0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan20 halaman

Laporan Pendahuluan Penyakit Ginjal Kronis

Dokumen tersebut membahas tentang Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis yang didefinisikan sebagai kerusakan ginjal selama lebih dari 3 bulan dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus. Dokumen ini juga membahas etiologi, manifestasi klinis, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang CKD.

Diunggah oleh

Nitadwi yolanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan20 halaman

Laporan Pendahuluan Penyakit Ginjal Kronis

Dokumen tersebut membahas tentang Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis yang didefinisikan sebagai kerusakan ginjal selama lebih dari 3 bulan dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus. Dokumen ini juga membahas etiologi, manifestasi klinis, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang CKD.

Diunggah oleh

Nitadwi yolanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)

Disusun Oleh :

NAMA :Yolanda Dwi Nita

NIM : 22222079

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

INSTITUSI KESEHATAN DAN TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH PALEMBANG

TAHUN AKADEMIK 2022/2023


BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Definisi
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai
kerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan atau tanpa penurunan glomerulus
filtration rate (GFR) (Nahas & Levin,2017). CKD atau gagal ginjal kronis (GGK)
didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat,
progresif, irreversibel, dan samar (insidius) dimana kemampuan tubuh gagal dalam
mempertahankan metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi
uremia atau azotemia (Smeltzer, 2019)
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat
persisten dan irreversible. Sedangkan gangguan  fungsi ginjal  yaitu penurunan laju
filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan dalam kategori ringan, sedang dan
berat (Mansjoer, 2007).

B. Klasifikasi
Klasifikasi gagal ginjal kronis berdasarkan derajat (stage) LFG (Laju Filtration
Glomerulus) dimana nilai normalnya adalah 125 ml/min/1,73m 2 dengan rumus Kockroft
– Gault sebagai berikut :

Derajat Penjelasan LFG (ml/mn/1.73m2)

1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau ↑ ≥ 90

2 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ atau ringan 60-89

3 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ atau sedang 30-59

4 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ atau berat 15-29

5 Gagal ginjal < 15 atau dialisis

Sumber : Sudoyo,2016 Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Jakarta : FKUI


C. Etiologi
Diabetes dan hipertensi baru-baru ini telah menjadi etiologi tersering terhadap proporsi
GGK di US yakni sebesar 34% dan 21% . Sedangkan glomerulonefritis menjadi yang
ketiga dengan 17%. Infeksi nefritis tubulointerstitial (pielonefritis kronik atau nefropati
refluks) dan penyakit ginjal polikistik masing-masing 3,4%. Penyebab yang tidak sering
terjadi yakni uropati obstruktif , lupus eritomatosus dan lainnya sebesar 21 %. (US Renal
System, 2000 dalam Price & Wilson, 2016). Penyebab gagal ginjal kronis yang
menjalani hemodialisis di Indonesia tahun 2020 menunjukkan glomerulonefritis menjadi
etiologi dengan prosentase tertinggi dengan 46,39%, disusul dengan diabetes melitus
dengan 18,65%, obstruksi dan infeksi dengan 12,85%, hipertensi dengan 8,46%, dan
sebab lain dengan 13,65% (Sudoyo, 2017).
D. Pathway

Kerusakan ginjal

Chronic Kidney Disease


(Ckd)

Kerusakan glomelurus Kerusakan tubulus Produksi etitropoetin

Terganggunya Fungsi sum-sum tulang


Loss protein Klirens ginjal fungsi absorbsi, belakang
sekresi, ekskresi.

Proteinnuria Tertimbunnya Produksi trombosit


Menumpuknya
masif produk hasil
toksik metabolit
metabolisme
(fosfat hidrogen,
protein di dalam Anemia
urea, amonia,dsb)
Hipoalbumin darah

urenia
Tekanan onkotik

Transudasi Pada GI Pada kulit Pada neuromuskular


cairan
intravaskular ke
intertisil Gangguan asam basa Iritasi saraf perasa
Proitus Kulit kering nyeri

Hipovolemia Iritasi lambung


Digaruk
Nyeri kepala Nyeri otot
Aktivasi renin Asam lambung
angiotensia al
dosteroa Gangguan
Mual, muntah integritas kulit Nyeri Akut

Retensi Na & air


Resiko defisit nutrisi

Edema

Hipervolemia
E. Manifestasi Klinis
Menurut Brunner & Suddart (2018) setiap sistem tubuh pada gagal ginjal kronis
dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka pasien akan menunjukkan sejumlah tanda dan
gejala. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal,
usia pasien dan kondisi yang mendasari. Tanda dan gejala pasien gagal ginjal kronis
adalah sebagai berikut :
a. Manifestasi kardiovaskuler
Mencakup hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin-
angiotensin-aldosteron), pitting edema (kaki,tangan,sakrum), edema periorbital,
Friction rub perikardial, pembesaran vena leher.
b. Manifestasi dermatologi
Warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering, bersisik, pruritus, ekimosis, kuku tipis
dan rapuh, rambut tipis dan kasar.
c. Manifestasi Pulmoner
Krekels, sputum kental dan liat, napas dangkal, pernapasan Kussmaul
d. Manifestasi Gastrointestinal
Napas berbau amonia, ulserasi dan pendarahan pada mulut, anoreksia, mual,muntah,
konstipasi dan diare, pendarahan saluran gastrointestinal
e. Manifestasi Neurologi
Kelemahan dan keletihan, konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan tungkai, panas
pada telapak kaki, perubahan perilaku
f. Manifestasi Muskuloskeletal
Kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur tulang, foot drop
g. Manifestasi Reproduktif
Amenore dan atrofi testikuler
F. Komplikasi
Seperti penyakit kronis dan lama lainnya, penderita CKD akan mengalami
beberapa komplikasi. Komplikasi dari CKD menurut Smeltzer dan Bare (2017) serta
Suwitra (2018) antara lain adalah :
1. Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik, kata bolisme, dan masukan
diit berlebih.
2. Perikarditis, efusi perikardial, dan tamponad jantung akibat retensi produk sampah
uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin angiotensin
aldosteron.
4. Anemia akibat penurunan eritropoitin.
5. Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum
yang rendah, metabolisme vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar
alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik.
6. Uremia akibat peningkatan kadar uream dalam tubuh.
7. Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang berlebihan.
8. Malnutrisi karena anoreksia, mual, dan muntah.
9. Hiperparatiroid, Hiperkalemia, dan Hiperfosfatemia.
G. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologi
Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat komplikasi ginjal.
1. Ultrasonografi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya
massa kista, obtruksi pada saluran perkemihan bagianatas.
2. Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk
diagnosis histologis.
3. Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.
4. EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam
basa.
b. Foto Polos Abdomen
Menilai besar dan bentuk ginjal serta adakah batu atau obstruksi lain.
c. Pielografi Intravena
Menilai sistem pelviokalises dan ureter, beresiko terjadi penurunan faal ginjal pada
usia lanjut, diabetes melitus dan nefropati asam urat.
d. USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkin ginjal , anatomi sistem pelviokalises,
dan ureter proksimal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises dan
ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
e. Renogram
Menilai fungsi ginjal kanan dan kiri , lokasi gangguan (vaskuler, parenkhim) serta sisa
fungsi ginjal
f. Pemeriksaan Radiologi Jantung
Mencari adanya kardiomegali, efusi perikarditis
g. Pemeriksaan radiologi Tulang
Mencari osteodistrofi (terutama pada falangks /jari) kalsifikasi metatastik
h. Pemeriksaan radiologi Paru
Mencari uremik lung yang disebabkan karena bendungan.
i. Pemeriksaan Pielografi Retrograde
Dilakukan bila dicurigai adanya obstruksi yang reversible
j. EKG
Untuk melihat kemungkinan adanya hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis,
aritmia karena gangguan elektrolit (hiperkalemia)
k. Biopsi Ginjal
dilakukan bila terdapat keraguan dalam diagnostik gagal ginjal kronis atau perlu
untuk mengetahui etiologinya.
l. Pemeriksaan laboratorium menunjang untuk diagnosis gagal ginjal
1) Laju endap darah
2) Urin
Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria atau urine tidak ada (anuria).
Warna : Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan oleh pus / nanah,
bakteri, lemak, partikel koloid,fosfat, sedimen kotor, warna kecoklatan
menunjukkan adanya darah, miglobin, dan porfirin.
Berat Jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan
ginjal berat).
Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular, amrasio
urine / ureum sering 1:1.
3) Ureum dan Kreatinin
Ureum:
Kreatinin: Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin 10 mg/dL diduga
tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5).
4) Hiponatremia
5) Hiperkalemia
6) Hipokalsemia dan hiperfosfatemia
7) Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia
8) Gula darah tinggi
9) Hipertrigliserida
10) Asidosis metabolik
H. Penatalaksanaan Medis
Tujuan utama penatalaksanaan pasien GGK adalah untuk mempertahankan fungsi
ginjal yang tersisa dan homeostasis tubuh selama mungkin serta mencegah atau
mengobati komplikasi (Smeltzer, 2021; Rubenstain dkk, 2017). Terapi konservatif tidak
dapat mengobati GGK namun dapat memperlambat progres dari penyakit ini karena
yang dibutuhkan adalah terapi penggantian ginjal baik dengan dialisis atau transplantasi
ginjal.
Lima sasaran dalam manajemen medis GGK meliputi :
1. Untuk memelihara fungsi renal dan menunda dialisis dengan cara mengontrol proses
penyakit melalui kontrol tekanan darah (diet, kontrol berat badan dan obat-obatan)
dan mengurangi intake protein (pembatasan protein, menjaga intake protein sehari-
hari dengan nilai biologik tinggi < 50 gr), dan katabolisme (menyediakan kalori
nonprotein yang adekuat untuk mencegah atau mengurangi katabolisme)
2. Mengurangi manifestasi ekstra renal seperti pruritus , neurologik, perubahan
hematologi, penyakit kardiovaskuler;
3. Meningkatkan kimiawi tubuh melalui dialisis, obat-obatan dan diet;
4. Mempromosikan kualitas hidup pasien dan anggota keluarga
(Black & Hawks, 2019)
Penatalaksanaan konservatif dihentikan bila pasien sudah memerlukan dialisi tetap
atau transplantasi. Pada tahap ini biasanya GFR sekitar 5-10 ml/mnt. Dialisis juga
diiperlukan bila :
 Asidosis metabolik yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan
 Hiperkalemia yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan
 Overload cairan (edema paru)
 Ensefalopati uremic, penurunan kesadaran
 Efusi perikardial
 Sindrom uremia ( mual,muntah, anoreksia, neuropati) yang memburuk.

Menurut Sunarya, penatalaksanaan dari CKD berdasarkan derajat LFG nya, yaitu:
BAB II

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian Fokus Keperawatan

Pengkajian fokus yang disusun berdasarkan pada Gordon dan mengacu pada
Doenges (2017), serta Carpenito (2016) sebagai berikut :
1. Demografi.
Penderita CKD kebanyakan berusia diantara 30 tahun, namun ada juga yang
mengalami CKD dibawah umur tersebut yang diakibatkan oleh berbagai hal seperti
proses pengobatan, penggunaan obat-obatan dan sebagainya. CKD dapat terjadi pada
siapapun, pekerjaan dan lingkungan juga mempunyai peranan penting sebagai pemicu
kejadian CKD. Karena kebiasaan kerja dengan duduk / berdiri yang terlalu lama dan
lingkungan yang tidak menyediakan cukup air minum / mengandung banyak senyawa/
zat logam dan pola makan yang tidak sehat.
2. Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum CKD seperti DM, glomerulo nefritis,
hipertensi, rematik, hiperparatiroidisme, obstruksi saluran kemih, dan traktus urinarius
bagian bawah juga dapat memicu kemungkinan terjadinya CKD.
3. Pola nutrisi dan metabolik.
Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam kurun waktu 6
bulan. Tandanya adalah anoreksia, mual, muntah, asupan nutrisi dan air naik atau turun.
4. Pola eliminasi
Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input. Tandanya adalah
penurunan BAK, pasien terjadi konstipasi, terjadi peningkatan suhu dan tekanan darah
atau tidak singkronnya antara tekanan darah dan suhu.
5. Pengkajian fisik
a. Penampilan / keadaan umum.
Lemah, aktifitas dibantu, terjadi penurunan sensifitas nyeri. Kesadaran pasien dari
compos mentis sampai coma.
b. Tanda-tanda vital.
Tekanan darah naik, respirasi riet naik, dan terjadi dispnea, nadi meningkat dan
reguler.
c. Antropometri.
Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan nutrisi, atau
terjadi peningkatan berat badan karena kelebihan cairan.
d. Kepala.
Rambut kotor, mata kuning / kotor, telinga kotor dan terdapat kotoran telinga,
hidung kotor dan terdapat kotoran hidung, mulut bau ureum, bibir kering dan
pecah-pecah, mukosa mulut pucat dan lidah kotor.
e. Leher dan tenggorok.
Peningkatan kelenjar tiroid, terdapat pembesaran tiroid pada leher.
f. Dada
Dispnea sampai pada edema pulmonal, dada berdebar-debar. Terdapat otot bantu
napas, pergerakan dada tidak simetris, terdengar suara tambahan pada paru
(rongkhi basah), terdapat pembesaran jantung, terdapat suara tambahan pada
jantung.
g. Abdomen.
Terjadi peningkatan nyeri, penurunan pristaltik, turgor jelek, perut buncit.
h. Genital.
Kelemahan dalam libido, genetalia kotor, ejakulasi dini, impotensi, terdapat ulkus.

i. Ekstremitas.
Kelemahan fisik, aktifitas pasien dibantu, terjadi edema, pengeroposan tulang, dan
Capillary Refill lebih dari 1 detik.
j. Kulit.
Turgor jelek, terjadi edema, kulit jadi hitam, kulit bersisik dan mengkilat / uremia,
dan terjadi perikarditis.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada CKD adalah sebagai berikut:
1. Hipervolemia berhubungan dengan mekanisme regulasi
2. Risiko defisit nutrisi berhubungan dengan menelan makanan
3. Risiko konstipasi berhubungan dengan ketidakcukupan asupan serat
C. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosis Keperawatan Perencanaan

Tujuan Intervensi

1. Hipervolemia berhubungan Setelah tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan SIKI : Keseimbangan cairan
dengan mekanisme regulasi Hipervolemia dapat terkontrol dengan Kriteria Hasil :
(D.0022) Observasi :

Penyebab 1) Periksa tanda dan gejela hipervolemia


SLKI : Keseimbangan cairan 2) Identifikasi penyebab hipervolemia
1. Gangguan mekanisme 3) Monitor intake dan output cairan
regulasi 4) Monitor status hemodinamik
2. Kelebihan asupan cairan Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun 5) Monitor tanda hemokonsentrasi
3. Kelebihan asupan meningkat menurun Teraupeutik :
natrium 1 2 3 4 5
4. Gangguan aliran balik 6) Timbang berat badan setiap hari pada waktu
Asupan
vena √ yang sama
cairan
5. Efek agen famakologis 7) Batasi asupan cairan dan garam
edema √ 8) Tinggikan kepala 30-40
(mis. Kortikosteroid,
chlorpropamide, Haluaran √ Edukasi :
tolbutamide) urine
6) Ajarkan cara membatasi cairan
Gelisah √
Gejala dan tanda mayor Asites √ 7) Anjurkan melapor jika haluaran urine <0,5
Subjektif Ml/kg jam dalam 6 jam

1. Ortopnea 8) Anjurkan melapor bila BB bertambah >1 kg


2. Dispnea dalam sehari
3. Paroxysmal norcturnal
Kolaborasi :
dyspnea (PND)
9) kolaborasi pemberian
Objektif deuretik
1. Edema anasarka dan /
atau edema perifer
2. Berat badan meningkat
dalam waktu singkat
3. Jugular venous presure
(JVP) dan / atau cental
venous presure (CVP)
meningkat
4. Refleks hepatojugular
positif
Gejala dan tanda minor
Subjektif
-
Objektif
1. Distensi vena jugularis
2. Terdengar suara napas
tambahan
3. Hepatomegali
4. Kadar Hb/Ht turun
5. Oliguria
6. Intake lebih banyak dari
output (balans cairan
positif)
7. Kongesif paru
Kondisi klinis terkait
1. Penyakit ginjal : gagal
ginjal akut/kronis,
sindrom nefrotik
2. Hipoalbuminemia
3. Gagal jantung kongesif
4. Kelainan hormon
5. Penyakit hati (mis.
Sirosis, asites, kangker
hati)
6. Penyakit vena perifer
(mis. Varises vena,
trombus vena, plebitis)

2. Risiko konstipasi Setelah tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Risiko SIKI : Pencegahan konstipasi
berhubungan dengan konstipasi dapat terkontrol dengan Kriteria Hasil :
ketidakcukupan asupan serat Observasi :
(D.0052)
1. Identifikasi faktor risiko konstipasi (mis.
Faktor risiko SLKI : Eliminasi Fekal Asupan serat tidak adekuat, asupan cairan
tidak adekuat)
Fisiologis 2. Monitor tanda dan gejala konstipasi (mis.
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun Fases keras)
1. Penurunan motilitas meningkat menurun 3. Identifikasi status kognitif untuk
gastrointestinal 1 2 3 4 5 mengkomunikasikan kebutuhan
2. Pertumbuhan gigi tidak 4. Identifikasi penggunaan obat-obatan yang
Keluhan
adekuat √ menyebabkan konstipasi
defekasi
3. Ketidakcukupan diet Teraupeutik :
lama dan
4. Ketidakcukupan asupan 5. Batasi minuman yang mengandung kafein
sulit
serat dan alkohol
Disteni √
5. Ketidakcukupan asupan 6. Jadwalkan rutinitas BAK
cairan abdomen 7. Lakukan masase abdomen
6. Aganglionik (mis. Konsistensi √ 8. Berikan terapi akupuntur
Kelemahan fases Edukasi :
ototabdomen) Frekuensi √
defekasi 9. Jelaskan penyebab dan faktor risiko
Psikologis konstipasi
10. Anjurkan minum air putih sesuai dengan
1. Konfusi kebutuhan (1500-2000)
2. Depresi 11. Anjurkan mengkonsumsi makanan berserat
3. Gangguan emosional 12. Anjurkan menigkatkan aktivitas fisik yang
sesuai kebutuhan
Situasional
13. Anjurkan berjalan 15-20 menit 1-2 x/hari
1. Perubahan kebiasaan 14. Anjurkan berjongkok untuk menfasilitasi
makan (mis. Jadwal proses BAB
makan)
2. Ketidakadekuatan
toileting
3. Aktifitas fisik harian
kurang dri yang di
anjurkan
4. Penyalahgunaan laktasif
5. Efek agen farmakologis
6. Ketidakteraturan
kebiasaan defekasi
7. Kebiasaan menahan
dorongan defekasi
8. Perubahan lingkungan
Kondisi klinis terkait
1. Lesi/ cedera pada
medula spinalis
2. Stroke
3. Sklerosis multipel
4. Penyakit parkinson
5. Demensia
6. Hiperparitirodisme
7. Hipoparitirodisme

3. Resiko defisit nutrisi Setelah tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan resiko SIKI : Manajemen gangguan makan
berhubungan dengan defisit nutrisi dapat terkontrol dengan Kriteria Hasil : Observasi
ketidakmampuan menelan 1. Monitor asupan dan keluarnya makanan dan
makanan (D.0032) cairan serta kebutuhan cairan
Faktor Risiko SLKI : Status nutrisi (L.03030)
1. Ketidakmampuan Teraupetik
menelan makanan
1. Diskusikan perilaku makanan dan jumlah
2. Ketidakmampuan
aktifivitas fisik (termasuk olahraga yang
mencerna makanan
selesai)
3. Ketidakmampuan
2. Di dampingi ke kamar mandi untuk
mengabsorbsi nutrien
pengamatan perilaku memuntahkan kembali
4. Peningkatan kebutuhan
makanan
metabolisme
Meningk Cukup Sedan Cukup Menuru
5. Faktor ekonomi (mis. at meningk g menuru n Edukasi
Finansial tidak at n
mencukupi) 1 2 3 4 5 1. Ajarkan pengaturan diet yang tepat
6. Faktor psikologis (mis. Porsi
Stress) √ Kolaborasi
makanan
Kondisi Klinis Terkait yang di 1. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang target
habiskan berat badan dan pemilihan makanan
1. Stroke Frekuen √
2. Parkinson si makan
3. Mobius syndrome Nafsu √
4. Cerebral palsy makan
Perasaan √
5. Cleft lip cepat
6. Cleft palate kenyang
7. Amyotropic lateral
sclerosis
8. Kerusakan
neuromuskular
9. Luka bakar
10. Kanker
11. Infeksi
12. AIDS
13. Penyakit crohn’s
14. Enterokolitis
15. Fibrosis kistik
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien dari masalah akibat status kesehatan yang dihadapi kestatus
kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria pasien (Potter and Perry, 2017).
E. Evaluasi Keperawatan

Menurut (Craven dan Hirnle, 2019) evaluasi didefinisikan sebagai keputusan dari
efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan pasien yang telah
ditetapkan dengan respon perilaku pasien yang tampil tujuan dari evaluasi antara lain:

a) Untuk menentukan perkembangan kesehatan pasien.


b) Untuk menilai efektifitas, efisiensi dan produktivitas dan tindakan keperawatan
yang telah diberikan.
c) Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan.
d) Untuk mendapatkan umpan balik.
Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan
DAFTAR PUSTAKA

Bakta, I Made & I Ketut Suastika,. Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta : EGC.
2019.

Black, Joyce M. & Jane Hokanson Hawks. Medical Surgical Nursing Clinical Management
for Positive Outcome Seventh Edition. China : Elsevier inc. 2019

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dotcherman, Joanne M. Nursing Intervention
Classification (NIC). USA: Mosby Elsevier. 2018.

Herdinan, Heather T. Diagnosis Keperawatan NANDA: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta: EGC. 2041.

Johnson, M. Etal. Nursing Outcome Classification (NOC). USA: Mosby Elsevier. 2018.

Nahas, Meguid El & Adeera Levin. Chronic Kidney Disease: A Practical Guide to
Understanding and Management. USA : Oxford University Press. 2020

Price, Sylvia A. & Lorraine M. Wilson. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC. 2022

Smeltzer, S. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Volume 2 Edisi
8. Jakarta : EGC. 2017

Sudoyo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2016

Anda mungkin juga menyukai