SKRIPSI
PENGARUH DANA PIHAK KETIGA (DPK), CAPITAL
ADEQUATY RATIO (CAR), RETURN ON ASSETS (ROA) DAN
NONPERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP
PEMBIAYAAN MUDHARABAH DAN MUSYARAKAH PADA
BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH (BPRS) DI
INDONESIA TAHUN 2016-2020
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Pada Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Riau Pekanbaru
DESTIKA NURYANTI
NPM. 185210454
PROGRAM STUDI MANAJEMEN-S1
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2022
Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return
On Asset (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Pembiayaan
Mudharabah dan Musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
di Indonesia tahun 2016-2020
ABSTRAK
Oleh :
DESTIKA NURYANTI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang pengaruh Dana Pihak Ketiga
(DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) , Non Performing
Financing (NPF) terhadap pembiayaan bagi hasil (Mudharabah dan Musyarakah)
pada BPRS di Indonesia . jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder berupa data tahunan dari tahun 2016-2020 yang dipublikasikan pada
laporan keuangan BPRS di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan menggunakan sampel
18 BPRS dengan teknik purposive sampling sebagai teknik dalam pengambilan
sampel. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear
berganda menggunakan program data panel pada aplikasi eviews 11. Berdasarkan
hasil regresi linear berganda dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan
variabel DPK, CAR, ROA dan NPF secara bersama-sama berpengaruh terhadap
mudaharabh dan musyarakah. Adapun secara parsial variabel DPK,ROA dan NPF
berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah dan variabel CAR tidak
berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah. Sedangkan pada variabel
DPK, NPF berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah dan variabel
CAR, ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah.
Kata kunci : Dana Pihak Ketiga (DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On
Asset (ROA), Non Performing Financing(NPF), Mudharabah dan
Musyarakah.
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah , puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT , yang
telah melimpahkan rahmad dan karunia nya sehingga penulis diberikan kesehatan
serta kekuatan dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini yang berjudul “Pengaruh
Dana Pihak Ketiga(DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset
(ROA) Dan Resiko Terhadap Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia”. Guna untuk mencapai
gelar sarjana strata satu (S1) di prodi manajemen fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Riau.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menemukan hambatan dan
kesulitan, Meskipun demikian, penulis tetap semangat untuk menyelesaikan skripsi
ini dengan sebaik mungkin dalam waktu yang telah ditentukan. Demi tercapainya
kesempurnaan dalam skripsi ini, penulis berharap kemakluman serta kritikan dan
saran dari para pembaca .
Selain itu, penulis juga menyadari bahwa masih terdapat kesalahan maupun
kekurangan dalam penulisan ini, baik dari segi perhitungan maupun segi penulisan.
Dengan demikian, berkat bantuan dan dukungan dari beberapa pihak. Untuk itu,
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak [Link] SH.,MCL selaku Rektor Universitas Islam Riau.
ii
2. Ibuk Eva Sundari,Dr.,SE.,MM.,CRBC selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Riau.
3. Bapak [Link] Jer,SE.,[Link] selaku Ketua Prodi Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau.
4. Bapak Dr. Hamdi Agustin,SE.,MM selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan saran, motivasi, dan memperbaiki serta menyempurnakan skripsi
ini sehingga dapat diselesaikan tepat waktu.
5. Ibuk Restu Hayati,SE.,[Link] yang telah meluangkan waktunya untuk ikut serta
dalam berkontribusi memberikan saran, dukungan serta motivasi kepada
penulis.
6. Seluruh bapak dan ibuk dosen yang telah memberikan pengajaran kepada
penulis selama masa perkuliahan , serta karyawan/I tata usaha yang telah
memberikan kemudahan dalam administrasi selama masa perkuliahan.
7. Teristimesa untuk kedua orang tua , ayahanda Isnan Suroso dan ibunda Damai
Hati [Link] , terimakasih yang tak terhingga atas segala kasih sayangnya,
cintanya, perhatian, semangat, dukungannya,dan bantuan baik moril maupun
materil serta nasehat dan doa nya.
8. Terimakasih untuk semua keluarga-keluarga penulis, adek Hanifa gendutku,
adek disva, adek adeguslia, kak Rabiah Sari , kak yaya, dan saudaraku
semuanya yang telah memberikan semangat dan dukungannya.
iii
9. Terimakasih untuk temanku, Afrita Gusrina,[Link] yang telah berjasa dalam
membantu dan memberikan semangat serta motivasi dalam penulisan skripsi
ini.
10. Terimakasih untuk Boy Rivaldo yang telah mmeberikan motivasi dan
menemaniku dari awal perjuangan masa kuliah hingga sekarang ini.
11. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan ku, Mardhotilla Annisa
Rahman, Tengku Silvianti , Fitri Arianti, Siti Maysarah , Inda willa Saputri ,
Rita Dwi saputri, Silfia Harfiani Putri , dan teman yang lainnya yang sudah
bekerja sama sehingga skripsi ini siap tepat waktu.
12. Teman seperjuanganku di kos, yella deswita yang telah sama-sama
mengerjakan setiap hari pagi dan malam demi mencapainya tujuan kita
bersama.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati serta keridhoan dari Allah SWT ,
penulis memohon semoga atas bimbingan, bantuan, dukungan , motivasi, serta
keikhlasan nya yang telah diberikan kepada penulis selama ini akan menjadi amal
kebaikan dan mendapatkan balasan yang layak dari Allah SWT, amiin ya rabbal
alamin.
Pekanbaru, 25 Mei 2022
Penulis,
Destika Nuryanti
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK .................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ v
DAFTAR TABEL....................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1. Latar belakang .............................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 7
1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 7
1.4. Manfaat penelitian........................................................................................ 7
1.5. Sistematika Penulisan .................................................................................. 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 10
2.1. Landasan Teori ........................................................................................... 10
2.1.1 Pengertian Bank Syariah .................................................................. 10
2.2. Jenis-jenis Bank Syariah............................................................................ 12
2.2.1 Bank Umum Syariah ........................................................................ 12
2.2.2 Unit Usaha Syariah .......................................................................... 13
2.2.3 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) ..................................... 13
2.3. Prinsip-prinsip dasar syariah .................................................................... 13
2.3.1 Prinsip-prinsip syariah yang dilarang .............................................. 14
2.4. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) ............................................. 15
2.5. Pembiayaan ................................................................................................. 15
2.5.1 Jenis-jenis pembiayaan .................................................................... 16
2.5.2 Fungsi pembiayaan .......................................................................... 16
v
2.5.3 Pembiayaan Mudharabah................................................................. 17
2.5.4 Jenis-jenis Mudharabah ................................................................... 19
2.5.5 Pembiayaan Musyarakah ................................................................. 22
2.5.6 Dana Pihak Ketiga (DPK)................................................................ 22
2.5.7 Jenis-jenis sumber dana pihak ketiga (DPK) ................................... 23
5.5.8 Return On Assets (ROA) ................................................................. 25
5.5.9 Capital Adequaty Ratio (CAR) ........................................................ 25
5.5.10 Resiko ............................................................................................ 25
2.6. Penelitian Terdahulu .................................................................................. 26
2.7. Kerangka Pemikiran .................................................................................. 30
2.8. Hipotesis ...................................................................................................... 30
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 31
3.1. Lokasi/Objek Penelitian............................................................................. 31
3.2. Populasi dan Sampel .................................................................................. 31
3.2.1 Populasi............................................................................................ 31
3.2.1 Sampel ............................................................................................. 31
3.3. Jenis dan Sumber Data .............................................................................. 33
3.3.1 Jenis Data ......................................................................................... 33
3.3.2 Sumber Data .................................................................................... 33
3.4. Operasional Variabel ................................................................................. 34
3.5. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 35
3.6. Teknik Analisis Data .................................................................................. 36
3.6.1 Uji Asumsi Klasik ............................................................................ 36
3.6.2 Analisis Regresi ............................................................................... 38
3.6.3 Uji hipotesis ..................................................................................... 39
3.6.4 Koefisien Determinasi (Uji R2)........................................................ 40
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ................................................... 41
4.1. Sejarah bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) ................................. 41
vi
4.1.1 Kegiatan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.................................... 43
4.2. Sejarah Singkat 22 Unit Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di
Indonesia ................................................................................................................ 43
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................... 60
5.1. Hasil Penelitian ........................................................................................... 60
5.1.1 Analisis Dana Pihak Ketiga (DPK) ........................................................ 60
5.1.2 Analisis Capital Adequaty Ratio (CAR) ................................................ 62
5.1.3 Analisis Return On Asset (ROA) ........................................................... 65
5.1.4. Analisis Resiko / Non Performing Financing (NPF) ............................. 68
5.1.5. Pembiayaan Mudharabah ....................................................................... 70
5.1.6. Pembiayaan Musyarakah ...................................................................... 72
5.1.7. Analisis Statistic Descriptive ................................................................ 76
5.1.8. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Mudharabah .................. 76
5.2. Uji Asumsi Klasik ....................................................................................... 79
5.2.1. Uji Normalitas ....................................................................................... 79
5.2.2. Uji Multikolonieritas ............................................................................ 80
5.2.3. Uji Heteroskedasitas............................................................................. 80
5.2.4. Uji Autokorelasi ................................................................................... 81
5.3. Analisis Regresi pada Estimasi Random Effect Model ........................... 82
5.3.1. Uji Simultan (Uji F) .............................................................................. 84
5.3.2. Uji Parsial (Uji T).................................................................................. 85
5.3.3. Determinasi (R2).................................................................................... 87
5.4. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Musyarakah ................. 87
5.5. Uji Asumsi Klasik ...................................................................................... 89
5.5.1. Uji Normalitas ....................................................................................... 89
5.5.2. Uji Multikolonieritas ............................................................................ 90
5.5.3. Uji Heteroskedasitas............................................................................. 91
5.5.4. Uji Autokorelasi .................................................................................... 92
5.6. Analisis Regresi pada Estimasi Fixed Effect Model................................ 93
vii
5.6.1. Uji Simultan (Uji F) .............................................................................. 94
5.6.2. Uji Parsial (Uji T).................................................................................. 95
5.6.3. Determinasi (R2).................................................................................... 97
5.7. Pembahasan ............................................................................................... 98
5.7.1. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Mudharabah .............................. 98
5.7.2. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Mudharabah .............................. 99
5.7.3. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Mudharabah ............................ 101
5.7.4. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Mudharabah ............................. 102
5.7.5. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Musyarakah ............................. 103
5.7.6. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Musyarakah............................. 104
5.7.7. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Musyarakah ............................ 105
5.7.8. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Musyarakah ............................. 106
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. 108
6.1. Kesimpulan ............................................................................................ 108
6.2. Saran ...................................................................................................... 109
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 110
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Komposisi Pembiayaan (BPRS) di Indonesia ......................................... 4
Tabel 1. 2 Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK)-BPRS di Indonesia .................... 6
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu ............................................................................... 26
Tabel 3. 1 Sampel Penelitian .................................................................................... 32
Tabel 3. 2 Operasional Variabel .............................................................................. 34
Tabel 5. 1 Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .................................... 60
Tabel 5. 2 Perkembangan Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .............. 63
Tabel 5. 3 Perkembangan Return On Asset (ROA) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .................................... 66
Tabel 5. 4 Perkembangan Non Performing Financing (NPF) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .............. 68
Tabel 5. 5 Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
di Indonesia tahun 2016-2020. ............................................................... 71
Tabel 5. 6 Pembiayaan Musyarakah Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
di Indonesia tahun 2016-2020. ............................................................... 73
Tabel 5. 7 Hasil Analisis Deskriptif ......................................................................... 76
Tabel 5. 8 Estimasi output uji chow ........................................................................ 77
Tabel 5. 9 Estimasi output uji hausman .................................................................. 78
Tabel 5. 10 Hasil Uji Multikolonieritas ................................................................... 80
Tabel 5. 11 Hasil Uji Heteroskedasitas .................................................................... 81
Tabel 5. 12 Hasil Estimasi Regresi Random Effect Model .................................... 83
Tabel 5. 13 Hasil Uji F .............................................................................................. 84
Tabel 5. 14 Hasil Uji T .............................................................................................. 85
Tabel 5. 15 Determinasi (R2) .................................................................................... 87
Tabel 5. 16 Uji Chow ................................................................................................. 88
Tabel 5. 17 Uji Hausman .......................................................................................... 89
Tabel 5. 18 Hasil Uji Multikolonieritas ................................................................... 91
Tabel 5. 19 Hasil Uji Heteroskedasitas .................................................................... 92
Tabel 5. 20 Hasil Estimasi fixed Effect Model ........................................................ 93
Tabel 5. 21 Hasil Uji F .............................................................................................. 95
Tabel 5. 22 Hasil Uji T .............................................................................................. 96
Tabel 5. 23 Determinasi (R2) .................................................................................... 97
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Teori Bank Syariah............................................................................. 11
Gambar 2. 2 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 30
Gambar 5. 1 Grafik Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 62
Gambar 5. 2 Grafik Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 65
Gambar 5. 3 Grafik Retrun On Asset (ROA) Pada Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.............................................. 67
Gambar 5. 4 Grafik Non Performing Financing (NPF) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 70
Gambar 5. 5 Grafik Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 72
Gambar 5. 6 Grafik Pembiayaan Musyarakahah Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 75
Gambar 5. 7 Hasil Uji Normalitas ........................................................................... 79
Gambar 5. 8 Hasil Uji Autokorelasi ........................................................................ 82
Gambar 5. 9 Uji Normalitas ..................................................................................... 89
Gambar 5. 10 Hasil Uji Autokorelasi ...................................................................... 92
x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Di Indonesia terdapat dua jenis perbankan yaitu bank konvensional dan bank
syariah. Dimana bank yang melakukan usahanya secara konvensional bahwa kegiatan
usahanya lebih dikenal sebagai pembayaran bunga yang lebih dulu muncul dan
berkembang diindonesia. sedangkan pada bank syariah yaitu perbankan yang baru
saja berdiri beberapa tahun belakangan ini. bank syariah ini menjalankan kegiatan
usahanya de ngan menggunakan prinsip-prinsip syariah atau syariat islam.
Landasan hukum perbankan
a. Undang undang republik Indonesia nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan
sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998.
b. Undang undang republik Indonesia nomor 23 tahun 1999 tentang bank
Indonesia sebagaimana telah diubah dengan undang undang nomor 3 tahun
2003.
Adapun terdapat perbedaan antara kedua bank tersebut yaitu Pada bank
konvensional, yaitu sistem bunga (interest) digunakan untuk mengoptimalkan
pemenuhan kepentingan pribadi sehingga kurang mempertimbangkan dampak sosial
yang ditimbulkannya, sedangkan pada bank syariah berorientasi pada pemenuhan
kemaslahatan hidup umat manusia (sudarsono,2008).
1
2
Perbankan syariah di Indonesia terdapat tiga jenis bank yaitu Bank Umum
Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah
(BPRS). Berdirinya BPRS Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan
dari PP No. 72 tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Pasal 1
butir 4 UU No. 10 tahun 1998 yaitu tentang perubahan UU No. 7 tahun 1998,
menyebutkan bahwa BPRS ialah perbankan yang pelaksanaan kegiatan usahanya
berdasarkan prinsip-prinsip syariah dan BPRS tidak memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran.
Bank Pembiayaan Rakyat Islam adalah lembaga keuangan yang model
bisnisnya menggunakan prinsip Syariah Islam. BPRS didirikan sebagai langkah aktif
dalam berbagai paket kebijakan fiskal, moneter dan perbankan pada umumnya dan
secara khusus mengisi jalan bagi kebijakan perbankan tradisional dalam penetapan
tingkat suku bunga, yang selanjutnya BPRS dikenal luas sebagai Sistem Perbankan
Bagi Hasil atau Sistem Perbankan Syariah.
Produk-produk yang ditawarkan bank syariah antara lain dana dalam bentuk
pembiayaan, pembiayaan dalam bentuk simpanan yang dikenal dengan istilah
deposito, dan jasa. Pendanaan di perbankan syariah mengalami perkembangan yang
sangat signifikan. Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk
meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi yang sesuai dengan nilai-
nilai Islam (rimadhani dan erza, 2011). Produk pembiayaan pada bank syariah terbagi
3
menjadi 4, yaitu: pembiayaan prinsip beli dan jual, pembiayaan prinsip leasing,
pembiayaan akad pelengkap dan pembiayaan prinsip bagi hasil (karim, 2007).
Pembiayaan mudharabah dan musyarakah termasuk kedalam pembiayaan dalam
prinsip bagi hasil. Dalam prinsip bagi hasil, penentuan besarnya nisbah bagi hasil
dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi, pada
besarnya nisbah tergantung dari keuntungan yang diperoleh dimana terdapat jumlah
keuntungannya akan meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan, dan bila
usaha tersebut mengalami kerugian,maka kerugian tersebut ditanggung bersama oleh
kedua belah pihak (Antonio, 2001).
Pada data di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama 5 tahun terakhir dari tahun
2016-2020, Total BPRS di indonesia Pada tahun 2016 berjumlah 166 meningkat
menjadi 167 pada tahun 2017 dan 2018. Dan pada tahun 2019 total BPRS di
Indonesia mengalami penurunan hingga tahun 2020 dengan total BPRS berjumlah
163. Berdasarkan penjelasan data diatas artinya selama 5 tahun terakhir BPRS telah
mengalami penurunan pada perkembangan total BPRS di Indonesia.
Pembiayaan murabahah, musyarakah dan mudharabah merupakan salah satu
factor yang mempengaruhi tingkat keuntungan BPRS di Indonesia. Dikarenakan pada
3 pembiayaan tersebut adalah pembiayaan yang lebih dominan yang diminati oleh
nasabah BPRS.
4
Data yang diperoleh oleh Bank pembiayaan rakyar syariah (BPRS) melalui
Statistik Perbankan Syariah ([Link].) menunjukkan bahwa di Indonesia, dari
tahun ke tahun, pembiayaan murabahah pada bank pembiayaan rakyat syariah
(BPRS) masih mendominasi dibanding pembiayaan dengan akad lainnya.
Perkembangan komposisi pembiayaannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. 1 Komposisi Pembiayaan (BPRS) di Indonesia
(dalam jutaan rupiah)
No Pembiayaan 2016 2017 2018 2019 2020
1 Akad
156.256 124.497 180.956 240.606 220.848
Mudharabah
2 Akad
774.949 776.696 837.915 1.121.004 1.135.809
Musyarakah
3 Akad
5.053.764 5.904.751 6.940.379 7.457.774 7.711.400
Murabahah
4 Akad Salam 14 0 0 0 0
5 Akad Istishna 9.423 21.426 35.387 67.178 67.238
6 Akad Ijarah 6.763 22.316 46.579 41.508 48.961
7 Akad Qardh 145.865 189.866 185.36 176.856 201.370
8 Multijasa 515.523 724.398 857.89 838.394 941.975
Total 6.662.556 7.763.951 9.084.467 9.943.320 10.327.603
Sumber : [Link] , 2021
Dari tabel dapat dilihat bahwa pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan
yang mendominasi pembiayaan pada BPRS di Indonesia. Pada tahun 2016 jumlah
pembiayaan murabahah mengalami kenaikan dari Rp5.053.764 hingga tahun 2020
sebesar Rp 7.711.400. sementara pembiayaan musyarakah pada tahun 2016 sebesar
Rp 774.949 juga mengalami kenaikan hingga tahun 2018 sebesar Rp837.915 dan
mengalami penurunan ditahun 2019 hingga kembali mengalami kenaikan sebesar Rp
5
1.135.809 pada tahun 2020. Dan pada pembiayaan mudharabah juga mengalami
kenaikan dan penurunan ditahun 2016-2018 hingga mengalami kenaikan kembali
ditahun 2020 sebesar Rp220.848. hal ini menunjukan bahwa pembiayaan murabahah
memiliki kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan atas dasar
bagi hasil yaitu mudharabah dan musyarakah. Dari data diatas , terjadi fenomena
kenaikan dan penurunan antara pembiayaan murabahah , musyarakah dan
mudharabah pada tiap tahunnya.
Rendahnya nilai pembiayaan mudharabah / bagi hasil atau dominasi pembiayaan
nonbagi hasil terutama murabahah pada portofolio pembiayaan bank pembiayaan
rakyat syariah (BPRS) ternyata merupakan fenomena global, tidak terkecuali di
Indonesia. Fenomena tersebut disebabkan oleh pembiayaan berbasis bagi
hasil,dimana pembiayaan bagi hasil lebih cenderung memiliki risiko lebih besar jika
dibandingkan dengan pembiayaan lainnya. Meskipun prinsip bagi hasil menjadi ciri
khas perbankan syariah, namun risikonya cukup tinggi yaitu risiko moral hazard dan
biaya transaksi yang tinggi (Arnan dan Kurniawasih, 2014).
Mengingat masih rendahnya fenomena pembiayaan berbasis bagi hasil yaitu
pembiayaan mudharabah dan musyarakah, maka perlu dikaji faktor-faktor apa saja
yang dapat mempengaruhi pembiayaan mudharabah dan [Link]
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan tersebut, maka pihak bank
syariah dapat mengoptimalkan faktorfaktor tersebut agar terjadi peningkatan porsi
pada pembiayaan mudharabah dan musyarakah (bagi hasil).
6
Besar kecilnya penyaluran dana yang diberikan bank syariah sangat dipengaruhi
oleh besar kecilnya dana pihak ketiga (DPK). Berikut tabel komposisi Dana Pihak
Ketika dari BPRS di Indonesia (Wibowo,2007),
Tabel 1. 2 Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK)-BPRS di Indonesia
(dalam jutaan Rp)
Indikator 2016 2017 2018 2019 2020
1. Giro IB-Akad
- - - - -
wadiah
2. Tabungan iB 2.161.305 2.578.278 2.998.201 3.202.792 3.215.725
a. akad wadiah 1.178.603 1.457.999 1.738.702 1.873.868 1.890.590
b. akad
982.702 1.120.278 1.259.499 1.328.924 1.325.135
mudharabah
3. Deposito iB-
3.662.658 4.409.003 5.136.737 5.529.098 5.877.976
akad mudharabah
Total 5.823.964 6.987.280 8.134.938 8.731.890 9.093.701
Sumber : [Link]. ,2021
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa komposisi dana pihak ketiga (DPK) pada
BPRS di Indonesia yaitu berupa giro akad wadiah, tabungan, dan deposito. Pada akad
wadiah tahun 2016-2020 tidak memiliki data berupa angka. Sedangkan pada tabungan
yang berupa akad mudarabah dari tahun 2016-2019 mengalami kenaikan namun
ditahun 2020 tabungan akad mudharabah mengalami penurunan yang sedikit
dibandingkan tahun sebelumnya. dan pada tabungan akad wadiah dapat dilihat bahwa
dari tahun 2016-2020 mengalami kenaikan. Sedangkan pada deposito akad
mudharabah dari tahun 2016-2020 mengalami peningkatan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari uraian latar belakang, penulis tertarik untuk
meneliti dan membahas masalah analisis DPK,CAR,ROA dan Resiko pada
pembiayaan
7
dalam bentuk proposal yang penulis beri judul : Analisis Dana Pihak Ketiga
(DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR), Retun On Assets (ROA) Dan Risiko
Terhadap Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas , maka dapat
merumuskan permasalahan yakni : „‟Apakah terdapat pengaruh Dana Pihak Ketiga
(DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) dan Resiko
terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah (BPRS) di Indonesia‟‟
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini bertujuan Untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak
Ketiga (DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR), Return On Asset (ROA) dan Resiko
terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah (BPRS) di Indonesia
1.4. Manfaat penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagi bank syariah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi BPRS
Indonesia sehingga dapat meningkatkan kualitas dalam pembiayaan
mudharabah dan musyarakah
8
2. Bagi penulis
Menambah wawasan bagi penulis dalam menerapkan ilmu pengetahuan
tentang pembiayaan yang diberikan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dari
hasil penelitian tersebut.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Dapat dijadikan tambahan sebagai bahan pertimbangan dan pemikiran dalam
penelitian kedepannya dimasa yang akan datang.
1.5. Sistematika Penulisan
Adapun sisitematika penulisan pada penelitian ini sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab I ini merupakan penjelasan yang terdiri mengenai topik penelitian
yang akan diangakat. Dalam Bab I ini meliputi latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penelitan, manfaat penelitian.
BAB II : TELAAH PUSTAKA
Pada bab ini merupakan penjelasan dari variabel yang terdapat pada
penelitian ini, variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
variabel DPK(X1), ROA (X2), CAR (X3), NPF(X4) dan Pembiayaan
Mudharabah dan musyarakah (Y).
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini merupakan penjelasan tentang lokasi penelitian, jenis variabel
dan sumber data, populasi dan sample , teknik analisis data , dan
teknik pengmupulan data.
9
BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Bab ini merupakan penjelasan tentang gambaran umum dari
perusahaan yang di teliti.
BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menampilkan hasil dan pembahasaan dari penelitian mengenai
Analisis Dana Pihak Ketiga , Return On Asset, Current Asset Ratio
dan Resiko terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia periode 2016-
2020.
BAB VI : PENUTUP
Bab ini merupakan bab penutup dari penelitan ini yang menjelaskan
kesimpulan dan saran dari hasil penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Bank Syariah
Bank Syariah merupakan perbankan yang sistemnya mengikuti prinsip
syariah Islam. Bank Syariah menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992
tentang perbankan adalah Bank Umum yang melakukan kegiatan usahanya
berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran. bank yang berjalan sesuai pada prinsip syariah Islam adalah
bank yang dalam pelaksanaannya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam,
khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam. (Antonio
dalam Ema Rindawati, 2007).
Bank Syariah merupakan bank yang memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran yang sesuai dengan syariat Islam (Habib Nazir dan Hasanuddin,
2004;74).
10
11
Gambar 2. 1 Teori Bank Syariah
Terwujud bank syariah yang murni syariah. QS Al Baqarah : 208
Baqarah:275 , 278-280 : Ali Imran:130
dan gharar . QS Al-baqarah:188 ; An-
Larangan segala prakter riba, QS Al-
Berbagi keuntungan dan resiko rugi :
Larangan pembiayaan usaha masyir
Pembiayaan pada reel asset QS Al-
; An-Nisa‟:160-161 ; Ar-Rum:39.
S
QS Yusuf:47 ; An-„Am:38 ; Al-
hasyr:18 ; Al-luqman:34 ; al-
nisa‟:29 ;Al-maidah:90-91
Luqman:34 ; Al-Hasyr:18.
baqarah:261 ; An-nisa‟:9
Y
A
R
I
A
T
Mentalitas nasabah dan pegawai bank : sifat rasulullah saw terdiri dari
shidiq , fathonah, amanah, dan tabligh.
Fondasi : aqidah berdasarkan al-quran (Al-maidah:3; Al-anbiya:25,
Al-baqarah:2,186,208; An-nisa‟:80; Az-zumar:65; At-taubah:31;
Al-iklas:1-4; Azh zariyaat:56; Al-hadid;22)
Sumber : Hamdi Agustin, 2021
Dilihat pada gambar 2.1, menunjukan bahwa bank syariah terbentuk
seperti bangunan yang mana fondasi pada bank syariah adalah akidah yang
berdasarkan Al-Quran dan hadist. jika pondasi telah berdiri, maka bank syariah
dapat menjalankan aturan nya berdasarkan syariat islam yang terdiri dari :
1) Adanya Larangan segala praktek riba , hal ini terdapat pada QS Al-
Baqarah:275 , 278-280 : Ali Imran:130 ;An-Nisa‟:160-161 ; Ar-Rum:39.
12
2) Adanya Larangan pembiayaan usaha masyir dan gharar, hal ini terdapat pada
QS Al-baqarah:188 ; An-nisa‟:29 ;Al-maidah:90-91
3) Berbagi keuntungan dan resiko rugi , hal ini terdapat pada QS Yusuf:47 ; An-
„Am:38 ; Al-Luqman:34 ; Al-Hasyr:18.
4) Pembiayaan pada reel asset. Hal ini berdasarkan QS Al-hasyr:18 ; Al-
luqman:34 ; al-baqarah:261 ; An-nisa‟:9
Dapat Disimpulkan bahwa, apabila syariat telah dilaksanakan dengan baik
dan sesuai dengan ketentuan islam pada perbankan syariah maka akan terwujud
bank syariah yang murni sehingga akan mendapatkan keberkahan serta keridhoan
dari Allah SWT sesuai dengan QS Al-Baqarah:208.
2.2. Jenis-jenis Bank Syariah
2.2.1 Bank Umum Syariah
Bank Umum Syariah (BUS) merupakan bank yang melaksanakan
kegiatan usaha nya sesuai dengan prinsip islam yang berbasis syariah dan
melakanakan kegiatan lalu lintas pembayaran. Bank umum syariah dapat
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah ialah
prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang di
keluarkan pada lembaga yang memiiki kewenangan dalam penetapan fatwa di
bidang syariah tersebut.
13
2.2.2 Unit Usaha Syariah
Unit Usaha Syariah (UUS) merupakan unit usaha yang dibentuk oleh
bank konvensional, namun UUS melakukan aktivitas perbankan berdasarkan
prinsip syariah dalam kegiatannya dan melakukan kegiatan transaksi
pembayaran.
2.2.3 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) merupakan bank yang
melaksanakan kegiatan usaha nya berdasarkan prinsip syariah yang
kegiatannya tidak memberikan jasa di dalam lalu lintas pembayaran. Adapun
BPRS tidak dapat melakukan transaksi lalu lintas pembayaran atau transakasi
dalam lalu lintas giral.
2.3. Prinsip-prinsip dasar syariah
Terdapat tiga pilar pokok dalam ajaran islam, yaitu :
- Aqidah : Komponen yang mengatur keyakinan akan adanya dan kekuasaan
Allah, sehingga harus menjadi keyakinan seorang Muslim.
- Syariah : Komponen mengatur tentang kehidupan seorang muslim,baik
dalam bidang Ibadah maupun muamalah.
- Akhlaq : Suatu Landasan prilaku dan kepribadian yang mencirikan dirinya
seorang muslim yang taat aturan syariah dan akidah yang menjadi pedoman
hidup.
14
2.3.1 Prinsip-prinsip syariah yang dilarang
Ada tiga prinsip syariah yang dilarang dalam perbankan syariah, yaitu:
1) Maisir (gampang/mudah)
Maisir (perjudian) , karena dalam praktik perjudian seseorang dapat
memperoleh keuntungan dengan cara yang sangat mudah.
2) Gharar (pertaruhan)
Gharar merupakan suatau transaksi yang barangnya belum jelas atau tidak
berada dalam kuasanya (diluar jangkauan).
3) Riba
Dalam islam, Riba hukumnya haram. Riba merupakan pengambilan tambahan
dari harta pokok atau modal secara bathil.
Adapun jenis-jenis riba yaitu :
1. Riba fadhl , yaitu tukar menukar dua barang yang sama jenisnya dengan tidak
sama timbangannya/takarannya yang diisyaratkan oleh orang yang menukar.
2. Riba qardh , yaitu meminjankan sesuatu dengan syarat ada tambahan/
keuntungan bagi orang yang meminjam.
3. Riba yad , yaitu berpisah dari tempat sebelum timbang di terima.
4. Riba nasi‟ah , yaitu adanya tukar menukar dua barang yang sejenis maupun
tidak sejenis yang pembayarannya diisyaratkan lebih dengan diakhiri/
dilambatkan oleh yang minjam.
15
2.4. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah salah satu lembaga
keuangan syariah dan pola operasinya mengikuti prinsip syariah. BPRS didirikan
berdasarkan Perbankan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72 Tahun 1992
berdasarkan Undang-Undang Perbankan Bagi Hasil No. 7 Tahun 1992. Dalam Pasal
1 (Angka 4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, yang mengubah Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, BPRS adalah bank yang beroperasi
berdasarkan prinsip syariah, dan jasa pembayaran yang diberikannya dalam usaha itu.
menyediakan.
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan perbankan syariah yang
kegiatan usahanya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. BPRS tidak
dapat dikonversikan menjadi bank perkreditan rakyat (BPR) , pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah (BPRS) ini tidak dibenarkan/diizinkan untuk membuka kantor cabang
, kantor perwakilan dan jenis kantor lainnya diluar negri.
2.5. Pembiayaan
Pembiayaan adalah kegiatan dalam menyalurkan dana yang terkumpul kepada
anggota pengguna dana, memilih jenis usaha yang akan dibiayai agar diperoleh jenis
usaha yang produktif, menguntungkan dan dikelola oleh anggota yang jujur serta
bertanggung jawab (Ahmad Sumiyanto,2008:165).
Pembiayaan adalah cara yang dilakukan bank syariah kepada masyarakat untuk
menggunakan dana yang dikumpulkan oleh bank syariah dari pihak yang kelebihan
dana (Muhammad, 2004:7).
16
Secara umum, prinsip bagi hasil dalam perbankan syariah ini dapat dilakukan
dalam empat akad utama, yaitu: musyarakah, mudharabah, muzara‟ah dan musaqah.
Dengan demikian, prinsip pada bank syariah yang paling banyak digunakan oleh
masyarakat adalah mudharabah dan musyarakah (Antonio, 2001). Dimana
Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama sesuai dengan proporsi yang telah
ditetapkan sebelumnya. Melalui pembiayaan bagi hasil yang disalurkan, bank syariah
akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil yang menjadi bagian bank.
2.5.1 Jenis-jenis pembiayaan
Jenis-jenis pembiayaan bank syariah Karim (2009: 231-254) adalah:
1) Pembiayaan modal kerja syariah
2) Pembiayaan investasi syariah
3) Pembiayaan konsumtif syariah
4) Pembiayaan berdasarkan take over
2.5.2 Fungsi pembiayaan
Pembiayaan bank syariah secara umum berfungsi untuk (Asiyah,
2014: 8-11 :
1) Meningkatkan daya guna uang
Para nasabah menyimpan uangnya di bank dalam bentuk giro, tabungan dan
deposito. Dimana Uang tersebut dalam presentase tertentu ditingkatkan
kegunaannya oleh bank guna suatu usaha peningkatan produktifitas.
2) Meningkatkan daya guna barang
17
a) Produsen dengan bantuan pembiayaan dari bank dapat mengubah
barang mentah menjadi barang jadi sehingga utility bahan tersebut
meningkat.
b) Produsen dengan bantuan pembiayaan dapat memindahkan barang dari
suatu tempat yang kegunaanya kurang ketempat yang lebih
bermanfaat.
3) Meningkatkan peredaran uang
Pembiayaan yang disalurkan melalui rekening-rekening usaha pengusaha
mengakibatkan peningkatan peredaran giro dan sejenisnya seperti cek, bilyet,
giro, wesel, wesel, dan sebagainya. Pembiayaan meningkatkan peredaran
uang tunai dan giro karena pembiayaan membangkitkan semangat usaha,
sehingga penggunaan uang akan meningkat baik secara kualitatif maupun
kuantitatif.
4) Menimbulkan kegairahan berusaha
Pembiayaan yang diterima pengusaha dari perbankan kemudian digunakan
untuk meningkatkan volume dan produktivitas usaha.
2.5.3 Pembiayaan Mudharabah
Mudharabah adalah akad kerjasama bisnis antara dua pihak, dengan
pihak pertama menyediakan seluruh modal (100%) dan pihak lainnya sebagai
pengelola. Keuntungan akan dibagi sesuai kesepakatan dalam kontrak.
Sebaliknya jika kerugian ditanggung oleh pemilik modal, kecuali kerugian
tersebut disebabkan oleh pengelola (Antonio, 2001: 95).
18
Mudarabah adalah kesepakatan antara pemilik modal dan pengelola
dana untuk melakukan kegiatan usaha, keuntungan dibagikan berdasarkan
nisbah bagi hasil berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, dan jika terjadi
kerugian, dana tersebut tidak akan hilang kecuali jika terjadi. bertanggung
jawab untuk itu. Sengaja, kelalaian atau cidera manajer dibiayai (Sri
Nurhayati dan Wasilah, 2008:112).
Mudharabah merupakan bentuk kerjasama antara kedua pihak atau
lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah
modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian
keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100%
modal dari shahibul maal dan keahlian dari mudharib (Rodoni,2008:27).
Jenis transaksi ini tidak memerlukan perwakilan Shahibul Maal dalam
manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, Mudharib harus bertindak
dengan rajin dan memperhitungkan kerugian yang terjadi karena kelalaian.
Sementara itu, sebagai wakil Shahibul Maal, ia diharapkan mengelola modal
dengan cara tertentu untuk mencapai keuntungan yang optimal (Rodoni,
2008:28).
Ketentuan umum Mudharabah sebagai berikut :
1. Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal
harus diserahkan secara tunai, berupa uang atau barang yang dinyatakan
nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap,
harus jelas tahapannya dan harus disepakati bersama.
19
2. Hasil pengelolaan modal penggalangan dana mudharabah dapat dihitung
dengan dua cara: perhitungan pendapatan proyek dan perhitungan
keuntungan proyek.
3. Pembagian kinerja akan dilakukan sesuai kesepakatan atau waktu yang
disepakati dalam kontrak bulanan. Sebagai pemilik modal, bank
menanggung segala kerugian kecuali karena kelalaian nasabah dan penipuan
seperti penipuan, penipuan dan penyalahgunaan dana.
4. Bank berhak mengawasi usaha, tetapi tidak berhak mencampuri usaha/usaha
nasabah. Sanksi administratif dapat dikenakan kepadanya jika nasabah
dengan sengaja mengingkari janjinya, misalnya lalai memenuhi
kewajibannya atau menunda pembayaran kewajibannya.
2.5.4 Jenis-jenis Mudharabah
Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak penyimpan dana,
prinsip mudharabah terbagi dua yaitu:
[Link] Mudharabah mutlaqah
Di Mudharabah Mutlaqah, tidak ada batasan bagi bank mengenai
penggunaan dana yang dihimpun. Pelanggan tidak memaksakan kondisi apa
pun pada bank atau perusahaan untuk mengharuskan dana yang disimpan
didistribusikan, menentukan penggunaan kontrak tertentu, atau dana
dialokasikan untuk pelanggan tertentu. Ketentuan umum dalam mudharabah
mutlaqah adalah:
20
1) Bank wajib menginformasikan kepada pemilik tentang hubungan dan
tata cara pelaporan laba dan bagi hasil berdasarkan risiko yang
mungkin timbul dari penyimpanan dana. Jika kesepakatan telah
dibuat, ini harus dimasukkan dalam kontrak.
2) Pada tabungan mudharabah, Tabungan Mudharabah dapat
menyediakan buku tabungan sebagai bukti setoran, serta kartu ATM
dan penarikan lainnya bagi penabung. Untuk simpanan mudharabah,
bank wajib menerbitkan sertifikat atau sertifikat titipan (bilyet)
kepada penabung.
3) Tabungan mudharabah dapat diambil setiap saat oleh penabung
sesuia dengan perjanjian yang disepakati, namun tidak diperkenankan
mengalami saldo negative.
4) Deposito mudharabah hanya dapat ditarik dalam batas waktu yang
telah disepakati. Setoran yang diperpanjang setelah tanggal jatuh
tempo diperlakukan seperti simpanan baru, tetapi jika pembaruan
otomatis disertakan dalam kontrak, tidak perlu membuat kontrak
baru.
[Link] Mudharabah Muqayyadah
Jenis mudharabah ini merupakan simpanan khusus (investasi terbatas)
yang memungkinkan pemilik dana untuk menetapkan syarat-syarat tertentu
yang harus dipatuhi oleh bank. Misalnya, harus digunakan untuk perusahaan
21
tertentu, atau harus digunakan dengan kontrak tertentu, atau harus digunakan
untuk pelanggan tertentu. Karakteristik jenis simpanan ini adalah sebagai
berikut:
1) Pemilik dana wajib menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus
diperhatikan oleh bank dan membuat perjanjian yang mengatur
tentang syarat-syarat penyaluran dana simpanan khusus.
2) Bank wajib menginformasikan kepada pemilik dana mengenai
rasio dan tata cara pelaporan keuntungan dan/atau bagi hasil
berdasarkan risiko yang mungkin timbul dari penyimpanan dana.
3) Sebagai bukti pembayaran, bank mengeluarkan slip pembayaran
khusus. Bank wajib memisahkan dana tersebut dari rekening lain.
4) Untuk simpanan mudharabah, bank wajib menerbitkan kuitansi
simpanan atau bilyet titipan kepada penabung.
5) Mudharabah Muqayyadah of Balance sheet
22
2.5.5 Pembiayaan Musyarakah
Musyarakah adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk
pengaturan tertentu, masing-masing pihak mendanai dan berbagi keuntungan
dan risiko sesuai kesepakatan (Sudarsono, 2008).
Ascarya (2011) menjelaskan bahwa pembiayaan Musyarakah adalah
kerjasama dimana dua atau lebih pengusaha bekerja sama sebagai mitra bisnis.
Masing-masing pihak menyumbangkan modalnya dan ikut serta dalam
pengelolaan perusahaan. Keuntungan dan kerugian dibagi menurut persentase
kepemilikan.
2.5.6 Dana Pihak Ketiga (DPK)
Menurut Dendawijaya (2005), DPK yang terkumpul merupakan dana
terbesar yang paling diandalkan oleh bank (dapat mencapai 80% sampai 90%
dari seluruh dana yang dikelola bank).
Dana pihak ketiga adalah dana yang dihimpun dari masyarakat umum,
baik perorangan maupun badan usaha, yang diperoleh dari bank dengan
menggunakan berbagai produk simpanan milik bank (Kuncoro dan Suhardjono,
2011: 140).
Menurut Antonio (2001), salah satu sumber pendanaan yang tersedia
untuk pembiayaan adalah tabungan masyarakat (DPK). Semakin banyak dana
pihak ketiga yang dikumpulkan bank, semakin banyak uang yang dibayarkan
bank.
23
2.5.7 Jenis-jenis sumber dana pihak ketiga (DPK)
Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004
Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat
kepada bank dapat berupa Giro, Tabungan, dan Deposito.
a) Giro
Giro menurut Undang-Undang Perbankan No. 21 Tahun 2008, Pasal 1 Ayat
23, “Giro adalah titipan berdasarkan akad wadi'ah atau akad lainnya yang
tidak bertentangan dengan prinsip syariah, yang penarikannya dapat dilakukan
sewaktu-waktu dapat dilakukan dengan cek, bilyet giro, alat pembayaran
lainnya, , atau dengan booking order.”
b) Tabungan
Tabungan menurut Undang-Undang Perbankan No. 21 Tahun 2008 Pasal
1(21): “Tabungan adalah simpanan berdasarkan akad Wadia, dana investasi
dengan akad Mudarabah, atau akad lain yang tidak melanggar prinsip-prinsip
Syariah. Penarikannya tunduk pada syarat-syarat tertentu yang disepakati dan
tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau sarana lain yang
dipersamakan dengan itu.”
c) Deposito
Deposito menurut Undang-Undang Perbankan No. 21 Tahun 2008 Pasal 1
ayat 22, “Deposito adalah penanaman dana berdasarkan akad mudharabah
atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, yang
24
penarikannya hanya pada waktu tertentu dapat berdasarkan kesepakatan
antara Nasabah Penyimpan dengan Bank Syariah dan/atau UUS.”
Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana yang dititipkan kepada bank
oleh masyarakat atas dasar akad penyimpanan dana berupa Giro Wadi'ah,
Tabungan Wadi'ah, Tabungan Mudharabah, dan Simpanan [Link]
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan hal tersebut :
Dana Pihak Ketiga = Giro + Deposito + Tabungan
Dari tinjauan tersebut dapat dikatakan bahwa bank syariah
menghimpun dana (dana pihak ketiga) dari masyarakat dalam bentuk (Arifin,
2007:48 dalam Hardjanto, 2010):
1. Simpanan (wadiah) Simpanan yang dijamin aman dan dikembalikan, tetapi
tanpa menerima imbalan atau keuntungan apapun.
2. Partisipasi dalam keuntungan modal ekuitas dan risiko ekuitas untuk investasi
umum di mana bank membayar bagian dari keuntungan secara proporsional
dengan portofolio yang didanai dengan modal tersebut.
3. Investasi Khusus (Special Investment Account/Mudharabah Muqayyadah)
dimana bank bertindak sebagai manajer investasi untuk mendapatkan fee. Jadi
bank tidak berinvestasi sementara investor menanggung risiko penuh atas
investasi.
25
5.5.8 Return On Assets (ROA)
Return on assets (ROA) merupakan ukuran kemampuan bank dalam
mengelola dana yang diinvestasikan dalam total aset yang menghasilkan
keuntungan. Semakin tinggi ROA, semakin efisien perusahaan beroperasi dan
sebaliknya. ROA yang rendah dapat disebabkan oleh banyaknya aset
perusahaan yang menganggur (Anwar dan Miqdad, 2017).
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎j𝑎𝑘
ROA = 𝗑 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡
5.5.9 Capital Adequaty Ratio (CAR)
Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001, bank wajib
menyediakan modal minimum sebesar 8% darri aset tertimbang menurut
risiko, sebagaimana ditunjukkan dalam rasio kecukupan modal (CAR). Rasio
ini dimaksudkan agar modal yang tersedia dari bank dapat menutupi kerugian
apabila terjadi kerugian dalam kegiatan bank. Komponen CAR terdiri dari
ekuitas dan aset tertimbang menurut risiko (ATMR).
(ATMR).
𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑏𝑎𝑛𝑘
CAR = 𝗑 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑇𝑀𝑅
5.5.10 Resiko
Muhammad(2005) dan Firmansyah(2014) menyatakan bahwa risiko
pendanaan yang diambil oleh bank merupakan salah satu risiko usaha bank
karena bank tidak membayar pinjaman dan investasi.
26
Salah satu risiko yang dihadapi bank adalah bahwa pelanggan tidak
dapat menghormati kontrak mereka dengan bank syariah. Kredit macet (NPF)
terjadi ketika nasabah gagal memenuhi kewajibannya kepada bank.
𝑝𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
NPF = 𝗑 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛
Tingkat NPF bank dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu
Kurang Lancar, Diragukan (Diragukan) dan Macet (Macet).
Menurut Bank Indonesia dalam Sari et al (2012), untuk pembiayaan
Mudharabah dan Musyarakah, pembiayaan dianggap kurang lancar bila
tunggakan sampai 90 hari dan realisasi bagi hasil di atas 30% sampai 90%
dari pendapatan yang diproyeksikan. Pembiayaan tergolong diragukan apabila
backlog lebih dari 90 hari sampai dengan 180 hari, realisasi bagi hasil kurang
dari 30% dari pendapatan yang direncanakan. Kemudian tergolong buruk jika
backlog lebih dari 180 hari, realisasi bagi hasil kurang dari 30% dari proyeksi
pendapatan selama lebih dari tiga periode pembayaran. Penelitian Terdahulu
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu
NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN
1 Rina Analisis Dana DPK (X1) , Hasil penelitian menunjukkan
Destiana Pihak Ketiga Resiko (X2) , bahwa baik DPK maupun risiko,
(2016) dan Risiko Pembiayaan kedua-duanya berpengaruh positif
Terhadap mudharabah terhadap pembiayaan mudharabah
Pembiayaan dan dan musyarakah pada bank syariah
Mudharabah & musyarakah di Indonesia.
Musyarakah (Y).
Pada Bank
27
NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN
Syariah di
Indonesia
2 Chairul Pengaruh Dana Dana Pihak Hasil penelitian menunjukkan
Anwar , Pihak Ketiga Ketiga bahwa variabel Dana Pihak Ketiga
Muhammad (DPK), Capital (DPK) (X1), (DPK), Capital Adequacy Ratio
Miqdad Adequacy Ratio Capital (CAR), dan Return On Assets secara
(2017) (CAR), Return Adequacy bersama-sama berpengaruh
On Asset Ratio (CAR) signifikan terhadap pembiayaan
(ROA) (X2), dan Mudharabah bank umum syariah.
Terahadap Return On Secara parsial variabel Dana Pihak
Pembiayaan Assets Ketiga (DPK) berpengaruh positif
Mudharabah (ROA) (X3) , signifikan terhadap pembiayaan
Pada Bank dan Mudharabah. Sedangkan variabel
Umum Syariah Pembiayaan Capital Adequacy Ratio (CAR) dan
Tahun 2008 – mudharabah Return on assets (ROA) berpengaruh
2012 (Y) positif tidak signifikan terhadap
pembiayaan mudharabah bank
umum syariah di Indonesia.
3 Suci Pengaruh DPK, DPK (X1), Uji F variabel DPK, NPF,
Annisa, CAR, NPF dan CAR(X2), CAR dan ROA berpengaruh positif
Dedi ROA Terhadap NPF(X3) dan dan signifikan terhadap pembiayaan
Fernanda Pembiayaan ROA (X4) mudharabah dan musyarakah,
(2017) Mudharabah Terhadap sedangkan uji T variabel DPK dan
Dan Pembiayaan ROA tidak berpengaruh signifikan
Musyarakah Mudharabah terhadap mudharabah dan
Pada Bank Dan musyarakah, variabel CAR
Syariah Mandiri Musyarakah mempunyai pengaruh signifikan
Periode 2011- terhadap variabel mudharabah,
2015 namun terhadap variabel
musyarakah CAR tidak berpengaruh
signifikan, NPF berpengaruh
signifikan terhadap variabel
mudharabah dan musyarakah,
4 Ida Puspita Analisis DPK (X1) , Hasil penelitian menunjukkan
rini dan Vita Pengaruh Dana NPF (X2) , bahwa:
Fidya Utami Pihak Ketiga ROA (X3) , 1. DPK berpengaruh positif secara
(2021) (DPK), Non Pembiayaan parsial terhadap Pembiayaan di
Performing (Y) PT Bank Muamalat
Financing(NPF) 2. NPF dan ROA tidak berpengaruh
dan Return On negatif secara parsial terhadap
Asset (ROA) Pembiayaan di PT Bank
28
NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN
Terhadap Muamalat Indonesia Tbk.
Pembiayaan di
PT Bank
Muamalat
Indonesia Tbk
5 Indarti Nur Pengaruh FDR, FDR (X1), Hasil penelitian ini menunjukkan
Baiti, Arini NPF, ROA, NPF (X2), bahwa secara parsial Return on
Wildaniyati CAR Terhadap ROA(X3), Variabel Asset (ROA) berpengaruh
(2020) Pembiayaan CAR(X4), terhadap Pembiayaan Mudharabah,
Mudharabah Mudharabah sedangkan Financing to Deposits
(Studi Empiris (Y) Ratio (FDR), Non Performing
Pada Bank Pembiayaan (NPF), dan Rasio
Umum Syariah Kecukupan Modal (CAR) tidak
Yang Terdaftar berpengaruh terhadap Pembiayaan
Di Bank Mudharabah. Serentak, Financing to
Indonesia Pada Deposits Ratio (FDR), Non
Tahun 2015- Performing Financing (NPF), Return
2019) On Assets (ROA), dan Kecukupan
Modal Rasio (CAR) tidak
berpengaruh terhadap Pembiayaan
Mudharabah pada Bank Umum
Syariah di Indonesia.
6 Haris Al Pengaruh Non- NPF (X1) , Hasil penelitian menyatakan bahwa
Amin , Performing FDR (X2) , NPF, FDR, dan CAR secara
Reynold Financing, CAR (X3), simultan berpengaruh positif dan
Herwinsya, Financing to pembiayaan signifikan terhadap pembiayaan
Syawal Deposit Ratio mudharabah Mudharabah dan Musyarakah. NPF
Harianto , dan Capital dan secara parsial berpengaruh positif
Triyanda Adequacy Ratio musyarakah dan signifikan terhadap pembiayaan
Putri Terhadap (Y) Mudharabah dan Musyarakah.
Kharisma Pembiayaan sedangkan CAR, FDR secara parsial
(2022) Mudharabah berpengaruh negatif dan signifikan
Musyarakah terhadap pembiayaan Mudharabah
pada PT. Bank dan Musyarakah.
Syariah
Bukopin
7 Djoko Sigit Pengaruh FDR (X1), Hasil Penelitian Menunjukkan
Gunanto, Financing To DPK(X2) , Bahwa Variabel Yang Berpengaruh
Suprihati, Deposit Ratio ROA(X3), Terhadap Pembiayaan Musyarakah
Firma (Fdr), Dana Musyarakah Adalah Variabel FDR Dan DPK.
29
NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN
Windi Aristi Pihak Ketiga (Y) Sedangkan Variabel Yang Tidak
(2018) (Dpk) Dan Berpengaruh Terhadap Pembiayaan
Return On Musyarakah Adalah Variabel Return
Asset (Roa) On Asset (ROA)
Terhadap
Pembiayaan
Musyarakah
8 Andi Nur Determinan DPK(X1) , Hasil penelitian menunjukkan
Azizah Variabel Return ROA(X2), bahwa pada ROA berpengaruh
Fajry of Assets Inflasi (X3), negatif dan signifikan terhadap
Azzahrah (ROA), Dana Pembiayaan pembiayaan, sedangkan variabel
(2018) Pihak Ketiga (Y) DPK berpengaruh positif dan
(DPK) dan signifikan terhadap pembiayaan dan
Inflasi Terhadap variabel inflasi tidak berpengaruh
Pembiayaan terhadap pembiayaan.
BPRS di
Indonesia
9 Faizul Dinamika NPF (X1), Hasil Penelitian Menunjukkan
Mubarok Makro-Mikro CAR(X2), Bahwa Secara Parsial, Variabel
(2018) Pada Suku Bunga NPF, CAR, Dan Suku Bunga Secara
Pembiayaan (X3), ROA Signifikan Berpengaruh Terhadap
Musyarakah (X4), Pembiayaan Musyarakah. Variabel
Musyarakah ROA, Nilai Tukar, Dan Inflasi Tidak
(Y) Berpengaruh Terhadap Pembiayaan
Musyarakah Bank Umum Syariah.
10 Kartika, The Influence ROA (X1) , Hasil penelitian ini menunjukkan
Jubaedah, & of Financing to NPF(X2), bahwa secara parsial FDR, ROA dan
Astuti, Deposit Ratio, FDR(X3), NPF tidak berpengaruh signifikan
2020. Return laba (Y) terhadap pembiayaan bagi hasil (
on Assets and mudharabah dan musyarakah )
Non Performing karena, DPK yang dihimpun oleh
Finance on bank syariah tidak digunakan untuk
Profit operasi BUS untuk mendistribusikan
Sharing Finance pembiayaan bagi hasil, tetapi alih –
of Sharia Banks alih mendistribusikan piutang
in Indonesia murabahah.
Sumber : Data olahan, 2021
30
2.6. Kerangka Pemikiran
Gambar 2. 2 Kerangka Pemikiran
DPK (X1) CAR (X2) ROA (X3) NPF (X4)
Pembiayaan Pembiayaan
Mudharabah Musyarakah (Y2)
(Y1)
2.7. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan telaah pustaka yang telah dijabarkan diatas
maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut : diduga terdapat pengaruh DPK,
CAR, ROA dan NPF terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada
bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia.
31
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi/Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mangambil objek pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia yang berlokasi kan di Otoritas Jasa Keuangan
(OJK).
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan
karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2014: 115). Populasi dalam
penelitian ini adalah BPRS yang berjumlah 163 BPRS yang terdapat di Indonesia
dari 2016 – 2020 yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada
tahun 2020.
3.2.1 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
populasi (Sugiyono, 2019). Jika populasi besar,dan peneliti tidak mungkin
mempelajari semua yang ada pada populasi misalnya karena keterbatasan dana,
tenaga dan waktu , maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu
(Sugiono;2008).
32
Dalam penelitian ini, peneliti metode purposive sampling yaitu pemilihan
sampel, dimana peneliti menentukan sampel berdasarkan kriteri-kriteria tertentu.
Adapun kriteria dalam pengambilan sampel yaitu sebagai berikut :
1) Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia yang beroperasi
tahun 2016-2020.
2) Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia yang
mempublikasi laporan keuangan secara lengkap pada tahun 2016-2020.
3) Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia yang memiliki
kelengkapan rasio mudharabah dan musyarakah dilaporan keuangan
pada tahun 2016-2020.
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dari tahun 2016-2020
terdapat 22 BPRS di Indonesia. Adapun BPRS yang terpilih menjadi sampel
dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3. 1 Sampel Penelitian
NO NAMA BPRS
1 PT BPRS musyarakah ummat indonesia
2 PT BPRS baiturrida pusaka
3 PT BPRS bangun drajad warga
4 PT BPRS muamalah cilegon
5 PT BPRS al-wadi'ah
6 PT BPRS insan cita arta jaya
7 PT BPRS artha surya barokah
8 PT BPRS metro madani
9 PT BPRS al salaamamal salman
33
NO NAMA BPRS
10 PT BPRS dinar ashri
11 PT BPRS dana hidayatullah
12 PT BPRS bumi artha sampang
13 PT BPRS karya mugi sentosa
14 PT BPRS barokah dana sejahtera
15 PT BPRS madina mandiri sejahtera
16 PT BPRS sukowati sragen
17 PT BPRS mitra cahaya indonesia
18 PT BPRS Insan madani
19 PT BPRS Suriyah
20 PT BPRS Wakalumi
21 PT BPRS Harta Insan Karimah Bahari
22 PT BPRS Amanah Sejahtera
Sumber : Diolah,2021
3.3. Jenis dan Sumber Data
3.3.1 Jenis Data
Penelitian ini bersifat kuantitatif untuk menunjukkan pengaruh DPK,
CAR, ROA dan NPF terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah.
Penelitian kuantitatif merupakan Data penelitian berupa angka-angka dianalisis
menggunakan bantuan ewiews .
3.3.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data
sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media
perantara seperti orang lain dan dokumen (Sugiyono, 2014:193).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah yang dipublikasikan dalam situs resmi
[Link]. periode 2016-2020.
34
3.4. Operasional Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa variabel independent
dan dependent.
1. Variabel dependent (Y) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel
bebas (X). dalam penelitian ini, variabel dependent (Y) yaitu pembiayaan
mudharabah dan musyarakah.
2. Variabel independent (X) merupakan variable yang dapat mempengaruhi
variable (Y). variabel X dalam penelitian ini adalah berupa variabel (X1) yaitu
Dana Pihak Ketiga (DPK) , Variabel (X2) yaitu Capital Adequaty Ratio
(CAR) , variabel (X3) yaitu Return On Assets (ROA) dan variabel (X4) yaitu
Resiko (NPF).
Tabel 3. 2 Operasional Variabel
VARIABEL KONSEP OPERASIONAL VARIABEL SKALA
DPK (X1) Semakin besar DPK DPK = Giro + Deposito + Tabungan Rasio
yang dihimpun oleh
bank maka semakin
besar pembiayaan
yang disalurkan oleh
bank(Antonio,2001).
CAR (X2) untuk memastikan 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑏𝑎𝑛𝑘 Rasio
CAR = 𝗑 100%
bahwa jika dalam 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑇𝑀𝑅
aktivitasnya bank
mengalami kerugian
, maka ketersediaan
modal yang dimiliki
oleh bank mampu
mengcover kerugian
tersebut.
35
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎j𝑎𝑘
ROA (X3) Rasio yang ROA = 𝗑 100% Rasio
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡
menggambarkan
kemampuan bank
dalam mengelola
dana yang
diinvestasikan
dalam total aset
yang menghasilkan
keuntungan.
NPF (X4) 𝑃𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
NPF sebagai NPF = 𝑥 100% Rasio
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛
indikator risiko bank
menunjukkan
kondisi dimana
nasabah sebagai
debitur sudah tidak
sanggup memenuhi
sebagian atau
seluruh
kewajibannya
kepada pihak bank .
Pembiayaan untuk mengukur Jumlah pembiayaan mudharabah Rasio
Mudharabah jumlah pembiayaan dan musyarakah
dan berdasarkan akad
Musyarakah mudharabah &
(Y) musyarakah selama
periode pengamatan.
Sumber : Data olahan ,2021
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik
dokumentasi. Metode dokumentasi mencari data tentang hal-hal atau variabel berupa
catatan, transkrip, buku koran, majalah, risalah rapat, legger, agenda, dan sebagainya
(Sugiyono, 2012).
Dokumentasi ini didapatkan berdasarkan laporan tahunan yang di publikasikan
BPRS di Indonesia dari tahun 2016-2020 disitus website [Link].
36
3.6. Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2012), analisis data mengelompokkan data berdasarkan
variabel dan jenis responden, menggabungkan data berdasarkan variabel dan semua
responden, menyajikan data untuk setiap variabel yang disurvei, dan menghitung
merupakan proses berjalan untuk menjawab dan menguji rumusan masalah pada
hipotesis yang telah diajukan.
Metode yang digunakan adalah regresi linear berganda pada data panel dengan
bantuan eviews. analisis regresi pada data panel ini dapat dilakukan dengan beberapa
pengujian. Dalam melakukan analisis regresi linear berganda data panel ,dimana
metode ini mensyaratkan untuk melakukan uji asumsi klasik agar mendapatkan hasil
regresi yang baik (Ghozali,2009) . adapun uji asumsi klasik yang meliputi pengujian
normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
3.6.1 Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Uji normalitas memeriksa apakah nilai residual terstandarisasi dalam model
regresi berdistribusi normal atau tidak. Residual dikatakan terdistribusi
normal apabila residual terstandarisasi sebagian besar mendekati mean
(Suliyanto, 2011: 69).
Apakah data berdistribusi normal atau tidak dapat dilihat dengan
menggambarkan penyebaran data menggunakan grafik. Jika data menyebar di
sekitar diagonal dan mengikuti arah diagonal, model regresi memenuhi
asumsi normalitas.
37
2. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya lebih dari satu hubungan linier yang
sempurna. Multikolinearitas tidak boleh terjadi dalam regresi, karena menurut
Ragner Frish, dalam kasus multikolinearitas, terutama kolinearitas sempurna
(koefisien korelasi antar variabel bebas=1), koefisien regresi variabel bebas
tidak dapat ditentukan dan standar errornya tak terhingga (Muhammad,
2017:75).
Uji multikolinearitas untuk mengetahui apakah dalam model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Jika terjadi korelasi, maka
terdapat masalah multikolinearitas yang perlu diatasi. Untuk mendeteksi ada
tidaknya gejala multikolinearitas pada model regresi ini dengan melihat nilai
variance inflation factor (VIF).
3. Uji Heteroskedasitas
Uji penerimaan heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji ada tidaknya
ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya
dalam model regresi linier. Apabila varians dan residual tetap dari satu
pengamatan ke pengamatan lain disebut homoskedastisitas, dan bila berbeda
disebut heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan adalah ada tidaknya
heteroskedastisitas (Imam Ghozali, 2005), sebagai berikut :
a) Jika ada pola tertentu, seperti: titik-titik yang membentuk pola teratur
(bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi
heteroskedastisitas;
38
b) Jika tidak ada pola yang jelas dan titik-titik di atas dan di bawah angka
0 berdistribusi pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji
heteroskedastisitas dalam penelitian ini dengan melihat grafik plot.
4. Uji Autokorelasi
Uji asumsi autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah terdapat
korelasi antara error gangguan pada periode t dan error gangguan pada
periode t-1 dalam model regresi linier (Imam Ghozali, 2005). Dalam
penelitian ini menggunakan Uji Runs Test.
3.6.2 Analisis Regresi
Analisis regresi linier berganda adalah analisis ketergantungan satu
atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat, dengan tujuan untuk
memprediksi atau memprediksi mean populasi dari nilai-nilai variabel bebas.
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara
pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat (Supranto,
2008: 196).
Analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini dirancang untuk
menentukan apakah DPK dan NPF berdampak pada pendanaan Mudarabah
dan Musyarakah.
Persamaan regresi :
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ꬲ
Keterangan : Y = Variabel Pembiayaan
39
𝑎 = Konstanta
β1, β2, β3, β4 = Koefisien regresi
X1 = Variabel DPK
X2 = Variabel ROA
X3 = Variabel CAR
X4 = Variabel NPF
ꬲ = eror
3.6.3 Uji hipotesis
1. Uji Parsial (Uji t)
Uji t-statistik pada dasarnya menunjukkan sejauh mana suatu
variabel independen secara individual atau parsial dapat menjelaskan variasi
variabel dependen (Ovami dan Thohari, 2018).
Uji-t digunakan untuk mengetahui apakah pada taraf signifikansi
0,05 atau 5%, masing-masing variabel independen memiliki pengaruh
individual (parsial) terhadap variabel dependen yang akan diuji.
Jika probabilitas < 0,05 maka variabel independen memiliki
pengaruh individual terhadap variabel dependen (Aziza dan Mulazid, 2017).
2. Uji Simultan (Uji F)
Uji F statistik digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen
secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. Atau untuk
40
mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk memprediksi
variabel terikat atau tidak (Aziza dan Mulazid, 2017).
3.6.4 Koefisien Determinasi (Uji R2)
Uji R2 berguna untuk mengukur kemampuan model dalam
menjelaskan variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah
antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel bebas
dalam menjelaskan variasi variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang
mendekati satu berarti variabel bebas memberikan hampir semua informasi
yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel terikat (Ghozali, 2005).
41
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
4.1. Sejarah bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS)
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pertama kali diperkenalkan oleh Bank Rakyat
Indonesia (BRI) Pada akhir tahun 1977, BRI ditugaskan sebagai Bank Asuh untuk
lembaga keuangan lokal (sebagai bagian dari tertentu) seperti Lumbung Desa, Bank
Pasar, Bank Desa, Bank Pegawai dan bank lain yang sejenis. Dalam tahap pembinaan
yang dilakukan BRI, semua bank tersebut disebut sebagai Bank Perkreditan Rakyat
(BPR). Menurut Keputusan Presiden Nomor 38 Tahun 1988 yang dimaksud dengan
Bank Perkreditan Rakyat (PPR) adalah jenis bank sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) Pasal 4 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967, yang meliputi bank desa, toko
desa, bank pasar, bank pegawai. bank dan bank lainnya.
Dalam pakta 27 Oktober 1988 status hukum bank kredit Orang (BPR) diakui
untuk pertama kalinya sebagai bagian dari Paket Kebijakan Keuangan, uang dan
perbankan. BPR adalah perwujudan dari beberapa Lembaga keuangan, seperti Bank
Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai Lumbung Nagari (LPN) Terpilih,
Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Badan Perkreditan Desa (BKD), Badan
Perkreditan Daerah (BKK), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Lembaga
Perkreditan Daerah (LPK), Bank Karya Desa (BKPD) ) dan atau lembaga lain yang
sejenis. Sejak berlakunya UU No. 7 tahun 1992 Dari sisi kebijakan perbankan,
42
keberadaan lembaga keuangan tersebut telah diperjelas dengan adanya izin dari
Menteri Keuangan.
Dalam perkembangannya, muncullah BPR yang berlandaskan syariat Islam.
BPR tersebut bernama Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). BPR Syariah
pertama yang didirikan adalah PT. BPR Dana Mardhatillah, kec. Margahayu,
Bandung, PT. BPR Berkah Amal Sejahtera, kec. Padalarang, Bandung dan PT. BPR
Amanah Rabbaniyah, kec. Banjaran, Bandung. Pada tanggal 8 Oktober 1990, ketiga
BPR Syariah tersebut mendapat persetujuan prinsip dari Menteri Keuangan Republik
Indonesia dan mulai beroperasi pada tanggal 19 Agustus 1991. Lebih lanjut, latar
belakang berdirinya BPR Syariah merupakan langkah aktif dalam rangka penataan
kembali perekonomian Indonesia yang dituangkan dalam berbagai paket kebijakan di
bidang keuangan, moneter dan perbankan secara umum.
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah merupakan salah satu lembaga keuangan
syariah yang pola usahanya mengikuti prinsip Syariah atau Muamalah Islam. BPR
Syariah didirikan berdasarkan Perbankan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72
Tahun 1992 tentang Bagi Hasil Undang-Undang Perbankan No. 7 Tahun 1992. Pasal
1 (Angka 4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa BPR Syariah
adalah bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip Syariah dan dalam
kegiatan usahanya tidak menyediakan jasa transaksi pembayaran. Penyelenggaraan
kegiatan usaha BPR berdasarkan prinsip syariah diatur lebih lanjut sesuai dengan
Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/1999 tanggal 12 Mei
43
1999 Tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah. Secara teknis
BPR Syariah bisa diartikan sebagai lembaga keuangan sebagaimana BPR
konvensional, yang operasinya menggunakan prinsip-prinsip syariah.
4.1.1 Kegiatan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
Pada dasarnya, BPR dapat menjadi Syariah sebagai lembaga keuangan
Syariah Ini menyediakan layanan keuangan yang mirip dengan bank umum
Islam. BPR Syariah dapat memberikan layanan keuangan dalam berbagai cara
ketika menganggarkan dana masyarakat. Dibandingkan dengan bank umum
syariah, kegiatan usaha yang dapat dilakukan BPR syariah lebih terbatas.
Sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Direktur BI No.
32/36/KEP/DIR/1999, BPR Syariah diperbolehkan menerima simpanan dalam
bentuk giro, sekalipun Wadiah .Begitu pula, BPR syariah dilarang untuk:
1. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing
2. Melakukan penyertaan modal,
3. Melakukan usaha peransuransian,
sebagai lembaga keuangan Islam , pada dasarnya adalah bank pemberi
pinjaman Masyarakat Syariah (BPRS) dapat memberikan layanan keuangan
serupa Dengan bank komersial syariah. Namun, menurut Undang-Undang
Perbankan No. 10 Tahun 1998, BPR Syariah hanya diperbolehkan melakukan
transaksi sebagai berikut:
44
1. Penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa
deposito berjangka, tabungan dan/atau bentuk lain yang dipersamakan
dengan itu.
2. memerikan kredit.
3. Menyediakan pendanaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip
syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
4. Menempatkan dana dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia, deposito
berjangka, sertifikat deposito dan/atau tabungan pada bank lain.
Kegiatan yang dilarang (Berdasarkan pasal 14 UU No.17 tahun 1992) :
1) Menerima setoran dalam bentuk setoran penglihatan dan berpartisipasi
dalam transaksi pembayaran
2) Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing
3) melakukan investasi
4) Menjalankan bisnis asuransi
Melakukan usaha lain di luar kegiatan yang ditentukan dalam kegiatan yang
diizinkan untuk dilakukan oleh BPRS Sejarah Singkat 18 Unit Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia
4.2.1 PT BPRS Al Salaam amal Salman
BPRS Amal Salman yang dikenal dengan BPR Al Salaam, didirikan
pada tanggal 9 Oktober 1991 atas inisiatif para alumni Institut Teknologi
Bandung (ITB) yang aktif di Masjid Salman
45
VISI : Menjadi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Terbaik di Indonesia
MISI : Menjadi lembaga keuangan mikro Syariah yang menghasilkan produk
layanan perbankan terbaik bagi nasabah dan menciptakan kondisi yang
kondusif bagi pemerataan pembangunan ekonomi sektoral, dengan fokus
pada pengembangan usaha kecil dan menengah pada kesejahteraan
pemangku kepentingan.
4.2.2 PT BPRS Al-Wadi'ah
[Link] Ruhyana Mahpud, seorang pengusaha Irlandia di
Tasikmalaya, tidak ingin pengusaha di luar Tasikmalaya mengambil alih
perekonomian Tasikmalaya, seperti pada tahun 1995. Tampaknya begitu.
Prihatin dengan masalah tersebut, ia mendapatkan salah satu BPR di
Tasikmalaya dan menjadi PT. BPR Syariah Alwadi`ah dan dual banking system
"Konvensional & Syariah" & # 41; Ir di Indonesia. H. Ade Ruhyana Mahpud
memilih Alwadi`ah untuk menggarap prinsip-prinsip syariah.
4.2.3 PT BPRS Artha Surya Barokah
BPRS ini Didirikan oleh Dewan Ekonomi Pimpinan Daerah
Muhammadiyah Jawa Tengah. Secara kelembagaan dimulai dalam bentuk PT
sejak tahun 2002 dan mendapat persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia pada tanggal 15 Juli 2003 No. [Link]-01-TH-
2003 dan PT Undang-undang tahun 2008 telah diubah dan oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-09853-AH-01.02 TH
46
2010. Operasi dimulai pada tanggal 30 Juni 2004 berdasarkan izin usaha.
DEPUTI GUBERNUR BI NO. 6/8/[Link]/2004.
VISI: Bank Syariah regional Jawa Tengah yang unggul dan terpercaya
MISI:
1. Lembaga intermediasi yang menganut prinsip syariah dan dikelola
secara profesional
2. Ikut serta dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan
kesejahteraan rakyat.
3. Menjadi bagian dari Dakwah Muhammadiyah dalam perwujudan
masyarakat Islam yang sebenarnya
4.2.4 PT BPRS Baiturrida Pusaka
PT. BPR Syariah Baiturridha mulai efektif beroperasi untuk
memberikan layanan jasa perbankan dengan prinsip syariah dimulai pada
tahun 1993. Dalam perjalanannya PT. BPR Syariah Baiturridha mengalami
pasang surut. Hal ini dikarenakan BPR Syariah merupakan institusi keuangan
baru
VISI : Menjadi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang sehat dan
terpercaya.
MISI :
1. Menghimpun dan menyalurkan dana sesuai dengan prinsip-prinsip syariah
melalui praktek usaha perbankan yang sehat
47
2. Menerapkan prinsip tata kelola yang baik dan prinsip kehati-hatian dalam
seluruh kegiatan usaha.
3. Meningkatkan sumber daya insani yang profesional, melayani dengan
sepenuh hati, berintegritas tinggi, kreatif dan inovatif.
4.2.5 PT BPRS Bangun Drajad Warga
VISI : menjadikan BPRS bangun drajat warga sebagai lembaga keuangan
syariah yang unggul dan terpercaya
MISI :
1. Mengembangkan dan mensosialisasikan pola, system, dan konsep
perbankan syariah
2. Memajukan BPRS Bangun drajat warga dengan prinsip bagi hasil yang
saling menguntungkan antara nasabah dan BPRS bangun drajat warga
dalam kerangka amar ma‟ruf nahi munkar
3. Mendapatkan profit sesuai dengan target yang ditetapkan
4. Memberikan kesejahteraan
4.2.6 PT BPRS Barokah Dana Sejahtera
Bank Syariah BDS atau PT. BPRS Barokah Dana Sejahtera berdiri
pada tahun 2007 di Brontokusuman Mergangsan Yogyakarta. Hadir lebih dari 9
tahun menyelenggarakan aktivitas perbankan syariah yang diawali dengan
keuntungan di awal tahun berdirinya telah menjadikan BANK SYARIAH BDS
sebagai BPRS terkemuka di DIY.
48
VISI : Menjadi lembaga perbankan syariah yang besar dan sehat serta memberi
kemanfaatan pada ummat.
MISI :
1. Melakukan operasional perbankan secara kompetitif, efisien dan memenuhi
prinsip kehati-hatian
2. Memberikan pelayanan prima dan optimal pada nasabah, mengembangkan
dan menumbuhkan sektor riil berbasis bagi hasil
3. Mengembangkan sumberdaya manusia berdasarkan aspek profesionalitas
dan spiritualitas
4. Mengembangkan prinsip keseimbangan dalam semua aspek termasuk
pemenuhan hak bagi seluruh stakeholder
5. Bekerjasama dengan perbankan syariah lainnya menuju kebaikan dan
kemaslahatan ummat
4.2.7 PT BPRS Bumi Artha Sampang
PT BPRS Bumi Artha Sampang resmi berdiri dihadapan pejabat
Cilacap Naimah, SH dan MH, berdasarkan Akta Pendirian No. 06 tanggal 6
September 2006, dan diresmikan oleh Kementerian Hukum dan HAM W9
.[Link] : 12 Desember 2006, 1 Januari 2006, 24 September 2007 tentang
Penerbitan Izin Usaha Bank Indonesia KepGBI Uni Berdasarkan Peraturan
Gubernur Bank Indonesia Tahun 2007. Terletak di Jl. Tugu Barat No. 39
Sampang Cilacap. perintis BPRS Bumi Artha Sampang didirikan pada awal
49
tahun 2005 atas permintaan Bapak H. Kholipan. H. Kholipan menyampaikan
keinginannya kepada Buyar Winarso yang merupakan relasi bisnisnya. Di
Buyar Winarso, H. Kholipan bertemu dengan Soedjito yang tinggal di
Jogjakarta.
VISI : Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Prinsip Syariah
MISI :
1. Memberikan layanan prima berdasarkan prinsip syariah.
2. Menerapkan konsep Ta‟awun yang berkeadilan
3. Menciptakan hubungan yang seimbang, transparan, saling
menguntungkan.
4.2.8 PT BPRS Dana Hidayatullah
PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Dana Hidayatullah berdiri
berdasarkan Akte Pendirian tertanggal 29 Maret 2006 nomor 64 yang dibuat di
hadapan Notaris Wahyu Wiryono, Sarjana Hukum dan telah disahkan oleh
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI tanggal 9 Juni 2006 No. C 16799
HT.01.01. Tahun 2006
VISI : Menjadi BPR Syariah yang dapat dibanggakan, profitable, dan
mempunyai jaringan yang luas
MISI :
1. Ikut berperan serta dalam pembangunan ekonomi bangsa
2. Memberikan pelayanan yang Primia kepada Nasabah
3. Memaksimalkan laju pertumbuhan perusahaan
50
4.2.9 PT BPRS Dinar Ashri
PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Dinar Ashri adalah Bank atau
Lembaga Keuangan milik swasta yang berkedudukan di Nusa Tenggara Barat.
Dengan adanya PT Bank Pembiayaan Rakyat Dinar Ashri ini dapat membantu
masyarakat dan pemerintah dalam memajukan perekonomian dan mengatasi
masalah sosial di Nusa Tenggara Barat.
VISI : Menjadi Bank Syariah Lokal Terpercaya, Sehat dan Unggul dengan
Reputasi Nasional
MISI :
1. Membangun sumber daya insani yang berintegrasi tinggi, unggul, inovatif
dan loyal
2. Memperkuat Permodalan secara berkesinambungan untuk menopang
pertumbuhan perusahaan sehingga tetap sehat dan kuat
3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur baik fisik maupun non
fisik secara terencana dan terprogram dengan baik
4. Menyediakan produk, jasa keuangan dan layanan yang berkualitas tinggi
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
5. Menigkatkan Tanggung Jawab Sosial untuk ikut dan berperan aktif dalam
membantu pemerintah mengatasi masalah social
4.2.10 PT BPRS Insan Cita Arta Jaya
PT BPRS Insan Cita Artha Jaya didirikan berdasarkan nomor (nama
notaris) notaris tanggal (tanggal berdiri) dan nomor pengesahan (ratifikasi) tahun
51
(tahun) oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Ratifikasi), tanggal
(tanggal ratifikasi). PT BPRS Insan Cita Artha Jaya resmi mulai beroperasi sejak
hari itu (start date) dengan persetujuan Bank Indonesia. (nomor izin BI) Tanggal
(tanggal izin BI).
VISI : Membangun BPR yang sehat, kuat, dan besar melalui produk dan jasa
layanan yang berciri khas untuk kesejahteraan masyarakat.
MISI :
1. Melayani nasabah dengan produk dan jasa layanan yang sesuai dengan
kebutuhan
2. Menyediakan lingkungan kerja yang dinamis agar dapat menunjang
perkembangan tenaga professional yang berkualitas, berdedikasi dan
memiliki integritas yang tinggi.
4.2.11 PT BPRS Insan Madani
BPRS Insan Madani sebelumnya adalah PT BPR Kleco Joyo yang
diakuisisi oleh pemegang saham baru pada tanggal 2 Desember 2008. Pada
tanggal 18 Agustus 2010 berdasarkan Akta Notaris Pujiastuti Pangestu, S.H. No
47 tanggal 18 Agustus 2010, dikonversi menjadi BPR Syariah Insan Madani.
VISI : Menjadi pemimpin pasar BPR Syariah di Jawa Tengah yang sehat dan
terpercaya.
MISI : Memberi kemudahan, manfaat dan mengembangkan nilai-nilai universal
di bidang jasa perbankan syariah kepada masyarakat untuk kemajuan bersama
52
4.2.12 PT BPRS Karya Mugi Sentosa
PT. Bank Syari‟ah Karya Mugi Sentosa didirikan berdasarkan Akta
Notaris pada tanggal 9 maret 2007 , berokasi dan bertempat di Jl. Margorejo
Indah No 70 D Surabaya, No telpon 031-8485888, 031-8473200, Fax 031-
8470881
VISI :
1. Menjadi Bank yang sehat, tumbuh dan berkembang secara wajar
2. Sebagai Bank yang Rahmatal Lil‟alamin
MISI :
1. Memberikan kontribusi secara optimal dalam rangka mendorong
pertumbuhan ekonomi daerah
2. Ikut berperan dalam mendorong pengembangan usaha
mikro, kecil, dan menengah
3. Memperoleh laba secara optimal sesuai prinsip Syari‟ah
53
4.2.13 PT BPRS Madina Mandiri Sejahtera
BPRS Madina Mandiri Sejahtera Pada tanggal 3 Desember 2007,
didirikan sebuah lembaga keuangan syariah bernama PT BPRS Madina Mandiri
Sejahtera dengan nama publikasi "BANK MADINASYARIAH". Tanggal
tersebut didasarkan pada tanggal penerbitan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) PT.
BPRS Madina Mandiri berkembang pesat dengan No.120116500446.
Pendirian PT. BPRS Madina Mandiri Sejahtera (selanjutnya disebut Bank
Madina Syariah) tidak terlepas dari semangat para pendiri dan pemegang saham
yang ingin mengembangkan industri keuangan syariah khususnya di Daerah
Istimewa Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya. BPRS Madina Mandiri
Sejahtera berdasarkan Nota Pendirian dan Anggaran Dasar Bank Indonesia No.
9/57/[Link]/2007 tanggal 8 November 2007, dan pejabat Wahyu Wiryono No.
24 tanggal 7 Februari 2007. Saya mendapat lisensi induk. Menteri Hukum dan
Keamanan Republik Indonesia No. W22-00151HT.01.01-TH. 2007.
VISI : Menjadi BPR Syariah terdepan dalam membangun ekonomi umat.
MISI :
1. Memberikan layan produk perbankan syariah berdasarkan asas prudential
banking
2. Berperan aktif dalam sektor usaha kecil dan menengah
3. Menyebarluaskan pelaksanaan prinsip-prinsip ekonomi syariah
54
4.2.14 PT BPRS Metro Madani
Tahun 2017 BPRS Metro Madani masih 12 tahun Kami memperoleh
izin usaha dari Bank Indonesia pada tanggal 20 September 2005, dan Kantor
Pusat Metro membuka grand openingnya pada tanggal 3 Oktober 2005. BPRS
Metro Madani memiliki empat cabang. Cabang pertama Unit II Chulambowan
dibuka pada awal tahun 2008. Cabang kedua terletak di Kecamatan Karilejo
Kabupaten Lampung Tengah dan dibuka pada November 2010. Cabang ketiga
berlokasi di Kecamatan Daya Asri Kabupaten Tulang Bawang Barat, disetujui
oleh kantor perwakilan Bank Indonesia pada 13 Agustus 2012 dan beroperasi
pada 11 September 2012. Cabang keempat ada di Jl. P. Senopati No.99 Jatimryo,
Jatimryo, Kabupaten Lampung Selatan, beroperasi pada 27 Agustus 2013 dengan
izin dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia pada 22 Agustus 2013.
VISI: yakni terwujudnya Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Metro Madani
yang berkemajuan, bermartabat dan membawa kemaslahatan ummat.
MISI:
1. Menjalankan usaha perbankan syariah sesuai syariah islam yang sehat
dan terpeercaya
2. Memberikan pelayanan terbaik dan profesional kepada nasabah, share
holder dan karyawan.
55
4.2.15 PT BPRS Mitra Cahaya Indonesia
PT. Mitra Kahaya Indonesia Syariah Bank Keuangan Rakyat (Bank
Syariah MCI) berkantor pusat di Jl. Kaliurang Km 10 No.28, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta yang memulai perjalanan bisnisnya pada 11 Januari
2008, menempuh perjalanan yang berliku dan penuh tantangan di PT. Insan
Karimah Group Holding yang beranggotakan komunitas alumni HMIFEUGM
telah meningkatkan permodalan Bank MCI Syariah, dan pergantian
kepemimpinan di tahun 2016 menandai awal dari transformasi Bank MCI
Syariah.
4.2.16 PT BPRS Muamalah Cilegon
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mu'amalah Cilegon, dahulu
bernama BPRS Baitul Muawanah, didirikan oleh ulama Cilegon dan tokoh-
tokoh Banten. Diantaranya adalah H Ada Embay Mulya Syarif dan KH.
Mansur Muhyidin. Pendirian BPRS Muamalah Cilegon didasari oleh
keprihatinan para ulama dan tokoh Islam tentang minimnya bank syariah di
Kota Cilegon.
Pada tanggal 14 Februari 2013, SH, Sertifikat Tabrani No. 103 telah
disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia,
dan Keputusan Bank Indonesia No. 15/[Link]/2013 Pt . BPRS
Baitul Muawanah telah menjadi PT. BPRS Muamara Siregon (Bank Syariah
Mauamara). pt. BPRS Muamarasilegon diatur oleh Direksi Di bawah
56
pengawasan Dewan Auditor Perusahaan Syariah dan Komite, anggotanya
diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham.
VISI : Menjadi Bank syariah yang kokoh berkah terpercaya dalam
membangun kemandirian ekonomi umat.
MISI :
1. Menyiapkan dan membangun sumber daya insani, lingkungan kerja Islami
yang tangguh serta senantiasa melaksanakan budaya kerja perusahaan PAGI
CERAH (P: Profesional, A: Amanah, GI: Gigih, CE: Cepat, R: Ramah
dan AH: Istiqomah).
2. Menyediakan produk dan layanan jasa perbankan syariah yang kompentitif,
aman, ramah dan berkah dengan menerapkan layanan prima dan prinsip
kehati-hatian (prudential banking).
3. Mencapai tingkat pertumbuhan bank yang kokoh di tahun 2019 dengan
indikator asset minimal 33 milyar, CAR minimal 23%, ROA minimal 2% dan
NPF maksimal 8%.
4.2.17 PT BPRS Musyarakah Ummat Indonesia
Berdiri sejak Desember 2004, PT BPR Syariah Musyarakah Ummat
Indonesia (Mustindo) hadir di tengah-tengah anda sebagai lembaga keuangan
terpercaya dengan ijin operasional secara Syariah.
VISI : Menjadi Bank Syariah yang sehat, terpercaya pilihan umat.
MISI :
57
1. Mendukung Pemerintah dalam mengembangkan usaha kecil dan
menengah di lingkungannya melalui pembiayaan berbasis syariah.
2. Menggalang pendanaan dan menyelenggarakan layanan jasa keuangan
modern bagi masyarakat sekitarnya.
3. Menghimpun dan menyalurkan zakat,infaq dan shadaqah kepada yang berhak.
4.2.18 PT BPRS Sukowati Sragen
VISI : terwujudnya lembaga keuangan yang sehat, kuat, dan istiqamah
dengan prinsip syariah untuk kemaslahatan masyarakat
MISI :
1. Terciptanya tata kelola dan system perbankan berdasarkan prinsip syariah
yang sehat , kuat dan efisien
2. Terwujudnya kesadaran umat islam dalam menjalankan muamalah
berdasarkan prinsip syariah
3. Terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan berdasarkan prinsip
syariah
4. Terjadinya kerja sama yang harmonis antara pemerintah , masyarakat dan
lembaga non pemerintah dalam rangka mempercepat pembangunan
4.2.19 PT BPRS Suriyah
PT BPRS Suriyah adalah perusahaan yang bergerak di bidang
perbankan syariah di Jawa Tengah. pt. BPRS Suriyah Cilacap didirikan pada
tanggal 6 Januari 2005 dengan akta Naimah, SH, MH nomor 3 tanggal 6 Januari
58
2005. pt. Visi BPRS Suriyah adalah menjadi BPRS yang berdaya saing dan
efisien yang memenuhi prinsip kehati-hatian.
4.2.20 PT BPRS wakalumi
Merupakan salah satu Bank Perkreditas Rakyat (BPR) di Kota
Tangerang Selatan. BPR ini adalah bank yang melayani kegiatan usaha secara
konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. PT. BPR Syariah Wakalumi
menawarkan layanan simpan deposito berjangka atau tabungan, kredit dan
pinjaman, pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah.
4.2.21 PT BPRS Harta Insan Karimah Bahari
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Harta Insan Karimah Bahari (PT.
BPRS HIK Bahari), selanjutnya disebut Badan Hukum yang berbadan hukum
Tegal dan Nota Pendirian No. 07 tanggal 3 September 2014 dihadapan Notaris
Hertanti Pindayani, SH. Notaris di Tegal. Anggaran Dasar Perseroan telah
disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Keputusan
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-
24061.40.10.2014 tanggal 10 September 2014. Anggaran Dasar perseroan
mengalami perubahan, terakhir Instrumen Keputusan Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Biasa pt. BPR Syariah Harta Insan Karimah Bahari Nomor 29 pada
tanggal 11 November 2021 di Notaris Ny. Wahyu Ririn Ekawati, SH Disetujui
dan Dikukuhkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
59
Indonesia, Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, nomor AHU-
AH.01.03-0476915. 24 November 2022
4.2.22 PT BPRS Amanah Sejahtera
Bank Syari`ah Amanah Sejahtera mendirikan kantor pada tanggal 2 Januari
1996 di Jalan Raya Cerme Kidul 148 di Kecamatan Cerme Kabupaten Gresic, dan
Dr. H. Mar`ie Muhammad, Menteri Keuangan Republik Indonesia, mengatakan
pada tahun 1996. WIB dilaksanakan di Ruang Grhadi DPR RI sebagai BPR
Syariah pertama di Kabupaten Gresic pada pukul 10.00 WIB pada hari Sabtu
tanggal 13 Juli 2014. Pemuda 7 Surabaya.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1 Analisis Dana Pihak Ketiga (DPK)
Dana pihak ketiga merupakan dana yang diperoleh dari masyarakat
yang berbentuk giro,tabungan, dan deposito. Di dalam perkembangan dana
pihak ketiga dijelakan bahwa kemampuan penghimpun dana dari masyarakat
sangan mempengaruhi pertumbuhan setiap bank dalam system penyaluran
dananya atau pembiayaannya. Dengan arti semakin besar dana pihak ketiga
(DPK) yang dihimpun maka semakin besar pula tingkat pembiayaan yang
akan disalurkan kepada masyarakat.
Tabel 5. 1 Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020
DANA PIHAK KETIGA (DPK)
NO NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp) RATA
2016 2017 2018 2019 2020 RATA
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 4767 6438 9235 10405 12580 8,685
2 PT BPRS baiturrida pusaka 33181 48827 5059 6594 7320 20,196
3 PT BPRS bangun drajad warga 8456 1058 1138 1232 1277 2,632
4 PT BPRS muamalah cilegon 14313 20516 26198 36083 36620 26,746
5 PT BPRS al-wadi'ah 22776 27017 27967 38409 27769 28,788
6 PT BPRS al-wakalumi 11230 18885 31948 5364 6461 14,778
7 PT BPRS amanah sejahtera 5878 8369 9372 1150 1195 5,193
8 PT BPRS insan cita arta jaya 5253 5140 5828 6183 7484 5,978
9 PT BPRS artha surya barokah 1995 2203 2568 2901 2821 2,498
10 PT BPRS Suriyah 1233 1726 2910 3825 4787 2,896
11 PT BPRS metro madani 17550 15696 18298 18163 16738 17,289
60
61
DANA PIHAK KETIGA (DPK)
NO NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp) RATA
2016 2017 2018 2019 2020 RATA
12 PT BPRS al salaamamal salman 27368 27927 34638 36390 33861 32,037
13 PT BPRS dinar ashri 36897 35272 37212 46426 5177 32,197
14 PT BPRS dana hidayatullah 6412 8426 9389 1093 1173 5,299
15 PT BPRS bumi artha sampang 43858 5341 5329 5633 5098 13,052
16 PT BPRS karya mugi sentosa 7661 1107 1331 1348 1486 2,587
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 21790 41959 6003 1094 9456 16,060
PT BPRS madina mandiri
18 sejahtera 32632 35847 30176 35285 42280 35,244
19 PT BPRS sukowati sragen 1019 1179 1372 1420 1535 1,305
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 10432 11195 10282 11700 11787 11,079
21 PT BPRS Insan madani 20998 31914 43059 6456 7200 21,925
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 6708 7385 7801 8153 7819 7,573
jumlah 342,407 363,427 327,113 285,307 251,924
rata- rata 15,564 16,519 14,869 12,969 11,451
Sumber : Data Olahan, 2022
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai jumlah rata-rata
pada Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terjadi dari tahun 2016-2020 terdapat
perubahan yang signifikan setiap tahunnya . pada tahun 2016 jumlah rata-rata
dana pihak ketiga sebesar Rp15.564 mengalami kenaikan hingga Rp16.519
ditahun 2017, dan pada tahun 2018 juga mengalami penurunan sebesar
Rp14.869 hingga terus menurun ditahun 2019 dengan nilai Rp12,969 dan
mengalami penurunan kembali ditahun 2020 dengan jumlah rata rata sebesar
Rp11.451 .
62
Gambar 5. 1 Grafik Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
DPK
20,000
16,519
14,869
15,000
12,969
15,564
11,451
10,000
5,000
-
2016 2017 2018 2019 2020
Sumber : data olahan , 2022
Dapat dilihat dari grafik Dana Pihak Ketiga bahwa nilai rata rata
tertinggi terdapat pada tahun 2017 dengan nilai sebesar Rp16.519 sedangkan
nilai terendah terdapat pada tahun 2020 dengan nilai sebesar Rp11.451. secara
garis besar dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi Dana Pihak Ketiga
(DPK) maka semakin tinggi pula pembiayaan yang dapat disalurkan.
5.1.2 Analisis Capital Adequaty Ratio (CAR)
CAR adalah rasio perbandingan jumlah modal, baik modal inti
maupun modal pelengkap terhadap aktiva tertimbang menurut resiko
(ATMR). Kecukupan modal merupakan faktor yang sangat penting bagi bank
dalam rangka menampung resiko kerugian. Ketika CAR pada BUS
63
meningkat, maka BUS akan merasa lebih longgar dalam ketentuan dalam
system penyaluran pembiayaan nya
Tabel 5. 2 Perkembangan Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020
Capital Adequaty RATA-
NO NAMA BPRS Ratio(CAR) (dalam %) RATA
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 Indonesia 55.5 12.54 16 15.94 22.05 24.406
2 PT BPRS baiturrida pusaka 22.37 23.5 20.71 18.61 28.18 22.674
3 PT BPRS bangun drajad warga 16.1 13.23 17.81 34.17 31.46 22.554
4 PT BPRS muamalah cilegon 32 32 30 41.64 45.11 36.150
5 PT BPRS al-wadi'ah 61.46 44.89 64.9 22.72 17.84 42.362
6 PT BPRS al-wakalumi 12.16 0 31.9 39.29 29.84 22.638
7 PT BPRS amanah sejahtera 16.21 0 14.08 13.88 23.95 13.624
8 PT BPRS insan cita arta jaya 22.58 16.64 14.49 13.53 16.33 16.714
9 PT BPRS artha surya barokah 21.55 16.64 16.64 18.55 29.14 20.504
10 PT BPRS Suriyah 0 16.26 13.55 15 17.61 12.484
11 PT BPRS metro madani 16.85 20.04 16.73 19.86 18.5 18.396
12 PT BPRS al salaamamal salman 15.33 14.81 14.51 20 26.91 18.312
13 PT BPRS dinar ashri 27 14 14 14.06 16.73 17.158
14 PT BPRS dana hidayatullah 18.12 38.61 36.08 42.02 86.6 44.286
15 PT BPRS bumi artha sampang 16 15 17.41 27.07 34.63 22.022
16 PT BPRS karya mugi sentosa 21.42 18.31 21.59 26.14 42.17 25.926
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 11.38 12.43 13.92 0.21 21.34 11.856
18 PT BPRS madina mandiri sejahtera 11 10.25 10.41 21 16.38 13.808
19 PT BPRS sukowati sragen 14.18 11.61 12.73 29.99 37.96 21.294
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 21.86 22.17 18.96 29.34 28.84 24.234
21 PT BPRS Insan madani 27.75 23.96 23 48.4 33.73 31.368
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 19.37 22.25 25.03 21.84 24.63 22.624
Jumlah 480.19 399.14 464.45 533.26 649.93
rata- rata 21.82 18.14 21.11 24.23 29.54
Sumber : Data Olahan, 2022
64
Pada tabel 5.3 dapat dilihat bahwa rata rata Capital Adequaty Ratio
(CAR) nilai rata-rata data tertinggi terdapat pada PT BPRS al wadiah yang
sebesar 42.36%, artinya ketika nilai CAR meningkat maka BPRS akan merasa
lebih longgar dalam system ketentuan penyaluran pembiayaan nya. ,
sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada PT BPRS barokah dana
sejahtera dengan nilai sebesar 11.85%, sehingga ketika nilai CAR menurun
maka BPRS kemungkinaan akan merasa lebih antisipasi dalam mengatasi
resiko nya.
Jika dilihat dari rata-rata pertahunnya Capital Adequaty Ratio (CAR)
mengalami perubahan naik turun dari tahum 2016 hingga 2020. Pada tahun
2016 jumlah rata-rata sebesar 21.82% dan mengalami penurunan ditahun
2017 dengan rata-rata sebesar 18.14% , sedangkan pada tahun 2018
mengalami kenaikan sebesar 21.11% dan mengalami kenaikan kembali
ditahun 2019 dengan rata-rata sebesar 24.23% serta pada tahun 2020 rata-rata
Capital Adequaty Ratio (CAR) mengalami kenaikan lagi sebesar 29.54%.
65
Gambar 5. 2 Grafik Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
CAR
35.00
30.00
29.54
25.00 21.83
24.24
20.00
21.11
15.00 18.14
10.00
5.00
0.00
2016 2017 2018 2019 2020
Sumber : data olahan , 2022
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa hasil rata rata CAR BPRS
berfluktuasi dari tahun 2016 sampai tahun 2020. Bahwa rata-rata CAR
tertinggi terdapat pada tahun 2020 dengan nilai sebesar 29.54% dan rata-rata
terendah terdapat pada tahun 2017 dengan nilai sebesar 18.14%.
5.1.3. Analisis Return On Asset (ROA)
Return On Asset (ROA) merupakan imbalan hasil atau tingkat
pengembalian laba atas total aset yang tertera didalam neraca perusahaan.
ROA digunakan untuk mengukur kinerja manajemen tingkat atas, karena
dapat melihat bagaimana manajemen memanfaat kan aset ini menjadi aset
laba pada perusahaan.
66
Tabel 5. 3 Perkembangan Return On Asset (ROA) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020
Return On Asset (ROA) RATA-
NO NAMA BPRS (dalam %) RATA
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat -
1 indonesia 13.99 1.95 0.62 0.53 0.52 -2.074
2 PT BPRS baiturrida pusaka 8.94 8.44 5.02 7.46 7.78 7.528
3 PT BPRS bangun drajad warga 2.5 2.41 2.35 2.42 1.77 2.29
4 PT BPRS muamalah cilegon 1.77 2.1 2.46 99.99 3.22 21.908
5 PT BPRS al-wadi'ah 4.44 3.41 -9.49 0.74 1.28 0.076
6 PT BPRS al-wakalumi 1.55 0 1.89 0.29 -4.04 -0.062
7 PT BPRS amanah sejahtera 2.23 0 6.12 4.61 1.61 2.914
8 PT BPRS insan cita arta jaya -2.57 3.59 3.24 2.31 1.34 1.582
9 PT BPRS artha surya barokah 3.75 2.61 2.65 3 2.11 2.824
10 PT BPRS Suriyah 0 2.67 2.4 2.6 1.36 1.806
11 PT BPRS metro madani 2.91 3.53 3.47 3.75 2 3.132
12 PT BPRS al salaamamal salman 2.04 2.42 2.29 2.31 1.01 2.014
13 PT BPRS dinar ashri 3.26 4.06 5.1 7.21 5.77 5.08
14 PT BPRS dana hidayatullah 3.65 4.8 2.97 4.05 3 3.694
15 PT BPRS bumi artha sampang 2.85 3.09 2.98 2.28 1.97 2.634
16 PT BPRS karya mugi sentosa -3.24 -5.11 2.52 2.38 1.93 -0.304
PT BPRS barokah dana
17 sejahtera 2.24 1.97 2.73 0.03 0.87 1.568
PT BPRS madina mandiri
18 sejahtera 1.15 0.99 1.37 3.65 -2.12 1.008
19 PT BPRS sukowati sragen 3.46 3.29 3.22 3.38 2.56 3.182
PT BPRS mitra cahaya
20 indonesia 1.61 4.04 4.53 4.04 1.6 3.164
21 PT BPRS Insan madani 1.51 -3.35 3.74 1.69 1.6 1.038
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 8.07 11.73 9.96 8.64 7.75 9.23
Jumlah 38.13 58.64 62.14 167.36 44.89
rata- rata 1.73 2.66 2.82 7.60 2.04
Sumber : data olahan, 2022
67
Pada tabel 5.4 diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata Return on asset
(ROA) tertinggi terdapat pada BPRS muamalah cilegon dengan nilai rata-rata
sebesar 21.90% sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada BPRS
musyarakah ummat indonesia dengan nilai sebesar -2.07%. dan jika dilihat
dari jumlah rata rata pertahun pada Return on asset (ROA) yang terjadi dari
tahun 2016-2020 terdapat perubahan yang signifikan di setiap tahunnya. Dari
data tersebut, jumlah rata-rata ROA tahun 2016-2020 mengalami peningkatan
dan penurunan di setiap tahunnya. Dari tahun 2016 hingga 2017 mengalami
kenaikan dengan jumlah nilai rata rata dari 1.73% hingga 2.66%, kemudian
mengalami kenaikan sebesar 2.82% ditahun 2018. Dan ditahun 2019 rata rata
nilai ROA mengalami kenaikan yang sangat tinggi sebesar 7.60% , serta
ditahun 2020 rata-rata ROA mengalami penurunan sebesar 2.04%.
Gambar 5. 3 Grafik Retrun On Asset (ROA) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
ROA
8.00
7.61
6.00
4.00
2.00 2.67 2.82 2.04
1.73
0.00
2016 2017 2018 2019 2020
Sumber : data olahan , 2022
68
Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai jumlah rata-rata
kerugian ROA tertinggi terdapat pada tahun 2019 dengan nilai sebesar 7.61%.
sedangkan nilai terendah terdapat pada tahun 2016 dengan nilai rata-rata
kerugian sebesar 1.73% . semakin besar nilai rasio ROA, maka menunjukan
tingkat rentabilitas usaha bank semaik baik atau sehat. Jika ROA pada bank
smakin besar maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh
bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank itu dari segi aset nya,
sedangkan semakin sedikit dana pinjaman kembali ke bank akan
menyebabkan dana yang tersedia untuk disalurkan semakin berkurang.
5.1.4. Analisis Resiko / Non Performing Financing (NPF)
Resiko pada pembiayaan syariah merupakan resiko yang disebabkan
oleh ketidakmampuan nasabah dalam membayar kewajibannya kepada bank.
Tabel 5. 4 Perkembangan Non Performing Financing (NPF) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020
Non Performing Financing (NPF)
NO NAMA BPRS (dalam %)
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 1.0652 0.0675 0.3956 1.5022 0.1760
2 PT BPRS baiturrida pusaka 0.1358 0.0182 0.0270 0.0578 0.5389
3 PT BPRS bangun drajad warga 0.1194 0.1854 0.2110 0.1400 0.0975
4 PT BPRS muamalah cilegon 0.0759 0.0392 0.5432 0.2920 0.1076
5 PT BPRS al-wadi'ah 0.2990 0.4032 0.4485 0.6218 0.1130
6 PT BPRS al-wakalumi 2.1084 0.1939 4.0242 2.5397 1.2321
7 PT BPRS amanah sejahtera 0.0394 0.9463 0.0259 0.3108 0.2353
8 PT BPRS insan cita arta jaya 0.1313 0.5420 0.2555 0.1546 0.3448
69
Non Performing Financing (NPF)
NO NAMA BPRS (dalam %)
2016 2017 2018 2019 2020
9 PT BPRS artha surya barokah 0.1660 0.1384 0.1817 0.0174 0.2033
10 PT BPRS Suriyah 0.0895 0.0800 0.1101 0.1260 0.0827
11 PT BPRS metro madani 0.5778 0.2216 0.3161 1.1954 1.0902
12 PT BPRS al salaamamal salman 0.2884 0.3507 0.1273 0.1230 0.0616
13 PT BPRS dinar ashri 0.2900 0.1339 0.0879 0.0380 0.0030
14 PT BPRS dana hidayatullah 0.2517 0.1881 0.2990 0.0999 0.0616
15 PT BPRS bumi artha sampang 0.9930 0.7053 0.3638 0.4282 1.2080
16 PT BPRS karya mugi sentosa 0.0144 0.0371 0.9991 0.4785 0.1719
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 0.0237 0.0227 0.0864 0.0081 0.0196
18 PT BPRS madina mandiri sejahtera 0.3831 0.3177 0.3158 2.2076 0.4843
19 PT BPRS sukowati sragen 0.4581 0.4368 0.4332 0.0432 0.1696
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 0.4043 0.3240 0.1283 0.0505 0.0182
21 PT BPRS Insan madani 1.7191 0.1265 0.0886 0.0656 0.0448
22 PT BPRS harta insan karimah bahari 0.0206 0.0000 0.0816 0.0527 0.0597
jumlah 9.65 5.48 9.55 10.55 6.52
rata- rata 0.44 0.25 0.43 0.48 0.30
Sumber : Data Olahan, 2022
Dari data diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata tertinggi terdapat pada
tahun 2019 sebesar 0.48 , hal ini disebabkan bahwa resiko pada tingkat ini
adalah resiko dengan peluang terjadinya resiko yang sangat sering, sehingga
memiliki nilai pengaruh yang sangat besar . sedangkan rata-rata terendah
terdapat terdapat pada tahun 2017 dengan nilai sebesar 0.25% . artinya bahwa
resiko dengan peluang terjadinya sangat jarang dan memiliki nilai pengaruh
dampak dari besar hingga sangat kecil.
70
Gambar 5. 4 Grafik Non Performing Financing (NPF) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
NPF
0.60
0.50 0.48
0.44 0.43
0.40
0.30 0.30
0.25
0.20
0.10
0.00
2016 2017 2018 2019 2020
Sumber : data olahan , 2022
Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa hasil rata-rata NPF dari tahun
2016 hingga tahun 2020 mengalami naik/turunn. Artinya nilai NPF tertinggi
tahun 2019 dengan nilai sebesar 0.18% sedangkan rata-rata terendah terdapat
pada tahun 2017 sebesar 0.25% .
5.1.5. Pembiayaan Mudharabah
Pembiayaan Mudharabah merupakan akad kerjasama usaha antara dua
pihak yang dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal (100%),
sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola dan jika rugi akan ditanggung
oleh pemilik modal selama kerugian tersebut tidak disebabkan oleh pengelola
dan Keuntungan akan dibagi sesuai yang telah disepakati.
71
Tabel 5. 5 Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
NO NAMA BPRS MUDHARABAH (jutaan Rp)
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 149100 69100 69100 69100 69100
2 PT BPRS baiturrida pusaka 900000 400000 100000 600000 500000
3 PT BPRS bangun drajad warga 12017 13612 14313 21262 17649
4 PT BPRS muamalah cilegon 830576 85235 68305 51980 28934
5 PT BPRS al-wadi'ah 23862 23862 23862 23862 23862
6 PT BPRS al-wakalumi 890846 815333 1930 1670 1342
7 PT BPRS amanah sejahtera 3532 5070 3962 804784 1005
8 PT BPRS insan cita arta jaya 12060 10158 7799 3775 1919
9 PT BPRS artha surya barokah 3648 2988 8986 10446 7427
10 PT BPRS Suriyah 10936 2570 2120 50569 79418
11 PT BPRS metro madani 370358 339033 114713 80515 61515
12 PT BPRS al salaamamal salman 3006 4827 10055 6740 8605
13 PT BPRS dinar ashri 263798 244798 244798 244798 244798
14 PT BPRS dana hidayatullah 73850 68890 67990 62562 2445
15 PT BPRS bumi artha sampang 6165 5178 3120 3157 2426
16 PT BPRS karya mugi sentosa 1211 702778 476226 1994 3113
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 506454 349756 91846 271705 256179
18 PT BPRS madina mandiri sejahtera 1711 813000 500000 500000 500000
19 PT BPRS sukowati sragen 5952 5992 8095 7064 5599
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 11020 10270 9670 9 8470
21 PT BPRS Insan madani 1000 1387 833066 1725 2119
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 738889 2851 4378 4201 4302
jumlah 4,819,991 3,976,688 2,664,334 2,821,918 1,830,227
rata- rata 219,091 180,759 121,106 128,269 83,192
Sumber : Data Olahan, 2022
Berdasarkan tabel diatas, pembiayaan mudharabah dari tahun 2016
mengalami penurunan ditahun 2017 dengan nilai sebesar Rp219.091 ke
72
Rp180.759 ,dan mengalami kenaikan ditahun 2018 sebesar Rp121.106
hingga 2019 sebesar Rp128.269 dan mengalami penurunan ditahun 2020
sebesar Rp83.192.
Gambar 5. 5 Grafik Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
mudharabah
250,000
219,091
200,000 180,759
150,000 128,269
121,106
100,000
83,192
50,000
0
2016 2017 2018 2019 2020
Sumber : data olahan , 2022
Pada grafik pembiayaan mudharabah dapat dilihat bahwa rata-rata
tertinggi dari tahun 2016 hingga tahun 2020 yaitu terdapat pada tahun 2016
dengan jumlah rata rata pembiayaan mudharabah tertinggi sebesar Rp219.091
sedangkan rata-rata pada pembiayaan mudharabah terendah terdapat pada
tahun 2020 dengan nilai sebesar Rp83.192.
5.1.6. Pembiayaan Musyarakah
Pembiayaan Musyarakah adalah suatu bentuk kerjasama antara kedua
belah pihak/lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak
73
memberikan kontribusi dana dengan keuntungan serta risikonya akan
ditanggung bersama.
Tabel 5. 6 Pembiayaan Musyarakah Pada Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
MUSYARAKAH
NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp)
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 270,000 20,000 229,330 603,187 772,041
2 PT BPRS baiturrida pusaka 125,000 200,000 546,667 3,170 325,000
PT BPRS bangun drajad
3 warga 12,549 8,639 6,347 7,147 10,048
4 PT BPRS muamalah cilegon 48,481 217,881 2,901 2,174 2,894
5 PT BPRS al-wadi'ah 1,000 1,000 1,490 1,795 4,415
6 PT BPRS al-wakalumi 850 1,552 2,875 7,465 8,883
7 PT BPRS amanah sejahtera 6,462 7,085 8,027 32,469 47,104
8 PT BPRS insan cita arta jaya 750 2,426 2,683 625 639
9 PT BPRS artha surya barokah 2,867 2,439 3,011 3,955 5,864
10 PT BPRS Suriyah 152 9,683 18,349 160,199 308,335
11 PT BPRS metro madani 6,116 7,900 10,429 9,141 6,736
PT BPRS al salaamamal
12 salman 1,273 1,567 2,230 4,090 735
13 PT BPRS dinar ashri 94 45 600 1,100 3,600
14 PT BPRS dana hidayatullah 24,712 31,468 41,919 49,698 53,927
15 PT BPRS bumi artha sampang 2,534 2,558 7,770 5,607 8,501
16 PT BPRS karya mugi sentosa 145 1,296 1,462 15,050 40,018
74
MUSYARAKAH
NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp)
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS barokah dana
17 sejahtera 1,205 1,237 3,093 6,506 19,975
PT BPRS madina mandiri
18 sejahtera 21,445 20,199 23,392 17,745 17,914
19 PT BPRS sukowati sragen 16,294 27,985 13,684 18,078 29,829
PT BPRS mitra cahaya
20 indonesia 577,696 534,877 295,933 725 752,053
21 PT BPRS Insan madani 1,000 1,388 833 1,725 2,120
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 19,626 15,211 21,119 17,854 17,340
jumlah 1,140,251 1,116,436 1,244,144 969,505 2,437,971
rata- rata 51,830 50,747 56,552 44,068 110,817
Sumber : Data Olahan, 2022
Berdasarkan tabel diatas, dijelaskan bahwa pembiayaan musyarakah
tahun 2016-2020 mengalami naik/turun. Dimana dari tahun 2016 mengalami
penurunan ditahun 2017 dengan nilai sebesar Rp51.830 ke Rp50.747 dan
mengalami kenaikan pada tahun 2018 sebesar Rp56.552 lalu ditahun 2019
mengalami penurunan kembali sebesar Rp44.068 dan mengalami kenaikan yg
sangat tinggi ditahun 2020 sebesar Rp110.817.
75
Gambar 5. 6 Grafik Pembiayaan Musyarakahah Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.
musyarakah
120,000
110,817
100,000
80,000
51,830 56,552
60,000
40,000 44,068
50,747
20,000
0
2016 2017 2018 2019 2020
Sumber : data olahan , 2022
Pada grafik pembiayaan musyarakah dapat dilihat bahwa rata-rata
tertinggi dari tahun 2016 hingga tahun 2020 yaitu terdapat pada tahun 2020
dengan jumlah rata rata pembiayaan musyarakah sebesar Rp110.817.
sedangkan rata-rata terendah pada pembiayaan musyarakah terdapat pada
tahun 2019 dengan nilai sebesar Rp44.068.
76
5.1.7. Analisis Statistic Descriptive
Tabel 5. 7 Hasil Analisis Deskriptif
MUDHARA MUSYARA
BAH KAH DPK CAR ROA NPF
Mean 146483.3 62802.79 14274.35 22.97245 3.374182 0.377658
Median 13962.50 7306.000 7986.000 19.93000 2.440000 0.170450
Maximum 900000.0 772041.0 48827.00 86.60000 99.99000 4.024100
Minimum 9.000000 45.00000 1019.000 0.000000 -13.99000 0.000000
Std. Dev. 246054.0 153787.1 13581.49 13.00021 9.856350 0.586104
Skewness 1.836647 3.161918 0.932037 1.788160 8.603385 3.441573
Kurtosis 5.162048 12.49076 2.502863 8.348852 85.62273 17.77409
Jarque-Bera 83.26789 596.1333 17.05878 189.7513 32645.20 1217.570
Probability 0.000000 0.000000 0.000198 0.000000 0.000000 0.000000
Sum 16113158 6908307. 1570178. 2526.970 371.1600 41.54240
Sum Sq. Dev. 6.60E+12 2.58E+12 2.01E+10 18421.58 10589.09 37.44344
Observations 110 110 110 110 110 110
Sumber : data olahan,2022
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa pembiayaan mudharabah
memperoleh nilai mean sebesar 146483.3 dengan nilai [Link] sebesar
246054 ,sedangkan pada musyarakah nilai mean sebesar 62802.79 dan
[Link] sebesar 153787.1 . adapun observasi pada penelitian ini yaitu
berjumlah 22 data perusahaan dengan periode selama 5 tahun maka dapat
diperoleh 110 data yang akan digunakan dalam penelitiian tersebut.
5.1.8. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Mudharabah
Sebelum kita melakukan estimasi pada data panel, maka yang akan
diperlukan dalam pemilihan model terbaik yang akan digunakan untuk
77
mengestimasikan data tersebut. Pemilihan model pada data panel dapat
dilakukan dengan beberapa pengujian. Uji yang dimaksud yaitu uji chow yang
akan digunakan untuk memilih common effect model atau fixed effect model .
uji hausmant digunakan untuk memilih fixed effect model atau random effect
model , sedangkan pada uji legrange multiplier digunakan untuk memilih
common effect model atau random effect model. Berikut adalah hasil estimasi
yang telah dilakukan :
a. Likelihood Ratio (uji chow)
Uji chow ini dilakukan untuk mengetahui model apa yang akan
dianalisis dengan menggunakan metode common effect model atau fixed effect
model. Uji tersebut dilakukan dengan prosedur uji-F dengan hipotesis:
H0 : prob > 0.05 , common effect model
H1 : prob < 0.05 , fixed effect model
Hasil dari likelihood ratio adalah sebagai berikut :
Tabel 5. 8 Estimasi output uji chow
Redundant Fixed Effects Tests
Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 1.859232 (21,84) 0.0249
Cross-section Chi-square 41.989652 21 0.0042
Sumber : output eviews 11.
78
Dari hasil olahan eviews 11 diketahui prob sebesar 0.0000 dengan
nilai p-value yang lebih kecil dari 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa uji
chow adalah menolak H0, artinya dalam penelitian ini model terbaik terdapat
pada estimasi fixed effect model dibandingkan dengan common effect model .
hal selanjutnya akan melakukan uji hausman.
b. Correlated Random Effect (Hausman Test)
Uji hausman dilakukan untuk memilih model estimasi terbaik antara
fixed effect model dengan random effect model. Pengujian ini mengikuti
distribusi chi-square dengan hipotesis sebagai berikut :
H0 : prob > 0.05 , random effect model
H1 : prob < 0.05 , fixed effect model
Hasil dari uji hausman adalah sebagai berikut :
Tabel 5. 9 Estimasi output uji hausman
Correlated Random Effects - Hausman Test
Equation: Untitled
Test cross-section random effects
Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 2.589250 4 0.6287
Sumber : output eviews 11.
Setelah melakukan uji hausman, dapat dilihat bahwa prob >0.05
dengan nilai sebesar 0.062 > 0.05 , maka dapat disimpulkan bahwa hasil
79
Correlated Random Effect (uji hausman) adalah menerima H0 ,sehingga model
yang lebih baik untuk digunakan dalam penelitian ini adalah random effect
model.
5.2. Uji Asumsi Klasik
5.2.1. Uji Normalitas
Setelah dilakukan uji asumsi klasik terhadap semua variable, ternyata
diketahui seluruh variable terdistribusi tidak normal. Oleh karena itu, variabel
dependent dan variabel independent ditransformasikan kedalam bentuk
logaritma natural (ghozali, 2011) .
Gambar 5. 7 Hasil Uji Normalitas
16
Series:Standardized Residuals
Residuals
14 Sample 2016 2020
2020
Observations 110
110
12
10 Mean 1.03e-15
Median -0.307543
8
Maximum 4.012131
6 Minimum -5.867273
Std. Dev. 1.996494
4
Skewness 0.031356
2 Kurtosis 2.473286
0
-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 Jarque-Bera 1.289568
Probability 0.524776
Sumber : output eviews 11.
Berdasarkan data yang diperoleh dari output , diketahui bahwa nilai
probability sebesar 0.5247 . oleh karena itu,nilai prob > 0.05 maka data
80
berdistribusi normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi uji
normalitas terpenuhi.
5.2.2. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam metode
regresi yang dilakukan ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Untuk
dapat mengetahui ada atau tidaknya multikolonieritas maka dapat dilihat dari
nilai korelasi antar variabel tersebut. Jika nilai korelasi < 0.8 maka variable
bebas tidak terjangkit multikolonieritas ,begitu sebaliknya.
Tabel 5. 10 Hasil Uji Multikolonieritas
DPK CAR ROA NPF
DPK 1.000000 0.272636 0.155415 0.039669
CAR 0.272636 1.000000 0.073973 0.076239
ROA 0.155415 0.073973 1.000000 -0.078676
NPF 0.039669 0.076239 -0.078676 1.000000
Sumber : output eviews 11
Dari tabel diketahui bahwa nilai korelasi antar variable bebas lebih
kecil dari 0.8 (r<0.8) yang artinya model tidak terjangkit multikolonieritas
dalam model terpenuhi.
5.2.3. Uji Heteroskedasitas
Uji heteroskedasitas ini bertujuan untuk menguji apakah didalam
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke
81
pengamatan lainnya berbeda maka hal tersebut dinyatakan heteroskedasitas
(ghozali , 2009).
Untuk melihat ada atau tidaknya heteroskedasitas ,maka dapat
dilakukan dengan uji glejser ,yaitu meregresikan nilai absolut nilai residual
sebagai variabel dependen dengan variabel independen.
Tabel 5. 11 Hasil Uji Heteroskedasitas
Root MSE 1.030736 R-squared 0.022611
Mean dependent var 1.691969 Adjusted R-squared -0.014622
S.D. dependent var 1.047362 S.E. of regression 1.054992
Akaike info criterion 2.989332 Sum squared resid 116.8659
Schwarz criterion 3.112082 Log likelihood -159.4133
Hannan-Quinn criter. 3.039120 F-statistic 0.607280
Durbin-Watson stat 1.144910 Prob(F-statistic) 0.658264
Sumber : output eviews 11
Berdasarkan uji heteroskedasitas, bahwa diperoleh variable DPK,
CAR, ROA, NPF memiliki nilai prob > 0.05 dengan nilai sebesar 0.6585 >
0.05, yang artinya terbebas dari heteroskedasitas.
5.2.4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi
linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1(sebelumnya). Apabila du<dw<4-du
maka dapat dikatakan bebas dari maslaah autokorelasi (Ghozali , 2009).
82
Gambar 5. 8 Hasil Uji Autokorelasi
Autokorelasi Ragu-ragu Tidak ada Ragu-ragu Autokorelasi
positif Autokorelasi negatif
dL dU 4-dU 4-dL
0 1.6061 1.7624 1.8232 2.2376 2.3939
Sumber : data olahan , output eviews 11
Berdasarkan table diatas, dapat diketahui bahwa uji Durbin-Watson
yang diperoleh adalah sebesar 1.8232. sehingga dapat disimpulkan bahwa
tidak terjadi autokorelasi pada model regresi linear yang digunakan dalam
penelitian ini. Karena diketahui bahwa kriteria nilai Durbin-Watson (DW)
berkisar antara dU < DW < 4-dU dengan nilai yang diperoleh sebesar 1.7624
< 1.8232 (DW) < 2.2376 . sehingga hasil kesimpulan dikatakan tidak ada
autokorelasi pada penelitian ini.
5.3. Analisis Regresi pada Estimasi Random Effect Model
Estimasi random effect model mendapatkan hasil pengaruh variabel Dana
Pihak Ketiga (DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) , Non
Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan Mudharabah dala bentuk
persamaan regresi sebagai berikut :
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ꬲ
Mudharabah= 9.7940 + 0.00039 DPK + 0.0048 CAR -0.0104 ROA - 0.9367 NPF +ꬲ
Sehingga jika dijabarkan dalam table terlihat sebagai berikut :
83
Tabel 5. 12 Hasil Estimasi Regresi Random Effect Model
Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 9.794004 0.491522 19.92587 0.0000
DPK 0.000396 0.001630 2.421611 0.0172
CAR 0.004871 0.015370 0.316886 0.7520
ROA -0.010434 0.018636 -0.559846 0.0358
NPF -0.936702 0.350201 -2.674753 0.0087
Sumber : data olahan , output eviews 11
Dari data diatas,dapat dijelaskan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
1. Dana Pihak Ketiga (DPK)
Nilai koefisien DPK sebesar 0.000396. hal ini menunjukkan bahwa setiap
peningkatan/penurunan DPK sebesar 1% akan meningkatkan / menurunkan
pembiayaan mudharabah sebesar 0.03% dengan asumsi variabel lain
konstan.
2. Capital Adequaty Ratio (CAR)
Nilai koefisien CAR sebesar 0.004871 . hal ini menunjukkan bahwa setiap
peningkatan/penurunan CAR sebesar 1% akan meningkatkan /menurunkan
pembiayaan mudharabah sebesar 0.48% dengan asumsi variabel lain
konstan.
3. Return On Asset (ROA)
Nilai koefisien ROA sebesar -0.010434. hal ini menunjukkan bahwa setiap
peningkatan/penurunan ROA sebesar 1% akan meningkatkan /menurunkan
84
pembiayaan mudharabah sebesar -1.04% dengan asumsi variabel lain
konstan.
4. Non Performing Financing (NPF)
Nilai koefisien NPF sebesar -0.936702. hal ini menunjukkan bahwa setiap
peningkatan/penurunan NPF sebesar 1% akan meningkatkan/menurunkan
pembiayaan mudharabah sebesar 93.67% dengan asumsi variabel lain
konstan.
5.3.1. Uji Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variable independen secara
bersama-sama berpengaruh terhadap variable dependent. Apabila nilai F
hitung > F tabel, maka H0 ditolak yang artinya bahwa variabel independent
secara simultan mempengaruhi variable dependen nya. Jika nilai F hitung < F
Tabel , maka H0 diterima yang artinya bahwa tidak ada variabel independent
yang mempengaruhi secara simultan variabeL dependen nya .
Tabel 5. 13 Hasil Uji F
Weighted Statistics
Root MSE 1.727225 R-squared 0.108468
Mean dependent var 6.157405 Adjusted R-squared 0.074505
S.D. dependent var 1.837653 S.E. of regression 1.767871
Sum squared resid 328.1636 F-statistic 3.193709
Durbin-Watson stat 1.823214 Prob(F-statistic) 0.016140
Sumber : output eviews 11
85
Berdasarkan hasil output diatas, nilai F hitung sebesar 3.193709
sedangkan F Tabel dengan tingkat kesalahan 5% sebesar 2.30 . dengan
demikian F hitung > F tabel sebesar 3.193709 > 2.32 , jika dilihat dari
probabilitas nya sebesar 0.016140 < 0.05 sehingga H0 ditolak . hal ini dapat
disimpulkan bahwa variabel DPK, CAR, ROA , NPF secara bersama-sama
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembiayaan mudharabah .
5.3.2. Uji Parsial (Uji T)
Uji T atau uji parsial digunakan untuk menguji pengaruh pada setiap
variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai probabilitas < 0.05
maka terdapat pengaruh signifikan antara variabel independent terhadap
variabel dependen , sedangkan jika nilai prob > 0.05 maka tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel
dependen. Uji hipotesis secara parsial dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5. 14 Hasil Uji T
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 9.794004 0.491522 19.92587 0.0000
DPK 0.000396 0.001630 2.421611 0.0172
CAR 0.004871 0.015370 0.316886 0.7520
ROA -0.010434 0.018636 -0.559846 0.0358
NPF -0.936702 0.350201 -2.674753 0.0087
Sumber : output eviews 11
86
Penjelasan dari tabel diatas dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Mudharabah
Dapat dilihat pada hasil pengujian DPK menunjukkan bahwa T hitung sebesar
2.421611 , sedangkan T tabel dengan sig 5% , df = n-k = 110-6 = 104 dimana
Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung > T tabel sebesar 2.421611
> 1.6596, dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar 0.0172 < 0.05 , maka
dapat disimpulkan bahwa DPK secara parsial berpengaruh terhadap
pembiayaan mudharabah.
b. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Mudharabah
Hasil pengujian CAR menunjukkan bahwa T hitung sebesar 0.316886 ,
sedangkan Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung < T tabel
sebesar 0.316886 < 1.6596 , dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar
0.7520 > 0.05 , maka dapat disimpulkan bahwa CAR secara parsial tidak
berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.
c. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Mudharabah
Pada Hasil pengujian ROA menunjukkan bahwa T hitung sebesar -0.559846,
sedangkan Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung < T tabel
sebesar -0.559846 < 1.6632 , dan nilai probabilitas sebesar 0.0358 < 0.05 ,
maka ROA secara parsial berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.
d. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Mudharabah
Dari tabel dilihat bahwa Hasil pengujian ROA menunjukkan T hitung sebesar
-2.674753 , sedangkan Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung > T
87
tabel sebesar -2.674753 < 1.6596 , dan pada nilai probabilitas sebesar 0.0087
< 0.05 , maka disimpulkan bahwa NPF secara parsial berpengaruh terhadap
pembiayaan mudharabah.
5.3.3. Determinasi (R2)
Tabel 5. 15 Determinasi (R2)
Weighted Statistics
Root MSE 1.727225 R-squared 0.108468
Mean dependent var 6.157405 Adjusted R-squared 0.074505
S.D. dependent var 1.837653 S.E. of regression 1.767871
Sum squared resid 328.1636 F-statistic 3.193709
Durbin-Watson stat 1.823214 Prob(F-statistic) 0.016140
Sumber : output eviews 11
Berdasarkan tabel diatas, menunjukan bahwa nilai R 2 atau Adjusted R-
squared sebesar 0.108468. artinya bahwa perubahan naik turunnya
pembiayaan Mudharabah dapat dijelaskan oleh DPK, CAR, ROA, NPF
sebesar 10.86% sementara sisanya 89.14% dijelaskan oleh variabel lainnya
yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
5.4. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Musyarakah
Pemilihan model pada data panel ini dapat dilakukan dengan beberapa
pengujian. Uji yang dimaksud yaitu uji chow yang akan digunakan untuk memilih
common effect model atau fixed effect model . uji hausmant digunakan untuk memilih
fixed effect model atau random effect model , sedangkan pada uji legrange multiplier
digunakan untuk memilih common effect model atau random effect model. Berikut
adalah hasil estimasi yang telah dilakukan :
88
a. Likelihood Ratio (uji chow)
Uji chow ini dilakukan untuk mengetahui model apa yang akan dianalisis
dengan menggunakan metode common effect model atau fixed effect model.
Tabel 5. 16 Uji Chow
Redundant Fixed Effects Tests
Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 5.986835 (21,84) 0.0000
Cross-section Chi-square 100.647075 21 0.0000
Sumber : output eviews 11 , 2022
Dari hasil pengolahan eviews 11 , diketahui bahwa prob sebesar 0.0000
dengan nilai p-value yang lebih kecil dari 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa uji
chow adalah menolak H0, artinya penelitian ini model terbaik terdapat pada estimasi
fixed effect model dibandingkan dengan common effect model . selanjutnya akan
melakukan uji hausman.
b. Correlated Random Effect (Hausman Test)
Uji hausman dilakukan untuk memilih model estimasi terbaik antara fixed
effect model dengan random effect model. Pengujian ini mengikuti distribusi chi-
square dengan hipotesis sebagai berikut :
H0 : prob > 0.05 , random effect model
H1 : prob < 0.05 , fixed effect model
89
Tabel 5. 17 Uji Hausman
Correlated Random Effects - Hausman Test
Equation: Untitled
Test cross-section random effects
Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 15.797106 4 0.0033
Sumber : output eviews 11 , 2022
Setelah melakukan uji hausman,dilihat bahwa prob <0.05 dengan nilai 0.0033
< 0.05 , maka disimpulkan bahwa hasil Correlated Random Effect (uji hausman)
adalah menerima H0 ,sehingga model yang lebih baik untuk digunakan dalam
penelitian ini adalah fixed effect model.
5.5. Uji Asumsi Klasik
5.5.1. Uji Normalitas
Pada penelitian ini, Setelah dilakukan uji asumsi klasik terhadap
semua variable, ternyata seluruh variabel terdistribusi tidak normal. Oleh
sebab itu, variabel dependent dan variabel independent ditransformasikan
kedalam bentuk logaritma natural (ghozali, 2011) .
90
Gambar 5. 9 Uji Normalitas
20
Series:Standardized Residuals
Residuals
Sample 2016 2020
2020
16 Observations 110
110
12 Mean 4.87e-17
Median 0.034516
Maximum 2.922100
8
Minimum -4.971887
Std. Dev. 1.200567
4 Skewness -1.323946
Kurtosis 7.687139
0
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Jarque-Bera 132.8278
Probability 0.120436
Sumber : output eviews 11 , 2022
Berdasarkan data yang diperoleh dari olahan eviews , diketahui nilai
probability sebesar 0.12 . oleh karena itu,nilai prob > 0.05 maka data
berdistribusi normal. Maka dapat disimpulkan bahwa asumsi uji normalitas ini
terpenuhi.
5.5.2. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam metode
regresi yang dilakukan ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Untuk
dapat mengetahui ada atau tidaknya multikolonieritas maka dapat dilihat dari
nilai korelasi antar variabel tersebut. Jika nilai korelasi < 0.8 maka variable
bebas tidak terjangkit multikolonieritas ,begitu sebaliknya.
91
Tabel 5. 18 Hasil Uji Multikolonieritas
DPK CAR ROA NPF
DPK 1.000000 0.272636 0.155415 0.039669
CAR 0.272636 1.000000 0.073973 0.076239
ROA 0.155415 0.073973 1.000000 -0.078676
NPF 0.039669 0.076239 -0.078676 1.000000
Sumber : output eviews 11
Dari tabel diketahui nilai korelasi antara variabel bebas lebih kecil dari
0.8 (r<0.8) yang artinya model tidak terjangkit multikolonieritas dalam model
terpenuhi.
5.5.3. Uji Heteroskedasitas
Uji heteroskedasitas ini ditujukan untuk menguji apakah didalam
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lainnya berbeda maka hal tersebut dinyatakan heteroskedasitas
(ghozali , 2009).
Untuk melihat ada atau tidaknya heteroskedasitas ,maka dapat
dilakukan dengan uji glejser ,yaitu meregresikan nilai absolut nilai residual
sebagai variabel dependen dengan variabel independen.
92
Tabel 5. 19 Hasil Uji Heteroskedasitas
Root MSE 0.890729 R-squared 0.055997
Mean dependent var 0.766678 Adjusted R-squared 0.020035
S.D. dependent var 0.920963 S.E. of regression 0.911690
Akaike info criterion 2.697356 Sum squared resid 87.27383
Schwarz criterion 2.820106 Log likelihood -143.3546
Hannan-Quinn criter. 2.747144 F-statistic 1.557115
Durbin-Watson stat 1.535266 Prob(F-statistic) 0.191241
Sumber : data olahan,2022
Berdasarkan uji heteroskedasitas, bahwa diperoleh variable DPK,
CAR, ROA, NPF memiliki nilai prob > 0.05 dengan nilai sebesar 0.191241 >
0.05, yang artinya terbebas dari heteroskedasitas.
5.5.4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi
linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1(sebelumnya). Apabila du<dw<4-du
maka dapat dikatakan bebas dari maslaah autokorelasi (Ghozali , 2009).
Gambar 5. 10 Hasil Uji Autokorelasi
Autokorelasi Ragu-ragu Tidak ada Ragu-ragu Autokorelasi
positif Autokorelasi negatif
dL dU 4-dU 4-dL
0 1.6061 1.7624 1.8546 2.374 2.3939
Sumber : data olahan , output eviews 11
93
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa uji Durbin-Watson
yang diperoleh adalah sebesar 1.8546. pada penelitian ini, diketahui bahwa
kriteria nilai Durbin-Watson (DW) berkisar antara dU < DW < 4-dU dengan
nilai yang diperoleh sebesar 1.7624 < 1.8546 (DW) < 2.2374 . sehingga hasil
kesimpulan dikatakan tidak ada autokorelasi pada penelitian ini.
5.6. Analisis Regresi pada Estimasi Fixed Effect Model
Estimasi fixed effect model mendapatkan hasil pengaruh variabel Dana Pihak
Ketiga (DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) , Non
Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan Mudharabah dala bentuk
persamaan regresi sebagai berikut :
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ꬲ
Musyarakah = 9.6493 - 0.2723 DPK -0.0014 CAR - 0.0129 ROA - 0.4454 NPF +ꬲ
Sehingga jika dijabarkan dalam table terlihat sebagai berikut :
Tabel 5. 20 Hasil Estimasi Fixed Effect Model
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 9.649394 0.432025 22.33526 0.0000
DPK -0.272310 0.164401 -1.659859 0.0017
CAR -0.001400 0.013701 -0.102213 0.9188
ROA -0.012932 0.015331 -0.843536 0.4013
NPF -0.445402 0.324485 -1.372645 0.0173
Sumber : data olahan , output eviews 11
94
Dapat dijelaskan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
1. Dana Pihak Ketiga (DPK)
Nilai koefisien DPK sebesar -0.272 . ini menjelaskan bahwa setiap
peningkatan/penurunan DPK sebesar 1% akan meningkatkan atau menurunkan
pembiayaan musyarakah sebesar 27.2% dengan asumsi variabel lain konstan.
2. Capital Adequaty Ratio (CAR)
Nilai koefisien CAR sebesar -0.0014. ini menunjukkan bahwa disetiap
peningkatan/penurunan CAR sebesar 1% akan meningkatkan /menurunkan
pembiayaan musyarakah sebesar -0.14% dengan asumsi variabel lain konstan.
3. Return On Asset (ROA)
Nilai koefisien ROA sebesar -0.0129. ini menunjukkan di setiap peningkatan/
penurunan pada ROA sebesar 1% akan meningkatkan / menurunkan
pembiayaan mudharabah sebesar -1.29% dengan asumsi variabel lain konstan.
4. Non Performing Financing (NPF)
Nilai koefisien NPF sebesar -0.4454. hal ini menunjukkan bahwa di setiap
peningkatan/penurunan NPF sebesar 1% akan meningkatkan/menurunkan
pembiayaan mudharabah sebesar -44.54% dengan asumsi variabel lain konstan.
5.6.1. Uji Simultan (Uji F)
Pada Uji F dapat digunakan untuk mengetahui apakah variabel
independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependent. jika
nilai F hitung > F tabel, maka H0 ditolak yang artinya bahwa variabel independent
secara simultan mempengaruhi variabel dependen nya. Jika nilai F hitung < F
95
Tabel , maka H0 diterima yang artinya bahwa tidak ada variabel independent yang
mempengaruhi secara simultan variable dependen nya .
Tabel 5. 21 Hasil Uji F
Root MSE 1.195097 R-squared 0.651274
Mean dependent var 9.017804 Adjusted R-squared 0.547486
S.D. dependent var 2.033032 S.E. of regression 1.367603
Akaike info criterion 3.667060 Sum squared resid 157.1083
Schwarz criterion 4.305355 Log likelihood -175.6883
Hannan-Quinn criter. 3.925956 F-statistic 6.275068
Durbin-Watson stat 1.854677 Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber : output eviews 11
Berdasarkan hasil output, nilai F hitung sebesar 6.275068 sedangkan F
Tabel dengan tingkat kesalahan 5% sebesar 2.30 . dengan demikian F hitung >
F tabel sebesar 6.275068 > 2.32 , jika dilihat dari probabilitas nya sebesar
0.000000 < 0.05 sehingga H0 ditolak . hal ini dapat disimpulkan bahwa
variabel DPK, CAR, ROA , NPF secara bersama-sama memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap pembiayaan musyarakah .
5.6.2. Uji Parsial (Uji T)
Uji parsial digunakan untuk menguji apakah terdapat pengaruh pada
setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai probabilitas
< 0.05 maka variabel independent terdapat pengaruh signifikan terhadap
variabel dependen , sedangkan apabila nilai prob > 0.05 maka variabel
independen tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variabel
dependen. Hal tersebut dapat dijelaskan secara parsial pada tabel berikut :
96
Tabel 5. 22 Hasil Uji T
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 9.649394 0.432025 22.33526 0.0000
DPK -0.272310 0.164401 -1.659859 0.0017
CAR -0.001400 0.013701 -0.102213 0.9188
ROA -0.012932 0.015331 -0.843536 0.4013
NPF -0.445402 0.324485 -1.372645 0.0173
Sumber : output eviews 11
Penjelasan dari tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Musyarakah
Dapat dilihat pada hasil pengujian DPK menunjukkan bahwa T hitung sebesar
-1.659859, sedangkan T tabel dengan sig 5% , df = n-k = 110-6 = 104 dimana
Nilai t tabel sebesar 1.6596 yang berarti T hitung > T tabel sebesar -1.659859
> 1.6596 , dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar 0.0017 < 0.05 , maka
dapat disimpulkan bahwa DPK secara parsial berpengaruh terhadap
pembiayaan musyarakah.
b. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Musyarakah
Hasil pengujian CAR menunjukkan bahwa T hitung sebesar -0.102213,
sedangkan Nilai t tabel sebesar 1.6596 yang berarti T hitung > T tabel sebesar
-0.102213 < 1.6596, dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar 0.9188 >
0.05 , disimpulkan bahwa CAR secara parsial tidak berpengaruh terhadap
pembiayaan musyarakah.
c. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Musyarakah
97
Pada Hasil pengujian ROA menunjukkan bahwa T hitung sebesar -0.843536,
sedangkan Nilai t tabel sebesar 1.6596 yang berarti T hitung < T tabel sebesar
-0.843536< 1.6596 , dan nilai probabilitas sebesar 0.4013> 0.05 , maka ROA
secara parsial tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah.
d. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Musyarakah
Dari tabel dilihat bahwa Hasil pengujian NPF menunjukkan T hitung sebesar -
1.372645, sedangkan Nilai t tabel sebesar 1.6596 artinya T hitung > T tabel
sebesar -1.372645 < 1.6596, dan pada nilai probabilitas sebesar 0.0173< 0.05 ,
maka disimpulkan bahwa NPF secara parsial berpengaruh terhadap
pembiayaan musyarakah.
5.6.3. Determinasi (R2)
Tabel 5. 23 Determinasi (R2)
Root MSE 1.195097 R-squared 0.651274
Mean dependent var 9.017804 Adjusted R-squared 0.547486
S.D. dependent var 2.033032 S.E. of regression 1.367603
Akaike info criterion 3.667060 Sum squared resid 157.1083
Schwarz criterion 4.305355 Log likelihood -175.6883
Hannan-Quinn criter. 3.925956 F-statistic 6.275068
Durbin-Watson stat 1.854677 Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber : output eviews 11
Berdasarkan tabel diatas, menunjukan nilai R2 atau Adjusted R-
squared sebesar 0.651274. artinya bahwa perubahan naik turunnya
pembiayaan Musyarakah dapat dijelaskan oleh DPK, CAR, ROA, NPF
98
sebesar 65.12% sementara sisanya 34.88% dijelaskan oleh variabel lainnya
yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
5.7. Pembahasan
5.7.1. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Mudharabah
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan,bahwa Dana Pihak
Ketiga (DPK) memiliki pengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh chairul
anwar dan Muhammad miqdad (2017) bahwa DPK berpengaruh signifikan
terhadap pembiayaan mudharabah,selanjutnya didukung juga oleh ida puspita
rini (2021) bahwa DPK berpengaruh positif terhadap pembiayaan . penelitian
ini bertolak belakang dengan penelitian Suci Annisa (2017) yang memperoleh
hasil bahwa DPK tidak berpengaruh terhadap mudharabah dan musyarakah .
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa DPK berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pembiayaan mudharabah karena nilai signifikansinya
lebih kecil dari 0,05. Hal ini dijelaskan bahwa pembiayaan mudharabah yang
disalurkan oleh BPRS salah satunya tergantung seberapa besar dana yang
dapat dihimpun bank dari masyarakat yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) atau
simpanan. Hal ini dapat mendorong perkembangan sektor riil karena dengan
semakin meningkatnya pembiayaan berbasis bagi hasil (mudharabah) yang
disalurkan BPRS kepada masyarakat, maka kontribusi yang dapat diberikan
lembaga keuangan islam terhadap perekonomian indonesia akan semakin
meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa bank dalam mencapai tujuan
99
utamanya yaitu untuk memperoleh profit atau keuntungan tentunya akan
selalu memaksimalkan perputaran dananya untuk sektor-sektor produktif
sehingga bank akan memperoleh keuntungan yang maksimal pula. Demikian
halnya dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang dalam hal ini tentunya
juga telah memaksimalkan perputaran dana pihak ketiganya untuk
mengembangkan sektor-sektor produktif yang ada melalui pemberian
pembiayaan mudharabah dan musyarakah.
5.7.2. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Mudharabah
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa variabel Capital
Adequaty Ration (CAR) tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah
, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indarti Nur Baiti
dan Arini Wildaniyati (2020) bahwa CAR tidak berpengaruh terhadap
pembiayaan mudharabah,penelitian yang mendukung selanjutnya didukung
oleh Haris , Reynold dan Harianto (2022) yang mengatakan bahwa CAR tidak
berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah. Adapun bertolak belakang
pada penelitian Suci Annisa (2017) yang mengatakan bahwa CAR
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap mudharabah.
CAR merupakan rasio kecukupan modal yang menunjukkan
kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan
kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi,
dan mengontrol risiko-risiko yang timbul yang dapat berpengaruh terhadap
besarnya modal bank. Bank yang memiliki tingkat kecukupan modal baik
100
menunjukkan indikator sebagai bank yang sehat. Tingkat kecukupan modal
dapat diukur dengan cara membandingkan modal dengan aktiva berisiko.
Semakin tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk
menanggung risiko dari setiap pembiayaan/aktiva produktif yang mungkin
berisiko bagi bank. Hal ini berarti bank dapat mengabaikan CAR dalam
menyalurkan pembiayaan, karena kecukupan modal yang sering terganggu
akibat penyaluran pembiayaan yang berlebihan. Tingginya CAR
mengindikasikan adanya sumber dana financial (modal) yang idle (diam).
Dalam kondisi ini wajar jika bank-bank bertahan untuk tidak menyalurkan
pembiayaan karena setiap kenaikan pembiayaan yang disalurkan akan
menambah aset beresiko sehingga mengharuskan bank menambah modal
untuk memenuhi ketentuan CAR. Hal ini beararti bahwa CAR yang rendah
akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap bank dalam melakukan
penyaluran pembiayaan mudharabah.
Hal tersebut membuktikan bahwa naik turunnya CAR belum tentu
mempengaruhi jumlah pembiayaan mudharabah yang disalurkan. Seperti yang
diketahui bahwa pembiayaan mudharabah merupakan investasi yang risikonya
paling tinggi. Bank sebagai lembaga komersial jelas tidak mau mengambil
resiko terlalu tinggi dalam melakukan aktivitasnya sehingga modal yang
tersedia diinvestasikan ke sektor lain ataupun surat berharga. Pulihnya
perekonomian dan perbankan secara berangsur-angsur telah mendorong
optimalisasi kegunaan sumber daya finansial (modal) melalui penyaluran
101
pembiayaan mudharabah. Penyaluran pembiayaan mudharabah BPRS
mengalami peningkatan setiap tahunnya tetapi tidak diikuti dengan perubahan
nilai CAR.
5.7.3. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Mudharabah
Setelah melakukan pengujian pada variabel Return On Asset (ROA)
dapat disimpulkan bahwa ROA berpengaruh terhadap pembiayaan
mudharabah , hasil penelitian ini mendukung pada hasil penelitian
sebelumnya oleh indarti Nurbaiti dan Arini wiladniyati(2020) bahwa ROA
berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah namun, hasil
penelitian bertolak belakang dengan Chairul anwar(2017) dan Djoko sigit
gunanto(2018) yang menjelaskan bahwa ROA tidak memiliki pengaruh
terhadap pembiayaan mudharabah. Artinya apabila ROA meningkat maka
mudharabah mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi karena semakin besar
laba suatu bank maka pembiayaan bermasalah pada bank menurun dan
nasabah membayar kewajiban kepada bank dengan lancar.
Semakin besar ROA pada suatu bank maka semakin besar pula tingkat
keuntungan yang diperoleh bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank
dari segi penggunaan asset. Tingkat profitabilitas yang tinggi dapat dilihat
pada nilai ROA, yang membuat bank mendapat kepercayaan dari masyarakat
yang memungkinkan bank dalam menghimpun dana lebih banyak sehingga
bank memiliki kesempatan untuk memperluas pembiayaan. Hal ini berarti
bank mendapat kepercayaan dari masyarakat yang memungkinkan bank
102
dalam menghimpun dana lebih banyak sehingga bank memiliki kesempatan
untuk menunjang kelancaran dan memperluas pembiayaan mudharabah.
5.7.4. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Mudharabah
Dilihat dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa variabel Non
Performing Financing NPF berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.
Hasil penelitian ini mendukung yang telah dilakukan oleh penelitian Rina
Destiana(2016) dan Suci Annisa (2017) bahwa NPF berpengaruh terhadap
pembiayaan mudharabah. Namun penelitian Ida Puspita (2021) dan Indarti
nurbaiti (2020) bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya yang
diperoleh hasil bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap pembiyaan
mudharabah. Artinya NPF yang berpengaruh terhadap pembiayaan
mudharabah menandakan bahwa Non Performing Financing (NPF)
mengalami pembiayaan bermasalah yang serius atau lebih tinggi.
Secara garis besar hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa NPF
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pembiayaan, namun dari
penelitian ini diperoleh hasil bahwa NPF berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Hasil tersebut
memberikan gambaran bahwa semakin tinggi NPF belum tentu diikuti dengan
turunnya penyaluran dana yang dilakukan oleh Bank Syariah Mandiri, begitu
juga sebaliknya apabila NPF menurun belum tentu diikuti dengan kenaikan
penyaluran dana yang diberikan bank.
103
Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu dimana
rata-rata besarnya pembiayaan yang bermasalah atau persentase NPF pada
perbankan syariah tergolong kecil dibandingkan dengan perbankan
konvensional, yaitu masih berkisar di bawah standar BI (Bank Indonesia
sebesar 5%) yang mana bank konvensional lebih sensitif dengan instrumen
derivatif sedangkan bank syariah akan lebih sensitif apabila sektor riil
mengalami goncangan. Perbankan syariah lebih aktif dan cenderung untuk
membiayai dunia usaha dalam sektor riil dalam kegiatan penyaluran dananya,
dan hingga saat ini sektor riil di Indonesia masih dalam batas yang dapat
dikatakan aman dari berbagai goncangan perekonomian.
5.7.5. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Musyarakah
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, Dana Pihak Ketiga
(DPK) berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Hasil penelitian ini
mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Rina Destiana(2017) dan
Djoko Gunanto (2018) mengatakan bahwa DPK berpengaruh signifikan
terhadap pembiayaan musyarakah. penelitian ini bertolak belakang dengan
penelitian Suci Annisa (2017) yang memperoleh hasil bahwa DPK tidak
berpengaruh terhadap mudharabah dan musyarakah. Hal ini artinya bahwa
semakin banyak DPK yang dihimpun maka akan semakin besar pula tingkat
pembiayaan yang akan disalurkan kepada masyarakat. Sebaliknya, semakin
rendah DPK yang dihimpun maka akan semakin rendah pula tingkat
pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat.
104
Menurut Perry Warjiyo menyatakan bahwa pertumbuhan kredit
dipengaruhi oleh penawaran kredit perbankan, penawaran dipengaruhi oleh
dana yang tersedia bersumber dari Dana Pihak Ketiga, persepsi bank dari
usaha debitur, dan kondisi perbankan itu sendiri. Dalam hal ini, bank harus
mempersiapkan strategi penggunaan dana-dana yang dihimpunnya sesuai
dengan rencana alokasi bedasarkan kebijakan yang telah digariskan. Maka
semakin besar dana pihak ketiga maka semakin besar pembiayaan tersalurkan
khususnya pembiayaan musyarakah.
5.7.6. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Musyarakah
Dari hasil penelitian,setelah melakukan uji Parsial pada variabel CAR
tidak terdapat pengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suci Annisa (2017) dan Haris
Al amin (2022) yang memiliki hasil CAR tidak berpengaruh signifikan
terhadap pembiayaan musyarakah. Penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian Fizul Mubarok(2018) menyatakan bahwa CAR berpengaruh
terhadap musyarakah. Artinya semakin tinggi CAR maka semakin kuat
kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko dari setiap kredit/aktiva
produktif. Sehingga dapat dikatakan semakin baik pula kemampuan suatu
bank dalam hal menanggung resiko yang mungkin akan ditimbulkan dari
setiap penyaluran kredit atau aktiva produktif yang dapat menimbulkan
berisiko.
105
Dalam penelitian ini menunjukkan besar kecilnya capital adequacy
ratio (CAR) tidak berpengaruh terhadap besar kecilnya pembiayaan
musyarakah yang disalurkan bank karena menurut Affif (1996) kemampuan
penyaluran kredit dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal bank. Dari
sisi internal bank kredit dipengaruhi oleh kemampuan bank dalam
menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito dan tabungan dan
penetapan suku bunga. Sedangkan dari sisi eksternal bank dipengaruhi oleh
kondisi ekonomi, peraturan pemerintah, dan lain-lain.
5.7.7. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Musyarakah
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa Variabel ROA tidak
memiliki pengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Hasil penelitian ini
sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suci Annisa ,
Dedi Fernanda (2017) dan Ida Puspita Rini (2021) dan Djoko Gunanto (2018)
bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah . namun
penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Andi Nur Azizah(2018) yang
memperoleh hasil bahwa ROA berpengaruh terhadap pembiayaan. Artinya
ROA tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah, hal ini disebabkan
karena musyarakah merupakan pembiayaan yang beresiko, resiko dari
pembiayaan ini seperti resiko kerugian, gagal bayar sehingga mempengaruhi
Return On Asset atau dalam hal mengelola assetnya dan dana pembiayaan
yang keluar tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh besar kecilnya ROA.
106
5.7.8. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Musyarakah
Dilihat dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa variabel NPF
berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Penelitian ini sama dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Rina Destiana(2016), Suci Annisa (2017)
dan Fairuz mubarok (2018) bahwa NPF berpengaruh terhadap pembiayaan
musyarakah. Sedangkan penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Ida Puspita(2021) dan Kartika,Jubaedah & astuti (2020) yang
menyatakan bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap musyarakah. Artinya
semakin tinggi rasio NPF maka semakin rendah pembiayaan musyarakah.
Sebaliknya, semakin kecil rasio NPF akan semakin baik pembiayaan
musyarakah karena minimnya kredit atau pembiayaan yang gagal bayar.
Dimana gagal bayar pada suatu bank merupakan sinyal negatif bagi bank yang
bersangkutan.
Non Performing Financing merupakan salah satu indikator kesehatan
kualitas aset, semakin tinggi Non Performing Financing (diatas 5%) maka
bank tersebut tidak sehat dan Non Performing Financing yang tinggi
menurunkan profit yang akan diterima oleh bank syariah. Kemudian semakin
tinggi Non Performing Financing yang terdapat di perbankan syariah
menunjukkan bahwa bank tersebut tidak professional dalam pengelolaan
pembiayaannya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas
pemberian pembiayaan pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan
tingginya Non Performing Financing yang dihadapi bank yang akan
107
berpengaruh terhadap profitabilitas bank itu sendiri. Untuk mengurangi risiko
dari pembiayaan yang bermasalah, pihak bank harus menurunkan jumlah
pembiayaan yang disalurkan. Jadi semakin tinggi nilai Non Performing
Financing akan menyebabkan nilai pembiayaan menjadi turun.
Hubungan negatif dalam penelitian mengindikasikan bahwa NPF yang
tinggi maka akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap pembiayaan,
yaitu berupa penurunan jumlah pembiayaan yang disalurkan karena semakin
tinggi tingkat NPF, bank akan lebih berhati-hati dan lebih selektif dalam
menyalurkan pembiayaan. Menurut Dahlan Siamat dalam bukunya yang
berjudul manajemen lembaga keuangan menyatakan bahwa pembiayaan
bermasalah dapat diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan
pelunasan akibat adanya faktor kesenjangan dan atau karena faktor eksternal
diluar kemampuan debitur yang dapat diukur dengan kolektabilitasnya.
108
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis pada pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat
diperoleh kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1. Hasil penelitian dengan variabel dependen pembiayaan mudharabah
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Variabel Capital
Adequaty Ratio (CAR) tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap pembiayaan
mudharabah pada BPRS. Sedangkan pada Variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) ,
Return On Asset (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) terdapat
pengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah pada BPRS. Berdasarkan
uji regresi linear berganda bahwa secara simultan variabel DPK, CAR, ROA,
dan NPF secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
Pembiayaan Mudharabah.
2.. Hasil penelitian dengan variabel dependen pembiayaan musyarakah
Variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Non Performing Financing (NPF)
terdapat pengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah pada BPRS. Dan
pada Variabel Capital Adequaty Ratio (CAR) dan Return On Asset (ROA) tidak
terdapat pengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah pada BPRS.
Berdasarkan uji regresi linear berganda bahwa secara simultan variabel DPK,
CAR, ROA, dan NPF secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan
109
6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, saran penulis setelah
melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Perbankan Syariah, agar dapat mengontrol pada lembaga keuangan BUS,
UUS dan BPRS agar berjalan dengan baik, terutama pada BPRS yang memang
sering mengalami penurunan ditiap tahunnya.
2. Bagi akademis
a) Pada variabel independen dapat diganti dengan variabel lain yang dapat
mempengaruhi pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah.
b) dapat dikembangkan model penelitian sebelumnya dan menggunakan alat
uji yang lebih lengkap dan akurat sehingga dapat memberikan hasil yang
valid.
c) memperluas penelitian dengan cara memperpanjang periode penelitan
dengan cara menambahkan tahun penelitian, memperbanyak sampel, dan
juga mengubah sampel penelitian dengan BPRS yang diambil dari BPRS
langsung .
110
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, Hamdi . 2021. Teori Bank Syariah . Pekanbaru : UIR PRES . Jurnal
Perbankan Syariah April . Vol.2 No.1 : 67-83.
Annisa,Suci . Dedi Fernanda . 2017 . Pengaruh Dpk, Car, Npf Dan Roa Terhadap
Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada Bank Syariah Mandiri
Periode 2011-2015 . Jurnal Ekonomi & Bisnis Dharma Andalas Volume 19
No 2, Juli 2017 . ISSN 1693 – 3273 .
Anwar, Chairul Dan Muhammad Miqdad . 2017. Pengaruh Dana Pihak Ketiga
(DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA) Terahadap
Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008 – 2012 .
Riset Dan Jurnal Akuntansi , Volume 1 Nomor 1 , Februari 2017.
Bank Indonesia. 1998. UU No. 10 tahun 1998, tentang perubahan terhadap UU No.
7 tahun 1992, Jakarta.
Destiana,Rina . 2016 . Analisis Dana Pihak Ketiga dan Risiko Terhadap Pembiayaan
Mudharabah dan Musyarakah Pada Bank Syariah di Indonesia . Fakultas
Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon . Jurnal Logika , Vol
XVII,No 2, Agustus 2016.
111
Kartika,R , Jubaedah,S, dan Astuti,A.D . 2020 . The Influence of Financing to
Deposit Ratio, Return on Assets and Non Performing Finance on Profit
Sharing Finance of Sharia Banks in Indonesia . advances in Economic ,
Bussiness And Research,123,136-140.
Kartitomo P , Andari . 2019. Analisis Penentuan Bagi Hasil Pembiayaan
Mudharabah Pada Bank Pembiayan Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia
Periode 2011-2018. Universitas Islam Indonesia , Fakultas Ekonomi ,
Yogyakarta.
Kasmir. 2012. Manajemen Perbankan. Jakarta: Rajawali Pers.
Kurniawan, Elan Dan Komisah Nurhidayah . 2020 . Dana Pihak Ketiga, Kecukupan
Modal Dan Likuiditas Terhadap Pembiayaan Mudharabah Dengan
Pembiayaan Bermasalah Sebagai Pemoderasi. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Islam As-Syafi‟iyah . Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Vol.2 No.2
:Juli-Desember. 2020.
Laporan Tahunan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia tahun 2016-
2020 . sumber Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Noviani, Fera Dan Komsi Koranti . Analisis Dana Pihak Ketiga , Non Performing
Financing , Dan Financing To Deposit Ratio Dalam Pembiayaan Murabahah
Pada Bank Mandiri Syariah . Fakultas Ekonomi, Jurusan Management
Universitas Gunadarma .
112
Nur Baitu Indarti dan Arini Wildaniyati .2020. Pengaruh FDR, NPF, ROA, CAR
Terhadap Pembiayaan Mudharabah (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah
Yang Terdaftar Di Bank Indonesia Pada Tahun 2015-2019) . Jurnal Ilmu –
Ilmu Akuntansi. Vol 1 No 2 September 2020. ISSN: 2723-4843 .
Puspitarini, Ida dan Vita Fidya Utami . 2021. Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga
(DPK), Non Performing Financing (NPF) dan Return On Asset (ROA)
Terhadap Pembiayaan di PT Bank Muamalat Indonesia Tbk . Institut Agama
Islam Negri Purwekerto, Indonesia . Jurnal Ekonomi Islam , Volume 9 Nomor
2 , Juli-Desember 2021 : 171-185.
Setivia Bakti , Nurimansyah .2017 . Analisis DPK, ROA, CAR, Dan NPF Terhadap
Pembiayaan Pada Perbankan Syariah . Jurnal Bisnis Dan Manajemen Vol.17,
No.2 ,2017:15-28 .
Sugiyono. 2006. Teknik Penelitian. Bandung: Suharsimi Arikunto.
Vien Sylvia Aziza, Ratu Dan Ade Sofyan Mulazid . Analisis Pengaruh Dana Pihak
Ketiga, Non Performing Financing, Capital Adequacy Ratio, Modal Sendiri
Dan Marjin Keuntungan Terhadap Pembiayaan Murabahah . Universitas
Islam Negri Syarif Hidayatullah ,Jakarta .