0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan3 halaman

Biografi Radhar Panca Dahana

Radhar Panca Dahana adalah seorang penyair dan jurnalis berdarah Jawa yang pemberontak. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang keras dan sering mendapat hukuman fisik dari ayahnya. Radhar gemar menulis puisi dan cerpen sejak muda dan karir jurnalisnya berkembang dengan cepat. Ia juga aktif dalam dunia teater namun sering berselisih dengan gurunya dan pengelola teater karena sikap pemberontaknya.

Diunggah oleh

Anggit Wijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan3 halaman

Biografi Radhar Panca Dahana

Radhar Panca Dahana adalah seorang penyair dan jurnalis berdarah Jawa yang pemberontak. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang keras dan sering mendapat hukuman fisik dari ayahnya. Radhar gemar menulis puisi dan cerpen sejak muda dan karir jurnalisnya berkembang dengan cepat. Ia juga aktif dalam dunia teater namun sering berselisih dengan gurunya dan pengelola teater karena sikap pemberontaknya.

Diunggah oleh

Anggit Wijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : ANGGIT WIJAYA

NIM : 5213420048

Keterangan : kata yang berwarna merah merupakan kata yang mengalami perbaikan ejaan dan
penulisan.

RADHAR PANCA DAHANA,


PENYAIR PEMBERONTAK

Radhar Panca Dahana, demikian sosok pria berdarah Jawa yang bersahaja ini dikenal. Namanya
merupakan akronim dari nama kedua orang tuanya, Haji Radsomo dan Suharti. Selain dirinya,
enam saudara kandungnya juga mempunyai nama depan Radhar.
Kehidupan masa kecilnya sangat keras. Sang ayah pernah difitnah sebagai antek komunis.
Ayahnya pula yang mendidiknya dengan penuh kedisiplinan bahkan cenderung otoriter. Dalam
publikasinya, Radhar menceritakan bagaimana sejak kecil ia dan saudara-saudaranya sudah
diajari berhitung angka hingga jutaan, pulang ke rumah harus tepat waktu, dan rajin belajar. Jika
melanggar, hukuman berupa sabetan rotan harus siap-siap mereka terima. “Ini supaya kalian bisa
disiplin, tumbuh jadi orang kuat,” kata Radhar menirukan ayahnya.
Selain itu, seluruh anak lelaki di kuncung dan digunduli dengan disisakan sedikit rambut diujung
kepalanya. Namun dari semua saudaranya, hanya Radhar Panca Dahana yang kerap
membangkang dan mendapat hukuman yang sangat keras.
Soal minat dan bakat pun, Radhar merasakan ketidakcocokkan dengan orang tuanya yang
menginginkannya menjadi pelukis, sementara ia amat menyukai teater dan menulis. Saking
seringnya mendapat hukuman fisik, Radhar jadi tidak betah di rumah. Puncaknya sekitar akhir
tahun 1970, ia sering minggat dari rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk mencari
tempat yang membuatnya nyaman dan merasa di terima. Kawasan Bulungan menjadi pilihan
tempat pelarianya, tempat yang di kemudian hari turut andil membentuk pribadinya seperti saat
ini.
Sifat pemberontaknya tak hanya ia tunjukan di lingkungan keluarga, namun berlanjut juga di
bangku sekolah. Sejak SD (Sekolah Dasar), Radhar dijauhi teman-temannya karena tabiatnya
yang terkesan ingin "menguasai" lebih banyak area publik. Di bangku SMA (Sekolah Menengah
Atas) pun sifat itu terus berlanjut, ia menolak sistem sekolah, bahkan pernah bertengkar dengan
gurunya. “Sekolah,” katanya, “justru membuat saya tertekan,”
Memasuki masa SMP (Sekolah Menengah Pertama), ia makin giat menulis cerpen, puisi,
sehingga membuat ilustrasi. Beberapa karyanya dimuat di majalah Zaman, yang waktu itu
redakturnya adalah Danarto. Radhar menyamarkan jati dirinya dengan nama Reza Morta Vileni
sebagai penata artistik. Nama samaran itu diilhami oleh nama kenalannya, Rezania, [Link],
yang piawai berdeklamasi. Sedangkan nama Radhar dicantumkan sebagai reporter.
Pada periode ini, Radhar amat produktif mengarang cerpen remaja. Terlebih ketika itu di Jakarta
tengah menjamur berbagai majalah kumpulan cerpen, seperti Pesona dan Anita, yang kerap
memuat karya-karya Radhar. Cerpen karya Radhar Panca Dahana kala itu juga mengisi majalah
remaja seperti Gadis, Nona, dan Hai, bahkan majalah dewasa, yakni Keluarga dan Pertiwi.
Karirnya sebagai jurnalis di atas standar pemula sehingga cepat berkembang ketika ia diterima
bekerja di harian Kompas. Valens Doy, seorang wartawan senior berpengaruh, menempatkannya
sebagai pembantu reporter atau reporter lepas. Radhar kemudian diminta menulis berbagai
macam rubrik, mulai dari olah raga, kebudayaan, pendidikan, berita kota tentang kriminalitas,
hingga masalah hukum. Kemampuan itu didapatnya dari kebiasaannya yang sejak kecil sudah
hobi membaca.
Akan tetapi, pekerjaannya sebagai jurnalis terhenti saat orang tuanya tak mengijinkan dia untuk
bekerja. Dengan berat hati, tahun 1987 (?) Radhar pun kembali ke bangku sekolah. Untuk
menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA saja, Radhar menghabiskan waktu enam tahun
lantaran ia kerap berpindah-pindah sekolah, yakni di SMA 11, SMA Negeri 46 Jakarta, dan
sebuah SMA di Bogor. Menurutnya, hal itu adalah buah dari kekecewaannya karena tidak
diizinkan bekerja oleh orang tuanya.
Saat duduk di bangku SMA pun, Radhar kerap bertengkar dengan guru lantaran menolak sistem
sekolah. Sikap kerasnya itu boleh jadi akibat pengaruh buku bertema berat yang sering dibaca
kemudian ditelannya bulat-bulat tanpa mencernanya. Seperti pemahaman Ivan Illich tentang
formalisme pendidikan dalam buku berjudul Bebas dari Sekolah serta buku berjudul Pendidikan
Kaum yang Tertindas buah karya Paulo Freire. Ia juga rajin membaca buku-buku Prof. Dr.
Koentjaraningrat.
Ketika itu pula, Radhar mulai merambah dunia teater. Sebenarnya, teater bukanlah hal yang baru
bagi Radhar sebab ia telah naik panggung teater ketika berumur empat belas tahun. Saat itu ia
memerankan tokoh perempuan bernama Rebecca dalam drama Jack dan Penyerahan. Di Bogor,
Radhar kembali meneruskan hobi lamanya itu dan bergabung dengan bengkel Teater Rendra.
Namun, keberadaannya di bengkel Teater Rendra tak bertahan lama. Karena berselisih mengenai
manajemen grup dengan si empunya sanggar, Radhar akhirnya memutuskan mengundurkan diri.
Ia berbicara dengan Rendra. Pembicaraan itu menyepakati keluarnya Radhar dari bengkel Teater.
Selain kepada Rendra, Radhar saat itu juga dekat dengan Noorca M Masardi dan Anto Baret.
Ketiga orang itulah yang sering memberi nasihat mengenai apa yang patut diperbuatnya. Bahkan
atas anjuran Anto Baretlah, Radhar kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi ke
perguruan tinggi.
Radhar awalnya amat berharap bisa diterima di program studi Ekonomi Pembangunan,
Universitas Pajajaran (Unpad). Sayangnya Radhar tidak diterima kuliah di Unpad, namun
diterima di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI). Meski demikian, Radhar berhasil
menyelesaikan kuliahnya dalam waktu dua setengah tahun. Setelah berhasil menyabet gelar
sarjananya, Radhar kembali menekuni hobinya berteater dan meneruskan karirnya sebagai
wartawan.
Kesibukan yang amat menyita waktu membuat Radhar tidak acuh pada tata administrasi di
kampusnya. Masalah itu baru diselesaikanya pada saat ia akan pergi ke Prancis untuk
menyelesaikan kuliah S2-nya di jurusan sosiologi Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales
pada tahun 1997 dengan meriset “postmodernisme” di Indonesia. Di Prancis, Radhar bermukim
di Besancon, sebuah kota kecil berjarak 450 km di timur Paris. Tiga bulan kemudian, Evi
Apriyanti, istri Radhar menyusul lantaran merasa hawatir akan kondisi suaminya yang seorang
diri di negara orang.
Sumber:
[Link] dengan sejumlah perubahan.

Anda mungkin juga menyukai