0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan42 halaman

Pengawasan Orang Tua Terhadap Toxic Media Sosial

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas peran orang tua dalam mengawasi remaja terhadap konten berbahaya di media sosial 2. Tanpa pengawasan orang tua, remaja akan bebas mengakses segala konten di media sosial 3. Diperlukan komunikasi antara orang tua dan anak untuk membatasi akses konten berbahaya bagi perkembangan remaja

Diunggah oleh

Hukma Shobiyya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan42 halaman

Pengawasan Orang Tua Terhadap Toxic Media Sosial

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas peran orang tua dalam mengawasi remaja terhadap konten berbahaya di media sosial 2. Tanpa pengawasan orang tua, remaja akan bebas mengakses segala konten di media sosial 3. Diperlukan komunikasi antara orang tua dan anak untuk membatasi akses konten berbahaya bagi perkembangan remaja

Diunggah oleh

Hukma Shobiyya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN ORANG TUA DALAM PENGAWASAN REMAJA TERHADAP

TOXIC DARI MEDIA SOSIAL DI DESA NGROMO, KECAMATAN


NAWANGAN, KABUPATEN PACITAN TAHUN 2023

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Menyusun Skripsi

i
Disusun Oleh:
Lambang Tendy Ambodo
NIM: 183111103

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH
UNIVERSITAR ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA
2023

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak diciptakannya internet oleh ARPANet (Advanced Research Project


Agency) di Amerika Serikat pada tahun 1969 M, internet terus mengalami
perkembangan secara pesat hinggat saat ini (Tim Edukom, 2019: 4). Internet
di masa sekarang telah berkembang pesat ditandai dengan penggunannya yang
menjadikan internet sebagai sarana penting dalam melaksanakan kegiatan
sehari-hari. Internet merupakan sebuah jaringan komunikasi dan informasi
global yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari keperluan
pribadi, organisasi, perusahaan, dan sebagainya. Salah satu kegunaan internet
adalah sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi yang dapat
menembus ruang dengan waktu secara singkat, ruang tersebut dinamakan
media sosial.

Media sosial merupakan media dalam jaringan internet untuk


bersosialisasi antar sesama menggunakan perangkat seperti gawai dan
komputer tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Kemudahan akses media sosial
mampu memberikan dan menerima informasi dalam bentuk tulisan, gambar,
dan video secara cepat dan luas untuk semua kalangan baik orang yang
dikenal ataupun tidak dikenal sebelumnya (Endah dkk., 2017: 16). Menurut
survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII) tahun 2021-2022 sebanyak 210.026.769 atau 77,02% orang Indonesia
aktif menggunakan internet, dari jumlah tersebut 89,15% aktif mengakses
situs media sosial, tidak terkecuali anak-anak hingga remaja. Situs media
sosial saat ini yang bisa dipakai sangat beragam dengan spesifikasi masing-
masing, diantaranya yang populer di Indonesia berdasarkan survei dari Global
Web Index tahun 2022 seperti YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook,
Twitter, Line, Tiktok, Linkedln, dan Telegram.

1
Akses untuk situs media sosial terbilang mudah bagi para remaja, hal
tersebut dibuktikan dari wawancara yang dilakukan penulis mendapati bahwa
banyak remaja dapat menguasi penggunaan sosial media tanpa perlu pelatihan
atau bantuan orang lain secara mendalam. Media sosial membuat
kencenderungan para penggunanya untuk terus mengakses media sosial
karena konten di dalamnya sangat beragam yang membuat penggunanya akan
tertarik mengikuti setiap waktu pembaharuan konten di media sosial, selain itu
juga adanya proses interaksi dengan orang lain yang membuat penggunanya
saling memberi dan menerima informasi (Wulandari & Netrawati, 2020: 42).
Usia remaja dikatakan dalam fase mengenal dan mencari jati diri, pada saat ini
akan lebih sering dalam penggunaan media sosial karena adanya rasa
keingintahuan tinggi dengan hal-hal baru yang secara mudah dapat ditemukan
melalui media sosial serta keinginan untuk mengekspresikan diri mereka
dengan membuat konten atau kiriman yang dapat dilihat orang lain, sehingga
banyak ditemui di usia tersebut dalam sehari bisa mengakses 6-10 jam untuk
media sosial dengan alasan mengisi waktu luang dan mencari hiburan
(Umami, 2019: 15).

Konten media sosial merupakan suatu informasi yang disajikan oleh para
penggunanya agar mendapatkan perhatian dan feedback dari pengguna lain
(Ibrahim & Irawan, 2021: 77). Pengguna media sosial mencakup seluruh
manusia dari berbagai negara, agama, ras dan pemikiran yang berbeda,
memjadikannya konten atau kiriman di media sosial akan sangat beragam
jenisnya. Jenis konten di media sosial memiliki beragam macam serta sasaran
penggunanya masing-masing, diantaranya yang paling sering diminati
penggunanya menurut survei databooks adalah musik, komedi, tutorial,
livestream, pendidikan, olahraga, gim, ulasan produk, dan vlog. Penulis
melakukan survei dari data di atas para remaja mayoritas menyukai konten
musik, gim, dan olahraga. Dapat disimpulkan sebagian besar untuk usia
tersebut mengakses media sosial sebagai sarana mencari hiburan.

2
Keberagaman konten media sosial tidak hanya dari jenis dan
penggunanya, tetapi juga dari nilai di dalamnya. Konten yang disajikan tidak
semuanya layak bila dilihat dari nilainya, layak yang dimaksud adalah konten
yang memiliki nilai edukasi dan berkontribusi positif untuk para penggunanya,
terdapat pula konten yang seharusnya tidak layak ditampilkan di media sosial
karena memberikan dampak buruk kepada penggunanya (Simarmata dkk.,
2019: 52). Contoh konten tersebut di antaranya yang bermuatan hoaks, ujaran
kebencian, dan pornografi. Faktor interaksi antar sesama pengguna juga
berpotensi memberikan dampak buruk bagi penggunanya, banyak ditemukan
penggunanya memberikan komentar atau tanggapan secara bebas terhadap
konten tertentu karena adanya ketidaksamaan pendapat dengan tanggapan
kalimat yang kasar seperti tolol, bacot, goblok, dan lainnya, serta
menimbulkan perdebatan yang tidak perlu (Putri dkk., 2016: 49). Hal tersebut
dikhawatirkan dapat mengganggu psikis remaja serta menirukannya untuk
digunakan kepada orang lain, sehingga bentuk keburukan tersebut akan terus
ada di media sosial. Kebiasaan buruk tersebut diistilahkan dengan toxic media
sosial dapat ditemukan setiap hari di media sosial.

Istilah toxic berasal dari bahasa inggris, menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) berarti racun, secara istilah yaitu memberikan pengaruh
buruk kepada orang lain baik secara psikis maupun fisik (Oktariani, 2021:
216). Bagi remaja dalam usia perkembangan peralihan dari masa anak-anak
yang memiliki perilaku ingin kebebasan, gelisah dan berfikir labil, keadaan
lingkungannya akan sangat berpengaruh terhadap proses perkembangan pola
pikir dan perilakunya (Umami, 2019: 2). Lingkungan tersebut tidak hanya
keluarga, sekolah dan masyarakat, tetapi juga termasuk media sosial yang
telah menjadi salah satu wadah untuk tempat berkumpulnya manusia pada
masa sekarang secara dalam jaringan. Adanya toxic di media sosial tentu harus
menjadi perhatian bagi setiap orang, khususnya orang tua kepada anak-
anaknya karena adanya pengaruh yang buruk dari media sosial kepada para
penggunanya. Tanpa adanya pengawasan dari orang lain tentu anak dalam
umur remaja akan bebas melakukan segala hal yang menurut mereka mampu

3
memuaskan diri dalam kesenangan, mereka cenderung belum mampu
mengontrol sendiri atas segala yang mereka lihat dan perbuat berdampak bagi
masa depan mereka.

Kasus nyata terjadi dilansir dari [Link], salah satu bentuk toxic
media sosial menimpa seorang anak perempuan berumur 9 tahun asal Maroko
saat berlangsungnya Piala Dunia Sepak Bola 2022 di Qatar. Kejadian tersebut
bermula setelah pertandingan babak perempat final antara Portugal melawan
Maroko pada 10 Desember 2022, hasil pertandingan memastikan Maroko
layak sebagai pemenang dengan keunggulan skor 1-0. Anak perempuan yang
tersebut bersama seorang lelaki dewasa bersenang atas kemenangan Maroko,
kemudian mengatakan dalam video “Portugal, bandara di sebelah sana.
Dimana Ronaldo? Ronaldo menangis di mobilnya, Ronaldo yang malang”.
Ungkapan tersebut sebagai bentuk candaan untuk kekalahan Portugal dan
Ronaldo yang diunggah di TikTok. Ronaldo sebagai pemain dengan
penggemar terbanyak di dunia saat ini, memancing amarah dan
ketidaksenangan dari penggemar Ronaldo, kemudian melakukan hujatan
secara beramai-ramai kepada anak perempuan tersebut karena merasa
idolanya telah dilecehkan.

Kejadian diatas membuat ibu dari anak tersebut melakukan klarifikasi


dengan sebuah suara “Saya adalah ibu dari anak perempuan yang menjadi
terkenal karena video Cristiano Ronaldo. Saya ingin mengatakan bahwa dia
kini berada dalam keadaan psikologi yang sulit, dia menolak untuk makan dan
bicara karena komentar-komentar yang diterima. Saya ingin meminta maaf
kepada para penggemar Cristiano Ronaldo, dan saya minta kalian untuk
berhenti (melakukan bully dan komentar jahat). Tolong anggap dia seperti
adik perempuan kalian sendiri, dan maafkan dia karena dia tidak bersungguh-
sungguh atas apa yang dia katakan”. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa
toxic dari media sosial perlu menjadi perhatian bersama, karena penggunanya
yang tidak hanya terbatas oleh kalangan tertentu.

4
Orang tua sebagai seseorang yang memiliki tanggung jawab paling utama
pada proses perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya memiliki peranan
penting untuk mendampingi, membimbing, merawat dan melindungi dalam
semua tahapan perkembangan dan pertumbuhan (Djuwita, 2020: 72). Tetapi
realitanya banyak ditemui orang tua yang belum melaksanakan tanggung
jawab di atas, termasuk halnya melakukan pengawasan anaknya dalam
penggunaan media sosial. Mereka mengetahui bahwa anaknya menggunakan
media sosial tetapi cenderung membiarkan dan tidak mengetahui tentang
aktivitas anaknya di media sosial, hal tersebut salah satunya disebabkan
karena kurangnya komunikasi kepada anak-anaknya (Peter, 2015: 456).

Penulis mendapati dari wawancara kepada Ibu Ambar dan lima remaja
serta melakukan observasi pada tanggal 10-12 Desember 2022 bahwa bahwa
banyak orang tua belum memahami tentang adanya berbagai bentuk toxic di
media sosial, mesikpun sebagian besar mereka mampu mengoperasikan gawai
untuk kebutuhan komunikasi sehari-sehari dengan intensitas penggunaan
rendah rata-rata 2-3 jam perhari. Dusun Tugu, Desa Ngromo, Kecamatan
Nawangan, Kabupaten Pacitan secara geografis terletak di dataran
pegununungan, sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani dan
peternak. Pekerjaan tersebut membuat para orang tua memerlukan banyak
waktu di sawah atau kebun dengan rata-rata 8-10 jam dalam sehari, sehingga
mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk mengoperasikan gawai yang
membuat mereka kurang memahami tentang media sosial. Perubahan kondisi
sosial di masyarakat dampak dari media sosial belum sepenuhnya bisa diikuti
oleh orang tua yang memiliki profesi petani dan peternak di wilayah tersebut,
karena pekerjaan mereka tidak dekat dengan gawai. Hal tersebut yang
menjadikan penulis memilih tempat penelitian di Desa Ngromo, Kecamatan
Nawangan, Kabupaten Pacitan.

Kecenderungan terhadap media sosial membuat para remaja menikmati


waktu dalam kesendirian dengan berbagai aktvitas di media sosial yang
semakin hari pihak pengembang media media sosial melakukan berbagai

5
pembaharuan fitur agar para penggunanya semakin merasa nyaman. Hal
tersebut berpotensi menjadikan para remaja enggan bersosialisasi dengan
ligkungan sekitar secara langsung yang membuat kontrol diri terhadap konten
di media sosial harus menjadi perhatian bersama, terkhusus para orang tua.

Berdasarkan penelaahan latar belakang masalah dapat disimpulkan


bahwa peerkembangan komunitas di media sosial yang memiliki dampak
positif dan negatif secara bersamaan bagi para penggunanya, terkhusus kepada
para remaja dalam proses pertumbuhan dari anak-anak menuju dewasa. Peran
pengawasan orang tua dalam hal ini sangat penting untuk menjaga para remaja
dari pengaruh toxic media sosial agar tidak berdampak buruk terhadap masa
pertumbuhan remaja. Maka dari penjelasan tersebut penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang “PERAN ORANG TUA DALAM
PENGAWASAN ANAK TERHADAP TOXIC DARI MEDIA SOSIAL DI
DESA NGROMO, KECAMATAN NAWANGAN, KABUPATEN
PACITAN TAHUN 2023”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifikasikan
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Terdapat konten di media sosial yang memberikan dampak buruk bagi
penggunanya
2. Pengawasan orang tua terhadap aktivitas media sosial anak belum
terpenuhi sebagai mestinya tugas orang tua
3. Pemahaman orang tua terhadap media sosial masih rendah

C. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian ini dibuat agar penelitian tidak


menyimpang dari target penelitian, serta agar tidak terlalu luas cakupan yang
akan dibahas dan keterbatasan waktu serta kemampuan penulis, maka penulis
memberi batasan agar pembahasannya berfokus pada Peran Orang Tua Dalam

6
Pengawasan Remaja Terhadap Toxic Dari Media Sosial Di Desa Ngromo,
Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan Tahun 2023.

D. Rumusan Masalah

Bedasarkan pembatasan masalah yang telah dikemukakan, dapat diambil


rumusan masalah yaitu bagaimana Peran Orang Tua Dalam Pengawasan
Remaja Terhadap Toxic Dari Media Sosial Di Desa Ngromo, Kecamatan
Nawangan, Kabupaten Pacitan Tahun 2023?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pertanyaan yang diajukan di rumusan masalah, maka tujuan
yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Peran
Orang Tua Dalam Pengawasan Remaja Terhadap Toxic Dari Media Sosial Di
Desa Ngromo, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan Tahun 2023.

F. Manfaat Penilitian

Dari penelitian ini diharapkan memiliki manfaat baik secara teoritis


maupun secara praktis

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai


sumbangan pemikiran bagi pembaca, terkhusus orang tua dan pendidik,
serta peneliti lain agar dapat menambah wawasan mengenai peran orang
tua kepada remaja dalam pengawasan terhadap toxic di media sosial.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan


pembelajaran dan pengetahuan lebih mengenai toxic di media sosial pada
remaja dengan pengawasan orang tua dan pendidik, serta menambah ilmu
dan pengetahuan bagi para pembaca.

7
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori
1. Peran Pengawasan Orang Tua terhadap Remaja
a. Pengertian Orang Tua

Orang tua menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan


sebagai ayah dan ibu kandung (Bahasa, 2008: 1092), artinya
seseorang yang memiliki hubungan secara biologis dengan anaknya
hasil dari perkawinan antara ayah dan ibunya, tetapi pada faktanya
terdapat pula orang tua yang tidak memiliki hubungan biologis dengan
anaknya dengan sebutan orang tua angkat. Secara istilah orang tua
didefinisikan sebagai individu-individu yang mengasuh, melindungi
dan membimbing anak dari bayi hingga dewasa (Maimun, 2017: 48).

Unsur utama yang harus menjadi landasan pokok orang tua


melaksanakan tugasnya yaitu adanya rasa kasih sayang dan
terselenggaranya kehidupan beragama yang mewarnai kehidupan
pribadi atau keluarga, karena dengan landasan tersebut tugas yang
dijalankan akan menuju arah yang tepat untuk kebahagiaan di dunia
dan akhirat (Hidayat, 2016: 148).

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-


anaknya, karena seorang anak yang lahir di dunia dalam keadaan
belum bisa berbuat apapun. Orang tua memiliki peran sebagai salah
satu tempat untuk bersosialisasi pertama bagi anak-anaknya,
sosialisasi tersebut berlangsung dalam bentuk komunikasi, transaksi
atau interaksi antara orangtua dan anaknya. (Mahmud, 2015: 14).
Keberlangsungan proses hidup anak salah satunya tergantung orang
tua dalam mengarahkan anak tersebut yang akan memberikan
pengaruh positif atau negatif terhadap masa depannya. Orang tua
menjadi orang yang berperan besar dalam kehidupan anak selama

8
proses perkembangannya dalam beberapa tahun awal, saat kepribadian
anak mulai terbentuk (Maimun, 2017: 34).

Allah Swt. berfirman di dalam Al-qur’an surat At-tahrim ayat 6:

…ُ‫َّاس َواحْلِ َج َارة‬ ِ ِ َّ ٓ


ُ ‫ٰياَُّي َها الذيْ َن اٰ َمُن ْوا ُق ْٓوا اَْن ُف َس ُك ْم َواَ ْهلْي ُك ْم نَ ًارا َّو ُق ْو ُد َها الن‬

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan


keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia
dan batu….|”.

Tafsir Al-misbah menerangkan maksud ayat di atas bahwa


kewajiban orang-orang yang beriman untuk memelihara keluarganya
yakni istri, anak-anak dan seluruh yang berada di bawah tanggung
jawabnya, dengan membimbing dan mendidik mereka agar semuanya
terhindar dari api neraka (Shihab, 2006: 326). Ayat tersebut
menjelaskan bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk memelihara
anak-anaknya dari segala bentuk perilaku yang mampu membawa
keburukan anaknya dirinya sendiri maupun orang lain.

Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa orang tua


diketahui sebagai ayah dan ibu adalah orang dewasa yang memiliki
tanggung jawab terhadap anaknya dalam mengasuh, melindungi dan
membimbing dengan dilandasi rasa kasih sayang dalam kehidupan
anak yang meliputi berbagai hal, diantaranya pergaulan anak dan
perkembangan teknologi agar seorang anak dapat terarah
kehidupannya.

b. Pengertian Peran Orang Tua

Peran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan sebagai


perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang
berkedudukan di masyarakat (Bahasa, 2008: 1173). Setiap orang
memiliki suatu tanggung jawab dan tugas yang harus dilaksanankan

9
dengan tujuan tercapainya tatanan yang baik dalam kehidupan
bermasyarakat.

Menurut Soekanto peran merupakan aspek dinamis dari suatu


kedudukan (status sosial), norma-norma yang dirangkai menjadi
aturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat atau
kegiatan yang harus dilakukan seseorang dalam masyarakat sesuai
dengan kedudukannya (IPB, 2015: 196). Orang tua sebagai salah satu
kedudukan di masyarakat memiliki peranan penting untuk mengawal,
mengarahkan, dan membimbing setiap proses perkembangan dan
pertumbuhan anak.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa peran orang adalah


memenuhi berbagai kebutuhan anak sebagai berikut:

1) Kebutuhan kesehatan seperti pemenuhan makanan dan lingkungan


yang bersih,
2) Kebutuhan pendidikan agar anak mampu mengembangkan cara
berpikirnya berguna untuk pengambilan keputusan di masa depan,
3) Kebutuhan pengasuhan untuk memastikan proses perkembangan
dan pertumbuhannya terarah,
4) serta Kebutuhan perlindungan agar anak terhindar dari berbagai
bahaya baik secara fisik maupun psikis.

c. Peran Pengawasan Orang Tua

Pengawasan berasal dari kata awas yang berarti mampu melihat


dengan normal dapat melihat dengan baik, tajam penglihatan, tajam
tiliknya memperhatikan dengan baik, dan waspada (Dachi, dkk., 2020:
86). Secara istilah pengawasan didefinisikan sebagai suatu usaha
teratur untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan
yang telah ditentukan untuk menentukan keserasian antara kinerja
dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan perbaikan

10
yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia
digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai
tujuan (Firmansyah. & Mahardika, 2018: 140).

Sarinah (2017: 105) berpendapat bahwa pengawasan adalah


kegiatan pengamatan secara terus menerus terhadap suatu pelaksanaan
kegiatan agar sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan dan
melakukan perbaikan jika terjadi kesalahan. Proses pengawasan
menjadi sesuatu yang penting karena akan menjaga setiap prosesnya
dengan tujuan mendapat hasil sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan.

Menurut Leving pengawasan orang tua adalah hasil dari usaha


bentuk perhatian kepada anaknya tentang kegiatan belajar di sekolah
dan menegaskan arti penting prestasi belajar, selain itu anak diberikan
pemahaman pentingnya memiliki kepribadian terpuji yang dapat
dijadikan teladan dan terhindar dari perilaku-perilaku
buruk/menyimpang (Faishol & Budiyono, 2021: 46).

Orang tua merupakan tokoh sentral untuk menjalankan fungsi


pengendalian dalam kepemimpinan dalam suatu keluarga, bahwa
kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur anggotanya
secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam
melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan
melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan
(Badu & Djafri, 2017: 55). Peran tersebut menjadikan tanggung jawab
orang tua untuk mengarahkan anggota keluarganya yaitu anak-
anaknya ke arah yang tepat.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa peran pengawasan


orang tua adalah tanggung jawab orang tua untuk melakukan
pengamatan secara terus menerus terhadap berbagai kegiatan seperti

11
sosial, pendidikan dan ketrampilan anak-anaknya. Kegiatan tersebut
bertujuan memantau dan membimbing setiap proses perkembangan
dan pertumbuhan anaknya agar sesuai dengan tujuan orang tua ke arah
yang tepat menjadi manusia dewasa.

T. Hani Handoko dalam (Sarinah, 2017: 106) mengemukakan


bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu:

1) Penetapan standar pelaksanaan


2) Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
3) Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata
4) Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan
penganalisaan penyimpangan-penyimpangan
5) Pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.

Orang tua dapat melaksanakan langkah-langkah pengawasan


terhadap anaknya berdasarkan teori diatas sebagai berikut:

1) Menetapkan batasan-batasan perilaku yang boleh dilakukan oleh


anak
2) Melakukan pengamatan terhadap perilaku anak
3) Membuat penilaian terhadap perilaku anak membandingkannya
dengan penetapan batasan-batasan yang telah ditetapkan
4) Melaksanakan usaha perbaikan kepada anaknya apabila ditemui
ketidaksamaan antara batasan-bat sasan yang telah ditetapkan
dengan realita perilaku, yaitu memberikan arahan dan teguran
agar anak dapat terarah sesuai tujuan orang tua.

d. Remaja
1) Pengertian Remaja

Remaja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan


sebagai seorang yang mulai dewasa, sudah sampai umur untuk
kawin, muda dan pemuda (Bahasa, 2008: 1287). Menurut W.S

12
Sarwono W.S dalam (Dachi dkk., 2020: 89) mengemukakan
bahwa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa,
bukan hanya dalam artian psikologis tetapi juga fisik. Dapat
disimpulkan bahwa remaja adalah masa peralihan seorang anak
dari kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan
perubahan secara fisik dan psikologis.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak menuju


dewasa, Santrock dan Monks dalam (Purwaningtyas, 2020: 1)
menjelaskan bahwa maksud tersebut adalah pada fase ini remaja
mengalamai perkembangan secara fisik seperti layaknya orang
dewasa, selanjutnya mengarahkan remaja kepada pembentukan
dan pencarian identitas dirinya. Perkembangan fisik membuat
remaja merasa dirinya telah dewasa dan harus mendapat peran
yang sama sebagaimana orang dewasa dalam membuat
keputusan, menentukan kegiatan, menentukan tempat sekolah dan
lain sebagainya. Sementara itu perkembangan fisik yang telah
matang pada remaja tersebut seringkali tidak diikuti dengan
kematangan emosi, kognitif dan ranah psikologis yang lain, she
ingga para orang tua masih menganggap mereka sebagai anak-
anak yang membutuhkan pengasuhan bukan dukungan, yang
membutuhkan perlindungan bukan bimbingan dan membutuhkan
sosialisasi bukan pengarahan. Kurang jelasnya peran ini
menjadikan masa remaja menjadi masa yang penuh dengan
goncangan, masa peralihan dan masa pencarian identitas.

2) Ciri-ciri Usia Remaja

Para psikologi seperti L.C.T. Bigot, Ph. Kohnstam dan B.G.


Palland dalam (Al-Mighwar, 2006: 60) menyebutkan masa remaja
dalam usia antara 15-21 tahun. Setiap masa periode pertumbuhan
manusia tentu akan mengalami perubahan dan perbedaan, Al-

13
Mighwar (2006) menyebutkan masa remaja memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:

a) Masa Remaja sebagai Masa yang Penting


Periode remaja menjadi masa paling penting dari semua
periode yanga ada dalam kehidupan manusia dikarenakan
adanya dampak fisik maupun psikologis secara langsung dari
sikap dan tingkah laku serta dampak jangka panjangnya.
Perkembangan fisik yang cepat dan penting tersebut harus
diikuti dengan perkembangan mental, khususnya pada awal
masa remaja. Maka diperlukan penyesuaian mental dan
pembentukan sikap dan minat baru.
b) Masa Remaja sebagai Masa Transisi
Masa transisi menjadikan kejadian sebelumnya akan
berdampak pada masa yang akan datang. Maksudnya bahwa
tingkah laku dan sikap pada periode sebelumnya memberikan
pengaruh terhadap periode di masa depan serta membentuk
pola sikap dan tingkah laku yang baru.
Masa remaja sebagai periode transisi memiliki status yang
tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang dilakukan.
Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan
pula orang dewasa. Status remaja yang tidak jelas ini memberi
waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan
menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai
bagi dirinya.
c) Masa Remaja sebagai Masa Perubahan
Masa remaja mengalami perubahan sikap dan tingkah laku
sejalan dengan tingkat perubahan fisik. Ketika perubahan fisik
berlangsung pesat, maka perubahan tingkah laku dan sikap
juga berlangsung cepat, hal tersebut juga terjadi sebaliknya.
Perubahan yang terjadi pada masa remaja setidaknya ada
lima hal. Pertama meningkatnya emosi yang intensitasnya

14
bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikis yang
terjadi. Kedua perubahan tubuh yang dialami para remaja
seperti perubahan bentuk tubuh, suara dan organ-organ
lainnya. Ketiga perubahan minat dan peran yang diharapkan
oleh kelompok sosial menimbulkan masalah baru serta akan
mengalami lebih banyak masalah dan lebih sulit diselesaikan.
Keempat perubahan dan pola tingkah laku, remaja sudah
memahami berbagai hal yang menurut mereka penting dan
berkualitas, tidak lagi menganggap semua hal penting layaknya
masa kanak-kanak. Kelima remaja bersikap dua hal yang
kontradiksi (ambivelen), mereka sering menuntut dan
menghendaki kebebasan tetapi sering takutt atas risikonya dan
ragu atas kemampuannya untuk menghadapi hal tersebut.
d) Masa Remaja sebagai Masa Masalah
Masa remaja sering mengalami masalah yang sulit diatasi.
Terdapat dua alasan yaitu ketika masa kanak-kanak sebagian
besar masalah mereka diatasi oleh orang tua dan para guru,
sehingga belum memiliki pengalaman untuk mengatasi
berbagai masalah. Alasan selanjutnya remaja merasa sudah
mampu mandiri menjadikannya menolak bantuan dari orang
sekitar, tetapi belum cukupnya pengalaman membuat justru
menimbulkan penyesalan.
e) Masa Remaja sebagai Masa Pencarian Identitas
Remaja masa awal-awal mengangap penyesuaian diri
dengan kelompok merupakan sesuatu yan penting agar merasa
sama dan dapat diterima oleh teman seabayanya. Contohnya
dalam hal pakaian, gaya bicara dan tingkah laku. Seiring
berjalannya waktu remaja akan kembali menyesuaikan diri
untuk menemukan identitas diri sesuai harapannya dengan
tidak lagi merasa puas dengan kesamaan terhadap teman
sebayanya.

15
Identitas diri remaja dapatt ditunjukkan dengan berbagai
cara, contohnya penggunaan atribut dan tingkah laku tertentu.
Mereka ingin dilihat oleh orang lain untuk mendapatkan
pengakuan atas segala hal yang mereka minati. Bersamaan
dengan itu remaja juga tetap berusaha mempertahankan
identitas dirinya terhadap kelompok sebaya.
f) Masa Remaja sebagai Masa yang Memunculkan Ketakutan
Anggapan masayarakat melihat remaja sebagai anak-anak
yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung
merusak. Sterotipe tersebut mampu menjadi salah satu
pengaruh kepada para remaja untuk bersikap hal yang negatif.
Maka diperlukannya orang dewasa yang harus membimbing
dan mengawasi kehidupan remaja muda yang takut
bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap
perilaku remaja yang normal.
g) Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik
Remaja memandang diri sendiri dan orang lain
berdasarkan keinginannya, bukan berdasarkan kenyataan,
terlebih lagi dalam hal cita-cita. Masa ini banyak harapan-
harapan yang ingin dicapai, tetapi tidak semua harapan
tersebut mampu dicapai. Cita-cita yang tidak realistik ini tidak
hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga
dan teman-temannya. Hal tersebut menyebabkan meningginya
emosi sebagai tanda masa remaja awal, kemudian mudahnya
muncul rasa sakit hati kecewa terhadap kejadian yang dia tidak
inginkan dan dikecewakan orang lain.
Secara perlahan pandangan subjektif tersebut akan
berubah seiring berjalannya waktu sejalan dengan pengalaman
pribadi dan sosial yang akan meningkatkan kemampupan pola
pikir menjadi lebih rasional. Rasa sering kecewa di masa-masa

16
awal remaja mampu diatasi oleh mereka sendiri, serta
memunculkan rasa bahagia dan lebih tenang secara alami.
h) Masa Remaja sebagai Masa Menuju Dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan, para
remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan pandangan-
pandangan terhadap usia remaja mereka dari belasan tahun dan
untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa.
Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata
belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan
diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa,
seperti merokok, minum minuman keras, menggunakan
narkoba, dan terlibat dalam perbuatan seks. Di sinilah
diperlukan peran orang tua dalam mendidik remaja agar tidak
salah dalam mengaktualisasikan kedewasaannya.

2. Media Sosial
a. Pengertian Media Sosial

Secara bahasa media sosial berasal dari dua kata yaitu media dan
sosial. Media diartikan sebagai perantara atau penghubung yang
terletak di antara dua pihak, baik perseorangan maupun golongan.
(Bahasa, 2008: 1002). Sosial diartikan sebagai suatu hal yang
berkenaan dengan tindakan interaksi dan komunikasi dalam lingkup
masyarakat (Bahasa, 2008: 1496). Secara istilah media sosial diartikan
sebagai alat untuk berkomunikasi antar sesama manusia baik lingkup
antar dua orang maupun secara luas yaitu orang banyak.

Seiring perkembangan zaman media sosial mengalamai perubahan


istilah yang lebih mengerucut dalam satu konteks, seperti yang
dijelaskan oleh Gohar F. Khan bahwa media sosial adalah sebuah
platform berbasis internet yang mudah digunakan sehingga
memungkinkan para pengguna untuk membuat dan berbagi konten

17
(informasi, opini, dan minat) dalam konteks yang beragam (informatif,
edukatif, sindiran, kritik dan sebagainya) kepada khalayak umum. Oleh
karena itu, media sosial mempunyai efek berantai sehingga siklus yang
terjadi tidak berhenti pada satu audien saja (multiplier effect) (Publik,
2018: 4).

Media sosial adalah sebuah media dalam jaringan (online) yang


terhubung dengan jaringan internet dari seluruh bagian dunia, kegiatan
yang kita laksanakan di media sosial dapat dilihat oleh orang di seluruh
dunia. Para penggunanya bisa dengan mudah saling berhubungan,
berbagi, dan membuat konten baik melalui blog, jejaring sosial,
forum,dll. Media sosial merupakan laman (situs), setiap orang bisa
membuat halaman jejaring (web page) pribadi, kemudian terhubung
dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi
(Yanuarita & Wiranto, 2018: 9-10).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media sosial sebagai


sala satu hasil perkembangan zaaman demgan tujuan memudahkan
manusia mengatasi jarak dan waktu dalam berkomunikasi merupakan
perantanra komunikasi dan interaksi antar sesama manusia melalui
jaringan internet dengan berbagai macam platform yang mampu
mencakup manusia di seluruh dunia. Pengguna media sosial
memungkinkan untuk membuat beragam jenis konten untuk dibagikan
ke pengguna lain, serta terjadinya siklus konten yang berantai antar
pengguna.

b. Ciri-ciri Media Sosial


Tim Pusat Humas Kementerian Perdagangan RI (2014: 27)
menyebutkan ada enam ciri-ciri media sosial sebagai berikut:
1) Konten yang dibagikan kepada banyak orang dan tidak terbatas
pada satu orang tertentu.
2) Isi pesan muncul tanpa melalui suatu penyaringan dan perantara
dan tidak ada penghambat.

18
3) Isi disampaikan secara dalam jaringan (online) dan langsung;
4) Konten dapat diterima secara online dalam waktu lebih cepat dan
bisa juga tertunda penerimaannya tergantung pada waktu interaksi
yang ditentukan sendiri oleh pengguna.
5) Media sosial menjadikan penggunanya sebagai kreator dan aktor
yang memungkinkan dirinya untuk beraktualisasi diri.
6) Dalam konten media sosial terdapat sejumlah aspek fungsional
seperti identitas, percakapan, berbagi, eksistensi, hubungan,
reputasi dan kelompok.

c. Ragam dan Jenis Aplikasi Media Sosial

Jumlah aplikasi media sosial saat ini menurut DemandSage


([Link]) terhitung lebih dari 300 aplikasi yang tersebar di
seluruh dunia dengan total pengguna 4.90 milyar di tahun 2023, jumlah
tersebut diprediksi akan terus meningkat setiap tahunnya. Kuantitas
aplikasi dan penggunanya dengan jumlah tersebut tentu akan
ditemukan banyak keunikan dan keberagaman konten.

Kantor Pemerintahan Digital Australia Barat (2019: 7)


mengklasifikasikan pengguna media sosial menjadi tiga dari cara
interaksinya, sebagai berikut:

1) Mereka yang membuat konten media sosial, mulai dari


menyebarkan informasi, mengendalikan opini, serta membuat dan
memberikan pengaruh tren yang ada (leading trends).
2) Mereka yang hanya mendengarkan dan menjadi target media
sosial, golongan ini menggunakan sekedar untuk melihat
pembaharuan aktivitas di media sosial tanpa ikut memberikan
pengaruh kepada pengguna lain.
3) Mereka yang tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mencari lebih
dalam informasi yang ada dan menyebarkannya kepada orang lain

19
dengan menambahkan versi mereka sendiri. Pada waktu tertentu,
golongan ini kemudian menjadi golongan yang pertama.

Pengaruh media sosial terhadap para penggunanya cukup kuat,


dapat diketahui dari fakta bahwa setiap pengguna dapat memainkan
banyak peran dan mampu mengatur penayangan konten secara bebas
ke seluruh dunia. Media sosial bukan lagi hanya sebagai tempat untuk
berkomunikasi antar sesama manusia, tetapi permainan pemikiran
untuk kepentingan dan keuntungan kalangan tertentu juga terdapat di
dalamnya.

Tim Pusat Humas Kementerian Perdagangan RI (2014: 62-84)


membagi jenis media sosial yang ada di dunia. Masing-masing
memiliki fitur yang beragam tergantung pada fungsinya masing-
masing. Berikut [Link] merangkum jenis media sosial di bawah
ini:

1) Aplikasi Berbagi Jaringan Sosial

Salah satu fungsi media sosial adalah untuk membantu


seseorang dapat berinteraksi dengan individu lain dan kelompok
atau komunitas tertentu. Jenis media sosial ini mampu menyatukan
orang-orang yang memiliki minat atau kenalan yang sama. Para
pengguna dapat berbagai cerita dalam tulisan singkat maupun
panjang secara terbuka sesuai keinginan yang ingin disampaikan.
Contoh media sosial yang sifatnya jaringan sosial adalah
Facebook, Twitter, Telegram dan WhatsApp.

2) Aplikasi Berbagai Media Visual

Aplikasi berbagi media visual adalah jenis media sosial yang


berfokus menunjukkan sisi visual. Sisi visual dalam hal ini
merujuk pada pembagian foto atau video. Jenis media sosial ini di
waktu sekarang menjadi jenis yang paling banyak diminati para
pengguna karena lebih menarik dengan adanya visual yang

20
ditampilkan mengkombinasikan gambar, suara narator serta musik.
Contoh media sosial yang merupakan media sosial visual adalah
Instagram, YouTube, Snapchat, dan TikTok.

3) Aplikasi Forum Diskusi


Jenis media sosial yang selanjutnya adalah aplikasi forum
diskusi. Media sosial yang satu ini merupakan salah satu jenis
media sosial tertua. Dalam forum diskusi, orang-orang biasanya
saling bertukar pendapat mengenai suatu topik yang menarik dan
dapat secara bebas membicarakan hal yang termasuk dalam
keahlian atau minatnya, tanpa merasa malu terhadap pengguna
yang lain. Contoh media sosial yang berenis ini adalah adalah
Quora, Reddit, dan Kaskus di Indonesia.

4) Aplikasi Jaringan Sosial Blog


Jaringan sosial blog merupakan jenis media sosial ini sangat
digemari oleh pengguna yang memiliki minat menulis dan ingin
membagikan karya tulisnya secara terbuka, karena memungkinkan
penggunanya untuk mengunggah konten agar dapat dicari oleh
pengguna lainnya melalui laman pencarian yang berisi konten
berupa teks tentang opini dan ide-ide kreatif dari pengguna. Media
sosial yang termasuk ke dalam jaringan sosial blog adalah
[Link], Tumblr, dan Medium.

5) Aplikasi Jaringan Sosial Audio

Jenis media sosial ini cukup populer belakangan ini, Sesuai


dengan namanya, media sosial ini memungkinkan pengguna untuk
membagikan konten berupa audio atau suara. Jenis kontennya
yang paling digemari adalah podcast, pembuat konten akan
berbincang dan berdiskusi mengenai suatu topik tertentu seperti
halnya di radio, tetapi podcast lebih fleksibel tidak terikat jam

21
tayang. Media sosial yang termasuk ke dalam jaringan sosial audio
di antaranya seperti Spotify, Noice, Clubhouse dan Twitter Space.

6) Aplikasi Media Sosial Live Streaming

Media sosial jenis ini memiliki fasilitas untuk melakukan


siaran dalam waktu video secara langsung kepada banyak orang
atau hanya pada penikmat konten tertentu. Isi dari konten siaran
langsung sangat beragam seperti contohnya yang paling populer
menampilkan bermain video games, bermain musik, siaran makan
dan live podcast. Media sosial ini juga dilengkapi fitur live chat
(obrolan langsung) sehingga memudahkan pengguna saling
berinteraksi dengan pengguna lain dan pembuat konten. Contoh
media sosial yang menyediakan fitur live stream yaitu antara lain
Facebook, Instagram, TikTok dan YouTube.

3. Toxic Media Sosial


a. Pengertian Toxic

Istilah toxic merupakan bahasa gaul yang sering dipakai di media


sosial, berasal dari bahasa inggris yang artinya beracun. Secara umum
diartikan sebagai bagi seseorang yang mempunyai kepribadian
menyulitkan dan merugikan orang lain, baik secara fisik maupun
psikis, serta secara verbal maupun non verbal, tapi lebih kepada
diartikan sebagai orang yang memberikan dampak negatif sama
dengan halnya racun, serta membawa pengaruh buruk yang dapat
menghancurkan dan merusak kepribadian seseorang (Purwaningtyas,
2020: 690).

Secara khusus dalam konteks di media sosial toxic cenderung


diartikan suatu ungkapan tidak pantas diucapkan dalam suatu
komunikasi, di dalamnya mengandung kebencian. Misalnya dengan
ungkapan toxic ini bisa membuat orang di sekitar menjadi risih atau
emosi, bahkan bisa membuat hubungan antar sesama menjadi kurang

22
baik. Jadi bisa dikatakan toxic ini adalah ungkapan perumpamaan
untuk menjabarkan kata-kata umpatan, celaan, dan makian, bahwa
mengumpat saat ini disebut toxic. Kata makian dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia ialah mengeluarkan ungkapan keji, kotor, kasar, dan
sebagainya (Bahasa, 2008: 972). Serta mengeluarkan ucapan keji yang
tidak sopan bahkan tidak pantas untuk diucapkan. Ungkapan seperti ini
diucapkan hanya untuk melampiaskan kekesalan, kemarahan, dan rasa
jengkel terhadap seseorang. Makian sebuah kebiasaan atau aturan
kelompok digunakan secara sengaja untuk mengancam, menghina,
mengejutkan, dan mengganggu atau menyakiti.

Toxic juga bisa dikatakan bagian dari trash-talking yaitu suatu


perbuatan yang meresahkan kenyamanan orang lain dengan bentuk
komunikasi yang disengaja oleh individu untuk alasan pribadi
(motivasi dan kesenangan) maupun tujuan mengganggu orang lain
(intimidasi dan pengalihan) (Candrakusuma dkk., 2011: 2). Dapat
dipahami bahwa pengertian toxic berbeda-beda, sesuai pada
konteksnya, ketika toxic berada di media sosial maka itu ditujukan
pada para pengguna media sosial, agar menggunakan media sosial
sebaik mungkin tanpa melakukan toxic pada para pengguna yang lain.

Perilaku toxic ini selalu membawa pengaruh negatif atau buruk


terhadap lingkungan sosial atau media sosial. Istilah toxic ini
merupakan suatu istilah baru yang berawal dari dunia gim online.
Seperti gim yang banyak dimainkan saat ini oleh para pemain gim
adalah Mobile Legends, PUBG, Free Fire dan sebagainya. Kemudian
perlahan merambat ke media sosial, misalnya media sosial Facebook,
YouTube, Instagram, Whatsaap, Line, Twitter, Dan Tik Tok. Tidak bisa
dipungkiri perkembangan teknologi bisa merubah perilaku seseorang
terutama para pengguna media sosial (Amelia, 2021: 11).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan toxic media sosial


adalah perilaku pengguna media sosial yang dapat merugikan

23
pengguna lainnya secara psikis dan tidak langsung kepada fisik
melalui bentuk komunikasi dengan perkataan-perkataan yang tidak
buruk. Perkataan tersebut berupa umpatan dan ejekan yang mampu
mengganggu dan menyinggung perasaan pengguna lain, sehingga
berpotensi merubah tingkah laku seseorang.

b. Macam-macam Toxic

Amelia (2021: 14-15) menyebutkan terdapat 3 macam toxic,


sebagai berikut:
1) Toxic People
Toxic people artinya orang yang beracun, maksudnya adalah
seseorang yang dapat memberikan sesuatu hal yang negatif atau
yang berunsur negatif kepada orang lain dan lingkungan
sekitarnya. Seseorang dengan kepribadian seperti ini banyak
membuat dampak yang tidak baik terhadap orang lain.
2) Toxic Friendship
Toxic friendship artinya toxic yang mengacu kepada
pertemanan, maksudnya adalah teman yang selalu memberikan
efek negatif dalam kehidupan, dan tidak pernah memberikan efek
positif dalam kehidupan. Maka teman seperti ini harus dihindari
karena tidak memberikan manfaat. Selain memberikan efek
negatif, toxic friendship ini juga merupakan pertemanan yang
merugikan salah satu sisi, dan teman seperti ini seolah-olah
menjadi racun yang dapat merusak kehidupan serta kesehatan
mental.
3) Toxic Relationship
Toxic relationship artinya istilah yang mengacu kepada suatu
hubungan yang tidak sehat, maksudnya adalah hubungan yang
dapat merugikan sebelah pihak baik itu hubungan pertemanan,
Asmara, maupun hubungan dengan keluarga. Hubungan seperti ini
dapat menghambat seseorang menjalani hidupnya secara produktif,

24
sehingga memberikan dampak yang buruk terhadap psikologis,
fisik, emosional, dan material. Sedangkan hubungan yang sehat
dapat memberikan dampak yang positif serta dapat menimbulkan
rasa aman.

c. Contoh Perilaku Toxic di Media Sosial

Perilaku toxic dapat ditemui di media sosial setiap hari, karena


media sosial merupakan salah satu hal yang dapat berpengaruh
terhadap sikap masyarakat dalam bertutur kata. Seorang pengguna
akun media sosial harus memperhatikan perkataan yang disampaikan,
jika hal tersebut tidak diperhatikan maka akan memberi dampak yang
buruk. Perkataan yang disampaikan dalam media sosial yang bersifat
berantai akan terus berkembang akaan sangat berpengaruh, karena
kalimat yang yang muncul dalam media sosial dapat dilihat dan dibaca
oleh banyak pengguna lain seperti kelurga, teman serta termasuk orang
yang tidak kita kenal (Triadi, 2017: 3).

Perilaku toxic di media media sosial dapat membuat harga diri


seseorang menjadi rendah di mata orang lain, dan tidak akan dihormati
serta disegani. Adapun perilaku toxic, kata kasar dan kotor sering
dijumpai dan ditemui pada beberapa bentuk sebagai berikut:

1) Mengumpat

Mengumpat terjadi karena seseorang dalam keadaan marah,


emosi yang tak tertahan sehingga mengeluarkan perkataan buruk,
yang seharusnya perkataan tersebut tidak pantas untuk diucapkan.
Contohnya seperti seseorang marah hingga mengeluarkan umpatan
menggunakan nama-nama hewan yakni babi, anjing, kambing atau
mengumpat menggunakan kata sifat yakni goblok, atau umpatan
berupa makhluk halus yakni setan, atau umpatan menggunakan
profesi yakni pencuri dan lainnya (Masykur, 2014: 63-54).

25
Mengatakan perkataan seperti diatas sangatlah tidak sopan.
Apalagi jika kita mengeluarkan perkataan tersebut di media sosial,
dimana semua orang dan semua kalangan dapat melihat hal
tersebut. Sehingga menjadi hal yang sudah wajar untuk diucapkan
bahkan ditiru oleh anak-anak. Mengumpat di era saat ini sudah
menjadi suatu budaya, secara tidak sadar manusia melakukan
umpatan hanya untuk melampiaskan kemarahannya. Meskipun
terkadang umpatan (toxic) bukan hanya digunakan untuk
melampiaskan kemarahan, akan tetapi ada sebagian golongan
menggunakannya untuk sapaan kepada teman dekat supaya
memiliki unsur keakraban. Mengumpat juga memiliki dampak
positif dan negatif (Andrik, 2016: 3-4), diantaranya sebagai
berikut:

a) Dampak positifnya ialah dapat mengurangi tekanan psikologi,


sehingga ketika seseorang marah (terlalu marah) maka
mengumpat dapat meluapkan amarahnya seketika.
b) Sedangkan dampak negatifnya ialah perilaku buruk yang
seharusnya dihindari, karana melanggar etika kesopanan dan
norma. Namun kebanyakan orang yang suka mengumpat (toxic)
dipandang dalam media sosial ialah seseorang yang tidak
berpendidikan, dan tidak menutup kemungkinan orang
berpendidikan pun melakukan hal tersebut.

2) Mengolok-olok dan Menhina

Selain mengumpat perlakuan toxic di media sosial juga dapat


berbentuk hinaan dan olokan, menghina orang dengan
menggunakan kata-kata yang tidak wajar sehingga menyakiti hati
orang lain serta menjatuhkan harga dirinya, seperti berkomentar
pada akun orang lain dengan kata-kata yang tak pantas, dan
bahkan dengan tujuan menjatuhkan dan dijadikan bahan olokan.

26
Karena mengolok-olok orang lain merupakan sifat tercela dan
dapat menimbulkan permusuhan. Menghina orang sama dengan
menzalimi orang tersebut, karena perilaku yang diperbuat
mungkin dampaknya tidak tampak secara langsung akan tetapi, hal
ini sangat berdampak dalam diri seseorang seperti sakit hati
hingga timbulnya rasa dendam, atau menghancurkan mental orang
lain. (Solihah dkk., 2015: 5)

B. Penelitian Terhadulu

Berdasarkan telaah pustaka yang telah penulis lakukan, terdapat beberapa


kajian penelitian dengan tema yang relevan, Penelitian tersebut antara lain:

1. Skripsi Wardina Khairani (2019) yang berjudul “Peran Orangtua Terhadap


Penggunaan Media Internet Dalam Perilaku Keagamaan Anak (Studi Pada
Keluarga Muslim Di Kelurahan Bandar Jaya Barat Kecamatan Terbanggi
Besar)”
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat
deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini penulis
menggunakan metode non partisipan yaitu observasi tidak terlibat
langsung secara aktif dalam objek yang diteliti. Dengan populasi yang
berjumlah 69 Kepala Keluarga (KK), yang kemudian dijadikan sampel
penelitian berjumlah 10 Kepala Keluarga (KK) dengan teknik purposive
sampling. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa dari 10 orangtua yang memiliki anak menggunakan
media internet, 8 diantara nya berdampak negatif dan 2 diantara nya
berdampak positif. Dampak negatif penggunaan media internet pada anak,
anak suka melalaikan sholat, anak menjadi malas mengaji, anak menjadi
lebih emosional jika tidak diberikan akses internet, dan anak menjadi
pribadi yang individual yang tidak peduli dengan lingkungannya. Dampak
positif penggunaan media internet pada anak adalah anak akan lebih
mudah dalam mengerjakan tugas sekolah dan bisa mengakses video
edukasi untuk anak di Youtube.

27
Perbedaan Persamaan
Penelitian yang dilakukan oleh Persamaan antara penelitian
Wardina Khairani menjadikan Wardina dan penelitian saat ini
perilaku keagamaan anak sebagai adalah metode penelitian yang
objek penelitian, sedangkan menggunakan metode kualitatif
penelitian saat ini objeknya adalah deskriptif, selain itu subjek
toxic media sosial terhadap remaja. penelitian yaitu orang tua.

2. Skripsi Iryani (2021) yang berjudul “Partisipasi Orang Tua Dalam


Mengatasi Dampak Media Sosial Pada Kalangan Remaja Di Desa Tongko
Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang”

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif,


dengan lokasi penelitian berada di Desa Tongko, Kecamatan Baroko,
Kabupaten Enrekang. Penetuan informan secara purposive sampling yaitu
pengambilan sampel dengan cara menetapkan dengan ciri-ciri khusus yang
sesuai dengan tujian penelitian. Metode yang di gunakan pengumpulan
data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Metode analisis data
menggunakan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penerikan
kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa orang tua
sangat berperan dalam keluarga, utamanya memberikan nasehat-nasehat
dan selalu memberikan motivasi kepada anak remajanya yang sudah
mengenal sosial media. Orang tua di Desa Tongko tidak lepas dari
tanggung jawabnya untuk mendidik serta mengawasi anak remajanya
karena pada saat ini perkembangan zaman sekarang anak remaja ini
berada pada masa peralihan menuju tahap dewasa. Jadi orang tua harus
lebih aktif dan ikut berperan dan mengontrol serta meberikan nasehat pada
saat menggunakan gawai, serta juga dapat mengawasi anakanya lewat
media sosial. Dalam pengguna media sosial ada dua dampak yang di
timbulkan yaitu dampak positif yaitu menambah pengetahuan, mempererat

28
hubungan, mudah bergaul. Adapun dampak negatifnya pengguna media
sosial yaitu kurang bersosialisai dengan lingkungan masyarakat, kurang
membantu orangtuanya atau malas, waktu belajar kurang.

Perbedaan Persamaan
Subjek penelitian memiliki Penelitian Iryani menggunakan
perbedaan antara penelitian Iryani metode penelitian kualitatif
dan penelitian saat ini, Iryani bersifat deskriptif sama halnya
menggunakan partisipasi orang tua, dengan penelitian saat ini
sedangkan penelitian saat ini peran menggunakan metode penelitian
pengawasan orang tua sebagai yang sama.
sujek.

3. Skripsi Agis Dwi Prakoso (2020) yang berjudul “Penggunaan Aplikasi Tik
Tok Dan Efeknya Terhadap Perilaku Keagamaan Remaja Islam Di
Kelurahan Waydadi Baru Kecamatan Sukarame”

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data observasi,


wawancara, serta dokumentasi untuk mendapatkan data yang valid dan
mendalam mengenai permasalahan dalm penelitian ini. Strategi sample
yang penulis pilih adalah purposive sampling, sehingga penulis melakukan
kriteria terlebih dahulu untuk menentukan sample. Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa penggunaan aplikasi Tik Tok di Kelurahan Waydadi
Baru cukup besar, dimana para penggunanya adalah kalangan remaja.
Penggunaan aplikasi Tik Tok sebagai media untuk mendapatkan hiburan.
Efek Penggunaan aplikasi Tik Tok terhadap penggunaannya terhadap
perilaku keagamaan diliat dari beberapa perilaku yakni: perilaku kepada
Allah, Orang Tua, Diri Sendiri, serta perilaku terhadap lingkungan
Masyarakat dimana tidak ada efek yang begitu negatif dan signifikan yang
bisa mengubah perilaku remaja. Remaja di Kelurahan Waydadi Baru tetap
melakukan segala tindakan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orang

29
tua dan agama. Melalui RISMA diharapkan mampu menjadi wadah
kreatifitas dan menjaga perilaku remaja dari dampak negatif media sosial.

Perbedaan Persamaan
Perbedaan antara penelitian Agis Metode penelitian kualitatif
Dwi Prakoso dengan penelitian bersifat deskriptif dan objek
saat ini terletak pada subjek penelitian yaitu remaja menjadi
penelitian, Agis menggunakan kesamaan diantara penelitian Agis
penggunaan aplikasi Tik Tok Dwi Prakoso dan penelitian saat
remaja sebagai subjek, sedangkan ini.
penelitian saat ini menggunakan
peran pengawasan orang tua
sebagai subjek

C. Kerangka Berpikir

Orang tua sebagai tokoh penting dalam suatu keluarga bertugas untuk
membina anak-anaknya dengan cara yang tepat agar mampu menjadikan anak-
anaknya dalam proses perkembangan dan pertubuhan menuju dewasa terarah
dengan baik. Fase pertumbuhan manusia yang paling krusial adalah ketika
masa remaja, fase tersebut banyak munculnya perubahan fisik, psikis dan pola
pikir manusia yang sebelumnya anak-anak kemudian berproses menuju
dewasa. Hal tersebut menjadikan remaja akan rentan terhadap kondisi labil,
yaitu keadaan belum mampunya manusia mengontrol kondisi diri mereka
yang disebabkan oleh lingkungan tempat mereka menghabiskan waktu dalam
sehari-hari.

Saat ini dengan kemajuan teknologi yang pesat, segala hal kebutuhan
manusia dapat terpenuhi secara cepat dan praktis, termasuk halnya
komunikasi. Adanya media sosial yang telah berkembang hingga saat ini
menjadikannya salah satu kebutuhan manusia tidak hanya semata untuk
kebutuhan komunikasi, tetapi segala hal saat ini telah menjadikan media sosial

30
sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan serta candu yang
diantaranya banyak pengguna di usia remaja. Dengan kondisi tersebut
menjadikan media sosial tempat berkumpulnya manusia di seluruh dunia
potensi dampak positif dan negatif tentu tidak bisa dipungkiri. Adanya
dampak negatif atau diistalah lain disebut toxic media sosial akibat dari
pengguna itu sendiri harus menjadi perhatian setiap orang, terkhusus orang tua
kepada anak-anaknya di usia remaja. Pengawasan orang tua terhadap toxic
media sosial sangat diperlukan untuk menjaga proses perkembangan dan
pertumbuhan remaja dalam arah yang tepat sesuai tujuan orang tua. Jika orang
tua mampu mengawasi dengan baik kegiatan yang dilakukan anak-anaknya,
maka akan menjadi pribadi dewasa yang tepat.

31
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode
berlandaskan pada postpositivisme atau disebut juga metode penelitian
naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah
(natural setting). Dalam metode ini peneliti sebagai instrumen kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara snowball dan purposive,
teknik pengumpulan data dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat
induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari
pada generalisasi (Sugiyono, 2017: 9). Penelitian kualitatif merupakan jenis
penelitian yang digunakan untuk memahami segala fenomena yang dialami
oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan orang-orang
serta perilaku yang dapat diamati. Adapun dengan menggunakan pendekatan
deskriptif yakni data yang diperoleh berbentuk informasi deskriptif mengenai
gambaran secara lengkap tentang keadaan objek yang diteliti (Sugiyono, 2017:
13).
Creswell dalam (Zonyfar dkk., 2022: 13) mengemukakan bahwa
penelitian kualitatif adalah pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami
makna individu atau kelompok yang berkaitan dengan masalah sosial atau
manusia. Ini berarti bahwa penelitian kualitatif mempelajari budaya suatu
kelompok dan mengidentifikasi bagaimana perkembangan pola perilaku
penduduk dari waktu ke waktu. Mengamati perilaku masyarakat dan
keterlibatannya dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu elemen kunci dari
pengumpulan data.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode


penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian untuk menemukan dan
mengamati fenomena sosial yang terjadi dalam suatu individu dan masyarakat

32
berkaitan dengan pola perilaku dan budaya serta perkembangannya dari waktu
ke waktu, kemudian ditulis dengan bahasa yang tepat agar dapat menjelaskan
sesuai dengan fenomena yang terjadi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran


peran orang tua dalam pengawasan anak terhadap toxic media sosial di Desa
Ngromo, Nawangan, Pacitan. Meetode penelitian yang digunakan ini, peneliti
dapat terlibat secara langsung di lingkungan tempat subjek penelitian berada
sehingga peneliti dapat mengenal subjek penelitian secara pribadi dan lebih
dekat. Adanya keterlibatan secara langsung ini akan dapat mengetahui lebih
lanjut mengenai peran orang tua dalam pengawasan anak terhadap toxic media
sosial.

B. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Ngromo, Kecamatan Nawangan,
Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Alasan peneliti memilih lokasi ini adalah
karena perubahan kondisi sosial di masyarakat dampak dari media sosial
belum sepenuhnya bisa diikuti oleh orang tua yang memiliki profesi petani
dan peternak di wilayah tersebut, karena pekerjaan mereka tidak dekat
dengan gawai. Tetapi para remaja di wilayah tersebut telah mahir
menggunakan gawai.

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara bertahap mulai dari proses awal
pengajuan judul, observasi masalah pra penelitian dan pembuatan
proposal.

33
Adapun rincian waktu penelitian, sebagai berikut:

No. Kegiatan Waktu Penelitian (Tahun 2022-2023)


Jul Des. Jan. Feb. Mar Apr.
. .
1. Tahap Persiapan Penelitian
a. Pengajuan Judul
b. Pra Riset Judul Penelitian
c. Penyusunan Proposal
Penelitian (Bab I-III)
d. Ujian Sidang Seminar
Proposal Penelitian

C. Subjek dan Informan


1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah pelaku yang berkaitan langsung dengan
penelitian atau subjek sasaran yang dituju untuk diteliti oleh peneliti.
Subjek penelitiannya dalam hal ini adalah orang tua di Desa
Ngromo,Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Menurut informasi
Saudara Bayu (Pegawai Balai Desa) menyebutkan Desa Ngromo tahun
2023 memiliki 1657 Kepala Keluarga, 40 persen diantaranya berjumlah
654 memiliki anak usia remaja. Peneliti akan meneliti 10 keluarga dari
empat dusun berbeda sebagai orang tua subjeknya.
Teknik pengambilan subjek dengan menggunakan purposive
sampling, yaiitu penetuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai
kebutuhan penelitian. (Sugiyono, 2017: 124). Maka. pengambilan sampel
subjek pada penelitian ini ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Orang tua dengan pekerjaan petani dan peternak

34
b. Orang tua yang memiliki anak usia remaja (13-21 Tahun) aktif
mengakses media sosial.

2. Informan Penelitian
Informan adalah orang-orang yang terdapat pada latar (lokasi atau
tempat) penelitian yang dapat memberikan informasi tentang situasi dan
kondisi latar (lokasi atau tempat) penelitian. Informan dalam penelitian ini
adalah masyarakat, kepala desa, tokoh masyarakat dan remaja di
lingkungan Desa Ngromo.

D. Teknik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini pengumpulan data yang dilakukan untuk peran
orang tua dalam pengawasan anak terhadap toxic media sosial. Teknik yang
digunakan untuk pengumpulan data penelitian ini adalah observasi
(pengamatan), wawancara (interview), dan dokumentasi.

1. Observasi
Observasi adalah suatu pengamatan mendalam, teliti, mengenai
fenomena yang ada di sekitar baik orang atau objek-objek alam yang lain
dan kemudian didokumentasikan dalam rangka untuk mengungkap
keterkaitan antar fenomena (Sugiyono, 2017: 203)
Penggunaan metode observasi dalam penelitian ini mampu
mendapatkan data dengan cara pengamatan secara langsung di lapangan.
Peneliti melihat dan mengamati secara langsung mengenai bagaimana
proses pengawasan orang tua terhadap remaja dari toxic media sosial di
lokasi subjek penelitian. Kegiatan untuk mendapatkan data tersebut,
peneliti hadir ke lokasi di Desa Ngromo, Kecamatan Nawangan,
Kabupaten Pacitan, kemudian mengamati dan mencatat hal-hal yang
berkaitan dengan proses pengawasan orang tua terhadap remaja dari toxic
media sosial.
2. Wawancara (interview)

35
Wawancara adalah suatu proses untuk mendapatkan keterangan dari
tujuan penelitian yang ingin dilakukan oleh peneliti dengan cara tanya
jawab atau berkomunikasi langsung antara pewawancara (orang yang
mewawancarai) dan informan (orang yang diwawancarai) (Sugiyono,
2017: 231).
Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data yang tidak
memungkinkan diperoleh dari observasi. Hal-hal yang ingin ditanyakan
disiapkan peneliti secara matang terlebih dahulu untuk mempermudah
dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan. Wawancara dilakukan secara
mendalam kepada subjek dan informan yang berkaitan dengan penelitian
antara lain adalah masyarakat, kepala desa, tokoh masyarakat dan remaja
di lingkungan Desa Ngromo.
3. Dokumentasi
Dokumen adalah catatan peristiwa yang telah berlalu. Dokumen dapat
berbentuk gambar, tulisan, atau karya-karya monumental dari seseorang.
Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah
kehidupan, biografi. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya gambar,
foto, sketsa, dan lain-lain. Hasil penelitian akan dapat dipercaya apabila
didukung dengan dokumen (Sugiyono, 2017: 240).
Metode dokumentasi ini digunakan sebagai bukti keabsahan dan
memperoleh data tentang kegiatan pengawasan orang tua terhadap remaja
dari toxic media sosial di Desa Ngromo.

E. Teknik Keabsahan Data


Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
triangulasi. Triangulasi adalah suatu proses penguatan bukti dari pribadi-
pribadi yang berbeda, jenis data dalam suatu deskripsi dan tema-tema dalam
penelitian kualitatif. Triangulasi ini dapat menjamin bahwa studi akan
menjadi akurat karena informasi yang telah didapat berasal dari berbagai
sumber informasi, individu dan proses (Sugiyono, 2017: 241).

36
Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan
data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dengan demikian terdapat
triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data.

1. Triangulasi Sumber.

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan


dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa
sumber. Triangulasi Sumber digunakan untuk membandingkan dan
mengecek kembali derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh
melalui subjek dengan informan lain. Dalam hal ini penelitian dilakukan
dengan cara membandingkan apa yang dikatakan subjek dengan apa yang
dikatakan informan. Sehingga dapat memastikan data tersebut tidak
saling bertentangan, dan dapat diambil suatu kesimpulan yang konkrit.

No. Data Orang Tua Masyaraka Kepala Desa Remaja


t
1. Kegiatan remaja    
di media sosial
2. Pemahaman    
orang tua
terhadap toxic
media sosial
3. Pengawasan    
orang tua
terhadap kegiatan
remaja

2. Triangulasi Metode
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan
cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan metode yang
berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan

37
observasi dan dokumentasi. Bila dengan tiga metode pengujian
kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka
peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang
bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap
benar. Atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya
berbeda-beda.

F. Teknik Analis Data


Dalam penelitian kualitatif ini, analisis data dilakukan sejak sebelum
memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.
Dalam hal ini Nasution (1988) menyatakan “Analisis telah mulai sejak
merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan
berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian”. Dalam penelitian
kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan
dengan pengumpulan data (Sugiyono, 2017: 245).

Analisis data dalam penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa


tahapan, yaitu:

1. Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti mengumpulkan seluruh data yang telah
didapatkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Data-data
tersebut yaitu hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian seperti
profil wilayah, keadaan geografis, sosial dan data kependudukan Desa
Ngromo tahun 2023.

2. Reduksi Data (Data Reduction)


Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting. Dengan demikian data yang
telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya,
dan mencarinya bila diperlukan (Sugiyono, 2017: 247).

38
Peneliti melakukan reduksi data yang diperoleh melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Adapun koding data dapat dilihat pada table
tersebut:

Kode Keterangan
W-1 Wawancara Orang Tua
W-2 Wawancara Kepala Desa
W-3 Wawancara Masyarakat
W-4 Wawancara Remaja
O-1 Observasi Keadaan Lingkungan
O-2 Observasi Kegiatan Media Sosial Remaja
O-3 Observasi Kegiatan Pengawasan Orang Tua
D-1 Riwayat Akses Media Sosial Remaja

3. Penyajian Data (Display)


Penyajian data yaitu kumpulan informasi yang memberikan
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun
dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Penyajian
data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah teks yang
bersifat naratif, namun juga dapat berbentuk matriks, grafis, bagan atau
jaringan. Data-data tersebut kemudian dipilih kemudian disusun sesuai
dengan kategori agar mampu selaras dengan permasalahan yang dihadapi
(Sugiyono, 2017: 249).

4. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan adalah tahap akhir dalam analisis data. Peneliti
dapat menarik kesimpulan, menginterpretasikan temuan dari sebuah
wawancara, pengamatan, ataupun dari sebuah dokumentasi. Apabila
kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, di dukung oleh bukti-
bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan untuk

39
mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan
kesimpulan yang kredibel (Sugiyono, 2017: 252)

40

Anda mungkin juga menyukai