0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan3 halaman

Perencanaan Bahasa di Negara Multikultural

Dokumen tersebut membahas tentang perencanaan bahasa di negara-negara multilingual, multirasial, dan multikultural. Perencanaan bahasa diperlukan untuk menjamin komunikasi kebangsaan, dan harus dimulai dengan kebijaksanaan bahasa. Dokumen tersebut juga membahas tentang kebijaksanaan bahasa, perencanaan bahasa, dan tantangan dalam pelaksanaan perencanaan bahasa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan3 halaman

Perencanaan Bahasa di Negara Multikultural

Dokumen tersebut membahas tentang perencanaan bahasa di negara-negara multilingual, multirasial, dan multikultural. Perencanaan bahasa diperlukan untuk menjamin komunikasi kebangsaan, dan harus dimulai dengan kebijaksanaan bahasa. Dokumen tersebut juga membahas tentang kebijaksanaan bahasa, perencanaan bahasa, dan tantangan dalam pelaksanaan perencanaan bahasa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Fitri Basri Daeng Paliwang

NIM : G2O122015

RANGKUMAN SOSIOLINGUISTIK

PERENCANAAN BAHASA

Di Negara-negara multilingual, multirasial,dan multikultural perlu melakukan suatu


perencanaan bahasa untuk menjamin keberlangsungan komunikasi kebangsaan yang tentunya
terlebih dahulu harus dimulai dengan kebijaksanaan bahasa. Multilingual yang dimaksud adalah
adanya dan digunakannya banyak bahaa dengan berbagai ragamnya di dalam wilayah Negara itu
secara berdampinga. Multirasial adalah terdapat jenis etnis yang berbeda dengan memiliki ciri
fisik tertentu atau dari bahasa dn budaya yang melekat dari etnis tersebut. Sedangkan,
Multikultural adalah terdapatnya berbagai budaya, adat istiadat, dan kebiasaan yang berbeda dari
penduduk yang mendiami Negara tersebut.

1. Kebijaksanaan Bahasa
Kebijaksanaan bahasa dapat diartikan sebagai suatu pertimbangan konseptual dan
politis yang dimaksud untuk dapat memberikan perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-
ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengelolahan keseluruhan masalah
bahasa yang dihadapi oleh suatu bangsa secara nasional.
Masalah-masalah kebahasaan yang dihadapi setiap bangsa adalah tidak sama
sebab tergantung pada situasi kebahasaan yang ada di dalam Negara itu. Indonesia
sebagai Negara yang relatif baru dengan bahasa daerah yang tidak kurang dari 400
bahasa, cukup beruntung sebab masalah-masalah kebahasaan yang terjadi di Negara lain,
secara histori telah diselesaikan sejak lama. Secara politis di Indonesia terdapat tiga jenis
bahasa yakni (1) bahasa nasional Indonesia, (2) bahasa daerah, dan (3) bahasa asing.
Ketiga bahasa itu dengan fungsinya masing-masing tidak menimbulkan masalah.
Masalah kebahasaan yan dihadapi bangsa Filipina agak mirip dengan keadaan di
Indonesia, tetapi tampaknya persoalan yang mereka hadapi lebii ruwet. Terdapat banyak
bahasa daerah dan dua bahasa asing bekas penjajahnya yang sangat melekat pada bangsa
itu, yaitu bahasa Spanyol dan bahasa Inggris.
Masalah kebahasaan dihadapi Negara Singapura juga cukup ruwet; tetapi
pemerintah Singapura telah dapat melakukan kebijaksanaan bahasa dengan tepat.
Pemerintah Singapura mula-mula membedakan adanya dua hal, yaitu fungsi bahasa dan
penggunaan bahasa. Dalam fungsi bahasa ini, mereka membedakan adanya bahasa
nasional dan bahasa resmi.
Keperluan suatu bangsa atau negara untuk memiliki sebuah bahasa yang menjadi
identitas nasionalnya dan satu bahasa, atau lebih yang menjadi bahasa resmi kenegaraan.
(bahasa yang sama dengan bahasa nasional) tidak selalu bias dipenuhi oleh bahasa atau
bahasa-bahasa asli pribumi yang dimiliki. Berkenaan dengan itu dalam perencanaan
bahasa dikenal adanya Negara tipe endoglosik, seperti Indonesia, tipe eksoglosik-
endoglosik, seperti Filipina, dan tipe eksoglosik seperti Somalia.
Pengambilan keputusan dalam kebijaksanaan bahasa oleh para pemimpin Negara
untuk menetapkan suatu bangsa yang akan digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan
biasanya juga berkaitan dengan keinginan untuk memajukan suatu Negara. Tujan
kebijaksanaan bahasa dapat berlangsungnya komunikasi kenegaraan dan komunikasi
kenegaraan dan komunikasi intrabangsa dengan baik, tanpa menimbulkan gejolak social
dan emosional yang dapat menganggu stabilitas bangsa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijaksanaan bahasa
merupakan usaha kenegaraan suatu bangsa untuk menentukan dan menetapkan dengan
tetap fungsi dan status bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di Negara tersebut, agar
komunikasi kenegaraan dan kebangsaan dapat berlangsung dengan baik. Selain
memberikan status kedudukan, kebijaksanaan kebahasaan juga harus memperhatikan
semua yang menyangkut komponen bahasa seperti fonologi, morfologi, sintaksis,
kosakata, serta sistem semantik.

2. Perencanaan Bahasa
Istilah perencanaan bahasa awalnya digunakan oleh Haugen (1959) pengertian
usaha kearah yang diinginkan oleh para perencana. Pengertian perencanaan bahasa juga
banyak dikemukakan oleh para ahli baik dari segi luasnya kegiatan, pelaku, berperan
didalamnya, maupun peristilahannya. Jemudd dan Das Gupta (197:211) mengatakan
bahwa perencanaan bahasa adalah kegiatan politis dan administratif untuk menyelesaikan
persoalan bahasa dalam masyarakat. Istilah lain dalam perencanaan bahasa ini juga
digunakan glottopolitics dan language reform. Istilah tersebut digunakan untuk mengacu
pada penerapan linguistic pada kebijaksanaan pemerintah dalam penentuan sarana
komunikasi yang paling cocok.
Dalam sejarahnya pelaku perencanaan ini adalah lembaga kebahasaan, baik yang
merupakan instansi pemerintahan maupun bukan. Di Indonesia lembaga yang terlibat
dalam perencanaan dan perkembangan bahasa dimulai dengan berdirinya Commisie voor
de Volkslectuur yang didirikan oleh pemerintah colonial Belanda pada tahun 1908 yang
ada 1917 berubah menjadi Balai Pustaka. Lembaga ini dianggap sebagai perencanaan dan
pengembangan bahasa.
Masalah berikutnya dalam perencanaan bahasa ini adalah apakah sasaran
perencanaan bahasa itu. Dari berbagai kajian kita lihat sasaran perencanaan bahasa itu
(yang dilakukan setelah menetapkan kestatusan bahasa nasional resmi dan bahasa resmi
kenegaraan), yaitu: (1) pembinaan dan pengembangan bahasa yang direncanakan
(sebagai bahasa nasional, bahasa resmi kenegaraan, dan sebagainya), dan (2) khalayak di
dalam masyarakat yang diharapkan akan menerima dan menggunakan saran yang
diusulkan dan ditetapkan.
Pelaksanaan perencanaan bahasa ini kemungkinan besar akan mengalami
hambatan yang mungkin akibat dari perencanaannya yang kurang repat, bisa juga dari
para pemegang tampuk kebijakan, dari kelompok social tertentu, dari sikap bahasa para
penutur, maupun dari dana dan ketenagaan. Berhasil dan tidaknya usaha perencanaan
bahasa ini adalah masalah evaluasi. Dalam hal ini memang dapat dikatakan evaluasi
keberhasilan perencanaan bahasa itu memang sukar dilaksanakan.

Anda mungkin juga menyukai