Pengawasan Orang Tua Terhadap Toxic Media Sosial
Pengawasan Orang Tua Terhadap Toxic Media Sosial
PROPOSAL SKRIPSI
i
Disusun Oleh:
Lambang Tendy Ambodo
NIM: 183111103
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1
Akses untuk situs media sosial terbilang mudah bagi para remaja, hal
tersebut dibuktikan dari wawancara yang dilakukan penulis mendapati bahwa
banyak remaja dapat menguasi penggunaan sosial media tanpa perlu pelatihan
atau bantuan orang lain secara mendalam. Media sosial membuat
kencenderungan para penggunanya untuk terus mengakses media sosial
karena konten di dalamnya sangat beragam yang membuat penggunanya akan
tertarik mengikuti setiap waktu pembaharuan konten di media sosial, selain itu
juga adanya proses interaksi dengan orang lain yang membuat penggunanya
saling memberi dan menerima informasi (Wulandari & Netrawati, 2020: 42).
Usia remaja dikatakan dalam fase mengenal dan mencari jati diri, pada saat ini
akan lebih sering dalam penggunaan media sosial karena adanya rasa
keingintahuan tinggi dengan hal-hal baru yang secara mudah dapat ditemukan
melalui media sosial serta keinginan untuk mengekspresikan diri mereka
dengan membuat konten atau kiriman yang dapat dilihat orang lain, sehingga
banyak ditemui di usia tersebut dalam sehari bisa mengakses 6-10 jam untuk
media sosial dengan alasan mengisi waktu luang dan mencari hiburan
(Umami, 2019: 15).
Konten media sosial merupakan suatu informasi yang disajikan oleh para
penggunanya agar mendapatkan perhatian dan feedback dari pengguna lain
(Ibrahim & Irawan, 2021: 77). Pengguna media sosial mencakup seluruh
manusia dari berbagai negara, agama, ras dan pemikiran yang berbeda,
memjadikannya konten atau kiriman di media sosial akan sangat beragam
jenisnya. Jenis konten di media sosial memiliki beragam macam serta sasaran
penggunanya masing-masing, diantaranya yang paling sering diminati
penggunanya menurut survei databooks adalah musik, komedi, tutorial,
livestream, pendidikan, olahraga, gim, ulasan produk, dan vlog. Penulis
melakukan survei dari data di atas para remaja mayoritas menyukai konten
musik, gim, dan olahraga. Dapat disimpulkan sebagian besar untuk usia
tersebut mengakses media sosial sebagai sarana mencari hiburan.
2
Keberagaman konten media sosial tidak hanya dari jenis dan
penggunanya, tetapi juga dari nilai di dalamnya. Konten yang disajikan tidak
semuanya layak bila dilihat dari nilainya, layak yang dimaksud adalah konten
yang memiliki nilai edukasi dan berkontribusi positif untuk para penggunanya,
terdapat pula konten yang seharusnya tidak layak ditampilkan di media sosial
karena memberikan dampak buruk kepada penggunanya (Simarmata dkk.,
2019: 52). Contoh konten tersebut di antaranya yang bermuatan hoaks, ujaran
kebencian, dan pornografi. Faktor interaksi antar sesama pengguna juga
berpotensi memberikan dampak buruk bagi penggunanya, banyak ditemukan
penggunanya memberikan komentar atau tanggapan secara bebas terhadap
konten tertentu karena adanya ketidaksamaan pendapat dengan tanggapan
kalimat yang kasar seperti tolol, bacot, goblok, dan lainnya, serta
menimbulkan perdebatan yang tidak perlu (Putri dkk., 2016: 49). Hal tersebut
dikhawatirkan dapat mengganggu psikis remaja serta menirukannya untuk
digunakan kepada orang lain, sehingga bentuk keburukan tersebut akan terus
ada di media sosial. Kebiasaan buruk tersebut diistilahkan dengan toxic media
sosial dapat ditemukan setiap hari di media sosial.
Istilah toxic berasal dari bahasa inggris, menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) berarti racun, secara istilah yaitu memberikan pengaruh
buruk kepada orang lain baik secara psikis maupun fisik (Oktariani, 2021:
216). Bagi remaja dalam usia perkembangan peralihan dari masa anak-anak
yang memiliki perilaku ingin kebebasan, gelisah dan berfikir labil, keadaan
lingkungannya akan sangat berpengaruh terhadap proses perkembangan pola
pikir dan perilakunya (Umami, 2019: 2). Lingkungan tersebut tidak hanya
keluarga, sekolah dan masyarakat, tetapi juga termasuk media sosial yang
telah menjadi salah satu wadah untuk tempat berkumpulnya manusia pada
masa sekarang secara dalam jaringan. Adanya toxic di media sosial tentu harus
menjadi perhatian bagi setiap orang, khususnya orang tua kepada anak-
anaknya karena adanya pengaruh yang buruk dari media sosial kepada para
penggunanya. Tanpa adanya pengawasan dari orang lain tentu anak dalam
umur remaja akan bebas melakukan segala hal yang menurut mereka mampu
3
memuaskan diri dalam kesenangan, mereka cenderung belum mampu
mengontrol sendiri atas segala yang mereka lihat dan perbuat berdampak bagi
masa depan mereka.
Kasus nyata terjadi dilansir dari [Link], salah satu bentuk toxic
media sosial menimpa seorang anak perempuan berumur 9 tahun asal Maroko
saat berlangsungnya Piala Dunia Sepak Bola 2022 di Qatar. Kejadian tersebut
bermula setelah pertandingan babak perempat final antara Portugal melawan
Maroko pada 10 Desember 2022, hasil pertandingan memastikan Maroko
layak sebagai pemenang dengan keunggulan skor 1-0. Anak perempuan yang
tersebut bersama seorang lelaki dewasa bersenang atas kemenangan Maroko,
kemudian mengatakan dalam video “Portugal, bandara di sebelah sana.
Dimana Ronaldo? Ronaldo menangis di mobilnya, Ronaldo yang malang”.
Ungkapan tersebut sebagai bentuk candaan untuk kekalahan Portugal dan
Ronaldo yang diunggah di TikTok. Ronaldo sebagai pemain dengan
penggemar terbanyak di dunia saat ini, memancing amarah dan
ketidaksenangan dari penggemar Ronaldo, kemudian melakukan hujatan
secara beramai-ramai kepada anak perempuan tersebut karena merasa
idolanya telah dilecehkan.
4
Orang tua sebagai seseorang yang memiliki tanggung jawab paling utama
pada proses perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya memiliki peranan
penting untuk mendampingi, membimbing, merawat dan melindungi dalam
semua tahapan perkembangan dan pertumbuhan (Djuwita, 2020: 72). Tetapi
realitanya banyak ditemui orang tua yang belum melaksanakan tanggung
jawab di atas, termasuk halnya melakukan pengawasan anaknya dalam
penggunaan media sosial. Mereka mengetahui bahwa anaknya menggunakan
media sosial tetapi cenderung membiarkan dan tidak mengetahui tentang
aktivitas anaknya di media sosial, hal tersebut salah satunya disebabkan
karena kurangnya komunikasi kepada anak-anaknya (Peter, 2015: 456).
Penulis mendapati dari wawancara kepada Ibu Ambar dan lima remaja
serta melakukan observasi pada tanggal 10-12 Desember 2022 bahwa bahwa
banyak orang tua belum memahami tentang adanya berbagai bentuk toxic di
media sosial, mesikpun sebagian besar mereka mampu mengoperasikan gawai
untuk kebutuhan komunikasi sehari-sehari dengan intensitas penggunaan
rendah rata-rata 2-3 jam perhari. Dusun Tugu, Desa Ngromo, Kecamatan
Nawangan, Kabupaten Pacitan secara geografis terletak di dataran
pegununungan, sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani dan
peternak. Pekerjaan tersebut membuat para orang tua memerlukan banyak
waktu di sawah atau kebun dengan rata-rata 8-10 jam dalam sehari, sehingga
mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk mengoperasikan gawai yang
membuat mereka kurang memahami tentang media sosial. Perubahan kondisi
sosial di masyarakat dampak dari media sosial belum sepenuhnya bisa diikuti
oleh orang tua yang memiliki profesi petani dan peternak di wilayah tersebut,
karena pekerjaan mereka tidak dekat dengan gawai. Hal tersebut yang
menjadikan penulis memilih tempat penelitian di Desa Ngromo, Kecamatan
Nawangan, Kabupaten Pacitan.
5
pembaharuan fitur agar para penggunanya semakin merasa nyaman. Hal
tersebut berpotensi menjadikan para remaja enggan bersosialisasi dengan
ligkungan sekitar secara langsung yang membuat kontrol diri terhadap konten
di media sosial harus menjadi perhatian bersama, terkhusus para orang tua.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifikasikan
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Terdapat konten di media sosial yang memberikan dampak buruk bagi
penggunanya
2. Pengawasan orang tua terhadap aktivitas media sosial anak belum
terpenuhi sebagai mestinya tugas orang tua
3. Pemahaman orang tua terhadap media sosial masih rendah
C. Pembatasan Masalah
6
Pengawasan Remaja Terhadap Toxic Dari Media Sosial Di Desa Ngromo,
Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan Tahun 2023.
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pertanyaan yang diajukan di rumusan masalah, maka tujuan
yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Peran
Orang Tua Dalam Pengawasan Remaja Terhadap Toxic Dari Media Sosial Di
Desa Ngromo, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan Tahun 2023.
F. Manfaat Penilitian
1. Manfaat Teoritis
2. Manfaat Praktis
7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Peran Pengawasan Orang Tua terhadap Remaja
a. Pengertian Orang Tua
8
proses perkembangannya dalam beberapa tahun awal, saat kepribadian
anak mulai terbentuk (Maimun, 2017: 34).
9
dengan tujuan tercapainya tatanan yang baik dalam kehidupan
bermasyarakat.
10
yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia
digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai
tujuan (Firmansyah. & Mahardika, 2018: 140).
11
sosial, pendidikan dan ketrampilan anak-anaknya. Kegiatan tersebut
bertujuan memantau dan membimbing setiap proses perkembangan
dan pertumbuhan anaknya agar sesuai dengan tujuan orang tua ke arah
yang tepat menjadi manusia dewasa.
d. Remaja
1) Pengertian Remaja
12
Sarwono W.S dalam (Dachi dkk., 2020: 89) mengemukakan
bahwa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa,
bukan hanya dalam artian psikologis tetapi juga fisik. Dapat
disimpulkan bahwa remaja adalah masa peralihan seorang anak
dari kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan
perubahan secara fisik dan psikologis.
13
Mighwar (2006) menyebutkan masa remaja memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
14
bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikis yang
terjadi. Kedua perubahan tubuh yang dialami para remaja
seperti perubahan bentuk tubuh, suara dan organ-organ
lainnya. Ketiga perubahan minat dan peran yang diharapkan
oleh kelompok sosial menimbulkan masalah baru serta akan
mengalami lebih banyak masalah dan lebih sulit diselesaikan.
Keempat perubahan dan pola tingkah laku, remaja sudah
memahami berbagai hal yang menurut mereka penting dan
berkualitas, tidak lagi menganggap semua hal penting layaknya
masa kanak-kanak. Kelima remaja bersikap dua hal yang
kontradiksi (ambivelen), mereka sering menuntut dan
menghendaki kebebasan tetapi sering takutt atas risikonya dan
ragu atas kemampuannya untuk menghadapi hal tersebut.
d) Masa Remaja sebagai Masa Masalah
Masa remaja sering mengalami masalah yang sulit diatasi.
Terdapat dua alasan yaitu ketika masa kanak-kanak sebagian
besar masalah mereka diatasi oleh orang tua dan para guru,
sehingga belum memiliki pengalaman untuk mengatasi
berbagai masalah. Alasan selanjutnya remaja merasa sudah
mampu mandiri menjadikannya menolak bantuan dari orang
sekitar, tetapi belum cukupnya pengalaman membuat justru
menimbulkan penyesalan.
e) Masa Remaja sebagai Masa Pencarian Identitas
Remaja masa awal-awal mengangap penyesuaian diri
dengan kelompok merupakan sesuatu yan penting agar merasa
sama dan dapat diterima oleh teman seabayanya. Contohnya
dalam hal pakaian, gaya bicara dan tingkah laku. Seiring
berjalannya waktu remaja akan kembali menyesuaikan diri
untuk menemukan identitas diri sesuai harapannya dengan
tidak lagi merasa puas dengan kesamaan terhadap teman
sebayanya.
15
Identitas diri remaja dapatt ditunjukkan dengan berbagai
cara, contohnya penggunaan atribut dan tingkah laku tertentu.
Mereka ingin dilihat oleh orang lain untuk mendapatkan
pengakuan atas segala hal yang mereka minati. Bersamaan
dengan itu remaja juga tetap berusaha mempertahankan
identitas dirinya terhadap kelompok sebaya.
f) Masa Remaja sebagai Masa yang Memunculkan Ketakutan
Anggapan masayarakat melihat remaja sebagai anak-anak
yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung
merusak. Sterotipe tersebut mampu menjadi salah satu
pengaruh kepada para remaja untuk bersikap hal yang negatif.
Maka diperlukannya orang dewasa yang harus membimbing
dan mengawasi kehidupan remaja muda yang takut
bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap
perilaku remaja yang normal.
g) Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik
Remaja memandang diri sendiri dan orang lain
berdasarkan keinginannya, bukan berdasarkan kenyataan,
terlebih lagi dalam hal cita-cita. Masa ini banyak harapan-
harapan yang ingin dicapai, tetapi tidak semua harapan
tersebut mampu dicapai. Cita-cita yang tidak realistik ini tidak
hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga
dan teman-temannya. Hal tersebut menyebabkan meningginya
emosi sebagai tanda masa remaja awal, kemudian mudahnya
muncul rasa sakit hati kecewa terhadap kejadian yang dia tidak
inginkan dan dikecewakan orang lain.
Secara perlahan pandangan subjektif tersebut akan
berubah seiring berjalannya waktu sejalan dengan pengalaman
pribadi dan sosial yang akan meningkatkan kemampupan pola
pikir menjadi lebih rasional. Rasa sering kecewa di masa-masa
16
awal remaja mampu diatasi oleh mereka sendiri, serta
memunculkan rasa bahagia dan lebih tenang secara alami.
h) Masa Remaja sebagai Masa Menuju Dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan, para
remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan pandangan-
pandangan terhadap usia remaja mereka dari belasan tahun dan
untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa.
Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata
belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan
diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa,
seperti merokok, minum minuman keras, menggunakan
narkoba, dan terlibat dalam perbuatan seks. Di sinilah
diperlukan peran orang tua dalam mendidik remaja agar tidak
salah dalam mengaktualisasikan kedewasaannya.
2. Media Sosial
a. Pengertian Media Sosial
Secara bahasa media sosial berasal dari dua kata yaitu media dan
sosial. Media diartikan sebagai perantara atau penghubung yang
terletak di antara dua pihak, baik perseorangan maupun golongan.
(Bahasa, 2008: 1002). Sosial diartikan sebagai suatu hal yang
berkenaan dengan tindakan interaksi dan komunikasi dalam lingkup
masyarakat (Bahasa, 2008: 1496). Secara istilah media sosial diartikan
sebagai alat untuk berkomunikasi antar sesama manusia baik lingkup
antar dua orang maupun secara luas yaitu orang banyak.
17
(informasi, opini, dan minat) dalam konteks yang beragam (informatif,
edukatif, sindiran, kritik dan sebagainya) kepada khalayak umum. Oleh
karena itu, media sosial mempunyai efek berantai sehingga siklus yang
terjadi tidak berhenti pada satu audien saja (multiplier effect) (Publik,
2018: 4).
18
3) Isi disampaikan secara dalam jaringan (online) dan langsung;
4) Konten dapat diterima secara online dalam waktu lebih cepat dan
bisa juga tertunda penerimaannya tergantung pada waktu interaksi
yang ditentukan sendiri oleh pengguna.
5) Media sosial menjadikan penggunanya sebagai kreator dan aktor
yang memungkinkan dirinya untuk beraktualisasi diri.
6) Dalam konten media sosial terdapat sejumlah aspek fungsional
seperti identitas, percakapan, berbagi, eksistensi, hubungan,
reputasi dan kelompok.
19
dengan menambahkan versi mereka sendiri. Pada waktu tertentu,
golongan ini kemudian menjadi golongan yang pertama.
20
ditampilkan mengkombinasikan gambar, suara narator serta musik.
Contoh media sosial yang merupakan media sosial visual adalah
Instagram, YouTube, Snapchat, dan TikTok.
21
tayang. Media sosial yang termasuk ke dalam jaringan sosial audio
di antaranya seperti Spotify, Noice, Clubhouse dan Twitter Space.
22
baik. Jadi bisa dikatakan toxic ini adalah ungkapan perumpamaan
untuk menjabarkan kata-kata umpatan, celaan, dan makian, bahwa
mengumpat saat ini disebut toxic. Kata makian dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia ialah mengeluarkan ungkapan keji, kotor, kasar, dan
sebagainya (Bahasa, 2008: 972). Serta mengeluarkan ucapan keji yang
tidak sopan bahkan tidak pantas untuk diucapkan. Ungkapan seperti ini
diucapkan hanya untuk melampiaskan kekesalan, kemarahan, dan rasa
jengkel terhadap seseorang. Makian sebuah kebiasaan atau aturan
kelompok digunakan secara sengaja untuk mengancam, menghina,
mengejutkan, dan mengganggu atau menyakiti.
23
pengguna lainnya secara psikis dan tidak langsung kepada fisik
melalui bentuk komunikasi dengan perkataan-perkataan yang tidak
buruk. Perkataan tersebut berupa umpatan dan ejekan yang mampu
mengganggu dan menyinggung perasaan pengguna lain, sehingga
berpotensi merubah tingkah laku seseorang.
b. Macam-macam Toxic
24
sehingga memberikan dampak yang buruk terhadap psikologis,
fisik, emosional, dan material. Sedangkan hubungan yang sehat
dapat memberikan dampak yang positif serta dapat menimbulkan
rasa aman.
1) Mengumpat
25
Mengatakan perkataan seperti diatas sangatlah tidak sopan.
Apalagi jika kita mengeluarkan perkataan tersebut di media sosial,
dimana semua orang dan semua kalangan dapat melihat hal
tersebut. Sehingga menjadi hal yang sudah wajar untuk diucapkan
bahkan ditiru oleh anak-anak. Mengumpat di era saat ini sudah
menjadi suatu budaya, secara tidak sadar manusia melakukan
umpatan hanya untuk melampiaskan kemarahannya. Meskipun
terkadang umpatan (toxic) bukan hanya digunakan untuk
melampiaskan kemarahan, akan tetapi ada sebagian golongan
menggunakannya untuk sapaan kepada teman dekat supaya
memiliki unsur keakraban. Mengumpat juga memiliki dampak
positif dan negatif (Andrik, 2016: 3-4), diantaranya sebagai
berikut:
26
Karena mengolok-olok orang lain merupakan sifat tercela dan
dapat menimbulkan permusuhan. Menghina orang sama dengan
menzalimi orang tersebut, karena perilaku yang diperbuat
mungkin dampaknya tidak tampak secara langsung akan tetapi, hal
ini sangat berdampak dalam diri seseorang seperti sakit hati
hingga timbulnya rasa dendam, atau menghancurkan mental orang
lain. (Solihah dkk., 2015: 5)
B. Penelitian Terhadulu
27
Perbedaan Persamaan
Penelitian yang dilakukan oleh Persamaan antara penelitian
Wardina Khairani menjadikan Wardina dan penelitian saat ini
perilaku keagamaan anak sebagai adalah metode penelitian yang
objek penelitian, sedangkan menggunakan metode kualitatif
penelitian saat ini objeknya adalah deskriptif, selain itu subjek
toxic media sosial terhadap remaja. penelitian yaitu orang tua.
28
hubungan, mudah bergaul. Adapun dampak negatifnya pengguna media
sosial yaitu kurang bersosialisai dengan lingkungan masyarakat, kurang
membantu orangtuanya atau malas, waktu belajar kurang.
Perbedaan Persamaan
Subjek penelitian memiliki Penelitian Iryani menggunakan
perbedaan antara penelitian Iryani metode penelitian kualitatif
dan penelitian saat ini, Iryani bersifat deskriptif sama halnya
menggunakan partisipasi orang tua, dengan penelitian saat ini
sedangkan penelitian saat ini peran menggunakan metode penelitian
pengawasan orang tua sebagai yang sama.
sujek.
3. Skripsi Agis Dwi Prakoso (2020) yang berjudul “Penggunaan Aplikasi Tik
Tok Dan Efeknya Terhadap Perilaku Keagamaan Remaja Islam Di
Kelurahan Waydadi Baru Kecamatan Sukarame”
29
tua dan agama. Melalui RISMA diharapkan mampu menjadi wadah
kreatifitas dan menjaga perilaku remaja dari dampak negatif media sosial.
Perbedaan Persamaan
Perbedaan antara penelitian Agis Metode penelitian kualitatif
Dwi Prakoso dengan penelitian bersifat deskriptif dan objek
saat ini terletak pada subjek penelitian yaitu remaja menjadi
penelitian, Agis menggunakan kesamaan diantara penelitian Agis
penggunaan aplikasi Tik Tok Dwi Prakoso dan penelitian saat
remaja sebagai subjek, sedangkan ini.
penelitian saat ini menggunakan
peran pengawasan orang tua
sebagai subjek
C. Kerangka Berpikir
Orang tua sebagai tokoh penting dalam suatu keluarga bertugas untuk
membina anak-anaknya dengan cara yang tepat agar mampu menjadikan anak-
anaknya dalam proses perkembangan dan pertubuhan menuju dewasa terarah
dengan baik. Fase pertumbuhan manusia yang paling krusial adalah ketika
masa remaja, fase tersebut banyak munculnya perubahan fisik, psikis dan pola
pikir manusia yang sebelumnya anak-anak kemudian berproses menuju
dewasa. Hal tersebut menjadikan remaja akan rentan terhadap kondisi labil,
yaitu keadaan belum mampunya manusia mengontrol kondisi diri mereka
yang disebabkan oleh lingkungan tempat mereka menghabiskan waktu dalam
sehari-hari.
Saat ini dengan kemajuan teknologi yang pesat, segala hal kebutuhan
manusia dapat terpenuhi secara cepat dan praktis, termasuk halnya
komunikasi. Adanya media sosial yang telah berkembang hingga saat ini
menjadikannya salah satu kebutuhan manusia tidak hanya semata untuk
kebutuhan komunikasi, tetapi segala hal saat ini telah menjadikan media sosial
30
sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan serta candu yang
diantaranya banyak pengguna di usia remaja. Dengan kondisi tersebut
menjadikan media sosial tempat berkumpulnya manusia di seluruh dunia
potensi dampak positif dan negatif tentu tidak bisa dipungkiri. Adanya
dampak negatif atau diistalah lain disebut toxic media sosial akibat dari
pengguna itu sendiri harus menjadi perhatian setiap orang, terkhusus orang tua
kepada anak-anaknya di usia remaja. Pengawasan orang tua terhadap toxic
media sosial sangat diperlukan untuk menjaga proses perkembangan dan
pertumbuhan remaja dalam arah yang tepat sesuai tujuan orang tua. Jika orang
tua mampu mengawasi dengan baik kegiatan yang dilakukan anak-anaknya,
maka akan menjadi pribadi dewasa yang tepat.
31
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode
berlandaskan pada postpositivisme atau disebut juga metode penelitian
naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah
(natural setting). Dalam metode ini peneliti sebagai instrumen kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara snowball dan purposive,
teknik pengumpulan data dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat
induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari
pada generalisasi (Sugiyono, 2017: 9). Penelitian kualitatif merupakan jenis
penelitian yang digunakan untuk memahami segala fenomena yang dialami
oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan orang-orang
serta perilaku yang dapat diamati. Adapun dengan menggunakan pendekatan
deskriptif yakni data yang diperoleh berbentuk informasi deskriptif mengenai
gambaran secara lengkap tentang keadaan objek yang diteliti (Sugiyono, 2017:
13).
Creswell dalam (Zonyfar dkk., 2022: 13) mengemukakan bahwa
penelitian kualitatif adalah pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami
makna individu atau kelompok yang berkaitan dengan masalah sosial atau
manusia. Ini berarti bahwa penelitian kualitatif mempelajari budaya suatu
kelompok dan mengidentifikasi bagaimana perkembangan pola perilaku
penduduk dari waktu ke waktu. Mengamati perilaku masyarakat dan
keterlibatannya dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu elemen kunci dari
pengumpulan data.
32
berkaitan dengan pola perilaku dan budaya serta perkembangannya dari waktu
ke waktu, kemudian ditulis dengan bahasa yang tepat agar dapat menjelaskan
sesuai dengan fenomena yang terjadi.
B. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Ngromo, Kecamatan Nawangan,
Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Alasan peneliti memilih lokasi ini adalah
karena perubahan kondisi sosial di masyarakat dampak dari media sosial
belum sepenuhnya bisa diikuti oleh orang tua yang memiliki profesi petani
dan peternak di wilayah tersebut, karena pekerjaan mereka tidak dekat
dengan gawai. Tetapi para remaja di wilayah tersebut telah mahir
menggunakan gawai.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara bertahap mulai dari proses awal
pengajuan judul, observasi masalah pra penelitian dan pembuatan
proposal.
33
Adapun rincian waktu penelitian, sebagai berikut:
34
b. Orang tua yang memiliki anak usia remaja (13-21 Tahun) aktif
mengakses media sosial.
2. Informan Penelitian
Informan adalah orang-orang yang terdapat pada latar (lokasi atau
tempat) penelitian yang dapat memberikan informasi tentang situasi dan
kondisi latar (lokasi atau tempat) penelitian. Informan dalam penelitian ini
adalah masyarakat, kepala desa, tokoh masyarakat dan remaja di
lingkungan Desa Ngromo.
1. Observasi
Observasi adalah suatu pengamatan mendalam, teliti, mengenai
fenomena yang ada di sekitar baik orang atau objek-objek alam yang lain
dan kemudian didokumentasikan dalam rangka untuk mengungkap
keterkaitan antar fenomena (Sugiyono, 2017: 203)
Penggunaan metode observasi dalam penelitian ini mampu
mendapatkan data dengan cara pengamatan secara langsung di lapangan.
Peneliti melihat dan mengamati secara langsung mengenai bagaimana
proses pengawasan orang tua terhadap remaja dari toxic media sosial di
lokasi subjek penelitian. Kegiatan untuk mendapatkan data tersebut,
peneliti hadir ke lokasi di Desa Ngromo, Kecamatan Nawangan,
Kabupaten Pacitan, kemudian mengamati dan mencatat hal-hal yang
berkaitan dengan proses pengawasan orang tua terhadap remaja dari toxic
media sosial.
2. Wawancara (interview)
35
Wawancara adalah suatu proses untuk mendapatkan keterangan dari
tujuan penelitian yang ingin dilakukan oleh peneliti dengan cara tanya
jawab atau berkomunikasi langsung antara pewawancara (orang yang
mewawancarai) dan informan (orang yang diwawancarai) (Sugiyono,
2017: 231).
Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data yang tidak
memungkinkan diperoleh dari observasi. Hal-hal yang ingin ditanyakan
disiapkan peneliti secara matang terlebih dahulu untuk mempermudah
dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan. Wawancara dilakukan secara
mendalam kepada subjek dan informan yang berkaitan dengan penelitian
antara lain adalah masyarakat, kepala desa, tokoh masyarakat dan remaja
di lingkungan Desa Ngromo.
3. Dokumentasi
Dokumen adalah catatan peristiwa yang telah berlalu. Dokumen dapat
berbentuk gambar, tulisan, atau karya-karya monumental dari seseorang.
Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah
kehidupan, biografi. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya gambar,
foto, sketsa, dan lain-lain. Hasil penelitian akan dapat dipercaya apabila
didukung dengan dokumen (Sugiyono, 2017: 240).
Metode dokumentasi ini digunakan sebagai bukti keabsahan dan
memperoleh data tentang kegiatan pengawasan orang tua terhadap remaja
dari toxic media sosial di Desa Ngromo.
36
Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan
data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dengan demikian terdapat
triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data.
1. Triangulasi Sumber.
2. Triangulasi Metode
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan
cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan metode yang
berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan
37
observasi dan dokumentasi. Bila dengan tiga metode pengujian
kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka
peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang
bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap
benar. Atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya
berbeda-beda.
1. Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti mengumpulkan seluruh data yang telah
didapatkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Data-data
tersebut yaitu hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian seperti
profil wilayah, keadaan geografis, sosial dan data kependudukan Desa
Ngromo tahun 2023.
38
Peneliti melakukan reduksi data yang diperoleh melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Adapun koding data dapat dilihat pada table
tersebut:
Kode Keterangan
W-1 Wawancara Orang Tua
W-2 Wawancara Kepala Desa
W-3 Wawancara Masyarakat
W-4 Wawancara Remaja
O-1 Observasi Keadaan Lingkungan
O-2 Observasi Kegiatan Media Sosial Remaja
O-3 Observasi Kegiatan Pengawasan Orang Tua
D-1 Riwayat Akses Media Sosial Remaja
4. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan adalah tahap akhir dalam analisis data. Peneliti
dapat menarik kesimpulan, menginterpretasikan temuan dari sebuah
wawancara, pengamatan, ataupun dari sebuah dokumentasi. Apabila
kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, di dukung oleh bukti-
bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan untuk
39
mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan
kesimpulan yang kredibel (Sugiyono, 2017: 252)
40