Pemetaan Potensi Kekeringan Labuan Bajo
Pemetaan Potensi Kekeringan Labuan Bajo
Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada
Program Studi Fisika Fakultas Sains Dan Teknik
OLEH
FRANSISKA JUM
1606060095
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2022
LEMBAR PENGESAHAN
Mengetahui
Tim Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Menyetujui
Koordinator Program Studi Fisika
Fakultas Sains dan Teknik
i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
(Mazmur 37:5)
“Jika kamu ingin menyerah, lihatlah kembali seberapa jauh kamu sudah berjuang ”
(Anonymous)
"GOD IS GOOD”
Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati, skripsi ini saya persembahkan
kepada:
1. Tuhan Yesus yang selalu menyertai dan membimbing langkah hidup saya
2. Keluarga tercinta: Bapak Kristoforus Juma, Mama Matilde Jegho
3. Teman-teman angkatan Photon’16
4. Almamater tercinta Universitas Nusa Cendana
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat, bimbingan dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini dengan baik. Judul skripsi ini adalah “Pemetaan Kawasan Berpotensi
Kekeringan Berbasis Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis
(Studi Kasus: Kawasan Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat)”.
Skripsi ini berisi tentang penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk
memetakan daerah berpotensi bencana kekeringan. Skripsi ini disusun untuk
memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana Sains.
Penulis menyadari bahwa terdapat banyak pihak yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis menyampaikan
rasa hormat dan terimakasih kepada:
1. Bapak Jehunias L. Tanesib, [Link], [Link], selaku Dosen Pembimbing I,
yang telah meluangkan waktu, pikiran, tenaga dan kesabaran dalam
membimbing penulis selama proses penulisan dan penelitian
berlangsung, serta selalu memotivasi dan mengarahkan penulis dari awal
penelitian sampai terselesainya skripsi ini.
2. Bapak Bernandus, [Link], [Link], selaku Dosen Pembimbing II yang telah
meluangkan waktu, pikiran dan tenaga, dalam membimbing penulis
hingga terselesainya skripsi ini.
3. Ibu Frederika Rambu Ngana, [Link]., [Link], selaku Dosen Penguji telah
meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga, serta turut memberikan
masukan dan saran untuk menyempurnakan skripsi ini.
4. Bapak [Link]. Hery Leo Sianturi, [Link]., selaku Dekan Fakultas Sains
dan Teknik Universitas Nusa Cendana yang telah memfasilitasi penulis
selama menuntut ilmu.
5. Bapak Andreas Ch. Louk, [Link], [Link], selaku Koordinator Program Studi
Fisika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana yang telah
memfasilitasi penulis selama menuntut ilmu.
iii
6. Seluruh dosen dan staf jurusan Fisika serta Fakultas Sains dan Teknik
atas kesabaran pelayanan akademis yang diberikan selama ini kepada
penulis.
7. Eufrasia Serjiana Semidi untuk informasi tutupan lahan dan Damasus
Nggadi untuk pengambilan data lapangan di Kawasan Kota Labuan
Bajo.
8. Keluarga penulis yaitu Mama Matilde Jegho, Papa Kristoforus Juma,
Kakak Engelbertus Minggu dan Kakak Marselinus Meo yang selalu
memberi doa dan dukungan serta semangat hingga terselesainya skripsi
ini.
9. Keluarga besar penulis yang telah mendoakan dan membantu dalam
segala hal sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir.
10. Keluarga Geofisika 2016 dan Photon 2016 Universitas Nusa Cendana
yang menjadi keluarga yang telah membantu dan memotivasi sehingga
terselesainya skripsi ini.
11. Seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya Tugas Akhir ini yang
tidak dapat disebutkan satu persatu, dengan tidak mengurangi rasa
hormat dan terima kasih penulis kepada pihak-pihak tersebut atas
bantuan dan doa yang telah diberiksn demi kelancaran penulis dalam
menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik untuk kesempurnaan skripsi ini
sehingga dapat menjadi referensi untuk peneliti selanjutnya.
Penulis
iv
PEMETAAN KAWASAN BERPOTENSI KEKERINGAN BERBASIS
PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
(Studi Kasus: Kabupaten Manggarai Barat, Kawasan Kota Labuan Bajo)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kekeringan pada Kawasan Kota
Labuan Bajo. Metode penelitian terbagi menjadi empat tahap yaitu tahap
pengumpulan data, pengolahan data dengan mengoverlay peta-peta parameter
seperti peta kemiringan lereng, peta NDVI, peta curah hujan dan peta tutupan
lahan. Teknik pengolahan data menggunakan metode skoring sehingga diketahui
tingkat potensi kekeringan di Kawasan Kota Labuan Bajo. Hasil penelitian
menunjukkan potensi kekeringan pada kawasan Kota Labuan Bajo sebagai
berikut: potensi kekeringan sangat rendah sebesar (1370 ha), potensi kekeringan
rendah sebesar (12985 ha), potensi kekeringan agak tinggi sebesar (5807 ha),
potensi kekeringan tinggi sebesar (3333 ha), dan potensi kekeringan sangat tinggi
sebesar (954 ha). Berdasarkan hasil peta kekeringan wilayah Kota Labuan Bajo
tersebut, dapat diketahi bahwa, potensi kekeringan pada wilayah Kota Labuan
Bajo termasuk dalam potensi kekeringan rendah yaitu (12985 ha).
v
MAAPING THE DISTRIBUTTION OF POTENTIAL LAND DROUGHT
USING REMOTE SENSING AND GEOGRAPHIC INFORMATION
SYSTEMS
(Case Study: West Manggarai Regency, Labuan Bajo City Area)
ABSTRACT
This study aims to determine the potential of land drought in the Labuan City
area. The research method is divided into four stages, namely the data collection
stage, data processing by overlaying parameter maps such as slope maps, NDVI
maps, rainfall maps and land cover maps. The processing technique uses the
scoring method so that the level of potential drought in Labuan Bajo City can be
identified. The results showed of potential land drought in the Labuan Bajo City
area as follows: very low drought potential of (1370 ha), low drought potential of
(12985 ha), moderately high drought potential of (5807 ha), high drought
potential of (3333 ha) and a very high drought potential of (954 ha). Based on the
result of the drought map for the Labuan Bajo City area, it can be seen that the
potential for drought in the Labuan Bajo City area is included in the low drought
potential, namely (12985 ha).
vi
DAFTAR ISI
viii
DAFTAR GAMBAR
ix
DAFTAR TABEL
x
BAB I
PENDAHULUAN
Kekeringan merupakan salah satu fenomena yang terjadi sebagai dampak sirkulasi
oleh berbagai penyebab seperti iklim yang menyebabkan musim kemarau panjang,
intensitas curah hujan, kelerengan, serta tutupan lahan. Dewasa ini bencana
kekeringan semakin sering terjadi pada periode tahunan dalam kondisi iklim
pengertian kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh dari kebutuhan air untuk
Labuan Bajo dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Curah
hujan tahunan di Kawasan Kota Labuan Bajo berkisar 1500 mm/tahun. Hal ini
menjadikan Kawasan Kota Labuan Bajo sebagai wilayah yang tergolong kering
perambahan hutan dan 10 Ha hutan terbakar (diluar Kawasan Hutan Lindung) dan
1
hutan yang telah dikonversi menjadi areal pertanian seluas 748,3 Ha. Dampak
langsung yang sangat dirasakan sekarang ini akibat aktivitas tersebut yakni
ketersedian air setiap tahunnya berkurang, seiring juga dengan curah hujan yang
maupun untuk kebutuhan air minum bersih (Laporan SHL DAERAH Kab.
informasi data geospasial seperti objek di permukaan bumi secara cepat, sekaligus
upaya mitigasi yang bertujuan mencegah resiko yang berpotesi menjadi bencana
menggunakan SIG dan penginderaan jauh salah satunya adalah yang dilakukan
dengan memanfaatkan citra Landsat 7 TM tahun 2003. Hasil akhir dari penelitian
2
Parameter yang digunakan yaitu NDVI, Curah Hujan, Kondisi Drainase,
citra Landsat 7 ETM+ tahun 2005 dan 2010 dan citra Landsat 8 OLI/TIRS tahun
2015. Hasil akhir dari penelitian adalah peta rawan kekeringan Kabupaten
Sukabumi.
memanfaatkan Citra Landsat 8 OLI/TIRS tahun 2019. Hasil akhir dari penelitian
Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Kawasan Kota Labuan Bajo, Kabupaten
Manggarai Barat)”.
3
1.3 Tujuan Penelitian
3) Sebagai bahan masukan dan informasi bagi penelitian yang akan dating
Adapun batasan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:
2. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu peta NDVI, peta
4
3. Bahan yang digunakan citra satelit Landsat 8.
penggabungan (overlay).
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
geografis Kawasan Kota Labuan Bajo terletak pada 8º 13´ LS - 9º 55´ LS dan
119º 30´ BT - 120º 58´ BT, dengan luas wilayah administrasi ± 8.795 Ha dan luas
Labuan Bajo yaitu: Kelurahan Labuan Bajo, Desa Batu Cermin, Kelurahan Wae
Kelambu, Desa Gorontalo, Desa Golo Bilas, Desa Nggorang, Desa Watu
Nggelek, Desa Compang Longgo, Desa Golo Pangkar, Desa Macang Tanggar,
Desa Nggorang, Desa Pantar, dan empat desa di sekitar Kecamatan Komodo yaitu
6
Desa Tandong Belang, Desa Liang Ndara, Desa Cunca Wulang dan Desa
2.2 Kekeringan
suatu wilayah. Kekeringan sering dianggap sebagai sebuah bencana yang timbul
akibat dari kurangnya curah hujan dari biasanya atau kondisi normal (Nurrahman
normal pada suatu musim yang merupakan tanda awal dari terjadinya kekeringan.
permukaan dan air tanah yang ditandai menurunnya tinggi permukaan air sungai
ataupun danau (Muliawan, 2014). Pada umumnya bencana kekeringan tidak dapat
diketahui mulainya, namun dapat dikatakan bahwa kekeringan terjadi saat air
yang tersedia sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kerusakan lahan
dan dampak kerugian yang diakibatkan oleh kejadian kekeringan sangat luas dan
hujan selama periode tertentu. Dari aspek pertanian dinyatakan kekeringan jika
lengas tanah berkurang sehingga tanaman kekurangan air. Lengas tanah (soil
7
moisture) merupakan parameter yang menentukan potensi produksi tanaman.
Ketersediaan lengas tanah juga erat kaitannya dengan tingkat kesuburan tanah.
kekeringan adalah salah satu bencana yang sulit dicegah dimana ketersediaan air
berkurang atau tidak ada sama sekali sehingga membawa dampak buruk bagi
1. Kekeringan alami
Jenis kekeringan ini adalah murni yang disebabkan oleh proses alami tanpa
adanya campur tangan manusia. Kekeringan ini dibagi menjadi beberapa jenis,
yaitu:
tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim. Kekeringan ini
8
Tabel 2.1 Intensitas Kekeringan Menurut Definisi Meteorologi
bawah level optimal yang diperlukan oleh tanaman padi untuk setiap tahap
pertanian dinilai berdasarkan prersentase luas daun yang kering untuk tanaman padi.
ketersediaan air di permukaan dan bawah tanah, akibat berkurangnya curah hujan
yang ditandai dengan berkurangnya secara signifikan aliran air permukaan hingga
mencapai kondisi di bawah normal atau terhentinya pengisian air tanah. Intensitas
Intensitas Kekeringan
No Debit Air Sungai
Hidrologi
1 Kering Mencapai periode ulang aliran periode 5 tahunan
2 Sangat kering Mencapai periode ulang aliran jauh di bawah periode 25
tahunan
3 Amat sangat kering Mencapai periode ulang aliran amat jauh di bawah 50
tahunan
Sumber: Buku Resiko Bencana Indonesia, 2016
9
4) Kekeringan sosial-ekonomi, merupakan kekeringan yang terjadi bila terdapat
gangguan pada aktivitas manusia akibat menurunnya curah hujan dan ketersediaan
Pemenuhan
Ketersediaan Air Jarak ke Sumber
No Kategori Kebutuhan
(Lt/Orang/hari) Air (km)
Untuk
1 Kering (langka Minum, masak,
terbatas) cuci alat
>30 - >60 0,1 – 0,5
makan/masak,
mandi terbatas
2 Sangat kering Minum, masak,
( langka) >10 - >30 cuci alat 0,5 – 3
makan/masak
3 Amat sangat Minum, masak
<10 >3
kering (kritis)
Sumber: Buku Resiko Bencana Indonesia, 2016
Kejadian kekeringan terjadi hampir seluruh dunia akibat jarangnya air serta adanya
musim kemarau yang berkepanjangan akibat penyimpangan iklim seperti El Nino, yang
terjadi pada tahun-tahun tertentu di Australia, Amerika, Meksiko, Filipina dan Indonesia
(Sholikhati, dkk. 2013). Namun, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi terjadinya
Kekeringan merupakan suatu fenomena alam yang disebabkan oleh defisit curah
hujan pada area dan periode yang luas. Kombinasi antara defisit curah hujan dan laju
10
2. Topografi
Topografi juga sangat mempengaruhi ketersediaan air karena berkaitan dengan curah
hujan. Daerah pada zona bergunung cenderung memiliki curah hujan lebih tinggi
karena memiliki tipe hujan orografik yang mengakibatkan curah hujan dengan
intensitas yang sangat tinggi. Sedangkan wilayah yang berada di topografi perbukitan
Salah satu fungsi kawasan hijau adalah untuk menjadi daerah resapan air. Jadi
semakin tinggi kawasan hijau, maka semakin tinggi pula sumber air yang dimiliki
kawasan tersebut.
4) Tutupan Lahan
Sebaran tutupan lahan akan mempengaruhi daya serap tanah terhadap air, tutupan
lahan kawasan terbangun akan lebih sulit menyerap air dibandingkan dengan
Penginderaan jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh
informasi tentang suatu subjek, daerah, atau fenomena melalui analisa data yang diperoleh
dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji
(Lillesand dan Kiefer, dalam Purwadhi dan Sanjoto, 2008:3). Pentury (1997) menyebutkan
bahwa penginderaan jauh merupakan suatu ilmu dan teknologi. Penginderaan jauh
11
merupakan suatu ilmu bila digunakan untuk lingkup studi penginderaan jauh sendiri dan
merupakan suatu teknik bila digunakan sebagai penunjang untuk mempelajari bidang ilmu
lain (Pentury, 1997). Menurut Martin (2004) penginderaan jauh (remote sensing) adalah
daratan dan atmosfer tanpa kontak langsung dengan objek, permukaan atau fenomena yang
dikaji. Data penginderaan jauh dapat berupa citra, grafik, dan data numerik. Data tersebut
dapat dianalisa untuk mendapatkan informasi tentang objek daerah atau fenomena yang
diteliti. Interpretasi citra atau penafsiran citra penginderaan jauh dilakukan untuk
mengidentifikasi objek yang tergambar dalam citra dan menilai arti pentingnya objek
tersebut.
adalah pengambilan gambaran muka bumi dari jarak jauh untuk menghasilkan suatu citra
atau gambar yang dapat diinterpretasikan sesuai dengan keadaan di muka bumi
Sistem sensor jauh yang digunakan ada dua macam yaitu, sistem sensor pasif yang
memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang secara langsung dapat diperoleh dari alam
dan sistem sensor aktif menggunakan gelombang elektromagnetik yang dipisahkan oleh
rekayasa manusia sesuai keperluan. Sistem sensor pasif pada umumnya memanfaatkan
panjang gelombang cahaya tampak, infra merah, serta panjang gelombang mikro tertentu.
Data penginderaan jauh direkam dalam bentuk gambar, foto atau citra, nondigital berupa
tabel, foto atau peta (hardcopy), sedangkan data digital disimpan dalm tape, disket, CD,
hard disk dan CCT (Computer Compatible Tape), selanjutnya data diolah secara digital
12
dengan komputer. Proses pengambilan data atau informasi dengan sistem jauh sampai
kepemakai atau pemanfaat data penginderaan jauh dapat dilihat pada gambar 2.2, dimana
data yang ditangkap sensor jauh dapat berbentuk visual maupun digital. Data visual atau non
digital yang berbentuk citra atau non citra, sedangkan data digital berbentuk citra yang
Sistem penginderaan jauh dimulai dari perekaman objek permukaan bumi. Tenaga
dalam penginderaan jauh dimulai dari perekaman objek permukaan bumi. Tenaga dalam
penginderaan jauh merupakan tenaga penghubung yang membawa data tentang objek ke
sensor dapat berupa bunyi, daya magnetik, gaya berat dan tenaga elektromagnetik. Tenaga
elektromagnetik bagi sistem pasif berasal dari matahari, perjalanan tenaga radiasi matahari
melalui atmosfer, dan berinteraksi dengan benda di permukaan bumi. Tenaga radiasi
matahari tidak semua sampai di permukaan bumi karena sebagian diserap, dihamburkan
diatmosfer. Tenaga yang sampai ke permukaan bumi sebagian dipantulkan dan atau
dipancarkan oleh permukaan bumi, dan direkam oleh sensor penginderaan jauh. Sensor
13
untuk melakukan perekaman data memerlukan tenaga sebagai medianya. Sensor tersebut
dipasang dalam wahana pesawat terbang maupun satelit. Sensor satelit merekam permukaan
bumi, dikirim ke stasiun penerima data di bumi. Stasiun bumi menerima data permukaan
bumi dari satelit dan direkam dalam pita magnetik dalam bentuk digital. Rekaman dapat
diproses di laboratorium pengolahan data hingga berbentuk citra penginderaan jauh, dan
suatu citra ke dalam kategori-kategori yang ditetapkan dengan melihat kecerahan (digital
number) dari citra tersebut. Analisis citra digital merupakan suatu tahap pengurutan,
penyususnan dan pengelompokan suatu piksel dari citra digital multispektral ke beberapa
klasifikasi penutupan lahan adalah pembagian suatu kelompok wilayah kedalam bidang
yang lebih kecil agar terlihat lebih sederhana. Pada penelitian ini digunakan analisis citra
14
1. Klasifikasi terbimbing (Supervised Classification)
Klasifikasi terbimbing merupakan metode yang dipadu dan dikendalikan sebagian besar
penguasaan infomasi lahan terhadap areal kajian. Proses metode supervised ini, analis
terlebih dahulu menetapkan beberapa training area (daerah contoh) pada citra sebagai
kelas lahan tertentu. Penetapan ini berdasarkan pengetahuan analis terhadap wilayah
dalam citra mengenai daerah-daerah tutupan lahan. Nilai-nilai piksel dalam daerah
contoh kemudian digunakan oleh komputer sebagai kunci untuk mengenali piksel lain.
Daerah yang memiliki nilai-nilai piksel sejenis akan dimasukan kedalam kelas lahan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Jadi dalam metode supervised ini analis
menentukan kelas spektral yang mewakili kelas informasi tersebut (Danoedoro, 2012).
Alogaritma yang bias digunakan untuk menyelesaikan metode supervised ini antara
lain:
untuk semua kelas dipandang sama. Faktanya, tidak semua kelas diperlakukan
pada probabilitas sama untuk dipresentasikan pada citra. Suatu gugus sampel
yang jauh lebih kecil dari gugus-gugus dampel yang lain akan mempunyai
15
probabilitas yang lebih kecil untuk muncul, sehingga perlu adanya faktor
pembobot untuk masing-masing kelas yang ada. Gugus sampel yang kecil ini
secara logis dapat diberi bobot yang lebih rendah dibandingkan gugus-gugus
Sistem informasi geografis (SIG) menurut Aronof (dalam Prahasta: 2002) adalah
sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi
yang penting atau kritis untuk dianalisis. Prahasta (2002) menyebutkan bahwa SIG dapat
dipresentasekan dunia nyata di atas monitor komputer sebagaimana lembaran peta dapat
dipresentasekan dunia nyata di atas kertas. Tetapi SIG memiliki kekuatan lebih dan
fleksibelitas daripada lembaran peta kertas. Menurut Barus dan Wiradisastra (2000), Sistem
Informasi Geografis (SIG) merupakan alat yang handal untuk menangani data spasial.
Dalam SIG, data dipelihara dalam bentuk digital. Sistem ini merupakan suatu sistem
menyajikan data yang bereferensi ke bumi. Komponen utama SIG dapat dibagi ke dalam 4
kelompok, yaitu: perangkat keras, perangkat lunak, organisasi (manajemen), dan pemakai.
SIG menyediakan kemampuan analisis yang luas dalam menganalisa topologi atau
aspek spasial dan atribut-atributnya (Burrogh dalam Maji et al: 1998). SIG mampu
16
manajemen informasi atau untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang hubungan
aspek-aspeknya (McCloy, dalam Maji et al: 1998). SIG dapat mengintegrasikan data spasial
dan nonspasial dengan mengedit via polygon. Hasilnya adalah data yang terkonversi yang
keuntungan. SIG meningkatkan efisien waktu, menghemat data dan memudahkan pekerjaan.
menciptakan komunikasi yang lebih baik diantara beragam pengguna informasi. Hal-hal
tersebut membuat SIG mampu dimanfaatkan dan diaplikasikan dalam berbagai bidang.
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis ditekankan pada kegiatan analisis data yang
dinamis dan aktif seperti pemodelan dan visualisasi dari data yang dimiliki. Hal tersebut
menjadikan SIG memiliki tiga pendekatan utama sebagai unit analisis (Hagget: 1993), yaitu:
1. Pendekatan Keruangan
Fenomena geografi berbeda dari wilayah yang satu dengan wilayah yang lain dan
mempunyai pola keruangan atau spasial tertentu (spatial structure). Di setiap daerah
memiliki beragam jenis pemanfaatan ruang, seperti halnya kegiatan pertanian. Kegiatan
ini merupakan salah satu bentuk aktivitas ekonomi manusia dimana jenis pertanian
tanaman panganpun akan bervariasi karena sumberdaya lahan yang berbeda-beda pula.
2. Pendekatan Kelingkungan
Fenomena geografi membentuk suatu rangkaian yang saling berkaitan di dalam sebuah
sistem, dengan manusia sebagai unsur utamanya. Sehingga manusia memiliki hubungan
keterkaitan dengan lingkungan dan begitu pula sebaliknya lingkungan juga memiliki
keterkaitan dengan manusia. Manusia melakukan berbagai usaha dan kegiatan yang
17
memanfaatkan lingkungan sehingga akan memperoleh hasil untuk memenuhi
Analisis kompleks wilayah merupakan perpaduan antara analisis keruangan dan analisis
ekologi sehingga membentuk satuan wilayah. Suatu wilayah terdiri dari sumber daya
alam, manusia dan sumber daya buatan masing-masing memiliki fungsi dan manfaat
Cara kerja dalam sistem informasi geografis sebagai berikut (Sodikin: 2015)
pemetaan atau analisis informasi geografis. Data tersebut dapat kita peroleh dari
beberapa sumber antara lain data lapangan (terestris), data peta, data citra dan juga data
database.
Setelah sumber data diperoleh baik data lapangan, data peta, data citra maupun database
dimasukan ke dalam suatu program sistem informasi geografis yang nantinya akan
Setelah sumber data geografis dimasukan, kemudian data tersebut akan diolah melalui
Klasifikasi, adalah pengelompokkan data spasial menjadi data spasial yang baru, 2)
overlay, adalah menganalisa dan mengintegrasikan dua atau lebih data spasial yang
18
berbeda, 3) networking, adalah menganalisa yang mengacuh pada jaringan yang terdiri
dari garis-garis dan titik-titik yang saling terhubung, 4) buffering, adalah analisis yang
akan menghasilakn buffer/penyangga yang bisa berbentuk lingkaran atau poligon yang
melingkupi suatu obyek dan luas wilayahnya, 5) analisis tiga dimensi, adalah analisis
Tahap ini merupakan tahap keluaran yang disajikan dari hasil pengolahan, manipulasi
dan analisis data. Keluaran ini dapat berbentuk peta, grafik, tabel atau berupa hasil-hasil
perhitungan.
Satelit Landsat (Land satellite) merupakan suatu hasil program satelit sumber daya
bumi yang dikembangkan oleh NASA (the National Aeronoutical and Space Administration)
Amerika Serikat pertama kali diluncurkan pada tahun 1972 dengan nama ERTS-1 (Earth
Karakteristik dari citra Landsat 8 ini adalah menggunakan sensor Operational Land
Manager (OLI) dengan selang Band yang lebih pendek, terdapat 9 Band spectral dan 2 Band
Thermal. Citra Landsat 8 disinyalir memiliki akurasi geodetik dan geometrik yang lebih baik
(USGS, 2013).
Landsat 8 memiiki kemampuan untuk merekam citra dengan resolusi spasial yang
bervariasi. Variasi resoluai spasial dimulai dari 15 meter sampai 100 meter serta dilengkapi
oleh 11 saluran (Band) dengan resolusi spectral yang bervariasi. Landsat 8 dilengkapi dua
isntrumen sensor yaitu OLI dan TIRS. Landsat 8 mampu mengumpulkan scenes citra 150
kali lebih banyak dari Landsat 7 dalam satu hari perekamannya. Sensor utama dari landsat 8
19
adalah Operational Land Imager (OLI) yang memiliki fungsi untuk mengumpulkan data di
permukaan bumi dengan spesifikasi resolusi spasial dan spektral yang berkesinambungan
dengan data Landsat sebelumnya. OLI didesain dengan sistem perekaman sensor
puah·broom dengan empat teleskop cermin, performa signal-to-noise yang lebih baik, dan
penyimpanan dalam format kuantifikasi 12-bit. OLI mereka citra pada spektrum panjang
gelombang tampak, inframerah dekat, dan inframerah tengah yang memiliki resolusi spasial
30 meter serta saluran pankromatik yang memiliki resoluai 15 meter. Dua saluran spektral
barn ditambahkan dalam dalam sensor OLI ini, yaitu saluran deep-blue untuk kajian perairan
laut serta aerosol serta buah saluran untuk mendeteksi awan cirrus. Saluran quality
assurance juga ditambahkan untuk mengindikasi keberadaan bayangan medan, awan dan
ditangkap. Kelebihan tersebut terletak pada warna objek di citra yang tersusun atas 3 warna
dasar, yaitu Red, Green dan Blue (RGB), jika Band penyusun RGB semakin banyak, maka
warna-warna objek menjadi lebih bervariasi. Deteksi terhadap awan cirrus juga lebih baik
dengan dipasangnya kanal 9 pada sensor OLI, sedangkan Band thermal (kanal 10 dan 11)
sangat bermanfaat untuk mendeteksi suhu permukaan bumi dengan resolusi spasial 100 m.
Pemanfaatan sensor ini dapat membedakan bagian permukaan bumi yang memiliki suhu
lebih panas dibandingkan area sekitarnya. Spesifikasi Band Landsat yang digunakan pada
20
Tabel 2.5 Spesifikasi Landsat 8 OLI
Kelebihan lain dari Landsat 8 adalah adanya spesifikasi baru yang terpasang pada
Band landsat ini khususnya pada Band 1, 9, 10 dan 11. Band 1 (ultra blue) dapat menangkap
panjang gelombang elektromagnetik lebih rendah dari pada Band yang sama pada Landsat 7,
sehingga lebih sensitif terhadap perbedaan reflektan air laut atau aerosol. Band ini unggul
memiliki kanal-kanal dengan resolusi tingkat menengah, setara dengan kanal-kanal pada
landsat 5 dan 7. Umumnya kanal pada OLI memiliki resolusi 30 m, kecuali untuk
pankromatik 15 m.
diperkecil, dituangkan dalam selembar kertas atau media lain dalam bentuk dua dimensional.
Melalui sebuah peta kita akan mudah dalam melakukan pengamatan terhadap permukaan
bumi yang luas, terutama dalam hal waktu dan biaya. Menurut Prihandito, A. (1988), peta
merupakan gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu, digambar pada bidang datar
melalui sistem proyeksi tertentu. Sedangkan menurut Raisz, E. (1948) peta adalah gambaran
konvensional dari ketampakan muka bumi yang diperkecil seperti ketampakannya kalau
dilihat vertikal dari atas, dibuat pada bidang datar dan ditambah tulisan-tulisan sebagai
penjelas.
Peta merupakan gambaran konvesional dari ketampakan muka bumi yang diperkecil
seperti ketampakannya jika dilihat vertkikal dari atas. Peta memiliki spesifikasi fungsi di
berbagai bidang ilmu, yaitu: 1) Untuk menyajikan data tentang potensi suatu daerah, 2)
membantu dalam pembuatan suatu desain, 3) sebagai penunjuk arah suatu lokasi atau posisi,
4) untuk memperlihatkan ukuran, karena melalui peta dapat diukur luas daerah atrau jarak
Sedangkan pemetaan adalah proses kegiatan untuk menghasilkan peta meliputi tahapan
perepresentasian data serta informasi dalam bentuk peta analog maupun peta digital (Abidin,
bumi (terminology godesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga
didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun
raster. Peta yang dihasilkan dari perangkat lunak (software) komputer ini disebut peta
digital. Penggunaan peta digital pada dasarnya sama saja dengan peta biasa, hanya wujudnya
yang agak berbeda, dimana peta biasa hanya dapat digunakan dalam bentuk lembaran atau
helai sedangkan peta digital selain ada peta seperti halnya peta biasa disetai data yang telah
tersimpan dalam media perekam seperti magnetic tape, disket, compact disc dan lain-lain
sehingga sewaktu-waktu dapat diedit dan dicetak kembali sesuai kebutuhan (Purnama,
2008).
Variabel potensi kekeringan adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
berkaitan dengan potensi kekeringan, yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk
dipelajari sehingga didapat informasi mengenai hal tersebut dan ditarik sebuah kesimpulan.
Ada beberapa variabel dalam menentukan daerah potensi kekeringan dibawah ini sebagai
berikut:
1. Indeks Vegetasi
Indeks vegetasi adalah besaran nilai kehijauan vegetasi yang diperoleh dari pengolahan
signal digital data nilai kecerahan (brightness) beberapa kanal data sensor satelit. Untuk
pemantauan vegetasi dilakukan proses perbandingan antara tingkat kecerahan kanal cahaya
merah (red) dengan kanal cahaya inframerah dekat (near infrared). Fenomena penyerapan
23
cahaya merah oleh klorofil dan pemantulan cahaya inframerah dekat oleh jaringan mesofil
yang terdapat pada daun akan membuat nilai kecerahan yang diterima sensor satelit pada
kanal-kanal tersebut akan jauh berbeda. Pada daratan non-vegetasi, termasuk diantaranya
wilayah perairan, pemukiman warga, tanah kosong terbuka dan wilayah dengan kondisi
vegetasi yang rusak, tidak akan menunjukan nilai rasio yang tinggi (minimum), sebaliknya
pada wilayah bervegetasi sangat rapat, dengan kondisi sehat perbandingan kedua kanal
tersebut akan sangat tinggi (maksimum). Nilai perbandingan kecerahan kanal cahaya merah
dengan cahaya inframerah dekat atau NIR/RED, adalah nilai suatu indeksi vegetasi (yang
sering disebut simple ratio) yang sudah tidak dipakai lagi. Hal ini disebabkan karena nilai
dari rasio NIR/RED akan memberikan nilai yang sangat besar untuk tumbuhan yang sehat
(Doni, 2008). Oleh karena itu, dikembangkan suatu alogaritma indeks vegetasi yang baru
dengan normalisasi, yaitu NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) seperti berikut
ini :
𝑁𝐼𝑅
[( )−1]
𝑅𝑒𝑑
𝑁𝐷𝑉𝐼 = 𝑁𝐼𝑅
[( )+1]
𝑅𝑒𝑑
𝑁𝐼𝑅−𝑅𝑒𝑑
𝑁𝐷𝑉𝐼 =
𝑁𝐼𝑅+𝑅𝑒𝑑
Indeks vegetasi berbasis NDVI yang ditunjukan pada persamaan di atas, mempunyai
Setelah NDVI diperoleh, langkah selanjutnya adalah membuat skala warna (color map)
24
Perhitungan perbandingan sifat respon obyek terhadap pantulan sinar merah dan NIR dapat
menghasilkan nilai dengan karakteristik khas yang dapat digunakan untuk memperkirakan
kerapatan atau kondisi kehijauan [Link] yang sehat berwarna hijau mempunyai
nilai indeks vegetasi tinggi. Hal ini disebabkan oleh hubungan terbalik antara intensitas sinar
yang dipantulkan vegetasi pada spektral sinar merah dan NIR (Prayoga, 2017).
2. Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya air hujan yang jatuh ke bumi persatu satuan luas
permukaan pada suatu jangka waktu tertentu. Besar kecilnya curah hujan dapat dinyatakan
sebagai volume air hujan yang jatuh pada suatu areal tertentu dalam jangka waktu relatif
lama, oleh karena itu besarnya curah hujan dapat dinyatakan dalam m³/satuan luas, secara
umum dinyatakan dalam tingkat air (mm) (Sobekti dkk, 2009). Semakin tinggi curah hujan
suatu wilayah maka tingkat kerawanan kekeringannya semakin rendah, sebaliknya semakin
rendah curah hujan maka potensi kekeringan di kawasan tersebut semakin tinggi.
3. Penggunaan Lahan
yang ditumbuhi banyak pepohonan akan membantu dalam menyerap air sehingga air akan
mudah ditampung dan limpasan air akan kecil sekali terjadi. Hal ini disebabkan besarnya
kapasitas serapan air oleh pepohonan dan lambatnya air limpasan mengalir akibat tertahan
Kaitannya dalam kekeringan, nilai skor rendah diberikan kepada daerah dengan tutupan
lahan didomisili oleh pepohonan, sedangkan nilai dengan skor tinggi untuk daerah dengan
penutup lahan minim pepohonan atau tanpa pepohonan. Pemberian nilai nol pada tubuh air
25
4. Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng adalah perbandingan antara jarak vertical dengan jarak mendatar
pada suatu bidang. Satuan untuk mengukur besar kemiringan antara lain adalah % (persen)
dan ° (derajat). Kemiringan lereng digunakan sebagai asumsi untuk melihat kecepatan
limpasan permukaan yang terjadi. Kemiringan lereng menentukan besar kecilnya aliran yang
permukaan semakin lambat sehingga airair yang jatuh akan diserap oleh tanah lebih banyak,
sehingga resiko kekeringan lebijh kecil. Sedangkan kemiringan lereng curam menyebabkan
aliran limpasan semakin cepat sehingga air hujan yang diserap sedikit maka resiko
26
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan mulai bulan September 2020 sampai bulan Februari 2021
bertempat di Kawasan Perkotaan Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa
Tenggara Timur.
1. Citra Landsat 8 tanggal 20 Juli 2019 yang diperoleh dari U. S. Geologocal Survey
(USGS).
2. Data Curah Hujan bulan Agustus 2019 daerah penelitian yang diperoleh dari
[Link].
3. Peta Digital Elevation Model (DEM) daerah penelitian yang diperoleh dari DEMNAS.
menggunakan SIG:
1. Pengumpulan data
a. Data yang dikumpulkan berupa data citra landsat dan DEM dalam bentuk raster, dan
b. Pengambilan data lapangan dan informasi tutupan lahan dari masyarakat Kawasan
27
2. Pengolahan data
polygon untuk mengkelaskan atribut data sesuai polygon dan kelas yang sudah
ditentukan.
1) Membuat shp (shapefile) curah hujan pada tools Editor dengan mendigitasi peta
administrasi.
28
6) Membuat layout peta dengan memasukkan unsur-unsur peta seperti judul,
1) Memasukkan data citra landsat band 1 sampai band 8 ke dalam aplikasi GIS.
8) Mengkonversi hasil pengolahan data raster ke dalam bentuk poligon pada tools
Raster to Polygon.
11) Mengatur warna peta berdasarkan kelas pada Symbology dalam Properties.
12) Membuat layout peta dengan memasukkan unsur-unsur peta seperti judul,
1) Masukan data citra Landsat band 4 dan band 5 ke dalam aplikasi GIS.
2) Mencari nilai NDVI pada Raster Calculator menggunakan tools Map Algebra.
29
3) Melakukan pemotongan data landsat berdasarkan peta administrasi menggunakan
tools Clip.
5) Mengkonversi hasil pengolahan data raster ke dalam bentuk polygon dengan tools
Raster to Polygon.
6) Melakukan pengkelasan ulang untuk mengunci kelas yang sudah dibuat dengan
10) Membuat layout peta dengan memasukan unsur-unsur peta seperti judul, skala,
e) Overlay Peta
kemiringan lereng, curah hujan, kerapatan vegetasi dan tutupan lahan ke dalam
30
1. Analisis Data
Analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kombinasi
antara analisa citra digital kemudian dilanjutkan dengan analisia sistem informasi geografis.
Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara atau citra dengan maksud
untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Interpretasi citra
penginderaan jauh dapat dilakukan dengan dua cara yaitu interpretasi secara manual dan
Pada analisa sistem informasi geografis menggunakan metode scoring dan metode
overlay.
1) Metode scoring
setiap parameter. Pemberian harkat ini didasarkan pada seberapa besar pengaruh kelas
tersebut terhadap kekeringan. Semakin tinggi pengaruhnya terhadap kekeringan maka harkat
yang diberikan semakin tinggi pula. Metode pembobotan adalah faktor pengalih yang
besarnya sesuai dengan peranan variabel terhadap hasil ukur suatu metode yang digunakan
apabila setiap karakter memiliki peranan berbeda atau jika memiliki beberapa parameter
untuk menentukan kemampuan lahan atau sejenisnya. Semakin besar pengaruhnya suatu
31
parameter maka bobot dan nilai variabel indikator juga semakin besar (Sari, 2017), sehingga
𝑇𝐾 = 𝐶𝐻 + 𝑇𝑃 + 𝐾𝐿 + 𝑁𝐷𝑉𝐼 (3.1)
Adapun skor parameter curah hujan dapat dilihat melalui tabel 3.1
Parameter skoring NDVI dapat dilihat pada tabel 3.3 sebagai berikut:
Untuk penentuan interval kelas tingkat kekeringan pada penelitian ini digunakan rumus
1) Tumpang tindih
Tumpang tindih merupakan interaksi atau gabungan dari beberapa peta biofisik pemicu
kekeringan. Tumpang tindih beberapa peta menghasilkan suatu informasi baru dalam bentuk
luasan atau poligon yang terbentuk dari irisan beberapa poligon dari peta-peta tersebut. Peta
yang ditumpang tindih merupakan peta-peta yang sebelumnya telah diberi skor pada setiap
kelas dari masing-masing parameter biofisik sehingga menghasilkan peta zonasi potensi
kekeringan.
33
2. Diagram Alir
Mulai
Pengumpulan data
Pemotongan citra
Peta curah hujan Peta NDVI lokasi Peta tutupan lahan Peta kemiringan lereng
lokasi penelitian penelitian lokasi penelitian lokasi penelitian
Overlay
BAB IV
Kesimpulan
Selesai
7
HASIL DAN PEMBAHASAN
menjadi 3 kelas, berdasarkan pengolahan NDVI citra Landsat 8 tahun 2019. Yaitu
kehijauan rendah, kehijauan sedang dan kehijauan tinggi. Setiap kelas kemudian
dihitung luas area kerapatan vegetasinya dan dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai
berikut:
kerapatan vegetasi Kawasan Kota Labuan Bajo seperti pada tabel 4.1. Lahan
kehijauan rendah memiliki luas area (1930 ha), kehijauan sedang memiliki luas
area (5386 ha) dan kehijauan tinggi memiliki luas area (17178 ha). Maka jumlah
pengolahan citra Landsat 8 adalah (24514 ha) dan sebagian besar didominasi oleh
kerapatan vegetasi tinggi. Peta kerapatan vegetasi dari hasil pengolahan NDVI
Citra Landsat 8 Kawasan Kota Labuan Bajo dapat dilihat pada gambar 4.1
8
Gambar 4.1 Peta NDVI Kawasan Kota Labuan Bajo
mm/tahun atau sangat kering. Dalam pembuatan peta curah hujan,di gunakan data
curah hujan tahun 2019 pada bulan Agustus yaitu sebesar 0,4 mm, yang mana
jumlah curah hujan tersebut adalah yang paling rendah di tahun 2019.
Manggarai Barat termasuk curah hujan yang rendah. Kondisi seperti ini
jenis, yaitu pemukiman, air, sawah, padang rumput, hutan, tambak, mangrove dan
lahan terbuka.
37
Klasifikasi dilakukan berdasarkan pola yang terlihat. Dalam melakukan
Metode yang digunakan dalam melakukan klasifikasi ini adalah metode maximum
maksimum dari setiap piksel yang digunakan pada citra. Hasil klasifikasi tutupan
Gambar 4.2 Peta Curah Hujan Kawasan Kota Labuan Bajo(Hasil anaisis penulis,
2021)
40
Gambar 4.3 Penggunaan Lahan Kawasan Kota Labuan Bajo (Hasil anaisis
penulis, 2021)
dominan di daerah Kawasan Kota Labuan Bajo adalah area hutan atau kebun yaitu
dengan luas area (16795 ha) atau sekitar 68.62% dari keseluruhan wilayah
Kawasan Kota Labuan Bajo. Sedangkan luas terendah yaitu air yang memiliki
luas area (45 ha) atau hanya sekitar 0.18% dari keseluruhan wilayah Kawasan
Kota Labuan Bajo. Kelas sawah memiliki luas area (1334 ha), kelas lahan terbuka
memiliki luas area (226 ha) kelas pemukiman memiliki luas area (1740 ha), kelas
tambak memiliki luas area (575 ha), kelas mangrove memiliki luas area (181 ha)
dan kelas padang rumput memiliki luas area (3579 ha). Peta penggunaan lahan
41
4.1.4 Peta kemiringan lereng
Besar kemiringan tanah (lereng) di Kawasan Kota Labuan Bajo beragam dan
15%), agak curam (15-25%), curam (25-45%) dan sangat curam (>45%). Hasil
Kota Labuan Bajo didominasi oleh lereng curam (25-45%), yaitu seluas 7476.38
ha atau 30.49% dari luas total wilayah Kawasan Kota Labuan Bajo. Lereng landai
mencakup 4536.96 ha atau 18.50% dari luas total Kawasan Kota Labuan Bajo.
Seluas 3922.96 ha atau 16.00% dari luas total Kawasan Kota Labuan Bajo,
merupakan dataran dengan besar lereng (0-8%), sedangkan lereng dengan besaran
>45% atau kategori sangat curam mencakup 11.33%, yaitu 2778.86 ha. Peta
42
Gambar 4.4 Kemiringan lereng Kawasan Kota Labuan Bajo (Hasil anaisis
penulis, 2021)
4.2 Analisis Peta Potensi Kekeringan
beberapa parameter yaitu, NDVI, curah hujan, kemiringan lereng dan tutupan
lahan yang sudah diolah dan kemudian dioverlay. Kemudian dilanjutkan dengan
metode skoring terhadap parameter yang akan digunakan dalam analisis. Skoring
menghasilkan peta kekeringan. Jadi setiap parameter memiliki skor yang berbeda-
beda. Setelah skoring, peta kekeringan akan muncul sesuai dengan skor yang telah
43
Gambar 4.5 Potensi Kekeringan Kawasan Kota Labuan Bajo (Hasil analisis
penulis, 2021)
lahan dan kemiringan lereng, dapat disimpulkan bahwa potensi kekeringan rendah
mendominasi dengan kisaran 53.11% dari luas wilayah, sedangkan luas potensi
kekeringan agak tinggi berkisar 23.75% dari luas wilayah, luas potensi kekeringan
tinggi berkisar 13.63% dari luas wilayah, luas potensi kekeringan sangat rendah
berkisar 5.60% dari luas wilayah dan potensi kekeringan sangat tinggi di Kawasan
Kota Labuan Bajo merupakan kelas potensi paling kecil luasannya hanya berkisar
3.90% dari luas wilayah. Tabel klasifikasi berdasarkan interval tingkat potensi
44
Tabel 4.4 Klasifikasi Berdasarkan Interval Tingkat Potensi Kekeringan
Kelas Interval Kelas Potensi Kekeringan Luas (ha) Luas (%)
I 21 - 25 Sangat Rendah 1370 5.60
II 26 - 30 Rendah 12985 53.11
III 31 - 35 Agak Tinggi 5807 23.75
IV 36 - 40 Tinggi 3333 13.63
V 41 - 47 Sangat Tinggi 954 3.90
Sumber: pengolahan data, 2021
penggunaan lahan sungai atau rawa dengan curah hujan 0,4 mm. Selain itu,
potensi kekeringan sangat rendah berdasarkan hasil analisis citra landsat 8 berada
pada daerah kerapatan vegetasi tinggi. Kelas potensi ini tersebar di seluruh
Potensi kekeringan rendah terdapat pada daerah dengan curah hujan 0,4 mm
dan penggunaan lahan kebun atau hutan. Selain itu, potensi kekeringan rendah
berdasarkan hasil analisis citra landsat 8 berada pada daerah kerapatan vegetasi
tinggi. Kelas potensi ini tersebar di seluruh kawasan Kota Labuan Bajo.
Potensi kekeringan agak tinggi berada pada daerah dengan curah hujan 0.4
mm, terdapat jenis penggunaan lahan sawah, pemukiman. Selain itu, potensi
kekeringan agak tinggi berdasarkan hasil analisis citra landsat 8 berada pada
daerah kerapatan vegetasi sedang. Kelas potensi ini tersebar di seluruh kawasan
45
4. Potensi Kekeringan Agak Tinggi
Potensi kekeringan agak tinggi terdapat daerah dengan curah hujan 0.4 mm
dan terdapat jenis penggunaan lahan sawah, pemukiman. Selain itu, potensi
kekeringan agak tinggi berdasarkan hasil analisis citra landsat 8 berada pada
daerah kerapatan vegetasi sedang. Kelas potensi ini tersebar di seluruh kawasan
Potensi kekeringan sangat tinggi terdapat pada daerah dengan curah hujan 0.4
mm dan terdapat jenis penggunaan lahan lahan sawah, pemukiman dan lahan
terbuka. Selain itu, potensi kekeringan agak tinggi berdasarkan hasil analisis citra
landsat 8 berada pada daerah kerapatan vegetasi rendah. Kelas potensi ini tersebar
Tabel 4.5 Sebaran Wilayah Kelas Potensi Kekeringan di Kawasan Kota Labuan
Bajo
43
No Potensi Desa/Kelurahan Luas (ha) Persentase
Kekeringan
1 Sangat rendah Batu Cermin 38 4.79
Compang Liang Ndara 31 4.54
Golo Pongkor 97 10.77
Golo Bilas 128 5.91
Cunca Wulang 143 4.61
Compang Longgo 62 9.86
Watu Nggelek 14 5.28
Wae Kelambu 120 6.01
Tandong Belang 29 1.89
Pantar 113 8.09
Nggorang 155 6.47
Macang Tanggar 354 6.69
Liang Ndara 48 3.09
Labuan Bajo 20 1.53
Gorontalo 17 3.90
2 Rendah Batu Cermin 243 30.64
Compang Liang Ndara 453 66.33
Golo Pongkor 550 61.04
Golo Bilas 1197 55.29
Cunca Wulang 2269 73.10
Compang Longgo 346 55.01
Watu Nggelek 129 48.68
Wae Kelambu 1268 63.53
Tandong Belang 921 60.16
Pantar 641 45.92
Nggorang 1580 65.94
Macang Tanggar 2255 42.64
Liang Ndara 840 54.16
Labuan Bajo 143 10.92
Gorontalo 150 34.40
3 Agak Tinggi Batu Cermin 218 27.49
Compang Liang Ndara 161 66.33
Golo Pongkor 198 21.98
Golo Bilas 535 24.71
Cunca Wulang 525 16.91
Compang Longgo 108 17.17
Watu Nggelek 71 26.79
Wae Kelambu 381 19.09
Tandong Belang 432 28.22
Pantar 449 32.16
Nggorang 495 20.66
Macang Tanggar 1336 25.26
44
Liang Ndara 548 35.33
Labuan Bajo 263 20.08
Gorontalo 84 19.27
4 Tinggi Batu Cermin 250 31.53
Compang Liang Ndara 34 4.98
Golo Pongkor 54 5.99
Golo Bilas 277 12.79
Cunca Wulang 129 4.16
Compang Longgo 86 13.67
Watu Nggelek 43 16.23
Wae Kelambu 198 9.92
Tandong Belang 106 6.92
Pantar 188 13.47
Nggorang 150 6.26
Macang Tanggar 1055 19.95
Liang Ndara 76 4.90
Labuan Bajo 548 41.83
Gorontalo 139 31.88
5 Sangat Tinggi Batu Cermin 44 5.55
Compang Liang Ndara 4 0.59
Golo Pongkor 2 0.22
Golo Bilas 28 1.29
Cunca Wulang 38 1.22
Compang Longgo 27 4.29
Watu Nggelek 8 3.02
Wae Kelambu 29 1.45
Tandong Belang 43 2.81
Pantar 5 0.36
Nggorang 16 0.67
Macang Tanggar 288 5.45
Liang Ndara 39 2.51
Labuan Bajo 336 25.65
Gorontalo 46 10.55
Wilayah yang berpotensi kekeringan kelas tinggi dan sangat tinggi tersebar di
seluruh Kawasan Kota Labuan Bajo yaitu, berada di Kelurahan Labuan Bajo, Kelurahan
Batu Cermin dan Desa Macang Tanggar. Selain curah hujan yang rendah, potensi
kekeringan kelas tinggi dibuktikan dengan banyaknya penggunaan lahan pertanian lahan
kering atau tegalan, dan pemukiman padat atau pusat kota, serta lahan kosong sehingga
45
pada musim kemarau daerah ini cendrung lebih kering. Hal ini sesuai dengan data BPBD
Kabupaten Manggarai Barat yang menyebutkan bahwa terdapat 9 bencana yang memiliki
tingkat resiko yang sedang hingga tinggi di Kabupaten Manggarai Barat. Bencana tersebut
salah satunya adalah kekeringan, dimana bencana ini berpotensi menyebabkan kerugian
46
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
sebagai berikut.
Dari hasil pengolahan data, Kawasan Kota Labuan Bajo memiliki 5 kelas potensi
kekeringan, yaitu tingkat potensi kekeringan sangat rendah seluas 1370 ha, tingkat potensi
kekeringan rendah seluas 12985 ha, tingkat potensi kekeringan agak tinggi seluas 5807 ha,
tingkat potensi kekeringan tinggi seluas 3333 ha, dan tingkat potensi kekeringan sangat
tinggi seluas 954 ha. Jadi kelas kekeringan rendah lebih dominan karena memiliki luas
wilayah yang lebih luas dari area kelas yang lain. Sedangkan kelas kekeringan sangat tinggi
memiliki luas area paling sedikit jika dibandingkan dengan kelas yang lain. Jadi dapat
disimpulkan bahwa wilayah Kawasan Kota Labuan Bajo memiliki tingkat kekeringan yang
rendah.
tinggi curah hujan di suatu daerah maka tingkat kekeringan akan rendah sedangkan apabila
curah hujan rendah maka tingkat kerawanan akan tinggi, namun hal itu masih dipengaruhi
5.2 Saran
47
2. Diharapkan untuk daerah yang mempunyai potensi tinggi terjadinya kekeringan
berupa NDWI, NDMI, LST (Suhu permukaan tanah), jenis tanah dan drainase.
48
DAFTAR PUSTAKA
Bappeda NTT. (2009). Rencana pembangunan jangka menengah daerah provinsi NTT
tahun 2009-2013. Kupang: Bappeda NTT.
BPBD. 2019. Indeks Rawan Bencana. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
BPS. (2019). Kabupaten Manggarai Barat dalam Angka. Publikasi Badan Pusat Statistik
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2019.
Doni Sudiana, Elfa Diasmara. 2008. Analisis Indeks Vegetasi menggunakan Data Satelit
NOAA/AVHRR dan TERRA/AQUA-MODIS. Jurnal. Depok: Jurusan Teknik Elektro
Universitas Indonesia.
Hagget, P. 1993. Geography :A Modern Sinthesi. Harper & Row Publisher. New York.
Humaidi. 2005. Pemanfaatan Citra Landsat Etm+ dalam Penyusunan Model Pengaturan
Hasil Hutan:Studi Kasus di Hphti Pt Musi Hutan Persada Propinsi Sumatera
Selatan. Skripsi Departemen Managemen Hutan IPB.
Ima Sholikhati, dkk. 2013. Studi Identifikasi Indeks Kekeringan Hidrologis Pada Daerah
Aliran Sungai (Das) Berbasis Sistem Informasi Geografis (Sig) (Studi Kasus Pada
Das Brantas Hulu : Sub-Das Upper Brantas, Sub-Das Amprong Dan Sub-Das
Bangosari). Jurnal Pengairan, Volume 4 Nomor 2. 2013.
49
Jamil, D. H. (2013).Deteksi Potensi Kekeringan Berbasis Penginderaan Jauh Dan Sistem
Informasi Geografis Di Kabupaten Klaten. Geo-image, 2(2).
Jaya INS. 1997. Penginderaan Jauh Satelit Untuk Kehutanan. Laboratorium Inventarisasi
Hutan Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Maji, A.K., Krishna, N.D.R, dan Challa, O. 1988. Geographic Information Systemin
Analysis and Interpretation of Soil Resource Data for Land Use Panning.J Indian Soc
Soil Sci 46:260-263.
Mulyanto, H.R. Sungai: Fungsi dan Sifat-sifatnya. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.
Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah Propinsi NTT tahun 2004, Bapedalda Propinsi
NTT.
50
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.32/MENHUT-II/2009 Tentang
Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Daerah
Aliran Sungai (RTkRHL-DAS)
Prahasta. 2008. REMOTE SENSING : Praktis Penginderaan Jauh & Pengolahan Citra
Dijital Dengan Perangkat Lunak Er Maper. Informatika Bandung. Bandung.
Raharjo, P. D. 2010. Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk
Identifikasi Potensi Kekeringan Kabupaten [Link] makara teknologi, vol.
14 no. 2, November 2010: 97-105. Karangsambung: Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia.
Raisz, Erwin. 1948. General Cartography. New York: Mc. Graw Hill Book Co. Inc
Rencana Teknis Tata Ruang Kota (RTRK) Labuan Bajo, Bappeda Kabupaten Manggarai
Barat. Tahun Anggaran 2005.
Shamsi, U. M. 2005. GIS Application for Water, Wastewater & StormwaterSystem. CRC
Press. Florida.
Sodikin. 2015. Sistem Informasi Geografis & Penginderaan Jauh “Teori dan Praktek
dengan ER Mapper dan Arc View”. Yogyakarta: Sibuku Media.
Sobekti, R, dkk. 2009. Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. World Agroferastry Centre:
Bogor.
51
Soenarmo, S.H. [Link] Jarak Jauh dan Pengenalan Sistem Informasi Geografi
Untuk Bidang Ilmu Kebumian. ITB: Bandung.
Sudiana, D,. Elfa Diasmara. 2008. Analisis Indeks Vegetasi menggunakan Data Satelit
NOAA/AVHRR dan TERRA/[Link]. Depok: Jurusan Teknik Elektro
Universitas Indonesia.
Tim Penulis Laporan Akhir. (2011). Penyusunan Master Plan Air Minum Bersih Dalam
Kota Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara
[Link] Kabupaten Manggarai Barat.
Tim Penulis Laporan. (2007). Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Manggarai
[Link] Pertambangan Energi Dan Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai
Barat.
USGS. 2016. LANDSAT 8 (L8) DATA USERS HANDBOOK. Depertement of the Interior
U.S. Geologocal Survey.
Wiradisastra US. 1982. Masalah Pengurangan Dimensi Pada Pemetaan Sumber Daya
Alam. Makalah Lokarya Pengembangan Pendidikan dan Penelitian untuk
Menunjang Program Inventarisasi dan Evaluasi Sumber Daya Alam Nasional. IPB-
Bakosurtanal. Bogor.
52
LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Curah Hujan Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2019.
Nilai terendah : 21
Nilai tertinggi : 47
Interval kelas : 5
53
Lampiran 3. Tahapan Overlay Peta
Untuk melakukan overlay peta, langkah – langkah yang dilakukan adalah sebagai
berikut.
54
Gambar L3.2. Tools Intersect
5) Pilih Input Features dan direktori penyimpanan pada Output Feature Class
dengan mengklik
55
Gambar L3.4. Output feature class
56
Gambar L3.6. Tabel Atribut Hasil Overlay
57
Lampiran 4. Tahapan Membagi Wilayah Potensi Kekeringan Per Desa di Kawasan
Kota Labuan Bajo
Untuk membagi wilayah potensi kekeringan per desa di kawasan Kota Labuan Bajo,
langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
3. Potong peta potensi kekeringan yang sudah jadi berdasarkan peta administrasi dari
58
Gambar L4.2. Input feature tools Clip
59
Gambar L4.4. Hasil Clip
60
Lampiran 5. Gambar Tutupan Lahan di Kawasan Kota Labuan Bajo
1. Tutupan Lahan 1
2. Tutupan Lahan 2
61
3. Tutupan Lahan 3
4. Tutupan Lahan 4
62
63
54