0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan18 halaman

Nota Pembelaan Kasus Narkoba Jumanto

Nota pembelaan yang disampaikan oleh penasehat hukum Terdakwa menyatakan bahwa Terdakwa bukan merupakan target operasi dan merupakan korban kriminalisasi oleh sindikat narkoba, serta meminta Majelis Hakim memberikan putusan yang adil berdasarkan pertimbangan hukum dan hati nurani.

Diunggah oleh

Ct Zahra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan18 halaman

Nota Pembelaan Kasus Narkoba Jumanto

Nota pembelaan yang disampaikan oleh penasehat hukum Terdakwa menyatakan bahwa Terdakwa bukan merupakan target operasi dan merupakan korban kriminalisasi oleh sindikat narkoba, serta meminta Majelis Hakim memberikan putusan yang adil berdasarkan pertimbangan hukum dan hati nurani.

Diunggah oleh

Ct Zahra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KANTOR HUKUM

SATRIA & Rekan


ADVOKAT & KONSULTAN HUKUM
Jl. Raya Gawok – Kartasura, Kramat RT 03 RW 07 No. 21
Kel. Trangsan, Kec. Gatak, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah
HP/WA. 081 329 282 318

NOTA PEMBELAAN
(PLEDOI)
“MENYELAMATKAN PENYALAHGUNA/ PECANDU
NARKOBA DARI ANCAMAN KRIMINALISASI
SINDIKAT PENGEDAR NARKOBA”

Atas nama Terdakwa :

JUMANTO Bin HARSO WIYONO (Alm)

No. Perkara : 160/[Link]/2022/[Link]

Diajukan Oleh :

RM. SATRIA P. HUDIARSO, SH, MH


Penasehat Hukum Terdakwa

di Pengadilan Negeri Karanganyar


Rabu, 25 Januari 2023
“UNTUK KEADILAN”

NOTA PEMBELAAN
(PLEDOI)

I. PENDAHULUAN
Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Setelah mendengar dan membaca Surat Tuntutan atas nama Terdakwa :
Nama : JUMANTO Bin HARSO WIYONO (Alm)
TTL : Sukoharjo, 26 Juni 1975 / ± 47 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Pedagang
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Jogobayan RT 03 RW 06, Kel. Stabelan,
Kec. Banjarsari, Kota Surakarta

Sebelum pembelaan ini kami mulai, sebagai insan yang beriman


pertama-tama perkanankanlah kami mengucapkan puji syukur kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat Rahmat-Nya, pada hari ini
kami Penasihat Hukum Terdakwa bisa membacakan dan menyampaikan
pembelaan dalam sidang yang Mulia ini. Tentunya harapan kami selaku
Penasehat Hukum Terdakwa dalam pembelaan ini kami bacakan
dihadapan serta disampaikan pada Yang Mulia Majelis Hakim kiranya dapat
menjadi pertimbangan dari sisi kami selaku Penasehat Hukum Terdakwa
setelah pada persidangan lalu telah dibacakan dan disampaikan surat
tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum untuk kemudian Majelis Hakim sampai
pada putusan akhir “Apakah Terdakwa ini sungguh melakukan
perbuatan sebagaimana didakwakan Penuntut Umum atau
apakah Terdakwa menjadi korban kriminalisasi sindikat pengedar
narkoba”.
Setelah kami pelajari kami dengan seksama surat tuntutan yang
diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap diri Terdakwa yang
dibacakan pada persidangan di Pengadilan Negeri Karanganyar hari Rabu,
tanggal 18 Januari 2023, maka perkenankanlah kami Penasehat Hukum
Terdakwa menyampaikan Nota Pembelaan pembelaan atas nama
Terdakwa JUMANTO Bin HARSO WIYONO (Alm).
Sebelum menyampaikan nota pembelaan, sudah sepatutnyalah
kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia
Majelis Hakim yang telah memimpin persidangan ini dengan penuh
kesabaran, kearifan, dan bijaksana. Sehingga persidangan berjalan
impartial, fair, dan objective, dan pada akhirnya semua saksi-saksi maupun
Terdakwa dapat menerangkan peristiwa dan kronologi dalam dugaan
tindak pidana sebenarnya. Jika sekiranya dalam pemeriksaan persidangan
Terdakwa memberikan keterangan yang menurut penilaian Majelis Hakim
maupun saudara jaksa penuntut umum kurang berkenan kami mohon
maaf yang sebesar-besarnya, sama sekali tidak terlintas sedikitpun dalam
benak Terdakwa untuk mengurangi wibawa pengadilan ataupun
mempersulit jalannya persidangan. Apa yang disampaikan Terdakwa
dihadapan persidangan tak lebih dan tak bukan adalah apa yang telah
terjadi sebenarnya dan merupakan fakta nyata dan hendak disampaikan
Terdakwa untuk memberikan gambaran terang dan jelas dari dugaan
tindak pidana yang sedang dihadapinya. Dalam perkara ini adanya dugaan
kriminalisasi atas diri Terdakwa yang dilakukan oleh sindikat pengedar
narkoba.
Demikian pula, sudah sepatutnya pula ucapan terimakasih kami
sampaikan kepada Saudara Jaksa Penuntut Umum atas uraian tuntutan
yang telah disusun begitu rapi dan jelas sehingga memudahkan bagi kami
dalam mengikuti pandangan Penuntut Umum dalam dugaan tindak pidana
yang diduga telah dilakukan oleh Terdakwa. Sehingga akan bisa kami
ambil suatu perimbangan dari sisi pandangan kami selaku Penasehat
Hukum Terdakwa agar kita semua yang terlibat pada persidangan ini
dapat menemukan suatu tujuan utama dari hukum itu sendiri yaitu
KEADILAN.
“Justice is the greatest man in the world”.
Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Nota Pembelaan yang kami sampaikan ini dilandaskan dengan
sebuah harapan agar Majelis Hakim dapat memeriksa dan memutus
perkara ini dengan bijaksana dan penuh kearifan, serta senantiasa
berkiblat pada rasa keadilan, serta mempertimbangkan aspek sosiologis
hukum, serta hati nurani kemanusiaan dan tanggungjawab kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Harapan kami pada Yang Mulia Majelis Hakim berkenan
untuk memberikan putusan terhadap diri Terdakwa suatu putusan yang
adil, arif, dan bijaksana yang semata-mata berdasarkan kepada keadilan
yang hakiki atas dasar mencari Ridho dari Allah SWT semata, selain untuk
kemudian demi mewujudkan kepastian hukum, ketertiban hukum dan
keadilan.
Tidak berlebihan apabila Persidangan yang Terhormat ini sebagai
professionalitas dalam melaksanakan fungsi aparatur penegak hukum, kita
semua yang terlibat dalam Persidangan a quo selalu menjunjung tinggi
keadilan “fiat justitia ruat coelum” (tegakkan keadilan meskipun langit
akan runtuh). Dalam perkara tindak pidana narkotika Aparat
Penegak Hukum yang tergabung dalam Catur Wangsa Praja
sudah semestinya mempunyai suatu komitmen bersama untuk
mencari suatu solusi menyelamatkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia dari situasi Darurat Narkoba dan mencegah adanya
kriminalisasi tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh
sindikat pengedar narkotika.

II. SURAT DAKWAAN


Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Bahwa pada hari Kamis, 8 Desember 2022 Jaksa Penuntut Umum telah
membacakan Surat Dakwaan sebagai berikut :
1. DAKWAAN KESATU
Perbuatan Terdakwa melanggar Pasal 114 (1) UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika.
2. DAKWAAN KEDUA
Perbuatan Terdakwa melanggar Pasal 112 (1) UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika.

III. FAKTA PERSIDANGAN


Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Bahwa dalam pemeriksaan persidangan perkara ini pada tahap
pembuktian Jaksa Penuntut Umum telah menghadirkan bukti-bukti sebagai
berikut :
1. Saksi AGUNG WARSITO
Di depan persidangan di bawah sumpah telah memberikan keterangan
yang pada intinya sebagai berikut :
- Saksi adalah petugas dari Direktorat Narkoba Polda Jateng yang
telah melakukan penangkapan terhadap Terdakwa.
- Saksi melakukan penangkapan pada saat Terdakwa sedang
mengambil paket narkotika jenis sabu di daerah Klegen Colomadu.
- Saksi pada saat melakukan penangkapan memeriksa HP milik
Terdakwa, pada chat WA Terdakwa membeli narkoba jenis sabu
seberat 0,5 gram.
- Saksi pada saat melakukan penangkapan menemukan paket sabu
yang diambil oleh Terdakwa seberat ± 5 (lima) gram.
- Saksi pada saat melakukan pemeriksaan terhadap HP Terdakwa
menemukan Terdakwa telah mentransfer uang sebesar Rp
500.000,- (Lima ratus ribu rupiah) untuk membeli narkotika jenis
sabu sebanyak 0,5 gram.
- Saksi pada saat melakukan penangkapan terhadap
Terdakwa kemudian menanyakan mengenai maksud dan
tujuan Terdakwa membeli narkotika jenis sabu tersebut
yaitu untuk dikonsumsi Terdakwa sendiri.
- Saksi menerangkan bahwa Terdakwa bukan merupakan target
operasi.

Tanggapan atas keterangan Saksi tersebut di atas :


Terdakwa dan Penasehat Hukum Terdakwa tidak keberatan atas
keterangan tersebut.

2. Saksi TRIAN HONEST UJIANTIA


Di depan persidangan di bawah sumpah telah memberikan keterangan
yang pada intinya sebagai berikut :
- Saksi adalah petugas dari Direktorat Narkoba Polda Jateng yang
telah melakukan penangkapan terhadap Terdakwa.
- Saksi melakukan penangkapan pada saat Terdakwa sedang
mengambil paket narkotika jenis sabu di daerah Klegen Colomadu.
- Saksi pada saat melakukan penangkapan memeriksa HP milik
Terdakwa, pada chat WA Terdakwa membeli narkoba jenis sabu
seberat 0,5 gram.
- Saksi pada saat melakukan penangkapan menemukan paket sabu
yang diambil oleh Terdakwa seberat ± 5 (lima) gram.
- Saksi pada saat melakukan pemeriksaan terhadap HP Terdakwa
menemukan Terdakwa telah mentransfer uang sebesar Rp
500.000,- (Lima ratus ribu rupiah) untuk membeli narkotika jenis
sabu sebanyak 0,5 gram.
- Saksi pada saat melakukan penangkapan terhadap
Terdakwa kemudian menanyakan mengenai maksud dan
tujuan Terdakwa membeli narkotika jenis sabu tersebut
yaitu untuk dikonsumsi Terdakwa sendiri.
- Saksi menerangkan bahwa Terdakwa bukan merupakan target
operasi.
- Saksi setelah melakukan penangkapan terhadap Terdakwa pada
saat mengambil paket sabu kemudian saksi juga melakukan
penggeledahan di rumah Terdakwa.
- Saksi menerangkan pada saat melakukan penggeledahan di
rumah Terdakwa menemukan potongan-potongan sedotan
yang merupakan bagian-bagian dari alat penghisap sabu
(bong) yang digunakan Terdakwa untuk mengkonsumsi
sabu.

Tanggapan atas keterangan Saksi tersebut di atas :


Terdakwa dan Penasehat Hukum Terdakwa tidak keberatan atas
keterangan tersebut.

3. Saksi JOKO AFRIANTO


Jaksa Penuntut Umum membacakan BAP Keterangan Saksi tersebut
karena saksi tidak hadir memenuhi panggilan.
Tanggapan Penasehat Hukum atas pembacaan BAP Keterangan Saksi
oleh Jaksa Penuntut Umum, MENYATAKAN KEBERATAN :
- Saksi tidak secara langsung menyaksikan penggeledahan
dan penangkapan atas diri Terdakwa
- Saksi baru ada di lokasi penangkapan setelah Terdakwa
ditangkap dan ditemukan barang bukti narkotika jenis
sabu.
4. Saksi SUPARJO
Jaksa Penuntut Umum membacakan BAP Keterangan Saksi tersebut
karena saksi tidak hadir memenuhi panggilan.
Tanggapan Penasehat Hukum atas pembacaan BAP Keterangan Saksi
oleh Jaksa Penuntut Umum, MENYATAKAN KEBERATAN dengan
alasan :
- Saksi tidak secara langsung menyaksikan penggeledahan
dan penangkapan atas diri Terdakwa
- Saksi baru ada di lokasi penangkapan setelah Terdakwa
ditangkap dan ditemukan barang bukti narkotika jenis
sabu.

5. Keterangan Terdakwa
Di depan persidangan Terdakwa telah memberikan keterangan sebagai
berikut :
- Terdakwa membeli narkotika jenis sabu kepada seseorang yang
bernama SEMBUNG (DPO).
- Terdakwa terakhir kali mengkonsumsi narkotika jenis sabu sebelum
ditangkap pada hari Selasa, 23 Agustus 2022.
- Terdakwa telah beberapa kali membeli narkotika jenis sabu dengan
maksud dan tujuan untuk dikonsumsi Terdakwa sendiri.
- Terdakwa telah mengkonsumsi narkotika jenis sabu sejak tahun
2000.
- Terdakwa menerangkan cara mengkonsumsi narkotika jenis sabu
diawali dengan membuat alat hisap (bong) dengan air mineral yang
tutupnya diberi 2 (dua) lubang kemudian ditancapkan sedotan, satu
ditancapkan pipet kaca, yang satunya untuk dihisap melalui mulut.
Lalu pipet kaca tersebut dimasukkan sabu kemudian dibakar
dengan korek api yang telah dimodifikasi kemudian setelah keluar
asap dihisap seperti orang merokok.
- Terdakwa merasa kecanduan sehingga selalu punya keinginan
untuk mengkonsumsi sabu.
- Terdakwa setelah mengkonsumsi sabu merasa badannya lebih
segar dan lebih bersemangat.
- Terdakwa merasakan setelah efek dari sabu habis badannya lemas
dan selalu ingin tidur.
- Terdakwa menyesal telah menjadi pecandu narkotika jenis sabu.
- Terdakwa ingin sembuh dari ketergantungan narkotika jenis sabu.
- Terdakwa punya keinginan untuk berobat/ rehab atas
ketergantungan narkotika jenis sabu tersebut akan tetapi belum
dilakukan karena tidak mempunyai biaya.
6. Bukti Surat
Jaksa Penuntut Umum mengajukan bukti surat yaitu Berita Acara
Pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik No. Lab. 2053/NNF/2022 tgl 08
September 2022 yang ditandatangani oleh para pemeriksa yang
diketahui oleh Kepala Laboratorium Forensik pada kantor Pusat
Laboratorium Forensik Bareskrim Polri Cabang Semarang, barang bukti
nomor :
- BB-4448/2022/NNF berupa 1 (satu) bungkus plastik klip yang
dibungkus tissue dan dilakban warna hitam berisi serbuk kristal
dengan berat bersih 4,48938 gram.
- BB-4448/2022/NNF berupa urine, dengan kesimpulan NEGATIF
(tidak mengandung Narkotika/ Psikotropika).

Tanggapan Penasehat Hukum Terdakwa atas bukti surat tersebut di


atas MENYATAKAN KEBERATAN dengan alasan :
- Tidak ada kesesuaian antara isi dari chat WA Terdakwa
dengan barang bukti yang ditemukan. Terdakwa memesan
sabu kepada Sdr. SEMBUNG (DPO) sebanyak 0,5 gram dan
telah mentransfer Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)
tetapi barang bukti yang ditemukan/ disita seberat 4,4
gram.
- Tidak ada kesesuaian antara fakta hukum yang terungkap
dalam pemeriksaan persidangan, Terdakwa memberikan
keterangan terakhir kali mengkonsumsi narkotika jenis
sabu pada hari Selasa, 23 Agustus 2022 jam 07.00 WIB.

7. Barang Bukti
Jaksa Penuntut Umum mengajukan barang bukti dalam persidangan
yaitu :
1) Paket sabu dalam plastik dibungkus tisu lakban warna hitam di
dalam bungkus rokok Sampoerna Mild warna putih dengan berat
4,4 gram.
2) 1 (satu) buah HP merk OPPO A71 warna hitam dengan nomor
Simcard 085869293906.
3) 1 (satu) tube urine.
Maka berdasarkan bukti-bukti yang diajukan oleh Jaksa
Penuntut Umum dalam pemeriksaan persidangan dan
keterangan Terdakwa telah terungkap fakta hukum
“TERDAKWA ADALAH PENYALAHGUNA / PECANDU
NARKOTIKA GOLONGAN I JENIS SABU SEHINGGA SUDAH
SEMESTINYA TERDAKWA DINYATAKAN TERBUKTI SECARA
SAH DAN MEYAKINKAN BERSALAH MENYALAHGUNAKAN
NARKOTIKA GOLONGAN I JENIS SABU BAGI DIRI SENDIRI
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 127 (1) HURUF A UU
NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA”.

IV. SURAT TUNTUTAN


Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Bahwa Jaksa Penuntut Umum telah memberikan tuntutan kepada
Terdakwa pada hari Rabu, 18 Januari 2023 dengan menuntut Terdakwa :
1. Menyatakan Terdakwa JUMANTO Bin HARSO WIYONO (Alm) terbukti
secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana tanpa hak atau
melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan
Narkotika Golongan I bukan tanaman sebagaimana Dakwaan Alternatif
Kedua Penuntut Umum.
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa JUMANTO Bin HARSO
WIYONO (Alm) dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun
dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan dan pidana denda
sebesar Rp [Link],- (Satu milyard rupiah) bila tidak dibayarkan
akan diganti dengan pidana selama 6 (enam) bulan penjara.
3. Menyatakan barang bukti berupa :
- Paket sabu dalam plastik dibungkus tisu lakban warna
hitam di dalam bungkus rokok Sampoerna Mild warna putih
dengan berat 4,4 gram.
- 1 (satu) buah HP merk OPPO A71 warna hitam dengan
nomor Simcard 085869293906.
- 1 (satu) tube urine.
Dirampas untuk dimusnahkan
4. Menetapkan supaya Terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp
2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah).
V. ANALISA YURIDIS
Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Nota Pembelaan (Pledoi) ini dilandaskan dengan harapan Yang
Mulia Majelis Hakim dapat memeriksa dan memutus perkara ini dengan
bijaksana, penuh kearifan, serta senantiasa berkiblat pada rasa keadilan,
hati nurani kemanusiaan dan tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha
Esa, sekiranya yang Mulia Majelis Hakim berkenan memberikan putusan
terhadap diri Terdakwa sebuah putusan yang adil, arif dan bijaksana yang
semata-mata berdasarkan kepada keadilan yang hakiki atas dasar mencari
Ridho dari Allah SWT semata.
Sekiranya tidak berlebihan apabila pada persidangan yang mulia da
terhormat ini, kita semua yang terlibat didalamnya selaku aparatur
penegak hukum selalu menjunjung tinggi keadilan “fiat justitia ruat
coelum” (tegakkan keadilan meskipun langit akan runtuh).
Bahwa berdasarkan fakta hukum yang terungkap dalam
pemeriksaan persidangan perbuatan Terdakwa telah melanggar
Pasal 127 (1) huruf a UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
yang unsurnya sebagai berikut :
1. Setiap penyalahguna
2. Narkotika golongan I bagi diri sendiri

Tentang unsur “Setiap Penyalahguna”


- Bahwa yang dimaksud penyalahguna menurut ketentuan Pasal
1 angka 15 UURI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika adalah
orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan
hukum.
- Bahwa yang dimaksud dengan narkotika sebagaimana
disebutkan pada Pasal 1 angka 1 UURI No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika adalah zat atau obat, yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun
semisintesis yang menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan-golongan
sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini.
- Bahwa yang dimaksud tanpa hak adalah tanpa izin dari pihak
yang berwenang.
- Bahwa yang dimaksud melawan hukum artinya perbuatan
Terdakwa tersebut bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan atau perbuatan Terdakwa bertentangan
dengan hukum.
- Bahwa Pasal 7 Ayat 1 UURI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika menyebutkan narkotika hanya dapat digunakan
untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Bahwa Pasal 8 Ayat 1 UURI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika menyebutkan narkotika golongan I dilarang
digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.
- Bahwa Pasal 8 Ayat 2 menyebutkan bahwa dalam jumlah
terbatas narkotika golongan I dapat digunakan untuk
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk
reagensia diagnotik serta reagensia laboratorium setelah
mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan.
- Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di
persidangan maksud dan tujuan Terdakwa membeli narkotika
jenis sabu seberat 0,5 gram adalah untuk dikonsumsi
Terdakwa sendiri.
- Bahwa Terdakwa merasa kaget dan heran ternyata narkotika
jenis sabu yang diambil sesuai dengan alamat yang dikirim
oleh SEMBUNG (DPO) beratnya hampir 5 (lima) gram.
- Bahwa Terdakwa mempunyai keinginan untuk berobat
sembuh dari ketergantungan narkotika namun belum
terlaksana karena kesulitan biaya.

Maka berdasarkan uraian tersebut di atas, perbuatan Terdakwa


merupakan tindak pidana penyalahgunaan narkotika. “TERDAKWA
TERBUKTI SECARA SAH DAN MEYAKINKAN BERSALAH
MENYALAHGUNAKAN NARKOTIKA GOLONGAN I JENIS SABU
BAGI DIRI SENDIRI”.
Sebagaimana dimaksud Pasal 127 (1) huruf a UURI No. 35 Tahun
2009 tentang Narkotika.
TENTANG UNSUR “NARKOTIKA GOLONGAN I BAGI DIRI
SENDIRI”
- Bahwa barang bukti narkotika jenis sabu seberat 4,4 gram
yang ditemukan Petugas Resnarkoba Polda Jateng adalah
tidak sesuai dengan pesanan dari Terdakwa.
- Bahwa Terdakwa berkeinginan akan membeli narkotika jenis
sabu dengan berat 0,5 gram.
- Bahwa maksud dan tujuan Terdakwa membeli narkotika jenis
sabu adalah untuk dipakai/ dikonsumsi sendiri.
- Bahwa Terdakwa sudah menjadi pecandu narkotika sejak
tahun 2000.
- Bahwa oleh karena semua unsur dan rumusan Pasal 127 (1)
huruf a UURI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika telah
terpenuhi dan terbukti dalam persidangan maka dengan
demikian kami Penasehat Hukum TERDAKWA BERPENDAPAT
BAHWA TERDAKWA TELAH TERBUKTI SECARA SAH DAN
MEYAKINKAN MELAKUKAN TINDAK PIDANA
MENYALAHGUNAKAN NARKOTIKA GOLONGAN I JENIS SABU
BAGI DIRI SENDIRI.
- Bahwa oleh karena didalam persidangan tidak terdapat bukti-
bukti yang dapat dijadikan sebagai alasan pemaaf dan
pembenar atas perbuatan Terdakwa yang dapat
menghapuskan kesalahannya sebagaimana yang dimaksud
dalam Pasal 44 sampai dengan Pasal 51 KUHP maka terhadap
Terdakwa haruslah dinyatakan bersalah dan oleh karena
Terdakwa dinyatakan bersalah maka Terdakwa haruslah
bertanggungjawab atas perbuatannya dan dijatuhi pidana
setimpal dengan perbuatannya.
- Bahwa dalam Pasal 127 (2) UURI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika telah ditentukan bahwa dalam memutus perkara
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 Hakim wajib
memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 54, Pasal 55, dan Pasal 103 UURI No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika.
- Bahwa Pasal 54 UURI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
menyebutkan bahwa PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN
PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA WAJIB MENJALANI
REHABILITASI MEDIS DAN REHABILITASI SOSIAL.
- Bahwa Pasal 55 Ayat 2 UURI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika menyebutkan bahwa pecandu narkotika yang sudah
cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh
keluarganya kepada Pusat Kesehatan Masyarakat dan atau
lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
- Bahwa Pasal 103 Ayat 1 UURI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika menyebutkan Hakim yang memeriksa perkara
pecandu narkotika dapat memutus dengan memerintahkan
yang bersangkutan menjalani pengobatan dan atau perawatan
melalui rehabilitasi jika pecandu narkotika tersebut terbukti
bersalah melakukan tindak pidana narkotika dan menurut
Pasal 103 Ayat 2 UURI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
disebutkan bahwa masa menjalani pengobatan dan atau
keperawatan bagi pecandu narkotika sebagaimana dimaksud
pada ayat 1 huruf a diperhitungkan sebagai masa menjalani
hukuman.
- Bahwa karena Terdakwa telah menyesali perbuatannya
mengkonsumsi narkotika jenis sabu dan Terdakwa mempunyai
keinginan untuk sembuh serta keinginan berobat namun
terkendala oleh biaya.
- Bahwa karena Terdakwa adalah pecandu narkotika maka
selain akan menjatuhkan pidana penjara menurut kami selaku
Penasehat Hukum Terdakwa, berdasarkan ketentuan Pasal
103 Ayat 1 huruf a UURI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika, Majelis Hakim juga memerintahkan kepada
Terdakwa untuk menjalani pengobatan dan perawatan melalui
rehabilitasi medis dan sosial di Klinik Ketergantungan
Narkotika Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta berdasarkan
dokter spesialis kesehatan jiwa yang ditunjuk oleh Kepala
Rumah Sakit/ Majelis Hakim.
- Bahwa judul nota pembelaan/ pledoi kami “MENYELAMATKAN
PENYALAHGUNA/ PECANDU NARKOBA DARI ANCAMAN
KRIMINALISASI SINDIKAT PENGEDAR NARKOBA” maka kami
sebagai Penasehat Hukum Terdakwa berpendapat kita sebagai
Aparat Penegak Hukum yang tergabung dalam CATUR
WANGSA PRAJA, Polisi sebagai Penyidik Perkara, Jaksa
sebagai Penuntut Perkara, Hakim sebagai Pemutus Perkara
dan Advokat sebagai Pembela Perkara harus mempunyai suatu
komitmen untuk MENYELAMATKAN NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA YANG SUDAH DINYATAKAN DARURAT
NARKOBA DAN ANCAMAN KRIMINALISASI SINDIKAT
PENGEDAR NARKOBA.
- Bahwa menurut kami selaku Advokat dan Penasehat Hukum
Terdakwa rehabilitas medis dan sosial adalah merupakan
langkah awal untuk mengatasi bagaimana tingginya angka
perkara narkotika agar bisa diminimalisir atau diturunkan
angka pelanggarannya. Ini adalah langkah awal untuk
pemberantasan peredaran narkotika. Dengan rehabilitasi
medis dan sosial akan membuat pecandu narkotika sembuh,
sehingga dengan demikian tidak ada permintaan atau
pembelian terhadap barang narkotika tersebut. Maka dengan
demikian, peredaran narkotika akan tidak terjadi atau putus
mata rantainya.
- Bahwa menurut kami selaku Penasehat Hukum Terdakwa
sangatlah perlu Rekan Jaksa Penuntut Umum membedakan/
memisahkan dalam membuat tuntutan pidana antara
Terdakwa yang benar-benar terbukti terlibat peredaran gelap
narkotika dengan Terdakwa yang hanya menjadi korban
sindikat peredaran narkotika atau Terdakwa yang hanya
sebagai penyalahguna/ pecandu narkotika.
- Bahwa Terdakwa dalam perkara ini diajukan ke Persidangan
dengan Dakwaan yang disusun secara Subsidaritas yaitu
Kesatu perbuatan Terdakwa diancam Pasal 114 (1) UU No. 35
Tahun 2009 tentang Narkotika, Kedua perbuatan Terdakwa
diancam Pasal 112 (1) UU No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika.
“Bahwa rumusan Pasal 114 (1) UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika adalah menjual, membeli, menjadi
perantara dalam jual beli narkotika atau menyediakan
narkotika bukan tanaman”.
“Bahwa rumusan Pasal 112 (1) UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika adalah memiliki, menyimpan, menguasai,
menyediakan narkotika bukan tanaman”.
“Bahwa rumusan Pasal 127 UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika adalah menyalahgunakan narkotika bagi
diri sendiri”.
“BAHWA UNTUK MENYALAHGUNAKAN NARKOTIKA
TENTUNYA HARUS MEMILIKI LEBIH DAHULU YANG
KEMUNGKINAN PULA PEMILIKAN ITU DENGAN CARA
MEMBELI SEBELUM DIPAKAI DISIMPAN, DIKUASAI, KALAU
ADA SISA PEMAKAIAN DISIMPAN DAN DISEDIAKAN YANG
TUJUANNYA UNTUK DIGUNAKAN LAGI PADA WAKTU YANG
LAIN, SEHINGGA SECARA LOGIKA PENYALAHGUNAAN
NARKOTIKA GOLONGAN I SEBAGAIMANA KETENTUAN PASAL
127 UU NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA MEMENUHI
JUGA UNSUR PASAL 112 UU NO. 35 TAHUN 2009 TENTANG
NARKOTIKA”.
Bahwa berdasarkan fakta hukum yang terungkap dalam
pemeriksaan persidangan berdasarkan kronologi peristiwa
tindak pidana diduga adanya rekayasa/ dugaan kriminalisasi
dengan alasan : adanya suatu kejanggalan atas barang bukti
narkotika jenis sabu yang ada di lokasi penangkapan/ titik
alamat (web yang diterima Terdakwa dari Sdr. SEMBUNG
(DPO), Terdakwa akan membeli pesan sabu seberat 0,5 gram
dan telah mengirim uang/ transfer Rp 500.000,- (Lima ratus
ribu rupiah) tetapi justru barang bukti yang ada adalah lebih
banyak dari pesanan Terdakwa.

VI. KESIMPULAN
Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Bahwa berdasarkan Analisa Yuridis yang telah kami lakukan
terhadap Surat Dakwaan maupun Surat Tuntutan terbukti bahwa Penuntut
Umum telah keliru, tidak cermat dan tidak teliti dalam melakukan penilaian
terhadap kekuatan alat-alat bukti yang diajukan dalam pemeriksaan
persidangan yaitu keterangan saksi-saksi, keterangan Terdakwa, bukti
surat dan barang bukti yang telah disita dalam perkara ini. Maka dengan
demikian, menyebabkan Penuntut Umum telah keliru dalam menerapkan
Pasal 112 (1) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dalam membuat
tuntutan karena fakta hukum yang terungkap dalam pemeriksaan
persidangan perbuatan Terdakwa terbukti melanggar Pasal 127 (1) huruf a
UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Bahwa merujuk pada UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika dan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2011 tentang
Pelaksanaan Wajib Lapor bagi Pecandu Narkotika sebagaimana
telah disebutkan di atas maka PECANDU NARKOTIKA
DIPANDANG BUKAN LAGI PELAKU KRIMINAL MELAINKAN
SEBAGAI KORBAN.

HAL-HAL YANG MERINGANKAN TERDAKWA


Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Sebelum sampai pada kesimpulan akhir dari Nota Pembelaan ini,
kami selaku Penasehat Hukum Terdakwa patut kita sampaikan hal-hal
yang meringankan yang patut kita pertimbangkan secara bersama
sebelum memberikan putusan akhir kepada Terdakwa, yaitu:
1. Terdakwa mengakui dan berterus terang akan perbuatan yang
dilakukan sangat merugikan diri sendiri maupun keluarganya.
2. Terdakwa telah menyesali perbuatannya dan berjanji tidak
akan mengulanginya lagi.
3. Terdakwa adalah merupakan tulang punggung keluarga.
4. Terdakwa tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan
di persidangan.
5. Terdakwa berniat sembuh dan bersedia menjalani rehabilitasi
medis atas ketergantungan narkotika jenis sabu.

VII. PERMOHONAN DAN PENUTUP


Yang Mulia Majelis Hakim,
Rekan Jaksa Penuntut Umum dan hadirin sidang yang kami
hormati
Bahwa mengingat Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA)
No. 3 Tahun 2015 tentang pemberlakuan hasil rapat pleno kamar
Mahkamah Agung Tahun 2015 sebagai pedoman pelaksanaan
tugas bagi Pengadilan pada bagian A angka 1 antara lain
berbunyi bahwa Hakim dalam memutus dan memeriksa perkara
harus didasarkan kepada Surat Dakwaan Penuntut Umum. Dalam
perkara ini Jaksa Penuntut Umum membuat dakwaan Pasal 114
(1) dan Pasal 112 (1) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,
namun fakta hukum yang terungkap dalam pemeriksaan
persidangan perbuatan Terdakwa terbukti melanggar Pasal 127
(1) huruf a UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang mana
pasal tersebut tidak didakwakan. Terdakwa terbukti pemakai/
penyalahguna narkotika golongan I jenis sabu bagi diri sendiri.
Maka Hakim dapat menyimpangi ketentuan pidana minimum
khusus dengan membuat pertimbangan yang cukup atau dengan
kata lain Hakim dapat memutus Terdakwa dengan vonis hukuman
sebagai penyalahguna.
Bahwa menurut kami Penasehat Hukum Terdakwa, Majelis
Hakim perlu mempertimbangkan adanya dugaan rekayasa tindak
pidana/ kriminalisasi atas diri Terdakwa mengenai jumlah barang
bukti yang lebih banyak dari pesanan Terdakwa.
Bahwa oleh karena persidangan dan Nota Pembelaan
(Pledoi) ini telah selesai kami uraikan satu persatu dimana pada
kesimpulan telah kami jelaskan berdasarkan fakta-fakta hukum
yang terungkap dalam pemeriksaan persidangan Terdakwa telah
terbukti secara sah dan meyakinkan menyalahgunakan narkotika
golongan I jenis sabu bagi diri sendiri. Maka dengan demikian,
perbuatan Terdakwa telah melanggar Pasal 127 (1) huruf a UU
No. 35T ahun 2009 tentang Narkotika.
Oleh karena itu, kami Penasehat Hukum Terdakwa dengan
kerendahan hati memohon dengan hormat kepada Yang Mulia
Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini dengan
memberikan putusan sebagai berikut:

MENGADILI
1. Menyatakan Terdakwa JUMANTO Bin HARSO WIYONO (Alm)
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana “MENYALAHGUNAKAN NARKOTIKA GOLONGAN
I JENIS SABU BAGI DIRI SENDIRI.”
2. Menjatuhkan hukuman pidana kepada Terdakwa oleh karena
itu dengan pidana penjara 2 (dua) tahun.
3. Memerintahkan Terdakwa menjalani pengobatan dan
perawatan melalui rehabilitasi medis dan sosial di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Surakarta selama 1 (satu) tahun yang
diperhitungkan dengan masa pidana yang dijatuhkan.
4. Menyatakan barang bukti berupa :
- Paket sabu dalam plastik dibungkus tisu lakban warna
hitam di dalam bungkus rokok Sampoerna Mild warna putih
dengan berat 4,4 gram.
- 1 (satu) buah HP merk OPPO A71 warna hitam dengan
nomor Simcard 085869293906.
- 1 (satu) tube urine.
5. Menetapkan supaya Terdakwa membayar biaya perkara
sebesar Rp. 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah).

ATAU
Apabila Yang Mulia Majelis Hakim Pemeriksa Perkara ini
berpendapat lain,
MOHON PUTUSAN YANG SEADIL-ADILNYA (EX AEQUO ET BONO)

Demikian Nota Pembelaan/ Pledoi ini kami sampaikan. Atas perhatian dan
dikabulkannya Nota Pembelaan/Pledoi ini kami mengucapkan terima kasih.

Karanganyar, 25 Januari 2023


Hormat kami,
Penasehat Hukum Terdakwa
JUMANTO Bin HARSO WIYONO (Alm)

RM. SATRIA P. HUDIARSO, SH, MH


Advokat

Anda mungkin juga menyukai