MODEL PEMBELAJARAN BAGI SISWA SLOW LEARNER DI
SEKOLAH INKLUSI SEKOLAH DASAR (SD)
MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN TAHUN PELAJARAN
2019/2020
SKRIPSI
Disusun Oleh:
Maulida De Vanda Asmaul Khusna
16140050
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Oktober, 2020
MODEL PEMBELAJARAN BAGI SISWA SLOW LEARNER DI
SEKOLAH INKLUSI SEKOLAH DASAR (SD)
MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN TAHUN PELAJARAN
2019/2020
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Persyaratan Guna
Memperoleh Strata Satu Sarjana Pendidikan ([Link])
Disusun Oleh:
Maulida De Vanda Asmaul Khusna
16140050
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Oktober, 2020
i
ii
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Rasa syukur alhamdulillah atas segala rahmat Allah SWT. Sehingga karya ini
dapat terselesaikan dengan baik dan tak lupa pula ku persembahkan karya ini
kepada orang-orang tersayang yang telah banyak membantu:
Kedua Orangtua
Terimakasih atas segala kasih sayang yang tak terhingga selama hidup ini.
terimakasih atas berbagai dukungan moral maupun materil sampai saat ini.
Tentunya banyak pengorbanan dan juga jerih payah besar yang telah mereka
lewati yang tidak bisa kugantikan dengan apapun di dunia ini semoga mereka
selalu sehat dan bahagia amin.
Guru dan Dosen
Terimakasih atas segala bimbingan dan juga ilmu yang telah diberikan kepadaku
semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain
Sahabat Tersayang
Terimaksih kepada seluruh kawan-kawan kuliahku tidak bisa kusebutkan
semuanya disini intinya mereka adalah orang-orang yang telah banyak
membantu ku selama ini. khususnya kepada sahabat-sahabat the koplak’s Yusril
Wahid, Rifi Nafakha, Era Oliviya, Yuli Asta Sari, Nur Rabiul Saningtyas, dan
Nisrina Farah Halim. yang selalu berada di sisiku, mendukungku, mendengarkan
keluhkesahku. Membantu kesulitanku dalam pengerjaan karya ini dan juga selalu
memberikan dukungannya kepada ku. Beribu terimakasih kuucapkan untuk
mereka.
Bangtanboys dan Treasure
Terimaksih pula untuk mereka dua grup musik yang telah menginspirai hari-
hariku, memberikan motivasi saat semuanya terasa sulit dan berat, pesan dalam
lagu mereka agar tidak pernah menyerah kepada cita-cita kita, juga pesan-pesan
yang disampaikan kepada seluruh penggemar agar selalu berjuang untuk masa
depan, itu sangat membantuku selama ini. jadi kuucapkan terimakasih sebagai
seorang penggemar.
iv
MOTTO
ۡ ۡ ُ ۡولَٗ ي ۡوِۡ ۡلٗو ََّٰهٍ َ ََۡر َ علَى ۡال َمر ۡيض َح َر ٌجؕ َو َم ۡۡ يطِِ ه
اّٰل َو َر و َ علَى ۡاۡلَ ۡع َرج َح َر ٌج َّو َۡل
َ علَى ۡاۡلَ ۡعمٰ ى َح َر ٌج َّو َۡل َ لَ ۡي
َ س
َ م ۡۡ َ َۡحَ َها ۡاۡلَ ّٰۡهٰ ور َو َم ۡۡ يََّ ََو َّ َّ يوََِّب ۡۡٗ و
عَِّاۡاا اَل ۡي اما
Tidak ada dosa atas orang-orang yang buta, atas orang-orang yang pincang, dan
atas orang-orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Barangsiapa taat kepada
Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; tetapi barangsiapa berpaling, Dia akan mengazabnya
dengan azab yang pedih.1
1
QS Al-Fath ayat 17
v
NOTA DINAS
Dr. Esa Nur Wahyuni, [Link].
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Skripsi Maulida De Vanda Asmaul Khusna Malang, 30 September 2020
Lamp : ……………. Eksemplar
Yang Terhormat,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
UIN Malana Malik Ibrahim Malang
di
Malang
Assalamualaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Maulida De Vanda Asmaul Khusna
NIM : 16140050
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Judul Skripsi : Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow Learner Di Sekolah Inklusi
Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun Pelajaran
2019/2020
Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamualaikum [Link].
Pembimbing,
vi
vii
KATA PENGANTAR
الر ْح هم ِن لّ َّر ِحي ِْم
َّ ِاَلل
ِبس ِْم ه
Segala puji syukur kehadirat Alloh SWT, karena atas rahmat dan hidayah-
Nya penelitian terkaita dengan “Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow Learner Di
Sekolah Inklusi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun Pelajaran
2019/2020” ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telag membimbing kita dari
jaman kegelapan menuju jalan kebaikan, yakni Din Al-Islam.
Penulis menyadari bahwa dalam penyususnan tugas akhir skripsi ini tidak
akan berhasil dengan baik tanpa adanya bimbingan dan sumbangan pemikiran dari
berbagai pihak. Pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan ucapan
terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Abdul Haris, [Link] selakui Rektor UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang.
2. Dr. H. Agus Maimun, [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
3. H. Ahmad Sholeh, [Link] selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah.
4. Dr. Esa Nur Wahyuni, [Link]. selaku Dosen Pembimbing dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Dosen dan staff jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang
senantiasa membantu dalam proses penyelesaian penyusunan skripsi ini.
viii
6. Kedua orang tua penulis yang senantiasa memberikan dukungan kepada
penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.
7. Serta semua pihak dan teman-teman yang selalu memberikan dukungan
serta membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa apa yang disampaikan masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu penulis sangat berterimakasih apabila pembaca bersedia
memberikan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan penulisan
skripsi ini menjadi lebih baik. Penulis berharap semoga karya yang sederhana ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amiin ya Robbal ‘Alamin.
Malang, 30 September 2020
Penulis,
Maulida De Vanda Asmaul Khusna
NIM.16140050
ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN
Penulisan transliterasi Arab-Latin alam skripsi ini menggunakan pedoman
transliterasi berdasarkan keputusan bersama Mentri Agama RI dan Mentri
Pendidikan dan Kebudayaan RI No.158 tahun 1987 dan No.0543b/U/1987 yang
secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :
A. Huruf
ا = A ز = Z ق = Q
ب = B س = S ك = K
ت = T ش = Sy ل = L
ث = Ts ص = Sh م = M
ج = J ض = Dl ن = N
ح = H ط = Th و = W
خ = Kh ظ = Zh ه = H
د = D ع = ‘ ء = ‘
ذ = Dz غ = Gh ي = Y
ر = R ف = F
B. Vokal Panjang [Link] Diftong
Vokal (a) panjang = â ْاَو = Aw
Vokal (i) panjang = î ْأَي = Ay
Vokal (u) panjang = û ْاُو = Ü
ِْإي = Ï
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Orisinalitas Penelitian ........................................................................... 17
Tabel 4.1 Kondisi Anak Slow Learner KA ........................................................... 76
Tabel 4.2 Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri KA ....................... 87
Tabel 4.3 Kondisi Anak Slow Learner MA .......................................................... 88
Tabel 4.4 Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri MA ...................... 95
Tabel 4.5 Perbandingan Ciri-Ciri Slow Learner Pada Diri KA dan MA ............118
Tabel 4.6 Model Pembelajaran Pada Kelas KA dan MA....................................128
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir .............................................................................. 56
Gambar 4.1 Pembelajaran Dengan Formasi Duduk Berkelompok ....................... 98
Gambar 4.2 Worksheet Untuk Anak Slow Learner ............................................100
Gambar 4.3 Kegiatan Saat Berada Di Ruang Sumber ........................................104
Gambar 4.4 Lembar Evaluasi Khusus Untuk KA ...............................................108
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Profil Sekolah
Lampiran 2 : Daftar Nama Siswa Inklusi
Lampiran 3 : Daftar Pertanyaan
Lampiran 4 : Transkip Wawancara
Lampiran 5 : Surat Ijin Penelitian
Lampiran 6 : Bukti Konsultasi
Lampiran 7 : Dokumen Foto
Lampiran 8 : Biodata Mahasiswa
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv
MOTTO .......................................................................................................... v
HALAMAN NOTA DINAS........................................................................... vi
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ......................................................... vii
KATA PENGANTAR .................................................................................... viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN ......................................... x
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiii
DAFTAR ISI ................................................................................................... xiv
ABSTRAK ...................................................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Konteks Penelitian ............................................................................... 1
B. Fokus Penelitian ................................................................................... 11
C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 11
D. Manfaat Penelitian ............................................................................... 11
1. Manfaat Teoritis ............................................................................. 11
2. Manfaat Praktis .............................................................................. 12
E. Orisinalitas Penelitian .......................................................................... 13
xiv
F. Definisi Istilah ...................................................................................... 18
G. Sistematika Pembahasan ...................................................................... 19
BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... 21
A. Perspektif Teori .................................................................................... 21
1. Siswa Lamban Belajar (Slow Learner) .......................................... 21
a. Pengertian Siswa Lamban Belajar ........................................... 21
b. Ciri-Ciri Siswa Lamban Belajar ............................................... 22
c. Perbedaan Anak Lamban Belajar Dengan Anak Normal ........ 23
d. Faktor Penyebab Siswa Lamban Belajar.................................. 25
e. Integrasi Al-Qur’an untuk Penanganan Siswa Slow Learner .. 28
2. Model Pembelajaran....................................................................... 32
a. Pengertian Model Pembelajaran .............................................. 32
b. Ciri-Ciri Model Pembelajaran .................................................. 34
c. Macam-Macam Model Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar
.................................................................................................. 34
1) Model Pembelajaran Kooperatif ........................................ 38
2) Model Pembelajaran Kontekstual ...................................... 39
3) Model pembelajaran Klasikal ............................................ 41
4) Model Pembelajaran Individual ......................................... 43
5) Strategi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar ........... 44
6) Evaluasi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar ......... 44
3. Pendidikan Inklusi .......................................................................... 44
a. Pengertian pendidikan inklusi .................................................. 44
xv
b. Prinsip pendidikan inlklusi....................................................... 46
c. Model pendidikan Inklusi ........................................................ 47
d. Pengelolaan pendidikan inklusi ............................................... 48
B. Kerangka Berfikir................................................................................. 54
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 57
A. Pendekatan dan jenis Penelitian ........................................................... 57
B. Kehadiran Peneliti ................................................................................ 58
C. Lokasi Penelitian .................................................................................. 59
D. Data dan Sumber Data ......................................................................... 60
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 61
F. Analisis Data ........................................................................................ 63
G. Uji Keabsahan Data.............................................................................. 66
H. Prosedur Penelitian............................................................................... 67
BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL .................................................... 71
A. Deskripsi Tempat Penelitian ................................................................ 71
1. Latar belakang sekolah menyelenggarakan pendidikan inklusi ..... 71
2. Pengelolaan pendidikan inklusi ..................................................... 73
3. Konsep Sekolah .............................................................................. 74
B. Paparan Data ........................................................................................ 75
1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD
Muhammadiyah 2
Tulangan
xvi
........................................................................................................
75
2. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah
Tulangan
......................................................................................................
96
C. Hasil ..................................................................................................... 114
1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD
Muhammadiyah 2
Tulangan
........................................................................................................
114
2. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah
Tulangan
......................................................................................................
122
BAB V PEMBAHASAN ................................................................................ 132
A. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD Muhammadiyah 2
Tulangan ............................................................................................... 132
B. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah 2
Tulangan
xvii
............................................................................................................
............................................................................................................
140
BAB VI PENUTUP ........................................................................................ 150
A. Kesimpulan ......................................................................................... 150
B. Saran ..................................................................................................... 152
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 154
LAMPIRAN .................................................................................................... 158
xviii
ABSTRAK
Khusna, Maulida De Vanda Asmaul. 2020. Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow
Learner Di Sekolah Inklusi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2
Tulangan Tahun Pelajaran 2019/2020. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Pembimbing: Dr. Esa Nur
Wahyuni, [Link].
Kata kunci: Model Pembelajaran, Siswa Slow Learner, Sekolah Inklusi.
Siswa slow learner yakni siswa disuatu lembaga pendidikan formal yang
memiliki kemampuan kognitif dibawah anak-anak lain seusianya. Mereka
mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran sehingga membutuhkan
waktu yang lebih panjang dan juga beberapa kali pengulangan agar dapat memahami
materi tersebut. Mereka juga mengalami kesulitan dalam mengingat kembali materi-
materi yang telah dipelajari. Mereka merupakan salah satu klasifikasi anak
berkebutuhan khusus yang paling banyak ditemui di sekolah inklusi pada jenjang
pendidikan dasar.
Tujuan penetilian ini adalah: 1) Mengidentifikasi kondisi kesulitan belajar yang
terjadi pada anak slow learner di SD Muhammadiyah 2 Tulangan. 2)
Mengidentifikasi model-model pembelajaran yang digunakan dalam
penyelenggaraan pembelajaran bagi siswa slow learner di SD Muhammadiyah 2
Tulangan, terkait pengelolaan lingkungan kelas, perangkat pembelajaran yang
digunakan, strategi pengajarannya dan juga konsep evaluasi pembelajaran yang
dilakukan.
Penetilian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Tujuan nya
yakni ingin menjelaskan secara lebih mendalam dan rinci mengenai fenomena yang
sedang diteliti di sutau lembaga sekolah atau kelas tertentu. Teknik pengumpulan
data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan juga dokumentasi. Teknik analisis
data dilakukan dengan tiga tahapan yakni reduksi data (data reduction), penyajian
data (data display), penarikan kesimpulan (conclution drawing/verification).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kesulitan belajar yang dialami siswa
slow learner yakni mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran,
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, mengalami kesulitan mengingat kembali
materi-materi yang telah dipelajari, mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri,
pasif dalam pertemanan, dan juga belum mampu dalam menganalisis dan berpikir
kitis. 2) model-model pembelajaran yang diterapkan dalam penyelenggaraan
pembelajaran bagi siswa slow learner yakni melalui pengelolaan lingkungan kelas,
perangkat pembelajaran yang diindividualisasikan, model pembelajaran yang
berfariatif, dan juga evaluasi pembelajaran khusus.
xix
ABSTRACT
Khusna, Maulida De Vanda Asmaul. 2020. Learning Model for Slow Learner
Students in Inclusive Muhammadiyah Primary School (SD) 2 Tulangan
Academic Year 2019/2020. Thesis, Study Program of Islamic Elementary
School Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training,
Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang. Advisor: Dr.
Esa Nur Wahyuni, [Link].
Keywords: Learning Model, Students Slow Learner, Inclusion Schools.
Slow learner students are students in a formal educational institution who have
cognitive abilities below other children their age. They have difficulty
understanding the learning material so that it takes longer and also several
repetitions to understand the material. They also have difficulty recalling the
material that has been studied. They are one of the classifications of children with
special needs that are most often found in inclusive schools at the basic education
level.
The objectives of this assessment are: 1) To identify the conditions of learning
difficulties that occur in slow learner children at SD Muhammadiyah 2 Tulangan.
2) Identifying learning models used in the implementation of learning for slow
learner students at SD Muhammadiyah 2 Tulangan, related to the management of
the classroom environment, the learning tools used, the teaching strategies and also
the concept of evaluating the learning carried out.
This research uses a qualitative case study type approach. The goal is to explain
in more depth and detail about the phenomenon being researched in a particular
school or class institution. Data collection techniques are carried out by interview,
observation, and also documentation. The data analysis technique was carried out
in three stages, namely data reduction, data display, conclusion drawing
(verification).
The results showed that: 1) learning difficulties experienced by slow learner
students, namely experiencing difficulties in understanding learning material,
experiencing difficulties in communicating, having difficulty recalling the material
that had been studied, experiencing difficulty in directing themselves, being passive
in friendship, and also has not been able to analyze and think critically. 2) learning
models applied in the implementation of learning for slow learner students, namely
through the management of the classroom environment, individualized learning
tools, varied learning models, and also evaluation of special learning
xx
الملخص
خوسناْْ،موليداْديْفانداْأسمول . ٠٢٠٢.نموذجْتعليميْللطالبْبطيئيْالتعلمْفيْمدرسةْالمحمديةْاالبتدائيةْ
الشاملةْتوالنجانْ٠للعامْاألكاديميْ. ْ٠٢٠٢/٠٢٠٢أطروحةْْ،قسمْإعدادْالمعلمينْبالمدرسةْاإلبتدائيةْ
ْ ،كلية ْالتربية ْوتدريب ْ المعلمين ْْ ،موالنا ْمالك ْإبراهيم ْْ ،جامعة ْماالنج ْاإلسالمية ْالحكومية .
المستشار :د .عيسىْنورْوحيونيْ،الماجستىر.
نموذجْالتعلمْْ،بطيءْالتعلمْْ،مدارسْالدمج :الكلماتْالمفتاحية
طالبْالتعلمْالبطيءْهمْطالبْفيْمؤسسسسسسسسةْتعليميةْرسسسسميةْلديممْقدراتْمعرفيةْأقاْمنْاألطفالْ
اآلخرينْفيْسسنمم .إنممْيجدونْصسعوبةْفيْفممْالموادْالتعليميةْبحي ْيسترر ْاألمرْوقتْاْأطولْوكذلكْعدةْ
عملياتْتكرارْلفممْالمادة .لديممْأيضسسسسساْصسسسسسعوبةْفيْتذكرْالموادْالتيْتم ْدراسسسسسستما .إنماْأحدْتصسسسسسنيفاتْ
األطفالْذويْاالحتياجاتْالخاصةْالتيْتوجدْغالباْفيْالمدارسْالشاملةْعلىْمستوىْالتعليمْاألساسي.
أهدافْهذاْالتقييمْهي ) ٠:التعرفْعلىْظروفْصسسسسسسعوباتْالتعلمْالتيْتحدثْعندْاألطفالْبطيئْ
التعلمْفيْفيْمدرسسسسةْالمحمديةْ ْْاالبتدائيةْالشسسساملة توالنجان) ٠. ٠تحديدْنماذجْالتعلمْالمسسسستخدمةْفيْتنفيذْ
التعلمْللطلبةْبطيئيْالتعلمْفيْْ،المتعلقةْبإدارةْبيئةْالفصسسسسساْْ،وأدواتْالتعلمْالمسسسسسستخدمةْْ،واسسسسسستراتيجياتْ
التدريسْوأيضاْمفمومْتقييمْالتعلمْالمنفذ.
يسستخدمْهذاْالبح ْنمجْنو ْدراسسةْالحالةْالنوعية .المدفْهوْالشسر ْبمييدْمنْالعم ْوالتفاصياْ
حولْالظاهرةْالتيْيتمْالبح ْعنماْفيْمدرسسسسةْأوْمؤسسسسسسسسةْصسسسفيةْمعينة .يتمْتنفيذْتقنياتْجمعْالبياناتْعنْ
طري ْالمقابلةْوالمالحظةْوكذلكْالتوثي .تمْتنفيذْتقنيةْتحلياْالبياناتْعلىْثالثْمراحاْوهيْتقلياْالبياناتْ
وعرضْالبياناتْورسمْاالستنتاجْ(التحق ).
أظمرتْالنتائجْماْيلي ) ٠:صسسعوباتْالتعلمْالتيْيعانيْمنماْالطالبْبطيئونْالتعلمْْ،وهيْمواجمةْ
صسعوباتْفيْفممْالموادْالتعليميةْْ،مواجمةْصسعوباتْفيْالتواصاْْ،صعوبةْتذكرْالموادْالتيْتمْدراستماْْ،
مواجمةْصسعوبةْفيْتوجي ْأنفسسممْْ،أنْتكونْسسلبياْفيْالصداقةْْ،وأيضاْلمْيكنْقادراْعلىْالتحلياْوالتفكيرْ
النقدي ) ٠.نماذجْالتعلمْالمطبقةْفيْتنفيذْالتعلمْللطالبْبطيئْالتعلمْْ،وتحديداْمنْخاللْإدارةْبيئةْالفصسسساْْ،
وأدواتْالتعلمْالفرديةْْ،ونماذجْالتعلمْالمتنوعةْْ،وكذلكْتقييمْالتعلمْالخاص.
xxi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Pendidikan merupakan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Seluruh
warga negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan.
Seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan
kehidupan bangsa. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap warganegara berhak
mendapat pendidikan. Kesamaan memperoleh pendidikan juga tertuang dalam
pasal 31 UUD bunyi “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. 2
Pasal 31 Ayat ke 2 juga menyebutkan kesamaan hak mendapatkan pendidikan,
khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang berbunyi “setiap warga negara
wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.3 Melalui
ayat tersebut pemerintah mengharuskan setiap warga indonesia mengenyam
pendidikan dasar dan pemerintah bertanggung jawab untuk membiayainya.
Hak memperoleh pendidikan lebih lanjut juga dijelaskan dalam Undang-
undang No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manuisa pasal 60 yang berbunyi
“setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka
pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat
kecerdasannya”.4 Pada Undang-Undang tersebut diterangkan bahwa hak setiap
2
Undang Undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat 1
3
Undang undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat 2
4
Undang-undang No.39 tahun 1999 pasal 60
1
2
anak Indonesia yakni mendapatkan pendidikan untuk mengembangkan setiap
potensi yang mereka miliki.
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional pasal 5 ayat 1
juga menyebutkan bahwa “ setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam
memperoleh pendidikan yang bermutu” kemudian pada pasal 6 ayat 1 juga
menyebutkan bahwa “ setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima
belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.5 Memperoleh pendidikan yang
bermutu tersebut memiliki arti bahwasannya pemerintah bertanggung jawab dalam
perbaikan mutu pendidikan pada seluruh sektor wilayah, bukan hanya berusat pada
sekolah-sekolah di perkotaan namun seluruh sekolah baik sekolah tersebut berada
di pelosok-pelosok pedesaan.
Mendapatkan pendidikan merupakan hal yang paling utama dalam menjalani
kehidupan di era modern. Ilmu yang diperoleh melalui pendidikan sangat
dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang dicita-citakan, serta dapat membantu
untuk bersaing bersama manusia lain dalam berbagai aspek kehidupan. Ilmu
tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan terutama pendidikan formal yang
diperoleh dibangku sekolah.
Hak memperoleh pendidikan melalui bangku sekolah tidak terkecuali bangi
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang
mengalami kelainan ataupun penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal pada
5
Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 1-pasal 6 ayat 1
3
umumnya, dalam segi fisik, mental, maupun karakteristik perilaku sosialnya.6 Anak
berkebutuhan khusus diklasifikasikan menjadi beberapa macam diantaranya yakni,
tunagrahita (mental retardation), kesulitan belajar (learning disabilities) atau anak
yang berprestasi rendah, tunadaksa, tunanetra, tunalaras, tunarungu dan eicara, tuna
ganda, hyperactive, anak autistik, dan anak berbakat.
Faktanya berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial
Ekonomi Nasional (SUSENAS), menyatakan bahwa jumlah penyandang cacat
terus bertambah setiap tahunnya. Sebuah survey awal yang dilakukan oleh BPS
pada tahun 1998 menyebutkan bahwasannya jumlah kecacatan dalam populasi
tahun tersebut sebesar 1.601.005 jiwa yaitu sekitar 0.8% dari total penduduk.
Tahun 2003, BPS melakukan survey lebih lanjut dengan rincian jenis kecacatan
per-provinsi dimana hasilnya adalah jumlah penyandang cacat mencapai 2.454.359
jiwa atau sekitar 2% dari total 215.276.000 jiwa penduduk Indonesia. Tahun 2006,
jumlah tersebut mengalami kenaikan sampai mencapai 2.810.212 jiwa. Data
terakhir pada tahun 2012 menunjukkan bahwa jumlah penyandang disabilitas di
Indonesia mencapai angka 2% dari total 244.775.796 jiwa penduduk Indonesia,
atau sebesar 3.654.356 jiwa.7 Berdasarkan data yang ada jumlah ABK setiap
tahunnya mengalami peningkatan sehingga diperlukan perhatian khusus dari
6
Mohammad Efendi, Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan (jakarta: PT Bumi
Aksara, 2009), hlm. 2.
7
Hery Kurnia Sulistyadi, Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Layanan Pendidikan
Inklusif di Kabupaten Sidoarjo, jurnal Kebijakan dan Manajemen Publik ISSN 2303 - 341X Volume
2, Nomor 1, Januari 2014, hlm.2.
4
pemerintah dalam menagani permasalahan pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus.
Pemerintah sebenaranya telah memberikan program pendidikan kepada anak
kebutuhan khusus melalui setting pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah
sistem layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus pada sekolah reguler
(bersama anak-anak normal lain), yang ditunjang dengan berbagai fasilitas, sarana
dan prasarana yang mendukung sesuai dengan kecacatan masing-masing peserta
didik. Penyelenggaraan pendidikan inklusi bertujuan agar anak-anak berkebutuhan
khusus dapat memperoleh pendidikan yang layak seperti anak-anak normal pada
umumnya.
Pemerintah telah mengatur penyelenggaraan program pendidikan inklusi
dalam sebuah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusi Bagi Siswa Yang Memiliki Kelainan
dan Memiliki Potensi Kecerdasan Dan/Atau Bakat Istimewa.8 Permendiknas
tersebut sebagai upaya pemerintah dalam memberikan peluang dan kesempatan
bagi anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan pada jenjang
pendidikan reguler bersama anak-anak normal pada umumnya. Pada hakikatnya
anak-anak berkebutuhan khusus mempunyai hak perlakuan yang sama dengan
manusia normal, sehingga dianggap suatu diskriminasi apabila mereka harus
8
Peraturan menteri Pendidikan Nasional republik Indonesia nomor 70 Tahun 2009 tentang
pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan Dan Memiliki potensi Kecerdasan
Dan/Atau Bakat istimewa
5
mengenyam pendidikan di suatu lembaga khusus yang hanya berisi anak-anak
sejenisnya.
Anak berkebutuhan khusus dalam pendidikan inklusi diklasifikasikan menjadi
beberapa macam. Permendiknas No. 70 tahun 2009 pasal 3 ayat 1 menyatakan
bahwa “Setiap peserta didik yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental,
dan sosial atau mempunyai potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
mengikuti pendidikan inklusi pada satuan pendidikan tertentu sesuai kebutuhan dan
kemampuannya.”9 Berdasarkan pasal tersebut jelas disebutkan bahwa anak
berkebutuhan khusus yang berhak mengikuti pendidikan inklusi meliputi ABK
berkelainan fisik antara lain tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa. ABK
berkelainan mental meliputi tunagrahita, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis.
ABK berkelainan sosial yakni tunalaras, lainnya dapat berupa ABK yang memiliki
gangguan motorik, menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan
zat adiktif lainnya, dan tunaganda.
Salah satu jenis ABK yang paling banyak ditemukan dalam suatu lembaga
pendidikan inklusi yakni anak lamban belajar. Anak lamban belajar (slow learner)
adalah siswa yang lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu
lebih lama dibanding dengan murid lainnya yang memiliki taraf potensi intelektual
yang setara.10 Anak lamban belajar dapat dikatakan anak yang memiliki intelektual
sedikit dibawah anak normal tetapi belum termasuk anak tunagrahita (radiasi
9
Ibid, pasal 3 ayat 1.
10
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar Dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
Khusus (Yogyakarta: nuha litera, 2010), hlm.7.
6
mental). Anak lamban belajar juga mengalami beberapa kendala dalam
pembelajaran sehingga juga membutuhkan layanan pendidikan khusus yang
dinamakan layanan pedidikan inklusi untuk mendukung perkembangannya.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusi bergantung pada sekolah
penyelenggara pendidikan inklusi itu sendiri yakni meliputi kurikulum, fasilitas
pendukung, sarana rasarana, guru yang kompeten dalam menangani pembelajaran
anak berkebutuhan khusus dan juga guru yang mampu berkolaborasi dengan orang
tua secara bersama-sama. Pihak sekolah penyelenggara dituntut untuk dapat
merubah cara pandang terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, sikap yang
menjunjung tinggi keberagaman yang tidak hanya keberagaman suku, agama dan
ras, melainkan keberagaman dari segi fisik, mental, dan sosial. Proses pendidikan
yang dilaksanakan pun haruslah berorientasi pada kebutuhan individual dengan
tanpa diskriminasi. Kurikulum yang digunakan sekolah penyelenggara pendidikan
inklusi harus dibentuk sesuai kecacatan dan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.
Model pembelajaran menjadi hal yang sangat urgen dalam pelaksanaan
pembelajaran siswa berkebutuhan khusus, mengingat dalam praktek
penyelenggaraan pembelajarannya guru haruslah menggunakan berbagai macam
upaya agar informasi yang akan disampaikan dapat diterima oleh siswa
berkebutuhan khusus dengan baik. Model pembelajaran sendiri adalah kerangka
konseptual yang berisi pedoman sistematis dalam merencanakan suatu
pembelajaran dalam kelas untuk mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Cakupan dari
model pembelajaran lebih luas dibanding strategi pembelajaran, motode
pembelajaran, maupun prosedur pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran
7
yang beragam akan berdampak langsung bagi pembelajaran siswa berkebutuhan
khusus. Semakin beragam model pembelajaran yang diterapkan guru maka tujuan
dari pembelajaran itu sendiri dapat dicapai dengan lebih mudah dan efisien.
Peneliti melakukan observasi di Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan.
Sekolah Dasar Muhamadiyah 2 Tulangan berdiri pada tahun 2006. Mulai dari awal
awal berdirinya sekolah ini sudah menerima PDBK (Peserta Didik Berkebutuhan
Khusus), akan tetapi belum ada kebijakan khusus yang mengatur tentang GPK
(Guru Pendamping Khusus) dan juga SK (Surat Keputusan), barulah pada tahun
2013 SD Muhammadiyah 2 Tulangan memperoleh SK dari diknas Sidoarjo sebagai
sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Pada tahun 2014 SD Muhammadiyah 2
Tulangan mendapatkan penghargaan dan juga piagam dari Bupari Sidoarjo sebagai
kategori 5 besar sekolah penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten Sidoarjo.
Sebagai penunjang penyelenggaraan pembelajaran bagi siswa berkebutuhan
khusus SD Muhammadiyah 2 Tulangan dilengkapi dengan ruang sumber, fasilitas
hitech dan juga lowtech yang dikususkan bagi anak berkebutuhan khusus agar
perkembaangn mental dan juga intelegensinya dapat mengalami peningkatan yang
signifikan. SD Muhammadiyah 2 Tulangan juga menyediakan GPK (Guru
Pendamping Khusus) bagi anak berkebutuhan khusus, dimana satu GPK akan
mendampingi satu anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran. GPK
yang disediakan sekolah juga merupakan tenaga profesional yang merupakan
lulusan dari Pendidikan Luar Biasa dan juga Psikologi. dalam mendiagnosa
ketunaan anak SD Muhammadiyah 2 Tulangan juga bekerjasama dengan Rumah
8
Sakit Umum Daerah Sidoarjo sehingga penangaan anak berkebutuhan khusus dapat
dilakukan dengan sangat baik dan tepat.
Jenis ABK yang paling banyak ditemui pada sekolah tersebut adalah anak
lamban belajar (slow learner). Jumlah anak slow learner di Sekolah Dasar
Muhammadiyah 2 Tulangan adalah 13 anak dari total 39 Anak Berkebutuhan
Khusus. Klasifikasi anak slow learner tersebut dengan pembagian Average, Low
Average, dan Boderline. Satu perempat dari keseluruhan Anak Berkebutuhan
Khusus yang ada di sekolah tersebut merupakan anak lamban belajar. Data ini
merupakan hasil wawancara dengan Ustadzah Widi yang merupakan penanggung
jawab program inklusi di SD Muhammadiyah 2 Tulangan.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan peneliti dengan guru kelas V
Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan dan pengamatan di kelas saat
pembelajaran sedang berlangsung didapatkan data bahwa anak slow learner
memiliki kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. Guru harus mengulangi
materi pembelajaran beberapa kali dengan penyampaian yang lambat atau pelan
agar mereka mampu memahami materi yang disampaikan guru tersebut. keesokan
harinya ketika ditanya kembali terkait materi yang telah dipelajari dihari
sebelumnya mereka sudah lupa, sehingga dapat dikatakan bahwa anak slow learner
lambat dalam menangkap suatu pembelajaran dan jika sudah paham terkait meteri
tersebut maka mereka cenderung mudah melupakannya. Hal ini yang menyebabkan
9
anak slow learner membutuhkan bimbingan secara khusus dalam proses belajarnya.
Anak slow learner juga memiliki kesulitan konsentrasi.11
Berdasarkan observasi pada saat pembelajaran kondisi kelas mulai kurang
kondusif pada siang hari, anak-anak mulai lelah dan kehilangan konsentrasi karena
memang kondisi cuaca yang panas banyak siswa yang mulai bermain dan bercanda
sendiri sehingga guru harus memberikan teguran agar kelas dapat kondusif kembali.
Saat siang hari pembelajaran bagi siswa pada umumnya sudah mulai tidak kondusif
apalagi bagi anak slow learner, kondisi anak slow learner berada sedikit dibawah
anak-anak lainnya, jika anak-anak normal lainnya pada jam-jam pelajaran normal
masih bisa kondusif sedangkan anak slow learner sudah sibuk dengan dunia mereka
sendiri, apalagi apabila anak-anak normal lainnya sudah sdikit tidak kondusif, maka
keadaan anak slow learner tentulah berada pada kondisi yang lebih parah lagi.12
Beberapa penelitian terdahulu tentang model pembelajaran bagi anak slow
learner belum memberikan hasil yang maksimal, diantaranya yakni penelitian yang
dilakukan oleh Lokeswari Dian Pitaloka pada tahun 2018, dengan judul “Strategi
Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengembangkan Interaksi Sosial Siswa
Lambat Belajar Di Sekolah Inklusi SMP Negeri 18 Malang”. Penelitian tersebut
terfokus untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga dirasa kurang
maksimal jika digunakan untuk mata pelajaran tematik bagi anak SD maupun MI.
Penelitian tersebut juga terfokus bagi pembelajaran anak usia SMP yang tentu saja
11
Wawancara dengan guru kelas V Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan, pada
tanggal 20 November 2019.
12
Observasi kelas V, Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan pada tanggal 20
November 2019.
10
memiliki peredaan yang cukup signifikan dibandingkan pembelajaran usia SD
karena memang terpaut usia yang cukup jauh.
Penelitian selanjutnya yakni penelitian yang dilakukan oleh Fida Rahmantika
Hadi yang dilakukan pada tahun 2016 dengan judul “Proses Pembelajaran
Matematika Pada Anak Slow Learner”. Penelitian tersebut juga terfokus pada
pembelajaran matematika bagi anak slow learner sehingga dirasa kurang tepat pula
jika diterapkan untuk pembelajaran tematik.
Penelitian selanjutnya yakni penelitian yang dilakukan oleh Isya Mulia Insani
pada tahun 2018 dengan judul “Implementasi Pembelajaran Quran Hadits Pada
Anak Berkebutuhan Khusus Down Syndrom Dan Sloew Learner Di Madrasah
Inklusi MI Terpadu Ar-Roihan Lawang”. Penelitian tersebut memfokuskan pada
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan juga evaluasi
pembelajaran bagi anak slow learner pada sekolah inklusi, akan tetapi hanya pada
mata pelajaran quran hadist, sehingga dirasa kurang lengkap dan sesuai apabila
dimplementasikan untuk pembelajran tematik.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu tersebut maka menjadi latar
belakang peneliti dalam melakukan penelitian terkait model-model pembelajaran
yang tepat bagi anak slow learner di Sekolah Dasar terkait pembelajaran
tematiknya. Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti berlokasi di Sekolah
Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan yang termasuk dalam 5 sekolah terbaik
penyelenggraa pendidikan inklusi se kabupaten sidoarjo. Berdasarkan data yang
telah dipaparkan di atas maka peneliti mengambil judul penelitian “Model
11
Pembelajaran Bagi Siswa Slow Learner Di Sekolah Inklusi Sekolah Dasar (SD)
Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun Pelajaran 2019/2020”
B. Fokus penelitian
Berdasarkan konteks penelitian yang telah diuraikan di atas maka fokus
penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di Sekolah Dasar
Muhammadiyah 2 Tulangan?
2. Bagaimana model pembelajaran bagi anak slow learner di Sekolah Inklusi
Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di
Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan.
2. Untuk mengetahui model pembelajaran bagi anak slow learner di sekolah
inklusi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 2 Tulangan
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam
pengembangan dan wawasan ilmu khususnya dalam bidang pendidikan yang
meliputi:
12
a) Memberikan masukan dan referensi bagi guru kelas dalam melaksanakan
suatu pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah dasar
inklusi
b) Memberikan sumbangan secara teoritis untuk meningkatkan kualitas dari
proses pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah dasar
inklusi
c) Hasil penelitian dapat dijadikan hazanah pengetahuan yang berkaitan
dengan proses pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus pada mata
kuliah Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus, mahasiswa jurusan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar Maupun Madrasah Ibtidaiyah Dan Bagi
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luarbiasa, dan bagi khalayak umum.
2. Secara Praktis
a) Bagi Kepala Sekolah
1) Memberikan referensi keilmuan dalam bidang pendidikan khususnya
pembelajaran siswa berkebutuhan khusus
2) Sebagai evaluasi pdalam proses pembelajaran
b) Bagi Guru
1) Memberikan inspirasi bagi guru dalam proses pembelajaran karena
guru adalah pelaksana utama dalam proses pembelajaran
2) Menambah informasi hazanah dalam mengajar anak berkebutuhah
khusus
13
c) Bagi Peneliti Lain
1) Sebagai sarana untuk mengembangkan model pembelajaran terbaru
bagi Anak Berkebutuhan Khusus
2) Sebagai wawasan ilmu bagi peneliti lain dalam mengadakan penelitian
terbaru
3) Sebagai dasar dalam melakukan penelitian selanjutnya
d) Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus
1) Pembelajaran yang dilakukan dapat lebih berfariasi sehingga informasi
yang hendak disampaikan dapat diterima dengan lebih mudah pada
mereka
2) Meningkatkan semangat belajar siswa berkebutuhan khusus
E. Orisinalitas Penetilian
Penulis mendapatkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan
penelitian yang dilakukan oleh penulis diantaranya yakni:
Penelitian pertama yang dilakukan oleh Elvyna Kholidah Qurotul A’yun
dengan judul,“Model Pembelajaran Tahfizul Quran Pada Siswa Gangguan
Kemampuan Komunikasi Dan Lambat Belajar Kelas III Madrasah Ibtidiyah
Terpadu Ar-Roihan Lawang Malang”13 pada tahun 2018. Penelitian tersebut
berfokus pada proses pembelajaran Tahfizul Quran bagi anak yang mengalami
gangguan kemampuan komunikasi dan juga lambat belajar serta evaluasi
pembelajaran tahfidzul quran yang digunakan untuk anak yang memiliki
13
Elvyna Kholidah Qurotul A’yun, skripsi: Model Pembelajaran Tahfidzul Quran Pada
Siswa Gangguan Kemampuan Komunikasi Dan Lambat Belajar Kelas III Madrasah Ibtidiyah
Terpadu Ar-Roihan Lawang Malang (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2018).
14
gangguan kemampuan komuniksi dan lambat belajar. Hasil dari penelitian
tersebut menjelaskan bahwa proses pembelajaran Tahfizul Quran meliputi
perumusan tujuan dimana siswa dapat surat-surat pendek, menghafal doa
sehari-hari, dan juga dapat membaca dengan teknik tilawati, serta dapat
menuliskan huruf hijaiyah. Strategi pembelajaran yang dilakukan guru adalah
Strategi Ekspository dengan menggunakan metode estafel ayat, bernyanyi,
tebak huruf dan tilawati. Evaluasi pembelajaran yang dilakukan meliputi
hafalan surat-surat pendek, mengaji tilawati dan mampu mengahfal asmaul
khusna
Penelitian kedua yang dilakukan oleh Muhammad Julkifli dengan judul,
“Strategi Guru Mengelola Kelas Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Pada
Anak Lamban Belajar”14 pada tahun 2019. Penelitian tersebut berfokus pada
strategi pengelolaan kelas yang digunakan untuk anak lamban belajar.
Sehingga hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak lamban belajar
mengalami banyak kesulitan dalam penguasaan bidang akademis diantarnaya
kesulitan membaca, berhitung, menulis, dan dalam proses pembelajaran
mereka cenderung banyak diam, melamun, menangis, dan uring-uringan.
Terdapat 3 Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam
melaksanakan pembelajaran yakni strategi dalam pengelolaan pengajaran,
strategi dalam pengelolaan lingkungan pembelajaran, dan pemberian motivasi.
Strategi pengelolaan pengajaran berfokus pada suasana kelas yang kondusif
14
Muhammad Julkifli, Strategi Guru Mengelola Kelas Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar
Pada Anak Lamban Belajar (Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim: 2019).
15
yang didukung dengan berbagai fasilitas, diantaranya yakni penataan kelas,
media pembelajaraan, sinergi yang harmonis antar warga kelas, sikap dan
penampilan guru, serta pengaturan lingkungan belajar. Strategi pengelolaan
pembelajaran membahas perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi
pembelajaran. Terahir tentang pemberian motivasi pada anak lamben belajar,
pemberian motivasi tersebut sangat berperan dalam peningkatan hasil
pembelajaran siswa.
Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Agung Nugroho dan Lia Mareza
dengan judul , “Model Dan Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus
Dalam Setting Pendidikan Inklusi”,15 pada tahun 2016. Penelitian tersebut
berfokus pada bagaimana penyelenggaraan pendidikan inklusi terkait model
pembelajaran yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 1 Tanjung. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran yang diterapkan
di sekolah tersebut adalah model pembelajaran klasikal dan individual bagi
siswa berkebutuhan khusus. Strategi pembelajaran yang digunakan guru
menyampaikan materi pembelajaran dengan diselingi permainan, karena siswa
berkebutuhan khusus cenderung memiliki tingkat konsentrasi yang rendah.
Teknik evaluasi yang dilakukan guru kelas juga dengan mengurangi
kompetensi bagi siswa berkebutuhan khusus serta menurunkan tingkat
materinya.
15
Agung Nugroho, dan Lia Mareza, Model Dan Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan
Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi, Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa Volume 2, Nomor 2,
Oktober 2016.
16
Penelitian keemapat yang dilakukan oleh Nurhidayah Eko Budi Utami
dengan judul “Layanan Guru Kelas Bagi Siswa Slow Learner Di Sekolah
Inklusi (SD N Bangunrejo 2 Yogyakarta)”, pada tahun 2018. Penelitian
tersebut berfokus tentang pelayanan guru kelas terhadap siswa slow learner
terkait dnegan modifikasi alokasi waktu, modifikasi isi atau materi, dan
modifikasi proses pembelajaran, pada saat membuka hingga menutup kelas.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa masing-masing guru memiliki
modivikasi waktu sendiri-sendiri dalam mengajar anak slow learner sesaui
dengan kebutuhan dan juga capaian komtensi yang harus mereka tuntaskan
dalam mengajar, ada yang membutuhkan tambahan waktu tetapi ada juga yang
tidak. Begitupula untuk modifikasi isi, guru kelas dalam menyampaikan materi
akan diurutkan mulai yang paling mudah atau sederhana, ke materi yang lebih
kompleks. Untuk modifikasi proses pembelajaran beberapa guru tetap
meyamakan dengan siswa reguler, dan sebagain guru yang lain mengajak anak
slow learner untuk belajar membaca.
Penelitian ke lima dilakukan oleh Mumpuniarti, Sari Rudiyati, Sukinah, Eka
Sapti Cahyaningrum dengan judul “Kebutuhan Belajar Siswa Lamban Belajar
(Slow Learner) Di Kelas Awal Sekolah Dasar Daerah Istimewa Yogyakarta”,
pada tahun 2017. Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan instrumen
untuk penjaringan kebutuhan belajar siswa lamban belajar. Penelitian tersebut
menjabarkan tentang kesulitan-kesulitan dari anak slow learner mulai dari
kesulitan dalam membaca, berhitung, dll sehingga dapat dikembangkan sebuah
17
bahan ajar untuk menyelesaikan masalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi
ketika mengajar anak slow learner.
Tabel 1.1
Originalitas Penelitian
No Nama Peneliti, Tahun Originaitas
Dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Penelitian
1. Elvyna Kholidah Qurotul Model Fokus penelitian Fokus penelitian
A’yun, skripsi 2018, pembelajaran pada model pada model
,“Model Pembelajaran bagi anak slow pembelajaran pembelajaran
Tahfidzul Quran Pada learner di kelas tahfidzul quran bagi siswa slow
Siswa Gangguan inklusi pada anak slow learner
Kemampuan Komunikasi learner
Dan Lambat Belajar Kelas
III Madrasah Ibtidiyah
Terpadu Ar-Roihan
Lawang Malang”
2. Muhammad julkifli, thesis Anak Fokus penelitian Fokus penelitian
2019 “Strategi Guru berkebutuhan pada strategi pada model
Mengelola Kelas Dalam khusus jenis slow pembelajaran pembelajaran
Mengatasi Kesulitan learner di pada anak slow bagi anak slow
Belajar Pada Anak Lamban sekolah inklusi learner learner
Belajar”
3. Agung Nugroho dan Lia Model dan Fokus penelitian Fokus penelitian
Mareza, Jurnal Ilmiah 2016 strategi pada model dan pada model
“Model Dan Strategi pembelajaran di strategi pembelajaran
Pembelajaran Anak sekolah inklusi pembelajaran bagi anak slow
Berkebutuhan Khusus bagi anak learner
Dalam Setting Pendidikan berkebutuhan
Inklusi” khusus secara
umum
4. Nurhidayah Eko Budi Anak Fokus penelitian Fokus penelitian
Utami, jurnal ilmiah tahun berkebutuhan pada modifikasi pada model
2018 “Layanan Guru Kelas khusus dari alokasi waktu, pembelajaran
Bagi Siswa Slow Learner klasifikasi slow dan modivikasi bagi anak slow
Di Sekolah Inklusi (SD N learner di bahan atau materi learner
Bangunrejo 2 sekolah inklusi
Yogyakarta)”
5. Mumpuniarti, Sari Anak Fokus penelitian Fokus penelitian
Rudiyati, Sukinah, Eka berkebutuhan pada pada model
Sapti Cahyaningrum, jurnal khusus dari pengembangan pembelajaran
ilmiah tahun 2017 klasifikasi slow bahan ajar untuk bagi anak slow
“Kebutuhan Belajar Siswa learner di memenuhi learner
Lamban Belajar (Slow sekolah inklusi kebutuhan belajar
Learner) Di Kelas Awal anak slow learner
Sekolah Dasar Daerah
Istimewa Yogyakarta”,
18
F. Definisi Istilah
Guna mempermudah pembaca dalam memahami kajian yang akan dibahas
peneliti, maka peneliti akan menjelaskan makna dari judul yang dipaparkan,
yakni:
1. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang berisi pedoman
sistematis dalam merencanakan suatu pembelajaran dalam kelas untuk
mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Model pembelajarn memiliki ruang
lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan strategi, metode, dna prosedur
pembelajaran. Model pembelajaran memiliki beberapa karakteristik yang
membedakannya yakni, model pembelajaran memiliki tujuan khusus misalnya
tujuan untuk berfikir kritis, berfikir induktif dan lain-lain. Model-model
pembelajaran tertentu juga dapat digunakan sebagai pedoman dalam
memperbaiki pembelajaran dalam kelas.
2. Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus yakni anak yang memiliki perbedaan dengan
anak-anak pada umumnya, perbedaan tersebut dapat dilihat dari segi fisik,
mental, dan kondisi perilaku sosialnya.
3. Anak Lamban Belajar (Slow Learner)
Anak lamban belajar yakni anak disuatu lembaga pendidikan formal dimana
mereka memiliki perkembangan belajar atau kemampuan akademik yang lebih
lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Anak lamban belajar juga memiliki
rentan konsentrasi yang pendek sehingga konsentrasinya mudah teralihkan
19
dalam jangka waktu yang lumayan singkat. Materi pembelajaran yang telah
dipelajari seringkali sulit untuk diingat oleh anak lamban belajar. Apabila
terdapat materi pelajaran yang lumayan kompleks mereka susah untuk
memahaminya sehingga membutuhkan sedikit waktu lebih lama, tetapi apabila
sudah paham mereka akan cenderung mudah untuk lupa.
4. Sekolah Inklusi
Sekolah inklusi adalah sebuah sistem layanan pendidikan untuk anak
berkebutuhan khusus pada sekolah reguler (bersama anak-anak normal lain),
yang akan ditunjang dengan berbagai fasilitas, sarana dan prasarana untuk
mendukung ketunaan masing-masing peserta didik.
G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dari penulisan skripsi ini dimaksudkan agar hasil
penelitian yang disajikan dapat terarah dan runtut secara sistematis. Adapun
sistematika penulisan skripsi ini yakni sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan. Pada bagain pendahuluan ini terdiri dari, yang pertama
adalah konteks penelitian di dalamnya disajikan latar belakang dari
pengangkatan judul penelitian, pada fokus penelitian berisi tentang apa
yang akan di bahas dalam penelitian tersebut, tujuan penelitian berisi
sesuatu yang ini didapatkan oleh peneliti dalam melakukan penelitian
tersebut, manfaat penelitian merupakan bagian yang menjelaskan tentang
keuntungan yang diperoleh beberapa pihak dari adanya penelitian yang
dilakukan, definisi istilah berfungsi dalam menjelaskan istilah yang ada
pada judul penelitian agar tidak salah dalam memaknainya, orisinalitas
20
menyajikan perbedaan dan persamaan bidang kajian yang diteliti dengan
penelitian terdahulu, serta sistematika pembahasan memuat isi dari bab
pada penelitian yang akan dilakukan. penelitian terdahulu sebagai patokan.
BAB II: Kajian Teori. pada bab kedua ini berisi tentang kaian pustaka pada skripsi
penelitian ini menyajikan terkait dengan perspektif teori mulai dari siswa
lamban belajar (slow learner), model pembelajaran, sekolah inklusi, serta
kerangka berfikir.
BAB III: Metode Penelitian. Pada bab ini menyajikan metode penelitian yakni
serangkaian metode yang akan digunakan dalam melakukan suatu
penelitian mulai dari pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan,
kehadiran peneliti pada lokasi penelitian, lokasi penelitian yang dipilih,
data dan sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan
keabsahan data, prosedur penelitian
BABA IV: Paparan Data dan Hasil Penelitian. Pada bab ini berisi paparan data dan
temuan yang diperoleh dari hasil penelitian terkait fokus penelitian yang
dibahas.
BAB V: Pembahasan Hasil Penelitian. Pada bab ini berisi pembahasan terkait
temuan-temuan peneliti yang telah dipaparkan dengan mengaikannya pada
teori-teori yang ada.
BAB VI: Penutup. Pada bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari temuan-
temauan yang telah didapatkan, dan juga beberapa saran bagi subjek
penelitian agar dapat mengambangkan yang perlu dikembangkan.
BAB II
PRESPEKTIF TEORI
A. Landasan Teori
a. Siswa lamban belajar (Slow Learner)
1) Pengertian Siswa Lamban Belajar (Slow Learner) terminologis
Estimologis Ahli
Siswa yang lambat belajar (slow learner) adalah siswa pada suatu
lembaga pendidikan formal atau umunya sekolah dimana mereka memiliki
perkembangan belajar yang lebih lambat dibandingkan dengan
perkembangan belajar pada rata-rata anak seusiannya. Umumnya anak
slow learner memiliki kemampuan kecerdasan di bawah rata- rata.16 anak
slow learner bukan termasuk anak tunagrahita (cacat mental), mereka
adalah anak-anak dengan kemampuan intelektual sedikit diatas anak
tunagrahita sehingga dalam proses pembelajarannya memerlukan
perlakuan khusus dalam penyampaian materi dan kegiatan pembelajaran
lainnya agar informasi yang hendak disampaikan dapat diterima.
Anak slow learner memiliki IQ antara 70 sampai 90.17 Kondisi
demikian mengakibatkan kemampuan belajar mereka lebih lambat
dibandingkan dengan a n a k s e u s i a n ya . b u k a n hanya kemampuan
akademiknya yang terbatas, tetapi terdapat beberapa kemampuan lainnya
di antaranya yakni kemampuan koordinasi, misalnya kesulitan memakai
16
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 126.
17
Fatimah, Syahrina, Development Of Multimedia Courseware For Slow Learner Children
With Reading Difficultties, Springer International Publishing Switxerland, (2013), Hlm.370.
21
22
alat tulis, dan olahraga. Dilihat dari segi perilakunya, anak lamban belajar
cenderung pendiam dan pemalu, sehingga dalam beberapa kasus mereka
kesulitan untuk berteman. Anak-anak lamban belajar cenderung kurang
percaya diri, kemampuan mereka dalam berpikir abstrak lebih rendah
apabila dibandingkan dengan anak pada umumnya.
Anak lamban belajar juga memiliki rentang perhatian yang pendek
sehingga konsentarsi mereka mudah pecah. Anak dengan slow learner
memiliki ciri fisik normal tidak terdapat perbedaan atau kelainan dengan
anak normal pada umumnya dari segi fisiknya, akan tetapi saat melakukan
pembelajaran di sekolah mereka sulit memahami materi yang sedang
dipelajari, memiliki respon yang lambat, dan kosakata yang mereka
gunakan sangat terbatas. sehingga ketika diajak untuk berkomunikasi,
anak lamban belajar memiliki kesan kurang nyambung dalam mengartikan
maksud dari pembicaraan.18
2) Ciri-ciri Siswa Lamban belajar (slow learner)
a) Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada umumnya
yang memiliki usia sama.
b) Konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga hanya memiliki
durasi waktu yang terbataster
c) Keterbatasan dalam m e m a h a m i m a t e r i - m a t e r i pelajaran
yang relevan
18
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 38
23
d) Kesulitan dalam mengarahkan diri (self dirention)
e) keterbatasan pada kemampuan abstraksi.
f) Mengalami keterlambatan dalam membuat suatu keterkaitan antara
kata dengan pengertian
g) Kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal yang
telah dipelajari.
h) Membutuhkan waktu yang panjang dan lama dalam menangkap
sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk melupakan pembelajaran
yang telah dipahaminya.
i) Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan pendiam
j) Kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, serta
kurangnya kemampuan dalam menentukan kesalahan-kesalahan
yang dibuat.
k) Kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis, memecahkan
sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam berfikir kritis.
l) Kesulitan dalam proses berfikir tingkat tinggi maupun berfikir
kritis.19
3) Perbedaan anak lamban belajar (slow learner) dengan anak normal
lainnya
a) Kecerdasan
Anak lamban belajar (slow learner) memiliki intelegensi lebih
19
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
24
rendah dibandingkan anak-anak umumnya. Mereka memiliki IQ 70-
90 berlandaskan skala WISC (Wechsler Intelligence Scale For
Children). Mereka kesulitan dalam memahami seluruh mata
pelajaran, lebih khusus pada materi yang mengharuskan mereka
untuk menghafal dan memahami hal-hal yang sifatnya umum.
Karena demikian mereka memiliki nilai lebih rendah dibanding
anak-anak lainnya di kelas yang sama.
b) Bahasa
Komunikasi menjadi suatu permasalahan bagi anak lamban belajar.
Kendala berbahasa yang dialami oleh anak lamban belajar yakni
kesulitan menyampaikan gagasannya. Mereka juga kesulitan dalam
memahami pembicaraan orang lain. sehingga hal tersebut
mengakibatkan mereka cenderung susah bergaul dan mendapatkan
teman.
c) Emosi
Anak lamban belajar memiliki emosi yang tidak seimbang. Hal ini
ditunjukkan melalui sikap mereka yang sensitif, emosional, dan
mudah menyerah.
d) Sosial
Anak lamban belajar mengalami kesulitan dalam bidang sosial.
Mereka kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain. sehingga
mengakibatkan mereka menjadi penyendiri dan dalam beberapa
kasus ditemukan mereka bermain dengan anak-anak dibawah usinya
25
atau lebih muda darinya.
e) Moral
Anak-anak pada umumnya mempunyai kematangan moral yang
selaras dengan kematangan kognitifnya. Sedangkan pada anak
lamban belajar mereka mengetahui adanya sebuah aturan, tetapi
belum dapat memahami makna dari aturan tersebut. mereka belum
memahami untuk apa fungsi adanya peraturan tersebut dibuat. Hal
ini mengakibatkan terkadang mereka melampaui atau melanggar
aturan tersebut.20
4) Faktor Penyebab Siswa Lamban Belajar (Slow Learner)
Mubair agustin menjelaskan terdapat 2 faktor penyebab anak
mengalami kesulitan dalam belajar yakni
a) Faktor internal/faktor genetik/hereditas
Berdasarkan sebuah penelitian yang ditemukan dalam survei pustaka
dunia ditemukan bahwa terdapat korelasi anatara IQ orang tua
dengan IQ anknya, semakin banyak jumlah gen yang sesuai pada dua
anggota keluarga maka semakin tinggi kolerasi IQ anatara keduanya.
maka dapat dikatakan bahwasannya intelegensi merupakan sesuatu
yang diturunkan.
b) Faktor eksternal/lingkungan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan beyley menyatakan
20
Nani dan Amir, Pendidikan ABK Lamban Belajar (Slow Learner) (Jakarta: Luxima,
2016), hlm. 6
26
bahwasannya status sosial-ekonomi dalam sebuah keluarga
mempengaruhi IQ dari anak. Hal tersebut dikarenakan kondisi
keluarga mempengaruhi bagaimana pola asuh yang dilakukan. Tidak
hanya pada pola asuh terdapat beberapa aspek lain diantaranya
nutrisi yang diberikan pada anak, kesehatan, kualitas stimulus,
kondisi emosisional dan lain-lain. sehingga dapat dikatakan bahwa
faktor lingkungan merupakan faktor penting penyebab lamban
belajar.21
Selain pendapat di atas Menurut Jamaris menjelaskan faktor
penyebab lamban belajar yakni:22
a) Kerusakan yang terjadi pada susunan syaraf pusat.
Hubungan antara susunan syaraf pusat dan kesulitan belajar
sudah di teliti oleh Alfread Starauss, seorang neorologist
berkebangsaan Jerman yang menjelaskan adanya hubungan
antara luka pada otak dengan penyimpangan di dalam
perkembangan bahasa, persepsi dan perilaku. Kerusakan yang
terjadi pada belahan otak bagian kanan dan belahan otak bagian
kiri menyebabkan kesulitan individu dalam melaksanakan tugas-
tugas belajar yang berkaitan dengan bahasa, visual dan auditif.
21
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 63.
22
Martin Jamaris, Kesulitan Belajar: Prespektif, Asesmen, Dan Penanggulangannya Bagi
Anak Usia Dini Dan Anak Usia Sekolah, (Semarang: Ghalia Indonesia, 2014), hlm. 17.
27
b) Ketidakseimbangan biokimia.
Para ahli sejak lama mengklaim bahwa penyebab kesulitan
belajar adalah tidak seimbangnya biokimia di dalam tubuh.
Heward, Orlansky dan Feingold menjelaskan bahwa zat pewarna
dan bumbu penyedap makanan yang terdapat pada jenis makanan
yang dimakan anak merupakan penyebab kesulitan belajar dan
hiperaktif pada anak.
c) Faktor keturunan.
Faktor genetik berpengaruh terhadap fungsi inteligensi telah lama
diyakini oleh para ahli. Hasil penelitian pernah mengungkapkan
bahwa identical twins (kembar identeik) lebih banyak mengalami
lamban belajar dari pada fraternal teins (kembar nonidentik)
d) Faktor lingkungan.
Selain faktor genetika, faktor lingkungan juga sudah lama
diyakini ahli sebagai hal sangat berpengaruh terhadap fungsi
inteligensi.
e) Faktor pengaruh teratogenic (zat kimia dan obat-obatan).
Penelitian yang berkaitan dengan kesulitan belajar yang
dilakukan para ahli menemukan bahwa satu diantara penyebab
kesulitan belajar adalah pengaruh teratogenic, yaitu zat-zat kimia,
seperti alkohol, rokok dan limbah kimia serta obat-obatan.
28
5) Integrasi Al-Quran Untuk Penanganan Siswa Slow Learner
a) Definisi terapi Al-Quran
Al-quran memiliki peranan penting dalam penyembuhan untuk
berbagai macam penyakit, salah satunya melalui terapi Al-Quran
yang bisa dilakukan melalui ruqyah, zikir, doa dan juga sholat. 23
Terapi Al-Quran ini pada dasarnya bukan merupakan hal baru.
Bahkan dalam sejarahnya , khususnya sejarah islam penyembuhan
dengan Al-Quran telah mendapatkan legitimaisnya sendiri. Umat
muslim meyakini bahwa Al-Quran dapat dijadikan sebagai
penyembuh sebagaimana disebutkan dalam tiga ayat berikut,
meskipun terdapat beberapa perbedaan dikalangan mufassir
ْ َىْ ؕؕ ْقُ ۡا ْه َُو ْ ِللَّذ ِۡين
ٌّ ْو َع َر ِب
َّ ى ِ َُولَ ۡو ْ َج َع ۡل ٰن ُْقُ ۡر ٰاناْا َ ۡع َج ِميًّاْلَّقَالُ ۡواْلَ ۡو َال ْف
ٌّ صلَ ۡ ْٰا ٰيت ُ ٗ ْْؕ َءا َ ۡع َج ِم
ٰ ُ ْوه َُو ْ َعلَ ۡي ِم ۡم ْ َعمىْؕ ْا
ْ َولىككَ ْيُنَادَ ۡون َّ ْو ۡق ٌر َ ىْو ِشفَ ۗا ٌء
َ ْو ْالَّذ ِۡينَ َْال ْي ُۡؤ ِمنُ ۡونَ ْ ِف ۡۤۡى ْٰا ْذَا ِن ِم ۡم َّ ٰا َمنُ ۡواْهُد
ٍۢ ِم ۡنْ َّمك
َْانْ َب ِع ۡيد
Artinya: “Dan sekiranya Al-Qur'an Kami jadikan sebagai
bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka
mengatakan, "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?"
Apakah patut (Al-Qur'an) dalam bahasa selain bahasa Arab
sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, "Al-Qur'an adalah
petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan
orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada
sumbatan, dan (Al-Qur'an) itu merupakan kegelapan bagi
mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari
tempat yang jauh." (fussilat 41:44)
سارا َ َْْو َر ۡح َمةٌ ِْل ۡـل ُم ۡؤ ِمنِ ۡين
ْو َالْيَ ِي ۡيد ل
َ ُْالظ ِل ِم ۡينَ ْا َِّالْ َخ ۡ َُْمن
َّ ْالـقُ ۡر ٰا ِنْ َماْه َُوْ ِشفَا ٌء ِ َونُن َِيل
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang
menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman,
23
Selian Hadiyati, “Psikoteraphy Menurut Al-Quran Dan As-Sunnah”, 29 November 2020,
diakses dari [Link]
assunnah.
29
sedangkan bagi orang yang zhalim (Al-Qur'an itu) hanya akan
menambah kerugian” (Al-isra’ 17:82)
ٌْىْو َرح َمة
َ ْوهُد
َ ُور َ نْربِ ُكم
ُّ ْو ِشفَا ٌء ِْل َماْفِىْٱل
ِ صد ِْ ٌظة
َّ ْم ُ َّٰيَأَيُّ َماْٱلن
َ اسْقَدْ َجا َءت ُكمْ َّمو ِع
َِْلل ُمؤ ِم ِنين
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit
(yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-
orang yang beriman” (yunus 10:57)
Terapi Al-Quran saat ini juga dikenal sebagai pengobatan
dengan Ruqyah Syar’iyyah. Ruqyah syar’iyyah adalah terapi syar’i
dengan cara mambacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan juga doa
perlindungan yang bersumber dari sunnah rasul. Ayat dan doa
tersebut mengandung perlindungan dan permintaan tolong kepada
Allah SWT, untuk mencegah atau mengangkat bala atau penyakit.
Rukyah syar’iyyah dilakukan seorang muslim, baik dengan tujuan
penjagaan dan perlindungan diri atau orang lain dari pengaruh
buruk pandangan manusia dan jin, gangguan kejiwaan, kesurupan,
pengaruh sihir dan berbagai penyakit fisik dan hati.24
b) Ayat-ayat terapi Al-Quran
Semua ayat al-Qur’an adalah obat yang bisa menyembuhkan. Setiap
ayat al-Qur’an memiliki kekuatan penyembuh yang sangat luar biasa
jika atas izin Allah untuk penyakit-penyakit tertentu. Diantara Surah
yang umum digunakan untuk terapi al-Qur’an yaitu:
24
Sulthan Adam, Rukyah Syar’iyyah: Terapi Mandiri Penyakit Hati Dan Gangguan Jin,
(Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2018), hlm. 20
30
1). Surah Al-Fatihah
Surah al-fatihah disebut sebagai langkah penting dalam setiap
pengobatan. Dalam beberapa pengobatan al-Fatihah dibacakan
sebanyak tujuh kal. Alasannya karena al-fatihah disebut juga dengan
nama Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).
Dibaca 1x, 3x, 7x atau lebih dari itu, untuk merukyah segala
penyakit. Khasiat-khasiatnya yang telah teruji dan bermanfaat:25
a. Mengobati sengatan hewan berbisa
b. Praktik pengobatan orang gila
c. Mengobati bengkak atau benjolan di tubuh
d. Penawar dari rasa sakit
e. Terapi rukyah anak hiperaktif dan berkebutuhan khusus.26
2). Ayat Kursi (ayat ke 255 surah al-Baqarah)
ٌۗ ي ْالقَي ْطو وم ەَۚ َۡل َ َأ ْ وِِّوه َُّٰةٌ َّو َۡل ّٰ َْو ٌۗ ٌم لَٗ َما فى الَُّمٰ ٰوٍ َو َما فى ْاۡلَ ْر
ْۡ ض َم ۡل ا ٰلَٗ ا َّۡل ه َۚ َوو ا َ ْل َح ط
ٓ َ ا َ هّٰلو
ش ْيء بم ْۡ ع ْلم ٓٗ ا َّۡل
َ ۡ َۡي يَ ْشفَ وِ ع َّْٰۡ ٓه ا َّۡل ۡا ِّّْٰ ٌۗٗ يَ َْلَ وم َما َۡيَْۡ اَيْۡيْه ْم َو َما ِ َْلفَ وه َۚ ْم َو َۡل يوح ْيِو ْو
ْ ََِِّّّا ال
ظ وه َم َۚا َوه َوو ْال ََل ط
ي ْال ََظ ْي وم َ َۚ ۡ َما ش َۤا َۚ َء َوُ َِ وك ْرُيطٗو الَُّمٰ ٰوٍ َو ْاۡلَ ْر
ض َو َۡل َيـُٔ ْوۡوه ح ْف و
Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha hidup,
Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk
dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya
tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan
apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui
sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia
kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak
merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi,
Mahabesar.”
25
Abdullah Bin Muhammad as-Sad-han, Mujarobat Menurut al-Qur’an dan as- Sunnah
yang Shahih (Jakarta: Pustaka Ibnu ‘Umar, 2005), hlm. 4
26
Sulthan Adam, Rukyah Syar’iyyah: Terapi Mandiri Penyakit Hati dan Gangguan Jin,
hlm. 155
31
Sebagaimana diberitahukan oleh Rasulullah, salah satu faedah
membaca ayat kursi adalah Allah akan menjaga pembacanya dari
segala keburukan, kejahatan dan penyakit. Dianjurkan membaca
ayat kursi setiap pagi dan sore. Sebagai prosesnya, ayat ini
memiliki efek yang sangat besar untuk menjaga manusia dari
keburukan penyakit dan apapun jenisnya. Hal ini dijelaskan
sebagian ayat yang berbunyi “Dan Allah tidak merasa berat
memeilihara keduanya, dan Allah Maha tinggi lagi Maha besar”.27
3). Membaca Dua Surah Terakhir dari al-Qur’an (Surah Al-Falaq, An-Nās)
Kedua surah ini juga disebut dengan surah al-Mu’awidzatain (Dua
Surah Perlindungan). Surah al-Ikhlas dan Mu’awidzatain dibaca masing-
masing 3x di pagi dan sore hari, dan dibaca juga sebelum tidur. Dibaca
juga setiap selesai shalat masing-masing 1x. Adapun Khasiat-khasiatnya
yang telah teruji dan bermanfaat adalah:28
a. Pencukup dan penjaga dari segala sesuatu
b. Dua surah terbaik (surah al-Falaq dan an-Nas untuk memohon atau
berdo’a dengan keduanya dan minta perlindungan dengan keduanya.
c. Pelindung dari jin dan penyakit ‘ain (pandangan jahat dari manusia
27
Abdel Daim al-Kaheel, Lantunan Qur’an Untuk Penyembuhan ( Yogyakarta: Pustaka
Pesantren, 2012), hlm. 75.
28
Abdullah Bin Muhammad as-Sad-han, Mujarobat Menurut al-Qur’an dan as- Sunnah
yang Shahih, hlm. 16.
32
b. Model Pembelajaran
1) Pengertian Model Pembelajaran
Sebelum membahas apa yang dinamakan model pembelajaran,
terlebih dahulu akan dijelaskan makna dari model. Secara kaffah model
adalah sebuah konsep yang digunakan untuk menjelaskan sesuatu hal.
Sebagai contoh, model pesawat terbang, yang terbuat dari kayu, plastik,
dan lem adalah model nyata dari pesawat terbang. Model juga dikenal
dalam matematika, sebagai contoh model matematika gerak parabola
dan lain sebagainya. Sedangkan model pembelajaran adalah suatu
perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas dan menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran yang didalamnya berisi buku-buku, kurikulum, komputer
dan lain-lain.29
Joyce & weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu
rencana pembelajaran dalam jangka waktu panjang sehingga dapat
digunakan untuk membentuk suatu kurikulum, merancang bahan-bahan
pembelajaran dan sebagai bahan untuk membimbing pembelajaran di
kelas dan lainnya.30
Soekamto berpendapat model pembelajaran adalah: “kerangka
konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar guna mencapai suatu tujuan
29
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA Dan
Anak Kelas Awal SD/MI (Surabaya: Kencana, 2010), hlm. 141.
30
Rusman, Belajar Dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta:
Kencana, 2017), hlm. 244.
33
pembelajaran yang diinginkan, serta berfungsi sebagai pedoman bagi
perancang pembelajaran dan bagi pengajar dalam merencanakan
aktivitas pembelajaran.”31
Tujuan dari model pembelajaran adalah untuk mengarahkan
perancang dan pengajar dalam merancang suatu pembelajaran untuk
membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran itu
sendiri. Selain sebagai sarana untuk membantu peserta didik dalam
mencapai tujuan pembelajaran model pembelajaran juga berfungsi
sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran.32
2) Ciri-Ciri Model Pembelajaran
Model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas dibanding
dengan strategi, metode, dan prosedur pembelajaran. Model
pembelajaran memiliki ciri-ciri khusus. Ciri-ciri model pembelajaran
yakni:
a) Memiliki misi ataupun tujuan khusus, misal model berfikir induktif
dirancang guna memperbaiki proses berfikir induktif
b) Dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperbaiki proses
pembelajaran dalam kelas, misalnya model synetic dibuat guna
memperbaiki kreatifitas dalam pembelajaran mengarang
c) Memiliki urutan-urutan tertentu (syntax), prinsip-prinsip reaksi,
sistem sosial, dan sistem pendukung. Keseluruhan bagian tersebut
31
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA Dan
Anak Kelas Awal SD/MI (Surabaya: Kencana, 2010), hlm. 142.
32
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), hlm.53.
34
merupakan bagian pedoman praktis apabila guru hendak
melaksanakan suatu model pembelajaran
d) Mempunyai efek sebagai hasil dari penerapan model pembelajaran.
Efek tersebut meliputi : (1) efek pembelajaran, yakni hasil belajar
yang dapat diukur; (2) efek pengiring; hasil belajar jangka panjang.
e) Membuat persiapan mengajar dengan pedoman model pembelajaran
yang dipilihnya33
3) Macam-Macam Model Pembelajaran bagi siswa lamban belajar
(slow learner)
a) Model pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang
berfokus pada pembentukan dan pengguanaan kelompok-kelompok
kecil yang terdiri dari beberapa siswa untuk bekerja sama dalam
proses pembelajaran agar kondisi belajar dapat maksimal dan
tercapai tujuan dari pembelajaran tersebut.34
Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa ciri-ciri,
diantaranya yakni:
1) Saling ketergatungan positif
Pembelajaran kooperatif ini, guru menciptakan suasana yang
mendukung siswa agar saling membutuhkan satu sama lain.
Hubungan saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan
33
Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (jakarta:
Rajawali Pers, 2014), hlm.136.
34
Sugiyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif (Surakarta: Yuma Presindo,2010), hlm.
37.
35
saling ketergantungan secara positif. Hal demikian dapat dicapai
melalui saling ketergantungan dalam berbagi bahan
pembelajaran atau sumber belajar, ketergantungan dalam
menyelesaikan tuga, saling ketergantungan peran dan lain
sebagainya.
2) Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka akan membuat siswa mau tidak mau harus
saling menatap sehingga mereka dapat berdialog satu sama lain.
kegiatan dialog tidak hanya dilakukan dengan guru saja.
interaksi tersebut sangat penting karena dapat menimbulkan
rasa bahwa belajar lebih mudah dari sesama teman. Kegiatan
semacam itu juga akan mencerminkan bagaimana konsep dari
pengajaran teman sebayanya.
3) Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif dapat diwujudkan melalui belajar
kelompok. Proses penilaian pada mulanya dilakukan secara
individu kemudian ditunjukkan pada seuruh anggota kelompok,
sehingga dapat diketahui siswa yang masih kurang dan
memerlukan bantuan siswa lain dalam memahami materi
pembelajaran. Nilai kelompok kemudian diambil dri rata-rata
hasil belajar seluruh anggotanya. Penilaian kelompok yang
didasarkan pada penguasaan rata-rata anggota kelompok secara
individual inilah yang dinamakan akuntabilitas individual.
36
4) Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan menjalin hubungan sengaja diajarkan,
diantaranya adalah keterampilan tenggang rasa, sopan santun,
mengkritik ide, tidak mendiskriminasi teman. Sehingga siswa
yang tidak mampu menjalin hubungan dengan sesamanya akan
mendapat teguran.35
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada hari itu, dan
memberikan motivasi pada siswa.
2) Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan metode
demonstrasi
3) Guru menjelaskan teknis dari pembentukan kelompok belajar
4) Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas
5) Guru mengadakan evaluasi pembelajaran pada materi yang telah
dipelajari
6) Guru memberikan reweard atas hasil belajar individu dan
kelompok
Pembelajaran kooperatif bagi siswa lamban belajar:
Menurut pendapat Nani Triani dan Amir model pembelajaran
kooperatif adalah model pembelajaran yang sesuai bagi siswa lamban
belajar, karena anak lamban belajar lebih menyukai pembelajaran
35
Ibid, hlm. 40.
37
secara kooperatif, mereka tidak menyukai pembelajaran yang
kompetitif.36
Pembelajaran secara kooperatif juga membantu siswa lamban
belajar dalam memperbaiki masalah belajar dan tingkah lakunya.
Manfaat yang didapat melalui pembelajaran secara kooperatif bagi
siswa lamban belajar yakni meningkatkan hubungan sosial siswa
lamban belajar dengan teman-teman kelasnya, memerbaiki hasil
belajarnya, dan juga memperbaiki keterampilan mengatur waktu.37
Menurut pendapat Steven R. Shaw dengan pembelajaran
kooperatif, anak lamban belajar dapat mengikuti banyak metode
pembelajaran, antara lain yakni metode kerja kelompok dan tutor
sebaya.38 Melalui metode tutor sebaya materi pembelajaran akan lebih
mudah untuk dipahami siswa lamban belajar karena pengguanaan
bahasa yang sesuai dengan tingkat usia mereka, sehingga dirasa lebih
sesuai, dengan metode kerja kelompok siswa lamban belajar akan
banyak berinteraksi dengan teman-teman kelasnya sehingga
diharapkan mampu untuk memperbaiki kemampuan mereka dalam
komunikasi dan menjalin hubungan dnegan orang lain.
Penggunaan metode kerja kelompok dan tutor sebaya bagi siswa
36
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 28.
37
Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional (Strategi Meningkatkan Kualifikasi
dan Kualitas Guru di Era Global) (Jakarta: Esensi, 2013), hlm. 144.
38
Malik, Najman Iqbal, Ghazala Rehman, dan Rubina Hanif, Effect of Academic
Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners, Pakistan Journal of Psychological
Research 2012, Vol. 27, No. [Link]. 141
38
lamban belajar sebaiknya mereka satu kelompok dengan siswa yang
memiliki kemampuan belajar lebih, dan juga pendampingan dari guru
agar siswa lamban belajar yang terdapat pada kelompok tersebut tidak
menjadi minoritas dan tenggelam dalam bayang-bayang siswa yang
memiliki kemampuan lebih. Selanjutnya pada pembagian kerja
kelompok, untuk siswa lamban belajar akan memperoleh bagian yang
mudah dan juga konkret, sedangkan bagi siswa lainnya mendapat
bagian yang lebih sulit dan abstrak.39
b. Model pembelajaran kontekstual
Pembelajaran konstektual merupakan sebuah konsep
pembelajaran dimana antara materi yang diajarkan akan dikaitkan
dengan situasi pada dunia nyata, sehingga mendorong siswa berfikir
kritis untuk membuat suatu hubungan antara pengetahuan yang
dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.40 Pemberian
contoh akan mempermudah pembelajaran bagi anak lamban belajar
karena mereka mengalami kesulitan dalam berpikir abstrak, sehingga
sebaiknya guru selalu mengaitkan pembelajaran yang dilakukan di
kelas dengan kehidupan sehari-hari anak.41
Pengembangan elemen-elemen model konstektual dalam
39
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 24.
40
Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (jakarta:
Rajawali Pers, 2014), hlm.187.
41
Lay Kekeh Marthan Marentek, dkk, Manajemen Pendidikan Inklusif, (Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
2007), hlm. 182.
39
pembelajaran dapat dilaksanakan sebagai berikut:
1) Mengaktifkan dan mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui
pertanyaan- pertanyaan.
2) Menciptakan masyarakat belajar.
3) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran
4) Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan
pembelajaran yang telah dilakukan.
5) Melakukan penilaian secara objektif.42
c. Model pembelajaran klasikal
Model pembelajaran klasikal adalah suatu model pembelajaran
yang dilakukan oleh guru dengan berceramah dikelas. Penggunaan
model klasikal mengharuskan guru menguasai kelas dan pembelajaran
agar siswa tetap dalam kondisi tertib ketika pembelajaran sedang
berlangsung.
Metode ceramah digunakan ketika guru hendak membagi
pengalaman pribadinya pada siswa untuk menambah wawasan
mereka, atau menggunakan keahliannya untuk memperluas wawasan
siswa. sehingga keberhasilan dari penggunaan metode ceramah ini
tergantung dari siapa yang menerapkan metode tersbut.
Kekurangan penggunaan metode ceramah ini yakni
mengakibatkan siswa lebih pasif dalam proses pembelajaran,
sehingga hal tersebut mengharuskan guru agar mampu menjaga
42
Ibid, hlm.187.
40
perhatian dan konsentrasi siswa. meskipun demikian model ini juga
memiliki kelebihan diantaranya yakni, lebih efisien waktu sebab
langsung terfokus pada pembahasan, metode ini juga memberikan
kesempatan pada guru untuk membagi pengalaman dan pengetahuan
mereka pada siswa.43
Tidak hanya metode ceramah yang digunakan dalam model
klasikal ini tetapi metode tanya jawab juga digunakan sebagai
pelengkap dan penyempurna proses pembelajaran. Setelah guru
menjelaskan kemudian akan diikuti dengan tanya jawab. Siswa secara
bebas dapat menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami dari
pembelajaran tersebut.44
Pembelajaran model ini akan menjadikan siswa cenderung lebih
pasif, sehingga dalam pembelajaran guru harus menggunakan
berbagai metode pembelajaran seperti diskusi, tanya jawab,
demonstrasi dan lain-lain sebagai upaya agar peserta didik tetap aktif.
Model pembelajaran klasikal bagi siswa lamban belajar berarti
siswa berkebutuhan khusus belajar bersama dengan siswa reguler
lainnya. Tujuan dari pembelajaran tersebut yakni agar siswa
berkebutuhan khusus dapa berinteraksi seperti siswa-siswa pada
umumnya dan juga mencontoh bagaimana sikap siswa-siswa pada
43
Ibid, hlm.89.
44
Ibid, hlm.106.
41
umumnya. Akan tetapi pada pelaksaaan pembelajarannya guru tidak
diperkenankan untuk membeda-bedakan antara keduanya.45
Implementasi pembelajaarn klasikal sama dengan pembelajaarn
pada umumnya, namun yang perlu ditekankan adalah penyesuaian
kebutuhan serta kemampuan tiap-tiap siswa berkebutuhan khusus,
sehingga dalam proses pembelajaran dibutuhkan guru pendamping
khusus untuk mendampingi ketika proses pembelajaran
berlangsung.46
d. Model pembelajaran individual
1) Pengertian model pembelajaran individual
Menurut Hamalik Pembelajaran individual adalah suatu
pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perbedaan
pada setiap siswa, seperti: minat abilitet, bakat, kecerdasan, dan
sebagainya. Guru dapat menyiapkan dan merancang tugas-tugas
belajar secara perseorangan.47 Pendekatan pembelajaran individu
ini berorientasi pada pengembangan diri pada setiap individu.
Pendekatan individual lebih memfokuskan pada proses dimana
individu membangun dan mengorganisasikan dirinya secara
realitas yang bersifat unik. Secara singkat model ini menekankan
45
Friend, M. P., & Bursuck, W. D, Including Students With Special Needs: A Practical
Guide For Classroom Teachers (Boston: Pearson/Allyn and Bacon, 2006), hlm. 39
46
Nur Amalia, Winda Hastuti, Dwi Yuniasih, dan Efi Rusdiyani, Manajemen Model
Pembelajaran Inklusi Bagi Siswa Slow Learner Di Sd Muhammadiyah Alam Surya Mentari
Surakarta, jurnal "Mengembangkan Kompetensi Pendidik dalam Menghadapi Era Disrupsi"
Kerjasama PGSD - POR UMS ISBN 978-602-70471-3-6, 2018, hlm. 223.
47
Ana Kurniati, Aplikasi Pendekatan Pembelajaran Individual Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan Pada Siswa Difabel (Tunanetra) di MAN Maguwoharjo, Jurnal Citizenship, Vol.
3 No. 1, Juli 2013, hlm. 46.
42
pengembangan individu agar memiliki korelasi yang produktif
dengan lingkungannya, sehingga dapat membantu dalam
memandang diri mereka sebagai anak yang mampu dan berguna.48
2) Siswa Dalam Pembelajaran Secara Individual
Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual adalah
sebagai sentral dalam sebuah pembelajaran. menurut Dimyati dan
Mudjiono pembelajaran individual berbeda dengan pembelajaran
klasikal, pada model individual siswa memiliki keleluasaan berupa
kebebasan menggunakan waktu belajarnya, tetapi mereka
bertanggung jawab penuh atas seluruh kegiatan yang dilakukan,
keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri, keleluasaan
dalam memanage kegiatan dan intensitas belajarnya untuk
mencapai tujuan dari pembelajaran yang telah ditentukan, siswa
melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar, siswa dapat
mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta siswa
memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya
sendiri”.49
3) Guru dalam Pembelajaran Secara Individual
Model pembelajaran klasikal pada umumnya peranan guru
dalam merencanakan kegiatan pembelajaran sangat besar. Hal ini
tidak terjadi dalam pembelajaran individual. Menurut Dimyati dan
48
Ibid, hlm. 43.
49
Ibid, hlm. 47.
43
Mudjiono Peranan guru dalam merencanakan kegiatan belajar
adalah sebagai berikut: 1) membantu merencanakan kegiatan
belajar siswa, dengan musyawarah guru membantu siswa
menetapkan tujuan belajar, membuat program belajar sesuai
kemampuan siswa, 2) membicarakan pelaksanaan belajar,
mengemukakan kriteria keberhasilan belajar, 3) berperan sebagi
penasihat dan pembimbing, dan 4) membantu siswa dalam
penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri.50
e. Strategi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar
Selain model pembelajaran hal penting selanjutnya yang harus
diperhatikan dalam pembelajaran siswa lamban belajar yakni strategi
pembelajaran yang digunakan. Strategi pembelajaran bagi anak
kesulitan belajar yakni dengan menyajikan kegiatan-kegiatan yang
dapat melatih fungsi visual, pendengaran, dan kesadaran tubuh.
kegiatan yang dapat meningkatkan fungsi visual diantaranya yakni
latihan menggunakan media teka-teki (puzzle), menyusun balok-
balok, menentukan suatu bentuk yang hilang dalam gambar,
mengklasifikasikan bentuk-bentuk, ukuran, dan warna suatu bangun
geometri, bermain kartu, menggambar bangun geometri yang sesuai
dengan huruf.
Kegiatan yang dapat meningkatkan fungsi pendengaran yang
berkaitan dengan strategi pembelajaran yakni dengan latihan
50
Ibid, hlm. 48.
44
mendengarkan suara, mencatat bunyi-bunyi dari sumber bunyi,
mendengarkan bunyi-bunyi yang dibuat guru, dan mendengarkan
suara dari sumber bunyi yang berbeda-beda.51
f. Evaluasi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar
Cara dalam mengukur sejauh mana siswa lamban belajar
menguasai materi yang telah dipelajari, maka guru perlu untuk
merencanakan beberapa hal meliputi:
1) Memberikan tambahan waktu dalam pemahaman materi serta
dalam pengerjaan tes untuk anak lamban belajar.
2) mempersiapkan kumpulan kata atau gambar sebagai jawaban
yang memungkinkan untuk pertanyaan-jawaban singkat
3) membuat tanda sebagai petunjuk organisasi jawaban pertanyaan
esai
4) membuat bagan dan soal acak untuk diagram
menyediakan cara alternatif agar anak lamban belajar dapat belajar (Bill
Hopkins, 2009: 5).52
c. Pendidikan Inklusi
1) Pengertian Pendidikan Inklusi
Menurut Davit, pada pendidikan inklusi siswa yang memiliki
kebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan siswa normal lainnya
dalam satu kelas yang sama dan bimbing oleh guru yang sama serta
51
Bandi delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan
Inklusi (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), hlm. 47.
52
Bill Hopkins, The Child Who is a Slow Learner, Teachers Resource Manual (Cortland:
State University of New York, 2008), hlm. 5.
45
memiliki guru pendidikan khusus untuk membantu ketika proses
pembelajaran berlangsung. Sehingga dapat dikatakan bahwa
pendidikan inklusi adalah suatu sistem layanan pendidikan yang
mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan
anak normal lainnya dalam kelas yang sama di sekolah reguler yang
terdekat dari tempat tinggalnya.53
Menurt Illahi, Pendidikan inklusi adalah suatu konsep dari layanan
pendidikan yang menjunjung tinggi dan menggambarkan prinsip
keterbukaan dengan menerima anak-anak berkebutuhan khusus untuk
belajar bersama anak-anak sebayanya agar mereka memperoleh hak
yang sama sebagai warga negara.54
Menurut Jamila, dengan adanya pendidikan inklusi interaksi anatara
murid berkebutuhan khusus dan murid normal menjadi lebih intensif
dikarenakan mereka belajar bersama di lingkungan yang sama di kelas
yang sama dan guru yang sama.55
Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli tersebut maka dapat
dikatakan pendidikan inklusi yakni suatu layanan pendidikan yang
mengutamakan terlaksananya hak mendapatkan pendidikan bagi
seluruh warga negara tanpa terkecuali dengan mengikut sertaka anak
53
J. David Smith, Sekolah Inklusif Konsep dan Penerapan Pembelajaran, (Yogyakarta:
Nuansa Cendekia, 2015),hlm. 48.
54
Mohammad Takdir Ilahi, Pendidikan Inklusif Konsep & Aplikasi (Jogyakarta:Ar-Ruzz
Media, 2009 ), hlm. 23.
55
Muhammad, Jamila K. A, Special Education for Special Children Penduan Pendidikan
Khusus Anak-Anak Dengan Ketunaan dan Learning Disabilitie (Jakarta Selatan: Hikmah [Link]
Publika, 2008), hlm. 28.
46
berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak normal pada
umumnya pada suatu kelas yang sama, lingkungan yang sama serta
guru yang sama, dan dibantu dengan guru pendamping khusus dalam
proses pembelajarannya.
2) Prinsip Pendidikan Inklusi
Secara konseptual dan representatif, menurut Farrell
mengidentifikasi prinsip pendidikan inklusi dimana identifikasi ini
bukan bermaksud untuk kategori tertentu kepada anak berkebutuhan
khusus, akan tetapi sebagai upaya dalam memperkenalkan karakter
utama dalam konsep pendidikan inklusi. Prinsip-prinsip tersebut
diantaranya yakni:
• Pendidikan inklusi memberi kesempatan pada semua jenis siswa
Pendidikan inklusi karena pendidikan inklusi menjunjung tinggi
asas persamaan hak dan menghargai perbedaan. Pendidikan
inklusi tidak berpihak pada golongan maupun sekelompok siswa
tertentu. Pendidikan inklusi menerima seluruh jenis anak
berkebutuhan khusus.
• Pendidikan inklusi menghindari seluruh aspek negatif Labeling
Pendidikan inklusi sangat menghindari pelebelan atau labeling,
karena dampak dari labeling sendiri sangat berbahaya dan
menimbulkan efek diskriminasi dilingkungan pendidikan inklusi.
• Pendidikan inklusi selalu melakukan checks dan balances
Checks dan balances sangat penting bagi pendidikan inklusi, karena
47
melalui pengecekan dan pengawasan maka sebuah sistem dan
tatanan dalam pendidikan inklusi akan terjaga dari adanya
penyalahgunaan dan penyelewengan.56
3) Model Pendidikan Inklusi
Model pendidikan inklusi pada dasarnya memberikan pelayanan
bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah sekolah umum.
Dengan menerapkan model pembelajaran Kelas reguler dengan pull
out. Adapaun model pelayanan pendidikan inklusi di indonesia
adalah sebagai berikut:
a) Kelas reguler (inklusi penuh) Anak berkebutuhan khusus belajar
bersama anak lain (normal) di kelas reguler dengan menggunakan
kurikulum yang sama.
b) Kelas reguler dengan cluster yakni anak berkebutuhan khusus
melaksanakan pembelajaran bersama-sama anak normal lainnya
pada kelas reguler dalam sebuah kelompok khusus.
c) Kelas reguler dengan pull out yakni anak berkebutuhan khusus
melaksanakan pembelajaran bersama-sama anak normal lainnya
di kelas reguler akan tetapi pada saat-saat tertentu ditarik dari
kelas reguler untuk melakukan pembelajaran lebih lanjut di ruang
sumber belajar bersama guru pembimbing khusus
d) Kelas reguler dengan cluster dan pull out yakni anak
56
Michael, Farrel, Inclusion At The Crossroad, Special Education Concept And Values
(USA: David Fulton Publisher, 2008).
48
berkebutuhan khusus melaksanakan pembelajaran bersama anak
normal lainnya pada kelas reguler dalam kelompok khusus, dan
pada saat-saat tertentu ditarik dari kelas reguler untk melakukan
pembelajaran di ruang sumber belajar dengan guru pembimbing
khusus.
e) Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian anak
berkebutuhan khusus belajar dalam kelas pada sekolah reguler,
namun dalam bidang- bidang tertentu dapat belajar bersama anak
normal lainnya di kelas reguler.
f) Kelas khusus yang berisi anak berkebutuhan khusus belajar di
dalam kelas khusus pada sekolah reguler57
4) Pengelolaan Pendidikan Inklusi
a) Prinsip pembelajaran inklusi
Prinsip pembelajaran inklusi terdiri dari prinsip khusus dan
prinsip umum. Bani delphine menyebutkan bahwa Prinsip khusus
yakni prinsip yang disesuaikan dengan karakteristik khusus dari
setiap penyandang kelainana pada siswa, misalnya untuk anak
tunanetra menggunakan prinsip kekonkritan, prinsip pengalaman
yang menyatu, dan prinsip belajar sambil melakukan. Siswa
tunarungu menggunakan prinsip keterarahan wajah, siswa tunalaras
memerlukan prinsip yang meliputi kebutuhan dan keaktifan,
57
Abdul Rahim, Pendidikan Inklusi Sebagai Strategi Untuk Mewujudkan Pendidikan
Untuk Semua, Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, (Vol. 3 No. 1 2016).
49
kebebasan yang mengarah, kekeluargaan dan kepatuhan terhadap
orang tua, setia kawan dan idola, serta perlindungan.
Bagi siswa tunagrahita diperlukan prinsip yang berkaitan
dengan bentuk-bentuk atensi yang meliputi waktu atensi, fokus, dan
selektivitas, memperkuat daya ingatan atau memori, dan sebagainya.
Prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi, konteks,
keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja,
individualisasi, menemukan, dan prinsip memecahkan masalah.58
Penjelasan mengenai prinsip umum dan khusus dijelaskan oleh
pendapat tarmasnyah, yakni:
1. Prinsip umum
a) Motivasi: selalu memberikan kalimat-kalimat penyemangat
agar siswa senantiasa memiliki semangat yang besar dan
tinggi dalam belajar.
b) Konteks: dalam pembelajaran hendaknya memanfaatkan
sumber yang ada dilingkungan sekitar. Hindari pengulangan
materi pembelajaran.
c) Keterarahan: menentukan tujuan pembelajaran secara jelas,
menyiapkan media pembelajaran yang sesuai serta perangkat
pembelajaran lain yang tepat.
58
Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan
Inklusi (Bandung: Refika Aditama, 2006), hlm.154.
50
d) Hubungan sosial: menggunakan strategi pembelajaran yang
mampu memaksimalkan proses interaksi sosial antar siswa.
e) Belajar sambil bekerja: dalam proses pembelajaran siswa
dipersilahkan untuk belajar sambil mempraktikkan secara
langsung dengan melakukan sebuah praktikum maupun
eksperimen.
f) Individual: mendalami sifat, karaktiristik, dan kemampuan
masing-masing siswa secara mendalam, sehingga dapat
menangani siswa tersebut secara optimal sesuai kebutuhan
masing-masing siswa.
g) Menemukan: dalam proses pembelajaran hendakya
melibatkan siswa secara aktif agar mereka dapat menentukan
cara untuk memecahkan permasalahannya yang
dihadapinya.
h) Pemecahan masalah: sajikan permasalahan konkret di
lingkungan sekitar, kemudian anak dipersilahkan untuk
menganalisis dan memecahkan permasalahan tersebut
dengan kemampuannya
2. Prinsip khusus
a) Gangguan penglihatan (tunanetra): bagi anak dengan
gangguan penglihatan pembelajaran yang mereka butuhkan
yakni dengan menggunakan pendengaran dan perabaan,
sehingga dalam pelaksanaan pembelajarannya sangat
51
dianjurkan untuk menggunakan benda-benda konkret.
Terpenting untuk mengupayakan agar anak tunanetra
mengalami secara langsung apa yang dijelaskan oleh guru.
Buku bicara (kaset rekaman) juga sangat membantu dalam
pengayaan materi pelajaran.
b) Gangguan pendengaran/komunikasi: berkomunikasi dengan
anak yang mengalami gangguan pendengaran sebaiknya
dilakukan dengan keterarahan wajah, upayakan mereka dapat
membaca bibir atau melihat gerak bibir, lebih baik lagi jika
dilakukan dalam posisi sejajar. Mereka lebih peka
menggunakan sarana visual, maka dalam pembelajaran
hendaknya menggunakan komunikasi yang merangsang
penglihatannya demikian juga alat peraga yang konkrit.
c) Keberbakatan: anak dengan kemampuan ini hendaknya
diberikan percepatan materi dan juga melakukan pengayaan.
d) Mental intelektual: kasih sayang adalah prinsip utama yang
harus diberikan kepada anak dengan gangguan mental
intelektual karena adanya gangguan yang disebabkan oleh
faktor neorolugis, maka harus diberikan layanan habilitasi.
e) Gangguan fisik-motorik: yang perlu diperhatikan dalam
memberikan layanan kepada anak-anak dengan gangguan
fisik motorik adalah pelayanan medis, pendidikan, sosial
52
secara terpadu dan berkesinambungan dalam institusi
habilitasi atau rehabilitasi.
f) Gangguan penyesuaian sosial: siswa dengan gangguan
penyesuaian sosial haus akan kasih sayang, sehingga guru
atau pembimbing diharapkan mampu untuk mencurahkan
perhatian dan kasih sayang dalam membimbingnya.
Pemberian motivasi dan nilai-nilai positif sangat membantu
dalam pembelajaran. guru juga harus menjadi tauladan yang
baik bagi meraka. Aktifitas penting yang mereka butuhkan
untuk mengisi wkatu luangnya yakni dengan melakukan
kegiatan yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di
masyarakat setempat. Disiplin dan kepatuhan juga sangat
penting sehingga mereka dapat kembali dalam kehidupan di
masyarakat.59
b) Pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas dilakukan dengan menata ruang kelas dimana
situasi di dalam kelas dilengkapi dengan berbagai perlengkapan yang
dapat memudahkan proses belajar peserta didik inklusi, membuat
mereka merasa nyaman dan aman sehingga pembelajaran dikatakan
efektif.
59
Tarmansyah, Inklusi Pendidikan untuk Semua (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan, 2007), hlm.191.
53
Pada pelaksanaannya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan
inklusi harus memperhatikan bagaimana penataan ruang kelasnya
seperti pada pintu masuk dan ruang kelas dengan lantai yang sejajar
sehingga memudahkan kursi roda dapat keluar masuk, kemudian
pembuatan guiding block dan simbol braille untuk mempermudah
peserta didik tunanetra, penyediaan display visual untuk memudahkan
peserta didik tunarungu, kursi dan meja dibuat dari bahan yang kuat
serta ringan dan bersifat movable, formasi tempat duduk peserta didik
dapat dibuat secara bergantian atau bervariasi sesuai dengan kebutuhan
seperti contohnya formasi U, formasi lingkaran, formasi setengah
lingkaran, formasi tapal kuda, dan sebagainya.
Penempatan peserta didik berkebutuhan khusus juga sebaiknya
diperhatikan misalnya menempatkannya pada baris depan kelas, atau di
dekat guru agar memudahkan komunikasi dan penyampian materi,
tidak hanya itu mereka juga sebaiknya di dekatkan dengan peserta didik
normal dengan tujuan memberikan pengalaman belajar bagi peserta
didik.
Selain itu dalam bukunya Hamid Muhammad menyebutkan bahwa
penataan dan perlatan kelas juga memperhatikan aspek keamanan
peserta didik inklusi, diantaranya:
a) Sudut-sudut dinding, papan tulis, meja, kursi, almari dan peralatan
lainnya tidak dibuat runcing/tajam.
b) Meminimalkan tempat yang curam dan tangga.
54
c) Meminimalkan peralatan yang menjorok yang membahayakan
bagi tunanetra
d) Meminimalkan penempatan alat yang sulit dijangkau oleh siswa
berkebutuhan khusus.
e) Penempatan yang relatif menetap, supaya mudah dikenali oleh
tunanetra.
f) Tidak menempatkan barang secara mendadak di tempat atau jalur
yang sering dilewati peserta didik inklusi.60
Akan lebih baik jika pihak sekolah memperhatikan aspek penataan
kelas, karena meski tidak berdampak langsung namun hal itu akan
mempengaruhi proses pembelajaran. Terlebih bagi peserta didik
berkebutuhan khusus, keamanan menjadi hal penting yang harus
diperhatikan mengingat mereka memiliki banyak keterbatasan dalam
melaksanakan berbagai kegiatan di kelas.
B. Kerangka Berfikir
Setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan
yang layak tak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Hal tersebut
telah diatur dalam Undang-undang dasar 1945 pada pasal 3 ayat 1, Undang-
undang Nomor 20 tahun 2003, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 70 Tahun 2009. Anak-anak yang memiliki kelainan fisik,
mental, sosial, intelektual berhak mendapatkan pendidikan melalui sarana
60
Hamid Muhammad, Kurikulum 2013 Pedoman Pelaksanaan Kurikulum bagi Peserta
didik Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi (Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 2014), hlm. 42.
55
pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah sistem layanan pendidikan untuk
anak berkebutuhan khusus pada sekolah reguler (bersama anak-anak normal lain).
Anak berkebutuhan khusus terdiri dari berbagai macam klasifikasi salah satu
diantara yang paling banyak yakni siswa lamban belajar (slow learner). Anak
lamban belajar mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran, mereka
cenderung memiliki kemampuan intelektual lebih rendah dibanding anak pada
umumnya. Umumnya mereka memiliki IQ antara 70 sampai 90.61
Anak lamban belajar pada umumnya mengalami gangguan kesulitan dalam
pembelajaran hampir pada semua mata pelajaran. Mereka kesulitan dalam mata
pelajaran olahraga, juga matapelajaran yang mengharuskan untuk menghafal lebih
banyak dan menalar materi-materi pembelajaran. anak lamban belajar juga
memiliki rentang konsentrasi yang pendek, sehingga konsentrasi mereka mudah
pecah, hal ini megakibatkan pembelajaran yang dilaksanakan pada siang hari
sudah mulai tidak kondusif bagi anak-anak lamban belajar. Beberapa
permasalahan tersebut dapat ditangani apabila guru mampu membimbing dan
mengarahkan anak tersebut dalam pembelajarannya.
Pembelajaran yang dilaksanakan guru untuk anak slow learner haruslah
memiliki variasi yang berbeda dengan anak normal pada umumnya. Pembelajaran
bagi anak-anak tersebut haruslah ditunjang dengan menggunakan model model
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak slow learner. Sehingga suatu
pembelajaran akan dirasa efektif bagi mereka. Maka dari itu model-model
61
Fatimah, Syahrina, Development Of Multimedia Courseware For Slow Learner Children
With Reading Difficultties, Springer International Publishing Switxerland, (2013), Hlm.370.
56
pembelajaarn merupakan hal yang sangat penting utnuk diperhatikan guru untuk
pembelajaran pada kelas-kelas inklusi khususnya anak slow learner.
Gambar 1.1
Kerangka berfikir
Siswa Lamban Belajar (Slow Learner)
Masalah belajar siswa lamban belajar
Solusi dari permasalahan siswa lamban
belajar yakni pengelolaan kelas dengan
penggunaan model pembelajaran yang tepat
Kondisi kesulitan belajar Model pembelajaran untuk
anak slow learner mengatasi kesulitan belajar
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berdasarkan Judul penelitian “Model Pembelajaran Bagi Siswa Slow
Learner Di Sekolah Inklusi Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan Tahun
Pelajaran 2019/2020”, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
yakni pendekatan kualitatif. Inti utama penelitian kualitatif adalah pada tujuan
eksplorasi dan pemahaman data secara lebih mendalam.62 Penelitian kualitatif
digunakan pada kondisi objek alamiah yang mana peneliti bertindak sebagai
instrumen kunci, teknik pengumpulan berupa triangulasi, analisis data bersifat
induktif atau kualitatif, dan hasil penelitiannya dapat memberikan makna yang
digeneralisasikan.63Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena ingin
mengkaji lebih mendalam terkait permasalahan yang ada di suatu lokasi
tertentu.
Selanjutnya untuk jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah jenis penelitian study kasus. Tujuan dari penelitian studi kasus yakni
menjelaskan secara rinci mengenai sebagian kecil sekolah, kelas atau siswa.64
Alasan peneliti menggunakan pendekatan dan jenis penelitian tersebut karena
ingin menjelaskan secara lebih mendalam dan rinci mengenai fenomena yang
sedang diteliti yakni bagaimana model pembelajaran yang digunakan dalam
62
Agustinus Bandur, Penelitian Kualitatif Metodologi, Desain, & Teknik Analisis Data
Dengan NVIVO 10 (Jakarta: mitra wacana media, 2014), hlm.16.
63
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung:Alfabeta,2010), Hal.15.
64
Agustinus Bandur, Penelitian Kualitatif Metodologi, Desain, & Teknik Analisis Data
Dengan NVIVO 10 (Jakarta: mitra wacana media, 2014), hlm.26.
57
58
proses pembelajaran bagi anak slow learner, dan juga sejauh mana kondisi
kesulitan belajar pada anak di sekolah tersebut.
B. Kehadiran Peneliti
Peneliti merupakan instrumen utama atau instrumen kunci dalam penelitian
kualitatif, Pada penelitian kualitatif alur penelitian sangat bergantung pada
peran seorang peneliti. Pada kegiatan penelitian ini peneliti akan hadir dan
bertindak secara langsung sebagai seorang perencana, pengumpul data, analisis
penafsir data, menjadi pelapor hasil penelitian.65 sehingga kehadiran peneliti
merupakan suatu keharusan dalam pengumpulan data dan pelaksanaan
penelitian. Sebagai instrumen utama dalam penelitian, peneliti memiliki tugas
yang sangat kompleks dalam penelitian tersebut, mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengumpulan data, analisis data.
Peneliti akan melalukan langkah-langkah sebaagai berikut:
• Sebagai perencana peneliti akan mempersiapkan segala kebutuhan dalam
penelitian, seperti halnya instrumen penelitian, alat-alat untuk dokumentasi
dll.
• Sebagai pengumpul data peneliti mengumpulkan data dari sumber data
primer dan sekunder melalui berbagai macam teknik, mulai dari observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Proses pengumpulan data dilakukan peneliti
dengan terjun secara langsung pada lokasi penelitian dan melakukan
pengamatan langsung. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar
65
Lexy J, Moleong, Metode Penelitian Kualitatif edisi Revisi (Bandung:Remaja
Rosdakarya, 2005), Hal.12.
59
Muhammadiyah 2 Tulangan, selain itu peneliti juga melakukan wawancara
dengan berbagai pihak, diantaranya kepala sekolah, beberapa guru kelas,
dan guru pendamping khusus di sekolah tersebut.
• Sebagai analisis penafsir data maka peneliti melakukan analisis data yang
telah diperoleh, dengan cara memilah informasi yang dibutuhkan dalam
penelitian dan menyisihkan informasi yang tidak diperlukan. Proses analisis
data juga dilakukan hingga didapatkan bahwasannya data yang diperoleh
dapat diyakini kebenarannya.
• Sebagai pelapor hasil penelitian peneliti akan menyajikan data dalam bentuk
laporan hasil penelitian. Laporan tersebut akan mendeskripsikan secara
rinci hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, sehingga dapat bermafaat
bagi berbagai pihak.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Muhammadiyah 2 Tulangan
yang berlamatkan di Jl. Raya Kemantren No.2, Keputran, Kemantren,
Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pemilihan sekolah
tersebut didasarkan karena sekolah tersebut melakukan penanganan yang
profesional dan efektif dalam menyelenggarakan program pendidikan inklusi,
hal tersebut dibuktikan dengan pada tahun 2014 SD Muhammadiyah 2 Tulangan
mendapatkan penghargaan dan juga piagam dari Bupari Sidoarjo sebagai
kategori 5 besar sekolah penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten
Sidoarjo. Sebagai penunjang penyelenggaraan pembelajaran bagi siswa
berkebutuhan khusus SD Muhammadiyah 2 Tulangan dilengkapi dengan ruang
60
sumber, fasilitas hitech dan juga lowtech yang dikususkan bagi anak
berkebutuhan khusus agar perkembaangn mental dan juga intelegensinya dapat
mengalami peningkatan yang signifikan. SD Muhammadiyah 2 Tulangan juga
menyediakan GPK (Guru Pendamping Khusus) bagi anak berkebutuhan khusus,
dimana satu GPK akan mendampingi satu anak berkebutuhan khusus dalam
proses pembelajaran. GPK yang disediakan sekolah juga merupakan tenaga
profesional yang merupakan lulusan dari Pendidikan Luar Biasa dan juga
Psikologi.
Jumlah anak slow learner secara keseluruhan pada sekolah tersebut yakni 13
siswa dari 39 Siswa Berkebutuhan Khusus. Masing-masing kelas maksimal
memiliki 2 siswa berkebutuhan khusus di dalammnya. Berdasarkan beberapa
faktor tersebut peneliti melakukan penelitian pada tempat tersebut.
D. Data Dan Sumber Data
Data yang akan diperoleh peneliti adalah data primer dan data sekunder.
Masing-masing data tersebut akan diperoleh peneliti sebagai berikut:
a) Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh ataupun dikumpulkan secara
langsung di lapangan dari sumber asli oleh peneltiti.66 Peneliti akan
memperoleh data primer tersebut dengan cara melakukan wawancara,
observasi dan dokumentasi. Data yang didapatkan masih berupa data apa
adanya sehingga membutuhkan analisis lebih lanjut.
66
Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hlm. 146.
61
Data primer dalam penelitian ini adalah:
1) Kepala sekolah sebagai sumber data meliputi data sekolah, visi misi,
kegiatan pembelajaran dan lain-lain
2) Guru kelas sebagai sumber data meliputi kegiatan pembelajaran terkait
strategi pembelajaran, evaluasi, media pembelajaran, pengkondisian kelas,
metode pembelajaran dan lain-lain.
3) Guru pendamping Khusus (GPK) sebagai sumber data meliputi
pendampingan pada anak berkebutuhan khusus (slow learner)
4) Siswa kelas dan siswa berkebutuhan khusus klasifikasi slow learner (jika
memungkinkan)
b) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti
dari sumber-sumber yang sudah ada diantaranya diperoleh dari perpustakaan
atau dari laporan-laporan peneliti terdahulu.67 Sumber data sekunder pada
penelitian ini didapat dari dokumen-dokumen penelitian terdahulu mulai dari
jurnal, artikel, skripsi, maupun thesis, data lain juga didapat dari dokumen-
dokumen yang telah tersedia di sekolah.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
67
Ibid, hlm. 147.
62
a) Teknik wawancara
Wawancara merupakan suatu kegiatan percakapan tertentu yang dilakukan
oleh pewawancara dan terwawancara, guna untuk memperoleh informasi atau
tujuan tertentu.68 Wawancara yang dilakukan peneliti yakni wawancara
terstruktur dengan mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu
dalam sebuah instrumen wawancara. Peneliti melakukan wawancara dengan
sumber data yang memiliki korelasi dengan permasalahan dan topik penelitian,
diantaranya yaitu kepala sekolah, guru kelas, guru pendamping khusus (GPK).
Hasil wawancara akan dituangkan dalam bentuk transkrip wawancara dengan
pemberian kode tanggal serta waktu wawancara.
1) Wawancara Kepala Sekolah untuk memperoleh data tentang, profil sekolah,
visi misi, program unggulan sekolah, dan beberapa agenda sekolah lainnya.
2) Guru Kelas dan Guru Pendamping Khusus kelas-kelas dengan siswa lamban
belajar untuk memperoleh data mengenai kondisi anak lamban belajar,
strategi pembelajaran, evaluasi, media pembelajaran, pengkondisian kelas,
metode pembelajaran, serta pendampingan untuk anak lamban belajar.
3) Siswa kelas sebagai pihak yang mengetahui dan mengalami situasi langsung
keseharian dari proses pembelajaran.
b) Metode observasi
Teknik observasi yang dilakukan peneliti adalah teknik terstruktur yakni
observasi yang disusun secara sistematis terhadap hal yang akan diamati.69
68
Lexy [Link], Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2013),
Hal.186.
69
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D )
(Bandung:Alfabeta, 2010), Hal.205.
63
Peneliti melakukan pengamatan secara langsung selama proses pembelajaran,
yakni meliputi bagaimana model pembelajaran yang digunakan dalam
pelaksanaan pembelajarandalam beberapa kelas yang terdapat siswa dengan
lamban belajar di dalamnya. teknik evaluasi, pengkondisian kelas, penataan
bangku, media pembelajaran, dan materi pembelajaran.
c) Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi ini dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap
catatan yang berkaitan dengan fokus penelitian. Pada penelitian ini
dokumentasi dilakukan dengan melakukan pengamatan pada rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), raport anak berkebutuhan khusus, kriteria
ketuntasan minimal (KKM) siswa berkebutuhan khusus, soal- soal evaluasi
bagi anak berkebuthan khusus, foto penataan bangku, foto saat pembelajaran
berlangsung.
F. Analisis Data
Suatu upaya pengorganisasian data, memilah data, mensistesikan, dan
menemukan pola hingga menemukan apa yang penting dan dipelajari hingga
memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain.70 Pada penelitian yang
akan dilakukan oleh peneliti ini, nantinya peneliti akan menggunakan model
analisis data dari Miles dan Huberman, dimana terdapat 3 tahapan yaitu reduksi
data (data reduction), penyajian data (data display), penarikan kesimpulan
(conclution drawing/verification).71
70
Lexy [Link], Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2013), Hal.
248.
71
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,
(Bandung:Alfabeta, 2013), Hal. 337.
64
a) Reduksi data (data reduction)
Data yang telah diperoleh akan direduksi secara terus menerus selama
penelitian berlangsung. Peneliti akan mereduksi data-data yang penting dan
menjadi pokok pembahasan. Data yang direduksi merupakan data hasil
wawancara, observasi, serta dokumentasi. Peneliti akan menggunakan 3
kertas HVS sebagai media untuk mempermudah pengelompokan. Kertas
HVS berwarna biru digunakan untuk mengelompokkan data yang
membahas fokus penelitian 1, kertas HVS berwarna kuning akan
digunakan untuk mengelompokkan data yang membahas fokus penelitian
2.
Peneliti juga akan melakukan pengkodian pada data yang telah
diperoleh dengan teknik-teknik pengumpulan data yang telah disebutkan,
yakni wawancara (W), observasi (O), dokumentasi (D). Selain pengkodian
pada teknik pengumpulan data, pengkodian selanjutnya digunakan pada
narasumber penelitian yakni Kepala Sekolah (KS), Guru Kelas (GK), Guru
Pendamping Khusus (GPK), Siswa (S). Peneliti melakukan pengumpulan
data, yang didapat dengan teknik wawancara, observasi, dokumentasi
terhadap data-data yang dibutuhkan.
b) Penyajian Data (Data Display)
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi yang dapat digunakan
dalam proses penarikan kesimpulan serta pengambilan tindakan
selanjutnya. Penyajian data oleh peneliti nantinya akan berupa deskripsi
65
dari data-data yang telah di dapatkan, bagan yang disertai penjelasan dan
hubungan antar kategori.
Pengajian data hasil wawancara akan dituliskan dengan sistematika
menjorok ke dalam, dan jika dalam bentuk tabel maka akan disajikan
dengan keterangan judul tabel dan penomoran, begitupula untuk gambar.
Penyajian data yang demikian akan mempermudah peneliti untuk
memahami hal yang sedang terjadi dan informasi yang masih kurang
sehingga harus dilakukan kembali.
c) Penarikan Kesimpulan (conclution drawing/verification)
Pada tahap ini peneliti akan penyampaikan jawaban atas fokus penelitian
yang telah dibahas dalam penelitian tersebut. kesimpulan yang telah
diperolah akan diferifikasi serta diuji kebenarannya, kecocokan serta
kekuatannya, sehingga akan menghasilkan jawaban yang teruji
kevalidannya.
G. Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data merupakan langkah untuk melakukan pembuktian
bahwa penetilian yang dilakukan ilmiah atau tidak, sehingga diperlukan suatu
derajat kepercayaannya.72
72
Lexy J Moeloeng, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosdakarya,2002), Hal.
320.
66
a) Triangulasi
Triangulasi adalah pemeriksaan atau pengecekan keabsahan data dengan
menggunakan: (1) banyak sumber data (2) banyak teknik pengumpulan
untuk konfirmasi data (3) banyak waktu (4) banyak penyidik.73
Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek informasi
atau data dari sumber yang berbeda.74 Triangulasi sumber pada penelitian
ini dilakukan dengan pengecekan data dari guru kelas, guru pendamping
khusus, dan siswa di kelas tersebut. jika data yang didapatkan sama/sesuai
maka data tersebut valid.
Tirangulasi teknik berarti membandingkan dan mengecek informasi atau
data yang diperoleh dari metode pengumpulan data yang berbeda-beda.75
Teknik ini dilakukan dengan mencocokkan hasil wawancara beberapa
informan dengan observasi langsung, sehingga didapatkan apabila antara
hasil wawnacara dengan hasil observasi sesuai maka dapat dikatakan data
tersebut valid.
Tiangulasi waktu berarti peneliti melakukan pengecekan data dengan
waktu yang berbeda.76pengamatan tidak hanya dilakukan sekali
pembelajaran tetapi bebrapa kali pembelajaran.
Triangulasi penyidik berarti membandingkan data yang diperoleh
peneliti yang satu dengan peenliti yang lain.77
73
Nurul Ulfatin, Metode Penelitian Kualitatif Dibidang Pendidikan Teori Dan Aplikasinya,
(Malang: Media Nusa Creative, 2017), hlm. 278.
74
Ibid, hlm. 278.
75
Ibid, hlm. 279.
76
Ibid, hlm. 279.
77
Ibid, hlm. 279.
67
b) Perpanjangan waktu pengamatan
Semakin lama pengamatan maka data yang dikumpulkan semakin banyak
dan semakin dalam.
c) Pengecekan teman sejawat
Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan teman-teman peneliti yang
memiliki penngetahuan umum yang sama dan melakukan diskusi.
H. Prosedur Penelitian
Kegiatan penelitian yang akan dilakukan peneliti dilakukan secara terstruktur
dan sisematis. Tahapan atas prosedur penelitian yang akan dilakukan oleh
peneliti dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut ini:
a. Tahap Pra Lapangan
1) Menyusun Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian akan disusun oleh peneliti sebagai patokan apa saja
yang harus dilakukan selama kegiatan penelitian berlangsung. Sehingga
penelitian akan berjalan secara sistematis sesuai dengan alurnya.
2) Pemilihan Lokasi Penelitian
Tahapan ini merupakan tahapan yang sangat penting, pemilihan lokasi
yang dilakukan oleh peneliti dilandaskan atas latar belakang fenomena
yang benar adanya terjadi di lokasi tersebut. Berangkat dari fenomena
tersebut peneliti memutuskan untuk memilih Sekolah Dasar
Muhammadiyah 2 Tulangan sebagai lokasi tempat penelitian akan
dilakukan.
68
3) Mengurus Perizinan Penelitian
Sebelum penelitian dilakukan peneliti akan melakukan kunjungan atau
observasi sederhana terlebih dahulu di Sekolah Dasar Muhammadiyah 2
Tulangan dan secara lisan menyampaiakan tujuan kami untuk mengangkat
fenomena yang terjadi di SD tersebut guna tugas skripsi peneliti. Setelah
mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah, kemudian peneliti mengurus
perizinan secara formal dengan membrikan surat penelitian kepada pihak
sekolah yang akan digunakan sebagai lokasi penelitian.
4) Mengenali Lingkungan Lokasi Penelitian
Pada tahap ini peneliti akan mencoba untuk masuk pada lingkungan lokasi
penelitiannya. Disamping peneliti melakukan observasi secara sederhana,
peneliti juga akan mengenali lingkungan sekolah tersebut mulai dari
kepala sekolah, guru serta siswanya. Sehingga ketika penelitian
sesungguhnya akan dilakukan peneliti telah mengenali dan akrab dengan
lingkungan lokasi penelitian.
5) Mempersiapkan Perlengkapan Penelitian
Sebelum penelitian dilakukan peneliti akan mempersiapkan secara matang
kebutuhan ataupun keperluan yang akan digunakan selama proses
penelitian berlangsung, seperti halnya instrument, kamera, flashdisk serta
keperluan lainnya.
b. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Pada tahapan pelaksanaan penelitian nantinya peneliti akan melakukan
kegiatan sebagai berikut :
69
1) Observasi
Observasi yang akan dilakukan peneliti nantinya akan dilakukan secara
langsung dengan mendatangi lokasi yang dijadikan sebagai tempat
penelitian yaitu Sekolah Dasar Muhammadiyah 2. Pada kegiatan observasi
ini peneliti akan berperan sebagai pelaksana, pengamat, hingga pengambil
data.
2) Wawancara Kepala Sekolah
Peneliti akan melakukan wawancara kepada sekolah tentang pandangannya
secara umum terhadap pengelolaan sekolah inklusi, serta menayakan hal
yang berhubungan dengan program atau kegiatan sekolah yang menunjang
keberhasilan pelaksanaan pendidikan inklusi.
3) Wawancara Kepada Guru Kelas
Wawancara kepada guru kelas dengan pokok bahasan tentang proses
pembelajaran bagi siswa lamban, serta upaya-upaya yang dilakukan agar
pembelajaran yang dilakukan dapar berlangsung secara efektif.
4) Wawancara Guru Pendamping Khusus
Wawancara kepada Guru Pendamping Khusus dengan pokok bahasan
tentang bagaimana penanganan anak laban belajar ketika proses
pembelajaran berlangsung.
5) Wawancara Siswa
Kegiatan ini akan dilakukan untuk mendapatkan data terkait dengan
pelaksanaan pembelajaran pada kelas-kelas inklusi dengan siswa lamban
belajar di dalamnya.
70
6) Menelaah Teori yang Relevan
Tidak hanya dibutuhkan observasi semata, namun peneliti nantinya juga
akan mengintegrasikan fakta yang telah didapat dengan teori yang relevan
dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Hal tersebut
diharapkan akan mampu menguatakan anatara hasil penelitian yang akan
peneliti lakukan, serta dari hasil penelitian yang telah dilakukan nantinya
mampu menguatkan teori yang telah ada. Sehingga hasil penelitian
tersebut dapat memberikan penguatan pengetahuan yang berkaiatan
dengan topik penelitian yang akan dilakukan.
7) Mengidentifikasi Data
Peneliti akan melakukan tahap identifikasi data yang nantinya akan
terkumpul mulai dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.
Peneliti akan memilah-milah data yang sesuai dengan pendukung
keperluan kebutuhan penelitian. Sehingga dengan dilakukkannya hal
tersebut peneliti akan mudah dalam mencari tau data yang sudah
terkumpul ataupun data yang masih perlu untuk dicari.
c. Tahap Terakhir Penelitian
Pada tahapan akhir penelitian ini, peneliti akan menyajikan data yang telah
diperoleh melalui teknik yang telah ditentukan dalam bentuk deskriptif.
Peneliti akan menyajikan fakta-fakat yang diperolehnya serta
mengintegrasikan dengan teori yang relevan dengan topik penelitiannya.
Sehingga peneliti nantinya akan mampu menganalisis data-data penelitian
sehingga tercapailah tujuan penelitian yang peneliti inginkan.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
A. Paparan Data
Hasil penelitian merupakan paparan data yang didapat melalui penelitian
lapangan yang sesuai dengan fokus permasalahan yang yang terdapat dalam
skripsi. Berdasarkan fokus penelitian yang digunakan dalam skripsi ini maka
paparan data yang akan disajikan akan dimulai dengan data yang berhubungan
dengan kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner dan juga bagaimana
penyelenggaraan pembelajaran bagi anak slow learner meliputi pengelolaan
lingkungan kelas, dari formasi bangku, sarana prasarana, bahasa yang
digunakan dalam penyampaian materi, posisi duduk, juga akan dibahas tentang
perangkat pembelajarannya seperti bahan ajar, alat evaluasi, RPP.
Selanjutnya akan dibahas pula terkait model pembelajaran yang digunakan
guru dalam melaksanakan pembelajaran bagi anak slow learner, juga terkait
strategi pengajaran untuk anak slow learner di SD Muhammadiyah 2 Tulangan.
Sampel subjek penelitian pada penelitian ini adalah siswa slow learner yang
terdapat di kelas V, subjek berinisial KA.
1. Deskripsi Tempat Penelitian
a. Latar Belakang Sekolah Menyelenggarakan Pendidikan Inklusi
SD Muda Tusida adalah akronim dari Sekolah Kreatif SD
Muhammadiyah 2 Tulangan berdiri pada Tahun 2006 di Desa
Kemantren RT 001 RW 002 Kec. Tulangan. Tujuan awal di dirikan
71
72
AUM (Amal Usaha Muhammadiyah ini) untuk mengembangkan
potensi dakwa islam khususnya di daerah Kemantren dan kabupaten
Sidoarjo secara umum. Visi utamanya adalah menjadi sekolah yang
religious, berakhlaqul karimah, dan berprestasi. Konsep pembelajaran
yang diusung adalah “Edutainment Learning”, yaitu sebuah konsep
yang menggabungkan antara bermain dan belajar. Seperti yang kita
ketahui bersama bahwa dunia anak tidak pernah terlepas dari BCM
(Bermain, Cerita, dan Menyanyi). Maka disini anak diberikan berbagai
pendekatan dan strategi yang tidak jauh dari BCM untuk memudahkan
proses penyampaian materi pelajaran.
Sekolah ini merupakan sekolah dengan setting pendidikan inklusi.
Sekolah menerima siswa berkebutuhan khusus untuk belajar bersama
siswa-siswa lain di kelas reguler dengan berbagai pelayanana
pendukung sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Sekolah
menjadi sekolah dengan setting pendidikan inklusi dikarenakan
kebutuhan masyarakat sekitar akan pendidikan inklusi bagi anak-anak
yang memiliki kebutuhan khusus. Sedangkan sekolah yang menerapkan
pendidikan inklusi masih jarang ditemui dan beberapa sekolah inklusi
memiliki jarak tempuh yang lumayan jauh. Sehingga dengan adanya
sekolah ini diharapkan dapat menjadi solusi masyarakat akan
permasalahan tersebut dikarenakan lokasi sekolah yang dekat dengan
tempat tinggal masyarakat, sehingga jarak tempuh yang dimabil relatif
dekat.
73
b. Pengelolaan Pendidikan Inklusi
Mulai dari awal awal berdirinya sekolah ini sudah menerima PDBK
(Peserta Didik Berkebutuhan Khusus), akan tetapi belum ada kebijakan
khusus yang mengatur tentang GPK (Guru Pendamping Khusus) dan
juga SK (Surat Keputusan), barulah pada tahun 2013 SD
Muhammadiyah 2 Tulangan memperoleh SK dari diknas Sidoarjo
sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Pada tahun 2014 SD
Muhammadiyah 2 Tulangan mendapatkan penghargaan dan juga
piagam dari Bupari Sidoarjo sebagai kategori 5 besar sekolah
penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten Sidoarjo.
Sekolah inklusi memiliki manajemen khusus untuk mengelola
sekolah. Pertama terkait manajemen kesiswaan. Sekolah memberikan
kesempatan dan juga peluang kepada anak berkebutuhan khusus untuk
dapat mengikuti pendidikan di sekolahnya. Untuk memudahkan
pengelolaan kelasnya dibatasi tidak lebih dari 2 siswa berkebutuhan
khusus pada masing-masing kelas.
Kedua adalah manajemen kurikulum. Kurikulum yang digunakan di
kelas inklusi adalah kurikulum reguler yang dimodifikasi sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan masing-masing siswa berkebutuhan
khusus. modifikasi yang dilakukan meliputi modifikasi alokasi waktu,
modifikasi isi/materi, modifikasi proses belajar-mengajar, modifikasi
74
sarana-prasarana, modifikasi lingkungan belajar, dan modifikasi
pengelolaan kelas.
Ketiga manajemen tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan di
sekolah meliputi tenaga pendidik (guru), pengelola satuan pendidikan,
pustakawan, laboran, dan teknis sumber belajar. Sedangkan untuk guru
yang terlibat di sekolah inklusi adalah guru kelas, guru mata pelajaran
(pendidikan agama islam, bahasa inggris, serta pendidikan jasmani,
olahraga dan kesehatan), dan juga guru pendamping khusus.
Keempat manajemen saran prasarana. Selain menggunakan sarana
prasarana yang sama seperti anak-anak lain. Anak berkebutuhan khusus
juga membutuhkan sarana prasarana yang menunjang ketunaan yang
dialami masing-masing siswa, selain komponen sekolah seperti gedung
sekolah, kantor, laboratorium, sekolah juga menyediakan ruang sumber
untuk anak berkebutuhan khusus, dan juga fasilitas hitech dan juga
lowtech.
c. Konsep Sekolah
a. Sekolah Muhammadiyah. Sekolah kreatif SD Muda Tusida
mengajarkan kurikulum muhammadiyah yang terkenal yakni AL
Islam
b. Sekolah kreatif. Menyajikan berbagai konsep kreatifitas dalam
kegiatan pembelajaran antara lain:
i. Model pembelajaran pakemi
75
ii. Kegiatan indoor dan outdoor
iii. Desain kelas yang unik
iv. Metode KBM yng bervariatif sesuai kondisi perserta didik
c. Sekolah inklusi. Semua anak adalah bintang. Setiap anak memiliki
kekurangan dan kelebihan. Sekolah kreatif SD Muda Tusida hadir
di tengah-tengah masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang
siap menjadikan anak-anak menjadi generasi yang religius,
berakhlaqul karimah, dan berprestasi tanpa membeda-bedakan
kondisi anak.
1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner di SD
Muhammadiyah 2 Tulangan
Peneliti melakukan observasi secara langsung di kelas V Honai
yakni kelas dimana KA belajar, selama bulan Desember 2019 sampai
januari 2020 Pada hari senin tanggal 9 Desember, dan juga kelas V Sasadu
yakni kelas dimana MA belajar. Peneliti melakukan pengamatan terkait
bagaimana kondisi kesulitan belajar pada KA dan juga MA saat belajar di
kelas.78
1.) Kondisi kesulitan belajar pada KA siswa kelas V Honai
Agar mengetahui bagaimana kondisi kesulitan belajar pada KA
maka peneliti melakukan observasi dengan menggunakan instrumen
78
Observasi, kegiatan pembelajaran di runag kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 9 Desember
2019.
76
yang diadopsi dari mulyadi.79 Nani Triani dan Amir80, dan Mubair
Agustin.81
Tabel 4.1
Hasil Observasi Tentang Kondisi Anak Slow Learner KA
NO KRITERIA CHEKLIST
1 Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada
umumnya yang memiliki usia sama.
2 Konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga hanya
memiliki durasi waktu yang terbatas
3 Mengalami kesulitan dalam berkomunikasi baik dalam
ekspresif maupun komunikasi dua arah
4 Kesulitan dalam mengarahkan diri (self dirention)
5 Memiliki emosi yang kurang stabil, seperti cepat marah, dan
sensitif
6 Kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal
yang telah dipelajari.
7 Membutuhkan waktu yang panjang dan lama dalam
menangkap sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk
melupakan pembelajaran yang telah dipahaminya.
8 Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan
pendiam
79
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
80
Nani Triani dan Amir, Pendidikan ABK Lamban Belajar (Slow Learner) (Jakarta: Luxima,
2016), hlm. 6
81
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru ,
Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 3
77
9 Kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, serta
kurangnya kemampuan dalam menentukan kesalahan-
kesalahan yang dibuat.
10 Kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis,
memecahkan sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam
berfikir kritis.
Berdasarkan hasil observasi tersebut menunjukkan bagaimana kondisi
kesulitan belajar pada KA. Peneliti juga melakukan wawancara dengan
guru yang mengajar di kelas KA sebagai narasumber dalam penelitian ini.
Beliau adalah Ustadzah L (Guru Kelas), Ustadzah VA (Guru Pendamping
Khusus), Ustadzah W (Penanggung Jawab Inklusi), Ustadzah N (Guru
Bahasa Inggris) terkait kondisi kesulitan belajar pada KA
Hasil wawancara dengan ustadzah VA (Guru Pendamping Khusus)
tentang kondisi KA saat pembelajaran berlangsung terkait dengan
kecerdasan KA
“Kecerdasan KA lebih rendah dibandingkan dengan teman-teman
sekelasnya yang memiliki uisa sama, dikarenakan dari segi IQ saja
sudah berbeda, meskipun sama usianya dengan teman-teman
kelasnya tetapi usia mentalnya masih jauh dibawahnya. Dalam artian
KA sekarang usianya 11 tahun tetapi mentalnya itu masih kayak usia
8-9 tahun.”82
Kecerdasan KA yang lebih rendah juga ditunjukkan dengan
rendahnya pemahaman-pemahaman terhadap materi pembelajaran.
82
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
78
Keterangan lebih lanjut diampaikanoleh ustadzah L yang merupakan guru
kelas KA yakni
“Kecerdasan yang dimiliki KA jika dibandingkan dengan teman
sekelasnya lebih rendah, karenakan indikasinya dari pemahaman-
pemahaman materi pelajaran yang lebih rendah dari temen-
temannya.”83
Indikasi-indikasi lebih rendahnya kecerdasasn KA juga terlaihat
melalui kurangnya kemampuan dalam komunikasi dua arah, dan juga KA
masih sangat membutuhkan bimbingan dari guru pendampingnya ketika
menyelesaikan evaluasi pembelajaran yang diberikan. Ustadzah N yang
merupakan guru bahsa inggris KA menyampaikan bahwa
“KA dari waktu saya ngajar nggeh sudah kelihatan kalau dia itu
kecerdasannya lebih rendah dibandingkan temen-temennya yang
lain, jadi dia itu kurang nyambung klau misalnya diajak ngomong
atau ditanyain itu jawabanya cenderung nggak nyambung, kalau
sedang mengerjakan worksheet dia harus bener-bener dituntun
satu-satu. Yah itu tadi mungkin salah satu indikasi bahwa
kecerdasan dia sedikit kurang dibanding teman-teman yang
lain.”84
KA memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dari pada teman-teman
kelasnya, sehingga dalam memahami suatu materi pembelajaran guru
pendampingnya maupun guru yang mengajar di kelasnya harus
mengulang-ulangi materi pembelajaran beberapa kali dulu hingga KA
dapat memahami materi yang disampaikan. Hal tersebut disampaikan
ustadzah VA guru pedamping khusus KA
83
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
84
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
79
“Kemampuan dalam memahami materi itu sedikit susah jadi harus
diulang berkali-kali kalau ngajarinnya, baru nanti dia bisa paham,
dan kalau sudah paham dia cepet lupa. Diajarinnya susah tapi kalau
sudah bisa cepet lupanya juga, jadi intinya ya sabar aja diulang-ulang
sampai dia paham lagi.”85
Kemampuan KA dalam memahami materi pembelajaran membutuhkan
durasi waktu yang panjang. Seperti keterangan Ustazah L sebagai guru
kelas meyampaikan
“Kemampuan KA dalam menangkap pembelajaran butuh waktu
yang panjang dan berulang-ulang dengan tema yang sama sehingga
dia memang membutuhkan pendampingan yang khusus untuk
membantunya dalam menguasai materi dalam jangka waktu yang
panjang”86
Untuk memahamkan KA dalam pembelajaran, materi yang diampaikan
haruslah diulang-ulang beberapa kali. Sejalan dengan pendapat Ustadzah
N guru bahasa inggris KA
“Untuk memahami materi yang diajarkkan dia itu susah sekali
nyantolnya jadi harus diulang-ulang berkali-kali dulu pelan-pelan,
baru nanti dia ngerjain worksheet yang diberikan”87
Ketika KA sudah memahami materi yang telah diajarkan secara berulang-
ulang dan dengan penyampaian yang pelan, hanya berselang beberapa jam
atau bahkan menit setelahnya dia akan mudah lupa dengan hal-hal yang
telah dipelajarinya. Seperti keterangan yang disampaikan ustadzah VA
yang merupakan Guru pendamping Khusus KA sebagai berikut,
“Kemampuan dalam mengingat kembali hal-hal yang sudah
dipelajari itu rendah sekali, dia haya bisa mengingat yang sudah
85
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
86
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
87
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
80
dipelajari itu selama 30 menit, setelah 30 menit dia akan lupa tadi
sudah belajar apa, jadi misalkan pelajaran yang dipelajari hari ini
dilanjutkan pada hari berikutnya maka saya harus mengulang lagi
yang saya ajarkan kemarin. Jadi ya diulang-ulang lagi dari awal,
mungkin dia ingetnya cuma satu atau dua dari yang sudah
diajarkan”88
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh ustadzah L sebagai guru kelas
KA yakni,
“Kemampuan dalam mengingat kembali materi yang sudah
diajarkan memang tidak seperti teman-teman lainnya, materi yang
disampaikan harus diulang-ulang beberapa kali yah karena
kemampuan dia untuk mengingat sesuatu itu memang rendah
sekali”89
Saat ustadzah sedang menjelaskan materi KA cenderung kurang fokus
sibuk sendiri dengan dunianya durasi fokus yang dia miliki hanya sekitar
5 menit. Hal tersebut disampaikan oleh guru pendamping khusus ustadzah
VA sebagai berikut,
“Konsentrasi KA hanya bertahan selama 5 menit, setelah 5 menit dia
kembali mainan dan sebagainya, jadi misalkan 5 menit pertama trus
dia main lagi, diingatkan lagi main lagi, begitu seterusnya, jadi tiap
5 menit itu mengingatkan lagi.”90
Konsentrasi KA yang mudah teralihkan terlihat saat pembelajaran
berlangsung dia sibuk dengan dunianya sendiri. Guru bahasa inggris
ustadzah N menyampaikan
“Fokusnya KA itu kurang, jadi paling Cuma tiga sampai empat
menit, misalnya saat saya neranginpun itu dia sibuknya ke yang lain,
main pensil atau lihat ke sana sini, memang dia ndak gangguin, ndak
88
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
89
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
90
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00WIB
81
jalan-jalan tapi dia nggak bisa fokus paling fokusnya cuma dua
sampai tiga menit. Kalau misalnya dia sudah ndak fokus jadi
biasanya saya panggil atau saya suruh maju ke depan, atau saya
suruh ngulangin, ini tadi bacanya apa”91
Untuk ukuran anak sesusia KA durasi waktu konsentrasi yang demikian
bisa dikatakan bahwa konsentrasinya mudah teralihkan. Guru kelas
ustadzah L menyampaikan bahwa
“Konsentrasi KA tergolong sangat kurang sekali untuk ukuran
anak sebayanya yang menyebabkan ahirnya input dia dalam
pembelajaran itu sangat kurang sehingga dia tertinggal jauh dengan
teman-temannya”92
Saat berada dalam kelas KA masih mengobrol dengan teman-temannya
tetapi tidak seintens seperti anak-anak lainnya karena kemampuan nya
dalam komunikasi dua arah masih kurang, dia bisa merespon pertanyaan-
pertanyaan sederhana saja. Akan tetapi untuk mengekspresikan emosinya
dia bisa hanya terkadang antara ekspresi dan emosi yang dirasakannya
sedikit terbalik-balik. Seperti keteragan ustadzah N Guru pendamping
bahasa inggris KA
“Kemampuan komunikasinya KA kalau untuk komukasi ya
memang agak gak nyambung, kalau diajak ngomong gitu ditanya
apa jawabnya apa, kadang ngga fokus kan anaknya ngga lihat
lawan bicaranya, ngelihatnya kemana-mana makannya dia nggak
nyambung kalau diajak bicara. Kalau untuk mengeksprsikan nggak
ada problem sih menurut saya, kalau dia lagi seneng ya kadang dia
cerita, ustdzah kemarin aku habis nonton, sama mama sama kakak
gitu, kalau misalnya dia lagi nggak mood gitu dia diem trus
ditanyain KA kenapa, dia jawabnya aku sedih. Gitu sih. Jadi saya
91
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
92
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
82
kira untuk mengekspresikan emosinya dia nggak ada problem
sih.”93
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan ustadzah VA sebagai Guru
pendamping khusus KA
“Kemampuan komunikasi KA untuk komunikasi dua arah masih
susah, bisa diajak komunikasi tetapi harus menggunakan bahasa-
bahasa yang sederhana. Kalau komunikasi untuk mengekspresikan
diri dia cenderung dengan ketawa, misalkan dia dijahilin atau
dicubit temannya dia akan bilang “hehe sakit, atau hehe jangan
gitu”, meskipun yang dia rasakan adalah perasaan kurang nyaman
maupun sakit dia mengekspresikannya dengan ketawa, jadi antara
yang dia rasakan dengan bahasa untuk menyampaikan
erkespresinya kurang nyambung.”94
Hal serupa juga disampaikan ustadzah L Guru kelas KA sebagai berikut
“KA memiliki hambatan komunikasi yang menyebakan dia kurang
bisa menyatu dengan teman-temannya yang melakukan
komunikasi verbal, dan topik-topik bahasan anak-anak pada
umumnya karena indikasi yang dia tunjukkan itu seperti anak
kecil”95
Dikarenakan kemampuan dia dalam komunikasi dua arah masih
mengalami kesulitan maka ketika di dalam kelas dia bersosialisasi dengan
teman-temnnya seperlunya saja, seperti pernyataan dari Ustadzah VA guru
pendamping khusus KA
“Kemampuan bersosialisasinya lumayan, karena dia anaknya
sedikit periang jadi bukan yang diem banget, kalau sosialisai
dengan temannya ya secukupnya karena kadang kalau dia diajak
ngobrol sama temannya jawabannya ngga nyambung, kalau dateng
93
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
94
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
95
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Demsember pukul 12.30
WIB
83
ke kelas juga dia pergi ke pojok kelas ke sudut baca buat baca buku-
buku komik bergambar yang untuk anak-anak tk atau kelas
bawah.”96
Kesulitan KA untuk bersosialisai terlihat karena dia kerap menyendiri di
pojok ruang kelas yakni di sudut baca. Ustadzah L guru kelas KA
menyatakan
“KA kurang dalam bersosialisasi karena dia cenderung
menyendiri, komunikasi dengan teman-temannya juga hanya
sekedarnya saja, tetapi terkadang dia masih suka cerita-cerita ke
ustdaz, ustadzahnya dan juga ke temean-temannya”97
Begitu pula dengan pernyataan ustadzah N sebagai guru bahasa inggris
KA
“Dalam bersosialisasi, dia masih bisa sih masih main-main sama
temannya, tapi yaa sekedarnya saja. Kadang-kadang tiba-tiba cerita
random ketemen-temennya cerita cinderella, ke ustdz siapa gitu
juga kadang-kadang crita”98
Saat di dalam kelas KA masih bisa bersosialisasi dengan teman-temaannya
meskipun terkadang dia menyendiri di pojok kelas baca-baca buku
dongeng di sudut baca, hal itu dikarenakan KA memiliki emosi yang
lumayan stabil, KA bukan tipe anak yang mudah marah ataupun meledak-
ledak tetapi KA sedikit memiliki emosi yang sensitif, terkadang jika
melakukan kesalahan di kelas dia tiba-tiba menangis seperti keterangan
ustadzah VA guru pendamping khusus sebagai berikut,
“Emosi KA bisa dikatakan lumayan stabil, tetapi dia sedikit
sensitif, kayak misalnya hari itu dia salah memakai seragam
sekolah nanti dia ketemu bundanya itu sambil nangis dan bakalan
96
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
pukul 12.00 WIB
97
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
98
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember 2019
pukul 08.00 WIB
84
inget kejadian itu sampai minggu selanjutnya, bukan hanya inget
dia akan ngungkit-ngungkit hal itu sampai kira-kira minggu
selanjutnya. Tapi KA ini nggak mudah marah, sensitifnya bukan
yang mudah ngamuk meledak-ledak, karena dia tipe-tipe anak
yang ceria.”99
Jika terdapat hal-hal yang kurang berkenan, KA bukan tipe anak yang
meledak-ledak dengan emosi yang tidak terkontrol akan tetapi dia
cenderung mengutarakan apa yang dirasakannya, seperti Pernyataan
ustadzah N guru bahasa inggris mengatakan bahwa emosi KA lumayan
stabil,
“Emosi KA itu cenderung anaknya lebih stabil, kalaupun ada
sesuatu yang nggak cocok itu dia ahh kamu itu bukan begitu, jadi
cuma gitu aja , yaah masih wajar lah, bukan yang kayak tantrum
marah-marah gitu. Dia juga tidak terlalu sensitif, jadi hampir saya
belum pernah melihat dia nangis, kalau wkatu saya, ndak tau juga
kalau bukan waktu saya ngajar.”100
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Guru kelas KA, yakni ustadzah L
yang menyatakan
“Permasalahan emosi seperti mudah marah atau meledak-ledak
tidak terjadi pada KA, dia hanya cenderung lebih sensitif”101
Ketika dalam kelas KA masih kesulitan dalam komunikasi dua arah, maka
kemampuan dia ketika terdapat materi yang mengharuskannya untuk
mendeskripsikan, menganalisis, atau bahkan berpiki kritis tentu saja masih
kesulitan, KA bisa mendeksripsikan jika benda yang harus dideskripsikan
99
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
100
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
101
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
85
ada secara konkret, jika hanya gambar KA sedikit kesulitan. Seperti
pernyataan ustadzah VA guru pendamping khusus KA sebagai berikut,
“Kemampuan KA dalam mendeskripsikan sebuah benda kurang,
dia bisa kalau bendanya ada konkret di depannya atau
sekalilingnya, tetapi kalau bendanya hanya berupa gambar dia
kesulitan, dia bilang “ini apasih ustadzah” meskipun benda itu
sering ditemui di kehidupan sehari-harinya. Kalau kemampuan
menganalisis, berfikir kreatif dan sebagainya itu dia belum
Jangankan dalam mendeskripsikan benda, KA juga mengalami kesulitan
dalam menentukan ukuran-ukuran benda yang tidak dilihatnya secara
langsung, dalam artian membedakan mana benda yang ukurannya besar
dan mana benda yang ukurannya kecil, seperti pernyataan ustadzah N guru
bahasa inggris KA
“Kalau di bahasa inggris kan ada big small lha untuk KA itu
kayaknya masih kesulitan jadi kayak misalkan bola mana yang
besar, dan bola mana yang kecil dia itu masih lama loadingnya.
Jadi misal bola A ini besar atau kecil, trus lama dia baru jawab,
nanti saya yang nuntun lagi tadi besar apa big atau small, sambil
pelan-pelan saya ulang-ulang”103
Pernyataan ustadzah L guru kelas KA juga relevan dengan pernyataan-
pernyataan di atas yakni
“Kemampuan KA dalam mendeskripsikan, menganalisis, maupun
berpikir kritis sangat kurang, karena mereka masih membutuhkan
pendampingan sehingga untuk kompetensi-kompetensi yang
sedikit susah mereka sangat kesulitan untuk mencapainya”104
102
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
103
Wawancara dengan ustadzah N guru bahasa inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
104
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
86
Ketika kemampuan KA dalam mendeskripsikan suatu benda yang tidak
dilihatnya secara langsung, bendanya tidak konkret di depannya saja masih
kesulitan tentulah kemampuan dalam membuat suatu pedoman kerja, KA
bisa dikatakan sangat kurang seperti keterangan ustadzah L Guru Kelas
KA yakni
“Kemampuan KA untuk membuat pedoman kerja rendah,
kemampuan bersosialisasi saja kesulitan apalagi membuat suatu
pedoman kerja yang membutuhkan kemampuan berbahasa yang
lebih.”105
Ustadzah VA guru pendamping khusus KA juag memberikan pernyataan
yakni
“Kemampuan KA dalam membuat pedoman kerja rendah, dia bisa
tetapi dengan menggunakan bahasa yang sederhana itu, kalau yang
panjang-panjang belum bisa”106
KA juga mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri. Setiap kegiatan
yang harus dia lakukan guru harus terlebih dahulu mengingtakan sekarang
waktunya apa, sekarang waktunya ngapain agar KA dapat mengikuti alur
pembelajaran dan tidak hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Sejalan
dengan keteranagn dair Ustadzah N guru bahasa inggris KA yakni
“Kemampuan mengarahkan dirinya KA itu setahu saya jadi harus
selalu diingetin, jadi misalnya waktunya ngaji itu ayo KA sekarang
waktunya apa, jadi harus yang mesti diingatkan dulu, ayo waktunya
makan sekarang, waktunya seni budaya diambil dulu buku
gambaranya, waktunya ini, waktunya ini begitu”
Berdasarkan hasil waawancara dan observasi yang telah dipaparkan
di atas hampir semua ciri-ciri anak slow learner dapat ditemukan pada KA.
105
Wawancara dengan ustadzah L Guru Kelas KA, tanggal 10 Desember 2019 pukul 12.30
WIB
106
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
87
Hal tersebut dapat dikonfirmasi melalui hasil observasi dan juga
wawancara dengan beberapa guru kelas KA. Sehingga dari dari data yang
telah diperoleh dan dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa hampir
keseluruhan ciri-ciri anak slow learner dapat ditemukan pada KA yakni
sebagai berikut:
Tabel 4.2
Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri KA
No Indikasi Keterangan
1. Kecerdasan KA memiliki kecerdasan yang lebih rendah
dibandingkan teman-teman kelasnya, ditandai dengan
perilakunya yang tidak sesuai dengan umurnya,
pemahaman terhadap materi rendah, jawaban yang
diberikan saat ditanya cenderung tidak nyambung
2. Fokus/konsentrasi Durasi waktu KA dapat berkonsentrasi dalam
pembelajaran sekitar 3-5 menit, setelah itu KA kembali
sibuk dengan dunianya
3. Kemampuan KA mempunyai kemampuan komunikasi yang
komunikasi lumayan bagus, dia mampu untuk melakukan
komunikasi 2 arah jika bahasa yang digunakan
sederhana, kemampuan mengekspresikan emosi juga
lumayan bagus akan tetapi antara emosi yang dirasakan
dengan kalimat untuk berkespresi sering terbalik-balik,
seperti saat marah, sedih atau sakit, tetapi kalimat yang
diguanakan adalah kalimat untuk mengekspresikan
kebahagiaan
4. Kemampuan Setiap hal yang harus dilakukan KA gurunya harus
mengarahkan diri terlebih dahulu mengingatkan
5. Kondisi emosi KA cenderung memiliki emosi yang sensitif seperti
mudah nangis, atau mengungkit kesalahan-kesalahan
orang lain padanya meskipun sudah lama terjadi, akan
tetapi dia bukan tipe yang mudah marah ataupun
meledak-ledak
6. Kemampuan KA memiliki rentan waktu yang relatif pendek untuk
mengingat materi mengingat materi yang sudah dipelajari, kira-kira
hanya sekitar 30 menit setelah materi tersebut dipelajari
7. Pemahaman terhadap Kemampuan KA dalam memahami materi
materi pembelajaran pembelajaran rendah, harus diulang beberapa kali dan
disampaikan dengan pelan-pelan
8. Kemampuan Sosialisai yang dilakukan KA dengan teman-temannya
bersosialisasi lumayan bagus, tetapi tidak sesering seperti teman-
teman yang lain, KA hanya sesekali saja bermain atau
cerita dengan teman-temannya, dia lebih banyak
menyendiri di pojok ruangan baca-baca dongeng di
sudut baca
88
9. Kemampuan Masih sangat kurang, karena kemampuan berbahsa KA
membuat pedoman masih terbatas, kemampuan intelektualnya setara
kerja dengan anak kelas 1-2
10 Kemampuan Kemampuan KA dalam hal ini sangat kurang.
mendeskripsikan, Dikarenakan kemampuan saat berkomunikasi saja
menganalisi, dan masih kurang, apalagi kemampuan-kemampuan
berpikir kritis tersebut yang mengharuskan memiliki kemampuan
berbahasa yang lebih
2.) Kondisi kesulitan belajar pada MA siswa kelas V Sasadu
Subjek penelitian selanjutnya yakni MA, anak slow leaerner yang
berada di kelas V Sasadu, akan tetapi siswa tersebut tidak menggunakan
guru pendamping khusus dalam pembelajarannya. Terkait kondisi
kesulitan belajar pada MA maka peneliti juga melakukan wawancara
dengan menggunakan instrumen yang diadopsi dari mulyadi.107
Tabel 4.3
Hasil Observasi Tentang Kondisi Anak Slow Learner MA
NO KRITERIA CHEKLIST
1 Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada
umumnya yang memiliki usia sama.
2 Konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga hanya
memiliki durasi waktu yang terbatas
3 Mengalami kesulitan dalam berkomunikasi baik dalam
ekspresif maupun komunikasi dua arah
4 Kesulitan dalam mengarahkan diri (self dirention)
5 Memiliki emosi yang kurang stabil, seperti cepat marah, dan
sensitif
6 Kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal yang
telah dipelajari.
107
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
89
7 Membutuhkan waktu yang panjang dan lama dalam menangkap
sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk melupakan
pembelajaran yang telah dipahaminya.
8 Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan
pendiam
9 Kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, serta
kurangnya kemampuan dalam menentukan kesalahan-
kesalahan yang dibuat.
10 Kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis, memecahkan
sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam berfikir kritis.
Berdasarkan instrumen tersebut peneliti melakukan wawancara dengan
ustadzah SL (Guru Kelas) dan juga ustadz F (Guru Ismuba) terkait kondisi
kesulitan belajar pada MA. Hasil wawancara dengan ustadzah SL terkait
kondisi MA yang pertama yakni terkait dengan kondisi kecerdasan MA
“kecerdasan MA tentu lebih rendah dibandingkan dengan teman-
temannya yang lain, kan terlihat dari kemampuan dia selama
pembelajaran berlangsung, dia itu anaknya harus saya dampingi khusus
kalau saya tidak dampingi disampingnya secara individu dia tidak akan
nyantol materi yang diajarkan”108
Kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan teman-temannya juga
dipaparkan oleh Ustadz F Guru Ismuba MA sebagai berikut:
“Ketika menangkap materi yang saya ajarkan MA itu cenderung kurang
nyantol, dan kalau saya ulangi lagi materinya pun dia tetap masih susah
108
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
90
nyantolnya itulah mengapa saya bisa mengatakan bahwa kecerdasan
MA memang lebih rendah dibandingkan teman-teman kelasnya”109
Selanjutnya wawancara terkait konsentrasinya yang mudah teralihkan
atau mudah pecah sehingga dapat dikatan memiliki durasi konsentrasi yang
singkat. Ustadzah SL Guru kelas MA memberikan keterangannya bahwa
“MA itu mbk kalau dikelas ketika saya menjelaskan diawal-awal saya
lihat dia masih memperhatikan saya, tapi kemudian sekitar 5 menit lah
paling lama, saya noleh ke siswa yang lain waktu saya perhatikan MA
lagi dia sudah sibuk dengan kotak pensilnya, sibuk dengan pensil
warnanya, atau yang lain, intinya apa yang ada dihadapannya itu dibuat
mainan, sudah ndak menghiraukan penjelasan saya lagi, terkadang dia
juga banyak melamum dalam kelas.”110
Pernyataan serupa juga dipaparkan oleh Ustadz F Guru Ismuba MA yakni
sebagai berikut:
“kalau konsentrasi MA ketika pembelajaran itu, dia gampang nolah
noleh kesana kemari, jadi pandangannya nggak bisa fokus
memperhatikan pembelajaran, dia itu noleh sana-noleh sini, jadi ya bisa
dibilang konsentrasi dia itu paling hanya diawal-awal pebelajaran
berlangsung”111
Kemudian terkait dengan kemampuan dalam berkomunikasi MA. Ustadzah
SL Guru kelas MA dan juga Ustadz F Guru Ismuba MA kurang lebih
memberikan pernyataan yang serupa terkait kemampuan komunikasi KA.
Pertama paparan dari Uatadzah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:
“komunikasi MA itu kurang sekali menurut saya, dia ngobrol dengan
teman-temanya sangat jarang sekali, kalau ngobrolpun paling obrolan
yang ringan-ringan, paling ngobrolin dia punya mainan baru atau punya
109
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
110
Wawancara dengan ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
111
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
91
barang baru, untuk komunikasi seperti diskusi pelajaran atau
menanyakan pelajaran dan hal-hal lain yang dirasa termasuk obrolan
berat, MA belum bisa, paling-paling dia biasnaya ngga nyambung
ujung-ujungnya kalau diajak ngobrol yang susah-susah. Karena dia
juga kurang bisa mengawali obrolan dengan orang lain, dia komunkasi
itu biasanya kalau ada yang nanya dulu.”112
Pernyataan Ustadz F Guru Ismuba MA terkait kemampuan komunikasi MA
juga kurang lebih sama yakni kemampuan komunikasinya terbatas, sebagai
berikut:
“kalau selama saya ngajar kemampuan MA ketika komunikasi dengan
temannya itu sedikit rendah, karena dia tidak terlalu sering ngobrol
dengan teman-temannya, paling dia ngobrol untuk cerita itupun jarang,
lainnya dia biasanya diem atau sibuk dengan dunianya sendiri. Kalau
kemampuan dalam berekspresi juga kurang, dia cenderung diam,
terkadang tiba-tiba nangis atau marah, karena mungkin tidak ada yang
bisa memahami sepenuhnya apa yang dia rasakan, karena dia sendiri
juga kadang nggak cerita ke gurunya atau temannya” 113
Selanjutnya terkait kemampuan dalam mengarahkan diri MA bisa dibilang
kurang, hal tersebut didukung oleh pernyatan dari Ustadzah SL Guru Kelas
MA, yakni sebagai berikut:
“kemampuan MA dalam mengarahkan dirinya itu kurang, dia belum
bisa mengarahkan dirinya sendiri kapan waktunya membaca, kapan
waktunya mengerjakan soal, kapan waktunya bermain, hampir
keseluruhan waktunya dia gunakan untuk sibuk dengan dunianya
sendiri main dengan dirinya sendiri, sehingga saya harus selalu
mengingatkan dia untuk kembali fokus belajar, atau waktunya
membaca bersama-sama atau waktunya mendengarkan materi jadi
harus fokus, kurang lebih begitu”114
Ustadz F selaku Guru Ismuba MA juga memberikan keterangan sebagai
berikut:
112
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
113
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
114
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
92
“MA dalam mengarahkan dirinya sendiri itu masih belum bisa, jadi
harus selalu diingatkan terlebih dahulu, atau sekedar dipanggil MA
sekarang waktunya apa hayo, baru dia bisa mengikuti, kalau hanya
dibiarkan dia akan diem saja utek-utek mainan yang kadang dia bawah
dari rumah.”115
Selanjutnya terkait kondisi emosinya yang kurang stabil, seperti mudah
marah dan juga sensitif. Ustadzah SL memberikan keterangan
bahwasannya:
“emosi MA itu kurang stabil dia itu anaknya sensitif, jadi kalau ada
sesuatu yang tidak sesuai kemauannya dia akan nangis, atau marah-
marah, tapi marahnya disini bukan marah yang tantrum dia marahnya
masih dalam batas wajar dan masih bisa dihandle”116
Terkait kondisi emosi MA yang kurang stabil juga di paparkan oleh Ustadz
F Guru Ismuba MA sebagai berikut:
“kondisi emosi MA bisa dikatakan kurang stabil, dia terkadang tiba-tiba
nangis, kan dia kadang juga tiak cerita bagaimana perasaannya, jadi
kalau tiba-tiba nangis juga merupakan problem tersendiri bagi kita,
kadang juga marah-marah, tetapi kalau marah biasanya dibiarkan
dahulu sampai marahnya mulai menurun baru MA bisa didekati,
ditanyai baik-baik”117
Selanjutnya terkait kesulitannya dalam mengingat hal-hal yang telah
dipelajari. Ustadzah SL Guru Kelas MA menyampaikan bahwasannya
“MA itu kalau saya ajari materinya katakanlah hari ini sudah paham,
besok ketika saya tanyai lagi pasti sudah lupa”118
Sejalan dengan pendapat Ustadz F Guru Ismuba MA yakni
115
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
116
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
117
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
118
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
93
“dalam mengingat kembali pelajaran yang sudah diajarkan itu dia
sangat kurang, misalkan sudah saya ajarkan tentang makanan halal dan
haram, nanti ketika saya tanyai lagi dia sudah tidak ingat”119
Selanjutnya kemampuan dalam memahami materi pembelajaran. Ustadzah
SL Guru Kelas MA memberikan paparan sebagai berikut;
“MA ketika memahami materi yang saya ajarkan itu sedikit susah, jadi
saya harus mengulang-ulang materinya minimal tiga kali saya ulangi
penjelasan saya baru dia bisa paham, terkadang kalau materinya bagi
dia terlalu susah untuk dicerna kita lanjutkan besoknya lagi saya ulang
lagi menjelaskan kepada dia, tapi ya tetap diulang-ulang lagi”120
Ustadz F Guru Ismuba MA juga menyatakan hal serupa yakni
“kemampuan MA untuk menangkap pejalaran itu menurut saya sangat
kurang ya mbak, kalau saya ajarkan materi itu saya suruh dia baca dulu
berulang-ulang baru nanti saya jelaskan, menjelaskannya pun tidak
cukup satu kali, saya harus mengulang-ulang penjelasan saya baru dia
bisa memahami materinya”121
Selanjutnya terkait kurangnya inisiatif sehingga cenderung pasif dan
pendiam. Ustadzah SL Guru Kelas MA memberikan keterangannya sebagai
berikut
“MA itu ketika di kelas dia pendiam, biasanya cuma melamun
sendirian, entah apa yang dilamunkan, karena dia juga tidak terlalu
ngobrol dengan temannya, sehingga saya bisa mengatakan kalau MA
itu anaknya cenderung pasif”122
Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan keterangannya sebagai berikut
“kalau dikatakan kurang inisiatif sih sepertinya iya, karena MA itu
kalau dikelas dia menyendiri, tidak gabung-gabung ngobrol atau main
119
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
120
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
121
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
122
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
94
dengan teman-temannya, dia biasanya duduk ditempatnya main sendiri
atau cuma melamun”123
Selanjutnya terkait kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja sendiri.
Ustadzah SL Guru Kelas MA menyampaikan pendapatnya bahwa
“kemampuan dalam komunikasi saja masih kurang apalagi
kemampuannya dalam menciptakan pedoman kerja sendiri, saya rasa
MA belum bisa membuat suatu pedoman kerja sendiri, karena kan
dalam membuat pedoman kerja itu kalimatnya harus nyambung dan
sesuai, sedangkan kemampuan MA belum berada di tahap itu”124
Hal tersebut sejalan dengan pendapat dari Ustadz F Guru Ismuba MA yakni
sebagai berikut
“kalau untuk membuat pedoman kerja sendiri MA belum bisa, ketika
saya ajak untuk mengobrol dengan kalimat yang panjang saja dia masih
kesusahan, apalagi ketika membuat sebuah kalimat untuk pedoman
kerja”125
Terahir terkait kesulitan dalam mendeskripsikan menganalisis, dan berpikir
kritis. Ustadzah SL Guru Kelas MA memberikan keterangannya sebagai
berikut
“kalau untuk mendeskripsikan benda dengan kelimat yang mudah dan
pendek dia masih bisa, akan tetapi untuk kemampuannya dalam
menganalisis, dan juga berpikir kritis dia belum bisa, itu kan
kemampuan yang berada di tahap yang lebih tinggi, sehingga saya rasa
MA masih kesulitan untuk 2 kemampuan tersebut”126
Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan pendapat yang sejalan yakni
“untuk kemampuan menganalisis, dan juga berpikir kritis MA itu masih
belum bisa mbak, ketika saya beri tugas untuk menghafalkan ayat
123
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
124
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
125
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
126
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
95
ataupun hadis yang pendek saja dia sangat kesulitan apalagi untuk
menganalisis dan juga berpikir”127
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dipaparkan di atas semua ciri-
ciri anak slow learner dapat ditemukan pada MA. Hal tersebut dapat
dikonfirmasi melalui hasil wawancara dengan Guru Kelas dan juga Guru
Ismuba MA. Sehingga melalui data yang telah dipaparkan tersebut dapat
disimpulkan bahwasannya pada diri MA terdapat semua ciri-ciri yang
menunjukkan indikasi dari anak slow learner yakni sebagai berikut:
Tabel 4.4
Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri MA
No Indikasi Keterangan
1. Kecerdasan MA memiliki kecerdasan dibawah teman-temannya
yang ditandai dengan kemampuannya ketika
memahami materi pembelajaran yang sangat kurang,
dan kebutuhannya atas bimbingan secara individual
untuk mehamkannya akan materi yang dipelari
2. Fokus/konsentrasi Durasi konsentrasi MA hanya bertahan dalam kurun
waktu yang relatif singkat yakni sekitar 5 menit
pertama, setelah itu MA akan sibuk melamum, noleh
kesana-kesini, atau sibuk dengan dunianya sendiri
3. Kemampuan MA memiliki kemampuan komunikasi yang sangat
komunikasi kurang, dia jarang berkomunikasi dengan temannya
kebanyakan dia hanya melamun sendirian, kalaupun
berkomunikasi mungkin hanya sekedarnya saja seperti
menceritakan mainannya atau barang-barang yang dia
miliki
4. Kemampuan Kemampuan MA dalam mengarahkan diri kurang, MA
mengarahkan diri belum dapat secara mandiri menyadari tugas-tugas
yang harus dikerjakannya, dia masih sangat
membutuhkan bantuan orang lain untuk mengingatkan
tugas tugasnya dan hal yang harus dia lakukan
5. Kondisi emosi MA cenderung memiliki emosi yang kurang stabil, dia
mudah menangis dengan alasan yang tidak terlalu jelas,
dan juga mudah marah apabila yang terjadi tidak sesuai
dengan keinginannya
6. Kemampuan Kemampuan MA dalam mengingat kembali materi
mengingat materi yang telah dipahami relatif singkat, beberapa saat
setelah materi tersebut diajarkan ketika gurunya
127
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
96
mengulas kembali materi tersebut MA sudah
melupakan materi yang telah dipelajarinya tersebut
7. Pemahaman terhadap Kemampuan MA dalam memahami materi
materi pembelajaran pembelajaran rendah, guru harus mengulang minimal 3
kali pengulangan agar MA dapat memahami materi
yang sedang diajarkan
8. Kemampuan Kemampuan bersosialisai MA rendah, MA cenderung
bersosialisasi pendiam dan banyak melamun, Ma cenderung pasif
dalam pertemanan
9. Kemampuan Masih sangat kurang, kemampuan berbahasanya sangat
membuat pedoman kurang untuk sampai pada tahapan dapat membuat
kerja suatu pedoman kerja sendiri
10 Kemampuan Kemampuan untuk mendeskripsikan dengan kalimat
mendeskripsikan, yang pendek lumayan, akan tetapi untuk kemampuan
menganalisi, dan menganalisis dan berpikir kritis masih sangat rendah.
berpikir kritis
2. Model pembelajaran siswa slow learner di SD Muhammaidyah 2
Tulangan
SD Muhammadiyah 2 Tulangan merupakan sekolah yang telah berdiri
sejak tahun 2006. Sejak awal berdirinya sekolah ini telah menjalankan setting
pendidikan inklusi yang hingga saat ini masih berjalan. Hal ini mempengaruhi
bagaimana pengelolaan lingkungan belajar, sarana perasarana yang
disediakan sekolah, dan hal-hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan
pedidikan inklusi agar pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus dapat
berjalan dengan efektif. Termasuk model-model pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya
anak slow learner yang merupakan klasifikasi ABK terbanyak di sekolah
tersebut.
Pembelajaran bagi anak slow learner di kelas V, terdapat siswa yang
didampingi oleh guru pendamping khusus dalam pembelajarannya dan
97
terdapat pula siswa yang tidak didampingi guru pendamping khusus.
Sehingga dalam pembelajaran di kelas, apabila anak tersebut memiliki guru
pendamping khusus, maka tugas guru kelas dan juga guru mata pelajaran lain
dapat lebih terbantu dalam mencapai tujuan pembelajaran. dan apabila anak
tersebut tidak memiliki guru pendamping khusus maka tugas-tugas
pembelajaran akan dibebankan pada guru kelas dan juga guru mapel sebagai
penyelenggara pemelajaran di kelas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang mengajar KA (kelas V
Honai) dan juga MA (kelas V Sasadu) penyelenggaraan pembelajaran bagi
anak slow learner dapat ditinjau dari beberapa aspek yakni pengelolaan
lingkungan kelas, perangkat pembelajaran, model pembelajaran, strategi
pengajaran, dan evaluasi pembelajaran.
a. Pengelolaan Lingkungan Kelas, Perangkat Pembelajaran, Model
Pembelajaran, Strategi Pengajaran, dan Evaluasi pembelajaran Pada Kelas
KA
1.) Pengelolaan Lingkungan Kelas
Pengelolaan lingkungan kelas yang tepat akan menjadikan suasana
belajar menjadi kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
dengan lebih mudah, dan juga efektif. Hal-hal mengenai pengelolaan
lingkungan kelas seperti formasi bangku, sarana prasana yang
menunjang ketunaan siswa, penggunaan bahasa dalam penyampaian
materi, dan juga posisi duduk perlu diperhatikan. Seperti yang
disampaikan oleh ustadzah VA sebagai guru penamping khusus
98
“Formasi duduk untuk KA ketika dikelas bermacam-macam ada
yang berkelompok-kelompok, ada yang leter U, setiap sebulan
sekali formasi duduknya akan diubah-ubah. Letak duduk KA
ketika dalam kelas pun ditentukan oleh guru kelasnya biasanya
tempat duduknya tidak tetap, jadi sistemnya roliing, misalkan
minggu ini dibaris depan, minggu depan dibaris kedua, jadi ketika
sudah ditentukan selama formasinya belum berubah KA akan tetap
duduk ditempat itu begitu juga siswa-siswa lain, atau misal
formasinya grup-grup nanti KA duduk disalah satu grup itu tidak
disendirikan.”128
Pernyataan tersebut sejalan dengan penjabaran dari ustadzah N guru
bahasa inggris KA yakni,
“Pengelolaan kelas terkait dengan formasi duduk, kalau di
kelasnya KA itu kan berubah-ubah kadang kalau later U jadi
tengahnya kan kosong, terus biasanya waktu mengerjakan
worksheet itu anak-anak dibawah sambil lesehan gitu sih. Terkait
dengan posisi duduk itu diroliing jadi minggu ini duduknya disini,
nanti minggu depan disini begitu”129
Gambar 4.1
Pembelajaran Dengan Formasi Duduk Berkelompok
128
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
129
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
99
Pada gambar 4.1 terlihat pembelajaran dilakukan dengan formasi
berkelompok-kelompok. Dengan formasi duduk demikian maka anak-
anak diharapkan dapat melatih kerjasama, dan bagi anak slow learner
mereka akan merasa tidak sendirian dikarenakan akan ada yang
membantu mereka dalam proses pembelajaran.
2.) Perangkat Pembelajaran
Selain dengan formasi duduk yang telah dijabarkan di atas
pembelajaran bagi anak slow learner juga memiliki bahan ajar, media
pembelajaran, dan juga evaluasi pembelajaran yang dibuat khusus untuk
menyesuaikan tingkat kemampuan anak dalam belajar yang disebut
worksheet, dimana dalam worksheet tersebut memiliki tingkat kesukaran
yang lebih rendah. Worksheet tersebut disusun oleh guru pendamping
khsus, akan tetapi dalam pembuatannya berkonsultasi terlebih dahulu
dengan guru kelas dan juga guru mapel. hal tersebut selaras dengan
keterangan yang disampaikan ustadzah VA guru pendamping khusus KA
“Untuk KA dan siswa berkebuthan khusus lainnya itu ada yang
namanya worksheet, worksheet itu guru pendampingnya yang
bikin tetapi konsultasi terlebih dahulu dengan guru kelas dan guru
mapel. Isinya tentang materi pembelajaran pada hari itu karena
untuk KA materi yang ada dibuku mungkin terlalu tinggi levelnya
jadi di worksheet itu materi yang disajikan sama tetapi level
kesulitannya berbeda, dan juga media medianya itu tentag
program terapinya dia, misalkan KA masih susah membuat garis
lurus, nanti dimedia pembelajarannya kita bikin titik-titik nanti
disalin lagi tanpa titik-titik macem-macem sesuai sama
materinya. Untuk evaluasi pembelajarannya juga guru
pendampingnya yang buat jadi materi hari itu apa saya koordinasi
100
dengan guru kelasnya terus saya buatkan soal-soal tentang materi
tersebut dengan level yang rendah”130
Gambar 4.2
Worksheet untuk anak slow learner
Pada gambar tersebut terlihat dari materi pembelajaran yang
disajikan memiliki topik yang sama, akan tetapi penggunaan bahasa
untuk penyajiannya yakni bahasa yang sederhana, sehingga bisa
dikatakan dalam worksheet untuk anak slow learner materi pembelajarn
yang disajikan sama akan tetapi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda,
begitupula dengan evaluasi yang digunakan juga memiliki tingkat
kesulitan yang lebih rendah.
130
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
101
3.) Model pembelajaran anak slow learner
Penyelenggaraan pembelajaran di kelas terutama bagi anak slow
learner yang lamban dalam menangkap suatu pembelajaran haruslah
terselenggara dengan efektif, agar tujuan dari pembelajaran itu sendiri
dapat tercapai model pembelajaran yang digunakan oleh guru menjadi
hal yang urgent dalam penyelanggaraan pembalajaran. Model
pembelajaran yang digunakan harus beragam dan juga tepat sesuai
dengan kebutuhan siswa. Guru dalam suatu pembelajaran haruslah dapat
menggunakan berbagai model-model pembalajaran, seperti keterangan
dari ustadzah N guru bahasa inggris KA yakni
“model pembelajaran biasanya sih setelah nyanyi-nyanyi trus
review sedikit materi-materinya baru setelah itu saya
menggunakan model pembelajaran klasikal dengan ceramah
diawal-awal, baru selanjutnya saya beralih ke model kooperatif
dengan berkelompok-kelompok, nanti saat ngerjain worksheetnya
bisa berkelompok atau sendiri-sendiri terserah mereka. Kadang
juga dengan menggunakan model kontekstual jadi menggunakan
benda-benda konkret yang ada di sekitar sekolah, jadi saya suruh
mencari benda-benda di lingkungan sekitar nanti dideskripsikan,
itu juga dengan berkelompok biasanya.”131
Ustadzah VA guru pendamping khusus KA juga menjabarkan sebagai
berikut
“sebenarnya untuk anak-anak seperti KA maksudnya yang ada
guru pendampingnya itu ada yang namanya ruang sumber. Ruang
sumber itu adalah ruangan khusus yang nantinya KA melakukan
bimbingan secara pribadi tentang keterampilan-keterampilan yang
belum dia kuasai. Jadi di ruang sumber itu KA nanti dibimbing
sesuai dengan kebutuhannya secara individual. Bimbingan di ruang
sumber itu dilakukan setiap hari selma 10 menit. Kalau untuk
131
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
102
pendampingan saat saya ngajar mendampingi KA itu semoodnya
dia biasanya, kadang kalau KA susah diatur jadi saya hanya
menggunakan model pembelajaran yang klasikal saja yaitu saya
ceramah, atau melalui gambar-gambar kalau moodnya lagi bagus,
kadang juga dengan kooperatif berkelompok sama temannya yang
kebetulan temen-temennya itu juga ikut membantu, jadi dia juga
dikasih tugas tapi tugas yang gampang-gampang, kalau dengan
berkelompok itu kelebihannya KA bisa dibantuin sama teman-
teman yang lain, jadi tidak sendiri. Kadang juga menggunakan
model bermain peran, tapi kalau bermain peran itu KA biasanya
dapet peran yang gampang-gampang.”132
Model pembelajaran untuk anak slow learner yang digunakan guru
biasanya yakni dengan klasikal yaitu dengan metode ceramah. Model
pembelajaran dengan ceramah digunakan guru ketika awal-awal
pembelajaran yakni saat konsentrasi siswa masih kondsif. Berdasarkan
hasil observasi saat pembelajaran berlangsung prosedur pembelajaran
klasikal yang dilakukan di kelas V Hanoi pertama dawali dengan
memberikan motivasi-motivasi bisa melalui kisah-kisah tokoh yang
menginspirasi, atau kisah para nabi, kisah para sahabat, dan tokoh-tokoh
lain. pembelajarannya dilakukan dalam satu kelas yang sama, dalam
artian antara ABK dan anak normal lainnya berada di satu kelas sama,
tidak dibeda-bedakan. Kemudian guru menjelaskan materi pembelajaran,
memberikan contoh yang relevan, dan memberikan evaluasi.133
Selain klasikal pembelajaran kooperatif juga kerap kali digunakan
guru saat melaksanakan pembelajaran, hal tersebut dikarenakan dengan
model kooperatif maka siswa akan saling membantu temannya yang
132
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
133
Observasi, kegiatan pembelajaran di ruang kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 10
Desember 2019.
103
kesulitan, dan dengan kooperatif juga siswa akan melatih sikap
kerjasama dengan temannya untuk saling membagi tugas.
Pembelajaran dengan kontekstual juga dilakukan, apalagi bagi KA
pembelajaran kontekstual tentu sangat membantu dikarenakan KA
sedikit mengalami kesulitan saat benda-benda maupun hal-hal yang
dijelaskan dalam materi pembelajaran tidak dapat dilihatnya secara
langsung. Jadi saat menggunakan model pembelajaran kontekstual
biasnya gurunya mempersilahkan keluar kelas untuk mencari benda-
benda yang terdapat dilingkungan sekolah dan biasanya pembelajaran
dengan model ini dilakukan secara berkelompok.
Model pembelajaran bermain peran juga kadang dilakukan ketika
materinya membutuhkan untuk melakukanya agar pembelajaran lebih
berfariatif sehingga suasana kelas lebih hidup, akan tetapi bagi KA model
pembelajaran tersebut sedikit kurang cocok karena dia mengalami
kesulitan dalam berkomunikasi dua arah sehingga hanya mendapat peran
seadanya saja.134
Pembelajaran bagi KA juga dilakukan dengan model pembelaran
kelas kecil (pull out) yang dilakukan di ruang sumber. Dimana
pembelajaran tersebut dilakukan KA bersama dengan guru pendamping
khusus diruangan tersendiri (ruang sumber). Tujuannya adalah
melakukan bimbingan terhadap KA untuk materi-materi pembelajaran
134
Observasi, kegiatan pembelajaran di runag kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 9
Desember 2019
104
dan juga keterampilan-keterampilan yang belum dikuasai atau
mengalami kesulitan. Sehingga kemampuan kognitif dan juga
psikomotornya dapat menyusul teman-temannya yang lain, meskipun
tidak secara sempurna.135
Gambar 4.3
Kegiatan KA Saat Berada Di Ruang Sumber
Dalam gambar-gambar tersebut KA bersama dengan guru
pendamping khusus melakukan bimbingan kognitif dan juga psikomotor,
terkait pembelajaran yang belum dikuasai oleh KA, sehingga guru
pendamping harus melakukan bimbingan intensif dengan KA agar
kemampuannya dapat menysul teman-teman kelasnya. Bimbingan
tersbut juga dimaksudkan agar KA dapat menuntaskan indikator-
135
Observasi, bimbingan di ruang sumber, pada tanggal 11 Desember 2019
105
indokator penilaian yang sudah ditetapkan dalam worksheeet sebagai
penilaiannya.136
4.) Strategi Pengajaran Anak Slow Learner
Strategi pengajaran yang benar akan membantu anak slow learner
dalam pembelajaran, yakni menyangkut urutan-urutan dan juga hal yang
sebaiknya dilakukan secara sistematis dalam belajar agar membangun
mood belajar bagi anak slow learner. Seperti pernyataan dari ustadzah N
guru bahasa inggris KA yakni
“Strateginya biasanya saya mulai dengan review-review dulu, trus
main games kadang juga nyanyi-nyanyi dulu biar mereka siap
menerima pembelajaran, baru setelahnya masuk ke materinya”137
Kolaborasi dengan orangtua juga merupakan hal yang harus dilakukan
dalam strategi pengajaran dikarenakan penanganan anak slow learner
tidak cupuk hanya dengan guru-guru di sekolah saja, akan tetapi peran
orang tua juga sangat penting mengingat intensitas waktu yang anak
habiskan lebih lama bersama dengan orangtuanya. Kolaborasi dengan
orang tua juga bertujuan agar guru mengetahui hal-hal yang harus
dihindari ketika mengajar anak slow learner. Seperti yang disampaikan
Ustadzah VA guru pendamping khusus yakni
“Strategi pembelajarannya kalau saat istirahat saya ajak dia untuk
mengerjakan soal-soal atau mengulang yang sudah dia pelajari,
karena KA itu materi yang sudah diterima harus diulang-ulang biar
paham dan juga untuk merefresh ingatannya. saya juga selalu
136
Observasi, kegiatan bimbingan di runag sumber pada tanggal 11 Desember 2019.
137
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
106
berkolaborasi sama orang tuanya, jadi sepulang sekolah gitu saya
ngobrol diskusi dengan orang tuanya tentang pembelajaran hari ini,
kadang kalau dia di sekolah kurang mood saya tanyakan hari ini
kenapa moodnya KA jelek apa yang terjadi di rumah ma, biar
saling tau bagaimana cara paling tepat untuk menangani KA dan
juga menghindari hal-hal yang membuat mood dia jelek.”138
5.) Evaluasi Pembelajaran Anak Slow Learner
Selaian model, strategi, pengelolan lingkungan kelas, hal terahir yang
perlu diperhatikan dalam penyelanggaraan pembelajaran anak slow
learner yakni evaluasi yang digunakan untuk mengetahui hasil
pembelajarannya. Evaluasi yang dimaksudkan yakni berhubungan
dengan tingkat kesukaran soal, dan juga jumlah soal yang digunakan
dalam mengevaluasi pembelajaran anak slow learner. Instrumen evaluasi
yang digunakan adalah instrumen khusus yang dirancang sesuai dengan
kompetensi yang harus dicapai KA. Seperti keterangan dari ustadzah N
guru bahasa inggris yakni,
“Untuk evaluasinya itu sendiri-sendiri jadi untuk anak abk itu kan
ada standarnya sendiri-sendiri, misal sih KA itu nanti penilaiannya
lebih ke tarik garis atau tracing, jadi nanti dilihat di worksheetnya
atau di lembar ulangannya dia sudah bisa mencapai itu atau belum,
ada indikator-indikatornya sendiri disitu, jadi saya kolaborasi sama
guru pendampingnya anak ini indikator ketuntasannya apa, lha
penilaiannya dari indikator-indikator yang ada di worksheet itu
apakah dia sudah bisa mencapai indikator yang sudah disiapkan oleh
guru pendampingnya atau belum”139
138
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
139
Wawancara dengan ustadzah N guru Bahasa Inggris KA, pada tanggal 12 Desember
2019 pukul 08.00 WIB
107
Evaluasi pembelajaran KA memiliki materi yang sama akan tetapi
kompetensi dan juga tingkat kesulitannya yang berbeda. Seperti
pernyataan Ustadzah VA juga sebagi berikut
“Evaluasi pembelajaran untuk KA juga memiliki tingkat kesulitan
yang lebih rendah dibanding dengan teman kelasnya, jadi dengan
materi yang sama akan tetapi level soalnya itu berbeda”140
Evaluasi pembelajaran untuk KA tidak mengggunakan lembar kerja
siswa seperti siswa-siswa yang lainnya. Untuk KA dan ABK lain mereka
menggunakan lembar evaluasi khusus yang sudah ada di worksheet
masing-masing abk, dimana dalam lembar evaluasi tersebut telah disusun
dengan menyesuaikan level kemampuan intelektulitas masing-masing
ABK. Dalam menentukan penilaiannya pun untuk KA sudah ada
indikator-indikator khusus yang telah disesuaikan, dimana dalam
pengambilan penilaian guru mapel maupun guru kelas melihat capaian
yang telah berhasil dicapai KA sesuai dengan indikator-indikator yang
ada.141
140
Wawancara dengan ustadzah VA Guru Pendamping Khusus KA, tanggal 9 Desember
2019 pukul 12.00 WIB
141
Observasi, kegiatan pembelajaran di runag kelas V/ Hanoi di kutip pada tanggal 12
Desember 2019.
108
Gambar 4.4
Lembar Evaluasi Khusus Untuk KA
b. Pengelolaan Lingkungan Kelas, Perangkat Pembelajaran, Model
Pembelajaran, Strategi Pengajaran, dan Evaluasi pembelajaran Pada
Kelas MA
1.) Pengelolaan Lingkungan Kelas
Pengelololaan lingkungan kelas yang diterapkan yakni terkait
penataan bangku dan juga penempatan tempat duduk masing-masing
siswa. kedua hal tersebut sangat berpengaruh terharap kenyamanan
siswa saat pembelajaran berlangsung sehingga merupakan suatu hal
yang perlu diperhatikan. Upaya dalam memberikan kenyamanan
terkait dua hal tersebut sejalan dengan hasil wawancara dengan
Ustadzah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:
“formasi bangku di kelas itu diubah-ubah sesuai kebutuhan,
tujuannya supaya anak-anak tidak merasa bosan saat belajar
karena kan kalau tempat duduknya sama terus nanti besar
109
kemungkinan untuk terjadi kebosanan pada mereka, juga
biasanya anak-anak itu ngegeng-ngegeng gitu lho, beberapa
anak tidak mau berinteraksi dengan teman lainnya, maunya ya
hanya kumpul main sama gengnya sendiri begitu. Jadi formasi
bangkunya harus diubah-ubah untuk menghindari hal itu. Jadi
saya biasanya pakai formasi konvensional, trus juga formasi U
yang semua bangkunya ditempelkan ke tembok, biar tengahnya
bisa dibuat lesehan juga, kadang juga formasi berhadap-
hadapan.”142
Upaya tersebut juga sejalan dengan pendapat dari Ustadz F Guru
Ismuba MA yang menjelaskan sebagi berikut:
“Posisi duduk yang biasanya saya lakukan itu dengan lesehan
dilantai dengan formasi duduk melingkar supaya anak-anak itu
lebih nyaman, mungkin mereka kadang bosan atau capek
ketika harus selalu duduk di atas bangku jadi fariasi seperti itu
terkadang dibutuhkan, kadang hanya formasi konvensional”143
Selain formasi bangku yang ditujukan agar menghindarkan
siswa dari kebosanan posisi tempat duduk juga merupakan hal yang
perlu diperhatikan pula, posisi tempat duduk yang sesuai akan
membantu siswa terutama anak slow learner dalam menangkap
pembelajaran yang disampaikan guru. Seperti yang disampaikan
oleh Ustadazah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:
“Kalau untuk posisi tempat duduk siswa itu lumayan saya
perhatikan khususnya bagi MA, saya biasanya tempatkan dia di
tempat yang dekat dengan saya, jadi kesempatan saya untuk
mengawasi MA lebih mudah, untuk siswa yang lain itu
sistemnya acak saja penempatannya”144
142
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
143
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
144
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
110
Selain itu Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan
penjelasannya sebagai berikut:
“posisi tempat duduk untuk MA itu biasannya dia saya
tempatkan dengan siswa yang bisa ngemong dia, dalam artian
siswa terebut bisa membantunya ketika belajar. Jadi kalau saya
memberikaan tugas begitu, siswa-siswa disamping MA juga
membantunya untuk menjelaskan tugas yang saya berikan”145
Berdasarkan hasil wawancara tersbut pengelolaan lingkungan kelas
yang dijalankan di kelas V Sasadu yakni terkait dengan formasi
bangku dan juga penempatan posisi duduk. Kedua hal tersebut
memiliki peran yang besar terhadap keberhasilan dalam mencapai
tujuan pembelajaran.
2.) Perangkat Pembelajaran
Selain tata letak bangku dan juga posisi tempat duduk, hal
selanjutnya yang perlu diperhatikan yakni terkait perangkat
pembelajaran yang digunakan dalam penyelenggaraan pembelajaran
bagi anak slow learner. Perangkat pembelajaran yang dimaksudkan
adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan juga bahan ajar
yang digunakan dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi anak
slow learner. Ustadzah SL Guru Kelas MA memberikan
penjelasannya sebagai berikut:
“perangkat pembelajaran yang saya gunakan seperti RPP bagi
anak yang slow learner itu sama dengan anak-anak lainnya, jadi
145
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
111
tidak dipisahkan secara khusus, hanya saja mungkin pada
strateginya yang sedikit berbeda dengan siswa lainnya, biasanya
saya kombinasikan beberapa strategi untuk mengajar anak yang
slow, sedangkan untuk bahan ajarnya itu sama, dari buku yang
sama, terkadang juga modul yang sama juga dengan anak-anak
lainnya”146
Sedangkan Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan
keterangan serupa yakni sebagai berikut
“untuk RPP yang saya pakai mengajar anak slow learnerya itu
sama dengan anak-anak lain, yang membedakan mungkin nanti
di pengajarannya saya dampingi secara khusus seperti itu, kalau
bahan ajarnya juga sama dari sumber yang sama dengan anak-
anak lain.”147
3.) Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang digunakan dalam penyelenggaraan
pembelajaran bagi kelas dengan anak slow learner di dalamnya tentu
harus memiliki berbagai macam model pembelajaran yang dapat
meningkatkan minat belajar pada anak slow learner. Sebagai guru
yang melakukan pembelajaran secara langsung kepada anak slow
learner, guru harus menggunakan berbagai macam model
pembelajaran yang berfariatif. Hal tersebut sejalan dengan keterangan
dari Ustadzah SL Guru Kelas MA sebagai berikut:
“ketika belajar itu kan MA itu mood-moodan dalam artian
kadang kalau mood dia bagus ya pembelajarannya bisa lancar,
saya ngajarnya juga bisa enak, tapi kadang juga pagi-pagi itu dia
sudah nangis, dan kalau ditanya kan dia terkadang tidak mau
menjawab sebabnya dia menangis, jadi kalau mood dia sedang
jelek itu yang sedikit susah, saya sebagai guru harus pinter-
pinter memfariasi pembelajaran untuk menaikkan mood dia.
146
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul
08.00 WIB
147
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
112
Sehingga kalau pembelajaran berjalan normal ya saya ngajarnya
dengan klasikal seperti biasa saya menjelaskan materi dengan
ceramah, memberikan contoh, kemudian memberikan evaluasi,
trus untuk MA saya bimbing individual sendiri setelah
menjelasakan untuk yang lainnya. Sedangkan kalau saat MA
moodnya sedang jelek biasanya saya belajarnya dengan
permainan yang seru-seru atau belajar di luar secara
kontekstual. satu lagi biasanya kalau belajar itu saya juga sering
dengan berkelompok-kelompok, jadi kalau MA merasa
kesulitan saat belajar, teman-temannya bisa bantu, dan
alhamdulillah ada beberapa teman-teman MA itu yang anaknya
mau bantuin dia.”148
Sejalan dengan pendapat dari Ustadz F sebagai Guru Ismuba MA
yakni sebagai bebrikut:
“kalau saya ngajar biasanya saya biasa dengan ceramah,
sedangkan nanti kalau MA kesulitan ya saya ajari secara
individu, terkadang saya juga memfariasinya dengan
pembelajaran secara berkelompok-kelompok agar dia tidak
merasa paling tidak bisa, karena kan kalau berkelompok nanti
tugas-tugasnya juga dilakukan secara kelompok, sehingga MA
dapat terbantu oleh teman-temannya”149
4.) Strategi Pengajaran
Strategi pengajaran yang dimaksudkan yakni terkait perlakuan
atau layanan dari guru kelas dan juga guru matapelajaran dalam
melakukan pembelajaran bagai anak slow learner. Dikarenakan
dalam melakukan pembelajaran bagi anak slow learner tentu memiliki
perbedaan yang signifikan dan juga tindakan-tindakan khusus agar
tujuan pembelajaran itu sendiri dapat tercapai. Ustadzah SL Guru
Kelas MA memberikan keterangannya sebagai berikut:
148
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
149
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
113
“biasanya saya mulai dulu dengan mengulang kembali atau
mereview materi-materi yang sudah dipelajari kemarin, ketika
menyampaikan materi kepada MA juga saya itu menggunakan
bahasa yang sederhana bahasa yang levelnya untuk anak di
kelas rendah, supaya MA sendiri tidak kesulitan dalam
memahami apa yang saya katakan, ketika materinya sudah saya
terangkan akan tetapi MA masih belum paham, maka saya
lakukana pengulangan materi kembali, jadi saya ulang-ulang
materinya kepada MA.”150
Ustadz F Guru Ismuba MA juga memberikan pendapatnya sebagai
berikut:
“kalau mengawali pembelajaran ya diulas dulu materi-materi
kemarin nanti kan anak-anak jawabnya bermasa-sama jadi itu
juga membantu MA untuk mendapatkan kembali memori dan
juga pemahamannya terkait materi yang sudah dipelajari
kemarin. Ketika saya menyampaikan materi untuk MA sendiri
juga saya pasti menggunakan klaimat-kalimat sederhana, atau
nanti temannya yang membantu saya menjelaskan, mungkin
kalau temannya sendiri bahasa yang dia gunakan untuk
memberikan penjelasan kepada MA itu bahasa pertemanan atau
bahasa anak-anak sehingga bisa lebih mudah ditangkap oleh
MA”151
5.) Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran bagi anak slow learner memiliki
beberapa perbedaan dengan evaluasi bagi anak-anaklainnya. Evaluasi
pada anak slow learner hasruslah disesuaikan dengan kemampuan
kognitif pada masing-masin anak. Sejalan dnegan pendapat dari
Ustadzah SL Guru Kelas MA yakni sebagai berikut:
“kalau dari segi evaluasi pembelajarannya tentu saja berbeda
dengan anak-anak lainnya karena dilihat dari kemampuan
kognitifnya juga berbeda jadi ya evaluasinya harus dibedakan,
evaluasi pembelajaran bagi MA itu saya memberikan tugas-
150
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
151
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
114
tugas yang lebih sederhana. Tidak hanya lebih sederhana tetapi
dari segi jumlahnya pun tugas yang saya berikan itu lebih sedikit
ketimbang anak-anak yang lainnya.”152
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ustadz F Guru Ismuba MA
yakni sebagai berikut:
“evaluasi untuk MA saya bedakan dengan anak-anak yang lain.
kalau untuk MA itu biasanya saya berikan soal-soal khusus yang
dengan bahasa yang lebih mudah, tingkat kesulitan lebih mudah,
dna juga jumlah soalnya pun lebih sedikit.”153
B. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Muhammadiyah 2
Tulangan, dengan fokus penelitian bagaimana kondisi kesulitan belajar pada
anak slow learner dan model pembelajaran bagi anak slow learner, ditemukan
beberapa hal yaitu:
1.) Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner adalah:
1.) Kecerdasan siswa (KA dan MA) menunjukkan indikasi-insikasi
bahwa kecerdasannya lebih rendah jika dibandingkan teman-teman
kelasnya yang mempunyai usia sama. Diantara indikasi-insikasi
tersebut yakni pemahaman terhadap materi yang sangat rendah
sehingga perlu bimbingan lebih lanjut bersama guru pendamping
khusus. Indikasi selanjutnya ketika ditanya oleh guru atau temannya
anak slow learner memberikan respon yang kurang tepat atau bisa
dikatakan tidak nyambung. Indikasi selanjutnya perilakunya yang
152
Wawancara dengan Ustadzah SL Guru Kelas MA, tanggal 3 Agustus 2020 pukul 08.00
WIB
153
Wawancara dengan Ustadz F Guru Ismuba MA, tanggal 4 Agustus 2020 pukul 09.30
WIB
115
tidak sesuai dengan usianya saat ini. Perilakunya menggambarkan
bahwa kondisi mentalnya sekitar 3-4 tahun dibawah usia aslinya.
2.) Konsentrasi anak slow learner (KA dan MA) berjalan cukup singkat.
Rentang waktu mereka dapat berkonsentrasi sekitar 3-5 menit.
Kemudian mereka kembali bermain atau sibuk dengan dunianya
sendiri, seperti noleh sana sini, bermain pensil, bermain alat-alat tulis
yang lain. sehingga upaya untuk mengembalikan konsentrasinya
yakni dengan mengingatkan kembali dan juga dengan diiming-iming
nanti kalau bisa fokus belajar akan dapat reward, seperti boleh makan
atau yang lainnya.
3.) Kemampuan komunikasi pada KA cukup lumayan. Dia dapat
berkomunikasi dengan bahasa-bahasa yang sederhana. Kalau diajak
komunikasi dengan bahasa-bahasa yang sedikit panjang atau rumit,
nanti dia akan menjawab dengan jawaban yang tidak nyambung.
Untuk komunikasi dalam mengekspresikan emosinya, dia juga
lumayan bisa, meskipun terkadang antara apa yang dirasakan dan
juga ungkapan emosinya tidak sesuai atau bahkan bertolak belakang.
Seperti misalnya ada temnnya yang nyubit, dia merasakan sakit tetapi
ekspresi yang dia ucpakan adalah hehe sakit, jangan begitu. Jadi
ungkapan ekspresi yang dikeluarkan adalah seperti ungkapan bahagia,
padahal dia merasakan kesakitan. Sedangkan pada MA kemampuan
komunkasinya masih kurang, dia jarang berkomunikasi dengan
teman-temannya, dan cenderung lebih pasif dalam pertemanan.
116
4.) Kemampuan dalam mengarahkan diri KA dan MA sangat rendah,
guru kelas, guru mapel, hingga guru pendamping khusunya terlebih
dahulu mengingatkan maupun memberikan perintah untuk hal yang
harus dikerjakan dan juga hal yang selanjutnya dikerjakan. Jadi dalam
setiap langkah pembelajaran KA dan MA membutuhkan arahan dari
gurunya.
5.) Kondisi emosi menunjukkan bahwa emosi KA lumayan stabil. Hanya
dia lebih sensitif dari pada kebanyakan anak pada umumnya, seperti
mudah nangis, mudah mengungkit-ungkit kesalahan orang lain
kepadanya. Akan tetapi tidak emosional yang sampai tantrum marah
meledak-ledak seperti itu. Sedangkan pada MA kondisi emosinya
cenderung kurang stabil, dia sangat sensitif terkadang pagi-pagi sudah
menangis tanpa alasan yang belum diketahui dengan jelas. Terkadang
juga marah-marah apabila terdapat suatu kondisi yang tidak sesuai
dengan keinginannya.
6.) Kemampuan dalam mengingingat materi pembelajaran anak slow
learner (KA dan MA) sangat rendah. Ketika pembelajaran yang
disampaikan dengan usaha lebih agar mereka paham ahirnya dapat
dipahami, selanjutnya mereka akan mudah lupa dengan apa yang
sudah mereka pelajari. Durasi waktu anak slow learner dalam
mengingat materi pembelajaran berlangsung selama 30 menit.
Setelahnya harus direview kembali untuk menyegarkan ingatannya.
117
7.) Pemahaman terhadap materi pembelajaran (KA dan MA) sangat
rendah. Untuk dapat memahamai suatu materi pembelajaran,
penyampaian materi kepada anak slow learner harus dilakukan secara
berulang-ulang, dan dengan penyampaian yang sangat pelan.
8.) Kemampuan bersosialisai KA lumayan. Anak tersebut dapat sedikit
main, mengobrol, cerita kepada temannya atau bahkan terkadang
cerita kepada ustadz dan ustdzahnya. Akan tetapi memang
intensitasnya tidak sesering anak-anak lain, hanya terkadang saja,
sering-seringnya dia baca buku-buku dongeng di sudut baca.
Sedangkan pada MA kemampuan bersosialisainnya masih rendah, dia
cenderung pasif dalam pertemanan, sebagian waktunya dihabiskan
dengan banyak melamun.
9.) Kemampuan dalam membuat pedoman kerja (KA dan MA) masih
sangat kurang. Ketika berkomunikasi dengan bahasa yang panjang
masih belum bisa, apalagi jika harus membuat pedoman kerja yang
dalam melakukannya membutuhkan kemampuan berbahasa yang
lebih.
10.) Kemampuan dalam mendeskripsikan, menganalisis, dan juga
berpikir kritisnya sangat kurang. Untuk mendeskripsikan benda bagi
KA, jika benda yang dideskripsikan ada secara nyata konkret di
depannya, anak tersebut lumayan bisa. Akan tetapi jika benda yang
akan dideskripsikan hanya sebuah gambar atau video dan lain
sebaginya, dia akan kesulitan. Sedangkan untuk MA kemampuan
118
mendeskripsikan bisa dilakukan dengan menggunakan kalimat-
kalimat sederhana. Untuk kemampuan menganalisis dan berpikir
kritis (KA dan MA )masih belum mampu.
Kondisi kesulitan belajar yang dialami oleh kedua subjek penelitian
yakni KA dan MA tersebut memiliki beberapa perbedaan. Meskipun
keduanya merupakan siswa dengan gangguan slow learner akan tetapi
taraf ketunaan yang mereka alami memiliki beberapa perbedaan,
berdasarkan hasil wawancara, observasi dan juga dokumentasi yang telah
dilakukan peneliti, berikut akan disajikan tabel perbandingan terkait
kondisi kesulitan belajar yang dialami kedua subjek penelitan
Tabel 4.5
Perbandingan Ciri-Ciri Slow Learner Yang Ditemukan Pada Diri KA dan
MA
No Kondisi KA MA Persamaan/
Kesulitan Perbedaan
Belajar
1. Kecerdasan KA memiliki MA memiliki kedua subjek
kecerdasan yang kecerdasan penelitian ditinjau
lebih rendah dibawah teman- dari segi
dibandingkan temannya yang kecerdasan yakni
teman-teman ditandai dengan memiliki
kelasnya, ditandai kemampuannya persamaan sama-
dengan perilakunya ketika memahami sama memiliki
yang tidak sesuai materi kecerdasan lebih
dengan umurnya, pembelajaran rendah
pemahaman yang sangat dibandingkan
terhadap materi kurang, dan anak-anak lainnya
rendah, jawaban kebutuhannya atas yang memiliki
yang diberikan saat bimbingan secara usia sama. Salah
ditanya cenderung individual untuk satunya ditandai
tidak nyambung mehamkannya dengan rendahnya
akan materi yang pemahaman
dipelari terhadap materi
pembelajaran.
2. Fokus/konse Durasi waktu KA Durasi konsentrasi Konsentrasi KA
ntrasi dapat MA hanya dan MA sama-
berkonsentrasi bertahan dalam sama memiliki
119
dalam pembelajaran kurun waktu yang durasi waktu yang
sekitar 3-5 menit, relatif singkat singkat yakni
setelah itu KA yakni sekitar 5 hanya bertahan
kembali sibuk menit pertama, selama 5 menit
dengan dunianya setelah itu MA pertama
akan sibuk pembelajaran.
melamum, noleh hanya saja setelah
kesana-kesini, 5 menit pertama
atau sibuk dengan tersebut KA
dunianya sendiri biasanya main dan
sibuk dengan
dunianya sendiri,
sedangkan MA
cenderung banyak
melamun dan
cenderung
pendiam.
3. Kemampuan KA mempunyai MA memiliki Kemampuan
komunikasi kemampuan kemampuan komunikasi KA
komunikasi yang komunikasi yang lebih baik
lumayan bagus, dia sangat kurang, dia dibandingkan
mampu untuk jarang MA. KA
melakukan berkomunikasi cenderung lebih
komunikasi 2 arah dengan temannya ekspresif dan juga
jika bahasa yang kebanyakan dia lumayan sering
digunakan hanya melamun bercerita dengan
sederhana, sendirian, ustadz/ustadzahny
kemampuan kalaupun a terkadang
mengekspresikan berkomunikasi dengan teman-
emosi juga lumayan mungkin hanya temennya
bagus akan tetapi sekedarnya saja sedangkan MA
antara emosi yang seperti lebih pendiam.
dirasakan dengan menceritakan
kalimat untuk mainannya atau
berkespresi sering barang-barang
terbalik-balik, yang dia miliki
seperti saat marah,
sedih atau sakit,
tetapi kalimat yang
diguanakan adalah
kalimat untuk
mengekspresikan
kebahagiaan
4. Kemampuan Setiap hal yang Kemampuan MA Kemampuan
mengarahkan harus dilakukan KA dalam mengarahkan diri
diri gurunya harus mengarahkan diri KA dan MA
terlebih dahulu kurang, MA sama-sama
mengingatkan belum dapat kurang. Keduanya
secara mandiri harus melalui
menyadari tugas- bimbingan guru
tugas yang harus dalam
dikerjakannya, dia menjalankan
masih sangat tugas-tugas
membutuhkan pembelajaran.
bantuan orang lain
120
untuk
mengingatkan
tugas tugasnya
dan hal yang harus
dia lakukan
5. Kondisi KA cenderung MA cenderung Kondisi emosi KA
emosi memiliki emosi memiliki emosi dapat dikatakan
yang sensitif seperti yang kurang lebih stabil tidak
mudah nangis, atau stabil, dia mudah marah meledak-
mengungkit menangis dengan ledak hanya saja
kesalahan- alasan yang tidak terkadang lebih
kesalahan orang lain terlalu jelas, dan sensitif seperti
padanya meskipun juga mudah marah mudah menangis.
sudah lama terjadi, apabila yang Sedangkan
akan tetapi dia terjadi tidak sesuai kondisi emosi MA
bukan tipe yang dengan lebih kurang stabil
mudah marah keinginannya yakni mudah
ataupun meledak- marah, dan mudah
ledak menangis jika hal
yang terjadi tidak
sesuai
keinginannya.
6. Kemampuan KA memiliki rentan Kemampuan MA Kemampuan
mengingat waktu yang relatif dalam mengingat mengingat materi
materi pendek untuk kembali materi sama-sama lemah,
mengingat materi yang telah materi
yang sudah dipahami relatif pembelajaran
dipelajari, kira-kira singkat, beberapa yang diajarkan
hanya sekitar 30 saat setelah materi hari ini jika
menit setelah materi tersebut diajarkan muncul lagi untuk
tersebut dipelajari ketika gurunya pembelajaran
mengulas kembali esok, maka harus
materi tersebut mengulang dari
MA sudah awal kembali.
melupakn materi
yang telah
dipelajarinya
tersebut
7. Kemampuan Kemampuan KA Kemampuan MA Kemampuan
dalam dalam memahami dalam memahami memahami materi
memahami materi pembelajaran materi pembelajaran
materi rendah, harus pembelajaran sama-sama
pembelajaran diulang beberapa rendah, guru harus rendah, perlu
kali dan mengulang adanya
disampaikan dengan minimal 3 kali pengulangan
pelan-pelan pengulangan agar berkali-kali
MA dapat minimal 3 kali
memahami materi pengulangan
yang sedang hingga mereka
diajarkan dapat memahami
yang telah
diajarkan.
8. Kemampuan Sosialisai yang Kemampuan Kemampuan
bersosialisai dilakukan KA bersosialisai MA bersosialisai KA
dengan teman- rendah, MA lebih baik
121
temannya lumayan cenderung dibandingkan
bagus, tetapi tidak pendiam dan MA. KA lebih
sesering seperti banyak melamun, bisa bersosialisai
teman-teman yang Ma cenderung mengajak
lain, KA hanya pasif dalam ngobrol, ataupun
sesekali saja pertemanan menceritakan
bermain atau cerita suatu hal
dengan teman- meskipun tidak
temannya, dia lebih terlalu sering.
banyak menyendiri Sedangkan MA
di pojok ruangan lebih pendiam dan
baca-baca dongeng cenderung pasif
di sudut baca dalam
pertemanan.
9. Kemampuan Masih sangat Masih sangat Kemampuan
membuat kurang, karena kurang, membuat
pedoman kemampuan kemampuan pedoman kerja
kerja berbahsa KA masih berbahasanya KA mampu
terbatas, sangat kurang membuatnya
kemampuan untuk sampai pada hanya saja
intelektualnya tahapan dapat menggunakan
setara dengan anak membuat suatu bahasa yang
kelas 1-2 pedoman kerja sederhana.
sendiri Sedangkan
kemampuan MA
masih kurang
10. Kemampuan Kemampuan KA Kemampuan Kemampuan
mendeskripsi dalam hal ini sangat untuk mendeskripsikan,
kan, kurang. mendeskripsikan menganalisis, dan
menganalisi, Dikarenakan dengan kalimat juga berpikir kritis
dan berpikir kemampuan saat yang pendek pada KA yakni
kritis berkomunikasi saja lumayan, akan untuk
masih kurang, tetapi untuk mendeskripsikan
apalagi kemampuan suatu benda
kemampuan- menganalisis dan lumayan bisa akan
kemampuan berpikir kritis tetapi benda yang
tersebut yang masih sangat dideskripsikan
mengharuskan rendah. harus ada secara
memiliki konkret, untuk
kemampuan dua kemampuan
berbahasa yang setelahnya masih
lebih belum mampu.
Sedangkan untuk
MA kemampuan
mendeskripsikan
sudah mampu
hanya saja
menggunakan
bahasa yang
sederhana, dan
untuk dua
kemampuan
lainnya belum
mampu.
122
2.) Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner
1.) Pengelolaan lingkungan kelas
Pengelolaan lingkungan kelas pada kelas KA dilakukan dengan
mengatur formasi duduk yang berfariasi, mulai dari formasi
berkelompok-kelompok, formasi Leter U, formasi standar pada
umumnya. Sedangkan pada kelas MA formasi tempat duduk yang
dijalankan yakni model konvensional, lateru U, lesehan dilantai dengan
model melingkar, dan juga saling berhadap-hadapan.
Melalui perubahan formasi duduk yang berfarisi dimaksudkan agar
pembelajaran terasa lebih hidup dan tidak membosankan, siswa tidak
akan merasakan pemebelajaran yang monoton, dengan perubahan
formasi duduk yang berfariasi pula siswa akan berbaur dengan
sesamanya secara merata, tidak melulu dnegan beberapa orang saja.
Tentu saja hal ini sangat membantu anak slow learner dalam mengatasi
kesulitan bersosialisai, komunikasi, dan juga dalam memahami materi
pembelajaran dikarenakan pada saat formasi duduk berkelompok maka
teman-teman yang duduk dalam satu kelompok denganya sedikit
banyak dapat membantunya belajar.
Pengelolaan lingkungan kelas KA selanjutnya yakni rolling
tempat duduk. Jadi setiap 2 minggu sekali tempat duduk akan dirolling.
Misalkan 2 minggu pertama anak yang duduk dibaris depan akan
berpindah be baris ke 2, dan begitu seterusnya. Sedangkan pada kelas
MA anak slow learner akan ditempatkan di tempat duduk yang dekat
123
dengan gurunya sehingga memudahkan guru untuk mengawasinya.
Rolling tempat duduk ini juga sangat membantu anak slow learner
dalam proses pembelajaran, karena posisi duduk yang strategis akan
sangat membantunya ketika proses pembelajaran, seperti tempat duduk
yang strategis akan membantunya mendengar dengan jelas materi
pembelajaran, juga membantunya mendapatkan perhatian yang intens
dengan gurunya. Dengan rolling tempat duduk juga dapat mencegah
anak slow leaerner hanya duduk di pojok kelas karena dia merasa lebih
nyaman menyendiri dan alasan-alasan lain.
2.) Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran adalah komponen yang sangat penting
dalam suatu pembelajaran, khususnya bagi anak slow leaerner,
perangkat pembelajaran yang tepat akan menentukan keberhasilan
suatu proses pembelajaran itu sendiri. Perangkat pembelajaran yang
digunakan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan seperti media
pembelajaran, materi pembelajran, alat evaluasi pembelajaran bagi
anak slow learner yang memiliki guru pendaping khsus (yang
digunakan dalam pembelajaran pada KA) adalah perangkat khusus
yang dibuat hanya untuk mereka. Perangkat tersebut biasa disebut
worksheet yang dirancang khusus sesuai kebutuhan masing-masing
individu ABK.
Materi yang disajikan dalam worksheet disesuaikan dengan tingkat
kemampuan intelektual masing-masing anak. Dalam artian materi sama
124
akan tetapi tingkat kesulitan yang berbeda. Evaluasi yang terdapat di
dalamnya juga memuat indikator-indikator khusus tentang hal yang
harus dicapai masing-masing anak.
Sedangkan bagi MA yakni anak slow learner yang tidak memiliki
guru pendamping khusus maka modifikasi perangkat pembelajaran
sama dengan siswa yang lain, akan tetapi guru kelas maupun guru mata
pelajaran memberikan perlakuan khsusus, seperti bimbingan secara
individual, dan juga bahan evaluasi yang berbeda sehingga tujuan dari
pembelajaran itu sendiri dapat tercapai.
2) Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner
Model pembelajaran ini adalah hal yang tidak kalah penting dalam
sebuah pembelajaran. model pembelajaran membawa peran penting
dalam keberhasilan pembelajaran. Model pembelajaran yang
digunakan di kelas KA yakni kelas V Hanoi dan juga MA yakni kelas
V Sasadu adalah sangat berfariasi, diantaranya yakni:
2) model pembelajaran klasikal. Model pembelajaran klasikal
ini dilakukan dengan metode ceramah untuk menjelaskan materi
pembelajaran, baru kemudian memberikan contoh dan terahir
dengan memberikan evaluasi pembelajaran. model pembelajaran
ini juga tidak bisa lepas dari sebuah pembelajaran di kelas, karena
gurupun harus menjelaskan materi pembelajaran kepada para
siswa. model pembelajaran ini dilakukan ketika kondisi siswa
125
sedang kondusif, sehingga ketika materi disampaikan siswa dapat
menangkap intisari dari apa yang sudah dijelaskan oleh guru.
3) Model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini juga
digunakan dalam pembelajaran. dengan pembelajaran ini guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membantu dan
juga menumbuhkan sikap kerjasama dan peduli. Pembelajaran ini
bagi anak slow learner sangat membantu karena mereka
mempunyai peluang untuk mendapatkan bantuan dari sesamanya,
karena pada dasarnya mereka tidak menyukai pembelajaran secara
kompetitif yang dapat mengakibatkannya merasa terpojok.
4) Model pembelajaran kontekstual. Model pembelajaran ini juga
sering digunakan guru dalam pembelajaran. guru mempersilahkan
siswa untuk mencari benda-benda yang terdapat dilingkungan
sekitar sekolah. Dengan demikian sangat membantu anak slow
learner dalam memahami pembelajaran. karena kerap kali anak
slow learner kurang dapat memahami sesuatu yang tidak dilihatnya
secara langsung.
5) Model pembelajaran bermain peran. Model pembelajaran ini
hanya digunakan di kelas KA yakni kelas V Honai. Menggunakan
model pembelajaran ini tidak terlalau efektif bagi anak slow
learner karena mereka masih kesulitan ketika berhadapan dengan
kalimat-kalimat rumit, dan segala hal yang berhubungan dengan
kemampuan berbahasa yang lebih tinggi. Sehingga ketika model
126
pembelajaran ini dugunakan mereka akan berkontribusi dan
terlibat dalam pembelajaran dengan intensitas yang minim.
6) Model pembelajaran kelas kecil (pull out). Model ini hanya
digunakan untuk kelas KA yakni kelas V Honai. Model
pembelajaran ini tidak dapat dipisahkan dari anak slow learner.
Karena dengan model pembelajaran ini mereka mengejar
ketertinggalannya dengan teman-teman kelasnya. Pembelajaran ini
dilakukan anak slow learner diruangan khusus bersama dengan
guru pendamping khususnya. Guru pendampingnya akan
membimbingnya untuk menjelaskan kembali materi yang belum
dipaham, mereview materi yang sudah. Tidak hanya tentang
kemampuan pemahaman materi yang diajarkan tetapi juga
berbagai keterampilan yang harus dia kuasai dalam sebuah
pembelajaran.
3) Strategi Pengajaran Anak Slow Leaerner
Strategi pengajaran disini adalah tentang hal-hal ataupun urutan-
urutan yang harus dilakukan dalam pembelajaran bagi anak slow
learner. Strategi pengajaran yang digunakan dalam pembelajarn yakni
diawali dengan mereview materi yang sebelumnya sudah dipelajari,
selanjutnya untuk membangun mood belajar hal yang dilakukan adalah
bermain games, menyanyi, atau kegiatan ice breaking yang lainnya.
Baru ketika kondisi siswa sudah kondusif pembelajaran bisa dimulai.
127
Selain itu kolaborasi dengan orang tua juga merupakan hal yang
sangat penting dan tidak boleh terlewatkan yang juga dilakukan di kelas
ini. Jadi guru-guru yang bersangkutan selalu berkoordinasi dengan
orangtua. Hal tersebut dimaksudkan agar orang tua turut membantu
pengkondisian anak, mengingat durasi waktu anak lebih lama bersama
dengan orangtuanya dibandingkan dengan gurunya. Dengan
berkolaborasi bersama orangtua gurupun juga dapat menghindari pola
didik, maupun perlakuan yang tidak disukai anak.
4) Evaluasi Pembelajaran Anak Slow Learner
Evaluasi pembelajaran dilakukan dengan perangkat evaluasi
tersendiri bagi anak slow learner. Dimana dalam perangkat tersebut
terdapat indikator-indikator yang harus dicapai, yang juga sebagai
penentu dalam pemberian nilai. Indikator-indikator tersebut disusun
berdasarkan tingkat kemampuan anak slow learner itu sendiri.
Berdasarkan paparan data di atas terdapat beberapa perbedaan terkait
model-model pembelajaran yang dilakukan pada kelas KA (kelas V Honai)
dan juga kelas MA (kelas V Sasadu) yang akan disajikan dalam tabel
dibawa ini:
128
Tabel 4.6
Model pembelajaran pada kelas KA dan MA
Model Persamaan/
NO Pembela KA MA Perbedaan
Jaran
1 Pengelolaan Pengelolaan Pada kelas MA Pengelolaan kelas
lingkungan lingkungan kelas pengelolaan yang yang
kelas pada kelas KA dilakukan terkait dilakukanpada
meliputi formasi formasi bangku kedua kelas sama-
bangku yang dan juga posisi sama mengenai
berfariasi tempat duduk. formasi bangku
diantaranya Formasi bangku dan juga rolling
menggunakan diubah sesuai tempat duduk,
formasi later U, dengan kebutuhan akan tetapi teknis
formasi pembelajaran dari keduanya
berkelompok- diantaranya yakni yang sedikit
kelompok, jika formasi berbeda, seperti
menggunakan konvensional formasi tempat
formasi ini maka seperti penataan duduk yang
KA membaur bangku pada digunakan sedikit
bersama kelompk- umumnya, berbeda, dan juga
kelompok tersebut formasi berhadap- teknis dalam
tidak disendirikan, hadapan yakni rolling tempat
formasi dengan dibagi duduk yang
konvensional, dan penjadi beberapa berbeda.
juga seringkali banjar kemudian
dengan formasi slaing
lesehan. nerhadapan,
Selanjutnya terkait formasi later U
dengan posisi dengan
tempat duduk di memojokkan
kelas KA selalu bangku-bangku
dilakukan rolling hingga menempel
pada setiap di tembok
minggu, jika siswa sehingga
pada minggu ini memberikan
berada di baris kesan yang luas
pertama maka pada ruangan
pada minggu kelas, formasi
kedua akan lesehan dengan
dirolling pada posisi duduk
baris kedua dan melingkar.
seterusnya. Jika Selanjutnya
posisi tempat terkait dengan
duduk belum posisi duduk bagi
saatnya berubah yaitu diatur acak
KA tidak oleh guru.
diperkenankan Sedangkan posisi
untuk memilih tempat duduk bagi
tempat duduk MA berada di
sesukanya dan tempat yang dekat
harus mematuhi dengan guru, dan
aturan yang telah bersebelahan
disepakati di kelas. dengan anak-anak
yang dirasa bisa
129
membantunya
ketika proses
pembelajaran.
2 Perangkat Perangkat Perangkat Perangkat
pembelajaran pembelajaran yang pembelajaran pembelajaran
digunakan untuk yang digunakan yang digunakan
KA adalah untuk MA sama untuk KA dan
perangkat seperti yang juga MA juga
pembelajaran digunakan untuk sedikti berbeda.
khusus yang siswa lain, hanya KA memiliki
dibuat oleh guru saja pada strategi perangkat
pendamping dan juga cara pembelajaran
khususnya, mengajar masing- khusus yang
perangkat masing guru dibuat oleh guru
pembelajaran kepada MA pendampingnya
tersebut disebut dimodifikasi yang disebut
worksheet khusus sesuai dengan worksheet khusus
untuk ABK yang kebutuhan MA, meliputi bahan
berisi bahan ajar, sehingga ajar khusus, media
dan juga evaluasi keberhasilan pembelajaran
pembelajaran pembelajaran khusus dan juga
khusus. media ditekankan soal-soal evaluasi
pembelajaran yang kepada guru kelas pembelajaran
digunakan juga dan juga guru yang khusus.
media khusus yang mata pelajaran. Sedangkan untuk
telah disesuaikan MA yang tidak
dengan memiliki guru
kemampuan dan pendamping
kebutuhan KA. khusus maka
perangkat
pembelajaran
yang digunakan
sama dengan
anak-anak lainnya
akan tetapi guru
kelas dan juga
guru mata
pelajaran masing-
masing membuat
modifikasi khusus
yang telah
disesuaikan
dengan
kebutuhannya.
3 Model Model Model Model
pembelajaran pembelajaran yang pembelajaran pembelajaran
digunakan untuk yang digunakan yang diterapkan
pembelajaran KA pada MA yakni pada kedua kelas
yakni model dengan model tersebut memiliki
klasikal, model klasikal, model perbedaan pada
kooperatif, model individual, model KA menggunakan
kontekstual, model kontekstual, dan model
kelas kecil (pull model kooperatif pembelajaran
out), dan model Kelas kecil atau
bermain peran. pull out dimana
130
KA bersama guru
pendamping
khususnya
melakukan
bimbingan sendiri
di ruangan khusus
untuk mengejar
ketertinggalannya
dengan teman-
teman lainnya.
4 Strategi Strategi Strategi pegajaran Strategi
pengajaran pengajaran yang untuk MA yakni pengajaran yang
dilakukan di kelas dimulai dengan dilakukan
KA diawali review materi- memiliki
dengan review mater yang telah perbedaan pada
materi yang telah dipelajari. kolaborasi dengan
dipelajari. Selain Menjelaskan orangtua dalam
itu guru juga materi dengan menangani
menggunakan beberapa kali permasalahan
bahasa yang pengulangan. belajar. KA
sederhana dan Menggunakan cenderung lebih
mudah dipahami bahasa yang intensif dalam
saat pembelajaran. mudah. penanganan
Tugas-tugas yang masalah
diberikan juga belajarnya
lebih sederhana dikarenakan guru
disesuaikan pendampingnya
dengan selalu
kemampuan KA. berkomunikasi
Saat mengajar dengan orangtua
materi yang terkait
disampaikan permaslaahan
diulang-ulang yang sedang
beberapa kali. Dan dihadapi dengan
juga senantiasa lebih sering.
berkolaborasi
dengan orang tua
KA untuk
melakukan yang
terbaik baginya.
5 Evaluasi Evaluasi Evaluasi Evaluasi
pembelajaran pembelajaran yang pembelajaran pembelajaran
dilakukan yang digunakan yang digunakan
menggunakan untuk MA terdapat beberapa
instrumen khusus berbeda dengan perbedaan yakni
yang telah anak-anak untuk KA
dirancang sesuai lainnya. Tingkat perangkat
dengan kesulitan pada evaluasi
kompetensi yang evaluasinya pembelajaran
harus dicapai oleh sedikit lebih yang digunakan
KA. Jumlah soal rendah dan juga dirancang khusus
yang digunakan jumlah soal yang dengan berbagai
juga lebih sedikit lebih sedikit. modifikasi dari
dibandingkan guru pendamping
siswa lain. Waktu dianttaranya
131
yang diberikan modifikasi jumlah
untuk soal, waktu
menyelesaikan pengerjaan, dan
soal tersebut juga juga tingkat
lebih lama kesulitan.
dibanding siswa Sedangkan untuk
lainnya. MA juga
mengalami
modifikasi akan
tetapi lebih
bersifat umum
dari masing-
masing guru
penanggung
jawab
pembelajaran.
BAB V
PEMBAHASAN
A. Kondisi Kesulitan Belajar Pada Anak Slow Learner Di Sd
Muhammadiyah 2 Tulangan
Kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana siswa tidak dapat
mengikuti kegiatan pembelajaran dengan efisien seperti siswa-siswa pada
umumnya sehingga tujuan-tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai dengan
semestinya. Hal tersebut dikerenakan mereka mengalami kendala dalam
memahami dan menyerap materi pembelajaran. jika siswa lain
membutuhkan penjelasan materi satu hingga dua kali, anak lamban belajar
akan membutuhkan penjelasan materi yang lebih dari dua kali, sehingga
dalam menyampaikan suatu materi pembelajaran haruslah dengan beberapa
kali pengulangan.
Tidak hanya dilihat dari kemampuannya dalam memahami materi,
terdapat beberapa indikator lain sehingga siswa bisa dikatakan mengalami
kesulitan belajar. Anak slow learner merupakan anak yang mengalami
kesulitan belajar, tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan sering kali
tidak dapat tercapai dengan tuntas. Kondisi demikian terjadi akibat beberapa
faktor yang mempengaruhi.
Anak slow learner yang menjadi subjek penelitian ini yakni KA dan
juga MA keduanya duduk di kelas V akan tetapi berbeda kelas. KA berada
di kelas V Honai dengan bantuan guru pendamping khusus dalam
132
133
pembelajarannya. Sedangkan MA berada di kelas V Sasadu tanpa bantuan
guru pendamping khusus dalam pembelajarnnya. Hasil penelitian ini
menunjukkan kedua siswa yang mengalami slow learner memiliki kondisi
diantaranya yakni kecerdasan dibawah anak-anak lainnya, kesulian dalam
memahami materi pembelajaran, kesulitan dalam bersosialisasi, memiliki
durasi konsentarsi yang relatif singkat, dan juga memiliki kondisi emosi
yang kurang stabil.
Berdasarkan teori mulyadi pada Diagnosis Kesulitan Belajar dan
Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar (Yogyakarta: Nuha Litera)
menyatakan terdapat 11 ciri-ciri anak dengan kesulitan belajar yakni:
Memiliki kecerdasan yang rendah di bawah anak pada umumnya yang
memiliki usia sama, konsentrasi dan perhatiannya mudah pecah sehingga
hanya memiliki durasi waktu yang terbatas, keterbatasan dalam memahami
materi-materi pelajaran yang relevan, kesulitan dalam mengarahkan diri
(self dirention), keterbatasan pada kemampuan abstraksi, Mengalami
keterlambatan dalam membuat suatu keterkaitan antara kata dengan
pengertian, kesulitan dalam mengingat dan mengenal kembali hal-hal yang
telah dipelajari.
Ciri-ciri selanjutnya yakni membutuhkan waktu yang panjang dan lama
dalam menangkap sebuah pembelajaran, tetapi cepat untuk melupakan
pembelajaran yang telah dipahaminya, kurang mempunyai inisiatif
sehingga cenderung pasif dan pendiam, kesulitan dalam menciptakan
pedoman kerja sendiri, serta kurangnya kemampuan dalam menentukan
134
kesalahan-kesalahan yang dibuat, kesulitan dalam mendeskripsikan,
menganalisis, memecahkan sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam
berfikir kritis, Kesulitan dalam proses berfikir tingkat tinggi maupun
berfikir kritis.154
Berdasarkan teori Reiff Michael dkk yang bersumber pada Diagnostic
And Manual Of Mental Disorder-IV-TR (DSR-IV-TR) yang juga
mendukung pendapat mulyadi yakni menyebutkan terdapat 8 ciri-ciri
kondisi kesulitan belajar pada anak lamban belajar yakni ceroboh dalam
mengerjakan tugas, kesulitan berkonsentrasi pada tugas, kesulitan dalam
mengikuti instruksi pembelajaran sehingga tugas-tugas pembelajaran tidak
terselesaikan, seakan tidak mendengarkan saat diajak berbicara, kesulitan
alam mengelolah tugas dan kegiatan pribadi, dan juga mudah lupa.155
Berdasarkan teori Nani Triani dan Amir yang mendukung teori-teori di
atas juga menyebutkan bahwa permasalahan yang dihadapi anak lamban
belajar yakni: 1) mengalami perasaan minder dengan teman-temannya
karena kemampuan belajaranya yang lamban, 2) cenderung pemalu
sehingga menarik diri dari lingkungan sosialnya, 3) lamban dalam
menerima informasi dikarenakan keterbatasan bahasa dan juga ekspresi, 4)
hasil belajar yang kurang optimal sehingga menyebabkan mereka stress, 5)
dikarenakan kurangnya kemampuan intelektual sehingga membuat mereka
154
Mulyadi, Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar
(Yogyakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 124.
155
Reiff Michael, Feldman, Heidi, Diagnostik And Statistical Manual Of Mental
Disorders: The Solution Or The Problem?, Journal of Developmental And Behavior Pediatrics, Vol
4, Issue 1, p 68-70, Januari 2014, doi:10.1097/DBP0000000000000017, HLM. 69
135
terkadang tinggal kelas, 6) mendapatkan labeling kurang baik dari teman-
temannya.156
Berdasarkan teori-teori di atas sesuai dengan hasil penelitian yang telah
dilakukan peneliti yakni terdapat 8 ciri-ciri yang sesuai pada KA dan 10
ciri-ciri pada MA. Pertama terkait ciri-ciri anak kesulitan belajar yakni
terkait kondisi kecerdasannya yang lebih rendah dibandingkan anak pada
umumnya yang memiliki usia sama.
KA dan MA memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah
dibandingkan anak-anak lainnya sehingga dalam proses pembelajaran
mereka sangat membutuhkan guru pendamping, atau minimal guru kelas
maupun guru mata pelajaran sebagai pembimbingnya. dikarenakan dalam
segi mental mereka memiliki kematangan mental yang tidak sesuai dengan
usinya saat ini. Usia mentalnya jauh dibawah usia aslinya, yang
menyebakan prilakunya masih seperti anak di kelas bawah sehingga dalam
belajar pun dia kesulitan dalam menjapai tujuan pembelajaran.
Kedua Kondisi kesulitan belajar terkait konsentrasi yang mudah
teralihkan. Didukung pula dengan teori Mubair Agustin yang menyatakan
bahwa Anak lamban belajar memiliki rentang perhatian yang pendek
sehingga konsentarsi mereka mudah pecah.157 KA memiliki durasi
156
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk
Guru , Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama,
2011), hlm. 13
157
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 3
136
kosentrasi yang relatif singkat. Rentan waktu mereka mampu
berkonsentrasi hanya sekitar tiga hingga lima menit sesuai dengan
keterangan guru pendamping khusus dan juga guru bahasa inggrisnya.158
Ketika pembelajaran berlangsung KA dapat berkonsentrasi di awal-awal
pembelajaran setelah itu dia akan sibuk dengan dunianya sendiri jadi guru
pendampingnya setiap kali KA sudah mulai tidak konsentrasi maka akan
diingatkan kembali sekarang waktunya apa. Begitupula dengan MA, dia
memiliki durasi konsentrasi yang realatif singkat pula. Rentan waktu
maksimal KA mampu berkonsentrasi hanya sekitar 5 menit di awal, setelah
itu MA cenderung sibuk dengan dunianya sendiri, melamun, dan terkadang
menoleh kesana kemari sesuai dengan keterangan yang disampaikan guru
kelasnya.159
Ketiga terkait dengan kemampuan komunikasi. Nani Triani dan Amir
berpendapat bahwasannya Komunikasi menjadi suatu permasalahan bagi
anak lamban belajar. Kendala berbahasa yang dialami oleh anak lamban
belajar yakni kesulitan menyampaikan gagasannya. Mereka juga kesulitan
dalam memahami pembicaraan orang lain. sehingga hal tersebut
mengakibatkan mereka cenderung susah bergaul dan mendapatkan
teman.160
158
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm. 81
159
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm.99
160
Nani Triani dan Amir, Pendidikan ABK Lamban Belajar (Slow Learner) (Jakarta:
Luxima, 2016), hlm. 6
137
Mubair Agustin juga berpendapat anak lamban belajar memiliki
kosakata yang sangat terbatas. Sehingga ketika diajak untuk berkomunikasi,
anak lamban belajar memiliki kesan kurang nyambung dalam mengartikan
maksud dari pembicaraan.161 Sejalan dengan kondisi KA yakni mengalami
kesulitan dalam memahami pembicaraan oranglain sehingga apabila dia
ditanya seringkali jawaban yang dilontarkan tidak nyambung. KA juga
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan kalimat yang kompleks,
dia hanya mampu berkomunikais dengan bahasa-bahasa sederhana. Ketika
mengungkapkan ekspresinya kalimat yang digunakan juga sringkali
tertukar-tukar, maksudnya kalimat untuk berekspresi bahagia digunakan
ketika dia merasa sedih.162
Begitupula dengan kondisi MA juga mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi, kemampuan komunikasi MA bisa dikatakan berada di
bawah KA, KA mampu untuk memulai komunikasi dengan orang lain
meskipun dengan bahasa yang sederhana, sedangkan MA cenderung lebih
pasif dan juga pendiam, dia kesulitan untuk membuka atau mengawali
komunikasi dengan orang lain.163
Keempat kemampuan dalam mengarahkan diri. Hasil observasi dan juga
wawancara menyatakan bahwa KA dan MA mengalami kesulitan dalam
mengarahkan diri, dia belum bisa secara mandiri menyadari tugas-tugas
161
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 38
162
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm. 82
163
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm. 100
138
yang seharusnya dia lakukan, seperti waktunya membaca, waktunya
mengarjakan soal, waktunya menggambar. Ketika melakukan hal-hal
demikian KA terlebih dahulu harus meneriama perintah ataupun diingatkan
oleh guru-guru yang bersangkutan.164
Kelima terkait kondisi emosi yang kurang stabil. Indikasi tersebut
memang terdapat pada KA, tetapi tidak sepenuhnya. Dalam artian emosi
KA yang kurang stabil lebih ditunjukkan melalui sikapnya yang sensitif
seperti mudah menangis, akan tetapi KA bukan tipe anak yang mudah
marah, meledak-ledak, tantrum dan sejenisnya, dia lebih condong
mempunyai pribadi yang ceria. Sedangkan pada MA indikasi emosi yang
kurang stabil sepenuhnya ditunjukkan melalui sikapnya yang akan marah-
marah apabila terjadi suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. MA
juga mudah menangis yang terkadang tanpa sebab yang jelas karena jika
ditanya dia tidak menjawab.
Keenam kemampuan dalam mengingat kembali hal-hal yang telah
dipelajari. KA dan MA hanya mampu mengingat materi pembelajaran yang
telah dipelajarinya dalam kurun waktu 30 menit, setelah itu dia lupa,
sehingga materi yang hendak dipelajari lagi harus diulang-ulang terlebih
dahulu.
Ketujuh membutukan waktu yang panjang dalam memahami materi
pembelajaran. selain pendapat mulyadi mengenai lamanya durasi untuk
164
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara dan Observasi, hlm. 87
139
memahami suau pembelajaran. Mubair Agustin juga berpendapat bahwa
Anak dengan slow learner memiliki ciri fisik normal tidak terdapat
perbedaan atau kelainan dengan anak normal pada umumnya dari segi
fisiknya, akan tetapi saat melakukan pembelajaran di sekolah mereka sulit
memahami materi yang sedang dipelajari.165 KA dan MA dalam menyerap
atau memahami suatu pembelajaran harus melalui pengulangan secara
berkali-kali dan juga pelan-pelan, barulah dia mampu memahami materi
yang sedang dipelajari.
Kedelapan kemampuan bersosialisai. Mulyadi berpendapat bahwa anak
lamban belajar Kurang mempunyai inisiatif sehingga cenderung pasif dan
pendiam. Nani Triani dan Amir juga berpendapat bahwa Anak lamban
belajar mengalami kesulitan dalam bidang sosial. Mereka kesulitan untuk
bersosialisasi dengan orang lain. Berdasarkan observasi dan juga
wawancara yang telah dilakukan teori-teori tersebut sejalan dnegan kondisi
yang dialami KA dan juga MA. Kemampuan KA dalam bersosialisai
lumayan bagus. Dia bisa berbaur dengan teman-temannya dan juga ustadz-
ustadzahnya ngobrol atau cerita aktifitasnya bersama keluarganya,
terkadang juga cerita dongengakan tetapi intensitasnya bisa dikatakan
jarang hanya sesekali saja. kebanyakan KA hanya berada di sudut baca
untuk membaca cerita-cerita dongeng.166
165
Mubiar Agustin, Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran Panduan untuk Guru
, Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga Kependidikan (Bandung: PT Refika Aditama, 2011),
hlm. 38
166
Lihat Pada BAB IV, Paparan Data Hasil Wawancara, hlm.83
140
Sedangkan kemampuan komunikasi pada MA cenderung lebih rendah
dibandingkan KA. MA lebih pasif dalam pertemanan, jarang bercerita
tentang suatu hal, MA dapat bersosialisai jika temannya yang memulai
untuk bertanya terlebih dahulu kepadanya.
Kesembilan dan kesepuluh kesulitan dalam menciptakan pedoman kerja
sendiri, kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis, dan kesulitan
dalam berpikir kritis. KA mengalami kesulitan dalam melakukan hal-hal
tersebut, kemampuan berbahasa yang dimiliki KA hanya sebatas kalimat-
kalimat sederhana untuk kemampuan yang membutuhkan kemampuan
berbahsaa lebih tinggi KA belum mampu. Kemampuan mendeskripsikan
KA sebatas hanya mampu mendeskripsikan benda yang dilihatnya secara
langsung. Apabila benda tersebut hanya sebuah gambar atau lainnya yang
bendanya tidak ada di depan mata dia akan mengalami kesulitan dalam
mendeskripsikannya.
Sedangkan pada MA kemampuannya untuk mendeskripsikan hanya bisa
sebatas dengan bahasa yang sederhana. Untuk kemampuan menganalisis
dan juga berpikir kritis MA maih belum mampu.
B. Model pembelajaran anak slow learner di SD Muhammaidyah 2
Tulangan
Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak slow learner memerlukan
perlakuan dan perhatian khusus. hal tersebut dilakukan agar tujuan
pembelajaran yang sudah ditetapkan dapat tercapai dengan lebih mudah.
141
Dikarenakan mereka memiliki beberapa perbedaan seperti kecerdasan,
kemampuan komunikasi, kemampuan bersosialisai, kemampuan
memahami metari pembelajaran, dan lain-lain yang lebih rendah
dibandingkan anak normal pada umumnya sehingga mengharuskan pihak
sekolah penyelenggara pendidikan inklusi memberikan perlakuan terntentu
dalam pembelajarannya.
Guru menjadi salah satu pihak terpenting dalam penyelenggaraan
pembelajaran bagi anak slow learner dikarenakan gurulah yang melakukan,
menangani dan bertanggung jawab secara langsung atas pembelajaran bagi
mereka. Dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi anak slow learner
guru harus melakukan berbagai macam modifikasi tertentu diantaranya
yakni terkait pengelolaan lingkungan kelas.
Pengelolaan lingkungan kelas adalah usaha yang dilakukan agar
pembelajaran dapat dilakukan secara efektif untuk mencapai tujuan
pembelajaran.167 sedangkan anak slow learner adalah anak disuatu lembaga
pendidikan formal dimana mereka memiliki perkembangan belajar atau
kemamapuan akademik yang lebih lambat dari anak-anak seusianya.
Sehingga pengelolaan lingkungan kelas bagi anak slow learner adalah usaha
yang dilakukan dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi anak yang
memiliki kemampuan kognitif lebih rendah dari pada anak lainnya dalam
mencapai suatu tujuan pembelajaran.
167
Puput Fathurohman Dan Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Refika
Aditama, 2007), hlm.104
142
Berdasarkan paparan data pada BAB IV tentang pengelolaan
lingkungan kelas pada anak slow learner di SD Muhammadiyah 2 Tulangan
yakni meliputi penataan formasi tempat duduk yang beraneka ragam
sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup dan mengurangi kebosanan
apalagi bagi anak slow learner yang minat dan konsentrasi belajarnya
mudah teralihkan. Dan posisi tempat duduk yang selalau dilakukan
rolling.168
Temuan penelitian sejalan dengan penelitian Grace yang menyatakan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan posisi tempat duduk siswa
terhadap motivasi dan hasil belajar siswa yakni dengan peningkatan skor
sebanyak 26 poin.169 Kelas inklusi dengan anak berkebutuhan khusus yang
belajar bersama dengan anak-anak normal lainnya, posisi tempat duduk
sangat menentukan keberhasilan dari suatu pembelajaran dengan posisi
tempat duduk yang strategis maka keefektifan dari pembelajaran,
khususnya bagi anak berkebutuhan khusus lebih besar. guru dapat lebih
intensif dalam membimbing anak berkebutuhan khusus, dan juga
kemungkinana lepas dari pengawasan guru dapat diminimalkan. Formasi
tempat duduk juga ditata dengan berbagai formasi yang beragam sehingga
menghindari kebosanan ketika pembelajaran.170
168
Lihat BAB IV, Paparan Data Pengelolaan Lingkungan Kelas anak slow learner, hlm. 90
169
Grace Nindhita Pranamnya Hasti, Pengaruh Poisi Tempat Duduk Terhadap Motivasi
Dan Hail Belajar Siswa Kelas VII SMP Santo Aloysius, jurnal Universitas As-Sanata Dharma,
Yogyakarta, 2017, hlm.168
170
Lihat BAB IV, Paparan Data Pengelolaan Lingkungan Kelas anak slow learner, hlm. 90
143
Selain memperhatikan pengelolaan lingkungan kelas, perangkat
pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bagi anak slow learner
juga merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Perangkat
pembelajaran yang dikhususkan bagi anak slow learner yakni dengan
pemberian program pendidikan yang diindividualisasikan. Menurut Drs.
Musjafak Assjari pendidikan yang diindividualisasikan merupakan program
yang disusun dan dikembangkan atas dasar hasil asesmen terhadap
kemampuan masing-masing individu anak.171 Sehingga bisa dikatakan
bahwa program pembelajaran individual merupakan program yang
disesuiakan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa agar kebutuhan
masing-masing siswa dapat terpenuhi secara optimal.
Di SD Muhammadiyah 2 Tulangan terdapat 2 fariasi, pertama anak
slow learner dengan guru pendamping khusus maka terdapat perangkat
pembelajaran khusus bagi anak slow learner yang disebut worksheet berisi
materi pembelajaran, bahan evaluasi terkhusus bagi anak slow learner yang
disusun oleh guru pendamping khusus yang berkolaborasi dengan guru
kelas. Media pembelajaran yang digunakan juga dibuat khusus sesuai
dengan kebutuhan siswa yang bersangkutan.
Fariasi kedua anak slow learner yang tidak memiliki guru pendamping
khusus maka program pengajarannya sama dengan anak-anak lain, akan
tetapi terdapat perlakuan tertentu atau khusus dari guru kelas dan juga guru
171
Musyafak Assjari, “Program Pembelajaran Individual”, Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa. 2005. Hlm.3
144
mata pelajaran yang bersangkutan agar tujuan dari pembelajaran dapat
tercapai sesuai yang diharapkan. Penerapan tersebut sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Hernik Farisa yang menyatakan bahwa
program pembelajaran individual memiliki peran yang signifikan untuk
memaksimalkan potensi peserta didik berkebutuhan khusus dan juga dalam
mencapai tujuan pembelajaran mencapai 75% keberhasilan.172
Temuan penelitian selanjutnya yakni terkait model pembelajaran yang
digunakan saat proses pembelajaran bagi anak slow learner. Model
pebelajaran yang berfatiatif akan meningkatkan minat belajar pada siswa
khususnya pada anak slow learner yang memiliki motivasi lebih rendah
dibanding teman-teman lainnya sehingga tujuan pebelajaran dapat tercapai
dengan lebih efektif. Menurut pendapat Trianto tujuan dari model
pembelajaran adalah untuk mengarahkan perancang dan pengajar dalam
merancang suatu pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam
mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.173
Model pembelajaran bagi anak slow learner yang digunakan di SD
Muhammadiyah 2 Tulangan beragam, mulai dari model pembelajaran
klasikal, modal pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kontekstual,
model pembelajaran kelas kecil (pull out), model pembelajaran bermain
peran.174 Model-model pembelajaran yang digunakan adalah model
172
Hernik Farisia,” Strategi Optimalisasi Kemampuan Belajar Anak Berkebutuhan
Khusus (ABK) Melalui Program Pembelajaran Individual”, Jurnal Program Studi PGRA, ISSSN
(Print): 2540-8801; ISSN (Online): 2528-083X Vol. 3 No. 2 Juli 2017, Hlm.15
173
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA
Dan Anak Kelas Awal SD/MI (Surabaya: Kencana, 2010), hlm. 142.
174
Lihat BAB IV, Paparan Data Model Pembelajaran Anak Slow Learner, hlm. 93
145
pembelajaran yang sesuai jika diterapkan bagi anak slow learner. Sejalan
dengan pendapat Nani Triani dan Amir yakni model pembelajaran
kooperatif adalah model pembelajaran yang sesuai bagi siswa lamban
belajar, karena anak lamban belajar lebih menyukai pembelajaran secara
kooperatif, mereka tidak menyukai pembelajaran yang kompetitif.175
Suyanto dan Asep Jihad juga berpendapat bahwa pembelajaran secara
kooperatif membantu siswa lamban belajar dalam memperbaiki masalah
belajar dan tingkah lakunya. Manfaat yang didapat melalui pembelajaran
secara kooperatif bagi siswa lamban belajar yakni meningkatkan hubungan
sosial siswa lamban belajar dengan teman-teman kelasnya, memerbaiki
hasil belajarnya, dan juga memperbaiki keterampilan mengatur waktu.176
Begitu pula dengan pendapat Steven R. Shaw dengan pembelajaran
kooperatif, anak lamban belajar dapat mengikuti banyak metode
pembelajaran, antara lain yakni metode kerja kelompok dan tutor sebaya.177
Selain model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kontekstual
juga sangat dibutuhkan dalam pembelajaran bagi anak slow learner hal
tersebut dikarenakan mereka masih berada dalam tahap berpikir konkret
sehingga kesulitan dalam mempelajari sesuai yang tidak dapat dilihatnya
secara langsung. Sejalan dengan pendapat Lay Kekeh Marthan Marentek,
175
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 29
176
Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional (Strategi Meningkatkan Kualifikasi
dan Kualitas Guru di Era Global) (Jakarta: Esensi, 2013), hlm. 144.
177
Malik, Najman Iqbal, Ghazala Rehman, dan Rubina Hanif, Effect of Academic
Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners, Pakistan Journal of Psychological
Research 2012, Vol. 27, No. [Link]. 141
146
dkk yang menyatakan bahwa pemberian contoh akan mempermudah
pembelajaran bagi anak lamban belajar karena mereka mengalami kesulitan
dalam berpikir abstrak, sehingga sebaiknya guru selalu mengaitkan
pembelajaran yang dilakukan di kelas dengan kehidupan sehari-hari anak.178
Model pembelajaran klasikal juga tidak bisa terlepas dari kegiatan
pembelajaran, dikarenakan dengan pembelajaran klasikal pula guru
berperan lebih banyak dalam menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya
kepada para siswa, dengan model pembelajaran klasikal pula dapat
membantu anak slow learner dalam bersosialisai dengan anak-anak lain
menjadi lebih besar. Sesuai dengan pendapat Friend, M. P., & Bursuck, W. D
yakni tujuan dari pembelajaran klasikal yakni agar siswa berkebutuhan
khusus dapat berinteraksi seperti siswa-siswa pada umumnya dan juga
mencontoh bagaimana sikap siswa-siswa pada umumnya. Akan tetapi pada
pelaksaaan pembelajarannya guru tidak diperkenankan untuk membeda-
bedakan antara keduanya.179
Model pembelajaran bagi anak slow learner selanjutnya yang dilakukan
di SD Muhammadiyah 2 Tulangan yakni model pembelajarn kelas kecil
(pull out). Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut anak slow
learner dapat mengejar ketertinggalannya dengan siswa lain. Karena
mereka akan mendapatkan bimbingan intensif untuk keterampilan maupun
178
Lay Kekeh Marthan Marentek, dkk, Manajemen Pendidikan Inklusif, (Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
2007), hlm. 182.
179
Friend, M. P., & Bursuck, W. D, Including Students With Special Needs: A Practical
Guide For Classroom Teachers (Boston: Pearson/Allyn and Bacon, 2006), hlm. 39
147
kemampuan kognitif yang belum mereka kuasai.180 Model pembelajaran
kelas kecil sendiri merupakan model kegiatan belajar mengajar secara
mandiri atau melakukan penarikan siswa ke ruangan khusus yang telah di
sediakan oleh sekolah atau tempat yang dirasa enjoy oleh siswa untuk
belajar.181
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siyam Mardini di SDN
Giwangan Yogyakarta yang menyatakan bahwa model pembelajaran kelas
kecil (Pull Out) dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa
berkebutuhan khusus yakni mengalami peningkatan sebesar 14%, dan untuk
kemampuan psikomotornya mengalami peningkatan sebesar 17%.
Pembelajaran kelas kecil (Pull Out) juga sangat membantu siswa karena
proses pembelajaarn yang dilakukan disesuaikan berdasarkan kemampuan
dan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.182
Model selanjutnya yakni model pembelajaran bermain peran dengan
menggunakan model ini anak slow learner dapat memperoleh pengalaman
belajar meliputi kemampuan kerjasama dan kemampuan komunikasi.183
Meskipun ketika menggunakan model ini anak slow learner biasanya
mendapatkan bagian seadanya akan tetapi model pembelajaran ini sangat
180
Lihat BAB IV, Paparan Data Model Pembelajaran Anak Slow Learner, hlm. 96
181
Nur Amalia, Winda Hastusi, Dwi Yuniasih, Efi Rusdiyanti, Manajemen Model
Pembelajaran Inklusi Bagi Siswa Slow Leaerner Di SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari
Surakarta”, Jurnal SNP 2018 “Mengembangkan Kompetensi Pendidik Dalam Menghadapi Era
Disrupsi”, Desember 2018, ISBN 978-602-70471-3-6, Hlm.219
182
Siyam Mardini, “Meningkatkan Minat Belajar Anak Berkebutuhan Khusus Di Kelas
Reguler Melalui Model Pull Out Di SDN Giwangan Yogyakarta”, Jurnal Pendidikan Sekolah
Dasar Vol. 2, No 1 Desember 2016, Hlm. 34
183
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 25
148
membantunya dalam melatih kemampuan komunikasi, juga menjalin
hubungan kerjasama yang baik dengan teman-teman kelasnya.
Temuan selanjutnya terkait strategi pengajaran bagi anak slow learner
yang dilakukan di SD Muhammasiyah 2 Tulangan. Strategi pengajaran
sendiri dapat membantu anak slow learner pada saat pembelajaran, antara
lain memulai pembelajaran dengan mereview materi yang telah lalu,
menggunakan bahasa yang mudah dipahami, memberikan tugas evaluasi
yang lebih mudah dibanding teman-temannya, selalu melakukan
pengulangan materi, serta senantiasa mengajak orang tua berkolaborasi
dalam membantu anak slow learner.184 Pembelajaran bagi KA dan juga MA
yang dilakukan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan sesuai dengan teori yang
dikemukakan tersebut, biasanya pembelajaran akan dimulai dengan
mereview, melakukan ice breaking, menciptakan evaluasi pembelajaran
tersendiri bagi anak slow learner, mengulang-ulamg materi pembelajaran,
dan juga selalu melakukan koordinasi dan kerjasama dengan wali murid
yang bersangkutan.185
Evaluasi pembelajaran bagi anak slow learner di SD Muhammadiyah 2
Tulangan juga dibedakan, mengingat kemampuan kognitifnya berada
dibawah anak normal lainnya, sehingga tingkat kesulitan pada bahan
evaluasi dan juga langkah-langkah dalam mengevaluasi juga berbeda.
Menurut teori Bill Hopkins dalam menentukan evaluasi bagi anak slow
184
Nani Triani, Dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow
Learner). (Jakarta: Luxima, 2016), hlm. 28
185
Lihat BAB IV, Paparan Data strategi pengajaran bagi anak slow learner, hlm. 98
149
learner salah satu hal yang harus diperhatikan yakni waktu tambahan yang
harus diberikan kepada mereka ketika menyelesiakan evaluasi
pembelajaran.186 selain memberikan waktu tambahan tingkat kesukaran
bahan evaluasi yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan siswa,
sehingga dibuatlah indikator-indikator tententu untuk mengukur tingkat
kemampuan anak slow learner tesebut.187
Berdasarkan tori-teori diatas terkait model pembelajaran bagi anak slow
learner sangat penting bagi lembaga penyelenggara pendidikan formal
khususnya lembaga pendidikan inklusi untuk memperhatikan hal-hal yang
harus disediakan dan dilakukan dalam menyelenggarakan pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus tanpa terkecuali. Anak-anak berkebutuhan
khusus juga memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang
bermutu, hal tersebut telah tertuang dalam Undang-undang No. 20 tahun
2003 tentang pendidikan nasional pasal 5 ayat 1 menyatakan bahwa “ setiap
warga negara memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang
bermutu”.188 Berdasarkan undang-undang tersebut secara jelas tertera hak
bagi anak berkebutuhan khusus dalam mendapatkan pendidikan bermutu
yang dapat menunjang ketunaanya.
186
Bill Hopkins, The Child Who is a Slow Learner, Teachers Resource Manual (Cortland:
State University of New York, 2008), hlm. 5
187
Lihat BAB IV, Paparan Data Evaluasi Pembelajaran anak slow learner, hlm. 100
188
Undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 5 ayat 1
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dikalukan peneliti di SD Muhammadiyah 2
Tulangan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Kondisi kesulitan belajar pada anak slow learner yakni, pertama anak slow
learner memiliki kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan anak-anak
lainnya yang memiliki usia sama. Kedua anak slow learner memiliki durasi
fokus/konsentrasi yang relatif singkat, mereka hanya mampu berkonsentrasi
pada menit-menit pertama sehingga bisa dikatakan konsentrasi mereka mudah
teralihkan. Ketiga anak slow learner mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi, baik dalam komunikasi dua arah maupun untuk
mengekspresikan emosi yang sedang dirasakannya. Keempat anak slow
learner mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri, mereka belum mampu
secara mandiri melakukan hal-hal yang harus dikerjakan sehingga setiap tugas-
tugas pembelajaran harus terlebih dahulu mendapatkan perintah dari guru.
Kelima anak slow learner memiliki emosi yang kurang stabil seperti mudah
marah dan juga sensitif. Keenam anak slow learner mengalami kesulitan dalam
mengingat kembali materi-materi yang telah dipelajarinya. Ketujuh anak slow
learner mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. materi
yang diajarkan harus diulang-ulang sampai ahirnya mereka dapat
memahaminya. Kedelapan anak slow learner mengalami kesulitan dalam
bersosialisasi. Mereka cenderung pasif dalam pertemanan, sehingga tidak
150
151
mampu mengawali percakapan dengan orang lain dan cenderung pendiam.
Kesembilan anak slow learner mengalami kesulitan dalam membuat suatu
pedoman kerja, kemampuan berbahasa yang mereka miliki masih renah
sehingga kemampuan dalam menyusun sebuah kalimat masih terbatas.
Kesepuluh anak slow learner mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan,
menganalisis, dan juga berpikir kritis. Kemampuan yang mereka miliki masih
belum mampu untuk mencapai keterampilan-keterampilan tersebut, untuk
mendeskripsikan hanya dengan bahasa sederhana akan tetapi kemampuan
menganalisis dan berpikir kritis masih belum mampu.
2. Model pembelajaran bagi anak slow learner yang diterapkan di SD
Muhammadiyah 2 Tulangan yakni meliputi: pertama, pengelolaan lingkungan
kelas yakni terkait formasi tempat duduk yang berfariatif sesuai kebutuhan
pembelajaran agar menghindari kebosanan, dan juga posisi tempat duduk
strategis bagi anak slow learner agar mereka tidak terlepas dari pengawasan
guru. Kedua, perangkat pembelajaran yang diindividualisasikan yang disebut
dengan worksheet khusus bagi anak slow learner dimana isinya telah
disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu.
Ketiga, model pembelajaran yang digunakan saat pembelajaran berlangsung
sangat beragam yakni model kooperatif, model kontekstual, model klasikal,
model kelas kecil (pull out), model bermain peran, dan juga model individual.
Keempat, strategi pengajaran yang diterapkan untuk anak slow learner
mendukung dalam keberhasilan pembelajaran yakni dengan selalu melakukan
review-reviw materi yang terlah dipelajari, guru menggunakan bahasa yang
152
mudah dipahami dalam penyampaian materi, tugas-tugas yang diberikan bagi
anak slow learner memiliki kompetensi dibawah anak-anak lainnya,
pengulangan dalam penyampaian materi pembelajaran, dan juga selalu
berkolaborasi dengan wali murid dalam mendiskusikan permasalahan-
permasalahan anak slow learner. Kelima, evaluasi pembelajaran bagi anak
slow learner memiliki modifikasi-mosifikasi tertentu, yakni dengan
menyususn instrumen evaluasi khusus yang telah disesuaikan dengan
kemampuan masing-masing anak, modifikasi jumlah soal, dan juga modifikasi
waktu penyelesaian yakni dnegan diperpanjang.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa saran yang telah
peneliti identifikasikan kepada berbagai pihak, yaitu:
1. Kepada Kepala Sekolah
Melakukan peningkatan fasilitas sekolah khususnya fasilitas bagi anak-anak
berkebutuhan khusus untuk menunjang proses pembelajaran dan juga
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan bagi mereka.
2. Guru Kelas dan Guru Mata Pelajaran
Memantau perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus dengan lebih
intens, agar perkembangan belajar mereka tidak tertinggal jauh dari anak-anak
lainnya. dan juga memberikan perlakuan-perlakuan yang diperlukan untuk
membimbing anak dengan kebutuhan khusus.
153
3. Guru Pendamping Khusus
Selalu melaukan inovasi dan juga meningkatkan kompetensinya dalam
mendampingi anak berkebutuhan khusus.
4. Peneliti Selanjutnya
Melanjutkan penelitin pada tahapan yang lebih spesifik, dengan fokus
penelitian yang berbeda terkait dnegan penanganan bagi anak slow learner.
DAFTAR PUSTAKA
A.A, Wahab. 2008. Metode dan Model-model Mengajar Ilmu Pengetahuan
Sosial. Bandung: Alfabeta
Adam, Sulthan. 2018. Rukyah Syar’iyyah: Terapi Mandiri Penyakit Hati Dan
Gangguan Jin. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Agustin, Mubiar. 2011. Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran
Panduan untuk Guru , Konselor, Psikolog, Orang Tua, dan Tenaga
Kependidikan. Bandung: PT Refika Aditama.
Al-Kaheel, Abdel Daim. 2012. Lantunan Qur’an Untuk Penyembuhan.
Yogyakarta: Pustaka Pesantren
Amalia, Nur, Winda Hastuti, Dwi Yuniasih, dan Efi Rusdiyani. 2018.
Manajemen Model Pembelajaran Inklusi Bagi Siswa Slow Learner Di Sd
Muhammadiyah Alam Surya Mentari Surakarta, jurnal "Mengembangkan
Kompetensi Pendidik dalam Menghadapi Era Disrupsi" Kerjasama PGSD
- POR UMS ISBN 978-602-70471-3-6, 2018
A’yun, Elvyna Kholidah Qurotul. 2018. skripsi: Model Pembelajaran
Tahfidzul Quran Pada Siswa Gangguan Kemampuan Komunikasi Dan
Lambat Belajar Kelas III Madrasah Ibtidiyah Terpadu Ar-Roihan Lawang
Malang. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
As-Sad-han, Abdullah Bin Muhammad. 2005. Mujarobat Menurut al-Qur’an
dan as- Sunnah yang Shahih. Jakarta: Pustaka Ibnu ‘Umar
Assjari, Musyafak. 2005. “Program Pembelajaran Individual”, Departemen
Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar
Dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.
Bandur, Agustinus. 2014. Penelitian Kualitatif Metodologi, Desain, & Teknik
Analisis Data Dengan NVIVO 10. Jakarta: mitra wacana media.
Delphie, Bandi. 20016. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam
Setting Pendidikan Inklusi. Bandung: PT Refika Aditama.
Efendi, Mohammad. 2009. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
154
155
Farisia, Hernik Farisia. 2017. Strategi Optimalisasi Kemampuan Belajar Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK) Melalui Program Pembelajaran Individual.
Jurnal Program Studi PGRA, ISSSN (Print): 2540-8801; ISSN (Online):
2528-083X Vol. 3 No. 2
Fathurrohman, Puput, Dan Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar.
Bandung: Refika Aditama.
Fatimah, Syahrina. 2013. Development Of Multimedia Courseware For Slow
Learner Children With Reading Difficultties. Springer International
Publishing Switxerland
Friend, M. P., & Bursuck, W. D. 2006. Including Students With Special Needs:
A Practical Guide For Classroom Teachers. Boston: Pearson/Allyn and
Bacon
Hasti, grace nindhita pranamnya. 2017. Pengaruh Poisi Tempat Duduk Terhadap
Motivasi Dan Hail Belajar Siswa Kelas VII SMP Santo Aloysius, jurnal
Universitas As-Sanata Dharma, Yogyakarta.
Hopkins, Bill. 2008. The Child Who is a Slow Learner, Teachers Resource
Manual. Cortland: State University of New York.
Ilahi, Mohammad Takdir. 2009. Pendidikan Inklusif Konsep & Aplikasi.
Jogyakarta:Ar-Ruzz Media.
Jamaris, Martin. 2014. Kesulitan Belajar: Prespektif, Asesmen, Dan
Penanggulangannya Bagi Anak Usia Dini Dan Anak Usia Sekolah.
Semarang: Ghalia Indonesia
Jamila K. A, Muhammad. 2008. Special Education for Special Children
Penduan Pendidikan Khusus Anak-Anak Dengan Ketunaan dan Learning
Disabilitie. Jakarta Selatan: Hikmah [Link] Publika.
Julkifli, Muhammad. 2019. Strategi Guru Mengelola Kelas Dalam Mengatasi
Kesulitan Belajar Pada Anak Lamban Belajar. Malang: UIN Maulana
Malik Ibrahim.
Kekeh, lay, dan marthan marentek, dkk. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Direktorat Ketenagaan.
Kurniati, Ana. Juli 2013. Aplikasi Pendekatan Pembelajaran Individual Mata
Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Difabel (Tunanetra)
di MAN Maguwoharjo, Jurnal Citizenship, Vol. 3 No. 1.
Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
156
Malik, Najman Iqbal, Ghazala Rehman, dan Rubina Hanif. 2012. Effect of
Academic Interventions on the Developmental Skills of Slow Learners,
Pakistan Journal of Psychological Research 2012, Vol. 27, No. 1
Mardini, Siyam. 2016. Meningkatkan Minat Belajar Anak Berkebutuhan
Khusus Di Kelas Reguler Melalui Model Pull Out Di SDN Giwangan
Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Vol. 2, No 1
Marentek, Lay Kekeh Marthan, dkk. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Direktorat Ketenagaan. 2007
Michael, Farrel. 2008. Inclusion At The Crossroad, Special Education Concept
And Values. USA: David Fulton Publisher.
Michael, Reiff, Feldman, Heidi. 2014. Diagnostik And Statistical Manual Of
Mental Disorders: The Solution Or The Problem?. Journal of
Developmental And Behavior Pediatrics, Vol 4, Issue 1, p 68-70,
doi:10.1097/DBP0000000000000017
Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif edisi Revisi.
Bandung:Remaja Rosdakarya.
Muhammad, Hamid. 2014. Kurikulum 2013 Pedoman Pelaksanaan
Kurikulum bagi Peserta didik Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi.
Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Mulyadi. 2010. Diagnosis Kesulitan Belajar Dan Bimbingan Terhadap
Kesulitan Belajar Khusus. Yogyakarta: Nuha Litera.
Nugroho, Agung, dan Lia Mareza. Oktober 2016. Model Dan Strategi
Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan
Inklusi, Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa Volume 2, Nomor 2.
Rahim, Abdul. 2016. Pendidikan Inklusi Sebagai Strategi Untuk Mewujudkan
Pendidikan Untuk Semua, Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, (Vol. 3 No. 1
2016).
Rusman. 2017. Belajar Dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Rusman. 2014. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan
Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Smith, David. 2009. Sekolah Inklusif Konsep dan Penerapan Pembelajaran.
157
Sugiyanto. 2010. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma
Presindo.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung:Alfabeta.
Sulistyadi, Hery Kurnia. 2014. Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan
Layanan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Sidoarjo. jurnal Kebijakan dan
Manajemen Publik ISSN 2303 - 341X Volume 2, Nomor 1.
Suyanto dan Asep Jihad. 2013. Menjadi Guru Profesional (Strategi
Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Global. Jakarta:
Esensi
Tarmansyah. 2007. Inklusi Pendidikan untuk Semua. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.
Triani, Nani, dan Amir. 2016. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban
Belajar (Slow Learner). Jakarta: Luxima
Trianto. 2010. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia
Dini TK/RA Dan Anak Kelas Awal SD/MI. Surabaya: Kencana.
Ulfatin, Nurul. 2017. Metode Penelitian Kualitatif Dibidang Pendidikan Teori
Dan Aplikasinya. Malang: Media Nusa Creat
Lampiran-Lampiran
158
159
Lampiran 1
PROFIL SEKOLAH
A. IDENTITAS SEKOLAH
1. Nama Sekolah : SD Muhammadiyah 2
Tulangan
2. Nama Kepala Sekolah : Nofan Arifianto, [Link].I
3. NPSN : 20551659
4. NSS : 101050206036
5. Status Sekolah : Swasta
6. Status Akreditasi : Akreditasi A
7. SK Akreditasi : 250/BAP-SM/SK/X/2014
8. Tanggal SK Akreditasi : 28-10-2014
9. Nilai Akreditasi Sekolah : 92
10. Alamat / Desa : Jl. Kemantren Tulangan
11. RT/RW : 1/2
12. Kode Pos : 61273
13. Kelurahan : Kemantren
14. Kecamatan : Tulangan
15. Propinsi : Jawa Timur
16. Telephone : (031) 8855539 / (031)
88580259
17. Email : sdmuda_kreatif@[Link]
B. VISI DAN MISI
1. Visi
Religius, Berakhlaqul karimah, Berprestasi
2. Misi
Melaksanakan kegiatan pembelajaran yang
menyenangkan, kreatif dan inovatif
Membimbing siswa berakhlaqul karimah dan taat
beribadah
Mendidik siswa mandiri, kreatif, inovatif, dan
berprestasi
160
C. DATA PELENGKAP
1. SK Pendirian Sekolah :
642/2014/404.3.14.2007
2. Tanggal SK Pendirian : 02-10-2007
3. Status Kepemilikan : Yayasan
4. No Akta Yayasan : C2-HT.01.03.A.165
5. Tanggal Akta Yayasan : 29-01-2001
6. Tahun didirikan / beroprasi : 2006
7. SK Izin Perpanjangan :
188/776/438.5.1/2018
8. Tanggal Izin Perpanjangan : 25-09-2018
9. Status Tanah : Milik Sendiri
10. Luas Tanah : 4866 m2
11. Luas Bangunan : 1400 m2
12. NPWP : 008410953603000
D. DATA PERIODIK
1. Waktu Penyelenggaraan : Pagi
2. Sumber Listrik : PLN
3. Daya Listrik (watt) : 3500
E. Akses Internet : Telkom Speedy
F. SANITASI
1. Kecukupan Air : Cukup
2. Air Minum Untuk Siswa : Disediakan Sekolah
3. Sumber Sanitasi : Sumur Terlindungi
4. Ketersediaan Air disekolah : Ada Sumber Air
5. Tipe Jamban : Toilet Duduk/Jongkok
6. Jumlah Tempat Cuci Tangan : 9
7. Jumlah Jamban Laki-Laki : 8
8. Jumlah Jamban Perempuan : 8
G. JUMLAH GURU DAN KARYAWAN
JUMLAH GURU KARYAWAN TOTAL
GURU DAN
KARYAWAN L+
L P L P L+P L P L+P
P
2016/2017 13 22 25 5 3 8 18 25 43
2017/2018 13 24 37 5 4 9 18 28 46
161
2018/2019 11 28 39 6 4 10 17 32 49
2019/2020 11 28 39 7 5 12 18 33 51
2020/2021 11 28 39 7 4 11 18 33 51
H. DATA GURU DAN KARYAWAN
a. Data guru berdasarkan jenis kelamin
J
NO NAMA NBM JABATAN
K
L 110240 Kepala
Nofan Arifianto, [Link].I.
1 3 Sekolah
2 Widyaningrum, SE. P Guru Kelas
3 Suchaimatul Lutfia, [Link]. P Guru Kelas
4 Hazar Istikomawati, [Link]. P Guru Kelas
5 Zunik Nur’aini, [Link].I. P Guru Kelas
6 Anis Puspitaningtyas, STP. P Guru Kelas
7 Fahruddin, [Link].I. L Guru Ismuba
P 128070 Guru Kelas
Siti Sumiati, [Link].
8 3
9 U’un Mas’ulah, [Link].I. P Guru Kelas
10 Erni Mindarningsih, [Link]. P Guru Kelas
11 Wahdaniftakhillaili Abidin, [Link]. P Guru Kelas
L 128086 Guru Kelas
Fauzi Zulmi Antofani, [Link].
12 7
13 Rahmad Hidayah, [Link].I. L Guru Ismuba
P 128086 Guru Kelas
Yulia Tri Lestari, [Link].
14 9
L 128085 Guru Kelas
Ahmad Al Mahdi, [Link].
15 0
P 128070 Guru Kelas
Widya Nurcahyanti, [Link].
16 4
17 Asri Dyah Soekwandari, SE. P Guru Kelas
Angga Baskoro Yuda, [Link]. L 128086 Guru Kelas
18 4
162
Nailul Izzah, [Link]. P 128070 Guru Kelas
19 0
M. Arifulloh, [Link]. L 128086 Guru PJOK
20 5
21 Punto Cahyo Al Adin, [Link].I. L Guru Kelas
P 128084 Guru Kelas
Dewi Surya Atmaja, [Link].
22 9
P 128084 Guru Kelas
Endah Kurniyasari, [Link].
23 8
P 128086 Guru Kelas
Elys Fitriyanah, [Link].
24 3
L 128071 Guru PJOK
Mukhtar Ahsanul Rizqy, [Link].
25 1
P 128070 Guru Kelas
Arvi Andriani, [Link].
26 9
L 128085 Guru Kelas
Rizky Ardiansyah, [Link].
27 1
28 Lia Ekayani, [Link].I. P Guru Kelas
Isnaini Maulida Rahmawati, P Guru Kelas
29 [Link].
30 Silvi Setiawati, [Link]. P Guru Kelas
31 Laili Avivah, [Link] P Guru Kelas
32 Nadhifatul Amalia, [Link] P Guru Kelas
33 Dwi Romadhini, [Link] P Guru Kelas
34 Dwi Arfiyanti, [Link] P Guru Binggris
35 M. Nur Aziz,[Link] L Guru Ismuba
36 Nuris Lailatul Jannah, [Link] P Guru Kelas
37 Eni Suprapti, [Link].I P Guru Kelas
Lusiana Acnesyah Putri P Guru Kelas
38 Aminuddin, [Link]
39 Nur Intan Rizqi, [Link] P Guru Kelas
163
b. Data karyawan menurut jenis kelamin
NO NAMA JK NBM JABATAN
1 Ratna Nurdianita P Bendahara
2 Sholikin L 1280702 Kebersihan
3 Sumarjoko L Keamanan
4 Dwi Sayuti Baidowi L Tata Usaha
5 Sunaryo L Kebersihan
6 Nur Aisyah, [Link] P 1280866 Tata Usaha
7 Bambang L Kebersihan
Dia Wadakusuma P Perpustakaan
8 Viccenolita
Ribut Tri Elok Rosalina, P Tata Usaha
9 SE
10 Zainal Mustafa L Keamanan
11 Dzakiyyah P Perpustakaan
12 Muhammad Yusron L Kebersihan
I. DATA SISWA
a. Perkembangan 4 Tahun terakhir
KELAS
/ I II III IV V VI TOTAL
TAHU
N L L L L L L
L+
PELAJ L P + L P + L P L P + L P + L P + L P +
P
ARAN P P P P P P
6 4 1 6 4 1 5 3 91 5 4 9 5 2 8 3 2 6 3 2 5
2016/ 2 6 0 2 6 0 7 4 2 0 2 5 9 4 4 6 0 2 2 4
2017 8 8 2 1 3
6 4 1 6 4 1 6 4 11 5 3 8 5 3 9 5 2 8 3 2 5
2017/ 4 4 0 1 9 1 4 6 0 4 4 8 2 8 0 6 8 4 5 3 9
2018 8 0 1 9 0
5 6 1 6 4 1 6 4 10 6 4 1 5 3 8 5 3 9 3 2 6
2018/ 6 0 1 2 6 0 2 7 9 2 6 0 4 3 7 2 8 0 4 7 1
2019 6 8 8 8 0 8
164
2 4 7 5 6 1 6 4 11 5 5 1 6 4 1 5 3 8 3 2 6
2019/ 9 2 1 6 0 1 5 6 1 6 4 1 0 9 0 4 2 6 2 8 0
2020 6 0 9 0 3 3
4 3 8 3 4 7 5 5 11 6 4 1 6 4 1 6 4 1 3 2 6
2020/ 6 8 4 0 3 3 6 9 5 4 7 1 0 8 0 5 4 0 2 7 0
2021 1 8 9 1 9 0
J. JUMLAH ROMBEL KELAS
KELAS JUMLAH
KELAS 1 3
KELAS 2 3
KELAS 3 4
KELAS 4 4
KELAS 5 4
KELAS 6 4
TOTAL 22
K. DATA JENJANG PENDIDIKAN GURU
PENDIDIKAN
N KEAHLIAN KET
O SLT D1 D2 S1 S2
A
1. Matematika -
2. PPKN -
3. PAI 5
4. Bahasa Arab 1
5. Guru Kelas 30
6. Penjaskes 2
7. Komputer (TIK) 1
8. Bahasa Inggris 2
165
L. Rekapitulasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
No Status Pendidik dan Tenaga Kependidikan Jumlah
A. Pendidik
1. Guru PNS diperbantukan tetap
2. Guru tetap yayasan 24
3. Guru honorer
4. Guru tidak tetap 15
B. Tenaga Kependidikan
1 KTU 1
.
2 Staff TU 2
.
C. Tenaga lainnya
1. Penjaga Sekolah/ Kebersihan 4
2. Satpam 2
Jumlah 58
Personal
166
M. Data Sarana dan Prasarana
Kategori Kondisi Ruangan
Jumla
N Jenis Sarana Prasarana
h Rusak Rusak Rusak
o Baik
Ruan Ringa Sedan Berat
g n g
1 Ruang Kelas 22 10 2 10
2 Perpustakaan 2 1
3 R. Lab. PAI
4 R. Lab. Biologi
5 R. Lab. Fisika
6 R. Lab. Kimia
7 R. Lab. Komputer 1 1
8 R. Lab. Bahasa
9 R. Kepala/Waka Madrasah 1 1
1 R. Guru 1 1
0
1 R. Tata Usaha 1 1
1
1 R. Bimbingan Konseling 1 1
2
1 R. Tempat Ibadah 1 1
3
167
1 R. UKS 1 1
4
1 Jamban Siswa dan Guru 22 22
5
1 Gudang 1 1
6
1 Tempat Olahraga 1 1
7
1 R. OSIS
8
1 R. Kegiatan Siswa
9
2 R. Lainnya
0
168
Lampiran 2
DAFTAR NAMA SISWA INKLUSI
SD MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN SIDOARJO KELAS 1 - 6
DENGAN HAMBATAN : B , C, D, DAN AUTISME
TAHUN PELAJARAN 2019 – 2020
Level
No Nama siswa Kelas Hambatan
hambatan
1. Emir Rafi Kamil P. 1 – Dolphin Autisme Ringan
2. Gifta Yesa S. 1 – Dolphin Pendengaran Berat
M. Rafa Ramadhanian 1 – Bee Lambat bicara
3. R. Ringan
Abid Amalis S. 1 – Bee RM (Retardasi
4. Mental) Ringan
5. Kautsar Ibrahim Fasya 1 – Bee Disleksia Ringan
Kanaya Almahyra 1 – Rabbit Pendengaran
6. Rochmawan Berat
7. Arfan Manesh 2 – Anggrek Autisme Ringan
8. Fadhil Ikhlas Santoso 2 – Anggrek Autisme Ringan
Hilmi Akbar 2 – Anggrek Disleksia
9. Ringan
Prisya Jaswi 2 – Anggrek RM (Retardasi
10. Mental) Ringan
Kaffi El Azzam 2 – Melati Disleksia
11. Dinata Ringan
12. Helga Putri Trifada 2 – Melati Disleksia Ringan
169
13. Nizam Ahmad Dinata 2 – Tulip Autisme Ringan
Anaya Makkayla 2 – Tulip RM
14. Attya Ringan
Hafizh Fabiansyah 2 – Mawar RM (Retardasi
15. Mental) Ringan
16. Evan 3 – Pesawat AKB/Average Berat
Syarifani Aisyah 3 – Pesawat AKB / Boderline
17. Rosidah Ringan
Thalita Dhyanti Rhea 3 – Kereta api Pendengaran
18. Berat
S.
Nova Prasetya Dwi 3 – Kereta api AKB / low average
19. Ringan
Nanda
M. Fathky 3 – Kereta api AKB / low average
20. Ringan
Firmansyah
21. Fandi Satriya Akbar 3 – Kapal ADHD Ringan
Dimas Rafi 3 – Kapal KBS (Disleksia)
22. Ringan
Firzatullah
Farhan Nurrahman 3 – Mobil Pendengaran
23. Berat
A.
24. Wildan Hanif 3 – Mobil AKB / Boderline Ringan
25. Febian Nolan 4 – Abu Bakar AKB / Low average Ringan
26. Khanza Nathania R. 4 – Abu Bakar AKB / Boderline Ringan
Mahardika Retno 4 – Umar Autisme
27. Ringan
Anjasmoro
28. Aldi Fairuz Hidayat 4 – Umar AKB / Low average Ringan
Arzavin Ghaisan 4 – Utsman AKB / Boderline
29. Ringan
Nabil
170
Raditya Buana 4 – Ali Boderline
30. Ringan
Sheehan
Nur Aisyah Zharifah 4 – Ali KBS (Disleksia)
31. Ringan
Az Zahro’
32. M. Adam An Hafish 5 – Sasadu Boderline Ringan
Asheera Damita 5 – Honai Ringan
33. Autisme
Mustario
Kamila Alifa Zahra 5 – Honai Ringan
34. Boderline
Alma Abdillah 5 – Gadang RM (Retardasi
35. Ringan
Mental)
Rafi Athoillah 5 – Gadang
36. AKB/low average Ringan
Mutiara Rezkya 5 – Joglo RM (Retardasi
37. Ringan
Mental)
Moch. Luisnando 5 – Joglo RM (Retardasi Ringan
38.
Mental)
Satrio Agung Rizqi 6 – Din Syamsudin
Ringan
39. Nur F. ADHD
171
Lampiran 3
Daftar Pertanyaan
Untuk Guru Kelas, Guru Pendamping Khusus, Dan Guru Matapelajaran
terkait kondisi kesulitan belajar pada siswa slow learner
1. Apakah siswa slow learner memiliki kecerdasan yang lebih rendah
dibandingkan dengan teman-teman kelasnya yang memiliki usia sama?
2. Apakah siswa slow learner mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, baik
dalam bahasa ekspresif maupun dalam menyampaikan ide?
3. Apakah siswa slow learner memiliki emosi yang kurang stabil, seperti cepat
marah, meledak-ledak, dan juga sensitif
4. Apakah konsentrasi siswa slow learner saat pembelajaran berlangsung mudah
teralihkan, sehingga mereka cenderung memiliki durasi konsentrasi yang
cukup terbatas?
5. Apakah siswa slow learner mengalami kesulitan dalam mengarahkan diri?
6. Apakah siswa slow learner mengalami kesulitan dalam mengingat kembali hal-
hal yang telah dipelajari?
7. Apakah siswa slow learner membutuhkan waktu yang panjang dalam
menangkap suatu pembelajaran, akan tetapi cepat lupa akan hal-hal yang telah
dipahaminya?
8. Apakah siswa slow learner cenderung pendiam dan susah untuk bersosialisasi
dengan siswa lain?
172
9. Apakah siswa slow learner kesulitan dalam membuat suatu pedoman kerja,
sepeeti hal-hal yang harus dilakukan?
10. Apakan siswa slow learner kesulitan dalam mendeskripsikan, menganalisis,
memecahkan sebuah permasalahan, dan kesulitan dalam berpikir kritis?
173
Untuk Guru Kelas, Guru Pendamping Khusus, Dan Guru Matapelajaran
terkait model pembelajaran bagi siswa sloew learner yang digunakan saat
pembelajaran
1. Bagaimana pengelolaan lingkungan kelas untuk kelas dengan siswa slow
learner di dalamnya?
2. Perangkat pembelajaran seperti apa yang digunakan dalam melaksanakan
pembelajaran bagi siswa lamban belajar ( terkait RPP, Bahan Ajar, Media
Pembelajaran, dll)?
3. Bagaimana cara memulai atau membuka pembelajaran untuk meningkatkan
semangat dan motivasi belajar siswa slow learner?
4. Apasaja model pembelajaran yang digunakan dalam melakukan kegiatan
pembelajaran?
5. Model pembalajaran apa saja yang efektif digunakan untuk siswa slow
learner?
6. Alat bantu pembelajaran apa yang digunakan saat melakukan kegiatan
pembelajaran?
7. Apa strategi pembelajaran yang digunakan dalam melaksanakan
pembelajaran?
8. Bagaimana evaluasi pembelajaran yang diterapkan untuk siswa slow learner
(seperti tingkat kesulitan, jumlah soal, dll)?
174
Lampiran 4
Transkip Wawancara
Metode Pengumpulan Data : wawancara
Instrumen : Guru Pendamping Khusus KA
Terkait Kondisi Lamban Belajar Pada Siswa Slow Learner KA
1. Kecerdasan anak slow learner lebih rendah dibandingkan dengan teman-
teman sekelasnya yang memiliki uisa sama, dikarenakan dari segi IQ saja
sudah berbeda, meskipun sama usianya dengan teman-teman kelasnya tetapi
usia mentalnya masih jauh dibawahnya. Dalam artian kan adek K sekarang
usianya 11 tahun tetapi mentalnya itu masih kayak usi 8-9 tahun
2. Kemampuan komunikasi adek K untuk komunikasi dua arah masih susah,
bisa diajak komunikasi tetapi harus menggunakan bahasa-bahasa yang
sederhana. Kalau komunikasi untuk mengekspresikan diri dia cenderung
dengan ketawa, misalkan dia dijahilin atau dicubit temannya dia akan bilang
“hehe sakit, atau hehe jangan gitu”, meskipun yang dia rasakan adalah
perasaan kurang nyaman maupun sakit dia mengekspresikannya dengan
ketawa, jadi antara yang dia rasakan dengan bahasa untuk menyampaikan
erkespresinya kurang nyambung.
3. Emosi adek K bisa dikatakan kurang stabil dia cenderung sensitif, kayak
misalnya hari itu dia salah memakai seragam sekolah nanti dia ketmu
bundanya itu sambil nangis dan bakalan inget kejadian itu sampai minggu
175
selanjutnya, bukan hanya inget dia akan ngungkit-ngungkit hal itu sampai
kira-kira minggu selanjutnya. Tapi adek K ini nggak mudah marah,
sensitifnya bukan yang mudak ngamuk meledak-ledak, karena dia tipe-tipe
anak yang ceria.
4. Konsentrasi adek K hanya bertahan selama 5 menit, setelah 5 menit dia
kembali mainan dan sebagainya, jadi misalkan 5 menit pertama trus dia
main lagi, diingatkan lagi main lagi, begitu seterusnya, jadi tiap 5 menit itu
mengingatkan lagi.
5. Kemampuan adek K dalam megarahkan diri seperti membaca dia sudah
bisa, menulis juga sudah bisa tetapi levelnya masih rendah. Kalau membaca
masih banyak huruf-huruf yang sering tertukar, misalnya huruf b dengan d
huruf p, q, dan r.
6. Kemampuan dalam memahami materi itu sedikit susah jadi harus diulang
berkali-kali kalau ngajarinnya baru nanti dia bisa paham, dan kalau sudah
paham dia cepet lupa. Diajarinnya susah tapi kalau sudah bisa cepet lupanya
juga
7. Kemampuan dalam mengingat kembali hal-hal yang sudah dipelajari itu
rendah seklai, dia haya bisa mengingat yang sudah dipelajari itu selama 30
menit, setelah 30 menit dia akan lupa tadi sudah belajar apa, jadi misalkan
pelajaran yang dipelajari hari ini dilanjutkan pada hari berikutnya maka saya
harus mengulang lagi yang saya ajarkan kemarin. Jadi ya diulang-ulang lagi
dari awal, mungkin dia ingetnya cuma satu atau dua dari yang sudah
diajarkan
176
8. Kemampuan adek K dalam membuat pedoman kerja rendah, dia bisa tetapi
dengan menggunakan bahasa yang sederhana itu, kalau yang panjang-
panjang belum bisa.
9. Kemampuan bersosialisasinya lumayan, karena dia anaknya sedikit periang
jadi bukan yang diem banget, kalau sosialisai dengan temannya ya
secukupnya karena kadang kalau dia diajak ngobrol sama temnnya
jawabannya ngga nyambung, kalau dateng ke kelas juga dia pergi ke pojok
kelas ke sudut baca buat baca buku-buku komik bergambar yang untuk
anak-anak tk atau kelas bawah.
10. Kemampuan adek K dalam mendeskripsikan sebuah benda kurang, dia bisa
kalau bendanya ada konkret di depannya atau sekalilingnya, tetapi kalau
bendanya hanya berupa gambar dia kesulitan, dia bilang “ini apasih
ustadzah” meskipun benda itu sering ditemui di kehidupan sehari-harinya.
Kalau kemampuan menganalisis, berfikir kreatif dan sebagainya itu dia
belum bisa.
177
Terkait Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner KA
1. Formasi duduk untuk adek K ketika dikelas bermacam-macam ada yang
berkelompok dll, setiap sebulan sekali formasi duduknya akan diubah-ubah.
Letak duduk adek K ketika dalam kelas pun ditentukan oleh guru kelasnya,
jadi ketika sudah ditentukan selama formasinya belum berubah adek K akan
tetap duduk ditempat itu begitu juga siswa-siswa lain. jadi misal formasinya
grup-grup nanti adek kamila duduk disalah satu grup itu tidak disendirikan.
2. Untuk adek K dan siswa berkebuthan khusus lainnya itu ada yang namanya
worksheet, worksheet itu guru pendampingnya yang bikin. Isinya tentang
materi pembelajaran pada hari itu karena untuk adek K materi yang ada
dibuku mungkin terlalu tinggi levelnya jadi di worksheet itu materi yang
disajikan sama tetapi level kesulitannya berbeda, dan juga media, medianya
itu tentag program terapinya dia, misalkan adek K masih susah membuat
garis lurus, nanti dimedia pembelajarannya kita bikin titik-titik nanti disalin
lagi tanpa titik-titik macem-macem sesuai sama materinya. Untuk evaluasi
pembelajarannya juga guru pendampingnya yang buat jadi materi hari itu
apa saya koordinasi dengan guru kelasnya terus saya buatkan soal-soal
tentang materi tersebut dengan level yang rendah
3. Cara memotivasi adek K agar semangat belajarnya itu dengan kita beri
reward, rewardnya boleh makan, jadi kalau kita kasih materi trus dia lihat
dulu ada berapa lembar, kalau lebih dari satu lembar dia raut mukanya itu
kayak udah cemberut jadi buat menaikkan moodnya dia kita berikan reward
itu.
178
4. Saya saat ngajar kamila itu semoodnya kamila biasanya, kadang dia kan
susah diatur jadi kadang saya ceramah, atau melalui gambar-gambar kalau
moodnya lagi bagus, kadang juga berkelompok sama temannya yang
kebetulan temen-temennya itu juga ikut membantu, jadi dia juga dikasih
tugas tapi tugas yang gampang-gampang, kalau lagi bermain peran misalnya
dia kebagian peran yang gampang-gampang juga.
5. Belajar yang efektif untuk adek K itu biasanya dengan metode menghafal,
karena dia kalau disuruh menghafal itu cepet, meskipun nanti cepet lupa jua,
tapi dia kalau disuruh ngafalin perkalian mislanya dia cepet, kalau diskusi
adek K itu belum bisa, kalau berkelompok dia cenderung diam, paling cuma
nanya temennya ehh tugasku apa gitu.
6. Alat bantu belajarnya macem-macem sesuai dengan materinya biasanya
7. Strategi pembelajarannya kalau saat istirahat saya ajak dia untuk
mengerjakan soal-soal atau mengulang yang sudah dia pelajari, saya juga
selalu berkolaborasi sama orang tuanya, jadi sepulang sekolah gitu saya
ngobrol diskusi dengan orang tuanya tentang pembelajaran hari ini, kadang
kalau dia di sekolah kurang mood saya tanyakan hari ini kenapa moodnya
adek K jelek apa yang terjadi di rumah ma, biar saling tau bagaimana cara
paling tepat untuk menangani adek K dan juga menghindari hal-hal yang
membuat mood dia jelek.
8. Evaluasi pembelajaran untuk adek K juga memiliki tingkat kesulitan yang
lebih rendah dibanding dengan teman kelasnya, jadi dengan materi yang
sama akan tetapi level soalnya itu berbeda.
179
Transkip Wawancara
Metode Pengumpulan Data : Wawancara
Instrumen : Guru Bahasa Inggris KA
Terkait Kondisi Lamban Belajar Pada Siswa Slow Learner pada KA
1. Adek K dari waktu saya ngajar nggeh sudah kelihatan kalau adek K itu
kecerdasannya lebih rendah dibandingkan temen-temennya yang lain, jadi
dia itu kurang nyambung klau misalnya diajak ngomong atau ditanyain itu
jawabanya cenderung nggak nyambung, jadi kalau sedang mengerjakan
worksheet dia itu harus bener-bener dituntun satu-satu. Yah itu tadi
mungkin salah satu indikasi bahwa dia sedikit kurang dibanding temen-
temen yang lain.
2. Kemampuan komunikasinya adek K kalau untuk komukasi ya memang
agak gak nyambung, kkalau diajak ngomong gitu ditanya apa jawabnya apa,
kadang ngga fokus kan anaknya ngga lihat lawan bicaranya, ngelihatnya
kemana-mana makannya dia nggak nyambung kalau diajak bicara. Kalau
untuk mengeksprsikan nggak ada problem sih menurut saya, kalau dia lagi
seneng ya kadang dia cerita, ustdzah kemarin aku habis nonton, sama mama
sama kakak gitu, kalau misalnya dia lagi nggak mood gitu dia diem trus
ditanyain adek K kenapa, dia jawabnya aku sedih. Gitu sih. Jadi saya kira
untuk mengekspresikan emosinya dia nggak ada problem sih.
180
3. Emosi adek K itu cenderung anaknya lebih stabil, kalaupun ada sesuatu
yang nggak cocok itu dia ahh kamu itu bukan begitu, jadi cuma gitu aja ,
yaah masih wajar lah, bukan yang kayak tantrum marah-marah gitu. Dia
juga tidak terlalu sensitif, jadi hampir saya belum pernah melihat dia nangis,
kalau wkatu saya, ndak tau juga kalau bukan waktu saya ngajar.
4. Fokusnya adek K itu kurang, jadi paling cumadua tiga menit, misalnya saat
saya neranginpun itu dia sibuknya ke yang lain, main pensil atau lihat ke
sana sini, memang dia ndak gangguin, ndak jalan-jalan tapi dia nggak bisa
fokus paling fokusnya cuma dua sampai tiga menit. Kalau misalnya dia
sudah ndak fokus jadi biasanya saya panggil atau saya suruh maju ke depan,
atau saya suruh ngulangin, ini tadi bacanya apa
5. Kemampuan mengarahkan dirinya adek K itu setahu saya jadi harus selalu
diingetin, jadi misalnya waktunya ngaji itu ayo k sekarang waktunya apa,
jadi harus yang mesti diingatkan dulu, ayo waktunya makan sekarang,
waktunya seni budaya diambil dulu buku gambaranya, waktunya ini,
waktunya ini begitu.
6. Kalau materi bahasa inggris itu dia kurang nyantol menurut saya, entah itu
anaknya susah ngikutin atau bagaimana, jadi bisanya kalau saya nerangin
dia ndak nyantol, nanti dibantu sama guru pendampingnya gitu, semacam
tracing gitu.
7. Untuk memahami materi yang diajakrkan dia itu susah seklai nyantolnya
jadi harus diulang-ulang berkali-kali dulu pelan-pelan, baru nanti dia
ngerjain worksheet yang diberikan
181
8. Dalam bersosialisasi, dia masih bisa sih masih min-main smaa temannya.
Kadang cerita random ketemen-temennya cerita cinderella, ke ustdz siapa
gitu kadang juga crita-crita
9. Kalau di bahasa inggris kan ada big small lha untuk adek K itu kayaknya
masih kesulitan jadi kayak misalkan bola mana yang besar, dan bola mana
yang kecil dia itu masih lama loadingnya. Jadi misal bola A ini besar atau
kecil, trus lama dia baru jawab, nanti saya yang nuntun lagi tadi besar apa
big atau small, smabil pelan-pelan saya ulang-ulang,
182
Terkait Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner KA
1. Pengelolaan kelas terkait dengan formasi duduk, kalau di kelasnya kamila
itu kan later u jadi tengahnya kan kosong, tapi biasnaya waktu mengerjakan
worksheet itu anak-anak dibawah sambil lesehan gitu sih. Terkait dengan
posisi duduk itu diroliing jadi minggu ini duduknya disini, nanti minggu
depan disini begitu
2. Media pembelajaran yang saya gunakan kalau bahasa inggris sih sama,
biasanya berupa gambar. Jadi anatara anak yang reguler dan anak inklusinya
itu sama.
3. Ketika memulai pembelajarannya untuk menaikkan motivasi belajarnya itu,
saya kan kebetulan waktunya bahasa inggris itu setelah kegiatan ekstra, jadi
habis anak-anak panas-panasan trus mereka masuk pelajaran bahasa inggris,
jaid bukan hanya adek K saja yang sudah nggak mood keseluruhan kelas
juga bisa jadi sudah nggak mood untuk belajar, jadi kalau dateng biasanya
saya suruh nyanyi-nyanyi dulu atau main games dulu tebak-tebakan baru
setelah itu bisa mulai pembelajaran
4. Untuk model pembelajaran biasanya sih setelah nyanyi-nyanyi trus review
sedikit materi-materinya baru setelah itu saya ceramah diawal-awal, baru
setelahnya saya suruh berkelompok-kelompok, nanti saat ngerjain
worksheetnya bisa berkelompok atau sendiri-sendiri terserah mereka.
Kadang juga dengan menggunakan benda-benda konkret yang ada di sekitar
sekolah, jadi saya suruh mencari benda-benda di lingkungan sekitar nanti
dideskripsikan, itu juga dengan berkelompok biasanya.
183
5. Pembelajaran yang efektif untuk adek K itu kayaknya pembelajaran dengan
kinetik yang harus bergerak-gerak begitu, entah sambil nyanyi, sambil
berdiri, sambil permainan, soalnya dia itu anaknya nggak bisa yang fokus
duduk diem memperhatikan.
6. Media pembelajaran
7. Starteginya biasnaya saya mulai dengan review-review dulu, trus main
games kadnag juga nyanyi biar mereka siap dulu menerima pembelajaran,
baru setelahnya masuk ke materinya
8. Untuk evaluasinya itu sendiri-sendiri jadi untuk anak abk itu kan ada
standarnya sendiri-sendiri, misal sih kamila itu nanti penilaiannya lebih ke
tarik garis atau tracing, jadi nanti dilihat di worksheetnya atau di lembar
ulangannya dia sudah bisa mencapai itu atau belum, ada indikator-
indikatornya sendiri disitu, jadi saya kolabirasi sama guru pendampingnya
anak ini indikator ketuntasannya apa, lha penilaiannya dari indikator-
indikator yang ada di worksheet itu apakah dia sudah bisa mencapai
indikator yang sudah disiapkan oleh guru pendampingnya atau belum
184
Transkip Wawancara
Metode Pengumpulan Data : Wawancara
Instrumen : Guru Kelas KA
Terkait Kondisi Lamban Belajar Pada Siswa Slow Learner KA
1. Kecerdasan yang dimiliki adek K jika dibandingkan dnengan teman
sekelasnya pasti lebih rendah, karenakan indikasinya dari pemehaman-
pemahaman materi pelajaran yang lebih rendah dari temen-temannya
2. Adek K memiliki hambatan komunikasi yang menyebakan dia kurang bisa
menyatu dengan teman-temannya yang melakukan komunikasi veerbal, dan
topik-topik bahasan anak-anak pada umumnya karena indikasi yang dia
tunjukkan itu seperti anak kecil
3. Permasalahan emosi seperti mudah marah atau meledak-ledak tidak terjadi
pada adek K, dia hanya cenderung lebih sensitif
4. Konsentrasi adek K tergolong sangat kurang sekali untuk ukuran anak
sebayanya yang menyebabkan ahirnya input dia dalam pembelajaran itu
sangat kurang sehingga dia tertinggal jauh dengan teman-temannya
5. Kemampuan dalam mengekspresikan diri sangat rendah karena dia susah
untuk berkomunikasi sehingg adia juga susah mengekspresikan emosinya,
dia bisa berkespresi tapi kadang terbalik-balik, seperti kalau dia sedih dia
tersenyum, kalau dia marah juga tersenyum, cara dia mengekspresikan diri
itu tidak mewakili apa yang dia rasakan
185
6. Kemampuan dalam mengingat kembalai materi yang sudah diajarkan
memang tidak seperti teman-tean lainnya, materi yang disampaikan harus
diulang-ulang beberapa kali yah karena kemampuan dia untuk mengingat
sesuatu itu memang rendah sekali
7. Kemmapuan adek K dalam menangkap pembelajaran butuh waktu yang
panjang dan berulang-ulang dengan tema yang sama sehingga dia memang
membutuhkan pendampingan yang khusus untuk membantunya dalam
menguasai materi dalam jangka waktu yang panjang
8. Adek K kurang dalam bersosialisasi karena dia cenderung menyendiri,
komunikasi dengan teman-temannya juga hanya sekedarnya saja
9. Kemampuan adek K untuk membuat pedoman kerja rendah, kemampuan
bersosialisasi saja kesulitan apalagi membuat suatu pedoman kerja yang
membutuhkan kemampuan berbahasa yang lebih
10. Kemampuan adek K dalam mendeskripsikan, menganalisis, maupun
berpikir kritis sangat kurang, karena mereka masih membutuhkan
pendampingan sehingga untuk kompetensi-kompetensi yang sedikit suah
mereka sangat kesulitan untuk mencapainya
186
Terkait Model Pembelajaran Bagi Anak Slow Learner KA
1. Pengelolaan lingkungan kelas, untuk penggunaan bahasa dalam pengejaran
memang ada beberapa istilah-istilah yang harus kita sederhanakan agar
dapat dipahami oleh mereka,
2. Perangkat pembelajaran kkm
3. Memberikan motivasi dengan pendekatan-pendekatan personal, secara
umum biasanya memberikan motivasi-motivasi sebelum pembelajaran
dimulai bisa dengan kisah-kisah yang menginspirasi, atau kisah sahabat,
nabi.
4. Model pembelajaran dengan teknik yang berbeda
Model pembelajaran yang efektif dengan klasikal, dan juga individual
187
Lampiran 5
Surat Ijin Penelitian
Lampiran 6
188
Bukti Konsultasi
189
Lampiran 7
Dokumen Foto
Gambar KA saat berada di ruang sumber
190
Gambar KA saat berada di ruang kelas
191
Lampiran 8
BIODATA MAHASISWA
Nama : Maulida De Vanda Asmaul Khusna
Nim : 16140050
Tempat, Tanggal Lahir : Sidoarjo, 21 Juli 1998
Fak./Jur. : Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan/Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah
Email : maulidadevanda1@[Link]
Jenjang Pendidikan Formal : 1. RA Nurul Huda (2004)
2. MI Himmatul Ulya (2010)
3. SMP I Raden Patah (2013)
4. MAN 1 Mojokerto (2016)
5. S1 PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang