Kanker Serviks: Penyebab dan Patofisiologi
Kanker Serviks: Penyebab dan Patofisiologi
CA SERVIKS
Disusun Oleh :
6. Klasifikasi
Stadium kanker adalah cara bagi paramedis untuk merangkum seberapa jauh
kanker telah menyebar. Salah satu cara yang digunakan pada umumnya untuk
memetakan stadium kanker serviks yaitu sistem FIGO (Federasi Internasional
Ginekologi dan Obstetri). Berdasarkan Federation of International
Gynecology and Obsetrics (FIGO) tahun 2009 stadium klinis karsinoma
serviks terbagi atas:
Stadiu
Deskripsi
m
1 2
Stadium Karsinoma insitu, karsinoma intra-ephitelial. Tumor masih dangkal, hanya
0 tumbuh di lapisan sel serviks
Stadium Kanker telah tumbuh dalam serviks.
I
IA Kanker invasive ditemukan hanya secara mikroskopik. Kedalamannya 5 mm
dan besarnya kurang dari 7 mm
IA 1 Invasi stromal sedalam <3 mm dan lebar <7 mm
IA 2 Invasi ke stroma sedalam 3-5 mm dengan lebar <7 mm
IB Lesi klinis masih pada serviks atau lesi mikroskopik lebih besar dari lesi
stadium IA
IB 1 Kanker serviks dapat dilihat dengan mata telanjang. Ukuran tidak lebih dari 4
cm
IB 2 Kanker serviks dapat dilihat dengan mata telanjang. Ukuran lebih besar dari 4
cm
Stadium Kanker telah menginvasi melewati serviks namun tidak sampai pada dinding
II pelvis atau 1/3 bawah vagina
IIA Kanker meluas sampai 2/3 atas vagina, tanpa invasi parametrial
IIA 1 Tumor yang terlihat secara klinis <4 cm. Meluas hingga 2/3 bagian atas vagina
IIA 2 Tumor yang terlihat secara klinis >4 cm namun tidak sampai masuk dinding
pelvis.
IIB Kanker telah menyebar ke jaringan sekitar vagina dan serviks, namun belum
sampai ke dinding panggul
Stadium Kanker meluas sampai ke dinding pelvis dan/atau mencapai 1/3 bawah dinding
III vagina dana tau menyebabkan hidronefrosis atau penurunan fungsi ginjal
III A Tumor meluas sampai 1/3 bawah vagina namun tanpa ekstensi ke dinding
pelvis
IIIB Meluas sampai dinding pelvis atau menyebabkan obstruksi uropati.
Stadium Pada stadium ini, kanker telah menyebar ke pelvis, kandung kemih, atau
IV rectum.
IVA Kanker telah menyebar ke organ terdekat, seperti kandung kemih dan rectum
IVB Metastase ke organ yang lebih jauh.
7. Manifestasi Klinis
Pada fase prakanker (tahap displasia), sering tidak ada gejala atau tanda-tanda
yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari
vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis
jaringan.
b. Perdarahan setelah senggama (post coital bleeding) yang kemudian
berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
c. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan dan
berbau busuk.
d. Bisa terjadi hematuria karena infiltrasi kanker pada traktus urinarius.
e. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
f. Kelemahan pada ekstremitas bawah.
g. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang
panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan
terjadi infiltrasi kanker pada serabut saraf lumbosakral.
h. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi,
edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian
bawah (rektum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau
timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.
8. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
1) Perdarahan vagina
2) Keputihan berwarna putih atau purulen yang berbau dan tidak gatal
3) Adanya bau busuk yang khas
4) Raut wajah pucat
5) Ekspresi wajah meringis dan posisi tubuh menahan nyeri
6) Tanda-tanda anemia
7) Hematuri
8) Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah
sampai vagina
b. Palpasi
1) Nyeri tekan pada abdomen
2) Serviks dapat teraba membesar, ireguler, teraba lunak
3) Nyeri punggung bawah
4) Obstruksi ureter, periksa hidronefrosis dengan tes balotemen
5) Palpasi fundus arteri
6) Perubahan denyut nadi
7) Perubahan tekanan darah
8) Peningkatan suhu tubuh
9. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
a. Pap Smear
Test Pap smear dapat dilakukan di RS, klinik dokter kandungan ataupun
laboratorium. Prosedurnya cepat (hanya memerlukan waktu beberapa
menit) dan tidak menimbulkan rasa sakit. Test Pap smear dapat dilakukan
bila tidak dalam keadaan haid ataupun hamil. Untuk hasil terbaik,
sebaiknya tidak berhubungan intim minimal 3 hari sebelum pemeriksaan.
Pap smear merupakan salah satu cara deteksi dini kanker leher rahim. Test
ini mendeteksi adanya perubahan-perubahan sel leher rahim yang
abnormal, yaitu suatu pemeriksaan dengan mengambil cairan pada leher
rahim dengan spatula kemudian dilakukan pemeriksaan dengan
[Link] smear hanyalah sebatas skrining, bukan diagnosis adanya
kanker serviks. Jika ditemukan hasil pap smear yang abnormal, maka
dilakukan pemeriksaan standar berupa kolposkopi
b. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
Untuk deteksi dini kanker serviks, selain test Pap Smear, metoda lain yang
dapat menjadi pilihan adalah IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).
IVA digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel serviks setelah
mengoleskan larutan asam asetat (asam cuka3-5%) pada leher rahim.
Asam asetat menegaskan dan menandai lesi pra-kanker dengan perubahan
warna agak keputihan (acetowhite change). Hasilnya dapat diketahui saat
itu juga atau dalam waktu 15 menit.
c. Servikografi
Servikografi terdiri dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa
ekstensi 50 mm. Servikografi dapat digunakan sebagai metode yang baik
untuk skrining massal, lebih-lebih di daerah di mana tidak ada seorang
spesialis sitologi, maka kombinasi servikogram dan kolposkopi sangat
membantu dalam deteksi kanker serviks.
c. Gineskopi
Gineskopi menggunakan teleskop monokuler, ringan dengan pembesaran
2,5 x dapat digunakan untuk meningkatkan skrining dengan sitologi.
Biopsi atau pemeriksaan kolposkopi dapat segera disarankan bila tampak
daerah berwarna putih dengan pulasan asam asetat. Sensitivitas dan
spesifisitas masing-masing 84% dan 87% dan negatif palsu sebanyak
12,6% dan positif palsu 16%.
d. Pemeriksaan Penanda Tumor (PT)
Penanda tumor adalah suatu substansi yang dapat diukur secara kuantitatif
dalam kondisi prakanker maupun kanker. Salah satu PT yang dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya perkembangan kanker serviks adalah
CEA (Carcino Embryonic Antigen) dan HCG (Human Chorionic
Gonadotropin). Kadar CEA abnormal adalah > 5 µL/ml, sedangkan kadar
HCG abnormal adalah > 5ηg/ml. HCG dalam keadaan normal
disekresikan oleh jaringan plasenta dan mencapai kadar tertinggi pada usia
kehamilan 60 hari. Kedua PT ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan
darah dan urine.
e. Biopsy Kerucut
Biopsy Kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih
besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.
f. MRI /CT scan abdomen atau pelvis
MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran
lokal dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.
[Link] Schiller
Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium,
sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang
abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
h. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi tingkat komplikasi
pendarahan yang terjadi pada penderita kanker serviks dengan mengukur
kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit dan kecepatan pembekuan darah
yang berlangsung dalam sel-sel tubuh.
11. Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer (2007)di bawah ini adalah klasifikasi penatalaksanaan
medis secara umum berdasarkan stadium kanker serviks :
Stadium Penatalaksanaan
0 Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal
12. Komplikasi
a. Langsung
Yang berhubungan dengan penyakitnya, dapat berupa:
1) Obstruksi ileus (penyumbatan usus)
2) Vesikovaginal fistel (lubang di antara saluran kencing dan vagina)
3) Obstruksi ureter (penyumbatan pada saluran kencing)
4) Hidronefrosis (pembengkakan ginjal)
5) Infertil
6) Gagal ginjal
7) Pembentukan fistula
8) Anemia
9) Infeksi sistemik
10) Trombositopenia
[Link] Langsung
Yang berhubungan dengan tindakan dan pengobatan:
1) Operasi: perdarahan, infeksi, luka pada saluran kencing, kandung
kemih maupun usus
2) Radiasi : berak darah, hematuria (kencing darah), cystitis radiasi
(infeksi saluran kencing karena efek radiasi)
3) Kemoterapi : mual muntah, diare, alopesia (kebotakan), BB turun,
borok pada daerah bekas suntikan.
13. Pencegahan
Kanker stadium dini (karsinoma in situ) sangat susah dideteksi karena belum
menimbulkan gejala yang khas dan spesifik, kematian pada kasus kanker
serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada
dalam stadium lanjut. Cara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencegah
kanker ini adalah bentuk skrining yang dinamakan Pap Smeardan skrining ini
sangat efektif. Ada beberapa protokol skrining yang bisa ditetapkan bersama -
sama sebagai salah satu upaya deteksi dini terhadap perkembangan kanker
serviks, beberapa di antaranya :
a. Skrining awal
Skrining dilakukan sejak seorang wanita telah melakukan hubungan
seksual (vaginal intercourse) selama kurang lebih tiga tahun dan
umurnya tidak kurang dari 21 tahun saat pemeriksaan. Hal ini didasarkan
pada karsinoma serviks berasal lebih banyak dari lesi prekursornya yang
berhubungan dengan infeksi HPV onkogenik dari hubungan seksual yang
akan berkembang lesinya setelah 3-5 tahun setelah paparan pertama dan
biasanya sangat jarang pada wanita di bawah usia 19 tahun.
b. Pemeriksaan DNA HPV
Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Pap’s smear negatif
disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3
sebanyak hampir 100%. Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk
wanita dengan umur diatas 30 tahun karena prevalensi infeksi HPV
menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29 tahun atau
lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat
sampai 65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. Sehingga, deteksi DNA
HPV yang positif yang ditemukan kemudian lebih dianggap sebagai HPV
yang persisten. Apabila ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih
tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks.
c. Skrining dengan Thinrep/Liquid-Base Method
Disarankan untuk wanita di bawah 30 tahun yang berisiko dan dianjurkan
untuk melakukan pemeriksaan setiap 1 - 3 [Link] dihentikan bila
usia mencapai 70 tahun atau telah dilakukan 3 kali pemeriksaan berturut-
turut dengan hasil negatif.
14. Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak diobati atau tidak memberikan respon terhadap
pengobatan, 95 % mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala.
Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki risiko tinggi terjadinya
rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini, perkembangan kanker
seviks dapat diobati dengan radioterapi. Ada beberapa faktor yang
menentukan prognosis dalam angka kejadian kanker serviks, antara lain : usia
penderita, keadaan umum, tingkat klinis keganasan, ciri - ciri histologik sel
kanker, kemampuan tim kesehatan dan sarana pengobatan yang
tersedia(Mansjoer, 2005)
Stadium Penyebaran kanker serviks Harapan
Hidup5
Tahun (%)
0 Karsinoma insitu 100
I Terbatas pada uterus 85
II Menyerang luar uterus tetapi meluas ke 60
dinding pelvis
III Meluas ke dinding pelvis dan atau sepertiga 33
bawah vagina atau hidronefrosis
IV Menyerang mukosa kandung kemih atau 7
rektum atau meluas keluar pelvis sebenarnya
BAB II
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1.1 Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah
sakit, tanggal pengkajian, dan diagnosa medis.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan sel kanker
pada syaraf dan kematian sel
b. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan
makanan
c. Resiko Infeksi berhubungan dengan Penyakit kronis (Ca serviks)
d. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pengobatan
e. Resiko kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan efek dari
prosedur pengobatan. prosedur pengobatan.
f. Gangguan pola seksual berhubungan dengan metaplasia penyakit.
2. Intervensi
SLKI SIKI
1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen Nyeri
pencedera fisiologis (Ca Serviks) selama 2x24jam diharapkan nyeri akut Observasi
Penyebab: menurun, dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
1. Agen pencedera fisiologis (mis: Tingkat Nyeri frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
inflamasi, iskemia, neoplasma). 1. Keluhan nyeri menurun 2. Identifikasi skala nyeri
2. Agen pencedera kimiawi (mis: 2. Meringis menurun 3. Identifikasi respons nyeri non verbal
terbakar, bahan kimia iritan). 3. Gelisah menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
3. Agen pencedera fisik (mis: abses, 4. Kesulitan tidur menurun memperingan nyeri
amputasi, terbakar, terpotong dll). 5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
Gejala dan Tanda Mayor: tentang nyeri.
Subjektif 6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap
1. Mengeluh nyeri respon nyeri
Objektif 7. Identifikasi pengaruh nyeri terhadap
1. Tampak meringis kualitas hidup
2. Bersikap protektif 8. Monitor keberhasilan terapi komplementer
3. Gelisah yang sudah diberikan
4. Frekuensi nadi meningkat 9. Monitor efek samping penggunaan
5. Sulit tidur. analgetik.
Tanda dan Gejala Minor: Teraupetik
Objektif 1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk
1. Tekanan darah meningkat mengurangi nyeri (terapi musik klasik
2. Pola napas berubah mozart).
3. Nafsu makan berubah 2. Kontrol lingkungan yang memperberat
4. Proses berpikir terganggu rasa nyeri.
5. Menarik diri 3. Fasilitas istirahat dan tidur.
6. Berfokus pada diri sendiri 4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri
7. Diaphoresis. dalam pemilihan strategi meredakan nyeri.
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu
nyeri.
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri.
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
4. Anjurkan menggunakan analgetik secara
tepat.
5. Ajarkan tekhnik non farmakologis untuk
mengurangi nyeri.
Kolaborasi
[Link] pemberian analgetik, jika
perlu.
2. Resiko defisit nutrisi berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen gangguan makan
dengan ketidakmampuan menelan selama 2x24jam diharapkan resiko Observasi :
makanan defisit nutrisi menurun, dengan 1. monitor asupan dan keluarnya makanan
Penyebab kriteria hasil: dan cairan serta kebutuhan cairan
1. Ketidakmampuan menelan Status nutrisi
Teraupetik
makanan 1. Porsi makanan yang di
2. Diskusikan perilaku makanan dan
2. Ketidakmampuan mencerna habiskan
jumlah aktifivitas fisik (termasuk
makanan 2. Frekuensi makan
olahraga yang selesai)
3. Ketidakmampuan mengabsorbsi 3. Nafsu makan
3. Di dampingi ke kamar mandi untuk
nutrien 4. Perasaan cepat kenyang
pengamatan perilaku memuntahkan
4. Peningkatan kebutuhan
kembali makanan
metabolisme Edukasi
5. Faktor ekonomi (mis. Finansial 4. Ajarkan pengaturan diet yang tepat
tidak mencukupi)
Kolaborasi
6. Faktor psikologis (mis. Stress)
5. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
Tanda dan gejala target berat badan danpemilihan
1. Stroke makanan
2. Parkinson
3. Mobius syndrome
4. Cerebral palsy
5. Cleft lip
6. Cleft palate
7. Amyotropic lateral sclerosis
8. Kerusakan neuromuskular
9. Luka bakar
10. Kanker
11. Infeksi
12. AIDS
13. Penyakit crohn’s
14. Enterokolitis
15. Fibrosis kistik
3. Resiko Infeksi berhubungan dengan Setelah tindakan keperawatan selama Pencegahan Infeksi :
Penyakit kronis (Ca serviks) 2x24jam diharapkan risiko infeksi Observasi
Faktor risiko: menurun dapat terpenuhi dengan 1. Monitor tanda gejala infeksi local dan
[Link] kronis (mis. Diabetes kriteria hasil sistemik
mellitus) Tingkat Infeksi Terapeutik
2. Efek prosedur infasif 1. Demam menurun 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah
[Link] 2. Kemerahan menurun kontak dengan pasien dan lingkungan
[Link] paparan organisme 3. Nyeri menurun pasien
pathogen lingkungan 4. Bengkak menurun [Link] teknik aseptic pada pasien
5. Ketidakadekuatan pertahanan 5. Cairan berbau busuk menurun Edukasi
tubuh primer (ketidakadekuatan [Link] tanda gejala infeksi
kerusakan integritas kulit) [Link] cara memeriksa kondisi
Kondisi Klinis: luka/luka operasi
1. Tindakan invasif Kolaborasi
2. Ketuban pecah sebelum 6. Kolaborasi pemberian imunisasi, jika
waktunya (KPSW) perlu
3. Imunosupresi
3. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah akibat status kesehatan yang
dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria pasien
(Potter and Perry, 2011).
4. Evaluasi Keperawatan
American Cancer Society. (2017). Cancer Facts & Figures 2017. Atlanta :
American Cancer Society.
Barry [Link] and William [Link]. (2019). The Biology of Disease Vector.
University Press of Colorado.
Centers for Diseases Control and Prevention (CDC). (2021). Cervical Cancer
Cullati S, Charvet Berard AI, Perrieger TV. (2019). Cancer Screening in a Middle
Aged General Population: Factor Associated with Practices and Attitudes.
BMC Publik Health.
Fitri Fauziah & Julianty Widuri. (2017). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa.
Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
ICO Information Centre on HPV and Cancer (HPV Information Centre). (2018).
Kementerian Kesehatan RI. (2017). Pusat Data & Informasi Situasi Penyakit
Kanker di Indonesia. Jakarta : Pusat Data & Informasi Kemenkes RI
Mansjoer, A. 2017. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid Satu. Edisi Ketiga, Jakarta:
Media Aesculapius FKUI.