Praktikum Sistem Informasi Perencanaan PWK
Praktikum Sistem Informasi Perencanaan PWK
LABORATORIUM PERPETAAN |1
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
TIM PENYUSUN
Assisten Laboratorium :
- Irland Fardani, [Link]., M.T.
- Agi Septiana, S.T.
- Tengku Gema Ramadhan, S.T.
- Fhanji Alain Jauzi, [Link]
- Sabine Fatimah Sayidina, [Link]
- Satrio Nugraha., [Link]
- Aziz Ramdani
- Alamsyah Al Ghani, [Link]
- M. Dziqry Zulfiqaar, [Link]
- Deby Shafa Anifa
- Sherly Defannya Serdani
- Rizki Rahim Darmakusuma
- Luqmanul Hakim
DILARANG
MEMPERBANYAK DAN
MENGCOPY TANPA IZIN
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2022 M / 1443 H
LABORATORIUM PERPETAAN |2
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
KATA PENGANTAR
Praktikum Sistem Informasi Perencanaan (SIP) merupakan salah satu praktikum yang
diselenggarakan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota di bawah pengawasan
Laboratorium Perpetaan yang mana kegiatan Praktikum Sistem Informasi Perencanaan (SIP)
ini dilaksanakan pada semester 3.
Praktikum Sistem Informasi Perencanaan (SIP) ini ditujukan agar mahasiswa
Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) mampu memahami model analisis untuk kasus-kasus
perencanaan, dapat mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil-hasil analisis ke
dalam bentuk peta dengan menggunakan software ArcGIS.
Harap diperhatikan bagi mahasiswa yang tidak lulus pada kegiatan praktikum tetapi
lulus pada kegiatan kuliah/teori, maka diwajibkan untuk mengikuti praktikum kembali. Semoga
ilmu yang didapatkan melalui kegiatan Praktikum Sistem Informasi Perencanaan (SIP) ini
dapat dimaanfaatkan sebaik-baiknya.
LABORATORIUM PERPETAAN |3
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
TATA TERTIB
TATA TERTIB
• Jumlah kegiatan praktikum dilaksanakan sebanyak 10 kali.
• Praktikan yang telah 2 kali melewati absensi dan 2 kali tidak menyerahkan tugas
dinyatakan tidak lulus praktikum.
• Mengumpulkan tugas tepat waktu sesuai arahan asisten.
• Tidak plagiat dalam pengerjaan tugas, selalu mencantumkan sumber.
• Pelanggaran tata tertib akan dikenakan sanksi.
• Peraturan yang tidak tercantum akan ditentukan kemudian secara musyawarah.
SANKSI
• Keterlambatan mengikuti kelas offline hanya 15 menit, lebih dari 15 menit praktikan
diperbolehkan mengikuti kelas namun absensi tidak diterima (sudah terhitung 1 kali
absen/tidak mengikuti praktikum).
• Jika praktikan berhalangan hadir dengan alasan yang dapat diterima, maka praktikan
wajib konfirmasi ke asisten atau Laboran untuk mendapatkan jadwal praktikum
pengganti.
• Tindakan plagiat dalam pembuatan tugas dan jawaban kuis akan diberikan nilai 0.
LABORATORIUM PERPETAAN |4
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
DAFTAR ISI
LABORATORIUM PERPETAAN |5
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN |6
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
DAFTAR GAMBAR
LABORATORIUM PERPETAAN |8
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
DAFTAR TABEL
LABORATORIUM PERPETAAN |9
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 10
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 11
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 12
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Pada dasarnya dalam penginderaan jauh mempunyai konsep yaitu memanfaatkan gelombang
elektromagnetik untuk berinteraksi dengan suatu objek atau fenomena yang akan dikaji.
Terdapat tujuh buah elemen yang berhubungan dengan penginderaan jauh, yaitu:
1. Sumber energi;
2. Radiasi dan Atmosfer;
3. Interaksi gelombang elektromagnetik dengan target;
4. Perekaman oleh sensor;
5. Transmisi;
6. Penerimaan; dan
7. Proses gelombang elektro magnetik, interpretasi dan analisis serta aplikasinya.
Berdasarkan panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan, sistem dalam
penginderaan jauh dapat dibedakan menjadi:
• Penginderaan jauh visibel dan inframerah, sumber energi yang digunakan adalah
matahari dengan puncak radiasinya 0,5 µm. Data yang diperoleh tergantung pada
kemampuan target merefleksikan radiasi elektromagnetik matahari. Selanjutnya
informasi mengenai target dapat diperoleh melalui spektrum refleksinya.
LABORATORIUM PERPETAAN | 13
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
• Penginderaan jauh inframerah termal, sumber energi yang digunakan adalah energi
radiasi dari target yang bersangkutan. Dasarnya adalah, seperti telah dibahas
sebelumnya mengenai sifat radiasi elektromagnetik, bahwa semua benda pada
temperatur di atas 0°K atau -273°C memancarkan radiasi elektromagnetik terus–
menerus dengan puncak radiasi ± 10 µm.
• Penginderaan jauh gelombang pendek, sistem penginderaan jauh ini memiliki dua tipe,
yaitu pasif dan aktif.
• Sistem pasif (gambar 1.3 A) adalah sistem yang menggunakan energi yang telah tersedia,
dalam hal ini adalah energi dari matahari. Untuk seluruh energi yang direfleksikan, sensor
pasif hanya dapat digunakan saat ada penyinaran matahari. Pada malam hari, tidak ada
refleksi energi dari matahari yang dapat digunakan. Pada sistem pasif radiasi gelombang
pendek dipancarkan dari target yang dideteksi. Sistem aktif (gambar 1.3 B) adalah sistem
penginderaan jauh yang menggunakan energi yang diemisikan sendiri (tidak
menggunakan matahari sebagai sumber energi).
Gambar 1. 3 Cara Kerja Sistem Sensor Pasif (A) dan Aktif (B) dari Wahana Satelit
Penggunaan citra pengideraan jauh satelit semakin disukai oleh para pengguna terutama
pengolahaan wilayah, karena citra penginderaan jauh satelit mempunyai beberapa kelebihan,
yaitu:
1. Citra menggambarkan objek, daerah, dan gejala permukaan bumi dengan wujud dan
letak objek mirip dengan wujud dan letak objek di bumi, realtif lengkap, meliputi daerah
yang luas dan permanen
2. Jenis citra tertentu dapa mewujudkan dalam tiga dimensi, sehingga memperjelas kondisi
relief dan memungkinkan pengukuran tinggi.
3. Kareakteristik objek yang tidak tampak mata dapat diwujudkan dalam bentuk citra,
seperti perbedaan suhu, kebocoran pipa gas bawah tanah, kebakaran tambang dibawah
tanah, mudah dikenali dengan menggunakan citra inframerah termal
4. Citra dapat dibuat cepat meskipun daerahnya secara terestrial sulit dijelajahi
Citra dapat dibuat dengan periode pendek, misalnya NOAA setiap hari, Landsat setiap 16 hari,
SPOT setiap 24 hari. Citra merupakan alat yang baik untuk memantau perubahan yang realtif
cepat, seperti pembukaan daerah hutan, pemekaran kota, perluasan lahan garapan,
perubahan kualitas lingkungan.
LABORATORIUM PERPETAAN | 14
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 15
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Pada band–band yang terdapat citra satelit ini, kita dapat menerapkan konsep dari
penyusunan gambar, yaitu kita dapat menggabungkan 3 buah band untuk mempermudah
analisis citra selanjutnya, berikut ini adalah contoh–contoh formulasi penggabungan citra dan
manfaat penggunaannya.
LABORATORIUM PERPETAAN | 16
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Untuk melakukan komposit band pada ArcGIS dapat mengikuti langkah–langkah berikut:
1. Tambahkan ke–8 band dari citra landsat yang ada, dengan cara mengklik Add Data
LABORATORIUM PERPETAAN | 17
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
4. Maka hasil penggabungan ke–8 band citra akan tampak seperti gambar di bawah ini:
6. Maka hasilnya, warna hitam yang ada disekitar citra akan menjadi hilang
LABORATORIUM PERPETAAN | 18
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Gambar 1. 6 Kombinasi Band Landsat dengan Kombinasi Band 3,2,1 (kiri) serta 4,3,2
(kanan)
LABORATORIUM PERPETAAN | 19
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 20
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 21
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Hubungan geometri antara lokasi piksel (baris,kolom) dengan koordinat peta (x,y) harus dapat
diketahui. Hal ini dilakukan dengan mentransformasikan koordinat menggunakan titik–titik
kontrol (Ground Control Point/GCP). GCP ini dapat diperoleh dari peta dasar lainnya atau
melalui pengkuran di lapangan. Penentuan jumlah dan distribusi GCP akan mempengaruhi
akurasi koreksi geometrik. Setelah penentuan GCP, selanjutnya diperiksa kembali dengan
titik–titik yang lainnya yang disebut dengan Independent Control Point (ICP).
LABORATORIUM PERPETAAN | 22
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Metode yang dapat digunakan untuk koreksi topografi bisa didekati melalui dua pendekatan,
yaitu:
1. Koreksi topografi berdasarkan pendekatan Ratio Band adalah cara yang paling mudah
dan tidak memerlukan masukan data tambahan. Reflektansi diasumsikan sebagai
kenaikan atau penurunan yang sesuai pada dua buah ratio band, maka dari pada itu,
nilai pembagian atau pengurangan dari kedua buah band tersebut merupakan akibat dari
efek topografik.
2. Berdasarkan Digital Elevation Model (DEM)
LABORATORIUM PERPETAAN | 23
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 24
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
c. Filter
Bila kenampakan suatu citra agak sukar untuk dianalisis karena kekontrasannya rendah
atau karena banyaknya noise pada citra, maka untuk kepentingan interpretasi perlu
dilakukan perbaikan citra yang dapat dilakukan dengan jalan filtering. Beberapa jenis
filter ke ruangan yang ada antara lain: low pass filtering, high pass filtering, dan band
pass filtering.
Setelah melakukan composite band, kualitas image yang dihasilkan belum begitu bagus untuk
kita gunakan untuk menganalisis citra pada tahap selanjutnya. Salah satu proses yang bisa
kita lakukan untuk memperbaiki kualitas citra adalah proses penajaman citra atau yang lebih
dikenal sebagai image enhancement. Prinsip dasar dari image enhancement tidak merubah
nilai citra, namun hanya merubah kekontrasan suatu image agar image tersebut dapat lebih
dianalisis secara visual. Langkah–langkah penajaman citra adalah sebagai berikut:
LABORATORIUM PERPETAAN | 25
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1) Kita dapat merubah–rubah type display warnanya. Kita bisa menggunakan Type
Costume, Standard Deviation, Histrogram Equalize, Minimum-Maximum, dan Histrogram
Spesification.
2) Kemudian kita klik apply, maka hasilnya adalah image yang seperti kita set.
LABORATORIUM PERPETAAN | 26
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 27
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.1 Klasifikasi
Ini merupakan tahap terakhir dalam pengolahan citra. Proses ini bertujuan untuk membagi
daerah cakupan berdasarkan jenis objeknya dengan cara menginterpretasi kenampakannya
di atas citra dan menyatakannya dengan simbol tertentu. Dari proses ini dapat dihasilkan
suatu peta tematik yang sangat berarti bagi keperluan perencanaan selanjutnya.
Proses pengklasifikasian citra satelit biasa dilakukan secara terawasi ( supervised classification)
dan tak terawasi (unsupervised classification). Pada metode yang pertama, identitas dan lokasi
dari suatu liputan lahan seperti lahan pertanian, hutan, dan perkotaan telah diketahui melalui
pemeriksaan lapangan atau interpretasi dari foto udara. Analisa diarahkan untuk melokalisir
lokasi spesifiknya di citra dengan mencari sampel areanya ( training site). Pemilihan metode
yang cocok untuk penentuan kelas dari piksel tergantung kepada sifat dari masukan data dan
keluaran yang diharapkan.
Dari komposit citra Aster Band 4,5,7 diklasifikasikan menggunakan metode supervised atau
terawasi dengan menggambil contoh kelas tata guna lahan yang mengacu pada peta rupa
bumi indonessia. Composit dari band ini dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu perairan, lahan
terbangun, hutan, perkebunan, dan ladang.
LABORATORIUM PERPETAAN | 28
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3. Kemudian klik “OK” dan tunggu sampai proses Iso Cluster untuk memperoleh data
signature.
4. Untuk melakukan klasifikasi kita menggunakan tools Spatial Analyst ➔ Multivariate ➔
Maximum Likelihood Clasification.
LABORATORIUM PERPETAAN | 29
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1. Untuk sampel yang akan kita gunakan adalah data hasil survey GPS yang pada Bagian A
telah kita export menjadi bentuk SHP.
2. Input data yang akan kita masukan dalam proses ini adalah data polygon, maka dari
pada itu kita perlu mendigit ulang, data hasil survey GPS yang dalam bentuk titik menjadi
sebuah polygon.
LABORATORIUM PERPETAAN | 30
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3. Selanjutnya kita buat signature file dengan cara klik “Create Signature” pada toolbox
“Multivariate”.
4. Masukan input raster band dan sampe data, pilih sampel filed dan tentukan lokasi dan
nama output file signature-nya lalu klik “OK”.
LABORATORIUM PERPETAAN | 31
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
6. Masukan input raster bands-nya dan file signature hasil create signature kita pilih dan
simpan output raster terklasifikasi pada lokasi yang diinginkan.
7. Klik “OK” dan tunggu prosesnya selesai.
8. Setelah selasai, maka pada data view akan muncul citra yang sudah terklasifikasi secara
supervised.
LABORATORIUM PERPETAAN | 32
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3.2 Vektorisasi
Untuk mempermudah dalam proses penganalisisan data, setelah melakukan proses klasifikasi
dengan cara klasifikasi unsupervised maupun supervised, maka langkah selanjutnya adalah
merubah data raster menjadi data vector. Perubahan data raster menjadi vector ini
dimaksudkan agar kita dapat melakukan perhitungan–perhitungan seperti luas, keliling,
ataupun dapat melakukan proses analisis overlay maupun intersect.
Proses perubahan data raster menjadi vector dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu:
1. Melakukan Pendigitasian.
Metode ini dilakukan ketika ingin mendapatkan data vector yang detail, namun cara ini
memerlukan waktu dan tenaga yang cukup besar.
2. Menggunakan Fitur Raster to Polygon
Metode ini dilakukan ketika ingin mendapatkan hasil vector yang cukup baik, namun
dalam waktu yang singkat. Metode ini digunakan dalam proses pembuatan peta skala
tidak detail.
Metode yang akan kita lakukan pada kali ini adalah metode yang kedua, adapun langkah–
langkahnya adalah:
2. Aktifkan ArcToolbox.
3. Buka fitur raster to polygon yang terletak di: Conversion Tools ➔ From Raster ➔ Raster
to Polygon
LABORATORIUM PERPETAAN | 33
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
4. Inputkan data raster yang akan kita ubah menjadi vector, ceklis “Simplify polygon” dan
klik “OK”.
5. Maka hasilnya adalah sebuah data vector yang berisikan attribute table FID, Shape, ID,
dan Gridcode.
6. Gridecode adalah kelas–kelas yang ada dalam pengklasifikasian, dalam contoh ini ada 8
kelas.
7. Lakukan juga untuk data yang diklasifikasi menggunakan metode Klasifikasi Supervised.
LABORATORIUM PERPETAAN | 34
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 35
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 36
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Selanjutnya kita akan memasukan data dari tabel Excel kedalam Attribute Table.
LABORATORIUM PERPETAAN | 37
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Kita akan menambahkan kolom “Laki2”, “Perempuan”, “Jumlah”, dan “Sex_Ratio” ke dalam
kolom di ArcGIS.
Langkah-langkah:
1. Membuat satu kolom pada Excel yang mengacu terhadap kolom dalam Attribute Table di
ArcGIS. (dalam kasus ini kita mengacu pada kolom “ID_Distrik”).
2. Save data Excel, lalu Add data Shapefile dan data Excel dalam ArcMap.
LABORATORIUM PERPETAAN | 38
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
4. Klik kanan pada Shapefile “penduduk”, lalu pilih “Join and Relates”, lalu pilih “Join”
5. Langkah selanjutnya, sesuaikan kolom dari Shapefile dengan kolom dari Excel
LABORATORIUM PERPETAAN | 39
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
4.3 Grafik
Diagram atau Chart adalah penyajian serangkaian data statistic dengan menggunakan
gambar dalam berbagai bentuk (lingkaran, batang, garis, dan lain sebagainya). Dalam
pemetaan menampilkan diagram berguna untuk menambahkan informasi, yang bertujuan
agar memudahkan dalam pembacaan peta itu sendiri.
Contoh kasus kita memiliki data jumlah penduduk Time Series per kecamatan di suatu
wilayah, lalu kita akan mencoba menampilkan data–data tabular tersebut dalam bentuk
diagram atau chart.
a) Buka data shapefile pada ArcMap
LABORATORIUM PERPETAAN | 40
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
c) Mengatur data tabular dari “Field” yang mana saja yang akan dijadikan grafik.
d) Apply
LABORATORIUM PERPETAAN | 41
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 42
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1. Pembuatan SHP
Pengenalan pembuatan data GIS di ArcGIS.
2. Pendigitasian Peta
Menjelaskan cara pendigitasian peta untuk mendapatkan data vektor.
LABORATORIUM PERPETAAN | 43
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
E. Klik kanan dari folder D:\SIP 2013-2014\Latihan\Geodatabase\shapefile, dan pilih New >
Shapefile
F. Maka akan tampil form Create New Shapefile, ketik Name shapefile dan pada dropdown
panah pilih feature type
G. Klik tombol Edit, untuk mendefinisikan sistem koordinatnya
LABORATORIUM PERPETAAN | 44
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
H. Maka akan tampil form Spatial Reference Properties, pilih tombol Select dan pilih sistem
koordinat yang telah diketahui. Atau klik Import dan pilih sumber data yang akan di-copy-
kan, atau klik New dan definisikan sistem koordinat yang baru
I. Pada kotak dialog Browse for dataset akan muncul pilihan sistem koordinat.
Pilih Geographic
Coordinate System
Klik Add
Klik Add
LABORATORIUM PERPETAAN | 45
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Atau bisa melakukan Drag Layer ke dalam ArcCatalog yang akan didigitasi ke ArcMap
(ArcGIS).
Adapun Standar yang perlu diperhatikan dalam digitasi yuyupan lahan yang dapat dilihat pada
SNI 7645-1:2014 Terkait Klasifikasi Penutupan Lahan. Mahasiswa dapat melihat
klasifikasi tutupan lahan tersebut, dan dapat langsung melakukan pen-digitasian tutupan
lahan dengan mengindentifikasi citra sesuai lokasi yang didapatkan oleh setiap praktikan.
Untuk mengatasi permasalahan diatas, salah satu tekniknya adalah melakukan pendigitasian
dengan menggunakan tipe line terlebih dahulu, kemudian untuk atributnya dilakukan
LABORATORIUM PERPETAAN | 46
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
pendigitasian menggunakan tipe point selanjutnya adalah proses pen-join-an dan konversi
dari garis menjadi polygon.
Ada beberapa hal penting yang harus selalu diperhatikan oleh operator dan koordinator
digitasi 2D selama tahapan ini dilaksanakan:
A. Semua unsur peta rupabumi yang terekam dalam format vektor 2 Dimensi (2D). IG dasar
unsur peta RBI yang direkam mencakup unsur-unsur titik (point), anotasi (TX) dan garis
line) Perairan, Transportasi, Jembatan, Terowongan, Utilitas, Bangunan, dan Vegetasi
Lahan Terbuka.
B. Sistem koordinat yang digunakan adalah: SRGI 2013 sebagai sistem referensi geospasial
mencakup datum horizontal dan vertikal.
C. Semua detil planimetris dengan ukuran lebih besar dari 2,5 m x 2,5 m harus didigitasi
sebagai objek terpisah. Berikut adalah tabel kesesuaian geometri terhadap skala:
LABORATORIUM PERPETAAN | 47
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
D. Unsur perairan (garis pantai) wajib diselesaikan terlebih dahulu baru kemudian
dilanjutkan dengan (secara berurutan) unsur perairan lainnya, baru kemudian unsur
planimetris lainnya (transportasi, utilitas, vegetasi , jembatan, terowongan).
E. Semua unsur harus didigitasi secara lengkap.
LABORATORIUM PERPETAAN | 48
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Gambar 5. 2 Penarikan Unsur Sungai dan Irigasi dengan Lebar Lebih Dari 2.5 m
G. Sungai harus terhubung satu sama lain dan membentuk jaringan (setiap pertemuan
unsur sungai, harus snap ke center line, bukan snap ke garis tepi perairannya.
H. Tidak boleh ada sungai yang menggantung. Pada wilayah tertentu mungkin ditemui
sungai menggantung karena aliran sungai masuk ke dalam tanah kemudian muncul lagi
di daerah lain sehingga terkesan alur sungai terputus. Kasus sungai menggantung ini
banyak ditemui pada wilayah pegunungan Karst.
I. Plotting pulau/delta dalam sungai menggunakan unsur garis tepi pantai/pulau
(DB016000).
J. Pada setiap perpotongan/pertemuan unsur perairan harus snap.
K. Unsur Garis Tepi Perairan (DF002004) digunakan untuk garis tepi perairan, yang tidak
ada dalam kode unsur rupabumi.
L. Unsur mata air, air terjun, jeram, dan batu karang di plot sebagai titik (point) atau garis
sesuai ketentuan ukuran. Kode unsur masing-masing unsur dapat dilihat di tabel kode
unsur RBI.
M. Unsur batu karang di plot sesuai ketentuan ukuran pemetaan RBI skala 1:5000. Kode
unsur dapat dilihat di tabel kode unsur RBI.
N. Setiap objek yang terploting dan akan dibentuk area/polygon, harus diberikan label sesuai
dengan unsur tersebut, misalkan label AD untuk unsur Danau, label AE untuk air Empang,
label AS untuk Air Sungai, dll. Label dapat dilihat selengkapnya pada tabel Daftar Kode
Unsur RBI
O. Area-area/Polygon yang dibentuk dari unsur garis perairan, dimasukkan ke dalam Kelas
Fitur PERAIRANAR, tidak lagi masuk ke Kelas Fitur PENUTUPLAHANAR.
LABORATORIUM PERPETAAN | 49
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
D. Jalan dengan lebar lebih dari 2,5m digambarkan sebagai 2 garis, dengan garis tepi jalan
menggunakan unsur Garis Tepi Jaringan Transportasi Darat (CA024000), sementara kode
unsur center line jalan disesuaikan menurut kelas jalan.
E. Penarikan objek landas pacu, dermaga laut dan dermaga sungai mengikuti kaidah
penarikan objek jalan. kode unsur garis transportasi menyesuaikan objek, lihat di
lampiran kode unsur TRANSPORTASI untuk objek landas pacu, dermaga sungai, dan
dermaga laut
F. Setiap objek yang terploting dan akan dibentuk area/polygon, harus diberikan label sesuai
dengan unsur tersebut. Area-area yang dibentuk dari unsur garis transportasi,
dimasukkan ke dalam Kelas Fitur TRANSPORTASIAR, tidak lagi masuk ke Kelas Fitur
PENUTUPLAHANAR.
G. Objek Terminal, Pelabuhan, Pelabuhan Udara atau objek lain yang berkaitan dengan
transportasi (Daftar lengkapnya lihat di tabel kode unsur) yang areanya terbentuk dari
unsur Garis Tepi Bangunan (GA002000) masuk ke dalam kelas fitur TRANSPORTASIAR,
bukan masuk ke dalam kelas fitur BANGUNANFASUMAR
H. Semua jalan kereta api dan lori yang terlihat pada model harus di-plot.
LABORATORIUM PERPETAAN | 50
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 51
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
A. Digitasi vegetasiLN harus snap dengan unsur perairan atau transportasi atau vegetasiLN
atau bangunan.
LABORATORIUM PERPETAAN | 52
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
B. Penarikan unsur Vegetasi dilakukan pada perbesaran 3x skala peta yang dihasilkan ( zoom
level dilakukan pada skala ±1:1500 untuk peta skala 1:5000)
C. Interpretasi unsur vegetasi pada model harus memperhatikan perbedaan bentuk, tekstur,
dan pola pada tiap-tiap penutup lahan berdasarkan pada penampakan yang terlihat dari
model foto. Contohnya penutup lahan buatan manusia seperti sawah dan perkebunan
umumnya memiliki pola yang beraturan.
D. Setiap polyline tertutup diberikan label berupa anotasi jenis penutup lahan sesuai dengan
kenampakan objek pada foto/citra. Kode anotasi mengikuti kode yang ada di tabel kode
unsur RBI. Jika terdapat unsur yang belum ada kode anotasi dalam daftar tersebut,
Penyedia Jasa dapat mengusulkan kepada tim Supervisi BIG untuk disetujui.
E. Kelas fitur VEGETASILATERAR (Area) dibentuk dari gabungan data jalan, sungai,
bangunan, dan batas vegetasi.
F. Untuk Area Jalan, perairan, dan bangunan yang terbentuk harus dihapus dari kelas fitur
VEGETASILATERAR pada akhir pekerjaan.
LABORATORIUM PERPETAAN | 53
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 54
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
• Garis Tepi Jalan menggantung sehingga ketika pembentukan polygon penutup lahan
tidak sesuai.
Gambar 5. 11 Poligon Penutup Lahan Salah, Karena Kesalahan Penarikan Garis Tepi Jalan
LABORATORIUM PERPETAAN | 55
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
• Penarikan garis tidak snap ke center line sehingga jaringan jalan/sungai terputus
LABORATORIUM PERPETAAN | 56
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 57
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
• Penutup lahan salah unsur (Untuk area pemukiman pada skala 1:5000 tidak perlu di blok
area kemudian di-plot sebagai penutup lahan unsur tanah kosong, sesuaikan jenis
penutup lahan dengan penampakan pada foto)
LABORATORIUM PERPETAAN | 58
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 59
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1. Untuk menggabungkan data titik dengan data polygon, dilakukan pen-join-an dengan
menggunakan feature “Join”
3. Untuk box “choose the layer to join to this layer, or load spatial data form disk” dipilih
data titik yang berisikan nama atribut dari setiap vegetasi. Kemudian pilihan “Each
polygon will be given all the attributes of the point that is closest to its boundary and a
distance field showing how close the point is (in the units of the target layer) ” kemudian
pilih output datanya, maka dihasilkan data polygon yang telah digabung dengan attribut
yang ada di point.
LABORATORIUM PERPETAAN | 60
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 61
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Proses perencanaan kegiatan pada suatu kawasan tentunya perlu memperhatikan kesesuaian
antara kebutuhan serta karakteristik lingkungan sekitarnya. Analisis kesesuaian lahan
merupakan sebuah metode untuk menilai kesesuaian antara suatu lahan dengan kegiatan
yang direncanakan. Analisis ini berfungsi agar pemanfaatan lahan dalam pengembangan
wilayah dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan
ekosistem dan meminimalkan kerugian akibat bencana (Direktorat Jenderal Tata Ruang
Kementerian ATR/BPN, 2022).
Kesesuaian lahan diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 41/PRT/M/2007
tentang Pedoman Standar Teknis Fungsi Ruang Kawasan Budidaya. Didalamnya memuat
kriteria-kriteria umum dan teknis dari setiap kegiatan budidaya. Kegiatan budidaya yang
umum dianalisis pada penyusunan rencana tata ruang, meliputi:
LABORATORIUM PERPETAAN | 62
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
• Kawasan hutan lindung, yaitu kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu
memberikan lindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahannya sebagai pengatur
tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah
• Kawasan bergambut, yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar
berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang lama
• Kawasan resapan air, yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang
berguna sebagai sumber air.
Selengkapnya mengenai kriteria dari Kawasan-kawasan diatas dapat dilihat pada tabel berikut.
LABORATORIUM PERPETAAN | 63
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Selengkapnya mengenai kriteria dari kawasan-kawasan diatas dapat dilihat pada tabel berikut.
LABORATORIUM PERPETAAN | 64
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
• Taman hutan raya, adalah kawasan pelestarian yang terutama dimanfaatkan untuk
tujuan koleksi tumbuhan dan/atau bukan asli, pengembangan ilmu pengetahuan,
Pendidikan dan Latihan, budaya, pariwisata dan rekreasi.
• Taman wisata alam, adalah kawasan pelestarian alam di darat maupun di laut yang
terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.
• Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, adalah kawasan yang merupakan lokasi
bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi yang khas.
Selengkapnya mengenai kriteria dari kawasan-kawasan diatas dapat dilihat pada tabel berikut.
LABORATORIUM PERPETAAN | 65
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Kawasan
No. Sub-Kawasan Lindung Kriteria Kawasan Lindung
Lindung
• Merupakan wilayah kehidupan satwa yang
sejak semula menghuni areal tersebut
Daerah
• Mempunyai luas tertentu yang
5 Pengungsian
memungkinkan berlangsungnya proses
Satwa
hidup dan kehidupan serta
berkembangbiaknya satwa tersebut
Kawasan berupa perairan laut, perairan darat,
Kawasan Suaka Alam wilayah pesisir, muara sungai, gugusan karang
6
Laut dan perairan lainnya dan atol yang mempunyai ciri khas berupa
keragaman dan/atau keunikan ekosistem
Minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air
Kawasan Pantai Berhutan
7 pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur
Bakau
dari garis air surut terendah kearah darat
Berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki
Taman Nasional, Taman
tumbuhan dan satwa yang beragam, memiliki
8 Hutan Raya dan Taman
arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki
Wisata Alam
akses yang baik untuk keperluan pariwisata
Tempat serta ruang disekitar bangunan bernilai
budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan
Kawasan Cagar Budaya
9 dengan bentukan geologi tertentu yang
dan Ilmu Pengetahuan
mempunyai manfaat tinggi untuk
pengembangan ilmu pengetahuan
Sumber: Keppres No. 32 Tahun 1990
LABORATORIUM PERPETAAN | 66
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Kawasan industri, yaitu kawasan yang diperuntukan bagi kegiatan industri berdasarkan
Rencana Tata Ruang Wilayah yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang
bersangkutan. Kawasan peruntukan industri memiliki fungsi antara lain:
1) Memfasilitasi kegiatan industri agar tercipta aglomerasi kegiatan produksi di satu lokasi
dengan biaya investasi prasarana yang efisien;
2) Mendukung upaya penyediaan lapangan kerja;
3) Meningkatkan nilai tambah komoditas yang pada gilirannya meningkatkan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) di wilayah yang bersangkutan;
4) Mempermudah koordinasi pengendalian dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan.
Ketentuan teknis kesesuaian lahan untuk kawasan peruntukan industri dapat dilihat pada tabel
berikut.
LABORATORIUM PERPETAAN | 67
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Kawasan yang diperuntukan untuk kegiatan perdagangan dan jasa, termasuk pergudangan,
yang diharapkan mampu mendatangkan keuntungan bagi pemiliknya dan memberikan nilai
tambah pada satu kawasan perkotaan. Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa memiliki
fungsi memfasilitasi kegiatan transaksi perdagangan dan jasa antar masyarakat yang
LABORATORIUM PERPETAAN | 68
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
membutuhkan (sisi permintaan) dan masyarakat yang menjual jasa (sisi penawaran).
Kawasan perdagangan dan jasa juga berfungsi untuk menyerap tenaga kerja di perkotaan
dan memberikan kontribusi yang dominan terhadap PDRB. Ketentuan teknis kesesuaian lahan
untuk kawasan peruntukan perdagangan dan jasa dapat dilihat pada tabel berikut.
LABORATORIUM PERPETAAN | 69
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 70
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Analisis fisik dasar dan lingkungan dilakukan untuk mengetahui sebarapa mampu kondisi alam
dan lingkungan dapat mendukung pengembangan suatu wilayah yang dituangkan dalam
rencana tata ruang baik yang bersifat umum (RTRW dan RDTR) maupun yang bersifat detail
(RTBL dan perencanaan tapak/Site Plan).
Teknik analisis yang digunakan dalam analisis fisik dasar dan lingkungan, yakni teknik overlay
atau tumpang tindih data-data tematik (data spasial) tertentu, diantaranya topografi dan
morfologi, jenis tanah, geologi, curah hujan, hidrologi dan hidrogeologi, rawan bencana alam,
serta tutupan dan penggunaan lahan. Masing-masing data tersebut memiliki fungsi tertentu
sebagai bahan masukan dalam analisis fisik dasar dan lingkungan.
LABORATORIUM PERPETAAN | 71
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 72
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
yang sesuai untuk masing-masing tingkatan. Hasil dari analisis SKL kestabilan pondasi ini akan
menunjukkan kelas kestabilan fondasi lahan rendah, kurang, sedang, cukup dan tinggi. Kelas
kestabilan pondasi tersebut menunjukkan tingkatan dimana kestabilan pondasi rendah berarti
kawasan tersebut tidak stabil untuk bangunan. Sedangkan kestabilan pondasi tinggi berarti
kawasan tersebut akan stabil untuk pondasi bangunan apapun atau untuk segala jenis
pondasi. Berikut merupakan kriteria penentuan SKL Kestabilan Pondasi.
Tabel 7. 4 Kriteria Penentuan SKL Kestabilan Pondasi
SKL Kestabilan Lereng
SKL
Peta Kerentanan Jenis
Peta Kestabian Nilai
Keinggian Peta Morfologi Gerakan Tanah
Kemiringan Pondasi
(mdpl) Tanah
Pegunungan/
Rendah
>3.000 >40% Perbukitan Regosol 1
(0-4)
Sangat Terjal
Zona 3
Podsol
Pegunungan/ (Tinggi)
Merah Kurang
2.000-3.000 15-40% Perbukitan 2
Kuning, 5-9)
Terjal
Andosol
Sedang
Mediteran,
Zona 2 (10-14)
1.000-2.000 5-15% Perbukitan Brown 3
(Menengah) Cukup
Forest
(15-19)
500-1.000 2-5% Landai Zona 1 Latosol 4
Tinggi (20)
<500 0-2% Dataran (Rendah) Aluvial 5
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/Prt/M/2007
Analisis SKL Ketersediaan Air ini dilakukan untuk mengetahui tingkat ketersediaan air dan
kemampuan penyediaan air pada masing-masing tingkatan, guna pengembangan kawasan.
Hasil dari analisis SKL ketersediaan air ini akan menunjukkan kelas ketersediaan air sangat
rendah, rendah, sedang, dan tinggi. Kelas ketersediaan air tersebut menunjukkan tingkatan
dimana ketersediaan air rendah berarti kawasan tersebut memiliki ketersediaan air tanah
dalam dan dangkalnya tidak banyak. Sedangkan ketersediaan air tinggi berarti kawasan
tersebut memiliki ketersediaan air tanah dalam dan dangkalnya banyak. Berikut merupakan
kriteria penentuan SKL Ketersediaan Air.
Tabel 7. 5 Kriteria Penentuan SKL Ketersediaan Air
Peta Peta SKL
Peta Jenis Penggunaan
Kemiringan Curah Hujan Hidrogeologi Ketersediaan Nilai
Morfologi Tanah Lahan
Lereng (mm/th) Air
Pegunungan Semak
Sangat
/ Perbukitan belukar,
> 40 % 2.500-3.000 Alluvial Rendah 1
Sangat Rendah ladang,
(0-7)
Terjal (Setempat hutan
Pegunungan terbatas) Kebun, Rendah
/ Perbukitan 15 – 40 % 3.000-3.500 Latosl hutan, hutan 2
(8-14)
Terjal belukar
Sedang (Baik Meditera,
Sedang
Perbukitan 5 – 15 % 3.500-4.000 tidak Brown Semua 3
(15-21)
merata) Forest
Tinggi (Baik Podsol Tinggi
Landai 2–5% 4.000-4.500 Semua 4
merata) Merah (22-30)
LABORATORIUM PERPETAAN | 73
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Analisis SKL Drainase ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam
mengalirkan air hujan secara alami, sehingga kemungkinan genangan baik bersifat lokal
maupun meluas dapat dihindari. Hasil dari analisis SKL drainase ini akan menunjukkan kelas
drainase kurang, cukup dan tinggi. Kelas kemampuan drainase tersebut menunjukkan
tingkatan dimana kemampuan drainase rendah berarti kawasan tersebut tidak dapat
mengalirkan air dengan baik dan mudah tergenang. Sedangkan kemampuan drainase tinggi
berarti kawasan tersebut dapat mengalirkan air dengan baik dan genangan air yang ada hanya
sedikit. Berikut merupakan kriteria penentuan SKL Drainase.
Tabel 7. 6 Kriteria Penentuan SKL Drainase
Peta Peta Curah SKL
Peta Peta Penggunaan
Ketinggian Hujan Jenis Tanah Drainas Nilai
Morfologi Lereng Lahan
(mdpl) (mm/tahun) e
Rendah
<500 Dataran 0-2 % 2.500-3.000 Alluvial Semua 1
(0-6)
Kurang
500-1.000 Landai 2-5 % 3.000-3.500 Latosol Semua 2
(7-12)
Meditera, Sedang
1.000-2.000 Perbukitan 5-15 % 3.500-4.000 Semua 3
Brown Forest (13-18)
Pegunungan Podsol Merah
Semak belukar, Cukup
2.000-3.000 /Perbukitan 15-40 % 4.000-4.500 Kuning, 4
ladang, hutan (19-24)
Terjal Andosol
Pegunungan
Kebun, hutan, Tinggi
>3.000 / Perbukitan >40 % >4.500 Regosol 5
hutan belukar (25-30)
Sangat Terjal
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/Prt/M/2007
LABORATORIUM PERPETAAN | 74
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 75
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Dari total nilai pembobotan diatas, dapat ditentukan beberapa kelas kemampuan lahan yang
memperhatikan nilai minimum dan maksimum dari total nilai. Dari angka di atas, nilai minimum
yang mungkin didapat adalah 32 sedangkan nilai maksimum yang mungkin didapat adalah
160. Kelas dan klasifikasi pengembangan berdasarkan total nilai pembobotan dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 7. 10 Klasifikasi Pengembangan
Total Nilai Kelas Klasifikasi Pengembangan
32 – 58 Kelas A Kemampuan Pengembangan Sangat Rendah
59 – 83 Kelas B Kemampuan Pengembangan Rendah
84 – 109 Kelas C Kemampuan Pengembangan Sedang
110 – 134 Kelas D Kemampuan Pengembangan Cukup Tinggi
135 – 160 Kelas E Kemampuan Pengembangan Sangat Tinggi
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/Prt/M/2007
LABORATORIUM PERPETAAN | 76
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 77
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Pendekatan tata ruang tersebut berguna untuk mengidentifikasi daya dukung lahan yang
terdiri dari kawasan limitasi, kawasan kendala dan kawasan potensial. Pengertian dan kriteria
dari ketiga wilayah tersebut adalah sebagai berikut:
• Kawasan limitasi, adalah wilayah dengan fisik dasarnya memiliki tingkat kesesuaian
lahan yang tidak layak dikembangkan untuk permukiman berdasarkan batasan-batasan
fisik wilayah dan tambahan dengan Kawasan Lindung (Keslah Lindung).
• Kawasan kendala, atau bersayarat adalah wilayah yang memerlukan masukan teknologi
bagi pembangunan dan pengembangan permukiman, dengan konsekuensi perlu biaya
tambahan untuk menanggulangi kendala tersebut seperti untuk perbaikan kontur yang
membutuhkan cut and fill.
• Kawasan potensial, sering dikatakan sebagai kawasan manfaat atau kawasan
kemungkinan, yaitu kawasan yang lingkungan fisik dasarnya memiliki tingkat kesesuaian
lahan yang akurat untuk dibangun dan dikembangkan bagi kawasan permukiman.
Berdasarkan pengertian dari ketiga wilayah daya dukung lahan tersebut, dapat disimpulkan
bahwa wilayah yang dapat dikembangkan untuk permukiman sekaligus untuk menampung
penduduk yaitu wilayah potensial. Namun meskipun demikian wilayah potensial tidak dapat
dikembangkan untuk permukiman secara keseluruhan, melainkan harus disediakan ruang
untuk penggunaan lainnya yaitu untuk jaringan utilitas dan prasarana umum. Oleh karena
itu untuk pembangunan dan pengembangan permukiman harus mempertimbangkan rasio
tutupan lahan sebesar 60% dari luas wilayah potensial yang ada sesuai dengan kriteria dari
permen PU Nomor 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Analisis Fisik dan Lingkungan.
Dalam mendapatkan luas lahan yang dapat dikembangan untuk permukiman dari wilayah
potensial tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
LABORATORIUM PERPETAAN | 78
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Setelah luas lahan yang dapat dikembangkan untuk permukiman tersebut diketahui dengan
menggunakan rumus diatas, maka tahapan selanjutnya dalam menganalisis daya dukung
wilayah untuk permukiman yaitu menghitung nilai indeks dari luas wilayah potensial yang ada
dengan memperhatikan standar kebutuhan ruang perkapita berdasarkan lokasi geografis
(Perdesaan dan Perkotaan) serta jumlah penduduk tahun terakhir. Tujuan menghitung nilai
indeks tersebut adalah untuk mengetahui kemampuan dari wilayah potensial dalam
menampung penduduk optimal. Berikut merupakan standar kebutuhan ruang perkapita yang
dapat digunakan. serta rumus perhitungan nilai indeks daya dukung permukiman.
Tabel 8. 1 Kebutuhan Ruang per Kapita menurut Lokasi Geografis (Zona Kawasan)
Lokasi Geografis
No Kebutuhan Ruang (ha/kapita)
(Perdesaan-Perkotaan)
1 Zona Perdesaan 0,0133
2 Zona Pinggiran Kota 0,0080
3 Zona Perkotaan 0,0026
4 Zona Pusat Kota 0,0016
5 Zona Pusat Kota Metropolitan 0,0006
Sumber: Permen PU Nomor 11/PERMEN/M/2008 dalam Lutfi Muta’ali, 2012
Keterangan:
DDPm = Daya Dukung Permukiman
LPm = Luas Lahan yang dapat dikembangkan untuk permukiman (ha)
JP = Jumlah Penduduk (jiwa)
a = Koefisien luas kebutuhan ruang (ha/kapita)
Setelah daya dukung permukiman dihitung dengan rumus tersebut maka akan diperoleh
kisaran nilai indeks daya dukung permukiman sebagai berikut:
• Nilai DDPm >1, artinya bahwa daya dukung permukiman tinggi, masih mampu
menampung penduduk untuk bermukim (membangun rumah) dalam wilayah potensial
tersebut.
• Nilai DDPm =1, artinya bahwa daya dukung permukiman optimal, terjadi
keseimbangan antara antara penduduk yang bermukim (membangun rumah) dengan
luas wilayah potensi yang ada.
LABORATORIUM PERPETAAN | 79
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
• Nilai DDPm <1, artinya bahwa daya dukung permukiman rendah, tidak mampu lagi
menampung penduduk untuk bermukim (membangun rumah) dalam wilayah potensial
tersebut.
A. Menghitung daya tampung berdasarkan ketersediaan air, kapasitas air yang bisa
dimanfaatkan, dengan kebutuhan air per orang perharinya disesuaikan dengan
jumlah penduduk yang ada saat ini, atau misalnya rata-rata 100 l /jiwa/hari
(tergantung standard yang digunakan).
B. Menghitung daya tampung berdasarkan arahan rasio tutupan lahan dengan asumsi
masing-masing arahan rasio tersebut dipenuhi maksimum, dan dengan anggapan luas
lahan yang digunakan untuk permukiman hanya 50% dari luas lahan yang boleh
tertutup (30% untuk fasilitas dan 20% untuk jaringan jalan serta utilitas lainnya).
Kemudian dengan asumsi 1KK yang terdiri dari 5 orang memerlukan lahan seluas 100
m2. Maka dapat diperoleh daya tampung berdasarkan arahan rasio tutupan lahan ini
sebagai berikut:
𝟓𝟎% 𝒙 𝑳𝑾𝑷(𝒎²)
𝑫𝒂𝒚𝒂 𝑻𝒂𝒎𝒑𝒖𝒏𝒈 = 𝒙 𝟓 (𝑱𝒊𝒘𝒂)
𝟏𝟎𝟎
Keterangan:
50 % = Rasio Tutupan Lahan yang di gunakan
LWP = Luas Wilayah Potensial (dikurangi Kawasan Lindung)
5 Jiwa = Asumsi 1 KK 5 orang
C. Membandingkan daya tampung ini dengan jumlah penduduk yang ada saat ini dan
proyeksinya untuk waktu perencanaan. Untuk daerah yang melampaui daya tampung
berikan persyaratan pengembangannya.
LABORATORIUM PERPETAAN | 80
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dari asumsi rumus yang digunakan, antara lain yaitu:
A. Daya tampung ideal adalah dengan mengambil batasan minimal dari masing-masing
perkiraan di atas.
B. Dalam kasus daya tampung ini dilampaui, maka arahan pengembangan disesuaikan
dengan batasan daya tampung masing-masing seperti: perlunya tambahan air untuk
keperluan penduduk pada daerah yang melampaui daya tampung berdasarkan
ketersediaan air, dan pengembangan vertikal/bertingkat untuk daerah yang daya
tampung berdasarkan rasio tutupan lahannya dilampaui.
C. Daya tampung berdasarkan arahan rasio tutupan lahan didasarkan pada asumsi bahwa
lahan permukiman adalah 50% dari daerah yang boleh ditutup. Bila ada angka yang lebih
pasti tentunya persentase ini bisa diubah.
LABORATORIUM PERPETAAN | 81
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 82
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
9.1 Geodatabase
Geodatabase merupakan kumpulan atau tempat dataset geografi yang digunakan untuk
menyimpan Fearture Dataset, Feature Class, Table, View, Relationship Class, Raster Catalog,
Raster Dataset, Mosaic Dataset, Schematic Dataset, Toolbox, Adress Locator dan Composte
Address Locator.
Seperti pada gambar diatas, geodatabase dapat menyimpan beberapa tipe file, seperti:
1. Feature dataset
Merupakan wadah kumpulan dari objek–objek spasial seperti Poin, Polyline, dan Polygon.
2. Feature Class
Merupakan objek spasial yang akan ditampilkan seperti Point, Polyline dan Polygon.
3. Table
Merupakan sebuah objek non spasial (bentuk tabular).
4. View
Merupakan sebuah hubungan dari table dan data SIG.
5. Relationship Class
Merupakan sebuah data tematik.
6. Raster Catalog
Merupakan table dari kumpulan data data raster.
7. Raster Dataset
Merupakan data grid yang diturunkan dari berbagai sumber format.
8. Mosaic Dataset
Merupakan gabungan dari beberapa data raster.
9. Schematic Dataset
Merupakan sebuah keumpulan data schematic.
10. Toolbox
Berisikan toolbox yang telah dibuat oleh user.
11. Addres Loacator
Merupakan fungsi pencarian alamat.
12. Composite Addres Locator
Merupakan kumpulan fungsi pencarian alamat.
LABORATORIUM PERPETAAN | 83
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Pada umumnya, pada geodatabase terdapat feature dataset yang berguna untuk
mengelompokkan data–data yang ada. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
membangun geodatabase, yaitu:
1. Pengumpulan data spasial apa aja yang akan dimasukan ke dalam sebuah geodatabase.
2. Penentuan sistem koordinat yang akan digunakan dalam geodatabase.
3. Melakukan pengklasifikasian feature dataset yang akan ditampilkan, agar data yang
ditamplikan tidak ada duplikasi.
4. Pembuatan desain awal dari sebuah geodatabase yaitu berupa flow chart, mulai dari
feature dataset ke feature class yang akan dibuat, untuk mengurangi kesalahan dalam
pembuatan geodatabase.
Ada tiga jenis geodatabase yang dapat dibuat pada ArcGIS, yaitu:
1. Personal Geodatabase
Pada tipe data Personal Geodatabase, file disimpan dalam format/bentuk/[Link]
yaitu microsoft database, file ini mempunyai batas maksimal penyimpanan data sebesar
2 Giga.
2. File Geodatabase
Pada tipe file Geodatabase, file disimpan dalam format/betuk/[Link], file ini
mempunyai batas maksimal untuk menyimpan data sebesar 1 Terra.
3. ArcSDE Geodatabase
ArcSDE Geodatabase merupakan geodatabase yang dapat diakses banyak pengguna
(multi user), disimpan dalam sebuah software database seperti PostgreSQL, Oracle, IBM
DB2 dan Microsoft SQL Server.
LABORATORIUM PERPETAAN | 84
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Ada beberapa point yang membuat geodatabase lebih unggul daripada pembuatan shapefile
yang biasanya, yaitu:
1. Data dapat diklasifikasi menurut jenis dan tipenya, tanpa harus membuat folder–folder
yang banyak sehingga mudah untuk mengaturnya.
2. Geodatabase dapat digunakan untuk keperluan akses data yang baik, baik dalam jaringan
lokal ataupun jaringan internet menggunakan beberapa software seperti PostgreSQL,
Oracle ataupun DB2.
3. Untuk beberapa analisa tetent seperti topologi dan liner referencing, hanya bisa dilakukan
jika datanya berupa geodatabase.
Pada contoh pembuatan geodatabase ini, akan dibuat sebuah geodatabase untuk
mengumpulkan data–data hasil survey studio, yaitu pengumpulan berupa sarana pendidikan
(berupa point), jaringan (berupa garis) dan sarana peribadatan (berupa polygon), adapun
Langkah–langkah membuat geodatabase adalah sebagai berikut:
1. Buat sebuah “File Geodatabase” dengan cara klik kanan di sebuah Folder pada
ArcCatalog, klik new kemudian pilih “File Geodatabase”, kemudian rename namanya
menjadi “Survey Studio”.
LABORATORIUM PERPETAAN | 85
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 86
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 87
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3. Buat Feature Class “Sekolah” dengan cara klik kanan di feature class, pilih new dan klik
Feature Class.
4. Isi kolom name dengan “Pendidikan” dan alias-nya dengan “Sarana Pendidikan”, untuk
database storage configuration-nya dibiarkan default saja. Selanjutnya isi “Field Name ”
dengan tulisan Jenis, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dengan Data Type-nya
adalah “Long integer” sementara nama data type-nya adalah Text.
LABORATORIUM PERPETAAN | 88
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
5. Untuk mempermudah mengisi atribut, dapat dilakukan setting automatis dengan cara
membuat list atribut yang akan diinputkan, atau lebih dikenal sebagai “ Domain”. Untuk
membuat domain caranya adalah dengan mengklik kanan pada geodatabase, kemudian
pilih properties.
6. Pindahkan tab ke tab “Domain”, kemudian isi Domain Name dengan “Desa” dan
Deskripnya adalah “Nama Desa”, ubah Domain Type menjadi “Coded Values”, kemudian
isi bagian Coded Values seperti gambar dibawah. Ulangi untuk data jenis, kecamatan,
kabupaten dan provinsi.
LABORATORIUM PERPETAAN | 89
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 90
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
7. Untuk mengkaitkan “domain” terhadap data sekolah, klik kanan pada pendidikan,
kemudian klik properties, arahkan kepada tab Fields, klik kolom jenis, kemudian pada
kolom “Domain”, pilih jenis, ulangi untuk data data desa, kecamatan, kabupaten, dan
provinsi.
8. Jika dibuka atribut tabelnya, maka akan terbentuk kolom Nama, Desa, Jenis, Kecamatan,
Kabupaten, dan Provinsi.
9. Ketika melakukan pendigitasian, untuk kolom Desa, Jenis, Kecamatan, Kabupaten, dan
Provinsi, dapat memilih langsung sesuai dengan drop down yang ada, sementara untuk
kolom nama masih harus mengetik manual.
10. Lanjutkan untuk membuat Data Jaringan dan Data Sarana Peribadatan.
LABORATORIUM PERPETAAN | 91
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Untuk lebih jelas, praktek dalam melakukan import Attribute Table sesuai pedoman dapat
dilihat sebagai berikut.
LABORATORIUM PERPETAAN | 92
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
LABORATORIUM PERPETAAN | 93
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
6. Klik kanan pada shp yang sudah dimasukkan lalu pilih open attribute table
7. Maka akan muncul tampilan attribute table seperti ini, namun tidak ada attribute yang
muncul karena memang shpnya masih kosong. Oleh karena itu tujuan praktikum kali ini
untuk memindahkan attribute yang berada di luar geodatabase memakai shp yang
berada di dalam geodatabase
LABORATORIUM PERPETAAN | 94
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
9. Setelah di Add Data maka akan muncul shp pola ruang seperti ini, Setelah itu klik kanan
pada shp yang berada di geodatabase lalu pilih edit features -> start editing
10. Lalu klik kanan pada shp yang berada di luar geodatabase dan pilih open attribute table
LABORATORIUM PERPETAAN | 95
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
11. Klik kiri pada attributes yang akan dipilih sehingga warnanya akan berubah menjadi biru,
lalu klik Toolbar Editor, seperti gambar di bawah
LABORATORIUM PERPETAAN | 96
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
13. Setelah di-copy, klik kanan lalu paste dan akan muncul window paste
14. Lalu pada kolom target pilih zona sesuai yang tadi sudah di-copy, dimana pada kali ini
yang di-copy merupakan zona badan air, setelah itu klik “OK”
LABORATORIUM PERPETAAN | 97
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
15. Setelah di-paste, maka tampilan pada kolom attributes akan berubah seperti ini, isi nama
objek, nama zona, nama sub zona, kode sub zona sesuai dengan attribute-nya. Lakukan
hal yang sama pada attribute lainnya. Kemudian lakukan Save Edit pada tools Editor
untuk menyimpan hasil pekerjaan kalian.
9.3 Topology
Jika mengutip dari pengertian topology dari help software ArcMap, Topology is a collection of
rules that, coupled with a set of editing tools and techniques, enables the geodatabase to
more accurately model geometric relationships yang dapat diartikan sebagai sebuah kumpulan
peraturan, kemudian ditambah oleh satu set alat dan teknik untuk mengedit data, yang bisa
menghasilkan sebuah geodatabase menjadi model relasi yang lebih akurat. Aturan topologi
harus dibangun menggunakan data geodatabase, tidak bisa dibuat atau dijalankan pada tipe
data shapefile biasa. Pengertian lain dari topologi adalah topologi merupakan sebuah
kumpulan aturan, yang mengatur setiap point, line, dan polygon berbagi hubungan
geomterinya.
Topologi pada umumnya dapat memecahkan atau menyelesaikan tiga permasalahan utama
dalam data GIS, yang pertama ada adanya gap/bolong antara data GIA, yang kedua adalah
adanya overlap/tumpang tindih antara data GIS dan yang terakhir adanya beberapa data tidak
bersentuhan dengan batas sis dari polygon tersebut.
LABORATORIUM PERPETAAN | 98
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
Tahap pertama yang harus dilakukan adalah menginput data shapefile yang akan di topologi
kedalam sebuah database, yaitu dengan cara sebagai berikut:
1. Masukkan data yang akan dicek topologinya
2. Buat Skema “File Geodatabase” pada ArcCatalog, Kemudian buat “Feature Dataset”,
kemudian rename dengan tulisan “Check Topologi”
LABORATORIUM PERPETAAN | 99
LABORATORIUM PERPETAAN
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
3. Buat “Feature Dataset” dalam file geodatabase yang telah dibuat, kemudian rename
dengan tulisan “landuse tasik” lanjutkan dengan menekan tombol “next” dan “finish”
4. Import data Landuse Cipatujah ke dalam “feature dataset” agar menjadi sebuah “feature
class” dengan cara, klik kanan di feature dataset “Landuse Tasik”, klik “Import”, “Feature
Class (single)”
5. Masukkan file “Landuse Cipatujah” ke dalam input feature kemudian beri nama
“check_topologi” pada output feature class
6. Maka akan muncul feature class “check topologi” dibawah feature dataset “Landuse
Tasik”
Selanjutnya adalah tahapan yang harus dilakukan dalam pembuatan Topologi yaitu sebagai
berikut:
1. Klik kanan di feature dataset “landuse tasik”, kemudian pilih “new” dan “Topology”
2. Akan muncul box “New Topology”, kemudian pilih next, dan nama untuk topology-nya
biarkan seperti default-nya saja, kemudian pilih next.
3. Cheklist box “check topology” dan set “enter the number of ranks” seusai default-nya
saja
4. Klik “Add Rule” untuk menambahkan aturan yang akan di-setting, kemudian set “rule”
menjadi “Must Not Have Gaps”, kemudian pilih “O”
6. Maka akan keluar box new topology dengan tulisan “The new topology has been created.
Would you like to validate it now?”, kemudian klik “Yes”
7. Maka dalam feature dataset akan muncul sebuah topolologi seperti gambar di bawah ini
9. Maka akan keluar daerah–daerah yang berwarna merah yang merupakan daerah yang
terdapat error sesuai dengan rule yang di-setting pada langkah awal (rule-nya kali ini
adalah “do not have gaps”)
10. Lakukan pen-zoom-an lebih detail ke daerah yang berwarna merah, maka akan terlihat
gaps pada data. Data–data ini merupakan data yang harus dibenahi agar luasan pada
suatu wilayah mendekati dengan luasan yang ada di lapangan.
11. Cara untuk membenarkannya adalah dengan cara start editing data “check_topology”
12. Aktifkan tool topology, dengan cara mengkilk kanan toolbar yang ada, kemudian pilih
“Topology”, kemudian klik “error inspector”, lanjutkan dengan mengklik “Search Now”
maka akan muncul list data-data yang error (uncheck pilhan “Visible Extent Only”). Pada
hasil topologi kali ini didapatkan 30 error
13. Hal yang harus dilakukan adalah menambal daerah–daerah yang memiliki gaps dengan
cara mendigitasi kemudian di lakukan operasi merge antara polygon yang baru didigit
dengan polygon asalnya, kemudian di clip dengan polygon yang ada di sebelahnya
14. Kemudian klik tombol “Validate Topology in Current Extent”, dan klik “Search Now” di
“Error Inspector”, maka error akan berkurang dari 30 menjadi 29 error
A. Bagian Pesawat
1. Gimbal Dial
2. Camera Setting Dial
3. Video Recording Button
4. Flight Mode Switch
5. Shutter Button
6. C1/C2 Buttons (Customizable)
7. USB Port
8. Micro-USB Port
9. Power Button
10. Return to Home (RTH) Button
11. Control Sticks
12. Status LED
13. Battery Level LEDs
14. Power Port
15. Mobile Device Holder
16. Small Device Positioning Tabs
(such as mobile phone)
17. Antennas
18. Handle Bar
Sebelum melakukan penerbangan, ada beberapa prosedur operasi standar yang harus
dilakukan, yaitu:
• Melakukan pengecekan drone dan alat pendukungnya dalam keadaan aman.
• Mengecek lingkungan, mencari sumber potensi gangguan seperti keramaian atau non
fisik (gelombang radio atau elektromagnetik).
• Menentukan wilayah operasi penerbangan dengan Matbar (pengamatan dan
penggambaran) lintasan terbang drone.
• Meminta ijin otoritas berkepentingan jika menerbangkan drone di tempat umum yang
berpotensi dapat membayakan dan mengganggu keselamatan.
• Bila menerbangkan dengan mode GPS, satellite lock sebelum tinggal landas adalah 9
satelit.
• Bila menerbangkan dalam mode fully autonomous, lakukan simulai terlebih dulu antara
flight path dengan kondisi lingkungan sekitar.
• Kalibrasi kompas dan sensor lainnya sesuai petunjuk manual drone.
• Lepas landas di tempat yang aman.
Untuk prosedur pertama dalam mengoperasikan drone, Pertama nyalakan remote (tekan
sekali, tekan lagi dan tahan 2 detik), turn on dji phantome pada bagian belakang baterai
(tekan sekali, tekan lagi dan tahan 2 detik). Lakukan pairing antara handphone dengan dji
phantome. Pastikan drone telah home lock / home position sehingga phantome akan tau
dimana dia harus mendarat apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ini dapat terlihat dari
lampu LED pada phantome yang menunjukan warna hijau. Pastikan drone menghadap pada
arah yang tepat. Kemudian lakukan Hovering, atau menyalakan baling-baling dengan cara
mengarakan remote control ke tengah bagian bawah.
Teknik melayakan baterai yaitu dengan menekan tombol power dari remote control sebanyak
dua kali (yang pertama dengan cepat, dan yang kedua ditahan) kemudian menekan tombol
power dari drone sebanyak dua kali (yang pertama dengan cepat, dan yang kedua ditahan).
Proses pembuatan orthofoto dan DEM di dalam Agisoft Photoscan melalui beberapa tahap,
yaitu:
1. Import Foto dan Rekonstruksi Jalur Terbang
2. Align Foto
3. Input GCP
4. Optimisasi Alignment
5. Pembangunan Titik Tinggi ( Dense Point Clouds)
6. Pembangunan Model 3D (Mesh)
7. Pembangunan Model Texture
8. Pembangunan DEM
9. Pembangunan Orthofoto
A. Optimize Camera
Dense Point Clouds adalah kumpulan titik tinggi dalam jumlah ribuan hingga jutaan titik yang
dihasilkan dari pemrosesan fotogrametri foto udara atau LIDAR. Dense point clouds nantinya
dapat diolah secara lebih lanjut untuk menghasilkan Digital Surface Model, Digital Terrain
Model, bahan masukan dalam proses pembuatan orthofoto dan kepentingan pemetaan
lainnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan jika kita memiliki computer dengan spek
yang tinggi, kita dapat mengubah parameter Quality menjadi “ ultrahigh” dan depth filtering-
nya “Aggressive”.
C. Build Mesh
Model 3D atau mesh adalah salah satu keluaran utama dari pemrosesan foto udara di Agisoft.
Model 3D nanti digunakan sebagai dasar pembuatan DEM baik DSM maupun DTM dan juga
orthofoto. Mesh yang dihasilkan juga dapat dieksport ke format lain untuk diproses lanjutan
di software lain seperti Google Sketchup, AutoCAD atau ArcGIS.
Untuk membuat Mesh, dari Menu Workflow klik Build Mesh. Muncul pilihan Mesh Parameter.
Untuk Surface Type, ada dua pilihan, Height Field dan Arbitrary. Arbitrary digunakan untuk
model 3D umum seperti bangunan, patung dan-lain - lain. Sedangkan Height Field digunakan
untuk obyek permukaan bumi seperti Medan/Terrain, dan struktur spasial seperti jaringan
Pipa, kabel, dan lain-lain. Gunakan Height Field untuk memprosesan orthofoto. Untuk Source
Data dapat menggunakan Sparse Point Cloud atau Dense Point Cloud dari tahap pemrosesan
sebelumnya. Untuk memperoleh hasil terbaik, gunakan Dense Point Clouds. Untuk parameter
Face Count, ada pilihan dari Low, Medium hingga High. Face Count ini menentukan jumlah
polygon mesh yang akan dihasilkan. Face count High dapat menghasilkan mesh dengan jutaan
polygon yang mungkin nanti akan menimbulkan permasalahan visualisasi, oleh karena itu
harus ditentukan dengan bijak. Selain tiga pilihan diatas, juga terdapat dua pilihan tambahan
yaitu interpolation dan point classes. Untuk interpolation sendiri ada dua pilihan, yaitu
interpolated dan extrapolated. Interpolated mode akan memungkinkan beberapa gap diantara
foto yang tidak terproses akan diinterpolasi secara otomatis. Pilihan extrapolated tidak
digunakan dalam pemrosesan orthofoto. Klik OK.
D. Texture
Model texture adalah model fisik 3D dari kenampakan - kenampakan yang ada di area liputan
foto. Model texture dapat dieksport ke dalam berbagai format model 3D yang nantinya dapat
dimanfaatkan untuk membuat model 3D via desktop software lain atau via website.
Untuk membuat model texture, dari Menu Workflow klik Build Texture. Muncul pilihan Texture
Parameter, ada beberapa pilihan mapping mode, mulai dari Generic, Adaptive Orthophoto,
Orthophoto, Spherical, Single Photo, Keep uv. Anda dapat memilih dan membandingkan
beberapa mapping mode yang tersedia untuk memperoleh hasil terbaik. Demikian pula untuk
parameter texture size/count dapat digunakan untuk mendetilkan tekstur dengan konsekuensi
file tekstur yang semakin besar ukurannya. Untuk pilihan blending mode, ada tiga pilihan,
Mosaic, Average, Max Intensity dan Min Intensity. Mosaic akan mempertimbangkan detail
dalam setiap foto sehingga menghasilkan orthofoto yang balance dari segi warna dan
kedetilan. Pilihan average akan menggunakan nilai piksel rata-rata dari setiap foto yang
overlap. Adapun untuk max dan min intensity menggunakan intensitas maksimum dan
minimum dari piksel yang bertampalan/overlap. Anda juga dapat mencentang pilihan Enable
Color Correction untuk melakukan koreksi warna di setiap foto, namun waktu pemrosesan
akan menjadi lebih lama. Untuk melanjutkan ke langkah selanjutnya, kita perlu menyimpan
project ke dalam file [Link] yang ada.
E. Orthomosaic Image
Orthofoto adalah foto udara yang telah dikoreksi kesalahan geometriknya menggunakan data
DEM dan data GCP se-hingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemetaan tanpa adanya
inkonsistensi skala di sepanjang liputan foto. Orthofoto dapat dibuat setelah tahap pembuatan
Dense Point Clouds, Mesh dan DEM selesai dilakukan.
Untuk membuat orthofoto, dari Menu Workflow klik Build Orthomosaic. Muncul pilihan
Orthomosaic Parameter. Untuk pilihan Projection, pilih antara koordinat geographic atau
planar/projected. Untuk parameter Surface, pilih DEM yang dihasilkan dari langkah
sebelumnya. Untuk pilihan blending mode, ada tiga pilihan, Mosaic, Average, Max Intensity
dan Min Intensity. Mosaic akan mempertimbangkan detail dalam setiap foto sehingga
menghasilkan orthofoto yang balance dari segi warna dan kedetilan. Pilihan average akan
menggunakan nilai piksel rata-rata dari setiap foto yang overlap. Adapun untuk max dan min
intensity menggunakan intensitas maksimum dan minimum dari piksel yang ber-
timpalan/overlap. Anda juga dapat mencentang pilihan Enable Color Correction untuk
melakukan koreksi warna di setiap foto, namun waktu pemrosesan akan menjadi lebih lama.
G. 3D (ArcScene)
Sama seperti pembuatan ArcScene atau tampilan 3D pada BAB 9, setelah selesai export DEM
bisa langsung diolah untuk melihat tampilan 3Dnya. Fungsi dari pembuatan tampilan 3D ini
ialah untuk melihat kondisi kenampakan bumi sesuai dengan aslinya.
Salah satu kelebihan dari software Agisoft adalah dapat membuat sebuah profil 3 dimensi (3D)
dari sebuah gedung.
Salah satu sumber data yang dapat digunakan dalam Sistim Informasi Geografis adalah Data
Elevation Model Data Elevation Model (DEM) adalah seuatu model ketinggian yang
merpresentasikan bentuk permukaan bumi yang sebenarnya. Representasi model ketinggian
dapat didapatkan 2 metode yaitu Metode Grid dan Metode Triangular Irregular Network (TIN).
Pada model ketinggian dengan menggunakan konsep grid, setiap nilai ketinggian
direperesentasikan pada sebuah cell/pixel yang berbentuk segi empat, sementara pada model
ketinggian dengan menggunakan kosep TIN, setiap nilai ketinggian direpresentasikan pada
sebuah segitiga.
Pemanfaatan model DEM ini sudah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
a. Kemiringan
b. Daerah Alirah Sungai (Watershed)
c. Sistem Drainase (Sungai)