TUGAS TERSTRUKTUR
MAKALAH BAHAN KULIAH CPMK KE-2
KARAKTER RELIGIUS DAN ADAB KEHIDUPAN SEHARI HARI
MATA KULIAH:
PENDIDIKAN KARAKTER
OLEH :
dr. RAHMAD ADE IRAWAN
NPM.22.13101.12.48
SEMESTER GENAP
DOSEN PENGAMPU :
MARTAWAN MADARI, SKM. MKM
PROGRAM PASCA SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2023
MAKALAH BAHAN KULIAH CPMK KE-2
- Judul Bahan Kajian : Karakter Religius dan Adab Kehidupan
Sehari Hari
- Mata kuliah : Pendidikan Karakter
- Program Studi : Program Studi Pasca Sarjana
Kesehatan Masyarakat (PSMKM)
- Beban Studi : 3 (tiga) SKS
- Waktu : TM = (3x 50 menit), BM (3x170 menit),
TT (3x170 menit)
- Dosen pengampu : Martawan Madari, [Link]
- Mhs penyusun : dr. Rahmad Ade Irawan
bahan
DOSEN PENGAMPU :
MARTAWAN MADARI, SKM. MKM
KARAKTER RELIGIUS DAN ADAB KEHIDUPAN SEHARI HARI
A. Pengertian Tentang Karakter Religius
Kata karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan sifat kejiwaan, a
khlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang [Link] Menurut
Kemendiknas, karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian atau kepribadian ses
eorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan(virtues) yang diyakini d
an digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap, dan bertindak. Keb
ijakan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat
dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Pengertian religius secara bahasa diambil dari d
ua istilah yang memiliki perbedaan makna, yakni religi dan religiusitas.
Religi berasal dari kata religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agam
a atau kepercayaan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia, religiusitas berasal d
ari kata religius yang berkenaan dengan religi atau sifat religi yang melekat pada diri sese
oran Religius sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan oleh Suparlan sebagai sikap
dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut,toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain,dan hidup rukun dengan pemeluk agama [Link] reli
gius ini sangat dibutuhkan oleh anak dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi
moral,dalam hal ini kita diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan baik yang di
dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Penerapan pendidikan karakter religius se
karang ini mutlak diperlukan bukan hanya di lingkungan universitas saja, tetapi di rumah
dan di lingkungan sosial. Karena karakter religius merupakan suatu sifat yang melekat pa
da diri seseorang yang menunjukkan identitas, ciri, kepatuhan ataupun kesan keislaman.
Karakter Islam yang melekat pada diri seseorang akan mempengaruhi orang disekitarnya
untuk berperilaku Islami juga. Keberagamaan atau religiusitas seseorang diwujudkan dala
m berbagai sisi kehidupannya.
Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritu
al (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan s
[Link] hanya berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat denga
n mata,tetapi juga aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Karakter
religius sendiri termasuk dalam 18 karakter bangsa yang direncanangkan oleh Kementeri
an Pendidikan Nasional.
Kemendiknas mengartikan bahwa karakter religius sebagai sebuah sikap dan peril
aku yang patuh dalam melaksanakan ibadah agama, serta hidup rukun dengan agama lain.
Agama meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu
membentuk keutuhan manusia berbudi luhur (berakhlak karimah), atas dasar percaya atau
iman kepada Allah dan tanggung jawab pribadi di hari kemudian. Dalam hal ini, agama
mencakup totalitas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang dilandasi den
gan iman kepada Allah, sehingga seluruh tingkah lakunya berlandaskan keimanan dan ak
an membentuk akhlak karimah yang terbiasa dalam pribadi dan perilakunya sehari-hari.
Agama dalam kehidupan pemeluknya merupakan ajaran yang mendasar yang men
jadi pandangan atau pedoman hidup Pandangan hidup ialah konsep nilai yang dimiliki ses
eorang atau sekelompok orang mengenai [Link] yang dimaksut nilai-nilai adalah
sesuatu yang dipandang berharga dalam kehidupan manusia,yang mempengaruhi Memba
ngun Karakter Religius Pada [Link] hidup (way of life, worldview) meru
pakan hal yang penting dan hakiki bagi manusia, karena dengan pandangan hidupnya me
miliki kompas atau pedoman hidup yang jelas di dunia ini. Manusia antara satu dengan y
ang lain sering memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda seperti pandangan hidup ya
ng berdasarkan agama misalnya, sehingga agama yang dianut satu orang berbeda dengan
yang dianut yang lain. Pandangan hidup yang mengandung nilai-nilai yang bersumber da
n terkait dengan:
1. Agama, sebagai system kayakinan yang mendasar,sakral,dan menyeluruh mengen
ai hakikat kehidupan yang pusatnya ialah keyakinan Tuhan.
2. Ideologi,sebagai sistem paham yang ingin menjelaskan dan melakukan perubahan
dalam kehidupan ini,terutama dalam kehidupan social-politik.
3. Filsafat,sistem berpikir yang radikal,spekulatif,dan induk dari pengetahuan. Panda
ngan hidup manusia dapat diwujudkan atau tercermin dalam cita-cita, sikap hidup,
keyakinan hidup dan lebih konkrit lagi perilaku dan [Link] hidup ma
nusia akan mengarah orientasi hidup yang bersangkutan dalam menjalani hidup di
dunia ini.
Bagi seorang muslim misalnya,hidup itu berasal dari Allah Yang Maha Segala-gal
anya,hidup tidak sekedar di dunia tetapi juga di akhirat [Link] hidup muslim be
rlandaskan tauhid,ajarannya bersumber pada al-Qur`an dan Sunnah Nabi,teladannya ialah
Nabi, tugas dan fungsi hidupnya adalah menjalankan ibadah dan kekhalifaan muka bumi,
karya hidupnya ialah amalan shaleh,dan tujuan hidupnya ialah meraih karunia dan ridha
[Link] menjalani kehidupan di dunia ini agama memiliki posisi dan peranan yang s
angat penting.
Agama dapat berfungsi sebagai faktor motivasi (pendorong untuk bertindak yang
benar,baik, etis, dan maslahat), profetik (menjadi risalah yang menunjukan arah kehidupa
n), kritik (menyuruh pada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar),kreatif (mengar
ahkan amal atau tindakan yang menghasilkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain), in
tergratif (menyatukan elemen-elemen yang rusak dalam diri manusia dan masyarakat unt
uk menjadi lebih baik),sublimatif (memberikan proses penyucian diri dalam kehidupan),
dan liberatif (membebaskan manusia dari berbagai belenggu kehidupan).
Manusia yang tidak memiliki pandangan hidup, lebih-lebih yang bersumber agam
a,ibarat orang buta yang berjalan ditengah kegelapan dan keramian maksutnya ialah tidak
tau dari mana dia datang, mau apa didunia,dan kemana tujuan hidup yang hakiki. Karena
demikian mendasar kehidupan dan fungsi agama dalam kehidupan manusia maka agama
dapat dijadikan nilai dasar bagi pendidikan, termasuk pendidikan karakter. Sehingga mela
hirkan model pendekatan pendidikan berbasis agama. kesamaan dengan pendidikann akhl
ak. Ajaran tentang akhlak dalam Islam sangatlah penting sebagaimana ajaran tentang akid
ah (keyakinan), Ibadah, dan Muamalah (Kemasyarakatan).
Nabi Akhiru zaman Muhammad SAW, bahkan diutus untuk menyempurnakan ak
hlak manusia. Menyempurnakan akhlak manusia berarti meningkatkan akhlak yang sudah
baik menjadi yang lebih baik dan mengikis akhlak yang buruk agar hilang serta diganti ol
eh akhlak yang mulia. Itulah kemulyaan hidup manusia sebagai makhluk Allah yang uta
ma. Betapa pentingnya membangun akhlak sehingga melekat dengan kerisalahan Nabi.
B. Menjadi insan berkarakter
Arti dari berkarakter itu sendiri adalah memiliki karakter atau [Link]
adian itu sendiri artinya sifat sifat yang terkandung yang ada di dalam orang tersebut,sifat
sifat baik atau buruk orang tersebut setiap manusia memilikinya. Sifat sifat baik itu sendir
i apa ya sebenarnya? sifat sifat yang sudah jelas bermanfaat atau berguna bagi diri sendiri
dan orang lain atau minimal bagi dirinya [Link] apa arti karakter buruk?tentu saj
a kebalikan dari karakter [Link] buruk yaitu sifat sifat yang merugikan bagi manus
ia diri sendiri atau orang lain atau merugikan diri sendiri dan orang lain. Ya sifat sifat bai
k yang ada dalam manusia misalnya sabar,pekerja keras,mau menolong orang lain,rendah
[Link] bekerja [Link] sifat ini yang sudah jelas menjadi tolak ukur insan berkarakte
r .manakah yang menjadi sifat sifat anda? Tentunya lebih baik kalau anda punya semua at
au minimal beberapa diantarnya .Saya juga berharap seperti itu karena dengan menjadi m
anusia berkarakter kita menjadi manusia yang lebih [Link] juga kita menjadi manus
ia yang memang dicari sebagai sumber daya manusia yang siap dikembangkan
C. Tujuan Mendidik Karakter Religius
Tujuan pendidikan karakter religius menurut Abdullah adalah mengembalikan fitr
ah agama pada manusia. Dicatat oleh H. M. Arifin dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pe
ndidikan Islam, bahwa : Tujuan pendidikan Islam adalah perwujudan nilai-nilai Islami ya
ng hendak diwujudkan dalam pribadi manusia didik yang diikhtiarkan oleh pendidik musl
im melalui proses yang terminal pada hasil (produk) yang berkepribadian Islam yang beri
man, bertakwa, dan berilmu pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi
hamba Allah yang taat. Pernyataan tersebut senada dengan konsep tujuan pendidikan Isla
m aspek ruhiyyaah menurut Abdullah “untuk peningkatan jiwa dari kesetiannya pada All
ah semata, dan melaksanakan moralitas Islami yang telah diteladankan oleh Nabi”.Allah
berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi:
yang artinya: Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada Rasulullah itu suri teladan yang b
aik orang yang mengharap Allah dan hari Kiamat, serta yang berdzikir kepada Allah de
ngan banyak.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa apabila kita membicarakan mengenai akhlak
manusia,maka tujuannya adalah supaya mencontoh sifat-sifat yang Nabi miliki seperti juj
ur,sabar,bijaksana,lemah lembut dan sebagainya. Apabila berperilaku supaya berkiblat pa
da Nabi,karena sudah dijamin kebenarannya dalam Al-Qur’[Link] Kemendiknas seb
agaimana dicatat oleh Endah Sulistyowati dalam bukunya yang berjudul Implementasi K
urikulum Pendidikan Karakter,beberapa tujuan pendidikan karakter diantaranya:
1. Mengembangkan potensi kalbu/ nurani/ afektif peserta didik sebagai manusia dan
warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan ni
lai-nilai universal,dan tradisi budaya bangsa yang religius.
3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab siswa sebagai generasi pen
erus bangsa.
4. Mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri kreatif, dan b
erwawasan kebangsaan.
5. Mengembangkan lingkungan kehidupan kampus sebagai lingkungan belajar yang
aman,jujur,penuh kreativitas,persahabatan,dan dengan rasa kebangsaan yang tingg
i serta penuh kekuatan.
D. Ciri-ciri Karakter Religius
Menurut Sahlan (2009), nilai-nilai religius yang nampak pada diri seseorang dapat
ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Kejujuran,Rahasia untuk meraih sukses menurut mereka adalah dengan selalu den
gan berkata jujur. Mereka menyadari, justru ketidak jujuran kepada orang lain pad
a akhirnya akan mengakibatkan diri mereka sendiri terjebak dalam kesulitan yang
berlarut-larut.
2. Keadilan,Salah satu skill seseorang yang religius adalah mampu bersikap adil kep
ada semua pihak, bahkan saat ia terdesak sekalipun.
3. Bermanfaat bagi orang lain,Hal ini merupakan salah satu bentuk sikap religius ya
ng tampak dari diri seseorang. Sebagaimana sabda Nabi SAW: Sebaik-baiknya m
anusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.
4. Rendah hati,Sikap rendah hati merupakan sikap tidak sombong mau mendengarka
n pendapat orang lain dan tidak memaksakan gagasan dan kehendaknya.
5. Bekerja efisien,Mereka mampu memusatkan semua perhatian mereka pada pekerj
aan saat itu, dan begitu juga saat mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Namun ma
mpu memusatkan perhatian mereka saat belajar dan bekerja.
6. Visi ke depan,Mereka mampu mengajak orang ke dalam angan-angannya. Kemud
ian menjabarkan begitu terinci, cara untuk menuju kesana.
7. Disiplin tinggi,Mereka sangatlah disiplin. Kedisiplinan mereka tumbuh dari sema
ngat penuh gairah dan kesadaran, bukan berangkat dari keharusan dan keterpaksa
an.
8. Keseimbangan, Seseorang yang memiliki sifat religius sangat menjaga keseimban
gan hidupnya, khususnya empat aspek inti dalam kehidupannya, yaitu keintiman,
pekerjaan, komunitas dan spiritualitas.
E. Macam-Macam Karakter Religius Karakter sama dengan nilai (value)
Menurut Zayadi sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid dan Dian Andayani dala
m bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter Perspektif Islam bahwa sumber nilai yang
berlaku dalam kehidupan manusia digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Nilai ilahiyah Nilai ilahiyah adalah nilai yang berhubungan dengan ketuhanan ata
u habul minallah, dimana inti dari ketuhanan adalah keagamaan. Kegiatan menana
mkan nilai keagamaan menjadi inti kegiatan pendidikan. Nilai-nilai yang paling m
endasar adalah:
1) Iman,yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan kepada Allah.
2) Islam,yaitu sebagai kelanjutan dari iman, maka sikap pasrah kepada-Nya d
engan menyakini bahwa apapun yang datang dari Allah mengandung hikm
ah kebaikan dan pasrah kepada Allah.
3) Ihsan,yaitu kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa had
ir atau berada bersama kita dimanapun kita berada.
4) Taqwa,yaitu sikap menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.
5) Ikhlas,yaitu sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan tanpa pamrih, s
emata-mata mengharapkan ridho dari Allah.
6) Tawakal,yaitu sikap yang senantiasa bersandar kepada Allah, dengan penu
h harapan kepada Allah.
7) Syukur,yaitu sikap dengan penuh rasa terimakasih dan penghargaan atas ni
kmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah.
8) Sabar,yaitu sikap batin yang tumbuh karena kesadaran akan asal dan tujua
n hidup yaitu Allah.
2. Nilai insaniyah Nilai insaniyah adalah nilai yang berhubungan dengan sesama ma
nusia atau habul minanas yang berisi budi pekerti. Berikut adalah nilai yang terca
ntum dalam nilai insaniyah:
1) Sillat al-rahim, yaitu petalian rasa cinta kasih antara sesama manusia.
2) Al-Ukhuwah, yaitu semangat persaudaraan.
3) Al-Musawah, yaitu pandangan bahwa harkat dan martabat semua manusia
adalah sama.
4) Al-‘Adalah, yaitu wawasan yang seimbang.
5) Husnu al-dzan, yaitu berbaik sangka kepada sesama manusia.
6) Al- Tawadlu, yaitu sikap rendah hati.
7) Al-Wafa, yaitu tepat janji
8) Insyirah, yaitu lapang dada.
9) Al- amanah, yaitu bisa dipercaya.
10) Iffah atau ta’affuf, yaitu sikap penuh harga diri, namun tidak sombong teta
p rendah hati.
11) Qawamiyah, yaitu sikap tidak boros.
12) Al-Munfiqun, yaitu sikap kaum beriman yang memiliki kesediaan yang be
sar untuk menolong sesama manusia.
Dari beberapa nilai-nilai religius di atas dapat dipahami bahwa nilai religius adala
h nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan beragama ya
ng terdiri dari tiga unsur yaitu aqidah,ibadah,dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku
manusia sesuai dengan aturan-aturan Illahi untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagia
n hidup di dunia dan [Link] nilai-nilai religius tersebut tertanam pada diri siswa dan
dipupuk dengan baik,maka dengan nilai-nilai itulah yang nantinya akan menyatu dalam d
iri siswa,menjiwai setiap perkataan,akan ada kemauan dan perasaan yang tumbuh dari sik
ap dan tingkah laku mereka dalam kehidupan [Link] adanya hal tersebut mak
a akan terbentuk karakter religius dengan sendirinya dalam diri pelajar.
F. Faktor- Faktor yang Mendukung dan Menghambat Pengembangan Karakter Religius.
Pengembangan karakter religius dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor pen
dukung dan penghambat.
1. Faktor pendukung perkembangan karakter religius:
a) Faktor yang berasal dari dalam diri (internal)
Kebutuhan manusia terhadap agama
Adanya dorongan dalam diri manusia untuk taat, patuh dan mengabdi
kepada Allah SWT.
Pembawaan. Fitrah beragama merupakan disposisi atau kemampuan
dasar yang mengandung kemungkinan atau peluang untuk berkemban
[Link], mengenai arah kualitas perkembangan agama pada anak be
rgantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Faktor ini dise
but sebagai fitrah beragama yang dimiliki oleh semua manusia yang
merupakan pemberian Tuhan untuk hambanya agar mempunyai tujua
n hidup yang jelas yaitu hidup yang sesuai dengan tujuan penciptaan
manusia itu sendiri yakni menyembah (beribadah) kepada Allah. Mel
alui fitrah dan tujuan inilah manusia menganut agama yang kemudian
diaktualisasikan dalam kehidupan dengan muncul dari karakter religi
usnya
b) Faktor Eksternal (dari luar) meliputi: a)
Lingkungan keluarga. Kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi p
ertama bagi pembentuk sikap keberagamaan seseorang karena merup
akan gambaran kehidupan sebelum mengenal kehidupan luar. Peran
orang tua sangat penting dalam mengembangkan kehidupan spiritual
pada karakter religius anak.
Lingkungan tempat belajar,menjadi lanjutan dari pendidikan dan turu
t serta memberi pengaruh dalam perkembangan dan pembentukan sik
ap keberagamaan seseorang.
Sarana dan Prasarana, sarana dan prasana adalah fasilitas yang ada p
ada suatu lembaga pembelajar guna menunjang keberhasilan Pendidi
kan
2. Faktor penghambat perkembangan karakter religius:
1) Tempramen adalah salah satu unsur yang membentuk kepribadian manusia dan
dapat tercermin dari kehidupan kejiwaannya.
2) Konflik dan keraguan. Konflik kejiwaan terjadi pada diri seseorang mengenai k
eagamaan mempengaruhi sikap keagamaannya, dapat mempengaruhi sikap ses
eorang terhadap agama seperti taat, fanatik atau anostik sampai pada ateis.
3) Jauh dari Tuhan. Orang yang hidupnya jauh dari agama, dirinya akan merasa le
mah dan kehilangan pegangan ketika mendapatkan cobaan dan hal ini dapat ber
pengaruh terhadap perubahan sikap keagamaan pada dirinya.
4) Kurangnya kesadaran pelajar. Kurangnya kesadaran akan mempengaruhi sikap
mereka terhadap agama. Pendidikan agama yang diterima pelajar dapat mempe
ngaruhi karakternya
5) Kurangnya perhatian dari keluarga [Link] Keluarga merupakan lingku
ngan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga (orang tu
a) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan
6) kondisi interaksi sosial yang secara potensional berpengaruh terhadap perkemb
angan fitrah beragama atau kesadaran beragama individu. Apabila teman seper
gaulan itu menampilkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama (berakhl
ak mulia), maka anak cenderung berakhlak mulia. Namun apabila sebaliknya y
aitu perilaku teman sepergaulannya itu menunjukkan kebrobokan moral, maka
anak cenderung akan terpengaruh untuk berperilaku seperti temannya tersebut.
G. Pengertian Adab Menurut Para Ahli
Ada beberapa pengertian adab menurut para ahli, diaantaranya yaitu :
1. Al-Jurjani
Definisi adab menurut Al-Jurjani, yaitu adab merupakan sebuah proses un
tuk mendapatkan ilmu pengetahuan (ma’rifah) yang dipelajari untuk mencegah da
ri suatu kesalahan.
2. Ibrahim Anis
Ibrahim Anis mengemukakan pendapat bahwa adab ialah suatu ilmu yang
mana objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia.
3. Soegarda Poerbakawatja
Soegarda Poerbawatja menemukan definisi adab ialah budi pekerti, kesusil
aan, watak, yaitu tingkah laku baik yang merupakan akibat dari sebuah sikap jiwa
yang benar terhadap pencipta dan sesama manusia.
4. Hamzah Ya’qub
Menurut hamzah Ya’qub adab merupakan sebuah ilmu yang menentukan
batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan maupun
perbuatan manusia lahir dan batin.
5. Ibn Miskawaih
Definisi adab menurut Ibn Miskawaih yaitu sebagai sutau keadaan yang m
elekat pada jiwa manusia, yang berbuat dengan mudah, tanpa melalui proses tanp
a pemikiran ataupun pertimbangan (kebiasaaan sehari-hari).
H. Pentingnya Adab Dalam Kehidupan Sehari-hari
Adab tentu saja penting bagi manusia, karena adab merupakan salah satu bagian
dari akhlak mulia yang kelak akan menuntut manusia untuk bisa menjadi insan yang lebi
h mulia serta mampu menempatkan diri pada tempat maupun waktu tertentu. Adab sendir
i merupakan salah satu hal yang mampu menumbuhkan rasa kecintaan seseorang terhada
p sang Pencipta maupun kepada sesama umat manusia. Selain itu, dengan adanya adab m
ampu mencegah manusia dalam melakukan perbuatan yang tercela atau keji.
Berikut adalah Dalil Hadist mengenai urgensi/pentingnya adab dalam segala aspe
k kehidupan.
Artinya: “Rasulullah saw bersada: sesungguhnya hamba yang paling dicintai All
ah adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. Bukhari)
Hadist diatas memberi penjelasan bahwa Allah sangat mencintai hamba yang sena
ntiasa menyertakan adab dalam implementasi kehidupan sehari-harinya. Adab merupakan
hal terpenting dalam kehidupan manusia karena adab mencakup segala hal yang berhubu
ngan dengan manusia maupun Tuhannya mengenai perangai, tingkah laku dan tabiat.
I. Macam-Macam Adab Islam
Didalam islam, tentu saja terdapat macam-macam adab yang wajib kita patuhi sup
aya kehidupan kita jauh lebih tenang dan damai. Berikut merupakan beberapa adab yang
harus kita patuhi :
1. Adab makan dan minum
a) Yang pertama, kita tidak boleh mencela makanan. Jika kita memang tidak m
enyukai makanan tersebut, maka lebih baik meninggalkannya daripada mem
akan tetapi mencelanya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu :
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan, a
pabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berselera, (menyukai makanan y
ang telah dihidangkan) beliau memakannya, sedangkan kalau tidak suka (tid
ak berselera), maka beliau meninggalkannya.”
b) Kedua, selalu membaca bismillah sebelum makan sebagaimana yang telah di
ajarkan oleh Rasul,
ُ بِس ِْم هللاِ َأ َّولَهُ َوآ ِخ َره: ْ فَِإ َذا ن َِس َي َأ ْن يَ ْذ ُك َر ا ْس َم هللاِ فِ ْي َأ َّولِ ِه فَ ْليَقُل،ِإ َذا َأ َك َل َأ َح ُد ُك ْم فَ ْليَ ْذ ُك ِر ا ْس َم هللاِ تَ َعالَى.
“Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah:
‘Bismillaah’, dan jika ia lupa untuk mengucapkan bismillaah di awal makan,
maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillaah awwaalahu wa aakhirahu’ (den
gan menyebut Nama Allah di awal dan akhirnya).” ( Shahih: Diriwayatkan ol
eh Abu Dawud (no. 3767), at-Tirmidzi (no. 1858), Ahmad (VI/143), ad-Dari
mi (no. 2026) dan an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 281). Dish
ahihkan oleh Syaik al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 1965))
c) Ketiga, makan dari pinggir piring. Sebaiknya kita tidak makan langsung dari
tengah, melainkan makanlah makanan yang ada di pinggiran piring terlebih d
ahulu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
البَ َر َكةُ تَ ْن ِز ُل َو َسطَ الطَّ َع ِام فَ ُكلُوْ ا ِم ْن َحافَتَ ْي ِه َوالَ تَْأ ُكلُوْ ا ِم ْن َو َس ِط ِه.
ْ
“Keberkahan itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pingg
ir-piring dan janganlah memulai dari bagian tengahnya.” ( Shahih: Diriwayat
kan oleh Muslim (no. 2031 (129)), Abu Dawud (no. 3772) dan Ibnu Majah (n
o. 3269). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiihul Ja
ami’ (no. 379))
2. Adab bertamu
a) Pertama, memenuhi undangan jika diundang. Hal ini sesuai dengan sabda Ra
sul,
َْم ْن د ُِع َى فَ ْلي ُِجب
“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan
Ahmad)
ُصى هللاَ َو َرسُوْ لَه
َ ك ال َّد ْعـ َوةَ فَقَ ْد َع
َ َو َم ْن ت ََر
“Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kep
ada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
b) Kedua, tidak masuk sebelum diizinkan. Bahkan meskipun rumah itu adalah k
erabat terdekat kita sekali pun. Hendaknya kita selalu meminta izin dulu sebe
lum masuk ke rumah seseorang.
كن ِإ َذا ُد ِع ْيتُ ْم
ْ ِـر ْينَ ِإنــهُ َولِ َاظ َ يَاََأيُّهَا الَّ ِذ ْينَ آ َمنُوْ ا الَ تَ ْد ُخـلُوْ ا بُيُـوْ تَ النَّبِي ِِّإالَّ َأ ْن يُْؤ َذنَ لَ ُك ْم ِإلَى
ِ طـ َع ٍام َغ ْي َر ن
َي فَيَ ْسـتَ ِحي ِم ْن ُك ْم َوهللاُ ال ٍ فَا ْد ُخلُوْ ا فَِإ َذا طَ ِع ْمتُ ْم فَا ْنتَ ِشـرُوْ ا َوالَ ُم ْستَْئنِ ِسـ ْينَ لِ َحـ ِد ْي
َّ ِث َإ َّن ذلِ ُك ْم َكــانَ يُـْؤ ِذى النَّب
ِّ يَ ْستَ ِحي ِمنَ ْال َح
ق
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rum
ah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-n
unggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah!
Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang perca
kapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nab
i malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu mene
rangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)
3. Adab buang hajat
a) Pertama, buang hajat di tempat yang tertutup. Sebagai seorang muslim yang
memiliki rasa malu, maka hendaklah kita buang hajat di tempat tertutup.
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
صلى هللا عليه وسلم- ِ فِى َسفَ ٍر َو َكانَ َرسُو ُل هَّللا-صلى هللا عليه وسلم- ِ خَ َرجْ نَا َم َع َرسُو ِل هَّللا-
َ الَ يَْأتِى ْالبَ َرازَ َحتَّى يَتَ َغي.
َّب فَالَ يُ َرى
“Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi
ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.”
b) Kedua, membaca doa sebelum masuk ke dalam tempat buang hajat untuk me
ndapatkan perlindungan dari gangguan jin yang tidak terlihat. Dari Anas bin
Malik, beliau mengatakan,
ِ ث َو ْال َخبَاِئ
ث ِ ُك ِمنَ ْال ُخب
َ َِكانَ النَّبِ ُّى – صلى هللا عليه وسلم – ِإ َذا َد َخ َل ْال َخالَ َء قَا َل « اللَّهُ َّم ِإنِّى َأعُو ُذ ب
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau uca
pkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, ak
u berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan).
4. Adab tidur
a) Pertama, tidak tidur sebelum melakukan sholat Isya. Hendaknya kita melaku
kan sholat Isya terlebih dahulu sebelum tidur dan tidak mengobrol setelah Isy
a.
Dari Abu Barzah Radhiyallahu anhu:
َ صالَ ِة) ْال ِع َشا ِء َو ْال َح ِدي
ْث بَ ْع َدهَا َ ( صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم يَ ْك َرهُ النَّوْ َم قَب َْل َّ َِأ َّن النَّب.
َ ي
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur
malam
sebelum (shalat Isya’) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setel
ahnya.” ( HR. Al-Bukhari no. 568 dan Muslim no. 647 (235). Lafazh ini mil
ik al-Bukhari dan kata صالَة
َ tidak terdapat dalam lafazh al-Bukhari di no. 56
8.-penj).
b) Kedua, mengambil wudhu sebelum tidur. Orang yang berwudhu sebelum tid
ur akan mendapatkan perlindungan dari malaikat dalam tidurnya.
َّ ضْأ ُوضُوْ َءكَ لِل
صالَ ِة َ ِإ َذا َأتَيْتَ َمضْ َج َع.
َّ ك فَتَ َو
“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah
berwudhu’ terlebih dahulu sebagaimana wudhu’mu untuk melakukan shala
t.” [HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710]
c) Ketiga, membaca doa sebelum tidur. Adapun beberapa doa yang dilantunkan
adalah ayat-ayat Al Quran sebagaimana diajarkan Rasul.
Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
ث فِي ِه َما فَقَ َرَأ فِي ِه َما ( قُـلْ هُـ َو هَّللا ُ َأ َحـ ٌد ) َو ( قُـلْ َأعُـو ُذ َ ََكانَ ِإ َذا َأ َوى ِإلَى فِ َرا ِش ِه ُك َّل لَ ْيلَ ٍة َج َم َع َكفَّ ْي ِه ثُ َّم نَف
اسـتَطَا َع ِم ْن َج َسـ ِد ِه يَ ْبـ َدُأ بِ ِه َمـا َعلَى َرْأ ِسـ ِه ْ اس ) ثُ َّم يَ ْم َسـ ُح بِ ِه َمـا َمـا ِ َّق ) َو ( قُلْ َأعُو ُذ بِ َربِّ الن ِ َبِ َربِّ ْالفَل
تٍ ث َمرَّا َ َك ثَالَ َِو َوجْ ِه ِه َو َما َأ ْقبَ َل ِم ْن َج َس ِد ِه يَ ْف َع ُل َذل
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap
malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak t
angan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlas
h), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin n
aas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan
tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah
dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga k
ali.” (HR. Bukhari no. 5017).
6. Adab umum dalam berpakaian
1) Menggunakan pakaian yang halal
Adab berpakaian muslim yang pertama, hendaknya pakaian yang digu
nakan halal bahannya, juga halal cara mendapatkannya serta halal harta yang
digunakan untuk mendapatkan pakaian tersebut. Dari Abu Hurairah radhialla
hu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
{يَــا َأيُّهَــا:ـال
َ َ فَق، َ وَِإ َّن هللاَ َأ َم َر ْال ُمْؤ ِمنِينَ بِ َما َأ َمـ َر بِـ ِه ْال ُمرْ َسـلِين،طيِّبًا َ َ ِإ َّن هللا، َُأيُّهَا النَّاس
َ طيِّبٌ اَل يَ ْقبَ ُل ِإاَّل
{يَـا َأيُّهَــا الَّ ِذينَ آ َمنُــوا ُكلُـوا ِم ْن: ِإنِّي بِ َما تَ ْع َملُـونَ َعلِي ٌم} َوقَـا َل،صالِحًا َ ت َوا ْع َملُوا ِ الرُّ ُس ُل ُكلُوا ِمنَ الطَّيِّبَا
َّ يَ ُمـ ُّد يَ َديْـ ِه ِإلَى،ث َأ ْغبَـ َر
، ِّ يَـا َرب، ِّ يَـا َرب،السـ َما ِء َ ت َما َر َز ْقنَا ُك ْم} ثُ َّم َذ َك َر ال َّر ُج َل يُ ِطي ُل ال َّسفَ َر َأ ْشـ َع
ِ طَيِّبَا
َ ِ فََأنَّى يُ ْست ََجابُ ِل َذل،ي بِ ْال َح َر ِام
ك؟ ْ َو َم
َ َو ُغ ِذ، َو َم ْلبَ ُسهُ َح َرا ٌم، َو َم ْش َربُهُ َح َرا ٌم،ط َع ُمهُ َح َرا ٌم
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali y
ang baik. Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin it
u sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala be
rfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah a
malan shalih’ (QS. Al Mu’min: 51). Alla Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-ora
ng yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kep
adamu’ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki
yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut
dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai R
abb-ku.. Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungk
in doanya dikabulkan?” (HR. Muslim no 1015).
2) Tidak menyerupai lawan jenis
Adab berpakaian muslim yang kedua, tidak diperbolehkan menyerup
ai lawan jenis dalam bertingkah-laku, berkata-kata, dan dalam semua perkara
demikian juga dalam hal berpakaian. Laki-laki tidak boleh menyerupai wanita,
demikian juga sebaliknya. Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, beliau
berkata:
ِ َو ْال ُمتَ َشبِّهَا، صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ْال ُمتَ َشبِّ ِهينَ ِم ْن الرِّ َجا ِل بِالنِّ َسا ِء
ت ِم ْن النِّ َسا ِء بِال ِّر َجا ِل َ ِ لَ َعنَ َرسُو ُل هَّللا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai
wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885)
Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, ia berkata:
ـال َأ ْخ ِر ُجــوهُ ْم ِم ْن ِ ص ـلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ـ ِه َو َس ـلَّ َم ْال ُم َخنَّثِينَ ِم ْن الرِّ َجـ ا ِل َو ْال ُمتَ ـ َر ِّجاَل
َ ت ِم ْن النِّ َس ـا ِء َوقَـ َ لَ َعنَ النَّبِ ُّي
\بُيُوتِ ُك ْم
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang kebanci-ban
cian dan para wanita yang kelaki-lakian”. Dan Nabi juga bersabda: “keluarka
nlah mereka dari rumah-rumah kalian!” (HR. Bukhari no. 5886).
3) Memulai dari sebelah kanan
Adab berpakaian muslim yang ketiga, hendaknya memulai memakai p
akaian dari sebelah kanan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata:
ُور ِه فِي َشْأنِ ِه ُكلِّ ِه
ِ صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َكانَ يُ ْع ِجبُهُ التَّيَ ُّمنُ فِي تَنَ ُّعلِ ِه َوتَ َرجُّ لِ ِه َوطُه َّ َِأ َّن النَّب
َ ي
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kana
n dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya” (HR.
Bukhari no. 168).
4) Tidak menyerupai pakaian orang kafir
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasal
lam bersabda:
من تشبه بقوم فهو منهم
“Orang yang menyerupai suatu kaum, seolah ia bagian dari kaum tersebut” (H
R. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di sha
hihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).
Disebut menyerupai orang kafir jika suatu pakaian menjadi ciri khas orang
kafir. Adapun pakaian yang sudah menjadi budaya keumuman orang, tidak me
njadi ciri khas orang kafir, maka tidak disebut menyerupai orang kafir walaupu
n berasal dari orang kafir. Inilah adab berpakaian muslim yang keempat.
5) Bukan pakaian ketenaran
Adab berpakaian muslim yang kelima, hendaknya pakaian yang digunakan buk
an pakaian yang termasuk libas syuhrah. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’a
nhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ب َم َذلَّ ٍة يَوْ َم ْالقِيَا َم ِة
َ ْب ُشه َْر ٍة فِي ال ُّد ْنيَا َأ ْلبَ َسهُ هَّللا ُ ثَو
َ ْس ثَو
َ َِم ْن لَب
“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memberinya
pakaian hina pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no.4029, An An Nasai dalam
Sunan Al-Kubra no,9560, dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.
2089).
J. Contoh Penerapan Adab Dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Melandasi semua perbuatan pada Al-Qur’an dan Hadist
Sebagai seorang muslim tentulah semua perbuatan kita harus berdasarkan pada A
l-Qur’an dan hadist. Karena Islam telah menjadikan keduanya sebagai sumber dari seg
ala sumber hukum dalam Islam. Oleh karena itu, dalam beradab tentu saja harus berlan
daskan Al-Qur’an dan hadist.
َ ِ… فَا ِ ْن تَنَا َز ْعتُ ْم فِ ْي َش ْي ٍء فَ ُر ُّدوْ هُ اِلَى هّٰللا ِ َوال َّرسُوْ ِل اِ ْن ُك ْنتُ ْم تُْؤ ِمنُوْ نَ بِاهّٰلل ِ َو ْاليَوْ ِم ااْل ٰ ِخ ۗ ِر ٰذل
ك خَ ْي ٌر َّواَحْ َسنُ تَْأ ِو ْياًل
Artinya: “…dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia
kepada Allah (kitab) dan rasul”. (An-nisa’: 59).
2. Mengokohkan keimanan, ketakwaan dan kualitas ibadah kepada Allah SWT
Kokohnya iman, takwa dan meningkatnya kualitas ibadah kepada Allah dapat
membuat hati tenang, tentram dan aman. Rasa tenang, tentram dan aman tersebut dapa
t menumbuhkan adab yang baik dalam diri seseorang. Jika iman seseorang rendah, ma
ka hatinya akan kacau serta justru memicu munculnya perbuatan maksiat dalam diri se
seorang. Banyak terjadi kriminalitas karena iman seseorang kurang kokoh karena serin
g terlena dengan godaan setan. Ada salah satu cara guna mengokohkan iman, takwa da
n meningkatkan kualitas ibadah yaitu dengan mengokohkan dan meluruskan niat dala
m hati bahwa seluruh perbuatan kita hanya ditujukan kepada Allah swt.
َاي َو َم َماتِ ْي هّٰلِل ِ َربِّ ْال ٰعلَ ِم ْين َ قُلْ اِ َّن
َ َصاَل تِ ْي َونُ ُس ِك ْي َو َمحْ ي
Artinya: “katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku h
anyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam.” (Al-An’am: 162)
3. Menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan
َص ۡينَ لَهُ الد ِّۡينَ َولَ ۡو َك ِرهَ ۡال ٰـكفِر ُۡون هّٰللا
ِ ِفَ ۡادعُوا َ ُم ۡخل
Artinya: “Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya, meskipu
n orang-orag kafir tidak menyukainya” (Ghafir: 14)
Inti dari hidup kita di dunia ini adalah beribadah kepada Allah. Segala tingkah la
ku kita diniatkan untuk beribadah kepada Allah swt. Hendaknya segala perbuatan terseb
ut dilakukan dengan hati yang ikhlas. Hati yang ikhlas akan menjadikan kita senantiasa
bersyukur dengan apapun hasil yang akan kita dapat nantinya.
4. Senantiasa mencintai ilmu dan mempelajarinya
Segala sesuatu yang diperintahkan Allah SWT memiliki tata cara atau peraturan d
alam [Link] dari itu,hal tersebut harus dipelajari oleh seluruh umat musli
m, sehingga perintah Allah SWT dapat dilaksanakan dengan baik dan benar serta dapat
memberi manfaat bagi pelaksananya.
Sama halnya dalam shalat fardu dengan shalat jenazah, keduanya memiliki waktu,
syarat dan tata cara pelaksanaanya yg berbeda. Begitu pula dalam beradab, ia memiliki l
angkah-langkah tersendiri dalam pelaksanaanya.
َ ُ َسهَّ َل هللاُ لَه,ك طَ ِر ْيقًايَ ْلتَ ِمسُ فِ ْي ِه ِع ْل ًما
َر َواهُ ُم ْسلِم. ط ِر ْيقًا ِإلَى ال َجنَّ ِة َ ََم ْن َسل
Artinya: “Barang siapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu,
maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim)
Balasan bagi mereka yang senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menu
ntut ilmu ialah surga. Surga merupakan tempat dimana segala kenikmatan berada. Dan su
rga ialah tempat yang diinginkan seluruh umat manusia.
5. Mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang
tertentu
Salah satu cara penerapan adab yaitu dapat dilakukan dengan mengikutsertakan or
ang lain dalam perbuatan tertentu. Hal ini bisa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya.
Salah satu metodenya ialah dengan suri tauladan. Orang tua mengajarkan mengenai tata c
ara berbicara yang sopan kepada sesama dengan cara orang tua tersebut berbicara yang so
pan pula kepada orang lain
6. Bercerita, berdiskusi dan saling bertukar pendapat
َ َّك بِ ْال ِح ْك َم ِة َو ْال َموْ ِعظَ ِة ْال َح َسنَ ِة َو َجا ِد ْلهُ ْم بِـالَّتِ ْي ِه َي اَحْ َسـ ۗنُ اِ َّن َرب
َ ك هُـ َو اَ ْعلَ ُم بِ َم ْن
َ ضـ َّل ع َْن َسـبِ ْيلِ ٖه َوه
ُـو َ ِّع اِ ٰلى َسبِ ْي ِل َرب
ُ اُ ْد
اَ ْعلَ ُم
بِ ْال ُم ْهتَ ِدي َـْن
Artiya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang
baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu,
Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih me
ngetahui siapa yang mendapat petunjuk” (An-Nahl: 125).
Cara penanaman adab tentunya juga dapat dilakukan dengan bercerita, berdiskus
i maupun saling bertukar pendapat dengan sesama. Penanaman adab dapat melalui cara
menyampaikan informasi (informan) dan sikap kita sebagai pendengar yang baik.
Dalam menyampaikan pendapat hendaknya disampaikan dengan baik, sesuai fak
ta, dengan bahasa yang runtut dan jelas pula sehingga pendengar dapat menerima infor
masi dengan baik. Begitu pula sebagai pendengar yang baik, alangkah baiknya mendeng
arkan pembicaraan lawan dengan seksama, tidak menyela pembicaraannya, memberikan
saran jika dibutuhkan serta tidak meremehkan pembicaraan lawan.
K. Ciri dan Keistimewaan Adab Islami
Adab-adab islami memiliki keistimewaan yang besar, yaitu diantaranya :
1. Bersifat menyeluruh
Syariat Islam telah mengatur segala sisi kehidupan kaum muslimin, dari yan
g terkecil hingga yang terbesar; baik sebagai pribadi, di dalam keluarga, ataupun d
i tengah masyarakat. Selain itu, kewajiban untuk berhias diri dengan adab Islam ju
ga meliputi seluruh muslimin, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempua
n.
2. Kokoh bersamaan dengan kokohnya nilai-nilai islam
Misalnya, mengucapkan salam, berjabat tangan, jujur, dan yang lainnya, ter
masuk adab-adab Islam yang tidak berubah dengan pergeseran waktu dan tempat.
3. Peduli terhadap orang lain
Adab-adab Islam mendidik seorang muslim untuk memiliki kepekaan dan p
erhatian terhadap masyarakat sekitarnya dan manusia secara umum. Di dalam per
gaulan seseorang dilarang untuk bersikap egois dan tak acuh.
4. Adab-adab islam dijalankan dengan penuh ketaatan
Seorang muslim konsisten dan memegang teguh adab-adab tersebut semata-
mata ingin mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam rangka menyambu
t perintah-Nya.
Dia tidaklah menunaikan adab-adab itu karena peraturan manusia atau unda
ng-undang yang dibuat oleh mereka yang menyelisihi Al-Qur’an dan hadits.
DAFTAR PUSTAKA
Deni Damayanti, Panduan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Yogyakarta:
Araska, 2014), hal. 11.
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: PT. R
emaja
Rosdakarya, 2011), hal 11.
Tuhana Taufiq Andrianto, Mengembangkan Karakter Sukses Anak di Era Cyber, (Jogjak
arta:
Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 17.
[Link].(2017,6 mei). Karakter riligius sebagai pondasi karakter bangsa. Diakse
s
pada 20 september 2020,
[Link]
sebagai-pondasi-bangsa
[Link].(2012,25 November). Menjadi insan yang
berkarakter. Diakses pada 20 september 2020,
[Link]
tml
Kemendiknas, Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa ,(Jakarta : Balitbang, 2010),
hlm.3 – 4
Departemen Pendidikan Nasional,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. IV , (Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 135
Kemendiknas,Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Jakarta: Badan Penelit
ian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, 2010), hlm. [Link]
[Link]/orasi/article/download/2022/1289
"Pentingnya Adab dan Penerapannya Dalam Kehidupan - Forum Baca" [Link]
com/pentingnya-adab-dan-penerapannya-dalam-kehidupan
"Macam-Macam Adab dalam Islam dan Dalilnya" [Link]
75212