SKRIPSI
PENGARUH VIDEO MENSTRUAL HYGIENE TERHADAP PENGETAHUAN
DAN SIKAP PADA SISWI DI MAN 21 JAKARTA UTARA TAHUN 2021
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
DISUSUN OLEH :
Intan Ratu Fahira
11171010000028
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2021 / 1442
i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PROMOSI KESEHATAN
Skripsi, Juli 2021
Intan Ratu Fahira, NIM : 11171010000028
Pengaruh Video Menstrual Hygiene Terhadap Pengetahuan dan Sikap Pada Siswi
di MAN 21 Jakarta Tahun 2021
xv + 85 halaman, 10 tabel, 2 Bagan, 3 lampiran.
ABSTRAK
Praktik menstrual hygiene memerlukan penanganan yang baik dikarenakan saat
menstruasi pembuluh darah pada rahim mudah terinfeksi karena kuman mudah masuk
dan menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi. Pada tahun 2009, diperkirakan
bahwa angka kejadian Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) sekitar 2,3 juta kasus dan data
Kemenkes RI menunjukkan pada tahun 2017, jumlah kasus IMS dilaporkan sebanyak
14.493 kasus. Pengetahuan yang baik akan mempengaruhi sikap sehingga remaja dapat
menerapkan praktik menstrual hygiene dengan benar. Salah satu upaya untuk
meningkatkan pengetahuan adalah memberikan informasi melalui media video terkait
menstrual hygiene.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi pre-post test
yang dilakukan pada 50 siswi kelas 10 dan 11 MAN 21 Jakarta selama bulan Januari –
Juni 2021. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sigifikan terhadap
peningkatan nilai pengetahuan dan sikap siswi setelah diberikan intervensi dengan nilai
pengetahuan (p=0.000) dan nilai sikap (p=0.000).
Oleh karena itu, disarankan bagi pihak sekolah untuk memberikan edukasi
terkait menstrual hygiene dan bekerja sama kepada pihak tenaga kesehatan untuk
mengadakan penyuluhan kesehatan dan untuk siswi diharapkan untuk aktif dalam
mencari informasi menstrual hygiene.
Kata Kunci : Menstrual Hygiene, Media Vdeo, Pengetahuan, Sikap, ISR
Daftar Bacaan : 53 (2006-2020)
ii
FACULTY OF HEALTH SCIENCE
PUBLIC HEALTH STUDY POGRAM
MAJORING IN HEALTH PROMOTION
Undergraduated Thesis, July 2021
Intan Ratu Fahira, NIM : 11171010000028
The Effect of Menstrual Hygiene Videos on Knowledge and Attitudes Among
Female Students at MAN 21 Jakarta in 2021
xv + 85 pages, 10 tables, 2 charts, 3 attachments.
ABSTRACT
Menstrual hygiene practices require good handling because during menstruation
period the blood vessels in the uterus are easily infected because germs can easily enter
and cause diseases in the reproductive tract. In 2009, it was estimated that the incidence
of Reproductive Tract Infection (RTI) was about 2.3 million cases. Data from the
Ministry of Health of the Republic of Indonesia shows that in 2017, the number of STI
cases reported was 14,493 cases. Good knowledge will affect the attitudes thus
adolescents can do menstrual hygiene practices correctly. One of the efforts to increase
knowledge is by providing information through video media related to menstrual
hygiene.
This research was a quantitative study with a pre-post test study design
conducted among 50 students in grades 10 and 11 of MAN 21 Jakarta during January –
June 2021. The sampling technique used was simple random sampling.
The results showed that there was a significant effect on the increasing of
students' knowledge (p value=0.000) and attitudes (p value=0.000) after the intervention
was carried out.
Therefore, it is recommended that schools should provide education related to
menstrual hygiene and cooperate with health workers to conduct health education.
Furthermore, the students also need to be active in seeking menstrual hygiene
[Link] students' knowledge and attitudes after being given an
intervention with knowledge scores (p=0.000) and attitude scores (p=0.000).
Keyword : Menstrual Hygiene, video media, Knowledge, Attitude, RTI
Reading List : 53 (2006-2020)
iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS
v
PERNYATAAN PERSETUJUAN
PENGARUH VIDEO MENSTRUAL HYGIENE TERHADAP PENGETAHUAN
DAN SIKAP PADA SISWI DI MAN 21 JAKARTA UTARA TAHUN 2021
Skripsi ini telah disetujui dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Sidang Skripsi
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 31 Agustus 2021
Disusun Oleh:
Intan Ratu Fahira
NIM. 11171010000028
Menyetujui, Menyetujui,
Pembimbing Skripsi Ketua Program Studi
Catur Rosidati, MKM
Raihana Nadra Alkaff, [Link], MMA, [Link]
NIP. 197502102008012018
NIP. 197812162009012005
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021 M / 1442 H
vi
HALAMAN PENGESAHAN
SKRIPSI
PENGARUH MEDIA VIDEO TERKAIT INFORMASI MENSTRUAL HYGIENE
TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA SISWI DI MAN 21
JAKARTA UTARA TAHUN 2021
Disusun Oleh:
Intan Ratu Fahira
NIM. 11171010000028
Telah diujikan
Pada Tanggal 10 September 2021
Ketua Sidang
Narila Mutia Nasir, SKM., MKM., Ph.D
NIP. 198006042003122017
Penguji I, Penguji II,
Hoirun Nisa, [Link]., Ph.D Dela Aristi S,KM., MKM
NIP. 197904272005012005 NIDN. 200908802
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021 H/ 1442 M
vii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama Lengkap : Intan Ratu Fahira
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 24 Maret 1999
Alamat : Pondok Ungu Permai Blok AK 20 No. 6, RT005/013,
Babelan, Kabupaten Bekasi
Jenis Kelamin : Perempuan
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Email : Intan.ratuf17@[Link]
Telepon : 085776808824
Riwayat Pendidikan
2005 – 2011 : SDN Kaliabang Tengah III Kota Bekasi
2011 – 2014 : SMPIT Assu’adaa Kabupaten Bekasi
2014 – 2017 : MAN 21 Jakarta
2017 – 2021 : Peminatan Promosi Kesehatan
Jurusan Kesehatan Masyarakat
Fakultas Ilmu Kesehatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
viii
KATA PENGANTAR
Assalammualaikum [Link].
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT dan Nabi Muhammad SAW atas segala
limpahan karunianya serta hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan
penelitian skripsi dengan judul “Pengaruh Media Video Terkait Informasi Menstrual
Hygiene Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pada Siswi Di MAN 21 Jakarta Utara
Tahun 2021”. Peneliti menyadari bahwa penyusunan penelitian ini terwujud atas
bantuan, bimbingan, dukungan dan motivasi dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini
peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Allah SWT, atas berkah dan karunianya sehingga peneliti diberikan kemudahan juga
kelancarannya dalam menyelesaikan penelitian skripsi ini.
2. Kedua orang tua penulis yaitu, Firmansyah dan Nurmayasari dan adik kandung yaitu,
Amirul Mukminin dan Gusti Pangeran, juga teman terdekat Aldi Rangga Saputra
atas segala doa serta dukungan yang diberikan kepada peneliti sehingga peneliti
dapat menyelesaikan perkuliahan juga penelitian skripsi ini.
3. Ibu Dr. Zilhadia, MSi, Apt selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Catur Rosidati, [Link], [Link], Ph.D Selaku Ketua Program Studi Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Ibu Raihana Nadra Alkaff, SKM., MMA., Ph.D sebagai Dosen Pembimbing yang
banyak membantu serta memberi arahan, bimbingan juga dukungan selama
penyusunan penelitian skripsi.
ix
6. Ibu Narila Mutia Nasir, SKM., MKM., Ph.D, Ibu Hoirun Nisa, [Link]., Ph.D dan Ibu
Dela Aristi, SKM., MKM., sebagai Dosen Penguji yang selalu memberikan saran
dan kritik positif dalam perkembangan penelitian ini.
7. Ibu dan Bapak Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat yang telah membekali ilmu-ilmu
yang bermanfaat saat perkuliahan.
8. Teman-teman sambat yaitu, Shafira Rahmania, Inggar Ekaviani, Sekar Elok, Rizky
Wahyuni, Putri Mulia, Ria Diani dan Risma Meilina yang selalu mendengarkan
keluh kesah peneliti saat pengerjaan penelitian skripsi ini, terimakasih sudah mau
mendengarkan dan selalu menyemangati.
9. Teman-teman tempat berkeluh kesah yaitu Devi Januarista, Herdiani Novita D dan
Iqnes Restual yang selalu ada apabila peneliti membutuhkan hiburan, terimakasih
sudah mau menemani dan semoga selalu bahagia.
10. Teman-teman yang berjuang untuk hidup di dunia yaitu Mutiara Nurul, Dina Aulia,
Annisa F, Aslamiah, Fauziah H dan Rizky Awaliah. Semoga kita semua mampu
bertahan dan selalu bahagia.
11. Seluruh teman-teman peminatan Promosi Kesehatan dan Program Studi Kesehatan
Masyarakat Angkatan 2017 yang selalu menyemangati, mendukung dan memberikan
motivasi selama perkuliahan dan proses penyusunan proposal penelitian ini.
12. Teman-teman seperbimbingan “Bu Rai Squad” yang selalu menyemangati,
mendoakan juga bersama-sama memberikan arahan sehingga peneliti dapat
menyelesaikan penelitian ini.
Peneliti menyadari bahwa penyusunan dan penulisan skripsi penelitian ini masih
jauh dari kata sempurna sehingga sangat diharapkan kritik juga saran demi kemajuan
x
dan kesuksesan di masa yang akan datang. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat
untuk semua pihak.
Wasalammualaikum WR. WB.
Jakarta, Februari 2021
Intan Ratu Fahira
xi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ................................................................................................................................... ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ......................................................................................iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS .................................................................................................. v
PERNYATAAN PERSETUJUAN .............................................................................................vi
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................................................vii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP.................................................................................................. viii
KATA PENGANTAR .................................................................................................................ix
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL....................................................................................................................... xv
DAFTAR BAGAN ..................................................................................................................... xvi
BAB I ............................................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................................ 7
D. Manfaat Penelitian .......................................................................................................... 7
E. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................................................. 8
BAB II .......................................................................................................................................... 9
A. Remaja ............................................................................................................................. 9
1. Definisi Remaja ............................................................................................................. 9
2. Perubahan Pada Remaja ................................................................................................ 9
B. Menstruasi ..................................................................................................................... 11
1. Definisi Menstruasi ..................................................................................................... 11
2. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Menstruasi ................................................... 11
3. Fase Siklus Menstruasi ................................................................................................ 12
4. Gangguan Menstruasi .................................................................................................. 14
C. Perilaku Menstrual Hygiene ......................................................................................... 16
D. Dampak Perilaku Menstrual Hygiene yang Buruk Terhadap Kesehatan Reproduksi
21
E. Pengetahuan Menstrual Hygiene .................................................................................. 25
1. Definisi Pengetahuan................................................................................................... 25
xii
2. Tingkatan Pengetahuan ............................................................................................... 25
3. Penelitian Terkait Pengetahuan Menstrual Hygiene ................................................... 27
F. Sikap Menstrual Hygiene .............................................................................................. 27
1. Definisi Sikap .............................................................................................................. 27
2. Tingkatan Sikap........................................................................................................... 28
3. Penelitian Terkait Sikap Menstrual Hygiene............................................................... 29
G. Media Video Menstrual Hygiene .................................................................................. 29
1. Pengertian Media Video .............................................................................................. 29
2. Karateristik Media Video ............................................................................................ 30
3. Kelebihan dan Kelemahan Media Video..................................................................... 30
4. Penelitian Keefektifan Media Video Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap 32
H. Kerangka Teori ............................................................................................................. 34
BAB III ....................................................................................................................................... 37
A. Kerangka Konsep .......................................................................................................... 37
B. Definisi Operasional ...................................................................................................... 38
C. Hipotesis ......................................................................................................................... 40
BAB IV ....................................................................................................................................... 41
A. Desain Penelitian ........................................................................................................... 41
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................................................... 41
C. Populasi dan Sampel ..................................................................................................... 41
D. Teknik Sampling ........................................................................................................... 43
E. Metode Pengumpulan Data .......................................................................................... 43
F. Media Video ................................................................................................................... 45
G. Proses Intervensi ........................................................................................................... 45
H. Instrumen Penelitian ..................................................................................................... 46
I. Uji Validitas dan Reliabilitas ....................................................................................... 48
J. Manajemen Data ........................................................................................................... 51
K. Analisis Data .................................................................................................................. 53
L. Etik Penelitian ............................................................................................................... 54
BAB V......................................................................................................................................... 55
HASIL PENELITIAN .............................................................................................................. 55
A. Profil Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 21 Jakarta.................................................... 55
1. Sejarah Singkat MAN 21 Jakarta ................................................................................ 55
2. Visi dan Misi MAN 21 Jakarta ................................................................................... 56
xiii
B. Hasil Analisis Data ........................................................................................................ 57
1. Analisis Univariat .......................................................................................................... 57
2. Analisis Bivariat ........................................................................................................ 63
BAB VI ....................................................................................................................................... 65
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 65
A. Keterbatasan Penelitian................................................................................................ 65
B. Karateristik Responden ................................................................................................ 65
C. Pengaruh media video terkait informasi menstrual hygiene terhadap nilai
pengetahuan responden ........................................................................................................ 67
D. Pengaruh media video terkait informasi menstrual hygiene terhadap sikap
responden ............................................................................................................................... 69
E. Kajian Keislaman .......................................................................................................... 71
BAB VII...................................................................................................................................... 79
SIMPULAN DAN SARAN ....................................................................................................... 79
A. Simpulan ........................................................................................................................ 79
B. Saran............................................................................................................................... 80
LAMPIRAN ............................................................................................................................... 90
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional ………………………………………..……...…..38
Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas Variabel Pengetahuan ..........……………........…....49
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Variabel Sikap .........................................................50
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas Tiap Variabel .............………………....…….….51
Tabel 4.4 Kode Variabel .........................................................................................52
Tabel 5.1 Gambaran Karateristik Siswi MAN 21 Jakarta ......................................57
Tabel 5.2 Deskripsi Pengetahuan dan Sikap Siswi Sebelum dan Sesudah
Diberikan Media Video .........................................................................58
Tabel 5.3 Analisis Item Pertanyaan Variabel Pengetahuan Terkait Menstrual
Hygiene ...................................................................................................59
Tabel 5.4 Analisis Item Pertanyaan Variabel Sikap Terkait Menstrual
Hygiene ....................................................................................................61
Tabel 5.5 Pengaruh Media Video Terkait Informasi Menstrual Hygiene
Terhadap Pengetahuan dan Sikap Responden Sebelum Maupun
Sesudah Diberikan Intervensi ................................................................62
xv
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Teori ……………………………………………………...36
Bagan 3.1 Kerangka Konsep …………………………………………………..,.37
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pubertas adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa
dewasa. Pubertas pada perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi.
Menstruasi adalah haid pertama yang dialami perempuan yang umumnya terjadi
pada rentang usia 10-16 tahun dan ditandai dengan adanya perubahan tubuh
seperti pembesaran payudara, pinggul membesar, tumbuhnya rambut ketiak dan
rambut pubis. Menstruasi terjadi karena tidak adanya pembuahan sel telur
dengan sperma, sehingga lapisan dinding rahim yang sudah menebal menjadi
luruh (Pudiastuti, 2012).
Upaya yang dapat dilakukan oleh remaja usia sekolah setelah mengalami
menstruasi adalah menerapkan praktik menstrual hygiene. Menurut Clement
(2012) menstrual hygiene adalah bentuk perhatian atau perawatan simpatik,
emosional dan perhatian pada kebersihan diri saat menstruasi (Pertiwi &
Megatsari, 2018). Praktik menstrual hygiene memerlukan penanganan yang baik
dikarenakan saat menstruasi, pembuluh darah pada rahim mudah terinfeksi
karena kuman mudah masuk dan menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi
(A, 2017). Hal ini disebabkan karena saat menstruasi berlangsung, leher rahim
terbuka untuk keluarnya darah menstruasi dan keadaan tersebut dapat menjadi
jalur bakteri untuk masuk ke dalam rahim sehingga dapat meningkatkan
seseorang terkena risiko infeksi menular seksual (House et al., 2012).
1
2
Praktik menstrual hygiene yang buruk menyebabkan remaja berisiko 1,4
sampai 25,07 kali terkena Infeksi Saluran Reproduksi (Sumpter & Torondel,
2013). Ini dibuktikan dengan data bahwa pada tahun 2009, diperkirakan bahwa
angka kejadian Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) sekitar 2,3 juta kasus (Berman
et al., 2009). Berdasarkan data WHO, lebih dari 1 juta IMS didapatkan setiap
hari. Pada tahun 2016, WHO memperkirakan sekitar 376 juta infeksi baru
dengan 1 dari 4 IMS yaitu klamidia (127 juta), kencing nanah (87 juta), sifilis
(6,3 juta), trikomoniasis (156 juta), herpes (500 juta) dan HPV pada wanita (300
juta) (WHO, 2020). Untuk wilayah Asia Tenggara, pada tahun 2008
diperkirakan 8 juta orang dewasa terinfeksi trikomoniasis, 9.3 juta orang
terinfeksi gonorhea, 12.3 juta terinfeksi sifilis dan 28.7 juta terinfeksi
Trichomonas vaginalis (WHO, 2008).
Menurut data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun
2017 jumlah kasus IMS dilaporkan sebanyak 14.493 kasus (Kemenkes RI,
2017). Pada tahun 2010, jumlah kasus IMS di Provinsi DKI Jakarta untuk
penyakit sifilis sebanyak 436 kasus dan pada tahun 2011 mengalami
peningkatan sebesar 605 kasus (Cicilia & Ismoyowanti, 2015).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh UNICEF tahun 2015 pada 16
sekolah di 4 provinsi di Indonesia tmenyatakan bahwa di daerah perkotaan
hanya 2/3 remaja putri yang mengganti pembalut setidaknya 4-8 jam sekali atau
setiap kali kotor, untuk daerah pedesaan 41% remaja putri mengganti
pembalutnya 4-8 jam sekali, sisanya 46% remaja putri mengganti pembalut
kurang dari dua kali sehari. Hal tersebut menandakan masih terdapat perilaku
3
buruk dalam mengganti pembalut sebagai salah satu upaya menjaga menstrual
hygiene (UNICEF, 2015). Selain dampak pada kesehatan, penelitian UNICEF
mengatakan bahwa ketidakcukupan air untuk mencuci, fasilitas sanitasi yang
buruk seperti toilet yang kecil dan tidak bersih serta kurangnya privasi yang
menyebabkan remaja putri tidak ingin mencuci pembalut di sekolah sehingga
saat menstruasi mereka memilih untuk tidak berangkat ke sekolah.
Perilaku menstrual hygiene tidak lepas kaitannya dari faktor-faktor yang
menyebabkan seseorang melakukan atau tidak melakukan menstrual hygiene
secara benar. Menurut Notoatmodjo (2014) perubahan perilaku kesehatan dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang
dalam berperilaku diantaranya adalah faktor pemudah (predisposisi), faktor
penguat (reinforcing) dan faktor pendukung (enabling).
Kurangnya pengetahuan terhadap sistem reproduksi khususnya
menstruasi berdampak pada sikap individu menghadapi menstruasi. Hal ini
dikarenakan, pengetahuan akan membawa remaja putri untuk berusaha siap saat
mengalami menstruasi (Rhomawati et al., 2014). Seperti penelitian yang
dilakukan oleh Lestariningsih (2015) didapatkan bahwa dari 117 siswi kelas
VIII di SMP Negeri 1 Terbanggi Besar Lampung Tengah sebanyak 48 siswi
(41%) memiliki pengetahuan yang kurang terkait praktik personal hygiene saat
menstruasi dan sebanyak 69 siswi (59%) memiliki pengetahuan baik terkait
praktik personal hygiene saat menstruasi.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Yunus & Parahita (2018) di SMP
Negeri 10 Pangkalpinang didapatkan hasil bahwa 33,8% siswi memiliki
4
pengetahuan kurang terkait perilaku menstrual hygiene, 26% siswi memiliki
pengetahuan cukup dan 40% siswi memiliki pengetahuan baik dan sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Devita & Kardiana (2017) menyebutkan
bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan personal hygiene saat
menstruasi pada siswi di MA Hasanah Pekanbaru.
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek apabila
seseorang dihadapkan dengan suatu stimulus yang menimbulkan respons. Sikap
positif cenderung mendorong seseorang berperilaku positif dan sebaliknya, sikap
negatif cenderung mendorong seseorang berperilaku negatif (Putri &
Setianingsih, 2016). Seperti penelitian yang dilakukan oleh Pemiliana et al.
(2019) pada 45 siswi di SMA Etislandia Medan menunjukkan bahwa 22 siswi
(48,9%) memiliki sikap positif terhadap personal hygiene saat menstruasi dan 23
siswi (51,1%) memiliki sikap negatif terhadap personal hygiene saat menstruasi
seperti beberapa siswi membersihkan alat kelamin dengan air bersih dari
belakang (anus) ke depan (vagina).
Pengetahuan terkait menstrual hygiene dapat ditingkatkan melalui
berbagai upaya, salah satunya yaitu dengan memberikannya media promosi
kesehatan, yaitu media video. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yumaeroh
& Susanti (2019) menunjukkan mean pada pretest pengetahuan sebelum
diberikan media video sebesar 10,13 dan pada post-test setelah diberikan media
video sebesar 16,58. Hal tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
pengetahuan remaja setelah diberikan informasi melalui media video. Pemberian
informasi menstrual hygiene dengan menggunakan media video dilakukan
5
sebanyak dua kali kepada sasaran penelitian agar penyerapan informasi dapat
berjalan dengan maksimal. Didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh
Andriani (2020) pada anak usia sekolah dasar dengan memberikannya intervensi
sebanyak dua kali didapatkan hasil bahwa ada pengaruh intervensi dengan
menggunakan media video terhadap pengetahuan dan sikap anak.
Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Yusnita & Nurmaria
(2016) di Lampung yang membuktikan perbedaan pengaruh memberikan
informasi dengan media poster, video maupun leaflet pada peningkatan
pengetahuan PHBS didapatkan hasil bahwa kenaikan rata-rata post-test
menggunakan media poster sebesar 17,32 lalu rata-rata post-test menggunakan
media leaflet sebesar 11,64 dan rata-rata post-test menggunakan media video
sebesar 62,60. Hal ini membuktikan bahwa media video lebih efektif untuk
meningkatkan pengetahuan remaja putri. Menurut Larassati & Rumintang
(2018) semakin dewasa seseorang, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih baik dalam berpikir sehingga hal tersebut akan mempengaruhi
perilaku seseorang sehingga dapat mendukung proses pelaksanaan pemberian
informasi kesehatan melalui media video.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada bulan
Oktober 2020, dari 38 responden siswi MAN 21 Jakarta Utara yang telah
mengalami menstruasi, sebesar 60.5% (23) responden tidak mengetahui apa itu
perilaku menstrual hygiene, sebesar 34.2% (13) responden tidak mengganti
pembalut minimal 4-5 jam sekali, lalu sebesar 26.3% (10) responden tidak
mencuci tangan sebelum mengganti pembalut dan sebesar 15.8% (6) responden
6
tidak mencuci tangan sesudah mengganti pembalut. Lalu, setengahnya
responden yaitu 50% (19) responden tidak keramas saat menstruasi dan 63.2%
(24) responden tidak menggunting kuku saat menstruasi. Ini membuktikan
bahwa perilaku menstrual hygiene siswi masih buruk
Penelitian terkait perilaku menstrual hygiene sudah banyak diteliti baik
faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku menstrual hygiene maupun
gambaran terkait perilaku menstrual hygiene. Tetapi, masih banyak yang belum
menggali terkait media yang tepat untuk digunakan dalam menyampaikan
informasi menstrual hygiene pada siswi di bangku sekolah menengah atas.
Dikarenakan penelitian ini berfokus pada pemberian intervensi melalui
media video peneliti mengambil perubahan pengetahuan dan sikap yang dapat
diukur dalam waktu cepat. Walaupun perilaku tidak dapat diukur dengan waktu
yang cepat, pengetahuan suatu memori dan sikap pada saat itu dapat diukur
dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui
lebih lanjut terkait Pengaruh Video Menstrual Hygiene Terhadap Pengetahuan
dan Sikap Pada Siswi Di MAN 21 Jakarta Utara Tahun 2021.
B. Rumusan Masalah
a) Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap siswi di MAN 21 Jakarta
Utara tahun 2021 terkait informasi menstrual hygiene sebelum diberikan
video?
b) Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap siswi di MAN 21 Jakarta
Utara tahun 2021 terkait informasi menstrual hygiene sesudah diberikan
video?
7
c) Bagaimana pengaruh media video terhadap tingkat pengetahuan dan sikap
siswi di MAN 21 Jakarta Utara tahun 2021 terkait informasi menstrual
hygiene?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh video menstrual hygiene terhadap
pengetahuan dan sikap pada siswi di MAN 21 jakarta utara tahun 2021
2. Tujuan Khusus
a) Diketahuinya gambaran pengetahuan dan sikap siswi di MAN 21
Jakarta Utara tahun 2021 terkait informasi menstrual hygiene
sebelum diberikan video.
b) Diketahuinya gambaran pengetahuan dan sikap siswi di MAN 21
Jakarta Utara tahun 2021 terkait informasi menstrual hygiene
sesudah diberikan video.
c) Diketahuinya pengaruh media video terhadap tingkat
pengetahuan dan sikap siswi di MAN 21 Jakarta Utara tahun
2021 terkait informasi menstrual hygiene.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswi di MAN 21 Jakarta Utara
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswi
sehingga memiliki kesadaran untuk melakukan perilaku menstrual
hygiene yang baik sehingga tidak terjadi dampak yang ditimbulkan
apabila tidak menerapkan menstrual hygiene. Selain itu, penelitian ini
8
dapat menjadi bahan edukasi dan informasi bagi siswi agar lebih peduli
terhadap kesehatan reproduksinya untuk upaya pencegahan gejala serta
penyakit akibat perilaku menstrual hygiene yang buruk.
2. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pustaka
sekaligus masukan terkait pendidikan kesehatan untuk pihak sekolah
dalam upaya meningkatkan perilaku menstrual hygiene pada siswi.
3. Bagi Peneliti dan Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan peneliti dan peneliti selanjutnya serta dapat dijadikan
sebagai bahan acuan penelitian selanjutnya terkait perilaku menstrual
hygiene maupun beberapa hal yang berkaitan.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh video menstrual
hygiene terhadap pengetahuan dan sikap pada siswi di MAN 21 Jakarta Utara
tahun 2021. Adapun responden pada penelitian ini ialah siswi kelas 10 dan 11 di
MAN 21 Jakarta Utara. Pengambilan data primer menggunakan metode
kuesioner dalam jaringan (google form) dengan melakukan intervensi melalui
media video menstrual hygiene yang disebar pada bulan Januari-Juni 2021.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi Pre-Post Test
dan menggunakan teknik Simple Random Sampling sebagai metode
pengambilan sampel
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja
1. Definisi Remaja
Masa remaja yaitu masa perubahan atau peralihan dari kanak-kanak
menuju masa dewasa yang meliputi adanya perubahan biologis, psikologis
maupun perubahan sosial. Masa remaja umumnya dimulai pada usia 10-13
tahun dan berakhir pada rentang usia 18-22 tahun. Menurut World Health
Organization (WHO) remaja dapat diartikan sebagai individu yang sedang
mengalami masa peralihan untuk mencapai kematangan seksual, mengalami
adanya perubahan jiwa dari jiwa kanak-kanak menjadi dewasa dan
mengalami adanya perubahan keadaan ekonomi dari memiliki
ketergantungan menjadi lebih mandiri (Notoatmodjo, 2015).
Remaja yaitu anak yang berusia 13-25 tahun, dimana usia 13 tahun yaitu
batas usia pubertas yang secara biologis sudah mengalami kematangan
seksual. Usia 25 tahun yaitu usia yang secara psikologis dan sosial remaja
sudah mampu mandiri (Notoatmodjo, 2015).
2. Perubahan Pada Remaja
Ada dua aspek dalam perubahan remaja, menurut Notoatmodjo (2015)
dua aspek tersebut yaitu :
a. Perubahan Fisik (Pubertas)
9
10
Masa remaja diawali dengan adanya pubertas, pubertas adalah
terjadinya perubahan fisik yang dapat diamati seperti pertambahan tinggi
dan berat badan atau yang biasa disebut pertumbuhan pada remaja dan
kematangan seksual hasil dari perubahan hormonal. Pada remaja
perempuan, kematangan seksual tejadi pada usia 9-15 tahun ditandai
dengan menarche (menstruasi pertama), dada membesar, tumbuh rambut
kemaluan dan pembesaran pada panggul.
b. Perubahan Psikologis
Masa peralihan antara masa kanak-kanak menjadi masa dewasa
sering kali membuat remaja dihadapkan pada situasi yang
membingungkan, di satu sisi ia masih kanak-kanak dan di sisi lain ia
harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-situasi tersebut dapat
menimbulkan konflik yang menyebabkan remaja dapat bertingkah laku
aneh, canggung dan kalau tidak dikontrol dapat menimbulkan kenakalan.
Masa remaja sering disebut masa krisis, masa pancaroba juga pencarian
identitas.
Pada masa remaja, labilnya emosi berkaitan dengan perubahan
hormonal dalam tubuh. Remaja sering merasakan marah, sensitif, bahkan
perbuatan nekad. Ketidakstabilan emosi ini membuat remaja mempunyai
rasa ingin tahu dan mencari tahu. Pertumbuhan intelektual pada remaja
membuat mereka bersikap kritis, tersalur melalui sikap yang bersifat
eksperimen dan eksploratif. Sikap seperti ini jika diarahkan dengan baik
akan membuat remaja mandiri, cerdas juga berguna.
11
B. Menstruasi
1. Definisi Menstruasi
Menstruasi merupakan pendarahan vagina secara berkala akibat
terlepasnya lapisan endometrium uterus sekitar 14 hari (Hijrah, 2015).
Menstruasi juga dapat diartikan sebagai kondisi pendarahan pada perempuan
karena tidak adanya pembuahan sel telur oleh sperma, sehingga lapisan
dinding rahim (endometrium) yang menebal untuk persiapan kehamilan
menjadi luruh. Dikarenakan seorang perempuan tidak mengalami kehamilan,
maka siklus menstruasi terjadi setiap bulannya (Sinaga et al., 2017).
Menarche atau menstruasi pertama kali yang dialami oleh remaja putri
biasanya terjadi pada rentang usia 10-16 tahun yang merupakan pergantian
antara masa anak-anak menjadi masa remaja (Sularmi et al., 2014). Seorang
perempuan akan mengalami menarche diikuti dengan pertumbuhan fisik
yang ditandai oleh tumbuhnya rambut pada ketiak dan daerah vagina,
pertumbuhan payudara, serta panggul mulai melebar. Selain perubahan fisik,
organ reproduksi juga mengalami perkembangan dan perubahan untuk
mempersiapkan menarche (Sularmi et al., 2014).
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa menstruasi
adalah keadaan normal keluarnya darah dari organ reproduksi perempuan
karena tidak dibuahi oleh sperma yang terjadi setiap bulan.
2. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Menstruasi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi menstruasi, menurut Kusmiran
(2012) yaitu :
12
a. Faktor Hormon
Hormon-hormon yang mempengaruhi menstruasi pada perempuan
yaitu luteinizing hormone (LH) yang dihasilkan oleh hipofisis, folicle
stimulating hormone (FSH) yang dikeluarkan oleh hipofisis dan ovarium
yang menghasilkan hormon steroid yaitu estrogen dan progesteron.
b. Faktor Enzim
Di endometrium terdapat enzim hidrolitik yang merusak sel dan
berperan di dalam sintesis protein untuk mengganggu metabolisme yang
mengakibatkan regresi endometrium dan juga pendarahan.
c. Faktor Prostaglandin
Di dalam endometrium terdapat banyak prostaglandin E2 dan F2.
Adanya disentegrasi dalam endometrium, prostaglandin dapat terlepas
dan menyebabkan berkontraksinya miometrium sebagai faktor untuk
membatasi pendarahan pada menstruasi.
d. Faktor Vaskular
Pembentukan sistem vaskularisasi dalam lapisan fungsional
endometrium terjadi pada fase poliferasi yang mengakibatkan terjadinya
nekrosis dan pendarahan dengan pembentukan hematom.
3. Fase Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama seorang
perempuan menstruasi sampai datang menstruasi periode berikutnya (Sinaga
et al., 2017). Dalam prosesnya, siklus menstruasi terbagi menjadi empat fase
13
yang pasti dialami oleh perempuan. Menurut Khamzah (2015) empat fase
tersebut yaitu :
a. Fase Menstruasi
Fase menstruasi adalah fase pertama dalam siklus menstruasi. Pada
fase ini, dinding rahim luruh disertai dengan keluarnya darah dan
berlangsung dari hari ke1 sampai hari ke-7. Fase menstruasi terjadi
karena ovum tidak dibuahi oleh sperma sehingga korpus luteum
menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Menurunnya
produksi hormon estrogen dan progesteron ini mengakibatkan lepasnya
ovum dari endometrium yang disertai luruhnya endometrium sehingga
terjadi pendarahan. Darah yang keluar saat menstruasi berlangsung
berkisar antara 50-150 ml.
b. Fase Praovulasi
Fase kedua siklus menstruasi adalah fase praovulasi yang disebut
juga sebagai fase follicular dan terjadi antara hari ke-1 menstruasi
sampai ovulasi. Jika tak ada kehamilan, maka masuk ke fase
pascaovulasi. Pada fase ini terjadi adanya pematangan ovum dalam
ovarium setelah sebelumnya terjadi pembentukan sel telur. Pematangan
ovum terjadi karena adanya kadar estrogen yang meningkat dalam tubuh.
Fase ini berlangsung mulai dari hari ke-7 sampai hari ke-13.
c. Fase Ovulasi
Terjadinya fase ini ketika sel telur sudah matang dan siap untuk
dibuahi atau fase ini bisa disebut sebagai masa suburnya seorang
14
perempuan. Seorang perempuan biasanya mengalami ovulasi sekitar 14
hari sebelum dimulainya menstruasi.
d. Fase Pascaovulasi
Fase pascaovulasi akan datang apabila tidak terjadinya
pembuahan pada fase ovulasi. Fase pascaovulasi ini bisa disebut masa
kemunduran karena sel telur tidak dibuahi oleh sperma (fertilisasi). Jika
fertilisasi tidak terjadi, maka siklus menstruasi akan kembali pada fase
pertama yaitu fase menstruasi.
4. Gangguan Menstruasi
Ada beberapa gangguan menstruasi yang dialami oleh perempuan.
Menurut Manuaba et al. (2009) gangguan smenstruasi dibedakan menjadi
dua yaitu :
a. Gangguan Jumlah Darah dan Lama Haid
1) Hipermenorea
Jumlah darah yang dikeluarkan cukup banyak dari menstruasi
normal, dapat dilihat dari gumpalan darah dan jumlah pembalut yang
dipakai. Penyebab terjadinya hipermenorea pada perempuan
kemungkinan terdapatnya polip endometrium, pembesaran rahim
atau penebalan dinding rahim.
2) Hipomenorea
Jumlah darah yang dikeluarkan sedikit dari darah yang
dikeluarkan saat menstruasi normal. Penyebab terjadinya
15
hipomenorea kemungkinan adanya kondisi perempuan yang
kekurangan gizi atau penyakit tertentu.
b. Gangguan Siklus Menstruasi
1) Polimenorea
Siklus menstruasi yang sering terjadi pada wanita dan abnormal.
Siklus ini lebih pendek dari menstruasi normal yaitu kurang dari 21
hari dengan pendarahan kurang lebih sama.
2) Oligomenorea
Siklus menstruasi ini lebih lama dari menstruasi normal yaitu
melebihi 35 hari. Jumlah pendarahan kurang lebih sama dan
penyebab siklus menstruasi ini adalah adanya gangguan hormonal.
3) Amenorea
Siklus menstruasi ini yaitu keterlambatan menstruasi pada
perempuan lebih dari 3 bulan berturut-turut. Amenorea primer terjadi
ketika seorang perempuan tidak mengalami menstruasi sejak kecil
dan penyebabnya adalah kelainan anatomis alat kelamin (tidak
terbentuknya rahim, tidak ada liang vagina ataupun gangguan
hormonal). Amenorea sekunder terjadi ketika seorang perempuan
pernah mengalami menstruasi dan selanjutnya berhenti lebih dari 3
bulan dan penyebabnya yaitu gangguan hormonal, gangguan gizi dan
metabolisme, adanya tumor alat kelamin atau penyakit menahun.
Lalu amenorea fisiologis terjadi ketika seorang perempuan sejak
16
lahir sampai menarkhe, terjadi saat kehamilan atau menyusui sampai
batas tertentu dan mati haid.
C. Perilaku Menstrual Hygiene
Perilaku dalam aspek biologis adalah suatu aktivitas organisme yang
bersangkutan dan perilaku manusia hakikatnya adalah aktivitas dari dirinya
sendiri yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Secara
operasional perilaku yaitu respon seseorang atau organisme terhadap suatu
rangsangan (stimulus) dari luar objek (Notoatmodjo, 2015).
Menstrual hygiene adalah bentuk perhatian atau perawatan simpatik,
emosional dan perhatian pada kebersihan diri saat menstruasi. Perilaku yang
termasuk dalam menstrual hygiene diantaranya adalah perawatan area
genital, personal hygiene, pembalut, diet hingga olahraga. (Pertiwi &
Megatsari, 2018). Menstrual hygiene pada remaja menjadi isu kritis sebagai
determinan status kesehatan remaja yang nantinya akan berpengaruh pada
kehidupan masa tua karena menstrual hygiene yang buruk menjadi faktor
risiko terjadinya masalah kesehatan seperti infeksi alat reproduksi
(Lestariningsih, 2015).
Menjaga kebersihan diri saat menstruasi merupakan aspek penting dari
pendidikan terkait kesehatan bagi remaja putri karena pola yang ditanamkan
pada masa remaja cenderung bertahan sampai dewasa. Praktek-praktek yang
berhubungan dengan kebersihan saat menstruasi bukan hanya penggunaan
pembalut dan mencuci darah genitalia saja tetapi, kebersihan diri secara
menyeluruh sehingga tidak menyebabkan adanya masalah kesehatan ataupun
17
masalah organ genitalia seperti gatal disekitar alat kemaluan hingga bau
tidak sedap (Gustina & Djannah, 2015).
Ada beberapa perawatan diri yang perlu diperhatikan selama menstruasi.
Menurut House, et al. (2012) perempuan harus mengganti pembalut
setidaknya 4-6 jam sekali agar pembalut dapat menyerap darah secara
maksimal dan organ reproduksi tidak lembab sehingga tidak menjadi sumber
bakteri. Selain itu juga, pembalut yang digunakan harus bersih dan memiliki
bahan yang lembut serta nyaman. Perempuan perlu mandi 2 kali sehari
disertai mencuci rambut setidaknya 2 kali sehari agar rambut tidak lembab
dan kotor. Terkait sarana prasarana, perlu adanya fasilitas yang nyaman
untuk mencuci dan mengganti pembalut, ketersediaan air bersih yang
memadai serta adanya sabun untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah
mengganti pembalut.
Menurut UNICEF (2016) ada beberapa rhal yang perlu dilakukan saat
menstruasi berlangsung bagi remaja putri yaitu :
1. Saat pertama kali menstruasi hendaknya berkomunikasi dengan orangtua
ataupun keluarga dan jangan khawatir.
2. Gunakan pembalut sekali pakai ataupun pembalut kain. Pembalut sekali
pakai hanya dapat digunakan sekali pemakaian dan harus dibuang.
Pembalut kain dapat digunakan berkali-kali dengan cara mencucinya
hingga bersih setelah menggunakannya.
3. Gantilah pembalut setiap 3-4 jam sekali saat menstruasi berlangsung agar
tidak menimbulkan bau tidak sedap dan penyakit pada vagina.
18
4. Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah
mengganti pembalut.
5. Mandi dengan mencuci rambut, membasuh badan menggunakan sabun
dan sikat gigi agar tubuh bersih.
Menstrual hygiene tidak hanya membersihkan organ yang berkaitan
dengan alat reproduksi saja melainkan berkaitan dengan seluruh aspek tubuh
yang dimiliki. Menurut Sinaga et al (2017) beberapa tindakan yang harus
diperhatikan saat menstruasi berlangsung seperti :
1. Perawatan kulit dan wajah
Wajah merupakan bagian yang sensitif saat menstruasi dikarenakan
kelenjar sebascus meningkat sehingga produksi kelenjar minyak akan
meningkat. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mencuci muka 2-3 kali
sehari untuk mencegah timbulnya jerawat pada wajah.
2. Kebersihan Rambut
Mencuci rambut saat menstruasi sangat dianjurkan karena saat
menstruasi berlangsung, kulit kepala mengalami adanya perubahan
hormon.
3. Kebersihan Tubuh
Kebersihan tubuh saat menstruasi perlu diperhatikan seperti mandi 2
kali sehari dengan menggunakan sabun dan air bersih. Sangat dianjurkan
jika perempuan mengalami nyeri haid sebaiknya mandi dengan air
hangat. Saat mandi, perlunya membersihkan organ reproduksi terluar
19
dengan membasuh menggunakan air bersih. Ketika membasuh organ
reproduksi, terutama setelah buang air besar (BAB) diharuskan
membasuhnya dari arah depan ke belakang (dari vagina ke arah anus)
karena jika dilakukan sebaliknya, kuman dari anus akan akan terbawa ke
depan dan dapat masuk ke dalam vagina. Saat membersihkan vagina
tidak perlu menggunakan cairan pembersih karena cairan tersebut dapat
mendatangkan bakteri yang menyebabkan infeksi. Apabila menggunakan
sabun, diperlukan sabun dengan pH 3,5 contohnya sabun bayi.
Selanjutnya vagina dapat dikeringkan dengan tissue toilet.
4. Kebersihan pakaian sehari-hari
Celana dalam yang baik yaitu berbahan katun dan tidak ketat juga
dapat mencover daerah pinggul agar dapat menompang pembalut dengan
kuat. Pemakaian celana dalam yang ketat dapat membuat sirkulasi udara
terhambat sehingga dapat menyebabkan keringat yang membuat vagina
lembab.
5. Penggunaan pembalut
Saat awal menstruasi, biasanya darah yang keluar sangat banyak.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengganti pembalut lebih dari 3 kali
sehari atau durasi waktunya 3-4 jam sekali. Jika pembalut jarang diganti,
pembalut akan kotor oleh darah dan ini menyebabkan bakteri dan jamur
dapat bersarang di sekitar pembalut. Saat menggunakan pembalut sekali
pakai maka sebelum dibuang hendaknya dicuci terlebih dahulu lalu lipat
dan gulung dengan rapih, kemudian dibungkus kertas dan masukkan ke
20
kantung plastik dan buang ke tempat sampah. Tidak diperbolehkan untuk
membuang di kloset kamar mandi.
6. Mencuci celana dalam saat menstruasi
Saat menstruasi terkadang celana dalam lebih kotor dari biasanya
dikarenakan adanya bercak darah yang menempel dan sulit dihilangkan.
Untuk mengatasinya, celana dalam dapat dicuci dengan air hangat lalu
tambahkan sabun mandi atau sabun mild agar bercak darah lebih cepat
hilang. Tidak dianjurkan memakai deterjen karena akan mengubah sifat
dari celana dalam. Jika bercak darah sulit dihilangkan, celana dalam
dapat direndam selama setengah jam sebelum dicuci.
Selain itu, penting mengetahui bagaimana membersihkan organ
reproduksi pada perempuan selama menstruasi. Menurut Sinaga et al
(2017) yaitu :
1. Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah
mengganti pembalut.
2. Membasuh organ reproduksi dengan air bersih dari arah depan (vagina)
ke arah belakang (anus) agar kuman yang ada di anus tidak berpindah ke
daerah vagina.
3. Keringkan vagina dengan tissue toilet ataupun handuk yang berbahan
halus agar tidak lembab.
4. Pakailah pembalut yang bersih dan nyaman.
21
Dikarenakan aspek penggunaan pembalut sangat penting selama
menstruasi, berikut adalah tips menerapkan kebersihan pembalut menurut
Hanifah & Utami (2012) :
1. Gunakan pembalut yang tidak mengandung gel karena dapat
menyebabkan iritasi pada daerah vagina.
2. Beli pembalut di tempat yang tertutup agar kebersihan terjaga.
3. Simpan pembalut di tempat yang kedap udara agar kotoran tidak dapat
masuk.
4. Dianjurkan untuk mengganti pembalut saat menstruasi setiap 3-4 jam
sekali agar terhindar dari iritasi.
5. Saat mengganti pembalut, cucilah dengan bersih kemudian bungkus
dengan kertas dan buanglah ke tempat sampah. Untuk pembalut kain,
rendam dengan air hangat.
D. Dampak Perilaku Menstrual Hygiene yang Buruk Terhadap Kesehatan
Reproduksi
Perilaku menstrual hygiene yang buruk dapat menimbulkan berbagai
penyakit, salah satunya yait penyakit Infeksi saluran reproduksi. Perempuan
dalam kelompok usia reproduksi memiliki risiko terhadap penyakit Infeksi
Saluran Reproduksi (ISR) yaitu saat mengalami menstruasi, kehamilan dan
persalinan. Menurut Puspitaningrum (dalam Nisa et al., 2020) penyebab utama
penyakit ISR yaitu imunitas yang lemah (10%), perilaku personal hygiene yang
kurang saat menstruasi (30%) dan penggunaan pembalut yang kurang sehat saat
menstruasi (50%).
22
Infeksi saluran reproduksi disebabkan oleh organisme yang berada di
saluran reproduksi seperti bakteri, virus maupun jamur. Menurut Kemenkes RI
(2016) berdasarkan penyebaran infeksi, ISR memiliki beberapa jenis diantaranya
adalah :
a) Infeksi Endogen
Menurut Yayasan Mitra Inti dan Kelompok Studi Penyakit Menular
Seksual Indonesia (2006) Infeksi Endogen yaitu pertumbuhan berlebih dari
organisme yang berada pada kondisi normal di saluran reproduksi seperti :
1) Kandidiasis Vulvovaginatis
Gejala yang dapat dilihat dari penyakit ini adalah cairan vagina
kental berwarna putih tampak seperti susu basi bergumpal, organ
reproduksi terasa gatal, vulva merah dan bengkak. Penyebab dari
penyakit ini yaitu sejenis jamur Candida albicans.
2) Vaginosis Bakterial
Gejala yang dapat dilihat dari penyakit ini adalah cairan organ
reproduksi berwarna keabu-abuan dan berbau amis, vulva terasa gatal.
Penyebab dari penyakit ini yaitu campuran Gardnerella vaginalis dan
bakteri anaerob.
b) Infeksi Menular Seksual (IMS)
Infeksi menular seksual yaitu infeksi yang ditularkan melalui hubungan
seksual (Hanifah & Utami, 2012). Diantaranya adalah :
1) Gonore (Kencing nanah)
23
Gejala yang dilihat pada penyakit ini seperti keputihan kental
warna kekuningan dan kadang-kadang terasa nyeri di rongga panggul.
Penyebab dari gonore yaitu bakteri Neisseria gonorrhoeae.
2) Sifilis (Raja singa)
Gejala yang timbul jika mengalami sifilis yaitu ada tiga tahap :
1. Primer
Munculnya bisul pada minggu pertama hingga keenam di bagian
tubuh yang tersentuh luka sifilis orang lain tetapi tidak
menimbulkan rasa sakit dan tetap bisa menularkan sifilis ke orang
lain.
2. Sekunder
Munculnya ruam atau gatal pada kulit yang mengandung bakteri
sehingga orang yang tersentuh dapat tertular. Gejala lainnya yaitu
demam, sakit kepala, radang tenggorokan dan rambut rontok.
Walaupun gejala ini akan hilang tetapi dapat muncul dikemudian
hari dan tetap bisa menularkan ke orang lain.
3. Tersier
Orang yang terinfeksi akan mengalami gejala yang parah karena
bakteri dapat merusak otak, jantung, mata, hati, tulang dan sendi.
3) Klamidia
Gejala yang timbul yaitu cairan vagina encer dan berwarna putih
kekuningan, rasa nyeri di rongga panggul dan mengalami pendarahan
24
setelah berhubungan seksual. Penyebab dari infeksi ini yaitu bakteri
Chiamydia trachomatis.
4) Herpes Genital
Saat orang pertama kali terinfeksi herpes, gejala yang muncul
yaitu tidak nafsu makan, nyeri saat kencing, demam, pusing dan lemas.
Bentol-bentol akan muncul lima tahun kemudian. Penyebab herpes
yaitu Virus Herpes simplex.
5) Trikomoniasis
Gejala yang timbul adalah cairan vagina encer, berwarna kuning
kehijauan, berbusa dan berbau busuk. Vulva bengkak, kemerahan dan
gatal sehingga tidak membuat nyaman. Penyakit ini disebabkan oleh
protozoa yaitu Trichomonas vaginalis.
6) Human Papiloma Virus (HPV)
HPV memiliki tipe yang beragam, yaitu HPV yang menyebabkan
kanker dan HPV yang menyebabkan adanya kutil kelamin. HPV yang
menyebabkan kanker sering disebut “infeksi diam” karena tidak ada
gejala yang jelas sehingga seseorang yang mengalaminya tidak akan
menyadarinya. HPV yang menyebabkan kutil kelamin tidak akan
menyebabkan kanker.
7) HIV&AIDS
Gejala yang akan timbul jika seseorang mengalami HIV yaitu
pada dua hingga empat minggu seseorang akan mengalami flu dan tidak
ada gejala hingga bertahun-tahun sehingga seseorang yang
25
mengalaminya tidak akan menyadarinya. Gejala yang mungkin muncul
hanya diare, hilangnya berat badan, radang tenggorokan, sariawan,
nyeri otot, sakit kepala hingga lemas.
c) Infeksi Iatrogenik (PRP)
Infeksi yang terjadi karena dilakukannya tindakan medis seperti aborsi
yang tidak sesuai atau proses persalinan yang tidak dilakukan dengan benar.
E. Pengetahuan Menstrual Hygiene
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil “tahu” yang terjadi setelah seseorang telah
melakukan pengindraan terhadap objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pancaindra manusia seperti indra pendengaran, penglihatan, penciuman,
rasa dan raba. Perilaku yang didasarkan pada pengetahuan akan bertahan
lama daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo,
2015).
Pengetahuan yang kurang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan
seseorang. Jika pengetahuan baik maka sikap yang diterapkan akan baik dan
jika pengetahuan buruk maka sikap yang diterapkan akan buruk. Bila
pengetahuan menstrual hygiene seseorang buruk maka akan berisiko terkena
penyakit saluran reproduksi (Devita & Kardiana, 2017).
2. Tingkatan Pengetahuan
Berikut merupakan tingkatan pengetahuan menurut Notoatmodjo (2015)
yaitu :
1) Tahu (know)
26
Tahu yaitu mengingat kembali materi yang dipelajari sebelumnya
ataupun rangsangan yang telah diterima. Tingkat ini merupakan
tingkatan pengetahuan paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang
telah mempelajari sesuatu pada sebelumnya dapat menanyakannya pada
kata kerja seperti menguraikan sesuatu, mendefinisikan sesuatu atau
menguraikan sesuatu.
2) Memahami (comprehension)
Memahami merupakan kemampuan untuk menjelaskan dan
mengintrepetasikan materi yang diketahui secara benar.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi merupakan kemampuan menggunakan materi yang
dipelajari sebelumnya pada kondisi sebenarnya.
4) Analisis (Analysis)
Analisis merupakan kemampuan untuk menjabarkan materi yang
dipelajari sebelumnya kedalam komponen-komponen, tetapi masih
dalam struktur organisasi tersebut dan berkaitan satu sama lain.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian kedalam keseluruhan bentuk yang baru.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap materi yang berdasarkan pada kriteria-kriteria
tertentu.
27
3. Penelitian Terkait Pengetahuan Menstrual Hygiene
Banyak remaja yang memiliki pengetahuan minim terkait personal
hygiene saat menstruasi. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Yumaeroh
& Susanti (2019) didapatkan bahwa remaja putri memiliki pengetahuan
kurang terkait menstrual hygiene dengan didapatkan sebanyak 48 responden
(77%). Hal ini dibuktikan dengan banyaknya remaja putri yang sering
menggunakan pantyliner daripada pembalut dan remaja putri tidak
mengetahui bahwa adanya jamur atau kutu disekitar alat kelamin
dikarenakan manajemen kebersihan menstruasi yang buruk. Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiyaningrum & Putri (2015) yang
didapatkan hasil bahwa 46,1% (47 responden) mengetahui tentang
menstrual hygiene dan sebanyak 53,9% (55 responden) tidak mengetahui
menstrual hygiene.
F. Sikap Menstrual Hygiene
1. Definisi Sikap
Sikap yaitu respon atau reaksi seseorang yang masih tertutup terhadap
stimulus dan objek. Sikap tidak dapat dilihat secara langsung tetapi dapat
ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup (Notoatmodjo, 2015).
Sikap seseorang dapat menunjukkan suka atau tidak sukanya orang tersebut
terhadap objek melalui suatu tindakan yang dilakukan (Lestariningsih,
2015).
Menurut Allport (dalam Notoatmodjo, 2015) sikap memiliki tiga
komponen pokok yaitu :
28
a) Kepercayaan, ide dan konsep terhadap objek.
b) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap objek.
c) Kecenderungan untuk bertindak.
Komponen ini memiliki peranan penting terhadap sikap seseorang
untuk membentuk suatu sikap yang utuh (total attitude). Aspek seperti
pengetahuan, berpikir, kepercayaan dan emosi memegang peranan penting
untuk membentuk sikap.
2. Tingkatan Sikap
Ada empat tingkatan terkait sikap menurut Notoatmodjo (2015) yaitu
sebagai berikut :
1) Menerima (receiving)
Menerima yaitu seseorang (subjek) mau dan memperhatikan suatu
stimulus yang diberikan (objek).
2) Merespons (responding)
Merespons yaitu memberi jawaban apabila ada yang bertanya,
mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh orang
lain. Karena usaha untuk menjawab seseorang itu bermakna bahwa orang
tersebut merespons sikap.
3) Menghargai (valuing)
Menghargai yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan dan
mendiskusikan suatu hal.
4) Bertanggung jawab (responsible)
29
Bertanggung jawab atas segala hal yang dipilih dengan segala risiko
yang siap dihadapi merupakan suatu sikap yang paling tinggi.
3. Penelitian Terkait Sikap Menstrual Hygiene
Sikap merupakan suatu hal yang dilakukan seseorang untuk bertindak.
Sikap terkait menstrual hygiene remaja putri sangat jauh dari kata cukup.
Banyaknya remaja putri yang memiliki pengetahuan minim mengakibatkan
sikap yang mereka lakukan juga tidak baik. Seperti penelitian yang
dilakukan oleh Lestariningsih (2015) bahwa sekitar 57 responden (48.7%)
memiliki sikap yang negatif terhadap menstrual hygiene.
G. Media Video Menstrual Hygiene
1. Pengertian Media Video
Media merupakan sebuah alat saluran komunikasi yang memiliki tujuan
untuk membantu dan mempermudah keperluan dan aktivitas bagi yang akan
memanfaatkannya. Kata “media” yaitu berasal dari bahasa latin dan bentuk
jamak dari kata medium. Secara harfiah, media berarti perantara, yaitu
perantara antara sumber pesan dengan penerima pesan (Indriana, 2011).
Istilah video berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “vidi” atau “visum”
yang memiliki arti melihat atau mempunyai daya penglihatan (Munir,
2012). Video merupakan media dengan tipe audio visual yang melibatkan
unsur gerak dan dapat menyampaikan pesan yang besifat edukatif.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan diatas adalah bahwa
Suatu media yang dapat menyampaikan pesan atau informasi kesehatan
30
yang mengandung unsur audio dan visual sehingga dapat dikemas dengan
sangat menarik.
2. Karateristik Media Video
Media video memiliki karateristik yang berbeda dengan media lain.
Untuk menghasilkan sebuah media yang dapat menyampaikan informasi
dengan menarik dan benar, maka media video mempunyai karateristik.
Menurut Haryoko (2009) video mempunyai karateristik secara umum,
antara lain :
a) Menampilkan gambar dengan gerak dan suara secara bersamaan.
b) Mampu menampilkan sebuah benda yang tidak mungkin masuk ke
suatu tempat dimana pemberian informasi berlangsung karena benda
terlalu besar (misalkan; gunung), terlalu kecil (misalkan; bakteri),
terlalu abstrak (misalkan; bencana), terlalu rumit (misalkan; proses
produksi barang), terlalu jauh (misalkan; kehidupan di kutub), dan lain
sebagainya.
c) Mampu mempersingkat proses, misalnya proses penyemaian padi
hingga panen.
d) Memungkinkan adanya sebuah rekayasa yaitu animasi.
3. Kelebihan dan Kelemahan Media Video
Menurut Siregar, et. al (2020) sebuah media memiliki kelebihan juga
kelemahannya masing-masing, begitu juga dengan media video. Berikut
kelebihan dan kelemahan media video yaitu :
a) Kelebihan
31
1) Media video memberikan sebuah stimulus pada pancaindra
penglihatan dan pendengaran, pancaindra yang menyalurkan
pengetahuan paling banyak keotak yaitu mata sebesar 75%-87%
melainkan pancaindra lain dapat menyalurkan pengetahuan hanya
sebesar 13%-25% sehingga materi yang disampaikan dapat
maksimal.
2) Media video mampu menampilkan dan menjelaskan suatu proses,
kejadian di masalalu atau sejarah di masa lampau.
3) Media video dapat diakses dimana saja, kapan saja dan oleh siapa
saja jika dimasukkan kedalam platform media sosial.
4) Pembuatan video menggunakan berbagai kreatifitas seperti teknik-
teknik warna, gerak lambat atau animasi sehingga dapat menarik
perhatian.
5) Media video lebih realistis karena dapat ditonton secara berulang
kali atau dihentikan sesuai dengan kebutuhan.
6) Media video dapat menarik minat penonton, menghemat waktu
karena dapat diputar secara langsung dan dapat dinikmati berkali-
kali tanpa mengubah isi video.
b) Kelemahan
1) Biaya produksinya relatif mahal.
2) Membutuhkan ide, konsep dan kreatifitas yang perlu dipikirkan
secara matang.
32
3) Membutuhkan waktu yang lama untuk membuat dan mengedit
video.
4) Partisipasi jarang diperhatikan.
4. Penelitian Keefektifan Media Video Terhadap Peningkatan Pengetahuan
dan Sikap
Pemberian informasi kesehatan kepada remaja putri dapat dilakukan
dengan berbagai upaya salah satunya yaitu dengan diberikannya media
video terkait menstrual hygiene. Penggunaan media video sangat efektif
untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap siswi karena media video
melibatkan banyak alat indera untuk menerima lalu mengolah informasi
sehingga semakin besar isi informasi maka semakin mudah informasi
tersebut dimengerti (Rosyidah & Winarni, 2016).
Pemilihan media video sebagai media pemberian informasi menstrual
hygiene dikarenakan media ini mengandung audio maupun visual yang
menarik dan tidak monoton dengan menampilkan gambar, gerak dan suara
sehingga remaja putri memiliki ketertarikan untuk melihat isi video yang
ditampilkan (Kapti et al., 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Hartati et al. (2020) terkait personal
hygiene saat menstruasi pada siswi di MTS Kota Langsa menunjukkan
bahwa media video sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan
sikap siswi dibuktikan sebelum diadakannya intervensi, siswi menjawab
pertanyaan pengetahuan dengan skor nilai tertinggi yaitu 15 dan setelah
diberikan intervensi mengalami peningkatan dengan skor nilai tertinggi
33
yaitu 17. Untuk pertanyaan sikap, sebelum diadakannya intervensi dengan
media video siswi mendapat skor yaitu 50 dan setelah diberikan intervensi
skor mengalami peningkatan menjadi 63.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kapti et al
(2013) pada ibu yang memiliki balita di dua rumah sakit Kota Malang
dengan memberikannya intervensi terkait diare pada balita dengan
menggunakan media video. Didapatkan hasil bahwa rata-rata nilai
pengetahuan dan sikap ibu mengalami peningkatan sesudah diberikan media
video. Sebelum diberikan media video rata-rata nilai pengetahuan sebesar
19,46 dan sesudah diberikan media video mengalami peningkatan sebesar
82,31 dan untuk rata-rata nilai sikap sebelum diberikan media video sebesar
10,47 dan mengalami peningkatan sesudah diberikan media video sebesar
87,07.
Penelitian yang dilakukan oleh Alini & Indrawati (2018) terkait
efektivitas media baik media video maupun media leaflet didapatkan bahwa
rata-rata nilai pengetahuan sebelum diberikan media video terkait SADARI
pada remaja putri sebesar 7,89 dan sesudah diberikan media video terkait
SADARI meningkat menjadi 11,33. Pada media leaflet, sebelum diberikan
media leaflet rata-rata pengetahuan remaja putri terkait SADARI sebesar
6,17 dan sesudah diberikan leaflet sebesar 9,78.
34
H. Kerangka Teori
Lawrence Green dan Kreuter mengembangkan model pendekatan yang
digunakan untuk mendiagnosis masalah kesehatan, penetapan prioritas masalah
serta evaluasi perilaku untuk intervensi kesehatan yaitu PRECEDE
(Predisposing, Reinforcing and Enabling Causes in Educational Diagnosis and
Evaluation) dan PROCEED (Policy, Regulatory, Organizational Construct in
Educational and Environmental Development) yang digunakan untuk kriteria,
pelaksanaan dan evaluasi kebijakan (Notoatmodjo, 2014).
Perilaku manusia menurut Teori Green dipengaruhi oleh tiga faktor
utama yaitu faktor predisposisi, faktor reinforcing dan faktor enabling
(Notoatmodjo, 2014). Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku,
yaitu :
1) Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi atau faktor pemudah adalah faktor yang mendasari
terjadinya perilaku manusia. Faktor ini mencakup pengetahuan, sikap,
tradisi atau kepercayaan masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan,
sistem nilai yang dianut oleh masyarakat sekitar, tingkat sosial ekonomi,
tingkat pendidikan, dll (Notoatmodjo, 2014).
2) Faktor Reinforcing
Faktor reinforcing yaitu faktor penguat untuk terjadinya perilaku
tertentu. Faktor penguat dapat menjadi positif maupun negatif tergantung
pada kemampuan individu yang berkaitan. Faktor ini bukan hanya dari diri
sendiri melainkan meliputi sikap dan perilaku lingkungan sekitar seperti
35
keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, tenaga kesehatan maupun
undang-undang atau peraturan pemerintah yang berkaitan dengan kesehatan
(Notoatmodjo, 2014).
3) Faktor Enabling
Faktor enabling atau pendukung merupakan faktor pemungkin. Faktor ini
dapat mempermudah atau menghambat seseorang untuk memiliki niat
dalam merubah perilaku tertentu. Faktor enabling mencakup ketersediaan
sarana dan prasarana terkait kesehatan, paparan informasi maupun
kemampuan ekonomi. (Notoatmodjo, 2014).
Berdasarkan tinjauan teori, maka penelitian ini menggunakan Teori
Green dimana perubahan perilaku dipengaruhi oleh faktor predisposisi, faktor
reinforcing dan faktor enabling sebagai teori yang digunakan untuk
menggambarkan faktor yang mempengaruhi perilaku menstrual hygiene. Bagan
dari teori Green yaitu :
36
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Sumber : Teori Green dan Kreuter (dalam Notoatmodjo, 2014)
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Dari kerangka teori disebutkan bahwa banyak faktor yang dapat
mempengaruhi perilaku menstrual hygiene. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa faktor pengetahuan dan sikap menjadi salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi perilaku seseorang dimana kedua faktor tersebut dapat
ditingkatkan melalui pemberian intervensi kesehatan. Peneliti tidak melakukan
penelitian untuk melihat perubahan perilaku responden dikarenakan variabel
perilaku memerlukan waktu yang lama dan tidak bisa dilakukan hanya dalam
sekali intervensi.
Bagan 3.1 Kerangka Konsep
Sebelum Intervensi Perlakuan
Sesudah Intervensi
1. Pre test pengetahuan
Memberikan video 1. Post-Test pengetahuan
terkait menstrual hygiene
kesehatan terkait terkait menstrual hygiene
2. Pre test sikap terkait menstrual hygiene 2. Post-Test sikap terkait
menstrual hygiene
menstrual hygiene
37
38
B. Definisi Operasional
Tabel 3.2 Definisi Operasional
Definisi Operasional Alat Cara Skala
No Variabel Ukur Ukur Hasil Ukur
Ukur
Variabel Independen
1 Pengetahuan Hal yang diketahui Kuesioner Memberikan Skor Interval
Pre Test oleh responden terkait (google 15 pertanyaan Nilai
kebersihan diri saat form) terkait
menstruasi sebelum pengetahuan
diberikan media video menstrual
menstrual hygiene hygiene
seperti, definisi
menstruasi, rentang
usia menarche,
mencuci tangan
sebelum dan sesudah
mengganti pembalut,
cara membasuh organ
reproduksi, frekuensi
mengganti pembalut,
frekuensi mengganti
celana dalam, bahan
celana dalam saat
menstruasi, alat dan
bahan untuk
membersihkan organ
reproduksi,
membersihkan
rambut saat
menstruasi,
memotong kuku saat
menstruasi, cara
membuang pembalut
sekali pakai dan
dampak jika tidak
menerapkan perilaku
menstrual hygiene.
39
2 Sikap Pendapat responden Kuesioner Memberikan Skor Interval
Pre Test sebelum diberikan (google 12 pernyataan Nilai
media video form) terkait sikap
menstrual hygiene menstrual
terhadap pentingnya hygiene
perilaku kebersihan
diri saat menstruasi.
Variabel Dependen
1 Pengetahuan Hal yang diketahui Kuesioner Memberikan Skor Interval
Post-Test oleh responden terkait (google 15 pertanyaan Nilai
kebersihan diri saat form) terkait
menstruasi sesudah pengetahuan
diberikan media video menstrual
menstrual hygiene hygiene
seperti, definisi
menstruasi, rentang
usia menarche,
mencuci tangan
sebelum dan sesudah
mengganti pembalut,
cara membasuh organ
reproduksi, frekuensi
mengganti pembalut,
frekuensi mengganti
celana dalam, bahan
celana dalam saat
menstruasi, alat dan
bahan untuk
membersihkan organ
reproduksi,
membersihkan
rambut saat
menstruasi,
memotong kuku saat
menstruasi, cara
membuang pembalut
sekali pakai dan
dampak jika tidak
menerapkan perilaku
menstrual hygiene.
40
2 Sikap Pendapat responden Kuesioner Memberikan Skor Interval
Post-Test sesudah diberikan (google 12 pernyataan Nilai
media video form) terkait sikap
menstrual hygiene menstrual
terhadap pentingnya hygiene
perilaku kebersihan
diri saat menstruasi.
C. Hipotesis
a. Ada perbedaan pengetahuan siswi sebelum dan sesudah diberikan media
video terkait perilaku menstrual hygiene.
b. Ada perbedaan sikap siswi sebelum dan sesudah diberikan media video
terkait perilaku menstrual hygiene.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan
desain studi Pre-Post Test. Peneliti menggunakan desain studi Pre-Post Test
dikarenakan responden akan diberikan intervensi berupa media video menstrual
hygiene lalu mengisi kuesione pre test maupun post-test.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
21 Jakarta Utara dan waktu pengumpulan data dilakukan pada bulan Januari
hingga bulan Juni tahun 2021.
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh unsur yang menjadi subjek penelitian, sedangkan
sampel adalah sebagian dari jumlah atau karateristik populasi yang akan diteliti
dan ditarik kesimpulan (Masturoh & Anggita, 2018). Populasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah siswi di MAN 21 Jakarta Utara kelas 10 dan 11
berjumlah 246 siswi tahun ajaran 2020-2021. 246 siswi ini merupakan eligible
populasi yaitu populasi yang dapat memenuhi kriteria inklusi maupun kriteria
eksklusi. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu siswi yang sudah
mengalami menstruasi.
41
42
Untuk menghitung besar sampel, jumlah sampel minimal ditentukan
menggunakan rumus uji hipotesis beda rata-rata berpasangan (paired) yaitu
sebagai berikut :
2
𝜎2 [𝑍1−𝛼/2 + 𝑍1−𝛽 ]
𝑛=
(µ1 − µ2)2
Keterangan :
n : Jumlah sampel minimal yang diperlukan
𝑍1−𝛼/2 : Derajat kemaknaan 5%
𝑍1−𝛽 : Kekuatan uji (95%) = 1,64
𝜎 : Standar deviasi skor pengetahuan = 1,482 (Meidiana et al. 2018)
µ1 : Rata-rata skor pengetahuan sebelum intevensi = 8,60 (Meidiana et al.
2018)
µ2 : Rata-rata skor pengetahuan sesudah intevensi = 9,40 (Meidiana et al.
2018)
Berdasarkan pertimbangan besar sampel diatas, maka sampel minimum
yang didapatkan dari uji hipotesis beda rata-rata berpasangan yaitu dibutuhkan
sebanyak 45 sampel. Untuk mengantisipasi hilangnya kuesioner atau adanya
data yang kurang maka sampel ditambahkan sebesar 10% menjadi 50 sampel.
Sebelumnya pada penelitian ini, peneliti memiliki 100 sampel yang
berpartisipasi dan terbagi menjadi dua kelompok yaitu 50 sampel pada
43
kelompok kontrol dan 50 sampel pada kelompok intervensi. Namun untuk
kepentingan penelitian, peneliti hanya menampilkan kelompok intervensi yang
berjumlah 50 sampel.
D. Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan
simple random sampling. Adapun langkah-langkah untuk menentukan sampel
penelitian adalah :
1) Peneliti meminta daftar absen kepada pihak sekolah yang digunakan sebagai
kerangka sampel untuk mengundi sampel.
2) Setelah menghitung besar sampel dan didapatkan sebanyak 50 sampel
peneliti mulai melakukan pengundian sampel.
3) Pengundian sampel dilakukan dengan menggunakan software microsoft
excel sesuai dengan kelas sampel lalu pada kolom excel akan dibuat tabel
untuk mengundi sampel penelitian dengan rumus yang sudah disediakan
oleh microsoft excel.
E. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan oleh
peneliti ada dua cara, yaitu metode pengumpulan data primer dan data sekunder.
1. Data Primer
Pengumpulan data secara primer pada penelitian ini dilaksanakan dengan
memberikan intervensi atau perlakuan berupa video kesehatan pada siswi di
MAN 21 Jakarta Utara. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa
44
kuesioner pretest dan posttest dalam bentuk google form secara daring. Siswi
yang terpilih melalui metode simple random sampling akan dimasukkan
kedalam grup Whatsapp sebagai sampel penelitian. Pada hari pertama
dilakukannya penelitian, peneliti akan membagikan link zoom meeting dan
tiap responden harus masuk kedalam zoom meeting tersebut. Saat seluruh
responden sudah masuk ke dalam zoom meeting peneliti akan membagikan
kuesioner pretest melalui google form untuk diisi oleh responden sekitar 10
menit lalu disusul dengan menayangkan video dan memberikan kuesioner
posttest. Pada hari kedua peneliti hanya menyebarkan media video menstrual
hygiene dengan memberikan link akun youtube peneliti yang bersifat pribadi
dan hanya bisa ditonton oleh responden ke whatsapp group. Pada hari ketiga,
peneliti kembali memberikan link zoom meeting kepada responden dan tiap
responden harus masuk ke dalam zoom meeting. Setelah seluruh responden
masuk, peneliti menayangkan video kesehatan lalu memberikan posttest
untuk diisi kembali kepada responden.
2. Data Sekunder
Metode pengumpulan data secara sekunder oleh peneliti dilakukan
dengan mencari dan mengumpulkan sumber referensi penunjang penelitian
seperti data-data terkait faktor yang berhubungan dengan menstrual hygiene,
data IMS mulai dari tingkat global, regional, nasional hingga tingkat
provinsi serta menelaah berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan
topik penelitian ini.
45
F. Media Video
Peneliti tidak mengembangkan media video dari awal melainkan hanya
mengambil video dari sumber lain menggunakan platform youtube untuk
mencari video yang layak. Setelah menemukan beberapa video yang bersumber
dari platform youtube milik UNICEF, HIPWEE dan Poltekkes Kemenkes III,
peneliti lalu mengedit dan menggabungkan video tersebut sesuai dengan
kebutuhan penelitian. Video terkait informasi menstrual hygiene berdurasi 06.39
menit dan diawali dengan pembukaan video yang menjelaskan kesehatan
reproduksi, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi bagi remaja, cara menjaga
kesehatan reproduksi lalu menjelaskan menstruasi dan diakhiri dengan
memberikan informasi terkait menstrual hygiene yang benar. Pada saat
berlangsungnya intervensi, responden pada penelitian ini menonton video
melalui dua platform yaitu pada hari pertama dan terakhir, responden menonton
video melalui zoom meetings yang diputar oleh peneliti. Lalu pada hari kedua,
peneliti hanya membagikan link youtube kepada responden di grup Whatsapp
untuk ditonton kembali.
G. Proses Intervensi
1. Peneliti membuat video terkait menstrual hygiene. Video yang dibuat adalah
video gabungan yang bersumber dari platform youtube dan diedit kembali
oleh peneliti sesuai dengan kebutuhan penelitian.
2. Berkunjung ke sekolah tempat sasaran penelitian untuk memberikan surat
dan menanyakan kepada wakil kesiswaan/guru BK daftar absensi dan nomor
telepon kelas 10 dan 11.
46
3. Membuat grup whatsapp berisi 50 responden yang sudah dipilih melalui
teknik simple random sampling.
4. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama 3 hari dimulai dari tanggal 14
Juni 2021 sampai 16 Juni 2021.
5. Pada hari pertama penelitian tepatnya hari senin, 14 Juni 2021 pukul 14.20
WIB peneliti memberikan link zoom meetings ke grup whatsapp dan
menunggu responden masuk ke dalam zoom meetings selama 10 menit. Pada
pukul 14.30 peneliti membuka kegiatan lalu memberikan pretest untuk diisi
oleh responden selama 10 menit. Setelah itu, peneliti menayangkan video
menstrual hygiene.
6. Pada hari kedua penelitian, tepatnya hari selasa, 15 Juni 2021 pukul 19.00
WIB peneliti membagikan video menstrual hygiene dengan link akun
youtube peneliti yang bersifat pribadi ke grup whatsapp responden.
7. Pada hari ketiga penelitian, tepatnya hari rabu, 16 Juni 2021 pukul 14.20
WIB peneliti kembali membagikan link zoom meetings dan menunggu
responden untuk masuk ke dalam zoom meetings. Lalu setelah itu peneliti
menayangkan video kesehatan dilanjut dengan pengisian post-test.
H. Instrumen Penelitian
a) Kuesioner
Kuesioner dalam penelitian ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan dengan pengetahuan dan sikap terkait menstrual hygiene pada
siswi di MAN 21 Jakarta Utara. Kuesioner dalam penelitian ini bersifat
tertutup sehingga responden hanya dapat menjawab pertanyaan sesuai
47
dengan apa yang telah disediakan oleh peneliti. Kuesioner penelitian akan
dibuat dalam bentuk (Google Form) dan berisi persetujuan (Informed
Consent). Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
beberapa item pertanyaan peneliti membuat sendiri berdasarkan video
menstrual hygiene yang didapat juga mengadopsi dari penelitian Yadav et
al., (2017) dan Yiadom et al., (2018) disesuaikan dengan kebutuhan peneliti
dan telah di uji kembali validitas dan reabilitasnya.
b) Pengukuran
1) Pengetahuan
Variabel ini diukur dengan menggunakan kuesioner yang terdiri
dari pertanyaan dengan tipe jawaban benar atau salah. Hasil akhirnya
berupa penetapan nilai pengetahuan berdasarkan total nilai yang
diperoleh. Setiap jawaban responden yang benar akan diberi nilai 1
dan jawaban salah diberi nilai 0. Nilai terendah yaitu 0 dan nilai
tertinggi 15 apabila responden menjawab pertanyaan dengan benar.
2) Sikap
Variabel ini diukur dengan menggunakan skala likert. Dalam
kuesioner tedapat dua pernyataan yaitu pernyataan yang mengarah ke
menstrual hygiene yang benar (favorable) dan pernyataan yang tidak
mengarah ke menstrual hygiene yang benar (unfavorable). Kedua
pernyataan ini memiliki 4 pilihan jawaban tetapi memiliki penilaian
yang berbeda yaitu :
a) Pernyatan bersifat favorable :
48
1 : Sangat Tidak Setuju
2 : Tidak Setuju
3 : Setuju
4 : Sangat Setuju
b) Pernyataan bersifat unfavorable :
1 : Sangat Setuju
2 : Setuju
3 : Tidak Setuju
4 : Sangat Tidak Setuju
Nilai dari masing-masing pernyataan akan
diakumulasikan lalu hasil akhirnya berupa skor hasil sikap.
I. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas bertujuan untuk mengukur apakah penelitian dilakukan
dengan instrumen yang valid dan reliabel, sampel mendekati jumlah populasi,
pengumpulan serta analisis data dilakukan dengan cara yang benar. Selain uji
validitas, uji reliabilitas perlu dilakukan untuk melihat kemampuan kuesioner
dalam menghasilkan nilai yang sama atau konsisten dalam setiap pengukuran
pada penelitian (Masturoh & Anggita, 2018).
Uji coba instrumen terkait validitas dan reliabilitas ini dilakukan kepada
31 orang responden yang merupakan siswi di sebuah sekolah daerah Jakarta
yang memiliki karateristik yang sama seperti sampel penelitian. Kemudian, data
yang didapat akan diolah menggunakan software SPSS untuk mengetahui hasil
49
uji validitas dengan melihat nilai Scale Corrected Item-Total Correlation dan
untuk hasil uji reliabilitas dengan melihat nilai Alpha Cronbach.
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur ketepatan dan
kecermatan pertanyaan dalam instrumen. Kuesioner yang berisi beberapa
pertanyaan dapat dikatakan valid apabila setiap butir pertanyaan memiliki
keterkaitan yang tinggi. Umumnya keterkaitan ini dicerminkan oleh
korelasi jawaban antar pertanyaan (Ovan & Saputra, 2020). Uji validitas
pada penelitian ini yaitu dengan cara melakukan pengujian pada tiap
pertanyaan, Item dinyatakan valid jika memiliki nilai Scale Corrected
Item-Total Correlation melebihi nilai R tabel pada df = n – 2 dan α = 0,05
(Duli, 2019). Berikut ini merupakan hasil uji validitas pada tiap butir
kuesioner berdasarkan variabel.
Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas Variabel Pengetahuan
Pertanyaan r hitung r tabel Keterangan
B1 0,338 0,355 Tidak Valid
B2 0,410 0,355 Valid
B3 0,640 0,355 Valid
B4 0,456 0,355 Valid
B5 0,515 0,355 Valid
B6 0,576 0,355 Valid
B7 0,670 0,355 Valid
B8 0,575 0,355 Valid
B9 0,647 0,355 Valid
B10 0,196 0,355 Tidak Valid
50
B11 0,672 0,355 Valid
B12 0,640 0,355 Valid
B13 0,474 0,355 Valid
B14 0,602 0,355 Valid
B15 0,276 0,355 Tidak Valid
Berdasarkan hasil uji validitas, dapat diketahui bahwa terdapat
tiga item pertanyaan pada variabel pengetahuan yang tidak valid karena r
hitung < r tabel. Namun peneliti tidak menghapus pertanyaan tersebut
karena pertanyaan tersebut sangat penting sehingga peneliti hanya
memodifikasi ulang pertanyaan.
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Variabel Sikap
Pertanyaan r hitung r tabel Keterangan
C1 0,743 0,355 Valid
C2 0,819 0,355 Valid
C3 0,415 0,355 Valid
C4 0,511 0,355 Valid
C5 0,779 0,355 Valid
C6 0,118 0,355 Tidak Valid
C7 0,780 0,355 Valid
C8 0,438 0,355 Valid
C9 0,734 0,355 Valid
C10 0,422 0,355 Valid
C11 0,554 0,355 Valid
C12 0,191 0,355 Tidak Valid
51
Berdasarkan hasil uji validitas, dapat diketahui bahwa terdapat
dua item pertanyaan pada variabel sikap yang tidak valid karena r hitung <
r tabel. Namun peneliti tidak menghapus pertanyaan tersebut karena
pertanyaan tersebut sangat penting sehingga peneliti hanya memodifikasi
ulang pertanyaan
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui tingkat konsistensi
sebuah kuesioner. Suatu instrumen dapat dikatakan reliabel apabila
instrumen dapat dipergunakan secara berulang dan menunjukkan hasil
pengukuran yang sama (Ovan & Saputra, 2020).
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas Tiap Variabel
Variabel Nilai Alpha Cronbach
Pengetahuan 0,786
Sikap 0,596
Berdasarkan hasil uji reliabel dapat dikatakan bahwa variabel
pengetahuan memiliki nilai Alpha Cronbach yaitu 0,786 dan pada variabel
sikap memiliki nilai Alpha Cronbach yaitu 0,596.
J. Manajemen Data
1. Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan bagian dari penelitian setelah tahap
pengumpulan data. Pengolahan data mentah yang telah dikumpul akan
52
diolah atau dianalisis sehingga data tersebut akan berubah menjadi informasi
(Masturoh & Anggita, 2018).
1) Pengodean Data (Data Coding)
Pengodean data adalah bentuk kegiatan yang membuat
lembaran kode pada jawaban responden sesuai dengan alat ukur
yang digunakan, salah satunya adalah kuesioner. Tujuan
pengodean data ini untuk memudahkan peneliti dalam mengolah
dan menganalisis data. Kode kuesioner akan dijelaskan pada tabel
sebagai berikut :
Tabel 4.4 Kode Variabel
No. Variabel Kode Jumlah
1 Identitas Responden A1-A5 5
2 Pengetahuan B1-B15 15
3 Sikap C1-C12 12
2) Pengeditan Data (Data Editing)
Menyunting data adalah tahap dimana data yang
dikumpul dari hasil pengisian kuesioner oleh responden disunting
kelengkapan jawabannya. Jika dalam tahapan ini ternyata
ditemukan ketidaklengkapan dalam penfhgisian jawaban oleh
responden, maka harus melakukan pengumpulan data ulang
seperti menemui atau menghubungi responden.
3) Memasukkan Data (Data Entry)
53
Memasukkan data yang telah responden isi dalam
kuesioner dan diberi kode pada masing-masing variabel. Data
dimasukkan ke software komputer untuk memudahkan proses
analisis data. Adapun software yang digunakan yaitu SPSS.
4) Pembersihan Data (Data Cleaning)
Tujuan dari tahap pembersihan data yaitu untuk
memastikan tidak adanya kesalahan dalam memberi kode atau
pengetikan sehingga data dapat dianalisis.
K. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis univariat yaitu analisa untuk menganalisis variabel yang ada
pada penelitian. Tujuan dari analisis univariat yaitu untuk melihat distribusi
frekuensi variabel pada masing-masing variabel yaitu variabel pengetahuan
dan sikap siswi sebelum dan sesudah diberikan intervensi video kesehatan.
Data yang sudah dianalisis akan disajikan dalam berbagai bentuk seperti
statistik, tabel atau grafik.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk menguji hubungan antara dua variabel
didalam penelitian, variabelnya yaitu variabel dependen dan independen.
Analisis data ini menggunakan analisis Uji Wilcoxon Signed Rank Test.
Peneliti menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test sebagai uji analisis
untuk melihat perbedaan pengetahuan dan sikap siswi sebelum dan sesudah
diberikan intervensi video kesehatan.
54
L. Etik Penelitian
Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik (ethical approval)
dengan nomor Un.01/F.10/KP.01.1/[Link]/06.08.024/2021 yang diterbitkan oleh
Komisi Etik Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Profil Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 21 Jakarta
1. Sejarah Singkat MAN 21 Jakarta
MAN 21 Jakarta adalah sebuah lembaga pendidikan setingkat SLTA di
bawah naungan Kementerian Agama. MAN 21 Jakarta berdiri pada tahun
2009. Pada awalnya lembaga ini filial atau kelas jauh dari MAN 5 Jakarta.
Akan tetapi secara lambat laun Berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Agama Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2009 tanggal 19 Juni 2009
lembaga ini dipercaya menjadi lembaga indipenden dan berubah nama
menjadi Madrasah Aliyah Negeri 21 Jakarta. Pembangunan Gedung MAN
21 Jakarta diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 03 Januari 2009.
Pada awal berdiri, MAN 21 Jakarta hanya memiliki beberapa ruang kelas
yang digunakan untuk kelas X (Sepuluh), XI (Sebelas) dan XII (duabelas)
pada program jurusan IPA dan IPS. Beberapa tahun kemudian, sehubungan
dengan adanya Kurikulum 2013, MAN 21 Jakarta memiliki kelas peminatan
yang terbagi menjadi tiga peminatan yaitu peminatan agama, MIA
(Matematika dan Ilmu Alam) dan IIS (Ilmu-ilmu Sosial). Pada tahun 2020,
jumlah siswa di MAN 21 Jakarta sebanyak 545 siswa dengan kelas sebanyak
15 kelas dan pada tiap angkatan memiliki 5 kelas.
55
56
MAN 21 Jakarta berlokasi di Jalan Tambun Rengas No. 48 RT.001
RW.007 Kel. Rorotan. Kec. Cilincing. Kota Jakarta Utara. DKI Jakarta
dengan letak geografis Latitude (Lintang) -6.1578799 dan Longitude (Bujur)
106.9556265 Dataran Rendah. Nomor Statistik Madrasah (NSM)
131131720002 dan Nomor Pokok Nasional Sekolah (NPSN) 20177972.
2. Visi dan Misi MAN 21 Jakarta
Untuk mewujudkan sekolah berbasis islami, MAN 21 Jakarta memiliki
Visi yaitu, “Terwujudnya Madrasah Yang Unggul Dalam Prestasi,
Kompetitif dan Berakhlak Mulia”. Untuk mencapai Visi tersebut, MAN 21
Jakarta mengembangkan Misi sebagai berikut:
a. Melaksanakan pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan daya
piker,kalbu dan fisik secara optimal.
b. Melaksanakan pengayaan untuk mempersiapkan siswa yang unggul
dalam kompetisi akademik dan Non Akademik.
c. Melaksanakan ibadah fardhu secara berjamaah dan menumbuhkan cinta
sunah serta kegiatan keislaman lainnya.
d. Menggelorakan semangat berbuat kebaikan pada setiap diri warga
madrasah.
e. Mendidik siswa berbudaya lokal untuk memperkuat budaya nasional
serta memiliki daya saing global.
f. Menumbuhkan dan mengembangkan pola pikir dan tindakan yang
mencerminkan budaya mutu dan akhlaq mulia dalam kehidupan sehari-
hari.
57
g. Melaksanakan pembinaan berbagai bidang olah raga sehingga siswa
memiliki daya fisik yang sehat dan tangguh.
h. Menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan yang mencerminkan
pengembangan seni budaya bangsa.
i. Melaksanakan pembinaan Karya Ilmiah Remaja yang kreatif, mandiri
dan kompetitif.
j. Melaksanakan pendidikan kecakapan hidup guna menciptakan insan
yang religius, mandiri, kreatif, dan kompetitif.
k. Menyelenggarakan kegiatan menghafal Al-Qur’an baik melalui Mata
Pelajaran Muatan Lokal maupun pesantren tahfidz Al-Qur’an.
B. Hasil Analisis Data
Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 50 responden dari 246 siswi kelas
10 dan 11 MAN 21 Jakarta angkatan 2020-2021. 50 responden ini akan
diberikan intervensi berupa pemberian informasi melalui video menstrual
hygiene lalu mengisi pre test maupun post-test.
1. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan dengan tujuan untuk melihat distribusi
frekuensi dari variabel yang diteliti. Hasil analisis terdiri dari usia responden,
kelas responden, pengetahuan, sikap dan hasil jawaban responden yang
menjawab benar pada tiap butir pertanyaan variabel pengetahuan maupun
sikap.
58
1) Gambaran Karateristik Responden
Tabel 5.1 Gambaran Karateristik Siswi MAN 21 Jakarta
No. Karateristik Frekuensi Persentase
Responden (n=50) (%)
1 Usia
15 7 14
16 25 50
17 18 36
2 Kelas
10 Agama 5 10
10 MIA 1 6 12
10 MIA 2 4 8
10 IIS 1 5 10
10 IIS 2 5 10
11 Agama 5 10
11 MIA 1 5 10
11 MIA 2 5 10
11 IIS 1 5 10
11 IIS 2 5 10
Catatan : MIA (Peminatan Matematika dan Ilmu Alam)
IIS (Peminatan Ilmu-ilmu Sosial)
Berdasarkan tabel 5.1 hasil analisis data penelitian yang
dilakukan oleh 10 responden, diketahui bahwa sebagian besar responden
berusia 16 tahun (50%), lalu diikuti dengan 18 responden (36%) berusia
17 tahun dan 7 responden (14%) berusia 15 tahun.
Adapun distribusi kelas sebanyak 6 responden (12%) merupakan
siswi dari kelas 10 MIA 1, lalu 4 responden (8%) merupakan siswi dari
kelas 10 MIA 2 dan masing-masing 5 responden (10%) merupakan siswi
59
dari kelas 10 Agama, 10 IIS 1, 10 IIS 2 dan seluruh kelas 11 yaitu kelas
Agama, MIA maupun IIS.
2) Deskripsi Pengetahuan dan Sikap Siswi Sebelum dan Sesudah
Diberikan Media Video
Perbedaan pengetahuan dan sikap siswi sebelum maupun sesudah
diberikan media video informasi menstrual hygiene dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 5.2 Deskripsi Pengetahuan dan Sikap Siswi Sebelum dan Sesudah
Diberikan Media Video
Variabel Mean SD Min-Maks Frekuensi
(n)
Pengetahuan
Pretest 9,86 3,084 3-15 50
Post-test 12,88 1,769 8-15
Sikap
Pretest 35,58 7,725 16-47 50
Post-test 41,06 4,177 27-48
Dari hasil tabel 5.2 dapat diketahui bahwa rata-rata skor pengetahuan
sebelum diberikan video menstrual hygiene adalah 9,86 dengan standar
deviasi 3,084. Adapun nilai terendah 3 dan nilai tertinggi 15 dengan nilai
total 15 jika responden dapat menjawab semua pertanyaan. Sedangkan rata-
rata skor pengetahuan sesudah diberikan video yaitu 12,88 dengan standar
deviasi 1,769. Adapun nilai terendah sesudah diberikan media video yaitu 8
60
dan nilai tertinggi sebesar 15 dengan nilai total 15 apabila responden dapat
menjawab pertanyaan dengan benar.
Selanjutnya untuk hasil variabel sikap, dapat diketahui bahwa rata-
rata hasil sikap sebelum diberikan video menstrual hygiene adalah 35,56
dengan standar deviasi 7,725. Lalu nilai terendah sebesar 16 dan tertinggi
sebesar 47. Sedangkan rata-rata hasil sikap sesudah diberikan media video
yakni 41,06 dengan standar deviasi 4,177. Lalu nilai terendah sebesar 27 dan
nilai tertinggi sebesar 48.
3) Analisis Item Pertanyaan Variabel Pengetahuan Terkait Menstrual
Hygiene
Tabel 5.3 Analisis Item Pertanyaan Variabel Pengetahuan Terkait Menstrual
Hygiene
Pre Test Post-Test
No Item Pertanyaan Menjawab Benar
1 Menstruasi merupakan proses keluarnya darah dari 42% 50%
rahim perempuan karena rahim dalam keadaan kotor
2 Perempuan mengalami menstruasi pertama kali pada 78% 100%
rentang usia sekitar 10-14 tahun
3 Hal yang pertama kali dilakukan sebelum membasuh 84% 94%
organ reproduksi adalah mencuci tangan pakai sabun
4 Cara membersihkan/membasuh organ reproduksi 74% 96%
perempuan dengan benar saat menstruasi yaitu
membersihkannya dari arah depan (vagina) ke arah
belakang (anus).
5 Tampon dan Menstrual Cup tidak bisa dipakai untuk 64% 86%
menyerap dan menampung darah menstruasi.
6 Mengganti pembalut saat menstruasi hanya 2 kali 78% 88%
61
dalam sehari sewaktu mandi saja.
7 Saat menstruasi, dianjurkan untuk menggunakan 50% 80%
pantyliner secara terus-menerus agar organ reproduksi
bersih dan wangi.
8 Mengganti celana dalam saat menstruasi minimal 2 74% 88%
kali dalam sehari.
9 Saat menstruasi, perempuan seharusnya memakai 44% 80%
celana dalam yang ketat agar pembalut tidak bocor.
10 Saat menstruasi, dianjurkan untuk membasuh organ 26% 52%
reproduksi dengan menggunakan sabun khusus
pembersih kewanitaan.
11 Saat menstruasi, perempuan diperbolehkan untuk 32% 82%
keramas dan menggunting kuku.
12 Setelah membasuh organ reproduksi, seharusnya 82% 94%
mengeringkannya menggunakan tisu atau handuk
kering agar tidak lembab.
13 Membuang pembalut sekali pakai adalah dengan 86% 100%
mencuci pembalut terlebih dahulu dan
membungkusnya dengan plastik/kertas lalu dibuang ke
tempat sampah.
14 Tujuan dari menjaga kebersihan saluran reproduksi 84% 98%
yaitu dikarenakan adanya peningkatan kelenjar dan
peningkatan produksi keringat di sekitar alat kelamin.
15 Dampak dari tidak menjaga kebersihan diri dengan 82% 100%
baik saat menstruasi yaitu terkena penyakit Infeksi
Saluran Reproduksi (ISR)
Berdasarkan hasil analisis tiap item pertanyaan, jawaban responden
mengalami kenaikan dari pre test ke post-test. Seperti item pertanyaan pada
nomor 1 dilihat bahwa pengetahuan sebelum dilakukan intervensi yang
menjawab benar sebesar 42% dan mengalami kenaikan setelah diberikan
intervensi sebesar 50%. Pada poin nomor 1, nilai post test tidak melebihi 50%
dikarenakan banyak responden percaya bahwa menstruasi terjadi karena rahim
dalam keadaan kotor bukan terjadi karena sifat biologis seorang perempuan
62
bahwa menstruasi adalah hal yang alami. Lalu sama halnya dengan pertanyaan
nomor 2 jawaban responden mangalami kenaikan saat post-test menjadi 100%
dari yang sebelumnya hanya 78%. Ini berlaku pada item pertanyaan yang
lainnya. Pada poin nomor 10, responden masih percaya bahwa membasuh organ
kewanitaan perlu menggunakan sabun karna dengan memakai air saja kuman
akan menempel dan organ kewanitaan tidak bersih. Oleh karena itu, nilai post
test hanya mengalami peningkatan dengan nilai yang menjawab benar hanya
52%.
4) Analisis Item Pernyataan Variabel Sikap Terkait Menstrual Hygiene
Pada variabel sikap terdapat 12 pernyataan yang berisi unfavorable
maupun favorable. Pernyataan unfavorable berjumlah 9 butir pernyataan
dan favorable berjumlah 3 butir pernyataan. Dikarenakan peneliti ingin
memaparkan pernyataan yang jawaban setuju dan sangat setuju memiliki
skor tinggi maka peneliti memaparkan butir pernyataan favorable. Lalu
untuk melihat jawaban benar, peneliti mengkategorikan jawaban responden
yang menjawab setuju dan sangat setuju dengan kategori benar. Alasan
peneliti mengkategorikan jawaban responden dikarenakan peneliti hanya
ingin melihat pada variabel sikap berapa persen responden yang menjawab
setuju dan sangat setuju dengan tiap item pernyataan.
Tabel 5.4 Analisis Item Pernyataan Variabel Sikap Terkait Menstrual
Hygiene
63
Pre Test Post-Test
No Item Pernyataan Menjawab Benar
1 Bagi saya apabila menggunakan pembalut terlalu lama 82% 92%
maka organ kewanitaan akan mudah lembab (favorable)
2 Bagi saya keramas saat menstruasi perlu dilakukan 60% 72%
(favorable)
3 Bagi saya sangat penting mengeringkan organ 88% 92%
kewanitaaan dengan memakai tisu/handuk kering setelah
saya membersihkannya (favorable)
Berdasarkan analisis tiap item pernyataan favorable, jawaban responden
mengalami peningkatan. Dilihat pada butir pernyataan nomor 1 bahwa jawaban
responden sebelum diberikan intervensi sebesar 82% dan mengalami
peningkatan sesudah diberikan intervensi sebesar 92%. Sama halnya dengan
nomor 1, nomor 2 dan 3 pun mengalami peningkatan dari sebelum
diberikannya intervensi dengan sesudah diberikannya intervensi.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat umumnya digunakan untuk mengetahui hubungan
antara dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. Pada
penelitian ini, analisis bivariat yang digunakan adalah uji wilcoxon signed rank
test, yaitu uji yang digunakan untuk melihat pengaruh media video terkait
informasi menstrual hygiene terhadap pengetahuan dan sikap responden.
Tabel 5.5 Pengaruh Media Video Terkait Informasi Menstrual Hygiene Terhadap
Pengetahuan dan Sikap Responden Sebelum Maupun Sesudah Diberikan
Intervensi
64
Variabel Pretest Post-test Alpha (ɑ) Nilai (p)
Pengetahuan 9,86 12,88 0.05 0.000
Sikap 35,58 41,06 0.05 0.000
Berdasarkan tabel 5.3, dari hasil uji wilcoxon diketahui bahwa nilai p
adalah 0.000 (<0.05) maka dapat disimpulkan bahwa “Ha diterima”. Artinya
terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pengetahuan pretest dan post-
test, sehingga dapat disimpulkan pula bahwa ada pengaruh media video
kesehatan terkait informasi menstrual hygiene terhadap pengetahuan responden.
Adapun untuk variabel pengetahuan diketahui mengalami peningkatan
rata-rata sebesar 3,02 dilihat dari rata-rata nilai saat pretest sebesar 9,86 dan
rata-rata nilai saat post-test sebesar 12,88.
Lalu, dari hasil uji wilcoxon untuk variabel sikap diketahui bahwa nilai p
adalah 0.000 (<0.05) maka dapat disimpulkan bahwa “Ha diterima”. Artinya
terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai sikap pretest dan post-test,
sehingga dapat disimpulkan pula bahwa ada pengaruh media video kesehatan
terkait informasi menstrual hygiene terhadap sikap responden. Adapun untuk
variabel sikap diketahui mengalami peningkatan rata-rata sebesar 5,48 dilihat
dari rata-rata nilai saat pretest sebesar 35,58 dan rata-rata nilai saat post-test
sebesar 41,06.
BAB VI
PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian yang telah dilakukan
oleh peneliti yaitu :
1. Penelitian ini menggunakan aplikasi zoom meetings untuk penayangan video
menstrual hygiene untuk responden. Peneliti tidak memfasilitasi kuota
internet untuk responden melainkan memakai kuota internet yang diberikan
oleh pihak sekolah atau kuota masing-masing responden. Pada hari pertama
maupun hari terakhir dilakukan intervensi, partisipasi responden tidak stabil
karena adanya kendala jaringan. Saat intervensi berlangsung, sekitar 5 orang
dari 50 responden keluar masuk zoom meetings dikarenakan jaringan tidak
stabil.
2. Saat proses penayangan video di zoom meetings, peneliti tidak bisa
mengamati responden karena banyak dari responden mematikan kamera saat
acara berlangsung sehingga peneliti tidak tahu apakah responden fokus
menonton video yang diberikan atau tidak.
B. Karateristik Responden
Penelitian ini memiliki 50 responden dimana semua responden belum
pernah mendapatkan informasi terkait menstrual hygiene melalui media video
baik dari pihak sekolah maupun dari lingkungan seperti keluarga dan teman
sebaya.
65
66
Hasil analisis data diketahui bahwa karateristik berdasarkan usia pada
responden yaitu 16 tahun sebanyak 25 siswi (50%). Hal ini didasarkan pada
demografi umur remaja putri yang masih bersekolah di tingkat SMA yang rata-
rata usianya berkisar 15-17 tahun.
Responden dengan usia yang semakin dewasa maka tingkat kematangan
dan kekuatan seseorang akan lebih baik dalam berpikir dan bekerja. Hal ini
sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2010)
menyebutkan bahwa umur adalah lama ukuran waktu untuk hidup atau adanya
seseorang terhitung sejak orang tersebut dilahirkan. Semakin dewasa usia
seseorang maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih baik
dalam berpikir maupun bekerja, hal ini dikarenakan dari pengalaman jiwa yang
dialami akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku.
Tingkat pendidikan responden yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) atau setara dengan Sekolah Menengah
Atas (SMA). Lalu peneliti menggunakan siswi kelas 10 dan 11 berjumlah 50
responden. Dalam hal ini, semakin baik tingkat pendidikan seseorang maka akan
semakin baik pola pikir yang terbentuk, sehingga responden akan semakin
terbuka terhadap pengetahuan dan informasi. Hal ini sejalan dengan teori yang
diungkapkan oleh Purwanto (2010) bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi
akan memudahkan seseorang untuk menyerap informasi juga menerapkan dalam
perilaku dan gaya hidup sehari-hari khususnya dalam hal kesehatan. Sehingga
tingkat pendidikan formal dapat membentuk nilai bagi seseorang terutama dalam
menerima informasi baru.
67
C. Pengaruh video menstrual hygiene terhadap nilai pengetahuan responden
Pengetahuan merupakan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan
kembali apa yang telah diketahui dan dipelajarinya setelah orang tersebut
melakukan penginderaan terhadap suatu objek. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang penting dalam membentuk tindakan seseorang. Oleh
karena itu, pengetahuan yang baru dapat menimbulkan respons batin dalam
bentuk sikap seseorang terhadap objek yang diketahuinya (Notoatmodjo, 2015).
Pada penelitian ini, siswi diberikan penyampaian informasi melalui video
menstrual hygiene. Menurut Zac (2015) hal yang harus diperhatikan agar
penyampaian informasi menjadi efektif dengan video yaitu video yang
disampaikan harus memiliki fungsi tertentu agar dapat bermanfaat untuk siswi
dan pada penelitian ini fungsi media video yaitu sebagai media yang efektif
untuk menyampaikan informasi menstrual hygiene agar dapat diserap dengan
cepat sehingga rata-rata pengetahuan dan sikap responden menjadi meningkat.
Lalu mengenai desain media video menurut Brame (2016), video
menjadi efektif apabila memasukkan unsur-unsur yang membantu keterlibatan
siswi salah satunya adalah membuat video dengan durasi yang tidak terlalu
lama, durasi yang ideal untuk penayangan video untuk responden yaitu sekitar
5-10 menit. Pada penelitian ini, video menstrual hygiene dibuat dengan durasi 6
menit 39 detik.
Hasil penelitian pada penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan
nilai rata-rata pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan media video
terkait informasi menstrual hygiene. Rata-rata pengetahuan responden sebelum
68
diberikan video menstrual hygiene adalah 9,86 dan setelah diberikan video
menstrual hygiene rata-rata meningkat menjadi 12,88. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Aeni & Yuhandini (2018) bahwa terdapat
pengaruh peningkatan pengetahuan dengan menggunakan media video terhadap
pengetahuan remaja tentang SADARI.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rusyanti et al. (2019) diketahui
bahwa edukasi kesehatan reproduksi dengan menggunakan media video dapat
meningkatkan pengetahuan remaja dalam menghadapi menstruasi pertama.
Begitu juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yumaeroh & Susanti
(2019) mengatakan bahwa ada pengaruh media video terkait peningkatan
pengetahuan personal hygiene saat menstruasi di SMPN 1 Gamping.
Perubahan skor nilai pengetahuan pada responden diduga karena telah
terjadi penyerapan informasi yang disebabkan oleh pemberian media video
terkait informasi menstrual hygiene. Menurut teori yang dikemukakan oleh
Mubarak (2007) bahwa media video dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar siswa, karena video memiliki kemampuan untuk memaparkan sesuatu
yang amat rumit dan kompleks melalui stimulus audio visual yang akhirnya
membuahkan hasil lebih baik. Selain itu, video dapat menciptakan penyampaian
informasi menjadi efektif dan menarik sehingga mempercepat proses
penyampaian materi kepada siswa.
Media video yang ditayangkan dan ditangkap oleh responden melibatkan
berbagai alat indera yaitu penglihatan dan pendengaran. Semakin banyak alat
indera yang digunakan maka masuknya informasi kepada responden akan
69
semakin mudah. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Maulana
(2009) bahwa pancaindera manusia yang paling banyak menyalurkan
pengetahuan ke otak adalah mata sekitar 75% - 87% sedangkan 13% - 25%
pengetahuan manusia diperoleh dan disalurkan melalui pancaindera lain.
Pada penelitian ini, penyampaian informasi kepada responden dengan
menggunakan media video diharapkan mampu meningkatkan keefektifan
penyampaian informasi yang diberikan. Antari et al. (2020) dalam penelitiannya
mengenai efektivitas penggunaan media video dan leaflet terhadap perilaku cuci
tangan dalam pencegahan diare pada siswa di SD Bintaran Yogyakarta
menyatakan bahwa pemberian informasi perilaku cuci tangan dengan media
video lebih efektif meningkatkan pengetahuan siswa dibandingkan
menggunakan leaflet. Hal ini didukung dengan hasil penelitian dari Tindaon
(2018) mengenai pengaruh KIE melalui media leaflet dan video terhadap
peningkatan pengetahuan tentang paparan pornografi pada siswa SMPN 1
Sidamanik yang menyatakan bahwa media video lebih efektif untuk
meningkatkan pengetahuan siswa dibanding dengan menggunakan media leaflet.
D. Pengaruh video menstrual hygiene terhadap sikap responden
Notoatmodjo (2015) mendefinisikan sikap sebagai reaksi atau respon
seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap akan
terbentuk setelah terjadi proses tahu terlebih dahulu Azwar (2012). Menurut
Azwar (2007) pembentukan sikap dipengaruhi oleh pengalaman pribadi,
70
kebudayaan orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau
lembaga tertentu serta faktor emosi dalam diri seseorang yang bersangkutan.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan nilai rata-rata sikap
antara sebelum dan sesudah diberikan video menstrual hygiene. Rata-rata skor
sikap responden sebelum diberikan video menstrual hygiene adalah 35,58 dan
setelah diberikan video menstrual hygiene rata-rata meningkat menjadi 41,06.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraini et al. (2020)
terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata skor sikap ibu hamil sebelum dan
sesudah diberikan intervensi terhadap pencegahan stunting.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Tindaon (2018) diketahui bahwa
ada peningkatan rata-rata skor sikap sebelum dan sesudah diberikan media video
terkait edukasi paparan pornografi pada siswa SMPN 1 Sidamanik. Begitu juga
dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardie & Sunarti (2019) mengatakan
bahwa ada pengaruh peningkatan rata-rata skor sikap terhadap informasi gizi
seimbang pada siswa SDN 016 Samarinda.
Pada penelitian ini, video bukan hanya dijadikan sebagai peningkatan
pengetahuan melainkan dapat juga meningkatkan sikap responden. Karena sikap
yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih bertahan lama daripada sikap yang
tidak didasari dengan pengetahuan (Notoatmodjo, 2015).
Penyampaian informasi kepada responden dengan menggunakan media
video diharapkan mampu meningkatkan keefektifan penyampaian informasi
yang diberikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Meidiana
et al. (2018) mengenai pengaruh edukasi overweight pada remaja mengatakan
71
bahwa pemberian informasi melalui media audio visual lebih efektif
meningkatkan nilai rata-rata sikap daripada menggunakan media leaflet.
Teori yang diungkapkan oleh Primavera & Suwarna (2014) mengatakan
bahwa melalui media video responden mampu memahami informasi secara lebih
bermakna sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami secara utuh. Lalu
menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Oktara et al. (2013) bahwa media
video telah berhasil membangkitkan ketertarikan siswa sehingga banyak siswa
yang berpartisipasi aktif dalam mengikuti kesenian budaya. Oleh karena itu,
media video dapat menumbuhkan semangat bahkan motivasi bagi yang
melihatnya untuk menemukan pengetahuan baru sehingga dapat terbentuk sikap
positif dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2014) menyebutkan bahwa
perubahan sikap dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kebijakan yang
mengatur, lingkungan dan sikap yang dapat mendukung perubahan sikap
tersebut. Oleh karena itu, untuk mengubah sikap siswi menjadi positif
diperlukan banyaknya dukungan baik dari lingkungan keluarga maupun
lingkungan sosialnya. Selain itu, pihak sekolah dapat memberikan edukasi
ataupun informasi terhadap kebersihan diri.
E. Kajian Keislaman
1. Pandangan Islam Terkait Menstruasi
Islam adalah agama yang berpegang teguh pada pedoman Al-Qur’an dan
hadis. Salah satu kesempurnaan Al-Qur’an adalah adanya aturan dan hukum-
hukum bagi perempuan yang sedang menstruasi. Adanya aturan mengenai
72
hukum bagi perempuan yang sedang menstruasi ini menunjukkan betapa
pentingnya derajat perempuan dalam agama Islam sehingga perkara yang
dianggap tabu oleh kebanyakan masyarakat sudah diatur dalam Al-Qur’an.
Dalam fiqh Islam istilah menstruasi disebut juga dengan kata “haid”.
Haid adalah masdar dari kata ha-dha, yahi-dhu, haidon, misalnya hadlatil
mar’atu (perempuan itu sudah haid). Secara bahasa haid adalah air yang
mengalir dan menurut Mahzab Syafi’i haid yaitu darah yang keluar dari rahim
perempuan dimana darah yang keluar bukan darah penyakit (MUI, 2016).
Dalam Hadis Bukhari, pernah diceritakan bahwa Aisyah pernah berkata,
“Kami keluar bersama Nabi untuk melaksanakan haji, ketika kami sampai di
Sarif, aku mengalami haid. Lalu Nabi menghampiriku dan saat itu aku hanya
menangis. Nabi kemudian bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku
menjawab, “Sepertinya aku tidak bisa berhaji tahun ini.” Rasulullah
kemudian bertanya, “Apakah engkau sedang haid ?” Aku menjawab, “Iya”
kemudian Rasululloh bersabda,
“Itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan untuk anak-anak
perempuan Adam” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa haid adalah ketetapan yang
Allah berikan untuk perempuan bukan sebuah kotoran ataupun penyakit
melainkan suatu anugerah kepada perempuan. Pada penelitian yang dilakukan
oleh peneliti terkait pengetahuan menstrual hygiene, sekitar 50% responden
menjawab bahwa menstruasi adalah proses keluarnya darah secara alami yang
73
terjadi pada perempuan. Sehingga banyak responden yang sudah mengetahui
bahwa menstruasi adalah hal yang normal sesuai dengan ketentuan agama
Islam.
Sistem reproduksi perempuan diciptakan untuk memiliki beberapa
fungsi, selain haid yaitu untuk menciptakan keturunan. Sistem reproduksi
perempuan adalah sistem yang paling rentan dan dapat dengan mudah
terinfeksi atau terluka. Oleh karena itu, perempuan memiliki tanggung jawab
menjaga kesehatan reproduksinya sendiri dengan menerapkan perilaku sehat
dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Mursalat
ayat 20-23 :
ٍا ِٰلى قَ َدر١٢ي قَ َرارٍ َّم ِكيْن
ٍْ ِفَ َج َع ْل ٰنهٍ ف٠٢ ٍن َّمآءٍ َّم ِهيْن
ٍْ اَلَ ٍْم ن َْخل ْق ُّك ٍْم ِم
٣٢ٍَفَقَ َد ْرنَاٍ فَ ِن ْع ٍَم ْال ٰقدِر ْون٢٢ٍَّم ْعل ْوم
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian
Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu yang
ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang
menentukan.” (QS. Al-Mursalat[77]: 20-23)
Dalam surah Al-Mursalat ayat 20-23, Allah telah memberikan kepada
perempuan rahim yang kokoh untuk menaruh keturunan agar dapat dilahirkan
kelak karena kualitas manusia di masa depan tidak luput dari kondisi
perempuan saat ini. Perempuan perlu memperhatikan kebersihan maupun
kesucian diri agar rahim dapat terjaga dan sistem reproduksi tetap bersih.
74
Pada penelitian ini, peneliti memberikan pertanyaan yang berkaitan
dengan surah Al-Mursalat ayat 20-23 yaitu dampak dari tidak menjaga
kesehatan reproduksi saat menstruasi yaitu dapat terkena Infeksi Menular
Seksual. Responden yang menjawab pertanyaan tersebut dengan benar yaitu
sebesar 100%. Ini menunjukkan bahwa responden sudah mengetahui
pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan apabila tidak menjaga
kesehatan reproduksi dengan baik dan benar maka perempuan dapat memiliki
risiko untuk terkena ISR. Oleh karena itu, perempuan memiliki kewajiban
serta tanggung jawab untuk menjaga kebersihan diri terutama saat menstruasi.
2. Pandangan Islam Terkait Mandi, Keramas dan Memotong Kuku Bagi Wanita
Haid
Saat perempuan mengalami menstruasi, banyak masyarakat yang
percaya bahwa memotong bulu kemaluan, bulu ketiak dan kuku tidak
diperbolehkan karena tubuh sedang tidak suci. Tetapi, ini tidak dibenarkan
dan tidak ada dalil Al-Qur’an maupun hadits yang menyebutkan larangan
memotong kuku dan bulu kemaluan saat menstruasi bagi perempuan (MUI,
2016). Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj
menyatakan :
Artinya:”Menurut Nash Madzhab Syafi’i perempuan haid boleh
memotong kuku, bulu kemaluan dan bulu ketiak.”
75
Rasulullah pernah bersabda melalui Hadits riwayat Bukhari Muslim
sebagai berikut :
Inti dari hadits tersebut menjelaskan bahwa saat Aisyah (istri
Rasulullah) sedang haid pada waktu haji wada’ Rasulullah mengatakan
padanya, “ Bukalah ikatan rambutmu dan sisirlah, lalu masuklah ihrom
untuk mengikuti haji.”
Dalam hadis ini tersirat bahwa rambut yang hilang atau terjatuh saat
menstruasi tidak dipermasalahkan dalam agama. Oleh karena itu pada
dasarnya tidak ada larangan untuk keramas bagi wanita yang sedang dalam
periode menstruasi.
Selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, sekitar 82%
responden menjawab bahwa saat menstruasi perempuan diperbolehkan
keramas maupun menggunting kuku. Sebelum diadakan intervensi, banyak
responden yang percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi tidak
diperbolehkan keramas dan menggunting kuku. Ini dibuktikan pada hasil pre
test yaitu responden yang memperbolehkan keramas dan menggunting kuku
76
hanya sebesar 32%. Dalam hal ini, responden mengetahui bahwa Islam
memperbolehkan perempuan membersihkan diri baik itu keramas ataupun
menggunting kuku, tidak ada larangan yang mengatur terkait ketentuan
tersebut.
3. Pandangan Islam Terkait Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Mengganti
Pembalut
Banyak perempuan yang menyepelekan mencuci tangan sebelum
mengganti pembalut saat menstruasi. Padahal, mencuci tangan adalah hal
yang lumrah dilakukan untuk menjaga kebersihan pada diri sendiri. Dalam
sebuah hadis, Aisyah Berkata,
“Rasulullah SAW menyiramkan air ke kedua tangannya sebanyak 3
kali, membasuh kemaluannya lalu membasuh kedua tangannya” (HR. Ibnu
Khuzaimah)
Dalam hadis tersebut, Rasulullah mempraktikkan sebelum
membasuh organ reproduksi, dahulukan untuk mencuci tangan dan sesudah
membasuh organ reproduksi diwajibkan untuk mencuci tangan kembali. Ini
membuktikan bahwa mencuci tangan adalah hal yang harus diterapkan
sebelum membasuh organ reproduksi. Pada penelitian kali ini, peneliti
bertanya kepada responden terkait mencuci tangan sebelum dan sesudah
membasuh organ reproduksi dan hasil menunjukkan bahwa 94% responden
sudah mengetahui bahwa sebelum dan sesudah membasuh organ reproduksi
diwajibkan untuk mencuci tangan pakai sabun.
77
Selain hadis tersebut, membasuh tangan juga ada didalam rukun
berwudhu yang dilakukan sebelum sholat yaitu membasuh tangan 5 kali
dalam sehari. Oleh karena itu, pentingnya mencuci tangan bukan hanya saat
membasuh organ reproduksi melainkan ketika melakukan berbagai aktivitas
tertentu.
4. Pandangan Islam Terkait Cara Mencuci Pembalut dan Bahan Pembalut
Islam mengajarkan perempuan bagaimana mencuci pembalut
sebelum dibuang. Pada zaman Rasulullah SAW, perempuan memiliki kain
khusus untuk haid. Aisyah ra pernah berkata :
“apabila salah seorang dari kami sedang haid, Rasulullah SAW
memerintahkan untuk memakai izaar (kain bawahan menutupi bagian tubuh
dari pusar ke bawah.” (HR. Muslim)
Bahan yang dipergunakan adalah kain/ handuk yang bisa menyerap
darah dan dapat dicuci kapanpun saat dibutuhkan. Tetapi, seiring
perkembangan zaman pembalut memiliki banyak jenis seperti tampon,
pembalut sekali pakai ataupun menstrual cup. Pada penelitian kali ini,
peneliti bertanya fungsi tampon dan menstrual cup saat menstruasi dan
sekitar 86% responden menjawab benar bahwa fungsi tampon dan
menstrual cup saat menstruasi yaitu mampu menyerap dan menampung
darah.
Apapun pembalut yang dipakai, perempuan tetap harus menjaga
kebersihan reproduksi dengan memperhatikan berapa lama pembalut
seharusnya dibuang. Dalam islam, tidak ada ketentuan bagaimana
78
membersihkan bekas pembalut yang menampung darah menstruasi. Tetapi
hendaknya, pembalut dicuci bersih karena apabila perempuan membuang
pembalut bekas sembarangan, hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
sumber penyakit karena tidak higienis. Perbuatan ini dilarang oleh agama
Islam karena menjadikan mudharat pada orang lain.
Pada dasarnya perempuan dalam islam memiliki derajat yang tinggi.
Oleh sebab itu, perempuan diberi keistimewaan dengan memiliki rahim
untuk menyimpan keturunan dan memiliki sistem reproduksi untuk
melahirkan keturunan dan perempuan memiliki kewajiban untuk menjaga
kebersihan reproduksinya agar tetap bersih dan terawat.
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan oleh
peneliti mengenai pengaruh media video terkait informasi menstrual hygiene
terhadap pengetahuan dan sikap pada siswi di MAN 21 Jakarta tahun 2021,
dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Gambaran pengetahuan dan sikap responden sebelum dan sesudah diberikan
media video :
a. Rata-rata skor pengetahuan responden sebelum diberikan media video
terkait menstrual hygiene sebesar 9,86 dan setelah diberikan media video
terkait informasi menstrual hygiene hasil skor pengetahuan meningkat
menjadi 12,88.
b. Rata-rata skor sikap responden sebelum diberikan media video terkait
menstrual hygiene sebesar 35,58 dan setelah diberikan media video hasil
skor sikap meningkat menjadi 41,06.
2. Pengaruh media video terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap
responden :
a. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa media video mempengaruhi rata-
rata skor pengetahuan dan sikap. Nilai p pada variabel pengetahuan
maupun pada variabel sikap yaitu 0.000 (<0.05) dan nilai yang lebih
kecil dari alpha ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan
antara nilai pengetahuan dan sikap pada pretest maupun post-test,
79
80
sehingga dapat disimpulkan pula bahwa ada pengaruh media video
terkait informasi menstrual hygiene terhadap pengetahuan dan sikap
responden.
b. Kelemahan pada penelitian ini adalah saat pandemi intervensi yang
berlangsung secara online kurang efektif karena peneliti tidak
mengetahui bagaimana partisipasi responden. alangkah baiknya tetap
melakukan intervensi secara tatap muka.
B. Saran
1. Bagi MAN 21 Jakarta
a. Disarankan pihak sekolah dapat memberikan edukasi berupa
informasi menstrual hygiene pada saat kegiatan sekolah seperti
kegiatan keputrian atau dapat memberikan konseling individu
dengan guru BK terkait kebersihan menstruasi.
b. Diharapkan pihak sekolah dapat melakukan penyuluhan khususnya
bahwa saat menstruasi perempuan diperbolehkan untuk keramas,
mandi dan memotong kuku karena banyak siswi yang masih percaya
terhadap mitos tersebut.
c. Disarankan pihak sekolah menyediakan tempat sampah di setiap
toilet agar siswi yang ingin mengganti pembalut dapat menggantinya
dengan nyaman.
d. Disarankan pihak sekolah dapat mempergunakan fasilitas sekolah
seperti infocus atau layar monitor yang terpasang disetiap meja piket
81
untuk memutarkan video menstrual hygiene agar siswi dapat
menontonnya.
2. Bagi Siswi MAN 21 Jakarta
a. Dapat aktif dalam mencari informasi menstrual hygiene baik di
sosial media atau bertanya kepada tenaga kesehatan maupun guru
BK.
b. Dapat aktif mencari informasi menstrual hygiene hanya di sumber
yang terpercaya seperti MUI, UNICEF, KEMENKES RI, WHO
ataupun organisasi kesehatan lainnya.
c. Dapat saling memberi informasi kepada siswi lainnya terkait
menstrual hygiene dan berani menegur teman sebaya apabila tidak
menerapkan kebersihan diri saat menstruasi.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Diharapkan mampu memperhatikan faktor-faktor keberhasilan
dalam melakukan intervensi seperti pemilihan tempat maupun waktu
intervensi.
b. Diharapkan dapat bekerja sama dengan melibatkan pihak sekolah
seperti guru untuk mengawasi pengisian kuesioner baik kuesioner
online maupun kuesioner pengisian secara langsung agar keaslian
jawaban dapat terjaga.
c. Diharapkan mampu mengembangkan kuesioner pengetahuan dan
sikap maupun praktik terkait menstrual hygiene sehingga isi
kuesioner tidak memiliki pertanyaan yang terbatas mengenai
82
menstrual hygiene melainkan dapat menambahkan terkait kesehatan
reproduksi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
A, N. L. (2017). Gambaran Perilaku Mesntrual Hygiene Pada Siswi SMKN 8 Kota
Bekasi. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 13 No. 1, 35–47.
Alini, & Indrawati. (2018). Efektifitas Promosi Kesehatan Melalui Audio Visual Dan
Leaflet Tentang SADARI Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja Putri
Tentang SADARI Di SMAN 1 Kampar Tahun 2018. Ners Universitas Pahlawan,
2 No. 2, 1–9.
Andriani, D. A. (2020). Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Audio Visual
Terhadap Pengetahuan dan Sikap Anak Usia Sekolah Tentang Penyakit Demam
Berdarah. MEDIKES (Media Informasi Kesehatan), 7 No. 1, 65–72.
Berman, Audrey, Shinder, S., Koizier, & Barbara. (2009). Buku Ajar Praktik
Keperawatan Klinis Edisi 5. EGC.
Brame, C. J. (2016). Effective Educational Videos : Principles And Guidelines For
Maximing Student Learning Fro Video Content. Life Scientiest Education, 15:es6,
1–6.
Cicilia, W., & Ismoyowanti, E. (2015). Determinan Kejadian Infeksi Menular Seksual
(IMS) Pada Pengunjung Klinik Jelia, Jakarta Tahun 2014. Jurnal Bidang Ilmu
Kesehatan, 6. No 2.
Devita, Y., & Kardiana, N. (2017). Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Tentang
Personal Hygiene Dengan Benar Saat Menstruasi di MA Hasanah Pekanbaru.
Jurnal An-Nadaa, 64–68.
83
84
Duli, N. (2019). Metodelogi Penelitian Kuantitatif: Beberapa Konsep Dasar untuk
Penulisan Skrispi & Analisis Data dengan SPSS. Deepublish Publisher.
Gustina, E., & Djannah, S. N. (2015). Sumber Informasi dan Pengetahuan Tentang
Menstrual Hygiene Pada Remaja Putri. Kemas : Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10
No. 2, 147–152.
Hanifah, L., & Utami, F. R. (2012). Berani Menjadi Diri Sendiri : Panduan Anak Muda
Tentang Seksualitas, Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Relationship :
Kesproholic Seri 4. Mitra Inti Foundation.
Hartati, I., Junaidi, & Atriani, L. (2020). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan
Media AudioVisual Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Tentang
Personal Hygiene Saat Menstruasi Di MTS Swasta Terpadu Kota Langsa Tahun
2019. Pendidikan Dan Praktik Kesehatan, 3 No. 1, 44–53.
Haryoko, S. (2009). Efektivitas Pemanfaatan Media Audio Visual Sebagai Alternatif
Optimalisasi Model Pembelajaran. Edukasi Elaktro, 4 No. 1.
Hijrah, D. (2015). Tanya Jawab Islam : Piss KTB. Daarul Hijrah Technology.
House, S., Mahon, T., & Cavill, S. (2012). Menstrual Hygiene Matters.
Indonesia, Y. M. I. dan K. S. P. M. S. (2006). Infeksi Saluran Reproduksi.
Indriana, D. (2011). Ragam Alat Bantu Media Pembelajaran. DIVA Press.
Kapti, R. E., Rustina, Y., & Widyatuti. (2013). Efektifitas AudioVisual Sebagai Media
Penyuluhan Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dalam
Tatalaksana Balita Dengan Diare Di Dua Rumah Sakit Kota Malang. Ilmu
85
Keperawatan, 1 No. 1, 53–60.
Kemenkes, R. (2016). Laporan Penelitian Prevalensi Infeksi Saluran Reproduksi dan
HIV Pada Wanita Hamil di Beberapa Kota di Indonesia.
Kemenkes, R. (2017). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017.
[Link]
indonesia/[Link]
Khamzah, S. N. (2015). Tanya Jawab Seputar Menstruasi. FlashBooks.
Kusmiran, E. (2012). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Salemba Medika.
Larassati, P. A., & Rumintang, B. I. (2018). Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Menggunakan Media Video Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja Putri
Mengenai Dampak Kehamilan Usia Remaja di SMPN 1 Lingsar Tahun 2018.
Jurnal Midwifery Update, 21–29.
Lestariningsih, S. (2015). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Praktik Higiene
Menstruasi. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai, 14–22.
Manuaba, I. A. C., Manuaba, I. B. G. F., & Manuaba, I. B. G. (2009). Memahami
Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2 (Edisi 2). Buku Kedokteran EGC.
Masturoh, I., & Anggita, T. N. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Kemenkes RI.
Meidiana, R., Simbolon, D., & Wahyudi, A. (2018). Pengaruh Edukasi Melalui Media
Audio Visual Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Overweight. Jurnal
Kesehatan, 9 No. 3, 478–484.
86
MUI. (2016). Haid Dan Kesehatan Menurut Ajaran Islam. Sekolah Pascasarjana
Universitas Nasional.
Munir. (2012). Konsep dan Aplikasi Dalam Pendidikan. Alfabeta.
Nisa, A. H., Dharminto, Winarni, S., & DharmawanYudhy. (2020). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Praktik Personal Hygiene Saat Menstruasi Pada Remaja Putri
Pondok Pesantren Al Asror Kota Semarang Tahun 2019. Jurnal Kesehatan
Masyarakat (E-Journal), 8 No. 1, 145–151.
Notoatmodjo, S. (2014). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2015). Kesehatan Masyarakat : Ilmu dan Seni. Rineka Cipta.
Ovan, & Saputra, A. (2020). Aplikasi Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Penelitian Berbasis Web. Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia.
Pemiliana, P. D., Agustina, W., & Verayanti, D. (2019). Perilaku Remaja Putri Dengan
Personal Hygiene Saat Menstruasi di SMA Etislandia Medan Tahun 2018. Jurnal
GASTER, 17 no. 1, 62–76.
Pertiwi, T. I., & Megatsari, H. (2018). Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Praktik
Menstrual Hygiene Siswi SDN 4 Pacarkembang Surabaya. Jurnal Promkes, 6 No.
2, 142–154.
Pudiastuti, R. D. (2012). 3 Fase Penting Pada Wanita (Menarche, Menstruasi dan
Menopause). PT Elex Media Komputindo.
Putri, N. A., & Setianingsih, A. (2016). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap
Perilaku Personal Hygiene Menstruasi. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 5 No.
87
1, 15–23.
Rhomawati, W. S., Estiwidani, D., & Wahyuningsih, H. P. (2014). Hubungan Tingkat
Pengetahuan Menstruasi Dengan Kesiapan Menarkhe Siswi SD Kelas 4,5 dan 6.
Jurnal Kesehatan Ibu Dan Anak, 6 No. 2, 59–66.
Rosyidah, I., & Winarni. (2016). Efektivitas Ceramah Dan AudioVisual Dalam
Peningkatan Pengetahuan Dismenorea Pada Siswi SMA. GASTER, 14 No. 2, 90–
99.
Setiyaningrum, & Putri. (2015). Pelayanan Keluarga dan Kesehatan Reproduksi. CV
Trans Info Media.
Sinaga, E., Saribanon, N., & Suprihatin. (2017). Manajemen Kesehatan Menstruasi.
Universitas Nasional.
Siregar, P. A., Harahap, R. A., & Aidha, Z. (2020). Promosi Kesehatan Lanjutan Dalam
Teori dan Aplikasi. KENCANA.
Sularmi, A., Handajani, S. R., & Murwati. (2014). Peran Keluarga Kaitannya Dengan
Tingkat Kesiapan Remaja Putri Menghadapi Menstruasi. Jurnal KesmaDasKa, 69–
74.
Sumpter, C., & Torondel, B. (2013). A systematic Review Of The Health And Social
Effect Of Menstrual Hygiene Management. PLOS ONE, 8 No 4, 1–15.
UNICEF. (2015). Menstrual Hygiene Management In Indonesia.
UNICEF. (2016). Menstrual Hygiene Management (MHM). UNICEF.
88
WHO. (2008). Global Incidence And Prevalence Of Selected Curable Sexually
Transmitted Infections - 2008.
[Link]
essionid=23BE6629ECB2C8A71A7E7998066F3735?sequence=1
WHO. (2020). Sexually Transmitted Infections (STIs). [Link]
room/fact-sheets/detail/sexually-transmitted-infections-(stis)
Yadav, R. N., Joshi, S., Poudel, R., & Pandeya, P. (2017). Knowledge, Attitude, and
Practice on Menstrual Hygiene Management among School Adolescents. Journal
Of Nepal Health Research Council, 15 No. 03, 212–216.
Yiadom, akwasi B., Alatule, A. D., Beweleyir, J., & Mohammad, H. B. (2018).
Assessing the Knowledge, Attitude and Practice of Menstrual Hygiene
Management Among Junior High Schools Adolescent Females in the Yendi
Municipality in the Northern Region of Ghana. European Scientific Journal, 14
No. 36, 468–487.
Yumaeroh, F., & Susanti, D. (2019). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Media
Video Terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Personal Hygiene Saat
Menstruasi di SMPN 1 Gamping. Jurnal Media Ilmu Kesehatan, 8 No. 3, 203–209.
Yunus, E. M., & Parahita, S. (2018). Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Kelas VII
Tentang Menstruasi. Jurnal Kesehatan Poltekkes Kemenkes RI Pangkalpinang, 6
No. 2, 50–53.
Yusnita, & Nurmaria. (2016). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media
Poster, Video dan Leaflet Terhadap Pengetahuan Siswa Dalam Mencuci Tangan
89
Menggunakan Sabun. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 No. 9, 651–660.
Zac, W. (2015). The Effective Use Of Video In Higher Education. Lectoraat Teaching,
Learning and Technology.
LAMPIRAN
90
91
Lampiran 1
KUESIONER PENGARUH MEDIA VIDEO TERKAIT INFORMASI
MENSTRUAL HYGIENE TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA
SISWI DI MAN 21 JAKARTA UTARA TAHUN 2021
Informed Consent
Assalammualaikum Wr. Wb.
Perkenalkan, saya Intan Ratu Fahira, mahasiswa peminatan Promosi Kesehatan,
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Saya sedang melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh
Media Video Terkait Informasi Menstrual Hygiene Terhadap Pengetahuan dan Sikap
Pada Siswi Di MAN 21 Jakarta Utara Tahun 2021”. Penelitian ini dilaksanakan untuk
memenuhi syarat dalam meraih gelar sarjana Program Studi Kesehatan Masyarakat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Media Video Terkait
Informasi Menstrual Hygiene Terhadap Pengetahuan dan Sikap Pada Siswi Di MAN 21
Jakarta Utara Tahun 2021.
Penelitian ini dilakukan selama Bulan Januari-Mei 2021 kepada siswi MAN 21
Jakarta Utara tahun ajaran 2020-2021. Setiap informasi yang anda berikan akan terjaga
kerahasiaannya sehingga jawaban jujur sangat saya harapkan. Tujuannya agar dapat
memberikan data yang sebenarnya. Peneliti mohon maaf apabila penelitian ini dapat
menyita waktu anda. Atas ketersediaan anda menjadi responden saya mengucapkan
terimakasih.
Jika ada hal yang ingin ditanyakan dapat menghubungi :
Intan Ratu F (085776808824
92
A. IDENTITAS RESPONDEN (Diisi Petugas)
A1 Nama
A2 Usia
1. X Agama
A3 Kelas
2. X MIA 1
3. X MIA 2
4. X IIS 1
5. X IIS 2
6. XI Agama
7. XI MIA 1
8. XI MIA 2
9. XI IIS 1
10. XI IIS
A4 No. Handphone
Apakah anda sudah mengalami menstruasi?
A5 Ya Tidak
B. PENGETAHUAN
Berilah tanda ceklis (✓) pada salah satu pilihan jawaban yang sesuai.
Pernyataan Benar Salah
B1 Menstruasi merupakan proses keluarnya darah dari rahim
perempuan karena rahim dalam keadaan kotor.
B2 Perempuan mengalami menstruasi pertama kali pada
rentang usia sekitar 10-14 tahun.
B3 Hal yang pertama kali dilakukan sebelum membasuh
organ reproduksi adalah mencuci tangan pakai sabun.
B4 Cara membersihkan/membasuh organ reproduksi
perempuan dengan benarr saat menstruasi yaitu
membersihkannya dari arah depan (vagina) ke arah
belakang (anus).
B5 Tampon dan Menstrual Cup tidak bisa dipakai untuk
menyerap dan menampung darah menstruasi.
93
B6 Mengganti pembalut saat menstruasi hanya 2 kali dalam
sehari sewaktu mandi saja.
B7 Saat menstruasi, dianjurkan untuk menggunakan
pantyliner secara terus-menerus agar organ reproduksi
bersih dan wangi.
B8 Mengganti celana dalam saat menstruasi minimal 2 kali
dalam sehari.
B9 Saat menstruasi, perempuan seharusnya memakai celana
dalam yang ketat agar pembalut tidak bocor.
B10 Saat menstruasi, dianjurkan untuk membasuh organ
reproduksi dengan menggunakan sabun khusus
pembersih kewanitaan.
B11 Saat menstruasi, perempuan diperbolehkan untuk
keramas dan menggunting kuku.
B12 Setelah membasuh organ reproduksi, seharusnya
mengeringkannya menggunakan tisu atau handuk kering
agar tidak lembab.
B13 Membuang pembalut sekali pakai adalah dengan mencuci
pembalut terlebih dahulu dan membungkusnya dengan
plastik/kertas lalu dibuang ke tempat sampah.
B14 Tujuan dari menjaga kebersihan saluran reproduksi yaitu
dikarenakan adanya peningkatan kelenjar dan
peningkatan produksi keringat di sekitar alat kelamin.
B15 Dampak dari tidak menjaga kebersihan diri dengan baik
saat menstruasi yaitu terkena penyakit Infeksi Saluran
Reproduksi (ISR)
C. SIKAP
Berilah tanda ceklis (✓) pada jawaban yang sesuai dengan penilaian anda.
Keterangan : Sangat Setuju (SS), Setuju (S),
Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS)
Pernyataan STS TS S SS
C1 Bagi saya menjaga kebersihan diri saat menstruasi
tidak perlu dan merepotkan (unfavorable)
94
C2 Bagi saya tidak penting mencuci tangan pakai sabun
sebelum dan sesudah mengganti pembalut
(unfavorable)
C3 Bagi saya menggunakan pembalut saat menstruasi
membuat saya risih/tidak nyaman (unfavorable)
C4 Bagi saya mengganti pembalut perlu dilakukan hanya
saat pembalut sudah penuh (unfavorable)
C5 Bagi saya tidak perlu memotong kuku saat menstruasi
walaupun kuku sudah panjang (unfavorable)
C6 Bagi saya apabila menggunakan pembalut terlalu lama
maka organ kewanitaan akan mudah lembab
(favorable)
C7 Bagi saya celana dalam hanya perlu diganti saat sudah
kotor (unfavorable)
C8 Bagi saya celana dalam yang ketat baik untuk
kesehatan reproduksi (unfavorable)
C9 Bagi saya mandi saat menstruasi hanya perlu satu kali
dalam sehari (unfavorable)
C10 Bagi saya keramas saat menstruasi perlu dilakukan
(favorable)
C11 Bagi saya rambut kemaluan tidak perlu
dicukur/dipotong (unfavorable)
C12 Bagi saya sangat penting mengeringkan organ
kewanitaaan dengan memakai tisu/handuk kering
setelah saya membersihkannya (favorable)
95
Lampiran 2
SURAT PERSETUJUAN ETIK (ETHICAL APPROVAL)
96
Lampiran 3
HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS
Item-Total Statistics
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha
Item Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted
B1 10,90 8,557 ,194 ,792
B2 10,32 8,559 ,311 ,780
B3 10,29 8,213 ,576 ,764
B4 10,45 8,256 ,329 ,780
B5 10,48 8,058 ,391 ,775
B6 10,39 8,045 ,478 ,767
B7 10,58 7,518 ,564 ,758
B8 10,42 7,985 ,470 ,768
B9 10,58 7,585 ,537 ,761
B10 10,71 8,946 ,030 ,810
B11 10,35 7,903 ,595 ,759
B12 10,29 8,213 ,576 ,764
B13 10,32 8,426 ,380 ,776
B14 10,32 8,159 ,524 ,766
B15 10,29 8,880 ,181 ,788
Item-Total Statistics
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha
Item Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted
C1 33,90 17,357 ,633 ,482
C2 33,77 18,047 ,749 ,481
C3 35,68 29,759 -,644 ,736
C4 34,19 20,561 ,234 ,579
C5 34,13 16,716 ,696 ,462
C6 35,61 26,512 -,352 ,696
C7 33,87 17,516 ,670 ,479
C8 33,77 21,114 ,304 ,567
C9 33,77 18,847 ,663 ,503
C10 34,23 20,514 ,278 ,570
C11 33,94 19,262 ,460 ,532
C12 34,03 22,966 -,016 ,632
97
Reliability Statistics Reliability Statistics
Cronbach's Cronbach's
Alpha N of Items Alpha N of Items
,786 15 ,596 12
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Total_Sikap ,128 50 ,040 ,953 50 ,045
a. Lilliefors Significance Correction
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Total_Pengetahuan ,127 50 ,044 ,958 50 ,070
a. Lilliefors Significance Correction
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Total_Sikap ,151 50 ,006 ,907 50 ,001
a. Lilliefors Significance Correction
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Total_Pengetahuan ,198 50 ,000 ,910 50 ,001
a. Lilliefors Significance Correction
98
HASIL UJI UNIVARIAT
Pre-Test
Statistics Statistics
Total_Sikap Total_Pengetahuan
N Valid 50 N Valid 50
Missing 0 Missing 0
Mean 35,58 Mean 9,86
Median 37,50 Median 10,50
Minimum 16 Minimum 3
Maximum 47 Maximum 15
Total_Sikap
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 16 1 2,0 2,0 2,0
18 1 2,0 2,0 4,0
21 1 2,0 2,0 6,0
22 2 4,0 4,0 10,0
23 1 2,0 2,0 12,0
24 1 2,0 2,0 14,0
25 1 2,0 2,0 16,0
27 2 4,0 4,0 20,0
28 1 2,0 2,0 22,0
32 1 2,0 2,0 24,0
33 2 4,0 4,0 28,0
34 2 4,0 4,0 32,0
35 3 6,0 6,0 38,0
36 4 8,0 8,0 46,0
37 2 4,0 4,0 50,0
38 1 2,0 2,0 52,0
39 4 8,0 8,0 60,0
40 4 8,0 8,0 68,0
41 8 16,0 16,0 84,0
42 1 2,0 2,0 86,0
99
43 2 4,0 4,0 90,0
44 1 2,0 2,0 92,0
45 2 4,0 4,0 96,0
46 1 2,0 2,0 98,0
47 1 2,0 2,0 100,0
Total 50 100,0 100,0
Total_Pengetahuan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 3 1 2,0 2,0 2,0
4 4 8,0 8,0 10,0
5 3 6,0 6,0 16,0
6 2 4,0 4,0 20,0
8 1 2,0 2,0 22,0
9 5 10,0 10,0 32,0
10 9 18,0 18,0 50,0
11 11 22,0 22,0 72,0
12 6 12,0 12,0 84,0
13 2 4,0 4,0 88,0
14 5 10,0 10,0 98,0
15 1 2,0 2,0 100,0
Total 50 100,0 100,0
Post-Test
Statistics Statistics
Total_Sikap Total_Pengetahuan
N Valid 50 N Valid 50
Missing 0 Missing 0
Mean 41,06 Mean 12,88
Median 41,00 Median 13,00
Minimum 27 Minimum 8
Maximum 48 Maximum 15
100
Total_Pengetahuan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 8 1 2,0 2,0 2,0
10 6 12,0 12,0 14,0
11 4 8,0 8,0 22,0
12 8 16,0 16,0 38,0
13 7 14,0 14,0 52,0
14 15 30,0 30,0 82,0
15 9 18,0 18,0 100,0
Total 50 100,0 100,0
Total_Sikap
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 27 1 2,0 2,0 2,0
32 1 2,0 2,0 4,0
33 1 2,0 2,0 6,0
34 1 2,0 2,0 8,0
35 2 4,0 4,0 12,0
37 1 2,0 2,0 14,0
39 8 16,0 16,0 30,0
40 6 12,0 12,0 42,0
41 5 10,0 10,0 52,0
42 6 12,0 12,0 64,0
43 4 8,0 8,0 72,0
44 2 4,0 4,0 76,0
45 4 8,0 8,0 84,0
46 6 12,0 12,0 96,0
47 1 2,0 2,0 98,0
48 1 2,0 2,0 100,0
Total 50 100,0 100,0
101
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 15 7 14,0 14,0 14,0
16 25 50,0 50,0 64,0
17 18 36,0 36,0 100,0
Total 50 100,0 100,0
A3
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid X Agama 5 10,0 10,0 10,0
X IIS 1 5 10,0 10,0 20,0
X IIS 2 5 10,0 10,0 30,0
X MIA 1 6 12,0 12,0 42,0
X MIA 2 4 8,0 8,0 50,0
XI Agama 5 10,0 10,0 60,0
XI IIS 1 5 10,0 10,0 70,0
XI IIS 2 5 10,0 10,0 80,0
XI MIA 1 5 10,0 10,0 90,0
XI MIA 2 5 10,0 10,0 100,0
Total 50 100,0 100,0
102
HASIL UJI BIVARIAT (WILCOXON SIGNED RANK TEST)
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
Posttest Pengetahuan - Negative Ranks 2a 10,75 21,50
Pretest Pengetahuan Positive Ranks 40b 22,04 881,50
Ties 8c
Total 50
a. Posttest Pengetahuan < Pretest Pengetahuan
b. Posttest Pengetahuan > Pretest Pengetahuan
c. Posttest Pengetahuan = Pretest Pengetahuan
Test Statisticsa
Posttest Pengetahuan -
Pretest Pengetahuan
Z -5,396b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
Posttest Sikap - Pretest Negative Ranks 6a 13,25 79,50
Sikap Positive Ranks 38b 23,96 910,50
Ties 6c
Total 50
a. Posttest Sikap < Pretest Sikap
b. Posttest Sikap > Pretest Sikap
c. Posttest Sikap = Pretest Sikap
Test Statisticsa
Posttest Sikap - Pretest Sikap
Z -4,855b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.
103
Lampiran 4
PELAKSANAAN INTERVENSI
104
Lampiran 5
VIDEO MENSTRUAL HYGIENE