0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan9 halaman

Implementasi Metode Wafa di SMAIT Karawang

Ringkasan artikel ini adalah: 1. Artikel ini membahas implementasi metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-Qur'an di SMAIT Harapan Umat Karawang. 2. Metode Wafa memaksimalkan pendekatan otak kanan dengan mudah dan menyenangkan. 3. Hasilnya adalah implementasi metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-Qur'an di sekolah tersebut berjalan dengan baik sesuai prosedur Wafa.

Diunggah oleh

Diana Romadhona
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan9 halaman

Implementasi Metode Wafa di SMAIT Karawang

Ringkasan artikel ini adalah: 1. Artikel ini membahas implementasi metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-Qur'an di SMAIT Harapan Umat Karawang. 2. Metode Wafa memaksimalkan pendekatan otak kanan dengan mudah dan menyenangkan. 3. Hasilnya adalah implementasi metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-Qur'an di sekolah tersebut berjalan dengan baik sesuai prosedur Wafa.

Diunggah oleh

Diana Romadhona
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Al I’tibar : Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 8 No.

2,Halaman: 46 – 54, Agustus, 2021

Implementasi Metode Wafa pada Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an


Di SMAIT Harapan Umat Karawang

Winda Arum Singgarani1*, Zaenal Arifin2, N. Fathurrohman3


123
Universitas Singaperbangsa Karawang
E-mail: winda.arum17156@[Link]

Abstrak
Artikel ini mengkaji tentang penelitian terkait implementasi metode Wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an.
Al-Qur'an adalah sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat Islam. Sebagai umat Islam penting untuk
mempelajari Al-Qur'an, salah satunya belajar membaca Al-Qur'an dengan sesuai kaidah tajwid. Salah satu
upaya sekolah dalam membantu siswa belajar membaca Al-Qur'an adalah dengan mengadakan pembelajaran
tahsin Al- Qur’an. SMAIT Harapan Umat Karawang menggunakan metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-
Qur'an siswa. Metode Wafa merupakan inovasi metode pembelajaran Al-Qur'an dengan memaksimalkan
pendekatan otak kanan yang komprehensif, mudah, dan menyenangkan. Dalam proses pembelajarannya
menggunakan metode 5P (Pembukaan, Pengalaman, Pengajaran, Penilaian dan Penutupan) serta
menggunakan nada hijaz. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan dengan metode deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian yang diperoleh ialah implementasi metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-Qur'an di SMAIT
Harapan Umat Karawang sudah terlakasana cukup baik sesuai standar prosedur Wafa, mulai dari proses
perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi. Kemampuan membaca Al-Qur'an siswa juga baik dengan
nilai rata- rata >80 dan telah mencapai target tilawah di tiap semesternya. Faktor pendukungnya para
pembimbing tahsin yang sudah tersertifikasi, sistem pembelajaran yang terprogram dengan baik, motivasi
belajar siswa tinggi dan sarana prasarana pembelajaran yang lengkap. Faktor penghambatnya adalah guru
sering mengalami kesulitan menjaga semangat belajar siswa.

Kata kunci: Metode Wafa, Tahsin, Implementasi

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan bekal utama bagi manusia untuk dapat mengeksplorasi bakat dan
potensinya. Pendidikan menjadi salah satu hal yang dapat membantu seseorang untuk mengubah
kehidupannya, mengubah seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi
bisa, dan dari yang tidak baik menjadi lebih baik. Pendidikan dilakukan melalui sebuah proses yang
tidak mudah dan sebentar. Proses tersebut dinamakanbelajar, dengan proses belajar itulah manusia
dapat mengembangkan ilmunya sehingga menjadi insan mulia dan ditinggikan derajatnya.
Seorang muslim penting untuk memperoleh Pendidikan Agama. Pendidikan Agama Islam
adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedomankan
dari Al- Qur’an dan As- Sunnah. Pendidikan Islam mengacu pada usaha membimbing, mengarahkan,
dan membina peserta didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu
kepribadian yang utama sesuai dengan nilai- nilai ajaran Islam (Nata, 2013, hal. 340).
Berdasarkan hal tersebut maka dengan adanya pendidikan agama Islam diharapkan dapat
mengembangkan potensi diri manusia melalui kecerdasan dan keterampilan serta mampu melahirkan
dan menciptakan generasi penerus bangsa yang bertakwa kepada Allah SWT serta berkepribadian
sesuai dengan nilai- nilai ajaran Islam.
Pada agama Islam terdapat sumber hukum dan pedoman hidup utama umat Islam, yaitu Al-
Qur’an. Al- Qur’an merupakan firman Allah SWT yang memiliki kebenaran secara mutlak. Al-Qur’an
diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui perantara malaikat Jibril, diturunkan secara
berangsur- angsur dan membacanya adalah ibadah.
Maka, sebagai umat Islamsangat penting untuk mau mempelajari Al-Qur’an, salah satunya

Prodi PAI, STKIP Nurul Huda OKU Timur


Implementasi Metode Wafa pada Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an 47
Di SMAIT Harapan Umat Karawang

belajar membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid. Kesalahan ketika
membaca Al- Qur’an, baik itu panjang- pendek, tebal- tipis, mendengung atau jelas, akan mengubah
makna yang sesungguhnya dalam ayat Al- Qur’an. Sehingga penting bagi umat Islam untuk belajar
membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid yang ada.
Akan tetapi faktanya saat ini masih banyak anak usia sekolah khususnya tingkat SLTA (SMA)
yang belum bisa membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Tak
banyak peserta didik yang tertarik mempelajari ilmu tajwid. Banyak dari mereka yang beranggapan
bahwa mempelajari ilmu tajwid terlalu sulit atau ada pula yang beranggapan bahwa sekedar
membaca saja sudah cukup dan bernilai pahala. Hal inilahsalah satu faktor yang menyebabkan
sedikitnya orang muslim yang bisa membaca Al- Qur’an sesuai kaidah Tajwid.
Berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen
Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama tentang Indeks Literasi Al- Qur’an Siswa
Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2016 menemukan bahwa indeks literasi Al- Qur’an siswa
SMA di tingkat Nasional berada dalam kategori sedang yaitu 2,44. Kemudian dilihat dari aspek
membaca, berada dalam kategori sedang juga yaitu 2,59. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
kemampuan membaca Al- Qur’an siswa SMA baru sampai tahap pengenalan huruf Al- Qur’an
beserta beberapa prinsip tajwid dasar. Hal tersebut belum mengalami peningkatan yang cukup
signifikan juga sampai saat ini(Litbang; Kemenag, 2017).
Perlu diketahui ketika seseorang belajar, salah satu hal yang paling penting adalah membaca.
Membaca merupakan dasar dari sebuah pengetahuan. Namun, Pendidikan Agama Islam dan Al-
Qur’an di Indonesia yang merupakan salah satu pilar penting pembangunan peradaban masyarakat
Indonesia masih kurang mendapat perhatian. Hal ini terlihat dari penerapan sistem pendidikan agama
Islam dan Al- Qur’an yang secara metodologis monoton, serta secara substansi dan hasil belajar
masih bersifat parsial. Alhasil, sistem pendidikan ini melahirkan generasi umat Islam yang hanya bisa
menggunakan keterampilan membaca Al- Qur’an sebisanya tanpa memperhatikan kaidah ilmu
Tajwidnya. Sistem pendidikan yang ada juga belum dapat secara maksimal memupuk cinta dan
kegemaran membaca Al-Qur'an peserta didik(Qisom, 2019, hal. 1).
Maka dari itu, suatu lembaga pendidikan yaitu sekolah atau madrasah harus berupaya agar
dapat meningkatkan dan menumbuhkan kegemaran peserta didiknya mempelajari Al- Qur’an
khususnya cara membaca Al- Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid dengan bimbingan dari guru Al-
Qur’an kepada peserta didik dalam belajar membaca Al- Qur’an secara khusus di luar mata pelajaran
PAI, dengan begitumaka besar kemungkinan dapat mempercepat peserta didik mahir membaca Al-
Qur’an.
Pada hal ini sekolah dapat menghadirkan suatu program pembelajaran Al- Qur’an,salah
satunya ialah dengan diadakannya program pembelajaran Tahsin. Tahsin merupakankata Arab yang
berasal dari kata “Hasana, Yuhasinu, Tahsinan” yang mempunyai arti memperbaiki, membaguskan,
menghiasi, mempercantik, membuat lebih baik dari semula(Annuri, 2010, hal. 3). Tahsin dalam Islam
mengandung makna bahwa tuntutan agar dalam membaca Al- Qur’an harus benar dan tepat sesuai
dengan contohnya demi terjaganya orisinalitas praktik tilawah Rasullullah SAW. Cara membaca Al-
Qur’an harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW
dan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.
Dalam proses pelaksanaan pembelajaran Tahsin Al- Qur’an, peserta didik akan diajari atau
dibimbing oleh pembimbing tahsin dalam membaca Al- Qur’an dengan memperhatikan makhraj,
tajwid dan tanda waqaf yang sesuai kaidah ketentuan membaca Al- Qur’an. Pembelajaran tahsin ini
dapat didukung juga dengan menerapkan metode yang tepat agar dapat mencapai tujuan yang
diharapkan.
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun
dalam kegiatan yang sebenarnya, sehingga tujuan yang telah diusulkan dan disepakati sebelumnya
dapat tercapai secara optimal (Rini Nurul Hikmi, 2018, hal. 259). Metode mengajar menjadi salah satu
faktor yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu proses kegiatan belajar mengajar di

Winda Arum Singgarani, Zaenal Arifin, dan [Link]


48 Al I’tibar: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2,Halaman: 46 – 54, Agustus, 2021

kelas. Dalam penggunaan metode selain harus mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai,
penggunaan metode pembelajaran juga harus mempertimbangkan bahan pelajaran, kondisi peserta
didik, lingkungan dan kemampuan guru. Oleh karena itu, pemilihan metode ini sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar peserta didik yang kemudian akan menimbulkan pembelajaran yang edukatif,
kondusif, dan menantang (Hamdayana, 2019, hal. 94).
Salah satu sekolah di Kabupaten Karawang yaitu SMA Islam Terpadu Harapan Umat
Karawangtelah menerapkan dan melaksanakan program pembelajaran tahsin. Pembelajaran tahsin
pada sekolah tersebut dilaksanakan menggunakan metode [Link] wafa merupakan metode
pembelajaran Al-Qur’an dengan memaksimalkan pendekatan otak kanan yang komprehensif,
integratif, mudah, dan menyenangkan. Karena pada otak kanan memuat kreativitas, imaginasi, gerak,
emosi senang yang mempercepat penyerapan informasi baru dan menghasilkan ingatan jangka
panjang. Tidak hanya otak kanan saja, metode ini juga memadukannya dengan otak kiri yang pada
otak kiri berupa pengulangan yang menghasilkan penyerapan dan ingatan jangka pendek.
Metode wafa mempunyai lima program unggulan yaitu: 1) Tilawah dan menulis, 2) Tahfidz, 3)
Tarjamah, 4) Tafhim, 5) Tafsir. Metode wafa mengajarkan peserta didik agar mampu membaca dan
menghafal Al-Qur’an dengan memaksimalkan otak bagian kanan. Metode ini tergolong metode baru,
namun cukup praktis dan menyenangkan dalam proses pembelajarannya. Metode wafa sendiri
merujuk pada konsep Quantum Teaching dengan pendekatan otak kanan (asosiatif, imajinatif dan
lainnya). Quantum teaching didefinisikan sebagai metode pengajaran yang membimbing siswa untuk
mau belajar, menjadikannya sebagai kebutuhan, kegiatan yang memotivasi dan menginspirasi. Di
dalam proses pembelajaran metode wafa menggunakan metode 5P (Pembukaan, Pengalaman,
Pengajaran, Penilaian dan Penutupan)(Qisom, 2019, hal. 21).
Selain itu, ciri khas lain metode wafa adalah membaca dengan alunan nada hijaz. Akan tetapi,
karena penerapannya adalah untuk untuk anak- anak usia SMP dan SMA, maka nada hijaz yang
digunakan agak sedikit diimprovisasi dari lagu hijaz yang asli, dengan tujuan mempermudah peserta
didik untuk [Link] wafa dapat diterapkan pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an
untuk menghadirkan minat belajar peserta didik dan membantu mempermudah peserta didik dalam
belajar membaca Al-Qur’an. Metode wafa dapat menjadi salah satu inovasi metode pembelajaran
tahsin Al-Qur’an yang dapat digunakan untuk tercapainya tujuan tersebut.
Pembelajaran tahsin Al- Qur’an dengan metode wafa dilaksanakan sebagai program wajib dan
harus diikuti setiap peserta didik serta termasuk ke dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di
kelas seperti mata pelajaran umum. Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat
Karawang ialah upaya sekolah dalam memfasilitasi peserta didik belajar membaca Al- Qur’an dengan
baik dan benar sesuai kaidah ilmu Tajwid serta menumbuhkan kegemaran peserta didik dalam
membaca Al- Qur’an sehingga kemampuan membaca Al- Qur’an peserta didik menjadi lebih baik.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis sangat tertarik untuk mengadakan penelitian
terkaitbagaimana implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an siswa di SMAIT
Harapan Umat Karawang.

METODE/EKSPERIMEN
Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian lapangan (field risearch) yang bersifat kualitatif
deskriptif. Dalam hal ini, kajian dan pelaksanaan penelitiannya didasarkan pada proses pencarian
data secara lengkap dan menyeluruh tentang implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin
Al- Qur’an yang dilakukan di SMAIT Harapan Umat Karawang. Peneliti bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, tindakan dan lain-
lain secara holistik atau menyeluruh dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa,
dalam suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
Metode penelitian deskriptif dilakukan oleh peneliti karena dua alasan. Pertama,dari pengamatan
empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif.

Winda Arum Singgarani1, Zaenal Arifin2, dan N.Fathurrohman3


Implementasi Metode Wafa pada Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an 49
Di SMAIT Harapan Umat Karawang

Kedua,metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan
dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia(Darmadi, 2011, hal. 145).
Subjek penelitian dalam penelitian ini ditentukan dengan teknikpusposive sampling yaitu teknik
pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu(Sugiyono, 2016, hal. 218-219).
Pertimbangan peneliti dalam penelitian ini ialah orang yang dianggap peneliti paling tahu tentang
objek penelitian yang diteliti yaitu terkait implementasi metode wafa pada program tahsin Al- Qur’an di
SMAIT Harapan Umat Karawang. Maka data- data penelitian ini berasal dari: 1) Kepala Sekolah, 2)
Guru atau pembimbing tahsin Al- Qur’an, 3) Siswa. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan wawancara atau interview, dan dokumentasi. Lalu kemudian data
yang terkumpul dianalisis sebagaimana model Miles dan Huberman yaitu melalui aktivitas atau
tahapan berikut: 1) Reduksi data, 2) Penyajian data (Data Display), 3) Penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an Metode Wafa


Belajar adalah suatu proses untuk melakukan perubahan yang progresif pada ranah kognitif
(mental atau pikiran), psikomotorik (kemampuan kerja atau tindakan), dan afektif (sikap atau perilaku)
dari individu yang belajar(Putrawangsa, 2018, hal. 12). Makna lebih umum belajar adalah sebuah
proses kehidupan pada seseorang yang mengakibatkan suatu perubahan akibat dari pengalaman
seorang individu. Perubahan ini bukanlah perubahan yang disebabkan oleh perkembangan biologis
seorang individu.
Sedangkan pembelajaran adalah segala bentuk aktifitas seseorang yang dilakukan dengan
tujuan untuk membantu proses belajar individu yang lain. Definisi ini jelas- jelas menunjukkan bahwa
aktifitas pengajaran sangat berpusat pada pengajar (pendidik, guru, dosen, instruktur, dan
sebagainya), yaitu pengajar dalam suatu proses pembelajaran memainkan peranan yang sangat
penting dan dominan.
Dengan demikian, jika meninjau definisi belajar pada bagian sebelumnya, maka pembelajaran
dimaknai sebagai aktifitas yang dirancang untuk memfasilitasi proses belajar individu dimana individu
tersebut berperan aktif untuk mencapai perubahan mental dan perilaku yang diharapkan pada dirinya
yang bersifat relatif permanen akibat dari aktivitas tersebut.
Al- Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi- Nya Muhammad, yang lafadz-
lafadznya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara
berangsur- angsur (mutawatir), dan yang ditulis pada mushaf, mulai dari surah Al- Fatihah sampai
akhir surah An- Nas(Anwar, 2017, hal. 34). Di dalam ruang lingkup sistem pendidikan Agama Islam
Al- Qur’an merupakan salah satu unsur sangat penting dalam kehidupan sehari- hari(Jannah, 2021,
hal. 254).
Maka mempelajari Al- Qur’an juga menjadi hal yang sangat penting bagi umat Islam.
Mempelajari tahsin Al- Qur’an maka berkaitan dengan mempelajari ilmu tajwid. Hukum mempelajari
ilmu tajwid adalah fardhu kifayah, artinya jika ada sebagian kaum muslimin yang mempelajari ilmu
tajwid, maka gugurlah kewajiban sebagian kaum muslimin lainnya. Adapun mengamalkan ilmu tajwid
hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap pembaca Al- Qur’an dari umat Islam.
Artinya, meskipun hukum mempelajari ilmu tajwid fardhu kifayah tetapi membaca Al- Qur’an
dengan baik dan benar adalah suatu keharusan (fardhu ‘ain). Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt:
... ‫َو َو ِّت ِل ۡلا ُق ۡل ٰا َو َو ۡل ِل ۡل اًل‬
Artinya: "....Dan bacalah Al-Qur’an dengan setartil-tartilnya” (Q.S Al- Muzzammil/73: 4)
Menurut Syekh Wahbah az- Zuhaili dalam bukunya, Tafsir al- Wajiz, maksud dari ayat tersebut
adalah bahwa pembaca Al- Qur’an harus membacanya dengan pelan- pelan dengan memperjelas
bacaan huruf- huruf nya, agar pembaca terbantu untuk memahami makna yang dibaca dan sekaligus
untuk bertadabur atau mengambil pelajaran dari kandungan ayat yang dibaca. Menurutnya,
penegasan dengan kata tartilan dalam ayat itu menunjukkan bahwa membaca dengan tartil adalah

Winda Arum Singgarani, Zaenal Arifin, dan [Link]


50 Al I’tibar: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2,Halaman: 46 – 54, Agustus, 2021

suatu keharusan(Marzukki, 2021, hal. 39).


Tujuan utama mempelajari ilmu tajwid dalam rangka tahsin Al- Qur’an adalah menjaga lidah
dari kesalahan ketika membaca Al-Qur’an sehingga dapat membaca ayat- ayat Al- Qur’an dengan
baik (fashih) sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Kesalahan membaca Al-Qur’an disebut
Al-Lahnu karena membaca Al-Qur’an adalah suatu kegiatan dalam arti luas bukan hanya melisankan
huruf, akan tetapi mengerti apa yang di ucapkan, diresapi isinya serta mengamalkan apa yang
terkandung dalam Al- Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam.
Dalam sebuah proses pembelajaran, metode mempunyai peranan yang sangat penting dalam
upaya pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Tujuan inti dari metode dalam
pembelajaran Al- Qur’an adalah untuk mempermudah para pembelajar dalam belajar Al-Qur’an
dengan cepat.
Di antara metode pembelajaran tahsin Al-Qur’an terdapat metode iqra’, tilawati, baghdadiyah,
dan qira’ati, ummi dan termasuk juga metode wafa. Metode Wafa adalah metode belajar Al- Qur’an
dengan mengoptimalkan kemampuan otak kanan. Metode wafa ini sebagai salah satu sistem dan
metode pembelajaran Al- Qur’an yang komprehensif, mudah dan [Link]
pembelajaran ini terlihat dari produk 5T Wafa yang meliputi tilawah, tahfidz, tarjamah, tafhim dan
tafsir. Selain itu, pada proses pembelajaran metode wafa menggunakan metode 5P (Pembukaan,
Pengalaman, Pengajaran, Penilaian dan Penutupan)(Qisom, 2019, hal. 21). Metode wafa merujuk
pada konsep Quantum Teaching dengan pendekatan otak kanan (asosiatif, imajinatif dan lainnya)
yaitu sebagai metode pengajaran yang membimbing siswa untuk mau belajar, menjadikannya
sebagai kebutuhan, kegiatan yang memotivasi dan menginspirasi. Ciri khas lain metode wafa adalah
membaca dengan alunan nada hijaz.
Adapun standarisasi pembelajaran tahsin Al- Qur’an metode wafa ialah 1) memetakan
kompetensi melalui tashnif yang dilakukan pada awal pembelajaran mitra wafa oleh koordinator guru
Al- Qur’an, 2) memperbaiki kualitas guru melalui tahsin, 3) menstandarisasi proses pembelajaran Al-
Qur’an melalui pelatihan dan sertifikasi guru Al- Qur’an, 4) membina dan mendampingi dengan
coaching, 5) meningkatkan melalui supervisi, monitoring dan evaluasi, 6) munaqosyah yaitu
mengukur ketercapaian lulusan, 7) mengukuhkan hasil pembelajaran dengan pemberian
penghargaan berupa sertifikasi wisuda(Qisom, 2019).
Selain itu, guru Al- Qur’an atau pembimbing tahsin wafa juga harus memiliki beberapa kriteria
diantaranya ialah memiliki kualifikasi sebagai berikut: (1) pendidikan minimal SMA atau sederajat; (2)
memiliki sertifikat mengajar WAFA; (3) melakukan continous improvement dan tahsinut tilawah
(memperbaiki bacaan). Pembimbing tahsin wafa juga harus memiliki kompetensi sebagai berikut: (1)
Hafal minimal juz 28, 29, dan 30 (3 juz); (2) mampu membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar atau
tartil; (3) menguasai nada hijaz; (4) memahami cara menulis huruf Arab; (5) senang berinteraksi
dengan anak- anak.
Adapun jumlah jam pelajarannya, pembelajaran tahsin Al- Qur’an telah diatur bahwa bagi
sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran wafa minimal adalah 4 jam pelajaran per-pekan
dengan durasi per- jam pelajaran 60 menit. Manajemen kelas dalam pembelajaran wafa ini juga
diatur dengan rasio guru dan murid adalah 1:8- 12, dengan kelompok belajar homogen menggunakan
buku TTG (Tilawah, Tajwid, dan Ghorib) sebagai media pembelajaran pokoknya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tahsin Al- Qur’an metode
wafa adalah pembelajaran tahsin Al- Qur’an menggunakan metode pembelajaran yang
mengoptimalkan pendekatan fungsi otak kanan yang komprehensif, mudah dan menyenangkan
dengan standarisasi pembelajaran Al- Qur’an yang dibuat sangat baikmerujuk pada model
pembelajaran Quantum Teaching, standarisasi mutu pembelajaran yang telah dibuat serta memiliki
ciri khas membaca Al- Qur’an dengan alunan nada hijaz. Oleh karena itu, metode ini dapat dipilih
menjadi salah satu inovasi metode pembelajaran Al- Qur’an untuk membantu meningkatkan
kemampuan membaca Al- Qur’an dan memudahkan peserta didik dalam belajar membaca Al- Qur’an
dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid.

Winda Arum Singgarani1, Zaenal Arifin2, dan N.Fathurrohman3


Implementasi Metode Wafa pada Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an 51
Di SMAIT Harapan Umat Karawang

Implementasi Metode Wafa pada Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an


Implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat
Karawang yang telah dilakukan peneliti berdasarkan hasil wawancara bersama guru tahsin dan siswa
diketahui bahwa implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan
Umat Karawang telah terlaksana cukup baik dengan ditetapkan perencanaan yang matang yaitu: 1)
guru atau pembimbing tahsin harus terlebih dahulu mengikuti pendidikan atau pelatihan sebagai guru
tahsin wafa dan dinyatakan lulus serta tersertifikasi mumtaz, jayyid, dan jayyid jidansebagai guru
tahsin wafa; 2) guru atau pembimbing tahsin wafa harus mempelajari dan mampu membuat RPP
sesuai dengan yang standar dalam buku pintar guru wafa, dan 3) guru atau pembimbing tahsin wafa
membuat dan menyiapkan alat atau media yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Kemudian fakta berdasarkan hasil wawancara dan studi dokumentasi yang peneliti peroleh
bersama guru tahsin wafa SMAIT Harapan Umat Karawang yaitu Ustadz Muhammad Awzha’i dan ibu
Imas Fatimah, [Link] diketahui bahwa seluruh guru atau pembimbing tahsin wafa di sekolah tersebut
telah tersertifikasi sebagai pengajar tahsin wafa dan mampu mengajar dengan baik. Namun, dalam
penggunaan media pembelajaran, guru atau pembimbing tahsin wafa di SMAIT Harapan Umat
Karawang masih kurang kreatif dalam membuat atau menyiapkan media pembelajaran yang
mendukung proses pembelajaran tahsin Al- Qur’an. Guru atau pembimbing tahsin wafa tersebut
sebagian besar hanya menggunakan media buku TTG (Tilawah, Tajwid dan Ghorib) wafa dan papan
tulis ketika proses pembelajaran berlangsung. Walaupun demikian, guru dan pembimbing tahsin wafa
di sekolah ini juga telah mampu mengajar dan membimbing siswa cukup baik dan efektif.
Kemudian pada aspek pelaksanaannyasudah berjalan efektif sesuai harapan dan tujuan yang
ingin dicapai, metode wafa pada program tahsin di SMAIT Harapan Umat Karawang dilaksanakan 3
kali pertemuan dalam sepekan, dengan alokasi waktu 2x 40 menit dalam 1 kali pertemuannya,
sehingga siswa mendapatkan pembelajaran tahsin Al- Qur’an 240 menit setiap pekannya. Pada
pelaksanaan pembelajaran tahsin wafa di SMA IT Harapan Umat Karawang proses pembelajaran
dilakukan dengan pemetaan kemampuan membaca Al- Qur’an siswa di awal tahun ajaran baru
dimana siswa kelas X secara umum baik jurusan IPA maupun IPS akan terlebih dahulu di tes
kemampuan membaca Al- Qur’annya untuk menentukan tingkatan membaca Al- Qur’anmereka dari
BAB 1- 3 yang disesuaikan dengan BAB materi pada buku TTG (tilawah, tajwid dan ghorib) Wafa.
Untuk selanjutnya siswa akan dikelompokkan menjadi 8- 12 orang sesuai dengan tingkatan BAB
tersebut. Selanjutnya, akan ditentukan jadwal dan pembimbing tahsin bagi tiap- tiap kelompok
belajar.
Maka berdasarkan hal diatas implementasi metode wafa pada pembelajaran Al- Qur’an di
SMAIT Harapan Umat Katawang dalam segi proses pembelajarannya telah sesuai dengan
standarisasi pembelajaran Al- Qur’an yang ditetapkan dalam buku panduan wafa yaitu buku pintar
guru Al- Qur’an wafa. Dalam buku tersebut telah ditetapkan bahwa jumlah jam pelajaran Al- Qur’an
minimum untuk sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran dengan metode wafa adalah 4 jam
pelajaran per- pekan, dengan durasi per- jam pelajaran 60 menit atau total dalam sepekan ialah 240
menit serta untuk manajemen kelasnya ialah dengan rasio guru dan siswa adalah 1: 8- 12 siswa dan
kelompok belajar yang homogen.
Adapun langkah- langkah proses pembelajaran tahsin Al- Qur’an menggunakan metode wafa di
SMAIT Harapan Umat Karawang ialah sebagai berikut; 1) Pembukaan, mulai dari guru mengucapkan
salam, berdo’a bersama dan selanjutnya guru melakukan apesepsi dengan mengulang materi
pelajaran sebelumnya, 2) Kegiatan inti, mulai dari memberikan pengalaman belajar, kemudian tahap
pengajaran yaitu guru menjelaskan materi ajar pada hari itu lalu mencontohkan cara membacanya
untuk kemudian diikuti atau ditiru oleh siswa secara bersama- sama, setelah seluruh siswa paham
dan sudah mampu membaca dengan benar sesuai yang dicontohkan, dilanjutkan dengan proses
penilaian dimana siswa satu persatu maju ke depan dan di tes bacaannya oleh guru dengan
membawa kartu mutaba’ah (kartu prestasi) untuk diberi penilaian, setelah seluruh siswa dinilai dan
dites satu persatu guru meriview kembali materi yang sudah diajarkan, memberikan motivasi agar

Winda Arum Singgarani, Zaenal Arifin, dan [Link]


52 Al I’tibar: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2,Halaman: 46 – 54, Agustus, 2021

semangat dalam mempelajari Al- Qur’an lalu membaca do’a penutup.


Media dalam pembelajaran tahsin wafa siswa SMAIT Harapan Umat Karawang yang paling
pokok yaitu menggunakan satu buku pembelajaran wafa yaitu Buku Wafa Tilawah, Tajwid dan Ghorib
yang di dalamnya terdiri dari tujuh BAB. ketujuh BAB tersebut terdiri dari 5 BAB tilawah, 1 BAB tajwid
dan 1 BAB Ghorib. Ketujuh BAB tersebut ditargetkan dapat diselesaikan selama 5 semester. Sekolah
telah memberikan target dan memperhitungkannya dengan menetapkan sebagai berikut: 1) saat
siswa berada di kelas X semester ganjil siswa akan mempelajari BAB 1- 3, kelas X semester genap
siswa akan mempelajari BAB 4 dan BAB 5, kemudian; 2) saat siswa kelas XI semester ganjil siswa
sudah menyelesaikan 5 BAB tilawah dan masuk ke BAB tajwid sekaligus belajar membaca Al- Qur’an
juz 11 atau 12 yang menjadi ketentuan munaqosyah, kemudian di kelas XI semester genap siswa
sudah mempelajari BAB Ghorib; 3) sehingga di kelas XII semester ganjil siswa telah menuntaskan
buku wafa tersebut dan bisa mengikuti munaqosyah serta sudah dapat membaca Al- Qur’an dengan
baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid.

Tabel. 1
Target Capaian Bacaan Tahsin Al- Qur’an Siswa

Kelas Semester Target Capaian

Kelas X Ganjil BAB 1- 3


Kelas X Genap BAB 4 dan 5
Kelas XI Ganjil BAB Tajwid
Kelas XI Genap BAB Ghorib
Kelas XII Ganjil Praktik ke Al- Qur’an dan
munaqosyah

Adapun untuk kemampuan membaca Al- Qur’an siswa SMAIT Harapan Umat Karawang, siswa
telah mumpuni dan menguasai di halaman atau di BAB wafa yang sedang mereka tekuni atau
pelajari, sesuai dengan target capaian yang direncanakan guru tahsin wafa ditiap semesternya.
Kemudian,dilihat berdasarkan nilai rata- rata tahsin wafa siswa pada semester genap tahun ajaran
2020/2021 diketahui bahwa siswa mendapat nilai rata- rata >80 yang membuktikan bahwa
implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an berjalan baik dan siswa mampu
mengikuti pembelajaran Al-Qur’an.

Tabel. 2
Data Nilai Rata- Rata Kelas Tahsin Wafa

Kelas Nilai Rata- Rata Kelas

Kelas X 84,64

Kelas XI 86,01

Kelas XII 85

Ada beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi metode wafa pada
pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat Karawang ini. Faktor pendukung tersebut
diantaranya ialah berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu dari dalam diri
siswa dan gurunya: 1) dari siswa yaitu siswa merasa senang dalam mempelajari Al- Qur’an karena
dengan metode wafa lebih mudah dan spesifik pembelajarannya yang dimulai dari dasar- dasar cara
membaca huruf serta membaca Al- Qur’an disertai nada hijaz yang menyenangkan, 2) dari guru yaitu
didukung dengan kemampuan mengajar guru- guru yang baik sesuai prosedur wafa pusat dan telah

Winda Arum Singgarani1, Zaenal Arifin2, dan N.Fathurrohman3


Implementasi Metode Wafa pada Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an 53
Di SMAIT Harapan Umat Karawang

tersertifikasi mumtaz sebagai guru wafa. Sedangkan faktor ekternal yang mendukung pelaksanaan
metode wafa di SMAIT Harapan Umat Karawang ini ialah adanya fasilitas sekolah seperti sarana dan
prasana belajar yang lengkap, mulai dari ruangan kelas yang bersih, media yang lengkap seperti
buku panduan guru, buku tilawah, tajwid dan ghorib, dan lain- lain yang sangat membantu
pembelajaran terlaksana dengan efektif.
Sedangkan faktor penghambat dalam implementasi metode wafa pada program tahsin Al-
Qur’an di SMAIT Harapan Umat Karawang adalah terkadang guru masih mengalami kesulitan dalam
menjaga semangat anak- anak. Sehingga perlu terus ditingkatkan agar materi yang diajarkan dapat
tersampaikan dengan baik ke siswa.
Dengan demikian, berdasarkan hasil temuan peneliti serta teori yang ada diketahui bahwa
Implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat Karawang
dapat terlaksana dengan cukup baik dan selaras dengan standar prosedur mutu Wafa. Namun,
walaupun demikian masih ditemukan beberapa kekurangan- kekurangan yang menjadi hambatan
dalam pelaksanaan metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMA Islam Terpadu
Harapan Umat Karawang, hal ini perlu diperbaiki agar kedepannya pembelajaran tahsin wafa ini
dapat berjalan dengan maksimal dan lebih baik lagi.

PENUTUP
Implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat
Karawang ini dapat dikatakan cukup baik, mulai dari perencanaannya, pelaksanaan atau
implementasi, hingga proses penilaian kemampuan siswa juga sudah sesuai dengan apa yang ada
dalam buku panduan guru wafa, yaitu seluruh guru atau pembimbing tahsin wafa telah mengikuti
pelatihan guru tahsin wafa dan telah tersertifikasi, alokasi waktu pembelajaran 3 kali dalam sepekan,
dengan 2 x 40 menit jam pelajaran dalam satu kali pertemuan. Serta manajemen kelas dengan rasio
guru dan siswa adalah 1: 8- 12 siswa dan kelompok belajar yang homogen. Kelompok belajar
tersebut ditentukan pada kelas X semester ganjil dimana siswa terlebih dahulu di tes kemampuan
membaca Al- Qur’annya untuk menentukan tingkatan membaca Al- Qur’an dari BAB 1- 3.
Adapun untuk kemampuan membaca Al- Qur’an siswa SMAIT Harapan Umat Karawang, siswa
telah mumpuni dan menguasai di halaman atau di BAB wafa yang siswa tekuni atau pelajari masing-
masing, sesuai dengan target capaian yang direncanakan guru atau pembimbing tahsin wafa ditiap
semesternya. Kemudian dilihat berdasarkan nilai rata- rata tahsin wafa siswa pada semester genap
tahun ajaran 2020/2021 diketahui bahwa siswa mendapat nilai rata- rata diatas 80.
Faktor pendukung pembelajaran tahsin Al- Qur’an dengan metode wafa di SMAIT Harapan
Umat Karawang ialah dengan metode ini mampu menumbuhkan semangat dan motivasi siswa dalam
belajar membaca Al- Qur’an sesuai kaidah tajwid. Siswa merasa senang dalam proses pembelajaran
karena metode wafa ini mengoptimalkan fungsi otak kanan yang lebih komprehensif, mudah dan
menyenangkan sebagaimana di ketahui cara berfikir otak kanan bersifat non verbal seperti perasaan
dan emosi, imajinasi, cerita, bentuk dan kreatifitas serta memiliki ingatan jangka panjang. Selain itu
penggunaan nada hijaz dalam pembelajaran tahsin Al- Qur’an metode wafa juga membuat siswa
lebih semangat dan senang membaca Al- Qur’an. Faktor pendukung lainnya yaitu siswa dibimbing
oleh guru- guru yang telah tersertifikasi dan didukung pula oleh sarana prasarna yang lengkap, mulai
dari ruangan kelas yang bersih, media yang lengkap seperti buku panduan guru, buku tilawah, tajwid
dan ghorib, dan lain- lain.
Sedangkan faktor penghambat implementasi metode wafa pada program tahsin Al- Qur’an di
SMAIT Harapan Umat Karawang ialah datang dari dalam diri guru yaitu terkadang guru juga
mengalami kesulitan dalam menjaga semangat anak- anak saja yang perlu terus ditingkatkan agar
materi yang diajarkan dapat tersampaikan dengan baik ke siswa

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih ditujukan kepada STKIP Nurul Huda dan Pengelola Jurnal Al- I’tibar yang
membantu penerbitan artikel ini.

Winda Arum Singgarani, Zaenal Arifin, dan [Link]


54 Al I’tibar: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2,Halaman: 46 – 54, Agustus, 2021

DAFTAR PUSTAKA
Annuri, Achmad. 2010. Panduan Tahsin Tilawah Al- Qur’an. Jakarta Timur: Pustaka Al- Kautsar.

Anwar, Rosihon. 2017. Ulum Al- Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Badan Litbang &Diklat [Link] Literasi Al- Qur’an Siswa SMA. Available from
[Link]

Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Hamdayana, Jumanta. 2019. Metodologi Pengajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Jannah, Fthiyathul. 2021. Problematika Pembelajaran Al- Qur’an dan Upaya Pemecahannya di SMP Muslimin 5
Cibiru Bandung. Jurnal Tafhim Al-Ilmi, Vol.12. No 02. 254.

Marzuki, dkk. 2021 Dasar- Dasar Ilmu Tajwid. Yogyakarta: DIVA Press.

Nata, Abuddin. 2013. Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Putrawangsa, Susilahudin. 2018. Desain Pembelajaran. Mataram: CV. Reka Karya Amerta.

Qisom, Shobikhum. 2019. Buku Pintar Guru Al- Qur’an Wafa Belajar Al- Qur’an Metode Otak Kanan. Surabaya:
Yayasan Syafa’atul Qur’an Indonesia.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Winda Arum Singgarani1, Zaenal Arifin2, dan N.Fathurrohman3

Anda mungkin juga menyukai