TUGAS KELOMPOK 9
MAKALAH
DINAMIKA ISLAM KONTENPORER
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : METODOLOGI STUDI ISLAM
Dosen Pengampu: [Link] Khoer Ependi,[Link].
Disusun oleh :
Silfi syarifah
Sophan jamil
Ilal nuzulal firdaus
Kurnia abdillah
Jurusan Hukum Keluarga Islam-A
Fakultas syari`ah
Institut Agama Islam Cipasung
TAHUN 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmatNya sehingga
makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami
mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.
Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar
makalah ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman
Kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Tasikmalaya, September 2022
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
.................................................................................................
i
DAFTAR ISI
.................................................................................................
ii
BAB 1 PENDAHULUAN
[Link] belakang
......................................................................................................
I
[Link] masalah
......................................................................................................
I
BAB 2 PEMBAHASAN
[Link] dan Post Moderenisme
......................................................................................................
II
[Link] Liberal
......................................................................................................
III
[Link] Kultural dan Islam Struktural ….
......................................................................................................
IV
[Link] Islam
......................................................................................................
V
BAB 3 PENUTUP
2
[Link]
......................................................................................................
VII
[Link]
......................................................................................................
VII
DAFTAR PUSTAKA
.................................................................................................
VIII
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Akhir-akhir ini sering muncul kritik bahwa kajian islam di indonesia tidak
mempunyai proyek yang jelas,sehingga arah dari pemikiran yang berkembang juga
menjadi tidak [Link] secara sinis intelektualisme indonesia sering disebut
“intelektualisme musiman” ketika sedang musim Postmodernisme,disana disini digelar
berbagai diskusi tentang [Link] tiba-tiba muncul tokoh Mohammad
[Link] yang sama juga terjadi pada Hasan Hanafi dan Abed Al-Jabari dan lain-
[Link],tidak suatu yang menjadi proyek pemikiran bersama,karena pemikiran
islam di indonesia belum mampu memberi kontribusi orisinal bagi kepentingan dunia
islam secara keseluruhan.
Krisis pemikiran keislaman yang orisinal demikian bukan khas indonesia,tapi
problem dunia islam secara [Link] tersebut antara lain sebabkan karena
3
dominasi pandangan “tradisional-konservatif” Islam yang hampir dalam semua segi-
segi pemikiran islam.
Munculnya gerakan-gerakan seperti Post Modernisme dan Neo Modernisme
Islam,Islam Liberal,Islam Kultural,Post Tradionalisme Islam,menunjukan adanya
keberagaman dalam pemikiran para cendikiawan muslim baik yang dinamika islam
yang harus disikapi dengan inklusif dan bijaksana.
[Link] MASALAH
A. Post Modernisme dan Modernisme
B. Islam Liberal
C. Islam Kultural dan Islam Struktural
D. Postradionalisme Islam
I
BAB II
PEMBAHASAN
A. Modernisme dan Post Moderenisme
[Link]
Setelah modernism tampil dalam sejarah sebgai kekuatan progresif yang
menjanjikan pembebasan manusia dari belenggu keterbelakangan dan
[Link] tetapi dalam beberapa decade terakhir ini,“proyek”modernism
yang demikian hebat itu diggugat oleh sebuah gerakan yang kemudian diikenal
dengan“postmodernisme”dan dinilai gagal mencapai [Link] gerakan
cultural-intelektual, postmodernisme sendiri sudah muncul pada tahun 1960 an,yang
bermula dari bidang seni arsitektur dan kemudian merambah ke dalam bidangbidang
lain,baik itu sastra,ilmu social,gaya hidup,filsafat,bahkan juga agama. Gerakam
Postmodernisme ini lahir di Eropa dan menjalar ke Amerika,serta keseluruh dunia bagai
luapan air yang tak terbendung.
Post modernism demikian cepat merambah pada semua bidang kehidupan,
termasuk bidang keagamaan. Sesuai watak epistemologis postmodernisme yang ingin
merangkul berbagai macam narasi yang ada, maka agama dalam perspektik
4
postmodernisme dicoba diangkat, baik sebagai bagian dari kecenderungan sejarah
kontemporer, maupun sebagai bagian dari legitimasi epistemologis dalam mencari
kebenaran setelah sekian lama menjadi kebenaran yang terlupakan dalam paradigm
pemikiran modern sebagai kecenderungan sejarah, postmodernisme telah melupakan
dimensi yang teramat penting dalam kehidupan manusia, yakni dimensi spiritual. Oleh
karena itu untuk keluar dari lingkaran krisis tersebut, manusia mencoba kembali
kepada hikmah spiritual yang terdapat dalam semua agama yang otentik
[Link]
Istilah “modern” berasal dari bahasa latin “modo”, yang berarti yang kini “just now”.
Meskipun istilah ini sudah muncul pada akhir abad ke-5, yang digunakan untuk
membedakan keadaan orang Kristen dan orang Romawi dari masa pagan yang telah
lewat. Namun istilah ini kemudian lebih digunakan untuk menunjuk periode sejarah
setelah abad pertengahan, yakni dari tahun 1450 sampai sekarang ini.
Dari istilah – istilah “modern”, sebagaimana yang telah disebutkan diatas itulah, lahir
istilah-istilah lain, seperti : “modernisme”, modernitas dan modernisasi. Meskipun
istilah itu mempunyai arti yang berbeda-beda , karena berasal dari akar kata yang sama,
maka pengertian yang dikandungnya tidak bisa lepas dari kakar kata yang dimaksud
yaitu “modern”.Istilah “modernism” misalnya, oleh Ahmed, dengan merujuk pada
Oxford English Dictionary, didefinisikan sebagai “pandangan atau metode modern,
khususnya kecenderungan untuk menyesuaikan tradisi, dalam masalah agama,agar
harmonis dengan pemikiran modern. Modernism diartikan sebagai fase terkini sejarah
dunia yang ditandai dengan percaya pada sains, perencanaan, sekularisme, dan
kemajuan. Keinginan untuk simetri dan tertib, keinginan akan keseimbangan dan
otoritas, juga menjadi karakternya. Periode ini ditandai oleh keyakinannya terhadap
masa depan, sebuah keyakinan bahwa utopia
II
bisa dicapai, bahwa ada sebuah tata dunia yang mungkin. Mesin, proyek industry
besar, besi, baja dan listrik, semuanya dianggap dapat digunakan manusia untuk
mencapai tujuan ini. Gerakan menuju industrialisasi, dan kepercayaan pada yang fisik,
membentuk ideology yang menekankan materialism sebagai pola hidup. Sementara
modernitas dipahami sebagai efek dari modernisasi.
Di Indonesia, modernisasi direspon positif oleh Norcholis Majid, menurut dia
modernisasi indetik atau hampir identik dengan rasionalisasi. Modernisasi melibatkan
proses pemeriksaan secara seksama pemikiran serta pola aksi lama yang tidak rasional,
dan menggantikannya dengann pemikiran dan pola aksi baru yang rasional.
[Link] Liberal
Islam secara lughawi bermakna pasrah, tunduk, kepada Tuhan (Allah) dan terikat
dengan hukum-hukum yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini Islam tidak
bebas. Tetapi disamping Islam tunduk kepada Allah AWT, Islam sebenarnya
membebaskan manusia atau makhluk lainnya. Bisa disimpulkan Islam itu “bebas” dan
“tidak bebas”.
Kemunculan istilah Islam liberal ini, menurut Luthfi, mulai dipopulerkan tahun
1950 an. Tapi mulai berkembang pesat terutama di Indonesia tahun 1980 an yaitu oleh
tokoh utama dan sumber rujukan “utama” komunitas atau jaringan Islam liberal, Nur
5
Cholis Majid. Meski Nur Cholis sendiri menyatakan tidak pernah menggunakan istilah
Islam liberal untuk menegmbangkan gagasan pemikiran Islamnya.
Karena itu Islam liberal sebenarnya tidak beda dengan gagasan-gagasan Islam
yang dikembangkan oleh Nur Cholis Majid an kelompoknya yaitu kelompok islam yang
tidak setuju dengan pemberlakuan syariat Islam (secara formal oleh negara). Kelompok
yang getol perjuangan sekularisasi, emansipasi wanita, menyamarkan agama Islam
dengan agama lain (pluralism theologis), memperjuangkan demokrasi Barat dan
sejenisnya.
Selanjuttnya Luthfi menjelaskan tentang agenda-agenda Islam liberal “ saya
melihat paling tidak ada empat agenda utama yang menjadi paying bagi persoalan-
persoalan yang dibahas oleh para pembaharu dan intelektual islam selama ini. Yakni
agenda politik, agenda toleransi agama, agenda emansipasi wanita dan agenda
kebebasan berekspresi. Kaum muslimin dituntut melihat keemat agenda ini dari
perspektif mereka sendiri, dan bukan dari perspektif masa silam yang lebih banyak
memunculkan kontradiksi ketimbang penyelesaian yang lebih baik.
Islam liberal juga “mendewakan modernitas” jika terjadi konflik antara ajaran
Islam dan pencapaian modernitas, maka yang harus dilakukan menurut mereka
bukanlah menolak modernitas, tetapi menafsirkan kembali ajaran tersebut. Disinilah
inti dari sikap dan doktrin “ Islam Liberal” kata Luthfi.
III
[Link] Kultural dan Islam Struktural
[Link] Kultural
Kata cultural yang berada di belakang kata Islam berasal dari bahasa Inggris, culture
yang berarti kessopanan, kebudayaan dan pemeliharaan. Teori lain mengatakan bahwa
kata culture ini berasal dari bahasa Yunani cultura yang artinya memelihara atau
mengerjakan, mengolah. Berarti Islam cultural adalah Islam yang dipengaruhi oleh
paham atau konsep kebudayaan.
Munculnya Islam cultural agak mudah dimengerti apabila kita memperhatikan
ruang lingkup ajaran Islam yang tidak hanya mencakup masalah keagamaan seperti
teologi, ibadah dan akhlak, melainkan jugga mencakup masalah keduniaan seperti
masalah perekonomian, pertahanan keamanan dan lain-lain. Jika pada aspek
keagamaan peran Allah dan Rasul lah yang dominan. Pada aspek keduniaan peran
manusialah yang paling dominan.
Dalam pengalamannya di lapangan, Islam cultural mengalami pengembangan
pengertian dari apa yang dikemukakan di atas. Islam cultural selanjutnya muncul dalam
bentuk sikap yang lebih menunjukkan inklusissivitas. Yaitu sikap yang tidak
mempermasalahkan bentuk atau symbol dari suatu pengamalan agama, tetapi yang
lebih penting tujuan dan missi dari pengamalan teersebut. Dalam hubungannya ini kita
menjumpai ajaran tentang dzikir ini terkadang mewujud dalam menyebut nama Allah
6
sekian ratus kali dengan menggunakan alat semacam tasbih, ada yang menggunakan
batu, ada yang dengan memasang tulisan kaligarafi pada dinding rumah dan
sebagainya.
Selanjutnya Islam cultural juga tampil sebagai Islam yang lebih bisa beradaptasi
dengan lingkungan sosialnya, dimana Islam tersebut dipraktekkan. Dalam hubungan ini,
Islam cultural menghargai adanya keanekaragaman perilaku keagamaan. Hal ini
didasarkan pada pandangan bahwa sumber ajaran Islam yang dianut oleh setiap orang
Islam adalah sama, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Ssedangkan bentuk pemahaman,
penghayatan dan pengamalannya berbeda-beda. Hal yang demikian mudah
dimengerti , karena pada saat ajaran Islam tersebut di pahami, dihayati dan diamalkan
oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, kecenderungan,
bakat, lingkungan keluarga, kebudayaan, pengalaman dan lain-lain.
Islam cultural tetap menjujung tinggi nilai-nilai universal yang terdapat dalam Al-qur’an
dan hadits. Namun nilai-nilai universal tersebut ketika dihayati, dipahami dan
diamalkan tidak universal lagi, Karena sudah dipengaruhi oleh pemikiran manusia.
Paham yang demikian membantu kita untuk membedakan mana yang universal dan
mana yang tidak universal. Yang universal ada dalam Al-qur’an dan sunnah yang
mutawatir, sedangkan yang tidak universal ada dalam pemahaman ummatnya. Oleh
sebab ituu jika yang universal berlaku sepanjang zaman, mutlak benar dan tidak dapat
diubah, maka yang tidak universal tidak dapat berlaku sepanjang zaman, bisa terjadi
kekeliuan dan dapat diubah.
IV
[Link] Struktural
Struktur adalah sebuah gambaran yang mendasar dan kadang tidak berwujud,
yang mencakup pengenalan, observasi, sifat dasar, dan stabilitas dari pola-pola dan
hubungan antar banyak satuan terkecil di dalamnya
Dari istilah – istilah “struktural”, sebagaimana yang telah disebutkandiatas itulah,
lahir istilah lain, seperti : strukturalisme.
Strukturalisme adalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua
masyarakat dan kebudyaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap
strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok
pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang
sama dan tetap.
Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek
melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh
waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui
pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu
obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus,
1996: 1040)
Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam
memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan
7
ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode
struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia
untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040).
[Link] Tradisionalisme
Sebenarnya sulit untuk merumuskan definisi yang bisa menjelaskan seluruh
kompleksitas post tradisionalisme. Marzuki Wahid mendefinisikan post tradisionalisme
adalah suatu gerakan melompat tradisi yang tidak lain adalah upaya pembaharuan
tradisi yang tidak lain adalah upaya pembaharuan tradisi secara terus-menerus dalam
rangka berdialog dengan modernitas sehingga menghasilkan tradisi baru (new tradition)
yang sama sekali berbeda dengan tradisi sebelumnya.
Sebagai gerakan yang berhasrat untuk melahirkan tradisi baru post tradisionalisme
merupakan gerakan yang lahir dengan poroses yang panjang dan berakar pada pemikir-
pemikir pencerahan tempo dulu.
Sedangkan perumusan metodologi post tradisionalisme Islam menghasilkan
paradigm baru pemikiran Islam yang dirumuskan sebagai kritik nalar (naqd al-aql)
maupun telaah kontemporer (qira’ah muashirah) terhadap tradisi. Muhammad Abid
Al-Jabiri, Muhammad Arkoun, dan Nashir Hamid Abu Zaid merupakan sederet nama
yang berusaha melakukan rekontruksi metodologis bagi post tradisionalisme.
Sebagai gerakan, post tradisionalisme Islam di Indonesia kemudian menjadi
kontruksi intelektualisme yang berpijak dari dinamika budaya likal Indonesia dan bukan
tekanan dari luar yang berinteraksi secara terbuka dengan berbagai jenis kelompok
masyarakat seperti buruh, petani, LSM, dan gerakan feminism yang
V
kemudian membawa gerakan ini tidak hanya bersinggungan dengan tradisi Islam,
tetapi juga pemikiran-pemikiran kontemporer baik dari tradisi liberal, radikal, sosialis
Marxia, Post Strukturalis, dan Post Modernis juga gerakan feminism dan civil society
Post tradisionalisme Islam berpandangan bahwa sesungguhnya tidak mungkin
melakukan rekontruksi pemikiran dan kebudayaan dari ruang sejarah yang kosong,
artinya betapapun kita teramat bersemangat untuk melampaui Zaman yang sering
disebut sebagai kemunduran umat Islam, kita mesti mengaku bahwa khazanah
pemikiran dan kebudayaan yang kita miliki adalah kekayaan yang sangat berharga
untuk dikembangkan sebagai entry point merumuskan tradisi baru.[6]
Perlu diketahui, pengertian post tradisionalisme Islam tentang tradisi berbeda
dengan pemahaman kaum Neomodernisme Islam yang membaca tradisi melalui optic
Al-qur’an dan Hadits yang diadakan transenden, turun dari langit, lengkap dan
mencakup segala hal. Singkatnya bukan sebagai bagian dari dinamika sejarah yang
berubah-ubah. Dalam pengertian inilah kita diperkenalkan dengan kenyataan tradisi
Islam yang historis yang sifatnya membumi.
Berkaitan dengan upaya merekontruksi tradisi sebagai mana ditunjukkan Zuhairi
Miswari (2001) post tradisionalisme Islam terbagi kedalam tiga sayap (aliran). Pertama,
sayap eklektis (al-qiraah al-intiqaiyah). Sayap ini menghendaki adanya kolaborasi
antara orisinalitas (al-ashalah) dan modernitas (al-mu’asharah) dalam rangka
membangun “teori analisis tradisi” juga menyingkap rasionalitas dan irrasionalitas
dalam tradisi.
8
Kedua, sayap revolusioner (al-qira’ah at-tatswiriyah), sayap ini berkehendak untuk
mengajukan proyek pemikiran baru yang mencerminkan revolusi dan liberalisasi
pemikiran keagamaan. Sayap kedua ini sebagaimana diwakili Hasan Hanafi
mengusulkan tiga cara dalam tradisi dan pembaharuan yaitu menganalisi
pembentukan dan latar belakang tradisi dan mencermati bagaimana tradisi tersebut
berlawanan dengan kemaslahatan umum.
Adapun sayap ketiga adalah sayap dekontruktif (al-qiraah al-tafkiyah). Sayap ini
berusaha membongkar tradisi secara komperehensif sehingga menyentuh ranah
metodologis. Sayap ini mengkaji tradisi berdasarkan epistemology modern seperti post
struktualisme dan post modernism
VI
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Islam kontemporer
Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada
masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. Secara istilahadalah
mengacu kepada agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari
Allah swt. bukan berasal dari manusia dan bukan pula berasal dari
NabiMuhammad saw.
Kata kontemporer yang berasal dari kata “co” yang artinya bersamadan “tempo”
yaitu waktu. Jadi menurut kata, kontemporer adalah waktu bersamaan. Secara
umum, kontemporer artinya, kekinian, modern, atau lebih tepatnya adalah
sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Maka, islam
kontemporer adalah islam yang pada masa modern atau masa kini.
B. SARAN
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan. Kritik dan saran yang
membangun kami harapkan, guna memperbaikan pembuatan makalah
dikemudian hari untuk menjadi yanglebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi kami pada khusunya dan bagi khalayak pada umumnya.
9
VII
DAFTAR PUSTAKA
1. Drs. Sholihan, [Link], Modernitas dan Postmodernitas Agama, Semarang:
Walisongo Press, 2008, hlm. 48.
2. Ibid, hlm. 49.
[Link]. hlm 126
4. Adian husaini, Islam Liberal, Depok: Gema Insani, 2006, hlm. 20
[Link]. Faisal Ismail, Pijar-Pijar Islam Prgumulan Kultur dan Struktur, Yogyakarta:
Penerbit LESFI, 2003 hlm. 33
6. M. Muhsin Jamil, M.A, Pergulatan Islam Liberal Versus Islam Literal,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, hlm.123.
[Link], hlm. 132
8. Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, Jakarta: Serambi
Ilmu Semesta.2006, hlm 265.
10
VIII
11