JURNAL AGROMAST , Vol.2, No.
2, Oktober 2017
PEMBERIAN BERBAGAI JENIS UMPAN UNTUK MENGENDALIKAN HAMA TIKUS
DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT.
Pratama Saputra1, Idum Satia Santi2, E. Nanik Kristalisasi2
1
Mahasiswa Fakultas Pertanian INSTIPER
2
Dosen Fakultas Pertanian INSTIPER
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas berbagai jenis umpan yang dicampur
Rodentisida berbahan aktif Brodifakum 0,005% sebagai pengendalian hama tikus diperkebunan
kelapa sawit. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam usaha
pengendalian hama tikus diperkebunan kelapa sawit dan penghematan biaya operasional
perusahaan perkebunan. Penelitian dilakukan diperkebunan kelapa sawit rakyat, Desa Kepau Jaya,
Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. peneltian ini dilakukan selama 2 bulan,
dari bulan mei – july 2017. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 1 faktor
yaitu berbagai jenis umpan berupa nasi, ikan asin, jagung, dan ubi. Hasil penelitian menunjukan
bahwa racun tikus dengan umpan ikan asin paling disukai dari pada umpan lainya. Berturut – turut
yang habis dimakan dari jumlah terbanyak sampai sedikit adalah ikan asin, nasi, jagung, ubi, dan
kontrol.
Kata kunci: kelapa sawit, tikus, brodifakum, umpan.
PENDAHULUAN juga dapat mempengaruhi produktivitas
Kelapa sawit (Elaeis quineensis Jacq) kelapa sawit (Sukamto, 2008).
sangat penting artinya bagi Indonesia. Selama Budidaya tanaman kelapa sawit tidak
20 tahun terakhir tanaman kelapa sawit terlepas dari berbagai gangguan, salah satunya
menjadi komoditas andalan untuk adalah hama. Hama utama yang menyerang
meningkatkan pendapatan dab kesejahteraan tanaman kelapa sawit adalah dari golongan
petani Indonesia. Produksi tandan buah segar tikus dan serangga yang bisa menyebakan
(TBS), minyak sawit dan minyak inti sawit kerugian yang tidak sedikit pada perkebunan
yang terkandung pada setiap tanaman tidak kelapa sawit (Setyamidjaja dan Djoehana,
sama setiap tahunnya, tetapi berkembang 1991).
sesuai dengan umur tanamannya. Menurut Menurut Duryadi dan Tohari dalam
Balai Penelitian Marihat di Sumatera Utara Mutiarani (2009) kematian tanaman muda
bahwa panen tahun pertama sekitar 10-11 (TBM) akibat serangan tikus dapat mencapai
ton/ha/tahun dengan derajat ekstraksi dan 20% sehingga harus dilakukan penanaman
rendemen 16-18% dan akan meningkat pada ulang yang memerlukan biaya tambahan
tahun selanjutnya. Kelapa sawit paling untuk bibit dan tenaga kerja, serta
banyak digunakan untuk CPO dan PKO. Saat menyebabkan tertundanya masa
ini penggunaan kelapa sawit juga mengarah [Link] yang menghasilkan (TM),
pada biodiesel. Seiring dengan meningkatnya hama tikus mengerat bunga dan buah kelapa
harga minyak, sumber energi alternatif seperti sawit. Menurut Sipayung dkk dalam
biodiesel juga akan terus meningkat Dhamayanti (2009) seekor tikus mampu
(Pardamean, 2008). memakan daging buah kelapa sawit antara 5,5
Upaya untuk menigkatkan gram sampai 13,6 gram/hari.
produktivitas kelapa sawit tentu saja dapat Pengendalian tikus dapat dilakukan
dilakukan dengan berbagai macam cara. secara biologi yaitu dengan mendatangkan
Upaya tersebut umumnya disesuaikan dengan predator tikus tersebut. saat ini pengendalian
kondisi serta situasi setempat. Selain benih tikus secara alami di perkebunan kelapa sawit
yang bermutu, hama yang terdapat dilahan yang banyak dilakukan adalah dengan
JURNAL AGROMAST , Vol.2, No.2, Oktober 2017
menggunakan predator burung hantu dan ular. Sensus dilakukan apabila terdeteksi
Tetapi pada umumnya pengendalian hama adanya serangan tikus dilapangan. Peneliti
tikus ini menggunakan cara kimiawi, harus mengamati setiap pohon adanya bekas
pengendalian secara kimiawi dilakukan serangan baru pada buah kelapa sawit.
dengan menggunakan bahan kimiawi seperti Serangan baru ditunjukan adanya bekas
Coumatetralyl, Broadifocoum atau gigitan pada buah kelapa sawit.
Flocumafen. Merek dagangnya adalah 2. Tata Laksana
Tikumin, Klerat atau Storm dan petrokum. a. Melakukan sensus dengan cara melihat
Tikus merupakan hewan yang memiliki indra serangan hama tikus, yang dilihat dari
penciuman yang tajam sehingga dapat bekas gigitan buah kelapa sawit.
membedakan mana makanan dan racun, maka b. Melakukan persiapan umpan yang akan
penelitian ini mencoba untuk mencampur digunakan dalam penelitian.
rodentisida dengan berbagai jenis bahan c. Mencampur umpan yaitu dengan
sebagai umpan agar tikus tidak dapat menghancurkan rodentisida terlebih dahulu
membedakan racun yang telah dicampur dan menimbang berat umpan yang akan
kebahan makanan. Bahan makanan dan racun dicampur. rodentisida dan umpan dicampur
yang peneliti gunakan adalah nasi, ubi, ikan dan diaduk hingga merata.
asin, jagung, dan rodentisida berbahan aktif d. Umpan yang telah dicampur rodentisida
brodifakum 0,005% (kontrol). diletakan didalam wadah lalu umpan yang
telah disediakan diletakan dibagian ketiak
METODE PENELITIAN pelepah pokok Kelapa Sawit, untuk
Tempat dan Waktu Penelitian peletakan umpan dilakukan dengan cara
Lokasi penelitian berada di Random.
Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat, Desa e. Untuk pengamatan dilakukan sehari
Kepau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, setelah peletakan umpan. Pengamatan yang
Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Penelitian dilakukan seperti penimbangan sisa umpan
dilakukan selama 2 bulan, dari bulan Mei – dan mengamati jumlah tikus yang mati
Juli Tahun 2017. terkena umpan.
Alat dan Bahan Parameter di Amati
Alat yang digunakan dalam penelitian 1. Jumlah berat umpan yang dimakan.
adalah timbangan, wadah, dan sendok untuk 2. Intensitas serangan tikus.
pencampuran.
Bahan yang digunakan adalah HASIL DAN PEMBAHASAN
Petrokum sebagai racun, nasi, ikan asin, Dari penelitian yang sudah dilakukan
jagung, dan ubi sebagai bahan campuran. di Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat, Desa
Metode Penelitian Kepau Jaya, Kecamatan Siak Hulu,
Metode yang digunakan dalam Kabupaten Kampar, Provinsi Riau dapat
mengumpulkan data adalah dengan data diperoleh hasil sebagai berikut.
primer. Penangkapan tikus dilakukan dengan Aktivitas tikus setiap hari dalam
perangkap yang menggunakan Racangan acak orientasi kawasan ditempuh dalam jarak yang
lengkap (CRD/ Completely Randomize relatif sama dan disebut dengan jelajah harian
Design). Hasil pengamatan dianalisi dengan (home range). Selama orientasi kawasan,
uji Duncan pada jenjang 5%. Untuk tikus mengenali situasi lingkungan makanan
mengetahui efektifitas kinerja racun tikus yang disukai, sumber air, tempat untuk
menggunakan 1 faktor, setiap perlakuan istirahat dan berlindung (Brooks, 1969). Sifat
diulang sebanyak 10 kali, yang mana ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya
penelitian ini menggunakan 5 jenis umpan menjadikan tikus mengenal benda-benda
yaitu nasi, ikan asin, jagung, ubi, dan kontrol. asing di sekitarnya termasuk umpan beracun
Pelaksanaan Penelitian atau alat pengendali lainnya.
1. Sensus
JURNAL AGROMAST , Vol.2, No.2, Oktober 2017
Dalam proses mengenali dan Oleh karena itu, pengendalian tikus
mengambil pakan yang ditemukan atau yang dengan umpan beracun akut (racun yang
disediakan oleh manusia, tikus tidak langsung bekerja dengan cepat), perlu diawali dengan
memakan seluruhnya, terlebih dahulu hanya pemberian umpan yang tidak mengandung
dicicipi saja untuk merasakan reaksi yang racun. Hal ini bertujuan agar tikus menjadi
terjadi didalam tubuhnya. Setelah beberapa terbiasa dengan umpan yang diberikan
saat tidak terjadi reaksi yang membahayakan sehingga pada saat diberi umpan beracun
tubuhnya, maka tikus akan memakan dalam akut, tikus akan memakannya dalam jumlah
jumlah yang lebih banyak, demikian yang cukup banyak sampai dosis yang
seterusnya sampai pakan tersebut habis. mematikan.
Gambar 2. Tikus Memakan Buah Sawit (Sumber: Google)
Intesitas serangan tikus sampai Juli tersaji pada tabel 4 sebagi berikut
Data yang diperoleh dari lokasi :
penelitian pada tahun 2017 pada bulan Juni
Tabel 1. Data Intensitas Serangan Hama Tikus di Blok Penelitian
Blok Jumlah Pokok Terserang % Serangan
A 88 67 76,14
Berdasarkan Tabel 1. dapat dilihat tikus dengan intensitas serangan 76,14% perlu
bahwa intensitas serangan hama tikus pada mendapat penanganan secepatnya.
blok tersebut sebesar 76,14%. Menurut Fauzi Pengujian Umpan
(2012), kematian tanaman muda akibat Pengujian umpan menggunakan
serangan tikus dapat mencapai 20% dan Rodentisida berbahan aktif brodifakum
apabila ditemukan serangan sebanyak 5% dari 0.005% sebagai kontrol, dan umpan Nasi,
tanaman muda tindakan pengendalian perlu Ikan Asin, Jagung, Ubi yang dicampurkan
segera dilakukan. dengan Rodentisida berbahan aktif
Intensitas serangan tikus pada blok brodifakum 0.005% sebagai inovasi
tersebut termasuk sangat tinggi, hal ini percobaan dan perbandingan umpan mana
disebabkan kondisi blok adalah rawa dan yang lebih disukai atau banyak dikonsumsi
berada dekat dengan pemukiman warga. oleh hama tikus
Jumlah pokok 88 tanaman yang terserang
.
JURNAL AGROMAST , Vol.2, No.2, Oktober 2017
Gambar 3. Mempersiapkan racun Brodifakum beserta ikan asin, jagung,
nasi, dan ubi.
Masing – masing perlakuan tersebut Pengamatan dilakukan terhadap
diulangi sebanyak 10 kali. Setiap jumlah umpan yang dimakan dengan cara
pengulangan dilakukan 1 hari dan peletakan mengurangi bobot awal dengan bobot akhir
umpan dilakukan pada setiap pagi hari. umpan yang diberikan, termasuk yang
Pengambilan dan penimbangan umpan tercecer disekitar wadah umpan. Kemudian
dilakukan pada pagi dikeesokan harinya saat data tersebut dianalisis dengan anova. Bila
peletakan umpan kembali. Hasil pengamatan terdapat perbedaan nyata pada jenjang 5%,
harian dapat dilihat pada lampiran 1. maka dilanjutkan dengan uji Duncan untuk
mengetahui perlakuan yang berbeda nyata.
Gambar 4. Peletakan umpan diketiak pelepah pokok sawit
Tabel 2. Hasil Pengamatan Rerata Berat Umpan Yang dimakan
Pengamatan Hari Ke-
Perlakuan Rerata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Brodifakum 5 7 5 5 5 8 9 6 10 10 7d
Brodifakum+Nasi 25 20 28 30 27,5 31,5 28 33 35 30 28,8b
Brodifakum+Jagung 20 21 19 22 20 20 23 21 17b 18,5 20,15c
Brodifakum+Ikan
40 37,5 41 45 35 42,5 38 40 41,5 30 39,05a
Asin
Brodifakum+Ubi 10 15 12,5 10 10 9 8 9 9 10 10,25d
Angka yg diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada jenjang
5%
JURNAL AGROMAST , Vol.2, No.2, Oktober 2017
Dari hasil pengamatan tersebut dapat ikan asin berhasil daripada hanya
diketahui bahwa berat umpan yang dimakan menggunakan Rodentisida berbahan aktif
jenis ikan asin memiliki nilai rata - rata yang brodifakum 0.005% saja. Karena tikus
paling tinggi. Kemudian diikuti dengan memiliki kemampuan indera yang menunjang
umpan nasi dan umpan jagung, lalu diikuti aktiftas hidupnya. Terutama indera perasa
umpan ubi dan terakhir umpan kontrol tikus, yang dapat mendeteksi zat - zat pahit
berbahan aktif Brodifakum. Berdasarkan uji bersifat toksit sehingga tikus dapat menolak
Duncan, hasil pengujian umpan ikan asin racun. Hal ini menyebabkan tikus tidak
berbeda nyata terhadap konsumsi umpan nasi, mudah ditangkap menggunakan perangkap
jagung, ubi dan umpan kontrol. dengan umpan durat (racun tikus berbentuk
Hal ini menunjukan bahwa makanan).
penambahan ikan asin dengan racun yang Umpan lain yang disukai oleh tikus
berbahan aktif Brodifakum sangat efektif dari adalah umpan nasi dan umpan jagung. Pada
pada menggunakan umpan racun saja perlakuan umpan nasi dan umpan jagung ,
(kontrol) . Menurut Yekso (2014), hal ini jumlah umpan yang dikosumsi berbeda nyata
disebabkan karena kemampuan indera yang dengan umpan ubi, hal ini kemungkinan
dimiliki tikus sangat baik dalam mengenali terjadi karena tekstur dari umpan nasi itu
benda asing (umpan beracun), sehingga dalam sendiri yang lunak sehingga disukai oleh
proses pengendalian hama tikus tikus.
menggunakan perangkap yang berisi umpan
Berat Umpan yang dimakan
50
Berat Umpan yang dimakan (gr)
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Brodifakum Brodifakum+Nasi Brodifakum+Jagung
Brodifakum+Ikan Asin Brodifakum+Ubi
Gambar 5. Grafik Berat Umpan Habis dimakan
Berdasarkan data pengamatan jumlah yang paling sedikit dimakan adalah umpan
konsumsi umpan ikan asin dan umpan nasi brodifakum (kontrol).
lebih tinggi jika dibandingkan dengan umpan Pada pengujian brodifakum konsumsi
lainya. Hal ini dapat terlihat dari tampilan umpan ikan asin memiliki nilai rerata
grafik diatas yang menunjukkan bahwa angka tertinggi dibandingkan dengan umpan lainya
umpan brodifakum campuran ikan asin yang dan umpan nasi pada pengujian brodifakum
habis dimakan oleh tikus berada digrafik yang menempati urutan kedua setelah umpan
teratas, diikuti umpan brodifakum campuran ikan asin, hal ini terjadi karena aroma yang
nasi, umpan brodifakum campuran jagung, menyengat yang dikeluarkan oleh ikan asin
umpan brodifakum campuran ubi dan terakhir itu sendiri. serta kandungan gizi yang
JURNAL AGROMAST , Vol.2, No.2, Oktober 2017
terkandung didalam ikan asin sendiri. anus,telinga, dan bagian lainya
(Ahmad,2014) (Rochman,1992).
Pada perlakuan umpan control
menujukan tingkat kosumsi yang rendah
dibandingkan umpan lainya, hal ini terjadi KESIMPULAN
karena tikus memilih umpan yang berasal dari Dari penelitian ini dapat disimpulkan
makan manusia atau yang sering dijumpai bahwa racun tikus dengan umpan ikan asin
dihabitatnya dibandingkan umpan yang asing paling disukai dari pada umpan lainnya.
bagi mereka. Habitat agrosistem tanaman Berturut – turut umpan yang habis
pangan merupakan habitat yang cocok untuk dikonsumsi dari jumlah terbanyak sampai
perkembangan tikus.(Syamsuddin, 2007) sedikit adalah ikan asin, nasi, jagung, ubi, dan
Sifat tikus yang mudah curiga kontrol.
terhadap setiap benda yang ditemuinya
termasuk pakannya, disebut dengan Neo
phobia. Proses mengenali dan mengambil DAFTAR PUSTAKA
pakan yang diumpan oleh manusia, tikus tidak Anonim,
langsung makan seluruhnya, tetapi terlebih [Link]://[Link].i
dahulu dicicipi untuk merasakan reaksi yang d/download/one/325/file/Pengendalian
terjadi dalam tubuhnya. Jika beberapa saat -[Link]
tidak terjadi reaksi yang membahayakan pada Anonim 2017. [Link]
tubuhnya, maka tikus akan memakan sampai pembasmi-tikus-klerat-rm-b/
pakan tersebut habis. Selain itu, tikus lebih Brooks, J.E. 1969. Behavior of the Noray Rat
menyukai umpan dasar yang memiliki n its Signivicance in Control
kandungan karbohidrat dan protein yang Programs. Natl. Pest Control Assoc.
tinggi dibandingkan dengan rodentisida Tech.
(Syamsuddin, 2007). Dhamayanti, 2009. Kajian Sosial Ekonomi
Aplikasi rodentsida brodifakum Pengendalian Hama Tikus Pohon
menunjukan beberapa tikus mati dengan Rattus tiomanicus Miller dengan
kondisi perut bewarna kebiru - biruan pada Burung Hanti, Tyto alba, pada
perut dan kaki seperti bengkak. Sedangkan Perkebunan Kelapa Sawit. Seminar
hasil pengamatan rodentisida brodifakum Nasional Perlindungan Tanaman.
menunjukan laju mortalitas lambat. Hal ini Bogor.
terjadi karena kosumsi rodentisida ini akan Fauzi Yan, 2012. Kelapa Sawit Budidaya,
terlihat dalam waktu yang cukup lama yaitu Pemanfaatan hasil dan limbah, serta
lebih dari 24 jam (Harahab, 2006). analisis usaa dan pemasaran. Penebar
Cara kerja racun antikoagulan adalah Swadaya. Jakarta.
dengan mencegah proses pembentukan Fliert, E dan F. N. Soenarto, 1992.
prothombin yang dibutuhkan dalam proses Pengoraganisasian PHT Tikus yang
pembentukan sel darah merah. Untuk Efisien dan Efektif, Sebuah Program
pembentukan prothombin tersebut diperlukan Rintis. Prosiding Seminar
adanya vitamin A, sedangkan rodentisida Pengendalian Hama Tikus Terpadu.
antikoagulan bersifat sebagai anti vitamin A Bogor.
dengan demikian, apabila keaadan Liem JS, 1979. Prinsip Dasar Pengendalian
antikoagulan meningkan maka prothombin Hama Tikus. Fakultas Pertanian.
akan menurun sehingga cairan darah tidak Universitas Padjadjaran. Bandung.
akan membentuk sel darah merah. Cairan Muhammad Syafi’i, 2014. Pengendalian
darah tersebut keluar dari saluran urat darah hama tikus pada tanaman padi.
dan mengisi jaringan dan rongga tubuh, [Link] Samawa.
jaringan kulit, terutam sekitar mata, hidung, Sumbawa Besar.
JURNAL AGROMAST , Vol.2, No.2, Oktober 2017
Mutiarani, M. 2009. Perancangan dan Proboyekso, gathot anan. 2014. Gejala
Pengujian Perangkap, Pengujian Jenis serangan hama tikus disawah
Rodentisida dalam Pengendalian Tikus Universitas negeri Yogyakarta.
Pohon (Rattus tiomanicus Mill.), Jogjakarta.
Tikus Rumah (Rattus rattus diardii Rochman, 1992. Biologi dan Ekologi Tikus.
Linn.), dan Tikus Sawah (Rattus Seminar Pengendalian Hama Tikus
argentiventer Rob. & Klo.) di Terpadu. Bogor.
Laboratorium. Skripsi. Institut Setyamidjaja dan Djoehana, 1991. Budidaya
Pertanian Bogor. Bogor. Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta.
Pahan I, 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sukamto, 2008. 58 Kiat Meningkatkan
Sawit. Penebar Swadaya. Medan. Produktivitas dan Mutu Kelapa Sawit.
Pardamean, S. 2008. Panduan Lengkap Penebar Swadaya. Jakarta.
Pengelolaan Kebun dan Pabrik Kelapa
Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.