0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan133 halaman

Analisis Pembiayaan BPRS Syariah

Skripsi ini membahas pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR), Return On Asset (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2016-2020. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari 18 BPRS dan menganalisis data menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel tersebut se

Diunggah oleh

A'oh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan133 halaman

Analisis Pembiayaan BPRS Syariah

Skripsi ini membahas pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR), Return On Asset (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2016-2020. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari 18 BPRS dan menganalisis data menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel tersebut se

Diunggah oleh

A'oh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

PENGARUH DANA PIHAK KETIGA (DPK), CAPITAL


ADEQUATY RATIO (CAR), RETURN ON ASSETS (ROA) DAN
NONPERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP
PEMBIAYAAN MUDHARABAH DAN MUSYARAKAH PADA
BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH (BPRS) DI
INDONESIA TAHUN 2016-2020
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Pada Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Riau Pekanbaru

DESTIKA NURYANTI
NPM. 185210454

PROGRAM STUDI MANAJEMEN-S1


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2022
Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return
On Asset (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Pembiayaan
Mudharabah dan Musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
di Indonesia tahun 2016-2020

ABSTRAK

Oleh :
DESTIKA NURYANTI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang pengaruh Dana Pihak Ketiga
(DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) , Non Performing
Financing (NPF) terhadap pembiayaan bagi hasil (Mudharabah dan Musyarakah)
pada BPRS di Indonesia . jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder berupa data tahunan dari tahun 2016-2020 yang dipublikasikan pada
laporan keuangan BPRS di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan menggunakan sampel
18 BPRS dengan teknik purposive sampling sebagai teknik dalam pengambilan
sampel. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear
berganda menggunakan program data panel pada aplikasi eviews 11. Berdasarkan
hasil regresi linear berganda dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan
variabel DPK, CAR, ROA dan NPF secara bersama-sama berpengaruh terhadap
mudaharabh dan musyarakah. Adapun secara parsial variabel DPK,ROA dan NPF
berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah dan variabel CAR tidak
berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah. Sedangkan pada variabel
DPK, NPF berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah dan variabel
CAR, ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah.

Kata kunci : Dana Pihak Ketiga (DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On
Asset (ROA), Non Performing Financing(NPF), Mudharabah dan
Musyarakah.

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah , puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT , yang

telah melimpahkan rahmad dan karunia nya sehingga penulis diberikan kesehatan

serta kekuatan dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini yang berjudul “Pengaruh

Dana Pihak Ketiga(DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset

(ROA) Dan Resiko Terhadap Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia”. Guna untuk mencapai

gelar sarjana strata satu (S1) di prodi manajemen fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Islam Riau.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menemukan hambatan dan

kesulitan, Meskipun demikian, penulis tetap semangat untuk menyelesaikan skripsi

ini dengan sebaik mungkin dalam waktu yang telah ditentukan. Demi tercapainya

kesempurnaan dalam skripsi ini, penulis berharap kemakluman serta kritikan dan

saran dari para pembaca .

Selain itu, penulis juga menyadari bahwa masih terdapat kesalahan maupun

kekurangan dalam penulisan ini, baik dari segi perhitungan maupun segi penulisan.

Dengan demikian, berkat bantuan dan dukungan dari beberapa pihak. Untuk itu,

penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak [Link] SH.,MCL selaku Rektor Universitas Islam Riau.

ii
2. Ibuk Eva Sundari,Dr.,SE.,MM.,CRBC selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Islam Riau.

3. Bapak [Link] Jer,SE.,[Link] selaku Ketua Prodi Manajemen Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau.

4. Bapak Dr. Hamdi Agustin,SE.,MM selaku Dosen Pembimbing yang telah

memberikan saran, motivasi, dan memperbaiki serta menyempurnakan skripsi

ini sehingga dapat diselesaikan tepat waktu.

5. Ibuk Restu Hayati,SE.,[Link] yang telah meluangkan waktunya untuk ikut serta

dalam berkontribusi memberikan saran, dukungan serta motivasi kepada

penulis.

6. Seluruh bapak dan ibuk dosen yang telah memberikan pengajaran kepada

penulis selama masa perkuliahan , serta karyawan/I tata usaha yang telah

memberikan kemudahan dalam administrasi selama masa perkuliahan.

7. Teristimesa untuk kedua orang tua , ayahanda Isnan Suroso dan ibunda Damai

Hati [Link] , terimakasih yang tak terhingga atas segala kasih sayangnya,

cintanya, perhatian, semangat, dukungannya,dan bantuan baik moril maupun

materil serta nasehat dan doa nya.

8. Terimakasih untuk semua keluarga-keluarga penulis, adek Hanifa gendutku,

adek disva, adek adeguslia, kak Rabiah Sari , kak yaya, dan saudaraku

semuanya yang telah memberikan semangat dan dukungannya.

iii
9. Terimakasih untuk temanku, Afrita Gusrina,[Link] yang telah berjasa dalam

membantu dan memberikan semangat serta motivasi dalam penulisan skripsi

ini.

10. Terimakasih untuk Boy Rivaldo yang telah mmeberikan motivasi dan

menemaniku dari awal perjuangan masa kuliah hingga sekarang ini.

11. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan ku, Mardhotilla Annisa

Rahman, Tengku Silvianti , Fitri Arianti, Siti Maysarah , Inda willa Saputri ,

Rita Dwi saputri, Silfia Harfiani Putri , dan teman yang lainnya yang sudah

bekerja sama sehingga skripsi ini siap tepat waktu.

12. Teman seperjuanganku di kos, yella deswita yang telah sama-sama

mengerjakan setiap hari pagi dan malam demi mencapainya tujuan kita

bersama.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati serta keridhoan dari Allah SWT ,

penulis memohon semoga atas bimbingan, bantuan, dukungan , motivasi, serta

keikhlasan nya yang telah diberikan kepada penulis selama ini akan menjadi amal

kebaikan dan mendapatkan balasan yang layak dari Allah SWT, amiin ya rabbal

alamin.

Pekanbaru, 25 Mei 2022

Penulis,

Destika Nuryanti

iv
DAFTAR ISI

ABSTRAK .................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ v
DAFTAR TABEL....................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1. Latar belakang .............................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 7
1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 7
1.4. Manfaat penelitian........................................................................................ 7
1.5. Sistematika Penulisan .................................................................................. 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 10
2.1. Landasan Teori ........................................................................................... 10
2.1.1 Pengertian Bank Syariah .................................................................. 10
2.2. Jenis-jenis Bank Syariah............................................................................ 12
2.2.1 Bank Umum Syariah ........................................................................ 12
2.2.2 Unit Usaha Syariah .......................................................................... 13
2.2.3 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) ..................................... 13
2.3. Prinsip-prinsip dasar syariah .................................................................... 13
2.3.1 Prinsip-prinsip syariah yang dilarang .............................................. 14
2.4. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) ............................................. 15
2.5. Pembiayaan ................................................................................................. 15
2.5.1 Jenis-jenis pembiayaan .................................................................... 16
2.5.2 Fungsi pembiayaan .......................................................................... 16
v
2.5.3 Pembiayaan Mudharabah................................................................. 17
2.5.4 Jenis-jenis Mudharabah ................................................................... 19
2.5.5 Pembiayaan Musyarakah ................................................................. 22
2.5.6 Dana Pihak Ketiga (DPK)................................................................ 22
2.5.7 Jenis-jenis sumber dana pihak ketiga (DPK) ................................... 23
5.5.8 Return On Assets (ROA) ................................................................. 25
5.5.9 Capital Adequaty Ratio (CAR) ........................................................ 25
5.5.10 Resiko ............................................................................................ 25
2.6. Penelitian Terdahulu .................................................................................. 26
2.7. Kerangka Pemikiran .................................................................................. 30
2.8. Hipotesis ...................................................................................................... 30
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 31
3.1. Lokasi/Objek Penelitian............................................................................. 31
3.2. Populasi dan Sampel .................................................................................. 31
3.2.1 Populasi............................................................................................ 31
3.2.1 Sampel ............................................................................................. 31
3.3. Jenis dan Sumber Data .............................................................................. 33
3.3.1 Jenis Data ......................................................................................... 33
3.3.2 Sumber Data .................................................................................... 33
3.4. Operasional Variabel ................................................................................. 34
3.5. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 35
3.6. Teknik Analisis Data .................................................................................. 36
3.6.1 Uji Asumsi Klasik ............................................................................ 36
3.6.2 Analisis Regresi ............................................................................... 38
3.6.3 Uji hipotesis ..................................................................................... 39
3.6.4 Koefisien Determinasi (Uji R2)........................................................ 40
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ................................................... 41
4.1. Sejarah bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) ................................. 41

vi
4.1.1 Kegiatan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.................................... 43
4.2. Sejarah Singkat 22 Unit Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di
Indonesia ................................................................................................................ 43
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................... 60
5.1. Hasil Penelitian ........................................................................................... 60
5.1.1 Analisis Dana Pihak Ketiga (DPK) ........................................................ 60
5.1.2 Analisis Capital Adequaty Ratio (CAR) ................................................ 62
5.1.3 Analisis Return On Asset (ROA) ........................................................... 65
5.1.4. Analisis Resiko / Non Performing Financing (NPF) ............................. 68
5.1.5. Pembiayaan Mudharabah ....................................................................... 70
5.1.6. Pembiayaan Musyarakah ...................................................................... 72
5.1.7. Analisis Statistic Descriptive ................................................................ 76
5.1.8. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Mudharabah .................. 76
5.2. Uji Asumsi Klasik ....................................................................................... 79
5.2.1. Uji Normalitas ....................................................................................... 79
5.2.2. Uji Multikolonieritas ............................................................................ 80
5.2.3. Uji Heteroskedasitas............................................................................. 80
5.2.4. Uji Autokorelasi ................................................................................... 81
5.3. Analisis Regresi pada Estimasi Random Effect Model ........................... 82
5.3.1. Uji Simultan (Uji F) .............................................................................. 84
5.3.2. Uji Parsial (Uji T).................................................................................. 85
5.3.3. Determinasi (R2).................................................................................... 87
5.4. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Musyarakah ................. 87
5.5. Uji Asumsi Klasik ...................................................................................... 89
5.5.1. Uji Normalitas ....................................................................................... 89
5.5.2. Uji Multikolonieritas ............................................................................ 90
5.5.3. Uji Heteroskedasitas............................................................................. 91
5.5.4. Uji Autokorelasi .................................................................................... 92
5.6. Analisis Regresi pada Estimasi Fixed Effect Model................................ 93

vii
5.6.1. Uji Simultan (Uji F) .............................................................................. 94
5.6.2. Uji Parsial (Uji T).................................................................................. 95
5.6.3. Determinasi (R2).................................................................................... 97
5.7. Pembahasan ............................................................................................... 98
5.7.1. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Mudharabah .............................. 98
5.7.2. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Mudharabah .............................. 99
5.7.3. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Mudharabah ............................ 101
5.7.4. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Mudharabah ............................. 102
5.7.5. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Musyarakah ............................. 103
5.7.6. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Musyarakah............................. 104
5.7.7. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Musyarakah ............................ 105
5.7.8. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Musyarakah ............................. 106
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. 108
6.1. Kesimpulan ............................................................................................ 108
6.2. Saran ...................................................................................................... 109
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 110

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. 1 Komposisi Pembiayaan (BPRS) di Indonesia ......................................... 4


Tabel 1. 2 Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK)-BPRS di Indonesia .................... 6
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu ............................................................................... 26
Tabel 3. 1 Sampel Penelitian .................................................................................... 32
Tabel 3. 2 Operasional Variabel .............................................................................. 34
Tabel 5. 1 Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .................................... 60
Tabel 5. 2 Perkembangan Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .............. 63
Tabel 5. 3 Perkembangan Return On Asset (ROA) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .................................... 66
Tabel 5. 4 Perkembangan Non Performing Financing (NPF) Pada Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020 .............. 68
Tabel 5. 5 Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
di Indonesia tahun 2016-2020. ............................................................... 71
Tabel 5. 6 Pembiayaan Musyarakah Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
di Indonesia tahun 2016-2020. ............................................................... 73
Tabel 5. 7 Hasil Analisis Deskriptif ......................................................................... 76
Tabel 5. 8 Estimasi output uji chow ........................................................................ 77
Tabel 5. 9 Estimasi output uji hausman .................................................................. 78
Tabel 5. 10 Hasil Uji Multikolonieritas ................................................................... 80
Tabel 5. 11 Hasil Uji Heteroskedasitas .................................................................... 81
Tabel 5. 12 Hasil Estimasi Regresi Random Effect Model .................................... 83
Tabel 5. 13 Hasil Uji F .............................................................................................. 84
Tabel 5. 14 Hasil Uji T .............................................................................................. 85
Tabel 5. 15 Determinasi (R2) .................................................................................... 87
Tabel 5. 16 Uji Chow ................................................................................................. 88
Tabel 5. 17 Uji Hausman .......................................................................................... 89
Tabel 5. 18 Hasil Uji Multikolonieritas ................................................................... 91
Tabel 5. 19 Hasil Uji Heteroskedasitas .................................................................... 92
Tabel 5. 20 Hasil Estimasi fixed Effect Model ........................................................ 93
Tabel 5. 21 Hasil Uji F .............................................................................................. 95
Tabel 5. 22 Hasil Uji T .............................................................................................. 96
Tabel 5. 23 Determinasi (R2) .................................................................................... 97

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Teori Bank Syariah............................................................................. 11


Gambar 2. 2 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 30
Gambar 5. 1 Grafik Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 62
Gambar 5. 2 Grafik Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 65
Gambar 5. 3 Grafik Retrun On Asset (ROA) Pada Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.............................................. 67
Gambar 5. 4 Grafik Non Performing Financing (NPF) Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 70
Gambar 5. 5 Grafik Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 72
Gambar 5. 6 Grafik Pembiayaan Musyarakahah Pada Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020. ............................... 75
Gambar 5. 7 Hasil Uji Normalitas ........................................................................... 79
Gambar 5. 8 Hasil Uji Autokorelasi ........................................................................ 82
Gambar 5. 9 Uji Normalitas ..................................................................................... 89
Gambar 5. 10 Hasil Uji Autokorelasi ...................................................................... 92

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Di Indonesia terdapat dua jenis perbankan yaitu bank konvensional dan bank

syariah. Dimana bank yang melakukan usahanya secara konvensional bahwa kegiatan

usahanya lebih dikenal sebagai pembayaran bunga yang lebih dulu muncul dan

berkembang diindonesia. sedangkan pada bank syariah yaitu perbankan yang baru

saja berdiri beberapa tahun belakangan ini. bank syariah ini menjalankan kegiatan

usahanya de ngan menggunakan prinsip-prinsip syariah atau syariat islam.

Landasan hukum perbankan

a. Undang undang republik Indonesia nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan

sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998.

b. Undang undang republik Indonesia nomor 23 tahun 1999 tentang bank

Indonesia sebagaimana telah diubah dengan undang undang nomor 3 tahun

2003.

Adapun terdapat perbedaan antara kedua bank tersebut yaitu Pada bank

konvensional, yaitu sistem bunga (interest) digunakan untuk mengoptimalkan

pemenuhan kepentingan pribadi sehingga kurang mempertimbangkan dampak sosial

yang ditimbulkannya, sedangkan pada bank syariah berorientasi pada pemenuhan

kemaslahatan hidup umat manusia (sudarsono,2008).

1
2

Perbankan syariah di Indonesia terdapat tiga jenis bank yaitu Bank Umum

Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah

(BPRS). Berdirinya BPRS Berdasarkan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan

dari PP No. 72 tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Pasal 1

butir 4 UU No. 10 tahun 1998 yaitu tentang perubahan UU No. 7 tahun 1998,

menyebutkan bahwa BPRS ialah perbankan yang pelaksanaan kegiatan usahanya

berdasarkan prinsip-prinsip syariah dan BPRS tidak memberikan jasa dalam lalu

lintas pembayaran.

Bank Pembiayaan Rakyat Islam adalah lembaga keuangan yang model

bisnisnya menggunakan prinsip Syariah Islam. BPRS didirikan sebagai langkah aktif

dalam berbagai paket kebijakan fiskal, moneter dan perbankan pada umumnya dan

secara khusus mengisi jalan bagi kebijakan perbankan tradisional dalam penetapan

tingkat suku bunga, yang selanjutnya BPRS dikenal luas sebagai Sistem Perbankan

Bagi Hasil atau Sistem Perbankan Syariah.

Produk-produk yang ditawarkan bank syariah antara lain dana dalam bentuk

pembiayaan, pembiayaan dalam bentuk simpanan yang dikenal dengan istilah

deposito, dan jasa. Pendanaan di perbankan syariah mengalami perkembangan yang

sangat signifikan. Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk

meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi yang sesuai dengan nilai-

nilai Islam (rimadhani dan erza, 2011). Produk pembiayaan pada bank syariah terbagi
3

menjadi 4, yaitu: pembiayaan prinsip beli dan jual, pembiayaan prinsip leasing,

pembiayaan akad pelengkap dan pembiayaan prinsip bagi hasil (karim, 2007).

Pembiayaan mudharabah dan musyarakah termasuk kedalam pembiayaan dalam

prinsip bagi hasil. Dalam prinsip bagi hasil, penentuan besarnya nisbah bagi hasil

dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi, pada

besarnya nisbah tergantung dari keuntungan yang diperoleh dimana terdapat jumlah

keuntungannya akan meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan, dan bila

usaha tersebut mengalami kerugian,maka kerugian tersebut ditanggung bersama oleh

kedua belah pihak (Antonio, 2001).

Pada data di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama 5 tahun terakhir dari tahun

2016-2020, Total BPRS di indonesia Pada tahun 2016 berjumlah 166 meningkat

menjadi 167 pada tahun 2017 dan 2018. Dan pada tahun 2019 total BPRS di

Indonesia mengalami penurunan hingga tahun 2020 dengan total BPRS berjumlah

163. Berdasarkan penjelasan data diatas artinya selama 5 tahun terakhir BPRS telah

mengalami penurunan pada perkembangan total BPRS di Indonesia.

Pembiayaan murabahah, musyarakah dan mudharabah merupakan salah satu

factor yang mempengaruhi tingkat keuntungan BPRS di Indonesia. Dikarenakan pada

3 pembiayaan tersebut adalah pembiayaan yang lebih dominan yang diminati oleh

nasabah BPRS.
4

Data yang diperoleh oleh Bank pembiayaan rakyar syariah (BPRS) melalui

Statistik Perbankan Syariah ([Link].) menunjukkan bahwa di Indonesia, dari

tahun ke tahun, pembiayaan murabahah pada bank pembiayaan rakyat syariah

(BPRS) masih mendominasi dibanding pembiayaan dengan akad lainnya.

Perkembangan komposisi pembiayaannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. 1 Komposisi Pembiayaan (BPRS) di Indonesia


(dalam jutaan rupiah)

No Pembiayaan 2016 2017 2018 2019 2020


1 Akad
156.256 124.497 180.956 240.606 220.848
Mudharabah
2 Akad
774.949 776.696 837.915 1.121.004 1.135.809
Musyarakah
3 Akad
5.053.764 5.904.751 6.940.379 7.457.774 7.711.400
Murabahah
4 Akad Salam 14 0 0 0 0
5 Akad Istishna 9.423 21.426 35.387 67.178 67.238
6 Akad Ijarah 6.763 22.316 46.579 41.508 48.961
7 Akad Qardh 145.865 189.866 185.36 176.856 201.370
8 Multijasa 515.523 724.398 857.89 838.394 941.975
Total 6.662.556 7.763.951 9.084.467 9.943.320 10.327.603
Sumber : [Link] , 2021

Dari tabel dapat dilihat bahwa pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan

yang mendominasi pembiayaan pada BPRS di Indonesia. Pada tahun 2016 jumlah

pembiayaan murabahah mengalami kenaikan dari Rp5.053.764 hingga tahun 2020

sebesar Rp 7.711.400. sementara pembiayaan musyarakah pada tahun 2016 sebesar

Rp 774.949 juga mengalami kenaikan hingga tahun 2018 sebesar Rp837.915 dan

mengalami penurunan ditahun 2019 hingga kembali mengalami kenaikan sebesar Rp


5

1.135.809 pada tahun 2020. Dan pada pembiayaan mudharabah juga mengalami

kenaikan dan penurunan ditahun 2016-2018 hingga mengalami kenaikan kembali

ditahun 2020 sebesar Rp220.848. hal ini menunjukan bahwa pembiayaan murabahah

memiliki kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan atas dasar

bagi hasil yaitu mudharabah dan musyarakah. Dari data diatas , terjadi fenomena

kenaikan dan penurunan antara pembiayaan murabahah , musyarakah dan

mudharabah pada tiap tahunnya.

Rendahnya nilai pembiayaan mudharabah / bagi hasil atau dominasi pembiayaan

nonbagi hasil terutama murabahah pada portofolio pembiayaan bank pembiayaan

rakyat syariah (BPRS) ternyata merupakan fenomena global, tidak terkecuali di

Indonesia. Fenomena tersebut disebabkan oleh pembiayaan berbasis bagi

hasil,dimana pembiayaan bagi hasil lebih cenderung memiliki risiko lebih besar jika

dibandingkan dengan pembiayaan lainnya. Meskipun prinsip bagi hasil menjadi ciri

khas perbankan syariah, namun risikonya cukup tinggi yaitu risiko moral hazard dan

biaya transaksi yang tinggi (Arnan dan Kurniawasih, 2014).

Mengingat masih rendahnya fenomena pembiayaan berbasis bagi hasil yaitu

pembiayaan mudharabah dan musyarakah, maka perlu dikaji faktor-faktor apa saja

yang dapat mempengaruhi pembiayaan mudharabah dan [Link]

mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan tersebut, maka pihak bank

syariah dapat mengoptimalkan faktorfaktor tersebut agar terjadi peningkatan porsi

pada pembiayaan mudharabah dan musyarakah (bagi hasil).


6

Besar kecilnya penyaluran dana yang diberikan bank syariah sangat dipengaruhi

oleh besar kecilnya dana pihak ketiga (DPK). Berikut tabel komposisi Dana Pihak

Ketika dari BPRS di Indonesia (Wibowo,2007),

Tabel 1. 2 Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK)-BPRS di Indonesia

(dalam jutaan Rp)


Indikator 2016 2017 2018 2019 2020
1. Giro IB-Akad
- - - - -
wadiah
2. Tabungan iB 2.161.305 2.578.278 2.998.201 3.202.792 3.215.725
a. akad wadiah 1.178.603 1.457.999 1.738.702 1.873.868 1.890.590
b. akad
982.702 1.120.278 1.259.499 1.328.924 1.325.135
mudharabah
3. Deposito iB-
3.662.658 4.409.003 5.136.737 5.529.098 5.877.976
akad mudharabah
Total 5.823.964 6.987.280 8.134.938 8.731.890 9.093.701
Sumber : [Link]. ,2021

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa komposisi dana pihak ketiga (DPK) pada

BPRS di Indonesia yaitu berupa giro akad wadiah, tabungan, dan deposito. Pada akad

wadiah tahun 2016-2020 tidak memiliki data berupa angka. Sedangkan pada tabungan

yang berupa akad mudarabah dari tahun 2016-2019 mengalami kenaikan namun

ditahun 2020 tabungan akad mudharabah mengalami penurunan yang sedikit

dibandingkan tahun sebelumnya. dan pada tabungan akad wadiah dapat dilihat bahwa

dari tahun 2016-2020 mengalami kenaikan. Sedangkan pada deposito akad

mudharabah dari tahun 2016-2020 mengalami peningkatan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari uraian latar belakang, penulis tertarik untuk

meneliti dan membahas masalah analisis DPK,CAR,ROA dan Resiko pada

pembiayaan
7

dalam bentuk proposal yang penulis beri judul : Analisis Dana Pihak Ketiga

(DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR), Retun On Assets (ROA) Dan Risiko

Terhadap Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas , maka dapat

merumuskan permasalahan yakni : „‟Apakah terdapat pengaruh Dana Pihak Ketiga

(DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) dan Resiko

terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat

Syariah (BPRS) di Indonesia‟‟

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun penelitian ini bertujuan Untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak

Ketiga (DPK), Capital Adequaty Ratio (CAR), Return On Asset (ROA) dan Resiko

terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada Bank Pembiayaan Rakyat

Syariah (BPRS) di Indonesia

1.4. Manfaat penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagi bank syariah

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi BPRS

Indonesia sehingga dapat meningkatkan kualitas dalam pembiayaan

mudharabah dan musyarakah


8

2. Bagi penulis

Menambah wawasan bagi penulis dalam menerapkan ilmu pengetahuan

tentang pembiayaan yang diberikan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dari

hasil penelitian tersebut.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat dijadikan tambahan sebagai bahan pertimbangan dan pemikiran dalam

penelitian kedepannya dimasa yang akan datang.

1.5. Sistematika Penulisan

Adapun sisitematika penulisan pada penelitian ini sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab I ini merupakan penjelasan yang terdiri mengenai topik penelitian

yang akan diangakat. Dalam Bab I ini meliputi latar belakang,

rumusan masalah, tujuan penelitan, manfaat penelitian.

BAB II : TELAAH PUSTAKA

Pada bab ini merupakan penjelasan dari variabel yang terdapat pada

penelitian ini, variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

variabel DPK(X1), ROA (X2), CAR (X3), NPF(X4) dan Pembiayaan

Mudharabah dan musyarakah (Y).

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini merupakan penjelasan tentang lokasi penelitian, jenis variabel

dan sumber data, populasi dan sample , teknik analisis data , dan

teknik pengmupulan data.


9

BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Bab ini merupakan penjelasan tentang gambaran umum dari

perusahaan yang di teliti.

BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menampilkan hasil dan pembahasaan dari penelitian mengenai

Analisis Dana Pihak Ketiga , Return On Asset, Current Asset Ratio

dan Resiko terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia periode 2016-

2020.

BAB VI : PENUTUP

Bab ini merupakan bab penutup dari penelitan ini yang menjelaskan

kesimpulan dan saran dari hasil penelitian


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Bank Syariah

Bank Syariah merupakan perbankan yang sistemnya mengikuti prinsip

syariah Islam. Bank Syariah menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992

tentang perbankan adalah Bank Umum yang melakukan kegiatan usahanya

berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu

lintas pembayaran. bank yang berjalan sesuai pada prinsip syariah Islam adalah

bank yang dalam pelaksanaannya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam,

khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam. (Antonio

dalam Ema Rindawati, 2007).

Bank Syariah merupakan bank yang memberikan jasa dalam lalu lintas

pembayaran yang sesuai dengan syariat Islam (Habib Nazir dan Hasanuddin,

2004;74).

10
11

Gambar 2. 1 Teori Bank Syariah

Terwujud bank syariah yang murni syariah. QS Al Baqarah : 208

Baqarah:275 , 278-280 : Ali Imran:130

dan gharar . QS Al-baqarah:188 ; An-


Larangan segala prakter riba, QS Al-

Berbagi keuntungan dan resiko rugi :


Larangan pembiayaan usaha masyir

Pembiayaan pada reel asset QS Al-


; An-Nisa‟:160-161 ; Ar-Rum:39.
S

QS Yusuf:47 ; An-„Am:38 ; Al-

hasyr:18 ; Al-luqman:34 ; al-


nisa‟:29 ;Al-maidah:90-91

Luqman:34 ; Al-Hasyr:18.

baqarah:261 ; An-nisa‟:9
Y
A
R
I
A
T

Mentalitas nasabah dan pegawai bank : sifat rasulullah saw terdiri dari
shidiq , fathonah, amanah, dan tabligh.

Fondasi : aqidah berdasarkan al-quran (Al-maidah:3; Al-anbiya:25,


Al-baqarah:2,186,208; An-nisa‟:80; Az-zumar:65; At-taubah:31;
Al-iklas:1-4; Azh zariyaat:56; Al-hadid;22)

Sumber : Hamdi Agustin, 2021

Dilihat pada gambar 2.1, menunjukan bahwa bank syariah terbentuk

seperti bangunan yang mana fondasi pada bank syariah adalah akidah yang

berdasarkan Al-Quran dan hadist. jika pondasi telah berdiri, maka bank syariah

dapat menjalankan aturan nya berdasarkan syariat islam yang terdiri dari :

1) Adanya Larangan segala praktek riba , hal ini terdapat pada QS Al-

Baqarah:275 , 278-280 : Ali Imran:130 ;An-Nisa‟:160-161 ; Ar-Rum:39.


12

2) Adanya Larangan pembiayaan usaha masyir dan gharar, hal ini terdapat pada

QS Al-baqarah:188 ; An-nisa‟:29 ;Al-maidah:90-91

3) Berbagi keuntungan dan resiko rugi , hal ini terdapat pada QS Yusuf:47 ; An-

„Am:38 ; Al-Luqman:34 ; Al-Hasyr:18.

4) Pembiayaan pada reel asset. Hal ini berdasarkan QS Al-hasyr:18 ; Al-

luqman:34 ; al-baqarah:261 ; An-nisa‟:9

Dapat Disimpulkan bahwa, apabila syariat telah dilaksanakan dengan baik

dan sesuai dengan ketentuan islam pada perbankan syariah maka akan terwujud

bank syariah yang murni sehingga akan mendapatkan keberkahan serta keridhoan

dari Allah SWT sesuai dengan QS Al-Baqarah:208.

2.2. Jenis-jenis Bank Syariah

2.2.1 Bank Umum Syariah

Bank Umum Syariah (BUS) merupakan bank yang melaksanakan

kegiatan usaha nya sesuai dengan prinsip islam yang berbasis syariah dan

melakanakan kegiatan lalu lintas pembayaran. Bank umum syariah dapat

melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah ialah

prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang di

keluarkan pada lembaga yang memiiki kewenangan dalam penetapan fatwa di

bidang syariah tersebut.


13

2.2.2 Unit Usaha Syariah

Unit Usaha Syariah (UUS) merupakan unit usaha yang dibentuk oleh

bank konvensional, namun UUS melakukan aktivitas perbankan berdasarkan

prinsip syariah dalam kegiatannya dan melakukan kegiatan transaksi

pembayaran.

2.2.3 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)

Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) merupakan bank yang

melaksanakan kegiatan usaha nya berdasarkan prinsip syariah yang

kegiatannya tidak memberikan jasa di dalam lalu lintas pembayaran. Adapun

BPRS tidak dapat melakukan transaksi lalu lintas pembayaran atau transakasi

dalam lalu lintas giral.

2.3. Prinsip-prinsip dasar syariah

Terdapat tiga pilar pokok dalam ajaran islam, yaitu :

- Aqidah : Komponen yang mengatur keyakinan akan adanya dan kekuasaan

Allah, sehingga harus menjadi keyakinan seorang Muslim.

- Syariah : Komponen mengatur tentang kehidupan seorang muslim,baik

dalam bidang Ibadah maupun muamalah.

- Akhlaq : Suatu Landasan prilaku dan kepribadian yang mencirikan dirinya

seorang muslim yang taat aturan syariah dan akidah yang menjadi pedoman

hidup.
14

2.3.1 Prinsip-prinsip syariah yang dilarang

Ada tiga prinsip syariah yang dilarang dalam perbankan syariah, yaitu:

1) Maisir (gampang/mudah)

Maisir (perjudian) , karena dalam praktik perjudian seseorang dapat

memperoleh keuntungan dengan cara yang sangat mudah.

2) Gharar (pertaruhan)

Gharar merupakan suatau transaksi yang barangnya belum jelas atau tidak

berada dalam kuasanya (diluar jangkauan).

3) Riba

Dalam islam, Riba hukumnya haram. Riba merupakan pengambilan tambahan

dari harta pokok atau modal secara bathil.

Adapun jenis-jenis riba yaitu :

1. Riba fadhl , yaitu tukar menukar dua barang yang sama jenisnya dengan tidak

sama timbangannya/takarannya yang diisyaratkan oleh orang yang menukar.

2. Riba qardh , yaitu meminjankan sesuatu dengan syarat ada tambahan/

keuntungan bagi orang yang meminjam.

3. Riba yad , yaitu berpisah dari tempat sebelum timbang di terima.

4. Riba nasi‟ah , yaitu adanya tukar menukar dua barang yang sejenis maupun

tidak sejenis yang pembayarannya diisyaratkan lebih dengan diakhiri/

dilambatkan oleh yang minjam.


15

2.4. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah salah satu lembaga

keuangan syariah dan pola operasinya mengikuti prinsip syariah. BPRS didirikan

berdasarkan Perbankan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72 Tahun 1992

berdasarkan Undang-Undang Perbankan Bagi Hasil No. 7 Tahun 1992. Dalam Pasal

1 (Angka 4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, yang mengubah Undang-

Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, BPRS adalah bank yang beroperasi

berdasarkan prinsip syariah, dan jasa pembayaran yang diberikannya dalam usaha itu.

menyediakan.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan perbankan syariah yang

kegiatan usahanya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. BPRS tidak

dapat dikonversikan menjadi bank perkreditan rakyat (BPR) , pada Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah (BPRS) ini tidak dibenarkan/diizinkan untuk membuka kantor cabang

, kantor perwakilan dan jenis kantor lainnya diluar negri.

2.5. Pembiayaan

Pembiayaan adalah kegiatan dalam menyalurkan dana yang terkumpul kepada

anggota pengguna dana, memilih jenis usaha yang akan dibiayai agar diperoleh jenis

usaha yang produktif, menguntungkan dan dikelola oleh anggota yang jujur serta

bertanggung jawab (Ahmad Sumiyanto,2008:165).

Pembiayaan adalah cara yang dilakukan bank syariah kepada masyarakat untuk

menggunakan dana yang dikumpulkan oleh bank syariah dari pihak yang kelebihan

dana (Muhammad, 2004:7).


16

Secara umum, prinsip bagi hasil dalam perbankan syariah ini dapat dilakukan

dalam empat akad utama, yaitu: musyarakah, mudharabah, muzara‟ah dan musaqah.

Dengan demikian, prinsip pada bank syariah yang paling banyak digunakan oleh

masyarakat adalah mudharabah dan musyarakah (Antonio, 2001). Dimana

Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama sesuai dengan proporsi yang telah

ditetapkan sebelumnya. Melalui pembiayaan bagi hasil yang disalurkan, bank syariah

akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil yang menjadi bagian bank.

2.5.1 Jenis-jenis pembiayaan

Jenis-jenis pembiayaan bank syariah Karim (2009: 231-254) adalah:

1) Pembiayaan modal kerja syariah

2) Pembiayaan investasi syariah

3) Pembiayaan konsumtif syariah

4) Pembiayaan berdasarkan take over

2.5.2 Fungsi pembiayaan

Pembiayaan bank syariah secara umum berfungsi untuk (Asiyah,

2014: 8-11 :

1) Meningkatkan daya guna uang

Para nasabah menyimpan uangnya di bank dalam bentuk giro, tabungan dan

deposito. Dimana Uang tersebut dalam presentase tertentu ditingkatkan

kegunaannya oleh bank guna suatu usaha peningkatan produktifitas.

2) Meningkatkan daya guna barang


17

a) Produsen dengan bantuan pembiayaan dari bank dapat mengubah

barang mentah menjadi barang jadi sehingga utility bahan tersebut

meningkat.

b) Produsen dengan bantuan pembiayaan dapat memindahkan barang dari

suatu tempat yang kegunaanya kurang ketempat yang lebih

bermanfaat.

3) Meningkatkan peredaran uang

Pembiayaan yang disalurkan melalui rekening-rekening usaha pengusaha

mengakibatkan peningkatan peredaran giro dan sejenisnya seperti cek, bilyet,

giro, wesel, wesel, dan sebagainya. Pembiayaan meningkatkan peredaran

uang tunai dan giro karena pembiayaan membangkitkan semangat usaha,

sehingga penggunaan uang akan meningkat baik secara kualitatif maupun

kuantitatif.

4) Menimbulkan kegairahan berusaha

Pembiayaan yang diterima pengusaha dari perbankan kemudian digunakan

untuk meningkatkan volume dan produktivitas usaha.

2.5.3 Pembiayaan Mudharabah

Mudharabah adalah akad kerjasama bisnis antara dua pihak, dengan

pihak pertama menyediakan seluruh modal (100%) dan pihak lainnya sebagai

pengelola. Keuntungan akan dibagi sesuai kesepakatan dalam kontrak.

Sebaliknya jika kerugian ditanggung oleh pemilik modal, kecuali kerugian

tersebut disebabkan oleh pengelola (Antonio, 2001: 95).


18

Mudarabah adalah kesepakatan antara pemilik modal dan pengelola

dana untuk melakukan kegiatan usaha, keuntungan dibagikan berdasarkan

nisbah bagi hasil berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, dan jika terjadi

kerugian, dana tersebut tidak akan hilang kecuali jika terjadi. bertanggung

jawab untuk itu. Sengaja, kelalaian atau cidera manajer dibiayai (Sri

Nurhayati dan Wasilah, 2008:112).

Mudharabah merupakan bentuk kerjasama antara kedua pihak atau

lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah

modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian

keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100%

modal dari shahibul maal dan keahlian dari mudharib (Rodoni,2008:27).

Jenis transaksi ini tidak memerlukan perwakilan Shahibul Maal dalam

manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, Mudharib harus bertindak

dengan rajin dan memperhitungkan kerugian yang terjadi karena kelalaian.

Sementara itu, sebagai wakil Shahibul Maal, ia diharapkan mengelola modal

dengan cara tertentu untuk mencapai keuntungan yang optimal (Rodoni,

2008:28).

Ketentuan umum Mudharabah sebagai berikut :

1. Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal

harus diserahkan secara tunai, berupa uang atau barang yang dinyatakan

nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap,

harus jelas tahapannya dan harus disepakati bersama.


19

2. Hasil pengelolaan modal penggalangan dana mudharabah dapat dihitung


dengan dua cara: perhitungan pendapatan proyek dan perhitungan

keuntungan proyek.

3. Pembagian kinerja akan dilakukan sesuai kesepakatan atau waktu yang


disepakati dalam kontrak bulanan. Sebagai pemilik modal, bank

menanggung segala kerugian kecuali karena kelalaian nasabah dan penipuan

seperti penipuan, penipuan dan penyalahgunaan dana.

4. Bank berhak mengawasi usaha, tetapi tidak berhak mencampuri usaha/usaha


nasabah. Sanksi administratif dapat dikenakan kepadanya jika nasabah

dengan sengaja mengingkari janjinya, misalnya lalai memenuhi

kewajibannya atau menunda pembayaran kewajibannya.

2.5.4 Jenis-jenis Mudharabah

Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak penyimpan dana,

prinsip mudharabah terbagi dua yaitu:

[Link] Mudharabah mutlaqah

Di Mudharabah Mutlaqah, tidak ada batasan bagi bank mengenai

penggunaan dana yang dihimpun. Pelanggan tidak memaksakan kondisi apa

pun pada bank atau perusahaan untuk mengharuskan dana yang disimpan

didistribusikan, menentukan penggunaan kontrak tertentu, atau dana

dialokasikan untuk pelanggan tertentu. Ketentuan umum dalam mudharabah

mutlaqah adalah:
20

1) Bank wajib menginformasikan kepada pemilik tentang hubungan dan


tata cara pelaporan laba dan bagi hasil berdasarkan risiko yang

mungkin timbul dari penyimpanan dana. Jika kesepakatan telah

dibuat, ini harus dimasukkan dalam kontrak.

2) Pada tabungan mudharabah, Tabungan Mudharabah dapat

menyediakan buku tabungan sebagai bukti setoran, serta kartu ATM

dan penarikan lainnya bagi penabung. Untuk simpanan mudharabah,

bank wajib menerbitkan sertifikat atau sertifikat titipan (bilyet)

kepada penabung.

3) Tabungan mudharabah dapat diambil setiap saat oleh penabung

sesuia dengan perjanjian yang disepakati, namun tidak diperkenankan

mengalami saldo negative.

4) Deposito mudharabah hanya dapat ditarik dalam batas waktu yang


telah disepakati. Setoran yang diperpanjang setelah tanggal jatuh

tempo diperlakukan seperti simpanan baru, tetapi jika pembaruan

otomatis disertakan dalam kontrak, tidak perlu membuat kontrak

baru.

[Link] Mudharabah Muqayyadah

Jenis mudharabah ini merupakan simpanan khusus (investasi terbatas)

yang memungkinkan pemilik dana untuk menetapkan syarat-syarat tertentu

yang harus dipatuhi oleh bank. Misalnya, harus digunakan untuk perusahaan
21

tertentu, atau harus digunakan dengan kontrak tertentu, atau harus digunakan

untuk pelanggan tertentu. Karakteristik jenis simpanan ini adalah sebagai

berikut:

1) Pemilik dana wajib menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus


diperhatikan oleh bank dan membuat perjanjian yang mengatur

tentang syarat-syarat penyaluran dana simpanan khusus.

2) Bank wajib menginformasikan kepada pemilik dana mengenai


rasio dan tata cara pelaporan keuntungan dan/atau bagi hasil

berdasarkan risiko yang mungkin timbul dari penyimpanan dana.

3) Sebagai bukti pembayaran, bank mengeluarkan slip pembayaran


khusus. Bank wajib memisahkan dana tersebut dari rekening lain.

4) Untuk simpanan mudharabah, bank wajib menerbitkan kuitansi


simpanan atau bilyet titipan kepada penabung.

5) Mudharabah Muqayyadah of Balance sheet


22

2.5.5 Pembiayaan Musyarakah

Musyarakah adalah kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk

pengaturan tertentu, masing-masing pihak mendanai dan berbagi keuntungan

dan risiko sesuai kesepakatan (Sudarsono, 2008).

Ascarya (2011) menjelaskan bahwa pembiayaan Musyarakah adalah

kerjasama dimana dua atau lebih pengusaha bekerja sama sebagai mitra bisnis.

Masing-masing pihak menyumbangkan modalnya dan ikut serta dalam

pengelolaan perusahaan. Keuntungan dan kerugian dibagi menurut persentase

kepemilikan.

2.5.6 Dana Pihak Ketiga (DPK)

Menurut Dendawijaya (2005), DPK yang terkumpul merupakan dana

terbesar yang paling diandalkan oleh bank (dapat mencapai 80% sampai 90%

dari seluruh dana yang dikelola bank).

Dana pihak ketiga adalah dana yang dihimpun dari masyarakat umum,

baik perorangan maupun badan usaha, yang diperoleh dari bank dengan

menggunakan berbagai produk simpanan milik bank (Kuncoro dan Suhardjono,

2011: 140).

Menurut Antonio (2001), salah satu sumber pendanaan yang tersedia

untuk pembiayaan adalah tabungan masyarakat (DPK). Semakin banyak dana

pihak ketiga yang dikumpulkan bank, semakin banyak uang yang dibayarkan

bank.
23

2.5.7 Jenis-jenis sumber dana pihak ketiga (DPK)

Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004

Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat

kepada bank dapat berupa Giro, Tabungan, dan Deposito.

a) Giro

Giro menurut Undang-Undang Perbankan No. 21 Tahun 2008, Pasal 1 Ayat

23, “Giro adalah titipan berdasarkan akad wadi'ah atau akad lainnya yang

tidak bertentangan dengan prinsip syariah, yang penarikannya dapat dilakukan

sewaktu-waktu dapat dilakukan dengan cek, bilyet giro, alat pembayaran

lainnya, , atau dengan booking order.”

b) Tabungan

Tabungan menurut Undang-Undang Perbankan No. 21 Tahun 2008 Pasal

1(21): “Tabungan adalah simpanan berdasarkan akad Wadia, dana investasi

dengan akad Mudarabah, atau akad lain yang tidak melanggar prinsip-prinsip

Syariah. Penarikannya tunduk pada syarat-syarat tertentu yang disepakati dan

tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau sarana lain yang

dipersamakan dengan itu.”

c) Deposito

Deposito menurut Undang-Undang Perbankan No. 21 Tahun 2008 Pasal 1

ayat 22, “Deposito adalah penanaman dana berdasarkan akad mudharabah

atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, yang
24

penarikannya hanya pada waktu tertentu dapat berdasarkan kesepakatan

antara Nasabah Penyimpan dengan Bank Syariah dan/atau UUS.”

Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana yang dititipkan kepada bank

oleh masyarakat atas dasar akad penyimpanan dana berupa Giro Wadi'ah,

Tabungan Wadi'ah, Tabungan Mudharabah, dan Simpanan [Link]

bentuk lainnya yang dipersamakan dengan hal tersebut :

Dana Pihak Ketiga = Giro + Deposito + Tabungan

Dari tinjauan tersebut dapat dikatakan bahwa bank syariah

menghimpun dana (dana pihak ketiga) dari masyarakat dalam bentuk (Arifin,

2007:48 dalam Hardjanto, 2010):

1. Simpanan (wadiah) Simpanan yang dijamin aman dan dikembalikan, tetapi

tanpa menerima imbalan atau keuntungan apapun.

2. Partisipasi dalam keuntungan modal ekuitas dan risiko ekuitas untuk investasi

umum di mana bank membayar bagian dari keuntungan secara proporsional

dengan portofolio yang didanai dengan modal tersebut.

3. Investasi Khusus (Special Investment Account/Mudharabah Muqayyadah)

dimana bank bertindak sebagai manajer investasi untuk mendapatkan fee. Jadi

bank tidak berinvestasi sementara investor menanggung risiko penuh atas

investasi.
25

5.5.8 Return On Assets (ROA)

Return on assets (ROA) merupakan ukuran kemampuan bank dalam

mengelola dana yang diinvestasikan dalam total aset yang menghasilkan

keuntungan. Semakin tinggi ROA, semakin efisien perusahaan beroperasi dan

sebaliknya. ROA yang rendah dapat disebabkan oleh banyaknya aset

perusahaan yang menganggur (Anwar dan Miqdad, 2017).

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎j𝑎𝑘


ROA = 𝗑 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡

5.5.9 Capital Adequaty Ratio (CAR)

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 3/21/PBI/2001, bank wajib

menyediakan modal minimum sebesar 8% darri aset tertimbang menurut

risiko, sebagaimana ditunjukkan dalam rasio kecukupan modal (CAR). Rasio

ini dimaksudkan agar modal yang tersedia dari bank dapat menutupi kerugian

apabila terjadi kerugian dalam kegiatan bank. Komponen CAR terdiri dari

ekuitas dan aset tertimbang menurut risiko (ATMR).

(ATMR).

𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑏𝑎𝑛𝑘
CAR = 𝗑 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑇𝑀𝑅

5.5.10 Resiko

Muhammad(2005) dan Firmansyah(2014) menyatakan bahwa risiko

pendanaan yang diambil oleh bank merupakan salah satu risiko usaha bank

karena bank tidak membayar pinjaman dan investasi.


26

Salah satu risiko yang dihadapi bank adalah bahwa pelanggan tidak

dapat menghormati kontrak mereka dengan bank syariah. Kredit macet (NPF)

terjadi ketika nasabah gagal memenuhi kewajibannya kepada bank.

𝑝𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
NPF = 𝗑 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛

Tingkat NPF bank dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu

Kurang Lancar, Diragukan (Diragukan) dan Macet (Macet).

Menurut Bank Indonesia dalam Sari et al (2012), untuk pembiayaan

Mudharabah dan Musyarakah, pembiayaan dianggap kurang lancar bila

tunggakan sampai 90 hari dan realisasi bagi hasil di atas 30% sampai 90%

dari pendapatan yang diproyeksikan. Pembiayaan tergolong diragukan apabila

backlog lebih dari 90 hari sampai dengan 180 hari, realisasi bagi hasil kurang

dari 30% dari pendapatan yang direncanakan. Kemudian tergolong buruk jika

backlog lebih dari 180 hari, realisasi bagi hasil kurang dari 30% dari proyeksi

pendapatan selama lebih dari tiga periode pembayaran. Penelitian Terdahulu

Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu

NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN


1 Rina Analisis Dana DPK (X1) , Hasil penelitian menunjukkan
Destiana Pihak Ketiga Resiko (X2) , bahwa baik DPK maupun risiko,
(2016) dan Risiko Pembiayaan kedua-duanya berpengaruh positif
Terhadap mudharabah terhadap pembiayaan mudharabah
Pembiayaan dan dan musyarakah pada bank syariah
Mudharabah & musyarakah di Indonesia.
Musyarakah (Y).
Pada Bank
27

NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN


Syariah di
Indonesia
2 Chairul Pengaruh Dana Dana Pihak Hasil penelitian menunjukkan
Anwar , Pihak Ketiga Ketiga bahwa variabel Dana Pihak Ketiga
Muhammad (DPK), Capital (DPK) (X1), (DPK), Capital Adequacy Ratio
Miqdad Adequacy Ratio Capital (CAR), dan Return On Assets secara
(2017) (CAR), Return Adequacy bersama-sama berpengaruh
On Asset Ratio (CAR) signifikan terhadap pembiayaan
(ROA) (X2), dan Mudharabah bank umum syariah.
Terahadap Return On Secara parsial variabel Dana Pihak
Pembiayaan Assets Ketiga (DPK) berpengaruh positif
Mudharabah (ROA) (X3) , signifikan terhadap pembiayaan
Pada Bank dan Mudharabah. Sedangkan variabel
Umum Syariah Pembiayaan Capital Adequacy Ratio (CAR) dan
Tahun 2008 – mudharabah Return on assets (ROA) berpengaruh
2012 (Y) positif tidak signifikan terhadap
pembiayaan mudharabah bank
umum syariah di Indonesia.
3 Suci Pengaruh DPK, DPK (X1), Uji F variabel DPK, NPF,
Annisa, CAR, NPF dan CAR(X2), CAR dan ROA berpengaruh positif
Dedi ROA Terhadap NPF(X3) dan dan signifikan terhadap pembiayaan
Fernanda Pembiayaan ROA (X4) mudharabah dan musyarakah,
(2017) Mudharabah Terhadap sedangkan uji T variabel DPK dan
Dan Pembiayaan ROA tidak berpengaruh signifikan
Musyarakah Mudharabah terhadap mudharabah dan
Pada Bank Dan musyarakah, variabel CAR
Syariah Mandiri Musyarakah mempunyai pengaruh signifikan
Periode 2011- terhadap variabel mudharabah,
2015 namun terhadap variabel
musyarakah CAR tidak berpengaruh
signifikan, NPF berpengaruh
signifikan terhadap variabel
mudharabah dan musyarakah,
4 Ida Puspita Analisis DPK (X1) , Hasil penelitian menunjukkan
rini dan Vita Pengaruh Dana NPF (X2) , bahwa:
Fidya Utami Pihak Ketiga ROA (X3) , 1. DPK berpengaruh positif secara
(2021) (DPK), Non Pembiayaan parsial terhadap Pembiayaan di
Performing (Y) PT Bank Muamalat
Financing(NPF) 2. NPF dan ROA tidak berpengaruh
dan Return On negatif secara parsial terhadap
Asset (ROA) Pembiayaan di PT Bank
28

NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN


Terhadap Muamalat Indonesia Tbk.
Pembiayaan di
PT Bank
Muamalat
Indonesia Tbk

5 Indarti Nur Pengaruh FDR, FDR (X1), Hasil penelitian ini menunjukkan
Baiti, Arini NPF, ROA, NPF (X2), bahwa secara parsial Return on
Wildaniyati CAR Terhadap ROA(X3), Variabel Asset (ROA) berpengaruh
(2020) Pembiayaan CAR(X4), terhadap Pembiayaan Mudharabah,
Mudharabah Mudharabah sedangkan Financing to Deposits
(Studi Empiris (Y) Ratio (FDR), Non Performing
Pada Bank Pembiayaan (NPF), dan Rasio
Umum Syariah Kecukupan Modal (CAR) tidak
Yang Terdaftar berpengaruh terhadap Pembiayaan
Di Bank Mudharabah. Serentak, Financing to
Indonesia Pada Deposits Ratio (FDR), Non
Tahun 2015- Performing Financing (NPF), Return
2019) On Assets (ROA), dan Kecukupan
Modal Rasio (CAR) tidak
berpengaruh terhadap Pembiayaan
Mudharabah pada Bank Umum
Syariah di Indonesia.
6 Haris Al Pengaruh Non- NPF (X1) , Hasil penelitian menyatakan bahwa
Amin , Performing FDR (X2) , NPF, FDR, dan CAR secara
Reynold Financing, CAR (X3), simultan berpengaruh positif dan
Herwinsya, Financing to pembiayaan signifikan terhadap pembiayaan
Syawal Deposit Ratio mudharabah Mudharabah dan Musyarakah. NPF
Harianto , dan Capital dan secara parsial berpengaruh positif
Triyanda Adequacy Ratio musyarakah dan signifikan terhadap pembiayaan
Putri Terhadap (Y) Mudharabah dan Musyarakah.
Kharisma Pembiayaan sedangkan CAR, FDR secara parsial
(2022) Mudharabah berpengaruh negatif dan signifikan
Musyarakah terhadap pembiayaan Mudharabah
pada PT. Bank dan Musyarakah.
Syariah
Bukopin
7 Djoko Sigit Pengaruh FDR (X1), Hasil Penelitian Menunjukkan
Gunanto, Financing To DPK(X2) , Bahwa Variabel Yang Berpengaruh
Suprihati, Deposit Ratio ROA(X3), Terhadap Pembiayaan Musyarakah
Firma (Fdr), Dana Musyarakah Adalah Variabel FDR Dan DPK.
29

NO NAMA JUDUL VARIABEL HASIL PENELITIAN


Windi Aristi Pihak Ketiga (Y) Sedangkan Variabel Yang Tidak
(2018) (Dpk) Dan Berpengaruh Terhadap Pembiayaan
Return On Musyarakah Adalah Variabel Return
Asset (Roa) On Asset (ROA)
Terhadap
Pembiayaan
Musyarakah
8 Andi Nur Determinan DPK(X1) , Hasil penelitian menunjukkan
Azizah Variabel Return ROA(X2), bahwa pada ROA berpengaruh
Fajry of Assets Inflasi (X3), negatif dan signifikan terhadap
Azzahrah (ROA), Dana Pembiayaan pembiayaan, sedangkan variabel
(2018) Pihak Ketiga (Y) DPK berpengaruh positif dan
(DPK) dan signifikan terhadap pembiayaan dan
Inflasi Terhadap variabel inflasi tidak berpengaruh
Pembiayaan terhadap pembiayaan.
BPRS di
Indonesia
9 Faizul Dinamika NPF (X1), Hasil Penelitian Menunjukkan
Mubarok Makro-Mikro CAR(X2), Bahwa Secara Parsial, Variabel
(2018) Pada Suku Bunga NPF, CAR, Dan Suku Bunga Secara
Pembiayaan (X3), ROA Signifikan Berpengaruh Terhadap
Musyarakah (X4), Pembiayaan Musyarakah. Variabel
Musyarakah ROA, Nilai Tukar, Dan Inflasi Tidak
(Y) Berpengaruh Terhadap Pembiayaan
Musyarakah Bank Umum Syariah.
10 Kartika, The Influence ROA (X1) , Hasil penelitian ini menunjukkan
Jubaedah, & of Financing to NPF(X2), bahwa secara parsial FDR, ROA dan
Astuti, Deposit Ratio, FDR(X3), NPF tidak berpengaruh signifikan
2020. Return laba (Y) terhadap pembiayaan bagi hasil (
on Assets and mudharabah dan musyarakah )
Non Performing karena, DPK yang dihimpun oleh
Finance on bank syariah tidak digunakan untuk
Profit operasi BUS untuk mendistribusikan
Sharing Finance pembiayaan bagi hasil, tetapi alih –
of Sharia Banks alih mendistribusikan piutang
in Indonesia murabahah.
Sumber : Data olahan, 2021
30

2.6. Kerangka Pemikiran

Gambar 2. 2 Kerangka Pemikiran

DPK (X1) CAR (X2) ROA (X3) NPF (X4)

Pembiayaan Pembiayaan
Mudharabah Musyarakah (Y2)
(Y1)

2.7. Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan telaah pustaka yang telah dijabarkan diatas

maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut : diduga terdapat pengaruh DPK,

CAR, ROA dan NPF terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah pada

bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia.


31

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi/Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mangambil objek pada Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia yang berlokasi kan di Otoritas Jasa Keuangan

(OJK).

3.2. Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan

karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan

kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2014: 115). Populasi dalam

penelitian ini adalah BPRS yang berjumlah 163 BPRS yang terdapat di Indonesia

dari 2016 – 2020 yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada

tahun 2020.

3.2.1 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

populasi (Sugiyono, 2019). Jika populasi besar,dan peneliti tidak mungkin

mempelajari semua yang ada pada populasi misalnya karena keterbatasan dana,

tenaga dan waktu , maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu

(Sugiono;2008).
32

Dalam penelitian ini, peneliti metode purposive sampling yaitu pemilihan

sampel, dimana peneliti menentukan sampel berdasarkan kriteri-kriteria tertentu.

Adapun kriteria dalam pengambilan sampel yaitu sebagai berikut :

1) Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia yang beroperasi

tahun 2016-2020.

2) Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia yang

mempublikasi laporan keuangan secara lengkap pada tahun 2016-2020.

3) Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Indonesia yang memiliki

kelengkapan rasio mudharabah dan musyarakah dilaporan keuangan

pada tahun 2016-2020.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dari tahun 2016-2020

terdapat 22 BPRS di Indonesia. Adapun BPRS yang terpilih menjadi sampel

dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3. 1 Sampel Penelitian

NO NAMA BPRS
1 PT BPRS musyarakah ummat indonesia
2 PT BPRS baiturrida pusaka
3 PT BPRS bangun drajad warga
4 PT BPRS muamalah cilegon
5 PT BPRS al-wadi'ah
6 PT BPRS insan cita arta jaya
7 PT BPRS artha surya barokah
8 PT BPRS metro madani
9 PT BPRS al salaamamal salman
33

NO NAMA BPRS
10 PT BPRS dinar ashri
11 PT BPRS dana hidayatullah
12 PT BPRS bumi artha sampang
13 PT BPRS karya mugi sentosa
14 PT BPRS barokah dana sejahtera
15 PT BPRS madina mandiri sejahtera
16 PT BPRS sukowati sragen
17 PT BPRS mitra cahaya indonesia
18 PT BPRS Insan madani
19 PT BPRS Suriyah
20 PT BPRS Wakalumi
21 PT BPRS Harta Insan Karimah Bahari
22 PT BPRS Amanah Sejahtera
Sumber : Diolah,2021

3.3. Jenis dan Sumber Data

3.3.1 Jenis Data

Penelitian ini bersifat kuantitatif untuk menunjukkan pengaruh DPK,

CAR, ROA dan NPF terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah.

Penelitian kuantitatif merupakan Data penelitian berupa angka-angka dianalisis

menggunakan bantuan ewiews .

3.3.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data

sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media

perantara seperti orang lain dan dokumen (Sugiyono, 2014:193).

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang

diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah yang dipublikasikan dalam situs resmi

[Link]. periode 2016-2020.


34

3.4. Operasional Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa variabel independent

dan dependent.

1. Variabel dependent (Y) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel

bebas (X). dalam penelitian ini, variabel dependent (Y) yaitu pembiayaan

mudharabah dan musyarakah.

2. Variabel independent (X) merupakan variable yang dapat mempengaruhi

variable (Y). variabel X dalam penelitian ini adalah berupa variabel (X1) yaitu

Dana Pihak Ketiga (DPK) , Variabel (X2) yaitu Capital Adequaty Ratio

(CAR) , variabel (X3) yaitu Return On Assets (ROA) dan variabel (X4) yaitu

Resiko (NPF).

Tabel 3. 2 Operasional Variabel

VARIABEL KONSEP OPERASIONAL VARIABEL SKALA


DPK (X1) Semakin besar DPK DPK = Giro + Deposito + Tabungan Rasio
yang dihimpun oleh
bank maka semakin
besar pembiayaan
yang disalurkan oleh
bank(Antonio,2001).

CAR (X2) untuk memastikan 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑏𝑎𝑛𝑘 Rasio


CAR = 𝗑 100%
bahwa jika dalam 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑇𝑀𝑅
aktivitasnya bank
mengalami kerugian
, maka ketersediaan
modal yang dimiliki
oleh bank mampu
mengcover kerugian
tersebut.
35

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎j𝑎𝑘


ROA (X3) Rasio yang ROA = 𝗑 100% Rasio
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡
menggambarkan
kemampuan bank
dalam mengelola
dana yang
diinvestasikan
dalam total aset
yang menghasilkan
keuntungan.
NPF (X4) 𝑃𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
NPF sebagai NPF = 𝑥 100% Rasio
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑚𝑏i𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛
indikator risiko bank
menunjukkan
kondisi dimana
nasabah sebagai
debitur sudah tidak
sanggup memenuhi
sebagian atau
seluruh
kewajibannya
kepada pihak bank .
Pembiayaan untuk mengukur Jumlah pembiayaan mudharabah Rasio
Mudharabah jumlah pembiayaan dan musyarakah
dan berdasarkan akad
Musyarakah mudharabah &
(Y) musyarakah selama
periode pengamatan.
Sumber : Data olahan ,2021

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik

dokumentasi. Metode dokumentasi mencari data tentang hal-hal atau variabel berupa

catatan, transkrip, buku koran, majalah, risalah rapat, legger, agenda, dan sebagainya

(Sugiyono, 2012).

Dokumentasi ini didapatkan berdasarkan laporan tahunan yang di publikasikan

BPRS di Indonesia dari tahun 2016-2020 disitus website [Link].


36

3.6. Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2012), analisis data mengelompokkan data berdasarkan

variabel dan jenis responden, menggabungkan data berdasarkan variabel dan semua

responden, menyajikan data untuk setiap variabel yang disurvei, dan menghitung

merupakan proses berjalan untuk menjawab dan menguji rumusan masalah pada

hipotesis yang telah diajukan.

Metode yang digunakan adalah regresi linear berganda pada data panel dengan

bantuan eviews. analisis regresi pada data panel ini dapat dilakukan dengan beberapa

pengujian. Dalam melakukan analisis regresi linear berganda data panel ,dimana

metode ini mensyaratkan untuk melakukan uji asumsi klasik agar mendapatkan hasil

regresi yang baik (Ghozali,2009) . adapun uji asumsi klasik yang meliputi pengujian

normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.

3.6.1 Uji Asumsi Klasik

1. Uji Normalitas

Uji normalitas memeriksa apakah nilai residual terstandarisasi dalam model

regresi berdistribusi normal atau tidak. Residual dikatakan terdistribusi

normal apabila residual terstandarisasi sebagian besar mendekati mean

(Suliyanto, 2011: 69).

Apakah data berdistribusi normal atau tidak dapat dilihat dengan

menggambarkan penyebaran data menggunakan grafik. Jika data menyebar di

sekitar diagonal dan mengikuti arah diagonal, model regresi memenuhi

asumsi normalitas.
37

2. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah adanya lebih dari satu hubungan linier yang

sempurna. Multikolinearitas tidak boleh terjadi dalam regresi, karena menurut

Ragner Frish, dalam kasus multikolinearitas, terutama kolinearitas sempurna

(koefisien korelasi antar variabel bebas=1), koefisien regresi variabel bebas

tidak dapat ditentukan dan standar errornya tak terhingga (Muhammad,

2017:75).

Uji multikolinearitas untuk mengetahui apakah dalam model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Jika terjadi korelasi, maka

terdapat masalah multikolinearitas yang perlu diatasi. Untuk mendeteksi ada

tidaknya gejala multikolinearitas pada model regresi ini dengan melihat nilai

variance inflation factor (VIF).

3. Uji Heteroskedasitas

Uji penerimaan heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji ada tidaknya

ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya

dalam model regresi linier. Apabila varians dan residual tetap dari satu

pengamatan ke pengamatan lain disebut homoskedastisitas, dan bila berbeda

disebut heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan adalah ada tidaknya

heteroskedastisitas (Imam Ghozali, 2005), sebagai berikut :

a) Jika ada pola tertentu, seperti: titik-titik yang membentuk pola teratur

(bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka terjadi

heteroskedastisitas;
38

b) Jika tidak ada pola yang jelas dan titik-titik di atas dan di bawah angka

0 berdistribusi pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji

heteroskedastisitas dalam penelitian ini dengan melihat grafik plot.

4. Uji Autokorelasi

Uji asumsi autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah terdapat

korelasi antara error gangguan pada periode t dan error gangguan pada

periode t-1 dalam model regresi linier (Imam Ghozali, 2005). Dalam

penelitian ini menggunakan Uji Runs Test.

3.6.2 Analisis Regresi

Analisis regresi linier berganda adalah analisis ketergantungan satu

atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat, dengan tujuan untuk

memprediksi atau memprediksi mean populasi dari nilai-nilai variabel bebas.

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara

pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat (Supranto,

2008: 196).

Analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini dirancang untuk

menentukan apakah DPK dan NPF berdampak pada pendanaan Mudarabah

dan Musyarakah.

Persamaan regresi :

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ꬲ

Keterangan : Y = Variabel Pembiayaan


39

𝑎 = Konstanta

β1, β2, β3, β4 = Koefisien regresi

X1 = Variabel DPK

X2 = Variabel ROA

X3 = Variabel CAR

X4 = Variabel NPF

ꬲ = eror

3.6.3 Uji hipotesis

1. Uji Parsial (Uji t)

Uji t-statistik pada dasarnya menunjukkan sejauh mana suatu

variabel independen secara individual atau parsial dapat menjelaskan variasi

variabel dependen (Ovami dan Thohari, 2018).

Uji-t digunakan untuk mengetahui apakah pada taraf signifikansi

0,05 atau 5%, masing-masing variabel independen memiliki pengaruh

individual (parsial) terhadap variabel dependen yang akan diuji.

Jika probabilitas < 0,05 maka variabel independen memiliki

pengaruh individual terhadap variabel dependen (Aziza dan Mulazid, 2017).

2. Uji Simultan (Uji F)

Uji F statistik digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen

secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. Atau untuk


40

mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk memprediksi

variabel terikat atau tidak (Aziza dan Mulazid, 2017).

3.6.4 Koefisien Determinasi (Uji R2)

Uji R2 berguna untuk mengukur kemampuan model dalam

menjelaskan variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah

antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel bebas

dalam menjelaskan variasi variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang

mendekati satu berarti variabel bebas memberikan hampir semua informasi

yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel terikat (Ghozali, 2005).


41

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1. Sejarah bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS)

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pertama kali diperkenalkan oleh Bank Rakyat

Indonesia (BRI) Pada akhir tahun 1977, BRI ditugaskan sebagai Bank Asuh untuk

lembaga keuangan lokal (sebagai bagian dari tertentu) seperti Lumbung Desa, Bank

Pasar, Bank Desa, Bank Pegawai dan bank lain yang sejenis. Dalam tahap pembinaan

yang dilakukan BRI, semua bank tersebut disebut sebagai Bank Perkreditan Rakyat

(BPR). Menurut Keputusan Presiden Nomor 38 Tahun 1988 yang dimaksud dengan

Bank Perkreditan Rakyat (PPR) adalah jenis bank sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) Pasal 4 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967, yang meliputi bank desa, toko

desa, bank pasar, bank pegawai. bank dan bank lainnya.

Dalam pakta 27 Oktober 1988 status hukum bank kredit Orang (BPR) diakui

untuk pertama kalinya sebagai bagian dari Paket Kebijakan Keuangan, uang dan

perbankan. BPR adalah perwujudan dari beberapa Lembaga keuangan, seperti Bank

Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai Lumbung Nagari (LPN) Terpilih,

Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Badan Perkreditan Desa (BKD), Badan

Perkreditan Daerah (BKK), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Lembaga

Perkreditan Daerah (LPK), Bank Karya Desa (BKPD) ) dan atau lembaga lain yang

sejenis. Sejak berlakunya UU No. 7 tahun 1992 Dari sisi kebijakan perbankan,
42

keberadaan lembaga keuangan tersebut telah diperjelas dengan adanya izin dari

Menteri Keuangan.

Dalam perkembangannya, muncullah BPR yang berlandaskan syariat Islam.

BPR tersebut bernama Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). BPR Syariah

pertama yang didirikan adalah PT. BPR Dana Mardhatillah, kec. Margahayu,

Bandung, PT. BPR Berkah Amal Sejahtera, kec. Padalarang, Bandung dan PT. BPR

Amanah Rabbaniyah, kec. Banjaran, Bandung. Pada tanggal 8 Oktober 1990, ketiga

BPR Syariah tersebut mendapat persetujuan prinsip dari Menteri Keuangan Republik

Indonesia dan mulai beroperasi pada tanggal 19 Agustus 1991. Lebih lanjut, latar

belakang berdirinya BPR Syariah merupakan langkah aktif dalam rangka penataan

kembali perekonomian Indonesia yang dituangkan dalam berbagai paket kebijakan di

bidang keuangan, moneter dan perbankan secara umum.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah merupakan salah satu lembaga keuangan

syariah yang pola usahanya mengikuti prinsip Syariah atau Muamalah Islam. BPR

Syariah didirikan berdasarkan Perbankan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72

Tahun 1992 tentang Bagi Hasil Undang-Undang Perbankan No. 7 Tahun 1992. Pasal

1 (Angka 4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-

Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan bahwa BPR Syariah

adalah bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip Syariah dan dalam

kegiatan usahanya tidak menyediakan jasa transaksi pembayaran. Penyelenggaraan

kegiatan usaha BPR berdasarkan prinsip syariah diatur lebih lanjut sesuai dengan

Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/1999 tanggal 12 Mei


43

1999 Tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah. Secara teknis

BPR Syariah bisa diartikan sebagai lembaga keuangan sebagaimana BPR

konvensional, yang operasinya menggunakan prinsip-prinsip syariah.

4.1.1 Kegiatan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Pada dasarnya, BPR dapat menjadi Syariah sebagai lembaga keuangan

Syariah Ini menyediakan layanan keuangan yang mirip dengan bank umum

Islam. BPR Syariah dapat memberikan layanan keuangan dalam berbagai cara

ketika menganggarkan dana masyarakat. Dibandingkan dengan bank umum

syariah, kegiatan usaha yang dapat dilakukan BPR syariah lebih terbatas.

Sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Direktur BI No.

32/36/KEP/DIR/1999, BPR Syariah diperbolehkan menerima simpanan dalam

bentuk giro, sekalipun Wadiah .Begitu pula, BPR syariah dilarang untuk:

1. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing

2. Melakukan penyertaan modal,

3. Melakukan usaha peransuransian,

sebagai lembaga keuangan Islam , pada dasarnya adalah bank pemberi

pinjaman Masyarakat Syariah (BPRS) dapat memberikan layanan keuangan

serupa Dengan bank komersial syariah. Namun, menurut Undang-Undang

Perbankan No. 10 Tahun 1998, BPR Syariah hanya diperbolehkan melakukan

transaksi sebagai berikut:


44

1. Penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa

deposito berjangka, tabungan dan/atau bentuk lain yang dipersamakan

dengan itu.

2. memerikan kredit.

3. Menyediakan pendanaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip

syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

4. Menempatkan dana dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia, deposito

berjangka, sertifikat deposito dan/atau tabungan pada bank lain.

Kegiatan yang dilarang (Berdasarkan pasal 14 UU No.17 tahun 1992) :

1) Menerima setoran dalam bentuk setoran penglihatan dan berpartisipasi

dalam transaksi pembayaran

2) Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing

3) melakukan investasi

4) Menjalankan bisnis asuransi

Melakukan usaha lain di luar kegiatan yang ditentukan dalam kegiatan yang

diizinkan untuk dilakukan oleh BPRS Sejarah Singkat 18 Unit Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia

4.2.1 PT BPRS Al Salaam amal Salman

BPRS Amal Salman yang dikenal dengan BPR Al Salaam, didirikan

pada tanggal 9 Oktober 1991 atas inisiatif para alumni Institut Teknologi

Bandung (ITB) yang aktif di Masjid Salman


45

VISI : Menjadi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Terbaik di Indonesia

MISI : Menjadi lembaga keuangan mikro Syariah yang menghasilkan produk

layanan perbankan terbaik bagi nasabah dan menciptakan kondisi yang

kondusif bagi pemerataan pembangunan ekonomi sektoral, dengan fokus

pada pengembangan usaha kecil dan menengah pada kesejahteraan

pemangku kepentingan.

4.2.2 PT BPRS Al-Wadi'ah

[Link] Ruhyana Mahpud, seorang pengusaha Irlandia di

Tasikmalaya, tidak ingin pengusaha di luar Tasikmalaya mengambil alih

perekonomian Tasikmalaya, seperti pada tahun 1995. Tampaknya begitu.

Prihatin dengan masalah tersebut, ia mendapatkan salah satu BPR di

Tasikmalaya dan menjadi PT. BPR Syariah Alwadi`ah dan dual banking system

"Konvensional & Syariah" & # 41; Ir di Indonesia. H. Ade Ruhyana Mahpud

memilih Alwadi`ah untuk menggarap prinsip-prinsip syariah.

4.2.3 PT BPRS Artha Surya Barokah

BPRS ini Didirikan oleh Dewan Ekonomi Pimpinan Daerah

Muhammadiyah Jawa Tengah. Secara kelembagaan dimulai dalam bentuk PT

sejak tahun 2002 dan mendapat persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi

Manusia Republik Indonesia pada tanggal 15 Juli 2003 No. [Link]-01-TH-

2003 dan PT Undang-undang tahun 2008 telah diubah dan oleh Menteri Hukum

dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-09853-AH-01.02 TH


46

2010. Operasi dimulai pada tanggal 30 Juni 2004 berdasarkan izin usaha.

DEPUTI GUBERNUR BI NO. 6/8/[Link]/2004.

VISI: Bank Syariah regional Jawa Tengah yang unggul dan terpercaya

MISI:

1. Lembaga intermediasi yang menganut prinsip syariah dan dikelola

secara profesional

2. Ikut serta dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan

kesejahteraan rakyat.

3. Menjadi bagian dari Dakwah Muhammadiyah dalam perwujudan

masyarakat Islam yang sebenarnya

4.2.4 PT BPRS Baiturrida Pusaka

PT. BPR Syariah Baiturridha mulai efektif beroperasi untuk

memberikan layanan jasa perbankan dengan prinsip syariah dimulai pada

tahun 1993. Dalam perjalanannya PT. BPR Syariah Baiturridha mengalami

pasang surut. Hal ini dikarenakan BPR Syariah merupakan institusi keuangan

baru

VISI : Menjadi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang sehat dan

terpercaya.

MISI :

1. Menghimpun dan menyalurkan dana sesuai dengan prinsip-prinsip syariah

melalui praktek usaha perbankan yang sehat


47

2. Menerapkan prinsip tata kelola yang baik dan prinsip kehati-hatian dalam

seluruh kegiatan usaha.

3. Meningkatkan sumber daya insani yang profesional, melayani dengan

sepenuh hati, berintegritas tinggi, kreatif dan inovatif.

4.2.5 PT BPRS Bangun Drajad Warga

VISI : menjadikan BPRS bangun drajat warga sebagai lembaga keuangan

syariah yang unggul dan terpercaya

MISI :

1. Mengembangkan dan mensosialisasikan pola, system, dan konsep

perbankan syariah

2. Memajukan BPRS Bangun drajat warga dengan prinsip bagi hasil yang

saling menguntungkan antara nasabah dan BPRS bangun drajat warga

dalam kerangka amar ma‟ruf nahi munkar

3. Mendapatkan profit sesuai dengan target yang ditetapkan

4. Memberikan kesejahteraan

4.2.6 PT BPRS Barokah Dana Sejahtera

Bank Syariah BDS atau PT. BPRS Barokah Dana Sejahtera berdiri

pada tahun 2007 di Brontokusuman Mergangsan Yogyakarta. Hadir lebih dari 9

tahun menyelenggarakan aktivitas perbankan syariah yang diawali dengan

keuntungan di awal tahun berdirinya telah menjadikan BANK SYARIAH BDS

sebagai BPRS terkemuka di DIY.


48

VISI : Menjadi lembaga perbankan syariah yang besar dan sehat serta memberi

kemanfaatan pada ummat.

MISI :

1. Melakukan operasional perbankan secara kompetitif, efisien dan memenuhi

prinsip kehati-hatian

2. Memberikan pelayanan prima dan optimal pada nasabah, mengembangkan

dan menumbuhkan sektor riil berbasis bagi hasil

3. Mengembangkan sumberdaya manusia berdasarkan aspek profesionalitas

dan spiritualitas

4. Mengembangkan prinsip keseimbangan dalam semua aspek termasuk

pemenuhan hak bagi seluruh stakeholder

5. Bekerjasama dengan perbankan syariah lainnya menuju kebaikan dan

kemaslahatan ummat

4.2.7 PT BPRS Bumi Artha Sampang

PT BPRS Bumi Artha Sampang resmi berdiri dihadapan pejabat

Cilacap Naimah, SH dan MH, berdasarkan Akta Pendirian No. 06 tanggal 6

September 2006, dan diresmikan oleh Kementerian Hukum dan HAM W9

.[Link] : 12 Desember 2006, 1 Januari 2006, 24 September 2007 tentang

Penerbitan Izin Usaha Bank Indonesia KepGBI Uni Berdasarkan Peraturan

Gubernur Bank Indonesia Tahun 2007. Terletak di Jl. Tugu Barat No. 39

Sampang Cilacap. perintis BPRS Bumi Artha Sampang didirikan pada awal
49

tahun 2005 atas permintaan Bapak H. Kholipan. H. Kholipan menyampaikan

keinginannya kepada Buyar Winarso yang merupakan relasi bisnisnya. Di

Buyar Winarso, H. Kholipan bertemu dengan Soedjito yang tinggal di

Jogjakarta.

VISI : Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Prinsip Syariah

MISI :

1. Memberikan layanan prima berdasarkan prinsip syariah.

2. Menerapkan konsep Ta‟awun yang berkeadilan

3. Menciptakan hubungan yang seimbang, transparan, saling

menguntungkan.

4.2.8 PT BPRS Dana Hidayatullah

PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Dana Hidayatullah berdiri

berdasarkan Akte Pendirian tertanggal 29 Maret 2006 nomor 64 yang dibuat di

hadapan Notaris Wahyu Wiryono, Sarjana Hukum dan telah disahkan oleh

Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI tanggal 9 Juni 2006 No. C 16799

HT.01.01. Tahun 2006

VISI : Menjadi BPR Syariah yang dapat dibanggakan, profitable, dan

mempunyai jaringan yang luas

MISI :

1. Ikut berperan serta dalam pembangunan ekonomi bangsa

2. Memberikan pelayanan yang Primia kepada Nasabah

3. Memaksimalkan laju pertumbuhan perusahaan


50

4.2.9 PT BPRS Dinar Ashri

PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Dinar Ashri adalah Bank atau

Lembaga Keuangan milik swasta yang berkedudukan di Nusa Tenggara Barat.

Dengan adanya PT Bank Pembiayaan Rakyat Dinar Ashri ini dapat membantu

masyarakat dan pemerintah dalam memajukan perekonomian dan mengatasi

masalah sosial di Nusa Tenggara Barat.

VISI : Menjadi Bank Syariah Lokal Terpercaya, Sehat dan Unggul dengan

Reputasi Nasional

MISI :

1. Membangun sumber daya insani yang berintegrasi tinggi, unggul, inovatif

dan loyal

2. Memperkuat Permodalan secara berkesinambungan untuk menopang

pertumbuhan perusahaan sehingga tetap sehat dan kuat

3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur baik fisik maupun non

fisik secara terencana dan terprogram dengan baik

4. Menyediakan produk, jasa keuangan dan layanan yang berkualitas tinggi

untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

5. Menigkatkan Tanggung Jawab Sosial untuk ikut dan berperan aktif dalam

membantu pemerintah mengatasi masalah social

4.2.10 PT BPRS Insan Cita Arta Jaya

PT BPRS Insan Cita Artha Jaya didirikan berdasarkan nomor (nama

notaris) notaris tanggal (tanggal berdiri) dan nomor pengesahan (ratifikasi) tahun
51

(tahun) oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Ratifikasi), tanggal

(tanggal ratifikasi). PT BPRS Insan Cita Artha Jaya resmi mulai beroperasi sejak

hari itu (start date) dengan persetujuan Bank Indonesia. (nomor izin BI) Tanggal

(tanggal izin BI).

VISI : Membangun BPR yang sehat, kuat, dan besar melalui produk dan jasa

layanan yang berciri khas untuk kesejahteraan masyarakat.

MISI :

1. Melayani nasabah dengan produk dan jasa layanan yang sesuai dengan

kebutuhan

2. Menyediakan lingkungan kerja yang dinamis agar dapat menunjang

perkembangan tenaga professional yang berkualitas, berdedikasi dan

memiliki integritas yang tinggi.

4.2.11 PT BPRS Insan Madani

BPRS Insan Madani sebelumnya adalah PT BPR Kleco Joyo yang

diakuisisi oleh pemegang saham baru pada tanggal 2 Desember 2008. Pada

tanggal 18 Agustus 2010 berdasarkan Akta Notaris Pujiastuti Pangestu, S.H. No

47 tanggal 18 Agustus 2010, dikonversi menjadi BPR Syariah Insan Madani.

VISI : Menjadi pemimpin pasar BPR Syariah di Jawa Tengah yang sehat dan

terpercaya.

MISI : Memberi kemudahan, manfaat dan mengembangkan nilai-nilai universal

di bidang jasa perbankan syariah kepada masyarakat untuk kemajuan bersama


52

4.2.12 PT BPRS Karya Mugi Sentosa

PT. Bank Syari‟ah Karya Mugi Sentosa didirikan berdasarkan Akta

Notaris pada tanggal 9 maret 2007 , berokasi dan bertempat di Jl. Margorejo

Indah No 70 D Surabaya, No telpon 031-8485888, 031-8473200, Fax 031-

8470881

VISI :

1. Menjadi Bank yang sehat, tumbuh dan berkembang secara wajar

2. Sebagai Bank yang Rahmatal Lil‟alamin

MISI :

1. Memberikan kontribusi secara optimal dalam rangka mendorong

pertumbuhan ekonomi daerah

2. Ikut berperan dalam mendorong pengembangan usaha

mikro, kecil, dan menengah

3. Memperoleh laba secara optimal sesuai prinsip Syari‟ah


53

4.2.13 PT BPRS Madina Mandiri Sejahtera

BPRS Madina Mandiri Sejahtera Pada tanggal 3 Desember 2007,

didirikan sebuah lembaga keuangan syariah bernama PT BPRS Madina Mandiri

Sejahtera dengan nama publikasi "BANK MADINASYARIAH". Tanggal

tersebut didasarkan pada tanggal penerbitan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) PT.

BPRS Madina Mandiri berkembang pesat dengan No.120116500446.

Pendirian PT. BPRS Madina Mandiri Sejahtera (selanjutnya disebut Bank

Madina Syariah) tidak terlepas dari semangat para pendiri dan pemegang saham

yang ingin mengembangkan industri keuangan syariah khususnya di Daerah

Istimewa Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya. BPRS Madina Mandiri

Sejahtera berdasarkan Nota Pendirian dan Anggaran Dasar Bank Indonesia No.

9/57/[Link]/2007 tanggal 8 November 2007, dan pejabat Wahyu Wiryono No.

24 tanggal 7 Februari 2007. Saya mendapat lisensi induk. Menteri Hukum dan

Keamanan Republik Indonesia No. W22-00151HT.01.01-TH. 2007.

VISI : Menjadi BPR Syariah terdepan dalam membangun ekonomi umat.

MISI :

1. Memberikan layan produk perbankan syariah berdasarkan asas prudential

banking

2. Berperan aktif dalam sektor usaha kecil dan menengah

3. Menyebarluaskan pelaksanaan prinsip-prinsip ekonomi syariah


54

4.2.14 PT BPRS Metro Madani

Tahun 2017 BPRS Metro Madani masih 12 tahun Kami memperoleh

izin usaha dari Bank Indonesia pada tanggal 20 September 2005, dan Kantor

Pusat Metro membuka grand openingnya pada tanggal 3 Oktober 2005. BPRS

Metro Madani memiliki empat cabang. Cabang pertama Unit II Chulambowan

dibuka pada awal tahun 2008. Cabang kedua terletak di Kecamatan Karilejo

Kabupaten Lampung Tengah dan dibuka pada November 2010. Cabang ketiga

berlokasi di Kecamatan Daya Asri Kabupaten Tulang Bawang Barat, disetujui

oleh kantor perwakilan Bank Indonesia pada 13 Agustus 2012 dan beroperasi

pada 11 September 2012. Cabang keempat ada di Jl. P. Senopati No.99 Jatimryo,

Jatimryo, Kabupaten Lampung Selatan, beroperasi pada 27 Agustus 2013 dengan

izin dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia pada 22 Agustus 2013.

VISI: yakni terwujudnya Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Metro Madani

yang berkemajuan, bermartabat dan membawa kemaslahatan ummat.

MISI:

1. Menjalankan usaha perbankan syariah sesuai syariah islam yang sehat

dan terpeercaya

2. Memberikan pelayanan terbaik dan profesional kepada nasabah, share

holder dan karyawan.


55

4.2.15 PT BPRS Mitra Cahaya Indonesia

PT. Mitra Kahaya Indonesia Syariah Bank Keuangan Rakyat (Bank

Syariah MCI) berkantor pusat di Jl. Kaliurang Km 10 No.28, Ngaglik,

Sleman, D.I. Yogyakarta yang memulai perjalanan bisnisnya pada 11 Januari

2008, menempuh perjalanan yang berliku dan penuh tantangan di PT. Insan

Karimah Group Holding yang beranggotakan komunitas alumni HMIFEUGM

telah meningkatkan permodalan Bank MCI Syariah, dan pergantian

kepemimpinan di tahun 2016 menandai awal dari transformasi Bank MCI

Syariah.

4.2.16 PT BPRS Muamalah Cilegon

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mu'amalah Cilegon, dahulu

bernama BPRS Baitul Muawanah, didirikan oleh ulama Cilegon dan tokoh-

tokoh Banten. Diantaranya adalah H Ada Embay Mulya Syarif dan KH.

Mansur Muhyidin. Pendirian BPRS Muamalah Cilegon didasari oleh

keprihatinan para ulama dan tokoh Islam tentang minimnya bank syariah di

Kota Cilegon.

Pada tanggal 14 Februari 2013, SH, Sertifikat Tabrani No. 103 telah

disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia,

dan Keputusan Bank Indonesia No. 15/[Link]/2013 Pt . BPRS

Baitul Muawanah telah menjadi PT. BPRS Muamara Siregon (Bank Syariah

Mauamara). pt. BPRS Muamarasilegon diatur oleh Direksi Di bawah


56

pengawasan Dewan Auditor Perusahaan Syariah dan Komite, anggotanya

diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham.

VISI : Menjadi Bank syariah yang kokoh berkah terpercaya dalam

membangun kemandirian ekonomi umat.

MISI :

1. Menyiapkan dan membangun sumber daya insani, lingkungan kerja Islami

yang tangguh serta senantiasa melaksanakan budaya kerja perusahaan PAGI

CERAH (P: Profesional, A: Amanah, GI: Gigih, CE: Cepat, R: Ramah

dan AH: Istiqomah).

2. Menyediakan produk dan layanan jasa perbankan syariah yang kompentitif,

aman, ramah dan berkah dengan menerapkan layanan prima dan prinsip

kehati-hatian (prudential banking).

3. Mencapai tingkat pertumbuhan bank yang kokoh di tahun 2019 dengan

indikator asset minimal 33 milyar, CAR minimal 23%, ROA minimal 2% dan

NPF maksimal 8%.

4.2.17 PT BPRS Musyarakah Ummat Indonesia

Berdiri sejak Desember 2004, PT BPR Syariah Musyarakah Ummat

Indonesia (Mustindo) hadir di tengah-tengah anda sebagai lembaga keuangan

terpercaya dengan ijin operasional secara Syariah.

VISI : Menjadi Bank Syariah yang sehat, terpercaya pilihan umat.

MISI :
57

1. Mendukung Pemerintah dalam mengembangkan usaha kecil dan

menengah di lingkungannya melalui pembiayaan berbasis syariah.

2. Menggalang pendanaan dan menyelenggarakan layanan jasa keuangan

modern bagi masyarakat sekitarnya.

3. Menghimpun dan menyalurkan zakat,infaq dan shadaqah kepada yang berhak.

4.2.18 PT BPRS Sukowati Sragen

VISI : terwujudnya lembaga keuangan yang sehat, kuat, dan istiqamah

dengan prinsip syariah untuk kemaslahatan masyarakat

MISI :

1. Terciptanya tata kelola dan system perbankan berdasarkan prinsip syariah

yang sehat , kuat dan efisien

2. Terwujudnya kesadaran umat islam dalam menjalankan muamalah

berdasarkan prinsip syariah

3. Terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan berdasarkan prinsip

syariah

4. Terjadinya kerja sama yang harmonis antara pemerintah , masyarakat dan

lembaga non pemerintah dalam rangka mempercepat pembangunan

4.2.19 PT BPRS Suriyah

PT BPRS Suriyah adalah perusahaan yang bergerak di bidang

perbankan syariah di Jawa Tengah. pt. BPRS Suriyah Cilacap didirikan pada

tanggal 6 Januari 2005 dengan akta Naimah, SH, MH nomor 3 tanggal 6 Januari
58

2005. pt. Visi BPRS Suriyah adalah menjadi BPRS yang berdaya saing dan

efisien yang memenuhi prinsip kehati-hatian.

4.2.20 PT BPRS wakalumi

Merupakan salah satu Bank Perkreditas Rakyat (BPR) di Kota

Tangerang Selatan. BPR ini adalah bank yang melayani kegiatan usaha secara

konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak

memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. PT. BPR Syariah Wakalumi

menawarkan layanan simpan deposito berjangka atau tabungan, kredit dan

pinjaman, pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah.

4.2.21 PT BPRS Harta Insan Karimah Bahari

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Harta Insan Karimah Bahari (PT.

BPRS HIK Bahari), selanjutnya disebut Badan Hukum yang berbadan hukum

Tegal dan Nota Pendirian No. 07 tanggal 3 September 2014 dihadapan Notaris

Hertanti Pindayani, SH. Notaris di Tegal. Anggaran Dasar Perseroan telah

disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Keputusan

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-

24061.40.10.2014 tanggal 10 September 2014. Anggaran Dasar perseroan

mengalami perubahan, terakhir Instrumen Keputusan Rapat Umum Pemegang

Saham Luar Biasa pt. BPR Syariah Harta Insan Karimah Bahari Nomor 29 pada

tanggal 11 November 2021 di Notaris Ny. Wahyu Ririn Ekawati, SH Disetujui

dan Dikukuhkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
59

Indonesia, Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, nomor AHU-

AH.01.03-0476915. 24 November 2022

4.2.22 PT BPRS Amanah Sejahtera

Bank Syari`ah Amanah Sejahtera mendirikan kantor pada tanggal 2 Januari

1996 di Jalan Raya Cerme Kidul 148 di Kecamatan Cerme Kabupaten Gresic, dan

Dr. H. Mar`ie Muhammad, Menteri Keuangan Republik Indonesia, mengatakan

pada tahun 1996. WIB dilaksanakan di Ruang Grhadi DPR RI sebagai BPR

Syariah pertama di Kabupaten Gresic pada pukul 10.00 WIB pada hari Sabtu

tanggal 13 Juli 2014. Pemuda 7 Surabaya.


BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1 Analisis Dana Pihak Ketiga (DPK)

Dana pihak ketiga merupakan dana yang diperoleh dari masyarakat

yang berbentuk giro,tabungan, dan deposito. Di dalam perkembangan dana

pihak ketiga dijelakan bahwa kemampuan penghimpun dana dari masyarakat

sangan mempengaruhi pertumbuhan setiap bank dalam system penyaluran

dananya atau pembiayaannya. Dengan arti semakin besar dana pihak ketiga

(DPK) yang dihimpun maka semakin besar pula tingkat pembiayaan yang

akan disalurkan kepada masyarakat.

Tabel 5. 1 Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank


Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020

DANA PIHAK KETIGA (DPK)


NO NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp) RATA
2016 2017 2018 2019 2020 RATA
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 4767 6438 9235 10405 12580 8,685
2 PT BPRS baiturrida pusaka 33181 48827 5059 6594 7320 20,196
3 PT BPRS bangun drajad warga 8456 1058 1138 1232 1277 2,632
4 PT BPRS muamalah cilegon 14313 20516 26198 36083 36620 26,746
5 PT BPRS al-wadi'ah 22776 27017 27967 38409 27769 28,788
6 PT BPRS al-wakalumi 11230 18885 31948 5364 6461 14,778
7 PT BPRS amanah sejahtera 5878 8369 9372 1150 1195 5,193
8 PT BPRS insan cita arta jaya 5253 5140 5828 6183 7484 5,978
9 PT BPRS artha surya barokah 1995 2203 2568 2901 2821 2,498
10 PT BPRS Suriyah 1233 1726 2910 3825 4787 2,896
11 PT BPRS metro madani 17550 15696 18298 18163 16738 17,289

60
61

DANA PIHAK KETIGA (DPK)


NO NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp) RATA
2016 2017 2018 2019 2020 RATA
12 PT BPRS al salaamamal salman 27368 27927 34638 36390 33861 32,037
13 PT BPRS dinar ashri 36897 35272 37212 46426 5177 32,197
14 PT BPRS dana hidayatullah 6412 8426 9389 1093 1173 5,299
15 PT BPRS bumi artha sampang 43858 5341 5329 5633 5098 13,052
16 PT BPRS karya mugi sentosa 7661 1107 1331 1348 1486 2,587
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 21790 41959 6003 1094 9456 16,060
PT BPRS madina mandiri
18 sejahtera 32632 35847 30176 35285 42280 35,244
19 PT BPRS sukowati sragen 1019 1179 1372 1420 1535 1,305
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 10432 11195 10282 11700 11787 11,079
21 PT BPRS Insan madani 20998 31914 43059 6456 7200 21,925
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 6708 7385 7801 8153 7819 7,573

jumlah 342,407 363,427 327,113 285,307 251,924

rata- rata 15,564 16,519 14,869 12,969 11,451


Sumber : Data Olahan, 2022

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai jumlah rata-rata

pada Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terjadi dari tahun 2016-2020 terdapat

perubahan yang signifikan setiap tahunnya . pada tahun 2016 jumlah rata-rata

dana pihak ketiga sebesar Rp15.564 mengalami kenaikan hingga Rp16.519

ditahun 2017, dan pada tahun 2018 juga mengalami penurunan sebesar

Rp14.869 hingga terus menurun ditahun 2019 dengan nilai Rp12,969 dan

mengalami penurunan kembali ditahun 2020 dengan jumlah rata rata sebesar

Rp11.451 .
62

Gambar 5. 1 Grafik Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

DPK
20,000
16,519
14,869
15,000
12,969
15,564
11,451
10,000

5,000

-
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber : data olahan , 2022

Dapat dilihat dari grafik Dana Pihak Ketiga bahwa nilai rata rata

tertinggi terdapat pada tahun 2017 dengan nilai sebesar Rp16.519 sedangkan

nilai terendah terdapat pada tahun 2020 dengan nilai sebesar Rp11.451. secara

garis besar dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi Dana Pihak Ketiga

(DPK) maka semakin tinggi pula pembiayaan yang dapat disalurkan.

5.1.2 Analisis Capital Adequaty Ratio (CAR)

CAR adalah rasio perbandingan jumlah modal, baik modal inti

maupun modal pelengkap terhadap aktiva tertimbang menurut resiko

(ATMR). Kecukupan modal merupakan faktor yang sangat penting bagi bank

dalam rangka menampung resiko kerugian. Ketika CAR pada BUS


63

meningkat, maka BUS akan merasa lebih longgar dalam ketentuan dalam

system penyaluran pembiayaan nya

Tabel 5. 2 Perkembangan Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank


Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020

Capital Adequaty RATA-


NO NAMA BPRS Ratio(CAR) (dalam %) RATA
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 Indonesia 55.5 12.54 16 15.94 22.05 24.406
2 PT BPRS baiturrida pusaka 22.37 23.5 20.71 18.61 28.18 22.674
3 PT BPRS bangun drajad warga 16.1 13.23 17.81 34.17 31.46 22.554
4 PT BPRS muamalah cilegon 32 32 30 41.64 45.11 36.150
5 PT BPRS al-wadi'ah 61.46 44.89 64.9 22.72 17.84 42.362
6 PT BPRS al-wakalumi 12.16 0 31.9 39.29 29.84 22.638
7 PT BPRS amanah sejahtera 16.21 0 14.08 13.88 23.95 13.624
8 PT BPRS insan cita arta jaya 22.58 16.64 14.49 13.53 16.33 16.714
9 PT BPRS artha surya barokah 21.55 16.64 16.64 18.55 29.14 20.504
10 PT BPRS Suriyah 0 16.26 13.55 15 17.61 12.484
11 PT BPRS metro madani 16.85 20.04 16.73 19.86 18.5 18.396
12 PT BPRS al salaamamal salman 15.33 14.81 14.51 20 26.91 18.312
13 PT BPRS dinar ashri 27 14 14 14.06 16.73 17.158
14 PT BPRS dana hidayatullah 18.12 38.61 36.08 42.02 86.6 44.286
15 PT BPRS bumi artha sampang 16 15 17.41 27.07 34.63 22.022
16 PT BPRS karya mugi sentosa 21.42 18.31 21.59 26.14 42.17 25.926
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 11.38 12.43 13.92 0.21 21.34 11.856
18 PT BPRS madina mandiri sejahtera 11 10.25 10.41 21 16.38 13.808
19 PT BPRS sukowati sragen 14.18 11.61 12.73 29.99 37.96 21.294
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 21.86 22.17 18.96 29.34 28.84 24.234
21 PT BPRS Insan madani 27.75 23.96 23 48.4 33.73 31.368
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 19.37 22.25 25.03 21.84 24.63 22.624
Jumlah 480.19 399.14 464.45 533.26 649.93
rata- rata 21.82 18.14 21.11 24.23 29.54
Sumber : Data Olahan, 2022
64

Pada tabel 5.3 dapat dilihat bahwa rata rata Capital Adequaty Ratio

(CAR) nilai rata-rata data tertinggi terdapat pada PT BPRS al wadiah yang

sebesar 42.36%, artinya ketika nilai CAR meningkat maka BPRS akan merasa

lebih longgar dalam system ketentuan penyaluran pembiayaan nya. ,

sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada PT BPRS barokah dana

sejahtera dengan nilai sebesar 11.85%, sehingga ketika nilai CAR menurun

maka BPRS kemungkinaan akan merasa lebih antisipasi dalam mengatasi

resiko nya.

Jika dilihat dari rata-rata pertahunnya Capital Adequaty Ratio (CAR)

mengalami perubahan naik turun dari tahum 2016 hingga 2020. Pada tahun

2016 jumlah rata-rata sebesar 21.82% dan mengalami penurunan ditahun

2017 dengan rata-rata sebesar 18.14% , sedangkan pada tahun 2018

mengalami kenaikan sebesar 21.11% dan mengalami kenaikan kembali

ditahun 2019 dengan rata-rata sebesar 24.23% serta pada tahun 2020 rata-rata

Capital Adequaty Ratio (CAR) mengalami kenaikan lagi sebesar 29.54%.


65

Gambar 5. 2 Grafik Capital Adequaty Ratio (CAR) Pada Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

CAR
35.00
30.00
29.54
25.00 21.83
24.24
20.00
21.11
15.00 18.14
10.00
5.00
0.00
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber : data olahan , 2022

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa hasil rata rata CAR BPRS

berfluktuasi dari tahun 2016 sampai tahun 2020. Bahwa rata-rata CAR

tertinggi terdapat pada tahun 2020 dengan nilai sebesar 29.54% dan rata-rata

terendah terdapat pada tahun 2017 dengan nilai sebesar 18.14%.

5.1.3. Analisis Return On Asset (ROA)

Return On Asset (ROA) merupakan imbalan hasil atau tingkat

pengembalian laba atas total aset yang tertera didalam neraca perusahaan.

ROA digunakan untuk mengukur kinerja manajemen tingkat atas, karena

dapat melihat bagaimana manajemen memanfaat kan aset ini menjadi aset

laba pada perusahaan.


66

Tabel 5. 3 Perkembangan Return On Asset (ROA) Pada Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020

Return On Asset (ROA) RATA-


NO NAMA BPRS (dalam %) RATA
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat -
1 indonesia 13.99 1.95 0.62 0.53 0.52 -2.074
2 PT BPRS baiturrida pusaka 8.94 8.44 5.02 7.46 7.78 7.528
3 PT BPRS bangun drajad warga 2.5 2.41 2.35 2.42 1.77 2.29
4 PT BPRS muamalah cilegon 1.77 2.1 2.46 99.99 3.22 21.908
5 PT BPRS al-wadi'ah 4.44 3.41 -9.49 0.74 1.28 0.076
6 PT BPRS al-wakalumi 1.55 0 1.89 0.29 -4.04 -0.062
7 PT BPRS amanah sejahtera 2.23 0 6.12 4.61 1.61 2.914
8 PT BPRS insan cita arta jaya -2.57 3.59 3.24 2.31 1.34 1.582
9 PT BPRS artha surya barokah 3.75 2.61 2.65 3 2.11 2.824
10 PT BPRS Suriyah 0 2.67 2.4 2.6 1.36 1.806
11 PT BPRS metro madani 2.91 3.53 3.47 3.75 2 3.132
12 PT BPRS al salaamamal salman 2.04 2.42 2.29 2.31 1.01 2.014
13 PT BPRS dinar ashri 3.26 4.06 5.1 7.21 5.77 5.08
14 PT BPRS dana hidayatullah 3.65 4.8 2.97 4.05 3 3.694
15 PT BPRS bumi artha sampang 2.85 3.09 2.98 2.28 1.97 2.634
16 PT BPRS karya mugi sentosa -3.24 -5.11 2.52 2.38 1.93 -0.304
PT BPRS barokah dana
17 sejahtera 2.24 1.97 2.73 0.03 0.87 1.568
PT BPRS madina mandiri
18 sejahtera 1.15 0.99 1.37 3.65 -2.12 1.008
19 PT BPRS sukowati sragen 3.46 3.29 3.22 3.38 2.56 3.182
PT BPRS mitra cahaya
20 indonesia 1.61 4.04 4.53 4.04 1.6 3.164
21 PT BPRS Insan madani 1.51 -3.35 3.74 1.69 1.6 1.038
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 8.07 11.73 9.96 8.64 7.75 9.23
Jumlah 38.13 58.64 62.14 167.36 44.89
rata- rata 1.73 2.66 2.82 7.60 2.04
Sumber : data olahan, 2022
67

Pada tabel 5.4 diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata Return on asset

(ROA) tertinggi terdapat pada BPRS muamalah cilegon dengan nilai rata-rata

sebesar 21.90% sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada BPRS

musyarakah ummat indonesia dengan nilai sebesar -2.07%. dan jika dilihat

dari jumlah rata rata pertahun pada Return on asset (ROA) yang terjadi dari

tahun 2016-2020 terdapat perubahan yang signifikan di setiap tahunnya. Dari

data tersebut, jumlah rata-rata ROA tahun 2016-2020 mengalami peningkatan

dan penurunan di setiap tahunnya. Dari tahun 2016 hingga 2017 mengalami

kenaikan dengan jumlah nilai rata rata dari 1.73% hingga 2.66%, kemudian

mengalami kenaikan sebesar 2.82% ditahun 2018. Dan ditahun 2019 rata rata

nilai ROA mengalami kenaikan yang sangat tinggi sebesar 7.60% , serta

ditahun 2020 rata-rata ROA mengalami penurunan sebesar 2.04%.

Gambar 5. 3 Grafik Retrun On Asset (ROA) Pada Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

ROA
8.00
7.61
6.00

4.00

2.00 2.67 2.82 2.04


1.73
0.00
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber : data olahan , 2022


68

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai jumlah rata-rata

kerugian ROA tertinggi terdapat pada tahun 2019 dengan nilai sebesar 7.61%.

sedangkan nilai terendah terdapat pada tahun 2016 dengan nilai rata-rata

kerugian sebesar 1.73% . semakin besar nilai rasio ROA, maka menunjukan

tingkat rentabilitas usaha bank semaik baik atau sehat. Jika ROA pada bank

smakin besar maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh

bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank itu dari segi aset nya,

sedangkan semakin sedikit dana pinjaman kembali ke bank akan

menyebabkan dana yang tersedia untuk disalurkan semakin berkurang.

5.1.4. Analisis Resiko / Non Performing Financing (NPF)

Resiko pada pembiayaan syariah merupakan resiko yang disebabkan

oleh ketidakmampuan nasabah dalam membayar kewajibannya kepada bank.

Tabel 5. 4 Perkembangan Non Performing Financing (NPF) Pada Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020

Non Performing Financing (NPF)


NO NAMA BPRS (dalam %)
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 1.0652 0.0675 0.3956 1.5022 0.1760
2 PT BPRS baiturrida pusaka 0.1358 0.0182 0.0270 0.0578 0.5389
3 PT BPRS bangun drajad warga 0.1194 0.1854 0.2110 0.1400 0.0975
4 PT BPRS muamalah cilegon 0.0759 0.0392 0.5432 0.2920 0.1076
5 PT BPRS al-wadi'ah 0.2990 0.4032 0.4485 0.6218 0.1130
6 PT BPRS al-wakalumi 2.1084 0.1939 4.0242 2.5397 1.2321
7 PT BPRS amanah sejahtera 0.0394 0.9463 0.0259 0.3108 0.2353
8 PT BPRS insan cita arta jaya 0.1313 0.5420 0.2555 0.1546 0.3448
69

Non Performing Financing (NPF)


NO NAMA BPRS (dalam %)
2016 2017 2018 2019 2020
9 PT BPRS artha surya barokah 0.1660 0.1384 0.1817 0.0174 0.2033
10 PT BPRS Suriyah 0.0895 0.0800 0.1101 0.1260 0.0827
11 PT BPRS metro madani 0.5778 0.2216 0.3161 1.1954 1.0902
12 PT BPRS al salaamamal salman 0.2884 0.3507 0.1273 0.1230 0.0616
13 PT BPRS dinar ashri 0.2900 0.1339 0.0879 0.0380 0.0030
14 PT BPRS dana hidayatullah 0.2517 0.1881 0.2990 0.0999 0.0616
15 PT BPRS bumi artha sampang 0.9930 0.7053 0.3638 0.4282 1.2080
16 PT BPRS karya mugi sentosa 0.0144 0.0371 0.9991 0.4785 0.1719
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 0.0237 0.0227 0.0864 0.0081 0.0196
18 PT BPRS madina mandiri sejahtera 0.3831 0.3177 0.3158 2.2076 0.4843
19 PT BPRS sukowati sragen 0.4581 0.4368 0.4332 0.0432 0.1696
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 0.4043 0.3240 0.1283 0.0505 0.0182
21 PT BPRS Insan madani 1.7191 0.1265 0.0886 0.0656 0.0448
22 PT BPRS harta insan karimah bahari 0.0206 0.0000 0.0816 0.0527 0.0597
jumlah 9.65 5.48 9.55 10.55 6.52
rata- rata 0.44 0.25 0.43 0.48 0.30
Sumber : Data Olahan, 2022

Dari data diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata tertinggi terdapat pada

tahun 2019 sebesar 0.48 , hal ini disebabkan bahwa resiko pada tingkat ini

adalah resiko dengan peluang terjadinya resiko yang sangat sering, sehingga

memiliki nilai pengaruh yang sangat besar . sedangkan rata-rata terendah

terdapat terdapat pada tahun 2017 dengan nilai sebesar 0.25% . artinya bahwa

resiko dengan peluang terjadinya sangat jarang dan memiliki nilai pengaruh

dampak dari besar hingga sangat kecil.


70

Gambar 5. 4 Grafik Non Performing Financing (NPF) Pada Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

NPF
0.60
0.50 0.48
0.44 0.43
0.40
0.30 0.30
0.25
0.20
0.10
0.00
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber : data olahan , 2022

Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa hasil rata-rata NPF dari tahun

2016 hingga tahun 2020 mengalami naik/turunn. Artinya nilai NPF tertinggi

tahun 2019 dengan nilai sebesar 0.18% sedangkan rata-rata terendah terdapat

pada tahun 2017 sebesar 0.25% .

5.1.5. Pembiayaan Mudharabah

Pembiayaan Mudharabah merupakan akad kerjasama usaha antara dua

pihak yang dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal (100%),

sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola dan jika rugi akan ditanggung

oleh pemilik modal selama kerugian tersebut tidak disebabkan oleh pengelola

dan Keuntungan akan dibagi sesuai yang telah disepakati.


71

Tabel 5. 5 Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan Rakyat

Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

NO NAMA BPRS MUDHARABAH (jutaan Rp)


2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 149100 69100 69100 69100 69100
2 PT BPRS baiturrida pusaka 900000 400000 100000 600000 500000
3 PT BPRS bangun drajad warga 12017 13612 14313 21262 17649
4 PT BPRS muamalah cilegon 830576 85235 68305 51980 28934
5 PT BPRS al-wadi'ah 23862 23862 23862 23862 23862
6 PT BPRS al-wakalumi 890846 815333 1930 1670 1342
7 PT BPRS amanah sejahtera 3532 5070 3962 804784 1005
8 PT BPRS insan cita arta jaya 12060 10158 7799 3775 1919
9 PT BPRS artha surya barokah 3648 2988 8986 10446 7427
10 PT BPRS Suriyah 10936 2570 2120 50569 79418
11 PT BPRS metro madani 370358 339033 114713 80515 61515
12 PT BPRS al salaamamal salman 3006 4827 10055 6740 8605
13 PT BPRS dinar ashri 263798 244798 244798 244798 244798
14 PT BPRS dana hidayatullah 73850 68890 67990 62562 2445
15 PT BPRS bumi artha sampang 6165 5178 3120 3157 2426
16 PT BPRS karya mugi sentosa 1211 702778 476226 1994 3113
17 PT BPRS barokah dana sejahtera 506454 349756 91846 271705 256179
18 PT BPRS madina mandiri sejahtera 1711 813000 500000 500000 500000
19 PT BPRS sukowati sragen 5952 5992 8095 7064 5599
20 PT BPRS mitra cahaya indonesia 11020 10270 9670 9 8470
21 PT BPRS Insan madani 1000 1387 833066 1725 2119
PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 738889 2851 4378 4201 4302
jumlah 4,819,991 3,976,688 2,664,334 2,821,918 1,830,227
rata- rata 219,091 180,759 121,106 128,269 83,192
Sumber : Data Olahan, 2022

Berdasarkan tabel diatas, pembiayaan mudharabah dari tahun 2016

mengalami penurunan ditahun 2017 dengan nilai sebesar Rp219.091 ke


72

Rp180.759 ,dan mengalami kenaikan ditahun 2018 sebesar Rp121.106

hingga 2019 sebesar Rp128.269 dan mengalami penurunan ditahun 2020

sebesar Rp83.192.

Gambar 5. 5 Grafik Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

mudharabah
250,000
219,091
200,000 180,759
150,000 128,269
121,106
100,000
83,192
50,000
0
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber : data olahan , 2022

Pada grafik pembiayaan mudharabah dapat dilihat bahwa rata-rata

tertinggi dari tahun 2016 hingga tahun 2020 yaitu terdapat pada tahun 2016

dengan jumlah rata rata pembiayaan mudharabah tertinggi sebesar Rp219.091

sedangkan rata-rata pada pembiayaan mudharabah terendah terdapat pada

tahun 2020 dengan nilai sebesar Rp83.192.

5.1.6. Pembiayaan Musyarakah

Pembiayaan Musyarakah adalah suatu bentuk kerjasama antara kedua

belah pihak/lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak


73

memberikan kontribusi dana dengan keuntungan serta risikonya akan

ditanggung bersama.

Tabel 5. 6 Pembiayaan Musyarakah Pada Bank Pembiayaan Rakyat

Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

MUSYARAKAH
NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp)
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS musyarakah ummat
1 indonesia 270,000 20,000 229,330 603,187 772,041

2 PT BPRS baiturrida pusaka 125,000 200,000 546,667 3,170 325,000


PT BPRS bangun drajad
3 warga 12,549 8,639 6,347 7,147 10,048

4 PT BPRS muamalah cilegon 48,481 217,881 2,901 2,174 2,894

5 PT BPRS al-wadi'ah 1,000 1,000 1,490 1,795 4,415

6 PT BPRS al-wakalumi 850 1,552 2,875 7,465 8,883

7 PT BPRS amanah sejahtera 6,462 7,085 8,027 32,469 47,104

8 PT BPRS insan cita arta jaya 750 2,426 2,683 625 639

9 PT BPRS artha surya barokah 2,867 2,439 3,011 3,955 5,864

10 PT BPRS Suriyah 152 9,683 18,349 160,199 308,335

11 PT BPRS metro madani 6,116 7,900 10,429 9,141 6,736


PT BPRS al salaamamal
12 salman 1,273 1,567 2,230 4,090 735

13 PT BPRS dinar ashri 94 45 600 1,100 3,600

14 PT BPRS dana hidayatullah 24,712 31,468 41,919 49,698 53,927

15 PT BPRS bumi artha sampang 2,534 2,558 7,770 5,607 8,501


16 PT BPRS karya mugi sentosa 145 1,296 1,462 15,050 40,018
74

MUSYARAKAH
NAMA BPRS (dalam Jutaan Rp)
2016 2017 2018 2019 2020
PT BPRS barokah dana
17 sejahtera 1,205 1,237 3,093 6,506 19,975
PT BPRS madina mandiri
18 sejahtera 21,445 20,199 23,392 17,745 17,914

19 PT BPRS sukowati sragen 16,294 27,985 13,684 18,078 29,829


PT BPRS mitra cahaya
20 indonesia 577,696 534,877 295,933 725 752,053

21 PT BPRS Insan madani 1,000 1,388 833 1,725 2,120


PT BPRS harta insan karimah
22 bahari 19,626 15,211 21,119 17,854 17,340
jumlah 1,140,251 1,116,436 1,244,144 969,505 2,437,971
rata- rata 51,830 50,747 56,552 44,068 110,817
Sumber : Data Olahan, 2022

Berdasarkan tabel diatas, dijelaskan bahwa pembiayaan musyarakah

tahun 2016-2020 mengalami naik/turun. Dimana dari tahun 2016 mengalami

penurunan ditahun 2017 dengan nilai sebesar Rp51.830 ke Rp50.747 dan

mengalami kenaikan pada tahun 2018 sebesar Rp56.552 lalu ditahun 2019

mengalami penurunan kembali sebesar Rp44.068 dan mengalami kenaikan yg

sangat tinggi ditahun 2020 sebesar Rp110.817.


75

Gambar 5. 6 Grafik Pembiayaan Musyarakahah Pada Bank Pembiayaan

Rakyat Syariah di Indonesia tahun 2016-2020.

musyarakah
120,000
110,817
100,000
80,000
51,830 56,552
60,000
40,000 44,068
50,747
20,000
0
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber : data olahan , 2022

Pada grafik pembiayaan musyarakah dapat dilihat bahwa rata-rata

tertinggi dari tahun 2016 hingga tahun 2020 yaitu terdapat pada tahun 2020

dengan jumlah rata rata pembiayaan musyarakah sebesar Rp110.817.

sedangkan rata-rata terendah pada pembiayaan musyarakah terdapat pada

tahun 2019 dengan nilai sebesar Rp44.068.


76

5.1.7. Analisis Statistic Descriptive

Tabel 5. 7 Hasil Analisis Deskriptif

MUDHARA MUSYARA
BAH KAH DPK CAR ROA NPF
Mean 146483.3 62802.79 14274.35 22.97245 3.374182 0.377658
Median 13962.50 7306.000 7986.000 19.93000 2.440000 0.170450
Maximum 900000.0 772041.0 48827.00 86.60000 99.99000 4.024100
Minimum 9.000000 45.00000 1019.000 0.000000 -13.99000 0.000000
Std. Dev. 246054.0 153787.1 13581.49 13.00021 9.856350 0.586104
Skewness 1.836647 3.161918 0.932037 1.788160 8.603385 3.441573
Kurtosis 5.162048 12.49076 2.502863 8.348852 85.62273 17.77409

Jarque-Bera 83.26789 596.1333 17.05878 189.7513 32645.20 1217.570


Probability 0.000000 0.000000 0.000198 0.000000 0.000000 0.000000

Sum 16113158 6908307. 1570178. 2526.970 371.1600 41.54240


Sum Sq. Dev. 6.60E+12 2.58E+12 2.01E+10 18421.58 10589.09 37.44344

Observations 110 110 110 110 110 110


Sumber : data olahan,2022

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa pembiayaan mudharabah

memperoleh nilai mean sebesar 146483.3 dengan nilai [Link] sebesar

246054 ,sedangkan pada musyarakah nilai mean sebesar 62802.79 dan

[Link] sebesar 153787.1 . adapun observasi pada penelitian ini yaitu

berjumlah 22 data perusahaan dengan periode selama 5 tahun maka dapat

diperoleh 110 data yang akan digunakan dalam penelitiian tersebut.

5.1.8. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Mudharabah

Sebelum kita melakukan estimasi pada data panel, maka yang akan

diperlukan dalam pemilihan model terbaik yang akan digunakan untuk


77

mengestimasikan data tersebut. Pemilihan model pada data panel dapat

dilakukan dengan beberapa pengujian. Uji yang dimaksud yaitu uji chow yang

akan digunakan untuk memilih common effect model atau fixed effect model .

uji hausmant digunakan untuk memilih fixed effect model atau random effect

model , sedangkan pada uji legrange multiplier digunakan untuk memilih

common effect model atau random effect model. Berikut adalah hasil estimasi

yang telah dilakukan :

a. Likelihood Ratio (uji chow)

Uji chow ini dilakukan untuk mengetahui model apa yang akan

dianalisis dengan menggunakan metode common effect model atau fixed effect

model. Uji tersebut dilakukan dengan prosedur uji-F dengan hipotesis:

H0 : prob > 0.05 , common effect model

H1 : prob < 0.05 , fixed effect model

Hasil dari likelihood ratio adalah sebagai berikut :

Tabel 5. 8 Estimasi output uji chow

Redundant Fixed Effects Tests


Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 1.859232 (21,84) 0.0249
Cross-section Chi-square 41.989652 21 0.0042

Sumber : output eviews 11.


78

Dari hasil olahan eviews 11 diketahui prob sebesar 0.0000 dengan

nilai p-value yang lebih kecil dari 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa uji

chow adalah menolak H0, artinya dalam penelitian ini model terbaik terdapat

pada estimasi fixed effect model dibandingkan dengan common effect model .

hal selanjutnya akan melakukan uji hausman.

b. Correlated Random Effect (Hausman Test)

Uji hausman dilakukan untuk memilih model estimasi terbaik antara

fixed effect model dengan random effect model. Pengujian ini mengikuti

distribusi chi-square dengan hipotesis sebagai berikut :

H0 : prob > 0.05 , random effect model

H1 : prob < 0.05 , fixed effect model

Hasil dari uji hausman adalah sebagai berikut :

Tabel 5. 9 Estimasi output uji hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test


Equation: Untitled
Test cross-section random effects

Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 2.589250 4 0.6287

Sumber : output eviews 11.

Setelah melakukan uji hausman, dapat dilihat bahwa prob >0.05

dengan nilai sebesar 0.062 > 0.05 , maka dapat disimpulkan bahwa hasil
79

Correlated Random Effect (uji hausman) adalah menerima H0 ,sehingga model

yang lebih baik untuk digunakan dalam penelitian ini adalah random effect

model.

5.2. Uji Asumsi Klasik

5.2.1. Uji Normalitas

Setelah dilakukan uji asumsi klasik terhadap semua variable, ternyata

diketahui seluruh variable terdistribusi tidak normal. Oleh karena itu, variabel

dependent dan variabel independent ditransformasikan kedalam bentuk

logaritma natural (ghozali, 2011) .

Gambar 5. 7 Hasil Uji Normalitas

16
Series:Standardized Residuals
Residuals
14 Sample 2016 2020
2020
Observations 110
110
12
10 Mean 1.03e-15
Median -0.307543
8
Maximum 4.012131
6 Minimum -5.867273
Std. Dev. 1.996494
4
Skewness 0.031356
2 Kurtosis 2.473286

0
-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 Jarque-Bera 1.289568
Probability 0.524776

Sumber : output eviews 11.

Berdasarkan data yang diperoleh dari output , diketahui bahwa nilai

probability sebesar 0.5247 . oleh karena itu,nilai prob > 0.05 maka data
80

berdistribusi normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asumsi uji

normalitas terpenuhi.

5.2.2. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam metode

regresi yang dilakukan ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Untuk

dapat mengetahui ada atau tidaknya multikolonieritas maka dapat dilihat dari

nilai korelasi antar variabel tersebut. Jika nilai korelasi < 0.8 maka variable

bebas tidak terjangkit multikolonieritas ,begitu sebaliknya.

Tabel 5. 10 Hasil Uji Multikolonieritas

DPK CAR ROA NPF

DPK 1.000000 0.272636 0.155415 0.039669


CAR 0.272636 1.000000 0.073973 0.076239
ROA 0.155415 0.073973 1.000000 -0.078676
NPF 0.039669 0.076239 -0.078676 1.000000
Sumber : output eviews 11

Dari tabel diketahui bahwa nilai korelasi antar variable bebas lebih

kecil dari 0.8 (r<0.8) yang artinya model tidak terjangkit multikolonieritas

dalam model terpenuhi.

5.2.3. Uji Heteroskedasitas

Uji heteroskedasitas ini bertujuan untuk menguji apakah didalam

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke


81

pengamatan lainnya berbeda maka hal tersebut dinyatakan heteroskedasitas

(ghozali , 2009).

Untuk melihat ada atau tidaknya heteroskedasitas ,maka dapat

dilakukan dengan uji glejser ,yaitu meregresikan nilai absolut nilai residual

sebagai variabel dependen dengan variabel independen.

Tabel 5. 11 Hasil Uji Heteroskedasitas

Root MSE 1.030736 R-squared 0.022611


Mean dependent var 1.691969 Adjusted R-squared -0.014622
S.D. dependent var 1.047362 S.E. of regression 1.054992
Akaike info criterion 2.989332 Sum squared resid 116.8659
Schwarz criterion 3.112082 Log likelihood -159.4133
Hannan-Quinn criter. 3.039120 F-statistic 0.607280
Durbin-Watson stat 1.144910 Prob(F-statistic) 0.658264
Sumber : output eviews 11

Berdasarkan uji heteroskedasitas, bahwa diperoleh variable DPK,

CAR, ROA, NPF memiliki nilai prob > 0.05 dengan nilai sebesar 0.6585 >

0.05, yang artinya terbebas dari heteroskedasitas.

5.2.4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t-1(sebelumnya). Apabila du<dw<4-du

maka dapat dikatakan bebas dari maslaah autokorelasi (Ghozali , 2009).


82

Gambar 5. 8 Hasil Uji Autokorelasi

Autokorelasi Ragu-ragu Tidak ada Ragu-ragu Autokorelasi

positif Autokorelasi negatif

dL dU 4-dU 4-dL

0 1.6061 1.7624 1.8232 2.2376 2.3939

Sumber : data olahan , output eviews 11

Berdasarkan table diatas, dapat diketahui bahwa uji Durbin-Watson

yang diperoleh adalah sebesar 1.8232. sehingga dapat disimpulkan bahwa

tidak terjadi autokorelasi pada model regresi linear yang digunakan dalam

penelitian ini. Karena diketahui bahwa kriteria nilai Durbin-Watson (DW)

berkisar antara dU < DW < 4-dU dengan nilai yang diperoleh sebesar 1.7624

< 1.8232 (DW) < 2.2376 . sehingga hasil kesimpulan dikatakan tidak ada

autokorelasi pada penelitian ini.

5.3. Analisis Regresi pada Estimasi Random Effect Model

Estimasi random effect model mendapatkan hasil pengaruh variabel Dana

Pihak Ketiga (DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) , Non

Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan Mudharabah dala bentuk

persamaan regresi sebagai berikut :

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ꬲ

Mudharabah= 9.7940 + 0.00039 DPK + 0.0048 CAR -0.0104 ROA - 0.9367 NPF +ꬲ

Sehingga jika dijabarkan dalam table terlihat sebagai berikut :


83

Tabel 5. 12 Hasil Estimasi Regresi Random Effect Model

Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 9.794004 0.491522 19.92587 0.0000


DPK 0.000396 0.001630 2.421611 0.0172
CAR 0.004871 0.015370 0.316886 0.7520
ROA -0.010434 0.018636 -0.559846 0.0358
NPF -0.936702 0.350201 -2.674753 0.0087

Sumber : data olahan , output eviews 11

Dari data diatas,dapat dijelaskan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

1. Dana Pihak Ketiga (DPK)

Nilai koefisien DPK sebesar 0.000396. hal ini menunjukkan bahwa setiap

peningkatan/penurunan DPK sebesar 1% akan meningkatkan / menurunkan

pembiayaan mudharabah sebesar 0.03% dengan asumsi variabel lain

konstan.

2. Capital Adequaty Ratio (CAR)

Nilai koefisien CAR sebesar 0.004871 . hal ini menunjukkan bahwa setiap

peningkatan/penurunan CAR sebesar 1% akan meningkatkan /menurunkan

pembiayaan mudharabah sebesar 0.48% dengan asumsi variabel lain

konstan.

3. Return On Asset (ROA)

Nilai koefisien ROA sebesar -0.010434. hal ini menunjukkan bahwa setiap

peningkatan/penurunan ROA sebesar 1% akan meningkatkan /menurunkan


84

pembiayaan mudharabah sebesar -1.04% dengan asumsi variabel lain

konstan.

4. Non Performing Financing (NPF)

Nilai koefisien NPF sebesar -0.936702. hal ini menunjukkan bahwa setiap

peningkatan/penurunan NPF sebesar 1% akan meningkatkan/menurunkan

pembiayaan mudharabah sebesar 93.67% dengan asumsi variabel lain

konstan.

5.3.1. Uji Simultan (Uji F)

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variable independen secara

bersama-sama berpengaruh terhadap variable dependent. Apabila nilai F

hitung > F tabel, maka H0 ditolak yang artinya bahwa variabel independent

secara simultan mempengaruhi variable dependen nya. Jika nilai F hitung < F

Tabel , maka H0 diterima yang artinya bahwa tidak ada variabel independent

yang mempengaruhi secara simultan variabeL dependen nya .

Tabel 5. 13 Hasil Uji F

Weighted Statistics

Root MSE 1.727225 R-squared 0.108468


Mean dependent var 6.157405 Adjusted R-squared 0.074505
S.D. dependent var 1.837653 S.E. of regression 1.767871
Sum squared resid 328.1636 F-statistic 3.193709
Durbin-Watson stat 1.823214 Prob(F-statistic) 0.016140
Sumber : output eviews 11
85

Berdasarkan hasil output diatas, nilai F hitung sebesar 3.193709

sedangkan F Tabel dengan tingkat kesalahan 5% sebesar 2.30 . dengan

demikian F hitung > F tabel sebesar 3.193709 > 2.32 , jika dilihat dari

probabilitas nya sebesar 0.016140 < 0.05 sehingga H0 ditolak . hal ini dapat

disimpulkan bahwa variabel DPK, CAR, ROA , NPF secara bersama-sama

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembiayaan mudharabah .

5.3.2. Uji Parsial (Uji T)

Uji T atau uji parsial digunakan untuk menguji pengaruh pada setiap

variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai probabilitas < 0.05

maka terdapat pengaruh signifikan antara variabel independent terhadap

variabel dependen , sedangkan jika nilai prob > 0.05 maka tidak terdapat

pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel

dependen. Uji hipotesis secara parsial dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5. 14 Hasil Uji T

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 9.794004 0.491522 19.92587 0.0000


DPK 0.000396 0.001630 2.421611 0.0172
CAR 0.004871 0.015370 0.316886 0.7520
ROA -0.010434 0.018636 -0.559846 0.0358
NPF -0.936702 0.350201 -2.674753 0.0087

Sumber : output eviews 11


86

Penjelasan dari tabel diatas dapat dijabarkan sebagai berikut :

a. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Mudharabah

Dapat dilihat pada hasil pengujian DPK menunjukkan bahwa T hitung sebesar

2.421611 , sedangkan T tabel dengan sig 5% , df = n-k = 110-6 = 104 dimana

Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung > T tabel sebesar 2.421611

> 1.6596, dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar 0.0172 < 0.05 , maka

dapat disimpulkan bahwa DPK secara parsial berpengaruh terhadap

pembiayaan mudharabah.

b. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Mudharabah

Hasil pengujian CAR menunjukkan bahwa T hitung sebesar 0.316886 ,

sedangkan Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung < T tabel

sebesar 0.316886 < 1.6596 , dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar

0.7520 > 0.05 , maka dapat disimpulkan bahwa CAR secara parsial tidak

berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.

c. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Mudharabah

Pada Hasil pengujian ROA menunjukkan bahwa T hitung sebesar -0.559846,

sedangkan Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung < T tabel

sebesar -0.559846 < 1.6632 , dan nilai probabilitas sebesar 0.0358 < 0.05 ,

maka ROA secara parsial berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.

d. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Mudharabah

Dari tabel dilihat bahwa Hasil pengujian ROA menunjukkan T hitung sebesar

-2.674753 , sedangkan Nilai t tabel sebesar = 1.6596 yang berarti T hitung > T
87

tabel sebesar -2.674753 < 1.6596 , dan pada nilai probabilitas sebesar 0.0087

< 0.05 , maka disimpulkan bahwa NPF secara parsial berpengaruh terhadap

pembiayaan mudharabah.

5.3.3. Determinasi (R2)

Tabel 5. 15 Determinasi (R2)

Weighted Statistics

Root MSE 1.727225 R-squared 0.108468


Mean dependent var 6.157405 Adjusted R-squared 0.074505
S.D. dependent var 1.837653 S.E. of regression 1.767871
Sum squared resid 328.1636 F-statistic 3.193709
Durbin-Watson stat 1.823214 Prob(F-statistic) 0.016140
Sumber : output eviews 11

Berdasarkan tabel diatas, menunjukan bahwa nilai R 2 atau Adjusted R-

squared sebesar 0.108468. artinya bahwa perubahan naik turunnya

pembiayaan Mudharabah dapat dijelaskan oleh DPK, CAR, ROA, NPF

sebesar 10.86% sementara sisanya 89.14% dijelaskan oleh variabel lainnya

yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

5.4. Penentuan Metode Estimasi Data Panel Pada Musyarakah

Pemilihan model pada data panel ini dapat dilakukan dengan beberapa

pengujian. Uji yang dimaksud yaitu uji chow yang akan digunakan untuk memilih

common effect model atau fixed effect model . uji hausmant digunakan untuk memilih

fixed effect model atau random effect model , sedangkan pada uji legrange multiplier

digunakan untuk memilih common effect model atau random effect model. Berikut

adalah hasil estimasi yang telah dilakukan :


88

a. Likelihood Ratio (uji chow)

Uji chow ini dilakukan untuk mengetahui model apa yang akan dianalisis

dengan menggunakan metode common effect model atau fixed effect model.

Tabel 5. 16 Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests


Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 5.986835 (21,84) 0.0000
Cross-section Chi-square 100.647075 21 0.0000

Sumber : output eviews 11 , 2022

Dari hasil pengolahan eviews 11 , diketahui bahwa prob sebesar 0.0000

dengan nilai p-value yang lebih kecil dari 0.05. maka dapat disimpulkan bahwa uji

chow adalah menolak H0, artinya penelitian ini model terbaik terdapat pada estimasi

fixed effect model dibandingkan dengan common effect model . selanjutnya akan

melakukan uji hausman.

b. Correlated Random Effect (Hausman Test)

Uji hausman dilakukan untuk memilih model estimasi terbaik antara fixed

effect model dengan random effect model. Pengujian ini mengikuti distribusi chi-

square dengan hipotesis sebagai berikut :

H0 : prob > 0.05 , random effect model

H1 : prob < 0.05 , fixed effect model


89

Tabel 5. 17 Uji Hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test


Equation: Untitled
Test cross-section random effects

Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 15.797106 4 0.0033

Sumber : output eviews 11 , 2022

Setelah melakukan uji hausman,dilihat bahwa prob <0.05 dengan nilai 0.0033

< 0.05 , maka disimpulkan bahwa hasil Correlated Random Effect (uji hausman)

adalah menerima H0 ,sehingga model yang lebih baik untuk digunakan dalam

penelitian ini adalah fixed effect model.

5.5. Uji Asumsi Klasik

5.5.1. Uji Normalitas

Pada penelitian ini, Setelah dilakukan uji asumsi klasik terhadap

semua variable, ternyata seluruh variabel terdistribusi tidak normal. Oleh

sebab itu, variabel dependent dan variabel independent ditransformasikan

kedalam bentuk logaritma natural (ghozali, 2011) .


90

Gambar 5. 9 Uji Normalitas

20
Series:Standardized Residuals
Residuals
Sample 2016 2020
2020
16 Observations 110
110

12 Mean 4.87e-17
Median 0.034516
Maximum 2.922100
8
Minimum -4.971887
Std. Dev. 1.200567
4 Skewness -1.323946
Kurtosis 7.687139

0
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Jarque-Bera 132.8278
Probability 0.120436

Sumber : output eviews 11 , 2022

Berdasarkan data yang diperoleh dari olahan eviews , diketahui nilai

probability sebesar 0.12 . oleh karena itu,nilai prob > 0.05 maka data

berdistribusi normal. Maka dapat disimpulkan bahwa asumsi uji normalitas ini

terpenuhi.

5.5.2. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam metode

regresi yang dilakukan ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Untuk

dapat mengetahui ada atau tidaknya multikolonieritas maka dapat dilihat dari

nilai korelasi antar variabel tersebut. Jika nilai korelasi < 0.8 maka variable

bebas tidak terjangkit multikolonieritas ,begitu sebaliknya.


91

Tabel 5. 18 Hasil Uji Multikolonieritas

DPK CAR ROA NPF

DPK 1.000000 0.272636 0.155415 0.039669


CAR 0.272636 1.000000 0.073973 0.076239
ROA 0.155415 0.073973 1.000000 -0.078676
NPF 0.039669 0.076239 -0.078676 1.000000
Sumber : output eviews 11

Dari tabel diketahui nilai korelasi antara variabel bebas lebih kecil dari

0.8 (r<0.8) yang artinya model tidak terjangkit multikolonieritas dalam model

terpenuhi.

5.5.3. Uji Heteroskedasitas

Uji heteroskedasitas ini ditujukan untuk menguji apakah didalam

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke

pengamatan lainnya berbeda maka hal tersebut dinyatakan heteroskedasitas

(ghozali , 2009).

Untuk melihat ada atau tidaknya heteroskedasitas ,maka dapat

dilakukan dengan uji glejser ,yaitu meregresikan nilai absolut nilai residual

sebagai variabel dependen dengan variabel independen.


92

Tabel 5. 19 Hasil Uji Heteroskedasitas

Root MSE 0.890729 R-squared 0.055997


Mean dependent var 0.766678 Adjusted R-squared 0.020035
S.D. dependent var 0.920963 S.E. of regression 0.911690
Akaike info criterion 2.697356 Sum squared resid 87.27383
Schwarz criterion 2.820106 Log likelihood -143.3546
Hannan-Quinn criter. 2.747144 F-statistic 1.557115
Durbin-Watson stat 1.535266 Prob(F-statistic) 0.191241
Sumber : data olahan,2022

Berdasarkan uji heteroskedasitas, bahwa diperoleh variable DPK,

CAR, ROA, NPF memiliki nilai prob > 0.05 dengan nilai sebesar 0.191241 >

0.05, yang artinya terbebas dari heteroskedasitas.

5.5.4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t-1(sebelumnya). Apabila du<dw<4-du

maka dapat dikatakan bebas dari maslaah autokorelasi (Ghozali , 2009).

Gambar 5. 10 Hasil Uji Autokorelasi

Autokorelasi Ragu-ragu Tidak ada Ragu-ragu Autokorelasi

positif Autokorelasi negatif

dL dU 4-dU 4-dL

0 1.6061 1.7624 1.8546 2.374 2.3939

Sumber : data olahan , output eviews 11


93

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa uji Durbin-Watson

yang diperoleh adalah sebesar 1.8546. pada penelitian ini, diketahui bahwa

kriteria nilai Durbin-Watson (DW) berkisar antara dU < DW < 4-dU dengan

nilai yang diperoleh sebesar 1.7624 < 1.8546 (DW) < 2.2374 . sehingga hasil

kesimpulan dikatakan tidak ada autokorelasi pada penelitian ini.

5.6. Analisis Regresi pada Estimasi Fixed Effect Model

Estimasi fixed effect model mendapatkan hasil pengaruh variabel Dana Pihak

Ketiga (DPK) , Capital Adequaty Ratio (CAR) , Return On Asset (ROA) , Non

Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan Mudharabah dala bentuk

persamaan regresi sebagai berikut :

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ꬲ

Musyarakah = 9.6493 - 0.2723 DPK -0.0014 CAR - 0.0129 ROA - 0.4454 NPF +ꬲ

Sehingga jika dijabarkan dalam table terlihat sebagai berikut :

Tabel 5. 20 Hasil Estimasi Fixed Effect Model

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 9.649394 0.432025 22.33526 0.0000


DPK -0.272310 0.164401 -1.659859 0.0017
CAR -0.001400 0.013701 -0.102213 0.9188
ROA -0.012932 0.015331 -0.843536 0.4013
NPF -0.445402 0.324485 -1.372645 0.0173
Sumber : data olahan , output eviews 11
94

Dapat dijelaskan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

1. Dana Pihak Ketiga (DPK)

Nilai koefisien DPK sebesar -0.272 . ini menjelaskan bahwa setiap

peningkatan/penurunan DPK sebesar 1% akan meningkatkan atau menurunkan

pembiayaan musyarakah sebesar 27.2% dengan asumsi variabel lain konstan.

2. Capital Adequaty Ratio (CAR)

Nilai koefisien CAR sebesar -0.0014. ini menunjukkan bahwa disetiap

peningkatan/penurunan CAR sebesar 1% akan meningkatkan /menurunkan

pembiayaan musyarakah sebesar -0.14% dengan asumsi variabel lain konstan.

3. Return On Asset (ROA)

Nilai koefisien ROA sebesar -0.0129. ini menunjukkan di setiap peningkatan/

penurunan pada ROA sebesar 1% akan meningkatkan / menurunkan

pembiayaan mudharabah sebesar -1.29% dengan asumsi variabel lain konstan.

4. Non Performing Financing (NPF)

Nilai koefisien NPF sebesar -0.4454. hal ini menunjukkan bahwa di setiap

peningkatan/penurunan NPF sebesar 1% akan meningkatkan/menurunkan

pembiayaan mudharabah sebesar -44.54% dengan asumsi variabel lain konstan.

5.6.1. Uji Simultan (Uji F)

Pada Uji F dapat digunakan untuk mengetahui apakah variabel

independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependent. jika

nilai F hitung > F tabel, maka H0 ditolak yang artinya bahwa variabel independent

secara simultan mempengaruhi variabel dependen nya. Jika nilai F hitung < F
95

Tabel , maka H0 diterima yang artinya bahwa tidak ada variabel independent yang

mempengaruhi secara simultan variable dependen nya .

Tabel 5. 21 Hasil Uji F

Root MSE 1.195097 R-squared 0.651274


Mean dependent var 9.017804 Adjusted R-squared 0.547486
S.D. dependent var 2.033032 S.E. of regression 1.367603
Akaike info criterion 3.667060 Sum squared resid 157.1083
Schwarz criterion 4.305355 Log likelihood -175.6883
Hannan-Quinn criter. 3.925956 F-statistic 6.275068
Durbin-Watson stat 1.854677 Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber : output eviews 11

Berdasarkan hasil output, nilai F hitung sebesar 6.275068 sedangkan F

Tabel dengan tingkat kesalahan 5% sebesar 2.30 . dengan demikian F hitung >

F tabel sebesar 6.275068 > 2.32 , jika dilihat dari probabilitas nya sebesar

0.000000 < 0.05 sehingga H0 ditolak . hal ini dapat disimpulkan bahwa

variabel DPK, CAR, ROA , NPF secara bersama-sama memiliki pengaruh

yang signifikan terhadap pembiayaan musyarakah .

5.6.2. Uji Parsial (Uji T)

Uji parsial digunakan untuk menguji apakah terdapat pengaruh pada

setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai probabilitas

< 0.05 maka variabel independent terdapat pengaruh signifikan terhadap

variabel dependen , sedangkan apabila nilai prob > 0.05 maka variabel

independen tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variabel

dependen. Hal tersebut dapat dijelaskan secara parsial pada tabel berikut :
96

Tabel 5. 22 Hasil Uji T

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 9.649394 0.432025 22.33526 0.0000


DPK -0.272310 0.164401 -1.659859 0.0017
CAR -0.001400 0.013701 -0.102213 0.9188
ROA -0.012932 0.015331 -0.843536 0.4013
NPF -0.445402 0.324485 -1.372645 0.0173
Sumber : output eviews 11

Penjelasan dari tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Musyarakah

Dapat dilihat pada hasil pengujian DPK menunjukkan bahwa T hitung sebesar

-1.659859, sedangkan T tabel dengan sig 5% , df = n-k = 110-6 = 104 dimana

Nilai t tabel sebesar 1.6596 yang berarti T hitung > T tabel sebesar -1.659859

> 1.6596 , dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar 0.0017 < 0.05 , maka

dapat disimpulkan bahwa DPK secara parsial berpengaruh terhadap

pembiayaan musyarakah.

b. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Musyarakah

Hasil pengujian CAR menunjukkan bahwa T hitung sebesar -0.102213,

sedangkan Nilai t tabel sebesar 1.6596 yang berarti T hitung > T tabel sebesar

-0.102213 < 1.6596, dan jika dilihat pada nilai probabilitas sebesar 0.9188 >

0.05 , disimpulkan bahwa CAR secara parsial tidak berpengaruh terhadap

pembiayaan musyarakah.

c. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Musyarakah


97

Pada Hasil pengujian ROA menunjukkan bahwa T hitung sebesar -0.843536,

sedangkan Nilai t tabel sebesar 1.6596 yang berarti T hitung < T tabel sebesar

-0.843536< 1.6596 , dan nilai probabilitas sebesar 0.4013> 0.05 , maka ROA

secara parsial tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah.

d. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Musyarakah

Dari tabel dilihat bahwa Hasil pengujian NPF menunjukkan T hitung sebesar -

1.372645, sedangkan Nilai t tabel sebesar 1.6596 artinya T hitung > T tabel

sebesar -1.372645 < 1.6596, dan pada nilai probabilitas sebesar 0.0173< 0.05 ,

maka disimpulkan bahwa NPF secara parsial berpengaruh terhadap

pembiayaan musyarakah.

5.6.3. Determinasi (R2)

Tabel 5. 23 Determinasi (R2)

Root MSE 1.195097 R-squared 0.651274


Mean dependent var 9.017804 Adjusted R-squared 0.547486
S.D. dependent var 2.033032 S.E. of regression 1.367603
Akaike info criterion 3.667060 Sum squared resid 157.1083
Schwarz criterion 4.305355 Log likelihood -175.6883
Hannan-Quinn criter. 3.925956 F-statistic 6.275068
Durbin-Watson stat 1.854677 Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber : output eviews 11

Berdasarkan tabel diatas, menunjukan nilai R2 atau Adjusted R-

squared sebesar 0.651274. artinya bahwa perubahan naik turunnya

pembiayaan Musyarakah dapat dijelaskan oleh DPK, CAR, ROA, NPF


98

sebesar 65.12% sementara sisanya 34.88% dijelaskan oleh variabel lainnya

yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

5.7. Pembahasan

5.7.1. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Mudharabah

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan,bahwa Dana Pihak

Ketiga (DPK) memiliki pengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh chairul

anwar dan Muhammad miqdad (2017) bahwa DPK berpengaruh signifikan

terhadap pembiayaan mudharabah,selanjutnya didukung juga oleh ida puspita

rini (2021) bahwa DPK berpengaruh positif terhadap pembiayaan . penelitian

ini bertolak belakang dengan penelitian Suci Annisa (2017) yang memperoleh

hasil bahwa DPK tidak berpengaruh terhadap mudharabah dan musyarakah .

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa DPK berpengaruh positif

dan signifikan terhadap pembiayaan mudharabah karena nilai signifikansinya

lebih kecil dari 0,05. Hal ini dijelaskan bahwa pembiayaan mudharabah yang

disalurkan oleh BPRS salah satunya tergantung seberapa besar dana yang

dapat dihimpun bank dari masyarakat yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) atau

simpanan. Hal ini dapat mendorong perkembangan sektor riil karena dengan

semakin meningkatnya pembiayaan berbasis bagi hasil (mudharabah) yang

disalurkan BPRS kepada masyarakat, maka kontribusi yang dapat diberikan

lembaga keuangan islam terhadap perekonomian indonesia akan semakin

meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa bank dalam mencapai tujuan


99

utamanya yaitu untuk memperoleh profit atau keuntungan tentunya akan

selalu memaksimalkan perputaran dananya untuk sektor-sektor produktif

sehingga bank akan memperoleh keuntungan yang maksimal pula. Demikian

halnya dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang dalam hal ini tentunya

juga telah memaksimalkan perputaran dana pihak ketiganya untuk

mengembangkan sektor-sektor produktif yang ada melalui pemberian

pembiayaan mudharabah dan musyarakah.

5.7.2. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Mudharabah

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa variabel Capital

Adequaty Ration (CAR) tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah

, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indarti Nur Baiti

dan Arini Wildaniyati (2020) bahwa CAR tidak berpengaruh terhadap

pembiayaan mudharabah,penelitian yang mendukung selanjutnya didukung

oleh Haris , Reynold dan Harianto (2022) yang mengatakan bahwa CAR tidak

berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah. Adapun bertolak belakang

pada penelitian Suci Annisa (2017) yang mengatakan bahwa CAR

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap mudharabah.

CAR merupakan rasio kecukupan modal yang menunjukkan

kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan

kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi,

dan mengontrol risiko-risiko yang timbul yang dapat berpengaruh terhadap

besarnya modal bank. Bank yang memiliki tingkat kecukupan modal baik
100

menunjukkan indikator sebagai bank yang sehat. Tingkat kecukupan modal

dapat diukur dengan cara membandingkan modal dengan aktiva berisiko.

Semakin tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk

menanggung risiko dari setiap pembiayaan/aktiva produktif yang mungkin

berisiko bagi bank. Hal ini berarti bank dapat mengabaikan CAR dalam

menyalurkan pembiayaan, karena kecukupan modal yang sering terganggu

akibat penyaluran pembiayaan yang berlebihan. Tingginya CAR

mengindikasikan adanya sumber dana financial (modal) yang idle (diam).

Dalam kondisi ini wajar jika bank-bank bertahan untuk tidak menyalurkan

pembiayaan karena setiap kenaikan pembiayaan yang disalurkan akan

menambah aset beresiko sehingga mengharuskan bank menambah modal

untuk memenuhi ketentuan CAR. Hal ini beararti bahwa CAR yang rendah

akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap bank dalam melakukan

penyaluran pembiayaan mudharabah.

Hal tersebut membuktikan bahwa naik turunnya CAR belum tentu

mempengaruhi jumlah pembiayaan mudharabah yang disalurkan. Seperti yang

diketahui bahwa pembiayaan mudharabah merupakan investasi yang risikonya

paling tinggi. Bank sebagai lembaga komersial jelas tidak mau mengambil

resiko terlalu tinggi dalam melakukan aktivitasnya sehingga modal yang

tersedia diinvestasikan ke sektor lain ataupun surat berharga. Pulihnya

perekonomian dan perbankan secara berangsur-angsur telah mendorong

optimalisasi kegunaan sumber daya finansial (modal) melalui penyaluran


101

pembiayaan mudharabah. Penyaluran pembiayaan mudharabah BPRS

mengalami peningkatan setiap tahunnya tetapi tidak diikuti dengan perubahan

nilai CAR.

5.7.3. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Mudharabah

Setelah melakukan pengujian pada variabel Return On Asset (ROA)

dapat disimpulkan bahwa ROA berpengaruh terhadap pembiayaan

mudharabah , hasil penelitian ini mendukung pada hasil penelitian

sebelumnya oleh indarti Nurbaiti dan Arini wiladniyati(2020) bahwa ROA

berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah namun, hasil

penelitian bertolak belakang dengan Chairul anwar(2017) dan Djoko sigit

gunanto(2018) yang menjelaskan bahwa ROA tidak memiliki pengaruh

terhadap pembiayaan mudharabah. Artinya apabila ROA meningkat maka

mudharabah mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi karena semakin besar

laba suatu bank maka pembiayaan bermasalah pada bank menurun dan

nasabah membayar kewajiban kepada bank dengan lancar.

Semakin besar ROA pada suatu bank maka semakin besar pula tingkat

keuntungan yang diperoleh bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank

dari segi penggunaan asset. Tingkat profitabilitas yang tinggi dapat dilihat

pada nilai ROA, yang membuat bank mendapat kepercayaan dari masyarakat

yang memungkinkan bank dalam menghimpun dana lebih banyak sehingga

bank memiliki kesempatan untuk memperluas pembiayaan. Hal ini berarti

bank mendapat kepercayaan dari masyarakat yang memungkinkan bank


102

dalam menghimpun dana lebih banyak sehingga bank memiliki kesempatan

untuk menunjang kelancaran dan memperluas pembiayaan mudharabah.

5.7.4. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Mudharabah

Dilihat dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa variabel Non

Performing Financing NPF berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.

Hasil penelitian ini mendukung yang telah dilakukan oleh penelitian Rina

Destiana(2016) dan Suci Annisa (2017) bahwa NPF berpengaruh terhadap

pembiayaan mudharabah. Namun penelitian Ida Puspita (2021) dan Indarti

nurbaiti (2020) bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya yang

diperoleh hasil bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap pembiyaan

mudharabah. Artinya NPF yang berpengaruh terhadap pembiayaan

mudharabah menandakan bahwa Non Performing Financing (NPF)

mengalami pembiayaan bermasalah yang serius atau lebih tinggi.

Secara garis besar hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa NPF

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pembiayaan, namun dari

penelitian ini diperoleh hasil bahwa NPF berpengaruh negatif dan tidak

signifikan terhadap pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Hasil tersebut

memberikan gambaran bahwa semakin tinggi NPF belum tentu diikuti dengan

turunnya penyaluran dana yang dilakukan oleh Bank Syariah Mandiri, begitu

juga sebaliknya apabila NPF menurun belum tentu diikuti dengan kenaikan

penyaluran dana yang diberikan bank.


103

Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu dimana

rata-rata besarnya pembiayaan yang bermasalah atau persentase NPF pada

perbankan syariah tergolong kecil dibandingkan dengan perbankan

konvensional, yaitu masih berkisar di bawah standar BI (Bank Indonesia

sebesar 5%) yang mana bank konvensional lebih sensitif dengan instrumen

derivatif sedangkan bank syariah akan lebih sensitif apabila sektor riil

mengalami goncangan. Perbankan syariah lebih aktif dan cenderung untuk

membiayai dunia usaha dalam sektor riil dalam kegiatan penyaluran dananya,

dan hingga saat ini sektor riil di Indonesia masih dalam batas yang dapat

dikatakan aman dari berbagai goncangan perekonomian.

5.7.5. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan Musyarakah

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, Dana Pihak Ketiga

(DPK) berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Hasil penelitian ini

mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Rina Destiana(2017) dan

Djoko Gunanto (2018) mengatakan bahwa DPK berpengaruh signifikan

terhadap pembiayaan musyarakah. penelitian ini bertolak belakang dengan

penelitian Suci Annisa (2017) yang memperoleh hasil bahwa DPK tidak

berpengaruh terhadap mudharabah dan musyarakah. Hal ini artinya bahwa

semakin banyak DPK yang dihimpun maka akan semakin besar pula tingkat

pembiayaan yang akan disalurkan kepada masyarakat. Sebaliknya, semakin

rendah DPK yang dihimpun maka akan semakin rendah pula tingkat

pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat.


104

Menurut Perry Warjiyo menyatakan bahwa pertumbuhan kredit

dipengaruhi oleh penawaran kredit perbankan, penawaran dipengaruhi oleh

dana yang tersedia bersumber dari Dana Pihak Ketiga, persepsi bank dari

usaha debitur, dan kondisi perbankan itu sendiri. Dalam hal ini, bank harus

mempersiapkan strategi penggunaan dana-dana yang dihimpunnya sesuai

dengan rencana alokasi bedasarkan kebijakan yang telah digariskan. Maka

semakin besar dana pihak ketiga maka semakin besar pembiayaan tersalurkan

khususnya pembiayaan musyarakah.

5.7.6. Pengaruh CAR terhadap pembiayaan Musyarakah

Dari hasil penelitian,setelah melakukan uji Parsial pada variabel CAR

tidak terdapat pengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Penelitian ini

sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suci Annisa (2017) dan Haris

Al amin (2022) yang memiliki hasil CAR tidak berpengaruh signifikan

terhadap pembiayaan musyarakah. Penelitian ini tidak sejalan dengan

penelitian Fizul Mubarok(2018) menyatakan bahwa CAR berpengaruh

terhadap musyarakah. Artinya semakin tinggi CAR maka semakin kuat

kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko dari setiap kredit/aktiva

produktif. Sehingga dapat dikatakan semakin baik pula kemampuan suatu

bank dalam hal menanggung resiko yang mungkin akan ditimbulkan dari

setiap penyaluran kredit atau aktiva produktif yang dapat menimbulkan

berisiko.
105

Dalam penelitian ini menunjukkan besar kecilnya capital adequacy

ratio (CAR) tidak berpengaruh terhadap besar kecilnya pembiayaan

musyarakah yang disalurkan bank karena menurut Affif (1996) kemampuan

penyaluran kredit dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal bank. Dari

sisi internal bank kredit dipengaruhi oleh kemampuan bank dalam

menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito dan tabungan dan

penetapan suku bunga. Sedangkan dari sisi eksternal bank dipengaruhi oleh

kondisi ekonomi, peraturan pemerintah, dan lain-lain.

5.7.7. Pengaruh ROA terhadap pembiayaan Musyarakah

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa Variabel ROA tidak

memiliki pengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Hasil penelitian ini

sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suci Annisa ,

Dedi Fernanda (2017) dan Ida Puspita Rini (2021) dan Djoko Gunanto (2018)

bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah . namun

penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Andi Nur Azizah(2018) yang

memperoleh hasil bahwa ROA berpengaruh terhadap pembiayaan. Artinya

ROA tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah, hal ini disebabkan

karena musyarakah merupakan pembiayaan yang beresiko, resiko dari

pembiayaan ini seperti resiko kerugian, gagal bayar sehingga mempengaruhi

Return On Asset atau dalam hal mengelola assetnya dan dana pembiayaan

yang keluar tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh besar kecilnya ROA.
106

5.7.8. Pengaruh NPF terhadap pembiayaan Musyarakah

Dilihat dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa variabel NPF

berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Penelitian ini sama dengan

hasil penelitian yang dilakukan oleh Rina Destiana(2016), Suci Annisa (2017)

dan Fairuz mubarok (2018) bahwa NPF berpengaruh terhadap pembiayaan

musyarakah. Sedangkan penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Ida Puspita(2021) dan Kartika,Jubaedah & astuti (2020) yang

menyatakan bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap musyarakah. Artinya

semakin tinggi rasio NPF maka semakin rendah pembiayaan musyarakah.

Sebaliknya, semakin kecil rasio NPF akan semakin baik pembiayaan

musyarakah karena minimnya kredit atau pembiayaan yang gagal bayar.

Dimana gagal bayar pada suatu bank merupakan sinyal negatif bagi bank yang

bersangkutan.

Non Performing Financing merupakan salah satu indikator kesehatan

kualitas aset, semakin tinggi Non Performing Financing (diatas 5%) maka

bank tersebut tidak sehat dan Non Performing Financing yang tinggi

menurunkan profit yang akan diterima oleh bank syariah. Kemudian semakin

tinggi Non Performing Financing yang terdapat di perbankan syariah

menunjukkan bahwa bank tersebut tidak professional dalam pengelolaan

pembiayaannya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas

pemberian pembiayaan pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan

tingginya Non Performing Financing yang dihadapi bank yang akan


107

berpengaruh terhadap profitabilitas bank itu sendiri. Untuk mengurangi risiko

dari pembiayaan yang bermasalah, pihak bank harus menurunkan jumlah

pembiayaan yang disalurkan. Jadi semakin tinggi nilai Non Performing

Financing akan menyebabkan nilai pembiayaan menjadi turun.

Hubungan negatif dalam penelitian mengindikasikan bahwa NPF yang

tinggi maka akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap pembiayaan,

yaitu berupa penurunan jumlah pembiayaan yang disalurkan karena semakin

tinggi tingkat NPF, bank akan lebih berhati-hati dan lebih selektif dalam

menyalurkan pembiayaan. Menurut Dahlan Siamat dalam bukunya yang

berjudul manajemen lembaga keuangan menyatakan bahwa pembiayaan

bermasalah dapat diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan

pelunasan akibat adanya faktor kesenjangan dan atau karena faktor eksternal

diluar kemampuan debitur yang dapat diukur dengan kolektabilitasnya.


108

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis pada pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat

diperoleh kesimpulan yaitu sebagai berikut :

1. Hasil penelitian dengan variabel dependen pembiayaan mudharabah

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Variabel Capital

Adequaty Ratio (CAR) tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap pembiayaan

mudharabah pada BPRS. Sedangkan pada Variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) ,

Return On Asset (ROA) dan Non Performing Financing (NPF) terdapat

pengaruh signifikan terhadap pembiayaan mudharabah pada BPRS. Berdasarkan

uji regresi linear berganda bahwa secara simultan variabel DPK, CAR, ROA,

dan NPF secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

Pembiayaan Mudharabah.

2.. Hasil penelitian dengan variabel dependen pembiayaan musyarakah

Variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Non Performing Financing (NPF)

terdapat pengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah pada BPRS. Dan

pada Variabel Capital Adequaty Ratio (CAR) dan Return On Asset (ROA) tidak

terdapat pengaruh signifikan terhadap pembiayaan musyarakah pada BPRS.

Berdasarkan uji regresi linear berganda bahwa secara simultan variabel DPK,

CAR, ROA, dan NPF secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan
109

6.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, saran penulis setelah

melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi Perbankan Syariah, agar dapat mengontrol pada lembaga keuangan BUS,

UUS dan BPRS agar berjalan dengan baik, terutama pada BPRS yang memang

sering mengalami penurunan ditiap tahunnya.

2. Bagi akademis

a) Pada variabel independen dapat diganti dengan variabel lain yang dapat
mempengaruhi pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah.

b) dapat dikembangkan model penelitian sebelumnya dan menggunakan alat


uji yang lebih lengkap dan akurat sehingga dapat memberikan hasil yang

valid.

c) memperluas penelitian dengan cara memperpanjang periode penelitan


dengan cara menambahkan tahun penelitian, memperbanyak sampel, dan

juga mengubah sampel penelitian dengan BPRS yang diambil dari BPRS

langsung .
110

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Hamdi . 2021. Teori Bank Syariah . Pekanbaru : UIR PRES . Jurnal

Perbankan Syariah April . Vol.2 No.1 : 67-83.

Annisa,Suci . Dedi Fernanda . 2017 . Pengaruh Dpk, Car, Npf Dan Roa Terhadap

Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada Bank Syariah Mandiri

Periode 2011-2015 . Jurnal Ekonomi & Bisnis Dharma Andalas Volume 19

No 2, Juli 2017 . ISSN 1693 – 3273 .

Anwar, Chairul Dan Muhammad Miqdad . 2017. Pengaruh Dana Pihak Ketiga

(DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA) Terahadap

Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008 – 2012 .

Riset Dan Jurnal Akuntansi , Volume 1 Nomor 1 , Februari 2017.

Bank Indonesia. 1998. UU No. 10 tahun 1998, tentang perubahan terhadap UU No.

7 tahun 1992, Jakarta.

Destiana,Rina . 2016 . Analisis Dana Pihak Ketiga dan Risiko Terhadap Pembiayaan

Mudharabah dan Musyarakah Pada Bank Syariah di Indonesia . Fakultas

Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon . Jurnal Logika , Vol

XVII,No 2, Agustus 2016.


111

Kartika,R , Jubaedah,S, dan Astuti,A.D . 2020 . The Influence of Financing to

Deposit Ratio, Return on Assets and Non Performing Finance on Profit

Sharing Finance of Sharia Banks in Indonesia . advances in Economic ,

Bussiness And Research,123,136-140.

Kartitomo P , Andari . 2019. Analisis Penentuan Bagi Hasil Pembiayaan

Mudharabah Pada Bank Pembiayan Rakyat Syariah (BPRS) Di Indonesia

Periode 2011-2018. Universitas Islam Indonesia , Fakultas Ekonomi ,

Yogyakarta.

Kasmir. 2012. Manajemen Perbankan. Jakarta: Rajawali Pers.

Kurniawan, Elan Dan Komisah Nurhidayah . 2020 . Dana Pihak Ketiga, Kecukupan

Modal Dan Likuiditas Terhadap Pembiayaan Mudharabah Dengan

Pembiayaan Bermasalah Sebagai Pemoderasi. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis

Universitas Islam As-Syafi‟iyah . Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Vol.2 No.2

:Juli-Desember. 2020.

Laporan Tahunan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia tahun 2016-

2020 . sumber Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Noviani, Fera Dan Komsi Koranti . Analisis Dana Pihak Ketiga , Non Performing

Financing , Dan Financing To Deposit Ratio Dalam Pembiayaan Murabahah

Pada Bank Mandiri Syariah . Fakultas Ekonomi, Jurusan Management

Universitas Gunadarma .
112

Nur Baitu Indarti dan Arini Wildaniyati .2020. Pengaruh FDR, NPF, ROA, CAR

Terhadap Pembiayaan Mudharabah (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah

Yang Terdaftar Di Bank Indonesia Pada Tahun 2015-2019) . Jurnal Ilmu –

Ilmu Akuntansi. Vol 1 No 2 September 2020. ISSN: 2723-4843 .

Puspitarini, Ida dan Vita Fidya Utami . 2021. Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga

(DPK), Non Performing Financing (NPF) dan Return On Asset (ROA)

Terhadap Pembiayaan di PT Bank Muamalat Indonesia Tbk . Institut Agama

Islam Negri Purwekerto, Indonesia . Jurnal Ekonomi Islam , Volume 9 Nomor

2 , Juli-Desember 2021 : 171-185.

Setivia Bakti , Nurimansyah .2017 . Analisis DPK, ROA, CAR, Dan NPF Terhadap

Pembiayaan Pada Perbankan Syariah . Jurnal Bisnis Dan Manajemen Vol.17,

No.2 ,2017:15-28 .

Sugiyono. 2006. Teknik Penelitian. Bandung: Suharsimi Arikunto.

Vien Sylvia Aziza, Ratu Dan Ade Sofyan Mulazid . Analisis Pengaruh Dana Pihak

Ketiga, Non Performing Financing, Capital Adequacy Ratio, Modal Sendiri

Dan Marjin Keuntungan Terhadap Pembiayaan Murabahah . Universitas

Islam Negri Syarif Hidayatullah ,Jakarta .

Anda mungkin juga menyukai