Implementasi Metode Wafa di SMAIT Karawang
Implementasi Metode Wafa di SMAIT Karawang
Abstrak
Artikel ini mengkaji tentang penelitian terkait implementasi metode Wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an.
Al-Qur'an adalah sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat Islam. Sebagai umat Islam penting untuk
mempelajari Al-Qur'an, salah satunya belajar membaca Al-Qur'an dengan sesuai kaidah tajwid. Salah satu
upaya sekolah dalam membantu siswa belajar membaca Al-Qur'an adalah dengan mengadakan pembelajaran
tahsin Al- Qur’an. SMAIT Harapan Umat Karawang menggunakan metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-
Qur'an siswa. Metode Wafa merupakan inovasi metode pembelajaran Al-Qur'an dengan memaksimalkan
pendekatan otak kanan yang komprehensif, mudah, dan menyenangkan. Dalam proses pembelajarannya
menggunakan metode 5P (Pembukaan, Pengalaman, Pengajaran, Penilaian dan Penutupan) serta
menggunakan nada hijaz. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan dengan metode deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian yang diperoleh ialah implementasi metode Wafa dalam pembelajaran tahsin Al-Qur'an di SMAIT
Harapan Umat Karawang sudah terlakasana cukup baik sesuai standar prosedur Wafa, mulai dari proses
perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi. Kemampuan membaca Al-Qur'an siswa juga baik dengan
nilai rata- rata >80 dan telah mencapai target tilawah di tiap semesternya. Faktor pendukungnya para
pembimbing tahsin yang sudah tersertifikasi, sistem pembelajaran yang terprogram dengan baik, motivasi
belajar siswa tinggi dan sarana prasarana pembelajaran yang lengkap. Faktor penghambatnya adalah guru
sering mengalami kesulitan menjaga semangat belajar siswa.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan bekal utama bagi manusia untuk dapat mengeksplorasi bakat dan
potensinya. Pendidikan menjadi salah satu hal yang dapat membantu seseorang untuk mengubah
kehidupannya, mengubah seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi
bisa, dan dari yang tidak baik menjadi lebih baik. Pendidikan dilakukan melalui sebuah proses yang
tidak mudah dan sebentar. Proses tersebut dinamakanbelajar, dengan proses belajar itulah manusia
dapat mengembangkan ilmunya sehingga menjadi insan mulia dan ditinggikan derajatnya.
Seorang muslim penting untuk memperoleh Pendidikan Agama. Pendidikan Agama Islam
adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedomankan
dari Al- Qur’an dan As- Sunnah. Pendidikan Islam mengacu pada usaha membimbing, mengarahkan,
dan membina peserta didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu
kepribadian yang utama sesuai dengan nilai- nilai ajaran Islam (Nata, 2013, hal. 340).
Berdasarkan hal tersebut maka dengan adanya pendidikan agama Islam diharapkan dapat
mengembangkan potensi diri manusia melalui kecerdasan dan keterampilan serta mampu melahirkan
dan menciptakan generasi penerus bangsa yang bertakwa kepada Allah SWT serta berkepribadian
sesuai dengan nilai- nilai ajaran Islam.
Pada agama Islam terdapat sumber hukum dan pedoman hidup utama umat Islam, yaitu Al-
Qur’an. Al- Qur’an merupakan firman Allah SWT yang memiliki kebenaran secara mutlak. Al-Qur’an
diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui perantara malaikat Jibril, diturunkan secara
berangsur- angsur dan membacanya adalah ibadah.
Maka, sebagai umat Islamsangat penting untuk mau mempelajari Al-Qur’an, salah satunya
belajar membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid. Kesalahan ketika
membaca Al- Qur’an, baik itu panjang- pendek, tebal- tipis, mendengung atau jelas, akan mengubah
makna yang sesungguhnya dalam ayat Al- Qur’an. Sehingga penting bagi umat Islam untuk belajar
membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid yang ada.
Akan tetapi faktanya saat ini masih banyak anak usia sekolah khususnya tingkat SLTA (SMA)
yang belum bisa membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Tak
banyak peserta didik yang tertarik mempelajari ilmu tajwid. Banyak dari mereka yang beranggapan
bahwa mempelajari ilmu tajwid terlalu sulit atau ada pula yang beranggapan bahwa sekedar
membaca saja sudah cukup dan bernilai pahala. Hal inilahsalah satu faktor yang menyebabkan
sedikitnya orang muslim yang bisa membaca Al- Qur’an sesuai kaidah Tajwid.
Berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen
Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama tentang Indeks Literasi Al- Qur’an Siswa
Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2016 menemukan bahwa indeks literasi Al- Qur’an siswa
SMA di tingkat Nasional berada dalam kategori sedang yaitu 2,44. Kemudian dilihat dari aspek
membaca, berada dalam kategori sedang juga yaitu 2,59. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
kemampuan membaca Al- Qur’an siswa SMA baru sampai tahap pengenalan huruf Al- Qur’an
beserta beberapa prinsip tajwid dasar. Hal tersebut belum mengalami peningkatan yang cukup
signifikan juga sampai saat ini(Litbang; Kemenag, 2017).
Perlu diketahui ketika seseorang belajar, salah satu hal yang paling penting adalah membaca.
Membaca merupakan dasar dari sebuah pengetahuan. Namun, Pendidikan Agama Islam dan Al-
Qur’an di Indonesia yang merupakan salah satu pilar penting pembangunan peradaban masyarakat
Indonesia masih kurang mendapat perhatian. Hal ini terlihat dari penerapan sistem pendidikan agama
Islam dan Al- Qur’an yang secara metodologis monoton, serta secara substansi dan hasil belajar
masih bersifat parsial. Alhasil, sistem pendidikan ini melahirkan generasi umat Islam yang hanya bisa
menggunakan keterampilan membaca Al- Qur’an sebisanya tanpa memperhatikan kaidah ilmu
Tajwidnya. Sistem pendidikan yang ada juga belum dapat secara maksimal memupuk cinta dan
kegemaran membaca Al-Qur'an peserta didik(Qisom, 2019, hal. 1).
Maka dari itu, suatu lembaga pendidikan yaitu sekolah atau madrasah harus berupaya agar
dapat meningkatkan dan menumbuhkan kegemaran peserta didiknya mempelajari Al- Qur’an
khususnya cara membaca Al- Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid dengan bimbingan dari guru Al-
Qur’an kepada peserta didik dalam belajar membaca Al- Qur’an secara khusus di luar mata pelajaran
PAI, dengan begitumaka besar kemungkinan dapat mempercepat peserta didik mahir membaca Al-
Qur’an.
Pada hal ini sekolah dapat menghadirkan suatu program pembelajaran Al- Qur’an,salah
satunya ialah dengan diadakannya program pembelajaran Tahsin. Tahsin merupakankata Arab yang
berasal dari kata “Hasana, Yuhasinu, Tahsinan” yang mempunyai arti memperbaiki, membaguskan,
menghiasi, mempercantik, membuat lebih baik dari semula(Annuri, 2010, hal. 3). Tahsin dalam Islam
mengandung makna bahwa tuntutan agar dalam membaca Al- Qur’an harus benar dan tepat sesuai
dengan contohnya demi terjaganya orisinalitas praktik tilawah Rasullullah SAW. Cara membaca Al-
Qur’an harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW
dan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.
Dalam proses pelaksanaan pembelajaran Tahsin Al- Qur’an, peserta didik akan diajari atau
dibimbing oleh pembimbing tahsin dalam membaca Al- Qur’an dengan memperhatikan makhraj,
tajwid dan tanda waqaf yang sesuai kaidah ketentuan membaca Al- Qur’an. Pembelajaran tahsin ini
dapat didukung juga dengan menerapkan metode yang tepat agar dapat mencapai tujuan yang
diharapkan.
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun
dalam kegiatan yang sebenarnya, sehingga tujuan yang telah diusulkan dan disepakati sebelumnya
dapat tercapai secara optimal (Rini Nurul Hikmi, 2018, hal. 259). Metode mengajar menjadi salah satu
faktor yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu proses kegiatan belajar mengajar di
kelas. Dalam penggunaan metode selain harus mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai,
penggunaan metode pembelajaran juga harus mempertimbangkan bahan pelajaran, kondisi peserta
didik, lingkungan dan kemampuan guru. Oleh karena itu, pemilihan metode ini sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar peserta didik yang kemudian akan menimbulkan pembelajaran yang edukatif,
kondusif, dan menantang (Hamdayana, 2019, hal. 94).
Salah satu sekolah di Kabupaten Karawang yaitu SMA Islam Terpadu Harapan Umat
Karawangtelah menerapkan dan melaksanakan program pembelajaran tahsin. Pembelajaran tahsin
pada sekolah tersebut dilaksanakan menggunakan metode [Link] wafa merupakan metode
pembelajaran Al-Qur’an dengan memaksimalkan pendekatan otak kanan yang komprehensif,
integratif, mudah, dan menyenangkan. Karena pada otak kanan memuat kreativitas, imaginasi, gerak,
emosi senang yang mempercepat penyerapan informasi baru dan menghasilkan ingatan jangka
panjang. Tidak hanya otak kanan saja, metode ini juga memadukannya dengan otak kiri yang pada
otak kiri berupa pengulangan yang menghasilkan penyerapan dan ingatan jangka pendek.
Metode wafa mempunyai lima program unggulan yaitu: 1) Tilawah dan menulis, 2) Tahfidz, 3)
Tarjamah, 4) Tafhim, 5) Tafsir. Metode wafa mengajarkan peserta didik agar mampu membaca dan
menghafal Al-Qur’an dengan memaksimalkan otak bagian kanan. Metode ini tergolong metode baru,
namun cukup praktis dan menyenangkan dalam proses pembelajarannya. Metode wafa sendiri
merujuk pada konsep Quantum Teaching dengan pendekatan otak kanan (asosiatif, imajinatif dan
lainnya). Quantum teaching didefinisikan sebagai metode pengajaran yang membimbing siswa untuk
mau belajar, menjadikannya sebagai kebutuhan, kegiatan yang memotivasi dan menginspirasi. Di
dalam proses pembelajaran metode wafa menggunakan metode 5P (Pembukaan, Pengalaman,
Pengajaran, Penilaian dan Penutupan)(Qisom, 2019, hal. 21).
Selain itu, ciri khas lain metode wafa adalah membaca dengan alunan nada hijaz. Akan tetapi,
karena penerapannya adalah untuk untuk anak- anak usia SMP dan SMA, maka nada hijaz yang
digunakan agak sedikit diimprovisasi dari lagu hijaz yang asli, dengan tujuan mempermudah peserta
didik untuk [Link] wafa dapat diterapkan pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an
untuk menghadirkan minat belajar peserta didik dan membantu mempermudah peserta didik dalam
belajar membaca Al-Qur’an. Metode wafa dapat menjadi salah satu inovasi metode pembelajaran
tahsin Al-Qur’an yang dapat digunakan untuk tercapainya tujuan tersebut.
Pembelajaran tahsin Al- Qur’an dengan metode wafa dilaksanakan sebagai program wajib dan
harus diikuti setiap peserta didik serta termasuk ke dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di
kelas seperti mata pelajaran umum. Pembelajaran Tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat
Karawang ialah upaya sekolah dalam memfasilitasi peserta didik belajar membaca Al- Qur’an dengan
baik dan benar sesuai kaidah ilmu Tajwid serta menumbuhkan kegemaran peserta didik dalam
membaca Al- Qur’an sehingga kemampuan membaca Al- Qur’an peserta didik menjadi lebih baik.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis sangat tertarik untuk mengadakan penelitian
terkaitbagaimana implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an siswa di SMAIT
Harapan Umat Karawang.
METODE/EKSPERIMEN
Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian lapangan (field risearch) yang bersifat kualitatif
deskriptif. Dalam hal ini, kajian dan pelaksanaan penelitiannya didasarkan pada proses pencarian
data secara lengkap dan menyeluruh tentang implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin
Al- Qur’an yang dilakukan di SMAIT Harapan Umat Karawang. Peneliti bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, tindakan dan lain-
lain secara holistik atau menyeluruh dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa,
dalam suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
Metode penelitian deskriptif dilakukan oleh peneliti karena dua alasan. Pertama,dari pengamatan
empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif.
Kedua,metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan
dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia(Darmadi, 2011, hal. 145).
Subjek penelitian dalam penelitian ini ditentukan dengan teknikpusposive sampling yaitu teknik
pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu(Sugiyono, 2016, hal. 218-219).
Pertimbangan peneliti dalam penelitian ini ialah orang yang dianggap peneliti paling tahu tentang
objek penelitian yang diteliti yaitu terkait implementasi metode wafa pada program tahsin Al- Qur’an di
SMAIT Harapan Umat Karawang. Maka data- data penelitian ini berasal dari: 1) Kepala Sekolah, 2)
Guru atau pembimbing tahsin Al- Qur’an, 3) Siswa. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan wawancara atau interview, dan dokumentasi. Lalu kemudian data
yang terkumpul dianalisis sebagaimana model Miles dan Huberman yaitu melalui aktivitas atau
tahapan berikut: 1) Reduksi data, 2) Penyajian data (Data Display), 3) Penarikan kesimpulan.
Tabel. 1
Target Capaian Bacaan Tahsin Al- Qur’an Siswa
Adapun untuk kemampuan membaca Al- Qur’an siswa SMAIT Harapan Umat Karawang, siswa
telah mumpuni dan menguasai di halaman atau di BAB wafa yang sedang mereka tekuni atau
pelajari, sesuai dengan target capaian yang direncanakan guru tahsin wafa ditiap semesternya.
Kemudian,dilihat berdasarkan nilai rata- rata tahsin wafa siswa pada semester genap tahun ajaran
2020/2021 diketahui bahwa siswa mendapat nilai rata- rata >80 yang membuktikan bahwa
implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an berjalan baik dan siswa mampu
mengikuti pembelajaran Al-Qur’an.
Tabel. 2
Data Nilai Rata- Rata Kelas Tahsin Wafa
Kelas X 84,64
Kelas XI 86,01
Kelas XII 85
Ada beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi metode wafa pada
pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat Karawang ini. Faktor pendukung tersebut
diantaranya ialah berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu dari dalam diri
siswa dan gurunya: 1) dari siswa yaitu siswa merasa senang dalam mempelajari Al- Qur’an karena
dengan metode wafa lebih mudah dan spesifik pembelajarannya yang dimulai dari dasar- dasar cara
membaca huruf serta membaca Al- Qur’an disertai nada hijaz yang menyenangkan, 2) dari guru yaitu
didukung dengan kemampuan mengajar guru- guru yang baik sesuai prosedur wafa pusat dan telah
tersertifikasi mumtaz sebagai guru wafa. Sedangkan faktor ekternal yang mendukung pelaksanaan
metode wafa di SMAIT Harapan Umat Karawang ini ialah adanya fasilitas sekolah seperti sarana dan
prasana belajar yang lengkap, mulai dari ruangan kelas yang bersih, media yang lengkap seperti
buku panduan guru, buku tilawah, tajwid dan ghorib, dan lain- lain yang sangat membantu
pembelajaran terlaksana dengan efektif.
Sedangkan faktor penghambat dalam implementasi metode wafa pada program tahsin Al-
Qur’an di SMAIT Harapan Umat Karawang adalah terkadang guru masih mengalami kesulitan dalam
menjaga semangat anak- anak. Sehingga perlu terus ditingkatkan agar materi yang diajarkan dapat
tersampaikan dengan baik ke siswa.
Dengan demikian, berdasarkan hasil temuan peneliti serta teori yang ada diketahui bahwa
Implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat Karawang
dapat terlaksana dengan cukup baik dan selaras dengan standar prosedur mutu Wafa. Namun,
walaupun demikian masih ditemukan beberapa kekurangan- kekurangan yang menjadi hambatan
dalam pelaksanaan metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMA Islam Terpadu
Harapan Umat Karawang, hal ini perlu diperbaiki agar kedepannya pembelajaran tahsin wafa ini
dapat berjalan dengan maksimal dan lebih baik lagi.
PENUTUP
Implementasi metode wafa pada pembelajaran tahsin Al- Qur’an di SMAIT Harapan Umat
Karawang ini dapat dikatakan cukup baik, mulai dari perencanaannya, pelaksanaan atau
implementasi, hingga proses penilaian kemampuan siswa juga sudah sesuai dengan apa yang ada
dalam buku panduan guru wafa, yaitu seluruh guru atau pembimbing tahsin wafa telah mengikuti
pelatihan guru tahsin wafa dan telah tersertifikasi, alokasi waktu pembelajaran 3 kali dalam sepekan,
dengan 2 x 40 menit jam pelajaran dalam satu kali pertemuan. Serta manajemen kelas dengan rasio
guru dan siswa adalah 1: 8- 12 siswa dan kelompok belajar yang homogen. Kelompok belajar
tersebut ditentukan pada kelas X semester ganjil dimana siswa terlebih dahulu di tes kemampuan
membaca Al- Qur’annya untuk menentukan tingkatan membaca Al- Qur’an dari BAB 1- 3.
Adapun untuk kemampuan membaca Al- Qur’an siswa SMAIT Harapan Umat Karawang, siswa
telah mumpuni dan menguasai di halaman atau di BAB wafa yang siswa tekuni atau pelajari masing-
masing, sesuai dengan target capaian yang direncanakan guru atau pembimbing tahsin wafa ditiap
semesternya. Kemudian dilihat berdasarkan nilai rata- rata tahsin wafa siswa pada semester genap
tahun ajaran 2020/2021 diketahui bahwa siswa mendapat nilai rata- rata diatas 80.
Faktor pendukung pembelajaran tahsin Al- Qur’an dengan metode wafa di SMAIT Harapan
Umat Karawang ialah dengan metode ini mampu menumbuhkan semangat dan motivasi siswa dalam
belajar membaca Al- Qur’an sesuai kaidah tajwid. Siswa merasa senang dalam proses pembelajaran
karena metode wafa ini mengoptimalkan fungsi otak kanan yang lebih komprehensif, mudah dan
menyenangkan sebagaimana di ketahui cara berfikir otak kanan bersifat non verbal seperti perasaan
dan emosi, imajinasi, cerita, bentuk dan kreatifitas serta memiliki ingatan jangka panjang. Selain itu
penggunaan nada hijaz dalam pembelajaran tahsin Al- Qur’an metode wafa juga membuat siswa
lebih semangat dan senang membaca Al- Qur’an. Faktor pendukung lainnya yaitu siswa dibimbing
oleh guru- guru yang telah tersertifikasi dan didukung pula oleh sarana prasarna yang lengkap, mulai
dari ruangan kelas yang bersih, media yang lengkap seperti buku panduan guru, buku tilawah, tajwid
dan ghorib, dan lain- lain.
Sedangkan faktor penghambat implementasi metode wafa pada program tahsin Al- Qur’an di
SMAIT Harapan Umat Karawang ialah datang dari dalam diri guru yaitu terkadang guru juga
mengalami kesulitan dalam menjaga semangat anak- anak saja yang perlu terus ditingkatkan agar
materi yang diajarkan dapat tersampaikan dengan baik ke siswa
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih ditujukan kepada STKIP Nurul Huda dan Pengelola Jurnal Al- I’tibar yang
membantu penerbitan artikel ini.
DAFTAR PUSTAKA
Annuri, Achmad. 2010. Panduan Tahsin Tilawah Al- Qur’an. Jakarta Timur: Pustaka Al- Kautsar.
Anwar, Rosihon. 2017. Ulum Al- Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Badan Litbang &Diklat [Link] Literasi Al- Qur’an Siswa SMA. Available from
[Link]
Jannah, Fthiyathul. 2021. Problematika Pembelajaran Al- Qur’an dan Upaya Pemecahannya di SMP Muslimin 5
Cibiru Bandung. Jurnal Tafhim Al-Ilmi, Vol.12. No 02. 254.
Marzuki, dkk. 2021 Dasar- Dasar Ilmu Tajwid. Yogyakarta: DIVA Press.
Putrawangsa, Susilahudin. 2018. Desain Pembelajaran. Mataram: CV. Reka Karya Amerta.
Qisom, Shobikhum. 2019. Buku Pintar Guru Al- Qur’an Wafa Belajar Al- Qur’an Metode Otak Kanan. Surabaya:
Yayasan Syafa’atul Qur’an Indonesia.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.