0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan125 halaman

Analisis Pengujian BTS di CV Bara Mitra Kencana

Tugas akhir ini membahas analisis pengujian Brazilian test untuk memprediksi nilai hubungan antara Blok Punch Index, Point Load Index, dan analisis stand up time lubang pada lokasi tambang BMK 34 CV. Bara Mitra Kencana. Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan nilai Brazilian test dengan Blok Punch Index, Point Load Index, serta memprediksi stand up time lubang berdasarkan analisis batuan. Sampel yang diuji adalah batuan pasir dan lempung pada lokasi tamb

Diunggah oleh

hudson hornet
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan125 halaman

Analisis Pengujian BTS di CV Bara Mitra Kencana

Tugas akhir ini membahas analisis pengujian Brazilian test untuk memprediksi nilai hubungan antara Blok Punch Index, Point Load Index, dan analisis stand up time lubang pada lokasi tambang BMK 34 CV. Bara Mitra Kencana. Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan nilai Brazilian test dengan Blok Punch Index, Point Load Index, serta memprediksi stand up time lubang berdasarkan analisis batuan. Sampel yang diuji adalah batuan pasir dan lempung pada lokasi tamb

Diunggah oleh

hudson hornet
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS PENGUJIAN BRAZILIAN TEST UNTUK MEMPREDIKSI NILAI

HUBUNGAN ANTARA BLOK PUNCH INDEX (BPI) , POINT LOAD


INDEX (PLI) DAN ANALISIS STAND UP TIME LUBANG
BMK 34 [Link] MITRA KENCANA

TUGAS AKHIR

Untuk memenuhi sebagian persyaratan


guna memperoleh gelar Sarjana Teknik

Oleh:

RIYAMIZARD Z
1510024427081

TEKNIK PERTAMBANGAN
YAYASAN MUHAMMAD YAMIN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI
( STTIND ) PADANG
2019
ANALISIS PENGUJIAN BRAZILIAN TEST UNTUK MEMPREDIKSI NILAI
HUBUNGAN ANTARA BLOK PUNCH INDEX (BPI), POINT LOAD
INDEX (PLI) DAN ANALISIS STAND UP TIME LUBANG
BMK 34 [Link] MITRA KENCANA

TUGAS AKHIR

Untuk memenuhi sebagian persyaratan


guna memperoleh gelar Sarjana Teknik

Riyamizard Z
1510024427081

TEKNIK PERTAMBANGAN
YAYASAN MUHAMMAD YAMIN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI
(STTIND) PADANG
2019
HALAMAN PERSETUJUAN
TUGAS AKHIR

Judul :Analisis Pengujian Brazilian Test Untuk Memprediks Nilai


HubunganAntara Blok Punch Index (BPI), Point Load Index
(PLI) Dan Analisis Stand Up Time Lubang BMK 34 [Link]
Mitra Kencana
Nama : Riyamizard Z

NPM : 1510024427081

Program Studi : Teknik Pertambangan

Padang, Agustus 2019

Menyetujui:

Pembimbing I Pembimbing II

Refky Adi Nata ST,MT. Riam Marlina A, ST, MT.


NIDN.1028099002 NIDN. 1027098521

Ketua Program Studi Ketua STTIND Padang

Dr. Murad MS, MT. H. RikoErvil, MT.


NIDN.0007116308 NIDN. 1014057501
ANALISIS PENGUJIAN BRAZILIAN TEST UNTUK MEMPREDIKS
NILAI HUBUNGAN ANTARA BLOK PUNCH INDEX (BPI), POINT LOAD
INDEX (PLI) DAN ANALISIS STAND UP TIME LUBANG
BMK 34 [Link] MITRA KENCANA

Nama : Riyamizard Z
NPM : 1510024427081
Pembimbing I : Refky Adi Nata, MT
Pembimbing II : Riam Marlina A, MT

ABSTRAK

Uji Brazilian test (BTS) adalah uji untuk mengetahui kapasitas tarik dari material
getas seperti beton dan batuan. Sampel yang digunakan dalam pengujian Brazilian
test yaitu sandstone dan clay yang terdapat pada lokasi BMK 34 CV. Bara Mitra
kencana. Tujuan penelitian yaiitu menentukan nilai hubungan Brazilian Test (
BTS ) Dengan Blok Punch Index, Point Load Index, dan analisis stand up time
lubang bukan BMK 34 di karenakan pada lokasi tersebut belum pernah
dilakukanya analisis tersebut akibatnya sering terjadi ambrukan. Hasil analisa
didapatkan hubungan nilai BTS dengan BPI sampel sandstone y = -166,15x +
244.44 dengan Nilai regresi (R2) 0,2183 dan clay y = 554,8x + 52.779 dengan
Nilai regresi (R2) 0.5801 selanjutnya analisa hubungan BTS dengan PLI sampel
sandstone y = 0.9936x + 0.3174 Nilai regresi (R2) 0,9995 dan clay y = 1.16x +
0.2852 Nilai regresi (R2) 0,9962. stand up time BMK 34 untuk sandstone dengan
nilai RMR 40 stand up time selama 4 hari dengan jarak bukaan kemajuan (roof
span) 2 meter dan Clay dengan nilai RMR 32,5 peroleh nilai stand up time
selama 10 jam dengan jarak bukaan kemajuan (roof span) 2 meter.

Kata Kunci: BTS, BPI, PLI, Stand up time


ANALYSIS OF THE BRAZILIAN TEST FOR PREDICTING VALUES RELATIONSHIP
BETWEEN THE BLOCK PUNCH INDEX (BPI) ,
POINT LOAD INDEX (PLI) AND ANALYSIS OF STAND UP
TIME HOLE BMK 34 CV. BARA MITRA KENCANA

Name : Riyamizard Z
NPM : 1510024427081
Advisor I : Refky Adi Nata, MT
Advisor II : Riam Marlina A, MT

ABSTRACT
Brazilian test (BTS) is a test to determine the tensile capacity of brittle materials
such as concrete and rock. The samples used in the Brazilian test are sandstone
and clay which are located at BMK 34 CV. Bara Mitra Kencana. The purpose of
this research is to determine the relationship value of Brazilian Test (BTS) with
Punch Index Block, Point Load Index, and stand-time analysis of non-BMK 34
holes because at that location the analysis has never been done as a result of
frequent collisions. The analysis results obtained the relationship between the
BTS value with sandstone BPI sample y = -166,15x + 244.44 with regression
value (R2) 0,2183 and clay y = 554.8x + 52,779 with regression value (R2)
0.5801 then analysis of the relationship of BTS with PLI sample sandstone y =
0.9936x + 0.3174 Regression value (R2) 0.9995 and clay y = 1.16x + 0.2852
Regression value (R2) 0.9962. stand up time BMK 34 for sandstone with a value
of RMR 40 stand up time for 4 days with a distance of the opening opening (roof
span) 2 meters and Clay with a value of RMR 32.5 get a stand up time value for
10 hours with a distance of the opening opening (roof span ) 2 meters.

Keywords : BTS, BPI, PLI, Stand up time


KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT karenaNya

yang memberikan nikmat, anugerah serta limpahan karunia yang Ia berikan

penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini sebagai syarat yang ditempuh untuk

memperoleh gelar ST di Sekolah Tinggi teknologi Industri Padang.

Pada penulisan Tugas Akhir, penulis mengucapkan terimakasih kepada;

1. H. Riko Evril, MT. selaku Ketua STTIND Padang.

2. Dr. Murad MS., MT. selaku Ketua Program Studi Teknik Pertambangan STTIND

Padang.

3. Bapak Refky Adi Nata, ST., MT. selaku Pembimbing I.

4. Ibu Riam Marlina A., ST., MT. selaku Pembimbing II.

5. Terkhusus kedua orang tua, adik, serta kerabat yang mendukung penuh dengan

do’a serta semangat yang selalu diberikan.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih memerlukan saran serta

masukan untuk mengulas serta menyempurnakan menjadi sebuah penelitian yang

lebih lengkap. Dengan harapan bahwa penelitian yang telah dilakukan oleh

penulis dapat dimanfaatkan serta dipelajari oleh berbagai pihak.

Padang, 2019

Penulis

v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... v


DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah ........................................................................ 3
1.3 Batasan Masalah .............................................................................. 3
1.4 Rumusan Masalah ........................................................................... 4
1.5 Tujuan Penelitian ............................................................................. 4
1.6 Manfaat Penelitian ........................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori ................................................................................. 6
2.1.1 Tinjauan Umum Perusahaan .................................................. 6
2.1.2 Batuan .................................................................................... 10
2.1.3 Sifat Mekanik Batuan .......................................................... 13
2.1.4 Prediksi Nilai UCS Menggunakan Nilai Block Punch
Index (BPI) dan Point Load index.......................................... 28
2.1.5 Klasifikasi Massa Batuan ...................................................... 30
2.1.6 Rock Mass Rating (RMR) ...................................................... 43
2.1.7 Stand Up Time ....................................................................... 45
2.2 Kerangka Konseptual ....................................................................... 46
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ................................................................................ 48
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 48
3.2.1 Tempat Penelitian .................................................................. 48
3.2.2 Waktu Penelitian .................................................................... 49
3.3 Data dan Sumber Data ...................................................................... 50

vi
3.3.1 Data ........................................................................................ 50
3.3.2 Sumber Data ........................................................................... 50
3.4 Instrumen Penelitian ........................................................................ 50
3.4.1 Alat Uji Brazilian Test (BTS) ................................................ 51
3.4.2 Alat Uji Blok Punch Index (BPI) ............................................ 52
3.5 Teknik Pengumpulan Data .............................................................. 52
3.6 Teknik Pengolahan ........................................................................... 54
3.6.1 Hubungan Nilai Kuat TekanBrazilian Test (BTS)
dengan Blok Punch
Index (BPI) ........................................................................... 54
3.6.2 Hubungan Nilai Kuat Tekan Brazilian Test (BTS)
dengan
Poin Load Index (BPI) .......................................................... 55
3.6.3 Stand Up Time ...................................................................... 55
3.7 Analisa Data .................................................................................... 57
3.8 Kerangka Metodologi ...................................................................... 59
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1 Pengumpulan Data ........................................................................... 59
4.1.1 Sampel Batuan ....................................................................... 59
4.1.2 Prediksi Nilai Poin Load Index Dari Uj Nilai Uji
Brazilian Test ........................................................................ 67
4.1.3 Pembobotan Nilai RMR ...................................................... 68
4.1.4 Pengambilan Koordinat Lokasi ............................................. 69
4.2 Pengolahan Data .............................................................................. 70
4.2.1 Hubungan Brazilian Test (BTS) Dengan Blok Punch
Index
(BPI) dengan Sampel Sandstone dan Clay ............................. 70
4.2.2 Hubungan Brazilian Test (BTS) Dengan Poin Load
Index
(PLI) dengan Sampel Sandstone Dan Clay ........................... 71
4.2.3 Stand Up Time ....................................................................... 73

vii
BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
5.1 Analisa Nilai Hubungan Brazilian Test (BTS) Dengan Blok
Punch Index
(BPI) dengan Sampel Sandstone dan Clay ....................................... 74
5.2 Analisa Nilai Hubungan Brazilian Test (BTS) Dengan Poin
Load Index
(PLI) dengan Sampel Sandstone Dan Clay ...................................... 76
5.3 Analisis Stand Up Time Lubang BMK 34 ....................................... 77
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ..................................................................................... 80
6.2 Saran ................................................................................................ 81
DAFTAR KEPUSTAKAAN ................................................................................ 82
LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Kuat Tekan dan Skala Mohs Menurut Bieniawski
Dan Tamrock .................................................................................. 16
Tabel 2.2 Persamaan Untuk Menentukan Kuat Tekan dengan PLI
Menurut Berbagai Peneliti .............................................................. 19
Tabel 2.3 Rumus Empiris Untuk Memprediksi UCS dari Nilai Block
Punch Index (BPI) dan Point Load ................................................. 30
Tabel 2.4 Strength of Intact Material ............................................................. 33
Tabel 2.5 Rock Quality Designation ............................................................... 35
Tabel 2.6 Spacing of Discontonuities ............................................................. 36
Tabel 2.7 Klasifikasi Persistence .................................................................... 38
Tabel 2.8 Klasifikasi Deskripsi Kondisi Bukaan Kekar ................................. 39
Tabel 2.9 Panduan untuk Klasifikasi Bidang Kekar ....................................... 41
Tabel 2.10 Pembobotan Kondisi Air Tanah ..................................................... 42
Tabel 2.11 Pembobotan Orientasi Kekar .......................................................... 43
Tabel 2.12 Design Parameters and Engineering Properties of Rock
Mass ................................................................................................ 44
Tabel 4.1 Hasil Pengujian Blok Punch Index dengan Sampel sandstone ........ 65
Tabel 4.2 Hasil Pengujian Blok Punch Index dengan Sampel clay ................. 65
Tabel 4.3 Hasil Pengujian Braziliant test dengan Sampel sandstone .............. 66
Tabel 4.4 Hasil Pengujian Braziliant test dengan Sampel clay ....................... 67
Tabel 4.5 Prediksi nilai Poin Load Index dengan Sampel sandstone .............. 67
Tabel 4.6 Prediksi nilai Poin Load Index dengan Sampel clay ....................... 68
Tabel 4.7 Hubungan uji BTS dengan BPI Sampel sandstone ......................... 70
Tabel 4.8 Hubungan uji BTS dengan BPI Sampel clay ................................... 71
Tabel 4.9 Hubungan uji BTS dengan PLI Sampel sandstone .......................... 72
Tabel 4.10 Hubungan uji BTS dengan PLI Sampel clay ................................... 73

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Metode Room and Pillar ............................................................... 9


Gambar 2.2 Siklus Pembentukan Batuan ......................................................... 11
Gambar 2.3 Alat Uji Kuat Tekan Uniaksial Batuan ........................................ 14
Gambar 2.4 Tipe Hancuran Batuan Hasil Uji Kuat Tekan Uniaksial
Batuan dengan L/D=2 .................................................................. 15
Gambar 2.5 Alat Uji Point Load Index ............................................................ 17
Gambar 2.6 Tipe dan Syarat Sampel Batuan Uji PLI ...................................... 17
Gambar 2.7 Perbandingan Ukuran Sampel untuk Masing-masing
Pengujian ...................................................................................... 20
Gambar 2.8 Perbandingan Antara Valid dan Invalid Pengujian BPI
Untuk Ketebalan Sampel yang Beragam ..................................... 22
Gambar 2.9 Perbandingan Bentuk Sampel Pada Pengujian Sifat Mekanik
di laboratorium .............................................................................. 25
Gambar 2.10 (a) Posisi Sampel Pada Saat Pengujian Brazilian test
Pada Kondisi Normal (b) Posisi Sampel Setelah
Dijepit (c) Bentuk Sampel Pada Saat Sampel Telah Di Uji ......... 25
Gambar 2.11 Hubungan Antara Nilai Pengujian Blok Punch Index (BPI)
denagn nilai Brazilian test ............................................................ 27
Gambar 2.12 Hubungan antara UCS dengan Nilai BPI yang Telah
Dikoreksi dan Point Load index ................................................... 29
Gambar 2.13 Penentuan RQD dari Conto Inti Bor ............................................ 34
Gambar 2.14 Defenisi Spasi Bidang Diskontinuitas .......................................... 36
Gambar 2.15 Pengukuran Kekar dengan Metode Scanline ............................... 37
Gambar 2.16 Kurva Pembobotan RMR dan M-RMR ....................................... 43
Gambar 2.17 Kurva stand up time ...................................................................... 45
Gambar 2.18 Kerangka Konseptual ................................................................... 46
Gambar 3.1 Peta Kesampaian Daerah Kota Sawahlunto ................................. 49
Gambar 3.2 Alat uji Brazilian test (BTS) ........................................................ 51
Gambar 3.3 Alat uji Block Punch Index (BPI) ................................................ 52

x
Gambar 3.4 Hubungan UCS dengan Poin Load Index .................................... 54
Gambar 3.5 Kurva Pembobotan RMR dan M-RMR ........................................ 56
Gambar 3.6 Kurva stand up time ...................................................................... 57
Gambar 3.7 Diagram alir penelitian ................................................................ 59
Gambar 4.1 Sampel Sandstone dan Clay .......................................................... 61
Gambar 4.2 Alat Pemotong Batu dan Pengecil Ukuran.................................... 62
Gambar 4.3 Hasil Preparasi Batuan untuk uji BPI............................................ 63
Gambar 4.4 Hasil Preparasi Batuan untuk uji BTS .......................................... 63
Gambar 4.5 Pengujian Brazilian test dan blok punch index ............................ 64
Gambar 4.6 Hasil Pengujian Brazilian test dan blok punch index ................... 64
Gambar 4.7 Pengambilan koordinat BMK 34 ................................................. 69
Gambar 5.1 Hubungan BTS dengan BPI sampel Sandstone ............................ 74
Gambar 5.2 Hubungan BTS dengan BPI sampel Clay ..................................... 75
Gambar 5.3 Hubungan BTS dengan PLI sampel Sandstone ............................ 76
Gambar 5.4 Hubungan BTS dengan PLI sampel Clay ..................................... 77
Gambar 5.5 Analisis Stand Up Time sandstone................................................ 78
Gambar 5.6 Analisis Stand Up Time clay ......................................................... 79

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Tampilan Alat BTS


Lampiran II Dokumentasi Penelitian
Lampiran III Penyangga Lubang BMK 34
Lampiran IV Format Pengambilan Data Lapangan
Lampiran V Data Uji Blok Punch Index Sandstone
Lampiran VI Data Uji Blok Punch Index test clay
Lampiran VII Data Uji Brazilian test sandstone
Lampiran VIII Data Uji Brazilian test clay
Lampiran IX Perhitungan Blok puch index dengan sampel sandstone
Lampiran X Perhitungan Blok puch index dengan sampel clay
Lampiran XI Perhitungan Brazilian Test dengan sampel sandstone
Lampiran XII Perhitungan Brazilian Test dengan sampel clay
Lampiran XIII Prediksi nilai Poin Load Index dengan sampel Sandstone
Lampiran XIV Prediksi nilai Poin Load Index dengan sampel clay
Lampiran XV Peta Geologi CV. Bara Mitra Kencana
Lampiran XVI Peta Perpanjangan Dan Penciutan IUP
Lampiran XVI I Peta Topografi CV. Bara Mitra Kencana
Lampiran XVIII Peta Geomorfologi CV. Bara Mitra Kencana
Lampiran XIX Peta Geomorfologi CV. Bara Mitra Kencana
Lampiran XXI Layout Lubang BMK 34

xii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakangan

Brazilian test adalah uji kuat tarik batuan untuk menentukan sifat mekanik

batuan. uji kuat tarik batuan di laboratorium dua metode, yaitu metode kuat tarik

langsung dan metode kuat tarik tak langsung. Metode kuat tarik tak langsung

merupakan uji yang paling sering digunakan. Hal ini disebabkan uji ini lebih

sederhana dibandingkan uji kuat tarik langsung.

Uji Brazilian test atau seringkali dikenal juga sebagai uji kuat tarik

merupakan salah satu uji yang paling umum digunakan untuk mengetahui

kapasitas tarik dari material getas seperti beton dan batuan. Sampel yang

digunakan dalam pengujian Brazilian test berbentuk silinder. Sampel yang

berbentuk silinder bisa di dapatkan dari hasil core pengeboran dan dari hasil

preparasi batuan di laboratorium.

Selain bentuk dari sampel pengujian, ada beberapa hal yang

mempengaruhi nilai kuat tarik batuan, seperti variasi ukuran butir dan tingkat

pelapukan pada batuan tersebut. Kurnia Aprinta Herastuti (2016), melakukan

analisis pengaruh variasi ukuran butir terhadap sifat fisik dan nilai kuat tarik

material dengan menggunakan 3 jenis sampel yang pada pengujian, yaitu

batupasir, batulempung dan batulanau. Dari hasil percobaan yang mereka lakukan

diketahui bahwa semakin kecil butir ukuran batuan maka semakin tinggi nilai

massa jenis material tersebut, jika massa jenis material semakin besar maka

semakin rapat material tersebut dan dari nilai kerapatan yang tinggi itu akan

1
2

menghasilkan nilai kuat tarik yang tinggi. Selain uji Brazilian test untuk

menentukan kuat tarik batuan pengujian sifat mekanik batuan lainnya juga bisa

didapatkan dari Uji Blok Punch Index (BPI) dan Uji Point Load Index (PLI).

Uji Block Punch Index (BPI) dan Point Load Index (PLI) merupakan salah

satu alternatif uji indeks yang relatif baru untuk memperkirakan nilai kuat tekan

dari batuan. Uji ini sangat berguna apabila batuan memiliki bidang perlapisan

yang tipis. Ke dua uji tersebut juga bisa digunakan untuk mendapatkan prediksi

nilai Uniaxial Compressive Strength (UCS).

Dari pengujian Brazilian Test dapat mengetahui hubungan antara

pengujian sampel yang bebentuk silinder lainya yaitu uji Blok Punch Index dan

Point Load Index. S. Sulukcu dan R Ulusay (2001), telah melakukan analisis dari

nilai uji blok punch index dapat di gunakan untuk memperdiiksi nilai Rock Mass

Rating (RMR). Nilai RMR digunakan untuk menganalisis Stand Up Time lubang

bukaan tambang bawah tanah .

Stand Up Time merupakan waktu yang diperlukan batuan untuk

menyangga dirinya sendiri sebelum terjadi keruntuhan. Hasil pembobotan nilai

RMR nantinya akan di plot kedalam kurva sehingga kita dapat mengetahui Stand

Up Time dari massa batuan, Setelah RMR dimasukkan kedalam kurva maka dapat

mengetahui jarak batuan tanpa disangga dan lama masa berdirinya batuan tanpa

disangga.

CV. Bara Mitra Kencana merupakan salah satu perusahaan tambang

bawah tanah yang terletak di Desa Batu Tanjung Kota Sawahlunto jenis batuan

yang terdapat pada lokasi tersebut secara umum terdiri dari sandstone, clay dan
3

batubara. CV. Bara Mitra Kencana memiliki 6 lokasi lubang tambang yaitu BMK

14, BMK 32, BMK 17, BMK 32, BMK 34, dan BMK 30. Pengambilan sampel

dan pengujian dilakukan pada lubang BMK 34 dikarenakan belum pernah

dilakukan pengujian kuat tarik batuan (Braziliant Test) dan analisis Stand Up

Time.

Berdasarka latar belakang diatas penulis tertarik melakukan penelitian

lebih lanjut tentang “Analisis Pengujian Brazilian test Untuk mengetahui Nilai

hubungan antara Blok Punch Index (BPI), Point Load Index (PLI) dan analisis

Stand Up Time BMK 34 ”.

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah pada Penelitian ini adalah:

1. Belum adanya pengujian Brazilian Test dengan Blok Punch Index untuk

menentukan nilai hubungan terhadap sampel Sandstone dan Clay.

2. Belum adanya pengujian Brazilian Test dengan Poin Load Index untuk

menentukan nilai hubungan terhadap sampel Sandstone dan Clay .

3. Belum adanya anlisis Stand Up Time pada lokasi BMK 34.

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah pada Penelitian adalah

1. Sampel yang digunakan yaitu Clay dan Sandstone.

2. Untuk pengujian Brazilian Test menggunakan alat hasil dari rancangan

peneliti.
4

3. Pengujian Blok Punch Index(BPI) menggunakan alat yang terdapat pada

laboratorium STTIND Padang dan untuk mendapatkan nilai Poin Load Index

Di dapat dari pendekatan hasil uji BTS.

4. Nilai hubungan antara Brazilian Test dengan Blok Puch Index dan nilai

hubungan Brazilian test dengan Poin Load Index didapatkan dari hasil plot ke

perangkat lunak Micrsoft Excel untuk mendapatkan persamaan hubungan dan

nilai regresi.

5. Pembobotan nilai RMR menggunakan persamaan yang dihasilkan dari

penelitian [Link] dan [Link] (2001).

6. Pengambilan sampel dan analisis stand up time dilakukan di pintu utama

lubang BMK 34 CV. Bara Mitra Kencana.

1.4 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Bagaimana hubungan nilai kuat tarik Brazilian Test (BTS) dengan Block

Punch Index (BPI) terhadap sampel Sandstone dan Clay?

2. Bagaimana hubungan nilai kuat tarik Berazilian Test (BTS) dengan nilai kuat

tekan Point Load Index (PLI) terhadap sampel Sandstone dan Clay?

3. Bagaimana Stand Up Time pada lubang bukaan tambang bawah tanah BMK 34

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis hubungan nilai kuat tarik Brazilian Test dengan Block Punch

Index (BPI).
5

2. Menganalisis hubungan nilai kuat tarik Berazilian Test (BTS) terhadap nilai

kuat tekan point load index (PLI).

3. Menganalisis Stand Up Time lubang bukaan tambang bawah tanah BMK 34.

1.6 Manfaat Penelitian

a. Bagi Penulis

Penulisan penelitian dan pembuatan alat Brazilian Test ini memberikan

pengetahuan tentang alat-alat kuat tarik batuan, khususnya untuk penulis.

Apabila alat ini telah selesai nantinya dapat bermanfaat bagi instansi dan

perusahaan yang memerlukan pengujian tentang kuat tarik batuan.

b. Bagi Perusahaan

Diharapkan alat Brazilian Test ini nantinya dapat dijadikan sebagai alat untuk

menguji kuat tarik batuan bagi perusahaan, yang mana dari pengujian ini

nantinya dapat bermanfaat untuk mengklasifikasikan massa batuan dan untuk

tambang bawah tanah juga dapat berguna untuk mengetahui jenis penyangga

yang sesuai dengan nilai kuat tekan batuannya.

c. Bagi STTIND Padang

Diharapakan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan koleksi alat

di laboratorium STTIND Padang dan berguna untuk kegiatan praktikum yang

berhubungan dengan matakuliah yang sesuai.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Landasan Teori

Teori yang berhubungan dengan penelitian ini antara lain:

2.1.1 Tinjauan Umum Perusahaan

1. Kondisi Geologi dan Endapan

a. Kondisi Umum Geologi

Berdasarkan pola tektonik pulau Sumatera daerah penelitian termasuk

dalam zona intramontana. Menurut P.H. Silitonga dan Kastowo (1995) daerah

penelitian termasuk dalam anggota Bawah Formasi Ombilin (Tmol), yang

menumpang pada batuan Granit berumur Trias (g). Batuan-batuan yang

terdapat di lokasi penyelidikan dari yang tertua sampai yang termuda ialah

sebagai berikut:

1) Batuan Intrusi

Batuan Granit merupakan batuan intrusi yang dominan di wilayah ini,

berwarna abu-abu putih berbintik putih, dengan susunan dari leuko granit

sampai dengan monzonit kuarsa. Tekstur biasanya feneritik sampai porfiritik

dan mengalami pelapukan secara setempat sehingga dapat diambil sebagai

bangunan oleh masyarakat setempat. Umur satuan ini diperkirakan Trias.

Batuan diorit, berwarna abu-abu tua sampai abu-abu semu hijau dengan bintik-

bintik hitam, keras retak-retak secara setempat berongga. Bertekstur trakit,

bersusunan felspar dan mineral mafik dengan massa dasar mikrolitik.

6
7

2) Batuan Sedimen

Anggota atas Formasi Ombilin, satuan batuan ini terdiri dari lempung dan

napal berwarna abu-abu semu biru sampai semu hijau dengan sisipan batupasir,

konglomerat dan batupasir tufaan berwarna kehijau-hijauan, mengandung

kapur dan berfosil. Umur satuan batuan ini Miosen Awal. Formasi

Sangkarewang, serpihan napal coklat tua sampai kehitam-hitaman disisipi oleh

batupasir arkose dan andesit kasar bersudut. Formasi Brani, konglomerat kasar

beranekaragam dengan beberapa sisipan batupasir.

b. Geomorfologi

Daerah penelitian topografinya bergelombang-bergelombang kuat dengan

pola aliran dendritik berstadia muda menuju dewasa. Bentuk morfologi ini selain

dikontrol oleh struktur geologi juga dikontrol oleh jenis batuan yang menyangkut

sifat kekerasan.

c. Stratigrafi Regional

Secara regional stratigrafi daerah Sawahlunto dapat dibagi menjadi bagian

utama, yaitu komplek batuan Pra-Tertier dan komplek batuan Tertier.

1) Komplek batuan Pra-Tertier terdiri dari:

a) Formasi Silungkang

Nama formasi ini mula-mula diusulkan oleh Klompe, Katili dan Sukender

pada tahun 1958. Secara fotografi formasi ini masih dapat dibedakan menjadi

empat batuan yaitu: batuan Lava Andesit, batuan Lava Basalt, batuan Tufa

Andesit dan batuan Tufa Basalt. Umur dari formasi ini diperkirakan Perm

sampai Trias.
8

b) Formasi Tuhur

Formasi ini dicirikan oleh Lempung abu-abu kehitaman, berlapis baik,

dengan sisipan-sisipan batu Pasir dan batu Gamping. Diperkirakan formasi ini

berumur Trias.

2) Komplek batuan Tertier terdiri dari:

a) Formasi Sangkarewang

Nama formasi ini pertama kali diusulkan oleh Kastoyo dan Silitonga pada

1975. Formasi ini terutama terdiri dari serpih gampingan sampai napal bewarna

coklat kehitaman, berlapis halus dan mengandung fosil ikan serta tumbuhan.

Formasi ini diperkirakan berumur Eosen-Oligosen.

b) Formasi Sawahlunto

Nama formasi ini diusulkan oleh R.P Koesoemadinata dan Th. Matasak

1979. Formasi ini merupakan formasi yang paling penting karena mengandung

lapisan batubara. Formasi ini dicirikan oleh batulanau, batulempung dan

batubara yang berselingan satu sama lain. Di perkirakan formasi ini berumur

Oligosen.

c) Formasi Sawah Tambang

Bagian bawah dari formasi ini dicirikan dari beberapa siklus endapan yang

terdiri dari beberapa siklus endapan yang terdiri dari batupasir konglomerat,

batulanau, dan batulempung. Bagian atas pada umumnya didominasi oleh

batupasir konglomeratan tanpa adanya sisipan lempung atau batulanau. Umur

dari formasi ini diperkirakan lebih tua dari Miosen bawah.


9

d) Formasi Ombilin

Formasi ini terdiri dari lempung gampingan yang berwarna abu-abu

kehitaman. Berlapis tipis dan mengandung fosil. Umur dari formasi ini

diperkirakan Miosen bawah.

e) Formasi Ranau

Satuan ini terdiri dari Tufa batu apung bewarna abu-abu kehitaman. Umur

dari formasi ini diperkirakan Pleitosen.

2. Sistem Penambangan

Sistem penambangan pada CV. Bara Mitra Kencana adalah tambang

bawah tanah dengan metode room and pillar. Metode penambangan room and

pillar merupakan suatu metode penambangan bawah tanah untuk endapan

batubara dengan tata cara penambangan searah jurus pada lapisan dan kedudukan

batubara (strip mining). Metode penambangan room and pillar dapat dilihat pada

Gambar 2.1.

(sumber:widya juniantari 2018)

Gambar 2.1 Metode Room And Pillar


10

Batubara diperoleh pada face dengan bantuan jack hammer/breaker.

Sistem penyanggaan yang digunakan adalah dengan penyangga, penyangga kayu

yang digunakan berbentuk three piece set sehingga setiap lubang bukaan harus di

analisis terlebih dahulu pada saat penambangan untuk mengetahui ketahanan

terowongan tidak disangga saat penambangan maju dengan analisis stand up

time.

2.1.2 Batuan

1. Definisi Batuan

a. Menurut Para Geologiwan

Batuan adalah susunan mineral dan bahan organik yang bersatu

membentuk kulit bumi dan batuan adalah semua material yang membentuk

kulit bumi dibagian atas, batuan yang terkonsolidasi (consolidated rock) dan

batuan yang tidak terkonsolidasi (unconsolidated rock).

b. Definisi Secara Umum

Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral yang berbeda, tidak

mempunyai susunan kimia tetap. Tetapi batuan tidak sama dengan tanah.

Tanah dikenal dengan material yang mobile, rapuh dan letaknya dekat dengan

permukaan bumi.

c. Menurut Para Ahli Geoteknik

Istilah batuan hanya untuk formasi yang keras dan padat dari kulit bumi yang

merupakan suatu bahan yang keras dan koheren atau yang lebih terkonsolidasi

dan tidak dapat digali dengan cara biasa, misalnya dengan cangkul dan

belincong.
11

d. Menurut Talobre

Talobre adalah orang yang pertama kali memperkenalkan mekanika

batuan di Perancis pada tahun 1948, batuan adalah material yang membentuk

kulit bumi termasuk fluida yang berada di dalamnya (seperti air, minyak dan

lain-lain).

e. Menurut ASTM

Batuan adalah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat (solid) berupa

massa yang berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen.

2. Klasifikasi Batuan

Siklus pembentukan batuan dimulai dari magma yang keluar dari dalam

bumi kemudian membeku dan terbentuk batuan beku. Setelah batuan beku

terpapar dipermukaan atau dekat permukaan, maka akan terjadi proses pelapukan

dan hasilnya yang berupa material lapuk akan ter-transformasi dan terendapkan

atau mengalami sedimentasi sehingga hasil akhirnya disebut sedimen (Gambar

2.2).

(sumber: Made Astawa Rai dkk, 2011)

Gambar 2.2 Siklus Pembentukan Batuan


12

Jika material sedimen tersebut mengalami konsolidasi dan tegangan, maka

material tersebut akan menjadi batuan sedimen. Dalam fungsi waktu dan jika

batuan sedimen mengalami pembebanan dan temperatur di dalam bumi maka

batuan tersebut akan mengalami metamorfose sehingga membentuk batuan

metamorf. Secara singkat dapat dikatakan bahwa batuan beku atau batu sedimen

atau batu metamorf yang mengalami pelapukan dapat menjadi batuan sedimen

baru. Demikian juga halnya dengan terbentuknya batu metamorf baru, jika batuan

beku, batuan sedimen, dan batu metamorf mengalami metamorfose maka akan

dapat menjadi batuan metamorf baru.

Batuan Beku (igneous rock) adalah batuan tersebut berasal langsung dari

pembekuan magma. Jika batuan beku tersebut diklasifikasikan sebagai batuan

beku asam maka kenampakannya berwarna terang dan kandungan SiO2 akan lebih

besar dari 55%. Sedangkan untuk batuan beku intermediate (sedang) akan

berwarna agak terang, dan kandungan SiO2 sekitar 50-55% dan batuan beku basa

berwarna gelap dengan kandungan SiO2 <50%.

Beberapa ciri dari batuan sedimen (sedimentary rock) adalah berlapis-

lapis, yang merupakan hasil pelapukan dari batuan lain yang terendapkan bisa

secara fisik atau kimia dan telah mengalami transportasi berupa air, angin atau

gravitasi. Sedangkan urutan perlapisannya selalu mengikuti hukum superposisi

(tua ke muda). Ciri lainnya adalah bahwa batuan sedimen bisa terkonsolidasi atau

tidak terkonsolidasi. Akibat dari aktivitas tektonik maka batuan sedimen dapat

mengalami perlipatan seperti sinklin atau antiklin dan juga dapat tersesarkan

berupa sesar, kekar dan tergeser.


13

Proses pembentukan batuan metamorf (metamorphic rock) dapat berasal

dari batuan lainnya yang mengalami tekanan dan panas yang tinggi. Pada proses

pembentukannya tidak ada penambahan unsur baru dan yang ada adalah proses

rekristalisasi. Batuan metamorf memiliki struktur yang khas seperti, filit (halus

dengan pola laminasi), sekis (berlapis), gneis (selang-seling lapisan dan butiran)

dan masif.

2.1.3 Sifat Mekanik Batuan

1. Uji Kuat Tekan Uniaksial (Unconfined Compressive Strength Test)

Tujuan uji tekan adalah untuk mengukur kuat tekan uniaksial dari sebuah

contoh batuan dalam geometri yang beraturan, baik dalam bentuk silinder, balok

maupun prisma dalam satu arah (uniaksial). Tujuan utama uji ini adalah untuk

klasifikasi kekuatan dan karakterisasi batuan utuh. Hasil uji ini menghasilkan

beberapa informasi yaitu; kurva tegangan regangan, kuat tekan uniaksial, modulus

young, nisbah poisson, fraktur energi dan spesifik fraktur energi.

Pengujian ini dilakukan menggunakan mesin tekan (compression mechine)

dan dalam pembebanannya mengikuti standar dari International Society for Rock

Mechanics (ISRM, 1981). Secara teoritis penyebaran tegangan di dalam contoh

batuan searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh tersebut. Akan tetapi,

pada kenyataannya arah tegangan tidak searah dengan gaya yang dikenakan pada

contoh. Hal ini terjadi karena ada pengaruh dari plat penekan pada mesin tekan

yang berbentuk bidang pecah yang searah dengan gaya, berbentuk cone.

Contoh batuan yang digunakan dalam pengujian kuat tekan harus

memenuhi beberapa syarat. Kedua muka contoh batuan uji harus mencapai
14

kerataan hingga 0,02 mm dan tidak melenceng dari sumbu tegak lurus lebih besar

daripada 0,001 radian (sekitar 3,5 min) harus bebas dari ketidakrataan sehingga

kelurusannya sepanjang contoh batu uji tidak melenceng lebih dari 0,3 mm.

Perbandingan antara tinggi dan diameter contoh batuan (L/D) akan

mempengaruhi nilai kuat tekan batuan. Jika digunakan perbandingan (L/D) = 1,

kondisi tegangan triaksial saling bertemu sehingga akan memperbesar nilai kuat

tekan batuan. Sesuai dengan ISRM (1981), untuk pengujian kuat tekan digunakan

rasio (L/D) antara 2-2.5 dan sebaiknya diameter (D) contoh batu uji paling tidak

berukuran tidak kurang dari ukuran 54 mm. Alat uji kuat tekan uniaksial batuan

dapat dilihat pada Gambar 2.3.

(sumber: Made Astawa Rai dkk, 2011)


Gambar 2.3 Alat Uji Kuat Tekan Uniaksial Batuan

Tipe hancuran batuan hasil uji kuat tekan uniaksial batuan dengan L/D = 2

dapat dilihat pada Gambar 2.4.


15

(sumber: Krimadibrata, 1990 dalam Irwandy Arif, 2016)

Gambar 2.4 Tipe Hancuran Batuan Hasil Uji Kuat Tekan Uniaksial Batuan
dengan L/D = 2

Untuk menghitung nilai kuat tekan uniaksial (UCS) batuan, dapat dihitung

menggunakan persamaan berikut.

….................................................................

(2.1)

Keterangan:

= Kuat Tekan Uniaksial (MPa)

P = Beban Maksimum Contoh Pecah (N)

A = Luas Permukaan Sampel Batuan (mm2)

Nilai UCS yang didapat setelah pengujian batuan, kemudian disesuaikan dengan

klasifikasi kuat tekan batuan. Bieniawski dan Tamrock telah mengklasifikasikan

kuat tekan batuan. Seperti terlihat pada Tabel 2.1.


16

Tabel 2.1
Klasifikasi Kuat Tekan dan Skala Mohs menurut Bieniawski & Tamrock

Kuat tekan uniaksial (MPa)


Klasifikasi
Bieniawski, 1973 Tamrock, 1988
Sangat keras 250-700 200
Keras 100-250 120-200
Keras sedang 50-100 60-120
Cukup lunak - 30-60
Lunak 25-50 10-30
Sangat lunak 1-25 -10
(sumber: Made Astawa Rai, 2011)

2. Point Load Index (PLI)

Uji point load (Gambar 2.5) merupakan uji indeks yang telah secara luas

digunakan untuk memprediksi nilai UCS suatu batuan secara tidak langsung di

lapangan. Hal ini disebabkan prosedur pengujian yang sederhana, preparasi conto

yang mudah dan dapat dilakukan langsung di lapangan. Peralatan yang digunakan

mudah dibawa-bawa, tidak begitu besar dan cukup ringan sehingga dapat dengan

cepat diketahui kekuatan batuan di lapangan, sebelum dilakukan pengujian di

laboratorium.

(sumber: Made Astawa Rai dkk, 2011)

Gambar 2.5 Alat Uji Point Load Index


17

Contoh yang digunakan untuk pengujian ini dapat berbentuk silinder

ataupun suatu bongkah batuan seperti yang terlihat pada Gambar 2.6 dan

disarankan untuk pengujian ini berbentuk silinder dengan diameter 50 mm (NX =

54mm, lihat ISRM, 1985).

(sumber: ISRM, 1985 dalam Made Astawa Rai dkk, 2011)

Gambar 2.6 Tipe dan Syarat Sampel Batuan Uji PLI

Menurut Bronch & Franklin (1972) dalam Made Astawa Rai, dkk (2011),

indeks point load (Is) suatu contoh batuan dapat dihitung menggunakan

persamaan 2.2

................................................... (2.2)
Keterangan:

Is = point load index (MPa)

D = Diameter Contoh (mm)

P = Beban Maksimum Contoh Pecah (N)

Apabila diameter contoh batuan yang digunakan bukan 50 mm, maka

diperlukan faktor koreksi terhadap persamaan yang diturunkan oleh Bronch &

Franklin. Menurut Graminger (1982) dalam Made Astawa Rai (2011), selang
18

faktor koreksi tergantung besarnya diameter. Karena diameter ideal yang

digunakan adalah 50mm, maka Graminger menurunkan persamaan:

................................................... (2.3)

Keterangan:

Is = Point Load Index (MPa)

F = Faktor Koreksi Ukuran

D = Diameter Contoh (mm)

P = Beban Maksimum Contoh Pecah (N)

Faktor koreksi ukuran (F) dapat dihitung menggunakan persamaan dibawah ini,

................................................... (2.4)

Keterangan:

d = Diameter Contoh (mm)

F = Faktor Koreksi Ukuran

Sehingga diperoleh suatu persamaan point load yang telah dikoreksi sebagai

berikut.

....................................... (2.5)

Keterangan:

Is(50) = point load index (MPa)

d = Diameter Contoh (mm)

P = Beban Maksimum Contoh Pecah (N)

D = Jarak Antar Konus Penekan (mm)


19

Persamaan hubungan kuat tekan dengan PLI untuk berbagai jenis batuan

dari berbagai peneliti dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2
Persamaan Hubungan Kuat Tekan dengan PLI untuk Berbagai Batuan Dari
Berbagai Peneliti
Referensi Persamaan Tipe Batuan
Broch & Franklin (1972) c = 24 Is(50) Batupasir
Batuan beku dan batuan
Bieniawski (1975) c = 23 Is(50)
sedimen
Brock (1985) c = 22 Is(50) -
Singh (1981) c = 18.7 Is(50) Batupasir dan shale
Vallejo, dkk (1989) c = 12.5 Is(50) Shale
Vallejo, dkk (1989) c = 17.4 Is(50) Batupasir
Batupasir dan
Kramadibrata (1992) c = 11.82 Is(50)
batulempung
Gunsallus & Kulhawy (1984) c = 16.5 Is(50) + 51 Batupasir, batugamping
Batuan sedimen dan
Cargil & Shakoor (1990) c = 23 Is(50) + 13
batuan metamorf
Batuan beku, batuan
Kahraman (2001) c = 8.41 Is(50) + 9.51 sedimen dan batuan
metamorf
Tsidzi (1990) Batuan metamorf
(sumber : Made Astawa Rai, dkk 2011)

3. Block Punch Index (BPI)

Uji block punch merupakan salah satu alternatif uji indeks yang relatif

baru untuk memperkirakan nilai kuat tekan dari batuan. Uji ini sangat berguna

apabila batuan memiliki bidang perlapisan yang tipis sehingga sulit untuk

mendapatkan contoh yang memenuhi syarat untuk uji UCS bahkan uji PLI

sekalipun.
20

Ukuran sampel Block Punch Index (BPI) sangat tipis dibandingkan dengan

pengujian sifat mekanik batuan lainnya. Perbandingan ukuran sampel BPI dengan

pengujian indeks lainnya dapat di lihat pada Gambar 2.7.

(Sumber: S. Sulukcu dan R. Ulusay (2001)

Gambar 2.7 Perbandingan Ukuran Sampel Pada Pengujian Sifat Mekanik di


Laboratorium

Pada tahun 2012, D.A. Mishra dan A. Basu melakukan pengujian pada 3

jenis batuan, adapun batuan yang digunakan yaitu batu granit dengan diameter 51

mm dan 58 mm, sekis dengan diameter 54 mm dan batupasir dengan diameter 47

mm. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 sampel untuk masing-masing

pengujian batuan. Mereka menyarankan untuk menghitung nilai BPI jika

ketebalan sampel 18 mm menggunakan persamaan sebagai berikut:

................................................... (2.6)

Keterangan:

BPI = Nilai Kuat Tekan Block Punch Index (MPa)

P = Beban Puncak Sampai Batuan Pecah(kN)

A = Area Punched (m2)


21

A dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

A= 4t(r2-81)0.5.10-6 ................................................... (2.7)

Keterangan:

t = Ketebalan Sampel (mm)

r = Jari-Jari Sampel (mm)

Sedangkan untuk ketebalan sampel 5-15 mm, BPI dapat dihitung

menggunakan rumus sebagai berikut:

........................... (2.8)

Keterangan:

BPIc = Nilai Kuat Tekan Block Punch Index Koreksi (MPa)

D = Diamater Sampel (mm)

t = Ketebalan Sampel (mm)

P = Beban Puncak Sampai Batuan Pecah (kN)

Sedangkan pada tahun 2001, S. Sulukcu dan R. Ulusay telah melakukan

pengujian menggunakan 23 jenis batuan yang berbeda. Uji BPI, UCS, kuat tarik

Brazillian dan point load dilakukan pada sampel yang telah dikeringkan terlebih

dahulu. Untuk mempelajari pengaruh ukuran sampel dalam tes BPI, sampel

dengan ketebalan dan diameter yang berbeda dipotong dari sampel core

menggunakan gergaji berlian. Rentang diameter core untuk uji BPI dan UCS

dibatasi hanya pada ukuran 42 mm dan 54 mm. Sementara ketebalan sampel

untuk uji BPI berkisar antara 5-15 mm.


22

(Sumber: S. Sulukcu dan R. Ulusay (2001)

Gambar 2.8 Perbandingan Antara Valid dan Invalid Pengujian BPI


Untuk Ketebalan Sampel yang Beragam

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketebalan 10 mm dianggap paling

cocok untuk pengujian sampel BPI, bahkan jumlah jenis batuan dan jumlah

sampel yang diteliti telah meningkat. Dalam penelitian sebelumnya, dianggap

bahwa ukuran 54 mm atau 47,6 mm merupakan ukuran core yang biasanya

didapat dari hasil pemboran dan ukuran diameter yang umum adalah 50 mm yang

biasa digunakan sebagai diameter acuan dalam uji kuat batuan.

Berdasarkan hasil referensi ukuran tersebut didapat persamaan BPI yang

telah dikoreksi, yaitu:

........................... (2.9)

Keterangan:

BPIc = Nilai Kuat Tekan Block Punch Yang Dikoreksi (MPa)

D = Diamater Sampel (mm)

t = Ketebalan Sampel (mm)

Ft,D = Beban Puncak Dari Setiap Diameter Sampel


23

Uji BPI dilakukan untuk mengetahui kuat geser secara langsung dari

batuan yang berbentuk silinder tipis. Dalam uji ini yang diamati adalah besarnya

gaya yang dikenakan pada contoh batuan menggunakan punch berbentuk empat

persegi. Keruntuhan yang terjadi disebabkan oleh pecahnya contoh batuan karena

ketidakmampuan contoh batu untuk menahan kuat geser, sedangkan kuat tariknya

dielaminir dengan alat penjepit block punch.

Sedangkan perhitungan BPI berdasarkan spesifikasi alat yang terdapat di

Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang ITB adalah dengan membagi

beban maksimum (F) terhadap luas contoh batuan yang bergeser (A) yang

dinyatakan dalam persamaan 2.6.

......................................... (2.10)
[ ( ) ]

Keterangan:

BPI = Block Punch Index (MPa)

F = Beban Runtuh (N)

A = Luas Bagian Runtuh (mm2)

r = Jari-Jari Contoh (mm)

K = lebar BPI = 15 mm

t = Tebal Contoh (mm)

Menurut Schrier (1988) dalam Made Astawa Rai (2011), BPI adalah uji

indeks dan bukan untuk mengukur kuat geser batuan karena kemungkinan

dipengaruhi oleh tegangan bending. Selain itu dia juga berpendapat bahwa uji BPI

ekuivalen dengan uji indeks lainnya untuk menduga UCS dan tingkst akurasinya

yang lebih baik daripada uji PLI.


24

Sedangkan Rivai (2001) berpendapat bahwa hubungan UCS dan BPI dapat

digunakan untuk batuan lunak karena penekanan yang terjadi pada uji BPI

menyangkut suatu luas yang lebih besar dari point sehingga akan memberikan

efek geser.

4. Uji Kuat Tarik Brazilian Test

Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kuat tarik

contoh batuan di laboratorium, yaitu metode kuat tarik langsung dan metode kuat

tarik tak langsung. Metode kuat tarik tak langsung merupakan uji yang paling

sering digunakan. Hal ini disebabkan uji ini lebih mudah dan murah daripada uji

kuat tarik langsung. Salah satu uji kuat tarik tak langsung adalah Brazilian test.

Sampel yang digunakan dalam pengujian Brazilian Test (BTS) berbentuk

selinder dengan ketebalan sampel 0,5 cm. Bentuk dan macam-macam sampel

yang digunakan dalam pengujian BTS dapat dilihat pada Gambar 2.8

(Sumber: Rini Asnida Abdullah dan Takshi Tsutsumi (2018)

Gambar 2.9 Perbandingan Bentuk Sampel Pada Pengujian


Sifat Mekanik di Laboratorium

Pengujian kuat tarik Brazilian Test dilakukan dengan menggunakan


25

sampel yang diletakan pada spesmen dengan posisi berdiri lalu diberikan tekanan

untuk mendapatkan nilai kuat tarik. Pada saat sampel di berikan tekanan maka

nilai tertinggi yang digunakan sebagai nilai kuat tarik yaitu pada saat sampel

mengalami perubahan yaitu meregang. pengujian dapat dilihat pada Gambar 2.10

berikut.

(Sumber: [Link] dan [Link](2017)

Gambar 2.10 a. posisi sampel pada saat pengujian Brazilian Test kondisi normal
[Link] sampel pada saat sampel telah di uji

Pada gambar 2.6posisi sampel yang akan di uji diletakan diatas spesmen

dengan lebar spesmen 0.37 cm panjang 2.54 cm yang diberi tekanan sampai

sampel tersebut pecah untuk mendapatkan nilai kuat tarik.

Pada tahun 2018 Rini Asnida Abdullah dan Takshi Tsutsumi melakukan

pengujian Brazilian test (BTS) dengan menggunakan sampel batu granit yang di

preparsi dengan ketebalan 0,5 cm akan tetapi dengan 4 bentuk sampel yang

berbeda diberi cicncin mulai dari ukuran penuh, 0.1 cm, 0.2cm, dan 0,3 cm.

pengujian tersebut di lakukan dengan menggunakan persamaan ISRM (2007)

untuk mendapatkan hasil dari pengujian BTS sebagai berikut.


26

σt = 2P/πDt = 0.636 P/Dt .........................................


(2.11)

keterangan :

σt = Kuat tarik batuan (MPa)

P = Beban Tertinggi (KN )

D = Diameter (mm)

t = Ketebalan (mm)

Perhitungan Brazilian test (BTS) juga dapat menggunakan persamaan ASTM

D3967sebagai berikut.

BTS = .......................................................
(2.12)

keterangan :

D = Diameter (mm)

σt = Kuat Tarik Batuan (MPa)

P = Beban Tertinggi (KN )

t = Ketebalan (mm)Uji Brazilian test juga bisa didapatkan dari hasil

pengujian Blok Punch Index dengan persamaan yang di hasilkan oleh A. Misra

dan A. Basu (2012) yaitu hubungan antara nilai Brazilian Test dan Blok Punch

Index dengan sampel sekis dan batupasir seperti Gambar 2.11 berikut.
27

(Sumber: A. Misra dan A. Basu (2012))

Gambar 2.11hubungan antara nilai pengujian Blok Punch Index (BPI) Dengan
Nilai Brazilian Test.

2.1.4 Prediksi Nilai UCS Menggunakan Nilai Block Punch Index (BPI) dan

Point Load

Keinginan untuk mendapatkan sifat kekuatan batuan lebih cepat dan

dengan biaya yang murah terutama untuk tujuan klasifikasi batuan mengharuskan

dilakukannya pengembangan beberapa pengujian indeks. Salah satu yang paling

populer adalah uji kuat tekan point load index. Pengujian ini pada dasarnya

merupakan uji kuat tarik uniaksial tak langsung, tetapi penggunaannya untuk

memprediksi UCS menjadi lebih populer, hanya saja pengujian point load ini

tidak dapat dilakukan pada sampel batuan yang tipis. Penggunaan awal uji BPI

untuk memprediksi UCS disarankan oleh Schrier pada tahun 1988.

D.A Mishra dan A. Basu (2012) telah melakukan pengujian terhadap 3

jenis batuan yang berbeda (yaitu granit, sekis dan batupasir) menggunakan alat uji
28

BPI dan point load untuk memprediksi nilai UCS dan mereka

merekomendasikan persamaan sebagai berikut:

UCS = 4.93BPIc ................................................. (2.13)

Keterangan:

UCS = Nilai Kuat Tekan Uniaksial (MPa)

BPIc = Nilai Kuat Tekan Block Punch Yang Dikoreksi (MPa)

Berdasarkan hasil pengujian pada penelitian yang dilakukan oleh D.A

Mishra dan A. Basu, persamaan (2.12) menghasilkan nilai regresi linear, R=0.87

(BPIc) sedangkan untuk Point Load Index menghasilkan nilai regresi linear

sebesar R=0.88.

(Sumber: D.A. Mishra dan A. Basu (2012)

Gambar 2.12 Hubungan antara UCS dengan Nilai BPI yang Telah
Dikoreksi dan Point Load index

Pada tabel 2.12 menjelaskan hubungan uji BPIc dan UCS dimana didapatkan
persamaan dengan nilai regresi mendekati (1) itu artinya hubungan kedua
29

pengujian tersebut saling berkaitan antara keduanya.

Sedangkan untuk memprediksi UCS menggunakan nilai point load index,

D.A Mishra dan A. Basu menyarankan menggunakan persamaan berikut:

UCS = 14.63Is(50) ................................................. (2.14)

Keterangan:

UCS = Nilai Kuat Tekan Uniaksial (MPa)

Is(50) = Nilai Kuat Tekan Point Load index (MPa)

Hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti lainnya

dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut ini.

Tabel 2.3
Rumus Empiris untuk Memprediksi UCS dari Nilai BPI dan Point Load

Referensi Tipe Batuan Persamaan dan Nilai R


Breccia, calcarenite, calcilutite,
UCS = 6.1 BPI – 3.3
Schrier (1988) dunite, gneiss, limestone, marble,
R = 0.86
mudstone and sandstone
UCS = 5.5 BPIs; R = 0.94
23 tipe batuan yang terdiri atas
Ulusay & UCS = 5.29 BPIs1.01; R = 0.91
batuan beku, batuan sedimen dan
Gogceoglu (1997) UCS = 9.82e-0.108BPIs; R = 0.83
metamorf
UCS = 40.48 ln(BPIs) – 13.4; R=0.82
Gogceoglu &
Marl, mudstone, sandstone, schist UCS = 5.25 BPIc ; R = 0.95
Aksoy (2000)
Sulukcu & Ulusay UCS = 5.1 BPIc (R = 0.90)
23 tipe batuan yang berbeda
(2001) UCS = 15.31 Is(50) (R = 0.83)
Sonmez &
Limestone, travertine, andesite, UCS = 0.8 x 2.266 (mi)0.3824 x BPIc
Tunusluoglu
sanstone, marl and schist R2 = 0.86
(2008)
Karakul dkk Limestone, sandstone, mica BPIc90 = 1.47-0.00456BPIc
(2010) schist, shale and travertine UCS90 = 5.1x1.47-0.00456BPIc
D. A Mishra & A. UCS = 4.93 BPIc; R = 0.87
Granite, schist and sandsone
Basu (2012) UCS = 14.63 Is(50); R = 0.88
30

Note: BPIc=BPIs=Corrected BPI; mi= Hoek & Brown constant; = angle between the core axis
anf foliations.
(sumber: D.A. Mishra & A. Basu, 2012)

2.1.5 Klasifikasi Massa Batuan

Klasifikasi massa batuan digunakan sebagai alat dalam menganalisis

kemantapan lereng yang menghubungkan antara pengalaman di bidang massa

batuan dengan kebutuhan pemantapan diberbagai kondisi lapangan yang

dibutuhkan. Namun demikian, penggunaan klasifikasi massa batuan tidak

digunakan sebagai pengganti perancangan rinci.

Pada dasarnya pembuatan klasifikasi massa batuan bertujuan untuk

(Bieniawski, 1989):

1. Mengidentifikasi parameter–parameter yang mempengaruhi perilaku massa

batuan.

2. Membagi formasi massa batuan ke dalam grup yang mempunyai perilaku sama

menjadi kelas massa batuan.

3. Memberikan dasar–dasar untuk pengertian karakteristik dari setiap kelas massa

batuan.

4. Menghubungkan pengalaman dari kondisi massa batuan di suatu lokasi dengan

lokasi lainnya.

5. Mengambil data kuantitatif dan pedoman untuk rancangan rekayasa.

6. Memberikan dasar umum untuk kemudahan komunikasi diantara para insinyur

dan geologist.

Klasifikasi massa batuan telah berkembang sejak kurang lebih 100 tahun.

Ritter (1879) berusaha untuk memformulasikan pendekatan empiris untuk


31

perancangann terowongan, terutama untuk kebutuhan sistem penyangga.

Klasifikasi yang paling banyak digunakan untuk awal kegiatan dibidang

geomekanika adalah klasifikasi RQD dari Deere (1964). Pengamatan awal inti bor

hasil pemboran eksplorasi dan geoteknik adalah RQD dan fraktur frekuensi.

Sedangkan penilaian kualitas massa batuan yang paling banyak digunakan pada

tahap awal adalah RMR dari Bieniawski (1989) dan Q-System yang diusulkan

oleh Barton, Lien dan Lunde (1974).

Bieniawski (1976) dalam Manik (2007) mempublikasikan suatu metode

klasifikasi massa batuan yang dikenal dengan Geomechanics Classification atau

RMR. Metode rating digunakan pada klasifikasi ini. Besaran rating tersebut

didasarkan pada pengalaman Bieniawski dalam mengerjakan proyek–proyek

terowongan dangkal. Metode ini telah dikenal luas dan banyak diaplikasikan pada

keadaan dan lokasi yang berbeda–beda seperti tambang pada batuan kuat,

terowongan, tambang batubara, kestabilan lereng dan kestabilan pondasi.

Klasifikasi ini juga sudah dimodifikasi beberapa kali sesuai dengan adanya data

baru agar dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dan sesuai dengan standar

internasional. Sistem klasifikasi massa batuan RMR menggunakan enam

parameter berikut ini dimana rating setiap parameter dijumlahkan untuk

memperoleh nilai total RMR. Parameter RMR yang digunakan untuk klasifikasi

massa batuan adalah kuat tekan batuan utuh (strength of intact rock material),

rock quality design (RQD), jarak antar diskontinuitas (spacing of discontinuities),

kondisi diskontinuitas (conditon of discontinuities), kondisi air tanah


32

(groundwater condition) dan orientasi diskontinuitas (orientation of

discontinuities).

Berikut dijelaskan mengenai keenam parameter yang digunakan dalam

memperoleh klasifikasi massa batuan RMR tersebut:

1. Kuat Tekan Batuan Utuh (Strength of Intact Rock Material)

Penjelasan tentang kuat tekan batuan utuh telah dijelaskan pada

pembahasan sub bab 2.1.3. Setelah dilakukan pengujian kuat tekan batuan dan

dihitung nilai kuat tekan batuannya, maka selanjutnya kekuatan batuan tersebut

dikategorikan sesuai dengan nilai kekuatannya. Kuat tekan material batuan dapat

diklasifikasikan sesuai dengan Tabel 2.4.

Tabel 2.4
Strength of Intact Rock Material

Qualitative Compressive Strength Point Load Strength


Rating
Description (MPa) (MPa)
Extremely strong* >250 8 15
Very strong 100-250 4-8 12
Strong 50-100 2-4 7
Medium strong* 25-50 1-2 4
Weak Use of UCS is
5-25 2
preffered
Very weak 1-5 -do- 1
Extremely weak <1 -do- 0
(sumber: Bieniawski, 1979)

2. Rock Quality Design (RQD)

Parameter yang dapat menunjukkan kualitas massa batuan sebelum

penggalian dilakukan adalah RQD yang dikembangkan oleh Deere (1964) yang

mana datanya diperoleh dari pengeboran eksplorasi dalam bentuk inti bor yang

merupakan wakil massa batuan berbentuk silinder. Diameter inti bor bervariasi

mulai dari BQ, NQ dan HQ.


33

RQD dihitung dari persentase inti bor (Gambar 2.13) yang diperoleh dari

panjang minimum 10 cm dan jumlah potongan inti bor tersebut biasanya diukur

pada inti bor dengan panjang 1 m. Potongan akibat penanganan pemboran harus

diabaikan dari perhitungan dan inti bor yang lembek dan tidak baik berbobot RQD

= 0 (Bieniawski, 1989)

RQD = ............. (2.15)

(sumber: Bieniawski, 1979)

Gambar 2.13 Penentuan RQD Dari Contoh Inti Bor

Bila inti bor tidak tersedia, RQD dapat dihitung secara tidak langsung

dengan melakukan pengukuran orientasi dan jarak antar diskontinuitas pada

singkapan batuan. Beberapa metode perhitungan RQD metode tidak langsung:

a) Priest and Hudson, 1976


34

.................................. (2.16)

Keterangan:

= Jumlah Total Kekar Per Meter

b) Palmstrom, 1982

RQD = 115 – 3,3 Jv ................................................. (2.17)

Keterangan:

Jv = Jumlah Total Kekar Per Meter

Pada perhitungan nilai RMR, parameter RQD diberi bobot berdasarkan

nilai RQD-nya seperti tertera pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5
Rock Quality Designation (RQD)
RQD (%) Kualitas Batuan Rating
<25 Sangat jelek (very poor) 3
25-50 Jelek (poor) 8
50-75 Sedang (fair) 13
75-90 Baik (good) 17
90-100 Sangat Baik (excellent) 20
(sumber: Bieniawski, 1979)

3. Discontinuitas Spacing

Jarak antar (spasi) bidang diskontinu didefinisikan sebagai jarak tegak

lurus antara dua diskontinuitas berurutan sepanjang garis pengukuran yang dibuat

sembarang. Menurut ISRM, jarak antar (spasi) diskontinuitas adalah jarak tegak

lurus antara bidang diskontinu yang berdekatan dalam satu set diskontinuitas.
35

(sumber: Bieniawski, 1979)

Gambar 2.14 Defenisi Spasi Bidang Diskontinuitas

Pengukuran jarak atau spasi kekar bidang diskontinuitas dapat dilakukan

dengan metode scanline. Scanline pada permukaan lereng/bukaan tambang

minimal 50 m dengan menyesuaikan kondisi medan yang terdapat di lapangan

dan ketersediaan alat. Pada pengukuran dilapangan kebanyakan jarak kekar yang

terukur pada scanline merupakan jarak semu.

Pada perhitungan nilai RMR, parameter jarak antar (spasi) diskontinuitas

diberi bobot berdasarkan nilai spasi diskontinuitasnya seperti tertera pada

Tabel 2.6.

Tabel 2.6
Spacing of Discontinuities

Deskripsi Spasi Rating


diskontinuitas (m)
Sangat lebar (very wide) >2 20
Lebar (wide) 0.6-2 15
Sedang (moderate) 0.2-0.6 10
Rapat (close) 0.006-0.2 8
Sangat rapat (very close) <0.006 5
(sumber: Bieniawski, 1979)
36

Pengukuran kekar dengan metode scanline dapat dilihat pada Gambar 2.15 di

bawah ini.

(sumber: Bieniawski, 1979)

Gambar 2.15 Pengukuran Kekar dengan Metode Scanline

Jarak kekar dapat dihitung menggunakan persamaan 2.18 berikut ini.

......................... (2.18)

4. Kondisi Diskontinuitas (Condition of Discontinuities)

Ada lima karakteristik diskontinuitas yang masuk dalam pengertian

kondisi diskontinuitas, meliputi kemenerusan (persistence), jarak antar permukaan

diskontinuitas atau celah (separation/aperture), kekasaran diskontinuitas

(roughness), material pengisi (infilling/gouge) dan tingkat kelapukan

(weathering).

a. Kemenerusan (persistence/continuity)

Persistance didefenisikan sifat kemenerusan dari bidang-bidang kekar

yang didefenisikan sebagai panjang dari diskontinuitas pada massa batuan dan

dapat diukur panjangnya. Persistance ditentukan dengan mengamati dan

mengukur panjang dari bidang kekar di massa batuan. Klasifikasi persistance

kekar dapat dilihat pada Tabel 2.7.


37

Tabel 2.7
Klasifikasi Persistance (ISRM, 1981)

Deskripsi Panjang kekar (m)


Persistensi sangat rendah <1
Persistensi rendah 1-3
Persistensi menengah 3-10
Persistensi tinggi 10-20
Persitensi sangat tinggi >20
(sumber: Bieniawski, 1979)

Kemenerusan kekar dapat dihitung menggunakan persamaan 2.19 berikut ini.

…..............

(2.19)

b. Jarak antar permukaan diskontinuitas atau celah (separation/aperture)

Pemisahan (separation) didefenisikan sebagai lebar celah pada permukaan

ketidakmenerusan mengendalikan permukaan bidang kekar yang berhadapan agar

saling mengunci. Rekahan yang terisi oleh material lain (misalnya lempung) dapat

juga digolongkan sebagai separasi jika material pengisinya telah terkunci (hilang)

secara lokal. Celah antar kekar dapat dihitung menggunakan persamaan 2.20.

......................... (2.20)

Klasifikasi pemisahan dapat dilihat pada Tabel 2.8.


38

Tabel 2.8
Klasifikasi Deskripsi Kondisi Bukaan Kekar (Borton & Choubey,1977)

Aperture (mm) Deskripsi Deskripsi Umum


<0,1 Terkunci sangat rapat
0,1-0,25 Terkunci rapat Rekahan tertutup
0,25-0,5 Sebagian terbuka
0,5-2,5 Terbuka
Rekahan celah
2,5-10 Terbuka lebar
10-100 Terbuka sangat lebar
100-1000 Sangat lebar sekali Rekahan terbuka
>1000 Celah besar
(sumber: Bieniawski, 1979)

c. Kekasaran Diskontinuitas (Roughness)

Kekasaran didefenisikan sebagai tingkat kekasaran dipermukaan bidang

kekar yang berfungsi sebagai pengunci antar blok atau mencegah pergeseran

sepanjang permukaan kekar. Tingkat kekasaran permukaan diskontinuitas dapat

dilihat dari bentuk gelombang permukaannya. Gelombang ini diukur relatif dari

permukaan datar dari diskontinuitas. Kondisi relatif kekasaran permukaan bidang

kekar dinyatakan sebagai berikut:

1. Sangat kasar, jika jenjang-jenjang yang terjadi dipermukaan bidang kekar

hampir vertikal.

2. Kasar, jika kekasaran dapat dilihat dengan jelas dan apabila diraba masih

terasa agak abrasif.

3. Kekasaran rendah, jika kekasaran dipermukaan bidang kekar baru dapat

diketahui jelas jika diraba dengan tangan.

4. Halus, jika permukaan rekahan menjadi halus dan terasa halus ketika

disentuh.

5. Licin, jika permukaan rekahan terlihat seperti poles atau bergelombang halus.
39

d. Material pengisi (infilling/gouge)

Material pengisi didefenisikan sebagai celah antara dua dinding bidang

diskontinuitas yang berdekatan. Sifat material pengisi biasanya lebih lemah dari

sifat batuan induknya. Beberapa material yang dapat mengisi celah di antaranya

pasir, lanau, breksi, lempung, pyrite, silt, mylonite, gouge, kuarsa dan kalsit.

e. Tingkat Kelapukan (weathering)

Penentuan tingkat kelapukan diskontinuitas didasarkan pada perubahan

warna pada batuannya dan terdekomposisinya batuan atau tidak. Semakin besar

tingkat perubahan warna dan tingkat terdekomposisi, batuan semakin lapuk.

Pelapukan dinding batuan atau pada permukaan diskontinuitas yang

terbentuk pada batuan oleh ISRM (1981) diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Tidak lapuk atau segar. Tidak terlihat tanda-tanda pelapukan, batuan segar,

kristalnya terang.

2. Pelapukan ringan. Ketidakmenerusan ternoda atau luntur dan dapat terisi oleh

isian tipis hasil dari alterasi material. Lunturan tadi dapat meluas dari

permukaan ketidakmenerusan sampai kedalam batuan dengan jarak sampai

20% daripada spasi kemenerusan.

3. Pelapukan sedang. Lunturan meluas dari bidang ketidakmenerusan lebih

besar dari 20% daripada spasi ketidakmenerusan. Ketidakmenerusan dapat

terisi oleh hasil alterasi material. Mungkin dapat ditemukan batas butiran

yang terbuka.
40

4. Pelapukan kuat. Lunturan meluas melalui batuan dan terdapat bagian material

batuan yang gembur. Tekstur asli batuan tetap terjaga, tetapi didapatkan

pemisah butiran.

5. Sangat lapuk. Batuan terdekomposisi seluruhnya dan dalam kondisi gembur.

Kenampakan luar adalah tanah.

Dalam perhitungan RMR, parameter–parameter di atas diberi bobot

masing–masing dan kemudian dijumlahkan sebagai bobot total kondisi

diskontinuitas. Bobot untuk masing-masing parameter tersebut dapat dilihat pada

Tabel 2.9.

Tabel 2.9
Panduan Untuk Klasifikasi Bidang Kekar

Parameter Rating
<1m 1-3 m 3-10 m 10-20m >20m
Panjang diskontinuitas
(Persistence / continuity) 6 4 2 1 0
Jarak antar permukaan - <0.1mm 0.1-1.0mm 1-5mm >5mm
diskontinuitas(separation/ap
6 5 4 1 0
erture)
Sangat
Kekasaran diskontinuitas Kasar Sedikit kasar Halus Slickensided
kasar
(roughness)
6 5 3 1 0
Material Pengisi Tidak ada Keras Lunak
(infilling/gouge) 6 4 2 2 0
Tidak Sedikit Sangat Hancur/
Kelapukan Lapuk
lapuk Lapuk lapuk terurai
(weathering)
6 5 3 1 0
(sumber: Bieniawski, 1979)

5. Kondisi Air Tanah (Groundwater conditions)

Kondisi air tanah yang ditemukan pada pengukuran diskontinuitas

diidentifikasikan sebagai salah satu kondisi berikut : kering (completely dry),

lembab (damp), basah (wet), terdapat tetesan air (dripping) atau terdapat aliran air
41

(flowing). Pada perhitungan nilai RMR, parameter kondisi air tanah (groundwater

conditions) diberi bobot berdasarkan Tabel 2.10.

Tabel 2.10
Pembobotan Kondisi Air Tanah

Kering Terdapat Terdapat


Lembab Basah
Kondisi Umum (completel tetesan air aliran air
(damp) (wet)
y dry) (dripping) (flowing)
Debit air tiap 10m
panjang terowongan
Tidak ada <10 10-25 25-125 >125
(ltr/menit)

Tekanan air pada


diskontinuitas / 0.1-
0 <0.1 0.1-0.2 >0.5
tegangan principal 0.2
mayor
Rating 15 10 7 4 0
(sumber: Bieniawski, 1989)

6. Orientasi Kekar (Orientation of Discontinuities)

Orientasi diskontinuitas merupakan strike/dip diskontinuitas (dip/dip

direction). Orientasi bidang diskontinuitas sangat mempengaruhi kestabilan

lubang bukaan terowongan, terutama apabila adanya gaya deformasi yang

mengakibatkan berkurangnya suatu kuat geser.

Di lapangan, orientasi bidang diskontinuitas dapat diperoleh dengan

mengukur strike/dip kekar menggunakan kompas geologi. Begitu pula dengan

arah lintasan terowongan, dapat diperoleh dengan mengukur azimuth arah lintasan

terowongan menggunakan kompas geologi. Bobot untuk orientasi kekar dapat

dilihat pada Tabel 2.11.


42

Tabel 2.11
Pembobotan Orientasi Kekar

Jurus & Sangat Tidak Sangat tidak


Menguntung
Kemiringan menguntung Sedang menguntung menguntung
kan kan
Orientasi Kekar kan kan

Terowongan 0 -2 -5 -10 -12


Bobot Fondasi 0 -2 -7 -15 -25
Lereng 0 -5 -25 -50 -60
(sumber: Bieniawski, 1979 dalam Made Astawa Rai dkk, 2011)

2.1.6 Rock Mass Rating (RMR)

1. Pembobotan Nilai RMR

Pada Tahun 2001 [Link] dan [Link] melakukan pengujian Blok Punch

Index untuk memperdiksi nilai hubungan terhadap Brazilian Test , UCS, dan Poin

Load Index. masing-masing nilai digunakan untuk mempredikisi nilai Rock Mass

Rating (RMR) dan M-RMR dengan menggunakan persamaan pada gambar 2.15.

(sumber: [Link] dan [Link],2001)

Gambar 2.16 Kurva Pembobotan RMR dan M-RMR


43

Dari kurva tersebut untuk menentukan nilai RMR menggunakan

persaamaan yang terdapat pada kurva yang di kalkulasikan dengan nilai uji Blok

Punch Index dan UCS.

2. Penggunaan Rock Mass Rating (RMR)

Setelah nilai bobot masing–masing parameter–parameter diatas diperoleh,

maka jumlah keseluruhan bobot tersebut menjadi nilai total RMR. Nilai RMR ini

dapat dipergunakan untuk mengetahui kelas dari massa batuan, memperkirakan

kohesi dan sudut geser dalam untuk tiap kelas massa batuan seperti pada Tabel

2.12

Tabel 2.12
Design Parameters and Engineering Properties of Rock Mass

Profil Massa Batuan Deskripsi


Rating 100-81 80-61 60-41 40-21 20-0

Sangat
Kelas massa batuan Baik Sedang Jelek Sangat Jelek
baik

300-400 200-300 100-200


Kohesi >400kPa <100 kPa
kPa kPa kPa

Sudut geser dalam >45° 35°-45° 25°-35° 15°-25° <15°

Sangat Tidak Sangat tidak


Kestabilan Stabil Agak Stabil
stabil stabil stabil

Rekahan, Bidang planar


Sedikit Planar, baji
Keruntuhan Tidak ada beberapa besar atau
blok besar
membaji seperti tanah

Support Tidak perlu Kadang- Sistematis Koreksi


Penggalian
kadang penting ulang

(sumber: Bieniawski, 1979)


44

2.1.7 Stand Up Time

Kriteria analisis kestabilan terowongan dapat dinyatakan dalam bentuk

grafik hubungan antara RMR terhadap roof span untuk mengetahui nilai stand-up

time dan mengetahui kondisi kestabilan terowongan. Parameter stand-up time

dalam mekanika batuan dan desain terowongan mempengaruhi keputusan dalam

pemilihan metode perkuatan batuan, dan waktu untuk memasang penyangga

batuan. Stand up time bukan merupakan fungsi dari bobot nilai (rating) batuan

dan dapat ditentukan dengan memplot nilai RMR dan span pada garafik

interpolasi stand up time geomekanik dari grafik yang dapat dilihat pada Gambar

2.17 berikut.

(sumber: Refky adi nata)

Gambar 2.17 Kurva Stand Up Time


45

2. 2 Kerangka Konseptual

Pengujian dilakukan dengan 2 metode yaitu uji Brazilian test dan uji Blok

Punch Index dimana menggunkan dua macam sampel batuan yang terdapat pada

lubang tambang BMK 34 yaitu batu pasir dan clay yang masing-masing setiap

pengujian 10 sampel. Untuk mendapatkan nilai uji poin load index (PLI)

menggunakan persaaman dengan nilai Brazilian test (BTS). pembobotan nilai

RMR dilakukan dengan menggunakan persamaaan yang terdapat pada penelitian

[Link] dan [Link] pada tahun 2001 dimana pembobotan dengan

menggunakan nilai dari hasil pengujian Brazilian Test (BTS). Setelah

mendapatkan nilai RMR maka dilakukan analisis ketahan batuan untuk

menyangga dirinya sendiri tanpa disangga pada lubang BMK 34 dengan

menggunakan grafik stand up time . dapat dilihat pada gambar 2.18.

INPUT
Data Primer
1. Sampel batuan, berupa:
a. Clay (10 sampel)
b. Sandstone (10 sampel)
2. Nilai uji Brazilian test
3. Nilai uji blok punch index
4. Kordinat lokasi penelitian
Data Sekunder
1. Peta topografi lokasi pengambilan sampel
2. Peta geologi lokasi pengambilan sampel
3. Layout BMK 34
46

PROSES
1. Menghitung nilai Brazilian test (BTS) dengan
persamaan 2.12
2. Menghitung nilai Blok Punch Index (BPI ) dengan
persamaan 2.8
a) Menghitung nilai poin load index (PLI) dari
persamaan BTS
b) Menentukan hubungan antara BTS,BPI, dan
PLI dengan menggunakan Microsoft excel.
3. Pembobotan nilai RMR dengan persaman yang
diasilkan dari grafik [Link] dan [Link],2001
gambar 2.14

OUTPUT
1. Hubungan uji Brazilian Test (BTS) dengan
uji Blok Punch Index (BPI)
2. Hubungan uji Brazilian test (BTS) dengan
Point Load Index (PLI)
3. Nilai Stand Up Time dari hasil pembobotan
nilai RMR

Gambar 2.18 Kerangka Konseptual


47

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen

(percobaan). Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian percobaan

yang berusaha untuk mengisolasi dan melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi

yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan pengamatan

terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut dimanipulasi. Dengan

kata lain, perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap variabel bebas dan

pengaruhnya diamati pada variabel terikat (Romla Noor Hakim, 2016).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di laboratorium STTIND Padang, dengan sampel

batuan yang di ambil dari tambang batubara CV. Bara Mitra Kencana, Kecamatan

Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat. Wilayah IUP. OP CV. Bara

Mitra Kencana seluas 49,61 hektar dan secara geografis daerah penambangan

tersebut terletak pada koordinat 100º 47’ 18,39”–100º 46’ 48,10” Bujur Timur

(BT) dan 00o 37’ 08,22”–00o 36’ 58,36” Lintang Selatan (LS). Secara

administratif tersebut terletak di Tanah Kuning Desa Batu Tanjung

KecamatanTalawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat. Batas-batas lokasi

kegiatan penambangan di CV. Bara Mitra Kencana yaitu: sebelah Utara

berbatasan dengan wilayah IUP CV. Putri Surya Pratama Natural. Sebelah Timur

berbatasan dengan wilayah Implasment. Sebelah Selatan berbatasan dengan

47
48

wilayah IUP PT. BA. Sebelah Barat berbatasan dengan IUP PT. Nusa Alam

Lestari.

Lokasi tambang tersebut dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan

roda empat dari Kota Padang jarak tempuh +117 km ke Kota Sawahlunto serta

menuju ke lokasi tambang dengan jarak tempuh +13 km selebihnya +3 km

merupakan jalan tambang yang akan digunakan untuk menunjang kelancaran

kegiatan operasional penambangan. Lokasi penambangan dapat dilihat pada

Gambar 3.1.

(Sumber:CV. Bara Mitra Kencana)(2004-2014)

Gambar 3.1 Peta Kesampaian Daerah Kota Sawahlunto

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan tanggal 28 maret sampai dengan 3 april

2019. Penelitian dilakukan untuk pengambilan data primer dan melengkapi data

sekunder yang dibutuhkan dalam penyusunan laporan Tugas Akhir.


49

3.3 Data dan Sumber Data

3.3.1 Data

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang didapat berdasarkan pengukuran langsung

ke lapangan. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. sampel batuan

a. clay (10 sampel)

b. sandstone (10 sampel).

2. Nilai uji Braziilian Test

3. Nilai uji Blok Punch Index

4. Koordinat lokasi penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data pendukung untuk dapat menentukan

perhitungan data primer secara akurat. Data sekunder yang digunakan dalam

penelitian ini adalah:

1. Peta topografi CV. Bara Mitra Kencana.

2. Peta geologi CV. Bara Mitra Kencana.

3. Layout BMK 34.

3.3.2 Sumber Data

Sumber data berasal dari studi kepustakaan/literatur/arsip-arsip dan

mencatat semua hal-hal yang berhubungan dengan objek penelitian dan juga hasil

pengujian sampel menggunakan alat braziliant test dan block punch index
50

3.4 Instrument penelitian

3.4.1 Alat Uji Brazilian Test (BTS)

Alat Brazilian test yang digunakan untuk melakukan penelitian ini

merupakan alat yang dirancang oleh peneliti dapat dilihat pada Gambar 3.2.

sumber:penulis

Gambar 3.2 Alat Uji Brazilian test (BTS)

Alat uji Brazilian test terdiri dari beberapa komponen yaitu donkrak 20

ton, dial gauge untuk pengukuran tekanan maksimum, spesmen untuk posisi

sampel pengujian, kedudukan donkrak sebagai posisi dongkrak pada saat

pengujian, shok yang terletak pada bagian sisi kiri dan kanan alat yang berfungsi

untuk jalannya spesmen dan stik untuk penggerak dongkrak.


51

3.4.2 Alat Uji Blok Punch Index (BPI)

Alat blok puch index digunakan untuk melakukan dalam pengujian ini

merupakan alat yang terdapat pada laboratorium STTIND padang dapat di lihat

pada Gambar 3.3 .

(sumber:widya juniantari 2018)

Gambar 3.3 alat uji Blok Punch Index (BPI)

Alat uji Blok Punch Index terdiri dari beberapa komponen yaitu

dongkrak,dudukan dongkrak, dial gauge, base support, kanal penjepit, puching

blok, stik dongkrak,dan shok.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah:

1. Pengambilan sampel batuan berupa clay dan sandstone diambil di sekitar

lubang BMK 34. Ukuran sampel yang diambil berupa bongkahan dan sampel

hand speciment. Sampel batuan ini nantinya akan dibentuk sesuai dengan

standar masing-masing pengujian. Preparasi untuk pengujian sampel batuan


52

dilakukan menggunakan bor portable untuk mendapatkan sampel berbentuk

silinder. ketebalan sampel untuk pengujian Brazilian test 5 mm dan Blok

Punch Index 10 [Link] diameter untuk Brazilian Test adalah 75 mm dan

Blok Punch Index 50 mm.

2. Pengujian sampel menggunakan alat Braziliant Test pengujian dilakukan

dengan menempatkan sampel diatas spesmen dan diberi tekanan dari dongkrak

sampai sampel tersebut pecah untuk mendapatkan nilai maksimum uji

Brazilian test.

3. Pengujian Blok Punch Index pengujian dilakukan dengan menempatkan

sampel diatas kanal penjempit dan diberi tekanan dari dongkrak sampai

sampel tersebut di tekan oleh puching blok dan pecah untuk mendapatkan nilai

maksimum uji blok punch index.

4. Nilai point load index didapatkan dari nilai pengujian blok punch index dengan

menggunakan persamaaan predikisi nilai nilai Poin load index dari nilai uji

Brazilian test

5. Nilai RMR didapatkan dari nilai rata- rata penggujian blok punch index yang

dikalkulasikan dengan persamaan yang dihasilkan pada penelitian sulucu dan

ulusay,(2001).

6. Pengambilan koordinat lokasi dengan GPS.


53

3.6 Teknik Pengolahan data

3.6.1 Hubungan Nilai Kuat Tekan Brazilian test (BTS) dengan Block Punch

Index (BPI)

Untuk menenentukan nilai hubungan antara braziliant test dan Blok Punch

Index maka yang dilakukan adalah pengujian sampel clay dan sandstone nilai

hasil dari pengujian tersebut di kalkulasikan dengan persamaan untuk

mendapatkan nilai uji dari kedua metode tersebut adapun persamaan yang di

gunakan untuk Braziliant Test menggunakan persamaan 2.12 dan Blok Punch

Index menggunakan persamaan 2.8. setelah mendapatkan kedua nilai tersebut

pada semua pengujian maka selanjutnya menentukan nilai hubungan antara kedua

hasil pengujian menggunakan perangkat lunak Micrsoft Excel untuk mendapatkan

persamaan hubungan dan regresi dari pengujian tersebut seperti gambar3.1

berikut.

(sumber:[Link] dan [Link] 2001)

Gambar 3.4 Hubungan UCS dan poin load index

Gambar diatas merupakan contoh dari hasil pengujian UCS dan PLI ,

dimana mendapatkan nilai hubungan dan nilai regresi pada saat diplotkan ke
54

dalam microsof excel. Pada penelitian ini juga akan melakukan seperti pada

gambar diatas dengan 2 macam sampel dan 2 metode pengujian .

3.6.2 Hubungan Nilai Kuat Tekan Brazilian test (BTS) dengan Point Load

Index (Is)

Untuk menenentukan nilai hubungan antara braziliant test dan poin load

index dengan sampel clay dan sandstone maka harus melakukan pengujian

Brazilian test dengan persamaan 2.12 dan untuk poin load index tidak dilakukan

pengujian akan tetapi di dapatkan dari persaamaan uji Brazilian test sebagai

berikut

BTS = Is 0.82

Is = 0.82
√ BTS ......................... (3.1)

Keterangan :

BTS : Nilai Uji Brazilian Test

Is : Poin Load Index

Setelah mendapatkan kedua nilai BTS dan PLI maka di plotkan kedalam

perangkat lunak Microsoft excel untuk mendapatkan persamaan hubungan dan

nilai regresi seperti contoh gambar 3.4.

3.6.3 Stand Up Time

Analisis stand up time akan di lakukan di lubang BMK 34 parameter yang

digunakan adalah nilai RMR. Pembobotan Nilai RMR pada penelitian ini di

dapatkan dari persamaan nilai pengujian Blok punch index pada penelitian

[Link] dan [Link] tahun 2011 dimana penelitian itu menghasilkan


55

persamaan untuk mendapatkan nilai RMR adapun persamaan tersebut terdapat

pada gambar 3.5 berikut.

(sumber:

[Link] dan [Link],2001)

Gambar 3.5 Kurva pembobotan RMR dan M-RMR

Dari kurva tersebut maka didapatkan persamaan untun menentukan dari nilai

RMR dengan nilai dari pengujian BPI sebagai berikut.

Rating (RMR)= (1.4 BPI)0,65 ......................... (3.2)

Keterangan :

BPI = Nilai Hasil Dari Rata-Rata Uji Blok Punch Index

Setelah mendapatkan nilai RMR maka selanjutnya dari nilai RMR clay dan

sandstone tersebut di masukan kedalam kurva stand up time seperti gambar 3.3

berikut :
56

(sumber: Refky adi nata and murad MS)

Gambar 3.6 Kurva stand up time

Nilai RMR yang didapatkan dari kedua sampel tersebut yaitu clay dan

sandstone dimasukan kedalam kurva sesuai dengan nilai RMR Setelah RMR

dimasukkan sesuai rentangnya untuk mengetahui waktu jarak batuan tanpa

disangga dalam satuan (meter).

3.7 Analisa Data

Analisa data pada penelitian ini adalah sebgai berikut

1. Pada penelitian hubungan antara uji Brazilian test dengan Blok Punch Index

dan hubungan antara uji Brazilian Test dengan Poin Load Index maka pada

pengujian tersebut akan mendapatkan persamaan antara hubungan antar

keduanya yang di hasilkan dari memasukan data nilai uji kedalam perangkat

lunak Microsoft excel. Nilai regresi (R2) yaitu nilai yang di hasilkan dari
57

perangkat lunak Microsoft excel yang berarti hubungan korelasi antara

variabel X terhadap variabel Y apabila nilai regresi R2 mendekati 1 artinya

hubunganya baik tetapi apabila nilai regresi R2 jauh dari 1 maka hubungan

antar kedua pengujian tersebut buruk.

2. Analisa Stand Up Time pada penelitian ini deharapkan mendapatkan nilai

stand up time yang baik dimana stand up time yang baik adalah di hasilkan

dari nilai RMR yang melebihi dai 40 apa bila di bawah 40 maka di katakan

batuan lemah semakin jauh jarak penyanggga dan nilai RMR tinggi maka

waktu yang di dapatkan pada stand up time semakin lama yang berarti aman.

3.8 Kerangka Metodologi

Langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

Analisis Metode Pengujian braziliant tes (BTS) untuk memprediksi nilai


hubungan antara Block Punch Index (BPI), Point Load Index(PLI) dan
analisis stand up time lubang BMK 34 CV. Bara mitra kencana

Identifikasi Masalah

1. Belum adanya alat uji kuat tarik untuk sampel yang bidang
perlapisannya tipis laboratorium STTIND padang.
2. Belum pernah dilakukanya pengujian kuat tarik batuan
pada lokasi BMK 34 .
3. Belum adanya anlisis stand up time pada lokasi BMK 34.

Tujuan Penelitian

1. Menganalisis hubungan nilai kuat tarik Brazilian test dengan


Block Punch Index (BPI).
2. Menganalisis hubungan nilai kuat tarik berazilian test (BTS)
terhadap nilai kuat tekan point load index (PLI).
3. Menganalisis stand up time pada lubang BMK 34.
.

A
A 58

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder

[Link] batuan, 4. Peta topografi CV. Bara Mitra Kencana.


[Link]( 10 sampel) 5. Peta geologi CV. Bara Mitra Kencana.
[Link] (10 sampel) 6. Layout BMK 34.

[Link] Uji Brazilian test


[Link] Uji Blok Punch Index
4. Koordinat lokasi penelitian

Pengolahan Data

1. Memprediksi hubugan nilai Brazilian test terhadap uji blok


punch index dengan persamaan 2.12 dan 2.9
2. Memprediksi hubugan nilai Brazilian test terhadap uji poin
load index dengan persamaan dari uji BPI
3. Menganalis stand up time lubang BMK 34
4.

Analisis Data

Analisa prediksi nilai hubungan Brazilian test(BTS),


blok punch index (BPI), poin load index (PLI) dan
analisis stand up time

Hasil

1. Nilai hubungan Brazilian test dengan Blok punch


index
2. Nilai hubungan Brazilian test dengan poin load
index
3. Analisis stand up time BMK 34.

Gambar 3.8 Diagram Alir Penelitian


BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data

Data-data yang didapatkan pada saat penelitian yang dilakukan di CV.

Bara Mitra Kencana adalah:

4.1.1 Sampel Batuan

Sampel batuan yang digunakan pada penilitian ini yaitu berupa sandstone

dan clay. Kedua sampel batuan ini diambil di sekitar lereng BMK 34. Pemilihan

sampel berupa sandstone dan clay dikarenakan kedua batuan ini merupakan

batuan penyusun lereng di sekitar lubang BMK 34. Sampel batuan yang diambil

bervariasi ukurannya, mulai dari sampel berukuran hand speciment Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Sampel sandstone dan clay

Sampel batuan yang diambil di lapangan akan dipreparasi sesuai dengan

standar pengujian BPI dan BTS. Untuk sampel BPI, diameter sampel yang

digunakan adalah 50 mm dengan ketebalan 10 mm. Sedangkan untuk sampel

BTS, digunakan sampel batuan dengan ukuran diameter 75 mm dan tebal 5 mm.

59
60

Untuk preparasi sampel BPI dan BTS dilakukan dengan bantuan mesin

pemotong batu dan pengecil ukuran yang menggunakan tenaga listrik. Adapun

peralatan yang digunakan untuk preparasi sampel dapat dilihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Alat Pemotong Batu dan pengecil ukuran

Hasil preparasi sampel sandstone dan clay menggunakan alat pemotong

batu dan pengecil ukuran untuk sampel BPI yang berbentuk bulat dengan

diameter 50mm dan ketebalan 10 mm sesuai dengan rekomendasi Sulukcu dan

Ulusay (2001) dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Hasil Preparasi Sampel Batuan untuk Uji BPI


61

Sedangkan untuk sampel pengujian BTS berbentuk seperti sampel uji BPI

akan tetapi dengan ukuran tebal 5 mm dan tebal 75 mm dapat dilihat pada Gambar

4.4.

Gambar 4.4 Hasil Preparasi Sampel Batuan untuk Uji BTS

Setelah dilakukan preparasi terhadap kedua jenis batuan untuk pengujian

Blok punch index dan brazilian test maka selanjutnya batuan tersebut akan diuji di

laboratorium STTIND Padang. Pengujian dapat dilihat pada Gambar 4.5.

Gambar 4.5 pengujian Brazilian test dan blok punch index


62

Hasil pengujian Brazilian test dan blok punch index di laboratorim

STTIND Padang dengan sampel sandstone dan clay dapat dilihat pada gambar

4.6 berikut.

Gambar 4.6 Hasil Pengujian Brazilian test dan blok punch index

Data data hasil pengujian Blok Punch Index dengan sampel batupasir

dan clay dengan menggunakan persamaan 2.8 untuk mendapatkan nilai BPI

dapat dlihat pada tabel 4.1 dan 4.2 berikut.

Tabel 4.1
Hasil Pengujian Blok Punch Index dengan sampel sandstone

Ukuran sampel P BPI Rata-Rata


Jenis Batuan Nilai
Diameter(mm) Ketebalan (mm)
kg Mpa BPI(Mpa)
sandstone 1 50 10 19 207.6
sandstone 2 49 10 18 202.0
sandstone 3 49 10 18 202.0 208.520

sandstone 4 52 10 20 203.0
sandstone 5 50 10 21 228.0

Dari perhitungan nilai uji blok punch index dengan sampel Sandstone

diatas maka di dapatkan nilai blok punch index rata-rata dalah sebesar 208.520
63

Mpa data perhitungan dapat dilihat pada lampiran IX. Selajutnya perhitungan

dengan sampel clay dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2
Hasil Pengujian Blok Punch Index dengan sampel clay

Jenis Ukuran Sampel P BPI Rata-Rata


Batuan Diameter(mm) Ketebalan (mm) kg Mpa Nilai BPI(Mpa)
clay 1 49 10 15 167.5
clay 2 50 10 13 141
clay 3 52 10 14 141 151.500

clay 4 50 10 14 152
clay 5 51 10 15 156

Dari perhitungan nilai uji blok punch index dengan sampel clay diatas di

dapatkan nilai blok punch index rata-rata Adalah sebesar 151.500 Mpa. Data

perhitungan dapat dilihat pada lampiran X. Selanjutnya Pengujian Brazilian test

dengan sampel Sandstone dan clay untuk mendapatkan nilai BTS dengan

menggunakan persamaan 2.12 dapat dlihat pada tabel 4.3 dan 4.4 berikut

Tabel 4.3
Hasil Pengujian Brazilian test dengan sampel sandstone

Jenis Ukuran Sampel P BTS Rata-Rata


Batuan Nilai
Diameter(mm) Ketebalan (mm)
Kg Mpa BTS(Mpa)
sandstone 1 75 5 14 0.265
sandstone 2 75 5 12 0.200
sandstone 3 74 5 13 0.219 0.216

sandstone 4 75 5 13 0.216
sandstone 5 76 5 11 0.181
64

Dari perhitungan nilai uji braziliant test dengan sampel sandstone diatas

maka di dapatkan nilai braziliant test rata-rata adalah sebesar 0.216 Mpa data

perhitungan dapat dilihat pada lampiran XI. Pengujian Brazilian test dengan

sampel clay dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4
Hasil Pengujian Brazilian test dengan sampel clay

Jenis Ukuran Sampel P Bts rata-rata


Batuan Diameter(Cm) Ketebalan (Mm) kg Mpa Nilai BTS(Mpa)
clay 1 75 5 12 0.200
clay 2 74 5 10 0.169
clay 3 75 5 10 0.166 0.178
clay 4 76 5 11 0.189
clay 5 75 5 10 0.166

Dari perhitungan nilai uji braziliant test dengan sampel clay diatas maka

di dapatkan nilai braziliant test rata-rata dalah sebesar 0.178 Mpa data perhitungan

dapat dilihat pada lampiran XII. Dari nilai Brazilian test akan di gunakan untuk

mprediksi nilai poin load index.

4.1.2 Prediksi nilai Poin Load Index dari nilai uji Braziliant Test

Prediksi nilai Point Load Index dari hasil nilai pengujian Brazilian Test

dengan meggunakan persamaan 3.1 dapat dilihat pada tabel 4.5 dan 4.6 berikut

Tabel 4.5.
Prediksi nilai Poin Load Index dengan sampel sandstone

Ukuran Sampel P BTS PLI


Jenis Batuan Prediksi PLI
Diameter (cm) Ketebalan (mm)
kg Mpa (Mpa)
sandstone 1 75 5 14 0.265 0.580
sandstone 2 75 5 12 0.200 0.516
65

sandstone 3 74 5 13 0.219 0.536


sandstone 4 75 5 13 0.216 0.533
sandstone 5 76 5 11 0.181 0.496

Tabel 4.6
Prediksi nilai poin load index dengan sampel clay

Ukuran Sampel P BTS PLI


Jenis Batuan Prediksi PLI
Diameter(cm) Ketebalan (mm)
kg Mpa (Mpa)
clay 1 75 5 12 0.200 0.516
clay 2 74 5 10 0.169 0.482
clay 3 75 5 10 0.166 0.478
clay 4 76 5 11 0.189 0.505
clay 5 75 5 10 0.166 0.477

Predikisi nilai poin load index dari nilai uji Brazilian test ini adalah untuk

mendapatkan nilai poin load index tanpa melakukan pengujian dengan

menggunakan persamaan sehingga nilai ini akan digunankan untuk menentukan

nilai hubungan antara Brazilian test dan poin load index . sampel sandstone dan

clay yang diambil dari lubang BMK 34 data perhitungan dapat dilihat pada

lampiran XIII dan XIV.

4.1.3 Pembobotan nilai RMR

Pembobotan nilai RMR untuk sandstone dan clay didapatkan dari hasil

nilai ratat – rata pengujian blok punch index. nilai rata-rata tersebut di kalikan

dengan persamaan 3.2. dari pengujian blok punch index diatas dengan sampel

batupasir dan caly didapatkan nilai rata-rata sebsar 208,5 Mpa untuk sampel

sandstone dan 151,5 Mpa untuk sampel clay yang berdasarkan dari tabel 4.1 dan

4.2 perhitungan dapat dilihat sebagai berikut.


66

1. Perhitungan RMR untuk sampel sandstone

Diketahui nilai BPI batupasir = 208,5Mpa

Rating (RMR) = (1.4 BPI)0,65

= (1.4 208,5)0,65

= 40

2. Perhitungan RMR untuk sampel clay

Diketahui nilai BPI clay = 151,5 Mpa

Rating (RMR) = (1.4 BPI)0,65

= (1.4 151,5)0,65

= 32,5

4.1.4 Pengambilan koordinat lokasi

Pengambilan koordinat dilakukan dengan menggunakan GPS pada lokasi

lubang BMK 34.

Gambar 4.7 Pengambilan Koordinat BMK 34


67

Data pengeplotan dengan menggunaakan GPS didapatkan koordinat E

100° 46’ 58,0’’ S 00° 37’ 02,7’’ berfungsi untuk memetakan situasi geologi

daerah penelitian.

4.2 Pengolahan Data

4.2.1 Hubungan Brazilian Test (BTS) dengan Block Punch Index (BPI)

dengan sampel Sandstone dan Clay

Pengolahan data untuk memnentukan hubungan Brazilian test dengan blok

punch index menggunakan perangkat lunak Microsoft excel dimana yang

menjadi variabel X adalah nilai uji Brazilian test dan varibabel Y adalah nilai uji

blok punch index.

1. Hubungan uji kuat tarik braziliant test dengan blok punch index sampel

sandstone

Untuk menentukan nilai hubungan uji kuat tarik braziliant test

dengan blok punch index sampel sandstone maka nilai yang akan di

bandingkan dapat dilihat pada tabel 4.7

Tabel 4.7
Hubungan uji BTS dengan BPI sampel sandstone

BTS (Mpa) BPI ( Mpa)


0.265 207.6
0.200 202.0
0.219 202.0
0.216 203.0
0.181 228.0
68

Berdasarkan tabel diatas nilai keduanya setelah dimasukan kedalam

perangkat lunak Microsoft excel tahap berikutnya adalah mengeluarkan

grafik garis linear, persaman dan nilai regresi.

2. Hubungan uji kuat tarik braziliant test dengan blok punch index sampel

clay

Untuk menentukan nilai hubungan uji kuat tarik braziliant test

dengan blok punch index sampel clay maka nilai yang akan di bandingkan

dapat dilihat pada tabel 4.8

Tabel 4.8
Hubungan uji BTS dengan BPI sampel clay

BTS (Mpa) BPI ( Mpa)


0.200 167.5
0.169 141
0.166 141
0.189 152
0.166 156

Berdasarkan tabel diatas nilai keduanya setelah dimasukan kedalam

perangkat lunak Microsoft excel tahap berikutnya adalah mengeluarkan

grafik garis linear, persaman dan nilai regresi.

4.2.2 Hubungan Brazilian Test (BTS) dengan Poin load index (BPI) dengan

sampel Sandstone dan Clay

Pengolahan data untuk memnentukan hubungan Brazilian test

dengan poin load index menggunakan perangkat lunak Microsoft excel

dimana yang menjadi variabel X adalah nilai uji Brazilian test dan varibabel

Y adalah nilai uji poin load index


69

1. Hubungan uji kuat tarik braziliant test dengan poin load index sampel

sandstone

Untuk menentukan nilai hubungan uji kuat tarik braziliant test

dengan poin load index sampel sandstone maka nilai yang akan di

bandingkan dapat dilihat pada tabel 4.10

Tabel 4.10
Hubungan uji BTS dengan PLI sampel sandstone

BTS (Mpa) PLI (Mpa)


0.265 0.580
0.200 0.516
0.219 0.536
0.216 0.533
0.181 0.496

Berdasarkan tabel diatas nilai keduanya setelah dimasukan kedalam

perangkat lunak Microsoft excel tahap berikutnya adalah mengeluarkan

grafik garis linear, persaman dan nilai regresi.

2. Hubungan uji kuat tarik braziliant test dengan poin load index sampel

clay

Untuk menentukan nilai hubungan uji kuat tarik braziliant test

dengan poin load index sampel sandstone maka nilai yang akan di

bandingkan dapat dilihat pada tabel 4.9

Tabel 4.9
Hubungan uji BTS dengan PLI sampel Clay

BTS (Mpa) PLI ( Mpa)


70

0.200 0.516
0.169 0.482
0.166 0.478
0.189 0.505
0.166 0.477

Berdasarkan tabel diatas nilai keduanya setelah dimasukan kedalam

perangkat lunak Microsoft excel tahap berikutnya adalah mengeluarkan

grafik garis linear, persaman dan nilai regresi.

4.2.3 Stand Up Time

Penelitian ini dilakukan di lokasi BMK 34 analaisis stand up time

di lakukan dengan pembobotan nilai RMR yang didapatkan dari nilai uji

hasil BPI rata- rata . Hasil RMR yang didapatkan 40 untuk sampel

sandstone dan 30,5 untuk sampel clay dari nilai tersebut akan di plotkan

kedalam kurva stand up time dengan jarak terjauh penyangga pada lokasi

BMK 34 adalah 2 meter.


BAB V
ANALISA DATA

Pengambilan data berupa sampel sandstone dan sampel clay di CV. Bara

Mitra kencana pada lokasi sekitar lubang BMK 34 didapatkan data berupa nilai

kuat tarik BTS dan kuat tekan BPI. Pengujian kedua sampel batuan menggunakan

alat BTS dan BPI. Nilai kuat tarik BTS ini digunakan untuk memprediksi nilai

PLI, dimana nilai PLI ini dapat digunakan untuk klasifikasi massa batuan.

5.1 Analisa hubungan Brazilian Test (BTS) dengan Block Punch Index (BPI)

dengan sampel Sandstone dan Clay

Pengujian sampel sandstone dan clay menggunakan alat uji BTS dan BPI

dilakukan untuk mengetahui berapa nilai kuat tarik dan kuat tekanan batuan, yang

kemudian nilai ini digunakan untuk menghitung hubungan antara nilai uji

braziliant test dengan nilai uji blok punch index dan nilai blok punch index

digunakan untuk mempredikisi nilai RMR.

3. Analisa hubungan uji kuat tarik braziliant test dengan blok punch index

sampel sandstone

Gambar 5.1 Hubungan BTS dengan BPI sampel sandstone

Berdasarkan gambar 5.1 dapat diketahui hubungan antara BTS dengan BPI

dengan sampel sandstone menghasilkan persamaan y = -166,15x + 244,44

71
72

dimana y merupakan nilai BPI dan x merupakan nilai BTS sandstone. Nilai

regresi (R2) yang dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0,2183,

artinya hubungan nilai Brazilian Test dengan BPI lemah karena mendekati 0.

Gambar 5.2 Hubungan BTS dengan BPI sampel clay

Berdasarkan gambar 5.2 dapat diketahui hubungan antara BTS dengan BPI

dengan sampel sandstone menghasilkan persamaan y = 554,8x + 52,779 dimana

y merupakan nilai BPI dan x merupakan nilai BTS clay. Nilai regresi (R2) yang

dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0.5801, artinya hubungan

nilai Brazilian Test dengan BPI sedang karena berada diantara 0 dengan 1.

5.2 Analisa hubungan nilai kuat tarik Brazilian Test (BTS) dengan point

load index (PLI) dengan sampel Sandstone dan Clay

Pengujian sampel sandstone dan clay menggunakan alat uji BTS dan dan

nilai PLI dihasilkan dari persamaan BTS yang kemudian nilai ini digunakan
73

untuk menghitung hubungan antara nilai uji braziliant test dengan nilai poin load

index.

1. Analisa hubungan uji kuat tarik braziliant test dengan poin load index sampel

sandstone

Gambar 5.3 Hubungan BTS dengan PLI sampel sandstone

Berdasarkan gambar 5.3 dapat diketahui hubungan antara BTS dengan PLI

dengan sampel sandstone menghasilkan persamaan y = 0,9936x + 0,3174

dimana y merupakan nilai PLI dan x merupakan nilai BTS sandstone. Nilai

regresi (R2) yang dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0,9995,

artinya hubungan nilai Brazilian Test dengan PLI sangat kuat karena mendekati
74

2. Analisa hubungan uji kuat tarik braziliant test dengan poin load index sampel

clay

Gambar 5.4 Hubungan BTS dengan PLI sampel clay

Berdasarkan gambar 5.4 dapat diketahui hubungan antara BTS dengan PLI

dengan sampel sandstone menghasilkan persamaan y = 1,16x + 0,2852 dimana y

merupakan nilai PLI dan x merupakan nilai BTS sandstone. Nilai regresi (R2)

yang dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0.9962, artinya

hubungan nilai Brazilian Test dengan PLI sangat sangat kuat karena mendekati 1.

5.3 Analisis Stand Up Time lubang BMK 34

Analsisis stand up time dilakukan untuk mengetahui ketahan batuan yang

ada di lubang bmk 34 khususnya sandstone dan clay. analsis stand up time

dilakukan dengan melakukan pembobotan nilai rmr yang di dapat dari nilai rata –

rata pengujian blok punch index yang selanjutnya dihubungkan dengan persamaan

3.2 dimana didapatkan nilai RMR sebesar 40 untuk sandstone dan 32,5 maka nilai

tersebut dari kedua batuan itu akan di masukan ke dalam kurva stand up time
75

bienewski 1979 untuk mendapatkan jarak dan umur ke dua batuan tersebut akan

runtuh tanpa diberikan penyangga .

1. Analisis stand up time sandstone lubang BMK 34

Gambar 5.5 Analisis Stand Up Time Sandstone

Dari kurva di atas dapat disimpulkan untuk sandstone dengan nilai RMR 40

maka maka di peroleh nilai stand up time selama 4 hari dengan jarak bukaan

kemajuan (roof span) 2 meter. Artinya batuan menyangga dirinya sendiri selama 4

hari dengan kemajuan lubang 2 meter.


76

2. Analisis stand up time clay lubang BMK 34

Gambar 5.6 Analisis Stand Up Time Clay

Dari kurva di atas dapat disimpulkan untuk sandstone dengan nilai RMR

32,5 maka maka di peroleh nilai stand up time selama 10 jam dengan jarak

bukaan kemajuan (roof span) 2 meter. Artinya batuan menyangga dirinya sendiri

selama 10 jam dengan kemajuan lubang 2 meter.

Dari analisa stand up time diatas pada lubang BMK 34 maka dapat

menjadi acuan untuk memasang penyangga pada lokasi tersebut sehingga

memberikan kondisi aman dan stabil.


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai

berikut:

1. Analisa hubungan antara nilai kuat tarik Brazilian test (BTS) dengan pengujian

blok punch index sampel sandstone dan clay didapatkan persamaan linear

untuk sandstone y = -166,15x + 244.44 dengan Nilai regresi (R2) yang

dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0,2183, artinya

hubungan nilai Brazilian Test dengan BPI lemah karena mendekati 0 dan

persamaan linear untuk clay y = 554,8x + 52.779 dengan Nilai regresi (R2)

yang dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0.5801, artinya

hubungan nilai Brazilian Test dengan BPI sedang karena berada diantara 0

dengan 1.

2. Analisa hubungan antara nilai kuat tarik Brazilian test (BTS) dengan nilai

point load index (PLI) sampel sandstone dan clay didapatkan persamaan linear

untuk sandstone y = 0.9936x + 0.3174 dengan Nilai regresi (R2) yang

dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0,9995, artinya

hubungan nilai Brazilian Test dengan PLI sangat kuat karena mendekati [Link]

persamaan linear untuk clay y = 1.16x + 0.2852 dengan Nilai regresi (R2) yang

dihasilkan dari persamaan ini yaitu koofesien korelasi 0,9962, artinya

hubungan nilai Brazilian Test dengan PLI sangat sangat kuat karena

mendekati 1.

77
78

3. Analis Stand Up Time di lubang BMK 34 dengan jenis batuan sandstone dan

clay didapatkan analisis untuk sandstone dengan nilai nilai RMR 40 maka di

peroleh nilai stand up time selama 4 hari dengan jarak bukaan kemajuan (roof

span) 2 meter dan untuk Clay dengan nilai RMR 32,5 maka maka di peroleh

nilai stand up time selama 10 jam dengan jarak bukaan kemajuan (roof span) 2

meter.

6.2 Saran

Saran yang diberikan dari penelitian ini adalah.

1. Penulis berharap untuk peneliti selanjutnya dalam penelitian agar memperbaiki

alat Brazilian test rancangan peneliti dengan mengganti dial gauge yang digital

agar pembacaan saat pengujian lebih akurat.

2. Penulis berharap kepada perusahaan untuk melakukan analisa kesetabilan

setiap lubang tambang di [Link] Mitra Kencana.

3. Penulis merekomendasikan kepada perusahan [Link] Mitra Kecana untuk

lebih memperhatikan pemasangan penyangga dengan jarak antar penyangga

yang lebih rapat untuk menghindari ambrukan yang terjadi pada lubang BMK

34 dikarenakan kondisi batuan penyusun terowongan yang relatif lemah.


79

DAFTAR PUSTAKA

Arif Irwandy, Geoteknik Tambang, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2016.

[Link], dkk, Determination of Instantaneous Breaking Rate by Geological


Strength Index, Block Punch Index and Power of Impact Hammer for
Various Rock Mass Condition, Turkey, 2011.

[Link] dan [Link], Use of the Block Punch Test to Predict the
Compressive and Tensile Strengths of Rocks, Indian Institute of
Technology, India, 2012
.
I.D..AKIN and [Link],, Brazilian tensile strength testing of compcated clay,
Indian Institute of Technology, India, 2016

Juniantari widya, Analisis Metode Pengujian Block Punch Index (BPI) dan
Point Load Index (PLI) untuk Memprediksi Nilai Uniaxial
Compressive Strength (UCS), STTIND Padang, 2018

Kurnia Aprinta Herastuti dan Nurmaya Putri Ira, Studi Analisis Pengaruh
Variasi Ukuran Butir Batuan terhadap Sifat Fisik dan Nilai Kuat
Tekan, Fakultas Teknologi Mineral UPN, Yogyakarta, 2016.

Made Astawa Rai, dkk, Mekanika Batuan, Institut Teknologi Bandung, Bandung,
2011.

Riko Ervil, dkk, Buku Panduan Penulisan dan Ujian Skripsi, Sekolah Tinggi
Teknologi Industri (STTIND) Padang, 2016.

Rini asnida Abdullah & Takashi tsutsumi, Evaluation Of Tensile Strength Of


Brazilian Test Under Solid And Ring Disks Using Finite Elemen
Analiysis, Sains Malaysiana,.

Resat Ulusay & Candan Gokceoglu, The Modified Block Punch Index Test,
Applied Geology Division, Geological Engineering Department, Hacettepe
University, 06532 Beytepe Ankara, Turkey, 1997.

Nata, Refky adi dan murad MS, Stand Up Time In Tunnel Base On Rock Mass
Rating Bienewski 1989, Minning Engineering Dapartement,STTIND
,Padang 25171,Indonesia.

Romla Noor Hakim, dkk, Pengaruh Bentuk dan Ukuran Terhadap Kuat Tekan
Uniaksial Batuan Utuh, Universitas Lambung Mangkurat, 2016.
80

[Link] dan [Link], Evaluation of the Block Punch Index Test with
Particular Reference to the Size Effect, Failure Mechanism and Its
Effectiveness in Predicting Rock Strength, Hacettepe University, Ankara
Turkey, 2001.
LAMPIRAN I
TAMPILAN ALAT BTS

Gambar tampak depan alat BTS

Gambar bentuk spesmen sampel BTS


LAMPIRAN II
DOKUMENTASI PENELITIAN
LAMPIRAN III
PENYANGGA LUBANG BMK 34
LAMPIRAN IV
FORMAT PENGAMBILAN DATA LAPANGAN
KEGIATAN PENGAMBILAN SAMPEL BATUAN

INFORMASI UMUM PENGAMBILAN SAMPEL

Cuaca : Cerah Pengawas : Adil wahyudi


Hari : jumat tanggal : 29 maret 2019
Lokasi : BMK 34 Waktu : 08:00 s/d selesai WIB
Pengukur : Riyamizard z

PARAMETER PENGAMBILAN SAMPEL BATUAN


Jenis Batuan Ukuran Jumlah
Hand spacement,
sandstone 4 bongkah
bongkahan
Hand spacement,
clay 3 bongkah
bongkahan

DOKUMENTASI KEGIATAN PENGAMBILAN SAMPEL


Lokasi Pengambilan Sampel
Pengesahan Data :
Diketahui & Disahkan:
[Link]/KTBT
CV. BARA MITRA KENCANA

....................................................
CHANDRA
LAMPIRAN V
DATA UJI BLOCK PUNCH INDEX SANDSTONE
DI LABORATORIUM MEKANIKA BATUAN STTIND PADANG

Pengukuran : Sandstone Alat : Block Punch Index, jangka sorong


Tgl Pengujian : 24 april 2019 Cuaca : Cerah

Ukuran Sampel F Foto Sampel


Jenis Batuan
(kg)
Diameter (mm) Ketebalan (mm)

sandstone1 50 10 19
sandstone2 49 10 18
sandstone3 49 10 18
sandstone4 52 10 20
sandstone5 50 10 21

Mengetahui :
Pendamping Pengujian

(Refky Adi Nata, ST.,MT)


LAMPIRAN VI
DATA UJI BLOCK PUNCH INDEX CLAY
DI LABORATORIUM MEKANIKA BATUAN STTIND PADANG

Pengukuran : Clay Alat : Block Punch Index, jangka sorong


Tgl Pengujian : 24 april 2019 Cuaca : Cerah

Ukuran Sampel F Foto Sampel


Jenis Batuan
(kg)
Diameter (mm) Ketebalan (mm)

clay 1 49 10 15
clay 2 50 10 13
clay 3 52 10 14
clay 4 50 10 14
clay 5 51 10 15

Mengetahui :
Pendamping Pengujian

(Refky Adi Nata, ST.,MT)


LAMPIRAN VII
DATA UJI BRAZILIANT TEST SANDSTONE
DI LABORATORIUM MEKANIKA BATUAN STTIND PADANG

Pengukuran : Sandstone Alat : Braziliant Test, jangka sorong


Tgl Pengujian : 24 april 2019 Cuaca : Cerah

Ukuran Sampel F Foto Sampel


Jenis Batuan
(kg)
Diameter (mm) Ketebalan (mm)

sandstone 1 75 5 14
sandstone 2 75 5 12
sandstone 3 74 5 13
sandstone 4 75 5 13
sandstone 5 76 5 11

Mengetahui :
Pendamping Pengujian

(Refky Adi Nata, ST.,MT)


LAMPIRAN VIII
DATA UJI BRAZILIANT TEST CLAY
DI LABORATORIUM MEKANIKA BATUAN STTIND PADANG

Pengukuran : Clay Alat : Braziliant Test, jangka sorong


Tgl Pengujian : 24 april 2019 Cuaca : Cerah

Ukuran Sampel F Foto Sampel


Jenis Batuan
(kg)
Diameter (mm) Ketebalan (mm)

clay 1 75 5 12
clay 2 74 5 10
clay 3 75 5 10
clay 4 76 5 11
clay 5 75 5 10

Mengetahui :
Pendamping Pengujian

(Refky Adi Nata, ST.,MT)


LAMPIRAN IX
PERHITUNGAN BLOK PUNCH INDEX DENGAN SAMPEL
SANDSTONE

Diketahui 1 kg = 0.0098 KN

P = beban puncak (kg)

Sampel sandstone 1

P = 19 kg = 0,1764 KN
D = 50 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (50 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,1764 KN
BPIc = 3454 (0,0043) (0,075 ) 0,1764 KN
BPIc = 0,207 KN/mm2 = 207 Mpa
Sampel sandstone 2

P = 18 kg = 0,176 KN
D = 49 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (49 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,176 KN
BPIc = 3454 (0,00442) (0,075 ) 0,176 KN
BPIc = 0,202 KN/mm2 = 202 Mpa
Sampel sandstone 3

P = 18 kg = 0,176 KN
D = 49 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (49 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,176 KN
BPIc = 3454 (0,00442) (0,075 ) 0,176 KN
BPIc = 0,202 KN/mm2 = 202 Mpa
Sampel sandstone 4

P = 20 kg = 0,196 KN
D = 52 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (52 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,176 KN
BPIc = 3454 (0,004) (0,075 ) 0,176 KN
BPIc = 0,203 KN/mm2 = 203 Mpa
Sampel sandstone 5
P = 21 kg = 0,205 KN
D = 50 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (50 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,176 KN
BPIc = 3454 (0,004) (0,075 ) 0,176 KN
BPIc = 0,228 KN/mm2 = 228 Mpa
Blok Punch Index Rata-Rata Adalah Sebesar 208.520 Mpa.
LAMPIRAN X
PERHITUNGAN BLOK PUNCH INDEX DENGAN SAMPEL CLAY

Sampel clay 1

P = 15 kg = 0,147 KN
D = 49 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (49 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,147 KN
BPIc = 3454 (0,0044) (0,075 ) 0,147 KN
BPIc = 0,167 KN/mm2 =167 Mpa
Sampel clay 2

P = 13 kg = 0,127 KN
D = 50 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (50 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,127 KN
BPIc = 3454 (0,0043) (0,075 ) 0,127 KN
BPIc = 0,141 KN/mm2 =167 Mpa
Sampel clay 3

P = 14 kg = 0,137 KN
D = 52 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (52 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,137 KN
BPIc = 3454 (0,004) (0,075 ) 0,137 KN
BPIc = 0,141 KN/mm2 =141 Mpa
Sampel clay 4

P = 14 kg = 0,137 KN
D = 50 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (50 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,137 KN
BPIc = 3454 (0,0043) (0,075 ) 0,137 KN
BPIc = 0,152 KN/mm2 =152 Mpa
Sampel clay 5

P = 15 kg = 0,147 KN
D = 51 mm
t = 10 mm
BPIc = 3454 D -1,3926 t -1,1265 P
BPIc = 3454 (51 -1,3926) (10 -1,1265 ) 0,147 KN
BPIc = 3454 (0,0041) (0,075 ) 0,147 KN
BPIc = 0,156 KN/mm2 =156 Mpa
Blok Punch Index Rata-Rata Adalah Sebesar 151.500 Mpa
LAMPIRAN XI
PERHITUNGAN BRAZILIAN TEST DENGAN SAMPEL SANDSTONE

Diketahui 1 kg = 0.0098 KN

P = beban puncak (kg)

Sampel sandstone 1

P = 14 Kg = 0,1372 KN
L = 5 mm
D = 75 mm
BTS = = = = 0,0002649 KN/mm2 = 0,2649 Mpa
Sampel sandstone 2

P = 12 Kg = 0,1176 KN
L = 5 mm
D = 75 mm
BTS = = = = 0,0001997 KN/mm2 = 0,1997 Mpa
Sampel sandstone 3

P = 13 Kg = 0,1274 KN
L = 5 mm
D = 74 mm
BTS = = = = 0,0002193 KN/mm2 = 0,2193 Mpa

Sampel sandstone 4

P = 13 Kg = 0,1274 KN
L = 5 mm
D = 75 mm
BTS = = = = 0,0002163 KN/mm2 = 0,21963 Mpa
Sampel sandstone 5

P = 11 Kg = 0,1078 KN
L = 5 mm
D = 76 mm
BTS = = = = 0,0001806 KN/mm2 = 0,1806 Mpa
LAMPIRAN XII
PERHITUNGAN BRAZILIAN TEST DENGAN SAMPEL CLAY

Diketahui 1 kg = 0.0098 KN

P = beban puncak (kg)

Sampel clay 1

P = 12 Kg = 0,1176 KN
L = 5 mm
D = 75 mm
BTS = = = = 0,0001997 KN/mm2 = 0,1997 Mpa
Sampel clay 2

P = 10 Kg = 0,098 KN
L = 5 mm
D = 74 mm
BTS = = = = 0,0001664 KN/mm2 = 0,1664 Mpa
Sampel clay 3

P = 13 Kg = 0,1274 KN
L = 5 mm
D = 74 mm
BTS = = = = 0,0001664 KN/mm2 = 0,1664 Mpa

Sampel clay 4

P = 11 Kg = 0,1078 KN
L = 5 mm
D = 76 mm
BTS = = = = 0,0001855 KN/mm2 = 0,1855Mpa
Sampel clay 5

P = 10 Kg = 0,098 KN
L = 5 mm
D = 75 mm
BTS = = = = 0,0001664 KN/mm2 = 0,1664 Mpa
LAMPIRAN XIII
PREDIKSI NILAI POIN LOAD INDEX DENGAN SAMPEL SANDSTONE

Diketahui BTS = adalah nilai uji braziliant test

PLI = nilai point load index

BTS = Is 0.82

Is = 0.82
√ BTS

Sampel sandstone 1

BTS = 0,265 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,265 = 0,580 Mpa
Sampel sandstone 2

BTS = 0,20 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,20 = 0,516 Mpa
Sampel sandstone 3

BTS = 0,219 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,219 = 0,536 Mpa
Sampel sandstone 4

BTS = 0,216 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,216 = 0,533 Mpa
Sampel sandstone 5

BTS = 0,181 MPa


Is = 0.82
√ BTS = 0.82
√ 0,181 = 0,496 Mpa
LAMPIRAN XIV
PREDIKSI NILAI POIN LOAD INDEX DENGAN SAMPEL CLAY

Sampel clay 1

BTS = 0,20 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,20 = 0,516 Mpa

Sampel clay 2

BTS = 0,169 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,169 = 0,482 Mpa

Sampel clay 3

BTS = 0,166 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,166 = 0,478 Mpa

Sampel clay 4

BTS = 0,189 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,189 = 0,505 Mpa

Sampel clay 5

BTS = 0,116 MPa


Is = 0.82 √ BTS = 0.82
√ 0,116 = 0,477 Mpa
LAMPIARAN XV
PETA GEOLOGI CV. BARA MITRA KENCANA
LAMPIRAN XVI
PETA PERPANJANGAN DAN PENCIUTAN IUP
LAMPIRAN XVII
PETA TOPOGRAFI CV. BARA MITRA KENCANA
LAMPIRAN XVII
PETA GEOMORFOLOGI CV. BARA MITRA KENCANA

3D

W E

S
LAMPIRAN XIX
PETA GEOMORFOLOGI CV. BARA MITRA KENCANA
LAMPIRAN XX
PETA GEOLOGI REGIONAL CV. BARA MITRA KENCANA
LAMPIRAN XX1
LAY OUT LUBANG BMK 34
LEMBAR KONSULTASI

NAMA: RIYAMIZARD Z
NPM :1510024427081
DOSEN PEMBIMBING I : REFKY ADI NATA., ST, MT.

Tanggal Perbaikan Paraf

1. Perbaiki tata tulis

5 Januari 2019 2. Lengkapi review jurnal dengan tinjauan pustaka

3. Perbaiki keterkaitan jurnal

1. Perhatikan penggunaan titik, koma dalam

6 Januari 2019 penulisan

2. Perhatikan ukuran huruf

3. Perbaiki tinjaun pustaka pda jurnal 2

4. Tambahkan tabel - tabel

1. Perbaiki jurnal 3

8 Januari 2019 2. Tambahkan gambar pengujian pada jurnal 3

3. Buat rumusan masalah dan tujuan penelitian

9 Januari 2019 4. Buat benang merah penelitian

1. ACC seminar review jurnal


1. Perbaiki latar belakang penelitian

3 Februari 2. Perbaiki rumusan masalah

2019 3. Perbaiki tujuan penelitian

4. Tambahkan penjelasan terkait alat yang digunakan

pada latar belakang

1. Perbaiki tata tulis pada latar belakang

2. Perbaiki data primer

9 Februari 3. Tambahkan koordinat lokasi penelitian

2019 4. Tambahkan keterkaitan jurnal terhadap penelitian

5. Perbaiki kerangka konseptual

1. Perbaiki urutan gambar

2. Perbaiki urutan tabel

9 Februari 3. Perbaiki ukuran gambar

2019 1. ACC seminar proposal

21 Februari [Link] Persamaan BTS

2019 [Link] Perhitungan BTS dengn PLI

[Link] Satuan Harus jelas

20 Juni 2019 [Link] BTS dari Kg ke KN


2. Hasil Untuk Grafik hubungan RMR dalam Mpa

3. Lengkapi Peta Geologi, Topografi Dan Layout Tbt

[Link] Kesimpulan

22 Juni 2019

[Link] Sistematika Penulisan

[Link] Kembali Istilah-Istilah Asing

3. Hubungkan R2 Dalam Menganalisis Dijelaskan Kuat

Lemahnya

[Link] Daftar Pustaka

[Link] Penulisan Di Hapus

27 Juni 2019 [Link] Abstrak

1. Acc Seminar Kompre

1. periksa kembali sistematika penulisan

28 Juni 2019 2. hindari halaman yang kososng

[Link] narasi setelah perhitungan RMR

16Agustus 4. samakan bahasa tujuan dengan kesimpulan

2019

[Link] jilid

21Agustus

2019

Menyetujui, Pembimbing I

Refky Adi Nata , ST,.MT.


LEMBAR KONSULTASI

NAMA: RIYAMIZARD Z
NPM :1510024427081
DOSEN PEMBIMBING II :RIAM MARLINA A, ST.,MT

Tanggal Perbaikan Paraf

1. Pebaiki tata tulis jurnal


9 januari 2019 2. Perbaiki latar belakang masalah pada setiap
3. Review jurnal
4. Perbaiki tinjauan pustaka

1. Perbaiki tinjauan pustaka


10 januari 2019 2. Perhatikan titik dan koma
3. Perbaiki tabel
4. Perbaiki ukuran gambar

1. Perbaiki kesimpulan
2. Perbaiki keterkaitan jurnal terhadap
11 januari 2019
penelitian

12 januari 2019 [Link] seminar

26 februari20019 [Link] latar belakang


[Link] sistematika penulisan
[Link] identifikasi masalah
[Link] masalah harus dalam bentuk poin

1. Latar belakang masih kurang singkron jadissa


diperbaiki kembali tambahkan semua tentang alat
Brazilian test
2 februari 2019
2. Pada latar belakang tambahkan deskripsi
perusahaanuntuk analisis stand up time
3. Pada bab 2 preparasi batuan di hapus
4. Kearangka konseptual untuk proses di perbaiki
menjadi 3
5. Perbaiki urutan penomoran pada bab 2.

1. Perbaiki latar belakang


2 maret 2019
2. Perhatiikan tata tulis seperti huruf besar dan kecil
3. Batasan masalah di perbaiki
4. Pada bab 3 perbaiki data primer
5. Tmbahkan istrumen penelitian
6. Perbaiki metodologi penelitian

[Link] tujuan penulisan pada abstrak

28 Juni 2019 [Link] Tentang Brazilian tets

[Link] layout BMK 34

[Link] foto penampang tunnel tree pice set

[Link] tata tulis


2 Juli 2019
[Link] bab 3 tambah anilisis data

[Link] bab 4 pengolahan data

[Link] abstrak
5 Juli 2019
1. Perbaiki penulisan pengolahan data

2. Tambahkan saran yang sesuai

3. Perbaiki daftar pustaka


4. Tata tulis dirapikan
6 Juli 2019
1. Acc seminar kompre

1. Abstrak diperbaiki abstrak hanya terdiri dari 200

Kata dan 4 kata kunci

2. Perbaiki daftar isi

3. Pada latar belakan perlu dijelaskan kenapa 1

pada sampel yang akan di uji hanya sandstone


27 Agustus 2019
dan clay semantara batubara tidak

4. Seluru sumberkutipan yang digunakan pada

TA harus terdapat pada daftar pustaka

5. Gambar yang sama tidak boleh di buat berulang

6. Tambahkan data kordinat lokasi

7. Perbaiki masing- masing catatan yang salah

8. ACC Jilid

Menyetujui, Pembimbing II

Riam Marlian A , ST,.MT.,


SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Riyamizard Z

NPM : 1510024427081

Program Studi : Teknik Pertambangan

Dengan ini menyatakan bahwa tugas akhir yang saya buat dengan judul:

“ Analisis Pengujian Brazilian Test Untuk Memprediksi Nilai Hubungan

Antara Blok Punch Index (BPI), Point Load Index (PLI) Dan Analisis Stand

Up Time Lubang BMK 34 [Link] Mitra Kencana”

Adalah benar-benar hasil karya sendiri atau bukan merupakan plagiat Tugas akhir

orang lain. Apabila kemudian dari pernyataan saya tidak benar maka saya

bersedia menerima sanksi akademis yang berlaku (dicabut predikat kelulusan dan

gelar sarjananya).

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan

sebagaimana mestinya.

Padang, 15 Agustus 2019

Pembuat Pernyataan

Riyamizard Z
BIODATA

Nama Lengkap : RIYAMIZARD Z

NPM : 1510024427081
Temapat/Tanggal Lahir : Muara bulian /7 oktober 1997
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Program studi : Teknik Pertambangan
Tanggal lulus : 9 juli 2019
IPK : 3,73
Judul tugas akhir : Analisis Pengujian Brazilian Test Untuk
Memprediksi Nilai HubunganAntara Blok
Punch Index (BPI), Point Load Index (PLI)
Dan Analisis Stand Up Time Lubang BMK
34 [Link] Mitra Kencana
Alamat : Muara Bulian, jln Gajah Mada no 42 RT
07 RW 02 Kelurahan Rangas Condong,
Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten
Batang Hari Jambi.
Dosen pembimbing : 1. Refky Adi Nata,ST, MT,
: 2. Riam Marlina A, ST, MT.
Nama Orang Tua
Ayah : Zazili
Pekerjaan : DOSEN
Alamat : Muara Bulian, jln Gajah Mada no 42 RT
07 RW 02 Kelurahan Rangas Condong,
Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten
Batang Hari Jambi.
Ibu : Kamisyah Nurly
HP : 082178726332
Email : riyamizardzazili@[Link]

Anda mungkin juga menyukai