang BBL 4 ha r i (tanggal
2 0 M a r e t 2 0 2 3 )kemudian bersamaan dengan ibu.
Ibu mengetahui dan bersedia.

3.4.2. Neonatus 4 hari

CATATAN PERKEMBANGAN I
(Kunjungan Neonatus 4 hari)

Hari / Tanggal : Senin, 20 Maret 2023


Waktu : 11.40 WIB

A. Data Subjektif

Ibu mengatakan tidak ada keluhan, bayi menyusu dengan baik,


BAB 4-5 x/hari, BAK 7-8 x/hari. Gerakan bayi aktif, dan tidak
ada tanda bahayapada bayi.
B. Data Objektif

1. Keadaan umum

Suhu : 36,5°C
Pernafasan : 48x/ Menit
Nadi : 138x/ Menit
Berat badan : 3.300 Gram
Gerakan : Aktif
Eliminasi : BAK : 7-8 x/ Hari,
BAB : 4-5 x/ hari.

2. Pemeriksaan fisik
Kepala : Normal
Telinga : Tidak ada pengeluaran cairan

121
Mata : Sklera putih, conjungtiva merah
muda
Hidung & Mulut : Bersih, langit-langit menyatu
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar
tiroid dan getah bening.
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada,
tidak terdengar bunyi grok.
Bahu & Lengan : Simetris, bergerak aktif
Perut : Tali pusat belum puput, tidak ada
benjolan dancekungan, tidak ada tanda infeksi.
Alat Genetalia : Testi telah turun kedalam skrotum.
Tangan & Kaki :Simetris, bergerak aktif, jari lengkap,
tidak ada trombofebritis pada kaki.
Kulit : Kemerahan.
C. Analisa

By. NY. J Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan,


Usia 4 hari normal.
D. Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu dan keluarga tentang kondisi bayi, ibu


dankeluarga telah mengetahui kondisi bayi.
2. Menjaga kehangatan bayi dengan membedong bayi, Bayi
tampak nyaman.
3. Memberitahu ibu untuk selalu menjaga kebersihan bayinya
dan memastikan tali pusat nya tidak lembab (ibu bersedia)
4. Mengingatkan ibu agar terus memberikan ASI Eksklusif
kepada bayinya, ibu bersedia melakukannya.
5. Menganjurkan ibu untuk segera memeriksa bayinya
apabila terjadi komplikasi pada bayinya seperti diare,
demam, dll, Ibu mengerti.
6. Menganjurkan ibu untuk selalu menjemur bayinya selama

122
15 menit disetiap pagi depan dan belakang dalam keadaan
bayi telanjang yang ditutupi matan dan bagian vitalnya.
Ibu mengerti dan menyetujui
7. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang
bersamaan dengan ibu kembali diminggu ke2. Ibu
menyetujui dan paham.

3.4.3. Neonatus 14 hari

CATATAN PERKEMBANGAN III


(Kunjungan Neonatus 14 hari)

Hari / Tanggal : Kamis/30 Maret 2023


Waktu : 16:00 WIB
A. Data Subjektif

Ibu mengatakan sehat tidak ada keluhan, bayi menyusu


dengan baik, BAB 6 x/hari, BAK 7-8 x/hari. Gerakan bayi
aktif, dan tidak ada tanda bahaya pada bayi.
B. Data Objektif

1. Keadaan umum

Suhu : 36,5°C
Pernafasan : 48x/ Menit
Nadi : 138x/ Menit

Berat badan: 3.200 Gram

Gerakan : Aktif
Eliminasi : BAK : 7-8 x/ Hari, BAB : 6 x/ hari.

2. Pemeriksaan fisik
Kepala : Normal
Telinga : Tidak ada pengeluaran cairan
Mata : Sklera putih, conjungtiva merah

123
muda, tidak ada kelainan.
Hidung & Mulut : Bersih, langit-langit menyatu, tidak ada
kelainan bawaan.
Leher : Tidak ada kelainan, tidak ada pembengkakan
kelenjartiroid dan getah bening.
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada, tidak
terdengar bunyigrok.
Bahu & Lengan : Simetris, bergerak aktif, , tidak ada
kelainan bawaan.
Perut : Tali pusat sudah puput, tidak ada benjolan dan
cekungan, tidak ada tanda infeksi.
Alat Genetalia : Testi telah turun kedalam skrotum.
Tangan & Kaki : Simetris, bergerak aktif, jari lengkap,
tidak adakelainan bawaan.
Kulit : Kemerahan.
C. Analisa

By. NY. J Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan,


Usia 14 hari normal

D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu dan keluarga tentang kondisi bayi, ibu
dan keluarga telah mengetahui kondisi bayi.
2. Menjaga kehangatan bayi dengan membedong bayi, Bayi
tampak nyaman.
3. Memberitahu hasil pemeriksaan pada bayi, Ibu
mengetahui hasil pemeriksaan.
4. Mengingatkan ibu agar terus memberikan ASI Eksklusif
kepada bayinya, ibu bersedia melakukannya.
5. Menganjurkan ibu untuk selalu menjemur bayinya selama
15 menit disetiap pagi depan dan belakang dalam keadaan
bayi telanjang yang ditutupi matan dan bagian vitalnya.

124
Ibu mengerti dan menyetujui.
6. Menganjurkan ibu untuk tidak sering memakaikan popok
agar tidak terjadi ruam pada area selakangan bayinya. Ibu
setuju dan paham.
7. Menganjurkan ibu untuk melakukan imunisasi BCG dan
polio tetes pertama pada usia 1 bulan sekitar tgl 17 April
2023 atau sesuai dengan penjadwalan imunisasi yang
dimiliki Puskesmas. Ibu setuju dan paham

125
BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

4.1 Kehamilan

4.1.1 Pembahasan Kasus

1) Kunjungan ANC Pertama

Dilakukan pada tanggal 09 Maret 2023 Langkah awal yang dilakukan


adalah pemeriksaan ANC dengan teori 10T di Trimester III tidak ada
kesenjangan menurut teori (Javaid, 2014)

4.2 Persalinan

Penulis sudah melakukan Asuhan Persalinan kepada Ny. J mulai dari


kala I, kala II, kala III, sampai dengan kala IV yang sudah sesuai dengan
teori menurut Modul Midwifery Update (Ikatan Bidan Indonesia, 2016).

Pada kala I terjadi fase aktif yang cepat yaitu dalam waktu 30 menit
pembukaan 8 cm ke 10 cm terjadi sangat cepat, lebih cepat dari teori yang
menyatakan fase aktif pada kehamilan multipara terjadi dari 1 cm hingga
2 cm perjam dalam setiap kenaikan pembukaan dengan berikut dapat
disimpulkan bahwa keadaan persalinan dapat berbeda dengan teori yang
dikemukakan oleh (Kemenkes RI, 2015).

4.3 Nifas

Penulis melakukan kunjungan nifas pada Ny. J sebanyak 3 kali, yaitu


6 jam post partum, 4 hari post partum, 2 minggu post partum. Asuhan
yang telah diberikan kepada Ny. J ada kesenjangan dengan teori yaitu
melakukan minimal 4 kali kunjungan dimasa nifas teori menurut
(Kemenkes RI, 2020b). Hal itu disebabkan oleh waktu batas akhir PKK
II dengan waktu kunjungan nifas 6 minggu tidak tercapai.

126
4.4 Bayi Baru Lahir

Pada bayi Ny. R asuhan sudah sesuai dengan teori, tidak ada
kesenjanganantara teori dan praktek menurut (NI Waya Armini, 2017).

127
BAB V

KESIMPULAN

5.1 Penutup
Dari hasil pengamatan dalam proses kehamilan, persalinan,
ataupun nifas sampai Asuhan Bayi Baru Lahir pada Ny. J dimulai
dari Trimester III yang dilakukan sejak tanggal 09 Maret 2023
sampai 30 Maret 2023 di Puskesmas Ciampea dapat disimpulkan
bahwa :

1. Mahasiswa mampu memberikan asuhan pada Ny. J dari masa


hamil trimester III, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan
pendekatan manajemen kebidanan.
2. Mahasiswa mampu membandingkan asuhan kehamilan yang
diberikan pada Ny. J dengan SOP ( Standar Operasional
Prosedur).
3. Mahasiswa mampu membandingkan asuhan bersalin yang
diberikan pada Ny. J dengan SOP ( Standar Operasional
Prosedur).
4. Mahasiswa mampu membandingkan asuhan nifas yang
diberikan pada Ny. J dengan SOP ( Standar Operasional
Prosedur).
5. Mahasiswa mampu membandingkan asuhan BBL yang
diberikan pada Bayi Ny.J dengan SOP ( Standar Operasional
Prosedur).
5.2 Saran

1. Bagi Lahan Praktik

Diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi,


tambahan ilmu dan masukkan bagi institusi terkait dalam
upaya meningkatkan mutu pelayanan asuhan kebidanan secara

128
komprehensif mulai dari ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru
lahir, ibu nifas dan keluarga berencana dalam upaya
mengurangi angkakematian ibu dan bayi sesuai dengan teori
menejemen kebidanan.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan bidan sebagai tenaga kesehatan untuk lebih


meningkatkan mutu pelayanan mulai dari ibu hamil, bersalin,
nifas, dan bayi baru lahir dalam memberikan asuhan
kebidanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan klien dan
standaroperasional agar tidak terjadi kesenjangan yang
mungkin menimbulkan komplikasi.

3. Bagi Intansi Pendidikan

Diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan bagi para


mahasiswa dengan menyediakan saranan dan prasaranan yang
mendukung dalam proses pembelajaran.
a) Diharapkan untuk tetep sabar dalam mendidik dan
membimbing mahasiswa guna menghasilkan
lulusan yang berkualitas.
b) Diharapkan dapat memberikan pembekalan teori
maupun praktik yang lebih matang mengenai
Asuhan Komprehensif.
c) Diharapkan Laporan Komprehensif ini dapat
dijadikan sebagai referensi untuk pembuatan
Laporan Komprehensif berikutnya sehingga dalam
proses pembuatannya menjadi lebih cepat dan
sesuai dengan pedoman.
4. Bagi Mahasiswa

Diharapkan bisa sebagai salah satu sarana untuk

129
mengembangkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan serta
keterampilan tentang bagaimana proses pemeriksaan dimulai
dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, dan
keluarga berencana agar bias menjadi seorang bidan yang
berkualitas dengan menerapkan pelayanan yang berkualitas
untuk masyarakat khususnya ibu dan anak .
a) Diharapkan mahasiswa dapat memanfaatkan setiap
fasilitas dan waktu yang ada agar tercipta generasi pelajar
yang mampu bersaing dan dapat menjadi pelaksana
kesehatan yang terikini (tidak tertinggal jaman).
5. Bagi Mayarakat

Diharapkan masyarakat terutama ibu hamil dapat mengerti


tentangpentingnya memeriksakan kehamilan nya secara rutin
dan sedini mungkin minimal 4 kali selama kehamilan untuk
memantau perkembangan kesehatan ibu dan janin, agar dapat
mendeteksi secara dini masalah-masalah yang terjadi.
6. Bagi Ibu dan Keluarga

Diharapkan ibu dapat mengerti dan mampu mengaplikasikan


asuhan kebidanan yang telah diberikan sehingga mampu
meningkatkan pengetahuan terkait tentang masa kehamilan,
persalinan, nifas, dan asuhan bayi. Dan diharapkan keluarga
bisa ikut serta dalam memberikan dukungan secara
menyeluruh bagi setiap siklus seorang wanita, serta dapat
mendeteksi secara dini penyulit dan komplikasi yang
mungkin terjadi pada ibu dan bayi

130
DAFTAR PUSTAKA
Angriani, R., Sudaryati, E., & Lubis, Z. (2018). Hubungan frekuensi menyusui
dengan kelancaran produksi asi ibu post partum di wilayah kerja
puskesmas Peusangan Selatan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh Tahun
2017.
Armini, N. W., Sriasih, N. G. K., & Marhaeni, G. A. (2017). Asuhan Kebidanan
(Neonatus, Bayi, Balita & Anak Prasekolah). POLTEKKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN.
Idaman, M., & ., Niken. (2019). PENGARUH PIJATAN PERINEUM DAN
SENAM KEGEL TERHADAP PENGURANGAN RUPTUR PERINEUM
PADA IBU BERSALIN. Jurnal Kesehatan Medika Saintika, 10(1), 39.
[Link]
Javaid, I. (1995). Cultural Control Practices in Cotton Pest Management in
Tropical Africa. Journal of Sustainable Agriculture, 5(1–2), 171–185.
[Link]
Kemenkes, R. I. (2015). Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Pusat
Pendidikan Dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.
Kemenkes, R. I. (2021). Profil Kesehatan Indonesia 2020. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 139.
Legawati. (2018). ASUHAN PERSALINAN & BAYI BARU LAHIR. Wineka
Media.
Masa nifas - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. (n.d.). Retrieved
March 3, 2023, from [Link]
Muslimin K. (2016). BAB II TINJAUAN TEORI ERGONOMI 2.1 Pendahuluan
2.1.1 Definisi Ergonomi.
Nurul Azizah, N. A. (2019). Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas
dan Menyusui. Umsida Press. [Link]
78-2
POGI, G. H. W. O. A. M. D. (2016). Asuhan persalinan normal.
[Link]

131
Putri, R. A., & Lestari, P. (2020). ANALISIS FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA LASERASI JALAN LAHIR
PADA PERSALINAN NORMAL DI PMB SRI HARTI BANYU BIRU.
Indonesian Journal of Midwifery (IJM), 3(1).
[Link]
Rahmadhani, I., & Hikmah, F. (2020). Analisis Pelaksanaan Pelayanan Antenatal
Care (ANC) pada Ibu Hamil di Puskesmas Candipuro Kabupaten Lumajang.
J-REMI: Jurnal Rekam Medik Dan Informasi Kesehatan, 1(4), 553–563.
Siti, P., Jamil, N., Keb, M., Sukma, F., & Hamidah, M. K. (n.d.). ASUHAN
KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI, BALITA DAN ANAK PRA
SEKOLAH. [Link]
Wahyuni, E. D., & Wahyuni, E. D. (2018). Asuhan kebidanan nifas dan
menyusui. Pusdik SDM Kesehatan.
Wulandari, R. C. L., SiT, S., Keb, M., Risyati, B. L., Keb, M., Maharani, S., Keb,
M., Saleh, U. K. S., Kristin, D. M., & ST, S. (2021). Asuhan Kebidanan
Kehamilan. Media Sains Indonesia.
Yulizawati, A., Lusiana, F., & Feni, A. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan
Pada Persalinan. Sidoarjo: Indomedia Pustaka.

132
Lampiran 1 Surat pernyataan klien

133
134
Lampiran 2 Lembaran konsultasi bimbingan

135
136
Lampiran 3 Surat izin komprehensif

137
138
Lampiran 4 Surat balasan Izin komprehensif

139
Lampiran 5 Dokumentasi

No Keterangan Dokumentasi
1 ANC

(kunjungan pertama)

2 ANC

(kunjungan kedua)

140
INC

3 NIFAS

(nifas 6 jam)

141
(Lanjutan)

(nifas 4 hari)

(nifas 2 minggu)

4 BBL

(BBL 1 jam)

142
(Lanjutan)

(BBL 6 jam)

(BBL 4 hari)

(BBL 2 minggu)

143
Lampiran 6 Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasaan : Teknik Relaksasi.

Sub Pokok Bahasaan : Teknik Relaksasi mengurangi rasa nyeri.

Sasaran : Ny. J

Waktu : 10 menit

Tempat : Puskesmas Ciampea

Hari/tanggal : Kamis, 09 Maret 2023

Pelaksana : Diana Putri

I. Tujuan Umum

Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. J dapat


mengerti danmemahami bagaimana teknik relaksasi yang baik dan benar.

II. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. J dapat mengetahui :


1. Pengertian teknik relaksasi

2. Teknik relaksasi

3. Manfaat relaksasi

III. Metode
1. Ceramah

144
2. Tanya jawab

IV. Materi
Terlampir

V. Media dan Alat Bantu


1. Gambar
2. Buku online
VI. Proses kegiatan dilapangan
Untuk gambaran susunan acara pelaksanaan penyuluhan yang akan
dilaksanakan pada hari sebagai berikut ini.

No Kegiatan Waktu

1. Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam, 2 menit


memperkenalkan diri, memberikan sekilas
tentang materi yang akan di sampaikan.

2. Kegiatan pokok Menyampaikan materi, 5 menit


sasaran menyimak, melihatkan gambar,
sasaran melihat, memberi kesempatan ibu
bertanya, ibu bertanya, menjawab pertanyaan
ibu, ibu mendengarkan

3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit


mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan

145
VII. Evaluasi

1. Apa pengertian teknik relaksasi?

2. Bagaimana teknik relaksasi ?

3. Apa manfaat teknik relaksasi?

Materi
Bentuk pernafasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernafasan
diafragma yang mengacu pada pendataran kubah diafragma selama inspirasi
yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan
desakan udara masuk selama inspirasi. Adapun langkah- langkah teknik
relaksasi nafas dalam adalah sebagai berikut :
1. Ciptakan lingkungan yang tenang, lalu letakkan satu tangan di perut,
tepat di bawah tulang rusuk.
2. Tarik nafas secara perlahan melalui hidung ke dalam paru-paru anda,
kemudian hitung sampai hitungan lima (hitung perlahan
“satu,dua,tiga,empat,lima). Jika anda bernafas perut anda seharusnya
akan terangkat. Dada akan bergerak sedikit dan perut anda akan
mengembang.
3. Jeda dan tahan nafas sampai hitungan lima, lalu buang nafas perlahan
melalui hidung atau mulut, sampai hitungan lima. Dan pastikan untuk
menghembuskan nafas sepenuhnya, biarkan seluruh tubuh
melepaskannya (viasualisasikan lengan dan kaki anda longgar dan
lemas)
4. Usahakan agar tetap konsentrasi/mata sambil terpejam . Pada saat
konsentrasi pusatkan pada daerah nyeri. Bila anda telah
menghembuskannya sepenuhnya ambillah nafas dalam ritme normal
anda. Kemudian ulangi langkah 3 sampai 5 pada siklus diatas.
5. Pertahankan latihan sampai 3-5 menit. Ulangi latihan sampai 5 kali.
6. Setiap menghembuskan nafas, bawalah diri anda pada keadaan
rileks.(Yousifet al., 2018)

146
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasaan : Teknik menyusui.

Sub Pokok : Teknik menyusui yang benar.


Bahasaan

Sasaran : Ny. J

Waktu : 10 menit

Tempat : Puskesmas Ciampea

Hari/tanggal : Jum’at, 17 Maret 2023

Pelaksana : Diana Putri

I. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. R dapat
mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik
dan benar.

II. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. R dapat mengetahui :

1. Pengertian ASI

2. Posisi pemberian ASI yang benar

III. Tujuan Umum


Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. R dapat
mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik
dan benar.

147
IV. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. R dapat
mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik dan
benar.

V. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. R dapat mengetahui :

1. Pengertian ASI

2. Posisi pemberian ASI yang benar

VI. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

VII. Materi

Terlampir

VIII. Media dan Alat Bantu

1. Gambar

2. Buku online

148
IX. Proses kegiatan dilapangan

Untuk gambaran susunan acara pelaksanaan penyuluhan yang akan


dilaksanakan pada hari sebagai berikut ini.

No Kegiatan Waktu

1. Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam, 2 menit


memperkenalkan diri, memberikan sekilas
tentang materi yang akan di sampaikan.

2. Kegiatan pokok Menyampaikan materi, 5 menit


sasaran menyimak, melihatkan gambar,
sasaran melihat, memberi kesempatan ibu
bertanya, ibu bertanya, menjawab pertanyaan
ibu, ibu mendengarkan

3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit


mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan

149
X. Proses kegiatan dilapangan

Untuk gambaran susunan acara pelaksanaan penyuluhan yang akan


dilaksanakan pada hari sebagai berikut ini.

No Kegiatan Waktu

1. Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam, 2 menit


memperkenalkan diri, memberikan sekilas
tentang materi yang akan di sampaikan.

2. Kegiatan pokok Menyampaikan materi, 5 menit


sasaran menyimak, melihatkan gambar,
sasaran melihat, memberi kesempatan ibu
bertanya, ibu bertanya, menjawab pertanyaan
ibu, ibu mendengarkan

3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit


mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan

150
XI. Evaluasi

1. Apa pengertian ASI

2. Bagaimana posisi pemberian ASI yang benar ?

Materi
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu,
yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. Pengertian ASI eksklusif adalah
pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi
berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap
ASI eksklusif ini. ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada
bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI
merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga
dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pada tahun 2001 World
Health Organization menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan
pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan
sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku
lagi.(Elly Dwi Wahyuni, [Link], 2018)

Posisi dalam menyusui Para ibu harus mengerti perlunya posisi yang
nyaman dan mempertahankannya ketika menyusui untuk menghindari
perlekatan pada payudara yang tidak baik yang akan berakibat pada
pengeluaran ASI yang tidak efektif dan menimbulkan trauma. Beberapa hal
yang perlu diajarkan pada ibu untuk membantu mereka dalam mencapai
posisi yang baik agar dicapai perlekatan pada payudara dan
mempertahankannya secara efektif adalah sebagai berikut.

a) Ibu harus mengambil posisi yang dapat dipertahankannya. Bila


ibu tidak nyaman, penyusuan akan berlangsung singkat dan
bayi tidak akan mendapat manfaat susu yang kaya lemak di
akhir penyusuan. Posisi yang tidak nyaman ini juga akan

151
mendorong terbentuknya fil dan sebagai akibatnya akan
mengurangi suplai susu.
b) Kepala dan leher harus berada pada satu garis lurus. Posisi ini
memungkinkan bayi untuk membuka mulutnya dengan lebar,
dengan lidah pada dasar mulut untuk menyauk/mengangkat
payudara ke atas. Usahakan agar kepala dan leher jangan
terpilin karena hal ini juga akan melindungi jalan napas dan
akan membantu refleks mengisap- menelan-bernapas.

c) Biarkan bayi menggerakkan kepalanya secara bebas


Menghindari memegang bagian belakang kepala bayi sangat
penting agar penyusuan dapat berlangsung dengan sukses,
sebaliknya leher danbahu bayi harus disokong agar bayi dapat
menggerakkan kepalanya dengan bebas untuk mencari posisi
yang tepat dengan dipandu oleh dagunya, membiarkan
hidungnya bebas, dan mulut menganga lebar. Posisi demikian
juga memungkinkan bayi untuk menjulurkan kepala dan
lehernya serta menstabilkan jalan udara selama terjadinya
refleks mengisap-menelan- bernapas. Sebaliknya dengan
memegang kepala bayi, maka hidung, bibir atas dan mulut
akan terdorong ke arah payudara, dan memfleksikan leher. Ini
akan menghambat jalan udara dan akan menekan hidung bayi
pada payudara. Juga, ibu akan cenderung menekan payudara
dengan jari-jarinya untuk membuat suatu ruangan agar
bayinya dapat bernapas dan dengan melakukan tindakan
demikian justru akan mengurangi aliran susu dan mengganggu
perlekatan. Dengan memberikan keleluasaan pada bayi untuk
menjulurkan lehernya, maka dia diberi kesempatan untuk
menghampiri payudara ke dalam mulutnya dan membiarkan
hidung bebas. Dengan menekankan kepala bayi pada payudara juga
akan menimbulkan penolakan payudara.
d) Dekatkan bayi Bawalah bayi ke arah payudara dan bukan

152
sebaliknya karena dapat merusak bentuk payudara.
e) Hidung harus menghadap ke arah puting Hal demikian akan
mendorong bayi untuk mengangkat kepalanya ke arah
belakang dan akan memandu pencarian payudara dengan
dagunya. Dengan posisi demikian, lidah juga akan tetap berada
di dasar mulut sehingga puting susu berada pada pertemuan
antara langit-langit keras dan lunak.
f) Dekati bayi ke payudara dengan dagu terlebih dahulu Dagu
akan melekukkan payudara ke dalam dan bayi akan menyauk
payudara masuk ke dalam mulutnya.(Elly Dwi Wahyuni, [Link],
2018)

153
(Lanjutan)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasaan : Teknik perawatan payudara.

Sub Pokok : Teknik cara perawatan payudara untuk memperlancar


Bahasaan ASI atau mengurangi bengkak pada payudara.

Sasaran : Ny. J

Waktu : 15 menit

Tempat : Puskesmas Ciampea

Hari/tanggal : Jum’at, 15 April 2022

Pelaksana : Diana Putri

I. Tujuan Umum

Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. J dapat


mengerti danmemahami bagaimana teknik pengurutan yang baik dan benar.

II. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. J dapat mengetahui :

1. Pengertian breast care

2. Teknik breast care

154
(Lanjutan)

3. Manfaat breast care

III. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

IV. Materi

Terlampir

V. Media dan Alat Bantu

1. Gambar

2. Buku online

VI. Proses kegiatan dilapangan

Untuk gambaran susunan acara pelaksanaan penyuluhan


yang akandilaksanakan pada hari sebagai berikut ini.

No Kegiatan Waktu

1. Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam, 2 menit


memperkenalkan diri, memberikan sekilas
tentang materi yang akan di sampaikan.

2. Kegiatan pokok Menyampaikan materi, 10 menit


sasaran menyimak, melihatkan gambar,
sasaran melihat, memberi kesempatan ibu
bertanya, ibu bertanya, menjawab pertanyaan
ibu, ibu mendengarkan

155
3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit
mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan

156
(Lanjutan)

VII. Evaluasi

1. Apa pengertian breast care?

2. Bagaimana teknik breast care ?

3. Apa manfaat breast care?

Materi
Efek fisiologis dari pijat oksitosin ini adalah merangsang kontraksi
otot polos uterus baik pada proses saat persalinan maupun setelah persalinan
sehingga bisa mempercepat proses involusi uterus. Produksi ASI sangat
dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu menyusui. Saat ibu menyusui merasa
nyaman dan rileks pengeluaran oksitosin dapat berlangsung dengan baik.
Terdapat titik-titik yang dapat memperlancar ASI diantaranya, tiga titik di
payudara yakni titik di atas putting, titik tepat pada putting, dan titik di bawah
putting. Serta titik di punggung yang segaris dengan payudara. Pijat stimulasi
oksitosin untuk ibu menyusui berfungsi untuk merangsang hormon oksitosin
agar dapat memperlancar ASI dan meningkatan kenyamanan ibu.

1. Menstimulasi puting susu: bersihkan puting susu ibu dengan


menggunakan kassa yang telah dibasahi air hangat, kemudian tarik
putting susu ibu secara perlahan. Amati pengeluaran ASI.
2. Mengurut atau mengusap payudara secara perlahan, dari arah pangkal
payudara ke arah puting susu.
3. Penolong pemijatan berada di belakang pasien, kemudian licinkan
kedua telapak tangan dengan menggunakan baby oil. Pijat leher,
posisikan tangan menyerupai kepalan tinju. Lakukan pemijatan ini
sebatas leher selama 2 – 3 menit.

157
(Lanjutan)

4. Pijat punggung belakang ibu (sejajar daerah payudara) menggunakan


ibu jari. Tekan kuat membentuk gerakan melingkar kecil – kecil.
Lakukan gerakan sebatas tali bra selama 2 – 3 menit.
5. Kemudian, telusuri kedua sisi tulang belakang, posisikan kedua
tangan menyerupai kepalan tinju dan ibu jari menghadap kearah atas
atau depan.
6. Amati respon ibu selama tindakan.(Elly Dwi Wahyuni, [Link], 2018)

158
(Lanjutan)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasaan : Teknik perawatan tali pusat.

Sub Pokok : Teknik perawatan tali pusat.


Bahasaan

Sasaran : Ny. J

Waktu : 10 menit

Tempat : Puskesmas Ciampea

Hari/tanggal : Jum’at, 17 Maret 2023

Pelaksana : Diana Putri

I. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. J dapat
mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik dan
benar.

II. Tujuan Khusus


Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. J dapat mengetahui :

1. Pengertian perawatan tali pusat

2. Cara perawatan tali pusat

159
(Lanjutan)

III. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

IV. Materi
Terlampir

V. Media dan Alat Bantu

1. Gambar

2. Buku online

VI. Proses kegiatan dilapangan

Untuk gambaran susunan acara pelaksanaan penyuluhan


yang akandilaksanakan pada hari sebagai berikut ini.

No Kegiatan Waktu

1. Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam, 2 menit


memperkenalkan diri, memberikan sekilas
tentang materi yang akan di sampaikan.

2. Kegiatan pokok Menyampaikan materi, 5 menit


sasaran menyimak, melihatkan gambar,
sasaran melihat, memberi kesempatan ibu
bertanya, ibu bertanya, menjawab pertanyaan
ibu, ibu mendengarkan

3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit


mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan

160
(Lanjutan)

VII. Evaluasi

1. Apa pengertian perawatan tali pusat ?

2. Bagaimana cara perawatan tali pusat ?

Materi
Pencegahan Infeksi merupakan bagian terpenting dari setiap
komponen perawatan bayi baru lahir yang sangat rentan terhadap infeksi
karena sistem imunitasnya masih kurang sempurna. Perlu diperhatikan pada
saat melakukan asuhan pada bayi baru lahir pencegahan infeksi sangat
penting. Beberapa asuhan yang diberikan gada bayi segera setelah lahir adalah
dengan:

1) Perawatan tali pusar

• Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah


merawat talipusar.
• Menjaga agar tali pusar tetap kering dan terkena udara atau dibungkus
longgardengan kain bersih.
• Bersihkan tali pusar dengan sabun dan air jika tercemar oleh urine
dankotoran.
Hindari:

• Sering menyentuh tall pusar dan tangan tidak bersih.

• Menutupi tali pusar dengan apapun.

• Membersihkan dengan alkohol. (NI Waya Armini, 2017)

161
(Lanjutan)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasaan : Cara memandikan bayi.

Sub Pokok : Cara memandikan bayi yang benar.


Bahasaan

Sasaran : Ny. J/ By. Ny. J

Waktu : 10 menit

Tempat : Puskesmas Ciampea

Hari/tanggal : Jum’at, 17 April 2023

Pelaksana : Diana Putri

I. Tujuan Umum

Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. J dapat


mengerti danmemahami bagaimana cara memandikan bayi yang baik dan
benar.

II. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. J dapat mengetahui :

1. Cara memandikan bayi yang baik dan benar

162
(Lanjutan)

III. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

IV. Materi
Terlampir

V. Media dan Alat Bantu

1. Gambar

2. Buku online

VI. Proses kegiatan dilapangan


Untuk gambaran susunan acara pelaksanaan penyuluhan
yang akandilaksanakan pada hari sebagai berikut ini.

No Kegiatan Waktu

1. Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam, 2 menit


memperkenalkan diri, memberikan sekilas
tentang materi yang akan di sampaikan.

2. Kegiatan pokok Menyampaikan materi, 5 menit


sasaran menyimak, melihatkan gambar,
sasaran melihat, memberi kesempatan ibu
bertanya, ibu bertanya, menjawab pertanyaan
ibu, ibu mendengarkan

3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit


mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan

163
(Lanjutan)

VII. Evaluasi

1. Bagaimana cara memandikan bayi yang baik dan benar ?

Materi

Mandi mempunyai manfaat yang sangat bagus untuk kebersihan dan


kesehatan bayi, mandi akan memberikan rasa nyaman bagi tubuh bayi. Bayi
sering mengalami gangguan pada kulit, diantaranya adalah biang keringat,
eksim popok, dan eksim susu. Dimana masalah-masalah ini bisa diatasi
dengan mudah yaitu mandi dengan bersih. Memandikan bayi merupakan
upaya yang dilakukan untuk menjaga agar tubuh bayi bersih, terasa segar, dan
mencegah kemungkinan adanya infeksi. (Zakiyyah et al., 2017)

Langkah-Langkah
1) PERSIAPAN :

• Diruang tertutup : dilakukan di kamar tidak ber-AC atau ruangan


lain asaltidak terbuka agar bayi tidak kedinginan
• 2 waslap : 1 untuk menyeka wajah dan badan; 1 lagi untuk daerah
kelamin

• Kapas : untuk membersihkan kotoran di sekitar mata, telinga,


dan alat kelamin
• Kassa steril : untuk membungkus tali pusat yang belum lepas

• Perlak : diletakkan di meja ganti popok atau boks atau tempat tidur
bayi

2) PERLENGKAPAN :

• Handuk, sabun dan shampo khusus bayi Kosmetik dan


minyakpenghangat : bedak bayi, sisir khusus bayi, minyak telon
• Pakaian ganti : bedong, baju, dan popok ? Air hangat : tuang air
hangat ke

164
(Lanjutan)
bak setinggi ¼ bak jika ukuran bak cukup besar atau ½ bak jika
ukurannya kecil. Ukur kehangatan air dengan mencelupkan siku
lengan.
3) CARA MEMANDIKAN :

1. Letakkan bayi di atas perlak, lepaskan seluruh pakaiannya.

2. Jika tali pusat belum lepas, lepaskan kassa yang membungkus


tali pusat. Jika lengket, siram dengan air hangat.
3. Jika buang air besar/buang air kecil, bersihkan dengan kapas

4. Ambil waslap pertama untuk menyeka wajah, celupkan ke dalam


air di bak, peras sedikit, lalu seka lembut secara berurut : wajah,
lengan, badan, punggung, kaki.
5. Ganti dengan waslap kedua, celupkan ke dalam air di bak, lalu
bersihkan daerah sekitar kelamin.
6. Ganti dengan waslap pertama kembali, bubuhi sabun; sabuni
seluruh tubuh bayi dari tangan hingga kaki. Usahakan telapak
tangan tidak terkenasabun karena bayi sering memasukkan tangan
ke mulut. Alat kelamin boleh disabuni (gunakan waslap kedua).
7. Angkat bayi, masukkan ke dalam bak. Caranya : selusupkan
tangan kiri di bawah leher dan kepala bayi, ibu jari menutup
telinga kanan dan jari tengah menutup telinga kiri.
8. Dengan tangan kanan, rapatkan kedua kaki bayi, posisi telunjuk di
antara kedua kaki.
9. Bayi siap diangkat untuk dimasukkan ke dalam bak mandinya.

4) DALAM BAK MANDI :

Posisi bayi di air harus lebih rendah dari kepala. Lepaskan tangan
kanan dari kakinya, lalu bilas tubuh bagian depan, tangan dan kaki
hingga bersih. Tubuh bagian belakang bisa dibilas tanpa harus
membalikkan badan bayi.

165
(Lanjutan)

10. Jika pun ingin mencoba membalikkan badannya, caranya :


lepaskan ibu jari anda di telinga kanan si kecil, lalu tutup
telinganya dengan ibu jari tangan kanan; sementara jari
tengah/telunjuk kanan menggantikan jari tengah yang menutup
telinga kanan; telapak tangan kiri tetap menyangga kepala bayi,
lalu balikkan tubuh bayi ke arah kanan secara perlahan, baru
kemudian telapak tangan kiri digunakan untuk menyiram tubuh
bayi.
11. Jika ingin mengeramasi rambut bayi, lakukan sebelum membilas
tubuhnya. Caranya : beri sedikit shampo di rambut, usap lembut
hingga shampo merata, lalu bilas dengan air hingga busa shampo
tidak bersisa, diikuti membilas seluruh tubuh hingga tidak bersisa
busa sabun sedikitpun.(Zakiyyah et al., 2017)

166
(Lanjutan)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasaan : Teknik perawatan luka jait.

Sub Pokok : Teknik perawatan luka jait yang baik dan benar.
Bahasaan

Sasaran : Ny. J

Waktu : 10 menit

Tempat : Puskesmas Ciampea

Hari/tanggal : Jum’at, 17 Maret 2023

Pelaksana : Diana Putri

I. Tujuan Umum

Setelah mendapatkan penyuluhan ini diharapkan Ny. J dapat


mengerti dan memahami bagaimana teknik pemberian asi yang baik dan
benar.

II. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti kegiatan ini diharpkan Ny. J dapat mengetahui :

1. Cara perawatan luka jait

2. Penyebab luka jait lama mengering

167
(Lanjutan)

III. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

IV. Materi
Terlampir

V. Media dan Alat Bantu

1. Gambar

2. Buku online

VI. Proses kegiatan dilapangan


Untuk gambaran susunan acara pelaksanaan
penyuluhan yang akandilaksanakan pada hari sebagai berikut ini.

No Kegiatan Waktu

1. Kegiatan penyuluhan Mengucapkan salam, 2 menit


memperkenalkan diri, memberikan sekilas
tentang materi yang akan di sampaikan.

2. Kegiatan pokok Menyampaikan materi, 5 menit


sasaran menyimak, melihatkan gambar,
sasaran melihat, memberi kesempatan ibu
bertanya, ibu bertanya, menjawab pertanyaan
ibu, ibu mendengarkan

3. Kegiatan penutup Review materi, ibu 3 menit


mengerti, menarik kesimpulan melalui tes
secara lisan

168
(Lanjutan)

VII. Evaluasi

1. Bagaimana cara perawatan luka jait yang baik dan benar ?

2. Apa penyebab luka jait lama mongering?

Materi
Definisi Perawatan Luka Perineum Perawatan adalah proses pemenuhan
kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam
rentang sakit sampai dengan sehat. Perineum adalah daerah antara kedua
belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus. Jadi perawatan perineum adalah
pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi
vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai
dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Perawatan perineum dapat mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi
dengan cara menjaga kebersihan perineum. Caraperawatan luka jahitan pun
cukup mudah yaitu sebagai berikut Membersihkan vulva mulai dari labia
mayora kiri, labia mayora kanan, labia minora kiri, labia minora kanan,
vestibulum, perineum. Arah dari atas ke bawah dengan kapas basah (1 kapas,
1 kali usap). Perawatan luka perineum dapat dilakukan pada waktu-waktu
berikut ini.

2) Saat mandi

Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut. Setelah
terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada
cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu
dilakukan penggantian pembalut. Demikian pula pada perineum ibu,
untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3) Setelah buang air kecil

Pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air
seni pada

169
(Lanjutan)

rectum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum


untuk itudiperlukan pembersihan perineum.
4) Setelah buang air besar.

Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran


disekitar anus. Untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari
anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses
pembersihan anus dan
perineum secara keseluruhan.(Rahmadani,
2017)

170

Anda mungkin juga menyukai