0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan33 halaman

Kanker Serviks: Penyebab dan Patofisiologi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Kanker serviks adalah pertumbuhan sel abnormal pada serviks yang disebabkan oleh infeksi HPV tipe 16 dan 18 2. Faktor risiko utama kanker serviks adalah usia pertama hubungan seksual muda, paritas tinggi, merokok, dan riwayat kanker serviks keluarga 3. Patofisiologi kanker serviks dimulai dari infeksi HPV yang menyebabkan mutasi sel dan perkembangan sel kank

Diunggah oleh

Nitadwi yolanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan33 halaman

Kanker Serviks: Penyebab dan Patofisiologi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Kanker serviks adalah pertumbuhan sel abnormal pada serviks yang disebabkan oleh infeksi HPV tipe 16 dan 18 2. Faktor risiko utama kanker serviks adalah usia pertama hubungan seksual muda, paritas tinggi, merokok, dan riwayat kanker serviks keluarga 3. Patofisiologi kanker serviks dimulai dari infeksi HPV yang menyebabkan mutasi sel dan perkembangan sel kank

Diunggah oleh

Nitadwi yolanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

CA SERVIKS

Disusun Oleh :

NAMA :Yolanda Dwi Nita


NIM : 22222079

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUSI KESEHATAN DAN TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH
PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
[Link]
Kanker serviks atau yang biasa dikenal dengan kanker leher rahim merupakan
keganasan yang berasal dari sel serviks. Kanker serviks terjadi ketika sel pada
serviks mengalami pertumbuhan yang tidak normal serta menginvasi jaringan
atau organ – organ lain disekitar serviks maupun yang jauh (Arisusilo, 2019).
Serviks merupakan bagian dari organ reproduksi internal wanita tepatnya
sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris, menonjol dan terletak
diantara rahim (uterus) dengan vagina (Kemenkes RI, 2017). Kanker serviks
adalah pertumbuhan sel-sel abnormal pada daerah batas antara epitel yang
melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviksalis yang disebut
squamo-columnar junction (SCJ) (Wiknjosastro, 2018). Kanker serviks
merupakan kanker yang disebabkan oleh infeksi virus HPV tipe 16 dan 18.
(CDC, 2018).
Jadi kesimpulannya, kanker serviks adalah pertumbuhan abnormal pada sel
serviks yang bersifat ganas, yang menyerang bagian squamosa columnar
junction (SCJ) serviks yang terletak diantara uterus dengan vagina pada organ
reproduksi wanita yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipa
16 dan 18.
2. Etiologi
Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi pada leher rahim yang
disebabkan oleh virus HPV tipe onkogenik yang ditularkan melalui hubungan
seksual (Petignat, 2017 dalam Swari, 2018). Infeksi dapat terjadi setelah
terjadinya lesi squamosa intraephitelial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
10 – 30% wanita pada usia 30 tahun keatas yang telah aktif secara seksual
pernah terinfeksi HPV. Presentasi tersebut akan lebih meningkat apabila
wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Pada umumnya sebagian
besar infeksi HPV terjadi tanpa gejala dan bersifat menetap (Kumar,
2017)Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker
serviks, antara lain adalah
1. Usia
Usia pertama kali melakukan hubungan seksual yang masih relatif muda
(dibawah 20 tahun) dapat meningkatkan risiko kejadian kanker serviks.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin muda seorang wanita
melakukan hubungan seksual maka semakin tinggi risiko mengalami
kanker serviks. Hasil penelitian Sadewa (2019) menunjukkan bahwa
sebanyak 90% pasien yang terdiagnosa kanker serviks menikah pada usia
≤ 20 tahun.
2. Paritas
Kejadian kanker serviks juga sering ditemukan pada wanita yang sering
partus atau melahirkan. Semakin sering partus semakin besar risiko
seseorang mengalami kanker serviks. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Reis, et al (2019) menunjukkan bahwa wanita dengan jumlah paritas >3
berisiko mengalami kanker serviks lebih tinggi 9,127 kali dibandingkan
dengan wanita dengan paritas ≤3.
3. Merokok
Wanita yang merokok berisiko terkena kanker serviks 2 kali lebih besar
dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada lendir serviks wanita perokok mengandung
nikotin dan zat tersebut menyebabkan penurunan daya tahan serviks selain
merupakan ko-karsinogen infeksi virus (Rasjidi, 2019).
3. Pasangan Seksual Lebih Dari Satu
Wanita yang memiliki perilaku seksual dengan sering berganti-ganti
pasangan seks dapat meningkatkan penularan penyakit kelamin. Risiko
mengalami kanker serviks pada wanita yang sering berganti-ganti
pasangan seks akan meningkat 10 kali lipat (American Cancer Society,
2017).
4. Penggunaan Kontrasepsi Oral Jangka Panjang
Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka panjang (lebih dari 5 tahun)
seperti konsumsi pil KB dapat meningkatkan risiko kanker serviks 1-2 kali
terutama pada wanita yang positif terinfeksi HPV (American Cancer
Society, 2017).
5. Personal Hygiene
Personal hygiene terutama perawatan kebersihan alat kelamin yang kurang
dapat meningkatkan risiko kejadian kanker serviks. Hasil penelitian
Indrawati dan Fitriyani (2018) menunjukkan personal hygiene yang
kurang baik berisiko mengalami kanker serviks 19,386 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan wanita yang memiliki personal hygiene yang baik.
6. Diet
Seseorang yang melakukan diet ketat dengan konsumsi vitamin A, C dan
E yang rendah dapat mengurangi tingkat kekebalan tubuh yang berakibat
mudahnya seseorang terinfeksi (Arisusilo, 2012). Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa defisiensi asam folat, zat besi, dan beta karoten dapat
meningkatkan risiko kanker serviks (Sukaca, 2021).
7. Gangguan system kekebalan tubuh
Wanita yang mengalami immunocompromised (penurunan imunitas
tubuh) seperti pasien transplantasi ginjal dan AIDS dapat mempercepat
perkembangan sel kanker dari non-invasif menjadi invasif (American
Cancer Society, 2017)
8. Riwayat Kanker Serviks Pada Keluarga
Seorang wanita yang memiliki saudara kandung atau ibu dengan kanker
serviks, berisiko mengalami kanker serviks 2–3 kali lebih besar
dibandingkan dengan orang normal. Hasil penelitian menduga hal tersebut
disebabkan berkurangnya kemampuan untuk melawan infeksi HPV
(American Cancer Society, 2017)
9. Status Ekonomi
Wanita dengan status ekonomi yang rendah tidak mampu memperoleh
pelayanan kesehatan yang baik seperti pap smear atau melakukan
vaksinasi HPV. Hal ini menyebabkan mereka tidak dapat melakukan
skrining atau deteksi dini kanker serviks maupun tidak mampu melakukan
penatalaksanaan pre-kanker (American Cancer Society, 2017).
4. Patofisiologi
Terjadinya kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV yang onkogenik
umumnya adalah HPV tipe 16 dan 18 (Dethan, 2018). Risiko terinfeksi HPV
dapat meningkat pada wanita yang telah melakukan aktivitas seksual. Pada
umumnya, infeksi virus ini akan menghilang dengan sendirinya, namun
apabila infeksi bersifat persisten akan menyebabkan integrasi genom dari virus
ke dalam genom sel serviks. Akibatnya pertumbuhan sel dan ekspresi
onkoprotein E6 atau E7 yang bertanggung jawab terhadap perubahan maturasi
dan diferensiasi dari epitel serviks menjadi tidak normal atau disebut dengan
mutasi sel (Nurwijaya, 2017). Terjadinya mutasi sel inilah berkembang
menjadi kanker serviks. Proses perkembangan kanker serviks berlangsung
lambat, diawali adanya perubahan displasia yang perlahan - lahan menjadi
progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang
meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus atau
bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 – 10
tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi
invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di
serviks dapat menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat
berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada
serviks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika
urinaria. Karsinoma serviks dapat meluas ke arah segmen bawah uterus dan
kavum uterus. Penyebaran kanker ditentukan oleh stadium dan ukuran tumor,
jenis histologik dan ada tidaknya invasi ke pembuluh darah, anemis hipertensi
dan adanya demam.
Penyebaran dapat pula melalui metastase limpatik dan hematogen. Bila
pembuluh limfe terkena invasi, kanker dapat menyebar ke pembuluh getah
bening pada servikal dan parametria, kelenjar getah bening obtupator, iliaka
eksterna dan kelenjar getah bening hipogastrika. Dari sini tumor menyebar ke
kelenjar getah bening iliaka komunis dan pada aorta. Secara hematogen,
tempat penyebaran terutama adalah paru-paru, kelenjar getah bening
mediastinum dan supravesikuler, tulang, hepar, empedu, pankreas dan otak
(Prayetni, 1917). (WOC terlampir).
5. Pathway

6. Klasifikasi
Stadium kanker adalah cara bagi paramedis untuk merangkum seberapa jauh
kanker telah menyebar. Salah satu cara yang digunakan pada umumnya untuk
memetakan stadium kanker serviks yaitu sistem FIGO (Federasi Internasional
Ginekologi dan Obstetri). Berdasarkan Federation of International
Gynecology and Obsetrics (FIGO) tahun 2009 stadium klinis karsinoma
serviks terbagi atas:
Stadiu
Deskripsi
m
1 2
Stadium Karsinoma insitu, karsinoma intra-ephitelial. Tumor masih dangkal, hanya
0 tumbuh di lapisan sel serviks
Stadium Kanker telah tumbuh dalam serviks.
I
IA Kanker invasive ditemukan hanya secara mikroskopik. Kedalamannya 5 mm
dan besarnya kurang dari 7 mm
IA 1 Invasi stromal sedalam <3 mm dan lebar <7 mm
IA 2 Invasi ke stroma sedalam 3-5 mm dengan lebar <7 mm
IB Lesi klinis masih pada serviks atau lesi mikroskopik lebih besar dari lesi
stadium IA
IB 1 Kanker serviks dapat dilihat dengan mata telanjang. Ukuran tidak lebih dari 4
cm
IB 2 Kanker serviks dapat dilihat dengan mata telanjang. Ukuran lebih besar dari 4
cm
Stadium Kanker telah menginvasi melewati serviks namun tidak sampai pada dinding
II pelvis atau 1/3 bawah vagina
IIA Kanker meluas sampai 2/3 atas vagina, tanpa invasi parametrial
IIA 1 Tumor yang terlihat secara klinis <4 cm. Meluas hingga 2/3 bagian atas vagina
IIA 2 Tumor yang terlihat secara klinis >4 cm namun tidak sampai masuk dinding
pelvis.
IIB Kanker telah menyebar ke jaringan sekitar vagina dan serviks, namun belum
sampai ke dinding panggul
Stadium Kanker meluas sampai ke dinding pelvis dan/atau mencapai 1/3 bawah dinding
III vagina dana tau menyebabkan hidronefrosis atau penurunan fungsi ginjal
III A Tumor meluas sampai 1/3 bawah vagina namun tanpa ekstensi ke dinding
pelvis
IIIB Meluas sampai dinding pelvis atau menyebabkan obstruksi uropati.
Stadium Pada stadium ini, kanker telah menyebar ke pelvis, kandung kemih, atau
IV rectum.
IVA Kanker telah menyebar ke organ terdekat, seperti kandung kemih dan rectum
IVB Metastase ke organ yang lebih jauh.

7. Manifestasi Klinis
Pada fase prakanker (tahap displasia), sering tidak ada gejala atau tanda-tanda
yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari
vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis
jaringan.
b. Perdarahan setelah senggama (post coital bleeding) yang kemudian
berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
c. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan dan
berbau busuk.
d. Bisa terjadi hematuria karena infiltrasi kanker pada traktus urinarius.
e. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
f. Kelemahan pada ekstremitas bawah.
g. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang
panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan
terjadi infiltrasi kanker pada serabut saraf lumbosakral.
h. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi,
edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian
bawah (rektum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau
timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.

8. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
1) Perdarahan vagina
2) Keputihan berwarna putih atau purulen yang berbau dan tidak gatal
3) Adanya bau busuk yang khas
4) Raut wajah pucat
5) Ekspresi wajah meringis dan posisi tubuh menahan nyeri
6) Tanda-tanda anemia
7) Hematuri
8) Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah
sampai vagina
b. Palpasi
1) Nyeri tekan pada abdomen
2) Serviks dapat teraba membesar, ireguler, teraba lunak
3) Nyeri punggung bawah
4) Obstruksi ureter, periksa hidronefrosis dengan tes balotemen
5) Palpasi fundus arteri
6) Perubahan denyut nadi
7) Perubahan tekanan darah
8) Peningkatan suhu tubuh

9. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
a. Pap Smear
Test Pap smear dapat dilakukan di RS, klinik dokter kandungan ataupun
laboratorium. Prosedurnya cepat (hanya memerlukan waktu beberapa
menit) dan tidak menimbulkan rasa sakit. Test Pap smear dapat dilakukan
bila tidak dalam keadaan haid ataupun hamil. Untuk hasil terbaik,
sebaiknya tidak berhubungan intim minimal 3 hari sebelum pemeriksaan.
Pap smear merupakan salah satu cara deteksi dini kanker leher rahim. Test
ini mendeteksi adanya perubahan-perubahan sel leher rahim yang
abnormal, yaitu suatu pemeriksaan dengan mengambil cairan pada leher
rahim dengan spatula kemudian dilakukan pemeriksaan dengan
[Link] smear hanyalah sebatas skrining, bukan diagnosis adanya
kanker serviks. Jika ditemukan hasil pap smear yang abnormal, maka
dilakukan pemeriksaan standar berupa kolposkopi
b. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
Untuk deteksi dini kanker serviks, selain test Pap Smear, metoda lain yang
dapat menjadi pilihan adalah IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).
IVA digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel serviks setelah
mengoleskan larutan asam asetat (asam cuka3-5%) pada leher rahim.
Asam asetat menegaskan dan menandai lesi pra-kanker dengan perubahan
warna agak keputihan (acetowhite change). Hasilnya dapat diketahui saat
itu juga atau dalam waktu 15 menit.
c. Servikografi
Servikografi terdiri dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa
ekstensi 50 mm. Servikografi dapat digunakan sebagai metode yang baik
untuk skrining massal, lebih-lebih di daerah di mana tidak ada seorang
spesialis sitologi, maka kombinasi servikogram dan kolposkopi sangat
membantu dalam deteksi kanker serviks.
c. Gineskopi
Gineskopi menggunakan teleskop monokuler, ringan dengan pembesaran
2,5 x dapat digunakan untuk meningkatkan skrining dengan sitologi.
Biopsi atau pemeriksaan kolposkopi dapat segera disarankan bila tampak
daerah berwarna putih dengan pulasan asam asetat. Sensitivitas dan
spesifisitas masing-masing 84% dan 87% dan negatif palsu sebanyak
12,6% dan positif palsu 16%.
d. Pemeriksaan Penanda Tumor (PT)
Penanda tumor adalah suatu substansi yang dapat diukur secara kuantitatif
dalam kondisi prakanker maupun kanker. Salah satu PT yang dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya perkembangan kanker serviks adalah
CEA (Carcino Embryonic Antigen) dan HCG (Human Chorionic
Gonadotropin). Kadar CEA abnormal adalah > 5 µL/ml, sedangkan kadar
HCG abnormal adalah > 5ηg/ml. HCG dalam keadaan normal
disekresikan oleh jaringan plasenta dan mencapai kadar tertinggi pada usia
kehamilan 60 hari. Kedua PT ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan
darah dan urine.
e. Biopsy Kerucut
Biopsy Kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih
besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.
f. MRI /CT scan abdomen atau pelvis
MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran
lokal dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.
[Link] Schiller
Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium,
sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang
abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
h. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi tingkat komplikasi
pendarahan yang terjadi pada penderita kanker serviks dengan mengukur
kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit dan kecepatan pembekuan darah
yang berlangsung dalam sel-sel tubuh.

10. Kriteria Diagnosis


Interpretasi sitologi yang dapat menunjang diagnosis kanker serviks :
a. Hasil pemeriksaan negatif
Tidak ditemukan sel ganas. Ulangi pemeriksaan sitologi dalam 1 tahun
lagi.
b. Inkonklusif
Sediaan tidak memuaskan. Bisa disebabkan fiksasi tidak baik. Tidak
ditemukan sel endoserviks, gambaran sel radang yang padat menutupi sel.
Ulangi pemeriksaan sitologi setelah dilakukan pengobatan radang dan
sebagainya.
c. Displasia
Terdapat sel - sel diskariotik pada pemeriksaan mikroskopik. Derajat
ringan, sedang, sampai karsinoma in situ. Diperlukan konfirmasi dengan
kolposkopi dan biopsi. Dilakukan penangan lebih lanjut dan harus diamati
minimal 6 bulan berikutnya.
d. Hasil pemeriksaan positif
Terdapat sel - sel ganas pada lapisan epitel serviks melalui pengamatan
mikroskopik. Harus dilakukan biopsi untuk memperkuat diagnosis.
Penanganan harus dilakukan di rumah sakit rujukan dengan seorang ahli
onkologi.

11. Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer (2007)di bawah ini adalah klasifikasi penatalaksanaan
medis secara umum berdasarkan stadium kanker serviks :
Stadium Penatalaksanaan
0 Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal

Ia Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal

Ib,Iia Histerektomi radikal dengan limfadenektomi


panggul dan evaluasi kelenjar limfe
paraaorta (bila terdapat metastasis dilakukan
radioterapi pasca pembedahan

IIb, III, IV Histerektomi transvaginal

a. Penanganan Nonbedah Kanker Serviks


Apabila kanker termasuk lesi intra-epitel skuamosa tingkat rendah
(LGSIL) atau lesi intra-epitel skuamosa tingkat tinggi (LGSIT) ditemukan
melalui kolposkopi dan biopsy, pengangkatan nonbedah konservatif
memungkinkan untuk dilakukan (Smeltzer dan Bare, 2002).
1) Krioterapi
Pembekuan dengan oksida nitrat.
2) Terapi laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus
sebagian kecil dari jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan
laser hanya digunakan sebagai pengobatan untuk kanker serviks pra-
invasif (stadium 0).
b. Pembedahan untuk Kanker Serviks
Menurut Smeltzer dan Bare (2002), apabila pasien mempunyai kanker
serviks invaasif, radiasi atau histerektomi radikal atau keduanya dapat
dpilih. Bedah radikal disarankan ketika pasien tidak dapat menahan
efek radiasi atau mempunyai kanker yang resisten terhadap radiasi.
Prosedur bedah yang mungkin dilakukan sebagai berikut:
1) Histerektomi
Histerektomi sederhana: Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup
jaringan yang berada di dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar
getah bening panggul tidak diangkat. Rahim dapat diangkat
dengan cara operasi di bagian depan perut (perut) atau melalui
vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa menjadi
hamil. Histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa kanker
serviks stadium awal (I). Hal ini juga digunakan untuk stadium
pra-kanker serviks (o), jika sel-sel kanker ditemukan pada batas
tepi konisasi.
Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul:
pada operasi ini, dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim,
jaringan di dekatnya, bagian atas vagina yang berbatasan dengan
leher rahim, dan beberapa kelenjar getah bening yang berada di
daerah panggul. Operasi ini paling sering dilakukan melalui
pemotongan melalui bagian depan perut dan kurang sering
melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa
menjadi hamil. Sebuah histerektomi radikal dan diseksi kelenjar
getah bening panggul adalah pengobatan yang umum digunakan
untuk kanker serviks stadium I, dan lebih jarang digunakan pada
beberapa kasus stadium II, terutama pada wanita muda.
2) Ekstenterasi Panggul
Pengangkatan organ-organ pelvis, termasuk nodus limfe kandung
kemih dan rectum serta konstruksi conduit diversional, kolostomi
dan vagina.
3) Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair
dimasukkan ke dalam vagina dan pada leher rahim. Ini membunuh
sel-sel abnormal dengan cara membekukan mereka. Cryosurgery
digunakan untuk mengobati kanker serviks yang hanya ada di
dalam leher rahim (stadium 0), tapi bukan kanker invasif yang
telah menyebar ke luar leher rahim.
4) Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher
rahim. Hal ini dilakukan dengan menggunakan pisau bedah atau
laser tau menggunakan kawat tipis yang dipanaskan oleh listrik.
Pendekatan ini dapat digunakan untuk menemukan atau
mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau I). Hal ini jarang
digunakan sebagai satu-satunya pengobatan kecuali untuk wanita
dengan kanker serviks stadium dini yang mungkin ingin memiliki
anak. Setelah biopsi, jaringan (berbentuk kerucut) diangkat untuk
diperiksa di bawah mikroskop. Jika batas tepi dari kerucut itu
mengandung kanker atau pra-sel kanker, pengobatan lebih lanjut
akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel
kankernya telah diangkat.
5) Trachelektomi
Sebuah prosedur yang disebut trachelectomy radikal
memungkinkan wanita muda tertentu dengan kanker stadium awal
untuk dapat diobati dan masih dapat mempunyai anak. Metode ini
melibatkan pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan
meletakkannya pada jahitan berbentuk seperti kantong yang
bertindak sebagai pembukaan leher rahim di dalam rahim.
Kelenjar getah bening di dekatnya juga diangkat. Operasi ini
dilakukan baik melalui vagina ataupun perut. Setelah operasi ini,
beberapa wanita dapat memiliki kehamilan jangka panjang dan
melahirkan bayi yang sehat melalui operasi caesar. Risiko kanker
kambuh kembali sesudah pendekatan ini cukup rendah.
c. Radioterapi untuk Kanker Serviks
Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti
sinar-X) untuk membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan
tumornya. Sebelum radioterapi dilakukan, biasanya pasien akan
menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah menderita
anemia. Penderita kanker serviks yang mengalami perdarahan pada
umumnya menderita anemia. Untuk itu, transfusi darah mungkin
diperlukan sebelum radioterapi dijalankan. Pada kanker serviks
stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi (external
maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah
pembedahan. Akhir-akhir ini, dokter seringkali melakukan kombinasi
terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati kanker serviks
yang berada antara stadium IB hingga IVA.
Radioterapi eksternal berarti sinar X diarahkan ke tubuh (area panggul)
melalui sebuah mesin besar. Sedangkan radioterapi internal berarti
suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam rahim/leher rahim selama
beberapa waktu untuk membunuh sel-sel kankernya. Salah satu
metode radioterapi internal yang sering digunakan adalah
brachytherapy. Pengobatan yang ini cukup sukses untuk mengatasi
keganasan di organ kewanitaan. Baik radium dan cesium telah
digunakan sebagai sumber radioaktif untuk memberikan radiasi
internal.
Selain itu terdapat pengobatan dengan HDR (high dose rate)
brachytherapy yang diberikan hanya dalam hitungan menit. Untuk
mencegah komplikasi potensial dari HDR brachytherapy, maka
biasanya HDR brachytherapy diberikan dalam beberapa insersi. Untuk
pasien kanker serviks, standar perawatannya adalah 5 insersi. Waktu
dimana aplikator berada di saluran kewanitaan (vagina, leher rahim
dan/atau rahim) untuk setiap insersi adalah sekitar 2,5 jam.
Keuntungan HDR brachytherapy adalah antara lain: pasien cukup
rawat jalan, ekonomis, dosis radiasi bisa disesuaikan, tidak ada
kemungkinan bergesernya aplikator.
d. Kemoterapi untuk Kanker Serviks
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel
kanker. Biasanya obat-obatan diberikan melalui infuse ke pembuluh
darah atau melalui mulut. Setelah obat masuk ke aliran darah, mereka
menyebar ke seluruh tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan
dalam satu waktu.
e. Manajemen Nyeri Kanker
Berdasarkan kekuatan obat anti nyeri kanker, dikenal 3 tingkatan obat,
yaitu :
1) Nyeri ringan (VAS 1-4) : obat yang dianjurkan antara lain
Asetaminofen, OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid).
2) Nyeri sedang (VAS 5-6) : obat kelompok pertama ditambah
kelompok opioid ringan seperti kodein dan tramadol.
3) Nyeri berat (VAS 7-10) : obat yang dianjurkan adalah kelompok
opioid kuat seperti morfin dan fentanil.

12. Komplikasi
a. Langsung
Yang berhubungan dengan penyakitnya, dapat berupa:
1) Obstruksi ileus (penyumbatan usus)
2) Vesikovaginal fistel (lubang di antara saluran kencing dan vagina)
3) Obstruksi ureter (penyumbatan pada saluran kencing)
4) Hidronefrosis (pembengkakan ginjal)
5) Infertil
6) Gagal ginjal
7) Pembentukan fistula
8) Anemia
9) Infeksi sistemik
10) Trombositopenia
[Link] Langsung
Yang berhubungan dengan tindakan dan pengobatan:
1) Operasi: perdarahan, infeksi, luka pada saluran kencing, kandung
kemih maupun usus
2) Radiasi : berak darah, hematuria (kencing darah), cystitis radiasi
(infeksi saluran kencing karena efek radiasi)
3) Kemoterapi : mual muntah, diare, alopesia (kebotakan), BB turun,
borok pada daerah bekas suntikan.

13. Pencegahan
Kanker stadium dini (karsinoma in situ) sangat susah dideteksi karena belum
menimbulkan gejala yang khas dan spesifik, kematian pada kasus kanker
serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada
dalam stadium lanjut. Cara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencegah
kanker ini adalah bentuk skrining yang dinamakan Pap Smeardan skrining ini
sangat efektif. Ada beberapa protokol skrining yang bisa ditetapkan bersama -
sama sebagai salah satu upaya deteksi dini terhadap perkembangan kanker
serviks, beberapa di antaranya :
a. Skrining awal
Skrining dilakukan sejak seorang wanita telah melakukan hubungan
seksual (vaginal intercourse) selama kurang lebih tiga tahun dan
umurnya tidak kurang dari 21 tahun saat pemeriksaan. Hal ini didasarkan
pada karsinoma serviks berasal lebih banyak dari lesi prekursornya yang
berhubungan dengan infeksi HPV onkogenik dari hubungan seksual yang
akan berkembang lesinya setelah 3-5 tahun setelah paparan pertama dan
biasanya sangat jarang pada wanita di bawah usia 19 tahun.
b. Pemeriksaan DNA HPV
Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Pap’s smear negatif
disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3
sebanyak hampir 100%. Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk
wanita dengan umur diatas 30 tahun karena prevalensi infeksi HPV
menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29 tahun atau
lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat
sampai 65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. Sehingga, deteksi DNA
HPV yang positif yang ditemukan kemudian lebih dianggap sebagai HPV
yang persisten. Apabila ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih
tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks.
c. Skrining dengan Thinrep/Liquid-Base Method
Disarankan untuk wanita di bawah 30 tahun yang berisiko dan dianjurkan
untuk melakukan pemeriksaan setiap 1 - 3 [Link] dihentikan bila
usia mencapai 70 tahun atau telah dilakukan 3 kali pemeriksaan berturut-
turut dengan hasil negatif.

14. Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak diobati atau tidak memberikan respon terhadap
pengobatan, 95 % mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala.
Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki risiko tinggi terjadinya
rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini, perkembangan kanker
seviks dapat diobati dengan radioterapi. Ada beberapa faktor yang
menentukan prognosis dalam angka kejadian kanker serviks, antara lain : usia
penderita, keadaan umum, tingkat klinis keganasan, ciri - ciri histologik sel
kanker, kemampuan tim kesehatan dan sarana pengobatan yang
tersedia(Mansjoer, 2005)
Stadium Penyebaran kanker serviks Harapan
Hidup5
Tahun (%)
0 Karsinoma insitu 100
I Terbatas pada uterus 85
II Menyerang luar uterus tetapi meluas ke 60
dinding pelvis
III Meluas ke dinding pelvis dan atau sepertiga 33
bawah vagina atau hidronefrosis
IV Menyerang mukosa kandung kemih atau 7
rektum atau meluas keluar pelvis sebenarnya
BAB II
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1.1 Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah
sakit, tanggal pengkajian, dan diagnosa medis.

1.2 Riwayat Kesehatan


1.2.1 Keluhan Utama
Keluhan yang paling dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian.
Pasien dengan kanker serviks biasanya mengeluh gangguan pada
menstruasi, keputihan dan perdarahan pada vagina di luar masa
haid, sakit perdarahan sewaktu melakukan hubungan seks, dan
adanya infeksi pada saluran dan kandung kemih.
1.2.2 Riwayat Kesehatan Sekarang
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan yang ada pada
keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk
menanggulanginya ?
1.2.3Riwayat Kesehatan Dahulu
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah
mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah
pasien pernah menderita penyakit infeksi.
1.2.4Riwayat Kesehatan Keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita
penyakit seperti ini atau penyakit menular lain.

1.3 Pola Fungsional Kesehatan Gordon


a. Pemeliharaan dan persepsi kesehatan.
Kemungkinan pasien belum mengetahui penyebab dari keluhan utama
yang dirasakan pasien, belum mengetahui terkait pengobatan dan
prosedur pengobatan. Kanker serviks dapat diakibatkan oleh higiene
yang kurang baik pada daerah kewanitaan. Kebiasaan menggunakan
bahan pembersih vagina yang mengandung zat-zat kimia juga dapat
mempengaruhi terjadinya kanker serviks.
Masalah yang mungkin muncul: Defisiensi Pengetahuan
b. Pola nutrisi dan metabolik
Kaji kebiasan makan, jumlah makanan, tipe dan banyaknya makanan
dan minuman. Faktor-faktor pencernaan seperti nafsu makan, ketidak
nyamanan rasa dan bau, gigi dan bau mukosa mulut,mual atau muntah,
pembatasan makanan dan alergi makanan. Faktor yang berkaitan
dengan aktifitas, penyakit, dan stres. Pada pasien dengan kanker
serviks biasanya pasien mengalami penurunan nafsu makan,
ketidaknyamanan bau dan rasa, bau mukosa mulut, mengalami mual
dan muntah akibat efek samping kemoterapi.
Masalah yang mungkin muncul : Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh.
c. Pola eliminasi
Kaji kebiasan pola buang air besar dan buang air kecil pasien seperti
frekuensi, jumlah, warna, bau, konsistensi dan nyeri. Pada pasien
kanker serviks dapat terjadi inkontinensia urine akibat dari uterus yang
menekan kandung kemih. Dapat pula terjadi disuria serta hematuria.
Selain itu bisa juga terjadi inkontinensia alvi akibat dari peningkatan
tekanan otot abdominal.
d. Pola aktivitas dan latihan
Kaji apakah penyakit mempengaruhi pola aktivitas dan latihan.
Dengan skor kemampuan perawatan diri (0= mandiri, 1= alat bantu, 2=
dibantu orang lain, 3= dibantu orang lain dan alat, 4= tergantung total).
Kaji apakah klien mengalami sesak napas saat beraktivitas.
e. Pola istirahat dan tidur
Kaji kebiasan tidur pasien sehari-hari seperti jumlah waktu tidur, jam
tidur dan bangun. Penggunaan obat-obatan untuk mempermudah tidur,
gejala dari perubahan pola tidur, faktor-faktor yang mempengaruhi
misalnya nyeri. Kemungkinan pasien dengan kanker serviks
mengalami gangguan pada pola istirahat dan tidur akibat progresivitas
dari kanker serviks
f. Pola kognitif – perseptual
Kaji gambaran pengindraan khusus : penglihatan, pendengaran, rasa,
sentuh, dan bau. Penggunaan alat bantu seperti kaca mata dan alat
bantu dengar. Persepsi akan kenyamanan atau nyeri dan kemampuan
membuat keputusan. Pada pasien dengan kanker serviks biasanya
pasien akan mengalami nyeri yang lama lebih dari 6 bulan.
Masalah yang mungkin muncul : Nyeri kronik
[Link] persepsi dan konsep diri
Pada pasien dengan kanker serviks kadang pasien merasa malu
terhadap orang sekitar karena mempunyai penyakit kanker serviks,
akibat dari persepsi yang salah dari masyarakat. Dimana salah satu
etiologi dari kanker serviks adalah akibat dari sering berganti – ganti
pasangan seksual.
Masalah yang mungkin muncul: Gangguan citra tubuh
h. Pola seksualitas dan reproduksi
Kaji apakah terdapat perubahan pola seksulitas dan reproduksi pasien
selama pasien menderita penyakit ini. Pada pola seksualitas pada
pasien kanker serviks biasanya akan terganggu akibat dari rasa nyeri
yang selalu dirasakan pada saat melakukan hubungan seksual
(dispareuni) serta adanya perdarahan setelah berhubungan. Serta keluar
cairan encer (keputihan) yang berbau busuk dari vagina.
Masalah yang mungkin muncul : Resiko perdarahan
i. Pola manajemen koping stress
Kaji bagaimana pasien mengatasi masalah-masalahnya. Bagaimana
manajemen koping pasien. Apakah pasien dapat menerima kondisinya
setelah sakit.
j. Pola peran – hubungan
Bagaimana pola peran hubungan pasien dengan keluarga atau
lingkungan sekitarnya. Apakah penyakit ini dapat mempengaruhi pola
peran dan hubungannya. Pasien dengan kanker serviks harus
mendapatkan dukungan dari suami serta orang – orang terdekatnya
karena itu akan mempengaruhi kondisi kesehatan pasien. Biasanya
koping keluarga akan melemah ketika dalam anggota keluarganya ada
yang menderita penyakit kanker serviks.
k. Pola keyakinan dan nilai
Kaji apakah penyakit pasien mempengaruhi pola keyakinan dan nilai
yang diyakini.

1.4 Pemeriksaan Fisik


l. Inspeksi
1) Perdarahan vagina
2) Keputihan berwarna putih atau purulen yang berbau dan tidak gatal
3) Adanya bau busuk yang khas
4) Raut wajah pucat
5) Ekspresi wajah meringis dan posisi tubuh menahan nyeri
6) Tanda-tanda anemia
7) Hematuria
8) Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau
sudah sampai vagina
m. Palpasi
1) Nyeri tekan pada abdomen
2) Serviks dapat teraba membesar, ireguler, teraba lunak
3) Nyeri punggung bawah
4) Obstruksi ureter, periksa hidronefrosis dengan tes balotemen
5) Palpasi fundus arteri
6) Perubahan denyut nadi
7) Perubahan tekanan darah
8) Peningkatan suhu tubuh

1.5 Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang


a. Pap Smear
Test Pap smear dapat dilakukan di RS, klinik dokter kandungan
ataupun laboratorium. Prosedurnya cepat (hanya memerlukan waktu
beberapa menit) dan tidak menimbulkan rasa sakit. Test Pap smear
dapat dilakukan bila tidak dalam keadaan haid ataupun hamil. Untuk
hasil terbaik, sebaiknya tidak berhubungan intim minimal 3 hari
sebelum pemeriksaan. Pap smear merupakan salah satu cara deteksi
dini kanker leher rahim. Test ini mendeteksi adanya perubahan-
perubahan sel leher rahim yang abnormal, yaitu suatu pemeriksaan
dengan mengambil cairan pada leher rahim dengan spatula kemudian
dilakukan pemeriksaan dengan [Link] smear hanyalah sebatas
skrining, bukan diagnosis adanya kanker serviks. Jika ditemukan hasil
pap smear yang abnormal, maka dilakukan pemeriksaan standar berupa
kolposkopi
b. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
Untuk deteksi dini kanker serviks, selain test Pap Smear, metoda lain
yang dapat menjadi pilihan adalah IVA (Inspeksi Visual dengan Asam
Asetat). IVA digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel serviks
setelah mengoleskan larutan asam asetat (asam cuka3-5%) pada leher
rahim. Asam asetat menegaskan dan menandai lesi pra-kanker dengan
perubahan warna agak keputihan (acetowhite change). Hasilnya dapat
diketahui saat itu juga atau dalam waktu 15 menit.
n. Servikografi
Servikografi terdiri dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan
lensa ekstensi 50 mm. Servikografi dapat di-gunakan sebagai metoda
yang baik untuk skrining massal, lebih-lebih di daerah di mana tidak
ada seorang spesialis sitologi, maka kombinasi servikogram dan
kolposkopi sangat membantu dalam deteksi kanker serviks.
o. Gineskopi
Gineskopi menggunakan teleskop monokuler, ringan dengan
pembesaran 2,5 x dapat digunakan untuk meningkatkan skrining
dengan sitologi. Biopsi atau pemeriksaan kolposkopi dapat segera
disarankan bila tampak daerah berwarna putih dengan pulasan asam
asetat. Sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 84% dan 87% dan
negatif palsu sebanyak 12,6% dan positif palsu 16%.
p. Pemeriksaan Penanda Tumor (PT)
Penanda tumor adalah suatu suatu substansi yang dapat diukur secara
kuantitatif dalam kondisi prakanker maupun kanker. Salah satu PT
yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya perkembangan kanker
serviks adalah CEA (Carcino Embryonic Antigen) dan HCG (Human
Chorionic Gonadotropin). Kadar CEA abnormal adalah > 5 µL/ml,
sedangkan kadar HCG abnormal adalah > 5ηg/ml. HCG dalam
keadaan normal disekresikan oleh jaringan plasenta dan mencapai
kadar tertinggi pada usia kehamilan 60 hari. Kedua PT ini dapat
dideteksi melalui pemeriksaan darah dan urine.
q. Biopsy Kerucut
Biopsy Kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih
besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.
r. MRI /CT scan abdomen atau pelvis
MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai
penyebaran lokal dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.
s. Tes Schiller
Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan
yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat
sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
t. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi tingkat komplikasi
pendarahan yang terjadi pada penderita kanker serviks dengan
mengukur kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit dan kecepatan
pembekuan darah yang berlangsung dalam sel-sel tubuh.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan sel kanker
pada syaraf dan kematian sel
b. Resiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan
makanan
c. Resiko Infeksi berhubungan dengan Penyakit kronis (Ca serviks)
d. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pengobatan
e. Resiko kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan efek dari
prosedur pengobatan. prosedur pengobatan.
f. Gangguan pola seksual berhubungan dengan metaplasia penyakit.
2. Intervensi

NO SDKI Rencana Keperawatan

SLKI SIKI

1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen Nyeri
pencedera fisiologis (Ca Serviks) selama 2x24jam diharapkan nyeri akut Observasi
Penyebab: menurun, dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
1. Agen pencedera fisiologis (mis: Tingkat Nyeri frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
inflamasi, iskemia, neoplasma). 1. Keluhan nyeri menurun 2. Identifikasi skala nyeri
2. Agen pencedera kimiawi (mis: 2. Meringis menurun 3. Identifikasi respons nyeri non verbal
terbakar, bahan kimia iritan). 3. Gelisah menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
3. Agen pencedera fisik (mis: abses, 4. Kesulitan tidur menurun memperingan nyeri
amputasi, terbakar, terpotong dll). 5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
Gejala dan Tanda Mayor: tentang nyeri.
Subjektif 6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap
1. Mengeluh nyeri respon nyeri
Objektif 7. Identifikasi pengaruh nyeri terhadap
1. Tampak meringis kualitas hidup
2. Bersikap protektif 8. Monitor keberhasilan terapi komplementer
3. Gelisah yang sudah diberikan
4. Frekuensi nadi meningkat 9. Monitor efek samping penggunaan
5. Sulit tidur. analgetik.
Tanda dan Gejala Minor: Teraupetik
Objektif 1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk
1. Tekanan darah meningkat mengurangi nyeri (terapi musik klasik
2. Pola napas berubah mozart).
3. Nafsu makan berubah 2. Kontrol lingkungan yang memperberat
4. Proses berpikir terganggu rasa nyeri.
5. Menarik diri 3. Fasilitas istirahat dan tidur.
6. Berfokus pada diri sendiri 4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri
7. Diaphoresis. dalam pemilihan strategi meredakan nyeri.
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu
nyeri.
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri.
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
4. Anjurkan menggunakan analgetik secara
tepat.
5. Ajarkan tekhnik non farmakologis untuk
mengurangi nyeri.
Kolaborasi
[Link] pemberian analgetik, jika
perlu.
2. Resiko defisit nutrisi berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen gangguan makan
dengan ketidakmampuan menelan selama 2x24jam diharapkan resiko Observasi :
makanan defisit nutrisi menurun, dengan 1. monitor asupan dan keluarnya makanan
Penyebab kriteria hasil: dan cairan serta kebutuhan cairan
1. Ketidakmampuan menelan Status nutrisi
Teraupetik
makanan 1. Porsi makanan yang di
2. Diskusikan perilaku makanan dan
2. Ketidakmampuan mencerna habiskan
jumlah aktifivitas fisik (termasuk
makanan 2. Frekuensi makan
olahraga yang selesai)
3. Ketidakmampuan mengabsorbsi 3. Nafsu makan
3. Di dampingi ke kamar mandi untuk
nutrien 4. Perasaan cepat kenyang
pengamatan perilaku memuntahkan
4. Peningkatan kebutuhan
kembali makanan
metabolisme Edukasi
5. Faktor ekonomi (mis. Finansial 4. Ajarkan pengaturan diet yang tepat
tidak mencukupi)
Kolaborasi
6. Faktor psikologis (mis. Stress)
5. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
Tanda dan gejala target berat badan danpemilihan
1. Stroke makanan
2. Parkinson
3. Mobius syndrome
4. Cerebral palsy
5. Cleft lip
6. Cleft palate
7. Amyotropic lateral sclerosis
8. Kerusakan neuromuskular
9. Luka bakar
10. Kanker
11. Infeksi
12. AIDS
13. Penyakit crohn’s
14. Enterokolitis
15. Fibrosis kistik

3. Resiko Infeksi berhubungan dengan Setelah tindakan keperawatan selama Pencegahan Infeksi :
Penyakit kronis (Ca serviks) 2x24jam diharapkan risiko infeksi Observasi
Faktor risiko: menurun dapat terpenuhi dengan 1. Monitor tanda gejala infeksi local dan
[Link] kronis (mis. Diabetes kriteria hasil sistemik
mellitus) Tingkat Infeksi Terapeutik
2. Efek prosedur infasif 1. Demam menurun 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah
[Link] 2. Kemerahan menurun kontak dengan pasien dan lingkungan
[Link] paparan organisme 3. Nyeri menurun pasien
pathogen lingkungan 4. Bengkak menurun [Link] teknik aseptic pada pasien
5. Ketidakadekuatan pertahanan 5. Cairan berbau busuk menurun Edukasi
tubuh primer (ketidakadekuatan [Link] tanda gejala infeksi
kerusakan integritas kulit) [Link] cara memeriksa kondisi
Kondisi Klinis: luka/luka operasi
1. Tindakan invasif Kolaborasi
2. Ketuban pecah sebelum 6. Kolaborasi pemberian imunisasi, jika
waktunya (KPSW) perlu
3. Imunosupresi
3. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah akibat status kesehatan yang
dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria pasien
(Potter and Perry, 2011).
4. Evaluasi Keperawatan

Menurut (Craven dan Hirnle, 2015) evaluasi didefinisikan sebagai


keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan
keperawatan pasien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku pasien
yang tampil tujuan dari evaluasi antara lain:
a) Untuk menentukan perkembangan kesehatan pasien.
b) Untuk menilai efektifitas, efisiensi dan produktivitas dan tindakan
keperawatan yang telah diberikan.
c) Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan.
d) Untuk mendapatkan umpan balik.
e) Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dalam pelaksanaan
pelayanan kesehatan
DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. (2017). Cancer Facts & Figures 2017. Atlanta :
American Cancer Society.

Aranda. S, et al. (2020). Impact of a novel nurse-led prechemotherapy


educationintervention (ChemoEd) on patient distress, symptomburden, and
treatment-related information and supportneeds: results from a andomized,
controlled trial. (Hal 1-10)

Arisusilo, C. (2019). Kanker Leher Rahim (Cancer Cervix) Sebagai Pembunuh


Wanita Terbanyak Di Negara Berkembang. Sainstis. Volume 1, Nomor 1.

Barry [Link] and William [Link]. (2019). The Biology of Disease Vector.
University Press of Colorado.

Bell Kay,& Harrold k. (2022). Benefits of attending nurse-led pre-chemotherapy


group sessions. Vol 12 (1). Cancer Nursing practice. Page 27-31

Centers for Diseases Control and Prevention (CDC). (2021). Cervical Cancer

Cullati S, Charvet Berard AI, Perrieger TV. (2019). Cancer Screening in a Middle
Aged General Population: Factor Associated with Practices and Attitudes.
BMC Publik Health.

Fitri Fauziah & Julianty Widuri. (2017). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa.
Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

ICO Information Centre on HPV and Cancer (HPV Information Centre). (2018).

Keliat. B.A. (2018). Penatalaksanaan Stres. Jakarta: EGC.

Kementerian Kesehatan RI. (2017). Pusat Data & Informasi Situasi Penyakit
Kanker di Indonesia. Jakarta : Pusat Data & Informasi Kemenkes RI

Kumar, S. & Pandey, A. (2018). Chemistry and Biological Activities of


Flavonoids: An Overview, The ScientificWorld Journal. (1-16).

Mansjoer, A. 2017. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid Satu. Edisi Ketiga, Jakarta:
Media Aesculapius FKUI.

NANDA International. (2021). Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi


2012-2014. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai