0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan213 halaman

Model Pembelajaran untuk Slow Learner

Skripsi ini membahas model pembelajaran bagi siswa slow learner di sekolah inklusi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model pembelajaran yang tepat untuk siswa tersebut. Penelitian dilakukan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan tahun pelajaran 2019/2020 dengan subjek siswa slow learner. Hasilnya menunjukkan bahwa model kooperatif tipe STAD dan pembelajaran berbasis masalah efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa slow learner

Diunggah oleh

Tyara Dilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan213 halaman

Model Pembelajaran untuk Slow Learner

Skripsi ini membahas model pembelajaran bagi siswa slow learner di sekolah inklusi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model pembelajaran yang tepat untuk siswa tersebut. Penelitian dilakukan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan tahun pelajaran 2019/2020 dengan subjek siswa slow learner. Hasilnya menunjukkan bahwa model kooperatif tipe STAD dan pembelajaran berbasis masalah efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa slow learner

Diunggah oleh

Tyara Dilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL PEMBELAJARAN BAGI SISWA SLOW LEARNER DI

SEKOLAH INKLUSI SEKOLAH DASAR (SD)


MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN TAHUN PELAJARAN
2019/2020

SKRIPSI

Disusun Oleh:

Maulida De Vanda Asmaul Khusna


16140050

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Oktober, 2020
MODEL PEMBELAJARAN BAGI SISWA SLOW LEARNER DI
SEKOLAH INKLUSI SEKOLAH DASAR (SD)
MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN TAHUN PELAJARAN
2019/2020

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Persyaratan Guna
Memperoleh Strata Satu Sarjana Pendidikan ([Link])

Disusun Oleh:

Maulida De Vanda Asmaul Khusna


16140050

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Oktober, 2020

i
ii
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN

Rasa syukur alhamdulillah atas segala rahmat Allah SWT. Sehingga karya ini
dapat terselesaikan dengan baik dan tak lupa pula ku persembahkan karya ini
kepada orang-orang tersayang yang telah banyak membantu:

Kedua Orangtua

Terimakasih atas segala kasih sayang yang tak terhingga selama hidup ini.
terimakasih atas berbagai dukungan moral maupun materil sampai saat ini.
Tentunya banyak pengorbanan dan juga jerih payah besar yang telah mereka
lewati yang tidak bisa kugantikan dengan apapun di dunia ini semoga mereka
selalu sehat dan bahagia amin.

Guru dan Dosen

Terimakasih atas segala bimbingan dan juga ilmu yang telah diberikan kepadaku
semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain

Sahabat Tersayang

Terimaksih kepada seluruh kawan-kawan kuliahku tidak bisa kusebutkan


semuanya disini intinya mereka adalah orang-orang yang telah banyak
membantu ku selama ini. khususnya kepada sahabat-sahabat the koplak’s Yusril
Wahid, Rifi Nafakha, Era Oliviya, Yuli Asta Sari, Nur Rabiul Saningtyas, dan
Nisrina Farah Halim. yang selalu berada di sisiku, mendukungku, mendengarkan
keluhkesahku. Membantu kesulitanku dalam pengerjaan karya ini dan juga selalu
memberikan dukungannya kepada ku. Beribu terimakasih kuucapkan untuk
mereka.

Bangtanboys dan Treasure

Terimaksih pula untuk mereka dua grup musik yang telah menginspirai hari-
hariku, memberikan motivasi saat semuanya terasa sulit dan berat, pesan dalam
lagu mereka agar tidak pernah menyerah kepada cita-cita kita, juga pesan-pesan
yang disampaikan kepada seluruh penggemar agar selalu berjuang untuk masa
depan, itu sangat membantuku selama ini. jadi kuucapkan terimakasih sebagai
seorang penggemar.

iv
MOTTO

ۡ ۡ ‫ُ ۡولَٗ ي ۡوِۡ ۡلٗو ََّٰهٍ َ ََۡر‬ َ ‫علَى ۡال َمر ۡيض َح َر ٌجؕ َو َم ۡۡ يطِِ ه‬
‫اّٰل َو َر و‬ َ ‫علَى ۡاۡلَ ۡع َرج َح َر ٌج َّو َۡل‬
َ ‫علَى ۡاۡلَ ۡعمٰ ى َح َر ٌج َّو َۡل‬ َ ‫لَ ۡي‬
َ ‫س‬

َ ‫م ۡۡ َ َۡحَ َها ۡاۡلَ ّٰۡهٰ ور َو َم ۡۡ يََّ ََو َّ َّ يوََِّب ۡۡٗ و‬


‫عَِّاۡاا اَل ۡي اما‬

Tidak ada dosa atas orang-orang yang buta, atas orang-orang yang pincang, dan

atas orang-orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Barangsiapa taat kepada

Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di

bawahnya sungai-sungai; tetapi barangsiapa berpaling, Dia akan mengazabnya

dengan azab yang pedih.1

1
QS Al-Fath ayat 17

v
NOTA DINAS
Dr. Esa Nur Wahyuni, [Link].
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING


Hal : Skripsi Maulida De Vanda Asmaul Khusna Malang, 30 September 2020
Lamp : ……………. Eksemplar
Yang Terhormat,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
UIN Malana Malik Ibrahim Malang
di
Malang

Assalamualaikum Wr. Wb.


Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Maulida De Vanda Asmaul Khusna
NIM : 16140050
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Judul Skripsi : Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow Learner Di Sekolah Inklusi
Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun Pelajaran
2019/2020

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamualaikum [Link].
Pembimbing,

vi
vii
KATA PENGANTAR

‫الر ْح هم ِن لّ َّر ِحي ِْم‬


َّ ِ‫اَلل‬
‫ِبس ِْم ه‬
Segala puji syukur kehadirat Alloh SWT, karena atas rahmat dan hidayah-

Nya penelitian terkaita dengan “Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow Learner Di

Sekolah Inklusi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun Pelajaran

2019/2020” ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan

kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telag membimbing kita dari

jaman kegelapan menuju jalan kebaikan, yakni Din Al-Islam.

Penulis menyadari bahwa dalam penyususnan tugas akhir skripsi ini tidak

akan berhasil dengan baik tanpa adanya bimbingan dan sumbangan pemikiran dari

berbagai pihak. Pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan ucapan

terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Abdul Haris, [Link] selakui Rektor UIN Maulana Malik

Ibrahim Malang.

2. Dr. H. Agus Maimun, [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan.

3. H. Ahmad Sholeh, [Link] selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah

Ibtidaiyah.

4. Dr. Esa Nur Wahyuni, [Link]. selaku Dosen Pembimbing dalam

penyusunan skripsi ini.

5. Dosen dan staff jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang

senantiasa membantu dalam proses penyelesaian penyusunan skripsi ini.

viii
6. Kedua orang tua penulis yang senantiasa memberikan dukungan kepada

penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.

7. Serta semua pihak dan teman-teman yang selalu memberikan dukungan

serta membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa apa yang disampaikan masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu penulis sangat berterimakasih apabila pembaca bersedia

memberikan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan penulisan

skripsi ini menjadi lebih baik. Penulis berharap semoga karya yang sederhana ini

dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amiin ya Robbal ‘Alamin.

Malang, 30 September 2020

Penulis,

Maulida De Vanda Asmaul Khusna


NIM.16140050

ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN

Penulisan transliterasi Arab-Latin alam skripsi ini menggunakan pedoman

transliterasi berdasarkan keputusan bersama Mentri Agama RI dan Mentri

Pendidikan dan Kebudayaan RI No.158 tahun 1987 dan No.0543b/U/1987 yang

secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :

A. Huruf

‫ا‬ = A ‫ز‬ = Z ‫ق‬ = Q


‫ب‬ = B ‫س‬ = S ‫ك‬ = K
‫ت‬ = T ‫ش‬ = Sy ‫ل‬ = L
‫ث‬ = Ts ‫ص‬ = Sh ‫م‬ = M
‫ج‬ = J ‫ض‬ = Dl ‫ن‬ = N
‫ح‬ = H ‫ط‬ = Th ‫و‬ = W
‫خ‬ = Kh ‫ظ‬ = Zh ‫ه‬ = H
‫د‬ = D ‫ع‬ = ‘ ‫ء‬ = ‘
‫ذ‬ = Dz ‫غ‬ = Gh ‫ي‬ = Y
‫ر‬ = R ‫ف‬ = F

B. Vokal Panjang [Link] Diftong


Vokal (a) panjang = â ْ‫اَو‬ = Aw
Vokal (i) panjang = î ْ‫أَي‬ = Ay
Vokal (u) panjang = û ْ‫اُو‬ = Ü
ْ‫ِإي‬ = Ï

x
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Orisinalitas Penelitian ........................................................................... 17

Tabel 4.1 Kondisi Anak Slow Learner KA ........................................................... 76

Tabel 4.2 Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri KA ....................... 87

Tabel 4.3 Kondisi Anak Slow Learner MA .......................................................... 88

Tabel 4.4 Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri MA ...................... 95

Tabel 4.5 Perbandingan Ciri-Ciri Slow Learner Pada Diri KA dan MA ............118

Tabel 4.6 Model Pembelajaran Pada Kelas KA dan MA....................................128

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir .............................................................................. 56

Gambar 4.1 Pembelajaran Dengan Formasi Duduk Berkelompok ....................... 98

Gambar 4.2 Worksheet Untuk Anak Slow Learner ............................................100

Gambar 4.3 Kegiatan Saat Berada Di Ruang Sumber ........................................104

Gambar 4.4 Lembar Evaluasi Khusus Untuk KA ...............................................108

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Profil Sekolah

Lampiran 2 : Daftar Nama Siswa Inklusi

Lampiran 3 : Daftar Pertanyaan

Lampiran 4 : Transkip Wawancara

Lampiran 5 : Surat Ijin Penelitian

Lampiran 6 : Bukti Konsultasi

Lampiran 7 : Dokumen Foto

Lampiran 8 : Biodata Mahasiswa

xiii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii

HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv

MOTTO .......................................................................................................... v

HALAMAN NOTA DINAS........................................................................... vi

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ......................................................... vii

KATA PENGANTAR .................................................................................... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN ......................................... x

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiii

DAFTAR ISI ................................................................................................... xiv

ABSTRAK ...................................................................................................... xviii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Konteks Penelitian ............................................................................... 1

B. Fokus Penelitian ................................................................................... 11

C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 11

D. Manfaat Penelitian ............................................................................... 11

1. Manfaat Teoritis ............................................................................. 11

2. Manfaat Praktis .............................................................................. 12

E. Orisinalitas Penelitian .......................................................................... 13

xiv
F. Definisi Istilah ...................................................................................... 18

G. Sistematika Pembahasan ...................................................................... 19

BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... 21

A. Perspektif Teori .................................................................................... 21

1. Siswa Lamban Belajar (Slow Learner) .......................................... 21

a. Pengertian Siswa Lamban Belajar ........................................... 21

b. Ciri-Ciri Siswa Lamban Belajar ............................................... 22

c. Perbedaan Anak Lamban Belajar Dengan Anak Normal ........ 23

d. Faktor Penyebab Siswa Lamban Belajar.................................. 25

e. Integrasi Al-Qur’an untuk Penanganan Siswa Slow Learner .. 28

2. Model Pembelajaran....................................................................... 32

a. Pengertian Model Pembelajaran .............................................. 32

b. Ciri-Ciri Model Pembelajaran .................................................. 34

c. Macam-Macam Model Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar

.................................................................................................. 34

1) Model Pembelajaran Kooperatif ........................................ 38

2) Model Pembelajaran Kontekstual ...................................... 39

3) Model pembelajaran Klasikal ............................................ 41

4) Model Pembelajaran Individual ......................................... 43

5) Strategi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar ........... 44

6) Evaluasi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar ......... 44

3. Pendidikan Inklusi .......................................................................... 44

a. Pengertian pendidikan inklusi .................................................. 44

xv
b. Prinsip pendidikan inlklusi....................................................... 46

c. Model pendidikan Inklusi ........................................................ 47

d. Pengelolaan pendidikan inklusi ............................................... 48

B. Kerangka Berfikir................................................................................. 54

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 57

A. Pendekatan dan jenis Penelitian ........................................................... 57

B. Kehadiran Peneliti ................................................................................ 58

C. Lokasi Penelitian .................................................................................. 59

D. Data dan Sumber Data ......................................................................... 60

E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 61

F. Analisis Data ........................................................................................ 63

G. Uji Keabsahan Data.............................................................................. 66

H. Prosedur Penelitian............................................................................... 67

BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL .................................................... 71

A. Deskripsi Tempat Penelitian ................................................................ 71

1. Latar belakang sekolah menyelenggarakan pendidikan inklusi ..... 71

2. Pengelolaan pendidikan inklusi ..................................................... 73

3. Konsep Sekolah .............................................................................. 74

B. Paparan Data ........................................................................................ 75

1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD

Muhammadiyah 2

Tulangan

xvi
........................................................................................................

75

2. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah

Tulangan

......................................................................................................

96

C. Hasil ..................................................................................................... 114

1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD

Muhammadiyah 2

Tulangan

........................................................................................................

114

2. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah

Tulangan

......................................................................................................

122

BAB V PEMBAHASAN ................................................................................ 132

A. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD Muhammadiyah 2

Tulangan ............................................................................................... 132

B. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah 2

Tulangan

xvii
............................................................................................................

............................................................................................................

140

BAB VI PENUTUP ........................................................................................ 150

A. Kesimpulan ......................................................................................... 150

B. Saran ..................................................................................................... 152

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 154

LAMPIRAN .................................................................................................... 158

xviii
ABSTRAK

Khusna, Maulida De Vanda Asmaul. 2020. Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow
Learner Di Sekolah Inklusi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2
Tulangan Tahun Pelajaran 2019/2020. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Pembimbing: Dr. Esa Nur
Wahyuni, [Link].
Kata kunci: Model Pembelajaran, Siswa Slow Learner, Sekolah Inklusi.

Siswa slow learner yakni siswa disuatu lembaga pendidikan formal yang
memiliki kemampuan kognitif dibawah anak-anak lain seusianya. Mereka
mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran sehingga membutuhkan
waktu yang lebih panjang dan juga beberapa kali pengulangan agar dapat memahami
materi tersebut. Mereka juga mengalami kesulitan dalam mengingat kembali materi-
materi yang telah dipelajari. Mereka merupakan salah satu klasifikasi anak
berkebutuhan khusus yang paling banyak ditemui di sekolah inklusi pada jenjang
pendidikan dasar.

Tujuan penetilian ini adalah: 1) Mengidentifikasi kondisi kesulitan belajar yang


terjadi pada anak slow learner di SD Muhammadiyah 2 Tulangan. 2)
Mengidentifikasi model-model pembelajaran yang digunakan dalam
penyelenggaraan pembelajaran bagi siswa slow learner di SD Muhammadiyah 2
Tulangan, terkait pengelolaan lingkungan kelas, perangkat pembelajaran yang
digunakan, strategi pengajarannya dan juga konsep evaluasi pembelajaran yang
dilakukan.

Penetilian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Tujuan nya
yakni ingin menjelaskan secara lebih mendalam dan rinci mengenai fenomena yang
sedang diteliti di sutau lembaga sekolah atau kelas tertentu. Teknik pengumpulan
data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan juga dokumentasi. Teknik analisis
data dilakukan dengan tiga tahapan yakni reduksi data (data reduction), penyajian
data (data display), penarikan kesimpulan (conclution drawing/verification).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kesulitan belajar yang dialami siswa


slow learner yakni mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran,
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, mengalami kesulitan mengingat kembali
materi-materi yang telah dipelajari, mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri,
pasif dalam pertemanan, dan juga belum mampu dalam menganalisis dan berpikir
kitis. 2) model-model pembelajaran yang diterapkan dalam penyelenggaraan
pembelajaran bagi siswa slow learner yakni melalui pengelolaan lingkungan kelas,
perangkat pembelajaran yang diindividualisasikan, model pembelajaran yang
berfariatif, dan juga evaluasi pembelajaran khusus.

xix
ABSTRACT

Khusna, Maulida De Vanda Asmaul. 2020. Learning Model for Slow Learner
Students in Inclusive Muhammadiyah Primary School (SD) 2 Tulangan
Academic Year 2019/2020. Thesis, Study Program of Islamic Elementary
School Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training,
Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang. Advisor: Dr.
Esa Nur Wahyuni, [Link].
Keywords: Learning Model, Students Slow Learner, Inclusion Schools.

Slow learner students are students in a formal educational institution who have
cognitive abilities below other children their age. They have difficulty
understanding the learning material so that it takes longer and also several
repetitions to understand the material. They also have difficulty recalling the
material that has been studied. They are one of the classifications of children with
special needs that are most often found in inclusive schools at the basic education
level.
The objectives of this assessment are: 1) To identify the conditions of learning
difficulties that occur in slow learner children at SD Muhammadiyah 2 Tulangan.
2) Identifying learning models used in the implementation of learning for slow
learner students at SD Muhammadiyah 2 Tulangan, related to the management of
the classroom environment, the learning tools used, the teaching strategies and also
the concept of evaluating the learning carried out.
This research uses a qualitative case study type approach. The goal is to explain
in more depth and detail about the phenomenon being researched in a particular
school or class institution. Data collection techniques are carried out by interview,
observation, and also documentation. The data analysis technique was carried out
in three stages, namely data reduction, data display, conclusion drawing
(verification).
The results showed that: 1) learning difficulties experienced by slow learner
students, namely experiencing difficulties in understanding learning material,
experiencing difficulties in communicating, having difficulty recalling the material
that had been studied, experiencing difficulty in directing themselves, being passive
in friendship, and also has not been able to analyze and think critically. 2) learning
models applied in the implementation of learning for slow learner students, namely
through the management of the classroom environment, individualized learning
tools, varied learning models, and also evaluation of special learning

xx
‫الملخص‬

‫خوسناْ‪ْ،‬موليداْديْفانداْأسمول ‪. ٠٢٠٢.‬نموذجْتعليميْللطالبْبطيئيْالتعلمْفيْمدرسةْالمحمديةْاالبتدائيةْ‬
‫الشاملةْتوالنجان‪ْ٠‬للعامْاألكاديميْ‪. ْ٠٢٠٢/٠٢٠٢‬أطروحةْ‪ْ،‬قسمْإعدادْالمعلمينْبالمدرسةْاإلبتدائيةْ‬
‫‪ْ ،‬كلية ْالتربية ْوتدريب ْ المعلمين ْ‪ْ ،‬موالنا ْمالك ْإبراهيم ْ‪ْ ،‬جامعة ْماالنج ْاإلسالمية ْالحكومية ‪.‬‬
‫المستشار ‪:‬د ‪.‬عيسىْنورْوحيوني‪ْ،‬الماجستىر‪.‬‬

‫نموذجْالتعلمْ‪ْ،‬بطيءْالتعلمْ‪ْ،‬مدارسْالدمج ‪:‬الكلماتْالمفتاحية‬

‫طالبْالتعلمْالبطيءْهمْطالبْفيْمؤسسسسسسسسةْتعليميةْرسسسسميةْلديممْقدراتْمعرفيةْأقاْمنْاألطفالْ‬
‫اآلخرينْفيْسسنمم ‪.‬إنممْيجدونْصسعوبةْفيْفممْالموادْالتعليميةْبحي ْيسترر ْاألمرْوقتْاْأطولْوكذلكْعدةْ‬
‫عملياتْتكرارْلفممْالمادة ‪.‬لديممْأيضسسسسساْصسسسسسعوبةْفيْتذكرْالموادْالتيْتم ْدراسسسسسستما ‪.‬إنماْأحدْتصسسسسسنيفاتْ‬
‫األطفالْذويْاالحتياجاتْالخاصةْالتيْتوجدْغالباْفيْالمدارسْالشاملةْعلىْمستوىْالتعليمْاألساسي‪.‬‬

‫أهدافْهذاْالتقييمْهي ‪) ٠:‬التعرفْعلىْظروفْصسسسسسسعوباتْالتعلمْالتيْتحدثْعندْاألطفالْبطيئْ‬
‫التعلمْفيْفيْمدرسسسسةْالمحمديةْ ْْاالبتدائيةْالشسسساملة توالنجان‪) ٠. ٠‬تحديدْنماذجْالتعلمْالمسسسستخدمةْفيْتنفيذْ‬
‫التعلمْللطلبةْبطيئيْالتعلمْفيْ‪ْ،‬المتعلقةْبإدارةْبيئةْالفصسسسسساْ‪ْ،‬وأدواتْالتعلمْالمسسسسسستخدمةْ‪ْ،‬واسسسسسستراتيجياتْ‬
‫التدريسْوأيضاْمفمومْتقييمْالتعلمْالمنفذ‪.‬‬

‫يسستخدمْهذاْالبح ْنمجْنو ْدراسسةْالحالةْالنوعية ‪.‬المدفْهوْالشسر ْبمييدْمنْالعم ْوالتفاصياْ‬


‫حولْالظاهرةْالتيْيتمْالبح ْعنماْفيْمدرسسسسةْأوْمؤسسسسسسسسةْصسسسفيةْمعينة ‪.‬يتمْتنفيذْتقنياتْجمعْالبياناتْعنْ‬
‫طري ْالمقابلةْوالمالحظةْوكذلكْالتوثي ‪.‬تمْتنفيذْتقنيةْتحلياْالبياناتْعلىْثالثْمراحاْوهيْتقلياْالبياناتْ‬
‫وعرضْالبياناتْورسمْاالستنتاجْ(التحق ‪).‬‬

‫أظمرتْالنتائجْماْيلي ‪) ٠:‬صسسعوباتْالتعلمْالتيْيعانيْمنماْالطالبْبطيئونْالتعلمْ‪ْ،‬وهيْمواجمةْ‬
‫صسعوباتْفيْفممْالموادْالتعليميةْ‪ْ،‬مواجمةْصسعوباتْفيْالتواصاْ‪ْ،‬صعوبةْتذكرْالموادْالتيْتمْدراستماْ‪ْ،‬‬
‫مواجمةْصسعوبةْفيْتوجي ْأنفسسممْ‪ْ،‬أنْتكونْسسلبياْفيْالصداقةْ‪ْ،‬وأيضاْلمْيكنْقادراْعلىْالتحلياْوالتفكيرْ‬
‫النقدي ‪) ٠.‬نماذجْالتعلمْالمطبقةْفيْتنفيذْالتعلمْللطالبْبطيئْالتعلمْ‪ْ،‬وتحديداْمنْخاللْإدارةْبيئةْالفصسسساْ‪ْ،‬‬
‫وأدواتْالتعلمْالفرديةْ‪ْ،‬ونماذجْالتعلمْالمتنوعةْ‪ْ،‬وكذلكْتقييمْالتعلمْالخاص‪.‬‬

‫‪xxi‬‬
BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Pendidikan merupakan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Seluruh

warga negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan.

Seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan

kehidupan bangsa. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap warganegara berhak

mendapat pendidikan. Kesamaan memperoleh pendidikan juga tertuang dalam

pasal 31 UUD bunyi “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. 2

Pasal 31 Ayat ke 2 juga menyebutkan kesamaan hak mendapatkan pendidikan,

khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang berbunyi “setiap warga negara

wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.3 Melalui

ayat tersebut pemerintah mengharuskan setiap warga indonesia mengenyam

pendidikan dasar dan pemerintah bertanggung jawab untuk membiayainya.

Hak memperoleh pendidikan lebih lanjut juga dijelaskan dalam Undang-

undang No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manuisa pasal 60 yang berbunyi

“setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka

pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat

kecerdasannya”.4 Pada Undang-Undang tersebut diterangkan bahwa hak setiap

2
Undang Undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat 1
3
Undang undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat 2
4
Undang-undang No.39 tahun 1999 pasal 60

1
2

anak Indonesia yakni mendapatkan pendidikan untuk mengembangkan setiap

potensi yang mereka miliki.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional pasal 5 ayat 1

juga menyebutkan bahwa “ setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam

memperoleh pendidikan yang bermutu” kemudian pada pasal 6 ayat 1 juga

menyebutkan bahwa “ setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima

belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.5 Memperoleh pendidikan yang

bermutu tersebut memiliki arti bahwasannya pemerintah bertanggung jawab dalam

perbaikan mutu pendidikan pada seluruh sektor wilayah, bukan hanya berusat pada

sekolah-sekolah di perkotaan namun seluruh sekolah baik sekolah tersebut berada

di pelosok-pelosok pedesaan.

Mendapatkan pendidikan merupakan hal yang paling utama dalam menjalani

kehidupan di era modern. Ilmu yang diperoleh melalui pendidikan sangat

dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang dicita-citakan, serta dapat membantu

untuk bersaing bersama manusia lain dalam berbagai aspek kehidupan. Ilmu

tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan terutama pendidikan formal yang

diperoleh dibangku sekolah.

Hak memperoleh pendidikan melalui bangku sekolah tidak terkecuali bangi

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang

mengalami kelainan ataupun penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal pada

5
Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 1-pasal 6 ayat 1
3

umumnya, dalam segi fisik, mental, maupun karakteristik perilaku sosialnya.6 Anak

berkebutuhan khusus diklasifikasikan menjadi beberapa macam diantaranya yakni,

tunagrahita (mental retardation), kesulitan belajar (learning disabilities) atau anak

yang berprestasi rendah, tunadaksa, tunanetra, tunalaras, tunarungu dan eicara, tuna

ganda, hyperactive, anak autistik, dan anak berbakat.

Faktanya berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial

Ekonomi Nasional (SUSENAS), menyatakan bahwa jumlah penyandang cacat

terus bertambah setiap tahunnya. Sebuah survey awal yang dilakukan oleh BPS

pada tahun 1998 menyebutkan bahwasannya jumlah kecacatan dalam populasi

tahun tersebut sebesar 1.601.005 jiwa yaitu sekitar 0.8% dari total penduduk.

Tahun 2003, BPS melakukan survey lebih lanjut dengan rincian jenis kecacatan

per-provinsi dimana hasilnya adalah jumlah penyandang cacat mencapai 2.454.359

jiwa atau sekitar 2% dari total 215.276.000 jiwa penduduk Indonesia. Tahun 2006,

jumlah tersebut mengalami kenaikan sampai mencapai 2.810.212 jiwa. Data

terakhir pada tahun 2012 menunjukkan bahwa jumlah penyandang disabilitas di

Indonesia mencapai angka 2% dari total 244.775.796 jiwa penduduk Indonesia,

atau sebesar 3.654.356 jiwa.7 Berdasarkan data yang ada jumlah ABK setiap

tahunnya mengalami peningkatan sehingga diperlukan perhatian khusus dari

6
Mohammad Efendi, Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan (jakarta: PT Bumi
Aksara, 2009), hlm. 2.
7
Hery Kurnia Sulistyadi, Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Layanan Pendidikan
Inklusif di Kabupaten Sidoarjo, jurnal Kebijakan dan Manajemen Publik ISSN 2303 - 341X Volume
2, Nomor 1, Januari 2014, hlm.2.
4

pemerintah dalam menagani permasalahan pendidikan bagi anak berkebutuhan

khusus.

Pemerintah sebenaranya telah memberikan program pendidikan kepada anak

kebutuhan khusus melalui setting pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah

sistem layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus pada sekolah reguler

(bersama anak-anak normal lain), yang ditunjang dengan berbagai fasilitas, sarana

dan prasarana yang mendukung sesuai dengan kecacatan masing-masing peserta

didik. Penyelenggaraan pendidikan inklusi bertujuan agar anak-anak berkebutuhan

khusus dapat memperoleh pendidikan yang layak seperti anak-anak normal pada

umumnya.

Pemerintah telah mengatur penyelenggaraan program pendidikan inklusi

dalam sebuah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor

70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusi Bagi Siswa Yang Memiliki Kelainan

dan Memiliki Potensi Kecerdasan Dan/Atau Bakat Istimewa.8 Permendiknas

tersebut sebagai upaya pemerintah dalam memberikan peluang dan kesempatan

bagi anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan pada jenjang

pendidikan reguler bersama anak-anak normal pada umumnya. Pada hakikatnya

anak-anak berkebutuhan khusus mempunyai hak perlakuan yang sama dengan

manusia normal, sehingga dianggap suatu diskriminasi apabila mereka harus

8
Peraturan menteri Pendidikan Nasional republik Indonesia nomor 70 Tahun 2009 tentang
pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan Dan Memiliki potensi Kecerdasan
Dan/Atau Bakat istimewa
5

mengenyam pendidikan di suatu lembaga khusus yang hanya berisi anak-anak

sejenisnya.

Anak berkebutuhan khusus dalam pendidikan inklusi diklasifikasikan menjadi

beberapa macam. Permendiknas No. 70 tahun 2009 pasal 3 ayat 1 menyatakan

bahwa “Setiap peserta didik yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental,

dan sosial atau mempunyai potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak

mengikuti pendidikan inklusi pada satuan pendidikan tertentu sesuai kebutuhan dan

kemampuannya.”9 Berdasarkan pasal tersebut jelas disebutkan bahwa anak

berkebutuhan khusus yang berhak mengikuti pendidikan inklusi meliputi ABK

berkelainan fisik antara lain tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa. ABK

berkelainan mental meliputi tunagrahita, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis.

ABK berkelainan sosial yakni tunalaras, lainnya dapat berupa ABK yang memiliki

gangguan motorik, menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan

zat adiktif lainnya, dan tunaganda.

Salah satu jenis ABK yang paling banyak ditemukan dalam suatu lembaga

pendidikan inklusi yakni anak lamban belajar. Anak lamban belajar (slow learner)

adalah siswa yang lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu

lebih lama dibanding dengan murid lainnya yang memiliki taraf potensi intelektual

yang setara.10 Anak lamban belajar dapat dikatakan anak yang memiliki intelektual

sedikit dibawah anak normal tetapi belum termasuk anak tunagrahita (radiasi

9
Ibid, pasal 3 ayat 1.
10
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar Dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
Khusus (Yogyakarta: nuha litera, 2010), hlm.7.
6

mental). Anak lamban belajar juga mengalami beberapa kendala dalam

pembelajaran sehingga juga membutuhkan layanan pendidikan khusus yang

dinamakan layanan pedidikan inklusi untuk mendukung perkembangannya.

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusi bergantung pada sekolah

penyelenggara pendidikan inklusi itu sendiri yakni meliputi kurikulum, fasilitas

pendukung, sarana rasarana, guru yang kompeten dalam menangani pembelajaran

anak berkebutuhan khusus dan juga guru yang mampu berkolaborasi dengan orang

tua secara bersama-sama. Pihak sekolah penyelenggara dituntut untuk dapat

merubah cara pandang terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, sikap yang

menjunjung tinggi keberagaman yang tidak hanya keberagaman suku, agama dan

ras, melainkan keberagaman dari segi fisik, mental, dan sosial. Proses pendidikan

yang dilaksanakan pun haruslah berorientasi pada kebutuhan individual dengan

tanpa diskriminasi. Kurikulum yang digunakan sekolah penyelenggara pendidikan

inklusi harus dibentuk sesuai kecacatan dan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.

Model pembelajaran menjadi hal yang sangat urgen dalam pelaksanaan

pembelajaran siswa berkebutuhan khusus, mengingat dalam praktek

penyelenggaraan pembelajarannya guru haruslah menggunakan berbagai macam

upaya agar informasi yang akan disampaikan dapat diterima oleh siswa

berkebutuhan khusus dengan baik. Model pembelajaran sendiri adalah kerangka

konseptual yang berisi pedoman sistematis dalam merencanakan suatu

pembelajaran dalam kelas untuk mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Cakupan dari

model pembelajaran lebih luas dibanding strategi pembelajaran, motode

pembelajaran, maupun prosedur pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran


7

yang beragam akan berdampak langsung bagi pembelajaran siswa berkebutuhan

khusus. Semakin beragam model pembelajaran yang diterapkan guru maka tujuan

dari pembelajaran itu sendiri dapat dicapai dengan lebih mudah dan efisien.

Peneliti melakukan observasi di Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan.

Sekolah Dasar Muhamadiyah 2 Tulangan berdiri pada tahun 2006. Mulai dari awal

awal berdirinya sekolah ini sudah menerima PDBK (Peserta Didik Berkebutuhan

Khusus), akan tetapi belum ada kebijakan khusus yang mengatur tentang GPK

(Guru Pendamping Khusus) dan juga SK (Surat Keputusan), barulah pada tahun

2013 SD Muhammadiyah 2 Tulangan memperoleh SK dari diknas Sidoarjo sebagai

sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Pada tahun 2014 SD Muhammadiyah 2

Tulangan mendapatkan penghargaan dan juga piagam dari Bupari Sidoarjo sebagai

kategori 5 besar sekolah penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten Sidoarjo.

Sebagai penunjang penyelenggaraan pembelajaran bagi siswa berkebutuhan

khusus SD Muhammadiyah 2 Tulangan dilengkapi dengan ruang sumber, fasilitas

hitech dan juga lowtech yang dikususkan bagi anak berkebutuhan khusus agar

perkembaangn mental dan juga intelegensinya dapat mengalami peningkatan yang

signifikan. SD Muhammadiyah 2 Tulangan juga menyediakan GPK (Guru

Pendamping Khusus) bagi anak berkebutuhan khusus, dimana satu GPK akan

mendampingi satu anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran. GPK

yang disediakan sekolah juga merupakan tenaga profesional yang merupakan

lulusan dari Pendidikan Luar Biasa dan juga Psikologi. dalam mendiagnosa

ketunaan anak SD Muhammadiyah 2 Tulangan juga bekerjasama dengan Rumah


8

Sakit Umum Daerah Sidoarjo sehingga penangaan anak berkebutuhan khusus dapat

dilakukan dengan sangat baik dan tepat.

Jenis ABK yang paling banyak ditemui pada sekolah tersebut adalah anak

lamban belajar (slow learner). Jumlah anak slow learner di Sekolah Dasar

Muhammadiyah 2 Tulangan adalah 13 anak dari total 39 Anak Berkebutuhan

Khusus. Klasifikasi anak slow learner tersebut dengan pembagian Average, Low

Average, dan Boderline. Satu perempat dari keseluruhan Anak Berkebutuhan

Khusus yang ada di sekolah tersebut merupakan anak lamban belajar. Data ini

merupakan hasil wawancara dengan Ustadzah Widi yang merupakan penanggung

jawab program inklusi di SD Muhammadiyah 2 Tulangan.

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan peneliti dengan guru kelas V

Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan dan pengamatan di kelas saat

pembelajaran sedang berlangsung didapatkan data bahwa anak slow learner

memiliki kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. Guru harus mengulangi

materi pembelajaran beberapa kali dengan penyampaian yang lambat atau pelan

agar mereka mampu memahami materi yang disampaikan guru tersebut. keesokan

harinya ketika ditanya kembali terkait materi yang telah dipelajari dihari

sebelumnya mereka sudah lupa, sehingga dapat dikatakan bahwa anak slow learner

lambat dalam menangkap suatu pembelajaran dan jika sudah paham terkait meteri

tersebut maka mereka cenderung mudah melupakannya. Hal ini yang menyebabkan
9

anak slow learner membutuhkan bimbingan secara khusus dalam proses belajarnya.

Anak slow learner juga memiliki kesulitan konsentrasi.11

Berdasarkan observasi pada saat pembelajaran kondisi kelas mulai kurang

kondusif pada siang hari, anak-anak mulai lelah dan kehilangan konsentrasi karena

memang kondisi cuaca yang panas banyak siswa yang mulai bermain dan bercanda

sendiri sehingga guru harus memberikan teguran agar kelas dapat kondusif kembali.

Saat siang hari pembelajaran bagi siswa pada umumnya sudah mulai tidak kondusif

apalagi bagi anak slow learner, kondisi anak slow learner berada sedikit dibawah

anak-anak lainnya, jika anak-anak normal lainnya pada jam-jam pelajaran normal

masih bisa kondusif sedangkan anak slow learner sudah sibuk dengan dunia mereka

sendiri, apalagi apabila anak-anak normal lainnya sudah sdikit tidak kondusif, maka

keadaan anak slow learner tentulah berada pada kondisi yang lebih parah lagi.12

Beberapa penelitian terdahulu tentang model pembelajaran bagi anak slow

learner belum memberikan hasil yang maksimal, diantaranya yakni penelitian yang

dilakukan oleh Lokeswari Dian Pitaloka pada tahun 2018, dengan judul “Strategi

Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengembangkan Interaksi Sosial Siswa

Lambat Belajar Di Sekolah Inklusi SMP Negeri 18 Malang”. Penelitian tersebut

terfokus untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga dirasa kurang

maksimal jika digunakan untuk mata pelajaran tematik bagi anak SD maupun MI.

Penelitian tersebut juga terfokus bagi pembelajaran anak usia SMP yang tentu saja

11
Wawancara dengan guru kelas V Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan, pada
tanggal 20 November 2019.
12
Observasi kelas V, Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan pada tanggal 20
November 2019.
10

memiliki peredaan yang cukup signifikan dibandingkan pembelajaran usia SD

karena memang terpaut usia yang cukup jauh.

Penelitian selanjutnya yakni penelitian yang dilakukan oleh Fida Rahmantika

Hadi yang dilakukan pada tahun 2016 dengan judul “Proses Pembelajaran

Matematika Pada Anak Slow Learner”. Penelitian tersebut juga terfokus pada

pembelajaran matematika bagi anak slow learner sehingga dirasa kurang tepat pula

jika diterapkan untuk pembelajaran tematik.

Penelitian selanjutnya yakni penelitian yang dilakukan oleh Isya Mulia Insani

pada tahun 2018 dengan judul “Implementasi Pembelajaran Quran Hadits Pada

Anak Berkebutuhan Khusus Down Syndrom Dan Sloew Learner Di Madrasah

Inklusi MI Terpadu Ar-Roihan Lawang”. Penelitian tersebut memfokuskan pada

perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan juga evaluasi

pembelajaran bagi anak slow learner pada sekolah inklusi, akan tetapi hanya pada

mata pelajaran quran hadist, sehingga dirasa kurang lengkap dan sesuai apabila

dimplementasikan untuk pembelajran tematik.

Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu tersebut maka menjadi latar

belakang peneliti dalam melakukan penelitian terkait model-model pembelajaran

yang tepat bagi anak slow learner di Sekolah Dasar terkait pembelajaran

tematiknya. Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti berlokasi di Sekolah

Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan yang termasuk dalam 5 sekolah terbaik

penyelenggraa pendidikan inklusi se kabupaten sidoarjo. Berdasarkan data yang

telah dipaparkan di atas maka peneliti mengambil judul penelitian “Model


11

Pembelajaran Bagi Siswa Slow Learner Di Sekolah Inklusi Sekolah Dasar (SD)

Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun Pelajaran 2019/2020”

B. Fokus penelitian

Berdasarkan konteks penelitian yang telah diuraikan di atas maka fokus

penelitian dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di Sekolah Dasar

Muhammadiyah 2 Tulangan?

2. Bagaimana model pembelajaran bagi anak slow learner di Sekolah Inklusi

Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendeskripsikan kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di

Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan.

2. Untuk mengetahui model pembelajaran bagi anak slow learner di sekolah

inklusi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam

pengembangan dan wawasan ilmu khususnya dalam bidang pendidikan yang

meliputi:
12

a) Memberikan masukan dan referensi bagi guru kelas dalam melaksanakan

suatu pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah dasar

inklusi

b) Memberikan sumbangan secara teoritis untuk meningkatkan kualitas dari

proses pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah dasar

inklusi

c) Hasil penelitian dapat dijadikan hazanah pengetahuan yang berkaitan

dengan proses pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus pada mata

kuliah Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus, mahasiswa jurusan

Pendidikan Guru Sekolah Dasar Maupun Madrasah Ibtidaiyah Dan Bagi

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luarbiasa, dan bagi khalayak umum.

2. Secara Praktis

a) Bagi Kepala Sekolah

1) Memberikan referensi keilmuan dalam bidang pendidikan khususnya

pembelajaran siswa berkebutuhan khusus

2) Sebagai evaluasi pdalam proses pembelajaran

b) Bagi Guru

1) Memberikan inspirasi bagi guru dalam proses pembelajaran karena

guru adalah pelaksana utama dalam proses pembelajaran

2) Menambah informasi hazanah dalam mengajar anak berkebutuhah

khusus
13

c) Bagi Peneliti Lain

1) Sebagai sarana untuk mengembangkan model pembelajaran terbaru

bagi Anak Berkebutuhan Khusus

2) Sebagai wawasan ilmu bagi peneliti lain dalam mengadakan penelitian

terbaru

3) Sebagai dasar dalam melakukan penelitian selanjutnya

d) Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus

1) Pembelajaran yang dilakukan dapat lebih berfariasi sehingga informasi

yang hendak disampaikan dapat diterima dengan lebih mudah pada

mereka

2) Meningkatkan semangat belajar siswa berkebutuhan khusus

E. Orisinalitas Penetilian

Penulis mendapatkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan

penelitian yang dilakukan oleh penulis diantaranya yakni:

Penelitian pertama yang dilakukan oleh Elvyna Kholidah Qurotul A’yun

dengan judul,“Model Pembelajaran Tahfizul Quran Pada Siswa Gangguan

Kemampuan Komunikasi Dan Lambat Belajar Kelas III Madrasah Ibtidiyah

Terpadu Ar-Roihan Lawang Malang”13 pada tahun 2018. Penelitian tersebut

berfokus pada proses pembelajaran Tahfizul Quran bagi anak yang mengalami

gangguan kemampuan komunikasi dan juga lambat belajar serta evaluasi

pembelajaran tahfidzul quran yang digunakan untuk anak yang memiliki

13
Elvyna Kholidah Qurotul A’yun, skripsi: Model Pembelajaran Tahfidzul Quran Pada
Siswa Gangguan Kemampuan Komunikasi Dan Lambat Belajar Kelas III Madrasah Ibtidiyah
Terpadu Ar-Roihan Lawang Malang (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2018).
14

gangguan kemampuan komuniksi dan lambat belajar. Hasil dari penelitian

tersebut menjelaskan bahwa proses pembelajaran Tahfizul Quran meliputi

perumusan tujuan dimana siswa dapat surat-surat pendek, menghafal doa

sehari-hari, dan juga dapat membaca dengan teknik tilawati, serta dapat

menuliskan huruf hijaiyah. Strategi pembelajaran yang dilakukan guru adalah

Strategi Ekspository dengan menggunakan metode estafel ayat, bernyanyi,

tebak huruf dan tilawati. Evaluasi pembelajaran yang dilakukan meliputi

hafalan surat-surat pendek, mengaji tilawati dan mampu mengahfal asmaul

khusna

Penelitian kedua yang dilakukan oleh Muhammad Julkifli dengan judul,

“Strategi Guru Mengelola Kelas Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Pada

Anak Lamban Belajar”14 pada tahun 2019. Penelitian tersebut berfokus pada

strategi pengelolaan kelas yang digunakan untuk anak lamban belajar.

Sehingga hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak lamban belajar

mengalami banyak kesulitan dalam penguasaan bidang akademis diantarnaya

kesulitan membaca, berhitung, menulis, dan dalam proses pembelajaran

mereka cenderung banyak diam, melamun, menangis, dan uring-uringan.

Terdapat 3 Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam

melaksanakan pembelajaran yakni strategi dalam pengelolaan pengajaran,

strategi dalam pengelolaan lingkungan pembelajaran, dan pemberian motivasi.

Strategi pengelolaan pengajaran berfokus pada suasana kelas yang kondusif

14
Muhammad Julkifli, Strategi Guru Mengelola Kelas Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar
Pada Anak Lamban Belajar (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim: 2019).
15

yang didukung dengan berbagai fasilitas, diantaranya yakni penataan kelas,

media pembelajaraan, sinergi yang harmonis antar warga kelas, sikap dan

penampilan guru, serta pengaturan lingkungan belajar. Strategi pengelolaan

pembelajaran membahas perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi

pembelajaran. Terahir tentang pemberian motivasi pada anak lamben belajar,

pemberian motivasi tersebut sangat berperan dalam peningkatan hasil

pembelajaran siswa.

Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Agung Nugroho dan Lia Mareza

dengan judul , “Model Dan Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus

Dalam Setting Pendidikan Inklusi”,15 pada tahun 2016. Penelitian tersebut

berfokus pada bagaimana penyelenggaraan pendidikan inklusi terkait model

pembelajaran yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 1 Tanjung. Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran yang diterapkan

di sekolah tersebut adalah model pembelajaran klasikal dan individual bagi

siswa berkebutuhan khusus. Strategi pembelajaran yang digunakan guru

menyampaikan materi pembelajaran dengan diselingi permainan, karena siswa

berkebutuhan khusus cenderung memiliki tingkat konsentrasi yang rendah.

Teknik evaluasi yang dilakukan guru kelas juga dengan mengurangi

kompetensi bagi siswa berkebutuhan khusus serta menurunkan tingkat

materinya.

15
Agung Nugroho, dan Lia Mareza, Model Dan Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan
Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi, Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa Volume 2, Nomor 2,
Oktober 2016.
16

Penelitian keemapat yang dilakukan oleh Nurhidayah Eko Budi Utami

dengan judul “Layanan Guru Kelas Bagi Siswa Slow Learner Di Sekolah

Inklusi (SD N Bangunrejo 2 Yogyakarta)”, pada tahun 2018. Penelitian

tersebut berfokus tentang pelayanan guru kelas terhadap siswa slow learner

terkait dnegan modifikasi alokasi waktu, modifikasi isi atau materi, dan

modifikasi proses pembelajaran, pada saat membuka hingga menutup kelas.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa masing-masing guru memiliki

modivikasi waktu sendiri-sendiri dalam mengajar anak slow learner sesaui

dengan kebutuhan dan juga capaian komtensi yang harus mereka tuntaskan

dalam mengajar, ada yang membutuhkan tambahan waktu tetapi ada juga yang

tidak. Begitupula untuk modifikasi isi, guru kelas dalam menyampaikan materi

akan diurutkan mulai yang paling mudah atau sederhana, ke materi yang lebih

kompleks. Untuk modifikasi proses pembelajaran beberapa guru tetap

meyamakan dengan siswa reguler, dan sebagain guru yang lain mengajak anak

slow learner untuk belajar membaca.

Penelitian ke lima dilakukan oleh Mumpuniarti, Sari Rudiyati, Sukinah, Eka

Sapti Cahyaningrum dengan judul “Kebutuhan Belajar Siswa Lamban Belajar

(Slow Learner) Di Kelas Awal Sekolah Dasar Daerah Istimewa Yogyakarta”,

pada tahun 2017. Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan instrumen

untuk penjaringan kebutuhan belajar siswa lamban belajar. Penelitian tersebut

menjabarkan tentang kesulitan-kesulitan dari anak slow learner mulai dari

kesulitan dalam membaca, berhitung, dll sehingga dapat dikembangkan sebuah


17

bahan ajar untuk menyelesaikan masalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi

ketika mengajar anak slow learner.

Tabel 1.1
Originalitas Penelitian

No Nama Peneliti, Tahun Originaitas


Dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Penelitian
1. Elvyna Kholidah Qurotul Model Fokus penelitian Fokus penelitian
A’yun, skripsi 2018, pembelajaran pada model pada model
,“Model Pembelajaran bagi anak slow pembelajaran pembelajaran
Tahfidzul Quran Pada learner di kelas tahfidzul quran bagi siswa slow
Siswa Gangguan inklusi pada anak slow learner
Kemampuan Komunikasi learner
Dan Lambat Belajar Kelas
III Madrasah Ibtidiyah
Terpadu Ar-Roihan
Lawang Malang”
2. Muhammad julkifli, thesis Anak Fokus penelitian Fokus penelitian
2019 “Strategi Guru berkebutuhan pada strategi pada model
Mengelola Kelas Dalam khusus jenis slow pembelajaran pembelajaran
Mengatasi Kesulitan learner di pada anak slow bagi anak slow
Belajar Pada Anak Lamban sekolah inklusi learner learner
Belajar”
3. Agung Nugroho dan Lia Model dan Fokus penelitian Fokus penelitian
Mareza, Jurnal Ilmiah 2016 strategi pada model dan pada model
“Model Dan Strategi pembelajaran di strategi pembelajaran
Pembelajaran Anak sekolah inklusi pembelajaran bagi anak slow
Berkebutuhan Khusus bagi anak learner
Dalam Setting Pendidikan berkebutuhan
Inklusi” khusus secara
umum
4. Nurhidayah Eko Budi Anak Fokus penelitian Fokus penelitian
Utami, jurnal ilmiah tahun berkebutuhan pada modifikasi pada model
2018 “Layanan Guru Kelas khusus dari alokasi waktu, pembelajaran
Bagi Siswa Slow Learner klasifikasi slow dan modivikasi bagi anak slow
Di Sekolah Inklusi (SD N learner di bahan atau materi learner
Bangunrejo 2 sekolah inklusi
Yogyakarta)”
5. Mumpuniarti, Sari Anak Fokus penelitian Fokus penelitian
Rudiyati, Sukinah, Eka berkebutuhan pada pada model
Sapti Cahyaningrum, jurnal khusus dari pengembangan pembelajaran
ilmiah tahun 2017 klasifikasi slow bahan ajar untuk bagi anak slow
“Kebutuhan Belajar Siswa learner di memenuhi learner
Lamban Belajar (Slow sekolah inklusi kebutuhan belajar
Learner) Di Kelas Awal anak slow learner
Sekolah Dasar Daerah
Istimewa Yogyakarta”,
18

F. Definisi Istilah

Guna mempermudah pembaca dalam memahami kajian yang akan dibahas

peneliti, maka peneliti akan menjelaskan makna dari judul yang dipaparkan,

yakni:

1. Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang berisi pedoman

sistematis dalam merencanakan suatu pembelajaran dalam kelas untuk

mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Model pembelajarn memiliki ruang

lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan strategi, metode, dna prosedur

pembelajaran. Model pembelajaran memiliki beberapa karakteristik yang

membedakannya yakni, model pembelajaran memiliki tujuan khusus misalnya

tujuan untuk berfikir kritis, berfikir induktif dan lain-lain. Model-model

pembelajaran tertentu juga dapat digunakan sebagai pedoman dalam

memperbaiki pembelajaran dalam kelas.

2. Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus yakni anak yang memiliki perbedaan dengan

anak-anak pada umumnya, perbedaan tersebut dapat dilihat dari segi fisik,

mental, dan kondisi perilaku sosialnya.

3. Anak Lamban Belajar (Slow Learner)

Anak lamban belajar yakni anak disuatu lembaga pendidikan formal dimana

mereka memiliki perkembangan belajar atau kemampuan akademik yang lebih

lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Anak lamban belajar juga memiliki

rentan konsentrasi yang pendek sehingga konsentrasinya mudah teralihkan


19

dalam jangka waktu yang lumayan singkat. Materi pembelajaran yang telah

dipelajari seringkali sulit untuk diingat oleh anak lamban belajar. Apabila

terdapat materi pelajaran yang lumayan kompleks mereka susah untuk

memahaminya sehingga membutuhkan sedikit waktu lebih lama, tetapi apabila

sudah paham mereka akan cenderung mudah untuk lupa.

4. Sekolah Inklusi

Sekolah inklusi adalah sebuah sistem layanan pendidikan untuk anak

berkebutuhan khusus pada sekolah reguler (bersama anak-anak normal lain),

yang akan ditunjang dengan berbagai fasilitas, sarana dan prasarana untuk

mendukung ketunaan masing-masing peserta didik.

G. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dari penulisan skripsi ini dimaksudkan agar hasil

penelitian yang disajikan dapat terarah dan runtut secara sistematis. Adapun

sistematika penulisan skripsi ini yakni sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan. Pada bagain pendahuluan ini terdiri dari, yang pertama

adalah konteks penelitian di dalamnya disajikan latar belakang dari

pengangkatan judul penelitian, pada fokus penelitian berisi tentang apa

yang akan di bahas dalam penelitian tersebut, tujuan penelitian berisi

sesuatu yang ini didapatkan oleh peneliti dalam melakukan penelitian

tersebut, manfaat penelitian merupakan bagian yang menjelaskan tentang

keuntungan yang diperoleh beberapa pihak dari adanya penelitian yang

dilakukan, definisi istilah berfungsi dalam menjelaskan istilah yang ada

pada judul penelitian agar tidak salah dalam memaknainya, orisinalitas


20

menyajikan perbedaan dan persamaan bidang kajian yang diteliti dengan

penelitian terdahulu, serta sistematika pembahasan memuat isi dari bab

pada penelitian yang akan dilakukan. penelitian terdahulu sebagai patokan.

BAB II: Kajian Teori. pada bab kedua ini berisi tentang kaian pustaka pada skripsi

penelitian ini menyajikan terkait dengan perspektif teori mulai dari siswa

lamban belajar (slow learner), model pembelajaran, sekolah inklusi, serta

kerangka berfikir.

BAB III: Metode Penelitian. Pada bab ini menyajikan metode penelitian yakni

serangkaian metode yang akan digunakan dalam melakukan suatu

penelitian mulai dari pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan,

kehadiran peneliti pada lokasi penelitian, lokasi penelitian yang dipilih,

data dan sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan

keabsahan data, prosedur penelitian

BABA IV: Paparan Data dan Hasil Penelitian. Pada bab ini berisi paparan data dan

temuan yang diperoleh dari hasil penelitian terkait fokus penelitian yang

dibahas.

BAB V: Pembahasan Hasil Penelitian. Pada bab ini berisi pembahasan terkait

temuan-temuan peneliti yang telah dipaparkan dengan mengaikannya pada

teori-teori yang ada.

BAB VI: Penutup. Pada bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari temuan-

temauan yang telah didapatkan, dan juga beberapa saran bagi subjek

penelitian agar dapat mengambangkan yang perlu dikembangkan.


BAB II

PRESPEKTIF TEORI

A. Landasan Teori

a. Siswa lamban belajar (Slow Learner)

1) Pengertian Siswa Lamban Belajar (Slow Learner) terminologis

Estimologis Ahli

Siswa yang lambat belajar (slow learner) adalah siswa pada suatu

lembaga pendidikan formal atau umunya sekolah dimana mereka memiliki

perkembangan belajar yang lebih lambat dibandingkan dengan

perkembangan belajar pada rata-rata anak seusiannya. Umumnya anak

slow learner memiliki kemampuan kecerdasan di bawah rata- rata.16 anak

slow learner bukan termasuk anak tunagrahita (cacat mental), mereka

adalah anak-anak dengan kemampuan intelektual sedikit diatas anak

tunagrahita sehingga dalam proses pembelajarannya memerlukan

perlakuan khusus dalam penyampaian materi dan kegiatan pembelajaran

lainnya agar informasi yang hendak disampaikan dapat diterima.

Anak slow learner memiliki IQ antara 70 sampai 90.17 Kondisi

demikian mengakibatkan kemampuan belajar mereka lebih lambat

dibandingkan dengan a n a k s e u s i a n ya . b u k a n hanya kemampuan

akademiknya yang terbatas, tetapi terdapat beberapa kemampuan lainnya

di antaranya yakni kemampuan koordinasi, misalnya kesulitan memakai

16
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 126.
17
Fatimah, Syahrina, Development Of Multimedia Courseware For Slow Learner Children
With Reading Difficultties, Springer International Publishing Switxerland, (2013), Hlm.370.

21
22

alat tulis, dan olahraga. Dilihat dari segi perilakunya, anak lamban belajar

cenderung pendiam dan pemalu, sehingga dalam beberapa kasus mereka

kesulitan untuk berteman. Anak-anak lamban belajar cenderung kurang

percaya diri, kemampuan mereka dalam berpikir abstrak lebih rendah

apabila dibandingkan dengan anak pada umumnya.

Anak lamban belajar juga memiliki rentang perhatian yang pendek

sehingga konsentarsi mereka mudah pecah. Anak dengan slow learner

memiliki ciri fisik normal tidak terdapat perbedaan atau kelainan dengan

anak normal pada umumnya dari segi fisiknya, akan tetapi saat melakukan

pembelajaran di sekolah mereka sulit memahami materi yang sedang

dipelajari, memiliki respon yang lambat, dan kosakata yang mereka

gunakan sangat terbatas. sehingga ketika diajak untuk berkomunikasi,

anak lamban belajar memiliki kesan kurang nyambung dalam mengartikan

maksud dari pembicaraan.18

2) Ciri-ciri Siswa Lamban belajar (slow learner)

a) Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada umumnya

yang memiliki usia sama.

b) Konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga hanya memiliki

durasi waktu yang terbataster

c) Keterbatasan dalam m e m a h a m i m a t e r i - m a t e r i pelajaran

yang relevan

18
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 38
23

d) Kesulitan dalam mengarahkan diri (self dirention)

e) keterbatasan pada kemampuan abstraksi.

f) Mengalami keterlambatan dalam membuat suatu keterkaitan antara

kata dengan pengertian

g) Kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal yang

telah dipelajari.

h) Membutuhkan waktu yang panjang dan lama dalam menangkap

sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk melupakan pembelajaran

yang telah dipahaminya.

i) Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan pendiam

j) Kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, serta

kurangnya kemampuan dalam menentukan kesalahan-kesalahan

yang dibuat.

k) Kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis, memecahkan

sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam berfikir kritis.

l) Kesulitan dalam proses berfikir tingkat tinggi maupun berfikir

kritis.19

3) Perbedaan anak lamban belajar (slow learner) dengan anak normal

lainnya

a) Kecerdasan

Anak lamban belajar (slow learner) memiliki intelegensi lebih

19
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
24

rendah dibandingkan anak-anak umumnya. Mereka memiliki IQ 70-

90 berlandaskan skala WISC (Wechsler Intelligence Scale For

Children). Mereka kesulitan dalam memahami seluruh mata

pelajaran, lebih khusus pada materi yang mengharuskan mereka

untuk menghafal dan memahami hal-hal yang sifatnya umum.

Karena demikian mereka memiliki nilai lebih rendah dibanding

anak-anak lainnya di kelas yang sama.

b) Bahasa

Komunikasi menjadi suatu permasalahan bagi anak lamban belajar.

Kendala berbahasa yang dialami oleh anak lamban belajar yakni

kesulitan menyampaikan gagasannya. Mereka juga kesulitan dalam

memahami pembicaraan orang lain. sehingga hal tersebut

mengakibatkan mereka cenderung susah bergaul dan mendapatkan

teman.

c) Emosi

Anak lamban belajar memiliki emosi yang tidak seimbang. Hal ini

ditunjukkan melalui sikap mereka yang sensitif, emosional, dan

mudah menyerah.

d) Sosial

Anak lamban belajar mengalami kesulitan dalam bidang sosial.

Mereka kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain. sehingga

mengakibatkan mereka menjadi penyendiri dan dalam beberapa

kasus ditemukan mereka bermain dengan anak-anak dibawah usinya


25

atau lebih muda darinya.

e) Moral

Anak-anak pada umumnya mempunyai kematangan moral yang

selaras dengan kematangan kognitifnya. Sedangkan pada anak

lamban belajar mereka mengetahui adanya sebuah aturan, tetapi

belum dapat memahami makna dari aturan tersebut. mereka belum

memahami untuk apa fungsi adanya peraturan tersebut dibuat. Hal

ini mengakibatkan terkadang mereka melampaui atau melanggar

aturan tersebut.20

4) Faktor Penyebab Siswa Lamban Belajar (Slow Learner)

Mubair agustin menjelaskan terdapat 2 faktor penyebab anak

mengalami kesulitan dalam belajar yakni

a) Faktor internal/faktor genetik/hereditas

Berdasarkan sebuah penelitian yang ditemukan dalam survei pustaka

dunia ditemukan bahwa terdapat korelasi anatara IQ orang tua

dengan IQ anknya, semakin banyak jumlah gen yang sesuai pada dua

anggota keluarga maka semakin tinggi kolerasi IQ anatara keduanya.

maka dapat dikatakan bahwasannya intelegensi merupakan sesuatu

yang diturunkan.

b) Faktor eksternal/lingkungan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan beyley menyatakan

20
Nani dan Amir, Pendidikan ABK Lamban Belajar (Slow Learner) (Jakarta: Luxima,
2016), hlm. 6
26

bahwasannya status sosial-ekonomi dalam sebuah keluarga

mempengaruhi IQ dari anak. Hal tersebut dikarenakan kondisi

keluarga mempengaruhi bagaimana pola asuh yang dilakukan. Tidak

hanya pada pola asuh terdapat beberapa aspek lain diantaranya

nutrisi yang diberikan pada anak, kesehatan, kualitas stimulus,

kondisi emosisional dan lain-lain. sehingga dapat dikatakan bahwa

faktor lingkungan merupakan faktor penting penyebab lamban

belajar.21

Selain pendapat di atas Menurut Jamaris menjelaskan faktor

penyebab lamban belajar yakni:22

a) Kerusakan yang terjadi pada susunan syaraf pusat.

Hubungan antara susunan syaraf pusat dan kesulitan belajar

sudah di teliti oleh Alfread Starauss, seorang neorologist

berkebangsaan Jerman yang menjelaskan adanya hubungan

antara luka pada otak dengan penyimpangan di dalam

perkembangan bahasa, persepsi dan perilaku. Kerusakan yang

terjadi pada belahan otak bagian kanan dan belahan otak bagian

kiri menyebabkan kesulitan individu dalam melaksanakan tugas-

tugas belajar yang berkaitan dengan bahasa, visual dan auditif.

21
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 63.
22
Martin Jamaris, Kesulitan Belajar: Prespektif, Asesmen, Dan Penanggulangannya Bagi
Anak Usia Dini Dan Anak Usia Sekolah, (Semarang: Ghalia Indonesia, 2014), hlm. 17.
27

b) Ketidakseimbangan biokimia.

Para ahli sejak lama mengklaim bahwa penyebab kesulitan

belajar adalah tidak seimbangnya biokimia di dalam tubuh.

Heward, Orlansky dan Feingold menjelaskan bahwa zat pewarna

dan bumbu penyedap makanan yang terdapat pada jenis makanan

yang dimakan anak merupakan penyebab kesulitan belajar dan

hiperaktif pada anak.

c) Faktor keturunan.

Faktor genetik berpengaruh terhadap fungsi inteligensi telah lama

diyakini oleh para ahli. Hasil penelitian pernah mengungkapkan

bahwa identical twins (kembar identeik) lebih banyak mengalami

lamban belajar dari pada fraternal teins (kembar nonidentik)

d) Faktor lingkungan.

Selain faktor genetika, faktor lingkungan juga sudah lama

diyakini ahli sebagai hal sangat berpengaruh terhadap fungsi

inteligensi.

e) Faktor pengaruh teratogenic (zat kimia dan obat-obatan).

Penelitian yang berkaitan dengan kesulitan belajar yang

dilakukan para ahli menemukan bahwa satu diantara penyebab

kesulitan belajar adalah pengaruh teratogenic, yaitu zat-zat kimia,

seperti alkohol, rokok dan limbah kimia serta obat-obatan.


28

5) Integrasi Al-Quran Untuk Penanganan Siswa Slow Learner

a) Definisi terapi Al-Quran

Al-quran memiliki peranan penting dalam penyembuhan untuk

berbagai macam penyakit, salah satunya melalui terapi Al-Quran

yang bisa dilakukan melalui ruqyah, zikir, doa dan juga sholat. 23

Terapi Al-Quran ini pada dasarnya bukan merupakan hal baru.

Bahkan dalam sejarahnya , khususnya sejarah islam penyembuhan

dengan Al-Quran telah mendapatkan legitimaisnya sendiri. Umat

muslim meyakini bahwa Al-Quran dapat dijadikan sebagai

penyembuh sebagaimana disebutkan dalam tiga ayat berikut,

meskipun terdapat beberapa perbedaan dikalangan mufassir

ْ َ‫ىْ ؕؕ ْقُ ۡا ْه َُو ْ ِللَّذ ِۡين‬


ٌّ ‫ْو َع َر ِب‬
َّ ‫ى‬ ِ ُ‫َولَ ۡو ْ َج َع ۡل ٰن ُْقُ ۡر ٰاناْا َ ۡع َج ِميًّاْلَّقَالُ ۡواْلَ ۡو َال ْف‬
ٌّ ‫صلَ ۡ ْٰا ٰيت ُ ٗ ْْؕ َءا َ ۡع َج ِم‬
ٰ ُ ‫ْوه َُو ْ َعلَ ۡي ِم ۡم ْ َعمىْؕ ْا‬
ْ َ‫ولىككَ ْيُنَادَ ۡون‬ َّ ‫ْو ۡق ٌر‬ َ ‫ىْو ِشفَ ۗا ٌء‬
َ ‫ْو ْالَّذ ِۡينَ َْال ْي ُۡؤ ِمنُ ۡونَ ْ ِف ۡۤۡى ْٰا ْذَا ِن ِم ۡم‬ َّ ‫ٰا َمنُ ۡواْهُد‬

ٍۢ ‫ِم ۡنْ َّمك‬


ْ‫َانْ َب ِع ۡيد‬

Artinya: “Dan sekiranya Al-Qur'an Kami jadikan sebagai


bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka
mengatakan, "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?"
Apakah patut (Al-Qur'an) dalam bahasa selain bahasa Arab
sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, "Al-Qur'an adalah
petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan
orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada
sumbatan, dan (Al-Qur'an) itu merupakan kegelapan bagi
mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari
tempat yang jauh." (fussilat 41:44)

‫سارا‬ َ َْ‫ْو َر ۡح َمةٌ ِْل ۡـل ُم ۡؤ ِمنِ ۡين‬


‫ْو َالْيَ ِي ۡيد ل‬
َ ‫ُْالظ ِل ِم ۡينَ ْا َِّالْ َخ‬ ۡ َ‫ُْمن‬
َّ ‫ْالـقُ ۡر ٰا ِنْ َماْه َُوْ ِشفَا ٌء‬ ِ ‫َونُن َِيل‬

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang


menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman,
23
Selian Hadiyati, “Psikoteraphy Menurut Al-Quran Dan As-Sunnah”, 29 November 2020,
diakses dari [Link]
assunnah.
29

sedangkan bagi orang yang zhalim (Al-Qur'an itu) hanya akan


menambah kerugian” (Al-isra’ 17:82)

ٌْ‫ىْو َرح َمة‬


َ ‫ْوهُد‬
َ ‫ُور‬ َ ‫نْربِ ُكم‬
ُّ ‫ْو ِشفَا ٌء ِْل َماْفِىْٱل‬
ِ ‫صد‬ ِْ ٌ‫ظة‬
َّ ‫ْم‬ ُ َّ‫ٰيَأَيُّ َماْٱلن‬
َ ‫اسْقَدْ َجا َءت ُكمْ َّمو ِع‬
َْ‫ِلل ُمؤ ِم ِنين‬

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu


pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit
(yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-
orang yang beriman” (yunus 10:57)
Terapi Al-Quran saat ini juga dikenal sebagai pengobatan

dengan Ruqyah Syar’iyyah. Ruqyah syar’iyyah adalah terapi syar’i

dengan cara mambacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan juga doa

perlindungan yang bersumber dari sunnah rasul. Ayat dan doa

tersebut mengandung perlindungan dan permintaan tolong kepada

Allah SWT, untuk mencegah atau mengangkat bala atau penyakit.

Rukyah syar’iyyah dilakukan seorang muslim, baik dengan tujuan

penjagaan dan perlindungan diri atau orang lain dari pengaruh

buruk pandangan manusia dan jin, gangguan kejiwaan, kesurupan,

pengaruh sihir dan berbagai penyakit fisik dan hati.24

b) Ayat-ayat terapi Al-Quran

Semua ayat al-Qur’an adalah obat yang bisa menyembuhkan. Setiap

ayat al-Qur’an memiliki kekuatan penyembuh yang sangat luar biasa

jika atas izin Allah untuk penyakit-penyakit tertentu. Diantara Surah

yang umum digunakan untuk terapi al-Qur’an yaitu:

24
Sulthan Adam, Rukyah Syar’iyyah: Terapi Mandiri Penyakit Hati Dan Gangguan Jin,
(Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2018), hlm. 20
30

1). Surah Al-Fatihah

Surah al-fatihah disebut sebagai langkah penting dalam setiap

pengobatan. Dalam beberapa pengobatan al-Fatihah dibacakan

sebanyak tujuh kal. Alasannya karena al-fatihah disebut juga dengan

nama Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).

Dibaca 1x, 3x, 7x atau lebih dari itu, untuk merukyah segala

penyakit. Khasiat-khasiatnya yang telah teruji dan bermanfaat:25

a. Mengobati sengatan hewan berbisa


b. Praktik pengobatan orang gila
c. Mengobati bengkak atau benjolan di tubuh
d. Penawar dari rasa sakit
e. Terapi rukyah anak hiperaktif dan berkebutuhan khusus.26
2). Ayat Kursi (ayat ke 255 surah al-Baqarah)

ٌۗ ‫ي ْالقَي ْطو وم ەَۚ َۡل َ َأ ْ وِِّوه َُّٰةٌ َّو َۡل ّٰ َْو ٌۗ ٌم لَٗ َما فى الَُّمٰ ٰوٍ َو َما فى ْاۡلَ ْر‬
ْۡ ‫ض َم‬ ‫ۡل ا ٰلَٗ ا َّۡل ه َۚ َوو ا َ ْل َح ط‬
ٓ َ ‫ا َ هّٰلو‬

‫ش ْيء بم ْۡ ع ْلم ٓٗ ا َّۡل‬


َ ۡ َۡ‫ي يَ ْشفَ وِ ع َّْٰۡ ٓه ا َّۡل ۡا ِّّْٰ ٌۗٗ يَ َْلَ وم َما َۡيَْۡ اَيْۡيْه ْم َو َما ِ َْلفَ وه َۚ ْم َو َۡل يوح ْيِو ْو‬
ْ َِّّ‫َِّا ال‬

‫ظ وه َم َۚا َوه َوو ْال ََل ط‬


‫ي ْال ََظ ْي وم‬ َ َۚ ‫ۡ َما ش َۤا َۚ َء َوُ َِ وك ْرُيطٗو الَُّمٰ ٰوٍ َو ْاۡلَ ْر‬
‫ض َو َۡل َيـُٔ ْوۡوه ح ْف و‬

Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha hidup,
Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk
dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya
tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan
apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui
sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia
kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak
merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi,
Mahabesar.”

25
Abdullah Bin Muhammad as-Sad-han, Mujarobat Menurut al-Qur’an dan as- Sunnah
yang Shahih (Jakarta: Pustaka Ibnu ‘Umar, 2005), hlm. 4
26
Sulthan Adam, Rukyah Syar’iyyah: Terapi Mandiri Penyakit Hati dan Gangguan Jin,
hlm. 155
31

Sebagaimana diberitahukan oleh Rasulullah, salah satu faedah

membaca ayat kursi adalah Allah akan menjaga pembacanya dari

segala keburukan, kejahatan dan penyakit. Dianjurkan membaca

ayat kursi setiap pagi dan sore. Sebagai prosesnya, ayat ini

memiliki efek yang sangat besar untuk menjaga manusia dari

keburukan penyakit dan apapun jenisnya. Hal ini dijelaskan

sebagian ayat yang berbunyi “Dan Allah tidak merasa berat

memeilihara keduanya, dan Allah Maha tinggi lagi Maha besar”.27

3). Membaca Dua Surah Terakhir dari al-Qur’an (Surah Al-Falaq, An-Nās)

Kedua surah ini juga disebut dengan surah al-Mu’awidzatain (Dua


Surah Perlindungan). Surah al-Ikhlas dan Mu’awidzatain dibaca masing-
masing 3x di pagi dan sore hari, dan dibaca juga sebelum tidur. Dibaca
juga setiap selesai shalat masing-masing 1x. Adapun Khasiat-khasiatnya
yang telah teruji dan bermanfaat adalah:28
a. Pencukup dan penjaga dari segala sesuatu

b. Dua surah terbaik (surah al-Falaq dan an-Nas untuk memohon atau

berdo’a dengan keduanya dan minta perlindungan dengan keduanya.

c. Pelindung dari jin dan penyakit ‘ain (pandangan jahat dari manusia

27
Abdel Daim al-Kaheel, Lantunan Qur’an Untuk Penyembuhan ( Yogyakarta: Pustaka
Pesantren, 2012), hlm. 75.
28
Abdullah Bin Muhammad as-Sad-han, Mujarobat Menurut al-Qur’an dan as- Sunnah
yang Shahih, hlm. 16.
32

b. Model Pembelajaran

1) Pengertian Model Pembelajaran

Sebelum membahas apa yang dinamakan model pembelajaran,

terlebih dahulu akan dijelaskan makna dari model. Secara kaffah model

adalah sebuah konsep yang digunakan untuk menjelaskan sesuatu hal.

Sebagai contoh, model pesawat terbang, yang terbuat dari kayu, plastik,

dan lem adalah model nyata dari pesawat terbang. Model juga dikenal

dalam matematika, sebagai contoh model matematika gerak parabola

dan lain sebagainya. Sedangkan model pembelajaran adalah suatu

perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan

pembelajaran di kelas dan menentukan perangkat-perangkat

pembelajaran yang didalamnya berisi buku-buku, kurikulum, komputer

dan lain-lain.29

Joyce & weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu

rencana pembelajaran dalam jangka waktu panjang sehingga dapat

digunakan untuk membentuk suatu kurikulum, merancang bahan-bahan

pembelajaran dan sebagai bahan untuk membimbing pembelajaran di

kelas dan lainnya.30

Soekamto berpendapat model pembelajaran adalah: “kerangka

konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar guna mencapai suatu tujuan

29
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA Dan
Anak Kelas Awal SD/MI (Surabaya: Kencana, 2010), hlm. 141.
30
Rusman, Belajar Dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta:
Kencana, 2017), hlm. 244.
33

pembelajaran yang diinginkan, serta berfungsi sebagai pedoman bagi

perancang pembelajaran dan bagi pengajar dalam merencanakan

aktivitas pembelajaran.”31

Tujuan dari model pembelajaran adalah untuk mengarahkan

perancang dan pengajar dalam merancang suatu pembelajaran untuk

membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran itu

sendiri. Selain sebagai sarana untuk membantu peserta didik dalam

mencapai tujuan pembelajaran model pembelajaran juga berfungsi

sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran.32

2) Ciri-Ciri Model Pembelajaran

Model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas dibanding

dengan strategi, metode, dan prosedur pembelajaran. Model

pembelajaran memiliki ciri-ciri khusus. Ciri-ciri model pembelajaran

yakni:

a) Memiliki misi ataupun tujuan khusus, misal model berfikir induktif

dirancang guna memperbaiki proses berfikir induktif

b) Dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperbaiki proses

pembelajaran dalam kelas, misalnya model synetic dibuat guna

memperbaiki kreatifitas dalam pembelajaran mengarang

c) Memiliki urutan-urutan tertentu (syntax), prinsip-prinsip reaksi,

sistem sosial, dan sistem pendukung. Keseluruhan bagian tersebut

31
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA Dan
Anak Kelas Awal SD/MI (Surabaya: Kencana, 2010), hlm. 142.
32
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), hlm.53.
34

merupakan bagian pedoman praktis apabila guru hendak

melaksanakan suatu model pembelajaran

d) Mempunyai efek sebagai hasil dari penerapan model pembelajaran.

Efek tersebut meliputi : (1) efek pembelajaran, yakni hasil belajar

yang dapat diukur; (2) efek pengiring; hasil belajar jangka panjang.

e) Membuat persiapan mengajar dengan pedoman model pembelajaran

yang dipilihnya33

3) Macam-Macam Model Pembelajaran bagi siswa lamban belajar

(slow learner)

a) Model pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang

berfokus pada pembentukan dan pengguanaan kelompok-kelompok

kecil yang terdiri dari beberapa siswa untuk bekerja sama dalam

proses pembelajaran agar kondisi belajar dapat maksimal dan

tercapai tujuan dari pembelajaran tersebut.34

Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa ciri-ciri,

diantaranya yakni:

1) Saling ketergatungan positif

Pembelajaran kooperatif ini, guru menciptakan suasana yang

mendukung siswa agar saling membutuhkan satu sama lain.

Hubungan saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan

33
Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (jakarta:
Rajawali Pers, 2014), hlm.136.
34
Sugiyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif (Surakarta: Yuma Presindo,2010), hlm.
37.
35

saling ketergantungan secara positif. Hal demikian dapat dicapai

melalui saling ketergantungan dalam berbagi bahan

pembelajaran atau sumber belajar, ketergantungan dalam

menyelesaikan tuga, saling ketergantungan peran dan lain

sebagainya.

2) Interaksi tatap muka

Interaksi tatap muka akan membuat siswa mau tidak mau harus

saling menatap sehingga mereka dapat berdialog satu sama lain.

kegiatan dialog tidak hanya dilakukan dengan guru saja.

interaksi tersebut sangat penting karena dapat menimbulkan

rasa bahwa belajar lebih mudah dari sesama teman. Kegiatan

semacam itu juga akan mencerminkan bagaimana konsep dari

pengajaran teman sebayanya.

3) Akuntabilitas individual

Pembelajaran kooperatif dapat diwujudkan melalui belajar

kelompok. Proses penilaian pada mulanya dilakukan secara

individu kemudian ditunjukkan pada seuruh anggota kelompok,

sehingga dapat diketahui siswa yang masih kurang dan

memerlukan bantuan siswa lain dalam memahami materi

pembelajaran. Nilai kelompok kemudian diambil dri rata-rata

hasil belajar seluruh anggotanya. Penilaian kelompok yang

didasarkan pada penguasaan rata-rata anggota kelompok secara

individual inilah yang dinamakan akuntabilitas individual.


36

4) Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi

Keterampilan menjalin hubungan sengaja diajarkan,

diantaranya adalah keterampilan tenggang rasa, sopan santun,

mengkritik ide, tidak mendiskriminasi teman. Sehingga siswa

yang tidak mampu menjalin hubungan dengan sesamanya akan

mendapat teguran.35

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada hari itu, dan

memberikan motivasi pada siswa.

2) Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan metode

demonstrasi

3) Guru menjelaskan teknis dari pembentukan kelompok belajar

4) Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka

mengerjakan tugas

5) Guru mengadakan evaluasi pembelajaran pada materi yang telah

dipelajari

6) Guru memberikan reweard atas hasil belajar individu dan

kelompok

Pembelajaran kooperatif bagi siswa lamban belajar:

Menurut pendapat Nani Triani dan Amir model pembelajaran

kooperatif adalah model pembelajaran yang sesuai bagi siswa lamban

belajar, karena anak lamban belajar lebih menyukai pembelajaran

35
Ibid, hlm. 40.
37

secara kooperatif, mereka tidak menyukai pembelajaran yang

kompetitif.36

Pembelajaran secara kooperatif juga membantu siswa lamban

belajar dalam memperbaiki masalah belajar dan tingkah lakunya.

Manfaat yang didapat melalui pembelajaran secara kooperatif bagi

siswa lamban belajar yakni meningkatkan hubungan sosial siswa

lamban belajar dengan teman-teman kelasnya, memerbaiki hasil

belajarnya, dan juga memperbaiki keterampilan mengatur waktu.37

Menurut pendapat Steven R. Shaw dengan pembelajaran

kooperatif, anak lamban belajar dapat mengikuti banyak metode

pembelajaran, antara lain yakni metode kerja kelompok dan tutor

sebaya.38 Melalui metode tutor sebaya materi pembelajaran akan lebih

mudah untuk dipahami siswa lamban belajar karena pengguanaan

bahasa yang sesuai dengan tingkat usia mereka, sehingga dirasa lebih

sesuai, dengan metode kerja kelompok siswa lamban belajar akan

banyak berinteraksi dengan teman-teman kelasnya sehingga

diharapkan mampu untuk memperbaiki kemampuan mereka dalam

komunikasi dan menjalin hubungan dnegan orang lain.

Penggunaan metode kerja kelompok dan tutor sebaya bagi siswa

36
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 28.
37
Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional (Strategi Meningkatkan Kualifikasi
dan Kualitas Guru di Era Global) (Jakarta: Esensi, 2013), hlm. 144.
38
Malik, Najman Iqbal, Ghazala Rehman, dan Rubina Hanif, Effect of Academic
Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners, Pakistan Journal of Psychological
Research 2012, Vol. 27, No. [Link]. 141
38

lamban belajar sebaiknya mereka satu kelompok dengan siswa yang

memiliki kemampuan belajar lebih, dan juga pendampingan dari guru

agar siswa lamban belajar yang terdapat pada kelompok tersebut tidak

menjadi minoritas dan tenggelam dalam bayang-bayang siswa yang

memiliki kemampuan lebih. Selanjutnya pada pembagian kerja

kelompok, untuk siswa lamban belajar akan memperoleh bagian yang

mudah dan juga konkret, sedangkan bagi siswa lainnya mendapat

bagian yang lebih sulit dan abstrak.39

b. Model pembelajaran kontekstual

Pembelajaran konstektual merupakan sebuah konsep

pembelajaran dimana antara materi yang diajarkan akan dikaitkan

dengan situasi pada dunia nyata, sehingga mendorong siswa berfikir

kritis untuk membuat suatu hubungan antara pengetahuan yang

dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.40 Pemberian

contoh akan mempermudah pembelajaran bagi anak lamban belajar

karena mereka mengalami kesulitan dalam berpikir abstrak, sehingga

sebaiknya guru selalu mengaitkan pembelajaran yang dilakukan di

kelas dengan kehidupan sehari-hari anak.41

Pengembangan elemen-elemen model konstektual dalam

39
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 24.
40
Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (jakarta:
Rajawali Pers, 2014), hlm.187.
41
Lay Kekeh Marthan Marentek, dkk, Manajemen Pendidikan Inklusif, (Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
2007), hlm. 182.
39

pembelajaran dapat dilaksanakan sebagai berikut:

1) Mengaktifkan dan mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui

pertanyaan- pertanyaan.

2) Menciptakan masyarakat belajar.

3) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran

4) Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan

pembelajaran yang telah dilakukan.

5) Melakukan penilaian secara objektif.42

c. Model pembelajaran klasikal

Model pembelajaran klasikal adalah suatu model pembelajaran

yang dilakukan oleh guru dengan berceramah dikelas. Penggunaan

model klasikal mengharuskan guru menguasai kelas dan pembelajaran

agar siswa tetap dalam kondisi tertib ketika pembelajaran sedang

berlangsung.

Metode ceramah digunakan ketika guru hendak membagi

pengalaman pribadinya pada siswa untuk menambah wawasan

mereka, atau menggunakan keahliannya untuk memperluas wawasan

siswa. sehingga keberhasilan dari penggunaan metode ceramah ini

tergantung dari siapa yang menerapkan metode tersbut.

Kekurangan penggunaan metode ceramah ini yakni

mengakibatkan siswa lebih pasif dalam proses pembelajaran,

sehingga hal tersebut mengharuskan guru agar mampu menjaga

42
Ibid, hlm.187.
40

perhatian dan konsentrasi siswa. meskipun demikian model ini juga

memiliki kelebihan diantaranya yakni, lebih efisien waktu sebab

langsung terfokus pada pembahasan, metode ini juga memberikan

kesempatan pada guru untuk membagi pengalaman dan pengetahuan

mereka pada siswa.43

Tidak hanya metode ceramah yang digunakan dalam model

klasikal ini tetapi metode tanya jawab juga digunakan sebagai

pelengkap dan penyempurna proses pembelajaran. Setelah guru

menjelaskan kemudian akan diikuti dengan tanya jawab. Siswa secara

bebas dapat menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami dari

pembelajaran tersebut.44

Pembelajaran model ini akan menjadikan siswa cenderung lebih

pasif, sehingga dalam pembelajaran guru harus menggunakan

berbagai metode pembelajaran seperti diskusi, tanya jawab,

demonstrasi dan lain-lain sebagai upaya agar peserta didik tetap aktif.

Model pembelajaran klasikal bagi siswa lamban belajar berarti

siswa berkebutuhan khusus belajar bersama dengan siswa reguler

lainnya. Tujuan dari pembelajaran tersebut yakni agar siswa

berkebutuhan khusus dapa berinteraksi seperti siswa-siswa pada

umumnya dan juga mencontoh bagaimana sikap siswa-siswa pada

43
Ibid, hlm.89.
44
Ibid, hlm.106.
41

umumnya. Akan tetapi pada pelaksaaan pembelajarannya guru tidak

diperkenankan untuk membeda-bedakan antara keduanya.45

Implementasi pembelajaarn klasikal sama dengan pembelajaarn

pada umumnya, namun yang perlu ditekankan adalah penyesuaian

kebutuhan serta kemampuan tiap-tiap siswa berkebutuhan khusus,

sehingga dalam proses pembelajaran dibutuhkan guru pendamping

khusus untuk mendampingi ketika proses pembelajaran

berlangsung.46

d. Model pembelajaran individual

1) Pengertian model pembelajaran individual

Menurut Hamalik Pembelajaran individual adalah suatu

pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perbedaan

pada setiap siswa, seperti: minat abilitet, bakat, kecerdasan, dan

sebagainya. Guru dapat menyiapkan dan merancang tugas-tugas

belajar secara perseorangan.47 Pendekatan pembelajaran individu

ini berorientasi pada pengembangan diri pada setiap individu.

Pendekatan individual lebih memfokuskan pada proses dimana

individu membangun dan mengorganisasikan dirinya secara

realitas yang bersifat unik. Secara singkat model ini menekankan

45
Friend, M. P., & Bursuck, W. D, Including Students With Special Needs: A Practical
Guide For Classroom Teachers (Boston: Pearson/Allyn and Bacon, 2006), hlm. 39
46
Nur Amalia, Winda Hastuti, Dwi Yuniasih, dan Efi Rusdiyani, Manajemen Model
Pembelajaran Inklusi Bagi Siswa Slow Learner Di Sd Muhammadiyah Alam Surya Mentari
Surakarta, jurnal "Mengembangkan Kompetensi Pendidik dalam Menghadapi Era Disrupsi"
Kerjasama PGSD - POR UMS ISBN 978-602-70471-3-6, 2018, hlm. 223.
47
Ana Kurniati, Aplikasi Pendekatan Pembelajaran Individual Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan Pada Siswa Difabel (Tunanetra) di MAN Maguwoharjo, Jurnal Citizenship, Vol.
3 No. 1, Juli 2013, hlm. 46.
42

pengembangan individu agar memiliki korelasi yang produktif

dengan lingkungannya, sehingga dapat membantu dalam

memandang diri mereka sebagai anak yang mampu dan berguna.48

2) Siswa Dalam Pembelajaran Secara Individual

Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual adalah

sebagai sentral dalam sebuah pembelajaran. menurut Dimyati dan

Mudjiono pembelajaran individual berbeda dengan pembelajaran

klasikal, pada model individual siswa memiliki keleluasaan berupa

kebebasan menggunakan waktu belajarnya, tetapi mereka

bertanggung jawab penuh atas seluruh kegiatan yang dilakukan,

keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri, keleluasaan

dalam memanage kegiatan dan intensitas belajarnya untuk

mencapai tujuan dari pembelajaran yang telah ditentukan, siswa

melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar, siswa dapat

mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta siswa

memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya

sendiri”.49

3) Guru dalam Pembelajaran Secara Individual

Model pembelajaran klasikal pada umumnya peranan guru

dalam merencanakan kegiatan pembelajaran sangat besar. Hal ini

tidak terjadi dalam pembelajaran individual. Menurut Dimyati dan

48
Ibid, hlm. 43.
49
Ibid, hlm. 47.
43

Mudjiono Peranan guru dalam merencanakan kegiatan belajar

adalah sebagai berikut: 1) membantu merencanakan kegiatan

belajar siswa, dengan musyawarah guru membantu siswa

menetapkan tujuan belajar, membuat program belajar sesuai

kemampuan siswa, 2) membicarakan pelaksanaan belajar,

mengemukakan kriteria keberhasilan belajar, 3) berperan sebagi

penasihat dan pembimbing, dan 4) membantu siswa dalam

penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri.50

e. Strategi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar

Selain model pembelajaran hal penting selanjutnya yang harus

diperhatikan dalam pembelajaran siswa lamban belajar yakni strategi

pembelajaran yang digunakan. Strategi pembelajaran bagi anak

kesulitan belajar yakni dengan menyajikan kegiatan-kegiatan yang

dapat melatih fungsi visual, pendengaran, dan kesadaran tubuh.

kegiatan yang dapat meningkatkan fungsi visual diantaranya yakni

latihan menggunakan media teka-teki (puzzle), menyusun balok-

balok, menentukan suatu bentuk yang hilang dalam gambar,

mengklasifikasikan bentuk-bentuk, ukuran, dan warna suatu bangun

geometri, bermain kartu, menggambar bangun geometri yang sesuai

dengan huruf.

Kegiatan yang dapat meningkatkan fungsi pendengaran yang

berkaitan dengan strategi pembelajaran yakni dengan latihan

50
Ibid, hlm. 48.
44

mendengarkan suara, mencatat bunyi-bunyi dari sumber bunyi,

mendengarkan bunyi-bunyi yang dibuat guru, dan mendengarkan

suara dari sumber bunyi yang berbeda-beda.51

f. Evaluasi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar

Cara dalam mengukur sejauh mana siswa lamban belajar

menguasai materi yang telah dipelajari, maka guru perlu untuk

merencanakan beberapa hal meliputi:

1) Memberikan tambahan waktu dalam pemahaman materi serta

dalam pengerjaan tes untuk anak lamban belajar.

2) mempersiapkan kumpulan kata atau gambar sebagai jawaban

yang memungkinkan untuk pertanyaan-jawaban singkat

3) membuat tanda sebagai petunjuk organisasi jawaban pertanyaan

esai

4) membuat bagan dan soal acak untuk diagram

menyediakan cara alternatif agar anak lamban belajar dapat belajar (Bill

Hopkins, 2009: 5).52

c. Pendidikan Inklusi

1) Pengertian Pendidikan Inklusi

Menurut Davit, pada pendidikan inklusi siswa yang memiliki

kebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan siswa normal lainnya

dalam satu kelas yang sama dan bimbing oleh guru yang sama serta

51
Bandi delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan
Inklusi (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), hlm. 47.
52
Bill Hopkins, The Child Who is a Slow Learner, Teachers Resource Manual (Cortland:
State University of New York, 2008), hlm. 5.
45

memiliki guru pendidikan khusus untuk membantu ketika proses

pembelajaran berlangsung. Sehingga dapat dikatakan bahwa

pendidikan inklusi adalah suatu sistem layanan pendidikan yang

mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan

anak normal lainnya dalam kelas yang sama di sekolah reguler yang

terdekat dari tempat tinggalnya.53

Menurt Illahi, Pendidikan inklusi adalah suatu konsep dari layanan

pendidikan yang menjunjung tinggi dan menggambarkan prinsip

keterbukaan dengan menerima anak-anak berkebutuhan khusus untuk

belajar bersama anak-anak sebayanya agar mereka memperoleh hak

yang sama sebagai warga negara.54

Menurut Jamila, dengan adanya pendidikan inklusi interaksi anatara

murid berkebutuhan khusus dan murid normal menjadi lebih intensif

dikarenakan mereka belajar bersama di lingkungan yang sama di kelas

yang sama dan guru yang sama.55

Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli tersebut maka dapat

dikatakan pendidikan inklusi yakni suatu layanan pendidikan yang

mengutamakan terlaksananya hak mendapatkan pendidikan bagi

seluruh warga negara tanpa terkecuali dengan mengikut sertaka anak

53
J. David Smith, Sekolah Inklusif Konsep dan Penerapan Pembelajaran, (Yogyakarta:
Nuansa Cendekia, 2015),hlm. 48.
54
Mohammad Takdir Ilahi, Pendidikan Inklusif Konsep & Aplikasi (Jogyakarta:Ar-Ruzz
Media, 2009 ), hlm. 23.
55
Muhammad, Jamila K. A, Special Education for Special Children Penduan Pendidikan
Khusus Anak-Anak Dengan Ketunaan dan Learning Disabilitie (Jakarta Selatan: Hikmah [Link]
Publika, 2008), hlm. 28.
46

berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak normal pada

umumnya pada suatu kelas yang sama, lingkungan yang sama serta

guru yang sama, dan dibantu dengan guru pendamping khusus dalam

proses pembelajarannya.

2) Prinsip Pendidikan Inklusi

Secara konseptual dan representatif, menurut Farrell

mengidentifikasi prinsip pendidikan inklusi dimana identifikasi ini

bukan bermaksud untuk kategori tertentu kepada anak berkebutuhan

khusus, akan tetapi sebagai upaya dalam memperkenalkan karakter

utama dalam konsep pendidikan inklusi. Prinsip-prinsip tersebut

diantaranya yakni:

• Pendidikan inklusi memberi kesempatan pada semua jenis siswa

Pendidikan inklusi karena pendidikan inklusi menjunjung tinggi

asas persamaan hak dan menghargai perbedaan. Pendidikan

inklusi tidak berpihak pada golongan maupun sekelompok siswa

tertentu. Pendidikan inklusi menerima seluruh jenis anak

berkebutuhan khusus.

• Pendidikan inklusi menghindari seluruh aspek negatif Labeling

Pendidikan inklusi sangat menghindari pelebelan atau labeling,

karena dampak dari labeling sendiri sangat berbahaya dan

menimbulkan efek diskriminasi dilingkungan pendidikan inklusi.

• Pendidikan inklusi selalu melakukan checks dan balances

Checks dan balances sangat penting bagi pendidikan inklusi, karena


47

melalui pengecekan dan pengawasan maka sebuah sistem dan

tatanan dalam pendidikan inklusi akan terjaga dari adanya

penyalahgunaan dan penyelewengan.56

3) Model Pendidikan Inklusi

Model pendidikan inklusi pada dasarnya memberikan pelayanan

bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah sekolah umum.

Dengan menerapkan model pembelajaran Kelas reguler dengan pull

out. Adapaun model pelayanan pendidikan inklusi di indonesia

adalah sebagai berikut:

a) Kelas reguler (inklusi penuh) Anak berkebutuhan khusus belajar

bersama anak lain (normal) di kelas reguler dengan menggunakan

kurikulum yang sama.

b) Kelas reguler dengan cluster yakni anak berkebutuhan khusus

melaksanakan pembelajaran bersama-sama anak normal lainnya

pada kelas reguler dalam sebuah kelompok khusus.

c) Kelas reguler dengan pull out yakni anak berkebutuhan khusus

melaksanakan pembelajaran bersama-sama anak normal lainnya

di kelas reguler akan tetapi pada saat-saat tertentu ditarik dari

kelas reguler untuk melakukan pembelajaran lebih lanjut di ruang

sumber belajar bersama guru pembimbing khusus

d) Kelas reguler dengan cluster dan pull out yakni anak

56
Michael, Farrel, Inclusion At The Crossroad, Special Education Concept And Values
(USA: David Fulton Publisher, 2008).
48

berkebutuhan khusus melaksanakan pembelajaran bersama anak

normal lainnya pada kelas reguler dalam kelompok khusus, dan

pada saat-saat tertentu ditarik dari kelas reguler untk melakukan

pembelajaran di ruang sumber belajar dengan guru pembimbing

khusus.

e) Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian anak

berkebutuhan khusus belajar dalam kelas pada sekolah reguler,

namun dalam bidang- bidang tertentu dapat belajar bersama anak

normal lainnya di kelas reguler.

f) Kelas khusus yang berisi anak berkebutuhan khusus belajar di

dalam kelas khusus pada sekolah reguler57

4) Pengelolaan Pendidikan Inklusi

a) Prinsip pembelajaran inklusi

Prinsip pembelajaran inklusi terdiri dari prinsip khusus dan

prinsip umum. Bani delphine menyebutkan bahwa Prinsip khusus

yakni prinsip yang disesuaikan dengan karakteristik khusus dari

setiap penyandang kelainana pada siswa, misalnya untuk anak

tunanetra menggunakan prinsip kekonkritan, prinsip pengalaman

yang menyatu, dan prinsip belajar sambil melakukan. Siswa

tunarungu menggunakan prinsip keterarahan wajah, siswa tunalaras

memerlukan prinsip yang meliputi kebutuhan dan keaktifan,

57
Abdul Rahim, Pendidikan Inklusi Sebagai Strategi Untuk Mewujudkan Pendidikan
Untuk Semua, Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, (Vol. 3 No. 1 2016).
49

kebebasan yang mengarah, kekeluargaan dan kepatuhan terhadap

orang tua, setia kawan dan idola, serta perlindungan.

Bagi siswa tunagrahita diperlukan prinsip yang berkaitan

dengan bentuk-bentuk atensi yang meliputi waktu atensi, fokus, dan

selektivitas, memperkuat daya ingatan atau memori, dan sebagainya.

Prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi, konteks,

keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja,

individualisasi, menemukan, dan prinsip memecahkan masalah.58

Penjelasan mengenai prinsip umum dan khusus dijelaskan oleh

pendapat tarmasnyah, yakni:

1. Prinsip umum

a) Motivasi: selalu memberikan kalimat-kalimat penyemangat

agar siswa senantiasa memiliki semangat yang besar dan

tinggi dalam belajar.

b) Konteks: dalam pembelajaran hendaknya memanfaatkan

sumber yang ada dilingkungan sekitar. Hindari pengulangan

materi pembelajaran.

c) Keterarahan: menentukan tujuan pembelajaran secara jelas,

menyiapkan media pembelajaran yang sesuai serta perangkat

pembelajaran lain yang tepat.

58
Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan
Inklusi (Bandung: Refika Aditama, 2006), hlm.154.
50

d) Hubungan sosial: menggunakan strategi pembelajaran yang

mampu memaksimalkan proses interaksi sosial antar siswa.

e) Belajar sambil bekerja: dalam proses pembelajaran siswa

dipersilahkan untuk belajar sambil mempraktikkan secara

langsung dengan melakukan sebuah praktikum maupun

eksperimen.

f) Individual: mendalami sifat, karaktiristik, dan kemampuan

masing-masing siswa secara mendalam, sehingga dapat

menangani siswa tersebut secara optimal sesuai kebutuhan

masing-masing siswa.

g) Menemukan: dalam proses pembelajaran hendakya

melibatkan siswa secara aktif agar mereka dapat menentukan

cara untuk memecahkan permasalahannya yang

dihadapinya.

h) Pemecahan masalah: sajikan permasalahan konkret di

lingkungan sekitar, kemudian anak dipersilahkan untuk

menganalisis dan memecahkan permasalahan tersebut

dengan kemampuannya

2. Prinsip khusus

a) Gangguan penglihatan (tunanetra): bagi anak dengan

gangguan penglihatan pembelajaran yang mereka butuhkan

yakni dengan menggunakan pendengaran dan perabaan,

sehingga dalam pelaksanaan pembelajarannya sangat


51

dianjurkan untuk menggunakan benda-benda konkret.

Terpenting untuk mengupayakan agar anak tunanetra

mengalami secara langsung apa yang dijelaskan oleh guru.

Buku bicara (kaset rekaman) juga sangat membantu dalam

pengayaan materi pelajaran.

b) Gangguan pendengaran/komunikasi: berkomunikasi dengan

anak yang mengalami gangguan pendengaran sebaiknya

dilakukan dengan keterarahan wajah, upayakan mereka dapat

membaca bibir atau melihat gerak bibir, lebih baik lagi jika

dilakukan dalam posisi sejajar. Mereka lebih peka

menggunakan sarana visual, maka dalam pembelajaran

hendaknya menggunakan komunikasi yang merangsang

penglihatannya demikian juga alat peraga yang konkrit.

c) Keberbakatan: anak dengan kemampuan ini hendaknya

diberikan percepatan materi dan juga melakukan pengayaan.

d) Mental intelektual: kasih sayang adalah prinsip utama yang

harus diberikan kepada anak dengan gangguan mental

intelektual karena adanya gangguan yang disebabkan oleh

faktor neorolugis, maka harus diberikan layanan habilitasi.

e) Gangguan fisik-motorik: yang perlu diperhatikan dalam

memberikan layanan kepada anak-anak dengan gangguan

fisik motorik adalah pelayanan medis, pendidikan, sosial


52

secara terpadu dan berkesinambungan dalam institusi

habilitasi atau rehabilitasi.

f) Gangguan penyesuaian sosial: siswa dengan gangguan

penyesuaian sosial haus akan kasih sayang, sehingga guru

atau pembimbing diharapkan mampu untuk mencurahkan

perhatian dan kasih sayang dalam membimbingnya.

Pemberian motivasi dan nilai-nilai positif sangat membantu

dalam pembelajaran. guru juga harus menjadi tauladan yang

baik bagi meraka. Aktifitas penting yang mereka butuhkan

untuk mengisi wkatu luangnya yakni dengan melakukan

kegiatan yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di

masyarakat setempat. Disiplin dan kepatuhan juga sangat

penting sehingga mereka dapat kembali dalam kehidupan di

masyarakat.59

b) Pengelolaan kelas

Pengelolaan kelas dilakukan dengan menata ruang kelas dimana

situasi di dalam kelas dilengkapi dengan berbagai perlengkapan yang

dapat memudahkan proses belajar peserta didik inklusi, membuat

mereka merasa nyaman dan aman sehingga pembelajaran dikatakan

efektif.

59
Tarmansyah, Inklusi Pendidikan untuk Semua (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan, 2007), hlm.191.
53

Pada pelaksanaannya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan

inklusi harus memperhatikan bagaimana penataan ruang kelasnya

seperti pada pintu masuk dan ruang kelas dengan lantai yang sejajar

sehingga memudahkan kursi roda dapat keluar masuk, kemudian

pembuatan guiding block dan simbol braille untuk mempermudah

peserta didik tunanetra, penyediaan display visual untuk memudahkan

peserta didik tunarungu, kursi dan meja dibuat dari bahan yang kuat

serta ringan dan bersifat movable, formasi tempat duduk peserta didik

dapat dibuat secara bergantian atau bervariasi sesuai dengan kebutuhan

seperti contohnya formasi U, formasi lingkaran, formasi setengah

lingkaran, formasi tapal kuda, dan sebagainya.

Penempatan peserta didik berkebutuhan khusus juga sebaiknya

diperhatikan misalnya menempatkannya pada baris depan kelas, atau di

dekat guru agar memudahkan komunikasi dan penyampian materi,

tidak hanya itu mereka juga sebaiknya di dekatkan dengan peserta didik

normal dengan tujuan memberikan pengalaman belajar bagi peserta

didik.

Selain itu dalam bukunya Hamid Muhammad menyebutkan bahwa

penataan dan perlatan kelas juga memperhatikan aspek keamanan

peserta didik inklusi, diantaranya:

a) Sudut-sudut dinding, papan tulis, meja, kursi, almari dan peralatan

lainnya tidak dibuat runcing/tajam.

b) Meminimalkan tempat yang curam dan tangga.


54

c) Meminimalkan peralatan yang menjorok yang membahayakan

bagi tunanetra

d) Meminimalkan penempatan alat yang sulit dijangkau oleh siswa

berkebutuhan khusus.

e) Penempatan yang relatif menetap, supaya mudah dikenali oleh

tunanetra.

f) Tidak menempatkan barang secara mendadak di tempat atau jalur

yang sering dilewati peserta didik inklusi.60

Akan lebih baik jika pihak sekolah memperhatikan aspek penataan

kelas, karena meski tidak berdampak langsung namun hal itu akan

mempengaruhi proses pembelajaran. Terlebih bagi peserta didik

berkebutuhan khusus, keamanan menjadi hal penting yang harus

diperhatikan mengingat mereka memiliki banyak keterbatasan dalam

melaksanakan berbagai kegiatan di kelas.

B. Kerangka Berfikir

Setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan

yang layak tak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Hal tersebut

telah diatur dalam Undang-undang dasar 1945 pada pasal 3 ayat 1, Undang-

undang Nomor 20 tahun 2003, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik

Indonesia Nomor 70 Tahun 2009. Anak-anak yang memiliki kelainan fisik,

mental, sosial, intelektual berhak mendapatkan pendidikan melalui sarana

60
Hamid Muhammad, Kurikulum 2013 Pedoman Pelaksanaan Kurikulum bagi Peserta
didik Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi (Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 2014), hlm. 42.
55

pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah sistem layanan pendidikan untuk

anak berkebutuhan khusus pada sekolah reguler (bersama anak-anak normal lain).

Anak berkebutuhan khusus terdiri dari berbagai macam klasifikasi salah satu

diantara yang paling banyak yakni siswa lamban belajar (slow learner). Anak

lamban belajar mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran, mereka

cenderung memiliki kemampuan intelektual lebih rendah dibanding anak pada

umumnya. Umumnya mereka memiliki IQ antara 70 sampai 90.61

Anak lamban belajar pada umumnya mengalami gangguan kesulitan dalam

pembelajaran hampir pada semua mata pelajaran. Mereka kesulitan dalam mata

pelajaran olahraga, juga matapelajaran yang mengharuskan untuk menghafal lebih

banyak dan menalar materi-materi pembelajaran. anak lamban belajar juga

memiliki rentang konsentrasi yang pendek, sehingga konsentrasi mereka mudah

pecah, hal ini megakibatkan pembelajaran yang dilaksanakan pada siang hari

sudah mulai tidak kondusif bagi anak-anak lamban belajar. Beberapa

permasalahan tersebut dapat ditangani apabila guru mampu membimbing dan

mengarahkan anak tersebut dalam pembelajarannya.

Pembelajaran yang dilaksanakan guru untuk anak slow learner haruslah

memiliki variasi yang berbeda dengan anak normal pada umumnya. Pembelajaran

bagi anak-anak tersebut haruslah ditunjang dengan menggunakan model model

pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak slow learner. Sehingga suatu

pembelajaran akan dirasa efektif bagi mereka. Maka dari itu model-model

61
Fatimah, Syahrina, Development Of Multimedia Courseware For Slow Learner Children
With Reading Difficultties, Springer International Publishing Switxerland, (2013), Hlm.370.
56

pembelajaarn merupakan hal yang sangat penting utnuk diperhatikan guru untuk

pembelajaran pada kelas-kelas inklusi khususnya anak slow learner.

Gambar 1.1
Kerangka berfikir

Siswa Lamban Belajar (Slow Learner)

Masalah belajar siswa lamban belajar

Solusi dari permasalahan siswa lamban


belajar yakni pengelolaan kelas dengan
penggunaan model pembelajaran yang tepat

Kondisi kesulitan belajar Model pembelajaran untuk


anak slow learner mengatasi kesulitan belajar
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Berdasarkan Judul penelitian “Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow

Learner Di Sekolah Inklusi Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun

Pelajaran 2019/2020”, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini

yakni pendekatan kualitatif. Inti utama penelitian kualitatif adalah pada tujuan

eksplorasi dan pemahaman data secara lebih mendalam.62 Penelitian kualitatif

digunakan pada kondisi objek alamiah yang mana peneliti bertindak sebagai

instrumen kunci, teknik pengumpulan berupa triangulasi, analisis data bersifat

induktif atau kualitatif, dan hasil penelitiannya dapat memberikan makna yang

digeneralisasikan.63Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena ingin

mengkaji lebih mendalam terkait permasalahan yang ada di suatu lokasi

tertentu.

Selanjutnya untuk jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah jenis penelitian study kasus. Tujuan dari penelitian studi kasus yakni

menjelaskan secara rinci mengenai sebagian kecil sekolah, kelas atau siswa.64

Alasan peneliti menggunakan pendekatan dan jenis penelitian tersebut karena

ingin menjelaskan secara lebih mendalam dan rinci mengenai fenomena yang

sedang diteliti yakni bagaimana model pembelajaran yang digunakan dalam

62
Agustinus Bandur, Penelitian Kualitatif Metodologi, Desain, & Teknik Analisis Data
Dengan NVIVO 10 (Jakarta: mitra wacana media, 2014), hlm.16.
63
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung:Alfabeta,2010), Hal.15.
64
Agustinus Bandur, Penelitian Kualitatif Metodologi, Desain, & Teknik Analisis Data
Dengan NVIVO 10 (Jakarta: mitra wacana media, 2014), hlm.26.

57
58

proses pembelajaran bagi anak slow learner, dan juga sejauh mana kondisi

kesulitan belajar pada anak di sekolah tersebut.

B. Kehadiran Peneliti

Peneliti merupakan instrumen utama atau instrumen kunci dalam penelitian

kualitatif, Pada penelitian kualitatif alur penelitian sangat bergantung pada

peran seorang peneliti. Pada kegiatan penelitian ini peneliti akan hadir dan

bertindak secara langsung sebagai seorang perencana, pengumpul data, analisis

penafsir data, menjadi pelapor hasil penelitian.65 sehingga kehadiran peneliti

merupakan suatu keharusan dalam pengumpulan data dan pelaksanaan

penelitian. Sebagai instrumen utama dalam penelitian, peneliti memiliki tugas

yang sangat kompleks dalam penelitian tersebut, mulai dari perencanaan,

pelaksanaan, pengumpulan data, analisis data.

Peneliti akan melalukan langkah-langkah sebaagai berikut:

• Sebagai perencana peneliti akan mempersiapkan segala kebutuhan dalam

penelitian, seperti halnya instrumen penelitian, alat-alat untuk dokumentasi

dll.

• Sebagai pengumpul data peneliti mengumpulkan data dari sumber data

primer dan sekunder melalui berbagai macam teknik, mulai dari observasi,

wawancara, dan dokumentasi. Proses pengumpulan data dilakukan peneliti

dengan terjun secara langsung pada lokasi penelitian dan melakukan

pengamatan langsung. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar

65
Lexy J, Moleong, Metode Penelitian Kualitatif edisi Revisi (Bandung:Remaja
Rosdakarya, 2005), Hal.12.
59

Muhammadiyah 2 Tulangan, selain itu peneliti juga melakukan wawancara

dengan berbagai pihak, diantaranya kepala sekolah, beberapa guru kelas,

dan guru pendamping khusus di sekolah tersebut.

• Sebagai analisis penafsir data maka peneliti melakukan analisis data yang

telah diperoleh, dengan cara memilah informasi yang dibutuhkan dalam

penelitian dan menyisihkan informasi yang tidak diperlukan. Proses analisis

data juga dilakukan hingga didapatkan bahwasannya data yang diperoleh

dapat diyakini kebenarannya.

• Sebagai pelapor hasil penelitian peneliti akan menyajikan data dalam bentuk

laporan hasil penelitian. Laporan tersebut akan mendeskripsikan secara

rinci hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, sehingga dapat bermafaat

bagi berbagai pihak.

C. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan

yang berlamatkan di Jl. Raya Kemantren No.2, Keputran, Kemantren,

Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pemilihan sekolah

tersebut didasarkan karena sekolah tersebut melakukan penanganan yang

profesional dan efektif dalam menyelenggarakan program pendidikan inklusi,

hal tersebut dibuktikan dengan pada tahun 2014 SD Muhammadiyah 2 Tulangan

mendapatkan penghargaan dan juga piagam dari Bupari Sidoarjo sebagai

kategori 5 besar sekolah penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten

Sidoarjo. Sebagai penunjang penyelenggaraan pembelajaran bagi siswa

berkebutuhan khusus SD Muhammadiyah 2 Tulangan dilengkapi dengan ruang


60

sumber, fasilitas hitech dan juga lowtech yang dikususkan bagi anak

berkebutuhan khusus agar perkembaangn mental dan juga intelegensinya dapat

mengalami peningkatan yang signifikan. SD Muhammadiyah 2 Tulangan juga

menyediakan GPK (Guru Pendamping Khusus) bagi anak berkebutuhan khusus,

dimana satu GPK akan mendampingi satu anak berkebutuhan khusus dalam

proses pembelajaran. GPK yang disediakan sekolah juga merupakan tenaga

profesional yang merupakan lulusan dari Pendidikan Luar Biasa dan juga

Psikologi.

Jumlah anak slow learner secara keseluruhan pada sekolah tersebut yakni 13

siswa dari 39 Siswa Berkebutuhan Khusus. Masing-masing kelas maksimal

memiliki 2 siswa berkebutuhan khusus di dalammnya. Berdasarkan beberapa

faktor tersebut peneliti melakukan penelitian pada tempat tersebut.

D. Data Dan Sumber Data

Data yang akan diperoleh peneliti adalah data primer dan data sekunder.

Masing-masing data tersebut akan diperoleh peneliti sebagai berikut:

a) Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh ataupun dikumpulkan secara

langsung di lapangan dari sumber asli oleh peneltiti.66 Peneliti akan

memperoleh data primer tersebut dengan cara melakukan wawancara,

observasi dan dokumentasi. Data yang didapatkan masih berupa data apa

adanya sehingga membutuhkan analisis lebih lanjut.

66
Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hlm. 146.
61

Data primer dalam penelitian ini adalah:

1) Kepala sekolah sebagai sumber data meliputi data sekolah, visi misi,

kegiatan pembelajaran dan lain-lain

2) Guru kelas sebagai sumber data meliputi kegiatan pembelajaran terkait

strategi pembelajaran, evaluasi, media pembelajaran, pengkondisian kelas,

metode pembelajaran dan lain-lain.

3) Guru pendamping Khusus (GPK) sebagai sumber data meliputi

pendampingan pada anak berkebutuhan khusus (slow learner)

4) Siswa kelas dan siswa berkebutuhan khusus klasifikasi slow learner (jika

memungkinkan)

b) Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti

dari sumber-sumber yang sudah ada diantaranya diperoleh dari perpustakaan

atau dari laporan-laporan peneliti terdahulu.67 Sumber data sekunder pada

penelitian ini didapat dari dokumen-dokumen penelitian terdahulu mulai dari

jurnal, artikel, skripsi, maupun thesis, data lain juga didapat dari dokumen-

dokumen yang telah tersedia di sekolah.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

67
Ibid, hlm. 147.
62

a) Teknik wawancara

Wawancara merupakan suatu kegiatan percakapan tertentu yang dilakukan

oleh pewawancara dan terwawancara, guna untuk memperoleh informasi atau

tujuan tertentu.68 Wawancara yang dilakukan peneliti yakni wawancara

terstruktur dengan mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu

dalam sebuah instrumen wawancara. Peneliti melakukan wawancara dengan

sumber data yang memiliki korelasi dengan permasalahan dan topik penelitian,

diantaranya yaitu kepala sekolah, guru kelas, guru pendamping khusus (GPK).

Hasil wawancara akan dituangkan dalam bentuk transkrip wawancara dengan

pemberian kode tanggal serta waktu wawancara.

1) Wawancara Kepala Sekolah untuk memperoleh data tentang, profil sekolah,

visi misi, program unggulan sekolah, dan beberapa agenda sekolah lainnya.

2) Guru Kelas dan Guru Pendamping Khusus kelas-kelas dengan siswa lamban

belajar untuk memperoleh data mengenai kondisi anak lamban belajar,

strategi pembelajaran, evaluasi, media pembelajaran, pengkondisian kelas,

metode pembelajaran, serta pendampingan untuk anak lamban belajar.

3) Siswa kelas sebagai pihak yang mengetahui dan mengalami situasi langsung

keseharian dari proses pembelajaran.

b) Metode observasi

Teknik observasi yang dilakukan peneliti adalah teknik terstruktur yakni

observasi yang disusun secara sistematis terhadap hal yang akan diamati.69

68
Lexy [Link], Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2013),
Hal.186.
69
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D )
(Bandung:Alfabeta, 2010), Hal.205.
63

Peneliti melakukan pengamatan secara langsung selama proses pembelajaran,

yakni meliputi bagaimana model pembelajaran yang digunakan dalam

pelaksanaan pembelajarandalam beberapa kelas yang terdapat siswa dengan

lamban belajar di dalamnya. teknik evaluasi, pengkondisian kelas, penataan

bangku, media pembelajaran, dan materi pembelajaran.

c) Teknik dokumentasi

Teknik dokumentasi ini dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap

catatan yang berkaitan dengan fokus penelitian. Pada penelitian ini

dokumentasi dilakukan dengan melakukan pengamatan pada rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP), raport anak berkebutuhan khusus, kriteria

ketuntasan minimal (KKM) siswa berkebutuhan khusus, soal- soal evaluasi

bagi anak berkebuthan khusus, foto penataan bangku, foto saat pembelajaran

berlangsung.

F. Analisis Data

Suatu upaya pengorganisasian data, memilah data, mensistesikan, dan

menemukan pola hingga menemukan apa yang penting dan dipelajari hingga

memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain.70 Pada penelitian yang

akan dilakukan oleh peneliti ini, nantinya peneliti akan menggunakan model

analisis data dari Miles dan Huberman, dimana terdapat 3 tahapan yaitu reduksi

data (data reduction), penyajian data (data display), penarikan kesimpulan

(conclution drawing/verification).71

70
Lexy [Link], Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2013), Hal.
248.
71
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,
(Bandung:Alfabeta, 2013), Hal. 337.
64

a) Reduksi data (data reduction)

Data yang telah diperoleh akan direduksi secara terus menerus selama

penelitian berlangsung. Peneliti akan mereduksi data-data yang penting dan

menjadi pokok pembahasan. Data yang direduksi merupakan data hasil

wawancara, observasi, serta dokumentasi. Peneliti akan menggunakan 3

kertas HVS sebagai media untuk mempermudah pengelompokan. Kertas

HVS berwarna biru digunakan untuk mengelompokkan data yang

membahas fokus penelitian 1, kertas HVS berwarna kuning akan

digunakan untuk mengelompokkan data yang membahas fokus penelitian

2.

Peneliti juga akan melakukan pengkodian pada data yang telah

diperoleh dengan teknik-teknik pengumpulan data yang telah disebutkan,

yakni wawancara (W), observasi (O), dokumentasi (D). Selain pengkodian

pada teknik pengumpulan data, pengkodian selanjutnya digunakan pada

narasumber penelitian yakni Kepala Sekolah (KS), Guru Kelas (GK), Guru

Pendamping Khusus (GPK), Siswa (S). Peneliti melakukan pengumpulan

data, yang didapat dengan teknik wawancara, observasi, dokumentasi

terhadap data-data yang dibutuhkan.

b) Penyajian Data (Data Display)

Penyajian data merupakan sekumpulan informasi yang dapat digunakan

dalam proses penarikan kesimpulan serta pengambilan tindakan

selanjutnya. Penyajian data oleh peneliti nantinya akan berupa deskripsi


65

dari data-data yang telah di dapatkan, bagan yang disertai penjelasan dan

hubungan antar kategori.

Pengajian data hasil wawancara akan dituliskan dengan sistematika

menjorok ke dalam, dan jika dalam bentuk tabel maka akan disajikan

dengan keterangan judul tabel dan penomoran, begitupula untuk gambar.

Penyajian data yang demikian akan mempermudah peneliti untuk

memahami hal yang sedang terjadi dan informasi yang masih kurang

sehingga harus dilakukan kembali.

c) Penarikan Kesimpulan (conclution drawing/verification)

Pada tahap ini peneliti akan penyampaikan jawaban atas fokus penelitian

yang telah dibahas dalam penelitian tersebut. kesimpulan yang telah

diperolah akan diferifikasi serta diuji kebenarannya, kecocokan serta

kekuatannya, sehingga akan menghasilkan jawaban yang teruji

kevalidannya.

G. Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data merupakan langkah untuk melakukan pembuktian

bahwa penetilian yang dilakukan ilmiah atau tidak, sehingga diperlukan suatu

derajat kepercayaannya.72

72
Lexy J Moeloeng, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosdakarya,2002), Hal.
320.
66

a) Triangulasi

Triangulasi adalah pemeriksaan atau pengecekan keabsahan data dengan

menggunakan: (1) banyak sumber data (2) banyak teknik pengumpulan

untuk konfirmasi data (3) banyak waktu (4) banyak penyidik.73

Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek informasi

atau data dari sumber yang berbeda.74 Triangulasi sumber pada penelitian

ini dilakukan dengan pengecekan data dari guru kelas, guru pendamping

khusus, dan siswa di kelas tersebut. jika data yang didapatkan sama/sesuai

maka data tersebut valid.

Tirangulasi teknik berarti membandingkan dan mengecek informasi atau

data yang diperoleh dari metode pengumpulan data yang berbeda-beda.75

Teknik ini dilakukan dengan mencocokkan hasil wawancara beberapa

informan dengan observasi langsung, sehingga didapatkan apabila antara

hasil wawnacara dengan hasil observasi sesuai maka dapat dikatakan data

tersebut valid.

Tiangulasi waktu berarti peneliti melakukan pengecekan data dengan

waktu yang berbeda.76pengamatan tidak hanya dilakukan sekali

pembelajaran tetapi bebrapa kali pembelajaran.

Triangulasi penyidik berarti membandingkan data yang diperoleh

peneliti yang satu dengan peenliti yang lain.77

73
Nurul Ulfatin, Metode Penelitian Kualitatif Dibidang Pendidikan Teori Dan Aplikasinya,
(Malang: Media Nusa Creative, 2017), hlm. 278.
74
Ibid, hlm. 278.
75
Ibid, hlm. 279.
76
Ibid, hlm. 279.
77
Ibid, hlm. 279.
67

b) Perpanjangan waktu pengamatan

Semakin lama pengamatan maka data yang dikumpulkan semakin banyak

dan semakin dalam.

c) Pengecekan teman sejawat

Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan teman-teman peneliti yang

memiliki penngetahuan umum yang sama dan melakukan diskusi.

H. Prosedur Penelitian

Kegiatan penelitian yang akan dilakukan peneliti dilakukan secara terstruktur

dan sisematis. Tahapan atas prosedur penelitian yang akan dilakukan oleh

peneliti dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut ini:

a. Tahap Pra Lapangan

1) Menyusun Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian akan disusun oleh peneliti sebagai patokan apa saja

yang harus dilakukan selama kegiatan penelitian berlangsung. Sehingga

penelitian akan berjalan secara sistematis sesuai dengan alurnya.

2) Pemilihan Lokasi Penelitian

Tahapan ini merupakan tahapan yang sangat penting, pemilihan lokasi

yang dilakukan oleh peneliti dilandaskan atas latar belakang fenomena

yang benar adanya terjadi di lokasi tersebut. Berangkat dari fenomena

tersebut peneliti memutuskan untuk memilih Sekolah Dasar

Muhammadiyah 2 Tulangan sebagai lokasi tempat penelitian akan

dilakukan.
68

3) Mengurus Perizinan Penelitian

Sebelum penelitian dilakukan peneliti akan melakukan kunjungan atau

observasi sederhana terlebih dahulu di Sekolah Dasar Muhammadiyah 2

Tulangan dan secara lisan menyampaiakan tujuan kami untuk mengangkat

fenomena yang terjadi di SD tersebut guna tugas skripsi peneliti. Setelah

mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah, kemudian peneliti mengurus

perizinan secara formal dengan membrikan surat penelitian kepada pihak

sekolah yang akan digunakan sebagai lokasi penelitian.

4) Mengenali Lingkungan Lokasi Penelitian

Pada tahap ini peneliti akan mencoba untuk masuk pada lingkungan lokasi

penelitiannya. Disamping peneliti melakukan observasi secara sederhana,

peneliti juga akan mengenali lingkungan sekolah tersebut mulai dari

kepala sekolah, guru serta siswanya. Sehingga ketika penelitian

sesungguhnya akan dilakukan peneliti telah mengenali dan akrab dengan

lingkungan lokasi penelitian.

5) Mempersiapkan Perlengkapan Penelitian

Sebelum penelitian dilakukan peneliti akan mempersiapkan secara matang

kebutuhan ataupun keperluan yang akan digunakan selama proses

penelitian berlangsung, seperti halnya instrument, kamera, flashdisk serta

keperluan lainnya.

b. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Pada tahapan pelaksanaan penelitian nantinya peneliti akan melakukan

kegiatan sebagai berikut :


69

1) Observasi

Observasi yang akan dilakukan peneliti nantinya akan dilakukan secara

langsung dengan mendatangi lokasi yang dijadikan sebagai tempat

penelitian yaitu Sekolah Dasar Muhammadiyah 2. Pada kegiatan observasi

ini peneliti akan berperan sebagai pelaksana, pengamat, hingga pengambil

data.

2) Wawancara Kepala Sekolah

Peneliti akan melakukan wawancara kepada sekolah tentang pandangannya

secara umum terhadap pengelolaan sekolah inklusi, serta menayakan hal

yang berhubungan dengan program atau kegiatan sekolah yang menunjang

keberhasilan pelaksanaan pendidikan inklusi.

3) Wawancara Kepada Guru Kelas

Wawancara kepada guru kelas dengan pokok bahasan tentang proses

pembelajaran bagi siswa lamban, serta upaya-upaya yang dilakukan agar

pembelajaran yang dilakukan dapar berlangsung secara efektif.

4) Wawancara Guru Pendamping Khusus

Wawancara kepada Guru Pendamping Khusus dengan pokok bahasan

tentang bagaimana penanganan anak laban belajar ketika proses

pembelajaran berlangsung.

5) Wawancara Siswa

Kegiatan ini akan dilakukan untuk mendapatkan data terkait dengan

pelaksanaan pembelajaran pada kelas-kelas inklusi dengan siswa lamban

belajar di dalamnya.
70

6) Menelaah Teori yang Relevan

Tidak hanya dibutuhkan observasi semata, namun peneliti nantinya juga

akan mengintegrasikan fakta yang telah didapat dengan teori yang relevan

dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Hal tersebut

diharapkan akan mampu menguatakan anatara hasil penelitian yang akan

peneliti lakukan, serta dari hasil penelitian yang telah dilakukan nantinya

mampu menguatkan teori yang telah ada. Sehingga hasil penelitian

tersebut dapat memberikan penguatan pengetahuan yang berkaiatan

dengan topik penelitian yang akan dilakukan.

7) Mengidentifikasi Data

Peneliti akan melakukan tahap identifikasi data yang nantinya akan

terkumpul mulai dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.

Peneliti akan memilah-milah data yang sesuai dengan pendukung

keperluan kebutuhan penelitian. Sehingga dengan dilakukkannya hal

tersebut peneliti akan mudah dalam mencari tau data yang sudah

terkumpul ataupun data yang masih perlu untuk dicari.

c. Tahap Terakhir Penelitian

Pada tahapan akhir penelitian ini, peneliti akan menyajikan data yang telah

diperoleh melalui teknik yang telah ditentukan dalam bentuk deskriptif.

Peneliti akan menyajikan fakta-fakat yang diperolehnya serta

mengintegrasikan dengan teori yang relevan dengan topik penelitiannya.

Sehingga peneliti nantinya akan mampu menganalisis data-data penelitian

sehingga tercapailah tujuan penelitian yang peneliti inginkan.


BAB IV

PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

A. Paparan Data

Hasil penelitian merupakan paparan data yang didapat melalui penelitian

lapangan yang sesuai dengan fokus permasalahan yang yang terdapat dalam

skripsi. Berdasarkan fokus penelitian yang digunakan dalam skripsi ini maka

paparan data yang akan disajikan akan dimulai dengan data yang berhubungan

dengan kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner dan juga bagaimana

penyelenggaraan pembelajaran bagi anak slow learner meliputi pengelolaan

lingkungan kelas, dari formasi bangku, sarana prasarana, bahasa yang

digunakan dalam penyampaian materi, posisi duduk, juga akan dibahas tentang

perangkat pembelajarannya seperti bahan ajar, alat evaluasi, RPP.

Selanjutnya akan dibahas pula terkait model pembelajaran yang digunakan

guru dalam melaksanakan pembelajaran bagi anak slow learner, juga terkait

strategi pengajaran untuk anak slow learner di SD Muhammadiyah 2 Tulangan.

Sampel subjek penelitian pada penelitian ini adalah siswa slow learner yang

terdapat di kelas V, subjek berinisial KA.

1. Deskripsi Tempat Penelitian

a. Latar Belakang Sekolah Menyelenggarakan Pendidikan Inklusi

SD Muda Tusida adalah akronim dari Sekolah Kreatif SD

Muhammadiyah 2 Tulangan berdiri pada Tahun 2006 di Desa

Kemantren RT 001 RW 002 Kec. Tulangan. Tujuan awal di dirikan

71
72

AUM (Amal Usaha Muhammadiyah ini) untuk mengembangkan

potensi dakwa islam khususnya di daerah Kemantren dan kabupaten

Sidoarjo secara umum. Visi utamanya adalah menjadi sekolah yang

religious, berakhlaqul karimah, dan berprestasi. Konsep pembelajaran

yang diusung adalah “Edutainment Learning”, yaitu sebuah konsep

yang menggabungkan antara bermain dan belajar. Seperti yang kita

ketahui bersama bahwa dunia anak tidak pernah terlepas dari BCM

(Bermain, Cerita, dan Menyanyi). Maka disini anak diberikan berbagai

pendekatan dan strategi yang tidak jauh dari BCM untuk memudahkan

proses penyampaian materi pelajaran.

Sekolah ini merupakan sekolah dengan setting pendidikan inklusi.

Sekolah menerima siswa berkebutuhan khusus untuk belajar bersama

siswa-siswa lain di kelas reguler dengan berbagai pelayanana

pendukung sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Sekolah

menjadi sekolah dengan setting pendidikan inklusi dikarenakan

kebutuhan masyarakat sekitar akan pendidikan inklusi bagi anak-anak

yang memiliki kebutuhan khusus. Sedangkan sekolah yang menerapkan

pendidikan inklusi masih jarang ditemui dan beberapa sekolah inklusi

memiliki jarak tempuh yang lumayan jauh. Sehingga dengan adanya

sekolah ini diharapkan dapat menjadi solusi masyarakat akan

permasalahan tersebut dikarenakan lokasi sekolah yang dekat dengan

tempat tinggal masyarakat, sehingga jarak tempuh yang dimabil relatif

dekat.
73

b. Pengelolaan Pendidikan Inklusi

Mulai dari awal awal berdirinya sekolah ini sudah menerima PDBK

(Peserta Didik Berkebutuhan Khusus), akan tetapi belum ada kebijakan

khusus yang mengatur tentang GPK (Guru Pendamping Khusus) dan

juga SK (Surat Keputusan), barulah pada tahun 2013 SD

Muhammadiyah 2 Tulangan memperoleh SK dari diknas Sidoarjo

sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Pada tahun 2014 SD

Muhammadiyah 2 Tulangan mendapatkan penghargaan dan juga

piagam dari Bupari Sidoarjo sebagai kategori 5 besar sekolah

penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten Sidoarjo.

Sekolah inklusi memiliki manajemen khusus untuk mengelola

sekolah. Pertama terkait manajemen kesiswaan. Sekolah memberikan

kesempatan dan juga peluang kepada anak berkebutuhan khusus untuk

dapat mengikuti pendidikan di sekolahnya. Untuk memudahkan

pengelolaan kelasnya dibatasi tidak lebih dari 2 siswa berkebutuhan

khusus pada masing-masing kelas.

Kedua adalah manajemen kurikulum. Kurikulum yang digunakan di

kelas inklusi adalah kurikulum reguler yang dimodifikasi sesuai dengan

kemampuan dan kebutuhan masing-masing siswa berkebutuhan

khusus. modifikasi yang dilakukan meliputi modifikasi alokasi waktu,

modifikasi isi/materi, modifikasi proses belajar-mengajar, modifikasi


74

sarana-prasarana, modifikasi lingkungan belajar, dan modifikasi

pengelolaan kelas.

Ketiga manajemen tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan di

sekolah meliputi tenaga pendidik (guru), pengelola satuan pendidikan,

pustakawan, laboran, dan teknis sumber belajar. Sedangkan untuk guru

yang terlibat di sekolah inklusi adalah guru kelas, guru mata pelajaran

(pendidikan agama islam, bahasa inggris, serta pendidikan jasmani,

olahraga dan kesehatan), dan juga guru pendamping khusus.

Keempat manajemen saran prasarana. Selain menggunakan sarana

prasarana yang sama seperti anak-anak lain. Anak berkebutuhan khusus

juga membutuhkan sarana prasarana yang menunjang ketunaan yang

dialami masing-masing siswa, selain komponen sekolah seperti gedung

sekolah, kantor, laboratorium, sekolah juga menyediakan ruang sumber

untuk anak berkebutuhan khusus, dan juga fasilitas hitech dan juga

lowtech.

c. Konsep Sekolah

a. Sekolah Muhammadiyah. Sekolah kreatif SD Muda Tusida

mengajarkan kurikulum muhammadiyah yang terkenal yakni AL

Islam

b. Sekolah kreatif. Menyajikan berbagai konsep kreatifitas dalam

kegiatan pembelajaran antara lain:

i. Model pembelajaran pakemi


75

ii. Kegiatan indoor dan outdoor

iii. Desain kelas yang unik

iv. Metode KBM yng bervariatif sesuai kondisi perserta didik

c. Sekolah inklusi. Semua anak adalah bintang. Setiap anak memiliki

kekurangan dan kelebihan. Sekolah kreatif SD Muda Tusida hadir

di tengah-tengah masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang

siap menjadikan anak-anak menjadi generasi yang religius,

berakhlaqul karimah, dan berprestasi tanpa membeda-bedakan

kondisi anak.

1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD

Muhammadiyah 2 Tulangan

Peneliti melakukan observasi secara langsung di kelas V Honai

yakni kelas dimana KA belajar, selama bulan Desember 2019 sampai

januari 2020 Pada hari senin tanggal 9 Desember, dan juga kelas V Sasadu

yakni kelas dimana MA belajar. Peneliti melakukan pengamatan terkait

bagaimana kondisi kesulitan belajar pada KA dan juga MA saat belajar di

kelas.78

1.) Kondisi kesulitan belajar pada KA siswa kelas V Honai

Agar mengetahui bagaimana kondisi kesulitan belajar pada KA

maka peneliti melakukan observasi dengan menggunakan instrumen

78
Observasi, kegiatan pembelajaran di runag kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 9 Desember
2019.
76

yang diadopsi dari mulyadi.79 Nani Triani dan Amir80, dan Mubair

Agustin.81

Tabel 4.1
Hasil Observasi Tentang Kondisi Anak Slow Learner KA

NO KRITERIA CHEKLIST

1 Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada 

umumnya yang memiliki usia sama.

2 Konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga hanya 

memiliki durasi waktu yang terbatas

3 Mengalami kesulitan dalam berkomunikasi baik dalam 

ekspresif maupun komunikasi dua arah

4 Kesulitan dalam mengarahkan diri (self dirention) 

5 Memiliki emosi yang kurang stabil, seperti cepat marah, dan

sensitif

6 Kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal 

yang telah dipelajari.

7 Membutuhkan waktu yang panjang dan lama dalam 

menangkap sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk

melupakan pembelajaran yang telah dipahaminya.

8 Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan

pendiam

79
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
80
Nani Triani dan Amir, Pendidikan ABK Lamban Belajar (Slow Learner) (Jakarta: Luxima,
2016), hlm. 6
81
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru ,
Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 3
77

9 Kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, serta 

kurangnya kemampuan dalam menentukan kesalahan-

kesalahan yang dibuat.

10 Kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis, 

memecahkan sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam

berfikir kritis.

Berdasarkan hasil observasi tersebut menunjukkan bagaimana kondisi

kesulitan belajar pada KA. Peneliti juga melakukan wawancara dengan

guru yang mengajar di kelas KA sebagai narasumber dalam penelitian ini.

Beliau adalah Ustadzah L (Guru Kelas), Ustadzah VA (Guru Pendamping

Khusus), Ustadzah W (Penanggung Jawab Inklusi), Ustadzah N (Guru

Bahasa Inggris) terkait kondisi kesulitan belajar pada KA

Hasil wawancara dengan ustadzah VA (Guru Pendamping Khusus)

tentang kondisi KA saat pembelajaran berlangsung terkait dengan

kecerdasan KA

“Kecerdasan KA lebih rendah dibandingkan dengan teman-teman


sekelasnya yang memiliki uisa sama, dikarenakan dari segi IQ saja
sudah berbeda, meskipun sama usianya dengan teman-teman
kelasnya tetapi usia mentalnya masih jauh dibawahnya. Dalam artian
KA sekarang usianya 11 tahun tetapi mentalnya itu masih kayak usia
8-9 tahun.”82

Kecerdasan KA yang lebih rendah juga ditunjukkan dengan

rendahnya pemahaman-pemahaman terhadap materi pembelajaran.

82
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
78

Keterangan lebih lanjut diampaikanoleh ustadzah L yang merupakan guru

kelas KA yakni

“Kecerdasan yang dimiliki KA jika dibandingkan dengan teman


sekelasnya lebih rendah, karenakan indikasinya dari pemahaman-
pemahaman materi pelajaran yang lebih rendah dari temen-
temannya.”83

Indikasi-indikasi lebih rendahnya kecerdasasn KA juga terlaihat

melalui kurangnya kemampuan dalam komunikasi dua arah, dan juga KA

masih sangat membutuhkan bimbingan dari guru pendampingnya ketika

menyelesaikan evaluasi pembelajaran yang diberikan. Ustadzah N yang

merupakan guru bahsa inggris KA menyampaikan bahwa

“KA dari waktu saya ngajar nggeh sudah kelihatan kalau dia itu
kecerdasannya lebih rendah dibandingkan temen-temennya yang
lain, jadi dia itu kurang nyambung klau misalnya diajak ngomong
atau ditanyain itu jawabanya cenderung nggak nyambung, kalau
sedang mengerjakan worksheet dia harus bener-bener dituntun
satu-satu. Yah itu tadi mungkin salah satu indikasi bahwa
kecerdasan dia sedikit kurang dibanding teman-teman yang
lain.”84

KA memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dari pada teman-teman

kelasnya, sehingga dalam memahami suatu materi pembelajaran guru

pendampingnya maupun guru yang mengajar di kelasnya harus

mengulang-ulangi materi pembelajaran beberapa kali dulu hingga KA

dapat memahami materi yang disampaikan. Hal tersebut disampaikan

ustadzah VA guru pedamping khusus KA

83
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
84
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
79

“Kemampuan dalam memahami materi itu sedikit susah jadi harus


diulang berkali-kali kalau ngajarinnya, baru nanti dia bisa paham,
dan kalau sudah paham dia cepet lupa. Diajarinnya susah tapi kalau
sudah bisa cepet lupanya juga, jadi intinya ya sabar aja diulang-ulang
sampai dia paham lagi.”85
Kemampuan KA dalam memahami materi pembelajaran membutuhkan

durasi waktu yang panjang. Seperti keterangan Ustazah L sebagai guru

kelas meyampaikan

“Kemampuan KA dalam menangkap pembelajaran butuh waktu


yang panjang dan berulang-ulang dengan tema yang sama sehingga
dia memang membutuhkan pendampingan yang khusus untuk
membantunya dalam menguasai materi dalam jangka waktu yang
panjang”86
Untuk memahamkan KA dalam pembelajaran, materi yang diampaikan

haruslah diulang-ulang beberapa kali. Sejalan dengan pendapat Ustadzah

N guru bahasa inggris KA

“Untuk memahami materi yang diajarkkan dia itu susah sekali


nyantolnya jadi harus diulang-ulang berkali-kali dulu pelan-pelan,
baru nanti dia ngerjain worksheet yang diberikan”87
Ketika KA sudah memahami materi yang telah diajarkan secara berulang-

ulang dan dengan penyampaian yang pelan, hanya berselang beberapa jam

atau bahkan menit setelahnya dia akan mudah lupa dengan hal-hal yang

telah dipelajarinya. Seperti keterangan yang disampaikan ustadzah VA

yang merupakan Guru pendamping Khusus KA sebagai berikut,

“Kemampuan dalam mengingat kembali hal-hal yang sudah


dipelajari itu rendah sekali, dia haya bisa mengingat yang sudah

85
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB

86
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
87
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
80

dipelajari itu selama 30 menit, setelah 30 menit dia akan lupa tadi
sudah belajar apa, jadi misalkan pelajaran yang dipelajari hari ini
dilanjutkan pada hari berikutnya maka saya harus mengulang lagi
yang saya ajarkan kemarin. Jadi ya diulang-ulang lagi dari awal,
mungkin dia ingetnya cuma satu atau dua dari yang sudah
diajarkan”88

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh ustadzah L sebagai guru kelas


KA yakni,

“Kemampuan dalam mengingat kembali materi yang sudah


diajarkan memang tidak seperti teman-teman lainnya, materi yang
disampaikan harus diulang-ulang beberapa kali yah karena
kemampuan dia untuk mengingat sesuatu itu memang rendah
sekali”89

Saat ustadzah sedang menjelaskan materi KA cenderung kurang fokus

sibuk sendiri dengan dunianya durasi fokus yang dia miliki hanya sekitar

5 menit. Hal tersebut disampaikan oleh guru pendamping khusus ustadzah

VA sebagai berikut,

“Konsentrasi KA hanya bertahan selama 5 menit, setelah 5 menit dia


kembali mainan dan sebagainya, jadi misalkan 5 menit pertama trus
dia main lagi, diingatkan lagi main lagi, begitu seterusnya, jadi tiap
5 menit itu mengingatkan lagi.”90

Konsentrasi KA yang mudah teralihkan terlihat saat pembelajaran

berlangsung dia sibuk dengan dunianya sendiri. Guru bahasa inggris

ustadzah N menyampaikan

“Fokusnya KA itu kurang, jadi paling Cuma tiga sampai empat


menit, misalnya saat saya neranginpun itu dia sibuknya ke yang lain,
main pensil atau lihat ke sana sini, memang dia ndak gangguin, ndak

88
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
89
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
90
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00WIB
81

jalan-jalan tapi dia nggak bisa fokus paling fokusnya cuma dua
sampai tiga menit. Kalau misalnya dia sudah ndak fokus jadi
biasanya saya panggil atau saya suruh maju ke depan, atau saya
suruh ngulangin, ini tadi bacanya apa”91

Untuk ukuran anak sesusia KA durasi waktu konsentrasi yang demikian

bisa dikatakan bahwa konsentrasinya mudah teralihkan. Guru kelas

ustadzah L menyampaikan bahwa

“Konsentrasi KA tergolong sangat kurang sekali untuk ukuran


anak sebayanya yang menyebabkan ahirnya input dia dalam
pembelajaran itu sangat kurang sehingga dia tertinggal jauh dengan
teman-temannya”92
Saat berada dalam kelas KA masih mengobrol dengan teman-temannya

tetapi tidak seintens seperti anak-anak lainnya karena kemampuan nya

dalam komunikasi dua arah masih kurang, dia bisa merespon pertanyaan-

pertanyaan sederhana saja. Akan tetapi untuk mengekspresikan emosinya

dia bisa hanya terkadang antara ekspresi dan emosi yang dirasakannya

sedikit terbalik-balik. Seperti keteragan ustadzah N Guru pendamping

bahasa inggris KA

“Kemampuan komunikasinya KA kalau untuk komukasi ya


memang agak gak nyambung, kalau diajak ngomong gitu ditanya
apa jawabnya apa, kadang ngga fokus kan anaknya ngga lihat
lawan bicaranya, ngelihatnya kemana-mana makannya dia nggak
nyambung kalau diajak bicara. Kalau untuk mengeksprsikan nggak
ada problem sih menurut saya, kalau dia lagi seneng ya kadang dia
cerita, ustdzah kemarin aku habis nonton, sama mama sama kakak
gitu, kalau misalnya dia lagi nggak mood gitu dia diem trus
ditanyain KA kenapa, dia jawabnya aku sedih. Gitu sih. Jadi saya

91
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
92
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
82

kira untuk mengekspresikan emosinya dia nggak ada problem


sih.”93
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan ustadzah VA sebagai Guru

pendamping khusus KA

“Kemampuan komunikasi KA untuk komunikasi dua arah masih


susah, bisa diajak komunikasi tetapi harus menggunakan bahasa-
bahasa yang sederhana. Kalau komunikasi untuk mengekspresikan
diri dia cenderung dengan ketawa, misalkan dia dijahilin atau
dicubit temannya dia akan bilang “hehe sakit, atau hehe jangan
gitu”, meskipun yang dia rasakan adalah perasaan kurang nyaman
maupun sakit dia mengekspresikannya dengan ketawa, jadi antara
yang dia rasakan dengan bahasa untuk menyampaikan
erkespresinya kurang nyambung.”94

Hal serupa juga disampaikan ustadzah L Guru kelas KA sebagai berikut

“KA memiliki hambatan komunikasi yang menyebakan dia kurang


bisa menyatu dengan teman-temannya yang melakukan
komunikasi verbal, dan topik-topik bahasan anak-anak pada
umumnya karena indikasi yang dia tunjukkan itu seperti anak
kecil”95

Dikarenakan kemampuan dia dalam komunikasi dua arah masih

mengalami kesulitan maka ketika di dalam kelas dia bersosialisasi dengan

teman-temnnya seperlunya saja, seperti pernyataan dari Ustadzah VA guru

pendamping khusus KA

“Kemampuan bersosialisasinya lumayan, karena dia anaknya


sedikit periang jadi bukan yang diem banget, kalau sosialisai
dengan temannya ya secukupnya karena kadang kalau dia diajak
ngobrol sama temannya jawabannya ngga nyambung, kalau dateng

93
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
94
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
95
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Demsember pukul 12.30
WIB
83

ke kelas juga dia pergi ke pojok kelas ke sudut baca buat baca buku-
buku komik bergambar yang untuk anak-anak tk atau kelas
bawah.”96

Kesulitan KA untuk bersosialisai terlihat karena dia kerap menyendiri di


pojok ruang kelas yakni di sudut baca. Ustadzah L guru kelas KA
menyatakan
“KA kurang dalam bersosialisasi karena dia cenderung
menyendiri, komunikasi dengan teman-temannya juga hanya
sekedarnya saja, tetapi terkadang dia masih suka cerita-cerita ke
ustdaz, ustadzahnya dan juga ke temean-temannya”97
Begitu pula dengan pernyataan ustadzah N sebagai guru bahasa inggris

KA

“Dalam bersosialisasi, dia masih bisa sih masih main-main sama


temannya, tapi yaa sekedarnya saja. Kadang-kadang tiba-tiba cerita
random ketemen-temennya cerita cinderella, ke ustdz siapa gitu
juga kadang-kadang crita”98

Saat di dalam kelas KA masih bisa bersosialisasi dengan teman-temaannya

meskipun terkadang dia menyendiri di pojok kelas baca-baca buku

dongeng di sudut baca, hal itu dikarenakan KA memiliki emosi yang

lumayan stabil, KA bukan tipe anak yang mudah marah ataupun meledak-

ledak tetapi KA sedikit memiliki emosi yang sensitif, terkadang jika

melakukan kesalahan di kelas dia tiba-tiba menangis seperti keterangan

ustadzah VA guru pendamping khusus sebagai berikut,

“Emosi KA bisa dikatakan lumayan stabil, tetapi dia sedikit


sensitif, kayak misalnya hari itu dia salah memakai seragam
sekolah nanti dia ketemu bundanya itu sambil nangis dan bakalan

96
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
pukul 12.00 WIB
97
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
98
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
84

inget kejadian itu sampai minggu selanjutnya, bukan hanya inget


dia akan ngungkit-ngungkit hal itu sampai kira-kira minggu
selanjutnya. Tapi KA ini nggak mudah marah, sensitifnya bukan
yang mudah ngamuk meledak-ledak, karena dia tipe-tipe anak
yang ceria.”99

Jika terdapat hal-hal yang kurang berkenan, KA bukan tipe anak yang

meledak-ledak dengan emosi yang tidak terkontrol akan tetapi dia

cenderung mengutarakan apa yang dirasakannya, seperti Pernyataan

ustadzah N guru bahasa inggris mengatakan bahwa emosi KA lumayan

stabil,

“Emosi KA itu cenderung anaknya lebih stabil, kalaupun ada


sesuatu yang nggak cocok itu dia ahh kamu itu bukan begitu, jadi
cuma gitu aja , yaah masih wajar lah, bukan yang kayak tantrum
marah-marah gitu. Dia juga tidak terlalu sensitif, jadi hampir saya
belum pernah melihat dia nangis, kalau wkatu saya, ndak tau juga
kalau bukan waktu saya ngajar.”100

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Guru kelas KA, yakni ustadzah L
yang menyatakan

“Permasalahan emosi seperti mudah marah atau meledak-ledak


tidak terjadi pada KA, dia hanya cenderung lebih sensitif”101

Ketika dalam kelas KA masih kesulitan dalam komunikasi dua arah, maka

kemampuan dia ketika terdapat materi yang mengharuskannya untuk

mendeskripsikan, menganalisis, atau bahkan berpiki kritis tentu saja masih

kesulitan, KA bisa mendeksripsikan jika benda yang harus dideskripsikan

99
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
100
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
101
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
85

ada secara konkret, jika hanya gambar KA sedikit kesulitan. Seperti

pernyataan ustadzah VA guru pendamping khusus KA sebagai berikut,

“Kemampuan KA dalam mendeskripsikan sebuah benda kurang,


dia bisa kalau bendanya ada konkret di depannya atau
sekalilingnya, tetapi kalau bendanya hanya berupa gambar dia
kesulitan, dia bilang “ini apasih ustadzah” meskipun benda itu
sering ditemui di kehidupan sehari-harinya. Kalau kemampuan
menganalisis, berfikir kreatif dan sebagainya itu dia belum

Jangankan dalam mendeskripsikan benda, KA juga mengalami kesulitan

dalam menentukan ukuran-ukuran benda yang tidak dilihatnya secara

langsung, dalam artian membedakan mana benda yang ukurannya besar

dan mana benda yang ukurannya kecil, seperti pernyataan ustadzah N guru

bahasa inggris KA

“Kalau di bahasa inggris kan ada big small lha untuk KA itu
kayaknya masih kesulitan jadi kayak misalkan bola mana yang
besar, dan bola mana yang kecil dia itu masih lama loadingnya.
Jadi misal bola A ini besar atau kecil, trus lama dia baru jawab,
nanti saya yang nuntun lagi tadi besar apa big atau small, sambil
pelan-pelan saya ulang-ulang”103

Pernyataan ustadzah L guru kelas KA juga relevan dengan pernyataan-

pernyataan di atas yakni

“Kemampuan KA dalam mendeskripsikan, menganalisis, maupun


berpikir kritis sangat kurang, karena mereka masih membutuhkan
pendampingan sehingga untuk kompetensi-kompetensi yang
sedikit susah mereka sangat kesulitan untuk mencapainya”104

102
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
103
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
104
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
86

Ketika kemampuan KA dalam mendeskripsikan suatu benda yang tidak

dilihatnya secara langsung, bendanya tidak konkret di depannya saja masih

kesulitan tentulah kemampuan dalam membuat suatu pedoman kerja, KA

bisa dikatakan sangat kurang seperti keterangan ustadzah L Guru Kelas

KA yakni

“Kemampuan KA untuk membuat pedoman kerja rendah,


kemampuan bersosialisasi saja kesulitan apalagi membuat suatu
pedoman kerja yang membutuhkan kemampuan berbahasa yang
lebih.”105
Ustadzah VA guru pendamping khusus KA juag memberikan pernyataan

yakni

“Kemampuan KA dalam membuat pedoman kerja rendah, dia bisa


tetapi dengan menggunakan bahasa yang sederhana itu, kalau yang
panjang-panjang belum bisa”106
KA juga mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri. Setiap kegiatan

yang harus dia lakukan guru harus terlebih dahulu mengingtakan sekarang

waktunya apa, sekarang waktunya ngapain agar KA dapat mengikuti alur

pembelajaran dan tidak hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Sejalan

dengan keteranagn dair Ustadzah N guru bahasa inggris KA yakni

“Kemampuan mengarahkan dirinya KA itu setahu saya jadi harus


selalu diingetin, jadi misalnya waktunya ngaji itu ayo KA sekarang
waktunya apa, jadi harus yang mesti diingatkan dulu, ayo waktunya
makan sekarang, waktunya seni budaya diambil dulu buku
gambaranya, waktunya ini, waktunya ini begitu”
Berdasarkan hasil waawancara dan observasi yang telah dipaparkan

di atas hampir semua ciri-ciri anak slow learner dapat ditemukan pada KA.

105
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
106
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
87

Hal tersebut dapat dikonfirmasi melalui hasil observasi dan juga

wawancara dengan beberapa guru kelas KA. Sehingga dari dari data yang

telah diperoleh dan dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa hampir

keseluruhan ciri-ciri anak slow learner dapat ditemukan pada KA yakni

sebagai berikut:

Tabel 4.2
Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri KA

No Indikasi Keterangan
1. Kecerdasan KA memiliki kecerdasan yang lebih rendah
dibandingkan teman-teman kelasnya, ditandai dengan
perilakunya yang tidak sesuai dengan umurnya,
pemahaman terhadap materi rendah, jawaban yang
diberikan saat ditanya cenderung tidak nyambung
2. Fokus/konsentrasi Durasi waktu KA dapat berkonsentrasi dalam
pembelajaran sekitar 3-5 menit, setelah itu KA kembali
sibuk dengan dunianya
3. Kemampuan KA mempunyai kemampuan komunikasi yang
komunikasi lumayan bagus, dia mampu untuk melakukan
komunikasi 2 arah jika bahasa yang digunakan
sederhana, kemampuan mengekspresikan emosi juga
lumayan bagus akan tetapi antara emosi yang dirasakan
dengan kalimat untuk berkespresi sering terbalik-balik,
seperti saat marah, sedih atau sakit, tetapi kalimat yang
diguanakan adalah kalimat untuk mengekspresikan
kebahagiaan
4. Kemampuan Setiap hal yang harus dilakukan KA gurunya harus
mengarahkan diri terlebih dahulu mengingatkan
5. Kondisi emosi KA cenderung memiliki emosi yang sensitif seperti
mudah nangis, atau mengungkit kesalahan-kesalahan
orang lain padanya meskipun sudah lama terjadi, akan
tetapi dia bukan tipe yang mudah marah ataupun
meledak-ledak

6. Kemampuan KA memiliki rentan waktu yang relatif pendek untuk


mengingat materi mengingat materi yang sudah dipelajari, kira-kira
hanya sekitar 30 menit setelah materi tersebut dipelajari
7. Pemahaman terhadap Kemampuan KA dalam memahami materi
materi pembelajaran pembelajaran rendah, harus diulang beberapa kali dan
disampaikan dengan pelan-pelan
8. Kemampuan Sosialisai yang dilakukan KA dengan teman-temannya
bersosialisasi lumayan bagus, tetapi tidak sesering seperti teman-
teman yang lain, KA hanya sesekali saja bermain atau
cerita dengan teman-temannya, dia lebih banyak
menyendiri di pojok ruangan baca-baca dongeng di
sudut baca
88

9. Kemampuan Masih sangat kurang, karena kemampuan berbahsa KA


membuat pedoman masih terbatas, kemampuan intelektualnya setara
kerja dengan anak kelas 1-2
10 Kemampuan Kemampuan KA dalam hal ini sangat kurang.
mendeskripsikan, Dikarenakan kemampuan saat berkomunikasi saja
menganalisi, dan masih kurang, apalagi kemampuan-kemampuan
berpikir kritis tersebut yang mengharuskan memiliki kemampuan
berbahasa yang lebih

2.) Kondisi kesulitan belajar pada MA siswa kelas V Sasadu

Subjek penelitian selanjutnya yakni MA, anak slow leaerner yang

berada di kelas V Sasadu, akan tetapi siswa tersebut tidak menggunakan

guru pendamping khusus dalam pembelajarannya. Terkait kondisi

kesulitan belajar pada MA maka peneliti juga melakukan wawancara

dengan menggunakan instrumen yang diadopsi dari mulyadi.107

Tabel 4.3
Hasil Observasi Tentang Kondisi Anak Slow Learner MA

NO KRITERIA CHEKLIST

1 Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada 

umumnya yang memiliki usia sama.

2 Konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga hanya 

memiliki durasi waktu yang terbatas

3 Mengalami kesulitan dalam berkomunikasi baik dalam 

ekspresif maupun komunikasi dua arah

4 Kesulitan dalam mengarahkan diri (self dirention) 

5 Memiliki emosi yang kurang stabil, seperti cepat marah, dan 

sensitif

6 Kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal yang 

telah dipelajari.

107
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
89

7 Membutuhkan waktu yang panjang dan lama dalam menangkap 

sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk melupakan

pembelajaran yang telah dipahaminya.

8 Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan 

pendiam

9 Kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, serta 

kurangnya kemampuan dalam menentukan kesalahan-

kesalahan yang dibuat.

10 Kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis, memecahkan 

sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam berfikir kritis.

Berdasarkan instrumen tersebut peneliti melakukan wawancara dengan

ustadzah SL (Guru Kelas) dan juga ustadz F (Guru Ismuba) terkait kondisi

kesulitan belajar pada MA. Hasil wawancara dengan ustadzah SL terkait

kondisi MA yang pertama yakni terkait dengan kondisi kecerdasan MA

“kecerdasan MA tentu lebih rendah dibandingkan dengan teman-


temannya yang lain, kan terlihat dari kemampuan dia selama
pembelajaran berlangsung, dia itu anaknya harus saya dampingi khusus
kalau saya tidak dampingi disampingnya secara individu dia tidak akan
nyantol materi yang diajarkan”108
Kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan teman-temannya juga

dipaparkan oleh Ustadz F Guru Ismuba MA sebagai berikut:

“Ketika menangkap materi yang saya ajarkan MA itu cenderung kurang


nyantol, dan kalau saya ulangi lagi materinya pun dia tetap masih susah

108
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
90

nyantolnya itulah mengapa saya bisa mengatakan bahwa kecerdasan


MA memang lebih rendah dibandingkan teman-teman kelasnya”109
Selanjutnya wawancara terkait konsentrasinya yang mudah teralihkan

atau mudah pecah sehingga dapat dikatan memiliki durasi konsentrasi yang

singkat. Ustadzah SL Guru kelas MA memberikan keterangannya bahwa

“MA itu mbk kalau dikelas ketika saya menjelaskan diawal-awal saya
lihat dia masih memperhatikan saya, tapi kemudian sekitar 5 menit lah
paling lama, saya noleh ke siswa yang lain waktu saya perhatikan MA
lagi dia sudah sibuk dengan kotak pensilnya, sibuk dengan pensil
warnanya, atau yang lain, intinya apa yang ada dihadapannya itu dibuat
mainan, sudah ndak menghiraukan penjelasan saya lagi, terkadang dia
juga banyak melamum dalam kelas.”110
Pernyataan serupa juga dipaparkan oleh Ustadz F Guru Ismuba MA yakni

sebagai berikut:

“kalau konsentrasi MA ketika pembelajaran itu, dia gampang nolah


noleh kesana kemari, jadi pandangannya nggak bisa fokus
memperhatikan pembelajaran, dia itu noleh sana-noleh sini, jadi ya bisa
dibilang konsentrasi dia itu paling hanya diawal-awal pebelajaran
berlangsung”111
Kemudian terkait dengan kemampuan dalam berkomunikasi MA. Ustadzah

SL Guru kelas MA dan juga Ustadz F Guru Ismuba MA kurang lebih

memberikan pernyataan yang serupa terkait kemampuan komunikasi KA.

Pertama paparan dari Uatadzah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:

“komunikasi MA itu kurang sekali menurut saya, dia ngobrol dengan


teman-temanya sangat jarang sekali, kalau ngobrolpun paling obrolan
yang ringan-ringan, paling ngobrolin dia punya mainan baru atau punya

109
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
110
Wawancara dengan ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
111
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
91

barang baru, untuk komunikasi seperti diskusi pelajaran atau


menanyakan pelajaran dan hal-hal lain yang dirasa termasuk obrolan
berat, MA belum bisa, paling-paling dia biasnaya ngga nyambung
ujung-ujungnya kalau diajak ngobrol yang susah-susah. Karena dia
juga kurang bisa mengawali obrolan dengan orang lain, dia komunkasi
itu biasanya kalau ada yang nanya dulu.”112
Pernyataan Ustadz F Guru Ismuba MA terkait kemampuan komunikasi MA

juga kurang lebih sama yakni kemampuan komunikasinya terbatas, sebagai

berikut:

“kalau selama saya ngajar kemampuan MA ketika komunikasi dengan


temannya itu sedikit rendah, karena dia tidak terlalu sering ngobrol
dengan teman-temannya, paling dia ngobrol untuk cerita itupun jarang,
lainnya dia biasanya diem atau sibuk dengan dunianya sendiri. Kalau
kemampuan dalam berekspresi juga kurang, dia cenderung diam,
terkadang tiba-tiba nangis atau marah, karena mungkin tidak ada yang
bisa memahami sepenuhnya apa yang dia rasakan, karena dia sendiri
juga kadang nggak cerita ke gurunya atau temannya” 113
Selanjutnya terkait kemampuan dalam mengarahkan diri MA bisa dibilang

kurang, hal tersebut didukung oleh pernyatan dari Ustadzah SL Guru Kelas

MA, yakni sebagai berikut:

“kemampuan MA dalam mengarahkan dirinya itu kurang, dia belum


bisa mengarahkan dirinya sendiri kapan waktunya membaca, kapan
waktunya mengerjakan soal, kapan waktunya bermain, hampir
keseluruhan waktunya dia gunakan untuk sibuk dengan dunianya
sendiri main dengan dirinya sendiri, sehingga saya harus selalu
mengingatkan dia untuk kembali fokus belajar, atau waktunya
membaca bersama-sama atau waktunya mendengarkan materi jadi
harus fokus, kurang lebih begitu”114
Ustadz F selaku Guru Ismuba MA juga memberikan keterangan sebagai
berikut:

112
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
113
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
114
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
92

“MA dalam mengarahkan dirinya sendiri itu masih belum bisa, jadi
harus selalu diingatkan terlebih dahulu, atau sekedar dipanggil MA
sekarang waktunya apa hayo, baru dia bisa mengikuti, kalau hanya
dibiarkan dia akan diem saja utek-utek mainan yang kadang dia bawah
dari rumah.”115
Selanjutnya terkait kondisi emosinya yang kurang stabil, seperti mudah

marah dan juga sensitif. Ustadzah SL memberikan keterangan

bahwasannya:

“emosi MA itu kurang stabil dia itu anaknya sensitif, jadi kalau ada
sesuatu yang tidak sesuai kemauannya dia akan nangis, atau marah-
marah, tapi marahnya disini bukan marah yang tantrum dia marahnya
masih dalam batas wajar dan masih bisa dihandle”116
Terkait kondisi emosi MA yang kurang stabil juga di paparkan oleh Ustadz
F Guru Ismuba MA sebagai berikut:
“kondisi emosi MA bisa dikatakan kurang stabil, dia terkadang tiba-tiba
nangis, kan dia kadang juga tiak cerita bagaimana perasaannya, jadi
kalau tiba-tiba nangis juga merupakan problem tersendiri bagi kita,
kadang juga marah-marah, tetapi kalau marah biasanya dibiarkan
dahulu sampai marahnya mulai menurun baru MA bisa didekati,
ditanyai baik-baik”117
Selanjutnya terkait kesulitannya dalam mengingat hal-hal yang telah

dipelajari. Ustadzah SL Guru Kelas MA menyampaikan bahwasannya

“MA itu kalau saya ajari materinya katakanlah hari ini sudah paham,
besok ketika saya tanyai lagi pasti sudah lupa”118
Sejalan dengan pendapat Ustadz F Guru Ismuba MA yakni

115
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
116
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
117
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
118
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
93

“dalam mengingat kembali pelajaran yang sudah diajarkan itu dia


sangat kurang, misalkan sudah saya ajarkan tentang makanan halal dan
haram, nanti ketika saya tanyai lagi dia sudah tidak ingat”119
Selanjutnya kemampuan dalam memahami materi pembelajaran. Ustadzah

SL Guru Kelas MA memberikan paparan sebagai berikut;

“MA ketika memahami materi yang saya ajarkan itu sedikit susah, jadi
saya harus mengulang-ulang materinya minimal tiga kali saya ulangi
penjelasan saya baru dia bisa paham, terkadang kalau materinya bagi
dia terlalu susah untuk dicerna kita lanjutkan besoknya lagi saya ulang
lagi menjelaskan kepada dia, tapi ya tetap diulang-ulang lagi”120
Ustadz F Guru Ismuba MA juga menyatakan hal serupa yakni
“kemampuan MA untuk menangkap pejalaran itu menurut saya sangat
kurang ya mbak, kalau saya ajarkan materi itu saya suruh dia baca dulu
berulang-ulang baru nanti saya jelaskan, menjelaskannya pun tidak
cukup satu kali, saya harus mengulang-ulang penjelasan saya baru dia
bisa memahami materinya”121
Selanjutnya terkait kurangnya inisiatif sehingga cenderung pasif dan

pendiam. Ustadzah SL Guru Kelas MA memberikan keterangannya sebagai

berikut

“MA itu ketika di kelas dia pendiam, biasanya cuma melamun


sendirian, entah apa yang dilamunkan, karena dia juga tidak terlalu
ngobrol dengan temannya, sehingga saya bisa mengatakan kalau MA
itu anaknya cenderung pasif”122
Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan keterangannya sebagai berikut
“kalau dikatakan kurang inisiatif sih sepertinya iya, karena MA itu
kalau dikelas dia menyendiri, tidak gabung-gabung ngobrol atau main

119
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
120
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
121
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
122
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
94

dengan teman-temannya, dia biasanya duduk ditempatnya main sendiri


atau cuma melamun”123
Selanjutnya terkait kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri.

Ustadzah SL Guru Kelas MA menyampaikan pendapatnya bahwa

“kemampuan dalam komunikasi saja masih kurang apalagi


kemampuannya dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, saya rasa
MA belum bisa membuat suatu pedoman kerja sendiri, karena kan
dalam membuat pedoman kerja itu kalimatnya harus nyambung dan
sesuai, sedangkan kemampuan MA belum berada di tahap itu”124
Hal tersebut sejalan dengan pendapat dari Ustadz F Guru Ismuba MA yakni
sebagai berikut
“kalau untuk membuat pedoman kerja sendiri MA belum bisa, ketika
saya ajak untuk mengobrol dengan kalimat yang panjang saja dia masih
kesusahan, apalagi ketika membuat sebuah kalimat untuk pedoman
kerja”125
Terahir terkait kesulitan dalam mendeskripsikan menganalisis, dan berpikir

kritis. Ustadzah SL Guru Kelas MA memberikan keterangannya sebagai

berikut

“kalau untuk mendeskripsikan benda dengan kelimat yang mudah dan


pendek dia masih bisa, akan tetapi untuk kemampuannya dalam
menganalisis, dan juga berpikir kritis dia belum bisa, itu kan
kemampuan yang berada di tahap yang lebih tinggi, sehingga saya rasa
MA masih kesulitan untuk 2 kemampuan tersebut”126
Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan pendapat yang sejalan yakni
“untuk kemampuan menganalisis, dan juga berpikir kritis MA itu masih
belum bisa mbak, ketika saya beri tugas untuk menghafalkan ayat

123
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
124
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
125
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
126
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
95

ataupun hadis yang pendek saja dia sangat kesulitan apalagi untuk
menganalisis dan juga berpikir”127
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dipaparkan di atas semua ciri-

ciri anak slow learner dapat ditemukan pada MA. Hal tersebut dapat

dikonfirmasi melalui hasil wawancara dengan Guru Kelas dan juga Guru

Ismuba MA. Sehingga melalui data yang telah dipaparkan tersebut dapat

disimpulkan bahwasannya pada diri MA terdapat semua ciri-ciri yang

menunjukkan indikasi dari anak slow learner yakni sebagai berikut:

Tabel 4.4
Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri MA

No Indikasi Keterangan
1. Kecerdasan MA memiliki kecerdasan dibawah teman-temannya
yang ditandai dengan kemampuannya ketika
memahami materi pembelajaran yang sangat kurang,
dan kebutuhannya atas bimbingan secara individual
untuk mehamkannya akan materi yang dipelari
2. Fokus/konsentrasi Durasi konsentrasi MA hanya bertahan dalam kurun
waktu yang relatif singkat yakni sekitar 5 menit
pertama, setelah itu MA akan sibuk melamum, noleh
kesana-kesini, atau sibuk dengan dunianya sendiri
3. Kemampuan MA memiliki kemampuan komunikasi yang sangat
komunikasi kurang, dia jarang berkomunikasi dengan temannya
kebanyakan dia hanya melamun sendirian, kalaupun
berkomunikasi mungkin hanya sekedarnya saja seperti
menceritakan mainannya atau barang-barang yang dia
miliki
4. Kemampuan Kemampuan MA dalam mengarahkan diri kurang, MA
mengarahkan diri belum dapat secara mandiri menyadari tugas-tugas
yang harus dikerjakannya, dia masih sangat
membutuhkan bantuan orang lain untuk mengingatkan
tugas tugasnya dan hal yang harus dia lakukan
5. Kondisi emosi MA cenderung memiliki emosi yang kurang stabil, dia
mudah menangis dengan alasan yang tidak terlalu jelas,
dan juga mudah marah apabila yang terjadi tidak sesuai
dengan keinginannya

6. Kemampuan Kemampuan MA dalam mengingat kembali materi


mengingat materi yang telah dipahami relatif singkat, beberapa saat
setelah materi tersebut diajarkan ketika gurunya

127
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
96

mengulas kembali materi tersebut MA sudah


melupakan materi yang telah dipelajarinya tersebut
7. Pemahaman terhadap Kemampuan MA dalam memahami materi
materi pembelajaran pembelajaran rendah, guru harus mengulang minimal 3
kali pengulangan agar MA dapat memahami materi
yang sedang diajarkan
8. Kemampuan Kemampuan bersosialisai MA rendah, MA cenderung
bersosialisasi pendiam dan banyak melamun, Ma cenderung pasif
dalam pertemanan
9. Kemampuan Masih sangat kurang, kemampuan berbahasanya sangat
membuat pedoman kurang untuk sampai pada tahapan dapat membuat
kerja suatu pedoman kerja sendiri
10 Kemampuan Kemampuan untuk mendeskripsikan dengan kalimat
mendeskripsikan, yang pendek lumayan, akan tetapi untuk kemampuan
menganalisi, dan menganalisis dan berpikir kritis masih sangat rendah.
berpikir kritis

2. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah 2

Tulangan

SD Muhammadiyah 2 Tulangan merupakan sekolah yang telah berdiri

sejak tahun 2006. Sejak awal berdirinya sekolah ini telah menjalankan setting

pendidikan inklusi yang hingga saat ini masih berjalan. Hal ini mempengaruhi

bagaimana pengelolaan lingkungan belajar, sarana perasarana yang

disediakan sekolah, dan hal-hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan

pedidikan inklusi agar pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus dapat

berjalan dengan efektif. Termasuk model-model pembelajaran yang

digunakan dalam pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya

anak slow learner yang merupakan klasifikasi ABK terbanyak di sekolah

tersebut.

Pembelajaran bagi anak slow learner di kelas V, terdapat siswa yang

didampingi oleh guru pendamping khusus dalam pembelajarannya dan


97

terdapat pula siswa yang tidak didampingi guru pendamping khusus.

Sehingga dalam pembelajaran di kelas, apabila anak tersebut memiliki guru

pendamping khusus, maka tugas guru kelas dan juga guru mata pelajaran lain

dapat lebih terbantu dalam mencapai tujuan pembelajaran. dan apabila anak

tersebut tidak memiliki guru pendamping khusus maka tugas-tugas

pembelajaran akan dibebankan pada guru kelas dan juga guru mapel sebagai

penyelenggara pemelajaran di kelas.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang mengajar KA (kelas V

Honai) dan juga MA (kelas V Sasadu) penyelenggaraan pembelajaran bagi

anak slow learner dapat ditinjau dari beberapa aspek yakni pengelolaan

lingkungan kelas, perangkat pembelajaran, model pembelajaran, strategi

pengajaran, dan evaluasi pembelajaran.

a. Pengelolaan Lingkungan Kelas, Perangkat Pembelajaran, Model

Pembelajaran, Strategi Pengajaran, dan Evaluasi pembelajaran Pada Kelas

KA

1.) Pengelolaan Lingkungan Kelas

Pengelolaan lingkungan kelas yang tepat akan menjadikan suasana

belajar menjadi kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai

dengan lebih mudah, dan juga efektif. Hal-hal mengenai pengelolaan

lingkungan kelas seperti formasi bangku, sarana prasana yang

menunjang ketunaan siswa, penggunaan bahasa dalam penyampaian

materi, dan juga posisi duduk perlu diperhatikan. Seperti yang

disampaikan oleh ustadzah VA sebagai guru penamping khusus


98

“Formasi duduk untuk KA ketika dikelas bermacam-macam ada


yang berkelompok-kelompok, ada yang leter U, setiap sebulan
sekali formasi duduknya akan diubah-ubah. Letak duduk KA
ketika dalam kelas pun ditentukan oleh guru kelasnya biasanya
tempat duduknya tidak tetap, jadi sistemnya roliing, misalkan
minggu ini dibaris depan, minggu depan dibaris kedua, jadi ketika
sudah ditentukan selama formasinya belum berubah KA akan tetap
duduk ditempat itu begitu juga siswa-siswa lain, atau misal
formasinya grup-grup nanti KA duduk disalah satu grup itu tidak
disendirikan.”128
Pernyataan tersebut sejalan dengan penjabaran dari ustadzah N guru

bahasa inggris KA yakni,

“Pengelolaan kelas terkait dengan formasi duduk, kalau di


kelasnya KA itu kan berubah-ubah kadang kalau later U jadi
tengahnya kan kosong, terus biasanya waktu mengerjakan
worksheet itu anak-anak dibawah sambil lesehan gitu sih. Terkait
dengan posisi duduk itu diroliing jadi minggu ini duduknya disini,
nanti minggu depan disini begitu”129

Gambar 4.1
Pembelajaran Dengan Formasi Duduk Berkelompok

128
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
129
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
99

Pada gambar 4.1 terlihat pembelajaran dilakukan dengan formasi

berkelompok-kelompok. Dengan formasi duduk demikian maka anak-

anak diharapkan dapat melatih kerjasama, dan bagi anak slow learner

mereka akan merasa tidak sendirian dikarenakan akan ada yang

membantu mereka dalam proses pembelajaran.

2.) Perangkat Pembelajaran

Selain dengan formasi duduk yang telah dijabarkan di atas

pembelajaran bagi anak slow learner juga memiliki bahan ajar, media

pembelajaran, dan juga evaluasi pembelajaran yang dibuat khusus untuk

menyesuaikan tingkat kemampuan anak dalam belajar yang disebut

worksheet, dimana dalam worksheet tersebut memiliki tingkat kesukaran

yang lebih rendah. Worksheet tersebut disusun oleh guru pendamping

khsus, akan tetapi dalam pembuatannya berkonsultasi terlebih dahulu

dengan guru kelas dan juga guru mapel. hal tersebut selaras dengan

keterangan yang disampaikan ustadzah VA guru pendamping khusus KA

“Untuk KA dan siswa berkebuthan khusus lainnya itu ada yang


namanya worksheet, worksheet itu guru pendampingnya yang
bikin tetapi konsultasi terlebih dahulu dengan guru kelas dan guru
mapel. Isinya tentang materi pembelajaran pada hari itu karena
untuk KA materi yang ada dibuku mungkin terlalu tinggi levelnya
jadi di worksheet itu materi yang disajikan sama tetapi level
kesulitannya berbeda, dan juga media medianya itu tentag
program terapinya dia, misalkan KA masih susah membuat garis
lurus, nanti dimedia pembelajarannya kita bikin titik-titik nanti
disalin lagi tanpa titik-titik macem-macem sesuai sama
materinya. Untuk evaluasi pembelajarannya juga guru
pendampingnya yang buat jadi materi hari itu apa saya koordinasi
100

dengan guru kelasnya terus saya buatkan soal-soal tentang materi


tersebut dengan level yang rendah”130

Gambar 4.2
Worksheet untuk anak slow learner

Pada gambar tersebut terlihat dari materi pembelajaran yang

disajikan memiliki topik yang sama, akan tetapi penggunaan bahasa

untuk penyajiannya yakni bahasa yang sederhana, sehingga bisa

dikatakan dalam worksheet untuk anak slow learner materi pembelajarn

yang disajikan sama akan tetapi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda,

begitupula dengan evaluasi yang digunakan juga memiliki tingkat

kesulitan yang lebih rendah.

130
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
101

3.) Model pembelajaran anak slow learner

Penyelenggaraan pembelajaran di kelas terutama bagi anak slow

learner yang lamban dalam menangkap suatu pembelajaran haruslah

terselenggara dengan efektif, agar tujuan dari pembelajaran itu sendiri

dapat tercapai model pembelajaran yang digunakan oleh guru menjadi

hal yang urgent dalam penyelanggaraan pembalajaran. Model

pembelajaran yang digunakan harus beragam dan juga tepat sesuai

dengan kebutuhan siswa. Guru dalam suatu pembelajaran haruslah dapat

menggunakan berbagai model-model pembalajaran, seperti keterangan

dari ustadzah N guru bahasa inggris KA yakni

“model pembelajaran biasanya sih setelah nyanyi-nyanyi trus


review sedikit materi-materinya baru setelah itu saya
menggunakan model pembelajaran klasikal dengan ceramah
diawal-awal, baru selanjutnya saya beralih ke model kooperatif
dengan berkelompok-kelompok, nanti saat ngerjain worksheetnya
bisa berkelompok atau sendiri-sendiri terserah mereka. Kadang
juga dengan menggunakan model kontekstual jadi menggunakan
benda-benda konkret yang ada di sekitar sekolah, jadi saya suruh
mencari benda-benda di lingkungan sekitar nanti dideskripsikan,
itu juga dengan berkelompok biasanya.”131
Ustadzah VA guru pendamping khusus KA juga menjabarkan sebagai

berikut

“sebenarnya untuk anak-anak seperti KA maksudnya yang ada


guru pendampingnya itu ada yang namanya ruang sumber. Ruang
sumber itu adalah ruangan khusus yang nantinya KA melakukan
bimbingan secara pribadi tentang keterampilan-keterampilan yang
belum dia kuasai. Jadi di ruang sumber itu KA nanti dibimbing
sesuai dengan kebutuhannya secara individual. Bimbingan di ruang
sumber itu dilakukan setiap hari selma 10 menit. Kalau untuk

131
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
102

pendampingan saat saya ngajar mendampingi KA itu semoodnya


dia biasanya, kadang kalau KA susah diatur jadi saya hanya
menggunakan model pembelajaran yang klasikal saja yaitu saya
ceramah, atau melalui gambar-gambar kalau moodnya lagi bagus,
kadang juga dengan kooperatif berkelompok sama temannya yang
kebetulan temen-temennya itu juga ikut membantu, jadi dia juga
dikasih tugas tapi tugas yang gampang-gampang, kalau dengan
berkelompok itu kelebihannya KA bisa dibantuin sama teman-
teman yang lain, jadi tidak sendiri. Kadang juga menggunakan
model bermain peran, tapi kalau bermain peran itu KA biasanya
dapet peran yang gampang-gampang.”132
Model pembelajaran untuk anak slow learner yang digunakan guru

biasanya yakni dengan klasikal yaitu dengan metode ceramah. Model

pembelajaran dengan ceramah digunakan guru ketika awal-awal

pembelajaran yakni saat konsentrasi siswa masih kondsif. Berdasarkan

hasil observasi saat pembelajaran berlangsung prosedur pembelajaran

klasikal yang dilakukan di kelas V Hanoi pertama dawali dengan

memberikan motivasi-motivasi bisa melalui kisah-kisah tokoh yang

menginspirasi, atau kisah para nabi, kisah para sahabat, dan tokoh-tokoh

lain. pembelajarannya dilakukan dalam satu kelas yang sama, dalam

artian antara ABK dan anak normal lainnya berada di satu kelas sama,

tidak dibeda-bedakan. Kemudian guru menjelaskan materi pembelajaran,

memberikan contoh yang relevan, dan memberikan evaluasi.133

Selain klasikal pembelajaran kooperatif juga kerap kali digunakan

guru saat melaksanakan pembelajaran, hal tersebut dikarenakan dengan

model kooperatif maka siswa akan saling membantu temannya yang

132
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
133
Observasi, kegiatan pembelajaran di ruang kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 10
Desember 2019.
103

kesulitan, dan dengan kooperatif juga siswa akan melatih sikap

kerjasama dengan temannya untuk saling membagi tugas.

Pembelajaran dengan kontekstual juga dilakukan, apalagi bagi KA

pembelajaran kontekstual tentu sangat membantu dikarenakan KA

sedikit mengalami kesulitan saat benda-benda maupun hal-hal yang

dijelaskan dalam materi pembelajaran tidak dapat dilihatnya secara

langsung. Jadi saat menggunakan model pembelajaran kontekstual

biasnya gurunya mempersilahkan keluar kelas untuk mencari benda-

benda yang terdapat dilingkungan sekolah dan biasanya pembelajaran

dengan model ini dilakukan secara berkelompok.

Model pembelajaran bermain peran juga kadang dilakukan ketika

materinya membutuhkan untuk melakukanya agar pembelajaran lebih

berfariatif sehingga suasana kelas lebih hidup, akan tetapi bagi KA model

pembelajaran tersebut sedikit kurang cocok karena dia mengalami

kesulitan dalam berkomunikasi dua arah sehingga hanya mendapat peran

seadanya saja.134

Pembelajaran bagi KA juga dilakukan dengan model pembelaran

kelas kecil (pull out) yang dilakukan di ruang sumber. Dimana

pembelajaran tersebut dilakukan KA bersama dengan guru pendamping

khusus diruangan tersendiri (ruang sumber). Tujuannya adalah

melakukan bimbingan terhadap KA untuk materi-materi pembelajaran

134
Observasi, kegiatan pembelajaran di runag kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 9
Desember 2019
104

dan juga keterampilan-keterampilan yang belum dikuasai atau

mengalami kesulitan. Sehingga kemampuan kognitif dan juga

psikomotornya dapat menyusul teman-temannya yang lain, meskipun

tidak secara sempurna.135

Gambar 4.3
Kegiatan KA Saat Berada Di Ruang Sumber

Dalam gambar-gambar tersebut KA bersama dengan guru

pendamping khusus melakukan bimbingan kognitif dan juga psikomotor,

terkait pembelajaran yang belum dikuasai oleh KA, sehingga guru

pendamping harus melakukan bimbingan intensif dengan KA agar

kemampuannya dapat menysul teman-teman kelasnya. Bimbingan

tersbut juga dimaksudkan agar KA dapat menuntaskan indikator-

135
Observasi, bimbingan di ruang sumber, pada tanggal 11 Desember 2019
105

indokator penilaian yang sudah ditetapkan dalam worksheeet sebagai

penilaiannya.136

4.) Strategi Pengajaran Anak Slow Learner

Strategi pengajaran yang benar akan membantu anak slow learner

dalam pembelajaran, yakni menyangkut urutan-urutan dan juga hal yang

sebaiknya dilakukan secara sistematis dalam belajar agar membangun

mood belajar bagi anak slow learner. Seperti pernyataan dari ustadzah N

guru bahasa inggris KA yakni

“Strateginya biasanya saya mulai dengan review-review dulu, trus


main games kadang juga nyanyi-nyanyi dulu biar mereka siap
menerima pembelajaran, baru setelahnya masuk ke materinya”137

Kolaborasi dengan orangtua juga merupakan hal yang harus dilakukan

dalam strategi pengajaran dikarenakan penanganan anak slow learner

tidak cupuk hanya dengan guru-guru di sekolah saja, akan tetapi peran

orang tua juga sangat penting mengingat intensitas waktu yang anak

habiskan lebih lama bersama dengan orangtuanya. Kolaborasi dengan

orang tua juga bertujuan agar guru mengetahui hal-hal yang harus

dihindari ketika mengajar anak slow learner. Seperti yang disampaikan

Ustadzah VA guru pendamping khusus yakni

“Strategi pembelajarannya kalau saat istirahat saya ajak dia untuk


mengerjakan soal-soal atau mengulang yang sudah dia pelajari,
karena KA itu materi yang sudah diterima harus diulang-ulang biar
paham dan juga untuk merefresh ingatannya. saya juga selalu

136
Observasi, kegiatan bimbingan di runag sumber pada tanggal 11 Desember 2019.
137
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
106

berkolaborasi sama orang tuanya, jadi sepulang sekolah gitu saya


ngobrol diskusi dengan orang tuanya tentang pembelajaran hari ini,
kadang kalau dia di sekolah kurang mood saya tanyakan hari ini
kenapa moodnya KA jelek apa yang terjadi di rumah ma, biar
saling tau bagaimana cara paling tepat untuk menangani KA dan
juga menghindari hal-hal yang membuat mood dia jelek.”138

5.) Evaluasi Pembelajaran Anak Slow Learner

Selaian model, strategi, pengelolan lingkungan kelas, hal terahir yang

perlu diperhatikan dalam penyelanggaraan pembelajaran anak slow

learner yakni evaluasi yang digunakan untuk mengetahui hasil

pembelajarannya. Evaluasi yang dimaksudkan yakni berhubungan

dengan tingkat kesukaran soal, dan juga jumlah soal yang digunakan

dalam mengevaluasi pembelajaran anak slow learner. Instrumen evaluasi

yang digunakan adalah instrumen khusus yang dirancang sesuai dengan

kompetensi yang harus dicapai KA. Seperti keterangan dari ustadzah N

guru bahasa inggris yakni,

“Untuk evaluasinya itu sendiri-sendiri jadi untuk anak abk itu kan
ada standarnya sendiri-sendiri, misal sih KA itu nanti penilaiannya
lebih ke tarik garis atau tracing, jadi nanti dilihat di worksheetnya
atau di lembar ulangannya dia sudah bisa mencapai itu atau belum,
ada indikator-indikatornya sendiri disitu, jadi saya kolaborasi sama
guru pendampingnya anak ini indikator ketuntasannya apa, lha
penilaiannya dari indikator-indikator yang ada di worksheet itu
apakah dia sudah bisa mencapai indikator yang sudah disiapkan oleh
guru pendampingnya atau belum”139

138
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
139
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
107

Evaluasi pembelajaran KA memiliki materi yang sama akan tetapi

kompetensi dan juga tingkat kesulitannya yang berbeda. Seperti

pernyataan Ustadzah VA juga sebagi berikut

“Evaluasi pembelajaran untuk KA juga memiliki tingkat kesulitan


yang lebih rendah dibanding dengan teman kelasnya, jadi dengan
materi yang sama akan tetapi level soalnya itu berbeda”140

Evaluasi pembelajaran untuk KA tidak mengggunakan lembar kerja

siswa seperti siswa-siswa yang lainnya. Untuk KA dan ABK lain mereka

menggunakan lembar evaluasi khusus yang sudah ada di worksheet

masing-masing abk, dimana dalam lembar evaluasi tersebut telah disusun

dengan menyesuaikan level kemampuan intelektulitas masing-masing

ABK. Dalam menentukan penilaiannya pun untuk KA sudah ada

indikator-indikator khusus yang telah disesuaikan, dimana dalam

pengambilan penilaian guru mapel maupun guru kelas melihat capaian

yang telah berhasil dicapai KA sesuai dengan indikator-indikator yang

ada.141

140
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
141
Observasi, kegiatan pembelajaran di runag kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 12
Desember 2019.
108

Gambar 4.4
Lembar Evaluasi Khusus Untuk KA

b. Pengelolaan Lingkungan Kelas, Perangkat Pembelajaran, Model

Pembelajaran, Strategi Pengajaran, dan Evaluasi pembelajaran Pada

Kelas MA

1.) Pengelolaan Lingkungan Kelas

Pengelololaan lingkungan kelas yang diterapkan yakni terkait

penataan bangku dan juga penempatan tempat duduk masing-masing

siswa. kedua hal tersebut sangat berpengaruh terharap kenyamanan

siswa saat pembelajaran berlangsung sehingga merupakan suatu hal

yang perlu diperhatikan. Upaya dalam memberikan kenyamanan

terkait dua hal tersebut sejalan dengan hasil wawancara dengan

Ustadzah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:

“formasi bangku di kelas itu diubah-ubah sesuai kebutuhan,


tujuannya supaya anak-anak tidak merasa bosan saat belajar
karena kan kalau tempat duduknya sama terus nanti besar
109

kemungkinan untuk terjadi kebosanan pada mereka, juga


biasanya anak-anak itu ngegeng-ngegeng gitu lho, beberapa
anak tidak mau berinteraksi dengan teman lainnya, maunya ya
hanya kumpul main sama gengnya sendiri begitu. Jadi formasi
bangkunya harus diubah-ubah untuk menghindari hal itu. Jadi
saya biasanya pakai formasi konvensional, trus juga formasi U
yang semua bangkunya ditempelkan ke tembok, biar tengahnya
bisa dibuat lesehan juga, kadang juga formasi berhadap-
hadapan.”142

Upaya tersebut juga sejalan dengan pendapat dari Ustadz F Guru

Ismuba MA yang menjelaskan sebagi berikut:

“Posisi duduk yang biasanya saya lakukan itu dengan lesehan


dilantai dengan formasi duduk melingkar supaya anak-anak itu
lebih nyaman, mungkin mereka kadang bosan atau capek
ketika harus selalu duduk di atas bangku jadi fariasi seperti itu
terkadang dibutuhkan, kadang hanya formasi konvensional”143
Selain formasi bangku yang ditujukan agar menghindarkan

siswa dari kebosanan posisi tempat duduk juga merupakan hal yang

perlu diperhatikan pula, posisi tempat duduk yang sesuai akan

membantu siswa terutama anak slow learner dalam menangkap

pembelajaran yang disampaikan guru. Seperti yang disampaikan

oleh Ustadazah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:

“Kalau untuk posisi tempat duduk siswa itu lumayan saya


perhatikan khususnya bagi MA, saya biasanya tempatkan dia di
tempat yang dekat dengan saya, jadi kesempatan saya untuk
mengawasi MA lebih mudah, untuk siswa yang lain itu
sistemnya acak saja penempatannya”144

142
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
143
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
144
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
110

Selain itu Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan

penjelasannya sebagai berikut:

“posisi tempat duduk untuk MA itu biasannya dia saya


tempatkan dengan siswa yang bisa ngemong dia, dalam artian
siswa terebut bisa membantunya ketika belajar. Jadi kalau saya
memberikaan tugas begitu, siswa-siswa disamping MA juga
membantunya untuk menjelaskan tugas yang saya berikan”145
Berdasarkan hasil wawancara tersbut pengelolaan lingkungan kelas

yang dijalankan di kelas V Sasadu yakni terkait dengan formasi

bangku dan juga penempatan posisi duduk. Kedua hal tersebut

memiliki peran yang besar terhadap keberhasilan dalam mencapai

tujuan pembelajaran.

2.) Perangkat Pembelajaran

Selain tata letak bangku dan juga posisi tempat duduk, hal

selanjutnya yang perlu diperhatikan yakni terkait perangkat

pembelajaran yang digunakan dalam penyelenggaraan pembelajaran

bagi anak slow learner. Perangkat pembelajaran yang dimaksudkan

adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan juga bahan ajar

yang digunakan dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi anak

slow learner. Ustadzah SL Guru Kelas MA memberikan

penjelasannya sebagai berikut:

“perangkat pembelajaran yang saya gunakan seperti RPP bagi


anak yang slow learner itu sama dengan anak-anak lainnya, jadi

145
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
111

tidak dipisahkan secara khusus, hanya saja mungkin pada


strateginya yang sedikit berbeda dengan siswa lainnya, biasanya
saya kombinasikan beberapa strategi untuk mengajar anak yang
slow, sedangkan untuk bahan ajarnya itu sama, dari buku yang
sama, terkadang juga modul yang sama juga dengan anak-anak
lainnya”146
Sedangkan Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan

keterangan serupa yakni sebagai berikut

“untuk RPP yang saya pakai mengajar anak slow learnerya itu
sama dengan anak-anak lain, yang membedakan mungkin nanti
di pengajarannya saya dampingi secara khusus seperti itu, kalau
bahan ajarnya juga sama dari sumber yang sama dengan anak-
anak lain.”147
3.) Model Pembelajaran

Model pembelajaran yang digunakan dalam penyelenggaraan

pembelajaran bagi kelas dengan anak slow learner di dalamnya tentu

harus memiliki berbagai macam model pembelajaran yang dapat

meningkatkan minat belajar pada anak slow learner. Sebagai guru

yang melakukan pembelajaran secara langsung kepada anak slow

learner, guru harus menggunakan berbagai macam model

pembelajaran yang berfariatif. Hal tersebut sejalan dengan keterangan

dari Ustadzah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:

“ketika belajar itu kan MA itu mood-moodan dalam artian


kadang kalau mood dia bagus ya pembelajarannya bisa lancar,
saya ngajarnya juga bisa enak, tapi kadang juga pagi-pagi itu dia
sudah nangis, dan kalau ditanya kan dia terkadang tidak mau
menjawab sebabnya dia menangis, jadi kalau mood dia sedang
jelek itu yang sedikit susah, saya sebagai guru harus pinter-
pinter memfariasi pembelajaran untuk menaikkan mood dia.

146
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
147
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
112

Sehingga kalau pembelajaran berjalan normal ya saya ngajarnya


dengan klasikal seperti biasa saya menjelaskan materi dengan
ceramah, memberikan contoh, kemudian memberikan evaluasi,
trus untuk MA saya bimbing individual sendiri setelah
menjelasakan untuk yang lainnya. Sedangkan kalau saat MA
moodnya sedang jelek biasanya saya belajarnya dengan
permainan yang seru-seru atau belajar di luar secara
kontekstual. satu lagi biasanya kalau belajar itu saya juga sering
dengan berkelompok-kelompok, jadi kalau MA merasa
kesulitan saat belajar, teman-temannya bisa bantu, dan
alhamdulillah ada beberapa teman-teman MA itu yang anaknya
mau bantuin dia.”148

Sejalan dengan pendapat dari Ustadz F sebagai Guru Ismuba MA

yakni sebagai bebrikut:

“kalau saya ngajar biasanya saya biasa dengan ceramah,


sedangkan nanti kalau MA kesulitan ya saya ajari secara
individu, terkadang saya juga memfariasinya dengan
pembelajaran secara berkelompok-kelompok agar dia tidak
merasa paling tidak bisa, karena kan kalau berkelompok nanti
tugas-tugasnya juga dilakukan secara kelompok, sehingga MA
dapat terbantu oleh teman-temannya”149

4.) Strategi Pengajaran

Strategi pengajaran yang dimaksudkan yakni terkait perlakuan

atau layanan dari guru kelas dan juga guru matapelajaran dalam

melakukan pembelajaran bagai anak slow learner. Dikarenakan

dalam melakukan pembelajaran bagi anak slow learner tentu memiliki

perbedaan yang signifikan dan juga tindakan-tindakan khusus agar

tujuan pembelajaran itu sendiri dapat tercapai. Ustadzah SL Guru

Kelas MA memberikan keterangannya sebagai berikut:

148
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
149
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
113

“biasanya saya mulai dulu dengan mengulang kembali atau


mereview materi-materi yang sudah dipelajari kemarin, ketika
menyampaikan materi kepada MA juga saya itu menggunakan
bahasa yang sederhana bahasa yang levelnya untuk anak di
kelas rendah, supaya MA sendiri tidak kesulitan dalam
memahami apa yang saya katakan, ketika materinya sudah saya
terangkan akan tetapi MA masih belum paham, maka saya
lakukana pengulangan materi kembali, jadi saya ulang-ulang
materinya kepada MA.”150

Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan pendapatnya sebagai

berikut:

“kalau mengawali pembelajaran ya diulas dulu materi-materi


kemarin nanti kan anak-anak jawabnya bermasa-sama jadi itu
juga membantu MA untuk mendapatkan kembali memori dan
juga pemahamannya terkait materi yang sudah dipelajari
kemarin. Ketika saya menyampaikan materi untuk MA sendiri
juga saya pasti menggunakan klaimat-kalimat sederhana, atau
nanti temannya yang membantu saya menjelaskan, mungkin
kalau temannya sendiri bahasa yang dia gunakan untuk
memberikan penjelasan kepada MA itu bahasa pertemanan atau
bahasa anak-anak sehingga bisa lebih mudah ditangkap oleh
MA”151

5.) Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pembelajaran bagi anak slow learner memiliki

beberapa perbedaan dengan evaluasi bagi anak-anaklainnya. Evaluasi

pada anak slow learner hasruslah disesuaikan dengan kemampuan

kognitif pada masing-masin anak. Sejalan dnegan pendapat dari

Ustadzah SL Guru Kelas MA yakni sebagai berikut:

“kalau dari segi evaluasi pembelajarannya tentu saja berbeda


dengan anak-anak lainnya karena dilihat dari kemampuan
kognitifnya juga berbeda jadi ya evaluasinya harus dibedakan,
evaluasi pembelajaran bagi MA itu saya memberikan tugas-

150
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
151
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
114

tugas yang lebih sederhana. Tidak hanya lebih sederhana tetapi


dari segi jumlahnya pun tugas yang saya berikan itu lebih sedikit
ketimbang anak-anak yang lainnya.”152

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ustadz F Guru Ismuba MA

yakni sebagai berikut:

“evaluasi untuk MA saya bedakan dengan anak-anak yang lain.


kalau untuk MA itu biasanya saya berikan soal-soal khusus yang
dengan bahasa yang lebih mudah, tingkat kesulitan lebih mudah,
dna juga jumlah soalnya pun lebih sedikit.”153

B. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Muhammadiyah 2

Tulangan, dengan fokus penelitian bagaimana kondisi kesulitan belajar pada

anak slow learner dan model pembelajaran bagi anak slow learner, ditemukan

beberapa hal yaitu:

1.) Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner adalah:

1.) Kecerdasan siswa (KA dan MA) menunjukkan indikasi-insikasi

bahwa kecerdasannya lebih rendah jika dibandingkan teman-teman

kelasnya yang mempunyai usia sama. Diantara indikasi-insikasi

tersebut yakni pemahaman terhadap materi yang sangat rendah

sehingga perlu bimbingan lebih lanjut bersama guru pendamping

khusus. Indikasi selanjutnya ketika ditanya oleh guru atau temannya

anak slow learner memberikan respon yang kurang tepat atau bisa

dikatakan tidak nyambung. Indikasi selanjutnya perilakunya yang

152
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
153
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
115

tidak sesuai dengan usianya saat ini. Perilakunya menggambarkan

bahwa kondisi mentalnya sekitar 3-4 tahun dibawah usia aslinya.

2.) Konsentrasi anak slow learner (KA dan MA) berjalan cukup singkat.

Rentang waktu mereka dapat berkonsentrasi sekitar 3-5 menit.

Kemudian mereka kembali bermain atau sibuk dengan dunianya

sendiri, seperti noleh sana sini, bermain pensil, bermain alat-alat tulis

yang lain. sehingga upaya untuk mengembalikan konsentrasinya

yakni dengan mengingatkan kembali dan juga dengan diiming-iming

nanti kalau bisa fokus belajar akan dapat reward, seperti boleh makan

atau yang lainnya.

3.) Kemampuan komunikasi pada KA cukup lumayan. Dia dapat

berkomunikasi dengan bahasa-bahasa yang sederhana. Kalau diajak

komunikasi dengan bahasa-bahasa yang sedikit panjang atau rumit,

nanti dia akan menjawab dengan jawaban yang tidak nyambung.

Untuk komunikasi dalam mengekspresikan emosinya, dia juga

lumayan bisa, meskipun terkadang antara apa yang dirasakan dan

juga ungkapan emosinya tidak sesuai atau bahkan bertolak belakang.

Seperti misalnya ada temnnya yang nyubit, dia merasakan sakit tetapi

ekspresi yang dia ucpakan adalah hehe sakit, jangan begitu. Jadi

ungkapan ekspresi yang dikeluarkan adalah seperti ungkapan bahagia,

padahal dia merasakan kesakitan. Sedangkan pada MA kemampuan

komunkasinya masih kurang, dia jarang berkomunikasi dengan

teman-temannya, dan cenderung lebih pasif dalam pertemanan.


116

4.) Kemampuan dalam mengarahkan diri KA dan MA sangat rendah,

guru kelas, guru mapel, hingga guru pendamping khusunya terlebih

dahulu mengingatkan maupun memberikan perintah untuk hal yang

harus dikerjakan dan juga hal yang selanjutnya dikerjakan. Jadi dalam

setiap langkah pembelajaran KA dan MA membutuhkan arahan dari

gurunya.

5.) Kondisi emosi menunjukkan bahwa emosi KA lumayan stabil. Hanya

dia lebih sensitif dari pada kebanyakan anak pada umumnya, seperti

mudah nangis, mudah mengungkit-ungkit kesalahan orang lain

kepadanya. Akan tetapi tidak emosional yang sampai tantrum marah

meledak-ledak seperti itu. Sedangkan pada MA kondisi emosinya

cenderung kurang stabil, dia sangat sensitif terkadang pagi-pagi sudah

menangis tanpa alasan yang belum diketahui dengan jelas. Terkadang

juga marah-marah apabila terdapat suatu kondisi yang tidak sesuai

dengan keinginannya.

6.) Kemampuan dalam mengingingat materi pembelajaran anak slow

learner (KA dan MA) sangat rendah. Ketika pembelajaran yang

disampaikan dengan usaha lebih agar mereka paham ahirnya dapat

dipahami, selanjutnya mereka akan mudah lupa dengan apa yang

sudah mereka pelajari. Durasi waktu anak slow learner dalam

mengingat materi pembelajaran berlangsung selama 30 menit.

Setelahnya harus direview kembali untuk menyegarkan ingatannya.


117

7.) Pemahaman terhadap materi pembelajaran (KA dan MA) sangat

rendah. Untuk dapat memahamai suatu materi pembelajaran,

penyampaian materi kepada anak slow learner harus dilakukan secara

berulang-ulang, dan dengan penyampaian yang sangat pelan.

8.) Kemampuan bersosialisai KA lumayan. Anak tersebut dapat sedikit

main, mengobrol, cerita kepada temannya atau bahkan terkadang

cerita kepada ustadz dan ustdzahnya. Akan tetapi memang

intensitasnya tidak sesering anak-anak lain, hanya terkadang saja,

sering-seringnya dia baca buku-buku dongeng di sudut baca.

Sedangkan pada MA kemampuan bersosialisainnya masih rendah, dia

cenderung pasif dalam pertemanan, sebagian waktunya dihabiskan

dengan banyak melamun.

9.) Kemampuan dalam membuat pedoman kerja (KA dan MA) masih

sangat kurang. Ketika berkomunikasi dengan bahasa yang panjang

masih belum bisa, apalagi jika harus membuat pedoman kerja yang

dalam melakukannya membutuhkan kemampuan berbahasa yang

lebih.

10.) Kemampuan dalam mendeskripsikan, menganalisis, dan juga

berpikir kritisnya sangat kurang. Untuk mendeskripsikan benda bagi

KA, jika benda yang dideskripsikan ada secara nyata konkret di

depannya, anak tersebut lumayan bisa. Akan tetapi jika benda yang

akan dideskripsikan hanya sebuah gambar atau video dan lain

sebaginya, dia akan kesulitan. Sedangkan untuk MA kemampuan


118

mendeskripsikan bisa dilakukan dengan menggunakan kalimat-

kalimat sederhana. Untuk kemampuan menganalisis dan berpikir

kritis (KA dan MA )masih belum mampu.

Kondisi kesulitan belajar yang dialami oleh kedua subjek penelitian

yakni KA dan MA tersebut memiliki beberapa perbedaan. Meskipun

keduanya merupakan siswa dengan gangguan slow learner akan tetapi

taraf ketunaan yang mereka alami memiliki beberapa perbedaan,

berdasarkan hasil wawancara, observasi dan juga dokumentasi yang telah

dilakukan peneliti, berikut akan disajikan tabel perbandingan terkait

kondisi kesulitan belajar yang dialami kedua subjek penelitan

Tabel 4.5
Perbandingan Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri KA dan
MA

No Kondisi KA MA Persamaan/
Kesulitan Perbedaan
Belajar
1. Kecerdasan KA memiliki MA memiliki kedua subjek
kecerdasan yang kecerdasan penelitian ditinjau
lebih rendah dibawah teman- dari segi
dibandingkan temannya yang kecerdasan yakni
teman-teman ditandai dengan memiliki
kelasnya, ditandai kemampuannya persamaan sama-
dengan perilakunya ketika memahami sama memiliki
yang tidak sesuai materi kecerdasan lebih
dengan umurnya, pembelajaran rendah
pemahaman yang sangat dibandingkan
terhadap materi kurang, dan anak-anak lainnya
rendah, jawaban kebutuhannya atas yang memiliki
yang diberikan saat bimbingan secara usia sama. Salah
ditanya cenderung individual untuk satunya ditandai
tidak nyambung mehamkannya dengan rendahnya
akan materi yang pemahaman
dipelari terhadap materi
pembelajaran.
2. Fokus/konse Durasi waktu KA Durasi konsentrasi Konsentrasi KA
ntrasi dapat MA hanya dan MA sama-
berkonsentrasi bertahan dalam sama memiliki
119

dalam pembelajaran kurun waktu yang durasi waktu yang


sekitar 3-5 menit, relatif singkat singkat yakni
setelah itu KA yakni sekitar 5 hanya bertahan
kembali sibuk menit pertama, selama 5 menit
dengan dunianya setelah itu MA pertama
akan sibuk pembelajaran.
melamum, noleh hanya saja setelah
kesana-kesini, 5 menit pertama
atau sibuk dengan tersebut KA
dunianya sendiri biasanya main dan
sibuk dengan
dunianya sendiri,
sedangkan MA
cenderung banyak
melamun dan
cenderung
pendiam.
3. Kemampuan KA mempunyai MA memiliki Kemampuan
komunikasi kemampuan kemampuan komunikasi KA
komunikasi yang komunikasi yang lebih baik
lumayan bagus, dia sangat kurang, dia dibandingkan
mampu untuk jarang MA. KA
melakukan berkomunikasi cenderung lebih
komunikasi 2 arah dengan temannya ekspresif dan juga
jika bahasa yang kebanyakan dia lumayan sering
digunakan hanya melamun bercerita dengan
sederhana, sendirian, ustadz/ustadzahny
kemampuan kalaupun a terkadang
mengekspresikan berkomunikasi dengan teman-
emosi juga lumayan mungkin hanya temennya
bagus akan tetapi sekedarnya saja sedangkan MA
antara emosi yang seperti lebih pendiam.
dirasakan dengan menceritakan
kalimat untuk mainannya atau
berkespresi sering barang-barang
terbalik-balik, yang dia miliki
seperti saat marah,
sedih atau sakit,
tetapi kalimat yang
diguanakan adalah
kalimat untuk
mengekspresikan
kebahagiaan
4. Kemampuan Setiap hal yang Kemampuan MA Kemampuan
mengarahkan harus dilakukan KA dalam mengarahkan diri
diri gurunya harus mengarahkan diri KA dan MA
terlebih dahulu kurang, MA sama-sama
mengingatkan belum dapat kurang. Keduanya
secara mandiri harus melalui
menyadari tugas- bimbingan guru
tugas yang harus dalam
dikerjakannya, dia menjalankan
masih sangat tugas-tugas
membutuhkan pembelajaran.
bantuan orang lain
120

untuk
mengingatkan
tugas tugasnya
dan hal yang harus
dia lakukan
5. Kondisi KA cenderung MA cenderung Kondisi emosi KA
emosi memiliki emosi memiliki emosi dapat dikatakan
yang sensitif seperti yang kurang lebih stabil tidak
mudah nangis, atau stabil, dia mudah marah meledak-
mengungkit menangis dengan ledak hanya saja
kesalahan- alasan yang tidak terkadang lebih
kesalahan orang lain terlalu jelas, dan sensitif seperti
padanya meskipun juga mudah marah mudah menangis.
sudah lama terjadi, apabila yang Sedangkan
akan tetapi dia terjadi tidak sesuai kondisi emosi MA
bukan tipe yang dengan lebih kurang stabil
mudah marah keinginannya yakni mudah
ataupun meledak- marah, dan mudah
ledak menangis jika hal
yang terjadi tidak
sesuai
keinginannya.
6. Kemampuan KA memiliki rentan Kemampuan MA Kemampuan
mengingat waktu yang relatif dalam mengingat mengingat materi
materi pendek untuk kembali materi sama-sama lemah,
mengingat materi yang telah materi
yang sudah dipahami relatif pembelajaran
dipelajari, kira-kira singkat, beberapa yang diajarkan
hanya sekitar 30 saat setelah materi hari ini jika
menit setelah materi tersebut diajarkan muncul lagi untuk
tersebut dipelajari ketika gurunya pembelajaran
mengulas kembali esok, maka harus
materi tersebut mengulang dari
MA sudah awal kembali.
melupakn materi
yang telah
dipelajarinya
tersebut
7. Kemampuan Kemampuan KA Kemampuan MA Kemampuan
dalam dalam memahami dalam memahami memahami materi
memahami materi pembelajaran materi pembelajaran
materi rendah, harus pembelajaran sama-sama
pembelajaran diulang beberapa rendah, guru harus rendah, perlu
kali dan mengulang adanya
disampaikan dengan minimal 3 kali pengulangan
pelan-pelan pengulangan agar berkali-kali
MA dapat minimal 3 kali
memahami materi pengulangan
yang sedang hingga mereka
diajarkan dapat memahami
yang telah
diajarkan.
8. Kemampuan Sosialisai yang Kemampuan Kemampuan
bersosialisai dilakukan KA bersosialisai MA bersosialisai KA
dengan teman- rendah, MA lebih baik
121

temannya lumayan cenderung dibandingkan


bagus, tetapi tidak pendiam dan MA. KA lebih
sesering seperti banyak melamun, bisa bersosialisai
teman-teman yang Ma cenderung mengajak
lain, KA hanya pasif dalam ngobrol, ataupun
sesekali saja pertemanan menceritakan
bermain atau cerita suatu hal
dengan teman- meskipun tidak
temannya, dia lebih terlalu sering.
banyak menyendiri Sedangkan MA
di pojok ruangan lebih pendiam dan
baca-baca dongeng cenderung pasif
di sudut baca dalam
pertemanan.
9. Kemampuan Masih sangat Masih sangat Kemampuan
membuat kurang, karena kurang, membuat
pedoman kemampuan kemampuan pedoman kerja
kerja berbahsa KA masih berbahasanya KA mampu
terbatas, sangat kurang membuatnya
kemampuan untuk sampai pada hanya saja
intelektualnya tahapan dapat menggunakan
setara dengan anak membuat suatu bahasa yang
kelas 1-2 pedoman kerja sederhana.
sendiri Sedangkan
kemampuan MA
masih kurang
10. Kemampuan Kemampuan KA Kemampuan Kemampuan
mendeskripsi dalam hal ini sangat untuk mendeskripsikan,
kan, kurang. mendeskripsikan menganalisis, dan
menganalisi, Dikarenakan dengan kalimat juga berpikir kritis
dan berpikir kemampuan saat yang pendek pada KA yakni
kritis berkomunikasi saja lumayan, akan untuk
masih kurang, tetapi untuk mendeskripsikan
apalagi kemampuan suatu benda
kemampuan- menganalisis dan lumayan bisa akan
kemampuan berpikir kritis tetapi benda yang
tersebut yang masih sangat dideskripsikan
mengharuskan rendah. harus ada secara
memiliki konkret, untuk
kemampuan dua kemampuan
berbahasa yang setelahnya masih
lebih belum mampu.
Sedangkan untuk
MA kemampuan
mendeskripsikan
sudah mampu
hanya saja
menggunakan
bahasa yang
sederhana, dan
untuk dua
kemampuan
lainnya belum
mampu.
122

2.) Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner

1.) Pengelolaan lingkungan kelas

Pengelolaan lingkungan kelas pada kelas KA dilakukan dengan

mengatur formasi duduk yang berfariasi, mulai dari formasi

berkelompok-kelompok, formasi Leter U, formasi standar pada

umumnya. Sedangkan pada kelas MA formasi tempat duduk yang

dijalankan yakni model konvensional, lateru U, lesehan dilantai dengan

model melingkar, dan juga saling berhadap-hadapan.

Melalui perubahan formasi duduk yang berfarisi dimaksudkan agar

pembelajaran terasa lebih hidup dan tidak membosankan, siswa tidak

akan merasakan pemebelajaran yang monoton, dengan perubahan

formasi duduk yang berfariasi pula siswa akan berbaur dengan

sesamanya secara merata, tidak melulu dnegan beberapa orang saja.

Tentu saja hal ini sangat membantu anak slow learner dalam mengatasi

kesulitan bersosialisai, komunikasi, dan juga dalam memahami materi

pembelajaran dikarenakan pada saat formasi duduk berkelompok maka

teman-teman yang duduk dalam satu kelompok denganya sedikit

banyak dapat membantunya belajar.

Pengelolaan lingkungan kelas KA selanjutnya yakni rolling

tempat duduk. Jadi setiap 2 minggu sekali tempat duduk akan dirolling.

Misalkan 2 minggu pertama anak yang duduk dibaris depan akan

berpindah be baris ke 2, dan begitu seterusnya. Sedangkan pada kelas

MA anak slow learner akan ditempatkan di tempat duduk yang dekat


123

dengan gurunya sehingga memudahkan guru untuk mengawasinya.

Rolling tempat duduk ini juga sangat membantu anak slow learner

dalam proses pembelajaran, karena posisi duduk yang strategis akan

sangat membantunya ketika proses pembelajaran, seperti tempat duduk

yang strategis akan membantunya mendengar dengan jelas materi

pembelajaran, juga membantunya mendapatkan perhatian yang intens

dengan gurunya. Dengan rolling tempat duduk juga dapat mencegah

anak slow leaerner hanya duduk di pojok kelas karena dia merasa lebih

nyaman menyendiri dan alasan-alasan lain.

2.) Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran adalah komponen yang sangat penting

dalam suatu pembelajaran, khususnya bagi anak slow leaerner,

perangkat pembelajaran yang tepat akan menentukan keberhasilan

suatu proses pembelajaran itu sendiri. Perangkat pembelajaran yang

digunakan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan seperti media

pembelajaran, materi pembelajran, alat evaluasi pembelajaran bagi

anak slow learner yang memiliki guru pendaping khsus (yang

digunakan dalam pembelajaran pada KA) adalah perangkat khusus

yang dibuat hanya untuk mereka. Perangkat tersebut biasa disebut

worksheet yang dirancang khusus sesuai kebutuhan masing-masing

individu ABK.

Materi yang disajikan dalam worksheet disesuaikan dengan tingkat

kemampuan intelektual masing-masing anak. Dalam artian materi sama


124

akan tetapi tingkat kesulitan yang berbeda. Evaluasi yang terdapat di

dalamnya juga memuat indikator-indikator khusus tentang hal yang

harus dicapai masing-masing anak.

Sedangkan bagi MA yakni anak slow learner yang tidak memiliki

guru pendamping khusus maka modifikasi perangkat pembelajaran

sama dengan siswa yang lain, akan tetapi guru kelas maupun guru mata

pelajaran memberikan perlakuan khsusus, seperti bimbingan secara

individual, dan juga bahan evaluasi yang berbeda sehingga tujuan dari

pembelajaran itu sendiri dapat tercapai.

2) Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner

Model pembelajaran ini adalah hal yang tidak kalah penting dalam

sebuah pembelajaran. model pembelajaran membawa peran penting

dalam keberhasilan pembelajaran. Model pembelajaran yang

digunakan di kelas KA yakni kelas V Hanoi dan juga MA yakni kelas

V Sasadu adalah sangat berfariasi, diantaranya yakni:

2) model pembelajaran klasikal. Model pembelajaran klasikal

ini dilakukan dengan metode ceramah untuk menjelaskan materi

pembelajaran, baru kemudian memberikan contoh dan terahir

dengan memberikan evaluasi pembelajaran. model pembelajaran

ini juga tidak bisa lepas dari sebuah pembelajaran di kelas, karena

gurupun harus menjelaskan materi pembelajaran kepada para

siswa. model pembelajaran ini dilakukan ketika kondisi siswa


125

sedang kondusif, sehingga ketika materi disampaikan siswa dapat

menangkap intisari dari apa yang sudah dijelaskan oleh guru.

3) Model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini juga

digunakan dalam pembelajaran. dengan pembelajaran ini guru

memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membantu dan

juga menumbuhkan sikap kerjasama dan peduli. Pembelajaran ini

bagi anak slow learner sangat membantu karena mereka

mempunyai peluang untuk mendapatkan bantuan dari sesamanya,

karena pada dasarnya mereka tidak menyukai pembelajaran secara

kompetitif yang dapat mengakibatkannya merasa terpojok.

4) Model pembelajaran kontekstual. Model pembelajaran ini juga

sering digunakan guru dalam pembelajaran. guru mempersilahkan

siswa untuk mencari benda-benda yang terdapat dilingkungan

sekitar sekolah. Dengan demikian sangat membantu anak slow

learner dalam memahami pembelajaran. karena kerap kali anak

slow learner kurang dapat memahami sesuatu yang tidak dilihatnya

secara langsung.

5) Model pembelajaran bermain peran. Model pembelajaran ini

hanya digunakan di kelas KA yakni kelas V Honai. Menggunakan

model pembelajaran ini tidak terlalau efektif bagi anak slow

learner karena mereka masih kesulitan ketika berhadapan dengan

kalimat-kalimat rumit, dan segala hal yang berhubungan dengan

kemampuan berbahasa yang lebih tinggi. Sehingga ketika model


126

pembelajaran ini dugunakan mereka akan berkontribusi dan

terlibat dalam pembelajaran dengan intensitas yang minim.

6) Model pembelajaran kelas kecil (pull out). Model ini hanya

digunakan untuk kelas KA yakni kelas V Honai. Model

pembelajaran ini tidak dapat dipisahkan dari anak slow learner.

Karena dengan model pembelajaran ini mereka mengejar

ketertinggalannya dengan teman-teman kelasnya. Pembelajaran ini

dilakukan anak slow learner diruangan khusus bersama dengan

guru pendamping khususnya. Guru pendampingnya akan

membimbingnya untuk menjelaskan kembali materi yang belum

dipaham, mereview materi yang sudah. Tidak hanya tentang

kemampuan pemahaman materi yang diajarkan tetapi juga

berbagai keterampilan yang harus dia kuasai dalam sebuah

pembelajaran.

3) Strategi Pengajaran Anak Slow Leaerner

Strategi pengajaran disini adalah tentang hal-hal ataupun urutan-

urutan yang harus dilakukan dalam pembelajaran bagi anak slow

learner. Strategi pengajaran yang digunakan dalam pembelajarn yakni

diawali dengan mereview materi yang sebelumnya sudah dipelajari,

selanjutnya untuk membangun mood belajar hal yang dilakukan adalah

bermain games, menyanyi, atau kegiatan ice breaking yang lainnya.

Baru ketika kondisi siswa sudah kondusif pembelajaran bisa dimulai.


127

Selain itu kolaborasi dengan orang tua juga merupakan hal yang

sangat penting dan tidak boleh terlewatkan yang juga dilakukan di kelas

ini. Jadi guru-guru yang bersangkutan selalu berkoordinasi dengan

orangtua. Hal tersebut dimaksudkan agar orang tua turut membantu

pengkondisian anak, mengingat durasi waktu anak lebih lama bersama

dengan orangtuanya dibandingkan dengan gurunya. Dengan

berkolaborasi bersama orangtua gurupun juga dapat menghindari pola

didik, maupun perlakuan yang tidak disukai anak.

4) Evaluasi Pembelajaran Anak Slow Learner

Evaluasi pembelajaran dilakukan dengan perangkat evaluasi

tersendiri bagi anak slow learner. Dimana dalam perangkat tersebut

terdapat indikator-indikator yang harus dicapai, yang juga sebagai

penentu dalam pemberian nilai. Indikator-indikator tersebut disusun

berdasarkan tingkat kemampuan anak slow learner itu sendiri.

Berdasarkan paparan data di atas terdapat beberapa perbedaan terkait

model-model pembelajaran yang dilakukan pada kelas KA (kelas V Honai)

dan juga kelas MA (kelas V Sasadu) yang akan disajikan dalam tabel

dibawa ini:
128

Tabel 4.6
Model pembelajaran pada kelas KA dan MA
Model Persamaan/
NO Pembela KA MA Perbedaan
Jaran
1 Pengelolaan Pengelolaan Pada kelas MA Pengelolaan kelas
lingkungan lingkungan kelas pengelolaan yang yang
kelas pada kelas KA dilakukan terkait dilakukanpada
meliputi formasi formasi bangku kedua kelas sama-
bangku yang dan juga posisi sama mengenai
berfariasi tempat duduk. formasi bangku
diantaranya Formasi bangku dan juga rolling
menggunakan diubah sesuai tempat duduk,
formasi later U, dengan kebutuhan akan tetapi teknis
formasi pembelajaran dari keduanya
berkelompok- diantaranya yakni yang sedikit
kelompok, jika formasi berbeda, seperti
menggunakan konvensional formasi tempat
formasi ini maka seperti penataan duduk yang
KA membaur bangku pada digunakan sedikit
bersama kelompk- umumnya, berbeda, dan juga
kelompok tersebut formasi berhadap- teknis dalam
tidak disendirikan, hadapan yakni rolling tempat
formasi dengan dibagi duduk yang
konvensional, dan penjadi beberapa berbeda.
juga seringkali banjar kemudian
dengan formasi slaing
lesehan. nerhadapan,
Selanjutnya terkait formasi later U
dengan posisi dengan
tempat duduk di memojokkan
kelas KA selalu bangku-bangku
dilakukan rolling hingga menempel
pada setiap di tembok
minggu, jika siswa sehingga
pada minggu ini memberikan
berada di baris kesan yang luas
pertama maka pada ruangan
pada minggu kelas, formasi
kedua akan lesehan dengan
dirolling pada posisi duduk
baris kedua dan melingkar.
seterusnya. Jika Selanjutnya
posisi tempat terkait dengan
duduk belum posisi duduk bagi
saatnya berubah yaitu diatur acak
KA tidak oleh guru.
diperkenankan Sedangkan posisi
untuk memilih tempat duduk bagi
tempat duduk MA berada di
sesukanya dan tempat yang dekat
harus mematuhi dengan guru, dan
aturan yang telah bersebelahan
disepakati di kelas. dengan anak-anak
yang dirasa bisa
129

membantunya
ketika proses
pembelajaran.
2 Perangkat Perangkat Perangkat Perangkat
pembelajaran pembelajaran yang pembelajaran pembelajaran
digunakan untuk yang digunakan yang digunakan
KA adalah untuk MA sama untuk KA dan
perangkat seperti yang juga MA juga
pembelajaran digunakan untuk sedikti berbeda.
khusus yang siswa lain, hanya KA memiliki
dibuat oleh guru saja pada strategi perangkat
pendamping dan juga cara pembelajaran
khususnya, mengajar masing- khusus yang
perangkat masing guru dibuat oleh guru
pembelajaran kepada MA pendampingnya
tersebut disebut dimodifikasi yang disebut
worksheet khusus sesuai dengan worksheet khusus
untuk ABK yang kebutuhan MA, meliputi bahan
berisi bahan ajar, sehingga ajar khusus, media
dan juga evaluasi keberhasilan pembelajaran
pembelajaran pembelajaran khusus dan juga
khusus. media ditekankan soal-soal evaluasi
pembelajaran yang kepada guru kelas pembelajaran
digunakan juga dan juga guru yang khusus.
media khusus yang mata pelajaran. Sedangkan untuk
telah disesuaikan MA yang tidak
dengan memiliki guru
kemampuan dan pendamping
kebutuhan KA. khusus maka
perangkat
pembelajaran
yang digunakan
sama dengan
anak-anak lainnya
akan tetapi guru
kelas dan juga
guru mata
pelajaran masing-
masing membuat
modifikasi khusus
yang telah
disesuaikan
dengan
kebutuhannya.
3 Model Model Model Model
pembelajaran pembelajaran yang pembelajaran pembelajaran
digunakan untuk yang digunakan yang diterapkan
pembelajaran KA pada MA yakni pada kedua kelas
yakni model dengan model tersebut memiliki
klasikal, model klasikal, model perbedaan pada
kooperatif, model individual, model KA menggunakan
kontekstual, model kontekstual, dan model
kelas kecil (pull model kooperatif pembelajaran
out), dan model Kelas kecil atau
bermain peran. pull out dimana
130

KA bersama guru
pendamping
khususnya
melakukan
bimbingan sendiri
di ruangan khusus
untuk mengejar
ketertinggalannya
dengan teman-
teman lainnya.
4 Strategi Strategi Strategi pegajaran Strategi
pengajaran pengajaran yang untuk MA yakni pengajaran yang
dilakukan di kelas dimulai dengan dilakukan
KA diawali review materi- memiliki
dengan review mater yang telah perbedaan pada
materi yang telah dipelajari. kolaborasi dengan
dipelajari. Selain Menjelaskan orangtua dalam
itu guru juga materi dengan menangani
menggunakan beberapa kali permasalahan
bahasa yang pengulangan. belajar. KA
sederhana dan Menggunakan cenderung lebih
mudah dipahami bahasa yang intensif dalam
saat pembelajaran. mudah. penanganan
Tugas-tugas yang masalah
diberikan juga belajarnya
lebih sederhana dikarenakan guru
disesuaikan pendampingnya
dengan selalu
kemampuan KA. berkomunikasi
Saat mengajar dengan orangtua
materi yang terkait
disampaikan permaslaahan
diulang-ulang yang sedang
beberapa kali. Dan dihadapi dengan
juga senantiasa lebih sering.
berkolaborasi
dengan orang tua
KA untuk
melakukan yang
terbaik baginya.
5 Evaluasi Evaluasi Evaluasi Evaluasi
pembelajaran pembelajaran yang pembelajaran pembelajaran
dilakukan yang digunakan yang digunakan
menggunakan untuk MA terdapat beberapa
instrumen khusus berbeda dengan perbedaan yakni
yang telah anak-anak untuk KA
dirancang sesuai lainnya. Tingkat perangkat
dengan kesulitan pada evaluasi
kompetensi yang evaluasinya pembelajaran
harus dicapai oleh sedikit lebih yang digunakan
KA. Jumlah soal rendah dan juga dirancang khusus
yang digunakan jumlah soal yang dengan berbagai
juga lebih sedikit lebih sedikit. modifikasi dari
dibandingkan guru pendamping
siswa lain. Waktu dianttaranya
131

yang diberikan modifikasi jumlah


untuk soal, waktu
menyelesaikan pengerjaan, dan
soal tersebut juga juga tingkat
lebih lama kesulitan.
dibanding siswa Sedangkan untuk
lainnya. MA juga
mengalami
modifikasi akan
tetapi lebih
bersifat umum
dari masing-
masing guru
penanggung
jawab
pembelajaran.
BAB V

PEMBAHASAN

A. Kondisi Kesulitan Belajar Pada Anak Slow Learner Di Sd

Muhammadiyah 2 Tulangan

Kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana siswa tidak dapat

mengikuti kegiatan pembelajaran dengan efisien seperti siswa-siswa pada

umumnya sehingga tujuan-tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai dengan

semestinya. Hal tersebut dikerenakan mereka mengalami kendala dalam

memahami dan menyerap materi pembelajaran. jika siswa lain

membutuhkan penjelasan materi satu hingga dua kali, anak lamban belajar

akan membutuhkan penjelasan materi yang lebih dari dua kali, sehingga

dalam menyampaikan suatu materi pembelajaran haruslah dengan beberapa

kali pengulangan.

Tidak hanya dilihat dari kemampuannya dalam memahami materi,

terdapat beberapa indikator lain sehingga siswa bisa dikatakan mengalami

kesulitan belajar. Anak slow learner merupakan anak yang mengalami

kesulitan belajar, tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan sering kali

tidak dapat tercapai dengan tuntas. Kondisi demikian terjadi akibat beberapa

faktor yang mempengaruhi.

Anak slow learner yang menjadi subjek penelitian ini yakni KA dan

juga MA keduanya duduk di kelas V akan tetapi berbeda kelas. KA berada

di kelas V Honai dengan bantuan guru pendamping khusus dalam

132
133

pembelajarannya. Sedangkan MA berada di kelas V Sasadu tanpa bantuan

guru pendamping khusus dalam pembelajarnnya. Hasil penelitian ini

menunjukkan kedua siswa yang mengalami slow learner memiliki kondisi

diantaranya yakni kecerdasan dibawah anak-anak lainnya, kesulian dalam

memahami materi pembelajaran, kesulitan dalam bersosialisasi, memiliki

durasi konsentarsi yang relatif singkat, dan juga memiliki kondisi emosi

yang kurang stabil.

Berdasarkan teori mulyadi pada Diagnosis Kesulitan Belajar dan

Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar (Yogyakarta: Nuha Litera)

menyatakan terdapat 11 ciri-ciri anak dengan kesulitan belajar yakni:

Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada umumnya yang

memiliki usia sama, konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga

hanya memiliki durasi waktu yang terbatas, keterbatasan dalam memahami

materi-materi pelajaran yang relevan, kesulitan dalam mengarahkan diri

(self dirention), keterbatasan pada kemampuan abstraksi, Mengalami

keterlambatan dalam membuat suatu keterkaitan antara kata dengan

pengertian, kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal yang

telah dipelajari.

Ciri-ciri selanjutnya yakni membutuhkan waktu yang panjang dan lama

dalam menangkap sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk melupakan

pembelajaran yang telah dipahaminya, kurang mempunyai inisiatif

sehingga cenderung pasif dan pendiam, kesulitan dalam menciptakan

pedoman kerja sendiri, serta kurangnya kemampuan dalam menentukan


134

kesalahan-kesalahan yang dibuat, kesulitan dalam mendeskripsikan,

menganalisis, memecahkan sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam

berfikir kritis, Kesulitan dalam proses berfikir tingkat tinggi maupun

berfikir kritis.154

Berdasarkan teori Reiff Michael dkk yang bersumber pada Diagnostic

And Manual Of Mental Disorder-IV-TR (DSR-IV-TR) yang juga

mendukung pendapat mulyadi yakni menyebutkan terdapat 8 ciri-ciri

kondisi kesulitan belajar pada anak lamban belajar yakni ceroboh dalam

mengerjakan tugas, kesulitan berkonsentrasi pada tugas, kesulitan dalam

mengikuti instruksi pembelajaran sehingga tugas-tugas pembelajaran tidak

terselesaikan, seakan tidak mendengarkan saat diajak berbicara, kesulitan

alam mengelolah tugas dan kegiatan pribadi, dan juga mudah lupa.155

Berdasarkan teori Nani Triani dan Amir yang mendukung teori-teori di

atas juga menyebutkan bahwa permasalahan yang dihadapi anak lamban

belajar yakni: 1) mengalami perasaan minder dengan teman-temannya

karena kemampuan belajaranya yang lamban, 2) cenderung pemalu

sehingga menarik diri dari lingkungan sosialnya, 3) lamban dalam

menerima informasi dikarenakan keterbatasan bahasa dan juga ekspresi, 4)

hasil belajar yang kurang optimal sehingga menyebabkan mereka stress, 5)

dikarenakan kurangnya kemampuan intelektual sehingga membuat mereka

154
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
155
Reiff Michael, Feldman, Heidi, Diagnostik And Statistical Manual Of Mental
Disorders: The Solution Or The Problem?, Journal of Developmental And Behavior Pediatrics, Vol
4, Issue 1, p 68-70, Januari 2014, doi:10.1097/DBP0000000000000017, HLM. 69
135

terkadang tinggal kelas, 6) mendapatkan labeling kurang baik dari teman-

temannya.156

Berdasarkan teori-teori di atas sesuai dengan hasil penelitian yang telah

dilakukan peneliti yakni terdapat 8 ciri-ciri yang sesuai pada KA dan 10

ciri-ciri pada MA. Pertama terkait ciri-ciri anak kesulitan belajar yakni

terkait kondisi kecerdasannya yang lebih rendah dibandingkan anak pada

umumnya yang memiliki usia sama.

KA dan MA memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah

dibandingkan anak-anak lainnya sehingga dalam proses pembelajaran

mereka sangat membutuhkan guru pendamping, atau minimal guru kelas

maupun guru mata pelajaran sebagai pembimbingnya. dikarenakan dalam

segi mental mereka memiliki kematangan mental yang tidak sesuai dengan

usinya saat ini. Usia mentalnya jauh dibawah usia aslinya, yang

menyebakan prilakunya masih seperti anak di kelas bawah sehingga dalam

belajar pun dia kesulitan dalam menjapai tujuan pembelajaran.

Kedua Kondisi kesulitan belajar terkait konsentrasi yang mudah

teralihkan. Didukung pula dengan teori Mubair Agustin yang menyatakan

bahwa Anak lamban belajar memiliki rentang perhatian yang pendek

sehingga konsentarsi mereka mudah pecah.157 KA memiliki durasi

156
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk
Guru , Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama,
2011), hlm. 13
157
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 3
136

kosentrasi yang relatif singkat. Rentan waktu mereka mampu

berkonsentrasi hanya sekitar tiga hingga lima menit sesuai dengan

keterangan guru pendamping khusus dan juga guru bahasa inggrisnya.158

Ketika pembelajaran berlangsung KA dapat berkonsentrasi di awal-awal

pembelajaran setelah itu dia akan sibuk dengan dunianya sendiri jadi guru

pendampingnya setiap kali KA sudah mulai tidak konsentrasi maka akan

diingatkan kembali sekarang waktunya apa. Begitupula dengan MA, dia

memiliki durasi konsentrasi yang realatif singkat pula. Rentan waktu

maksimal KA mampu berkonsentrasi hanya sekitar 5 menit di awal, setelah

itu MA cenderung sibuk dengan dunianya sendiri, melamun, dan terkadang

menoleh kesana kemari sesuai dengan keterangan yang disampaikan guru

kelasnya.159

Ketiga terkait dengan kemampuan komunikasi. Nani Triani dan Amir

berpendapat bahwasannya Komunikasi menjadi suatu permasalahan bagi

anak lamban belajar. Kendala berbahasa yang dialami oleh anak lamban

belajar yakni kesulitan menyampaikan gagasannya. Mereka juga kesulitan

dalam memahami pembicaraan orang lain. sehingga hal tersebut

mengakibatkan mereka cenderung susah bergaul dan mendapatkan

teman.160

158
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm. 81
159
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm.99
160
Nani Triani dan Amir, Pendidikan ABK Lamban Belajar (Slow Learner) (Jakarta:
Luxima, 2016), hlm. 6
137

Mubair Agustin juga berpendapat anak lamban belajar memiliki

kosakata yang sangat terbatas. Sehingga ketika diajak untuk berkomunikasi,

anak lamban belajar memiliki kesan kurang nyambung dalam mengartikan

maksud dari pembicaraan.161 Sejalan dengan kondisi KA yakni mengalami

kesulitan dalam memahami pembicaraan oranglain sehingga apabila dia

ditanya seringkali jawaban yang dilontarkan tidak nyambung. KA juga

mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan kalimat yang kompleks,

dia hanya mampu berkomunikais dengan bahasa-bahasa sederhana. Ketika

mengungkapkan ekspresinya kalimat yang digunakan juga sringkali

tertukar-tukar, maksudnya kalimat untuk berekspresi bahagia digunakan

ketika dia merasa sedih.162

Begitupula dengan kondisi MA juga mengalami kesulitan dalam

berkomunikasi, kemampuan komunikasi MA bisa dikatakan berada di

bawah KA, KA mampu untuk memulai komunikasi dengan orang lain

meskipun dengan bahasa yang sederhana, sedangkan MA cenderung lebih

pasif dan juga pendiam, dia kesulitan untuk membuka atau mengawali

komunikasi dengan orang lain.163

Keempat kemampuan dalam mengarahkan diri. Hasil observasi dan juga

wawancara menyatakan bahwa KA dan MA mengalami kesulitan dalam

mengarahkan diri, dia belum bisa secara mandiri menyadari tugas-tugas

161
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 38
162
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm. 82
163
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm. 100
138

yang seharusnya dia lakukan, seperti waktunya membaca, waktunya

mengarjakan soal, waktunya menggambar. Ketika melakukan hal-hal

demikian KA terlebih dahulu harus meneriama perintah ataupun diingatkan

oleh guru-guru yang bersangkutan.164

Kelima terkait kondisi emosi yang kurang stabil. Indikasi tersebut

memang terdapat pada KA, tetapi tidak sepenuhnya. Dalam artian emosi

KA yang kurang stabil lebih ditunjukkan melalui sikapnya yang sensitif

seperti mudah menangis, akan tetapi KA bukan tipe anak yang mudah

marah, meledak-ledak, tantrum dan sejenisnya, dia lebih condong

mempunyai pribadi yang ceria. Sedangkan pada MA indikasi emosi yang

kurang stabil sepenuhnya ditunjukkan melalui sikapnya yang akan marah-

marah apabila terjadi suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. MA

juga mudah menangis yang terkadang tanpa sebab yang jelas karena jika

ditanya dia tidak menjawab.

Keenam kemampuan dalam mengingat kembali hal-hal yang telah

dipelajari. KA dan MA hanya mampu mengingat materi pembelajaran yang

telah dipelajarinya dalam kurun waktu 30 menit, setelah itu dia lupa,

sehingga materi yang hendak dipelajari lagi harus diulang-ulang terlebih

dahulu.

Ketujuh membutukan waktu yang panjang dalam memahami materi

pembelajaran. selain pendapat mulyadi mengenai lamanya durasi untuk

164
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara dan Observasi, hlm. 87
139

memahami suau pembelajaran. Mubair Agustin juga berpendapat bahwa

Anak dengan slow learner memiliki ciri fisik normal tidak terdapat

perbedaan atau kelainan dengan anak normal pada umumnya dari segi

fisiknya, akan tetapi saat melakukan pembelajaran di sekolah mereka sulit

memahami materi yang sedang dipelajari.165 KA dan MA dalam menyerap

atau memahami suatu pembelajaran harus melalui pengulangan secara

berkali-kali dan juga pelan-pelan, barulah dia mampu memahami materi

yang sedang dipelajari.

Kedelapan kemampuan bersosialisai. Mulyadi berpendapat bahwa anak

lamban belajar Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan

pendiam. Nani Triani dan Amir juga berpendapat bahwa Anak lamban

belajar mengalami kesulitan dalam bidang sosial. Mereka kesulitan untuk

bersosialisasi dengan orang lain. Berdasarkan observasi dan juga

wawancara yang telah dilakukan teori-teori tersebut sejalan dnegan kondisi

yang dialami KA dan juga MA. Kemampuan KA dalam bersosialisai

lumayan bagus. Dia bisa berbaur dengan teman-temannya dan juga ustadz-

ustadzahnya ngobrol atau cerita aktifitasnya bersama keluarganya,

terkadang juga cerita dongengakan tetapi intensitasnya bisa dikatakan

jarang hanya sesekali saja. kebanyakan KA hanya berada di sudut baca

untuk membaca cerita-cerita dongeng.166

165
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 38
166
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm.83
140

Sedangkan kemampuan komunikasi pada MA cenderung lebih rendah

dibandingkan KA. MA lebih pasif dalam pertemanan, jarang bercerita

tentang suatu hal, MA dapat bersosialisai jika temannya yang memulai

untuk bertanya terlebih dahulu kepadanya.

Kesembilan dan kesepuluh kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja

sendiri, kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis, dan kesulitan

dalam berpikir kritis. KA mengalami kesulitan dalam melakukan hal-hal

tersebut, kemampuan berbahasa yang dimiliki KA hanya sebatas kalimat-

kalimat sederhana untuk kemampuan yang membutuhkan kemampuan

berbahsaa lebih tinggi KA belum mampu. Kemampuan mendeskripsikan

KA sebatas hanya mampu mendeskripsikan benda yang dilihatnya secara

langsung. Apabila benda tersebut hanya sebuah gambar atau lainnya yang

bendanya tidak ada di depan mata dia akan mengalami kesulitan dalam

mendeskripsikannya.

Sedangkan pada MA kemampuannya untuk mendeskripsikan hanya bisa

sebatas dengan bahasa yang sederhana. Untuk kemampuan menganalisis

dan juga berpikir kritis MA maih belum mampu.

B. Model pembelajaran anak slow learner di SD Muhammaidyah 2

Tulangan

Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak slow learner memerlukan

perlakuan dan perhatian khusus. hal tersebut dilakukan agar tujuan

pembelajaran yang sudah ditetapkan dapat tercapai dengan lebih mudah.


141

Dikarenakan mereka memiliki beberapa perbedaan seperti kecerdasan,

kemampuan komunikasi, kemampuan bersosialisai, kemampuan

memahami metari pembelajaran, dan lain-lain yang lebih rendah

dibandingkan anak normal pada umumnya sehingga mengharuskan pihak

sekolah penyelenggara pendidikan inklusi memberikan perlakuan terntentu

dalam pembelajarannya.

Guru menjadi salah satu pihak terpenting dalam penyelenggaraan

pembelajaran bagi anak slow learner dikarenakan gurulah yang melakukan,

menangani dan bertanggung jawab secara langsung atas pembelajaran bagi

mereka. Dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi anak slow learner

guru harus melakukan berbagai macam modifikasi tertentu diantaranya

yakni terkait pengelolaan lingkungan kelas.

Pengelolaan lingkungan kelas adalah usaha yang dilakukan agar

pembelajaran dapat dilakukan secara efektif untuk mencapai tujuan

pembelajaran.167 sedangkan anak slow learner adalah anak disuatu lembaga

pendidikan formal dimana mereka memiliki perkembangan belajar atau

kemamapuan akademik yang lebih lambat dari anak-anak seusianya.

Sehingga pengelolaan lingkungan kelas bagi anak slow learner adalah usaha

yang dilakukan dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi anak yang

memiliki kemampuan kognitif lebih rendah dari pada anak lainnya dalam

mencapai suatu tujuan pembelajaran.

167
Puput Fathurohman Dan Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Refika
Aditama, 2007), hlm.104
142

Berdasarkan paparan data pada BAB IV tentang pengelolaan

lingkungan kelas pada anak slow learner di SD Muhammadiyah 2 Tulangan

yakni meliputi penataan formasi tempat duduk yang beraneka ragam

sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup dan mengurangi kebosanan

apalagi bagi anak slow learner yang minat dan konsentrasi belajarnya

mudah teralihkan. Dan posisi tempat duduk yang selalau dilakukan

rolling.168

Temuan penelitian sejalan dengan penelitian Grace yang menyatakan

bahwa terdapat pengaruh yang signifikan posisi tempat duduk siswa

terhadap motivasi dan hasil belajar siswa yakni dengan peningkatan skor

sebanyak 26 poin.169 Kelas inklusi dengan anak berkebutuhan khusus yang

belajar bersama dengan anak-anak normal lainnya, posisi tempat duduk

sangat menentukan keberhasilan dari suatu pembelajaran dengan posisi

tempat duduk yang strategis maka keefektifan dari pembelajaran,

khususnya bagi anak berkebutuhan khusus lebih besar. guru dapat lebih

intensif dalam membimbing anak berkebutuhan khusus, dan juga

kemungkinana lepas dari pengawasan guru dapat diminimalkan. Formasi

tempat duduk juga ditata dengan berbagai formasi yang beragam sehingga

menghindari kebosanan ketika pembelajaran.170

168
Lihat BAB IV, Paparan Data Pengelolaan Lingkungan Kelas anak slow learner, hlm. 90
169
Grace Nindhita Pranamnya Hasti, Pengaruh Poisi Tempat Duduk Terhadap Motivasi
Dan Hail Belajar Siswa Kelas VII SMP Santo Aloysius, jurnal Universitas As-Sanata Dharma,
Yogyakarta, 2017, hlm.168
170
Lihat BAB IV, Paparan Data Pengelolaan Lingkungan Kelas anak slow learner, hlm. 90
143

Selain memperhatikan pengelolaan lingkungan kelas, perangkat

pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bagi anak slow learner

juga merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Perangkat

pembelajaran yang dikhususkan bagi anak slow learner yakni dengan

pemberian program pendidikan yang diindividualisasikan. Menurut Drs.

Musjafak Assjari pendidikan yang diindividualisasikan merupakan program

yang disusun dan dikembangkan atas dasar hasil asesmen terhadap

kemampuan masing-masing individu anak.171 Sehingga bisa dikatakan

bahwa program pembelajaran individual merupakan program yang

disesuiakan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa agar kebutuhan

masing-masing siswa dapat terpenuhi secara optimal.

Di SD Muhammadiyah 2 Tulangan terdapat 2 fariasi, pertama anak

slow learner dengan guru pendamping khusus maka terdapat perangkat

pembelajaran khusus bagi anak slow learner yang disebut worksheet berisi

materi pembelajaran, bahan evaluasi terkhusus bagi anak slow learner yang

disusun oleh guru pendamping khusus yang berkolaborasi dengan guru

kelas. Media pembelajaran yang digunakan juga dibuat khusus sesuai

dengan kebutuhan siswa yang bersangkutan.

Fariasi kedua anak slow learner yang tidak memiliki guru pendamping

khusus maka program pengajarannya sama dengan anak-anak lain, akan

tetapi terdapat perlakuan tertentu atau khusus dari guru kelas dan juga guru

171
Musyafak Assjari, “Program Pembelajaran Individual”, Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa. 2005. Hlm.3
144

mata pelajaran yang bersangkutan agar tujuan dari pembelajaran dapat

tercapai sesuai yang diharapkan. Penerapan tersebut sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Hernik Farisa yang menyatakan bahwa

program pembelajaran individual memiliki peran yang signifikan untuk

memaksimalkan potensi peserta didik berkebutuhan khusus dan juga dalam

mencapai tujuan pembelajaran mencapai 75% keberhasilan.172

Temuan penelitian selanjutnya yakni terkait model pembelajaran yang

digunakan saat proses pembelajaran bagi anak slow learner. Model

pebelajaran yang berfatiatif akan meningkatkan minat belajar pada siswa

khususnya pada anak slow learner yang memiliki motivasi lebih rendah

dibanding teman-teman lainnya sehingga tujuan pebelajaran dapat tercapai

dengan lebih efektif. Menurut pendapat Trianto tujuan dari model

pembelajaran adalah untuk mengarahkan perancang dan pengajar dalam

merancang suatu pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam

mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.173

Model pembelajaran bagi anak slow learner yang digunakan di SD

Muhammadiyah 2 Tulangan beragam, mulai dari model pembelajaran

klasikal, modal pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kontekstual,

model pembelajaran kelas kecil (pull out), model pembelajaran bermain

peran.174 Model-model pembelajaran yang digunakan adalah model

172
Hernik Farisia,” Strategi Optimalisasi Kemampuan Belajar Anak Berkebutuhan
Khusus (ABK) Melalui Program Pembelajaran Individual”, Jurnal Program Studi PGRA, ISSSN
(Print): 2540-8801; ISSN (Online): 2528-083X Vol. 3 No. 2 Juli 2017, Hlm.15
173
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA
Dan Anak Kelas Awal SD/MI (Surabaya: Kencana, 2010), hlm. 142.
174
Lihat BAB IV, Paparan Data Model Pembelajaran Anak Slow Learner, hlm. 93
145

pembelajaran yang sesuai jika diterapkan bagi anak slow learner. Sejalan

dengan pendapat Nani Triani dan Amir yakni model pembelajaran

kooperatif adalah model pembelajaran yang sesuai bagi siswa lamban

belajar, karena anak lamban belajar lebih menyukai pembelajaran secara

kooperatif, mereka tidak menyukai pembelajaran yang kompetitif.175

Suyanto dan Asep Jihad juga berpendapat bahwa pembelajaran secara

kooperatif membantu siswa lamban belajar dalam memperbaiki masalah

belajar dan tingkah lakunya. Manfaat yang didapat melalui pembelajaran

secara kooperatif bagi siswa lamban belajar yakni meningkatkan hubungan

sosial siswa lamban belajar dengan teman-teman kelasnya, memerbaiki

hasil belajarnya, dan juga memperbaiki keterampilan mengatur waktu.176

Begitu pula dengan pendapat Steven R. Shaw dengan pembelajaran

kooperatif, anak lamban belajar dapat mengikuti banyak metode

pembelajaran, antara lain yakni metode kerja kelompok dan tutor sebaya.177

Selain model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kontekstual

juga sangat dibutuhkan dalam pembelajaran bagi anak slow learner hal

tersebut dikarenakan mereka masih berada dalam tahap berpikir konkret

sehingga kesulitan dalam mempelajari sesuai yang tidak dapat dilihatnya

secara langsung. Sejalan dengan pendapat Lay Kekeh Marthan Marentek,

175
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 29
176
Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional (Strategi Meningkatkan Kualifikasi
dan Kualitas Guru di Era Global) (Jakarta: Esensi, 2013), hlm. 144.
177
Malik, Najman Iqbal, Ghazala Rehman, dan Rubina Hanif, Effect of Academic
Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners, Pakistan Journal of Psychological
Research 2012, Vol. 27, No. [Link]. 141
146

dkk yang menyatakan bahwa pemberian contoh akan mempermudah

pembelajaran bagi anak lamban belajar karena mereka mengalami kesulitan

dalam berpikir abstrak, sehingga sebaiknya guru selalu mengaitkan

pembelajaran yang dilakukan di kelas dengan kehidupan sehari-hari anak.178

Model pembelajaran klasikal juga tidak bisa terlepas dari kegiatan

pembelajaran, dikarenakan dengan pembelajaran klasikal pula guru

berperan lebih banyak dalam menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya

kepada para siswa, dengan model pembelajaran klasikal pula dapat

membantu anak slow learner dalam bersosialisai dengan anak-anak lain

menjadi lebih besar. Sesuai dengan pendapat Friend, M. P., & Bursuck, W. D

yakni tujuan dari pembelajaran klasikal yakni agar siswa berkebutuhan

khusus dapat berinteraksi seperti siswa-siswa pada umumnya dan juga

mencontoh bagaimana sikap siswa-siswa pada umumnya. Akan tetapi pada

pelaksaaan pembelajarannya guru tidak diperkenankan untuk membeda-

bedakan antara keduanya.179

Model pembelajaran bagi anak slow learner selanjutnya yang dilakukan

di SD Muhammadiyah 2 Tulangan yakni model pembelajarn kelas kecil

(pull out). Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut anak slow

learner dapat mengejar ketertinggalannya dengan siswa lain. Karena

mereka akan mendapatkan bimbingan intensif untuk keterampilan maupun

178
Lay Kekeh Marthan Marentek, dkk, Manajemen Pendidikan Inklusif, (Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
2007), hlm. 182.
179
Friend, M. P., & Bursuck, W. D, Including Students With Special Needs: A Practical
Guide For Classroom Teachers (Boston: Pearson/Allyn and Bacon, 2006), hlm. 39
147

kemampuan kognitif yang belum mereka kuasai.180 Model pembelajaran

kelas kecil sendiri merupakan model kegiatan belajar mengajar secara

mandiri atau melakukan penarikan siswa ke ruangan khusus yang telah di

sediakan oleh sekolah atau tempat yang dirasa enjoy oleh siswa untuk

belajar.181

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siyam Mardini di SDN

Giwangan Yogyakarta yang menyatakan bahwa model pembelajaran kelas

kecil (Pull Out) dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa

berkebutuhan khusus yakni mengalami peningkatan sebesar 14%, dan untuk

kemampuan psikomotornya mengalami peningkatan sebesar 17%.

Pembelajaran kelas kecil (Pull Out) juga sangat membantu siswa karena

proses pembelajaarn yang dilakukan disesuaikan berdasarkan kemampuan

dan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.182

Model selanjutnya yakni model pembelajaran bermain peran dengan

menggunakan model ini anak slow learner dapat memperoleh pengalaman

belajar meliputi kemampuan kerjasama dan kemampuan komunikasi.183

Meskipun ketika menggunakan model ini anak slow learner biasanya

mendapatkan bagian seadanya akan tetapi model pembelajaran ini sangat

180
Lihat BAB IV, Paparan Data Model Pembelajaran Anak Slow Learner, hlm. 96
181
Nur Amalia, Winda Hastusi, Dwi Yuniasih, Efi Rusdiyanti, Manajemen Model
Pembelajaran Inklusi Bagi Siswa Slow Leaerner Di SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari
Surakarta”, Jurnal SNP 2018 “Mengembangkan Kompetensi Pendidik Dalam Menghadapi Era
Disrupsi”, Desember 2018, ISBN 978-602-70471-3-6, Hlm.219
182
Siyam Mardini, “Meningkatkan Minat Belajar Anak Berkebutuhan Khusus Di Kelas
Reguler Melalui Model Pull Out Di SDN Giwangan Yogyakarta”, Jurnal Pendidikan Sekolah
Dasar Vol. 2, No 1 Desember 2016, Hlm. 34
183
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 25
148

membantunya dalam melatih kemampuan komunikasi, juga menjalin

hubungan kerjasama yang baik dengan teman-teman kelasnya.

Temuan selanjutnya terkait strategi pengajaran bagi anak slow learner

yang dilakukan di SD Muhammasiyah 2 Tulangan. Strategi pengajaran

sendiri dapat membantu anak slow learner pada saat pembelajaran, antara

lain memulai pembelajaran dengan mereview materi yang telah lalu,

menggunakan bahasa yang mudah dipahami, memberikan tugas evaluasi

yang lebih mudah dibanding teman-temannya, selalu melakukan

pengulangan materi, serta senantiasa mengajak orang tua berkolaborasi

dalam membantu anak slow learner.184 Pembelajaran bagi KA dan juga MA

yang dilakukan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan sesuai dengan teori yang

dikemukakan tersebut, biasanya pembelajaran akan dimulai dengan

mereview, melakukan ice breaking, menciptakan evaluasi pembelajaran

tersendiri bagi anak slow learner, mengulang-ulamg materi pembelajaran,

dan juga selalu melakukan koordinasi dan kerjasama dengan wali murid

yang bersangkutan.185

Evaluasi pembelajaran bagi anak slow learner di SD Muhammadiyah 2

Tulangan juga dibedakan, mengingat kemampuan kognitifnya berada

dibawah anak normal lainnya, sehingga tingkat kesulitan pada bahan

evaluasi dan juga langkah-langkah dalam mengevaluasi juga berbeda.

Menurut teori Bill Hopkins dalam menentukan evaluasi bagi anak slow

184
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 28
185
Lihat BAB IV, Paparan Data strategi pengajaran bagi anak slow learner, hlm. 98
149

learner salah satu hal yang harus diperhatikan yakni waktu tambahan yang

harus diberikan kepada mereka ketika menyelesiakan evaluasi

pembelajaran.186 selain memberikan waktu tambahan tingkat kesukaran

bahan evaluasi yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan siswa,

sehingga dibuatlah indikator-indikator tententu untuk mengukur tingkat

kemampuan anak slow learner tesebut.187

Berdasarkan tori-teori diatas terkait model pembelajaran bagi anak slow

learner sangat penting bagi lembaga penyelenggara pendidikan formal

khususnya lembaga pendidikan inklusi untuk memperhatikan hal-hal yang

harus disediakan dan dilakukan dalam menyelenggarakan pendidikan bagi

anak berkebutuhan khusus tanpa terkecuali. Anak-anak berkebutuhan

khusus juga memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang

bermutu, hal tersebut telah tertuang dalam Undang-undang No. 20 tahun

2003 tentang pendidikan nasional pasal 5 ayat 1 menyatakan bahwa “ setiap

warga negara memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang

bermutu”.188 Berdasarkan undang-undang tersebut secara jelas tertera hak

bagi anak berkebutuhan khusus dalam mendapatkan pendidikan bermutu

yang dapat menunjang ketunaanya.

186
Bill Hopkins, The Child Who is a Slow Learner, Teachers Resource Manual (Cortland:
State University of New York, 2008), hlm. 5
187
Lihat BAB IV, Paparan Data Evaluasi Pembelajaran anak slow learner, hlm. 100
188
Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 1
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dikalukan peneliti di SD Muhammadiyah 2

Tulangan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner yakni, pertama anak slow

learner memiliki kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan anak-anak

lainnya yang memiliki usia sama. Kedua anak slow learner memiliki durasi

fokus/konsentrasi yang relatif singkat, mereka hanya mampu berkonsentrasi

pada menit-menit pertama sehingga bisa dikatakan konsentrasi mereka mudah

teralihkan. Ketiga anak slow learner mengalami kesulitan dalam

berkomunikasi, baik dalam komunikasi dua arah maupun untuk

mengekspresikan emosi yang sedang dirasakannya. Keempat anak slow

learner mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri, mereka belum mampu

secara mandiri melakukan hal-hal yang harus dikerjakan sehingga setiap tugas-

tugas pembelajaran harus terlebih dahulu mendapatkan perintah dari guru.

Kelima anak slow learner memiliki emosi yang kurang stabil seperti mudah

marah dan juga sensitif. Keenam anak slow learner mengalami kesulitan dalam

mengingat kembali materi-materi yang telah dipelajarinya. Ketujuh anak slow

learner mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. materi

yang diajarkan harus diulang-ulang sampai ahirnya mereka dapat

memahaminya. Kedelapan anak slow learner mengalami kesulitan dalam

bersosialisasi. Mereka cenderung pasif dalam pertemanan, sehingga tidak

150
151

mampu mengawali percakapan dengan orang lain dan cenderung pendiam.

Kesembilan anak slow learner mengalami kesulitan dalam membuat suatu

pedoman kerja, kemampuan berbahasa yang mereka miliki masih renah

sehingga kemampuan dalam menyusun sebuah kalimat masih terbatas.

Kesepuluh anak slow learner mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan,

menganalisis, dan juga berpikir kritis. Kemampuan yang mereka miliki masih

belum mampu untuk mencapai keterampilan-keterampilan tersebut, untuk

mendeskripsikan hanya dengan bahasa sederhana akan tetapi kemampuan

menganalisis dan berpikir kritis masih belum mampu.

2. Model pembelajaran bagi anak slow learner yang diterapkan di SD

Muhammadiyah 2 Tulangan yakni meliputi: pertama, pengelolaan lingkungan

kelas yakni terkait formasi tempat duduk yang berfariatif sesuai kebutuhan

pembelajaran agar menghindari kebosanan, dan juga posisi tempat duduk

strategis bagi anak slow learner agar mereka tidak terlepas dari pengawasan

guru. Kedua, perangkat pembelajaran yang diindividualisasikan yang disebut

dengan worksheet khusus bagi anak slow learner dimana isinya telah

disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu.

Ketiga, model pembelajaran yang digunakan saat pembelajaran berlangsung

sangat beragam yakni model kooperatif, model kontekstual, model klasikal,

model kelas kecil (pull out), model bermain peran, dan juga model individual.

Keempat, strategi pengajaran yang diterapkan untuk anak slow learner

mendukung dalam keberhasilan pembelajaran yakni dengan selalu melakukan

review-reviw materi yang terlah dipelajari, guru menggunakan bahasa yang


152

mudah dipahami dalam penyampaian materi, tugas-tugas yang diberikan bagi

anak slow learner memiliki kompetensi dibawah anak-anak lainnya,

pengulangan dalam penyampaian materi pembelajaran, dan juga selalu

berkolaborasi dengan wali murid dalam mendiskusikan permasalahan-

permasalahan anak slow learner. Kelima, evaluasi pembelajaran bagi anak

slow learner memiliki modifikasi-mosifikasi tertentu, yakni dengan

menyususn instrumen evaluasi khusus yang telah disesuaikan dengan

kemampuan masing-masing anak, modifikasi jumlah soal, dan juga modifikasi

waktu penyelesaian yakni dnegan diperpanjang.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa saran yang telah

peneliti identifikasikan kepada berbagai pihak, yaitu:

1. Kepada Kepala Sekolah

Melakukan peningkatan fasilitas sekolah khususnya fasilitas bagi anak-anak

berkebutuhan khusus untuk menunjang proses pembelajaran dan juga

pemenuhan kebutuhan-kebutuhan bagi mereka.

2. Guru Kelas dan Guru Mata Pelajaran

Memantau perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus dengan lebih

intens, agar perkembangan belajar mereka tidak tertinggal jauh dari anak-anak

lainnya. dan juga memberikan perlakuan-perlakuan yang diperlukan untuk

membimbing anak dengan kebutuhan khusus.


153

3. Guru Pendamping Khusus

Selalu melaukan inovasi dan juga meningkatkan kompetensinya dalam

mendampingi anak berkebutuhan khusus.

4. Peneliti Selanjutnya

Melanjutkan penelitin pada tahapan yang lebih spesifik, dengan fokus

penelitian yang berbeda terkait dnegan penanganan bagi anak slow learner.
DAFTAR PUSTAKA

A.A, Wahab. 2008. Metode dan Model-model Mengajar Ilmu Pengetahuan


Sosial. Bandung: Alfabeta

Adam, Sulthan. 2018. Rukyah Syar’iyyah: Terapi Mandiri Penyakit Hati Dan
Gangguan Jin. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Agustin, Mubiar. 2011. Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran


Panduan untuk Guru , Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga
Kependidikan. Bandung: PT Refika Aditama.

Al-Kaheel, Abdel Daim. 2012. Lantunan Qur’an Untuk Penyembuhan.


Yogyakarta: Pustaka Pesantren

Amalia, Nur, Winda Hastuti, Dwi Yuniasih, dan Efi Rusdiyani. 2018.
Manajemen Model Pembelajaran Inklusi Bagi Siswa Slow Learner Di Sd
Muhammadiyah Alam Surya Mentari Surakarta, jurnal "Mengembangkan
Kompetensi Pendidik dalam Menghadapi Era Disrupsi" Kerjasama PGSD
- POR UMS ISBN 978-602-70471-3-6, 2018

A’yun, Elvyna Kholidah Qurotul. 2018. skripsi: Model Pembelajaran


Tahfidzul Quran Pada Siswa Gangguan Kemampuan Komunikasi Dan
Lambat Belajar Kelas III Madrasah Ibtidiyah Terpadu Ar-Roihan Lawang
Malang. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

As-Sad-han, Abdullah Bin Muhammad. 2005. Mujarobat Menurut al-Qur’an


dan as- Sunnah yang Shahih. Jakarta: Pustaka Ibnu ‘Umar

Assjari, Musyafak. 2005. “Program Pembelajaran Individual”, Departemen


Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.

Bandur, Agustinus. 2014. Penelitian Kualitatif Metodologi, Desain, & Teknik


Analisis Data Dengan NVIVO 10. Jakarta: mitra wacana media.

Delphie, Bandi. 20016. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam


Setting Pendidikan Inklusi. Bandung: PT Refika Aditama.

Efendi, Mohammad. 2009. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan.


Jakarta: PT Bumi Aksara.

154
155

Farisia, Hernik Farisia. 2017. Strategi Optimalisasi Kemampuan Belajar Anak


Berkebutuhan Khusus (ABK) Melalui Program Pembelajaran Individual.
Jurnal Program Studi PGRA, ISSSN (Print): 2540-8801; ISSN (Online):
2528-083X Vol. 3 No. 2

Fathurrohman, Puput, Dan Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar.


Bandung: Refika Aditama.

Fatimah, Syahrina. 2013. Development Of Multimedia Courseware For Slow


Learner Children With Reading Difficultties. Springer International
Publishing Switxerland

Friend, M. P., & Bursuck, W. D. 2006. Including Students With Special Needs:
A Practical Guide For Classroom Teachers. Boston: Pearson/Allyn and
Bacon
Hasti, grace nindhita pranamnya. 2017. Pengaruh Poisi Tempat Duduk Terhadap
Motivasi Dan Hail Belajar Siswa Kelas VII SMP Santo Aloysius, jurnal
Universitas As-Sanata Dharma, Yogyakarta.

Hopkins, Bill. 2008. The Child Who is a Slow Learner, Teachers Resource
Manual. Cortland: State University of New York.

Ilahi, Mohammad Takdir. 2009. Pendidikan Inklusif Konsep & Aplikasi.


Jogyakarta:Ar-Ruzz Media.
Jamaris, Martin. 2014. Kesulitan Belajar: Prespektif, Asesmen, Dan
Penanggulangannya Bagi Anak Usia Dini Dan Anak Usia Sekolah.
Semarang: Ghalia Indonesia
Jamila K. A, Muhammad. 2008. Special Education for Special Children
Penduan Pendidikan Khusus Anak-Anak Dengan Ketunaan dan Learning
Disabilitie. Jakarta Selatan: Hikmah [Link] Publika.

Julkifli, Muhammad. 2019. Strategi Guru Mengelola Kelas Dalam Mengatasi


Kesulitan Belajar Pada Anak Lamban Belajar. Malang: UIN Maulana
Malik Ibrahim.

Kekeh, lay, dan marthan marentek, dkk. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Direktorat Ketenagaan.

Kurniati, Ana. Juli 2013. Aplikasi Pendekatan Pembelajaran Individual Mata


Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Difabel (Tunanetra)
di MAN Maguwoharjo, Jurnal Citizenship, Vol. 3 No. 1.

Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.


156

Malik, Najman Iqbal, Ghazala Rehman, dan Rubina Hanif. 2012. Effect of
Academic Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners,
Pakistan Journal of Psychological Research 2012, Vol. 27, No. 1

Mardini, Siyam. 2016. Meningkatkan Minat Belajar Anak Berkebutuhan


Khusus Di Kelas Reguler Melalui Model Pull Out Di SDN Giwangan
Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Vol. 2, No 1

Marentek, Lay Kekeh Marthan, dkk. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif.


Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Direktorat Ketenagaan. 2007

Michael, Farrel. 2008. Inclusion At The Crossroad, Special Education Concept


And Values. USA: David Fulton Publisher.

Michael, Reiff, Feldman, Heidi. 2014. Diagnostik And Statistical Manual Of


Mental Disorders: The Solution Or The Problem?. Journal of
Developmental And Behavior Pediatrics, Vol 4, Issue 1, p 68-70,
doi:10.1097/DBP0000000000000017

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif edisi Revisi.


Bandung:Remaja Rosdakarya.

Muhammad, Hamid. 2014. Kurikulum 2013 Pedoman Pelaksanaan


Kurikulum bagi Peserta didik Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi.
Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Mulyadi. 2010. Diagnosis Kesulitan Belajar Dan Bimbingan Terhadap


Kesulitan Belajar Khusus. Yogyakarta: Nuha Litera.

Nugroho, Agung, dan Lia Mareza. Oktober 2016. Model Dan Strategi
Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan
Inklusi, Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa Volume 2, Nomor 2.

Rahim, Abdul. 2016. Pendidikan Inklusi Sebagai Strategi Untuk Mewujudkan


Pendidikan Untuk Semua, Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, (Vol. 3 No. 1
2016).

Rusman. 2017. Belajar Dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan


Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Smith, David. 2009. Sekolah Inklusif Konsep dan Penerapan Pembelajaran.


157

Sugiyanto. 2010. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma


Presindo.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif, dan R&D. Bandung:Alfabeta.

Sulistyadi, Hery Kurnia. 2014. Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan


Layanan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Sidoarjo. jurnal Kebijakan dan
Manajemen Publik ISSN 2303 - 341X Volume 2, Nomor 1.

Suyanto dan Asep Jihad. 2013. Menjadi Guru Profesional (Strategi


Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Global. Jakarta:
Esensi

Tarmansyah. 2007. Inklusi Pendidikan untuk Semua. Jakarta: Departemen


Pendidikan Nasional Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.

Triani, Nani, dan Amir. 2016. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban
Belajar (Slow Learner). Jakarta: Luxima

Trianto. 2010. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia


Dini TK/RA Dan Anak Kelas Awal SD/MI. Surabaya: Kencana.

Ulfatin, Nurul. 2017. Metode Penelitian Kualitatif Dibidang Pendidikan Teori


Dan Aplikasinya. Malang: Media Nusa Creat
Lampiran-Lampiran

158
159

Lampiran 1

PROFIL SEKOLAH

A. IDENTITAS SEKOLAH
1. Nama Sekolah : SD Muhammadiyah 2
Tulangan
2. Nama Kepala Sekolah : Nofan Arifianto, [Link].I
3. NPSN : 20551659
4. NSS : 101050206036
5. Status Sekolah : Swasta
6. Status Akreditasi : Akreditasi A
7. SK Akreditasi : 250/BAP-SM/SK/X/2014
8. Tanggal SK Akreditasi : 28-10-2014
9. Nilai Akreditasi Sekolah : 92
10. Alamat / Desa : Jl. Kemantren Tulangan
11. RT/RW : 1/2
12. Kode Pos : 61273
13. Kelurahan : Kemantren
14. Kecamatan : Tulangan
15. Propinsi : Jawa Timur
16. Telephone : (031) 8855539 / (031)
88580259
17. Email : sdmuda_kreatif@[Link]

B. VISI DAN MISI


1. Visi
Religius, Berakhlaqul karimah, Berprestasi
2. Misi
 Melaksanakan kegiatan pembelajaran yang
menyenangkan, kreatif dan inovatif
 Membimbing siswa berakhlaqul karimah dan taat
beribadah
 Mendidik siswa mandiri, kreatif, inovatif, dan
berprestasi
160

C. DATA PELENGKAP
1. SK Pendirian Sekolah :
642/2014/404.3.14.2007
2. Tanggal SK Pendirian : 02-10-2007
3. Status Kepemilikan : Yayasan
4. No Akta Yayasan : C2-HT.01.03.A.165
5. Tanggal Akta Yayasan : 29-01-2001
6. Tahun didirikan / beroprasi : 2006
7. SK Izin Perpanjangan :
188/776/438.5.1/2018
8. Tanggal Izin Perpanjangan : 25-09-2018
9. Status Tanah : Milik Sendiri
10. Luas Tanah : 4866 m2
11. Luas Bangunan : 1400 m2
12. NPWP : 008410953603000

D. DATA PERIODIK
1. Waktu Penyelenggaraan : Pagi
2. Sumber Listrik : PLN
3. Daya Listrik (watt) : 3500
E. Akses Internet : Telkom Speedy

F. SANITASI
1. Kecukupan Air : Cukup
2. Air Minum Untuk Siswa : Disediakan Sekolah
3. Sumber Sanitasi : Sumur Terlindungi
4. Ketersediaan Air disekolah : Ada Sumber Air
5. Tipe Jamban : Toilet Duduk/Jongkok
6. Jumlah Tempat Cuci Tangan : 9
7. Jumlah Jamban Laki-Laki : 8
8. Jumlah Jamban Perempuan : 8

G. JUMLAH GURU DAN KARYAWAN


JUMLAH GURU KARYAWAN TOTAL
GURU DAN
KARYAWAN L+
L P L P L+P L P L+P
P
2016/2017 13 22 25 5 3 8 18 25 43

2017/2018 13 24 37 5 4 9 18 28 46
161

2018/2019 11 28 39 6 4 10 17 32 49

2019/2020 11 28 39 7 5 12 18 33 51

2020/2021 11 28 39 7 4 11 18 33 51

H. DATA GURU DAN KARYAWAN


a. Data guru berdasarkan jenis kelamin
J
NO NAMA NBM JABATAN
K

L 110240 Kepala
Nofan Arifianto, [Link].I.
1 3 Sekolah

2 Widyaningrum, SE. P Guru Kelas

3 Suchaimatul Lutfia, [Link]. P Guru Kelas

4 Hazar Istikomawati, [Link]. P Guru Kelas

5 Zunik Nur’aini, [Link].I. P Guru Kelas

6 Anis Puspitaningtyas, STP. P Guru Kelas

7 Fahruddin, [Link].I. L Guru Ismuba

P 128070 Guru Kelas


Siti Sumiati, [Link].
8 3

9 U’un Mas’ulah, [Link].I. P Guru Kelas

10 Erni Mindarningsih, [Link]. P Guru Kelas

11 Wahdaniftakhillaili Abidin, [Link]. P Guru Kelas

L 128086 Guru Kelas


Fauzi Zulmi Antofani, [Link].
12 7

13 Rahmad Hidayah, [Link].I. L Guru Ismuba

P 128086 Guru Kelas


Yulia Tri Lestari, [Link].
14 9

L 128085 Guru Kelas


Ahmad Al Mahdi, [Link].
15 0

P 128070 Guru Kelas


Widya Nurcahyanti, [Link].
16 4

17 Asri Dyah Soekwandari, SE. P Guru Kelas

Angga Baskoro Yuda, [Link]. L 128086 Guru Kelas


18 4
162

Nailul Izzah, [Link]. P 128070 Guru Kelas


19 0

M. Arifulloh, [Link]. L 128086 Guru PJOK


20 5

21 Punto Cahyo Al Adin, [Link].I. L Guru Kelas

P 128084 Guru Kelas


Dewi Surya Atmaja, [Link].
22 9

P 128084 Guru Kelas


Endah Kurniyasari, [Link].
23 8

P 128086 Guru Kelas


Elys Fitriyanah, [Link].
24 3

L 128071 Guru PJOK


Mukhtar Ahsanul Rizqy, [Link].
25 1

P 128070 Guru Kelas


Arvi Andriani, [Link].
26 9

L 128085 Guru Kelas


Rizky Ardiansyah, [Link].
27 1

28 Lia Ekayani, [Link].I. P Guru Kelas

Isnaini Maulida Rahmawati, P Guru Kelas


29 [Link].

30 Silvi Setiawati, [Link]. P Guru Kelas

31 Laili Avivah, [Link] P Guru Kelas

32 Nadhifatul Amalia, [Link] P Guru Kelas

33 Dwi Romadhini, [Link] P Guru Kelas

34 Dwi Arfiyanti, [Link] P Guru Binggris

35 M. Nur Aziz,[Link] L Guru Ismuba

36 Nuris Lailatul Jannah, [Link] P Guru Kelas

37 Eni Suprapti, [Link].I P Guru Kelas

Lusiana Acnesyah Putri P Guru Kelas


38 Aminuddin, [Link]

39 Nur Intan Rizqi, [Link] P Guru Kelas


163

b. Data karyawan menurut jenis kelamin

NO NAMA JK NBM JABATAN

1 Ratna Nurdianita P Bendahara

2 Sholikin L 1280702 Kebersihan

3 Sumarjoko L Keamanan

4 Dwi Sayuti Baidowi L Tata Usaha

5 Sunaryo L Kebersihan

6 Nur Aisyah, [Link] P 1280866 Tata Usaha

7 Bambang L Kebersihan

Dia Wadakusuma P Perpustakaan


8 Viccenolita

Ribut Tri Elok Rosalina, P Tata Usaha


9 SE

10 Zainal Mustafa L Keamanan

11 Dzakiyyah P Perpustakaan

12 Muhammad Yusron L Kebersihan

I. DATA SISWA

a. Perkembangan 4 Tahun terakhir

KELAS
/ I II III IV V VI TOTAL
TAHU
N L L L L L L
L+
PELAJ L P + L P + L P L P + L P + L P + L P +
P
ARAN P P P P P P
6 4 1 6 4 1 5 3 91 5 4 9 5 2 8 3 2 6 3 2 5
2016/ 2 6 0 2 6 0 7 4 2 0 2 5 9 4 4 6 0 2 2 4
2017 8 8 2 1 3

6 4 1 6 4 1 6 4 11 5 3 8 5 3 9 5 2 8 3 2 5
2017/ 4 4 0 1 9 1 4 6 0 4 4 8 2 8 0 6 8 4 5 3 9
2018 8 0 1 9 0

5 6 1 6 4 1 6 4 10 6 4 1 5 3 8 5 3 9 3 2 6
2018/ 6 0 1 2 6 0 2 7 9 2 6 0 4 3 7 2 8 0 4 7 1
2019 6 8 8 8 0 8
164

2 4 7 5 6 1 6 4 11 5 5 1 6 4 1 5 3 8 3 2 6
2019/ 9 2 1 6 0 1 5 6 1 6 4 1 0 9 0 4 2 6 2 8 0
2020 6 0 9 0 3 3

4 3 8 3 4 7 5 5 11 6 4 1 6 4 1 6 4 1 3 2 6
2020/ 6 8 4 0 3 3 6 9 5 4 7 1 0 8 0 5 4 0 2 7 0
2021 1 8 9 1 9 0

J. JUMLAH ROMBEL KELAS

KELAS JUMLAH

KELAS 1 3
KELAS 2 3
KELAS 3 4
KELAS 4 4
KELAS 5 4
KELAS 6 4
TOTAL 22

K. DATA JENJANG PENDIDIKAN GURU

PENDIDIKAN
N KEAHLIAN KET
O SLT D1 D2 S1 S2
A

1. Matematika -

2. PPKN -

3. PAI 5

4. Bahasa Arab 1

5. Guru Kelas 30

6. Penjaskes 2

7. Komputer (TIK) 1

8. Bahasa Inggris 2
165

L. Rekapitulasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan

No Status Pendidik dan Tenaga Kependidikan Jumlah

A. Pendidik

1. Guru PNS diperbantukan tetap

2. Guru tetap yayasan 24

3. Guru honorer

4. Guru tidak tetap 15

B. Tenaga Kependidikan

1 KTU 1
.

2 Staff TU 2
.

C. Tenaga lainnya

1. Penjaga Sekolah/ Kebersihan 4

2. Satpam 2

Jumlah 58
Personal
166

M. Data Sarana dan Prasarana

Kategori Kondisi Ruangan


Jumla
N Jenis Sarana Prasarana
h Rusak Rusak Rusak
o Baik
Ruan Ringa Sedan Berat
g n g

1 Ruang Kelas 22 10 2 10

2 Perpustakaan 2 1

3 R. Lab. PAI

4 R. Lab. Biologi

5 R. Lab. Fisika

6 R. Lab. Kimia

7 R. Lab. Komputer 1 1

8 R. Lab. Bahasa

9 R. Kepala/Waka Madrasah 1 1

1 R. Guru 1 1
0

1 R. Tata Usaha 1 1
1

1 R. Bimbingan Konseling 1 1
2

1 R. Tempat Ibadah 1 1
3
167

1 R. UKS 1 1
4

1 Jamban Siswa dan Guru 22 22


5

1 Gudang 1 1
6

1 Tempat Olahraga 1 1
7

1 R. OSIS
8

1 R. Kegiatan Siswa
9

2 R. Lainnya
0
168

Lampiran 2

DAFTAR NAMA SISWA INKLUSI

SD MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN SIDOARJO KELAS 1 - 6


DENGAN HAMBATAN : B , C, D, DAN AUTISME

TAHUN PELAJARAN 2019 – 2020

Level
No Nama siswa Kelas Hambatan
hambatan

1. Emir Rafi Kamil P. 1 – Dolphin Autisme Ringan

2. Gifta Yesa S. 1 – Dolphin Pendengaran Berat

M. Rafa Ramadhanian 1 – Bee Lambat bicara


3. R. Ringan

Abid Amalis S. 1 – Bee RM (Retardasi


4. Mental) Ringan

5. Kautsar Ibrahim Fasya 1 – Bee Disleksia Ringan

Kanaya Almahyra 1 – Rabbit Pendengaran


6. Rochmawan Berat

7. Arfan Manesh 2 – Anggrek Autisme Ringan

8. Fadhil Ikhlas Santoso 2 – Anggrek Autisme Ringan

Hilmi Akbar 2 – Anggrek Disleksia


9. Ringan

Prisya Jaswi 2 – Anggrek RM (Retardasi


10. Mental) Ringan

Kaffi El Azzam 2 – Melati Disleksia


11. Dinata Ringan

12. Helga Putri Trifada 2 – Melati Disleksia Ringan


169

13. Nizam Ahmad Dinata 2 – Tulip Autisme Ringan

Anaya Makkayla 2 – Tulip RM


14. Attya Ringan

Hafizh Fabiansyah 2 – Mawar RM (Retardasi


15. Mental) Ringan

16. Evan 3 – Pesawat AKB/Average Berat

Syarifani Aisyah 3 – Pesawat AKB / Boderline


17. Rosidah Ringan

Thalita Dhyanti Rhea 3 – Kereta api Pendengaran


18. Berat
S.

Nova Prasetya Dwi 3 – Kereta api AKB / low average


19. Ringan
Nanda

M. Fathky 3 – Kereta api AKB / low average


20. Ringan
Firmansyah

21. Fandi Satriya Akbar 3 – Kapal ADHD Ringan

Dimas Rafi 3 – Kapal KBS (Disleksia)


22. Ringan
Firzatullah

Farhan Nurrahman 3 – Mobil Pendengaran


23. Berat
A.

24. Wildan Hanif 3 – Mobil AKB / Boderline Ringan

25. Febian Nolan 4 – Abu Bakar AKB / Low average Ringan

26. Khanza Nathania R. 4 – Abu Bakar AKB / Boderline Ringan

Mahardika Retno 4 – Umar Autisme


27. Ringan
Anjasmoro

28. Aldi Fairuz Hidayat 4 – Umar AKB / Low average Ringan

Arzavin Ghaisan 4 – Utsman AKB / Boderline


29. Ringan
Nabil
170

Raditya Buana 4 – Ali Boderline


30. Ringan
Sheehan

Nur Aisyah Zharifah 4 – Ali KBS (Disleksia)


31. Ringan
Az Zahro’

32. M. Adam An Hafish 5 – Sasadu Boderline Ringan

Asheera Damita 5 – Honai Ringan


33. Autisme
Mustario

Kamila Alifa Zahra 5 – Honai Ringan


34. Boderline

Alma Abdillah 5 – Gadang RM (Retardasi


35. Ringan
Mental)

Rafi Athoillah 5 – Gadang


36. AKB/low average Ringan

Mutiara Rezkya 5 – Joglo RM (Retardasi


37. Ringan
Mental)

Moch. Luisnando 5 – Joglo RM (Retardasi Ringan


38.
Mental)

Satrio Agung Rizqi 6 – Din Syamsudin


Ringan
39. Nur F. ADHD
171

Lampiran 3

Daftar Pertanyaan

Untuk Guru Kelas, Guru Pendamping Khusus, Dan Guru Matapelajaran

terkait kondisi kesulitan belajar pada siswa slow learner

1. Apakah siswa slow learner memiliki kecerdasan yang lebih rendah

dibandingkan dengan teman-teman kelasnya yang memiliki usia sama?

2. Apakah siswa slow learner mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, baik

dalam bahasa ekspresif maupun dalam menyampaikan ide?

3. Apakah siswa slow learner memiliki emosi yang kurang stabil, seperti cepat

marah, meledak-ledak, dan juga sensitif

4. Apakah konsentrasi siswa slow learner saat pembelajaran berlangsung mudah

teralihkan, sehingga mereka cenderung memiliki durasi konsentrasi yang

cukup terbatas?

5. Apakah siswa slow learner mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri?

6. Apakah siswa slow learner mengalami kesulitan dalam mengingat kembali hal-

hal yang telah dipelajari?

7. Apakah siswa slow learner membutuhkan waktu yang panjang dalam

menangkap suatu pembelajaran, akan tetapi cepat lupa akan hal-hal yang telah

dipahaminya?

8. Apakah siswa slow learner cenderung pendiam dan susah untuk bersosialisasi

dengan siswa lain?


172

9. Apakah siswa slow learner kesulitan dalam membuat suatu pedoman kerja,

sepeeti hal-hal yang harus dilakukan?

10. Apakan siswa slow learner kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis,

memecahkan sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam berpikir kritis?


173

Untuk Guru Kelas, Guru Pendamping Khusus, Dan Guru Matapelajaran

terkait model pembelajaran bagi siswa sloew learner yang digunakan saat

pembelajaran

1. Bagaimana pengelolaan lingkungan kelas untuk kelas dengan siswa slow

learner di dalamnya?

2. Perangkat pembelajaran seperti apa yang digunakan dalam melaksanakan

pembelajaran bagi siswa lamban belajar ( terkait RPP, Bahan Ajar, Media

Pembelajaran, dll)?

3. Bagaimana cara memulai atau membuka pembelajaran untuk meningkatkan

semangat dan motivasi belajar siswa slow learner?

4. Apasaja model pembelajaran yang digunakan dalam melakukan kegiatan

pembelajaran?

5. Model pembalajaran apa saja yang efektif digunakan untuk siswa slow

learner?

6. Alat bantu pembelajaran apa yang digunakan saat melakukan kegiatan

pembelajaran?

7. Apa strategi pembelajaran yang digunakan dalam melaksanakan

pembelajaran?

8. Bagaimana evaluasi pembelajaran yang diterapkan untuk siswa slow learner

(seperti tingkat kesulitan, jumlah soal, dll)?


174

Lampiran 4

Transkip Wawancara

Metode Pengumpulan Data : wawancara

Instrumen : Guru Pendamping Khusus KA

Terkait Kondisi Lamban Belajar Pada Siswa Slow Learner KA

1. Kecerdasan anak slow learner lebih rendah dibandingkan dengan teman-

teman sekelasnya yang memiliki uisa sama, dikarenakan dari segi IQ saja

sudah berbeda, meskipun sama usianya dengan teman-teman kelasnya tetapi

usia mentalnya masih jauh dibawahnya. Dalam artian kan adek K sekarang

usianya 11 tahun tetapi mentalnya itu masih kayak usi 8-9 tahun

2. Kemampuan komunikasi adek K untuk komunikasi dua arah masih susah,

bisa diajak komunikasi tetapi harus menggunakan bahasa-bahasa yang

sederhana. Kalau komunikasi untuk mengekspresikan diri dia cenderung

dengan ketawa, misalkan dia dijahilin atau dicubit temannya dia akan bilang

“hehe sakit, atau hehe jangan gitu”, meskipun yang dia rasakan adalah

perasaan kurang nyaman maupun sakit dia mengekspresikannya dengan

ketawa, jadi antara yang dia rasakan dengan bahasa untuk menyampaikan

erkespresinya kurang nyambung.

3. Emosi adek K bisa dikatakan kurang stabil dia cenderung sensitif, kayak

misalnya hari itu dia salah memakai seragam sekolah nanti dia ketmu

bundanya itu sambil nangis dan bakalan inget kejadian itu sampai minggu
175

selanjutnya, bukan hanya inget dia akan ngungkit-ngungkit hal itu sampai

kira-kira minggu selanjutnya. Tapi adek K ini nggak mudah marah,

sensitifnya bukan yang mudak ngamuk meledak-ledak, karena dia tipe-tipe

anak yang ceria.

4. Konsentrasi adek K hanya bertahan selama 5 menit, setelah 5 menit dia

kembali mainan dan sebagainya, jadi misalkan 5 menit pertama trus dia

main lagi, diingatkan lagi main lagi, begitu seterusnya, jadi tiap 5 menit itu

mengingatkan lagi.

5. Kemampuan adek K dalam megarahkan diri seperti membaca dia sudah

bisa, menulis juga sudah bisa tetapi levelnya masih rendah. Kalau membaca

masih banyak huruf-huruf yang sering tertukar, misalnya huruf b dengan d

huruf p, q, dan r.

6. Kemampuan dalam memahami materi itu sedikit susah jadi harus diulang

berkali-kali kalau ngajarinnya baru nanti dia bisa paham, dan kalau sudah

paham dia cepet lupa. Diajarinnya susah tapi kalau sudah bisa cepet lupanya

juga

7. Kemampuan dalam mengingat kembali hal-hal yang sudah dipelajari itu

rendah seklai, dia haya bisa mengingat yang sudah dipelajari itu selama 30

menit, setelah 30 menit dia akan lupa tadi sudah belajar apa, jadi misalkan

pelajaran yang dipelajari hari ini dilanjutkan pada hari berikutnya maka saya

harus mengulang lagi yang saya ajarkan kemarin. Jadi ya diulang-ulang lagi

dari awal, mungkin dia ingetnya cuma satu atau dua dari yang sudah

diajarkan
176

8. Kemampuan adek K dalam membuat pedoman kerja rendah, dia bisa tetapi

dengan menggunakan bahasa yang sederhana itu, kalau yang panjang-

panjang belum bisa.

9. Kemampuan bersosialisasinya lumayan, karena dia anaknya sedikit periang

jadi bukan yang diem banget, kalau sosialisai dengan temannya ya

secukupnya karena kadang kalau dia diajak ngobrol sama temnnya

jawabannya ngga nyambung, kalau dateng ke kelas juga dia pergi ke pojok

kelas ke sudut baca buat baca buku-buku komik bergambar yang untuk

anak-anak tk atau kelas bawah.

10. Kemampuan adek K dalam mendeskripsikan sebuah benda kurang, dia bisa

kalau bendanya ada konkret di depannya atau sekalilingnya, tetapi kalau

bendanya hanya berupa gambar dia kesulitan, dia bilang “ini apasih

ustadzah” meskipun benda itu sering ditemui di kehidupan sehari-harinya.

Kalau kemampuan menganalisis, berfikir kreatif dan sebagainya itu dia

belum bisa.
177

Terkait Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner KA

1. Formasi duduk untuk adek K ketika dikelas bermacam-macam ada yang

berkelompok dll, setiap sebulan sekali formasi duduknya akan diubah-ubah.

Letak duduk adek K ketika dalam kelas pun ditentukan oleh guru kelasnya,

jadi ketika sudah ditentukan selama formasinya belum berubah adek K akan

tetap duduk ditempat itu begitu juga siswa-siswa lain. jadi misal formasinya

grup-grup nanti adek kamila duduk disalah satu grup itu tidak disendirikan.

2. Untuk adek K dan siswa berkebuthan khusus lainnya itu ada yang namanya

worksheet, worksheet itu guru pendampingnya yang bikin. Isinya tentang

materi pembelajaran pada hari itu karena untuk adek K materi yang ada

dibuku mungkin terlalu tinggi levelnya jadi di worksheet itu materi yang

disajikan sama tetapi level kesulitannya berbeda, dan juga media, medianya

itu tentag program terapinya dia, misalkan adek K masih susah membuat

garis lurus, nanti dimedia pembelajarannya kita bikin titik-titik nanti disalin

lagi tanpa titik-titik macem-macem sesuai sama materinya. Untuk evaluasi

pembelajarannya juga guru pendampingnya yang buat jadi materi hari itu

apa saya koordinasi dengan guru kelasnya terus saya buatkan soal-soal

tentang materi tersebut dengan level yang rendah

3. Cara memotivasi adek K agar semangat belajarnya itu dengan kita beri

reward, rewardnya boleh makan, jadi kalau kita kasih materi trus dia lihat

dulu ada berapa lembar, kalau lebih dari satu lembar dia raut mukanya itu

kayak udah cemberut jadi buat menaikkan moodnya dia kita berikan reward

itu.
178

4. Saya saat ngajar kamila itu semoodnya kamila biasanya, kadang dia kan

susah diatur jadi kadang saya ceramah, atau melalui gambar-gambar kalau

moodnya lagi bagus, kadang juga berkelompok sama temannya yang

kebetulan temen-temennya itu juga ikut membantu, jadi dia juga dikasih

tugas tapi tugas yang gampang-gampang, kalau lagi bermain peran misalnya

dia kebagian peran yang gampang-gampang juga.

5. Belajar yang efektif untuk adek K itu biasanya dengan metode menghafal,

karena dia kalau disuruh menghafal itu cepet, meskipun nanti cepet lupa jua,

tapi dia kalau disuruh ngafalin perkalian mislanya dia cepet, kalau diskusi

adek K itu belum bisa, kalau berkelompok dia cenderung diam, paling cuma

nanya temennya ehh tugasku apa gitu.

6. Alat bantu belajarnya macem-macem sesuai dengan materinya biasanya

7. Strategi pembelajarannya kalau saat istirahat saya ajak dia untuk

mengerjakan soal-soal atau mengulang yang sudah dia pelajari, saya juga

selalu berkolaborasi sama orang tuanya, jadi sepulang sekolah gitu saya

ngobrol diskusi dengan orang tuanya tentang pembelajaran hari ini, kadang

kalau dia di sekolah kurang mood saya tanyakan hari ini kenapa moodnya

adek K jelek apa yang terjadi di rumah ma, biar saling tau bagaimana cara

paling tepat untuk menangani adek K dan juga menghindari hal-hal yang

membuat mood dia jelek.

8. Evaluasi pembelajaran untuk adek K juga memiliki tingkat kesulitan yang

lebih rendah dibanding dengan teman kelasnya, jadi dengan materi yang

sama akan tetapi level soalnya itu berbeda.


179

Transkip Wawancara

Metode Pengumpulan Data : Wawancara

Instrumen : Guru Bahasa Inggris KA

Terkait Kondisi Lamban Belajar Pada Siswa Slow Learner pada KA

1. Adek K dari waktu saya ngajar nggeh sudah kelihatan kalau adek K itu

kecerdasannya lebih rendah dibandingkan temen-temennya yang lain, jadi

dia itu kurang nyambung klau misalnya diajak ngomong atau ditanyain itu

jawabanya cenderung nggak nyambung, jadi kalau sedang mengerjakan

worksheet dia itu harus bener-bener dituntun satu-satu. Yah itu tadi

mungkin salah satu indikasi bahwa dia sedikit kurang dibanding temen-

temen yang lain.

2. Kemampuan komunikasinya adek K kalau untuk komukasi ya memang

agak gak nyambung, kkalau diajak ngomong gitu ditanya apa jawabnya apa,

kadang ngga fokus kan anaknya ngga lihat lawan bicaranya, ngelihatnya

kemana-mana makannya dia nggak nyambung kalau diajak bicara. Kalau

untuk mengeksprsikan nggak ada problem sih menurut saya, kalau dia lagi

seneng ya kadang dia cerita, ustdzah kemarin aku habis nonton, sama mama

sama kakak gitu, kalau misalnya dia lagi nggak mood gitu dia diem trus

ditanyain adek K kenapa, dia jawabnya aku sedih. Gitu sih. Jadi saya kira

untuk mengekspresikan emosinya dia nggak ada problem sih.


180

3. Emosi adek K itu cenderung anaknya lebih stabil, kalaupun ada sesuatu

yang nggak cocok itu dia ahh kamu itu bukan begitu, jadi cuma gitu aja ,

yaah masih wajar lah, bukan yang kayak tantrum marah-marah gitu. Dia

juga tidak terlalu sensitif, jadi hampir saya belum pernah melihat dia nangis,

kalau wkatu saya, ndak tau juga kalau bukan waktu saya ngajar.

4. Fokusnya adek K itu kurang, jadi paling cumadua tiga menit, misalnya saat

saya neranginpun itu dia sibuknya ke yang lain, main pensil atau lihat ke

sana sini, memang dia ndak gangguin, ndak jalan-jalan tapi dia nggak bisa

fokus paling fokusnya cuma dua sampai tiga menit. Kalau misalnya dia

sudah ndak fokus jadi biasanya saya panggil atau saya suruh maju ke depan,

atau saya suruh ngulangin, ini tadi bacanya apa

5. Kemampuan mengarahkan dirinya adek K itu setahu saya jadi harus selalu

diingetin, jadi misalnya waktunya ngaji itu ayo k sekarang waktunya apa,

jadi harus yang mesti diingatkan dulu, ayo waktunya makan sekarang,

waktunya seni budaya diambil dulu buku gambaranya, waktunya ini,

waktunya ini begitu.

6. Kalau materi bahasa inggris itu dia kurang nyantol menurut saya, entah itu

anaknya susah ngikutin atau bagaimana, jadi bisanya kalau saya nerangin

dia ndak nyantol, nanti dibantu sama guru pendampingnya gitu, semacam

tracing gitu.

7. Untuk memahami materi yang diajakrkan dia itu susah seklai nyantolnya

jadi harus diulang-ulang berkali-kali dulu pelan-pelan, baru nanti dia

ngerjain worksheet yang diberikan


181

8. Dalam bersosialisasi, dia masih bisa sih masih min-main smaa temannya.

Kadang cerita random ketemen-temennya cerita cinderella, ke ustdz siapa

gitu kadang juga crita-crita

9. Kalau di bahasa inggris kan ada big small lha untuk adek K itu kayaknya

masih kesulitan jadi kayak misalkan bola mana yang besar, dan bola mana

yang kecil dia itu masih lama loadingnya. Jadi misal bola A ini besar atau

kecil, trus lama dia baru jawab, nanti saya yang nuntun lagi tadi besar apa

big atau small, smabil pelan-pelan saya ulang-ulang,


182

Terkait Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner KA

1. Pengelolaan kelas terkait dengan formasi duduk, kalau di kelasnya kamila

itu kan later u jadi tengahnya kan kosong, tapi biasnaya waktu mengerjakan

worksheet itu anak-anak dibawah sambil lesehan gitu sih. Terkait dengan

posisi duduk itu diroliing jadi minggu ini duduknya disini, nanti minggu

depan disini begitu

2. Media pembelajaran yang saya gunakan kalau bahasa inggris sih sama,

biasanya berupa gambar. Jadi anatara anak yang reguler dan anak inklusinya

itu sama.

3. Ketika memulai pembelajarannya untuk menaikkan motivasi belajarnya itu,

saya kan kebetulan waktunya bahasa inggris itu setelah kegiatan ekstra, jadi

habis anak-anak panas-panasan trus mereka masuk pelajaran bahasa inggris,

jaid bukan hanya adek K saja yang sudah nggak mood keseluruhan kelas

juga bisa jadi sudah nggak mood untuk belajar, jadi kalau dateng biasanya

saya suruh nyanyi-nyanyi dulu atau main games dulu tebak-tebakan baru

setelah itu bisa mulai pembelajaran

4. Untuk model pembelajaran biasanya sih setelah nyanyi-nyanyi trus review

sedikit materi-materinya baru setelah itu saya ceramah diawal-awal, baru

setelahnya saya suruh berkelompok-kelompok, nanti saat ngerjain

worksheetnya bisa berkelompok atau sendiri-sendiri terserah mereka.

Kadang juga dengan menggunakan benda-benda konkret yang ada di sekitar

sekolah, jadi saya suruh mencari benda-benda di lingkungan sekitar nanti

dideskripsikan, itu juga dengan berkelompok biasanya.


183

5. Pembelajaran yang efektif untuk adek K itu kayaknya pembelajaran dengan

kinetik yang harus bergerak-gerak begitu, entah sambil nyanyi, sambil

berdiri, sambil permainan, soalnya dia itu anaknya nggak bisa yang fokus

duduk diem memperhatikan.

6. Media pembelajaran

7. Starteginya biasnaya saya mulai dengan review-review dulu, trus main

games kadnag juga nyanyi biar mereka siap dulu menerima pembelajaran,

baru setelahnya masuk ke materinya

8. Untuk evaluasinya itu sendiri-sendiri jadi untuk anak abk itu kan ada

standarnya sendiri-sendiri, misal sih kamila itu nanti penilaiannya lebih ke

tarik garis atau tracing, jadi nanti dilihat di worksheetnya atau di lembar

ulangannya dia sudah bisa mencapai itu atau belum, ada indikator-

indikatornya sendiri disitu, jadi saya kolabirasi sama guru pendampingnya

anak ini indikator ketuntasannya apa, lha penilaiannya dari indikator-

indikator yang ada di worksheet itu apakah dia sudah bisa mencapai

indikator yang sudah disiapkan oleh guru pendampingnya atau belum


184

Transkip Wawancara

Metode Pengumpulan Data : Wawancara

Instrumen : Guru Kelas KA

Terkait Kondisi Lamban Belajar Pada Siswa Slow Learner KA

1. Kecerdasan yang dimiliki adek K jika dibandingkan dnengan teman

sekelasnya pasti lebih rendah, karenakan indikasinya dari pemehaman-

pemahaman materi pelajaran yang lebih rendah dari temen-temannya

2. Adek K memiliki hambatan komunikasi yang menyebakan dia kurang bisa

menyatu dengan teman-temannya yang melakukan komunikasi veerbal, dan

topik-topik bahasan anak-anak pada umumnya karena indikasi yang dia

tunjukkan itu seperti anak kecil

3. Permasalahan emosi seperti mudah marah atau meledak-ledak tidak terjadi

pada adek K, dia hanya cenderung lebih sensitif

4. Konsentrasi adek K tergolong sangat kurang sekali untuk ukuran anak

sebayanya yang menyebabkan ahirnya input dia dalam pembelajaran itu

sangat kurang sehingga dia tertinggal jauh dengan teman-temannya

5. Kemampuan dalam mengekspresikan diri sangat rendah karena dia susah

untuk berkomunikasi sehingg adia juga susah mengekspresikan emosinya,

dia bisa berkespresi tapi kadang terbalik-balik, seperti kalau dia sedih dia

tersenyum, kalau dia marah juga tersenyum, cara dia mengekspresikan diri

itu tidak mewakili apa yang dia rasakan


185

6. Kemampuan dalam mengingat kembalai materi yang sudah diajarkan

memang tidak seperti teman-tean lainnya, materi yang disampaikan harus

diulang-ulang beberapa kali yah karena kemampuan dia untuk mengingat

sesuatu itu memang rendah sekali

7. Kemmapuan adek K dalam menangkap pembelajaran butuh waktu yang

panjang dan berulang-ulang dengan tema yang sama sehingga dia memang

membutuhkan pendampingan yang khusus untuk membantunya dalam

menguasai materi dalam jangka waktu yang panjang

8. Adek K kurang dalam bersosialisasi karena dia cenderung menyendiri,

komunikasi dengan teman-temannya juga hanya sekedarnya saja

9. Kemampuan adek K untuk membuat pedoman kerja rendah, kemampuan

bersosialisasi saja kesulitan apalagi membuat suatu pedoman kerja yang

membutuhkan kemampuan berbahasa yang lebih

10. Kemampuan adek K dalam mendeskripsikan, menganalisis, maupun

berpikir kritis sangat kurang, karena mereka masih membutuhkan

pendampingan sehingga untuk kompetensi-kompetensi yang sedikit suah

mereka sangat kesulitan untuk mencapainya


186

Terkait Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner KA

1. Pengelolaan lingkungan kelas, untuk penggunaan bahasa dalam pengejaran

memang ada beberapa istilah-istilah yang harus kita sederhanakan agar

dapat dipahami oleh mereka,

2. Perangkat pembelajaran kkm

3. Memberikan motivasi dengan pendekatan-pendekatan personal, secara

umum biasanya memberikan motivasi-motivasi sebelum pembelajaran

dimulai bisa dengan kisah-kisah yang menginspirasi, atau kisah sahabat,

nabi.

4. Model pembelajaran dengan teknik yang berbeda

Model pembelajaran yang efektif dengan klasikal, dan juga individual


187

Lampiran 5

Surat Ijin Penelitian

Lampiran 6
188

Bukti Konsultasi
189

Lampiran 7

Dokumen Foto

Gambar KA saat berada di ruang sumber


190

Gambar KA saat berada di ruang kelas


191

Lampiran 8

BIODATA MAHASISWA

Nama : Maulida De Vanda Asmaul Khusna

Nim : 16140050

Tempat, Tanggal Lahir : Sidoarjo, 21 Juli 1998

Fak./Jur. : Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan/Pendidikan

Guru Madrasah Ibtidaiyah

Email : maulidadevanda1@[Link]

Jenjang Pendidikan Formal : 1. RA Nurul Huda (2004)

2. MI Himmatul Ulya (2010)

3. SMP I Raden Patah (2013)

4. MAN 1 Mojokerto (2016)

5. S1 PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Anda mungkin juga menyukai