PRAKATA EDISI RMSI
uji syukur kehadirat t\LLAH SWT yang telah melimpahkan
P rahmat dan karunia-Nya sehingga buku Prinsip-Prinsip Hukum
Pidana Edisi Re~·isi ini dapat diselesaikan. Pada hari Jun1at, 5
Desember 2014, Unit Penelitian Fakultas Hukum Universitas Gadjah
Mada mengadakan acara peluncuran buku Prinsip-Prinsip Hukum
Pidana. Dalam acara tersebut banyak masukan yang Penulis peroleh
dari para undangan yang hadir untuk menyempurnakan buku tersebut.
Kamal Firdaus, salah seorang advokat seruor di Yogya mengusulkan
buku ini direvisi agar dilengkapi dengan indeks. Usulan lainnya juga
datang dari Iswahyudi Karim yang juga seora..'lg advokat senior di
Jakarta bahwa dalam penyempurnaan buku Prinsip-Prinsip Hukum
Pidana~ perlu kiranya mengulas tentang restorative justice.
Dalam Prinsip-Prinsip H"'kum Pidana Edisi Revisi, selain
pembetulan ejaan, kata-kata, maupun kalimat karena kesaJahan
pengetikail dalam buku sebelumnya, . ada beberapa hal subtantif
yang ditambahkan dalam buku ini. Beberapa penambahan yang
signifikan antara lain adalah sebagai berikut: P~ pada Bah
I tentang Pengantar, subbab pengertian ilmu hukum pidana pada
terbitan sebelumnya, diubah menjadi pengertian ilmu hukum pidana
dan kriminologi pada edisi revisi ini. Kedua, pada bah yang_sama
yakni terkait teori · kontemporer sebagai salah satu tujuan pidana
dalam terbitan sebelumnya, pada edisi revisi ini ~ l~ih rind
mengenai teori-teori kontemporer, khususnya J?erkaitan dengan teori
keadilan restorati£
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Ketiga, pada Bah II tentang Asas Legalitas dan Perhuatan Pidana,
suhbah analogi dalam hukum pidana, dalam edisi revisi ini ditambahkan
menjadi penafsiran dan analogi dalam hu...lrum pidana. Keempat, pada
bah terakhir menyangkut pidana dan pemidanaan, dalam edisi revisi ini
ditamhahkan satu suhbah }rang membahas ~engenai mediasi pidana.
Selain keempat hal tersehut yang dihahas cukup signifikan dalam edisi
revisi ini, penamhahan-penamhahan sedikit pada bah-bab lainnya juga
dilakukan seperti karakteristik hukum pidana, definisi kejahatan dari
berbagai ahli, perbuatan persiapan dan permufakatan jahat serta arti
penting tempus delicti.
Akhir kata, buk.u "Prinsip.;Prinsip Hukum Pidana Edisi Revisi.. ini
semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, teristimewa bagi
para mahasiswa dan praktisi hukum.
Yogyakarta, 22 Desember 2015 -~
Eddy O.S Hiariej
Vi PRINSIP·PF. iNSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
PRAKATA
uji dan Syukur kehadirat ALLAH SWT yang Rahman dan
P Rahim yang telah menganugerahkan pengetahuan sehingga
Penulis dapat menyelesaikan buku yang beijudnl •Prinsip-
Prinsip Hukum Pidana". Kurang dari 6 bulan Penulis menyelesaikan
penulisan buku ini, namun membutuhkan wak:tu lebih dari 6 tahun
untuk mengumpulkan berbagai literatur yang dijadikan mjukan dalam
buku ini. Cita-cita menulis sebuah buk:u tek:s-teoretik hokum pidana,
berawal ketika Penulis memasuki Program Studi Doktor llmn Hukmn
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada bUlan Februari 2007.
Saat itu atas budi baik Ibu Lamja Moeljalno. S.H., (istri mendiang
Prof. Moeljatno, Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Huknm
Universitas Gadjah Mada), Penulis dipeibolehkan mem-fotoropy
sejumlah literatur klasik hukum pidana yang ditulis oleh para pakar
hukum pidana terkemuka. Ada 12 buku yang dijadikan rujukan utama,
.,masing-masing yang ditulis oleh van Hamel, Simons, vanHattwn. van .
Bemmelen, Burgersdijk, Pompe, Vos, Noyo~ Langemrijer, Jonkers
dan Hazewinkel Suringa. Buku lain yang juga dijadikan rujukan
adalah buku-buku yang ditulis oleh ReJDJDelink, ~ Fletchec,
Moeljatno, Schaffmeister, Keijzer dan Sutorios..
Tidak hanya meminjamkan buku, lebih dari itu, Ibo Lamja
Moeljatno yang sangat fasih berbahasa Belanda, mewakafkan
waktunya selama satu jam hampir setiap hari -kecuali bari libur-
selama kurang lebih setahun, untuk bentislmsi mengeoai isi bukn-
buku tersebut, terutama perbedaan pandangan antara_para pakar
hukum pidana Belanda dengan Prof~ Moeljatao. Sebagai misa1., ajar.m
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tentang kesalahan. Sebahagian besar ahli hukum pidana Belanda
mengikuti pandangan psikologis tentang kesalahan. Hal ini berbeda
dengan Prof. Moeljatno yang menganut pandangan normatif diskriptif
tentang kesalahan. Menurut Ibu Lamja Moeljatno, pandangan Prof.
Moeljatno yang demikian tidak terlepas dari tugas negara saat itu yang
diembannya sebagai Jaksa Agung Muda sehingga ajaran kesalahan
menurut pandangan nonnatif diskriptif lebih mudah dibuktikan
daripada pandangan psikologis.
Atas semua kebaikan Ibu LamjaMoeljatno, Penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya, teriring doa sem9ga amal ibadah
Ibu Lamja Moeljatno yang telah berpulang ke Rahmatullah, pada
tanggal 3 Desember 2011, mendapat tempat yang·Iayak di sisi ALLAH
SWT. Penulisan buku ini juga diprovokasi oleh Mas Tri (Prof. Dr.
Marsudi Triatmodjo, S.H., LL.M) yang waktu itu menjabat sebagai
Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (2004-2012). Secara '-
khusus Penulis pemah dipanggil Mas Tri ~ meminta agar Penulis
menulis sebuah buku teks hukum pidana yang dapat dijadikan rujukan
para mahasiswa. Oleh karena itu, Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada Mas Tri atas motivasinya.
Di ujung penulisan buku ini, ada dua Guru Besar Hukum
Pidana yang juga memberikan pengantar pada buku ini, Prof. Romli
Atmasasmita dan Mas Marcus (Prof. Marcus Priyo Gunarto)
menanyakan kepada Penulis, mengapa menggunakan istilah "Prinsip-
Prinsip Hukum Pidana" sebagai judul dan bukan istilah "Asas-Asas
Hukum Pidana': Bahkan Prof. Romli meminta agar PenuJis memberi
argumentasi penggunaan istilah "Prinsip-Prinsip flukum Pidana"
sebagai judul. Ada dua alasan mengapa Penulis memberi judul "Prinsip-
Prinsip Hukum Pidana" dan bukan "Asas-Asas Hukum Pidana':
Pertama, kata "prinsip" dalarn bahasa Indonesia disadur dari
bahasa Belanda, yaitu "principe': Dalam kamus Nederlands-Engels, kata
"principe" diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi essential 1 atau
1
A. Broers, 1933, Engels Woordenboek, Tweede Deel Nederlands- Engels, J.B. Wolters'
Uitgeversmaatschappij, Grooingen- Batavia, him. 652.
Viii PRINSIP·PRlNSIP HUKUM PIDAN,'\
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
esensi dalam bahasa Indonesia. MenurutKamus Besar Bahasa Indonesia,
kata a esensi.. berarti hakikat, inti atau hal yang [Link]. Sedangkan kata
"asa_s" adalah terjemahan dari kata "beginsef'3 dalam bahasa Belanda
atau kata "prindple" 4 dalam bahasa lnggris yang menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia berarti dasar hukum 5• Berdasarkan rujukan tersebut
dapat disimpulkan bahwa kata "prinsip" lebih llla;S dari kata "asas" yang
langsung menunjuk pada pengertian dasar hukum. Tegasnya, kata
"asas" merupakan terminologi hukum, sedangkan kata "prinsip" yang
berarti hakikat, lebih luas dan lebih mendalam dari pada kata "asas' itu
sendiri. Oleh karena itu. buku ini diberi judul "Prinsip-Prinsip Hukum
Pidana" karena mengulas tidak hanya sekedar dasar hukum, namun
lebih dari itu membahas tentang hakikat hukuni pidana itu sendiri.
Kedua, dari sisi orisinalitas, buku dengan judul "Asas-Asas
Hukum Pidana" sudah digunakan oleh Prof. Moeljatno dan juga ·
Wrrjono Prodjodikoro. Demikian pula buku dengan judul "Dasar-
Dasar Hukum Pidana" sudah dipakai oleh P.A.F. Lamintang. Sependek
pengetahuan Penulis, buku teks-teoretik yang berjudul "Prinsip-
Prinsip Hukum Pirlana.. belum pemah digunakan. Namun demikian,
alasan pokok menggunakan "Prinsip-Prinsip Hukum Pidana" sebagai
judul buku ini lebih pada alasan pertama di atas.
Buku ini ditulis dalam sepuluh bah yang dimulai dengan pengantar.
•, Pada bah pengantar meliputi pengertian ilmuhukum. pi dana, objek ilmu
hukum pidana, tujuan ilmu hukum pidana, pembagian huk:um pi dana,
tujuan hukum pidana, fungsi [Link] pidana, pengertian pidana, tujuan
pidana dan konsep-konsep dasar hukum pidana. Bah kedua mengulas
tentang asas legalitas dan perbuatan pidana. Kemudian bah 3 mengenai
pertanggungjawaban pidana, bah 4 terkait melawan hukum, bab 5
tentang alasan penghapus pidana, bah 6 mengenai waktu dan tempat
terjadinya perbuatan pidana. Bah selanjutnya membahas percobaan
1 Departelnen Pendidilcan Dan Kebudayaan,-1990, Komus BesDr Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, him. 236.
' A. Broers, [Link]., him. 78.
• John M. Echols Dan Hassan Shadily, 2005, Komus lnggris Indonesia: An English -Indonesian
Dictionary. Penerbit PT Gramedia Jakarta, Him. 447.
·5 Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, [Link]., him. 52.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dan penyertaan, bah 8 [Link] perbarengan perbuatan dan bah 9
mengenai hapusnya kewenangart penuntutan pidana dan menjalankan
pidana. Buku ini diakhiri dengan bah tentang pidana dan pemidanaan ..
Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagi
Penulis karena buku ini diberi kata pengantar oleh para begawan
hukum pidana di tanah air. Dengan segala kerendahan hati, Penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan salam taqzim
kepada Beliau-Beliau:· PERXAMA· Prof. (Em) Dr. J.E. Sahetapy, S.H.,
M.A., GuruBesar Emiritus HukumPidana, FakultasHukum Universitas
Airlangga, Surabaya. Dalam trah hukum pidana. Prof. Sahetapy .
adalah Guru Besar Hukum Pidana paling senior, sementara Penulis
adalah Guru Besar Hukum Pidana paling muda di Republik ini. Prof.
Sahetapy adalah guru Penulis, kendatipun tidak pernah- mengenyam
pendidikan secara langsung dari Beliau, namun melalui berbagai buku
yang ditulisnya, termasuk artikel di berbagai media dan narasumber·-
dalam banyak kegiatan ilmiah, Penulis merasa mendapatkan banyak
hal. Tidak hanya pengetahuan hukum pidana dan kriminologi yang
Beliau geluti, tetapi lebih dari itu, Beliau mengajarkan nilai-nilai
moral, kebenaran dan keadilan. Tidak banyak akademisi seperti Prof.
Sahetapy yang selalu konsisten dan berani menytiarakan kebenaran
dan keadilan.
· KHDUA, Prof. Mardjono [Link], S.H., M.A., Guru Besar
Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta. Prof.
Mardjono adalah Guru Besar yang rendah hati dan ramah serta san tun
dalam bertutur kata. Penulis mendapatkan banyak hal dari pemikiran·
pemikiran Beliau yang orisinal yang dituliskan dalam berbagai buku
dalam rangka pembaharuan hukum Indonesia secara [Link] dan
tidak hanya hukum pidana.
KETIGA, Prof. Dr. Barda Nawawi Arief, S.H., Guru Besar
Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.
Prof. Barda adalah Guru Besar yang jernih dalam berpikir dan san gat
teliti. Prof. Barda termasuk Guru Besar yang produktif menulis dan
menerbitkan buku. Pada saat membuat kata pengantar, Beliau masih
X PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sempat membaca dan mengoreksi drafbuku ini. Kendatipun koreksian
~rof. B~.rda terkait penggunaan beberapa istilah, namun dalam konteks
• • hukmn pidana cukup subst:ansiaJ karena bisa menimbulkan beda
penafsiran. Penulis pun mengoreksi bebtrapa istilal1 sesuai dengan
saran Prof. Barda.
KLEAfPAI', Prof. (Em) Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LL.M.,
Guru Besar Emiritus Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran, Bandung. Prof. Romli adalah Guru Besar yang sangat
egaliter dan ttrbuka dalam menerima perbedaan pendapat. Prof.
Romli acap kali berdiskusi dengan Penulis mengenai berbagai isu,
termasuk mengirimkan bahan-bahan terkait hukum pidana mutakhir.
Beliau adalah Ketua Masyarakat Hukum Pidana Dan Kriminologi
Indonesia (MAHUPIKI). Melalui MAHUPIKI, paling tidak dua kali
dalam setahun para dosen hukum pidana dan kriminologi serta para
aparat penegak hukum berkumpul dan membagi pengetahuan dalam
perkembangan hukum pidana.
KELfMA, Prof. Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H., [Link]., Guru
Besar Hukum Pidana Fakultas Hukurn Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Mas Marcus -panggilan akrab Penulis- tidak hanya
sebagai kolega di Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas
Gadjah Mada, tetapi lebih dari itu, Beliau ·adalah seorang guru bagi
Penulis. Mas Marcus adalah guru yang baik dalam memotivasi
-.muridnya. Masih teringat dalam benak Penulis, sewaktu Mas Marcus
[Link] dan sebagai Tim Penilai Disertasi Penulis, Beliau
mengatakan, "Saya merasa bangga dan berhasi~ jika mahasiswa yang
Saya bimbing bisa melebihi Saya". Ucapan yang tulus dari Mas Marcus
diejahwantahkan dalam berbagi ilmu sesama kolega di bagian hukum
pidana yang nota bene hampir seluruhnya adalah mahasiswa Beliau.
Penulis bisa sampai seperti saat sekarang ini, tentunya tidak terlepas
dari campur taiigan Mas Marcus. Kendatipun Penulis lebih dulu
memperoleh jabatan Guru Besar dari pada Mas Marcus, namun sampai
kapanpun, Beliau adalah tetap guru Penulis.
Terima kasih yang sebesar-besarnya juga Penulis sampaikan ·
Jcepada Mas Parip (Dr. Paripurna P. Sugarda, SH, [Link]., LL.M),
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada 2012-2016 yang
telah sudi memberikan sambutan dalam buku ini Dalam dua tahun
kepemimpinannya, Mas Parip berhasil memotivasi lebih dari 20
staf pengajar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor ·
lengkap dengan biaya pendidikan dari berbagai donasi. Dengan gaya
kepemimpinan Mas Parip yang humble, suasana akademis lebih
dinamis dan sangat kekeluargaan, namun tetap tegas karena sering kali
Beliau berdialog langsung dengan civitas akademika di kantin, parkiran
maupun di selasar fakultas.
Tidak lupa pula terima kasih dihaturkan kepada Hendry Julian
Noor dan Febrianto Ramadhan Gilik. Hendry dan Gilik adalah
Asisten Penulis yang dengan setia menemani Penulis di ruangan
kerja dan mengerjakan banyak hal. Lebih dari empat tahun mereka
selalu membantu aktivitas Penulis dalam berbagai urusan, termasuk
persiapan penerbitan buku ini. Setiap kali Penulis selesai menulis satu
bab buku ini, Hendry dan Gilik harus membaca kembali sekaligus _
mengoreksi jika ada kesalahan penulisan.
Akhirnya, buku ini Penulis peruntukkan kepada Almarhum Papa
dan Almarhumah Ibunda tercinta, J. Hiariej danNy. Anawia Maelan
Hiariej serta kedelapan kakak-kakak penulis beserta seluruh keluarga.
Buku ini juga dipersembahkan untuk Bapak-Ibu Mertua, Addy
Margihadi dan Sri Supargianti Suratiman serta kakak-adik ipar
penulis beserta keluarga. Teristimewa buku inikhusus dipersembahkan
untuk istri penulis yang tercinta Tri Megasuri Januati dan anak-anak
kami tercinta dan tersayang Hayfa Lavelle Xaviera Hiariej yang
cerdas-cantik-lincah dan Fayyadh Shaquille Xavier Hiariej yang
pintar-tampan-lucu.
Akhir kata, buku "Prinsip-Prinsip HukumPidana" ini masih banyak
kekurangan. Masukan dan koreksi dari berbagai pihak tentunya sangat
bermanfaat bagi penyempurnaan buku ini di masa-niasa mendatang.
1 §; Yogyakarta, 14 September 2014
Eddy O.S Hiariej
.Xii PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
SAM BUTAN
Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
Dr. Paripurna P. Sugarda, S.H., [Link]., LL.M
enerbitkan buku tentang apa yang diajarkannya pada kuliah
M yang diampunya merupakan standar minimal seorang
dosen untuk disebut sebagai dosen yang baik. Dengan
terbitnya buku yang berjudul "Prinsip-Prinsip Hukum Pidana" ini, Prof.
Dr. Eddy O.S. Hiariej, S.H., [Link]., telah membawa dirinya tidak.
saja menjadi do sen yang baik tetapi juga menjadi dosen ideal. Mengapa
[Link]? Pertama, buku ini merupakan buku ke-5 yang diterbitkan
saudara Eddy O.S Hiariej setelah buku yang berjudul "Pengantar
Hukum Pidana Internasionar: "Asas Legalitas Dan Penemuan Hukum
Dalam Hukum Pidana~ "Pengadilan Atas Beberapa Kejahatan Serius
Terhadap Hak Asasi Manusia~ dan "Teori Dan Hukum Pembuktian':
Kedua, buku ini diterbitkan menyusul diselesaikannya Pelatihan
'·Hukum Pidana dan Kriminologi 2014 yang diselenggarakan atas
kerjasama antara MAHUPIKI (Masyarakat Hukum Pidana dan
Kriminologi Indonesia) dengan Fakultas Hukum Universitas Gadjah
Mada sehingga isu -isu mutakhir dari pelatihan tersebut [Link] dalam
buku ini. Ketiga, buku ini membahas tentang aspek yang substansial
dalam hukum pidana, yakni prinsip-prinsip atau asas-asas hukum
pidana yang sangat diperlukan bagi pengembangan hukum pidana
Indonesia ke depan.
Terima kasih yang sebesar-besamya atas [Link] penerbitan buku
yang telah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh kalangan akademisi
dan masyarakat di tengah-tengah kesibukan saudara Eddy O.S Hiariej
sebagai Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum dan Sekretaris
Program Studi Doktor [Link] Hukum Universitas Gadjah Mada.
PRAKATA .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Sernoga buku ini dapat rnernperkaya literatur-literatur hukum
yang bermutu dan dapat rnemberikan kontribusi nyata dalam
pengembangan hukum Indonesia khususnya hukum pidana.
Yogyakarta, 8 September 2014
Dr. Paripuma P. Sugarda, S.H., [Link]., LL.M
(Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada)
......
XiV PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
KATA PENGANTAR
Prof. (Em.) Dr. J. E. Sahetapy, S.H., M.A.
D
engan senanghati Saya menulis kata pengantar untuk bukunya
Prof. Dr. Eddy O.S. Hiariej, S.H., [Link]. yaitu "Prinsip-
Prinsip Hukum Pidana': Tidak banyak dosen [Link] pidana
yang mau menulis bulai bertalian dengan mata kuliah yang diasuhnya.
Sebagaimana diketahui di Amerika Serikat berlaku: "publish or perish".
Di Indonesia orang sudah puas dengan mendapat gelar "Profesor" dan
tidak menulis lagi.
Harus diakui terlepas dari soal gaji, bahasa Belanda merupakan
kendala utama dalam menulis buku yang sumber utamanya dalam
bahasa Belanda. Tidak sampai satu tangan dengan lima jari para dosen/
Guru Besar yang menguasai bahasa kolonial itu secara pasif dengan
baik. apalagi penggunaan secara aktif. Itulah sebabnya tidak banyak
buk.u hukum pidana yang bersumber dari Belanda. Buku Hukum
-Pidana I dan II yang ditulis oleh almarhum Mr. Drs. E. Utrecht (1958)
kurang diminati tidak saja oleh para mahasiswa Fakultas Hukum, tetapi
juga oleh para dosen Hukum Pidana, karena banyak kutipan dalam
bahasa Belanda yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa .I ndonesia.
Prof. Vrij pernah menulis: "De criminologie riep het strafrecht tot
de werkelijkheid" (sumber dan tahun lupa), juga disadari oleh Mr. Drs.
E. Utrecht dalam kata pengantar bukunya.
Ada beberapa catatan singkat yang perlu Saya sampaikan di sini.
Tentang asas NUllu.m Delictum yang dikemukakan oleh Anselm von
Feuerbach, sesungguhnya berswnber dari Tlllmudic Jurisprudence .
(vide disertasi J.E. Sahetapy, 1978). Tidaklah mengherankan kalau para
~ahasiswa Fakultas Hukum di Belanda sebelwn Perang Dunia II harus
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
menguasai bahasa Latin. [Link] tidak lagL Buku Ny. Hazewinkel
- Suringa yang .,bewerkf' oleh Jan Remmelink, menyediakan daftar
khusus kutipan bahasa Latin.
Catatan kedua saya bertalian dengan analogi. Terlepas dari
perdebatan dan putusan-putusan HR Belanda, terlepas pula dari
bebasnya analogi di Denmark, sebagai mantan asisten Prof. Moeljatno,
saya perlu [Link] bahwa Prof. Moeljatno dalam kuliah-kuliah
terakhimya berpendapat bahwa masalahnya harus ditinjau dari makna
"verschuiving in betekenis van het woord [Link]. Dengan demikian
tidak perlu bertele-tele membicarakan putusan-putusan fJ__R Belanda.
Prof. Dr. Eddy O.S. ffiariej, S.H., [Link]. tidak terjebak dalam
"sleur" dari ribuan-mungkin lehih, para mahasiswa yang pernah
dibina oleh Prof. Moeljatno bertalian dengan pemahaman pengertian
"strafbaarfeit" yang kini digunakan menjadi "tindak pidana': Pada
tahun 1954 saya pemah jadi mahasiswa Fakultit Hukum Universitit-
Gadjah Mada cabang Surabaya, berakhirlah perbedaan tajam antara
GAMA dan UI, yang oleh Menteri Moh. Yamin ditetapkan menjadi
fakultas dan universitas ketika meresmikan Universitas Airlangga pad a
bulan November tahun 1954.
Kini beredar paling tidak tiga terjemahan KUHP yaitu dari Soesilo,
Moeljatno, dan BPHN. Meskip~ sudah beberapa kali secara informal
Saya usulkan agar Pemerintah memilih salah satu, Pemerintah masih
tetap "mencla-mende". Pandangan dari seorang Guru Besar emeritus
di luar Jawa yang berpendapat tidak perlu karena sudah ada Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1946, adalah pemikiran yang keliru. Kata
orang kolonial: .,Hij heeft geen kaas der van gegeten".
Catatan terakhir Saya yaitu bertalian dengan "Lex specialis
derogat legi generali" dan perjuangan Saya atas tugas dari almarhurn
Prof. Mr. Soedarto untuk membereskan dengan pihak Belanda dalam
rangka [Link] c.q. Prof. D. Schaffmeister, Dekan Fakultas Hukurn
di Leiden dan Prof. Nico Keyzer dari HR Belanda, tercapai kesepakatan
tidak secara poll~ melainkan atas dasar diskusi secara historis dari
Code Penal k.e [Link]. tentang cukup dua buku RKUHP. Kalau kini
XVi PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ada yang mau "desavoueer" KPK dengan berbagai alasan yang dicari-
cari, Saya berpendapat terlepas dari sikap "huichelen" mereka, mereka
belum dapat membaca tanda-tanda zaman depan dari Republik
Indonesia kita ini.
· Saya harus mengakhiri di sini dan menyampaikan ucapan
"Selamaf' kepada Prof. Dr. Eddy O.S. Hiariej, S.H., [Link]. yang
telah bekerja keras menyiapkan buku ini. Ayahnya dan Saya berasal
dari kota kecamatan kecil yang sama di Saparua, pulau mana saking
kecilnya tidak tampak di peta Indonesia. "Beta bangga" kata orang
Saparua dan karena itu Beta sampaikan dengan kata berupa [Link] !!
Surabaya, Agustus 2014
Prof. (Em.) Dr. J. E. Sahetapy, S.H., M.A.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
KATA PENGANTAR
Prof. Mardjono Reksodiputro, S.H., M.A.
wnber dari hukum pidana di Indonesia adalah undang-undang, .
S dan ini adalah berdasarkan ketentuan dalam KUHP kita1 yang
menyatakan dalam Pasal I «bahwa suatu perbuatan tidak
dapat dipidana, kecuali berdasarkan «kekuatan ketentuan perundang-
undangan yang telah ada., (bahasa Belanda: ... een daaraan voorafgegane
wettelijke strafbepaling) dan juga suatu asas yang menyatakan "dat
aileen op de wijze bij de wet bepaald, een strafbaar feit kan worden
vervolgd" (hanya dengan cara yang ditentukan perundang-undangan,
suatu perbuatan pidana dapat dituntut) 2 •
Dari hanya dua rujukan di atas saja kita dapat mengerti, bahwa
agar lembaga penegak hukum (kepolisian dan kejaksaan), lembaga
peradilan (hakim sebagai penegak keadilan), dan lembaga advokat
(pengacara sebagai pembela) dapat melaksanakan tugas-tugas mereka,
-. diperlukan adanya prinsip-prinsip tertentu. Tidak dapat undang-
undang atau peraturan itu dijalankan dengan hanya membaca dan
menafsirkan secara subyektif teksnya. Ada prinsip-prinsip yang mutlak
berada di belakang suatu teks perundang-undangan, yang harus
dimengerti sebelwn dapat ditafsirkan maknanya bagi suatu perbuatan.
Inilah tujuan utama dari buku ini, menjelaskan berbagai prinsip dalam
hukum pidana Indonesia.
Karena KUHP kita aslinya adalah dalam bahasa Belanda (dan
1 Wetboek van Strafrecht (WvS) untuk Hindia Belanda - tahun 1918, yang menjadi KUHP
Indonesia.
1
Asas ini ada dalam · P,asal ·~6 AB {Aigemene Bepollngen van Wetgeving - Ketentuan-
ketentuan Umum dalam Penyelenggaraan Perundang-undangan) yang memayungl Kltab
Undang-undang Hukum Pidana .(KUHP) Indonesia yang berasal dari jaman Hindia Belanda.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
aslinya memakai bahasa Belanda dalam perundang-undangan tahun _
1918- hampir seratus tahun yang lalu !), yangkemudian diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia (mulai tahun 1950-an), maka haruslah
kita ekstra hati-hati [Link] bahasa KUHP kita. Pertama. dia
berasal dari bahasa Belanda •Jcuno• (1918) dan diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia sebelum ada KamU$ Besar Bahasa Indonesia
Edisi PertamtJ (28 Oktober 1988). Kedua, tentunya tidak dapat
sembarangan menafsirbn kalimat dalam KUHP kita, terutama karena
.diterjemahkan sebelum ada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Yang Disempurnakan3 •
Sedikit rincian sejarah KUHP kita (Indonesia) sebelum 1918 perlu
juga diingat. Secara garis besar, kita dapat membedakan enam atau
tujuh kurun-waktu dalam sejarah hukum pidana Indonesia, dimulai
dari pemerintahan Hindia Belanda. Pertluna, di mana golongan
Bumiputera masih dapat tunduk pada [Link] yang bersumber...
langsung pada hukum adat (strajrecht voor de Inheemsche groepen-
berlaku sampai tahun 1873). Kedua, di mana terdapat dua KUHP (satu
untuk golongan Bumiputera dan Timur Asing dan yang lainnya untuk
golongan Eropa -sistem dualism- secara bertahap mulai tahun 1866).
Ketiga, di mana hanya ada satu KUHP yang berlaku untuk sernua
golongan (sistem unifikasi-mulai tahun 1918)4•
Mulai jaman pendudukan ~ter Jepang (1942), KUHP yang
aslinya bahasa Belanda diterjemahkan ke bahasa Melayu dan rnulai
dipergunakan di Pengadilan (ini dapat dianggap kurun-waktu keempat,
sampai sekitar tahun1950) dan (mungkin) kita dapat melihat adanya
kurun-waktu kelima selama KUHP 1918 (dengan segala perubahannya
dan dalam bahasa Indonesia) dipergunakan dalam pemerintahan
Republik Indonesia5• Dalam kurun waktu kelima ini, bagi Saya ada
3 Sekarang sudah ada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edlsi Keempat, Agustus 2008,
Gramedla Pustaka Utania, yang menyempumakan Jcosa kata dan istilah dalam Kamus 20
tahun (1988) yang lalu.
4
Uhat, Geschiedenis van het Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-lndie,1918,
Amsterdam: [Link] Bussy, him. 8-18.
5 Dalam kurun waktu ini ada pengakuan kembali bahwa "hukum yang hidup" (hukum adat
yang umumnya_tidak tertulis) dapat menjadl sumber hukum pidana tertulls (lihat UU No.l
Drt/1951- Pasal S ayat 3).
XX PRINSIP-PRINSIP HUK\JM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
keraguan tentang teks KUHP yang dipergunakan. Mengapa? Karena
tidak ada teks otentik dalam bahasa Indonesia (yang sebenarnya berlaku
adalah teks otentik 1918 dalam bahasa Belanda, yang dipergunakan
adalah terjemahan dari beberapa ahli hukum pidana dan dengan segala
perubahannya dengan teks bahasa Indonesia). Oleh karena itu prinsip-
prinsip hukum pidana menjadi teramat penting untuk diperhatikan
dalam menafsirkan teks aturan hukum pidana yang merupakan
terjemahan dari teks otentik, bahasa Belanda.
Sebentar lagi kita akan memasuki kurun-waktu keenam, yaitu
dengan adanya Rancangan KUHP Nasional yang resmi rnasuk ke DPR-
RI pada bulan Januari 2013. Bilarnana ini disahkan oleh DPR-Rl, maka
setelah hampir seratus tahun disandera oleh KUHP Hindia Belanda,
kita akan mempunyai benar-benar suatu KUHP Nasional dengan
teks otentik dalam bahasa Indonesia. Kurun-waktu ketujuh terjadi,
bilamana keseluruhan perundang-undangan pidana telah diselaraskan
dengan KUHP Nasional.
Meskipun teks otentik KUHP Nasional [Link] berbeda dengan
KUHP 1918 (yang telah diubah dan ditambah), namun prinsip-prinsip
hukum pidana yang akan berlaku di Indonesia nantinya tidak akan
berubah banyak. Buku yang Anda pegang sekarang ini, justru akan
-. membantu Anda untuk dapat memahami lebih baik prinsip-prinsip
hukum pidana Indonesia yang berlaku sekarang dan yang pasti akan
berkembang pula di masa yang akan datang. Melalui buku ini pula
kiranya beberapa prinsip utama dapat dipedomani6:
1. Bahwa hukum pidana juga dipergunakan untuk menegaskan
atau menegakkan kembali nilai-nilai sosial dasar (basic social
values) perilaku hidup bermasyarakat dalan negara kesatuan
Republik Indonesia yang dijiwai oleh falsafah dan ideologi
negara Pancasila;
6
Uhat pula Mardjono Reksodiputro, 2007, Pembahoruon Hukum Pidana, lembaga
Kriminologi Universitas Indonesia, hlm.23.
PRAKATA /Iii~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
2. Bahwa hukum pidana sedapat mungkin hanya dipergunakan
dalam keadaan di mana cara lain melakukan pengendalian
sosial tidak atau belum dapat diharapkan keefektifannya; .
dan
3. Dalam menggunakan hukum pidana sesuai dengan kedua
pembatasan di atas, harus diusahakan dengan sungguh-
sungguh bahwa caranya seminimal mungkin mengganggu
hak dan kebebasan individu, tetapi tanpa mengurangi
perlindungan terhadap kepentingan kolektifitas masyarakat
demokratik Indonesia yang modem.
Buku dengan sepuluh bah dan dengan teballebih dari 400 halaman
ini, ingin Saya rekomendasikan bagi mereka yang mencintai sistem
peradilan pidana yang diselenggarakan dengan adil (due process of
law). Buku tentang prinsip-prinsip hukum pidana ini akan merupakan ...
pegangan dan acuan bagi para ternan sejawat dosen maupun kalangan
praktisi hukum di Indonesia. Dalam usaha kita membangun hukum
pidana yang modem melalui KUHP Nasional yang akan datang, maka .
buku ini mutlak dibaca.
Jakarta, Agustus 2014
Mardjono Reksodiputro
Guru Besar (Pensiun) Hulcum Pidana, Kriminologi
Dan Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia
Sekretaris Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia
)()(jj PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
KATA PENGANTAR
Prof. Dr. H. Barda Nawawi Arief, S.H.
:a:
engan senang hati. Sa memenuhi perrnintaan Saudara ~rof.
D Dr. Eddy O.S HianeJ, S.H., [Link]. untuk memberikan
pengantar terhadap buku yang berjudul "Prinsip-Prinsip
Hukum Pidana". Buku ini cukup komprehensip menjelaskan prinsip-
prinsip dalam hukum pidana secara sistematis. Pada bab pengantar,
Saudara Eddy O.S Hiariej mencoba menguraikan secara mendalam
tentang ilmu hukum pidana, hukum pidana dan pidana. Bab-bab
selanjutnya membahas mengenai prinsip-prinsip yang lazimnya
terdapat dalam buku satu KUHP.
Buku ini sangat penting untuk meletakkan dasar-dasar pemikiran
hukum pidana, baik bagi para mahasiswa maupun para praktisi hukum.
Kendatipun buku ini banyak bersumber dari hukum pidana Belanda
yang ditulis oleh para ahli pidana terkemuka pada zamannya seperti
-~van Hamel, Simons, van Hattum., van Bemmelen, Vos, Pompe,
Noyon, Langemeijer, Hazewinkel Suringa dan [Link], namun teori-
teori kontemporer mengenai hukum pidana juga diulas dalam buku
ini.
Perbedaan pendapat di dunia akademis adalah sunatullah
dalam rangka . memperkaya wawasan keilmuan selama didasarkan
pada argumentasi yang rasional. Tidak semua pemikiran ahli hukum
pidana Belanda, maupun ahli hukum pidana Indonesia termasuk Prof.
Moeljatno diikuti oleh Saudara Eddy O.S Hiariej. Hampir seluruh bah
dalam buku ini, Saudara Eddy O.S Hiariej memberikan ilustrasi dan
contoh-contoh agar .mempermudah pembaca untuk memahanii setiap ·
· .topik yang dibahasnya. Dengan contoh-<antoh tersebut pula, Saudara
. ·.:
PRAKATA -~m;~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Eddy O.S Hiariej memberikan pendapat pribadi terhadap berbagai
isu dalam buku ini dan tentunya didasarkan pada argumentasi yang
rasional.
Ada beberapa bab dalam buku ini seperti pada bab asas legalitas
dan perbuatan pidana, kemudian pada bab pidana dan pemidanaan,
Saudara Eddy O.S Hiariej memberikan perbandingan dengan konsep
RUU KUHP yang sedang dibahas. Hal ini cukup memperkaya wacana
pembaharuan KUHP yang tengah bergulir. Akhir kata, Saya ucapkan
•selamaf' kepada Prof. Dr. Eddy O.S Hiariej, S.H., [Link].. atas
terbitnya buku •PrinsJp-Prinsip Hukum Pidana• yang sudah barang
tentu bermanfaat bagi para mahasiswa hukum, dosen hukum pidana
dan para praktisi.
...
Semarang. 30 Apstus 2014
Prof. Dr. H. Barda Nawawi Arief, S.H.
XXiV PRINSIP-PRJNSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
KATA PENGANTAR
Prof. (Em) Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LL.M.
aya menyambut baik karya Prof. Dr. Eddy O.S Hiariej, S.H.,
S [Link]., kolega Saya dalam satu komunitas Guru Besar Ilmu
[Link], dan termasuk Guru Besar termuda tetapi kreatif dalam
menulis buk.u, artikel dan makalah. Prof. Eddy 0. S Hiariej, S.H.,
[Link]., adalah sesama Guru Besar Ilmu Hukum Pidana dan juga
Ketua Pengurus Daerah Masyarakat"Hukum Pidana Dan Kriminologi
(MAHUPIKI) Wilayah DI Yogyakarta. Saya memberikan apresiasi atas
penerbitan buku teks-teoritik - karya Saudara Eddy O.S Hiariej dan
dalam [Link] Saya, buku ini memberikan suatu nuansa baru baik
dalam gaya penulisan maupun dalam substansi yang dinamai dengan
judul "Prinsip-Prinsip Hukum Pidana':
Substansi menarik dalam buku ini, adalah telah dimasukkan
juga bagaimana pandangan hukum pidana internasional tentang Asas
legalitas, yang belum pernah ditulis penulis Ahli Hukum Pidana
Indonesia sebelwnnya. Buku ini termasuk lengkap dari sisi substansi
dan amat berharga bagi mahasiswa fakultas hukum memasuki
perkembangan globalisasi abad 20 dan seterusnya.
Mudah-mudahan materi muatan buku ini dapat dilengkapi juga
oleh penulis lain dengan berbagai putusan Mahkarnah Agung Republik
Indonesia terkait penerapan hukum mengenai -terutama- asas
legalitas, asas non-retroaktif dan penerapan tafsir hukum mengenai
dolus dan culpa serta pertanggungjawaban pidana dalam penerapan
hukum adrninstratif yang saat ini selalu menimbulkan pro dan kontra
di kalangan para ahli hukum pidana dan ahli hukum administrasi
negara.
PRAKATA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
KATA PENGANTAR
Prof. Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H., [Link].
eskipun sudah cukup banyak buku yang beredar di
M masyarakat yang substansinya sebagian besar sama dengan
yang ditulis dalam buku ini, namun Saya tetap mengapresi asi
terbitnya buku ini dalam usaha Penulis menyediakan buku bacaan bagi
mereka yang sedang mempelajari ilmu hukum pidana. Nampaknya
buku ini sengaja disiapkan oleh Penulis bagi mereka yang sedang
memulai belajar ilmu hukum pidana. Di dalam buku ini banyak dikutip
ungkapan-ungkapan atau tulisan dalam bahasa aslinya dengan [Link]
agar pembaca mengetahui teks aslinya, namun terhadap teks itu juga
diberikan terjemahannya sehingga pembaca dapat dengan mudal1
memahami makna teks-teks tersebut.
Buku dengan judul "Prinsip-Prinsip Hukum Pidana': meskipun
di dalam uraiannya lebih banyak menggunakan istilah asas-asas, yang
...ditulis oleh Prof. Dr. Eddy O.S Hiariej, S.H., [Link]. ini sangat
bermanfaat tidak saja bagi para mahasiswa yang mengawali studinya di
bidang llmu Hukum, melainkan juga bagi para penegak hukum dan/
atau para pencari keadilan di bidang hukum pidana. Persoalan hukum
pidana yang semakin rumit dan kompleks y"ang berkembang akhir-
akhir ini telah menjadikan perundang-undangan pidana terkadang.
dirasakan belum memberikan penfaturan secara jelas dan tegas atas
persoalan [Link] konkrit tertentu.
Untuk memecahkan persoalan hukum yang demikian itu acap
kali kita harus kembali pada azas-azas atau prinsip-prinsip hukum
yang berlaku. Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku yang
membahas asas-asas hukum pidana lainnya ialah [Link] asas:.
asas hukum pidana intemasional, meskipun masih sangat terbatas,
PRAKATA .XXVif
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yaitu menyangkut asas legalitas dalam hukum pidana internasional.
Pengetahuan tindak pidana intemasional yang bersumber pada hukum
intemasional atau hukum nasional yang berdimensi internasional
yang terjadi akhir-akhir ini telah menjadikan keniscayaan bagi para
mahasiswa yang sedang mendalami Hukum Pidana. Dengan membaca
huku ini maka setiap mahasiswa selain mendapatkan pengetahuan
asas-asas hukum pidana nasional juga akan mendapatkan gambaran
tentang pengaturan asas-asas hukum pidana intemasional.
Akhimya Saya mengucapkan "Selamat" atas diterbitkannya buku
ini, dan dipastikan akan membawa manfaat bagi perkembangan ilmu
hukum pidana di Indonesia dan bagi para pencari keadilan pada
umumnya.
Yogyabrta 10 September 2014.
Pro£ Dr. Mucus Priyo Gunarto, S.H.• [Link].
)()(Vjjj . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
DAFTARISI
PRAKATA EDISI REVIS!............................................................................... v
Prakata ............................................................................................................... vii
Sambutan
Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
Dr. Paripurna P. Sugarda, S.H., M. Hwn., LLM .......................................... xiii
Kata Pengantar
Prot (Em.) Dr. J. E. Sahetapy, S.H., M.A....................................................... xv
Kata Pengantar
Prot: Mardjono Reksodiputro, S.H:, M.A...................................................... xix
Kata Pengantar
Prof. Dr. H. Barda Nawawi Arief, S.H ................-........................................ xxiii
Kata Pengantar
Prof. (Em) Dr. Romli Atmasasmita, S.H., LLM-........................................ xxv
Kata Pengantar
Prot: Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H., [Link] ........................................... xxvii
Bah I PENGAN'fAR ............................................................-................ 1
A. PENGERTIAN ILMU HUKUM PIDANA DAN
KRIMINOWGI ·································-··-···-····..·············-·····-· 4
B. OBJEK ILMU HUKUM PIDANA.............................................. 11
C. Tl]JUAN ILMU HUICUM PIDANA-....................................... 13
D. PENGERTIAN HUKUM PIDANA............................................ 15
E. PEMBAGIAN HUKUM PIDANA.............................................. 17
I) Hukwn Pidana Materiil- Hokum Pidana Formil.......... 17
2) Hokum Pidana Objektif- Hukum Pidana Subjektif...... 19
3) Hokum Pidana Berdasarkan Adresat................................ 22
4) Hukum Pidana Umum- Hukum Pidana Khusus .......... 23
5) Hokum Pidana Nasional- Hukum Pidana Lokal Dan
[Link] Internasional............................................. 25
DAFTAR ISl ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.·
[Link]}UAN HUKUM PIDANA ........................................•............. 28 ·
1) Aliran Klasik ...•.......•............•.......•..•........•..........•..•............. 29
2) Aliran Modem..................................................................... 31
G. FUNGSI HUKUM PIDANA ····························--························ ·34
H: PENGERTIAN·PIDANA ............................................................. 36
I. TUJUAN PIDANA........................................................................ 37
1) Teori Absolut ......................:.................................................. 37 ·
2) Teori Relatif........................................................................... 39
· 3) Teori Gabungan ................................................................... 41
4) Teori Konteillporer .............................................................. 42
a) Teori Efek Jera ............................................................ 42
b) Teori Edukasi.............................................................. 43
c) Teori Rehabilitasi ....................................................... 43
d) . Teori Pengendali Sosial............................................. 43
e) Teori Keadilan Restoratif .......................................... 44
J. KONSEP-KONSEP DASAR HUKUM PIDANA...................... 53
Babii ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ................. 5~
A. SEJARAH DAN LANDASAN FILSAFATI ASAS LEGALITAS 62
B. DEFINISI ASAS LEGAUTAS ..................................................... 70
c. MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM ASAS
LEGALITAS .................................................................................. . 73
D. ASAS LEGALITAS DALAM KONTEKS HUKUM
PIDANA NASIONAL ................................................................... 80
E. ASAS LEGAUTAS DALAM KONTEKS HUKUM
PIDANA INTERNASIONAL ...................................................... 92
1) Asas Legalitas Dalam Deklarasi Hale Asasi Manusia ...... 95
2) Asas Legalitas Dalam Kovenan Intemasional Tentang
Hak-Hak Sipil Dan Politik................................................. . 96
3) Asas Legalitas Dalam Konvensi Eropa Hak-HakAsasi
Dan Kebebasan-Kebebasan Mendasar ............................ . 97
4) Asas Legalitas Dalam Konvensi Amerika Tentang
Hak-Hak Asasi Manusia ................................................... .. 98
5) Asas Legalitas Dalam Piagam Afrika Tentang Hak-Hak
Asasi Manusia Dan Hak Penduduk .................................. 98
6) · Asas Legalitas Dalam Statuta Roma ................................. 99
F. PENAFSIRAN PAN ANALOGI DALAM HUKUM PIDANA 102
G. PENGERTIAN PERBUATAN PIDANA.................................... 121
H. ELEMEN-ELEMEN PERBUATAN PIDANA........................... 125
XXX PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
I. UNSUR-UNSURDAN JENIS-JENIS DELH{........................... 129
1) Kejahatan Dan Pelanggaran ............................................... 134
2) Delik Formil Dan Delik Materiil....................................... 136
3) Delicta Commissionis, Delicta Omissionis Dan
Delicta Commissionis Per Omissionem Commissa........... 137
4) Delik Konkret Dan Delik Abstrak..................................... · 138
5) Delik Umum, Delik Khusus Dan Delik Politik ........ ;...... 139
6) Delik Merugikan Dan Delik Menimbulkan
Keadaan Bahaya................................................................... 141
7) Delik Berdiri Sendiri Dan Delik Lanjutan ....................... 142
8) Delik Persiapan, Delik Percobaan, Delik Selesai Dan
Delik Berlanjut ....................................... ................. ....... ...... 142
9) Delik Thnggal Dan Delik Gabungan................................. 144
10) DelikBiasaDanDelikAduan............................................ 145
11) Delik Sederhana Dan Delik Terkualifikasi ....................... 148
12) Delik Kesengajaan Dan Delik Kealpaan ....... :................... 149
,.
Bah III PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ..... :........................... .. 151
A. DEFINISI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA .................. 155
B. DEFINISI KESALAliAN ............................................. ~~ ............. . 157
c. KEMAMPUAN BERTANGGUNG JAWAB ............................ .. 163
D. KESENGAJAAN ..............:.......::........;::........:::..........:.-................ . 168
. J .K . ,. . .
1) JenJ.S~ erus esengaJaan..............................:........;;;;....~ ...... . 172
· a. Kesengajaan Sebagai Maksud ....................:............. . 172
b. Kesengajaan Sebagai Kepastian.............................. .. 173
c. Kesengajaan Sebagai Kemungkinan ........................ 174
d. Dolus Eventualis ................................................~....... . 175
e. Kesengajaan Berwarna .........................;.................... 176
f. Kesengajaan Tidak Berwama ................................. .. 176
g. Kesengajaan Diobjektifkan ....................................... 177
h. Dolus Directus ............................................................ . 177
i. Dolus Indirectus ........................................................ .. 178
j. Dolus Determinatus............................~ ....................... 178
k. Dolus Indeterminatus ............;.................................. .. 179
l. Dolus Alternativus...........................;.......................... 179
m. Dolus Generalis ....................:...................................... 179
n. Dolus Repentinus ...................................................... .. 181
o. Dolus Premeditatus .................................................... 181
p. Dolus Antecedens ........................................................ 182
q. Dolus Subseqf:lens........................~ .............................. 182
DAFTAR lSI <X#!\
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~ -·._!:.:::....,a.;, ...... .·.~-·~ ..... -..: ... ~- ... ....... ·- -·- ~ ,. -. . .. _.• -~ -
r. Dolus Malus-···············-········-·················-·········-···· 182
2) Kesengajaan Dalam Rumusan Delik.........................-.... 183
E. KEALPAAN .........................................................-····-·-·-······-···· 1?i7
F. PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASL.......... 194
G. HUBUNGAN KAUSALITAS ...............................................-..... 207
1) Teori Conditio Sine Qua Non··--···-·············-·············-···· 210
2) Teori Generalisir .............................................-................. 213
3) Teori Individualisir.............................................................. 217
4) Teori Relevansi .........................._......................................... 220
BabiV MELAWANHUKlJM.................................................................. 221
A. ELEMEN MELAWAN HUKUM ................................................ 226
1) Pandangan Formil............................................................... 226
2) · Pandangan Materiil............................................................. 227
3) Pandangan Tengah .............................................................. 229
B. PENGERTIAN MELAWAN HUKUM....................................... 232
C. SIFAT MELAWAN HUKUM ...................................................... 237 ··
1} Sifat Melawan Hukum Umum........................................... 237
2) Sifat Melawan Hukum Khusus .......................................... 238
3) Sifat Melawan Hukuin Formil............................................ 240
4) Sifat Melawan Hukum Materiil.......................................... 241
D. APAKAH MELAWAN HUKUM DALAM HUKUM
PERDATA IDENTIK DENGAN HUKUMPIDANA? ............ 249
BabV ALASAN PENGHAPUS PIDANA.............m............................ 25 I
A. TEORI-TEORI ALASAN PENGHAPUS PIDANA................. 255
B. ALASAN PENGHAPUS PIDANA UMUM.............................. 258
1) Alasan Penghapus Pidana Umwn Menwut
Undang-Undang.................................................................. 258
a. Tidak. Mampu Bertanggung Jawab .......................... 258
b. Daya Paksa .................................................................. 262
c. Keadaan Darurat........................................................ 269
d. Pembelaan Terpaksa.................................................. 271
e. Pembelaan Terpaksa Melampaui Batas ................... 276
f. Melaksanakan Perintah Undang-Undang.............. 278
g. Perintah Jabatan ......................................................... 280
h. Perintah }abatan Tidak. Sah....................................... 282
2) Alasan Penghapus Pidana Umum Di Luar
Undang-Undang.................................................................. 283
a. Izin............................................................................... 383
xx)<jj PRINSIP·PRINSIP tiUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
C. CONCURSUS REALIS.................................................................. 402
D. PERBUATAN BERLANJUT ........................................................ 408
E. PERBUATAN PIDANA TERTINGGAL.................................... 412
F. PERBARENGAN PENENTUAN PIDANA .............................. 414
G. LEX SPECIALIS VERSUS LEX SPECIALIS ............................... 416
H. LEX SPECIALIS SISTEMATIS..................................................... 416
I. ··LEX CONSUMEN DEROGAT LEG/ CONSUMTE................ 417
Bah IX HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIDANA
DAN MENJALANKAN PIDANA ........................................... 419
A. HAPUSNYA PENUNTUTAN PIDANA ................................... 422
1) Ne Bis In Idem...................................................................... 422
2) Meninggalnya Tersangkafferdakwa................................. 433
3) Daluwarsa Penuntutan Pidana..........................,..-............ 434
4) Penyelesaian Di Luar Pengadilan .................... ·,...:........:. 441
5) Amnesti................................................................. .............. 442
6} Abolisi ................................................................... ............... 443
B. HAPUSNYA MENJALANKAN PIDANA.................. ............... 444
1) Meninggalnya Terpidana ............._..................................... 444
2) Daluwarsa ............................................................................. 444
3) Grasi....................................................................................... 445
Bab X PIDANA DAN PEMIDANAAN ................................................ 449
A. PIDANA POKOK ......................................................................... 453
1) Pidana Mati .......................................................................~ 453
... 2) Pidana Penjara........~..~.......................................................;.. 463
3) Pidana Kurungan ...............................................-.............. 468
4) Pidana Denda....................................................................... 469
5) Pidana 1\ltupan..................................................................... 470
B. PIDANA TAMBAHAN................................................................. 471
1) Pencabutan Hak-Hak Tertentu.......................................... 472
2) Perampasan Barang-BarangTertentu............................... 472
3} Pengumuman Putusan Hakim........................................... 474
C. PIDANA BERSYARAT DAN PELEPASAN BERSYARAT ...... 474
D. PIDANA DAN PEMIDANAAN DALAM
RANCANGAN KUliP ................................................................. 479
E. MEDIAS! PIDANA....................................................................... 484
DAFTAR PUSTAKA. ...........•......................:..........•........~................................ 491
INDEKS............................................................................................................. 505
SEKILAS TENTANG PENULIS .................................................................. 535
- . :-·
~iv Prinsip-Prlnsip Hukum Pidana
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
b.
Error Facti ................................................................... 285
Error Juris....................................................................
c.. 286
d. 1idak Ada Sifat Melawan Hokum Materiil. ............ 286
e. liak Jabatan ....;~........................................................... 287
f. Mewakili Urusan Orang Lain ................................... 288
C. ALASAN PRNGHAPUS PIDANA KHUSUS ........................... 288
D. · ALASAN PENGHAPUS PIDANA PUfATIF........................... 290
Bab VI WAKTU DANTEMPATTERJADINYAPERBUATAN PIDANA 291
A. TEMPUS DBUC11........................................................................ 295
B. . WCUS DELICI1.......................................................................... 298
1) Teon-Teori Locus Delicti..................................................... 298
2) Asas Teritorial ........................_............................................ 301
- a. Perluasan Asas Tentorial Prmsip Teknis................. 306
· b. Perluasan Asas Tentorial Prinsip Kewarganegaraan .. 306
c. Perluasan Asas Tentorial Prinsip Proteksi.............. 309
~ d. Perluasan Asas Tentorial Prinsip Universal ........... 312 .,.
C. PIUNSIP-PRINSIP EKSTRADISI ............................................... 316
Bab VII PERCOBAAN DAN PENYERTAAN ....................................... 321
A. PERCOBAAN ................................................................................ 324
1) Unsur-Unsur Percobaan ..................................................... 332
a. Niat. ..........................................................~................... 332
b. Permulaan Pelaksanaan............................................. 337
c. Tidak Selesainya Perbuatan Bukan Karena
Kehendak Sendiri ...................................................... . 341
2) Bentuk-Bentuk Percobaan.................................................. 346
3) Percobaan Mampu Dan Percobaan Tidak Mampu ....... .. 347
B. PENYERTAAN............................................................................ .. 349
1. Plegen .................................................................................. .. 354
2. Doenplegen ......................................:..................................... 359
3. Medeplegen ........................................................................... . 366
4. llitlokking.............................................................................. 375
C. PEMBANTUAN ............................................................................ 379
D. HAL- HAL LAIN TERKAIT DELIK PENYERTAAN ........... 384
Bab VIII PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA .............................. 393
A. ARTI KATA "'PERBUATAN' DALAM "PERBARENGAN
[Link]' .....,................................ :......................................... 398
B. CONCURSUS IDEAUS ................................................................ 399
OAfTAR lSI XX)(jjj.;
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
PENGANTAR·
~ ...• het tegenwoordige strafrecht slechts een fase is in
· een ontwikkelingsgang, waarvan het eindpunt zaker nag
· niet is bereikt"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ada awal Bah I huku ini, Penulis mengutip pendapat van
P Bemmelen dan van Hattum yang pada irttinya menyatakan
hahwa hukum pidana dewasa ini harulah mencapai suatu tahap
tertentu di dalam sejarah perkemhangannya, meskipun titik akhirnya
itu sudahlah jelas helum tercapaP. Pernyataan tersehut kiranya masih
berlaku hagi perkemhangan hukum pidana di Indonesia dewasa ini.
Oleh karena itu sebelum membahas lehih lanjut mengenai apakah
hukum pidana itu dalam konteks yang luas, terlehih dahulu perlu
memahami pengertian-pengertian dasar terkait ilmu hukum pidana,
hukum pidana dan pidana.
Salah satu ad..dgium yang sudah usang he!bunyi ad recte docendum
oportet primu:fH inquirere nomina, quia r~:rum cognitio a no minibus rerum
dependet ·yang berarti agar dapat ~nemahami sesuatu, perlu diketahui
terlei'-~ih dahulu namanya, ag~ mendapatkan pengetahuan yang henar.
O',eh sehah itu, pada Bah 1 ini, selain definisi ilmu hukum pidana juga
... akan diuraikan mengenai ohjek ilmu hukum pidana dan tujuan ilmu
hukum pidana. Sedangkan terkait [Link] pidana, selain pengertian
hukum pidana itu sendiri, juga dihahas mc:~ngenai pemhagian hukum
pidana, tujuan hukum pidana dan fungs·:1 hukum pidana. Sementara
yang berkaitan dengan pidana akan diulr dS mengenai pengertian pidana
dan tujuan pidana. Bah I akan diakhi ..ri dengan konsep-konsep dasar
hukum pidana.
1
J.M van Bemmelen En W.F.C · van Hattum, 1953, Hand En Leerboek Van Het Neder/andse
En
Strafrecht, S. Gouda Quint- • D. Brouwer Zoon, Arnhem, him. 1
PfNGANTAR . . 3 .•
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. PENGERTIAN ILMU HUKUM PIDANA DAN KRIMINOLOGI
Jerome Hall memberi definisi ilmu atau teori sebagai basil
pemikiran yang memberi perhatian khusus terbadap ide-ide pokok
dan pengetahuan dasar mengenai sesuatu2 • Hal yang sama juga
dikemukakan oleb Imre Lakatos yang memberi pengertian teori atau
ilmu sebagai basil pemikiran yang tidak akan musnab dan bilang begitu
saja ketika ilmu lain muncuP. Kemunculan satu ilmu atau teori akan
disusul oleh ilmu atau teori lainnya yang pada dasarnya merupakan
keanekaragaman dalam sebuah penelitian. Sosiolog Perancis terkenal
Auguste Comte menyatakan bahwa ilmu pengetabuan terdiri atas tiga
tahap, mulai dari penjelasan serba teologis menuju pendekatan metafisik
yang bersifat filsafati dan akhirnya pada penjelasan-penjelasan ilmiah4•
Selanjutnya adalah mengenai pengertian ilmu hukum, John Finch
menyatakan bahwa ilmu hukum adalah studi yang meliputi karakteristik.
esensial pada hukum dart kebiasaan yang sifatnya umum pada suatu
sistem hukum yang bertujuan menganalisis unsur-unsur dasar yang
membuatnya menjadi bukum dan membedakannya dari peraturan-
peraturan lain5• Sedangkan Ian McLeod mendefinisikan ilmu hukum
sebagai suatu yang mengarah kepada analisis teoretik secara sistematis
terhadap sifat-sifat dasar hukum, aturan-aturan hukum atau institusi
hukum secara umum6 •
Baik Finch maupun McLeod memberikan pengertian yang
· sangat kompleks terkait ilmu hukum yang tidak banya menyangkut
substansi bukum melainkan juga struktur bukum. Hal ini berbeda
dengan Hans Kelsen dan Jan Gijssels yang memberikan pengertian
sederbana mengenai ilmu bukum. Hans Kelsen mendefinisikan ilmu
hukum sebagai ilmu pengetahuan mengenai bukum yang berlaku dan
2
Jerome Hall, 1958, General Principles Of Criminal Law, Second Edition, The Bobbs-Merrill.
Inc. A Subsidary Of Howard W. Sams & Co., Inc. Publishers. Indianapolis. New York, him. 1.
3
Otje Salman & Anton F. Susanto, 2005, Teori Hukum: Mengingat, Mengumpulkan dan
Membuka Kembali, Refika Aditama, Ban dung, him. 3
4
Frank E. Hagan, 2013, Pengantar Kriminologi : Teori_ Metode Dan Peri/aku Kriminal, Eclisi
Ketujuh, Kencana Prenadamedia Group, Jakarta, him. 5.
s John Finch, 1979, Introduction To Legal Theory, Sweet & Maxwell, london, him. 1 - 2
6
Jan Mcleod, 1999, Legal Theory, Macmilian, london, him. 5
4 PRINSiP-PRINSIP HUKUM Pi DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
bukan mengenai huku.m yang seharusnya7• Demikian pula JanGijssels
yang mengatakan bahwa Ilmu hukum adalah ilmu yang bersifat
menerangkan atau menjelaskan tentang hukum8 •
Jika dihubungkan pengertian sederhana mengenai ilmu hukuni
yang dikemukakan Kelsen dan Gijssels dengan hukum pidana, maka
dapat didefinisikan bahwa ilmu hukum pidana adalah ilmu pengetahuan
yang menerangkan dan menjelaskan hukum pidana. Artinya, fok-us dari
ilmu hukum pidana adalah hukum pidana yang sedang berlaku atau
hukum pidana positif (ius constitutum). Definisi yang demikian dapat
dikatakan sebagai ilmu hukum pidana dalani pengertian yang sempit
Dalam pengertian yang luas, ilmu hukum pidana tidak hanya sebatas
pada norma yang dilanggar saja tetapi juga membahas mengapa terjadi
pelanggaran atas norma-norma tersebut, bagaimana upaya agar norma
itu tidak dilanggar dan mengkaji serta membentuk hukum pidana yang
dicita-citakan (ius constituendum).
Selain ilmu huk:um pidana yang oleh Moeljatno dapat
dinamakan sebagai ilmu tentang hukumnya kejahatan9 , ada juga ilmu
pengetahuan lainnya yang sangat dekat dengan ilmu hukum pidana,
bahkan diibaratkan sebagai dua sisi dari suatu mata uang logam yaitu
kriminologi atau ilmu tentang kejahatan. Kriminologi didefinisikan
sebagai ilmu atau disiplin yang mempelajari kejahatan dan perilaku
kriminal. Secara khusus, bidang kriminologi berkonsentrasi pada
bentuk-bentuk perilaku kriminal, sebab-sebab kejahatan, definisi
kriminalitas dan reaksi masyarakat terhadap aktivitas kriminal 10•
Istilah kriminologi pertama kali dikemukakan oleh P. Topmard
(1830-1911), seorang ahli antropologi Perancis. Secara etimologis
kriminologi berasal dari kata "crimen" yang berarti kejahatan dan
"logos" yang berarti ilmu pengetahuan 11 • Secara harafiah kriminologi
7
Hans Kelsen, 1944, General Theory Of Law And State, Russell & Russell, New York. him.
435. .
1 Jan Gijssels, 1982, Wot Is Rechtsteorie, Kluwer Rechtswetenschappen, Atwerpen, hlm.4
' Moeljatno, 2009, Asas-Asas Hukum Pidana,Rineka Cipta, him. 14.
10 Frank E. Hagan, [Link], him. 2.
u· I.S Susanto, 2011, Kriminfafogf, Genta Publishing, Yogyakarta, him. 1.
PENGANTAR . . 5·. .
~ ~-_.: ;~~-: ··::.;:
__
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
diartikrul sebagai ilmu tentang kejahatan. Kriminologi juga diartikan .
sebagai ilmu yang mempelajari kejahatan, pelaku kejahatan, reaksi
terhadap keduanya dan korban kejahatan12 •
Mark M. Lanier dan Stuart Henry memberi pengertian
kriminologi sebagai studi sistematis yang mempelajari sifat, jangkauan,
penyebab, serta kontrol perilaku pelanggar hukuni. Kriminologi adalah
ilmu pengetahuan sosial di mana para kriminolog bekerja untuk
memberikan ilmu mengenai kejahatan dan bagaimana mengontrolnya
melalui empirical research. Riset tersebut membentuk dasar bagi
pemahaman, penjelasan prediksi, pencegahan, dan kebijakan peradilan
pidana. 13
Menurut Bonger, kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang
bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. Berdasarkan
pengertian tersebut, Bonger membagi kriminologi ini menjadi ,.
kriminologi murni dan kriminologi terapan. Kriminologi murni
meliputi: Pertama, antropologi kriminil yaituilmu pengetahuan tentang
manusia yang jahat (somatis). llmu pengetahuan ini memberikan
jawaban atas pertanyaan tentang orang jahat dalam tubuhnya
mempunyai tanda-tanda seperti apa dan apakah ada hubungan antara
suku bangsa dengan kejahatan. Kedua, sosiologi kriminil yakni ilmu
pengetahuan tentang kejahatan sebagai suatu gejala masyarakat.
Ketiga, psikologi kriminil yaitu llmu pengetahuan tentang penjahat
yang dilihat dari sudut jiwanya. Keempat, penologi yakni ilmu tentang
tumbuh dan berkembangnya hukuman. Kelima, psikopatologi dan
neuropatologi kriminil yaitu ilmu tentang penjahat yang sakit jiwa atau
urat syaraf.
Kriminologi terapan mencakup: Pertama, higiene kriminil yaitu
usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kejahatan. Misalnya
u Tb. Ronny Rachman Nitibaskara, 2014, Etnografi Kejahatan Di Indonesia Suatu Cerminan
Pendekatan Multidisipliner Dalam Kriminologi, disampaikan dalam acara Pelatihan Hukum
Pidana Dan Kriminologi •Asas-Asas Hukum Pidana Dan Kriminologi Serta Perkembangan
Dewasa lni", Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan Masyarakat
Hukum Pidana Dan Kriminologi, Yogyakarta, 23- 27 Februari 2014, him. 3.
u Mark M. Lanier And Stuart Henry, 2010, Essential Criminology, Third Edition, Westview
Press, hlm.16.
6 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk menerapkan
undang-undang, sistem jaminan hidup dan kesejahteraan yang
. dilakukan semata-mata untuk mencegah terjadinya kejahatan. Kedua,
politik kriminil yakni usaha penanggulangan kejahatan di mana suatu
kejahatan telah terjadi. Di sini dilihat sebab-sebab seorang melakukan
kejahatan. Bila disebabkan oleh faktor ekonomi, maka usaha yang
dilakukan adalah meningkatkan keterampilan atau membuka
lapangan kerja. Jadi tidak semata-mata dengan penjatuhan sanksi.
Ketiga, kriminalistik (polide scientific) yang merupakan ilmu tentang
pelaksanaan penyidikan teknik kejahatan dan pengusutan kejahatan.
Pembagian kriminologi yang lain dilakukan oleh Sutherland, ke
dalam tiga cabang ilmu utama: Pertama sosiologi hukum. Kejahatan
adalah perbuatan yang oleh hukum dilarang dan diancam dengan
suatu sanksi. Sosiologi hukum menyelidiki sebab-sebab kejahatan
dan menyelidiki faktor-faktor apa yang menyebabkan perkembangan
hukum (khususnya hukum pidana). Kedua, etiologi kejahatan adalah
cabang ilmu kriminologi yang mencari sebab musabab dari kejahatan.
Ketiga, penologi yakni ilmu tentang hukuman 14 •
Selain kriminologi murni dan kriminologi terapan yang di-
kemukakan oleh Bonger, demikian pula pembagian kriminologi yang
.dilakukan oleh Sutherland, dikenal juga biosocial criminolgy, green
criminology dan comparative criminology. Kriminologi biososial pada
dasarnya adalah suatu pendekatan biososial terhadap kriminologi
yang menggabungkan data, konsep dan metode yang relevan dari ilmu
biologi ke dalam pendekatan kriminologi tradisional.
Kriliiinologi biososial memiliki kecenderungan berkembang.
Di satu sisi, teori kriminologi bersifat tetap karena hal tersebut
menyiratkan bahwa perilaku kriminal bersifat 'mengabadikan diri' ·
dan berkesinambungan sejak pertama teorinya tersebut ditemukan,
sementara di sis lain, teori biososial bersifat dinamis. Teori biososial
1A Topo Santoso Dan Eva Achjani Zulva, 2006, Kriminologi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,
hlm.l0-11.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
menitikberatkan pada perkembangan ·setiap individu dengan cara yang
berbeda15•
Green Criminology pada dasarnya mempelajari degradasi .
lingkungan hidup dengan menggunakan pendekatan kriminologi.
Green criminolgy menganalisis dan mengevaluasi kebijakan termasuk
peran serta masyarakat, korporasi dan pemerintah atas tindakan
- tindakan yang membahayakan dan mengakibatkan kerusakan
lingkungan. Green criminology secara garis besar meliputi primary
green crimes dan secondary green crimes 16 • Primary green crimes meliputi
beberapa kejahatan.
Pertama, kejahatan polusi udara. Contoh dari kejahatan ini
adalah pembakaran hutan atau perkebunan yang mengakibatkan
kabut asap. Bahkan, dalam bencana kabut asap yang terjadi di sebagian
besar Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan selama tahun 2015 telah
mengakibatkan korban jiwa dan kerugian materiil triliunan rupiah. '·
Kedua, kejahatan polusi air. Termasuk dalam kejahatan polusi air
adalah pembuangan limbah pabrik yang menyebabkan tercemarnya
air sungai atau air laut. Ketiga, kejahatan terhadap spesies hewan.
Termasuk dalam kejahatan ini adalah perburuan liar terhadap satwa
yang dilindungi.
Keempat, kejahatan penebangan liar atau illegal logging. Termasuk
· dalam illegal logging adalah :
1. Penebangan di luar areal kewenangan pemegang hak
pengusahaan hutan, seperti penebangan di kawasan hutan
konservasi dan penebangan di kawasan hutan lindung.
2. Penebangan melebihi toleransP 7•
15
Anthony Walsh And Kevin M. Beaver, 2009, Biosocial Criminology : New Directions In
Theory And Research, Ruotledge Taylor & Francis Group, New York And London, him. 8.
16
Eamonn Carrabine, Paul lganski, Maggy Lee, Ken Plummer And Nigel South, 2004,
Criminology: A Sociological Introduction, Ruotledge Taylor & Francis Group, New York And
London, him. 315-317.
17
Dalam Hak Pengelolaan Hutan maupun Hak Pengelolaan Hasil Hutan sudah ditetapkan
target atau standar jumlah pohon yang bisa ditebang. Penebangan pohon melebihi batas
toleransi adalah penebangan pohon yang melebihi target yang telah ditetapkan.
8 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
3. Re-logging atau penebangan ulang 18 •
4. Memindahtangankan hak pemungutan hasil hutan ke pihak
lain tanpa persetujuan negara.
5. Penyeludupan kayu ilegal 19 •
6. Illegal processing2°.
Selanjutnya secondary green crimes atau symbiotic green crime
adalah kejahatan terkait bancana alam21 • Sebagai misal primary green
crime yang mengakibatkan kerusakan lingkungan akan berdampak pada
terjadinya bencana alam. Kemudian pemulihan terhadap lingkungan
tidak. dilakukan sebagaimana mestinya. Contoh lain terhadap secondary
green crime adalah penanganan yang tidak dilakukan secara baik
terhadap korban bencana alam sebagai akibat primary green crime.
Kriminologi komparatif oleh Beirne dan Hill diartikan sebagai
studi sistematik mengenai kejahatan, hukum, dan kontrol sosial
terhadap dua kultur atau lebih. Termasuk dalam kriminologi komparatif
adalah pendekatan global terhadap studi kejahatan dengan mengikuti
perkembangan intemasional. Seiring dengan berjalannya waktu, fokus
utama dalam kriminologi juga mengikuti perkembangan teknologi dan
komunikasi22•
Arti penting kriminologi bagi ilmu hukum pidana adalah dalam
·rangka membantu negara untuk membuat undang-undang pidana atau
pencabutan undang-undang pidana. Oleh karena itu, menurut von
Liszt sebagaimana yang dikutip Susanto, menghendaki kriminologi
bergabung dengan hukum pidana untuk menangani dan melindungi
18
Re-logging atau penebangan ulang. Sebelum siklus tebangan berikutnya tercapai sudah
ditebang lag! sehlngga menyebabkan tegakan atau tunas menjadi rusak atau terdegradasl
tanpa izin.
19
Pengirlman kayu bulat atau kalengan atau moulding atau plywood tanpa dokumen yang ·
sah, melebihi batas angkutan, pengemasan yang membahayakan keselamatan umum dan
manipulasl dokumen tata usaha kayu.
20 Penebangan kayu dengan menggunakan alat-alat berat dan mesin-mesin termasuk di
dalamnya adalah berdirinya industri pemotongan kayu liar atau tanpa ijin ..
21
Eamonn Carrabine, Paullganski, Maggy lee, Ken Plummer And Nigel South, [Link]., 318. .
~ Mark M. Lanier And Stuart Henry, [Link]., him. 19
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
warga negara dari kejahatan23• Kendatipun sangat erat hubungannya
antara kriminologi dan ilmu hukum pidana, namun kedua disiplin
ilmu tersebut memiliki perbedaan mendasar. Ilmu hukum pidana .
adalah ilmu normatif, sedangkan kriminologi adalah ilmu sosial. Romli
Atmasasmita yang mengutip pendapat van Bemmelen menyatakan
bahwa ilmu hukum pidana adalah normativestrafrechtwissenschaft,
sementara kriminologi adalah faktuelestrafrechtwissenschajf 4 •
Dalam pengertian yang hias, ilmu hukum pidana meliputi asas-
asas hukum pidana, aliran-aliran dalam hukum pidana, teori-teori
pemidanaan, ajaran kausalitas, sistem peradilan pidana, kebijakan
hukum pidana dan perbandingan hukum pidana. Perihal asas-
asas hukum pidana, aliran-aliran dalam hukum pidana, teori-teori
pemidanaan dan ajaran kausalitas, akan dibahas lebih lanjut dalam bah-
bah berikutnya. Selanjutnya terkait sistem peradilan pidana, kebijakan
hukum pidana dan perbandingan hukum pidana dapat dijelaskan ,.
sebagai berikut.
Pertama, sistem peradilan pidana secara sederhana diartikan
sebagai proses yang dilakukan oleh negara terhadap orang-orang
yang melanggar hukum pidana. Kedua, kebijakan hukum pidana
bertalian dengan .penyusunan undang-undang yang berkaitan dengan
hukum pidana yang dalam beberapa literatur digunakan istilah
politik hukum pidana yang meliputi tahap formulasi suatu rumusan
delik termasuk latar belakang untuk menetapkan suatu perbuatan
yang tadinya bukan perbuatan pidana menjadi perbuatan pidana
atau kriminalisasi. Termasuk dalam kebijakan hukum pidana adalah
tahap penalisasi yaitu mencantumkan ancaman pidana terhadap
perbuatan yang dikriminalkan. Ketiga, perbandingan hukum pidana
adalah membandingkan hukum pidana yang ada di berbagai negara.
Perbandingan merupakan salah satu metode studi dengan melihat
bekerjanya hukum pidana di berbagai negara.
23
1.5 Susanto, [Link], him. 20
24
Romli Atmasasmita, 2007, Teori Dan Kapita Se/ekta Kriminologi, Refika Aditama, Bandung,
him. 4-5.
1Q PR!NSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
B. OBJEK ILMU HUKUM PIDANA
Per definisi ilmu hukum pidana, maka objek ilmu hukum pidana
adalah aturan-aturan hukum pidana yang berlaku di suatu negara.
Tegasnya, objek ilmu hukum pidana adalah aturan-aturan pidana
positif yang berlaku di suatu negara. Secara singkat dikatakan oleh
Hazewinkel Suringa bahwa objek dari ilmu hukum pidana adalah
berlakunya hukum terutama norma-norma hukum pidana dan sanksi
(object van de wetenschap van het strafrecht is in de eerste plaats het
geldende recht, de geldende strafrechtelijke normen en sancties) 25•
Menurut Barda Nawawi Arief, hukum pidana sebagai objek ilmu
hukum pidana sesungguhnya merupakan objek yang abstrak. Objek
ilmu hukum pidana yang lebih konkret pada dasarnya sama dengan
objek ilmu hukum pada umumnya _yaitu tingkah laku manusia dalam
hidup bermasyarakatu.
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Pompe bahwa ilmu
hukum pidana berkaitan dengan keseluruhan hukum tertulis yang
berhubungan dengan kelakuan-kelakuan yang dapat dipidana dan
sanksi-sanksi (Het strafrecht wordt hier beschouwd als een geheel van
rechtsvoorschriffen betreffende strafbare gedraging en strafen). Masih
menurutPompe,tugasilmuhukumpidanaadalahmelakukanpenelitian
secara sistematis terhadap aturan-aturan hukum tertulis untuk
·memberi pencerahan dalam rangka penegakan hukum (Stelselmatig
onderzoek naar deze rechtsvoorschriften, benevens voorlichting om trent
haar toepassing, is de taak der strafrechtswetenschap )27•
Pertanyaan lebih lanjut, apakah yang dimaksudkan dengan aturan-
aturan atau ketentuan pidana positif yang berlaku di suatu negara? .
van Hattum dan van Bemmelen dalarn mengomentari Pasal 1 ayat
(1) .KUHP, memberi cakupan mengenai aturan atau ketentuan pidana
meliputi kitab undang-undang pidana, seluruh undang-undang pidana
25 Hazewinkel Suringa, 1953, lnle/ding Tot De Studie Van Het Nederlandse Strafrecht, H.D.
Tjeenk Willink & Zoon N.V.- Haarlem, him. 22.
2!; Barda Nawawi Arief, 2011, Beberapa Aspek Pengembangan 1/mu Hukum Pidana, Penerbit
Pustaka Magister, Semarang, him. 5.
27 [Link] Pompe, 1959, Handboek Van Het Nederlandse Strafrecht, Vijfde Herziene Druk, N.V.
Uitgevers- Maatschappij [Link] Willink, Zwolle., him. 15.
PENGANTAR
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang tertulis, umum maupun khusus, baik perundang-undangan
yang dikodifikasi ataupun tidak dikodifikasi. Ketentuan atau aturan
pidana di sini tidak hanya dalam pengertian formil tetapi juga dalam .
pengertian materiil.
Secara tegas dikatakan oleh van Hattum dan van Bemmelen,
Art 1 Sr. Herhaalt het nog eens m'et nadruk door te bepalen, dat
geen feit strafbaar is dan uit kracht van een wettelijke strafbepaling.
Intussen mag het begrip 'wettelijk' in dit attikel niet, evanmin als 4e
term 'strafwet' in het opschrift van de eerste titel van het eerste boek,
eng worden opgevat. Onder strafwet heeft men te verstaan, niet het
straftvetboek aileen, doch het geheel van Nederlandse strafrechtelijke
voorschriften, algemene of bijzondere, zoals die in de gecodificeerde
en niet gecodificeerde wetgeving worden aangetroffen. En wet is dan
niet op te vatten in de formele doch in de materiele zirr8•
(Pasal 1 KUHP berUlang kali masih menjadi perhatian tertentu, ,. ·
tidak ada perbuatan yang dapat dipidana kecuali atas ·kekuatan
ketentuan undang-undang pidana. Sementara itu pengertian
'undang-undang' tidak ada dalarn pasal, bahkan istilah 'undang-
undang pidana' tidak tertulis dalarn bah pertarna buku pertama. .
Berdasarkan pengertian undang-undang pidana, tidak hanya kitab
undang-undang pidana, tetapi juga seluruh undang-undang pidana
Belanda yang tertulis, umum maupun khusus, baik perundang-
undangan yang dikodifikasi ataupun tidak dikodifikasi. Undang-
undang di sini tidak hanya dalarn pengertian formil tetapi juga
dalam pengertian materiil).
Ketentuan atau aturan pidana dalarn pengertian formil berarti
pembentukailnya dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan
Pemerintah, sedangkan ketentuan atau aturan pidana dalam pengertian
materiil berarti segala sesuatu yang bersifat mengikat yang berisi
sanksi pidana dan keberlakuannya dapat dipaksakan. Ketentuan atau
aturan pidana dalam pengertian materiil termasuk di dalamnya adalah
ketentuan pidana yang terdapat dalarn Peraturan Daerah, baik propinsi
maupun kabupaten atau kota.
28
J.M van Bemmelen En W.F.C van Hattum, [Link]., him. 55.
12 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dengan demikian dalam konteks Indonesia yang menjadi objek
ilmu hukum pidana dalam pengertian yang luas adalah:
1. Kitab Undang-Und~g Hukum Pidana yang meliputi asas-
asas hukum pidana, kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-
pelanggaran.
2. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
3. Undang-Undang Pidana di luar kodifikasi atau KUHP
4. Ketentuan Pidana yang terdapat dalam Undang-Undang
lainnya
5. Ketentuan pidana yang terdapat dalam Peraturan Daerah
Objek ilmu hukum pidana yang demikian masih berada dalam
tataran dogmatik hukum, yaitu pengetahuan terkait hukum positif.
Selain dogmatikhukum yang juga merupakan objek ilmu hukum pidana
adalah teori hukum pidana yang cakupannya antara lain adalah aliran-
aliran hukum pidana, teori-teori pemidanaan dan lain sebagainya.
C. TUJUAN ILMU HUKUM PIDANA
Gustav Radbruch dalam Vorschule der Rechtsfilosofie, [Link],
"Rechtswissenschaft its die wissenschaft von obyektiven sinn des positiven
rechts". Artinya, ilmu pengetahuan hul.'Um bertujuan untuk mengetahui
objektifitas hukum positif9• Oleh karena itu, tujuan ilmu hukum
menurut Hans Kelsen harus terbebas dari semua idiologi politik
menuju perubahan yang lebih baik untuk menjaga keseimbangan
dalam masyarakat30• Bila dihubungkan dengan ilmu hukum pidana,
maka dapat dikatakan bahwa tujuan ilmu hukum pidana adalah untuk
mengetahui objektifitas dari hukum pidana positif. Dalam konteks
teori, objektivitas hukum pidana positif dapat dilihat dari substansi
hukum pidana positif yang mengatur mengenai perbuatan-perbuatan
yang dilarang. Terkait perbuatan yang dilarang, ada yang bersifat
sebagai rechtsdelicten dan ada yang bersifat sebagai wetsdelicten.
29
Moeljatno, [Link]., him. 11.
10
Hans Kelsen, [Link]., him. xvii
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Rechtsdelicten secara harafiah berarti delik-delik hukum31 •
Perbuatan-perbuatan yang dilarang sebagai pelanggaran hukum sejak.
semula dianggap sebagai suatu ketidakadilan oleh karena itu perbuatan ·
tersebut dilarang. Perbuatan-perbuatan sebagai rechtsdelicten biasanya
lahir dari norma .agama dan norma kesusilaan. Bahkan, sebelum
kemunculan hukum pidana, agama merupakan basis primer kontrol
so sial di luar organisasi kekerabatan32 • Sebagai contoh, larangan
membunuh, larangan mencuri, larangan menipu dan lain sebagainya.
Perbuatan-perbuatan tersebut dilarang dalam kitab sud semua agama.
Hukum pidana kemudian mempositifkan larangan tersebut dalam
undang-undang disertai dengan ancaman pidana yang tegas dan
keberlakuannya dapat dipaksakan oleh negara.
Wetsdelicten secara harafiah berarti delik undang-undangl3 •
Perbuatan-perbuatan tersebut dilarang oleh pembentuk undang- ,.
undang dengan melihat perkembangan masyarakat. Sebagai misal
dalam undang-undang lalu lintas. Setiap orang yang mengendarai
mobil di jalan raya harus menggunakan sabuk pengaman. Jika tidak
menggunakan sabuk pengaman maka diancam dengan pidana denda.
Wetsdelicten tidak berasal dari norma agama.
Objektivitas lainnya dari hukum pidana positif adalah terkait
penegakan hukum pidana itu sendiri. Artinya, perbuatan-perbuatan
yang dilanggar dalam hukum pidana materiil harus dapat dikenakan
tindakan oleh negara. Aparat penegak hukum yang bertugas me-
negakkan hukum pidana positif dari segi suprastruktur maupun dari
segi infrastruktur telah memadai. Dari segi suprastruktur artinya
institusi tersebut telah mapan dan dilengkapi oleh tugas kewajiban
serta kewenangan menurut undang-undang, sedangkan dari segi
infrastruktur berarti sarana dan prasarana untuk bekerjanya aparat
penegak hukum telah tersedia.
31
J.E Sahetapy, 2014, Hukum Pidana Indonesia Suatu Perspektif, disampaikan dalam acara
Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-Asas Hukum Pidana Dan Kriminologi Serta
Perkembangan Dewasa lni", Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan
Masyarakat Hukum Pidana Dan Krirriinologi, Yogyakarta, 23- 27 Februari 2014, him. 3.
32
Frank E. Hagan, [Link]., him. 5.
33
Ibid.
14 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
D. PENGERTIAN HUKUM PIDANA
Pompe, membandingkan hukum pidana dengan hukum tata
negara, hukum perdata dan bidang hukum lainnya, memberi pengertian
sederhana terhadap hukum pidana sebagai suatu keseluruhan dari
peraturan-peraturan yang sedikit-banyaknya bersifat umum yang
terdiri dari keadaan konkret, abstrak dan aturan-aturan ( Het strafrecht
wordt, cvenals het staatsrecht, het burgerlijk recht en andere de/en van het
recht, gewoo1zlijk opgevat als een geheel van min of mecr algemene, van
de concrete omstandigheden abstraherende, regels) 34 • Pengertian hukum
pidana menu rut Pompe terlalu sumir. Demikian pula halnya pengertian
hukum pidana oleh Mezger sebagaimana yang dikutip Sudarto bahwa
hukum pidana adalah aturan hukum yang mengikatkan kepada suatu
perbuatan yang memenuhi syarat-syara t tertentu suatu akibat yang
berupa pidana35 •
Pengertian hukum pidana lainnya dikemukakan oleh van Hamel:
"..... het samenstel van de beginselen en regelen, welke de staat (resp.
eenige andere openbare rechtsgemeenschap) volgt, inzoover hij,
als handhaver der openbare rechtsorde, onrecht verbiedt en aan
de overtreding zijner rechtsvoorschriften voor den ovetreder een
bijzonder leed als straf verbindt" 36 •
(.:··· suatu keseluruhan dari asas-asas dan aturan-aturan yang
ditaati negara (atau masyarakat hukum umum lainnya) yang
mana mereka adalah pemelihara ketertiban hukum umum telah
melarang perbuatan-perbuatan yang bersifat melanggar hukum
dan telah mengaitkan pelanggaran terhadap aturan-aturan dengan
suatu penderitaan yang bersifat khusus berupa pidana).
Sepintas kilas, pengertian hukum pidana yang dikemukakan van
Hamel yang juga diikuti oleh van Bemmelen dan van Hattum37 adalah
).( W.P.J Pompe, [Link], him. 1
3
~ Sudarto, 1990, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto Fakultas Hukum Universitas Diponegoro,
Semarang, him. 9.
36
G.A van Hamel, 1913, lnleiding Tot De Studie Van Het Nederlansche Strafrecht, Derde
Druk, De Erven F. Bohn Haarlem & Gebr. Belinfante 's-Gravenhage, him. 2.
37
Pengertian hukum pidana yang dikemukakan oleh van Bemmelen dan van Hattum
mengambil definisi hukum pidana yang dikemukakan oleh van Hamel. lihat lebih lanjut
dalam J.M. van Bemmelen dan W.F.C van Hattum, [Link], him. 1. Bandingkan pula dengan
P.A.F Lamintang. 1990, Dosar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Penerbit Sinar Baru
Bandung, him. 2.
PENGANTAR d:~~~~~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. pengertian yang luas. Akan tetapi jika ditelaah, pengertian tersebut
hanyalah sebatas pengertian hukum pidan:a dalam arti substantif
atau pengertian hukum pidana materiil, padahal dalam bukunya, van
Hamel sendiri berpendapat bahwa pengertian hukum pidana dapat
dipisahkan menjadi hukum pidana materiil dan formil.
Pengertian hukum pidana yang lebih luas, dikemukakan oleh
Moeljatno yang menyatakan bahwa hukum pidana adalah bagian dari
keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara yang mengadakan
dasar-dasar dan mengatur ketentuan tentang perbuatan yang tidak
boleh dilakukan, dilarang yang disertai ancaman pidana bagi barang
siapa yang melakukan. Kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang
telah melanggar larangan itu dapat dikenakan sanksi pidana dan
dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan38 •
Penulis sendiri mendefinisikan hukum pidana sebagai aturan"
hukum dari suatu negara yang berdaulat, berisi perbuatan yang dilarang
atau perbuatan yang diperintahkan, disertai dengan sanksi pidana
bagi yang melanggar atau yang tidak mematuhi, kapan dan dalam hal
apa sanksi pidana itu dijatuhkan dan bagaimana pelaksanaan pidana
tersebut yang pemberlakuannya dipaksakan oleh negara39• Pengertian
yang demikian meliputi baik hukum pidana materiil maupun hukum
pidana formil.
Dari berbagai pengertian hukum pidana di atas, dapatlah
disimpulkan bahwa salah satu karakteristik hukum pidana yang
membedakannya dengan bidang hukum lainnya adalah adanya
sanksi pidana40 yang keberlakuannya dipaksakan oleh negara. Dengan
demikian hukum pidana adalah hukum publik karena mengatur
hubungan antara individu dengan negara.
Sutherland dan Cressey sebagaimana yang dikutip oleh Frank
E. Hagan, menyatakan hukum pidana memiliki empat karakteristik.
Pertama, dijalankan oleh otoritas politik dalam hal ini adalah
38
Moeljatno, [Link], him. 1
39
Eddy O.S Hiariej, 2009, Pengantar Hukum Pidana lnternasianal, Penerbit Erlangga, him. tt
40
Arnold H. Loewy, 2009, Criminal Law In A Nutshell, Fifth Edition, West, A Thomson Reuters
Business, him. 1.
t6 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
..
_
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
negara yang melakukan penuntutan terhadap pelaku. kedua, spesifik
mendefinisikan delik dan hukuman yang dapat dijatuhkan. Ketiga,
penerapannya tanpa diskriminasi. Artinya, hukuman dijatuhkan
dengan adil terhadap semua pelaku tanpa memandang status sosial.
Keempat, mengandung sanski pidana yang dikelola oleh negara41 •
Dapat disimpulkan pula bahwa pengertian hukum pidana
secara luas meliputi hukum pidana materiil dan hukum pidana
formil, sedangkan pengertian hukum pidana dalam arti sempit hanya
mencakup hukum pidana materiil. Dalam percakapan sehari-hari
maupun dalam kurikulum pendidikan tinggi hukum, istilah 'hukum
pidana' yang dimaksud adalah hukum pidana materiil, sementara
untuk menyebut hukum pidana formil biasanya dikenal dengan istilah
'hukum acara pidana'.
E. PEMBAGIAN HUKUM PIDANA
Merujuk pada pengertian perundang-undang pidana sebagaimana
yang dikemukakan oleh van Bemmelen dan van Hattum di atas,
demikian juga berdasarkan pengertian hukum pidana, maka pembagian
hukum pidana dapat meliputi hukum pidana materiil - hukum pidana
formil; hukum pidana objektif- hukum pidana subjektif; hukum pidana
·berdasarkan adresat; hukum pidana umum - hukum pidana khusus;
dan hukum pidana nasional- hukum pidana lokal serta hukum pidana
intemasional. Ulasan terkait pembagian hukum pidana adalah sebagai
berikut:
1) Hukum Pidana Materiil - Hukum Pidana Formil
van Hamel dalam leerboek-nya mengatakan:
"Ook het strafrecht omvat naar gangbare onderscheiden twee
deelen, een matrieel en een formeel. · Het matrieele starfrecht wijst
de beginselen en regelen aan, waarnaar aan het onrecht starf is
verbonden; het formeele de vormen en termijnen, waaraan de
verwezenlijking van het materieele strafrecht gebonden is"42•
•1Frank E. Hagan,[Link]., him. 15.
u G.A van Hamel, [Link], him. 4.
PENGANTAR . •fJ: •.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Hukum pidana biasanya juga meliputi pemisahan dua bagian,
yang materiil dan yang formil. Hukum pidana materiil menunjuk
pada asas-asas dan ketentuan-ketentuan yang menetapkan pidana ,
bagi yang melanggarnya; yang formil mengenai bentuk dan jangka
·waktu yang mengikat penegakan hukum materiil).
Demikian pula menurut Vos yang membagi hukum pidana
menjadi hukum pidana materiil dan hukum pidana formil, namun tidak
mendefinisikannya. Dalam handboek-nya, Vos hanya menyatakan:
"Het materiele strafrecht is vervat in het Wetboek van Starfrecht
en in tal van bijzondere wetten, veordeningen en andere wettelijke
bepalingen. Het formele strafrecht regelt de wijze van uitoefening
van het recht tot strafvordering, m.a. w. het strafproces. Dit recht is
voornamelijk vervat in het Wetboek van Strafvordering en de wet R.
0., terwijl men ook nog in tal van andere wetten regalingen vindt"43•
(Hukum pidana materiil termasuk Kitab Undang-Undang Hukum ,_
Pidana dan undang-undang khusus, regulasi dan ketentuan
perundangan lainnya. Hukum pidana formil mengatur cara
pelaksanaan hukum sampai hukum acara, yaitu proses hukum.
Hukum tersebut pada prinsipnya adalah Kitab Undang-Undang
Hukum Acara, undang-undang R.O, dan juga aturan perundang-
undangan lainnya).
Wayne R. Lafave tidak menggunakan istilah hukum pidana
materiil dan hukum pidana formil melainkan menggunakan istilah
hukum pidana substantif dan hukum pidana prosedural. Kendatipun
tidak memberi definisi, namun Lafave menyatakan bahwa hukum
pidana substantif memberi perhatian terhadap tindakan, mental
state keadaan dan konsekuensi beserta berbagai macam kejahatan.
Sedangkan hukum pidana prosedural berawal dari penyidikan sampa i
pelaksanaan putusan44 • Adapula yang menyebut hukum pidana m ater iil
sebagai hukum pidana in abstracto dan hukum pidana formil sebagai
hukum pidana in concreto45•
43
H.B. Vos, 1950, Leerboek Van Nederlands Strafrecht, Derde Herziene Druk, [Link]
Willink & Zoon N.V. - Haarlem., him. 1 .
44
Wayne R. Lafave, 2010, Principle Of Criminal Law, West A Thomson Reuters Business, him. 2.
•~ Satochid Kartanegara (tanpa tahun), Hukum Pidana, Balai lektur Mahasiswa, him. 2
18 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Hukum pi dana fonnil memiliki beberapa tujuan: Pertama, mencari
kebenaran materiil. Kedua, melindungi hak-hak dan [Link];m
orang serta warga negara. Ketiga, orang dalam keadaan yang sama dan
dituntut untuk delik yang sama harus diadili dengan ketentuan yang
sama pula. Keempat, mempertahankan sistem konstitusional terhadap
pelanggaran kriminal. Kelima, mempertahankan perdamaian, ke-
amanan kemanusiaan dan mencegah kejahatart46 •
Hemat Penulis dari apa yang dikemukakan van Hamel,Vos
dan Lafave dapat disimpulkan bahwa hukum pidana materiil adalah
keseluruhan hukum yang berisi asas-asas, perbuatan yang dilarang dan
perbuatan yang diperintahkan beserta sanksi pidana terhadap yang
melanggar atau tidak mematuhinya. Sedangkan hukum acara pidana
adalah hukum untuk melaksanakan hukum pidana materiil yang berisi
asas-asas dan proses beracara dalam sistem peradilan pidana yang
dimulai dari penyelidikan sampai eksekusi putusan pengadilan. Hukum
pidana materiil tidak hanya terdapat dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) tetapi juga dalam perundang-undangan
lainnya. Demikian pula dengan hukum acara pidana, tidak hanya
terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
namun terdapat pula dalam ketentuan perundang-undangan lainnya.
., 2) Hukum Pidana Objektif - Hukum Pidana Subjektif
Pembagian huk:Um pidana yang lain adalah hukum pidana objektif
yang juga disebut sebagai jus poenale dan hukum pidana subjektif
yang dikenal dengan istilah jus puniendi. Suringa tidak memberikan
pengertian mengenai hukum pidana objektif atau jus poenale, namun
memberikan cakupan dari hukum pidana objektif. Secara tegas
dinyatakan oleh Suringa:
"Strafrecht in deze objectieve zin, ook wei aangeduid als jus poenale,
omvat dan dus:
~ Andi Hamzah, 2014, Beberapa Hal Dolom Roncangan KUHAP, disampaikan dalam acara
Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-Asos Hukum Pidona Don Kriminologi Serta
Perkembangan Dewasa lni", Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan
Masyarakat Hukum Pidana Dan Kriminologi, Yogyakarta, 23- 27 Februari 2014, him. 1.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
1. De geboden e~ verboden, aan wier overtrading door de daartoe
wettelike bevoegde organen · straf is verboden, de normen,
waaraan een ieder heeft te gehoorzamen.
2. De voorschriften, die aangeven met welke middelen op
overtreding dezer normen mag worden gereageerd, het
penintentaire recht of ruimer het recht der sancties.
3. De regelen, die tijdelijk en ruimtelijk de werkingssfeer der
normen bepalen47•
(Hukum pidana objektif disebut juga jus poenale terdiri dari:
1. Perintah dan larangan yang pelanggaran terhadap larangan
dan norma tersebut dian cam pidana oleh badan yang berhak.
2. Ketentuan-ketentuan mengenai upaya-upaya yang dapat
digunakan jika norma itu dilanggar disebut hukum
penitentiaire tentang hukum dan sanksi.
3. Aturan-aturan yang menentukan kapan dan di mana
berlakunya norma tersebut).
Pengertian terkait hukum pidana objektif atau jus poenale secara
gamblang diberikan oleh Vos sebagai berikut:
"Men kan het woord strafrecht bezigen in objectieve zin ljus
poenale) en in subjectieve zin ljus puniendi). Het jus poenale omvat
de objectieve rechtsregelen, die het strafrecht beheersen. Men kan dit
jus poenale weder onderverdelen in materieel en formeel strafrecht.
Het materiele strafrecht regelt de voorwaarden voor het ontstaan en
te niet gaan van het recht tot strafvordering, benevens de straffen
(het z.g. penitentiair recht) m.a. w. het regelt wanneer, wie en hoe
gestraft wordt"48•
(Hukum pidana terdiri dari objektif (jus poenale) dan subjektif (jus
puniendi). Jus poenale adalah aturan-aturan hukum objektif, yakni
aturan hukum pidana. Hukum pidana materiil mengatur keadaa n
yang timbul dan tidak sesuai dengan hukum serta hukum acara
beserta sanksi (hukum penintentir) aturan mengenai kapan, siapa
dan bagaimana pidana dijatuhkan)
47
Hazewinkel Suringa, [Link], him. 1.
48
H.B Vos, [Link], him. 1.
20 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Sedangkan pengertian hukum pidana subjektif atau jus puniendi
dikatakan sebagai hak subjektif penguasa terhadap pemidanaan,
terdiri dari hak untuk menuntut pidana, menjatuhkan pidana dan
melaksanakan pidana (Het jus puniendi is het subjectieve recht van de
overheid om te straffen, omvattend, dus het recht om straf te bedreigen,
straf op te leggen en straf te voltrekken )49•
Senada dengan Vos adalah Simons yang memberikan pengertian
lengkap terkait hukum pidana objektif dan hukum pidana subjektif.
Dikatakan oleh Simons:
"Het strafrecht kan worden onderscheiden in strafrecht in
objectieven zin en strafrecht in subjectieven zin. Het eerste kan
worden omschreven als het geheel van verboden of geboden,
aan welker overtreding door den staat of eenige andere openbare
rechtsgemeenschap voor den overtreder een bijzonder leed straf
verbonden is, van de voorschriften, door welke de voorwarden
voor dit rechtsgevolg worden aangewezen, en van de bepalingen,
krachtens welke de straf wordt opgeplegd en togepast. Het strafrecht
in objectieven zin is het geldende ofpositiev strafrecht, jus poenale" 50•
(Hukum pidana dapat dibedakan menjadi hukum pidana objektif
dan hukum pidana subjektif. Hukum pidana objektif adalah
seluruh larangan atau dilarang sebagai pelanggaran oleh negara
atau kekuasaan umum yang · dapat dikenai pidana terhadap
pelanggar dan bagaimana pidana itu diterapkan. Hukum pidana
objektif adalah hukum pidana positif atau jus poenale)
Hukum pidana subjektif atau jus puniendi adalah hak negara
untuk memberikan hukuman terhadap pelanggaran yang dilakukan
(Strafrecht in subjectieven zin kan ook beduiden het recht van den
staat om aan de ov~eding van zijne voorschroften straf als gevolg te
verbinden, jus puniendi) 51 •
0
Ibid, him. 2
50
D. Simons, 1937, Leerboek ~n Het Nederlandsche Strafrecht, Eerste Deel, Zesde Druk, P.
Noordhoof, N.V. - Gronlngen- Batavia, hlm.l
51
Ibid.
PENGANTAR :, 21 ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Jika dikaitkan pembagian hukum antara hukum pidana objektif
- hukum pidana subjelctif dengan hukum pidana materill - hukum
pidana formil, menurut Penulis dapat ditarik beberapa kesimpulan:
Pertama, hukum pidana objektif dapat berupa hukum pidana materill
dan hukum pidana formil. Kedua, hukum pidana subjektif adalah hak
negara terhadap pemidanaan untukmelakukan penuntutan, penjatuhan
dan pelaksanaan pidana yang pada hakikatnya berada dalam lingkup
hukum pidana formil. Ketiga, hukum pidana subjektif tidak dapat
dilaksanakan tanpa hukum pidana objektif. Dengan kata lain, hukum
pidana objektif membatasi kekuasaan negara dalam konteks hukum
pidana subjektif.
3) Hukum Pidana Berdasarkan Adresat
Adresat adalah subjek hUkum yang ditujukan oleh suatu peraturan ..
perundang-undangan. Pada dasarnya adresat hukum pidana berlaku
untuk setiap orang dalam kapasitasnya sebagai individu. Akan tetapi
dalam perkembangannya ada adresat hukum pidana yang ditujukan
kepada orang-orang tertentu. Mereka yang memiliki profesi sebagai
seorang militer, jika melakukan pelanggaran hukum pidana, diadili
berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM).
Pengadilan yang mengadili pun adalah Pengadilan Militer.
Dalam doktrin hukum pidana, hukum pidana militer disebut
sebagai ius speciale dan merupakan hukum pidana khusus tertua di
dunia. Ada dua alasan mengapa terhadap mereka yang berprofesi
sebagai seorang militer memiliki hukum pidana tersendiri. Pertama,
sanksi pidana untuk kejahatan-kejahatan tertentu dalam KUHP
dianggap tidak begitu berat bila dilakukan oleh seorang militer. Kedua,
ada beberapa perbuatan pidana yang hanya bisa dilakukan oleh seorang
militer, sebagai misal adalah kejahatan disersi.
Selain hukum pidana militer, hukum pidana lainnya yang juga
memiliki kekhususan adalah, hukum pidana pajak yang dalam
doktrin hukum pidana disebut sebagai ius singulare. Selain adresat-
nya khusus, hukum pidana pajak memiliki sistem norma dan sanksi
2:2 .· PRINSIP-PRINSIP HUKUM P!DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tersendirF1 . Adresat hukum pidana pajak hanyalah fiscus atau petugas
pajak dan vva_jib pajak. Sedangkan karakter hukum pidana pajak amat
sangat khusus. Di samping memiliki norma dan sanksi hukum yang
mengandung sifat administratif dan pidana, hukum pidana pajak juga
didasarkan pada asas-asas yang bersifat ekonomis dan finansial.
4} Hukum Pidana Umum- Hukum Pidana Khusus
Pel)lbagian hukum pidana yang lain adalah hukum pi dana umum
dan hukum pidana khusus. Hukum pidana umum adalah hukum
pidana yang ditujukan dan berlaku bagi setiap orang sebagai subjek
hukum tanpa membeda-bedakan kualitas pribadi subjek hukum
tertentu. Dapat pula dikatakan bahwa hukum pidana umum adalah
hukum pidana dalam kodifikasi. Jika dihubungkan dengan hukuin
pidana materiil dan hukum pidana formil, maka materiil hukum
pidana umum dikodifikasikan dalam KUHP dan formil hukum pidana
umum dikodifikasikan dalam KUHAP.
Dalam konteks Indonesia, sejarah pembentuk:an KUHP berasal
dari Belanda yang dibuat di Twee de Kammer (Parlemen Belanda) pada
tahun 1809 di bawah pemerintahan Lodewijk Bonaparte. Kodifikasi
tahun 1809 hanya berlaku 2 tahun karena pada tahun 1811-1813,
Belanda diduduki Perancis dan sejak saat itu berlaku CO'tie Penal dengan
"'perubahan-perubahan sampai pada tahun 1886. Sementara itu Belanda
selama kurang-lebih 73 tahun membentuk kitab undang-undang
hukum pidana dan baru selesai pada tanggal3 Maret 1881. Berdasarkan
Staatblad 35, Wetboek van Strafrecht mulai diberlakukan di Belanda
pada tanggal 1 September 1886. Indonesia yang pada saat itu masih
dijajah Belanda, kemudian Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-
Indie (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana untuk Hindia Belanda)
dengan penyesuaian-penyesuaian untuk daerah jajahan (concordantie
beginselen) pada tanggal 15 Oktober 1915. [Link] Staatblad
1915-732, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana untuk Hindia
Belanda mulai berlaku pada tanggal1 Januari 1918.
52 Bambang Poernomo, 1984, Pertumbuhan Hukum Penyimpangan Di Luar Kodifikasl Hukum
Pidana, Bina Aksara, Jakarta, him. 19. ·
1
PENGANTAR r
:
~.:.-~ ..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Sejak Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945,
berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan yang menyatakan "Segala badan
negara dan peraturan yang ada masih tetap berlaku sebelum diadakan
yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini" Wetboek van Strafrecht
voor Nederlandsch-Indie diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia.
Pada tahun 1946 dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946
tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan perubahan dan tambahan
hukum pidana materiil tersebut diberlakukan secara unifikasi di
seluruh wilayah Republik Indonesia. Ketentuan Pasal VI Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1946 mengubah nama resmi Wetboek van
Strafrecht voor Nederlandsch-Indie menjadi Wetboek van Strafrecht atau
Kitab Undang~Undang Hukum Pidana yang masih berlaku sampai
dengan saat ini.
Pada dasarnya KUHP di berbagai negara selain memuat per:-
buatan-perbuatan yang dilarang atau perbuatan-perbuatan yang
diperintahkan, juga memuat asas-asas hukum pidana. Menurut Jerome
Hall, paling tidak ada tujuh prinsip hukum pidana yang termuat dalam
KUHP, masing-masing: (1) legalitas, (2) yurisdiksi, (3) tindakan/omisi,
(4)mensrea, (5) penyatuan tindakan dan mensrea, (6) alasan pembenar
dan ::emaaf, (7) percobaan dan penyertaan53 • Demikian pula KUHP
yang kita miliki terdiri dari ketentuan-ketentuan umum yang berisi
asas-asas, kejahatan-kejahatan dan pelanggaran-pelanggaran.
Selain hukum p~dana umum ini, ada juga yang disebut sebagai
hukum pidana khusus yaitu ketentuan-ketentuan hukum pidana yang
secara materiil berada di luar KUHP atau secara formil berada di luar
KUHAP. Dapat juga dikatakan bahwa hukum pidana khusus adalah
hukum pidana di luar kodifikasi. Atas dasar pengaturan terse but, hukum
pidana khusus dibagi menjadi dua bagian yaitu hukum pidana khusus
dalam undang-undang pidana dan hukum pidana khusus bukan dalam
undang-undang pidana. Hukum pidana khusus dalam undang-undang
pidana contohnya adalah Undang-Undang Pemberantasan Tindak
53 Jerome Hall, [Link], him. 32
24 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pidana Korupsi, Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana .
Terorisme, Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang dan lain sebagainya.
Dalam sejumlah undang-undangtersebut, aturanmengenaihukum
materiil maupun aturan mengenai hukum formilnya menyimpang dari
KUHP dan KUHAP. Oleh sebab itu dalam konteks teori, tindak pidana
korupsi, tindak pidana terorisme dan tindak pidana pencucian uang
sering disebut sebagai tindak pidana khusus dan undang-undangnya
disebut sebagai hukum pidana khusus. Keberlakuan hukum pidana
khusus ini didasarkan pada asas lex specialis derogat legi generali atau
hukum khusus rnengesampingkan hukurn urnum. Adanya tindak
pidana khusus disebabkan perkembangan jaman sehingga kejahatan-
kejahatan yang dilakukan sernakin canggih dengan modus operandi
(cara rnelakukan kejahatan) yang rumit.
Hukum pidana khusus yang bukan dalam undang-undang pidana
sebagai misal adalah Undang-Undang Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik, Undang-Undang Tentang Kehutanan, Undang-Undang
Tentang Perbankan dan masih banyak lagi. Di dalam undang-undang
tersebut terdapat sejumlah ketentuan pidana, baik materiil maupun
formil yang diatur secara khusus menyimpang dari KUHP atau
- KUHAP. Undang-Undang Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
di dalamnya memuat ketentuan pidana niaterill yang menyimpang
dari KUHP khususnya terkait ancaman pidana. Sedangkan ketentuan
formil dalam undang-undang tersebut pada dasarnya sama dengan
KUHAP kecuali terkait alat bukti yang mengalami perluasan atau
diatur menyimpang dari KUHA.P.
5) Hukum Pidana Nasional - Hukum Pidana Lokat Dan Hukum
Pidana Intemasional
Pembagian hukum pidana yang terakhir adalah berdasarkan
wilayah berlakunya hukum pidana. Pada dasarnya ada kesatuan hukum
. pidana nasional yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia yang
·. \ . . ·:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
disebut sebagai unifikasi hukum pidana. Hukum pidana nasional ini
baik meliputi hukum pidana materiil maupun hukum pidana -formil,
baik hukum pidana umum maupun hukum pidana khusus. Dasar ·
keberlakuan hukum pidana nasional adalah asas teritorial yang berarti
bahwa ketentuan pidana berlaku bagi setiap orang yang melakukan
tindak pidana di seluruh wilayah Indonesia.
Hukum pidana nasional ini dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat
. bersama Presiden. Bentuk hukum dari hukum pidana nasional adalah
undang-undang. Hukum pidana nasional ini dimuat dalam KUHP dan
undang-undang khusus baik yang termasuk undang-undang pidana
maupun bukan undang-undang pidana sebagaimana telah dijelaskan
di atas. Sedangkan hukum pidana lokal adalah hukum pidana yang
dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersama-sama dengan
Gubernur, Bupati atau Walikota. Bentuk hukum pidana lokal dimuat .
dalam Peraturan Daerah dan hanya berlaku bagi daerah tersebut saja.
Ada pembatasan terhadap ancaman pidana yang boleh dicantumkan
dalam suatu peraturan daerah. Sebagai misal, dalam peraturan daerah
tidak diperkenankan mencantumkan sanksi pidana berupa penjara. .
Demikian pula ada batasan maksimum pidana kurungan dan pidana
denda yang dapat dijatuhkan.
Selain hukum pidana nasional dan hukum pidana lokal, ada juga
hukum pidana internasional yang keberlakuannya bersifat universal.
Hukum pirlana internasional ini bertolak dari perkembangan zaman
bahwa terdapat perbuatan-perbuatan yang dilarang yang kekuatan
berlakunya tidak hanya dipertahankan oleh kedaulatan suatu negara
tetapi juga dipertahankan oleh masyarakat internasional. Perbuatan-
perbuatan tersebut kemudian dikualifikasikan sebagai kejahatan
terhadap masyarakat internasional atau delicta jure gentium. Kejaha tan-
kejahatan internasional merupakan substansi dari hukum pidana
internasional.
Romli Atmasasmita dengan mengutip pendapat Roling meil-
definisikan hukum pidana internasional sebagai hukum yang
menentukan hukum pidana nasional yang akan diterapkan terhadap
26 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
kejahatan-kcjahatan yang nyata -nyata dilakukan jika terdapat unsur-
unsur internasional di dalamnya54 • Shinta Agustina denganmengutip
pendapat Edmund M." ·Wise menyatakan bahwa hukum pidana .,
internasional dalam pengertian yang paling luas meliputi tiga topik:
1. Kekuasaan mengadili dari pengadilan negara tertentu
terhadap kasus-kasus yang melibatkan unsur asing. Hal ini
terkait yurisdiksi tindak pidana internasional, pengakuan
putusan pengadilan asing dan kerjasama antar negara dalam
menanggulangi tindak pidana internasional.
2. Prinsip-prinsip hukum publikinternasional yangmenetapkan
kewajiban pada negara-negara dalam hukum pidaria atau
hukum acara pidana nasional negara yang bersangkutan.
Kewajiban tersebut antara lain untuk menghormati hak-
hak asasi seorang tersangka atau hak untuk menuntut
dan menjatuhi pidana terhadap pelaku tindak pidana
internasional.
3. Mengenai arti sesungguhnya dan keutuhan pengertian
hukum pidana internasional termasuk instrumen penegakan
hukumnya. Dalarn hal ini adalah pembentukan mahkamah
pidana intemasional55•
Sedangkan Antonio Cassese mendefinisikan . hukum pidana
mternasional sebagai bagian dari aturan-aturan internasional
mengenai larangan-larangan kejahatan internasional dan kewajiban
negara melakukan penuntutan dan hukuman beberapa kejahatan56•
Cherif Bassiouni menyatakan bahwa hukum pidana internasional
adalah perpaduan dua disiplin hukum yang berbeda, agar dapat saling
. melengkapi, yaitu aspek-aspek pidana dari hukum internasional dan
aspek-aspek internasional dari hukum pidana57•
54
Romli Atmasasmita, 2003, Pengantar Hukum Pidana lnternasional, Refika Aditama,
Bandung, him. 20.
55
Shinta Agustina, 2006, Hukum Pidana lnternasional, Andalas University Press, Padang.,
hlm.14-15.
56 Antonio Cassese, 2003, International Criminal Law, Oxford University Press, hlm.141.
57
M. Cherif Bassiouni 2003, Introduction To International Criminal Low, Transnational
· Publisher, Inc. Ardsley New York, him. 1.
PENGANTAR
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,,.
Berbeda dengan berbagai pendapat di atas, Remmelink tidak
menggunakan istilah hukum pidana internasional, melainkan
'hukum pidana supra nasionaf yang pada hakekatnya adalah hukum
pidana yang keberlakuannya pada hukum antar bangsa tidak bisa
mengesampingkan prinsip-prinsip internasional dan kebiasaan-
kebiasaan internasional58 • Enschede tidak memberikan definisi hukum
pidana internasional, namun menyatakan bahwa hukum pidana dalam
artian yang luas mencakup hukum pidana internasional yang berkaitan
dengan hukum internasional khususnya kejahatan-kejahatan perang
dan kejahatan terhadap kemanusiaan59 •
Berdasarkan berbagai definisi hukum pidana internasional
sebagaimana yang telah diutarakan di atas, materiil hukum pidana
internasional adalah perbuatan-perbuatan yang menurut hukum
internasional adalah kejahatan internasional dan formil hukum·
pidana internasional dalam pengertian penegakan hukum pidana
internasional adalah aspek internasional dalam hukum pidana
nasional. Secara singkat penulis memberikan definisi hukum pidana
internasional sebagai seperangkat aturan menyangkut kejahatan-
kejahatan internasional yang penegakannya dilakukan oleh negara
atas ciasar kerjasama internasional atau oleh masyarakat internasioal
melalui suatu lembaga internasional baik yang bersifat permanen
maupun [Link] bersifat ad-hoes<'.
f. TUJUAN HUKUM PIDANA
Berbicara mengenai tujuan hukum pidana tidaklah mungkin
terlepas dari aliran-aliran dalam hukum pidana. Secara garis besar
h,anya ada dua aliran dalam hukum pidana yakni aliran klasik dan
aliran modern.
58
Jan Remme link, 2003, Hukum Pidana: Komentar Atas Pasai-Pasa/ Terpenting Dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana Belanda Dan Padanannya Do/am Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, him. 390.
59
[Link], 2002, Beginselen van Strafrecht, Kluwer, Deventer, him. 34
10 Eddy O.S Hiariej, [Link], him. 9
28 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
1) Aliran Klasik
Aliran klasik ini lahir sebagai reaksi terhadap ancien regime yang
abritrair pada abad · ke-18 di Perancis yang banyak menimbulkan
ketidakpastian hukum, ketidaksamaan dalam hukum dan ketidakadilan.
Aliran ini menghendaki hukum pidana yang tersusun sistematis dan
menitikberatkan pada kepastian hukum61 • Tujuan hukum pidana
menurut aliran klasik adalah untuk melindungi kepentingan individu
dari kesewenang-wenangan penguasa.
MenurutSudarto,aliranklasiktentangpidanabersifatretributifdan
represif terhadap tindak pidana. Aliran ini berpaham indeterminisme
mengenai kebebasan kehendak manusia yang menekankan kepada
perbuatan pelaku kejahatan sehingga dikehendak:i hukum pidana
perbuatan dan bukan pada pelakunya (daad-strafrecht} 62 • Dalam sistem
pemidanaan, aliran klasik pada prinsipnya hanya menganut single track
system, yakni sistem sanksi tunggal berupa jenis sanksi pidana63 •
Aliran klasik dalam hukum pidana berpijak pada tiga tiang.
Pertama, asas legalitas yang menyatakan bahwa tidak ada pidana
tanpa undang-undang, tidak ada perbuatan pidana tanpa undang-
undang dan tidak. ada penuntutan tanpa undang-undang. Kedua, asas
kesalahan yang berisi bahwa orang hanya dapat dipidana untuk tindak
·pidana yang dilakukannya dengari sengaja atau kesalahan. Ketiga
atau yang terakhir adalah asas pembalasan yang sekuler yang berisi
bahwa pidana secara konkret tidak dikenakan dengan maksud untuk
. mencapai sesuatu hasil yang bermanfaat, melainkan setimpal dengan
berat-ringannya perbuatan yang dilakukan64• ·
Berkaitan dengan dasar pijakan yang pertama yakni asas legalitas,
Cesare Bonesana Marchese Beccaira {1738-1794} sebagai tokoh
61 Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1992, Teori-Teori Dan l(ebijakan Pidana, Penerbit Alumni
Bandung, him. 25.
62
Sholehuddin, 2004, Sistem Sanksi Do/am Hukum Pidana: Ide Dasar Dauble Track System &
lmp/ementasinya, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, him. 25.
0
Ibid.
64
Muladi dan Barda Nawawi Arief. [Link], him. 26-27.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
utama aliran klasik secara tegas menyatakan bahwa hanya undang-
undang yang mampu menentukan hukuman atas suatu kejahatan.
Kewenangari membuat hukuin pi dana hanya ada pada tangan legislator .
dan oleh karena itu hakim dilarang menjatuhkan hukuman melebihi
yang ditentukart uri dang-unda.rlg6 5• Masih menurut Beccaira, hukuman
yang diberikan harus proporsional dengan kejahatan yang dilakukan66•
Mengenai dasar pijakan yang kedua yaitu asas kesalahan
merupakan salah satu hal fundamental dalam hukum hukum pidana.
DipidanaAidaknya · seseorarig, tergantung apakah orang tersebut
mempunyai kesalahan ataukah tidak. Secara tegas dinyatakan oleh
Pompe, "..... dat geen straf wordt toegepast, tenzij er een wederrechtelijke
schuld te wijten gedraging is. Daar in ons recht geen schuld bestaat zonder
wederrechtelijkheid, kan men de kern der theorie dus kor formuleren .
als: geen straf zonder schuld..." C.... tidak ada pidana yang diterapkan, .
kecuali suatu kelakuan .yang melawan hukum dan kesalahan yang
dapat dicela. Menurut htikurn kita tidak ada kesalahan tanpa melawan
hukurn, teori ini kemudian diformulasikan sebagai: tiada pidana tanpa
kesalahan ... )67•
Terkait dengan dasar pijakan yang ketiga perihal asas pembalasan
yang sekuler, Jeremy Bentham sebagai salah seorang tokoh aliran
klasik mengemukakan bahwa selain pembalasan, sifat-sifat penting
dari pemidanaan harus hermanfaat. Ada tiga kemanfaatan dari
pemidanaan. Pertama, pemidanaan akan sangat bermanfaat jika
dapat meningkatkan perbaikan diri pada pelaku kejahatan. Kedua,
pemidanaan harus menghilangkan kemampuan untuk melakukan
kejahatan. Ketiga, pemidanaan harus memberikan ganti rugi kepada
pihak yang dirugikan68 •
Bentham kemudian menyatakan bahwa pidana sama sekali
tidak memiliki nilai pembenaran apapun bila semata-mata dijatuhkan
65
Cesare Beccaira, 2011, Perihal Kejahatan Dan Hukuman, Genta Publishing, Yogyakarta,
him. G.
66
Ibid, him. 17.
67
W.P.J Pompe, [Link]., tilm. 40
68
Jeremy Bentham, 2006, Teori Perundang-Undangan: Prinsip-Prinsip Legislasi, Hukum
Perdata Dan Hukum Pidana, Penerjemah Nurhadi, Nuansa, Bandung, him. 378.
30 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
untuk sekedar menambah lebih banyak penderitaan atau kerugian
pada masyarakat69 • Beranjak dari pemikiran Bentham inilah dapat
dipahami bahwa pemidanaan dalam sistem peradilan pidana dewasa
ini melibatkan korban dan pelaku dalam pengambilan putusan
sehingga sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku juga memperhatikan
kehidupannya di masa mendatang70•
2) Aliran Modern
Berbeda dengan aliran klasik dalam hukum pidana yang
bertujuan untuk melindungi kepentingan individu dari kesewenang-
wenangan, aliran modern dalam hukum pidana bertujuan melindungi
masyarakat dari kejahatan. Tujuan ini berpegang pada postulat le
salut du people est la supreme loi yang berarti hukum tertinggi adalah
perlindungan masyarakat. Aliran modern juga disebut aliran positif
karena mencari sebab kejahatan menggunakan metode ilmu alam
dengan maksud mempengaruhi pelaku kejahatan secara positif sejauh
dapat diperbaikfl. Jika aliran klasik menghendaki hukum pidana
perbuatan atau daad-strafrecht, maka aliran modern menghendaki
hukum pidana yang berorientasi pada pelaku atau dader-strafrecht.
Aliran modern dalam hukum pidana didasarkan pada tiga pijakan.
Pertama, memerangi kejahatan. Kedua, memperhatikan ilmu lain.
Ketiga, ultimum remidium.
Mengenai dasar pijakan yang pertama yaitu memerangi
kejahatan, Cesare Lombroso sebagai pelopor aliran modern bersama
Enrico Ferri melakukan studi secara sistematis mengenai tingkah
laku manusia dalam rangka mengatasi kejahatan dalam masyarakaf2 •
Perihal dasar pijakan yang kedua yakni memperhatikan ilmu lain,
69
· Harkristuti Harkrisnowo, 2003, Rekonstruksi Konsep Pemidanaan: Suatu Gugatan
Terhadap Proses Legislasi Dan Pemidanaan Di Indonesia, Orasi Pada Upacara Pengukuhan
Guru Besar Tetap Dalam llmu Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 8
Maret 2003, him. 9.
10
Heather Strang & John Braithwaite (Editor), 2000, Restorative Justice: Philosophy To
Practice, Asghate Dartmouth, Aldershot- Butlington USA- Singapore- Sydney, him. 11.
71
Muladi dan Barda Nawawi Arief. [Link], him. 32.
n Romli Atmasasmita, [Link]., him. 11
PENGANTAR
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
melindungi masyarakat dari kejahatan tidak dapat berharap dari ilmu
hukum pidana semata, namun perlu memperhatikan ilmu lain seperti
kriminologi, psikologi dan lain sebagainya. Bahkan, penyelidikan
ilmiah secara sistematis terhadap kejahatan pertama kali dilakukan
oleh Adolphe Quetelet (1874), seorang Belgia, ahli matematika. Salah
satu hasil Quetelet adalah statistik kriminal73 •
Terkait dasar pijakan yang ketiga yakni ultimum remidium,
perlu dijelaskan, bahwa dasar ini berlaku universal hampir di seluruh
negara. Ultimum remidium berarti hukum pidaria merupakan senjata
pamungkas atau sarana terakhir yang digunakan untuk menyelesaikan
suatu permasalahan hukum. Beberapa ahli telah mengemukakan teori
yang berkaitan dengan hukum pidana sebagai ultimum remidium.
Frank von Lizt sebagai salah seorang tokoh yang melanjutkan aliran
modern dalam hukum pidana mengemukakan bahwa hukum pidana
itu merupakan substitusi dari ranah hukum lainnya.
Demikian pula G. E. Mulder mengungkapkan bahwa hukum
pidana merupakan lingkaran terluar dari hukum yang harus
diberlakukan74 • Ahli hukum Jerman, Merkel mengemukakan
"Der strafe komt eine subsidiare stellung zu" (bahwa tempat hukum
pidana adalah selalu subsider terhadap upaya hukum lainnya). Juris
Belanda, Moddem1an pada saat perancangan Wetboek van Strafrecht
menegaskan bahwa negara wajib menindak suatu pelanggaran hukum
atau ketidakadilan yang tidak dapat ditanggulangi secara memadai
oleh saran a hukum lainnya. Dengan demikian, pidana adalah dan akan
tetap harus dipandang sebagai ultimum remidium 75 •
Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu ahli hukum pidana
Indonesia, Muladi, yang menyatakan bahwa hukum pidana dapat pula
disebut dengan mercenary, yang hanya akan digunakan apabila sangat
dibutuhkan dan hukum yang lain tidak dapat digunakan 76• Menurut
73 Ibid, him. 9
74
Jan Remmelink, Op. Cit., him. 7
75
Ibid., him. 28.
76
lza Fadri, Tinjauan Kritis Terhadap Konsep Perubahan RUU Tindak Pidana Pencucian Uang,
dalam Jurnallegislasi Indonesia, Volum e 3 Nomor 3, September 2006, him. 157.
32 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
hemat penulis, apa yang dikemukakan von Lizt, Mulder, Merkel,
Modderman maupun Muladi pada intinya sama bahwa hukum pidana
merupakan hukum terakhir yang digunakan jika instrumen hukum
lainnya tidak dapat digunakan atau tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.
Sue Titus Reid sebagaimana yang dikutip oleh Muladi dan Barda
Nawawi Arief7 membedakan aliran klasik dan aliran modern atau aliran
positif dalam hukum pidana adalah sebagai berikut: Pertama, aliran
klasik hanya mengenallegal definition of crime. Artinya, negara hanya
mengenal kejahatan sebagaimana yang diatur dalam undang-undang.
Lainnya halnya dengan aliran modern yang menolak legal definition
of crime tetapi menggunakan natural crime. Artinya, kejahatan tidak
sebatas apa yang telah ditentukan dalam undang-undang, namun juga
perbuatan-perbuatan yang oleh masyarakat beradab diakui sebagai
kejahatan.
Kedua, aliran klasik beranggapan hanya pidanalah satu-
satunya cara untuk membasmi kejahatan. Sedangkan aliran modern
berpendapat bal1wa pidana saja tidak mampu membuat pelaku menjadi
lebih baik dan tidak dapat membasmi faktor-faktor kriminogen.
Ketiga, aliran klasik mengajarkan doktrin kehendak bebas pada setiap
individu untuk melakukan atau tidak melakukan kejahatan. Sementara
allran modem mengajarkan bahwa tingkah laku individu merupakan
interaksi dengan lingkungan sebagai satu mata rantai hubungan sebab
akibat. Keempat, aliran . klasik menghendaki adanya pidana mati
terhadap kejahatan-kejahatan tertentu, sedangkan aliran modern tidak
menghendaki dan ingin menghapus pidana mati.
Kelima, aliran klasik menggunakan metode anekdot, sementara
aliran modern menggunakan penelitian atas pengalaman. Keenam,
sistem pemidanaan dalam aliran klasik adalah definite sentence.
Artinya, pembentuk undang-uridang menentukan ancaman pidana
secara pasti dan tidak dimungkinkan adanya kebebasan hakim
dalam menjatuhkan hukuman. Berbeda dengan aliran klasik, aliran
77 Muladi Dan Barda Nawawi Arief, [Link], him. 39.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
modem menggunakan sistem pemidanaan indeterminate sentence.
Artinya, pembentuk undang-tmdang menc:antumkan ancaman pidana
minimum dan ancaman pidana maksimum terhadap suatu kejahatan
guna memberikan kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan
hukuman.
Perkembangan lebih lanjut aliran dalam hukum pidana adalah
aUran · neo-klasik. Kalau aliran klasik berorientasi pada perbuatan
pidana dan aliran modem berorientasi pada pelaku perbuatan pidana,
maka aliran neo-klasik berorientasi pada perbuatan pidana dan pelaku
perbuatan pidana atau yang dikenal dengan istilah daad-dader-
strafrecht. Aliran ileo-klasik berawal dari doktrin kebebasan kehendak ·
sebagaimana yang pada aliran klasik, akan tetapi dengan dipengaruhi
aliran modem, aliran neo-klasik mengenal adanya faktor-faktor yang
meringankan dalam pertanggungjawaban pidana.
G. FUNGSI HUKUM PIDANA
"..... het strafrecht zich richt tegen min of meer abnormale
gedragingen'"78. Demikian Vos dalam leerboek-nya yang berarti hukum
pidana berfungsi untuk mel awan kelakuan-kelakuan yang tidak normal.
Menurut Hart fungsi hukum pidana adalah untuk menjaga keteraturan
dan kesusilaan umum serta melindungi warga dari apa yang disebut
asusila atau yang merugikan dan untuk memberikan perlindungan atas
eksploitasi dari pihak lain, khususnya bagi mereka yang lemah karena
masih muda, lemah fisik, pikiran atau pengalaman79•
Berbeda dengan Vos dan Hart, Sudarto membedakan fungsi
hukum pidana menjadi dua yaitu fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi
urnurn hukum pidana sama seperti fungsi hukum pada umumnya yaitu
mengatur hidup kemasyarakatan atau menyelenggarakan tata tertib
dalam masyarakat. Fungsi khusus hukum pidana adalah melindungi
kepentingan hukum terhadap perbuatan yang hendak memperkosanya
18 . H. B. Vas, [Link], him. 136.
79
H.l.A Hart, 2009, Law, Liberty And M orality, Genta Publishing, Yogyakarta, i;:•n. 19 - 20.
34 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dengan sanksi berupa pidana80•
Dalam hal pembagian fungsi hukum pidana yakni fungsi umum
dan fungsi khusus, Penulis sependapat dengon (lpa yang dikemukakan
Sudarto, namun lebih sederhana . .Bernat [Link], fungsi umum hukum
pidana adalah untuk menjaga ketertibrt.n umum, sedangkan fungsi
khusus hukum pidana, selain melind ungi kcpentingan hukum juga
memberi keabsahan bagi negara dalam rangka menjalankan fungsi
melindungi kepentingan hukum.
Terkait fungsi khusus hukum pidana yaitu melindungi kepentingan
hukum, maka yang dilindungi tidak han.y;t kepentingan individu tetapi
juga kepentingan masyarakat dan kepentingan negara. Oleh sebah
itu, dalam KUHP ada pasal-pasal yang berkaitan dengan kejahatan
terhadap keamanan negara sebagai wujud perlindungan terhadap
kepentingan negara. Demikian juga dalam KUHP terdapat pasal-pasal
yang berhubungan dengan kejahatan terhadap kepentingan umum
sebagai wujud perlindungan terhadap kepentingan masyarakat. .·.
Berkaitan dengan perlindungan terhadap kepentingan individu,
paling tidak ada tiga hal yang dilindungi. Pertama,. [Link]
terhadap nyawa. Oleh karena itu, dalam KUHP terdapat [Link]
yang berkaitan dengan kejahatan terhadap nyawa. Kedua, perlindqngan
. terhadap harta benda yang dituangkan dalam pasal-pasal yang [Link]
dengan kejahatan terhadap harta benda. Ketiga, perlindungru:t t~rhadap
kehormatan, baik kesusilaan maupun nama baik. Dengan d_emikian
di dalam KUHP juga terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan
kejahatan terhadap kesusilaan dan kejahatan-kej~hatan yang berkaitan
dengan pencemaran nama baik.
Selanjutnya fungsi khusus hukum pidana yang kedua yaitu
memberi keabsahan kepada [Link] rangka menjalankan fungsi
melindungi kepentingan hukum. Jika terjadi pelanggaran terhadap
kepentingan hukum negara, masyarakat dan atau individu, maka .
dalam batas-batas yang ditentukan oleh undang-undang, negara dapat
~ '·' ~ t '
• SUdarto, Op;Cit, him. 11 - 12.
.. · ·. :.
. PENGANTAR . ·35 .·. •
. .. : -~:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
' menjalankan alat-alat kekuasaanya untuk memberi perlindungan
lex:hadap kepentingan hukum yang dilanggar. Dapat dikatakan bahwa
fungsi khusus hukum pidana yaitu memberi keabsahan kepada negara
untuk menjahirikan .fungsi melindungi kepentingan hukum adalah
dalam konteks hukum pidana formil.
H. PENGERTIAN PIDANA
Suatu penderitaan menurut undang-undang pidana yang
berkaitan dengan pelanggaran norma berdasarkan putusan hakim
yang dijatuhkcp1 ,terhad~p orang yang bersalah81 • . Demikian Simons
mendefinisika11 ,pidana. dalam leerboek-nya. Pengertian yang hamp~r
sam~ juga [Link] oleh van Hamel yang menyatakan bahwa
pidana adal~ suatu penderitaan y~[Link] khusus yang dijatuhkan
oleh keku¥aan yang berwenang [Link] penanggung jawab ketertiban -
hukum umum terha:dap seorang pelanggar. kcirena .telah melanggar
peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh negara81 • · -
Dalam Black'[Link] Dictionary pidana 'didefinisikan 'sebagai, "A
sanction -such as a fine, penalty, confinement, cit"loss phlpeiy, right, or
privilege- assessed-iigaifzst a per'son Who'ha5vlo1ated the lliw»kj .'Fiizg~rald
sebagaimana yang dikutip oleh Muladi dan Barda Nawawi Arief se~
t • . ~. --~ •. ' ............ - ~ ~ • . . . •:' _.,.._~
singkat mendefinisikan pidana'sebagai "......the au~horitative 'infliction of
, - ~· . _,, . .. -; ·I ·~ . . ·--.
suffering for an offence': Pengertian yang sederhana j~g~. dikemukakan
oleh Stidarto.:yang nienyatcikan bahwa' pidana ad~ah p~pd~flt~~ }:arig
. ·.. . ' ~ · ... ,--~ -:· -~ ~·'!)! f'l"":"'~·. :,.
sengaja dibebankan ·kepada orang y~g melakukal1 . perbuatan dan
memenuhi ·syara-i tertentus.:· - . · · _. ' .. · ·1. · · • ' <-- · ~:
! ~:> r ~.;;r : :..l~: "-:- =-.,, ... --·~ --~~ ~~::•.
Dari berbagai pengertian pidana yang dik«;mukakan .di
~ ,
atas ~'=~ . --:~,,,..~., '( r~'"r·
maka dapatdiambil kesimpulan: Pertama, pidana ad_alali pe'nderitaan
yang sengaja diberikan oleh negara kepada seseorarig. Kedua, pidan~
·.~-_ .._
.:i"!J
81 . , D. SimQns;.[Link]., him. 8. . •l -~~~
12 ·[Link] Hamei,'[Link]., him. 2. _
83 :fJlrvaroA. 'Garne~ f999, Black's Law DiCtionary, Seventh Edition, West Group, St. Paul Minn.
hlm.1247.
14 ,_...,
Sudarto, [Link]., him. 9.
'
36 PRINSIP-F'RINSI P HUKUM PiDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
diberikan sebagai reaksi atas perbuatan seseorang yang melanggar
hukum pi dana. Ketiga, sanksi pidana yang diberikan oleh negara diatur
dan ditetapkan seca.r:a rind. Terkait jenis-jenis sanksi pidana, berikut
stelsel pemidanaan akan dibahas lebih lanjut dalam bab mengenai
pidana dan pemidanaan.
I. TUJUAN PIDANA
Tujuan pida11a dan tujuan hukum pidana adalah dua hal yang
berbeda. Kendatipun demiktan, tujuan pidana tidak terlepas dari
aliran dalam hukum pidana. Jika aliran-aliran dalam hukum pidana
yang mendasari tujuari hukum pidana terdiri dari aliran klasik, aliran
modern dan aliran neo-klasik, maka tujuan pidana secara garis besar
juga terbagi menjadi tiga, yakni teori absolut, teori relatif dan teori
gabungan. Akan tetapi dalam perkembangannya selain ketiga teori
tesebut ada juga teori-teori kontemporer tentang tujuan pidana.
1) Teod Absolut
Teori absolut lahir pada aliran klasik dalam hukurn pidana.
Menurut teori ini pembalasan adalah legitimasi pemidanaan85 .
Negara berhak menjatuhkan pidana karena penjahat telah melakukan
penyerangan dan perkosaan pada hak dan kepentingan hukum yang
telah dilindungi86• Vos dalam Leerboek-nya berkomentar, "De absolute
theorieen, die vooral tegen het eind det 18e eeuw opkomen, zoeken de
rechtsgrond van de straf in de begane misdaad: die misdaad op zich
zelf is voldoende grond om de dader te [Link]...." (Teori absolut,
terutama bermunculan pada akhir abad ke-18, mencari dasar hukum
.pemidanaan terhadap kejahatan: kejahatan itu sendiri dilihat sebagai
dasar dipidananya pelaku)87•
· Pidana dijatuhkan kepada pelaku karena just deserts, bahwa
mereka dihukum karena mereka layak untuk dihukum atas perilakU
15 Arnold, H. Loewy, [Link].,hlm. 5.
16 Adam Chazawi, 2007, Pelojaran Hukum Pidona, Bagian 1, PT Raja Grafindo Persada
. Jakarta, him. 157.
17 H.B. Vos, [Link]., him. 10.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tercela mereka. Hal ini berarti bahwa konsep "just desert" di dalam
retribusi didefinisikan dengan mengacu pada alasan yang spesifik
dan pemikiran dasar yang ada di balik penjatuhan pemidanaan, yaitu
ill-desert pelaku, dan dapat terpenuhi melalui sesuatu bayaran yang
negatif, atau balas dendam dengan sebuah pemidanaan88• .
Selanjutnya teori absolut atau teori pembalasan yang menjadi
dasar pijakan aliran klasik terdiri dari atas pembalasan subjektif dan
pembalasan objektif. Vos menyatakan, "Subjectieve vergelding is
vergelding van de schuld van de dader, vergelding naar mate van het
verwijt, ........; objectieve vergelding is vergelding naar mate van dat, wat
de dader door zijn tedoen ......"(Pembalasan subjektif adalah pembalasan
kesalahan pelaku, pembalasan terhadap pelaku yang tercela, .......;
pembalasan objektif adalah pembalasan terhadap perbuatan, perbuatan
apa yang telah dilakukan oleh pelaku.....)89•
Penganut ·teori absolut ini antara lain adalah Imannuel Kant, '
Hegel, Herbart dan Julius Stahl. Pendapat Kant, pidana adalah etik;
praktisnya adalah suatu ketidakadilan, oleh karena itu kejahatan
harus dipidana (de straf als eis van ethiek; de practische rede eist
onvoorwaardelijk, dat op het misdrijf de straf volgt). Menurut Hegel,
kejahatan adalah pengingkaran terhadap hukum, kejahatan tidak nyata
keberadaannya, dengan penjatuhan ·pidana kejahatannya dihapus (de
misdaad is een negatie van het recht, dat wezenlijk is; de misdaad heeft
dus slecht een schijnbestaan, dat dan weer door de strafwordt opgeheven ).
Sedangkan Herbart menyatakan, kejahatan yang tidak dibalas
tidak disenangi. Tuntutan yang harus dipenuhi bahwa pelaku
mengalami beratnya nestapa seperti ia mengakibatkan orang lain
menderita (de overgolden misdaad mishaagt. Het is dus een eis van
aesthetische noodwendigheid, dat de dader een gelijk quantum feed
ondervindt als hij heeft doen lijden ). Sementara Stahl mengemukakan
bahwa pidana adalah keadilan Tuhan. Penguasa sebagai wakil Tuhan di
dunia harus memberlakukan keadilan Tuhan di dunia (de straf als eis
81
Heather Strang & John Braithwaite, [Link]., him. 57.
83
Ibid., him. 11.
38 PRINSIP-PRiNSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
van Goddel~ike gerechtigheid. De overheid als vertegenwoordigster van
God op aarde heeft die goddelijke gerechtigheid tot gelding te brengen }90•
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Kant, Hegel, Herbart
dan Stahl, menurut Remmelink sebenarnya pemikiran-pemikiran
mereka yang digolongkan ke dalam teori absolut ini berbeda antara
satu dengan yang lain. Kesamaan yang mempertautkan mereka adalah
pandangan bahwa syarat dan peml>enaran penjatuhan pidana tercakup
di dalam kejal1atan itu sendiri, terlepas dari pandangan absolut terhadap
pidana91 • Masih menurut Remmelink, sebenarnya teori absolut yang
menjadi ciri aliran klasik sudah dikembangkan pada zaman kuno.
Seneca dengan merujuk pada ajaran filsuf Yunani, Plato, menyatakan:
nemo prudens punit, quia peccatum, sed ne peccetur (seorang bijak tidak
menghukum [Link] dilakukannya dosa, melainkan agar tidak lagi
terjadi dosa). Upaya mencegah kejahatan dHakukan dengan membuat
takut sehingga hukum pidana kuno kemudian mengembangkan sanksi
pidana yang begitu kejam dan pelaksanaannya dilakukan di depan
umum dengan memberi peringatan pada masyarakat luas92 •
2) Teori Relatif
Jika teori absolut menyatakan bahwa tujuan pidana sebagai
-pembalasan, maka teori relatif ·mencari dasar pemidanaan adalah
penegakan ketertiban masyarakat dan tujuan pidana untuk mencegah
kejahatan ( ..... relatieve theoriee ,deze zoeken de rechtsgrond van de
straf in de handhaving der maatschappelijke orde en bijgevolg is het doel
der straf preventie der misdaad..... )93• Teori relatif juga disebut sebagai
teori relasi atau teori tujuan. Hal ini karena relasi antara ketidakadilan
dan pidana bukanlah hubungan !iecara apriori. Hubungan antara
keduanya dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai pidana, yaitu
perlindungan kebendaan hukum dan penangkal ketidakadilan (.....
90 G.A van Hamel, [Link].,hlm. 45.
91
Jan Remmellnk, [Link], him. 600.
12
Ibid, him. 605.
93 H.B Vos, [Link]., him. 13.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tussen onrecht en strafbestaat hier niet dat aprioristische begrijpsverband.
Hun relatie ligt in iets daarbuiten, in het met de straf te bereiken doe/, de
bescherming der rechtsgoederen, het afweren van onrecht.... )94•
Pencegahan terhadap kejahatan pada dasarnya dibagi menjadi
pencegahan urnurn dan pencegahan khusus. Adanya penjatuhan pidana
secara umum agar setiap orang tidak lagi melakukan kejahatan (..... de
generale-preventie-gedachte wil de straf doen dienen om in het algemeen
ieder van het begaan van delicten terug te houden.....)95• Prevensi umum
untuk mencegah terjadinya kejahatan oleh von Feuerbach dikenal
dengan istilah teori psychologischezwang atau paksaan psikologis.
Artinya, adanya pidana yang dijatuhkan terhadap seseorang yang
melakukan kejahatan akan memberikan rasa takut kepada orang lain
untuk tidak berbuat jahat. Oleh karena itu menurut von Feuerbach,
sanksi pidana yang diancamkan terhadap perbuatan yang dilarang ,
hams tertulis dalam undang-undang sehingga mengurungkan niat
orang untuk berbuat jahat.
Th. W. van Veen dalam disertasinya dengan judul "Generale
Preventie" menyatakan ada tiga fungsi pencegahan umum. Pertama,
menjaga atau menegakkan wibawa penguasa, terutama dalam
perumusan perbuatan pidana yang berkaitan dengan wibawa
pemerintah, seperti kejahatan terhadap penguasa umum. Kedua,
menjaga atau menegakkan norma hukum. Ketiga, pembentukan norma
untuk menggarisbawahi pandangan bahwa perbuatan-perbuatan
tertentu dianggap asusila dan oleh karena itu tidak diperbolehkan96•
Prevensi khusus ditujukan terhadap pelaku kejahatan yang telah
dijatuhi pidana sehingga tidak lagi mengulangi perbuatannya. Menurut
van Hamel97 - sebagai penganut teori relatif berupa prevensi khusus
- bersarna-sama dengan Frank von Liszt, pidana bertujuan untuk
menakutkan atau memperbaiki atau melenyapkan jika tidak bisa lagi
94
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 499.
9S H.B. Vos, [Link].
96
Jan Remmelink, [Link], hlril. 607.
97
G.A van Hamel, [Link]., him. 44.
40 PRINSIP-PRINS!P HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
diperbaiki ( ..... dit doe/ kan worden bereikt door afschtikking, hetzij door
vabetering hetzij door onschadelijkrnaking) 9R.
3) Teori Gabungan
[Link] nemo est ultrameritum, intra meriti vera modum
magis aut minus peccate puniuntur pro utilitate. Dernikian Groritius
atau Hugo de Groot yang menyatakan bahwa penderitaan memang
sesuatu yang sev.r'\jarnya ditanggung pelaku kejahatan, namun dala m
batasan apa ya.'lg layak ditanggung pelaku tersebut kemanfaatan sosial
akan menetapkan berat-ringannya derita yang layak dijatuhkan. Hal
ini bertolak dari suatu adagium yang berbunyi natura ipsa dicta!~ ut
qui malum fecit, malum ferat yang berarti kodrat mengajarkan bahwa
siapa yang berbuat kejahatan, maka. akan terkena derita. Akan tetapi,
tidak hanya penderitaan sernata sebagai suatu pembalasan tetapi juga
ketertiban rnasyarakat 99•
Vos secara tegas menyatakan bahwa selain teori absolut dan teori
relatif juga terdapat kelompok ketiga yang disebut teori gabungan.
Di sini terdapat suatu kornbinasi antara pembalasan dan ketertiban
masyarakat "..... de derde groep, de verenigingstheorieen. Hier· ·vindt mer:
een combinatie van de gedachten der verge/ding en der beschemzf,-tg
~·an de maatschappelijke orde. Masih menurut Vos, selain titik berat
pada pembalasan, maksud dari sifat pembalasan itu dibutuhkan
untuk melindungi ketertiban hukum ( ..... men kan als uitgangspunt
de vergelding nemen en deze dan beperken in die zin, dat niet verder
mag worden gegaan dan voor de handhaving der rechtsorde nodig is) 100•
I.
Sebagai penganut teori gabungan, Vos menyatakan titik berat yang
sama pada pidana adalah pembalas:m. dan perlindungan masyarakat
(..... dat de straf tegelijk voldoet en aan de eis van vergelding en aan die
der maatschappelijke bescherming) 101 • Dengan demikian, Vos memberi
bobot yang sama antara pembalasan dan perlindungan masyarakat.
118 H.B. Vos, [Link]., him. 15.
99 Jan Remmelink, [Link]., him. 611
JDO H.B. Vos, [Link]., him. 16
101
Ibid, him. 18
PENGANTAR <4-~H~
. ... .
.-,~ , ';~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Penganut teori gabungan lainnya adalah Zevenbergen, seorang
~ hukum pidana Jerman. Zevenbergen lebih menitikberatkan pada
pembalasan, namun bertujuan melindungi tertib hukum, karena respek .
terhadap hukum dan penguasa (..... dat het wezen der straf verge/ding is,
maar het doel bescherming der rechtsorde, omdat namelijk door de straf
het respect voor recht en overheid hersteld en behouden wordt) 102• Masih
menurut Zevenbergen, pada hakikatnya pidana adalah suatu ultimum
remedium.
Penganut teori gabungan yanglebih menitikberatkan perlindungan
masyarakat daripada pembalasan adalah Simons. Menurutnya, prevensi
urnurn terletak pada pidana yang diancamkan, dan subsider -sifat dari
pidana terhadap pelaku- prevensi khusus, menakutkan, memperbaiki
dan melenyapkan (..... de generale preventie, in de strafbedreiginggelegen,
en subsidiair - waar de strajbedreiging blijkbaar voor de dader niet
voldoende was- speciale preventie, bestaande in afschrikking, verbetering ·
en onschadelijkmaking..... 103).
4) Teori Kontemporer
Selain teori absolut, teori relatif dan teori gabungan sebagai
tujuan pidana, dalam perkembangannya terdapat teori-teori baru yang
Penulis sebut sebagai teori kontemporer. Bila dikaji lebih mendalam,
sesungguhnya teori-teori konteniporer ini berasal dari ketiga teori
tersebut di atas dengan beberapa modifikasi.
a) Teori Efek Jera
Wayne R. Lafave menyebutkan salah satu tujuan pidana adalah
sebagai deterrence effect atau efek jera agar pelaku kejahatan tidak lagi
mengulangi perbuatannya. Tujuan pidana sebagai deterrence effect
pada hakikatnya sama dengan teori relatif terkait dengan prevensi
khusus. Jika prevensi umum bertujuan agar orang lain tidak melakukan
kejahatan, maka prevensi khusus ditujukan kepada pelaku yang telah
dijatuhi hukuman agar tidaklagi mengulangi melakukan kejahatan '111 •
102
Ibid, him. 17.
103
Ibid, him. 18.
104
Wayne [Link], [Link].,hlm . 25.
42 PRINSIP-PHiNSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
b) Teori Edukasi
Pada dasarnya teori edukasi menyatakan bahwa pidana bertujuan
sebagai edukasi kepada masyarakat. mengenai mana perbuatan yang
baik dan mana perbuatan yang buruk. Seneca yang merujuk pada filsuf
Yunani, Plato, menyatakan nemo prudens punit, quia pecatum, sed ne
peccetur. Artinya, seorang bijak tidak menghukum karena melakukan
dosa, [Link] agar tidak lagi terjadi dosa. Seorang pelaku kejahatan
harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan yang
dilakukannya untuk memberi pelajaran kepada orang lain agar tidak
melakukan perbuatan sama.
c) Teori Rehabilitasi
Tujuan pidana yang lain adalah rehabilitasi. Artinya, pelaku
kejahatan harus diperbaiki ke arab. yang lebih baik, agar ketika
kembali ke masyarakat ia dapat diterirna oleh komunitasnya dan tidak
lagi mengulangi perbuatan jahat. Sebenarnya tujuan pidana sebagai
rehabilitasi bukanlah hal baru. Thomas Aquinas dari sudut pandang
Katolik sudah memisahkan antara poenae ut poenae (pidana sebagai
pidana) dengan poenae ut medicine (pidana sebagai obat)105 •
Menurut Aquinas, tatkala negara menjatuhkan pidana dengan
daya kerja pengobatan, maka perlu diberikan perhatian terhadap
· prevensi umum dan prevensi khusus (poenae praesentis vitae magis
sunt medicinales quam retributative) 106 • Hemat Penulis, teori rehabilitasi
juga tidak terlepas dari teori relatif yang berkaitan dengan prevensL
Pidana sebagai obat yang dikemukakan Aquinas adalah dalam rangka
memperbaiki terpidana agar ketika kembali ke masyarakat tidak lagi
mengulangi perbuatannya sebagaimana tujuan prevensi khusus.
d) Teori Pengendali Sosial
Salah satu tujuan pidana menurut Lafave adalah sebagai
pengendalian sosial. Artiilya, pelaku kejahatan diisolasi agar tindakan
• 105 Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 505.
106 Jan Remmeiink, [Link]., him. 612.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
berbahaya yang dil~ukannya tidakmerugikan masyarakat107• Tegasnya,
. masyarakat harus dilindungi dari tindakan jahat pelaku. Terkait fungsi
pengendali sosial pada awal abad ke-20 telah dikemukakan oleh
Adolphe Prins seorang ahli pidana Belgia. Menurut Prins, pidana dalam
konteks pembelaan masyarakat harus sebanding dengan seberapa jauh
pelaku mengancam ketertiban dan keamanan masyarakat (la, defense
sociale et les transformations du droit penal).
Pasca-Perang Dunia II, ajaran Prins dilanjutkan oleh Marc Ancel,
Anggota Cour de Cassation Perancis dengan teori defense sociale
nouvelle (gerakan sosial baru). Menurut Ancel, tujuan pidana adalah
melindungi tatanan masyarakat dengan tekanan pada resosialisasi
atau pemasyarakatan kembali dengan penegakkan hukum yang tidak
menitikberatkan ·hanya pada yuridis formal tetapi juga bernuansa
sosial. Masih menurut Ancel, pentingnya individualisasi pidana dalam .
penjatuhannya dengan fokus pada tanggung jawab manusia sebagai
individu yang juga adalah makhluk sosial108•
e) Teori Keadilan Restoratif
Tujuan pidana juga untuk memulihkan keadilan yang dikenal
dengan istilah restorative justice atau keadilan restorati£1 09 • Restorative
justice dipahami sebagai bentuk pendekatan penyelesaian perkara
menurut hukum pidana dengan melibatkan pelaku kejahatan, korban,
keluarga korban atau pelaku dan pihak lain yang terkait untuk mencari
penyelesaian yang adil dengan menekankan pada pemulihan kembali
pada keadaan semula dan bukan pembalasan 110•
Istilah keadilan restoratif berasal dari Albert Eglash pada tahun
1977, yang mencoba untuk membedakan tiga bentuk peradilan
107
Wayne R. Lafave, [Link].,hlm. 26.
108
Jan Remmelink, [Link]., him. 613- 614.
lll9 Wayne R. Lafave, [Link]., him. 25.
110
Eva Achjani Zulfa, 2014, Konsep Dasar Restorative Justice, disampaikan daiam acara
Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-Asas Hukum Pidana Dan Kriminologi Serta
Perkembangan·Dewasa lnr', Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan
Masyarakat Hukum Pidana Dan Kriminologi, Yogyakarta, 23- 27 Februari 2014, hlm. 1.
44 PRINStP-PRI~JSIP YUi<UM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pidana, masing-masing adalah retributive justice, distributive justice
dan restorative justice. Menurut Eglash, fokus retributive justice adalah
menghukum pelaku atas kejahatan yang telah dilakukan olehnya.
Sedangkan distributive justice memiliki tujuan rehabilitasi pelaku.
Sementara restorative justice pada dasamya adalah prinsip restitusi
dengan cara melibatkan korban dan pelaku dalam proses yang bertujuan
untuk mengamankan reparasi bagl korban dan rehabilitasi pclaku 111 •
Marshall sebagaimana yang dikutip oleh Antony Duff,
mendefinisikan keadilan restoratif sebagai suatu proses para pihak yang
terlibat dalam sebuah kejahatan secara bersama-sama menyelesaikan
dengan cara mengatasi tindakan tersebut dan implikasinya di masa
yang akan datang. Tujuan dari keadilan restoratif menurut van Ness
adalah untuk memulihkan kembali keamanan masyarakat korban dan
pelaku yang telah menyelesaikan konflik mereka 112 • M. Kay Harris
yang mengutip pendapat Braithwaite dan Strang memberikan dua
pengertian keadilan restoratif. Pertama, keadilan restoratif sebagai
konsep proses yaitu mempertemukan para pihak yang terlibat dalam
sebuah kejahatan untuk mengutarakan penderitaan yang telah mereka
alami dan menentukan apa yang harus dilakukan untuk memulihkan
keadaan. Kedua, keadilan restoratif sebagai konsep nilai yakni
mengandung nilai - nilai yang .berbeda dari keadilan biasa karena
menitikberatkan pada pemulihan dan bukan penghukuman113•
Paling tidak .ada beberapa hal terkait konsep pemikiran keadilan
restoratif. Pertama, ketika sebuah kejahatan terjadi, kita diharuskan
mengutamakan kepentingan korban karena merekalah yang secara
langsung terkena dampak kejahatan tersebut. Bahkan mungkin
keluarga korban, [Link] pelaku serta anggota rnasyarakat luas juga
111
James Dignan, 2005, Understanding Victims And Retarative Justice, Open University Press,
hlm.94.
112
Andrew von Hirsch, Julian V. Roberts, Anthony Bottoms, Kent Roach And Mara Schiff, 2003,
Restorative Justice And Criminal Justice: Competing Or Reconcilable Paradigms?, Hart ·
Publishing Oqford And Portland, Oregon, him. 44.
11} Dennis Sulivan & Larry Tifft, 2006, Handbook Of Restorative Justice: A Global Perspective,
Routledge Taylor & Francis Group, London And New York, him. 555-556.
PENGANTAR }~~~~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
kena dampaknya. Kedua, proses restoratif harus memaksimalkan
masukan dan partisipasi pihak yang bersangkutan dalam upaya
untuk · mendapatkan pemulihan, restorasi, pengertian, empati,
peltanggungjawaban dan pencegahan.
Ketiga, jika proses keadilan restoratif dimiliki oleh komunitas,
maka anggota komunitas yang terkena dampak harus dilibatkan
dalam proses keadilan restoratif dan proses ini liarus bergerak
melampaui individu yang terlibat, dan memberikan kontribusi untuk
membangun dan memperkuat komunitas tersebut. Proses restoratif
ini juga seharusnya tidak hanya sebatas memenuhi kepentingan
para pihak yang telah mengalami kerugian, tetapi diharuskan untuk
mementingkan kondisi sosial serta keamanan dan kedamaian dalam
komunitasnya. Keempat, masih berkaitan dengan komunitas tersebut,
melalui proses restoratifini, komunitas memiliki tanggungjawab untuk_
mendukung kepentingan atau kebutuhan korban akan informasi,
validasi, pembenaran, restitusi, keamanan dan pemberdayaan, serta
menawarkan korban kesempatan untuk bertemu berhadapan dengan
orang yang telah merugikannya dan berkolaborasi dalam dialog
dengannya untuk memutuskan tindakan apa yang harus diambil untuk
memenuhi kebutuhan para pihak114 •
Keadilan restoratif dapat ditempuh dengan lima pendekatan 115 :
PENDEKATAN PERTAMA, court - based restitutive and reparative
measures. Beberapa reformasi a wal pada sistem peradilan pidana yang
berorientasi pada korban, telah melibatkan pelaku yang dituntut untuk
memberikan restitusi keuangan atau bentuk lain sebagi bagian dari
reparasi terhadap korban. Meskipun tidak memiliki banyak atribut
terkait dengan pendekatan keadilan restoratif, namun refi:mnasi
terseb ut memiliki beberapa k'?.samaan dengan ke~dllan rp··.toratif
Court - based restitutive and reparutive measures dianjurkan oleh para
pendukung 'civilization thesis' di lnggrls. Menurut Civilization thesis'
untuk memperbaiki perla.~uan kasar yang dilakukan terhadap pelaku
kejahatan, reformasi peradilan diperlukan, k:masuk juga untuk
114
Ibid. , him. 17 - 18
115
James Dignan, [Link]., him.107
46 PRINf-T -i'h,N':ir' Hl. i"liM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mengatasi salah satu kele,[Link] utama dari sistem peradilall pidana
konvensional, yakni kegagalan untuk melakukan [Link] rugi yang
memadai terhadap [Link] kejahatan 116•
PENDEKATAN KEDUA, victim - offender mediation programmes
atau mediasi korban - pelaku merupakan pendekatan keadilan
restoratif tertua. Pendekatan ini pert<'ma kali dilakukan pada
tahun 1974 di Kitchener, Ontario, Canada yang dipengaruhi oleh
Gerakan Christian Mennonite (Christian A1ennonite Movement) yang
menitikberatkan nilai 'rekonsiliasi' pribadi (personal 'reconciliation')
antara korban dan pelaku. Howard Zehr yang juga merupakan seorang
Mennonite, banyak mempromosikan dan [Link] praktek
mediasi sebagai konsep keadilan restoratif. Sebagai bentuk keadilan
restoratif tertua di Amerik.a Utara, victim - offender mediation terus
menjadi bentuk praktek keadilan restoratif yang sering digunakan di
Amerika 117 •
. Adapun tujuan dari victim - offender mediation adalah : Pertama,
mendukung proses pemulihan dengan cara memberikan korban
kesernpatan untuk bertemu dengan pelaku dan membicarakan
dengannya mengenai cara ·untuk mengatasi pelanggaran yang telah
dilakukan oleh pelaku. Kedua, mendukung para pelaku untuk
bertanggung ~awab secara Jangsung dengan cara [Link].._
mereka untuk rnendengarkan penjelasan korban mengenai bagaiinana
darilpak terhadap korban sebagai akibat tindakan pelanggaran pelaku
dan rnemberikan pelaku kesempatan untuk membicarakan bagaimana
cara mengatasi pelanggaran yang telah dilakukanya.
Ketiga, memfasilitasi dan mendorong sebuah proses yang
memberdayakan secara emosional dan memuaskan bagi kedua belah
pihak. Keempat, mengimbangi antara kepentingan publik (yang
. menjadi inti dari sistem peradilan pidana biasa), ·dan kepentingan
pribadi dari merek.a yang ·paling berdampak oleh pelanggaran yang
telah dilakukan. Kelima, memungkinkan para pihak agar merek.a dapat
menyetujui jalan keluar dari pelanggaran yang telah terjadiu 8 •
116 Ibid., him. 108
m Ibid., him. 111
m Ibid., him. 112
\\~'' \~
PENGANTAR ~(.. ;~,~
.....~;·:.,.,~. ·-!
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
PENDEKATAN KETIGA, restorative conferencing initiatives.
Istilah 'conferencing' atau konferensi diaplikasikan sebagai bentuk
ketiga pendekatan keadilan restoratif. Dalam beberapa literatur,
istilah tersebut [Link] untuk menggambarkan seluruh proses dari
keadilan restorati£ Lebih lanjut lagi, istilah 'conferencing' ini terdiri dari
dua prinsip model : Pertama, Jamily group conference' yang berasal
dari Selandia Baru. Model ini terinspirasi oleh beberapa faktor yang
terdapat dalam Children, Young Persons and their Families A ct 1989.
Salah satu faktor terpenting adalah adanya· penurunan pada 'criminal
justice and family welfare system' dalam hal perlakuan terhadap
pelanggar atau offenders di bawah umur, khususnya di komunitas
Maori dan juga di kepulauan Pasifik Polynesian. Kedua, 'police - led
community conferencing' yaitu konferensi yang dilakukan oleh polisi
dengan masyarakat yang menerima dampak dari suatu kejahatan atau
pelanggaran 119•
Masih berkaitan dengan pendekatan restorative conferencing
initiatives,[Link],
: Child welfare conferencing yang dilakukan untuk memberikan respon
terhadap kasus tertentu seperti penganiayaan anak atau penelantaran
dalam keluarga. Tujuan dari child welfare conferencing terletak pada
pencegahan di masa depan dan bukan pada kerugian yang ada di masa
lampau. Child welfare conferencing digunakan dalam kasus - kasus
kekerasan dalam keluarga. Kedua, youth justice conferencing. Bentuk
kedua ini diaplikasikan pada pelaku yang sudah dewasa 120 •
PENDEKATAN KEEMPAT, community reparation boards and
citizens' panel. Panel warga (citizens' panel) dan dewan masyarakat
(community boards) memiliki sejarah yang mendahului gerakan
keadilan restorati£ Beberapa institusi ini diperkenalkan di negara -
negara bagian Amerika pada tahun 1920-an dengan tujuan untuk
meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menghukum orang
- orang muda atas pelanggaran ringan. Altematif lain yang juga
119
Ibid., him. 116
120
Dennis Sulivan & Larry Tifft, [Link]., him. 31.
48 PRI NSIP-PRINSIP HUKUM P!DANfl
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
memberikan konteks berbeda adalahmChildren:c; Hearing System di
Skoilandia yang berbasis keselamatan bagi pelaku di bawah umur. Panel
di sini terdiri atas orang - orang yang bersal dari komunitas setempat
da n mereka yang ditugaskan untuk memutus bagaimana menangani
anJ k-anak yang melanggar hukum dan mereka yang membutuhkan
pe;·awatan dan perlindungan sebagai alternatif dari pengambilan
keputusan pengadilan 121 •
PENDEKATAN KELIMA , healing and sentencing circles.
Pendekatan ini sering digunakan oleh masyarakat asli Canada. Secara
filosofis, healing bertujuan untuk memulihkan pihak yang terkena
dampak secara langsung dari suatu kejahatan atau pelanggaran. Tujuan
utamanya adalah menegakkan nilai - nilai komunitas setempat untuk
mengintegrasikan ulang mereka yang telah melanggar nilai tersebut 123•
Menurut Griffiths dan Hamilton sentencing circle adalah proses atas
inisiatif masyarakat yang bekerja sama dengan sistem peradilan pidana
untuk mencapai konsensus mengenai rencana pem idanaan.
Sentencing circles menggunakan ruang lingkup lingkaran ritual
dan struktur tradisional. Anggota masyarakat yang tertarik, korban,
pendukung korban, pelaku, pendukung pelaku, hakim, p enuntut,
pembela, polisi dan pekerja pengadilan lainnya dapat berbicara untuk
mencapai pengertian bersama. Dengan demikian proses ini dapat
menghasilkan sebuah cara guna inemulihkan para pihak dan untuk
mencegah agar kejahatan tidak terjadi lagi di masa depan. Sentencing
circles melibatkan para pihak yang biasa dalam pengadilan tradisional
dan menempatkannya dalam ruang persidangan124 •
Dalam konteks hukum pidana Indonesia, konsep restorative
justice atau keadilan restoratif juga sudah dikenal, khususnya dalam
pranata delik adat (hukum pidana dan perdata adat). Bila dikaitkan
dengan pendekatan-pendekatan dalam keadilan restoratif sebagaimana
dijelaskan di atas, pendekatan yang sering kali digunakan dalam
121
Ibid., him. 121
122
Ibid., him 122
123
Ibid., him 124
124
Dennis Sulivan & Larry Tifft, [Link]., him. 29
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pranata hukum adat di Indonesia adalah community reparation boards
and citizens' panel.
Sebagai misal, di daerah Jawa dikenal lembaga Rembug Desa
yan~ bertujuan untuk menyelesaikan delik-delik adat yang terjadi
dalam masyarakat. Di sini, pelaku, korban dan masyarakat melakukan
musyawarah untuk mencari penyelesaian terbaik atas delik adat yang
telah terjadi. Tentunya, penyelesaian tersebut memperhatikan dampak
pelanggaran terhadap korban dan kemampuan dari pelaku untuk
melakukan restorasi terhadap korban. Lembaga sejenis Rembug Desa
juga terdapat di Minang Kabau, Sumatera Barat yang dikenal dengan
Lembaga KAN atau Lembaga Kerapatan Adat Nagari125•
Demikian pula dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, konsep keadilan restoratifdiatur
melalui diversi. Dalam undang-undang a quo, diversi didefinisikan
sebagai pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan
pidana ke proses di luar peradilan pidana. Adapun tujuan diversi
adalah perlama, mencapai perdamaian antara korban dengan anak.
Kedua, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan. Ketiga,
menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan. Keempat,
mendorong masyarakat untuk berpartisipasi. Kelima, menanamkan
rasa tanggung jawab kepada anak.
Diversi hanya dapat 'ilakukan terhadap tindak pidana yang
diancam pidana penjara dt bawah 7 tahUi'1 dan bukan merupakan
pengulangan tindak pidana. Diversi dilakukan melalui musyawarat1
dengan melibatkan anak, orang tua atau wali, korban dan atau orang
tua atau wali korban, pembimbing kemasyarakatan dan pekerja sosial
profesional. Bila ditinjau dari kelima pendekatan dalam keadilan
restoratif sebagaimana yang diutarakan di atas, diversi dalam undang-
undang a quo menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan victim
- offender mediation dan pendekatan restorative conferencing initiatives.
Pendekatan restorative conferencing initiatives baik meliputi 'family
125 Diskusi deriga n Or. Djoko Sukisno, S.H., CN., Ahli Hukum Adat Fakultas Hukum Universitas
Gadjah Mada.
50 PRINSIP-PRi!IIS!P HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
group conference', maupun 'police - led community conferencing'.
Selain keadilan restoratif juga dikenal b~berapa k~adilan yang
l
~
saling bersinggungan antara satu dengan yang lain, masing-masing
· keadilan masyarakat, keadilan transisional dan keadilan transformatif.
"+ Keadilan masyarakat sebagai terjemahan dari community justice
yang dalam konteks hukum pidana adalah sebagai reaksi terhadap
penegakkan hukum. Sistem peradilan pidana tradisional dianggap
' hanya bertujuan untuk menghukum pelaku kejahatan, padahal yang
diinginkan oleh gerakan keadilan masyarakat bahwa sistem peradilan
pidana harus dapat membuat komunitas sebagai tempat yang lebih
aman bagi setiap anggota masyarakat 126 •
Keadilan masyarakat juga berpendapat bahwa model adversarial
yang berbasis pada penangkapan dan penghukuman para pelaku, tidak
sesuai dengan pandangan masyarakat. Masih menurut gerakan keadilan
masyarakat, yang dibutuhkan adalah strategi penanganan komunitas
di mana kejahatan itu terjadi dan bukan strategi penanganan pelaku.
' Penangkapan, tuntutan serta penghukuman sangat dibutuhkan, tetapi
i bukanlah menjadi objek utama yang sesungguhnya. Tujuan utamanya
adalah untuk membuat komunitas di mana kejahatannya terjadi,
menjadi aman lagi bagi orang- orang yang bertempat tinggal di sana m .
Selanjutnya adalah keadilan transisional yang didefinisikan sebagai
proses pemulihan dan rekonsiliasi suatu negara, bangsa atau rakyatyang
sedang mengalami sebuah transisi dan rekonstruksi akibat perang atau
pelanggaran berat hak asasi manusia. Rekonstruksi restoratif dalam
keadilan transisional secara kolektif membutuhkan perubahan secara
politik .pada tingkat nasional. Keadilan transisional penuh dengan
ketegangan dalam membangun kehidupan bersama serta kepercayaan
publik. Sebagai ciontoh, di Afrika Selatan, The Truth and RecOnciliation
Commission dibentuk untuk mengakui kebenaran dan mengeratkan
tanggung jawab atas kondisi masa lalu yang penuh penindasan yang
mengakibatkan kerusakan besat. Selain itu, komisi tersebut berupaya
126 Dennis Sulivan & larry Tifft, [Link]., him. 463
m Ibid., him. 338.
PENGANTAR ·• 51. '·"·
~ ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
untuk mengakhiri perpecahan sosial, serta membentuk basis positif
bagi kemaSyarakatan Afrika Selatan yang baru128•
Mirip dengan keadilan transisional adalah keadilan transformatif.
Me Ponald dan Moore mengartikan keadilan transformatif sebagai
upaya yang bertujuan pada penyelesaian konflik yang menghasilkan
perubahan sifat hubungan antara para pihak yang terlibat. Sarna dengan
keadilan transisional, keadilan transformatif juga bertujuan untuk
rekonsiliasi dalam kasus-kasus pelanggaran berat hak asasi manusia.
Perbedaaanya, keadilan transisionallebih pada penataan suatu pranata
hUkum dalam menyelesaiakan konflik. yang terjadi, sedangkan keadilan
transformatif, selain rekonsiliasi juga tindak lanjut dari rekonsiliasi
tersebut dengan restitusi atau kompensasi129•
Eva Achjani Zulva berpendapat bahwa keadilan restoratif dan
keadilan tranformatif adalah dua hal yang berbeda. Keadilan restoratif
dapat diterapkan pada kejahatan atau pelanggaran apa saja, sedangkan
keadilan transformatiflebih pada rekonsiliasi dalam pelanggaran berat
hak asasi manusia130• Demikian pula menurut Me Cold dan Watchel
yang mengartikan keadilan restoratif sebagai proses mengemukakan
dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh suatu kejahatan,
serta menunjukkan bahwa hasil restoratif memiliki dimensi
transformasi mengubah 'korban' menjadi 'orang yang selamat: 'konflil(
menjadi 'kerjasami, 'malu' [Link] 'bangga dan mengubah 'individu'
menjadi 'komunitas' 131 •
Rekonsiliasi tidaklah sama dengan restoratif, namun kedua hal
tersebut berhubungan dekat. Keduanya dapat dicapai atau paling
tidak dicita-citakan oleh proses yang sama. Sebagai misal, mediasi
korban-pelaku dapat bercita-cita untuk mengembalikan keamanan
personal korban dan juga mendamaikan antara korban dengan pelaku
di dalam kewarganegaraan yang setara dan sepenuhnya. Rekonsiliasi
ua Ibid., him. 337.
129 Ibid., him. 555.
130
Diskusi dengan Dr. Eva Achjani Zulva, Ahli Hukum Pidana, Fakultas Hukum L' niversitas
Indonesia Jakarta.
131
Dennis Sulivan & larry Tifft, [Link]., him.
52 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dapat dicapai rnelalui restorasi, atau sebaliknya 132 • Hubungan antara
keadilan restoratif dan keadilan transforrnatif dapat dinyatakan bahwa
keadilan restoratif terletak antara peradilan pidana tradisional dan
keadilan transformatif. Keadilan retoratif terjadi di luar peradilan
pidana tradisional, sedangkan dan keadilan transforrnatif berkaitan
erat dengan praktek keadilan restoratif yang terjadi lebih jauh dari
peradilan pidana tradisional. Dalam keadilan transformatif biasanya
dibentuk suatu kDmisi kebenaran dan rekonsiliasi. Komisi kebenaran
dalam kaitannya dengan pencarian fakta atas suatu pelanggaran berat
hale asasi manusia yang terjadi, sedangkan rekosiliasi berkaitan erat
dengan penyelesaian dari konflik tersebut 133 •
J. KONSEP-KONSEP DASAR HUKUM PIDANA
George P. Fletcher dalam konteks anglo saxon system
mengemukakan konsep-konsep dasar hukum pidana dengan
melawankan .antara satu konsep dengan konsep yang lain. Dalam
konteks teori hukurn, hal yang demikian dikenal dengan istilah
antinomi. Secara sederhana, antinomi diartikan sebagai dua hal
yang sedikit-banyaknya bertolak belakang namun tidak dapat saling
menegasikan. Antinomi hukurn inilah yang rr_~mbuat suatu sistem
hukum lebih luwes dan tidak kaku untuk disesuaikan dengan dinamika
masyarakat.
Paling tidak ada dua belas konsep-konsep dasar hukum pidana
yang dikemukakan Fletcher. Pertmna, substansi versus prosedur.
Seseorang yang melakukan kejahatan, secara substansi telah
melakuk,an pelanggaran hukurn. [Link] tetapi, apakah orang tersebut
dapat dimintakan .pertanggull:gjawabannya atas suatu kejahatan
yang telah dilakukan, tergantung pada peraturan prosedumya. Pada
dasarnya, dapat kita ka~akan bahwa peraturan substansi membentuk
sebuah prinsip yang disebut "guilt in principle". Sedangkan peraturan
w Andrew von Hirsch, Julian V. Roberts, Anthony Bottoms, Kent Roach And Mara Schiff,
[Link]., him. 128.
133
· Ibid., him. 557.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
proseduralnya menentukan apakah seseorang bisa dinyatakan "'guilty
· infac~34•
Kedua,hukuman versusperlakuan. Sistemhukum pidanamemiliki
tujuan membebaskan orang yang tidak bersalah dan menghukum
orang yang bersalah sehingga dapat disebut bahwa tujuan ·tersebut
berpusat pada institution of punishment. Tanpa adanya hukuman
dan institusi yang dirancang untuk mengatur serta melaksanakan
hukuman tersebut, maka tidak akan ada hukum pidana. Akan tetapi
selain hukuman, diperlukan bentuk-bentuk paksaan lain yang disebut
sebagai perlakuan atau tindakan dalam rangka membantu orang yang
telah melakukan kejahatan untuk menjadi lebih baik135•
Menurut Penulis, hukuman bukanlah sesuatu yang dilawankan
dengan perlakuan. Sesungguhnya dalam teori-teori pemidanaan
kontemporer sebagaimana diulas di atas, hukuman atau pemidanaan
tidak lagi semata-mata untuk pembalasan namun juga berupa
perlakuan terhadap terpidana dalam fungsi rehabilitatif. Terlebih, jika
kita merujuk pada keadilan restoratifyang berorientasi pada pemulihan
dan bukan penghukuman.
Ketiga. subjek versus objek. Dalam hukum pidana ada dua hal
penting yaitu menentukan siapa yang kita tuntut dan atas tindakan
apa ia dituntut. Subjek mengacu pada siapa yang melakukan dan objek
mengacu pada apa yang ia lakukan. Apakah kita menuntut tersangka
dan menghukum pelaku sebagai subjek ataukah objek? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, Immanuel Kant mengutarakan dengan
menginterpretasi hukum moral, ,So act as to treat humanity, whether in
thine own person or in that of any other, in every case as an end withat
never as a means only (Maka, bertindaklah untuk kemanusiaan, baik
terhadap pribadimu sendiri atau terhadap orang lain pada setiap saat,
agar tidak pernah sebagai sarana saja). Kita dapat menggunakan objek
sebagai sarana, tetapi kita harus rnenghargai manusia sebagai subjek136•
134
George P. Fletcher, 1998, Basic Concepts Of Criminal Law, Oxford University l'ress, New
York- Oxford, him. 7.
us Ibid., him. 25.
1l6 Ibid., him. 43.
·..54
.;
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Keempat, sesuatu yang disebabkan oleh manusia versus peristiwa
alam. Kejahatan telah terjadi ketika pelaku menyebabkan kerugian atau
kerusakan pada korban. Akan tetapi, tidak selamanya suatu kerugian
atau kerusakan disebabkan oleh perbuatan manusia, melainkan
suatu peristiwa alam. Fletcher memberi ilustrasi sebagia berikut:
Jika A berniat untuk membunuh B, maka A pergi ke rumah B untuk
melakukan pembunuhan. Pada saat · A mengetuk pintu rumah B,
dengan seketika B terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal.
Kematian B bukanlah diakibatkan oleh A. Artinya, kematian tersebut
bukan disebabkan oleh manusia melainkan oleh suatu peristiwa
alam. Lain halnya ketika B menjadi ketakutan atau kaget melihat A
lalu terkena seningan jantung, maka kedatangan A ke rumah B bisa .
menjadi penyebab kematian B. Namun itu semua tergantung, kita
akan melihat pada kemungkinan bahwa B akan tetap kena serangan
jantung pada saat itu tanpa kedatangan A ke rumah B. Hal inilah yang
membedakan antara peristiwa alam dan sesuatu yang disebabkan
oleh manusia. Peristiwa alam bukanlah objek dalam hukum pidana,
sedangkan sesuatu yang disebabkan oleh manusia dapat menimbulkan
akibat yang merusak atau merugikan sehingga memenuhi syarat untuk
diminta pertanggungjawabannya (criminal liability)137•
Kelima, kejahatan versus pelaku. Hukum pidana dalam konteks
teori ·maupun praktek telah memisahkan antara kejahatan dan pelaku.
Anallsis terhadap suatu kejahatan akan menghasilkan kualitas dari
kejahatan itu sendiri, sedangkan analisis terhadap pelaku menunjuk
pada karakteristik pelakunya. Kejahatan bertalian dengan actus reus,
sedangkan pelaku berkaitan dengan mens rea 138• Keenam, perbuatan
pidana versus pembelaan. Pembunuhan, pen_curian, dan perkosaan
.adalah perbuatan pidana, sedangkan pembelaan terpaksa, kemampuan
bertanggung jawab dan penyakit jiwa merupakan pembelaan. Ide dasar
di balik perbuatan pidana versus pembelaan ialah ada tuduhan yang
menuntut tersangka, namun di sisi lain ada hal-hal yang membebaskan
tersangka. Penuntut umum akan mendak:wa tersangka berdasarkari
· m Ibid., him. 59.
m Ibid., him. 74.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose" I ,
tuduhanny~, sementara advokat akan mengemukakan satu atau lebih
pembelaan dalam merespon tuduhan tersebut 139• Perbuatan pidana
versus pembelaan adalah salah salah satu karakteristik hukum pidana
dalam kodifikasi modern 140•
Ketujuh, kesengajaan versus kelalaian. Sejak tradisi Roman yang
memperkenalkan istilah dolus (sengaja) dan culpa (lalai), membawa
dampak atas berat-ringannya pidana yang dijatuhkan. Seseorang
dapat dipertanggungjawabkan atas .guatu kerugian atau kerusakan yang
diakibatkan oleh adanya kesengajaan atau kelalaian. Seluruh kultur
hukum mengakui pembedaan antara kesengajaan dan kelalaian, namun
belum ada kesepahaman mengenai garis pembatas dan implikasi
· bagaimana cara menuntut pertanggungjawabannya141 •
Kedelapan, pembelaan terpaksa versus keadaan darurat. Sejak
abad ke-13 sampai abad ke-16, satu-satunya bentuk pembelaan
terpaksa yang diakui ialah se defendendo. Jika terjadi perkelahian dan
orang yang diserang lebih dulu membunuh penyerang tersebut, maka
bela diri memiliki pengaruh menyelamatkan terdakwa dari tuntutan
pidana, namun ia diharuskan menyerahkan barang sebagai penebusan
atas tindakannya yangmenyebabkankematianseseorang. Se defendendo
lebih mendukung terdakwa dalam rangka membebaskannya dan bukan
untuk keadilan. Immanuel Kant memberikan contoh kasus terkenal,
yang mana seorang pelaut yang terdampar berada dalam tekanan
dan menyingkirkan pelaut lain yang hidupnya sama dalam bahaya
dari sebuah papan untuk meriyelamatkan dirinya sendiri. Walaupun
1
tindakannya disebut salah, tetapi pelaut tersebut tidak dapat dihukum.
Situasi yang mengancam kehidupan seseorang dapat digunakan sebagai
dasar untuk menghindari hukum. Pada kedua kasus tersebut, para
pel'aku sama-sama di bawah tekanan yang luar biasa. Se defendendo
merupakan bentuk awal dari pembelaan terpaksa, dan tindakan dalam
keadaan darurat adalah naluri untuk selamat141•
m Ibid., him. 93.
140
Paul H. Robinson, 1997, Structure And Function In Criminal Law, Clarendon Press- OXford,
hlm.4.
141
Fletcher, [Link]., hlm.112.
142 Ibid., hlrn. 131.
56 PRINSlP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Penulis berpendapat bahwa pembelaan terpaksa dan keadaan
darurat bukanlah dua hal yang berlawanan. Kedua-duanya merupakan
alasan penghapus pertanggungjawaban pidana yang secara garis besar
dibagi menjadi alasan pembenar dan alasan pemaaf. Selain pembelaan
terpaksa dan keadaan darurat masih terdapat alasan pembenar dan
alas an pemaaflainnya, baik yang terdapat dalam perundang-undangan,
maupun yang terdapat di luar perundang-undangan.
•
Kesembilan, relevansi versus kesesatan yang tidak relevan.
Seseorang yang telah melakukan suatu perbuatan terkadang memiliki
pandangan yang berbeda dengan masyarakat. Adakalanya masyarakat
beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku adalah kejahatan
dan masyarakat cenderung berpihak kepada korban. Namun di sisi lain,
pelaku beranggapan bahwa dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Dalam konteks yang demikian, kesesatan yang irelevan sesungguhnya
adalah suatu kesesatan dalam bertindak. namun tindakan tersebut atau
akibatnya dilarang oleh hukum 143 •
Komentar Penulis terhadap pembedaan relevan dan kesesatan
yang tidak relevan terlalu sumir. Terkait relevan, sesungguhnya
dapat dijelaskan lebih rind dalam konteks pertanggungjawaban
pidana khususnya hubungan kausalitas. Demikian pula menyangkut
kesesatan yang tidak relevan dapat dijelaskan lebih rind pula dalam
pertanggungjawaban pidana, khususnya bentuk kesalahan berupa
kesengajaan dan secara teoretik kita mengenal adanya kesesatan dalam
kesengajaan.
Kesepuluh, percobaan versus delik selesai. Proses hukum berfungsi
untuk melindungi korban yang mengalami ketidakadilan. Korban
menginginkan keadilan dan menginginkan agar pelanggar menderita
seperti sang korban. Dapat saja terjadi suatu pelanggaran tidak terjadi
secara utuh. Menurut sejarahnya, percobaan adalah turunan dari delik
selesai. Percobaan dimasukkan sebagai pelanggaran dasar dan delik
selesai dianggap sebagai hasil dan efek percobaan yang berawal dari
10
Ibid., him. 148.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
suatu niat144• Oleh karena itu terdapat perbedaan dalam hal penjatuhan
pidana terhadap percobaan dan delik selesai. .
Kesebelas, pelaku versus penyertaan. Ketika seorang pelaku .
melakukan kejahatannya sendiri, dia adalah pelaku satu-satunya. Hal
ini berbeda jika kejahatan dilakukan lebih dari satu orang. Keterlibatan
orang lain dalam suatu kejahatan bervariasi, mulai dari memberikan
ide, menyediakan peralatan atau kendaraan, sampai memberikan
perintah atau melakukan tindakan kejahatan secara langsung. Orang
yang membantu, menyediakan disebut sebagai accessories. Merekalah
yang dianggap terlibat dalarn aksi kejahatan 145 •
Keduabelas adalah keadilan versus legalitas. Teori legalitas
mencakup prinsip negatif dan positi£ Prinsip negatif legalitas
menyatakan bahwa pertimbangan utarna dari suatu sistem hukum
adalah untuk melindungi warga negara dari negaranya yang hendak
me~aksakan kehendaknya kepada warga negara tersebut. Prinsip
positif legalitas menekankan konsistensi dan kelengkapan dalam
mengaplikasikan hukum yang mengharuskan sebuah negara untuk
menghukum orang yang bersalah. Pembedaan antara prinsip positif
dan negatif legalitas hanyalah salah satu pembedaan yang harus
diingat ketika membicarakan soallegalitas dan keadilan. Legalitas akan
merujukkepada hukum positif, sedangkan keadilan tidak semata-mata
berdasarkan hukum positif tetapi juga moralitas 146•
144 Ibid., hlm.173.
145 Ibid., him. 188.
146
Ibid., him. 208.
58 PRINSlP·PRlNSlP Ht JK:.JM PIOAN A
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ASAS LEGALITAS
DAN [Link]
Dalam hukum pidana di Indonesia perbuatan pidana .dan
pertanggungjawaban pidana dipisah secara tegas. Perbuatan
pidana hanya mencakup dilarangnya suatu perbuatan, sedangkan
pertanggungjawaban pidana mencakup dapat-tidaknya dipidana
si pembuatjsi pelaku. Dasar dari perbuatan pidana adalah asas
Legalitas, sementara dasar dari pertanggungjawaban pidana
adalah asas tiada pidana tanpa kesalahan atau geen straf zonder
schuld. Hal ini merupakan perbedaan mendasar dengan hukum
pidana,Belanda ya_ng tidak m(jmisahkan antarq strafbaar van het
feit dan strafbaar van de dader.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
P
ada awal bab ini, Penulis mengutip pendapat Moeljatno,
Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada yang
melakukan pemisahan tegas antara perbuatan pidana dan
pertanggungjawaban pidana. Dasar dari perbuatan pidana adalah asas
legalitas dan dasar dari pertanggungjawaban pidana adalah asas tiada
pidana tanpa kesalahan. Atas dasar tersebut, penulis memberi judul
bab ini adalah asas legalitas dan perbuatan pidana Pembahasan lebih
dulu berkaitan asas legalitas 147 dengan mengingat bahwa dasar dari
perbuatan pidana adalah asas legalitas. Ulasan terkait asas legalitas
meliputi sejarah dan landasan filosofi.s asas legalitas, [Link] asas
legalitas, makna yang terkandung dalam asas legalitas, asas legalitas
dalam konteks hukum pidana nasional, asas legalitas dalam konteks
hukum pidana internasional dan analogi dalam hukum pidana
Sedangkan uraian mengenai perbuatan pidana mencakup pengertian
perbuatan pidana, elemen-elemen perbuatan pidana,unsur dan jenis
delik.
147
Ulasan mengenai asas legalitas dalam bab in I, Penulls ambil dari makalah yang disampaikan
dalam acara Pelatihan Hukum Pidana Dan Krimlnologl, 23-27 Februari 2014 di Yogyakarta,
dengan judul "Asas Legalitas Dan Perkembangannya Dalam Hukum Pidana". Makalah
tersebut adalah intisari dari buku penulis yang berjudul "Asas Legalitas Dan Penemuan
Hukum Do/am Hukum Pidanan yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga pada tahun 2009
sebagai ringkasan disertasi Penulis dengan judul "Asas Legafitas Do/am Pe/anggaran Berat
Hak Asasi Man usia" tahun 2009. ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. SEJARAH DAN LANDASAN FILSAFATI ASAS LEGALITA'S'
Asas legalitas diciptakan·oleh Paul Johan Anslem von Feuerbach
{1775 -1833), seorang sarjana hukum pidana Jerman dalam bukunya
Lehrbuch des penlichen recht pada tahun 1801. Apa yang dirumuskan
oleh Feuerbach mengandung arti yang sangat mendasar yang dalam
bahasa Latin berbunyi: nulla poena·sine lege; nulla poena sine crimine;
nullum crimen sine poena legali 148• Ketiga frasa tersebut kemudian
menjadi adagium nullum delictum, nulla poena sine praevia lege
poenali149• Jauh sebelum lahirnya asas legalitas, prinsip hukum Romawi
memperlihatkan wajah tatanan hukum·yang individualistis, sedangkan
dalam bidang politik kebebasan warga negara semakin dibelenggu150•
Pada zaman Romawi dikenal adanya criinine extra ordinaria yang
berarti kejahatan-kejahatan yang tidak disebut dalam undang-undang.
Di antara crimine extra ordinaria ini adalah crimen stellionatus yang
secara letterlijk artinya perbuatan jahat atau durjana. Ketika hukum
Romawi kuno diterima di Eropa Barat pada abad pertengahan, crimine
extra ordinaria ini diterima oleh raja-raja yang berkuasa dan cenderung
menggunakan hukum pidana itu sewenang-wenang menurut kehendak
dan kebutuhan rajalSI.
Pada zaman itu hukum pidana sebagian besar tidak tertulis
sehingga kekuasaan raja yang sarigat absolut dapat menyelenggarakan
pengadilan dengan sewenang-wenang. Penduduk tidak mengetahui
secara pasti mana perbuatan yang dilarang dan mana perbuatan yang
[Link] dilarang. Proses pengadilan berjalan tidak fair karena hukum
ditetapkan menurut perasaan hukum hakim yang mengadili 152 • Pada
saat yang bersamaan muncul para ahli pikir seperti Montesquieu
108
Bambang Poernomo, 1989, Manjaat Telaah 1/mu Hukum Pidana Dalam Membangun
Model Penegakan Hukum Di Indonesia, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mad a, Yogyakarta, 5 Juli 1989, him. 8.
149
Jan Remme link, [Link].,hlm. 605.
150
John Gillisen Dan Frist Gorle, 2005, Sejarah Hukum: Suatu Pengantar, Re·fika Aditama,
Bandung, hlm.177.
151
Moeljatno, [Link]., him. 24.
152
Bambang Poernomo, 1982,Asa.s-Ascs Hukum Pidana, liberty, Yogyakarta. h'm. 24.
62 PRINSIP·F'HINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.. .
dan Rousseau yang menuntut agar kekuasaan raja dibatasi dengan
undang-undang tertulis. Pasca-revolusi Perancis struktur hukum mulai
dibangun dengan adanya hubungan antara yang memerintah dan yang
diperintah, antara kekuasaan negara dan individu153 •
Mungkin karena asas legalitas dirumuskan dalam bahasa Latin,
ada yang beranggapan bahwa rumusan ini berasal dari hukum Romawi
kuno 154• Padahal, menurut Moeljatno, baik adagium ini maupun
asas legalitas tidak dikenal dalam [Link] Romawi kuno 155 • Demikian
pula menurut Sahetapy yang menyatakan bahwa asas legalitas yang
dirumuskan dalam bahasa Latin adalah karena bahasa Latin merupakan
bahasa 'dunia hukum' yang digunakan pada waktu itu 156 •
Mengenai hal ini, Hazewinkel Suringa menyatakan:
Art. I dan luidt: Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene
daaraan voorafgegane wettelijke strafbepaling. De jurisdische
wetenschaap pleegt deze regel aan te diden als 'nullum delictum noela
poena sine praevia lege poenali'. Dit zou de indruk kunnen wekken,
dat het hier zou gaan om een voorschrift van Romeinse oorsprong,
hetgeen echter niet het geval is. Noch tijden de republiek noch tijden
het principaat heeft in Rome een dergelijke regel [Link] is zijn
latijnse formulering ajkomstig van von Feuerbach, hij stamt dus
uit het begin der 19e eeuw en is te beschowen als een product van de
klassieke school157• ·
(Pasall: Tidak ada suatu perbuatan yang dapat dipidana kecuali
atas kelaiatan undang-undangpidana yang ada sebelum perbuatan
itu dilakukan. Dalam pengetahuan hu'kum aturan · ini dikenal
sebagai 'nullum delictum noela poena sine praevia lege poenali'.
Ada yang beranggapan bahwa asas ini ditulis dan berasal dari
hukum Romawi, padahal tidak. .Pada zaman republik, demikian
juga dalam zaman Roma, prinsip ini tidak terdapat dalam aturan.
153 Rene David & John E.C Brierley, 1985, Major Legal Systems In The World Today, Third
Edition, Stevens & Sons, London, hlm.63.
[Link] Jan Remmelink, [Link], him 356.
ISS Moeljatno, [Link], him. 23.
156 J.E. Sahetapy, 2003, Asas Retroaktif: Suatu Kajian Ulang, KHN Newsletter, Edlsl Mei 2003,
hlm.21.
157
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 274.
ASAS lEGAUTAS DAN PERBUATAN PIOANA :~~~~~
:.:· •.'t~ · ~ ·-~· .. ...
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Asas ini dalam bahasa Latin diformulasikan oleh von Feuerbach
pada awal ke-19 dan merupakan produk dari aliran klasik).
Ada pula yang berpendapat bahwa asas legalitas seolah-ola~
berasal dari ajara..'l Montesquieu yang dituangkan dalam bukunya ··
I:Esprit des Lois, 1748. Menurut Montesquieu, dalam pemerintahan
yang moderat hakim harus berkedudukan terpisah dari penguasa dan
harus menghukum dengan setepat mungkin sesuai ketentuan harafiah
hukum. Hakim harus bertindak berhati-hati untuk menghindari
tuduhan tidak adil terhadap orang-orang yang tidak bersalah 158 • Ajaran
Montesquieu bertujuan untuk melindungi kemerdekaan individu
terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintah negara. Demikian
pula asas legalitas mempunyai tujuan yang sama yaitu melindungi
individu terhadap perlakuan sewenang-wenang pihak peradilan
arbitrair, yang pada zaman sebelum revolusi Perancis menjadi suatu
kenyataan yang umum di Eropa Barat. Dalam handboek-nya Pompe
secara tegas menyatakan, "De strekking van de eerste regel was steeds, een
waarborg te stellen voor de individuele vrijheid willekeur der overhied'' 159
(Tujuan dari peraturan yang pertama adalah menjamin kebebasan
individual terhadap kesewenang-wenangan penguasa).
Menurut van der Donk dan Hazewinkel Suringa, baik ajaran
Montesquieu maupun Rosseau mempersiapkan penerimaan umum
terhadap asas legalitas, akan tetapi dalam pelajaran kedua tokoh tersebut
tidak terdapat rumusan asas legalitas. Maksud dari pelajaran kedua
tokoh tersebut adalah untuk melindungi individu terhadap tindakan
hakim yang sewenang-wenang yaitu melindungi kemerdekaan pribadi
individu terhadap suatu tuntutan tindakan yang sewenang-wenang 160 •
Sementara komentar Hans Kelsen terhadap prinsip nulla poena sine
lege, nullum crimen sine lege adalah ekspresi legal positivism dalam
hukum pidana 161 •
158
Montesquieu, 2007, The Spirit Of Laws: Dasar-Dasar llmu Hukum Dan 1/mu Politik,
Penerjemah: [Link] Anam, Nusamedia, him. 140.
159
W.P.J. Pompe, [Link]., him. 49.
160
E. Utrecht, 1960, Hukum Pidana /, Penerbitan Universitas, Bandung, hlm.194.
161
Hans Kelsen, [Link]., him. 52.
64 PRINSIP-PRINSJP HOKUM PlOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Legal positivisme ini lebih menjamin pa<.t.:'l [Link] hukum
sebagaimanz komentar Simons terlic1dap <1 :><.'.6 kgaEt&s dalam pasal 1
<~}c" r 1 ., rn·
~-· ~· \'-} ~'-UY1-JP
-• ~' .. a~
0
~ "l .. "ode
'' A. <·•· ,,I P.o··
·,_. , . ...0 r:.a,-<: .,, .. · .. ; .•(~~ .·.n•IJ
'--'="'-·l.::l
h
: .... , "' ll~~ .m "~yatakan ·•
'·•"-.<,;
1Jf 1 cgei, opgcr<.:.m n:n !.n art. ·.;, C.i· ., ')ver<'! zzr:an haO:Jcl b"
" ~· . . . '-~) · ' d . .c· t} art 1 t.1r·d,.t
,,, i
1·.-1. r·ar'., st·""i'lh·
..... , ... '-"
v . •• .
"'"'
h 'P.f.J.-.
""",-~P:.. ./,,, ..7\'!.. ,~,... ... ..,. .,
, ·-~1 ..r/.,.r.l-:4.
-h. k, •
·-~:·; :;., r.nnen1ng
;.:. '~'··- t. , • •. 1nag d;P ...6-•..-.7
-< ....-:. ·~ . ..,
en ·v'·JOr zoover hij dell eis{.h stelt v~n het vooraj'gaan van verbods
of z~~i:Jodvoorschrift en voor zoover hij vordert de [Link]
bedreiging mn de stn~[, ook nu nog worden beschouwd als een te
waarderen waarborg vaor persoonlijke rechtszekerheid en behooren
de daaruit voortsprui!ende consequmties te worden aatrvaard
zoowel bij de formuleerirzg als bij de uitlegging der strafbepalingen.
Zeer algemeen gestelde bepaiirzgen, waarbij hetgeen al dan niet
wordt strabaar verklaard vrijwel onzeker blijft, moeten worden
afgeke urd162 •
(Ketentuan Pasal 4 Code Penal tetap dipertahankan dalam Pasal
1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana kita. Menurut
pendapat saya peraturan tersebut hingga kini tetap [Link]
sebagai suatu pengakuan terhadap adanya kepastian hukum bagi
pribadi-pribadi yang harus dijamin, selama peraturan tcrsebut
mensyaratkan bahwa peraturan yang bersifat [Link] atau
yang bersifat melarang itu harus ada terlebih dahulu dan selama
mensyaratkan bahwa ancaman pidana itu harus telah ada terlebih
dahulu sebelum perbuatan itu sendiri)
Jika dilihat dari situasi dan kondisi lahirnya as as legalitas, maka sulit
dinafikan bahwa asas tersebut adalah untuk melindungi kepentingan
individu sebagai ciri utama tujuan hukum pidana menurut aliran
klasik.163 • Secara tegas seorang juris pidana terkenal dari Jerman, Franz
von Liszt menulis, "the nuUum aimen sine lege, nulla poena sine lege
principles are the bulwark of the citizen against the State's omnipotence;
they protect the individual against the brutal force of the majority,
against the Leviathan164': Menurut Fletcher, melindungi individu dari
162 D. Simons, [Link]., him. 96-97.
163
Jan Remmelink, [Link], him. 356. Hazewinkel Suringa, [Link], him. 274.
164
Antonio Cassese, [Link]., hlm.l41.
ASAS LEGAUTAS DAN PERBUATAN PIDANA 65
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
kesewenang-wenangan negara adalah prinsip negatif legalitas, se-
dangkan prinsip positif legalitas adalah melindungi inasyarakat dari
kejahatan dengan menghukum pelaku kejahatan yang bersalah oleh, .
negara 165•
Terkait dengan asas legalitas yang diajarkan oleh Feuerbach,
sebenarnya menghendaki penjeraan tidak melalui pengenaan pidana,
namun melalui ancaman pidana di dalam perundang-undangan
sehingga harus dicantumkan dengan jelas kejahatan dan pidananya.
Teori asas legalitasnya Feuerbach ini kemudian dikenal dengan
psycologischezwang 66• Artinya, untuk menentukan perbuatan-
perbuatan yang dilarang dalam suatu undang-undang pidana, tidak
hanya perbuatan tersebut dltuliskan denganjelas dalam undang-undang
pidana tetapi juga mengenai macamnya pidana yang diancamkan.
Hal ini dimaksud agar orang yang akan melakukan perbuatan pidana
mengetahui lebih dahulu perihal pidana yang diancamkan. Dengan
demikian diharapkan ada perasaan takut dalam batin orang tersebut
untuk melakukan suatu perbuatan yang dilarang 167 • Oleh van der Donk
dikatakan bahwa maksud ajaran Feuerbach ini adalah membatasi
hasrat manusia untuk berbuat jahat168 •
· Jika memang demikian ajaran Feuerbach dengan psycologis-
chezwang -nya, maka menurut Sahetapy dalam penelitian disertasinya,
bukanlah Feuerbach yang pertama kali mengemukakan teori tersebut
melainkan Samuel von Pufendorf. Secara tegas dinyatakan oleh
Samuel von Pufendorf bahwa ancaman pidana dimaksudkan untuk
menakutkan dan karenanya menahan orang untuk berbuat dosa
dan dengan demikian mereka akan patuh pada hukum 169 • Demikian
pula perihal asas legalitas, masih menurut Sahetapy yang mengutip
165
Fletcher, [Link]., him. 207.
166
Ch.J., Enschede, [Link], him. 26.
167
Moeljatno, [Link], him 25.
168
E. Utrecht, [Link], him 195.
169
J.E. Sahetapy, 1978, Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana. Disertasi,
him. 244.
66 . [Link]-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Oppenheimer, bukanlah Feuerbach yang pertama kali mengemukakan
asas tersebut melainkan Talmudic Jurisprudence 170•
Bahkan apabila kita mengkaji lebih jauh, ruh dari asas legalitas
ini sebenarnya terdapat dalam Perjanjian Baru yang berisi Injil, surat-
surat Paulus da!l surat-surat lainnya. Dalam Surat Paulus Kepada
Jemaat Di Roma, tepatnya Rorna Pasa1 ·5 ayat (13) berbunyi, "Sebab
sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu
tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat" 171 • Berdasarkan
Roma Pasal 5 ayat (13) tersebut, jika kita menganalogikan dosa itu
sebagai perbuatan pidana, maka tidak ada perbuatan pidana sebelum
ada aturan hukumnya.
Menurut M. Shokry El - Dakkak, asas legalitas dalam hukum
Islam secara implisit terdapat dalam Al-Qur'an, Surat AI Israa' ayat
15. Dalam surat tersebut dikatakan, «Siapa yang mengikuti petunjuk,
maka perbuatan itu untuk dirinya sendiri. Siapa yang berbuat salah,
maka ia sendiri yang akan menderita. Seorang yang berdosa tidak dapat
memikul dosa orang lain. Kami tidak akan menghukum sebelum Kami
mengutus seorang rasurm. Berdasarkan ayat tersebut, hukum Islam
tidakhanya mengakui asas legalitas tetapi juga memberi dasar bagi asas
pertanggungjawaban pribadi dalam hukum pidana.
Dalam perkembangan selanjutnya asas ini disimpangi di beberapa
negara. Perihal penyimpangan ini dikemukakan oleh Hazewinkel
Suringa sebagai berikut:
"Het principe van ons art.l is in de meeste codificaties der 19e eeuw
opgenomen; in de 20e is het in sommige Ianden weer prijsgegeven.
Zo heeft in 1926 Rusland, in 1935 Duitsland dit palladium van
individuele rechtszekerheid en rechtsgelijkheid vernietigd, in
zoverre, dat de straf rechter tot taak kreeg de gedrangingen niet
slechts aan de delictsformules te toetsen, maar ook aan de sociale
170
Ibid, him. 251.
m Lembaga Alkitab Indonesia, 2000, Alkltab Dan Kidung Jemaat,cetakan kedua, hlm.187.
m [Link] El- Dakkcik. 2000, State~ Crimes Against Humanity: Genocide, Deportation And
Torture: From The Prespectives Of International And Islamic Laws, A.S. Noordeen, him.
203. Uhat juga H. Oemar Bakry, 1983, Tafsir Rahman, Mutiara, Jakarta, him. 543.
.... ··
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA . fJt;':
·. 'i. ' ··.· ..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
gevaarlijkheid, met als maatstraf het gezonde volksgevoelen.
Analogische wetstoepassing werd onbeperkt toegestaan" 173 •
(Prinsip dari Pasal 1 dimuat dalam konstitusi pada abad ke-19;
dalam abad ke-20 di beberapa negara asas tersebut dilepas. Di
Rusia pada tahun 1926, di Jerman pada tahun 1935 asas kepastian
dan persamaan individu dihapus, sepanjang hakim pidana menilai
perbuatan-perbuatan tidak saja menurut rumusan delik, tetapi
juga dilihat pandangan masyarakat apakah perbuatan tersebut
membahayakan masyarakat dengan akibat yang ditimbulkan.
Penerapan undang-undang dengan analogi dalam hal tertentu
diperbolehkan).
Apa yang dikemukakan oleh Suringa dapat kita lihat bahwa
Rusia adalah negara pertama yang mengesampingkan asas legalitas
pada tahun 1926. Adapun yang dijadikan alasannya adalah bahwa
asas legalitas lebih menitikberatkan perlindungan pada kepentingan
individu, sementara kepentingan masyarakat harus lebih diutamakan
174
• Sementara Jerman mengesampingkan asas tersebut dengan
menghapus larangan analogi dalam hukum pidana yang dipengaruhi
pemerintah nasional sosialis (NAZI) yang berkuasa pada saat itu. Pada
tahun 1933 Jerman memperkenalkan Lex van der Lubbe175• Marines
van der Lubbe adalah seorang Belanda yang dianggap sebagai kaki
tangan komunis dan membakar Reichtstaatgebouw pada tanggal 27
Februari 1933. Pemerintah NAZI Jerman kemudian mengeluarkan
undang-undang tertanggal 23 Maret 1933 yang diberlakukan surut
sampai tanggal31 Januari 1933 dengan maksud agar peristiwa itu dapat
diadili dengan undang-undang tersebut176•
Sedangkan di Belanda, asas legalitas ini disimpangi pada tahun
1945 setelah perang dunia kedua berakhir. Pemerintah Belanda
mengeluarkan Besluit Buitengewoon Strafrecht (BBS) atau ketetapan
173
Hazewinkel Suringa, [Link], him. 275- 276.
174
Bambang Pornomo, Asas-Asas Hukum Pidana, [Link], him. 72.
175
Machteld Boot, 2001, Nullum Crimen Sine Lege and the Subject Matter Jurisdiction of the
International Criminal Court: Genocide, Crimes Against Humanity, War Crimes,lntersentia,
Antwerpen - Oxford - New York, him. 86.
176
E. Utrecht, [Link], him. 197. Bandingkan dengan Bambang Poernomo, [Link], him. 71.
68 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
hukum pidana luar biasa yang [Link] &urut delik terhadap ···<
keamanan negara sejak tanggal22 Desember 1943. DaJam Pasal3 BBS
menetapkan Pasall KUHP tidak. berlaku bagi penetapan sebagaimana
yang diatur dalam Ketetapan London 177•
Di Indonesia sendiri pada zaman pemerintah kolonial Hindia
Belanda, asas legalitas pernah disimpangi dengan dikeluarkannya
Brisbane Ordonanntie. Brisbane adalah kota kecil di Australia
yang digunakan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk
melarikan diri dari kejaran bala tentara Dai Nippon agar dapat terus
melanggengkan kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di
sana selama perang dunia kedua. Ketika Jepang menyerah kepada
sekutu dalam perang dunia kedua, pemerintah kolonial Hindia Belanda
mengeluarkan staatsblad yang kemudian dikenal dengan nama S. 45 -
135 atau biasa disebut dengan Brisbane Ordonanntie.
Dalam konsideran ordonanntie tersebut dikatakan antara lain
bahwa demi kepentingan keamanan negara (... in het belang van de
veiligheid van den staat. .. ), perbuatan-perbuatan pidana, perbuatan-
perbuatan mana begitu berbahaya yang patut dipidana (... begane feiten
welke zoo ernstige mate strajwaardig zijn .... ) tanpa memperhatikan atau
menggunakan ketentuan Pasall KUHP (. .. zonder dat een beroep op het
bepaalde in art. 1 van het Wetb. [Link]. bij die berechting dient worden
toegelaten ...). Selanjutnya dalam Pasal 18 Brisbane Ordonanntie secara
eksplisit [Link] bahwa ketentuan Pasal 1 KUHP tidak diterapkan
·terhadap ordonanntie ini118•
Perihal sejarah perkembangan asas legalitas dalam hukum pidana,
dengan segala fciktor yang mempengaruhinya terdapat empat macarn
sifat ajaran yang dikandung oleh asas legalitas. Pertama, asas legalitas
hukum pidana yang menitikberatkan pad.a [Link] individu
untuk memperoleh kepastian dan persamaan hukum. Adagium yang
dipakai oleh ajaran ini menurut G.W. Paton adalah nulla poena sine
lege. Perlindungan individu diwujudkan dengan adanya keharusan
m ChJ., Enschede, [Link], him. 27.
.
178
J.E. Sahetapy, Asas Retroaktif: Suatu Kajian utang, [Link], him. 20- 21.
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA .. ~@ :·:
. I · ·-.. ~
: •. , · .• ··I
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
lebih dahulu untuk menentukan perbuatan pidana dan pemidanaan
dalam undang-undang. ·
Kedua, asas legalitas hukum pidana yang menitikberatkan pada
dasar dan tujuan pemidanaan agar dengan sanksi pidana itu hukum
pidana bermanfaat bagi masyarakat sehingga tidak ada pelanggaran
hukum yang dilakukan oleh masyarakat. .Adagium yang dipakai oleh
ajaran ini adalah ciptaan Feuerbach: nullum delictum, nulla peona
sine praevia lege poenali. Ketiga, asas legalitas hukum pidana yang
meniktikberatkan tidak hanya pada ketentuan tentang perbuatan
pidana saja agar orang menghindari perbuatan tersebut, tetapi juga
harus diatur mengenai ancaman pidananya agar penguasa tidak
sewenang-wenang dalam menjatuhkan pidana.
Keempat, asas legalitas hukum pidana yang menitikberatkan pada
perlindungan hukum kepada negara dan masyarakat. Asas legalitas
di sini bukan hanya kejahatan yang ditetapkan oleh undang-undang
saja akan tetapi menurut ketentuan hukum berdasarkan ukuran dapat
membahayakan masyarakat Oleh karena itu . tidak mungkin ada
~erbuatan jahat yang timbul kemudian dapat ~eloloskan diri dari
tuntutan hukum. Adaginm yang dipakai ·di sini adalah nullum crimen
Sinepoena 179•
B. DEFINISI ASAS LEGALITAS
Het eerste lid van het eerste artikel van het W. v.S., dat inhoudt,
dat geen feit strajbaar is dan uit kracht van een daaraan voorafgegane
wettelijke strafbepaling, is een beginsel- artikel, 180 demikian Jonkers.
Pada intinya Jonkers menyatakan bahwa Pasall ayat (1) KUHP, tidak
ada perbuatan yang dapat dipidana kecuali atas kekuatan undang-
undang pidana yang ada sebelum perbuatan dilakukan adalah suatu
pasal tentang asas. Berbeda dengan asas hukum lainnya, asas legalitas
ini tertuang secara eksplisit dalam undang-undang. Padahal, menurut
179 Bambang Poernomo, [Link], him. 71- 73.
110 J,E. Jonkers, 1946, Handboek Van Het Nederlansch -lndische Strafrecht, E.J. Brill, leiden,
hlm.l.
70 • PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pendapat para ahli hukum, [Link] a~as hukum bukan merup~kan
peraturan hukum konkret.
Kiranya terdapat kesamaan pandangan di antara para ahli hukum
pidana bahwa pengertian asas legalitas adalah thida perbuatan dapat
dipidana kecuali atas dasar kekuatan ketentuan pidana menurut
undang-undang yang sudah ada terlebih dahulu181 • Hal ini sesuai
dengan suatu adagium yang berbunyi non obligat lex nisi promulgate
yang berarti suatu hukum tidak mengikat kecuali telah diberlakukan.
Ketentuan sebagaimana yang termaktub dalamPasall ayat (1) KUHP
adalah definisi baku dari asas legalitas. Ada dua hal penting yang haru.s
diulas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu makna perbuatan pidana
dan ketentuan pidana menurut undang-undang pidana. Perihal makna
perbuatan pidana akan dibahas lebih lanjut sebagai bagian dari bah ini.
Selanjutnya adalah makna ketentuan pidana menurut perundang-
undangan sebagaimana terdapat dalam definisi baku dari asas legalitas.
Moeljatno berpendapat bahwa dalam rumusan Pasall ayat ( 1) KUHP,
yang mana dalam teks Belanda disebut "wettelijke strajbepaling' berarti
aturan pidana dalam perundang-undangan 182• Sedangkan mengenai
pengertian Pasal 1 ayat (1) KUHP yang berkaitan dengan 'ketentuan
pidana menurut undang-undang', van Bemmelen dan van Hattum
menyatakan:
Art I Sr. Herhaalt het nog eens met nadruk door te bepalen, dat
geen feit strafbaar is dan uit kracht van een wettelijke strajbepaling.
Intussen mag het begrip 'wettelijk' in dit artikel niet, evanmin als de
term 'strafwet' in het opschrift van de eerste titel van het eerste boek,
eng worden opgevat. Onder strafwet heeft men te verstaan, niet het
strafwetboek aileen, doch het geheel van Nederlandse strafrechtelijke
voorschriften, algemene of bijzondere, zoals die in de gecodificeerde
en niet [Link] wetgeving worden aangetroffen. En wet is dan
niet op te vatten in de formele doch in de materiele zin 183•
181
Eddy O.S Hiariej, 2007, Pemikiran Remmelink Mengenal Asas Legalitas, Jentera Jurnal
Hukum, Edisi 16- tahun IV, April- Juni 2007, him. 124. ·
w Moeljatno, [Link], him. 26.
w J.M van Bemmelen En W.F.C van Hattum, [Link]., him. 55.
·NSAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ~>.j.'{ :)
. . • v
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Pasal 1 KUHP berulang kali masih menjadi ·perhatian tertentu,
tidak ada perbuatan yang dapat dipidana kecuali atas kekuatan
ketentuan undang-undang pidana. Sementara itu pengertian
. 'undang-undang' tidak ada dalam pasal, bahkan istilah 'undang-
undang pidana' tidak tertulis dalam bah pertama buku pertama.
Berdasarkan pengertian undang-undangpidana, tidakhanyakitab ·
undang-undangpidana, tetapijugaseluruh undang-undangpidana
Belanda yang tertulis, umum maupun khusus, baik perundang-
undangan yang dikodifikasi ataupun tidak dikodifikasi. Undang-
undang di sini tidak hanya dalam pengertian formil tetapi juga
dalam pengertain materiil).
Simons berpendapat bahwa undang- undang pidana adalah semua
peraturan menurut perundang-undangan yang memuat ketentuan-
ketentuan pidana. Secara lengkap Simons menyatakan:
"De strafwet is her geheel van wettelijke voorschriften, welke de
strafrechtelijke aansprakljkheid bepalen en regelen. De strafwet in
die ruime beteekenis, waarin het worrd o.a gebruikt is in den Eersten
Titel van het eerste Boek van het Wetboek van Strafrecht, omvat dus
dat wetboek zelf met alle anderewetten, besluiten en verordeningen,
strafrechtelijke bepalingen inhoudende" 184•
(Undang-undang pidana adalah keseluruhan peraturan-
peraturan menurut undang-undang yang menentukan dan
mengatur pertanggungjawaban menurut hukum pidana.
Undang-undang pidana dalam arti yang luas, antara lain seperti
· yang telah dipergunakan dalam Bab pertama, Buku ke-1 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana meliputi kitab undang-undang
itu sendiri berikut semua undang-undang, keputusan-keputusan
dan peraturan-peraturan yang di dalamnya memuat ketentuan-
ketentuan pidana).
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Moeljatno, van
Bemmelen dan van Hattum serta Simons dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut: Pertama, perbuatan pidana harus tertuang dalam
undang-undang pidana. Kedua, ketentuan pidana menurut undang-
184
o. Simons, [Link]., him. 93.
72 PR!NSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
undang pidana mangandung arti baik ketenluan pidana yang terdapat
dalarn kodiftkasi sebagai ketentuan pidana umum, maupun ketentuan
pidana di luar kodifikasi sebagai ketentuan pidana khusus. Ketiga,
undang-undang pidana juga mengandung arti, undang-undang dalam
arti formil dan materiil. Undang-undang dalam arti formil dibentuk
oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Undang-undang dalam
arti materiil adalah ketentuan-ketentuan pidana terdapat dalam suatu
peraturan selain undang-undang dan dalam hal ini yang dimaksud
hanyalah Peraturan Daerah, baik Peraturan Daerah Propinsi maupun
Peraturan Daerah Kabupaten atau Peraturan Daerah Kota. Tegasnya,
pencantuman sanksi pidana dalam suatu peraturan haruslah mendapat
persetujuan rakyat melalui parlemen.
C. MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM ASAS LEGALITAS
Setelah mengetahui definisi dari asas legalitas, selanjutnya yang
penting. untuk diulas adalah makna yang terkandung dalam asas
legalitas. Seperti yang telah diutarakan di atas, terhadap definisi asas
legalitas terdapat kesepahaman di antara para ahli hukum pidana.
namun perihal makna yang terkandung dalam asas legalitas kiranya
terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli hukum pidana.
Pemikiran yang sederhana mengenai makna yang terkandung dalam
asas legalitas dikemukakan oleh Enschede. Menurut Enschede hanya
ada dua makna yang terkandung dalam asas legalitas.
Pertama, suatu perbuatan dapat dipidana hanya jika diatur
dalam perundang-undangan pidana (... wil een feit strafbaar zijn, dan
moet het vallin onder een wettelijke strafbepaling... ). &dua, ~atan
ketentuan pidana tidak boleh diberlakukan surut (... zo'n strafbepaling
mag geen terugwerkende kracht hebben ... )185 • Makna asas legalitas yang
dikemukakan oleh Enschede ini sama dengan makna asas legalltas
yang dikemukakan oleh Wujono Prodjodikoro yaitu bahwa sanksi
115
ChJ. Enschede, Op. at, him. 26.
ASAS LEGALITAS DAN P~RBUATAN PIDANA ':. : 73,~:·:·
··.: i j •• •
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pidana hanya dapat ditentukan dengan urtdang-undang dan bahwa
ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut186•
Mirip dengan Enschede dan "'\t'lirjono adalah Sudarto yang juga
inengemukakan ada dua hal yang terkandung dalam asas legalitas.
Pertama, suatu tindak pidana harus dirumuskan dalam peraturan
perundang-undangan. · Kedua, peraturan perundang-undangan ini
harus ada sebelum terjadinya tindak pidana. Sudarto kemudian
menambahkan bahwa dari makna yang pertama terdapat dua
konsekuensi yaitu perbuatan seseorang yang tidak tercantum dalam
undang-undang sebagai suatu tindak pidana tidak dapat dipidana dan
adanya larangan penggunaan analogi untuk membuat suatu perbuatan
menjadi suatu tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam undang-
undang. Sedangkan konsekuensi dari makna yang kedua adalah bahwa
hukum pidana tidak boleh berlaku surut187•
· Menurut Jan Remmelink ada tiga hal sebagai makna yang
terkandung dalam asas legalitas. Ketiga hal yang dikemukakan
oleh Remmelink adalah: Pertama, konsep perundang-undangan
yang diandaikan dalam ketentuan Pasal 1. Menurutnya, tidak hanya
perundang-undangan dalam arti formil yang dapat memberikan
pengaturan di hidang pemidanaan, tetapi menunjuk pada semua produk
legislatif yang mencakup pemahaman bahwa pidana akan ditetapkan
secara legitimate. Termasuk di dalamnya adalah peraturan yang dibuat
oleh pemerintah daerah baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten
ataukota.
Kedua, undang-undang yang dirumuskan terperinci dan cermat
atau lex certa. Prinsip ini juga dikenal dengan istilah bestimmtheitsgebot.
Perumusan ketentuan pidana yang tidak jelas atau terlalu rumit
hanya akan memunculkan ketidakpastian hukum dan menghalangi
keberhasilan upaya penuntutan pidana karena warga selalu akan dapat
membela diri bahwa ketentuan-ketentuan seperti itu tidak berguna
186
Wirjono Prodjodikoro, 2003, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, Refika Aditama,
Bandung, him. 42.
w Sudarto, [Link], him. 22- 24.
74 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sebagai pedoman perilaku. Ketiga adalah perihal analogi. Asas legalitas
juga mengandung makna larangan untuk menetapkan ketentuan
pidana secara analogi atau yang dikenal dengan adagium "nullum-
crimen noela poena sine lege stricta" 188 •
Sementara menurut Groenhuijsen seperti yang dikutip Komariah
Emong Sapardjaja, ada empat makna yang terkandung dalam asas ini.
Dua dari yang pertama ditujukan kepada pembuat undang-undang dan
dua yang lainnya merupakan pedoman bagi hakim. Perlama, bahwa
pembuat undang-undang tidak boleh memberlakukan suatu ketentuan
pidana berlaku mundur. Kedua, bahwa semua perbuatan yang dilarang
harus dimuat dalam rumusan delik yang sejelas-jelasnya. Ketiga,
hakim dilarang menyatakan bahwa terdakwa melakukan perbuatan
pidana didasarkan pada hukum tidal< tertulis atau hukum kebiasaan.
Keempat, terhadap peraturan hukum pidana dilarang diterapkan
analogP 89• Demikian pula rnenurut Richard G. Singer dan Martin R.
Gardner bahwa ada tiga aspek yang berkaitan dengan asas legalitas.
Pertama, pemidanaan tidak dapat diberlakukan secara retroaktif.
Kedua, pernbentuk undang-undang dilarang membuat hukum yang
berlaku surut. Ketiga. perbuatan pidana harus didefinisikan oleh
lembaga atau institusi yang berwenang190•
Makna yang terkandung dalam asas legalitas lebih rind
dikemukakan oleh Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius yang
rnenegaskan ada tujuh aspek dari asas legalitas. Pertama, tidak dapat
dipidana kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut undang-
undang. Kedua, tidak ada penerapan undang-undang pidana
berdasarkan analogi. Ketiga, tidak dapat dipidana hanya berdasarkan
kebiasaan. Artinya, pelanggaran atas kaidah · kebiasaan dengan
sendirinya belum tentu rnenghasilkan perbuatan pidana. Keempat,
tidak boleh ada perumusan delik yangkurang jelas atau asas lex certa.
181 Jan Remmelink, [Link], him. 357-359.
189
Komariah Emong Sapardjaja, 2002, Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel Do/am
Hukum Pidana Indonesia (Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam
Yurisprudensi), Penerbit Alumni Bandung, him. 5-6.
190 Richard G. Singer & Martin R. Gardner, 1997, Crimes And Punishment: Cases, Mate rills and
. Readings In Criminal Law, Secodn Edition, Matthew Bender, him. 149.
~ lEGAliTAS DAN PERBUATAN PIDANA ' .:>i~\l:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Kelima, tidak ada kekuatan surut dari ketentuan pidana. Hal ini
·dikenal dengan prinsip non-retroaktif dari ketentuan pidana. Keenam,
tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan undang-undang. Perihal
keenam ini, hakim tidak boleh menjatuhkan pidana selain yang telah
ditentukan dalam ketentuan undang-undang. Ketujuh atau yang
terakhir, penuntutan pidana hanya menurut cara ·yang ditentukan
oleh undang-undang191 • Artinya, seluruh proses pidana, mulai dari
penyelidikan sampai pelaksanaan putusan haruslah berdasarkan
undang-undang. Di sini, undang-undang yang dimaksud adalah
undang-undang dalam arti formil. Dengan kata lain, pembentuk
undang-undang yang lebih rendah dilarang membuat aturan acara
pi dana.
Menurut Moeljatno, ada tiga pengertian yang terkandung dalam
asas legalitas. Pertama, tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam
dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum [Link] dalam
suatu aturan undang-undang. Kedua, Dalam menentukan adanya
perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. Ketiga, aturan-aturan
hukum pidana tidak berlaku surut192 •
Berkaitan dengan asas legalitas, menurut Machteld Boot
dengan mengutip pendapat Jescheck dan Weigend, paling tidak ada
empat syarat yang termasuk dalam asas tersebut. Lebih lanjut Boot
menyatakan: ·
The formulation of the Gesetzlichkeitsprinzip in Article 1 StGb 193
is generally considered to include four separate requirements.
First, conduct can only be punished if the punishability as well as
the accompanying penalty had been determined before the offence
was committed (nullum crimen, noela poena sine lege praevia).
Furthermore, these determinations have to be included in statutes
191
D. Schaffmeister, N. Keijzer, [Link]. Sutorius, Diterjemahkan oleh J.E Sahetapy, 1995, Hukum
Pidana, liberty, Yogyakarta, him 6 -14.
192
Moeljatno, [Link], him. 25.
193
StGb adalah Strafgesetzbuch atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Jerman. Dalam
Pasal 1 nya menyatakan, "Eine tat kann nur bestraft werden, wenn die strafbarkeit
geseztlich bestimmt war, bevor die Tat begangen wurde" (Seseorang hanya dapa t dipidana,
pka ketentuan hukum mengenai dapat dipidanya itu sudah ada, sebelum perbuatan
dilakukan).
76 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Gesetze): nullum crimen, noela poena sine lege scripta. These
statutes have to be definite (bestimmt): nullum crimen, noela poena
sine lege certa. Lastly, these statutes may not be applied by analogy
which is reflected in the axiom nullum crimen, noela poena sine lege
stricta 194 •
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Boot, ada beberapa hal
yang berkaitan dengan asaslegalitas. PERTAMA, prinsip nullum crimen,
noela poena sine lege praevia. Artinya tidak ada perbuatan pidana,
tidak ada pidana tanpa undang-undang sebelumnya. Konsekuensi dari
makna ini adalah ketentuan hukum pidana tidak boleh berlaku surut.
Mengenai hal ini, Simons secara tegas menyatakan, "..... dat de
strafwet slechts lean worden toegpeast op een feit, na hare inwerkingtreding
gepleegd, en dat zij uitsluitend werkt yoor het toekomende"195 ( undang-
undang pidana hanya dapat diberlakukan terhadap suatu perbuatan
yang telah dilakukan setelah undang-undang pidana tersebut mulai
diberlakukan dan telah dimaksudkan untuk diberlakukan terhadap hal-
hal yang terjadi di kemudian waktu). Demikian pula van Bemmelen
dan van Hattum yang berpendapat, "Men leest daar immers dat geen
feit strafbaar is dan karachtens een daaraan voorafgegane strafbepaling.
Strafbepalingen hebben derhalve geen terugwerkende kracht"196 (Di sana
kita dapat membaca bahwa tidak seorang pun yang dapat dipidana,
kecuali berdasarkan suatu ketentuan pidana yang telah ada terlebih
· dahulu sebelum perbuatannya. Ini berarti bahwa ketentuan-ketentuan
pidana tidak boleh berlaku sunit). Akan tetapi, makna ini dalam
sejarah perkembangan asas legalitas telah disimpangi di beberapa
negara dengan alasan melindungi kepentingan negara dan bahaya yang
ditimbulkan terhadap masyarakat.
KEDUA, prinsip nullum crimen, nulla poena sine lege scripta.
Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa undang-
undang tertulis. Konsekuensi dari makna ini adalah semua ketentuan
194
Machteld Boot, Op. Cit., him. 94.
· .m D. Simons, [Link]., him. 100.
196 J.M van Bemmelen En W.F.C van Hattum, [Link]., him. 81.
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PI DANA · . 77:.;
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pidana harus tertulis. Dengan kata lain, baik perbuatan yang dilarang,
·· maupun pidana yang diancam terhadap perbuatan yang dilarang harus
tertulis secara expressiv verbis dalam undang-undang. Tidak boleh
menjatuhkan pidana hanya berdasarkan hukum tidak tertulis atau
hukum kebiasaan .
.Perihalketentuan pidana harus tertulis, vanHamelmengemukakan
pendapatnya sebagai berikut: ·
. "Zoo onstond het adagium nullum delictum, nulla peona sine
lege praevia poenali, in onderscheiden wetgevingen nadrukkelijk
. ···· · erkend. Het Nederlandsche recht huldigt dien regel uitdrukkelijk
- , -en als het gansche strafrecht beheerschend, in a. 1 Swb. Daarmede
wordt erkend, dat uitsluitend het geschreveven recht zal hebben aan
te wijzen, of eenige rechtsnorm strafrechtelijk gesanctioneerd is,
wat de inhoud is der santioneerende straf bedreiging, en welke de
voorwaarden zijn voor hare toepasselijkheia 197•
(Demikian lahirlah adagium nullum delictum, nulla peona sine
lege praevia poenali, yang telah mendapat suatu pengakuan secara
tegas dalam berbagai perundang-undangan. Hukum di Negeri
Belanda menganut ketentuan tersebut secara tegas dalam Pasal
1 KUHP yang dianggap berlaku untuk seluruh hukum pidana.
Dengan demikian orang mengakui bahwa hanya hukum yang
tertulis sajalah yang dapat menentukan apakah suatu norma
hukum itu telah dikaitkan dengan suatu ancaman pidana menurut
hukum pidana atau tidak, tentang isi ancaman pidana yang telah
diancamkan dan tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk
memberlakukan ancaman pidana tersebut).
Hal yang sama juga dikemukakan Noyon dan Langemeijer:
"Het eerste lid van artikell geeft uitdrukking aan het beginsel dat
niet anders dan krachtens uitdrukkelijke wetsbepaling, dus met
uitsluiting van elk gewoonterecht, en niet anders dan krachtcns
een aan de begane handeling of het begane verzuim voorajgeganc
wetsbepaling strafkan worden opgelegd" 198 •
197
G. A van Hamel, [Link]., him. 153.
198
T.J. Noyon & G.E. langemeijer, 1947, Het Wetboek Van Strafrecht, Vijfde Druk, Eerste Dee!
lnleiding Boek I, S. Gouda Quint- D. Brouwer En Zoon, Uitgevers Het Huis De Grabbe-
Arnhem, him. 53.
78 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Ayat pertama Pasall KUHP menekankan pada asas, bahwa tidak
ada suatu perbuatan pun yang terlarang atau diharuskan, kecuali
hal tersebut dinyatakan secara tegas dalam suatu ketentuan
undang-undang, hukum kebiasaan harus dikesampingkan dan
tidak ada satu pidana pun yang dapat dijatuhkan terhadap orang
yang telah melanggar suatu larangan atau suatu keharusan, kecuali
jika pidana itu telah diancamkan dalam undang-undang yang
telah ada terlebih dahulu sebelum pelanggaran itu sendiri)
KETIGA, prinsip nullum crimen, nulla poena sine lege certa.
Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa aturan
undang-undang yang jelas. Konsekuensi selanjutnya dari makna ini
adalah bahwa rumusan perbuatan pidana harus jelas sehingga tidak
bersifat multi tafsir yang dapat membahayakan bagi kepastian hukum.
Demikian pula dalam hal penuntutan, dengan rumusan yang jelas
penuntut umum akan dengan mudah menentukan mana perbuatan-
perbuatan yang dikualifikasikan sebagai perbuatan pidana dan mana
yang bukan. KEEMPAT, prinsip nullum crimen, nulla poena sine lege
stricta. Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa
undang-undang yang ketat. Konsekuensi dari makna ini secara implisit
tidak memperbolehkan analogi. Ketentuan pidana harus ditafsirkan
secara ketat sehingga tidak menimbulkan perbuatan pidana baru.
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Enschede, Wirjono,
Sudarto, Groenhuijsen, Singer dan Gardner, Schaffmeister, Keijzer
dan Sutorius, Remmelink, Moeljatno serta Boot, jelaslah bagi kita
bahwa asas legalitas dalam hukum pidana dapat dibedakan dalam
hukum pidana material dan hukum pidana formal. Oleh karena itu
asas legalitas ini mempunyai dua fungsi yaitu fungsi melindungi dan
fungsi instrumentasi. Fungsi melindungi artinya undang-undang
pidana melindungi rakyat terhadap kekuasaan yang tanpa batas dari
pemerintah. Sedangkan fungsi instrumentasi artinya di dalam batas-
batas yang ditentukan undang-undang, pelaksanaan kekUasaan oleh
pemerintah tegas-tegas diperbolehkan 199•
"' D. Schaffmelster, N. Keijzer, E. PH. Sutorius, [Link]., him. 4.
.};i:~ :.!~~(-~ :_
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ,~:'JfSJ~/
. --'&~ ,~-~~~- ~:-;
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Selanjutnya hila kita merujuk pada ketiga frasa yang dikemukakan
oleh Feuerbach yang melahirkan asas legalitas sebagaimana yang telah
diutarakan di atas, yaJ:.ni nulla poena sine lege (tidak ada pidana tanpa
undang-undang); nulla poena sine crimine (tidak ada pidana tanpa
perbuatan pidana) dan nullum crimen sine poena legali (tidak ada
perbuatan pidana tanpa pidana menurut undang-undang), pendapat
Penulis, asas legalitas ini berlaku baik dalam hukum pidana materiil
maupun dalam hukurn pidana formil. Frasa nulla poena sine lege dan
nulla poena sine crimine lebih pada hukum pidana meteriil yang berisi
perbuatan yang dilarang beserta ancaman pidananya, sedangkan frasa
terakhir nullum crimen sine poena legali lebih pada hukum pidana
formil.
Frasa ketiga nullum crimen sine poena legali yang berarti "tidak ada
perbuatan pidana tanpa pidana menurut undang-undang' adalah suatu
kalimat negatif. Jika kalimat tersebut dipositifkan, maka bunyinya,
"semua perbuatan pidana harus dipidana menurut undang-undang'~
Dengan demikian asas legalitas yang selama ini kita kenai dalam
hukum acara pidana yang berarti bahwa semua perbuatan pidana
harus dituntut merupakan penjabaran lebih lanjut dari frasa ketiga
sebagaimana diuraikan di atas.
D. ASAS LEGALITAS DALAM . KONTEKS HUKUM PIDANA NA-
SIONAL
Asas legalitas ini pertama-tama mempunyai bentuk sebagai
undang-undang adalah dalam Konstitusi Amerika 1776 dan sesudah
itu dalam Pasal 8 Declaration de droits de l'homme et du citoyen
1789: "nul ne peut etre puni quen vertu d'une loi etabile et promulguee
anterieurement au delit et legalement appliqueelOO. Asas ini selanjutnya
dimasukkan ke dalam Pasal 4 Code Penal Perancis yang disusun
oleh Napoleon Bonaparte, "Nulle contravention, nul delit, nul crime,
ne peuvent etre punis de peines qui n' etaient pas prononcees par Ia loi
200
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 275.
80 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
avant qu'ils fussent commis"201 • Dari Code Penal Perancis inilah, asas
tersebut kemudian dimasukkan ' dalam Pasal 1 ayat (1) Wetboek van
Strafrecht di Negeri Belanda yang dengan tegas menyatakan, "Geen
feit is strafbaar dan uit kracht van eene daari:lan voorafgegane wettelijke
strafbepaling' 202 • Selanjutnya asas tersebut dimuat dalam Pasal 1 ayat
(1) KUHP Indonesia.
Di Inggris, asas legalitas ini dirumuskan oleh seorang filsuf yang
bernama Francis Bacon dalam adagium moneat lex, piusquam feriat.
Artinya, undang-undang harus memberikan peringatan terlebih dahulu
sebelum merealisasikan ancaman yang terkandung di dalanmya203•
Dalam perkembangan selanjutnya pada level nasional, asas legalitas ini
tidak hanya dicantumkan dalam kitab undang-undang hukum pidana
masing-masing negara, namun lebih dari itu, asas legalitas termaktub
dalam konstitusi masing-masing negara.
Perancis memasukkan asas legalitas dalam konstitusinya pada
tahun 1958. Pasal 7 konstitusi Perancis menyatakan:
"A person may be accused, arrested or detained only in the cases
specified by law and in accordance with the procedures which the
law provides. Those who solicit, forward, carry out or have arbitrary
orders carried out shall be punished; however, any citizen summoned
or apprehended pursuant to law must obey forthwith; by resisting, he
admits his guilt"
Sedangkan dalam Pasal 8 konstitusi Perancis menyebutkan:
"Only penalties which are strictly and clearly necessary may be
established by law, and no-one may be punished other than pursuant
to a law established and enacted prior to the ojfet1ce, and applied
lawfully
Berdasarkan konstitusi Perancis, jelas terlihat bahwa asas legalitas
tidak hanya menyangkut hukum pidana dalam ·pengertian hukum
pidana materiil semata tetapi juga asas legalitas dalam pengertian
201 E. Utrecht, [Link]., him. 193.
201 M.W. van 'T Hof, 1930, Wetboek von Strofrecht, N.V.G Kolff & Co - Batavia C., him. 38.
20J Jan Remmelink, [Link], him. 356.
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIOANA :: . 8t\ .
. - - ·o :.\
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
hukum pidana formil Bahkan perlindungan terhadap kepentingan
individu dari proses hukum yang sewenang-wenang mendapat
perhatian yang lebih utama dengan ketentuan dalam Pasal 7 tersebut.
Hal ini dapat dipaharni karena dalam konteks hukum acara pidana,
sedikit-banyaknya terjadi pengekangan terhadap hak asasi [Link].
Oleh karena ito, di negara-negara yang cenderung menggunakan
due process model dalam sistem peradilan pidana, menurut King, lebih
memberi perlindungan terhadap hak asasi manusia dari tindakan
sewenang-wenang aparat penegak hukum204• Dalam kaitannya dengan
asas legalitas, Hebert L. Packer berpendapat bahwa asas tersebut
lebih pada perlindungan hukum terhadap individu dalam sistem
peradilan pidana205• Belanda sebagai salah satu negara yang cenderung
menggunakan due process model dalam sistem peradilan pidana
mengatur tentang hak masyarakat untuk melakukan gugatan terhadap
tindakan polisi yang sewenang-wenang dalam menangani perkara
pidana. Hal ini tertuang dalam Pasall2 Wetboek van Straf vordering2D".
Di Jerman, asas legalitas ini dikenal dengan istilah
gesetzlichkeitsprinsip yang tidak hanya dimuat dalam Pasal 1 KUHP
tetapi juga termaktub dalam Pasal103 Konstitusi Jerman207• Secara tegas
Pasal103 menyatakan, ~n act can be punished only where it constituted
a criminal offence under the law before the act was committed Di Belgia, Cf.
asas legalitas secara singkat termuat dalam Pasal 14 konstitusi yang
menyatakan, "No punishment can be made or given except in pursuance
of the law". Konstitusi Spanyol menjamin asas legalitas dalam dua pasal.
Perlama, dalam Pasal9 yang berbunyi:
204 M. King. 1981, A Framework Of Criminal Justice, Croom Helm, london, him. 20. lihat juga:
University Of leicester, Modul 5, 1998, "Issues In The Criminal Justice Process", Scarm<Jn
Center, University Of leicester, him. 24. lihat juga:Eddy 0.5 Hiariej, Kinerja Polisi, Sural
Kabar Harian KOMPAS, Kamis, 6 November 2003, hlm.37.
205
Herbert l Packer, 1968, The Umits of The Crimina/Sanction, Oxford University Press, him.
him. 147. lihat juga: Eddy 0.5 Hiariej, 2005, Crimnal Justice System In Indonesia, Between
Theory And Reality, Asia law Review Vol.2, No. 2 December 2005, Korean legislation
Research Institute, him. 26.
206 OJ. Elzinga, PH.S. van Rest, J. de Valk, 1995, Het Nederlandse Politierecht, Tjeenk Willink
Zwole, hlm.141.
m Machteld Boot, [Link], him. 90.
82 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
na et tijdstip waarop het feit began is, woorden de voor den verdachte
gunstigste bepalingen toegepast".
Demikian pula dalam Pasall ayat (2) KUHP Indonesia berbunyi,
"/ika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan dalam perundang-
undangan, dipakai aturan yang paling ringan bagi terdakwa:' Hal yang
sama juga terdapat dalam undang-undang pidana Jerman yang dengan
tegas menyatakan, "Bei Verschiedenheit der Gesetze von der Zeit der
begangenen Handlung bis zu deren Aburteilung ist das mildeste Gesetz
anzuwneden" (Jika ada perbedaan antara ketentuan pidana yang
berlaku pada waktu tindak pidana dilakukan dan ketentuan pidana
yang kemudian berlaku pada waktu tindak pidana yang sama diperiksa
di pengadilan, ketentuan pidana yang paling ringanlah yang hams
ditetapkan).
Berdasarkan ketentuan Pasall ayat (2) KUHP, menurut Utrecht,
ada dua pertanyaan mendasar yang harus dijawab. Pertama, apakah
yang dimaksud dengan perubahan perurtdang-undangan (verandering
in de wetgeving). Kedua, apakah yang dimaksud dengan aturan yang
paling meringankan (gunstigste bepalingen)210• Terhadap pertanyaan
pertama ada tiga ajaran atau tiga teori untuk menjawab pertanyaan
tersebut yaitu ajaran formil (formele leer), ajaran materiil terbatas
(beperkete materiele leer) dan ajaran materiil tidak terbatas (onbeperkte
materiele leer) 211 •
Ajaran formil dipelopori oleh Simons yang menyatakan bahwa
'perubahan perundang-undangan' yang dimaksud dalam Pasal 1 ayat
(2) hanya jika terdapat perubahan redaksi dalam undang-undang
pidana212• Sedangkan ajaran materiil terbatas dianut oleh van Geuns
yang menyatakan bahwa makna 'perubahan perundang-undangan'
dalam Pasall ayat (2) adalah setiap perubahan keyakinan hukum
pada p_embuat undang-undang. Ajaran materiil terbatas termasuk juga
2111 E. Utrecht, [Link], him. 222.
111 Ibid, him. ~3.
212 D. Slrnons, [Link], him. 101.
..
~ . . ·: ·~
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA :·
.
;BS. >:
·~ ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
perubahan di luar undang-undang pidana tetapi perubahan tersebut
mempengaruhi undang-undang pidana yang bersangkutan213•
Sementara ajaran materiil tidak terbatas menyatakan bahwa
setiap perubahan, baik dalam . keyakinan hukum pembuat undang-
undang maupun dalam keadaan karena waktu, dapat diterima sebagai
perubahan perundang-undangan menurut Pasal 1 ayat (2) KUHP.
Komentar Utrecht, ajaran materiil tidak terbatas ini adalah teori tentang
waktu delik yang paling luas dan cocok dengan jiwa hukum pidana dan
pf!radilan pidana modern yang telah menerima perluasan dengan cara
analogi214• Perihal ajaran yang terakhir ini, khususnya yang berkaitan
dengan keadaan karena waktu, Jonkers menyatakan bahwa peraturan
darurat pada prinsipnya dibuat untuk dapat mengatasi suatu keadaan
darurat dan kemudian dicabut kembali setelah keadaan normal.
Peraturan darurat dimaksudkan bersifat sementara dan bukan suatu
perubahan keyakinan hukum pembuat undang-undang. Oleh karena
itu, Jonkers tidak menyetujui ajaran materiil tidak terbatas ini215•
Selanjutnya terhadap pertanyaan kedua apakah yang dimaksud
dengan aturan yang paling meringankan (gunstigste bepalingen),
m E. Utrecht, [Link], him. 224. Ajaran ini dianut dalam Putusan Hoge Road, 3 Desember
1906 W. Nr. 8468: Pada bulan Desember 1904, seorang mucikari memperkerjakan
seorang wanita berusia 22 tahun sebagai pelacur. Perbuatan mucikari tersebut dapat
dituntut Pasal 295 ayat (1) ke- 2 karena ·memperkerjakan wan ita di bawah umur sebagai
pelacur. Berdasarkan Pasal 330 KUH Perdata, batas usia dewasa adalah 23 tahun. Pada
saat mucikari tersebut sedang diadili, Pasal330 KUH Perdata mengalami perubahan batas
usia dewasa menjadi 21 tahun. Hoge Road membebaskan mucikari tersebut dengan
alasan telah terjadi 'perubahan perundang-undangan' sebagaimana yang dimaksudkan
dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP sehingga harus diputus yang meringankan terdakwa. lihat
selanjutnya dalam J.M. Van Bemmelen En H. Burgersdijk, 1955, Arresten Over Strofrecht,
Vijfde Druk, H.D. Tjeenk Willink & Zoon N.V.- Haarlem, him. 33.
214
E. Utrecht, [Link], him. 225- 226.
215 J.E. Jonkers, [Link], him. 39. Ajaran materiil tfdak terbatas sepanjang menyangkut keadaan
darurat, ditolak oleh Hoge Raad dalam putusannya tanggal 6 Januari 1936 NJ 1936 Nr.
312: Pada tanggal 25 Agustus 1934 seorang ditahan di tengah jalan karena mengangkut
kentang pabrik tanpa izin pengangkutan. Saat itu sedang berlaku undang-undang krisis
pertanlan. Pada tanggal 15 Juni 1935 sebelum perkaranya diputus, keharusan izin
angkutan dalam undang-undang krisis pertanian dicabut karena keadaan kembali normal.
Orang tersebut tetap dipidana sebab Hoge Road berpendapat bahwa perubahan aturan
yang dimaksudkan hanya berlaku sementara waktu tidak termasuk dalam pengertian
'perubahan perundang-undangan' sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP.
Uhat selanjutnya dalam J.M. Van Bemmelen En H. Burgersdijk, [Link], him. 38.
36 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
kiranya tidak hanya mengenai pemidanaan semata, namun juga
termasuk segala sesuatu .yang memp unyai pengaruh atas penilaian
suatu delik216 • Baik Vos maupnn }onkers berpendapat bahwa apa yang
ditentukan dalam Pasall ayat (2) KUH P terhadap ketentuan-ketentuan
yang memuat kaidah pidana dan ketentuan-ketentuan dapat dituntut -
tidaknya si pelaku217 •
Akan tetapi ada juga beberapa negara yang tidak menggunakan
ketentuan seperti yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP
Indonesia tersebut, seperti Inggris dan Swedia. Di Inggris, pelaku
kejahatan tetap diadili menurut undang-undang yang lama, meskipnn
terjadi perubahan peraturan perundang-undangan padasaatmelakukan
perbuatan dan pada saat diadili. Dengan kata lain, diadlli dengan
nndang-undang yang berlaku pada saat dia melakukan perbuatan
pidana. Hal ini dianggap lebih tepat untuk menghormati kepastian dan
keadilan hukum. Artinya, Inggris secara konsisten menggunakan asas
legalitas.
Sebaliknya di Swedia, undang-undang barulah yang dib erlakukan
terhadap terdakwa apabila terjadi perubahan peraturan perundang-
undangan pada saat melakukan perbuatan dan pada saat diadili. Adapnn
argumentasi · Swedia yang secara konsisten menggunakan undang-
undang baru adalah bahwa setiap perubahan perundang-undangan
niscaya merupakan suatu perbaikan dan hal itu selalu membawa akibat
baik terhadap perkara-perkara yang belum diadili218 • Dengan kata
lain, Swedia menerapkan asas lex posterior derogat legi priori bahwa
peraturan yang baru mengesampingkan peraturan terdahulu.
Berbeda dengan sebagian besar negara di dunia, Cina adalah
negara yang tidak memberlakukan asas legalitas. Dalam Pasal 2
KUHP Cina ditegaskan bahwa pidana adalah alat perjuangan untuk
menghadapi perbuatan yang kontrarevolusioner. Konsekuensinya,
n' E. Utrecht, [Link], him. 228.
m H.B. Vos, [Link], him. 57. Uhat juga J.E. Jonlcers, [Link], hlm.40.
na Jan Remmellnk, [Link], him. 363 - 364.
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ' 87 .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
analogi dalam penerapan hukum pidana tegas-tegas diperbolehkan.
· ·Dalam hal terdapat perbuatan yang patut dipidana tetapi perbuatan
tersebut tidak tercantum dalam perundang-undangan di Cina, rnaka
diterapkan ketentuan pidana dengan jalan analogi terhadap perbuatan
pidana yang paling rnirip dalam perundang-undangan. Akan tetapi
penerapan analogi ini harus rnendapat persetujuan Mahkarnah Agung
Cina terlebih dulu219•
Hal ini dapatlah dipahami jika kita rnenelusuri filsafat hukum yang
dianut oleh Cina. Dalam Konfusionisrne lebih rnengutamakan filsafat
Lfyang rnengarah kepada ritual, moral, etika, keadilan dan kepatutan.
Sebagai lawannya adalah filsafat Fa yang lebih mementingkan bunyi
teks dari suatu undang-undang. Dalam perkembangannya, meskipun
Fa diakui oleh masyrakat Cina, akan tetapi Li masih tetap dijadikan
pegangan umurn yang mendasari Fa tersebut220•
Kembali kepada asas legalitas dalam konteks hul.-w.a nasional,
khususnya di Indonesia, berikut ini Penulis mengulas asas legalitas
berkaitan dengan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukurn Pidana
yang sampai saat ini masih menjadi pembahasan di Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia. Apabila kita merujuk kepada Rancangan
KUHP (RUU KUHP) di Indonesia tampaknya asas legalitas tidak
berlaku secara absolut. Lebih jelasnya, Penulis mengutip Pasall, Pasal
2, dan Pasal3 RUU KUHP Indonesia:
219
Andi Hamzah, 1995, Perbandingan Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, him. 22- 24.
120 John Gillisen dan Frits Gorle, [Link], him. 403-406.
88 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
BABI
RUANG LINGKUP BERLAKUNYA KETENTUAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA
Bagian Kesatu
Menurut Waktu
Pasall
(1) Tiada seorang pun dapat dipidana atau dikenakan tindakan,
kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak
pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada
saat perbuatan itu dilakukan.
(2) Dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan
analogi.
Pasal2
(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) tidak
mengurangi berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat
yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana walaupun
perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-
undangan.
(2) Berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila danlatau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui
masyarakat bangsa-bangsa.
Pasal3
(1) Dalam hal terdapat perubahan peraturan perundang-undangan
sesudah perbuatan terjadi, diberlakukan peraturan perundang-
undangan yang baru dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang · lama berlak.u apabila menguntungkan bagi
pembuat.
(2} Dalam hal setelah putusan pemidanaan memperoleh kekuatan
[Link] tetap, perbuatan yang terjadi tidak lagi merupakan tindak
pidana menurut peraturim perundang-undangan yang baru, maka
pelaksanaan putusan pemidanaan dihapuskan.
;· ·:.:: ~ : ~~-. ;, ·
1
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ._~;':Q:9h
~ .:;:.t·:.~·; . ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(3} Dalam hal setelah putusan pemidanaan memperoleh .kekuatan
hukum tetap, perbuatan yang terjadi diancam dengan pidana yang
lebih riilgan menurut peraturan perundang-undangan yang baru,
maka pelaksanaan putusan pemidanaan tersebut disesuaikan
dengan batas-batas pidana menurut peraturan perundang-
undangan yang baru221 •
Terhadap RUU KUHP tersebut di atas ada beberapa catatan Penulis:
Pertama, di masa depan, asas legalitas yang dianut di Indonesia tidak
bersifat absolut karena adanya ketentuan Pasal 2 yang secara implisit
mengakui hukum tidak tertulis dalam masyarakat. Kedua, pembatasan
terhadap asas legalitas atau lex termporis delicti tidak hanya berkaitan
dengan perubahan perundang-undangan semata sebagaimana tertuang
dalam Pasal 3 di atas, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial
kemasyarakatan.
Ketiga, ketentuan mengenai larangan menerapkan analogi
merupakan suatu contradictio interminis hila dihubungkan dengan
Pasal 2 yang mana seseorang dapat dipidana meskipun perbuatannya
tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. Sebab, untuk
memidana suatu perbuatan yang tidak diatur dalam peraturan
perundang-undangan, tidak mesti tidak, hakim harus menggunakan
analogi atau setidak-tidaknya iliterpretasi ekstensif. Padahal, pada
hakekatnya tidak terdapat perbedaan prinsip antara interpretasi
ekstensif dengan analogi.
Keempat, berdasarkan ketentuan Pasal2 ayat (2) di atas, hukum
yang tidak tertulis tersebut tidak hanya berkaitan dengan situasi dan
kondisi masyarakat Indonesia serta kearifan lokal semata, akan tetapi
juga dapat bersumber dari prinsip-prinsip umum yang diakui oleh
bangsa-bangsa beradab di dunia. Artinya, asas legalitas ini juga dapat
disimpangi oleh praktik hukum kebiasaan yang telah berlangsung dan
diakui oleh masyarakat internasional.
221 Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, 2013, Rancangan
Undang-Undang l<itab Undang-Undang Hukum Pidana, Direktorat Jenderal Hukum Dan
Perundang-Undangan, him. 2.
90 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
BABI
RUANG LINGKUP BERLAKUNYA KETENTUAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA
Bagian Kesatu
Menurut Waktu
Pasall
(1) Tiada seorang pun dapat dipidana atau dikenakan tindakan,
kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak
pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada
saat perbuatan itu dilakukan.
(2) Dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan
analogi.
Pasal2
{1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 1 ayat (1) tidak
mengurangi berlakunya hukum yang hidup dalarn masyarakat
yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana walaupun
perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-
undangan.
{2) Berlakunya [Link] yang hidup dalam masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila danlatau prinsip-prinsip hukum umum yaug [Link]
masyarakat bangsa-bangsa.
Pasal3
{1) Dalam hal terdapat perubahan peraturan perundang-undangan
sesudah perbuatan terjadi, diberlakukan peraturan perundang-
undangan yang baru dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang · lama berlaku apabila menguntungkan bagi
pembuat.
{2) Da1am hal setelah putusan pemidanaan memperoleh kekuatan
hukum tetap, perbuatan yang terjadi tidak lagi merupakan tindak
pi dana menurut peraturan perundang-undangan yang baru, maka
pelaksanaan putusan pemidanaan dihapuskan.
.: ~:·:~~ :· ::-:·;.' ~
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ._·;'ff9/i
~ "."i :~ :.>:~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(3) Dalam hal setelah putusan pemidanaan memperoleh kekuatan
hukwn tetap, perbuatan yang terjadi diancam dengan pidana yang
lebih ringan menurut peraturan perundang-undangan yang baru,
maka pelaksanaan putusan pemidanaan tersebut disesuaikan
dengan batas-batas pidana menurut peraturan perundang-
undangan yang baru221 •
Terhadap RUU KUHP tersebut di atas ada beberapa catatan Penulis:
Pertama, di masa depan, asas legalitas yang dianut di Indonesia tidak
bersifat absolut karena adanya ketentuan Pasal 2 yang secara implisit
mengakui hukum tidak tertulis dalam masyarakat. Kedua, pembatasan
terhadap asas legalitas atau lex termporis delicti tidak hanya berkaitan
dengan perubahan perundang-undangan semata sebagaimana tertuang
dalam Pasal 3 di atas, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial
kemasyara:katan.
Ketiga, ketentuan mengenai larangan menerapkan analogi
merupakan suatu contradictio interminis hila dihubungkan dengan
Pasal 2 yang mana seseorang dapat dipidana meskipun perbuatannya
tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. Sebab, untuk
memidana suatu perbuatan yang tidak diatur dalam peraturan
perundang-undangan, tidak mesti tidak, hakim harus menggunakan
analogi atau setidak-tidaknya iJiterpretasi ekstensi£ Padahal, pada
hakekatnya tidak terdapat perbedaan prinsip antara interpretasi
ekstensif dengan analogi.
Keempat, berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (2) di atas, hukum
..yang tidak tertulis tersebut tidak hanya berkaitan dengan situasi dan
kondisi masyarakat Indonesia serta kearifan lokal semata, akan tetapi
juga dapat bersumber dari prinsip-prinsip umum yang diakui oleh
bangsa-bangsa beradab di dunia. Artinya, asas legalitas ini juga dapat
disimpangi oleh praktik hukum kebiasaan yang telah berlangsung dan
diakui oleh masyarakat internasional.
221
Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, 2013, Rancangan
Undang-Undang :<itab Undang-Undang Hukum Pidana, Direktorat Jenderal Hukum Dan
Perundang-Undangan, him. 2.
90 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Kelima, pembatasan terhadap asaslegalitas sebagaimana termaktub
dalam pasal-pasal di atas, kiranya telah sesuai dengan amandemen
ketiga UUD 1945 Pasall ayat {3) yang menyatakan, "Indonesia adalah
negara hukum"222 • Menurut Mahfud MD, perumusan Pasall ayat {3)
tanpa ·embel-embel .'rechtsstaat' seperti dalam penjelasan UUD 1945
sebelum amandemen dimaksudkan agar konsep negara hukum yang
ada di Indonesia saat ini adalah negara hukum prismatik. Artinya,
menggabungkan segi-segi positif antara rechtsstaat dan the rule of law.
Masih menurut Mahfud, perumusan tanpa embel-embel sebenarnya
dilakukan secara sengaja dengan maksud memberi tempat yang luas
pada pemenuhan rasakeadilan (the rule oflaw). Artinya, demi tegaknya
keadilan, maka seyogyanya perbuatan yang tidak wajar, tercela atau
yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ~alam masyarakat dapat dipidana
meskipun secara formal tidak ada hukum tertulis yang melarangnya223•
Keenam, pembatasan terhadap asas legalitas sebagaimana
terma1..1:ub dalam pasal-pasal di atas, menunjukan bahwa secara implisit
hukum pidanadi Indonesia telah mengakui ajaran sifat melawan hukum
materiil dalam fungsi yang positif. Artinya, meskipun suatu perbuatan
tidak memenuhi' rumusan delik dalam undang-undang tertulis, hakim
dapat menjatuhkan pidana apabila perbuatan tersebut dianggap tercela,
bertentangan dengan keadilan dan norma-norma sosiallainnya dalam
kehidupan masyarakat.
Ketujuh, atau yang terakhir adalah bahwa ketentuan dalam Pasal3
ayat {2) dan ayat (3) telah sesuai dengan hasil perdebatan dalam kongres
internasional mengenai hukum pidana dan penjara pada tahun 1935 di
Berlin, Jerman. Dalam kongres tersebut terjadi perdebatan apakah ada
pengaruh suatu perubahan peraturan perundang-undangan terhadap
222 Mahkamah Konstitusi Republik lndoneisa, [Link], him. 59.
223 Moh. Mahfud MD, 2006, Beberapa Cotatan Tentang Putusan Mahkamoh Konstitusi Nomor
003/PUU-IV/2006 Tentang Perbuatan Melawon Hukum Secara Materlil, Disampaikan
dalam diskusi publlk Eksaminasi Putusan Mahkamah Konstitusi dengan perkara nomor:
003/PUU-IV/2006 Tentang Pengujlan Undang-Undang Nomcr 31 Tahun 1999 sebagalmana
yangtelah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsl, Kerjasama Pusat Kajian Anti-Korupsi Fakultas Hukum UGM, Badan
Penerblt Pers Mahasiswa MAHKAMAH dan Indonesian Court Monitoring, Yogyakarta, 24
Agustus 2006 him. S.
. ·.. . ·: ·
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA 9}:·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
putusan hakim yang tdah memperoleh kekuatan hukum tetap (kracht
van gewijsde). Terhadap pertanyaan tersebut Pompe memberikan
jawaban bahwa putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap hanya bisa dilawan dengan buitengewone rechtsmiddelen
(alat-alat hukum yang luar biasa). Dalam hal ini, jika terjadi perubahan
perundang-undangan terhadap putusan hakim yang sudah mempunyai
kekuatan hukum tetap, maka perubahan perundang-undangan tersebut
dianggap novum sebagai dasar untuk mengajukan peninjauan kembali.
Jika demikian halnyi maka putusan hakim yang sudah mempunyai
kekuatan hukum tetap harus disesuaikan dengan peraturan perundang-
undangan yang baru hila hal tersebut menguntungkan terpidana224•
E. ASAS LEGALITAS DALAM KONTEKS HUKUM PIDANA INTER-
NASIONAL
Terhadap asas legalitas dalam konteks hukum pidana internasional,
terdapat perbedaan di antara para ahli hukum pidana. Antonio Cassese
dengan mengambil perbandingan pelaksanaan asas legalitas di negara-
negara civil law yang sangat demokratis, menyatakan bahwa ada em pat
hal yang terkandung dalam asas legalitas. Pertama, makna asas legalitas
terkandung dalam postulat nullum crimen sine lege scripta. Postulat
ini mempunyai makna bahwa pelanggaran hukum pidana hanya ada
dalam hukum tertulis yang dibuat oleh legislatif atau parlemen dan
tidak berdasarkan aturan-aturan kebiasaan.
Kedua, makna asas legalitas terkandung dalam postulat nullum
crimen sine lege stricta. Artinya, kebijakan kriminal harus berdasarkan
prinsip spesifik melalui aturan-aturan yang mengkriminalisasikan
suatu kelakuan manusia secara khusus dan sejelas mungkin sehingga
tidak diinterpretasikan lain. Ketiga, makna asas legalitas terdapat dalam
postulat nullum crimen sine praevia lege. Artinya, aturan-aturan pidana
tidak boleh berlaku surut sehingga seseorang tidak boleh dipidana
berdasarkan ketentuan yang belum ada pada saat ia melakukannya.
224
E. Utrecht, [Link], him. 230.
92 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Keempat, makna asas legalitas adalah larangan menerapkan aturan-
aturan pidana secara analogi225 •
Kontra deng<U) pendapat Cassese, Machteld Boot mengemukakan
bahwa asas legalitas dalam konteks hukum pidana internasional harus
diterapkan secara berbeda dengan hukum pidana nasional yang
berkaitan dengan tanggung jawab pidana individu terhadap kejahatan-
kejahatan intemasional. Masih menurut Boot, hukum pidana
intemasional tidak dikodifikasikan seperti halnya hukum pidana
nasional tetapi juga bersurnber dari hukum kebiasaan internasional
Oleh karena itu asas legalitas tidak mengikat seluruhnya dalam konteks
kejahatan-kejahatan di bawah hukurn intemasional226 •
Senada dengan Boot adalah Cherif Bassiouni yang menyatakan
bahwa dalam konteks hukum [Link], asas legalitas menganut
prinsip yang fundamental yaitu larangan terhadap ex post facto dalam
hukum pidana. Selain itu juga terdapat larangan penerapan sanksi
pidana secara retroaktif dan analogi dalam yudisial interpretasi.
Oleh karena itu aturan hukum pidana tidak boleh bersifat ambigu 227•
Akan tetapi dalam konteks hukum pidana internasional, yang
sumber hukumnya berasal dari kebiasaan internasional, asas legalitas
tidaklah dapat diterapkan seperti sistem hukum pidana nasional
Masih menurut Bassiouni - dengan mengutip pendapat Stefan
Glaser - mengemukakan bahwa asas legalitas dalam hukum pidana
nasional tidak dapat diberlakukan secara ketat dalam hukum pidana
internasional karena adanya perbedaan prinsip antara kedua sistem
hukum tersebut. Hukum pidana internasional berlaku secara universal
sehingga asas legalitas lebih pada suatu prinsip keadilan yang berasal
dari kebiasaan untuk mdindungi masyarakat internasionaJ228.
225
Antonio cassese, [Link], him. 141-142.
226
Machteld Boot, [Link], him. 19.
w [Link], [Link]., hlm. 178-179.
228
Ibid, him. 199- 200. Pernyataan Profesor Stefan Glaser: ": .... Comme le droit international
penal, de meme le droit international penal trouve son origine dans Ia consdence
universelle du droit et de Ia justice. II est jonde sur Ia conviction que ses regles sant
conformes a /'idee de justice et de morale et qu'e/les s'imposent pour Ia sauvergarde
de l'ordre Social international, en d'autres termes, des interest fondamentaux de Ia
communaute lntemationale ('opini juris vel necessltatis'). C'est ainsi qu'on dit parjols
AS/lS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIOANA 93 ,
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Demikian pula menurut Steven R. Ratner dan Jason S.
Abrams bahwa dalam konteks hukum pidana intemasional, asas
legalitas memili:ki dimensi khusus. Tidak seperti hukum pidana
nasional di sebagian besar negara, [Link] pidana intemasional tidak
dikodifikasikan dalam kitab undang-undang. Akibatnya, kejahatan-
kejahatan berdasarkan asaslegalitas pada level intemasional tidakhanya
berlandaskan perjanjian intemasional tetapi juga berdasarkan hukum
kebiasaan intemasional229• Pendapat yang sama juga dikemukakari oleh
Muladi bahwa asas legalitas dalam kaitannya dengan gross violation
ofhuman rights dapat memberlakukan surut perundang-undangan
pidana atas dasar hukum kebiasaan intemasional dan keadilan230•
Penulis pun berpendapat bahwa ukuran berlakunya asas legalitas
dalam hukum pidana intemasional tidaklah dapat disamakan dengan
ukuran berlakunya asas legalitas dalam hukum pidana nasional.
Adapun argumentasi Penulis : Pertama, hukum pidana internasional
tidak dikodifikasi sebagaimana hukum pidana nasional. Kedua,
hukum pidana intemasional bersumber dari kebiasaan intemasional
sehingga sangat [Link] berlakunya asas legalitas adalah
berdasarkan hukum kebiasaan intemasional. Padahal, dalam konteks
hukum pidana nasional ukuran berlakunya asas legalitas antara lain
adalah lex scripta dan lex certa atau berdasarkan hukum tertulis dan
aturan yang jelas sehingga tidak dibenarkan berlakunya asas legalitas
hanya berdasarkan hukum kebiasaan. Ketiga, dalam konteks .hukum
que le droit international en general n'est qu'une expression graduelle, cas apres cas, des
jugements maraux du monde civilise.•.•.•• Or, il resulte forcement de ce fait, a savoir que /e
droit international penal est un droit coutumier et non pas un droit codife, qu'en matiere
d'infractions intemationales on ne peut pas exiger que ces infractions soient incriminees
au moment de leur accomplissement par une loi. D'ailteurs, on sait que meme en droit
interne Ia, ou ce droit repose sur Ia coutume, comme c'est encore le cas en partie dons /e
pays anglo- Saxons, le principe Nullum crimen sine lege au sens strict de ces termes, n'est
pas valuable... •
229 Steven R. Ratner dan Jason S. Abrams, 2001, Accountability For Human Rights Atrocities
In International Law: Beyond The Nuremberg Legacy, Second Edition, Oxford University
Press, him. 21.
no Muladi, 2005, Hak Asosi Manusia: Hakekat, Konsep Dan lmplikasinya Dalam Prespektif
Hukum Dan Masyorokat, Refika Aditama, Bandung, him. 102.
94 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pidana nasional ketentuan pidana harus diinterpretasikan secara ketat
scbagai pengejawantahan prinsip lex stricta.
Keempat, perumusan ketentuan pidana dalam konvensi-konvensi
[Link], selain tidak jelas juga bersifat tumpang-tindih aritara satu
dengan yang lain. Hal ini dimaksud agar mempermudah penuntutan
terhadap pelaku kejahatan internasional. Kelima, ketentuan pidana
dalam konvensi-konvensi internasional tidak memuat ancaman pidana
secara tegas. Keenam, asas legalitas dalam hukum pidana internasional
bersifat universal yang lebih menitikberatkan pada keadilan dan bukan
kepastian hukum. Ketujuh, asas legalitas dalam konteks hukum pidana
internasional dapat diberlakukan surut dan penerapan secara analogi
diperbolehkan.
1) Asas Legalitas Dalam Deklar:asi Hak Asasi Man usia
Asas legalitas tersimpul dalam Pasalll deklarasi yang secara tegas
menyatakan, .
(1). Everyone charged with a penal offence has the right to be
presumed innocent until proved guilty according to law in a
public trial which he has had all the guarantees necessary for
his defence.
(2). No one shall be had guilty of any penal offence on account of
any act or omission which did not constitute a penal offence,
under national or international law, at the time when it was
committed. Nor shall a heavier penalty .be imposed than the
one that was applicable at· the time the penal offence was
committed2l 1•
Berdasarkan pasal tersebut di atas beberapa catatan · Penulis
adalah sebagai berikut: Pertama, berkaitan dengan asas praduga tidak
bersalah sebagai asas yang fundamental untuk inelindungi hak asasi
manusia dari proses pidana dan peradilan pidana yang sewenang-
wenangl32. Kedua, menyangkut perlindungan hak asasi manusia
m International Institute Of Human Rights, 2001, International Protection Of Human Rights,
Collection Of Texts, First week, Allee Rene Cassin, Strasbourg, France, him. 19.
m Gudmundur Alfredson And Asbjom Eide (Editor), 1999, The Universal Declaration Of
.....
ni:.::~:). ::~
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ;~<;:lsif:,.:,
. . ~~~~:~.~ ~·5.~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
terhadap kekuatan berlaku surut suatu ketentuan huk-um pidana233•
Ketiga - masih berkaitan dengan Pasal 11 ayat (2) - secara implisit
memuat ketentuan jika terjadi perubahan peraturan harus menjatuhkan
hukuman yang tidak lebih berat daripada hukum yang dikenakan pada
saat perbuatan dilakukan.
2) ASas Legalitas Dalam Kovenan Internasional Tentang Hak-
·Hak Sfpil Dan Polftik
Pasal 15 International Covenan On Civil And Political Rights
(ICCPR):
· (1). No one shall be held guilty of any criminal offence on account
of any act or ommission which did not constitute a criminal
offence, under national or international ~ at the time when
it was committed. Nor shall a heavier penalty be imposed than
the one that was applicable at the time when the criminal
offence was committed. If, subsequent the commission of the
offence, provision is made by law for the imposition of the
lighter penalty, the offender shall benefit thereby.
(2). Nothing in this article shall prejudice the trial and punishment
ofany person for any act or omission which, at the time when it
was committed, was criminal according to the general principles
of law recognized by the community of nations234.
Secara kasat mata, tampaknya Pasal15 ICCPR menggunakan asas
Iegalitas secara ketat. Akan tetapi jika dikaji dalam ketentuan ayat (2)
nya, asas legalitas ini dapat disimpangi jika bertentangan dengan asas-
asas hukum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa. Menurut
travaux preparatoires, ketentuan ini dimaksud agar orang tidak bebas
dari hukuman karena melakukan pelanggaran terhadap hukum
internasional atas dalili tindakannya bersifat legal menurut hukum
Human Rights: A Common Standard Of Achlevment, Martinus Nijhoff Publishers, The
Hague/Boston/london, him. 242.
m Ibid, him. 245.
·134 lntrenationallnstitute Of Human Right, [Link], him. 36.
96 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
negaranya. Acuan terhadap hukum internasional juga merupakan
jaminan tambahan bagi individu dan melindungi individu dari
. tindakan sewenang-wenang, meskipun [Link] . oleh organisasi
internasional135 •
3) Asas Legalitas Dalam Konvensi Eropa Hak-Hak Asasi Dan
Kebebasan-Kebebasan Mendasar
Asas legalitas dalam Pasal 7 konvensi Eropa menyatakan:
(1 ). No one shall be held guilty ofany criminal offence on account of
any act or omission which did not constitute a criminal offence
under national or international law at the time when it was
committed. Nor shall a heavier penalty be imposed than the
one that was applicable at the time the criminal -offence was
committed.
(2). This article shall not prejudice the trial and punishment of
any person for any act or omission which, at the time it was
committed, was criminal according to the general principle of
law recognized by civilized nation~.
[Link] Remmelink bahwa Pasal 7 ECHR pada dasarnya
sama dengan Pasal 15 ICCPR. Perbedaanf.t dengan Pasal 7 ECHR
adalah Pasal 15 ICCPR secara eksplisit menyatakan bahwa jika
setelah tindak pidana terjadi muncul ketentuan pidana yang lebih
ringan, maka keten~an itulah yang diterapkan kepada pelaku237•
Sedangkatl Enschede menyatakan bahwa Pasal7 ayat (2) ECHR adalah
penyimpangan terhadap asas legalitas sepanjang menyangkut asas-
asas hukum kebiasaan yang secara umum diakui oleh bangsa-bangsa
beradab di dunia238 •
235 Gudmundur Alfredson and Asbjorn Eide, [Link], him. 247. Uhat juga lfdhal Kaslm, 2001,
Hok Sipil Dan Pofitik; Esai-Esoi Pilihan, ELSAM, Jakarta, him. 235- 236.
236 International Institute Of Human Rights, 2001, lntemotional Protection Of Human Rights,
Collection Of Texts, Second week, Allee Rene Cassin, Strasbourg, France, him. 3.
23
' Jan Remmelink, [Link], him. 357.
ua ChJ. Enschede, [Link], him. 28.
, . . ..... _;·.-
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIOANA :; _-. :..g·.-t··:
..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
4) Asas Legalitas Dalam Konvensi Amerika Tentang Hak-Hak
Asasi Manusia
Asas legalitas dalam _konvensi Amerika termuat dalam Pasal 9
yang menyatakan: .
No one shall be convicted ofany act or omission that did not constitute
a criminal .offence. under applicable law. at the .time when it was
committed. A heavier penalty shall not be imposed than the one that
was applicable at the time the criminal offence. Ifsubsequent to the
commission of the offense the law provides for the imposition of a
lighter punishment. the guilty person shall benefit therefo,.,n9•
Berdasarkan Pasal 9 tersebut dapatlah dikatakan bahwa asas
legalitas dalam konvensi Amerika ini diterapkan secara · ketat dan
tanpa pengecualian untuk disimpangi. Kalaupun disimpangi hanyalah
jika terjadi perubahan perundang-undangan. namun hal itu harus
menguntungkan pelaku. Ketentuan ini lazim terdapat dalam konteks
hukum nasional bagi negara-negara yang menerapkan asas legalitas
secara ketat.
5) Asas Legalitas Dalam Piagam Afrika Tentang Hak-Hak Asasi
Manusia Dan Hak Penduduk
Di Mrika, perlindungan te~hadap individu dan hak-hak asasi
manusia secara kolektif tertuang dalam African Charter on Human and
People Rights. Piagam- dalam bahasa setempat disebut Banjul- disusun
oleh Organization of African Unity sebagai organisasi pemerintah
regional beranggotakan 52 negara pada tanggal27 Juni 1981 240• Piagam
Africa, selain memuat hak-hak asasi manusia, juga mencantumkan
kewajiban asasi manusia241 • Asas legalitas dalam piagam tersebut
tercantum dalam Pasal 7 ayat (2) yang menyatakan:
239
International Institute Of Human Rights, 2001, International Protection Of Human Rights,
Collection Of Texts, Third week, Allee Rene Cassin, Strasbourg, France, him. 3.
240
Raija Hanski And Markku Suksi (Editor), 2000, An Introduction To The International
Protection Of Human Rights, Second, revised edition, Institute for Human Rights Abo
Akademi University, him. 387.
241
Abdullahi A. An-Na'im (Editor), 2002, Cultural Transformation And Human Right In Africa,
Zed Books Ltd, london - New York, him. 68. ·
98 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
No one may be condemned for an act or omission which did not
constitute a legally punishable offence for which no provision was
made at the time it was committed. Punishment is personal and can
be imposed only on th offendefl42•
6) Asas Legalitas Dalam Statuta Roma
Dalam konteks Statuta Roma yang menghasilkan International
Criminal Court (ICC), asas legalitas diatur secara ketat. Berbagai makna
yang terkandung dalam asas legalitas secara eksplisit tersebar dalam
tiga pasal. Secara lengkap pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut243:
Article 22
Nullum Crimen Sine Lege
( 1) A person shall not be criminally responsible under this Statute
unless the conduct in question constitutes, at the time it takes
place, a crime within the jurisdiction of the court.
(2) The defenition of a crime shall be strictly construed and shall
not be extended by analogy. In case ofambiguity, the definition
shall be interpreted in favour of the person being investigated,
prosecuted or convict-ed.
(3) This artide shall not affect the characterization of any conduct·
as criminal under international law independently of this
Statue.
Artide23
Nulla Peona Sine Lege
A person convicted by the Court may be punished only in accordance
with this Statutes.
242 lntemationallnstftute Of Human Rights; 2001, lnternotfonal Protection Of Human Rights,
Collection Of Texts, Third week, Aile!! Rene cassin, Strasbourg. France, hlm.19.
243 Adam Roberts & Richard Guelff; 2001, Documents On .The Laws Of War, Third Edition,
Oxford University Press, him. 687 - 688.
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA :;:gg': ~
·~~ :} :- .:~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~~
.Arlicle24
Ratione Persotu~e Non- Retroaktif
.(1) No person shall be criminally responsible under this Statute for
conduct prior to the entry into force of the Statute.
{2} In the event of a change in the law applicable to a given case
prior to a final judgement. the law more favourable to the
person being investigated. prosecuted or convicted shall apply.
Terhadap ketentuan Pasal 22 ayat (1), menurut pembentuk
. undang-undang, asas legalitas hanya terhadap kejahatan yang secara
eksplisit diSebut dalam statuta dan merupakan yurisdiksi mahkamah
. dan tidak termasuk kejahatan sebagai yang didefinisikan menurut
hukum kebiasaan intemasional244• Sedangkan mengenai Pasal 22
ayat (2). Machteld Boot berpendapat, ketentuan ini lebih pada "a
more favorable clause, bilamana terjadi kekaburan dan pengertian
ganda terhadap definisi kejahatan dalam statuta Apabila kita melihat
ketentuan asas legalitas dalam berbagai piagam hak asasi manusia
di atas - termasuk Statuta Roma - prinsip , a more favorable clause"
kiranya ini sesuai dengan adagiurn dalam ilmu hukurn yang dikenal
dengan asas in dubio pro reo. Maksud asas ini adalah jika terdapat
keragu-raguan maka harus dipilih ketentuan atau penjelasan yang
paling menguntungkan terdakwa245• Sementara Pasal22 Statuta Roma,
ayat (3), menurut sejarahnya adalah usulan yang diajukan Austria
untuk menegaskan bahwa prinsip nullum crimen sine lege dalam
pasal ini hanya terbatas pada Statuta Roma dan untuk mencegah
miss konsepsi yang timbul apakah terhadap statuta atau melemahkan
larangan-larangan dalam pidana internasional246•
Selanjutnya makna asas legalitas dalam Pasal 23 tentang nulla
poena sine lege, seperti yang telah diungkapkan di atas pada saal
244
Otto Triffterer, 1999, Commentary on the Rome Statute of the International Criminal
Court, Nomos Verlagsgesellschaft, Baden-Baden, him. 448.
245
Ibid, him. 47.
246
Roy S. lee, 1999, The International Criminal Court: The Making of The Rome Statute;
Issues, Negotiations, Results, Kluwer law International, The Hague - london - Boston,
him. 195. Uhat juga Otto Triffterer, [Link], him. 459.
100 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mengulas sejarah -asas legalitas, frasa nulla poena sine lege adalah
frasa pertama dari tiga frasa yang dikemukakan oleh Feuerbach pada
saat merurnuskan asas legalitas. Frasa ini bermakna bahwa seseorang
hanya dapat dihulaim berdasarkan hul."UUllan yang telah ada dalam
undang-undang. Menurut Vaspasian V. Pella, seorang ahli hukum
Rumania, penerapan asas nulla poena sine lege dalam hukurn pidana
internasional sebanyak yang diterapkan dalam hukum domestik karena
alasan keadilan dan [Link] sehat. Secara tegas dikatakan ·oleh Pella,".....
nulla poena sine lege principle applied to international criminal law
as much as to domestic law par Ia force de lequite et de Ia raison"241•
Dalam sejarab pembentukan Statuta Roma, sebenarnya pasal ini akan
digabungkan dengan pasal tentang nullum crimen sine lege, tetapi
kemudian disepakati pasal tersebut terpisab dan ditempatkan pada
prinsip-prinsip umum sesudab nullum crimen sine lege248•
Terakhir, makna asas legalitas dalam Statuta Roma yang
termaktub dalam Pasal 24 tentang ratione personae non-retroaktif.
Terhadap ketentuan Pasal24 ayat (1) adalah persyaratan asas legalitas
sebagai asas umum hukum pidana249~ Dalam pembabasan Statuta
Roma, tidak ada satu pun pendapat yang keras menentang ketentuan
ini. Prinsip non-retroaktif memiliki unsur politis ~ena sebagian
besar negara di antaranya memiliki pengalaman kelam akan masa lalu
dan harus memberikan pengampunan atau solusi yang serupa dalam
upaya rekonsiliasi nasional. Pertanggungjawaban _pidana berdasarkan
Statuta Roma tidak bisa berlaku surut menurut ·[Link] ~ukum
internasional250• Sedangkan terhadap ketentuan Pasal . 24 ayat (2)
kiranya menyangkut pembataSaJ! t~rhadap l~ temp~ris delicti. ·otto
Triffterer memb~ri komentar ~·abwa ketentuan ini lebih pada «change
in the law; rational dan benefit C?fm·or__e favorable law-251 •
247 Otto Trlffterer, [Link], him. 464.
248
Roy [Link], [Link], 196.
249
Otto Triffterer, [Link], him. 466.
uo Roy S. Lee, [Link].
251
[Link], [Link],hlm. 473.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
;.··, >·);'f"' ;;():.- ·"
Suatu catatan penting dari asaslegalitas yangterdapat dalam Statuta
Roma hanya berlaku bagi ·kejahatan yang ·diatur dan didefinisikan
menurut Statuta Roma. Artirtya,"asas legalitas irti berlaku secara ketat
sepanjangkejahatan seriusyang dilakukan diadilidenganmenggunakan
Statuta Roma. Jika diterjemahkan secara argumentum a contrario,
maka kejahatan ·serius yang tidak diadili dengan menggunakan Statuta
Roma, asas legalitas tidak diberlak\lkan secara ketat
., ·
F~. . , l»ENAFSIRAN DAN ANALOGI' DALAM . ·HUKUM PI DANA
;l,);Penafsiran .dan a:Dalogi ada!cih dua metode 'dalam penemuan
.
huiWID. Selain itu masih
' terdapatduametode
.
penemuan hukumlainnya
yakni penyempitaii hukum dan ebposisi. Kedua metode penemuan
hukuin yang disebut terakhir tidak akan dibahas dalam buku ini.
Dalam hukum pidana ada beberapa asas-asas umum dalam penfsiran.
Perlama, dua asas utama dalam prinsip regulasi yang saling terkait
erat yaitu asas porporsionalitas dan asas subsidiairitas. Dalam hukun:t
Jerman, keduaasas utamaini dikenal dengan istilahfundamentalnormen
des rechtstaats. Asa~ proporsionalitas adalah keseimbangan antara cara
dan tujuan dari suatu undang-undang. Sementara asas subsidiairitas
adalah jika suatu persoalan sulit memunculkan beberapa alternatif
pemecahan, maka harus dip~ pemecahan yang paling sedikit
menimbulkan kerugian252•
Kedua, prinsip relevansi dalam hukum pidana, yaitu keberlakuan
bukum pidana. yang hanya mempersoalkarl. penyimpangan perilaku
sosial yang patut mendapat reaksi atau koreksi dari sudut pandang
hukum pidana. Ketiga, asas kepatutan dari Maarten Luther yang
menyatakan bahwa kepatutanlah yang harus menguji logika yuridis.
Demikian pula menurut van der Ven yang memperingatkan
penggunaan logika hukum yang berlebihan dalam upaya menerangkan
. perundang-undangan. Masih menurut Ven, hanya dengan melepaskan
diri dari logika, kita dapat mendayagunakan secara penuh ketentuan
252 Jan Remmellnk, Ibid, him. 46.
1 02 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
perundang -undangan yang sangat formil mekanistis untukkepentingan
manusia dalam masyarakat serta penataan lalu lintas pergaulan253 •
Keempat adalah asas in dubio pro reo. Maskud a~as ini adalah jika
terdapat keragu-"raguan maka harus dipilih ketentuan atau .penjelasan
yang paling menguntungkan terdakwa. Kelima adalah exeptio format
regulam yang lebih dikenal dengan adagium exceptio frimat vim legis in
casibus non exceptis. Maksud dari adagium tersebut adalah bahwa jika
penyimpangan terhadap aturan umurn dilakukan, maka penyimpangan
tersebut harus diartikan secara sempit. Sebagai misal, perkembangan
hukum pidana dewasa ini banyak melahirkan perbuatan~perbuatan
yang dikualifikasikan sebagai perbuatan pidana dalam suatu undang-
undang di luar kodifikasi. Acap kali undang-undang tersebut memuat
aturan yang menyimpang dari aturan umum baik secara materill
maupun formil. Jika terjadi demikian, maka penyimpangan tersebut
harus diartikan secara sempit dalam pengertian khusus terhadap
perbuatan pidana yang diatur dalam undang-undang tersebut.
Keenam adalah prinsip titulus est lex dan rubrica est lex. Prinsip
yang pertama disebut berarti judul perundang-undangan yang
menentukan sedangkan prinsip yang kedua berarti rubrik atau bagian
perundang-undanganlah yang menentukan254• Sebagai misal, kejahatan
aborsi. Tindakan aborsi yang dapat dipidana hanyalah terhadap janin
atau buah kandungan yang telah bernyawa dan bukan terhadap janin
atau buah kandungan yang belum bernyawa. Hal ini berdasarkan pada
ketentuan dalam KUHP yang memasukkan kejahatan aborsi dalam bah
kejahatan yang ditujukan terhadap nyawa. Dengan kata lain, rubrica est
lex dati kejahatan aborsi adalah kejahatan terhadap nyawa.
Ketujuh adalah asas materiil yang menyangkut aturan-aturari
tidak tertulis yang mengacu atau merujuk pada suatu nilai sosial etis
penting, suatu dta atau ideal hukum tertentu. Asas ini mengandung
makna pada saat melakukan interpretasi terhadap suatu peraturan
·perundang-undangan, hakim harus memperhatikan asas tersebut
m tbid.,.hlm. 47.
254
Ibid., him. 48.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sepanjang asas itu memang diakui dalam dunia hukum sebagaimana
dibuktikan dalam doktrin atau yurisprudensi255•
Penafsiran atau interpretasi pada dasarnya adalah sesuatu yang
·tidak mungkin dihindari. Hal ini secara tegas dikatakan oleh van
Bemmelen dan van Hattum, "Elke geschreven wetgeving behoeft
interpretatie"'256(Setiap perundang-undangan tertulis membutuhkan
interpretasi).
· Secara garis besar ada empat metode penafsiran yang umum
dan sering digunakan. Pertama, interpretasi gramatikal ·yaitu makna
ketentuan undang-undang ditafsirkan dengan cara menguraikannya
menurut bahasa umum sehari-hari257• Hakim dalam sebuah putusan
dapat juga secara eksplisit menyatakan arti dari teks undang-undang
menurut pemakaian bahasa yang biasa atau menurut arti teknik
yuridikal yang sudah lazim. Pontier dalam Rechtsvinding - nya
memberi contoh Putusan Hoge Raad 30 Januari 1996; NJ 1996, 263
berkenaan dengan pengertian 'mayat' menurut Pasal151 Wetboek van
Strafrecht (WvS)258•
Pada pemeriksaan tingkat banding, penasehat hukum terdakwa
menyatakan seharusnya terdakwa dibebaskan karena dalam
pemeriksaan terdakwa hanya terbukti membawa badan tanpa kepala,
tangan dan kaki dari jenazah seorang yang telah meninggal dunia.
Penasehat hukum berpendapat bahwa badan tanpa kepala, kaki dan
tangan tidak termasuk pengertian 'mayat' sebagaimana diatur dalam
Pasal 151 WvS. Hoge Raad menilai, baik aturan hukum maupun
255 Ibid, him, 49.
256 van Bemmelel'! En van Hattum, [Link]., him. 64.
l51 Sudikno Mertokusumo, 2001, Penemuan Hukum, Sebuah Pengontar, liberty, Yogyakarta,
him. 57.
258 Pasat 151 WvS: "Iemond die een Jijk begraaft, verbrandt, vernletigd, verbergt, wegvoert, of
wegmaakt, met het oogmerk om het feit of de oonaak van het overlijden, dan wet van het
dood ter wereld komen te verhelen, wordt gestraft met gevangenisstraf van ten hoogste
twee joren of geldboete van de vierde categorle" (orang yang mengubur, membakar,
merusak, menyembunyikan, membawa pergi atau menghilangkan mayat dengan maksud
untuk menutup-nutupi fakta atau penyebab dari kematian atau hal terlahir mati, dipidana
dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda kategorl keempat). Uhat dalam
J.A. Pontier, 2008; Penemuan Hukum, Penerjemah B. Arief Sidharta, Jendela Mas Pustaka, ·
Bandung, 38.
194 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDM1A
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pemakaian bahasa secara umum tidak mengharuskan bahwa jenazah
yang sudah terpotong-potong ke dalam lima bagian tidak dapat
dipandang lagi sebagai 'mayat' sebagaimana dimaksud dalam Pasal
151 WvS. Hoge Raad merujuk pada pengertian 'mayat' 'menurut
Kamus Besar Bahasa Belanda van Dale bahwa arti kata 'mayat' tidak
harus dipahami [Link] jenazah dari seorang manusia yang sedemikian
lengkap, namun juga meliputi suatu badan tanpa kepala, tangan dan
kaki2s9.
Kedtul, interpretasi sistematis atau logis yakni menafsirkan
ketentuan perundang-undangan dengan menghubungkannya dengan
peraturan hukum atau undang-undang lain atau dengan keseluruhan
sistem hukum260• Artinya, ketika akan melakukait interpretasi tidak
hanya mengacu pada pasal yang akan ditafsirkan semata, tetapi juga
harus melihat pasal-pasallainnya dalam undang-undang yang sama
atau undang-undang lain, bahkan sistem hukum secara keseluruhan
sebagai satu kesatuan.
Ketiga, interpretasi historis adalah penafsiran makna undang-
undang menurut terjadinya dengan jalan meneliti sejarah terjadinya
perundang-undangan tersebut Interpretasi historis juga meliputi
sejarah hukum 261• Menurut Pontier, interpretasi sejarah hukum
adalah penentuan makna dari formulasi sebuah kaidah hukum dengan
mencari pertautan pada penulis-penulis atau ·secara umum pada
konteks kemasyarakatan di masa lampau.
Keempat, interpretasi telelogis atau sosiologis. Maksud interpretasi
ini lebih menafsirkan undang-undangsesuai dengan tujuan pemberi~
undang-undang dari pada bunyi kata-kata dari undang-undang
tei:sebut262• Interpretasi teleologis juga harus memperhitungkan konteks
kenyataan kemasyarakatan yang aktual263 •
m [Link].
2liO Sudlkno Mertokusumo, [Link]., him. 58.
m Ibid., him. 59.
KZ Sudikno Mertokusumo, [Link]., him. 60. Uhat juga E. Utrecht, [Link]., him. 202.
HJ J.A Pontier, [Link]., hlm.45. ·
ASAS LEGALITASOAN PERBUATAN PIOANA ..1p~;~:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.
Menurut Sudikno Mertokusumo, dari hasil penemuan hukum
dengan berbagai metode penafsiran di atas, interpretasi masih dapat
dibedakan menjadi interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensi£
Interpretasi restriktif adalah menjelaskan suatu ketentuan undang-
undang dengan membatasi ruang lingkupnya yakni mempersempit .
arti suatu peraturan dengan bertitik tolak pada artinya menurut
bahasa. Termasuk dalam interpretasi restriktif ini adalah interpretasi
gramatikal dan interpretasi sistematis. Sedangkan interpretasi ekstensif
adalah melampaui batas pengertian sesuatu hal menurut interpretasi
gramatikal. Termasuk dalam interpretasi ekstensif ini adalah
interpretasi historis dan interpretasi teleolo~.
Masih menurut Sudikno, selain itu masih dikenal lagi dua
interpretasi lainnya yaitu interpreatsi komparatif dan interpreta8i
antisipatif atau futuristik. Interpretasi komparatif mengadung · arti
penafsiran dengan membandingkan ketentuan undang-undang di
berbagai negara terutama bagi hukum yang timbul dari perjanjian
intemasional. Sementara interpretasi antisipatif atau futuristik yaitu
penafsiran dengan menggunakan peraturan-peraturan yang belum
mempunyai kekuatan berlaku karena masih dalani rancangan undang-
undangUS.
Sedangkan di luar keempat interpretasi di atas, Pontier masih
menambah lagi interpretasi antisipatif dan interpretasi evolutif-
dinamikal. Interpretasi antisipatif · sama pengertiannya dengan
interpretasi futuristik sebagaiffiana yang diungkapkan Sudikno di
atas. Semehtara interpretasi evolutif-dinamikal adalah pemaknaan
oleh hakim atas dasar perkembangan hukum yang terjadi setelah
kemunculan atau keberlakuan aturan-aturan hukum tertentu.
Interpretasi ini digunakan jika terjadi perkembangan pemikiran
tentang hukum yang dalam pergaulan kemasyarakatan dicerminkan
dari moralitas atau dalam perundang-undangan lainnya dari hukuml66.
.. Sudikno Mertokusumo, [Link] him. 63- 64.
·as Ibid, him. 61- 62.
• J.A Pontier, [Link]., hlm.49.
106 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Interpretasi lain yang juga dikenal di luar keempat metode
interpretasi yang sering digunakan di atas, yaitu interpretasi otentik.
.Interpretasi otentik ini adalah pemaknaan terhadap ~uatu kata, frasa
atau istilah menurut pembentuk undang-undang. Biasanya, arti kata,
frasa atau istilah dalam suatu undang-undang terdapat pada ketentuan
umum atau penjelasan undang-undang tersebut. Dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) kita, interpretasi otentik ini terdapat
dalam Bab IX KUHP tentang 'i\rti Beberapa Sebutan Dalam Kitab
Undang-Undang Ini':
Keempat metode interpretasi utama (gramatikal, sistematis,
historis dan teleologis) yang dikenal dalam ilmu hukum pada umumnya
sebagaimana yang telah diuraikan di atas, secara mutatis mutandis juga
dikenal dalam lapangan hukum pidana. Hanya saja di sini kendatipun
tidak ada prioritas penggunaan berbagai metode interpretasi, paling
tidak kita dapat mengatakan bahwa dalam hukum pidana interpretasi
gramatikal menempati urutan yang lebih penting hila dibandingkan
dalam hukum keperdataan. Akan tetapi dalam hukum pidana sendiri
interpretasi historis - historia legis - memiliki peranan yang penting.
Konsekuensinya, travaux preparatorie$167 menjadi urgen dalam
penemuau hukum. Namun yang lebih utama dari berbagai interpretasi
dalam hukum pidana adalah interpretasi teleologis. Dengan demikian
jika diurutkan berdasarkan prioritas interpretasi dalam hukum
pidana, interpretasi teleologis menempati urutan pertama; kemudian
disusul interpretasi historis, interpreatsi gramatikal dan pada akhirnya
interpretasi sistematis268•
Selain keempat metode interpretasi tersebut, Jan Remmelink
menambah beberapa interpretasi dalam hukum pidana. Pertama,
intrepretasi kreatif: Interpretasi ini tidak bersifat ekstensif tetapi
justru bersifat restrikti£ Hakim dengan interpretasi ini mengungkap
satu unsur tertentu yang dianggapnya terkandung dalam suatu
267
· Dokumen dan ~tatan rapat-rapat persiapan perancallgan suatu naskah _perundang-
undangan. ··
268
Remmelink, [Link]., h1m. 53, 56;
ASAS LEGALITAS DAN PERBUAlAN PIDANA ·: i:~rt~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
rumusan pidana, meskipun unsur tersebut tidak diuraikan secara
tegas di dalamnya. Kedua, interpretasi tradisional yakni menemukan
[Link] dengan cara melihat suatu perilaku dalam tradisi hukum.
Ketiga, interpretasi yang bersifat menyelaraskan atau harmoniserende
interpretatie. Interpretasi ini digunakan untuk menghindari disharmoni
atau konflik antara satu peraturan perundang-undangan dengan
peraturan perundang~undangan lainnya. Keempat adalah interpretasi
doktriner yaitu memperkuat argumentasi dengan merujuk pada suat\}
doktrin tertentu269•
Selanjutnya adalah perihal analogi yang dalam ·konteks [Link]
pidana, selalu diperdebatkan apakah analogi boleh diterapkan ? Apabila
kita bersandar pada asas legalitas dengan ·salah satu makna yang
terkandung di dalamnya nullum crimen, noela poena sine lege stricta
secara implisit tidak memperbolehkan analogi. Arti nullum crimen,
noela poena sine lege stricta seperti yang telah diutarakan di atas,
bahwa ketentuan pidana harus ditafsirkan secara ketat sehingga tidak
menimbulkan perbuatan pidana baru. Larangan untuk menggunakan
penafsiran analogi dirumuskan dalam adagium, ein palladium der
burgerlichen freiheit atau Ia garantie essentielle de Ia liberte. Sebagian
besar negara di daratan Eropa rnasih rnelarang penggunaan analogi,
kecuali di Denmark dan Inggris yang rnembolehkan analogi dalam
penerapan hukum pidana 270 • Deniikan pula di Cina yang rnembolehkan
analogi dengan menerapkan ketentuan pidana dalam KUHP yang
paling mirip dengan perbuatan yang dipandang patut dipidana tetapi
tidak tercantum dalam KUHP271 •
Dalam praktik pengadilan sulit untuk menyatakan bahwa
hakim pidana tidak rnenggunakan analogi. Perihal analogi ini telah
menirnbulkan kontroversi di antara pakar hukum pidana sejak akhir
abad ke-19 dengan putusan Hoge Raad tertanggal 21 November
1892, W. Nr. 6282 rnengenai Telefoonpalen Arresf72 • Putusan tersebut
s Ibid, him. 55.
110
Jan Remmelink, [Link]., him. 359.
m Andi Hamzah, Perbandingan Hukum Pidano, [Link]., him. 24.
m J.M. Van Bemmelen En W.F.C. Van Hattum, [Link], h!m. 72.
108 PR!NSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· membuktikan Hoge Raad telah menerima analogi atau setidak-tidaknya
menerapkan interpretasi ekstensif dalam hukum pidana273• Demikian
pula perihal analogi ini kembali diperdebatkan deng~ putusan Hoge
Raad tertanggal 23 Mei 1921: Electriche energie is een goed, vatbaar
voor wegneming274 • Dalam putusan tersebut, Hoge Raad secara kasat
mata mempersamakan inschakelen sebagai perbuatan wegnemen
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 362 sebagai salah satu unsur
pencurian275•
Terhadap putusan Hoge Raad tertanggal 21 November 1892,
W. Nr. 6282 mengenai Telefoonpalen Arrest, van Bemmelen dan van
Hattum sebagai aliran keras yang menolak analogi dalam hukum
pidana menyatakan:
"Heeft de H.R. dan in 1892 ar~. 351 Sr. Ten onrechte analogisch
toegepast? Neen. Er washier geen sprake van analogische toepassing.
Uit de wetshistorie blijktnl. duidelijk, dat de wetgever de telefonwerekn
niet vergeten heeft en dat hij opzettelijke vernieling telegraafwerken.
De kwestie is nl. dat de wetgever zich heeft aangesloten bij een
teonmaals, zowel in binnen - als buitenland in wetenschap en
rechtspraak, algemeen aanvaard technisch woordgebruik, volgens
hetwelk telefoonwerk een species is van telegraafwerk. De vermelding
van telefoonwerk was in die opvatting overbodig. De H.R. heeft
voor dit artikel dit woordgebruik gesanctioneerd en dus op grond
van de wetshistorie het technisch begrip doen praevaleren boven het
normale spraakgebruik276•
;· ...
m E. Ut~t, [Link], him. 210.
·:..:-- · ·
J.M. Van Bemmelen En H. Burgersdijk, [Link], him. 311- 324.
2.,.
Dalam A. Broers, 1933, Engels Woordenboek. Tweede Dee/ Nederlonds - Engels, J.B.
· 275
Wolters' Ultgeversmaatschapplj, Groningen - Batavia, him. 362., lnschokelen diartikan
dalam bahasa lnggris sebagal 'switch on' yang dalam Bahasa Indonesia dlartikan sebagal
menyalakan atau menghldupkan. Sedangkan wegnemen dalam A. Broers, Ibid, him 980.,
dlartikan dalam bahasa lnggrls sebagai 'toke a' yang dalam bahasa Indonesia diartikan
mengambll sesuatu. Pasal 362 KUHP atau Pasal 310 Wetbeok van Strafrecht berbunyl
• HI} die eenlg goed dot gehee/ of ten deele aon een onder toebehoort, wegneemt, met
het oogmerk om het zlch wederehtelijk toe te eigenen, wortJt, als schuldlg oon diefstol....•
lihat: M.W. Van 'T Hof, [Link], him. 129. Di slnl jelas terllhat bahwa menghldupkan atau
menyalakan (lnschokelen) diartikan sebagai mengambll (wegnemen). Bandingkan juga
dengan [Link], [Link], him. 209. ·.•
276 J.M. van Bemmelen En W.F.C van Hattum, [Link], him. 72.
·: ·:·.·.-··ri'
Ast.S LEGAliTAS DAN PERBUATAN PIDANA ~.1'{)·~~::
~.. .. .· '•;:;
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· (Apakah Putusan Mahkamah Agung 1892 terhadap Pasa1 351
KUHP telah menerapkan analogi? Tidak. Tidak ada penerapan
analogi di sini. Dari sejarah pembentukan undang-undang
ternyata jelas bahwa pembentuk undang-undang tidakmelupakan .
peralatan telepon dan dengan sengaja merusak dianggap termasuk
dalam kesengajaan merusak peraiatan telegram. Maksudnya
ialah bahwa pembentuk undang-undang mengikuti pemakaian
istilah teknis yang diterima secara umum oleh pengetahuan
dan pengadilan, baik di dalam maupun ·luar negeri. Peristilahan
teknis berpendapat bahwa peralatan telepon merupakan spesies
dari peralatan telegram. Penyebutan peralatan telepon menurut
pendapat ini tidak perlu. Mahkamah Agung telah mengesahkan
istilah ini untuk pasal tersebut. Jadi berdasarkan sejarah undang-
undang telah memilih pengertian teknis di atas pemakaian istilah
biasa).
Kemudian terhadap putusan Hoge Raad tertanggal23 Mei 1921
tentang pencurian aliran listrik, van Bemmelen dan van Hattum
kembali menyatakan:
"Naar mijn gevoelen is het arrest geen voorbeeld van analogische
wetstoepassing, doch een bewijs, dat Hoge Raad zich begon los te
maken van de materialistische wereldbeschowing van de 19de
eeuw....... ". Voor ons is electrische energie natuurlijk, (mig goed'. ..277
"Putusan listrik tersebut bukan contoh tentang analogi, putusan
ini tidak lain dari pada bukti bahwa Mahkamah Agung telah
mulai melepaskan diri dari pandangan materialistis, seperti yang
dahulu berpuncak pada abad ke-19..... ': Bagi kita energi listrik
adalah sebuah barang...
Perdebatan mengenai boleh tidaknya penggunaan analogi dalam
hukum pidana, menurut pendapat Penulis, secara garis besar dibagi alas
tiga. GOLONGAN PERTAMA, para ahli hukum pidana yang dengan
tegas menolak analogi dalam hukum pidana. Golongan ini diwakili
oleh Simons, van Hamel, van Bemmelen, van Hattum, Moeljatno dan
Remmelink.
m Ibid, him. 73 pada catatan kaki 3.
11 Q PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dalam leerboek-nya, Simons menyatakan, "Het beginsel van art.
1 lid 1 Swb. verbiedt bij het strafrecht elke analogische toepassing, welke
een niet uitdrukkelijk strajbaar gesteld feit strafbaar zou maken"278 (Asas
dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP melarang penerapan hukum secara
analogi dalam hukum pidana, penerapan yang demikian membuat
suatu perbuatan yang tadinya tidak dinyatakan secara tegas sebagai
perbuatan pidana kemudian menjadi suatu perbuatan pidana). Hal
yang sama juga [Link] oleh van Hamel sebagai berikut, "De
regel: nullum delictum enz. verbiedt haar, voorzooveel zij leiden zou.
niet alleen tot uitbreiding van de rij der wettelijk aangewezen delikten~
maar tot strafbaarsteUing, tot zwaardere of tot lichtere strafbaarstelling
van welke behandeling ook, buiten de wet 279 (Peraturan tentang nullum
delictum dan selanjutnya melarang analogi karena hal yang demooan
hanya dapat memperluas banyaknya delik yang telah ditentukan
dalam undang-undang, melainkan juga dapat merijurus diperberat
atau diperingannya pidana yang dapat dijatuhkan bagi perbuatan yang
dilakukan tidak berdasarkan undang-undang).
Ada tiga alasan mendasar van Bemmelen dan van Hattum
menolak analogi. Secara tegas mereka menyatakan:
-. ...•dat art.l Sr. historisch bezien. de functie heeft het abritrairt
element in de strafrechtspleging tegen- te gaan. Door bij die
rechtspleging analogische toepassing van de wet toe Iaten vergroot
men het arbitraire element. ·
Een ander aan de wetgeving ontleend argument tegen analogie iS
gelegen in de omstandigheid, dat analogische toepassing van de wet
het militaire strafrecht juist wei uitdrukkelijk was toegestaan (art.l7· ·
Crimineel wetboelc voor het Krijgsvolk te Lande van 1815)'
En ten slote wijst men er op dat in de zogerjaamde betekenis titel (titel
IX van het eerste boek) tal van overbodig zoudeti zijn als rechter de
strafwet analogisch mag hanteren280•
m D. Simons, [Link]., him. 98
m GAvan Hamel, [Link]., hlm.160 -161.
uo J.M van Bemmelen En [Link] Hattum, [Link], him. 74.., 75.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(':.... dilihat dari sejarah Pasal 1 KUHP, fungsi unsur arbitrase
bertentangan dengan pelaksanaan . hukum pidana. Pelaksanaan
hukum dengan penerapan analogi terhadap undang-undang
adalah memperh~ar unsur arbitrase.
· Argumen terhadap analogi dalam perundang-undangan dalam
keadaan tertentu tidak ada hedanya seperti penerapan analogi
terhadap hukum pidana militer yang secara jelas membolehkannya
(Pasal 17 Kitab Undang-Undang untuk Rakyat Kerajaan Di
Belanda 1815).
Pada akhirnya menunjuk pada pengertian beberapa istilah (Bah
IX buku I KUHP) dari ketentuan umum [Link] menjadi sia-sia
jika hakim menggunakan analogi undang-undang pidana).
Meskipun demikian, dalam Hand -En Leerboek-nya, van
Bemmelen dan van Hattum membolehkan analogi terhadap ke-
tentuan pidana tertulis yang tidak didasarkan pada suatu kaidah yang
menentukan dapat tidak dipidananya seorang pelaku pelanggaran.
Mereka menyatakan , ..... derhalve is analogische toepassing, gehanteerd
naar algemene beginselen van rechtsvinding, toegelaten van alle
strafrechtelijke voorschriften waaraan geen strafrechtsnorm ten gronslag
ligfl8J. Menurut Moeljatno, baik van Bemmelen maupun van Hattum
tidak hanya menolak analogi dalam hukum pidana, lebih dari itu
mereka juga menolak digunakan ·interpretasi ekstensif dalam hukum
pidana.
Hal inilah yang membedakan antara van Bemmelen dan van
Hattum di satu sisi dengan Moeljatno di sisi yang lain. Moeljablo
dalam hal analogi sependapat dengan van Bemmelen dan van Hattum
karena bertentangan dengan asas legalitas. Sementara perbedaan antara
Moeljatno dengan van Bemmelen dan van Hattum adalah masalah
penafsiran ekstensif. Moeljatno berpendapat penafsiran ekstensif dapat
digunakan dalam hukum pidana, sedangkan van Bcmmelen dan van
Hattum tidak bisa menerima penggunaan interpretasi ekstensif dalam
hukum pidana:w.
• Ibid, him. 80.
• Moel]atno, [Link], him. 27.
112 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Remmelink yang menolak analogi dalam [Link] pidana men-
dasarkan pada empat alasan. Pertama,lebib [Link] pada kepastian
hukum. Kedua, pengembangan hukum tidak hanya dibebankan
kepada hakim. Ketiga, tidak membuka kesempatan bagi hakim
untuk mengambil putusan secara emosional karena pengaruh opini
publik, media dan golongan lainnya. Keempat, sejarah perundang~
undangan tahun 1886 tidak dimaksudkan sebagai pengakuan terhadap
penggunaan metode penafsiran analogi28l. Kendatipun menolak
analogi, Remmelink mengal.'lli bahwa larangan menggunakan
analogi hanya dalam hal untuk menciptakan ketentuan pidana baru
bukan untuk. menjelaskan perundang-undangan. Selain itu, masih
· menurut Remmelinlc, bahwa Hoge Rcuu:l dalam perkembangannya
telah menerbitkan sejumlah arrest yang sulit untuk ·dikatakan tidak
menggunakan analogi, terutama ketika dihadapkan dengan sejumlah
'tindakan jahat' yang tanpa pendekatan demikian pasti akan lolos dari
jaring keadilan284 •
GOWNGAN KEDUA adalah para ahli hukum pidana yang tidak
secara tegas menerima atau menolak analogi. Golongan ini diwakili
oleh Hazewinkel Suringa dan Vos. Ketidaktegasan SUJ"inga dari
Vos dalam menerima atau menolak analogi dapat disimpulkan dari
pemyataan-pemyataan .mereka dalam leerboek-nya. Suringa dalam
bukunya menyatakan, "De vraag is .niet, of analogie toelatbaar is;
ongewild en ongeweten zal zij aangewend warden. De vraag is veeleer,
. welke methoden van interpretatie de strafrechter moet hanteren en on
of hij daarin even vrij zal zijn als de civiJe285" (Pertanyaan apakah .
analogi tidak akal); digunakan; Tidak dikehendaki dan diketahui akan
'digunakannya Pertanyaan ini lebih p&da metode interpretasi hakim
pidana untuk menggunakannya dan apakah dia sama bebasnya dengan
hakim perdata).
m Jan Remmellnk. [Link],.hlm. 360•.
214 Ibid, him. 361.
• ·. Hazewlnkel Suringa, [Link], him. 278.
' ·:.~-~~~,;;:-~
ASAS LEGAUTAS 0~ PERBUA!AN PIDANA :::~1i:f:a:~
~. . ............! '•\."-::.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Berdasarkan pernyataan Suringa, Utrecht berpendapat bahwa
Suringa tidak menyinggung apakah analo~ boleh diterapkan ataukah
tidak dalam hukum pidana. -Masih menurutUtreCht; justru Suringa _
mencoba untuk memberikan suatu penjelasan till mengenai analogi
dalam peradilan pidana286• Hanya saja dalam kaitannya _dengan asas .
legalitas sebagaimana yang termaktub dalam Pasall·ayat (1) KUHP
hila dihubungkan dengan interpretasi, Suringa menyatakan........ dat
dit voorschrift rechszekerheid en rechtsgelijkheid beoogt en niet een zo
ruime interprtatie duldt,·waardoor deze zouden worden geschaad, staat
toch wel vast"111 (~ .... Demi kepastian dan persamaan hukum, ketentuan
ini sudab jelas sehingga tidak boleh diinterpretasi yang merugikan,).
ldentik dengan Suringa perihal penerapan analogi, Vos memberi
pernyataan yang tidak begitu jelas boleh-tidaknya penggunaan analogi
Hal ini tersimpul dari pemyataan Vos dalam bukunya:
Analogische wetstoepassing is niet toegelaten, althans niet in die zin,
dat analogisch nieuwe strajbare feiten kunnen worden geschapen,
en wei wegens art. 1 al.l. Onder analogische wetstoepassing is te
verstaan het toepassen van een bepaling op een geval, waaraan
de wetgever niet g~dacht heeft of niet kan denken, maar waarvan
de ratio voor toepassing der strajbepaling dezelfde is als voor in
die bepaling we geregelde gevallen. Waar echter de grens tussen
analogische wetstoepassing en extensieve interpretatie vaak weinig
scherp is, zal men dikwijls langs de tweede weg tot eenzelfde resultaat
kunnen komen als door analogiel".
(Analogi dalam penerapan undang-undang tidak dibolehkan,
namun tidak dalam arti analogi menimbulkan perbuatan pidana
baru sebagaimana dimaksud dalam Pasall ayat (1). Penerapan
undang-undang dengan analogi terhadap suatu kasus yang tidak
dipikirkan oleh pembentuk undang-undang atau tidak dapat
memikirkannya, tetapi rasio untuk penerapan undang-undang
sama seperti penerapan ketentuan undang-undang terhadap
211
E. Utrecht, [Link],hlm. 218. -. ~ .
U7 Hazewlnkel Suringa, [Link], tilm. 281.
211
H.B. Vos, [Link], him. 46.
t 14 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
masalah yang diatur oleh undang-undang. Namun demikian batas
antara analogi dalam penerapan undang-undang dan interpretasi
ekstensifkurang jelas sehingga jalan kedua yang ditempuh adalah
kembali menggunakan analogi).
GOLONGAN KETIGA adalah para ahli hukum pidana yang
menerima penerapan analogi. Golongan ini diwakili oleh Roling,
Pompe dan Jonkers. Sebagaimana yang dikutip Utrecht, demikian
juga Remmelink, Rollng berpendapat bahwa antara interpretasi
ekstensif dan analogi tidak ada perbedaan asasi. Masih menurut
· Roling, analogi itu tidak lain dari suatu sendi interpretasi yang mana
kita harus membedakan antara redaksi undang-undang pidana dan
tujuan undang-undang pidana. Menurutnya, tujuan undang-undang
pidana harus lebih diutamakan, sedangkan redaksi undang-undang
pidana hanya sekunder saja289• ·
Perihal analogi, Pompe dalam handboek-nya secara tegas me-
nyatakan:
Toepassing van analogie bestaat daarin, dat men uit een
rechtsvoorschrift een meer algemene regel abstraheert, die aan dit
rechtsvoorschrift ten grondslag ligt (ratio legis), en daarna die meer
algemene regel toepast op een .geval, dat niet onder de tekst van
het rechtsvoorschrift zelf valt. Dit geval moet dan met de gevallen,
· welke er wel onder behoren,zoveel gelijkenis, overeenkomstigheid
(analogie), vertonen, dat gelijke berechting gerechtvaardigd lijkt.
Toepassing van analogie is slechts geoorloofd, indienaan te nemen
is, dat er een leemte in de wet is, dat derhalve de wetgever niet aan
het geval gedacht heeft (vergeten gevallen) ofer niet aan kan denken
(nieuwe gevallen), en alleen daarom de wet niet zo ruim formuleerde
dat het geval wel onder de tekst zou vallen. Is niet aan te nemen,
dat de wetgever het geval overhet hoofd gezien heeft, dan dient het
met een redenering a contrario juist niet op gelijke wijze berecht
te worden. Of men in een bepaald geval analogie moet toepassen;
dan wei omgekeerd a contrario moet conduderen, dat de wetgever
blijkens het ongenoemd Iaten het betrokken geval niet onder de
• Ibid, him. 214. Uhat juga Jan Remmellnk, [Link], him. 359.
~ ·/: ~ ·~. ~~~!ll-}!
ASAS LEGAUTAS DAN PERBUATAN PIDANA ,;lit&~
. ~- ~~ . ..~:\"'~''
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. desbetreffende regel heeft wiUen brengen. is telkens aan het oordeel
van .de rechter overgelateril90•
(Penerapan ·analogi· berarti menerapkan -suatu ·aturan umum
terhadap suatu aturan hukum ·tertulis berdasarkan ketentuan
hukum tersebut (ratio legis), dan selanjutnya ketentuan yang lebih
·umum itu diterapkan pada suatu kasus yang sebetulnya tidak ·
· tercakup rumusan ketentuan hukum tersebut. Kasus tersebut
seharusnya seperti kasus-kasus yang tergolong ketentuan umum ·
itu mempunyai sedemikian banyak persamaan (analogi) sehingga
perlakuan yang . sami,l seperti itu dianggap benar. Penerapan
analogi hanya dibolehkan jika dapat dianggap bahwa ada
kekosorigan dalam hukum karena pembentuk undang-undang
tidak memikirkan (lupa memikirkan) demikian atau tidak dapat
memikirkan demikian (kasus baru) dan oleh karena itu tidak
merumuskan undang-undang sedemikian luas sehingga rumusan
. undang-undang tidak mencakup kasus tersebut. Bila tidak dapat
diterima bahwa pembentuk undang-undang tidak memikirkan
kasus tersebut. maka seharusnya dengan pertimbangan a contrario
justru tidak boleh diadili dengan cara yang sama. Kalau dalam
suatu kasus tertentu kitaharus menerapkan analogi atau sebaliknya
memutuskan a contrario bahwa pembentuk undang-undang tidak
menyebut kasus tersebut dicakup oleh rumusan lmdang-undang,
maka selalu diserahkan pada pertimbangan hakim).
Adapun alasan Pompe untuk menerima penggunaan analogi
dalam hukum pidana adalah sejarah Pasal 1 ayat (1) KUHP yang
pada intinya menyatakan bahwa dapat dipidananya suatu .perbuatan
sepenuhnya diserahkan kepada hakim. Dengan demikian tidak ada
larangan urituk menggunakan analogi. Secara tegas dinyatakan oleh
Pompe, "De geschiedenis van art. I Sr. kan ook leiden naar art. 12, tweede
lid. van het Crimineel Wetboek voor het Koningrijk Holland, waar aan de
rechter uitdrukkelijk wordt overgelaten, over de strafbaarheid van het feit
volgens de regelen van uitlegkunde te beslissen. hetzij naar de woorden
hetzij naar de zin (m.a. w ratio) der wet291" (Sejarah dari Pasall KUHP
290 [Link]. Pompe, [Link], him. 50-51.
m Ibid, him. 52.
116 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dapat juga mengarah Pasal12 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana untuk Kerajaan Belanda, yang mana nyata-nyata diserahkan
kepada hakim untuk mengambil putusan tentang dapat dipidananya
suatu perbuatan "menurut aturan-aturan pertimbangannya" atau
menurut kata-katanya atau menurut tujuan (dengan kata lain rasionya)
undang-undang).
Pada bagian lain dalam bukunya, untuk mempertahankan
penggunaan analogi dalam huk;urn pidana, Pompe menyatakan:
"Met beperke dit verbod, als vormende een uitzondering; dan ook
tot wat art. I, eerste lid, Sr._naar zijn-tekst inhoudt, en breide deu
bepaling niet zelve buiten de tekst uit. De besprol«m bepaling betreft
aileen de strajbaarheid van hetfeit. Bij de strajbaarheid uitsluitende
omstandigheden, waarbij het immers niet om het ~trafbare feit,
maar om de daarvoor strafbare persoon gaat (en waarbij overigens
niet de stiajbaarheid, maar de straffeloosheid wordt bepaald). is de ·
toepasSing van analogie dus ook op het door mij thans afgewezen
standpunt aanvaardbaar te achten. Evenmin is op dit standpunt
analogie verboden t. a. v. de·vervolgbaarheid, de uitvOerbaarheid
der straf. Voor het strafprocesrecht geldt art. I St/'292•
(Agar peraturan ini dibatasi sebagai suatu hal yang khusus) juga apa
yang dimaksud dalam Pasall ayat (1) KUHP menurutisi teksnya,
dan ketentuan ini sendiri diperluasdi luarteks tersebut Ketentuan
yang dibicarakanhanyalahmengenaidapatdipidananya perbuatan _.
itu. Ketentuan mengenai keadaan tidak dapat dipidananya suatu
perbuatan; sebetulnya bukaJi mengenai perbuatan [Link] tetapi
lebih mengenai dapat dipidananya seseorang (bukan mengenai
tidak dapat [Link] perbuatan, tetapi alasan penghapus
pidana tertt>.ntu); maka penerapan analogi dapat diterima menurut
[Link]. Demikian juga .m enurut pandangan ini analogi
tidak dilarang terhadap pelaksanaan pidana. Untuk hukum acara
pidana berlaku juga Pasall Hukum Acara Pidana). .
Sependapat dengan Pompe adalah Jonkers yang membolehkan
penetapan analogi .daJam· hukum pidana dan nienurutnya tidak
m Ibid, him. 54.
ASASUGALITAS DAN PERBI:I~TAN PIDA,NA i.)-l_;ti~
.·\." .;::-:·~ ; -'_ ~r
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
bertentangan dengan Pasall ayat (1) KUHP. Dengan membandingkan
analogi dan beberapa metode interpretasi lainnya, Jonkers menyatakan:
"Er zijn vcr$hilliende me tho den . van wetsuitleg: de histrorische,
de · grammaticale. de logische, de systematische, ·de extensieve,
de .·telelogische en de analogische. Vooral de laatste drie hebben
aanleiding gegeven tot velerlei discussies, omdat daarbij de vraag
.rist of zij voor strafrecht geoorloofd zijn. De extensieve stelt zich op
den basis van ruimen wetsuitleg, de teleologische speurt naar het
doel, de strekking der bepaling en de analogische gaat zoover, dat ·
· zij rekening wil houden met de overeenkomstigheid der feiten en de
norm, die aan straf bepaling ten gronslag ligt. Vele vooraanstaande
juristen en ook de jurisprudentie aanvarden voor het strafrecht,
althans voor zoover de strajbaarstelling betreft, de analogie niet. Zij
.zijn van meening, dat het reeds besproken eerste lid van art. 1 W. v.S.
-geen feit is strajbaar dan krachtens een daaraan voorajgegane
wettelijke strajbepaling- ·zich hiertegen verzetten zou. Ik kan deze
opvatting niet dellen. Bij analogische interpretatie valt men terug op
de wet en ik kan niet inzien, dat de regel van artikell lid 1 daardoor
geweld [Link] aangedaan»293•
(Bermacam-macam metode interpretasi: historis, gramatikal,
logis, sistematis, ekstensif, teleologis dan analogi. Terutama
tiga yang terakhir, bermacam-macam diskusi, berdasarkan
itu timbul pertanyaan apakah hukum pidana diperbolehkan.
. Ekstensif adalah berdasarkan interpretasi luas undang-undang.
· Teleologis menel<ankan pada tujuan yakni · tujuan menurut
undang-undang dan analogi sedemikian jauh sehingga mereka
memperhitungkan kesamaan perbuatan dan norma yang menjadi
dasar ketentuan undang-undang pidana. Banyak juris terkemuka
dan juga jurisprudensi menolak analogi dalam hukum pidana
yaitu sepanjang dapat dipidanartya suatu perbuatan. Mereka
berpendapat bahwa Pasall ayat (1) KUHP -tidak ada perbuatan
dapat dipidana kecuali atas kekuatan undang-undang pidana
sebelum perbuatan dilakukan- menentang hal ini. Saya tidak
setuju dengan pendapat ini. Interpretasi analogi dikembalikan
kepada undang-undang dan saya tidak sependapat bahwa Pasall
ayat (1) diperkosa oleh·analogi).
293
J.E Jonkers, 1946, [Link], him. 42.
118 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Menurut Jonkers, penerapan analogi dalam peradilan pidana
sebelum kasus pencurian listrik adalah Putusan Rechtbank Leeuwarden
10 Desember 1919, NJ 1920. Di veemarkt (pasar hewan), A berdiri
di sebelah sapi, seolah-olah sapi itu adalah miliknya. sendiri. B yang
hendak membeli sapi, sungguh-sungguh mengira bahwa A adalah
pemilik sapi tersebut. B kemudian membayar sejumlah uang kepada A
dan membawa sapi itu pulang ke rumahnya. Pengadilan menganggap
A yang berdiri di dekat sapi ~ersebut dan seolah-olah pemilik sapi,
identik dengan perbuatan 'mengambil' sebagaimana dimaksud dalam
pasal pencurian.
Komentar Jonkers terhadap putusan tersebut adalah sebagai
berikut:
"Het sterkste staaltje op diet gebied is wei te vindtn in een vonnis van
de rechtbank te Leeuwarden (vonnis 10 December 1919 N.J. 1920,
blz. 187), waarin het gaan en blijven staan bij een op de markt zich
los gemaakt hebbende koe en het vervolgens verkoopen van de koe
als een daad van wegneming wordt aangemerkt. De reclttbank is
zoo eerlijk in dit vonnis te overwegen, dat difstal mogelijk is, ook
al heeft in letterlijken zin geen wegneming plaats gehad en voegt
daaran toe, dat zij bereid is iets wegnemen te noemen, wat helemaal
geen wegnemen is nP94~
(Contoh yang paling teJ?at di lapangan ini dapat ditemukari dalam
Pengadilan Leeuwarden (Putusan 10 Desember 1919 N.J. 1920,
blz. 187), yang maria seorangyang datang dan tetap berdiri di dekat
sapi yang tela.h melepaskan diri di pasar hewan dan selanjutnya
. penjual sapi tersebut dipandang sebagai mengambil. I>engadilan
begitu jujur untuk mempertimbangkan dalam putusan ini bahwa
pencurian mungkin terjadi meskipun secara leterlek tidak terjadi
perbuatan mengambil dan · pengadilan menambahkan bahwa
pengadilan bersedia menyebut sesuatu mengambil padahal bukan
mengambil tetapi mendatailgi dan berdiri dekat sapi tersebut).
Terlepas dari boleh-tidaknra; periggunaan analogi dalam hukum
. pidana, Herman Malinheim _mensemukakan ada dua macam analogi.
294
Ibid, him. 43.
;::;
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIOANA {t _. ,
~';..;.it ,. ....,. ;;;i
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pertama, analogi undang-undang · atau gesetzes analogie. Kedua,
analogi hukum atau rechtsanalogie. Dalam penerapan hukum pidana,
analogi yang dibolehkan adalah analogi undang-undang ·dan bukan
· analogi huktUn. Kendatipun demikian sulit dibedakan antara analogi
undang-undang dan analogi hukum295•
· Menurut Cherif Bassiouni ada tiga katagori analogi. Periama,
analogi untuk menciptakan perbuatan pidana baru yang sudah diduga
tet~pi tidak -dirumuskan oleh pembentuk undang-undang. Kedua, .·
analogi diterapkan apabila bunyi undang-undangtidak cukup jelas atau
gagal merumuskan unsur-unsur dari suatu perbuatari pidana. Ketiga. .
analogi diterapkan terhadap pemidanaan dalam hal tidak definisikan
oleh pembentuk undang-undang. Masih menurut Bassiouni, bahkan
pada sistem hukum ·dengan pendekatan positivisme yang ketat, asas
legalitas membolehkan analogi terhadap pemidanaan namun dalam
batas-batas yang telah ditentukan oleh pembentuk undang-undang.
Akan tetapi, pada sistem hukum yang menerapkan asas legalitas sangat
ketat, sepenuhnya melarang penggunaan analogi dengan mengingat
pada klausula aturan favor reo. Artinya. hakim harus menjatuhkan
putusan yang meringankan terdakwa296•
Pendapat Penulis sendiri terhadap analogi adalah sebagai berikut:
Pertama, dalam konteks hukum pidana nasional, penerapan analogi
hanya dibolehkan jika analogi dilakukan dalam rangka menjelaskan
undang-undang. Kedua, masih dalam konteks hukum pidana nasional,
analogi hukum tidak diperkenankan karena akan menimbulkan
perbuatan pidana baru yang jelas bertentangan dengan asas legalitas.
Ketiga, dalam konteks penegakan hukum pidana intemasional
·termasuk penindakan terhadap kejahatan-kejahatan internasional, baik
analogi untuk menjelaskan undang-undang, maupun analogi hukum
dalam rangka menimbulkan perbuatan pidana baru, dibolehkan. Hal
ini karena ada perbedaan standar pelaksanaan asas legalitas dalam
:m Andi Hamzah dalam Pembangunan Hukum Pldana Indonesia, Ascsiasi Pengajar Hukum
Pidana Dan Kriminologi Indonesia, 2008, Perkembangan Hukum Pldana Dalam Era
Globalisasi, Perum Percetakan Negara Rl, Jakarta, hlm.33.
291
M. Cherif Basslounl, [Link], him. 179- 180.
120 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
konteks hukum pidana nasional dan [Link] pidana internasional
sehagaimana yang telah diutarakan di atas.
Salah satu penerapan rechtsanalogie dalam hu.!rum· pidana
internasional adalah pengadilan yang dilakukan oleh International
Criminal Tribunal For Rwanda (ICfR) terhadap Jean Paul Akayesu yang
juga adalah mantan Walikota Komunitas Taba. Dalam kasus Akayesu
arla unsur-unsur kejahatan (elements of crime) yang [Link]
terhadap Akayesu dianalogikan, diredefinisi dan diinterpretasikan
secara ekstensif. Akayesu didakwa melakukan sejumlah kejahatan
terhadap hak asasi manusia di ·komunitas Taba, perfetture Gitarama,
Rwanda.
Dalam Putusan ICfR, salah satu pasal yang dijeratkan kepada
Akayesu dan [Link] terbukti secara sah dan [Link]
te1ah melakukan pemerkosaan masal. Faktanya yang dilakukan oleh
. Akayesu adalah [Link] milisi dan polisi komune memaksa
wanita-wanita Thtsi menanggalkan pakaian, menari dan berbaris
di depan publik di bawah terik matahari297• Abyesu menyaksikan
hal tersebut tanpa melakukan tindakan apapun. Tegasnya, Akayesu
membiarkan peristiwa yang tidak berperikemanusiaan itu terjadi.
Wanita-Wanita Thtsi yang dipaksa menari tanpa busana dan di bawah
terik matahari dianalogikan sebagai pemerkosaan.
G. PENGERTIAN .PERBUATAN PIDANA
Sebagaimana yang .telah di}?ahas pada awal bah ini bahwa dasar
dari .perbuatan · pidana adalah asas legalitas, .maka pada subbab ini
yang akan diulas adalah milia pe~uatan pidana itu sendiri. Secara
singkat Moeljatno memberi definisi [Link] pidana sebagai
•perbuatan yang dilarang dalam undang-undang dan diancam dengan
pidana barangsiapa melanggar larangan itu«298. [Link]
m Human Right Watch, 2004; Genocide, War Crimes And'c:[Link] Humonfty: Topical
· Digests Of The Cose LJJw Of The International Ctlmlnal Trlbunoi>For Rwanda And The
International Criminol Tribunal For The Former Yugoslavia, dfteriemahlcan oleh [Link],
2006, him. xvil- xxl.
291 Moeljatno, 1955, Perbuaton Pidana Dan Pertanggungan Jawab Dalam Hukum Pidana,
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
-kata perbuatan' dalam frasa "perbuatan pidana' menurut Noyon dan
Langemeijer bahwa perbuatan yang dimaksud dapat bersifat positif
.dan. negatif. Perbuatan bersifat positif berarti melakukari sesuatu,
· sedangkan perbuatan bersifat negatifmengandungarti tidakmelakukan
sesuatu299~ Tidakmelakukan apa yang menjadi kewajibannya atau tidak
· inelak;ukan sesuatu yang seharusnya dilakukait dikenal dengan istilah
·. omissions»'.
Dalam • pengertian perbuatan pidana tersebut di atas, .
. ~oeljatno sama ~ tidak menyinggung mengenai kesalahan atau
·p~ggungjawaban pidana. Kesalahan adalah &ktor .penentU per-
. tlnggungjawaban pidana brenanya tidak sepatutnya menjadi bagian
· d~ [Link] vJdana. MasihmenurutMoeljatoo. pandangan yang
· D;tenyatukan perbuatanpidana dan pertanggungjawa pidana adalah
pandangan monistis yang dianggapnya kuno'CI'-. Selanjutnya secara
tegas dinyatakan oleh Modjatno. • apahlh in1amlcreto, yang_ melakukan
perbuatan pidana todi swigguh-sungguh dijatuhi pidana atau tidak. itu
sudmJ di luar arli perbuatan pidana••. Pandangan Moeljatno yang.
memisahkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana
dikenal dengan pandangan [Link].
Bandingkan deDgan pengertian perbuatan pidana menurut
sejumlah ahli hokum pidana Be1anda berikut ini: Eoachecle memberi
definisi perbuatan pidana sebapi een metJUlijlce gedmging die valt
~n ~ grenzen wm [Link]~ ~ - is en ·QQ1J
schu1d te wijtm* (kelakuan manusia yang memenuhi rumusan delik.
~&wan hukum dan dapat dicela). Definisi sederhana darfEDschcde
' Pidato dluc:aplcan pada upacara perinptan Dies Natllls .. VI UniveiSitas Gadjah Mada, cl
.. . ·Sitihingfl Yogyalcarta pada tangal19 Desember 1955, l*n 17.
• TJ. NoyOn & G.E. LanpmeiJer, [Link]., 54.
- Ftaser ~pson. 2001. 8b bbW.s Pollt% Monuol ~. Balckstone Press Urnlted. him.
10.
- Sudarto. [Link], him. 40.
• Chairul Huda, 2006, Dod TkJda Pidana Tanpa KesDiahan MetiUju ~ . TIGdo
Pettanggungjawaban Pfdana ~ [Link]; TIIJ]auan Kritls Ttrhadop Tf:ori Pemisohan
Tlndak Pidana dan Perlllnggungjawoban Pidana, Kencana Prenada Media, Jakarta, him.
27.
· ~ Sudarto, [Link]. .
* Ch. J. _Enschede, [Link] him. 156.
TTl> '.
122 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
telah mencakup perbuatan pidana dan pcrtanggungjawaban pidana.
Kelakuan manusia yang memenuhi rumusan delik berkaitan dengan
perbuatan pidana, sedangkan melawan hukum dan dapat dipidana
berkaitan dengan kesalahan sebagai unsur mutlak pertanggungjawaban
pidana.
Jonkers memberi definisi perbuatan pidana menjadi definisi
singkat dan ddinisi luas. Secara tegas dinyatakan oleh Jonkers: "De
korte definitie luidt: een strafbaarfeit is een feit, dat door de wet is strafbaar
gesteld. Ben langere en ook beteekenisvollen~ definitie is: een strafbaar
feit is een feit met .oput of schuld in verband staande onrechtmatig
(wederreclltelijke) gedraging begaan door een toerekenisvatbaar
persoon"305 (Definisi singkat: perbuatan pidana adalah suatu perbuatan
yang menurut undang-undang dapat dijatuhi pidana. Definisi luas:
perbuatan pidana adalah suatu perbuatan dengan sengaja atau alpa
yang dilakukan dengan melawan hukum oleh seseorang yang dapat
dipertanggungjawabkan). Dalam definisi singkat, Jonkers sama sekali
tidak menyinggung pcrihal pertanggungjawaban pidana, namun dalam
definisi luas, perbuatan pidana juga mencakup pertanggungjawaban
pidana.
Senada dengan [Link] adalah Pompe yang mana dalam
definisi perbuatan pidana secara · teori mencakup perbuatan dan ·
pertanggungjawaban pidana, ·sedangkan · dalam definisi · perbuatan
pidana mt:nurut hukum positif. Pompe tidak menyinggung perihal
pertanggungjawaban: pidana. Secara gamblang dinyatakan Pompe:
":.... .theoretische uiteenzettingen ..... strajbare feit deJiniiren als de
normovertreding, ·waaraan de overtreder schuld heeft en waarvcin
de bestraffing dienstig is voor de handhaving der rechtsorde en de
. behartiging van het algemeen welzijn..... Het strafbare feit ..... een
gedraging zijn met drie algemene dgenschaperi•... ;. wederrechtelijk.
aan schuld te wijten en strafbaar..... [Link]$ ons positieve recht is
het strafbare feit niets aanders dan een feit. dat in ·een wettelijke
_bepaling las strajbaar is omschreven ...••·•. ·
105
J.E. Jonkers, [Link], him. 83.
• [Link]. Pompe, [Link]., him. 39-40.
:i~:~~!~
ASAS LEGAUTAS DAN PERB,UATAN PIDANA \~~~~.Jt
· . ~ ::;.:~:.~;·.!.:'Ai
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· (..... gambaran teori ...... perbuatan pidana didefinisikan sebagai
pelanggaran norma yang diadakan karena pelanggar bersalah
dan hams dihukum untuk menegakkan aturan hukum dan
menyelamatkan kesejahteraan umum. .....Perbuatan pidana .....
suatu kelakuan dengan tiga hal sebagai suatukesatuan..... melawan
hukum; kesalahan yang dapat dicela dan dapat dipidana. .....
Menurut hukum pPSitif, perbuatan pidana tidak lain dari suatu
perbuatan yang oleh undang,-undang ditentukan sebagai suatu
peristiWa yang IIienyebabkan dijatuhi hukuman ......) .
Slmonsmemberiartiperbuatanpidanasebagaisuatuperbuatany3ng
oleh hukum diancam denganbukuman, bertentangan dengan hultum.
dilakukan oleh seorang yang bersalah dan orang tersebut dianggap
bertanggung jawab atas perbuatannya (Stmjbatu' foit omsdarijven als
eene strtijbaar gestelde, ·onrechtmatige, met schuld in verband staatuk
handelingvan een toerekeningsvat baar persoon)ll11. Berdasarkan definisi
perbuatan pidana yang dikemukakan oleh Enschede, Jonbrs, Pompe
· dan Simons, terlihat jelas bahwa di dalam istilah "perbuatan pidana•
sebagai terjemahan dari • strajbaarjeir meliputi baik perbuatan pidana
itu sendiri maupun pertanggungjawaban pidana.
Namun ada juga ahli hukum pidana Belanda yang secara tegas
mendefinisikan '"perbuatan pidantl" tidakmeliputi pertanggungjawaban
pidana, antara lain Vos dan Hazewinkel Suringa. Menurut Vos
perbuatan pidana adalah een menselijke gedraging, waarop door wet
straf is gesteld'"J()S (Perbuatan pidana adalah kelakuan· manusia yang
oleh undang-undang pidana diberi hukuman). Sedangkan Suringa
memberi pengertian perbuatan pidana sebagai berikut "Strajbaar
feit - dat is de term. Die na veel wikken en wegen ten slotte is gekozen
voor ieder gedraging, die op straffe wordt verboden, hetzij zij bestaat in
een doen of in een nalaten: hetzij zij onder de misdrijven dan wel onder
de overtredingen valf09 (Perbuatan pidana - adalah sebuah istilah,
setelah dipertimbangkan pada akhirnya dipilih untuk setiap [Link]
301
D. Simons, [Link]., him. 122.
301 H.B. Vos, [Link], him. 25.
309
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 45.
124 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
perbuatan yang diancam pidana atau dapat berupa melakukan atau
tidak melakukan sesuatu atau terdiri dari kejahatan-kejahatan dan
pelanggaran-pelanggaran).
Pandangan yang memisahkan antara perbuatan pidana dan
pertanggungjawaban pidana sesungguhnya untuk mempermudah
penuntutan terhadap seseorang yang telah melakukan suatu tindak
pidana dalam hal pembuktian. Di depan sidang pengadilan, biasanya
pembuktian dimulai dengan adanya perbuatan pidana, baru kemudian
apakah perbuatan pidana yang telah dilakukan dapat-tidaknya
dimintakan pertanggunrJawabannya terhadap terdakwa yang sedang
diadili.
H. ELEMEN-ELEMEN PERBUATAN PIDANA
Perdefinisi perbuatan pidana, Moeljatno berpendapat bahwa
elemen-elemen perbuatan pidana adalah sebagai berikut:
1. Perbuatan yang terdiri dari kelakuan dan akibat
2. Hal ikhwal atau keadaan yang menyertai perbuatan
3. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana
4. Unsur melawan hukum yang objektif
5. Unsur melawan hukum yang subjektif510
Terhadap elemen-elemen perbuatan pidana yang diutarakan oleh ·
. Moeljatno perlu Penulis jelaskan sebagai berikut Pertlmul, perbuatan
yang terdiri ~ kelakuan atau tindakan. dan akibat. Perlu diingat
bahwa tidak selamanya kelakuan dan akibat terjadi pada waktu yang
sama. Demikian pula tidak selamanya kelakuan dan akibat terjadi pada
tempat yang sama. Perhatikan Uustrasi berikut ini:
A .tidak senang dengan B dan bemiat membunuhnya. Pada
malam .tanggal 10 April 2014, ketika B sedang berjalan di tempat
yang sepi, .t:lba-tiba A memukul B dengan balok kayu bertubi-tubi
sehingga B teijatuh dan tidak sadarkan diri. Belum merasa puas, A
~» Moeljatrio, [Link]., him. 69.
. .: . ~: ~ ·.:·.: ·:~-:~
ASM L£GAUTAS DAN PERBUATAN PIDANA .!;j:25~i
. .· ' ·
· :·~ ;~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
menusuk B dengan pisau di bagian .dada dan perut kemudian pergi
meninggalkannya. C yang kebetulan lewat dan melihat B tidak berdaya,
segera membawanya ke rumah sakit Setelah dirawat ~aina 4 hari, B
kemudian meninggal dunia. Pertanyaan sederhana dari kasus tersebut, .
kapankah A membunuh B? .
·Pertanyaan tersebut [Link] sederhana imtuk dijawab, namun
sesungguhnya cukup kompleks. Kita tidak dapat mengatakan bahwa
pembunuhan A terhadap B terjadi pada tanggallO April 2014, karena
saatitu tidakadaakibatmati. Demikiail pulakita [Link]
bahwa pembunuhan A terhadap B terjadi pada tanggal14 April2014,
sebab penyebab kematian B adalah pemukulan dan penusukan,
sedangkan kedua tindakan tersebut tidak terjadi pada tanggal 14
April 2014. Dengan mengingat bahwa di .dalam kata 'perbuatlm• ada
dua hal yaitu kelakuan dan akibat maka jawaban ·yang benar adalah
pembunuhan A terhadap B [Link] [Link] pemuknlan dan
penusukan yang terjadi pada tanggal10 April2014 yang menimbulkan
akibat mati pada tanggal 14 April 2014. Dengan demikian .tindak:an
dan akibat merupakan satu rangkaian dalam perbuatan yang tldak bisa
dipisahkan.
Contohlain:X yangtidaksenangdengan Yberniatmembunuhnya.
Pada tanggalS September 2014, X yang sedang berada di leota A,
dengan meng8unakan senjata laras panjang menembak y yang sedang
berada eli leota B dan mati seketika. Pertanyaan ·dari kasus tersebut, di
manakah X membunuh Y? Sama dengan jawaban pada ilustrasi soal
sebelumnya; dengan mengingat bahwa kata 'perbuatan• mengandung
tindakan dan akibat, maka jawaban yang benar adalah pembunuhari X
terhadap Y dimulai dengan penembakan di leota A yang menimbulkan
akibat di kota B.
Kedua, hal ikhwal yang menyertai perbuatan. Pasal 345 KUHP
berbunyi: · "Barangsiapa mendorong orang lain untuk bunuli diri,
menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi seorang kepadanya
untuk itu, diancam· dengan pidana penjara paling lama empat tahun
126 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
kulau orang itu jadi bunuh din•. Berdasarkan pasal tersebut dapat
diberi contoh sebagai berikut: Jika A [Link] atau mendorong
B untuk bunuh·diri, kemudian B·melakukan bunuh diri, namun'tidak
[Link] mati, tnaka A tidak dapat dipidana dengan pasal
tersehut. Sebaliknya. jika B benar-benar bunuh diri dan berakibat mati.
maka A dapat dijerat dengan pasal tersebut karena menghasut orang
bwmh diri. Matinya seseorang karena bunuh diri akibat dorongan atau
hasutan orang lain adalah hal ikhwal yang menyertai perbuatan.
Ketiga. keadaan tambahan yang memberatkan pidana. Contoh
konkret elemen ini adalah ketentuan Pasal351 KUHP yang beibunyi:
1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama
dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak ·
empat ribu lima ratus rupiah.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
3~ fdca mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
Ketentuan Pasal351 ayat (2) yang mengakibatkan luka-luka berat
dan Pasal351 ayat (3) yang mengakibatkan kematian adalah keadaan
tambahan yang memberatkan.
Keempat. unsur melawan hukum yang objektif atau .objektif
onrechtselement adalab perbuatan nyata yang secara kasat mata· ·
memenuhi ~ delik. Kelima, WlSUr melawan. hukum yang
subjektif atau subjektif onrechtselement adalah niat atau sikap batin ·
dari pe1aku. Dapatlah dikatakan bahwa untuk bisa ·dijatuhi pidana .
.maka seorang pelaku harus memenuhi ·kedua unsur tersebut; baik .
objektif -onrechtselement, maupun sulijektif onrechtselement. Tegasnya;
kedua unsur melaWa!t hukum tersebut bersifat mutlak. Subjektif ·
. onrechtsekment hanya dapat diketabuj .. dengan adanya objektif
· ~nrechtselement.
Kritik Penulis terhadap el~emen .. perbuabQ:l pidana
yang dikemukakan Moeljatno adalah saat menjelaskan mengenai ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pengertian perbuatan pidan~ Moeljatno memisahkan secara ·tegas
antara perbuatan pidana , dan pertanggungjawaban pidana. Akan
tetapi.:ketika be~bi~ mengeDat elemen-elemen perbuatan pidana,
Moeljatno ·memasukkan subjektif onrechtselement -sebagai salah satu
elenien. .Meilurut .Pendapat ·Penulis; berbicara mengenai subjelctif
onrechtselement, pada hakikatnya-berbieara mengenai sikap batin atau
niat atau mmsrea pelaku yang merupakan dasar peltanggungjawaban
pidana. ·Tegasnya, pendapat Moeljatno mengenai ·elemen-elenien ·
perbuatan pidana, telah memadukan antara ·perbuatan pidana dan
pertanggunsJawaban pidana.
Elemen-elemen perbuatan pidana yang · .lebih sederhana
dilcemukakan oleh Schaffmeister, · Keijzer . dan Sutorlus yang
menyatakan unsur-unsur atau elemen-elemen perbuatan pidarui
terdiri dad memenuhi unsur dellk, melawan hukum dan dapat
dicela311 ~ Pendapat yang demikian juga dikemukakan [Link]
menyatakan, •Het strajbare foit ••.•. een gedraging zijn met drie algemene
eigenschapen...... wede"ecl_atelijk, aan schuld te wijten en strajbaar#J12
(Perbuatan pidana ;.... suatu kelakuan dengan tiga hal sebagai suatu
kesatuan..... melawan hukwn, kesalahan yang dapat dicela dan dapat
dipidana}.
Blla dilihat dari elemen-elemen perbuatan pidana yang di-
kemukakan oleh Schaftineister, Kdjzer, Sutorius dan Pom~ maka
dapatdisimpulkan bahwaelemenmemenuhi unsurdelikidentikdengan
perbuatan pidana itu sendiri, sedangkan gabungan elemen melawan
hukum dan elemen dapat dicela melahirkan pertanggungjawaban
pidana. Ulasan mengenai memenuhi unsur delik ak3n dibahas dalam
subbal? terakhir dari bah ini, sementara ulasan mengenai melawan
hukum dan dapat dicela akan dibahas dalam bab tersendiri.
)11 o: Schaffmeister, N. Keij~er dan E.P.H. Sutorius, [Link]., him. 27.
JU [Link]. Pompe, [Link]., him. 39
128 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
I. UNSUR-UNSUR DAN JENIS-JENIS DEUK
Dalam banyak literatur seringkali sebutan 'delik' digunakan
untuk mengganti istilah 'perbuatan pidana: sehingga ketika berbicara
mengenai unsur-unsur delik dan jenis-jenis delik, sama halnya kita
berbicara mengenai unsur-unsur perbuatan pidana dan jenis-jenis
perbuatan pidana. Sebelum mengulas lebih lanjut mengenai unsur-
unsur delik terlebih dahulu perlu dipahami perbedaan antara istilah
'bestandeel' dan 'elemenf. Kedua istilah tersebut dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan sebagai unsur. Kendatipun demikian, ada perbedaan
prinsip antara istilah 'element' dan 'bestandeer.
Perbedaan [Link] istilah tersebut adalah sebagai berikut: elemen-
elemen dalam suatu perbuatan pidana adalah unsur-unsur yang
terdapat dalam suatu perbuatan pidana. Unsur tersebut baik yang
tertulis maupun yang tidak tertulis. Bestandeel mengandung arti unsur
perbuatan pidana yang secara .expressiv verbis tertuang dalam suatu
rumusan delik atau perbuatan pidana. Dengan kata lain, 'element•
perbuatan pidana meliputi tinsur yang tertulis dan unsur yang tidak
tertulis, sedangkan 'bestandeel' hanya meliputi unsur perbuatan pidana
yang tertulis saja313• Menurut van Bemmelen dan van Hattum hanya
elemen yang tertulis saja yang merupakan elemen perbuatan pidana
( '"..... bestanddelen (elementen) kunnen noemen van het door hem begane
·strajbare feit....j 314• Konsekuensi lebih ·lanjut, yang harus dibuktikan
oleh penuntut umum di pengadilan hanyalah 'bestandeef.
Kalan kita merujuk pada elemen-elemen perbuatan· pidana
sebagaimana yang telah dibahas dalam subbab di atas, maka elemen
yang pertama yaitu memenuhi unsur delik sama artinya dengan ·
memenuhi [Link] perbuatan pidana. Kendatipun demikian, van
Bemmelen dan van Hattum berpendapat bahwa tidak semua unsur:-
unsur yang dismggling oleh [Link] pidana dijadikan unsur
mutWc ketentuan pidana . Hanya sebagian unsur-unsur tersebut yang_
w . P.A.F lamlntang, [Link]., him. 186.
JJA J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 134
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dijadikan · unsur ·mutlak perbuatan pidana (Gewoonlijk rekent men
slechts een aantal dier voorwaarden. tot ·de bestanddelen. De keuze welke
voorwarden dan wei welke niet bestaddelen worden genoemd is echter
steeds vrij willekeurig en er bestaat te dien aanzien bij- de schrijvers veel
verschil vangevoelen)l15•
. .Masih menurutvan B~elen dan van Hattum:
. ~ .... delidsomschrijvingen niet meerzijn dan uit hun verbandgerukte
fragmenten. De·wetgever lean niet anders dan schematisch te werk
. gaan. Concrete gedragingen welke onder een delictsomschrijving
· vallen behoren tot een groep van door de wet in het algemeen strajbaar
gestelde gedragingen. Door de schematische, fragmentarische
omschrijving vaUen binnen die groep ook een anttal gedragingen,
welke daar niet -thuis behoren, omdat zij niet onbehoorlijk, niet
verwerpelijk, niet laakbaar, niet ongeoorloofd, niet wederechtelijk
zijn, doch jntegendeel behoorlijk, wenselijk, te prijzen, geoorloofd en
rechtmati~ 16•
(Rumusan-rumusan delik itu hanyalah fragmen-fragmen yang
dipisah-pisahkan dari hubungannya. Pembuat undang-undang
tidak dapat berbuat lain daripada hanya secara skematis saja.
Perbuatan-perbuatan ·konkret yang masuk dalam rumusan
delik adalah merupakan sekumpulan perbuatan-perbuatan
yang pada umumnya diancam dengan pidana. Karena rumusan
yang fragmentasi dan skematis tadi maka di dalamnya terdapat
perbuatan-perbuatan yang sebenarnya tidak di saria semestinya,
karena tidaklah merupakan ·perbuatan yang tercela atau tidak
dibenarkan).
Rumusan . delik tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama,
. rumusan delik sebagai pengejawantahan asas legalitas. Kedua, rumusan
delik berfungsi sebagai unjuk bukti dalam konteks hukum acara
pidana. Pertanyaan lebih lanjut, di manakah kita dapat mengetahui
atau menemukan rumusan delik yang terdiri dari unsur-unsur delik?
Jawaban sederhana dari pertanyaan tersebut adalah bahwa rumusan
us Ibid, him. 159.
us Ibid, him. 350
130 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· delik yang berisi unsur-unsur delik hanya dapat diketahui dengan
membaca pasal-pasal yang berisi suatu ketentuan pidana.
[Link] lebih memahami unsur-unsur delik perhatikan ~asan
berikut ini. Pasal 338 KUHP berbunyi, "Barangsiapa dengan sengaja
merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.._ Unsur-unsur delik dari
pasal tersebut adalah: 1) unsur barang siapa; 2) unsur dengan sengaja;
3) unsur merampas; dan 4) unsur nyawa orang lain. Keempat unsur
tersebut secara garis besar dapat dibagi menjadi unsur-unsur subjektif
dan unsur-unsur objektif. Unsur barangsiapa dan unsur dengan
sengaja adalah unsur subjektif. sedangbn unsur merarnpas dan unsur
nyawa orang lain adalah unsur objekti£ Kata-kata "..... diancam karena
pembunuhan dengan pidana pimjara paling lama lima belas tahun•
.bukanlah unsur delik tetapi merupakan kualifikasi delik dan ancaman
pidana yang dapat dijatuhkan jika delik tersebut terpenuhi.
Pasal 362 KUHP menyatakan, "Barangsiapa mengambil barang
sesuatu. yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan
maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. diancam karena
pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda
paling banyak enam puluh rupiah•. Unsur-unsur delik dari Pasal 362
KUHP: Unsur subjektif adalah 1) unsur barang siapa; dan 2) unsur
dengan maksud memilikL Sedangkan,·unsur objektif adalah 1) unsur
mengambil2) unsur barang yang sebagian atau seluruhnya kq>unyaan
orang lain; d3n 3) unsur melawan hukUm. Dengan demikian terdapat
lima unsur dalam delik pencurian.
Unsur-unsD.r delik dalam Pasal 338 dan Pasal362 KUHP bersifat
. kumulatif. Artinya, untuk dapat dijatuhi ·pidana karena pembunuhan
· atau untuk ciaPat dijatuhi pidana karena pencurian, semua unsur delik
barus dapat dJouktikan oleh penuntut umUm. f~ salah satu saja unsw: ·
delik tidak terpenuhi, maka ' sese<>rang · tidak dapat ·dikatakan telah
melakukan suatli perbuatan pidana.
Sebagai misal, sebtiah rumah 'fang .ditinggal penghuninya tiba-
.tiba terbakar karena hubungan arus pendek. Beberapa orang. ycing
' ~-~·.: ~ . . :~.£~·1
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIOANA :,\~~.i~
. •. . ._.·t~-::-'-t~-~·\•
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· tinggalnya di samping rwilah tersebut . kemudian menghancurkan
pintu dan jendela untuk mengambil barang-barang yang berada dalam
rumah ·itu dengan maksud agar barang-barang .tersebut tidak ikut
hangus t~rbakar. Apakah perbuatan ·beberapa orang tersebut dapat
dikatakan telah melcikukan pencurian? [Link] unsur yang
[Link] dalam delik pencurian: 1) unsur barang siapa, telah terpenuhi;
2) unsur mengamhil. juga terpenuhi; 3) unsur barang yang sebagian
atauseluruhnya kepunyaan orang lain, juga terpenuhi; 4) unsur dengan .:
maksud dimiliki, tidak terpenuhi, karena barang-barang yang diambil
tujuannya agar tidak hangus terbakar; 5) unsur secara melawan hukum,
terpenuhi karena cara mengambil .barang tersebut dilakukan dengan ·
menghancurkan pintu dan jendela. Perbuatan beberapa orang tersebut
[Link] dikatakan telah melakukan pencurian karena unsur cdengan
maksud dimilikt tidak terpenuhi.
Tidakselamanya unsur-unsur [Link]
jug;t unsur-unsur-unsur delik yang bersifat altematif. Pasal378 KUHP
·mengatur, "Barangsiapa dengan maksud untulc menguntunglcan diri
sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menialcai nama
palsu atau martabat palsu. dengan tipu muslihat ataupun rangkaian
lcebohongan. menggerakkan orang lain untuk menyerahlcan barang
sesuatu lcepadanya atau supaya memberi utang maupun menghapuskan
piutang. diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama
empat tahun•.
Unsur-unsur delik penipuan adalah sebagai berikut: 1) unsur
barangsiapa; 2) unsur dengan maksud; 3) unsur menguntungkan diri
sendiri atau orang lain; 4) unsur melawan hukum; 5) unsur memakai
nama palsu atau martabat palsu. dengan tipu muslihat ataupun
rangkaian kebohongan; 6) unsur menggerakkan orang lain; dan 7) unsur
menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi utang
maupun menghapuskan piutang. Agar seseorang dapat dikatakan telah
melakukan penipuan, maka semua unsur tersebut haruslah terpenuhi,
akan tetapi unsur ketiga, unsur kelima dan unsur ketujuh dalam delik
tersebut bersifat alternatif. ·
132 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Adakalanya perbuatan seseorang telah memenuhi unsur delik.
namun sebenarnya ia tidak dapat dipidana karena melakukan delik
tersebut karena tidak tt~rmasuk dalam pengertian yang dirumuskan
oleh pembentuk undang-undang. Oleh karena itu Vos dalam Leerboek-
nya membedakan delik sebagai tatbestandmassigkeit dan delik sebagai
wesenschau. Secara sederhana tatbestandmassigkeit dapat diartikan
perbuatan yang memenuhi unsur delik yang dirumuskan, sedangkan
wesenschau mengandtmg makna suatu perbuatan dikatakan telah
memenuhi unsur delik tidak hanya karena perbuatan tersebut
telah sesuai dengan rumusan delik tetapi perbuatan tersebut juga
dimaksudkan oleh pembentuk undang-undang317•
Untuk lebih memahami perbedaan antara delik sebagai
tatbestandmassigkeit dan delik sebagai wesenschau, perhatikan
contoh berikut ini: A, B dan C bemiat mencuri .uang. Setiap hari
mereka mengamati sebuah mobil yang keluar dari Bank Indonesia
dengan penjagaan ketat oleh polisi. Suatu ketika, mobil tersebut lcwat
di jalan yang sepi. A, B dan C kemudian menyergap mobil tersebut
dan berhasil melumpuhkan polisi yang berada dalam mobil itu.
Setelah disergap, A, B dan C bergegas mengambil uang yang berada
di dalam mobil Bank Indonesia sebanyak 100 miliar rupiah.
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang . Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi berbunyi, "Setiap orang yang secara melawan hukum
melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara paling singkat
4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda
paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp. [Link],00 -(satu milyar rupiah)". Sekilas, perbuatan
A, B dan C telah memenuhi unsur-\msur tindak pidana korupsi
sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 ayat (1), akan tetapi pembentuk
undang-undang tidak-b~ud untuk menyatakan peibuatan yang
demikian sebagai tindak_pidana korupsi. Tegasnya, perbuatan A, B. dan
7
•' H.B. Vos, [Link]., him. 35
ASM>lEGALITAS DAN PERBUATAN PI[?ANA · .133'
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
\ \ '
i '\\
,·, \7
\\. 't·\ ~·
~~
C adalah tatbestandmassigkeit memenulii unsur tindak pidana korupsi,
tetapi tidak dimaksudkan oleh pembentuk undang-undang atau tidak
wesenschau sebagai tindak pidana korupsi. Sehingga, A, B, dan C tidak
dapat dikatakan telah melakukan korupsi. Dengan .demikian, A, B dan
C dituntut karena pencurian dengan kekerasan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal365 ayat (1) KUHP dan tidak dituntut telah melakukan
tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal2 ayat (1)
di atas.
Selanjutnya terkait jeniS-jenisdelik, paling tidak ada 12 pembagian
jenis-jenis delik sebagai berikut:
1) Kejahatan Dan Pelanggaran
Dalam konteks studi lcejahatan, perbuatan pidana disebut sebagai
legal definition of crime. Tappan menyatakan bahwa kejahatan adalah
suatu perbuatan sengaja atau pengabaian dalam melanggar hukwn
pidana, dilakukan bukan untuk pembelaan diri dan tanpa pembenaran
yang ditetapkan oleh negara318• Tegasnya. kejahatan sebagai perilaku
dan perbuatan yang dapat dikenai sanski yang ditetapkan sccara resmi ·
·oleh negara319•
Dalam perspektif hukum pidana, legal definition of crime
dibedakan menjadi apa yang disebut sebagai mala in se dan mala
prohibitlf20. Dapatlah dikatakan bahwa mala in se adalah perbuatan-
perbuatan yang sejak awal telah dirasakan sebagai suatu ketidakadilan
karena bertentangan dengan kaidah-kaidah dalam masyarakat sebelum
ditetapkan oleh undang-undang sebagai suatu perbuatan pidana. Mala
ini se selanjutnya dapat disebut sebagai kejahatan.
Kejahatan merupakan fenomena sosial yang melibatkan orang,
tempat, dan institusi»1• Menurut Packer, kejahatan adalah sebuah
111 Frank E. Hagan, [Link]., him. is.
• Ibid, him. 17.
m Piers Beirne And James Messerschmidt, 1995, Crimlnology,second edition, Hardcourt
Brage College Publisher, him. 13.
m Mark Rndlay, 2004, The Globallsation Of Crime, Cambridge, University Press, him. 6.
134 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
artefak sosiopolitik, bukan fenomena alami. Masih menurut Packer,
"kita bisa mendapati kejahatan sebanyak atau sesedikit mungkin,
bergantung pada apa yang kita anggap sebagai kejahatan 322". Sarna
dengan Packer, Vernon Fox juga mengemukakan bahwa kejahatan
adalah sebuah peristiwa sosial politik, bukan sebuah kondisi klinis.
Kejahatan bukan kondisi klinis atau medis yang dapat didiagnosis dan
dirawat secara khusus323•
van Hamel dalam bukunya menyatakan, "Het misdrijf is niet allen
een rechtens strafbaar feit; het is in de eerste plaats een menschelijke
handelingen een maatschappelijk verschijnsel; en wet een maatschappelijk
euvet dat maatsschappelijken vrede bedreigend, een social patholohgisch
verschijnsel dus»J24 (Kejahatan tidak hanya suatu perbuatan pidana
menurut hukum, tetapi terutama suatu kelakuan manusia dan suatu
perwujudan dalam .masyarakat yang merupakan suatu hal yang tidak
patut yang mengancam ketentraman masyarakat; jadi perwujudan
sosial patologis). Bahkan ada postulat yang menyatakan, malitia est
adda, est mali animi affectus yang berarti kejahatan menggambarkan
kualitas yang buruk. pada seseorang.
Mala prohibita adalah perbuatan-perbuatan yang ditetapkan
oleh undang-undang sebagai suatu ketidakadilan. Dapatlah dikatakan
bahwa mala prohibita diidentikkan dengan pelanggaran. Dalam kosa
kata lain; perbedaan mala in sedan mala prohibita oleh para ahli hukum
dibedakau merijadi felonies dan misdemeanorSJ25. Demikian pula dalam
kosa [Link] Belanda yang membedakan kualifikasi perbuatan pidana lee
dalam misdrijf (kejahatan) dan overtreding (pelanggaran). 326Misdriff
lebihmengaiah kepada rechtsdelicten (mala in se), sementara overtreding
lebih mengarah pada wetsdelicten (mala piohibita)327• Dalam konteks
KUHP Indonesia, Buku Kedua KUHP adalah perbuatan pidana yang
m Herbert l PaCker; [Link]., him. 364.
Frank E. Hagan, [Link]., hlm.14.
323
"' G.A. van Hamel, [Link]., him. 8.
323 ·Piers Beirne And James Messerschmidt, [Link]., hlm.14.
326
Ch. J. Enschede, [Link].,hlm.151.
m Danl Krisnawati, Eddy O.S Hiariej, Marcus Priyo Gunarto, Sigld Riyanto Dan Suprlyadi,
2006, Bunga Rampai Hukum Pidano Khusus, Pena: llmu dan Amal, Jakarta, him. 6 - 7.
1&5 LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA ·(Xj~'
...
·:."-:·
fi:?
~... .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dikualifikasikan sebagai kejahatan, sedangkan Buku Ketiga KUHP .
ad~ah perbuatan pidana yang berkaitan dengan pelanggaran.
. . Pembagian perbuatan pidana ke dalain kejahatan dan pelan~ran .
membawa · beberapa konsekuensi. Perlama, tindakan dan akibat ·
yang . ditimblilkan kejahatan · lebih berbahaya blla dibandingkan
dengan pelanggaran. KedUJi, konsekuensi dari yang pertama, sangat
berpengaruh pada Sanksi pidana yang diaricamkan. Kejahatan diancam
dengan pidana yang lebih berat hila dibandingkan dengan pelanggaran~·
Ketiga, percobaan melakukan sua~ kejahatan, maksimum ancaman
pidananya dikurangi · sepertiga, .sedangkan percobaan melakukan .
pelanggaran tidak diancam pidana.
Dalam perkembangan selanjutnya, pembedaan perbuatan pidana
menjadi kejabatan dan pelanggaran tidak lagi signifikan. Sebagai misal,
Undang·Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak
Asasi Manusia, menyebut kejahatan genosida dan kejahatan terhadap
kemanusiaan sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia. Demikian
pula dalam RUU KUHP Indonesia, tidak lagi memhedakan perbuatan
pidana ke dalam bentuk kejahatan dan pelanggaran.
2) Delfk Formil Dan Delik Materiil
Pembedaan delik ke dalam bentuk delik formll dan delik
materiil tidak terlepas dari makna yang terbndung dari istilah
'perbuatan' itu sendiri. Bahwa dalam istilah 'perbuatan' mengandung
dua hal yaitu kelakuan atau tindakan dan [Link]. Agar lebih mudah
dipahami, dapatlah dikatakan bahwa delik formil adalah -delik yang
menitikberatkan pada tindakan, sedangkan delik. materiil adalah delik
yang menitikberatkan pada akibat
Contoh delik. formil adalah Pasal 362 KUHP yang berbunyi,
•Barangsiapa mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian
kepunyaan orang lain, dengan malcsud dimiliki secara melawan hukum,
diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima
tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah,.. Sebagai misal, A
masuk ke dalam rumah B dan mengambil handphone yang ada di atas
136 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
meja. Ketik:a hendak melarikan diri, A tertangkap oleh C yang menjadi
Satpam di rumah B. Handphone tersebut kemudian dikembalikan
kepada B. Tindakan A tetap dikatakan sebagai pencurian, meskipun
barang yang dicuri telah dikembalikan karena delik pencurian ·
dirumuskan secara formil yang lebih menitikberatkan pada tindakan.
Contoh delik materiil adalah Pasal 338 KUHP yang menyatakan,
"Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun".
Sebagai perumpamaan, karena S sakit hati dengan T, S kemudian
mcnembak T dengan pistol dari jarak dekat. T dilarikan ke rumah
sakit dan nyawanya terselamatkan. S tidak dapat dikatakan melakukan
pembunuhan, melainkan percobaan pembunuhan karena akibat mati
pada T tidak terjadi. Hal ini karena Pasal338 KUHP dirumuskan secara
materiil yang menghendaki adanya akibat dari suatu tindakan. S hanya
dapat dinyatakan telah [Link] pembunuhan, jika S menembak T
dan akibat dari tembakan tersebut nyawa T tidak terselamatkan.
3) Delicta Commissionis, Delicta Omissionis Dan Delicta
Commissionis Per Omissionem Commissa
Delik komisi .atau delicta commissionis pada hakikatnya adalah
melakukan perbuatan yang dilarang dalam un~ang-undang. Hampir
sebagian besar ketentuail pidana dalam undang-undang termasuk juga·
dalam KUHP berupa delik komisi karena berisi larangan-larangan
untuk melakukan suatu perbuatan. Kebalikan dari delicta commissionis
adalah deUcta omissionis atau delik. omisi yaitu tidak melakukan
perbuatan yang diwajibkan atau diharuskan oleh undang-und~g.
Delicta omissionis ·didasarkan pada suatu adagium qui potest et debet
vetara. tacens jubet. Artinya, seseorang yang berdiam, tidak mencegah
atau tidak melakukan sesuatu_yang harus dilakukan, sama 8aja seperti
ia yang memerintahkan. Contoh konkret dari delicta omissionis adalah
Pasal 224 KUHP:. "Barangsiapa dipanggil sebagai saksi. ahli atau juru
bahasa menurut ·undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi
suatu kewajiban yang menurut undang-undang selaku demikian han~s
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dipenuhinya, diancam...:". Bila seseorang dipanggil sebagai saksi dan
tidak hadir tanpa alasan yang sah, maka orang tersebut telah melakukan
delik omisi.
Selain delicta commissioniS dan delicta omissionis, dikenal juga
delicta commissionis per omissionem commissa. Secara singkat dapat
dijelaskan bahwa · delicta commissionis per omissionem commissa
adalah kelalaian atau kesengajaan terhadap suatu kewajiban yang
menimbulkan akibat. Contoh konkret dari delicta commissionis per
omiisionem commissa adalah Pasal 359 KUHP: "Barangsiapa karena
kealpaannya mengakibatkan matinya orang lain diancam dengan pidana
penjara paling lama lima ·tahun atau kurungan paling lama satu tahun".
Seorang penjaga pintu rei kereta api karena tertidur tidak menutup
pintu rei pada saat kereta lewat dan menyebabkan kecelakaan sehingga
menimbulkan kematian, telah memenuhi delicta commissionis per
omissionem commissa.
Bila dihubungkan antara delik formil dan delik materiil dengan
delicta commissionis, delicta omissionis dan delicta commissionis per
omissionem commissa dapat dikatakan bahwa delicta commissionis dapat
berbentuk baikdelik formil maupun delik materiil. Sedangkan delicta
omissionis selaiu dirumuskan secara formil karena menitikberatkan
pada tindakan. Sementara delicta commissionis per omissionem
commissa dirumuskan secara materiil karena menitikberatkan · pada
akibat.
4) Delik Konkret Dan Delik Abstrak
Pembedaan delik konkret ·dan delik abstrak · sebenarnya tidak
terlepas dari pemilahan mengenai delik formil dan delik materiil. Delik
abstrak selalu dirumuskan secara formil karena menimbulkan bahaya
yang masih abstrak sehingga lebih menitikberatkan pada perbuatan.
Sebagai misal delik abstr-ak. adalah pasal terkait penghasutan. Secara
lengkap Pasal 160 KUHP berbunyi, "Barangsiapa di muka umum
dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan
pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak
138 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan
yang diberikan berdasarkan ketentuan undang-undang, diancam dengan
pidana penjara pciling lama enam tahun atau denda paling banyak tiga
ratus rupiah".
Berdasarkan pasal tersebut, terlihat jelas bahwa delik abstrak
dirumuskan secara formal dan tidak mementingkan akibat. Demikian
pula bahaya yang ditimbulkan dari pasal tersebut masih abstrak karena
orang yang dihasut belum tentu melakukan perbuatan-perbuatan yang
diminta oleh penghasul Pasal lain yang juga dikategorikan sebagai
delik-delik abstrak adalah pasal-pasal penyebar kebencian. atau yang
dikenal dengan haatzai artikelen yang termaktub dalam Pasal 154
KUHP sampai dengan Pasall57 KUHP.
Jika delik abstrak selalu dirui_Iluskan secaia formil, tidaklah
berarti delik konkret selalu dirumuskan secara materiil Dclik konkret
pada hakikatnya [Link] bahaya langsung terhadap korban dan
dapat dirumuskan ~ formil maupun materiil. Contoh-contoh
. delik konkret adalah seperti pembunuhan, pencurian, peilganiayaan
dan lain-lain.
5) Delik Umum, Delik Khusus Dan Delik Politik
··Delik umum atau delicta communia adalah delik yang dapat
dilakukan oleh siapa pun. Sebagian besar delik [Link] adalah .
delik umum. Sedangkan delik khusus atau delicta propria adalah delik
yang hanya bisa dilakUkan oleh orang-orang dengankualifikasi tertentU.
Sebagai misal Pasal 449 KUHP yang mengatur, ·seorimg nahkoda
sebuah kapal Indonesia yang menarik kapal dari pemiliknya atau dari
pengusahanya .dan. memakainya untuk keuntungan sendiri. dian cam
. dengan pidana penjara paling lama delapan ttihun enam bulan". Pasal
449 KUHP adalah _delicta propria. [Link] pula kejahatan jabatan
yang diatur dalam-KUHP termasuk delicta propria.
· Selain delik umum dan delik khusus, ada juga delik politik yang
[Link] berdasarkan · keyakinan menentang tertib hukum yang
ASAS LEGAUTAS DAN PERBUATAN PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
berlaku. [Link]~ks hqkum pidana -di' Indonesia, sanipai saat ini,
istilah 'delik politik•Iebih meinillki makD.a rosiologis danpada ·yuridis.
.~ Halini dikarenakan tidak aga satU pun rumusan di dalam perundang,.
undangan kita yang memberikan pengertian delik politik. Masyarakat
C\Wam menyebut setiap perkata pidana yang substansinya menyangkut
konflik kepentingan antara warga negara dengan pemerintah yang
l>ertalian dengan pengaturan kebel>asan warga negara dalam negara
hukum dan atau berfungsinya lembaga-lembaga negara sebagai delik.
politik.
Christine van Wijngaert tidak secara jelas memberikan
pengertian delik politik. Christine membedakan antara political
offender, pseudo political offender dan political refugee. Political offender
diartikan sebagai kejahatan politik yang melanggar ketentuan pidana
dengan dasar politik dan keyakinannya. Sementara pseudo political
offender diartikan sebagai kejahatan yang dilakukan seolah-olah
berlatar belakang politik, tetapi sebenarnya motivasi politiknya sangat
lemah. Sedangkan political refugee adalah mereka melarikan diri keluar
negeri katena takut akan dilakukan tindakan oleh pemerintahnya
berdasarkan perbedaan politik, ras, agama dan lain sebagainya328• Delik
politik oleh P~ers Beirne dan James Messerschmidt dibedakan dalam
~ga bentuk. Pertama adalah kejahatan politik yang ditujukan kepada
· negara atau political crimes against the state. Kedua adalah kejahatan
politik oleh negara atau domestic political crimes by the state. Ketiga
adalah kejahatan politi.k internasional [Link] atau international
political crimes by the state. Bentuk kedua dan ketiga yang menjadi
subyek hukum adalah negara, sehingga tidak termasuk subyek yang
dapat diekstradisi. Tipe ketiga atau international political crimes by the
state dapat meliputi kejahatan-kejahatan yang dilakilkan oleh negara
terhadap negara lain maupun lembaga-lembaga internasional terhadap
negara tertentu. Political crimes against the state meliputi violent political
m Dani Krisnawati, ·Eddy O.S Hiariej, Marcus Priyo Gunarto, Sigld Riyanto, Supriyadi, [Link],.
him. 20-21.
140 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
crimes against the state maupw1 nonviolent political crimes against the
state. Sementara domestic political crimes by the state meliputi state
corruption dan state political repression 319•
6) Delik Merugikan Dan Delik Menimbulkan Keadaan Bahaya
Pembagian delik merugikan dan delik menimbulkan bahaya pada
hakikatnya identik dengan pembagian delik konkret dan delik abstrak.
Delik-delik yang rnerugikan atau menyakiti (krenkingsdelicten) adalah
dalam rangka rnelindungi suatu kepentingan hukum individu. Menurut
sejarahnya, krenkingsdelicten adalah bentuk delik yang paling tua,
seperti larangan membunuh, larangan mencuri, larangan memperkosa,
larangan menganiaya dan lain sebagainya. Delik-delik yang demikian
dianggap merugikan atau menyakiti secara langsung.
Lain halnya dengan delik-delik yang menimbulkan keadaan
bahaya atau ancaman (gevaarzettingsdelicten) yang tidak merugikan
atau menyakiti secara langsung. Di sini gevaarzettingsdelicten melarang
suatu perilaku yang dapat menimbulkan ancaman atau keadaan
bahaya. Contoh gevaarzettingsdelicten adalah Undang-Undang Nomor
27 Tahun 1999 Tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara.
Undang-undang a quo, menambah enam ketentuan baru dalam Pasal
107 KUHP sehinggamenjadi Pasal107a sampai dengan Pasal107£
Salah satu pasal yang termasuk dalam pasal yang menimbulkan
ancaman atau keadaan bahaya adalah Pasal 107 a yang menyatakan,
"Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka . umum dengan
lisan atau tulisan dan atau melalui media apap11-n, menyebarkan atau
mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam segala
bentuk dan perwujudannya, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 12 (dua belas) tahun•.
329 Piers Beirne And James Messerschmidt, [Link]., him 285-303
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
7) . Delik Berdiri Sendiri Dan Delik Lanjutan
Arti penting pembagian dellk menjadi zelfstandige delic (delik
berdiri sendiri) dan voorgezeUe delic (delik lanjutan) adalah dalam ·
hal penjatuhan pidana. Pada hakikatnya semua delik adalah delik
yang berdiri sendiri. Akan tetapi, dapat saja delik-delik yang berdiri
sendiri dilakukan terns menerus dalam suatu rangkaian sehingga
dip andang sebagai delik lanjutan. Sebagai contoh, seseorang yang ingin
merenovasi rumahnya, ia kemudian mencuri beberapa sale semen di
sebuah toko bangunan. Selang beberapa hari, ia kemudian mencuri'
pasir di toko bangunan tersebut. Tidak berapa lama kemudian,
orang tersebut kembali mencuri bahan bangunan di toko yang sama.
Kendatipun antara satu pencurian dengan pencurian yang lain
, ~erupakan zelfstandige delic, namun dilakukan dalam satu rangkaian
dan dianggap sebagai voorgezette delic karena tujuannya adalah untuk
merenovasi rumah. '
Pasal64 ayat ( 1) KUHP mengatur, "/ilea an tara beberapa perbuatan,
mekipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada
hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu
perbuatan berlanjut, maka hanya dikenakan satu aturan pidana; jika
berbeda-beda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok
yang paling berat': Pasal64 ayat. (1) KUHP ini sering disebut sebagai
voorgezette handeling atau perbuatan berlanjut. Perihal perbuatan
berlanjut ini akan dibahas lebih detil dalam bah perbarengan perbuatan.
8) Delik Persiapan, Delik Percobaan, Delik Selesai Dan Delik
Berlanjut
Menurut Jan Remellink, salah satu bentuk delik abstrak adalah
delik-delik persiapan atau voorbereidingsdelicten. Delik persiapan
ini ditujukan untuk delik yang menimbulkan bahaya konkret tetapi
tidak memenuhi unsur-unsur delik percobaan336• Contoh konkret
voorbereidingsdelicten adalah Pasal88 KUHP yang berbunyi, "Dikatakan
130
Jan Remellink, [Link]., him. 65.
142 PRINSIP-PRINSJP HUKUM PJOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ada permufakatan jahat, apabila dua orang atau lebih telah sepakat
a/am melakukan kejahatan': Permufakatan jahat atau samenspaning
atau conspiracy kendatipun hanya berupa delik persiapan, namun
khusus kejahatan-kejahatan terhadap keamanan negara, permufakatan
jahat diancam dengan pidana penjara sebagaimana diatur dalam Pasal
110 KUHP, "Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan tersebut
dalam Pasal 104-108, diancam dengan pidana penjara paling lama
enam tahun".
Berbeda dengan delik persiapan, delik percobaan sudah lebih
mendekati rumusan delik yang dituju akan tetapi delik tersebut tidak
selesai karena sesuatu yang terjadi di luar kehendaknya pelaku. Pasal
53 ayat (I) KUHP berbunyi, "Mencoba melakukan kejahatan dipidana,
jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan,
dan tidak selesainya pelaksanaan itU, bukan semata-mata disebabkan
karena kehendaknya sendiri". Delik percobaan sesungguhnya bukanlah
memperluas suatu rumusan delik.
van Bemmelen dan van Hattum berpendapat bahwa percobaan
bukanlah delik selesai. Seseorang dipidana tidak hanya karena telah
memenuhi rumusan delik, akan tetapi seseorang dapat dipidana
kendatipun hanya rnewujudkan sebagian rumusan delik. Tegasnya,
delik percobaan dikenakan pada seseorang yang belum berhasil
menyelesaikan perbuatan pidana tersebu~31 • Perihal delik percobaan
akan dibahas dalam bah tersendiri.
Berbeda dengan delik persiapan dan . delik percobaan, delik
selesai (ajlopende delii;) pada hakikatnya adalah setiap perbuatan
yang telah memenuhi semua rumusan delik dalam suatu ketentuan
pidana. Sedangkan voortdurende delicten atau delik-delik berlanjut
pada dasarnya adalah perbuatan yang rnenimbulkan suatu keadaan
yang dilarang secara berlanjut. Sebagai misal adalah ketentuan Pasal
333 ayat (1) KUHP, "Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum
merampas kemerdekaan seseorang atau meneruskan perampasan
ut J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 447.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ke~erdekaan yang demikian, diancam dengan pidana penjara paling
lama delapan tahun".
Contoh lain delik berlanjut adalah Pasal250 KUHP. "Barangsiapa
membuat atau mempunyai persediaan bahan atau benda yang diketahui
bahwa itu digunakan untuk meniru, memalsu atau mengurangkan nilai
mata uang atau untuk meniru atau memalsu uang kertas negara atau ·
bank, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah". Pembentuk undang-undang .
merumuskan menyimpan atau memiliki alat-alat untuk memalsukan
mata uang sebagai voortdurende delict.
9) Delik Tunggal Dan Delik Gabungan
Pada dasarnya hampir semua delik dalam KUHP adalah delik
tunggal atau enkelvoudige delic. Secara sederhana delik tunggal adalah
delik yang pelakunya dapat dipidana hanya dengan satu kali saja
melakukan perbuatan yang dilarang atau tidak melakukan perbuatan
yang diwajibkan. Akan tetapi, dalam KUHP ada beberapa pasal
yang digolongkan sebagai samengestelde .delic atau delik gabungan.
Secara objektif delik gabungan ini terlihat dari perbuatan-perbuatan
pelaku yang relevan satu sama lain, sedangkan secara subjektif delik
gabungan tersebut memperlihatkan motivasi dari pelaku. van Hamel
menyebutkan samengestelde delic sebagai collectieve.delic332 •
Salah satu samengestelde delic adalah ketentuan Pasal 296 KUHP,
"Barangsiapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan
perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya
sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling
lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak seribu rupiah".
Contoh lain adalah Pasal3 79a KUHP, "Barang siapa menjadikan sebagai
mata pencaharian atau kebiasaannya untuk membeli barang-barang,
dengan maksud supaya tanpa pembayaran seluruhnya, memastikan
penguasaanya terhadap barang-barang tersebut itu untuk diri sendiri,
332
G.A van Hamel, [Link]., hlm.l78. Bandingkan pula dengan P.A.F. lamintang, [Link]., him.
205.
144 PRINSI P-PR if~SIP HUI<UM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
maupun orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun".
Memudahkan perbuatan cabul, _jika hanya sekali dilakukan,
bukanlah suatu perbuatan pidana. Tindakan tersebut baru merupakan
perbuatan pidana jika dilakukan terus-menerus dan menjadikannya
suatu kebiasaan. Demikian pula tindakan membeli barang-barang,
dengan maksud supaya tanpa pembayaran seluruhnya, jika dilakukan
hanya satu kali, bukalah perbuatan pidana. Tindakan tersebut baru
merupakan perbuatan pidana jika dilakukan terus-menerus dan
menjadikannya suatu kebiasaan. Berdasarkan kedua pasal tersebut ada
beberapa catatan Penulis: Pertama, delik gabungan membutuhkan
lebih dari satu kali perbuatan. Kedua, sekali perbuatan saja dalam delik
gabungan belum dikualifikasikan s~bagai perbuatan pidana. Ketiga,
jika perbuatan-perbuatan tersebut sering atau selalu dilakukan sebagai
suatu kebiasaan barulah merupakan delik gabungan yang dijatuhi
pidana.
10) Delik Biasa Dan Delik Aduan
Pembagian delik menjadi delik biasa atau gewone delic dan delik
aduan atau klacht delic memiliki arti penting dalam proses peradilan
pidana. Sebagian besar delik-delik dalam KUHP adalah gewone delic.
Artinya, untuk melakukan proses hukum terhadap perkara-perkara
tersebut tidak dibutuhkan pengaduan. Sebaliknya, ada beberapa delik
yang membutuhkan pengaduan untuk memproses perkara tersebut
lebih lanjut. Delik-delik ini dikenal dengan klacht delic atau delik
aduan. Bahkan secara eksplisit syarat pengaduan tersebut dinyatakan
dalam pasal.
Paling tidak ada tiga bah dalam KUHP yang berkaitan dengan
delik aduan. PERUlMA, Bah XVI KUHP tentang penghinaan atau
defamation atau belediging. Ada lima perbuatan yang dikualifikasikan
sebagai penghinaan. Perlllma adalah menista · atau smaad. Menista
ini masih dibagi menjadi menista secara lisan dan menista dengan
tulisan. Sebagai misal: A menyiarkan berita bahwa B telah hamil _di
ASAS LEGAUTAS DAN PERBUATAN PIDANA · 145."
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
luar nikah, padahal berdasarkan kenyataan tidak demikian. A dapat
dikatakan menista. Kedua adalah laster atau memfitnah. Contohnya:
C mengatakan bahwa D adalah seorang komptor. Kenyataannya, tidak
pernah ada putusan pengadiJan yang menyatakan bahwa D terbukti
secara sah dan meyakinkan melakukan korupsi. C dapat dikatakan
telah melakukan fitnah terhadap D.
Ketiga, apa yang disebut sebagai penghinaan ringan atau
eenvoudige belediging. Syarat seseorang dikatakan melakukan
penghinaan ringan, jika penghinaan tersebut didengarkan langsung
oleh orang yang dihina atau penghinaan tersebut dilakukan di depan
umum, meskipun orang yang dihina tidak mendengarkan secara
langsung. Sebagai misal:X menghujat Y dengan mengatakan. "Y, kamu
Asu': Jika ucapan yang berupa hinaan tersebut didengar langsung oleh
Y dan tidak terima atas hinaan tersebut, m:aka Y dapat memproses X
karena melakukan penghinaan ringan. Dapat juga dikatakan X telah
melakukan penghinaan ringan, meskipun tidak didengar langsung
oleh Y, tetapi hujatan X tersebut dilakukan di depan umum. Sebaliknya,
jika hujatan X kepada Y tidak didengar langsung oleh Y tetapi melallli
pihak ketiga dan hujatan tersebut bukan di depan umum, maka Y tidak
dapat mengadukan X karena telah melakukan penghinaan ringan.
Keempat adalah lasterlijke aanklacht atau mengadu secara
memfitnah. Di sini seseorang telah mengadu kepada polisi atau penegak
hukum, sementara isi aduannya tersebut palsu atau sesuatu yang tidak
benar. Kelima, apa yang disebut sebagai tuduhan secara memfitnah
atau lasterlijke verdachtmaking. Contohnya : S mencuri handphone
milik T. Handphone yang dicuri tersebut dimasukkan ke dalam tas U
dengan tujuan bahwa nanti yang dituduh mencuri handphone tersebut
bukanlah S, melainkan U. Tindakan S dikatakan sebagai tuduhan secara
memfitnah atau lasterlijke verdachtmaking.
Kelima bentuk penghinaan tersebut adalah delik aduan. Hal ini
secara eksplisit dinyatakan dalam Pasal 319 KUHP yang berbunyi,
"Penghinaan yang dapat dihukum menurut bab ini hanya dituntut atas
146 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pengaduan orang ya11g menderita kejahata11 itu, kecuali dalam hal yang
tersebut di Pasal3U).
KEDUA adala.l} .[Link] pencurian, pemerasan dan
pengancaman serta penggelapan. Pasal367 ayat {2) KUHP mengatur,
"Jika dia adalah suami-istri yang terpisah meja dan tempat tidur atau
terpisah harta kekayaan, atau jika dia keluarga sedarah atau semenda,
baik dalam garis lurus, maupun garis menyimpang derajat kedu.a, maka
terhadap orang itu hanya mungkin diadakan penuntutan, _jik{;,_ ada
pengaduan yang terkena kejahatan': Pasal 367 KUHP terkrJt pencurian
dalam keluarga. Hal yang sama juga berlaku dalam Pasal 370 KUHP
mengenai pemerasan dan pengancaman dalam keluarga serta Pasal376
KUHP tentang penggelapan dalam keluarga.
KETIGA, kejahatan terhadap kesusilaan, yakni perzinahan. Dalam
Pasal 284 ayat (2) KUHP disebutkan, "Tidak dilakukan penuntutan
. f!lelainkan atas pengaduan suami atau istri yang tercemar dan bilamana
bagi mereka berlaku Pasal27 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
dalam tempo tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah
meja dan tempat tidur karena alasan itu juga".
Ketentuan mengenai delik aduan secara eksplisit diatur dalam
Bab VII KUHP yang pada intinya: [Link], pengaduan hanya dapat
dilakukan oleh korban langsung atau jika korbannya belum cukup
umur, maka pengaduan dilakukan oleh orang tuanya. Demikian
juga jika korban dibawah pengampuan, maka pengaduan dilak:ukan
oleh walinya yang mengampu. Kedua, jika korban meninggal dunia,
pengaduan dapat dilakukan oleh suami atau istri atau anak yang masih
hidup, kecuali kalau korban yang meninggal tidak menghendaki
penuntutan. Ketiga, pengaduan hanya dapat [Link] '-dalam enam
bulan sejak orang y~g berhak n:engadu mengetahui adanya kejahatan
dan tinggal di Indonesia. Jika orang yang berhak mengadu bertempat
tinggal di luar negeri, maka jangka waktu pengaduan adalah sembilan
bulan. Keempat, orang yang mengajukan pengaduan, berhak menarik
kembali pengaduan dalam waktu tiga bulan setelah pengaduan
ASAS [Link] DAN PERBUATAN PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
diajukan. Artinya, setelah lebih dari tiga bulan, pengaduan tidak dapat
ditarik kembali dan perkara tetap diproses lebih lanjut.
Pada dasarnya, semua kejahatan dalam KUHP yang menghendaki
penga_duan bersifat relatif, kecuali terhadap kejahatan perzinahan,.
pengaduan tersebut bersifat absolut. Artinya, ketentuan delik
aduan seperti tersebut di atas tidak berlaku bagi delik perzinahan.
Pertama, pengaduan atas delik perzinahan hanya dapat dilakukan
oleh suami atau istri yang menj?-ti korban. Pengaduan tersebut
tidak dapat diwakilkan, sehingga jika suami atau istri yang menjadi
korban telah meninggal dunia, maka hak pengaduan tersebut gugur
dengan sendirinya. Kedua, pengaduan dapat ditarik kembali selama
pemetiksaan sidang pengadilan belum dimulai. Dalam praktiknya,
bahkan ketika sidang sudah dimulai pun hakim masih menawarkan
untuk suatu perdamaian. l(etiga, pengaduan tidak diproses selama
pernikahan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan
yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap. Keempat,
pengaduan tidak bisa dipisah.
Agar lebih memahami perihal pengaduan tidak bisa dipisah,
perhatikan perumpamaan berikut ini. A dan B adalah pasangan suami-
istri. A kemudian berzina dengan C. Sebagai istri yang menjadi korban,
selain mengadukan C, B juga harus mengadukan A suaminya. Tidak
dapat diproses jika pengaduan itu terpisah. Artinya, karena B masih
mencintai A, maka yang diadukan hanyalah C. Hal ini berbeda dengan
delik aduan relatif yang mana pengaduan tersebut dapat dipisah.
Sebagai contoh, pencurian dalam keluarga. X dan Y secara bersama-
sanla mencuri uang orang tuanya di brankas dalam kamar tidur. Oleh
karena X lebih disayang orang tuanya, maka yang diadukan hanyalah
Y. Hal ini dimungkinkan dalam delik aduan relatif. Artinya, pengaduan
tersebut dapat dipisah.
11) Delik [Link] Delik Terkualifikasi
Delik sederhana atau eenvoudige delic adalah delik dalam bentuk
pokok sebagaimana dirumuskan oleh pembentuk undang-undang.
.,. ~~:- ~:, ·~~~-
t: PRINSIP-PRINSiP HUKUM P:OANA
, ;(J·t.r~ ··<
~J;._~-~..1.-""' "'
~~t:iJ:..i}<.
x:i.,.,,..,,
:E!.i:t
~i;!).;:..o.'J~·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Sedangkan delik-delik terkualifikasi atau gequalificeerde delic adalah
delik-delik dengan pemberatan karena keadaan-keadaan tertentu.
Pasal 372 KUHP, "Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum
mengaku sebagai milik sendiri barang sesuatu yang seturuhnya atau
sebagian adalah [Link] orang lain, tetapi barang yang ada dalam
kekuasaannya bukan hasil kejahatan, diancam karena penggelapa11
dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling
banyak enam puluh rupiah". Pasal372 KUHP ini adalah delik sederhana
tentang penggelapan.
Pasal 374 KUHP, "Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang
penguasaannya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan
kerja atau karena pencariannya atau karena mendapat upah untuk
itu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun': Pasal
374 KUHP adalah delik [Link] yang biasanya dikenal dengan
penggelapan dalam jabatan. Contoh lain adalah Pasal 338 KUHP
mengenai pembunuhan yang merupakan delik sederhana. Sementara
_ ketentuan pasal 340 [Link] adalah delik terkualifikasi sebagai
pembunuhan berencana.
12) Delik Kesengajaan Dan Delik Kealpaan
Sengaja atau opzet atau dolus dan alpa atau schuld atau culpa adalah
bentuk-bentuk kesalahan dalam hukum pidana. Pembagian kejahatan
ke dalam delik kesengajaan dan delik kealpaan hanya menandakan
bentuk kesalahan dalam suatu rumusan delik. [Link] bentuk
kesalahan ini berimplikasi pada berat-ringannya pidana yang
diancamkan. Delik kesengajaan menghendaki bentuk kesalahan
berupa kesengajaan dalam rwnusan delik. Sedangkan delik kealpaan
menghendaki bentuk kesalahan berupa kealpaan dalam rumusan delik.
Bandingkan kedua pasal berikut ini. Pasal338 [Link], "Barangsiapa
sengaja · merampas nyawa orang lain, diancam karen a pernbunuhan,
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun': Pasal 359 KUHP,
"Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain,
diancarn dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
ASAS LEGALITAS DAN PERBUATAN PIDANA . t~~,{
.. : .: --~· .:; ..- .~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. paling lama satu tahun". Kedua pasal tersebut menimbulkan akibat
yang sama yaitu kematian, akan tetapi konsekuensi ancaman pidananya
berbeda karena bentuk kesalahannya pun berbeda.
Biasanya bentuk kesalahan selalu dinyatakan secara eksplisit -
dalam rumusan delik. Namun ada kalanya, pembentuk undang-
undang tidak mencantumkan bentuk kesalahan dalam rumusan delik
secara tegas. Dalam hal yang demikian, Simons berpendapat, bentuk
kesalahan harus diartikan sebaga~ kesengajaan333• Perbedaan prinsip•..
jika suatu rumusan delik menyebutkan bentuk kesalahan berupa·
kesengajaan secara eksplisit, maka penuntut umum harus membuktikan
kesengajaan tersebut. Sebaliknya, jika dalam suatu rumusan delik
tidak menyebutkan bentuk kesalahan secara ekplisit, maka dengan
dapat dibuktikannya unsur-unsur delik, bentuk kesalahan berupa
kesengajaan dianggap telah terbukti dengan sendirinya. Tegasnya,
kesengajaan meliputi semua unsur delik.
Ada pula rumusan delik yang menghendaki bentuk kesalahan
berupa kesengajaan dan kealpaan dalam suatu rumusan delik yang
disebut denganistilahpro parte dolus pro parte culpa yang dapat diartikan
untuk sebagian kesengajaan untuk sebagian kealpaan. Contoh konkret
adalah Pasal 480 ke-1 KUHP, "Diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah karena
penadahan: barangsiapa membelr~ menawarkan, menukar, menerima
gadai, menerima hadiah, atau untuk menarik keuntungan, menjua~
menyewakan, menukarkan, menggadaikan, mengangkut, menyimpan
atau menyembunyikan sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya
harus diduga, bahwa diperoleh dari kejahatan". Kata-kata 'diketahut
menandakan bentuk kesalahan berupa kesengajaan, sedangkan
kata-kata 'sepatutnya diduga' menandakan bentuk kesalahan berupa
kealpaan.
m o. Simons, [Link]., 249_
.150 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
PERTANGGUNGJAWABAN
PI DANA
': .... dat geen straf wordt toegepast, tenzij er
een [Link] schuld te wijten gedraging
is. Daar in ons recht geen schuld bestaat zonder
wederrechtelijkheid, kan men de kern der theorie dus kor
formuleren als: geen straf zonder schuld334 ':
334
W.P.J. Pompe, [Link], him. 40
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ada awal bab ini, Penulis mengutip pendapat Pompe
P sebagaimana yang telah disinggung dalam Bab I, bahwa tidak
ada pidana yang diterapkan, kecuali suatu kelakuan yang
melawan hukum dan kesalahan yang dapat dicela. Menurut hukum
kita tidak ada kesalahan tanpa melawan hukum, teori ini kemudian
diformulasikan sebagai: tiada pidana tanpa kesalahan atau geen straf
zonder schuld atau keine strafe ohne schuld (Jerman) atau actus non
facit reum nisi mens sit rea atau actus reus mens rea (Latin}. Asas
ini merupakan dasar dari pertanggungjawaban pidana dan tidak
ditemukan dalam undang-undang. Ada juga postulat lain yang
berbunyi nemo punitur sine injuria, facto, seu defalta. Artinya, tidak
ada seorang pun yang dihukum kecuali ia telah berbuat salah.
Asas geen straf zonder schuld mempunyai sejarah yang dimulai
dari aliran klasik dalam hukum pidana bahwa hukum pidana
hanya melihat pada perbuatan dan akibatnya saja atau yang disebut
tatstrafrecht. Dalam perkembangannya, hukum pidana aliran modern
mulai menitikberatkan pada orangnya atau pelaku yang dikenal dengan
istilah taterstrafrecht namun tidak nieninggalkan tatstrafrecht. Dewasa
ini atau aliran neo-klasik. hukum pidana berorientasi pada perbuatan,
akibat dan orang atau pelakunya, yang dikenal dengan istilah tat-
taterstrafrecht atau daad-daderstrafrecht.
Berbicara mengenai pertanggungjawaban pidana, berarti
berbicara mengenai orang yang melakukan perbuatan pidana. Hukum
pidana memisahkan antara karakteristik perbuatan yang dijadikan
tindak pidana dan karakteristik orang yang melakukan. George P.
Fletcher secara lengkap menyatakan:
. -~ .,
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA -~~~$3::~
;_)·:·.-.\ :~. ~~
__
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
We distinguish between characteristics ofthe act (wrongful, criminal)
and characteristiCs of the actor (insane, infant). Indeed, the Model
Penal Code builds on this distinction by defining insanity as a state
of non responbility involving, in part, the absence of "substantial
capacity to appreciate the wrongfulness of the criminal act. This
definition would not be coherent unless the issue of responbility were
separable from the issues of wrongfulness; if non-responsible acts
were not wrongful, it would not make sense to say that insane actor
.did not appreciate' the wrongfulness. of his act"335
Orang yang melakukan perbuatan pidana belum tentu dijatuhi
pidana, tergantung apakah orang tersebut dapat dimintakan per-
tanggungjawaban pidana ataukah tidak. Sebaliknya, seseorang-yang
dijatuhi pidana, sudah pasti telah melakukan p~rbuatan pidanadandapat
dipertanggungjawabkan. Elernen terperiting dari pertanggungjawaban
pidana adalah kesalahan. Bab ini lebih lanjut akan rnengulas mengenai
definisi pertanggungjawaban pidana, definisi kesalahan, kemampuan
bertanggung jawab, kesengajaan, kealpaan, pertanggungjawaban
pidana korporasi dan hubungan sebab akibat.
135
George P. Fletcher, 2000, Rethinking Criminal law, Oxford University Press, him: 455.
154 PRINSIP-PRINSiP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. DEFINISI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA
van Hamel tidak memberikan definisi pertanggungjawaban
pidana, melainkanmemberi pengertian mengenai pertanggungjawaban.
Secara lengkap van Hamel menyatakan: .
"Toerkenings~·atbaarheid..... een staat van psychische normaliteit
en rijpheid welke drieerleigeschiktheid medebrengt: 1) die om
feitelijke strekking der eigen handelingen te begrijpen; 2) die om het
maatschappelijk ongeoorloofde van die handelingen te beseffen; 3)
die om te aanzien van die handelingen den wil te bepalen336".
(Pertanggungjawaban adalah suatu keadaan normal psikis dan
kemahiran yang membawa tiga macam kemampuan, yaitu:l)
mampu untuk dapat mengerti makna serta akibat sungguh-
sungguh dari perbuatan-perbuatan sendiri;2) mampu untuk
menginsyafi bahwa perbuatan-perbuatan itu bertentangan dengan
ketertiban masyarakat; 3) mampu untuk menentukan kehendak
berbuat)
Perlu penjelasan lebih lanjut terkait tiga kemampuan yang
dikemukakan van Hamel adalah perihal kehendak berbuat. Bila
dikaitkan antara kehendak berbuat dengan kesalahan sebagai
elemen terpenting dari pertanggungjawaban, maka terdapat tiga
pendapat. Pertama, indeterminis yang menyatakan bahwa manusia
mempunyai kehendak bebas ·dalam bertindak. Kehendak bebas
merupakan dasar keputusan kehendak. Bila tidak ada kebebasan
kehendak, maka tidak ada kesalahan. Dengan demikian tidak ada
pencelaan sehingga tidak ada pemidanaan.
Kedua, determinis yang menyatakan bahwa manusia tidak
punya kehendak bebas. Keputusan kehendak ditentukan sepenuhnya
oleh watak dan motif yang mendipat rangsimgan dari dalam maupun
dari luar. Artinya, seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah
karena tidak punya kehendak bebas. Kendatipun demikian, tidak
berarti bahwa orang yang [Link] perbuatan pidana tidak dapat
dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Tidak adanya kebebasan
kehendak tersebut justru menimbulkan [Link] seseorang
330 G.A. van Hamel, [Link], him. 387
::. .~·t},:- :.···.1
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA hlStiT:
.;: ..!~~~--~·.','.." -:~·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
atas perbuatannya. Namuri, reaksi t erhadap [Link] dilakukan
berupatindakan unwi<ketertiban masyarakat dan bukan pidana dalam
arti penderitaan. Ketiga. pendapat yang menyatakan bahwa kesalahan
· tidak ada kaitannya dengan kehendak bebas. Tegasnya, kebebasan
kehendak meiupakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan
kesalahan dalam hukum pidana337•
Definisi mengenai pertanggungjaWaban pidana dikemukakan
oleh Simons sebagai-suatu keadaan psikis, sehingga penerapan suatu.
ketentuan pidana dari sud ut pandang umum dan pribadi dianggap patut
I
l (De toerekeningsvatbaarheid kan worden opgevat als eene [Link]
psychische ge5teldheid, waarbij detoepassing van een stY4fmaatregel van
. algemeen en individueel standpunt gerechtvaardig is)331• Masih menurut
Simons, "Als grondslag voor de strafrechtelijke tOe-rekening bestaat zij
in de psychische gestedheid van de dader en hare betreking tot de ter
beoordeeling staande handeling en wel in dien zin, dai op grond van
die gesteldheid aan de dader van zijn handelen een verwijt mag worden
gemaaktl3'J» (Dasar adanya tanggungjawab dalamhukum pidana adalah
keadaan psikis tertentu pada orang yang melakukan perbuatan pidana
dan adanya hubungan antara keadaan [Link] perbuatan yang
dilakukan yang sedemikian rupa sehingga orang itu dapat dicela karena
melakukan perbuatan tadi).
-
Per definisi pertanggungjawaban pidana. . berikut dasar adanya ·
tanggungjawab dalam hukum pidana yang dikem~ oleh Simons,
dapat ditarik kesimpulan bahwa inti pertanggungjawaban dalam
hukum pidana adalah 1) keadaan psikis atau jiwa seseoraiig; dan 2)
hubungan antara keadaan psikis dengan perbuatan yang dilakukan.
Dalain kose1 kata Belanda, pertanggungjawaban dalam konteks keadaan
psikis diterjemahkan menjadi toerekeningsvatbaarheid atau dapat
dimintakan pertanggungjawaban atau kemampuan bertanggungjawab,
sedangkan dalarn konteks hubungan antara keadaan psikis dengan
\ »7 Sudarto, [Link], him. 87.
r 338 D. Simons, [Link]., him. 194
m Ibid, him. 187 - 188
156 PRINSIP-0 [Link] HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
perbuatan yang dilakukan, diterjemahkan menjadi toerekenbaarheid
atau pertanggungjawaban340•
Berbeda dengan van Hamel dan Simons, Vos tidak memberikan
definisi pertanggungjawaban maupun definisi pertanggungjawaban
pidana, melainkan menghubungkan antara perbuatan dan per-
tanggungjawaban serta sifat dapat dicela. Vos menyatakan, "..... als men
de dader het feit kan toerekenen, hem van zijn handeling een verwijt kan
maken. Die verwijt behoeft niet te zijn een etisch verwijt; voldoende is een
verwijt rechtens. Ook etisch verdedigbare handelingen kunnen strafbaar
zijn, de rechtsnorm kan ons dwingen onze persoonlijk etische overtuging
op zij te zetten341 " ( ••••• perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan
kepada pelaku adalah kelakuan yang dapat dicela kepadanya. Celaan
di sini tidak perlu suatu celaan secara etis; tetapi cukup celaan secara
hukum. Juga secara etis kelakuan.:.kelakuan yang dapat dipidana,
menurut norma hukum adalah sebagai pemaksa bagi etika pribadi
kita).
B. DEFINISI KESALAHAN
Simons, dalam leerboek-nya hanya menyatakan, "Van hem neemt
de wetgever aan, dat hij met schuld kan handelen, van hem mag worden
aangenomen, dat hij in staat is het onrechtmatige van .zjjn handelen in te
zien en in overeenstemming daarmede zijn wil te bepalen342(Seseorang
yang menurut pembentuk undang-undang dianggap bahwa ia berbuat
salah, jika dia dapat menyadari perbuatannya melawan hukum dan
sesuai dengan ftu dia dapat menentukan kehendak perbuatan tersebut).
Pemyataan Simons ·ini tidak memberikan definisi kesalahan, namun
memberikan syarat kesalahan berupa perbuatan melawan hukum dan
adanya kehendak perbuatan tersebut.
. Definisi kesalahan secara jelas diberikan oleh Remmelink sebagai
pencelaan yang dituj~ oleh masyarakat- yang menerapkan stimdar
etis yang berlaku pada waktu tertentu - terhadap manusia yang
,. .Satochld Kartanegara, [Link], him. 243.
Mt H.B. Vos, [Link], him. 84
142 D. Simons, [Link]., him. 196
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
melakukari perilaku mcnyimpang yang sebenarnya dapat dihindari343 •
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Me'Lger yang mengartikan
kesalahan sebagai keseluruhan syarat yang memberi dasar pencelaan
pribadi terhadap pdaku perbuatan pidana344• Kesalahan selalu melekat
pada 'Orang yang berbuat salah sebagaimana adagium facinus quos
inquinat aequat. Berdasarkan definisi tersebut kesalahan bertalian
dengan dua hal, yaitu sifat dapat dicelanya (verwijtbaarheid) perbuatan
dan sifat dapat [Link] (vermijdbaarheid) perbuatan yang
melawan hukum.
Mengenai sifat dapat dicela dan dapat [Link], Jonkers menge-
mukakan, "Als elementen van de strafrechtelijke schuld worden gewoonlijk
genoemd: wederechtelijkheid, vqorzienbaarheid, vermijdbaarheid, en
verwijtbaarheid. De drie laatse begrippen vloeien in ella:zar345, (Unsur-
unsur kesalahan dalam hukum pidana biasanya disebut: sifat melawan
hukum, dapat cfiperhitungkan, dapat dihindari dan dapat dicela. Ketiga
yang terakhir pe'ngertiannya menyatu tidak dapat dipisahkan).
Sebagai Uustrasi, seorang anak kecU yang sedang bermain di
tan1an kemudian mengambil batu dan melemparnya ke arah seseorang
yang sedang berjalan. Batu tersebut mengenai pelipis orang itu dan
mengeluarkan darah. Perbuatan anak kecil tersebut mungkin bisa
dihindari, tetapi tidak mungkin dicela. Hal ini karena anak kecil belun1
memahami apa yang diperbuat1;1ya. Anak kecU tersebut belum bisa
membedakan mana perbuatan yang baik, mana perbuatan yang buruk,
mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana perbuatan yang
tidak boleh dilakukan. Dengan demikian si anak kecil itu tidak punya
kesalahan.
Dalam hubungan kesalahan dengan pertanggungjawaban, van
Bemmelen dan van Hattum berpendapat sebagai berikut, "Het ruimste
schuldbegrip, waarin dus aile bestanddelen zijn opgenomen welke
iemand voor een wederrechtelijke gedraging strafrechtelijk aansprakelijk
maken, omvat, al hetgeen psychisch is aan dat complex, dat bestaat
30 Jan Remmelink, [Link]., hlm,142.
3M Sudarto, [Link]., him, 88
34S J.E. Jonkers, [Link], him. 58
158 PRINSI?-PRii·JSIP H~iKUM P!OANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
uit een strafbaar feit en zUn deswege strajba;'e dade!'"'346 (Pengertian
kesalahan yang paling luas meliputi [Link] unsur yang mana se_seorang
Jipert:mggungjawabkan menurut huk um pidana terhadap perbuatan
melaw.\n hukum, meneakup semua hal yang bersifat psikis secara
komr lek~ berupa perbuatan pidana dan pelakunya).
D cm~kian pula menumt van Hamel, "Schuld bij een delikt is
cerr psychologisch begrip: de verhouding tusschen het psychische in den
dado en de verwezenlijking der [Link]·bestandeelen door zijn doen of
Iaten. Schllld is daarnevens een juridisch begrip: de verantwoordelijkheid
rechtens...." (kesalahan dalam suatu delik · merupakan pengertian
psikologis: hubungan antara keadaan psikis pelaku dan terwujudnya
unsur-unsur delik karena perbuatannya. Kesalahan dalam pengertian
hukum adalah pertanggungjawaban dalam hukum). Berdasarkan apa
yang dikemukakan van Bemmelen, van Hattum dan van Hamel, ada
dua kesimpulan. Pertama, dapatlah dikatakan bahwa kesalahan dalam
pengertian yang luas identik dengan pertanggungjawaban. Kedua,
kesalahan tidak hanya dilihat dari pengertian psikologis namun
juga dilihat dari pengertian hukum yang kemudian dikenal dengan
kesalahan dalam pengertian normatif.
Kesalahan dalam pengertian psikologis adalah hubungan batin
antara pelaku dengan perbuatan yang dilakUkannya. -Jika perbuatan
tersebut dikehendaki, maka pelaku telah melakukan p·e rbuatan dengan
sengaja. Sebaliknya, jika perb~1atan yang dilakukan tidak dikehendaki
olehnya, maka perbuatan tersebut terjadi karena suatu kealpaan.
Pengertian kesalahan secara psikologis, dilihat dari sikap batin subjektif
pelaku. Berbeda dengan kesalahan dalam pengertian normatif yang
dilihat dari luar pelak:u. Tegasnya, pengertian kesalahan secara normatif
merupakan penilaian dari luar de!'gan menggunakan ukuran-ukuran
yang bersifat normatif untuk kemudian menentukan apakah perbuatan
tersebut dapat dicelakan kepada pelaku dan apakah perbuatan tersebut
dapat dihindari ataukah tidak oleh pelaku.
Kembrui kepada ilustrasi seorang anak kecil yang melemparkan
batu kepada seseorang yang sedang berjalan sehingga mengeluarkan
346
J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., 235.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA .· 15g':~
. ..
.
.; .
.~
.:. ~ '
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
darah pada pelipis orang tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:
·. Pertama, dari pengertian kesalahan secara psikologis, belum ada sikap
batin antara anak kecil dengan perbuatan yang dilakukannya. Hal ini
karena dalam keadaan normal psikis, anak kecil tersebut belum mampu
untuk mengerti akibat yang akan terjadi dari perbuatannya dan belum
mampu menginsyafi bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan
ketertiban masyarakat (ingatpengertian pertanggungjawaban oleh van
Hamel di atas).
Kedua, berdasarkan pengertian kesalahan secara normatif,
meskipun perbuatan anak kecil tersebut dilarang oleh hukum ( telah
memenuhi unsur-unsur pasal penganiayaan),. namun perbuatan
tersebut tidak dapat dicelakan terhadapnya karena belum memahami
apa yang diperbuatnya. Ketiga, jika kesalahan dalam ·pengertian yang
luas identik dengan pertanggungjawaban, maka anak kecil tersebut
tidak punya kesalahan, sehingga tidak dapat dipertanggtingjawabkan
dan tidak bisa dijatuhi pidana.
Berbeda dengan Pompe yang tidak memberikan pengertian
kesalahan ataupun pertanggungjawaban, namwi menghubungkan
· antara kesalaha:n dengan melawan hukum. Dikatakan oleh Pompe,
"De aan schuld te wijten normovertreding is, aan de buitenkant gezien,
een wederrechtelijke gedraging. Hierbij is dan afgezien van binnenzijde,
de betrekking tot de wil des dader de schuld"347 (kesalahan dalam suatu
pelanggaran norma, biasanya perbuatan melawan hukum dari segi
luarnya. Dari segi dalam berkaitan dengan kehendak pelaku adalah
kesalahan). Masih menurut Pompe, "schuld is niet te begrijpen zonder
wederrechtelijkheid348" . (kesalahan tidak ada artinya tanpa melawan
hukum). Lebih lanjut dikatakan oleh Pompe, "In het strafrecht gaat
het niet om morele schuld, maar om rechtschuld, jurisdische schuld34 9"
(Dalam hukum pidana tidak hanya kesalahan moral tetapi kesalahan
hukum, kesalahan juridis).
7
M W.P.J. Pompe, [Link]., him. 99.
348 Ibid, him. 100
)19 Ibid, him. 7
160 PRINSIP-PRIWJIP i-ilJKUM PiOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Masih berkaitan dengan melawan hukum dan kesalahan,Vos
berpendapat:
"Schuld sluit dus in wederrechtelijkheid; echter niet weder-
rechtelijkheid ook schuld. Beide hebben gemeen een min of meer
abnormal~ gedraging, maar voor de wederrechtelijkheid wordt
die abnormale gedraging objectief beschouwd: zij ontbreekt eerst,
als gedraging zelf niet als een abnormale is te beschouwen, dus
onverschillig wie de dader is. Schuld daarentegen is subjectief zij
ontbreekt reeds als voor de speciale dader (met zijn speciaal inzicht,
met zijn bijzonderepersoonlijkheid) het abnormale in het handelen
ontbreekt"350•
(Kesalahan meliputi melawan hukum; tetapi melawan hukum
tidak meliputi kesalahan. Keduanya mempunyai persamaan
kurang lebih kelakuan yang tidak normal, tetapi sifat melawan
hukum dipandang sebagai kelakuan abnormal objektif. Sifat
melawan hukum itu tidak ada jika kelakuan itu sendiri tidak
dipandang abnormal dengan demikian siapa pun pelakunya.
Sebaliknya kesalahan adalah subjektif: kesalahan tidak ada jika
pelaku tertentu melakukan perbuatan tertentu (pandangan
tertentu dengan kepribadian yang khusus) sehingga kelakuan
yang abnormal tidak ada).
Berdasarkan pendapatPompe dan Vos terkaithub~gan kesalahan
dan melawan hukum ada dua catatan. Pertama, kesalahan bersifat
subjektif karena dilihat dari dalam diri si pelaku, sedangkan melawan
hukum bersifat objektif karena sesuatu yang tampak keluar. Kedua,
seseorang yang mempunyai kesalahan sudah pasti telah melakukim
suatu perbuatan yang melawan hukum, namun tidak sebaliknya bahwa
seseorang yang melakukan perbuatan melawan hokum, belum tentu
mempunyai kesalahan.
Setelah memahami definisi kesalahan, pertanyaan lel>i}[Link] apa · ,:': . · ··
saja yang terk.a:ndung dalam kesalahan? Terhadap pertany~n tersebut;:':>·;·.:· ' .
Noyon - Langemeijer dan Vos memberi jawaban s~bagai berikut: · '
::·~.: ..
Noyon dan ~gemeijer mengemukakan pendapat: ..·. ,.
150
H.B. Vos, [Link]., hlm •.139
PERTANGGUNGJAWABAN PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Met te zeggen dat iemand schuld heeft drukken wij uit, dat zijn
psychische betrekking tot zijn ook overigens onder de omschrijving
der strafwet vallen gedrag zoo is, dat zij straf rechtvaardigt. 1) Dat
de dader den feitelijken aard van zijn gedrag en van daarmede
gepaard gaande omstandigheden, voor zoover deze laatste van
belang zijn, heeft gekend of had behooren te kennen; 2) Dat hij ook
de onrechmatigheid van zijn gedrag heeft ingezien of had behooren
in te zien; 3)Dat niet een ongewone psychische toestand, die op zijn
gedrag van invloed is geweest, bestraffing misplaatst doet voorkomen
en 4) Dat de dader niet heeft gehandeld onder den indruk van
overweldigende voorstellingen, waarbij men geen ander gedrag van
hem had kunnen verlangen351
(Dengan menyatakan seseorang bersalah, maka secara psikis
berarti dia telah memenuhi rumusan delik undang-undang
pidana, dengan demikian dapat dipidana: 1) Pelaku mengetahui
atau seharusnya mengetahui sifat sesungguhnya dari perbuatannya
dan kea<4an-keadaan yang menyertainya selama itu penting; 2)
B<L'1wa ia jugamenyadari atau seharusnya menyadari perbuatannya
bersifat melawan hukum; 3) Bahwa tidak ada keadaan psikis yang
tidak biasa mempengaruhi kelakuannya sehingga pidana tidak
pada tempatnya dan 4) Pelaku tidak berbuat karena pengaruh
anggapan-anggapan sehingga tidak bisa diharapkan berbuat lain).
Menurut Vos, "In het strafrechtelijk schuldbegrip kan men f/rie
kenmerken of elementen onderscheiden: 1) Toerekeningsvatbaarheid van
de dader; 2)Een zekere psychische verhoudingvan de dader tot heitfeit, die
kan zijn of opzet of schuld in engere zin; en 3) Het niet aanwezig zijn van
gronden, die de toerekenbaarheid van het feit aan de dader uitsluiten352"
(Dalam hukum pidana pengertian kesalahan dapa'~ dibedakan ke
dalam tiga ciri atau unsur-unsur: 1) Dapat dipertanggungjawabkan
pelaku; 2) Hubungan psikis pelaku dengan perbuatannya yang biasanya
dalam bentuk sengaja atau alpa; dan 3) Tidak ada dasar-dasar yang
menghapuskan pertanggungjawaban pelaku atas perbuatannya.
351
T.J. Noyon & G.E. langemeijer, [Link]., him. 14
152
H. B. Vos, [Link]., him. 83-84.
162 PRINSiP-PRiNSIP HUK!JM f'!OANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa elemen-elemen dari
kesalahan meliputi: Pertama, kemampuan bertanggung jawab. Kedua,
hubungan psikis pelaku dengan perbuatan yang dilakukan. Hubungan
psikis ini melahirkan dua bentuk kesalahan yaitu kesengajaan dan
kealpaan. Dapatlah dikatakan bahwa pengertian kesalahan dapat juga
merujuk pad~ bentuk kesalahan berupa kesengajaan dan kealpaan.
Sedangkan kesalahan dalam arti sempit adalah kealpaan yang
merupakan salah satu bentuk dari kesalahan itu sendiri. Ketiga, tidak
ada alasa1;1 penghapus pertanggungjawaban pidana berupa alasan
pembenar yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan
dan alasan pemaaf yang menghapuskan sifat dapat dicelanya pelaku.
C. KEMAMPUAN BERTANGGUNG JAWAB
Elemen pertama dari kesalahan adalah kemampuan bertanggung
jawab atau toerekeningsvatbaarheid. Dalam memberikan definisi terkait
pertanggungjawaban, seperti yang telah diutarakan di atas, sebenarnya
van Hamel telah memberi ukuran mengenai kemampuan bertanggung
jawab yang meliputi tiga hal; Pertama, mampu memahami secara
sungguh-sungguh akibat dari perbuatannya. Kedua, mampu untuk
mengfn§Y<lfi bahwa perbuatan itu bertentangan dengan ketertiban
masyarakat Ketiga, mampu untuk menentukan kehendak berbuat.
Ketiga kemampuan tersebut bersifat kumulatif. A"rtinya, salah satu
saja kemampuan bertanggung jawab tidak terpenuhi, maka seseorang
dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai contoh,
seorang kasir bank ditodong dengan senjata api oleh perampok untuk
menyerahkan uang yang ada di brankas bank tersebut. Kasir tersebut
memahami akibat perbuatannya dan menginsyafi perbuatan tersebut
. bertentangan dengan hukum, namun kasir tersebut tidak mainpu
menentukan kehendak berbuat karen:a di bawah todongan senjata api,
maka kasir tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Senada dengan van Hamel adalah Pompe yang dalam handboek- .
nya menyatakan sebagai berikut:
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA •·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Toerekenbaarheid, hier vierde begrip, waarop deze voldoende
beschikking heeft over verstand en wil, en dientengevolge voldoende
in staat is om de betekenis van zijn doen en Iaten in te zien en
overeenkomstig dit inzicht zijn wil te bepalen. Deze geestesgesteldheid
is dus aanwezig bij normale personen. ]uist daarom mag zij door
de wetgever verondersteld worden. Art. 37 gaat dan ook aileen over
gevallen, waarin de hier bedoelde toerekenbaarheid ontbreekf53•
Pertanggungjawaban pidana, pengertian keempat, yang menjadi
dasar kesalahan, dapat dihubungkan dengan ketentuan Pasal
37{Pasal44 KUHP). Kemampuan bertanggung jawab tertuju pad a
keadaan kemampuan berpi!dr pelaku, yang cukup menguasai
pikiran dan kehendak dan berdasarkan hal itu cukup mampu
untuk menyadari arti melakukan dan tidak melakukan. Keadaan
kemampuan berpikir dengan demikian ada pada setiap orang
normal. Jadi karena hal tersebut pembentuk undang-undang
dapat menganggap ada. Pasal37 (Pasal44 KUHP) hanya meliputi
kasus yan) mana tidak ada pertanggungjawaban pidana yang
dimaksud ini.
Pendapat Pompe yang menyatakan, "..... Kemampuan bertanggung
jawab tertuju pada keadaan kemampuan berpikir pelaku, yang cukup
menguasai pikiran dan kehendak dan berdasarkan hal itu cukup mampu
untuk menyadari arti melakukan dan tidak melakukan,, pada dasarnya
sama dengan tiga kemampuan yang dikemukakan oleh van Hamel.
Dengan demikian dalam kasus seorang kasir bank di atas, di satu sisi,
kasir tersebut menyadari bahwa jika uang tersebut diserahkan kepada
perampok, akan mengakibatkan kerugian pada bank, namun di sisi
lain, kasir itu tidak mampu menentukan kehendak berbuat, sebab
jika uang tersebut tidak diserahkan kepada perampok, maka jiwanya
terancam.
Kemampuan bertanggung jawab dalam KUHP tidak dirumuskan
secara positif, melainkan dirumuskan secara negatif. Pasal 44 KUHP
(Pasal 37 Wetboek van Strafrecht yang disinggung dalam pendapat
Pompe di atas) menyatakan:
JSl [Link]. Pompe, [Link]., him. 148-149
164 PRINSIP-?tllNSIP HUKUM PiOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Tidak mampu bertanggung jawab:
(1) Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat diper-
tanggungjawabkan padanya, disebabkan [Link] jiwanya
cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau ter-
ganggu [Link] penyakit (zie/celijke storing), tidak dipidana.
-
(2) Jik.a ternyata bahwa perbuatan tidak dapat dipertang-
guugjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat
dalam tumbuhnya atau terganggu [Link] penyakit, maka
hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan
ke dalam rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai
waktu percobaan.
(3) Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi
Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi dan Peugadilan
NegerL
Berdasarkan [Link] Pasal 44 KUHP dapat ditarik beberapa
[Link]. Perlllnul, ·[Link] bertanggung jawab dilihat dari
sisi si pelaku berupa keadaan akal atau jiwa yang cacat pertumbuhan
atau terganggu [Link] penyakit. Kedua, penentuan kemampuan
bertanggung jawab dalam konteks yang pertama harus dilakukan oleh
. seorang psikiater. Ketiga, ada hubungan kausal antara [Link] jiwa
dan perbuatan yang dilakukan. Kemapa~ penilaian terhadap
..., hubungan
.
tersebut merupakan otoritas hakim yang mengadili perkara. Kelima, ·
sistem yang dipakai dalam KUHP adalah diskriptif normatif karena di .
satu sisi, menggambarkan keadaan jiwa oleh psikiater, namun di sisi ·
lain secara normatif hakim akan menilai hubungat1 antara keadaan
jiwa dan perbuatan yang dilakukan.
Ada tiga metode untuk menentukan [Link] ber-
tanggungjawab.Perlam4,metodebiologisyangdilakukan oleh psikiater.
Jika psikiater telah menyatakan seseorarig sakit jiwa, maka tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara pidana~ Hal ini karena seseorang yang
gila atau sakit jiwa tidak memiliki kehendak sesuai adagium furiosi
nulla voluntas est. Ked114, metode .. psikologis yang menunjukkan
hubungan antarakead,aan jiwa yang &bnorntal dengan perbuatannya.
. - ~i~~~~{)Fj.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ~;~;~~;;~
~~-.'~:l_:,;~·i::.. ~:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Metode ini mementingkan akibat jiwa terhadap perbuatannya sehingga
dapat dikatakan tidak mampu bert31;1ggung jawab dan tidak dapat
dipidana. Ketiga, metode biologiS-phisikologis. Selain memperhatikan
keadaan jiwa, juga dilakukan penilaian hubungan antara perbuatan
dengan keadaan jiwanya untuk dinyatakan tidak mampu bertanggung
ja:\Vab. Saat ini, metode biologiS-phisikologiS yang digunakan untuk
menentukan apakah seseorang mampu bertanggung jawab · ataukah
tidak.
Terkait ·kemampuan bertanggung jawab dalam hubungan
antara keadaan jiwa dan perbuatan yang dilakukan, hukum pidana
· mengenal gedeeltelijke ontoerekenigsvatbaarheid atau ketidakmampuan
· · bertanggung jawab untuk sebagian. Beberapa di antaranya adalah
kleptomanieyaitu penyakitjiwasukamengambil barang oranglainsecara
spontan, namun tidak disadarinya bahwa perbuatan tersebut terlarang.
Misalnya, seomng kleptomanie yang mencuri pena atau barang-barang
~g nilainya tidak seberapa, tidak bisa dipertanggungjawabkan
secara pidana karena penyakit yang dialaminya. Lain halnya jika yang
[Link] oleh seorang kleptomanie adalah mobil, maka dia tetap dimintai
pertanggungjawabannya. Selain mobil bernilai tinggi, mencuri mobil
bilin suatu hal yang terjadi secara spontan.
Termasuk gedeeltelijke ontoerekenigsvatbaarheid adalah penderita
claustrophobie dan pyromanie. Claustrophobie adalah penyakit jiwa
berupa: ketakutan untuk berada di ruang sempit. Pyromanie ialah
penyakit jiwa yang suka membakar tanpa alasan yang pasti. Seorang
claustrophobie yang berada di ruang sempit kemudian merusak pintu
atau memecahkan kaca jendela, tidak bisa dipertanggungjawabkan
karena melakukan perusakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal406
ayat {1) KUHP. [Link] pula seorang pyromanie yang membakar
surat·surat penting tidak dapat dipertanggungjawabkan. I~tinya, antara
perbuatan yang dilakukan ada hubungan kausalitas dengan penyakit
jiwa yang dideritanya. Sebaliknya, jika perbuatan yang dilakukan tidak
ada hubungan kausalitas dengan penyakit jiwa yang dideritanya, maka
tetap dapat dipertanggungjawabkan.
166 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Apabila terdapat keragu-raguan untuk menentukan apakah
seseorang mampu bertanggung jawab ataukah tidak, terdapat dua
pendapat yang berbeda secata diameteral. Pendapat pertama di-
kernukakan oleh Pompe:
De teorekenbaarheid in de hierboven aangegeven zin is nid
een bestanddeel van het strajbare feit. Zij wordt voorondersteld.
Begrijpelijk, want zij is bij de grote meerderheid der mensen
aanwezig. De bedoelde geestgesteldheid lean immers, zij het ook
te vqag, worden aangeduid als normaal. De ontoerekenbaarheid,
omschreven in art. 37, is een strafuitsluitingsgrond. Indien men
derhalve (na onderzoek) blijft twijfelen aan de toerekenbaarheid,
blijft de dader strajbaar354 •
(Pertanggungjawaban bukanlah unsur perbuatan pidana.
Hanya merupakan suatu anggapan. Dapat dimengerti, bahwa
kebanyakan orang berpikir demikian. Keadaan tersebut,
meskipun tidak jelas, dinyatakan sebagai normal. Tidak dapat
dipertanggungjawabkan sebagaimana dimmuskan dalam Pasal
37 (Pasal 44 KUHP) adalah suatu dasar penghapus pidana. Oleh
karena itu (setelah penyidikan), tetap meragukan mengenai dapat
dipertanggungjawabkan, pelaku tetap dapat dipidana).
Masih menurut Pompe,:
':.... wegens het publiekrechtelijke karakter van strafrecht en
strafprocesrecht beide . dienen bij aanvankelijke dnzekerheid de
vervolgende ambtenaar en de rechter zelf er naar te streven deze
onzekerheid door onderzoek op te heffen. Ook na uitgebreid en
nauwkeurig oriderzoek lean de zaak echter onzeker blijven, en dan
volgts strajbaarverklaring van de veriU:u;hte'55':
(':.... berdasarkan karakter hukum pidana dan hukum acara
pidana sebagai hukum publik, jika ada keragu-raguan tentang
sesuatu; penuntut umum ·dan hakim berusaha menghilangkan
keragu-raguan itu dengan penyelidikan. Setelah penyelidikan
yang luas tentang perkara tersebut, masih .tidak pasti, terdakwa
barns dinyatakan bersalah").
JS4 Ibid, him. 191- 192
155 Ibid, him. 101-1o2
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pendapat Pompe tersebut didasarkan pada adagium, in dubio pro
lege fori bahwa jika terdapat keragu-raguan, hakim tetap menghukum
terdakwa. Sebaliknya, ada pendapat yang dikemukakan oleh Noyon
dan Langemeijeryang merujukpada asas in dubio pro reo. Artinya. jika -·.
terdapat keragu-raguan harus diambil keputusan yang meringankan
bagi terdakwa. Dengan demikian terdakwa dianggap tidak mampu
bertanggungjawab sehingga tidak dijatuhi pidana.
D.. KESENGAJAAN
Van het opzet bevatonu wet geen definitie; het opzet als algemeen
leerstuk wordt in het wetboek niet behandeld. Ter definiering .van het
opzet bestaan twee theorieen, de wils en de voorstellingstheorieJ56.
Demikian Vos menyatakan yang pada intinya bahwa dalam undang-
undang (KUHP) kita, lcesengajaan tidak didefinisikan; secara umum
ajaran keseng~aan tidak ada dalam kitab undang-undang. Definisi
kesengajaan terdapat dalam dua teori, yaitu teori kehendak dan teori
pengetahuan.
Menurut sejarahnya teori kehendak atau wilstheorie adalah
teori tertua yang dianut oleh von Hippel dari Gottingen, Jerman
dan Simons dari Utrecht, Belanda. Sedangkan, teori pengetahuan
atau voorstellingstheorie diajarkan _oleh Frank, Guru Besar Tubingen,
Jerman sekitar tahun 1910. Penganut teori pengetahuan ini antara lain
von Listz di Jerman dan van Hamel di Belanda357•
Mengenai apa yang dimaksud dengan teori kehendak von Hippel
dan teori pengetahuan dari Frank, dalam bukunya Hazewinkel
Suringa menyatakan, "Von Hippel zegt, dat opzet aanwezig is, als het
gevolg gewild is en het is gewild, als men het zich als doel heeft vo_orgesteld,
tenvijl Frank's redenering aldus verloopt. dat opzet aanwezig is, als men
zich het gevolg, als doel heeft voorgesteld en zich bij die voorsteling de
gedraging aansluif58" ( Menurut Von Hippel, sengaja adalah akibat
156
H;B. Vos, [Link]., him. 103
351
Moeljatno, [Link]., him. 185
358 Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 83
168 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang telah dikehendaki sebagaimana dibayangkan sebagai tujuan.
Sedangkan Frank sebaliknya, sengaja dilihat dari akibat yang telah
diketahui dan kelakuan mengikuti pengetahuan tersebut).
Demikian pula Pompe yang mcnyatakan, "..... voorstellingstheorie,
beschrijft opzeJ als de wil tot handelen bij voorstelling van de tot de
wettelijke omscltrijving behorende bestanddelen. De andere, de z.g.
wilstheorie, noemt opzet de op verwerklijking der wettelijke omschrijving
wir' 359 (teori pengetahuan, kesengajaan berarti kehendak untuk
berbuat ·dengan mengetahui unsur-unsur yang diperlukan menurut
rumusan undang-undang, sedangkan yang lain adalah teori kehendak,
kesengajaan adalah kehendak yang diarahkan pada terwujudnya
perbuatan seperti dirumuskan dalam undang-undang). Terkait teori
kehendak, Suringa menambahkan, "Wilstheori: Wie een handeling wil,
overtuigd, dat daaraan zekere gevolgen noodzakelijk vastzitten, wil ook
deze, ook al begeert hij ze nief60'' (Teori kehendak: Suatu kelakuan yang
menimbulkan akibat-akibat merupakan suatu keharusan tanggung
jawabnya, baik akibat yang dikehendaki maupun akibat yang tidak
dikehendaki).
Menurut Moeljatno tidak ada perbedaan prinsip antara kedua
teori tersebut terkait kesengajaan terhadap unsur-unsur delik. Teori
pengetahuan mempunyai gambaran dariapa yang ada dalam kenyataan,
sedangkan teori kehendak menyatakan kehendak until:k mewujudkan
unsur-unsur delik. Kendatipun demikian, Moeljatno sendiri lebih
dapat menerima teori pengetahuan daripada teori kehendak dengan
alasan bahwa di dalam kehendak untuk [Link] sesuatu sudah ada
pengetahuail tentang hal itu, namun tidak sebaliknya, seseorang yang
mengetahui belum tentu menghendaki suatu perbuatan361 •
Kedua teori tersebut dalam [Link] tidak · ada perbedaan
yang hakik.i. Menurut sejarah pembentukan KUHP (Memorie van
Toelichting) di Twee de Kammer (Parlemen Belanda) sebagaimana
yang dikutip Pompe, syarat kesengajaan adalah willens en wetens atau
menghendak.i dan mengetahui (In die zin kan men opzettelijk aanduiden
ssg [Link]. Pompe, [Link].; hlm.165.
J6l) Hazewinkel Surlnga, [Link].
361 Moeljatno, [Link]., him. 186 -187.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ·~1~¥~:}
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. ·\
·~~:~ --~\
als-willens en wetens (aldus ook de Memorie van Toelichting, Smidt I
blz.77)362• Kedua syatat tersebut ·bersifat mutlak. Artinya, seseorang
dikatakan melakukan suatu perbuatan dengan sengaja, jika perbuatan
tersebut dilakukan dengan mengetahui dan menghendaki. Hanya saja si ·
pelaku yang melakukan suatu perbuatanpidana sudah pasti menyadari
bahwa. akibat dari perbuatan tersebut bisa sesuai dengan kehendak
atau tujuannya, maupun tidak sesuai dengan kehendak atau tujuannya~
[Link] punitur licet non sequator [Link]. Artinya, kesengajaan dapat ,
dihukum walaupun kehendak atau tujuannya tidak tercapai. ·
Suatu kesengajaan dapat saja terjadi karena salah faham · atau ·
kekeliruan. Seseorang dapat saja melakukan perbuatan pidana dengan
sengaja karena kekeliruan. Ada empat jenis perbuatan pidana yang
dilakukan dengan sengaja karena kekeliruan. Pertama adalali feitelijke
dwalingatau kesesatan fakta363• Suatu kekeliruan yang dilakukan dengan
tidak sengaja -~g tertuju pada salah satu unsur perbuatan pidana.
Contohnya, seseorang menggunakan surat untuk. suatu keperluan,
tetapi dia tidak mengetahui bahwa isi surat tersebut tidaksesuai dengan
faktanya. Orang ini tidak dapat dipidana karena menggunakan surat
palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 ayat (2) KUHP, karena
dia tidak mengetahui bahwa surat tersebut adalah palsu.
Kedua, rechtsdwaling atau kesesatan hukum364 yaitu suatu
perbuatan dengan perkiraan hal itu tidak dilarang oleh undang-undang.
Pada dasarnya kesesatan hukum [Link] tidak menghapus tuntutan pidana.
Hal ini didasarkan pada adagium ignorantia leges excusat neminem yang
berarti ketidaktahuan akan hukum bukan merupakan alasan pemaaf.
Mengapa demikian? Adagium ini merupakan rangkaian dari adagium
sebelumnya yang menyatakan nemo ius ignorare consetur atau iedereen
wordt geacht de wet te kennen, yang berarti setiap orang dianggap tahu
akan undang-undang (hukum). Dalam beberapa literatur, adagium ini
sering disebut sebagai fiksi hukum.
Kesesatan hukum ini dibedakan menjadi kesesatan hukum yang
dapat dimengerti dan kesesatan hukum yang tidak dapat dimengerti.
162 W.P.J. Pompe, [Link]., him. 166.
:161 Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 101
:164 Ibid., him 102.
170 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Ke<lna kesesatan huku m ini me rumk pad.-. ti ngkat pengetahuan dan
iatar bd akJng yang a bjektif dari peh ku. Jika scsc."""rang yangberasaf dari
pedalaman dan patama kali ke kota, [Link] rriengcrldarai sepeda
motor tanpa mcnggunakan helm kan~na tidak tabu ilda peraturan
yang mewajibk}tn penggunaan helm, maka kesesat'ahhukuni demfluan
termasuk dalam kesesatan hukum yang dapat ditnengerli. Kon~ekdensi
lebih lanjut dari kesesatan hukum yang dapat diin~ngerti, ;dapat tidak
dipertanggungjawabkan secara pidana. Namun sebaliknya; kesesatan
hukum yang dilakukan oleh orang yang berlatar belakang pendidikan
memadai, termasuk dalam kesesatan yang tidak dapat dim~pgerti dan
dapat dijatuhi pidana.
Antara kesesatan fakta .dan kesesatan hukum b~.r~aku a~agium
regula [Link], juris quidem ignorantiam cuique nocere,facti vero [Link]!.m
non nocere. Artinya, kesesatan hukum . tidak. dap~t . m,emb~baskan
seseorang dari hukuman, namun tidakdemikiandengan kefiesatan fakta,
Konsekuensi lebih lanjut, kesesatan fakta masih da,pat membebaskan
seseorang dari hukuman. Tegasnya, kesesatan iak"ta tcrmas1uk dalam
alasan penghapus pidana.
Ketiga adalah error in persona yakni kekeliruan mengenai orang
yang hendak menjadi tujuan dari perbuatan pidana*s. Error in persona
termasuk dalam error invicibilis .atau. kekeliruan yang tidak dapa\
ditanggulangi366• Sebagai misaJ, S ingin ~empunuh T. ~ iftenglra babwa
U adalah T dan kemudian S membunuh. t!· Perbuatan S tetap dijatuhl,
pidana meskipun terjadi error in persap~. Keempt:Jt w~alall . o/'Or .in.
objecto atau kekeliruan mengenai [Link],y&ng ften4a1c menj~di tuj:uan
dari perbuatan pidana367• Er,ror:. i'!_ ~bjeFto ~Pup.. .tperupalpm bagian
d<tri error invicibilis. Ilustrasinya, X ingin _m,enqlri ~ J:~r~pa X yakin
bahwa di dalam tas tersebut berisi uang.
Tern~ta .s~el~· t~s .terseb~t
dicuri, isinya bukall uang tetapi bukU. ·x dijatUhi ·pidana ken(}atipun
terjadi error in objecto. · . · ·. · · . . ·. ' .· ' ' · . ·· ..· · · ' ·
Di luar keempat kesesat~ dai~ ke~~gajaan m~ili ~da.~p~, ~g
disebut sebagai aberratio actus yaitu kekeliru~ yang' timhul
-.. ·
brena.,
36
0. Simons, [Link]., hlm. 26i Sandinglcan de,.Pri J.E. Jonkers, [Link]., him. 54 .· . •r!;''
166 Jan Remmelink, Op#Cita him. 281..
1
, ·, _ ) , " . ·· ... -~ ...
H1 H.B. Vos, [Link]., him. 120.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.~~br:~~~~:~~NP~~~b~~1l)~~Bl·~:l>.ef~,~4~.~tllu.;9.~~1~~~
:~..85~WF~~~~~~-~:q~~<>~>fct.J~~~;4 ,~~~#-~~mbup~~d~ng'l!l
9!~rm~:t:I~~P~J?~m-MY.w.-&~~~ p~d~~j~~~taP.\Jl~n~~-- ~.at
.peJ~~pJer~bJlfr:ffitF~!>,~1 ~ .J},; ~er~U \m~'P.-~®: .4an .-ntengenai
.(:.~ Je;t:l}~dw, .4 .-t~tftp cij.j~: PJ~!l:i~PW,l ·-.ti~ itn~nghendaki
.
~.s~~~~ ·.~: iP.~~:,~b~~p~ ~Jl~tJltjxada,;;yang men}tebut !C::Ontoh
nng 4~mjkl.~;;~bagai ·trqrisfe,ret! mialice atau·: disebut.r juga·~ sebagai
lr.0.11S/m~4I,_t:lt$)l~• ; .:xi.L~;X·";_ ~nt,!:li<~ ii''i'.·;~( ';;, -~ :L c-nt~;:·JJ!r~.;: ; ';~<{: ·
~:;~;.t , -.. ~~~ ~{ ....1 dG~~.:i·!d~·: =.i ·J~;J.f~~ -f #:ri gr1S"I {~:: ~;~~ -j(; ;.L;tr) ~. ._;.J :L·)c~~h, -~n:-·~· r :·c: ~i >·t - ·
,\~ ~ :. :.. : . . ... , ..... ,.,; , . ";., .... · .:.:·~ c ·~-,t ,~-, ....~ .. · -·· <:•!(7 ····:·'r
:l:r' · • .;. • ·
; Jertls:;;Jenls; :((~sengaJaaJI{ ,._;,_,..
~.>2 •., ,, , .. ,~,, , ., __,.-.. . _ .. ~,
... - ·, 4. ·•· " ' :
• ·~ •. ·.... .
Berbagaiilustrasidiatasketikakitab,erbicararii~A~~~:iltJ~rig~j;Jdli'
~fJrliliai'I~oili jelas~aatamlu'Bf>iih irli1 tefkiitj~tttH~~ ~~xigajaan.
v~ ·&Iam:leifbOiJk![Link]'takaxi;~'~:::~ari~-~t>trllbi~Jt,a-attn'lfet'Jj/iit
tlcir·fali{~i;oril~n9tf'~t~alS1~d~~li;' 2l biAet·'6rl rli>~dtiiketijkh~iih
ofteic&hetiiJIJ~zijit£ 1 3f' OFtt'bij;ihlige1ijkh~idSliiiwUii*lfi~7o>·' (~~:.:
tigci:bentrik 5 keseilg~)aMi 'ad~Mi!: tY-ke~figajaan. ~eba~j -~~t1d: 2)
K~~e~·gij<llirirseo~g<ir kepa~tianliati 1&h~an:' 3) Kesenic\jiic!h '~ebigru
kemungkinan. Berdasarkan apa yang dikemriicakan oleli Vi,~~; d~:im
b~eraifa:tiireramr1titail<ehal detfgariiStllah Hg~i' coiak ke~engaj~lu?..
~;~:;{:''·ttHiffiusw~'tniieii'dfitMct"i&ipfl;'l~.s~hg~)aili i~si~O'rhlighlerti~cik~ri
fiifis·:pJ&ti~cffi:-slltilhlili1 :i~idani 1 f~-~ 1 rn~'fihai'; tinsdf' i1h~s~h~~#i!
r;eit\~ar~I&s6;1>~fldiSUs (ahiMiW iid1s~i/mif~J)fiiflu~it}tfbi~Mik;
k'Jstfhg~ii~~t~f>iliiffip~ilifhuigkhliv'dfwcllidin~~.iifd1;hgiili.t~~j~di~fi
c\hur·rakt~' ~g 1ses~rlf.r''(l>. \rJwlJfttilivdl'iintaY$p~Cthlor.· ·iJ~~:
exuitsJ. natmfkdrli~kS: irii;J>eriiliig·kihmyi i<i~a:.m~r,il~Hiithi;jd~~'.!j~:di\'
1 • • ! { ~ ~ ,, • . ..
1CeS8lgajiilii'rymg' atclW3iilla$~o~gai'beHI<il:t: · · --· ,,'. n . ·. ~c. · '~:".T s' : · ,t .. •
1
~;:L :Kis~i1~1t'i~~b ~fi:r: idMa~~jif y .t\::;'-'K·; '-'·, ·>·:· ':;·d·:: ,:·•j i -;.:t:
:··· d:;k~eii~ci\~iit~eb~~-;- ~~~!' r~~'i~r ;Jir'~~t~ ·:~is:, 'o~:i ir;{.'a~·~iih'
ke~6lg~ji~ ~1iik; M~~apa.f'"su~~dnij~~~1Gti~J;~~-:,~~(t~qHy~J.
.crl . ~\.: ..; . -~ 1 :'· ; ·"j t ... )~~- .~ ;
seseorang melakukan perbuatan, tindakan dan alqbatnya penar-b,enar
.-~r(.)-:.~ nqs ~;b.c rH~i;-~ rn qr.§ttf~~r::t!:::;~ ~nn!n h nB'!~; . ~:-1 > ·)...: ;.:..4 ·:· :-;~~y·;·:i{ : :. . ~~· · ;t..~
-:a. .-! O: Sirndns; O'[Link]~hliri{261i : , < , _~::) ;:!::-- : • ',: ~·,;-. >·· ' . ·, :_ · :· ,. ,.;:.<:;
., Routledge, 2011, Criminal Law, Routledge Taylor & Francis Group, london And New York-, ·
hlm. 19. ;<,-.<-l _: .. :;: ···_.·. •·..;;;-c: :.:. •. · h·-~ -; ·.. · '···
m H. B. Vos, [Link]., hlm. 105 •~- .
172 PHI,NSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
texwujud. Motivasi seseorang sangat mempengaruhi perbuatannya
(affectio tua nomen imponit operi tuo ). Opzet als oogmerk adalah bentrik
kesengajaan yang paling sederhana. Sebagai misal, Y ingin membunuh
Z karena Z berselingkuh dengan istrinya. Ketika Z sedang berjalan di
jalan yang sepi, Y memukul bagian belakang kepala Z dengan batu
bertubi-tubi hingga tewas. Di sini, motivasi Y adalah jelas karena Z
berselingkuh dengan istrinya. 1indakan Y memukul berkali-kali di
kepala bagian belakang Z hingga mati adalah tindakan dan akibat yang
memang dikehendaki.
b. Kesengajaan Sebagai Kepastian
Berbeda dengan kesengajaan sebagai maksud, kesengajaan
sebagai kepastian atau keharusan (opzet bij noodzakelijkheids of
zekerheidsbewustzijn) adalah kesengajaan yang menimbulkan dua
akibat. Akibat pertama dikehendaki oleh pelaku, sedangkan akibat
kedua, tidak dikehendaki namun pasti atau harus terjadi. Contoh
klasik kesengajaan sebagai kepastian atau keharusan adalah kasus yang
terjadi pada tahun 1875 di kota Bremerhaven, Jerman oleh seseorang
yang bernama Thomas Alexander Keith. Kasus ini kemudian dikenal
dengan nama Thomas van Bremerhaven.
Duduk perkaranya: Thomas mengirimkan satu peti berisi dinamit
yang akan dimuat di dalam kapal. Satu peti dinamit te~ut telah diatur
sedemikian rupa sehingga akan meledak 8 hari lagi dalam perjalanan
dari Bremerhaven ke New York dan Thomas mengasuransikan peti
te~ebut di Southhampton, Inggris. Tujuan Thomas adalah untuk
mendapatkan ganti rugi. Kenyataannya, karena kurang hati-hati,
ketika peti itu diangkat ke dalam kapal di Bremerhaven, terjatuh dan
menimbulkan ledakan dahsyat. Akibat ledakan tersebut. 83 orang
teWa.s dan 50 orang lainnya menderita luka-luka371 •
.Meledakkan kapal merupakan tujuan perbuatan Thomas untuk
mendapatkan premi asuransi. Kendatipun kematian akibat ledakan
tersebut bukanlah merupakan tujuan yang dikehendaki Thomasnamun
suatu keharusanatau kepastian akan terjadi. Mahkamah Tmggi Jerman
371 Hazewinkel Surlnga, [Link]., him. 83; J.E. Jonkers, [Link]., him. 49; H.B. Vos, [Link]., him.
107; Moeljatno, [Link]., 190 dan Sudarto, [Link]., him. 104.
-~:· _·_- :;-.-. -;.;!~'!
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ~jt7w~
-... ....,.......
,..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
•• ~ •. '··~'!. , . ... ... ~ -.- ....... ~- \0 '--l'o"• ·" ~ --- ·
(Reichsgericht) menganggap sikap batin untuk meledakkan kapal de-
ngan mengorbankan nyawa orang adalah dolus ~engan kesadaran akan
k~pastian .atau opzet met noodzakelijkheidsbewustzijnl72•
c. Kesengajaan Sebagai Kemungkinan
Adakalanya suatu kesengajaan menimbulkan akibat yang
tidak pasti · terjadi namun merupakan suatu [Link]. Dalam
hal yang demikian terjadilah kesengajaan dengan kesadaran akan .
besarnya kemungkinan atau opzet met waarschijnlijkheidsbewustzijn. ·
Beberapa ahli hukum pidana seperti Vos, Hazewinkel Suringa,
Jonkers, Simons, dan Moeljatno menyamakan kesengajaan sebagai
kemungkinan atau opzet met waarschijnlijkheidsbewustzijn dengan
opzet bij mogelijkheidsbewustzijn atau voorwaardelijk opzet atau dolus
eventualis. Alain tetapi dalam bah ini kesengajaan sebagai kemungkinan
dipisahkan dengan dolus eventualis. Pendapat yang demikian, Penulis
merujuk pada Jm Remmelink. Demikian pula Schaffmeister, Keijzer
dan Sutorius yang membedakan antara kesengajaan dengan kesadaran
besarnya kemungkinan dan kesengajaan bersyarat atau dolus eventualis.
Contoh kesengajaan sebagai kemungkinan yang selalu disinggung
dalam berbagai literatur adalah kasus kue taart kota Hoom373 di
Belanda berdasarkan Putusan Hof Amsterdam, 9 Maret 1911, W 9154
dan di tingkat kasasi oleh Hoge Raad, 19 Juni 1911, W 9203. Seseorang
di Amsterdam yang tidak senang kepada Mantri Pasar di kota Hoom
memberi racun tikus (rattenkruid) pada kue tarcis yang dibelinya di
Haarlem pada tanggal28 September 1910. Kue tarcis yang telali diberi
m Jan Remmelink. [Link], him. 153.
Kasus kue taart Kota Hoorn dalam berbagai literatur terdapat perbedaan [Link]
373
(him. 109), Hazewinkel Suringa(hlm. 84), Jonkers (him. 48), Simons (him. 243) dan
Moeljatno (him. 191) memasukkan kasus ini ke dalam kesengajaan sebagai kemungkinan
atau opzet met waarschijnlijkheidsbewustzijn dan menyamakan kesengajaan sebagai
kemungkinan dengan opzet bij mogelijkheidsbewustzijn atau voorwaardelijkopzet
atau dolus eventualis. Schaffmelster, Keijzer dan Sutorlus (him. 93 - 94 ), yang
membedakan antara kesengajaan dengan kesadaran besamya kemungkinan (opzet met
waarschijnlijkheidsbewustzijn) dan kesengajaan bersyarat atau dolus eventualis, namun
berpendapat kasus kue taart kota Hoorn ke dalam dolus eventualis. Jan Remmefink (him.
154) dan Pompe (him. 176) membedakan antara kesengajaan sebagai kemungkinan atau
opzet met waarschijnlijkheidsbewustzijn dengan dolus eventualis dan berpendapat bahwa
kasus kue taart kota Hoorn termasuk keSengajaan sebagai kemungkinan atau opzet met
waarschijnlijkheidsbewustzijn dan bukan dolus eventua/is.
174 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
racun [Link] kemudian dikirim dari Amsterdam ke Hoorn pada tanggal
29 September 1910 kepada Mantri Pasar.
Dalam perjalanan dengan kereta api menuju Hoorn, orang tersebut
baru menyadari bahwa meskipun tujuannya untuk membunuh Mantri
Pasar, namWJ di nlmah tempat kUe tarcis beracun itu dikirim, Mantri
Pasar tersebut tinggal bersama istrinya, sehingga ada kemungkinan
kue tersebut dimakan juga oleh istrinya. Orang tersebut tidak berbuat
apa-apa dan pada kenyataannya yang mati akibat memakan kue
tersebul bukanlah Mantri Pasar, melainkan istrinya pada tanggal 30
Septemberl74 •
d. Dolus Eventualis
Kesengajaan bersyarat atau dolus eventualis pada dasamya
seseorang melakukan perbuatan namun tidak menghendaki akibatnya
Dapat dikatakan bahwa meskipun seseorang tidak menghendaki
akibatnya, namun perbuatan tersebut tetap dilakukan, maka dengan
demikian orang tersebut harus memikul apapun risiko yang timbul.
Dalam dolus eventualis menurut hukum Jerman haruslah ada billigend
in kauf nehmen atau menerima penuh risiko terwujudnya suatu
kemungkinan375•
Moeljatno menyebut teori billigend in kauf nehmen sebagai
· teori apa boleh buat. Dengan mengutip pendapat Me25ger, Moeljatno
kemudian menjelaskan bahwa dolus eventualis adalah seseorang yang
melakukan perbuatan sama sekali tidak menghendaki adanya akibat
yang dilarang oleh hukum pidana. Kendatipun demikian, jika akibat
yang tidak dikehendaki itu timbul, maka orang tersebut harus berani
memikul risikonya376•
Sebagai misal dolus evintualiS adalah seorang pengendara sepeda .
motor yang dikejar polisi,. kemudian mengendarai motor dengan
kecepatan tinggi di tengah lalu lintas yang sangat padat agar lolos dari
kejaran polisi. Pengendara sepeda motor tersebut kemudian menabrak
seorang pejalan ~aki dan mengakibatkan kematian. Di sini,.jangankan
174
· J.M. van Bemmelen En H. Burgersdljk. [Link]., him. 5
m Jan Remmellnk, [Link]., him. 157.
m Moeljatno, [Link]., him. 190. Bandlrigbn dengan Sudarto, [Link]., him. 106. ·
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. akibat kematian, perbuatan menabrak pejalan kaki sama sekali tidak
dikehendaki oleh pengendara sepeda motor, akan tetapi kemungkinan
untukmenabrakdisadarinya karenamengendarai sepeda motor dengan
kecepatan tinggi di tengalllalu lintas yang padat dan kemungkinan
~g disadarinya itu benar-benar terjadi sehingga apa boleh buat
p~[Link] sepeda motor itu harus memikul risikonya.
Bandingkan dengan kesengajaan · sebagai kemungkinan dalam
.contoh kasus kue tarcis dari kota Hoom di atas. Dalam kasus tersebut,
si pelaku dari awal sudah mempunyai niat untuk membunuh, namun
yang mati bukanlah orang yang dikehendakinya. Terkait dolus eventualis .
ini hanya terdapat perbedaan tipis dengan culpa lata khususnya terkait
syarat menghendaki dan mengetahui. Perihal culpa lata ini akan
dibahas lebih detil dalam subbab berikut.
e~ Kesengajaan Berwarna .
Kesengaj~ berwarna atau opzetgekleur adalah bahwa seseorang
melakukan suatu perbuatan harus mengetahui terlebih dulu bahwa
perbuatan yang dilakukannya adalah suatu perbuatan pidana atau
perbuatan yang dilarang oleh undang-undang. Di sini, seseorang tidak
hanya disyaratkan menghendaki adanya suatu perbuatan semata, tetapi
ia pun harus mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah
suatu perbuatan yang melawan hukum. Penganut teori kesengajaan
berwaraa ini adalah Zevenbergeil. Dapatlah dibayangkan kalau setiap
pelaku perbuatan pidana harus mengetahui bahwa perbuatan yang
dilakukannya adalah suatu perbuatan terlarang, akan memberikan
kerumitan tersendiri oleh penuntut umum dalam pembuktian di
persidangan. Artinya, jika penuntut umum tidak bisa membuktikan
bahwa terdakwa mengetahui perbuatan yang dilakukannya adalah
perbuatan pidana, ma.\a terdakwa dibebaskan atau dilepaskall.
f. Kesengajaan Tidak Berwama
Berbeda dengan kesengajaan berwarna adal~ kesengajaan
tidak berwarna atau opzetkleurloos. Menurut Simonsm, Pompel78
377
D. Simons, [Link]., him. 256.
371
[Link]. Pompe, [Link]., hlm.l67.
176. PRINSIP·PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dan Jonkers379 yang menganut teori ini, seseorang yang melakukan
perbuatan cukup menghendaki adanya perbuatan tersebut, namun tidak
perlu mengetahui apakah perbuatan yang dikehendakinya merupakan
perbuatan pidana ataukah tidak. Kesengajaan tidak berwarna ini juga ·
dianut dalam KUHP. Meskipun tidak ada pasal yang menjelaskannya,
namun berdasarkan Memorie van Toelichting, dikatakan bahwa
melakukan suatu perbuatan dengan sengaja, tidak memerlukan
pengetahuan pelaku, apakah perbuatan yang dilakukannya merupakan
suatu perbuatan pidana ataukah tidak.
g. Kesengajaan Diobjektifkan
Kesengajaan yang diobjektifkan bukanlah jenis kesengajaan
melainkan cara untuk memastikan adanya kesengajaan. Terkait
kesalahan, seperti yang telah diutaiakan di ·atas, bahwa kesengajaan
dan .kealpaan adalah hubungan antara sikap batin pelaku dengan
perbuatan yang dilakukan. Dalam rangka untuk menentukan adanya
kesengajaan bukanlah perbuatan yang mudah. bagi hakim. Tidaklah
dapat ditentukan secara pasti apakah seseorang melakukan perbuatan
dengan sengaja ataukah tidak. Dalam hal demikian, ada - tidaknya
. kesengajaan harus ·disimpulkan dari perbuatan yang tampak.
· Contoh van Bemmelen yang dikutip Sudai1o adalah, A
menembakB dalam jarak 2 meter. Di depan persidangan A menyangkal
bahwa ada kesengajaan membunuh B. Berdasarkan fakta yang ada, . ·
hakim kemudian mengobjektifkan kesengajaan bahwa menembak
• orang dari jarak 2 meter secara objektif, tembakan tersebut akan
mematikan. Dengan:demikian tindakan A menembak B' dari jarak 2
meter dengan sengaja dimaksudkan untuk membunuh380•
h. Dolus Directus
Dolus directusadalahistilah yangmenunjukpadacorakkesengajaan
sebagai kepastian atau keharusan. Dolus directus ini .·mensyaratkan
1111
J.E. Jonkers, [Link]., him. 45•
., Sudarto, [Link]., him. 107
PERTANGGUNGJAWA8AN PIOANA . f7};
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tidak hanya tingkat pengetahuan yang tinggi, namun akibat dari
perbuatan tersebut meskipun tidak dikehendaki tetapi kesadaran akan
keniscayaan pasti terjadi. Ada perbedaan pendapat terkait dolus directus
., ·, ini Remmelink berpendapat bahwa dolus directus sama dengan
kesengajaan sebagai kepastian atau keharusan381, sedangkan menurut
· Sudarto,. dolu5 directus lebih pada kesengajaan sebagai maksud dan .
inenyatakan bahwa dolus directus (!dalah kesengajaan yang ditujukan
terhadap perbuatan dan akibat dari perbuatan tersebutl82•
i. Dolus Indirectus
Dolus indirectus adalah kesengajaan untuk melakukan suatu
perbuatan yang dilarang tetapi akibat yang timbul tidak dikehendaki.
Sebagai misal: A menganiaya B dengan maksud hanya untuk melukai.
Akibat yang timbul ternyata tidak hanya melu..1cai melainkan kematian.
Contoh lain, ~dan D bertengkar di jalan. C kemudian memukul D
sehiilga terjatuh dan pada saat yang bersamaan D dilindas mobil yang
mengakibatkan kematian.
Dalam kedua ilustrasi dolus indirectus di atas, baik A maupun
C tidak dapat dijerat karena pcmbunuhan, melainkan karena
penganiayaan yang mengakibatkan mati. Di Perancis terdapat teori
bertanggung jawab atas segala akibat atau leer van het versari in re
illicita untuk menentukan dolus indirectuSBJ. Berbeda dengan Inggris
dan Spanyol yang menggurtakafl teori tersebut untuk menentukan
dolus eventualiS84 •
j. . Dolus Determinatus
Dolus determinatus bertolak dari anggapan bahwa pada ha-
kikatnya suatu kesengajaan harus didasarkan pada objek tertentu385•
Anggapan yang demikian sangat masuk akal. Sebagai contoh, tidak
mungkin seseorang dikatakan mencuri jika tidak ada barang yang akan
..1 · Jan Remmelink, [Link].,167.
382 Sudarto, [Link]., him. 103
3113 H. B. Vos, [Link]., him. 121
384
Hazewinkel Suringa, [Link]. ., 99.
3&5 D. Simons, [Link]., him. 260.
178 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dicuri. Dolus determinatus ini merupakan varian yang sudah tidak lagi
digunakan dan lebih mengarah pada kesengajaan sebagai kepastian.
k. Dolus lndetermitu~tus
Sarna halnya dengan dolus determinatus, dolus indeterminatus
juga- termasuk varian yang sudah tidak lagi digunakan386• Dolus
indeterminatus adalah kesengajaan yang ditujukan kepada sembarang
orangl"7• Contoh sederhana adalah aksi teror berupa pengeboman
di tempat umum. Kesengajaan ini tidak mempedulikan siapa yang
akan mati akibat ledakan born tersebut karena tujuannya bukanlah
mengakibatkan matinya orang melainkan timbulnya rasa takut atau
suasana teror. Dolus indeterminatus ini pun dapat dimasukkan ke
dalam kesengajaan sebagai kepastian yang menghendaki satu akibat,
namun akibat lain yang tidak dikehendaki pasti terjadi.
L Dolus Alternativus
Dolus alternativus adalah kesengajaan untuk melakukan suatu
perbuatan yang [Link] dan menghendaki akibat yang satu atau
akibat yang lain388• Misalnya, karena dendam dengan Z, Y yang sedang
mengendarai mobil menabrak Z yang sedang berjalan. Y berkehendak
akibat tabrakan tersebut Z mengalaini cacat atau bahkan kematian.
Dalam ilustrasiini motivasi Y sangat jelas adalah balas dendam terhadap
Z. Akibat yang dikehendaki tidak dipentingkan oleh Y, apakah Z akan ·
cacat ataukah mati.
m. Dolus Generalis
Pada dasarnya dolus generalis adalah kesengajaan yang ditujukan
kepada seseorang namun tindakan yang dilakukan lebih dari satu untuk
inencapai tujuan tersebut389• Kasus ini perriah terjadi di Rotterdam yang
menimpa Marcel N yang dicekik terlebih ~dulu kemudian dilempar
ke dalam air oldt pelaku. Dokter Zeldenrust, ah1i patologi -:- anatomi
• Jan Remmellnk, [Link]:,·l68.
• 117 D. Simons, [Link].; him. 261
·• Hazewinkel Suringa. [Link]., Bandingkan dengan D. Simons, [Link].
• Jan Remmelink, [Link]., 169.
PERTANGGUNGJAWABAH PIDANA •
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
memastikan bahwa penyebab [Link] bukanlah cekikan, melainkan
· tenggelam.
Terhadap kasus ini, terdapat · perbedaan pendapat. Simons ·.
menyatakan bahwa yang terjadi adalah pembunuhan dengan dolus
generalis3 90• Berbeda dengan Simons, Surlilga · berpendapat bahwa
pelaku yang mencekik korban, namun tidak ·mati, dikualifikasikan
sebagai percobaan pembunuhan. Korban yang kemudian ·tenggelam
karena dilempar ke dalam air dikualifikasikan sebagai kealpaan yang ·
mengakibatkan matinya seseorangl91 • Lain halnya dengan Simons dan
Suringa, Rechtbank Rotterdam yang memutus kasus tersebut dalam
pertimbangannya menyatakan pembunuhan yang dilakukan masuk
dalam dolus eventualis bahwa terdakwa dengan kesadaran penuh
yang melemparkan orang yang telah dicekik ke dalam air juga dapat
menimbulkan kematian392•
"
Dalam kasus ini, Penulis sependapat dengan Simons yang
menyebutkannya sebagai dolus generalis sesuai dengan definisi di atas.
Agar dapat mengakibatkan mati, pelaku melakukan lebih dari satu
tindakan yaitu mencekik korban dan melemparkannya ke dalam air.
Penulis tidak sependapat dengan Suringa, yang memisahkan korban
pada saat dicekik na.-nun tidak mati sebagai percobaan pembunuhan
dan ,melemparkan korban ke dalam air sebagai suatu kealpaan yang
mengakibatkan matinya orang.
Ada dua hal yang menjadi keberatan Penulis terhadap pendapat
Suringa: Pertama, Suringa memisahkan antara perbuatan mencekik
korban dan melemparkan korban ke dalam air. Menurut Penulis,
tindakan mencekik korban dan melemparkan korban ke dalam air
adalah suatu rangkaian perbuatan yang bertujuan mengakibatkan
matinya korban. Sehlngga, dalam penuntutan tidaklah dapat dipisahkan
antara tindakan pelaku mencekik korban dan tindakan pelaku yang
melemparkan korban ke dalam air. Kedua, melemparkart korban yang
190 D. Simons, catatan kaki nomor 4, [Link]., hlm.260
191
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 100.
392
Jan Remmelink, [Link]., him. 170.
180 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
telah dicekik bukanlah suatu kealpaan melainkan kesengajaan. Artinya,
pelaku mengetahui dan menghendaki akibat perbuatannya tersebut.
Penulispun tidak sependapat dengan pertimbangan Rechtbank
Rotterdam yang mengatakan kasus tersebut sebagai dolus eventualis.
Penulis yang sependapat dengan perbedaan antara kesengajaansebagai
kemungkinan dengan dolus eventualis, berpendhian bahwa tindakan
pelaku yang mencekik korban dan melemparkannya ke dalam air
memang. bertujuan agar korban mati. Bandingkan dengan dolus ·
eventualis yang tidak ·menghendaki akibat perbuatan, namun kalau
akibat itu terjadi adalah merupakan suatu risiko yang ditanggung.
n. Dolus Repentinus
Dolus repentinus atau impetus adalah kesengajaan melakukan
sesuatu yang muncul dengan tiba-tiba393• Dalam hukum Jerman, dolus
repentinus dikenal dengan istilah hastemuf94• Artinya, kesengajaan
tersebut muncul seketika dengan memperhatikan situasi dan kondisi.
Sebagai misal, seseorang yang setelah melak:ukan aksinya mencuri di
sebuah rumah kemudian tertangkap tangan oleh Satuan Pengaman
yang menjaga rumah tersebut. Agar tidak ketahuan, seketika timbul
niat dari pelaku untuk membunuh Satuan Pengaman tersebut dan
hal itu berhasil dilakukannya. Perbuatan pelaku me~unuh Satuan
Pengaman dikualifikasikan sebagai dolus repentinus.
o. Dolus Premeditatus
Dapatlah dikatakan bahwa dolus premeditatus adalah kebalikan
dari dolusrepentinus. Dalam hukumJerman, dolus premeditatus dikenal
dengan istilah beratene mufl95• Dolus premeditatus adalah kesengajaan
yang dilakukan dengan rericana terlebih dwu. · Dalam KUHp, dolus
premeditatus terdapat di . b_eberapa pasal, ·antara lain pembunuhan
berencana, pembunuhan anak berencana dan penganiayaan dengan ·
rencana terlebih dulu. Rencana dalam melakukan suatu perbuatan yang
• .· D. Simons, [Link]., him. 262.
,. ·Hazewfnlcel SUrinp, [Link]. ·
J8S ' [Link].
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA iii~~
~~-~~:;.~~~~~.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
di}arang bukanlah bentuk khusus dolus, melainkan memberi suatu
nuansa untukmelakukan perbuatan pidana dengan pertimbangan yang
matang. Dolus premeditatus adalah suatu keadaan yang memberatkan
. dalam penjatuhan pi~aJM. kejahatan yang dUakukan secara bersama-
.sama dua orang atau lebih biasanya meiupakan dolus premeditatus
yang dimulai dengan suatu permufakatan jahat
-p.' DolusAntecedens
Dolus antecedens diartikan sebagai kesengajaan yang ditempatkan
terlalu jauh sebelum tindakan dilakukan. Reinmelink dengan mengutip
Jescheck memberikan ilustrasi yang mudah dimengerti terkait dolus
antecedens. Pada tanggal31 Oktober, seorang suami bemiat menembak
istrinya saat berburu yang direncanakan pada tanggal 3 November.
Ketika sedang membersihkan senapan pada tanggal2 November, tanpa
sengaja, suami menembak istrinya sampai matP97~
q~ '
Dolus Subsequens
Berbeda dengan dolus antecedens adalah dolus subsequens yang
[Link] kesengajaan terhadap suatu perbuatan yang sudah terjadi.
llustrasi yang diberikan oleh Remmelink, karena kealpaannya, A
menabrak seseorang yang kemudian diidentifikasi sebagai B yang
merupakan musuh A. Tindakan A menabrak B bukanlah suatu
kesengajaan, namun tindakan niembiarkan B tergeletak begitu saja
dan tidak memberikan pertolongan adalah suatu kesengajaan karena
mengetahui bahwa B adalah musuhnya398•
r. Dolus Malus
Dolus malus diartikan kesengajaan yang dilakukan dengan niat
jahat. Dolus malus ini pertama kali dituangkan dalam Beirse Wetboek
1813 yang dibuat oleh von Feuerbach yang pada intinya seseorang
yang melakukan perbuatan pidana dan dapat dipidana hanya karena
orang tersebut memahami bahwa perbuatan yang dilakukan adalah
• Jan Remmelink, [Link]., hlm.171.
m [Link].
ne Ibid, him. 112.
182 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang dilarang oleh undang-undang399• Dengan demikian, dapatlah
dikatakan bahwa persyaratan adanya dolus malus identik dengan
kesengajaan berwarna seperti yang telah diutarakan di atas.
2) Kesengajaan Dalam Rumusan Delik
Wanneer in een delictsomschrijving het woord opzet voorkompt,
rijzen dadelijk vragen de inhoud, de omvang en de draagwijdte van dit
begrip, dat de wet immers nergetis definieert. Het is de Mem. V. Toel.,.die
de verschillende betekenissen ervan aangeeft, alsook de delictsfactoren,
waarop het betrekking heeft400. Demikian hal mendasar dari Hazewinkel
Suringa yang pada intinya mempertanyakan kapan suatu rumusan ·
delik mengandung kesengajaan dan sampai sejauh mana pengertian
ini didefinisikan oleh undang-undang. Dalam Memorie van Toelichting
berbagai macam pengeitian termasuk juga pengertian dalam faktor-
faktor delik.
Ketika mengulas pembagian delik ke dalam delik opzet dan
delik culpa pada Bah II di atas, telah dijelaskan bahwa bentuk
kesalahan biasanya dinyatakan secara eksplisit dalam rumusan delik.
Namun demikian, tidak selamanya rumusan .delik secara ekplisit
mencantumkan kata-kata "dengan sengaja.._ Ada beberapa kata:..kata
yang dianggap sebagai pengganti kata-kata ~ckngan slngaja" seperti
· kata-kata "mengetahui. Contohnya Pasal 220 .KUHP yang mengatur,
"Barangsiapa memberitahukan atau mengadukan bahwa dilakukan
suatu perbuatan pidana, padahal mengetahui bahwa tidak dilakukim itu,
diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan"
Kata~kata lam yang juga sering digunakan untuk menggantikan
kata-kata "dengan sengaja" adalah kata-kata "dengan makstUl'
sebagaimana terdapat dalam Pasal 263 ayat {1 ). KUHP. Pasal a quo
menyatakan, •Barangsiapa membuat secara tidak benar atau memalsu
surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak. perikatan atau pembebasan . ·
·· hutang. atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari sesuatu [Link] ·
• Hazewlnkel Surlnp, [Link]., hlm.102.
«» Ibid, him. 82 ·
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
maksud untuk memakai atau menyuruh orang .lain pakai surat tersebut
seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam, jika pemakaian
tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan .
pidana penjara paling lama enam tahun':
:\f'Kata-kata "dengan maksucf' mempunyai padanan yang sama
d~!lgan kata-kata "dengan tujuan" untuk [Link] kata-
kata "dengan sengaja". f'asal 3 Undang-Undang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi menyebutkan, ·"Setiap orang dengan tuj'!an ·
menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatannya atau kedudukan yang· dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan palin{ lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling
sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
[Link],OO (satu milyar rupiah)'".
Permasalahan lebih lanjut apakah, kata-kata "dengan sengaja"
atau dengan kata-kata lainnya seperti kata-kata "mengetahui~ kata-
kata "dengan maksud" dan kata-kata "dengan tujuan" mempunyai
konsekuensi yang sama? Hal ini terkait dengan corak kesengajaan atau
jenis-jenis kesengajaan yang telah dibahas dalam subbab terdahulu. Jika
dalam rumusan delik secara eksplisit menggunakan kata-kata "dengan
sengaja», kiranya tidak ada perbedaan di antara para ahli hukum pidana
bahwa kata-kata "dengan sengaja"' meliputi semua corak kesengajaan
ataupun jenis-jenis kesengajaan.
Lain halnya jika pembentuk undang-undang menggunakan
kata-kata "mengetahui", terdapat perbedaan pendapat di · antara
para ahli hukum pidana. van Hamel, Pompe, Vos dan Langemeijer
berpendapat bahwa kata-kata "sengaja• dan "mengetahui" adalah
identik (~ .... opzettelijk en wetende dat als identiek. ..."401 ). Artinya, kedua
kata tersebut meliputi semua corak kesengajaan yang ada. Berbeda
401
J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 256.
184 PRINSIP·PRINSJP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dengan van Bemmelen dan van Hattum, kata-kata "mengetahui"
hanya meliputi corak kesengajaan sebagai maksud dan kesengajaan
sebagai kepastian, sedangkan kesengajaan sebagai kemungkinan tidak
termasuk di dalamnya.
Demikian pula ketika pembentuk undang-undang menggunakan
kata-kata "dengan maksud'' atau "dengan tujuan~ terdapat perbedaan
pendapat di antara para ahli hukum pidana. Menurut van Bemmelen
dan van Hattum, kata-kata "dengan maksud'' atau kata-kata "dengan
tujuan" liaruslah dipandang subjektif dari sudut pelaku. Artinya,
kesengajaan yang ada dalam rumusan delik tersebut hanyalah
kesengajaan sebagai maksud402 • Hal ini berbeda dengan Pompe
yang melihat dari pandangan objektif sehingga kata-kata "dengan
maksud" atau kata-kata "dengan tujuan" meliputi juga kesengajaan
sebagai kepastian403 • Lain halnya dengan Moeljatno yang mecoba
mengakomodasi kedua pendapat tersebut. Menurut Moeljatno, jika
dalam delik percobaan, maka pandangan subjektifnya van Bemmelen
dan van Hattum yang digunakan. Sebaliknya, jika dalam delik yang
sudah selesai, maka pandangan objelqifnya Pompe yang digunakan404•
Penulis sendiri berpendapat bahwa kata-kata "mengetahui" pada
dasarnya sama dengan kata-kata "dengan sengaja" sehingga meliputi
ketiga corak kesengajaan. Hal ini didasarkan pada argumentasi bahwa
teori kesengajaan yang ideal diterima adalah teori pengelahuan karena
di dalam kehendak ada pengetahuan, namun tidak sebaliknya. Ketika
pembentuk undang-undang menggunakan kata~kata "mengetahui",
berarti menghendaki perbuatan ·dan akibatnya. baik akibat yang
dikehendaki maupun tidak dikehendaki termasuk di dalamnya suatu
kemungkinan yang akan terjadi. Berbeda, ketika pembentuk undang-
'Qlldang menggunakan kata-kata "dengan maksud" atau kata-kata "
dengan tujuan" lebih pada sikap batin pelaku secara subjektif. Artinya,
pembentuk undang-undang hanya menghendaki corak kesengajaan
sebagai . maksud dan menutup adanya . corak kesengajaan sebagai
402 Ibid., him. 273.
«13 [Link]. Pompe, [Link]., hlm.159.
404
Moeljatno, [Link]., him. 196
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
kepastian atau keharusan dan corakkesengajaan sebagai kemungkinan.
Ada kalanya, pembentuk undang-undang tidak mencantumkan
bentuk kesalahan dalam rumusan delik secara tegas. Dalam hal yang
demikian, Simons berpendapat, bentuk kesalahan harus diartikah
sebagai kesengajaan. Lebih lanjut menurut Simons, semua unsur delik.
dlliputi oleh kesengajaan405• van Hamel menentang pendapat Simons
dan menyatakan bahwa dalam hal pembentuk undang-undang tidak
mencantumkan kata-kata dengan sengaja atau kata-kata lainnya
yang dapat dimaknai sebagai kesengajaan, maka bentuk kesalahan
dalam delik tersebut harus dianggap sebagai kesengajaan, hanya saja
. kesengajaan tersebut tidak meliputi semua unsur. Masih menurut
van Hamel, unsur mana saja yang dlliputi oleh kesengajaan, haruslah ·
ditelaah pasal demi pasal406•
Pendapat van Hamel ini diikuti oleh van Bemmelen dan
Burgersdijk ya'ilg menyatakan hahwa keseng~jaan tertuju pada suatu
hal tertentu sebagai hagian perbuatan pidana, jika orang berbuat
dengan perkiraan bahwa unsur ini ada; pengeWluan dari keberadaan
unsur itu tidak diperlukan (Het opzet is op een bepaald bestanddeel
van het strajbare feit gericht, indien gehandeld wordt in de ondersteling,
dat it bestanddeel aanwezig is; wetenschap van de aanwezigheid is niet
nodig)401 •
Menurut hemat Penulis, ada-tidaknya penyebutan unsur
kesengajaan dalam rumusan delik mempunyai arti penting dalam
konteks pembuktian. Jika suatu rumusan delik menyebutkan bentuk
kesalahan berupa kesengajaan secara eksplisit, maka penuntut umum
harus membuktikan kesengajaan tersebut. Sebaliknya, jika dalam
suatu rumusan delik tidak menyebutkan bentuk kesalahan secara
eksplisit, maka dengan dapat dibuktikannya unsur-unsur delik,
bentuk kesalahan berupa kesengajaan dianggap telah terbukti dengan
sendirinya. Tegasnya, kesengajaan tersebut dapat meliputi semua unsur
405 D. Simons, [Link]., 249.
406 G.A. van Hamel, Op.t;it., him. 356.
«17 J. M. van Bemmelen En H. Burgersdijk, 1955, [Link]., him. 1.
186 PRINSIP··PRlNSIP HUKIJM PIDAN.b.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
delik maupun hanya meliputi unsur-unsur tertentu dalam rumusan
delik.
Dalam delik omisi, unsur kesengajaan untuk tidak mdakukan suatu
perbuatan yang diwajibkan oleh undang-undang harus dicantumkan
secara eksplis~t. Hal ini karena letak kesengajaan justru terdapat
pada tidak mdakukan suatu perbuatan. Mengenai hal ini Suringa
menyatakan secara tegas, "Bij de opzettelijke omissiedelicten moet men
het daarbij gebodene niet willen nakomen; het vergeten is niet voldoende
om onder een dergelijk delict te vallen~ (Pada delik omisi, kesengajaan
ada pada tidak mau melaksanakan perbuatan yang diperintahkan; jika
lupa tidak merupakan kesengajaan dari delik).
E. KEAlPAAN
Di samping kesengajaan, bentuk kesalahan lainnya . adalah
kealpaan. Imperitia culpae annumeratur, yang berarti kealpaan
adalah kesalahan. Akibat ini timbul karena seseorang alpa, sembrono,
teledor, lalai, berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga-duga.
Perbedaannya dengan kesengajaan ialah bahwa ancaman pidana pada
delik-delik kesengajaan lebih berat hila dibandingkan dengan delik-
delik culpa. Kealpaan merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan
dari pada kesengajaan, tetapi tidak berarti . bahwa kealpaan adalah
kesengajaan yang ringan. Oleh karena dalam penghukuman, kealpaan
lebih ringan d~ pada kesengajaan: imperitia est maxima mechanicorum
poena (kealpaan memiliki mekanisme pidana terbaik, meskipun dapat
membuat seseorang dituntut pertanggungjawabannya).
Dalam Memorie van Toelichting yang memandang culpa semata-
mata pengecualian dolus sebagai tindakan umum dan adanya keadaan
yang sedemikian membahayakan keamanan orang atau barang
atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian
be'sarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi, sehingga undang:-undang
juga bertindak terhadap kekurang penghati-hatian, sikap sembrono
atau sikap teledo~. Bagaimanapun juga negligentia semper habet
401 Hazewinlcel Surfnga, [Link]., him. 82
· ., Jan Remmelink. [Link]., hlm.175.
PERTANGGUNGJAWABAN PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
infortuniam comitem. Artinya, kealpaan selalu membawa kemalangan
kepada orang lain.
Mengenai apa yang dimaksudkan dengan kealpaan - sama
dengan kesengajaan - KUHP tidak memberikan definisi tentang
kealpaan. Pompe menyatakan, "De schuld als zodanig wordt in de wet
niet genoemd. Als de wetgever het woord schuld gebruikt, verstaathij er
iets anders onder dan hier. In het Wetboek van Strafrecht betekent het:
onachtzaamheid....10410 (Kealpaan sebagai demikian tidak disebut dalam
undang-undang. Bila pembentuk undang-undang menggunakail
istilah kealpaan, pengertiannya berbeda dengan apa yang disebut di
sini. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana berarti: ketidakhati-
hatian).
Dengan membandingkan antara kealpaan dan kesengajaan,
Noyon dan Langemeijer menyatakan:
De schuld blijkt zoo een uiterst gecompliceerde juridische structuur
te hebben.'zij omvat naast elkaar uiterlijke gedragsfouten, die op een
bepaalde innerlijke gesteldheid wijzen, anderzijds die gesteldheid
zelf. Zoo opgevat omvat schuld in engeren zin aile schuld in ruimeren
zin die niet is opzet. Het opzet onderscheidt zich van de schuld dooe
een positief kenmerk, het bewuste willen of aanvaarden van de door
het opzet beheerschte bestanddeelen, de schuld van het opzet slechts
door het ontbreken van dit kenmerk. Daarom is het ook redelijk.
ze het niet practisch, dat voor schuld in ruimen en in engen zin
hetzelfde woord gebruikt wordtt- 11 •
(Kealpaan adalah suatu struktur hukum yang sangat kompleks.
Kealpaan mengandung di satu pihak adalah kekeliruan dalam
perbuatan lahir yang menunjuk adanya keadaan batin tertentu,
namun di lain pihak adalah keadaan batin itu sendiri. Jika memang
demikian, kealpaan meliputi semua makna kesalahan dalam arti
luas yang bukan berupa kesengajaan. Perbedaan kes-engaja:an
dari pada kealpaan ialah bahwa dalam kesengajaan ada sifat yang
positif, yaitu adanya kehendak dan persetujuan yang disadari dari
unsur-unsur delik yang diliputi oleh kesengajaan, ~edangkan sifat
410
W.P.J. Pompe, [Link]., him. 147-148
411
T.J. Noyon En G. E. langemeijer, [Link]., him. 38.
188 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
positif ini tidak ada dalam kealpaan. Oleh karena itu dapatlah
dimengerti, meskipun tidak praktis, dipakai istilah yang sama
untuk kesalahan dalam arti yang luas dan dalam arti yang sempit).
Berdasar}<.an apa yang dikemukakan oleh Noyon dan Langemeijer
dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, kesalahan meliputi
pengertian yang sangat luas di luar kesengajaan. Kedua, dalam
kesenga~aan ada kehendak, sedangkan dalam kealpaan tid;:tk ada
kehendak. Ketiga, kata "schuld" dalam literatur hukum Belanda dapat
diartikan sebagai kesalahan dan dapat juga diartikan sebagai kealpaan.
Oleh karena itu kesalahan dalam pengertian bentuk kesalahan juga
meliputi kesengajaan dan kealpaan, sedangkan dalam pengertian yang
sempit, kesalahan dapat diartikan sebagai kealpaan.
Masih berkaitan dengan pembedaan dolus dan culpa, Remmelink
berpendapat bahwa dolus dan culpa merupakan dua kutub yang
berseberangan. Pelaku dolus menghendaki akibat yang diancamkan
pidana, sedangkan pelaku culpa tidak menghendaki akibat yang
dianggap tidak pantas oleh perundang-undangan. Masih menurut
Remmelink. situasi culpa yang berhadapan dengan dolus bukanlah
merupakan minus dalam pengertian sesuatu yang lebih ringan, namun
merupakan aliud atau sesuatu yang berbeda Kendatipun jenis dolus
yang paling ringan yaitu dolus eventualis sangat mendekati bentuk jenis
culpa yang berat yakni culpa lata, namun demikian dolus diarahkan
secara positif pada akibat, sedangkan culpa justru sebaliknya. Dalam
hal ini berlakulah adagium culpa dolo exoneratyang berarti ketidakhati-
hatian membebaskan seseorang dari dolusfiZ.
Jika tidak didefinisikan perihal kealpaan, maka pertanyaan
lebih lanjut apa saja yang terkandung dalam kealpaan? Jawaban atas
pertanyaan ini pada prinsipnya terdapat kesamaan di antara para
ahli hukum pidana. Secara singkat van Bemmelen dan Burgersdijk
menyatakan, ceDe uitdrukking, 'schuld' omvat een min of meer grove oj
~ Jan Remmelink. [Link], him. 178-179.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
aanmerkelijke onvoorzichtigheid, onachtzaamheid of nalatigheid"413
(Pernyataan kealpaan meliputi ktirang lebih suatu ketidakhati-hatian,
kurang perhatian atau tidak melakukan sesuatu).
Menurut van Hamel, dua hal yang terdapat dalam kealpaan adalah
tidakada penduga-duga dan tidak ~danya penghati-hatian414• Demikian
pula menurut Simons yang menyatakan, "Als regel bestaat dus de schuld
uit twee bestanddelen, gemis aan vqorzichtigheid naast voorzienbaarheid
van het gevolg419' (lsi kealpaan mengandung dua unsur, tidak adanya
penghati-hatian di samping dapat-diduga-duganya akibat yang akan
tirilbul). Berdasarkan apa yang <likemukakan oleh van Bemmelen,
Burgersdijk, van Hamel dan Simons dapatlah disimpulkan bahwa
syarat kealpaan adalah tidak adanya penghati-hatian dan atau tidak
adanya penduga -dugaan.
Berbeda dari pendapat-pendapat di atas adalah Pompe. Dari
'- untuk menyebut kealpaan, Pompe menggunakan
segi peristilahan
istilah "onachtzaamheia dan bukan istilah "schultf'. Onachtzaamheid
diartikan sebagai kurang perhatian atau kurang penduga-dugaan.
Menurut Pompe, onachtzaamheid meliputi tiga macam yaitu, dapat
mengira timbulnya akibat, mengetahui adanya kemungkinan dan
dapat mengetahui adanya kemungkinan416•
Menurut Penulis, apa yang. dikemukakan Pompe terlalu rumit
untuk memahami perihal kealpaan. Sebab jika harus mengira timbulnya
akibat atau mengetahui adanya kemungkinan, maka sesungguhnya
tidak ada perbedaan yang prinsip an tara kealpaan dan dolus eventualis.
Selanjutnya terkait syarat kealpaan yaitu kurang penghati-hatian dan
kurang penduga-dugaan menurut hemat Penulis, kedua syarat tersebut
tidaklah bersifat kumulatif, melainkan bersifat alternatif. Hal ini akan
jelas terlihat dalam bentuk-bentuk kealpaan.
Terkait tidak mengadakan penduga-dugaan dalarn kealpaan,
melahirkan dua bentuk kealpaan yaitu bewuste culpa ata~ kealpaan
413
J.M. van Bemmelen En H. Burgersdijk, [Link]., him. 12
414
G.A. van Hamel, [Link]., him. 376.
415
D. Simons, [Link]., hlrri. 267.
416
[Link]. Pompe, [Link]., him. 179 -180.
190 PRINSIP- PRir~SiP 11UKUM PlOAN~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang disadari dan onbewuste culpa atau kealpaan yang tidak disadari.
Kealpaan yang disadari atau disebut juga luxuria berarti pelaku
berpikir bahwa akibat tidak akan terjadi karena perbuatannya, padahal
pandangan itu kemudian keliru. Hubungan kesadaran antara pelaku
dengan akibat yang seharusnya dapat dihindari dapat dibuktikan.
Pelaku sudah memperhitungkan kemungkinan munculnya akibat dari
tindakannya, namun ia percaya bahwa ia masih dapat menghindari
atau mencegahnya417 •
Contohnya, seorang pembalap motor dengan kecepatan tinggi
mengendarai sepeda motor melewati jalan yang padat lalu lintasnya.
Pembalap tersebut berpikir bahwa karena kemahirann~ dia tidak
akan menabrak, namun kenyataannya dia menabrak seorang pejalan
kaki418• Di sini, pelaku sudah memperhitungkan kemungkinan akan
akibat perbuatannya, namun karena kemahirannya mengendarai
sepeda motor, ia percaya bahwa ia masih dapat menghindari akibatnya.
Kealpaan seperti ilustrasi di atas adalah kealpaan yang paling·
· berat atau yang biasa disebut dengan istilah culpa lata. Bandingkan
dengan dolus eventualis sebagai bentuk kesengajaan yang paling ringan.
Dalam dolus eventualis, unsur kehendak sepenuhnya ada, namun
unsur mengetahui hanya terbatas pada kesadaran akan kemungkinan
terjadinya akibat yang tidak dikehendaki. Sedangkaa, dalam culpa
lata, unsur mengetahui sama dengan dolus eventualis, namun unsur
menghendaki tidak ada sama sekali dalam culpa lata.
Sebaliknya, kealpaan yang tidak disadari atau disebut juga dengan
istilah negligentilt19 adalah pelaku sama sekali tidak mempunyai
pikiran . bahwa akibat yang dilarang mungkin timbul karena
perbuatannya. Tegasnya, pelaku tidak mempunyai pemikiran .sama
sekali kemungkinan akibat yang akan timbul. llustrasinya, seorang
mengendarai sepeda motor dengan perlahan-lahan di jalan yang sepi
karena orang tersebut belum mahir. Tiba-tiba, orang tersebut dikejar
417
Jan Remmelink, [Link]., him. 180.
411 Moeljatno., [Link]., him, 218.
419
Jan Remmelink, [Link]., him. 181.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 19f.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
anjing sehingga menabrak seseoran(20• Kealpaan yang demikian
disebut juga sebagai culpa levis atau culpa levisime atau kealpaan ringan.
Berkaitan dengan tidak mengadakan penghati-hatian, Moeljatno
yang mengutip pendapat van Hamel menyatakan bahwa kurang
· penghati-hatian antara lain karena tidak mengadakan penelitian,
kebijaksanaan, kemahiran atau usaha pencegahan yaJ1g nyata dalam
keadaan-keadaan tertentu atau cara inelakukan perbuatan. Artinya,
yang menjadi objek penilaian, bukanlah batin terdakwa melainkan
tingkah laku terdakwa421 • Tidak mengadakan penghati-hatian dalam
kealpaan melahirkan dua bentuk kealpaan yaitu culpa subjektif dan
culpa objektif.
Culpa subjektif lebih menitikberatkan pada keadaan individu.
Di sini adanya kealpaan tidak terlepas dari jaminan individu yang
memperoleh pendidikan khusus sehingga dibutuhkan tindakan yang
ekstra cermat ~u hati-hati422• Sebagai misal, seorang polisi yang sedang
mengejar pelaku kejahatan kemudian terlibat baku tembak. Pada saat
tembakan dilepaskan oleh polisi, pelaku kejahatan berhasil menghindar
dan peluru mengenai orang lain. Di lihat dari sisi individu, seharusnya
polisi yang mengikuti pendidikan khusus menembak perlu kecermatan
dalam tindakannya sehingga peluru tidak salah sasaran.
Culpa objektif tidak berdasarkan keadaan individu seperti culpa
subjektif melainkan pada perbuatan lahir secara objektif423 • Sebagai
misal, jika seorang pengemudi mobil di jalan raya tidak berlaku santun
dalan1 berlalu lintas lalu menimbulkan kecelakaan, maka pelaku secara
objektif tidak mengadakan penghati-hatian. Pembagian culpa yang lain
adalah culpa yang sesungguhnya dan culpa yang tidak sesungguhnya.
Pembagian culpa yang demikian berkaitan erat dengan penyebutan
culpa dalam rumusan delik. .
Culpa sesungguhnya berarti akibatyang dilarang itu timbul karena
kealpaannya424 • Sebagai misal Pasal 188 KUHP yang menyatakan,
420 Moeljatno, [Link]., him. 219.
•n Ibid, [Link]., him. 220.
422 Jan Remmelink, [Link]., him. 182.
m Ibid, him. 183.
m Moeljatno, [Link]., him. 228.
192 PRINSIP·PH!NSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
"Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan kebakaran, ledakan
atau banjir, diancam dengatt pidan.a penjara paling lama lima tahun
atau kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak tiga
ratus rupiah, jika karenanya timbul bahaya umum bagi barang, jika
karenanya timbul bahaya bagi nyawa orang lain, atau jika karenanya
merzgakibatkan matinya orang': Contoh lainnya adalah Pasal360 ayat ( 1)
KUHP yang berbunyi, "Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan
orang lain rnendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun".
Culpa tidak sesungguhnya berarti melakukan suatu perbuatan
berupa kesengajaan namun salah satu unsurnya di-culpa-kan425 •
Misalnya Pasal480 ke-1 KUHP, "Dian cam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah karena
penadahan: barangsiapa membeli, menawarkan, menukilr, menerima
gadai, menerima hadiah, atau untuk menarik keuntungan, menjua~
menyewakan, menukarkan, menggadaikan, mengangkut, menyimpan
atau menyembunyikan sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya
harus diduga, bahwa diperoleh dari kejahatan". Kata-kata 'diketahui'
menandakan bentuk kesalahan berupa kesengajaan, sedangkan
kata-kata 'sepatutnya diduga' menandakan bentuk kesalahan berupa
kealpaan. '
Bagaimana cara menentukan culpa pada diri seseorang? Sudarto
memberi jawaban sebagai berikut: Pertama, kealpaan orang tersebut
harus ditentukan secara normatif, dan tidak secara fisik atau psychis.
Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang
yang sesungguhnya, maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana
seharusnya ia berbuat dengan [Link] ukuran sikap batin orang
pada umumnya apabila ada dalam situasi yang sama dengan pelaku.
Kedua, "orang pada umumnya" ini berarti bahwa tidak boleh
. orang yang paling cermat, paling hati-hati, [Link] ahli dan sebagainya.
Ia harus orang biasa atau seorang ahli biasa. Untuk adanya pemidanaan
perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar, jadi harus ada
425
Ibid., him. 229.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
culpa lata dan bukannya culpa levis. Ketiga, untuk menentukan
kekurangan penghati-hati dari pelaku dapat digunakan ukuran apakah
ia "ada kewajiban untuk berbuat lain".'
Keempat, kewajiban ini dapat diambil dari ketenh1an undang-
undang atau dari luar undang-undang, yaitu dengan memperhatikan
segala keadaan apakah yang seharusnya dilakukan olehnya. Kalau ia
tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, maka hal tersebut
menjadi dasar untuk dapat mengatakan bahwa ia alpa. Undang-
undang mewajibkan seorang untuk melakukan sesuatu atau untuk
tidak melakukan sesuatu. Misalnya, dalam peraturan lalu lintas ada
ketentuan bahwa "di persimpangan jalan, apabila datangnya bersamaan
waktu, maka kendaraan dari kiri harus didahulukan"426•
Dalam hubungan antara kealpaan dan melawan hukum, Vos yang
mengikuti pendapat van Hamel menyatakan, "Men van Hamel, meen
ik dan ook, dat bij de culpose delicten de wederrechtelijkheid in de culpa
begrepen is; w"eziswaar sluit culpa niet per se verwijt aan de dader in,
maar zij drukt toch ajke~ring der gedraging uit, ......427 " (van Hamel,
demikian juga saya, berpendapat bahwa dalam delik-delik culpa,
melawan hukum sebagai pengertian culpa; namun demikian secara
nyata culpa tidak meliputi dapat dicela pelaku, namun demikian tidak
menyetujui kelakuan pelaku).
F. PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASl
Korporasi berasal dari kata corporatio dalam Bahasa Latin
yang berawal dari kata corporare, artinya memberikan badan atau
membadankan. Muladi yang mengutip K. Malikoel Adil mengartikan
korporasi atau COTjJOration adalah basil dari pekerjaan membadankan
atau badan yang dijadikan orang. Badan yang diperoleh dengan
perbuatan manusia sebagai lawan terhadap badan manusia yang terjadi
menurut alam. Dengan mengutip pendapat Satjipto Rahardjo, Muladi
dan Dwidja Priyatno juga menyatakan bahwa korporasi sebagai suatu
426
Sudarto, [Link]., him. 128- 129.
427
H.B. Vos, [Link], him. 138- 139
194 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
badan hasil cipta hukum, yang terdiri dari corpus (yang mengarah
pada fisiknya) dan animus (yang diberikan hukum membuat badan itu
memiliki kepribadian) 428•
Pada awalnya, pembuat undang-undang berpandangan bahwa
hanya man~ia (orang per orang atau individu) saja yang dapat
menjadi subjek hukum suatu tindak. pidana. Hal ini dapat dilihat dari
sejarah perumusan ketentuan Pasal 59 KUHP, terutama dari cara
bagaimana delik dirumuskan dengan adanya frasa "hij die" yang berarti
'barangsiapa: Dalam perkembangannya pembuat undang,-undang
ketika merumuskan delik turut memperhitungkan kenyataan bahwa
manusia juga terkadang [Link] tindakan di dalam atau melalui
organisasi dalam hukum keperdataan ataupun di luar hal tersebut,
sehingga muncul pengaturan terhadap badan hukum atau korporasi
sebagai subjek hukum dalam hukum pidana:
Kejahatan Korporasi merupakan salah satu bentuk dari kejahatan
white colla,-429. Edwin Sutherland memperkenalkan istilah "white
collar crime" dalam pidatonya pada pertemuan American Sociological
Society tahun 1939 untuk menentang teori-teori serta stereotip yang
konvensional430• Sutherland mencoba mendiskripsikan aktivitas
kr1minal yang [Link] seseorang yang memiliki status sosial tinggi
serta dihormati, yang mana seseorang ini akan [Link] jabatan
pekerjaannya sebagai sarana untuk melartggar hukibn431 • Sutherland
menggunakan istilah "white collar crime,dalam rangka membedakan
antara kejahatan yang dilakukan oleh profesional dan kalangan status
m Muladi Dan Dwidja Priyatno, 2010, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Cetakan
Pertama, J<encana Prenada Media Group, Jakarta, him. 23-24. Bandingkan dengan lu
Sudirman Dan Feronica, Pembuktian PertanggungjaWaban Pidana Lingkungan dan
Korupsi Korporasi Di Indonesia don Singapura, dalam Mimbar Hukum, Volume 23, Nomor
2, Juni 2011, him. 295.
• 29 Mardjono Reksodipoetro, 71ndak Pidana Korporasi Dan .Pertanggungjawabannya:
Perubahan Wajah Pelaku Kejahatan Drtndonesia (Penyempumaan dari Makalah tahun
1993), Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi Asas-Asas Hukum Pidana Dan Kriminologl
Serta Perkembangannya Dewasa lni, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 23 - 27
Februari 2014, him. 8.
U~ David Welsburd, Elin Waring And Ellen F. Chayet, 2004, White- Collar Crime And Criminal
careers, cambridge University Press, him. 1
01
Sally S. Simpson, 2002, Corporate Crime, Law And Social Control, Cambridge University ·
Press, him. 6.
PERTANGGUNGJAWABAN PIOANA · 195 .
...:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sosial yang tinggi (yang biasanya mengenakan kemeja putih berkerah
· dan berdasi) dengan kejahatan biasa atau ''street crimes" seperti
perampokan, pembunuhan, atau penyerangan432• Filsafat white collar
cnme adalah bahwa sukses dan keuntungan material merupakan kedua -
hal yang terpenting dalam kehidupan, dan dalam pencapaiannya,
seseorang tidak harus ragu-ragu untuk melakukan perilaku tidak etis.
Filsafat ini merupakan penghinaan bagi mereka yang hidup dengan
konsep idealisme433•
Marshall B. Clinard dan Peter C. Yeagerdalam Wedasebagaimana
yang dikutip oleh Setiyono memberi pengertian kejahatan korporasi
sebagai setiap tindakan yang dilakukan oleh korporasi yang bisa diberi
hukuman oleh negara, entah di bawah · hukum administrasi negara,
hukum perdata, maupun hukum pidana ( A corporate crime is any
act commited by corporations that is punished by the state, regardless of
whether .it is puHished under administrative, civit or criminal law) 434•
Setiyono berpendapat bahwa berkaitan dengan kejahatan korporasi
tersebut, perlu dibedakan istilah-istilah antara crimes for corporation,
.... ~· ·· . rrimes against corporations, dan criminal co~orations .
Crimes for corporation inilah yang merupakan kejahatan korporasi
(corporate crime). Dalam hal ini dapat dikat~an, "corporate crime
are clearly committed for the corporate, and not against". Kejahatan
korporasi dilakukan untuk ke'pentingan korporasi dan bukan
sebaliknya. Kejahatan terhadap korporasi (crime [Link] corporation),
yang sering juga disebut dengan employes crimes adalah kejahatan
yang dilakukan oleh karyawan korporasi itu sendiri terhadap korporasi
tempatnya bekerja. Sebagai contoh, melakukan penggelapan dana
perusahaan oleh pejabat atau karyawan perusahaan tersebut. Perlu
dipahami bahwa pelaku dari crimes agaimt corporations ini tidak hanya
terbatas pada pejabat atau karyawan dari korporasi tersebut, namun
432
John E. Ferguson Jr, 2010, White- Cotlar Crime, Chelsea House Publish~r, him. 13.
433
Giriraj Shah, 2002, White Collar Crime, Vol. 1, Anmol Publications [Link], Newe Delhi,
hlm. 16.
434
H. Setiyono, 2005, Kejahatan Korporasi; Ana/isis Viktimologi Don Pertanggungjawaban
Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang, him. 20.
196 PRINSIP-PR!NSiP HUKLIM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dapat juga masyarakat secara luas menjadi pelaku kejahatan terhadap
korporasi ini.
Sedangkan mengenai hal yang terakhir, yaitu criminal corporations
adalah korporasi yang sengaja dibentuk dan dikendalikan untuk
melakukan ~jahatan435 • Korporasi di sini hanya ditenipatkan sebagai
sarana untuk melairukan kejahatan, atau sebagai "topeng' untuk
menyembunyikan wajah asli dari suatu kejahatan tersebu~. Pemimpin
korporasi di sini hanya melaksanakan tugas berdasarkan pembagian
pekerjaan yang telah ditentukan oleh para penjahat yang membuat
korporasi dengan tujuan menutupi kejahatan tersebut437•
Menurut sejarah, pada zaman Romawi (abad 12- 14) dan abad
pertengahan sebelwn Revolusi Perancis di Eropa, pertanggungjawaban
pidana berupa denda dapat dikenakan kepada kelompok seperti desa,
kota, asosiasi agama, keluarga dan pemerintah daerah atas perbuatan
anggotanya yang diputuskan secara kolektif (collectivity's dedsion) 438•
Pasca Revolusi Perancis gagasan pertanggungjawaban pidana korporasi
mengalami penolakan ~engan berpegang pada asas universitas
delinquere non potest (korporasi tak dapat dipidana) 439 dan asas societes
delinquere non potest (korporasi .tidak mungkin melakukan tindak
pidana)'"0, yang sangat dipengaruhi oleh Malblanc dan Friedrich Carl
von Savigny. Savigny adalah seorang ahli hukum Romawi dari Jerman
yang menulis buku System des Hentingen Romischen ~cht pada tahun
1866. Teori ini berpendapat bahwa badan hukum hanyalah suatu fiksi
435
[Link]. Bandingkan dengan Mahrus Ali, 2008, Kejahoton Korporosi; Kojion Reievonsi Sonksi
Tindakan Bagi Penanggulangon Kejahatan Korporasi, Cetakan Pertama, Arti Bumi Antaran,
hlm. 18-19. Bandlngkan pula dengan Edi Yunara, 2005, Korupsi dan Pertanggungjawaban
Pidana Korporosi Berikut Studi Kosus, Cetakan Pertama, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
hlm.27.
436
Modus ini kerap pula digunakan dalam melakukan kejahatan pencucian uang, mlsalnya
dengan keikutsertaan dalam pembentukan, dan/atau pengelolaan perusahaan atau
badan hukum dan melakukan jual-beli perusahaan. Uhat dalam Yunus Huseln, 2007,
.Bunga Rompol Anti Pencucion Uang, Cetakan Pertama, Books Terrace & Ubrary, Bandung.
hlm. 183
4J1 Setiyono, [Link]., him. 2L
431
M1.1ladi dan Diah Sulistyani RS, 2013, Pertanggungjawoban Pidana Korporosl {Corporate
Criminal Responbilfty}, Penerblt P.:r Alumni- Bandung, him. 1. ·
09
Jan Remmellnk. [Link].,hlm. 97-99. Bandingkan dengan D. Schaffmeister, N. Keijze~ LP.H.
Sutorlus, [Link].,hlm. 272•
.., Muladl Dan Dwldja Prlyatno, Op. at., him. 86.
·~ . •··. .....
PERTANGGUNGJAWABAN PIOANA ':_tl~~
. ' , . ~· .. •,( . ·'·'
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· saja. Tegasnya, badan hukum diperhitungkan sebagai suatu subjek
hukum yang disamakan dengan manusia, sebagairnana teorinya:
"They have existence, but no real personality save that given by law,
which regards them as person'." (Mereka diakui keberadaannya, tetapf
bukan suatu pribadi nyata yang dinyatakan oleh hukum, yang dianggap
sebagai orang').
Pandangan Malblanc dan Savigny yang demikian, tidak ter-
lepas dari pemahaman sistem common law bahwa korporasi tidak
bisa dituntut pertanggungjawabannya, ·namun perorangan dalam
korporasi itu. Korporasi adalah benda mati, dengan demikian
korporasi tidak mungkin memiliki mens. rea yang diperlukan untuk
pertanggungjawaban. Lebih lanjut lagi, korporasi tidak memiliki
atribusi fisik, sehingga elemen actus reus pun tidak ada. Selain itu,
kalau pun dapat dijatuhkan pidana, korporasi tidak bisa dipenjar~
atas tindakan k~ahatannya441 •
Demikian pula badan hukum semata-mata hanyalah me1upakan
buatan pemerintah atau negara saja. Badan hukum dianggap
. sebagai suatu fiksi, sesuatu yang sebenarnya tidak ada, tetapi orang
menganggapnya hidup dan diperhitungkan sama dengan manusia442•
Pengikut lain dari teori ini adalah Houwing (dalam disertasinya
SubjectiefRecht, Rechtsubject en Rechtpersoon) dan [Link], serta
C.W. Opzoomer, yang menyebut pula badan hukum sebagai persona
ficta 444, yang mana teori ini pada mulanya tidak diakui dalam hukum
pidana karena keengganan pemerintah Belanda untuk mengadopsi
ajaran hukum perdata ke dalam hukum pidana1·15•
Dalam perkembangan pemahaman mengenai kejahatan korporasi,
pertanggungjawaban muncul sebagai respon terhadap pelanggaran
441
EllenS. Podgor, 1993, White Collar Crime, ST Paul Minn, West Publishing Co, him. 33.
44l Mulhadi, 2010, Hukum Perusahaan; Bentuk-Bentuk Badon Usaha di Indonesia, Ghalia,
Boger, him. n.
443
Ali Rido, 1986, Badon Hukum dan Kedudukon Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan,
Koperasi, Yayasan, Waka/. Cetakan Keempat, Alumni, Bandung, him. 9-10. Lihat juga him.
77.
444
R. Soeroso, 2001, Perbandingan Hukum Perdata, Cetakan Keempat, Sinar Grafika, Jakarta,
hlm.152.
445
Mahrus Ali, 2011, Hukum Pidana Korupsi di Indonesia, Cetakan Pertama, Ull Press;
Yogyakarta, him. 47.
198 PRINS!P-PRINSIP HlJKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
korporasi tennasuk kelalaian yang menyebabkan terjadinya
pelanggaran regulasi. Sejak. itu, pelanggaran tidak harus didasari oleh
mens rea, ataupun tindakan langsung dan hukuman pun tersedia
dalam bentuk sanksi. Pertanggungjawaban korporasi diterapkan
dengan me_mpertimbangkan doktrin-doktrin yang telah diterima446 •
Pada akhirnya, pembuat undang-undang sampai pada kesimpulan
bahwa selain manusia sebagai 'orang: korporasi juga layak untuk dapat
dimintai pertanggungjawaban pidana atas segala [Link] apabila
tindakannya tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku.
Adapun perangkat sanksi khusus bagi korporasi adalah penjatuhan
denda, penyitaan harta kekayaan korporasi, bahkan menjatuhkan
putusan likuidasi terhadap korporasi'"7 • Dengan demikian, pemikiran
fiksi tentang sifat badan hukum (rechtpersoonlijkheid) tidak.
diberlakukan dalam hukum pidana448• Akan tetapi, jika korporasi
tidak bisa membayar kerugian, maka kewajiban tersebut dilimpahkan
·kepada individu. Hal ini berdasarkan adagium qui non habet in aere,
luat in corpore, ne quis peccetur impune. Artinya, korporasi yang tidak
bisa membayar kerugian, maka kewajiban itu dilimpahkan kepada
. individunya, untuk mencegah adanya impunitas.
Pertanyaan lebih lanjut, siapakah yang dimaksud dengan kor-
porasi tersebut? Berdasarkan PasalSl ayat (3) Wetboek van Strafrecht
Belanda, dapat disimpulkan bahwa yang dipef'3amakan dengan
korporasi adalah: persekutuan bukan badan hukum (termasuk
commanditaire vennootschap/CV/perseroan komanditer, vennootschap
onder jirma/persekutuan firma), maatschap (persekutuan perdata),
rederij (perusahaan perkapalan) dan doelvermogen (harta kekayaan
yang dipisahkan demi tujuan tertentu, termasuk yayasan)'" 9• .
Penerimaan korporasi sebagai suatu subjek hukum terbagi ·
dalam beberapa tahap. Perlllma, yaitu sejak KUHP dibentuk pada
tahun 1886, pembentuk undang-undang telah mulai memasukkan
beberapa peraturan berupa perintah dan larangan terhadap pengurus
• Ellen S. Podgor, [Link]., him. 34.
.., Jan Remmelin~ Op. Cit, him. 99.
441 D. Schaffmeister, N. Keljzer, E. PH. SUtorius Op. Cit., him. 273.
441 Jan Remmelln~ Op. Cit, him. 103.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ·,,1~~:~
:· ':
.:. :'··.' .:~ ::::--~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
agar bertanggung jawab dalam pelaksanaan peraturan tersebut dalam
badan atau perusahaan yang dipimpinnya. Pada tahap ini, masih
sebatas usaha-usaha agar perbuatan pidana yang dilakukan oleh badan
hukum, hanya dipertanggungjawabkan kepada perorangannya saja.
Kedua, setelah Perang Dunia I, dalam perumusan undang-
undang telah ditentukan bahwa perbuatan pidana itu dapat dilakukan
oleh korporasi, namun pertanggungjawabannya masih tetap pada
pengurus atau anggota pimpinan dati korporasi tersebut. Pada tahap
ini sudah mulai ada peralihan tanggung jawab dari anggota pengurus, -
kepada mereka yang memerintahkan atau secara nyata memimpin
badan hukum dalam melakukan perbuatan pidana tersebut. Ketiga,
pada saat dan sesudah Perang Dunia II, tanggung jawab pidana
langsung dari korporasi juga turut dianut. Korporasi secara kumulatif
dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana, di samping mereka
yang memberi perintah atau memimpin secara nyata telah berperan
dalam perbuatal\.pi~a tersebu~. Padcrdasarnya hal ini tidak terlepas
dengan adanya penilaian bahwa tidak jarang korporasi mendapatkan
keuntungan dari perbuatan yang dilarang tersebut'5 1 ataupun dari hasil
kejahatan yang dilakukan pengurus korporasi tersebut452•
Belanda secara tegas menerima korporasi sebagai subjek hukum
pidana sejak 1 September 1976 yang ditetapkan dalam hukum pidana
umum (commune strafrecht) dan juga telah menentukan siapa yang
harus bertanggungjawab maupun turut bertanggungjawab atas tindak
pidana yang dilakukan kvrporasi. Pasal 51 Wetboek van Strafrecht
Belanda menyebutkan:
(1) Strafbare feiten kunnen worden begaan door natuurlijke
personen en rechtspersonen.
(2) Indien een strafbaar feitwordt begaan door een rechtspersoon,
kan de strafvervolging worden ingesteld en kunnen de in de
wet voorziene straffen en maatregelen, indien zij daarvoor
in aanmerking komen, worden uitgesprolcen: 1) tegen die
(50 D. Schaffmeister, N. Keijzer, E. PH. Sutorius [Link]., him. 274-276.
451
H. Setiyono, [Link].,hlm. 130.. _
052 Mahrus Ali, Op. Cit., him. 47-48.
2QQ [Link] HiJKUM P!DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
rechtspersoon, dan wei 2) tegen hen die tot het Jeit opdracht
hebben gegeven, alsmede tegen hen die feitelijke Ieiding hebben
gegeven aan de verboden gedraging, dan wel3) tegen de onder
I en 2 genoemt:kn te zamen 453•
( ( 1) Perbuatan pidana dapat dilakukan oleh perorangan dan oleh
badan ·hukum;(2) Apabila suatu tindak pidana dilakukan oleh
badan hukum, maka penuntutan pidana jika dianggap perlu dapat
dijatuhkan pidana dan tindakan yang tercantum dalam undang-
undang terhadap: 1) badan hukum; atau 2) terhadap mereka
yimg memerintahkan melakukan perbuatan itu, demikian pula
terhadap mereka yang bertindak sebagai pimpinan melakukan
tindakan yang dilarang itu; atau 3) terhadap 1 dan 2 melakukan
perbuatan terlarang itu secara bersama-sama)
Indonesia dapat dikatakan sejak tahun 1951 telah menerima
korporasi sebagai salah satu subjek hukum pidana454 yang berarti dapat
pula dimintai pertanggungjawaban pidana. Namun, pada tahun 1993,
Mardjono Reksodiputro mengajukan pertanyaan apakah kalangan
aparat penegak hukum di Indonesia sudah siap menerima korporasi
sebagai tersangka dan terdakwa~5 Pertanyaan tersebut didasari adanya
fakta bahwa sejak diakuinya korporasi sebagai salah satu subjek hukum
pidana, hingga tahun 2010 hanya ditemukan satu kasus yang menjerat
korporasi sebagai tersangka hingga terdakwa, yaifu.!erkara No, 284/
Pid.B/2005/[Link] dengan terdakwa PT. Newmont Minahasa Raya.
Bandingkan dengan kasus Arthur Andersen yang terjadi diAmerika456•
4
S3 T. Bertens, 2010, Strofrecht & Strojvordering, Ars Aequi Ubri, Nijmegen 2009, him. 25
454
Secara lex saipta termaktub dalam Pasalll ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 17
Tahun 1951 tentang Penlmbunan Barang-Barang.
455
Mardjono Reksodiputro, [Link]., him. 7.
456
Arthur Andersen UP merupakan salah satu firma akuntansi terbesar di dunia dengan
reputasi yang bagus. Tahun 1960-an, Andersen membuka divisi konsultasl yang bekerja
sama dengan para ldiennya dalam mengembangkan ilmu komputer dan teknologi lain.
Divisi tersebut lalu berkembang dan mulai memberikan konsultasl untuk strategi bisnis
dan managemen. Selring berjalannya waktu, divisi konsultasl menghasillcan leblh banyak
uang dari pada divisl akuntansinya. Andersen terlibat dalam iebih dari 1 skandal kejahatan
korporasl pada tahun 1990an. Ketilca perusahaan tersebut mengeluarkan laporan
keuangan untuk Sunbeam Corporation, yang temyata laporan tersebut merupakan
penipuan, US Securities beserta Exchange Commission (SEC) menjatuhkan pidana
finansial. Pada bulan Mel 2001, Andersen menyetujui pembayaran sebesar $110 juta
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Salah satu permasalahan krusialnya adalah kesulitan untuk
membuktikan pertanggungjawaban pidana korporasi agar memenuhi
unsur delik pidana yang dilanggar oleh korj>orasi tersebut, karena
masih terpak:unya aparat penegak hukum pada asas tiada pidana tanpa
kesalahan yang memang dianut dalam· ajaran .pertanggungjawaban
pidana dalam hukum pidana Indonesia457• Kendala-kendala tersebut
antara lain458 : Pertama, penentuan ada tidaknya tindak pidana oleh
korporasi tidaklah dapat dilihat dengan sudut pandang biasa seperti
pada tindak pidana umwnnya, karena tindak pidana. korporasi/
corporate crime seringkali merupakan bagian dari white collar crime459•
Kedua, penentuan subjek hukum yang dipertanggungjawabkan secara
pidana berkaitan dengan kesalahan korporasi.
Ketiga, penentuan kesalahan (schuld, mens rea) korporasi tidak
mudah, karena terdapat hubungan yang begitu kompleks dalam
tindak pidana tewrganisasi (organizational crime) di antara dewan
direksi (boards of directors), eksekutif dan manager pada satu sisi
dan perusahaan induk (parent corporations), divisi-divisi perusahaan
(corporate divisions) dan cabang-cabang perusahaan (subsidiaries)
pada sisi lainnya. Pendapat-pendapat ini juga didukung oleh pendapat
serupa dari Wayne R. LaFave yang menyatakan: ~ .. a corporation
untuk Sunbeam. Andersen juga mengaudit laporan keuangan tahunan perusahaan Waste
Management (WM) selama 20 tahun da'n WM dlanggap sebagai klien terbesar mereka.
Sampai tahun 1997, di mana setiap kepala petugas finansial serta kepala petugas akuntansi
dalam perusahaan WM, merupakan mantan karyawan darl perusahaan Andersen. Pada
tahun 1991, Andersen menunjuk Robert E. Allgyer sebagai auditornya dalam kerjasama
dengan Waste Management. Pada tahun 1998, WM mengetahui bahwa auditomya telah
berbohong mengenai penghasilan perusahaan yang didapatkan dari tahun 1993 hingga
1996 sebesar $1.4 milyar. Selama periode ini, Andersen mengeluarkan laporan audit palsu
yang menutupi hutang - hutang WM. Pada tanggal 19 Juni 2001, Andersen menerima
tuntutan yang diajukan oleh SEC, dan mengaku melakukan "kesalahan pernyataan"
(misstatement) serta bersedia untuk membayar sanksi sebesar $7 juta. Andersen bersama
WM juga diharuskan untuk membayar lebih dari $200 juta untuk menyelesaikim litigasi
yang dibawa oleh sejumlah pemilik saham. lihat lebih lanjut dalam Neal Shover & Andy
Hochstetler, 2006, Choosing White-Collar Crime, Cambridge University Press, hlm.17
~7 Lu Sudirman Dan Feronica, Op. Cit., him. 292-293.
458
Yusuf Shofie, Tanggung Jawab Pidana Korporos/ dalam Tindok Pida_na Perlindungan
Konsumen di Indonesia, dalam AD/Llurnal Hukum, Volume 2, Nomor 1, April2011, Jakarta,
hlm. 14-15.
~9 J.E. Sahetapy, 2002, Kejahatan Korporosi, Cetakan Kedua, Refika Aditama, Bandung, him.
1.
202. PRlNSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
could not be guilty of a crime; it had no mind, and thus was incapable
of the criminal intent then required for aU crime; it had no body, and
thus .could not be imprisoned. This view has changed with ·the growth
and development of the corporate entity in the modern business world,
and today i~ is almost universally conceded that a corporation may be
criminally liable for action or ommisison of its agen in its behalf"460•
Jan Remmelink terhadap permasalahan ini memberikan solusi
dengan menguraikan bahwa kesalahan (schuld, mens rea) fungsionaris
pimpinan dan pegawai korporasi diatribusikan pada korporasi sesuai
dengan struktur organisasi internal korporasi461 • Pendapat ini dapat
dikatakan senada dengan ajaran [Link] fungsional lfunctioneel
daderschap) yang [Link] oleh Roling%2, pertanggungiawaban
pidana diperluas [Link] yang memberikan perintah atau pimpinan
dalam suatu badan hukum yang secara fisik bukanlah sebagai pelaku
tindak pidana lfysieke ·daderschaps). Ajaran ini memberi ruang
yang lebih luas bagi penerapan asas geen straf zonder schuld. karena
kesalahan individu pimpinan atau pengurus korporasi yang memberi
perintah pada suatu badan hukum atau yang menjalankan perintah
(pelaku fisik) diatribusikan sebagai [Link] korporasi tersebut463•
Ajaran ini menurut Wolter adalah karya interpretasi hakim yang mana
hakim menginterpretasikan perbuatan pengurus danlatau korporasi
itu sedemikian rupa memenuhi persyaratan dari m~yarakat464.
Menurut Lu [Link] dan Feronica, setidaknya ada 3 parameter
yang dapat digunakan untukmemidana korporasi465: Perlama, undang-
undang telah mengatur dengan tegas bahwa subjek tindak pidananya
termasuk korporasi. Parameter ini sangat penting untuk mewujudkan
pelaksanaan asas yang sangat penting dalam hukum pidana, yaitu
asas legalitas. Kedua, korporasi dapat disertakan sebagai tersangka
460
Wayne R: LaFave# Op.a.t~hlm. 257. :'·· ..:
~ Jan Remmelink, Op. Ot., him. 108. Bandingkan dengari Yusuf Shofie, Op. Cit., [Link],
~ Muladi Dan OwJdja Priyatno, Op. Cit., hlm.17. ··
~ Yusuf Shofte, Op. Cit., him. 17.
464
Setiyono, op: at., hlm.133-134.
465 Lu Sudirman Dan Feronlca, Op. Cit., him. 301-302.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA .>203':
.. .,, • !:" _: ~-
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
jika penyidik telah menentukan bahwa tersangka personalnya ialah
direktur atau menejer yang menjadi directing mind and will466 dari
. korporasi. Selain Seseorang yang jabatannya direktur atau ·manager,
pihak lain yang dianggap mewakili korporasi ialah mereka yang · ·
mengemban tanggung jawab pokok dalam korporasi. Walaupun orang
tersebut tidak. disebutkan dengan tegas sebagai direktur atau manager
atas suatu korporasi, namun dengan pembuktian lebih lanjut ternyata
yang bersangkutan juga memiliki wewenang sebagai directing mind
and will korporasi, maka segala pengetahuan dan perbuatannya dapat ·
dianggap sebagai pengetahuan dan perbuatan korporasi.
Ketiga, korporasi tidak dapat dikenakan pertanggungjawaban
pidana apabila directing mind and will korporasi melakukan tindak.
pidana terhadap korporasi mereka sendiri dan korporasi yang
bersangkutan telah melakukan penuntutan terhadap tindakan directing
mind and will-n~. Parameter ini sekaligus menunjukkan bahwa
penyebutan tindak pidana yang dilakukan korporasi adalah apabila
tindakan tersebut memberikan manfaat dan/atau keuntungan bagi
korporasi.
Menurut Roeslan Saleh dalam membedakan dapat dipidananya
perbuatan dengan dapat dipidananya orang yang melakukan perbuatan,
atau membedakan perbuatan pidana dengan pertanggungjawaban
pidana atau kesalahan dalam arti seluas-luasnya, asas geen straf zonder
schuld tidak mutlak berlaku. Tegasnya, dalam pertanggungjawaban
korporasi, tidak harus selalu memperhatikan kesalahan pembuat, tapi
cukup dengan mendasarkan pada adagium res ipsa loquitur, bahwa
fakta sudah berbicara dengan sendirinya. Pada faktanya, kerugian
dan bahaya yang ditimbulkan oleh perbuatan pidana korporasi ~angat
1166
Sutan Remy Sjahdelnl menjelaskan bahwa orang-orang yang dapat dianggilp sebagai
kalbu dan tubuh suatu korporasi, yang tergantung pada fakta masing-masing kasus; atau
seseorang yang bertanggung jawab dalam melaksanakan kebijakan korporasi, dapat
bertindak untuk dan atas nama korporasi, yang mana hal tersebut dapat diketahui dari
anggaran dasar korporasi dan surat-surdt keputusan pengurus yang berisi pengangkatan
pejabat-pejabat atau para manager untuk mengisi jabatan-j~batan tertentu, dalam Sutan
Remy Sjahdeini, 2006, Pertanggungjawaban Pidana Korparasi, Grafitipers, Jakarta, him.
100, dalam lu Sudirman da11 Feronica, Op. Cit., him. 302.
204 PRINS!P-DHJ.1SiP i'!UKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
besar, baik secara fisik, ekonomi, maupun social cost yang mana korban
mencakup pula masyarakat dan negara467•
Mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi, dapat ditemui
tiga model pertanggungjawaban468: Pertama, pengurus korporasi
sebagai pembuat dan penguruslah yang bertanggung jawab. Pada
model ini, -bersandarkan pada dasar pemikiran bahwa badan hukum
tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pi dana, karena penguruslah
yang akan selalu dianggap sebagai pelaku dari delik tersebut469• Kedua,
korporasi sebagai pembuat dan pengurus yang bertanggung jawab.
Pada model ini, sudah ditegaskan bahwa korporasi mungkin sebagai
pembuat, namun untuk pertanggungjawaban diserahkan kepada
pengurus. Tindak. pidana yang dilakukan oleh korporasi adalah tindak
pidana yang dilakukan orang tert~ntu sebagai pengurus dari badan
hukum tersebut. Orang yang memimpin korporasi tersebutlah yang
harus bertanggung jawab, terlepas pemimpin tersebut mengetahui
perbuatan tersebut atau tidak. Namun, Roeslan Saleh berpendapat
bahwa hal ini hanya berlak.u untuk pelanggaran saja, bukan kejahatan470•
Ketiga, korporasi sebagai pembuat dan .juga sebagai yang
[Link]
itu sendiri, karena ternyata hanya dengan menetapkan pengurus
sebagai yang dapat dipidana tidaklah cukup. Seb~aimana yang telah
disebutkan sebelumnya, bahwa korporasi terkadang sebagai pihak
yang diuntungkan dengan dilakuk:arulya perbuatan pidana tersebut,
sehingga pemidanaan terhadap pengurus tidakdapat menjamin bahwa
korporasi tidak. [Link] melakukan perbuatan pidana itu lagi.
Mengenai model ini, S.R. Sianturi lalu menyimpulkan: Pertama,
bahwa pemidanaan itu pada prinsipnya · bukan ditujukan kepada
korporasi tersebut, tetapi kepada sekelompok manusia yang bekerja
sama untuk sesuatu tujuan atau yang mempunyai kekayaan bersama
untuk sesuatu yang tergabung dalam korporasi tersebut. Kedua,
. «i1 . Setiyono, Op. Qt., hlm.131-132.
• Muladi Dan Dwidja Piiyatno, Op. Cit., him. 83.
• Loc. Cit.
470 Ibid., him. 86.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
adanya beberapa ketentuan yang barns menyimpang dari penerapan
hukum pidana (umum) terhadap korporasi-korporasi tersebut dalam
hal korporasi dapat dipidana, seperti tidak mungkinnya menjatuhkan
pidana perampasan kemerdekaan dan tidak mungkinnya pidana denda ·
diganti dengan .pidana kurungan dan sebagainya471 •
.
Pada dasarnya, tujuan pemidanaan korporasi ini terkait dengan
tujuan pemidanaan yang bersifat integratif, yang mencakup: Pertama,
tujuan pemidanaan untuk pencegahan, baik secara umum maupun
khusus, yaitu pidana dianggap mempunyai daya untuk mendidik
dan memperbaiki, serta mencegah orang lain untuk melakukan
suatu tindak pidana. Kedua, tujuan pemidanaan untuk perlindungan
masyarakat, secara luas yaitu tujuan fundamental sebagai tujuan dari
semua pemidanaan, dan secara sempit adalah sebagai bahan pengadilan
melalui putusannya agar masyarakat terlindung dari pengulangan
tindak pidana. ~etiga, tujuan pidana untuk melahirkan solidaritas
masyarakat, yaitu untuk mencegah adat istiadat masyarakat dan
mencegah balas dendam perseorangan atau balas dendam tidak resmi
(private revenge or unofficial retaliation). Keempat, tujuan pemidanaan
untuk pengimbangan/pengimbalan, yaitu adanya kesebandingan
antara pidana dengan pertanggungjawaban individual dari pelaku
tindak pidana412•
Pada tataran doktrin, ada b~berapa teori dan banyak diadopsi
sebagai teori yang digunakan untukmenilai pertanggungjawaban pidana
korporasi, yaitu: PERTAMA, doktrin pertanggungjawaban yang [Link]
menurut undang-undang (strict liability), jadi pertanggungjawaban
korporasi semata-mata berdasarkan bunyi undang-undang dengan
tanpa memandang siapa yang melakukan kesalahan. Dalam strict
liability unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan.
KEDUA, doktrin pertanggungjawaban pengganti (vicarious
liability), yang lebih menekankan pada pertanggungjawaban oleh
pengurus korporasi sebagai 'agen' perbuatan dari korporasi tersebut.
Doktrin ini bertolak dari doktrin respondent superior, berdasarkan pada
m Edy Yunara, [Link]., him. 31-32.
•n Muladi Dan Dwidja Priyatno, Op. Cit., him. 147-149.
206 PRINSIP-PR;NSIP HUKUM PJOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
employment principle dan the delegation principle. Dok1:rin ini adalah
[Link] pertanggungjawaban individu yang dianut dalam hukum
pi dana berdasarkan adagium nemo punitur pro alieno delicto(tidak ada
seorang pun yang dihukum karena perbuatan orang lain). KETIGA,
tcori identifikasi (direct corporate criminal liability) atau doktrin
pertanggungjawaban pidana secara langsungm. Menurut doktrin ini
rcrusahaan dapat melakukan sejumlah delik secara langsung melalui
orang -orang yang berhubungan erat dengan perusahaan dan dipandang
sebagt\i perusahaan itu sendiri. Tegasnya, perbuatan/kesalahan senior
officer diidentifikasi sebagai perbuatan/kesalahan korporasi474 •
KEEMPAT, teori agregasi yang menyatakan bahwa pertang-
gungjawaban pidana dapat dibebankar. kepada badan hukum jika
perbuatan tersebut dilakukan oleh sejumlah orang yang memenuhi
unsur delik yang mana antara satu dengan yang lain saling terkait dan
bukan berdiri sendiri-sendiri. KELIMA, ajaran corporate culture model
atau model budaya kerja. Ajaran ini memfokuskan pada kebijakan
badan hukum yang tersurat dan tersirat mempengaruhi cara kerja
badan hukum tersebut. Badan hukum dapat dipertanggungjawabkan
secara pidana apabila tindakan seseorang memiliki dasar yang
rasional bahwa badan hukum tersebut memberikan wewenang atau
mengizinkan perbuatan tersebut dilakukan.
G. HUBUNGAN KAUSALITAS
Dalam Bah II telah dibahas pembagian delik yang antara lain
adalah delik formal dan delik materiil. Delik formal menitikberatkan
pada tindakan atau kelakuan, sedangkan delik materiil menitikberatkan
pada akibat. De leer van de causaliteit atau teori hubungan kausalitas·
teramat penting dalam menentukan pertanggungjawaban untuk delik-
delik yang dirurimskan secara matetiil. Hal ini karena akibat yang
ditimbulkan merupakan unsur delik. Tidak akan ada perbuatan pidana
•n Amanda Pinto & Martin Evans, 2003, Corporate Criminal liability, London Sweet &
Maxwell, him. 46.
.,. lbid.,hlm. 222·227. Bandingkan dengan Barda Nawawi Ariet 2003, Kapita Selekta Hukum
Pidana, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, him. 233-238. Bandingkan pula dengan Mardjono
Reksodiputro, [Link]., him. 10. · · ·
-_:.: ~~ .= ·~: ,";;'..;\~
. PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ~~~
...
::•":_ ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pembunuhan, jika tidak ada akibat mati dari perbuatan tersebut Oleh 1
karena itu, hubungan kausalitas sangatlah penting untuk; 1) delik-delik .
yang dirumuskan secara materiil (de delicten metmateriele omschrijving)
seperti Pasal 338 KUHP dan 2) delik-delik yang dikualifikasi oleb
akibatnya (de door het gevolg [Link] delicten) seperti Pasal351
ayat (2) yaitu penganiayaan yang mengakibatkan luka-luka berat atau
Pasal351 ayat (3) yakni penganlayaan yangmengakibatkankematian475 •
Perlu dipahami bahwa hubungan kausalitas adalah suatu hlll
yang berbeda dengan hubungan batin atau sikap batin antara pelaku
dengan perbuatan yang dilakukan yang kemudian melahirkan bentuk
kesalahan berupa kesengajaan atau kealpaan. Hubungan kausalitas
berbicara mengenai sebab-musabab dari suatu akibat. Dapat saja suatu
akibat muncul dari sekian banyak musabab. Kendatipun demikian,
Jonkers mempunyai pandangan yang berbeda dengan hampir seluruh
ahli hukum pid~a yang menyamakan antara . hubungan kausalitas
dengan hubungan batin yang merupakan kesalahan.
Dalam handboek-nya, Jonkers memberi ilustrasi sebagai berikut:
A menganiaya B. Akibat penganiayaan tersebut B pergi ke dokter untuk
berobat. Dalam perjalanan ke dokter, B mendapat kecelakaan dan
mengakibatkan kematian. Pendapat Jonkers terhadap ilustrasi tersebut
bahwa kendatipun antara matinya B dan penganiayaan oleh A ada
hubungan kausal namun A tidak bisa dipertanggungjawabkan secara
pidana atas kematian B. Masih menurut Jonkers, dalam delik yang
dikualifikasi oleh akibatnya, tidak diperlukan dolus atau culpa. Jika
tidak ada kesalahan sama sekali pada orang yang menganiaya, maka
tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana akibat kematian
tersebut476 •
Berdasarkan ilustrasi dan komentar tersebut, Moeljatno mt;nyim-
pulkan bahwa Jonkers mencampuradukkan antara hubungan kausal
•?S H. B. Vos, [Link]., him. 74.
415
"A opzettelijk 8 verwondt en deze onderweg naar den dokter om zich voor die verwonding
te latten behandelen, een dooddelijk onge/uk krijgt, dan kan, at zou men aannemen, dat
er tusschen de mishandeling en den dood causaal verband bestoat, de dood oan A niet
worden toegerekend, omdat bij hem, waf dit gevo/g betreft aile schuld ontbreekt... J. E.
Jonkers, [Link]., him. 71- 72.
208 PRI~JSlP-PRINSIP HIJKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dengan hubungan batin yang merupakan kesalahan477 • Dalam
ilustrasi kasus di atas, Penulis berpendapat, A tetap dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana terkait penganiayaan, tetapi tidak
bisa dimintakan pertanggungjawaban terkait akibat kematian yang
menimpa B. Hal ini karena kematian B bukanlah akibat langsung dari
perbuatan A.
Hal lain yang menjadi perdebatan dalam hubungan kausal, [Link]
tidak melakukan sesuatu atau kelakuan yang negatif dapat merupakan
musabab dari suatu akibat? Pertanyaan sederhana ini menimbulkan
perdebatan di antara para ahli hukum pidana. Schepper sebagaimana
yang dikutip oleh Moeljatno berpendapat bahwa tidak melakukan
sesuatu atau kelakuan yang negatif tidakmungkin merupakan musabab
dari suatu akibat. Pendapat ini berdasarkan argumentasi, Pertama,
tidak mungkin ada hubungan kausai sudah tersimpul dalam sifatnya
kelakuan· itu sendiriJcarena dalam kelakuan yang negatif (nalaten)
tidak ada perbuatan sehingga tidak mungkin menimbulkan akibat
Kedua, nalaten adalah suatu pengertian yuridis bukan berdasarkan
pengalaman yang dapat dilihat dengan panca indra478•
Demikian pula Simons yang menyatakan secara tegas,
"Ongetwiifeld onstaat hd gevolg door handelingen of omstandigeheden,
die buiten het Iaten liggen. Wordt dus het veroorzaken van een gevolg
slechts aangenomen bij bewerking van dat gevolg, dan zal de causaliteit
van het nalateh moeilijk kunnen worden erkend"419 (Sudah barang tentu
terjadinya akibat yang merupakan delik karena adanya suatu kelakuan
atau keadaan di luar kelakuan negatif. Jika yang dianggap ada hubungan
kausalnya itu hanya jika ditimbulkan oleh musabab, maka
tentunya
hubungan kausal dengan sesuatu kelakuan negatif sukar diterima).
Pendapat Schepper dan Simons berbeda secara diameteral
dengan Pompe480, Vos481, Jonkers482, Hazewinkel Suringa483, van
477
Moeljatno, [Link]., him. 110.
471
Ibid, him. 127.
.
79
' D. Simons,[Link]., hlm.l52.
410
[Link]. Pompe, [Link]., him. 85 .
.w H.B. Vos, [Link]., him. 82.
411 J.E. Jonkers, [Link], him. 67.
on Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 75.
PERTANGGUNGJAWABAN PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Bemmelen dan van Hattum484 yang menyatakan bahwa akibat sangat
mungkin ditimbulkan oleh musabab berupa tidak melakukan sesuatu
atau nalaten. Bahkan, Noyon dan Langemeijer dalam memaknai kata
"perbuatan., dalam pasal 1 ayat (1) KUHP menyatakan secara tegas
bahwa perbuatan yang dimaksud dapat bersifat positif dan negatif.
Perbuatan bersifat positif berarti melakukan sesuatu, sedangkan
perbuatan bersifat negatif mengandung arti tidak melakukan sesuatu485•
Penulis sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh sebagian besar
ahli pidana bahwa .sangat mungkin · musabab berupa nalaten yang
menimbulkan suatu.·akibat yang dilarang oleh hukum pidana. Da5ar
argumentasinya adalah dalam pembagian delik, kita mengenal delicta
omissionis dan delicta commissionis per_omissionem commissa yang
pada intinya tidak melakukan suatu perbuatan yang diperintahkan
oleh undang-undang dan tidak melakukan suatu perbuatan yang dapat
menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang.
Lebih lanjut 'terkait hubungan :kausalitas dalam hukum pida-
na, paling tidak secara garis besar ada empat teori, masing-masing:
1) Teori conditio sine qua non dari von Buri486• Traeger yang -
memisahkan hubungan kausalitas ke dalam 2) teori generalisir 3) teori
individualisir487 dan 4)Teori relevansi yang dianut oleh Langemeijer.
Teori-teori tersebut beserta derivatifnya dapat dibahas sebagai berikut:
1) Teori Conditio Sine Qua Non
Teori conditio sine qua non disebut juga sebagai teori mutlak yang
menyatakan bahwa musabab adalah setiap syarat yang tidak dapat
dihilangkan untuk timbulnya akibat. Teori ini dikemukakan oleh von
Buri, Ketua Mahkamah Agung Jerman. Menurut von Buri, syarat
(bedingung) identik dengan musabab dan oleh karen~ itu setiap syarat
mempunyai nilai yang sama (equivalent) 488• Dapatlah dimengerti bahwa
484
J.M. van Bemmelen En W.F. C. van Hattum, [Link]., him. 232.
us T.J. Noyon & G.E. langemeijer, [Link]., 53 .
.a6 G.A. van Hamel, [Link]., him. 238.
47
D. Simons, [Link]., him; 142.
418
J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link], him. 173; J.E. Jonkers, [Link]., him. 69;
D. Simons, [Link]., him. 141; Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 60; G.A. van Hamel, [Link].,
him. 238; H.B Vos, [Link]., hlm. 75. Moeljatno, [Link]., him. 99~ Satochid Kartanegara,
[Link]., him. 220; Sudarto, [Link]., hlrn. 67.
21 Q PRINSIP·PR!NSIP HUKUM PIDAN1i
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
-
teori ini juga disebut sebagai teori ekuivalensi atau bedingungstheorie.
van Hamel mengutip pendapat John Stuart Mill menyatakan bahwa
pengertian "Sebab"·adalah the whole of antecedents489•
Sebagai ilustrasi dari teori ini adalah sebagai berikut: A
membunuh B dengan sebilah pisau. Pisau tersebut diperoleh dari C,
teman akrabnya A. Pisau yang ada pada C dibe4oya dari D pemilik
toko alat-alat dapur. Pisau di toko milik D dipesan dadE, pengrajin
yang membuat pisau tersebut. Menurut teori ekuivalensi, yang dapat
dipertanggungjawabkan secara pidana atas kematian B adalah A, C, D
danE.
Salah seorang penganut teori bedingung di Belanda adalah van
Hamel yang menyatakan, "Inzoover het de vaststelling geldt van een
wetenschappelijk begrijp - afgescheiden van de opvatting eener bepaalde
wetgeving - conditio sine qua non komt zij ook mij voor logisch de
eenige houdbare te zijn490" (Sepanjang menentukan suatu pengertian
secara ilmiah terpisah - pengertian yang dianut oleh suatu undang-
undang- teori conditio sine qua non bagi saya adalah satu-satunya yang
seara logis dapat dipertahankan). Akan tetapi, pada bagian lain van
Hamel menyatakan bahwa hubungan kausalitas ajaran von Burl masih
membutuhkan hubungan dengan kesalahan.
Catatan terhadap teori conditio sine qua non, Pertama, tidak
mungkin digunakan dalam menentukan pertanggungjawaban pidana
karena terlalu luas. Kedua, von Burl ·mengidentikkan syarat dengan
musabab, padahal keduanya merupakan hal yang berbeda. Ketiga,
sangatlah mungkin musabab yang menimbulkan akibat berasal lebih
dari satu tindakan. -Mengenai hal yang terakhir, van [Link] dan
van Hattum memberi contoh berdasarkan Hoog Militair Gerechtshof, 8
Februari 1921 (N.J. 1921 blz. 327, A. 6) sebagai berikut:
Seorang perwira tentara Belanda yang sedang belajar di sekolah
granat tangan karena kekeliruannya membawa pulang beberapa
buah [Link] granat. Benda-benda ini sangat berbahaya karena
mudah meledak. Sesampai di kamarnya, benda-benda tersebuf ditaruh
en GAvan Hamel, [Link]., him. 234.
eo Ibid, him. 238.
:: '.~":( ·.:·.; 1~.!
'. PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA :;mtifl
t\tr-~ ~~-/_:-.1}
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· · dalam vas bunga di atas tempat api. Ketika perwira tentara tersebut
pindah, lupa membawanya. Anak perempuan dari ibu pondokan
perwira tentara tersebut yang juga akan pindah melihat pipa-pip·a
tersebut, lalu mengeluarkannya dan menaruhnya pada tembok di ·
atas tempat api. Saiah satu dari pipa tersebut sudah ada di kamar lain .
dan dipakai sebagai peilahan jendela yang penahan aslinya tidak ada.
Waktu berselang. beberapa tukang _yang disuruh memperbaiki pintu-
pintu dari jendela-jendela rusak, salah satu di antara tukang -tersebut
melihat penahan jendela lalu mengambilnya dan tiba-tiba pipa tersebut
meledak sehingga melukai dua orang di antaranya491 •
Hoog Militair Gerechtshof memutuskan bahwa kendatipun
tindakan perwira tentara tersebut dianggap sebagai tindakan yang
membahayakan, namun terdakwa hams dibebaskan karena kecelakaan
tersebut . bukan merupakan akibat langsung. Demikian pula anak
perempuan dari 'ibu pondokan karena tidak mengerti sifat berbahaya
dari pipa-piapa tersebut. van Bemmelen dan van Hattum tidak setuju
dengan putusan tersebut. Menurut mereka, baik perwira tentara
·maupun anak perempuan ibu pondokan sepanjang mengetahui, dapat
dipertanggungjawabkan secara pidana. Berdasarkan penilaian van
Bemmelen dan van Hattum terhadap perkara tersebut, Moeljatno
menyimpulkan bahwa .mereka b~rpendapat sangatlah mungkin lebih
dari satu kelakuan yang menjadi musabab dari suatu akibat492 •
491
Zekere of/icier, studerende oan de handgranotenschoo/ te Waolsdrop, had bij vergissing
enkele s/agkwikpijpjes (hoog gevarlijke ontplofbare voorwerpen} in zijn zak gestoken en
deze thuis op zijn gehuurde kamers neergelegd op zijn schrijftafe/. Later heeft hij ze in
een open vaosje op de schoorsteenmantel gezet en verge ten. Na zijn vertrek uit door hem
tijdelijk gehuurde kamers heeft de dochtervan de hospita de pijpjes uit het vaasje genom en
en op de schoorsteenmantel neergelegd omdat zij ging verhuizen en zij het vaasje wilde
meenemen. Wot er verder prcies met de pijpjes is gebeurd stoat niet vast, moar·enige tijd
later lagen ze een verdieping lager in de vensterbank van de keuken. Een in dit perceel
hoar bedrijf uitoefenende masseuze vend ze door en gebroikte er een ols raampin door
de bij het schuifraam behorende pin ontbrak. Weer enige tijd later kwamen werklieden in
het perceel o.a. met de opdracht deuren en ramen na te kijken. Een van hen ontdekte de
vreemde raampin we/ke hij op stevigheid wilde onderzoeken. Bij dit onderzoek peuterde hij
in het pijpje waarop dit ontplofte en twee werk/ieden ernstig werden verwond. lihat Jebih
Janjut dalam J.M. van Bemmelen dan W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 206.
492
Moeljatno, [Link] t., him. 138
212 PRINSIP·PniNSIP HUK!JM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
2} Teori Generalisir
Teori conditio sine qua non dari von Buri dianggap terlalu luas
dalam menentukan pertanggungjawaban pidana, olehkarenaitu banyak
mendapat penolakan pada awal kelahirannya. Terlebih menurut teori
tersebut tidak ada batasan antara syarat dan musabab. Sebagai reaksi
dari teori C-(}nditio sine qua non munculah teori generalisir dan teori
individualisir dari Traeger yang mencari batasan antara syarat dan
musabab. Tegasnya, hanya mencari satu saja dari sekian banyak sebab
yaitu _perbuatan manakah yang menimbulkan akibat yang dilarang.
Teori generalisasi melihat sebab in abstracto menurut perhitungan
yang layaklah yang akan menimbulkan akibat.
Termasuk dalam teori generalisir ini adalah teori adequat yang
dikemukakan oleh seorang ahli matematika Jerman bemama J. von
Kries. Menurut Simons yang mengutip pendapat von Kries, .. Volgens
de adaequate causaliteitleer mag als oorzaak slechts die voorwaarde in
aanmerking komen, welke in het algemeen, naar den normalen loop der
omstandigheden, in staat ofgeschikt is het ingetreden gevolg tot stand te
brengen ofte begunstigen493 " (Menurut teori kausalitas adequat, musabab
dari suatu kejadian adalah syarat yang pada umumnya menurut
jalannya kejadian yang normal, dapat atau Iilampu menimbulkan
akibat atau kejadian tersebut).
Pertanyaan lebih lanjut, apakah yang ~aksud dengan
kejadian yang normal? von Kries sebagaimana yang dikutip oleh Vos
menyatakan, "..... hij wil slechts die omsti:mdigheden in rekening brengen,
die de dader kende of althans had kunnen kennen494" (sepanjang
terdakwa pribadi mengetahui atau seharusnya mengetahui keadaan-
keadaan di sekitar akibat) . .Ajaran von Kries yang mensyaratkan
keadaan yang harus diketahui oleh pelaku disebut juga sebagai
subjectiv ursprungliche prognose atau .penentuan subjektif. [Link]
Kartanegara495 memberikan ilustrasi yang baik terkait penentuan
subjektif yang dikemukakan oleh von Kries sebagai berikut: .- .
.,1 D. Simons, [Link]., him. 144,
.,. H.B. Vos, [Link]., him. 79.
495 Satochld Kartanegara, [Link]., him. 228- 230.
..
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA :213\~ ·
·.·;~ : :-}~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A melakukan penganiayaan ringan terhadap B. Menurut per-
hitungan yang layak bahwa penganiayaan yang dilakukan A tidak
akan menimbulkai1 kematian. B membutuhkan pertolongan dokter
akibat penganiayaan A dan oleh karena itu B berjalan kaki ke rumah
dokter. Dalam perjalanan, B ditabrak oleh C dan mengakibatkan mati.
Berdasarkan ilustrasi tersebut jika merujuk pada teori conditio sine qua
non, maka baik A maupun C dapat dipertanggungjawabkan secara
pidana. C tidak mungkin menabrak B, jika B tidak berjalan kaki ke
dokter. B tidak mungkin berjalan kaki ke dokter jika tidak merasa sakit
akibat penganiayaan A. ·
Sebaliknya, jika ditinjau dari ajaran penentuan subjektif von
Kries serangkaian perbuatan dari ilustrasi tersebut adalah Pertama,
A melakukan penganiayaan ringan terhadap B. Kedua, B merasa sakit
dan oleh karenanya berjalan kaki ke rumah dokter. Ketiga, Cmenabrak
B yan g sedang berjalan kaki menuju rumah dokter dan mengakibatkan
mati. Dari rangkaian perbuatan tersebut, menurut teori adequat,
masing-masing perbuatan harus dilihat dan diperhitungkan yang
manakah menurut perbitungan yanglayakdapat menimbulkan matinya
B. Perbuatan pertama menurut perhitungan yang layak tidak akan
mengakibatkan kematian. Demikian juga perbuatan kedua berdasarkan
perhitungan normal tidak akan pula menimbulkan kematian. Dengan
demikian perbuatan ketigalah yang dapat menimbulkan akibat mati
bagi B berdasarkan pandangan subjektif pelaku yang dalam hal ini
adalahC.
Selain adequat penentuan subjektif, ada juga adequat penentuan
objektif atau objectiv ursprungliche prognose yang dikemukakan oleh
Rumelin. Vos496, Simons497, van Bemmelen dan van Hattum498 yang
• "Consequenter is Rumelin. Deze wit at die omstandigheden meerekenen, die achteraj
·'·'"' · blijken aanwezige omstandigheden had gekend, het gevolgs als normaa/ had kunnen
voorspellen (die objelctiv nachtragliche prognose)". Lihat lebih Janjut dalam H.B. Vos,
[Link]., him. 79.
7
ll!l ": .... naar deobjectieve op aile, die ten tijde der harnleling in het a/gemeen bekend waren of
later bekend geworden zijn, dus op aile tijdens de handeling aan wezige osmtandigheden,
de zoogen (objectiv nachtrag/iche prognose)". Uhat lebih lanjut dalam 6. Simons, [Link].,
him 145.
.,. "In de leer ~n Rumelin zol dus wei rekening gehouden worden met omstandighef}en
zoa/s het feit, dat het slochtotfer der mishondeling een eierschede/ bleek te hebben, of het
•. 214 PRINSIP·PRINSlP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mengutip pendapat Rumelin menyatakan bahwa penentuan objektif
yakni dengan mengingat keadaan-keadaan sesudah terjadinya akibat
Apakah suatu kelakuan menjadi musabab dari akibat yang terlarang
dengan mengingat semua keadaan-keadaan objektif yang ada pada saat
sesudah terjadi akibat, dapatkah ditentukan akan timbul dari kelakuan
itu 499 • Tegasnya, teori Rumelin adalahpenentuan objektifkeadaan yang
diketahui oleh umum.
Ilustrasi terhadap teori ini diberikan oleh Satochid Kartanegara 500
sebag~i berikut: X memukul Y. Pukulan tersebut rilenurut perhitungan
yang layak tidak [Link] menimbulkan kematian Y, namun ternyata
Y kemudian mati. Pemeriksaan dokter atas diri Y menunjukkan
bahwa Y sebetulnya menderita penyakit malaria dan menurut ilmu
kedokteran, orang yang menderita malaria berat, sesuatu bagian dalam
tubuhnya akan mengalami pembengkakan. Orang yang mengalarni
[Link] dan mendapat pukulan pada bagian yang bengkak
dapat [Link] pecahnya bagian tersebut dan mengakibatkan
mati. Jika Y dalam keadaan sehat, maka menurut perhitungan yang
layak, pukulan X tidak mungkin menyebabkan kematian.
llustrasi yang demikian secara penentuan objektif sebagaimana
yang dikemukakan oleh Rumelin, X tetap dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana karena telah menganiaya Y yang
mengakibatkan kematian. Sebaliknya, jika ditinjau berdasarkan teori
adequat penentuan subjektif dari von Kries, m')ka terlebih dulu
harus diselidiki apakah sakitnya Y diketahui oleh X. Apabila X tidak
mengetahui, maka tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban
pidana. Sebaliknya, apabila X mengetahui keadaan sakitnya Y, maka X
dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana.
Berbeda dengan von Kries dan Rumelin, Simons berpendapat
bahwa musabab adalah setiap tindakan yang secara umum berdasarkan
pengalaman manusia patut diadakan kemungkinan bahwa karena
tindakan tersebut dapat menimbulkan akibat. Masih menurut
feit dot ieamnd het taegediende dmkje had vergijtigcf'. Uhat lebih lanjut dalam J.E van
Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 195. ·
egg Moeljatno, [Link]., him. 118.
500 Satochid J<artanegara, [Link]., him. 231-232.
PERTANGGUNGJAWABAN PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Simons, pdaku secara pribadi tidak perlu terikat atas apa yang
diketahui atau apa yang dapat diperkirakan olehnya sendiri, namun
yang patut dipertanyakan, jika diperhitungkan semua keadaan yang
pada umumnya berdasarkan pengalaman, memungkinkan akibat itu
dapat .diperkirakan dari tindakan tersebut?501 Tegasnya, hubungan
kausalitas .yang diajarkan oleh Simons adalah teori gabungan yang
berdasarkan keadaan yang diketahui oleh pelaku dan keadaan yang
diketahui oleh umum berdasarkan pengalaman. Berdasarkan ilustrasi
yang dikemukakan oleh Satochid Kartanegara dan hila dihubungkan
dengan teori gabtingan yang diajarkan oleh .Simons, maka dapat
disimpulkan, selain diperhitungkan apakah X mengetahui bahwa Y
sedang menderita sakit yang berat, perlu juga diperhitungkan apakah
umum mengetahui bahwa Y sedang menderita sakit keras.
Pendapat Vos terhadap pemikiran Simons adalah sebagai berikut:
"Een tussenstilndpunt neem o.a. Simons in; men moet meetellen die
omstandigheden, die de dader kende. benevens die omstandigheden,
die algemeen bekend waren, ook al kende de daer ze niet. Wanneer
bijvoorbeeld een klein kind een gasvlam uitblaast. dan is die daad
wel degelijk oorzaak van de gasvergiftiging, ook al kon het kin de
gevolgen niet kennen (schuld zal echter ontbreken)502"
(Simons mengambil jalan tengah, orang harus ikut
memperhitungkan keadaan-keadaan yang diketahui oleh si
pelaku yang merupakan suatu yang diketahtit- umum walaupun
si pelaku tidak mengetahuinya. Sebagai misal, ada seorang anak
yang menghembus mati suatu gas api, maka perbuatan itu jelas
merupakan sebab dari gas beracun. walaupun si anak tidak
mengetahui akibat-akibatnya (di sini berarti tidak ada kesalahan).
van Bemmelen dan van Hattun1 tidak memberi tanggapan atas
teori gabungan yang dikemukakan oleh Simons, melainkan memberi
tanggapan terkait penentuan subjektif dari von Kries dan penentuan
objektif dari Rumelin. van Bemmelen dan van Hattum menyatakan
"Voorzover de wet behalve causaal verband duidelijk ook schuldverband
501
D. Simons, [Link]., him. 145 -146. Bandingkan dengan Moeljatno, [Link]., him. 104.
501
H. B. Vas, [Link]., him. 79.
216 PRINSIP-PRINSfP HUKIJM PIGANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
iest maakt het in de praktijk weining verschil of men de methode van von
Kries of die van Rumelin volgf03" (Selama undang-undang [Link]
di samping hubungan kausal juga mengharuskan adanya hubungan
batin sebagai kesalahan, secara praktik tidak ada perbedaan apakah
kita mengikuti von Kries ataukah Rumelin).
3) Teori Individualisir
Kalau teori generalisasi yang telah dibahas di atas, melihat sebab
in abstracto, menurut perhitungan layak yang akan menimbulkan
akibat, maka teori individualisir, melihat sebab in concreto atau post
factum. Di sini hal yang khusus diukur menurut pandangan individual.
Paling tidak ada tiga nama besar penganut teori individualisir yang
dikemukakan oleh Traeger dengan masing-masing perbedaannya
sebagai berikut:
Pertama, Brickmayer dengan "meist wirksame bedingung''504•
Artinya, dari berbagai macam syarat, dicari syarat manakah yang paling
utama untuk menentukan akibat. Perbuatan mana yang memberikan
pengaruh paling besar terhadap timbulnya akibat (..... het feit heeft
plaats gehad, welke voorwaarden de grootste invloed op het gevolg hebben
gehad505 "). Titik tolak teori ini berawal dari conditio sine qua non 506•
Perbedaannya, dalam teori conditio sine qua non semua syarat adalah
musabab, sedangkan dalam teorinya Brickmayer, hahya ada satu saja
syarat sebagai musabab timbulnya akibat.
Keberatan terhadap teori ini adalah bagaimana menentukan syarat
yang paling kuat untuk timbulnya akibat. Moeljatno dengan mengutip
pendapat van Hamel, kemudian memberi ilustrasi kereta yang ditarik
oleh dua ekor kuda. Masing-masing kuda secara sendiri-sendiri tidak
akan menarik kereta tersebut. Musabab bergeraknya kereta tersebut ·
karena ditarik dua ekor kuda dan bukan yang paling kuat507 •
SOJ J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link], him. 179.
50< H.B. Vos, [Link]., him. 78.
505 J.E. Jonkers, [Link]., him. 69.
· 5116 Hazewinkel Surlnga, [Link]., him. 62.
5111
Moeljatno, [Link]., him. 107.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 21 ]'
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Kedua, Karl Binding dengan ubergewichtstheorie508 yang me-
nyatakan musabab adalah syarat yang mengadakan ketentuan terhadap
syarat-syarat positiftmtuk melebihi syarat-syatat negatifi09. Yos dalam
leerboek-nya menjelaskan lebih lanjut terkait teori Binding sebagai
. berikut:
. "..... de theorie van het Gleichgewicht van Binding: die voorwaarde is
oorzaak, die de doorslag geeft aan de positieve voorwaarden (die tot
het gevolg leiden) boven de negative (die het gevolg tegen houden).
Binding bedoelt hiermee niet, dat het laatste loodje de oorzaak is,
maar als men elk loodje meetelt komt men feitelijk weer tot de leer
van von Bun-s'o»
(..... teori "Gleichgewicht'' . dari Binding: syarat adalah sebab,
yang merupakan pokok dan syarat positif (yang menyebabkan
suatu akibat) di atas negatif (yang menahan akibat). Hal yang ·
dimaksudkan oleh Binding di sini bukanlah "peluru terakhir,
adalah seba~ akan tetapi tiap-tiap peluru ikut diperhitungkan
juga, maka kita akan kembali lagi kepada teori von·Burl).
Ketiga, Kohler dengan art der werdens theorie. Artinya, musabab ·
adalah syarat yang menurut sifatnya menimbulkan akiba~ 11 • Pendapat
Vos terhadap teori Kohler secara lengkap sebagai berikut:
"..... de theorie van Kohler: die voorwaarde is oorzaak, die beslissend
is voor die art des werdens . Als men een zaadje plant en er komt een
bloem op, dan zijn voor deze groei mede voorwaarden de regen, de
warmte van de grond enz, maar de oorzaak is het planten van het
zaadje, omdat dit beslist, war er uit groein zal. Deze theorie lijkt op
het oog niet onaannemelijk, maar de moeilijkheid komt, wanneer
de versschillende voorwaarden meer gelijkwaardig zijn, zo bijv,
wanneer iemand, die zeer gevoelig is voor een bepaald soort vergif,
een hoeveelheid vergif binnenkrijgt, die normaliter nooit iemands
dood tengevolge zou kunnen hebben. Dan is zijn overgevoeligheid,
die art des werdens meer bepalend dan het gif 12"
501
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 63.
509
Moeljatno, [Link]., him. 108.
510
H.B. Vos, Loc.C"tt. .
511
Moeljatno, [Link]., him. 131.
su H.B. Vos, [Link].
. ·. . . ·.
.216 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Teori Kohler: syarat adalah sebab, yang menentukan bagi die art
des werden. Bila kita menanam benih dan tumbuh sebuah bunga,
maka bagi pertumbuhan bunga tersebut, hujan ikut menjadi syarat,
begitu pula [Link] tanahnya dan lain sebagainya, [Link] tetapi
sebab menanam benih tersebut yang menentukan apa yang akan
tumbuh. Teori ini kelihatannya bukan tidak dapat diterima, akan
tetapi kesulitannya ialah jika berbagai syarat itu sama pentingnya,
misalnya seseorang }rang sangat peka terhadap suatu racun, yang
bilamana dimakan orang dalam jumlah tertentu pada umumn'ya
tidak akan ·menyebabkan kematian. Kepeban yang berlebihan ini ·
(die art des werden adalah lebih menentukan daripada racunnya).
Beberapa catatan Penulis atas teori individualisasi yang
dikemukakan oleh Brickmayer, Binding dan Kohler adalah sebagai
berikut. Pertama, ajaran Brickmayer, Binding dan Kohler lebih pada
tataran teori dan bukan dalam tataran praktik. Kedua, ketiga teori
tersebut dalam praktik sulit menentukan secara pasti musabab yang
rnenimbulkan akibat. Sebagai ilustrasi, A diculik oleh B dan dibawa ke
sebuah rumah. A disekap di dalam kamar dan tidak diberi makan serta
minum. Setiap hari A dianiaya B. Pada hari ketiga, setelah B memukul
A di [Link], A tersungkur dan tewas.
Kalau ditinjau dad teori Biickmayer sulit untuk menentukan
syarat apa yang paling berpengaruh untuk menimb~ akibat mati.
Apakah karena penganiayaan ataukah karena tidak diberi makan dan
minurn. Bila dilihat dari ajaran Binding, bulcin pukulan yang terakhir
yang menyebabkan kematian tetapi ada syarat-syarat lainnya ·dan
bila semua syarat sama pentingnya, maka tidak ada bedanya dengan
teori conditio sine qua non. ]ika berdasarkan teori Kohler, ·dapat saja
penyebab kematian A adalah karena lemas sebab tidak diberi makan-:
minurn dan bukan penganiayaan.
Ketiga, berdasarkan teori Brickmayer dan Kohler maka salah
satu perdebatan yang telah dibahas pada awal subbab ini akan terjawab. ·
Apakah mungkin musabab yang menimbulkan akibat berasal dati
lebih dari satu kelakuan atau tindakan? Kiranya, ajaran meist wirksame
bedingung dati Brickmayer dan ajaran art der werdens dari Kohler,
. .' ~~ ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tidak mungkin musabab yang menimbulkan akibat berasallebih·dari
satu kelakuan atau tindakan. Sebaliknya dalam [Link]
atau gleichgewicht yang dikemukakan Binding bahwa musabab adalah
syarat yang mengadakan ketentuan terhadap syarat-syarat positif
untuk melebihi syarat-syarat negatif, sangatlah mungkin rnusabab yang
menimbulkan akibat berasallebih dari satu kelakuan atau tindakan.
4) Teori Relevansi
· Menurut teori relevansi adanya suatu kelakuan atau tindakan ·
sebagai musabab akibat yang dilarang bertitik tolak dari pembentuk ·
undang:..undang. ~ya, kelakua,n atau tindakan sebagai musabab
Uiltuk menimbulkan akibat yang dilarang sudah dibayangkan ole~
pembentuk undang-undang. Teori ini sama sekali tidak mengadakan
pembedaan antara syarat dan musabab sebagaimana diajarkan dalam
teori generalis'asi dan teori individualisasi. Demikian ·pula teori ·ini
tidak menyamakan antara syarat dan musabab seperti ·dalam ajaran
conditio sine qua non.
Teori relevansi berawal dari interpretasi terhadap rumusan
delik. Dalam konteks ini, Penulis sependapat dengan Moeljatno yang
menyatakan bahwa teori relevansi bukanlah teori mengenai hubungan
. kausalitas melainkan teori mengenai interpretasi undang-undang..
Penganut teori relevansi ini antara lain adalah Noyon, Langemeijer
dan Mezger513•
su Moeljatno, [Link]., him. 121-122.
220 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
MEIAWAN HUKUM
Door een bepaald feit strafbaar te stellen geeft de
wetgever uit den aard der zaak te kennen dat hij het als
wederrechtelijk beschouwt of voorstaan als zoodaning
·beschouwd wit zien. Strafbaarheid van wat niet
wederrechtelijk is zou zinloos zijn 52 ~.
~ 14 TJ. Noyon & G.E. langemeijer, [Link]., him. 6
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
engan menyatakan sesuatu perbuatan dapat dipidana m:1k.a
D pembentuk undang-undang memberitahukan bahwa ia
memandang perbuatcin itu sebagai bersifat melawan hukum
atau selanjutnya akan dipanciang demikian. Dipidananya sesuatu yang
tidak bersifat melawan hukum tidak ada artinya. Demikian Noyon dan
Langemeijer sebagaimana yang dikutip pada awal Bab ini. Perdebatan
perihal ajaran ·melawan hukum pernah mengemuka di Indonesia
beberapa tahun silam, menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi 003/
PUU-IV/2006 Tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Putusan tersebut menyatakan bahwa Penjelasan Pasal 2 ayat ·
(1) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU
PTPK) tidak [Link] secara hukum. Serta merta, putusan tersebut
menimbulkan kontroversi. Jaksa Agung Abdulrahman Saleh sesaat
setelah putusan tersebut mengadakan konferensi pers"'dan menyatakan
putusan Mahkamah Konstitusi merupakan kemenangan besar bagi
para koruptor. Demikian pula Komisi Pemberantasan Korupsi yang
menilai putusan tersebut menghambat penegakan . hukum dalam
rangk.a pemberantasankorupsi. Akan tetapi ada juga yang berpendapat
baliwa putusan tersebut lebih [Link] kepastian hukum dan agar
para penegak hukum lebih berhati-hati dalam [Link] kasus
korupsi.
Pasal2 ayat (1) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi berikut penjelasaruiya adalah: Pasal2 ayat (i), "Setiap orang
yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri .
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana ...." Sementara
Penjelasan Pasal 2 ayat (1) menyebutkan, "Yang dimaksud dengan
secara melawan hukum dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan
hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni meskipun
perbuatarz tersebut tidak · diatur dalam peraturan perundang-
undangan, namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena
tidak sesuai dengan rasa keadilan ati:lU norma-norma kehidupan sosial
dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.»s 1s
Dasar Pertimbangan Mahkamah Konstitusi 516 secara gar is besar ada
beberapa: Pertama, pembuat undang-undang ini sesungguhnya bukan
hanya menjelaskan Pasal' 2. ayat (1) tentang unsur melawan hukum,
melainkan telah melahirkan norma baru yang memuat digunakannya
ukuran-ukuran yangtidak tertulis dalam undang-undang secara formal
untuk menentukan perbuatan yang dapat dipidana. Kedua, perbuatan
yang demikia'h telah menyebabkan kriteria perbuatan melawan
hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) yang dikenal dalam hukum perdata
(onrechtmatige daad), seolah-olah telah diterima menjadi satu ukuran
melawan hukum dalam hukum pidana (wederrechtelijkheid).
Ketiga,Pasal 28D ayat (1) UUb mengakui dan melindungi
hak konstitusional warga negara untuk memperoleh jaminan dan
,perlindungan hukum yang pasti. Dalam bidang hukum pidana, hal ini
di~erjemahkan s~bagai asas legalitas yang dimuat dalam Pasall ayat (1)
KUHP, bahwa asas tersebut merupakan satu tuntutan akan kepastian
hukum di mana orang hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu
peraturap perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah
lebih dahulu ada. Hal demikian menuntut bahwa suatu tindak pidana
memi~iki uns4r melawan hukum yang harus secara tertulis lebih
dahulu telah berlaku yang merumuskan perbuatan apa atau akibat apa ·
dari perbuatan manusia secara jelas dan ketat yang dilarang sehingga
karenanya dapat dituntut dan dipidana.
515
Rumusan dalam Pasal iayat (1) berikut penjelasannya sebagaimana tersebut di atas sudah
ada dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
516
Putusan Mahkamah Konstitu si Republik-lndonesia Nomor 033/PUU- IV/2006, him, 73-76.
224 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
' '
Keempat, konsep melawan hukum yang secara formil tertulis,
mewajibkan pembuat undang-undang untuk merumuskan secermat
dan serinci mungkin merupakan syarat untuk menjamin kepastian
hukum. Kelima, konsep melawan hu1..."1lm materiil yang' merujuk
pada hukum tidak tertulis dalam ukuran kepatutan, kehati-hatian
dan kecermatan yang hidup dalam masyarakat, sehagai suatu norma
keadilan, .merupakan ukuran yang tidak pasti dan berbeda-beda
dari _satu lingkungan masyarakat tertentu ke lingkungan masyarakat
lainnya, sehirigga apa yang melawan hukum di satu tempat mungkin
di tempat lain diterima dan diakui sebagai sesuatu yang sah dan tidak
melawan hukum, menurut ukuran yang diakui sebagai sesuatu yang
sah dan tidak melawan hukum, menurut ukuran yang dikenal dalam
kehidupan masyarakat setempat.
Dengan melihat pertimbangan Mahkamah Konstitusi yang
demikian terlihat jelas Majelis Hakim mencampuradukkan antara
elemen melawanhukum, pengertian melawan hukum dan sifat melawan
hukum. Terlebih dalam satu pertimbangannya, Majelis Hakim seolah-
seolah menyatakan bahwa ada perbedaan antara melawan hukum
dalam konteks hukum perdata dan melawan hukum dalam konteks
hukum pidana. Pada bab ini, uraian terkait ajaran melawan hukum
akan dijelaskan lebih detil ke dalam beberapa subbaQ.
MELAWAN HUKUM . 225
..·'
' ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. ELEMEN MELAWAN HUKUM
· Selalu menjadi pertanyaan mendasar, apakah elemen atau·unsur
melawan hukum merupakan unsur mutlak suatu perbuatan pidana
·ataukah tidak? Tidak ada kesepahaman di antara para ahli hukum
pidana terhadap pertanyaan ini. Paling tidak ada tiga pandangan
terkait elemen melawan hukum ini, masing-masing pandangan formil,
pandangan materiil dan pandangan tengah. Ketiga pandangan tersebut
lebih lanjut dibahas sebagai berikut:
.1) :Pandangan Formil
·· Menurut pandangan formil, elemen melawan hukum bukanlah
unslir mutlak perbuatan pidana. Melawan hukum merupakan unsur
. perbuatan pidana jika disebut secara tegas dalam rumusan delik. Salah
seorang yang berpendapat demikian adalah Pompe. Dalam handboek-
nya, Pompe sec~ te~as menyatakan, "wederrechtelijkheid is dus in het
algemeen geen bestandeel van het strafbare feit, tenzij uitdrukkelijk in
de wettelijke omschrijving opgenomen517 ., (Sifat melawail hukum pada
umumnya bukan unsur perbuatan pidana, kecriali dinyatakan dengan
tegas dalam rumusan undang-undang).
Masih menurut Pompe:
De wederrechtelijkheid is dus (..... waarbij de wederrechtelijkheid
wei in de wettelijke omschrijving is opgenomen) geen uitdrukkelijk
bestanddeel van het strajbare feit, maar indien het strafbare feit
begaan wordt onder omstandigheden, die [Link] doen
ontbreken, wordt geen straf toegepast, wordt dus de strafbaarheid
van ~e persoon, die dit strajbare feit beging, uitgesloten518 •
Sifat melawan hukum (..... kecuali disebut secara tegas dalam
[Link] tertulis) bukan merupakan unsur perbuatan
pidana, meskipun demikian adanya ·hal-hal yang menghapus
melawan hukum akap menghapus pula .adanya pidana. Dengan
demikian dapat dipidananya pelaku dari perbuatan pidana yang
dilakukan akan dihapus. .
17
5 W.P.J. Pon1P.e, [Link]., him. 111
518
Ibid, him. 41
?.26 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
I·
Penulis sendiri tidak sependapat dengan pandangan formil· yang
menyatakan demikian. Hal ini didasarkan pada beberapa argumentasi.
Pertama, definisi perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang,
larangan itu dalam undang-undang dan ada ancamao. pidana bagi
yang melakukan perbuatan tersebut. Perdefinisi tersebut sudah pasti
perbuatan pidana adalah perbuatan yang melawan hukuni, yakni
hukum pidana.
Kedua, dalam penyataan Pompe terdapat pertentangan. Di satu
sisi Pompe menyatakan bahwa melawan hukum bukan merupakan
unsur perbuatan pidana, namun di sisi lain Pompe menyatakan jika
suatu perbuatan tidak melawan ·hukum, maka menghapus adanya
pidana. Ketiga, sulit diterima secara akal sehat jika suatu rumusan
delik tidak mencantumkan kata-lsata «melawan hukum': lalu kita
[Link] l:>ahwa perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan
melawan hukum.
Sebagai misal, Pasal 338 KUHP yang berbunyi, "Barangsiapa
sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun". Jika merujuk
pada pendapatnya Pompe, maka di dalam pasal ini tidak terdapat
unsur melawan hukum karena tidak disebut dalam rumusan delik.
Bandingkan dengan Pasal 362 KUHP yang menyat~n, "Barangsiapa
'mengambil barang sesuatu yang fluruh nya atau sebagian kepunyaan
orang lain,. dengan maksud dimiliki secara melawan hukum, diancam
karena pencurian, dengan pidana pimjara paling lama lima tahun
atau denda ·paling banyak enam puluh rupiah". Dengan ·demikian
berdasar~ pandangan Pompe, Pasal 362 KUHP mengandung unsur
melawan hukum karena tertulis secara expressiv verbis dalam rumusan
delik.
2) Pandangan Materiil
Berbeda ·dengan pandangan formil adalah pandangan materiil
yang mt!nyatakan bahwa melawan hukum adalah unsur mutlak dari
MELAWAN HUKUM '. 'i.'l.i :
, _.. : c
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
setiap. perbuatan pidana. Pandangan ini antara lain dianut oleh Vos
dan Moeljatn<h Komentar Hazewink~l Suringa terhadap pandangan
materiil ini adalah sebagai berikut:
Opmerkelijk is, dat deze definities niet slechts de wederrechtelijkheid
als constant en permanent element van ieder strajbaar feit noemen,
maar eveneens toerekenbaarheid. Voor het bestaan van een
strajbaar feit zou dus niet voldoende zijn, dat de gedraging aan de
delictsomschrijving beantwoordt, bovendien zou nodig zijn, dat
zij ten eerste een wederrechtelijke is en ten tweede de dader kan
worden toegekerend. De consequentie van deze leren is, dat dan de
wederrechtelijkheid der gedraging en de toerekenningsvatbaarheid
van. de dader als zijnde contitutieve element oak door het O.M.
moeten worden telastgelegd en bewezen en dat, ingeval de daad een
rechtmatige zou zijn ofde dader niet toerekeningsvatbaar, vrijspraak ·
zou moeten volgen, een consequentie....S19
(Perlu diperhatikan bahwa sifat ·melawan hukum adalah unsur
konstan dari"permanen dari setiap perbuatan pidana jika disebut,
demikian pula dengan pertanggungjawaban. Suatu perbuatan
pidana tidak hanya kelakuan yang memenuhi rumusan delik tetapi
dibutuhkan keduanya, pertama adalah sifat melawan hukum dan
kedua adalah dapat dipertanggungjawabkafl pelaku. Konsekuensi
dari ajaran yang menyatakan bahwa kelakuan yang bersifat
melawan hukum dan dapat dipertanggungjawabkan pelaku adalah
unsur konstitutif, jaksa harus memasUkan dalam tuduhannya dan
membuktikannya, jika [Link] tersebut adalah sesuai hukum,
pelaku tidak dapat dipertanggungjawabkan dan harus dibebaskan
adalah suatu konsekuensi).
Masih menurut Suringa, . "Wil dat · dus zeggen, dat de
rechtspraak voor het opleggen van straf de wedefrechtelijkheid en
ontoerekeningsvatbaarheid meent te kunnen verwaarlozen. Neen, ze
beschouwt ze aileen niet als constitutieve elementen520• (Apakah itu
berarti pengadilan dapat menjatuhkan pidana melawan hukum dan
519
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 126
520 Ibid, him. 127.
228 PRINSIP-PRINSIP HUK!.JM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tidak dapat dipertanggungjawabkan boleh dikesampingkan? Tidak,
jika tidak sebagai unsur-unsur konstitutif).
Sebenarnya pandangan materiil yang menyatakan bahwa melawan
hukum merupakan unsur mutlak dari perbuatan pidana berasal dari
hukum pidana Jerman dan bukan merupakan hukum pidana Belanda.
Mengenai hal ini, Suringa kembali menyatakan, ".... maar ook voor de
wederrechtelijkheid een plaats opgeeist onder de constitutieve elementen
in aansluitig aan de Duitse rechtwetenschap, die leerde dat..." Niet het
[Link] van delictsinhoud zou voldoende zijn om het strafbare feit te
scheppen, daarnast zou de wederrechtelijkheid moeten worden bewezen .
. Ook dit is geen Nederlands recht521 .( ••••tetapi juga untuk sifat melawan
hukum sebagai unsur mutlak perbuatan pidana merupakan corak
yang berasal dari ajaran ilmu pengetahuan hukum pidana Jerman .....
Meskipun bukan bagian dari rumusan delik tetapi merupakan cakupan
isi dari perbuatan pidana sehingga melawan hukum harus dibuktikan.
Ini bukan merupakan hukum pidana Belanda).
Menurut hemat Pentilis, salah satu kelemahan dari pandangan
materiil ini adalah berada dalam penuntutan di pengadilan. Jika
unsur nielawan hukum dianggap sebagai unsur mutlak . dari setiap
perbuatan pidana, maka penuntut umum diembani kewajiban untuk
membuktikan, terlepas dari apakah unsur melawan hukum [Link]
disebut ataukah tidak dalam rumusan delik. Hal ini a~ah konsekuensi
unsur melawan hukuin sebagai unsur konstitutif dari setiap perbuatan
pidana.
3) Pandangan Tengah
Selain pandangan formil dan pandangan materiil terhadap elemen
melawan hukum, masih ada pandangan ketiga yang disebut sebagai'
pandangan tengah. Pandangan ini dikemukakan oleh Hazewinkel
Suringa sebagai berikut, "De wederrechtelijkheid is slechts daar, waar
wet haar noemt elementen verder allen maar het kenmerk van ieder
sn Ibid, him: 128
--~ - -,
MELAWAN HUKUM 229 ;.
• =.: ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
delict..... «sl2 (Sifat melawan hukum adalah unsur mudak jika disebutkan
dalam rumusan delik, jika tidak, melawan hukum hanya merupakan
tanda dari suatu delik...")
Menurut Moeljatno, ".....allen maar het kenmerkvan ieder delict...."
hanya merupakan fungsi dalam lapangan hukum acara yang terdiri dari
fungsi positif dan fungsi negatif. Fungsi positif, jika melawan hukum.
. dinyatakan dalam rumusan delik dan harus dinyatakan dalam dakwaan.
Sedangkan fungsi negatif, jika melawan hukum tidak terdapat dalam
rumusan delik, dengan demikian tidak perlu .ada dalam dakwaan523•
[Link] lanjut menurut Suringa:
. ,.. Van deze wetsconstructie is het voordeel, dat het O.M. niet
geplaatst wordt voor een overmatig zware bewijslast; immers ware
de onrechtmatigheid wel bestaddeel van ieder strafbaar feit, dan
zou het vervolgen orgaan behalve _de andere delictselementen ook
hebben waar te maken, dat het gebeurde wederrechtelijk is, hetgeen
zou neerkO"tnen op het negatieve en dus moeilijke bewijs van het niet
bestaan van enige rechtvaardigingsgrond, bijv. Dat er geen nooweer,
geen wettelijk voorschrift, geen ambtelijke bevel bestond, enz. Het
O.M. kan zich nu bepalen tot het stellen en bewijzen van de elementen
van delicsinhoud. Eer eventueel bestaande rechtvaardigingsgrond
kan de leiden tot een onslag van rechtsvervolging wegens de, bij
uitzondering, niet strafbaarheid van het feit 524 •
(Keuntungan konstruksi undang-undang seperti ini, jaksa tidak
dibebani pembuktian yang berat; sebab jika melawan hukum
merupakan unsur setiap perbuatan pidana, maka di samping
membuktikan unsur-unsur yang lain, jaksa harus membuktikan
unsur melawan hukum kejadian itu. Hal ini mengakibatkan suatu
. yang negatif yakni suatu pembuktian yang sukar tidak adanya
suatu alasan pembenar seperti tidak adakeadaan darurat, tidak ada
perintah undang-undang, tidak ada perintah jabatan [Link] dan
_. lain sebagainya. Dengan demikian jaksa hanya mengemukakan
522
Ibid, him. 129.
m Moeljatno, 1955, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawab Dalam Hukum Pidana, Pidato
Dies Natalis Ke IV Universitas Gadjah Mada, Sitihinggil Yogya ~arta, 19 Desember 1955.
hlm.16-17.
524
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 128 - 129.
230 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dan membuktikan unsur- unsur yang merupakan isi delik. Alasan-
alasan pembenar melepaskan dari segala tuntutan, pengecualian
dapat dipidananya suatu perbuatan).
I
Selain Suringa, yang juga berpendapat demikian adalah Jonkers
yang meny~takan sebagai berikut:
"Anderen daarentegen beschouwen de toerekeningsvatbaarheid,
evenals de niet uitdrukkelijk in de omschrijving van het strafbare feit
opgenomen wederrechtelijkheid, als een stilzwijgend element van elk
strafbaarfeit. Ik schaarmij ten deze aan dezijde van de H.R., hoewelik
de wederrechtelijkheid wet beschouw als een stilzwijgend element van
strafbaarfeit (zie vorige paragraaf), zulks omdat de werrechtelijkheid
hetfeit betreft. Bij het ontbreken derwederrechtelijkheid is hetfeit niet
strafbaar. Met de ontoerekeningsvatbaarheid is het anders gesteld.
Het feit is dan wel strajbaar, map.r de persoon niet, op grond van den
algemenen uitsluitingsgrond van ontoerekeningsvatbaarheid, die uit
· de bijzondere uitsluitingsgrond (artt. 44, 48, 49, 50 en 51 W.v.S.)
valt af te leiden 525• ·
(Oranglainsebaliknyamenganggap sifatmelawan hukum demikian
juga dapat dipertanggungjawabkan pidana sebagai sifat yang tidak
jelas disebut dalam rumusan delik sebagai sifat perbuatan pidana
tetapi secara diam-diam sebagai unsur setiap perbuatan pidana.
Mengenai hal ini saya mengikuti Mahkamah Agung,{ meskipun
saya berpendapat sifat melawan hukum seh~ai ;risur diam-
diam dari setiap perbuatan pidana. Mengenai perbuatan, jika sifat
melawan hukum tidak ada, maka perbuatan tidak dapat dipidana.
Lain halnya dengan pertanggungjawab~n pidana, perbuatannya
inemang dapat dipidana tetapi orangny.a tidak, berdasarkan
alasan-alasan umum tidak dapat dipertanggungjawabkan pidana
·yang dapat disimpulkan dari alasan-alasan khusus (Pasal 44, 48,
49,50 dan 51 KUHP).
Berdasarkan ketiga pandangan tersebut, Penulis sendiri lebih
sepakat dengan pandangan di tengah. Di satu sisi, elemen ·melawan
h~m merupakan unsur mutlak dalam perbuatan pidana [Link]
secara expiessiv verbis dalam rurnusan delik sehingga membawa
525 · J.E. Jonkers, 1946, [Link]., him. 65-66.
MELAWAN HUKUM >?~1
.... ·. ~
:. ·:
. :: :.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
konsekuensi harus dibuktikan oleh penuntut umum, namun di sisi
lain,jika kata-kata "melawan hukum" tidak disebutkan dalam rumusan
.delik, maka elemen tersebutdianggap ada namun tidak perlu dibuktikan
oleh penuntut umum. Selain itu menurut hemat Penulis, dengan
membedakan an tara istilah 'bestandeef dan 'elemenf sebagaimana yang
telah dibahas dalam Bab II di atas, maka elemen "melawan hukum"
dapat saja merupakan bestandeel (element yang tertulis secara expressiv
verbis); namun juga dapat saja merupakan unsur yang tidak tertulis
secara eksplisit dalam rumusan delik.
B. PENGERTIAN MELAWAN HUKUM
Dalam Memorie van Toelichting atau sejarah pembentukan KUHP
di Belanda .tidak ditemukart apakah yang dimaksudkan dengan kata
"hukum" dalam frase "melawan hukum': Jika merujuk pada postulat
contra legem fach qui id facit quod lex prohibit; in fraudem vero qui,
salvis verbis legis, sententiam ejus circumuenit, maka dapat diartikan
bahwa seseorang dinyatakan melawan hukum ketika perbuatan yang
dilakukan adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh hukum. van
Hamel mencoba menjelaskan apakah yang dimaksudkan dengan kata ·
"hukum" dalam frase "melawan hukum" sebagai berikut:
Gelijk is opgemerkt, wordt in . vele artikelen van het Starfwetboek
het deliktsbestanddeel der onrechtmatigheid uitgedrukt door het
wederrechtelijk, gebruikt ten aan zien of van de handeling......... .
Tegenover elkaar zijn dan gesteld twee verklaringen. I. de positieve:
wederrechtelijk beduit, in strijd met het recht (objectief, b. v Simons
Leerb. 191 v.) of inet krenking van eens anders recht (subjectief, b.v
Noyon); de negatieve: wederrechtelijk beduit, niet steunend op het
recht (objectief) of zonder bevoegdheid (subjectief, b. v H.R.)5_26•
(Seperti telah dinyatakan, banyak pasal dalam kitab undang-
undang hukum pidana, unsur-unsur delik tentang melawan
hukum dinyatakan dengan istilah "melawan hukum" yang
digunakan terhadap kelakuan ........ Jadi ada dua keterangan yang
526
G.A. van Hamel, [Link]., him. 270
232 , PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
berseberangan. 1. Positif: melawan hukum berarti bertentangan
dengan hukum (objektif, seperti ajaran Simons dalam bukunya
halaman 191) atau merusak hak orang lain (subjektif, seperti
Noyon); Negatif, melawan hukum berarti tidak berdasarkan
hukum (objektif) atau tanpa kewenangan (subjektif seperti
Mahkamah Agung))
Pengertian melawan hukum itu sendiri, dikemukakan oleh
Simons sebagai berikut:
~Ike is de beteekenis, die in hier aangegeven bepalingen aan de
uitdrukking wederrechtelijk moet worden toegekend? Terwijl naar
veler meening die term niet anders beteekent dan zonder eigen recht,
schijnt mij aileen eene opvatting aannemelijk, welke voor het bestaan
van de wederrechtelijkheid vordert, dat er is gellandeld in strijd.
met het recht. Zonder recht is iets anders dati tegcn het recht en de
uitdrukking wederrechtelijk wijst ontegenzeggelijk oplaatstbedoelde
beteekenis. Het recht, waartegen handeling gericht is, behoeftniet te
zijn een subjectief recht, maar ook zijn het recht in het algemeen.
Of het een of het ander geval is, zal ajhangen van den aard van
het strafbare feit, bij welks omschrijving de, wetgever dien term
gebruikF27 •
(Apa arti yang harus diberikan mengenai istilah melawan hukum ·
dalam ketentuan-ketentuan ini? sedangkan menurut pandangan
orang banyak istilah tersebut tidaklain dari pada t~pa hak sendiri.
Menurut ·pendapat saya, hanya ada satu pandangan yang dapat
diterima mengenai adanya melawan hukum bahwa ada kelakuan
yang . bertentangan dengan hukum. Tanpa hukum mempunyai
arti yang lain dari pada bertentangan dengan hukum, dan istilah
melawan hukum menunjukhanya pada arti yang terakhir. Hukum
yang dituju oleh perbuatan tersebut tidak harus suatu hak yang
· subjektif tetapi juga dapat merupakan suatu hak pada umumnya.
Mana yang benar, tergantung pada sifat perbuatan pidana dan ·
tergantung pada rumusan pembentuk undang-undang untuk
istilah tersebut).
'
527
D. Simons, [Link] t., him. 2n- 278
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· Masih inenurut Simons:
~- ".... terwijl die beantwoording naar ongeschreven regelen ·den
grondslag van het positieve recht geheel wankel maakt. Wel mag
worden erkend, dat eene .handeling, die onder een verbiedend
rechtsvoorschrift valt, daarom niet onvoorwaardelijk wederrechtelijk
is, doch de niet-wederrechtelijkheid niagslechts worden aangenomen,
indien in het positieve recht de grondslag te vinden is voor eene
uitzondering op de algemeenheid der verbodsbepaling'.
·~.... dat waar het onregelmatig karakter twijfelachtig is schuldig
verklaring niet kan volgen, acht ik niet juist, in verbant}met de door
· mij gevolgde opvatting, dat de wederrechtelijkheid vot6-tvloeit uit de
omstandigheid, dat de handeling met het verbodsvoorschrift in strijd
is en slechtS. ..(Yegvalt, indien eene uitzondering op dat voorschrift
..aanwijsbaar is~28 •
(...•. ~.ementara jawaban-jawaban yang didasaikan pada huktim
yang tldak tertulis menggoncangkan dasar-dasar hukum positif.
Meskipun:-,..diakui bahwa tidak perlu perbuatan yang mencocoki
rumusan delik adalah bersifat melawan hukum, akan tetapi
pengecualian yang demikian hanya boleh diterima apabila
mempunyai dasar-dasar dalam hukum positif itu sendiri. ".....
dalam hal ada keraguan tentang ketidakberaturan karakter, tidak
dapat diikuti dengan pernyataan salah, saya tidak sependapat
dengan itu, sehubungan dengan pandangan yang saya ikuti bahwa
.sifat melawan hukum berasal dari keadaan bahwa perbuatan
bertentangan ·aE!ilgan larangan tertulis dan hanya hapus bilamana
dapat ditunjuk suatu pengecualian terhadap ketentuan tersebut)
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh van Hamel dan Simons
paling tidak ada tiga pengertian "hukum" dalam frase "melawatl hukum':
Pertama, hukum dalam pengertian objectief recht yang dikemukakan
Simons yakni hukum dalam pengertian hukum tertulis dan I?enolak
hukum tidak tertulis. Kedua, hukum dalam pengertian subjectief recht
seperti yang dikemukakan Noyon. Artinya, melawan hak seseorang.
Ketiga, pengertian "hukum" dalam frase "melawan hukum" diartikan
sebagai tanpa kewenangan.
528
Ibid, him. 275
234 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pandangan Simons terkait .pengertian hukum semata hanyalah
hukum tertulis atau undang-undang ditentang oleh Noyon ·dan
Langemeijer sebagai berikut:
Nu laat zich reeds aantonds voorop stellen, dat de eerste opvatting en
taalkundig en systematisch het sterkst staat. ·wederrechtelijk" wijst
in-de-richting van een botsing met, niet van enkel gemis aan steun
in het recht. maar dan ook van een botsing met het recht zonder
onderscheid, ongeacht ofhet geschreven of ongeschreven is en ofhet
aan iemand op het achterwege blijven van het betreffende gedrag
een subjectief recht verleent in den technisch jurisdischen trouwens
nog weinig vaststaanden zin. Ook ligt het apriori meer voor de
hand om te veronderstellen dat de wetgever de strafbaar heid van
eenig gedrag daarvan laat afhangen, of het met het objectieve recht
al dan niet in strijd komt, dan dat hij ojwel die stafbaarheid reeds
zou Iaten intreden wanner geen subjectief recht bestaat om zich
aldus te gedragen ojwel eerst dan wanneer behalve op strijd met
het objectieve recht ook op inbreuk in het subjectieve recht van een
ander valt te wijzen529•
(Dari dulu sudah kelihatan bahwa pendapat pertama adalah yang
terkuat baik. menurut tata bahasa sistematis. , Melawan hukum"
menunjuk pada bertentangan dengan bukan hanya kehilangan
dukungan dalam hukum. tetapi juga bertentangan dengan hukum
tanpa merilheda-bedakan apakah tertulis ataukah tidak tertulis
dan apakah pada seseorang karena tidak adan)a kelakuan itu lalu
demikian suatu hal subjektif dalam arti teknis juridis. Juga secara
apriori lebih gampanguntukmenduga bahwa pemhentuk undang-
undang menggantungkan dapat dipidananya suatu kelakuan
yaitu bertentangan atau tidak dengan hukum ohjektif. Apakah
pembentuk undang-undang akan menyatakan · dipidananya
hila tidak ada hak subjektif untuk herkelakuan demikian atau
baru dipidana hila bertentangan dengan hukum 'objektif yang
melanggar hak subjektif orang lain).
Pendapat Noyon dan Langemeijer mendapat sokongan
dari Pompe yang secara tegas meilyatakan, "Intussen is de . term
ru TJ. Noyon & [Link], [Link]., him. 7-8.
MELAWAN HUKUM
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
wederrechtelijk thans in de wdtelijke o~dlrijving van verscheidene
strajbare feiten opgenomen. De vraag doet zich nu voor, wat deze term
in de wet betekent. Dit is geen vraag van algemene rechtstheoretische
aard, maar van i11terpretatie der wet. Het is niet moelijk een algemeen . ·
antwoord op deze vraag te geven. Wederrechtelijk betekent: in strijd met
het recht»s30 (Istilah melawlln: hukum banyak dipakai dalam rumusan
delik. Apa arti istilah ini dalam undang-~dang. Ini bukan soal teori
hukum umum tetapi interpretasi undang-undang. Tidak sukar untuk
. . .
memberi jawaban umum atas pertanyaan inL Bahwa melawan hukum
berarti: bertentangan dengan hukum).
Masih menurut Pompe, "Wederrechtelijk betekent: in strijd met
·..het recht, hetgeen ruimer is dan: in strij met de wet. Behalve wettelijke
voorschriften komen hier ongeschreven regelen in aanmerking"531 (
Melawan hukum berarti: berteiltangan dengan hukum, tidak hanya
sebatas: bertentangan dengan undang-undang. Selain dari peraturan
· perundang-undangan tertulis, harus diperhatikan aturan-aturan yang
tidak tertulis). Demikian pulamenurutvanBemmelen dan van Hattum
yang menyebutkan, "In deze geschiedenis vind ik geen aanwijzing dat
de betekenis van wederrechtelijk niet beperkt zou zijn tot: in strijd met
het geschreven recht"'532 (Dalam sejarah saya tidak menemukan bahwa
arti dari melawan hukum itu tid~ terbatas pada bertentangan dengan
hukum tertulis).
Dengan demikian pengertian "hukum"' dalam frase "melawan
,hukum, meliputi: Pertama, hukum tertulis atau objectief recht. Kedua,
subjectief recht atau hak seseorang. Ketiga, tanpa kekuasaan atau tanpa
kewenangan. Hal ini berdasarkan Putusan Hoge Raad 18 Desember
1911 W. Nr. 9263. Keempat, hukum tidak tertulis. Dalam konteks
hukum di Indonesia termasuk dalam hukum tidak tertulis adalah
hukum adat norma-norma lainnya yang terkandung dalam masyarakat.
· m [Link]. Pompe, [Link]., him. 103
SJl Ibid, him. 103 - 104
sn J.M. van Bemme!en En W.F.C. van Hattum, [Link], him. 224
236 PRINSIN RIN: IP HUKV.' hD \IJ,\
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
C. SIFAT MELAWAN HUKUM
Dalam hukum pidana istilah "sifat melawan hukum"' atau
wederrechtelijkheid adalah satu frase yang memiliki empat makna.
Keempat makna tersebut adalah sifat melawan hitkum umum, sifat
melawan hukum khusus, sifat melawan hukum formil dan slfat
melawan hukum materiil533 • Lebih lanjut masing-masing sifat melawan
hUkum akan dibahas sebagai berikut:
1) Sifat Melawan Hukum Umum
Dalam Bab II telah dibahas terkait elemen-elemen perbuatan.
pidana yang antara lain merujuk pada pendapat Schaffmeister,
Keijzer dan Sutorius bahwa elemen-elemen perbuatan pidana terdiri
dari memenuhi unsur delik, melawan hukum dan dapat dicela534•
Melawan hukum sebagai elemen perbuatan pidana dapat dikatakan
sebagai sifat melawan hukum umum atau generale wederrechtelijkheid.
Sifat melawan hukum ini adalah syarat umum dapat dipidananya
suatu perbuatan sebagaimana definisi perbuatan pidana oleh Ch.J.
Enschede sebagai, "een menselijke gedraging die valt binnen de grenzen
van delictsomschrijving, wederrechtelijk is en aan schuld te wijten"'
(perbuatan pidana adalah suatu perbuatan manusia yang termasuk
dalam rumusan delik, melawan hukum, dan kesalahan yang dapat
dicelakan padanya) 535• '-
Melawan hukum sebagai syarat umum perbuatan pidana tersimpul
dalam pernyataan van Hamel, "De onrechtmatigheid van het delikt is
een bestanddeelen van het algemeen begrip....... De strajwetgever stelt
dit bestanddeel meestal niet, maar hij veronderstelt het altijd536'' ("Sifat
melawan hukum dari suatu perbuatan pidana adalah bagian dari suatu
pengertian yang umum.. ... Pembuat undang-undang pidana tidak
pernah menyatakan bagian ini tetapi selalu merupakan dugaan").
533
D. Schaffmelster, N. Keljzer, [Link]. Sutorius, [Link]., 39.
sJ< Ibid., him. 27.
ns ChJ. Enschede, [Link]., him. 156.
516
G.A. van Hamel, [Link]., him. 263-264
[Link] HUKUM ~- 23t:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· Demikian pula pendapat Noyon dari Langemeijer sebagaimana
yang telah [Link] awal Bah ini,
· "Het begirp wederrechtelijkheid eischt echter nog onze aandacht als
bestanddeel van tal van delictsomschrijvingen. Door een bepaaldfeit
strajbaar te stellen geeft de wetgever uit den aard der zaak te kennen
·dat hij het als wederrechtelijk beschouwt of voorstaan als zoodaning
beschouwd wil zien. Strajbaarheid van wat niet wederechtelijk is
zou zinloos zijn 537 ,
(Pengertian melawan hukum bagaimanapun . masih menjadi
· ·perhatian sebagai unsur rumusan delik. Dengan menyatakan
sesuatu perbuatan dapat dipidana maka pembentuk undang-
undang memberitahukan bahwa ia memandang perbuatan itu
sebagai bersifat melawan hukum atau selanjutnya akan dipandang
demikian. Dipidananya sesuatu yang tidak bersifat melawan ·
hukum tidak ada artinya).
'
2) · Sifat Melawan Hukum Khusus
Sifat melawan hukum khusus atau speciale wederrechtelijkheid,
biasanya kata "melawan hukum, dicantumkan dalam rumusan delik.
Dengan demikian sifat melawan hukum merupakan syarat tertulis
untuk dapat dipidananya suatu perbuatan. Sebenarnya penyebutan
kata , melawan hukum, secara eksplisit dalam rumusan delik merujuk
pada ilmu hukum Jerman yang diajarkan sejumlah pakar antara
lain, Zevenbergen dan pengikutnya di Belanda, Simons. Menurut
pandangan ini, melawan hukum hanya merupakan unsur delik
sepanjang disebutkan dengan tegas dalam peraturan perundang-
undangan.
· sebagai misal Pasal372 KUHP , "Barangsiapa dengan sengaja dan
melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri barang sesuatu yang
seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi barang
yang ada dalam kekuasaannya bukan hasil kejahatan, diancam karena
537
T.J. Noyon & G.E. langemeijer, [Link]., him. 6
238 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
penggelapan dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda
paling banyak enam puluh rupiah". Dalam pasal tersebut kata-kata
"melawan hukum" disebut secara expressiv verbis. Konsekuensi lebih
Ianjut melawan hukum merupakan unsur delik yang harus dibuktikan.
Mengenai hal ini Hazewinkel Suringa menyatakan,
"Bij die delicten, · waarin als element 'wederrechtelijk' voorkomt,
is de delictsinhoud dus niet verwerkelijkt, als de gedraging blijkt
een rechtmatige te zijn. Dit effect nu kan de toestemming van de
.betrokkeneteweeg brengen. In tal van delictsomschrijvingen werd de
factor wederrechtelijk opgenomen om te ·voorkomen, dat iemand,
die krachtens een eigen recht handelde, onder de worden van de
strafwet zou vallen538".
(Pada delik-delik yang mencantumkan 'melawan hukum' sebagai
unsur, maka isi dari [Link] 'tidak terwujud jika kelakuan itu
temyata sesuatti yang menurut hukum. Akibat demikian ini dapat
ditimbulkan oleh persetujuan dari orang yang bersangkutan.
Dalam banyak rumusan-rumusan delik faktor melawan hukum
itu dimasukan untuk mencegah, bah~a ~eseorang yang berbuat
berdasarkan haknya sendiri berbuat akan termasuk dalam linglqtp
rumusan undang-undang). ·
Demikian pula menurut van Bemmelen dan van Hattum,
"Bij delicten waarbij de wederrechtelijkheid in d( delictsomschrijving
is opgenomen is ieder het er over eens dat bij twijfel dit bestaddel dus
niet is bewezen zodat .vrijspraak moet volgen539" ( Terhadap delik-
delik yang sifat melawan hukum .dalam rumusan delik dan unsur-
unsur lain tidak terbukti, terdakwa dibebaskan). Oleh karena itu
Schaffineister berpendapat bahwa "melawan hukum" tidak perlu
disebut dalam rumusan delik sebagaimana pernyataannya, "Daarom
hoefde de wetgever in zijn visie niet steeds de"wederrechtelijkheid en de
verwijtbaarheid in de wetteks cip te nemen: het zijnalgemene vorrwaarden
538 Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 197
su .J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 229
.: ~ ~ .....·
._ . ..
.·· ~·- ·' . _.,
~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
van strafbaarheid.. .'>s40 (Karena itu pembuat undang-w1dang m:enurut
· .pendapat saya, tidak perlu selalu mencantumkan sifat melawan hukum
dan kesalahan dalam teks undang-undang: hal itu merupakan·syarat
umum bagi sifat dapat dipidananya suatu perbuatan).
Penulis sendiri sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh
Schaffmeister dengan dasar argumentasi. Pertama, melawan hukum
adalah syarat umum dapat dipidananya suatu perbuatan sehingga
tidak perlu dimasukkan dalam rumusan delik. Kedua, jika melawan
hukum dimasUkkan ke dalam rumusan delik, maka akan memberikan
· · . pekerjaan tambahan kepada penuntut umum untuk membuktikannya
di pengadilan. Ketiga, merujuk pada pengertian kata "hukum" dalam
frase "melawan hukum" di atas, jika kata-kata "melawan hukum"
dimasrikkan dalam rumusail de~, penafsirannya .terlampau luas
sehingga bertentangan dengan prinsip lex certa (ketentuan pidana
harus jelas) dan ltK stricta (ketentuan pidana harus ditafsirkan secara
ketat) sebagai prinsip-prinsip yang terkandung dalam asas legalitas.
3) .Sifat Melawan Hukum Formil
Sifat melawan hukum formil atau formeel wederrechtelijkheid .
mengandung arti semua bagian {unsur-unsur) dari rumusan delik telah
dipenuhi. Jonkers dalam leerboe~-nya menyatakan sebagai berikut:
"Formeel is natuurlijke een degerlijke daad wederrechtelijk, omdat
hij in strijd met de wet is. Maar het gaat hier niet om de formeele
wederrechtelijkheid, doch om de materieel wederrechtelijkheid,
waaronder te verstaan is een wezenlijke wederrectelijkheid, niet
aileen gebasseerd op een positief wettelijke omschrijving, .doch
mede gegrondvest op de algemeene beginselen, aan het recht ten
grondslag liggende, ook al wortelen deze in ongeschreven nor-men.
In verband met het bepaalde in artikel 1 lid 1 W. v.S. is het voor
.strafbaarheid van een feit in elk geval een vereschte, dat het formeel
wederrechtelijkheid is541 ':
540 Komariah Emong Sapardjaja. [Link]., him. 24
541
J.E. Jonkers, [Link], him. 61
240 Pr~INSIP-PAINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Melawan hukum formal jelas adalah }<arena bertentangan dengan.
undang-undang. Tetapi tidak selaras dengan melawan hukum
formal, juga . melawan hukum materiil, di antara pengertian
sesungguhnya dari melawan hukum, tidak hanya didasarkan pada
hukum positif tertulis, tetapi juga berdasar pada asas-asas umum
hukuin, pula berakar pada norma-norma yang tidak tertulis.
Sebagaimana yang diatur dengan Pasal 1 .ayat ( 1) · KUHP, untuk
dipidananya setiap perbuatan menganut sifat melawan hukum
. formcil)
Demikian pula menurut Simons yang menyatakan, "Om
strajbaar te zijn moet het gepleegde feit onder die omschrijving vallen, in
overeenstemming zijn met delictsinhoud naar de wettelijke strajbepaling.
Is dit het gevat dat komt in den regel een verder onderzoek naar de
werrechtelijkheid niet te pas542" (Untuk dapat dipidana suatu perbuatan
hams mencocoki rumusan delik dalam suatu ketentuan .tertulis dalam
unda:ng-undang pidana. Jika sudah demikian tidak perlu lagi diselidiki
apakah perbuatan itu melawan hukum ataukah tidak).
Sebagai misal Pasal 338 KUHP berbunyi, "Barangsiapa dengan
sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan
dengan pidana penjara _paling lama lima belas tahun". Unsur-unsur
. delik dari pasal tersebut adalah: 1) urisur banm.g siapa; 2) unsur dengan
sengaja; 3) unsur merampas; dan 4) unsur nyawa orang lain. Jika semua
unsur tersebut telah terpenuhi, maka dapat dikatakan memenuhi sifat
melawan hukum formil .
. . 4) Sifat Melawan Hukum Materiil
Sifat melawan hukum materiil atau materieel wederrechtelijkheid
. terdapat dua pandangan. Pertama, sifat melawan hukum materiil
dilihat dari sudut perbuatannya. Hal ini menganduilg arti perbuatan
yang melanggar atau membahayakan kepentingan hukum yang h~ndak
dilindungi oleh pembuat undang-undang dalam rumusan delik
tertentu..Biasanya sifat melawan hukum materiil ini dengan sendirinya
502
D. Simons, [Link]., him. 273
~·· ::- :. :~- ~·:-.,
MELAWAN HUKUM . ·,·,·24'H
':' ' ·. ~::: .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
melekat pada delik-delik yang dirumuskan secara materiil. Kedua, sifat
melawan hukum materiil dilihat dari sudut sumber hukumnya. Hal ini
mengandung makna bertentangan dengan hukum tidak tertulis ata1;1
hukum yang hidup dalam masyarakat, asas-asas kepatutan atau nilai-
nilai keadilan dan kehidupan sosial dalam niasyarakat.543
Sifatmelawan hukummateriil dalamhukum pidana ini sebenarnya
berasal dari Jerman dengan salah satu ilmuannya adalah von Liszt.
Secara tegas von Liszt menyatakan bahwa setiap perbuatan yang anti-
sosial adalah wederrechtelijk. 544 Hal ini jelas tersurat dalam pernyataan
van Bemmelen dan van Hattum sebagai berikut:
"Het spreekt welhaast van zelf dan onzen wetgever de materiele
wederrechtelijkheidsleer allerminst voor ogen heeftgestaan en dat we
voor deze leer in de wet derhalve geen aanknopingspunten kunnen
vinden. Immers in 1875 werd ongeschreven recht in Nederland
nauwelijks geduld. Voor onze vraag blijkt dit duiderlijk uit de
geschiedenis WUJ het woord wederiechtelijk in het strafwetboek,545:
(Terhadap pembentuk undang-undang kita, ajaran sifat melawan
hukum mater~ tidak dipikirkan, maka untuk ajarail ini dalam
·undang-undang tidak ada ketentuan tersebut. Bahkan di tahun
1875, hukum tidak tertulis hampir tidak [Link] di Belanda.
Pertanyaan bagi kita, ternyata jelas dari sejarah istilah melawan
hukum dalam kitab undang-undang hukum pidana ditemukan
dalam banf!1k pasal)
Demikian pula menurut Hazewinkel Suringa dan Vos. Secara
eksplisit dikatakan oleh Suringa, "In Duitsland bestaat een stroming,
die aan deze zogenaamde materile wederrechtelijkheid een plaats wil
inruimen; die dus aan een gedraging, welke formeel en delict oplevert,
formeel wederrechttdijke is;....546 , (Di Jerman ada aliran sifat melawan
hukum materiil; kelakuan yang secara forrnil merupakan suatu delik
S43 Bard a Nawawi Arief, 2005, Masaloh Kodiftkasi, Uniftkasi Dan KonsepAjaran Sifat Melawan
Hukum Material Do/am RUU KUHP, Focus Group Discussion terhadap RUU KUHP, Fakultas
Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyalcarta, 25 Juni 2005, him. 8.
544
E. Utrecht, [Link]., him. 270.
S4s J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link], him. 222- 223.
s.,; Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 192
242 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. I
secara hukum adalah bersifat melaw(\n hukum). Sedangkan meifurut
Vos, "De leer der materiele wederrechtelijkheid vindt men voor;n/J_~elijk
door, Duitse schrijvers [Link]. Zo noemt yon Liszt ee~:!Jf~;~eling
wederrechtelijk, als zij anti-sociaal is547" (Ajaran sifat melawa11dm~rum
materiil dikemukakan oleh seorang penulis Jerman. Dia adhla:hi von
Liszt yang menyatakan kelakuan yang melawan hukum ·adruah·anti
sosial). ,:1, '• ~··
.. •:)
·
. ";; ... J. ~ ~ c... if'- F.
Perkembangan selanjutnya, sifat melawan hukum ~:. 'ffiateriil.. 1
·
ini ·masih dibagi lagi menjadi sifat melawan hukum materiil dflam
fungsinya yang negatif dan sifat melawan hukum materiil dalam
fungsinya yang positif. Sifat melawan hukum materiil dala..tn fungsinya
yang negatifberarti meskipun perbuatan memenuhi unsur delik tetapi
tidak bertentangan dengan•rasa keadilart [Link]. ma.k.a rerl:Su'atan
tersebut tidakdipidana. Sedangkan sif~tmel~wari Huk~-r. materiil dalam
. ··,. ;· ... -t :. • r,
~ ·~ -.
fungsinya yang positif, mengandung ai'ti biliwa ineskipun perbuatan
tersebut tidak diatur dal~ peratura~ p~rll!ld~g-:undangan, namun
jika perbuatan tersebut dianggap terc~ia karen~ ·tidak sesuai dengan
rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosi<JI ~am masyarakat,
maka perbuatan tersebut dapat dipidap~. .. _
Sifat melawan hukum materiil . dalam fungsi ·yartg negatif juga
· dianut dalam praktik pengadilan. di 'fudonesiai S~b'agii ihlscil, ·kasus
Penyalahgunaan DO Gula berdasarkan Putusan)Sf~~ Agung
Rl, 8 Januari 1966, No.42K/Kr/1965 dalam perkara ~~~~Effendi
. •. ..u ··..>1 ••• ..
yang dituduh oleh Pengadilan Negeri Singkawang dan terbukti ·
melakukan tindak pidana sebagai pegawai ncgeri riietriakai kekuasaan
yang diperoleh dari jabatannya melakukan penggelapan berulang kali
seperti dirumuskan dalam Pasal372
.
jo Pasal64 ayat (1) KUHP.
.
· Machroes Effendi sebagai Patih di Kantor Bupati Sambas pada
bulan Juni 1962 telah mengeluarkan DO gula [Link] yang
menyimpang dari tujuannya. Gula insentif tersebut h<i!.riya boleh
dikeluarkan dalam r~gka pembelian padi untuk pemrrintah.
Ternyata Machroes Effendi telah mengeluarkan DO gula insentif
.........
.,
~
7
Sl H.B. Vos, [Link] t., him. 133
. ·r . .• · ·· • '
MELAWAN HUKUM =i243
•.• t :'·.:-·:..'. ;·...
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
• f'
padi tersebut kepada seorang pemborong f.K.P.N. Singkawang,
keperluan , Hari Natal, para pegawai kabupaten, untuk Front
nasional, KODIM dan untuk keperluan lainnya seperti ongkos
-:.· pengangkutan, giling, buruh dan jasa-jasa lain. Kelebihan harga
lpenjualannya oleh terdakwa digunakan tmtuk pembangunan-
pelhbangunan .daerahnya an tara lain untuk menyelesaikan
rumah milik Pemerintah Daerah. Pengadilan Negeri Singkawang
dalam putusannya tanggal 24 September 1964 menghukum
· Machroes Effendi dengan .hukuman penjara 1 tahun 6 bulan,
~amu:n Pengadilan Tmggi J~a melepaskan terdakwa dari
segala tuntutan hukuni pada tanggal 27 Januari 1965. Putusan
Pengadilan Tinggi tersebut diperkuat oleh Putusan Mahkamah .
Agung,,Adapun pertimbangan pengadilan tinggi adalah bahwa
meskipum cperbuatan terdakwa sungguh merupakan tindakan
,yang~.}![Link] tujuan yang ditentukan oleh yang berwajib,
namun Pt!X:~~~illl ~ut jika ditinjau dari sudut kemasyarakatan
justru !llengunttmgbn masyarakat .daerah karena melayani
kepenting<l!l_ilmum.. Tidak .terbukti b$:wa terdakwa mengambil
atau menclap!li:kali .keunhingan dari . [Link] itu. Tidak
pula terbukti fJahwa {legarfl·men'dapat kerugian dari perbuatan-
perbuatan terdakwa' tersebtit. Faktor-faktor kepentingan umum
yang terlayani serta faktor-faktor- tidak -adanya keuntungan
yang masuk ke <;l_C):}£Wl::s aku terdakwa dan akhirnya faktor tidak
dideritanya ker~gi~9l~b rn~gara, mer:ppakan faktor-faktor yang
~-~
mempunyai nila~..• •lebm d¥~ . cukup gup.a
-::..J i t.l ... ·' .. .... .. ·.• ,.. .. \'
inenghapuskan . sifat
:,__ b,erten t:mgan dengan ~ukumpada perbuatan-perbuatan terdakwa,
:;
· yang terbcl:ti formil-~asuk:'d'alam rumusan tindak pidana548•
'"' Sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang positif_juga
dW'tutc. dalam '
praktik pengadilan di Indonesia. Sebagai misal, kasus
Korupsi .Pi. Bank Bumi Daya dengan terdakwa Direktur Bank Bumi
. D~y~I [Link].~Sonson Natalegawa.
.-_: , 1, :;fei:dal(_wa selaku Direktur Bank Bumi Daya teiah berulang kali
· . m~heri prioritas kredit kepada PT. Jawa Building Indah, yang
! berusaha di bidang real estate, padahal ia mengetahui bahwa ada
··•:·.· larangan pemberian kredit untuk proyek real e5tate menurut Surat
541 Komariah Emong Sapardjaja, [Link]., hlm.137 -139.
244 f -.· :
PRINSlP-PRINS'P HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Edaran Bank Indonesia [Link] 6/22/UPK, tanggal 30 Juli 1973.
Terdakwa kemudian menerima fasilitas yang berlebihan .· dan
keuntungan lainnya dari pemberhm kredit tersebut. Mahkamah
Agung RI dalam· Putusamiya 15 Desember 1983, No.275K/
Pid/1982 memberikan arti sifat melawan hukum [Link]:
menurutkepatutan dalam masyarakat, khususnya dahun p~[Link]
perlcira tindak pidana korupsi, apabila seorang pegaw~i ":riegeri •
menerima fasilitas yang berlebihan serta keuntungan lalriiif}l _dari
seorang lain dengan maksud agar pegawai negeri itu menggup.a!<an
. kekuasaannya atau wewenangnya yang melekat pada [Link]
secara menyimpang, hal itu sudah merupakan perbuatan melawan
hukum, karena menunit kepatutan perbuatan itu merupakan
perbuatan yang tercela atau ·pe~b1:1atan yang menusuk perasaan
hati masyarakat banyak549• • . ::·-:
_:-1. ! ~·,-
.Berdasarkan kedua kasus' tersebttfidl atas dapat disimpulkan
baitwa sifat melawan hukum ma,teriil ·d~am ~furigsinya yang negatif
menipakan ala5an pembenar dan telah dianut ·-.dalam praktrek
pengadilan, [Link] melawan hykum ·materiil dalam fungsinya
yang positif pada dasamya bertentangan dengan asas [Link] ·
sifat melawan hukum materiil dalam fung~i yang- negatif Suringa
berkomentar, "Grote rechtsongelijkheid is immets daarvan te vrezen: de
ene rechter zal als een behoorlijk doel en }uiste niiddelen aanvaarden, wat
de andere verwerptsson (Dikha~atirkan timbtil keiftlaksamaan hukum
yang besar: karena hakim yang satu menerima sebagai -pembenar,
sementara hakim yang lain menolak.). ·· '
Masih menurut Surlnga,!
Natuurlijke bestaat die ongelijkheid van opvatting ook bij in de wet
genoemde rechtsvaardigingsgronden, bijv. Bij de overmacht, voor
zoverdezehiertoeterekenen is. Immers, ofde daderinzijn benardheid
de juiste uitweg gekozen heeft, leent zich ook tot verschillend inzicht.
Dat mag evenwel geen reden zijn om deze [Link]~f4 nog
te vergroten door aan de materiele wederrechtelijkheid ruim 'baan
: .'j
549
. Ibid., hlm.162-163.
550 Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 193
MELAWAN HUKUM :'245; .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
te geven. Behalve toenemende eigenrichting kleeft daaraan ook nog
bezwaar, dat he.t eigenlijk niet meer de wetgever is, die uitmmakt,
iiat ;;trafbaar en wat strdjvrij beho~rt te zijn, maar dew rechter, aan
h.!i"1t5 onderzoek naar deal of niet wederrechtelijkheid immers het
. lacitse woord w51 •
(Tentu saja ketidaksamaan hukum ada pula jika berpegang pada
alasan-alasan pembenar dalam undang-undang seperti daya paksa
yang sejauh ini [Link] sebagai alasan pembenar. Dalam
hal ini pelaku telah memilih jalan yang tepat tetapi mungkin
berbeda dengan pandangan orang lain. Tetapi ini hendaknya
jangan dijadikan alasan memperbesar ketidaksamaaq hukum,
yaitu dengan memberikan tempat kepada sifat .melawan .hukum
inateriil. Bukanlah pembe~tuk undang-undang yang menentukan
perbuatan mana yang dapat dipidana dan mana yang tidak dapat
dipidana, melainbn hakim, kepada siapa yang paling akhir
diserahkan ~enyelidHd apakah suatu perbuatan bersifat melawan ·
hukum [Link] tidak) ·
Berdasarkan uraian Suringa dapat disimpulkan bahwa Suringa
menolaksifat mdawan hukum materiil dalam fungsi yang negatifkarena
akan memperbesar ketidakpastian hukum. Selain itu dikhawatirkan
dalam peb ·..:sanaarmya tidak terdapat kesamaan di antara para hakim
yang mengadW p~: rkara. Hal ini berbeda dengan Vos yang menyatakan
bahwa sifu.t :::1-:.' 1 wan hukum materiil hanya dapat memegang fungsi .
yang negz. ± ~ .Js de materiele wederrechtelijheid een rol zal spelen zal
het slechts :£:· ~ regatieve... "552 )
Secara gamblang kemudian dikemukakan oleh Vos:
"..... dat die matriele wederrechtelijkheid bij ons aileen een negatieve
rol zal kunnen spelen, d. w.z. dat een feit straffeloos zou kunnen
worden door het ontbreken der materiele wederrechtelijkheid; niet
echter kan een feit, dat enkel materiele en niet f omeel wederrechtelijk
is, strajbaar zijn en wei op grond van art. 1 W. v.S dat voor ieder
strajbaar feit een wettelijke strajbepaling eist553".
SSl Ibid, hlni. 194
55
~ Ibid, hlm.l95.
~ 53 H.B. Vos, [Link] t.. him . 134
246 PRINSI ?-ilF.•~ 1 SIP Hl!KUM [Link]
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(..... sifatmelawan hukum materiil hanya memegang suatu peranan
yang negati£ Suatu perbuatan tidak dipidana jika tidak menunjtlL
pada sifat melawan hukum materiil; namun sebaliknya dapat
saja suatu perbuatan meskipun melawan hukum materiil dan
melawan hukum formil, maka tidak dapat dipidana berdasarkan
Pasal 1 KUHP untuk setiap perbuatan pidana harus ada dalam
peraturan perundang-undangan pidana).
Masih menurut Vos yang tetap mempertahankan sifat melawan
hukum materiil adalah sebagai berikut
1. een zekere speling heeft de rechter toch door de vage formule
van art. 40, waaronder - vele gevallen van "niet materieel
wederrechttelijk handelen" kunnen worden gebracht.
2. in tal van . bijzondere delicten vindt men eveneens vage
formules, die veel aan de rechter overlaten; ja zelft vindt men
in een enkel delict een formule, die feitelijk neerkomt op de
materiel& wederrechtelijkheid, ~als deze hoven is omschreven,
nl. in art. 254.
3. de rechter kan' door ·zijn grote vrijheid in de straftoemeting
practisch toch enigszins .aan de meteriele wederrechtelijkheid
"recht doen wedervaren".
4. Dat een begrip wederrechtelijkheid ·buiten de uitdrukkelijkt
bepalingen der wet om (men moge dit al of niet "materielr
wederrechtelijkheid" noemen) nimmer geheel kan worden
gemist, en wel in deze zin, dat de haridelitig die de dader verricht
onder de omstandigheden, waaronder zij plaats heeft, steeds
moet zijn een objectief ongeoorloofde daad. hetzij rechtens
hetzipfraatschappelijk, .ten opzid:te van het rechtsbelang, dat
door de strajbepaling beschermd wordf5 54 ·
1... 'Hakim diberi kelongganin karena Pasai 48 KUHP memberi ·
kemungkinan untukmemasukkan kedalam undang-undang
pidanabanyak hal yang sifat melawan hukum materiil.
2. Banyak ketentuan delik-delik khusus memuat pe~usan
yang begitu · gelap. sehingga banyak ketentuan 'lronkret
[Link] kepada hakim; bahkan ada juga suatu ketentuan
sse Ibid, him. 135
. MELAWANHUKUM .·.247'.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang memuat suatu penimt}san yang pada pokoknya
mengandung sifat melawan hukum materiif sebagai unsur
delik yakni Pasal 302 KUHP.
3. Kemerdekaail besar. yang diberi kepada hakim dalam
menentukan beratnya hukuman, maka hakim akan
mem~erikan tempat yang layak terhadap melawan hukum
materiil.
4. Pengertian melawan hukum di luar apa yang jelas tertulis
dalam undang-undang tidak ·pemah boleh diabaikan (kita
dapat mengerti sifat melawan hukum materiil) bahwa
perbuatan yang dilakukan oleh pelaku dalam keadaan
tertentu selalu harus merupakan suatu perbuatan yang tidak
·dibolehkan karena bertentangan dengan undang-undang
atau bertentangan dengan kepentingan masyarakat terhadap
kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang
hukum,eidana.
Dari berbagai uraian di atas [Link] melawan hukum materiil,
.pendapat Penulis adalah sebagai berikut: Perlama, sifat melawcin
hukum materiil dalam fungsi yang negatif adalah sebagai alasan
pembenar dan oleh karena itu Penulis dapat meneriman~. Hakikat
dari perbuatan pidana adalah perbuatan yang anti sosial, sehingga jika
terdapat keragu-raguan dalam pengertian di satu sisi telah memenuhi .
unsur delik, namun di sisi lain tidak bertentangan dengan rasa keadilan
masyarakat, maka terdakwa harus dibebaskan. Kedua, sifat melawan
hukum materiil dalam fungsi yang positif bertentangan dengan asas
legalitas dan oleh karenanya Penulis tidak dapat menerimanya karena .
akan menimbulkan ketidakpastian hukum.
· Ketiga, masih berkaitan dengan sifat melawan hukum materiil
dalam fu ngsi yang positif, kiranya [Link] ini bertentangan dengan prinsip
fundamental dalam hukum pembuktian pidana yang berbunyi, actori
incumbit onus probandi, actore non probante, reus absolvil!fr. Artinya,
siapa yang menuntut dialah yang wajib membuktikan, jika tidak dapat
dibuktikan, terdakwa harus dibebaskan. Tegasnya, jika . penuntut
umum dalam perkara pidana tidak dapat [Link] unsur-unsur
248 PR INSIP·PRINSI P HUKUM PIO.I\NA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
delik yang didakwakan kepada terdakwa (actore non probante), .maka
terdakwa harus diputus bebas (reus absolvitur).
0. APAKAH MELAWAN HUKUM DALAM HUKUM PERDATA
I DENTIK DENGAN HUKUM PIDANA?
Sesungguhnya -menurut van Bemm.e len- t!dak ada perbedaan
antara arti melawan hukum dalam hukum pidana dengan arti melawan
. hukum di bidang perdata555 • Pendapat van Bemmelen ini diperkuat
oleh Pompe ketika menyatakan bahwa sifat melawan hukum tidak
hanya menyangkuthukum tertulis tetapi juga hukum tidak tertulis.
Pompe menyatakan bahwa arti wederrechtelijk (sifat melawan
hukum dalam hukum pidana) sesuai dengan arti onrechtmatige daad . .
(perbuatan melanggar hukum dalam hukum perdata) dengan merujuk
pada putusan Hoge Raad, 31 Januari 1919. Menurut putusan Hoge Raad
'
yang dimaksud dengan perbuatan melanggar hukum ( onrechtmatige
daad) ialah melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan yang (a)
melanggar hak orang lain, (b) bertentangan dengan kewajiban hukum
yang melakukan perbuatan tersebut dan yang (c) bertentangan dengan
kesusilaan, serta asas-asas
pergaulan dalam masyarakat. 556
I
Komariah Emong . Sapardjaja dalam disertasinya secara
gamblang menjelasbn arti melawan hukum dalam hukum perdata
dengan menyandingkan ketentuan Pasal -1382 Code C{vil Perands,
Pasal 1401 Burgelijk Wetboek Belanda dan Pasal 1365 KUHP~rdata
Indonesia. ·Secara tegas Pasal 1382 Code Civil Perancis menyatakan
"tout fait quelconque de Ehomme, qui cause un· dommage, oblige celui
par la f{.[Link] duquel il est arrive. a le reparer". Sementara dalam Pasal
1401 Burgelijk Wetboek Belanda menyebutkan "Elke onrechtmatige
daad, waardoor aan een ander schade wordt toegebracht, stelt dengene
door Wiens schuld die schaJ.e veoorzaakt is in de verplichting om dezelfde
te goeden". Sedangkan
.
Pasal 1365 KUHPerda,ta Indonesia. berbunyi, .
sss Komariah Emong Sapardjaja, [Link]., him. 33
s56 E. ulrectrt. [Link]., him. 2n.
MELAWAN HUKUM .t~l~--
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
, nap perbuatan melanggar hukum. yang memba~a kerugian kepada
orang lain. mewajibkan orang yang karena _salahnya menerbitkan
kerugian itu, mengganti kerugian tersebut~. ·
Dengan menyandingkan ketiga ketentuan tersebut terlihat
langsung bahwa teks Belanda berisikan ketentuan onrechtmatige daad
_yang tidak ada padanannya dalam Pasal 1382 Code CivU Perancis.
· Dengan kata lain, pembentuk undang-undang di Belarida-lah yang
sengaja menambahkan onrechtmatig, untuk menegaskan bahwa tidak
setiap perbuatan yang mengakibatkan kerugian kepada seseorang
adalah melawan hukum. Komariah kemudian mengutip pendapat
Hoffman yang menyatakan ·unsur dari perbuatan melawan hukum
(onrechtmatige daad) adalah haru8 ada yang melakukan perbuatan,
bersifatmelawan huktim, menimbulkan kerugian dan adanyakesalahan
yang dapat dicelakan557
~ ' . .
- Bandingkan pengertian onrechtmatige daad dengan definisi
wederrechtelijk sebagai unsur mutlak setiap perbuatan pidaila
yang diartikan oleh Vos sebagai formeele wederrechtelijkheid yaitu
perbuatan yang bertentangan dengan hllkum positif dan materiele
wederrechtelijkheid yaitu perbuatan yang bertentangan dengan asas-
asas umum atau norma hukum yang tidak tertulw 58• Bandingkan pula
dengan pandangan perbuatan pidana dari ·Pompe yang membagi ke
dalam dua pandangan. P~dangan pertama yakni pan dang~ teoretis
dari perbuatan pidana sebagai kelakuan yang bertentangan dengan
hukum (wederrechtelijk atau onrechmatig) yang diadakan karena
-pelanggar bersalah ·dan diberi hukuman untuk mempertahankan
tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum. Sedangkan
pandangari kedua, yaitu pandangan hukum positif dari -perbuatan
pidana adalah perbuatan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai
suatu perbuatan yang menyebabkan dijatuhkan hukuman. 559 ·
557 Komariah Emong Sapardjaja, [Link]., him. 35-36.
558
Bambang Poernomo, [Link]., him. 115.
ss' E. Utrecht, [Link]., him. 253-254
250 PRINSIP-PRINS! P HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.~
ALASAN:
PENGHAPUS [Link]·A.
Claims of justification concede that definition of the
~ offense is satisfied, but challenge whether the ad
is wrongful; claim of excuse concede that the ad is
wrongful, but seek to avoid the attribution of the ad to
the odor. A justification speaks to the rightness of the
ad; an execuse, to whether the odor is accountable for
a concededly wrongful ad560•
56<1 George P. Fletcher, Rethingking Criminal Low, [Link]., him. 759.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
engawali . Bab · ini, Penulis .mengutip. pendapat . Fletcher
M yang pada · intinya menyatakan ·bahwa dalam · alasan .
pemb(mar, perbuatan pelaku telah memenuhi ketentuan
larangan sebagaimana diatur dalam undang-undang. namun masih
dipertanyakan apakah perbuatan tersebut dapat dibenarkan ataukali
tidak; dalam alasan pemaaf, perbuatan tersebtit salah, akan tetapi inasih
dipertanyakan, apakah pelaku dapat dipertanggungjawabkan ataukah
tidak. Alasan .pembenar membicarakan tentang keJ>enaran dari suatu
perbuatan; ala5an pemaaf mempertanyakan apakah pelakunya dapat
dipertanggungjawabkan atas perbuatannya }rang sala?_··
Apa yang .dikemukakan oleh ·Fletcher sangatlah erat kaitannya
dengan elemen~elemen perbuatan pidana yang terdiri dari memenuhi
· unsur d~~· melawan hukum dan dapat dicela. Elemen memenuhi
unsur delik identik dengan perbuatan pidana itu sendiri, sedangkan
gabungan [Link] hukum dan elemen dapat dkela melahirkan
pertanggungjawaban pidana. ·natam kaitannya dengall, alasan peng-
hapus · pidana yang pada hakikatnya adalah alasan penghapus per-
tanggungjawaban pidana, dapat disimpulkan bahwa alasan pembenar
menghapuskan elemen .melawan hukumnya perbuatan, sedangkan
alasan pemaaf menghapuskan elemen [Link] pelaku.
Dalam Memorie van Toelichting alasan tidak dapat dipertang-
gungjawabkan pidana kepada pelaku dibedakan menjadi dua. Pertama,
alasan yang berada di dalam diri pelaku (inwendige orrzaken van
ontoerekenbaarheid) sebagaimana yang terdapat dalam Pasal44 KUHP
perihal kemampuan bertanggung jawab yang dirumuskan secara
negatif. Kedua, alasan yang berada di luar diri pelaku ( uitwendige
oorzaken van ontoerekenbaarheid) 561 sebagaimana yang tertuang dalam
' .
561
Ma(cus Priyo Gunarto, 2014, Alasan Penghapus Pidana, A/ason Penghapus Penuntutan
Dan Gugurnya Menjalani Pidana, Makalah Pada Pelatihan Hukum Pidana Dan Krlmi!lOfogi
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 253
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pasal48 sampai dengan PasalS l KUHP. Selain alasan penghapus pidana
yang dibedakan menjadi alasan pembenar -alasan pemaaf dan alasan
yang berada dalam diri pelaku- alasan yang berada di luar diri pelaku,
pembagian ·alasan penghapus pidana lainnya adalah alasan penghapus
pidana umum dan_alasan penghapus pidana1kh\1Sus. Alasan penghapus .
pidana yang umum adalah alasan penghapus pidana yang terdapat baik
di dalam KUHP maupun di luar KUHP. Sedangkan alasan penghapus
pidana yang khusus yaitu·alasan penghapus pidana yang hanya berlaku
untuk delik~delik tertentu saja.
Alasan penghapus pidana dalam konteks alasan pembenar dan
alasan pemaaf memiliki arti penting dalam _kaitannya dengan delik
penyertaan. Jika dua orang atau lebih melakukan suatu perbuatan
pidana dan salah seorang dilepaskan dari tanggung jawab pidana .
karena terdapat alasan pembenar, maka semua pelaku peserta lainnya ·
juga harus dibeb{Skan. Sebaliknya, jika dua orang atau lebih melakukan
suatu perbuatan pidana dan salah seorang dilepaslam dati tanggung
jawab pidana .karena alasan pemaaf, maka tidak serta me~ pelaku
_lainnya juga dilepaskan karena alasan pemaa£ Artinya, alasan pemaaf .
ini lebih bersifat individual ~ada diri pelaku.
Pembahasan selanjutnya·dalam bah ini meliputi: toori-teori alasan
penghapus pidana, alasan penghapus pidana umum, alasan penghapus
pidana khusus dan alasan penghapus pidana putati( Thrkait alasan·
penghapus pidana umum inasih dibagi menjadi alasan penghapus
pidana umum menurut undang-undang dan alasan penghapus pidana
umum dr luar undang-undang. Alasan penghapus pidana . wilum.
menurut undang-undang terdiri dari tidak mampu bertanggungjawab,
daya paksa, k:eadaan darurat, pembelaan terpaksa, pembelaan terpaksa
yang melampatii · batas, menjalankan perintah undang-undang. j
perintah jabatan dan perintah jabatan yang tidak sah. Sedangkan alasan
penghapus pidana \imum di luar undang-undang mencakup izin, error
facti, error juris, tidak ada sifat melawan hukum materiil hak jabatan
atau [Link] dan mewakili urusan orang lain. . .
I
yang diselenggarakan litas kerjasama Fakultas·Hukum Universitas Gadjah Mada dengan
Masyarakat Hukum Pidana Dan Krimlnologi Indonesia, Yogyakarta, 23 - 27 Februari 2014,
hlm.l. '
;-254 PRINSIP·PRINSIPHUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. · TEORI-TEORI ALASAN PENGHAPUS PIDANA ·
.[Link]~lLawmengemukakan
ada tiga teori terkait alasan penghapus piciana. PERTAMA, theory of
pointless punishment diterjemahkan sebagai teori hukuman yang tidak
perlu. Teori -ini herpijak pada the utilitarian theory of excuse atau teori ·
kemanfaatan alasan pemaaf sehagai hagian dari the utilitarian theory of
punisment atau teori manfaat dari .h ukuman..Menurut teori ini tidak
ada gunanya menjatuhkan pidana kepada orang gila atau orang yang
mend~rita sakit jiwa. Dikatakan oleh Fletcher, "Ifpunishment is pointlesS
in a particular class of cases, in inflicts pain without a commensurate
benefit and thereforeshould not be permitted562".
· Teori ini tidak terlepas dari ajaran Jeremy Bentham -sehagaimana
yang telah diutarakan dalam Bah I- yang. pada intinya menyatakan
bahwa pemidanaan haruslah hermanfaat Ada tiga kemanfaatan dari
peniidanaan. Pertama, pemidanaan akan sangat hermanfaat jika
dapat meningkatkan perhaikan diri pada pelaku kejahatan. Kedua,
pemidanaan harus menghilangkan kemampuan untuk melakukan .
kejaha~. Ketiga, pemidanaan harus memherikan ganti rugi kepada
. pihak yang dirugikan563• Benthamkemudian menyatakan hahwa pidana
sama sekali tidak memiliki nilai pembenaran apapun hila semata-mata
dijatuhkan untuk sekedar menamhah lehih banyak penderitaan atau
kerugian pada masyarakat564• · "
·. Tidak ada gunanya menjatuhkan pidana kepada orang yang tidak
menyadari apa yang diperhuatnya. Pelaku yang gila atau sakit jiwa
atau cacat- dalam tumbuhnya tidak mampu menginsyafi perbuatannya
dan tid:ik dapat mencegah terjadinya perhuatan yang dilarang,
sehillgga penjatuhan pidana kepada orang yang demikian tidak akan
memberikan manfaat sedikitpun, justru akan melukai rasa keadilan
masyarkat.
\
Sehagai contoh, seorang gila yang herada di tengah
.
keramaian
kemudian melempari orang-orang di sekelilingnya dengan hatu
S6l George P. Fletcher, [Link]., him. 813-814.
561 Jeremy Bentham, [Link].
SM [Link] Harkrlsnowo, [Link].
· · AU\SAN PENGHAPUS PIDANA 255
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sehingga beberapa orang di ~mtara mereka menderita luka-luka.
Orang gila tersebut tidak menginsyafi bahkan tidak mengerti ap~
yang dilakukannya. Dengan demikian orang gila tersebut tidak dapat
dimintakan pertanggungjawabannya yang membawa konsekuensi
-t idak dapat dipidana. Kalaupun orang gila tersebut dijatuhi pidana,
maka tidak akan _mendatangkan manfaat sedikitpun terhadapnya.
Theory of pointless punishment adalah teori alasan penghapus pidana
yakni alasan pemaaf. Hanya saja alasah pemaaf di sini berasal dari
dalam diri pelaku (inwendig). Theory of pointless punishment sangat
berkaitan erat dengan tidak mampu bertanggung jawab yang akan
dibahas dalam subbab berikutnya.
KEDUA, theory of lessers evils atau diterjemahkan sebagai teori
peringkat kejahatan yang lebih ringan. Theory oflessers evils merupakan
teori alasan pembenar, oleh karena itu teori ini merupakan alasan
penghapus [Link] yang berasal dari luar diri pelaku atau uitwendig. Di
sini pelaku harus memilih salah satu dari dua perbuatan yang sarna-
sarna menyimpang dari aturan. Perbuatan yang dipilih sudah tentu
adalah perbuatan yang peringkat kejahatannya lebih ringan 565 •
Menurut theory of lessers evils suatu perbuatan dapat dibenarkan
atas dasar dua alasan. - Pertama, meskipun perbuatan tersebut
melanggar ·aturan, namun perbuatan tersebut harus dilakukan untuk
mengamankan kepentingan yang lebih besar. Tegasnya; tingkat bahaya
yang harus dihindari lebih besar daripada sekedar penyimpangan dari
suatu aturan. Kedua, perbuatan yang melanggar aturan tersebut hanya
merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan secaia cepat dan ·
paling mudah untuk menghindari bahaya atau ancaman yang akan
timbul566. -
Teori ini lebih mempertimbangkan sudut peringkat "[Link]-
lebihnya" atau "untung-ruginya" dampak dari suatu perbtiatan pidana
__ yang dilakukan. Jika perbuatan itu dilakukan untuk mengutamakan
-kepentingan yang ·lebih besar atau kepentingan yang leeih baik atau
565 George P. Fletcher, [Link].; him. 774,
~ Ibid., him. 775.
!i~~!r~)~·-~ ·
~~~~ -PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
lebih menguntungkan, maka ·perbuatan yang melanggar aturan itu
dapat dibenarkan567• Tegasnya~ teori ini lebih pada pilihan objektif
untuk melindungi kepentingan hukum dan ata~ kewajiban [Link]
yang timbul dari dua keadaan atau situasi secara bersamaan.
Contoh sederhana, mobil pemadam kebakaran yang melaju
dengan kencangnya melebihi kecepatan maksimum yang dibolehkan. ·
Bahkan, mobil tersebut melanggar rambu~rambu lalu lintas termasuk
lampu pengatur lalu lintas karena segera harus memadamkan api
akibat kebakaran yang terjadi di suatu kompleks perumahan. Di sini,
kepentingan memadamkan api termasuk menyelamatkan nyawa .
beserta harta benda yang mungkin timbul akibat kebakaran tersebut
lebih besar hila ~bandingkan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh
mobil pemadam kebakaran terhadap rambu-rambu lalu lintas.
· KETIGA adalah theory of necessary defense atau teori pembelaan
yang diperlukan. Menurut Fletcher,di dalam theory ofnecessary defense
terdapat juga theory of self defense atau teori pembelaan diri568 • Apakah
teori ini merupakan teori alasan pembenar ataukah teori alasan
pemaaf,-kiranya tidak terdapat kesepakatan di antara para ahli hukum
pidana. Ada kalanya, theory of necessary defense dapat menghapuskan
sifat melawan hukum perbuatan. Dalam konteks yang demikian, maka
sudah tentu theory of necessary termasuk dalam teon alasan pembenar.
Sebaliknya, jika theory of necessary defense dapat menghapuskan sifat
dapat dicelanya pelaku, maka dengan demikian theory of necessary
defense digolongkan dalam teori alasan pemaaf.
Dalam theory of necessary defense, menurut Fletcher, ada empat
hal yang selalu menjadi perdebatan mendasar. Pertama, terkait tingkat
penggunaan kekuatan yang dibolehkan dahim. [Link] tertentu.
Artinya, kekuatan yang digunakan harus sebanding dengan serangan
tersebut. Kedua, kewajiban untuk menghindari. Dalam hal ini jika
dapat menghindari dari serangan tersebut, maka jalan yang demikian
561
· H.M. Hamdan, 2012, Aloson Penghopus Pidona, Teori dan Studi Kcisus, Refika Aditama,
Bandung, him. 65.
568
George P. Fletcher, [Link]., him. 856.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 257
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
haruslah ditempuh. 'Ketiga, hak pihak ketiga untuk campur tangan.
Artinya, dapat saja pihak ketiga menghalangi atau menghentikan suatu
· serangan. Keempat, .membolehkan melawan untuk membebaskan
diri dari serangan tersebut569• Necessitas facit licitum quod alias non est
licitum. Artinya, keadaan terpaksa memperbolehkan apa yang tadinya
dilarang oleh hukum;
Theory of necessary defense akan dibahas lebih lanjut ketika
mengulas alasan penghapus pidana, khususnya berkaitan dengan daya
paksa, keadaan darurat, pembelaan terpilia dan pembelaaan terpaksa
yang melampaui batas.
B. ALASAN PENGHAPUS PIDANA UMUM
Sebagaimana yang telah diutarakan di atas, alasan penghapus
pidana urn~ dibagi menjadi alasan penghapus pidana umum
menurut undang-undang yakni yang terdapat dalam KUHP dan alasan
penghapus pidana umum di luar undang-undang.
1) Alasan Penghapus Pidana Umum Menurut Undang~Undang
Alasan penghapus pidana umum menurut undang-undang
terdapat dalam Pasal44, Pasal48, Pasal49, Pasal50 dan PasalSl KUHP.
·Masing-masing alasan penghapus pidana umum menurut undang-
undang akan dibahas sebagai berikut
a. Tidak Mampu Bertanggung Jawab
Perihal ·tidak mampu bertanggung jawab sebenarnya telah diulas
ketika kita membicarakan elemen pertama dari kesalahan yaitu
kemampuan bertanggung jawab atau toerekeningsvatbaarheid. Dalam
memberikan definisi terkait pertanggungjawaban, seperti ·yahg telah
diutarakan dalam Bah mengenai Pertanggungjawaban Pidana, van .
.Hamel telah ·memberi ukuran. mengenai kemampuan bertanggung
jawab ·yang meliputi tiga hal: Pertama, mampu memahami, secara
sungguh-sungguh akibat dari perbuatannya. Kedua, mampu . untuk ·
• · Ibid., him. 855._
:J~~£.t' PRINSI~-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· menginsyafi bahwa perbuatan itu bertentangan dengan ketertiban
masyarakat Ketiga, niampu ·untuk menentukan kehendak berbuat.
Praduga dari semua pertanggungjawaban dalam hukum pidana
yaitu pelaku cukup normal untuk dapat menginsyafi baik-buruk
dan dapat ~engarahkan perbuat~ya570• Terkait praduga ini Pompe
menyatakan secara tegas:
De teorekenbaarheid in de hierboven aangegeven zin is niet
een bestanddeel van het strajbare feit. .Zij wordt voorondersteld.
Begrijpelijk. want zij is bij de grote ·meerderheid der mensen
aanwezig. De bedoelde geestgesteldheid kan immers, zij het ook
te vaag. worden aangeduid als normaal. De ontoerekenbaarhe'id.
omschreven in art. 37, is een strafuitsluitingsgrond. Indien men
derhalve (na onderzoek) blijft twijfelen aan de toerekenbaarheid.
blijft de dader strajbaa,S11 • ·
(Pertanggungjawaban bukanlah unsur perbuatan pidana. Hanya
merupakan suatu anggapan. Dapat dimengerti. bahwakebanyakan
orang berpikir demikian. Keadaan tersebut, meskipun tidak jelas.
dinyatakan sebagai normal. Tidak dapat dipertanggungjawabkan
sebagaimana dirumuskan dalam Pasal · 37 adalah suatu dasar
penghapus pidana. Oleh karena itu (setelah penyidikan), tetap
meragukan mengenai ciapat dipertanggungjawabkan. pelaku tetap .
dapat dipidana). ·
Berdasarkan penyataan Pompe, dapat disimpulkan: Pertama, '
pertanggungjawaban dalam konteks kemampuan bertanggung jawab
adalah sesuatu yang tedepas dari perbuatan pidana. Kedua, setiap-
orang dianggap bertanggung jawab ata5 apa yang dilakukan ·olehnya.
.Ketiga, jika tidak rnampu bertanggungjawab, maka hal itu merupakan
dasar penghapus pidana.
Kemampuan bertanggung jawab dalam KUHP tidak dirumuskan
secara positif, melainkan dirumuskan secara negatif. Pasal 44 KUHP
(Pasal 37 Wetboek van Strafrecht yang disinggung dalam pendapat
Pompe di atas) menyatakan:
570
D. Schaffmeister. N. Keijzer,·e. PH. Sutorius, [Link]., him. 69.
sn W.P.J. Pompe, [Link]., him. 191-192
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 259
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Tidak. mampu bertanggung jawab:
(1) Barangsiapa [Link] perbuatan yang tidak dapat di-
pertanggungjawabka:n padanya, disebabkan karena jiwanya
cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau
terganggu karena penyakit (ziekelijke storing),tidak. dipidana.
(2) Jikatemyata bahwa perhuatan tidak. dapat dipertanggung-
jawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam
tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, maka hakim
dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke
dalam rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai
waktu percobaan.
(3) Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi
Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi Pengadilan dan
Negeri.
Berdasarkan ketentuan Pasal 44 KUHP dapat ditarik beberapa
kesimpulan. Pdtama, keniampuan bertanggung jawab dilihat dari sisi
si pelaku berupa keadaan akal atau jiwa yang cacat dalam tumbuhnya
atau terganggu karena penyakit [Link] istilah jiwanya
cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) dimunculkan karena
istilah gangguan penyakit (ziekelijke storing) terlalu sempit sehingga
. tidak mencakup situasi kejiwaan abnormal ·yang · merupakan sifat
bawaan dari lahir.·Dalam seja.r$ perundang-undangan dan keilmuan,
cacat mental bawaan atau idiot diilustrasikan sebagai cacat dalam
tumbuhnya. Demikian pula retardasi mental atau imbecillitaf72•
Kedua, penentuan kemampuan bertanggungjawab dalam konteks
yang pertama harus dilakukan oleh seorang psikiater. Ketiga, ada
hubungan kausal antara keadaan jiwa dan perbuatan yang dilakukan.
Perihal kedua dan ketiga ini, kita mengenal ajaran integritsi dari
Nieboer. Menurut Nieboer harus ada pengintegrasian kedua bidang
ilmu yakni psikiatri dan hukum pidana yang menyatakan kausalitas
penyimpangan psikis harus turut dipertimbangkan dalam su~tu delik.
m Jan Remmelink, [Link]., him. 221.
\ •·...···:·:· · c·: .
~ ~~6()} PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
·:.......:.":·\-·...~: · .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Demikian pula menurut Durham yang berpendapat semakin besar
peran d~asi psikis, se111akin kecil tingkat kesalahannya573•
Keempat, penilaian terhad~p hubungan tersebut. merupakan
otoritas hakim yang mengadili ·perkara. Kelima, ·sistem yang
dipakai dal~ KUHP adalah deskriptif normatif karena di satu
sisi, menggambarkan keadaan jiwa oleh- psikiater, namun di sisi
lain secara normatif hakim akan menilai htibungan antara .khdaan
jiwa dan perbuatan yang dilakukan. Berkaitart dengan keempat dan
. kelima, .~elalui ilustrasi grafis, Nieboer menunjukkail sebagaimana
melalni penafsiran ulang sangat inungkin terjadi bahwa psikopatolog
memutuskan adakemampuan penuh untukmempertanggungjawabkan
perbuatan, namun di sisi lain atas dasar pertimbangan kepatutan, hakim
justru memutuskan tanggung jawab dalam kadar yang lebih kecil574•
. Lebih sederhana terkait tidak · mampu bertanggung jawab
dinyatakan oleh Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius bahwa tidak
mampu bertanggting jawab tidak hanya karena gangguan jiwa, tetapi
juga karena cacat yang mengakibatkan tidak dipertanggungjawabkan
kepada pelakunya sebagaimana yang. telah diutarakan di atas. Oleh
karena itu, yang harus menjadi perhatian hukum pidana adalah:
Pertama, apakah terdapat cacat dal~ pertumbuhan atau gangguan
karen a penyakit dari jiwa. Kedua, kalau ya, apakah ada hll&ungan kausal
antara cacat dalam pertumbuhan atau gangguan karena penyakit dan
dilakukannya perbuatan. Ketiga, kalau ya, apakah perbuatan tersebut
dapat dicelakan kepada pelaku515•
Berdasarkan apa yang diketnukakan oleh Schaffmeister, Keijzer ·
dan Sutorius dapa:t disimpulkan bahwa tidak mampu bertanggung
jawab adalah alasan penghapus pidana yaitu alasan pemaaf yang berasal
dari diri pelaku. Dengan demikian, berlakulah theory of pointless
punishment atau teori hukuman yang tidak perlu. Artinya, tidak ada
m Ibid., him. 218,
s74 Ibid., him. ·219.
575
. D. Schaffmeister, N. Keijzer, E. PH. Sutorius, [Link]., hlm.70.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 261
..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
manfaatnya sama sekali untuk menghukum atau rnenjatuhkan pidana ·
terhadap pelaku yang rnengalami gangguan jiwa yang telah rnelakukan
suatu tindak pidana.
Hal lain yang selalu menjadi pertanyaan, apakah seseorang yang
berada dalam keadaan mabuk atau berada di bawah pengaruh narkotika
kemudian melakukan suatu perbuatan pidana, 'dapatkah digolongkan
ke dalam alasan tidak mampu bertanggung jawab? Jawaban yang pasti
menurut Memorie van ·Toelichting bah\va wetgever atau peinbentuk
undang-undang meniang tidak memasukkan keadaan ini ke dalam
Pasal44 KUHP. Apa yang dilakukan dalam keadaan mabuk, haruslah
tetap dipertanggungjawabkan saat kesadaran sudah muncul kembali576•
Berdasarkan ilmu kedokteran, keadaan mabuk rnerupakan
intoksikasi fungsi otak. Minuman keras mengakibatkan psikosa akut
yang dicir~ oleh kondisi psikis yang membawa akibat tidak ada atau
berkurangnya pertanggungjawaban577• Hal ini hanya dimungkinkan jika
seseorang tanpa sepengetahuannya dibuat mabuk, namun seseorang ·
. yang secara sadar menkonsumsi minuman keras atau narkotika dan
dalani keadaan tidak sadarkan diri melakukan suatu perbuatan pidana,
tidaklah dapat dijadikan alasan pemaaf. Di sini berlaku actio Iibera .
in causa. Artinya, keadaan tidak sadar~ diri karena buatan bukan
merupakan . alasan penghapus pidana. Keadaan .demikian merujuk
pada suatu adagium, qui peccat ebrius, luat sobrius. Artinya, biarkanlah
·orang mabuk yang melanggar hukum dan dihukum ketika ia sadar.
b. Daya Paksa
Pasal 48 KUHP menyatakan, "Barangsiapa melakukan perbuatan
karena pengaruh daya paksa; tidak dipidana". Daya pa~a adalah
terjemahan dari overmacht yang selalu m~njadi. perdebatan berabad~
abad ketika membicarakan alasan penghapus pidana. Bahkan sampai
detik ini, tidak ada kesatuan pendapat diantara para ahl} hukum pidana
. untuk menggolongkan daya paksa, apakah sebagai alasan pembenar .
~"' Jan Remmellnk, [Link]. him. 223.
577
Ibid, him. 224.
~~~:.
262 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
•
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ataukah alasan pemaaf, Sementara apa yang dimaksudkan dengan daya
paksa itu sendiri, KUHP tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
.
Terlepas dari apakah daya paksa temiasuk · alasan pembenar
ataukah alasan pemaaf, te{dapat .beberapa . postulat ·terkait daya
paksa terse~ut. Pertama, quod alias non fuit licitum nece5sitas licitum
facit. Artinya, keadaan terpaksa memperbolehkan apa yang tadinya
dilarang oleh hukwn. Kedua, in casu extremae necessitates omnia
sunt communia yang berarti dalam keadaan terpa:ksa, tinda:kan yang
diamoil dipandang perlu. Ketiga. necessitas quod cogit defendit: keadaan
terpaksa melindungi apa yang harus diperbuat. Keempat, necessitas sub
lege non continetur, quia quod alias non est licitum necessitasJacit licitum.
Artinya, keadaan terpaksa tidak ditahan oleh hukum, perbuatan yang
dilarang oleh hukum, naniun dilakukan dalam keadaan terpaksa maka
perbuatan .tersebut dianggap sah.
Menurut Utrecht, dalam Memorie van Toelichting. "sebab paksa"
atau "daya memaksa": "..... een kracht, eendrang, een dwang waaraan
men geen weerstand kan bieden" (suatu kekuatan, suatu dorongan,
suatu paksaan yang tidak dapat dilawan) 578• ~ Bemmelen dan van
Hattum menyatakan bahwa paksaan di sini berarti tekanan fisik atau
tekanan psikis; [Link] itu dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga
dengan kekerasan atau ancaman atau cara-cara yang1ain atau paksaan .
itu terletak dalam kodrat alam atau hal-hal di sekitar kita. Dalam hal
yang saya sebutkan terakhir adalah suatu keadaan darurat (': .... de hier
bedoelde dwang kan zowellichamelijk als geestelijk (psychisch) zijn; zij
kan door derden worden uitgeoefend door middel van geweld. bedreiging
of andere middelen, of wel gelegen zijn in de natuur de dingen. In het
laatste geval spreekt men dikwijls van noodtoestand579 ")
Jan Remmelinkdengan mengutip pendapat filsufJerman, Imanuel
Kant menyatakan bahwa dalam pandangan hukum alam, perbuatan
yang dilakukan dalam keadaan overmacht dianggap tercakup dalam
~78 E. Utrecht, [Link], him. 350.
~ 19 J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 344.-345. ·
AlASAN PENGHAPUS PIOANA 263
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
huhun. Hukum Kano~ ~engajarkan necessitas non hebet legem atau
not kennt kein gebot atau keadaan darurat tidak mengenallarangan.
Hazewinkel Suringa, demikian pula Remmelink dengan mengutip
pendapat Fichte menyatakan bahwa siapa yang bertindak karena daya
· paksa, exempt von dei rechtsordnung atau dikecualikan dari tertib
hukumsso.
[Link] membagi daya paksa menjadi tiga. Pertama, daya paksa
absolut. Di bawah pengertian ini seseorang tidak dapat berbuat lain
(" de absolute overmacht. Hieronder begrijpen, we die gevallen, dat de
persoon, dil! handelt, nietanders kan581 "). Sebagai ilustrasi, A dihipnotis
oleh B untuk membunuh C. Artinya, A membunuh C dalam keadaan
dihipnotis oleh B. Kedua, ·daya paksa relatif. Di sini, kekuasaan dan
kekuatan yang memaksa orang itu tidak mutlak. Orang yang dipaksa
masih ada kese~patan untuk memilih perbuatan yang mana (~ ....
de relatieve overmacht. De macht en de kracht, die op_ den persoon in
quaestie wordt uitgeoefend, is dan betrekkelijk582).
Sudarto memberi contoh seorang kasir bank yang ditodong
kawinan perampok ilipaksa untuk menyerahkai:t uang. Di sini,
paksaan tersebut sebenarnya dapat dilawan, namun dari orang yang
berada dalam paksaan itu tidak dapat diharapkan bahwa ia akan .
melakukan perlawanan583• Sekalipun dipaksa, pelaku sesungguhnya ·
mewujudkan kehendak bebasnya (coactus, attanmen voluit) 584 •
Moeljatno menyebutkan karena pengaruh daya paksa585• Daya paksa
yang relatif juga disebut sebagai vis compulsiva dalam arti sempit atau
karena paksaan psikis586 atau contrainte morale587• Dalam keadaan
demikian juga berlaku adagium ignosdiur ei qui sanguinem .suum
510 . Hazewinkel Suringa, [Link], him. 168. Bandinglcan dimgan Jim Remmellnk, [Link]., him.
225.
511 J.E. Jonkers, [Link]., him. 159.
511
[Link].
5u Sudarto, [Link]., hlm.141.
514
Jan Remmelink. [Link]., him. 227.
515 Moeljatno, [Link]., him. 152.
516 [Link]. Bandingkan dengan Sudarto, [Link]., him. 142.
511 Jan Remmelink,[Link].
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
qualiter redemptum voluit! apapuil yang dilakukan ·oleh seseorang
karena ketakutan akan kehilangan hidupnya, tidak akan dihukum.
Ketiga, adalah keadaan darurat. Di sini, seseorang berada dalam ·
dua pilihan untllk melakukan perbuatan pi dana yang mana berdasarkan
keadaan-ke~aan tertentu 588• Kalau vis compulsiva dalam arti sempit juga .
disebut daya paksa relatifkarena daya paksa tersebut berasal dari orang
lain, maka keadaan darurat berasal dari keadaan atau situasi tertentu589•
Perihal keadaan darurat akan dibahas tersendiri.
Masih menurut Jonkers, · baik daya paksa maupun keadaan
darurat merupakan alasan perribenar dan bukan alasan pemaaf. Secara
jelas Jonkers menyatakan:
"Hiermede is tevens aangeroerde de grond der onstrajbaarheid,
welke aan overmacht ten grondslag ligt. Deze is m.i. niet, zooals
door sommigen wel wordt beweerd, de persoonlijke toestand,
waarin de verdachte verkeert. Ben soort schulduitsluitingsgrond
.4r.:.. ·• '•
dus. De bijzondere omstadigheden van het geval is de gedraging
niet wederrechtelijk, weshalve het strafbare karakter van het feit
wegval~. · ·
(Dengan ini serentak disinggung alasan dari tidak dipidananya,
yang m:enjadi dasar dari daya memaksa. Menurut hemat saya hal
ini tidaklah seperti dikatakan oleh beberapa orang, yaitu tentang
keadaan pribadi yang meliputi si terdakwa. Jadi 3emac(lffi ·alasan
pemaaf. Karena keadaan-keadaan khusus dari kejadian itu, maka
kelakuan tersebut tidaklah bersifat melawan hukum, karena mana
lalu hilang pula sifat dapat dipidananya).
·sependapat dengan Jonkers adalah van Hamel yang memasukan
daya paksa ke dalam alasan pembenar. Secara lugas dinyatakall oleh
van Hamel:
"Overmacht als objectieve rechtsvaardigingsgrond moet worden
aangenomen, wanneer de strafwet, door toch te vorderen dat het
feit worde nagelaien, op straffe eischen zou - of iets dat zedelijk
581
J.E. Jonkers, [Link]., him. 160.
589
Moeljatno, [Link]., him. 153.
sJO J.E. Jonkers, [Link]., him. 162- 163
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 265.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
heldenmoed zou wezen (het geval b. v. der redding van he( eigen
Ieven ten koste van een ander, het typische geval van Carneades, de
· twee schipbreuom heiden te di agen); of iets dat zedelijk dwaasheid
zou zijn (het geval b. v. van hit loopen over eens anders grond om
water te halen ter blussching van een brand). Het recht daatbij
straffeloosheid erkennende, [Link] dan eenvoudig in het gebeurde591 "
(Daya paksa merupakan alasan pembenar. Sebab jika dalarn hat
yang demikian, ketentuan hukum masih tetap dipertahankan,
maka di situ ternyata bahwa tata hukum menghendaki agar
orang mempunyai keberanian . yang luar biasa (seperti dalarn
halnya merebut papan Carneades yang direbut oleh dua orang
ketika kapal tenggelam) atau jika hal yang tidak mungkin sama
sekali ( seperti pada saat yang sama orang hams datang di dua
· pengadilan). Oleh karena itu dalam daya paksa di situ ada tata
hukum menerima saja apa yang terjadi) ·
Demikian ~ula --Pompe yang berpendapat bal1wa daya paksa
termasuk dalam alasan pembenar. Menurut Poinpe, pelakU tidak
perlu melawan paksaan tersebut. .Artinya, paksaan tersebutlah yang
membenarkan tindakan pelaku. Alasan yang membenarkan tindakan
pelaku adalah alasan yang menghilangkan unsur melawan hukumnya
perbuatan karena ada paksaan tersebuP92• Dengan demikian, daya
paksa adalah suatu alasan pembenar.
Pendapat Jonkers, van Hamel dan Pompeyang memasukkan daya
paksa sebagai alasan pembenar disanggah oleh van Bemmelen dan
van Hattum yang menggolongkan daya paksa sebagai alasan pemaaf.
Demikian pula Moeljatno yang mengikuti pendapat van Bemmelen
dan van Hattum593 • Dengan memberi ilustrasi, van Bemmelen dan
van Hattum menyatakan sebagai berikut: ·
"Naar mijn gevoelen behoeft de in art. 40 Sr. gegeven
strafuitsluitingsgrond dus alleen dan .te hulp te worden geroepen
wanneer de gedraging, · waartoe de dader door omstandigheden
verontschuldigbaar werd gedrongen, een onrechmatig gedrag
591
GAvan Hamel, [Link]., him. 294.
592
[Link]. Pompe, [Link]., him. 127. Bandingkan dengan E. Utrecht, [Link]., him. 352.
591
Moeijatno, [Link]., 1\lm. 155.
~:~l~~~ PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
~~~lll~~~~~ I .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
blijft. ·Dit is het geval bij de taxichauffeur, die · uit angst .voor
zijn Ieven de wet overtreedt. Zijn gedrag is onrechtmatig; doch
verontschuldigbaar ·omdat van heim niet-gevergd kan wordendat·
hij zijn Ieven in de waagschaa stelt. Slechts zij . die de leer der
materiele wederrechtelijkhefd verwerpen, zijn wel gedwongen ck
in overmacht gelegen strafuitsluitingsgrond mede uit te strekken tot
niet wederrechtelijke gedragingen5'W'
(Menurut perasaan saya alasan penghapus pidana tersebut dalam
Pasal 40 Sr. (Pasal 48 KUHP) hanya dipakai jika perbuatan tetap
melawan hukum, perbuatan yang terpaksa dilakukan karena
keadaan, · patut dimaafkan. Demikian halnya dengan seorang
sopir taksi yang takut kehilangan nyawanya karena ditodong
oleh seorang yang berpistol di belakangnya, melanggar undang-
undang, mengendarai mobil dengan kecepatan yang melebihi
batas maksimal. Perbuatan sopir itu melawan hukum, tetapi
patut dimaafkan karena padanya tidak dapat diharapkan untuk
mempertaruhkan riyawanya. Hanya mereka yang menolak ajaran
sifat melawan hukum materiil terpaksa memasukan alasan
penghapus pidana dalam daya paksa sehingga meliputi yang tidak
mehiwan hukum) ·
Berbeda dengan- Jonkers, ·van Hamel, Pompe, Moeljatno, van
Bemmelen dan van Hattum adalah Simons, Noyon dan Langemeijer.
Simens membedakan daya paksa dalam arti sempil'sebagai tekanan
psikis dan-keadaan-darurati. Menurut Simons595, demikian juga Noyon
dan Langemeijer596 menyatakan bahwa daya paksa dalam arti sempit
adalah alasan pemaaf, sedangkan· keadaan darurat adalah alasan
pembenar. Pendapat lain ·adalah Vos yang menyatakan daya paksa
absolut dan daya paksa relatif dalam arti sempit sebagai tekanan psikis
termasuk dalam alasan pemaaf. Sementara keadaan darurat harus
dilihat kasus demi kasus karena dapat saja keadaan darurat sebagai
alasan pemaaf, namun keadaan darurat dapat juga sebagai alasan
pembenar597•
594
J.M. van Bemmelen En W.F.C.-van Hattum. [Link]. him. 346.
595
D. Simons, [Link]., him. 283- 284.
5911
T.J. Noyon En G. E. Langemeijer; [Link]., him. 258.
7
S9 H. B. Vos, [Link]., him. 152 -153.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 267
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Hazewinkel Suringa berbeda dengan pendapat para ahli hukum
pidana lainnya. Suringa tidak sependapat dengan pembedaan daya
paksa dalam arti sempit sebaga · alasan pemaaf dan keadaan darurat
sebagai alasan pembenar. Masih menurut Suringa, sifat dari keadaan
daya paksa sangat bermacam-macam sehingga tidak dapat dipastikan
sebagai alasan pemaaf ataukah alasan pembenar, tergantung dari sifat
suatu kejadian, apakah akan digolongkan ke dalam alasan pemaaf
ataukah alasan pembenar.
Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius yang menggolongkan daya
paksa ke dalam golongan alasan pemaaf menyatakan pembelaan atas
· daya paksa psikis atau daya paksa subjektif berpegang pada beberapa
prinsip. Pertama, apakah pelaku dalam keadaan tersebut, tidak ada
jalan ke luar yang lain. Di sini berarti kita berbicara mengenai asas
sub~idaritas. Kedua, apakah situasi daya paksa itu tidak disebabkan
oleh terdakwa sendiri. Dalam konteks yang demikian berarti kita
berbicara mengcliai prinsip culpa in causa. Schaffmeister, Keijzer dan
Sutorius menamakan keadaan darurat sebagai daya paksa yang objektif
dan memasukkan ke dalam golongan alasan pembenar-598 •
Penulis sendiri berpendapat bahwa daya paksa absolut tergolong
dalam alasan pemaaf. Dasar argumentasinya, orang yang berada dalam
daya paksa absolut -seperti seseorang yang dihipnotis kemudian
melakukan perbuatan pidana- tidak mempunyai pilihan lain untuk
menghindari dari perbuatan tersebut. Artinya, elemen dapat dicela
pelaku yang dimaafkan. Sedangkan daya paksa relatif, baik dalam arti
sempit yang mana seseorang mendapatkan tekanan psikis, maupun
keadaan darurat, digolongkan sebagai ·alasan pembenar. Alasannya,
pelaku dihadapkan pada dua pilihan tindakan yang sama-sama me-
miliki konsekuensi hukum, namun dipilih perbuatan yang t!ngkat
bahayanya lebih kecil. Perbedaannya, daya paksa dalam arti sempit,
tekanan berasal dari seseorang, sementara keadaan darurat berasal
dari situasi-situasi tertentu. Baik day~ paksa relatif maupun keadaan
darurat menghapuskan elemen melawan hukumnya perbuatan.
591
D. Schaffmeister, N. Keijzer, E. PH. Sutorius, [Link]., him. 64- 65.
· ~'i~~-
·..· :.::..:·;...::~:3
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
i
~
,_
...
: :. · ····· ·...... ,.,..... ·. .,· ::· •\:.:·.~ -
Selain daya paksa, ada juga yang disebut ·sebagai tekanan moral
atau constrain morale sebagai bagian dari tekanan ps~s; Tekanan psikis
bemuansa moral ini akan diukur secara biasa: berdasarkan kekuatan
tekanan tersebut. Putusan Hdge Raad 24 April 1939 memutuskan
constrainte .morale tidak sebagai daya paksa narnun dipertimbangkan
sebagai hal yang meringankan. Seorang anak dilarang orang tuanya
untuk mendaftarkan diri sebagai anggota angkatart bersenjata dalarn
rangka wajib militer. Anak tersebut - tidak dapat dibebaskan dari
kesalahan atas dasar tekanan moral599•
c. Keadaan Darurat
Dal~ KUHP tidak ada aturan mengenai apa yang dirnaksudkan
dengan keadaan darurat. Menurut sejarah pembentukan KUHP
(Memorie van Toelichting) dan notulensi Komisi De-Wal, situasi
keadaan darurat digolongkan dalam overmacht atau daya paksa
sehingga pepgaturan keadaan darurat tersendiri dianggap tidak perlu600•
Demikian juga dalani konteks teori yang memasukkan keadaan darurat
sebagai bagian -dari daya paksa. Keadaan [Link] a tau noodtoestand
adalah alasan pembenar. Artinya, perbuatan pidana yang -dilakukan
dalam keadaan darurat menghapuskan elemen melawan hukumnya
perbuatap.
· - ~~nwut van Bemmelen dan van Hattum perbettaan daya paksa
dan keadaan darurat ada,lah sebagai berikut:
"!jet ryperende van overmacht in engere zin is dat de dader een
handeling verricht of nalaat onder psychische druk; in den regel van
derden, soms ook van omstandigheden. Een handelingwelke hij liever
niet zou begaan of nalaten, maar wartoe hij wordt gedrongen door
zo zware, van buiten af op hem uitgeoefende psychische dwang, dat
de eigen vrije wilsbepaling komtte ontbreken. Bij noodtoestandgaat
het niet zo zeer oom een beperking van de eigen vrije wilsbepaling
tengevolge van psychische druk als wel om de toestand van nood
waarin de handelende is komen te verkeren en welke hem noopt,
dringt een wetsovertreding te begaan61nn
59!1 Jan Remmelink, [Link]., him. 229.
m Ibid., him. 230.
601
J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 351. Bandingkan dengan Sudarto,
ALASAN PENGHAPUS P!DAfJA 269 •
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Tipe pada daya paksa ·dalam arti sempit, si pelaku berbuat atau
tidak berbuat disebabkan satu tekanan psikis oleh orang lain atau
keadaan. Bagi si pelaku, tidak ada penentuan kehendak seC:ara
bebas. Ia didorong oleh paksaan psikis dari luar yang sedeniikian
kuatnya, sehingga ia melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak
ingin dia lakukan. Dalain keadaan darurat, si pelaku ada dalam
suatu keadaan yang berbahaya yang memaksa atau mendorong
pelaku untuk melalcukan pelanggaran terhadap undang-undang).
Dalam keadaan darurat ada tiga kemungkinan. Pertama,
pertentangan antara dua ·kepentingan. Tegasnya, ada konflik antara
kepentingan yang satu dengan kepentingan yang lain. Contoh klasik
berasal dari cerita Cicero adalah Papan Carneades. Ketika kapal
tenggelam, Carneades, seorang Yunani di zaman lcuno, menyelamatkan
diri dengan berpegang pada sebuah papan yang terapung di air,
namun pada saat yang sama terdapat juga orang lain yang berpegang
pada papan M:rsebut Sayangnya, papan itu hanya cukup untuk satu
. orang saja. Carneades kemudian mendorong orang tadi lepas dari
papan sehingga tenggelam di lau~2 • Dalam konteks ini, Otmeades
mengorbankan kepentingan orang lain untuk kepentingan diri sendiri, ·
yakni menyelamatKan nyawanya. llustrasi lain yang diberikan oleh
Vos adalah: A dikejar oleh seekor anjing gila. A kemudian melompat
pagar halaman B dan menginjak halaman .orang lain. tanpa izin. Di
sini, kepentingan privasi B terlanggar oleh kepentingan A yang ingin
menyelamatkan diri.
Kedua, pertentangan · antara · kepentingan dan kewajiban.
Moeljatno memberi ilustrasi, seseorang yang mencuri sebuah roti
karena sudah tidak makan selama beberapa hari. Menurut Modjatno,
di satu sisl ~da kepelltlng~ yang mendesak untuk mendapatkan
· makanan, nam'lln di sisi lain ada kewajiban untuk mena3;ti aturan
larangan mencuri. Contoh lain pertentangan antara kepentingan dan
. kewajiban adalah Opticien Arres ·atau Putusan Ahli Kacamata; Hoge
· [Link]., him. 144. . . . .
w D. Simons, [Link]., him. 280i [Link]· Hamel, [Link]., him. 294; Moeljatno, [Link]., him •
.152; Sudarto, [Link]., hlin. 143; George P. Fletcher, Basic Concepts Of Criminal Law, [Link].,
hlm.131. · · ·
270 PRINSIP~PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· Raad, 15 Oktober 1923. Putusan tersebut adalah .kasus pertama. yang
· mana daya paksa diterima sebagai keadaan darurat
Seorang ahli kacamata setelah waktu tutup toko menjual kacamata
kepada seseorang yang kehilartgan kacamatanya dan tanpa kacaniata
orang tersebut sulit melihat. Ahli kacamata dituntut karena melanggar
Undang~ Undang Tutup Toko. Di satu sisi ada kewajiban ahli kacamata
untuk menaati aturan Tutup Toko, namun di sisi lain dihadapkan
pada kepentingan seseorang yang membutuhkan kacamata dan tanpa
kacai}lata tersebut, ia akan sulit melihat. Dalam pertimbangannya, Hogt;
Raad menyatakan Pengadilan 1:legeri tidak merusak secara yuridis
pengertian daya paksa, oleh karena menurut sejarahnya, daya paksa
mellputi keadaan daruratw3 •
Ketiga, pertentangan antara dua kewajiban. Misalnya, seseorang
dipanggil sebagai saksi di Pengadilan X, namun pada saat yang sama
orang tersebut juga inendapat panggilan sebagai saksi di Pengadilan
Y. Tidak dipenuhinya suatu kewajiban untuk memenuhi kewajiban
yang lain604• Menurut Pompe dalam keadaan darurat hanya ada dua
kemungkinan yaitu pertentangan antara kepentingan dan kewajiban .
serta pertentangan antara kewajiban yang satu ·dengan kewajiban yang '.
-laip60S,
d •., Pembelaan Terpaksa
-. Pembelaan terpaksa atau noodweer dalam KbHP diatur pada
Pasal49 ayat (1) yang me11yatakan," Barangsiapa terpaksa melakukan
perbuatan untuk pembelaan, karena ada serangan atau ancaman
serangan seketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sendiri
maupun orang lain, terhadap kehormatan kesusilaan atau harta benda
sendiri maupun orang lain, tidak dipidana': Kendatipun dalam Memorie
van Toelichting tidak diternukan istilah "Pembelaan Terpaksa" namun
ketentuan Pasal 49 ayat ( 1) secara irnplisit memberikan persyaratan
terhadap pernbelaan terpaksa.
603
D. Schaffmeister, N. Keijzer, E. PH. Sutorius, [Link]., him. 64; J.E. Jonkers, [Link]., him. 162;
Sudarto, [Link]., him. 144; E. Utrecht, [Link]., him. 358.
604
G.A. van Hamel, [Link]. Bandingkan dengan Moeljatno, [Link]., him. 153.
605
W.P.J. Pompe, [Link]., him. 126 -127.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 271
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pada a"Valnya, pembelaan terpaksa tidak dikenal karena didasarkan
pada postulat di zaman kuno yang menyatakan, vim vi repellere
licet. Artinya, kekerasan tidal< boieh dibalas dengan kekerasan606•
Dalam perkembangannya adagium ini sudah ditinggalkan dalam
rangka menegakkan ketertiban umum. Demikian pula prinsip moral
dalam proses pidana (non scripta sed nata lex) 607, tidak selayaknya
orang yang melakukan pembelaan terpaksa dijatuhi pidana. Esensi
dari pembelaan terpaksa adalah pelaku melakukan tindakan untuk
menghindari kejahatan yang lebih besar atau menghindari bahaya
yang mengancam608• Pembelaan terpaksa adalah alasan pembenar
yang menghapuskan elemen melawan hukumnya perbuatan. Necessitas
excusat aut extenuate delic~um in capitalibus, quod non operator idem
in civilibus. Artinya, pembelaan terpaksa membebaskan seseorang dari
hukuman namun tidak demikian dalam perkara perdata.
Berdasarkan ketentuan Pasal 49 ayat ( 1) KUHP, ada beberapa
persyaratan pe';nbelaan terpaksa. Pertama, ada serangan seketika.
Kedua, serangan tersebut bersifat melawan hukum. Ketiga, pembelaan
merupakan keharusan. Keempat, cara pembelaan adalah patu~.
Mengenai persyaratan keempat ini tidak disebut dalam pasal a quo.
Perihal persyaratan pertama dan kedua, ongeblikkelijke wederrechtelijke
aanranding atau serangan seketika yang melawan hukum, paling tidak
ada tiga pertanyaan yang harus dipilah. Apa yang dimaksud dengan
serangan? apa yang dimaksud dengan seketika? dan ·apa yang dimaksud
dengan melawan hukum?
Pengertian serangan dalam pasal a quo adalah serangan nyata yang
berlanjut, baik terhadap badan, martabat atau kesusilaan dan harta
benda 610• Sedangkan pengertian seketika, yaitu antara saat melihat
adanya serangan dan saat mengadakan pembelaan harus tidak ada
selang waktu yang lama. Tegasnya, begitu terjadi serangan, seketika ada
606
Hazewin~l Suringa, [Link]., him. 173. Bandingkan dengan Jan Remmelink. [Link]., him.
239.
7
&0 G.A. van Hamel, [Link]., him. 275.
601
Routledge, [Link]., him. 125
- D. Schaffmeister, N. Keljzer, E. PH. Sutorius, [Link]., him. 59.
10
' Jan Remmelink. [Link]. him. 242.
272 [Link]-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pembelaan611 • Sement~a pengertian melawan [Link] adalah serangan
yang bertentangan atau melanggar undang-undang6 12•
Perhatikan ilustrasi berikut ini: ·A memukul B dengan sekuat
tenaga dan hanya dalan:t satu ka).i pukulan mengenai muka B sehingga
B terjatuh. A kemudian berbalik · dan meninggalkan B. Ketika ·A
berbalik,- B kemudian berdiri dan memukul A. Tindakan B tidak
termasuk dalam pembelaan teq~aksa. Argtimentasinya: Pertama, A
telah menghentikan .serangan. Artinya, serangan itu tidak berlanjut.
Kedua, tidak ada pembelaan seket:ika dari B saat A memukulnya. ·
Contoh lain: X menunggu Y yang sedang berada di dalam kelas.
Niat X adalah untuk menganiaya Y saat keluar dari kela~. Y .diberitahu
oleh Z, bahwa kalau ia ke luar kelas, X berniat menganiayanya. Ketika
Y ke luar dari kelas, dengan seketika Y memukul X. Tindakan Y tidak
termasuk pembelaan terpaksa kai-ena X yang menunggu Y di luar
untuk dianiaya bukanlah suatu serangan nyata.
Bandingkan dengan contoh berikut ini: C tidak senang dengan D.
Ketika berjalan di jalan yang sepi, C kemudian menodong D dengan
pistol. Seketika, D langsung menendang ·tangan C yang memegang
pistol h~ngga terjatuh. Tindakan D digolongkan pembelaan terpaksa
karena C yang menodongkan pistol ke arah D termasuk ancaman
serangan.
Perihal serangan Vos memberikan pernyataan dan ilustrasi
sebagai berikut:
"..... de aanranding kan nog voortduren en verdediging nog
toelaatbaar zijn, ook als is het delict, waarin de aanranding bestaat,
reeds voltooid. Men kan zeggen, dat de aanranding voortduurt, .
zolang de aanrander nog binnen het bereik van de aangevallene
is, mits natuurlijk verdere benadeling d'·eight en er (jus nog iets te
verdedigen valt. Voorbeeld: iemand ziet een dief met het gestolen .
goed weglopen, maar ziet kans hem het voorwerp met geweld te
ontrukken, voordat hij buiten zijn bereik is gekomen; er is dan een
voltooid delict van diefstal n)aar verdediging is nog teogelaten 613"
611
Moeljatno, [Link]., him. 157.
612
Hazewjnkel Suringa, [Link]., him. 177
613
H.B. Vos, [Link]. him. 162. Bandingkan dengan E. Utrecht, [Link]., him. 367.
[Link] PENGHAPUS PI DANA 273
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Serangan tidak terbatas pada selesainya perbuafan yang
[Link] serangan itu. Serangan itu merupakan delik sehingga
serangannya tidak terbatas oada selesainya delik. Serangan itu
masih berlangsung selama masih ada kemungkinan bahwa
penyerang dapat melanjutkan perbuatan-perbuatan merugikan
orang yang diserang. Selama masih ada kemungkinan tersebut,
· maka masih tetap ada keharusan untuk membela diri. Contohnya:
seseorang mencuri barang di dalam rumah. Selama pencuri masih
ada di dalam rumah, maka masih ada kesempatan bagi yang punya
barang untuk merebut kembali barang tersebut. Selama pencuri
masih berada di dalam rurnah, maka masih ada serangan)
Berikut adalah . persyaratan ketiga pembelaan terpaksa, yaitu
pembelaan m [Link] keharusan. Artinya, sudah tidak ada lagi jalan
lain untuk menghindar dari serangan tersebut. Misalnya, dalam sebuah
ruangan tertutup, S yang berniat membunuh T, tiba-tiba masuk dan
mengunci pintu bmudian S dengan pisau yang terhunus mendekati T
untukmenusuknya. Tkemudianmemberikan perlawanan atas tindakan .
S dengan menggunakan ilmu bela diri yang dikuasainya. Tiridakan T
termasuk dalam pembelaan terpaksa karen~ ada serangan seketika yang
melawan hukum dan peinbelaan tersebut merupakan suatu keharusan.
Bandingkan jika S yang berniat membunuh T, kemudian dengan ~isau
yang terhunus S mendekati T tetapi keduanya berada di tanah lapang.
Di sini, T masih bisa menghindar dari S dengan melarikan diri.
Selanjutnya terkait persyaratan keempat bahwa cara pembelaan
adalah patut. Terhadap persyaratan keempat, demikian pula persyaratan
ketiga di atas, s_angat berkaitan erat dengan prinsip-prinsip dalam ala san
penghapus pidana pada umunmya termasuk juga pembelaan terpaksa.
Pertama, prinsip subsidaritas. Artinya, tidak ;~da kemungkinan yang
lebih baik atau jalan lain sehingga pembelaan tersebut hams dilakukan.
Tegasnya, pembelaan tidak menjadi keharusan selama masih bisa
menghindat' 14:
Kedua, prinsip proporsionalitas. 1\rtinya,'harus ada kes<:imbangan
antara kepentingan yang dilindungi dengan kepentingan yang dilanggar: ·
514
J.E. Jonkers. [Link], him. 163.
274 · PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
,<
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dalam konteks pembehian terpaksa, delik yang dilakukan untuk
pembelaan diri harus seimbang dengan serangan yarig dihadapi615•
Moeljatno memberi contoh Putusan Hoge Raad tahun 1934. Duduk
perkara: seorang pemilik sero (perangkap) ikan menggunakan tali
untuk menghubungkan sero dengan pelatuk pistol. Jika ada pencuri
yang akan inengambil ikan dalam [Link] tadi, maka tali akan bergerak
sehingga melepaskan tembakan. Ketika ada pencuri yang menyentuh
sero, dengan sendirinya tali bergerak dan melepaskan tembakan
mengenai mata pencuri yang mengakibatkan kebutaan. Hoge Raad
menolak pembelaan terpaksa J?emilik sero atas dasar Pasal 49 ayat ( 1)
~UHP dengan alasan tidak memenuhi [Link] proporsionalitas616•
Ketiga, prinsip culpa in causa. Artinya, seseorang yang karena
· ulahnya sendiri diserang oleh orang lain secara melawan hukum, ti4ak
dapat membela <4fi karena pembelaan terpaksa617• Sebagai misal, A
menghina B ·secara lisan. Oleh karena hinaan tersebut, B menghampiri
A dan hendak menamparnya. Ketika B hendak menampar A,
dengan seketika A memukul B sehingga terjatuh. Tindalcan A tidak
dapat dikatakan pembelaan terpaksa karena ulah A . sendiri yang
mengakibatkan B menamparnya.
Selanjutnya terkait kepentingaii apa saja yang mungkin diserang
. sehingga pembelaan terpaksa dibolehkari. Pasal a quo secara tegas
menyatakan bahwa serangan tersebut baik terhadap diri sendiri atau
orang lain, terhadap kehormatan dan terhadap harta benda. Serangan
terhadap diri sendiri adalah dalam pengertian serangan terhadap
nyawa dan atau fisik. Sedangkan serangan terhadap kehormatan yang
dimaksud adalah kehormatan dalam kaitannya dengan kesusilaan.
Sementara serangan terhadap harta benda termasuk di dalamnya
adalah hak keperdataan618 • Kendatipun demikian, Fletcher membatasi
pembelaan terpaksa hanya meliputi nyawa dan tubuh seseorang (.....
615
D. Schaffmeister, N. Keijzer, E. PH. Sutorius, Op.G~.• hlm.60
616
Moeljatno, [Link]., him. 158.
61 7
D. Schaffmeister, N. Keijzer, E. PH. Suw rh >, [Link]., him. 61. Bandingkan dengan Jan
Remmelink, [Link]., him. 237.
618
D. Simons [Link]. him. 289. Bandingkan dengan Hazewinkel Suringa [Link]., him. 174.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 275
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
the scope of the defense is likely to be limi_ted to saving one's own live or
limb619 '}.
Penulis tidak sependapat de1 ga.1 Fletcher atas dasar argumentasi
sebagai berik:ut: Pertama, Pasal 49 ayat (1) secara tegas telah
menentukan objek serangan yang boleh dilakukan pembelaan terpaksa.
Tidak hanya nyawa dan tubuh semata, melainkan juga kehormatan
dan harta benda. Kedua,merujuk pada fungsi melindungi dari hukum
pidana, bahwa kepentingan individu yang dllindungi adalah nyawa,
kehormatan dalam pengertian kesusilaan dan harta benda.
e. Pembelaan [Link] Batas
Kalau pe~belaan terpaksa digolongkan sebagai alasan pembenar,
maka pembelaan terpaksa yang melampaui batas merupakan alasan
[Link], elemen dapat dicelanya pelaku dihapuskan. Pembelaan .
terpaksa yang melampaui batas atau noodweerexces terdapat dalam
Pasal 49 ayat {2) KUHP yang berbunyi, "Pembelaan terpaksa yang
melampaui battbt yang langsung disebabkan oleh kegoncangan jiwa yang
hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana':
Pembelaan terpaksa yang melampaui batas dapat terjadi dalam dua
bentuk. Pertama, o~g yang menghadapi suatu seningan mengalami
goncangan batin yang demikian hebat kemudian mengubah pembelaan
diri menjadi suatu serangan620• llustrasi Penulis sebagai berikut:,seorang
wanita dalam ruangan tertutup hendak diperkosa oleh seorang pria.
. Pria tersebut sudah berhasil menangkap badan wanita, namun dengan
, sekuat tenaga wanita tersebut menendang alat vital pria hingga terjatuh.
Tidak berhenti sampai di situ, wanita tersebut memukulnya dengan
benda-benda di [Link] sampai pr~a tersebut tidak berdaya. Dalam
konteks yang demikian -secara teoretis- wanita tersebut melakukan
dua pembelaan. Pembelaan pertama adalah noodweer dengan cara
menendang alat vital pria itu, sedangkan pembelaan kedua adalah
noodweerexces, ketika ·wanita tersebut [Link] benda -benda yang
ada di sekelilingnya kepada pria'itu hingga tidak berdaya.
619
·George P. Fletcher, Rethingking Of Criminal Law, [Link]., him. 857.
620 Jan Remmelink, [Link]., him. 247.
~: 276;§
-: ......,
;
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Kedua, orang }rang melakukan pembelaan [Link] mengalami
goncangan jiwa yang begitu hebat dengan serta [Link] menggunakan .
upaya bela diri yang berlebihan atau setidak:..tidciknya mengg\makan ·
upaya drastis untuk membela diri621 • Ilustrasinya: seorang polisi yang
begitu sampai di rumah melihat 1strinya diperkosa oleh dua orang ·
perampok. Dengan serta merta, p_olisi tersebut mengambil .pistol
yang dibawanya ·dan langsung menembak ke arah pelaku sehingga
mengakibatkan mati. Dalam situasi ini yang timbul sebenarpya adalah
noodweer, namun polisi tersebut melakukan pembelaan yang tidak
seffi?.bang. Artinya prinsip proporsionalitas dalam pembelaan terpaksa
dilanggar sehingga perbuatan polisi yang menembak para pelaku
menjadi pembelaan terpaksa yang melampaui batas.
Ada dua syarat untuk dapat menyatakan seseorang melakukan
pembelaan terpaksa yang melampaui batas. Pertama, harus ada situasi
yang menimbulkan pembelaan terpaksa seperti yang telah dibahas di
atas (Pasal 49 ayat (I) KUHP). Kedua, harus ada kegoncangan jiwa
yang hebat akibat serangan tersebut sehingga menimbulkan pembelaan
· terpaksa yang melampaui batas622• Menurut Hazewinkel Suringa
kegoncan:gan jiwa yang hebat tidak hanya asth~nische affecten berupa
kecemas~, rasa takut, atau ketidakberdayaan, tetapi juga sthenische
affecten seperti kemarahan, kemurkaan atau ketersinggungan623•
Menurut Sudarto, ada tiga syarat dalam pembelaan terpaksa yang
IIielampaui batas. Pertama, kelampauan batas yang d!perlukan. Kedua,
pembelaan ·dilakukan sebagai akibat langsung dari kegoncangan jiwa
yang hebat. Ketiga, kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabhn
karena adanya serangan. Artinya, ada hubungan kausalitas antara
kegoncangan jiwa dengan serangan624• Alasan tidak dijatuhi pidana
terhadap orang yang melakukan pembelaan terpaksa yang melampaui
batas bukan karena tidak ada kesalahan, namun pembentuk undang-
undang menganggap adil, jika pelakti yang menghadapi serangan yang
demikian tidak dijatuhi pidana. Hal ini berdasarkan adaghim non tam
111
[Link].
m D. Schaffmeister, N. Keijzer, En E. PH. Sutorius, [Link]., him. 62.
m Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 182.
u• Sudarto, Op,Cit., him. 151-152 ·
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 277
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ira, quam causa irae excusaF15 • Artinya, lindakan atas suatu serang:m
yang provokatif, dimaafkan.
f. Melaksanakan Perintah Undang-Undang
Pasal 50 KUHP mengatur, "Barangsiapa melakukan perbuatan
untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana~
Ketentuan inimerupakan pertentangan antara dua kewajiban hukum 626 •
Artinya, perbuatan tersebut di satu sisi untuk mentaati suatu peraturan,
namun di sisi lain perbuatan tersebut melanggar peraturan yang
lain. Oleh karena itu, untuk melaksanakan perintah undang-undang
digunakan theory of lesser evils atau teori tingkat kejahatan yang lebih
ringan sebagaimana yang telah dibahas pada awal bah ini. Dengan
demikian, melaksanakan perintah undang-undang merupakan alasan
pembenar yang menghapuskan elemen melawan huku~ya perbuatan.
Menurut Remmelink. melakukan perbuatan yang dimaksud
dalam pasal } quo, diartikan sebagai suatu tindakan yang telah
memenuhi unsur delik. Pertanyaan lebih lanjut, bagaimana kita dapat
menjalankan suatu ketentuan perundang-undangan, namun pada
saat yang sama melakukan suatu tindak pidana? Masih menurut
Remmelink, hal ini sangat mungkin terjadi karena banyak ketentuan
delik dirumuskan terlalu luas, sehingga meliputi perbuatan-perbuatan
lain yang sebenarnya diatur atau disyaratkan di dalam ketentuan lain627•
Pada awalnya, "ketentuan undang-undang yang dimaksud dalam
pasal a quo, hanyalah undang-undang dalam arti formil. Dalam hal ini
peraturan yang dibuat oleh D PR dan Presiden. Perkembangan lebih
lanjut "ketentuan undang-undang" diartikan secara luas atau undang-
undang dalam arti materiil yaitu segala peraturan umum yang bersifat
mengikaf2~. Hal ini didasarkall pada Arrest Hoge Raad 26 JuQ.i 1899,
W. 7307. Bahkan lebih dari itu, melaksanakan "ketentuan undang-
undang termasuk di dalamnya adalah melaksanakan suatu kekuasaan
625
Jan Remmelink, [Link]., him; 248.
626
D. Schaffmeister, N. Keijzer, En E. PH. Sutori~s, [Link]., him. 66.
627
Jan Remmelink, [Link], him. 249.
621 E. Utrecht, [Link]., him. 377.
· 278 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sebagaimana pertimbangan Hoge Raad dalam putusannya tertanggal
28 Oktober 1895629•
Pertinibangan · Hoge Raad ini tidak disetujui oleh Pompe yang
menyatakan bahwa ketentuan Pasal 50 KUHP hanyalah untuk
melaksanakan · suatu kewajiban yang timbul dari undang:.undang.-
Pendapat _Pompe ini didas~kan pada · Memorie van Tolichtinr.
Demikian juga menurut Noyon dan Langemeijer yang menyatakan
melal<sanakan ketentuan undang-undang hanyalah melaksanakan
kewajiban yang berasal dari undang-undang tertulis631 • Sebaliknya,
baik Jonkers maupun Vos sependapat dengan putusan Hoge raad yang
mengartikan undang-undang secara luas termasuk melaksanakan
suatu kekuasaan. Masih menurut Vos, melaksanakan suatu peraturan
perundang-undangan (Ter uitvoeririg van een wettelijk voorschrift)
adalah untuk kemanfaatan publik dan kepentingan umum632 •
Dalam melaksanakan perintah undang-undang, prinsip yang
di_pakai adalah subsidaritas dan proporsionalitas. Prinsip subsidaritas
dalam kaitannya dengan perbuatan pelaku adalah untuk melaksanakan
peraturan undang-undang dan mewajibkan _pelaku berbuat demikian.
Sedangkan prinSip proporsionalitas, yaitu pelaku hanya cllbenarkan
_jika dalam pertentangan antara dua. kewajiban hukum, yang lebih
besarlah yang diutamakan633 • Hal lain yang perlu diperhatikandalam
melaksanakan perintah undang-undang adalah Iou-akter dari pelaku.
Apakah pelaku tersebut selalu melaksanakan tugas-tugas dengim itikad
baik ataukah justru sebaliknya634•
Contoh melaksanakan perintah undang-undang adalah seorang
jurusita yang dalam rangka mengosongkan rumah, menaruh barang-
barang yang disita di jalan. Hal ini bertentangan dengan peraturan yang
melarang menaruh barang-barang di jal~. Akan tetapi, perbuatan
629
J.E. Jonkers, [Link]., hlm.166.
630
W.P.J. Pompe, [Link]., him. 114.
631
-T.J. Noyon En G.E. l angemeijer, [Link]., him. 284.
63
2
H. B. Vos, [Link]., him. 167.
633
D. Schaffmeister, N. Keijzer, En E. PH. Sutorius, [Link]., him. 66-67.
634 George p. Fletcher, [Link], him. 801.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 279
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
jurusita ini dibenarkan karena harus mengeksekusi, dalam hal ini
mengosongkan rumah berdasarkan putusan pengadilan.
g. Perintah Jabatan
Id damnum dat qui iubet dare; eius vero nulla culpa est, cui
parrere necesse sit. Demikian suatu postulat dasar yang berarti
pertanggungjawaban tidak akan diminta terhadap mereka yang patuh
melaksanakan perintah melainkan akan dhninta kepada [Link]
niemberikan perintah635• Oleh karena itu menurut theory of pointless
punishment seperti yang telah diuraikan pada awal bah ini, tidak ada
gunanya menjatuhkan pidana kepada seseorang yang melaksanakan
perintahjabatan dengan patuh636• Hanya saja menurut hemat Penulis,
theory of pointless punishment dalam perintah jabatan adalah sesuatu
yang berasal dari luar diri pelaku.
Postulat id damnum dat qui iubet dare; eius vero nulla culpa est, cui
pa"ere necesse sitjzerasal dari hukum Romawi yang sama tuanya ketika
berbicara mengenai kekuasaan negara. Postulat inilah yang kemudian ·
dalam peraturan hukllm konkret dituangkan pada Pasal 51 ayat (1)
KUHP. Secara tegas, pasal a quo berbunyi, «Barangsiapa melakukan
perbuatan .untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh
penguasa yarzg berwenang, tidak dipidana". Perintah jabatan yang
dikeluarkan oleh yang ·berwenang memberikan hak kepada yang
menerima perintah untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.
Dengan demikian hak ini menghapuskan elemen melawan hukumnya
perbuatan sehingga dimasukkan sebagai alasan pemben~7 •
Pertanyaan lebih lanjut, apakah setiap perintah jabatan mem-
benarkan semua perbuat~ yang dilakukan oleh yang menerima
perintah? Hal ini dijawab secara tegas oleh Hazewinkel Suringa bahwa
tidak setiap perintah jabatan membenarkan perbuatan yang dil~ .
oleh penerima perintah, semuanya tergantung pada cara melakukan
perintah atau alat-alat yang digunakan untuk melaksanakan perintah638•
05 Jan Remmelink. [Link]., him. 253.
636 M. Hamdan, [Link]., him. 85.
637 E. Utreht, Op,at., him. 380. Bandingkan dengan H.B. Vos, [Link]., hlm.170.
m Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 189.
:;2&Q: PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
·<· :"·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pendapat Suri:nga, penulis ilustrasikan sebagai berikut: Seorang Kepala
Sipir Penjara [Link] bawahannya untuk menjaga tahanan
jangan sampai melarikan diri. Bawahan yang menerima perintah, tanpa
sebab, kemudian memukul tahanannya. Tindakan bawahan tidak dapat .
dibenarkan berdasarkan perintal?.' jabatan, karena cara melaksanakan
perintah jabatan dilakukan secara tidak patut.
Jika memang demikian, lalu apa persyaratan sehingga seseorang
dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana atas dasar melakukan
perintah jabatan? Paling tidak, ada tiga persyaratan. Pertama, antara
yang memerintah dan yang dip~rintah berada dalam dimensi h~um
pubJ.ik639 • Penulis memberikan contoh: untuk mengurai kemacetan,
polisi lalu lintas memerintahkari pengguna kendaraan bermotor roda
dua untuk melewati jalan yang dilarang masuk. Pengguna ke:ridaraan
bermotor roda dua tidak dapat dipidana karena memasuki jalan yang
ada tanda laranganriya berdasarkan perintah jabatan.
Kedua, antara yang memerintah dan yang diperintah terdapat
hubungan subordinasi atau hubungan dalam dimensi kepegawaian6-10•
Mengenai persyaratan ini, Sudarto memberi contoh: Seorang Letnan
Polisi diperintahkan oleh Kolonel Polisi untuk menangkap penjahat.
Kolonel terse but berwenang untukmemerintahkannya sehingga Letnan
Polisi tersebut melaksanakan perintah jabatan641 • Ketiga, melaksanakan
perintah jabatan harus dengan cara yang patut, dan s'-imbang sehingga
tidak melampui batas kewajaran642•
Hal lain dalam perintah jabatan bahwa si penerima perintah
tidak mesti menerima perintah secara langsting dari yang memberi
perintah. Artinya, perintah tersebut baik secara tertulis maupun
secara lisan dimungl_dnkan termasuk melalui berbagai macam sarana
komunikasi. Menurut Remmelink, dalam konteks yang demikian,
kita bersinggungan dengan teori pendelegasian wewenang bahwa
orang yang menerima perintah sangat mungkin mengeluarkan
639
D. Schaffmeister, N. Keijzer, En E. PH. Sutorius, [Link]., him. 67.
640
Jan Remmelink, [Link]., him. 254.
641
Sudarto, [Link]., him. 153.
642
D. [Link], N. Keijzer, En E. PH. Sutori<,>, [Link]. Bandingkan dengan Sudarto; Lac.
Cit.
ALASAN PENGHAPUS PIOANA 281
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
perintah mengatasnamakan yang memberi perintah. Kewenangan
dalam pendelegasian kewenangan, tidak hanya meliputi kompetensi
yang memberi perintah, namun juga keabsahan dari seluruh perintah
tersebutM 3:
h. Perintah Jabatan Tidak Sah
Kalau · perintah jabatari merupakan alasan pembenar, . maka
perintah jabatan yang tidak sah adalah alasan pemaaf yang
menghapuskan elemen dapat dicelanya pelaku. Perintah jabatan yang
tidak sah tersimpul dalam Pasal 51 KUHP ayat (2) yang mengatur:
"Perintah jabatan tanpa wewenan~ tidak menyebabkan hapusnya.
pi~ana, kecuali jika yang diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa
perintah dibenkan .dengan wewenang dan pelaksanaannya dalam
lingkungan pekerjaannya,.
Berda5arkan konstruksi pasal a quo, pada hakikatnya perintah
jabatan yang ttdak sah tidak menghapuskan patut dipidananya
pelaku644• Oleh sebab itu, agar perintah jabatan yang tidak ~ah dapat
berfungsi sebagai alasan pemaaf, haruslah memenuhi tiga syarat
Pertama, perintah itu dipandang sebagai perintah yang sah. Kedua,
perintah tersebut dilaksanakan dengan itikad baik. Ketiga, pelaksanaan
perintah tersebut berada dalam ruang lingkup pekerjaanya645• Ketiga
Syai-at tersebut lebih disederhanakan oleh Moeljatno menjadi syarat
subjektifdan Syai-at objektif.
Syarat subjektif adalah bahwa dalam batin. orang yang menerima
perintah harus mengira bahwa perintah tersebut adalah perintah yang
sah dan
.
oleh karena itu. dilaksanakan dengan itikad baik. Sedangkan
syarat objektif adalah bahwa perintah tersebut masih berada dalam
lingkungan pekerjaan yang diperintah646• Perihal itikad b~ itu
sendiri -dalam hukum Romawi disebut bonafides- Siti Ismijatie Jenie
menyatakan bahwa dalam pengertian subjektif itikad baik adalah
641
Jan Remmelink, [Link]. him. 255 , .
644 Hazewinkel Suringa, [Link]. Bandlngkan dengan Sudarto, [Link]., him. 154.
645
M. Hamdan, [Link]., him. 86.
606
Moeljatno, [Link]., him. 163.
282 .PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
·~.
kej~juran, sedangkan itikad baik dalam pengertian objektif adalah-
kepatutan647.
Perhatikan dua ilustrasi berikut ini: llustrasi Pertama: Seorang
perwira polisi memerintahkari ba"o/ahannya untuk memukul seorang
tahanan yang berb~at kekacauan sehingga tahanan tersebut menderita
luka-luka. llustrasi Kedua: Seorang perwira polisi memerintahkan
bawahannya untuk menggeledah orang yang ditangkap, padahal
belum ada dugaan kuat bahwa orang yang ditangkap telah melakukan
suatu kejahatan. Pada ilustrasi yang pertama, bawahannya tidak dapat
berlindung melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah. Kendatipun
polisi diberi wewenang untuk menangkap, menahan, menggeledah dan
menyita tetapi tidak boleh melaku)<an penganiayaan648• Pada ilustrasi
kedua, bawahannya dapat berlindung di balik perintah jabatan yang
tidak sah jika perintah tersebut dilaksanakan dengan itikad baik dan
cara yang patut. Terlebih, perintah jabatan tersebut masih berada dalam
lingkup kewenangannya.
2) Alasan Penghapus Pi dana Umum ·Di Luar Undang-Undang
Alasan penghapus pidana umum di luar uridang-undang atau
di luar KUHP meliputi izin, errorfacti, error juris dan tidak ada sifat
melawan. hukum materiil, hak jabatan atau pekerjaan dan mewakili
urusan orang lain. Masing-masing alasan penghapus pidana umum di "
luar undru:g-i.m~ang dijelaskan sebagai berikut.
a. Izin
Izin atau persetujuan dapat merupakan suatu alasan penghapus
pidana, dalam hal ini adalah alasan pembenar, jika perb1;1atan yang
dilakukan mendapat persetujuan dari orang yang akan dirugikan dari
perbuatan tersebut.·Artinya, ada concent of the victim atau persetujuari
00
ltikad baik yang dikemukakan di sini adalah dalam konteks perdata. Pendapat Penulis,
tidak terdapat perbedaan itikad baik dalam konteks perdata dan itikad baik dalam konteks
pidana. Oleh karena itikad baik adalah asas hukum umum. lihat lebih lanjut dalam Siti
lsmijatie Jenie, Jtikad Baik, Perkembangan Dari Asas Hukum Khusus Menjadi Asas Hukum
Umum Di Indonesia, Pidato Pengukuhan · Jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 10 September 2007, him. 3-4.
648
D. Schaffmeister, N. Keijzer, En E. PH. Sutorius, [Link]., him. 68.; Moeljatno, [Link]., him.
164.; Sudarto, [Link], hlm. 164,; Jan Remmelink, [Link]., him. 256.
ALASAN PENGHAPUS PIOANA 283
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,,
., ~ . ' ...
.,. (, ,;:. : ~A:· - ...
korban 649• Izin atau persetuju~n sebagai alasan penghapus pidaJla
didasarkan pada adagium volenti non fit in iura atau nulla in iura est, quae
in volentein fiat. Artinya, terhadap siapa yang memberikan persetujuan
satu tindakan, tidak akan menghasilkan ketidakadilan650•
Adanya izin atau persetujuan sebagai alasan pembenar [Link]
paling tidak pada empat syarat. Pertama, pemberi izin tidak memberi
persetujuan karena adanya suatu tipu muslihat. Kedua, pemberi izin
tidak berada dalam suatu kekhilafan. Ketiga, pemberi izin ketika
memberikan persetujuan tidak berada dalam suatu tekanan. Keempat,
substansi perrriasalahan yang diberikan izin tidak bertentangan
dengan kesusilaan651 • Pemberian izin terhadap suatu tindakan ban}rak
ditemukan dalam lapangan hukum adminis~rasi.
Salah satu contoh adalah penegakan hukum lingkungan
sebagai hul.'UIIl administrasi yang diberi sanksi pidana. Andi
Hamzah berpendapat bahwa hukum pidana dalam hukum pidana
lingkungan ditempatkan sebagai ultimum remidium pada dasarnya
untuk menunjukkan . bahwa hukum pidana (modem) dapat
mencapai sasarannya (dalam hukum lingkungan.
tujuan utamanya.
adalah terhentinya ·pencemaran atau terpenuhi syarat-syarat izin
yang ditentukan oleh pihak administrasi) tanpa dilanjutkannya
penuntutan dan penjatuhan pidana, karena pada pos pertaina dalam
mempertabankan dan memelihara hukum lingkurigan berada di ranah
hukum administrasi652•
Pendapat Andi Hamzah ini didukung pula oleh Takdir Rahmadi
yang menyatakan bahwa jika dibandingkan di antara tiga bidailg
hukum, yaitu hukumadministrasi, hukum perdata, dan hukum pidana,
sebagian besar norma-norma hukum lingkungan termasuk ke dalam
wilayah hukum administrasi negara653• Barda Nawawi Arief~mtidian
berpendapat bahwa ketentuan hukum pidana yang bercampur dengail
se Marcus Priyo Gunarto, [Link], hlm.l3.
550 Jan Renvnelink. [Link]., him. 264.
151
Ibid, him. 265.
m Andi Hamzah, 2008, Penegakrm Hukum Ungkungcin, Cetakan Kedua, Slnar Grafika, Jakarta,
hlm.63.
· m Takdir Rahmadi, 2011, Hukum Ungkungan di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
hlm.208. · ·
··,,.
'" . ~ .-284:.
.-~ ... ·.
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.~..
ketentuan hukum admiriistrasi tersebut pada hakikatnya merupakan
· perwujudan dari kebijakan hukum agar dalan1 menggunakan hukum
pidana tersebut diterilpatkan sebagai sarana untuk menegakkan atau
melaksanakan hukum administrasi. Hal tersebut merupakan bentuk
fungsionalisasi atau O,Perasionalisasi atau ·iiistrumentalisasi hukum
pidana tel'hadap bidang hukum administrasi654•
Seandainya sanksi pidana akan digunakan, tentunya tidak boleh
lepas dari asas-asas berikut ini655: Pertam11, [Link], bahwa tidak
hanya bertujuan untuk memberi manfaat bagi korban, namun juga
. untuk masyarakat luas dan se~agai upaya preventif tindak pidana.
Kedut~, asas keadilan, tidak bersifat mutlak untuk melindungi korban
kejahatan saja, namun juga harus memberi rasa keadilan bagi pelaku
kejahatan tersebut. Ketiga, asas keseiriibangan, yaitu untukmemulihkan
keseimbangan . ta~an masyarakat yang terganggu menuju pada
keadaan ~emula .(restitutio des integrum). J(eempat, asas kepastian
hukum, y~tu secara umum untukmemberikan perlindungan terhadap
korban kejahatan, bahkan jika diperlukan adanya undang-undang
· tersendiri yang mengatur teiltang perlindungan korban kejahatan.
b. E"or Facti
Afwezigheid van aile schuld (Avas) atau tidak ada kesalahan sama
sekali merupakan alasan penghapus pidana yang mana pelaku telah
cukup berusaha untuk tidak melakukan delik. Aias ini juga disebut:
sesat yang dapat dimaafkan656• Dengan demikian Avas adalah alasan
pemaaf yang menghapuskan elemen dapat dicelanya pelaku. Avas ini
dibedakan dalam dua kategori yaitu error facti dan error juris. E"or
factie sebenarnya telah dijelaskan secara rinci pada Bah III tentang
Pertanggungjawaban Pidana. khususnya yang berkaitan dengan
kesesatan dalam kesengajaan. E"or facti m~iupakan salah satu
kesesatan dalam kesengajaan .yang juga disebut feitelijke dwaling atau
kesesatan fakta.
654
Barela Nawawi Arief, 2003, Kapita Selekta Hukum Pidana, PT. Citr3 Adltya Bakti, Semarang.
him. 15. Bandingkan dengan Muhammar: To!)an, ·2009, Kejahatan Korporasi Dl Bidang
Ungkungan Hidup, Cetakan Pertama, Nusa Media, Bandung, him. 79.
155
Muhammad Topan, Op. Cit, him. 148.
156
D. Schaffmeister, N. Keijzer, En E. PH. Sutorius, [Link]., him. 70.
ALASAN PENGHAPUS PIOANA 285
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
c. E"or Juris
Errorjuris sebagaimana juga errorfaCti merupakan bagian dariAvas
dan telah [Link] pada Bah III tentang Pertanggungjawaban Pidana,
khususnya yang berkaitan dengan kesesatan dalam kesengajaan. Error.
juris disebut juga rechtsdwaling atau kesesat~n hukum657 yaitu suatu
perbuatan dengan perkiraan hal itu tidak dilarang oleh undang-undang.
Error juris ini [Link] menjadi error juris yang dapat dimengerti dan
error juris yang tidak dapat dimengerti. Kedua kesesatan hukum ini
merujuk pada tingkat pengetahuan dan latar [Link] ~g objektif
dari pelaku.
d. Tidak Ada Sifat Melawan Hukum Materiil
Pada Bab IV tentang Melawan Hukun_l telah dijelaskan secara
gamblang antara lain mengenai sifat melawan hul-.'Uill. materiU atau
materieel wederrechtelijkheid. Sifat melawan hukum materiil dapat
dilihat dari sudul'pandang perbuatannya dan dapat dilihat dari sudut
pandang sumber hukumnya. Dilihat dari sudut pandang perbuatannya,
mengandung arti perbuatan yang melanggar atau membahayakall
kepentingan hukum, 4endak dilindungi oleh pembentuk undang-
undang dalam rumusan delik tertentu. Biasanya sifat melawan
hukum materiil ini dengan sendirinya [Link] pada delik-delik yang
dirumuskan secara materiil.
Sifat melawan · hukum materiil dilihat dari sudut suinber
hukumnya, mengandung makna bertentangan dengan hukum tidak . 'I
tertulis atau hukum yang hidup dalam masyarakat, asas-asas kepatutan
atau nilai-nilai keadilan dan kehidupan sosial dalam masyarakat658•
Perkembangan selanjutnya, sifat melawan hukum materiil dari sudut
pandang sumber hul-.'Ul1111ya masih dibagi. lagi menjadi sifat melawan
hukum materiil dalam fungsinya yang negatif dan sifat melawan
hukum materiil dalam fungsinya yang positi£ Sifat melawan hukum
materiil dalam fungsinya yang negatif berarti meskipun perbuatan
memenuhi unsur delik tetapi tidak bertentangan dengan r~a keadilan
' . .
657 Ibid., him 102.
658 Barda Nawawi Arief, Masalah Kodifikasi, Unifi/casi Dan Konsep Ajaran Sifat Melawan
Hukum Material Dalam RUU KUHP, [Link], him. 8.
; 286 ..~RINSIP-PRI~SIP HUKUM PIOANA . .•( . ~ .· ;,- ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
masyaraleat, maka perbuatan tersebut tidak dipidana. [Link] sifat
melawan hukum materiil dalam fungsinya yang positif, mengandung
arti bahwa meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam penituran ·
perimdang-undangan, namun jika perbuatan tersebut dianggap tercela
karena tidale sesuai dengan rasa keadilan atau no~ma- norma kehi4upan
sosial dalim masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.
Sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang negatif
merupakan alasan pemben~ dan telah dianut dalam praktikpengadilan,
sementara sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang positif
pada dasarnya bertentangan dengan asas legalitas. Sifat melawan
hukum materiil dalam fungsf yang negatif sebagai alasan pembenar
dapat Penulis terima. Argumentasinya, hakikat dari perbuatan pidana
adalah perbuatan yang antisosial, sehingga jika terdapat keragu-ragu~
dalam pengertian di satu sisi telah memenuhi-unsur delik, namun di
~isi lain tidale bertentangan dengan rasa kead_ilan masyarakat, maka
terdakwa harus dibebaskan.
e. Hak Jabatan
Hak jabatan atau pekerjaan disebut juga beroepsrecht biasanya
berkaitan dengan profesi dokter, apoteker, pernwat dan peneliti ilmiah
di hidang kesehatan659 • Sebagai misal, penelitian ilmiah di bi<;lang
kesehatan dengan tujuan tnemberantas suatu peny~it atau vivisecti~.
Dalam penelitian tersebut seringkali dilakukart percobaan-percobaan
terhadap hewan. Pada .hakikatnya menyakiti -atau menyiksa hewan
adalah perbuatan pidan_a.SebagaimanadimaksuddalamPasal302 KUHP.
Akan tetapi, karena pekerjaan tersebut timbul sebagai hale jabatan,
maka elemen [Link] hukum dari perbuatan pidana dihapuskan.
Dengan demikian, hale jabatan merupakan a,lasan pembenar. Dalam
perkembangan lebih lanjut hak jabatan atau-- pekerjaan juga dikenal
dalam menjalankan profesi seperti advokat, jurnalis dan profesi-profesi
lainnya.
659
· Jan Remmelink, [Link]., him. 269.
660
Marcus Priyo Gunarto, [Link]., him. 13.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA 287
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
f. Mewakili Urusan Orang Lain
Mewakili urusan orang lain atau zaakwaarnemingadalah seseorang
yang secara sukarela tanpa berhak mendapatkan upah mengurusi
kepentingan orang lain tanpa perintah orang yang diwakilinya661 •
Apabila terjadi perbuatan pidana dalam menjalankan urusan tersebut,
maka sifat melawan hukum perbuatan dihapuskan. Dengan demikian
zaakwaarneming merupakan alasan pembenar. Sebagai misal, petugas
pemadam-kebakaran yang dalam rangka memadamkan api memasuki
rumah dengan merusak pintu, jendela dan sebagian rumah untuk
mencegah timbulnya bahaya yang lebih besar.
C. ALASAN PENGHAPUS PIDANA KHUSUS
. Alasan penghapps pidana khusus adalah alasan penghapus
pidana yang hanya bedaku pada delik-delik tertentu. Pada dasarnya
pelaku yang mem~uhi unsur delik tersebut dianggap telah melakukan
perbuatan pidana, namun ada pengecualian-pengecualian yang
dirumuskan secara eksplisit dalam rumusan delik sehingga tidalc terjadi
penuntutan pidana terhadap pelak:u. Apakah pasal-pasal tersebut
merupakan alasan pembenar ataukah alasan pemaaf, tentunya tidak
terlepas dari konstruksi pasalnya. Beberapa . pasal yang merupakan
alasan penghapus pidana khusus antara lain: Pasal221 ayat (2) KUHP
dan Pasal310 ayat (3) KUHP.
Pasal221 KUHP:·
( 1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan
atau denda p~ling banyak tiga ratus rupiah:
Ke-1. Barang~iapa dengan sengaja menyembunyikan orang
yang melakukan kejahatan atau yang dituntut katena ·
kejahatan; atau barangsiapa memberi pertolongan kepadanya
.· untuk menghindari penyidikan atau penahanan oleh pejabat
kehakiman atau kepolisian, atau oleh orang lain yang menurut
ketentuan ilf!dang-undang' terus-menerus atau untuk
1
" M. Hamdan, [Link]., him. 109.
·.- t2BS
. .
• · . .·
PRINSIP·PRINSIP HU..KUM PIOANA
.'
"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sementara waktu diserahi menjalankan jabatan kepolisian;
Ke-2. Barangsiapa yang setelah dilakukan suatu kejahatan dan
dengan maksud untuk menutupinya atau untuk menghalang-
halangi atau mempe~ulit penyidikan. atau penuntu_tannya,
menghancurkan, menghilangkan, menyembunyikan benda-
benda terhadap mana atau dengan mana kejahatan dilakukan.
atau bekas-bekas kejahatan lainnya, atau menariknya dari
. pemeriksaan yang dilakukan oleh pejabat kehakiman .atau
kepolisian, maupun oleh orang lain, yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu
diserahi menjalankan jabatan kepolisian.
(2) Aturan di atas tidak berlaku bagi orang yang melakukan
perbuatan tersebut dengan maksud untuk menghindarkan
atail mtnghalaukan bahaya penuntutan terhadap s~orang
keluarga sedarah atau semendanya dalam garis lurus atau
dalam garis menyimpang derajat kedua atau ketiga, atau
terhadap suami/istrinya atau bekas [Link]/istrinya.
Ketentuan ayat (2) Pasal221 KUHP merilpakan alasan penghapus
pidana jika perbuatan tersebut dilakukan keluarga tennasuk suamil
istri atau bekas suami/istri. Di sini perbuatan yang dilakukan tetaplah
perbuatan pidana, namun elemen dapat dicela pel~ yang dihapuskan.
Dengan demikian Pasal221 ayat (2) KUHP merupakan alasan pemaaf.
Pasal310 KUHP: .
(1) Barangsiapa sengaja menyerang kehormatan atclU nama baik
seorang dengan menuduh sesuatu hal; yang maksudnya terang
supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran,
dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah. ·
(2) ]ika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang
disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum,
maka yang bersalah, karena pencemaran tertulis, diancam
pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah.
ALASAN PENGHAPUS PI DANA 289
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(3) Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika
perbuatan terang dilakukan demi kepentingan umum atau
karena terpaksa untuk bela diri
Berdasarkan konstruksi Pasal310 ayat (3) KUHP terdapat alasan
penghapus pidana jika ~ perbuatan tersebut demi kepentingan umum
atau untuk membela d.i?· Artinya, elemen melawan hukum perbuatan
sebagaiman yang terdapat dalam Pasal31 0 ayat ( 1) dan ayat (2) dihapus.
Dengan demikian ketentuan ayat (3) Pasal 310 KUHP merupakan
alasan pembenar.
D. ALASAN PENGHAPUS PIDANA PUTATIF
Alasan penghapus _pidana putatif [Link] yang mengira
telah berbuat sesuatu dalam daya paksa atau dalam keadaan darurat
atau dalam menj~ankan undang-undang atau dalam melaksanakan
perintah jabatan yang. sah, namun kenyataannya tidak demikian662•
Pelaku yang demikian t:ldak dapat dijatuhi pidana jika dapat .dibuktikan
bahwa dalam keadaanyang demikian pelaku bertindak-secara wajar. Di
sini ada kesesatan yang dialami.
Termasuk dalam~ alasan penghapus pidana putatif ini adalah
overmacht putatif dan noodweer putatif. Jan Remmelink memberi
contoh overmacht putatif adalah seorang kapten kapal mengira bahwa
ia terancam akan dis_erbu perompak sehingga kapten kapal tersebut
meninggalkan kapal. Pada kenyataannya, perkiraan kapten kapal
tersebut adalah keliru~3 • Penulis memberi ilustrasi noodweer putatif
· sebagai beri.k:Ut: A m~at B ditodong oleh C yang bertopeng dengan
menggunakan pistol. hengan tangkas A menendang C hingga terjatuh.
Temyata C adalah ternan akrab B yang bersenda gurau sehingg~
pistol yang digunakanpun hanyalah pistol mainan. Adibebaskan darf
pertanggungjawaban pidana berdasarkan pembelaan terpaksa yang
putatif.
662
Sudarto, [Link]., him. 155.
163
Jan Remmellnk, [Link]., hlm.238•
., 290 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
'-
WAtqU DAN
TEMPAT TERJADINYA
PERBUATAN PIDANA
Hukum pidana adalah hukum yang terikat pada ruang dan waktu.
Sekalipun pembuat undang-undang biasariya tidak memasukkan
ruang dan waktu sebagai unsur dalam rumusan delik, tampak
jelas di dalam praktik hukum pidana, kapqn dan di mana tindak
pidana dilakukan horus diketahui. Bilamana jaksa atau penuntut
umum lupa menyebutkan kedua hal tersebut di dalam surat
dakwaan, maka dakwaan tersebut dianggap batal demi hukum 664•
664
Jan Remmelink, [Link]., him. 195.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,,
;...
-s ebagaimana yang telah diutarakan oleh Jan Remmellnk di _atas,
. masalah waktu dan tempat perbuatan pi~a atau yang dikenal -
· · dengan ·istilah tempus 'delicti dan locus deficti adalah persoalan
yang [Link] sederhana, n~un kenyahlan!tya tidak · demikian.
Ketika penuntut umum tidak menyebutkan atau salah menentukan
tempus dan locus delicti akan berakibat fatal pada surat dakwaan. -
Dalam konteks Indonesia, arti penting tempus delicti dan locus delicti
tersimpul dalam Pasal143 KUHAP. ·
Pas~ 143 ayat (2) hurufb menyatakan, "Penuntut umum membuat
surat dakwaan yang diberi tanggal dan ditantlatangani serta berisi
uraian secara ·cermat, jelas dan lengkap mengenai tinda/.c pidana yang
·didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana
itu dilakukan... Selanjutnya Pasal143 ayat (3). KUHAP menyebutkan,
"Surat dakwaan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud
daUim ayat (2) hurufb batal [Link]-.
Masalah tempus delicti dan locus delicti sekila telah disinggung
dalam Bab II terkait elemen:-elemen perbuatan pid:ana, khusus mengenai
makna "perbuatan.._ Menurut para ahli hukuin pidana, arti kata
"perbuatan" dalam frase "perbuatan pidana" terdiri dari kelakuan atau
tindakan dan akibat. Perlu diingat bahwa tidak selamanya kelakuan dan
akibat terjadi pada waktu yang sama. Demikian pula tidak selamanya
kelakuan dan akibat terjadi pada tempat yang sama. Penulis kembali
mengulang ilustrasi sebagaimana yang telah diutarakan dalam Bah II.
llustrasi Pertama: A tidak senang dengan B dan berniat
membunuhnya. Pada malam tanggal 10 April 2014, ketika B sedang
berjalan di tempat yang sepi, tiba-tiba A rtiemukul B dengan balok
kayu bertubi-tubi sehingga B terjatuh dan tidak sadarkan diri. Belum
WAKTU DAN TEMPATTERJAOiNYA P£RBUATAN PIDANA 293
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
merasa puas, A: menusuk B dengan pisau di bagian dada dan perut
kemudian pergi meninggalkannya. C yang kebetulan lewat dan melihat
B tidak berdaya, segera membawanya ke rumah sakit. Setelah dirawat
selama 4 hari, B meninggal dunia. Pertanyaan sederhana dari ilustrasi
ini, kapankan A membunuh B~ llustrasi Kedua: X yang tidak senang
dengan Y berniat lllembunuhnya. Pada tanggal 26 Februari 2014,
X yang sedang berada di kota A, dengan menggunakan senjata laras
panjang menembak Y yang sedang berada di kota B dan mati seketika.
Pertanyaan sederhana pada ilustrasi ini, di manakah X membunuh Y?
Pertanyaan pa<!a ilustrasi pertama tampaknya sederhana, namun
sesungguhnya cukup kompleks. Kita [Link] da:pat mengatakan bahwa
pembunuhan A terhadap B terjadi pada tanggal 10 April 2014, .1
karena saat itu tidak ada akibat mati. Demikian pula kita tidak dapat
- mengatakan bahwa pembunuhan A terhadap B terjadi pada tanggal
14 April 2014, ~bah penyebab kematian B adalah pemulculan dan
pe~usukan, sedangkan kedu~ tindakan tersebut tidak ~terjadi pada
tanggal14 April20 l4. Hal yang_sam~ kita jumpai pada ilustrasi kedua.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa pembunuhan X terhadap Y terjadi
di kota A karena tidak ada akibat mati di kota A. Demikian pula kita
tidak dapat mengatakan bahwa pembunuhe;1n X terhadap Y terjadi di
kota B karena tindakan penembakan tidak terjadi .di kota B.
Ulasan pada b..ab ini selanjutnya akan membahas secara detil
terkait tempus delicti dan locus delicti. Pada: subbab locus delicti
secara garis_besar alCan menjelaskan mengenai teori-teori locus delicti
dan asas tentorial. Terkait asas teritorial, hal-hal yang akan dibahas
adalah perluasan asas tentorial prinsip teknis, perluasan asas tentorial
prillsip kewarganegaraan, .· perluasan asas tentorial prinsip proteksi
dan perluasan asas teritorial prinsip universal. Pada bagian akhit
bab ini akan diulas mengenai prinsip-prinsip ekstradisi terutama
terhadap kejahatan-kejahatan intemasional dan kejahatan-kejahatan
transnasional. · •
'"
294' PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
_j
;._,
A. TEMPUS DEUcn
Waktu terjadinya perbuatan pidana atau tempus delicti memiliki
lima arti penting. PERTAMA, apakah pada saat perbuatan itu terjadi,
perbuatan tersebut telah dikualifikasikan sebagal perbuatan pidana?
Hal ini berkaitan erat dengan asas legalitas sebagaimana yang sudah
dijelaskan dalam Bah II tentang asas ·tegalitas dan perbuatan pidana.
.Termasuk pada arti penting yang pertama ini adalah asas lex favor
reo yang berarti jika terjadi p-e rubahan [Link] pidana~· maka
terhadap terdakwa diterapkan aturan yang paling meringa:nkail.
KEDUA, apakah pada saat ;Melakukan perbuatan pidana, terdakWa
mampu ata1.i tidak mampu bertanggungjawab? Hal ini bertalian dengan
kemaffipuan bertanggung jawab seperti yang telah dibahas dalam bah
III mengenai pertanggungjawaban pidaDa. KEI'IGA, apakah pada saat
terjadinya perbuat~n pidana, terdakwa telah cukup umur. Hal ini pada
dasarnya juga berbkara perihal kemampuan bertanggung jawab. Perlu
dipaharni bahwa dalam pertumbuhan hukum pidana di luar kodifikasi
ada beberapa undang-undang yang menentukan batas usia tertentu.
Sebagai misal dalarn Undang-Undang ~omor 26 Tahun 2000 -
Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Pasal 6 undang-undang a
quo menyebutkan, "Pengadilan Hale asasi Manusi~ tidak berwenang
memeriksa dan memutuskan _perkara pelanggaran hak asasi manusia
yang berat yang dilakukan seseorangyang berumur diiawah 18 (delapan
belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan'".' Hal yang sama juga
kita jumpai dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang tidak dapat dikenakan
terhadap seseorang yang belum umur 18 tahun saat kejahatan
dilakukan.
Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun2012 Tentang Sistem
Peradilan Pidana Anak, ditentukan Pengadilan Anak hanya dapat
mengadili anak yang pada saat melakukan kejahatan berusia antara 12
sampai dengan 18 tahun. Kendatipun demikian, sampai dengan usia
21 tahun, seseorang dapat diadili di Pengadilan Anak. Sebagai misal,
seorang anak pada saat berusia 17 tahun melakukan pembunuhan.
WAKTU DAN TEMPAT TERJAOINYA PERSUATAN PI DANA 295
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Anak tersebut kemudian melarikan diri dan baru ditemukan empat
tahun kemudian ketika yang bersangkutan berusia 21 tahun. Dalam
hal demikian, anak tersebut masih dapat diadili di Pengadilan Anak.
KEEMPAT, terkait kedaluwarsa atau verjaring. Pada dasarnya
kedaluwarsa dihitung mulai hari setelah perbuatan pidana terjadi, akan
tetapi ada beberapa kejahatan yang perhitungan kedaluwarsanya tidak
demikan. Berapa lama kedaluwarsa penuntutan pidana, tidak terlepas
dari maksirnum ancaman pidana terhadap perbuatan pidana tersebut.
Lebih jelasnya masahih kedaluwarsa ini akan dibahas tersendiri dalam
Bah IX tentang hapusnya penuntutan pidana dan gugurnya menjalani
pidana.
KELIMA, apakah pada saat dilakukan perbuatan pidana tersebut
· ada keadaan-keadaari tertentu yang dapat memperberat pidana. Sebagai
· misal, perbuatan pidana yang dilakukan dalam keadaan darurat -
apakah darurat ~pil, darurat militer ataukah darurat perang - adalah
hal yang memberatkan pidana. Perbuatan pidana yang dilakukan
dalam keadaan darurat tetap sebagai hal yang memberaikan·· pidana,
kendatipun pada saat _pelaku diadili, keadaan darurat tersebut telah
dicabut.
Selain kelima arti penting tempus delicti, hal lain yang juga
menjadi pertanyaan krusial sebagaimana yang ·tel~ disinggung pada
awal bah ini adalah kapan terjadinya suatu perbuatan pidana? Salah
satu postulat terkait tempus delicti berbunyi distingunda sunt tempora;
distingue tempora, et eoncordabis leges. Artinya, waktu (tempus delicti)
sebaiknya dibedakan; antara waktu pe~buatan itu dilakukan dan waktu
ketika perbuatan itu selesai dilakukan atau akibat dati perbuatan itu
terjadi. Bertolak dari ilustrasi yang ada (pada tanggal 10 April 2014,
A memukul B dengan balok kayu bertubi-tubi sehingga terjatbh dan·
menusuk B dengan pisau di bagian dada dan perut. Setelah dirawat
. selama 4 hari, B meninggal dunia pada tanggal14 April2014), Vos
berpendapat bahwa tempus delicti h~us diambil waktu tindakan atau
kelakuan terjadi. Dengan demikian, tempus delicti-nya pada tanggal10 ·
. April20 14.
·;
< 2§6::.;:.
\\-~.~~ ;:~
.
PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,. .
Argumentasi Vos bahwa tempus delicti ditentukan pada saat
tindakan atau kelakuan terjadi didasarkan pada ilustrasi yang dibuatnya
sebagai berikut: A menembak B pada 21 Maret Dalam waktu yang
bersamaan, A terkena serangan jantung dan mati, padahal B . yang
ditembak baru mati pada tanggal 22 Maret. Masih Iilenurut Vos, jika
tempus delicli dihitung pada saat terjadinya akibat, maka orang dapat
membtmuh orang lain, ketika pembunuhnya sudah mati, sedangkan
yang dibunuh masih hidup665•
Berbeda dengan Yos adalah Jonkers yang menyatakan bahwa
dalam ilustrasi yang demikian tempus delicti adalah pada saat tindakan
ataukelakuan terjadi dan pada saat akibat terjadi. Artinya, kedua tanggal
tersebut harus dimasukkan dalam dakwaan penuntut umum666• Penulis
sependapat dengan Jonkers berdasarkan argumentasi: Pertama,
perbuatan terdiri dari dua segi yaitu tindakan atau kelakuan dan akibat.
Kedua, tindakan atau kelakuan dan akibat adalah suatu rangkaian
peristiwa sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiga,
untuk menjerat pelaku, tanggal terjadinya tindakan atau kelakuan dan
tanggal t~rjadinya akibat harus disebut dengan jelas untuk menghindari
celah hukum yang dapat digunakan pel~ untUk menangkis dakwaan.
Mezger -yang juga diikuti van Hamel667, Simons668 dan
Hazewinkel Suringa669- sebagaimana yang dikutip oleh Moeljatno
menyatakan bahwa tidak mungkin mendapatkan jawaban yang sama
terkait tempus delicti. Hal ini bergantung padakeperluan yang dimaksud
oleh suatu aturan. Periama, untuk keperluan kedaluwarsa dan hak
penuntutan, tempus delicti-nya sesudah terjadi akibat. Kedua, dalam
rangka menentukan apakah aturan pidana berlaku ataukah tidak (asas
legalitas) dan untuk menentukan apakah pelaku mampu bertanggung
jawab, tempus delicti-nya adalah saat tindakan atau kelakuan terjadi670•
• H. B. Vos, [Link]., him. so.
• J.E. Jon leers, [Link], him. 87.
"' GAvan Hamel, [Link]., him. 165.
161
D. Simons, [Link], him. 159.
A9 Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 306.
670
Moeljatno, [Link]., him. 89.
WAKTU DAN TEMPATTERJADINYA PERBUATAN PIOANA 297
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
B. LOCUS DEUCTI
Dalam konteks Indonesia, locus delicti sangat menentukan,
apakah .hukum pidana Indonesia berlaku ataukah tidak terhadap
suatu perbuatan pidana yang telah terjadi. Arti penting lain dari locus
delicti adalah untuk menentukan pengadilan manakah yang berhak
mengadili suatu perkara pidana. Crimen trahit personam: tempat di
mana kejahatan itu dilakukan, memberikan pengadilan setempat
untuk mengadili pelakunya. Dalam hal ini" kita berbicara mengenai
kompetensi relatif dari suatu peradilan. Kompetensi relatif ini terdiri
dari kompetensi re}atifyang positif dan kompetensi relatif yang negatif.
Kompetensi relatif yang positif jika lebih dari satu pengadilan merasa
berhak mengadili suatu [Link] pidana. Sedangkan kompetensi relatif
yang negatif jika. tidak ada satupun pengadilan yang merasa berhak
mengadili suatu perkara pidana.
Kalau kompetensi relatif terkait locus delicti, maka kompetensi
absolut berhubllhgan dengan pelaku dan substansi suatu perbuatan
pidana. Sebagai misal, beberapa orang yang terdiri dari sipil diin anggota
militer aktif melakukan perampokan suatu bank. Apakah pengadilan
umum atauka.h pengadilan militer yang akan mengadili para pelaku
adalah merupakan kompetensi absolut. Dalam kcinteks yang demikian,
biasanya pelaku sipil diadili di pengadilan umum, sedangkan pelaku
yang merupakan anggota militer diadili oleh pengadilan militer.
Kembali kepada _locus delicti, berikut adalah penjelasan yang
berkaitan dengan teori~teori untuk menentukan locus delicti:
1) Teori-Teori Locus Delicti
Ada dua ~an dalam menentukari locus delicti. Pertama, aliran
yang menentukan hanya satu tempat terjadinya . perbuatan pidana.
Kedua, aliran yang menentukan di [Link] terjadiny~ suatg. .
perbuatan pidana. Berdasarkan aliran pertama, ada dua teori, masing-
masing adalah leer der lidtamelijk daad atau teori tentang tempat di
mana tindakan atau kelakuan terjadi d,an leer van instrunientatau teori
instrumen. Sedangkan alirankedua dapat memilih untukmenggunakan
leer der lichamelijk daad atau menggunakan teori akibat:
-~ 298 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
·~..
PERTAMA, leer der lichamelijk daad671 · atau teori perbuatan
materiil atau perbuatan jasmaniah672 • Menurut teori ini, locus delicti
adalah tempat di man~ tindakan atau kelakuan terjadi. Dengan
menggunakan ilustrasi sebagaimana yang telah .diutarakan pada awal
bah ini (X be_rada di batas kota A,' rnenembak_Y yang berada di kota B
dengan menggunakan senjata laras panjang dan Y mati seketika), maka
locus delicti berada di kota A. Pendapat Penulis, teori ini lebih pmdah
untuk diterapkan pada delik-delik yang dirumuskan secara formll atau
delik fbrmil yang rnenitikberatkan pada tindakan atau kelakuan. Jika
teori ini diterapkan pada delik-~elik yang dirumuskan secara materiil
seperti dalam ilustrasi di atas, maka terdapat-celah hukum karena
akibatnya tidak terjadi pada tempat yang sama dengan tindakan atau
kelakuan;
KEDUA, leer van instrument673 atau teori instrurnen. Menurut
te~ri ini, locus deliCti ditentukan oleh alat yang dipergunakan dan
d~ngan alat itu perbuatan pidana diselesaikan. Sebenarnya leer van
instrument irti merupakan perluasan dari leer der lichamelijk daad .
. Contohnya, X memasang born waktu di kota A. Setelah mernasang
born waktu, X kernudian kembali ke rumahnya di kota B. Beberapa jam
kernudian born waktu tersebut meledak dan rnengakibatkan korban
jiwa. Berdasarkan ilustrasi tersebut dan dihubungkan dengan teori
instrumen, locus delicti-nya adalah di kota A.
Pendapat Penulis, penggunaan teori instrumen ini sangat berarti
dalam kejahatan-kejahatan yang modus operandinya canggih atau
terjadi pada lintas batas. Contoh konkret adalah kejahatan-kejahatan
di dunia maya atau cyber crime. Ada lima kata kunci terkait cyber crime.
Pertama, illegal access yaitu sengaja memasuki atau mengakses sistem
komputer tanpa hak. Kedua, illegal interception yakni sengaja dan
tanpa hak mendengar atau menangkap secara diam-diarn pengiriman
dan pemancaran data komputer yang tidak bersifat publik ke, dari atau
di dalam sistem komputer dengan menggunakan alat bantu teknis.
671
J.E. Jonkers, [Link].
m Sudarto, [Link]., him. 37.
671
W.P.l. Pompe, [Link]., him. 82.
WAKTU DAN TEMPAT [Link] PERBUATAN PIDANA 299
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Ketiga, data interference diartikan sebagai sengaja dan tanpa hak
melakukan perusakan, penghapusan atau perubahan data komputer.
. Keempat, system interference yaitu sengaja melakukan gangguan atau
rintangan serius tanpa hak terhadap berfungsinya sistem komputer.
Kelima, missuse of devices adalah penyalahgunaan perlengkapan
komputer termasuk .program komputer, password komputer, kode
masuk.67". Terhadap kejahatan-kejahatan· di dunia maya, sering kali
antara alat yang [Link], pelaku dan akibat dari perbuatan tersebut
tidak berada pada te~pat yang sama.
KETIGA, adalah teori akibat yang menyatakan bahwa locus
delicti ada pada tempat di mana akibat perbuatan pidana itu terjadi.
Dengan menggunakan ilustrasi yang sama (X berada di batas kota A,
menembak Y yang berada di kota B dengan menggunakan senjata
laras panjang dan _Y mati seketika), maka locus delicti berada di kota
B. Aliran kedua ini boleh memilih locus delicti antara tempat di mana
'-
perbuatan dimulai dengan tindakan (leer der lichamelijk daad) atau
tempat di mana akibat perbuatan pidana itu terjadi (teori-akibat).
Simons yang menganut aliran kedua ini rnenyatakan bahwa
perbuatan pidana terdiri dari kelakuan dan akibat Tidak ada alasan
satu pun yang mendesak salah satu dari kedua hal ini dipandang sebagai
locus delich"675. Pendapat ini juga diikuti oleh van Hamel676, Jonkers677
dan juga Moeljatno6?8• Sedangkan aliran pertama: yang menghasilkan
dua teori yaitu leer der lichamlijk daad dan leer van instrument diikuti
oleh Pompe679, Noyon dan Langemeijer68°.
Penulis sendiri_berpendapat sebagai berikut: · Pertama, untuk
delik-delik formil ~enggunakan leer ·der lichamlijk daad karena lebih
rnudah menentukan locus delicti-nya. Kedua, untuk delik-delik yang
'"' Coundl Of Europe dalam Convention On Cyber Crime di Budapest, Hongaria pada tahun
2001
I
m D. Simons, [Link].
m G.A. van Hamel, [Link]., him. 166.
m J. E. Jonkers, [Link]., him. 87.
m Moeljatno, [Link]., him. 88.
m W.P.J. Pompe, [Link]., him 80-81.
610 TJ. Noyon En [Link], [Link]., him. 62.
~-. ~Q'Q, PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
., :.···
...
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
dirumuskan secara materiil, teori yang digunakan adalah teori akibat
karena delik materiil menitikberatkan pada akibat. ·Ketiga, · untuk
kejahatan-kejahatan dengan modus operandi- yang canggih dan
meliputi lintas batas> teori instrumenlah yang digunakan. Keempat,
•
untuk menghindari celah hukum, dengan berdasarkan pada aliran
kedua untuk menentUkan locus delicti, kiranya-dalam dakwaan baik
tempat terjadinya tindakan atau kelakuan, maupun tempat terjadinya
akibat, disebutkan secara tegas.
Dengan demikian berdasarkan ilustrasi tersebut (X berada di batas
kota A, menembak Y yang beiada di kota B dengan menggunakan
senjata laras panjang dan Y mati seketika), locus delicti-nya di kota A
dan atau kota B. Uraian dalam dakwaan berbunyi, X yang sedang berada
di kota A menembak Y yang berada di kota B dengan menggunakan
senjata laras panjang~ Tindakan atau kelakuan X di kota A menimbulkan
akibat mati bagi Y yang sedang berada di kota B. Terkait pengadilan
[Link] yang akan mengadili perkara tersebut, tentunya tidak terlepas
dari banyak tempat tinggal saksi dan bukti-bukti lainnya.
2) Asas Tentorial
Berdasarkan asas berlakunya hukum pidana suatu negara,
pada umumnya yang dianut oleh semua negara di dunia adalah asas
tentorial. Menurut Moeljatno, asas ini diartikan perundang-undangan
hukum pidana suatu negara berlaku bagi semua orang yang melakukan
perbuatan pidana di negara tersebut, baik oleh warga negaranya
sendiri maupun warga negara asing681• Senada dengan Moeljatno
adalah Enschede yang menyatakan, ".. ... dat het nation ale strafrecht
toepasselijk is op een ieder, die zich op het nationale grondgebied aan enig,
volgens de nationale wet strajbaar feit schuldig maakt....."682 (hukum
pidana nasional diterapkan terhadap setiap orang yang melakukan
perbuatan pidana di wilayah nasional negaranya). Hal ini berdasarkan
postulat interest reipublicae ne maleficia remaneant impunita. Artinya,
· ut Moeljatno, [Link]., him. 38
611
Ch. J. Enschede, [Link]., him. 34
WAKTU DAN TEMPAT TERJADINYA PERBUATAN PIDANA 301
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
kepentingan suatu negara agar kejahatan yang terjadi di negaranya
tidak dibiarkan saja.
Demikian pula menurut van Hamel yang menyatakan, "Naar het
territorialiteitsbeginsel beheerscht de strafwet van eenen staat, krachtens
diens roeping, alle feiten binnen de grenzen gepleegd, onafhankelijk van
des daders nationaliteit of van het aangerande rechtsbelang683 (menurut .
asas teritorial, maka · undang-undang hukum pidana suatu negara
menguasai semua perbuatan yang dilakukan dalam batas-batas negara,
yang menurut sifatnya tidak tergantung kewarganegaraan pelaku atau
kepentingan hukum yang diserang). Dalam konteks hukum pidana
Indonesia, hal ini secara eksplisit tertuang dalain Pasal2 KUHP, "Aturan
pidana dalam perundang-undangan [Link] berlaku bagi setiap orang
yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia".
. Sebagaimana asas hukum pada umumnya, asas tentorial ini juga
'
terdapat pengecualian-pengecualian. Pengecualian asas teritorial yang
pertama adalah terhadap orang. Tidak semua orang yang melakukan
perbuatan pidana eli suatu negara akan ·diadili dengan hukum negara
tersebut. Pengecualian terhadap orang antara lain adalah kepala negara,
duta besar, konsul, ·diplomat serta petugas lembaga internasional.
Pengecualian terhadap kepala negara berda8arkan asas par in parem
non hebet imperium yang berarti bahwa kepala.·negara tidak dapat
dihukum dengan menggunakan hukum negara lain.
Asas ini merupakan hak impunitas atau kekebalan dari seorang
kepala negara asing dalam hubungan internasional. Perkembangan
selanjutnya asas par in parem non ·hehet imperium dikecualikan dari
kejahatan-kejahatan serius terhadap masyarakat internasional seperti
genosida, kejahatan- terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.
Dalam J.>asal 27 Statuta Roma tidak mengenal relevansi jabatan
resmi684• Dengan kata lain jika berkaitan dengan kejahatan-kejahatan
613 G.A. van Hamet, [Link]., hlm.171
A4 Dalam Pasal 27 ayat (1) Statuta Roma secara tegas dinyatakan: "Statuto lnl berloku
soma terhodop semuo orang tonpo suotu perbedaon otas dosar jobotan resmi. Stcora
khusus, jabatan resml sebago! searang kepola negara [Link] pemerintahon, anggota
.~ )302
. .... ..·•. . PRINSIP-PRINSIP HUKUMPIDANA
~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~- ·
serius terhadap masyarakat intemasional asas par in parem non hebet
imperium dikecualikan685• Hal ini merujuk pada adagium impunitas ·
semper ad deteriora invitat yang berarti impunitas mengundang pelaku
untuk melakukan kejahatan yang lebih besar.
Kekebal~terhadap duta besar, konsul dan diplomat, didasarkan
pada Konvensi Wina 1961 Tentang Hubungan Diplomatik. Kekebalan
ini sudah dimulai dalam abad ke~16-abad ke-17 p~da waktu pertukaran
duta-duta besar secara permanen di antara neg~-negara di Eropa.
Seorang Duta Besar dapat diusir tetapi tidak dapat ditangkap atau diadili
di negara yang bukan negara· as~nya686 • Kekebalan seorang duta besar
didasarkan pada postulat legatus regis vice ftmg{tur a quo destinatur,
et honorandus est sicut ille cujus vicem gerit. Secara harafiah postulat
tersebut berarti seorang duta besar mewakili raja yang mengutusnya,
maka ia harus dihor~ati karena ia mengisi posisi sang raja.
Pemberian kekebalan dan keistimewaan ini didasarkan juga pada
prinsip timbal balik atau asas resiprokaL Sebagai salah satu asas hukum
pidana intermisional, asas resiprokal sangatlah penting dalam hubungan
kerjasama antar negara. Asas ini juga dikenal dengan reciprocty
principle. Pada dasarnya asas resiprokal ini mengandung makna bahwa
jika suatu negara menginginkan perlakuan yang baik dari negara lain,
maka negara yang bersangkutan juga harus memberi perlakuan yang
baik terhadap negara tersebutw. Kasus terkait [Link] Duta Besar
untuk pertama kalinya t~rjadi di Inggris pada tahun 1706. Duduk
perkaranya sebagai berikut:
suatu pemerintahan atau parlemen, waki/ terpilih atau pejabat pemerintah do/am hal
apapun tidak mengecuafikan seseorang darl tanggung jawab pidana di bawah statuto
ini, demikian pula do/am dan mengenai dirinya sendiri, tidak merupakan suatu a/asan
untuk mengurangi hukuman". Sedangkan ayat (2) nya menyatakan, "Kekebafan atau
peraturan prosedural khusus yang mungkin terkait dengan jabatan resmi darl seseorang,
balk di bawah hukum nasional atau internasionaf, tidak menghalangi mahkamah untuk
mefaksanakan yurisdiksinya atas orang tersebutn. Uhat dalam ELSAM, 2000, Statuto
Roma: Mahkamah Pidana lnternasional, ELSAM, Jakarta, him. 35.
68S Eddy O.S Hiariej, Pengantar Hukum Pidana lnternasional, [Link]., him. 27.
616
Sumaryo Suryokusumo, 1995, Hukum Diplomatik: Teori Dan Kasus, Penerbit Alumni,
Bandung, him. SO.
687
Eddy O.S Hiareiej, [Link]., him. 26.
WAKTU O..O.N TEMPATTERJAOINYA PERBUATAN PIDANA 303
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. ~·
serius terhadap masyarakat internasional asas par in parem non hebet
imperium dikecualikan685• Hal ini merujuk pada adagium impunitas
semper ad deteriora invitat yang berarti impunitas mengundang pelaku
untuk melakukan keja!'tatan yang lebih besar.
Kekebalan terhadap duta besar, konsul dan diplomat, didasarkan
pada Konvensi Wina 1961 Tentang Hubungan Diplomatik. Kekebalan
ini sudah dimulai dalam abad ke~16-abad ke-17 p~da waktu pertukaran
duta-duta besar secara permanen di antara neg~-negara di Eropa.
Seorang Duta Besar dapat diusir tetapi tidak dapat ditangkap atau diadili
di negara yang bukan negara as~nya686 • Kekebalan seorang duta besar
didasarkan pada postulat legatus regis vice fungftur a quo destinatur,
et honorandus est sicut ille cujus vicem gerit. Secara harafiah postulat
tersebo.t berarti seorang duta besar mewakili raja yang mengutusnya,
maka ia harus dihor~ati karena ia mengisi posisi sang raja.
Pemberian kekebalan dan keistimewaan ini didasarkan juga pada
prinsip timbal balik atau asas resiprokal. Sebagai salah satu asas hukum
pidana intermisional, asas resiprokal sangatlah penting dalam hubungan
kerjasama antar negara. Asas ini juga dikenal dengan reciprocty
principle. Pada dasarnya asas resip!okal ini mengandung makna bahwa
jika suatu negara menginginkan perlakuan yang baik dari negara lain,
maka negara yang bersangkutan juga harus memberi perlakuan yang
baik terhadap negara tersebut687 • Kasus terkait kekebalan Duta Besar
untuk pertama kalinya t~rjadi di Inggris pada tahun 1706. Duduk
perkaranya sebagai berikut:
suatu pemerintahan atau par/emen, wakil terpilih atau pejabat pemerintah dafam hal
apapun tidak mengecuafikan seseorong dar/ tanggung jawab pidana .di bawah statuto
fni, demikian pula dalam dan mengenai dirinya sendiri, tidak merupakan suatu alasan
untuk mengurangi hukuman". Sedangkan ayat (2) nya menyatakan, HKekebalan atau
peraturan prasedural khusus yang mungkin terkait dengan jabatan resmi dar/ seseorang,
balk di bawah hukum nasionaf atau internosional, tidok menghalangi mahkamah untuk
melaksanakan yurisdiksinya atas orang tersebut". Uhat dalam ELSAM, 2000, Statuto
Roma: Mahkamah Pidana lnternasional, ELSAM, Jakarta, him. 35.
685
Eddy O.S Hiariej, Pengantar Hukum Pidana lnternosional, [Link]., him. 27.
616
Sumaryo Suryokusumo, 1995, Hukum Diplomatik: Teori Dan Kasus, Penerbit Alumni,
Bandung. him. 50.
681
Eddy O.S Hiareiej, [Link]., him. 26.
[Link] OM~ TEMPATTERJAOINYA PERBUATAN PIDANA 3iJ3
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Duta Besar Rusia di Britania Raya (Inggris) ditangkap oleh otoritas
Inggris d~ngan tuduhan suatu penipuan. Sesaat setelah penangkapan
tersebut, Kaisar Rusia mengirimkan ultimatum kepada [Link] Anne dari
Inggris bahwa Rusia akan mengumumkan perang terhadap Britania
Raya, kecuali jika pemerintah Inggris mengajukan permintaan maaf.
Pada saat yang sama, Majelis Parlemen Inggris menyetuji Anne, Cap.
12.2/706 sebagai dasar kekebalan dan keistimewaan diplomat. Dalam
undang-undang tersebut dinyatakan bahwa setiap wakil asing haruslah
dianggap sud dan tidak dapat diganggu gugat, baik dari jurisdiksi
p~rdata maupun pidana688 •
Kekebalan terhadap duta besar, konsul dan diplomat menurut
Konvensi Wina juga [Link] keluarganya,
..
baik suami atau
istri dan anak, maupuil orang tua. Bahkan kekebalan tersebut secara_
substansi juga diberi!Gm ketika mereka in transit. Artinya, mereka
berada di neg~eti~a dan sedang transit untukmelakukan perjalanan.
Pada tahun 1972, Belanda pemah memeriksa diplomat Aljazair in
transit menuju Brasil. Dalam pemeriksaan tersebut diaapati surat
hom, granat, bahan peledak dan beberapa pistol. Kendatipun semua
barang bawaan disita, tetapi diplomat tersebut [Link] ·melanjutkan
perjalanan ke Brasil. Belanda berargument~i, mereka tidak dap~t
menahan atau menghtikum diplomat tersebu~. T~rkadang inipunitas
yang dimiliki seseorang membawa kecenderungan kepada orang
tersebut untuk. melakukan kejahatan: impunitas continuum affectum
tribuuit delinquendi. .·
Pengecualian asas tentorial yang kedua adalah terhadap tempat
seperti wilayah kedutaan besar di suatu negara, wilayah angkatan
bersenjata suatu negara di negara lain dan kapal berbendera _asing,
termasuk properti lainnya. Disamakan dengan wilayah angkatan
bersenjata adalah kapal perang suatu negara. Sebagai misal, jika terjadi
suatu perbuatan pidana, di kapal perang, kendatipun kapal perang
I . -
611 Sumaryo Suryokusumo, [Link]., him. 51 .
.., Ibid, him. 65.
~~~~r PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
~::.-:: ~;;~~·::~:"{l: ~:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tersebut sedang berada di laut tentorial negara lain, bahkan sedang
merapat di suatu dermaga, hukum yang digunakan adalah hukum
negara }rang punya kapal perang tersebut. Hal ini berbeda dengan
kapal biasa ataupun kapal terbang yang akan dibahas lebih lanjut dalam
perluasan asas teritorial prinsip proteksi.
Properti yang juga dilindungi ·atau mempunyai kekeb'alan adalah
mobil yang digunakan oleh duta besar, konsul dan diplomat. ·Pada
tanggal27November 1935, dua orangpolisi telahmenangkap DutaBesar
Iran dan sopirnya di dekat Elkton, Maryland, Amerika Serikat kaiena
mengemudikan mobil dengan kencang. Duta Besar Iran memprotes dan
menolaknya sehingga polisi kemudian memborgolnya, sedangkan sopir
beserta mobil dibawa ke kantor polisi. Sesudah dibuktikan bahwa yang
bersangkutan adalah duta besar, hakim kemudian membebaskannya
dari segala tuntutan termasuk mencabut denda sopirnya. Pemerintah
Iran melakukan protes keras sehingga kedua polisi [Link] diusut,
kemudian membayar denda dan diberhentikan dari jabatan.-Gubernur _
Negara ~agian Maryland mengajukan permintaan maaf kepada Iran
dan Menteri [Link] Amerika menyatakanpenyesalannya. Duta
Besar tersebut kemudian dipanggil kembali oleh Pemerintah Iran690•
Selain ·asas tentorial ini, dalam rangka mengantisipasi berbagai
kejahatan yang dilakukan di luar wilayah sual\1 negara, hukum
pidana mengenal perluasan yurisdiksi tentorial. Perluasan tentorial
tersebut baik meliputi perluasan teknis, perluasan berdasarkan prinsip
kewarganegaraan, perluasan berdasarkan prinsip protekst dan perluasan
berdasarkan prinsip universal691 • Perluasan asas teritorial prinsip teknis
dibedakan menjadi prinsip teknis subjektif dan prinsip teknis objektif.
Sedangkan perluasan asas teritorial prinsip kewarganegaraan terdiri
dari prinsip kewarganegaraan aktif dan prinsip kewarganegaraan
pas~92 •
ll90 Ibid, him. 57.
1111
Sugeng lstanto, 1998, Hukum lnternasiona/, Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
him. SO.
192
Eddy O.S Hiariej, [Link]. him. 37.
WAKTU DAN TEMPAT TERJADINVA PERBUATAN ?!DANA 305
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
a. Perluasan Asas Teritorial Prinsip Teknis
Perluasan teknis ini dibagi menjadi prinsip tentorial subjek:tif dan
prinsip teritorial objektif. Prinsip teritorial subjektif membenarkan
negara mempunyai kompetensi mengadili atas perbuatan yang mulai
dilakukan eli wilayahnya tetapi berakhir atau menimbulkan akibat di
wilayah negara lairi. Sedangkan prinsip teritc:>rial objek:tif membenarkan
negara mempunyai kompetensi mengaclili atas perbuatan yang mulai
dilakukan eli negara lain tetapi menimbulkan akibat eli wilayahnya693 •
Sebagai misal, A berada eli Nunukan, Kalimantan Timur
menembak B yang sedang berada di wilayah teritorial Malaysia dan
mati seketika. A dapat diaclili dengan menggunakan hukum Indonesia
berdasarkan perluasan asas teritorial prinsip teknis subjektif. Sebaliknya,
berdasarkan perluasan asas tentorial prinsip teknis objektif, A dapat
diadili di Malaysia sebagai tempat akibat terjadinya penembakan
tersebut. Bila ~ubungkan dengan teori-teori locus delicti, maka
perluasan asas tentorial prinsip teknis subjektif menggunakan leer der
lichamelijk daad, sedangkan perluasan asas teritorial prinsip teknis
objektif menggunakan teori akibat.
b. Perluasan Asas Tentorial Prinsip Kewarganegaraan
Seperti yang telah diutarakan di atas bah~a perluasan asas teritorial
berdasarkan prinsip kewarganegaraan dibagi menjadiasas nasional aktif
dan asas nasional pasif; Asas nasional aktif disebut juga asas personalitas
yang berarti perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua
perbuatan pidana yang dilakukan oleh warga negara di mana saja ia
berada termasuk eli luar wilayah negaranya. Sedangkan asas nasional
pasif pada hakekatilya adalah asas untuk melindungi kepentingan
nasional sehingga aturan-aturan pidana suatu negara dapat diterapkan
tethadap warga negara asing yang melakukan kejahatan di luar wilayah
negara tersebut tetapi korban perbuatan pidana adalah warga negara
tersebut694• Asas nasional pasif ini didasarkan pada pr_insip interest
. '
m Sugeng lstanto, [Link]., [Link]
• Moeljatno, [Link]., him. 40.
•"-;·
306 [Link] PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-·
reipublicae quod homines conserventur yang berarti kepentingan suatu
negara agar warga negaranya·dilindungi.
Mengenai asas nasional aktif dan asas nasional pasif, van Hamel
menyatakan sebagai berikut:
".... ; personaliteits of nationaliteitbeginselen. Vooreerst het actieve .
(subjektionsprinzip ), waarnaar de burger voor zijn handelingen,
waar ook gepleegd, verantwoordelijk blijft naar de wet van zijn land;
een beginsel, voorzoover bezwaren tegen uitlevering van nationalen
b_estaczn, steling, maar ook overeigens onontbeerlijk. Voorts het
passieve (Realprinzip, Schutzprinzip, beschermingsbeginsel) ter .
bercherming van nationale rechtsbelangen, algemeene ofbijiondere,
zij het dan, in verband met het vorige, tegenover, nationalen ruimer
dan tegenover vreemdelingen, mede onmisbaaf'95•
(~., ..asas personal atau asas nasionalitas. ';ferutama yang aktif
(prinsip subjektiO, yang menentukan bahwa warga negara tetap
bertanggung jawab .menurut undang-undang negaranya untuk
perbuatan di manapun dilakukan; suatu_ asas, sepanjang ada
keberatan terhadap penyerahan warga negaranya merupakan
su<l:tu asas yang pasti yang tidak dapat dihilangkan. Untuk yang
pasif(prinsip rill, prinsip sesungguhnya, asas perlindungan) untuk
[Link] kepentingan nasional, baik yang umum maupun
yang khusus, meskipun sehubungan prinsip yang terdahulu
juga diperlukan, namun terhadap warga neg~ lebih dilindungi
daripada terhadap orang asing).
Asas nasional aktif ini hanya berlaku -jika perbuatan yang
[Link] di negara lain, menurut hukum nasional negara tersebut juga
merupakan perbuatan pidana. Sebaliknya, asas nasional aktif ini tidak
berlaku jika perbuatan yang dilakukan menurut hukum negara asalnya
adalah perbuatan pidana, sedangkan menurut [Link] negara tempat
perbuatan tersebut dilakukan bukan merupakan suatu perbuatan
pidana. Sebagai contoh, sepasang kekasih Warga Negara Indonesia, A
dan B melakukan hubungan intim sehingga B hamil. Takut ketahuan
kedua orang tua masing-masing, A dan B pergi ke Stotcholm, Swedia
695 G.A. van Hamel, [Link]., him. 170
WAKTU DAN TEMPAT TERJAOINYA PERBUATAN PI DANA ·307
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
untuk melakukan aborsi karena di Swedia, aborsi bukanlah perbuatan
pidana. Setelah melakukan aborsi, A dan B kembali ke Indonesia.
Apakah A dan B dapat diadili di Indonesia atas perbuatan aborsi
yang dilakukan di Swedia? Jawabannya adalah tidak dapat diadili dan
dijatuhi pidana. Kendatipun, aborsi menurut hukum Indonesia adalah
perbuatan pidana, namun menurut hukum nasional Swedia, aborsi
bukanlah perbuatan pidana. Uustrasi tersebut akan dibahas lebih lanjut
di bagian terakhir bah ini mengenai prinsip-prinsip ekstradisi.
Kalau asas nasional aktif digunakan dalam konteks warga negara
sebagai pelaku perbuatan pidana, maka asas nasional pasif digunakan
dalam konteks warga negara sebagai korban perbuatan pidana. Asas
nasional pasif dalam praktiknya sudah lama ditinggalkan. Hal ini
selain berbenturan dengan asas teritorial· suatu negara, juga akan
bertolak belakang dengan asas personal. llustrasinya sebagai berikut: X
warga negara .&[Link] pembwiuhan terhadap Y warga negara -B.·
- Pembunuhan Y oleh X dilakukan di wilayah negara A. Dalam konteks
demikian, X tidak mungkin diserahkan kepada negara B 'lliltUk. diadili.
Selain X adalah warga negara A, locus delicti-nya juga terjadi di negara
A.
Ketika terjadi peristiwa born di Sari Club Kuta - Renon Bali, 12
Oktober 2002, sebagian besar korban dalam peristiwa tersebut adalah
Warga Negara Australia. Saat itu ada permintaan dan Perdana Menteri
Australia, Jbon Howard kepada Presiden Indonesia, Megawati
Soekarno Putri, agar pelaku pengeboman diekstradisi ke Australia
. untuk diadili. Permintaan tersebut ditoiak oleh Presiden Megawati.
· Dari persitiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, di satu sisi,
[Link] Australia . berusaha untuk rnenerapkan asas . nasional
pasifnya dalam peristiwa born di Bali. Namun di sisi lain, Pemerintah
Indonesia menolak permintaan tersebut berdasarkan asas · teritorial
karena perbuatan tersebut terjadi di wilayah Indon~ia dan asas
personal karena yang melakukan perbuatan tersebut adatah warga
ilegara Indonesia.
308 -PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
--~
.,
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
c. Perluasan Asas Tentorial Prinsip Proteksi
Perluasan berdasarkan prinsip proteksi yakni perlindungan
terhadap kepentingan · nasional Artinya, perundang-undangan
hukum pidana suatu negara berlaku bagi semua orang di luar wilayah
negaranya hila melakukan kejahatan yang bertalian dengan keamanan
dan integritas atau kepentingan ekonomi ~egaranya.696 Dengan
mengambil perbandingan Belanda, Enschede menyebutkannya prinsip
perlindungan atau prinsip proteksi sebagai beschermingsbeginsel yang
dengan tegas mengatakan, ~ .... de Nederlandse strafwet is toepasselijk
op ieder die buiten het Nederla~dse grongebied feiten begaat, gericght
tegen bepaalde economische of staatkundinge belangen van Nederland ...
697
•• (hukum pidana Belanda diterapkan terhadap setiap orang di
"
luar wilayah Belanda yang melakukan perbuatan bertalian dengan
kepentingan ekonomi dan kepentingan negara Belanda)
Dalam konteks hukum pidana Indonesia, paling tidak perluasan
asas teritorial berdasarkan prinsip proteksi berkaitan dengan empat hal.
Pertama, kejahatan-kejahatan yang bertalian dengan keamanan negara
termasuk makar698 • Kedua, kejahatan mengenai mata uang atau uang
kertas yang 'dikeluarkan oleh negara atau bank, termasuk pemalsuan
dan peredaran uang palsu. Demikian pula kejahatan menyangkut
meterai yang dikeluarkan dan merek yang digunakaq_oleh Pemerintah
Indonesia.
Ketiga, kejahatan y_ang berkaitan dengan pemalsuan surat hutang
atau sertifikat hutang atas tanggungan Indonesia, atas tanggungan suatu
daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan talon,
tanda deviden atau tanda bunga, yang mengikuti surat atau [Link]
itu dan tanda yang dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut atau
menggunakan surat-surat tersebut, yang palsu atau dipalsukan, seolah-
olah asli dan tidak palsu699 • Keempat, kejahatan yang berkaitan dengan
"' Sugeng Jstanto, [Link]., him. 51.
697
Ch. J. Enschede, [Link], him. 35.
698
Pasai-Pasall04, 106, 107, 108, 110, 11 bis ke-1, 127 dan 131. KUHP
m Pasal 244 sampal dengan Pasal262 KUHP
WAKTU DAN TEMPATTERJADINYA PERBUATAN PIDANA 309
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pelayaran. Perihal kejahatan pelayaran ini, baik di lakukan terhadap
kapallaut maupun kapal terbang.
Ada perbedaan prinsip terkait kapal laut dan kapal terbang
dalam rangka menentukan yurisdiksi berlakunya hukurn negara yang
rnempunyai kapal tersebut. Dalarn hal kapallaut, hukurn negara yang
punya kapal tersebut berlaku jika kapal tersebut sedang berada di
laut bebas. Ketika kapal tersebut sedang berada di laut teritorial atau
sedang merapat di dermaga, maka hukum yang digunakan adalah
hukurn negara [Link] laut teritorial atau dermaga tersebut.
Contohnya, sebuah kapal berbendera Jepang, sedang berada di
dermaga Tanjung Priuk, Jakarta. Jika terjadi perbuatan pidana dalarn
kapal tersebut maka hukum yang digunakan adalah hukum Indonesia.
Pengecualian terhadapnya jika kapal tersebut adalah kapal perang yang
disamakan sebagai wilayah angkatan bersenjata sebagaimana telah
diulas pada aw~ subbab asas teritorial.
Dalam hal kapal terbang atau pesawat udara, hukum negara
yang punya pesawat udara berlaku jika pesawat in flight atau dalarn
penerbangan. Pertanyaan lebih lanjut, apakah yang .dimaksudkan
dengan in flight? Dalarn penerbangan atau in flight dimulai saat pintu
pesawat udara ditutup sarnpai dengan pintu pesawat dibuka. Masih
terkait dengan kejahatan terhadap pesawat udara tidaklah . dapat
dipisahkan dengan tiga konvensi internasional ya,ng bertalian dengan
hijacking. Pertama, adalah konvensi Tokyo, 14 September 1963
mengenai "Unlawful seizure of Aircraft" (peiarnpokan pesawat udara).
Konvensi ini menentukan kejahatan yang dilakukan dalarn pesawat
udara tetapi tidak · rne_nentukan ~pan ada perarnpasan pesawat
udara menurut [Link] internasional. Mengenai tempus delicti dari
perampasan pesawat udara tergantung dari hukum negara di mana
pesawat itu didaftarkan atau hukum negara yang udaranya (airspace)
dilewati atau juga hukum negara di mana pesawat udara sedang in
flight.
·Kedua, Konvensi Den Haag,1l> Desember 1970 mengenai "For
Suppresion of Hijacking' (penanggulangan pembajakan udara). Salah
:',.-31Q>. PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
··~~ ..:<
-~;:. ·:.;:·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.¥ .
satu poin penting dari Konvensi ini adalah menetapkan hijacking
sebagai international crime dengan yurisdiksi universal. Artinya, setiap
negara anggota konvensi harus mengambil tindakan tegas terhadap
pelaku hijacking yang melakukan kekerasan baik terhadap penumpang
maupun awak pesawat. Ketiga, 'Konvensi Montreal, 23 September
1971 mengenai "For the Suppression of Unlawful Acts Againts the
Safety of Civil Aviation" (penanggulangan perbuatan melawan hukum
terhadap keamanan penerbangan sipil). Dalam ~nvensi tersebut yang
dikualifikasikan sebagai hijacking adalah kejahatan oleh siapa pun
secara sengaja dengan mdawan hukum untuk melakukan tindakan
kekerasan terhadap orang dalam perterbangan, jika tindakan t~rsebut
dapat membahayakanpenerbangan. Masih menurut konvensi tersebut,
kualifikasi hijackingadalah meletakkan bahan peledak di dalam pesawat
atau mencoba melakukan tindakan tersebut atau menjadi kaki tangan
orang yang melakukan percobaan tindakan tersebut.
Hal terpenting lainnya dari konvensi tersebut adalah perluasan
terhadap pengertian in flight. Pada awalnya pengertian in flight adalah
saat par~. penumpang berada di dalam pesawat _tetapi pengertiannya
kemudian diperluas tidak hanya in flight semata tetapi juga in service.
Artinya, sejak pesawat udara disiapkan oleh awak darat untuk
penerbangan tertentu. Sebagai tindak lanjut Konvensi Montreal
ini, pada tahun 1988 dikeluarkan Protocol Fo/ ilie Suppression Of
Unlawful Acts Of Violence At Airports Serving International Civil
Aviation. Berdasarkan protokol tersebut, termasuk dalam hijacking
adalah tindakan sebagaimana tertuang dalam_Montreal Convention
yang dilakukan oleh teroris pada pelayanan bandara penerbangan sipil
internasional.
Perkembangan selanjutnya, tidakhanya pembajakan pesawat udara
semata yang dikualifikasikan sebagai terorisme tetapi juga pembajakan
terhadap kapallaut dapat ·dikualifik:asikan sebagai terorisme. Secara
gamblang Convention For 7he Suppression Of Unlawful Acts Againts The
Safety Of Maritime Navigation, (1988 -Applies To Terrorist Activites
·On Ships) menyatakan, "..... establishes a legal regime applicable to acts
WAKTU DAN TEMPAT [Link] PIOANA 311
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
against international maritime navigation that is similar to the regimes
established against international aviation ..." Masih menurut konvensi
tersebut terorisme . diartikan: "..... makes it an offence for a person
unlawfully and intentionally to seize or exercise control over ship by force,
threat, or intimidation; to perform an act of violence against a person on
board a ship if that act is likely to endanger the safe navigation of the ship;
to place a destructive device or subtance aboard a ship; and other acts
against the safety of§hip..... 700 "
Bertalian dengan pembajakan pesawat udara, pada hari Jum'at,
25 April 2014, sebuah pesawat Virgin milik Australia yang sedang
mengudara di Indonesia mengirimkan siny~ pembajakan terhadap
pengontrollalu lintas udara di bandar udara Ngurah Rai, Denpasar,
Bali. Pesawat tersebut berhasil mendarat di bandar udara Ngurah
Rai dan dengan persenjataan lengkap pesawat tersebut disergap oleh
TNI Angkatan 'Udara. Orang yang diduga melakukan pembajakan
adalah Matt Christopher berusia 28 tahun, warga negara Australia
yang sedang mabuk dan depresi. Setelah diinterogasi oleh polisi, Matt
Christopher kemudian dideportasi ke Australia. Alasan Pemerintah
Indonesia melakukan deportasi, karena kejahatan ter~ebut terjadi di
dalam pesawat Vir~ milik Australia dan yang melakukan aksi tersebut
adalah warga negara Australia.
d. Perluasan Asas Tentorial Prinsip Universal
_Perluasan asas teritorial berdasarkan prinsip universal terkait
dengan delicta jure gentium atau kejahatan terhadap masyarakat
intemasional. Artil_lya, perundang-undangan hukum · pidana suatu
negara berlaku bagi semua orang yang melakukan pelanggaran
terhadap hukum pidana internasional701 • Menurut van Hamel; "Naar
't universaliteitbegimel, in zijn volle consequentie opgevat, zou terzake
van elk delikt, waar, door wien of ten nadeele van welk rechtsbelang ook
gepleegd, krachtens eene algemeene roeping der staten ter.. handhaving
. ' . .
7110 Dani Krisnawati, Eddy O.S Hiariej, Marcus Priyo Gunarto, Slgld Riyanto dan Supriyadi,
[Link]., him. 228- 232. ·.
lll1 Ch. J. Enschede, [Link],. him. 36. Bandingkan dengan Sugeng lstanto, [Link]., him. 51
·~ 312:'~ PRINSIP·[Link] PIDANA
.... ...
~~:!. ~~·\.:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
eener wereldrechtsorde overal berechting mogelijk zijn702 {Menurut asas
universal, konsekuensi · secara keseluruhan meliputi perihal setiap
delik, di manapun, oleh siapa pun yang merugikan kepentingan hukum,
menurut ·pandangan bangsa-bangsa untuk menegakkan ketertiban
hukum dunia di manapun dapat diadili).
Arti penting dari asas universal adalah jangan sampai ada pelaku
kejahatan internasional yang lolos dari hukuman. ·Oleh karena itu
setiap negara berhak untuk menangkap, mengadili dan menghukum ·
pelaku kejahatan internasional. Akan tetapi, jika pelaku kejahatan
intemasional telah diadili dan dihukum oleh suatu negara, maka
negara lain tidak boleh mengadili dan menghukum pelaku kejahatan ·
intemasional atas kasus yang sama.. Asas universal ini berlaku -bagi
perbuatan pidana yang dikualifikasikan sebagai kejahatan internasional
dan bukan kejahatan transnasional.
_.· Bassiouni memberi definisi kejahatan intemasional sebagai
setiap tindakan yang ditetapkan di dalam konvensi multilateral dan
diikuti oleh sejumlah negara dan di dalamnya terdapat salah satu -· ·
dari kes~puluh karakteristik pidana703• Bryan A. Garner memberi
pengertian kejahatan intemasional sebagai kejahatan terhadap
hukum intemasional: Pertama, suatu tindakall sebagai kejahatan
berdasarkan perjanjian (treaty crime) di bawah hukum intemasional
atau hukum kebiasaan intemasional dan mengikat "hldividu secara
langsung tanpa diatur dalam hukum nasional. Kedtu~, ketentuan
dalam hukum internasional yang mengharuskan penuntutan terhadap
tindakan-tindakan yang dapat dipidana berdasarkan prinsip yurisdiksi
unlversal104• Penulis sendiri berpendapat bahwa kejahatan internasional
dapat didefinisikan sebagai tindakan yang oleh konvensi internasional
atau hukum kebiasaan internasional dinyatakan sebagai kejahatan
di bawah hukum internasional atau kejahatan terhadap masyarakat
intemasional· yang penuntutan dan penghukumannya berdasarkan
prinsip universal105•
702
G.A. van Hamel, [Link], hlm.170
l!a M. Cherif Bassiouni, [Link]., him. 2.
104
Bryan A. Garner, [Link].; him. 821.
10S Eddy O.S Hiariej, [Link]., him. 46.
WAKTU DAN TEMPAT TERJAOINYA PERBUATAN PIOANA 313
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Sedangkan transnational crime menurut Boister adalah suatu
konsep generik yang' mencakup berbagai bentuk kegiatan kriminal
adalah suatu konsep kriminologi sosiologis dan bukan konsep yuridis.
Boister selanjutnya mendefinisikan transnational crime sebagai
"...... certain criminal phenomena transcending international borders,
transgressing the laws of national states or having an impact on another
country..." Boister kemudian menyimpulkan bahwa secara sederhana
kejahatan transnasional adalah "conduct that has actual or potential
trans-boundary effects or national and international concerns"706•
Sementara istilah tra:nsnasional itu sendiri dikemukakan oleh Phillip
Jessup, seorang ahli hukum internasional Amerika. Istilah kejahatan
transnasional dikemukakan pertama kali dalam United Nations
Convention Against 'fransnational Crime tahun 2000 yang mana istilah
tersebut [Link] dengan yurisdiksi negara dalam menghadapi suatu
kejahatan. '
Yurisdiksi tersebut ada yang bersifat 'mandatory' [Link] 'non
mandatory'. Yurisdiksi yang bersifat mandatory hanya diberlakukan
terhadap kejahatan yang terjadi dalam ~ayah suatu negara, sedangkan
yurisdiksi yang bersifat non mandatory diberlakukan uittuk kejahatan
terhadap korban warga negara dari negara yang bersangkutan,
kejahatan yang dilakukan oleh warga negara yang bersangkutan atau
stateless dan kejahatan yang dilakukan di luar batas wilayah negara
yang bersangkutan tetapi dipandang sebagai · dilakukan di wilayah
negara yang bersangkutan707•
Jika memang demikian, menunit hemat Penulis, istilah kejahatan
transnasional lebih . pada suatu fenomena kejahatan tertentu yang
706
Mardjono Reksodiputro dalam Multikulturolisme don Negoro- Nasion Serto Kejohoton
Tronsnoslonal DOn Hukum Pidono lnternosionol (Pemlldron Awol Don Cotatan Untuk
()irenungkon}, 2008, Perkembangan Hukum Pidano Dalam fro Globalisasi, Perum
Percetakan Negara Rl, Jakarta, him. 66.
707 Romli Atmasasmita dalam Kejahotan Transnosioncil Don tnternosionol Serto lmplikosl
Terhodap Pendidikon Hukum Pidona Serta Kebijokon Hukum Pidana Dllndoneslo, Asoslasl
Pengajar Hukum Pidana Dan Krimlnologi Indonesia, 2008, Perkembongan Hukum Pidona ·
Dalam Era Globolisasi, Perum Percetakan Negara Rl, Jakarta, him. 42.
:; .314 · PRINSIP-PRINSIP'HUKUM PIOANA
.,' .
· ~· :.~:, .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
terjadi lintas batas negara dan dalam suatu waktu .tunduk pada dua
atau lebih yUrisdiksi negara. Artinya yurisdiksi negara mana yang akan
diberlakukan terhadap kejahatan tersebut, kita kembali kepada asas
tentorial dan perluasan atas asas teritorial apakah perluasan herdasarkan
prinsip tdmis yuridis, . perluasan berdasarkan kewarganegaraan
ataukah perluasan berdasarkan prinsip proteksi. Sementara perluasan
berdasarkan prinsip ·universal sudah barang tentu kejahatan tersebut
tidak l~gi kejahatan transnasional, tetapi sudah dikualifikasikan sebagai
kejahatan internasional708•
Dalam asas universal terkandung dua asas lainnya yang cukup
prinsipil yaitu asas aut dedere aut punere dan asas aut dedere autjudicare.
Asas aut dedere aut punere diciptakan oleh Hugo de Groot yang berarti
pelaku kejahatan internasional diadili menurut hukum tempat di mana
ia mdakukan kejahatan. Asas ini merujuk pada postulat debet quis
ju'ti subjacere ubi delinquit: pelaku kejahatan diadili oleh pengadilan
teinpat di mana ia melakukan kejahatannya. Dengan kata lain, pelaku
kejahatan internasional diadili sesuai dengan locU.s delicti. Sedangkan
asas aut ·de~ere aut judicare dikemukakan oleh Cherif Bassiouni yang
berarti setiap negara berkewajiban menuntut dan mengadili pelaku
kejahatan internasional serta berkewajiban melakukan kerjasama
dengan negara lain dalam rangka menahan, menun~t dan mengadili
pelaku kejahatan internasionaF09•
Sangat mungkin kejahatan yang terjadi di suatu negara menurut
hukum internasional dikualifikasikan sebagai kejahatan internasional,
padahal negara di mana terjadi kejahatan tersebut menurut hukum
nasionalnya bukan merupakan suatu kejahatan atau belum diatur oleh
hukum nasional negara yang bersangkutan. Jika terjadi demikian,
negara tersebut tidak dapat menuntut atau mengadili pelaku kejahatan
internasional tersebut, namun berkewajiban untuk melakukan
penahanan untuk kemudian dilakukan ekstradisi terhadap negara yang
Eddy o.s Hiarlej, [Link]., him. 48 . .
lila
m M. Cherif Bassiouni, [Link]., him. 8.
WAKTU DAN TEMPAT TERJAOINYA [Link] PIOANA 315
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
meminta sebagai wujud kerjasama dengan negara lain dalam rangka
menegakkan hukum pidana internasional. Di sinilah arti penting dari
asas aut dedere aut judicare710•
C. ·PRINSIP-PRINSIP EKSTRADISI
Ketentuan perihal ekstradisi biasanya diatur dalam undang-
undang masing-masing negara. Undang-undang tersebut kemudian
ditindaklanjuti dengan perjanjian bilateral antara satu negara dengan
negara lainnya. Namun dapat juga pelaksanaan ekstradisi dituangkan
dalam suatu perjanjian multirateral atau dalam perjanjian yang bersifat
regional seperti perjanjian ekstradisi Eropa. Dalam undang-undang
nasional atau perjanjian perihal ekstradisi, a5as-asas dari ekstradisi itu
sendiri tertuang secara eksplisit, namun ada juga asas-asas ekstradisi
yang tidak diamtumkan dalam undang-undang maupun perjanjian
terkait ekstradisF11•
Blacks Law Dictionary mendefinisikan ekstradisi sebagai, "The
official surrender of an alleged criminal by one state or nation to another
havingjurisdiction over the crime charged" 712 • Remmelinkmengartikan
ekstradisi sebagai penyerahan seorang tersangka atau terdakwa
atau terpidana oleh negara tempat di mana orang tersebrit berada
kepada negara lain yang hendak mengadili orang yang diminta atau
melaksanakan putusan pengadilan negara dari negara yang diminta713•
Sedangkan ekstradisi internasional adalah permintaan pemerintah
suatu negara terhadap negara lain714 •
Diterima atau ditolaknya suatu permintaan ekstradisi, tentunya
tidak terlepas dari prinsip-prinsip dalam ekstradisi. Secara keseluiuhan
ada sembilan prinsip ekstradisi Pertama. asas kepercayaan. EkStradisi
hanya akan terjadi jika adanya kepercayaan di antara negara-negara,
khususnya kepercayaan terhadap kelayakan sistem hukum di negara
710Eddy O.S Hiariej, [Link]., him. 26.
711
Ibid., him. 40-41.
1u Bryan A. Gamer, [Link]., him. 605
m Jan Remmelink, [Link]., him. 398.
m Bryan A. Gamer, [Link].
~;- ;,: · ..~ :
. i.
.-~
::i31ft:..
~~\·:_:-:~·t~
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
lain. Lazimnya asas ini berkaitan dengan pengandaian bahwa di luar
negeri pun semua hal telah dipertimbangkan dan ditetapkan secara
benar oleh lembaga peradilan. Asas kepercayaan ini dikenal dengan
adagium omnia prae$Umuntur rite esse acta715•
Dalam:_konteks hukum pida'na internasional, penyerahan pelaku
kejahatan dari suatu negara kepada negara lain tidak mesti berdasarkan
suatu perjanjian ekstradisi yang dibuat antara kedua negara tersebut,
namun lebih berdasarkan pada prinsip kepercayaan ·dan hubungan
baik [Link] kedua negara. Pemerintah Amerika pemah menyerahkan
Harnoko Dewantono alias Oki yang membunuh Gina Sutan Aswar
kepada Indones~a untuk dia4ili meskipun kita tidak mempunyai
perjanjian ekstradisi dengan Amerika716 dan locus delicti-nya terjadi di
Amerika. Harnoko Dewanto ·kemudian diadili di Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat dan dijatuhi pidana mati.
Kedua, · asas resiprositas atau prinsip timbal balik717• Asas
resiprositas dalam ekstradisi sama dengan pengertian asas resiprokal
. sebagai asas umum dalam hukum internasional. Jika suatu negara
menginginkan perlakuan yang baik dari negara lain, maka negara yang
bersangkutan juga harus memberi perlakuan yang baik terhadap negara
tersebut. Dalam konteks ekstradisi, jika kita mengharapkan negara lain
akan menyerahkan tersangka, terdakwa .atau terpida,e.a yang diminta
untuk diproses atau dieksekusi menurut hukum nasional negara kita,
maka harus ada jaminan yc,mg seimbang jika negara kita pada suatu saat
diminta oleh negara tersebut untuk menyerahkan tersangka, terdakwa
atau terpidana untuk diproses atau dieksekusi menurut hukum nasional
negara tersebuf18 •
Ketiga, asas double incrimination atau double Criminality principle
atau asas kejahatan rangkap. Asas ini merupakan salah satu asas
yang fundamental dalam ekstradisi bahwa perbuatan yang dilakukan
tersangka atau terdakwa, baik menurut hukum negara yang meminta,
m Jan Remmelink, [Link]., him. 401.
ns Eddy 0.5 Hiariej, 2011, Upaya Memulangkan Nunun, KOMPAS, 5 Juli 2011, him. 5.
717
Jan Remmellnk, [Link]. ·
711
Eddy 0.5 Hiariej, Pengantor Hukum Pidana /nternasional, [Link]., him. 41.
WAKTU DAN TEMPATTERJADINYA PERBUATAN PIOANA 317
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
maupun menurut hukum negara yang diminta dinyatakan sebagai
kejahatan. Tegasnya, perbuatan yang dilakukan tersangka atau terdakwa
menurut negara yang meminta dan negara yang diminta adalah suatu
tindak pidana719• Contoh: A adalah seorang pemilik klinik ilegal di
Jakarta, seringkali melakukan praktik. aborsi. Berdasarkan laporan
masyarakat, klinik ilegal tersebut digeledah oleh polisi. Si A sebagai
pemilik klinik kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Bel urn sempat
ditangkap, A kemudian melarikan diri ke Swedia. Pemerintah Indonesia
tidak dapat meminta Pemerintah Swedia untuk mengekstradisi A
karena aborsi menurut hukum nasional Swedia, bukanlah perbuatan
pidana. Artinya, prinsip kejahatan -rangkap ini tidak terpenuhi. Double
criminality principle ini dikecualikan oleh ~sas aut dedere aut judicare
sebagaimana diutarakan di atas
Keempat, asas tidak menyerahkan warga negaranya sendiri.
Artinya, jika te:r)angka, terdakwa atau terpidana yang diminta adalah
warga negara dari negara yang diminta, maka negara yang diminta
berhak untuk tidak menyerahkan warga negaranya kepada negara yang
meminta. Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai martabat
bangsa atau dalam -hukum Perancis dikenal dengan istilah dignite'
nationalf120. llustraslnya, X Warga Negara A melakukan pembunuhan
terhadap Y di negara B. Setelah melakukan pembunuhan, X melarikan
diri ke negara asalnya yakni negara A. Pemerintali Negara B kemudian
meminta kepada Pemerintah Negara A agar X diekstradisi. Permintaan
Pemeriritah Negara B berhak ditolak oleh Pemerintah Negara A karena
X adalah Warga Negara A.
Kelima, asas bahwa suatu kejahatan yang seluruhnya atau sebagian
di wilayahnya terma8uk dalam yurisdiksi negara yang diminta, maka
negara tersebut dapat menolak permintaan ekstradisim. bengan
kata lain, negara berhak menolak ekstradisi jika tersangka, terdakwa
· 719 Danl Krlsnawatl, Eddy.O.S Hiariej, Marcu9 Priyo Gunarto, Sigid Riyanto dan Suprlyadi,
[Link]., him. 28.
· 720 [Link]., Uhat juga dalam Jan Remmelink, [Link]., him. 402.
m · Dani Krisnawati, Eddy O.S Hlariej, Marcus Priyo Gunarto, Sigid Riyanto dan Supriyadi., Loc.
Cit.
,''< '-:~·= ·.!":~ ·
-. i;3lSY PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
:·::-~\~~~-~~;:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~- ·
atau terpidana melakukan kejahatan seluruhnya atau seb~an di
wilayah tentorial negaranya. Seperti ilustrasi yang . telah. diutarakan
dalam perluasan ascis teritorial prinsip teknis: A berada di Nunukan,
Kalimantan Timur menembak B yang sedang berada di wilayah
· teritorial Malaysia dan mati seketika. Pemerintah Malaysia kemudian
meminta Pemerintah Indonesia agar A diekstradisi. Pemerintah
Indonesia dapat menolak permintaan ekstradisi terhadap A karena .
perbuatan pidana tersebut .dimulai dari wilayah tentorial Indonesia.
Keenam, asas yang menyatakan babwa jika yang diminta adalah
tersangka, terdakwa atau terpidana yang dianggap melakukan kejahatan
politik di negaranya, maka permintaan ekstradisi itu ditolak. Hal ini
berkaitan dengan suaka . politik yang berhak diberikan oleh suatu
negara kepada seseorang. Dalam konteks hukum pidana yang berlaku
universal, memang terdapat perbedaan-perbedaan terkait kejahatan
politik. Perbuatafi· tertentu di suatu negara dapat dianggap sebagai
kejahatan politik, nam\m belum tentu di negara lain menganggap
perbuatan yang demikian sebagai kejahatan politik.
Ketujuh, asas yang dikenal dengan istilah attentaatclausule. Asas
tersebutmengandung arti meskipun pelakukejahatan bermuatan politik
namun berkaitan dengan pembunuhan atau percobaan pembunuhan
terhadap kepala negara, presiden, raja atau sebutan lainnya, maka
negara yang diminta wajib menyerahkan atau mengekSb-adisi tersangka,
terdakwa atau terpidana722 • Hal ini berkaitan dengan prinsip proteksi
yang dimiliki secara universal oleh bangsa-bangsa di dunia. Bahwa jika
suatu perbuatan pidana bertalian dengan kepala negara, presiden atau
raja, maka negara yang bersangkutan berhak mengadili pelakunya.
Kedelapan, asas spesialitas. Asas ini berarti bahwa negara
yang meminta tidak boleh menuntut, mengadili, menghukum atau
menyerahkan orang yang diminta kepada negara ketiga. Hal ini
dapat disimpangi hanya atas persetujuan dari negara yang diminta.
Spesialitas yang lain, jika seseorang yang diminta untuk diekstradisi
karena melakukan perbuatan pidana X, maka dia hanya dapat diadili
m Ibid., him. 29.
WAKTU DAN TEMPATTERJADINYA PERBUATAN PIDANA 319
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
atas perbuatan pidana X yang dilakukan dan tidak untuk perbuatan
pidana lainnya. Biasanya dalam permintaan ekstradisi selain identitas
disebutkan, juga uraian singkat mengenai perbuatan pidana yang
dilakukan.
Kesembilan, asas yang menyatakan ancaman pidana mati sebagai
halangan untuk penyerahan723 • Jika suatu kejahatan berdasarkan hukum
negara yang meminta diancarn dengan pidana mati, maka negara yang
diminta dapat menolak permintaan ekstradisi jika kejahatan tersebut
menurut negara yang diminta tidak diancam dengan pidana mati atau
negara yang diminta sudah menghapuskan pidana mati. Penyerahan
hanya dapat dilakukan jika ada jaminan dari negara yang meminta
bahwa orang dimintakan untuk diekstradisi ~idak akan dijatuhi pidaria
mati.
'"
m Jan Remmelink, [Link]., him. 403 - 404.
: O:j2h~ PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
- ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
PERCOBAAN
DAN PENYERTAAN
Het artikel geeft geen uitbreiding aan de delictsomschrijving,
het Levert dus geen tatbestandsausdehnungsgrund.
Evenmin geeft het, zoals wel-de art. 47 en 48 Sr.,
uitbreiding aan de kring der personen die voor het delict
strafrechtelijk aansprakelijk zijn. Het geeft niet anders
dan een strafausdehnungsgrund; het bepaalt dat de in een
delictsbepaling gestelde straf ook toepasselijk is op de dader,
die in de voltooing van het misdrUf niet geslaagd724 •
124
J.M. van Bemmelen En W.F C. van Hattur!l, [Link]., h!m. 477-
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,
· ' •'
endapat van Bemmelen dan Van llatt1uD sebagaimana dikutip
P pada awal bab irii, pada intinya menyatakan ~ahwa pasal tentang
percobaan tidak dimaksudkan untuk mengadakan perluasan
pada rumusan delik. Artinya. pasal tentang percobaan bukanlah suatu
tatbestandsausdehnungsgrund. Sarna seperti Pasa1 55 dan 56 KUHP
(Pasal47 dan PaSal48 WvS) juga tidak niemperluas orang-orang yang
bertanggung jawab terhadap delik tersebut Pasal percobaan hanya
memberikan suatu strafausdehnungsgrwu:4 yaitu bahwa pidana yang
ditentukan dalam nimusan delik, juga dapat dikenakan pada pelaku
yang tidak berhasil [Link] menyelesaikan kejahatan tersebut.
Pada babini, selain percobaan dan penyertaan juga dibahas perihal
. pembantuan. Subbab percobaan terdiri dari unsur-unsur percobaan
yang meliputi niat (voornemen). permulaan pelaksanaan (begin van
uitvoering). tidak selesainya perbuatan bukan karena kehendak sendiri,
bentuk-bentuk percobaan serta percobaan mampu dan percobaan tidak
mampu. Sedangkan subbab penyertaan mencakup plegwn (melakukan),
doenplegen (menyuruh lakukan), medeplegen (turut serta melakukan),
dan uitlokking(menggerakkan atau membujuk). Akhir dari subbab ini
akan dibahas beberapa hal terkait delik penyertaan. ·
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 323
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. PERCOBAAN
Percobaan da1am KUHP diatur pada Pasa1 53 ayat (1) sampai
dengan ayat (4) qan Pasal 54. Perihal apa yar1g dimaksud dengan
percobaan, Pasal53 ayat (1) [Link] sebagai berikut, "Mencoba
melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari
adanya permulaan pelaksanaan dan tidak selesainya pelaksanaan
itu, bukan semata-mata disebabkan kehendaknya sendiri': Sebelum
mengulas lebih lanjut mengenai unsur-unsur yang tekandung dalam
percobaan, ada dua hal mendasar yang selalu diperdebatkan oleh para
ahli hukum pidana. Pertamil, bertalian dengan apakah percobaan
merupalcan delik yang tidak berdiri sendiri [Link] delik yang berdiri
sendiri. Kedua, berkaitan dengan dasar patut dipidananya percobaan.
Terhadap yang PERTAMA, apakah percobaan merupakan
delik yang tidak berdiri sendiri ataukah delik yang berdiri sendiri,
Hazewinkd Sdringa berpendapat sebagai berikut:
"Het feit, dat de strafbaar heid van de poging meet een derde
is verlaagd, zou de gedachte kunnen wekr..en, dat in haar een
strafverlichttende omstandigheid · moet worden gezien. Dit zou
ecther daarom niet juist zijn, omdat deze opvatting een vooltooid
delict veronderstelt, in concreto gepleegd · onder ·verzachtende
omstandigheden. De poging daarentegen is .geen voltooid delict;
zij dankt haar strafbaarheid daaraan, dat de_ wetgever naast de
algehele verwezenlijking der delictsinhouden soms ook aan de
gedeeltelijke. een sanctie heeft gehecht. De poging breidt dan ook de
delictsomschrijvingen niet uit, maar enkel de strafbaarheid'25"
(Perbuatan yang dapat dipidana, dalam percobaan dikurangi
dengan sepertiga, menimbulkan kesan bahwa pengurangan itu
karena ada alasan yang meringankan. Pendapat yang dt;mikian
tidak benar karena orang menganggap adanya suatu delik
selesai, namun dilakukan dalam keadaan yang meringankan.
Sesungguhnya percobaan itu bukan merupakan. delik · selesai.
Orang dapat dipidana disebabkan pembuat undang-undang, di
samping mengadakan sanksi terhadap orang yang [Link]
ns Hazewinkel Suri~, [Link], him. 206. .
"!
324 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
I
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
seluruh isi rum us an delik. terkadangjuga diadakan sanksi terhadap
. yang mewujudkan sebagian dari isi rumusan tadi. P~rcobaan
itu oleh karenanya tidak memperluas jumlahnya rumusan delik,
tetapi hanya memperluas dapat dipidananya orang saja).
Pendapat Hazewinkel Suriitga adalah pendapat ahli hUkum
pidana Belanda pada umumnya. Pendapat ini memandang percobaan
sebagai strafausdehnungsgrund atau strafuitbreidingungsrond atau
dasar memperluas dapat dipidananya orang. Percobaan adalah untuk
memperluas dapat dipidananya orang dan tidak memperluas rumusan
delik. Percobaan tidak dipandang sebagai delictum sui generis atau
delik yang berdiri sendiri, melainkan dipandang sebagai delik yang
tidak sempuma (onvolkomen delictsvorm). Hal ini berbeda dengan
pendapat Moeljatno yang menyatakan bahwa percobaan adalah delik
selesai dan berdiri sendiri. Percobaan dipandang sebagai tatbestand-
ausdehnungsgrundataudasarmemperluasdapatdipidananyaperbuatan.
Dengan demikian percobaan merupakan delictum sui generis atau delik
yang berdiri sendiri atau delik selesai namun bentuknya istimewa726•
Ad<! tiga alasan yang mendasari pendapat Moeljatno.
Pertama, bertalian ·dengan sistem hukum pidana di Indonesia yang
menurut Moeljatno harus dipisahkan antara perbuatan pidana dan
pertanggungjawaban pidana. Tidak mungkin ada pertanggungjawaban
· pidana kalau orang tidak melakukan perbuatan pidan~ terlebih dahulu.
Seseorang mungkin dipidana jika telah melak~an perbuatan yang
dilaiang dan diancarn pidana. Kedua, beberapa perbuatan percobaan
dalam KUHP dirumuskan sebagai delik selesai dan berdiri sendiri,
seperti Pasal 104, Pasal 106 dan Pasal 107 yang berkaitan dengan
makar. Ketiga, dalam hukum adat tidak dikenal delik yang dirumuskan
sebagai percobaan. Perbuatan-perbuatan yang jelas merupakan bagian
dari pelaksanaan tertentu diberi kualifikasi sendiri dan tidak dipandang
sebagai percobaan dari kejahatan tertentu. Karni sebagaimana yang
726
Nyoman Serikat Putrajaya, 2014, Percobaan, Penyertaan Dan Perbarengan Dalam Hukum
Pidana, Makalah Pada Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi yang diselenggarakan
atas kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan Masyarakat Hukum
Pidana f)an Kriminologi Indonesia, Yogyakarta, 23- 27 Februari 2014, him. 2- 3.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 325
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dikutip Moeljatno memberi contoh putusan pengadilan adat eli
Palembang. Seorang laki-laki yang telah memegang badan gaelis
dengan maks~d untuk bersetubuh secara paksa, tidak dihukum karena
percobaan perbuatan dengan paksa untuk bersetubuh tetapi karena
"menahgkap badan gadis"727• ,
Penulis sendiri berpendapat, di satu sisi, percobaan adalah delik
yang tidak selesai dan bukan merupakan delik mandiri, namun eli
sisi lain, percobaan adalah dasar memperluas dapat elipidananya
perbuatan. Artinya, apakah percobaan merupakan delik yang tidak
selesai dan bukan delik mandiri, Penulis sependapat dengan Suringa
dan ahli hukum pidana Belanda pada umumnya, namun perbedaannya,
menurut Penulis, percobaan bukanlah memperluas dapat dipidananya
pembuat. Percobaan adalah alasan memperluas dapat dipidananya
perbuatan -sebagaimana menurut Moeljatno- hanya saja menurut
Penulis, percobaan merupakan delik yang tidak selesai dan bukan delik
mandiri.
Argumentasi Penulis yang demikian elidasarkan: Pertama,
ada postulat yang menyatakan, conatus quid sit non definitur in jure.
Artinya, "percobaan" tidak didefinisikan oleh hukum. Postulat tersebut
mengandung kedalaman makna bahwa percobaan bukanlah sesuatu
yang berdiri sendiri, namun mengikuti kejahatan pokoknya . Kedua,
bah tentang percobaan dalam KUHP terletak ·pada · Buku Kesatu
mengepai ket~tuan-ketentuan umum dan bukan pada Buku Kedua
KUHP yang berisi teritang kejahatan-kejahatan. Artinya, percobaan
bukanlah delictum sui generis. Ketiga, dalam dakwaan fuaupun tuntutan
penuntut umum, pasal tentang percobaan tidak mungkin berdiri ·
sendiri tetapidi-juncto-kan dengan pasal-pasaltentang kejahatan yang
terdapat dalam buku ·kedua KUHP. Artinya, percobaan adalah dasar
memperluas dapat dipidananya perbuatan.
Keempat, . dalam beberapa undang-undang pidana di luar
kodifikasi -seperti undang-undang pemberantasan [Link] pidana
m Moeljatno, 198S, Hukum Pidana Delik-Delik Percobaan Delik-Dellk Penyertoan, PT. Blna
Aksara, Jakarta, him.
11-12.
·t 32«-'·. PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
~--· .:.,._.· ..
.t
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
korupsi, undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme
dan undang-undang narkotika- percobaan melakukan kejahatart-
kejahatan dalam undang-undang tersebut dianggap sama dengan
melakukan kejahatan-kejahatan itu. Artinya, pembentuk undang-
undang .secara _implisit mengakui bahwa percobaan bukanlah delik
selesai dan percobaan sebagai dasar ·memperluas dapat dipidananya
perbuatan. Kelima, maksimurn pidana yang dapat dijatuhkan terhadap
percobaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 _ayat (2) KUHP .
adalah konsekuensi logis dari delik yang tidak selesai. Dalam konteks .
delik formil, delik yang tidak selesai berarti perbuatan tersebut belum
memenuhi rumusan delik secara utuh, sedangkan dalam delik materiil,
delik yang tidak selesai mungkin perbuatan tersebut belum selesai atau
akibat dari tindakan atau kelakukan yang dilarang tidak terwujud
Selanjutnya terhadap pendapat Moeljatno yang menyatakan
bahwa percobaan [Link] delik selesai dan berdiri sendiri, tanggapan
Penulis adalah .sebagai berikut: Pertama, mengenai delik percobaan
apakah delik berdiri sendiri ataukah tidak, sama sekali tidak berkaitan
dengan pandangan dualistis yang memisahkan perbuatan pidana dan
pertanggungjciwaban pidana. Kedua, terkait delik-delik makar. Salah
satu adagium terkait delik makar menyatakan felo!'ia implicatur in
quolibet proditione. Artinya, perbuatan makar termasuk tindak pidana
yang tergolong berat. Oleh karena itu, m~ bukanlah (lelik percobaan
yang dirumuskan sebagai · delik selesai atau delik berdiri sendiri,
melainkan delik makar dirumuskan demikian karena bertalian dengan
keamanan negara yang menyangkut keselamatan presiden dan wakil
presiden, rongrongan terhadap pemerintahan yang sah dan kedaulatan
negara.
Crimen laesae tnagestatis omnia alia criminal excedit quoad
poenam: tindakan makar dihukum dengan hukuman . terberat
dibandingkan dengan kejahatan lain. Hal ini membawa konsekuensi
dalam delik makar, permufakatan jahat untuk melakukan delik makar
dianggap sama dengan melakukan perbuatan tersebut. Demikian
juga dalam konteks penyertaan, semua orang yang terlibat tanpa
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 327
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
memisahkan antara pelaku peserta da~ pelaku pembantu, semuanya
mendapatkan hukuman yang sama. In alta proditione nullus potest esse
accessorius sed prindpalis solummodo: dalam makar, tidak ada istllah
pelaku pembantu, semuanya adalah pelaku utama.
Dalam naskah aslinya, di bawah titel IX (Bab IX) tentang
Beteekenis Van Sommige in het Wetboek Voorkomende Uitdrukkingen
(arti beberapa sebutan dalam kitab undang-undang ini), Artikel 87
(Pasal 87) berbunyi: i\anslag tot een feit bestaat zoodra het voornemen
des daders zich door een begin van uitvoering, in dez zin van artikel
53, heeft geopenbaard" (Dikatakan ada makar untuk melakukan suatu
perhuatan, apabila niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan
pelaksanaan, seperti dimaksud dalam Pasal 53). Dari pasal tersebut
jelas terlihat bahwa kata yang diterjemahkan oleh penerjemah KUHP
sebagai makar ialah kata "aanslag".
Kata "aatt~Slag" dalam kamus Belanda-Inggris (tweede Deel
Nederlands-Engels) yang ditulis awal oleh A. Boers, Den Haag 1933,
diterjemahkan sebagai attempt, sedangkan dalam karitus ·Inggris-
Indonesia kata attempt diartikan sebagai percobaan atau usaha. Jika
demikian, kiranya ada kekeliruan penerjemahan kata aanslag d~
Wetboek van Strafrecht. Oleh karena sulit m~ncari padanan kata unt"!lk
menggantikan kata "aanslag", lalu digunakan 4ta makar, · padahal
pengertian aanslag yang sebenarnya adalah tindakan awal suatu
. perbuatan728• Pengertian makar sebagaimana yang terdapat dalam Pasal
87 KUHP dihubungkari dengan pasal 53 adalah untuk memberikan
parameter yang sama terkait unsUJ" niat dan unsur permulaan
pelaksanaan yang terdapat dalam Pasal53 dan Pasal 87 KUHP.
Ketiga, bahl_'Va di dalam delik adat tidak dikenal delik percobaan
adalah kareria sistem hukum adat hanya mengenal hal-hal yang bersifat
konkret. Dengan demikian seorang lelaki secara paksa memegang
badan gadis dengan maksud untuk bersetubuh, tidak dipidana karena
~ .· . ' . .
m .Eddy O.S Hiarlej, 2000, Pemyatoon Papua Merdeku Dan Makar, BERNAS, Kamis 8 Junl
2000, him. 4. ·
.,- -S2fF
.
.-: .
. ·;:···:.
·.~ :~~- ~.~
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
·~ .
percobaan pemerkosaan, tetapi dipidana karena memegang badan
gadis secara paksa sesuai dengan hal yang konkret terjadl.
Perihal KEDUA berkaitan dengan dasar atau patut dipidananya
percobaan terdapat tiga teori, m~ing-masing teori subjektif, teori
objektif dan teori campuran729• Perlama, teori [Link] menyatakan
bahwa patut dipidananya percobaan adalah karena sifat berbahayanya
pelaku. Penganut teori ini adalah van Hamel yang secara tegas
menyat3:kan: .
"Mij schijnt. in thesi generali, daargelaten n.l. wat blijkbaar het stelsel
van een bepaalde wetgeving is. de subjectieve opvatting de juiste.
niet alleen omdat zij mij voorkomt geheel te liggen in de lijn der
nieuwere strafrechtsleer, die de criminaliteit wil betreden zien juist
in haren oorsprong. bij den misdadigen mensCh........ maar omdat
bij strafbaarstell(ng naar een algemeene formule - en daarmee
.· hebben wij bij poging te doen - het opzet het eenige is dat houvast
•geeft; omdat het opzet bij een daad van poging verder strekt dan het
gevaar "dat op een gegeven oogenblik veroorzaakt wordt doch ook
weer voorbijgaat; en omdat juist wegens dat opzet ook handelingen
van den dader gevaarlijk worden. die het 'op zich zelfbeschouwd en
buiten verband met aUe mogelijk nader intredende omstandigheden.,
niet zouden zijn. Wordt met het opzet om te dooden een born gelegd, .
dan kan die handeling zeker ook op zich zelve gevaarlijk heeten;
maar wanneer met het opzet om te dooden een pi!to~ stel met niet
onvergehaalde haan. wordt aangelegd dan is die handeling aileen
gevaarlijk omdat zij een handeling van den dader en door bedoeld
opzet beheerscht ;sno'"
(Hemat saya, aliran subjektiflah yang benar. Bukan saja karena
aliran ini sesuai dengan ajaran hukum pidana yang lebih
baru yang bertujuan memberantas kejahatan sampai pada
akarnya, yaitu manusia yang berwatak jahat...... akan tetapi juga
karena dalam mengenakan pidana menurut rumusan umum,
sebagaimana halnya dalam percobaan, unsur kesengajaan itulah
unsur satu-satunya yang memberi pegangan pada kita. Oleh
karena kesengajaan dalam perbuatan percobaan adalah lebih jauh
729
Nyoman Serikat Putrajaya, [Link], him. 3- 4:
73l) G.A. van Hamel, [Link]., him. 420.
[Link] PENYERTAAN .329
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
arahnya daripada bahaya yang ditimbulkan pada satu ketika tapi
kemudian menjadi hilang. Demikian pula justru dengan adanya
kesengajaan itu perbuatan dipandang tersendiri dan terlepas dari
hal ikhwal yang mungkin akan timbul sama sekali tidak bersifat
berbahaya. Sebagai contoh, apabila dengan kesengajaan untuk
.membunuh orang mengarahkan senapan kepada sasaran, padahal
pelatuk senapan tidak terpasang, maka perbuatan tersebut hanya
bersifat .berbahaya karena perbuatan dilal.'llkan oleh orang yang
mempunyai kesengajaan tadi. Oleh karena itu jika ditinjau dari
niat si pelaku, dikatakan ad~ perbuatan pelaksanaan, kalau dari
apa yang telah dilakukan, sudah ternyata kepastiannya iliat untuk
melakukan kejahatan tadi) 731 •
Kedua adalah teori objektif yang dikemukakan oleh Simons,
Duynstee dan Zevenbergen. Menurut inereka, patut dipidananya
percobaan adalah karena sifat berbahayanya perbuatan terhadap
masyarakat. ~imons menyatakan bahwa hukum pidana adalah untuk
melindungi kepentingan-kepentingan jndividu dan negara. Artinya,
kepentingan-kepentingan tersebut tidak hanya boleh dilanggar, namun
juga jangan sampai terancam. Delik percobaan adalah membahayakan
kepentingan tersebut. Oleh karena itu, patut dipidananya percobaan
adalah perbuatan yang secara objektif membahayakan kepentingan-
kepentingan yang harus dilindungi732• _. ·
·Teori objektif ini dibagi menjadi teori objektif formil dan teori
objektif materiil .Menurut teori objektif formil, patut dipidananya
percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan terhadap tata
hukum. Sedangkan teori objektif materiil menyataiwt bahwa patut
dipidananya percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan
terhadap kepentingan hukum733• Kendatipun Duynstee menganut teori
objektif, namun ·menurutnya patut dipidananya percobaan tidak pada
· sifat berbahayanya perbuatan tetapi perbuatan tersebut bertentangan
dengan tata hukum734•
711 Bandinglcan dengan Moeljatno, Hukum Pldan'a, [Link]., him. 22.
712 D. Simons, [Link]. him. 165. Bandlngkan dengan Moeljatno, [Link]., him. 23.
m . D. Simons, [Link]. hlm.166. Bandingkan dengan Nyoman Serikat Putrajaya, [Link]., him. 4.
m Moeljatno, [Link]., him. 24. ·
. 330 [Link] HUKUM PIDANA
·~·
"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· ..·- ·,., ... · .. . .· . :f.'": ..
i....
· Ketlga adalah teori campuran yang menyatakan bahwa patut
dipidananya ·percobaan terletak ·pada sifat ber~_ahayanya· pelaku dan
sifat berbahayanya perbuatan-terhadap masyarakat. Sifat berbahayanya
pelaku ditandai dengan niat untuk melakukan kejahatan tertentu.
Sementara sifat bahayanya perbuatan dimutai dengan permulaan
pelaksanaan namun tidak sampai selesai pada delik yang dituju73s.
Selain Moeljatno dan van Bemmelen, pengalfut teori campuran ini
juga aslalah Jolikers736• Menurut Jonkers, teori subjektif terletak pada.
subjek berupa kesengajaan dar~ pelaku, sedangkan teori objektif pada
objek berupa perbuatan dari pelaku ("De subjectieve-leer legt den
nadruk op het subject, de inten-tie van het individu, de objectieve leer op
het object, op de handeling, die dader heeft verichf37 .,) -
- Pendapat Pe~ulis terkait dengan dasar atau alasan dapat
dipidananya percobaan ~dalah sama dengan pendapat Simons yang
menggunakan teori objektif. Artinya, patut dipidananya percobaan
adalah karena sifat berbahayanya perbuatan. Hal ini konsisten dengan
· pendapat Penulis bahwa percobaan bukanlah delik selesai dan bukan
delik mandiri, namun dasar dipidananya percobaan adalah karena
sifat bahayanya perbuatan dan bukan sifat bahayanya pelaku. Patut
dipidananya percobaan bukan karena percobaan-sebagai delik selesai,
tetapi karena sifat berbahayanya perbuatan sehlngga perbuatan
tersebut patut dipidana ~eskipun belum selesat atau tidak sempurna
menimbulkan akibat yang dimaksud.
Pasal 53 ayat (2) KUHP menyatakan, "'Maksimum pidana pokok
terhadap kejahatan, .dalam hal percobaan dapat dikurangi sepertiga'~
Pendapat Penulis, ketentuan ayat (2) pasal a quo adalah semakin
mempertegas percobaan sebagai delik yang tidak sempurna dan sifat
bahayanya suatu perbuatan sehingga dalam kedaaan yang demikian
pidana yang akan dijatuhkan dapat dikurangi sepertiga. Sebagai
misal, Pasal 285 KUHP berbunyi, "Barangsiapa dengan kekerasan
115
Nyoman Serikat Putrajaya, [Link].
736
Moeljatno, [Link]., him. 40.
m J.E. Jonkers, [Link]., him. 97.
PERCOBMI'rDAN PENYERTAAN 331
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan
dia di luar pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun". Dengan demikian, pi dana
maksimum yang dapat dijatuhkan terhadap percobaan pemerkosaan
adalah sembilan tahun.
Pasal 53 ayat (3) KUHP menyatakan, "]ika kejahatan diancam
dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan
pidana penjara paling lama lima belas tahun': Sedangkan ayat (4} Pasal
53 berbunyi, "Pidana tambahan bagi percobaan adalah sam a dengan
kejahatan selesai". Ketentuan ayat (4) ini memperkuat argumentasi
bahwa percobaan bukanlah delik selesai, melainkan delik yang tidak
sempurna atau delik yang tidak berdiri s·endiri. Pasal 54 KUHP
menyebutkan, "Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana".
Ketentuan Pasa\..54 ini semakin mempertegas bahwa patut dapat
dipidananya percobaan adalah sifat berbahayanya perbuatan. Oleh
karena pelanggaran dianggap sebagai perbuatan yang lebih ringan dari
kejahatan, maka percobaan melakukan pelanggaran tidak dipidana.
1) Unsur-Unsur Percobaan
Pasal 53 KUHP mengatur "Mencoba melakukan kejahatan
dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari_ adanya permula(m
pelaksanaan dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-
mata disebabkan kehendaknya sendiri". Berdasarkan konstruksi pasal
tersebut, paling tidak ada tiga unsur percobaan. Pertama, unsur niat.
Kedua, wisur permulaan pelaksanaa~. Ketiga, unsur tidak selesainya
pelaksanaan itu, bulci.n semata-mata disebabkan kehendaknya sendiri.
Masing-masing unsur diulas sebagai berikut:
a. Niat
Voornemen atau yang diterjemahkan sebagai niat adalah unsur
yang bersifat subjektif dalam percobaan. Apakah yang diniaksu<;lkan
dengan
'
niat, terdapat perbedaan · pendapat di antara ·. para ahli
hukum pidana. Hazewinkel Suringa berpendapat bahwa niat adalah
kesengajaan. Lebih jelas dikatakan oleh Suringa:
·j . .:, ·: -.~-. -~-:· .
.~ . .: :S32 : PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~- ·
•voornemen . toch is niet meer dan een plan om in bepaalde
omstandigheden, welke men zich nog slechts ·voorstelt, zus of zo
te handelen. Ben dergelijk plan za~ behalve datgene. waarom het
tedoen is, ook bevatten voorsteliingen omternt de wijze waarop het
te volvoeren is, .van nevengevolgen, die men niet begeert, maar die
men ervan kan verwachten, e.tfl38". .
(Niat adalah tidak lel>ih dari satu rencana untuk mengadakan
· perbuatan tertentu dalam .keadaan yang tertentu ·pula di · dalam
· [Link] rencana itu, keruali mengandung apa yang
dimaksud, juga mengandup.g gambaran tentang bagaimana akan
dilaksanakannya, dan tentang akibat-akibat tambahan yang tidak
diinginkan tapi yang dapat diperkirakan akan terjadi pula). -
Demikian juga menurut van Bemmelen dan van Hattuln yang
menyatakan, "Simons, van Hamel. Zevenbergen en Pompe nemen dat
voornemen geheel gelijk staat mer opzet, zodat van een ·voomemen des
daders kan worden gesproken wanneer de dader opzet hat zoals door de
delictsomschrijvinggevorderd. Daartegen neemt Vos aan dat voornemen .
moet wor_den opgevat in de betekenis van opzet als oogmerk739 ~ (Simons,
van Hamel,' Zevenbergen dan Pompe berpendapat bahwa niat sama
dengan sengaja, sehingga orang hanya dapat berbicara mengenai suatu
maksud seorang pelaku, jika pelaku tersebut sengaja sebagaimana yang
telah disyaratkan dalam rumusan delik yang bersangku~. Berlawanan
dengan Vos740 yang menyatakan bahwa niat diartikan kesengajaan
sebagai maksud)
Pendapat lengkap Simons mengeitai niat merupakan kesengajaan
adalah sebagai berikut:
"Het voornemen, waarvan art. 45 spreekt, heeft geene andere
betekenis dan uitgedrukt zou zijn door het woord opzet. Vereischte
is dus, dat de dader het opzet hebbe gehad om een feit te plegen, dat
bij de wet strafbaar is gesteld. Wanneer dit opzet geacht kan worden
aanwezig te zijn, hangt af van de algemeene beteekenis, welke zal
731
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 212
m J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 491-492.
740
H.B Vos, [Link]., him. 178.
PERCOBAAN OAN PENYERTAAN 333
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
moeten worden toegekend aan het begrip van opzet, en van de
bijzondere vereischten, welke te dien aanzien voor ieder strajbaar
feit moeten worden gesteld'41 ':
(Niat tidak punya pengertian lain, selain perkataan itu disebut
sebagai sengaja. Dengan demikian ada persyaratan bahwa pelaku
haruslah bertindak dengan sengaja. Jika sengaja dianggap harus
ada, hal tersebut tergantung pada pengertian yang bersifat umum
yang harus diberikan kepada pengertian sengaja itu sendiri
dan tergantung pada syarat-syarat tertentu yang menentukan
pengertian yang harus diberikan kepada sengaja tersebut pada
tiap-tiap perbuatan yang dapat dipidana)
van Hamel yang juga berpendapat bahwa niat sama dengan
kesengajaan menyatakan:
"Uit de omschrijving van poging volgt, dat het opzet in elke
schakeering en elke bepaaldheid waarin het bij voltooid delikt aan
het begrip opzet voldoet, ook voldoende is voor poging. 't Verschil
immers ligt aleen in de niet voltooiing. Dat de wetgever dit opzet
aanduidt als voornemen toegelicht als de geopenbaarde wil om een
bepaald feit dat de wet als misdrijfstrajbaar stelt, te plegen - wordt
verklaard door zijn aan de wilstheorie ontleende terminologie en
hierdoor dat bij poging in den regel aleen het opzd als oogmerk
bewijsbaar zal zijn742"
(Dari rumusan mengenai ·percobaan dapat kita ketahui bahwa
sengaja di dalam segala kaitannya dan dalam setiap ketentuan pada
delik yang selesai itu telah meinenuhi pengertian sengaja, haruslah
pula dianggap pada percobaan, ·oleh karena ·letak perbedaan
sebenarnya hanyalah terdapat pada tidak selesainya perbuatan.
Mengenai kenyataan bahwa pembentuk undang-undang telah
menyebut sengaja sebagai suatu niat yang telah diartikan sebagai
maksud yang telah diwujudkan secara nyata untuk nielakukan
suatu tindak pidana tertentu yang oleh undang-undang telah
dinyatakan suatu kejahatan -,. karena telah . menggunakan
suatu ·istilah yang berasal dari .teori pengetah~. maka orang
741
D. Simons, [Link]., hlm.167.
74Z G.A. van Hamel, [Link]., him. 426-427•
"'!
..334 · PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
I .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
berpendapat seolah-olah pada percobaan, ~sengaja itu menurut
ketentuan diartikan semata-mata sengaja sebagai maksud saja).
Berikut adalah pendapat Pompe mengenai ·mat, • Ben voornemen
. is gericht op willens en wetens, d~ opzettelijk, handelen. Voornemen en
opzet staan dus in nauwe btrekking tot elkaar. Toch ·is voornemen niet
slechts mogelijk bij opzettelijke misdrijven, maar soms ookbij culpoze, nL
Bij die, welke volgens de wettelijke omschrijving 1Jll9Sf de onachtzaamheid
ook opzet eisen743 .. (Suatu niat ditujukait pada menghendaki dan
mengetahui sehingga itu berarti bertindak dengan sengaja Dengan
demikian, maka antara niat dengan sengaja terdapat suatu hubungan
yang erat antara·satu dengan yang lain. Akan tetapi niat tidak hanya
dapat ditujukan terhadap kejahatan-kejahatan yang dapat dilakukan
dengan sengaja saja, melainkan terkadang ia .juga dapat ditujukan
te,rhadap kejahatan-kejahatan yang dapat dilakukan dengan .tidak
sengaja, khususnya pada' kejahatan-kejahatan yang menurut rumusan
undang-undang kekuranghati-hatian juga unsu£sengaja)
Masih menurut Pompe:
"Als staan voorn_emtm· en opzet in nauw verband tot elkaar, toch
is er verschiL..... Opzettelijk handelen is immers handelen met de
wll om te handelen. Als men evenwel het voornemen heeft om te
handelen. staat het nog niet vast. dg,t men werkelijk de wil heeft om
te handelen..... Daar voor strajbaarheid va~ par;ng in ieder geval
vereist is, dat de wil voldoende gebleken is. -kan men reeds om het
bovenstaande begrijpen, -dat voor strajbare·poging het blijken van
het voornemen niet voldoende wordt geacht. Onder dit voorbehoud
is overigens voornemen gelijk te stellen met opzet. Beperking tot
oogmerk in engere zin is niet gerechtvaardigd1"""
(Walaupun terdapat hubungan [Link] erat antara niat dengan
sengaja, namun sebenarnya juga terdapat suatu perbedaan.....
Perbuatan dengan kesengajaan itu pada hakikatnya berarti
perbuatan dengari maksud untuk bertindak. Jika sekarang orang
mempunyai niat untuk. bertindak, maka belum berarti bahwa ia
743
W.P1 Pompe, [Link]., him. 206.
744 Ibid, him. 207.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 335
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
benar-benar mempunyai kehendak untuk melakukan sesuatu ....
Oleh karena ternyata bahwa untuk dapat dipidananya seseorang
yang telah melak~n suatu percobaan itu telah disyaratkan bahwa
adanya suatu kehendak itu dianggap sebagai telah mencukupi
syarat, maka berdasarkan apa yang telah dibicarakan di atas,
kiranya orang dapat menyadari bahwa bagi suatu percobaan
yang dapat dipidana itu, adanya suatu niat saja dianggap tidak
mencukupi syarat. Kecuali seperti-yang dimaksud di atas itu,
maka untuk selebihnya niat dapat disamakan dengan sengaja.
Membatasi pengertian sengaja semata-mata sebagai maksud
dalam arti sempit tidaklah dapat dibenarkan)
Berdasarkan apa yang telah dikemukakan- di atas beberapa catatan
Penulis adalah sebagai berikut: Pertama, Hazewinkel Suringa, Simons
dan van Hamel mengartikan niat identik dengan kesengajaan. Bahkan
lebih dari itu, niat -disamakan dengan kesengajaan dalam berbagai
corak. Kiranya pendapat tersebut didasarkan pada suatu adagium in
atrocioribus delictis punitur affectus licet non sequatur effectys. Artinya,
untukkejahatan, kesengajaan atau niat dalam percobaan dapat dihukum
walaupun tujuannya tidak tercapai. Kedua, Vos mengartikan niat sama
dengan kesengajaan namun dibatasi hanya pada kesengajaan sebagai
maksud. Ketiga, ada kekeliruan pemahaman dari van Bemmelen dan
van Hattum yang menyatakan bahwa Pompe mengartikan niat sama
dengan sengaja. Hal ini secara gamblang terlihat dalam berbagai ulasan
Pompe yang menyatakan bahwa ada hubungan enit antara niat dengan
kesengajaan tetapi niat bukanlah kesengajaan. Tegasnya, Pompe tidak
menyamakan antara niat dengan kesengajaan.
Pendapat Pompe mirip dengan Moeljatno yang membedakan
antara niat dengan kesengajaan. Menurut Moeljatno niat adalah sikap
batin. Sesuatu yang masih berada dalam hati. Jika niat sudah ditunaikan
I
dalam tindakari nyata, maka niat berubah menjadi suatu kesengajaan.
Dengan kata laiii, niat adalah subjecti~e onrechtselement a~au melawan
hukum yang subjektif, sedangkan kesengajaan - adalah objectieve
onrechtselement yang dalam konteks percobaan adalah permulaan
•! ~36 - Pl.{INSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
pelaksanaan745• Dalam konteks yang demikian, Penulis sependapat
· dengan Moeljatno yang menyatakan bahwa niat tidak identik dengan ·
kesengajaan.
b. Permulaan Pelaksanaan
Unsur kedua dari percobaan adalah begin van uitvoering atau
permulaan pelaksanaan. Menurut van Hamel, pelaksanaan (uitvoering)
dalam · frasa "permulaan pelaksanaan• haiuslah diartikan sebagai
permulaan pelaksanaan dari ~ejahatan (begin van uitvoering van het
misdrijf46). ·Demikian juga Pompe yang menyatakan, "De wet eist
een begin van uitvoering. Begin van uitvoering van het misdrijf. wei te
verstaan747 n (Undang-undang mensyaratkan peQilulaan pelaksanaan .
adalah yang dim~ud permulaan pelaksanaan dari kejahatan). Senada
d,engan·. van Hamel dan Pompe adalah van Bemmelen dan van
Hattum yang juga menyatakan bahwa permulaan pelaksanaan adalah
permulaan pelaksanaan dari kejahatan748•
Dalam Memorie van Toelichting. permulaan pelaksanaan diartikan
sebagaititana pendapat para ahli di atas, hanya saja harus dibedakan
antara perbuatan persiapan (voorbereidingshandelingen) dan perbuatan
pelaksanaan (uitvoeringshandelingen) 149• Meskipun demikian tidaklah
mudah untuk menentukan perbedaan antara kaiuanya dan oleh
karena itu diserahkan kepada pertimbangan hakim750• Menurut Jerome
Hall, tidaklah mungkin memisahkan secara objektif antara perbuatan
persiapan dan perbuatan pelaksanaan, meskipun kedua istilah
tersebut dalam percakapan sehari-hari jelas berbeda751 • Demikian pula
Moeljatno yang menyatakan bahwa dalam praktik antara perbuatan
persiapan dan perbuatan pelaksanaan tidak ada perbedaan secara
7 5
• Moeljatno, [Link]., him. 18.
706
G.A. van Hamel [Link]., him. 428
707
[Link]. Pompe, [Link]., him. 208
.,.. J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 481.
709
G.A. van Hamel, [Link]., him. 42-7.
150
Moeljatno, [Link]., him. 21.
751
Jerome Hall, [Link]., him. 577.
PERCOBAAN DAN PENYERTMN 337
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
·<> ·
materiil Perbuatan persiapan adalah mengumpulkan kekuatan,
sedangkan perbuatan pelaksanaan, melepaskan kekuatan yang telah
dikumpulkan1s2.
Dalam RUU KUHP dinyatakan bahwa perbuatan persiapan ter-
jadi jika pelaku berusaha untuk mendapatkan atau menyiapkan sarana,
mengumpulkan informasi atau menyusun perencanaan tindakan
atau melakukan tindakan-tindakan serupa yang dimaksudkan
menciptakan kondisi untuk dilakukannya suatu perbuatan yang secara
langsung ditujukan bagi penyelesaian tindak pidana. Selain permulaan
pelaksanaan dan perbuatan persiapan, juga dikenal permufakatan
jahat Dalam hukum pidana, permufakatan Jahat atau samenspanning
atau conspiracy bukanlah · perbuatan permulaan pelaksanaan (begin
van uitvoeringshandelingen), melainkan perbuatan persiapan
(voorbereiding~ndelingen).
Berdasarkan Pasal 88 KUHP, permufakatan jahat terjadi jika
dua orang atau lebih sepakat melakukan kejahatan. Masfu _menurut
KUHP, permufakatan jahat yang dijatuhi pidana jika berkaitan dengan
kejahatan terhadap keamanan negara atau makar, baik terhadap
Presiden - Wakil Presiden, pemerintahan yang sah maupun negara
kesatuan Republik Indonesia. Dalam perkembangannya permufakatan
jahat juga diancam pidana terhadap kejahatan luar biasa seperti korupsi,
narkotika dan terorisme.
Perbatikan ilustrasi berikut ini: A sakit hati terhadap B dan
berniat membunuhnya. A kemudian ke toko untuk membeli sebilah
pisau. Sesampai di rumah, A mengasah pisau tersebut sehingga benar-
benar tajam. Pada hari yang telah direncanakan, A kemudian pergi lee
rumah B dengan membawa sebilah pisau yang telah diasah. Setiba di
rumah B, A mengetuk pintu dan: B lalu membukanya. Sesaat setelah
membuka pintu, B kemudian_didoro?g oleh A ·J$gga terjatuh dan
A mengeluarkan sebilah pisau dari kantong jaketnya. · Berdasarkan
ilutrasi tersebut, lcegiatan A membeli dan mengasah pisau me~pakan
752 Moeljatno, [Link]., him. 31.
·'! ~.:::.::·.:.-:.:·. ·:·· ~
I ~'33'ff; PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
:.~\-~:·:i3.?.·.:_.-
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,
~.
perbuatan persiapan. Sed~gkan kegiatan A pergi ke rumah .. B,
mengetuk pintu dan mendorong B hingga terjatuh lalu [Link]
sebilah
.
'pisau merupakan
. .
p~rl:matan
.. ... . pelaksanaan.. . ~ -~ ..
.. Mengenai perm~aan , pelaksan~an, Si:Jnons lllembedal<an antara
d~lj.k-qelik yang . dirtun~s~ ~~~· f~[Link] ·4an delik-de~ . ~g
.~uskan [Link]. P~da delik formil, permulaan pelaksanaan
· tdal} ~d~ ~~ngan_ ~el~ J,~!b~at?Il _~g <li~,e~u~ <lalrun ~~
delik. ,_S~mentara pad~ ~~~~~ tJ:tat~pil.. pe~mu.~aan .P.~[Link].~ telah
ad~ dengan 'perbuatan •.-rar&·.m~ll~rut. sifainya secara langs.l:lilg ~a,pat
· me~b~ ~b.~~. ·.· ~an~ ·4llarn.n.g . t~pa ·'D:i~m~rl~_ ·. a~ya
kel~an ~~~ Ulistr~Y~arfpe~~~pa~ S.~~~s,_~ d~p~~ ·relt~ b~.~
sebagaibeifkuFsj: ·· . .· · . ... · . _ .··: · · ,'
- • ' ' ' ; , ' I' • • , ' ' ' ~' - ' ': ~ . . ·, 1 ' ~: - ~ .- • •· · \ ·: • : ·: ~ -~ 1 ; •' '.! ~~. • ;' . . ·..:,.: '> ' , ' , , C ;'~ ' '
· C yarig berniat mencuri di runiah D, ·dikatakan ada permulaan
. pelaksanaall, pada sa~t inelo~pativa8~'~cih:l:)"'Ji in~aril :hari c
. d~ htenco~gkel jendel~ ~ecar.l' p~~: hi~mangbel~ ~~~~bil c·
barang milik D tetapi dalam delik formil, tindakari' Cmd-~ritpat pagu
· runiah dan mencongkei jendelas~~ara: paksa adaiah tfu:&iffi'fuelawan
htlkwit yang merupakan salah: satU. tmsur dari pencutian. Contoh'delik
materiil, X "yang·beniiat menibtiimh Y kemudian dengan · 5ertapan
yang telah berisi 'peluru [Link] ke · ·fubuh Y. Mesldpun
pelatUk belum;ditarik tetapitiridcikaii X terhadapY \?dah merupakan
pennulaaii pelakSartaan karen~:sifatperbuatiiii tersebut secara langsung
. dapa:t meiiimbulkan akibat yang dilarang. ···
·· Ukuran ·lam terhadap · penfiulaan· pelaksanaan adalah dengan
mengg\lnakari teori subjektifdan teori objektifterkait dapat dipidruianya
percobaan, apakah karena sifat berbahayanya pelaku ataukah karena
sifat berbahayanya perbuatan. Teori ·subjektif menyatakan ·bahwa
manifestasi iliat yang berbahaya adalah dengan permulaan pelaksanaan
untuk menuntaskan perbuatan yang dituju754 • Di sini berlaku adagium
voluntas reputabitur pro facto. Artinya, niat sama artinya dengan fakta
15
) D. Simons, [Link]., him. 166.
154
Jan Remmelink, [Link]., him. 290.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 339
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang ada755• Postulat lain yang juga mendukung teori subjektif adalah
intentio mea imponit nomen operi meo: niat seseorang tercerminkan
pada perbuatanl)ya. Contoh klasik, Jansen yang berniat membunuh
Pietersen, kemudian membeli pistol dan mengisinya dengan peluru.
· Jansen menunggu Pietersen sampai larut malam di tempat yang gelap
di jalan yang biasanya dilewati Pietersen, namun karena sakit gigi,
Pietersen tidak keluar rumah sehingga pembunuhan tidak terjadF56•
Teori objektif menyatakan bahwa adanya permulaan pelaksanaan
jika perbuatan terdakwa harus mendekati delik yang dituju. Dalam
ilustrasi Jansen yang hendak membunuh Pietersen, perbuatan yang
demikian bclum merupakan permulaan pelaksanaan. Menurut teori
objektif, tindakan Jansen merupakan permulaan pelaksanaan jika pada
malam itu, Pietersen benar-benar keluar rumah dan melewaU jalan
yang telah ditunggu oleh Jansen dengan pistol yang siap ditembakkan
ke arab Pietenen.
Moeljatno yang tetap konsisten dengan teori ~p~ terkait
patut dipidananya percobaan, memberi tiga syarat adanya permulaan
pelaksanaan. Pertama, syarat subjektif yang menyatakan bahwa
dipandang dari sudut niat, tidak ada lagi keraguan pelaku terhadap
apa yang dilakukannya telah diarahkan pada delik yang dituju. Kedua,
syarat objektif yang menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan
terdakwa harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik yang
dituju. Ketiga. bahwa apa yang dilakukan pelakU merupakan perbuatan
yang melawan hukum sebagai syarat mutlak bagi semua perbuatan
pidana757•
Menurut Penulis terkait permulaan pelaksanaan, sependapat
dengan Moeljatno hanya sebatas syarat subjektif dan syarat <>bjektif.
Argumentasinya, dua unsur penting dalam percobaan adalah niat dan
permulaan pelaksanaan. Niat tidak mungkin diketahui tanpa adanya
permulaan pelaksanaan. Acta exteriora indicant interiora secreta.
m Jerome Hall, [Link]., him. 561.
J56 Jan Remmelink, [Link]., him. 291.
n 7 Moeljatno, [Link]., him. 28-29.
...
~. .340·; [Link] HUKUM PIDANA
"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
Artinya, tindakan-tindakan . seseorang menggambarkan maksud
yang terselubung di dalamnya. Oleh karena itu untuk mengukur
niat digunakan syarat subjektif, sedangkan untuk menentukan
adanya permulaan pelaksanaan digunakan syarat objektif. Penu!is
tidak sependapat dengan syarat' ketiga Moeljatno yang menyatakan
perbuatan tersebut haruslah melawan hukum dalam pengertian syarat
tersebut sudah dengan sendirinya. Terlebih Moeljatno berpendapat
bahwa percobaan adalah delic sui generis, maka melawan hukum adalah
syarat konstitutif yang sudah melekat pada setiap perbuatan pidana.
c. Tidak Selesainya l>erbuatan Bukan Karena Kehendak Sendiri
Bila merujuk pada pasal 53 ayat (1) KUHP, maka unsur ketiga
itu berbunyi, "tidak ·selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata
disebabkan karena kehendaknya sendiri". Menurut Memorie van
Toelichting, unsur irli. adalah untuk menjamin tidak akan dipidana orang
yang dengan kehendak sendiri, sukarela mengurungkan pelaksanaan
kejahatan yang telah dimulai. Cujus est instituere, ejus est abrogare:
siapa Yang memulainya, ia dapat menghentikannya. Secara a contario,
seseorang dapat dipidana percobaan jika terhentinya permulaan
pelaksanaan karena sesuatu di lnar kehendaknya sendiri.
Menurut Vos, unsur ketiga adalah bijkomende voorwaarde
van strafbaarheid'58 atau unsur tambahan yang menyebabkan dapat '
dipidananya pelaku. Lain halnya dengan Vos adalah Pompe yang
menyatakan bahwa unsur ketiga ini adalah alasan penghapus pidana759 •
Berbeda dengan Vos dan Pompe adalah Moeljatno yang berpendapat
bahwa dengan merujuk pada Memorie van Toelichting, unsur ketiga
adalah alasan penghapus penuntutan760• Penulis sendiri cenderung
pada pendapat Pompe yang menyatakan bahwa unsur ketiga percobaan
adalah alasan penghapus pidana. Hal ini didasarkan pada argumentasi
penilaian apakah pelaku berhenti melakukan permulaan pelaksanaan
------
H.B Vos, [Link]., him. 181.
758
m W.P.J Pompe, [Link]., him. 210.
760
Moeljatno, Op. Cit., him. 55.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 341
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
karena kehendak sendiri ataukah tidak, sepenuhnya ada pada penilaian
hakim.
Selalu menjadi perdebatan adalah bagaimana menentukan tidak
selesainya permulaan pelaksanaan bukan karena kehendaknya sendiri.
Tidakada parameteryangjelas, akan tetapi menurut Remmelink, ihwal
pelaku secara sukarela mengundurkan diri atau menghentikan tindak
pidana yang semula hendak dilakukannya hanya dapat disimpulkan
dari pertimbangan akal -budi dan dari pertentangan antara motif dan
kontra- moti£'61 • Salah satu contoh yang menjadi perdebatan adalah
kasus percobaan saksi palsu. Duduk perkaranya adalah sebagai berikut:
A diperiksa sebagai saksi di pengadilan dalam suatu perkara
dan tentunya diambil sumpahnya terlebih dulu. Ada tanda-tanda A
memberikan keterangan bertentangan dengan kebenaran atau tidak
sesuai dengan fakta. A kemudian diberi peringatan oleh hakim bahwa
jika tidakmemberikan [Link] yang benar di bawah sumpah, A akan
dijerat dengan sumpah palsu. A kemudian menarik keterallgannya.
Putusan Hoge Raad 9 Agustus 1889, W. 5742 menyatakanbahwa saksi
tidak dapat dituntut karena percobaan sumpah palsu.
Vos dapat menerima Putusan Hoge Raad ber~asarkan argumen
bahwa .saksi masih bisa terus memberikan keterangan palsu tetapi
tidakmelanjutkan. Artinya, terjadi pengunduran ~ri secara s~ela762•
Berbeda dengan Vosadalah pendapat van Bemmelen dan van Hattum
yang tidak menyetujui putusan tersebut. Dasar argumentasi van
Bemmelen dan van Hattum adalah karena ketakutan dimasukkan ke
dalam penjara yangmenyebabkansaks!menarikkembali keterangannya
yang palsu. Artinya, tidak ada pengunduran diri secara sukarela763•
Penulis sependapat dengail van Bemmelen dan van [Link].~
seharusnya saksi dijerat dengan percobaan sumpah palsu. Terlebih,
delik memberikan keterangan palsu dirumuskan secara formal.
Jan Remmelink, [Link]., him. 'J!J7.
761
m H.B. Vos., [Link]., him. 189.
763 J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 497.
·: ... .
"!
;~3.42; · [Link] HUKUM PIDANA
~;·?~·:y.f:;:
I
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
..
~.
Menurut Frank, kriteria menentukan tidak selesainya permulaan
pelaksanaan hukan karena .kehendaknya sendiri dirumuskan sehagai
herikut: tidak dapat dipidananya pelaku hila pelaku berkata "saya tidak
mau meneruskannya, meskipun saya sebenarnya marnpu'~ Diancam
dengan pidana hila · pelaku mempertirrihangkan "saya tidak dapat
melanjutkannya, padahal saya betul ingin menyelesaikannya764". Ilustrasi
herdasarkan kriteria yang diherikan oleh Frank, dapat Penulis herikan
sehagai berikut:
Dustrasi Perlama: A hendak rnemhmmh B. Dengan sebilah pisau
yang telah diasah terlehih dulq, A kemudian mendatangi rumah B.
Setelah mengetuk. pintu rumah B dan kebetulan B yang membuka pintu,
pada saat yang sarna, A mengeluarkan pisau dan hendak menusuk
B, namun berhasil menghindar dan B herteriak minta tolong. Oleh
karena teriakan [Link], A kernudian rnelarikan diri. Ilustrasi Kedua:
C hendak membunuh D karena persaingan hisnis kemudian hendak
mendatanginya dengan rnernhawa pistol yang telah diisi peluru. Di
tengah jalan, C mendapat telepon bahwa D sedang terharing di ternpat
tidur kaiena terserang stroke. Mendengar kahar tersehut, C kemudian
merasa iha dan kemhali ke rumahnya.
Pada ilustrasi pertama, jelas ada percobaan pembunuhan. Dasar
argumentasinya, perbuatan pernbunuhan tidak dit(ruskan karena
teriakan minta tolong, menyebahkan pelaku menghentikan niatnya:
Artinya, tidak terjadi pengunduran diri secara sukarela. Sedangkan pada
ilustrasi kedua, pelaku karena merasa iba kemudian tidak meneruskan
perjalan ke rumah calon korhan. Artinya, pengunduran diri dilakukan
secara sukarela. Denga:n demikiantidak ada percobaan pembunuhan.
Contoh klasik untuk menent:ukan ada tidaknya percobaan adalah
Putusan Hoge Raad 1934 dalam "Eindhovense Brandstichtings Arrest".
Perkara tersebut sebelurnnya diputus oleh Pengadilan 's-Hertogenbosch
pada tanggall8 Desember 1933.
754
Jan Remmelink, [Link]., him~ 4986
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN . 343
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
[Link] a quo adalah sebagai berikut:
Terdakwa H hendak membakar rumah yang didiami oleh R
atas persetujuan R yang pada malam itu sedang berada di luar
kota. H kemudian masuk ke dalam rumah R dan [Link]
pakaian-pakaian tua serta barang-barang yang mudah terbakar
di setiap kamar yang dihubungkan dengan sumbu panjang yang
berakhir pada kompor gas di dapur. Tepat di samping kompor
gas tersebut dipasang sebuah pistol gas yang kalau ditembakkan
akan [Link] api dan menyalakan kompor serta sumbu.
Pelatuk pistollalu [Link] dengan tali panjang yang ujung lainnya
melalui jendela dikeluarkan sampai tembok bagian belakang yang
bergantung dari atas ke bawah sehingga bisa ditarik dari luar
tembok yang terdapat pada jalan kecil. Pakaian-pakaian [Link] dan
sumbu lalu disirami bensin dengan tujuan kalau tali ditarik dari
hiar tembok di jalan kecil, pistol akari menyalakan kompor dan
sumbu yang pada akhirnya pakaian-pakaian yang telah disirami
bensin ~ menyala dan [Link] seluruh rumah. Setelah
selesai semua, H lalu [Link] barang-barang berharga ke
tempat lain di luar rumah. Sementara itu bau bensin yang sangat
menyengat menarik perhatian beberapa orang yang kemudian
berkumpul di jalan kecil di belakang rumah. Ketika H kembali
dari [Link] barang-barang berharga dan [Link] menarik
tali dari jalan kecil, dia melihat banyak orang di situ, sehingga
tidak bisa [Link] maksudnya765 ~
Pengadilan ·s-Hertogenbosch menjatuhkan pidana :4 tahun
penjara kepada H karena apa yang dilakukan oleh H merupakan
permulaan pelaksanaan sebagai perwujudan niat yang lalu terhenti
bukan sebab kehendaknya sendiri. H kemudian memohon kasasi
kepada Hoge Raad dengan alasan bah~aapa yang dilakukannya belum
memenuhi unsur Pasal53 KUHP dan barulah berupa persiapan. Dalru.&.
pertimbangannya Hoge Raad menyatakan bahwa dimulai adanya
[Link], jika telah .dilakukan perbuatan yang [Link] berhubungan
langsung dengan kejahatan dimaksud. In casu a quo; .dikatakan ada
.percobaan dalam konteks niat dan permulaan pelaksanaan ada jika
. ·. J6 : J.M. van Bemmelen En H. Burgersdijk. [Link]., him. 130
: \~aD;~ PRINSlP~PR,~~~PHUKUM
.' .'"!1-~f.:~~~(t"· . ~ ..·.·_ -
PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,
tali yang berada pada tembok belakang eli jalan kecil ditarik oleh H.
Dengan demikian belum ada percobaan dan oleh karena itu Putusan
Pengadilan 's-Hertogenbosch dibatalkan766•
Duynstee berpendapat bahwa perbuatan H telah mulai me-
nimbulkan kebakaran. · Apa yang dilakukan adalah satu rangkaian
perbuatan yang bertalian erat antara satu dengan yang lain sehingga
ditinjau dari penge~an yang sewajarnya adalah satu perbuatan yang
dari permulaansampaiakhir termasukdalam rumusan delik. Sedangkan
perbuatan. persiapan sudah· terjadi dengan mempersiapkan pakaian-
pakaian tua, menyirami bensin,_ mempersiapkan pistol termasuk
meletakkan t~ s'[Link] tembok ?agian belakang dan pada akhirnya
mengungsikan barang-barang berharga ke tempat lain. Perbuatan
pelaksanaan kembali setdah mengungsikan barang-barang767•
Sependapat .dengan Duynstee adalah Moeljatno yang meng-
gunakan tiga syarat untuk menyatakan adanya percobaan. Syarat
subjektif telah terpenuhi dengan adanya sikap batin terdakwa yang
telah mendekati kejahatan yang dituju. Syarat objektifbahwa perbuatan
terdakwa sudah berpotensi menuju delik tersebut. Syarat berikutnya
adalah perbmitan melawan hukum yang mana telah terwujud dengan
masuk rumah orang lain pada saat pemilik rumah tidak berada di
tempaf68• Komentar Remmelink terhadap Putusan H~ge Raadtersebut
adalah bahwa tindakan permulaan pelaksanaan hanyalah perbuatan
yang menurut ukuran pengalaman, tanpa campur tangan lebih lanjut
dari pelaku akan bermuara pada pembakaran. Dengan deinikian -
masih menurut Remmelink- Hoge Raad mengikuti teori objekti£769• .
Penulis sendiri berpendapat bahwa telah terjadi percobaan
dengan dasar argumentasi: Pertama, niat secara subjektif tidak ada
lagi keraguan menuju delik tersebut. Kedua, permulaan pelaksanaan
sudah terjadi mulai dari mengumpulkan pakaian-:-pakaian bekas dan
166 Ibid., him. 131.
767
Moeljatno, [Link].,hlm. 37. Bandlngkan dengan H.B Vos, [Link]., him. 182.
MB Moeljatno, [Link].
69
' Jan Remmelink, [Link], him. 292.
PERCOBAAN DA.N PENYERTAAN 345
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
barang-barang yang mudah terbakar, menyiraminya dengan bensin,
menghubungkannya dengan sumbu· yang berakhir pada kompor gas
dan tali pada pistol yang salah satu ujungnya yang lain keluar dari atas ·
ke bawah di tembok belakang rumah. Ketiga, perbuatan terdakwa
tidak selesai adalah karena banyak orang berkumpul di jalan kecil
di belakang rumah sehingga tidak bisa .melanjutkan perbuatannya.
Artinya, tidak ada pengunduran diri secara sukarela, karena setelah
. mengungsikan barang-barang berharga ke tempat lain, terdakwa
kembali untuk menuntaskan niatnya namun terhalang oleh banyak
orang yang berkumpul di jalan kecil tersebut.
2) Bentuk-Bentuk Percobaan
Berbicara mengenai bentuk-bentuk percobaan pada hakikatnya
tidak akan tetiepas dari permulaan pelaksanaan sebagai unsur
penting dalam delik percobaan. Bentuk percobaan yang pertama
adalah percobaan yang terhenti atau geschorste poging. Sedangkan
bentuk percobaan yang kedua disebut dengan istilah voltooide poging.
Permulaan pelaksanaan sangat erat kaitannya dengan geschorste.
pogin1('0• Dalam beberapa literatur, istilah · untuk menggantikan
geschorsfe poging disebut sebagai tentative; sed~gkan istilah untuk
menggantikan voltooide poging disebut sebagai delit manque771_.
Ilustrasi tentative adalah sebagai berikut. A dengan sebilah pisau
yang terhunus hendak menusuk B di bagian perut~. namun karena B
pandai beladiri, berhasil menendang tangan A hingga pisau terjatuh.
Dalam konteks yang demikian, A telah melakukan percobaan
pembunuhan terhadap B, namun percobaan tersebut ~erhenti
atau geschorste poging atau dalam literatur Jerman disebut sebagai ·
unbeendigter versuch.
[Link]
dan ingin membunuhnya. Dengan menggunakan senjata-laras panjang,
Moeljatno, [Link]., him. 27.
770
m Jan Remmellnk, [Link]., him. 287.
· ~t
~~34~:
'
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
~
."..;·-: .
. :~· ~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
A melepaskan tembakan ke arah B dan mengenai perutnya. Seketika,
B dilarikan ke rwnah sakit dan nyawanya masih bisa ditolong. In casu
a quo, A telah rneiakukan percobaan pembunuhan terhadap B, namun
merupakan percobaan selesai atau dalam literatur Jerman disebut
sebagai beendigter versuch. Kendatipun A secara tuntas menempuh .
jalur kriminal (inter criminis) akan tetapi, akibat yang diharapkan
. sebagai unsur delik tidak terjadi. Kedua bentuk percobaan tersebut
hila dihubungkan dengan rumusan delik. formil-materiil, maka dapat
disinipulkan bahwa tentative dapat terjadi pada delik-delik baik yang
[Link] ~ecara formil maupu!l secara materiil. Sedangkan khusus
delit manque, hanya dapat terjadi pada delik.-delik yang dirumuskan
secara materiil.
3) Per~obaan Mampu Dan Percobaan Tidak Mampu
. Adariya suatu perbuatan pidana sudah tentu membutuhkan objek.
Jika tidak ada objeknya, maka tidak akan mungkin ada perbuatan
pidana. ~onsekuensi lebih lanjut, jika tidak ada objek dari perbuatan
pidana, maka tidak mungkin ada percobaan dari perbuatan pidana.
Sebaliknya, jika ada objek dari perbuatan pidana, maka sudah tentu ada
percobaan perbuatan pidana dari objek tersebut. Tidak mungkin ada
pembunuhan at~u percobaan pembunuhan, jika oi\ng yang hendak
dibunuh sudah mati terle~ih dulu. Tidak mungkin ada pemerkosaan
atau percobaan pemerkosaan jika tidak ada tubuh yang akan diperkosa.
Percobaan mampu dan percobaan tidak mampu ini mewacana
sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan namun
delik yang dituju tidak terjadi atau bahkan akibat yang dilarang oleh
undang-undang tidak terjadi pula. Persoalan percobaan yang tidak
mampu bagi penganut teori subjektiftidak menimbulkan permasalahan
karen a titik beratnya pada sifat berbahayanya orang772• Lain halnya bagi
pengannt teori objektif yang hakikatnya menitikberatkan pada sifat
berbahayanya perbuatan, maka percobaan tidak mampu menjadi hal
m Nyoman Serikat Putrajaya, [Link]., him. 9.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 347
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
A melepaskan tembakan ke arab B dan mengenai perutnya. Seketika,
B dilarikan ke rumah sakit dan nyawanya masih bisa ditolong. In casu
a quo, A telah meiakukan p~rcobaan pembunuhan terhadap B, namun
merupakan percobaan selesai atau dalam literatur Jerman disebut
sebagai beendigter versuch. Kendatipun A secara tuntas menempuh
jalur kriminal (inter criminis) akan tetapi, akibat yang diharapkan
. sebagai unsur .delik: tidak terjadi Kedua bentuk percobaan tersebut
hila dihubungkan dengan rumusan delik formil-materiil, maka dapat
disirilpulkan bahwa tentative dapat terjadi pada delik-delik baikyang
dirumUskan secara formil maupu~ secara materiil. Sedangkan khusus
delit manque, hanya dapat terjadi pada delik.-delik yang dirumuskan
secara materiil.
3) Per~obaan Mampu Dan Percobaan Tidak Mampu
. Adariya suatu perbuatan pidana sudah tentu membutuhkan objek.
Jika tidak ada objeknya, maka tidak akan mungkin ada perbuatan
pidana. ~onsekuensi lebih lanjut, jika tidak ada objek dari perbuatan
pidana, maka tidak mungkin ada percobaan dari perbuatan pidana.
Sebaliknya, jika ada objek dari perbuatan pidana, maka sudah tentu ada
percobaan perbuatan pidana dari objek tersebut. Tidak mungkin ada
pembunuhan at~u percobaan pembunuhan, jika orang yang hendak
dibunuh sudah mati terle~ih dulu. Tidak mungkin ada pemerkosaan
atau percobaan pemerkosaan jika tidak ada tubuh yang akan diperkosa.
Percobaan mampu dan percobaan tidak mampu ini mewacana
sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan namun
delik yang dituju tidak terjadi atau bahkan akibat yang dilarang oleh
undang-undang tidak terjadi pula. Persoalan percobaan yang tidak
mampu bagi penganut teori subjektiftidak menimbulkan permasalahan
karen a titik beratnya pada sifat berbahayanya orang'72• Lain halnya bagi
pengannt teori objektif yang hakikatnya menitikberatkan pada sifat
berbahayanya perbuatan, maka percobaan tidak mampu menjadi hal
m Nyoman [Link] Putrajaya, [Link]., him. 9.
PERCOBMN DAN PENYERTAAN 347
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang penting karena herkaitan dengan hubungan kausal dalam hukum
pidana yang ada dalam lapangan objektif73•
· Simons mendefinisikan percobaan yang mampu adalah perbuatan
yang dengan alat tertentu dapat membahayakan kepentingan hukum.
Sedangkan jika dipakai alat yang menurut keadaan normal, kejahatan
tersebut tidak terjadi, maka kita berada pada percobaan yang tidak
mampum. Hukum pidana membedakan ketidak:mampuan dalam
percobaan meliputi: Pertama, ketidak:mampuan pelaku. Kedua,
ketidakmampuan sarana atau alat. Ketiga, ketidakmampuan objekns.
Perihal yang pertama mengenai ketidakmampuan pelaku,
sebagai misal: seorang tuna netra ingin membunuh seseorang
dengan menggunakan pistol. Sudah tentu hal tersebut tidak mungkin
dilakukan sendiri. Jangankan untuk membunuh, melihat objek yang
akan dijadikao sasaran pembunuhan saja tidak dapat dilakukannya.
Dengan demikian ada ketidakmampuan oleh pelaku untuk melakukan
pembunuhan. Perihal kedua mengenai ketidakmampuan .alat atau
sarana, masih dibagi lagi mengenai sarana atau alat yang absolut dan
sarana atau alat yang re1atif.
Larutan pembersih kamar mandi sudah tentu merupakan sarana
atau alat yang absolut untuk membunuh oiang~ jika larutarl. tersebut
dimasukkan ke dalam makanan dan diberikan kepada orang yang
hendak dibunuh. Sebaliknya, gula merupakan _alat atau sarana yang
relatiftidakmampu untukmeracuni or~g. Akan tetai?i, bagi orang yang
menderita diabetes, gula yang tadinY:'- merupakan sarana yang tidak ·
mampu secara relatif, dapat menjadi alat yang relatif untuk mematikan
jika diberikan secara berkelebihan kepada penderita diabetes. Menurut
· Jonkers, perbedaan alat atau sarana yang tidak mampu secira absolut":
dan relatif adalah menurut kemampuan orang yang melakukannya.
Artinya, di sini tidak terinasuk ketidakmampuan objeknya776•
m Moeljatno, [Link]., him. 47.
114 D. Simons, [Link]., hlm.178.
775 Jan Remmelink, [Link]., him. 294.
"' J.E. Jonkers, [Link].,hlm. 102.
"! ··· ·'
I
348.. '
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
Perihal ketiga adalah ketidakmampuan objek. Sebagai contoh,
seseorang mencuri tas dengan keyakinan bahwa di' . dalam . tas
tersebut berisi uang. Ternyata setelah tas dicuri, tidak terdapat uang
didalamnya: Ada juga contoh lain seperti, seorang wanita yang
mencoba mettggugurkan kandungan padahal .wanita · ters~but 'tid~ .
hamil. Demikian pula orang yang henqak membunuh seseorang tetai)i-
yang akan dibunuh ternyata sudah menin~ terlebih dulu. Per~al
kedua contoh terakhfr ini, menimbulkan perdebatan. Menurut Ponipe
dalam kedua kasuS tersebut terakhir tidak . ada percobaan karena
objeknya tidak ada777, sedangkat1 menurut van Bemmelen dan van
Hattum, kedua contoh tersebut terakhir adalah percobaan778 • Dari
ketiga contoh kasus objek yang tidak. mampu, Penulis berpendapat
hanya contoh pertama saja yang da_p at dimasukkan sebagai percobaan .
keti4akma,npuail obfek, sedangkan untuk contoh kedua dan contoh
ketiga, tidak mungkin ada percobaan karena tidak ada objeknya. ·
B. PENYERTAAN
Terkait penyertaan, KUHP mengaturnya dalam Pasal 55 sampai
dengan Pasal62. Akan tetapi, pada subbab ini, pembahasan difokuskan
pada Pasal 55 dan Pasal 56 KlJ!"IP. Dalam kedua ·pasal tersebut, si~pa
$~ja yang dikualifikasikan sebagai pelaku dan siapa saj;[Link] dikatakan
·sebagai pembantu dinyatakap secara tegas. Penyertaan atau deelneming
atau complicity dalam beberapa literatur, disam~an dengan istil~
"Turut Campur Dalam Peristiwa Pidana.. yang digunakan oleh Tresna, -
"Turut Berbuat Delik" yang digunakan oleh Karni dan "Turut Serta"
istilah yang digunakan oleh Utrecht"'. ·
Sarna seperti percobaan, terhadap penyertaan terdapat dua
pandangan. Pertama, pandangan yang menyatakah bahwa penyertaan
adalah persoalan pertanggungjawaban pidana dan bukan merupakan
m W.P.J. Pompe, [Link]., him. 212
178
J.M. van Bemmelen En W.F.C. van hattum, [Link]., him. 506
m Nyoman Serikat Putrajaya, [Link]., him. 11.
PERCOBAAN DAN PENYEHTAAN 349
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
suatu delik karena bentuknya tidak sempurna. Pandangan ini
menyatakan penyertaan sebagai straufdehnungsgrund780 • Dengan
kata lain, penyertaan dipandang sebagai dapat diperluasnya
pertanggungjawaban pidana pelaku. Penyertaan sebagai
straufdehnungsgrund diikuti oleh sebagian besar ahli hukum pidana
Belanda781 •
Pandangan kedua, dikemukakan oleh Pompe yang menyatakan
bahwa penyertaan adalah aturan-aturan yang rnernberi perluasan
terhadap norma yang tersimpul dalam undang-undang782• Artinya,
Pompe hendak rnenyatakan bahwa penyertaan adalah perluasaan
terhadap perbuatan yang dapat dipidana. Pandangan yang demikian
disebut sebagai tatbestandsausdehnungsgrund bahwa penyertaan .
adalah bentuk khusus suatu tindak pidana. Moeljatno sependapat
dengan Pompe yang menyatakan bahwa penyertaan adalah delik yang
berdiri sendirl'dan bersifat khusus atau delicta sui generis783 •
Penulis berpendapat sarna dengan sebagian besar ahli hukum
pidana Belanda yang menyatakan bahwa penyertaan adalah perluasan .
terhadap pelaku yang dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana
dan bukan delik yang berdiri sendiri. Dasar argumentasinya: Per~ama,
bah tentang penyertaan terletak pada ~uku Kesatu KVHP p~rihal
ketentuan umum. Kedua, bah tentang [Link] herbicata mengenai
siapa saja yang dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana. Artinya,
penyertaan fokus pada pelaku dan bukari. perbuatan. Ketiga, .dalam
dakwaan penuntut umum, pasal-pasal teiitang penyertaan harus di-
juncto-kan dengan [Link] kejahatan atau pelanggaran.
Pasal 55 ayat (1} KUHP mengatur: "Dipidana sebagai pelaku
suatu perbuatan pidana: ke-1. Mereka yang melakukan, yang '!lenyuruh
lakukan dan yang turut serta melakukp.n perbuatan. ke-2. Mereka yang
dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, ·dengan menyalahgunakan
· kekuasaan atau martabat denga11 kekerasan atau ancaman atau
[Link].
781 Moeljatno, [Link]., him. 64.
782
[Link]. Pompe, [Link]., him. 224.
m Moeljatno, [Link].
-~
:{3.50~ PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
-''lo·,··: :\ ~·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan,
se~gaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan". _Pasal .
56 KUHP: "Dipidana sebagai pembantu suatu kejahatan: ke-1. Mereka
yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahata'! yang dilakukan.
ke-2. Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan
untuk melakukan kejahatan.._
Berdasarkan kedua p~al -tersebut ~apat disimpu1kan bahwa
siapa saja yang dapat dipidana sebagai pelaku : 1) Plf!ger atau pelaku;
2) Doenpleger atau orang yang menyuruh lakukan; 3) Medepleger atau
orang yang turut serta; dan 4) Oitlokker atau orang yang menganjurkan.
Sedangkan penibantu a tau medeplichtige adalah: 1) Pembantu pada saat _
kejahatan dilakukan; dan 2) Pembantu sebelum kejahatan dilakukan.
Masing-masing pelaku yang dapat [Link] pertanggungjawaban
I?[Link] pembantu akan diul~s lebih mendalam.
Terkait siapa saja yang dapat dimintakan pertanggungjawaban
pidana dalam delik penyertaan, menurut Simon~, "Bij de leer
der deelneming worden gemeenlijk · twee voormen van deelneming
onderscheiden, de zelfstandige en de onzelfstandige deelneming'84" (Dalam
ajaran penyertaan biasa,nya dibagi dalam dua bentuk penyertaan,
penyertaan yang berdiri sendiri dan penyertaan yang tidak berdiri
sendiri). Pertama, zelfstandige deelneming atau penyerlaan yang berdiri
sendiri adalah tindakan masing-masing peserta dalam · melakukan
suatu perbuatan pidana ·diberi penilaian atau kualifikasi tersendiri dan
tindakan mereka masing-masing diadili secara sendiri pula._Kedua,
onzelfstandige deelnemi!'g atau penyertaan yang tidak berdiri seridiri
adalah dapat-tidaknya seorang peserta dihukum tergantung pada
peranannya dalam perbuatan pidan3:_ yang telah dilakukan oleh seorang
pelaku dan tergantung pula apakah perbuatan yang -dilakukan oleh
pelakunya itu merupakan suatu tindak pidanaataukah bukan785•
Termasuk penyertaan yang berdiri sendiri adalah pelaku, yang
menyuruh lakukan dan turut serta melakukan: Sedan~ penyertaan
784
D. Simons, [Link]., him. 306.
m P.A.F. lamintang, [Link]., him. 574.
PERCOBAAN 01\N PENYERTAAN 351
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang tidak berdiri sendiri adalah yang menggerakkan dan yang
membantu. Mereka ini adalah sebagai asesor kepada peserta lain yang
pemidanaannya tergantung kepada pemidanaan orang lain786 • Menurut
van Hamel, sistem KUHP kita membedakan Pasal 55 ayat (1) ke-1
adalah penyertaan yang berdiri sendiri, sedangkan Pasal 55 ayat (1)
ke-2 dan Pasal 56 adalah penyertaan yang tidak berdiri sendiri787 •
Pandangan van Hamel, Simons dan pembentuk KUHP yang
demikian, kiranya ~dak terlepas dari beberapa postulat dalam hukum
Romawi. Pertama, res accessoria sequitur rem principalem yang berarti
pelaku pembantu mengikuti pelaku utamanya. Kedua, accessorium
non ducit, sed sequitur, suum prindpale. Artinya, peserta pembantu
tidak memimpin, melainkan mengikuti pelaku utamanya. Ketiga,
cujus juris est principale, ejusdem juris erit accessorium: perkara
pelaku pembantu termasuk dalam yuridiksi yang sama dengan pelaku
utamanya. Keempat, non est consonum rationi quod cognition accessorii
" .
in curia christianitatis impediatur, ubi cognition causae principalis
ad forum ecclesiasticum noscitur pertinere yang berarti-sangat tidak
pantas apabila pelaku pembantu diadili di pengadilan yang berbeda
dengan pelaku utamanya. Kelima, juri non est consonum quod aliquis
accessories in curia regis convincatur antequam aliquis de facto fuerit
attinctus. Artinya, pelaku pembantu tidak boleh diadili sebelirm pelaku
utama terbukti bersaliili.
Beberapa ah1i hukum pidana tidak sependapat dengan pembagian
penyertaan ke dalam penyertaan b~rdiri sendiri. dan penyertaan
yang tidak berdiri sendirL Mereka adalah, van Bemmelen, van
Hattum, Pompe dan Moeljatno. kgumentasi van Bemmelen dan
. van Hattum bahwa dalam hukum pidana modern~ dipi~anya .
seseoralig adalah tergantung dati apa yang dilakukannya sendiri dan
tidak dapat digantungkan kepada pemidanaan orang lain. Kendatipun
demikian, perlu diingat bahwa sejarah pembentukan KUHP menganut
71& Moeljatnc,>, [Link]., him. 96.
117 GAvan Hamel, [Link],hlm. 350-351.
7,:·:.:~~--·~
?ji~ PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
-~ ·~~~~~~~~;
,
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
penyertaan yang berdiri sendiri dan penyertaan yang asesor atau tidak
dapat berdiri sendirF88 •
Terkait pembagian dua bentuk penyertaan, menurut Pompe:
"Deze onderscheiding is historisch gerechtvaardigd geweest. Zij
dateert van de middeleeuwse Italiaanse juristen, die in de de
materie der deelneming door dogmatlsche onderscheidingen
orde ·moesten brengen, daar de wet er toen geen orde in schiep.
Zelfttandige. deelnemers waren dan zij, die doen plegen en zij die
medeplegen. Te zgmen met hen, die plegen, werden zij; wei genoemd
daders, onderscheiden in onmiddellijke, middellijke en mededaders.
Onzelfttandige deelnemers waren daarentegen de uitlokkers en de
metkplichtigen189.,
(Pembedaan tersebut dalam sejarah pemah dibenarkan. Pem-
. bedaari seperti itu dUakukan oleh para ahli [Link] di abad
pertengahan, dengan membuat pembedaan-pembedaan secara ·
dogmatis, mereka harus men~tur materi penyertaan karena
undang-undang ·udak mengatumya. Penyertaari yang berdiri
sendiri yang mereka maksudkan adalah mer~ yang menyllruh
·lakukan dan mereka yang turut serta melakukan. Bersama-sama
dengan mereka yang melakukan itu disebut sebagai pelaku yang
dapat dibagi menjadi pelaku langsung, pelaku tidak langsung dan
pelaku penyerta. Sebagai lawannya adalah penyertaan yang tidak
berdiri sendiri yang terdiri dari meteka yang met~~merakkan dan
mereka yang membantu). ·
Masih menurut Poinpe, semua penyertaan adalah tidak berdiri
sendiri, kendatipun perbuatan masing-masing peserta ·harus ditinjau
sendiri-sendiri. Ditambahkan oleh van Bemmelen dan van Hattum
dalam pembantuan pun diperlukan adanya pelaksanaan yang dapat
dipidana. Ketentuan dalam . KUHP sebenamya untuk menghindari
ajaran penyertaan asesor yang-ekstrlm790• MOeljatiio )'ang sependapat
dengan van Bemmelen, van Hattum dan Pompe juga menyatakan
111
J.M~ van 8emmelen En W.F.C, van Hattum. [Link].; him. 384.
,. [Link]. Pompe, [Link]., him. 234, . . .
,. J.M. van aemme1en en w.F.c. van ttattum. ap.c:a.:; ...-n: 385.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
bahwa antara satu pcserta dengan peserta [Link] adalah satu
kesatuan791 •
Penulis pun sependapat .dengan tidak adanya pembedaan an tara
penyertaan berdiri sendiri dan penyertaan yang tidak berdiri sendiri. -
Argumentasinya adalah: Pertama, pembedaan yang demikian
tidak terlepas dari situasi pada saat KUHP dibuat yang mana dalam
perkembangannya sudah tentu mengalami perubahan secara signifikan.
Kedua, dalam tataran praktis, terdapat kesulitan untuk memisahkan
antara penyertaan yang satu dengan penyertaan yang lain. Ketiga, dalam
hal penuntutan pidana, jika pelaku yang [Link] diadili secara terpisah
dengan pelaku lain akan menimbulkan saksi·mahkota792 • Kendatipun
tidak dilarang oleh KUHAP, namun adanya · saksi mahkota dalam
persidangan terhadap delik penyertaan akan mengurangi objektifitas
pengadilan. Keempat, terdapat suatu postulat yang menyatakan,
nullus dicitur ftio principalis nisi actor aut qui praesens est, abettans aut
auxilians actorem ad feloniam faciendam. Artinya, seseorang dapat
disebut sebagai pelaku kejahatan ketika ia melakukan kejahatannya,
atau ia membantu dan ikut serta rnelakukan kejahatan.
1. _Piegen
~ta "plegen"diartikan sebagai yang melakukan, sedangkan kata-
kata "pleger" dapat diartikan sebagai "pelaku': Siapa yang menjadi
pelaku dari suatu perbuatan pidana tentunya tidak terlepas dari apa
yang dirumuskan oleh undang-undang. van Eck sebagaimana yang
dikutip van Bemmelen dan van Hattum menyatakan bahwa, "Men
kan het daderschap uit de delictsomschrijving aflezen793" (Orang dapat
191
Moeljatno, [Link]., him. 101.
m Saksi mahkota atau krongetuige berarti ada dua orang atau lebih bersama-sama melakukan
suatu kejahatan dalam konteks penyertaan. Selanjutnya dalam sidang pengadilan mereka
diadili secara terpisah. Ketika yang satu bertindak sebagai terdakwa, maka yang lain akan
bertindak sebagai saksi. Demikian pula sebaliknya. Hal yang demikian akan mengurangi
objektifitas pengadi!an. Salah satu objektifitas pengadilan adalah terdakwa punya hal<
ingkar. Saat bertindak sebagai saksi, maka keterangannya sebagai alat bukti keterangan
saksl hanyalah sah jika dilakukan di bawah sumpah. Dengan demikian hak ingkarnya
sebagai terdakwa akan hilang bila dia diperiksa sebagai terdakwa.
m J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 375.
3.~4 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PiDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
memastikan siapa yang harus dipandang sebagai pelaku adalah dengan
membaca suatu rumusan delik). Akan tetapi dalam praktiknya tidak
mudah untuk
menentukan siapa menjadi pelaku dari suatu perbuatan
pidana.
Menurut }{azewinkel Suringa, pelaku adalah setiap orang yang
dengan seorang diri telah memenuhi semua unsur delik seperti yang
· telah ditentukan dalam rumusan delik tersebut (Pleger is ieder, die zelf
aan .de [Link] omschrijving van een strajbaar feit geheel voldoef94).
Oleh karena itu, pelaku bukanlah seorang yang turutserta (deelnemer),
namtin dapat dipidana bersama-sama melakukan suatu perbuatan ' --
pidana795• Suringa kemudian m~lanjutkan, "..... zonder deelnemingstitel
is hij strafbaay796" (..... tanpa penyertaan, orang tersebut dapat dipidana).
Berbeda dengan Suringa adalah Pompe yang menyatakan sebagai
be~t, ." ..... Memorie van Toelichting, waar alle in art. 47 genoemde
personen ·uitdrukkelijk daders worden genoemam" (..... pelaku adalah
semua orang .yang disebut dalam Pasal 47 (Pasal 55 KUHP)..... ) Hal
ini diperkuat oleh Memorie van Toelichting yang menyatakan bahwa
semua orang yang telah disebutkan dalam Pasal 47 (Pasal 55 KUHP)
adalah pelaku.
Pendapat Pompe ini secara tidak langsung disanggah oleh van
Bemmelen dan van Hattum yang secara tegas menyatakan:
"De term "pleger, is geen gebruikelijk Nederlands en het betitelen
van den uitlokker als-dader is in strijd met het normale taalgebruik.
Het zal noch aan de wet, noch aan jurisdische schrijvers gelukken
het restrictief daderbegrip uit de Nederlandse taal verbannen; het
zal de niet gelukken de term dader voor den uitlokker ingang te
doen vinden; en het zal niemand gelukken de algemeen gebruikelijke
term "dader" te doen vervangen door "pleger'". Het verdient m.i.
allerminst aanbeveling en het is zeker ook niet nodig de betekenis
van goed-Nederlandse termen te verwringen allen omdat een
794
Hazewinkel Surlnga, [Link]., him. 230.
m Jan Remmelink, [Link]., him. 308.
191 Hazewlnkel Suringa, [Link].
m W.P.J. Pompe, [Link]., him. 233.
PERCOBMN DAN PENYERTMN 355
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
bepaald westartikel (art 47 Sr) eenjuridische uitbreiding geeft aan
het begrijp dader798 "
(Istilah pelaku bukan merupakan istilah yang umum dipergunakan
orang dalam bahasa Belanda dan pemberian arti dari "orang
yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu perbuatan
pidana" sebagai seorang pelaku adalah bertentangan dengan
tata bahasa yang bersifat umum. Baik menurut undang-undang
maupun secara yuridis, para penulis tidak akan pernah berhasil
meniadakan pengertiannya yang bersifat restriktif dari perkataan
pembuat dalam bahasa Belanda; undang-undang tidak akan
berhasil menggantikan perkataan orang yang menggerakkan
orang lain untuk melakukan perbuatan pidana dengan perkataan
pembuat; dan tidak seorang pun akan berhasil menggantikan
perkataan pembuat yang telah umum dipakai dengan perkataan
pelaku. Menurut pendapat saya, sebenarnya orang tidak perlu
mengacaukan istilah-istilah dalam bahasa Belanda yang sudah
baik itu, [Link]-mata karena suatu pasal undang-undang tertentu
(Pasal 47 WVS == Pasal 55 KUHP) telah memberikan suatu
perluasan pengertian secara yuridis kepada perkataan pembuat)
vanBemmelen dan vanHattumkemudian mendefinisikan pelaku:
"Dader is hij die een delictsomschrijving verwezenlijkt, de delictsinhoud
vervult of, zoals Zevenbergen het uitdrukt, "hij die een rechtsfeit voll~ig
verwerkelijkf99" (Pelaku adalah orang yang inemenuhi suatu ·rumusan
delik ·atau orang yang memenuhi semua unsur dari ~umusan delik,
a~aupun seperti yang telah dikatakan Zevenbergen: orang yang telah
memenuhi semua unsur dari suatu de~ secara lengk3..p). Pendapat van
Bemmelen dan van Hattum pada hakikatnya sama dengan pendapat
Simons, van Hamel, Noyon dan Langemeijer.
Simons dalam kerboek-nya. menyatakan:
"Dader van het strajbare feit is hij, die het strafbare feit pleegt,
d. w.z hij, die met door de wet vereischte opzet of met de gevorderde
schuld hetdoor de wet niet gewilde gevolg teweebrengt, de verboden
handeling verricht ofde geboden handeling nalaat, in wien dus al de
798 J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 379.
799
[Link].
.356 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
·"!
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
I
~--
voor het strajbare feit gestelde subjectieve en objectieve elementen
zich vereenigen, onverschiling of het besluit tot het plegen van het
· strajbare feit bij hem zelf ontstaan is of door uitlokking van derden
. is tot stand gekomen800"
(Pelaku suatu tindak pidana adalah orang yang melakukan
perbuatan pidana yang bersangkutan, dalam arti orang yang
dengan sengaja atau suatu ketidaksengajaan seperti yang telah
disyaratkan oleh undang-undang telah menimbulkan suatu
akibat yang tidak dikehendaki oleh undang-undang atau · telah
melakukan tindakan yang terlarang atau mengalpakan tindakan
yang diwajibkan oleh und_ang-undang, atau dengan perkataan
lain, ia adalah orang yang memenuhi semua unsur delik seperti
yang telah ditentukan dalain undang-undang, baik itu merupakan
unsur subjektif, . m,aupun unsur objektif, tanpa memandang
apakah keputusan untuk melakukan perbuatan pidana tersebut
timbul dari dirinya sendiri atau timbul karena digerakkan oleh
pihcik ketiga).
Menurut van Hamel, "Dader (auteur, thater) van een delikt is
......... hij - en aileen hij - in wien en in wiens doen en laten met de
gevolgen daar van, alle in - en uitwendige bestanddeelen aanwezig zijn
die in de wettelijke begripsomschrijving van het delikt, ........ worden
opgenoemd. Hij dus alleen en zelf het feit pleegt of begaafl01" (Pelaku
(auteur, thater) 8~ suatu tindak pidana hanyalah dia yang tindakannya
atau kealpaannya memenuhi semua unsur delik seperti yang terdapat
dalam rumusan delik tersehut, baik yang telah dinyatakan secara tegas,
maupun yang tidak dinyatakan secara tegas. Jadi pelaku adalah seorang
diri telah melakukan sendiri tindak pidana yang bersangkutan). Masih
menurut van Hamel, "Daderschap wordt niet vermoed; het moet steeds
worden bewezen803" (Bahwa yang dipandang sebagai pelaku bukanlah
anggapan, namun hal tersebut harus dibuktikan).
800
D. Simons, [Link]., him. 307.
801
G.A. van Hamel, [Link]., him. 444.
802
Auteur artinya pelaku dalam bahasa Perancis. Sedangkan thater artinya pelaku dalam
bahasa Jerman.
aoJ G.A. van Hamel, [Link].
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN ,~~~;
l'~r""Y..'I i
<~~i~~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Noyon dan Langemeijer memberi definisi pelaku sebagai berikut:
': .... dat naar algemeen sprakgebruik men hij het woord (iader"
men in de eerste plaats denkt aan hem die geheel de geheele
delictsomschrijving vervult. Het is echter evident dat de wet met
hen die doen plegen of uitlokken tot daders te stempelen . nooit
·bedoeld kan hebben het begrijp dader in dien zin op hen toe te
passen. Dan immers zou hij die doet plegen of die uitlokt ook zelf de
uitvoeringshandeling moeten verrichten 804 "
(Jika orang -mendengar perkataan "pelaku~ maka menurut
pengertian yang umum di dalam tata bahasa, teringatlah orang
mula-mula pada seseorang yang secara se_ndiria11 telah memenuhi
scluruh rumusan delik. Sudah jelas ~ahwa undang-undang tidak
pemah mempunyai maksud untukniemandang mereka yang telah
menyuruh lakukan atau mereka yang tel~h menggerakkan orang
lain untuk melakukan suatu perbuatan pidana itu, sebagai pelaku
dalam pen~ertian sebagaimana dimaksudkan di atas. Sebab jika
mereka itu harus dipandang juga sebagai pelal"'U, maka mereka itu
harus pula mel~anakan sendiri perbuatan pelaksanaannya).
'·
Catatan dan [Link] Penulis adalah sebagai berikut: PERTAMA,
berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas terkait pelaku, paling
tidak ada tiga pengertian: Pertama, pelaku dalam pengertian pelalru
tunggal sebagai orang yang secara sendirian . memenuhl semua unsur
delik. Pendapat ini -dikemukakan oleh Suringa- dan _ van. Hamel.
Kedua, pelaku adalah semua orang yang dikualifikasikan dalam Pasal
55 KUHP, baik sebagai pelaku, orang yang nienyuruh lakukan, orang
yang turut serta melakukan, maupun orang yang menggerakkan atau
membujuk untuk melakukan suatu tindak pidana. Pendapat ini secar~
tegas dikeniukakan oleh Pompe. Ketiga, pelaku adalah orang yang
memenuhl semua uq~ur delik. Pendapat ini [Link] oleh Simons,
van Bemmelen, van- . -· - -
Hattum, Noyon dan Langemeijer.
KEDUA, Penulis tidaksependapat dengan Suringa dan van Hamel
yang membatasi terminologi pelaku dalam Pasal 55 KQHP hanyalah
pelaku seorang diri yang telah memenuhl semua unsur delik. Dapat
804 T.J. Noyon En G.E. Langemeijer, [Link]. him. 317.
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
'!
,
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.;,. ,
saja dalam melakukan suatu perbuatan pidana, pelaku materiilnya lebih
dari satu orang dan semuanya memenuhi unsur delik. Sebagai mfsal,
A, B dan Cbersama-sama melakukan pencurian dengan kekerasan di
bank. A dan B yang masuk ke bank, kemudian menodongkan pistol
dan membawa sejumlah uang yang ada di brankas, sedangkan C hanya
menunggu di mobil. Dalam konteks demikian, pelakunya lebih dari
satu yang memenuhi unsur delik, yakni A dan B, sedangkan C bukanlah
pelaku melainkan turut serta melakukan.
KETIGA, Penulis pun tidak sependapat dengan Pompe, yang
menyatakan bahwa pelaku adalah semua yang disebut dalam Pasal
55 KUHP. Jika demikian, maka 'tidak perlu ada penyertaan. Pendapat
Pompe ini pun banyak ditentang oleh hampir seluruh ahli hukum
pidana Belanda sebagaimana yang telah diutarakan di atas. KEEMPAT,
Penulis sependapat dengan Simons, van Bemmelen, van Hattum,
N~yon dan Langetneije~ yang menyatakan bahwa pelaku adalah
se~eorang yang memenuhi semua unsur delik. Artinya, pelaku tersebut
dapat dalam · pengerthm tunggal maupun dapat dalam pengertian
jamak sebagaimana diilustrasikan di atas. Menurut hemat Penulis,
jika ada [Link] dalam melakukan suatu perbuatan pidana, maka
perbuatan tersebut dilakukan lebih dari satu orang. Apakah kedua-
duanya materieel dader, atau pelaku dengan yang menyuruh lakukan
atau pelaku d~ngan turut serta melakukan, atau pelaku dengan
yang menggerakkan untuk melakukan suatu perbuatan pidana atau
kombinasi di antara semua itu.
2. Doenplegen
Menyuruh lakukan adalah terjemahan dari doenplegen, sedangkan
orang yang menyuruh lakukan disebut dengan istilah doenpleger.
Menurut sejarahnya, bentuk penyertaan doenplegen sebenarnya tidak
dikenal dalam Code Penal Perancis sebagai induk dari Wetboek van
Strafrecht. Demikian juga dalam Strafgesetzbuch Jerman dan Code Penal
Belgia, tidak mengenal doenplegen. Orang yang menyuruh lakukan
dimasukkan sebagai pelaku dalam pengertiari yang luas, sedangkan
PERCOBAAN DAN PENYERTMN 359 .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
orang yang disuruh hanyalah sebagai instrumen. Oleh karena itu dalam
Memorie van Toelichting menyatakan bahwa pelaku bukan saja ia yang
melakukan perbuatan pidana, melainkan juga orang yang melakukan
secara tidak in persona tetapi melalui orang lain yang seolah ·sekadar
alat bagi kehendaknya805•
Dalam bentuk penyertaan menyuruh lakukan atau doenplegen,
paling tidak dua orang atau lebih yang terlibat dalam suatu perbuatan
pidana dengan kedudukan yang berbeda. Orang yang menyuruh
lakukan disebut sebagai manus domina atau middelijke daderdan orang
yang disuruh disebut sebagai onmiddelijke dader atau manus ministra.
Doenplegen juga disebut sebagai middelijk daderschap yang berarti
seseorang mempunyai kehendak melakukan suatu perbuatan pidana,
namun ia tidak mau melakukannya sendiri dan mempergunakan orang
lain yang disuruh melakukan perbuatan pidana tersebut;806. Kendatipun
demikian, seseQI'allg yang menyuruh orang lain melakukan suatu
perbuatan, sama halnya dengan orang tersebut melakukan perbuatan
itu sendiri: qui per alium facit per seipsum facere videtur. ,
Palingtidakada tiga syaratpenting dalam doenplegen. Perlanul, alat
yang dipakai untuk melakukan suatu perbuatan pidana adalah orang*".
Kedua, orang yang disutuh tidak mempunyai kesengajaan, kealpaan
atau kemampuan bertanggung jawab. Ketiga, sebagai kon~ekuerisi
syarat kedua adalah bahwa orang yang disuruh inelakukan tidaklah
dapat dijatuhi pidana608• Sebagai misal, A dan B hidup bertetangga.
Mereka sering bertengkar mulut sampai suatu ketika timbul niatan dari
A untuk melukai B. Pada saat B sedang berjalan di depan ru,mah, A lalu
menyuruh anaknya C yang ban1, benisia 10 tahun untuk melempari
B dengan batu yang ada di halaman. C kemudian inelempat1 B dan
mengakibatkan luka pada· kepala. Dalam konteks yang demikian, A
adalah doenpleger atau orang yang menyuruh lakukan atau manus
eas Jan Remmelink, [Link]., him. 310.
106
Moeijatno, [Link]., him. 123.
rm Nyoman Serikat Putrajaya, [Link]., him. 13.
801 Moeljatno, [Link]., him. 123 -124 •
.. ~6Q. PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
-;· ....
"!
I
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
domina atau middelijke dader. Sedangkan C adalah orang yang disuruh
untuk melakukan suatu perbuatan pidana atau hanya sebagai alat
semata atati manus ministrti atau materieele dader atau onmiddelijke
dader. Sudah tentu yang dimintai pertanggungjawaban pidana adalah
A dan bukan C.
Mengenai-hubungan antara ·doenpleger dan materieele dr:uJer,
· Simons menyatakan:
"Deze uitdrukking is minder gelf!kki~ is de uitvoerder niet meer dan
willoos werktuig, dan is degene, die van hem gebruik maakte, zelf
als de materieele dader aan te merken. In elk geval kan er van "do en
plegen• sprake zijn zonder "willoosheid'" van hem. die handeling
verrichte. Slechts op zijrie niet strafrechtelijke iznnsparkelijkheid als
dader komt het aan809•
(Perkataan ini kurang 'menguntungkan, oleh karena jika orang
yang · melakukan tindak pidana adalah tidak lain dari suatu
· "alat 'mati" belaka, maka orang yang telah menggunakan alat itu
· sendiri, harusla.h dipandang sebagai seorang pelaku materiil. Pada
dasarnya inenyuruh lakukan itu dapat terjadi tanpa adanya sifat
"tidak mempunyai kehendak" pada orang yang telah melakukan
perbuatan pidana. Masalahnya di sini hanyalah berkenaan dengan
tidak dapat dituntutnya orang tersebut menurut hukum pidana
sebagai seorang pelaku).
Simons kemudian melanjutkan, "Middelijk daderschap is een '
vorm van daderschap81o» (s~seorang mempunyai kehendak melakukan
suatu perbuatan pidana, namun ia tidak mau melakukannya sendiri
dan mempergunakan orang lain yang disuruh melakukan perbuatan
pidana tersebut salah satu bentuk penyertaan). Artinya, Simons hendak
menyatakan bahwa pelaku, orang yang menyuruh lakukan dan orang
yang turut serta melakukan adalah para pelaku dalam konteks delik
penyertaan. Masih menurut Simons, hanya uitlokker atau penganjur
saja yang bukan pelaku811 •
109
D. Simons, [Link]., him. 309-310.
110
Ibid, him. 311.
.
au Ibid, him. 327.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 361
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pernyataan Simons yang demikian menempatkan pendapatnya
tidak: seluas Memorie van Toelichting, namun juga tidak sesempit
pendapat van Bemmelen dan van Hattum. Moeljatno dengan
mengutip Memorie van Toelichting menyatakan bahwa ada empat
pengertian pelaku. Pertama, mereka yang melakukan . perbuatan
seperti yang dirumuskan dalam rumusan delik secara materiil dan
persoonlijk (pleger). Kedua, mereka yang juga melak:ukan perbuatan
tetapi tidak persoonlijk melainkan dengan perantara orang lain
(doenpleger). Ketiga, mereka yang bersama-sama melakukan perbuatan
pidana (medepleger). Keempat, mereka yang menganjurkan (uitlokker)
melakukan perbuatan pidana secara materiil. .Mereka ini disebut juga
sebagai auctor intellectualis812•
Tafsiran van ~emmelen dan van J:I;attum terhadap ·Memorie
van Toelichting a<W~ bahwa kata-kata "sebagai pelaku" atau "als
dader" tidald~ berarti bahwa mereka adalah pelaku, tetapi hanya
disamakan dengan pelak:u. van Bemmelen dan van Hattum
selanjutnya nienyatakan bahwa pelaku, hanyalah orang yang secara
materiil dan persoonlijk melakukan suatu perbuatan pidana. Pendapat
van Bemmelen dan van Hattum adalah restrictief daderschap atau
pengertian pelaku yang sempit dan menolak extensief daderschap atau
pengertian pelaku yang luas. Alasannya, jika mereka yang r_nenyuruh
lakukan atau yang menganjurkan perbuatan dinamakan pelaku, mereka ·
lalu diharuskan mempunyai syarat persoonlijk sebagaimana dimaksud
dalam rumusan delik813• Apakah mungkin seseorang yang bukan
militer dapat menyUruh melakukan su~tu delik mili~er atau seseorang
yang bukan pejabat dapat menyuruh melakukan suatu delik jabatan814•
Perubahan karakter menyuruh lakukan atau doenplegen ini
terlihat jelas dalam Reispas-arrest (Hoge Raad 21 April1913; W 9501,
NJ 1913, p. 961). Kasus posisinya adalah sebagai .berikut: Walikota
Gemeente Zaandam memohon suiat jalan kepada Commissaris der
Koningin Provincie Noord-Holland agar menerbitkan sprat jalan atas
111 Moeljatno, [Link]., him. 87.
au J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 425.., 426.
114
Jan Remmelink. [Link]., him. 311•
.:.362 ·. PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
·~
~·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
naina J.M.E untuk melakukan perjalanan ke Rusia. Walikota Gemeente
Zaandam dalam surat tersebut mencimtumkan usia J.M.E 21 tahun,
pad$al usianya yang sebenarnya adalah 17 tahun. Commissaris der .
Koningin Provincie Noord-Holland menerbitkan surat .jalan -tersebut
sehingga diancam pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 270
ayat (1) KUH~ Pertanyaan lebih Ianjut, apakah Walikota Gemeente
. Zaandam dapat dijatuhi pidana? Hoge ·Raad dalam pertimbangannya
menyatakan bahwa meskipun Walikota Gemeente Zaandam tidak
berwenang [Link] j~an, namun dengan mencantumkan
usia J.M.E yang tidak berdasarkan fakta, dianggap menyuruh
melakukan perbuatan pidana yang bersangkutan: Di sini middelijke
dader tidak perlu mempunyai kualitas persoonlijk sebagaimana yang
dimaksud dalam [Link] delik.. Demikian pula, secara materiil
yang menerbitkan surat jalan tersebut bukanlah Walikota Gemeente
Zaandam815•
· Menuhlt Remmelink,· bahwa bentuk hukum menyuruh lakukan,
telah berubah jauh yang dapat dirumuskan bahwa upaya sengaja dari A
sehingga suatu perbuatan pidana dil~ oleh B. Karakter khas dari
bentuk men~ lakukan hanya sebagai instrumen, tidak lagi bersifat
menentukan816• Pandangan Hoge Raad dalam putusankasus a quo dapat
diterima oleh Pompe dan Langemeijer'17 yang mengikuti pandangan
penyertaan ekstensi£ Menurut Pompe, pandangan y~ menyatakan
bahwa pelaku hanyalah mereka yang melakukan perbuatim secara
materiil dan mempunyai syarat persoonlijk sebagaimana dirumuskan
dalam rumusan delik adalah .tidak berdasar dan tidak sesuai dengan
sejarah pembentukan Wetboek van Strafrecht818•
Dalam handboek-nya Pompe menyatakan:
"Ben voorbeeld daarvan Ievert de ambtelijke hoedanigheid bij
ambtsdelicten. Ben medewerker, die zo'n persoonlijk bestanddeel
815
J.M. van Bemmelen En H. Burgersdijk, [Link]., him. 185- 178. Bandingkan dengan Jan
Remmelink, [Link]. Bandingkan pula dengan Moeljatno, [Link]., him. 88- 89.
116
Jan Remmelink, [Link].
117
T.J. Noyon En G.E. Langemeijer, [Link]., him. 318.
818
W.P.J. Pompe, [Link]., him. 224.
PERCOBAAN DAN PENYERTMN 363 ·.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mist, pleegt evenmin het strajbare feit, maar kan het aileen
medeplegeu. Zoals hierboven betoogd is, ken een medewerker
zonder zo'n voor plegen vereiste hoedanigheid wegens medeplegen
strajbaar zijn. Voor die deelnemers, welke in de wet daders genoemd
worden, is immers niet vereist, dat ieder de bedoelde persoonlijke
hoedanigheid bezit819".
(Suatu contoh adalah keadaan sebagai seorang pegawai negeri
di dalam kejahatan-kejahatan jabatan. Seorang peserta tidak
memiliki unsur pribadi seperti itu memang tidak dapat melakukan
perbuatan pidana tersebut, namun ia dapat turut melakukannya.
Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas, bahwa. seorang peserta
itu memiliki keadaan yang disyaratkari bagi pelakunya, dapat
dipidana karena turut melakukan suatu perbuatan pidana, hal
ini disebabkruj bagi para peserta yang di dalam undang-undang
disebut sebagai, para pelaku, tidak disyaratkan bahwa setiap orang
dari mer!ka itu harus memiliki keadaan pribadi tersebut).
Pendirian Pompe dan Langemeijer juga diikuti oleh Moeljatno.
Bahkan, Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam praktiknya, ·
menganut penyertaan yang ekstensif. Hal ini jelas terlihat dalam Putusan
Mahkamah Agung dalam Forum Prevelegiatum820 23 Desember 1955,
Nomor 1/1955/MA Pid.
Kasus Posisinya adalah sebagai berikut ., ¥enteri Kehakirilan,
.Djodi Gondokusumo tinggal bersama dua orang stafnya yang berasal
dari satu partai. Seorang Warga Negara Cina yang telah di - persona
non grata - kan mengajukan izin tinggal kepada Dj~di Gondokusumo
melalui dua orarig stafnya tersebut. _Djodi Gondokusumo kemudian
memberikan izin til}ggal. Kendatipun tidak menerima suap dari Warga
Negara Cina tersebut, Djodi Gondokusumo didakwa menerima suap
dengan dakwaan Pasal418 juncto Pasal55 ayat (1) ke-1 KUHP.
au Ibid, him. 249- 250.
820 Forum Prevefegiatum. adalah pengadilan khusus untuk pejabat negara yang didakwa
melakukan suatu perbuatan pldana. Forum Prevefegiatum dllakukan~di Mahkamah Agung
sebagai pengadilan tingkat pertama dan terakhlr. Ketentuan lnl berdasarkan Undang-
Undang Oasar Sementara 1950 yang berlaku di Indonesia sejak Tanggal17 Agustus 1950
sampai dengan Oekrit Preslden 5 Juli 1959 yang antara lalnnya lslnya adalah Kembali Ice
Undang-Undang Oasar 1945.
"! .. 364 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
I
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dalam pertimbangannya, Mahkamah Agung menyatakan bahwa
para peserta _dalam bentuk penyertaan turut serta ·melakUkan. tidak
perlu melaktikan perbuatan yang sama (materii1)·9an, tidak perlu j:uga'
. . .
pun)'a sifat pribadi (persoonlijk) yang samaden~pelaku sebagajmana ·
dimaksud dalam-rumusan delik. Masih menUJ'llt Malikaroah, [Link]. ·
dalam hal <¥Ja orang·atau lebih dituntut bex:sama-sama dan bersekutti
·melakukan kejahatan tersebut, para pelaku tidak perlu masing-m!lSing
di antara !llereka memenuhi semua unsur yang oleh pasal-pasai
tersebut dirumuskan dalam delik tersebut Para pelaku adalah seorang
Menteri Kehakiman dan dua orang ~tafnya [Link] casu a quo, tidak
perlu mereka sem~. (para pelaku)_ menerima suap secara nyata. Dalam
kenyataannya dua orang staf separtai yang menerima suap dari Warga
Negara Cina tersebut, sementara Menteri Kehakiman mengeluarkan
surat izin IIienetap. Me!lteri Kehakiman, Djodi Gondokusumo dijatuhi
piclaqa penj~ enam bUlan. . ·
Berbeda dengan pendapat van Benimelen, van Hattum dan
Simons terkait ajaran penyertaan restriktif, demikian pula berbeda
dengan pandangan Pompe, Langemeijer dan Moeljatno berkaitan
dengan ajaran penyertaan ekstensif, Noyon dan Jonkers menyatakan
bah~ zij die het feit plegen atau mereka yang melakukan perbuatan .
adalah medeplegen atau mededaders atau mereka yan& turut serta
melakukan perbuatan. Lebih lanjut dikatakan oleh Jonkers, dalarit
ajaran penyertaan bukanlah_enkelvoudige dader atau pelaku tunggal,
melainkan meervoudige dader atau pelaku yang lebih dari- satu. Masih
menurut Jonkers; undang-undang tidak menyamakan pemidanaannya
tetapi membeda-bedakan menurut besar-kecilnya perbuatan yang
dilakukan821,
Penulis lebih cenderung pada pendapat yang dikemukakan
Jonkers, dasar argumentasinya adalah: Pertama, delik penyertaan
memperluas orang-orang yang dapat dimintakan pertanggungjawaban
pidana. Kedua, masih berkaitan dengan yang pertama, dalam delik
penyertaan pelakunya lebih dari satu orang. Ketiga, antara · pel~
Ill J.E. Jonkers, [Link]., hlm. 107.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 365
.. ·.·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang satu dengan yang lain termasuk juga yang [Link] atau
menganjurkan dan yang membantu, pada hakikatnya merupakan satu
kesatuan dalam mewujudkan suatu perbuatan pidana.
Hal terakhir yang berkaitan dengan doenplegen atau menyuruh
lakukan adalah bahwa orang yang menyuruh lakukan atau doenpleger
sudah pasti diliputi oleh kesengajaan. Dalam kata "doen" atau
"menyuruh, mengandung kesengajaan. Artinya, orang yang me-
nyitruh menghendaki orang yang disuruh bertindak sesuai dengan
kehendaknya. Oleh karen a itu, seniua akibatyang akan timbul, baikyang
dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki haruslah dipcrhitungkan
dan menjadi risiko yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang
menyuruh. Pengaruh psikologis dati orang yang menyuruh terhadap
orang yang disuruh tidaklah [Link], sehingga doe,n atau ·menyuruh
secara praktis dipahami juga sebagai dengan sengaja membiarkan
"
orang lain melakukan delik seperti dalam kasus Walikota Gemeente
Zaandam di atas822•
3. Medeplegen
Medeplegen dapat diartikan sebagai turut serta melakukan.
Mengenai istilah medeplegen, pada awalnya digunakap kalimat
"'opzettelijk tot het plegen daarvan medewerken,· (sengaja iktit [Link]
untuk melakukan perbuatan). Istilah terseb~t mendatangkari keberatan
karena tidak terlihat perbedaan dengan pembantu yang memberikan
hantuan pada saat perbuatan dilakukan. Berdasarkan saran de Vries,
seorang ahli bahasa, sehingga kata "medewerken• diganti dengan istilah
medeplegen823• Bentuk penyertaan medeplegen ini tidak dinyatakan
secara expressiv verbis dalam Code Penal Perands, namun . diakui
. dalam yurisprudensi. Oleh karena itu tidak ada. kesatuan pendapat
di antara para ah1i hukum pidana terkait apa yang diinaksud dengan
medeplegen124•
m Jan Remmellnk. [Link]., him. 312.
m .TJ. Noyon En G.E. Langemeljer, [Link]., him. 330-331. Bandingkiin dengan Moeljatno,
[Link]., him. 110-111. ·
w Jan Remmelink, [Link]., him. 313.
'!
~·
.S6G.· PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
Menurut van Hamel, perbuatan orang yang medeplegen; selain
merupakan penyertaan yang lengkap, juga orang-orang yang terlibat
harus melakukan seluruh perbuatan. Pengertian medeplegen ini juga
diikuti oleh J~nkers825 dan Slmons&l6 • Terkait medeplegen, van Hamel
menyatakan sebagai berikut:
"'Mede in aansluiting nu aan 't bij de samensteUing van het Swb.
Voorgevallene, schijnt ook mij bij de wetstoepaSsing van ons positief
recht een objectieve leer de meest aangewezene. Maar dan zou ik die
ook ...: en dat doet meestal de rechtspraak niet - consequent willen
doorvoeren en dus beperken tot de mogelijk zeldsame gevallen,
waarin de werkzaamheid van elk der deelnemers, op zichzelve
beschouwd, volledig daderschap opleverF'"' ·
(Sesuaj dengan apa .yang terjadi saat KUHP dibentuk, dalam
penerapan undang-undang hukum positif kita, menurut hemat
saya ·.ajaran yang bersifat objektiflah yang harus kita gunakan.
· Dengan menganut paham seperti itu, saya terpaksa harus
menganutnya secara konsekuen dan harus membatasi diri pada
peristiwa-peristiwa yang mungkin dapat terjadi, namun yang
jarang terjadi, yakni dengan memandang bahwa tindakan dari
setiap peserta tersebut harus demikian lengkap agar peserta
tersebut juga dianggap sebagai seorang pelaku, yaitu suatu hal yang
pada kenyataannya tidak dilakukan oleh pengadilan-pengadilan).
Adapun mengenai medeplegen, Simons menyatakan:
'
"De mededader als dacler moet al de eigenschappen bezitten. welke
naar de wettelijke omschrijving voor daderschap gevorderd worden;
wie niet alleen-dader van strajbare feit kan zijn, kan ook niet als
mededader aangemerkt worden; persoonlijke omstandigheden, die
de strafbaarheid bepalen, komen alleen in aanmerking bij dengene
van de mededaders, bij wien zij aanwezig zijn828,
(Orang yang turut melakukan adalah pelaku harus pula memiliki
semua sifat yang menurut rumusan undang-undang telah
125
J.E. Jonkers, [Link]., him. 110.
826 . D. Simons, [Link]., hlm:306.
121
G.A. van Hamel, [Link]., him. 481.
111
D. Simons, [Link]., him. 313.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 367
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
disyaratkan harus dimilild oleh seorang pelak:u; barangsiapa
tidak dapat menjadi seorang pelaku perbuatan pidana, maka ia
juga tidak dapat turut melakukan perbuatan pidana tersebut; jika
disyaratkan harus ada sifat-sifat pribadi yang membuat seseorang
menjadi dapat dipidana, maka mereka yang juga memiliki sifat-
sifat seperti itu yang dapat menjadi seorang turut serta melakukan)
Kritik van Bemmelen dan van Hattum terhadap pendapat van
Hamel - demikian juga terhadap pendapat Simons dan Jonkers -
bahwa "De opvatting van van Hamel dat mededaderschap alleen dan
aanwezig. is wanneer "de werkzaamheid van elk deelnemers, op zich
zelve beschouwd, volledig dadershap oplevert" maakt de vermelding
van medeplegetJ in art. 47 overbodig. Daarom acht ik die opvatting-
onjuistw"(Pendapat dari van Hamel, seolah-olah suatu penyertaan
turut serta melakukan hanya dapat ada jika tindakan dari tiap-tiap
peserta [Link] harus dipandang telah menghasilkan suatu
penyertaan secara sempurna akan membuat pencantuman "turut serta
melakukan.. dalam Pasal47 WvS (Pasal 55 KUHP) menjadi tidak ada ·
gtinanya. Oleh karena itu saya menganggap pendapat yang deniikian
adalah tidak benar).
Masih menurut van Bemmelen dan van Hattum, "Behalve oput
gericht op samenwerking zal voorts bij den metktlader [Link]
moeten zijn gericht op die bestanddelen ten aan· iien waarvan voor
dadershap opzet is vereisf'JO" (Kecuali bahwa keseilgajaan seorang turut
serta melakukan harus ditujukan keparl;a suatu kerj~a, kesengajaan
dari turut serta melakukan harus jug~ ditujukan kepada ·unsur-unsur
delik yang diliputi ·kesengajaan yang harus dipenuhi oleh seorang
pelaku). van Bemmelen dan van .Hattwn selanjutnya [Link]
bah~ medepelegen pada hakekatnya hanya mungkin pada perbuatan
yang merupakan delik. Pada delik materiil perbuauin tersebut adequat
[Link] dengan akibat" 1;
121 J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link].,·hlm. 388, catatan leak! nomor 1.
uo Ibid., him. 390.
131 Ibid., him. 394.
- ~~ ·.368.:
·: .
PRINSIP-PRINSIPHUKUM PIOANA
r'
"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
Terkait medeplegen, Pompe menyatakan bahwa medeplegen adalah
seseorang dengan seorang lainnya atau lebili melaksanakan pcrbuatan
pidana. Dalam makna b~wa [Link] atau setidak-tidaknya
. niereka itu semua mela:ksanakan ~ur-unsur perbqatan pidana
tersebut,-namll!l tidak mensyaralkan medepiegen.~arus melaksanakan ·
se,mua uilsur delik. Lebih lanjut dikatakalt ol~ ·Pompe:
•Evenmin is voor de strafbaarheid van het medeplegen vereist, dat
de antler. die mede uitvoert. ·-het tot de bestanddelen van hei delict .
behormde opzet enz heeft. lngeval dit opzet bij de ander. die mede
ultvoert, ontbreelct, lean men deze andere echter niet voor medeplegen
stralfm, . .......... Jmmers voar strajbaar medeplegen, evenals voor
strajbaar doen plegen, ~ opzet ten aanzien van het strajbare feit
vereisfl1-.
·(De'mikian agar seseorang yang turut melakukan dapat dipidana,
,:
maka orang ~tersebut harus mempunyai kesengajaan dan
menienuhi unsur-UilSur lain dari delik tersebut }ilea kesengajaan
· · tersebut tidak terdapat pada orang yang twut melakUkan, maka
orang tersebut tidak dapat dipidana karena turut melakukan........
Oleh karena itu. sama halnya dengan dapat dipidananya seseorang
yang te1ah menyuruh lakukan, maka untuk dapat dipidananya
seseorang yang turut serta melakukan, disyaratkan bahwa
mereka itu mempunyai suatu kesengajaan-yang ditujukan kepada
. ._perbuatan pidana yang mereka lakukan). "
Langemeijer berpendirian bahwa jika beberapa perbuatan
merupakan elemen delik maka rnungkin perbuatan-perbuatan itu
dilakukan oleh lain-lain peserta. Dapat saja peserta yang satu melakukan
perbuatan yang menurut rumusan adaJah perbuatan pelaksanaan
sedangkan peserta yang lain melakukan perbuatan yang tidak termasuk
rumusan, namun untuk pelaksanaan perbuatan tadi adalah penting
sekali813• Pendapat Langemeijer ini cenderung sama dengan pendapat
Pompe. Demikian halnya Moeljatno yang juga mengikuti pendapat
Pompe.
132
[Link]. Pompe, [Link]., him. 250.
113 T.J. Noyon En G,E. Langemeijer, Op,Cit., him. 334- 335.
PERCOBAAN DAN PENYERTMN 369
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Berdasarkan pendapat para ahli terkait medeplegen, komentar dan
pendapat Penulis adalah sebagai berikut: PERTAMA, pendapat van
Hamel dan Simons mengenai medeplegen terlalu sempit karena setiap
pelaku harus melakukan semua unsur delik. Pendapat ini dapat Penulis
ilustrasikan sebagaimana yang telah dicontohkan di atas: A, B dan C
bersama-sama melakukan pencurian dengan kekerasan di bank. A dan
B yang masuk ke bank, kemudian menodongkan pistol dan membawa
[Link] uang yang ada di brankas, sedangkan C hanya menunggu di
mobil. Dalam konteks demikian, jika merujuk pendapat van Hamel
dan Simons, maka pelakunya hanyalah A dan B, karena mereka berdua
yang melakukan semua unsur delik. Sedangkan C bukanlah pelaku
peserta.
KEDUA, bertolak dari ilustrasi tersebut, Penulis sependapat
dengan Pompe, Langemeijer dan Moeljatno bahwa tidak semua
'
pelal"U peserta dal~ medeplegen memenuhi semua unsur delik.
Sangat mungkin dalam medeplegen, ada peserta yang memenuhi
unsur delik, namun ada juga yang perbuatannyC;l secara [Link] tidak
memenuhi semua unsur delik. Namun secara keseluruhan semua
perbuatan dari medeplegen adalah suatu rangkaian perbUatan. Dengan
demikian ada tiga kemungkin;m cWam medeplegen. Pertmtil;l, semua
pelaku memenuhi unsur dalam rumusan delik. Keduai salah seorang
memenuhi unsur delik, sedangkan pelaku yang lain tidak. ¥etiga, tidak
seorang pun memenuhi semua rumusan delik, namun bersama-sama
mewujudkan delik tersebut. Dalam iluStrasi di atas, C dilQialifikasikan
sebagai turut serta melakukan keridatipun hanya menunggu di
mobil bukanlah perbuatan yang memenuhi unsur delik, akan tetapi
merupakan satu rangkaian·perbuatan pencurian dengan kekerasan.
·KETIGA, hal terpenting yang dikemukakan Pompe adalah bahwa
dalam mediplegen ada dua kesengajaan: Pertama, kesengajaan untuk
menga~ kerja _santa dalam rangka mewuju~ suatu delik -di
antara para pelaku. Artinya ada suatu kesepakatan atau meeting of
.mind di antara mereka. Kedua adalah kerja sama· yang D}'!lta daiam ·
-~ .~-370
_... . : PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"'
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mewujudkan delik tersebut. Kedua kesengajaan tersebutmutl<h'< harus
ada · dalam medeplegen dan keduanya harus dibuktikan penuntut
umuin di ·P,engadilan. Agentes et consentientes [Link] poena plectenture
atau consentientes et agentes pari poena plectentur. 'Artinya, pihak yang
bersepakat dan melakukart perbuatan akan mendapatkan .hukuman
yangsama.
Mengenai adanya dua kesengajaan tersebut. .Moeljatno.
berpendapat bahwa kesengajaan . yang pertatna adalah subjectief
[Link] elemen melawan hukum subjektifyaitu sikap batin
di antara para pelaku peserta. Sedan_gkankesengajaan yang kedua adalah
objectief onrechtsek?nent atau ele!Den melawan hokum objektif yakni
adanya kerjasama yang nyata di antara para pelaku. Masih menurut
Moeljatno, dalam dakWaan penuntut umum jika A dan B ni~lalaikan
delik penyertaan~ · ~ hams dinyatakan bahwa. "4 dan B bersama-
samq dan ·~ersekutu telah rrtelakukan suatu perbuatan pidana". Kata
•bersama-sama" m~nandakan objectief onrecht5ekment, sedangkan
kata-kata "'bersdcutu" menunjukan .subjectief onrechtselement'34. Di
sini, twee of meer verenigde personen (dua orang atau lebih bersama-
sama atciu bersekutu) dapat dianggap sebagai hal yang memberatkan
pidana835•
Menurut Remmelink, dalam medeplegen tidak perlu ada reneana
atau kesepaka~ te~lebih dulu. Sebaliknya yang pertu dibuktikan
adalah sating pengertian ~ antara sesama pelaku dan pada saat .
perbuatan diwujudkalt . masing-masing pelaku bekerja sama ·untuk
mencapai tujuan bersama836• Pendapat yang demikian juga dianut ·
oleh Noyon dan Langemeijer. Kendatipun dalam bukunya, Noyon
dan Langemeijer menyatakan, •Medeplegen veronderstelt bewustzijn
van samenwerking"'~" (Perbuatan turut serta melakukan menunjukkan
kesadaran adanya kerjasama), bahkan dilanjutkan bahwa jikakesadaran
tentang adanya suatu kerjasama itu ternyata tidak ada, maka orang
134
Moeljatno, [Link]., him. 116-117.
m Jan Remmelink, [Link]., him. 321.
136 Ibid, him. 314.
07
T.J. Noyon En G.E. Langemeijer, [Link]., him. 336.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 37l
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tersebut tidak dapat dikatakan turut serta melakukan838, akan tetapi
dalam ilustrasi yang diberikan Noyon dan Langemeijer, sebenarnya
tidak demik:ian.
Jikaseseorang mempunyal kesengajaan untuk membunuh,
sementara pelaku [Link] yang turut serta melakukan bermaksud
hanya untukmenganiaya, dan korban tersebut benar-benar mati, maka
menurut Noyon dan Langemeijer, keduanya dipersalahkan turut serta
melakukan penganiayaan berat yang mengakibatkan mati Masih
menurut Noyon dan Langemeijer,' bentuk-bentuk penyertaan yang
disebutkan dalam KUHP harus ditafsirkan [Link] rupa, sehingga
· bentuk-bentuk penyertaan tersebut h~s disamakan dengan pelaku839•
van Bemmelen dan van Hattum, . tidak sependapat dengan
Noyon dan Langemeijer. Secara tegas dinyatakan oleh van Bemmelen
dan van Hattum, "Ilc ben het dus niet eens met de mening van Noyon
en Langemeijc!P, dat ·bij verschil van opzet geen -medeplegen aanwezig
is. \-\Tel in juist dat dit verschil in opzet tot verschil in qualificatie lean
leideniUO" {Saya tidak sependapat dengaD. Noyon dan Langemeijer yang
mengatakan bahwa jika terdapat perbedaan kesengajaan semacam itu,
maka tidak mungkin terdapat suatu tunit serta melakukan. Akan tetapi
benar bahwa adanya perbedaan kesengajaan seperti itu dapat menjilrus
pada pemberian kualifikasi yang berbeda-beda).. · ~
Penulis dalam hal ini sependapat dengan van
Bemmd~ dan van
Hattum. Dasar argumentasinya adalah: Pertatna, dalam medeplegen
hanis ada dua kesengajaan yang bers~t mutlak. ~ua, adanya sikap
hatin di antara para pelaku untuk menimbulkan delik yang dituju
berarti harus ada kesepahaman·datam mewujudkan delik. Ketiga, jika
. ternyata salah satu dari kedua kesengajaan tersebut tidak a~, maka
tidak ada turut serta melakukan -meskipun perbuatan pidana terjadi.
K«[Link], kalaupun terjadi perbuatan pidana, maka kualifikasi ·pelaku.
dan perbuatan yang dilakukan harus dibedakan. •
111 [Link], [Link]., ·him. 60L .
·• TJ, Noyon En G.E. Langemeljer, [Link]., him. 337. Bandingkan dengan [Link],
[Link].
aco -J:M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 253.
-~ .372 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
· ;
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
,,
_ Sebagai ilustrasi: A tidaksenang dengan C karena selalu menggoda ·
istriny;l. .sehingga A bemiat membunlth
. . C. Di sisi lain, B yang juga
[Link] dengan C karena persaingan bisnis . be~at [Link]
C. Tidak terjadi kesepakatan antara A dan .
B unfuk
[Link]
-
mana yang dituju. Pada suatu malam ketika C~dang berjalandi jalanaii.
yang sepi, .tiba,.tiba A dan B niemukul C. B _hanya sesekali memukul
C pada b~an wajah dan perut, namun A ~emukul Cberulang kali
hingga terjatuh~ Ketika C terj~tuh. A kemudian mengamb~ batu dan
memukillkan ke kepala C. Setelah dirawat beberapa hari di rumah
sakit, C lalu meninggal dunia. •Berdasarkan ilustrasi tersebut, A tidak
dapat dikatakan turut serta- melakukan penganiayaan berat yang
. .
mengakibatkan matin~ C. Demikian pula-B tidak dapat dikatalcan
turut selta melakukan pembunuhan terbadap C. Hal iin karena tidak
~ ~ting of mitrd antara A dan B untult mewujudkan delik mana
yang ditllju..Oleh kaiena itu, A dipersalabkan melakukan pembunuhan,
sedangkan. B dipersalahkan melakukan penganiayaan berat yang
mengakibatkan mati.
Dal~ hukum Jerman terdapat istilah sulczessive mittaterschaft
yang menyatakanbahwa turut serta melakukan dapat terwujud melalui
kerja sama secara diam-diam. Artinya, kendatipun kesengajaan untUk
bekerjasama perlu rencana terlebih dahulu, namun dap,ttsaja seseorang
yang sedang menuntaskan suatu pe~uatan pidana mendapat bantuan
. dari orang lain untuk menyelesaikan perbuatan pidana tersebut
babkan turut serta dalam melakukan perbuatan pidana tersebut"1•
Penulis mengilustrasikan_ajaran ini sebagai berikut Pada malam bari
ketika A dan B sedang mencungkil pintu toko, tiba-tiba datang C dan
D yang membantu A dan B. Setelah pintu berhasil dibuka, mereka
berempat kemudian bersama-sama menjarah isi toko. Di. Sini tidak
ada kesepakatan antara A dan B dengan C dan D terlebih dulu. Namun,
perbuatan C dan D secara diam-diam dan tanpa kesepakatan terlebih
dulu dengan A dan B dianggap turut serta melakukan pencurian.
au Jan Remmelink, [Link]., him. 316.
PERCOBAAN DAN PENYERTMN 373
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Menurut Jan Remmelink. bentuk medeplegen dapat difungsikan
dalam dua hal. Pertama, untuk menciptakan dan rnelekatkan
pertanggungjawaban pada orang-orang yang turut serta melakukan
dalarn suatu perbuatan pidana narnun tidak mungkin dikualifikasikan
sebagai pelaku dengan mengingat tidak memenuhi unsur..
unsur delik yang sifatnya konstitutif. Kedua, untuk memperluas
pertanggungjawaban orang yang turut serta dalam suatu perbuatan
pidana. Di satu sisi bertanggung jawab sebagai pelaku, namun di sisi
lain bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya dalam kerjasama
yang sadar dengan pelaku lain.
Penulis dapat menerima apa yang dikatakan oleh Remmelink.
Terhadap hal .yang pertama, contohnya: C ·yang hanya menunggu
di mobil, sedangbn A dan ·B yang [Link] pencurian dengan
kekerasan. C tidakmungkin dikualifikasikan sebagai pelaku, melainkan
turut serta melalfukan. Terhadap hal yang kedua. kiranya sejak awal
subbab ini, Penulis telah menegaskan bahwa delik penye$an adalah
untuk memperluas pertanggungjawaban pidana pelakn.
·Hal lain yang berkaitan dengan medeplegen adalah jika
salah seorang medepleger melarnpaui batas kesengajaail, mab
pertanggungjawabannya hanya dibebankan kepada ia 'sendid
Contohnya: A dan B bemiat menganiaya C. A dan B" mem~ C
bef1J}ang kali .hingga terjatuh. Ketika B sudah berhenti menganiaya,
tiba-tiba A mengeluarkan sebilah pisau dan menwukn}ra di bagian
perut _C sehingga beraldbat mati. Dengan demikian, matinya C hanya
menjadi tanggung jawab pidana A dan l>ukan tanggung jawab B dalam
konteks ikut serta melakuka.D.. . . . . . .
· Hal [Link] medeplegen· ini adalah, ter~dang peml>entuk
undang-rindang . sudah mensyaratkan bahWa dalam mewujudkan
suatu delik .harus ada peWcu yang lebih dari satu oiang. Artinya, .
ada keturutsertaan dalain ddik tersebut. Pasal _170 ayat· (1} KUHP,
"Barangsiapa yang di [Link] beriama.:sama melakukan lcekerasan .
terhadap orang atau barang. dipidana penjara seklma-lamanya lima
-3'74t·;
'! . ·. PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
I .-· <·~~.:;~~·<
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~-
tahun enam bulan"'. Contoh lain Pasal 214' KUHP, "Paksaan dan
perlawanan yang diterangkan dalam Pasal211 dan 212 dilakukan oleh
dua orting bersama-sama qtau-lebih, dipidana penjara selama-lamanya
tujuh tahun"'.
4. Uitlokking
Vitlokking' secara harafiah diartikan sebagai yang m~ganjurbn
atau menggerakkan, sedangkan orang yang menganjurkan atau
menggerakkan disebut sebagai uitlokker. van Hamel memberi
pengertian uitlokking sebagai oerikut, "Het opzeUelijk bewegen, met
door de wet aangeduide meiddelen, van een zelfverantwoordelijk
persoon tot . een strajbaf,lr feit, dat deze, aldus bewegen, opzettelijk
pleer (Kesengajaan menggerakkan orang lain yang dapat
dipertanggungjawat>kan pada dirinya [Link] untuk melakukan
strlltu -petbuatan pidana dengan menggunakan cara-cara yang telah
ditentukan oleb undang-undang karena telah tergerak, orang tersebut
kemudian dengan sengaja melakukan tindak pidana itu).
Sarna ~alnya dengan bentuk menyuruhlakukan (doenplegen),
bentuk penyertaan uitlokking terdapat dua orang · atau lebih yang
masing-masing berkedudukan sebagai orang yang menganjurkan dan
orang yang dianjurkan. Orang yang menganjurkan ,disebut sebagai
auctor intellectualis dan orang yang dianjurkan disebut sebagai auctor
materialis atau materieele dader"'3• Plus peccat auctor quam actor.
Artinya, orang yang Irienggerakkan suatu kejahatan dipandang lebih
buruk daripada yang melakukannya. Berdasarkan PasalSS ayat (1) ke-2
. KUHP telah ditentukan secara limitatif upaya untuk menganjurkan
.atau menggerakkan orang lain melakukan perbuatan pidana. Ada
lima upaya menganjurkan atau menggerakkan: Pertama, memberi
atau menjanjikan sesuatu. Kedua, menyalahgunakan kekuasaan atau
martabat. Ketiga, dengan kekerasan. Keempat, dengan ancaman atau
il·
penyesatan. Kelima, memberi kesempatan, sarana atau keterangan.
142
G.A. van Hamel, [Link]., him. 462.
1
" Moeljatno, [Link]., him. 125.
PEACOBAAN DAN PENYERTAAN 375
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Ada lima syarat yang harus [Link] dalarn bentuk pcnyertaan
uitlokking: Pertama, kesengajaan untuk menggerakkan atau
menganjurkan orang lain melakukan suatu perbuatan pidana. Kedua,
ada orang lain yang dapat [Link] perbuatan yang [Link]
atau dianjurkan. Artinya, kehendak tersebut juga ada pada orang .
yang [Link] atau [Link]. Hal ini berkaitan dengan kausalitas
psikis. Ketiga, orang yang [Link] atau [Link] benar-benar
mewujudkan perbuatan pidana atau percobaan perbuatan pidana yang
dikehendaki oleh penggerak. atau penganjur. Itikad buruk saja tidaklah
cukup, tanpa terwujudnya perbuatan oleh orang yang dianjurkan atau
digerakkan. Keempat, menganjurkan atau menggerakkan harus dengan
cara-cara yang telah ditentukan secara limitatif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55 ayat (1) ke-2 di atas. KeUma, orang yang diger3kkan
atau dianjurkan barus dapat dimintai pertanggungjawaban pidana844•
Antaramen,amililakukandanmenggerakkan ataumenganjurkan,
ada tiga perbedaan prinsip. Pertama, pihak yang melakukan perbuatan
pidana dalam doenplegen harus tetap dikecualikan dari pemidanaan.
Sedangkan orang yang digerakkan atau dianjurkan [Link]
perbuatan pidana dap~t dimintakan pertanggungjawaban pidana.
Kedua, upaya dalam uitlokking bersifat limitatif, · sementara da1am
doenplegen dapat digunakan sarana apa plin. Ketiga, uitlokker atau
orangmenggerakkan atau menganjurkan tidak mtingkiD. mew_ujudkan
sendiri semua unsur yang ada dalam rumusan delik.
Bagaimanakah pertanggungja'Wab~ pidana ~rang penggerak.
atau penganjur atau uitlokker? perha~ sejumlah ilustrasi berikut
ini: Dustrasl Pertama: A sakit hati dengan B dan [Link]
C untuk memukul B. ·. Pada kenyataannya, C tidak memukul, .
melainkan menusuk ·B dengan sebilah pisau. Apakah A dapat
dimintakan pertanggungj~waban? Dalam konteks ini, A tidak dapat
dipertimggungjawabkan secara pidana atas akibat yang dilakukan oleb
C,namunAdapatdipidanakaienamenggerakkanoranglainmelakukan
144 Jan RemmeHnk, [Link]., him. 328. Bandinglcan dengan Moeljatno, [Link], him: 126•
.: 376.. PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
·t . ~-:_.~i1··-'. l" .
#
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~.
pengariiayaan_meskipun tidak terjadi akibat yang _diinginlcan oleh A
_sebagaimana dimaksud dalam PaSal163 bis KUHP. ·
Ilustrasi Kedua: A menggeraldcan B ~tuk me~bunW1 c..Pa~
kenyataannyaB tidakmembunuh c [Link]
dapat dimintakan pertanggungJawaban pidana?-Sama den~ jawaban
pada ililstrast Pert3ma di atas, .A tidak dapat ·dipertanggungjawabkan
secara pidana atas akibat yang dllalcukan oteh·- B, namwl A dapat ·
dipidana karena menggeraldcan orang Jain melaltubn pembunuhan
mesldpmi tidak terjadi akibat yang ·diinglnkan oleh A sebagaimana
dimalrsud dalam Pasal163 bis KUHP.
1lllllrtul Ketlgrr. X menggeraldcan Y dengan sejumlah · uang,
agar Y mau _membunuh_Z. Setelah menerlma uang, Y tidak me~
laku1wi · perbuatan apapun terhadap Z. Dapatbh .X dimintakan
pert:aJl~gjawabcirr-pidana? Jika dllihat dari ajaran penyertaan yari.g
tid;lk berdiri ~ndiri atau onzeljstandige vormen van deelneming, maka
X tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana, karena Y
tidak melakulcan tindakan apapun terhadap Z. Seba1iknya, jika _dilihat
dari ajaian ~!fstandige vormen van deelneming atau penyertaan yang
berdiri sendiri, maka X dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasall63 bis KUHP. Pendapat Penulls
yang tidak setuju, dengan pembedaan penyertaan [Link]·sendlri dan
penyeitaan yang tidak berdiri sendirl, dalam · ilustrasi ini, X ti"*
dapat dimintakan pertanggimgJawaban pidana, ·b rena perbuatan yang
digerakbn atau dianjurkan tidak pernah terjadi.
DustrasiKeempat: P m~nggerakkan S untukmembunuh T dengan
menggunakan senjata laras panjang. Pada saat S melepaskan tembakan,
dalam waktu yang bersamaan T bergerak dart tempat semula sehingga
peluru tersebut mengenai U dan matt -seketika. Apakah P ·dapat
.dirilintakan pertanggungjawaban pidana? Dalam ilustrasi ini terjadi
.apa yang disebut sebagai aberratio actus atau mislag atau salah sasaran,
sehingga P tetap dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas per-
cobaan pembunuhan terhadap T dan bukan pembunuhan terhadap U.
PERCOBMN DAN PENYERTAAN 377
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dustrasi Kelima: M hanya menggerakkan N untuk mencuri
di rumah K. Pada kenfcitaannya N tidak hanya rnencuri tetapi juga
mel~ kekerasan terha~p K. Apakah M dapat 4,i~takan
pertanggungjawaban pidana? M tetap dapat dimintakan per-
tanggungjawaban pidana terkait pencwian yang digerakkan olehnya
dan bukan kekerasan yang dilakukan oleh N terhadap K. Meskipun
Pasal 55 ayat (2) menyatakan pengge~ atau penganjur bertanggung
jawab atas .perbuatan · beserta semua akibatnya, akan tetapi akibat
yang dimaksud di sini hanyalah sebagai dasar untuk mernberatkan
pidana. Artinya. M hanya dimintakan pertanggungjawaban pidana
karena menggeraklwi ·N untuk rnencuri, namun sanksi pidananya
diperberat. Dalam konteks ini kita berbicara mengenai ekses kualitatif
dari suatu tindakan yang menggerakkan atau menganjurkan orang lain
melakukan perbu8tan pidana.
· Dustrasi Kurimni F menggerakkan G untuk menganiaya H. Pada
kenyataanya, G tidak berhenti menganiaya H sampai menimbulkan
akibat mati bagi H. Apakah F dapat dimintakan pertanggungjawaban
pidana? Kalau pada llustrasi kelima di atas, kita berbicara mengenai
ekses kualitatif. ·maka pada ilustras_i keenam . ini .kit.a berbicata
mengenai ekses kuantitatif dari suatu tin~ yang m~alfkan
atau menganjurkan orang lain melakukan perbl![Link]. F ·dapat
dimintakan pertanggungjawaban pidana atas tindakan penganiayaan
G terhadap H, akan tetapi tidakdapat dimintakan pertanggungjawaban
atas. akibat mati yang menimpa H. Hal ini karena kematian . H ·
sesungguhnya tidak dikehendaki ol~ F dan kematian -H sebenamya
adalah rencana sendiri oleh G845•
Berdasarkan keenam ilustrasi di atas dapat .ditarik ~erapa
kesimpulan. PertmtuJ, penggerak atau penganjur atau uitlokker hanya
~- - jawab Sebatas .perbuatan yang dig~ . atau - ~
dianjurkari.. Kedua. harits ada hubungan kausalitas ~tara peibualan
yang .digerakkan dengan perbuatan yang senyatanya .terjadi. ·Kdiga,
145 ~n Remmellnk, [Link]., hlnL 336-337.
·- --~
~~lij:~ PRJNSIP-PRINSIP JIJKUM PIOANA
I
~~+1~·~~-.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· ·• ·, '! • •· • , • . • •· • •- : • . .: : ~· ·: ~. H ·: • . : .. ··. ._. .,
~-
untuk menentukan sejauh mana pertanggungjawaban pidana
penggerak atau· penganjur atau uitlokker, tidak terlepas · dari ekses
kualitatif dan ekses ·kuantitatif dari orang yang melakukan perbuatan
pidana akibat digerakkan atau dianjurkan dan halini tentunya dilihat
secara kasuiStik.
C. -PEMBANTUAN
Sarna seperti doenplegen dan uitlolcking, dalam peiJlbantuan .
atau medeplichtige ada dua ·pihak yang terdiri· dari dua orang atau. ·
. lebih~ Pertama adalah pelaku atau pembuat atau de hoofd dader. ·
Kedua, pembantu . a~u medeplichtigeM. Oinne prlndpale trahit ad se
accessorlum: di mana ada pelaku utama, di situ ada pelaku pembanbL
, Oleh .! Wena itu;-apa yang tidak diberlakubn kepada pelaku utania, ·
~ maka tidak akan diberlakukan kepada pelaku pembantu; dan apa-yang
· tidak berpenga:ruh. pada perkara pertama, tidak akan berpengaruh
pula perkara kedua: quod non valet in prlncipali. in accessorlo seu
~ti non valebit; et quod non valet in magis propinqui, non
valebit in magis mnoto.
Terdapat dua bentuk pembantuan. PntmluJ. pembantuan p&da
.saat kejahatan dilakukan. ~ pembantuan un'ruk [Link]
kejahatanw. Artinya, pembantuan itu diberikan sebelum kejahatan ·
.terjadi, apakah dengan memberikan ~mpatan, sarana atau
keterangan untukmelakukan kejahatan. Pembantuan untukmelakukan
pelanggaran tidaldah dipidana. Seseorang tidak bisa disebut sebagai
pelaku pembantu hanya karena ia kenai pelaku utamanya, namun
pembantuan harus tabu apa yang ia perbuat dan dengan cara apa
· membantunya: nullus dicitur accessories post feloniam sed ilk qui novit
principalem feloniam fecisse, et ilium receptavit et comfortavit.
· Pembantuan harmlah · dilakukan dengan suatu kesengajaan.
Kendatipun demikian tidak berarti bahwa pembantuan hanya ·dapat
146 Moeljatno, [Link]., hlm.128.
147 Jan Remmelink, [Link]., him. 322.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 379 -' ),' ;}. ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dilakukan terhadap delik-delik yang mempunyai bentuk kesa!ahan
berupa kesengajaan semata, namun juga dapat dilakukan terhadap
delik-delik yang mempunyai bentuk kesalahan berupa kealpaan.
Tegasnya, pembantuan dapat terjad.i terhadap delik~delik culpa. 1erkait
pembantuan sebagai suatu kesengajaan, Simons berpendapat sebagai
berikut, "Het opzet van den medeplichtige moet [Link] hebben op
al de bestanddeelen van de strajbare handeling, ook op die ten aanzien
waarvan het opzet bij den dader niet gevorderd word~ (Kesengajaan
seorang pembantu harus [Link] kepada ·semua unsur perbuatan
pidana tersebut, bahkan juga terhadap unsur-unsur yang oleh undang-
undang tidak disyaratkan bahwa kesengajaan pelaku itu harus pula
ditujukan kepada unsur-unsur delik). ·
Pernyataan Simons, memperkuatargumeritasi bahwapembantuan
haruslah dilakukln dengan sengaja terhadap delik-delik yang berbentuk
kesengajaan. Hal ini berbeda dengan van Bemmelen dan van Hattum
yang menyatakan bahwa jika suatu delik mensyaratkan kesengajaan,
maka pembantuan pun harus dilakukan dengan sengaja. Namun. jika
suatu rumusan delik dapat dilakukan karena kealpaan, maka adanya
kealpaan dalam pembantuan sudah cukup ~tuk memen~ uns~
delik (Inzoverre a1s het delict opzet vereist moet oolc de medep1ichtige
oput hebben. Waar de delictsomschrijving met culpa volstaat is culpa
vold0ende'4').
Pendapat Simons lainnya adalah bahwa pembantuan hanya dapat
dilakukan terhadap delik-delik yang menghendaki adanya kesengajaan
· dan fi:dak mungkin terjadi pada delik-delik yang ·cu1wp mensyaratkan
kealpaan. Secara tegas dinyatakan oleh Simons. ....... medeplichttigheid.
aan een adpoos misdrijfslechts uiterstzelden zal voorkomen. Ondenkbaar
·is zij evenmin als uitlokldng tot een culpoos misdrijF (•.... pembantuan
untuk melak:ukan $U&lU kejahatan [Link] jarang terjadi. Bahkan
.. D. Simons, [Link]., him. 333.
.. J.M. van Bemmefen en W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 463.
• D. Simons, [Link].
•f
~' 380. PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
• • •• • 'P. • . . • ~ ••• • • • . .. • ~ 0 • • : .. ··.~··.- .~•.• • . . ' ! ·. : ,;. . ~.- . •..•
·menipakan suatu yang·tidak mungkin seperti halnya [Link]
untuk melakukan suatu kejahatan culpa)
Terh~dap kesengaj~ dalam penibantuan dan pembantuan terli·
adap· delik·delik yang mensyaratkan kesengajaan serta delik·delik
yang [Link] kealpaan, Penulis. berpendirian sebagai berikut
Pertama, tidak mungkin .ada pembantuan jika tidak ada kesengajaan
·[Link]. Tegasnya,syarat mutlakadanya
pembantuan adalah kesengajaan. Ked~~~~, · terkait dengan yang pertama.
tidak _mungl_dn pembantuan ~- karena suatu kealpaan. Oleh
karena itu .Penulj.s tidak ~dapat dengan van Bemmelen·dan ftll
_Hattum yangmenyatakan bahwa dalam delik""delikyang mensyaratkan
.kealpaan, pembantuan cUkup karena suatu kelalaian.
Ketiga, PenuUs tidak sependapat dengan_ Simons dalam
ptmyatWmya bahwa dalam pembantuan tidak mungkin dilakukan
. te'rhadap deUk yang mensyaratkan kealpaan. Menurut Penulis, dapat
saja terjadi, kendatipun dalam pembantuan harus ada kesengajaan,
namun .pe~bantuan tersebut dapat clil~ terhadap delik-delik
yangmensyaratkankealpaan. Sebagaimisal:A membelikan B minuman
beralkohol padahal diketahuinya B akan mengendarai mobil Ketika
mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. B. kemudiu menabrak C
sehingga mati [Link]. Dalam konteks ini, A membantu B melakukan
suatu hal yang membahayalcan nyawa orang lain.
Hal lain dalam pembantuan adalah terkait-percobaan. Pembantuan
dalam percobaan untuk melakukan kejahatan dapat dipidana.
Sebaliknya, percobaan untuk membantu melakukan suatu kejahatan
tidaklah dapat dipidana. llustrasi pembantuan dalam percobaan adalah
sebagai berikut: A yang pemah bekerja di rumah B mernberi informasi
_kepada C yang . hendak mencuri di rumah B. Pada saat hendak
menjalankan aksinya dhrumah B, C tertangkap tangan oleh D dan E,
dua orang penjaga rumah B. A dapat dipidana karena membantu C
dalam percobaan pertcurian di rumah B.
PERCOBMN DAN PENYERTAAN 381
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Berikut ilustrasi percobaan dalam pembantuan adalah sebagai
berikut: S tidak senang dengan T dan berniat membunuhnya. S
kemudian meminta kepada Y untuk menyediakan pistol. Y lalu
meminjam pistol dari Z. Karena suatu dan lain hal, S mengurungkan
niatnya untuk membunuh T. Dalam konteks ini, Y tidak dapat dipidana
karena membantu percobaan pembunuhan · maupun membantu
pembunuhan oleh S terhadap T karena semua perbuatan tersebut tidak
pernah terwujud.
Terkait pembantuan, hal terakhir yang pen~g diulas adalah
perbedaan prinsip antara medeplegen atau turut serta melakukan dengan
medeplichtig-e atau pembantuan. Paling tidak ada enam perbedaan
prinsip antara turut serta melakukan dengan pembantuan. Pertama,
turut serta melakukan pelanggaran dijatuhi pidana, sedangkan
pembantuan dalam pelanggaran tidak dijatuhi pidana. Kedua. dalam
tunit serta mel'akukan harus ada kesengajaan untuk. bekerja sama
atau relasi yang sebanding, namun dalam pembantuan ~al ini tidak
disyaratkan. Pelaku bahkan tidak perlu mengetahui adaDya bantuan
yang diberikan oleh yang memberikan bantuan. Dalam hukum
Jerman, hal ini dikenal dengan istilah heimltche beihilfe ·atau bantuiUl
secara diam-diam. Sebagai misal, A mendapat informasi bah~ B akan
menCllri di rumah C. Secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan
B, A·menyandarkan tangga di rumah C dan ternyata tangga tersebut
digunakan B untuk mencuri di rumah C851 • - .
Ketiga, dalam turut serta melakukan harus ada kerjasama yang
erat di antara para pelaku, sedangkan dalam pembantuan, orang yang
membantu hanya [Link] peranan yang tidak penting852• Berkaitan
dengan hal ini, Ro:rln menyatakan, "Der blosse gehilfe wirkt ·nur bei
der vorbereidung mit oder [Link] [Link] funktion aus. so dass
seine bedeutung in der tat als subordiniert erscheint" (pembantu hanya
membantu pada persia~,>an tindak pidaria atau peranan selaku bawahan
151 Jan Remmellnk. [Link]., him. 323.
asa Moelajtno, [Link]. him. 128. ·
'·
'! ::382' , PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
I'
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sehingga perbuatannya un~ pelaksanaan perbuatan pidana hanya - ~.
se~der)m. . Sebagai contoh: A memberi informasi kepada B ·dan C,
bahwa tuan rumah tempat A bekerja sebagai pembantu rumali tangga,
pada mcilam nanti akan menyimpan uang tunai di rumah dalam
jumlah yang yang relatifbesar. Setelah larut malam, B dan C kemudian
melakukan akSi pencurian~
Keempat, dalam turut serta melakukan harus ada uitvoering- ·
shandeling atau tindakan :pelaksanaan, sedangkan dalam
pembantuan,
pembantu hanya cukup melakukan voorbereidingshandeling · atau
tindakan . persiapan maupun_ tindakan . dukungan atau ondm-
teuningslu:urdelm¥. Sebagai ilustrasi: X yang sedang bersepeda di
· taman, dibadang oleh Y dan Z: Ketika Y dan Zmenganiaya X, tiba-tiba
.. E dan F yang adalah teman Z,lalu menyeinbunyikan sepeda X :
datang ~- .
derigal).maksud ~X tidak melarilcan diri. E dan F dapat .dimintai
- ~g8ungjawaban karena membantu melakukan penganiayaan
terbadap X.~ pemidanaan terbadap turut serta melakukan sama
I.
denpn pe)aku Jainnya. sementara dalam hal pembantuan. pidana yang
dapatdijatuhlcankepada pemban~dikurangisepertiga dari maksimum
pidana yang-dapat dijatuhkan kepada pelaku utamaast.
Kee1u1m, meskipun yangdilaknbn bubn perbuatan penyelesaian
. (voltooingsluuuleling), namun jib kerjasama antara pasa pe)aku adalah ·
[Link] [Link] itulaludipandang-sebagai pe)aku
dan bubn sebagai [Link] misaL A dan B bemiatmencuri
di rumah C. A dan B lcemudian bermu&bt dengan D, pembantu
rumah tangga yang bekerja di rumah C untuk tidak mengund pintu
belakang pada malam yang telah [Link]. PaJ3m lcontelcs·demilcian,
D tidak sebagai pembantu, me1ainkan turut serta melakukan. Hal ini
· karena ada peminfakatan jahat terlebih dulu,. mesldpun perbuatan D
jib dilihat secara terpisah tidaldah memenuhi unsur delik.
-_- .
151
Jan RemmeUnk. [Link], him. 327.
P.A.F. Lamlntang. [Link]., him. 627.
1St
m J.E. Jonkers, [Link]., him. 110.
PERCOBAAN DAN PENYERTMN 383 .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dalam praktik peradilan, pada awalnya memandang perbedaan
antara pembantu dan turut serta melakukan adalah sifat perbuatan
yang dilakukan, namun saat ini yang diperhatikan adalah sikap batin
(gezinheid) peserta. Kadang-kadang perhatian terhadap sikap batin itu
adalah sedemikian besarnya, sehingga dapat diragukan apakah Hoge
Raad m~ih berdiri tetap pad a pendirian yang objektif856. Sebagai
contoh, arrest Hoge Rand tahun 1934 tentang Wormerveer Arrest.
Duduk perkara .sebagai berikut L dan T melakukan pembakaran
sebuah gudang di Wonnerveer, Belanda. Persoalannya, apakah L
da&'t T masing-masing merupakan "medepleger" dalam menimbulkan
pembakaran atnukah yang satu "pleger" atau pelaku dan yang iainnya
pembantu? Hoge Raad ·memutus L dan T masing-masing sebagai
"medepleger" atau orang yang turut serta melakukan.
Pertirnbangannya: Meskipun dari keterangan-keterangan temyata
bahwa yang m~yalakan rumput leering dengan korek api adalah
L saja yang melakukan pembakaran, sedangkan temannya _T, yaitu
pemohon kasasi hanya dapat dipersalahkan sebagai pembantu, karena
dia hanya memegang tangga yang digunakan L untuk naik ke atas dan
memberikan rumput kering kepada L. Akan tetapi berhubung dengan
kata sepakat sebelumnya antara kedua terdakwa tadi Untuk melakukafl
pembakaran gudang. mab kerja sama antara L dan T itU .adalah
sedemikian sempuma .dan eratnya sehingga dapa£ dibtakan _bahwa
han~ kebetulan saja L yang menyalakan rumput leering itu dengan
korek api. Karena · itu perbuatan pemohon
.
kasasi bukanlah
.. bersifat
pembantuan tapi menimbulkan kebakaran }'ang dilakukan bersama-
sama dan dengan bersekutu bersama Lm.
D. HAL - HAL LAIN TERKAIT DEUK PENYERTAAN
Pada subbab terakhir ini akan dibahas beberapa pertanyaan ·
penting dalam hal · penyertaan. Pemuna, apakah mungkin ada pe-
.1511 J.M. [Link] En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 403.
157 J.M. van Bemmelen En H. Burgersdljk, [Link]., him. 201- 202;
<gs;4·. PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
·~ ;:; ··~:~. ··:
;·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.•
n'yertaan terhadap delik penyertaan? Kedua, apakah mungkin ada
penyertaan dalam perbuatan pasif? Ketiga, apakah mungkin dalam
. turut serta,melakukan dapat terjadi pada delik-delik culpa? Keempat,
apakah mungkin menggerakkan atau menganjurkan orang lain [Link]
melakukan delik-delik culpa? Terhadap keempat pertanyaan tersebut
masing-masing dapat dijelaskan sebagai berlkut: · ·
PERTAMA, apakah mungtdn ada ada penyertaan terhadap delik
pemyerta~? Pertanyaan sederhana ini menirilbulkan pendapat yang
berbeda-beda di kalangan ahli pidana. Noyon . dan · Langemeijer
berpendapat bahwa penyerta~ terhadap penyertaan tidaklah
mtingkin. [Link], kendatipun tidak dapat diingkari bahwa
doenplegen, medeplegen, uitlokking dan medeplichtige bertalian dengan
kejahatan, perbuatan itu sendiri adalah kejahatan pula. Masih menurut
Noyon ch;m Langem~ijer, berdasarkan Memorie van Toelichting bahwa
pe~genaan pidana tidak dimaksudkan dalam hal penyer_taan terhadap
peilyertaan~ Pasal ~5 KUHP menentukan bahwa yang dapat dipidana
ialah mereka yang melakukan, rnenyuruh lakukan atau turut serta
melakukan perbuatan dan mereka yang menganjurkan melakukan
perbuatan. -
Jika
terhadap menyuruh lakukan, turut serta melakukari dan
menganjurkan melakukan perbuatan itu sendiri dapat !,uga dikenakan
istilah "perbuatan", maka pemakaian istilah "perbuatan" tersebut
terlalu luas sehingga pe~ggunaan kata-kata het feit plegen yang
berarti "melakukan perbuatan" tidaklah tepat, melainkan seharusnya
menggunakan het feit begaan atau "menimbulkan perbuata11".
Pandangan Noyon dan Langemeijer disebut sebagai pandangan
yang restriktif atau pandangan yang sernpit. Hal ini dibuktikan lebih
lanjut dengan ketentuan 163 bis KUHP yang menegaskan pengertian
terbatas858•
Kontroversi deng~ pendapat Noyon dan Langemeijer,
adalah Jonkers yang menyatakan bahwa undang-undang memakai
151
TJ. Noyon En G. E. langemeljer. [Link]., him. 355. Bandingkan dengan Moeljatno, [Link].,
hlm.65-66.
PERCOBMN DAN PENYERTAAN 385
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
perkataan menganjurkan melakukan perbuatan (uitlokking van een
feit) tennasuk di dalamnya adalah menganjurkan untuk membantu
melakukan perbuatan (uitlokking tot medeplichtiggheid van een feit) dan
menganjurkan untuk menganjurkan melakukan perbuatan (uitlokking
tot uitlokking van een feit). Dalam KUHP memang tidak menegaskan
demikian. namun tidak mengharuskan tafsiran yang sempit itu.
Jonkers kemudian menyatakan, "Medeplichtigheid aan een strafbaar
feit en uitlokking tot een strafbaar feit is even goed een feit als het feit
zelf59" (Membantu melakukan perbuatan pidana dan menggerakkan
melakukan suatu perbuatan pidana sama saja dengan melakukan
perbuatannya itu sendiri). Pendapat Jonkers· adalah pandangan yang
luas atau ekstensif sebingga penyertaan terhadap delik penyertaan itu
mungkin saja terjadi.
van Bemmelen ~ van Hattum yang mendukung pendapat
Noyon dan .[Link], mengemukakan tiga alasan mengapa tidak
mungkin ada penyertaan terhadap penyertaan. Pertama, dalam KUHP.
bah tentang penyertaan berjudul ..Deelneming aan Strafbaarfeiten" atau
penyertaan terhadap perbuatan-perbuatan pidana, sehingga tidak
mungkin jika strafbaar feiten diartikan juga delik penyertaan. (..... volgt
uit het opschrift van de deelnemingstitel, in welk opschrift de uitdrukking.
"Strajbare feiten" niet redds de deelnemingsvonnen omvat"860). · •
Kedua, merujuk pada pendapat Noyon dan Langeineijer bahwa
dalam pasal tersebutmenggunakan istilah hetfei_tplegen atau melakukan
perbuatan .dan bukan het feit begaan atau menimbulkan perbuatan.
Ketiga, semua bentuk penyertaan tergantung pada ruriiusan delik atau
percobaan untuk melakukan delik itu. Karena itu van Bemmelen dan
van Hattum menyetujui pendapat yang mengatakan bahwa penyertaan
terhadap delik penyertaan tidak mungkin861 • Masih menurut van
Bemmelen dan van Hattum, jika memang demikian, maka bentuk
penyertaan terhadap penyertaan meliputi:
159
J.E. Jonkers, Op~at.; him. 121.
160 tM. van Bemmelel) En.W.F.C. van H<!ttum, [Link]., him. 432.
16J Moeljatno, [Link]., him. 67. 8andlnikan .de!l£an J.M. van Bemmelen dan W.F.C. van
Hattum, [Link]., him. 433. .·
,
~
386.. PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
1) Menyuruh lakukan terhaclap menyuruh lakukan; 2) Menyuruh
lakukan terhadap turut serta melakukan; .3) Menyuruh lakukan
terhadap penganjuran; 4) Menyuruh lakukan terhadap pembantuan;
·5) Thrut serta melakuk3n terhadap menyufuh lakukan; 6) Turut serta ·
melakukan terhadap· turut serta melakukan; 7) Turut serta melakukan
. terhadap penganj~ran;S) Turut serta melakukan terhadap pembantuan;
9) Penganjuran terhadap menyuruhlakukan; 10) Penganjuran terhadap
turut serta. melakukan; 11) Penganjuran terhadap penganjuran;
12) Penganjuran terhadap pembantuan; 13) Pembantuan terhadap
menyuruh lakukan; 14) PembantUan terhadap turut serta melakukan;
15) Pembantuan terhadappenganjuran dan 16) Pembantuan terhadap
pembantuan. Jika memang deqlikian maka sangat mungkin terhadap
penyertaan masih t~rdapat penyertaan 1agi sehingga tidak ada batasan
yangjel~.
· ~ Pendapat Noyon, Langemeijer, van Bemmelen dan van Hattum
juga disetujui oleh Pompe yang menyatakan penyertaan terhadap d~
penyertaan itu tidak mungkin, kecuali pembantuan terhadap turut serta
[Link] dan pembantuan terhadap menyuruh lakukan863 • Komentar
Hazewinkel Suringa terhadap Pompe bahwa tidak ada keberatan
prinsipilataskemungkinannya penyertaan terhadap penyertaan, kecuali
menyuruh lakuka,n untuk penganjuran (doen plegen Vtzn uitlokking).
Suringa dengan mengutip pendapat Pompe menyatakan bahwa orang
yang disuruh mel~ penganjuran berdasarkan undang-undang
tidak melakukan (plegen) perbuatan tersebut, melainkan menimbulkan
(begaan) 864 •
· Penyertaan terhadap penyertaan untuk pertama kalinya diakui
oleh Hoge Raad dalam putusannya tanggal 24 Januari 1950 yang
dikenal sebagai exament-arrest. Kasus Posisi sebagai berikut: M harus
menghadapi satu ujian atau middenstands examen yang sebelumnya
M menerima pelajaran dclri Terdakwa. Meskipun demiki~, M merasa
lA Ibid.; ·~lm. 434.
II6J W.P.J. Pompe, [Link], him. 229.
154
Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 258.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 387
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
takut untuk. menempuh ujian tersebut dan bertanya kepada terdakwa.
apaka.h tidak. mungkin kalau orang lain atas nama M yang menempuh
ujian tersebut. Terdakwa menjawab bahwa hal ·itu Iilungkin. M lalu
mengajukan kesulitan-kesulitan untuk mendapatkan orang yang
mau melakukan itu. [Link] kemudian memberikan [Link]
sebuah daftar nama orang-orang yang telah lulus ujian tersebut. M
lalu menghubungi salah seorang di antaranya, yaitu B. B kemudian
mendaftarkan nama sebagai M atas janji-janji yang diberikan oleh
M. Tegasnya, B digerakkan oleh . M. ~ tetapi, hal ini [Link]
dan terdakwa dituntut serta dipidana karena pembantuan terhadap
pen:ganjuran untuk melakukan percobaan peJ;lipuan atau penipuan.
Dalam konteks penyertaan terhadap . penyertaan, Penulis
sependapat dengan sebagianbesar ahli pidana bahwa hal ini hanya akan
memperumit kontruksi hukum yang ada. Menyuruh lakukan terhadap
menyuruh I~. pada hakikatnya sama dengan menyuruh [Link]
itu sendiri. In casu exament arrest, pembantuan terhadaR penganjuran,
pada dasarnya sama. dengan pembantuan terhadap penipuan atau
percobaan. Dalam·hal ini, Penulis sependapat dengan van Bemmelen
dan van Hattum yang menyatakan bahwa putusan in caSu aquo, terlalu
rumit dikonstruksikan sebagai pembantuan terhadap p~ganjutan.
Lebih ringkas jika [Link] [Link] melakukan pembantuan
terhadap penipuan atau-pembantuan terha~p percobaan peilipuan!l65.
KEDUA, apakah mungkin ada penyertaan dalam perbuatan
pasif? ·Pertanyaan ini apabila kita berPegang [Link] makna perbuatan
sebagaimana yang telah diulas pada hab-bab sebelumnya bahwa
perbuatan mempunyai dua makna, yakni perbuatan dalam artian
positif dan perbuatan dalam artian . negatif, maka jawaban tegas
atas pertanyaan ini adalah sangat dimungkinkan penyertaan dalam
perbuatan pasif. Artinya. materieel dader tidak. melakukan perbuatan
yang seharusnya dilakukan atau tidak [Link] perbuatan yang
di~jibkaD oleh undang,.undang. Tegasnya, ada suatu pembiaran.
. . . . ·~
•s J.M. van 6emrrielen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 437.
-~
388 . .PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
I.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. ~
Penyertaan dalam perbuatan pasif antara lain adalah bantuan
secara diam-diam atau yang disebut · sebagai heimliche behilfe
sebagaimana yang telah disinggung di atas. Remmelink .· memberi ·
ilustrasi sebagai berikut: Seorang penjaga malam di suatu gudang ·
membiarkan · dan ·memberikan kesell_lpatan bagi ·pencurl untUk
melakukan peketjaannya. Padahal, tugas penjaga malam adalah ·untuk
·mencegah timbulnya kesempatan seperti demikian. Jika ada .kewajiban
hukum untuk bertindak. berjaga, mengawasi atau mengunci, maka
tidak beibuat demikian sebagaimana yang diwajibkan oleh hukum,
maka dapat dianggap membefi: atau membuka. kesempatan terhadap
perbuatan yang [Link] terse~u~.
KETIGA, apakah mungkin dalam turut serta melakukan dapat
terjadi pada delik-delik culpa? Terhadap · pertanyaan ini, Pompe
meriegaskan· bah~ tidak mungkin turut serta melakukan terjadi
p~da delik-delik culpa. Menurut Pompe, kesengajaan dalam turut
serta melakukan harus ditujukan kepada dua hal yaitu kesengajaan
terhadap tujuan perbuatan dan kesengajaan dari apa yang diperbuat
Lebih lanjut Pompe menyatakan bahm kesengajaan dalam turut serta
melakukan harus meliputi opzet op de samenwerking atau kesengajaan
terhadap kerjasama dan opzet op de uitvoeringshandeling op zich zelf
atau kesengajaan terhadap perbuatan pelaksanaannya sendiri867•
van Bemmelen dan van Hattum juga berpendapat bahwa tidak
mungkin ada turut serta melakukan dalam delik kealpaan. D~
argumentasinya bahwa dalam kerjasama tidak mungkin [Link]
sehingga turut serta melakukan dalam kealpaan juga tidak mungkin868•
Demikian pula Moeljatno yang menyetujui pendapat Pompe, van
Bemmelen dan van Hattum bahwa tidak mungkin ada turut serta
melakukan terhadap delik-delik kealpaan. Moeljatno . menyatakan
bahwa kerjasama tidak mungkin tanpa tujuan. Di dalam menginsyafi
1166
Jan Remmelink, [Link]., him. 323. .
857 W.P.J. Pompe, [Link]., him. 251. •
861
J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 393.
PERCOBAAN DAN PENYERTAAN 389
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
adanya kerjasama dengan sendirinya menginsyafi pula arah atau tujuan
kerjasama tersebut869•
Sebaliknya menurut Remmelink dengan merujuk pada Memorie
van Toelichting dimungkinkan adanya turut serta melakukan terhadap
delik-delik kealpaan. Hal ini karena pembentuk KUHP membatasi
kerjasama hanya pada melakukan suatu perbuatan pidana dan tidak
meliputi niat atau adanya kesepakatan untuk mewujudkan delik.
Dengan mengutip Menteri Kehakiman Belanda, Modderman pada
saat KUHP dibuat, [Link] sebagai berikut:
A dan B adalah tukang angkut yang memutuskan untuk melemparkan
satu benda berat ke luar j~ndela. Barang tersebut kemudian menimpa
C seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat sehingga mengakiba~
mati. A dan B dapat dijatuhi pidana Pasal. 359 juncto Pasal 55 ayat
( 1) ke-1 KUHP yaitu turut serta karena kealpaannya mengakibatkan
matinya seseor~g8'0.
Penulis tidak sependapat dengan ilustrasi yang diberikan oleh
Modderman sebagai bentuk turut serta melakukan dalam. [Link]-delik
kealpaan. Tegasnya,PenulissependapatdenganPompe, vanBemmelen,
van Hattum dan Modjatno bahwa tidak mungkin ada turut serta
melakukan terhadapdelik-ddikkealpaan. Dasarargumentasinya bah~
syarat mutlak turut serta melakukan ada kesengajaan gander. .Secara
subjektif menunjukkan niat di antara para pelaku dan secara .objektif
adanya kerjasama yang nyata di antara para pelaku. Syarat kesengajaan
adalah mengetahui dan menghendaki . yang tidak mungkin terjadi
pada delik-delik kealpaan. Contoh ~g diberikan oleh Modderman
menurut Penulis, tetap dapat dimintakan pertanggungjawaban, namun
yang dipidana hanyalah orang yang mengakib_atkan secara langsung .
barang yang dilempar tersebut mengakibatkan matinya orang.
KEEMPAT atau hal terakhir dalam penyertaan, apakah mungkin
menggerakkan aiau menganjurkan orang lain untuk melakukan delik-
ar.t Moeljatno, Op.a t., him. 118.
19
• Jan Remmellnk, [Link]., him. 319. :
-~
. 390. PRINSIP-PRINSIPHUKUM PIDANA
~·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
..
delik culpa ? Pertanyaan· tersebut dijawab tegas oleh Simons ·bahwa
mengge~akkan dalam kejahatan dengan kealpaan· bukanlah suatu
bentuk :yang tidak _m\mgkin ("Uitlokking tot een culpoos misdrijf is
niet ondenkbaar in dezen vorm....871 '"). Demikian juga Pompe yang
berpendapat <!emikian bahwa sangat mungkin terjadi menggerakkan
atau menganjurkan. · terhadap delik-delik kealpaan872• Peiidapat
yang sama didukung pula Remmelink yang menyatakan karena
pembantuan terhadap delik.,.delik kealpaan san~tlah mungkin
sehingga menggerakkan atau menganjurkan terhadap delik-delik culpa
juga mungldn terjadi873•
Berbeda dengan Simons, Pompe dan [Link] adalah van
Hamel dan Hazewinkel Suringa yang berpendapat tidaklah mungkin
menggerakkan a~au menganjurkan dalam delik-delik kealpaan. Suringa
~~[Link] pendapat van Hamel menyatakan, "van Hamel acht
dit .een ondenkbare figuur, niet omdat men iemand niet zou kunnen
uitlokken·tot een gedraging. die achteraf een schuldig verzuim ·oplevert,
maar omdat men niet kan uitlokken tot dat verzuimB7.,. (van Hemel
menggahggap sebagai sesuatu hal yang tidak mungkin. Bukan karena ·
orang lain tidak dapat menggerakkan orang lain untuk berperilaku
tertentu yang menghasilkan suatu · kealpaan yang dapat dipidana,
melainkan karena orang tidak dapat menggerakkan 01ang lain untuk
membuat kealpaan itu sendiri).
Menurut Penulis, pendapat van Hamel yang diikuti oleh Suringa
sangatlah masuk akal. Hal ini karena syarat kealpaan adalah kurangnya
penghati-hatian atau kurangnya penduga-dugaan atau sesuatu .yang
tidak dibayangkan terlebih dulu ·bahwa akan terjadi perbuatan atau
akibat yang dilarang oleh hukum. Dengan demikian ketika seseorang
. karena digerakkan oleh orang lain tidak m~lakukan sesuatu ·yang
diwajibkan oleh undang-undang, sesungguhnya orang tersebut bukan
.•
m D. Simons, [Link]., him. 329.
m [Link]. Pompe, [Link]., him. 258.
m Jan Remmelink. [Link]., him. 335. ·
17
• Hazewinkel Suringa, [Link]., him. 258.
PERCOBAAN DAN PENVERTAAN 391
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
karena kealpaannya melainkan dengan sengaja tidak melakukan
perbuatan yang diperintahkan oleh undang-undang. Dengan kata lain,
orang yang_ digerakkan tersebut melakukan perbuatan secara negatif.
Tegasnya, Penulis berpendirian tidak mungkin ada penganjuran
terhadap delik-dclik kealpaan.
"
I : -392 ·. PRINSIP'PRINSIP HUKUM PIDANA
~
,. //':'
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. :;, .
·PERBARENGAN .
PERBUATAN PIDANA
Peccatum peccato addit qui culpae quam fadt
patrodnium defensionis adjungjt.
.·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
;,.
engawali bah tentang perbarengan [Link] pidana,
M Penulis mengutip suatu postulat yang berarti seseorang
dapat .diadili atas beberapa kejahatan yang ia lakukan
dalam ra:ngkaian waktu yang sama. Bila merujuk dasar pemikiran .
dari perbare~gan perbuatan pidana, maka pada hakikatnya maksud
pembentuk undang-undang mengatur hal tersebut adalah untuk
menghadapkan seseoran~ kepada hakim yang ternyata orang tersebut
melakukan beberapa perbuatan pidana dan belum ada satupun
yang diadili. Oleh karena itu perbarengan perbuatan dimak$udkan
untuk membatasi pidana ·maksimum. Kendatipun demikian, adanya
perbarengan perbuatan merupakan hal yang memberatkan pidana.
P~ata perbarengan perbuatan dalam hukum pidana tidak
dikenal di negara-negara yang menganut sistem Anglo-Saxon atau
Common Law System. Di negara-negara tersebut terjadi akumulasi
pidana jika seseorang melakukan beberapa perbuatan pidana. Latar
belakang pemikirannya, seseorangyang melakukan beberapa perbuatan
pidana harus menjalarii hukuman secara berurutan dao tidak berhak
menikmati pengurangan hukuman. Sebaliknya, di negara-negara yang
menganut sistem Eropa Kontinental atau Civil Law System, pranata
perbarengan perbuatan in1 dianut untuk membatasi penjatuhan
pidana yang ekstrim. Asumsinya, ketika seseorang melakukan suatu
perbuatan pidana, maka seharusnya negara segera. menghukumnya
untuk mencegah timbul perbuatan pidana berikutnya. Namun karena
kelalaian negara, sehingga terdakwa dalam kondisi yang demikian
berhak atas pengurangan hukuman875•
Ada dna pandangan terkait perbarengan perbuatan pidana inL
Pertama, perbarengan perbuatan pidana adalah masalah pemberian
115
Jan Remmelink, [Link]., him. 566- 567.
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 395
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pidana. Kedua, perbarengan perbuatan pidana sebagai bentuk khusus
dad suatu perbuatan pidana876• Penulis sendiri berpendapat bahwa
perbarengan perbuatan pidana lebih pada masalah pemidanaan. Dasar
argumentasinya: Pertama, bah tentang perbarengan perbuatan pidana
berada dalan1 Buku Kesatu KUHP yang berisi ketentuan-ketentuan
umum sehingga tidak dimaksudkan sebagai suatu bentuk khusus dari
perbuatan pidana. Kedua, dasar pemikiran perbarengan perbuatan
pidana adalah masalah pemidanaan.
Meskipun demikian Penulis tidak sependapat dengan asumsi di
atas yang menyatakan, ketika seseorang melakukan suatu perbuatan
pidana, maka seharusnya negara segera menghukumnya untuk
mencegah timbul perbuatan pidana berikutnya. Kalau masing-masing
perbuatan pidana tersebut dilakukan pada [Link] yang berlainan, maka
asumsi tersebut dapat dibenarkan. Akan tetapi, jika masing-masing
perbuatan pidana tersebut dilakukansebagai suatu rangkaian perbuatan,
maka asumsi teW;ebut tidak berlaku. Sebagai ilustrasi, A yang hendak
mencuri di rumah B seorang wanita yang tinggal sendirian. Sebelum
mencuri, A memperkosa B, kemudian membunuhnya dan1alu mencuri
barang-barang miliknya. Ketiga perbuatan pidana tersebut dilakukan
dalan1 satu rangkaian.
Selalu menjadi perdebatan penting dalam . perbarengan
.
perbua~ .
.
pidana adalah apa yang dimaksudkan dengan "per!Juatan" d~am £rase
"perbarengan perbuatan"'. Hal ini menjadi penting urituk menentukan
jenis perbarengan apakah yang sesungguhnya telah terjadi. Mengenai
hal ini Simons menyatakan, "Bij t!en samenloop moet worden
onderscheiden of de dader slechts ee~e handeling -opgevat in haar
natuurlijke beteekenis en dus als materieele verrichting- heeft gepleegd
of meerdere handelingen heeft verrichtB77 "' (Dalam suatu perbarengan
itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya mefakukan
satu tindakan -diartikan menurut arti sebenarnya, jadi sebagai suatu
pelaksanaan secara materiil- atau ia telah melakukan beberapa
tindakan).
·Nyoman Setikat Putra-.L:<ya, [Link]., htm. 16.
116
m D. Simons, [Link]. htm:·464.
•f
. S96 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
,.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
: : . '~ ",;·: • "" . :: ••• : •• ·: • • •J •
i, .
Hal terpenting lainnya dalam perbarengan perbuatan pidana
adalah mengenai penerapan pidana. Dalam konteks teori paling tidak
ada empat stelsel penerapan pidana dalam perbarengan perbuatan.
Perlama, stelsel absorpsi. Ada beberapa ketentUan pidana yang harus
diterapkan, n<!ffiun yang diterapkan hanyalah ketentuan pidana yang
paling berat. Kedua, stelsel kumulasi yang mana untuk setiap perbuatan .
pidana dapat dijatuhkan · pidana secara tersendiri, namun semua
pidana itu dijumlahkan dan diolah menjadi satu pidana. Ketiga, stelsel
kumula5i terbatas. Menurut stelsel ini semua pidana yang dijumlahkan
tidak boleh mencapai batas maksimum ancaman pidana yang paling
berat dengan SJlatu presentasi tertentu. Keempat, stelsel kumulasi
tidak terbatas pada dasarnya sama dengan sistem kumulasi, hanya saja
khusus . diterapkan terh-adap perbuatan pidana yang dikualifikasikan
sebag~ . pelanggaran878 • Stelsel mana yang digunakan, tentunya tidak
terlepas· dari jenis perbarengan perbuatan pidana yang terjadi.
Hal lainnya yang penting disinggung juga bahwa ada kesamaan
antara perbarengan perbuatan dan residiv karena makna keduanya
sama yakni melakukan beberapa perbuatan. Perbedaannya,
perbarengan perbuatan terjadi jika perbuatan-perbuatan pidana yang
dilakukan belum ada yang diadili dan kemudian diadili pada suatu
waktu. Sedangkan residif, pelaku telah diadili oleh karena melakukan
suatu perbuatan pidana, kemudian diadili kembali karena' melakukan
perbuatan pidana lagi st;telah yang bersangkutan menjalani pidana
terdahulu.
Dalam KUHP, masalah perbarengan perbuatan pidana ini diatur
dari Pasal 63 sampai dengan Pasal 71. Lebih lanjut, bah tentang
perbarengan perbuatan pidana ini -akan diulas dalam beberapa subbab,
masing-masing adalah: Arti kata "Perbuatan" dalam "Perbarengan
Perbuatan"; concursus idealis; concursus realis; perbuatan berlanjut;
perbuatan pidana tertinggal; perbarengan penentuan pidana; lex
specialis versus lex specialis; lex specialis sistematis dan lex consumen
derogat legi consumte.
171
D. Schaffmeister, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., him. 180-181.
PERBARENGAN PERBUATAN [Link] 397
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. ARTI KATA ''PERBUATAN" DALAf'-1 ''PERBARENGAN PER-
BUATAN"
Apa yang dimaksudkan · dengan kata "perbuatan" dalam frase
"perbarengan perbuatan .. terdapat berbagai pendapat di antara para ahli
pidana. Pendapat tersebut baik dari segi doktrin maupun berdasarkan
berbagai yurisprudensi. Arti kata "perbuatan" menurut pembentuk
undang-undang adalah untuk mengatur perbuatan jamak. Jika
perbuatan tersebut berupa suatu kelalaian, maka yang dimaksudkan
adalah pengabaian kewajiban. Hoge Raad sendiri pada tahun 1930-
an mengartikan perbuatan tidak hanya sebagai matereel feit semata,
namun juga perbuatan dalam makna yuridis879•
Mengenai perubahan pengertian kata "perbuatan" dalam frase
"perbarengan perbuatan", Simons menyatakan," Vast staat we~ dat in
de nieuwe leer het woord feit enger moet opgevat worden dan materieele
handeling en te11ens ruimer dan strafbaar feit&BO" (Sudah jelas bahwa
perkataan "perbuatan" menurut paham yang barn harus diartikan
lebih sempit dari pada tindakan dalam arti materiil dan pada saat yang
sama juga harus diartikan lebih luas dari pada perbuatan pidana}.
Berdasarkan apa yang dikemUkakan Simons, dapat disimp~ bahwa
makna "perbuatan" dapat diartikan sebagai perbuatan . yang lebih
sempit•dari perbuatan materiil, perbuatan materill, perbuat:aD. pidarta
dan perbuatan yang lebih luas daripada perbuatan pidana. ·'
Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius -memberi makna kata
"perbuatan" ada tiga. Pertama, perb~tan yang seb_enarnya terjadi.
Kedua, perbuatan yang dituduhkan. ~etiga, perbuatan .yang sudah
dibuktikan. Masih menurut Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius,
penggunaan makna kata "perbuatan" ini tidak terlepas dari perbarengan
yang dimaksud, apakah dalam konteks concursus idealis, concursuS
retills, perbuatan berlanjut ataukah perbarengan penentuan pidana
(samenloop van strafbaarstelingen)881 • Makna kata "perbuatan" ini juga
m ,JatrRemmelinlt,.Op.at_, him. 569.
80 0; Simons, [Link]., him; 466. .·
111 D. Schaffmelster, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., him. 182.
-~
·; '.3g~:: -
.·,_ :-.. __ :·....._•;:.
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
rncnjadi penting ketika berbicara mengenai makna kata "perbuatan,
dalam konteks ne .bis in idem yang ·akan dibahas dalam bah berikut.
Menurut Penulis, ketiga makna kata "perbuatan, yang dikernukakan
oleh Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius lebih jelas hila dibandingkan
dengan ahli hukurn pidana lainnya. · Kendatipun ·dernikian, dalam
pembahasan subbab berikutnya terkait concursus idealis akan terlihat
perbedaan pemaknaan kata "perbuatan" oleh para ahli hukum pidana
lainnya.
·B. CONCURSUS IDEAUS
Concursus idealis atau eendaadse samenloop atau perbarengan
peraturan diatur dalam Pasal63 ayat (I) KUHP yang menyatakan, •plea
suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana, maka yang
dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu; jika berbeda-
beda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling
berat". Adapun kriteria dari concursus idealis adalah berbarengan dan
persamaan sifat dari perbuatan yang dilakukan882•
Mengenai makna 'perbuatan" dalam pasal a quo, terdapat
beberapa pendapat. Makna "perbuatan" menurut Hazewinkel Suringa.
"Hier is geen conglomeraat van reele feiten, waarvoor art 55 geldt.
maar een samenloop in de idee, nL van verschillende mogeliijkheden
van wetstoepassingW" (Di sini tidak terdapat suatu lannulasi perilaku
yang nyata, untuk hal mana Pasal 55 (Pasal 63 KUHP} itu berlaku,
melainkan . suatu perbarengan di dalam ide, khususnya mengenai
berbagai kernungkinan untuk mernberlakukan undang-undang). ·
Masih menurut ·Suringa, "..... als de dader door zijn gedraging.
die reeds voldoet aan een strajbepaling. door de wijze waarop en de
omstandigheden waaronder zij plaats grijpt. ontkommbaar valt in een
andere strajbepalinr" (Jika pelaku karena perilakunya telah memenuhi
suatu rumusan ketentuan pidana, mengingat cara perilaku tersebut
112Ibid, him. 193.
111Hazewinkel SUringa, [Link]., him. 463.
.. Ibid., him. 464.
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 399
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
telah dilakukan dan mengingat keadaan-keadaan yang mana perilaku
itu telah dilakukan, tidak dapat dihindarkan lagi harus dimasukkan
juga ke dalam suatu ketentuan pidana yang lain). Tegasnya, concursus
idealis terjadi jika suatu perbuatan yang sudah memenuhi unsur delik,
mau tidak mau (eo ipso) termasuk juga dalam peraturan yang lain885 • Eo
ipso formu[eBU atau rumus eo ipso dalam bahasa Belanda inempunyai
dua pengertian. Pertama, eo ipso berarti "van zelf' atau dengan
sendirinya. Kedua, eo ipso berarti juist om dei reden atau justru karena
alasan-alasan itulah887•
Berbeda dengan Suringa, Pompe berpendapat bahwa ada
concursus idealis jika orang melakukan suatu perbuatan konkret yang
diarahkan kepada satu tujuan yang merupakan benda atau objek
aturan hukum888• Hal ini tersimpul dari penyataan Pompe sebagai
berikut, "De eenheid van feit in de zin van art. 55 ligt dus m.i in het ene,
enkelvoudige, doel (of strekking) der concrete gedraging, voorzover dit
doe1 voorwerp iS"van normen, en dus de gedraging -op straffe- verboden
;s&89 (Untuk adanya suatu perbuatan sesuai dengan rumusan Pasal 55
(Pasal 63 KUHP), menurut pendapat saya hal mana terletak pada satu-
satunya tujuan (atau maksud) dari suatu perilaku yang nyata, sejauh
tujuan itu juga merupakan objek norma. Dengan demikian, perilaku
itu merupakan perilaku yang dilarang dan diancam pidana}
Masih menurut Pompe, "Onder "feit,. in art. 55 wordt dus
verstaan de concrete gedraging, gericht op slechts een als voorwerp van
normen geldend doel. Dezelfde betekenis hebben de termen }eiten" en
"handeling' in art. 56 - 58 waarbij "'hadelingen" dus omvatten zowel
nalaten a1s doen 890" (Bahwa dengan demikian, perkataan "perbuatan"
dalam rumusan Pasal 55 (Pase}l 63 KUHP) haruslah diartikan sebagai
suatu perilaku yang ditujukan hanya pada satu tujuan, yang juga .
• Nyoman Serilcat Putra Jaya, [Link]., him. 18.
• Hazewinkel Suringa, [Link]. Bandingkan dengan J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum,
[Link]., him. 535. Bandingkan pula dengan [Link]. Pompe, [Link]., him. 279.
1187 P.A.F. Lamlntang, [Link]., him. 659.
• Nyoman Serilcat Putra Jaya~ [Link].
18
[Link]. Pompe, [Link]., him. 284.
• Ibid., him. 2~.
•4_00 PR!NSIP..PRINSIP HUKUM PIDAt~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
merupakan objek. dari norma. Perkataan-perkataan "perbuatan• dan
"tindakan" dalam rwnusan Pasal-Pasal 56 - 58 (Pasal 64 - 66 KUHP)
juga diartikan secara sama, yang mana perkataan "tindakan" meliputi
baik hal melakukan sesuatu, maupun mengalpakan sesuatu).
van Bemmelen dan van Hattum mengartikan "perbuatan~
sebagai perbuatan yang mempunyai pengertian dalam hukum pidana.
Secara lengkap dikemukakan van B~mmelen dan van .H attum, "Het
komt nie_t meer hoofdzakilijk aan op de lichamelijke daad, maar het "feit'
moet gezien worden als een gebeuren dat strafrechtelijk betekenis heeft.
Men komt er dan toe verschillende feiten aan te nemen wanneer eenzelfde
gebeuren meer dan een strafrechtelijk relevant facet bezit. Feit ini art. 55
zou betekenen "feit uit strafrechtelijk oogpunt891"(Tindakan badaniah
dewasa ini bukan lagi merupakan sesuatu yang penting. Perbuatan
itu harus diartikan sebagai suatu peristiwa yang mempunyai arti
bagi hukum pidana. Oleh ·karena itu kita juga harus dapat menerima
kemungkinan terdapatnya perbuatan-perbuatan, yaitu jika dalam suatu
peristiwa yang sama terdapat beberapa segi yang mempunyai arti bagi
hukum pidana. Dengan demikian, perbuatan di dalam Pasal 55 (Pasal
63 KUHP) harus lah diartikan sebagai perbuatan menurut pengertian
hukum pidana).
Pengertian "perbuatan" yang lebih sederhana seperti yang
telah diutarakan di atas adalah menurut Schaffmeister, Keijzer dan
Sutorius yang mengartikan "perbuatan" ke dalam tiga makna. Masih
menur~t Schaffmeister! Keijzer dan Sutorius, makna "perbuatan"
dalam concursus idealis lldalah perbuatan yang sudah dibuktikan891•
Contoh klasik adalah pemerkosaan yang dilakukan di depan umum.
Kendatipun hanya satu perbuatan, namun termasuk ke dalam lebih
dari satu rumusan delik. Pertama, adalah pemerkosaan itu sendiri
dan yang Kedua adalah pelanggaran terhadap martabat seseorang
di depan wnwn893• Contoh lain, A yang sedang bertengkar mulut
dengan B kemudian mendorongnya dengan sekuat tenaga ke arah kaca
m J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link].,,hlm. 537.
1!11 D. Schaffmeister, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., him. 183.
w Jan Remmelink, [Link]., him. 568.
PERBARENGAN PERRUATAN PIOANA 401
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
etalase sebuah toko sehingga B menderita luka-luka karena terkena
·pecahan kaca tersebut. Perbuatan A selain memenuhi rumusan delik
penganiayaan, juga memenuhi rumusan delik ten tang pengrusakan.
Hal terakhir yang dapat disimpulkan dari Pasal63 ayat ( 1) KUHP .
terkait concursus idealis ini adalah mengenai maksimum pidana yang
dapat dijatuhkan. Berdasarkan anak kalimat dalam pasal a quo, "..... .
dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu; jika berbeda-
beda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling
·berat, dapat disimpulkan bahwa penjatrihan pidana dalam concursus
idealis menggunakan stelsel absorbsi. Artinya, ketentuan pidana yang
harus diterapkan adalah ketentuan pidana yang paling berat di antara
ketentuan-ketentuan pidana yang dilanggar.
Berdasarkan ilustrasi di atas, dalam kasus pemerkosaan di depan
umum, pidana yang -diterapkan adalah maksimum ancaman pidana
yang terdapat ~alam pasal tentang pemerkosaan dan bukan pasal
tentang perbuatan cabul di depan umum karena pasal yang memuat
ancaman pidana lebih berat adalah pasal tentang pemerkosaan.
Demikian juga dalam Uustrasi kedua, pidana yang diterapkan adalah
pasal tentang penganiayaan yang memuat ketentuan pidana lebih berat
hila [Link] dengan ketentuan pidana mengenai perusakan
barang.
C. CONCURSUS REAUS
Berbeda dengan concursus idealis, concursus realis berarti
pelaku melakukan lebih dari satu perbuatan pidana. Concursus realis
disebut juga perbarengan perbuatan atau meerdaadse samenloop. Bila
dihubungkan dengan pengertian uperbuatan" yang dikemitkakan
oleh Schaffmesiter, Keijzer dan Sutorius sebagaimana yang telah
diutarakan di ··atas, maka makna perbuatan dalam concursus realis
harus diartikan sebagai perbuatan yang terbukti894• Kerumitan dalam
h~ncursus realis teidapat pada penjatuhan pidana.
~ . ' . . .· . '
154 0.-Schaffmeister, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link].,
A02 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Menurut ·.· Simons · berdasarkan Memorie. van To,elichting,
pem}?ent*· ·~dang-undang .dalam hal terjadi concursus realis
mepgil?J.t,i,.
. .,, ·. ~se11ste&.el . atau. . sistem ~tara
: ..
.. Artiny;t,
.. . .. ..
,pembentuk
. . .
-
u,[Link]:-lm®Ag , memp~dal¥m : ·kej~hatan:kejahat~.'··~yang [Link]~
denga.p . pi~:;pok9k .yang:_.$ej~nis .P<Pl kejahat~I!:~l<~j~atan ~g
,diancam dengan-pidana;pokokfcmg:-tidak sejeni~. , Mas~ men~t
SimonS. paling tidak [Link].-stelsel pemidanaan d<U~ -ltal _terjadi
concursus realis.- Pertama, . eenvo~ige cummulatiestelsel a~u , sisteq1
hukuman yan~r bersifat -~ederhana. Arihya, bagi setiap perbuatan.
pidanay hakim Ldapat· menjafuhkan pidana Seperti yang · telah
diancamkan oleh undang-undang. · .-.- - ·
Kedua. absorptiestelsel · atau sistein ·penyerapan· dari .pidana
yang berlainan. Dalam hal ini hakim dapat menjatuhkan pidana
maksimum terhadap kejahatan ·yang · paling berat Ketig~ beperkte
cummulatiestelsel atau reductiestelsel atau stelsel kumulasi. Di sini
hakim dapat menjatuhkan ·pidana untuk setiap perbuatan pidana,
namun beratnya hukuman harus dibatasi. Keempat, verscherpingsstelsel
atau exa5peratiestelsel atau sistem pemberatan hukuman yang terberat.
Artinya, hakim hanya menjatuhkan pidana yang paling berat ditambah
dengart pemberatan. Kelima, zuivere cummulatiestelsel atau sistem
kumulasi murni yang berarti terhadap setiap pelangg~ yang terjadi
dalam konteks concursus realis, hakim menjatuhkan pidana tanpa
pengurangan896•
Merigenai setelsel mana yang digwiakan tenfunya tidak terlepas
dari concursus realis yang terjadi.. Concursus feal~ .dengan .berbagai
sistem pemidanaan terdapat pada Pasal 65 sampai dengan Pasal 70
KUf!P. Pasal65 ayat (~) mengatur, "Dalam hal perbarengari bebirapa
perbuatan yang harus dipandang se~agai perbuatliln yang berd~ri ~endiri
~el]ingga .;,.,erupakan b~berapa kejahatcm, yang diani:aln_ dengan pidana
p~kok ya~g sejenis, maka dijatuhkan hanya satu pidana". Pa5al 65 ayat
(2) menyatakan, "Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah
115
P.A.F. Lainintang, [Link]., him. 677.
• D. Simons, [Link]., him. 469-470.
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 403
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
'
maksimum pidana yang diancamkan [Link] perbuatan itu, tetapi tidak
boleh lebih dan maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga".
Berdasarkan konstruksi Pasal 65 ada beberapa hal yang dapat
disirnpulkan. Pertama, terjadi beberapa perbuatan pidana. Kedua,
semua perbuatan pidana yang terjadi memuat ancaman pidana
pokok yang sejenis. Artinya, pidana pokok dari semua perbuatan
pidana yang terjadi berupa pidana penjara atau pidana kurungan atau
pidana denda. Dilihat dari · pidana pokok yang sejenis, sebenamya
stelsel pemidanaannya adalah eenvoudige cummulatiestelsel atau
sistem kumulasi pemidanaan yang bersifat sederhana karena hanya
menjatuhkan satu saja pidana pokok.
Ketiga, masih berkaitan dengan yang kedua, maksimum pidana
yang dapat dijatuhkan adalah sistem kumulasi897 yang oleh Simons
disebut sebagai verscherpingsstelsel atau exasperatiestelsel atau sistem
pemberatanhuk;pman yangterberat. Artinya, hakimhanyamenjatuhkan
pidana yang paling berat ditambah dengan pemberatan898 • Sedangkan
Memorie Van . Toelicting sebagaimana yang dikutip Lamintang
menggunakan istilah gematigde cummulatie atau kumulasi sedang.
Di satu sisi pidana yang dijatuhkan tidak boleh terlalu berat, namun
di sisi lain pidana yang dijatuhkan juga tidak boleh terlalu ringan899•
Keempat, maksimum pidana yang dapat dijatuhkan adalah pidana
terberat ditambah dengan sepertiga dari pidana terberat.
Sebagai ilustrasi: A yang berniat mencuri perhiasan di rumah
B seorang janda muda yang tinggal sendirian. Sebelum mencuri, A
memperkosa B kemudian menganiayanya sehingga menimbulkan .luka
.
berat. Pemerkosaan menurut Pasal285 KUHP diancam pidana penjara
maksimum ·12 belas tahun. Penganiayaan yang mengakibatkan luka
berat diancam pidaria perijara maksimum 5 tahun. Pencurian dengan
kekerasan diancam pidana penjara paling lama 9 tahun. Berdasark:an
.
sistem kumulasi terbatas, maksimum pidana yang dapat dijatuhkan
117 0. Schaffmelster, N. Keijzet: EnfoPh. Sutorius, [Link]., 180. ·
.0~ Simons, Op~Cit., him. 469.
1!!1
., P.A.F. Lamintang, [Link]., him; 671.
404 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIOAHA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
terhadap A adalah 16 tahun penjara. Angka 16 tersebut didapat dali
pidana terberat adalah pemerkosaan 12 tahun ditambah sepertlga dari
12 tahun, yakni 4 tahun..
Contoh lain: X pada hari Senin mencuii. sepeda motor di runia:h
M. Selang 3 hari kemudian X .mencuri sepeda motor di rumah N.
Seminggu keinudian X kembali mengulangi perbuatannya mencuri
sepeda motor di rumah 0. Pada saat melaksanakan aksinya di rumah
0, X tertangkap tangan dan diproses secara hukum. Kendatipwi ketiga
perbuatan yang dilakukan X adalah perbuatan pidana yang sama yakni
pencurian dengan ancaman maksimum pidana penjara 5 tahun, namun
pidana maksimum yang dapat dijatuhkan terhadap X adalah 5 tahun
ditambah sepertiga dari 5 tahun sehingga menjadi 6 tahun 8 bulan.
. Jika Pasal 65 KUHP mengatur terjadinya beberapa perbuatan
pidana dengan ancaman pidana pokok yang sejenis, maka Pasal
66 KUHP mengatur terjadinya beberapa perbuatan pidana dengan
ancaman pidana pokok yang tidak sejenis. Menurut Simons, dalam hal
demikian, sistem pemidanaan yang digunakan adalah absorptiestelsel
atau sistem penyerapan dari pidana yang berlainan900• Dalam hal ini
hakim dapat menjatuhkan pidana maksimum terhadap kejahatan
yang paling berat. Secara eksplisit Pasal66 ayat (1) KUHP berbunyi,
"Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing
harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri S'endiri sehingga
merupakan beberapa kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok
yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan,
tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat
ditambah sepertiga". Sedangkan Pasal66 ayat (2) menyatakan, "Pidana
denda dalam hal itu dihitung menurut lamanya maksimum pidana
kurungan pengganti yang ditentukan untuk perbuatan itu".
Berdasarkan konstruksi Pasal 66 KUHP, hal yang dapat
disimpulkan: Pertama, terjadi concursus realis dengan ancaman pidana
yang tidak sejenis. Kedua, sistem pemidanaan yang dianut adalah
sistem kumulasi yang diperlunak yang oleh Simons disebut sebagai
9111
D. Simons, [Link]., him. 468.
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 405
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
beperkte cummulatiestelsel atau stelsel kumulasi terbatas901 • Kctiga,
semua jenis pidana dikenakan terhadap pelaku. Keempat, maksimum
pidana yang dapat dijatuhkan adalah pidana yang terberat ditambah
sepertiga. Kelima, jika terkait pidana denda, maka lamanya adalah ·
pidana [Link] yang ditentukan hila pidana denda tidak dipenuhi.
Sebagai ilustrasi, C mengendarai mobil tanpa surat-surat yang
lengkap. melanggar lampu lalu lintas dan menabrak D, seorang pejalan
kaki yang sedang menyeberang jalan sehingga mengakibatkan mati.
Mengendarai mobil tanpa surat-surat an caman pidananya adalah
denda. Sedangkan melanggar lampu lalu ·lintas ancaman pidananya
adalah kurungan. Sementara menabrak orang ~hingga rnengakibatkan
mati adalah perbuatan pidana yang diancam dengan pidana penjara
maksimum 5 tahun atau pidana kurungan maksimum 1 tahun. Dengan
demikian maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap C adalah
5 tahun penjara,ditambah sepertiga dari 5 tahun sehingga menjadi 6
tahun 8 bulan.
Pasal 67 KUHP pada dasarnya juga mengatur concursus realis
namun dalam salah satu pasal yang dilanggar diancam dengan pidana
mati atau pidana seumur hidup. Jika orang tersebut dijatuhi pidana
mati atau pidana penjara seumur hidup, maka jenis pidana lainnya
seperti pidana kurungan dan atati pidana denda tidak boleh dijatuhkan
lagi. Tegasnya, pidana mati atau pidana seumur hidup tidak dapat
dijatuhkan dengan pidana pokok lainnya. Namun hal ini tidak berlaku
terhadap pidana tambahan. Artinya. kendatipun terdakwa dijatuhi
pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, pidana tambahan tetap
dapat dijatuhkan.
Demikian pula dalam Pasal 68 KUHP yang· pada hakikatnya
mengatur pidana tambahan berkaitan concursus realis dengan fonnulasi .
sebagai berikut: Pertama, pidana berupa pencabutan hak yang sama
dijadikan satu dan lamanya pencabutan hak tersebut minimal 2
tahun dan maksimal 5 tahun melebihi pidana pokok yang dijatuhkan.
Sebagai misal, seorang Pegawai Negeri melakukan [Link]
llll" . [Link].
.406 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
. -~ -
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
jabatan. Selain itu juga Pegawai Negeri tersebut melakukan penipuan.
Penggelapan dalam jabatan diancam pidana penjara . maksimum 5
. tahun, sedangkan penipuan diancam pidana maksimum . 4 tahun;
Terhadap Pegawai Negeri tersebut Pengadilan [Link] pidana
penjara 6 tahun dengan masing-masing pidana tambahan yang sama
berupa pencabutan hak untuk diangkat atau dipilih sebagai pejabat
publik. Dengan demikian lamanya pidana tambahan tersebut minimal
8 tahun dan maksimalll tahun.
Kedua, jika pidana pokok hanya pidana denda saja, maka lamanya
pencabutan hak paling sedikit dua tahun dan paling lama lima tahun.
Sebagai contoh, seorang pengemudi selain tidak membawa Surat ·Izin
Mengemudi juga tidak memiliki Surat Tanda Nomor Kendaraan dan
melanggar lampu lalu lintas. Terhadap pengemudi tersebut hanya
dijatuhkan pidana denda derigan pidana tambahan berupa pencabutan
Surat Izin Mengemudi. Dengan demikian, pencabutan Surat Izin
Mengemudi dapat dilakukan selama minimal 2 tahun dan maksimal
5tahun.
Ketiga, jika pidana berupa pencabutan hak yang berlainan, maka
penjatuhannya berdiri sendiri tanpa dikurangi. Sebagai ilustrasi, A
seorang Pegawai Negeri mengendarai mobil tanpa membawa Surat
Izin Mengemudi, melanggar lampu lalu lintas kemudian menabrak B
sehingga mengakibatkan kematian. A dijatuhi pidana. penjara selama
5 tahun dengan pidana tambahan yang berlainan berupa pencabutan
hak untu.k mengendarai kendaraan dan pencabutan hak untuk
menduduki jabatan publik. Dengan demikian masa pencabutan hak
tersebut masing-masing berdiri sendiri tanpa dikurangi selama yang
bersangkutan menjalani pidana. Keempat, pidana tambahaiJ. berupa
perampasan barang-barang tertentu dan pidana kurungan pengganti
karena barang-barang yang dirampas tidak diserahkan, penjatuhannya
berdiri sendiri tanpa dikurangi dengan ketentuan lamanya kurungan
pengganti tidak boleh melebihi 8 bulan.
Ketentuan Pasal 69 KUHP adalah mengenai pidana pokok yang
tidak sejenis dan pidana pokok yang sejenis dalam hal terjadi concursus
PERBARENGAN PERBUATAN PI DANA 407
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
realis dengan formulasi: Pertama, perbandingan beratnya pidana
pokok yang tidak sejenis ditentukan menurut urut-urutan dalam Pasal
I 0 KUHP. Dalam konteks [Link], urutan pidana pokok tersebut
adalah pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda
dan pidana tutupan. Kedua, jika hakim memilih antara beberapa
pidana pokok, maka dalam perbandingan hanya yang terberatlah yang
dipakai. Ketiga, perbandingan beratnya pidana-pidana pokok yang
sejenis ditentukan·menurut maksimumnya masing-masing. Keempat,
perbandingan lamanya pidana-pidana pokok, baik yang sejenis
maupun yang tidak sejenis, juga ditentukan menurut maksimumnya
masing-masing.
Terakhir dari concursus realis adalah ketentuan Pasal 70 [Link]
yang pada intinya mengatur jika perbarengan antara pelanggaran
dengan kejahat:an atau antara pelanggaran dengan pelanggaran, maka
untuk setiap pelioggarail dijatuhkan pidana yang berdiri sendiri tanpa
dikurangi. Artinya, jika terjadi concursus realis antara pelanggaran
dengan kejahatan, maka stelsel pidana yang digunakan adalah kumulasi
terbatas, sedangkan dalam hal concursus realis antara pelanggaran
dengan pelanggaran, maka stelsel pidana yang· digunakan adalah
kumulasi tidak terbatas902• Simons menyebutkan sistem pemidanaan
dalam hal concursus realis antara pelanggaran dengan pelanggaran
sebagai zuivere cummulatiestelsel atau sistem kumulasi murni903•
D. PERBUATAN BERLANJUT ·
Pranata hukum perbuatan berlanjut atau voorgezette handeling
menurut sejarahnya berasal dari Jerman. Dalam perbuatan berlanjut
sudah tentu lebih dari satu perbuatan (gebeuren) yang mana antara
satu perbuatan dengan perbuatan yang lain saling terkiit dan··
merupakan satu kesatuan (in zodanige verband). Keterkaitan tersebut
hanis memenuhi dua syarat, pertama merupakan perWujudan dari
satu keputusan kehendak yang terlarang dan yang kedua perbuatan
!111Z D. Schaffmeister, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., 181.
90J . D. Simons, [Link].
408 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tersebut haruslah sejenis. Artinya, perbuatan tersebut berada di bawah
ketentuan pidana yang sama904•
Perbuatan berlanjut pada dasarnya merupakan concursus
realis namun memiliki karakter khusus. Selain merupakan suatu
keputusan kehendak dan persamaan sifat atau sejenis dari perbuatan
yang dilakukait sebagaimana tersebut di atas, karakter yang lain dari
perbuatan berlanjut adalah berada dalam jangka waktu tertentu.
Oleh karena itu, makna kata "perbuatan" dalam frase "perbuatan
berlanjuf' harus diartikan sama dengan makna "perbuatarf dalam
frase "perbarengan perbuatan" yakni perbuatan yang telah terbukti905•
Terkait perbuatan berlanjut, Simons demikian juga van Hamel
dan Zevenbergen menyatakan, "Naar mijne zienswijze is dus bij
_toepassing van art. 56 selchts van eene quaestie van straftoemeting Spralce
en niet van het vormen van een delict. met al de gevolgen daaraan ten
opzichte van de plaats van het strafbare feit, de deelneming, de verjaring
enz; verbonden906" (Menurut pengamatan saya, pemberlakuan Pasal
56 (Pasal64 KUHP) itu hanya berkenaan dengan masalah penjatuhan
pidana ..dan bukan mengenai pembentulcan suatu perbuatan pidana,
dengan segala akibatnya yakni yang berkenan dengan tempat terjadinya
perbuatan pidana, penyertaan, masalah daluwarsa dan lain-lain).
Menurut van Bemmelen dan van Hattum bahwa Pasal 56 {Pasal
64 KUHP) hanya memuat suatu peraturan mengmai penjatuhan
pidana dan bukan mengatur masalah pembentukan sejumlah tindak
pidana menjadi satu ·keseluruhan menurut undang-undang, yang
mana mempunyai arti yang sangat penting bagi tempat kejadian
perkara, daluwarsa, kekuatan hukum tetap dan penyertaan ("Dat
art. 56 slechts een voorschrift van straftoemeting bevat en geenzins een
veelheid van delicten wettelijk tot eenheid vormt is van grote betekenis
voor de locus delicti, voor de verjaring, voor de kracht van gewijsde, voor
de deelnemin~1':)
904
Jan Remmelink, [Link]., him. 571.
905
D. Schaffmeister, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., 194, 181, dan 183.
906
D. Simons, [Link]., him. 472.
'M11 J.M. van Bemmelen EnW.F.C. van Hattum, [Link]., him. 529.
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 409
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Simons, Zevenbergen,
van Hamel, van Bemmelen dan van Hattum dapat disimpulkan bahwa
perbuatan berlanjut semata-mata suatu peraturan terkait penjatuhan
pidana. Hal ini memperkuat argumentasi bahwa perbarengan perbuatan
pidana bukanlah suatu bentuk khusus perbuatan pidana melainkan
masalah pemidanaan. Lebih Ianjut kita dapat menelaah ketentuan Pasal
64 ayat (1) KUHP yang menyatakan, "]ilea antara beberapa perbuatan,
meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada
hubungannya sedemikian rupa sehinggti harus dipandang sebagai satu
perbuatan berlanjut, maka hanya dikenakan satu aturan pidana; jika
berbeda-beda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok
yang paling berat.._
Merujuk pada ketentuan Pasal 64 ayat ( 1) KUHP, selain makna
perbuatan berlanjut itu sendiri yang harus memenuhi tiga karakter
sebagaimana yang telah diutarakan di atas, hal terpenting dalam pasal
a quo adalah sUitem pemidanaan yang dianut adalah stelsel absorpsi
yakni ada beberapa ketentuan pidana yang dilanggar, namun yang
diterapkan hanyalah satu ketentuan pidana yang terberat908• Berikut
ini adalah beberapa ilustrasi dan yurisprudensi pengadilan untuk
menen~ apakah ada perbuatan berlanjut ataukah tidak.
llustrasi Pertama: X adalah seorang pustakawan yang dalam
jangka waktu tertentu menggelapkan buku-buku yang berada dalam
perpustakaan tersebut Buku-buku tersebut kemudian dijual di
pasar loak. Dalam hal ini telah terjadi perbuatan berlanjut berupa
penggelapan dalam jabatan sebagaimana diatur dalam Pasal374 KUHP
dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun penjara. Di sini ada satu
keputusan kehendak. perbuatan pidananya sejenis dan berada dalam
jangka waktu tertentu.
IlustrasiKedua: Putusan Hoge Raad 30 Juni 1913, Nj 1913'; 1097,
W 9519 perihal seorang tukang pos di kota Vaals. Duduk perkaranya:
Seorang tukang pos membuka surat yang ditulis oleh seorang pria
;a. D. Schaffmelster, N. Keijzer En [Link]. SUtorius, [Link]., him. 181. Bandingkan dengan D.
Simons, [Link]., him. 468.
';410 .PRINSIP-PRINSIP HUKUMPIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Ic;.:·r·.l :·· ... ·.-.
di kota Bonn kepada seorang perempuan eli kota Vaals. Dalam surat
tersebut di temukan satu formulir toto (wettzettel). Tukang pos
menukarkan formulir tersebut dengan lembar kertas lain. Perbuatan
pidana pertama yang dilakukan adalah secara tanpa hak membuka
surat dan perbuatan pidana yang kedua adalah mengganti isi sural
Hoge Raiul dalam putusannya menolak penerapan perbuatan pidana
berlanjut dengan alasan bahwa baik perbuatan maupun ketentuan
pidananya tidak sejenis909 •
Rustrasi Ketiga: T yang hendak membangun rumah, berniat
mencuri di toko bangunan. Pada hari pertama yang dicuri adalah
beberapa sak semen. Seminggu kemudian T mencuri beberapa balok
kayu di toko yang sama. Dua minggu berselang di toko yang sama, T
mencuri beberapa kaleng cat. Pada saat melakukan pencurian yang
terakhir, T tertangkap tangan. Tindakan T adalah pencurian yang
dilakukan secara berlanjut karena ada suatu keputusan kehendak,
perbuatannya sejenis dan dalam kurun waktu tertentu.
flustrasi Keempat sebagaimana dicontohkan di atas: X pada hari
Senin mencuri sepeda motor di rumah M. Selang 3 hari kemudian X
mencuri sepeda motor di rumah N. Seminggu kemudian X kembali
mengulangi perbuatannya mencuri sepeda motor di rumah 0. Pada
saat melaksanakan aksinya di rumah 0, X tertangkap tangan dan
diproses secara hukum. Kendatipun ketiga perbuatan yang dilakukan
X adalah perbuatan pidana yang sama yakni pencurian dan dalam
jangka waktu tertentu namun bukan perbuatan berlanjut karena tidak
merupakan satu keputusan kehendak, subjek dan locus delicti-nya juga
berbeda.
Hal terakhir yang berkaitan dengan perbuatan berlanjut adalah
terkait pemalsuan mata uang. Jika seseorang memalsukan uang
kemudian menggunakan uang palsu, pembentuk KUHP memandang
perbuatan tersebut sebagai perbuatan berlanjut, kendatipun perbuatan
tersebut masing-masing dapat berdiri sendiri. Hal ini tersimpul dari
Pasal64 ayat (2) KUHP. Sedangkan Pasal64 ayat (3) KUHP menyan~ut
911!1 Jan Remmelink, Loc Cit.
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 411
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pencurian ringan, penggelapan ringan, penipuan ringan dan [Link]
ringan dipandang sebagai perbuatan berlanjut jika kerugian melebihi
75 rupiah dan dijatuhkan pidana sebagaimaan dimaksud dalam Pasal
362 KUHP (pencurian biasa}, Pasal 372 KUHP (penggelapan biasa),
Pasal378 KUHP (penipuan biasa) dan Pasal406 (perusakan barang).
E. PERBUATAN PIDANA TERTINGGAL
Asumsi pembentuk undang-undang mencantumkan Pasal 71
KUHP adalah untuk memberlakukan ketentuan tentang perbarengan
dalam hal persidangan jika seorang terdakwa melakukan dua perbuatan
pidana atau lebih namun dalam persidangannya ada perbuatan pidana
yang tidak diadili. Hal ini untuk · mencegah terdakwa dirugikan
akibat ketidaksempurnaan atau ketidaklengkapan penyidikan atau
penuntutan910• Ketentuan Pasal 71 KUHP ini juga disebut sebagai
perbuatan pid~a tertinggal
Secara eksplisit ketentuan Pasal 71 KUHP mengatur, "Jika seorang
telah dijatuhi pidana. kemudian dinyatakan bersalah lagi · karena
melakukan kejahatan atau pelanggaran lain sebelum ada putusan
pidana itu, maka pidana yang dahulu diperhitungkan pada pidana yang
akan dijatuhkan dengan menggunakan aturan-aturan dalam bab ini
mengenai hal perkara-perkara diadili pada saat yang sama". Agar lebih
lll:emahami konstruksi perbuatan pidanatertinggal, berikut ini ada dua
Uustra8i:
Rustrasi Pertama, A berniat mencuri di rumah B. Selain B, hanya
ada seorang pembantu rumah tangga bernama C yang tinggal di rumah
tersebut. Sebelum mencuri A memperkosa C. Setelah memperkosa,
A kemudian mengambil perhiasan B dan melarikan diri. Ketika
· melompati .pagar rumah B, A dipergoki oleh D seorang waiga yang
kebetulan lewat di depan .rumah B. Karena takut ketahuan, B kemudian
menusuk D dengan sebilah pisau dan mengakibatkan mati. Beberapa
hari keniuclian A ditangkap dan diproses. Di pengadHan, Penuntut
Umum mendakWa A melakukan pemerkosaan dan pencurian. A
tiD Ibid., him. 575.
412 PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dijatuhi pidana 12 tahun penjara. Beberapa lama kemudian ketika A
matiih mendekam dalam penjara, terungkap bahwa A adalah pelaku
pembunuhan terhadap D. A kemudian diadili atas perbuatan pidana
pembunuhan terhadap D.
Jika ilustrasi ini dihubungkan dengan ketentuan Pasal 71 KUHP,
maka maksiffium pidana penjara yang dapat dijatuhkan terhadap A
adalah 8 tahun penjara. Hal ini karena jika ketiga perbuatan pidana
tersebut (pemerkosaan, maksimum 12 tahun penjara, pencurian
maksimum 5 tahun penjara dan pembunuhan biasa maksimum 15
tahun penjara) diadilisecara bersamaan, maka maksimum pidana yang
dapat dijatuhi terhadap A adalah 20 tahun (ancaman pidana terberat
15 tahun ditambah sepertiga ancaman pidana terberat, yakni 5 tahun).
Akan tetapi pada persidangan terdahulu untuk kasus pemerkosaan dan
pencurian, A telah dijatuhi pidana 12 tahun penjara, maka lamanya
pidana penjara yang tersisa hanyalah 8 tahun. Pengadilan A atas kasus
pembunuhan terhadap D adal?h perbuatan pidana tertinggal.
Ilustrasi Kedua: S adalah .fiscus atau seorang petugas pajak yang
beberapa kali melakukan penggelapan pajak atas setoran beberapa
wajib pajak, T, U, V, W, X, Y dan Z. Penggelapan pajak yang dilakukan
oleh [Link] ancaman pidana maksimum 15 tahun penjara dan
dalam hal .perbarengan perbuatan, maka dapat diperberat sepertiga
dari ancaman pidana maksimum. Dalam persidangarNi hanya didakwa
oleh Penuntut Umum melakukan penggelapan pajak atas setoran wajib
pajak T, U, V, W dan X . S kemudian dijatuhi pidana 20 tahun penjara.
Ketika sedang mendekam dalam penjara, terungkap fakta bahwa S juga
melakukan penggelapan pajak atas setoran pajak Y dan Z. S kemudian
diadili kembali oleh pengadilan atas kasus penggelapan pajak dengan
wajib pajak y dan z~
Berdasarkan ilustrasi tersebut dan bila dihubungkan dengan
ketentuan Pasal 71 KUHP, maka S hanya dinyatakan terbukti secara sah
dan meyakinkan melakukan penggelapan pajak atas wajib pajak Y dan .
Z tanpa diikuti pemidanaan karena sudah tidak ada lagi pidana yang
· tersisa. Hal ini karena pada pengadilan sebelurnnya dalam kasus yang
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 413
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sama, S telah dijatuhi pidana maksimum dengan pemberatan yakni 20
tahun penjara. Dengan demikian tidak ada lagi pidana penjara yang
tersisa atas kasus yang diadili kemudian yakni penggelapan pajak atas
wajib pajak Y dan Z. Pengadilan dalam kasus penggelapan pajak atas
wajib pajak Y dan Z juga termasuk perbuatan pidana tertinggal
F. PERBARENGAN PENENTUAN PIDANA
Jika Pasal 63 ayat (1) KUHP mengatur tentang eendaadse
samenloop (perbarengan peraturan atau concursus idealis) dan Pasal
65 KUHP mengenai meerdaadse samenloop (perbarengan perbuatan
atau concursus realis), maka Pasal 63 ayat (2) adalah samenloop van
strafbaarstellingen atau perbarengan penentuan pidana911 • Berkaitan
dengan Pasal63 ayat (2), Hazewinkel Suringa memberi komentar, "Uit
art 55 (2) nu is op..te maken, dat feit een gedraging is, die reeds valt onder
een strafbepaling, maar door de bijzondere kenmerken, die het vertoont,
nog een andere ook voor toepassing in aanmerking doel komen 912"
(Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 55 ayat (2) {pasal 63 ayat (2)
KUHP} menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan "perbuatan"
adalah suatu perilaku yang termasuk dalam satu ketentuan pidana,
akan tetapi karena sifat-sifat yang khusus, perilaku tersebut juga masih
dapat dimasukkan ke dalam suatu ketentuan pidana yang lain).
Secara eksplisit Pasal 63 ayat (2) KUHP m~ngatur, "Jika suatu
perbuatan dalam satu aturan pidana yang umum, diatur pula dalam
aturan pidana uang. khusus, maka hanya yang khusus itulah yang
diterapkan': Berdasarkan pasal a quo, jika dihubungkan dengan makna
perbuatan menurut Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius serta apa
yang dikem~ oleh Suringa, maka ada dua hal penting. Pei-tama,
perbuatan dalam pasal a quo harus diartikan sebagai perbuatan yang
benar-benar terjadi. Kedua, hal ini berkaitan [Link] asas lex specialis
derogat legi generali.
tu .D. Schaffmelster, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., him. 188.
' 12Hazewlnkel Suringa, [Link]., him. 462.
·.414: PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Secara harafiah postulat lex specilais derogat legi generali berarti
hukum khusus mengesampingkan [Link] umum .atau de speciale
regel verdringt de algemene913• Dalam konteks hukum pidana, berbagai ·
kejahatan dan pelanggaran yang tertuang dalam KUHP adalah hukum
pidana umum, sedangkan berbagai kejahatan atau pelanggaran yang
diatur dalam undang-undang tersendiri - di luar KUHP - adalah
hukum pidana khusus. Bijzonder strafrecht atau hukum pidana khusus
adalah. hukum pidana yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan
umum hukum pidana baik dari segi materiil maupun formil. Artinya,
ketentuan-ketentuan tersebut menyimpang dari ketentuan urn urn yang
terdapat dalam KUHP maupun menyimpang dari ketentuan-ketentuan
umum yang terdapat dalam KUHAP.
Dalam konteks Indonesia, sebagaimana yang telah dijelaskan pada
Bab I, dewasa ini banyak sekali undang-undang yang lahir kemudian,
selain memuat ketentuan hukum pidana materiil yang menyimpang
dari KUHP, juga memuat ketentuan beracara sendiri yang menyimpang
dari KUHAP. Sekian banyak undang-undang tersebut adalah bijzonder
delic atau tindak pidana khusus yang apabila dikenakan bersama-sama
dengan ketentuan dalam KUHP, maka ketentuan tindak pidana khusus
itulah yang harus digunakan berdasarkan posrulat lex specialis derogat
legi generali. ,
Adakalanya, suatu perbuatan pidana memenuhi rumusan
delik yang terdapat dalam lebih dari satu ketentuan pidana yang
bersifat khusus. Sebagai misal, kegiatan di sektor perpajakan yang
menimbulkan kerugian keuangan negara karena kendala-kendala
teknis di satu sisi, sementara di sisi lain terdapat ketidaktaatan dari
wajib pajak. Permasalahan lebih lanjtit, dalam menyelesaikannya
peristiwa hukum yang demikian undang-undang manakah yang
akan digunakan? Apakah undang-undang tentang ketentuan umum
perpajakan yang di dalamnya meliputi tindak pidana pajak ataukah
undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi. Dengan kata
lain, antara tindak pidana pajak dan, tindak pidana korupsi manakah
9
° Ch.J., Enschede, [Link]., him. 186
PERBARENGAN PERBUATAN PIDANA 415
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
yang harus digunakan dengan mengingat kedua undang-undang
tersebut merupakan bijzonder delic atau tindak pidana khusus.
Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya akan mempengaruhi
penegakan hukum pidana karena hukum formil yang diatur oleh kedua
undang-undang tersebut berbeda. Jika menggunakan undang-undang
ketentuan umum perpajakan, maka penegakan hukumnya dilakukan
oleh penyidik pajak yang berkoordinasi dengan polisi sesuai dengan
KUHAP. Akan tetapi sebaliknya, jika menggunakan undang-undang
pemberantasan tindak pidana korupsi, maka penegakannya dapat
dilakukan oleh polisi, jaksa maupun komisi pemberantasan tindak
pidana korupsi (KPK). Tegasnya, permasalahan hukum yang demikian
menimbulkan kompleksitas yuridis dalam menyelesaikannya.
G. LEX SPECIAUS VERSUS LEX SPECIAUS
Banyaknf.i undang-undang khusus sebagai lex specialis
tersebut tentunya juga tidak akan lepas dari permasalahan dalam
implementasinya. Permasalahan yang timbul, jika suatu perbuatan
yang diduga sebagai suatu tindak pidana tersebut diatur oleh lebih dari
satu undang-undang yang bersifat sebagai lex specialis, manakah aturan
hukum yang harus digunakan dengan mengingat undang-undang yang
sating bertentangan tersebut sama-sama merupakan bijzonder delict
atau tindak pidana khusus. Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya
akan mempengaruhi penegakan hukum pidana karena hukum formil
yang diatur oleh masing-masing undang-undang tersebut berbeda.
Oleh karenanya dibutuhkan asas lain untuk menyelesaikan masalah
yuridis tersebut, yaitu asas lex specialis sistematis.
H. .LEX SPECIAUS SISTEMATIS
Dalam perkembangan ilmu hukum -termasuk hukum pidana-
asas lex specialis derogat legi generali tidak bisa menyelesaikail sengketa
yuridis bilamana terjadi suatu perbuatan yang diancam lebih dari satu
undang-undang yang dikualifikasikan sebagai bijzonder delic atau delik
416 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~ . .. : '
":
khusus atau tindak pidana khtisus. Jika demikian halnya, inaka yang
digunakan adalab lex' sftesialis sistemiitis sebagai· deri'Vat~·atau timman
dari asas lex specialis derogat legi generali._Menurut Remmelink, asas
ini di Belanda dikenal dengan istilah specialitas yuridikal atati specialitas
sistematikaP14, ~ samping logische specialiteit"5•
Ada pun kriteria dari spesialitas sistemans adalah .objek dari
definisi umum diatur lebih lengkap dalam kerangka ketentuan
khusus. Sedangkan, spesialitas logis memiliki kriteria de:finisi rind
dari kejahatan dalam batas-batas definisi umum916• Sebagai contoh,
seseorang menebang kayu secara ilegal di kawasan hutan lindung.
Akibat penebangan kayu secara liar adalah kerusakanlingkungan hidup.
Perbuatan tersebut di satu sisi melanggar undang-undang kehutanan,
namun di sisi lain juga melanggar undang-undang lingkungan hidup.
Akan tetapi hila ditelaah lebih lanjut yang liarus digunakan adalah
undang-undang kehutanan karena diatur lebih lengkap dan rinci dalam
kerangka ketentuan pidana khusus. Dengan demikian undang-undang
kehutanan merupakan lex specialis sistematis.
I. LEX CONSUMEN DEROGAT UGI CONSUMTE
Secara harafiah lex consumen derogat legi consumpte berarti
ketentuan yang satu memakan ketentuan yang lainn)I'L Di Jerman,
istilah ini menunjukkan pada suatu keadaan yang diputuskannya
berdasarkan suatu situasi konkret Semisal ada dua ketentuan pidana
yang sam a sifatnya, misalnya sama-~a sebagailex specialis, maka yang
dijadikan pedoman adalah ketentuan pidana yang paling mendominasi
terhadap perbuatan pelanggar ketentuan pidana tersebut. Dalam asas
ini, bukan sanksi pidana yang terberat yang akan diberlakukan, tapi
ancaman pidana yang berkaitan dengan perbuatan yang secara nyata
atau konkret diejawantahkan oleh pelanggar ketentuan tersebut917•
·n• Jan Remmelink, Op. Cit., him. 578
~L> Ch. J., Enschede, [Link]., him. 186.
~~· D. Schaffmelster, N. Keijzer En [Link]. 5utorius, [Link]., him. 194.
917
Jan Remmelink, Op. Cit., him. 578-579
PERBARENGAN PERBUATAN PI DANA 417
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Kembali kepada contoh persinggungan antara undang-undang
tentang ketentuan umum polcok perpajakan dengan undang-undang
pemberantasan tindak pidana korupsi. Jika kegiatan di sektorperpajakan
yang menyentuh ranah hukum pidana korupsi berdasarkan fakta yang
ada lebih dominan unsur-unsur dalam undang-undang tersebut,
maka yang digunakan adalah ketentuan urn urn pokok ·perpajakan.
Sebaliknya, jika kegiatan di sektor perpajakan yang menyentuh ranah
hukum pidana korupsi tersebut berdasarkan fakta yang ada lebih
dominan unsur-unsur dalam undang-undang pemberantasan tindak
pidana korupsi, maka yang digunakan adalah undang-undang tindak
pidana korupsi. Akan tetapi tidak menutup · kemungkinan pula jika
kegiatan yang menyentuh ranah hukum pidana korupsi berdasarkan
fakta yang ada, baik unsur-unsur dalam undang-undang ketentuan
umum pokok perpajakan, maupun unsur-unsur dalam undang-undang
pemberantasan tindak pidana korupsi sama dominannya. Dalam hal
terjadi demikih, maka kita akan kembali kepada concursus idealis
sebagaimana yang dijelaskan di atas.
418 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
HAPUSNYA KEWENANGAN
PENUNTUTAN PIDANA
DAN MENJALANKAN PIDANA
· "Nemo bis punitur pro eodem delicto"
"Omnis querela et omnis. actio injuriarum limitata est
infra certa tempora"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Ada tigaalasan yang mendasari kedua adagium tersebut. Pertama, ·
untuk menjaga kehormatan dan keluhuran martabat hakim yang telah
memutus suatu perkara. Res judicata in criminalibus: finalnya putusan ·
dab..'1l perkara pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
sehingga menutup total hak untuk melakukan atau [Link]
penuntutan kembali terlepas dari putusan tersebut benar atau salah.
Hakim tidak dipaksa untuk mengulang-ulang dalam memeriksa suatu
kasus atau membantah pandangan-pandangan hakim lain. 918• Kedua,
untuk menjamin hak asasi manusia. Dalam hal ini adalah kepentingan
individu untuk tidak diganggu gugat atas perkara yang telah diadili
dan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketiga, negara dalam
rangka menjaga kewibawaannya harus memberikan kepastian hukum.
Dalam konteks ini adalah kepastian hukum terhadap individu untuk
memperoleh keamanan dan ketenteraman hidup.
Putusan pertgadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
berarti telah ada pemeriksaan terhadap pokok perkara. Jika putusan
berkaitan dengan kompetensi absolut atau kompetensi relatif, demikian
juga putusan yang berkaitan dengan sah - tidaknya dakwaan bukanlah
putusan_yang berkekuatan hukum pasti. Konsekuensi lebih Ianjut, kalau
perkara tersebut kembali diadili, maka tidak dapat dikatakan sebagai
ne bis in idem. Syarat adanya ne bis in idem adalah res judicata yang
'
berarti ada suatu tindak pidana yang telah diperiksa berkaitan dengan
pertanggungjawaban pidana terdakwa telah diputus dan mempunyai
kekuatan hukum tetap.
Sarna halnya dengan perbarengan perbuatan pidana, dalam ne bis
in idem yang selalu menjadi perdebatan adalah makna kata "perbuatan"
sebagaimana tercantum dalam Pasal76 ayat (1) KUHP. Dari berbagai
yurisprudensi dan doktrin, kata "perbuatan" dalam ne bis in idem, tidak
hanya dimaknai sebagai perbuatan yang sungguh-sungguh terjadi
atau perbuatan yang terbukti atau perbuatan yang dituntut, namun
juga meliputi pengertian "perbuatan" dalam konteks hukum pidana.
·"' Ibid.,.him. 425.
HAPUSNYA KEWENAI~GAN PENUNTUTMJ PIOANA DAN [Link] PIDANA 423
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. Tegasnya, makna kata "perbuatan" dalam ne bis in idem lebih luas hila
dibandingkan dengan makna kata "perbuatan" dalam "perbarengan
perbuatan 919' : Kendatipun demikian, berbagai yurisprudensi akan
terlihat jelas dinamika pemaknaan "perbuatan" dalam ne bis in idem
yang diterapkan oleh pengadilan. Berikut ini adalah perkembangan
pengertian kata "perbuatan" dari beberapa yurisprudensi dan ilustrasi
sehingga terlihat jelas perbedaannya.
PERfAMA, pengertian perbuatan adalah sebagai perilaku
atau tindakan yang didakwakan atau dituntut di depan pengadilan.
[Link], terhadap fakta yang sama jika dakwaan atau tuntutan
diubah maka tidak termasuk ke dalam ne bis in idem. Sebagai ilustrasi,
A untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda membuat
[Link] palsu terhadap harga barang-barang. A kemudian didakwa
melakukan penipuan sebagain1ana dimaksud dalam Pasal378 KUHP
karena dalam rumusan pasal tersebut di antaranya menggunakan
keadaan palsu. .A. kemudian dibebaskan dari dakwaan terse but. Penuntut
umum kemudian kembali mengajukan dakwaan dan tuntutan yang
baru terhadap A, tidak lagi karena penipuan tetapi karena pemalsuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal263 KUHP.
Tanggapan Penulis terhadap pengertian kata "perbuatan" yang
demikian: Pertama, pengertian tersebut terlalu luas dan penafsiran
yang demikian hanya diserahkan kepada subjektifitas penuntut umum.
Kedua, konsekuensi dari yang pertama, tidak menjamin kepastian
[Link] karena seseorang bisa diadili berkali -kali atas berbagai dakwaan,
· namun didasarkan pada fakta yang sama. Ketiga, [Link] negara
dipertanyakan karena tidak bisa melindungi individu dari kesewenang-
wenangan kekuasaan penuntutan pidana. Keempat, martabat dan
keluhuran lembaga peradilan temodai karena hakim harus memeriksa
berulang-ulang seseorang atas perkara yang sama.
KEPUA, kata "perbuatan'" yang diartikan oleh Pompe sebagai
kejadian konkret yang diarahkan pada tujuan yang sama selama tujuan
' 19 D. Schaffmeister, N. Keijzer En [Link]. SUtorius, [Link]., hlm.191.
·~t~:.t:~?.(}::
:}:'4245:' PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
·~xr:' .: ~ ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tersebut merupakan objek dari norma yang bersangkutan920• Menurut
hemat Penulis, Pompekonsisten dalam mengartikan "perbuatan" dalam
frase "perbarengan perbuatan" sebagaimana telah dijelaskan dalam bah
terdahulu. Tegasnya, makna kata "perbuatan" menurut Pompe adalah
sama antara [Link] in idem dengan perbarengan perbuatan.
Sebagai ilustrasi yang juga telah Penulis bahas dalam bah terdahulu:
C yang sedang bertengkar mulut dengan D kemudian mendorongnya
dengan sekuat tenaga ke arah kaca etalase sebuah toko sehingga D
menderita 1~-luka karena terkena pecahan kaca tersebut. C diadili
dan dijatuhl pidana 1 tahun penjara karena melakukan penganiayaan
terhadap D. Sementara mendekam dalam penjara, pemilik toko
kemudian memproses C karena perusakan kaca etalase tokonya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal406 KUHP.
Penuntutan terhadap C oleh pemilik toko atas kasus perusakan
kaca etalase termasuk ne bis in idem sesuai dengan pengertian kata
"perbuatan" sebagaimana menurut Pompe di atas. In casu a quo,
perbuatan C terhadap D hanyalah satu perbuatan yakni penganiayaan
dengari cara sekuat tenaga mendorongnya dan terkena kaca etalase
toko. Pecahnya kaca etalase adalah ekses dan dorongan yang begitu
kuat. Dalam konteks demikian, yang terjadi adalah concursus idealis.
KETIGA, makna kata "perbuatan" menurut Memorie van
Toelichting adalah materieele feit atau suatu kejadian materiil. Hal
ini tersimpul dari hasjl kerja Ko111isi de Wal pada tahun 1886 saat
membahas ketentuan Pasal 76 KUHP. Suatu kejadian materiil, secara
cermat diartikan sebagai peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan
waktu tertentu sebagaimana diatur dalam perundang-undangan
pidana dan berdasarkannya dapat ditentukan ketentuan-ketentuan
pidana yang terkait. Remmelink berpendapat bahwa pembuat undang-
undang tahun 1886 mengartikan 'feif merujuk pada 'handeling' yang
berarti tindakan atau perbuatan921 •
920
[Link]. Pompe, [Link]., him. 551.
921
Jan Remmelink, [Link]., him. 428.
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PI DANA DAN MENJALANKAN PI DANA 42'5 ·
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Menurut pendapat Penulis, pengertian berdasarkan interpretasi
historis dari sejarah pembentukan KUHP akan memperluas kerja asas
ne bis in idem. Pada kenyataannya dalam praktik pengadilan, mengikuti
pandangan yang demikian. Hal ini tersirat dalam "Draaibrug-arrest"
yang diputus Pengadilan Tinggi Amhem pada tanggall Oktober 1931,
NJ 1932,908.
Kasus Posisi: Seorang lelaki yang sedang mengangkut sapi diduga
melanggar ketentuan pengangkutan temak sebagaimana yang diatur
dalam undang-undang petemakan atau Veewet. Ketika lelaki tersebut
hendak dihentikan oleh petugas-pengawasan, yang bersangkutan tidak
berhenti, bahkan mencoba menabrak petugas pengawasan tersebut.
Lelaki tersebut dituntut melanggar ketentuan angkutan ternak dan
dijatuhi pidana. Beberapa waktu kemudian, penuntut umum kembali
menuntut lelaki tersebut dengan pasal percobaan penganiayaan yang
dapat menimbulkan akibat mati. Tuntutan kedua penuntut umum
tersebut ditolak oleh Pengadilan Tinggi Arnhem berdasarkan asas ne
bis in idem 922• Artinya, pelanggaran ketentuan pengangkutari ternak
dan kesengajaan menabrakkan kendaraan kepada seseorang dianggap
sebagai satu fakta materiil923• Hal ini sesuai dengan makna kata
"perbuatan" menurut pembentuk undang-undang yakni, peristiwa
yang terjadi pada waktu dan tempat yang sama dianggap sebagai satu
materieele feit.
KEEMPAT, pengertian kata "perbuatan" dari sudut pandang
hukum pidana. Artinya, kata "perbuatan" di sini tidak hanya sebagai
kejadian faktual, melainkan pemaknaan dari sudut pandang hukum
pidana atau strafrechtelijke betekenfs924• Pengertian yang demikian
adalah menurut van Bemmelen dan van Hattum yang mengartikan
"perbuatan" sebagai perbuatan yang mempunyai pengertian dalam
hukum pidana. Makna kata "perbuatan" menurut van Bemmelen
m D. Schaffmelster, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., hlm.187.
m Jan Remmelink, [Link]., him. 429.
~ [Link].
:)4?&~ PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
·:·< ~~:;::-:.·:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dan van Hattum telah [Link] di atas ketika membahas concursus
idealis.
Secara lengkap dikemukakan van B-emmelen dan '\"all Hattum,
.
"Het komt niet meer hoofdzakilijk aan op de lichamelijke daad, maar het
}eit' moet gezien worden als een gebeuren dat strafrechtelijk betekenis
heeft. Men komt er dan toe verschillende feiten aan te nemen wanneef
eenzelfde gebeuren meer dan een strafrechtelijk relevant facet bezit....925"
(Tindakan badaniah dewasa ini bukan lagi merupakan sesuatu yang
penting. ·Perbuatan itu harus diartikan sebagai suatu peristiwa yang
mempunyai arti bagi hukum pidana. oleh karena itu kita juga harus
dapat menerima kemungkinan terdapatnya perbuatan-perbuatan,
.yaitu jika dalam suatu peristiwa yang sama terdapat beberapa segi yang
mempunyai arti bagi hukum pidana).
Makna kata "perbuatan" yang demikian secara implisit [Link]
dalam "Kijk in t' ]atstraatarresf' pada tanggal 15 Februari 1932, NJ
1932, 289, W 12491. Putusan Hoge Raad tersebut mengubah pandangan
menge~ai pengertian kata "perbuatan"926 • Duduk perkaranya adalah
sebagai berikut: Seorang pengendara mobil dalam keadaan mabuk
melintasi Kijk in t' ]atstrrat d.i Kota Groningen. Selain itu juga,
pengendara mobil tersebut mengendarai mobil tanpa lampu dan tanpa
nomor kendaraan. In casu aquo, Hoge Raad berpendapat bahwa dalam
~
satu kejadian faktual dapat terjad.i beberapa perbuatan yang memiliki
pemaknaan yang berbeda dalam hukum pidana.
Ada lima pertimbangan penting dari tujuh pertimbangan Hoge
Raad dalam kasus tersebut: Pertama, ciri-ciri dari masing-masing delik
berbeda antara satu dengan yang lain. Kedua, perbuatan-perbuatan
tersebut dapat dipikirkan secara terpisah. Ketiga, setiap perbuatan
adalah pelanggaran [Link] yang berlainan sifat sehingga kesamaan
waktu bukan sesuatu yang asasi. Keempat, perbuatan yang satu tidak
tercakup dalam perbuatan yang lain. Kelima, perbuatan yang satu tidak
m J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, [Link]., him. 537.
926
Jan Remmelink, [Link]., him. 430.
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIOANA DAN MEMJALANKAN PIDANA 427 ..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dapat dipandang sebagai suatu keadaan yang meliputi perbuatafl yang
lain927•
Berdasarkan pemaknaan kata ·"perbuatan" tersebut, hila dihu-
bungkan dengan perkara a quo, ada beberapa catatan Penulis:
Pertama, perkara yang demikian adalah dalam konteks concursus realis
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal65 KUHP. Kedua, pemaknaan
terhadap kata "perbuatan" yang demikian, mempersempit berhikunya
asas ne bis in idem. Ketiga, jik.a antara pelanggaran yang satu diadili
terpisah dengan pelanggaran yang lain, maka tidak termasuk dalam
asas ne bis in idem melainkan concursus realis atau perbuatan pidana
yang tef$ggal.
Putusan Hoge Raad dalam kasus a quo tidak mendapat tanggapan
dari para ahli hukum pidana sampai pada tahun 1953 ketika Bockwinkel
menulis tesis tentang tinjauan atas ajaran baru Hoge Raad tentang
perbarengan perbuatan pidana (Beschouwingen over de nieuwe leer van
de Hoge Raad omtrent de samenloop van strafbare feiten). Pengertian
"perbuatan" [Link] kepada pemaknaan menurut pembentuk
undang-undang. Artinya, kata "perbuatan., dimaknai sebagai materieel
feit atau suatu kejadian materiil.
Perkembangan lebih lanjut makna kata "perbuatan'' lebih sempit
sehingga memperluas bekerjanya asas ne bis in idem. Pengertian
KELIMA dari kata "perbuatan" dalam ne bis in idem adalah perbuatan
yang terbukti. Artinya, bilamana terbukti suatu perbuatan muncul
pada saat yang bersamaan dan adanya keterkaitan substansial dari
tindakan dengan kesalahan pelaku, sedemikian sehingga maksud
ketentuan tersebut dapat disimpulkan adanya feit atau tindakan yang
dapat dikatakan serupa atau·locis citatis928• Pemaknaan yang demik:ian
terlihat pada Putusan Hoge Raad 5 Februari 1963 dalam Kasus van'der -
does de Willeboissingel dengan kasus posisi sebagai berikut:
Pengendara mobil menabrak mobil yang diparkir di kailan jalan
dan sebuah tiang lampu. Diperkirakan pengendara mobil tersebut
.;
m D. Schaffmeister, N. Keijzer En [Link]. Sutorlus; [Link]., him. 188.
m Jan Remmelink. [Link]., him. 431.
:\428: , PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
:•.• : : :•
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dalam keadaan mabuk. Pengendara mobil tersebut untuk pertama kali
dituntut karena mengendarai mob~l dalam .keadaan mabuk, namun
diputus bebas oleh pengadilan. Penuntut umum kemudian mengajukan
tuntutan berikutnya terkai't mengendarai mobil yang membahayakan
kebebasan dan keamanan lalu lintas. Pengadilan menerima tuntutan
penuntut umuni dan menjatuhkan pidana kepada pengendara mobil
tersebut. Perkara a quo kemudian dimintakan kasasi oleh pengendara
mobil. Hoge Raad memutuskan bahwa tuntutan berikutnya dari
penuntUt umum termasuk dalam ne bis in idem sehingga membebaskan
terdakwa sesuai dengan tuntutan pertama. Dasar pertimbangan Hoge
Raad bahwa tiap-tiap perbuatan yang dipersoalkan, meskipun antara
satu dengan yang lain terlepas, namun kedua perbuatan tersebut
dimaksudkan untuk keamanan lalu lintas. Sehingga jika satu perbuatan
telah diadili, maka perbuatan yang lain su~ah tidak dapat lagi diadili929•
Perhatikan beberapa ilustrasi berikut ini: Rustrasi Pertama: M
berniat mencuri di rumah N seorang janda kaya yang tinggal sendirian.
Ketika sampai di dalam rumah didapati N sedang pulas tertidur. M
kemudi3J1 memperkosa N. Setelah memperkosa, agar tidak ketahuan,
M membunuh N dan akhirnya mengambil sejumlah perhiasan N yang
bernilai miliaran rupiah. M kemudiari ditangkap dan diproses. Di
pengadilan, Penuntut Umum mendakwa M melakukan pembunuhan
dan pencurian. M dijatuhi pidana 15 tahun penjara. B~berapa lama
kemudian ketika M masih mendekam dalam penjara, terungkap bahwa
sebelum membunuh dan mencuri, M sempat memperkosa N. Apakah
M dapat diadili kembali atas kasus pemerkosaan tersebut?
Berdasarkan ilustrasi tersebut dan hila dihubungkan de-
ngan pengertian kata "perbuatan" dalam ne bis in idem beserta per-
kembangannya, maka M tidak dapat lagi diadili dalam kasus pe-
merkosaan. Tegasnya, penuntutan M atas kasus permerkosaan
termasuk ne bis in idem. Dasar argumentasinya: Pertama, antara
pemerkosaan, pencurian dan pembunuhan merupakan satu rangkaian
perbuatan yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan. Kedua,
m D. Sc:haffmeister, N. Keijzer En [Link]. Sutorius, [Link]., hlm.200 - 201.
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIDANA DAN MENJALANKAN PIOANA 429
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ketiga perbuatan pidana tersebut terjadi pada objek yang sama dan
pada locus delicti yang sama pula. Ketiga, ketidakcermatan penyidikan
dan penuntutan yang tidak rnemasukkan pemerkosaan dalam dakwaan
terhadap M, tidak dapat dibebankan kepada M.
nustrasi Kedua: S mencabuli anak di bawah umur pada tanggal
27 Februari 2010. S dijatuhi pidana 3 tahun penjara dengan pasal
pencabulan dalam KUHP. Setelah keluar dari penjara, pada bulan
Desember 2013, S kembali diadili atas kasus pencabulan yang terjadi
pada tanggal 27 Februari 2010, namun dengan menggunakan undang-
undang perlindungan anak. Apakah S bisa diadili? Dalam konteks yang
demikian, S tidak bisa lagi diadili dan terrnasuk dalam ne bis in idem.
In casu a quo bukanlah berkaitan dengan ne bis in idem melainkan
berkaitan dengan perbarengan penentuan pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal63 ayat (2) KUHP.
Rustrasi K•tiga sebagaimana yang telah dicontohkan dalam bah
sebelumnya: A berniat mencuri di rumah B. Selain B, hanya ada seorang
pembantu rurnah tangga bemama C yang tinggal di rumah tersebut
Sebelum mencuri A memperkosa C. Setelah memperkosa, A kemudian
mengambil perhiasan B dan melarikan diri. Ketika melompati pagar
rumah B, A dipergoki oleh D seorang warga yang kebetulan lewat
di depan rurnah B. Karena takut ketahuan, B kemudian menusuk D
dengan sebilah pisau dan mengakibatkan mati. Beberapa hari kemudian
A ditangkap dan diproses. Di pengadilan, Penuntut Umum mendakwa
A melakukan pemerkosaan dan pencurian. A dijatuhi pidana 12 tahun
penjara. Beberapa lama kemudian ketika A masih mendekam dalam
penjara, terungkap bahwa A adalah pelaku pembunuhan terhadap D.
Dapatkah A diadili atas perbuatan pidana pernbunuhan terhadap D? .
Berdasarkan ilustrasi tersebut, A dapat diadili atas perbuatari
pidana pembunuhan terhadap D dan tidak termasuk ne bis in idem.
Bandingkan dengan ilustrasi pertama di atas, terdapat perbedaan yang
prinsip. Pada ilustrasi ini, meskipun beberapa perbuatan pidana yang
terjadi masing-masing berdiri sendiri dan berada dalam satu rangkaian
perbuatan, namun objek dari kejahatan tersebut berbeda. Dalam
1~:-~::~t~X-\:
~~~3Q'\ PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ilustrasi tersebut, A eliadili atas perbuatan pidana pembunuhan terhadap
D merupakan perbuatan pidana tertinggal yang pemidanaannya harus
memperhatikan pemidanaan terdahulu terhadap kasus pemerkosaan
dan penipuan.
Hal lain yang berkaitan dengan ne bis in idem menurut Remmelink
adahih terkait penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Dalam
pidato pengukuhan guru besarnya eli Universitas Groningen yang
berjud~ Samenloop In Nieuwe Banen pada tahun 1963, Remmelink
berpendapat bahwa suatu perkara pidana yang telah diselesaikan di
luar pengadilan, maka perkara tersebut sudah tidak dapat lagi dituntut
eli depan pengadilan930• Tegasnya, penuntutan perkara pidana yang
telah diselesaikan eli luar pengadilan sebelumnya, termasuk dalam ne
bis in idem.
Demikian pula dalam hal tanggung jawab pidana korporasi. Jika
salah satu pengurus korporasi telah dijatuhi pidana untuk dan atas
nama korporasi serta korporasi tersebut telah dijatuhi pidana, maka
pengurus lain tidak dapat diadili kembali untuk perbuatan yang sama
yang dilakukan oleh korporasi. Lain halnya dalam delik penyertaan.
Jika salah satu pelaku peserta telah diadili, sedangkan pelaku lainnya
termasuk pelaku pembantu belum eliadili, maka mereka tetap dapat
diadili dalam perkara yang sama dan tidak termasuk qe his in idem.
Perihal terakhir yang berkaitan dengan asas ne his in idem adalah
pemberlakuan asas tersebut dalam konteks hukum pidana internasional.
Seiring perkembangan kejahatan-kejahatan serius terhadap komunitas
masyarakat internasional, asas ne his in idem ini dapat disimpangi.
Merujuk Pasal 20 Statuta Roma, pada dasarnya Statuta tersebut
menerapkan asas ne bis in idem namun terdapat pengecualian. Secara
lengkap ketentuan Pasal 20 ayat (1) Statuta Roma mengatur, "Except
provided in this Statute, no person shall be tried before the Court with
respect to conduct which f ormed the basis of crimes for which the person
has been convicted or acquitted by the Court" (Tidak seorang pun diadili
di depan mahkamah berkenaan dengan perbuatan yang merupakan
930
Jan Remmelink, [Link]., him. 432.
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIDANA DAN MENJALANKAN PIDANA 431
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dasar kejahatan yang mana orang tersebut telah dinyatakan bersalah
atau dibebaskan oleh mahkamah).
Sedangkan Pasal 20 ayat (2) menyatakan, «No person shall be
tried by another court for a crime referred to in article 5 for which that
person trial already been convicted or acquitted by the Court" (Tidak.
seorang pun boleh diadili di depan suatu pengadilan lain untuk
kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5 yang mana orang tersebut
telah diadili atau dibebaskan oleh mahkamah). Sementara Pasal 20
ayat (3) menyebutkan, "No person who has been tried by another court
for condud also proscribed under article 6, 7 or 8 shall be tried by the
Court with respect to the same conduct unless the proceedings in the other
court., (Tidak seorang pun yang telah diadili di depan suatu pengadilan
lain untuk perbuatan yang juga dilarang berdasarkan pasal 6, 7 atau 8
boleh diadili oteh mahkamah berkenaan dengan perbuatan yang sama
kecuali kalau proses perkara dalam pengadilan lain itu).
"Were for the purpose of shielding the person [Link] from
criminal responbility for crimes within the jurisdiction of the Court; or
(Adalah dengan tujuan untuk melindungi orang yang bersangkutan
dari tanggung jawab pidana untuk kejahatan yang berada di
dalam jurisdiksi mahkamah, atau); "Otherwise were not conducted
independently or impartially in accordance with the norms ofdue process
recoqnized by international law and were conducted in a manner which,
in the circumstances, was inconsistent with an intent to bring the person
concerned to justice" (Sebaliknya tidak dilakukan secara mandiri atau
tidak. memihak sesuai dengan norma-norma mengenai proses yang
diakui oleh hukum internasional dan dilakukan dengan ~a yang
dalam keadaan itu tidak sesuai dengan maksud untuk membawa orang
yang bersangkutan ke depan pengadilan).
Bila dicermati ketentuan dalam Pasal20 Statuta di atas, asas ne bis
in idem hanya dapat dikecualikan dalam hal kejahatan-kejahatan yang
berkaitan dengan genosida (Pasal 6), kejahatan terhadap kemanusiaan
(Pasal 7) dan kejahatan perang (Pasal8). Sedangkan terhadap agresi
ua3~-
. . ::·_ ·;'_:·-·
-
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
(Pasai 5) tidak terdapat pengecualian dari asas ne bis in idem. Hal ini
karena pada saat Statuta 'Roma disahkan, tidak ada titik temu perihal
definisi kejahatan agresi931 •
2) Mening~alnya TersangkajTerdakwa
Pasal 77 KUHP mengatur, "Kewenangan menuntut pidana
hapus, jika tertuduh meninggal dunia". Ketentuan ini berlandaskan
asas pertanggungjawaban pribadi yang dikenal dalam hukum pidana.
Kendatipun demikian, pada awalnya seseorang yang meninggal dunia
tidak serta merta mengakibatkan gugurnya penuntutan pidana.
Penuntutan tetap dilanjutkan dan pemidanaan hanya sebatas pidana
denda yang diikuti oleh penyitaan terhadap harta benda tersangka/
terdakwa yang dikuasai ahli waris. Perkembangan lebih lanjut,
berdasarkan adagium nemo punitur pro alieno delicto yang berarti
tidak ada seorang pun yang dihukum karena perbuatan orang lain,
meninggalnya tersangka/terdakwa dianggap menggugurkan tuntutan
pidana terhadapnya.
Ada lima kemungkinan penghentian perkara jika meninggalnya
tersangkalterdakwa dan tentunya hal ini merujuk pada proses
peradilan. Pertama, jika tersangka/terdakwa meninggal pada tahap
perlyidikan, mak~ penyidik menghentikan perkara dengan seketika.
Dalam konteks KUHAP, hal ini diatur dalam Pasal109 ayat (2)932 terkait
penghentian penyidikari. Salah satu alasan tersebut adalah perkara
ditutup demi hukum. Kendatipun dalam KUHAP tidak dijelaskan
apa yang dimaksud dengan perkara ditutup demi hukum, namun
secara teoretis hanya ada tiga kemungkinan perkara ditutup demi
hukum, yaitu dalam hal tersangka meninggal dunia, ne bis in idem dan
m Eddy O.S Hiariej, Pengantar Hukum Pidana lnternaional, [Link]., hlm.38- 40.
m Pasal 109 ayat (2) KUHAP, •oalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak
terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana
atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahu hal itu kepada
penuntut umum, tersangka atau keluarganya"
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIOANA DAN MENJALANKAN PIDANA 433
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
daluwarsa 933 • Kedua, jika tersangka/terdakwa [Link] dunia setelah
berkas perkara diserahkan kepada penuntut umum, maka penuntutan
segera dihentikan. Dalam konteks KUHAP, hal ini diatur dalam Pasal
140 ayat (2) huruf a934 • terkait Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan
yang salah satu alasannya penuntutan dihentikan demi hukum dalam
hal tersangka/terdakwa meninggal dunia.
Ketiga, jika terdakwa meninggal dunia pada saat pemeriksaan
sidang telah dimulai, maka pengadilan harus mengeluarkan penetapan
yang isinya perkara dihentikan karena terdakwa meninggal dunia.
Keempat, jika terdakwa meninggal dunia pada saat pemeriksaan
pengadilan sudah selesai, maka pengadilan tidak boleh menjatuhkan
pidana. Kelima, jika terdakwa meninggal dunia setelah ada putusan
pengadilan yang meliputi pidana denda termasuk pidana tambahan
berupa perampasan barang-barang terdakwa, maka eksekusi tidak.
boleh dilakukan.
'
3) Daluwarsa Penuntutan Pidana
Omnes actiones in mundo infra certa tempora habent limitationem.
Artinya, setiap perkara ada batas waktu untuk diajukan tuntutannya.
Mengapa demikian? paling tidak. ada dua alasan sebagai dasar
argume·ntasi adanya pranata hukum daluwarsa. Pet·tama, dari sudut
hukum pidana materiil, sudah tidak ada lagi kebutuhan pemidanaan
dari masyarakat karena lampaunya waktu. Hal ini di didasarkan pada
postulat punire non necesse est: menghukum tidak selamanya perlu.
·Renunelink dengan mengutip pendapat Jescheck [Link] bahwa
lewatnya waktu barangkali pelaku kejahatan akan berubah menjadi
baik935. _Kedua, dari sudut hukum pidana formil, dalam hal ~i adalah
masalah pembuktian. Kemampuan daya ingat manusia yang terbatas
933 Eddy 0.5 Hiariej, 2009, •penghentian Perkara", KOMPAS, 19 November 2009.
914
Pasal 140 ayat (2) huruf a KUHAP, •oatam hal penuntut umum memutuskan untuk
menghentikan penuntutan korena tidak terdapat cukup bukti atau. peristiwa tersebut
temyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum, penuntut
umum menuangkan hal tersebut dafam surat ketetapanN.
9
JS Jan Remmelink, [Link]., him. 435.
434 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dan keadaan alam yang memungkinkan p~~uk alat bukti lenyap atau
tidak mempunyai nilai pembuktian936•
Kedua dasar argumentasi tersebut kurang-lebih sama dengan ·
maksud pembentuk KUHP memasukkan pranata hukum daluwarsa.
Dalam Mem9rie van Toelichting disebutkan bahwa adanya daluwarsa
merujuk pada kenyataan perputaran waktu yang tidak saja secara
perlahan-lahan meniadakan akibat perbuatan pidana namun juga
sekaligus melenyapkan jejak-jejaknya. Masih menurut Memorie van
[Link], bilamanasuatu perilakujahatkarenalampaunyawaktusudah
terlupakan, maka keinginan untuk melakukan retribusi juga hilang
dengan sendirinya termasuk kebutuhan untuk mewujudkan prevensi
umum dan prevensi khusus dari penuntutan dan pemidanaan937•
Ada pula yang berpendapat bahwa pranata hukum daluwarsa
ini hanya terhadap kejahatan-kejahatan ringan, seperti yang berlaku
di Inggris. Sedangkan terhadap kejahatan-kejahatan berat dan dalam
menghadapi penjahat yang profesional, · van Hamel berpendapat
· tidak perlu ada pranata hukum daluwarsa938• Dalani konteks hukum
'pidana di Indonesia, salah satu undang-undang pidan~ khusus yang
tidak mengenallembaga daluwarsa adalah pelanggaran berat terhadap
hak asasi manusia yang meliputi genosida dan kejahatan terhadap
kemanusiaan.
Lamanya daluwarsa tidak terlepas dari berat-ringannya perbuatan
pidana. Semakin berat. perbuatan pidana yang dilakukan, ·semakin
lama tenggang waktu daluwarsa939• Hal ini tersimpul dalam Pasal 78
KUHP yang menentukan: Pertama, daluwarsa semua pelanggaran dan
kejahatan yang dilakukan dengan percetakan adalah 1 tahun. Kedua,
daluwarsa kejahatan yang diancam dengan pidana denda, pidana
kurungan, atau pidana penjara paling lama 3 tahun adalah 6 tahun.
Ketiga, daluwarsa kejahatan yang diancam dengan pidana penjara
936
Marcus Priyo Gunarto, [Link]., him. 17.
m Jan Remmelink, [Link]., him. 434.
938
G.A. van Hamel, [Link]., him. 660
939 Marcus Priyo Gunarto, [Link]. -
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PlDANA DAN MENJALANKAN PIDANA 435
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
.lebih dari 3 tahun adalah .q tahllfl:. K~empat, daluwarsakejahatan yang
diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup adalah
18 tahun.
Jika pelaku pada saat melakukan suatu perbuatan pidana, usianya
belum 18 tahun, maka masing-masing tenggang daluwarsa tersebut
dikurangi menjadi sepertiga. Dengan demikian daluwarsa semua
pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan dengan percetakan adalah
4 bulan. Daluwarsa kejahatan yang diancam dengan pidana denda,
pidana kurungan, atau pidana penjara paling lama 3 tahun adalah 2
tahun. Daluwarsa kejahatan yang diancam dengan pidana penjara
lebih dari 3 tahun adalah 4 tahun. Daluwarsa kejahatan yang diancam
dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup adalah 6 tahun.
Pertanyaan lebih lanjut yang sangat krusial dalam masalah
daluwarsa adalah kapan mulai dihitungnya tenggang waktu daluwarsa.
Dalam konteks teori, paling tidak ada empat perhitungan dimulainya
tenggang waktu,daluwarsa yang tentunya tidak terlepas dari rumusan
delik. Pertama, jika delik tersebut dirumuskan secara formal, maka
tenggang waktu daluwarsa dihitung sejak semua unsur delik terpenuhi.
Kedua, jika delik tersebut dirumuskan secara materiil, maka tenggang
waktu daluwarsa dihitung sejak akibat perbuatan itu terjadi. Sebagai
misal, A bemiat membunuh B dan menusuk dengan sebilah pisau
pada tanggal 20 Oktober 2014. B kemudian dilarikan di rumah sakit
dan sempat dirawat selama 5 hari. B akhirnya meninggal pada tanggal
25 Oktober 2014. Dengan demikian tenggang waktu daluwarsa mulai
dihitung sejak tanggal25 Oktober 2014.
Ketiga, jika delik tersebut menghendaki adanya syarat tambahan,
maka tenggang waktu daluwarsa itu dihitung sejak syarat tambal1an itu
terjadi. Syarat tambahan ini oleh Moeljatno disebut sebagai hal ikhwal
yang menyertai perbuatan. llustrasinya sebagai berikut: C menghasut
D untuk bunuh diri pada tanggal 26 Februari 2014. D kemudian
. meneguk racun pada tanggal 28 Februari 2014. Setelah dirawat di
rumah sakit selama 5 hari, akhirnya pada tanggal 3 Maret 2014, D
menghembuskan nafas terakhir. Matinya D adalah syarat tambahan
· 4~6 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dari pasal menghasut orang bunuh diri. Dengan demikian tenggang ·
waktu daluwarsa dihitung sejak tanggal3 Maret 2014.
Keempat, jika delik-delik yang dilakukan harus dengan bantuan
atau melalui instrumen, maka tenggang waktu . daluwarsa seketika
setelah instruinen itu bekerja940• Sebagai misal, kejahatan dunia maya
atau cyber crime. Kejahatan tersebut membutuhkan jaringan internet
sebagai sarana atau alat untuk melakukan kejahatan. E seorang
carder yang akan membeli barang di sebuah on line shop dengan cara
memalsukan data pada tanggal 20 Januari 2014. Akan tetapi, jaringan
internet mengalami gangguan dan baru bisa diakses 2 hari kemudian
pada tanggal22 Januari 2014. Tenggang waktu daluwarsa dalam kasus
ini mulai terhitung 22 Januari 2014.
Perhitungan daluwarsa dalam konteks KUHP hanya ditentukan
sehari setelah perbuatan pidana dilakukan. Hal ini secara tegas diatur
dalam Pasal 79 yang menyatakan, "Tenggang daluwarsa mulai berlaku
pada hari sesudah perbuatan dilakukan". Akan tetapi, berdasarkan pasal
a quo, terdapat pengecualian dalam perhitungan dimulainya tenggang
waktu d~uwarsa. Pertama, mengenai pemalsuan atau perusakan mata
uang, tenggang mulai berlaku pada hari sesudah barang yang dipalsu
atau mata uang yang dirusak digunakan. Ilustrasinya sebagai berikut:
H, I dan J adalah penjahat profesional yang biasa men:!buat uang palsu.
Pembuatan uang palsu berlangsung selama seminggu dari tanggal
12 sampai dengan 19 Juli 2014. Uang palsu tersebut baru digunakan
untuk berbelanja menjelang lebaran pada tanggal25 Juli 2014. Dengan
demikian, tenggang waktu daluwarsa mulai pada tanggal26 Juli 2014.
Kedua, mengenai kejahatan dalam Pasal328, Pasal329, Pasal330,
dan Pasal333 KUHP, tenggang waktu dimulai pada hari sesudah orang
yang langsung terkena kejahatan tersebut dibebaskan atau meninggal
dunia. Pada dasarnya pasal-pasal a quo berkaitan dengan perampasan
kemerdekaan. Sebagai contoh: K dan L menculikM pada tanggal8 Juni
2014. M kemudian disekap selama dua minggu tanpa diberi makan
dan minum. M kemudian meninggal dunia pada tanggal22 Juni 2014.
!MD Jan Remmelink, [Link]., him. 437.
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIDANA DAN MENJALANKAN PIDANA 437
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Tenggang waktu daluwarsa dihitung mulai tanggal23 Juni 2014. Ketiga,
mengenai pelanggaran dalam Pasal 556 sampai dengan Pasal 558a
KUHP, tenggang waktu dimulai pada hari sesudah daftar-daftar yang
memuat pelanggaran-pelanggaran itu, menurut aturan-aturan umum
yang menentukan bahwa register-register catatan sipil harus dipindah
ke kantor panitera suatu pengadilan, dipindah ke kantor tersebut.
Dua hal terakhir yang berkaitan dengan daluwarsa adalah masalah
terhentinya daluwarsa atau stuiting van de verjaring dan penangguhan
daluwarsa atau rusten. Pertama, setiap upaya penuntutan atau daad
van vervolging menghentikan penghitungan daluwarsa 941 • Hal ini
tersimpul dalam Pasal80 KUHP yang menyatakan, "Tiap-tiap tindakan
penuntutan menghentikan daluwarsa, asal tindakan itu diketahui oleh
orang yang dituntut, atau telah diberitahukan kepadanya menurut
cara yang ditentukan dalam aturan-aturan umum". Artinya, tidak
perlu bahwa dalpvaan dihadiri oleh terdakwa sendiri in persona. Jika
penuntutan tersebut dihentikan, maka dimulailah tenggang daluwarsa
barn.
Sebagai ilustrasi: P ditemukan tewas di kamar kosnya pada
tanggal 21 April 2010. Selama lebih dari 4 tahun, Polisi berusaha
untuk mengumpulkan bukti guna menemukan tersangkanya.
Pada pertengahan Juli 2014, R dinyatakan sebagai tersangka atas
tewasnya P, empat tahun silam. R ditahan sejak tanggal 20 Juli 2014
untuk menghadapi proses hukum. Ketika perkara tersebut sedang
disidangkan, pada tanggal 5 Oktober 2014, R berhasil melarikan
diri dari tahanan dan langsung ke luar negeri dengan menggunakan
paspor palsu. Dalam sidang berikutnya 7 Oktober 2014, majelis hakim
mengeluarkan penetapan untuk menghentikan penuntutan di .sidang
pengadilan terhadap R, sampai penuntut umum bisa menghadirkan R
ke depan sidang pengadilan. In casu a quo, tenggang daluwarsa baru
pembunuhan R terhadap P mulai dihitung sejak tanggal 7 Oktober
w~ -
Ml Ibid, him. 439.
,·.438 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Kedua, penundaan penuntutan pidana berhubung dengan ,
adanya perselisihan prejudisial akan menunda daluwarsa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 81 KUHP. Perselisihan prejudisial yang
dimaksud termasuk di dalamnya terkait sengketa kekuasaan
kehakiman, baik kompetensi absolut maupun kompetensi relatif dan
sengketa di Iapangan hukum lainnya, antara lain sengketa perdata yang
_berkaitan ~engan kepemilikan942 • Ketika terjadi sengketa prejudisial,
daluwarsa mengalami penundaan. Setelah sengketa prejudisial selesai,
perhitungan daluwarsa dilanjutkan.
Dengan demikian terdapat perbedaan prinsip antara penghentian
daluwarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 KUHP dan
penundaan daluwarsa seperti tercantum dalam Pasal 81 KUHP.
Jika sudah dimulai proses penuntutan terhadap suatu perbuatan
pidana, seketika daluwarsanya terhenti. Jika karena satu dan lain hal,
penuntutannya dihentikan, maka tenggang waktu daluwarsa dimulai
dari awal lagi seketika saat penuntutan tersebut dihentikan. Dalam
hal penundaan daluwarsa, jika suatu perkara pidana yang sedang
diproses, kemudian ada sengketa prejudisial, maka tenggang waktu
daluwarsa ditunda. Sesaat setelah sengketa prejudisialnya diputus,
maka penghitungan tenggang waktu daluwarsa tidak dimulai baru,
melainkan perhitungan daluwarsanya dilanjutkan.
Berikut ini adalah beberapa ilustrasi untuklebih ~emaharni terkait
daluwarsa penuntutan pidana. Ilustrasi Pertama: S berusia 16 tahun
mengendarai sepeda motor di jalan raya pada tanggal 20 November -
2013. Pada saat yang bersamaan polisi lalu lintas sedang melakukan
pemeriksaan terhadap setiap sepeda motor yang melintasi jalan
protokol. S kemudian ditahan di tempat karena mengendarai sepeda
motor tanpa surat izin mengemudi. Setelah S diinvetarisasi oleh polisi
berkaitan dengan identitas, S kemudian dilepaskan dan tidak pernah
diproses secara hukum. Mengendarai sepeda motor tanpa surat izin
mengemudi adalah pelanggaran. Kapan penuntutan terhadap S gugur
karena daluwarsa? Daluwarsa penuntutan terhadap semua pelanggaran
!Hl Ibid, him. 440.
flAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIDANA DAN MENJALANKAN PIDANA 439
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
adalah 1 tahun dan dimulai sehari setelah perbuotan pidana tersebut
[Link]. A',._ .r:: tetap:, b:rena S belum beru~: <: :: 8 tahun sehingga
u.:u· ..[Link] c-i•..·ilrq-.
."f ..~·, l -r· 1
. .... , . • . ... n · · mt-''J'
'""·"''·gl .l~- . i~fit h ~ •·l·tga,
·"" anya [Link] "i t'J. l -...! !5..·. h man.
• y~.u ' · ,,t
l)n
ngan
?. ~,_m iki
-.r. ·i..,.... n,s t•t·'l,., ·h '·L~.
......·· '"·· '"1'=~' g _,·, ' ' M · t?Ol4 C ''r1·.\·· d ·;~ ! rlij·t•·,•·, tbrr' t
0 ... ~- t 1a1e ~ ~ ,.:;u_.a,. .<1 1. ., _,...... u,. 'l "'-cla as
pdanggaran ruer-gend;c:·:·i sepeda motor tanpa s<tn;t \;'.in mengemndi.
J~~<:st~·asi >f{£_.:J·ua: Dalara pengumuman tang<•I 9 Mei 2012, X,
Y dan Z adalah siswa kelas 3 SMU yang dinyatakan tidak lulus ujian
nasional. Mereka bertiga kemudian membuat ijazah palsu pada tanggal
12 Mei 2012. [jazah palsu tersebut baru digunakar: untuk [Link]
di perguruan tinggi pada tanggal 15 Juni 2012. X dan Y berusia 19
tahun, sedang Z baru berusia 17 tahun. Kapan penuntutan terhadap
X, Y dan Z gugur karena. daluwarsa? Pemalsuan menurut Pasal 263
KUHP diancam pidana maksimal6 tahun penjara, sehingga daluwarsa
penuntutan pidana adalah 12 tahun. Dalam delik pemalsuan, daluwarsa
mulai dihitung sehari setelah barang yang dipalsukan digunakan.
Artinya, daluw'lrsa mulai dihitung sejak tanggall6 Juni 2012. Terhadap
X dan Y karena lebih dari 18 tahun sehingga daluwarsa dihitung penuh.
Sedangkan terhadap Z ya..'lg usianya di bawah 18 tahun, daluwarsa
hanya sepertiga dari 12 tahun, yakni 4 tahun. Dengan demikian,
gugurnya penuntutan karena daluwarsa terhadap X dan Y atas kasus
pemalsuan ijazah adalah setelah tanggal 16 Juni 2024, sedangkan
terhadap Z adalah setelah tanggall6 Juni 2016.
flustra si Ketiga: M memalsukan sertifikat sebidang tanah kosong
di samping rumahnya pada tanggal 4 Desember 2010. M kemudian
menjual tanah tersebut dengan menggunakan sertifikat palsu kepada
N pada tanggal23 Maret 2011. P yang merasa memiliki sebidang tanah
tersebut kemudian melaporkan M terkait dugaan pemalsuan sertifikat,
selain menggugat N ke pengadilan terkait sengketa kepemilikan pada
tanggal 19 Januari 2012. Pemeriksaan perkara perdata atas sengketa
kepemilikan tanah tersebut dimulai sejak tanggal24 Januari 2012 dan
putusan berkekuatan hukum tetap atas sengketa tersebut diperoleh
pada tanggal10 April 2013 yang memenangkan P. Kapan penuntutan
terhadap M gugur karena daluwarsa?
440 PRINSiP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Berdasarkan ilustrasi tersebut pemalsuan menurut Pasal 263
KUHP diancam pidana maksimal6 tahun penjara, sehingga daluwarsa
penuntutan pidana adalah 12 tahun. Dalam delik pemalsuan, daluwarsa
mulai dihitung sehari setelah barang yang dipalsukan digunakan.
Artinya, da!uwarsa mulai dihitung sejak tanggal24 Maret 2011. Akan
tetapi, daluwarsa tersebut ditangguhkan sejak tanggal24 Januari 2012
. sampai dengan 10 April20 13 karen a ada sengketa prejudisial. Tenggang
waktu daluwarsa kernbali dihitung sejak tanggal11 April20 13. Dengan
demikian, gugurnya penuntutan karena daluwarsa terhadap M atas
kasus pemalsuan sertifikat adalah setelah tanggal 11 Juni 2024 (24
Maret 2011 sampai dengan 24 Januari 2012 = 10 bulan dan dilanjutkan
11 April2013 sampai dengan 11 Juni 2024 = 11 tahun 2 bulan sehingga
total tenggang waktu daluwarsa adalah 12 tahun)
4) Penyelesaian Di Luar Pengadilan
Dalam perkara pidana juga dikenal penyelesaian diluar pengadilan.
Hal ini secara eksplisit tertuang dalam Pasal82 KUHP yang pada intinya
mengatur beberapa hal: Pertama, kewenangan menuntut pelanggaran
yang diancam dengan pidana denda menjadi hapus, jika secara suka
rela dibayar maksimum denda dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan.
Kedua, jika di samping pidana denda ditentukan perampasan, maka
~
barang yang dikenai perampasan wajib diserahkan pula atau harganya
harus dibayar menurut taksiran pejabat yang berwenang. Ketiga,
dalam hal pidana diperberat karena pengulangan, pemberatan itu tetap
berlaku sekalipun kewenangan menuntut pidana terhadap pelanggaran
yang dilakukan lebih dulu telah hapus karena penyelesaian di luar
pengadilan. Keempat, ketentuan-ketentuan tersebut tidak berlaku bagi
orang yang belum dewasa, yang pada [Link] perbuatan belum
berumur 16 tahun.
Di Belanda, penyelesaian perkara pidana di luar proses dikenal
dengan istilah afdoening buiten proces dalam bentuk pembayaran
sejumlah uang tertentu. Afdoening buiten proces ini tidak berlaku bagi
kejahatan yang diancam pidana lebih dari enam tahun. Jika terdakwa
HAPUSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIDANA DAN MENJALANKAN PIDANA 441
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~ .., ..
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam afdoening buiten proces,
maka kewenangan penuntutan menjadi hapus. Afdoening buiten proces
dibagi menjadi dua yaitu submissie dan compositie.
Dengan carasubmissie, terdakwadan penuntut umun1 memaparkan
persoalan kepada hakim yang beranjak dari surat permohonan yang
diajukan sebelumnya oleh terdal...rwa atas persetujuan penuntut umum.
Hal ini terjadi karena sulitnya pembuktian sehingga hakim mengambil
putusan tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bentuk sanksi
yang dijatuhkan dalam submissie dapat berupa denda, pengusiran atau
pengucilan, perjalanan tobat afau pemberian hadiah kepada gereja
atau biara. Setelah sanksi itu dilaksanakan, penuntut umum segera
menghentikan proses penuntutan943•
Bentuk kedua adalah compositie yang pada dasarnya sama dengan
submissie, hanya saja inisiatif berasal dari penuntut umum. Dalam
compositie, terd.(lkwa pun diminta untuk membayar sejumlah uang
tertentu untuk mencegah atau mengh~ntikan proses penuntutan.
Compositie ini banyak digunakan oleh lembaga penegak hukum di
tingkat rendahan atau pada tingkat daerah. Namun salah satu catatan
dalam pelaksanaan compositie di Belanda, sering disalahgunakan untuk
menekan dan memeras terdakwa944 •
5) Amnesti
Amnesti berasal dari Bahasa Latin yang secara harafiah berarti
penghapusan penuntutan terhadap tersangka dengan undang-
undang945. Secara eksplisit amnesti diatur dalam Pasal14 ayat (2) UUD
1945, "Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat". .
Dengan pelibatan. DPR
dalam pengambilan keputusan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
kendatipun amnesti adalah prerogatif presiden, namun untuk
memutuskannya diperlukan pertimbangan politik.
!M3 Ibid., him. 442.
944 Ibid., him. 443.
945 Andi Hamzah, 1986, Komus Hukum, Ghalia Indonesia, him. 38.
<442
· .. ..
:
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
::.: : '-Pel~anaax,_ anme8ti •[Link]. daHun ·Undang., Un~g;
Daturat Noll10rJ 1 ~Tahun ·19S4: Teritang [Link].:Ualcun:
tyldang;.:\.md~g a quo7 tidak dibe:rikan :p~ngertian amensti. Pemberian,
amnesti oleh presiden, atas [Link].n negaras setelah mendapat1
nasihat tertulis dari Mahkamah Agung yang menyampaikan nasihat
itu atas permintaan Menteri).<e!takbn:~.t~Y~:~ .unc:l~llt~~g -~
quo tidak lagj selaras dengan .l,JlJD 1945 PM.C~-amandefl1e!l~ Atpnesti
. . . . . . ' .. , . .':',,. ___, . .: . · .-... . . . · . · .. ::...
~ _. __: ..
!; ·~ 11 ::- ~ .: \{!~·-~
menw:ut [Link]~g-~~ap,g a quo diberikanJcepa4a sem~~- g~g yang
sebd~ t~gg~fzfn~5e_mber 194~, t~lah _IDeiakukan.;~~~ati{:tifidak
pid~a y~g nyat~ akibat dari pe~~engketaan .politlk ~t~a R~publik
lndonesia ~n- I<erajaan .Belanda. ·Deng~ P~IIlherlan affiAesti s~mua
akibat ·huk~ pid~a diliapuskan. · . ~ ; · .· : ;~~-~ ,_ · ~~;: '· ·
·- ~. ·, . ·.
.. -.:·1~~~~~;:. ;~:!: t; ~ ~- :.:' ~ ~ t :
. . .Abolisiberasal dari kata [Link] [Link]~'iai1ny~lw~~7~~PiA
ad~ah . menghapus ,penuntutan terhadap._de\~ . Y~8. :!'ifi,di~~· ~ ~-~a
sep~ro ~esti, abolisi tertuang dalam P~a.J ~~ .~yC~,t ~) _;YIJ.:P ~94,?,d~
diaW.r
.·.
,bersamaan dalam [Link]- UI;ldang.p~~t
·-. .
, NI?~W [Link])l~
1954. Undang-undang a quo juga tidak memberikan definisi men,ge~<H
abolisi. Presiden dalam memberikan abolisi dapat meminta nasihat
dari Mahkamah Agung. Dengan pemberian abolisi ~~i~.mmtut~
~ .
~~xh~9tll?, {)~~~()r~gMr~~]?u~~H~P~· · .· ~- ,; .- :.o.u :i.B·;~;.h;:
,.·. ~: :_}\.~~ P5rtf~~~~Rg~~4~~: ~~~g-~~~g. a .9~~ ~t~i~~fP~~f!~
~b;~-li.~~ 4~ H~~geni<w-:~Plj:s~,~~JMe~~~i. ,I{i.~~f~ s+~h,~-M~):mnt~~
P!.)~!4~~ .4f'P,'\,t 1~~H~B~t~~!L ~p9~~i: , ~.~~~ - .tffid~:·pjq~;.,Y~~G,,~JiW
@~\lk~n ,s.~sf!pfang~:-~'Am'@ d!: ;~W ; l~_n..£-w,~nr:at~:R~;l\w~::~~~PJ.J~i
W~-~qa\','a fOO~ek\l~psi, ~~p~~~ :I?[Link].~ut<Ulpidan<l:~ruaHJW~~-~(f:m
,~~oJisi , terhad<~cp [Link] per~)fa~·Rid.~~' Yang dil~R€VP¥theM~~
.ada pptusan
.
yang telah mempunyai
.
kekuatan hukffin_ t,etap qal).wil
. ...• . .· ,, . ·- ,. .... ..... ~ ~~
; c ·~: :: r~·- -'~- ~: :- .-~~--· ~ J"'1
346 Tanggal 27 Desember 1949 adalah pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Republi.k
Indonesia oleh Belanda sebagai kelanjutan dari Konfrensi Meja Sundar di Den Haag
Belanda. ·
947
Andi Hamzah, [Link]., him. 14.
HAPLJSNYA KEWENANGAN PENUNTUTAN PIDANA DAN MENJALANKAN·PIDANA 443
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
orang tersebut bersalah melakukan suatu perbuatan pidana, padahal
pengertian hukum abolisi itu sendiri adalah menghapus penuntutan
pidana. Artinya, belum ada pemeriksaan lebih lanjut apakah orang .
tersebut bersalah ataukah tidak948•
B. HAPUSNYA MENJALANKAN PIDANA
Hapusnya menjalankan pidana dapat terjadi karena beberapa hal.
Pertama, hapusnya menjalankan pidana sebagaimana yang terdapat
dalam KUHP meliputi meninggalnya terpidana dan daluwarsa. Kedua,
hapusnya menjalankan pidana di luat KUHP, yakni grasi. Masing-
masing alasan hapusnya menjalankan pidana dijelaskan sebagai berikut:
1) Meni~ggalnya Terpidana
Berdasarkan adagium nemo punitur pro alieno delicto yang berarti
tidak ada seorang pun yang dihukum karena perbuatan orang lain,
secara mutatis mutandis adagium a quo juga berlaku terhadap gugur
menjalani pidana, karena terpidana meninggal dunia. Hal ini pun
secara eksplisit tertuang dalam Pasal 83 KUHP yang menyatakan,
"Kewenangan menjalankan pidana hapus jika terpidana meninggal
dunia".
2) Daluwarsa
Sebagaimana hapusnyakewenangan penuntutan pidana, hapusnya
menjalani pidana juga dapat terjadi karena daluwarsa. Pada dasarnya
daluwarsa hapusnya menjalankan pidana sama dengan daluwarsa
hapusnya kewenangan penuntutan pidana dengan ketentuan sebagai
berikut: Pertama, tenggang waktu daluwarsa mengenai semua
pelanggaran lamanya dua tahun. Kedua, kejahatan yang dilakukan
dengan sarana percetakan, teriggang waktu daluwarsa adalah lima
tahun. Ketiga, daluwarsa menjalankan pidana terhadap kejahatan yang
diancam dengan pidana denda, pidana kurungan, atau P..idana penjara
tu Eddy O.S Hlariej, 2002, Kilos Balik Dan Rencona Abolisi Kasus Soeharto, KOMPAS, 8 Januarl
2002
.:. ·;,:_.£; _·
. 4: 44(
.. :·:· .;:: :
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· paling lama 3 tahun adalah 4 tahun. Keempat, daluwarsa menjalankan
pidana terhadap kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lebih
dari 3 tahun adalah 16 tahun
Kelima, kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana
penjara seuniur hidup, tidak mengenal daluwarsa menjalankan pidana.
Keenam, fenggang waktu daluwarsa menjalankan pidana tidak boleh
kurang dan lamanya pidana yang dijatuhkan. Ketujuh. tenggang
daluwarsa mulai berlaku pada esok harinya setelah putusan hakim yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap dapat dijalankan. Kedelapan,
jika seorang terpidana melarikan diri selama menjalani pidana, maka
pada esok harinya setelah melarikan diri, mulai berlaku tenggang
daluwarsa _baru. Kesembilan, jika seorang terpidana pelepasan
bersyaratnya dicabut, maka pada besok harinya setelah pencabutan,
mulai berlaku tenggang daluwarsa baru.
3) Grasi
Secara harfiah grasi berarti pengampunan. Grasi diartikan sebagai
pengampunan yang diberikan oleh kepala negara kepada seseorang
yang telah dijatuhi pidana949• Dalam konstitusi, grasi terdapat pada Pasal
14 ayat (1) UUD 1945, "Presiden memberi grasi dan rehabilitasidengan
memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agun~ Hal ini berbeda
dengan amnesti dan abolisi yang mana sebelum memberikannya,
presiden harus mendapat pertimbangan dari DPR.
Pelaksanaan grasi di Indonesia diatur dalam Undang-Undang
Nomor22 Tahun2002 TentangGrasi. Dalam undang-undangaquo, grasi
didefinisikan sebagai pengampunan berupa perubahan, peringanan,
pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana
yang diberikan oleh Presiden950• Dengan demikian, pemberian grasi
tidak serta merta menghapuskan kewenangan menjalankan pidana.
Grasi diajukan oleh terpidana terhadap putusan pengadilan yang telah
949
Andi Hamzah, [Link]., hlm. 221-222.
'liD Pasall Angka 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
HAPU:lNV/\ KEWENI>.NGAN PENUNTUfAN PIIJANA OAr~ MENJALANKAN PlOMJA 445
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
~ <: ·"'"
951
memperoleh kekuatan hukum tetap • Permohonan grasi hanya dapat ·
diajukan atas putusan pemidanaan berupa pidana mati, penjara seurnur
hidup atau pidana penjara paling singkat dua tahun952•
Perrnohonan grasi hanya dapat diajukan satu kali, kecuali dalam
hal: Pertama, terpidana pernah ditolak permohonan grasinya dan
telah lewat waktu dua tahun sejak tanggal penolakan permohonan
grasi tersebut953• Kedua, terpidana pernah diberi grasi dari pidana mati
menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu dua tahun
sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterirna954 •
Permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan
pemidanaan bagi terpidana, kecuali dalam hai putusan pidana mati955•
Presiden berhak mengabulkan atau menolak permohonan grasi yang
diajukan terpidana setelah mendapat pertimbangan Mahkamah
Agung956 • Hak mengajukan grasi diberitahukan kepada terpidana oleh
hakim atau hakim ketua sidang yang memutus perkara pada tingkat
...
pertama957 • Jika pada waktu putusan pengadilan dijatuhkan t~rpidana
tidakhadir, maka hak terpidana untukmengajukan grasi diberitahukan
secara tertulis oleh panitera pengadilan yang memutus perkara pada
tingkat pertama958•
Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau
keluarga terpidana atas persetujuan terpidana diajukan kepada
Presiden959• Dalam hal terpidana dijatuhi pidana mati, permohonan
grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan
terpidana960• Permohonan grasi tidak dibatasi oleh tenggang waktu
Pasal1 Angka 2 Undang-Undq Homor 22 Tahun 2002
151
m Pasal2 ayat (2) Undang-Undafw Hornor 22 Tahun 2002
'" Pasal2 ayat (3) huruf a Undane-U~ Nomor 22 Tahun 2002
154 Pasal2 ayat (3) huruf b Undq-Undang Hornor 22 Tahun 2002
155
Pasal3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun ~002
154 Pasal4 ayat (1) Undang-Undang Hornor 22 Tahun 2002
157 · PasaiS ayat (1) Undang-Undang Hornor 22 Tahun 2002
151 PasaiS ayat (2) Undang-Undang Homor 22 Tahun 2002
159 Pasal6 ayat (2) Undang-Undang Homor 22 Tahun 2002
1160 Pasal6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
. ·. :~ ::~tf:·
.·4(6!:
. i . . ~:
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
tertentu961 • Permohonan grasi harus diajukan secara tertulis oleh
terpidana, kuasa hukuml'\ya, atau keluarganya, kepada Presiden. Salinan
permohonan grasi disampaikan kepada pengadilan yang memutus
perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah
Agung. Permohonan grasi dan salinannya dapat disampaikan oleh
terpidana melaltu Kepala Lembaga Pemasyarakatan tempat terpidana
menjalani pidana. Dalam hal permohonan grasi dan salinannya
diajukan melalui Kepala Lernbaga Pemasyarakatan, Kepala Lernbaga
Pernasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada
Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus
perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 hari terhitung sejak
diterimanya permohonan grasi dan salinannya962 •
Dalam jangka waktu paling lambat 20 hari terhitung sejak tanggal
penerimaan salinan permohonan grasi, pengadilan tingkat pertama
mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana
kepada Mahkamah Agung963• Dalam jangka waktu paling lambat 3
bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan
berkas ·perkara, Mahkamah Agung rnengirimkan pertimbangan
tertulis kepada Presiden964 • Presiden mernberikan keputusan atas
permohonan grasi setelah rnemperhatikan pertimbangan Mahkamah
Agung. Keputusan Presiden dapat berupa pemberiaQ. atau penolakan
grasi. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi paling larnbat 3
bulan terhitung sejak diterimanya pertirnbangan Mahkamah Agung965 •
Keputusan Presiden tentang pemberian atau penolakan grasi
d!sarnpaikan kepada terpidana dalam jangka waktu paling lambat
14 hari terhitung sejak ditetapkannya Keputusan Presiden. Salinan
keputusan tersebut disampaikan kepada Mahkamah Agung, pengadilan
yang memutus perkara pada tingkat pertama, kejaksaan negeri yang
961 Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
962
Pasal 8 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
963 Pasal 9 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
964 PasallO Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
965 Pasal l l Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
HAPUSNYA KEWEN!INGAN PENUNTUTAN PIDANA DAN [Link] PIDANA 447
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
menuntut perkara terpidana dan Lembaga Pemasyarakatan tempat
terpidana menjalani pidana966• Khusus te: pidana mati, kuasa huk-um
atau keluarga terpidana yang mengajukan permohonan grasi, pidana
mati tidak dapat dilaksanakan sebelum Kej:mtusan . Presiden tentang
penolakari permohonan grasi diterima oleh terpidana967 •
'
• Pasal12 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2()02
1167 Pasal13 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002
;..);. -~~-~r
·448
... ·.
'
c~ ~ •.·
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
...
PIDANADAN
PEMIDANAAN
uPoena ad paucos, metus ad omnes perveniat"
uNon olio modo puniatur aliquis, quam secundum quod
· se habet condemnation"
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
engawali bab terakhir buku ini tentang pidana dan pe-
M midanaan, Penulis mengutip dua adagium yang berkaitan
dengan topik tersebut Adagiuni pertama berarti: biar-
kanlah hukuman dijatuhkan kepada beberapa orang agar memberi
contoh kepada orang lain. Adagium ini memiliki kedalaman makna
yang berfungsi sebagai prevensi umum agar orang lain tidak berbuat
jahat. Adagium kedua berarti: seseorang tidak dapat dihukum dengan
hukuman yang tidak sesuai dengan perbuatannya. Adagium ini lebih
pada aspek retributif dalam pemidanaan agar sanksi pidana yang
dijatuhkan sepadan dengan perbuatan pidana yang dilakukan.
Pidana pada hakikatnya adalah suatu kerugian berupa penderitaan
yang sengaja diberikan oleh negara terhadap individu yang melakukan
pelanggaran terhadap hukum968• Kendatipun demikian, pemidanaan
juga adalah suatu pendidikan moral terhadap pelaku yang telah
melakukan kejahatan dengan maksud agar tidak lagi mengulangi
perbuatannya969• Wesley Cragg menyatakan bahwa ada empa~ hal
terkait pemidanaan dalam masyarakat modem. Pertama, pemidanaan
adalah sesuatu yang dapat dimengerti dan tidak dapat dihindari dalam
masyarakat modem. ·
Kedua, pelaksanaan pemidanaan adalah refleksi sistem peradil-
an pidana yang berevolusi dan jenis-jenis pidana yang dapat di-
jatuhkan tidak terlepas dari tipe dan karakter perbuatan pidana yang
dilakukan970• Tegasnya, ada hubungan yang erat antara perbuatan
968
Phyllis B. Gerstenfeld, 2008, Crime & Punishment In The United States, Salem Press, Inc.,
Pasadena, california Hackensack, New Jersey, him. 743.
969
Matt Matravers, 2000, Justice And Punishment; The Rationale Of Coercion, Oxford
University Press, him. 251. ·
910
Wesley Cragg, 1992, The Practice 0/ Punishment: Towards a theory of restorative justice,
Routledge l ondon And New York, him. 6.
PIDANA DAN PEMIDANAAN 451
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pidana dan pemidanaan itu semliri971 • Culpae poena par esto: hukuman
harus setimpal dengan kejahataru1ya. Ketiga, pclaksanaan pidana
harus rnengalami reformasi yang signifikan dengan merujuk pada ·
pelaksanaan pidana di Eropa Barat dan Amerika Utara. Keempat,
sejumlah pemidanaan yang digunakan harus menyediakan kriteria
untuk mengevaluasi apakah pelaksanaan pidana tersebut sudah sesuai
dengan tujuan dari pemidanaan itu sendiri. Apakah pemidanaan yang
diterapkan perlu direformasi menuju perbaikan972 •
Apa yang dikemukakan oleh Craag, tidak jauh berbeda dengan
pendapat Hart yang [Link] oleh Richard G. Singer dan Martin
R. Gardner.. Menurut Hart ada lima elemen terkait pemidanaan.
Pertama, pidana adalah suatu penderitaan atau sesuatu yang tidak
menyenangkan. Kedua, pidana dan pemidanaan ditujukan untuk. suatu
pelanggaran terhadap hukum. Ketiga, harus sesuai antara pelanggaran
yang dilakukan dan pemidanaan itu sendiri. Keempat, pemidanaan
itu dijalankan·oleh pelaku yang melakukan kejahatan. Kelima, pidana
itu dipaksakan oleh kekuasaan yang berwenang dalam sistem hukum
terhadap pelanggaran yang dilakukan973 •
Pembahasan selanjufuya mengenai pidana dan pemidanaan pada
bah ini, lebih fokus pada jenis-jenis pidana. Pembahasan jenis-jenis
pidana tentunya tidak terlepas dari apa yang diatur dalam KUHP. Secara
garis besar, bah ini terdiri dari lima subbab, masing-masing: pidana
pokok, pidana tarnbahan, pidana bersyarat dan pelepasan bersyarat,
pidana dan pemidanaan dalarn rancangan KUHP serta mediasi pidana.
Pada subbab pidana pokok, pembahasannya mencakup pidana mati,
pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda dan pidana tutupan.
Sedangkan pada subbab pidana tarnbahan mencakup pencabutan hak-
hak tertentu, perampasan barang-barang tertentu dan [Link]
putusan hakim.
911 Michael Tonry, 2000, The Handbook Of Crime And Punishment,· Oxford University Press,
hlm.21.
911 Wesley Cragg, [Link]., him. 7.
m RiChard ~- Singer And Martin R. Gardner, [Link], him. 33.
452 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
A. PIDANA POKOK
BerdaSarkan Pasal 10 1<UHP, pidana pokok terdiri dari pidamt' ·
mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda dan pidana
tutupan. Uiut-urutan pidana pokok tersebut berdasarkan tingkatan
berat-ringannya sanksi pidana yang dijatuhkan. Prinsip umum dalam
penjatuhan pidana pokok berdasarkan KUHP adalah hakim dilarang
menjatuhkan lebih dari satu pidana pokok. Oleh karena itu ancaman
pidana dalam KUHP pada umumnya bersifat alternatif antara pidana
penjara dan pidana denda. Berikut ini adalah penjelasan masing-
masing pidana pokok:
1) Pi dana Mati
Mors dicitur ultimum supplicium: hukuman mati adalah huk:um
terberat. Cest le crime qui fait Ia honter, et non pas vechafaus: perbuatan
kejahatan yang membuat malu, bukan hukuman matinya. Dua dasar
argumentasi utama adanya pidana mati adalah sebagai retribusi atau
pembalasan dan penjeraan974• Bahkan, retribusi tidak hanya bagian
dari pidana mati, melainkari merupakan kunci utama dalam sistem
peradilan pidana, khususnya aliran klasik dalam huk:um pidana975•
Pidana mati diperuntukkan terhadap kejahatan-kejahatan kejam yang
dilaksanakan oleh negara sebagai representasi korban bagi para pelaku
yang bermoral buruk976•
Di Inggris pada akhir abad ke-15, pidana mati hanya dikenal
terhadap 8 kejahatan besar, antara lain perampokan, pemerkosaan,
pembunuhan terhadap .suami atau istri dan pembunuhan atas dasar
kebencian. Pada saat George II sebagai Raja Inggris, jumlah jenis
kejahatan yang dapat dijatuhi pidana mati pada tahun 1688 meningkat
mendekati 50, sedangkan pada saat George III berkuasa total kejahatan
yang dapat dijatuhi pidana mati menjadi 60 jenis977• Demikian pula di
974
Charles L. Black Jr, 1974, Capital Punishment: The Inevitability Of Caprice And Mistake, ·
Second Edition, Augmented, W.W. Norton & Company Inc, New York, him. 24.
975
Victor Streib, 2008, Death Penalty InA Nutshell, Third edition, Thomson West, him. 10.
976
Karen S. Miller, 2006, Wrongful Capital Convictions And The Legitimacy Of The Death
Penalty, LFB Scholarly Publishing LLC, New York, him. 63.
m Hugo Adam Bedau, 1965, The Death Penalty In America: An Anthology, Aldine Publishing
Company, Chicago, him. 1.
PIOANA DAN PEMIOANAAN 453
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Arnerika, jenis-jcnis kejahatan lainnya yang dapat dijatuhi pidana mati
antara lain pemujaan terhadap berhala, perzinahan dan sodomi978 •
Dalam perkembangannya kontroversi terhadap pidana mati mulai
bermunculan di berbagai belahan dunia termasuk Arnerika. Salah
satu alasan penolakan terhadap pidana mati adalah bahwa hak untuk
menghukum hanya ada pada Tuhan termasuk pencabutan terhadap
nyawa pelaku yang melakukan kejahatan pembunuhan sekalipun 979 •
Selain itu, jika terjadi kesalahan penjatuhan pidana mati dan sudah
terlanjur dieksekusi, rnaka putusan tersebut sudah tidak bisa lagi
diperbaiki.
Sebenarnya kritik pertama kali terhadap pidana mati
disampaikan oleh Cesare Beccaira dalam Crimes And Punishments
yang dipublikasikan pada tahun 1764. Menurut Beccaira, pidana mati
rnerusak masyarakat dari contoh kebiadaban yang dihasilkannya.
Jika nafsu atau kebutuhan perang telah mengajari manusia untuk
mencucurkan ~darah . dari makhluk sesamanya, [Link] yang
dirnaksudkan untuk memperbaiki keganasan manusia, seharusnya
tidak dengan cara menambah contoh kebiadaban. Bahkan lebih
mengerikan, pidana mati biasanya dihadirkan dengan [Link]
formal dan di depan umum980 • Masih menurut Beccaira, "..... the war
of a nation against a citizen ..... It appears absurd to me that the laws,
which are the expression of the public will and which detest and punish
homicide, commit murder themselves and in order to dissuade citizens
from assassination, commit public assassination" 981 •
Ernest van den Haag dalam artikelnya tentang "On Deterence
And 1he Death Penalty" memberi lima catatan kontroversi terhadap
pidana mati. Pertama, tuntutan penghapusan terhadap pidana
mati karena tidak. memberikan efek jera. Kedua, terhadap beberapa
'" Ibid., him. 5. _ . ..
' 79 . Bryan Vila And Cynthia Morris, 1997, Capitol PuniShment in The United States, An Imprint
Of Greenwood flublishing Group,lnc, him. 206.
110
CeSare Beccalra, [Link]., him. 102. .
911 Franklin E. Zimrlng, 2003, The Cantradictkins Of American Capital Punishment, Oxford
University Press, him. 17.
.454· PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· kejahatan tertentu dan keadaan yang menyertamya, pidana mati dapat
memberikan efek jera. Ketiga, belum ada data statistik yang signifikan
apakah pidana mati terhadap kejahatan pembunuhan memberikan
atau tidak memberikan efek jera. Keempat, pidana mati terkadang
lebih disenangi dari pidana penjara karena lebih memberikan efek
jera. Kelima, pidana mati dianggap penting untuk memberikan
keseimbangan terhadap korban982•
Ernest bukanlah orang pertama yang melakukan review terhadap
pidana inati. Jauh sebelumnya, world-wide review terhadap pidana
mati telah dilakukan oleh Marc Ancel, hakim agung pada Court
de Cassation Perancis dan direktur Criminal Science Section Of The
Institute Of Comparative Law Paris dalam kurun waktu 1956-1960
yang dipublikasikan pada tahun 1962. Demikian pula yang dilakukan
Norval Morris, guru besar hukum dan kriminologi, . direktur pusat
studi Criminal Justice Universitas Chicago, Amerika, sepanjang tahun
1961-1965 yang dipublikasikan pada tahun 196'?83•
Di Amerika, meskipun para founding fathers dapat menerima
pidana mati, namun sejak awal banyak yang menentang adanya pidana
mati. Benjamin Rush adalah orang pertama yang mendirikan gerakan
penghapusan pidana mati di Amerika pada akhir abad ke-18984• Pada
pertengahan abad ke-19, jenis kejahatan yang dapat dijatuhi pi dana mati
telah dikurangi. Negara bagian pertama yang menghar>us pidana mati
adalah Pennsylvania pada tahun 1786. Penghapusan tersebut hanya
untuk kejahatan-kejahatan tertentu seperti perampokan, sodomi dan
pembunuhan yang dilakukan untuk pertama kali985 • Perkembangan
lebih lanjut di Amerika, dibentuklah koalisi nasional penghapusan
[Link] mati atau National Coalition To Abolish The Death Penalty
(NCADP). Koalisi tersebut sebagai pusat dan sumber informasi upaya
982
Hugo Adam Bedau, 1977, The Courts, The Constitution And Capital Punishment, lexington
Books D.C Heath And Company Lexington, Massachusetts, Toronto, him. 45.
983
Roger Hood, 1998, The Death Penalty: A Worldwide Perspective, Clarendon Press Oxford,
hlm.1.
980
Robert M. Baird And Stuart E. Rosenbaum, 1995, Punishment And Death Penalty: The
Current Debate, Prometheus Books, canada, him. 104.
9S5 Hugo Adam Bedau And Paul G. Cassel, 2004, Debating The Death Penalty: Should America
Have Capital Punisment?, Oxford University Press, him. 22.
PI DANA DAN PEMtDANAAN 455
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mengakhiri pidana mati di Amerika. Jaringan individu dan organisasi
baik di tingkat lokal maupun nasional saling menukar informasi,
bantuan teknis dan kampanye penghapusan pidana mati986•
Pada level internasional, penghapusan pidana mati lebih dari 50
tahun terakhir telah diupayakan, antara lain dengan ketentuan adanya
hak untuk hidup yang dituangkan dalam Universal Declaration Of
Human Rights tahun 1948 dan United Nations Covenant On Civil And
Political Rights tahun 1966987• Sampai dengan saat ini, menurut Amncsti
Internasional, leb}h dari 100 negara telah menghapus pidana mati. Ada
negara yang menghapus pidana mati untuk semua kejahatan, namun
ada juga negara yang menghapus pidana mati hanya untuk kejahatan
biasa, sedangkan terhadap kejahatan luar biasa, pidana mati masih
diberlakukan. Demikian juga terhadap kejahatan-kejahatan biasa,
namun dilakukan secara brutal dan tidak beradab, pidana mati masih
tetap [Link] seperti di Jepang, beberapa bekas negara Uni Soviet
dan Amerika988 •
Secara garis besar ada empat klasifikasi penghapusan pidana mati
oleh negara-negara di dunia. Pertama, negara-negara yang menghapus
pidana mati untuk semua kejahatan tanpa pengecualian. Kedua, negara-
negara yang menghapus pidana mati hanya untuk kejahatan biasa.
Sedangkan untuk kejahatan-kejahatan luar biasa, pidana mati tetap
dapat diberlakukan. Kejahatcu"lluar biasa di sini antara lain kejahatan di
bawah hukum militer dan kejahatan-kejahatan yang dilakukan dalam
waktu perang. Ketiga, negara-negara yang menghapus pidana mati
secara de facto. Artinya, terhadap kejahatan-kejahatan biasa pidana
mati tetap diancamkan dalam [Link], namun praktiknya
tidak pernah [Link]. Keempat, negara-negara yang menerapkan
pidana mati secara retensi. Artinya, setelah 10 tahun seorang terpidana
mati jika berkelakuan baik, maka diberikan arnnesti atau grasi untuk
926
Shirley Dicks, 1991, Congregation Of The Condemned: Voices Against The Death Penalty,
Prometheus books Buffalo, New York, him. 221. -
1187
William A. Schabas, 2002, The Abolition Of The Death Penalty In International Law, Third
Edition, cambridge University Press, him. 7.
9U Herbert H. Haines, 1996, Against Capital Punishment: The Anti·Death Penalty Movement
In America, 1972 -1994, Oxford University Press, New York, him. 3.
' -456 - PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
~· : ·;
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mengubah hukuman tersebut.989
Dalam [Link] hukum pidana Indonesia, kontroversi terkait
pidana mati pernah diajukan uji materiil ke Mahkamah Konstitusi.
Para pemohon yang
mengajukan uji materiil adalah Edith Yunita
Sianturi, Rani Andriani, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan
berargumen antara lain bahwa pidana mati bertentangan dengan
_hak asasi manusia. Melalui persidangan yang panjang, Mahkamah
Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 2 - 3/PUU-V/2007 yang
pada intinya menolak permohonan uji materiil tersebut. Artinya,
pidana mati masih tetap berlaku sebagai hukum positif di Indonesia.
Kendatipun demikian, tidak terdapat suara bulat dalam pengambilan
putusan perkara a quo. Empat dari sembilan hakim Mahkamah
Konstitusi mengajukan pendapat berbeda terkait pidana mati.
Selanjutnya pelaksanaan pidana mati diatur pada Pasal 11
KUHP yang menyatakan, "Pidana Mati dijalankan oleh algojo di
tempat gantungan dengan menjeratkan tali yang terikat di tiang
gantungan pada leher terpidana kemudian menjatuhkan papan tempat
terpida11a berdiri". Pelaksanaan pidana mati yang demikian dianggap
tidak manusiawi sehingga diterbitkan Undang-Undang Nomor 2 I
Pnps/1964 yaitu Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964 No 38) yang
ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang
Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati Yang Dijatuhkan Ole1l Pengadilan
Di Lingkungan Peradilan Umum Dan Militer.
Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan hukum acara
pidana yang ada tentang penjalanan putusan pengadilan, maka
pelaksanaan pidana mati, yang dijatuhkan oleh pengadilan di
lingkungan peradilan umum atau peradilan militer, dilakukan dengan
ditembak sampai mati, menurut ketentuan-ketentuan dalam undang-
undang a quo.
989
Carsten Anckar; 2004, Determinants Of The Death Penalty: A Comparative Study Of The
World, Routledge Taylor & Francis Group, London & Newe York, him. 4-5.
PI DANA DAN PEMIDANAAN 457
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Berdasarkan undang-undang tersebut,. pelaksanaan pidana mati
dilakukan dengan tembak mati990 dalam daerah hukum pengadilan
[Link] menjatuhkan putusan pada pengadilan tingkat pertama991 • Jika
pidana mati dijatuhkan kepada beberapa orang dalam satu putusan,
maka pelaksanaannya secara serentak pada waktu dan tempat yang
sama992 • Eksekusi terhadap pidana mati adalah tanggung jawab Kepala
Polisi Daerah (Kapolda) tempat kedudukan pengadilan yang memutus
pada tingkat pertama. Setelah mendengar nasihat dari Jaksa Tinggi
atau jaksa yang bertanggung jawab, Kapolda kemudian menentukan
waktu dan tempat pelaksanaan pidana mati993 • Kapolda atau perwira
yang ditunjuk olehnya bersama-sama dengan Jaksa Tinggi atau jaksa
yang bertanggung jawab menghadiri pelaksanaan pidana mati994 •
Pelaksanaan pidana mati juga dapat dihadiri oleh pembela atau kuasa
hukum terpi'tana, baik atas permintaannya sendiri, maupun atas
permint;1an terpidana995•
Selama menunggu pelaksanaan pidana · mati, terpidana ditahan
dalam penjara atau di tempat lain yang khusus ditunjuk oleh Jaksa
Tinggi atau jaksa yang bertanggung jawab996 • Dalam jangka waktu 3x24
jam sebelum pelaksanaan pidana mati, Jaksa Tinggi atau jaksa yang
bertanggung jawab memberitahukan kepada terpidana tentang akan
dilaksanakannya pi dana tersebut. Jika terpidanahendakmengemukakan
sesuatu, maka keterangan atau pesannya itu diterima oleh Jaksa Tinggi
atau jaksa yang bertanggung jawab997 • Apabila terpidana hamil, maka
990 Pasal1 Undang-Undang Nomor 2/ Pnpsl1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
991 Pasal2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 I Pnps/1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 {LN
1964 No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
992 Pasal2 ayat {2) Undang-Undang Nomor 2 I Pnpsl1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 {LN
1964 No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
993 Pasal3 Undang-Undang Nomor 2 I Pnpsl1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969. ·
990 Pasal4 Undang-Undang Nomor 2/ Pnpsl1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969• .
995
Pasal8 Undang-Undang Nomor 2/ Pnpsl1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 {LN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
996 Pasal 5 Undang-Undang Nomor 2 I Pnps/1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
997 Pasal 6 Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964: Pen pres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969•
. 451f PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pelaksanaan pidana mati baru dapat dilaksanakan 40 hari setelah
anaknya dilahirkan998. '
Pelaksanaan pidana mati tidak dilaksanakan di depan umum999
oleh suatu Regu Tembak dari Brigade Mobil yang terdiri dari seorang
Bintara, 12 orang Tamtama, di bawah pimpinan seorang Perwira. Regu
Tembak tersebut dibentuk oleh Kapolda. Dalam pelakSanaanya, Regu
Tembak tidak mempergunakan senjata organik. Regu Tembak ini
berada di bawah perintah Jaksa Tinggi atau jaksa yang bertanggung
jawab 1000• Terpidana dibawa ke tempat pelaksanaan pidana dengan
pengawalan polisi dan jika diminta, terpidana dapat disertai oleh
seorang rohaniawan. Setiba di tempat pelaksanaan pidana mati,
komandan pengawal menutup mata terpidana dengan sehelai kain,
kecuali terpidana tidak menghendakinya1001 •
Terpidana dapat menjalani pidana secara berdiri, duduk atau
berlutut. Jika dipandang perlu, Jaksa Tinggi atau jaksayang bertanggung
jawab dapat memerintahkan supaya terpidana diikat tangan serta
kakinya ataupun diikat pada sandaran yang khusus dibuat untuk itu1002•
Jarak antara titik di mana terpidana berada dan tempat Regu Tembak,
tidak boleh melebihi jarak 10 meter dan tidak boleh kurang dari jarak
5 meter1003 •
Jika semua persiapan telah selesai, Jaksa Tinggi Mau jaksa yang
bertanggung jawab untuk pelaksanaannya, memerintahkan untuk
memulai pelaksanaan .pidana mati. Dengan menggunakan pedang
sebagai isyarat, komandan Regu Tembak memberi perintah supaya
bersiap, kemudian dengan menggerakkan pedangnya ke atas ia me-
998
Pasal 7 Undang-Undang Nomor 2 I Pnpsl1964: Pen pres Nomor 2 Tahun 1964 (lN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 lahun 1969.
m Pasal9 [Link] Nomor 2 I Pnpsl1964: Pen pres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964 No
38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
1000
PasallOUndang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964
No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
1001
Pasalll Undang-Undang Nomor 2 I Pnpsl1964: Pen pres Nomor 2 Tahun 1964 (lN 1964
No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
1001
Pasal12 Undang-Undang Nomor 2 I Pnpsl1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964
. No 38) yang ditetapkan menjadi Undilng-Undang Nomor 5 Tahun 1969..
1003
Pasal13 Undang-Undang Nomor 2 I Pnpsl1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964
No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nom or 5 Tahun 1969.
P!DANA DAN PEMIDJ\NAAN 459
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
rnerintahkan Regu Tembak untuk membidik pada jantung terpidana
dan dengan menyentakkan pedangnya ke bawah secara cepat, dia
memberikan perintah untuk menembak. Apabila setelah penembakan
itu, terpidana masih memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia belum
mati, maka komandan regu segera memerintahkan kepada bintara regu
ternbak untuk melepaskan tembakan pengakhir dengan menekankan
ujung laras senjatanya pada kepala terpidana tepat di atas telinganya.
Untuk memperoleh kepastian ten tang matinya terpidana dapat dimintai
bantuan seorang dokterHlo4•
Penguburan terpidana diserahkan kepada keluarganya atau
sahabat terpidana, kecuali jika berdasarkan kepentingan umum Jaksa
Tinggi atau jaksa yang bertanggung jawab memutuskan lain. Dalam
hal terakhir ini, dan juga jika tidak ada kemungkinan pelaksanaan
penguburan oleh keluarganya atau sahabat terpidana, maka
penguburan diselenggarakan oleh negara dengan mengindahkan cara
penguburan yang ditentukan oleh agama atau kepercayaan yang dianut
oleh terpidana 1005• Jaksa Tinggi atau jaksa yang bertanggung jawab
harus rnembuat berita acara pelaksanaan pidana mati. lsi berita acara
itu disalinkan ke dalam Surat Putusan Pengadilan yang telah mendapat
kekuatan pasti dan ditandatangani olehnya, sedangkan pada berita acara
harus diberi catatan yang ditandatangani dan yang menyatakan bahwa
isi berita acara telah disalinkan ke dalam Surat Putusan Pengadilan
bersangkutan1006•
Perkembangan lebih lanjut, Polri mengeluarkan Peraturan
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010
Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati. Dalam peraturan a
quo antara lain ditentukan regu tembak berjumlah 14 orang terdiri
dari: 1) Seorang Komandan Pelaksana berpangkat InspektU.r Polisi;
2} Seorang Komandan Regu berpangkat Brigadir atau Brigadir Polisi
1004
Pasal14 Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964
No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
10115
Pasal15 Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964
No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969.
· 1D06 Pasal16 Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964: Penpres Nomor 2 Tahun 1964 (LN 1964
No 38) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969•
.. 4.60:
.. .~: ·
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Kepala (Bripka); dan 3) 12 orang anggota berpangkat [Link] Polisi
Dua (Bripda) atau [Link] Polisi Satu (Briptu) •.Regu Tembak bertugas
mengecek tempat atau lokasi pelaksanaan pidana mati; menyiapkan
dan mengecek senjata apidan amunisinya serta peralatan lainnya yang
akan digunakan dalam pelaksanaan pidana mati; mengatur posisi/
formasi personel Regu Tembak; dan menyiapkan fisik serta mental
seluruh personel Regu Tembak1007•
Pada saat pelaksanaan pidana mati, Regu Tembak telah siap d.i
lokasi satu jam ·sebelum pelaksanaan. Regu Tembak mengatur posisi
dan meletakkan 12 (dua bel as) pucuk senjata api laras panjang d.i depan
posisi tiang pelaksanaan pidana mati pada jarak 5 (lima) meter sampai
dengan 10 (sepuluh) meter. Komandan Pelaksana melaporkan kesiapan
regunya kepada jaksa eksekutor dan jaksa eksekutor mengadakan
pemeriksaan terakhir terhadap terpidana rnati dan persenjataan yang
digunakan untuk pelaksanaan pidana rnati. Kornandan Pelaksana
memerintahkan Kornandan Regu Ternbak untuk mengisi amunisi
dan mengunci senjata ke dalam 12 (dua belas) pucuk senjata api laras
panjang dengan 3 (tiga) butir peluru tajarn dan 9 (sembilan) butir
peluru nampa yang masing-rnasing senjata api berisi 1 (satu) butir
peluru, disaksikan oleh jaksa eksekutor.
Jaksa eksekutor memerintahkan Komandan Regu ..., dengan
anggota regunya untuk membawa terpidana ke posisi penembakan
dan melepaskan borgollalu mengikat kedua tangan dan kaki te!'pidana
ke tiang penyangga pelaksanaan pidana rnati dengan posisi [Link],
duduk, atau berlutut, kecuali ditentukan lain oleh jaksa. Terpidana
diberi kesempatan terakhir untuk menenangkan diri paling lama 3
(tiga) menit dengan didampingi seorang rohaniawan. Komandan Regu
menutup mata terpidana dengan kain hitam, kecuali jika terpidana
menolak. Dokter mernberi tanda berwarna hitam pada baju terpidana
tepat pada posisi jantung sebagai sasaran penembakan. Setelah itu,
jaksa eksekutor memberikan isyarat kepada komandan pelaksana untuk
segera dilaksanakan penernbakan terhadap terpidana. Komandan
1007 Pasal 8 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010
Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati.
PiDANA DAN PEMIDANAAN 461
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pelaksana menghunus pedang sebagai isyarat bagi Regu Tembak untuk
membidik sasnran ke arah jantung terpidana. Komandan Pelaksana
mengacungkan pedang ke depan setinggi dagu sebagai isyarat kepada
Regu Tembak untuk membuka kunci senjata. Komandan Pelaksana
menghentakkan pedang ke bawah pada posisi hormat pedang sebagai
isyarat kepada Regu Tembak untuk melakukan penembakan secara
serentak.
Setelah penembakan selesai, Koman dan Pelaksana, jaksa eksekutor,
dan dokter memeriksa kondisi terpidana dan apabila menurut dokter
ba.~wa terpidana masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan,
jaksa eksekutor memerintahkan Komandan Pelaksana melakukan
penembakan pengakhir. Komandan Pelaksana memerintahkan
Komandan Regu Tembak untuk melakukan penembakan pengakhir
dengan menempelkan ujung laras senjata genggam pada pelipis
terpidana tepat di atas telinga. Penembakan pengakhir ini dapat
...
diulangi, apabila menurut keterangan dokter masih ada tanda-tanda
kehidupan. Pelaksanaan pidana mati dinyatakan selesai, apabiJ:a dokter
sudah menyatakan bahwa tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada
terpidana 1008 •
Terakhir dari subbab pidana mati ini adalah pendapat Penulis
terkait pidana mati itu sendiri. Pertama, pada hakikatrrya ancaman
pidana mati masih dibutuhkan. Dasar argumentasinya, selain efek jera,
tidak ada satupun ajaran agama yang menentang pi dana mati. Crimina
morte extinguunr.1r: kejahatan dapat dimusnahkan dengan hukuman
mati. Mors omnia solvit: hukuman mati menyelesaikan perkara.
Selain itu juga, pidana mati sebagai penyeimbang terhadap korban
kejahatan. Kedua, ancaman pidana mati hanya ditujukan kepada
kejahatan-kejahatan luar biasa seperti korupsi, terorisme, narkotika
dan pelanggaran berat hak asas! manusia atau terhadap kejahatan:
biasa yang dilakukan secara terencana dan sadis di luar batas-batas
kemanusiaan.
IIIOi Pasal 15 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010
Tentang Tata cara Pelaksanaan Pidana Mati.
t\62 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Ketiga, pidana mati adalah sanksi yang bersifat khusus. Artinya,
pidana mati barulah di~ekusi jika terpidana dalam jangka waktu
10 tahun, tidak menunjukan perilaku yang iebih baik. Konsekuensi
lebih lanjut, jika dalam jangka waktu 10 tahun, terpidana menunjukan
perbaikan dalam perilakunya, maka pidana mati dapat diubah menjadi
pidana seumur hidup atau pidana penjara sementara waktu maksimal
20 tahun.
2) Pidana Penjara
Pidana penjara adalah salah satu bentuk pidana perampasan
kemerdekaan yang hanya boleh dijatuhkan oleh hakim melalui putusan
pengadilan. Executio est executio juris secundum judicium: penjatuhan
pidana merupakan penerapan hukum berdasarkan putusan. Pidana
penjara dimaksudkan untuk menggantikan pidana mati yang
dilakukan dengan cara-cara yang kejam seperti dirajam dengan batu,
dibakar, dicekik dan dipenggal kepalanya 1009• Quae sunt minoris culpae
sunt majoris infamiae: kejahatan yang kejam akan dihukum dengan
hukum~ yang kejam. Kendatipun demikian, hukuman harus ada
batasnya: poenae sunt restringendae.
Menurut Foucault penjara tidak dapat dilepaskan dari penge-
jawantahan kekuasaan negara, oleh karena itu pelaksanaannya
diawali dengan berbagai upacara simbolik {liturgi) demi kepentingan
masyarakat luas. Masih menurut Foucault, pidana penjara sejak semula
diperuntukan bagi anggota masyarakat kelas bawah yang dicirikan
dengan kerja keras atau kerja paksa. Dengan visi yang demikian, itulah
sebabnya mengapa pengelolaan penjara diserahkan kepada militer.
Interest reipublicae ut carceres sint in tuto: merupakan kepentingan
suatu negara agar penjara diamankan. Konsekuensi lebih lanjut,
gagasan humanistik yang dikembangkan oleh Coomhert terhadap
pidana penjara, tidak berkembang1010 • Gagasan humanitas ini pertama
kali ditujukan untuk menentang pidana mati yang dianggap kejam 1011 •
1009
Walter Jacoband Moshe Zemer, 1999, Crime And Punishment In Jewish Law: Essay And
Responsa, Berghahn Books New York - Oxford, him. 51.
1010
Jan Remmelink, [Link]., him. 467.
Wll Richard A. Bauman, 1996, Crime And Punisment In Ancient Rome, Routledge 29 West 35th
Street, New York, him. 18.
PIDANA DAN PEMIDANAAN 463
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dalam perkembangan lebih lanjut, pidana penjara berorientasi
pada rehabilitasi terpidana, bersifat humanistik dan penjatuhan pidana
penjara lebih bersifat hati-hati 1012• Perbuatan pidana yang diancam
dengan pidana penjara hanya boleh dicantwnkan dalam undang-
undang yang dibentuk oleh parlemen dan pemerintah. Artiriya,
pembentuk undang-undang di daerah tidak boleh mencantumkan
ancaman pidana penjara dalam peraturan daerah yang dibuatnya. Jan
Remmelink dengan mengutip pendapat Jescheck menyatakan bahwa
pi dana penjara dianggap sebagai ruckgrat des strafensystems yang dapat
diartikan bahwa sistem pemidanaan adalah untuk perbaikan 1013 •
Berdasarkan Pasal 12 KUHP, hila dilihat dari lamanya waktu,
pidana penjara dibagi menjadi dua yaitu pidana penjara seumur hi-
dup dan pidana penjara untuk sementara waktu. Pidana penjara se-
umur hidup berarti terpidana menjalani pidana penjara sampai yang
bersangkutan meninggal dunia. Dalam Memorie van Toelichting dasar
~
pemikiran pidana penjara seumur hidup adalah poena proxima morti.
Artinya, pidana yang paling dekat dengan pidana mati. [Link]
Modderman, pidana penjara sewriur hidup sengaja dimasukkan J:ce
dalam KUHP untu...~ mencegah masuknya kembali pidana mati yang
telal1 dihapuskan di Belanda sejak 1870. Demikian pula di Perancis
yang melarang adanya pidana mati dalam kebijakan pi dana sejak tahun
18481014.
Pidat1a penjara untuk sementara waktu, minimal adalah sehari
dan maksimal adalah 15 tahun. Salah satu ciri pembeda hukum pidana
Belanda dengan hukum pidana di negara-negara Eropa Kontinental
lainnya yakni adanya minimum umum pidana penjara yang lamanya
sehari dan bukan minimum khusus 1015• Pidana penjara untuk se-
mentara waktu dapat dijatuhkan untuk paling lan1a 20 tahu? jika
terdapat hal-hal yang memberatkan seperti perbarengan perbuatan ·
tou Franklin E. Zimring, Gordon Hawkins & Sam Kamin, 2001, Punishment And Democracy:
Three Strikes And You're Out In California, Oxford University Press, him 110.
1013
Ibid., him. 465.
1014
daire Valier, 2004, Crime And Punishment In Contemporary Culture, Routledge Taylor &
Francis Group, london And New York, him. 40.
1015
Jan Remmellnk, [Link].
464 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pidana, residivis dan perbuatan pidana yang [Link] dalam keadaan
atau situasi tertentu. Menurut Memorie van ToeliChting, dasar 20 tahun
penjara adalah seseorang yang menjalani pidana penjara secara terus
menerus dalam jangka waktu tersebut akan kehilangan kemampuan
dan kesiapan untuk kembali menjalani kehidupan bebas 1016•
Terkait pencantuman ancaman pidana termasuk pula pidana
penjara dalam perundang-undangan, dikenal beberapa stelsel pe-
midanaan. Pertama, defenite sentence. Artinya, pembentuk undang-
undang menentukan ancaman pidana secara pasti. Stelsel pemidanaan
yang demikian bersifat absolut, tidak dimungkinkan diskresi hakim
dan tidak memberikan efek yang berartP 017• Sebagai misal Pasal 59
ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika
yang menyatakan bahwa jika kejahatan yang menyangkut psikotropika
golongan I dilakukan secara terorganisasi, maka dipidana dengan
pidana mati atau pidana seumur hidup atau pidana penjara selama 20
tahun. Demikian juga jika kejahatan yang menyangkut psikotropika
golongan I dilakukan oleh korporasi, maka dikenakan pidana denda
sebesar 5 miliar rupiah.
Keilua, indefinite sentence yaitu sistem yang menetapkan ancaman
pidana maksimum khusus atau juga ancaman pidana minimum
khusus untuk setiap perbuatan pidana1018• Hampir seluruh perbuatan
pidana yang tertuang dalam KUHP menggunakan indefinite sentence.
Sebagai misal, Pasal338 KUHP berbunyi, "Barangsiapa dengan sengaja
merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun':
Ketiga, indeterminate sentence, yakni pembentuk undang-undang
hanya menentukan alternatif-alternatif dalam batas-batas minimum
dan maksimum ancaman pidana. Sistem ini memberi peluang bagi
diskresi hakim dalam menentukan pidana terhadap pelaku dengan
batas-batas yang disediakan oleh undang-undang 1019• Contohnya: Pasal
w16 Ibid., him. 466.
wt7 Michael Tonry, 1996, Sentencing Matters, Oxford University Press, New York, him. 10.
1018
James Q. Whitman, 2003, Harsh Justice; Criminal Punishment And The Widening Divide
Between America And Europe, Oxford University Press, hkn. 49.
w19 Michael Tonry & Richard S. Frase, 2001, Sentencing And Sanction In western Countries,
PiDANA DAN PEMIDANAAN 465
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
2 ayat (1) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
"Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama
20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua
. ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. [Link],00 (satu milyar
rupiah)". Hanya saja dalam pasal a quo, ancaman pidana pokoknya
bersifat kumulatif, padahal dalam indeterminate sentence, ancaman
pi dana pokok tersebut haruslali bersifat alternatif.
Kembali kepada pidana penjara, ada beberapa stelsel penjara yang
[Link],[Link]
pidana penjara dengan tujuan penyesalan dan bertobat 1020 • Sistem ini
memberlakukan the most rigid and unremitted solitude: Satu-satunya
pekerjaan yang_, boleh dilakukan dalam sistem ini hanyalah membaca
kitab sud. Sistem ini tidak memperkenankan kerja paksa ~an hak
kunjungan. Membaca kitab sud dipercaya merupakan satu-satunya
sumber keselamatan dan melalui isolasi, narapidana diyakini akan
tiba pada suatu tahapan yang optimal bagi 'pertobatan diri: Cara ini
mengikuti liturgi Quaker (sempalan Kristen) di Pennsylvania, Amerika
yang bersama-sama dalam diam, menunggu kemunculan the inner light
(wahyu lliahi) 1021 • Career ad homines custodiendos, non ad puniendos,
dari debet: pidana penjara ditujukan untuk mengurung narapidana,
bukan untuk menghukumnya.
Kedua, sistem Auburn. Sistem ini lahir pada tahun 1816 di
negara bagian, New York, di ko.t a Auburn. Auburn System merupakan
campuran antara sel dan bangsai. Sistem sel berlaku pada malam hari.
Artinya, terpidana dlisolasi. Sedangkan pada siang hari berlaku sistem
bangsal yang mana para narapidana berkumpul dalam satu bangsal
Oxford University Press, him. 32.
1020Herman Mannheim, 1955, Group Problems In Crime And Punisment, Routledge And Kegan
Paul Umited Broadway House, 68-74 carter lane london, him. 173. .
ton Jan Remmelink, [Link]., him. 467.
::466 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
untuk bekerja, namun dengan ketentuan pelarangan berbicara (the
silent system). Sistem Auburn ini dikembangkari di Gent, Belgia dan
berkat perhatian besar dari Maria 'Iheresia terhadap nasib tahanan,
reputasi penjara ini dikenalluas1022 •
Ketiga, marksystem. Sistem ini dikembangkan di Inggris dengan
klasifikasi atau penggolongan tahanan dan progresi atau kemajuan.
Masa pemidanaan dimulai dengan 9 bulan penjara tersendiri atau
sistem sel. Selanjutnya satu periode tertentu dengan menggunakan
sistem bangsal pada siang hari dan kurungan terpisah di malam hari.
Sistem ini mengenal pembagian kelas-kelas dengan hak-hak istimewa
yang berbeda-beda dan memungkinkan kenaikan penggolongan ke
dalam kelas yang lebih tinggi melalui kelakuan baik dan peningkatan
prestasi. Dengan cara ini, narapidana terstimulasi untuk secara aktif
bekerja sama dalam upaya perbaikan diri. Setelah menjalani pidana,
terbuka kemungkinan pembebasan bersyarat Ide dasar sistem ini
secara psikologis terjadi perpindahan dari hidup bebas menjadi
hidup terisolasi dalam sel yang sangat menyakitkan, kemudian dari
penjara inenuju kehidupan bebas dalam masyarakat dengan beberapa
tahapan 1023.
Keempat, sistem Irlandia. Sistem ini merupakan adaptasi dari
stelsel progresif di Irlandia abad 19. Sistem tersebut memperkenalkan
stadium antara, yakni intermediate prison. sebelum pembebasan
bersyarat. Stadium antara ini, narapidana menjalani kerja harian di
masyarakat pada siang hari dan malam hari kembali ke penjara. Sistem
Irlandia ini dikembangkan di daratan Eropa antara lain di Belanda
dengan sistem penjara yang terbuka. Kelima, sistem reformatory.
Sistem ini diperkenalkan di Elmira New York secara progresif dan
pembebasan bersyarat yang dipercepat. Sistem reformatory memiliki
ciri kewajiban melakukan pekerjaan dan mendapatkan pendidikan.
Sistem demikian diperuntukkan bagi narapidana berusia muda
1022
Ibid., him. 468.
10Z3 [Link].
PIDANA DAN PEMIOANAAN 467
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
termasuk d.i dalamnya untuk juvenile offenders terutama kewajiban
mendapatkan pendidikan 1024 • Sistem reformatory ini diadopsi oleh
penjara Borstal d.i Inggris pada tahun 19021025 •
3) Pidana Kurungan
Pidana kurungan ditujukan kepada perbuatan pidana yang
dikualifikasikan sebagai pelanggaran. Kendatipun demikian ada juga
beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana kurungan, jika
dilakukan karena suatu kealpaan dan ancaman pidana kurungan
terhadap kejahatan-kejahatan tersebut dialternatifkan dcngan pidana
penjara1026• Pada awalnya, pidana kurungan sebagai custodia honesta
yang diancamkan terhadap delik-delik terkait kesalahan moril. Menurut
A.J. Hoekema, berdasarkan penelitian sosiologis bahwa seorang yang
menjalani p idana [Link] tidak mengakibatkan stigma buruk dalam
masyarakat sebagaimana narapidana yang menjalani pidana penjara1027•
Berdasarkall Pasal 18 KUHP, pidana kurungan paling sedikit
satu hari dan paling lama satu tahun. Jika terjadi pemberatan pidana
yang disebabkan karena perbarengan atau pengulangan, maka pidana
kurungan dapat ditambah menjadi satu tahun empat bulan sebagai batas
rnaksimum dan tidak boleh melewati angka tersebut. ·Sarna dengan
pidana penjara, orang dijatuhi pidana kurungan wajib menjalankan
pekerjaan yang dibebankan kepadanya, meskipun lebih ringan hila
dibandingkan dengan orang yang dijatuhi pidana penjara.
Seseorang yang dijatuhi pidana penjara atau pidana kurungan
paling lama satu bulan, hakim boleh menetapkan bahwa penuntut
umum dapat mengizinkan terpidana bergerak dengan bebas di luar
penjara sehabis waktu kerja. Akan tetapi, jika terpidana yang mendapat
kebebasan itu tidakdatangpada waktu dan ternpatyangtelah ditentukan
untuk menjalani pekerjaan yang dibebankan kepadanya, maka ia harus
1024 Andrew Ashworth & Martin Wasik, 1998, Fundamentals Of Sentencing Theory, Oarendon
Press- Oxford, him. 165.
10lS Jan Remmelink,·[Link]., him. 469.
~~~~~~~~~~~m~~~~~
359, Pasal360 dan Pasal481 KUHP.
1ov Jan Remrnelink, [Link]., him. 477.
468 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
menjalani pidananya seperti biasa, kecuali kalau tidak datangnya itu
[Link] kehendak sendiri. Hal ini tidak berlaku kepada terpidana
jika pada waktu melakukan tindak pidana belum ada dua tahun sejak ia
habis menjalani pidana penjara atau pidana kurungan 1028•
Pidana kurungan dijalani dalam daerah hukum di mana terpidana
berdiam ketikaputusan hakim dilaksanakan. Pidana penjara dan pidana
kurungan mulai berlaku bagi terpidana yang sudah di dalam tahanan
sementara, pada saat ketika putusan hakim berkekuatan hukum tetap
dan bagi terpidana lainnya pada hari ketika putusan hakim mulai
dilaksanakan. Apabila dalam putusan hakim dijatuhkan pidana penjara
dan pidana kurungan atas beberapa perbuatan pidana, kemudian
putusan itu bagi kedua jenis pidana tersebut berkekuatan hukum tetap
pada waktu yang sama, sedangkan terpidana sudah ada dalam tahanan
sementara karena kedua atau salah satu perbuatan pidana itu, maka
pidana penjara mulai berlaku pada saat ketika putusan hakim menjadi
tetap, dan pidana kurungan mulai berlaku setelah pidana penjara
habis 1029•
4) Pi dana Denda
Salah satu alasan adanya pidana denda karena keberatan terhadap
pidana badan <lalam jangka waktu singkat. Beberapa keuntungan
pidana denda adalah: Pertama, pidana denda tidak menyebabkan
stigmatisasi. Kedua, pelaku yang dikenakan pidana denda dapat tetap
tinggal bersama keluarga dan lingkungan sosialnya. Ketiga, pidana
denda tidak menyebabkan pelaku kehilangan pekerjaannya. Keempat,
pidana denda dengan mudah dapat dieksekusi. Kelima, ·negara tidak
menderita kerugian akibat penjatuhan pidana denda. Namun demikian
terdapat sisi lemah dari pidana denda yang hanya menguntungkan bagi
orang-orang yang mero iliki kemampuan finansiallebih 1030•
1028 Lihat Pasal 20 KUHP
10:19 Uhat Pasal32 KUHP
ID30 Jan Remmelink, [Link]., him. 485.
PIOANA DAN PEMIDANAAN 469
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dalam konteks KU H P, pi dana denda paling sedikit dua puiuh lima
1031
sen • Jika pidana denda tidak dibayar, maka dapat diganti dengan
pidana kurungan. Hal [Link] dengan adagium qui non potest solvere
in aere, luat in corpore. Artinya, siapa tidak mau membayar, maka ia
hams melunasinya dengan derita badan 1032 • Lamanya pidana kurungan
pengganti paling sedikit satu hari dan paiing lama enam bulan. Apabila
terdapat pemberatan pidana denda disebabkan karena perbarengan
atau pengulangan, maka pidana kurungan pengganti paling lama
delapan bulan. Pidana kurungan pengganti tidak boleh lebih dari
delapan bulan 1033• Terpidana ·dapat menjalani pidana kurungan
pengganti tanpa menunggu batas waktu pembayaran denda. Terpidana
dapat membebaskan dirinya dari pidana kurungan pengganti dengan
membayar dendanya. Pembayaran sebagian dari pidana denda, baik
sebelum maupun sesudah mulai menjalani pidana kurungan pengganti,
membebaskan ~rpidana dari sebagian pidana kurungan yang seimbang
dengan bagian yang dibayarnya1034•
5) Pidana Tutupan
Pidana tutupan dalam konteks hukum pidana Indonesia adalah
berdasarkan Undang-UndangNomor20 Tahun 1946TentangHukuman
Tutupan. Pidana tutupan ditujukan bagi pelaku kejahatan · yang
dlancam dengan hukuman penjara, namun motivasi dalam [Link]
kejahatan tersebut patut dihormati. J)apatlah dikatakan bahwa pidana
tutupan diperuntukkan bagi pelaku kejahatan politik. Terpidana yang
menjalani pidana tutupan, wajib menjalankan pekerjaan. Demikian
pula semua peraturan yang terkait pidana penjara juga berlaku bagi
pidana tutupan.
1031
Pasal30 KUHP
,.em Ibid, him. 478.
ton Pasal30 KUHP
1034
Pasal31 KUHP
. 470 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
.. _;~
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
B• . PIDANA TAMBAHAN
Ubi non est principalis, non potest esse acce5$'orius: di mana tidak
ada hal yang pokok, maka tidak. mungkin ada haltambahan. Demikian
postulat yang melandasi hal-hal yang bersifat pokok dan hal-hal yang
bersifat tambahan. Oleh karena itu, pidana tambahan tidak boleh
dijatuhkan tanpa pidana pokok. Namun tidak sebaliknya, pidana
pokok boleh dijatuhkan tanpa pidana tambahan. Lebih lanjut, hakim
. boleh 11?-enjatuhkan hanya satu pidana pokok deng~ lebih dari satu
pidana tambahan. Prinsip-prinsip dalam penjatuhan pidana tambahan
yang demikian sejak tahun 1959 tidak berlaku di Belanda. Hakim boleh
menjatuhkan pidana tambahan berupa perampasan atau penyitaan
tanpa mengiringi pidana pokok1035•
Berdasarkan KUHP, pidana tambahan berupa pencabutan hak-
hak tertentu, perampasan barang dan pengumuman putusan hakim.
Akan tetapi di luar KUHP, terdapat banyak pidana tambahan yang
berbeda dengan apa yang dicantumkan dalam KUHP. Hal ini tertuang
dalam [Link]-undang pidana khusus, baik undang-undang pidana
maupun yang bukan undang-undang pidana. Sebagai misal, dalam
undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi, selain pidana ·
pokok yang dijatuhkan secara kumulatif, pidana tambahan yang
dapat mengiringi pidana pokok adalah pembayaran uang pengganti.
Pembayaran uang tersebut maksimal setara harta benda yang diperoleh
dari tindak pidana korupsi dan dilakukan paling lama satu bulan setelah
putusan berkekuatan hukum tetap. Selain itu pidana tambahan lainnya
adalah penutupan sebagian atau seluruh perusahan paling lama satu
tahun•o36.
Masing-masing pidana tambahan dalam KUHP akan diulas secara
berurutan sebagai berikut:
lJl3S Jan Remmelink, [Link]., him. 491.
1036 lihat lebih lanjut dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana
yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
PIDANA DAN PEMIOANAAN . 47-1 -- .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
1) Pencabutan Hak-Hak Tertentu
Hak-hak terpidana yang dapat dicabut sebagai pidana tambahan
adalah: Pertama, hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan .
tertentu. Kedua, hak memasuki angkatan bersenjata. Ketiga, hak
memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan
aturan perundang-undangan. Keempat, hak menjadi penasihat
hukum atau pengurus atas penetapan pengadilan, hak menjadi wali,
wali pengawas, pengampu atau pengampu pengawas, atas orang yang
bukan anak sendiri Kelima, hak menjalank~ kekuasaan bapak,
menjalankan perwalian atau pengampuan atas anak sendiri. Keenam,
hak menjalankan mata pencarian tertentu. ~akim tidak berwenang
memecat seorang pejabat dari jabatannya, jika dalam peraturan
perundang-undangan khusus ditentukan penguasa lain untuk pe-
mecatan tersebut1037•
Dalam hal pencabutan hak, hakim menentukan lamanya
pencabutan hak tersebut sebagai berikut: Perlama, jika terpidana
dijatuhi pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka l~anya
pencabutan hak adalah seumur hidup. Kedua, dalam hal pidana penjara
untuk waktu tertentuatau pidanakurungan, lamanya pencabutan paling
sedikit dua tahun dan paling banyak lima tahun lebih lama dari pidana
pokoknya. Ketiga, dalam hal [Link], lamanya pencabutan paling
sedikit dua tahun dan paling banyak lima tahun. Keempat, pencabutan
hak mulai berlaku pada hari putusan hakim dapat dijalankan1038 •
2) Perampasan Barang-Barang Tertentu
Dalam konteks teori secara umum perampasan terhadap barang-
barang tertentu adalah sebagcii berikut1039: Pertama, perampasan dalam
pengertian penyitaan terhadap barang digunakan untuk melakukan .
perbuatan pidana atau instrumentum sceleris. Kedua, perampasan
dalam pengertian penyitaan terhadap objek yang berhubungan dengan
1037
Pasal35 KUHP
1018
Pasal 38 KUHP
1039 Eddy 0.5 Hiariej, 2012, Pernbulman Terbalik Dalam Pengemba/ian Aset Kejahatan Korupsi,
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, 30 Januari 2012, him. 6- 7.
472 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
perbuatan pidana atau objectum 'SGeleris. Sedangkan yang ketiga,
perampasan dalam. pengertian penyitaan terhadap hasil perbuatan
pidana atau fructum sceleris. Baik instrumentum sceleris, objectum
sceleris, maupun fructum sceleris di Indonesia, Amerika dan Inggris
hanya ditujukan untuk kepentingan negara semata-mata dan belum .
ditujukan untuk kepentingan korban perbuatan pidana sebagaimana
yang diatur dalam Hukum Pidana di Belgia dan Belanda. Penyitaan dan
perampasan terhadap fructum sceleris di Belgia dan Belanda ditujukan
untuk kompensasi kepada korban perbuatan pidana1040•
Perampasan barang-barang tertentu dalam KUHP diatur sebagai
berikut: Pertama, barang-barang kepunyaan terpidana yang diperoleh
dari kejahatan atau yang sengaja dipergunakan untuk melakukan
kejahatan. Kedua, dalam hal pemidanaan karena kejahatan yang
tidak dilakukan dengan sengaja atau karena pelanggaran, dapat juga
dijatuhkan putusan perampasan berdasarkan hal-hal yang ditentukan
dalam undang-undang. Ketiga, perampasan dapat dilakukan terhadap
orang yang bersalah yang diserahkan kepada pemerintah, tetapi hanya
atas barang-barang yang telah disita1041 •
Keempat, jika seorang di bawah umur 16 tahun mempunyai,
memasukkan atau mengangkut barang-barang dengan melanggar
aturan-aturan mengenai penghasilan dan persewaan negara, aturan-
aturan mengenai pengawasan pelayaran di bagian-bawan Indonesia
yang tertentu, atau a~-aturan mengenai larangan inemasukkan,
mengeluarkan, dan meneruskan pengangkutan barang-barang, maka
hakim dapat menjatuhkan pidana perampasan atas barang-barang itu,
juga dalam hal yang bersalah diserahkan kern bali kepada orang tuanya,
walinya atau pemeliharanya tanpa pidana apa pun 1042 •
1040
Romli Atmasasmita, Perampasan Aset Melalui Pembuktian Terba/ik: Studi Perbandingan
Hukum Pidana, Makalah pada Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh Markas
Besar Kepolisian Republik Indonesia, Hotel Borobudur, Jakarta, 10 Maret 2011, him. 6.
1041
Pasal39 KUHP
1()1 2 Pasal40 KUHP
PIDANA DAN PEMIDANAAN 473
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
3) Pengumuman Putusan Hakim
Pengumuman putusan hakim dari sudut pandang terpidana
rnerupakan penderitaan serius. Hal ini karena secara langsung
menyentuh nama baik dan martabatnya. Pengumuman putusan
hakim di satu sisi merupakan pidana tambahan, namun di sisi lain
menunjukk:an karakter sebagai suatu tindakan atau maatregel yang
bertujuan melindungi kepentingan masyarakat 1043 • Dalam konteks
KUHP dinyatakan apabila hakim memerintahkan supaya putusan
diumumkan berdasarkan KUHP atau aturan-aturan umum lainnya,
maka ia harus menetapkan pula bagaimana cara melaksanakan perintah
itu atas biaya terpidana1044•
C. PIDANA BERSYARAT DAN PELEPASAN BERSYARAT
Pidana bersyarat atau pidana percobaan adalah salah satu alternatif
dari pemidanlliill yang pertama kali diperkenalkan di Inggris 1045 •
Pelaksanaan pidana bersyarat bertujuan untuk rnelindungi masyarakat,
menjaga keselamatan masyarakat dan mencegah terjadinya kejahatan.
Di Inggris, petugas pidana bersyarat memiliki kewajiban antara lain
membuat penilaian terhadap pelaku individu dan rnemberikan laporan
penilaian kepada pengadilan, berupaya mengubah perilaku pelanggar
hukurn dan mengurangi risiko kejahatan serta mengurangi dampak
dari kejahatan terhadap korban 1046•
Pranata hukum pidana bersyarat juga dikenal dalam sistem
hukum Belanda yang kemudian diadopsi dalam sistem hukum
pidana Indonesia. Ketentuan-ketentuan pidana bersyarat atau pidana
percobaan dalam KUHP diatur sebagai berikut: Pertama, pidana
bersyarat hanya dapat dijatuhkan terhadap pidana penjara atau pidana
kurungan paling lama satu tahun. Akan tetapi, pidana b~rsyarat .
1043 Jan Remmelink, [Link]., him. 505.
1044
Pasal43 KUHP
lOCS R.A. Duff, 2001, Punishment, Communication And Community, Oxford University Press,
hlm.99.
1046 Center For Detention Studies, 2011, Naskah Akademik Rancangan Undang·Undang
Pemasyorakatan Tentang Bola/ Pemasyarakaton Dan Tim Pembina Pempsyarakatan, him.
58-60.
)~7.4::: PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
·{.{ ·~··...?'·.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. . :.;- •·. :•·.. . .-'· ~ , ': .. :
tidak dapat diberikan terhadap pidana kurungan ·pengganti. Kedua,
terpidana yang. dijatuhi pidana bersyarat, dalam putusannya ·. hakim
dapat memerintahkan bahwa pidana tidakusah dijalani, ketmili jik.a di · ·
kemudian han ada putusari hakim yang menentukan lain, disebabkan
karena terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa
percoba:an yang ditentukari dalam perintah tersebut di atas habis,
atau karena terpidana selania masa percobaart tidak memeimhi syarat
khusus yang mungkin ditentukan dalam periritah itu. .
Ketiga, masa percobaan ·bagi kejahatan dan pelanggaran dalam
Pasal 492 KUHP terkait pelanggaran keamanan umum bagi orang tua
atau barang dan kesehatan, Pasal 504 KUHP, Pasal 505 KUHP dan
Pasal 506 KUHP tentang pelanggaran ketertiban umum dan Pasal
536 KUHP terkait . pelanggaran kesusilaan, paling lama tiga tahun
dan bagi pelanggaran lainnya paling lama dua tahun. Keempat, masa
percobaan dimulai pada saat putusan berkekuatan hukum tetap dan
telah diberitahukan kepada terpidana .menurut cara yang ditentukan
dalam undang-undang. Kelima, masa percobaan tidak dihitung selama
terpidana ditahan secara sah.
Keenam, jika terpidana dijatuhi pidana denda, selain menetapkan
syarat umum bahwa terpidana tidak akan melakukan tindak pidana,
hakim dapat menetapkan syarat khusus bahwa terpidana dalam waktu
...
tertentu, yang lebih singkat daripada masa . percobaannya, harus
mengganti segala atau sebagian kerugian yang ditimbulkan oleh tindak
pidana tadi. Ketujuh, untuk mengawasi pelaksanaan pidana bersyarat
agar syarat-syarat tersebut, baik syarat urn urn rnaupun syarat khusus
terpenuhi, hakim memerintahkan pejabat yang ber~enang untuk itu.
Kedelapan, jika terpidana yang dijatuhi pidana bersyarat
melanggar syarat-syarat yang telah ditentukan, maka hakim yang
memutus perkara dalam tingkat pertama dapat memerintahkan supaya
pidananya dijalankan, atau memerintahkan supaya atas namanya
diberi peringatan pada terpidana. Kesembilan, jika terpidana selama
masa percobaan melakukan perbuatan pidana, maka terpidana
selain menjalani pidana terdahulu juga menjalani pidana yang barn
PIDANA DAN PEMIDANAAN 475
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dilakukan dalarn rnasa percobaan. Kesepuluh, setelah masa percobaan
habis, perintah supaya pidana dijalankan tidak dapat diberikan lagi,
kecuali jika sebelurn masa percobaan habis, terpidana dituntut karena
melakukan tindak pidana di dalam masa percobaan dan penuntutan
itu kemudian berakhir dengan pemidanaan yang menjadi tetap. Jika
terjadi demikian, maka dalam waktu dua bulan setelah pemidanaan
menjadi tetap, hakim masih boleh memerintahkan supaya pidananya
dijalailkan, karena melakukan tindak pidana tadi.
Pranata hukum lainnya yang berkaitan dengan pemidanaan
adalah pelepasan bersyarat. Inti dari pelepasan bersyarat adalah
seorang narapidana dibebaskan sebelum masa menjalani hukuman
selesai dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Hal ini dimaksud agar
narapidana ketika selesai masa menjalani hukuman, yang bersangkutan
dapat diterima kembali oleh masyarakat di sekelilingnya. Oleh karena
itu Emile Durkheim menyatakan bahwa pidana dan pemidanaan tidak
terlepas dari kepentingan masyarakat, sebab pada akhirnya setelah
menjalani pidana, yang bersangkutan akan kembali hidup normal di
tengah masyarakat 1047•
Pelepasan bersyarat dalam KUHP diatur dengan beberapa
ketentuan, antara lain sebagai berikut: Pertama, narapidana
yang berhak mendapatkan pelepasan bersyarat adalah jika yang
bersangkutan telah menjalani dua pertiga dari lamanya pidana penjara
yang dijatuhkan kepadanya atau sekurang-kurangnya harus 9 bulan.
Kedua, [Link] pelepasan bersyarat, ditentukan pula suatu
masa percobaan, serta ditetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi
selama masa percobaan. Ketiga, masa percobaan lamanya sama dengan
sisa waktu pidana penjara yang belum dijalani, ditambah satu tahun.
Keempat, pelepasan bersyarat diberikan dengan syarat umum
bahwa narapidana tidak akan melakukan tindak pidana dan perbuatan
lain yang tidak baik. Kelima, selain syarat umum, boleh ditambahkan
juga syarat-syarat khusus mengenai kelakuan narapidana, namun tidak
mengurangi kemerdekaan beragama dan kemerdekaan berpolitik.
wcJ David Garland, 1990, Punishment And Modem Society; A Study In Social Theory, The
University Of Chicago Press, him. 23.
476 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Keenam, selama inasa percobaan, syarat-syarat dapat diubah atau
dihapus atau dapat dia~ syarat-syarat khusus bam dan juga dapat
diadakan pengawasan khusus. Ketujuh, jika narapidana yang diberi
pelepasan bersyarat selama masa percobaan tersebut [Link] hal-hal
yang melanggar syarat-syarat yang telah ditentukan, maka pelepasan
bersyarat dapat dicabut.
Kedelapan, jika tiga bulan setelah masa percobaan habis, pelepasan
bersyarat tidak dapat dicabut kembali, kecuali hila sebelum waktu
tiga bulan berlalu, narapidana dituntut karena melakukan perbuatan
pidana dalam masa percobaan, dan tuntutan berakhir dengan putusan
pidana yang menjadi tetap. Pelepasan bersyarat masih dapat dicabut
dalam waktu tiga bulan setelah putusan menjadi tetap berdasarkan
pertimbangan bahwa narapidana melakukan perbuatan pidana selama
masa percobaan.
Terkait pranata hukum pelepasan bersyarat atau pembebasan
bersyarat, haruslah dipahami bahwa hak tersebut adalah milik setiap
narapidana, akan tetapi tidak serta merta setiap narapidana harus
mendapatkannya. Hal ini tergantung apakah narapidana selama
menjalallkan proses pemasyarakatan berkelakuan baik ataukah tidak.
Oleh karena itu, kewenangan untuk memberikan hak tersebut ada pada
negara yang dalam hal ini adalah Menteri Kehakiman atau menteri yang_
berwenang untuk itu. Pemidanaan diterapkan hanya kepada pelaku
kejahatan sesuai dengan tingkat kejahatan yang dilakukannya1048•
Hukuman yang dimaksudkan di sini tidak hanya sebatas pidana penjara
yang harus dijalankan atau denda yang harus dibayarkan tetapi juga
termasuk perlakuan dalam pengertian pemberian hak-hak narapidana
disesuaikan dengan tingkat kejahatan yang dilakukan 1049•
Perbandingan di beberapa negara, penanganan pidana bersyarat
dan pelepasan bersyarat dilakukan oleh petugas khusus. Di Kanada,
petugas pidana bersyarat dan pembebasan bersyarat berkewajiban
mengawasi orang yang menjalani pidana bersyarat atau pembebasan
1048
Eddy O.S Hiariej, 2013, Pengetatan Remisi Dan Pembebasan Bersyarat, KOMPAS, 26 Juli
2013, him. 5.
1049
Charles F. Abel and Frank H. Marsh, 1984, Punishment And Restitution: A Restitutionary
Approach To Crime And The Criminal, Greenwood Press, him. 15.
PIDANA DAN PEMIDANAAN 477
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
bersyarat dengan cara berhubungan secara personal, baik dengan yang
bersangkutan maupun keluarganya, agar mereka tidak lagi melakukan
kejahatan dan berupaya merehabilitasi pelaku 1050•
Hal yang sania juga dilakukan di Amerika Serikat. Petugas pidana
bersyarat mempunyai peran penting yang membagi kewenangan
mereka ke dalam dua pelayanan, yaitu penyelidikan dan pengawasan.
Petugas tersebut menyelidiki dan mengawasi pelanggar hukum yang
sedang berada di masyarakat dan sedang menjalani pidana bersyarat
atau pembebasan bersyarat atau pengawasan bersyarat. Petugas
berupaya memastikan bahwa mereka yang sebelumnya terlibat
dalam pelanggaran hukum menjadi lebih ba~ dan patuh untuk tidak
mengulangi lagi perbuatan yang melanggar hukum 1051 •
Demikian pula yang dilakukan di Australia. Petugas pidana
bersyarat dan pembebasan bersyarat mempunyai tugas antara
lain: Pertama, mengurus dan mengawasi pelanggar hukum yang
mendapatkan fJembinaan berbasis masyarakat. Kedua, mengawasi
tahanan rumah melalui kunjungan rumah. Ketiga, mengempangkan
dan mengimplementasikan program pembinaan berbasis masyarakat
Keempat, mengatur klien yang ditempatkan pada pidana kerja sosial,
pidana denda, pidana pengawasan dan ganti rugi1052•
Di Perancis, pidana bersyarat dan pembebasan bersyarat ditangani
oleh lembaga khusus yaitu Rehabilitation And Probation Prison
Service. Lembaga tersebut berdiri pada tahun 1999 dan memberikan
pelayanan baik kepada orang dewasa maupun anak-anak yang berada
dibawah usia 18 tahun. Lembaga tersebut mempunyai tugas antara lain
membantu narapidana terhindar dari pengaruh negatif pemenjaraan.
Selain itu juga mendorong terjadinya hubungan yang erat antara
narapidana dengan keluarga dan kerabat Tugas lain adalah membantu
menyiapkan narapidana untuk program reintegrasi sosial 1053•
1050 Center For Detention Studies, [Link]., him. 56.
1051 Ibid, him. 53 -54.
ll&l Ibid, him. 52.
JGSJ Ibid, him. 49.
;!)itS·. PRINSJP-PRJNSIP HUKUM PIDANA
": • ·.1·;. ( .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
il. .PIDANA DAN PEMIDANAAN DALAM RANCANGAN KUHP
Pidana dan pemidanaan dalam Rancangan KUHP diatur pada
BAB III dengan judul Pemidanaan, Pidana dan Tindakan. Dalam bab
tersebut dikatakan bahwa tujuan pemidanaan antara lain: Pertama,
mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma
hukum demi pengayoman masyarakat. Kedua, memasyarakatkan
terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang
yang baikdan berguna. Ketiga, menyelesaikan konflikyang ditimbulkan
oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan
rasa damai dalam masyarakat. Keempat, membebaskan rasa bersalah
pada terpidana.
Sesuatu hal yang baru dalam rancangan KUHP dan tidak
dimiliki sebelumnya adalah terkait pedoman pemidanaan. Hal ini
sangat penting sehingga hakim dalam menjatuhkan pidana memiliki
parameter yang jelas. Adapun pedoman pemidanaan tersebut: Pertama,
kesaiahan pembuat tindak pidana. Kedua, motif dan tujuan melakukan
tindak pidana. Ketiga, sikap batin pembuat tindak pidana. Keempat,
tindak pidana yang dilakukan apakah direncanakan ataukah tidak
direncanakan. Kelima, cara melakukan tindak pidana. Keenam, sikap
dan tindakan penibuat sesudah melakukan tindak pidana. Ketujuh,
riwayat hidup, keadaan sosial, dan keadaan ekonomi pembuat tindak
pidana. Kedelapan, pengaruh pidana terhadap masa~depan pembuat
tindak pidana. Kesembilan, pengaruh tindak pidana terhadap korban
atau keluarga korban .. Kesepuluh, pemaafan dari korban dan/atau
keluarganya. Kesebelas, pandangan masyarakat terhadap tindak pidana
yang dilakukan.
Pidana pokok dalam RUU KUHP terdiri dari pidana penjara,
pidana tutupan, pidana pengawasan, pidana denda dan pidana kerja
sosial. Sedangkan pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat
khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. Adapun pidana
tambahan terdiri dari pencabutan hak tertentu, perampasan barang
tertentu dan/atau tagihan, pengurnuman putusan hakim, pembayaran
ganti kerugian dan pemenuhan kewajiban adat setempat atau kewajiban
menurut hukum yang hidup dahirn masyarakat.
PIDMJA DAN PEMIDANAAN 479
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Terkait pidana penjara, ada dua ketentuan bam yang belum
terdapat dalam KUHP sebelumnya: PerttJma, jika terpidana seumur
hidup telah menjalani pidana paling kurang 17 (tujuh belas) tahun
dengan berkelakuan baik maka terpidana dapat diberikan pembebasan
bersyarat. Kedua, pidana penjara sejauh mungkin tidak dijatuhkan: 1)
terdakwa berusia di bawah 18 tahun atau di atas 70 tahun; 2) terdakwa
baru pertama kali melakukan tindak pidana, kerugian dan penderitaan
korban tidak terlalu besar; 3) terdakwa telah membayar ganti kerugian
kepada korban; 4) terdakwa tidak mengetahui bahwa tindak pidana
yang dilakukan akan menimbulkan kerugian yang besar; 5) tindak
pidana terjadi karena hasutan yang sangat kuat dari orang lain; 6)
korban tindak pidana mendorong terjadinya tindak pidana tersebut;
7) tindak pidana tersebut merupakan akibat dari suatu keadaan yang
tidak mungkin terulang lagi; 8) kepribadian dan perilaku terdakwa
meyakinkan bahwa ia tidak akan melakukan tindak pidana yang
lain; 9) pidana penjara akan menimbulkan penderitaan yang besar
bagi terdakwa atau keluarganya; 10) pembinaan yang bersifat non-
institusional diperkirakan akan cukup berhasil untuk diri terdakwa;
11) penjatuhan pidana yang lebih ringan tidak akan mengurangi sifat
beratnya tindak pidana yang dilakukan terdakwa; 12) tindak pidana
terjadi di kalangan keluarga atau 13) terjadi karena kealpaan.
Perihal pidana pengawasan dalam RUU KUHP ditentukan
terhadap terdakwa yang melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara paling lama 7 tahun. Pidana pengawasan
dapat dijatuhkan kepada terdakwa mengingat keadaan pribadi dan
perbuatannya serta waktu paling lama 3 tahun. Dalam penjatuhan
pidana pengawasan dapat ditetapkan syarat-syarat antara lain: terpidana
tidak akan melakukan tindak pidana, terpidana dalam waktu tertentu
yang lebih pendek dari masa pidana pengawasan, harus mengganti
seluruh atau sebagian kerugian yang timbul oleh tindak pidana yang
dilakukan dan/ atau terpidana harus melakukan perbuatan atau tidak
melakukan perbuatan tertentu, tanpa mengurangi kemerdekaan
beragama dan kemerdekaan berpolitik.
480 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pengawasan [Link] oleh balai pemasyarakatan pada ke-
menterian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
hukum dan hak asasi manusia. Jika selama dalam pengawasan terpidana
melanggar hukum maka balai pemasyarakatan pada kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak
asasi manusia dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk
memperpanjang masa pengawasan yang lamanya tidak melampaui
maksimum 2 kali masa pengawasan yang belum dijalani. Jika selama
dalam pengawasan, terpidana menunjukkan kelakuan yang baik maka
balai pemasyarakatan pada kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia
dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memperpendek
masa pengawasannya. Apabila terpidana selama menjalani pidana
pengawasan melakukan tindak pidana dan dijatuhi pidana yang bukan
pidana mati atau bukan pidana penjara maka pidana pengawasan tetap
dilaksanakan. Bila terpidana dijatuhi pidana penjara maka pidana
pengawasan ditunda dan dilaksanakan kembali setelah terpidana
selesai menjalani pidana penjara.
Dalam RUU KUHP, pidana denda diatur dengan ketentuan-
ketentuan sebagai berikut. Pertama, pidana denda merupakan pidana
berupa sejumlah uang yang wajib dibayar oleh terpidana berdasarkan
putusan pengadilan. Kedua, Apabila tidak ditentukan minimum
khusus maka pidana denda · paling sedikit [Link],OO (seratus
ribu rupiah). Pidana denda paling banyak ditetapkan berdasarkan 6
kategori. Ketiga, penjatuhan pidana denda, wajib mempertimbangkan
kemampuan terpidana. Keempat, pidana denda dapat dibayar dengan
cara mencicil dalam jangka waktu sesuai dengan putusan hakim. Jika
pidana denda tidak dibayar penuh dalam jangka waktu yang ditetapkan
maka untuk pidana denda yang tidak dibayar tersebut dapat diambil
dari kekayaan atau pendapatan terpidana. Apabila pengambilan
kekayaan atau pendapatan tidak memungkinkan maka pidana denda
yang tidak dibayar tersebut diganti dengan pidana kerja sosial, pidana
pengawasan, atau pidana penjara.
PIDANA DAN PEMIDANAAN 481
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Adanya pidana denda dengan sistem kategori [Link] aliran
hukum pidana modern melal ui doktrin "punishment is equal and fi t
of the criminaf' yang [Link] pidana denda itu didasarkan pada:
kondisi alami dan lingkungan kejahatan serta alasan sejarah maupun
[Link] pelaku 1054 • Menurut Indriyanto Seno Adji, karakter hukurn
pidana yang sedemikian progresif akan melahirkan pendekatan rnelalui
metode penafsiran yang luas dan bersifat futuristik. Masih menurut
Indriyanto, pemahaman sistem pemidanaan yang demikian lebih
menitikberatkan pada perlindungan masyarakat1055•
Pidana pokok yang terakhir dalam RUU KUHP adalah pidana
kerja sosial. Menurut sejarahnya, pidana kerja sosial atau community
service order diwujudkan di Inggris pada tahun 1973. Kendatipun
demikian pada tahun 1969, gagasan pidana kerja sosial ini sudah dimulai
di Belanda, namun baru sebatas wacana. Saat itu muncul pemikiran
memberlakukan suatu pidana dengan cara bekerja tanpa bayaran demi
kepentingan umum seperti tenaga bantuan untuk pekerjaan-pekerjaan
di rumah sakit. Pidana kerja sosial di Belanda dikenal dengan istilah
diensverlening. Pidana kerja sosial di Belanda pertama kali diterapkan
di Arnhem dalam kasus tiga tukang besi. Mereka bertiga dijatuhi
pidana percobaan dengan syarat khusus melakukan kerja sosial 1056 •
Pidana kerja sosial di Belanda dalam perkembangannya me-
rupakan sanksi yang bersifat alternatif. Artinya, hakim dapat men-
jatuhkan pidana kerja sosial sebagai alternatif, jika terpidana dijatuhi
pidana maksimal 6 bulan. Pidana kerja sosial juga tidak dapat dijatuhi
sebagai alternatif terhadap seorang terpidana yang berstatus residivis.
Demikian pula pidana kerja sosial tidak dapat dijatuhi sebagai
alternatif pidana bersyarat, pidana denda atau kurungan pengganti.
[Link] argumentasinya, pidana kerja sosial dianggap lebih berat hila
dibandingkan dengan pidana bersyarat maupun pidana denda 1057•
1054 lndriyanto Seno Adji, 2014, Administrative Penal Law: "Ke Arah Konstruksi Pidana Limitatir
disampaikan dalam acara Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi •Asas-Asas Hukum
Pidana Dan Kriminologi Serta Perkembangan Dewasa lnr, Kerjasama Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada dengan Masyarakat Hukum Pidana Dan Kriminologi, Yogyakarta,
23- 27 Februari 2014, him. 6.
1055
Ibid., him. S.
11156 Jan Remmelink, Op. Ot., him. 478.
7
JIIS Ibid., him. 479 .
.482 . . HUKUM PIDANA
PRINSIP-PRINSIP
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pelaksanaan pidana kerja sosial di Swedia berada dibawah
tanggung jawab Swedish Prison And Probation Service, suatu direktorat
di bawah Departemen Kehakiman Swedia. Tugas daridirektorat tersebut
melakukan pembimbingan masyarakat (social wolker) baik terhadap
narapidana yang dijatuhi pidana bersyarat atau pidana kerja sosial,
maupun narapidana yang mendapatkan pembebasan bersyarat1058•
Demikian halnya di beberapa negara termasuk Australia yang mana
pelaksanaan pidana kerja sosial adalah berada dalam satu pengawasan
dengan pidana bersyarat dan pembebasan bersyarat1059•
Dalam konteks RUU KUHP, pidana kerja sosial dijatuhkan kepada
terpidana dengan mempertimbangkan pengakuan terdakwa terhadap
tindak pidana yang dilakukan, usia layak kerja terdakwa sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan, persetujuan terdak:wa
sesudah dijelaskan mengenai tujuan, dan segala hal yang berhubungan
dengan pidana kerja sosial, riwayat sosial terdakwa, perlindungan
keselamatan kerja terdak:wa dan keyakinan agama serta politik
. terdak:wa. Pelaksanaan pidana kerja sosial tidak boleh dikomersialkan.
Pidana kerja sosial dijatuhkan paling lama 240 jam bagi terdak:wa yang
telah berusia 18 dan 120 jam bagi terdakwa yang berusia di bawah 18
tahun. Pelaksanaan pidana kerja sosial dapat diangsur dalam waktu
paling lama 12 bulan dengan memperhatikan kegiatan terpidana
dalam menjalankan mata pencahariannya dan/atau kegiatan lain yang
bermanfaat. ..
Selain pidana pokok dan pidana tambahan, RUU KUHP juga
men genal tindakan. Tihdakan tersebut an tara lain: 1) perawatan di
nimah sakit jiwa; 2) penyerahan kepada pemerintah; atau 3) penyerahan
kepada seseorang. Tindakan lain yang dapat dikenakan bersama-sama
dengan pidana pokok adalah: 1) pencabutan surat izin mengemudi;
2) perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; 3)
perbaikan akibat tindak pidana; 4) latihan kerja; 5) rehabilitasi; dan!
atau 6) perawatan di lembaga.
1058
Center For Detention Studies, Op. Cit., him. 48.
1059
Ibid., him. 53.
PIDANA DAN PEMIOANAAN 483
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
E. MEDIAS! PIOANA
Sebagaimana yang telah [Link] dalam Bah I terkait keadilan
restoratif, salah satu pendekatan tertua dalam rangka mencapai keadilan
. restoratif adalah niediasi. Menurut Christa Pelikan dan Thomas
Trenczek, mediasi dapat diterapkan pada semua tahap dalam proses
peradilan pidana. Apakah pada tahap penyelidikan, penyidikan ataukah
penuntutan, bahkan sampai pada tahap persidangan. Di sebagain besar
negara Eropa program mediasi dibentuk sebagai model pengalihan.
Dengan demikian, penuntut umum berperan untuk mengajukan agar
kasus tersebut diselesaikan de~gan menerapkan mediasP060•
Mediasi pidana berkaitan erat dengan ide dan kebijakan
pengalihan yang digunakan sebagai instrumen untuk menangani kasus
- kasus ringan dan bukan untuk kasus berat Mediasi ini dimaksudkan
menghentikan proses acara pidana yang sedang berlansung. Oleh
karena itu, medtasi sama sekali tidak dimaksudkan untuk kejahatan
berat1061 • Kendatipun demikian, di Belgia mediasi dil~ tanpa
menghentikan proses pidana yang sedang berjalan. .Hal ini dikenal
dengcm dual track restorative justice. Mediasi berjalan bersamaan
atau paralel dengan proses pidana. Dalam hal ini, mediasi bukanlah
substitusi dari proses pidana, melainkan sebagai komplementer yang
akan mempengaruhi putusan pidana1062•
Mediasi pidana fokus pada kesalahan yang telah dilakukan. Sebagai
misal, seorang istri telah dipukul oleh suaminya sehingga tindakan
tersebut dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana kekerasan dalam
rumah tangga. Para pihak - dalam hal ini suami dan istri - setuju
untuk mediasi. Dalarn kasus ini ada dua hal penting. Pertama, fakta
bahwa ada kekerasan serius yang dilakukan oleh suami terhadap istri. .
Kedua, dalam media5i yang melibatkan kedua belah pihak, perlu
penjelasan bersama dari fakta-fakta tersebut. Istri sebagai korban
- Dennis Sulivan And Larry Tifft, [Link]., him. 63.
JD61 Ibid, him. 82
1liR Ibid., him. 83
~:48(
·.
:
;·
:;.:.-f~
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
: ;~.~ : : .~··..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
dapat menjelaskan bagaimana kekerasan tersebut berdampak terhadap
dirinya, sedangkan suami mungkin dapat menjelaskan mengapa dia
melakukan hal tersebut Penjelasan suami cenderung terkait hal-hal
meringankan, namun tidak boleh berargumen bahwa tindakannya
tersebut dibenarkan. Hal ini bebrbeda dengan inediasi perdata yang
.tidak berorientasi pada kesalahan namun difokuskan pada negosiasi
dan kompromi dalam menyelesaikan sengketa antara para pihak1063•
Mediasi pidana bertujuan untuk menyadarkan pelaku bahwa
tindak pidana yang dilakukannya itu salah dan juga untukmenyadarkan
bahwa korban perlu direparasi. Bila dihubungan dengan definisi
pemidanaan, pada hakikatnya mediasi pidana juga sebagai suatu yang
dengan sengaja membebani dan menyakitkan yang dijatuhkan terhadap
pelaku untuk tindakan pidana yang telah dilakukannya. Mediasi pidana
berada dibawah naungan hukum pidana dan wewenarig dalam proses
peradilan pidana.
Beberapa argumentasi bahwa mediasi pidana haruslah dilihat
sebagai pemidanaan dan dapat berfungsi untuk mencapai tujuan yang
layak dari pemidanaan itu sendiri. Pertama, mediasi adalah proses
komunikatif. Prosedurnya terdiri dari komuniaski antara korban dan
pelaku mengenai implikasi pidana, sebagai sebuah kejahatan terhadap
korban. Kedua, mediasi pidana adalah retributif. Hal iifi memaksakan
penderitaan yang layak bagi pelaku atas tindakan pidana yang
dilakukannya.
Ketiga, reparasi yang dilakukan pelaku adalah sebuah tipe dari
perlakuan hukuman keras yang dengan sengaja dirancang untuk
membebani, menguras waktu, uang atau tenaga dan kebebasan dari
pelaku. Keempat, walaupun mediasi pidana adalah retributif, melihat
kembali pada tindak pidana di masa lalu, namun juga mengarah ke
masa depan. Hal ini bertujuan untuk mendamaikan pelaku dan korban
melalui reparasi penyesalan dari pelaku. Hal ini pun bertujuan untuk
1063
Andrew von Hirsch, Julian V. Roberts; Anthony Bottoms, Kent Roach And Mara Schiff,
[Link]., him. SO.
PIOANA DAN PEMIDANAAN 485
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
mencegah pelaku melakukan tindak pidana di masa mendatang 1064 •
Dalam mediasi pidana, ada tiga hal yang wajib diperhatikan.
Pertama adalah kepuasan dari korban kejahatan atas reparasi yang
dibebankan kepada pelaku. Kedua adalah fairness sebagai dasar
dari justice. Artinya, antara korban dan pelaku merasa puas atas
penyelesaian masalah. Di satu sisi, korban merasa puas atas reparasi
yang dilakukan sebagai dampak kejahatan terhadap dirinya, sedangkan
di sisi lain pelaku merasa puas atas reparasi yang dilakukan terhadap
korban sebagai bentuk penyesalan atas kejahatan yang dilakukannya.
Ketiga, restitusi dalam pengerti~ ganti rugi secara materiil oleh pelaku
terhadap korban 1065•
Berikut ini adalah perbandingan mediasi pidana di beberapa
negara Eropa. Pertama, Albania. Pada bulan Maret 1999, Albania
mengesahkan 'Law on Mediation in Conflict Resolution and
Reconciliation of Disputes'. Undang-undang tersebut pada intinya
mengatur tentang mediasi pidana. Undang-undang tersebut diikuti
oleh pengesahan 'Law on Mediation in Dispute Resolution'. Mediasi
pidana merupakan prosedur altematif yang dapat diminta oleh pihak
yang telah dirugikan dan direkomendasikan oleh pihak polisi, penuntut
umum atau pengadilan dan dilaksanakan oleh lembaga yang terdaftar
dan diizinkan oleh kementerian kehakiman 1066•
Kedua, Austria. Mediasi pidana di Austria pertama kali diper-
kenalkan dalam Juvenile Law pada tahun 1988. Pada tanggal25 Febuari
1999, the National Assembly mengesahkan Code of Criminal Procedure
yang telah diamandemen dan diberlakukan pada tanggal 1 Januari
2000. Amandemen tersebut memberikan beberapa metode pengalihan
serta dasar hukum mediasi pidana untuk korban dan pelaku. Mediasi ·
pidana dterapkan baik untuk kejahatan yang dilakukan oleh juvenile
maupun orang dewasa. Mediasi pidana hanya dianggap sebagai metode
1064
Ibid, him. 54 - 55
1065 Dennis Sulivan And Larry Tifft, [Link]., him. 66.
1066
Ibid., him. 68
;..•':48tf
·..
. PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
.o::~·; ·:--.:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
sekunder oleh hakim dan syarat-syarat mediasi antara pelaku dan
korban ditentukan oleh penuntut umum1067•
Ketiga, Ceko. Mediasi pidana dituangkan dalam 'Law on Probation
and Mediation Service' yang mulai berlaku pada tanggall Januari 2001.
Setahun kemudian Ceko melakukan amandemen Criminal Procedural
Law yang membuka kemtmgkinan untuk mengajukan mediasi pada
tahap penyidikan. Mediasi didefinisikan .sebagai cara alternatif di luar
pengadilan untuk menyelesaikan permasalahan antara korban dan
pelakunya. Selain itu, mediasi juga dipergunakan sebagai pengalihan
dari prosedur pidana serta cara lain untuk menentukan hukuman
tambahan yang bersifat rehabilitati£1 068•
Keempat, Perancis. Mediasi di Perancis mulai diperkenalkan
pada tahun 1999 yang dilakukan oleh suatu lembaga khusus. Mediator
pada lembaga khusus itulah yang menghubungkan para pihak dengan
penuntut umum. Ada beberapa lembaga mediasi di Perancis yang dapat
bertindak sebagai mediator dengan syarat lembaga tersebut diakui oleh
penuntut umum dan ketua pengadilan negeri setempat. Kasus yang
dapat dimintakan mediasi tidak sebatas pelanggaran atau kejahatan
ringan tetapi juga kejahatan menengah seperti pencurian, perkelahian,
penganiayaan dan pelanggaran terhadap lingkungan hidup 1069•
Kelima, Jerman. Di Jerman, mediasi dikenal denian istilah Tater-
Opfer - Ausgleich yang berarti keseimbangan korban - pelaku. Bentuk
mediasi pertama dilakukan pada tahun 1985 terhadap kejahatan
dengan pelaku anak di bawah umur. Mediasi di Jerman juga dilakukan
oleh lembaga atau pusat-pusat mediasi yang memperkerjakan mediator
profesional, serta pelayanan pengadilan yang menyediakan medi~i.
Dalam sistem peradilan pidana, kendatipun Jerman menerapkan
'prinsip legalitas' yang pada umumnya, penuntutan terhadap suatu
kejahatan diutamakan, namun terdapat beberapa syarat untuk
melakukan penuntutan tersebut.
1067
Ibid., him. 69
1068
Ibid., him. 70
1069
Ibid., him. 71
PIDANA DAN PEMIDANMN 487
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Dalarn kasus-kasus yang melibatkan anak sebagai pdaku, penuntut
dapat memilih untuk tidak melakukan prosedur formal apabila pelaku
anak meminta untuk mendapatkan kesempatan rekonsiliasi dengan
korbannya. Akan tetapi untuk kasus yang melibatkai1 orang dewasa,
penuntut umum boleh mernilih rnediasi pada kasus ringan apabila
diinginkan para pihak. Pada tahun 1994 berdasarkan Pasal 46a StGB
(German Criminal Code), hakirn tidak dapat menjatuhkan pidana atas
tindak pidana dengan ancaman kurang dari satu tahun apabila pelaku
telah berinisiatif untuk melakukan mediasP 070•
Keenam, Finlandia. Mediasi di Finlandia dilakukan oleh lembaga
khusus di tingkat lokal yang resmi diakui oleh pemerintahan daerah
setempat. Mediasi pidana dapat diusulkan oleh polisi pada tahap
penyidikan, atau direkornendasikan penuntut umum pada tahap
persidangan dan oleh hakim sebelum penjatuhan pidana. Mediasi
dapat dilakukan terhadap kejahatan apapun yang memungkinkan
adanya kompensasi atas kerugian yang ditirnbulkannya dan di mana
para pihak bersedia untuk berpartisipasi dalam mediasP 071 •
Ketujuh, Italia. Di Italia, rnediasi hanya dilakukan terhadap
pelanggaran ringan atau kejahatan yang sanksinya berupa kurungan
rurnah atau pelayanan masyarakat. Para pihak bisa rnelakukan mediasi
sendiri atau dengan bantuan profesional dari The Justice of Peace yang
memiliki pendidikan hukurn dan telah lulus ujian pelatihan 6 bulan.
Dalam peradilan juvenile atau anak, ada kemungkinan di mana hakim
membatalkan prosedur formal dan memilih untuk menerapkan masa
percobaan bagi terdakwanya. Di mana masa percobaan ini diawasi oleh
pelayanan sosial, dan rekonsiliasi serta reparasi menjadi persyaratan
dalam percobaan tersebut. Dalam hal ini, pelayanan sosial bertugas
untuk mengevaluasi sang pelaku10n.
Kedelapan, Belanda. Di Eropa, Belanda adalah salah satu negara
yang terkenal dengan berbagai kretifitasnya di bidang peradilan pidana
dan dalam memediasi konflik. Belanda menerapkan sebuah pendekatan
101G Ibid., him. 72
1011 Ibid., him. 73
ID72 Ibid., him. 74
·.488 · PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
bemama HALT (het alternatiej) atau altematif yang dilaksanakan oleh
polisi. Pendekatan ini fokus pada restitusi materiil. Mediasi merupakan
pilihan pengalihan yang dapat diterapkan pada tahap penyidikan yang
· berarti ditangani oleh polisi atau pada tahap persidangan yang akan
ditangani oleh penuntut umum. Mediasi yang sukses akan diikuti oleh
penebusan kepada korban. Konsekuensi lebih lanjut, kasusnya akan
dibatalkan namun hanya untuk kasus-kasus ringan. Terhadap kasus
berat, mediasi pidana hanya akan digunakan sebagai pertimbangan
dalani p~njatuhan hukuman. 1073
Kesembilan, Norwegia. Mediasi pidana di Norwegia menempati
urutan teratas di Eropa sehingga dianggap sebagai pemimpin ·
perkembangan mediasi di Eropa. Berbagai peraturan yang dikeluarkan
di Norwegia memperluas diskresi penuntut umum untuk melakukan
mediasi dan menghentikan tindakan lebih lanjut terhadap pelaku.
Sejak 1 Januari 2004, mediasi dimasukkan dalam sistem peradilan
pidana, baik untuk pelaku anak maupun orang dewasa. Mediasi
digunakan sebagai pilihan pengalihan yang diterapkan oleh jaksa di
tingkat kepolisian.
Kesepuluh, Polandia. Perubahan mendasar pada hukum pidana
dan hukum acara pidana di Polandia terjadi pada tahun 1997 dengan
adanya amandemen terkait mediasi pidana. Mediasi dapat dilakukan
oleh penegak hukum, individu maupun lembaga khusus. Mediasi .
untuk kasus-kasus yang melibatkan anak sebagai pelaku dilakukan
oleh hakim, sedangkan mediasi dengan pelaku orang dewasa ditangani
oleh penuntut umum. · Pelayanan mediasi di Polandia dilaksanakan
oleh Polish Center ofMediation 1074•
Kesebelas, Slovenia. Pengaturan mediasi pidana di Slovenia _
terdapat dalam Code ofCriminal Procedure. Mediasi dilakukan terhadap
kasus-kasus juvenile dan membuka kemungkinan diterapkan pada
tahap-tahap akhir dari proses pidana. Mediator di Slovenia berbasis
kesukarelaan dan hanya diwajibkan untuk mengikuti pelatihan
selama beberapa hari. Mediasi merupakan pilihan pengalihan yang
1011
Ibid, him. 75
1014
Ibid., him. 76
PIOANA DAN PEMIDANAAN 489
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
· diajukan oleh penuntut umum yang dapat diajukan pada semua tahap
proses pidana sampai saat dijatuhkan vonis dan hanya untuk kasus-
kasus ringan. Mediasi dimulai dengan adanya kesepakatan tertulis
dari kedua belah pihak dalam hal ini korban dan pelaku 1075• Dalarn
perkembangannya, mediasi dapat diajukan untuk kasus - kasus
yang diancam pidana paling lama 3 tahun penjara. Demikian juga
penuntut umum dapat mengajukan mediasi untuk kasus - kasus
juvenile yang ancaman hukumannya tidak lebih dari 5 tahun. Mediasi
juga dapat dilakukan terhadap kasus-kasus seperti penganiayaan yang
mengakibatkan luka berat, pencurian, penggelapan, pengrusakan dan
perbuatan yang menyebabkan cedera berat yang sangat serius pada
orang lain 1076•
Keduabelas, Inggris dan Wales. Mediasi dalam sistem peradilan
pidana di Inggris dan Wales dapat diterapkan bagi semua usia dan
pada semua proses peradilan pidana. Mediasi merupakan salah satu
strategi nasionallmtuk mempromosikan keadilan restoratif. Termasuk
dalam mediasi adalah kesepakatan diantara para pihak untuk restitusi,
rekonsiliasi dan rehabilitasi1077•
Berdasarkan ulasan di atas terkait mediasi pidana, ada beberapa
catatan Penulis. Pertama, mediasi pidana merupakan salah satu
pendekatan untuk tercapainya keadilan restoratif. Kedua, tidak ada
keseragaman di berbagai negara dalam hal mediasi pidana, baik terkait
perkara-perkara yang dapat diterapkan mediasi, maupun menyangkut
pelaksanaanya sendiri. Ketiga, mediasi pidana pada hakikatnya
telah sesuai dengan paradigma hukum pidana moderen yang tidak
lagi berorientasi pada aspek retributif atau pembalasan namun lebih
menekankan pada aspek korektif, rehabilitatif dan restoratif. Korektif
berkaitan dengan kesalahan pelaku yang harus dikoreksi. Sementara
rehabilitatif adalah dalam rangka memperbaiki pelaku agar tidak lagi ..
mengulangi perbuatannya di masa mendatang. Sedangkan restoratif
menitikberatkan pada pemulihan korban kejahatan.
1075 Ibid., him. n
1076
Ibid., him. 78
1077
Ibid., him. 79
~:j9ffi:· PRINSIP·PRINSIP HUKUM PJOANA
: :_·:· }~~\:?~. ·.· .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
i .;~ · "S-! , : . ':"···~ :-: ·~ . ·.::: :- . • · . .. • • ·; . •. ·••. ·":> .· . .• ·. . ·:. . .
DAFTAR PUSTAKA
Abel, Charles F. and Marsh, Frank H., 1984, Punishment And Restitution: A
Restitutionary Approach To Crime And The Criminal, Greenwood
Press.
Agustina, Shinta, 2006, Hukum Pidana Internasional, Andalas University
Press, Padang.
Alfredson, Gudmundur, and Eide, Asbjorn, (Editor), 1999, The Universal
Declaration OfHuman Rights: A Common Standard OfAchievment,
Martinus Nijhoff Publishers, The Hague/Boston/London.
Ali, Mahrus, 2008, Kejahatan Korporasi; Kajian Relevansi Sanksi Tindakan
Bagi Penanggulangan Kejahatan Korporasi, Cetakan Pertama,
Arti Bumi Antaran.
_ __,.2011, Hukum Pidana Korupsi di Indonesia;CetakanPertama, UII
Press, Yogyakarta.
An-Na'im, Abdullahi A., (Editor), 2002, Cultural Transformation And
Human Right In Africa, Zed Books Ltd, London - New York.
Anckar, Carsten, 2004, Determinants OfThe Death Penalty: A Comparative
..
Study Of7he World, Routledge Taylor & Francis Group, London &
New York.
Arief, Barda Nawawi, 2003, Kapita Selekta Hukum Pidana, PT. Citra
Aditya Bakti, Semarang.
_ _ _ _ __, 2005, Masalah Kodifikasi, Unifikasi Dan Konsep Ajaran
Sifat Melawan Hukum Material Dalam RUU KUHP, Focus Group
Discussion terhadap RUU KUHP, Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, Yogyakarta, 25 Juni 2005.
_ _ _ _ _ __, 2011, Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum
Pidana, Penerbit Pustaka Magister, Semarang.
Ashworth, Andrew, & Wasik, Martin, 1998, .Fundamentals Of Sentencing
Theory, Clarendon Press - Oxford.
DAFTAR PUSTAKA 491
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Atmasasmita, Romli, 2003, Pengantar Hukum Pidana Jnternasional,
Refika Aditama, Bandung.
- - - - - - - , 2007, Teori Dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika
Aditama, Bandung.
_ _ _ _ _ _ _ __, Perampasan Aset Melalui Pembuktian Terbalik:
Studi Perbandingan Hukum Pidana, Makalah pada Focus Group
Discussion yang diselenggarakan oleh Markas Besar Kepolisian
Republik Indonesia, Hotel Borobudur, Jakarta, 10 Maret 2011.
_ _ _ _ __, dalam Kejahatan Transnasional Dan Internasional Serta
Implikasi Terhadap Pendidikan Hukum Pidana Serta Kebijakan
Hukum Pidana Di Indonesia, Asosiasi Pengajar Hukum Pidana
Dan Kriminologi Indonesia, 2008, Perkembangan Hukum Pidana
Dalam Era Globalisasi, Perum Percetakan Negara Rl.
Baird, Robert M. And Rosenbaum, Stuart E., 1995, Punishment And
Death Penalty: The Current Debate, Prometheus Books, Canada.
Bakry, Oemar, 198~, Tafsir Rahman, Mutiara, Jakarta.
Bassiouni, M. Cherif, 2003, Introduction To International Criminal Law,
Transnational Publisher, Inc. Ardsley New York.
Bauman, Richard A., 1996, Crime And Punisment In Ancient Rome,
Routledge 29 West 35th Street, New York.
Beccaira, Cesare, 2011, Perihal Kejahatan Dan Hukuman, Genta
Publishing, Yogyakarta.
Bedau, Hugo Adam, 1965, The Death Penalty In America: An Anthology,
Aldine Publishing Company, Chicago.
- - - - - - - - , 1977, The Courts, The Constitution And Capital
Punishment, Lexington Books D.C Heath And Company
Lexington, Massachusetts, Toronto.
Bedau, Hugo Adam, And Cassel, Paul G., 2004, Debating The Death
Penalty: Should America Have Capital Punisment?, Oxford
University Press.
Beirne, Piers, And Messerschmidt,James, 1995, Criminology,second
edition, Hardcourt Brage College Publisher.
Bentham, Jeremy, 2006, Teori Perundang-Undangan: Prinsip-Prinsip
Legislasi, Hukum Perdata Dan Hukum Pidana, Penerjemah
Nurhadi, Nuansa, Bandung.
492 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Bertens, T., 2010, Strafrecht & Strafvordering, Ars Aequi Libri, Nijmegen.
Black Jr, Charles L., 1974, Capital Punishment: Th~ Inevitability OfCaprice·
And Mistake, Second Edition, Augmented, W.W. Norton &
Company Inc, New York.
Boot, Machteld, 2001, Nullum Crimen Sine Lege and the Subject Matter·
Jurisdiction of the International Criminal Court: Genocide, Crimes
Against Humanity, War Crimes, Intersentia, Antwerpen-Oxford -
New York.
Broers, 1"933, Engels Woordenboek, Tweede Deel Nederlands-Engels, J.B.
Wolters' Uitgeversmaatschappij, Groningen- B~tavia.
Carrabine, Eamonn, Iganski, Paul, Lee, Maggy, Plummer, Ken And
South, Nigel, 2004, Criminology : A Sociological Introduction,
Ruotledge Taylor & Francis Group, New York And London
Cassese, Antonio, 2003, International Criminal Law, Oxford University
Press.
Center For Detention Studies, 2011, Naskah Akademik Rancangan
Undang-Undang Pemasyarakatan Tentang Balai Pemasyarakatan
Dan 1im Pembina Pemasyarakatan.
Chazawi; Adami, 2007, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1, PT Raja
Grafindo Persada Jakarta.
Cragg, Wesley, 1992, The Practice Of Punishment: Towards a theory of
restorative justice, Routledge London And New York.
Erley, John E.C, 1985, Major Legal Systems In The World Today, Third
.Edition, Stevens & Sons, London.
Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia,
2013, Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, Direktorat Jenderal Hukum Dan Perundang-Undangan.:
Dicks, Shirley, 1991, Congregation Of1he Condemned: Voices Against The
Death Penalty, Prometheus books Buffalo, New York.
Dignan, James, 2005, Understanding Victims And Restorative Justice, Open
University Press.
Duff, R.A., 2001 , Punishment, Communication And Community, Oxford
University Press.
El - Dakkak, [Link], 2000, State's Crimes Against Humanity: Genocide,
Deportation And Torture: From The Prespectives Of International
And Islamic Laws, A.S. Noordeen.
OAFTAR PUSTAKA 493
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
ELSAM, 2000, Statuta Roma: Mahkamah Pidana Internasional, ELSAM,
Jakarta.
Elzinga, D.J., van Rest, PH.S., de Valk. J., 1995, Het Nederlandse Politierecht,
Tjeenk Willink Zwole.
Enschede, Ch.J., 2002, Beginselen Van Strafrecht, Kluwer, Deventer.
Fadri, lza, Tinjauan Kritis Terhadap Konsep Perubahan RUU Tindak
Pidana Pencucian Uang, dalam Jurnal Legislasi Indonesia, Volume
3 Nomor 3, September 2006.
Ferguson Jr, John E., 2010, White-Collar Crime, Chelsea House Publisher.
Finch, John, 1979, Introduction To Legal Theory, Sweet & Maxwell, London.
Findlay, Mark, 2004, The [Link] Of Crim~, Cambridge, University
Press
Fletcher, George P., 1998, Basic Concepts Of Criminal Law, Oxford
University Press, New York-Oxford.
- - - - - ,)000, Rethinking Criminal Law, Oxford University Press.
Garland, David, 1990, Punishment And Modern Society; A Study In Social
Theory, The University Of Chicago Press.
Gamer, Bryan A,, 1999, Black's Law Dictionary, Seventh Edition, West
Group, St. Paul Minn.
Gerstenfeld, Phyllis B., 2008, Crime & Punishment In 1he United States,
Salem Press, Inc., Pasadena, California Hackensack, New Jersey.
Gijssels, Jan, 1982, Wat is Rechtsteorie, Kluwer Rechtswetenschappen,
Atwerpen.
Gillisen, John, Dan Gorle, Prist, 2005, Sejarah Hukum: Suatu Pengantar,
Refika Aditama, Bandung.
Gunarto, Marcus Priyo, 2014, Alasan Penghapus Pidana, Alasan Penghapus
Penuntutan Dan Gugurnya Menjalani Pidana, Makalah Pada
Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi yang diselenggarakan
atas kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
dengan Masyarakat Hukum Pidana Dan Kriminologi Indonesia,
Yogyakarta, 23-27 Februari 2014.
Hagen, Frank E., 2013, Pengantar Kriminologi: Teori, Metode Dan Perilaku
Kriminal, Edisi Ketujuh, Kencana Prenadamedia Group, Jakarta
494 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PI DANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Haines, Herbert H., 1996, Against ..Capital. Punishment: 1he Anti-Death
Penalty Movement In America, 1972-1994, Oxford . University
Press, New York.
Hall, Jerome,1958, General Principles Of Criminal Law, Second Edition,
The Bobbs-Merrill. Inc. A Subsidary Of Howard W. Sams & Co.,
Inc. Publishers. Indianapolis. New York.
Hamdan, H.M., 2012, Alasan Penghapus Pidana, Teori dan Studi Kasus,
Refika Aditama, Bandung.
HaDW\h, Andi, 1986, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia.
_ __.1995, Perbandingan Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta.
- - - - , 2008, Penegakan Hukum Lingkungan, Cetakan Kedua, Sinar
Grafika, Jakarta.
_ _ __, 2014, Beberapa Hal Dalam Rancangan KUHAP, disampaikan
dalam acara Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-
Asas Hukum Pidana Dan Kriminologi Serta Perkembangan Dewasa
Ini~Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan
Masyarakat Hokum Pida,na Dan Kriminologi, Yogyakarta, 23-27
Februari 2014.
--~ dalam Pembangunan Hukum Pidana Indonesia, Asosiasi Pengajar
Hukum Pidana Dan Kriminologi Indonesia, 2008, Perkembangan
Hukum Pidana Dalam Era Globalisasi, Perum Percetakan Negara
RI, Jakarta.
Hanski, Raija, and Suksi, Markku, (Editor), 2000, An !~traduction To The
International Protection OfHuman Rights, Second, revised edition,
Institute for Human Rights Abo Academy University.
Harkrisnowo, Harkristuti, 2003, Rekonstruksi Konsep Pemidanaan: Suatu
Gugatan Terhadap Proses Legislasi Dan Pemidanaan Di Indonesia,
Orasi Pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Tetap Dalam Ilmu
Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 8 Maret
2003.
Hart, H.L.A, 2009, Law, Liberty And Morality, Genta Publishing,
Yogyakarta.
Hiariej, Eddy O.S., 2000, Pernyataan Papua Merdeka Dan Makar,
BERNAS, Kamis 8 Juni 2000.
_ _ _ _ __, 2002, Kilas Balik Dan Rencana Abolisi Kasus Soeharto,
KOMPAS, 8 Januad 2002.
OAFTAR PUSTAKA 495
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
- - - - - · 2003, Kinerja Polis;, Surat Kabar Harian KOMPAS, Kamis,
6 November 2003.
- - - - - - -:• 2005, Crim1~al justice System In Indonesia, Between
Theory And Reality, Asia Law Review Vol.2, No. 2 December 2005,
Korean Legislation Research Institute.
_ _ _ _ _ _, 2007, Pemikiran Remmelink Mengenai Asas Legalitas,
Jentera Jurnal Hukum, Edisi 16-tahun IV, April-Juni 2007.
_ _ _ __., 2009, "Penghentian Perkara~ KOMPAS, 19 November 2009.
_ _ _ _ _, 2009, Asas Legalitas Dan Penemuan Hukum Dalam Hukum
Pidana, Penerbit Erlangga.
_ _ _ _ _ _, 2009, Pengantar Hukum Pidana Internasional, Penerbit
Erlangga.
_ _ _ _ _ , 2011, Upaya Memulangkan Nunun, KOMPAS, 5 Juli 2011.
_ _ _ _ _ _ , 2012,_Pembuktian Terbalik Dalam Pengembalian Aset
Kejahatan Korupsi, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 30 Januari
2012.
- -- - - - - · 2013, Pengetatan Remisi Dan Pembebasan Bersyarat,
KOMPAS, 26 Juli 2013.
Hood, Roger, 1998, The Death Penalty: A Worldwide Perspective, Clarendon .
Press Oxford.
Huda, Chairul, 2006, Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju
Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan;
Tinjauan Kritis Terhadap Teori Pemisahan Tindak Pidana dan
Pertanggungjawaban Pidana, Kencana Prenada Media, Jakarta.
Human Right Watch, 2004, Genocide, War Crimes And 'Crimes Against
Humanity : Topical Digests Of The Case Law Of The International
Criminal Tribunal For Rwanda And The International Criminal
Tribunal For The Former Yugoslavia, diterjemahkan oleh ELSAM,
. 2006, him. xvii-xxi.
Husein, Yunus, 2007, Bunga Rampai Anti Pencucian Uang, Cetakan
Pertama, Books Terrace & Library, Bandung.
International Institute Of Human Rights, 2001, International Protection Of
Human Rights, Collection Of Texts, First week, Allee Rene Cassin,
Strasbourg, France.
496 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
- - - - - - - - - - - - - - 20Ql, International Protection
Of Human Rights, CoUection Of Texts, Second week, Allee Rene
Cassin, Strasbourg, France.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __, 2001, International Protection Of
Human Rights, Collection OJ Texts, Third week, Allee Rene Cassin,
Strasbourg, France.
Istanto,Sugeng, 1998, Hukum Internasional, Penerbitan Universitas Atma
Jaya Yogyakarta.
Jenie, Siti Ismijatie, Itikad Baik, Perkembangan Dari Asas Hukum Khusus
Menjadi Asas Hukum Umum Di Indonesia, Pidato Pengukuhan
Jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, 10 September 2007.
Jonkers, J.E., 1946, Handboek Van Het Nederlansch-Indische Strafrecht,
E.J. Brill, Leiden.
Kartanegara, Satochid,(tanpa tahun), Hukum Pidana, Balai Lektur
Mahasiswa.
Kasim, Ifdhal, 2001, Hak Sipil Dan Politik; Esai-Esai Pilihan, ELSAM,
Jakarta.
Kelsen, .Hans, 1944, General Theory OJ Law And State, Russell & Russell,
New York.
King, M., 1981, A Framework Of Criminal Justice, Croom Helm.
Krisnawati, Dani, Hiariej, Eddy O.S., Gunarto, Marcus Priyo, Riyanto,
..
Sigid, Dan Supriyadi, 2006, Bunga Rampai Hukum Pidana Khusus,
Pena: ilmu dan amal, Jakarta.
Lafave, Wayne R., 2019, Principle OJ Criminal Law, West A Thomson
Reuters Business.
Larnintang, P.A.F, 1990, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Penerbit
Sinar Baru Bandung.
Lanier, Mark M. And Henry, Stuart, 2010, Essential Criminology, Third
Edition, Westview Press
Lee, Roy S., 1999, The International Criminal Court: The Making oJThe Rome
Statute; Issues, Negotiations, Results, Kluwer Law International, The
Hague-London-Boston.
Lembaga Alkitab Indonesia, 2000, Alkitab Dan Kidung ]emaat, cetakan
ked ua.
DAFTAR PUSTAKA 497
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Loewy, Arnold H., 2009, Criminal Law In A Nutshell, Fifth Edition, West,
A TI1omson Reuters Business.
Mannheim, Herman, 1955, Group Problems In Crime And Put~isrn en t,
Routledge And Kegan Paul Limited Broadway House, 68 - 74
Carter Lane London.
Matravers, Matt, 2000, Justice And Punishment; The Rationale Of Coercion,
Oxford University Press.
Mcleod, Ian, 1999, Legal Theory, Macmillan, London.
MD, Mob. Mahfud, 2006, Beberapa Catatan Tentang Putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor 003/PUU-IV /2006 Ten tang Perbuatan Melawan
Hukum Secara Materiil, Disampaikan dalan1 diskusi publik
Eksaminasi Putusan Mahkamah Konstitusi dengan perkara nomor:
003/PUU-IV/2006 Tentang Pengujian Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, Kerjasama Pusat Kajian Anti-Korupsi Fakultas
Hukum UGM, Badan Penerbit Pers Mahasiswa MAHKAMAH
dan IndoneSian Court Monitoring, Yogyakarta, 24 Agustus 2006.
Mertokusumo, Sudikno, 2001, Penemuan Hukum, sebuah pe~gantar,
Liberty, Yogyakarta
Miller, Karen S., 2006, Wrongful Capital Convictions And The Legitimacy
. OJ The Death Penalty, LFB Scholarly Publishing LLC, New York.
Moeljatno, 1955, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungan Jawab Dalam
Hukum Pidana, Pidato diucapkan pada upacara peringatan Dies
Natalis ke VI Universitas Gadjah Mada, di Sitihinggil Yogyakarta
pada tanggall9 Desember 1955.
_ , 1985, Hukum Pidana Delik-DelikPercobaan Delik-Delik Penyertaan,
PT. Bina Aksara, Jakarta.
_ , 2009, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta.
Montesquieu, 2007, The Spirit Of Laws: Dasar-Dasar Ilmu Hukum Dan .
Ilmu Politik, Penerjemah: [Link] Anam, Nusamedia.
Muladi, 2005, Hak Asasi Manusia: Hakekat, Konsep Dan Implikasinya
Dalam Prespektif Hukum Dan Masyarakat, Refika Aditama,
Bandung.
Muladi dan Arief, Barda Nawawi, 1992, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana,
Penerbit Alumni Ban dung.
498 .· PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Muladi dan Priyatno, Dwidja, 2010, Pertanggungjawaban Pidana
Korporasi, Cetakan Pertama, Kencana Prenada Media Group,
Jakarta.
Muladi dan RS, Diah Sulistyani, 2013, Pertanggungjawaban Pidana
Korporasi (Corporate Criminal Responbility), Penerbit P.T Alumni
-Band1mg.
Mulhadi, 2010, Hukum Perusahaan; Bentuk-Bentuk Badan Usaha di
Indonesia, Ghalia, Bogor.
Nasution, Adnan Buyung Dan Zen, A. Patra M., (Penyunting), 2006,
Instrumen Internasional Pokok Hak Asasi Manusia, Yayasan Obor
Indonesia, Jakarta
Nitibaskara, Tb. Ronny Rachman, 2014, Etnografi Kejahatan Di
Indonesia Suatu Cerminan Pendekatan Multidisipliner Dalam
Kriminologi, disarnpaikan dalarn acara Pelatihan Hukum Pidana
Dan Kriminologi "Asas-Asas Hukum Pidana Dan Kriminologi
Serta Perkembangan Dewasa Ini", Kerjasama Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada dengan Masyarakat Hukum Pidana Dan
Kriminologi, Yogyakarta, 23-27 Februari 2014.
Noyon, T.J., &Langemeijer, G.E., 1947, Ret Wetboek Van Strafrecht, Vijfde
Druk, Eerste Deel Inleiding Boek I, S. Gouda Quint-D. Brouwer
En Zoon, Uitgevers Het Huis De Grabbe - Arnhem.
Packer, Herbert L., 1968, The Limits of 1he Criminal Sanction, Oxford
University Press. ,.
Pinto, Amanda, &Evans, Martin, 2003, Corporate Criminal Liability,
London Sweet & Maxwell.
Podgor, EllenS., 1993, White Collar Crime, ST Paul Minn, West Publishing
Co.
Poernomo,Barnbang, 1982,Asas-Asas Hukum Pidana, Liberty, Yogyakarta.
_ __ _ _ __, 1984, Pertumbuhan Hukum Penyimpangan Di Luar
[Link] Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta.
_ _ _ _ _ __ __ , 1989, Manfaat Telaah Ilmu Hukum Pidana
Dalam Membangun Model Penegakan Hukum Di Indonesia, Pidato
Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, 5 Juli 1989.
OAFTAR PUSTAKA 499
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pompe, W.P.J, 1959, Handboek Van Het Nederlandse Strafrecht, Vijfde
Herziene Druk, N.V. Uitgevers-Maatschappij W.E.}.Tjeenk
Willink, Zwolle.
Pontier, J.A., 2008, Penemuan Hukum, Penerjemah B. Arief Sidharta,
Jendela Mas Pustaka, Bandung.
Prodjodikoro, Wirjono, 2003, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia,
Refika Aditama, Bandung.
Putrajaya, Nyoman Serikat, 2014, Percobaan, Penyertaan Dan Perbarengan
Dalam Hukum Pidana, Makalah Pada Pelatihan Hukum Pidana
Dan Kriminologi yang diselenggarakan atas kerjasama Fakultas
Hukum Universitas Gadjah. Mada dengan Masyarakat Hukum
Pidana Dan Kriminologi Indonesia, Yogyakarta, 23-27 Februari
2014.
Rahmadi, Takdir, 2011, Hukum Ungkungan di Indonesia, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Ratner, Steven R, dan Abrams, Jason S., 2001, Accountability For Human
~
Rights Atrocities In International Law: Beyond ·The Nuremberg
Legacy, Second Edition, Oxford University Press.
Reksodiputro, Mardjono, 1indak Pidana Korporasi Dan
Pertanggungjawabannya: Perubahan Wajah Pelaku Kejahatan Di
Indonesia (Penyempurnaan dari Makalah tahun 1993), Pelatihan
Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-Asas Hukum Pidana Dan
Kriminologi Serta Perkembangannya Dewasa Ini, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, 23-27 Februari 2014.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _, dalam Multikulturalisme dan Negara-Nasion
Serta Kejahatan Transnasional Dan Hukum Pidana Internasional
(Pemikiran Awal Dan Catatan Untuk Direnungkan), 2008,
Perkembangan Hukum Pidana Dalam Era Globalisasi, Perum
Percetakan Negara RI, Jakarta.
Remmelink, Jan, 2003, Hukum Pidana: Komentar Atas Pasal-Pasal
Terpenting Datam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda
Dan Padanannya Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Rido, Ali, 1986, Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan,
Perkumpulan, Koperasi, Yayasan, Wakaf, Cetakan Keempat,
Alumni, Bandung.
:~"goff
.- :... '·:\..···.·· ..
· ..
PRir~SIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
....: ~ :.~ ..
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Robinson, · Paul H., 1997, Structure And Function In Criminal Law,
Clarendon Press- Oxford.
Routledge, 2011, Criminal Law, Routledge Taylor & Francis Group,
London And New York.
Sahetapy, J.E., 1978, Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan
Berencana, Disertasi.
_ _ __, 2002, Kejahatan Korporasi, [Link] Kedua, Refika Aditama,
Bandung.
_ _ __, 2003, Asas Retroaktif. Suatu Kajian Ulang, KHN Newsletter,
Edisi Mei 2003.
_ _ _ _, 2014, Hukum Pidana Indonesia Suatu Perspektif, disampaikan
dalam acara Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-
Asas Hukum Pidana Dan Kriminologi Serta Perkembangan Dewasa
Ini~Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dengan
Masyarakat Hukum Pidana Dan Kriminologi, [Link], 23- 27
Februari 2014.
Salman, Otje & Susanto, Anton F., 2005, Teori Hukum: Mengingat,
Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Refika Aditama, Bandung.
SampSOJ.l, Fraser, 2001, Blackstones Police Manual Crime, Balckstone Press
Limited.
Santoso, Topo, Dan Zulva, Eva Achjani, 2006, Kriminologi, PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Sapardjaja, Komariah Emong, 2002, Ajaran Sifat Melawan Hukum
Materiel Dalam Hukum Pidana Indonesia (Studi Kasus tentang
Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi), Penerbit
Alumni Bandung.
Schabas, William A., 2002, The Abolition Of The Death Penalty In
International Law, Third Edition, Cambridge University Press.
Schaffmeister, Keijzer, N., Sutorius, [Link]., Diterjemahkan oleh
Sahetapy, J.E., 1995, Hukum Pidana, Liberty, Yogyakarta.
Seno Adji, · Indriyanto, 2014, Administrative Penal Law: "Ke Arah
Konstruksi Pidana Limitatij disampaikan dalam acara Pelatihan
Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-Asas Hukum Pidana Dan
Kriminologi Serta Perkembangan Dewasa Ini~ Kerjasama [Link]
Hukum Universitas Gadjah Mada dengan Masyaral<at Hukuri.
Pidana Dan Kriminologi, Yogyakarta, 23-27 Februari 2014.
DAFTAR PUSTAKA 501
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Setiyono, 2005, Kejahatan Korporasi; Ana/isis Viktimologi Dan
Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia,
Bayumedia Publishing, Malang.
·Shah, Giriraj, 2002, White Collar Crime, Vol. 1, Anmol Publications PVT.
LTD, Newe Delhi.
Shofi.e, Yusuf, Tanggung ]awab Pidana Korporasi dalam Tindak Pidana
Perlindungan Konsumen di Indonesia, dalam ADIL furnal Hukum,
Volume 2, Nomor l, April2011, Jakarta.
[Link], 2004, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana: Ide Dasar
Double Track System & Implementasinya, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Simons, 1937, Leerboek Van Ret Nederlandsche Strafrecht, Eerste Deel,
Zesde Druk, P. Noordhoof, N.V.-Groningen-Batavia.
Simpson, Sally S., 2002, Corporate Crime, Law And Social Control,
Cambridge University Press.
Shover, Neal, &Hochstetler, Andy, 2006, Choosing White-Collar Crime,
Cambridge University Press.
Singer, Richard G., And Gardner, Martin R., 1996, Crimes And Punishment:
Cases, Materials And Readings In Criminal Law, Second Edition,
Matthew Bender.
. Sjahdeini, Sutan Remy, 2006, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi,
Grafitipers, Jakarta.
Soeroso, R., 2001, Perbandingan Hukum Perdata, Cetakan Keempat, Sinar
Grafika, Jakarta. ·
Strang, Heather, &Braithwaite, John, (Editor), 2000, Restorative justice:
Philosophy To Practice, Asghate Dartmouth, Aldershot-Butlington
USA-Singapore-Sydney.
Streib, Victor, 2008, J)eath Penalty In A Nutshell, Third Edition, Thomson
West.
Sudarto, 1990, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto Fakultas Hukum
Universitas Diponegoro, Semarang.
Sudirman, Lu, dan Feronica, Pembuktian Pertanggungjawaban Pidana
Lingkungan dan Korupsi Korporasi Di Indonesia dan Singapura,
dalam Mimbar Hukum, Volume 23, Nomor 2, Juni 201L
:.502.·,
~ ,· '
PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Sulivan, Dennis And Tift, Larry, 2006, Handbook Of Restorative Justice:
A Global Perspective, Routledge Taylor & Francis Group, London
And New York.
S~ Hazewinkel, 1953, Inleiding Tot De Studie Van Het Nederlandse
. Strafrecht, H.D. Tjeenk Willink & Zoon N.V.-Haarlem.
Suryokusumo, Sumaryo. 1995, Hukum Diplomatilc: Teori Dan Kasus,
Penerbit Alunini, Bandung.
· Susanto,I.S, 2011, Kriminiologi, Genta Publishing. Yogyakarta.
Tonry, Michael, 1996, Sentencing Matters. Oxford University Press, New
York. .
- - - - - 2000, The Handbook Of Crime And Punishment. Oxford
University Press.
Tonry, Michael, & Frase; RichardS., 2001, Sentencing And Sanction In
Western Countries, Oxford University Press.
Topan, Muhammad, 2009, Kejahatan Korporasi Di Bidang Linglcungan
Hidup. Cetakan Pertama, Nusa M~ Band~g.
.Trifllerer, Otto,1999, Commentary on the Rome Statute ofthe International
Criminal Court, Nomos Verlagsgesellschaft, Baden-Baden.
University Of Leicester, Modul 5, 1998, "Issues In 1he Criminal Justice
Process': Scarman Center, University Of Leicester.
Utrecht, 1960, Hukum Pidana I. Penerbitan Universitas, Bandung.
Valier, Claire, 2004, Crime And Punishment In Contemporary Culture,
Routledge Taylor & Francis Group, London And :New York.
van 'T Hof, M.W., 1930, Wetboek Van Strafrecht, N.V.G Kolff & Co-Batavia
c.
van Bemmelen, J.M., En Burgersdijk. H., 1955, Arresten Over Strafrecht,
Vijfde Druk, H.D. Tjeenk Willink& Zoon N.Y.
van Bemmelen, J.M., En van Hattum, W.F.C, 1953, Hand En Leerboek
Van Het Nederlandse Strafrecht, S. Gouda Quint - D. Brouwer En
Zoon, Arnhem.
van Hamel, G.A, 1913, Inleiding Tot De Studie Van Het Nederlansche
Strafrecht, Derde Druk, De Erven F. Bohn Haarlem & Gebr.
Belinfante 's-Gravenhage.
Vila, Bryan, And Morris, Cynthia, 1997, Capital Punishment in 1he United
States, An Imprint Of Greenwood Publishing Group, Inc.
DAFTAR PUSTAKA 503
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
von Hirsch, Andrew, Roberts, Julian V., Bottoms, Anthony, Roach, Kent,
And Schiff, Mara, 2003, Restorative Justice And Criminal Justice:
Competing Or Reconcilable Paradigms?, Hart Publishing Oqford
And Portland, Oregon. ·
Vos, H.B., 1950, Leerboek Van Nederlands Strafrecht, Derde Herziene
Druk, [Link] Willink & Zoon N.V.-Haarlem
Walsh Anthony And Beaver, Kevin M., 2009, Biosocial Criminology : New
Directions In Theory And Research, Ruotledge Taylor & Francis
Group, New York And London
Weisburd, David, Waring, Elin, And Chayet, Ellen F., 2004, White -
Collar Crime And Criminal Careers, Cambridge University Press.
Whitman, James Q., 2003, Harsh Justice; Crimitral Punishment And The
Widening Divide Between America And Europe, Oxford University
~· ... • Press. .
Yunara, Edi, 2005, Korupsi dan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
Berikut Studi Kasus, Cetakan Pertama, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
Zemer, Walter Jacoband Moshe, 1999, Crime And Punishment Irt Jewish
Law: Essay And Responsa, Berghahn Books New York- Oxford
Zimrihg, Franklin E., 2003, The Contradictions Of American Capital
Punishment, Oxford University Press.
Zimring, Franklin E., Hawkins, Gordon, & Kamin, Sam, 2001, Punishment
And Democracy: Three Strikes And You're Out In California, Oxford
. University Press.
Zulfa, Eva Achjani; 2014, Konsep Dasar Restorative Justice, disampaikan
dalam. acara Pelatihan Hukum Pidana Dan Kriminologi "Asas-
Asas Hukum Pidana Dan Kriminologi Serta Perkembangan Dewasa
Inr, Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada defigan
Masyarakat [Link] Pidana .Dan Kriminologi, Yogyakarta, 23-27
Februari 2014.
;·. 5.04:~· PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
;' _.:;.._;·:·::· ·:
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
INDEKS
A
abolisi 421, 422, 442, 443, 444, 445
aborsi 103,308,318
Abrams, Jason S. 94
abritrair 29
actus reus 55, 153, 198
Adji, Indriyanto Seno 482
Adagium 69,70,170,451
ad-hoc 28
adresat -17, 22
afdoening buiten proces 441, 442
African·Charter on Human and People Rights 98
Agustina, Shinta 27
ahli waris 433
ajaran kausalitas 10
alasan pemaaf 57, 163, 170,253,254,255,256,257,261,262, 263~ 265,
266,267,268,276,282,285,288,289
alasan pembenar 24, 57, 163,230,231,245,246,248,253,254,256,257,
262,263,265,266,267,268,269,272,276,278,280,282,283,284,
287,288,290
Albania 486
aliran-aliran dalam hukum pidana 10, 28, 37
Aliran klasik 29
aliran modem 28, 31, 32, 33, 34, 37, 153
Al-Qur'an 67
Amandemen 486
Amerika Utara 47,452
-- TENTANG PENULIS 505
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
amnesti 421, 422, 442, 443, 445, 456
Amnesti Internasional 456
anak-anak iii, xii, 49, 478
analogi vi.~,61;68, 74, 75, 76,79, 86, 88, 89,90, 93,95, 102, io8, 109,
110,111,112,113,114,115,116,117,118,119,120
Analogi 114
ancamanpidana 10,14, 16,25,26,33,34,65,66,78,95, 131,142,1 87,
227,296,320,397,399,402,404,405,410,413,417,453,462,464,
465,466,468
ancien regime 29
anglo saxon system 53
antinomi 53
aparat xi, 14, 82,201,202
aqua 50,141,183,272,275,278,280,282,295,303,331,344,347,363,
365,388,399,402,410,414,422,425,427,428,429,430,437,438,
443,444,445,457,460,466
argumentum a contrario 102
Arief, Barda NawaWi x, :xxiii, xxiv, xxix, 11, 29, 31, 33, 36, 207, 242, 284,
285,286
asas ix, xiii, xv, :xix:, xxiv, xxv, xxvii, xxviii, 10, 13, 15, 18, 19, 23, 24, 25,
26,29,30,59,61,62,63,64,65;66,67,68,69,70,71,73,74, 75,76,
77,79,80,81,82,83,84,87,88,90,91,92,93,94,95,96,97,98,99,
100, 101, 102, 103, 104, 108, 112, 114, 120, 121, 130, 168, 197, 202,
203,204,224,240,241,242,245,248,249~250,268,283,285,286,
287,294,295,297,301,30~303,304,305,306,307,308,309,310,
312, 313, 315,316, 317, 318,319,320,414,416,417,426,428, 431,
432,433
asas-asas hukum pidana xili, xxvii, xxviii, 10, 13, 24
asas in dubio pro reo 100,103, 168
asas legalitas ix, xxiv, xxv,-xxviii, 29, 59, 61, 62, 63;64, 65, 66, 67, 68, 69,
70,71,73, 74,75,76,77,79,80,81,82,83,84,87,88,90,91,92, 93,
94,95,96, 97,98,99,100,101, 102,108,112,114, 120,121, 130,
203,224,240,245, 248,287,295, 297
asas lex certa 75
asas materiil 103
asusila 34, 40
aturan xxi, 4, 11, 12, 15, 16, 18, 20, 25, 27, 28, 63, 67, 71, 76, 79, 84, 85,
·· 86, 92; 93; 94, 103, ro4, 106, 116, 117, 120, 124, 142, 236, 256, 257,
:· ,, ..
:' SOS~; .PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
::· ~~:\::.~·; -': .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
269,270,271,295,297,306,350,399,400,402,410,412,414,416,
438,472,473,474
aturan-aturan hukum pidana 11,76
Atistria 100,486
Atmasasmita, Romli viii, xi, xxv, xxvi, xxix, 10, 26, 27, 31, 314, 473
Aquinas, Thomas 43
B
Banjul 98
Bassiouni, Cherif 27, 93, 120, 313, 315
. Bacon, Francis 81
Beccaira, Cesare 30, 454
Beaver, Kevin M. 8
Beirne 9, 134, 135, 140, 141, 492
Belanda vii, viii, ix, xv, xvi, xix:, xx, xxi, xxili, 12, 23, 28, 32, 59, 68, 69, 71,
72,78,81,82,84,105, 112,117,122,124,135,156,168,169,174,
189,198,199,200,211,229,232,238,242,249,250,304,309,325,
326,328,350,356,359,384, 390,400,417,441,442,443,464,467,
4?1,473,474,482,488,500
Belgia 32, 44, 82, 359, 467, 473, 484
Bemmelen, van vii, xxiii, 3, 10, 11, 12, 15, 17, 71, 72, 77, 104, 109, 110,
111, 112, 129, 130, 143, 158, 159, 175, 177, 184, 185, 186, 189, 190,
210,211,212,214,215,216,217,236,239,242,249,263,266,267,
269,321,323,331,333,336,337,342,344,349,352,353,354,355,
356,358,359,362,363,365,368,372,380,381,384,386,387,388,
389,390,400,401,409,410,426,427,503
Bentham, Jeremy 30, 255
bentuk peradilan pidana 44
beperkete materiele leer 85
Besluit Buitengewoon Strafrecht 68
biosocial criminolgy 7
Black's Law Dictionary 36, 316, 494
Bonaparte, Lodewijk 23
Bonger 6, 7
Boot, Machteld 68, 76, 77, 82, 93, 100
Braithwaite 31, 38, 45, 502
Brisbane Ordonanntie 69
TENTANG PENULIS 507
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
buitengewone rechtsmiddelen 92
bunuh diri 126, 127,436,437
Bupati 26, 243
c
Carrabine, Eamonn 8, 9
Cassese, Antonio 27, 65, 92, 93
Ceko 487
Chazawi ,Adam 37
Child welfare conferencing 48
Christian Mennonite Movement 47
Cina 87,88,108,364,365
civilization thesis 46
Code of Criminal Procedure 486, 489
community justice 51
community reparl{tion boards and citizens panel 48, 50
community service order 482
comparative criminology 7
compositie 442
Comte, Auguste 4
concursus idealis 397, 398,399,400,401, 402,414,418, 425,427
concursus realis 397, 398,402, 403,405,406,407,408, 409,414, 428
contradictio interminis 90
Coornhert 463
Court de Cassation 455 ·
Cressey 16
crimen stellionatus 62
Crimes And Punishments 454
Criminal Science Section OJ The Institute Of Comparative Law 455
Crimina morte extinguuntur 462
crimine extra ordinaria 62
culpa xxv,56, 149,150,176,183,187,189,190,191,192,193,194,208,
268,275,280,380,381,385,389,391
Culpae poena par esto 452
custodia honesta 468
Cragg, Wesley 451, 452
cyber crime 299, 437
.•·50.6 , PRINSIP·PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
D
daad-daderstrafrecht 153
daad-strafrecht 29, 31
dader-strafrecht 31,34
Dai Nippon 69
dakwaan 230,291,293, Z97, 301,326, 350,·364, 371,423,424,430,438
daluwarsa 409, 421, 422, 434; 435, 436; 437, 438, 439, 440, 441, 444, 445
Dasar Hukum .ix, 15, 497
defenite sentence 465
definisi ilmu hukum pidana 3, 11
definite sentence 33
Dignan, James 45, 46 .
delicta jure gentium 26, 312
delik 10, 14,17,19,49,50,57,58,61,6~69,75,86,87,91, 111,122,123,
127,128,129,130,131,132,133,134, 136,137,138,139,140,141,
142,143,144,145,146,147,148,149,150,159,162,169,183,184,
185,186,187, 188,192,194,195,202,205,207,208,209,210,220,
226,227,228,229,230, 231,232,234,236,237,238,239,240,241,
242,243,247,248,249, 253, 254,260,274,275,278,285,286,287,
288,291,299,300, 301, 313, 323,324,325,326,327,328,33l,332,
333,334,339,340,342,345,346,}47,350, 351,354,355,356,357,
358,359, 361,362,363,365, 366,368,369,370,371,372,373,374,
376,380,381,383,385, 386,387,389,390,391,392,400,401,402,
415, 416,427,431,436, 437, 440,441,443,468
delik-delik hukum 14
delik selesai 57, 58, 143, 324, 325, 327,331,332
delik undang-undang 14, 162
denda 14, 26, 104, 127, 131, 133, 136, 139, 144, 149, 150, 184, 193, 197,
199, 206,227,239,288,289,305,404,405,406,407,408,433,4l4,
435,436,441,442,444,452,453,465,466,469,470,472,475,477,
478,479,481,482
deterrence effect 42
Dewan Perwakilan Rakyat 12, 26, 73, 88, 442
dicnsverlening 482
dikodifikasi 12, 72, 94
disersi 22
disimpangi 67, 68, 69, 77, 90, 96, 98, 319, 431
diskresi 465, 489
TENTANG PENUUS 509
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
diskriminasi 17
distributive justice 45
dokter 208,214,215,287,460,462
doktrm 22,33,34,104,108,199,206,207,398,423,482
dokumen palsu 424
do~ xxv,56,149,150,174, 175,176,178,179,180,181,182,183,187,
189, 190, 191, 208
Donald, Me 52
dosa 39,43,66,67
dual track restorative justice 484
due process model 82
Duff, Antony 45
Durkheim, Emile 476
durjana 62
E
•
efekjera 42,454,455,462
Eglash, Albert 44
eksekusi 19, 434
eksploitasi 34
Enschede, Ch.J. vii, 28, 66, 69, 73, 74, 79, 84, 97, 122, 124, 135,237,301,
309, 312,415, 417, 494
Eropa Barat 62, 64, 452
Eropa Kontinental 395, 464
etik 38
etiologi kejahatan 7
exceptio frimat vim legis in casibus non exceptis 103
Executio est ixecutio juris secundum judicium 463 ·
exeptio format regulam 103
F
fairness 486
faktuelestrafrechtwissenschaft 10
family group ccmfer~a .48, 50
Ferri Enrico 31
Feuerbach,von xv,40,62,63,64,66,67, 70,80, 101,182
S10 , PRINSIP-PRINSIP liUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Finch, John 4, 494
Finlandia 488
Fitzgerald 36
fonnele leer 85
fcrnirr 12,16,17,18, 19,22,23,24,25,26,28,36,72,73,74,76,80,82,
85, 103, 136, 137, 138, 139, 224,225,226,227,229,237,240, 241,
242,244,247,278,299,300,327,330,339,347,415,416,434
formulas! 10, 105, 406, 408
Foucault 463
foundingfathers 455
fructum sceleris 473
fundamentalnormen des rechtstaats 102
fungsi hukum pidana xxx, 34
Fungsi khusus 34
fungsi umum 34, 35
G
ganti rugl 30, 47, 173, 255, 478, 486
Gardner, Martin R. 75, 79, 452, 502
Gamer;Bryan A 36,313,316.494
genosida 136, 302, 432, 435
Gerakan Christian Mennonite 47
German Criminal Code 488
gesetzlidrkeitsprinsip 82 "
Geuns. van 85
Gijssels, Jan 4, 5, 494
grasi 421, 444, 445, 446, 447, 448, 456
Gmn Criminology 8
Griffiths 49
Groot, Hugo de 41, 315
Groritius 41
grrns vioiiJtiort of Iauman rights 94
Gubemur 26. 305
guilt in principk 53
guilty in foct 54
gunstigste bqalingen 85, 86
TENTANG PENULIS 511
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
H
Hagan, Frangk E. 4, 5, 14, 16, 17, 134, 135
hak xxii, 8, 9;19, 21, 22, 27, 37, 51, 52, 53, 82, 84, 95, 98, 100,121, 136, .
148, 183,224, 233,234,235,236,249,254,258,275,280, 283,.287,:
295,297,299,300,302,354,406,407,411,423,435,446,452,454,
456, 457, 462, 466, 467, 471, 472, 477, 479, 481, 515 . .
hak asasi manusia 51, 52, 53, 82, 84, 95, 98, 100, ·121, 13~,; 295,'· 4~3 1 ~~5.
457, 462, 481, 515 . ,.,. ...
hakim xix, 30, 33, 34, 36, 49, 62, 64, 68, 75, 76, 90, 91, 92, 103, 106, .108,
112, 113, 116, 117, 120, 148, 165, 167, 168, 177,203, 245, 246:·247,
248,260,261,305,337,342,395,403,404,405,408,422,423,424,
438,442,445,446,452,453,455,457,46~,465,468,469,471,472,
473,474,475,476,479,481,482,487,488,489
hakim pidana 68, 108,113
Hall, Jerome 4, 24, 337, 340, 495
HALT (het alternatiej) 489
Hamilton 49 '
hapusnya kewenangan penuntutan pidana x, 421, 444
hapusnya menjalankan pidana 421, 444
hapusnya penuntutan pidana 296, 421, 443
Harkrisnowo,Harkristuti 31,255,495
Harris, M. Kay 45
harta benda 35, 257; 271, 272, 275, 276, 433,471
Hattum, van vii, xxiii, 3, 11, 12, 15, 17, 71, 72, n, 104, 108, 109, 110, 111,
112, 129, 130, 143, 158, 159, 184, 185, 210, 211,212,215,216,217,
236,239,242,263,266,267,269,321,323,333,336,337;342,349,
352~ 353, 354, 355, 356, 358, 359, 362, 365, 368, 372, 380,381, 384,
386,387,388,389,390,400,401,409,410,426,427,503
h£aling and sentencing circles 49
Hegel 38,39
Henry, Stuart 6, 9, 497
. Herbart 38, 39
higiene kriminil 6
Hill 9
Hoekema, A.J. 468 . , ~- · · ..
hujatan 146 .
hukUman 6;7; 17, 21, 17, 30; 33, 34, 42, 43, 54, 96, 101; 124, 171, 196,
199,i44,248,250,255,261,272,303,313,327,328,371,395,403,
512 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
404,451,452,453,457,462,463,470,476,485,487,489
hukuman mati 453, 462
hukum Islam 67
hukum kebiasaan 75, 78, 79, 90, 93, 94, 97, 100, 313
hukum militer 456
hukum penintentir 20
hukum penitentiaire 20
hukum perdata 15, 196, 198, 224, 225, 249, 284
Hukum Pidana v, vi, vii, viii, ix, x, xi, xii, xiii, xv, xix, xxi, xxii, xxiii, xxiv,
XXV, xxvii, xxviii, x:xix, 5, 6, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 22, 23, 24,
25,27,28,29,30,31,37,44,52,61,62,64,65,68,72,74,75,76,88,
90,107,108,117,120,121,135,141,188,195,196,198,207,230,
253,254,285,303,314,317,325,326,330,433,473,482,491,492,
493,494,495,496,497,498,499,500,501,502,503,504,515,516
hukum pidana Belanda vii, viii, xxiii, 59, 122, 124, 229, 309, 325, 326,
350,359,464
hukum pidana berdasarkan adresat 17
hukum pidana formil 16, 17, 18, 22, 23, 26, 36, 80, 82,434
hukum pidana in abstracto 18
hukum pidana in concreto 18
Hukum. pidana internasional 26, 93
Hukum Pidana Khusus xxix, 23, 135, 497,516
hukum pidana lokal 17, 26
hukum pidana luar biasa 69
hukum pidana materiil 14, 16, 17, 18, 19, 22, 23, 24, 26, 80, 81,415,434
hukum pidana militer 22, 112,515
hukum pidana nasional xxviii, 17, 25, 26, 28, 61, 93, 94, 120, 121,301
hukum pidana objektif -17, 19, 20, 21,22
hukum pidana pajak 22, 23
hukum pidana perbuatan 29, 31
hukum pidana positif 5, 13, 14, 21
hukum pidana prosedural 18
Hukum Pidana Subjektif xxix, 19
hukum pidana supra nasional 28
hukum pidana umum 17, 23, 24, 26,200,415
hukum positif 13, 58, 123, 124, 234, 241, 250, 367,457
hukum Romawi kuno 62, 63
hukum tata negara 15
hukum tertulis 11, 91, 92, 94, 116, 234, 235, 236,249
TENTANG PENULIS 513
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
hukum tidak tertulis 75, 78, 90, 225, 234, 236, 242, 249, 286
humanistik 463, 464
I
Iganski, Paul 8, 9, 493
ijazah palsu 440
ill-desert 38
illegal logging 8
ilmu pengetahuan hukum 13, 229
In casu a quo 347,365,425,427,430,438
indefinite sentence 465
indeterminate sentence 34, 465, 466
in dubio pro reo 100, 103, 168
infrastruktur 14
Inggris viii, ix, 46, 81, 87, 108, 109,-173, 178, 303, 304, 328,435,453,467,
468, 473, 414, 482, 490
Injil 67
institution ofpunishment 54
instrumentum sceleris 472, 473
intermediate prison 467
International Criminal Court 68, 99, 100,493,497,503
interpretasi historis 105, 106, 107, 426
interpretasi sistematis 105, 106, 107
interpretasi telelogis 105
Italia 83, 353, 488
ius constituendum 5
ius constitutum 5
ius singulare 22
ius speciale 22
J .
jahat vi,6,40,43,44,62,66,70, 113,143,182,327,329,338,383,435,
451
jaksa [Link] 461,462
Jaksa Tinggi 458, 459, 460
.514 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Je~ 32,42,62, 65,68,76,82,85,91, 102,153,168,173,175,181,197,
210,213,229,238,242,243,263,346,347,357,359,373,382,408,
417,487
Jescheck 76, 182, 434, 464
jus poenale 19, 20, 21
jus puniendi 19, 20,21
just deserts 37
juvenik 468,486,488,489,490
]uvenik Law 486
juvenik offenders 468
K
bbupaten 12, 74, 244
Kanada 4n
Kant, Imannuel 38, 39, 54, 56, 263
brakteristik vi, 4, 16, 55, 56, 153, 313
brakteristik hUkum pidana vi, 16, 56
bsu.s ringan 484, 488, 489, 490
ICatoUk 43
keadaan darurat 56, 57. 86, 230, 254, 258, 263, 264, 265, 267. 268, 269,
270,271,290,296
keadilan masyaralcat 51,243,248,286,287
keadilan restoratif v. 44, 45, 46, 47, 48, 49, SO, 51, 52, 53, 54, 484, 490
keadilan transformatif 51, 52,53 •
keadilan transisional 51.52
keadilan Thhan 38
kealpaan 149. 150, 154. ·159, 163, 177,180, 181, 187, 188. 189,190, 191,
192.193,194,208,360,380,381,389,390,391,392,468,480
kebijakan hukum pidana 10
kehormatan x, 35, 271, 275, 276, 289, 423
kejadian materiil 425, 428
kejahatan vi, 5, 6, 7, 8, 9,10.13, 18, 19, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31,
32,33,34,35,37,38,39,40,41,42,43,44,45,46,47,48,49,51,52,
53,54,55,57,58,62,66,70,87,93,94,95,100,102,103,120,121,
125,134,135,136,139,140,142,143,147,148,149,150,182.192,
193,195,196,197,198,200,201,205,238,255,256,272,278,283,
285,288,289,294,295,296,298,299,300,301;302,303,304,305,
TENTANG PENULtS S.15 .
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
306,309,310,311,312,313,314,315,317,318,319,320,323,324,
325,326,327,329,330,331,332,334,335,336, 337,338,341,344,
345,3~8,350,351,354,364,365,375,379,380,381,385,391,395,
403,405,408,410,412,415,417,430,431,432,433,434,435,436,
437,441,444,445,451,452,453,454,455,456,462,463,465,468,
470,473,474,475,477,478,482,484,485,486,487,488,490,516
kejahatan dunia maya 437
Kekuasaan mengadili 27
kekuasaan negara 22, 63, 280, 463
kekuatan hukum tetap 89, 90, 92, 409, 423, 443, 445, 446
Kelsen, Hans 4, 5, 13, 64, 497
kemerdekaan 19,50,64,143,144,206,437,443,463,476,480
Kepala Polisi Daerah (Kapolda) ~58
kepastianhukurnn 29,65,79,95,113,223,224,225,285,423,424
Keputusan Presiden 447,448
kerja paksa 463, 466
keseng~aan 56,57,110,138, 149,150,154,163,168,169,170,171,172,
173,174,176,177,178,179,181,182,183,184,185,186,187,188,
189,191,193,208,285,286,329,330,331,332,333,334,335,336,
337,360,366,368,369,370,371,372,373,374,376,379,380,381,
382,389,390,426
kesepakatan tertulis 490
~tan 57,170,171,285,286,290
ketentuan pidana menurut undang-undang 71, 72, 75
ketentuan pidana positif 11
ketertiban hukum 15, 36, 41, 313
kitab sud 14, 466
Kitab Undang-Undang Hukum Aara Pidana 13, 19
Kitab Undang~Undang [Link] 13, 18, 19, 22, 23, 24, 28, 65, 72,
76,88,90,107,117,141,188,493,500
Kitab Undang-Undang Hokum Pidana Militer (KUHPM) 22
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana untuk Hindia Belanda 23
kitab undang-undang pidana 11, 12, 72
~i 13,~,24,56,73,103,295,326
Komisi de Wal 425
koDl~- 52,473,488
kompetensi absolut ~98, 423, 439
kompetensi relatif 298, 423, 439
konsep-konsep dasar hukum pidana ix, 3, 53
. 5i 6 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Konstitusi Amerika 80
konstitusional 19,224
kontrareVolusioner 87
konvensi .95,97,98,310,311,312,313
korban 6, 8, 9, 31, 44, 45, 46, 47, 49, 50, 52, 55, 57, 139, 147, 148, 180,
181,205,284,285,299,306,308,314,343,372,453,455,462,473,
474,479,480,484,485,486,487,489,490
kota xvti,12,69,74,126,171,173, 174,176,197,294,299,300,301,344,
410, 411, 466
Kovenan xxx, 96
kriminalistik 7
kriminogen 33
Kriminologi xi, xiii, )Qti, xxii, x:xv, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 14, 19, 44, 61, 120, 195,
253,254,314,325,482,492,494,495,499,500,501,504
Kriminologi biososial 7
kriminologi mumi 6, 7
kriminologi terapan 6, 7
kuasa hukum 448, 458
KJJHU\P 19,23,24,25,293,354,415,416,433,434,495
KUHP xvi, xix, :xx, :xxi, :xxii, xxili, :xxiv, :xxxiv, 11, 12, 13, 19, 22, 23, 24, 25,
2~,35,65,69,70,71,72,78,79,81,82,85,86,87,88,90, 103,107,
108,109, 110, 111,112, 114, 116, 117, 118, 126, 127, 131, 132, 134,
135,136,137,138,139,141,142,143,144,145,146,147,148,149,
150,164,165,166,167,168,169,170,177,181,183,188,192,193,
195,199,208,210,224,227,231,232,238,241,242,243,247,248,
253,254,258,259,260,261,262,263,267,269,271,272,275,276,
.
277,278,279,280,282,283,286,287,288,289,290,302,309,323,
324,325,326,327~328,331,332,338,341,344,349,350,351,352,
353,354,355,356,358,359,363,365,367,368,372,374,375,377,
385,386,390,396,397,399,400,401,402,403,404,405,406,407,
408,409,410,411,412,413,414,415,422,423,424,425,426,428,
430,433,435,437,438,439,440,441,444,452,453,457,464,465,
468,469,470,471,472,473,474,475,476,479,480,481,482,483,
491
TENTANG PENUUS 517
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
L.
Lafave, Wayne R. 18, 19, 42, 43, 44, 497
Lakatos, Imre 4
lalai 56, 187
Lanier, Mark M. 6, 9, 497
· larangan 14, 16, 20, 21, 27, 68, 74, 75, 79, 84, 90, 93, 100, 113, 116, 121,
137,141,199,227,234,244,253,264,270,473
Law on Mediation in Conflict Resolution and Reconciliation of Disputes
486
Law on Mediation in Dispute Resolution 486
Law on Probation and Mediation Service 487
Lee, Maggy 8, 9
Leerboek 3, 18, 21, 37, 112, 133, 502, 503, 504
legal definition ofcrime 33, 134
legalitas ix, xxiv, xxv, xxviii, 24, 29, 58, 59, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 68,
69, 70,71,73,74;75, 76,77,79,80,81,82,83,84,87,88,90,91,92,
93,94,95.~6.97,98,99,100,101, 102,108,112,114,120,121,130,
203,224,240,245,248,287,295,297,487,515
le salut du people est la supreme loi 31
letterlijk 62
lex certa 74, 75, 94,240
lex posterior derogat legi priori 87
lex scripta 94,201,224
lex specialis derogat legi generali 25, 414, 415, 416, 417
lex stricta 95, 240
lex temporis delicti 101
lex termporis delicti 84, 90
Liszt, von 9, 40, 65, 242, 243
liturgi Quaker 466
locis citatis 428
Loewy, Arnold H. 16, 37, 498
Lombroso, Cesare 31
Lubbe, Marines van der 68
luka berat 127, 193, 208, 404,490
Luther, Maarten 102
518 PRINSIP-PRINSIPHUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
M .
maatregel 474
M.D., Mahfud 91, 498
mahlwnah 27, 100, 303, 431, 432
Mahkamah Agung XXV, 88, 110, 165, 210, 231, 233, 243, 244, 245, 260,
364,365,443,445,446,447
Mahkamah Pidana hlternasional 303, 494
Marc Ailee} 44, 455
marlcsystem 467
masalah terhentinya daluwarsa 438
masa percobaan 475, 476, 477, 488
masyarakat xiii, xxii, ~. 5, 6, 8, 13, 14, 15, 26, 28, 31, 32, 33, 34, 35, 39,
41,42,43,44,45,48,49,50,51,53,57,66,68,70,77,82,84, 89,90,
91, 93, 96, 103, 134, 135, 155._156, 157, 160, 163, 197, 203, 205,206,
. 224, 225, 236, 242, 243, 244, 245, 248, 249, 255, 259, 285, 286, 287,
302,303,312,313,318,330,331,431,434,451,454,463,467,468,
474,476,478,479,482,483,488
materieel feit 428
materiil 8, 12, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 72, 73, 80, 81,
85,86,91,103,136,137,138,139,207,208,224,225,226,227,228,
229,237,241,242,243,244,245,246,247,248,254,267,278,283,
286,287,299,301,327,330,338,339,347,361,362,363,365,368,
396,398,415,425,426,428,434,436,457,486,489
Me Cold 48, 52
McLeod, Ian 4, 498 ~
01ediasi vi,47,52,452,484,485,486,487,488,489,490
mediasi pidana vi, 452, 485, 486, 489, 490
01elanggar hukwn 10~ is, 37, 49, 134, 195, 249, 250, 262, 478, 481
Dlelarikan diri 69, 137, 140, 274,281, 296, 318,343, 383, 412,430,438,
445
01elindungi 9, 19, 29, 31, 32, 34, 35, 36, 41, 42, 44, 57, 58, 64, 65, 66, 77,
79,93,95,97,141,224,257,263,276,285,306,307,330,424,432,
474
01ernbantu xii,xxi,9,54,58,352,353,354,366,373,381,382,383,386,
478
rnernbunuh 14,55,56, 126,141,171,172,173,175,176,177,181,211,
264,274,294,297,317,330,339,340,343,348,349,372,373,377,
382,429,436
TENTANG PENULIS 519
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Memorie van Toelichting 169, 170, 177, 183, 187,232,253,262,263, 269~
271,337,341,355,360,362,385, 390,403,425,435,464,465
mencabuli 430
menculik 437
mencuri 14, 133, 141, 142, 146, 148, 166, 171, 178, 181, 270,274, 339, .
349,378,381,382,383,396,404,405,411,412,429,430
menderita kerugian 469
menghapus pidana mati 33, 455, 456
menghasut· 127,138,436,437
meninggalnya terpidana 421, 444
menll1ggalnyatersangka 421,422,433
menipu 14
mens rea 55, 153, 172, 198, 199,202,203
~nteriJ(ehakiman 364,365,390,443,477
Merkel 32, 33
Mertokusumo,Sudlltno 104,105,106,498
Modderman 32,33,390,464
modus operandi 2;, 301
Moeljatno vii,vili,bc,xvi,Xliil,S,13,16,61,62,63,66,71, 72,76,79,
110,112,121,122,125,127,128,168,169,173,174,175,185,191,
192,208,209,210,212,215,216,217,218,220, 228,230,264,265,
266,267,270,271, 273,275,282,283,297,300,301,306,325,326,
327,330,331,336,337,338,340,341,345,346,348, 350,352,353,
354,360,362,363,364,365,366,370,371,375, 376,379,385,386,
389,390,436,498
moneat lex, piusquam feriat 81
Montesquieu 62,64,498
Moore 52
Morris, Norval 455
Mors didtur ultimum supplidum 453
Mors omnia solvit 462
mucikari 86
Muladi 29, 31, 32, 33, 36, 94, 194, 195,197,203,205,206,498•.499
Mulder, G. E. 32, 33
·520 [Link] HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
N
nama baik 35, 289,474
National Coalition To Abolish The Death Penalty (NCADP) 455
natural crime 33
NAZI 68
ne bis in idem 399, 421, 422, 423, 424, 425,426,428,429,430, 431,432,
433
negara viii, xxi, xxv, 9, 10, 11, 14, 15, 16, 17, 19, 21, 22, 24, 26, 27, 28, 32,
33,35,36,37,43,48,51,58, 62,63,64,66,67,68,69,70,77,81,82,
84, 87, 91, 92, 94, 98, 101, 106, 108, 133, 134, 140, 143, 144, 184,
196, 198,205,224,244,280,284,301,302,303,304,305,306,307,
308, 309,310, 311, 312, 313, 314, 315,316,317,318, 319, 320, 327,
330,338,364,395,396,415,423,424,443,445,451,453,456,460,
463,464,466,469,473,477,483,484,486,488,490
negara hukum prismatik 91
nemo debet bis vexari 422
nemo punitur pro alieno delicto 207, 433, 444
neo-klasik 34, 37, 153
Ness, van 45
non obligat lex nisi promulgate 71
normaS,11, 14,20,22,23,36,40,78,91,118, 124,157,160,224,225,
236,241,243,250,284,287,350,400,401,425,432,479
norma hukum 11, 40, 78, 157,250, 284,479
normatif viii, 10, 159, 160, 165, 193,261
normativestrafrechtwissenschaft 10
Norwegia 489
novum 92
nulla poena sine crimine 62, 80
nulla poena sine lege 62, 64, 65, 69, 77, 79, 80, 100, 101
nullum crimen, noela poena sine lege praevia 76, 77
nullum crimen, nulla poena sine lege certa 79
nullum crimen, nulla poena sine lege scripta 77
nullum crimen sine poena 62, 70, 80
nullum crimen sine poena legali 62, 80
nullum delictum, nulla peona sine praevia lege poenali 70
nyawa 35,103,131,137,149,174,193,227,241,257,275,276,381,454,
465
TENTANG PENULIS 521
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
0
objectum sceleris 473
objek ix,3, 11, 13,51,54,55,171,178,192,276,331,347,348,349,400,
401,417,425,430,472
objek ilmu hukum pidana xxix, 11
objektifitas hukum positif 13
objektivitas 13
onbeperkte materiele leer 85
Ordonanntie 69
Organization ofAfrican Unity 98
p
Packer, Hebert L 82, 134, 135, 499
paksaan psikologis 40
panitera 438, 446 ~
Parlemen Belanda 23,169
paspor palsu 438
Paton, G.W. 69
Paulus 67
pelacur 86
pelaksanaan pidana mati 457, 458, 459, 460, 461
pelaksanaan putusan 18, 76, 89, 90, 446
pelaku 6, 17, 27, 29, 30, 31, 33, 34, 37, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48,
49, 50, 51, 52, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 66, 87, 95, 97, 98, 112, 127,128,
143,144,153,157,158, 159,160,161,162,163,164,165,167,170,
171,173,176,177,179,180,181,185,189,191,192,193,194,196,
197, 203, 205, 206, ~08, 213,214, 216, 226, 22&J 246, 248,253, 254,
255,256,257,259,260,261,262,264,266,268,270,272,276,277,
279,280,282,285,286,288,289,290,296,297,298,300,302,303,
308,311,313,315,317,319,323,328,329,330,331, 333,334,338,
339,340,341,342,343,345,348,349,350,351,352,353,354,355,
356,357,358,359,360,361,362,363,364,365,367,368,370,371,
372,374,379,380,382,383,384,390,396,397,399,402,406,413,
428,430,431,434,436,451,452,453,454,465,469,470,474,477, ·
478,482,485,486,487,488,489,490
pelaku anak di bawah umur 487
522 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
peLtnggatrun 5,13, 14,15,19,20,21,22,24,32,35,36,47,48,49,50,51,
52,53,57,70, 75,79,92,96,112, 124,125,135,136,142,160,198,
199,205, 257,270,295,312,332,350,379,382,397, 401,403, 408,
410,412,415,426,427,428,435,436,43~ 439,440, 441,444,451,
452,462,468,473,475,478,487,488
pelanggatrun berat hak asasi manusia 51, 52, 53, 136, 462
pelanggatrun norma 36, 124, 160
pelepasan bersyarat 452, 476, 477
Pelikan, Christa 484
Pella, Vaspasian V. 101
pemrusuan 184,309,411,424,437,440,441
pembagian hukwn pidana :xxix, 17
pembakaran hutan 8
pembruasan 29,30,37,38,39,41, 42, 44,54,453,490
pembayaran uang pengganti 471
pembebasan bersyarat 467,477,478,480,483
pembela xix, 49, 458
pembentuk undang-undang 14, 33, 34, 75, 76, 84,100, 105, 107, 110,
114,116,120,133,134,148,150,157,164,184,185,186,188,199,
220,223,233,235,238,242,246,250,262,277,286,327,334,374,
395,398,403,412,426,428,464,465
pemberatan 149, 403,404,414, 441, 468, 470
pembuat 59, 75, 85, 86, 89, 195, 199,204, 205,224, 225, 240, 241, 291,
324,326,356,379,425,479
pernbunuhan 55,126,131,137,139,149,178,180,181,196,208,227,
241,294,295,308,318,319,340,343,346,347,348,373,377,382,
413,429,430,431,438,453,454,455,465
pernerintah 7,8,40,64;68,69,74,79,98,140,197, 198,243,303,304,
316,464,473,483
pemerkosaan 121,329,332,347,401,402,405,412,413,429,430,431,
453
pemidanaan vi, x, xxiv, 10,13, 21, 22, 29, 30, 31, 33, 34, 37, 38, 39, 49, 54,
70,74,75,87,89,90, 120,155,193,205,206,255,352,376,383,
396,403,404,405,408,410,413,422,431,433,434,435,446,451,
452,464,465,467,473,474,476,479,482,485
pernulihan 9,44,45,46,47,51,54,490
penafsiran xxx, 102
penalisasi 10
pencabulan 430
TENTANG PENUltS 523
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
pencabutan hak-hak tertentu 452, 471
pencabutan undang-undang pidana 9
pencemaran nama baik 35
penderitaan 15,31,36,41,45, 156,255,451,452,474,480,485
pendidikan moral 451
penegakan hukum pidana 14, 28, 120,416,515
penegak hukum xi, xix, xxvii, 14, 82, 146, 201, 202, 223,442, 489
Penemuan Hukum xiii, 61, 104,496,498,500, 516
pengadilan 19,27,49,62,85, 108,110,119,121,125,129,146,148,206,
228,229,240,243,244,245,266,280,287,298,301,315,316,326,
342,352,354,364,367,371,410,412,413,421,422,423,424,426,
429,430,431,432,434,438,440,441,445,446,447,457,458,463,
472,474,481,486,487
pengadilan militer 298
Pengadilan Tinggi 165, 244, 260, 426
pengampunan 101,445
penganiayaan 48.139,160,178,181,208,209,214,219,283,372,373,
377,378,383,402,425,426,487,490
pengawasan bersyarat 478
pengertian hukum pidana 3, 15, 16, 17, 21, 27, 81,401
penggclapan 147,149,196,239,243,406,410,412,413,414,490
penghapusan pidana mati 455, 456
penghinaan 145,146,196
penghukuman 45,51~54,187
pengrusakan 402, 490
pen~angan 50,206,441,468,470
pengumuman putusan hakim 452, 471, 479
penipuan 132,201,304,388,407,412,424,431
penjara 26,50,91, 104,126,127,131,132,133,136,137,138,139,141,
143,144,145,149,150,183,184,193,227,239,241,244,288,289,
332,342,344,365,374,375,404,405,406,407,408,410,413,414,
425,429,430,435,436,440,441,444,445,446,452,453,455,458,
463,464,465,466,467,468,469,470,472,474,476,477,479,480,
481,490
penjeraan 66, 453
Pennsylvanian system 466
penologi 6, 7
penuntutan x. 17, 22, 27, 29, 74, 76, 79, 95, 125, 147, 180, 201,204, 229,
284,288, 289, 296, 297, 313, 341, 354,412, 421,422, 423,424, 429,
524.: PRINSIP.-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
. 430,431,433, 434,435,438,439,440,441,~2,443, 444,476,484,
487
Penuntuturnurnn 55,293,424,429
penyelesaian di luar pengadilan 421, 422, 441
penyerangan 37, 196
penyertaan x, 24, 58, 254, 323, 327, 349, 350, 351, 352, 353, 354, 355, 359,
360,361,363,364,365, 366,367,368,371,372,374,375,376,377,
384,385,386,387,388,390,409,431
penyidikan 7,18,167,259,288,289,412,430,433,484,487,488,489
penyitaan 199, 433, 471, 472, 473
penyusunan undang-undang 10
perampasan 50, 143, 206, 310, 407, 434, 437, 441,452, 463, 471, 472, 473,
479,483
perampokan 196,298,310,453,455
Peran~ 4,5,23,29,44,63,64,65,80,81,178, 197,249,250,318,357,
359,366,455,464,478,487,515
[Link] xix, 4,15,22,24,26,36,53,64,65,71,72,73,74,75,84,86,87,
89, 90, 91, 92, 96, 103, 105, 106, 108, 117, 171, 194, 199, 200, 224,
236,238,243,247,278,279,280,287,303,399,400,409,410,414,
460,464,470,472,483,489
Peratw:an Daerah 12, 13, 26, 73
[Link] Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia 460, 461, 462
Perbandingan 10,88,108,198,473,477,492,495,502
Perbandingan Hukum Pidana 88, 108, 473, 492, 495
perbuatan vi, ix, x, xix, xxiv, 7, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 19, 22, 24, 26, 28,
29,31,33,34,36,37,38,40,43,55,57,59,61,6l,63,65,66,67,68,
69,70,71,72,73,74,75,76,77,78,79,80,85,87,88,89,90,91,96,
103,108,109,111,114, 116,117,118,119;120, 121,122,123,124,
125,126,127,128,129,130,131,132,133,134,135,136,137,138,
139,142,143,144,145,153,154,155,156,157,158,159,160,161,
163,165,166,167,169,170,171,172,173,175,176,177,178,179,
180, 181,182,183,185,186,187,188,192,193,194,197,200,201,
203,204,205,206,207,208,209,210,213,214,216,223,224,226,
227,228,229,230,231,232,233,234,237,238,240,241,242,243,
244,245,246,247,248,249,250,253,254,255,256,257,259,260,
261,262,263,264,265,266,267,268,269,270,271,272,274,277,
278,279,280,283,286,287,288,289,290,293,295,296,297,298,
299,300,301,302,304,306,307,308,309,310,311,313,317,318,
319,320,323,325,326, 327,328,329,330,331,332,333,334, 335,
TENTANG PENUUS 525
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
337,338,339,340,341,343,344,345,346,347,348,350,351,353,
354,355,356,357,358,359,360,361,362,363,364,365,366,367,
368,369,370,371,372,373,374,375,376,377,378,379,380,382,
383,384,385,386,387,388,389,390,391,392,395,396,397,398,
399,400,401,402,403,404,405,406,408,409,410,411,412,413,
414,415,416,417,421,422,423,424,425,426,427,428,429,430,
431,432,433,435,436,437,439,440,441,443,444,451,453,464,
465,466,468,469,472,473,475,476,477,478,480,490
perbuatan jahat 43, 62, 70
perbuatan pidana ix, xix, xxiv, 10, 22, 29, 34, 40, 55, 59, 61, 66, 67, 69, 70,
71,72,75,76,77,79,80,87,88, 103,108,111,114,117,120,121,
122,123,124,125,127,128,129,130,131,134,135,136,138,143,
145,153,154, 155,156,158,159,167, 170;171, 176,177,182,183,
186,200,204,205,207,226,227,228,229,230,231,233,237,247,
248,250,253,254,256,259,262,265,268,269,287,288,289,293,
295,296,298,299,300,301,302,304,306,307,308,310,313,318,
...
319,320,325,327,340,341,347,350,351,354,355,356,357,358,
359,360,361,362,363,364,366,368,369,371,372,373,374,375,
376,378,379,380,383,386,390,395,396,397,398,402,403,404,
405,406,409,410,411,412,413,414,415,423,428,430,431,435,
436,437,439,440,443,444,451,464,465,468,469,472,473,475,
477
percobaan ix,24,57,58, 136,137,142,143,165,180,185,260,287,311,
319,323,324,325,326,327,328,329,330,331,332,334,335,336,
337,339,340,341,342,343,344,345,346,347,348,349,376,377,
3S1,382,386,388,426,474,475,476,477,482,488
perdata adat 49
perintah 58, 139, 199, 200, 203,230, 254, 278, 279, 280,281, 282,283,
288,290,459,460,474,475,476
Perjanjian Baru 67
perkembangan hukum xi, 3, 7, 103, 106
perkosaan 37,55,332
perlakuan 46,48,54,64,116,303,317,477,485
perlindungan individu 69
permufakatan jahat vi, 143, 182, 327, 338, 383
perselisihan prejudisial 439
personal reconciliation 47
pertanggungjawaban pidana ix, xxv, 34, 57, 59, 61, 122, 123, 124, 125,
128,153, 154, 155, 156, 157, 163, 164, 197, 199,201, 202,203,204,
'526 . PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
205,206,207,209,211,213,215,231,253,281,290,295,325,327,
349,350,351,361,365,374,376,377,378,379,423
pertobatan diri 466
pidana bersyarat 452,474,475,477,478,482,483
pidana dan pemidanaan dalam rancangan KUHP 479
pidana denda 14, 26, 127, 206,404,406, 407,408, 433, 434, 435,436,441,
444,452,453,465,469,470,472, 475,478,479,481,482
pidana kerja sosial 478, 479, 481, 482, 483
pidana korporasi 154, 197, 202,204,205, 206,431
pidanakurungan 26,206,404,405,406,407,408,435,436,444,452,453,
468,469,470,472,474,475
pidana mati 33, 317, 320, 332, 406, 408, 436, 445, 446, 448, 452, 453, 454,
455,456,457,458,459,460,461,462,463,464,465,472,479,481
pidana penjara 50, 104, 126, 127, 131, 132, 133, 136, 137, 138, 139, 141,
143,144,145,149,150,183,184,193,227,239,241,288,289,332,
365,404,405,406,407,408,413,414,435,436,444,445,446,452,
453,455,463,464,465,466,468,469,470,472,474,476,477,479,
480,481
pidana percobaan 474,482
Pidana pokok 479, 482
pidana tambahan 406,407,434,452,471,472,474,479,483
pidanatutupan 408,452,453,470,479
Plato 39,43
Plummer, Ken 8, 9, 493
poenae sunt restringendae 463
poenae ut medicine 43
poenae ut poenae 43
poena proxima morti 4~
Poernorno,Barnbang 23,62,68,70,250,499
Polandia 83, 489
police - led community conferencing 48, 51
policie scientific 7
Polish Center of Mediation 489
polisi 48, 49, 82, 121, 133, 146, 175, 192,277,281,283,305,312,318,
416,439,459,486,488,489
politik 7, 10, 13, 16, 51, 62, 135, 139, 140,319, 44_2, 443,470,483
politik krirninil 7
po1usi air 8
polusi udara 8
TENTANG PENUUS 527
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Pompe vii, xxiii, 11, 15, 30, 64, 92, 115, 116, 117, 123, 124, 128, 151, 153,
160,161,163,164,167,168,169,170,174,176,177,184,185,188,
. 190, 269,226,227, 235,t236, 249,250,259, 266,267, 271,279,299,
300,333,335,336,537,341,349,350,352,353,354,355,358,359,
363,364,365,369,370,387,389,390,391,400,424,425,500
Portugal 83
postulat 31,92, 135,153,232,263,272,280,296,301,303,315,326,352,
354,395,415,421,434,471
praktik pengadilan 108, 243, 244, 287,426
pranata hukum 50, 52, 434, 435, 477
pranata hukum adat 50
prasarana 14
prerogatif presiden 442
Prevensi khusus 40
prevensiumum 42,43,435,451
primary greetl crimes 8
Prins, Adolphe 44
prinsip negatif 58, 66
Prinsip non-retroaktif 101
Prinsip positif 58
Prinsip-prinsip hukum publik intemasional 27
Propinsi 73
psikologi kriminil 6
psikopatologi 6
Psikotropika 465
psychologischezwang 40
punire non necesse est 434
punishment is equal and fit of the criminal 482
putusan hakim 36, 92,422, 445,452, 469,471, 472,474, 475,479, 481
putusan pengadilan 19, 27, 146,280,316,326,434,445,446,457,463,
481
Q
Quae sunt minoris culpae sunt majoris infamiae 463
Quetelet, Adolphe 32
qui non potest solvere in aere, luat in corpore 470
528 PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
R ....
Radbruch, Gustav 13
rancangan KUHP 452, 479
Ratner, Steven R 94, 500
rechtsdelicten 13, 14, 135
rechtsstaat 91
rehabilitasi 43, 45, 445, 464, 483, 490
Reid, Sue Titus 33
rekonsiliasi 47, 51, 52, 53, 101, 488,490
Rekonsiliasi pribadi 47
relevan 7, 57, 144
relevansi 57, 102, 210, 220, 302
Re-logging 9
Rembug Desa 50
Remmelink, Jan vii, xvi, 28, 32, 39, 40, 41, 43, 44, 62, 63, 65, 71, 74, 75,
79,81,87,97,102,107,108,111,113,)15,157,158, 171,174,175,
178,179,180,182,187,189,191,192,197,199,203,260,262,263,
264,269,272,275,276,278,280,281,282,283,284,287,290,291,
293,316,317,318,320,339,340,342,343,345,346,348,355,360,
3.62, 363,366,371, 373, 374, 376,378,379,382,383, 389, 390, 391,
395,398,401,409,411,417,425,426,427,428,431,434,435,437,
463,464,466,468,469,471,474,482,496,500
res judicata 423
Res judicata in criminalibus 423
restitusi 45, 46, 52, 486, 489, 490
restorative conferencing initiatives 48, 50
restorative justice v, 44,.45, 49,451,484,493
retribusi 38, 435, 453
retributive justice 45
revolusi Perancis 63, 64
Roma xxx,63,67,99, 100,101,102,302,303,431,433,494
Rousseau 63
rubrica est lex 103
ruckgrat des strafensystems 464
rule of law 83, 91 ·
Rumania 101
rumusan delik 10, 68, 75, 91, 122, 123, 129, 130, 133, 143, 149, 150, 162,
183,184,185,186,187, 192,220,226,227, 228,229,230,231,232,
TENTANG PENUltS 529
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
234,236,237,238, 239,240,241, 286,288,291,323,325,327, 333,
339,345, 347,355, 356,357,358, 362,363,365,370,376,380,386,
401,402,415, 436
Rush, Benjamin 455
Rusia 68, 304, 363
RUU KUHP xxiv, 88, 90, 136, 242,286,338, 479,480, 481,482,483, 491
s
sah 9, 121,138,146,225, 230,254,263,282,283,290,327, 338, 354,413,
423,475
Sahetapy, J.E x, xv, xvii, .xxix, 14, 63, 66, 69, 76, 202, 501
sanksi 7, 11, 12, 16, 19,20,22,23, 26,29,31,35,37,39,40,70,73,93,
136, 199,20~284,285,324,325,378,417,442,451,453, 463,482
sanksi pidana 12, 16, 19, 22, 26, 29, 37, 39, 40, 70, 73, 93, 136, 284,285,
417,451,453
Sapardjaja, Koma,riah Emong 75, 240, 244, 249, 250, 501
sarana 14,3~54, 184, 195, 197,281,285,338, 348,351,375,376,379,
437,444
secondary green crimes 8, 9
se defendendo 56
sejarah xx,3,23,48,61, 69,77,101, 105,110,112,113, 116,153,169,
195,197,232,236,242,260,269,352,353,363,426,482
sekuler 29, 30
Seneca 39, 43
sengaja xxvn,29,36, 56,91,110,123, 131,134,137,143,144,149,159,
162,168,169,170, 177,182,183,184,185,186,197,227,238,241,
250,288,289,299,300,311,333,334,335,336,351,357,363,366,
375, 380, 392, 451, 464, 465, 473, 485
sentencing circle 4.9
sertifikat palsu 44.0
Sholehuddin 29, 502
Simons, D vii, :xxiii, 21, 36, ~ 65, 72, 77, 85, 110,111, 124, 150, 156, 157,
168,171, 172, 174, 176, 178, 179, 180, 181, 186, 190,209,210,213,
214.,215,216,232,233,234,235,238,241,267,270,275,297,300,
330,331,333, 334,336,339,348,351, 352, 356, 357,358, 359, 361,
362, 365, 367, 368, 370, 380, 381, 391, 396, 398, 403, 404, 405, 406,
4.08, 409, 4.10, 502
:5g(} PRINSIP-PRINSIP HUKUM PIDANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Singer, Richard G. 75, 79, 452, 502
sistem Auburn 466
sistem peradilan pidana xxii, 10, 19, 31, 46, 47, 49, 51, 82,451, 453, 487,
489,490,515
Sistem peradilan pidana tradisional 51
Sistem reformatory 467, 468
Slovenia 489
sodomi 454, 455
sosiologi hukum 7
sosiologi kriminU 6
South 8, 9, 493,516
Staatblad 23
Stahl, Julius 38, 39
Statuta Roma xxx, 99, 100, 101, 102, 302, 303, 431, 433, 494
stigmatisasi 469
strajbaar van de dader 59
strajbaar van het feit 59
Strang, Heather 31, 38, 45,502
stuiting van de verjaring 438
subjek 22,23,54, 195,198,199,200,201,202,203,331,411
submissie 442
substanSi :xxv, 4, 13, 26, 53, 284, 298, 304
supstitusi 32, 484
Sudarto 15,29,34,35,36, 74,79, 122,156,158,173,175,177,178,193,
194,210,264,269,270,271,277,281,282,283,290,299,502
•
sudut pandang hukum pidana 102,426
sumir 15,57
suprastruktur 14
Surat AI Israa 67
Surat Izin Mengemudi 407
Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan 434
Surat Putusan Pengadilan 460
Suringa, Hazewinkel vii, xvi, xxiii, 11, 19, 20, 40, 43, 63, 64, 65, 67, 68, 80,
113,114,124,168,169,170,173,174,178,179,180,181,183,187,
209,210,217,218,228,229,230,231,239,242,245,246,264,268,
272,273,275,277,280,281,282,297,324,325,326,332,333,336,
355,358,387,391,399,400,414,503
Susanto 4,5,9, 10,501,503
Sutherland 7, 16, 195
TENTANG PENULIS 531
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Swedia 87,307,308, 31~483
symbiotic [Link] 9
T
tahanan rumah 478
tatanan hukum 62
tembak mati 458
teori absolut 37, 38, 39, 41, 42
teori biososial 7
Teori Edukasi xxx, 43
Teori Efek Jera xxx, 42
teori gabungan 37, 41, 42, 216
teori hukuin 13, 53,236,515
teori keadilan restoratif v
teori kontemporer v, .xxili, 37, 42
Teori legalitas 58 ..
Teori Pengendali Sosial :xxx, 43
teori rehabilitasi 43
teori relasi 39
teori relatif 37, 39, 40, 41, 42, 43
teori-teori pemidanaan 10, 13,54
teori-teori pemidanaan kontemporer 54
teori ~juan 39
terhentin~ daluwarsa 438
terpidane1 43, 54, 92,316,317,318,319,421,444,445,446,447,448,456,
457,458,459,460,461,462,463,464,466,468,469,470,472,473,
474,475,476,479,480,481,482,483
terpidana mati 448, ·4 56, 461
tewas 173, 219,438
the inner light 466
The Justice of Peace 488
The Truth and Reconciliation Commission · 51
tidak ada perbuatan pidana tanpa pidana menurut undang-undang 80
tidak ada pidana tanpa perbuatan pidana 80
tidak ada pidana tanpa undang-undang 29, 77, 79, 80
titulus est lex 103
Trenczek. Thomas 484
532 · PRINSIP-PRINSIP HIJQJM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Triffterer, Otto 100, 101 , 503
tugas ilmu hukurn pidana 11
tujuan hukum pidana ix, 3, 28, 37, 65
Tujuan ilmu hukum xxix, 13
tujuan ilmu hukum pidana xxix, 13
tujuan pemidanaan 70, 206, 479
tujuan pidana v, ix, 3, 37, 39, 42, 43, 44, 206
tuntutan 51,56,64,70,84,170,202,224, 231,244,305, 326,421, 422,
424,429,433,454,477
Twee de Kammer 23, 169
u
uang palsu 309, 411, 437
Ubi non est principalis, non potest esse accessorius 471
ultimum remidium 31, 32,284
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 24, 133, 184,
223,466
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme 25
Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencu-
cian Uang 25
undang-undang pidana 9, 11, 12, 24, 25, 26, 36, 63, 66, 70, 71, 72, 73, 75,
77, 79,85,86, 112,115,118,124,162,237,241,247,295,326,435,
471
undang-undang pidana Belanda 12, 72 ~
undang-undang pidana di luar kodifikasi 326
undang-undang R.O 18
Undang- Undang Tenting Informasi dan Transaksi Elektronik 25
Undang-Undang Tentang Kehutanan 25
Undang-Undang Ten tang Perbankan 25
Uni Soviet 456
United Nations Covenant On Civil And Political Rights 456
Universal Declaration Of Human Rights 95, 456, 491
Universitas Groningen 431
Utrecht, E xv, 64, 66, 68, 81, 85, 86, 87, 92, 105, 109, 114, 115, 168, 242,
249,250,263,266,271 ,273,278, 349,503
UUD 1945 84, 91,442, 443,445
TENTANG PENULIS 533
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
v
van der Donk 64, 66
Veen, Th. W van 40
Ven, van der 102
verandering in de wetgeving 85
victim- offender mediation 47, 50
Vos, H.B. vii, xxiii, 18, 19, 20, 21, 34, 37, 38, 39, 40, 41, 87, 113, 114, 124,
133, 157,161,162, 168, 171 , 172,173,174, 178,184,194,208,209,
210,213,214,216,217,218,228,242,243,246,247,250,267,270,
273,279,280,296,297,333,336,341,342,345,504
w
Wales 490
Walilcota 26,121,362,363,366
Walsh , Anthony 8, 504
warga negaMt 10, 19, 58, 62, 140,224,301,306,307,308,312,314, 318
Wetboek van Strafrecht xix, :xx,.23, 24, 32;_72, 81, 104, 164, 188, 199, 200,
259, 328, 359, 363 .
Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie xx, 23, 24
Wetboek van Straf vordering 82
wetsdelicten 13, 135
wettelijke strafbepaling xix, 12, 63, 70, 71, 73, 81, 118,241,246
Wise, Edmund M. 27
y
youth justice conferencing 48
yurisdilcsi 24, 27, 100,305, 310,311,313,314,315,318
yurisprudensi 104, 366, 398,410, 423,424
z
Zehr, Howard 47
Zevenbergen 42, 176, 238, 330, 333, 356,409,410 ·.
Zulva, Eva Achjani 7, 52, 501
.534.· PRiNSIP-PRINSIP HUKUM PIOANA
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"
Eddy O.S Hlarlej, memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Gadjah
Mada, 1998, Magister Humaniora dari Pa~asarjana Fakultas Hukum
Universitas Gadjah Mada, 2004 dan Doktor dari Pascasarjana Fakultas
Hukum Universitas Gadjah Mada, 2009. Sejak 1 September 2010 dalam usia
37 tahun, diangkat sebagai Guru Besar I Profesor Hukum Pidana Fakultas
Hukum Universitas Gadjah Mada.
"Only scanned for FHUI, not for commercial purpose"