0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan332 halaman

Wacana Dakwah Kontemporer Revisi

Buku ini membahas berbagai wacana terkait dakwah Islam di era modern. Pertama, dibahas tentang kedudukan al-Quran sebagai pedoman utama dalam dakwah. Kedua, dibahas mengenai eksistensi dakwah Islam di era modern dan perlunya pendekatan profesional dalam menjalankan dakwah. Ketiga, dibahas strategi-strategi dakwah masa depan dan reformulasi pemahaman umat untuk menghadapi tantangan zaman.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan332 halaman

Wacana Dakwah Kontemporer Revisi

Buku ini membahas berbagai wacana terkait dakwah Islam di era modern. Pertama, dibahas tentang kedudukan al-Quran sebagai pedoman utama dalam dakwah. Kedua, dibahas mengenai eksistensi dakwah Islam di era modern dan perlunya pendekatan profesional dalam menjalankan dakwah. Ketiga, dibahas strategi-strategi dakwah masa depan dan reformulasi pemahaman umat untuk menghadapi tantangan zaman.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

i

Prof. Dr. H. Abdul Basit, M. Ag

WACANA DAKWAH
KONTEMPORER
Edisi Revisi

i
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang No.28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
1. Setiap Orang yang dengan yang dengan tanpa hak melakukan
pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1)
huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e,
dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
yang dilakukan dalam bentauk pembajakan, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

ii
WACANA DAKWAH
KONTEMPORER
Edisi Revisi

Prof. Dr. H. Abdul Basit, M. Ag

iii
WACANA DAKWAH
KONTEMPORER
Edisi Revisi

Diterbitkan pertama kali oleh CV Amerta Media


Hak cipta dilindungi oleh undang-undang All Rights Reserved
Hak penerbitan pada Penerbit Amerta Media
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa seizin tertulis dari Penerbit

Anggota IKAPI
Cetakan Pertama :
15 cm x 23 cm
ISBN: 978-623-6555-67-5

Penulis :
Prof. Dr. H. Abdul Basit, M. Ag

Desain Cover :
Adji Azizurrachman

Tata Letak :
Ladifa Nanda

Diterbitkan Oleh :
CV. Amerta Media

NIB. 0220002381476

Jl. Raya Sidakangen, RT 001 RW 003, Kel, Kebanggan, Kec. Sumbang,


Banyumas 53183,
Jawa Tengah. Telp. 081-356-3333-24
Email : mediaamerta@[Link]
Website: [Link]
Whatsapp : 081-356-3333-24

Isi di luar tanggung jawab penerbit Amerta Media

iv
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Puji dan Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang
telah memberikan berbagai limpahan nikmat dan kesempatan
sehingga Penulis dapat menyelesaikan tulisan ini tanpa kendala
yang berarti. Shalawat dan Salam dihaturkan kepada Nabi Agung,
Muhammad saw, yang kita harapkan syafa’atnya di hari kiamat.
Alhamdulillah buku Wacana Dakwah Kontemporer yang
telah diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta bekerjasama
dengan STAIN Press Purwokerto telah mendapatkan respon yang
positif. Banyak kolega dan mahasiswa serta para aktivis dakwah
yang memanfaatkan buku tersebut dan menghendaki agar buku
tersebut bisa dicetak ulang.
Penulis sempat kehilangan data dari naskah tersebut sehingga
belum bisa merespons keinginan para Pembaca. Kemudian ada
beberapa mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Islam Purwokerto
yang bersedia untuk mengetik ulang naskah buku tersebut hingga
selesai. Hadirnya kembali naskah buku ini memberi semangat baru
bagi penulis untuk membuat revisi buku wacana dakwah
kontemporer.
Dalam edisi revisi ini, Penulis menyampaikan beberapa
wacana baru yang menarik untuk didiskusikan dan ditindaklanjuti
dalam kegiatan-kegiatan dakwah di masa depan. Dakwah Islam
sebagai fenomena social senantiasa mengalami perkembangan yang
signifikan, terutama dalam praktek kehidupan di masyarakat.
Karenanya membutuhkan landasan teori yang kuat sehingga
kegiatan dan Gerakan dakwah bisa berjalan efektif di masyarakat.
Pada kesempatan ini, Penulis mengucapkan terima kasih
kepada Rektor IAIN Purwokerto beserta jajarannya yang telah
memberi kesempatan kepada penulis dalam melakukan proses
pembelajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Kepada
rekan-rekan dosen dan para mahasiswa di IAIN Purwokerto yang
telah memberikan ruang bagi Penulis untuk bisa berdiskusi dan
melakukan inovasi dalam proses pembelajaran dan penguatan
keilmuan dakwah. Karenanya, Penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya.

v
Buat Abah H.M. Syapei dan Umi Hj. Marhayati beserta
keluarga besar di Bekasi, terima kasih atas do’a, bimbingan dan
dukungannya selama ini dan juga buat isteriku, Reni Fitriyani dan
anak-anakku tercinta, Rafi Ilmi Badri Utama dan Kharisma Aufa
Badri Tsania, terima kasih atas segala waktu, kesempatan dan
keikhlasannya dalam memberikan ruang bagi Penulis dalam
berekspresi dan bergelut dengan buku-buku. Penulis mengucapkan
terima kasih kepada Mas Asep Amaluddin, Aan Herdiana dan
teman-teman mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Islam
Purwokerto yang telah membantu dalam penyelesaian naskah ini.
Harapan Penulis, semoga kehadiran buku ini dapat menambah
wacana dan Gerakan dakwah yang semakin berkualitas. Saran dan
masukan untuk perbaikan buku ini sangat diharapkan. Akhirnya,
Penulis serahkan sepenuhnya kepada Allah swt, semoga upaya ini
dapat menjadi bagian dari perjalanan dan perjuangan Penulis dalam
menjalani kehidupan yang penuh makna.

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL-------------------------------------------- i
TENTANG BUKU --------------------------------------------- iv
KATA PENGANTAR ------------------------------------------ v
DAFTAR ISI ----------------------------------------------------- vii

BAGIAN PERTAMA :
Pendahuluan
1. Problema Dakwah Islam di Era Kontemporer -------- 1
2. Kedudukan dan Fungsi Al-Qur’an ----------------------- 5
A. Kedudukan Al-Qur’an --------------------------------- 5
B. Al-Qur’an dan metode pnafsirannya ---------------- 6
C. Al-Qur’an Sebagai Kitab dakwah -------------------- 11
BAGIAN KEDUA :
Wacana Epistimologi Dakwah
3. Eksistensi Dakwah Islam di Era Modern --------------- 15
• Pendahuluan--------------------------------------------- 15
• Hakikat Dakwah Islam -------------------------------- 16
• Kajian Dakwah Secara Akademik ------------------- 17
• Kondisi Dakwah di Indonesia pada era
modern --------------------------------------------------- 18
• Penutup20
4. Dakwah Profesional Antara Kewajiban dan
Kebutuhan---------------------------------------------------- 21
• Pendahuluan--------------------------------------------- 21
• Diskursus tentang Kewajiban Dakwah Islam ----- 22
• Penggunaan Term Dakwah Dalam Konteks
Modern --------------------------------------------------- 26
• Keharusan Manajemen Dakwah --------------------- 27
• Penutup -------------------------------------------------- 35
5. Profesi Da’i --------------------------------------------------- 37
6. Dakwah Nafsiah dan Problem Manusia Modern ------ 43
• Tugas dan Peran Manusia ----------------------------- 44
• Dakwah Nafsiyah -------------------------------------- 48

vii
7. Bimbingan dan Penyuluhan dalam perspektif
Al-Qur’an ----------------------------------------------------- 55
A. Istilah-istilah Bimbingan dan Penyuluhan
dalam Alqur’an ------------------------------------------ 57
1. Huda ------------------------------------------------- 57
2. Irsyad ------------------------------------------------ 60
3. Wa’azha --------------------------------------------- 63
4. Syifa -------------------------------------------------- 67
B. Prinsip-prinsip dalam Bimbingan dan
Penyuluhan ---------------------------------------------- 71
C. Bentuk dan Pelaksanaan Bimbingan dan
Penyuluhan ---------------------------------------------- 77
D. Kedudukan dan Peran Manusia dalam
Proses Bimbingan dan Penyuluhan.----------------- 89
8. Dakwah di Rumah Sakit : Eksistensi dan Upaya
Pengembangannya ------------------------------------------ 95
• Pendahuluan--------------------------------------------- 95
• Urgensi Bimbingan Rohani Pasien
di Rumah Sakit ------------------------------------------ 96
• Sejarah Rumah Sakit di Dunia Islam ---------------- 100
• Eksistensi dan Problematika Bimbingan
Rohani Pasien di Rumah Sakit ----------------------- 101
• Pengembangan Bimbingan Rohani Pasien
di Rumah Sakit ------------------------------------------ 105
• Penutup -------------------------------------------------- 109
BAGIAN KETIGA :
Strategi Dakwah dan Reformulasi Pemahaman Umat -- 111
9. Menyikapi Keterbukaan dan Strategi Dakwah
Masa Depan -------------------------------------------------- 111
10. Dakwah dan Politik : Sebuah Refleksi ------------------- 115
11. Diskursus Antara Pembebasan Wilayah dan
Peperangan --------------------------------------------------- 121
• Pendahuluan--------------------------------------------- 121
• Pengertian al-Futuhat ---------------------------------- 122
• Konsep Islam tentang Perang dan Damai --------- 124
• Al-Futuhat pada Masa Rasulullah ------------------- 127

viii
• Al-Futuhat pada Masa Sahabat dan Tabi’in-------- 130
• Dakwah dan al-Futuhat ------------------------------- 133
• Penutup -------------------------------------------------- 136
12. Dakwah Islam di Tengah-tengah Perbedaan
Pemahaman di Kalangan Umat Islam ------------------- 137
• Pendahuluan--------------------------------------------- 137
• Islam : Eksistensi dan Strukturnya ------------------ 138
• Peran Da’i dan Lembaga Keagamaan --------------- 146
13. Agama dan Perubahan Sosial ----------------------------- 149
• Pendahuluan--------------------------------------------- 149
• Agama dan Tantangan Modernitas ------------------ 150
• Peran Agama dalam Perubahan Sosial -------------- 152
• Islam dan Perubahan Sosial -------------------------- 153
• Penutup -------------------------------------------------- 156
14. Islam dan Komunikasi global ----------------------------- 157
• Pendahuluan--------------------------------------------- 157
• Komunikasi Global :
Sejarah dan Bentuk-bentuk Komunikasi ----------- 158
• Islam : Nilai-nilai dan Tradisi Berkomunikasi ----- 161
• Hegemoni Barat dalam Berkomunikasi
Global ---------------------------------------------------- 166
• Posisi dan Peran Islam dalam Komunikasi
Global ---------------------------------------------------- 168
• Penutup -------------------------------------------------- 171
15. Dakwah dan Pemahaman tentang Taqdir -------------- 175
• Pendahuluan--------------------------------------------- 175
• Pengertian Taqdir dan Qadha ------------------------ 177
1. Pengertian Taqdir --------------------------------- 177
2. Pengertian Qadha --------------------------------- 180
• Hubungan Qadha dan Qadar ------------------------ 182
• Hubungan Qadha dan Qadar dengan Perbuatan
Manusia -------------------------------------------------- 183
• Penutup -------------------------------------------------- 187
16. Dakwah dan Perilaku Ghibah ----------------------------- 189

ix
• Pendahuluan--------------------------------------------- 189
• Pengertian Ghibah dan Namimah------------------- 190
• Batasan Ghibah dan Namimah ---------------------- 191
• Bahaya Ghibah dan Namimah ----------------------- 195
• Faktor- Faktor yang menyebabkan Orang yang
melakukan Ghibah dan Namimah ------------------ 199
• Cara mengatasi Ghibah-------------------------------- 200
• Penutup -------------------------------------------------- 202
17. Poligami dan Perspektif Dakwah Islam ----------------- 203
• Pendahuluan--------------------------------------------- 203
• Membaca Ulang Ayat Al-Qur’an tentang
Poligami -------------------------------------------------- 205
• Membaca Kehidupan Rasulullah tentang
Praktik Poligami ---------------------------------------- 207
• Prinsip-prinsip dalam Pernikahan ------------------- 210
• Prinsip-prinsip Dakwah Islam ----------------------- 212
• Penerapan Prinsip-prinsip Perkawinan dan
Dakwah Islam dalam Mengkaji Poligami
Perspektif Dakwah Islam ----------------------------- 214
• Penutup -------------------------------------------------- 216
BAGIAN KEEMPAT :
Tantangan Dakwah di Abad 21
18. Dakwah Melalui Film Dan Sinetron: Sebuah
Alternatif ------------------------------------------------------ 219
A. Pendahuluan--------------------------------------------- 219
B. Dakwah Sebagai Aktivitas, Seni, dan Ilmu --------- 220
C. Seni dalam Perspektif Islam -------------------------- 234
D. Dakwah Ditelevisi -------------------------------------- 227
E. Penutup -------------------------------------------------- 232
19. Kritis Terhadap Media ------------------------------------- 233
20. Membangun Arah Pengembangan Kualitas
Penyuluh Yang Profesional-------------------------------- 237
• Pendahuluan--------------------------------------------- 237
• Dakwah Profesional ----------------------------------- 239
• Kompetensi Penyuluh Agama Islam ---------------- 243

x
• Kompetensi Metodologis ----------------------------- 247
• Peningkatan Kualitas Penyuluh Agama
Islam ------------------------------------------------------ 250
• Penutup -------------------------------------------------- 252
21. Manajemen Lembaga Dakwah ---------------------------- 253
• Pendahuluan--------------------------------------------- 253
• Rekonstruksi GerakanDakwah Perempuan ------- 256
• Penutup -------------------------------------------------- 261
22. Hermeneutika Dakwah Kampus:
Radikalisme Islam, Kontestasi Ideologi, Dan
Konstruksinya ----------------------------------------------- 263
• Pendahuluan--------------------------------------------- 263
• Geneologi dan Perkembangan Dakwah
Kampus -------------------------------------------------- 265
• Hermeneutika Tindakan Sosial ---------------------- 272
• Radikalisme Islam di Kalangan Mahasiswa:
Analisis Sosio Historis --------------------------------- 273
• Kontestasi Ideologi di Kalangan aktivis
dakwah kampus ----------------------------------------- 277
• Kontruksi dakwah Kampus Era Milenial ---------- 284
• Penutup -------------------------------------------------- 290
23. Belajar Toleransi Agama Dari Kepolisian -------------- 291
24. Urgensi Keberpihakan Politik Negara Dalam
Agenda Dakwah Di Indonesia ---------------------------- 295
• Pendahuluan--------------------------------------------- 295
• Agenda Dakwah Yang Termarjinalkan ------------- 296
• Political will pemerintah Terhadap agenda
dakwah di Indonesia ----------------------------------- 299
• Penutup -------------------------------------------------- 301

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------- 302


PROFIL PENULIS--------------------------------------------- 316

xi
PROBLEMATIKA DAKWAH ISLAM
DI ERA KONTEMPORER

Dakwah pada era kontemporer ini diharapkan pada berbagai


tantangan dan problematika yang semakin kompleks. Hal ini tidak
terlepas dari adanya perkembangan dan dinamika masyarakat yang
semakin maju dan beradab. Pada masyarakat agraris di mana
kehidupan manusia penuh dengan kesederhanaan dan kesahajaan
tentunya terdapat problematika hidup yang berbeda dengan
masyarakat kontemporer sekarang ini yang cenderung materialistik
dan individualistik. Begitu juga tantangan dan problematika
dakwah akan dihadapkan pada berbagai persoalan yang sesuai
dengan tuntutan pada era sekarang ini.
Mengingat aktivitas dakwah tidak terlepas dari masyarakat,
maka perkembangannya pun seharusnya berbanding lurus dengan
perkembangan masyarakat. Artinya, aktivitas dakwah hendaknya
dapat mengikuti perkembangan dan perubahan masyarakat. Selama
ini aktivitas dakwah jauh tertinggal dengan perkembangan dan
perubahan masyarakat sehingga dakwah terkesan jalan di tempat.
Dakwah belum dijadikan pedoman atau panduan oleh masyarakat
dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.
Sekurang-kurangnya, menurut penulis, ada tiga problematika
besar yang dihadapi dakwah pada era kontemporer ini, yaitu;
Pertama, pemahaman masyarakat pada umumnya terhadap dakwah
lebih diartikan sebagai aktivitas yang bersifat oral communication
(tabligh) sehingga aktivitas dakwah lebih berorientasi pada kegiatan-
kegiatan ceramah atau tabligh. Di satu sisi, kegiatan ceramah
memberikan keuntungan tersendiri seperti adanya kontak langsung
antara da’i dengan audiens (mad’u), seorang da’i tidak membutuhkan
persiapan yang matang, mad’u tidak memerlukan energi yang
banyak untuk berpikir, dan audiens ceramah bisa bersifat
heterogen maupun homogen. Di sisi lain, ada kelemahan-
kelemahan mendasar dari kegiatan ceramah, diantaranya: mad’u
harus menyediakan waktu yang cukup untuk mengikuti kegiatan
ceramah. Padahal di era kontemporer ini, masyarakat banyak yang

1
tidak memiliki waktu dikarenakan kesibukan dalam bekerja. Selain
itu, ceramah dapat membosankan dan menjenuhkan, tidak efektif
dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah disebabkan daya
tangkap manusia sangat terbatas, dan kelemahan-kelemahan lain
yang terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh seorang da’i.
Kedua, problematika yang bersifat epistemologis. Dakwah
pada era sekarang bukan hanya bersifat rutinitas, temporal dan
instant, tetapi dakwah membutuhkan paradigma keilmuan. Dengan
adanya keilmuan dakwah tentunya hal-hal yang terkait dengan
langkah-langkah strategis dan teknis dapat dicari rujukannyad
melalui teori-teori dakwah. Selain itu, aktivitas dakwah berjalan
terus menerus tanpa menggunakan kerangka teoritis yang jelas.
Akibatnya, aktivitas dakwah berjalan tanpa perencanaa dan
evaluasi.
Problem yang muncul berkenaan dengan epistemologi
dakwah, menurut Awis Karni, yaitu: Pertama, dari segi sejarah
munculnya dan perkembangann ilmu-ilmu yang ada dalam Islam
bahwa ilmu dakwah tidak ada dalam khazanah ilmu-ilmu Islam
klasik seperti halnya ilmu kalam, filsafat Islam, tasawuf, fiqih,
hadits dan sebagainya. Sementara itu, kesulitan juga muncul ketika
ada pembicaraan siapa mujtahid pertama yang menggagas
munculnya ilmu dakwah. Kedua, ketika dakwah di tinjau dari teori
keilmuan yang ada atau filsafat ilmu, problem muncul waktu
menjelaskan epistemologi dakwah. Problem ini terutama terkait
dengan objek kajiannya, baik secara formal maupun material,
sistem dan metodologi, serta aksiologi dakwah dalam menjelaskan
kenyataan yang dihadapi dakwah Islam.1
Ketiga, problem yang menyangkut sumber daya manusia.
Aktivitas dakwah masih dilakukan secara sambil lalu atau menjadi
pekerjaan sampingan. Implikasinya banyak bermunculan da’i-da’i
yang kurang profesional, rendahnya penghargaan masyarakat
terhadap profesi da’i, dan lemahnya manajerial yang dilakukan oleh
da’i dalam mengemas kegiatan dakwah. Banyak da’i yang gagap
dengan teknologi yang sedang berkembang, tidak hanya penelitian

1
Awis Karni, “Dakwah Islam di Perkotaan: Studi Kasus Yayasan
Wakaf Paramadina”, Disertasi, PPS IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2000,
hlm. 28-29.

2
dan perencanaan yang matang secara sistematis dan kurangnya
koordinasi antara organisasi dan Perguruan Tinggi yang bergerak di
bidang dakwah. Idealnya, seorang da’i tidak hanya memiliki
kompetensi yang bersifat substantif saja seperti kemampuan dari
sisi materi-materi dakwah dan akhlak da’i, tetapi juga
membutuhkan kompetensi lain berupa metodologi sehingga
kompetensi substantif yang dimilikinya dapat ditransformasikan
kepada masyarakat secara efisien dan efektif.
Bertitik tolak dari ketiga persoalan besar tersebut, tulisan ini
diharapkan dapat memberikan sedikit pencerahan (enlightenment)
dalam memformulasikan persoalan-persoalan dakwah yang
berkembang pada era kontemporer ini. Di samping itu, tulisan ini
juga diharapkan dapat memberi solusi alternatif untuk
dikembangkan dalam rangka memajukan aktivitas dakwah Islam.
Dalam mengelaborasi tulisan-tulisan yang ada, penulis
banyak merujuk kepada al-Qur’an sebagai kitab dakwah dan kitab
perjuangan. Karena itu, pada bagian awal tulisan ini, penulis secara
singkat mengkaji tentang al-Qur’an yang menyangkut tentang
kedudukan dan perannya dalam dakwah. Selanjutnya, penulis
melakukan formulasi tentang ilmu dakwah, khususnya yang
berkaitan dengan dakwah bil qaul yang bersifat individual dan
menjelaskan tentang berbagai tema-tema aktual yang dapat menjadi
bahan diskusi lebih lanjut.
Penulis mengakui bahwa tulisan-tulisan ini hanyalah
mengungkapkan sebagian kecil dari segudang problem yang
dihadapi oleh dakwah Islam. Selain itu, tulisan ini merupakan
kumpulan dari beberapa tulisan yang pernah penulis sampaikan
dalam beberapa forum kegiatan. Karenanya, dalam pembahasannya
pun bisa jadi ada hal-hal yang mendapatkan pengulangan.
Meskipun demikian, penulis berusaha untuk membangun benang
merah dari beberapa tulisan yang ada menjadi satu rangkaian yang
perlu didialogkan dan dikembangkan lebih lanjut dalam kerangka
membangun dakwah yang lebih profesional.

3
4
KEDUDUKAN DAN
FUNGSI
AL-QUR’AN

A. KEDUDUKAN AL-QUR’AN
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup (way of life) manusia,
eksistensinya begitu urgen dan bersifat fungsional. Ajaran-ajaran al-
Qur’an yang bersifat global senantiasa mendapatkan interpretasi
dari manusia guna memenuhi kebutuhan manusia yang semakin
kompleks. Tulisan dan kajian terhadap al-Qur’an banyak dilakukan
oleh para pemikir atau ilmuwan, baik yang berhubungan langsung
dengan ayat-ayat al-Qur’an atau hanya mengutip beberapa ayat al-
Qur’an.
Al-Qur’an bagi umat Islam merupakan kitab suci yang
menjadi sumber ajaran Islam dan menjadi dasar yang kuat bagi
prinsip-prinsip kewajiban moral dan kewajiban lainnya yang sudah
ada tata cara tertentu untuk melaksanakannya. Selain itu, al-Qur’an
juga menjadi sumber ilmu dan sumber inspirasi dalam memenuhi
kebutuhan manusia dan dalam memecahkan problematika yang
dihadapi manusia.
Al-Qur’an didalamnya mengandung rahasia yang pelik,
sehingga akal harus dengan tekun dan teliti menganalisisnya. Jika
ada orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an tidak masuk akal
maknanya, tidak lain karena kekerdilan akal manusia itu saja yang
tidak mampu menjamah dan menjangkau kebenaran makna-makna
al-Qur’an.
Kebesaran dan keagungan al-Qur’an dapat dirasakan
manfaatnya manakala umat Islam mau mengambil esensi yang
terdapat di dalam al-Qur’an. Ada empat esensi utama yang terdapat
di dalam al-Qur’an, yakni maw’izhah (nasehat), syifa (obat), huda
(petunjuk), dan rahmah (kasih sayang).2 Keempat esensi ini

2
Lihat QS. Yunus (10): 57.

5
merupakan keistimewaan al-Qur’an yang dianugerahkan Allah
kepada manusia.
Meskipun Allah memberikan keistimewaan al-Qur’an kepada
manusia, khususnya umat Islam banyak yang belum menyadari
tentang betapa pentingnya al-Qur’an bagi kehidupan mereka. Al-
Qur’an hanyalah dijadikan dijadikan sebagai hiasan dinding, koleksi
buku atau kitab, bacaan untuk acara-acara seremonial, dan kadang
kala untuk pengobatan-pengobatan. Manusia belum dapat
memanfaatkan al-Qur’an sebagai pedoman, sumber inspirasi dan
sumber nilai dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini.

B. AL-QUR’AN DAN METODE PENAFSIRANNYA


Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad melalui perantara Jibril untuk disampaikan
kepada umat manusia dan bernilai ibadah bagi yang membacanya.
Dalam prosesnya, kehadiran al-Qur’an tidak terlepas dari konteks
sejarah dimana Rasulullah hidup dan mengembangkan ajaran-
ajarannya. Dalam catatan sejarah, al-Qur’an diturunkan kurang
lebih sekitar 23 tahun. 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di
kota Medinah.3
Al-Qur’an oleh Abu A’la al-Maududi dikatakan sebagai kitab
unik yang berbeda sekali dari kitab-kitab yang biasa dibaca.4 Al-
Qur’an tidak berisi informasi, ide-ide dan argumen-argumen
tentang tema-tema spesifik yang disusun secara sistematis. Bahkan,
al-Qur’an terkadang berbicara suatu hal yang sebelumnya tidak
familiar di kalangan masyarakat Arab. Al-Qur’an juga seringkali
mengulang-ulang materi yang sama di tempat atau surah yang lain.
Oleh karena itu, keunikan al-Qur’an ini perlu dipahami, baik oleh
para pembaca maupun pengkaji al-Qur’an, agar dapat mengetahui
gaya, term yang digunakan metode dan latar belakang di mana al-
Qur’an itu diturunkan.
Disamping itu, al-Qur’an berisi petunjuk (huda), maw’izhah,
rahmah, syifa, pembeda dan pemberi kabar gembira bagi umat

3
Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, Jakarta: Rajawali Press, 1993,
hlm. 29.
4
S. Abu A’la al-Maududi, The Meaning of the Qur’an, Vol. 1,
Lahore: Islamic Publications LTD, 1984, hlm. 7.

6
manusia. Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa tidak ada persoalan
atau sesuatu apapun yang tidak ada di dalam al-Qur’an (QS. Al-
An’am: 38), dan tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik
dari depan maupun dari belakangnya karena diturunkan dari Tuhan
yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS. Fushshilat: 42). Oleh
karena itu, Fazlurrahman berkeyakinan bahwa kesuksesan masa
depan Islam bersandar kepada al-Qur’an yang segar, memberi
harapan, dan progresif.5
Cita-cita al-Qur’an yang agung dan mulia untuk dapat
menempatkan manusia pada posisi yang mulia dan dapat mengatasi
persoalan hidup serta dapat mengikuti petunjuk Tuhan belum
terealisasi dalam tataran realitas umat Islam sekarang ini. Manusia
terkadang terjebak oleh rutinitas dan kemegahan hidup sehingga
manusia lalai dalam mengikuti petunjuk Tuhan yang terdapat di
dalam al-Qur’an. Demikian pula, di kalangan pemeluk Islam,
terjadi distorsi dan pembiasan dalam proses pemahaman ajaran
Islam (al-Qur’an). Bahkan, berimplikasi pada terjadinya firqah-firqah
atau madzhab-madzhab di kalangan umat Islam.
Awal mula perbedaan pemahaman terhadap al-Qur’an terjadi
setelah Rasulullah wafat. Perbedaan-perbedaan di kalangan para
Sahabat disebabkan oleh perbedaan nalar dan pengetahuan
mereka, penguasaan mereka terhadap bahasa, keterkaitan mereka
dengan Rasulullah, apakah mereka benar-benar memanfaatkan
beliau, dan pengetahuan mereka tentang sebab turunnya ayat.6
Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, di kalangan
para Sahabat mulia berkembang penafsiran-penafsiran terhadap
kandungan al-Qur’an. Meskipun dalam proses penafsirannya
belum sistematis dan belum luas serta belum mendalam.7 Pada
periode Tabi’in yang berguru pada Sahabat dan memanfaatkan
mereka, tafsir masih merupakan bagian dari hadits, tetapi sudah
mengelompok menurut kota masing-masing. Sumber-sumber tafsir

5
Fazlurrahman, Cita-cita Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000,
hlm. 14.
6
Ali al-Usiy, “Metodologi Penafsiran al-Qur’an: Sebuah Tinjauan
Awal”. Dalam al-Hikmah, No. 4 November 1991-Februari 1992, hlm. 6.
7
Yunahar Ilyas, Feminisme Dalam Kajian Tafsir al-Qur’an Klasik
dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997, hlm. 18.

7
pada periode ini adalah al-Qur’an al-Kari, riwayat dari para Sahabat
tentang hadits-hadits Rasulullah, qawl para Sahabat, ijtihad Tabi’in
sendiri dan kesimpulan (istinbath) mereka serta para ahli kitab.8
Sesudah masa Sahabat dan Tabi’in, datanglah masa kodifikasi
(tadwin) hadits di mana riwayat-riwayat berisi tafsir dikelompokkan
menjadi satu bab tersendiri, tetapi tetap belum sistematis seperti
susunan al-Qur’an. Dalam perkembangan selanjutnya, tafsir
dipisahkan dari kandungan kitab hadits dan menjadi kitab sendiri.
Para ulama seperti Ibn Majah (W. 273 H), Ibn Jarir at-Thabari (w.
310 H), Abu Bakar Ibn al-Munzir al-Naisaburi (W. 318 H) dan
lain-lain, mengumpulkan riwayat-riwayat yang berisi tafsir dari
Nabi, Sahabat dan Tabi’in dalam kitab sendiri. Dan yang
dikumpulkan pun sudah mencakup semua ayat al-Qur’an dengan
sistematika mushaf.9
Metode penafsiran yang dilakukan oleh Ibn Jarir dan
mufassir lain masa awal pembukuan tafsir ini kemudian dikenal
dengan metode al-Tafsir bi al-Ma’tsur. Menurut Abd al-Hayy al-
Farmawi, al-Tafsir bi al-Ma’tsur adalah penafsiran ayat dengan ayat,
penafsiran ayat dengan hadits Nabi saw yang menjelaskan makna
sebagian ayat yang dirasa sulit dipahami oleh para Sahabat atau
penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para Tabi’in.10
Setelah ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang pesat
pada masa Daulah Abbasiyah, para mufassir tidak puas hanya
dengan metode al-Tafsir bi al-Ma’tsur. Hal ini disebabkan karena
metode ini banyak terdapat kekurangan-kekurangan, diantaranya
ada sebagian ulama tafsir yang memakai riwayat yang maudhu’ dan
israiliyat. Selain itu, ada sebagian ulama tafsir yang hanya memuat
secara ringkas matan-matan hadits tanpa menyebutkan panjang
lebar rangkaian sanadnya.11

8
Ali al-Usiy, op. cit., hlm. 9.
9
Yunahar Ilyas, op. cit., hlm. 20.
10
Abd al-Hayy al-Farmawi, “al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu’iy:
Dirasah Manhajiyah Mawdhuiyah”. Terjemahan oleh Suryan A. Jamrah,
Metode Tafsir Mawdhu’iy: Sebuah Pengantar, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 1994, hl. 12-13.
11
Ali al-Usiy, op cit., hlm. 12.

8
Perubahan dan perkembangan zaman menghendaki
pengembangan metode tafsir dengan memperluas dan
memperbesar peran ra’yu atau ijtihad dibandingkan dengan
penggunaan metode al-Tafsir bi al-Ma’tsur. Tafsir dengan metode ini
kemudian dikenal dengan al-Tafsir bi al-Ra’yi atau Tafsir al-‘Aqli.
Menurut Abd al-Hayy al-Farmawi, al-Tafsir bi al-Ra’yi adalah
penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad, terutama setelah seorang
penafsir itu betul-betul mengetahui perihal bahasa Arab, asbab al-
nuzul, nasikh mansukh, dan hal-hal lain yang diperlukan oleh
lazimnya seorang penafsir.12 Al-Farmawi lebih jauh mengemukakan
corak al-Tafsir bi al-Ra’yi ini ada yang diterima dan ada pula yang
ditolak. Al-Tafsir bi al-Ra’yi ini diterima sepanjang penafsirannya
memenuhi syarat-syarat dan selama penafsir tersebut menjauhi
lima hal berikut ini:
1. Menjauhi sikap terlalu berani menduga-duga kehendak Allah
di dalam kalamNya, tanpa memiliki persyaratan sebagai
penafsir.
2. Memaksakan diri memahami sesuatu yang hanya wewenang
Allah untuk mengetahuinya.
3. Menghindari dorongan dan kepentingan hawa nafsu.
4. Menghindari tafsir yang ditulis untuk kepentingan madzhab
semata, di mana ajaran madzhab dijadikan dasar utama,
sementara tafsir itu sendiri dinomorduakan sehingga terjadilah
berbagai kekeliruan.
5. Menghindari penafsiran pasti (qath’i), di mana seorang penafsir
tanpa alasan mengklaim bahwa itulah satu-satunya maksud
Allah.13

Metode al-Tafsir bi al-Ra’yi ini memiliki banyak corak sesuai


dengan latar belakang ilmu pengetahuan, aliran kalam, madzhab
fiqih, kecenderungan sufisme dari mufassir itu sendiri, sehingga
lahirlah bermacam-macam kitab tafsir dengan berbagai corak dan
warna pemikiran. Corak-corak penafsiran yang dikenal selama ini,
yaitu: corak sastra bahasa (linguistik) corak fiqih atau hukum, corak

12
Abd al-Hayy al-Farmawi, op. cit., hlm. 14.
13
Ibid, hlm. 15-16.

9
teologi atau filsafat, corak tasawuf, corak penafsiran ilmiah, corak
sastra budaya kemasyarakatan.14
Selain corak-corak tersebut diatas, pada era modern ini
terdapat perkembangan dalam metode penafsiran. Misalnya,
Fazlurrahman mengembangkan penafsiran berdasar latar belakang
turunnya ayat (asbab an-nuzul) dengan memperkenalkan pendekatan
kontekstual dan historis. Demikian pula, Amina Wadud Muhsin
mengemukakan model hermeneutika dalam penafsiran.15
Corak-corak penafsiran yang telah diuraikan diatas, menurut
Abd al-Hayy al-Farmawi, dimasukkan dalam al-Tafsir al-Tahlily
artinya suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan
kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari seluruh aspeknya.16 Selanjutnya,
al-Farmawi menyebutkan ada metode al-Tafsir al-Ijmaly (suatu
metode tafsir yang bahwa menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan
cara mengemukakan makna global), metode al-Tafsir al-Muqarram
(mengemukakan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis oleh
sejumlah para penafsir dan kemudian diperbandingkan arah dan
kecenderungan masing-masing penafsir), dan ada metode al-Tafsir
al-Mawdhu’iy (menafsirkan ayat-ayat tertentu yang telah
diklasifikasikan dalam tema-tema tertentu).17
Berkaitan dengan permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini,
maka metode al-Tafsir al-Mawdhu’iy menjadi salah satu metode
utama dalam menganalisa data-data yang terkait dengan bimbingan
dan konseling dan al-Qur’an. Oleh karena itu, penulis akan
membahas lebih jauh tentang metode al-Tafsir al-Mawdhu’iy.
Metode al-Tafsir al-Mawdhu’iy bertujuan untuk menggali
hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Qur’an, mengetahui
korelasi diantara ayat-ayat, dan untuk membantah tuduhan bahwa
di dalam al-Qur’an itu sering terjadi pengulangan dan juga untuk
menepis tuduhan yang dilontarkan kaum orientalis dan pemikir
barat. Kajian ini juga bertujuan memperlihatkan betapa besarnya
perhatian al-Qur’an terhadap kemaslahatan umat manusia.18

14
Yunahar Ilyas, op cit., hlm. 22-23.
15
Ibid., hlm. 25-26.
16
Abd al-Hayy al-Farmawi, op cit., hlm. 12.
17
Ibid., hlm. 29-31.
18
Ibid., hlm. 35.

10
Adapun bentuk kajian metode al-Tafsir al-Mawdhu’iy ada dua
bentuk, yaitu: Pertama, pembahasan mengenai satu surat secara
menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan maksudnya yang
bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi antara berbagai
masalah yang dikandungnya sehingga surat itu tampak dalam
bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat. Kedua, menghimpun
sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan
satu masalah tertentu.19

C. AL-QUR’AN SEBAGAI KITAB DAKWAH


Seorang pembaharu dari Pakistan M. Iqbal berkata: “Sesuatu
yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya adalah nasehat
ayah saya yang mengatakan: Anakku bacalah al-Qur’an seakan-akan
ia diturunkan kepadamu”.20 Pernyataan M. Iqbal tersebut
memberikan arti betapa al-Qur’an sangat berarti dan berpengaruh
dalam diri M. Iqbal. Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan
oleh M. Iqbal terutama dalam merekonstruksi pemikiran
keagamaan bertitik tolak dari al-Qur’an sebagai sumber inspirasi
dan dinamisme ajaran Islam.
Sejalan dengan M. Iqbal, Fazlurrahaman pun membangun
seluruh struktur dan isi keyakinannya berdasarkan kepada ajaran-
ajaran al-Qur’an.21 Al-Qur’an bagi Fazlurrahman bukanlah suatu
risalah mengenai Tuhan. Tuhannya al-Qur’an bukanlah sesuatu
untuk dibuktikan, melainkan untuk ditemukan (discovered).
Tuhannya al-Qur’an menyusup diantara manusia dan hatinya, dan
juga antara manusia dan manusia, sebab “tiada pertemuan antara tiga
orang kecuali Tuhan yang keempat, juga tidak lima orang kecuali Tuhan
yang keenam dan tidak pula yang lebih sedikit atau lebih banyak kecuali
Tuhan pun di sana,” (QS. 58: 7). Oleh karena itu, al-Qur’an yang
notabene berbicara tentang Tuhan diarahkan untuk memberikan

19
Ibid., hlm. 35-36.
20
Pernyataan M. Iqbal ini dikuitp oleh Malik bin Nabi ketika ia
menyatakan perlunya berpegang teguh kepada al-Qur’an dalam membangun
peradaban masa depan. Lihat Malik bin Nabi, Membangun Dunia Baru
Islam, Bandung: Mizan, 1994, hlm. 83.
21
Fazlurrahman, Cita-cita Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000,
hlm.7.

11
tuntunan kepada manusia dalam menjalani kehidupan, baik secara
individual maupun kolektif.22
Bahkan, Malik bin Nabi berkeyakinan bahwa suatu
peradaban tidak akan muncul dalam suatu umat tertentu kecuali
dalam bentuk wahyu yang turun dari langit.23 Tatkala kalimat “iqra”
turun kepada seorang Nabi yang ummiy, muncullah peradaban baru
di Jazirah Arab yang sebelumnya tidak memiliki peran yang berarti
dalam sejarah. Lompatan peradaban yang terjadi di Jazirah Arab
bukanlah dilakukan oleh para politisi atau para ulama, melainkan
dilakukan oleh orang-orang yang sederhana dan masih berada di
tingkat kebaduiannya. Namun, pandangan mereka menatap ke arah
yang ada di balik ufuk bumi atau ke arah yang jauh dari ufuknya
yang dekat. Dengan itu muncullah ayat-ayat dalam diri mereka dan
bersinar benderanglah cahayanya itu di ufuk yang tinggi.
Kini sinar tersebut telah redup. Ajaran-ajaran al-Quran telah
ditinggalkan oleh diri dan masyarakat Islam. Ajaran-ajaran al-
Qur’an telah digeser oleh budaya-budaya yang didesakkan kepada
Islam. Akibatnya umat Islam tertinggal dari peradaban-peradaban
dunia lainnya.
Untuk itulah seruan Ibn Taimiyyah24 untuk kembali kepada
al-Qur’an perlu dikembangkan dan disosialisasikan lebih lanjut agar
umat Islam dapat memimpin kembali peradaban dunia. Sosialisasi
yang utama dapat dilakukan melalui dakwah Islam. Hal ini
disebabkan karena dakwah menurun Hasan al-Banna adalah
identik dengan Islam itu sendiri25 Syekh Ali Mahfudz yang dikutip
oleh Ahmad Subandi dan Syukriadi Sambas mengatakan bahwa
dakwah adalah mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk,
memerintahkan perbuatan yang diketahui kebenarannya, melarang

22
Ibid.
23
Malik bin Nabi, op cit., hlm. 77.
24
Ibn Taimiyyah adalah pemikir yang pertama kali menyerukan
kepada umat Islam untuk kembali dan berpegang teguh kepada al-Qur’an.
Seruan ini kemudian diikuti oleh kaum pembaharu yang lainnya seperti M.
Ibn Abd Wahab, M. Abduh, Sayyid Qutb dan sebagainya.
25
Lihat S. Noor Chozin Sufri, “Dakwah dalam Perspektif Hasan al-
Banna”, dalam Al-Jami’ah Journal of Islamic Studies, Vol. 38 No. 2, 2000,
hlm. 450.

12
perbuatan yang merusak individu dan orang banyak agar mereka
memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.26
Dalam pengembangan dakwah Islam tentu saja al-Qura’an
perlu dijadikan sebagai kitab dakwah, baik sebagai sumber materi
dakwah maupun sebagai metodologi atau landasan-landasan teori
dalam dakwah, sebagaimana diungkapkan oleh Abu A’la al-
Maududi bahwa al-Qur’an adalah kitab dakwah dan kitab
perjuangan.27
Sebagai kitab dakwah, al-Qur’an berisi materi-materi yang
dapat disampaikan kepada umat, baik umat ijabah maupun umat
dakwah. Secara ijmal materi-materi dakwah yang dapat disampaikan
kepada mad’u telah disyaratkan dalam surat al-Fatihah, yakni
tauhid/akidah, ibadah dan akhlak. Selanjutnya al-Qur’an
menyatakan “tiadalah kami alpakan sesuatu pun di kalam al-Kitab,”
(QS. 6:38). Hal ini mengandung pengertian bahwa al-Qur’an telah
menjamin bahwa segala persoalan dan kebutuhan hidup yang ada
pada manusia dapat dicari rujukannya melalui al-Qur’an. Oleh
karena itu, maka materi-materi dakwah dapat dikembangkan secara
luas sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan manusia yang pijakan
dan sumber utamanya berasal dari al-Qur’an.
Selain itu, al-Qur’an sebagai kitab dakwah dapat dijadikan
landasan epistemologi dalam pengembangan dakwah Islam. Di
dalam surat Fushshilat ayat 33 Allah berfirman: “Siapakah yang
lebih baik perkataannya (qaulan) daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: Sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Dari ayat di atas, ada dua model pengembangan dakwah
Islam, yaitu: Pertama, dakwah bil qaul (diambil dari kata qaulan).
Kedua, dakwah bil hal (diambil dari kata amal shaleh). Dari kedua
model tersebut dikembangkan menjadi empat kajian utama dalam
dakwah Islam yaitu Bimbingan dan Penyuluhan Islam, komunikasi
dan penyiaran Islam, pengembangan masyarakat Islam, dan
manajemen dakwah.

26
Ahmad Subandi & Syukriadi Sambas, Dasar-dasar Bimbingan (al-
Irsyad) dalam Dakwah Islam, Bandung: KP Hadid, 1999, hlm. 17.
27
Abu A’la al-Maududi, Mabadi Asasiyah Li Fahm al-Qur’an,
Lahore: Dar al-‘Arubah li al-Dakwah al-Islamiyah, 1969, hlm. 53.

13
Model dakwah bil qaul dapat dilakukan kepada individu atau
kelompok kecil dan juga dapat dilakukan kepada kelompok besar
atau massa. Dakwah Islam kepada individu atau kelompok kecil
merupakan kajian utama dalam program studi Bimbingan dan
Penyuluhan Islam (BPI). Sementara dakwah bil qaul kepada
kelompok besar atau massa merupakan kajian utama dari program
studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
Sedangkan model dakwah bil hal merupakan kajian utama
dari Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Terakhir, untuk
memberdayakan dan membuat sinergi antara dakwah bil qaul
dengan dakwah bil hal diperlukan manajemen. Oleh karena itu
perlu ada kajian khusus berkaitan dengan Manajemen Dakwah dan
inilah yang menjadi kajian utama program studi Manajemen
Dakwah (MD).
Selanjutnya, al-Qur’an sebagai kitab perjuangan telah
dipraktekan secara langsung oleh Sayyid Qutb. Di dalam tulisan-
tulisannya, seperti Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an dan buku Ma’alim fi al-
Thariq, Sayyid Qutb membangun ideologi pergerakannya dengan
berlandaskan kepada al-Qur’an sebagai manhaj dan motivasi diri.
Bagi Sayyid Qutb, al-Qur’an tidak datang untuk sekedar menjadi
hiburan otak, ia bukan kitab sastra atau seni, dan bukan pula
sebuah kitab kisah atau sejarah, ia datang agar menjadi manhaj
kehidupan.28 Dengan dijadikannya al-Qur’an sebagai kitab
perjuangan, bermunculanlah para penerus perjuangan Sayyid Qutb.
Mereka berjuang dalam gerakan-gerakan Islam di berbagai belahan
dunia. Mereka para aktivis Muslim yang oleh John L. Esposito
dianggap sebagai pemegang mainstream utama dalam gerakan Islam
kontemporer.29

28
Sayyid Qutb, ”Ma’alim fi al-Thariq”, terj. Abdul Hayyie al-Kattini
dan Yodi Indrayadi, Petunjuk Jalan, Jakarta: Gema Insani Press, 2001, hlm.
21.
29
John L. Esposito, Islam the Straight Path, Oxford: Oxford
University Press, 1988, hlm. 172-173.

14
EKSISTENSI DAKWAH ISLAM DI
ERA MODERN

PENDAHULUAN
Saat saya pulang dari Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2003,
di tengah-tengah perjalanan saya bertemu dengan seorang ibu
rumah tangga yang menanyakan kepada saya, “Di mana Bapak
bekerja?” Saya jawab bahwa saya bekerja di STAIN Purwokerto.
Pertanyaan lain pun bermunculan dari seorang ibu, apa itu STAIN?
Saya pun kemudian menjelaskan tentang STAIN. Selanjutnya ibu
tersebut menanyakan tentang mengajar di jurusan apa? Saya
menjawab bahwa saya mengajar di jurusan dakwah. Lantas si ibu
langsung memberi pandangan: “ Waah, kalau begitu Bapak pintar
ceramah dong.”
Begitulah kira-kira pandangan masyarakat umum tentang
dakwah bahwa dakwah identik dengan ceramah. Pandangan ini
tentu saja tidak perlu disalahkan, mengingat mereka melihat
aktivitas-aktivitas dakwah yang ada di masyarakat kebanyakan
menggunakan ceramah. Bahkan, calon mahasiswa STAIN juga
tidak banyak yang tertarik dengan dakwah -salah satu sebabnya-
disebabkan kekhawatiran mereka akan ketidakmampuan dalam
berceramah.
Padahal dalam tataran teoritik dan praktik, dakwah bukan
hanya dipahami dalam arti yang sangat sempit. Hasan al-Banna
sebagai seorang da’i dan pendiri Ikhwan al-Muslimin mengatakan
bahwa dakwah itu identik dengan Islam itu sendiri.30 Dengan
demikian, segala aktivitas yang berkaitan dengan Islam bisa
dikatakan sebagai aktivitas dakwah. Demikian pula dalam tataran
praktik, dakwah banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi
dakwah atau individu-individu yang orientasinya tidak hanya

30
Lihat S. Noor Chozin Sufri, “Dakwah dalam Perspektif Hasan al-
Banna”, dalam Al-Jami’ah Journal of Islamic Studies, Vol. 38 No. 2, 2000,
hlm. 450.

15
ceramah an sich, tetapi banyak dilakukan melalui kegiatan-kegiatan
sosial, ekonomi, dan sebagainya.
Bertitik tolak dari adanya perbedaan pandangan tersebut di
atas, bagaimana sebenarnya hakikat dakwah, dan bagaimana
kondisi dakwah di Indonesia pada era modern sekarang ini?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan penulis jawab dan elaborasi
dalam tulisan ini. Dan harus diakui bahwa tulisan sederhana ini
tidak akan mengungkap semua persoalan dakwah yang ada
sekarang ini. Penulis hanya mengungkap tentang hakikat dakwah
dan perkembangannya secara akademik serta memberikan
gambaran tentang kondisi dakwah yang ada di Indonesia.

HAKIKAT DAKWAH ISLAM


Istilah “dakwah” diungkapkan secara langsung oleh Allah
SWT dalam ayat-ayat al-Qur’an. Kata “dakwah” di dalam al-Qur’an
diungkapkan kira-kira 198 kali yang tersebar dalam 55 surat (176
ayat).31 Kata “dakwah” oleh al-Qur’an digunakan secara umum.
Artinya, Allah masih menggunakan istilah da’wah ila Allah (dakwah
Islam) da’wah ila al-nar (dakwah setan). Oleh karena itu, dalam
tulisan ini dakwah yang dimaksud adalah da’wah ila Allah (dakwah
Islam).
Secara terminologi, para ahli berbeda-beda dalam
memberikan pengertian tentang dakwah Islam. Ada yang
mengartikan dakwah Islan secara luas seperti Hasan al-Banna, ada
yang memberikan pengertian bahwa dakwah merupakan
transformasi sosial, seperti Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Abdul
Munir, Mulkhan, dan ada juga yang menafsirkan dakwah secara
normatif yakni mengajak manusia ke jalan kebaikan dan petunjuk
untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.32
Meskipun terjadi perbedaan-perbedaan, tetapi sebenarnya
pendapat-pendapat mereka memiliki benang merah yang menjadi

31
Untuk pembahasan lebih lanjut tentang kata “dakwah” dan
ramifikasinya dapat dibaca pada laporan penelitian Drs. H. Dzikron Abdillah,
Kata Dakwah dalam al-Qur’an, IAIN Walisongo Semarang.
32
Pendapat terakhir diungkapkan oleh Syekh Ali Mahfudz dalam
bukunya, Hidayah al-Mursyidin, terj. Yogyakarta: Usaha Penerbit Tiga A,
1970.

16
titik temu dan hakikat dari dakwah itu sendiri, yakni dakwah Islan
sebagai aktivitas (proses) mengajak kepada jalan Islam.
Dalam aktivitas mengajak kepada jalan Islam, al-Qur’an
memberikan gambaran yang jelas seperti tertera dalam surat
Fushshilat (41) ayat 33: “siapakah yang lebih baik perkataannya
daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan
berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. Dari
ayat ini ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam
menjalankan aktivitas dakwah, yakni dakwah bil qaul dan dakwah bil-
amal. Dakwah bil-qaul dapat dilakukan secara individual, kelompok
atau massa. Inilah yang menjadi kajian utama dalam Program Stdui
Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling
Islam (BKI). Sementara dakwah bil-amal merupakan aktivitas
dakwah yang dilakukan dengan cara social engineering (rekayasa
sosial). Dakwah model ini yang menjadi fokus kajian program studi
Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Untuk mengefektifkan
dan mengkoordinasikan antar dakwah bil-qaul dengan dakwah bil-
amal diperlukan adanya manajemen dan inilah yang menjadi fokus
dalam Program Studi Manajemen Dakwah (MD).

KAJIAN DAKWAH SECARA AKADEMIK


Eksistensi dakwah Islam usianya cukup lama dan sebanding
tuanya dengan manusia dalam memeluk ajaran agama samawi. Kita
sering mendengar cerita bagaimana pertarungan antara putera
Adam as, yakni Qabil dan Habil. Di dalam cerita tersebut ada
pertarungan antara kebaikan dan kejahatan yang pada akhirnya
dimenangkan oleh kebaikan. Bahkan semakin jelas cerita tentang
dakwah ketika Nabi Nuh as mengajak umat dan keluarganya untuk
memeluk agama samawi yang dibawanya.
Meskipun demikian, dalam perjalanannya eksistensi dakwah
Islam secara akademik jauh tertinggal dengan kajian-kajian
keilmuan Islam yang lainnya seperti hukum (syari’ah), pendidikan
(tarbiyah), teologi dan sastra (adab). Pada perkembangan awalnya,
dakwah baru sebatas aktivitas-aktivitas mengajak orang lain untuk
masuk Islam dan hal itu pun dilakukan secara tradisional. Kalau
pun ada, dakwah dilakukan dengan menggunakan pendekatan seni
retorika.

17
Dakwah baru menjadi kajian akademik kira-kira pada awal
abad ke-20 setelah adanya beberapa tulisan yang membicarakan
tentang dakwah baik sebagai materi maupun sebagai kajian yang
bersifat epistemologis dan diperkuat dengan berdirinya Jurusan
Dakwah pada Fakultas Ushuluddin di Al-Azhar Kairo-Mesir.33
Dengan adanya Jurusan Dakwah di al-Azhar, maka di
Indonesia pun kemudian mendirikan Jurusan Dakwah34 dan
beberapa kali diadakan pertemuan tingkat nasional untuk
membahas dakwah secara keilmuan. Kemudian setelah ada
pengakuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
menjadi semakin kuat tentang keberadaan ilmu dakwah sebagai
ilmu yang mandiri.

KONDISI DAKWAH DI INDONESIA PADA ERA


MODERN
Dakwah di Indonesia antara kajian yang bersifat akademik
dengan realitas dakwah yang ada di masyarakat belum menunjukan
hubungan yang sinergis yang fungsional. Masing-masing berjalan
sendiri-sendiri. Kajian akademik masih asyik di menara gadingnya,
sementara praktik dakwah di masyarakat masih berkutat pada
model-model dakwah yang telah berjalan bertahun-tahun dan
belum menunjukkan adanya perubahan yang berarti.
Di kalangan akademisi dan para pakar di bidang dakwah,
mereka mengkaji dakwah kebanyakan bertitik tolak dari sumber-
sumber normatif, yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Mereka belum
membangun kajian yang bertitik tolak dari realitas yang ada di
masyarakat. Kejadian-kejadian yang menimpa umat Islam seperti
kemiskinan, kerusuhan, ketidakadilan, disintegrasi, dan sebagainya

33
Pembahasan lebih lengkap lihat Amrullah Achmad, Dakwah Islam
Sebagai Ilmu: Sebuah Kajian Epistemologis dan Struktur Keilmuan Dakwah,
makalah tidak di publikasikan. Lihat juga Agus Ahmad Safei, Memimpin
Dengan Hati yang Selesai : Jejak Langkah dan Pemikiran Baru Dakwah KH.
Syukriadi Sambas, M,Si, Bandung: Pustaka Setia, 2003.
34
Kebanyakan fakultas atau jurusan yang ada di IAIN/STAIN banyak
mengikuti model pendidikan yang ada di al-Azhar Mesir.

18
belum menjadi perhatian dari para akademisi dan pemikir
dakwah.35
Demikian juga, para pelaku dakwah di masyarakat banyak
yang mengembangkan dakwah hanya melalui metode ceramah dan
ironisnya umat Islam sangat bangga dan tertarik dengan model
ceramah yang penuh tawa. Akibatnya, dakwah hanya sebatas
tontonan dan tidak dijadikan sebagai tuntunan.
Pada lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang
mengatasnamakan lembaga keagamaan, dakwah belum
menunjukan kinerja yang dibangun dengan menggunakan
manajemen modern. Mereka belum mampu melakukan
perencanaan dan evaluasi yang matang berkenaan dengan kegiatan
dakwah. Umumnya mereka hanya mementingkan sisi kuantitas
dibandingkan dengan sisi kualitas dari para jamaahnya.
Belum lagi umat Islam dibombardir dengan menjamurnya
teknologi informasi yang muatan nilainya lebih banyak dipengaruhi
oleh masyarakat Barat. Maka kondisi dakwah di Indonesia semakin
terpuruk dikarenakan umat Islam belum siap menghadapi kondisi
tersebut baik secara mental, skill dan pendayagunaannya. Umat
Islam hanya terjebak dan terpesona dengan kecanggihan teknologi
informasi yang datang dan merambah begitu cepat dalam
kehidupan masyarakat.36
Perubahan yang begitu cepat pada masyarakat akan
membawa implikasi yang cukup besar bagi pola pikir, sikap dan
kepribadian masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang
memiliki pola pikir tradisional akan berubah menjadi pola pikir
modern yang lebih berpikir rasional, efisien, dan pragmatis.
Demikian pula sikap dan kepribadian masyarakat Indonesia yang
tadinya ramah, berkepribadian menarik, dan memiliki semangat
kekeluargaan akan mengalami perubahan yang cukup drastis sesuai

35
Tulisan-tulisan yang berbicara tentang dakwah umumnya masih
menurunkan teori-teori yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits seperti
buku fiqih dakwah karya Sayyid Qutb, M. Natsir, Jum’ah Amin Abdul Aziz,
dan beberapa buku lain.
36
Untuk memperjelas kondisi ini, pembaca dapat menelaah karya-
karya Ziauddin Sardar dan Jalaluddin Rakhmat.

19
dengan tuntutan zaman. Dan han itu tentunya akan banyak
mempengaruhi perkembangan dakwah di Indonesia.
Seiring dengan adanya perubahan-perubahan tersebut,
pemerintah Indonesia belum menunjukkan keberpihakkan yang
tinggai terhadap aktivitas-aktivitas dakwah. Dakwah hanya
dijadikan kegiatan pinggiran dan seremonial yang kurang memiliki
dampak yang berarti bagi perbaikan bangsa Indonesia. Pemerintah
masih menomorsatukan kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik
sebagai ujung tombak dalam melakukan perubahan pada
masyarakat Indonesia. Padahal mayoritas penduduk Indonesia
beragama Islam dan dakwah tidak akan terlepas dari aktivitas umat
Islam. Dakwah merupakan kewajiban setiap individu Muslim. Oleh
karena itu, kehadiran dakwah hendaknya diperhitungkan sebagai
salah satu elemen terpenting dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa.

PENUTUP
Secara realistit, kondisi dakwah di Indonesia belum
menunjukkan kemajuan yang berarti. Dakwah masih berjalan di
tempat dan masih berputar pada persoalan-persoalan klasik yang
ada di masyarakat. Kalaupun ada perkembangan pada tataran
teoritis, namun hal itu belum memberikan masukan yang berarti
bagi perkembangan dakwah di Indonesia. Oleh karena itu, maju
mundurnya aktivitas dakwah di Indonesia sangat bergantung pada
kemauan keras umat Islam untuk melakukan perubahan. Dan
akhirnya saya berharap semoga saudara-saudara dapat menjadi
pionir-pionir dalam mengembangkan dakwah di masa yang akan
datang.

20
DAKWAH PROFESIONAL:
ANTARA KEWAJIBAN DAN
KEBUTUHAN

PENDAHULUAN
Nabi Muhammad sebagai pengemban risalah mulai
menjalankan fungsinya sebagai seorang Rasul ketika beliau
menerima perintah untuk menyampaikan ajaran yang diberikan
oleh Allah kepada kaumnya. Perintah ini terdapat di dalam surat al-
Muddatstsir ayat 1-7: “Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah
peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan janganlah kamu memberi
(dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk
(memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”.
Dengan berbekal perintah ini Rasulullah mulai menjalankan
dakwahnya. Diawali dengan cara sembunyi-sembunyi yang
berlangsung kurang lebih tiga tahun.37 Kemudian beliau menerima
perintah untuk menjalankan dakwahnya secara terang-terangan:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang
diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik,”
(QS. al-Hijr: 94). Perintah ini selanjutnya diemban oleh Rasulullah
selama dua puluh tahun. Berbagai cobaan dan rintangan senantiasa
hadir di tengah-tengah perjalanan dalam menegakkan dakwah
Islam. Meskipun pada akhir hayatnya Rasulullah telah berhasil
menancapkan misinya secara gemilang. Seluruh wilayah jazirah
Arabiyah telah mengakui dan tunduk kepada ajaran yang dibawa
oleh Rasulullah.
Setelah Rasulullah wafat, orang yang melanjutkan dakwah
Islam adalah pengikutnya yang setia pada ajaran Islam.
Sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku
dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan
hujjah yang nyata, Maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang
yang musyrik” (QS. Yusuf: 108). Juga dalam ayat lain: “serulah
37
Muhammad Abu al-Fath al-Bayanuni, al-Madkhal ila ‘Ilm al-
Da’wah, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1991, hlm. 76.

21
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik,” (QS. an-Nahl: 125).
Perintah ini merupakan doktrin Islam yang wajib
dilaksanakan oleh umat Islam. Persoalan yang muncul kemudian
dengan doktrin tersebut: apakah kewajiban ini merupakan
kewajiban yang bersifat individual ataukah bersifat kolektif? Di
kalangan ulama, persoalan ini menjadi perdebatan panjang dengan
berbagai argumentasinya. Apabila persoalan ini tidak
direkonstruksi secara baik, maka akan berdampak kepada
perkembangan dakwah Islam. Karena dakwah Islam
membutuhkan strategi dan landasan epistemologis yang jelas
sehingga memudahkan para da’i dalam mengaplikasikan aktivitas-
aktivitas dakwah di Masyarakat.
Apalagi situasi dan kondisi masyarakat sekarang telah
mengalami perkembangan yang jauh dan begitu kompleks.
Masyarakat global yang ditandai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi tentu membutuhkan sentuhan-
sentuhan dan kerja konkret dari dakwah Islam. Oleh karena itu,
pada tulisan ini akan dijelaskan bagaimana doktrin kewajiban
dakwah Islam perlu dikembangkan dan direkonstruksi agar lebih
berdaya dan bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

DISKURSUS TENTANG KEWAJIBAN DAKWAH ISLAM


Perdebatan di kalangan ulama tentang kewajiban dakwah
Islam beritik tolak dari perbedaan interpretasi terhadap ayat al-
Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 104, yaitu:
ٞ ۡ ُ ِّ ُ ۡ‫ل‬
َ ‫وف َويَۡنۡ َ ۡو َن ع َِّن ألۡ ُمن َك ِۚ ِّر َو ُأ ْولَ َٰٓئِّ َك ُ ُُه ألۡ ُم ۡف ِّل ُح‬
١٠٤ ‫ون‬ َ ‫ُون إ ََل ألۡخ ۡ َِّۡي َويَأۡ ُم ُر‬
ِّ ‫ون بِّألۡ َم ۡع ُر‬ َ ‫نُك ُأ َّمة يَدۡ ع‬ ‫َو َتكن م‬
ِ
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,
merekalah orang-orang yang beruntung”.

Berdasarkan ayat di atas, menurut Ibn Katsir, ada dua


pendapat yang berbeda. Sebagian menyatakan kewajiban kelompok
(kifayah) dan sebagian lagi menyatakan kewajiban individual (‘ain).38

Abu Fida Ismail Ibn Katsir al-Dimasyqy, Tafsir al-Qur’an al-


38

‘Azhim, Juz I, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Araby, 1969, hlm. 390.

22
Perbedaan dimunculkan dari penafsiran terhadap kata min ( ‫)ﻣﻦ‬.
Golongan pertama yang banyak diikuti oleh ulama menyatakan
bahwa kata min dalam ayat tersebut berarti littab’idh (‫)ﻟﻠﺘﺑﻌﻴﺾ‬,
artinya sebagian. Jadi, dakwah merupakan kewajiban yang bersifat
kolektif (kifayah). Alasannya karena kegiatan dakwah memerlukan
ilmu dan tidak setiap individu mampu melaksanakannya. Pendapat
ini diperkuat dengan ayat al-Qur’an surat at-Taubah ayat 122
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke
medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan
untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya supaya mereka itu dapat menjada dirinya.”39
Golongan kedua menafsirkan kata min berarti lilbayan (‫)ﻟﻠﺒﻴﺎن‬,
yakni sebagai penjelas. Dengan demikian, dakwah menjadi
kewajiban setiap individu (‘ain). Hal ini diperkuat al-Qur’an surat
Ali-Imron ayat 110:

َ ‫نُت خ ۡ ََۡي ُأ َّم ٍة ُأ ۡخ ِّر َجت لِّلنَّ ِّاس تَأۡ ُم ُر‬


ِّ ‫ون بِّألۡ َم ۡع ُر‬
.)..‫وف‬ ۡ ُ ‫ ) ُك‬di mana kata kuntum menunjuk
kepada individu. Demikian juga di dalam hadits yang di riwayatkan
oleh Muslim )...‫(منرإىمنُكمنكرإﻓلﻴﻐۡيﻩبﻴدﻩﻓانﱂﻳﺴ تﻄﻊﻓﺒلﺴاﻧﻪ‬
di mana kata man berarti setiap individu Muslim.40

Berbeda dengan kedua pendapat di atas, Abu A’la al-


Maududi menjelaskan tentang kewajiban dakwah berkaitan dengan
derajat keimanan seseorang. Dengan berpikir analogis, Maududi
membandingkan derajat keimanan seseorang dengan salju atau api.
Salju pada esensinya disifati dengan sifat dingin (kesempurnaan
pertama) dan sifat dingin ini bisa menularkan kepada yang lainnya
(kesempurnaan kedua). Demikian pula orang mukmin yang
keimanannya melekat secara sempurna di dalam ketaatannya
kepada kebenaran, maka ia mencapai kesempurnaan pertama.
Kemudian apabila kesempurnaan pertama ini diwujudkan dalam
bentuk mengajak kepada orang lain untuk mencapai kebenaran dan
ketaatan kepada Allah, maka ia telah mencapai kesempurnaan yang

39
Al-Bayanuni, op cit., hlm. 32.
40
Ibid.

23
kedua. Dengan perkataan lain, Maududi ketika manafsirkan surat
Ali Imran ayat 104, ia melihat bahwa kewajiban dakwah
merupakan upaya lebih lanjut dari kewajiban individu dalam ayat
sebelumnya, yakni takwa kepada Allah dengan sebenar-benar
takwa dan taat kepada hukum-hukum dan perintah Tuhan hingga
akhir hayatnya serta berpegang teguh kepada tali (agama) Allah.41
Perbedaan-perbedaan yang muncul, seperti diuraikan di atas,
seharusnya tidak menjadi perdebatan panjang yang pada akhirnya
akan melemahkan strategi dan kiat kita dalam mengembangkan
dakwah Islam. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk
mengkompromikan perbedaan-perbedaan tersebut. Menurut
penulis dan sejalan dengan pendapat M. Quraish Shihab42 bahwa
betul dakwah merupakan kewajiban individu, tetapi harus ada
kelompok khusus yang menangani dakwah secara profesional.
Kewajiban dakwah secara individual berlaku pada tingkatan wa
tawashaw bi al-haq wa tawashaw bi al-shabr. Sementara secara kolektif,
kewajiban dakwah membutuhkan organisasi, manajemen dan
jaringan sosial yang kuat.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh M. Natsir bahwa
wajib dakwah merupakan kewajiban tiap-tiap Muslim yang
mukallaf, tanpa kecuali, dalam kehidupan sehari-hari menurut
kemampuan masing-masing. Dengan demikian wajib bagi umat
Islam sebagai umat untuk mengembangkan risalah secara
keseluruhan dalam hubungan umat sendiri dan membawa ke
kalangan umat-umat lainnya, ini semua berkehendak kepada usaha
yang tertib, kontinu dan memerlukan tenaga-tenaga yang ahli dan
sudah tentu tidak bisa diselenggarakan oleh semua muslim dan
muslimah.43
Selanjutnya, dengan redaksi yang agak berbeda, M. Natsir
mempertegas pendapatnya di atas bahwa dengan tidak mengurangi
dakwah yang harus dijalankan oleh seseorang, maka mengadakan
golongan pembawa dakwah yang khusus, melengkapkan segala

41
Abu A’la al-Maududi, Mafahim Islamiah Hawl al-Din wa al-
Dawlah, Kuwait: Dar al-Qalam Linnasr wa al-Tauji, 1994, hlm. 84.
42
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol. II, Jakarta: Lentera Hati,
2002, hlm.
43
M. Natsir, Fiqhud Da’wah, Surakarta: Ramadhani, 1987, hlm. 116.

24
sesuatu yang dihajatkan untuk melancarkan jalan tugas mereka
adalah suatu kewajiban yang dipikul oleh tiap-tiap Muslim dan
Muslimah. Dengan kata lain, pelaksanaan pekerjaan dakwah yang
khusus itu sendiri bisa diserahkan kepada suatu korps para ahli,
tapi beban untuk menyelenggarakannya wajin dipikul oleh seluruh
anggota masyarakat Islam laki-laki dan wanita, dengan harta, tenaga
dan pikiran menurut kemampuannya.44
Dengan demikian, doktrin tentang kewajiban dakwah
merupakan doktrin yang terkait dengan tanggung jawab sosial
untuk membangun dakwah menjadi salah satu institusi sosial yang
ada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai sebuah institusi sudah
seharusnya dakwah Islam diorganisir secara baik dan modern
sehingga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ibn
Khaldun jauh-jauh hari telah mengemukakan di dalam
Muqaddimah-nya bahwa dakwah dan ashabiyah merupakan dua
institusi penting yang dapat membangkitkan kekuatan negara dan
masyarakat.45 Selanjutnya Ibn Khaldun mengatakan bahwa tabligh
merupakan institutsi sosial yang tumbuh berdasarkan kebutuhan
dari masyarakat. Tabligh merupakan sebuah forum umum yang
berguna untuk bertukar pikiran antara orang-orang yang berbeda
ras, bahasa dan sejarah. Sementara negara merupakan
institusi/lembaga yang terbentuk berdasarkan kesepakatan dari
masyarakat. Oleh karena itu, sistem negara, pemerintahan dan
politik akan memiliki kekuatan dan otoritas yang tinggi manakala
sistem tersebut bersumber dari persaudaraan (ashabiyah) dan tabligh
yang dibawa oleh para orator (komunikator).46

44
Ibid., hal. 118-119.
45
Lihat Hamid Mowlana, Global Communication in Transition: The
End of Diversity?, London: Sage Publications, 1996, hlm. 116.
46
Ibid., hlm. 119.

25
PENGGUNAAN TERM DAKWAH DALAM KONTEKS
MODERN
Konsekuensi logis dari pemahaman kewajiban dakwah
seperti diurikan di atas, pemaknaan dakwah yang mesti
diorientasikan secara lebih luas. Dakwah tidak hanya sebatas
aktivitas oral communication, tetapi dakwah perlu dipahami sebagai
sebuah sistem untuk merealisasikan ajaran Islam,47 baik secara
mikro maupun makro. Secara mikro, dakwah merupakan sistem
yang saling terkait antara da’i, mad’u, media, materi, metode dan
evaluasi. Sedangkan secara makro, dakwah merupakan sub sistem
dari sistem kehidupan masyarakat yang senantiasa hadir dan
diperhitungkan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat.
Kemajuan dan kemunduran suatu masyarakat tidak hanya
diteropong melalui aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya an
sich, tetapi dakwah Islam pun perlu diperhitungkan keberadaannya.
Karena dakwah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari
sistem kehidupan masyarakat.
Pemaknaan tersebut dalam konteks modern telah
dipergunakan oleh para aktivis dan penulis di bidang dakwah.
Sekurang-kurangnya ada empat orientasi pemaknaan dakwah
dalam konteks modern, yaitu: Pertama, pemaknaan yang lebih
berorientasi secara politis (political orientation). Dakwah digunakan
sebagai sebuah gerakan untuk menegakkan sistem politik alternatif,
penyesuaian sistem politik, masuknya dakwah dalam sistem politik
modern dan perlawanan terhadap sistem politik yang tidak Islami.48
Kedua, pendalaman (interiozation). Gerakan dakwah selain
untuk menyampaikan kebenaran kepada orang di luar Islam, juga
dipergunakan untuk memperdalam keimanan umat Islam. Dalam
konteks modern, ada dua alasan mengapa pendalaman ini
diperlukan, yaitu: Pertama, berkembangnya materialisme dan
sekularisme di era modern yang nota bene berbeda dengan Islam,
menyebabkan umat Islam perlu dibekali keimanannya melalui

47
Amrullah Achmad (Ed.), Dakwah Islam dan Perubahan Sosial,
Yogyakarta: Prima Duta, 1983, hlm. 12.
48
Muhammad Khalid Masud, “Modern Usage”, dalam John L.
Esposito, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, Vol I, New
York: Oxford University Press, 1995, hlm. 351.

26
dakwah. Kedua, para aktivis dakwah melihat bahwa pemerintahan
modern di negara-negara Muslim merupakan peninggalan dari
kolonialisme Barat yang Kristen sehingga pengaruh-pengaruhnya
masih ada dan perlu dihilangkan dengan cara dakwah.49
Ketiga, sebagai organisasi atau lembaga pendidikan dakwah
yang modern seperti Akademi Dakwah yang didirikan tahun 1985
oleh The International Islmaic University di Islamabad Pakistan dan
School for Training Muslim Missionaries yang didirikan oleh
Muhammad Rasid Ridha di Istanbul. Keempat, dakwah yang
berkonsentrasi pada kesejahteraan sosial (social welfare) seperti yang
dilakukan oleh The Muslim World League, a World Muslim Committee
for Da’wah and Relief, WAMY, ABIM dan sebagainya.50
Adanya pemaknaan dakwah yang luas tersebut dapat
mendorong aktivitas dakwah menjadi aktivitas yang memiliki
beragam cara untuk disampaikan kepada masyarakat
sehinggadakwah sebagai sebuah sistem untuk merealisasikan ajaran
Islam dapat terwujud.

KEHARUSAN MANAJEMEN DAKWAH


Bertitik tolak dari pemahaman dakwah sebagai sebuah sistem
untuk merealisasikan ajaran Islam, maka dakwah perlu dikelola
secara profesional. Artinya, aktivitas dakwah perlu didesain atau
direncanakan, digerakkan dan dilakukan evaluasi. Oleh karena itu,
kehadiran manajemen dalam pengembangan aktivitas dakwah
menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.
Apalagi di tengah-tengah masyarakat kita sekarang ini sering
dijumpai fenomena ‘budaya kaset’ yang berkembang di kalangan
para muballigh, bukan sekedar dalam makna harfiah (pemutaran
kaset-kaset ceramah), tetapi para muballigh menjadikan dirinya
sebagai ‘kaset’ yang akan berbicara hal yang sama dengan cara yang
sama, walaupun masyarakat atau obyek dakwah yang dihadapi
berbeda-beda.51 Dengan kata lain, obyek dakwah mengikuti

49
Ibid.
50
Ibid., hlm. 352-353.
51
Abdul Munir Mulkhan, Ideologisasi Gerakan Dakwah Episod
Kehidupan M. Natsir dan Azahar Basyir, Yogyakarta: Sipress, 1996, hlm.
221.

27
metode dakwah yang dibawa oleh seorang da’i. Padahal
seharusnya, metode dakwah mengikuti obyek yang akan didakwahi.
Jika obyek membutuhkan siraman rohani, maka metode yang
diberikan oleh seorang da’i dapat dilakukan dengan cara ceramah
atau tulisan. Demikian juga ketika obyek membutuhkan makanan
atau lapangan pekerjaan, maka da’i dapat menggunakan metode
yang dibutuhkan oleh obyek.
Realitas ini menunjukan bahwa dakwah yang dilakukan
selama ini terkesan asal-asalan dan tidak menggunakan
perencanaan yang baik. Bahkan, ada anggapan (yang menyesatkan)
bahwa kewajiban muballigh hanyalah menyampaikan kebenaran
agama, tentang bagaimana hasilnya serahkan saja kepada Allah.
Oleh karenanya, dia merasa terbebas dari pemikiran bagaimana
agar kegiatan dakwah yang dilakukan dapat berhasil atau diterima
masyarakat.
Jika pemikiran ini yang berkembang di kalangan muballigh
atau da’i, tentunya sulit diharapkan dakwah berkembang secara
baik. Memang di dalam catatan sejarah yang diungkapkan oleh al-
Qur’an bahwa taufik atau petunjuk itu bukan urusan manusia,
tetapi urusan Allah. “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi
petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendakiNya dan Allah lebih mengetahui orang-orang
yang mau menerima petunjuk,” (QS. 28: 56). Namun, manusia
diperintahkan untuk berusaha secara maksimal.
Ayat di atas turun berkenaan dengan peristiwa yang dialami
langsung oleh Rasulullah ketika beliau tidak mampu mengajak
pamannya Abi Thalib masuk Islam. Dalam hal ini sebenarnya
Rasulullah telah berusaha secara maksimal, bahkan menjelang
ajalnya pun Rasulullah memerintahkan pamannya untuk
mengucapkan lafal ‫ ﻻاﻟﻪاﻻﷲ‬, tetapi di hadapan Abi Thalib ada Abu
Jahal dan Abi Umayyah Ibn al-Mughirah yang nota bene merupakan
orang-orang yang menentang keras Abi Thalib menyatakan Islam.52
Lantas peristiwa yang khusus ini dijadikan alasan dan pemikiran
kuat bahwa seorang da’i hanya menyampaikan dan lepas dari
tanggung jawab tentang keberhasilan dakwahnya. Padahal da’i atau

52
Lihat Ibn Katsir, Jilid III, op cit., hlm. 394.

28
muballigh tersebut belum melakukan usaha maksimal dan
melakukan evaluasi apakah dakwahnya sudah menggunakan
rencana yang matang ataukah hanya sekedar menggugurkan
kewajiban.
Selain itu, persoalan mendasar yang tidak kalah pentingnya
dengan persoalan yang berkembang di tataran realitas masyarakat,
yakni persoalan kurangnya teori dakwah untuk melihat kenyataan.
Aktivitas dakwah yang berkembang selama ini –menurut
pengetahuan dan pengamatan penulis- belum ada yang melakukan
evaluasi tentang keberhasilan dan kelemahan dakwah. Selama ini
umat Islam belum memiliki peta dakwah, laboratorium dakwah,
dan pusat informasi dakwah. Dampak yang ditimbulkannya adalah
sulitnya menyusun strategi dan teknik yang akan dikembangkan
dalam melaksanakan aktivitas dakwah.
Dalam memanaj dakwah secara profesional, langkah pertama
yang mesti dilakukan adalah membuat perencanaan dakwah yang
sistematis dan terpadu. Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan
kepada orang-orang yang beriman agar merencanakan segala
sesuatu, termasuk dakwah, untuk kepentingan masa depan yang
lebih baik dan menjanjikan (QS. 59: 18). Menurut Abdul Munir
Mulkhan, ada beberapa keuntungan manakala aktivitas dakwah
dibuat perencanaan dengan baik, yaitu:
1. Kegiatan dakwah pada hakekatnya merupakan kegiatan yang
berkesinambungan. Tidak akan berhasil tujuan dakwah
manakala kegiatan itu tidak direncanakan secara sistematis.
2. Mengingat kegiatan dakwah merupakan kegiatan yang multi-
dialog atau memiliki ragam acara, maka aktivitas dakwah
dilakukan dengan cara mengkombinasikan berbagai dialog.
Untuk itulah diperlukan perencanaan secara matang dan
terpadu.
3. Dengan perencanaan yang baik akan terhindar dari kegiatan
yang itu-itu juga sehingga terhindar dari adanya pemborosan
energi, waktu dan dana.
4. Keterbatasan seorang da’i atau muballigh dalam hal informasi
yang diperlukan serta ilmu-ilmu bantu yang diperlukan untuk
penyusunan perencanaan dakwah akan dapat diatasi secara

29
bersama, karena kegiatan perencanaan adalah suatu kegiatan
kolektif.53

Perencanaan yang baik tentunya bertitik tolak dari data


empiris yang berkembang di masyarakat (obyek dakwah).
Perencanaan tidak berangkat dari kertas kosong atau tumpukan
buku yang jauh dari kepentingan masyarakat. Perencanaan
berangkat dari kebutuhan apa saja yang mendesak dan primer dari
obyek dakwah, problem apa yang dihadapi oleh masyarakat, dan
apa yang diharapkan oleh mereka dari aktivitas dakwah.
Melalui data tersebut akan hadir model-model, metode-
metode, materi-materi dan medium-medium yang cocok
dipergunakan di kalangan masyarakat yang menjadi obyek dakwah.
Dakwah tidak dikesani sebagai kegiatan yang verbalistik, asal-asalan
dan penuh bujuk rayuan dari para aktor dakwah. Dakwah menjadi
kegiatan yang dapat memahami kebutuhan manusia dan
membebaskan mereka dari beban-beban yang selama ini dihadapi
oleh masyarakat.
Langkah kedua yang mesti dibangun adalah menysun strategi
dakwah. Menurut Larry Poston, ada dua strategi utama dalam
pengembangan dakwah, yaitu strategi internal-personal dan strategi
external-institutional.54 Strategi internal-personal adalah strategi
yang menekankan kepada pembangunan atau peningkatan kualitas
kehidupan individu. Sedangkan strategi external-institusional
adalah strategi yang menekankan pada pembangunan struktur
organisasi masyarakat. Dua strategi tersebut pada aplikasinya tidak
berjalan secara hirarkis atau terpisah, melainkan berjalan secara
beriringan dan saling mengisi (bersifat komplementer).
Dua strategi ini pernah diterapkan oleh Rasulullah dalam
mengembangkan dakwahnya. Beliau di kota Mekkah membangun
strategi yang bersifat internal-personal. Hal ini nampak ketika
Rasulullah banyak memberikan pelajaran-pelajaran yang
menyangkut akidah kepada para Sahabat yang baru masuk Islam.
Strategi ini penting dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang

53
Abdul Munir Mulkhan, op cit., hlm. 221-222.
54
Larry Poston, Islamic Da’wah in the West, New York: Oxford
University Press, 1992, hlm. 49.

30
matang, kokoh dan memiliki integritas tinggi dalam mengemban
dan mengembangkan Islam di masa depan. Sementara di kota
Madinah, beliau mengembangkan strategi dakwah yang bersifat
external-institutional. Beliau mempersaudarakan pada Sahabat,
membangun institusi, mengembangkan dakwah ke berbagai
wilayah di Jazirah Arabiyah dan sebagainya.
Dua strategi yang dikembangkan oleh Rasulullah tersebut
tidak dilihat secara parsial. Artinya, kita lebih mengagungkan satu
strategi dan melemahkan strategi yang lainnya. Anggapan strategi
Rasulullah di Mekkah lebih baik dibandingkan dengan strategi yang
dikembangkan oleh beliau di Madinah atau sebaliknya perlu
dibuang jauh-jauh. Strategi yang dilakukan Rasulullah di Mekkah
merupakan titik pijak untuk mengembangkan strategi berikutnya di
kota Madinah. Oleh karena itu, dua strategi ini dapat dilihat secara
linier dan komplementer. Dua strategi itu dapat dikembangkan
secara berkesinambungan dan dapat juga saling mengisi antara satu
strategi dengan strategi yang lain.
Dalam konteks kekinian, dua strategi tersebut dapat
diterapkan. Strategi internal-personal dapat dikembangkan melalui
aktivitas-aktivitas dakwah di majelis ta’lim-majelis ta’lim, halaqah-
halaqah, kelompok tarekat, tabligh akbar, konseling dan sebagainya.
Dalam hal yang perlu dilakukan perbaikan menyangkut muatan
materi dan kiat-kiat yang efektif agar kegiatan dakwah dapat
dirasakan manfaatnya. Materi yang diberikan kepada audiens tidak
hanya sebatas persoalan fikih dan akidah, tetapi lebih jauh pada
persoalan yang terkait dengan mu’amalah, etos kerja, gender, politik,
kesadaran bermasyarakat dan bernegara. Demikian juga berkaitan
dengan kiat-kiat atau metode penyampaiannya perlu dilakukan
perubahan. Metode ceramah (lecturing) mestinya diimbangi dengan
penggunaan media seperti slide, papan tulis, dan catatan makalah
atau dengan menggunakan kitab. Selain itu, metode dakwah bisa
dikembangkan kepada metode-metode yang lebih bersifat
partisipatif. Artinya, audiens dapat dilibatkan dalam
mengemukakan persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Sementara dalam pengembangan strategi dakwah yang
bersifat external-institutional, aktivitas dakwah dapat memasuki
berbagai lini kehidupan yang ada di masyarakat. Dakwah dapat

31
memasuki lini di bidang pendidikan dengan cara memiliki lembaga
pendidikan yang berkualitas dan profesional. Dakwah dapat
memasuki dunia kesehatan dengan memiliki rumah sakit atau
lembaga kesehatan yang memiliki manajemen dengan baik.
Dakwah dapat memasuki wilayah ekonomi dengan memiliki
lembaga perekonomian dan mengembangkan ekonomi yang
berbasiskan nilai-nilai Islam. Akhirnya, dakwah juga dapat
memasuki wilayah politik, sosial dan sebagainya.
Dalam realitas nampaknya dakwah kita masih memiliki
kecenderungan pada strategi internal-personal dan masih
kurangnya pengembangan dakwah kepada strategi yang bersifat
external-institutional. Pengembangan strategi pertama pun masih
berkutat pada model tradisional yang mengandalkan metode
ceramah dan materi-materi yang berorientasi kepada fikih dan
akidah. Padahal umat Islam sekarang ini telah mengalami
perubahan dan perkembangan yang kompleks akibat
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itulah,
aktivitas dakwah (khususnya strategi) perlu dikembangkan sesuai
dengan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
Langkah berikutnya yang perlu dipersiapkan adalah subyek
atau para pelaku dakwah yang profesional. Sebuah rencana dan
strategi yang baik tidak akan berjalan dengan baik manakala para
pelakunya tidak memiliki kapabilitas dan kompetensi yang
mumpuni. Menurut Abdul Munir Mulkhan, pelaku dakwah bukan
hanya seorang da’i, tetapi juga harus ada perencana dan pengelola
dakwah. Ketiganya dapat disebut sebagai da’i. Perbedaannya
terletak pada bidang tugas yang sesuai dengan kecakapan dan ilmu
yang dimiliki oleh seorang da’i sebagai subyek dakwah.55 Di sinilah
perlunya lembaga pendidikan tinggi dakwah dan organisasi-
organisasi dakwah yang dapat menyiapkan para pelaku dakwah
profesional.56

55
Abdul Munir Mulkhan, op cit., hlm. 209.
56
Profesionalisme seorang da’i dapat diukur dari kompetensi yang
dimiliki oleh seorang da’i. Menurut Abdul Munir Mulkhan, ada dua
kompetensi dasar yang mesti dimiliki oleh seorang da’i yaitu kompetensi
yang bersifat substantif dan metodologis. Lihat penjelasannya Ibid., hlm.
236-241.

32
Kendala yang muncul berkenaan dengan pengembangan
lembaga pendidikan tinggi dakwah, yakni belum
tersistematisasikannya bangunan epistemologis yang melandasi
pendidikan dakwah.57 Kehadiran pendidikan dakwah, khususnya di
Indonesia, bertitik tolak dari kebutuhan mendesak terhadap da’i
yang dapat memberikan penerangan kepada masyarakat yang
sangat dibutuhkan oleh Pemerintah. Pertimbangan yang bersifat
akademik atau epistemologis belum menjadi persoalan utama.
Karenanya pada awal pendirian, pendidikan dakwah di Indonesia
dimasukkan dalam bagian dari Fakultas Ushuluddin, seperti yang
terdapat di Al-Azhar Kairo yang sering dijadikan prototype
pendidikan Islam di Indonesia.
Persoalan lain yang berkenaan dengan pendidikan dakwah di
Indonesia menyangkut rendahnya pengakuan masyarakat
(stakeholder) terhadap out put yang dihasilkan oleh lulusan dakwah
sehingga pemberdayaan mereka di tengah-tengah masyarakat
masih belum dilibatkan secara penuh. Persoalan ini sebenarnya
bukan hanya dialami oleh lulusan perguruan tinggi di
Fakultas/Jurusan Dakwah, melainkan juga lulusan-lulusan
Fakultas/Jurusan lain yang ada di Perguruan Tinggi Agama Islam
(PTAI).
Sementara pada organisasi-organisasi dakwah, persoalan
yang sering muncul berkenaan dengan keasyikan dari lembaga
dakwah mengatasi problematika yang muncul di dalam diri
lembaga itu sendiri. Akibatnya, banyak program kerja yang terkait
dengan masyarakat tidak berjalan dikarenakan mereka diterpa oleh
permasalahan organisasi. Selain itu, kebanyakan lembaga dakwah
kurang mempersiapkan para pelaku dakwah secara profesional.

57
Persoalan ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan di
kalangan ilmuwan, apakah dakwah merupakan ilmu atau bukan. Meskipun
ada pengakuan dari LIPI dan Depag tentang disiplin ilmu dakwah, tetapi
perdebatan tentang keilmuan dakwah masih terjadi. Mengingat formalisasi
ilmu dakwah belum memiliki kerangka yang jelas apakah merupakan bagian
dari ilmu agama, ilmu sosial, ilmu budaya atau gabungan dari ketiga ilmu
tersebut, masih menjadi persoalan mendasar. Selain itu, kajian-kajian
keilmuan klasik yang berkenaan dengan ilmu dakwah tidak banyak dilakukan
oleh ulama sehingga ada kesulitan besar dalam membuat rumusan yang
sistematis.

33
Organisasi hanya melakukan kaderisasi secara alamiah, tidak
terencana secara baik dan pemberdayaannya yang masih lemah.
Mereka menyelenggarakan training-training bagi para da’i. Tetapi
dalam proses pertrainingan kadang terkesan kurang terencana
secara matang sehingga hasil dari pertrainingan tidak memberi
dampak yang positif bagi perkembangan dakwah. Belum lagi
pemberdayaan (follow up) dari hasil pertrainingan tidak berjalan.
Kader-kader tidak merasakan dan mengetahui bagaimana hasil
training ini dapat memberi perubahan dalam aktivitas dakwah atau
tidak. Selama ini jarang terjadi evaluasi dari hasil training dan follow
up.
Untuk mengatasi problematika kurangnya pelaku dakwah
yang profesional diperlukan adanya kerja keras dari para ilmuwan
dan aktivis dakwah untuk membangun formulasi keilmuan
dakwah, baik melalui literatur-literatur klasik dan modern maupun
melalui kajian-kajian ilmiah yang bertitik tolak dari data yang
empiris di lapangan. Selain itu, perlu dibangun kerjasana yang baik
antara lembaga pendidikan tinggi dan organisasi-organisasi dakwah
dalam menyiapkan kader-kader dakwah yang profesional.
Langkah terakhir yang harus dilakukan dalam
mengembangkan dakwah adalah mempersiapkan dan
mengembangkan keahlian yang bersifat teknis sesuai dengan
tingkat kemampuan dari obyek dakwah, sebagaimana sabda Nabi
Muhammad saw:
)‫أمرﺎﻧإنﻧﻠﻜﻢإلﺎﻧسﻋﲆﻗدرعﻘوﻬﻟﻢ (روإﻩمﺴﱂ‬
“Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar
akal (kecerdasan) mereka masing-masing,” (HR. Muslim)

Langkah ini dilakukan dengan cara memperhatikan tingkat


perkembangan masyarakat yang menjadi obyek dakwah apakah
dakwah dilakukan di masyarakat kota, desa atau transisi? Media apa
yang cocok digunakan di kalangan masyarakat yang akan
didakwahi, apakah media lisan, tulisan, visual, audiovisual atau
media lainnya. Materi apa yang layak diberikan kepada audiens,
apakah menyangkut akidah, ibadah, muamalah, politik dan
sebagainya. Alat apa yang digunakan untuk melakukan evaluasi dari
berbagai aktivitas dakwah. Semua itu tentunya membutuhkan data

34
dan pusat informasi yang mesti dimiliki oleh lembaga dakwah.
Oleh karena itu, mempersiapkan dan mengembangkan langkah
terakhir ini perlu melibatkan perkembangan teknologi di bidang
komunikasi.

PENUTUP
Setiap agama yang menyatakan dirinya sebagai agama
misionaris tentunya membutuhkan aktivitas penyebaran. Demikian
juga terhadap Islam yang menyatakan dirinya sebagai agama
misionaris tentu membutuhkan aktivitas penyebaran, yang dalam
istilah Islam disebut dengan dakwah. Konsekuensi logis dari
karakter Islam tersebut, maka setiap individu yang menyatakan diri
sebagai Islam mempunyai kewajiban melaksanakan dakwah Islam.
Kewajiban ini mendapat legitimasi yang kuat dari al-Qur’an (QS. 3:
104, 16: 125) sehingga kewajiban tersebut menjadi doktrin di
kalangan umat Islam.
Doktrin kewajiban dakwah ini tidak perlu dipertentangkan
apakah kewajibannya merupakan kewajiban ‘ain (individu) atau
kewajiban kifayah (kolektif). Mempertentangkan kewajiban dakwah
pada akhirnya akan melemahkan umat Islam dalam menyusun
strategi dan mengembangkan dakwah. Satu hal yang perlu
dikembangkan dari doktrin tersebut bahwa aktivitas dakwah
merupakan kewajiban individual yang dalam aplikasinya
membutuhkan kelompok khusus yang profesional sehingga
aktivitas dakwah dapat dikelola dengan menggunakan pendekatan
manajemen.
Untuk memudahkan langkah dalam pengembangan dakwah,
maka term dakwah yang selama ini dipahami sebagai aktivitas yang
bersifat verbalistik perlu dirubah pemaknaannya menjadi sebuah
sistem yang berupaya merealisasikan ajaran Islam dalam tataran
kenyataan di masyarakat.
Tindak lanjut dari perubahan makna tersebut akan
berimplikasi pada pengelolaan dakwah yang profesional. Langkah
yang mesti ditempuh adalah menyiapkan perencanaan dakwah
yang memiliki visi ke depan dan memperhatikan realitas
masyarakat yang ada. Kemudian perencanaan tersebut diturunkan
dalam bentuk strategi, baik yang bersifat internal-personal maupun

35
external-institutional. Selanjutnya perlu disiapkan kader-kader yang
dapat menggerakkan perencanaan dan strategi dalam tataran
aplikasi. Terakhir, tentunya dalam tataran aplikasi perlu memiliki
kiat-kiat yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan
masyarakat.

36
PROFESI DA’I
Dalam era kontemporer ini, tuntutan terhadap
profesionalisme semakin dibutuhkan dan menjadi suatu keharusan.
Hal ini tidak terlepas dari tuntutan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang dan
membutuhkan spesialisasi. Persoalan yang menarik untuk dikaji
bagaimana dengan dakwah, perlukan dakwah menjadi sebuah
profesi dan bagaimana profesi da’i itu serta dampak apa yang
ditimbulkan manakala dakwah tidak dikemas menjadi profesi atau
sebaliknya dakwah dikemas menjadi profesi?
Dalam tataran realitas, dakwah sebagai satu profesi
merupakan persoalan yang sangat peka dan tabu untuk
dibicarakan. Seolah-olah dakwah adalah hal yang dikultuskan
dalam pelaksanaannya. Asumsi yang dibangun oleh masyarakat
bahwa dakwah adalah ‘tugas suci’ yang diamanatkan bagi setiap
Muslim. Berangkat dari tugas semacam itu, maka pada
pelaksanaannya hanya sekedar mencari ridha Allah tanpa
memperhatikan penghargaan atau imbalan. Sedangkan profesi pada
sisi lain, selalu mengarah kepada bentuk materi sehingga kalau
dakwah dijadikan sebagai profesi ada kecenderungan bahwa
dakwah akan dikomersialkan untuk mencari materi semata.
Jika dikaji lebih dalam lagi, sebenarnya tidak terjadi
kontradiksi antara dakwah dengan profesinya. Munculnya
kontradiksi antara dakwah sebagai tugas suci dengan dakwah
sebagai profesi bertitik tolak dari pemahaman terhadap doktrin
kewajiban berdakwah yang dikemukakan oleh al-Qur’an. Pada
tulisan sebelumnya telah penulis uraikan secara panjang lebar
tentang perdebatan kewajiban, antara kewajiban yang bersifat ‘ain
dan kewajiban yang bersifat kifayah. Kewajiban ‘ain dibutuhkan
dalam konteks wa tawashaw bi al-haq wa tawashaw bi al-shabr.
Sementara kewajiban kifayah membutuhkan kelompok atau orang-
orang tertentu yang memiliki keahlian. Keahlian ini merupakan
salah satu unsur penting untuk menentukan sebuah profesi. Untuk

37
lebih jelasnya berikut ini akan penulis jelaskan tentang istilah
profesi itu sendiri.
Kata ‘profesi’ berasal dari bahasa Inggris ‘professional’ yang
artinya pekerjaan. Orang yang ahli dalam bidangnya dikatakan
profesional, ini diartikan sebagai pemain bayaran dalam olahraga
(pemain profesional). Sedangkan kata ‘profesi’ menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, yakni bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan dan keahlian.
Suatu profesi umumnya berkembang dari pekerjaan
(vocation) yang kemudian berkembang makin matang. Selain itu,
dalam bidang apapun profesionalisme seseorang ditunjang tiga hal,
yaitu: keahlian, komitmen, dan keterampilan yang relevan yang
membentuk sebuah segi tiga sama sisi yang di tengahnya terletak
profesionalisme. Prinsip dasar profesionalisme adalah “well
educated, well trained, well paid”.
Untuk mengetahui suatu pekerjaan termasuk profesi atau
bukan, ada beberapa standar yang dapat dijadikan indikatornya,
yaitu: Pertama, pekerjaan itu mempunyai fungsi dan signifikansi
sosial karena diperlukan untuk mengabdi kepada masyarakat. Di
pihak lain, pengakuan masyarakat merupakan syarat mutlak bagi
suatu profesi jauh lebih penting dari pengakuan pemerintah.
Kedua, profesi menuntut keterampilan tertentu yang diperoleh
lewat pendidikan dan latihan yang lama dan intensif serta dilakukan
dalam lembaga tertentu yang secara sosial dapat
dipertanggungjawabkan (accountable).
Ketiga, profesi didukung oleh suatu disiplin ilmu (a systemic
body of knowledge), bukan sekedar serpihan atau hanya common
sense. Keempat, ada kode etik yang menjadi pedoman perilaku
anggotanya beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggar
kode etik. Pengawasan terhadap ditegakkannya kode etik dilakukan
oleh organisasi profesi. Kelima, sebagai konsekuensi dari layanan
yang diberikan kepada masyarakat, maka anggota profesi secara
perorangan ataupun kelompok memperoleh imbalan finansial atau
material.
Bertitik tolak dari indikator di atas, dakwah dapat dikatakan
sebagai sebuah pekerjaan yang memikul tanggung jawab berat. Hal
ini didasarkan kepada beberapa pertimbangan, yaitu: Pertama,

38
dakwah merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah.
Kewajiban ini tentunya membutuhkan orang-orang yang kompeten
melakukan pekerjaan tersebut yang dikenal dengan istilah da’i.
Oleh karena itu, da’i perlu diberikan bekal atau pendidikan yang
intensif agar dapat melakukan pekerjaannya secara maksimal.
Kedua, dakwah sangat dibutuhkan masyarakat karena manusia
secara naluriah/fitrah membutuhkan dakwah sebagai media untuk
mengetahui cara bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan yang
memiliki alam semesta ini. Di samping dakwah dibutuhkan untuk
memperbaiki kehidupan manusia.
Ketiga, sejak berdirinya Fakultas/Jurusan dakwah di
Universitas al-Azhar Mesir, pada tahun 1930, dakwah sudah
menjadi kajian akademik. Pada saat ini dakwah telah memiliki
bangunan teori dan landasan operasional dalam menggerakkan
aktivitas dakwah. Meskipun dalam proses formulasinya, keilmuan
dakwah belum berkembang dengan pesat, seperti halnya ilmu-ilmu
keislaman lain atau ilmu-ilmu sosial. Namun hal itu tidak berarti
menafikan adanya keilmuan dakwah. Oleh karena itu, profesi da’i
telah mendapatkan dukungan kuat secara keilmuan. Sebagai sebuah
disiplin ilmu, maka dakwah membutuhkan spesialisasi baik
menyangkut fokus kajiannya maupun disiplin keahliannya.
Konsekuensi logis dari adanya disiplin keahlian yang mesti dimiliki,
maka profesi da’i menjadi sebuah keharusan.
Dalam hal ini, profesi da’i tidak diidentikkan dengan
muballigh. Muballigh (penceramah) merupakan bagian kecil dari
profesi da’i. Masih banyak keahlian-keahlian lain yang dapat
dikembangkan dari dakwah. Seperti yang pernah penulis uraikan
pada pembahasan sebelumnya bahwa dakwah tidak hanya
menyangkut dakwah bil qaul yang melahirkan keahlian di bidang
bimbingan konseling Islam dan komunikasi penyiaran Islam,
melainkan juga dakwah bil hal atau dakwah bil ‘amal yang
melahirkan seorang yang ahli dalam bidang sosial engineering dan
ahli dalam manaejemen dakwah.
Apabila profesi da’i ini dibiarkan dan kurang mendapatkan
respon baik dari masyarakat, stakeholder maupun pemerintah;
maka akan berimplikasi luas terutama pada penyiapan tenaga-
tenaga da’i yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga-

39
lembaga Dakwah, minat masyarakat terhadap profesi da’i, dan
lebih jauh lagi terkait dengan pengelolaan dakwah secara
profesional.
Bagi Perguruan Tinggi yang notabene menyiapkan tenaga-
tenaga profesional di bidang dakwah akan mendapatkan hambatan
yang berarti ketika alumni-alumni yang akan terjun di masyarakat
tidak mendapatkan posisi dan penghargaan yang sesuai dengan
keahliannya. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap rendahnya
minat masyarakat memasuki Perguruan Tinggi, khususnya di
Fakultas/Jurusan Dakwah. Selain itu, Perguruan Tinggi juga akan
kesulitan merumuskan kriteria atau standar da’i yang profesional
manakala kriteria profesionalisme da’i di masyarakat, stakeholder
atau pemerintah tidak ada atau mengalami bias. Akibatnya,
kurikulum yang disiapkan Perguruan Tinggi tidak bertitik tolak dari
kebutuhan riil masyarakat atau stakeholder.
Sementara bagi Lembaga-lembaga Dakwah atau Lembaga-
lembaga Keagamaan yang bergerak di bidang dakwah Islam tentu
akan menghadapi persoalan manajerial dan efektifitas
organisasinya. Da’i-da’i yang terlibat di organisasi-organisasi
dakwah/keagamaan umumnya hanya sebagai kegiatan sambilan.
Akibatnya, para da’i kurang peka dalam mengamati persoalan
umat, kurang fokus dalam menyusun program, tidak tersedia waktu
dalam menyukseskan kegiatan dan tidak ada evaluasi dalam setiap
kegiatan. Lembaga-lembaga yang ada hanya berjalan secara alamiah
tanpa ada terobosan-terobosan baru yang mencerahkan dan
menjadikan lembaga-lembaga dakwah/keagamaan menjadi
profesional.
Dengan demikian, dakwah pada era kontemporer ini apabila
ingin maju dan berkembang perlu dikemas secara profesional.
Kemasan ini akan berhasil dengan baik manakala didukung oleh
tenaga-tenaga yang profesional yang telah mendapatkan
pendidikan dan keterampilan dari Perguruan Tinggi atau Lembaga-
lembaga Dakwah/Keagamaan yang dikelola secara profesional dan
seiring dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat atau
stakeholder. Untuk mencapai itu semua dibutuhkan adanya
pengakuan dan persamaan persepsi seluruh elemen masyarakat

40
bahwa dakwah merupakan sebuah profesi yang harus dibangun
dan dikembangkan secara profesional.

41
42
DAKWAH NAFSIYAH DAN
PROBLEM MANUSIA MODERN

Kehidupan manusia modern ditandai dengan adanya


kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di satu sisi,
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak
positif bagi kehidupan manusia. Di sisi lain, kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi memberikan dampak yang negatif bagi
kehidupan manusia.
Dampak positif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi di antaranya adalah adanya kemudahan-kemudahan bagi
manusia dalam menyelesaikan pekerjaan, meningkatnya wawasan
dan pola pikir manusia dalam berbagai bidang kehidupan, dan
meningkatnya kesejahteraan hidup manusia.
Sementara dampak negatif yang ditimbulkan dari kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi di antaranya adalah munculnya
sikap materialisme, konsumerisme dan hedonisme di kalangan
masyarakat, munculnya berbagai macam patologi sosial, dan
terjadinya anomali atau keterasingan manusia, baik terhadap
dirinya, lingkungannya dan Tuhannya.
Dampak tersebut di atas tampaknya telah menggejala di
masyarakat Indonesia sekarang ini. Karena bangsa Indonesia saat
ini telah memasuki kehidupan modern seperti yang terjadi di
negara-negara lain. Beberapa indikator yang menunjukkan bangsa
Indonesia telah memasuki kehidupan modern yaitu menjamurnya
industri-industri yang memanfaatkan teknologi modern, adanya
sarana informasi dan telekomunikasi serta transportasi yang
semakin maju, munculnya makanan, pakaian dan seni yang berasal
dari berbagai Negara dan sebagainya.
Persoalan yang muncul dengan kehidupan modern ini,
masyarakat Indonesia belum siap secara mental dalam
mengahadapi kehidupan modern. Persiapan mental terkait dengan
tingkat pendidikan masyarakat. Kenyataannya masih banyak rakyat
Indonesia yang memiliki pendidikan rendah. Akibatnya,
masyarakat Indonesia belum secara maksimal memanfaatkan

43
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan
mereka. Justru sebaliknya, banyak masyarakat Indonesia yang
terbawa arus dengan mengikuti kecenderungan-kecenderungan
negatif dari kehidupan modern.
Oleh karena itu, selain meningkatkan pendidikan masyarakat,
upaya dapat juga dilakukan dengan cara memfungsikan dakwah
secara maksimal. Peran dakwah tidak hanya sebatas menyampaikan
ajaran Islam kepada objek dakwah, melainkan juga dapat menjadi
motor penggerak atau motivator dan sekaligus juga sebagai bagian
dari subsistem kehidupan masyarakat yang dapat melakukan
perubahan. Dalam hal ini tentunya yang perlu dipersiapkan adalah
manusia itu sendiri sebagai individu yang memiliki mental yang
siap untuk berubah dan menjadi lebih maju.

TUGAS DAN PERAN MANUSIA


Langkah pertama untuk melakukan perubahan adalah
memberikan pemahaman yang utuh kepada semua manusia bahwa
kehadirannya di muka bumi ini mempunyai tugas dan peran yang
harus diembannya. Manusia merupakan salah satu makhluk Tuhan
yang berbeda dengan makhluk lainnya seperti binatang, tumbuhan,
malaikat, jin dan sebagainya. Keberadaan manusia di muka bumi
menempati posisi utama sebagai khalifah. Sebagaimana dinyatakan
dalam firman Allah: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi....” (QS. al-Baqarah (2): 30). Sebagai khalifah, maka
tugas manusia di muka bumi ini adalah memakmurkan alam
semesta ini “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan
menjadikan kamu pemakmurnya” (QS. Hud (11): 61).
Posisi manusia yang istimewa ini hendaknya dapat
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mengingat manusia berada di
muka bumi ini tidak berlangsung lama. Setiap manusia akan
mengalami kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”
(QS. Ali ‘Imran (3): 185). Atau dengan perkataan lain, manusia
hidup memiliki keterbatasan waktu, usia dan tenaga. Jika dihitung
rata-rata kehidupan manusia antara 60-70 tahun, maka waktu yang
bisa dimanfaatkan secara efektif untuk meraih kehidupan yang
lebih baik antara 40-50 tahun. Karena pada usia 0-20 tahun,

44
kebanyakan manusia masih bergantung pada orang tuanya dan
belum bisa mandiri secara baik untuk kepentingan dirinya dan
orang lain. Waktu yang relatif singkat ini pun apabila tidak
dimanfaatkan secara maksimal tentu akan menimbulkan kerugian
yang besar bagi kehidupan kita, seperti kebodohan, kemiskinan,
keterbelakangan, ketertindasan dan sebagainya.
Untuk dapat menjalankan tugasnya, manusia perlu mengenal
dirinya. Di dalam Islam, penggambaran manusia secara utuh
dijelaskan di dalam al-Qur’an al-Haits. Manusia di dalam al-Qur’an
digambarkan sebagai makhluk yang memiliki dua unsur utama,
yaitu fisik dan jiwa (mental).
Penciptaan manusia secara fisik digambarkan oleh Allah di
dalam surat al-Mu’minun (23): 12-16 “Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian
Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim). Kemudian air mani ini Kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu
kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan
daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka
Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu,
sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian
sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari
kiamat.” Uraian yang senada (sama) tentang proses penciptaan
secara fisik ini dapat dilihat di dalam surat al-Hajj (22): 5.
Adapun penciptaan jiwa –dalam hal ini roh- manusia
digambarkan di dalam al-Qur’an surat as-Sajdah (32) ayat 7-9:
“Yang membuat segala sesuatu yang ada Dia ciptakan sebaik-baiknya dan
yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia
menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)Nya
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi)
kamu sedikit sekali bersyukur”.
Dari dua unsur yang berbeda ini ternyata di dalam diri
manusia terdapat dua sifat yang saling tarik menarik. “Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,” (QS.
asy-Syams (91): 8). Di satu sisi manusia yang berasal dari tanah –di
mana tanah merupakan unsur rendah yang berada di bawah kaki

45
manusia dan menjadi tempat kotoran- tentu memiliki sifat-sifat
yang jelek. Hal ini banyak digambarkan di dalam al-Qur’an yang
menyatakan bahwa manusia memiliki sifat-sifat tercela seperti
sombong (QS. 4: 36), iri hati (2: 109), melampaui batas (96: 6-7),
kikir (17: 100), suka tergesa-gesa (17: 11), suka keluh kesah (70: 19-
20), dan sebagainya. Di sisi lain, di dalam diri manusia ada roh yang
suci keberadaannya. Karena itu, di dalam diri manusia ada sifat-
sifat terpuji dan sifat-sifat yang cenderung kepada Tuhan.
Untuk dapat mengenali dan menjelaskan kehidupannya yang
baik, maka manusia diberikan kebebasan untuk menentukan
sikapnya. Apakah ia memilih jalan kebaikan atau kejahatan. Yang
jelas manusia diberikan alat atau potensi oleh Allah untuk memilih
jalan berupa akal dan nafsu. Jika dua alat ini dikelola dengan baik,
manusia tidak akan terjerumus dalam memilih jalan kehidupannya.
Kecenderungan manusia berbuat baik lebih besar dibandingkan
dengan kecenderungan manusia untuk berbuat jahat. Oleh karena
itu, pilihan yang diambil manusia nantinya perlu
dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Karena manusia
diciptakan bukan untuk main-main, tetapi memiliki tujuan yang
jelas. “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja
(tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. al-Qiyamah (75): 36). Dan dalam
ayat lain: “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mu’minun (23): 115).
Kebebasan yang diberikan oleh Allah kepada manusia di
dunia tentu saja akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di hari
akhir (akherat), sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa
pertanggungjawaban)?” (QS. al-Qiyamah (75): 36). Manusia bisa
berbuat apa saja di dunia, baik menyangkut perbuatan baik
maupun perbuatan yang buruk. Jika seorang manusia melakukan
perbuatan baik, maka manusia tersebut digolongkan sebagai
manusia yang baik. Sebaliknya, apabila seorang manusia melakukan
perbuatan jahat, maka ia digolongkan sebagai manusia yang tidak
baik. Oleh karena itu, hakikat keberadaan manusia ditentukan oleh
amal (perbuatan) manusia itu sendiri.

46
Dalam melakukan amal dunia, manusia membutuhkan
petunjuk atau arah agar amal yang dikerjakannya itu tidak sia-sia.
Dalam hal ini manusia bisa memanfaatkan akal yang diberikan oleh
Tuhan kepadanya. Akal difungsikan untuk menuntut dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an dalam beberapa
ayatnya menganjurkan dan mendorong kepada manusia untuk
menuntut ilmu. Dengan ilmu, Adam dapat mengalahkan makhluk
Tuhan yang lainnya dan malaikat sujud kepadanya (QS. al-Baqarah:
31-34), manusia akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT (QS. al-
Mujadalah: 11), orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang
tidak berilmu (QS. az-Zumar: 9), dan berbagai kelebihan lain yang
ditunjukkan oleh Allah kepada orang-orang yang mau menuntut
ilmu dan mengamalkannya.
Ilmu yang dimiliki manusia bisa saja dipergunakan oleh
manusia untuk amal yang jelek atau untuk merusak manusia dan
alam semesta. Seperti bom yang awalnya diciptakan oleh manusia
untuk kebaikan, yakni untuk memanfaatkan alam, tetapi oleh
manusia digunakan untuk menghancurkan dan menyengsarakan
manusia. Demikian pula, manusia dengan kecanggihan otaknya
dapat membobol uang bank melalui pemanfaatan teknologi
komunikasi. Dengan ilmu juga, manusia banyak yang melakukan
korupsi dan memanipulasi orang untuk kepentingan diri dan
kelompoknya. Oleh karena itu, ilmu menjadi bermanfaat atau
membawa kemudharatan lebih bergantung kepada manusia itu
sendiri.
Untuk mencegah terjadinya penyimpangan yang dilakukan
oleh manusia terhadap ilmu, maka manusia perlu dibimbing
dengan iman. Iman menjadi landasan gerak yang utama dan
mengarahkan manusia kepada sasaran atau tujuan hidup yang
sesungguhnya. Iman merupakan proses pembenaran hati yang
dalam aplikasinya perlu diwujudkan dalam amal sehari-hari. Orang
yang beriman adalah orang yang memiliki hati yang tentram dan
senantiasa ingat atau berdzikir kepada Allah serta memiliki sikap
optimisme (semangat yang tinggi) dalam menjalankan kehidupan di
dunia.

47
Dengan iman yang tertanam dalam dirinya, manusia
dipercaya untuk memikul amanah yang diberikan oleh Allah
kepada manusia: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat
kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk
memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim
dan amat bodoh. Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki
dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan dan
sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan
perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. al-Ahzab : 72-73).
Amanat yang diberikan Allah kepada manusia terkait dengan
tugas kemanusiaan di muka bumi ini. Tugas yang pertama adalah
manusia menjadi hamba Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam al-
Qur’an bahwa “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembahKu” (QS. adz-Dzariyat: 56). Sebagai hamba,
manusia perlu mematuhi aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan
yang telah ditetapkan oleh tuannya. Aturan-aturan ini dapat kita
ketahui melalui berita yang dibawa oleh seorang Rasul. Dalam hal
ini aturan-aturan yang tertera di dalam al-Qur’an dan Hadits
Rasulullah.
Amanat kedua adalah manusia sebagai khalifah di buka
bumi. ”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...,”
(QS. al-Baqarah (2): 30). Sebagai khalifah, maka tugas manusia di
muka bumi ini adalah memakmurkan alam semesta ini: “Dia telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya” (QS. Hud (11): 61). Cara untuk memakmurkan alam
ini tentunya dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Dengan
demikian, iman, ilmu dan amal menjadi unsur penting dalam
menjalankan tugas manusia di muka bumi.

DAKWAH NAFSIYAH
Setelah memahami posisi, tugas dan perannya sebagai
manusia, langkah selanjutnya manusia perlu melakukan kontrol
terus menerus terhadap dirinya dalam menjalankan tugas dan peran
kemanusiaannya. Untuk melakukan kontrol, maka manusia perlu

48
melakukan dakwah terhadap dirinya sendiri. Dari sinilah dakwah
nafsiyah amat urgen untuk dilakukan.
Istilah dakwah nafsiyah merupakan istilah yang masih jarang
dipergunakan oleh para ulama dan penulis kitab-kitab dakwah.
Umumnya mereka membahas tentang jiwa (nafs) dalam konteks
tasawuf, akhlak dan psikologi Islam. Al-Ghazali dan Ibn Qayyim
merupakan salah satu di antara ulama yang banyak membahas
tentang jiwa. Mereka tidak memasukkan dalam tulisannya tentang
adanya dakwah nafsiyah.
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apakah dakwah
nafsiyah dapat dipertanggungjawabkan secara epistemologis dalam
kajian keilmuan dakwah. Persoalan mendasar yang perlu
diperdebatkan berkaitan dengan objek dakwahnya (mad’u) dan
sekaligus berkaitan dengan metodologinya.
Di dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara eksplisit tentang
objek dakwah. Al-Qur’an ketika berbicara tentang dakwah lebih
pada konteks nilai “ajaklah ke jalan Tuhanmu,” (QS. 16: 125),
“hendaklah kamu mengajak kepada kebaikan, menyuruh yang baik, dan
mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah,” (QS. 3: 104,110)
dan sebagainya. Oleh karena itu, persoalan konteks mad’u menjadi
wewenang para pemikir untuk membuat formulasi dan turunan
epistemologinya.
Syukriadi Sambas, salah seorang pionir yang
memperkenalkan istilah dakwah nafsiyah, mengatakan bahwa
dakwah nafsiyah secara leksikal adalah mengajak diri sendiri atau
mendakwahi diri sendiri oleh dirinya sendiri. Sedangkan secara
istilah merupakan proses internalisasi ajaran Islam pada tingkat
intra individu Muslim dalam memfungsikan fitrah diniyahnya yang
ditujukan dalam perilaku keagamaan sesuai dengan tuntunan
syari’at Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul.58
Dari uraian dan definisi dakwah nafsiyah seperti tersebut di
atas, jelaslah bahwa persoalan mad’u sebenarnya tidak menjadi
masalah karena hal tersebut merupakan bagian dari ijtihad para
pemikir agar mudah untuk dioperasionalkan. Satu hal yang mesti
dicatat bahwa prasyarat terjadinya dakwah nafsiyah adalah orang
58
Ahmad Subandi dan Syukriadi Sambas, Dasar-dasar Bimbingan
(al-Irsyad) dalam Dakwah Islam, Bandung: KP Hadid, 1999, hlm. 26.

49
yang berdakwah hendaknya orang yang sudah masuk Islam dan
tidak bisa berlaku dakwah nafsiyah pada orang yang belum masuk
Islam. Karenanya, dakwah nafsiyah merupakan salah satu konteks
dari dakwah ilallah, bukan dakwah dalam pengertian secara bahasa
atau secara umum.
Adapun terkait dengan metodologi dakwah nafsiyah tentunya
perlu dikaji secara mendalam beberapa pendekatan yang selama ini
berkembang di kalangan para filosof, ahli tasawuf dan juga pada
psikologi Islam. Pendekatan-pendekatan ini bisa dijadikan bahan
untuk pengembangan lebih lanjut dalam metodologi dakwah
nafsiyah. Hal ini tidak menjadi persoalan disebabkan pada era
keilmuan sekarang antara teori yang satu dengan teori yang lain
saling terkait dan bisa saling memanfaatkan untuk pengembangan
keilmuannya. Seperti teori-teori komunikasi banyak dikembangkan
dari teori-teori yang berasal dari sosiologi dan psikologi.
Kalangan filosof –seperti Mehdi Ha’iri Yazdi- telah
mengembangkan ilmu hudhuri yang menjelaskan tentang
pengetahuan tentang diri, perasaan dan keadaan-keadaan pribadi
serta pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman mistis.
Teori-teori yang dikembangkan dalam ilmu hudhuri dapat dijadikan
salah satu landasan teori dalam mengembangkan metodologi
dakwah nafsiyah.59
Begitu juga teori-teori dari kalangan ahli sufi seperti yang
dikembangkan oleh al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauzi yang
banyak membahas tentang jiwa dapat dijadikan bahan untuk
pengembanganmetodologi dakwah nafsiyah. Paling tidak, ada tiga
metode yang dikembangkan oleh kaum sufi dan dapat dijadikan
metode dalam dakwah nafsiyah, yaitu: Pertama, wiqayatunnafs.
Artinya memelihara diri dari segala perbuatan yang dapat merusak
amal yang kita lakukan seperti dengki, sum’ah, riya, dan sebagainya.
Kedua, muhasabatunnafs, artinya introspeksi diri dari kelebihan dan
kekurangan yang ada pada diri kita sendiri sehingga dengan cara itu
kita dapat bertindak secara proporsional dan bijak. Ketiga,
tathwirunnafs. Artinya pengembangan diri menjadi yang terbaik dan
bermanfaat bagi orang lain. Umat Islam dalam menjalankan
59
Untuk lebih jelasnya baca Mehdi Ha’iri Yazdi, Ilmu Hudhuri
Prinsip-prinsip Epistemologi Dalam Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 1994.

50
hidupnya tidak hanya berjalan secara alamiah, melainkan perlu
melakukan desain dan perencanaan strategis dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari.
Perihal upaya mengontrol diri melalui dakwah nafsiyah, tujuan
utamanya adalah agar individu yang menyatakan diri sebagai
Muslim senantiasa dapat meningkatkan keimanan yang dimilikinya
menjadi lebih baik dan lebih meningkat. Ada beberapa hal yang
bisa dilakukan dalam rangka meningkatkan keimanan, yaitu:
1. Mengembangkan sikap batin
Iman adalah cahaya ilahi yang diberikanNya sejak kita
masih di rahim sang ibu. Iman inilah yang menjadi fitrah
kehidupan manusia. sebagaimana firman Allah dalam surat al-
A’rar ayat 172: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku
ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami)”,
kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” Fitrah
inilah yang menurut Sayyid Qutb tidak mengalami evolusi di
dalam diri manusia. siapapun manusia pasti akan mengakui
keberadaan Tuhan. Persoalannya tinggal bagaimana mereka
melakukan ekspresi dan pemahaman terhadap Tuhan.

Menurut Masdar F. Mas’udi, iman boleh saja melemah.


Tetapi penyebabnya pasti bukan pada berkurangnya voltase cahaya
itu sendiri yang bersifat spiritual. Faktor itu justru sepenuhnya
bersifat material, yakni kemiskinan atau kekufuran.60
Umat Islam yang baik dan menghayati keimanannya tentu
akan menghadapi hidup ini dengan optimis dan mau berusaha
semaksimal mungkin dalam mengatasi problem hidup termasuk
dalam hal yang bersifat material. Selain itu, menurut Dr. Brill
bahwa seorang agamawan sejati tidak akan pernah menderita sakit
jiwa sama sekali. Dale Carnegie, seorang psikolog, mengatakan
kalau para dokter jiwa mengetahui bahwa keimanan yang kuat dan
60
Masdar F. Mas’udi, Kemelaratan Musuh Utama Agama-agama,
Kompas, 14 November 2003.

51
keteguhan memegang ajaran agama memberikan jaminan untuk
mengatasi kerisauan dan kegelisahan serta menyembuhkan
berbagai macam penyakit.61
Dalam meningkatkan iman kita bisa belajar dari teori yang
dikembangkan oleh Erich From tentang to have (memiliki) and to be
(menjadi). Dalam to have or to be, Erich Fromm menggunakannya
sebagai dua orientasi hidup yang berbeda. Orientasi karakter yang
produktif dan orientasi karakter yang tidak produktif. Ciri utama
dari orientasi memiliki ialah kecenderungan untuk menjadikan
setiap orang dan setiap hal sebagai miliknya, termasuk dirinya
sendiri. Memiliki berarti menguasai dan menjadikan yang dimiliki
haknya serta memperlakukan segala sesuatu sebagai objek. Modus
memiliki adalah pasif karena ia tidak mampu menentukan dirinya
dari dalam dan ia ditentukan dari luar, maka kecemasan akan selalu
menyertai hidupnya karena apa yang dimiliki selalu terancam
hilang.
Modus mengada (to be) pertama-tama ditandai oleh aktivitas
yang produktif, sikap mandiri, kritis dan bebas. Dalam modus
mengada, “beriman” lebih merupakan sikap batin pribadi. Seorang
yang menghayati iman dengan cara memiliki kan menekankan isi
dari apa yang diimani dan kepastian yang dijamin oleh otoritas.
Pendapat Karl Marx: “Makin berkurang anda menjadi diri anda,
dan makin sedikit yang anda ungkapkan dari kehidupan anda
makin banyak anda memiliki dan makin besar keterasingan hidup
anda”.62
Dengan demikian meningkatkan iman dapat dilakukan
dengan cara membangun sikap batin yang produktif, inovatif,
bebas dan mandiri dalam menjalani hidup sehari-hari.

2. Senantiasa melakukan dzikir kepada Allah


Diamku harus merupakan kegiatan berpikir dan bicaraku
merupakan dzikir. Dzikrullah merupakan penawar jiwa yang
paling kuat dan merupakan senjata yang paling tajam dalam

61
Fathi Yakan, Komitmen Muslim Sejati, Solo: Era Intermedia, 2002,
hlm. 22-23.
62
Erich Fromm, Memiliki dan Menjadi: Tentang Dua Modus
Eksistensi, Jakarta: LP3ES, 1987.

52
menghadapi berbagai tantangan zaman, kesusahan-kesusahan
hidup dan bencana-bencananya. Inilah yang dibutuhkan oleh
semua manusia pada masa modern seperti sekarang ini.
Firman Allah dalam surat ar-Ra’d ayat 28:
‫اﻟﺬﻳﻦ ا ﻣﻨﻮا وﺗﻂﻤﺌﻦ ﻗﻠﻮ ﺑﻬﻢ ﺑﺬ ﻛﺮﷲ اﻻ ﺑﺬﻛﺮﷲ ﺗﻄﻤﺌﻦ اﻟﻘﻠﻮب‬
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah
hati menjadi tenteram.”

3. Senantiasa berdo’a
Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Ady bin
Ady bahwa iman itu memiliki beberapa kewajiban, beberapa
syarat, beberapa batasan dan beberapa jalan. Siapa yang
menyempurnakan semua itu, sempurnakanlah keimanannya.
Dan siapa yang tidak menyempurnakan semua itu berarti
imannya tidak sempurna. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya
iman itu bisa menjadi lusuh dalam diri salah seorang dari kamu
sebagaimana lusuhnya pakaian. Karena itu memohonlah kepada Allah
agar Dia memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu,” (HR. Ath-
Thabrani dan al-Hakim).63

63
Fathi Yakin, Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah, Jakarta: Al-
I’tishom, 2000, hlm. 53-54.

53
54
BIMBINGAN DAN
PENYULUHAN DALAM
PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Salah satu kajian yang ada dalam ilmu dakwah adalah


bimbingan dan penyuluhan Islam. Bimbingan dan penyuluhan
Islam merupakan turunan dari dakwah bil-qaul yang dilakukan
secara individual atau kelompok kecil, sebagaimana penulis
jelaskan pada bagian awal tulisan ini. Secara akademik, kajian
tentang bimbingan dan penyuluhan Islam belum mendapatkan
perhatian secara utuh dan komprehensif. Bimbingan dan
penyuluhan yang ada selama ini lebih didominasi oleh bimbingan
dan penyuluhan yang berasal dari Barat. Padahal bimbingan dan
penyuluhan yang berasal dari Barat memiliki perbedaan yang
esensial dan fundamental dengan bimbingan dan penyuluhan
Islam. Bimbingan dan penyuluhan di Barat lebih berorientasi
kepada diri sendiri, hubungan dengan orang lain dan dengan
lingkungan alam, serta untuk masa kini. Bimbingan dan
penyuluhan di Barat tidak mengaitkan pada hubungan vertikal
dengan Tuhan (keimanan), dengan perilaku ibadah, dengan akhlak
yang mulia, dan dengan kehidupan di akhirat.64
Perbedaan tersebut tentu saja membawa konsekuensi yang jauh,
baik mengenai dasar, tujuan, materi, kualifikasi pembimbing
maupun konselor, sampai dengan keluaran (output) yang ingin
dihasilkannya. Jika hal ini dibiarkan berkembang dan tidak
diantisipasi, maka akan membawa dampak yang buruk bagi
perkembangan dakwah Islam di Masyarakat.
Selain itu, konsep bimbingan dan penyuluhan yang ada di
masyarakat seringkali mengalami tumpang tindih antara bimbingan
dan penyuluhan, bahkan terjadi pembiasan. Bimbingan banyak
dimaknai dengan tabligh, penyiaran dan pembinaan. Demikian pula
makna penyuluhan banyak ditafsirkan ke arah penerangan seperti

64
Lihat Tohari Musnamar dkk ( Ed. ), Dasar-dasar Konseptual Bimbingan
dan Konseling Islami, Yogyakarta: UII Press, 1992, hlm. xiv.

55
penyuluhan pertanian, penyuluhan keluarga berencana dan
sebagainya. Terjadinya pembiasan tersebut dapat dimaklumi
mengingat makna bimbingan dan penyuluhan, khususnya Islam,
belum terbangun secara utuh dan jelas.
Jika dicermati tentang urgensi bimbingan dan penyuluhan di
masyarakat tampaknya tidak perlu diragukan lagi. Bimbingan dan
penyuluhan merupakan satu kebutuhan yang senantiasa hadir di
tengah-tengah masyarakat. Apalagi masyarakat Indonesia yang
sedang mengalami krisis multidimensi dan menghadapai
perkembangan masyarakat global, maka kebutuhan bimbingan dan
penyuluhan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk itu, Islam sebagai
agama mayoritas perlu merumuskan konsep bimbingan dan
penyuluhan Islam yang jelas dan fungsional.
Sebagai agama yang komprehensif dan universal, Islam dapat
menjawab dan memenuhi tuntutan tersebut. Dalam hal ini
tentunya perlu dikaji secara mendalam dari landasan Islam, yakni
al-Qur’an. Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk, syifa, pembeda
dan rahmah bagi manusia tidak akan meninggalkan manusia dalam
kebingungan. Karena Allah dalam menciptakan manusia telah
memberikan isyarat kepada manusia untuk menggunakan akal
dalam memahami ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah.
Berdasarkan landasar tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji
konsep bimbingan dan penyuluhan yang ada dalam al-Qur’an.
Adapun istilah bimbingan dan penyuluhan yang dimaksud
pada tulisan ini berasal dari bahasa Inggris guidance dan counseling.
Kedua istilah ini sebetulnya memiliki obyek yang sama, yakni
problem atau masalah. Perbedaannya terletak pada titik perhatian
dan penekanan terhadap masalah tersebut. Bimbingan lebih
memusatkan diri pada pencegahan munculnya masalah (preventif),
sementara penyuluhan lebih memusatkan diri pada pencegahan
masalah yang dihadapi (kuratif). Relevansinya dengan tulisan ini,
masalah yang dipecahkan adalah masalah hidup manusia. Untuk
teknik operasionalnya, bimbingan diartikan sebagai nasehat,
tuntunan, petunjuk, dan penjelasan yang diberikan kepada individu
dalam memecahkan problem kehidupan manusia. Sedangkan
penyuluhan dimaksudkan sebagai pemberian nasehat atau anjuran

56
kepada orang lain secara individual yang dilakukan dengan jalan face
to face.

A. Istilah-istilah Bimbingan dan Penyuluhan dalam Al-Qur’an

1. Huda
Istilah huda dan ramifikasinya berasal dari kata hada-yahdi-
hudan wa hadyan wa hidyatan wa hidayatan yang berarti memberi
petunjuk, menunjukkan dan mengantarkan.65 Dari arti tersebut,
istilah huda memiliki makna yang sama dengan bimbingan. Oleh
karena itu, istilah huda menjadi salah satu bahasan dalam tulisan
ini.
Istilah huda digunakan dalam al-Qur’an kurang lebih ada 302
kali,66 sebagaimana terlihat dalam bagan berikut ini:

NO BENTUK FREKUENSI NO BENTUK FREKUENSI


1 Ahda 7 kali 36 Ihduhun 1 kali
2 Ahdika 1 kali 37 Ihtada 7 kali
3 Ahdikum 1 kali 38 Ihtadaw 4 kali
4 Ahdiikum 1 kali 39 Ihtadaytu 1 kali
5 Ahdiyaka 1 kali 40 Ihtadaytum 1 kali
6 Hada 11 kali 41 Muhtadi 2 kali
7 Hadahu 1 kali 42 Muhtadii 1 kali
8 Hadahum 2 kali 43 Muhtadin 1 kali
9 Hadakum 6 kali 44 Muhtadina 9 kali
10 Hadana 5 kali 45 Muhtaduna 8 kali
11 Hadani 1 kali 46 Nahdi 1 kali
12 Hadaani 2 kali 47 Nahdiyannahum 1 kali
13 Hadayna 3 kali 48 Nahtadiya 1 kali
14 Hadaynaahu 2 kali 49 Tahdi 5 kali
15 Hadaynaahum 3 kali 50 Tahdu 1 kali
16 Hadaynaahuma 1 kali 51 Tahtadi 1 kali
17 Hadaynaakum 1 kali 52 Tahtadu 3 kali
18 Hadaytana 1 kali 53 Tahtaduna 6 kali
19 Hadi 2 kali 54 Yahdi 8 kali
20 Haadi 1 kali 55 Yahdihi 2 kali
21 Hadin 5 kali 56 Yahdii 51 kali
22 Hadiya 1 kali 57 Yahdihum 6 kali

65
A. Warson al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, Yogyakarta: Krapyak,
1984, hlm. 1597.
66
Ali Audah, Konkordansi Qur’an: Panduan Kata dalam Mencari Ayat
Qur’an, Jakarta: PT. Pustaka Litera Antarnusa, 1991.

57
23 Haadiyan 1 kali 58 Yahdinii 1 kali
24 Hadiyyatikum 1 kali 59 Yahdini 4 kali
25 Hadiyyatin 1 kali 60 Yahdiyahu 1 kali
26 Hadyan 1 kali 61 Yahdiyahum 2 kali
27 Hadya, Hadyi, 6 kali 62 Yahdiyaka 1 kali
Hadyu
28 Hudaha 1 kali 63 Yahdiyakum 2 kali
29 Hudahum 3 kali 64 Yahdikum 1 kali
30 Hudan (al- 79 kali 65 Yahiddi 1 kali
huda)
31 Hudaya 2 kali 66 Yuhda 1 kali
32 Hudiya 1 kali 67 Yahdiyani 1 kali
33 Hudna 1 kali 68 Yahdiyanii 1 kali
34 Huduu 2 kali 69 Yahduna 4 kali
35 Ihdina 2 kali 70 Yahdunana 1 kali

Secara implisit, istilah huda memiliki beberapa makna, yaitu:


pertama, petunjuk. Kedua, hidayah. Ketiga, jalan yang lurus/benar.
Keempat, bimbingan. Kelima, pimpinan. Keenam, keridaan. Ketujuh,
jelas. Kedelapan, kebenaran. Kesembilan, hadiah. Kesepuluh, binatang
kurban.
Berkenaan dengan petunjuk, Allahlah sebagai Pelaku utama
dalam memberikan petunjuk. Petunjuk yang diberikan oleh Allah
bukan hanya dikhususkan kepada para nabi, tetapi juga diberikan
kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Tiap-tiap jiwa akan
memiliki peluang untuk mendapatkan petunjuk (QS. 32: 13),
tergantung kepada manusia untuk memperoleh petunjuk tersebut.
Supaya petunjuk Allah dapat dirasakan langsung oleh manusia,
maka Allah mengutus seorang Rasul untuk menyampaikan ajaran-
ajaran yang diberikan oleh Allah. Karena itu, dalam beberapa ayat
al-Qur’an disebutkan bahwa seorang rasul pun dapat memberikan
petunjuk kepada jalan yang lurus (QS. 26: 62, 48: 28). Demikian
juga, ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul atau kibat-kitab samawi
seperti Injil, Taurat dan al-Qur’an dapat dijadikan sebagai petunjuk
(QS. 40: 54, 41: 44, 45: 11 & 20, 5: 16).
Selain itu, Allah menurunkan petunjukNya melalui alam.
Alam dapat dikaji oleh manusia supaya manusia mendapatkan
petunjuk (QS. 6: 97, 16: 15). Bahkan, dalam beberapa ayat,
pemimpin dan manusia dapat berfungsi sebagai pemberi petunjuk
(QS. 32: 24, 7: 159, 7: 181, 64: 6).

58
Dengan demikian, bimbingan dalam arti menunjukkan atau
memberi petunjuk, bukan hanya dimiliki oleh Allah saja, tetapi
manusia memiliki peran untuk melakukannya.
Sementara berkaitan dengan hidayah, al-Qur’an menyatakan
bahwa hidayah merupakan hak prerogatif Allah. Rasul dan manusia
tidak memiliki kemampuan untuk memberikan hidayah atau taufik,
(QS. 28: 56, 2: 272). Manusia hanya bisa berharap untuk
mendapatkan ma’unah dan taufik agar manusia termotivasi dalam
berbuat kebaikan. Karena itu manusia selalu memohon kepada
Allah dengan ucapan “ihdina al-shirath al-mustakim”.
Menurut al-Maraghi, hidayah Allah kepada manusia terdapat
beberapa bentuk, yaitu:
1. hidayah dalam bentuk ilham. Hal ini dirasakan oleh anak kecil
sejak ia dilahirkan.
2. hidayah kepada panca indera. Hidayah ini sama-sama terdapat
pada manusia dan hewan.
3. hidayah kepada akal.
4. hidayah berupa agama dan syari’at.67

Empat hidayah yang diberikan oleh Allah kepada manusia


dalam aplikasinya menuntut manusia untuk dapat memanfaatkan
hidayah tersebut sehingga manusia dapat memperoleh jalan yang
benar. Allah sendiri menyatakan “Wahadaynaahu al-najdain” (QS. 90:
10). Artinya Allah telah menunjukkan kepadanya dua jalan
(kebajikan dan kejahatan). Hal ini berarti manusia diberikan
kebebasan untuk dapat memanfaatkan hidayah tersebut.
Agar manusia tidak tersesat, maka manusia hendaklah
menjadikan Allah sebagai pembimbing untuk memperoleh cahaya
kebenaran (QS. 24: 35, 10: 35) dan keridaanNya (QS. 5: 16).
Bimbingan ini dapat diperoleh manusia dengan cara mengikuti
seorang rasul (QS 79: 19) dan mengikuti syari’at (ajaran agama)
yang dibawa oleh masing-masing rasul, (QS. 22: 67).
Dengan demikian, bimbingan yang ada di dalam Islam pada
akhirnya bertujuan untuk mengarahkan manusia memperoleh
petunjuk, hidayah (taufik), cahaya kebenaran dan keridaan dari
67
Mustafa al-Maraghi, “Tafsir al-Maraghi”, terj. Anwar Rasyidi dkk, Tafsir
al-Maraghi, Juz I, Semarang: CV. Toha Putra, 1993, hlm. 8.

59
Allah SWT. Tujuan ini akan tercapai manakala manusia dapat
memanfaatkan potensi dirinya dengan cara mengikuti ajaran-ajaran
yang dibawa oleh Rasul dan mau memperhatikan fenomena alam
semesta agar manusia tetap berada pada jalan kebenaran –sesuai
dengan doa yang selalu diminta oleh manusia dalam shalat -ihdina
al-shirath al-mustakiim.

2. Irsyad
Istilah irsyad berasal dari kata rasyada-yarsyudu-rusydan-wa
rasyadan yang berarti mencapai kedewasaan, mengajar, memimpin,
membimbing, menunjukkan, memberi nasehat dan petunjuk.
Sedangkan kata isrsyad (al-irsyad) berarti petunjuk, pengajaran,
nasehat, pendapat, dan pertimbangan.68 Apabila dikaitkan dengan
istilah bimbingan dan penyuluhan, maka istilah irsyad memiliki
makna yang sama dengan istilah bimbingan.
Al-Qur’an menyebutkan istilah irsyad dan ramifikasinya
sebanyak 19 kali dalan 11 surah,69 sebagaimana tercantum dalam
bagan di bawah ini:

NO SURAT AYAT BENTUK KETERANGAN70


(NO) KATA
1 Al-Baqarah 186 Yarsyudun Madaniyah
(2)
2 Al-Baqarah 256 Al-Rusydu Madaniyah
(2)
3 Al-A’raf (7) 146 Al-Rusydi Makkiyah
4 Al-Jin (72) 2 Al-Rusydi Makkiyah
5 Al-Nisa (4) 6 Rasydan Madaniyah
6 Al-Kahfi 66 Rusydan Makkiyah
(18)
7 Al-Anbiya 51 Rusydahu Makkiyah
(21)
8 Al-Kahfi 10 Rasyadan Makkiyah

68
A. Warson al-Munawwir, op cit., hlm. 535.
69
Ali Audah, op cit., 1991.
70
Asbabun nuzul ini diambil dari riwayat Ibn Abbas yang dikutip oleh Taufik
Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, Yogyakarta: FKBA, 2001,
hlm. 86.

60
(18)
9 Al-Kahfi 24 Rasyadan Makkiyah
(18)
10 Al-Jin (72) 10 Rasyadan Makkiyah
11 Al-Jin (72) 14 Rasyadan Makkiyah
12 Al-Jin (72) 21 Rasyadan Makkiyah
13 Ghafir (72) 29 Al-Rasyad Makkiyah
14 Ghafir (72) 38 Al-Rasyad Makkiyah
15 Al-Hujarat 7 Al-Rasyidun Makkiyah
(49)
16 Hud (11) 78 Rasyid Makkiyah
17 Hud (11) 87 Rasyid Makkiyah
18 Hud (11) 97 Rasyid Makkiyah
19 Al-Kahfi 17 Mursyidan Makkiyah
(18)

Dari bagan di atas, terlihat bahwa al-Qur’an tidak sama sekali


menyebutkan istilah irsyad (al-irsyad). Al-Qur’an lebih banyak (5
kali) menyebutkan istilah rasyadan. Istilah yang lainnya adalah al-
rusydu (3 kali), rasyid (3 kali), rasyadan (2 kali), al-rasyad (2 kali),
yarsyudun (1 kali), rusydahu (1 kali), al-rusyidun (1 kali) dan mursyidan
(1 kali).
Makna yang terkandung dari istilah isryad dan ramifikasinya,
yaitu: petunjuk (QS. 7: 146, 18: 10 dan 18: 17), jalan yang benar
atau bimbingan dari Allah (QS. 2: 256, 11: 97, 40: 29, 40: 38, 49: 7,
72: 2, 72: 10 dan 72: 14), kebenaran ajaran (QS. 2: 186, 18: 24, 18:
66, dan 21: 51), kemanfaatan (QS. 72: 21), orang yang berakal (QS.
11: 78, 11: 87) dan cerdas (QS. 4: 6).
Petunjuk diberikan oleh Allah kepada manusia yang tidak
ada sikap sombong di dalam dirinya (QS. 7: 146). Sikap sombong
merupakan sikap yang dimiliki oleh Iblis. Ia tidak mau menyembah
kepada Adam ketika disuruh oleh Allah untuk sujud kepadanya
(QS. 2: 34) Alasannya karena Iblis merasa terhormat dibandingkan
dengan Adam yang terbuat dari tanah. Sikap sombong ini dapat
melekat di dalam diri manusia dan merupakan penyakit jiwa. Oleh
karena itu, Luqman berpesan kepada anaknya: “Janganlah berjalan di
muka bumi dengan sombong,” (QS. 31: 18).

61
Kesombongan merupakan maksiat yang paling besar.
Menurut al-Ghazali yang dikutip oleh Hasan Langgulung bahwa
kesombongan dan kebanggaan sebagai maksiat yang muncul bila
sifat marah menyeleweng ke arah yang berlebihan.71 Kesombongan
timbul dalam pikiran bila seseorang percaya bahwa ia memiliki
keutamaan, sedang orang lain juga memiliki keutamaan, tetapi
keutamaannya lebih besar daripada orang lain. Dengan
kesombongan seseorang akan sulit untuk menerima kebenaran dari
orang lain, walaupun ia mengetahui bahwa hal itu benar. Sefat
seperti ini tentu saja akan merusak tatanan atau proses bimbingan.
Oleh karena itu, proses bimbingan dalam Islam perlu dijauhkan
dari sikap-sikap sombong. Baik sebagai pelaku maupun obyek
bimbingan.
Petunjuk juga diberikan kepada orang yang senantiasa
bermohon (doa) kepada Tuhan, (QS. 18: 10). Do’a merupakan
media untuk berdialog secara langsung seorang hamba dengan
Tuhannya dan Tuhan berjanji untuk mengabulkan setiap do’a dari
hambanya (QS. 2: 185).
Menurut Dadang Hawari, dipandang dari sudut kesehatan
jiwa, do’a mengandung unsur psikoterapeutik yang mendalam.
Psikoreligius terapi ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan
psikoterapi psikiatrik, karena ia mengandung kekuatan
spiritual/kerohanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan
rasa optimisme (harapan kesembuhan). Dua hal ini, yaitu rasa
percaya diri (self confident) dan optimisme merupakan dua hal yang
amat potensial dalam penyembuhan penyakit di samping obat-
obatan dan tindakan medis yang diberikan.72
Petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada manusia dalam
aplikasinya sangat bergantung kepada manusia. Manusia lah yang
menentukan apakah ia ingin baik atau jelek. Allah memberikan
kebebasan kepada manusia untuk memilih ketaatan atau kesesatan
(QS. 72: 14), jalan baik atau buruk (QS. 72: 10), dan juga untuk
memeluk agama atau tidak (QS. 2: 256).

71
Hasan Langgulung, Teori-teori Kesehatan Mental, Jakarta: Penerbit
Pustaka al-Husna, 1992, hlm. 358.
72
Dadang Hawari, Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa,
Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997, hlm. 478.

62
Meskipun demikian, Allah lebih cenderung dan akan
mendukung upaya manusia untuk memilih jalan yang penuh
keimanan, (QS. 40: 38). Karena dengan keimanan manusia akan
hidup damai, tenang dan tentram serta mampu menolak
kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan, (QS. 49: 7). Sebaliknya
orang yang mengikuti jalan Fir’aun yang notabene menganggap
dirinya Tuhan akan mendapatkan kesesatan. Fir’aun dengan
kekuasaannya mencoba menunjukkan jalan yang benar dan
menganggap jalannya yang paling benar, (QS. 40: 29). Padahal jalan
atau perintah yang ditunjukkan oleh Fir’aun bukanlah jalan yang
benar, (QS. 11: 97, 40: 37). Oleh karena itu, sebagai pengikut
Muhammad, kita perlu menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk
jalan yang benar agar kita tidak tertipu kepada jalan yang sesat, di
mana manusia memiliki potensi untuk memilih jalan yang sesat,
(QS. 72: 2).
Selain keimanan, ilmu pengetahuan yang benar juga menjadi
prasyarat seseorang untuk memperoleh jalan yang benar. Kisah
Musa dan Khidhir di dalam surat al-Kahfi memberikan gambaran
yang jelas bagaimana transfer of knowledge terjadi: “Musa berkata
kepada Khidhr: bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang
telah diajarkan kepadamu?”/ .. an tu’allimani mimma’ullimta rusyda,
(QS. 18: 66).
Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa bimbingan
dalam Islam berupaya untuk dapat membangun karakter individu
(character building) yang memiliki keimanan, ilmu pengetahuan, dan
memiliki sikap-sikap percaya diri (self confident), optimisme dan tidak
sombong.

3. Wa’azha (Mauizhah)
Menurut A. Warson al-Munawwir, istilah wa’azha
(mau’idzhah) berasal dari kata wa’azha-ya’idzu-wa’zhan-wa’izhatan yang
berarti menasehati.73 Dilihat dari makna yang ada, istilah wa’azha
adalah istilah yang dapat digunakan untuk istilah penyuluhan
(konseling) karena penyuluhan memiliki makna menasehati. Di

73
Ahmad Warson al-Munawwir, op cit., hlm. 1675.

63
dalam al-Quran istilah wa’azha dan ramifikasinya digunakan
sebanyak 25 kali dalam 11 surat.74 Di bawah ini bagan yang
menjelaskan kata wa’azha dan ramifikasinya.

NO SURAH (NO) AYAT BENTUK KETERANGAN


KATA
1 As-Syu’ara (26) 136 Awa’azhta Makkiyah
2 As-Syu’ara (26) 136 Al-Wa’izhina Makkiyah
3 Al-A’raf (7) 164 Ta’izhuna Makkiyah
4 Luqman (31) 13 Ya’izhuhu Makkiyah
5 Al-Baqarah (2) 231 Ya’izhukum Madaniyah
6 An-Nisa (4) 58 Ya’izhukum Madaniyah
7 An-Nahl (16) 90 Ya’izhukum Makkiyah
8 Al-Nur (24) 17 Ya’izhukum Madaniyah
9 Hud (11) 46 A’izhuka Makkiyah
10 Saba (34) 46 A’izhukum Makkiyah
11 An-Nisa (4) 63 Wa’izhuhum Madaniyah
12 An-Nisa (4) 34 Fa’izhuhunna Madaniyah
13 Al-Baqarah (2) 232 Yu’azhu Madaniyah
14 Al-Thalaq (65) 2 Yu’azhu Madaniyah
15 An-Nisa (4) 66 Yu’azhuna Madaniyah
16 Al-Mujadalah 3 Tu’azhuna Madaniyah
(58)
17 Al-Baqarah (2) 275 Mau’izhatun Madaniyah
18 Ali ‘Imron (3) 138 Mau’izhatun Madaniyah
19 Yunus (10) 57 Mau’izhatun Makkiyah
20 Hud (11) 120 Mau’izhatun Makkiyah
21 Al-Baqarah (2) 66 Mau’izhatun Madaniyah
22 An-Nur (24) 34 Mau’izhatun Madaniyah
23 Al-Maidah (5) 46 Mau’izhatun Madaniyah
24 Al-A’raf (7) 145 Mau’izhatun Makkiyah
25 An-Nahl (16) 125 Al-Mau’izhatu Makkiyah

Dari bagan di atas terlihat bahwa istilah wa’azha dan


ramifikasinya lebih banyak digunakan dalam bentuk kata kerja. Hal
ini mengandung maksud bahwa nasehat atau pelajaran yang
terkandung dari istilah wa’azha dan ramifikasinya lebih banyak
mengandung proses penasehatan dan pembelajaran. Dari 25 kali
istilah wa’azha dan ramifikasinya disebutkan, ada 4 arti pokok yang

74
Ali Audah, op cit., 1991.

64
terkandung dalam istilah tersebut, yaitu pelajaran/pengajaran (16
kali), nasehat (5 kali), peringatan (3 kali), dan larangan (1 kali).
Pelajaran yang dimaksud dalam istilah wa’azha dan
ramifikasinya dapat dikaji maknanya secara luas dari dua sisi, yaitu
dari sifat kegiatan dari pelajaran dan dari sumber pelajaran tersebut
diperoleh.
Dilihat dari sifat/kegiatan pelajaran, yakni: pertama, pelajaran
yang bersifat pendidikan dan pemberiannya dilakukan secara face to
face (langsung). Al-Qur’an menyebutkan bahwa Luqman
memberikan pelajaran secara langsung kepada anaknya berkenaan
dengan akidah, ibadah dan akhlak (QS. 31: 13).
Kedua, pelajaran yang bersifat keagamaan. Dalam hal ini, al-
Qur’an menggambarkan perlunya pemberian pelajaran keagamaan
(keimanan) kepada orang-orang munafik yang hatinya sulit untuk
dipegang. Pemberian pelajaran dilakukan dengan memberikan
perkataan yang dapat berbekas dalam jiwa mereka (QS. 4: 63) dan
perlu dilakukan pengujian keimanan mereka (QS. 4: 66). Selain itu,
pelajaran juga perlu diberikan kepada orang-orang yang bertakwa
dengan cara mengkaji dan mengevaluasi kisah-kisah atau azab-azab
yang menimpa umat terdahulu agar keimanan mereka semakin
bertambah (QS. 2:66). Di samping cara-cara yang spesifik dalam
memberikan pelajaran keagamaan, ada cara yang bersifat umum
dalam mengajak seseorang untuk memeluk agama atau menambah
keimanan bagi orang yang telah beragama, yaitu dengan cara
hikmah, mauidzah hasanah dan mujadalah, (QS. 16: 125).
Ketiga, pelajaran yang berkenaan dengan perkawinan.
Pelajaran yang dapat digali dari istilah wa’azha dan ramifikasinya,
yakni menyangkut thalaq/cerai (QS. 2: 231), orang yang menzihar
(QS. 58: 3), dan ruju’ (QS. 65: 2). Tiga hal ini merupakan problem
besar dalam rumah tangga. Kekhawatiran orang yang berumah
tangga adalah kegagalan dalam berumah tangga yang dapat
berakibat cerai. Bahkan, cerai merupakan perbuatan yang dibenci
oleh Tuhan. Demikian pula, perbuatan zhihar dapat menimbulkan
konflik dalam keluarga karena akan menyinggung perasaan seorang
isteri. Oleh karena itu, pelajaran ini penting untuk diberikan kepada
keluarga atau calon keluarga agar lebih berhati-hati dan perlu
persiapan diri secara matang dalam menjalankan kehidupan

65
berumah tangga. Apabila dalam keluarga yang kita bina telah terjadi
cerai dan ingin ruju’, maka Islam sangat menekankan etika agar
tidak terjadi fitnah dan kesalahpahaman.
Keempat, pelajaran berkenaan dengan kehidupan sosial.
Penekanan yang diberikan dalam kehidupan sosial adalah
menjalankan amanah dan berlaku adil dalam menetapkan hukum
(QS. 4: 58) dan berbuat kebijakan serta memiliki solidaritas sosial
yang tinggi (QS. 16: 90). Apabila empat hal yang diajarkan oleh al-
Qur’an diterapkan di dalam kehidupan masyarakat, tentu akan
terbentuk masyarakat madani seperti yang pernah terjadi pada
zaman Rasulullah.
Pelajaran dilihat dari sumbernya, yakni: Pertama, kitab-kitab
samawi dijadikan sebagai sumber pelajaran. Kitab-kitab yang
dimaksud adalah al-Qur’an (QS. 11: 120, 24: 34), Injil (QS. 5: 46),
Taurat (QS. 7: 145). Kedua, alam dijadikan sebagai sumber
pelajaran: “Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit
dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Dialah yang menghidupkan dan
mematikan dan hanya kepadaNya lah kamu dikembalikan. Hai manusia,
sesungguhnya telah datang kepadamu mauidzah (pelajaran) dari
Tuhanmu....” (QS. 10: 55-57).
Sedangkan nasehat yang diturunkan dari istilah wa’azha dan
ramifikasinya mengandung maksud, yakni pertama, nasehat yang
diarahkan kepada individu yaitu seorang suami memberikan
nasehat kepada isterinya yang dikhawatirkan nusyuznya (QS. 4: 34).
Kedua, nasehat yang diarahkan kepada keluarga (para wali) yang
mencoba menghalangi wanita yang telah habis masa ‘iddahnya
untuk kembali kepada suaminya (QS. 2: 232). Ketiga, nasehat yang
diarahkan kepada kaum yang tidak taat kepada Allah (lebih
diarahkan kepada masyarakat) (QS. 7: 164, 26: 136).
Demikian pula, istilah wa’azha dan ramifikasinya yang berarti
peringatan diarahkan kepada peringatan yang bersifat individual.
Contohnya adalah peringatan yang diberikan Allah kepada Nabi
Nuh untuk tidak memohon kepada Tuhan dalam menyelamatkan
anaknya. Sedangkan peringatan yang diarahkan kepada
kaum/kelompok, yakni peringatan yang diberikan kepada orang-
orang kafir agar menghadap kepada Allah secara iklhas dan tenang

66
(QS. 34: 46) sehingga terjalin komunikasi/hubungan yang dialogis
antara individu dengan Tuhan. Terakhir peringatan diarahkan
kepada masyarakat, yakni ketika Allah memberikan peringatan
kepada masyarakat Arab yang telah melakukan kebohongan besar
–kejadian yang menimpa isteri Nabi Aisyah- sehingga
menimbulkan fitnah besar di kalangan masyarakat (QS. 24: 17).
Adapun makna larangan yang diturunkan dari istilah wa’azha
dan ramifikasinya, secara bahasa di luar makna yang sesungguhnya
dari makna wa’azha dan ramifikasinya. Hal ini tidak terlepas dari
konteks bahasan yang digunakan dalam ayat tersebut, yakni
menyangkut riba. Riba bagi masyarakat Arab sering dipergunakan
dan disamakan dengan jual beli (QS. 2: 275). Untuk memberikan
larangan yang tidak menyinggung secara langsung, digunakanlah
istilah mauidzah yang oleh beberapa ulama tafsir, istilah ini cocok
digunakan bagi kalangan yang masih bersifat umum atau awam.75
Dengan melihat penjelasan dari berbagai makna yang ada
dalam istilah wa’azha dan ramifikasinya, penulis dapat mengambil
kesimpulan bahwa penggunaan istilah ini tidak sepenuhnya dapat
digunakan dalam pengertian penyuluhan (konseling). Apalagi
istilah penyuluhan lebih banyak diarahkan kepada nasehat yang
bersifat kuratif. Sementara itu wa’azha dan ramifikasinya sedikit
sekali memberikan makna nasehat atau pelajaran yang mengarah
kepada kuratif diantaranya pendidikan keagamaan dan perkawinan.
Dengan demikian, istilah wa’azha dan ramifikasinya tidak bisa
membedakan secara diametral antara bimbingan dan penyuluhan.
Justru dalam istilah wa’azha dan ramifikasinya, istilah bimbingan
dan penyuluhan saling mengisi dalam proses pelaksanaannya. Hal
ini juga tidak terlepas dari kata kerja yang banyak digunakan oleh
al-Qur’an dalam mengembangkan istilah wa’azha dan ramifikasinya.

4. Syifa
Istilah syifa berasal dari kata syafa-yasyfi-syifaan yang berarti
menyembuhkan atau obat.76 Istilah ini dimasukkan dalam konsep
bimbingan dan penyuluhan disebabkan karena istilah ini memiliki

75
Lihat al-‘Allamah al-Sayyid M. Husein al-Thabathabai, al-Mizan fi Tafsir
al-Qur’an, Juz II, Beirut: Muassasah al-A’lami lilmatbu’at, 1991, hlm. 374.
76
A. Warson al-Munawwir, op cit., hlm. 782.

67
makna yang sangat dekat dengan terapi yang ada di dalam Islam.
Konsep terapi yang ada di dalam Islam terutama menyangkut
terapi yang bersifat psikologis dan kejiwaan. Oleh karena itu, istilah
syifa ini lebih dimaknai sebagai istilah yang berhubungan secara
langsung dengan psikoterapi. Dan psikoterapi sendiri merupakan
bagian yang tidak dipisahkan dengan bimbingan dan penyuluhan.
Mengingat psikoterapi merupakan tindak lanjut dari kegiatan
bimbingan dan penyuluhan (konseling).
Istilah ini digunakan oleh al-Qur’an sebanyak 6 kali dalam 6
77
surah, seperti tertera dalam bagan di awah ini:

NO SURAH AYAT BENTUK KETERANGAN


(NO) KATA
1 Al-Taubah 14 Yasyfi Madaniyah
(9)
2 Al-Syuara 80 Yasyfina Makkiyah
(26)
3 Yunus (10) 57 Syifaan Makkiyah
4 An-Nahl 69 Syifaan Makkiyah
(16)
5 Al-Isra (17) 82 Syifaan Makkiyah
6 Fushshilat 44 Syifaan Makkiyah
(41)

Secara implisit, kata-kata syifa sebagaimana ditunjukkan


dalam tabel di atas berarti: Pertama, bahwa Allah yang
menyembuhkan segala penyakit yang ada di dalam dada manusia,
khususnya manusia beriman (QS. 9: 14, 26: 80, 10: 57). Di dalam
hadits dijelaskan bahwa “Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit,
melainkan Allah juga menurunkan obatnya,” (HR. Bukhari). Dari ayat
dan hadits tersebut dalam diambil makna bahwa konsep
psikoterapi dalam Islam sangat terkait dengan Tuhan (hubungan
yang bersifat vertikal). Hubungan tersebut dibangun dengan
landasan iman. Seorang yang beriman akan dibekali rasa aman dan
tentram serta dapat menjaga dirinya dari berbagai keresahan dan

77
Ali Audah, op cit., 1991.

68
penyakit.78 Hal ini disebabkan karena keimanan yang sungguh-
sungguh kepada Allah akan membekali dirinya dengan harapan dan
pertolongan, lindungan dan penjagaan Allah. Bahkan,
Fazlurrahman mengatakan bahwa shalat dapat menyembuhkan
penyakit jantung, perut dan usus.79 Demikian pula dzikir dapat
menurunkan tensi darah seseorang dan dapat meningkatkan
produktivitas kerja.80
Kedua, makanan dan minuman serta perbuatan dapat menjadi
obat penyakit yang diderita oleh manusia (QS. 16: 69). Dalam ayat
tersebut Allah mencontohkan madu sebagai salah satu obat yang
dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Selain itu,
perbuatan-perbuatan seperti dzikir, taubat, puasa dan shalat dapat
menyembuhkan penyakit seseorang.81 Dari makna kedua dapat
dijelaskan bahwa psikoterapi dalam Islam dalam proses
pengobatannya bukan hanya membutuhkan makanan dan
minuman yang dapat menghilangkan penyakit seseorang, tetapi
lebih jauh lagi perlu ada penyembuhan yang bersifat psikologis
dengan memberikan ajaran-ajaran yang dapat mendorong si pasien
lebih dekat dengan Tuhan dan dapat mengurangi beban psikologis
yang ada di dalam dirinya.
Ketiga, al-Qur’an itu sendiri menjadi obat bagi orang-orang
yang sakit (QS. 17: 82, 41: 42). Menurut al-Jauzi bahwa al-Qur’an
dilihat dari salah satu fungsinya merupakan obat bagi penyakit qalb
yang ada di dalam dada manusia, bahkan seluruh ayat mengandung
aspek pengobatan.82 Selanjutnya al-Jauzi mengatakan bahwa kata
min (dari) dalam surah al-Isra ayat 82 menjelaskan jenis bukan
menjelaskan sebagian. Dengan demikian, maka sesungguhnya al-

78
M. Utsman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Bandung: Penerbit Pustaka,
1985, hlm. 289.
79
Fazlurrahman, Etika Pengobatan dalam Islam, Bandung: Mizan, 1999,
hlm. 70.
80
Ahmad Subandi & Syukriadi Sambas, Dasar-dasar Bimbingan (al-Irsyad)
dalam Dakwah Islam, Bandung: KP Hadid, 1999, hlm. 67.
81
Penjelasan lebih lanjut lihat Ahmad Subandi & Syukriadi Sambas, Ibid.,
hlm. 61-83.
82
Ibn Qayyim al-Jauzi, al-Tafsir al-Qayyim, Beirut: Dar al-Fikr, 1998,
hlm.46.

69
Qur’an itu semuanya adalah penawar (obat).83 Pendapat senada
juga diperkuat oleh Fakhruddin yang mengatakan bahwa al-Qur’an
menjadi syifa bagi bebagai macam penyakit ruhaniyah dan
jasmaniah.84 Fazlurrahman juga mengatakan bahwa al-Qur’an
merupakan obat bagi beragam penyakit.85
Mengingat perubahan yang diarahkan oleh psikoterapi lebih
kepada aspek-aspek psikologi seseorang, maka perubahan tersebut
perlu diarahkan kepada perubahan yang terkait dengan pikiran,
kecenderungan, kebiasaan dan tingkah laku. Al-Qur’an sendiri
diturunkan untuk mengubah pikiran manusia, kecenderungan dan
tingkah lakunya, memberi petunjuk kepada mereka, mengubah
kesesatan dan kebodohan mereka, mengarahkan mereka kepada
apa yang lebih baik dan bagus bagi mereka, dan membekali mereka
dengan pikiran-pikiran baru tentang tabiat manusia dan misinya
dalam kehidupan, nilai-nilai, moral dan ideal-ideal kehidupan yang
baru.86
Dengan mengacu kepada istilah syifa dan makna yang
terkandung di dalamnya, jelaslah bahwa konsep psikoterapi dalam
Islam lebih menekankan kepada membangun kembali hubungan
yang harmonis antara seorang hamba dengan Tuhannya. Selain itu,
hubungan horisintal antar manusia dan lingkungan sosialnya perlu
dijalin dengna mengacu kepada nilai-nilai yang bersumber dari
Tuhan. Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari konsep manusia di
dalam Islam, yaitu konsep fitrah. Ketika manusia mengotori
kesucian jiwanya, berarti ia telah memutuskan hubungan yang
harmonis dengan Tuhannya dan konsekuensinya manusia tersebut
mengalami penderitaan/masalah secara batiniah/psikologis. Untuk
menyembuhkannya perlu diberikan syifa agar hubungan tersebut
dapat terjalin dengan harmonis.

83
Ibid., hlm. 348.
84
M. Al-Razi Fakhruddin, Mafatih al-Ghaib, Juz XI, Beirut: Dar al-Fikr,
1994, hlm. 35.
85
Fazlurrahman, op cit., hlm. 124.
86
M. Utsman Najati, op cit., hlm. 303.

70
B. Prinsip-prinsip dalam Bimbingan dan Penyuluhan
Dalam sebuah proses bimbingan dan penyuluhan diperlukan
adanya prinsip yang mendasari semua aktivitas di dalam bimbingan
dan penyuluhan. Prinsip-prinsip yang akan dibahas dalam tulisan
ini diturunkan dari al-Qur’an, terutama yang terkait secara langsung
dengan istilah-istilah bimbingan dan penyuluhan yang ada di dalam
al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan agar kita memperoleh makna dan
pemahaman yang utuh dari konsepsi bimbingan dan penyuluhan
yang ada di dalam al-Qur’an.
Prinsip-prinsip bimbingan dan penyuluhan yang ada di dalam al-
Qur’an, yaitu:
1. Setiap upaya yang dilakukan dalam proses bimbingan dan
penyuluhan diarahkan kepada jalan yang benar.

Kebanyakan ayat yang membicarakan tentang irsyad


(rasyada) dan ramifikasinya memiliki makna jalan yang benar.
Demikian pula, istilah huda mempunyai makna secara umum,
petunjuk yang diarahkan kepada petunjuk ke arah jalan yang
benar. Bahkan, di dalam istilah mau’izhah yang umumnya
memiliki makna pelajaran juga bertujuan untuk memberikan
pelajaran yang baik, yakni ke arah jalan yang benar.
Menurut al-Maraghi ketika menafsirkan “laallahum
yarsyudun” (QS. 2: 186) bahwa kata ar-rusydu dan ar-rasyad
merupakan lawan al-ghayyu atau al-fasad artinya mendapat
petunjuk, tidak sesat atau rusak.87 Hal ini juga diperkuat di
dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 256 di mana kata ar-
rusydu diperhadapkan dengan kata al-ghayyu dalam menentukan
pilihan beragama (la ikraha fi al-din qad tabayyan al-rusydu min al-
ghayyu ...).
Untuk memberikan makna yang jelas tentang jalan yang
benar, al-Qur’an menyebutkan secara langsung dengan
perkataan “ihdina al-shirath al-mustaqiim”. Perkataan tersebut
oleh M. Rasyid Ridha diartikan dengan menunjukkan dan
mengarahkan kita untuk mendapatkan taufik dan pertolongan
kepada jalan yang tidak bengkok dan tidak cacat, baik dalam

87
Mushthafa al-Maraghi, op cit., Juz 2, hlm. 132.

71
ilmu maupun dalam amal.88 Jalan yang benar ini meliputi
akidah, hukum, akhlak, syari’at agama, ilmu kemasyarakatan
dan sebagainya.89
Dengan demikian, prinsip pertama dalam bimbingan dan
penyuluhan adalah diarahkannya seseorang/kelompok kecil
yang akan dibimbing kepada jalan yang benar atau jalan yang
lurus sesuai dengan problem yang dihadapinya.

2. Dalam melakukan bimbingan dan penyuluhan disesuaikan


dengan kondisi atau keadaan dari obyek yang dibimbing dan
dilakukan penyuluhan (klien).

Manusia sebagai obyek bimbingan dan penyuluhan


diciptakan oleh Allah memiliki perbedaan-perbedaan antara
yang satu dengan yang lainnya, baik menyangkut fisik, psikis
maupun intelektual. Perbedaan-perbedaan tersebut terjadi
akibat adanya faktor-faktor keturunan dan lingkungan.90
Al-Qur’an banyak mengemukakan tentang perbedaan-
perbedaan individu, di antaranya manusia dengan yang lainnya
berbeda dalam kemampuan intelektual dan kecerdasan (QS.
12: 76), berbeda dalam kekuasaan (QS. 6: 165), berbeda dalam
kekayaan atau rezeki (QS. 43: 23, 4: 34), berbeda dalam bahasa
dan warna kulit (QS. 30: 22), berbeda dalam kualitas psikis
atau jiwa (QS. 89: 27-30, 75: 1-2, 12: 53, 18: 73) dan
sebagainya.
Perbedaan-perbedaan yang terjadi pada setiap individu
hendaklah dijadikan landasan atau dasar untuk melakukan
bimbingan dan penyuluhan. Bimbingan dan penyuluhan
disesuaikan dengan kondisi atau keadaan klien. Karena itu,
metode al-hikmah, mauidzah hasanah dan mujadalah yang
ihsan (QS. 16: 125) dapat digunakan oleh pembimbing atau
penyuluh dalam melakukan bimbingan dan penyuluhan dan
juga sabda nabi “”ajaklah manusia sesuai dengan kemampuan

88
M. Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, al-Syahir bi Tafsir al-Manar,
Juzh I, Beirut: Dar al-Ma’arif, t. t. hlm. 104.
89
Mushthafa al-Maraghi , op cit., hlm 50.
90
M. Utsman Najati, op cit., hlm. 270.

72
akal mereka” dapat dijadikan landasan gerak atau operasional
dalam bimbingan dan penyuluhan.

3. Muatan materi bimbingan dan penyuluhan yang akan


diberikan kepada klien dapat menyentuh hati yang terdalam.

Prinsip ini diturunkan dari istilah wa’adzahum (nasehat)


yang disejajarkan dengan sitilah qaul (perkataan) seperti yang
terdapat di dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 63: “Mereka itu
adalah orang-orang yang rahasia hatinya diketahui Allah.
Karena itu berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka
pelajaran. Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
berbekas pada jiwa mereka (qaulan baligha).”
Menurut al-Isfahani yang dikuti oleh Achmad Mubarok,
perkataan yang baligh (qaulan baligha) mempunyai dua arti:
a. Suatu perkataan dianggap baligh ketika dalam diri seseorang
terkumpul tiga sifat, yaitu: pertama, memiliki kebenaran
dari sudut bahasa (shawaaban fi maudhu’i lughatihi). Kedua,
mempunyai kesesuaian dengan apa yang dimaksudkan
(thabaqan lil ma’na al-maqsud bihi), dan, ketiga mengandung
kebenaran secara substansial (shidqan li nafsihi).
b. Perkataan dianggap baligh ketika perkataan itu di persepsi
oleh yang mendengar seperti yang dimaksud oleh yang
berkata.91

Sementara menurut Jalaluddin Rahmat yang dikutip oleh


Makrum Kholil, perkataan yang baligh adalah: Pertama,
perkataan baligh terjadi bila pembicara menyesuaikan
pembicaraannya dengan sifat-sifat khalayak yang dihadapinya.
Kedua, perkataan baligh terjadi jika pembicara menyentuh
khalayak pada hati dan otak mereka sekaligus.92

91
Achmad Mubarok, Jiwa dalam al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2000, hlm.
254.
92
Makrum Kholil, “Komunikasi Massa dalam Perspektif al-Qur’an, dalam
Religia Vol. 3 No. 1 Februari, 2000.

73
Ayat di atas dalam asbabun nuzulnya lebih dikhususkan
kepada orang munafik yang dihadapan Nabi berpura-pura
baik, tetapi di belakang mereka menentang dakwah Nabi.
Karakteristik orang munafik seperti diterangkan oleh
Rasulullah adalah berdusta jika berbicara, ingkar jika berjanji
dan berkhianat jika dipercaya. Bagi manusia dengan
karakteristik demikian, perkataan lemah lembut tidak akan
membekas ke dalam jiwanya.
Meskipun ayat tersebut ditujukan kepada orang munafik,
tetapi ayat tersebut dapat diambil pesan moralnya untuk
dijadikan prinsip dalam memberikan muatan atau materi
bimbingan dan penyuluhan, terutama bagi klien yang sudah
memiliki masalah, di mana mereka secara psikis mengalami
guncangan dan tekanan-tekanan yang dapat berakibat pada
jiwa yang tidak sehat. Oleh karena itu, perkataan yang dapat
menyentuh jiwa dapat dijadikan alternatif untuk
menyembuhkan masalah klien.

4. Ajaran-ajaran al-Qur’an dan Hadits Nabi dijadikan sebagai


sumber bimbingan, nasehat dan obat.

Di dalam beberapa ayat dinyatakan bahwa al-Qur’an


dijadikan sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa (QS. 2: 2,
3: 138), orang yang beriman (QS. 2: 97, 7: 52, 27: 2, 27: 77, 16:
64), orang yang berserah diri (QS. 16: 89, 16: 102), orang-
orang yang berbuat baik (QS. 31: 3), dan bagi manusia (QS. 2:
185, 5: 4, 10: 57). Petunjuk yang diberikan oleh al-Qur’an
kepada manusia ternyata cukup ragam, bukan hanya untuk
orang-orang yang bertakwa, tetapi lebih jauh kepada seluruh
manusia.
Al-Qur’an juga dijadikan sebagai sumber bimbingan:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di
muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanKu.
Mereka jika melihat tiap-tiap(Ku), mereka tidak beriman kepadanya
dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk (al-
rusydi), mereka tidak mau menempuhnya. Tetapi jika mereka melihat
jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah

74
karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai
darinya,” (QS. 7: 146). Ayat ini menyatakan secara jelas bahwa
orang yang tidak mengikuti bimbingan atau tidak menjadikan
al-Qur’an sebagai sumber bimbingan, maka ia tidak
mendapatkan jalan kebenaran.
Selain itu, al-Qur’an juga dijadikan sebagai sumber
nasehat, penerangan (penjelasan), kebenaran dan contoh-
contoh/ kisah-kisah orang terdahulu yang dapat dijadikan
pelajaran (QS. 24: 34, 11: 120, 3: 138, 12: 111) Bahkan al-
Qur’an menyatakan dirinya obat penawar (QS. 41: 44, 17:
82).
Dari uraian di atas jelaslah bahwa bimbingan dan
penyuluhan yang akan diberikan hendaklah mengacu kepada
sumber al-Qur’an, baik sebagai sumber materi, landasan atau
nilai-nilai yang hendak dibangun maupun sebagai landasan
gerak dalam melakukan bimbingan dan penyuluhan.
Di samping al-Qur’an, as-Sunnah juga perlu dijadikan
sebagai sumber dalam melakukan bimbingan dan penyuluhan.
Beberapa ayat al-Qur’an memberikan deretan yang sejajar
antara ketaatan kepada Allah dan RasulNya (QS. 4: 59, 3: 32,
3: 132, 5: 92, 24: 54, 47: 33 dan sebagainya). Selanjutnya al-
Qur’an menyatakan secara langsung di mana Sunnah dijadikan
sebagai sumber bimbingan dan penyuluhan “....janganlah kamu
jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan dan ingatlah nikmat
Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan kepadamu, yaitu al-
Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi
pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkanNya itu....” (QS. 2:
231).

75
5. Bimbingan dan Penyuluhan dalam Islam berpusat pada
individu.

Di dalam surat ar-Ra’du ayat 11 Allah menyatakan bahwa:


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga
kaum tersebut mau mengubah diri mereka sendiri” (innallaha la
yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim). Kata nafs
dalam ayat tersebut oleh Fazlurrahman dikatakan tidak tepat
jika diartikan jiwa, tetapi lebih tepat diartikan sebagai pribadi
atau keakuan.93 Nafs dalam ayat tersebut selain berfungsi
sebagai wadah, juga berfungsi sebagai penggerak tingkah
laku.94 Sebagai wadah, nafs dapat menampung hal-hal yang
baik maupun yang buruk (QS. 91: 8). Jika dijaga dari dorongan
syahwat atau hawa nafsu (QS. 79: 40) dan disucikan (QS. 91:
9), nafs meningkat kualitasnya. Sebaliknya, jika ia dikotori
dengan perbuatan maksiat dan menjauhi kebajikan (QS. 91:
10), maka nafs menjadi rendah kualitasnya. Kualitas nafs itu
berpengaruh terhadap perbuatan. Jika kualitas nafs itu baik,
maka kecenderungannya pada menggerakkan perbuatan baik,
tetapi jika kualitasnya rendah, maka nafs cenderung mudah
menggerakkan perbuatan buruk.
Berdasarkan konsep tersebut, maka perubahan yang
terpenting dalam diri manusia adalah perubahan dari aspek
mental/nafs. Itulah sebabnya Islam menanamkan perubahan
yang bersifat mental sebagai al-jihad al-akbar (perjuangan
besar), sementara perubahan di luar diri manusia sebagai al-
jihad al-ashgar (perjuangan kecil).95
Al-Qur’an menggambarkan bagaimana kondisi suatu
pembangunan masyarakat yang pesat dalam pembangunan
fisiknya namun mengabaikan pembangunan mentalnya: “Dan
di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia

93
Fazlurrahman, Tema Pokok al-Qur’an, Bandung: Penerbit Pustaka, 1995,
hlm. 26.
94
Achmad Mubarok, op cit., hlm. 53.
95
Allamah Muhammad Baqir Shadr, “Madrasatil Quraniyah”, terj.
Hidayaturrahman, Pedoman Tafsir Modern, Jakarta: Risalah Masa, 1992,
hlm. 117.

76
menarik hatimu, dan dipersaksikan kepada Allah (atas kebenaran) isi
hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila
ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di muka bumi untuk membuat
kerusakan terhadapnya dan merusak tanaman-tanaman dan binatang
ternak, padahal Allah tidak menyukai kebinasaan.”
Ayat tersebut bermaksud mengatakan bahwa jika manusia
tidak mampu mengubah jiwanya sendiri, tidak mampu
membuat perubahan pada pikiran dan gagasannya, maka ia
tidak akan mampu untuk melontarkan ide-ide yang gemilang
untuk selamanya. Ide-ide yang cemerlang tersebut tidak akan
mungkin dapat diwujudkan dalam pembangunan fisik sosial,
kecuali jika terlebih dahulu dibangun revolusi pemikiran.
Sebab jika tidak demikian, maka ide-ide cemerlang itu tinggal
ide kosong yang hampa.
Oleh karena itu, bimbingan dan penyuluhan Islam dalam
aktivitasnya bertitik tolak pada perubahan mental individu.
Perubahan individu menjadi sentral dalam proses bimbingan
dan penyuluhan. Jika individu secara mental sehat dan baik,
maka masyarakat yang merupakan gabungan dari individu-
individu tersebut akan sehat dan baik.

C. Bentuk dan Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan


Al-Qur’an ketika membahas tentang bentuk dan pelaksanaan
bimbingan dan penyuluhan tidak dibahas secara rinci karena al-
Qur’an hanya mengandung ajaran-ajaran yang bersifat mujmal
(global). Meskipun demikian bukan berarti al-Qur’an tidak
membahas tentang bentuk dan pelaksanaan bimbingan dan
penyuluhan.
Di dalam tulisan ini, bentuk dan pelaksanaan bimbingan dan
penyuluhan diturunkan dari isyarat-isyarat yang diberikan oleh al-
Qur’an, baik secara implisit maupun eksplisit. Sesuai dengan
pembahasan di awal tulisan ini bahwa ada empat istilah pokok
berkenaan dengan bimbingan dan penyuluhan di dalam al-Qur’an.
Oleh karena itu, bentuk dan pelaksanaan bimbingan dan
penyuluhan di dalam tulisan ini juga diturunkan dari empat istilah
tersebut, yakni: huda, irsyad, wa’azha, dan syifa.

77
Sebelum membahas lebih jauh tentang bentuk dan
pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan, terlebih dahulu penulis
membahas tentang jenis-jenis bimbingan dan penyuluhan yang ada
di dalam al-Qur’an. Maksud pembahasan ini untuk memudahkan
penulis dalam mengkaji bentuk dan pelaksanaan bimbingan dan
penyuluhan.
Jenis-jenis bimbingan dan penyuluhan yang ada di dalam al-
Qur’an, yaitu:
1. Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan
Jenis bimbingan dan penyuluhan ini terutama diambil dari
istilah huda dan ramifikasinya. Tujuan dari bimbingan dan
penyuluhan agama adalah membimbing dan mengarahkan
manusia untuk memperoleh jalan yang benar, yakni jalan yang
mendapatkan keridaan dan cahaya kebenaran dari Allah SWT.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki
potensi untuk menyimpang. Di dalam diri manusia ada sifat-
sifat jelek yang dapat mendorong manusia untuk melakukannya.
Apalagi al-Qur’an menyatakan bahwa manusia diberi kebebasan
untuk menentukan salah satu dari dua jalan yang diberikan oleh
Allah (jalan kebaikan dan kejahatan): “Wa hadainahu al-najdaini”
(QS. 90: 10) atau “Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha” (QS. 91: 8).
Guna mencegah manusia dari jalan yang sesat, maka
manusia memerlukan agama untuk dijadikan pedoman dalam
hidup. Di sinilah peran penting dari bimbingan dan penyuluhan
agama. Bimbingan penyuluhan agama bukan hanya ditujukan
kepada orang yang sudah beragama, tetapi juga kepada orang
yang belum beragama. Di dalam surat al-Baqarah ayat 174-175
dijelaskan bahwa ada orang-orang yang menyembunyikan al-
Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah. Mereka itulah
orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk.
Menurut al-Maraghi, maksud ayat tersebut ditujukan
kepada orang-orang yang menyembunyikan wahyu yang
diturunkan Allah kepada para rasulNya, mengadakan takwil,
mengubah atau memasukkan yang tidak asli ke dalam Kitab
dengan pendapatnya sendiri hanya karena imbalan keduniaan

78
yang tak berharga.96 Ayat ini memberikan gambaran bahwa
bimbingan dan penyuluhan agama diperlukan bagi orang-orang
yang sudah memeluk agama untuk meningkatkan kualitas
keagamaan mereka.
Di dalam ayat yang lain Allah banyak menyebutkan orang-
orang yang di luar Islam, seperti kafir, musyrik, munafik, dan
sebagainya yang tidak mendapatkan petunjuk disebabkan oleh
perbuatan mereka sendiri. Oleh karena itu, orang-orang yang
berada di luar Islam perlu mendapatkan bimbingan dan
penyuluhan agar mereka kembali kepada kesucian diri dan
memeluk agama Islam, sebagaimana perjanjian primordial yang
pernah dilakukannya (QS. 7: 172).

2. Bimbingan dan Penyuluhan Pendidikan


Jenis bimbingan dan penyuluhan ini diturunkan dari istilah
wa’azha dan ramifikasinya. Al-Qur’an memberikan mau’izhah
yang bersumber dari kisah Luqman bersama anaknya. Luqman
adalah seorang hamba yang hidup pada zaman Nabi Dawud
as.97 Ia mendapatkan hikmah dari Allah SWT (QS. 31: 12).
Pendidikan yang diajarkan oleh Luqman berkaitan dengan
akidah, ibadah dan akhlak.

Selain itu, jenis bimbingan dan penyuluhan ini diturunkan


dari kata irsyad dan ramifikasinya. Di dalam surat al-Kahfi ayat
67-82 dijelaskan bagaimana Khidhir memberikan bimbingan
pendidikan kepada Nabi Musa as.
Tujuan dari bimbingan dan penyuluhan pendidikan adalah
membekali seorang anak di dalam menempuh kehidupan
dengan dasar keimanan dan kepribadian yang utuh serta
memiliki pengetahuan yang mumpuni.

3. Bimbingan dan Penyuluhan Perkawinan dan Keluarga

96
Mushthafa al-Maraghi, op cit., Juz 2, hlm. 86.
97
Everett K. Rowson, A Muslim Philosopher on the Soul and its Fate al-
‘Amiri’s Kitab al-Amad ala al-Abad, New Haven: American Oriental
Society, 1988, hlm. 70.

79
Menurut Aunur Rahim Faqih, objek dari jenis bimbingan
dan penyuluhan perkawinan dan keluarga adalah: pemilihan
jodoh (pasangan hidup), peminangan, pelaksanaan pernikahan,
hubungan suami isteri, hubungan antara anggota keluarga,
pembinaan hidup rumah tangga, harta dan warisan, poligami,
perceraian, thalaq dan ruju’.98
Jika dikaji dari istilah bimbingan dan penyuluhan yang ada
di dalam al-Qur’an, ternyata tidak semua obyek tersebut
menjadi bahasan di dalam istilah-istilah tersebut. Jenis
bimbingan dan penyuluhan perkawinan dan keluarga terutama
diambil dari istilah wa’azha dan ramifikasinya. Dari sekian
obyek tersebut, al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan tentang
hubungan suami isteri (berkaitan dengan kekhawatiran
nusyuznya), perceraian, thalaq dan ruju’. Tampaknya bimbingan
dan penyuluhan perkawinan dan keluarga ini lebih difokuskan
kepada permasalahan-permasalahan krusial yang sering muncul
di dalam keluarga dan dapat berakibat rusaknya rumah tangga
seseorang. Oleh karena itu, penerapan penyuluhan atau
konseling lebih tepat terhadap persoalan-persoalan tersebut.

4. Bimbingan dan Penyuluhan Sosial


Allah mengajarkan (wa’azha) kepada manusia untuk berlaku
adil, berbuat kebijakan, memberi kepada kaum kerabat dan
Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
permusuhan (QS. 16: 90). Dalam ayat lain, Allah memberi
pelajaran untuk menunaikan amanah dan berlaku adil (QS. 4:
58).
Apabila sikap-sikap sosial yang diajarkan oleh Allah
tersebut diterapkan oleh tiap-tiap individu, niscaya manusia
tersebut memiliki kepribadian yang utuh. Apalagi Allah selalu
mendorong orang beriman untuk memiliki kesadaran
98
Aunur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, Yogyakarta:
UII Press, 2001, hlm. 90.

80
berkelompok (QS. 49: 10, 59: 9, 107: 4-7, 5: 2). Kesadaran
kelompok dan membangun sikap sosial akan menghilangkan
perasaan resah. Perasaan resah biasanya dimiliki oleh pasien
jiwa. Oleh karena itu, menurut M. Utsman Najati, banyak para
ahli psikoterapi yang menyadarinya penting hubungan-
hubungan manusiawi dalam kesehatan jiwa.99 Dengan demikian,
bimbingan dan penyuluhan sosial sangat diperlukan baik untuk
individu maupun untuk kelompok/masyarakat.
Adapun bentuk dan pelaksanaan bimbingan dan
penyuluhan menurut al-Qur’an, yaitu:
1. Bimbingan dan Penyuluhan Individual.
Di dalam beberapa ayat Allah melakukan bimbingan
secara langsung kepada para nabi dan rasulNya. Di dalam
surat an-Nisa ayat 164 dikatakan: “Allah telah berbicara
kepada Musa secara langsung.” Demikian pula Nabi
Muhammad mendapatkan tugas secara langsung berkaitan
dengan shalat dan peristiwa isra mi’raj (QS. 17: 1). Nabi
Ibrahim juga mendapatkan petunjuk dari Tuhan secara
individual (QS. 37: 99) yang pada akhirnya diperintahkan
untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 101-111).
Bimbingan secara langsung juga dilakukan oleh
Khidhir kepada Nabi Musa. Khidhir mendidik Musa secara
langsung dengan perbuatan-perbuatannya agar Musa
menjadi orang yang sabar dan menerima ilmu pengetahuan
yang benar “Musa berkata kepada Khidhir: bolehkah aku
mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu
yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?” (QS. 18: 66). Dalam ayat selanjutnya, Khidhir
melakukan perbuatan-perbuatan yang disaksikan secara
langsung oleh Nabi Musa (QS. 18: 67-82).
Bimbingan individual dilakukan juga oleh Luqman kepada
putranya. Dia mengajarkan tentang pendidikan akidah,
ibadah dan akhlak secara langsung kepada putranya (QS.
31: 13-19).

99
M. Utsman Najati, op cit., hlm. 301.

81
Selanjutnya, berkaitan dengan penyuluhan dilakukan
oleh seorang suami kepada isterinya yang memiliki masalah,
dalam hal ini berkaitan dengan nusyuz. Upaya penyuluhan
yang dilakukan dengan cara memberi nasehat dan dengan
perbuatan, yakni memisahkannya dari tempat tidur (QS. 4:
34).
Dengan demikian, bentuk bimbingan dan penyuluhan
individual dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara
langsung face to face dan juga dengan perbuatan atau
keteladanan. Dua hal ini yang menjadi pokok dalam
pengembangan bimbingan dan penyuluhan individual.
Dalam pengembangan lebih lanjut dua hal ini dapat
divariasikan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari
obyek bimbingan dan penyuluhan.

2. Bimbingan dan Penyuluhan Kelompok dan Keluarga.


Kelompok dalam teori ilmu dakwah diturunkan dari
istilah fiah. Al-Qur’an menyebutkan istilah fi’ah sebanyak 11
kali dengan empat bentuk kata (fi’ah, fi’atakum, al-fi’atani,
fi’ataini). Fi’ah dalam al-Qur’an digunakan dalam
mengungkapkan sekelompok orang yang berperilaku baik
dan tidak baik. Perilaku baik berupa berupa berjuang di
jalan Allah dan perilaku tidak baik tidak berjuang di jalan
Allah. Bagi yang pertama mendapatkan pujian dan ridha
Allah dan bagi yang kedua mendapat celaan dan murka
Allah SWT. Secara kuantitatif, fi’ah dikatakan kecil
manakala kurang dari 20 orang.100 Al-Qur’an ketika
mengemukakan fiah besar ada istilah lain yang digunakan,
yakni kaum.
Berkenaan dengan bimbingan dan penyuluhan
kelompok ini, al-Qur’an banyak menyinggung tentang
pemberian petunjuk kepada kaum, baik yang dilakukan
oleh Allah maupun oleh Nabi dan RasulNya. Secara
spesifik, bimbingan dan penyuluhan yang diturunkan dari
istilah yang ada tidak ditemukan bimbingan dan

100
Lihat Ahmad Subandi & Syukriadi Sambas, op cit., hlm. 42.

82
penyuluhan kelompok dalam pengertian fi’ah. Jika
diturunkan dari istilah-istilah yang penulis bahas di bagian
awal, maka bimbingan dan penyuluhan kelompok lebih
tepat diarahkan kepada keluarga. Untuk kelompok
besar/masa (kaum/umat) lebih tepat digunakan
pendekatan komunikasi dan penyiaran.
Berkenaan dengan keluarga, al-Qur’an memberikan
pelajaran tentang hubungan suami isteri, perceraian, thalaq
dan ruju’. Hubungan suami isteri yang baik apabila terjadi
dialog dan saling percaya. Jika tidak terjadi dialog akan sulit
untuk membangun hubungan yang harmonis dan dapat
menimbulkan masalah dalam keluarga. Permasalahan yang
muncul berkaitan dengan zhihar dan nusyuz juga tidak
terlepas dari sikap seorang suami/isteri dalam membangun
hubungan keluarga (QS. 58: 3, 4: 34). Pelaksanaan
penyuluhannya dapat dilakukan dengan cara nasehat dan
perbuatan-perbuatan.
Demikian pula, ketika penyuluhan berkaitan dengan
suami yang hendak ruju’ kepada isterinya dapat dilakukan
dengan cara perbuatan, dalam hal ini para wali merelakan
anaknya untuk diruju’ dan juga dengan cara mendatangkan
para saksi (QS. 65: 2, 2: 232).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk
bimbingan dan penyuluhan kelompok yang dimaksudkan
oleh al-Qur’an ditujukan kepada kaum dan keluarga.
Teknik pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara
nasehat (baik berupa petunjuk, kabar gembira maupun
ancaman) dan perbuatan-perbuatan nyata yang dapat
bermanfaat bagi obyek yang dibimbing/dilakukan
penyuluhan. Jika dikembangkan lebih lanjut, proses
penasehatan dapat dilakukan bervariasi seperti
menggunakan media dan perbuatan-perbuatan, juga dapat
dikembangkan dalam bentuk resep-resep dan aktivitas-
aktivitas ibadah yang dapat dimanfaatkan oleh obyek/klien.

83
D. Kedudukan dan Peran Manusia dalam Proses Bimbingan
dan Penyuluhan
Bimbingan dan penyuluhan dilakukan oleh, terhadap dan
untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, pandangan mengenai
hakekat manusia akan menentukan dan menjadi landasan
operasional bimbingan dan penyuluhan, sebab pandangan
mengenai hakekat manusia itu akan memengaruhi segala tindakan
bimbingan dan penyuluhan tersebut.
Untuk membahas dan menemukan hakekat manusia yang
sebenarnya tidaklah semudah membalikan telapak tangan dan sulit
untuk menemukan hakekat yang sebenarnya. Manusia adalah
makhluk misterius. Di dalam diri manusia banyak hal yang bisa
dikaji dan ditelaah. Allah SWT telah memberikan dorongan untuk
senantiasa mengkaji dan memikirkan tentang diri manusia (QS. 51:
21) dan juga Allah menunjukkan kekuasaanNya pada diri manusia
dan alam semesta (QS. 41: 53). Bahkan, dalam al-Qur’an tidak ada
satu subyek yang lebih banyak dibicarakan daripada manusia.
Menurut Marcel A. Boisard,101 ada tiga macam pendekatan
yang dapat dilakukan dalam mempelajari manusia, yaitu: Pertama,
orang dapat menyelidiki manusia dalam hakekatnya yang murni
dan esensial. Kedua, orang dapat melakukan penyelidikan dengan
mencurahkan segala perhatiannya kepada prinsip-prinsip ideologis
dan spiritual yang mengatur tindakan manusia dan yang
memengaruhi pembentukan personalitasnya. Ketiga, penyelidikan-
penyelidikan tentang lembaga etika dan yuridis yang telah
terbentuk dari pengalaman sejarah dan kemasyarakatan dan yang
dihormati. Oleh karena lembaga-lembaga tersebut telah dapat
melindungi perorangan dan masyarakat dengan menerangkan hak-
hak dan kewajiban-kewajiban timbal balik antar manusia.
Berkenaan dengan tulisan ini, penulis menggunakan model
pendekatan kedua. Pertimbangannya karena pembahasan tentang
peran dan kedudukan manusia lebih banyak disoroti melalui
pendekatan psikologi dan sosiologi.
Sebelum penulis membahas lebih jauh tentang peran dan
kedudukan manusia dalam proses bimbingan dan penyuluhan,
101
Marcel A. Boisard, Humanisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang,
1980, hlm.

84
terlebih dahulu akan dibahas tentang hakekat manusia dalam
pandangan al-Qur’an.
Ada tiga bentuk kata yang digunakan al-Qur’an untuk
menunjuk kepada arti manusia, yaitu: insan atau ins atau al-nas atau
unas, dan kata bani adam atau dzurriyat adam.
Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak,
harmonis dan tampak. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandang
al-Qur’an lebih tepat dibandingkan dengan yang berpendapat
bahwa kata insan diambil dari kata nasiya (lupa) atau nasa-yanusu
(berguncang).102
Kata nas-ins-unas-insan digunakan al-Qur’an kurang lebih ada
86 kali. 17 kali dalam bentuk ins (al-ins), 61 kali dalam bentuk insan
(al-insan), dan 8 kali dalam bentuk unas, unasi, insiyyun, dan
musta’nisin.
Kata insan dan ramifikasinya digunakan al-Qur’an untuk menunjuk
kepada manusia dengan seluruh totalitasnya: jiwa dan raga, psikis
dan fisik. Manusia berbeda antara seseorang dengan yang lainnya
akibat perbedaan fisik, psikis dan kecerdasan.
Sedangkan kata basyar diambil dari akar kata yang pada
mulanya berarti “penampakan sesuatu dengan baik dan indah”.
Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit.
Manusia disebut basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda
jauh dari kulit hewan yang lain.103
Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 36 kali dalam
bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjuk
manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia
seluruhnya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw diperintahkan
untuk meyampaikannya: “Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu
yang diberi wahyu.” (QS. 18: 10).
Selain itu, banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menggunakan
kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia
sebagai basyar melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahap
kedewasaan “dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya (Allah)

102
Rif’at Syauqi Nawawi, “Konsep Manusia Menurut al-Qur’an”, Dalam
Rendra K (Peny.), Metodologi Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2000, hlm. 6.
103
Ibid., hlm. 5.

85
menciptakan kamu dari sel, kemudian ketika kamu menjadi basyar, kamu
bertebaran,” (QS. 30: 20).
“Bertebaran” dalam ayat tersebut dapat diartikan
berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran karena
mencari rizki. Kedua hal tersebut tidak dilakukan oleh manusia
kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab.
Karena itu, Siti Maryam mengungkapkan keheranannya manakala
akan dapat anak –padahal ia tak pernah disentuh oleh basyar
(manusia) yang menggaulinya dengan berhubungan seks (QS. 3:
47). Kata basyiruhunna yang digunakan al-Qur’an sebanyak dua kali
(QS. 2: 187) juga diartikan dengan hubungan seks.
Sementara kata Bani adam atau dzurriyat adam diartikan
sebagai anak Adam atau keturunan Adam. Dalam hal ini al-Qur’an
menyebut bani adam 8 kali dan satu kali menyebut kata dzurriyat
adam. Al-Qur’an dalam menyebut dzurriyat tidak hanya digunakan
untuk adam tetapi juga digunakan untuk menyebut keturunan
Ibrahim (QS. 19: 58), keturunan Nuh (QS. 17: 3, 6: 84), dan
keturunan-keturunan yang lain. Dalam hal ini manusia lebih
diartikan sebagai generasi penerus atau pelanjut keturunan yang
lebih ditonjolkan dari aspek genetis.
Dari uraian tentang kata manusia di dalam al-Qur’an di atas,
dapat diambil kesimpulan bahwa manusia merupakan makhluk dua
dimensi yang terdiri dari jasmani/badan dan rohani/jiwa yang
dapat menghasilkan keturunan dan dapat hidup bermasyarakat.
Pernyataan ini diperkuat oleh penjelasan al-Qur’an berkaitan
dengan proses kejadian manusia yang bersifat jasmani/badan (QS.
23: 12-14, 22: 5) dan bersifat rohani (QS. 15: 29).
Melalui dua dimensi inilah manusia memiliki dua
kecenderungan (potensi). Dimensi badan/jasmani yang memiliki
sifat-sifat jelek, kotor dan keras akan melahirkan kecenderungan
(potensi) yang bersifat tercela/jelek. Al-Qur’an menggambarkan
beberapa sifat tercela yang dimiliki oleh manusia, yaitu:
➢ Manusia sebagai makhluk yang amat zalim dan amat bodoh
(QS. 33: 72).
➢ Manusia dinilai sebagai makhluk yang sombong dan congkak
(QS. 4: 36).

86
➢ Manusia benar-benar sangat mengingkari nikmat (QS. 22:
66).
➢ Manusia berkarakter suka iri hati (QS. 2: 109).
➢ Manusia benar-benar suka melampaui batas karena dia
melihat dirinya serba cukup (QS. 96: 6-7).
➢ Manusia cenderung bersifat tergesa-gesa, suka mengambil
jalan pintas yang tak terpuji (QS. 17: 11).
➢ Manusia berwatak sangat kikir (QS. 17: 100).
➢ Manusia cenderung suka gelisah dan berkeluh kesah (QS. 70:
19-20).
➢ Manusia berwatak suka membanggakan dirinya, suka pada
kegembiraan yang temporer (QS. 11: 10).
➢ Manusia mudah berputus asa dan cenderung pesimistik (QS.
41: 49, 17: 83).
➢ Manusia diciptakan berwatak paling banyak membantah (QS.
18: 54).
➢ Manusia cenderung tidak konsisten, tidak berpegang kepada
pendirian yang telah dinyatakannya (QS. 10: 12).

Sebaliknya dimensi jiwa/rohani memiliki sifat yang suci dan


tenang akan melahirkan kecenderungan (potensi) pada diri manusia
yang bersifat baik (positif). Al-Qur’an menjelaskan beberapa sifat
baik yang dimiliki oleh manusia, di antaranya:
➢ Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi (QS. 2: 30, 6: 165).
➢ Manusia mempunyai kapasistas intelegensia yang paling
tinggi (QS. 2: 31-32).
➢ Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan
(QS. 7: 172, 30: 43).
➢ Manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsur surgawi
yang luhur (QS. 32: 7-9).
➢ Manusia bersifat bebas dan merdeka (QS. 33: 72, 76: 2-3).
➢ Manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan bermartabat
(QS. 17: 70).
➢ Manusia memiliki kesadaran moral (QS. 91: 7-8).
➢ Jiwa manusia tidak akan pernah damai, kecuali dengan
mengingat Allah (QS. 13: 28, 45: 13).

87
➢ Manusia tidak memahami dirinya, kecuali dalam sujudnya
kepada Tuhan dan dengan mengingatNya (QS. 59: 19).
➢ Manusia tidak semata-mata tersentuh oleh motivasi-motivasi
duniawi saja, melainkan selalu berupaya untuk meraih cita-
cita dan aspirasi-aspirasi yang lebih tinggi (QS. 89: 27-28).

Di sinilah kedudukan dan peran manusia menjadi signifikan


dalam menentukan jati dirinya. Dalam aktualisasinya, kedudukan
dan peran manusia tidak mudah untuk dipahami dan dijalankan
secara nyata di masyarakat. Di kalangan kaum teolog, persoalan ini
menjadi perdebatan panjang antara kaum Jabariyah (fatalism)
dengan kaum Mu’tazilah (free will, free act). Bagi kaum Jabariyah,
manusia diumpamakan seperti wayang yang tingkah laku dan
perannya sangat tergantung kepada dalangnya, dalam hal ini
Tuhan. Manusia hanya bisa pasrah dan Tuhanlah yang menentukan
segalanya.104 Sebaliknya menurut kaum Mu’tazilah, semua peran
ditentukan oleh manusia. Tuhan hanya bertindak sebagai pemberi
potensi saja.105 Pertentangan antara dua aliran tersebut dicoba
untuk diselesaikan oleh kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah. Tetapi
Asy’ariyah sendiri tidak memberikan titik terang , bahkan
cenderung ke Jabariyah106 dan Maturidiyah sendiri sebagian besar
cenderung kepada Mu’tazilah.107
Al-Qur’an menggambarkan kedudukan dan peran manusia
dalam melaksanakan perbuatannya, yakni manusia dapat
melakukan berbagai perbuatannya dan memainkan peranan
penting dalam perwujudannya. Qur’an menyebut kedudukan
manusia sebagai khalifah atau mandataris Allah di bumi (QS. 2: 30)
dan kepadanya diberi tugas berupa amanat yang dipertegas dengan
sebutan taklif (QS. 33: 72). Peran dan tugas manusia
diwujudkannya dalam berbagai perbuatannya.

104
Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa
Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1986, hlm. 31.
105
Ibid., hlm. 43.
106
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina,
1992, hlm. 269-284.
107
Mustafa Ceric, Roots of Synthetic Theologi ini Islam: A Study of the
Theology of Abu Mansur al-Maturidi, Kualalumpur: ISTAC, 1995.

88
Dalam berbuat, al-Qur’an menyebutkan berbagai
persyaratan, yaitu tangan, qalb (akal dan rasa), iradah, masyiah,
qudrah, dan istitha’ah. Al-Qur’an mengaitkan perbuatan dengan
tangan manusia karena kebanyakan perbuatan manusia terjadi
dengannya. Kelekatan perbuatan dengan pelakunya, wakil anggota-
anggota badan lain dan pertanda-pertanda lahir perbuatan
dikaitkan pula dengan qalb. Qalb menentukan nilai suatu perbuatan
dan sebagai pertanda perbuatan tersembunyi.
Al-Qur’an menyebut pula manusia mempunyai iradah,
masyiah, qudrah, dan istitha’ah. Iradah dan masyiah menunjuk manusia
memiliki kehendak pilihan atau putusan. Qudrah dan istitho’ah
menunjuk potensi, daya dan kemampuan manusia. Keempat hal itu
diperlukan dalam berbuat.108
Gambaran al-Qur’an di atas memberikan pengertian bahwa
manusia diberikan hak otonomi untuk menentukan pilihannya.
Adanya otonomi (kebebasan) tersebut dapat berimplikasi terhadap
proses bimbingan dan penyuluhan. Seorang pembimbing atau
penyuluh dapat melakukan pekerjaan (aktivitas bimbingan dan
penyuluhan) sesuai dengan pilihan dan keahliannya serta tidak
boleh memaksakan kehendaknya kepada orang yang akan
dibimbing atau diberi penyuluhan. Selain itu, orang yang akan
dibimbing –dengan kebebasannya- dapat bersikap dinamis dan
positif dalam mengikuti proses bimbingan dan penyuluhan.
Selain kebebasan, manusia sejak lahir memiliki sifat yang suci
(fitrah) sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 172
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-
anak Adam (bani Adam) dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) “bukankah aku
ini Tuhanmu? Mereka menjawab “betul (engkau Tuhan kami),
kami menjadi saksi” (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan “sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Jalaluddin Rahmat, Konsep Perbuatan Manusia Menurut Qur’an, Jakarta:


108

Bulan Bintang, 1992, hlm. 119.

89
Dalam ayat lain Allah menjelaskan tentang fitrah manusia:
“maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tidak ada perbuatan pada fitrah Allah, (itulah) agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. 30: 30).
Konsep fitrah yang ada pada manusia memiliki implikasi
dalam melakukan proses bimbingan dan penyuluhan, di mana
proses bimbingan dan penyuluhan dalam Islam harus diarahkan
untuk menguatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Karena pada dasarnya manusia sebelum lahir sudah memiliki
ikatan primordial untuk mengakui adanya Tuhan. Selain itu,
lingkungan juga memberikan pengaruh dalam menentukan pilihan
yang dilakukan oleh manusia, sebagimana hadits Nabi: “Setiap anak
dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), ibu bapaknya yang menyebabkan ia
menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Meskipun demikian, Islam menolak pendapat kaum
behaviorisme yang menjadikan lingkungan sebagai faktor yang
membentuk tingkah laku manusia (individu). Menurut kaum
behaviorisme, manusia dilahirkan dalam kondisi bukan baik dan
bukan jahat, tetapi netral seperti kertas putih.109 Bagi Islam,
lingkungan bukanlah satu-satunya faktor yang dominan dalam
menentukan tingkah laku manusia. Buktinya, isteri Fir’aun (Siti
Masitoh) yang hidup di lingkungan yang tidak mau mengakui
adanya Allah dan penuh penyimpangan, ia tetap beriman kepada
Allah dan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa as.
Oleh karena itu, proses bimbingan dan penyuluhan hendaklah
diarahkan agar dapat membawa perubahan dalam diri klien,
terutama dalam menjalin hubungannya dengan Tuhan dan dapat
mengikuti ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam. Hal ini sejalan
dengan fungsi mursyid, yaitu:
1. Penolong dalam mencocokkan perilaku dengan ajaran yang
datang dari Allah.
2. Pemberi petunjuk ke jalan yang benar dan baik.

109
Hasan Langgulung, op cit., hlm. 423.

90
3. Pembimbing dalam menjalankan ajaran yang datang dari
Allah.110

Untuk mencapai sasaran tersebut diperlukan persyaratan-


persyaratan bagi seorang pembimbing dan penyuluh, yaitu:
1. Memiliki keimanan yang kuat.
Syarat pertama diturunkan dari istilah huda dan
ramifikasinya yang berarti petunjuk. Banyak ayat al-Qur’an
yang menyatakan bahwa Allah akan memberikan petunjuk
kepada orang yang beriman (QS. 6: 82, 49: 17, 2: 137 dan
sebagainya). Keterangan al-Qur’an tersebut memberikan
keyakinan kepada kita bahwa orang yang beriman senantiasa
mendapat bimbingan dan perlindungan dari Allah SWT.
Orang yang beriman akan malu berbuat sesuatu yang tidak
baik/mungkar meski tidak ada satu orang pun yang
mengetahui/melihat perbuatannya. Selain itu, orang yang
beriman akan memiliki jiwa yang aman dan tentram serta
mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh orang yang
beriman merupakan pondasi yang kokoh untuk melakukan
bimbingan dan penyuluhan. Seorang pembimbing/konselor
yang beriman akan mengarahkan klien/obyek bimbingan
kepada jalan yang benar, yakni jalan yang mendapat cahaya
dan keridaan Allah. Selanjutnya seorang
pembimbing/konselor beriman dapat menjadi teladan bagi
obyek dan juga tidak mudah frustasi /gelisah dalam
melakukan bimbingan dan penyuluhan. Semua itu, dilakukan
karena orang yang beriman merasa perbuatannya selalu
diawasi oleh Allah dan setiap aktivitasnya diniatkan dalam
kerangka ibadah kepada Allah SWT.

110
Ahmad Subandi & Syukriadi Sambas, op cit., hlm. 58.

91
2. Memiliki pengetahuan.
Syarat kedua diturunkan dari istilah irsyad dan
ramifikasinya. Ciri-ciri dari seorang pembimbing atau konselor
yang memiliki pengetahuan adalah: pertama, berakal (memiliki
akal). Al-Qur’an mengisyaratkan ketika Nabi Syuaib
memberikan bimbingan kepada kaumnya, Nabi Syuaib
dianggap sebagai orang yang berakal: “sesungguhnya kamu adalah
orang yang sangat penyantun lagi berakal,” (QS. 11: 87). Demikian
pula ketika Nabi Luth membimbing umatnya agar menjauhi
perbuatan homoseksual, beliau menyatakan kepada umatnya:
“Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS. 11:
78).
Kedua, tidak bodoh (jahil). Allah mengingatkan kepada
Nabi Nuh supaya tidak menjadi orang yang bodoh “inni
a’izhuka an takuna min al-jahilin” ketika ia memohon kepada
Allah agar menyelamatkan anaknya, padahal anaknya termasuk
orang yang tidak diselamatkan Allah dari bahaya banjir karena
perbuatan-perbuatannya yang tidak baik (QS. 11: 45-46).
Ketiga, cerdas. Al-Qur’an menggunakan kata rusydan yang
berarti cerdas ketika Allah memerintahkan kepada orang yang
membibing anak yatim apabila anak yatim tersebut telah
cukup umur untuk kawin dan mereka telah cerdas, maka
serahkanlah kepada mereka harta-hartanya (QS. 4: 6).

3. Amanah.
Syarat ketiga diturunkan dari istilah wa’azha dan
ramifikasinya. Allah memberikan pelajaran kepada manusia
untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya (QS. 4: 58). Berbicara amanah biasanya sangat
terkait dengan tugas dan tanggung jawab atau hak dan
kewajiban. Manusia sebagai khalifatullah memiliki tugas dan
tanggung jawab untuk menjalankan amanah (QS. 33: 72).
Karena itu, Fazlurrahman mengaitkan arti amanah ini dengan
fungsi kekhalifahan. Selain itu, amanah merupakan nilai dasar
dari kepemimpinan. Di dalam sejarah tercatat bahwa ada
empat ciri kepemimpinan Nabi, yaitu: shidiq, amanah, fathanah,
dan tabligh.

92
Seorang pembimbing atau konselor adalah seorang
pemimpin yang menunjukkan, mengarahkan dan menasehati
seseorang agar memiliki kepribadian yang matang. Sebagai seorang
pemimpin tentunya harus memiliki sikap amanah, agar ia dapat
menjalankan kepemimpinan sesuai dengan amanah yang
dipikulnya. Demikian pula, seorang pembimbing/konselor yang
mengarahkan dan menasehati klien/obyek haruslah memiliki sikap
amanah.

93
94
DAKWAH DI RUMAH SAKIT:
EKSISTENSI DAN UPAYA
PENGEMBANGANNYA

PENDAHULUAN
Ketika penulis berbincang-bincang dengan teman lama yang
kebetulan seorang sarjana Fakultas Ushuluddin dari salah satu
Perguruan Tinggi Swasta di Bandung, bahwa penulis tidak bisa
mengikuti acara yang diadakan olehnya karena pada tanggal 11-12
September 2004, penulis mengikuti seminar tentang bimbingan
rohani pasien di Rumah Sakit, tiba-tiba ia menanyakan apa
relevansinya jurusan dakwah mengadakan kegiatan tersebut dan
apa manfaatnya mengadakan kegiatan tersebut? Bukankah dakwah
itu “ceramah” dan kegiatan-kegiatan yang ada di mesjid dan majlis
taklim? Dengan nada tersenyum dan suara lantang, penulis
mencoba memberikan alasan-alasan tentang maksud dari kegiatan
tersebut agar ia dapat mengerti dan mempercayainya.
Cerita di atas tidak bermaksud untuk mendeskreditkan
seorang sarjana agama yang kurang memahami dakwah. Cerita ini
ingin mengilustrasikan betapa dakwah dipahami dalam makna yang
sangat parsial. Mengingat pertanyaan atau pernyataan dakwah
identik dengan “ceramah”, bukanlah hal yang baru, melainkan
menjadi image yang telah berkembang di kalangan masyarakat. Hal
ini tentu saja tidak terlepas dari adanya kegiatan-kegiatan dakwah
selama ini yang lebih berorientasi kepada publik. Meskipun pada
akhir-akhir ini, kecenderungan dakwah melalui tulisan dan dakwah
bil-hal mulai tampak di kalangan masyarakat, tetapi kecenderungan
tersebut belum mampu meruntuhkan pemahaman masyarakat
awam tentang dakwah yang lebih berorientasi kepada publik.
Oleh karena itu, sudah seharusnya pemahaman dakwah yang
komprehensif perlu disosialisasikan dan diimplementasikan dalam
aktivitas-aktivitas dakwah yang lebih luas dan beragam sehingga
masyarakat lebih memahami makna dakwah secara komprehensif.
Forum ini merupakan salah satu bagian dari proses tersebut dan
diharapkan dapat ditindaklanjuti dalam kegiatan-kegiatan lain.

95
Berkenaan dengan tulisan ini, penulis tidak menyoroti
tentang aktivitas dan pengertian dakwah secara luas, tetapi lebih
memfokuskan kepada bimbingan rohani pasien di rumah sakit
yang merupakan salah satu bagian dari aktivitas dakwah fardiyah.
Dengan pengamatan yang relatif terbatas, penulis berusaha
memberikan masukan-masukan untuk dijadikan bahan formulasi
dalam merumuskan model yang terbaik dalam memberikan
bimbingan rohani kepada pasien dan keluarganya.
Sebelumnya, penulis akan menggambarkan tentang urgensi
bimbingan rohani pasien di rumah sakit dan sejarah rumah sakit di
dunia Islam. Gambaran ini dimaksudkan untuk memberikan
pemahaman yang luas betapa aktivitas bimbingan rohani bagi
pasien dan keluarganya merupakan lahan yang efektif untuk
pengembangan dakwah dan penyebaran nilai-nilai Islam kepada
masyarakat.

URGENSI BIMBINGAN ROHANI PASIEN DI RUMAH


SAKIT
Menurut penulis, ada beberapa pertimbangan tentang
pentingnya bimbingan rohani bagi pasien di rumah sakit, yaitu:
Pertama, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk melakukan
kewajiban berdakwah kepada siapa pun, tak terkecuali kepada
pasien. Al-Qur’an yang diyakini oleh umat Islam sebagai sumber
ajaran Islam dijadikan landasan dasar dalam mengembangkan
aktivitas dakwah. Menurut abu A’la al-Mududi, al-Qur’an adalah
kitab dakwah dan kitab perjuangan.111 Sebagai kitab dakwah dan
perjuangan, al-Qur’an berisi materi-materi dakwah yang dapat
disampaikan kepada umat, ajaran-ajaran yang mendorong umatNya
untuk melakukan perjuangan demi kemajuan dan kesejahteraan
serta al-Qur’an juga berisi petunjuk-petunjuk yang berkaitan
dengan konsep-konsep yang berkenaan dengan pengembangan
epistemologi dakwah.
Dalam ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang dakwah,
menurut penulis, tidak ada ayat yang secara eksplisit mengajak
manusia berdasarkan sasaran atau konteks individu, kelompok atau
111
Abu A’la al-Maududi, Mabadi Asasiyah li Fahm al-Qur’an,
Lahore: Dar al-‘Arubah li al-Dakwah al-Islamiyah, 1969, hlm. 53.

96
masyarakat. Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya lebih menekankan
kepada ajakan yang bermuatan nilai. Dengan demikian, seruan
dakwah kepada objeknya lebih bersifat fleksibel dan kontekstual.
Dalam hal ini, para ulama, pemikir, dan aktivis dakwah
membuat formulasi level atau konteks dakwah berdasarkan sepak
terjang dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah, para Sahabat dan
tingkat kebutuhan yang ada. Oleh karena itu, dalam membuat
formulasi terjadi perbedaan antara satu tokoh dengan tokoh yang
lainnya.112 Meskipun demikian, formulasi ini penting dilakukan
untuk memudahkan perencanaan, proses pelaksanaan dan evaluasi
kegiatannya.
Bimbingan rohani pasien merupakan salah satu bagian dari
aktivitas kegiatan dakwah antarindividu (da’wah fardiyah) atau dalam
istilah komunikasi interpersonal communication. Jika ditelusuri landasar
dasar yang bersumber dari al-Qur’an, maka membimbing pasien
merupakan salah satu kewajiban dakwah seorang muslim,
sebagaimana firman Allah: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran
dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran,” (QS. 103: 1-3).
Ayat di atas menggambarkan tentang kewajiban setiap
individu Muslim untuk berdakwah terhadap siapa pun, tak
terkecuali kepada pasien. Persoalan yang muncul dengan doktrin
kewajiban individu tersebut, adalah: apakah diperlukan seorang
perawat rohani yang profesional, sementara semua orang memiliki

112
Sebagai contoh , Taufik al-Wa’i membagi sasaran dakwah menjadi
tiga: da’wah al-nas kaffah (masyarakat), da’wah al-muslimin ba’dhahum
ba’dham (kelompok), ma yakun bain al-afrad ba’dhahum ba’dan (individu).
Lihat Taufik al-Wa’i, al-Da’wah ila Allah, Mesir: Dar al-yakin, 1995, hlm
31-32. Ali Abdul Halim Mahmud membagi sasaran dakwah menjadi dakwah
fardiyah dan dakwah jama’iyah atau ‘ammah. Lihat Abdul Halim Mahmud.
Dakwah Fardiyah Metode Membentuk Pribadi Muslim, Jakarta: Gema Insani
Press, 1995, hlm. 29. Sementara H. Ahmad Subandi dan H. Syukriadi
Sambas membagi konteks dakwah menjadi: dakwah nafsiyah, dakwah
fardiyah, dakwah fi’ah, dakwah hizbiyah/jam’iyah, dakwah ummah, dan
dakwah syu’ubiyah. Lihat H. Ahmad Subandi dan H. Syukriadi Sambas,
Dasar-dasar Bimbingan (al-irsyad) dalam Dakwah Islam, Bandung: KP
Hadid, 1999, hlm. 23.

97
kewajiban untuk menjadi da’i/pembimbing/perawat? Dalam hal ini
perlu dicermati ayat lain yang memberikan petunjuk tentang
perlunya seorang/kelompok yang profesional dalam mengelola
dakwah: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung,” (QS. 3: 104).
Kedua ayat di atas pada dasarnya tidak saling bertentangan.
Menurut Quraish Shihab, bahwa betul dakwah merupakan
kewajiban individu, tetapi harus ada kelompok khusus yang
mengenai dakwah secara profesional. Kewajiban dakwah secara
individual berlaku pada tingkatan wa tawashaw bi al-haq wa tawashaw
bi al-shabr. Sementara secara kolektif, kewajiban dakwah
membutuhkan organisasi, manajemen dan jaringan sosial.113
Pendapat senada juga diungkapkan oleh M. Natsir bahwa
wajib dakwah adalah kewajiban tiap-tiap Muslim yang mukallaf,
tanpa kecuali, dalam kehidupan sehari-hari menurut kemampuan
masing-masing. Dalam pada itu, kewajiban umat Islam sebagai
umat untuk mengembangkan risalah secara keseluruhan dalam
hubungan dengan umat sendiridan membawa ke kalangan umat-
umat lainnya, ini semua membutuhkan kepada usaha yang tertib,
kontinu dan memerlukan tenaga-tenang yang ahli dan sudah tentu
tidak bisa diselenggarakan oleh semua Muslim dan Muslimah.114
Oleh karena itu, di rumah sakit dibutuhkan seorang
pembimbing/perawat rohani yang profesional. Pasien yang sedang
sakit, selain membutuhkan pengobatan secara fisik, juga
membutuhkan pengobatan-pengobatan secara individual, bukan
hanya bersumber dari dokter atau perawat medis, melainkan juga
perawat-perawat rohani.
Di rumah sakit atau klinik kesehatan, jumlah pasien dan
keluarganya relatif banyak, siapa yang bertanggung jawab untuk
membimbing mereka kalau semua aktivitas dakwah tersedot
kepada kegiatan dakwah publik atau kolosal? Tentunya umat Islam
perlu mempersiapkan kelompok khusus dengan menggunakan
manajemen dan organisasi yang tertata dengan baik.

113
M. Quraish Shihab, Tafisr al-Misbah, Vol II, Jakarta: Lentera Hati,
2002.
114
M. Natsir, Fiqhud Da’wah, Surakarta: Ramadhani, 1987, hlm. 116.

98
Kedua, kebutuhan dasar manusia terhadap kesehatan. Selain
pangan, sandang dan papan yang menjadi kebutuhan dasar
manusia, sehat pun menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa
dinafikan. Betapapun enaknya pangan, sandang dan papan, kalau
manusia sakit tentu ia tidak dapat menikmatinya. Oleh karena itu,
kondisi sehat merupakan kondisi yang diharapkan oleh manusia.
Dalam hal ini, sehat secara fisik, jiwa (mental) dan sosial.
Di dalam konstitusi WHO dinyatakan bahwa standard
kesehatan merupakan salah satu hak asasi yang mendasar dari
setiap manusia tanpa membedakan ras, agama, keyakinan politik,
ekonomi dan kondisi sosial (Standard of health is one of the fundamental
rights of every human being without distinetion of race religion, political belief,
economic or social condition).115
Mengingat sehat sebagian kebutuhan dasar manusia, maka
ketika manusia sakit, ia tentunya berhak memperoleh pelayanan
yang terbaik dalam proses pengobatan. Di Rumah Sakit atau Klinik
Kesehatan, umumnya pasien hanya mendapatkan hanya
mendapatkan pengobatan secara fisik saja. Padahal pasien yang
terkena penyakit fisik dapat memengaruhi kondisi jiwanya. Ibn
Sina mengatakan berdasarkan pengalaman medisnya bahwa
sebanarnya secara fisik orang-orang yang sakit hanya dengan
kemauannyalah dapat menjadi sembuh dan begitu pula orang-
orang sehat dapat menjadi benar-benar sakit bila terpengaruh oleh
pikirannya bahwa ia sakit.116 Karenanya, ketika seseorang sedang
sakit secara fisik, pada dasarnya ia membutuhkan motivasi,
bimbingan dan sugesti secara mental (jiwa). Salah satunya melalui
pendekatan agama seperti yang dilakukan oleh Carl Gustav Jung
dari Swiss yang menunjukkan bukti bahwa penyakit pasiennya yang
berusia 35 tahun ke atas baru dapat disembuhkan bila mereka
dapat menemukan jalan keluar melalui penemuan kembali
keimanannya sesuai ajaran agama yang dianut.117

115
Journal of Health Communication International Perspective Vol.
8. No. 6 Nov-Dec 2003.
116
Lihat Fazlurrahman, Cita-cita Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2000, hlm. 201.
117
Lihat M. Arifin, Teori-teori Counseling Umum dan Agama,
Jakarta: PT. Golden Terayon Press, 1994, hlm. 62.

99
Ketiga, ketika seseorang sedikit sakit, dia secara psikologis
mengalami guncangan jiwa disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya: apakah penyakitnya membutuhkan perawatan lama
atau tidak, bagaimana pekerjaannya ketika ia dirawat, rasa kesepian
karena terpisah dengan keluarganya, harus mengikuti aturan yang
ketat mengenai makan dan minum obat, berapa besar biaya yang
harus dikeluarkan, dan berbagai persoalan lain yang terkait dengan
kejiwaan. Dalam hal ini tentu saja pasien tidak hanya
membutuhkan pengobatan secara medis, tetapi juga membutuhkan
dukungan, bimbingan, motivasi dan sugesti dari para perawat
rohani berkaitan dengan kejiwaan pasien.

SEJARAH RUMAH SAKIT DI DUNIA ISLAM


Untuk memahami lebih jauh tentang eksistensi bimbingan
rohani pasien di rumah sakit, alangkah baiknya dikaji eksistensi
rumah sakit di dunia Islam. Keberadaan rumah sakit yang
berkembang pada zaman sekarang tidak terlepas keberadaannya
dari rumah sakit yang pernah dibangundi dunia Islam. Seperti yang
dinyatakan oleh Munawar A. Anees “The early Muslim concept of the
hospital became the prototype for the development of the modern hospital –an
institution operated by private owners or by goverment and devoted to the
promotion of health, the cure of diseases, and the teaching and expanding of
medical knowledge.”118
Rumah sakit di dunia Islam pertama kali didirikan pada
zaman dinasti Umayyah oleh seorang khalifah al-Walid pada tahun
87 H/ 706 M. Di rumah sakit ini dipekerjakan para pelayan dan
pembimbing untuk membantu para penghuninya. Data ini
diperoleh berdasarkan catatan ahli sejarah al-Maqrizi dan juga at-
Thabari di dalam kitabnya ar-Rasul wal-Mulk.119 Pendirian rumah
sakit ini tidak terlepas dari pengaruh peradaban Bizantiyum.
Perkembangan yang signifikan berkaitan dengan rumah sakit
terjadi pada zaman dinasti Abbasiyah. Pada zaman ini dibangun
dua rumah sakit yakni pertama rumah sakit keluarga Barmaki yang
beroperasi hingga tahun 187 H/803 M. Kedua, rumah sakit yang

118
Munawar A. Anees (Ed.), Health Sciences in Early Islam, Vol. I,
Noor Health Foundation and Zahra Publication, 1983, hlm. 51.
119
Ibid., hlm. 97.

100
dibangun oleh Khalifah Harun al-Rasyid sebagai rumah sakit
pemerintah. Rumah sakit inilah yang dianggap sebagai cikal bakal
rumah sakit modern seperti sekarang ini.
Ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati berkaitan
dengan rumah sakit di zaman Islam, yaitu: Pertama. Petugas medis
atau dokter bukan hanya orang Islam, tetapi juga orang-orang yang
beragama di luar Islam, terutama penganut kristen Nestorian.
Contohnya, rumah sakit Harun al-Rasyid dipimpin oleh seorang
Kristen Persia bernama Yuhana Ibn Masawaih.120 Kedua, buku-
buku tentang kesehatan yang bersumber dari Yunani dan bahasa
sansekerta banyak diterjemahkan de dalam bahasa Arab. Hal ini
terutama pada zaman khalifah al-Ma’mun. Ketiga, banyak rumah
sakit yang diletakkan dekat dengan mesjid jami (tempat-tempat
publik) di mana banyak orang berkumpul. Keempat, rumah sakit
bukan hanya dijadikan tempat pengobatan, tetapi juga dijadikan
lahan tempat belajar para calon tenaga medis. Kelima, sumber
pembiayaan rumah sakit banyak diambil dari zakat dan wakaf.
Keenam, pembimbing rohani belum menjadi tenaga khusus
karena aktivitas-aktivitas keagamaan begitu mewarnai rumah sakit.
Dokter-dokter atau karyawan-karyawan bukan hanya memberikan
pelayanan di bidang medis saja, ,elainkan juga memberikan
dorongan spiritual kepada seluruh pasien. Hal ini seperti
diungkapkan oleh Munawar A. Anees: “Thus religious enthusiasm could
be shown as philanthropic effort to alleviate the sufferign of the sick and to
comfort the unfortunate..... They paid visits to the patients not only to show
them kindness and sympathy, but also to insure for them the best attention
from hospital employees and physicians alike. As a result, religious activities
within the hospital were greatly appreciated and encouraged”.121

EKSISTENSI DAN PROBLEMATIKA BIMBINGAN


ROHANI PASIEN DI RUMAH SAKIT
Bimbingan rohani bagi pasien merupakan salah satu bagian
dari aktivitas dakwah fardiyah, keberadaannya tidak terlepas dari
diskursus keilmuan dakwah. Pada awal berdirinya Fakultas

120
Fazlurrahman, Etika Pengobatan Islam, Bandung: Mizan, 1999,
hlm. 97.
121
Munawar A. Anees, op. cit., hlm. 106.

101
Dakwah, bangunan epistemologi keilmuan dakwah belum
dipersoalkan secara khusus. Berdirinya Fakultas Dakwah lebih
mempertimbangkan aspek praktis untuk memenuhi tenang da’i
yang berkualifikasi sarjana.
Memasuki tahun 90-an, berbagai seminar dan pertemuan
ilmiah diadakan untuk membahas keilmuan dakwah. Puncak dari
beberapa pertemuan tersebut, lahirlah kurikulum Fakultas Dakwah
tahun 1995 yang telah memiliki pijakan epistemologi. Bimbingan
Penyuluhan Islam merupakan salah satu dari Jurusan/Program
Studi yang mengkaji disiplin ilmu tabligh dengan menggunakan
pendekatan dakwah fardiyah.
Di luar Perguruan Tinggi, pada tanggal 27-28 April 1985 di
Yogyakarta diadakan seminar tentang problema kesehatan
Indonesia tahun 2000-an serta validitas Islam sebagai ajaran yang
memperhatikan dan mengatur maslah kesehatan. Seminar yang
melibatkan cendekiawan kesehatan muslim tersebut membahas
tentang etikadan tanggung jawab cendekiawan muslim khususnya
dan Muslimin Indonesia pada umumnya dalam menyongsong
kesehatan untuk semua pada tahun 2000. Salah satu kertas kerja
yang menarik adalah tulisan H. Mohd. Baried Ishom yang mengkaji
peranan santunan spiritual di rumah sakit. Tulisan ini merupakan
salah satu sumbangsih yang patut diapresiasi dalam rangka
pengembangan model bimbingan rohani bagi pasien.122
Selanjutnya, pada tahun 1995 Yayasan Dompet Dhuafa
Republika bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Ibnu Sina
menerbitkan buku Bimbingan Ruhani bagi Pasien. Buku ini memiliki
dampak yang besar bagi perkembangan perawatan rohani pasien di
rumah sakit. Selain itu, LPM Dompet Dhuafa juga mempersiapkan
tenaga-tenaga perawat yang siap untuk diterjunkan di rumah sakit-
rumah sakit, khususnya di wilayah Jabotabek. Dari sanalah
kemudian berkembang adanya perawat-perawat rohani di
lingkungan rumah sakit. Bahkan, di Jawa Barat, Pemerintah Daerah
bekerja sama dengan Fakultas Dakwah IAIN SGD Bandung
mempersiapkan tenaga-tenaga yang siap pakai dan diterjunkan di
berbagai rumah sakit di wilayah Jawa Barat.
122
Hasil seminar ini dibukukan dengan judul Islam, Etika dan
Kesehatan, yang diterbitkan oleh penerbit CV. Rajawali Jakarta tahun 1986.

102
Geliat ini tentunya perlu direspon secara positif dan
disosialisasikan ke berbagai wilayah di tanah air. Masih banyak
rumah sakit-rumah sakit yang belum memiliki tenaga perawat
rohani secara khusus. Keberadaan perawat rohani masih menjadi
bagian dari seksi/sub kerohanian rumah sakit dan hal itu pun
dirangkap oleh seorang dokter, perawat medis atau karyawan yang
ada di rumah sakit tersebut. Akibat yang ditimbulkan dari
keberadaan ini, di antaranya: Pertama, perawatan terhadap pasien
kurang dilakukan secara maksimal mengingat kesibukan-kesibukan
yang dimiliki oleh dokter atau perawat media. Kedua, fokus
kegiatannya menjadi meluas seperti mengurusi masjid, pembinaan
rohani karyawan dan dokter, mengurusi orang yang sedang
sakaratul maut, dan pengabdian masyarakat. Semnetara bimbingan
terhadap pasien menjadi sangat terbatas. Ketiga, seorang
pembimbing tidak hanya memiliki kompetensi secara substantif
saja, tetapi juga memerlukan kompetensi metodologi. Penulis tidak
menafikan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki oleh dokter,
perawat medis atau karyawan, tetapi alangkah baiknya jika skill dan
profesionalisme dipertimbangkan.
Selain eksistensi perawat rohani yang belum menunjukkan
eksistensinya secara jelas, ada persoalan lain yang juga tidak kalah
pentingnya berkait dengan bimbingan rohani bagi pasien, yaitu:
Pertama, respons manajemen rumah sakit dan masyarakat yang
belum kondusif.
Perlunya pengobatan melalui pendekatan spiritual atau
rohani telah diakui oleh para ahli kesehatan dan dokter. Mereka
menyadari bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
sempurna dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti mental-spiritual,
sosial-budaya dan unsur biologisnya sendiri. Dengan demikian
pendekatan yang menyeluruh (holistik) merupakan pendekatan yang
paling tepat dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Sayangnya, tingkat kesadaran ini baru sebatas wacana dan
belum menjadi kebijakan di tingkat aplikasi. Perawat rohani belum
mendapatkan respons yang cukup menggembirakan. Sebagian
pihak rumah sakit masih ada yang beranggapan bahwa
penyembuhan pasien hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis
sehingga tidak membutuhkan perawat rohani. Demikian juga

103
sikap-sikap yang kurang simpati dan menempatkan perawat-
perawat rohani pada saat-saat menjelang pasien sakaratul maut
masih menjadi bagian yang tidak bisa dinafikan keberadaannya.
Bahkan, ada harapan besar di Perguruan Tinggi agar alumninya
dapat berkiprah lebih jauh.
Sementara masyarakat belum mengenal dan memahami
fungsi dari perawat rohani di rumah sakit. Masyarakat umumnya
hanya mengenal dokter atau perawat medis yang bertugas
memberikan pelayanan kepada pasien. Lemahnya masyarakat
tentang hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi yang
dilakukan oleh Perguruan Tinggi, rumah sakit, LSM yang bergerak
di bidang kesehatan, dan para aktivis/organisasi dakwah.
Kdua, metode yang dikembangkan dalam melakukan
bimbingan masih didominasi oleh pendekatan normatif (dakwah
oriented). Dalam strategi dakwah, memang tidak ada metode yang
terbaik. Metode sangat disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari
mad’u/audien/pasien dan lingkungan di mana mereka itu berada.
Hal ini bukan berarti metode tidak penting atau tidak dibutuhkan
di dalam bimbingan rohani pasien. Metode penting keberadaannya,
namun metode tidak dipaksakan atau kaku pada setiap
mengadakan bimbingan.
Metode yang ada selama ini masih terbebani oleh muatan-
muatan materi agama yang banyak. Padahal, pasien membutuhkan
sentuhan-sentuhan yang menyangkut aspek psikologis. Ia
membutuhkan hiburan, motivasi, dukungan, sugesti, empati, dan
berbagai hal yang menyangkut unsur kejiwaan. Pasien masih
dianggap sebagai lahan/obyek dakwah yang harus diberi muatan-
muatan nilai. Padahal penampilan diri, sikap, body language adalah
pesan-pesan yang dapat menggugah atau mengubah sikap
seseorang. Demikian pula, dalam proses penyampaiannya seorang
perawat terkesan melakukan indoktrinasi terhadap pasien. Perawat
atau konselor lebih banyak melakukan ceramah kepada pasien,
sementara pasien begitu pasif menerima apa yang disampaikannya.
Ketiga, minimnya penelitian dan karya ilmiah tentang
bimbingan rohani pasien. Berbagai kegiatan dakwah yang kita
lakukan seringkali tidak diawali dengan adanya penelitian sehingga
sulit untuk mengukur keberhasilan dari program yang telah

104
dijalankan. Hal ini pun terjadi pada program bimbingan rohani
bagi pasien. Penelitian tentang perlu atau tidaknya rumah sakit
tertentu memiliki program bimbingan rohani pasien, bagaimana
respons pasien terhadap adanya bimbingan rohani pasien, peluang
apa yang bisa dilakukan oleh umat Islam dengan adanya
desentralisasi dalam bidang kesehatan dan sebagainya belum
banyak mendapat respons dari para peneliti atau aktivis dakwah.
Begitu juga dengan karya-karya ilmiah yang membicarakan
tentang bimbingan rohani bagi pasien masih sangat minim. Buku
Bimbingan Ruhani bagi Pasien dan buku Doa dan Zikir sebagai
Pelengakap Terapi Medis dari Prof. Dadang Hawari lebih banyak
berbicara tentang bimbingan ibadah, doa dan dzikir. Sementara
tentang metode, model dan pengalaman-pengalaman kerohanian
berkaitan dengan penyakit belum banyak atau bahkan belum
ditemukan. Di kalangan Kristen, buku-buku tentang pastoral
counseling begitu banyak beredar dan bahkan buku-buku yang terkait
dengan pengalaman ruhani ketika mengalami sakit banyak
ditemukan di toko-toko buku. Hal inilah yang mestinya menjadi
perhatian kita bersama agar keberadaan bimbingan rohani pasien di
kalangan umat Islam mengalami kemajuan.

PENGEMBANGAN BIMBINGAN ROHANI PASIEN DI


RUMAH SAKIT
Bertitik tolak dari kondisi yang ada, maka sudah semestinya
umat Islambekerja keras dan melakukan upaya-upaya dalam rangka
mengembangkan bimbingan rohani bagi pasien. Umat Islam tidak
mudah untuk merasa puas dengan upaya yang telah dilakukan
selama ini. umat Islam perlu melakukan evaluasi kritis dan mencari
terobosan-terobosan baru sesuai dengan tingkat kebutuhan dan
perkembangan zaman.
Perguruan Tinggi Agama Islam, khususnya Fakultas/Jurusan
Dakwah memiliki tanggung jawab besar untuk mengemban amanat
ini. PTAI perlu mempersiapkan tenaga-tenaga profesional di
bidang perawatan rohani bagi pasien dan juga perlu
mengembangkan landasan-landasan epistemologisnya. Selama ini
Perguruan Tinggi terlalu asyik dengan dunianya dan kurang peduli
dengan perkembangan dan kebutuhan dari masyarakat. Banyak

105
wacana dan gagasan-gagasan yang terkait dengan masyarakat tidak
muncul dari Perguruan Tinggi, melainkan dari tokoh-tokoh atau
kelompok-kelompok yang ada di luar Perguruan Tinggi.
Berkaitan dengan penyediaan perawat rohani yang
profesional tampaknya Jurusan/Program Studi Bimbingan dan
Konseling Islam (BKI) perlu mendesain kurikulum yang sesuai
dengan tuntutan para pemakai (stakeholder) dan perlu
mempersiapkan dosen-dosen yang memiliki keahlian di bidangnya.
Meskipun pada dua tahun terakhir ini, Jurusan/Program Studi
Bimbingan dan Konseling Islam telah menggunakan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK), tetapi Jurusan/Program Studi BKI
belum secara maksimal mempersiapkan tenaga perawat yang
profesional. Hal ini didasarkan dari hasil rumusan kompetensi
utama program studi BKI yang telah didominasi oleh kekuatan
akademik (teoritik) dibandingkan dengan keahlian (skill).123 Untuk
itu, jurusan/program studi dapat menerapkan hidden curiculum guna
memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara bekerjasama dengan
instansi rumah sakit atau Lembaga Swadaya Masyarakat.
Sebaliknya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seperti
BRP Dompet Dhuafa yang memiliki pengalaman dalam
mempersiapkan tenaga perawat ruhani dapat melakukan sharing dan
kerjasama dengan Perguruan Tinggi sehingga upaya yang telah
dilakukannya dapat memiliki landasan epistemologi yang kuat. Di
samping itu, pengalaman-pengalaman tersebut dapat ditularkan
kepada pihak Perguruan Tinggi sehingga Perguruan Tinggi dapat
belajar banyak dari pengalaman tersebut. Dengan adanya kerjasama
ini diharapkan dapat mendorong dan memacu perkembangan
perawatan rohani bagi pasien di rumah sakit.
Selanjutnya, dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No.
004/Menkes/SK/I/2003 tentang desentralisasi dalam bidang
kesehatan, ada peluang besar bagi LSM untuk menjadi mitra kerja
rumah sakit dalam mengembangkan kelangsungan pembangunan

123
Lihat hasil rumusan kompetensi lulusan Program Studi di PTAI,
Jakarta: Ditperta Departemen Agama RI, 2003.

106
kesehatan.124 Peluang ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh
LSM dalam rangka membantu mempersiapkan tenaga-tenaga
profesional di bidang perawatan rohani pasien.
Oleh karena itu, pengalaman yang dimiliki oleh Dompet
Dhuafa dapat diikuti oleh berbagai LSM lain yang ada di berbagai
daerah. Di samping itu, BRP Dompet Dhuafa juga diharapkan
dapat membuka jaringan yang lebih luas ke berbagai wilayah di
Indonesia agar program yang dijalankannya dapat tersosialisasi luas
dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Begitu juga, dinas kesehatan dan instansi rumah sakit dapat
bekerjasama dengan Perguruan Tinggi atau LSM dalam
pemenuhan kebutuhan perawat rohani bagi pasien. Di samping itu,
dinas kesehatan dan rumah sakit diharapkan dapat mendorong
adanya kebijakan yang terkait dengan perawat rohani bagi pasien,
baik menyangkut pengorganisasiannya maupun penyediaan
tenaganya.
Apabila di rumah sakit telah ada perawat rohani yang berasal
dari kalangan dokter, tenaga medis atau karyawan rumah sakit,
maka upaya dapat dilakukan dengan cara memberdayakan mereka
sehingga menjadi tenaga yang profesional. Mereka dapat diberikan
pembekalan menyangkut kompetensi, manajemen, dan
pengorganisasiannya.
Sementara bagi instansi rumah sakit yang belum memiliki
perawat rohani bagi pasien, maka perlu diupayakan proses
pembentukannya baik dengan cara memberdayakan potensi yang
ada di rumah sakit tersebut maupun dengan cara bekerjasama
dengan Perguruan Tinggi atau LSM yang menyediakan tenaga
perawat rohani yang profesional.
Berkaitan dengan metode, perlu diupayakan sebuah metode
yang holitik (menyeluruh). Ada beberapa metode yang telah
berkembang dan banyak dipergunakan oleh kalangan ilmuwan

124
Lihat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
004/Menkes/SK/I/2003 tentang Desentralisasi dalam Bidang
Kesehatan Bab IV point A langkah kunci 7 Fasilitas
Pengembangan dan Pemberdayaan LSM, kesehatan tingkat
Pusat dan Daerah.

107
dalam berhubungan dengan orang yang sakit. Sayangnya, metode-
metode tersebut berjalan secara sendiri-sendiri dan belum ada
upaya yang menyatukan menjadi sebuah metode yang holistik. Di
antara metode yang telah berkembang dan banyak dipergunakan
adalah: metode yang bersumber dari bimbingan dan konseling
Islam, metode religious-psikoterapi, metode sufisme, metode
komunikasi terapeutik dan metode yang bersumber dari psikologi
Islam.
Alasan penyatuan metode tersebut, menurut penulis,
didasarkan kepada: Pertama: Jiwa, akal dan ruh dalam tataran
teoritis dapat dipisahkan secara jelas, tetapi ketika ketiga hal
tersebut menyatu dalam diri dan kehidupan manusia sulit untuk
mendeteksi apakah ini aktivitas jiwa, akal atau ruh. Apalagi ketika
ketiga hal tersebut menyatu dengan raga, maka semakin
kompleklah keunikan manusia. Oleh karena itu, di sanalah
perlunya penyatuan metode-metode tersebut di atas.
Kedua, masing-masing metode pada prinsipnya sama, yakni
melakukan penyembuhan atau pengobatan terhadap jiwa pasien.
Perbedaannya hanya pada titik tekan atau pendekatan yang
digunakan. Konseling lebih menekankan mengapa timbul
masalah/penyakit, metode religious psikoterapi dan sufisme lebih
menekankan kepada terapi/pengobatannya, komunikasi terapeutik
menekankan pada bagaimana komunikasi dan hubungan antara
pasien dengan perawat atau dokter berjalan baik, dan psikologi
Islam lebih melihat pada aspek psikologinya yang ada pada pasien.
Jika semua metode ini diramu dan dipraktikan sesuai dengan
konteks pasien, maka pelayanan terhadap pasien akan semakin
baik.
Oleh karena itu, di sinilah pentingnya seorang perawat
rohani memiliki kompetensi yang tidak hanya kompetensi
substantif, melainkan juga kompetensi metodologi. Sebagus
apapun metode manakala tidak dipergunakan oleh orang yang
memiliki kemampuan menggunakan metode tersebut dan tanpa
memperhatikan audien/pasien, maka metode itu menjadi suatu hal
yang tidak banyak memberikan arti.
Uraian terakhir berkaitan dengan pengembangan bimbingan
rohani bagi pasien adalah perlunya sosialisasi kegiatan bimbingan

108
rohani. Sosialisasi dapat dilakukan dengan cara memberdayakan
seoptimal mungkin bimbingan rohani-bimbingan rohani yang telah
ada dan berkembang di masing-masing rumah sakit di seluruh
Indonesia. Melalui pemberdayaan ini, diharapkan dapat
memberikan pemahaman yang luas kepada masyarakat tentang
pelayanan kesehatan khususnya dan aktivitas dakwah pada
umumnya. Selain itu, sosialisasi juga dapat dilakukan dengan cara
memperbanyak karya-karya atau tulisan-tulisan melalui media
cetak, ceramah-ceramah, penayangan di televisi atau film dan
pameran-pameran tentang bimbingan rohani bagi pasien atau
tentang pengalaman hidup yang dekat dengan Tuhan ketika sakit.
Semua itu tentu saja membutuhkan dukungan dari semua
pihak, baik Perguruan Tinggi, LSM, rumah sakit, dinas kesehatan,
pers, organisasi dakwah, dan elemen masyarakat lainnya.

PENUTUP
Demikianlah uraian singkat tentang eksistensi bimbingan
rohani bagi pasien dan upaya pengembangannya. Uraian di atas
pada dasarnya bertitik tolak dari pengamatan dan bacaan penulis
dari berbagai fenomena yang ada berkaitan dengan bimbingan
rohani bagi pasien. Melalui pengamatan dan bacaan yang terbatas,
penulis mencoba menawarkan beberapa hal yang bisa
dikembangkan, di antaranya perlunya pemberdayaan dan
penyediaan perawat yang profesional, penggunaan metode yang
holistik, dan upaya dalam melakukan sosialisasi. Berkaitan dengan
model, tentunya perlu pemikiran dan penelitian yang memadai.
Menurut penulis, setidak-tidaknya perlu dikaji tentang landasan
dasar (filosofis, nilai), metode, pengorganisasian materi,
kompetensi perawat, dan model evaluasinya. Penulis berharap,
mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan masukan dalam
merumuskan model bimbingan rohani bagi pasien di rumah sakit.

109
110
STRATEGI DAKWAH DAN
REFORMULASI PEMAHAMAN
UMAT

MENYIKAPI KETERBUKAAN DAN STRATEGI


DAKWAH MASA DEPAN
Alam keterbukaan yang sekarang dikembangkan oleh
pemerintah hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Para
da’i tidak perlu khawatir melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
Siapa pun yang dihadapinya, sepanjang mereka memperhatikan
rambu-rambu yang dijadikan acuan, yaitu kemurnian ajaran agama
itu sendiri dan peraturan perundangan yang berlaku. Prinsip bebas
dan bertanggung jawab hendaknya jangan diartikan sebagai
kekangan, tetapi kearifan.
Pesan-pesan dakwah hendaknya dapat memberikan petunjuk
dan pedoman hidup yang menyejukkan hati. Janganlah pesan-
pesan dakwah dicampuri dengan pamrih untuk kepentingan
golongan. Lebih-lebih untuk kepentingan yang tidak ada sangkut
pautnya dengan pelaksanaan ajaran.
Dalam era sekarang ini, peranan dakwah di Indonesia akan
lebih meningkat dan penting karena tantangan-tantangan yang
dihadapi di masa mendatang lebih kompleks dan masyarakat
menuntut layanan agama yang dapat memberi motivasi dan bekal
untuk membantu memecahkan masalah-masalah duniawi yang
semakin kompleks.
Secara umum, ada tiga tantangan yang dihadapi masyarakat,
yaitu: Pertama, masyarakay kita telah berubah dari masyarakat
agraris menjadi masyarakat industri. Dalam hal ini masyarakat
industri memiliki pola hidup mewah dan hedonistik. Cenderung
lebih rasional dan lebih otonom dalam perencanaan, produksi,
pemasaran dan promosi industri. Situasi demikian secara kejiwaan
akan membawa mereka cenderung kurang merasa perlu terhadap
agama dan karenanya akan menjadi jauh dari ajaran dan moral
agama.

111
Kedua, globalisasi informasi. Pada masa ini kita akan dibanjiri
oleh budaya, pola hidup dan tata nilai asing yang tidak selalu
menjunjung usaha pemupukan budi pekerti luhur yang selama ini
kita dambakan. Ketiga, makin tingginya intelektualitas, terutama di
kalangan angkatan muda. Dalam hal ini tentunya mereka memiliki
daya kritis yang semakin kuat dan tidak mau begitu saja menerima
kata dan pendapat orang lain serta mereka minta diyakinkan
dengan uraian dan penjelasan yang rasional dan dapat diterima oleh
akal mereka.
Oleh karena itu, para da’i atau mubaligh hendaknya menguasai
pengetahuan-pengetahuan non-agama yang berkait di samping
pengetahuan agama murni, agar mereka mampu berbicara dengan
menggunakan idiom dan bahasa yang dimengerti oleh masyarakat
maju, modern dan rasional serta terpelajar. Selain itu perlu juga
pendekatan dan materi dakwah yang lebih menyentuh kehidupan
manusia sehari-hari dan mempunyai relevansi dengan kebutuhan
manusia di dunia fana ini, di samping memberikan harapan
keselamatan di akhirat nanti. Aspek lain yang juga perlu
diperhatikan dalam dakwah adalah perlunya diperbanyak dakwah
bil-hal dibandingkan dengan dakwah bil-qaul.
Dalam alam keterbukaan ini, umat Islam tidak perlu lagi
mempermasalahkan pertentangan antara agama dan negara.
Menurut M. Natsir dan Ibnu Taimiyyah bahwa negara merupakan
alat untuk mencapai suatu tujuan dan negara bukanlah merupakan
bagian integral dari Islam. Umat Islam perlu membangun
hubungan yang sinergis dan fungsional sehingga dapat mengurangi
pertarungan yang bersifat ideologis. Umat Islam dihadapkan pada
persoalan Negara yang lebih besar lagi, yakni pada persoalan
kemiskinan, kebodohan, keadilan dan sebagainya.
Persoalan yang muncul di Indonesia, kehidupan menjalankan
syariat agama menjadi wilayah sendiri, namun pengaruh kehidupan
beragama bisa berdampak sinergis maupun antagonis dalam proses
bernegara. Dapat dilihat secara sederhana dalam perebutan
kekuasaan, simbol-simbol keagamaan menjadi faktor penentu
dalam kehidupan sosial politik bangsa Indonesia hingga saat ini. Di
satu sisi, simbol dan perangkat keagamaan setelah tergunakan
dalam proses meraih pengaruh masyarakat, ia tidak mampu

112
diberdayakan menjadi bagian integral sebagai sumber inspirasi
berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, keinginan formal bangsa
telah menempatkan agama sebagai sumber modal dasar
pembangunan namun masih dicari pemberdayaannya sebagai
sumber inspirasi yang aktualisasinya dapat dirasakan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Oleh karena itu, seharusnya ada integrasi antara paham
keagamaan dan paham kebangsaan dalam proses perencanaan dan
pelaksanaan penyelenggaraan kehidupan bernegara. Hal ini akan
tercapai manakala ada kesadaran pada setiap individu bangsa
Indonesia. Dalam kerangka inilah dakwah diperlukan dalam rangka
pembentukan sistem politik yang Islami.
Agar tercapai proses dakwah di Indonesia dibutuhkan
strategi yang mantap dan handal. Strategi dakwah dalam
masyarakat modern dan informasi mensyaratkan dilakukannya
pembaharuan terus menerus terhadap visi keislaman, visi dakwah,
analisis situasi, perluasan wilayah kepedulian serta sasaran dari
dakwah itu sendiri. Dan pada gilirannya perlu penajaman pilihan
agenda serta metode dan teknik dakwahnya.
Dakwah yang kita lakukan dalam dua dasawarsa terakhir ini
telah berkembang. Ada berbagai inisiatif sosial dan program aksi
dalam dakwah sebagai upaya pembaharuan dan informasi sosial
yang berintikan pemerdekaan (harakah tahririyyah) dan penyadaran
(harakah tau’iyyah). Dakwah dalam proses ini memberikan
komitmennya yang mendalam terhadap peningkatan kualitas hidup
umat serta peningkatan harkat martabat mereka dengan
mengembangkan posisi sosial, ekonomi dan politik mereka agar
memiliki posisi tawar menawar dan akses terhadap sumber daya,
sumber informasi dan sumber pengambil keputusan.
Dakwah sebagai proses yang memengaruhi perjalanan
sejarah dengan demikian memperoleh perluasan pengertian dan
maknanya. Ayat al-Qur’an yang memanggil umat Islam untuk
melakukan dakwah bil hikmah dan mau’izhah hasanah serta mujadalah
bil ihsan pada saat ini telah dipahami secara luas sebagai proses
komunikasi, edukasi dan dialog.
Perluasan pemahaman dakwah bil hikmah dalam pengertian
proses komunikasi sosial budaya dan politik, menyadarkan kita

113
perlunya penguasaan dan pemanfaatan berbagai media yang efektif.
Juga dakwah bil hikmah memperoleh perluasan pengertian dengan
dakwah bissiyasah. Dakwah di bidang kehidupan publik, di bidang
sosial-politik dan ekonomi yang berhubungan dengan masalah ‘good
governance’ yang secara emansipatif dan partisipatif berupaya
membangun, mengatur dan menata kehidupan bersama dalam
ketatanegaraan dan tata kemasyarakatan untuk merealisasikan cita-
cita politik dan kemasyarakatan bersama yang lebih adil,
partisipatif, damai dan sustainable.
Di dalam bidang ini, dakwah diharapkan untuk berperan
sentral dalam proses penguatan civil society atau masyarakat madani
yang menjadi salah satu tulang punggung peradaban. Dalam
konteks ini pula dakwah bil hikmah perlu diaktualisasikan lewat
kegiatan public pooling lobby dan advokasi sosial politik.
Dalam kerangka ini pula mau’izhah hasanah sebagai proses
edukasi dapat diaktualisasikan sebagai proses pendidikan dan
penyadaran sosial politik yang berakar pada etik dan nilai-nilai
agama. Karena hanya dengan evaluasi etik dan teologis yang
mendasar, peradaban manusia dapat terus memperbaharui
keabsahan serta relevansinya.
Dakwah dengan mujadalah bil ihsan dalam masyarakat modern
perlu dipikirkan lebih bersungguh-sungguh tentang semakin
perlunya lembaga-lembaga dakwah dan para fungsionarisnya untuk
mengembangkan ‘international competencenya’ dalam melibatkan diri
dalam diskursus-diskursus serta perbincangan dan inisiatif nasional
maupun internasional tentang berbagai maslah yang menghadang
umat Islam dan umat manusia dalam menghadapi persoalan masa
depan bersama sebagai upaya pencerahan peradaban. Dengan
menawarkan berbagai alternatif pemecahan masalah maupun
refleksi kritis dari nur Islam, sehingga Islam dapat hadir sebagai
petunjuk arah ke depan (hudan), kabar gembira dan pemberi
harapan (basyiran) serta penyembuh (syifa) bagi masyarakat modern
yang sedang mencari berbagai formula baru bagi penataan
kehidupan (the new world order).
Akhirnya kita berharap di era modern ini perlu dihadirkan
aspek religiusitas dalam komunikasi dan proses politik, agar politik
tidak dikesani sebagai sesuatu yang destruktif dan negatif,

114
melainkan justru politik perlu dijadikan sarana dalam
mengembangkan dakwah Islam.

DAKWAH DAN POLITIK: SEBUAH REFLEKSI


Suatu ketika saya diminta untuk mengisi khutbah Jum’at di
salah satu mesjid. Pada saat naik ke atas mimbar saya membaca
satu lembar edaran yang dikeluarkan oleh Dewan Kemakmuran
Mesjid (DKM) yang salah satu isinya melarang bagi seorang khatib
untuk membahas atau membicarakan masalah politik di dalam
khutbah Jum’at.
Setelah pulang dari mesjid tersebut saya terus merenung dan
mencari tahu apa faktor yang menyebabkan adanya larangan untuk
membicarakan politik di dalam materi khutbah. Apakah ada
larangan yang bersumber dari ajaran Islam ataukah karena politik
begitu kotor sehingga untuk masuk ke dalam mesjid perlu dilarang
atau ada keinginan dari pengurus mesjid untuk membebaskan
mesjid dari vested interest yang bersumber dari aktor-aktor politik
yang berkedok sebagai da’i atau muballigh.
Kemudian renungan tersebut saya lanjutkan dengan cara
membuka dan mengkaji sejarah yang terjadi pada zaman Rasulullah
di mana beliau ketika hijrah ke Madinah membangun mesjid untuk
pertama kalinya. Dalam catatan sejarah ternyata mesjid pada zaman
Rasulullah tidak immune (kebal) dari aktivitas dan pembicaraan
politik. Justru mesjid dijadikan sebagai pusat aktivitas dari berbagai
kegiatan yang berkenaan dengan kemajuan Islam dan
pengembangan masyarakat, termasuk politik.
Begitu juga dalam sumber ajaran Islam, seperti al-Qur’an dan
al-Hadits, ternyata tidak ditemukan adanya larangan untuk
berbicara politik di dalam mesjid. Di dalam al-Qur’an ada kurang
lebih 27 ayat yang membicarakan tentang mesjid. Tetapi tidak ada
satu pun ayat yang melarang untuk berbicara politik di dalam
mesjid, termasuk ketika khutbah Jum’at.
Ternyata setelah saya merenung lebih jauh lagi, ada dalam
catatan sejarah masa suram, yakni pada zaman Tabi’in atau pada
zaman dinasti Bani Umayyah. Mesjid pada saat itu dikendalikan
oleh para penguasa. Pertarungan di dalam kekuasaan dinasti
Umayyah antara kelompok Sunni dengan kelompok Syi’ah

115
berimbas dalam penguasaan mesjid pada saat itu. Para khatib
diharuskan untuk membawakan tema-tema yang sejalan dengan
penguasa (Sunni). Sampai-sampai materi khutbah pun diharuskan
untuk mengagungkan para Sahabat yang diakui oleh kelompok
Sunni. Tradisi ini ternyata turun-menurun sampai sekarang dan
berlaku di Indonesia. Seorang khatib ketika khutbah kedua banyak
menyebut-nyebut Sahabat yang dahulunya difungsikan untuk
dijadikan ‘penyerangan’ terhadap kelompok Syi’ah.
Apa karena alasan sejarah tersebut sehingga pengurus mesjid
membuat peringatan terhadap khatib. Menurut saya, rasanya terlalu
jauh untuk dijangkau dan dipikirkan oleh pengurus mesjid.
Akhirnya saya merenung kembali dan mencoba memutar otak saya
dalam konteks keindonesiaan. Dalam perjalanan sejarah masuknya
Islam ke Indonesia, ternyata peran mesjid begitu dominan dalam
aktivitas umat Islam. Mesjid dijadikan sebagai basis penyebaran
atau informasi berkenaan dengan Islam dan mesjid juga dijadikan
tempat untuk mengatur strategi dalam penyebarluasan Islam dan
pengembangan masyarakat. Bahkan, mesjid Demak adalah mesjid
keraton yang pengelolaannya langsung di bawah sultan yang
bertahta. Pada masa itu antara dakwah dengan politik tidak bisa
dipisahkan dan senantiasa berkolaborasi. Dakwah tidak akan
berkembang manakala tidak memanfaatkan politik. Demikian juga
politik tidak menjadi santun dan baik manakala tidak ada unsur
dakwah di dalamnya.
Pada masa penjajahan dan masa revolusi kemerdekaan,
semangat untuk membangun kolaborasi yang kuat antara dakwah
dengan politik begitu tampak. Para da’i atau pejuang Islam
memberikan motivasi, pengajaran, latihan dan kegiatan lainnya
untuk melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan yang
yang telah diraihnya. Kegiatan-kegiatan dakwah sebagai basis
pembelajaran yang bersifat kultural telah dimainkan oleh para da’i.
Materi-materi dakwah, khususnya khutbah, didesain sedemikian
rupa sehingga semangat perjuangan dan membela yang benar
menjadi tema sentral yang ada pada masyarakat.
Semangat tersebut mulai mengalami degradasi ketika Orde
Lama di bawah kepemimpinan Soekarno membangun
kekuasaannya. Pada masa Orde Lama, keberadaan Islam mulai

116
termarginalkan. Diawali dengan gagalnya umat Islam dalam
memasukkan tujuh kata yang terdapat dalam Piagam Jakarta ke
dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945, gagalnya umat
Islam menjadikan Islam sebagai dasar negara, dan dibubarkannya
partai poltik Masyumi yang merupakan representasi dari partai
Islam. Keberadaan Islam tersebut secara otomatis mempengaruhi
peran dakwah terutama pada jalur struktural. Pada jalur ini dakwah
dengan politik mulai terjadi jurang pemisah. Dakwah dengan
politik tidak terjadi kolaborasi, melainkan saling berhadapan.
Meskipun demikian, pada tataran kultural, dakwah tetap
memainkan peran yang signifikan. Kegiatan-kegiatan khutbah,
majelis-majelis ta’lim, dan aktivitas dakwah lainnya berjalan dengan
baik tanpa ada pengontrolan yang ketat dari pemerintah atau
penguasa.
Ternyata kondisi yang dialami umat Islam pada masa Orde
Lama terus berlanjut pada masa orde baru. Harapan umat Islam
terhadap penguasa baru di mana umat Islam memberikan investasi
yang besar dalam membangun kekuasaannya, ternyata hanya
pepesan kosong. Umat Islam, kata M. Natsir, diperlukan seperti
anjing kurap. Aktivitas dakwah baik di partai, majelis-majelis ta’lim
khutbah Jum’at, dan aktivitas lainnya mendapat pengontrolan yang
ketat. Bahkan tidak jarang da’i banyak yang masuk penjara karena
melakukan kritik terhadap penguasa. Puncak dari perlakuan
pemerintah yang tidak bersahabat dengan umat Islam terjadi pada
peristiwa Tanjung Priuk. Banyak da’i dan umat Islam yang menjadi
korban keganasan dari penguasa Orde Baru.
Meski mendapatkan pengontrolan yang ketet, perjalanan
dakwah tidak berhenti. Para da’i terus melakukan aktivitas-aktivitas
dakwah yang bersifat kultural. Hanya saja orientasi dakwah sudah
mulai mengalami perubahan. Dakwah di jalur struktural kurang
mendapatkan perhatian dan di jalur kultural tema-tema yang
berbau politik ditinggalkan. Dampak positifnya terasa langsung,
umat Islam mulai mengalami pergeseran kelas dari kelas rendahan
menjadi kelas menengah. Tidak heran apabila pada masa akhir
Orde Baru banyak umat Islam yang berkiprah pada jalur birokrasi,
politik, jasa dan bisnis.

117
Sampai di sini, saya teringat kembali dengan renungan awal
saya. Jangan-jangan karena ada pengontrolan yang ketet dari
pemerintah sehingga pengurus menjadi khawatir apabila ada
pembahasan tentang politik di dalam mesjid. Akhirnya saya
mencoba untuk menghentikan renungan saya yang terlalu jauh dan
khawatir terjebak dalam memberikan interpretasi terhadap
keinginan dari pengurus mesjid.
Tetapi saya belum puas, saya harus mengalihkan renungan
tersebut ke arah yang lebih luas dan dalan konteks waktu yang
berbeda. Sekarang sudah era reformasi dan era keterbukaan, sudah
seharusnya saya merenungkan tentang cara membangun hubungan
yang harmonis antara dakwah dengan politik. Sebagian umat Islam
masih buta terhadap politik akibat dari ulah pemerintah orde baru
yang tidak memberikan pendidikan politik kepada rakyatnya.
Rakyat tidak tahu mana yang menjadi haknya, bagaimana jika
haknya dilanggar, apa yang menjadi kewajiban rakyat sebagai warga
negara dan masyarakat, bagaimana menjembatani antara hak dan
kewajiban, bagaimana Islam memberikan tuntunan dalam
berpolitik dan sebagainya. Jika pada era keterbukaan ini, da’i masih
membungkam dirinya dalam membicarakan politik dan institusi-
institusi Islam tidak mengambil peran dalam memberikan
pendidikan politik kepada rakyat yang nota bene umumnya umat
Islam, apalah jadinya nasib umat Islam ke depan. Mereka akan
terus menjadi korban dan umat Islam akan terus termarginalkan
dan terkalahkan.
Oleh karena itu, ke depan perlu ada upaya yang bersifat
simbiosis-mutualisme antara dakwah dengan politik. Langkah yang
dapat ditempuh, yaitu: Pertama, khutbah Jum’at perlu didesain
seperti perkuliahan, tiap minggu perlu ada perubahan tema yang
lebih berorientasi pada pengembangan masyarakat dan
peningkatan kesadaran berpolitik. Khutbah tidak hanya berbicara
tentang surga dan neraka, halal atau haram. Di sinilah saya teringat
pesan dari Kang Eep Saifullah Fatah, seorang pakar di bidang
politik dan salah seorang Dosen UI, ketika ia menyampaikan
orasinya di hadapan Dosen-dosen Civic Edication UIN/ IAIN/
STAIN seluruh Indonesia bahwa: “ Bapak-bapak banyak yang
menjadi da’i dan pemberi materi khutbah, cobalah sampaikan

118
tentang politik kewarganegaraan ini kepada rakyat agar rakyat tahu
tentang hak dan kewajibannya.”
Kedua, jama’ah majelis-majelis ta’lim yang tersebar di seluruh
Indonesia perlu diberikan pelatihan dan advokasi tentang
kesadaran berpolitik. Mereka tidak hanya pandai melantutnkan
syair-syair atau shalawat-shalawat secara lantang, tetapi juga pandai
menyampaikan aspirasi dan menegakkan amar ma’ruf nah munkar
secara lantang. Selama ini majelis-majelis ta’lim hanya berperan
sebagai institusi untuk transfer of knowledge, khususnya Islam.
Majelis-majelis ta’lim belum diperhitungkan sebagai institusi umat
Islam yang dapat diperhitungkan keberadaannya.
Ketiga, paradigma dakwah perlu diubah orientasinya, tidak
hanya mengandalkan kepada kemampuan oral, tetapi dapat
memanfaatkan semua lini kehidupan dan dapat memanfaatkan
perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi.
Untuk itu, dakwah perlu didesain, baik secara keilmuan maupun
aplikasinya.
Keempat, para aktor politik dan institusi politik Islam
hendaknya memiliki konsistensi dalam memperjuangkan Islam.
Karenanya, dakwah sebagai komunikasi kebenaran terus
disosialisasikan dan diberdayakan di berbagai institusi politik Islam.
Para politisi Islam perlu terus-menerus diberikan taushiyah dan
tarbiyah agar mereka senantiasa mengedepankan kepentingan-
kepentingan umat Islam.
Akhirnya, renungan panjang ini harus saya akhiri dan
harapan ke depan mudah-mudahan renungan ini dapat diambil
hikmah dan manfaatnya.

119
120
DISKURUS ANTARA
PEMBEBASAN WILAYAH DAN
PEPERANGAN

PENDAHULUAN
Eksistensi Islam sebagai agama besar kedua di dunia
sekarang ini tidak terlepas dari proses penyebaran yang dilakukan
oleh Rasulullah dan pengikutnya. Rasulullah merupakan peletak
dasar dalam proses penyebaran Islam. Sejak beliau menerima
perintah dakwah dari Allah SWT, beliau menyebarkan Islam
kepada para kerabatnya dan selanjutnya disebarkan kepada
masyarakat luas di wilayah Jazirah Arabiyah.
Setelah Rasulullah wafat, tugas menyebarkan Islam
dilanjutkan oleh para Sahabat. Mereka menyebarkan Islam bukan
hanya mengikuti jejak yang diajarkan oleh Rasulullah, melainkan
juga sebagai kewajiban yang mesti diemban oleh orang-orang yang
menyatakan diri sebagai Muslim. Al-Qur’an dengan tegas
memberikan perintah kepada umat Islam untuk menyebarkan
ajaran Islam: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung,” (QS. 3: 104)
dan “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik....” (QS. 16: 125).
Karena itu, para Sahabat Nabi mengembangkan Islam ke berbagai
wilayah Jazirah Arabiyah. Dalam penyebaran ke luar wilayah Islam,
para penguasa Islam melakukan pembebasan terhadap negeri-
negeri yang belum mengikuti kedaulatan dari kekuasaan Islam.
Proses pembebasan ini di dalam Islam dikenal dengan istilah
Futuhat (pembebasan).
Persoalan yang muncul berkenaan dengan futuhat, yakni
persepsi negatif yang dimunculkan oleh kalangan missionaries dan
orientalis yang menyatakan bahwa Islam merupakan agama
ekspansionis yang dikembangkan dengan menggunakan pedang
atau kekerasan. Mengingat futuhat yang dilakukannya dengan
menggunakan kekerasan. Sebagaimana diungkapkan oleh M.

121
Husein Haekal: “Kalangan orientalis dan misi-misi penginjil itu
mengangkat suara keras-keras: Lihatlah tuan-tuan, Muhammad dan
agamanya itu menganjurkan orang berperang dan berjuang demi
Allah (al-jihad fi sabilillah) atau memaksa orang masuk Islam dengan
pedang. Bukankah ini yang namanya fanatik?”125
Tuduhan ini terus-menerus dilansir dalam berbagai tulisan
dan media yang dikembangkan oleh kalangan orientalis dan
missionaries. Implikasinya, eksistensi Islam sebagai agama yang
hanif dan rasional memiliki citra negatif di kalangan masyarakat
Barat hingga dewasa ini. Berbagai aksi kekerasan yang muncul
dipermukaan bumi dewasa ini seringkali dikaitkan dengan perilaku
yang dilakukan oleh umat Islam.
Oleh karena itu, tulisan ini akan mengkaji lebih jauh tentang
proses futuhat (pembebasan) Islam yang dilakukan oleh Rasulullah ,
para Sahabat dan pengikutnya. Dengan mengkaji ini diharapkan
dapat mendudukkan makna futuhat secara proporsional dan dapat
memberikan argumentasi yang jelas bahwa Islam bukanlah agama
ekspansionis yang dikembangkan dengan pedang atau kekerasan.

PENGERTIAN AL-FUTUHAT
Kata al-futuhat adalah bentuk jamak dari fataha- al-futuh yang
berarti pembukaan dar al-harb (iftitah dar al- harb).126 Maksudnya
pembukaan terhadap wilayah-wilayah yang belum memeluk Islam.
Istilah al-futuhat dalam arti kiasan sering dipakai untuk merujuk
pada perjuangan sukses Nabi dan pengikutnya di bawah panji-panji
Islam. Hal ini sejalan dengan makna al-fath yang terdapat di dalam
surat an-Nashr: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan
(al-fath). Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-
bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun
kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat,” (QS. 100:
1-3).
Menurut satu riwayat dikisahkan bahwa ketika Rasulullah
memasuki kota Mekkah pada waktu fath Mekkah, Khalid bin Walid

125
Muhammad Husein Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Bogor:
Litera Antar Nusa, 2000, hlm. 236.
126
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Jilid II, Beirut: Dar Shadr, 1990, hlm.
537.

122
diperintahkan memasuki Mekkah dari wilayah dataran rendah
untuk membalas serangan orang-orang Quraisy serta merampas
senjata mereka. Setelah memperoleh kemenangan maka orang-
orang kafir Quraisy berbondong-bondong masuk Islam. Surat an-
nashr ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai
perintah untuk bersyukur, bertasbih dan beristirghfar serta memuji
Allah atas pertolonganNya sehingga umat Islam memperoleh
kemenangan (riwayat ‘Abdurrazaq dari az-Zuhri).127
Dalam penggunaannya, istilah al-futuhat tidak berarti
penaklukan, baik secara harfiah atau material. Namun, pertama ia
merujuk kepada keterbukaan hati dan pikiran terhadap kebenaran
Islam. Dan kedua, merujuk pada perubahan konfigurasi sejarah
yang memungkinkan risalah Islam mengatasi rintangan dan meraih
hati dan pikiran manusia.128
Pemahaman di atas, menurut al-Faruqi, diturunkan dari
makna al-fath yang terdapat di dalam surat al-Fath: “Telah Kami
bukakan bagimu (Muhammad) suatu pembukaan nyata sehingga Allah
mengampuni dosamu terdahulu, menyempurnakan rahmatNya, memandumu
ke jalan lurus dan memberikan kemenangan besar untukmu” (QS. 48: 1-
3). Ayat ini turun menjelang akhir perjanjian damai Hudaibiyah
dengan orang Mekkah. Inilah perdamaian yang menurut para
Sahabat mempermalukan diri mereka, Nabi dan Islam. Suatu
perdamaian yang menimbulkan protes. Nabi menyetujui perjanjian
ini karena isinya merupakan perjanjian damai. Perdamaian sangat
dibutuhkan agar orang dapat mendengarkan seruan Allah. Wahyu
al-Qur’an memperkuat pemahaman Muhammad akan perjanjian
itu dan menyebutnya suatu “pembukaan yang nyata”.129 Dengan
demikian, makna al-fath lebih merujuk kepada cara-cara damai yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad beserta pengikutnyadalam rangka
menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk yang belum menerima
ajaran Islam.
Merujuk kepada pemahaman al-fath seperti diuraikan di atas,
maka makna al-futuhat dalam konteks penyebaran Islam lebih

127
T.H. Thalhas dkk, Tafsir Pase, Jakarta: Bale Kajian Tafsir Al-
Qur’an Pase, 2001, hlm. 87.
128
Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Bandung: Mizan, 2003, hlm. 234.
129
Ibid., hlm. 234.

123
bernuansa moral. Artinya, penyebaran Islam dilakukan dengan
cara-cara yang damai dan tidak menggunakan senjata.

KONSEP ISLAM TENTANG PERANG DAN DAMAI


Sebelum membahas lebih jauh tentang al-futuhat yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para Sahabat, terlebih dahulu
dijelaskan tentang konsep Islam tentang perang dan damai. Hal ini
dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang utuh tentang
Islam sebagai agama yang mengembangkan perdamaian. Dengan
penggambaran ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan untuk
menilai al-futuhat yang dilakukan oleh umat Islam. Apakah al-futuhat
yang dilakukan oleh umat Islam sesuai dengan esensi dari ajaran
Islam itu sendiri dan sebaliknya.
Untuk mengkaji konsep perang dan damai, dalam Islam,
maka kita perlu merujuk kepada al-Qur’an dan Hadits sebagai
sumber ajaran Islam. Islam mengakui bahwa perang merupakan
fenomena real di dalam kehidupan umat manusia. Karena setiap
manusia memiliki potensi dan kekuasaan untuk mempertahankan
dirinya. Ketika dirinya terancam, maka peperangan tidak bisa
dielakkan dalam kehidupan manusia.130 meskipun demikian, di
dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang memerintahkan umat Islam
untuk memerangi negara atau umat manusia.
Bukti nyata bahwa al-Qur’an tidak memerintahkan umatnya
untuk berperang yakni di dalam al-Qur’an tidak dibicarakan
tentang adanya dar al-Islam dan dar al-harb.131 Dua istilah ini lebih
banyak dibicarakan dalam konteks fiqh. Istilah al-Qur’an yang
mirip dengan dar al-Islam adalah dar as-salam yang berarti negara
damai.
Perkataan dar as-salam, secara etimologis, berkaitan maknanya
dengan ajaran tentang Islam. Sebagai mashdar dari kata kerja aslama,
perkataan Islam memiliki arti “mencari salam”, yakni kedamaian,

130
Abdulrahman Abdulkadir Kurdi, The Islamic State A Study Based
on The Islamic Holy Constitution, London: Mansell Publishing Limited, hlm.
97.
131
Istilah dar al-Islam (negara Islam) biasanya diartikan sebagai
kawasan damai. Sementara dar al-harb (negara perang) lebih diartikan
sebagai kawasan perang.

124
berdamai dan dari semua itu juga menghasilkan pengertian tunduk,
menyerah dan pasrah. Maka agama yang benar disebut Islam
karena mengajarkan sikap berdamai dan mencari kedamaian
melalui sikap menyerah, pasrah dan tunduk patuh kepada Tuhan
secara tulus.132
Sikap-sikap ini bukanlah hanya pilihan hidup yang benar
untuk manusia, tetapi juga merupakan pola wujud (mode of existence)
seluruh alam raya beserta isinya. Karena itu, jika manusia diseru
untuk memilih sikap-sikap hidup tunduk, menyerah dan pasrah
kepada Tuhan, yaitu untuk berislam, maka itu tak lain adalah
seruan agar manusia mengikuti pola hidup yang sama dengan pola
wujud alam raya. Yang dihasilkan oleh sikap itu tidak saja
kedamaian dengan Tuhan, diri sendiri dan sesama manusia, tetapi
juga dengan sesama mankhluk, sesama isi seluruh alam raya, dan
jagat raya itu sendiri.133
Di kalangan orientalis dan masyarakat Barat yang phobia
terhadap Islam, menyerang konsep Islam tentang perang dan
damai ini dengan cara mensitir beberapa ayat al-Qur’an yang
berkenaan dengan peperangan seperti ayat-ayat yang terkait dengan
qital dan jihad. Ayat al-Qur’an yang mengizinkan umat Islam
melakukan peperangan “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang
yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu)
orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan
yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hayalah Allah’.
Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagai manusia dengan
sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-
gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di
dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong
orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. 22: 39-40). Oleh karena ayat di atas
dianggap sebagai ayat yang melegitimasi diperbolehkannya
berperang dalam menyebarkan ajaran Islam.

132
Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban, Jakarta: Paramadina,
2000, hlm. 218.
133
Ibid., hlm. 219.

125
Padahal ayat di atas menurut riwayat Imam Ahmad dan
Ishaq bin Yusuf dan menurut Ibn Abbas bahwa ayat ini
merupakan ayat yang turun pertama kali berkenaan dengan
peperangan.134 Dalam ayat tersebut, umat Islam diizinkan
berperang dalam kerangka membela diri dan membela keyakinan
seperti yang tampak dalam penggambaran ayat 39 surat al-Hajj di
atas. Karenanya Islam melarang secara tegas tentang perang.
Sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya: “Bejuanglah kamu demi
Allah melawan mereka yang memerangi kamu. Tetapi janganlah kamu
melakukan pelanggaran (agresi) sebab Allah tidak menyukai orang-orang
yang melakukan pelanggaran,” (QS. 2: 190).
Selain ayat-ayat yang berkenaan dengan perang (qital), ayat-
ayat tentang jihad pun disinyalir oleh kalangan orientalis (Barat)
sebagai ayat-ayat yang memerintahkan untuk melakukan perang
suci. Hal ini seperti diungkapkan oleh John L. Esposito:
A common issue associated with the spread of Islam is the role of jihad,
so-called holy war. While Westerners are quick to characterize Islam as
a religion spread by the sword, modern Muslim apologists sometimes
explain jihad as simply defensive in nature. In its most general sense,
jihad in the Qur’an and in Muslim partice refers to the obligation of all
Muslims to strive (jihad, self-exertion) or struggle to follow God’s will.
This includes both the struggles to lead a virtous life and the universal
mission of the Muslim community to spread God’s rule and law
through teaching, preaching, and, where necessary, armed conflict.135

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Larry Poston “Term


jihad menimbulkan sentimen-sentimen yang berbeda. Bagi para
peneliti Barat, term jihad merupakan ide yang bersumber dari
prajurit Arab yang fanatik, yang mengobarkan gelombang
peperangan dan menghunus pedang bagaikan cahaya matahari,

134
Abu al-Fida Ismail Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Suria:
Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1969, hlm. 225.
135
John L. Esposito, IslamTthe Straight Path, New York: Oxford
University Press, 1988, hlm. 50.

126
mengajak laki-laki dan perempuan dalam memeluk Islam atau mati
dalam keadaan syahid”.136
Istilah jihad apabila ditelusuri lebih dalam memiliki makna
yang luas. Term jihad berasal dari kata kerja jahada yang berarti
berusaha dengan sungguh-sungguh. Di dalam al-Qur’an term jihad
dipergunakan dalam tiga makna utama, yaitu: mempertahankan
wilayah Islam dari serangan musuh yang datang dari luar (to defend
the Islamic Nation from any outside attack), membebaskan manusia dari
beberapa kekuatan yang agresif (to liberate people from any aggressive
power), dan mengajak orang untuk memeluk Islam dan
menyampaikan pesan Islam kepada seluruh manusia dengan cara
yang hormat dan penuh perhatian (to call people ti Islam and convey its
message to all people in terms of courtesy and consideration).137
Dari uraian di atas jelaslah bahwa Islam adalah agama yang
mengembangkan konsep perdamaian dan melarang umatnya
melakukan peperangan. Ajakan berdamai adalah ajakan yang include
di dalam makna Islam itu sendiri. Oleh karena itu, penyebaran
Islam dengan cara kekerasan dapat menodai makna Islam itu
sendiri dan juga menodai ajaran Islam sebagai ajaran yang cinta
terhadap perdamaian.

AL-FUTUHAT PADA MASA RASULULLAH


Jika ditelusuri perjalanan dakwah yang dilakukan oleh
Rasulullah, tampak bahwa dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah
pada periode Mekkah belum menunjukkan hasil yang signifikan
secara kuantitas. Rasulullah di Mekkah banyak mendapatkan
perlawanan dan tekanan-tekanan yang berasal dari suku Quraisy.
Geliat dakwah menunjukkan arah yang lebih maju ketika
Rasulullah berada di kota Madinah. Masyarakat Madinah
melakukan respons positif terhadap ajaran yang dikembangkan
oleh Rasulullah.
Berbagai cara atau model telah dikembangkan oleh
Rasulullah dalam menyebarkan Islam di kota Madinah. Hal ini
tentunya tidak terlepas dari berbagai faktor yang mengiringinya.

136
Larry Poston, Islamic Da’wah in the West, New York: Oxford
University Press, 1992, hlm. 13.
137
Abdulrahim Abdulkadir Kurdi, op. cit., hlm. 101.

127
Adakalanya Rasulullah membuat perjanjian dengan para
pengikutnya, seperti perjanjian Hudaibiyah dan piagam Madinah.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah mengembangkan dakwah
dengan cara mengirim surat kepada raja-raja atau penguasa-
penguasa. Rasulullah juga melakukan pembinaan, penataan
masyarakat, melakukan peperangan, dan sebagainya.
Dari berbagai model atau cara yang dilakukan oleh
Rasulullah tersebut, ternyata cara peperangan yang banyak
mendapatkan tanggapan dari para sejarawan, khususnya para
orientalis. Mereka beranggapan bahwa sejak terjadinya perubahan
lingkungan masyarakat di Madinah, Rasulullah tidak lagi sebagai
juru dakwah, sebagai pemberi peringatan, sebagai pesuruh Tuhan
kepada seluruh manusia yang menyampaikan wahyu dengan cara
yang lemah lembut, tetapi seolah-olah berubah menjadi seorang
bengis yang menurutkan hawa nafsu jahatnya dengan
menggunakan segala cara untuk memaksa orang tunduk kepada
pendapatnya.138 Bahkan, mereka memberikan karakteristik bahwa
Islam dalam penyebarannya menggunakan pedang.139
Persepsi negatif yang dikemukakan kalangan orientalis
(Barat) terhadap peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah tidak
terlepas dari adanya konfrontasi antara Islam dengan kalangan
Barat. Menurut Nurcholish Madjid, konfrontasi ini terjadi pada tiga
tingkat, Pertama, tingkat paham keagamaan, di mana kalangan
Kristen menganggap Islam sebagai agama baru dan tampil sebagai
tantangan Kristen. Kedua, tingkat sosial politik, yakni seluruh
wilayah yang tadinya dikuasai oleh Kristen kemudian dikuasai oleh
Islam sehingga ketika Kristen sekarang berkuasa, maka Islam
dijadikan sasaran tembaknya. Ketika, tingkat budaya bahwa budaya
Islam berbeda dengan budaya Barat yang bersumber dari
Yunani.140
Tuduhan negatif dari kalangan orientalis (Barat)
mendapatkna respon dari kalangan Barat sendiri, yakni Thomas W.
Arnold, menolak semua tuduhan tersebut. Ia menunjukkan bukti-

138
Thomas W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam, Jakarta: Widjaya,
1981, hlm. 31.
139
John L. Esposito, op. cit., hlm. 40.
140
Nurcholish Madjid, op. cit., hlm. 250-251.

128
bukti sejarah tentang peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah.
Menurutnya, tidaklah benar setelah di Madinah Muhammad
meninggalkan perannya sebagai juru dakwah. Juga tidak benar
bahwa setelah dia memegang komando angkatan perang yang kuat
dia lantas berhenti mengundang orang-orang kafir masuk Islam.141
Justru Rasulullah di Madinah banyak melakukan pengiriman surat
dan mengutus delegasi untuk mengajak para penguasa dan orang-
orang kafir untuk memeluk Islam.
Kalau pun Rasulullah melakukan peperangan, tidak lain
adalah untuk memerangi mereka yang membuat fitnah atau
menghalanginya dari jalan Allah. Perang dalam arti untuk
kebebasan berdakwah atau dengan kata lain menurut bahasa
sekarang mempertahankan idea dengan senjata yang dipergunakan
oleh pihak yang memerangi idea itu.142 Bahkan Nurcholish Madjid
memberikan komentar yang menarik berkenaan dengan perang
yang dilakukan oleh Rasulullah sebagai berikut:
Kita harus melihat perang-perang Nabi sebagai realisme
sosial, politik, dan kultural, justru untuk menegakkan perdamaian
itu sendiri. Ini bukanlah suatu jenis Machiavelisme (untuk tujuan
perdamaian ditempuh cara perang), sebab jika hal itu demikian,
maka tidak satu pun tindakan manusia akan dapat dibenarkan,
sementara sering kebenaran, termasuk perdamaian, tidak akan
terwujud tanpa peperangan yang benar. Dan perang Nabi tidak saja
dilakukan untuk tujuan menciptakan perdamaian antara manusia,
tetapi cara dan teknik pelaksanaannya sendiri juga dengan sangat
memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang seluhur-luhurnya.
Sampai-sampai, misalnya, Nabi saw berpesan agar bila kita
berperang dan harus membunuh musuh, hendaknya kita
menghindari wajah, karena dalam wajah itu ada kehormatan
kemanusiaan. Sebagaimana hadits Rasulullah: “Jika seorang di antara
kamu terlibat dalam peperangan maka hendaknya ia menghindari wajah,”
(Muttafaq ‘alaih).143

141
Thomas W. Arnold, op. cit., hlm. 31.
142
Muhammad Husain Haikal, op. cit., hlm. 236.
143
Nurcholish Madjid, op. cit., hlm. 223.

129
Oleh karena itu, tidaklah benar tuduhan yang disebarkan
oleh kaum orientalis (Barat) yang menyatakan bahwa Muhammad
melakukan penyebaran Islam dengan cara kekerasan atau
peperangan. Al-futuhat yang dilakukan oleh Rasulullah lebih
menekankan kepada pembebasan wilayah-wilayah yang dikuasai
oleh orang-orang yang menentang Rasulullah ketika beliau ingin
menyebarkan Islam ke wilayah tersebut. Setelah Rasulullah
menaklukkan para pemimpin wilayah tersebut, Islam kemudian
disebarkan oleh Rasulullah dengan berbagai cara yang sesuai
dengan tingkat kemampuan dan pemahaman dari masyarakat
disekitarnya. Karenanya, Islam dalam waktu relatif singkat dapat
tersebar luas ke seluruh Jazirah Arabiyah.

AL-FUTUHAT PADA MASA SAHABAT DAN TABI’IN


Para Sahabat (Khulafaurrasyidin) mengikuti jejak Rasulullah
dalam menyebarkan ajaran Islam. Mereka menyampaikan ajaran
Islam, mengajarkannya dan menetapkan hukum-hukum di dalam
kehidupan kaum muslimin serta menegakkan Dakwah Islamiyah
sehingga Islam tersebar luas ke berbagai wilayah di luar Jazirah
Arabiyah.144 Pada masa Khalifah Abu Bajar, agenda yang dilakukan
olehnya adalah perang riddah (perang melawan orang-orang murtad
dan tidak mau membayar zakat). Banyak kaum muslimin yang
keluar fari Islam dan tidak mau membayar zakat karena Rasulullah
saw telah wafat. Mereka menganggap bahwa membayar zakat
hanya pada zaman Rasulullah.
Selain itu, Abu Bakar juga melanjutkan perjuangan
Rasulullah menyebarkan Islam ke wilayah Syam. Nabi telah
mengirim tentara ke Syria sebagai jawaban terhadap mobilisasi
Byzantium. Pemimpinnya Zayd bin Haritsah yang menerima
dukungan pasukan kaveleri di bawah Khalid bin al-Walid. Pasukan
pertama kalah perang di Mu’tah, di Yordania, dan ketiga
pemimpinnya gugur satu persatu. Orang Byzantium juga kehabisan
tenaga dan mundur, tak peduli untuk menekan kemenangan
mereka di medan perang. Kedatangan Khalid sudah terlambat dan
tidak terjadi pertempuran. Ketika kabar tentang pengiriman
144
Al-Bayanuni, al-Madkhal ila ‘Ilm al-Da’wah, Beirut: Muasassah
al-Risalah, 1991, hlm. 90.

130
pasukan lebih lanjut oleh Byzantium sampai kepada Nabi tak lama
sebelum beliau wafat, Nabi mengirim tentara yang sama di bawah
kepemimpinan Usamah. Tentara ini kembali ke Madinah tanpa
bertempur dengan musuh. Mereka sebenarnya sudah bergerak
selama dua hari ketika kabar wafatnya Nabi sampai kepada mereka.
Komandan tentara memutuskan untuk kembali. Kepala negara
yang baru, Abu Bakar memutuskan untuk memperkuat tentara ini
dan mengirimnya kembali ke utara untuk menjalankan misi yang
dipercayakan Nabi kepada mereka.
Abu Bakar juga mengutus Khalid bin Walid untuk
mengembangkan Islam di wilayah Persia. Khalid menulis surat
kepada penguasa di Persia untuk menentukan pilihan, yaitu masuk
Islam, membayar jizyah atau peperangan. Penguasa tersebut tidak
menjawab, maka Khalid melakukan penyerangan dan mengalahkan
Persia. Setelah Persia dikuasai, umat Islam menyebarkan
dakwahnya ke wilayah tersebut.145
Penyebaran Islam secara besar-besaran terjadi pada masa
kekhalifahan ‘Umar Ibn Khaththab. Pada masa ‘Umar, Islam
menyebar ke wilayah Syria, Iraq, Iran, dan Mesir. Pada ekspedisi
pertama ke wilayah Syria digambarkan sebagai ekspedisi yang
dilakukan oleh para pemimpin (elite) yang memiliki pengaruh kuat
di masyarakat Badui pada saat itu. Ekspedisi ini bukanlah ekspedisi
kaum barbarian karena adanya tekanan penduduk atau adanya
semangat keagamaan untuk melakukan invasi ke wilayah Syria.
Alasan dasarnya untuk mengembangkan kekuasaan Islam Madinah
ke wilayah tersebut.146
Salah satu suku yang ada di Syria, yakni bani Ghasasania
setelah peperangan Qadisiah (14 H) di mana tentara Persia di
bawah pimpinan Raja Rustam dikalahkan secara total, banyak
orang-orang Kristen dari suku-suku Badui yang mendiami kedua
belah sisi sungai Eufrat datang menghadap pimpinan pasukan
Islam dan berkata: “Kabilah-kabilah yang pertama masuk Islam
lebih bijaksana dari kami. Kini dengan terbunuhnya Rustam, kami

145
Ibid., hlm. 91.
146
Hugh Kennedy, The Prophet and the Age of the Caliphates,
London: Longman, 1991, hlm. 59.

131
pun akan masuk Islam.147” Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran
Islam ke wilayah Syria dilakukan dengan cara damai melalui cara-
cara persaudaraan.
Demikian juga, penyebaran Islam ke wilayah Mesir atau
Afrika, dilakukan dengan cara mengutus delegasi yang dipimpin
oleh ‘Amr bin al-‘Ash. Delegasi ini berhasil menyebarkan Islam ke
wilayah tersebut dengan menggunakan cara-cara damai. Bahkan,
Arnold mencatat bahwa kegiatan Islam di wilayah Afrika dilakukan
oleh para Muballigh tanpa menggunakan senjata. Islam disebarkan
oleh para anggota madzhab besar Islam yang mewarnai dan
menjadi ciri khas dari kehidupan masyarakat Afrika.148
Penyebaran Islam ke negeri Persia yang dilakukan oleh
pemerintahan Utsman dengan cara menaklukkan terlebih dahulu
pemimpin Persia Yazdizer pada tahun 31 H. Setelah pemimpin
tersebut meninggal, banyak para pengikutnya yang menyambut
gembira kedatangan agama Islam. Karena mereka menganggap
bergaul dengan kaum muslimin lebih baik ketimbang bergaul
dengan penduduk di bawah penguasa Yazdizer. Oleh karena itu,
mereka berbondong-bondong masuk Islam.149
Dalam penyebaran Islam ke wilayah Spanyol, kita tidak
mendengar adannya orang masuk Islam karena paksaan atau suatu
bentuk penekanan lain pada masa permulaan berkembangnya
agama Islam. Besar kemungkinan, salah satu faktor utama cepat
meluasnya agama Islam di Spanyol adalah justru karena sikap
toleransinya terhadap agama Kristen.150 Sikap toleransi
pemerintahan Islam terhadap penduduk Kristen di Spanyol dan
kebebasan pergaulan antara penganut kedua agama ini
mengakibatkan sering terjadinya asimilasi. Isidore dari Beja, yang
sangat membenci kaum penakluk Muslim ini, mencatat perkawinan
Abdul Aziz bin Musa dengan anak Raja Roderic, tanpa suatu kritik.
Banyak orang-orang Kristen memakai nama-nama Arab, meniru
cara hidup lahiriah kaum muslimin, misalnya khitanan, menu

147
Thomas W. Arnold, op. cit., hlm. 43.
148
Ibid., hlm. 285.
149
Hasan Mas’ud al-Thawir, al-Da’wah ila Allah Ta’ala ‘ala Dhaui
al-Kitab wa al-Sunnah, Beirut: Dar Kutaibah, 1992, hlm. 170.
150
Thomas W. Arnold, op. cit., hlm. 120.

132
makanan dan minuman meniru orang-orang pagan yang tidak
dibaptis.151
Secara global, penyebaran Islam pada masa Sahabat
digambarkan oleh Seyyed Hossein Nasr bahwa penyebaran Islam
ke berbagai wilayah di luar Jazirah Arabiyah dilakukan melalui
beberapa cara atau gelombang. Di wilayah Persia, penyebaran
Islam dilakukan dengan menggunakan kekuatan senjata. Mengingat
wilayah ini merupakan basis dari kerajaan Persia yang menjadi salah
satu penguasa besar pada masa itu. Sementara pada wilayah lainnya
seperti Turki, India, Indonesia dan Afrika, Islam banyak
disebarkan oleh para sufi.152
Berdasarkan uraian di atas, kesimpulan yang diambil dari al-
futuhat pada masa Sahabat dan Tabi’in, yakni al-futuhat dilakukan
dalam kerangka memberikan kebebasan kepada penduduk wilayah-
wilayah yang dibebaskan untuk memeluk agama. Selain itu, al-
futuhat dilaksanakan untuk mengembangkan kekuasaan (daulah)
Islam ke berbagai wilayah. Wilayah-wilayah yang belum mengakui
kedaulatan Islam, mereka dipersilahkan untuk memilih salah satu
pilihan, yaitu: mengakui Islam, membayar pajak (jizyah) atau
peperangan.

DAKWAH DAN AL-FUTUHAT


Bertitik tolak dari uraian di atas tampak bahwa antara
dakwah dengan makna al-futuhat tidak terjadi kontradiksi. Islam
sebagai agama dakwah tentunya membutuhkan al-futuhat
(pembukaan). Karena al-futuhat dimaksudkan untuk membebaskan
beberapa wilayah yang hendak dimasuki Islam dari para penguasa
yang menentang kekuasaan Islam atau menentang Islam untuk
masuk ke wilayah tersebut. Setelah wilayah dibebaskan dari
penguasa yang menentang, dakwah dibutuhkan untuk memberikan
pemahaman kepada umat yang belum mengenal Islam. Di sanalah
Islam disebarkan secara damai oleh para da’i/muballigh. Prinsip
dasar yang digunakan dalam dakwah Islam adalah: “Tidak ada
paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” (QS. 2: 256). Bahkan,

151
Ibid., hlm. 122.
152
Seyyed Hossein Nasr, Islam Religion History and Civilization,
New York: Harper San Francisco, 2003, hlm. 17.

133
dalam ayat lain Allah memperingatkan kepada Nabinya untuk tidak
memaksakan kepada umatnya “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki ,
tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka
apakah kamu (hendak) memaksa supaya mereka menjadi orang-orang yang
beriman semuanya,” (QS. 10: 99).
Menurut Thomas W. Arnold, sejak awal Islam merupakan
agama dakwah, baik dalam teori maupun praktek. Sebagaimana
kehidupan Muhammad mencontohkan ajaran yang sama dan Nabi
sendiri bertindak selaku pimpinan dakwah Islam dalam waktu
yang lama telah berhasil menarik banyak pengikut dari kaum
kafirin. Lagi pula bukanlah pada kekejaman orang-orang kasar
fanatik kita mencari bukti dari semangat dakwah Islam. Apalagi
dengan mengeksploitir tokoh dongengan: pejuang Islam dengan
pedang di tangan kanan dan Qur’an di tangan kirinya. Tetapi bukti
itu hendaklah dicari pada usaha-usaha yang tenang dan tak kenal
kekerasan dari para juru dakwah dan pedagang-pedagang yang
membawa agamanya ke seluruh penjuru dunia ini. Cara-cara
dakwah dengan persuasi dan lemah lembut tidak hanya dijalankan
pada masa-masa di mana suasana politik tidak memungkinkan
kekerasan, tetapi juga benar-benar tercantum di dalam banyak ayat-
ayat al-Qur’an, baik yang diturunkan pada periode Mekkah
maupun pada periode Madinah.153
Ada beberapa alasan mengapa banyak orang yang tertarik
pada Islam, yaitu: Pertama, Islam sebagai agama dakwah. Karena
tidak ada lembaga gereja yang terorganisir, maka tugas
mengajarkan Islam kepada orang non-Muslim menjadi kewajiban
setiap Muslim. Kedua, Islam mengembangkan ajaran keadilan. Di
dalam Islam tidak dikenal adanya kasta atau kelas dan Islam
melarang adanya penindasan dari yang kuat kepada yang lemah.
Ketiga, tidak ada pemaksaan untuk mengajak orang masuk Islam.
Karena dalam Islam tidak mengenal adanya otoritas penguasa atau
otoritas dalam agama. Keempat, hakikat dari mentalitas orang-orang
Yahudi dan Kristiani lebih condong kepada mentalitas yang ada
pada masyarakat Arab dibandingkan dengan mentalitas Yunani

153
Thomas W. Arnold, op. cit., hlm. 4.

134
(Byzantium). Kelima, situasi dan kondisi yang menunjukkan adanya
kelemahan pada agama Yahudi dan Nasrani pada saat itu.154
Keberhasilan dakwah yang dilakukan oleh Nabi dan para
Sahabat serta Tabiin hendaknya dijadikan pelajaran agar kita selaku
penerusnya dapat merumuskan langkah-langkah yang sesuai
dengan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini.
Prinsip dasar yang mesti dikembangkan adalah dakwah perlu
dilakukan dengan cara damai dan tidak menggunakan kekerasan.
Di dalam Hadits dikatakan: “Sesungguhnya Allah itu lemah lembut, Ia
mencintai kelemahlembutan dalam segala hal dan Dia akan memberi apa
yang tidak Dia berikan pada kekerasan,” (QS. Bukhari). Dengan cara
ini diharapkan dapat memberikan argumen yang kuat bahwa Islam
memang agama yang cinta kepada perdamaian dan disebarkan
dengan cara damai.
Dalam aplikasinya, sekarang ini dakwah mesti dikembangkan
dengan pendekatan manajemen dan organisasi. Hal ini mutlak
dilakukan, mengingat kondisi umat Islam sekarang ini jauh
tertinggal dari umat-umat yang lainnya. Kekhawatiran yang muncul
dari ketertinggalan kita, yakni umat Islam, akan mudah marah yang
pada akhirnya akan menimbulkan sikap anarkis dan kekerasan,
tidak percaya diri sehingga meninggalkan kehidupan dunia dan
larut dalam rutinitas yang bersifat ritual, dan hilang semangat untuk
maju dan mengubah keadaan yang menjadi lebih baik. Oleh karena
itu, dakwah perlu dikemas sedemikian rupa agar dapat memenuhi
kebutuhan dan tuntutan masyarakat dewasa ini.
Selain itu juga, umat Islam perlu memberikan penjelasan
kepada masyarakat Barat tentang Islam secara proporsional dan
rasional bahwa Islam adalah agama yang mengembangkan konsep
damai dan sebagai agama rasional. Penjelasan dilakukan dengan
cara memberikan informasi seluas-luasnya, baik melalui media
elektronika maupun media cetak. Sehingga masyarakat Barat lebih
terbuka dan fair dalam menilai umat Islam.

154
Al-Faruqi, op. cit., hlm. 252-253.

135
PENUTUP
Al-Futuhat tidaklah dimaknai sebagai ekspansi atau
penaklukan, melainkan sebagai upaya pembebasan wilayah-wilayah.
Al-Futuhat yang dilakukan oleh umat Islam tidak dimaksudkan
untuk melakukan ekspansi dalam kerangka mencari kekayaan dan
kekuasaan. Al-Futuhat dilakukan dalam kerangka membebaskan
wilayah-wilayah dari para penguasa yang tidak mengakui kekuasaan
Islam atau para penguasa yang menentang Islam memasuki
wilayahnya. Dalam al-Futuhat ini kekerasan dan peperangan
kadang-kadang tidak bisa dihindarkan , tetapi proses al-futuhat tidak
diidentikkan dengan dakwah (penyebaran) Islam yang
menggunakan kekerasan atau peperangan. Dakwah Islam
dilakukan jauh setelah proses al-futuhat dan caranya tentu dengan
menggunakan cara-cara damai, baik melalui proses asimilasi,
pengajaran kaum sufi, pembinaan atau pengajaran, maupun melalui
keteladanan.
Proses ini sejalan dengan prinsip Islam yang diajarkan dalam
al-Qur’an: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” (QS.
2: 256). Selain itu, Islam juga mengembangkan konsep damai dan
melarang umatnya melakukan peperangan atau kekerasan. Ajaran
Islam ini telah dibuktikan dan dipraktekkan oleh Rasulullah, para
Sahabat dan Tabi’in. Oleh karena itu, pengembangan Islam ke
depan perlu mengkaji kembali sejarah masa lalu dan mengambil
hikmah untuk dapat diterapkan pada masa sekarang dan masa yang
akan datang. Dakwah perlu dilakukan dengan cara damai dan
mengembangkan toleransi serta dilakukan dengan menggunakan
organisasi dan manajemen modern yang disesuaikan dengan
tingkat kebutuhan dan pemahaman umat.

136
DAKWAH ISLAM DI TENGAH-TENGAH
PERBEDAAN PEMAHAMAN DI
KALANGAN UMAT ISLAM

PENDAHULUAN
Dalam perjalanan dakwah di Indonesia sekarang ini,
persoalan perbedaan pemahaman menjadi persoalan yang masih
mengganjal. Di kalangan masyarakat awam (grass root) masih terjadi
pertentangan –meskipun relatif kecil- antara pemahaman yang
dianut oleh orang Nahdatul Ulama (NU), orang Muhammadiyah
dan orang Persatuan Islam (Persis), terutama dalam hal shalat
shubuh dan tarawih, tahlilan, ziarah, maulidan dan beberapa
persoalan furu’iyah. Perbedaan-perbedaan tersebut apabila diamati
lebih jauh ternyata memiliki imbas yang cukup jauh, bukan hanya
menyangkut aspek keagamaan saja, melainkan juga pada aspek-
aspek lainnya seperti aspek politik, sosial-budaya, dan pendidikan.
Demikian juga, di kalangan elite keagamaan muncul adanya
perbedaan pemahaman seperti munculnya Islam liberal yang
mendapatkan perlawanan dari para ulama, khususnya Jawa Barat
dan dari kalangan kaum fundamentalis.
Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, misi dakwah
yang seharusnya diarahkan kepada kepentingan yang lebih luas
seperti pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan politik,
peningkatan kualitas pendidikan Islam, rekayasa sosial dan
sebagainya menjadi terhambat disebabkan sebagian energi dan
waktu kita dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
tersebut. Padahal jika umat Islam dewasa dan memahami ajaran
Islam yang sesungguhnya serta berpegang pada prinsip “ikhtilafu
rahmatun”, niscaya perbedaan-perbedaan tersebut dapat diarahkan
dan dikembangkan menjadi sesuatu yang bersifat konstruktif.
Oleh karena itu, dalam tulusan ini akan dijelaskan tentang
bagaimana peran dakwah dalam mengatasi problematika umat yang
terkait dengan adanya perbedaan pemahaman di kalangan intern
Umat Islam. Mengingat dakwah bukan hanya menganut prinsip
perluasan (penambahan kuantitas umat), melainkan juga menganut

137
prinsip peningkatan kualitas umat. Karenanaya, dakwah diharapkan
dapat memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap umat
dalam rangka menghadapi perbedaan dan mengembangkan
perbedaan-perbedaan menjadi sesuatu yang positif.

ISLAM: EKSISTENSI DAN STRUKTURNYA


Langkah pertama yang mesti dikembangkan adalah
membangun persepsi yang sama dikalangan umat Islam baik da’i
maupun mad’u bahwa Islam itu satu, tetapi ekspresinya bermacam-
macam. Ada yang menunjukkan ekspresi secara tradisional,
skripturalis, substantif, modernis, neo-modernis, liberal dan
sebagainya. Pertanyaannya: mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawabannya tentu kita perlu mengkaji geneologi Islam dan struktur
dari ajaran Islam itu sendiri.
Secara geneologi, Islam merupakan agama samawi yang
bersumber dari langit. Sebagai agama langit, tentunya Islam
memiliki doktrin keilahian yang terkadang didalamnya dan secara
haqiqi bersifat abadi. Proses historis tidak dapat mengubah
keabadian haqiqi dari doktrin keilahian itu, tetapi hanya mampu
mengubah pandangan manusia atasnya.
Meskipun Islam sebagai agama langit, tetapi kehadirannya
diperuntukkan untuk manusia yang berada di bumi dan senantiasa
hidup menyejarah di muka bumi. Sehubungan dengan itu, muncul
persoalan bagaimana bisa terjadi titik temu antara doktrin abadi
yang bersumber dari langit dengan keberadaan dan kebutuhan
manusiaterhadap agama yang senantiasa menyejarah di bumi?
Menurut Said Tuhuleley, apabila titik temu tersebut bersifat
linier atau ketika doktrin keilahian sudah dianggap sebagai sebuah
teori besar, maka agama langit selesai sudah dan yang tersisa
hanyalah sebuah ritus untuk menentramkan diri yang gelisah, tidak
lebih dari itu.155

155
Said Tuhuleley, “Agama Pasar, Titik Temu Langit dan Bumi”,
dalam Jurnal Media Inovasi No. 3 Tahun X/2001, hlm. 5.

138
Dalam catatan sejarah, kehadiran Islam pada zaman
Rasulullah penuh dengan dinamika. Islam hadir merespon
tantangan dan kebutuhan dasar yang berkembang pada zaman
Rasulullah. Hal ini seperti diungkapkan oleh Marshall G.S.
Hodgson sebagai berikut:
Dalam menerima al-Qur’an dan tantangan-tantangannya,
Muhammad dan para pengikutnya membuka diri mereka pada
pertimbangan-pertimbangan baru yang luas tentang apa makna
hidup, yang membuang keprihatinan mereka yang lama terhadap
tingkah laku yang tidak karuan, tindakan penerimaan mereka
karenanya betuk-betul bersifat kreatif. Peristiwa-peristiwa seperti
itu adalah kreatif. Sebagian melalui kualitas dari kejadian obyektif
itu sendiri, di mana harus ada sesuatu yang memberi jawaban sejati
terhadap potensialitas-potensialitas manusia yang lekat secara
universal. Dampak kemanusiaan dari al-Qur’an sebagai sekeping
tipis tulisan tidak bisa ditolak lagi. Pada waktu yang sama peristiwa-
peristiwa itu sama-sama kreatifnya melalui penerimaan khusus dari
masyarakat umumnya, yakni dari mereka yang tertarik pada
peristiwa kreatif tersebut dan apa yang telah dihasilkan serta
memberinya nilai. Mereka menemukan didalamnya sesuatu yang
mampu menjawab kebutuhan atau kepentingan-kepentingan
tertentu mereka, baik material maupun imajinatif, sehingga menjadi
normatif bagi mereka. Al-Qur’an berbicara bukan hanya dalam
bahasa tetapi juga tentang kebutuhan-kebutuhan pribadi dan sosial
dari kelompok khusus Arab, orang-orang Mekkah dan Madinah,
dengan problem-problem sosial dan moral tertentu. Melalui
jawaban-jawaban yang diberikan, positif maupun negatif, mereka
membangun makna yang kongkrit ke dalam apa yang sebaliknya
akan tetap berada pada tingkat verbal sebagai nasehat-nasehat atau
pandangan-pandangan umum.156
Hal senada juga diungkapkan oleh Yusuf Ali ketika ia
menafsirkan ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa “Kami tidak
pernah mengutus seorang utusan pun kecuali (untuk memberi pelajaran)
dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat membuat (segala sesuatunya) jelas
bagi mereka,” (QS. Ibrahim: 4).
156
Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, terj. Mulyadhi
Kartanegara, Jakarta: Paramadina, Cet-II, 2002, hlm. 114.

139
Menurutnya, jika tujuan pesan suci (risalah) adalah membuat
sesuatu menjadi terang, maka ia harus disampaikan dalam bahasa
yang digunakan di tengah masyarakat, yang kepada merekalah
utusan itu dikirim. Melalui masyarakat tersebut, pesan suci itu
dapat mencapai seluruh umat manusia. Bahkan ada pengertian
yang lebih luas untuk “bahasa”. Ia tidak semata-mata masalah
abjad, huruf atau kata-kata. Setiap zaman atau masyarakat –atau
dunia dalam pengertian psikologis- membentuk jalan pikirannya
dalam cetakan atau bentuk tertentu. Pesan suci Tuhan, karena
bersifat universal, dapat diungkapkan dalam semua cetakan dan
bentuk, dan sama-sama absah dan diperlukan untuk semua
tingkatan manusia, dan karena itu harus diterangkan kepada
masing-masing sesuai dengan kemampuannya atau daya
penerimannya. Dalam hal ini, al-Qur’an menakjubkan. Ia sekaligus
untuk orang yang paling sederhana dan untuk orang yang paling
maju.157
Meskipun Islam hadir sebagai respon terhadap kehidupan
masyarakat Arab Mekkah dan Madinah, tetapi Islam yang dibawa
oleh Muhammad merupakan mata rantai akhir dari agama Allah.
Sehingga kehadiran Islam sebagai agama terakhir yang sempurna
dan mendapat ridha dari Allah (QS. al-Maidah: 3). Bahkan, Islam
sebagai agama sempurna dan disiapkan untuk seluruh manusia
(QS. al-Anbiya: 107).
Sebagai agama yang sempurna dan diperuntukkan untuk
semua manusia, maka struktur ajaran Islam haruslah struktur yang
dapat menjawab dan mengikuti perkembangan zaman dan
peradaban manusia. Islam harus selalu aktual dan relevan dengan
setiap perkembangan zaman. Oleh karena itu, tidak semua ajaran
Islam bersifat terperinci, karena setiap yang terperinci bersifat
statis, cepat kadaluarsa, dan tidak dapat mengikuti perkembangan
zaman. Sebaliknya, ajaran Islam tidak boleh pula semuanya garis
besar, elastis dan fleksibel, karena kalau semuanya dapat menerima
perubahan, Islam akan kehilangan jati dirinya sebagai agama wahyu
dan tidak akan ada bedanya dengan institusi-institusi lain di
masyarakat. Jadi, ada bagian yang statis sebagai landasan normatif
157
Yusuf Ali, The Holy Qur’an Translation and Commentary, Jeddah:
Dar al-Qiblah, 1413 H, hlm. 620.

140
yang kokoh, dan ada bagian yang dinamis sehingga selalu aktual
dan relevan sepanjang zaman.
Secara garis besar, ajaran Islam ada empat aspek, yaitu:
akidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalah. Dari empat aspek ajaran
Islam, yang bersifat statis itu adalah aspek akidah, ibadah, dan
akhlak (dalam pengertian nilai baik dan buruknya tidak berubah,
tetapi manifestasinya bisa berubah) dan sebagian kecil aspek
mu’amalah (ahwal syakhsiyah). Sedangkan yang bersifat dinamis
adalah sebagian besar aspek mu’amalah (politik, ekonomi, sosial-
budaya, hankam dan lain-lain).
Konsekuensi dari struktur ajaran Islam seperti diuraikan di
atas, yakni apabila terjadi perubahan pada ajaran-ajaran Islam yang
statis, terutama akibat dari pengaruh yang datang dari luar Islam,
maka menjadi tugas umat Islam untuk melakukan purifikasi dan
meluruskan sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat di dalam al-
Qur’an dan Hadits. Sementara berkaitan dengan ajaran-ajaran
Islam yang bersifat dinamis, maka pengembangan dan
penjabarannya diserahkan kepada historitas umat manusia di
setiap waktu dan tempat.
Berikut ini adalah sebuah contoh dalam kasus politik Islam
betapa struktur Islam bersifat multiinterpretatif. Persoalan politik
merupakan bagian dari ajaran Islam yang bersifat dinamis. Di
dalam ajaran Islam hanya diberikan dasar-dasar yang bersifat
umum dan umat Islam diberikan kebebasan untuk
mengembangkan dan menjabarkan dari prinsip-prinsip umum
tersebut, seperti adanya prinsip musyawarah dalam berbagai
persoalan (QS. asy-Syura: 38), hubungan penguasa dengan rakyat
(QS. an-Nisa: 58-59), dan sebagainya.
Persoalan klasik yang menjadi perdebatan di kalangan ulama
adalah tentang hubungan antara agama dan negara. Menurut Din
Syamsudin, dalam sejarah pemikiran politik Islam klasik maupun
modern, sedikitnya ada tiga paradigma tentang hubungan agama
dan negara.158

158
Lihat Jurnal Ulumul Qur’an No. 2/IV/ 1983.

141
Pertama, paradigma integralistik yang mengajukan konsep
bersatunya agama dan negara. Agama Islam dan negara tidak dapat
dipisahkan. Apa yang merupakan wilayah agama juga otomatis
merupakan wilayah politik atau negara. Karenanya, menurut
paradigma ini, negara merupakan lembaga politik dan keagamaan
sekaligus. Paradigma ini misalnya dianut oleh sekelompok Syi’ah
dan kelompok fundamentalis Jama’at Islami di Pakistan.
Kedua, paradigma yang mengajukan pandangan bahwa agama
dan negara berhubungan secara simbiotik, yaitu berhubungan
timbal balik dan saling memerlukan. Dalam hal ini, agama
memerlukan negara karena dengan negara agama berkembang.
Sebaliknya, negara memerlukan agama, karena dengan agama
negara dapat melangkah dalam bimbingan etika dan moral.
Paradigma semacam ini antara lain dikemukakan oleh al-Mawardi
dan al-Ghazali.
Ketiga, paradigma sekularistik yang menolak kedua paradigma
di atas, dan sebagai gantinya mengajukan pemisahan antara agama
dan negara. Dalam konteks Islam, paradigma sekularistik menolak
pendasaran negara kepada Islam atau paling tidak menolak
determinasi islam akan bentuk tertentu dari negara. Paradigma
seperti ini dimotori oleh pemikiran politik Ali Abdur Raziq dari
Mesir dan diamalkan secara sungguh-sungguh oleh Mustafa Kemal
Ataturk ketika berkuasa di Turki.
Dalam konteks politik Islam di Indonesia, masing-masing
paradigma di atas memperoleh penganutnya. Hanya saja,
ketimbang penganut paradigma sekularistik, penganut dua
paradigma yang disebutkan pertama-tama tampak lebih menonjol
performanya dan karenanya senantiasa diidentifikasi sebagai
gerakan Islam struktural dan gerakan Islam kultural. Agaknya,
orang-orang Islam yang berjuang di luar kelompok/organisasi
Islam (baca: sekuler) dipandang bukan sebagai konstituen politik
Islam.
Oleh karena itu, Din Syamsudin ketika mencoba memetakan
mainstream pemikiran politik Islam di Indonesia cenderung
mengabaikan penganut paradigma sekularistik. Ia menyebutkan
sekurang-kurangnya ada tiga aliran pemikiran politik Islam di
Indonesia, yaitu aliran formalistik, aliran fundamental dan aliran

142
substantivistik. Aliran formalistik yang lebih menekankan ekspresi
simbolik-legalistik, dan aliran fundamentalistik yang lebih
mementingkan revivalisme kebudayaan Islam klasik kiranya
merupakan penganut setia paradigma integralistik di atas.
Sementara itu, aliran substantivistik yang menawarkan
pemahaman keagamaan yang lebih menekankan substansi ajaran,
ketimbang bentuk legal formal ajaran, merupakan penganut
paradigma simbiotik.
Dalam sejarah politik Islam di Indonesia, aliran formalistik
yang menganut paradigma integralistik di atas pernah dominan,
khususnya pada masa pemerintahan Orde Lama. Namun, dominasi
aliran formalistik ini runtuh ketika Orde Baru berkuasa di
Indonesia. Dengan konsep depolitisasi agama, melalui penerapan
asas tunggal, aliran formalistik yang menjelma dalam bentuk partai-
partai Islam “dibonsai” oleh pemerintah Orde Baru sehingga
kehilangan relevansinya. Pikiran-pikiran Nurcholish Madjid yang
terkenal dengan jargon Islam Yes Partai Islam No juga turut
mengeliminasi signifikansi aliran formalistik itu.
Sebagai penggantinya, pada masa Orde Baru aliran
substantivistik dengan paradigma simbiotiknya menjadi dominan.
Aliran ini meneguhkan perspektif baru dalam melihat hubungan
agama dan negara sebagai berikut: Pertama, tidak ada bukti yang
jelas bahwa Qur’an dan Sunnah mengharuskan komunitas Islam
mendirikan negara Islam. Kedua, Islam bukanlah ideologi politik.
Islam hanya mengandung prinsip-prinsip atau etika sosial-politik.
Ketiga, pemahaman ajaran politik Islam hendaknya di dasarkan atas
penafsiran kontekstual dan komprehensif sesuai dengan tuntutan
zaman. Keempat, pemahaman doktrin politik Islam bersifat relatif
dan karenanya membuka peluang multiinterpretatif dan bisa
berubah. Keilma, perjuangan politik Islam lebih diarahkan untuk
membangun komitmen kepada nilai-nilai Islam dan bukan kepada
institusi atau organisasi yang memakai simbol Islam.
Pada saat kekuasaan Orde Baru runtuh di pertengahan tahun
1998, dengan segera muncul 11 partai politik yang berbasiskan
Islam, yaitu Partai Umat Islam (PUI), Partai Kebangkitan Umat
(PKU), Partai Masyumi Baru, PPP, Partai Syarikat Islam 1905
(PSII), Masyumi, PBB, PK, PNU, dan Partai Persatuan (PP).

143
Munculnya partai-partai Islam dapat menjadi indikasi munculnya
semangat untuk mengembangkan kembali paradigma integralistik
antara agama dan politik sebagai entitas yang utuh (al-Islam din wa
dawlah). Sungguh pun dalam manifestasinya tentu terdapat
perbedaan visi dan misi yang bervariasi dari satu parpol Islam
dengan yang lainnya. Nyatanya setelah pemilihan umum
berlangsung pada tahun 1999, parpol-parpol tersebut tidak banyak
memberikan sumbangan yang berarti dalam mengembangkan
paradigma integralistik. Dalam hal ini mencuat persoalan lama
tentang perlunya dimasukkan kembali 7 kata yang terdapat dalam
Piagam Jakarta ke dalam Undang-undang Dasar. Tetapi upaya
tersebut tidak berhasil karena kecilnya suara yang dimiliki.
Pasca Orde Baru ternyata parpol-parpol yang memiliki
paradigma substantivistik masih berperan dalam percaturan politik
Islam. Meskipun parpol-parpol tersebut tidak mengatasnamakan
secara langsung sebagai parpol yang berbasiskan Islam, tetapi
parpol-parpol tersebut memiliki massa pendukung yang fanatik
terhadap Islam.
Sebetulnya kalau kita mau lebih obyektif, orang-orang Islam
yang bergabung di luar kelompok/organisasi (politik) Islam dan
memperjuangkan ide politik yang bernuansa nasionalisme
ketimbang keagamaan, seperti Golkar dan PDI harus kita lihat
sebagai konstituen politik Islam dengan paradigma sekularistik
yang juga turut serta meramaikan kancah politik Islam di
Indonesia. Bukankah dalam sejarah pemikiran politik Islam
terdapat pula pandangan politik yang sedemikian itu?
Kenyataan pluralitas politik Islam di Indonesia semacam itu
harus kita terima dengan lapang dada, terutama jika kita mengakui
bahwa ajaran Islam bersifat multiinterpretatif. Dengan demikian,
tak boleh ada satu pun aliran politik Islam dari yang sudah
disebutkan di atas, yang berhak mengajukan dirinya sebagai pemilik
satu-satunya klaim kebenaran atas ijtihadnya dalam berpolitik. Jadi
jelasnya, paradigma relasi agama dan negara mana pun yang akan
diperjuangkan apakah integralistik, simbiotik, ataupun sekularistik,
semuanya masih berada dalam koridor Islam.

144
Terjadinya perbedaan-perbedaan dalam politik Islam
memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan yang dimiliki
dengan adanya perbedaan dalam politik Islam, yaitu: Pertama, umat
Islam memiliki ruang bebas yang luas untuk mengekspresikan
aspirasi dan kebebasannya dalam berpolitik. Jika tidak ada peluang
dari ajaran Islam untuk berbeda dalam berpolitik, maka umat Islam
yang taat tentu secara terpaksa menyalurkan aspirasi dan
kebebasannya kepada satu kehendak dari islam. Kedua, dapat
dijadikan ajang untuk fatsabiqul khairat. Dengan beragamnya partai
politik/institusi Islam, maka masing-masing institusi/partai akan
berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik bagi umat dan
negara. Apalagi ajaran Islam sangat mendorong umatnya untuk
berijtihad dan mengembangkan kreasinya dalam kerangka ibadah
kepada Allah.
Ketiga, dengan jumlah partai yang banyak maka kemungkinan
untuk mudah diorganisir lebih baik dibandingkan dengan jumlah
partai yang sedikit tetapi massa pendukungnya besar sehingga sulit
untuk melakukan kontrol dan pertanggung-jawabannya.
Adapun kerugian-kerugian yang ditimbulkan dari adanya
perbedaan interpretasi ajaran, dalam bidang politik, yaitu: Pertama,
adanya fanatisme golongan yang menyebabkan mudahnya terjadi
pertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, dan pada
akhirnya sulit untuk membangun visi yang sama. Selain itu, tarik-
menarik kepentingan kelompok akan semakin kuat. Kedua, di
tingkat grass root, akan terjadi pemahaman keislaman dan politik
yang bersifat parsial. Akibatnya, kedewasaan umat Islam untuk
berpolitik sangat sulit untuk dikembangkan. Ketiga, orientasi dan
strategi perjuangan umat menjadi tidak fokus karena terkotak-
kotaknya umat dalam ideologi dan pemahaman yang berbeda.
Keempat, dalam hal kepemimpinan akan sulit mencari pemimpin
yang ideal dan diterima semua pihak. Masing-masing kelompok
akan mencari titik-titik kelemahan dari seorang pemimpin yang
bukan berasal dari golongannya. Kelima, sulitnya untuk menjadi
kekuatan yang utuh dalam berbagai bidang. Wajar apabila partai-
partai Islam selalu kalah dalam setiap pemilihan umum, sepanjang
perjalanan Pemilu di Indonesia.

145
Kelebihan dan kekurangan yang ada sifatnya tidak kaku,
melainkan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang ada baik
menyangkut sistem politik, massa pendukung, elite pemimpin dan
berbagai faktor lainnya. Karenanya kita tidak bisa menjustifikasi
struktur ajaran Islam yang multiinterpretatif ini lemah dan tidak
membawa kemajuan. Di sinilah barangkali tantangan besar kita
untuk terus mencari rahasia di balik struktur ajaran Islam yang
multiinterpretatif.

PERAN DA’I DAN LEMBAGA KEAGAMAAN


Dalam rangka membangun persepsi tersebut di atas, maka
peran da’i dan lembaga keagamaan amat urgen. Da’i dan pengurus
lembaga keagamaan dapat memberikan wawasan dan ketauladanan
dalam mengembangkan sikap yang saling menghargai dan
menghormati perbedaan-perbedaan.
Da’i dalam mengemas materi-materi yang disampaikan
kepada mad’u hendaknya lebih mengedepankan materi-materi yang
dapat diterima oleh semua kalangan, tidak menimbulkan konflik.,
relevan dengan problem kemanusiaan dan kemasyarakatan yang
sedang dihadapi manusia, dan materi yang memberikan wawasan
bagi umat islam, dalam melihat kehidupan di masa yang akan
datang. Demikian juga, pengurus lembaga keagamaan dalam
mengembangkan dan mengimplementasikan program-program
lebih mengarah kepada persoalan-persoalan pokok yang dihadapi
oleh umat Islam, seperti kemiskinan, ketidakadilan dan kebodohan.
Hindarilah program-program kegiatan yang dapat menimbulkan
konflik dan hanya membangun fanatisme kelompoknya saja.
Harus diakui bahwa untuk membangun persepsi yang baik
dan menghindari adanya konflik bukanlah persoalan yang mudah.
Prasyarat intelektual dan sosial dari masyarakat menjadi penting
keberadaannya. Masyarakat yang memiliki tingkat intelektual tinggi
tentunya akan mudah menerima adanya perbedaan pemahaman
atau pemikiran di kalangan umat Islam. Sebaliknya, tingkat
intelektual masyarakat yang rendah tentunya akan mengalami
kesulitan dalam menerima adanya perbedaan-perbedaan dalam
pemahaman maupun pemikiran. Selanjutnya, masyarakat yang

146
secara sosial lebih terbuka dan pluralis tentu lebih menerima
adanya perbedaan dibandingkan dengan masyarakat yang lainnya.
Oleh karena itu, agenda dakwah ke depan sudah seharusnya
dikembangkan dalam berbagai kegiatan dan aksi. Dakwah tidak
hanya dikemas dalam bentuk ceramah saja, melainkan dapat
dikemas dalam bentuk-bentuk lainnya seperti yang dikembangkan
dalam paradigma keilmuannya. Dakwah dapat dikemas dalam
bentuk komunikasi penyiaran Islam (melalui media mimbar,
elektronik, cetak dan seni), bimbingan konseling Islam (melalui
konseling, psikoterapi, dan tasawuf), pengembangan masyarakat
Islam (melalui dakwah bil-hal dan kesejahteraan sosial), dan
manajemen dakwah (melalui lembaga keagamaan, lembaga sosial
dan lembaga perekonomian umat).
Agenda ini dapat dikembangkan manakala dakwah dapat
diterima sebagai bagian dari sistem kehidupan masyarakat. Selama
ini dakwah seakan-akan berada di luar dari sistem kehidupan
masyarakat. Dakwah tidak diperhitungkan sebagai bagian yang
dapat mempengaruhi, mengubah dan mentransformasikan
masyarakat menjadi yang terbaik. Kemajuan dan kemunduran
masyarakat lebih banyak disoroti dari sisi ekonomi, politik, budaya,
hankam dan pendidikan.
Selain itu juga, aktivitas dakwah perlu melakukan koordinasi
dan kerjasama dengan aktivitas-aktivitas lainnya yang intinya dapat
memberikan kemajuan kepada masyarakat. Karena itu, peta
dakwah menjadi penting keberadaannya untuk dapat mengetahui
secara jelas apa kebutuhan dan problem yang dihadapi oleh
masyarakat sehingga dakwah tidak melulu dalam satu kegiatan
melainkan dilakukan dengan berbagai kegiatan dan dapat
bekerjasama dengan bidang-bidang lainnya. Melalui peta dakwah
juga dapat memberikan pelayanan yang efektif kepada masyarakat
dan dapat memudahkan bagi da’i maupun elemen lainnya dalam
melakukan evaluasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan.

147
148
AGAMA DAN PERUBAHAN
SOSIAL

PENDAHULUAN
Manusia secara inheren adalah makhluk yang senantiasa
mengalami dan menghendaki adanya perubahan. Perubahan
merupakan bagian dari eksistensi manusia. Perubahan yang terjadi
pada manusia tidak terlepas dari bingkai di mana manusia itu
hidup. Manusia hidup tidak terlepas dari lingkungan sosial, tradisi,
norma dan budaya. Hal ini disebabkan karena manusia merupakan
makhluk yang tidak dapat hidup sendirian, melainkan makhluk
yang dapat hidup secara bersama-sama. Karena itu, manusia
dikenal sebagai makhluk sosial. Konsekuensi logis sebagai makhluk
sosial, maka adanya perubahan sosial menjadi hal yang tidak bisa
dinafikan. Persoalannya, apakah perubahan sosial itu
menguntungkan manusia ataukah merugikan manusia? Lebih jauh
lagi, apakan perubahan sosial itu direkayasa oleh manusia ataukah
berjalan secara alamiah? Kalau direkayasa, bagaimana? Adakah
kekuatan (power) yang mampu merekayasa perubahan sosial
sehingga tidak terjadi anomali dan anarkis? Dan berbagai macam
petanyaan lanjutan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Berkenaan dengan tema pada tulisan kali ini, pertanyaan
dasarnya adalah: mampukah agama menjadi kekuatan (power) yang
dapat dijadikan sandaran dan faktor penggerak dalam melakukan
perubahan sosial? Mengingat peran agama pada kehidupan modern
sekarang ini dipertanyakan keberadaannya. Di berbagai kawasan,
agama dituduh sebagai penyebab timbulnya kerusuhan, kekerasan
dan peperangan seperti yang terjadi di Palestina, Philipina,
Bangladesh dan Indonesia. Bahkan agama dituduh sebagai faktor
penghambat kemajuan. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat
Barat yang lari dari agama demi suksesnya renaissance yang mereka
kembangkan dan juga Kemal Ataturk yang melepaskan agama
supaya negaranya menjadi negara yang maju.

149
AGAMA DAN TANTANGAN MODERNITAS
Proses perubahan masyarakatterjadi karena manusia adalah
makhluk yang berpikir dan bekerja. Selain itu, manusia selalu
berusaha untuk mempertahankan hidup dan memperbaiki
nasibnya. Dalam kondisi demikian, maka terjadi sebab-sebab
perubahan, yaitu: innovation (pembaharuan), invention (penemuan
baru), adaptation (penysuaian secara sosial dan budaya), dan adoption
(penggunaan dari penemuan baru).
Memasuki era modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi telah menunjukkan adanya perubahan
yang signifikan dalam kehidupan masyarakat. Perubahan dalam
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mempengaruhi
perubahan bidang lainnya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya
dan tidak terkecuali di bidang agama.
Dalam bidang agama, dampaknya adalah berkurangnya
wilayah garapan yang sebelumnya seakan tanpa batas. Pada periode
sebelumnya agama merupakan institusi yang menggarap persoalan
sedemikian luas, mulai dari masalah individu, keluarga sampai
masyarakat. Secara horizontal, ia juga memiliki wewenang atau
minimal pengaruh terhadap bidang lain seperti pendidikan, ilmu
pengetahuan, filsafat, hukum, seni, politik dan sebagainya. Namun
dengan berkembangnya ilmu pengetahuan wilayah-wilayah tersebut
mulai diambil alih dan masuk dalam jajaran kewenangan ilmu
pengetahuan. Pertimbangan utama yang diterapkan adalah nilai-
nilai ilmiah sehingga kajian apapun –politik, ekonomi dan bahkan
agama- berada dalam bingkai ilmu pengetahuan.159
Akibat adanya pemisahan yang disebabkan oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka kehidupan manusia mengalami
proses sekularisasi. Berbagai institusi dan kewenangan yang selama
ini dimiliki oleh agama ditinggalkan dan berdiri secara mandiri.
Dampak lebih jauh dari proses sekularisasi ini, peran agama
menjadi tersingkir dalam kehidupan modern. Bahkan, pada era
modern ini lonceng kematian Tuhan telah dibunyikan. Seperti yang
dinyatakan oleh Thomas Altizer: “Kita harus menyadari bahwa

159
Hidayat & Hendroprasetyo, Problem dan Prospek IAIN: Antologi
Pendidikan Tinggi Islam, Jakarta: Ditbinperta, 2000, hlm. x-xi.

150
kematian Tuhan merupakan kejadian histories. Allah telah wafat di
dunia dalam sejarah dan dalam keberadaan kita”.160
Selain itu, pada era modern ini, agama mengalami krisis
epistemologis. Krisis ini berakar pada apa yang disebut sebagai
Religion’s Way of Knowing (RWK). Cara pandang agama (RWK)
ini menurut D’ Adamo, mengklaim bahwa teks-teks keagamaan itu:
Pertama, bersifat konsisten dan penuh dengan klaim kebenaran,
tanpa kesalahan sama sekali. Kedua, bersifat lengkap dan final –jadi
tidak ada kebenaran (apalagi kebenaran agama) lagi. Ketiga, teks-
teks keagamaan itu dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk
keselamatan, pencerahan, dan pembebasan. Keempat, dalam bahasa
aslinya D’ Adamo, have an inspired or divine author (God who is their true
Author).161
Cara mengetahui segala hal berdasarkan RWK, jika
diekstrimkan –seperti belakangan sering muncul pada kalangan
fundamental- memang bisa menimbulkan masalah besar, dari
sudut pandang modern. Khususnya jika suatu agama berhadapan
dengan agama yang lain. Masalah yang muncul adalah perang klaim
kebenaran (truth claim) dan selanjutnya perang klaim penyelamatan
(salvation claim).
Dari sudut sosiologis, memang claim of truth dan claim of
salvation ini telah membuat berbagai konflik sosial-politik yang
membawa berbagai macam perang antar agama yang sampai
sekarang masih menjadi kenyataan di zaman modern ini. Ini pula
yang membawa seseorang pada prasangka-prasangka epistemologis
yang membenarkan dirinya sendiri –self fulfilling prophecy- karena
mengasumsikan agamanya dengan keabsolutan itu.162

160
Luthfi Hamidi, “Agama dan Tantangan Modernitas”,
Dalam Insania No.7 Tahun IV, Mei-Juli 1999, hlm. 1.
161
Budhy Munawar Rachman, “Kata Pengantar”, dalam Hidayat &
Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, Jakarta: Paramadina,
1995, hlm. xxiv.
162
Ibid., hlm. xxv.

151
PERAN AGAMA DALAM PERUBAHAN SOSIAL
Agama, menurut Clifford Gertz, adalah sebuah sistem
simbol-simbol yang berlaku untuk menetapkan suasana hati dan
motivasi-motivasi yang kuat, yang meresap, dan yang tahan lama
dalam diri manusia dengan merumuskan konsep-konsep mengenai
suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsep-konsep
ini dengan semacam pancaran faktualitas sehingga suasana hati dan
motivasi-motivasi itu tampak khas realistis.163 Senada dengan
Geertz, agama menurut Peter L. Berger yang dikutip oleh Luthfi
Hamidi merupakan semesta simbolik yang memberi makna pada
kehidupan manusia dan yang memberikan penjelasan paling
komprehensif tentang realitas seperti kematian, penderitaan,
tragedi dan ketidakadilan.164
Dengan demikian, agama sebagai sebuah simbol merupakan
kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Agama berperan dalam
menjawab persoalan-persoalan dasar yang berkaitan dengan alam
kehidupan yang supranatural. Sementara ilmu pengetahuan tidak
mampu memberikan penjelasan tentang hal tersebut. Selain itu,
menurut pandangan kaum fungsional, agama dapat berfungsi
sebagai institusi pemersatu masyarakat antara satu sistem dengan
sistem yang lainnya.
Peran lain dari agama dapat kita baca juga dari kajian yang
dilakukan oleh Max Weber dalam Etika Protestan dan Semangat
Kapitalisme. Weber mengatakan bahwa asketisme Kristen sebagai
sumber pendekatan rasional dan sistematis yang mendorong
Kapitalisme di Barat.
Kajian Weber juga diikuti oleh Robert N. Bellah yang
mengkaji agama Tokugawa. Menurutnya, agama Tokugawa
merupakan faktor penting dalam modernisasi Jepang. Hal ini
disebabkan karena agama Tokugawa termasuk agama yang
menginginkan untuk bekerja keras, menghindari pemborosan
waktu dan hidup hemat serta jujur.

163
Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta: Penerbit
Kanisius, 1993, hlm. 5.
164
Luthfi Hamidi, op cit, hlm. 1.

152
Dari dua kajian tersebut menjadi jelas bahwa agama dapat
memberikan peran yang berarti dalam melakukan perubahan, pada
aspek ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
Menanggapi adanya keraguan dari kaum modernis terhadap
peran agama, Budhy Munawar Rachman menuturkan: “Agama
dengan segala klaim kebenarannya memang bisa menjadi dasar
sosiologis penyebab konflik-konflik sosial-politik. Untuk
merelativisir potensi-potensi kekerasan yang bisa muncul dari
orang-orang yang beragama –yang bisa berakar dari klaim-klaim
atas kebenaran yang sepihak ini- tampaknya bisa diatasi dengan
memperluas pandangan dan visi religiositas dari diri orang yang
beragama”.
Selain itu, menurut penulis, para pemeluk agama dapat
mengaplikasikan nilai-nilai keagamaannya dalam aktivitas sehari-
hari dan dalam kerja-kerja kemanusiaan. Oleh karena itu, peran
para pemimpin dan lembaga agama menjadi urgen dalam
memberikan wawasan, pemahaman dan keteladanan dalam
menjalankan ajaran agama.

ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL


Secara konsepsional, Islam sangat menekankan perubahan.
Hal ini dapat dikaji dalam sumber ajaran Islam yang utama (al-
Qur’an dan al-Hadits). Beberapa ayat memberikan gambaran
tentang hal tersebut, diantaranya: Pertama, adanya disiplin waktu
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal Shaleh dan nasehat
menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran,” (QS. al-Ashr (103): 1-3).
Kedua, perlunya planning dalam setiap aktivitas. “Hai orang-
orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan,” (QS. al-Hasyr (59): 18).
Ketiga, tidak menunda pekerjaan dan harus bekerja keras.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Alam Nasyrah (94): 7) dan
juga dalam ayat lain: “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka

153
bertebaranlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung,” (QS. al-Jumu’ah (62): 10).
Keempat, kesadaran diri untuk mengubah: “Bagi manusia ada
malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah
tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya,
dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia,” (QS. ar-Ra’du
(13): 11) dan sebagainya.
Demikian juga dalam Hadits digambarkan bahwa: “Orang
yang mencari kayu bakar ke atas gunung yang jauh keudian memikul dan
menjual ke pasar, lebih mulia daripada orang yang meminta, baik ia diberi
atau tidak”. Bahkan, konsep tauhid bahwa “tiada Tuhan kecuali
Allah” merupakan konsep pembebasan terhadap segala jenis
penindasan, pemasung kemerdekaan dan segala macam yang
menghambat kreasi dan aktivitas manusia dalam mengabdikan
dirinya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah Allah.
Persoalannya terletak pada manusia itu sendiri, bagaimana
dia merespon ajaran Islam tersebut dengan baik dan benar
sehingga ia dapat mengaplikasikan ajaran tersebut dalam kehidupan
nyata. Perjalanan sejarah Nabi Muhammad dan para Sahabat dapat
dijadikan sebagai ’ibrah (pelajaran) bahwa mereka mampu
menangkap ajaran Islam dalam dapat mengamalkan ajaran Islam
dan kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengangkat eksistensi
umat Islam itu sendiri. Dari pengalaman Rasulullah tersebut,
Maududi mengarang buku Process of Islamic Revolution. Dalam buku
tersebut, ia menekankan bahwa revolusi Islam yang pernah terjadi
pada zaman Rasulullah dapat diterapkan pada kondisi sekarang ini.
Mungkin kita berpikir bahwa persoalan yang dihadapi oleh
Nabi dan para Sahabat berbeda jauh dengan persoalan yang kita
hadapi sekarang. Kita menghadapi persoalan yang kompleks dan
global, sementara Rasulullah menghadapi persoalan yang tidak
sebesar yang ada sekarang. Dalam hal ini kita perlu mendudukkan
persoalan secara proporsional. Artinya, kita pun harus menyiapkan
strategi dan taktik yang terbaik dalam melakukan perubahan seperti
halnya Rasulullah.

154
Umat Islam selama ini terlalu terpukau melihat keadaan
sehingga kehilangan strategi dan taktik terbaik dalam mengangkat
derajat mereka sendiri Islam. Diantaranya: Pertama, umat Islam
sangat mementingkan kuantitas dalam segala aspek dibandingkan
dengan kualitas. Padahal Rasulullah ketika berperang dengan
jumlah sedikit tapi berkualitas dapat mengalahkan kelompok yang
banyak. Kedua, umat Islam terlalu mementingkan kulit
dibandingkan dengan esensi yang ada seperti masalah ukhuwah
Islamiyah. Ketiga, penyiapan sumber daya manusia belum
terpikirkan secara baik. Keempat, belum tertata dengan baik
pengelolaan lembaga-lembaga Umat. Kelima, rekayasa terhadap
masyarakat belum terprogram secara baik, lebih mementingkan
materi/fisik dibandingkan dengan pengembangan yang lainnya.
Keenam, masyarakat banyak yang terjebak dengan kehidupan
konsumerisme dan hedonisme.
Untuk menanggulangi itu perlu diperkirakan sifat, bentuk
dan agenda perubahan sosial secara jelas. Menurut Ali Syariati,
transformasi kesadaran perlu ditumbuhkan dalam setiap individu
Muslim. Atau dengan bahasa lain, mereka perlu menjadi insan
Kamil. Kemudian di dalam kehidupan perlu dibangun masyarakat
yang memiliki basis yang bersikap seperti Habil dan menghapus
sifat Qabil yang ada pada masyarakat. Sementara, Hasan Hanafi
lebih mementingkan untuk membangun Islam kiri yang lebih
berpihak kepada keadilah dan kesejahteraan, dengan cara mengkaji
ulang tradisi Islam dan membangun oksidentalisme menandingi
orientalisme yang selama ini dilakukan oleh Barat.
Berbeda dengan kedua tokoh tersebut, Maududi
memberikan langkah-langkah yang sistematis, yaitu: Pertama,
menetapkan metode yang bersifat alamiah (natural), yakni
membangun mentalitas masyarakat dan kehidupan kolektif
kemanusiaannya. Dalam hal ini, Maududi ingin menekankan pada
membangun struktur kemasyarakatan yang berbasis kepada akhlak
atau moralitas.
Setelah metode ini ditancapkan sebagai prioritas utama,
langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan metode tersebut
dalam tataran yang lebih teknis. Maududi memberikan dua tahapan
yang perlu dilakukan secara kontinu: Pertama, revolusi pemikiran

155
yang berbasiskan kepada pandangan dunia tauhid. Alasannya
karena pemikiran dalam diri manusia memiliki arti penting untuk
memahami eksistensi dan peran dirinya dalam mengarungi
kehidupan yang penuh dinamika dan tantangan. Kedua, revolusi
yang mengarah pada transformasi sosial. Dalam melakukan
transformasi sosial, Maududi membangun strategi dengan cara
mengkombinasikan antara pembinaan individu dengan
pengembangan strategi organisasi, atau mengutip istilah Larry
Poston: “to combine both internal-personal and external institutional
strategies”. Dari strategi tersebut akan lahir kader-kader militan yang
dapat mengubah kepercayaan dari praktik-praktik budaya
masyarakat yang tidak Islami.

PENUTUP
Dari uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa agama
dapat berperan dalam kehidupan manusia dan juga agama mampu
menjadi kekuatan yang mendorong lahirnya perubahan sosial.
Kelaupun pada saat ini terjadi penggugatan di sana-sini terhadap
peran agama, hal terpenting yang mesti kita pegang adalah
eksistensi agama tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia.
tinggal bagaimana seharusnya manusia mampu memberdayakan
agama yang dianutnya menjadi kekuatan yang dapat mengubah
kehidupan diri dan masyarakatnya.

156
ISLAM DAN KOMUNIKASI
GLOBAL

PENDAHULUAN
Komunikasi global merupakan salah satu kekuatan yang
sedang berkembang dewasa ini. Kehadirannya telah memengaruhi
berbagai aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, budaya, militer
dan sebagainya. Kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang
berjalan di dunia internasional tentunya tidak terlepas dari adanya
peran komunikasi secara global. Persoalan yang menarik untuk
dibahas adalah bagaimana dunia Islam dalam menghadapi
persoalan komunikasi global tersebut. Peran apa yang dimainkan
oleh Islam dalam percaturan komunikasi global serta upaya apa
yang mesti dilakukan agar Islam dapat berperan secara signifikan
dalam komunikasi global?
Agar dapat menjelaskan secara sistematis dan koheren, maka
terlebih dahulu dijelaskan tentang sejarah dan bentuk-bentuk yang
ada pada komunikasi global. Pembahasan ini penting dilakukan
agar dapat memetakan posisi Islam dalam percaturan global dan
dapat memberikan kerangka yang jelas dalam membangun
perannya. Selain itu juga perlu dilihat kekuatan-kekuatan yang
dimiliki oleh Islam secara inheren. Karenanya, perlu dilacak
tentang adanya nilai-nilai dan tradisi-tradisi yang ada pada Islam
berkenaan dengan komunikasi.
Mengingat komunikasi global bukan sebagai satu disiplin
tersendiri atau sebagai sains tersendiri,165 maka pendekatan yang
digunakan dalam membahas masalah ini lebih banyak
menampilkan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam
komunikasi global dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan
normatif yang bersumber dari ilmu komunikasi. Meskipun
demikian, penulis tidak akan mengabaikan begitu saja teori-teori
yang ada, baik yang bersumber dari ilmu komunikasi maupun yang

165
Hamid Mowlana, Global Communication In Transition The And of
Diversity?, California: Sage Publications, Inc, 1996, hlm. x.

157
bersumber dari Islam. Oleh karena itu, pemaduan antara
pendekatan normatif dengan fenomena-fenomena komunikasi
global menjadi satu hal yang tidak bisa dinafikan.

KOMUNIKASI GLOBAL: SEJARAH DAN BENTUK-


BENTUK KOMUNIKASINYA
Komunikasi sebagai salah satu disiplin ilmu sosial mulai
berkembang di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930-an. Tokoh-
tokoh yang dianggap pertama kali melakukan studi tentang
komunikasi manusia adalah Harold Lasswell, Paul Lazarsfled, Kurt
Lewin dan Carl Hovland.166 Meskipun komunikasi sebagai satu
disiplin ilmu kehadirannya belum lama, tetapi perkembangannya
begitu pesat, baik sebagai satu disiplin ilmu maupun sebagai skill.
Secara akademik, kajian komunikasi terfokus kepada dua
pendekatan utama, yaitu pendekatan yang memfokuskan kepada
konteks situasional di mana komunikasi itu terjadi dan pendekatan
yang memfokuskan kepada fungsi-fungsi dari komunikasi.167
Dalam konteks situasional, ada enam kajian utama, yaitu:
Interpersonal communication, small group communication, language and
symbolic codes, organizational communication, public communication, dan
mass communication. Sedangkan dalam konteks fungsi-fungsi
komunikasi, diantaranya sosialisasi, negosiasi, konflik, persuasi dan
sebagainya. Jika ditempatkan pada fokus kajian dan penelitian,
maka komunikasi global dapat diletakkan pada pendekatan yang
kedua, yakni melihat komunikasi dari sisi fungsinya.
Komunikasi global atau komunikasi internasional sebagai
satu lapangan studi muncul pada abad ke-20, terutama setelah
perang dunia kedua dan memasuki perang dingin. Suasana yang
menyebabkan tumbuhnya kajian komunikasi internasional, yaitu:
Pertama, adanya konflik, perang dan penggunaan propaganda
internasional. Kedua, perkembangan organisasi-organisasi dan
diplomasi internasional. Ketiga, penyebaran ideologi dan
penggunaan komunikasi untuk menyebarkan pesan-pesan ideologi.
Keempat, perkembangan teknologi komunikasi yang semakin

166
Lihat Adam Kuper and Jessica Kuper (Ed.), The Social Science
Encyclopedia, London & New York: Routledge, 2001, hlm. 110.
167
Ibid., hlm. 111.

158
canggih.168 Dan perkembangan ini semakin pesat terjadi terutama
pada tahun 80-an di mana telekomunikasi dan teknologi
komunikasi berkembang dengan pesat, munculnya negara-negara
maju, dan berkembangnya organisasi-organisasi internasional.
Selama perang dingin berlangsung, komunikasi berperan
sebagai pendorong adanya kekuatan ekonomi pada negara-negara
maju seperti Inggris, Perancis, Jerman, Uni Sovyet, dan Amerika
Serikat. Komunikasi internasional menjadi instrumen persuasif dan
modernisasi antar negara. Dengan adanya instrumen tersebut akan
muncul kekuatan-kekuatan yang saling berebut. Itulah sebabnya
pada era perang dingin ada dua kekuatan yang bersifat dikotomis
antara kaum kapitalis dengan kaum komunis.
Setelah perang dingin berakhir di mana Uni Sovyet yang nota
bene kaum komunis mengalami kehancuran, terjadilah perubahan
yang signifikan dalam komunikasi global. Dunia tidak lagi
dipandang sebagai dunia yang dikotomis, melainkan menjadi
sebuah tatanan dunia baruyang bersifat global atau mengutip istilah
Marshall McLuhan (1968) sebagai “global village”.
Kecenderungan yang muncul pada tatanan dunia baru,
sebagaimana diungkapkan Huntington,169 ditandai oleh sejumlah
fenomena universal civilization, yaitu:
1. Kecenderungan orientasi common to humanity is a whole, yaitu
menuju kehidupan kemanusiaan yang mendunia sebagai satu
kesatuan yang menyeluruh.
2. Kecenderungan compatible with the existence of many civilization in
plural, yakni masyarakat makin trampil untuk menyesuaikan
diri dalam pelbagai peradaban yang majemuk.
3. Kecenderungan common values-culture.
4. Kecenderungan creating a universal civilization.

Fenomen tersebut tentu saja akan memengaruhi bentuk-


bentuk komunikasi internasional, di antaranya: Pertama, dalam
konteks komunikasi global, maka aktor di bidang komunikasi
internasional bukan lagi negara melainkan aktor-aktor non-negara

168
Hamid Mowlana, op. cit., hlm. 3.
169
Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa
Depan Politik Dunia, Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001, hlm. 73-76.

159
seperti korporasi, organisasi non government dan gerakan sosial.170
Kedua, munculnya masyarakat informasi yang menurut Kennichi
Kohyma (1970) ditandai dengan munculnya revolusi informasi dan
fenomena informasi lainnya. Dalam era informasi, teknologi
informasi –disebut juga teknologi intelektual– merupakan kegiatan
utama masyarakat. Yang disebut teknologi informasi adalah ways of
gathering, storing, manipulating, or retrieving information. Di situ sarana
telekomunikasi dan komputer memegang peranan strategis dalam
melakukan pertukaran informasi dan pengetahuan yang sudah
diolah, disaring dan dikeluarkan kembali.171
Ketiga, di dalam dunia politik, kekuatan (power) baik yang
bersifat “hard power” maupun “soft power” banyak ditentukan oleh
kekuatan yang bersumber dari teknologi dan jaringan informasi.172
Karenanya, tidak heran apabila Thomas L. Friedman, wartawan the
New York Times mengatakan bahwa jika pada masa perang dingin
sebagai warga dunia kita ditakutkan akan adanya serangan nuklir
dan perlombaan senjata, tetapi pada masa globalisasi ini, kita lebih
khawatir akan serangan virus komputer. Karena virus komputer
dapat merusak sistem pertahanan dari suatu negara.173
Keempat, terjadinya konflik budaya dan peradaban. Dengan
bergesernya peran negara dalam percaturan hubungan
internasional, maka aspek kebudayaan menjadi dominan dalam
hubungan internasional. Sementara setiap kelompok budaya
cenderung etnosentrik, yakni menganggap nilai-nilai budaya sendiri
lebih baik daripada budaya lainnya yang mengukur budaya lain
berdasarkan rujukan budayanya. Ketika kita berkomunikasi dengan
orang dari suku, agama atau ras lain, kita dihadapkan dengan
sistem nilai dan aturan yang berbeda. Sulit memahami komunikasi
mereka bila kita sangat etnosentrik. Melekat dalam etnosentrisme

170
Hamid Mowlana, op. cit., hlm. 195.
171
Deddy Djamaluddin Malik, “Peran Pers Islam di Era Informasi”,
Dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (peny.), Islam dan Era Informasi, Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1989, hlm. 162.
172
Majid Tehranian, Global Communication and World Politics,
London: Lynne Rienner Publishers, Inc, 1999, hlm. 61.
173
Sri Budi Eko Wardani, “Dinamika Politik Internasional dan Posisi
Indonesia”, dalam Saksi No, 20 Th. IV 9 Juli 2002.

160
ini adalah stereotip, yaitu generalisasi (biasanya bersifat negatif)
atas sekelompok orang (suku, agama, ras, dsb) dengan
mengabaikan perbedaan-perbedaan individual.174 Hal ini juga
diungkapkan oleh Samuel P. Huntington tentang adanya calsh
civilization.
Kelima, dalam bidang ekonomi dan teknologi akan muncul
regionalisme. Jika pada perang dingin terdapat regionalisme yang
lebih mengedepankan pada geo-politik seperti NATO, SEATO,
Pakta Warsawa dan sebagainya, tentunya pada era global ini,
regionalisme ini mengarah pada kerjasama di bidang ekonomi dan
teknologi. Hal ini akan memberikan pengaruh yang besar dalam
hubungan internasional dan dalam komunikasi global.

ISLAM: NILAI-NILAI DAN TRADISI BERKOMUNIKASI


Mengkaji tentang nilai-nilai dan tradisi yang ada pada Islam
tentunya perlu membongkar dan menganalisis sumber ajaran Islam
yang pokok, yakni al-Qur’an dan Hadits. Di dalam al-Qur’an dan
Hadits Nabi terdapat banyak keterangan berkenaan dengan adanya
komunikasi. Dalam hal ini komunikasi dipahami sebagai sebuah
proses penciptaan makna antara dua orang atau lebih lewat
penggunaan simbol-simbol atau tanda-tanda.175
Dengan pemahaman tersebut, dialog antara Jibril dengan
Muhammad ketika pertama kali turun wahyu di Gua Hira dapat
dikategorikan sebagai proses komunikasi. Di dalam dialog tersebut,
Nabi yang awalnya tidak memahami apa yang ingin disampaikan
oleh malaikat Jibril, pada akhirnya memahami dan mengikuti apa
yang disampaikan oleh Jibril yang kemudian dikenal dengan wahyu
pertama surat al-‘Alaq ayat 1-5.
Begitu juga ketika Nabi menyampaikan/menceritakan
peristiwa yang dialaminya kepada istrinya dan seorang pendeta
dapat dikatakan sebagai proses komunikasi. Betapa tidak, cerita
yang dikisahkan oleh Nabi kepada isteri dan pendeta begitu jelas
dan mendapat respons yang positif dari kedua orang tersebut. Hal

174
Deddy Mulyana, Nuansa-nuansa Komunikasi Meneropong Politik
dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1999, hlm. 13.
175
Ibid., hlm. 49.

161
ini berarti ada kesesuaian makna yang bisa ditangkap dari
komunikator (Nabi) kepada komunikan (Khadijah dan pendeta).
Tradisi komunikasi semakinsistematis terjadi ketika Nabi
mulai mengajak umatnya untuk masuk Islam atau yang dikenal
dengan istilah tabligh. Menurut Ibn Khaldun, seorang filosof dari
Andalusia, bahwa istilah tabligh merupakan sebuah teori
komunikasi dan etika.176 Dikatakan demikian mengingat di dalam
ajaran Islam tabligh dalam operasionalisasinyatidak bisa dilepaskan
dengan etika. Tanpa etika tabligh akan berjalan secara sewenang-
wenang. Oleh karena itu, ada beberapa prinsip yang mesti dipegang
ketika hendak mengembangkan tabligh.
Pertama, tabligh hendaknya memegang prinsip tauhid sebagai
prinsip fundamental dalam setiap aspek kehidupan. Dengan
berpegang kepada prinsip ini, maka tabligh lebih diarahkan kepada
usaha untuk menghancurkan atau membebaskan segala macam
mitos yang menerpa individu maupun masyarakat. Di dalam era
global seperti sekarang ini, mitos dapat berbentuk kekuatan (power),
kekuasaan, modernisasi, media dan segala hal yang dapat
menguasai individu atau masyarakat yang dapat mengalahkan
manusia untuk tunduk kepada kekuasaan Tuhan. Prinsip ini sejalan
dengan firman Allah: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun
sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak
ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku,”
(QS. al-Anbiya: 25).
Kedua, prinsip amar ma’ruf nahi munkar (commanding to the right
and prohibiting from the wrong). Prinsip ini merupakan prinsip
tanggung jawab setiap individu maupun institusi untuk mengajak
orang lain atau institusi lain dalam menegakkan kepemimpinan dan
cita-cita Islam. Dalam hal ini, institusi tidak hanya terbatas pada
institusi dakwah, melainkan juga institusi-institusi seperti pers,
radio, film dan sebagainya. Dalam menjalankan tanggung jawab, al-
Qur’an memberikan petunjuk dengan cara bijaksana (hikmah),
nasehat yang baik dan dengan cara mujadalah yang ihsan (QS. an-
Nahl: 125).

176
Hamid Mowlana, op. cit., hlm. 116.

162
Ketiga, prinsip ummah. Prinsip ini terutama berkaitan dengan
kehidupan politik individu dan masyarakat Islam. Konsep ummah
dalam Islam melebihi batas-batas negara dan batas-batas politik.
Dengan konsep ini, Islam tidak memisahkan antara individu satu
dengan individu lain sebagai anggota masyarakat. Ras, etnis,
kesukuan dan nasionalisme tidak diakui oleh Islam. Islam
mengakui adanya kebangsaan, perbedaan budaya, dan faktor
geografis, tetapi Islam menolak adanya dominasi yang berdasarkan
kepada kebangsaan. Oleh karenanya, tabligh dalam rangka politik,
spiritual dan etika harus memainkan peran yang dapat memlihara
kesatuan komunitas Islam. Kemudian, tabligh pada level individu
dan sosial berperan untuk menjaga hubungan yang harmosnis
antara Tuhan, individu dan masyarakat.
Keempat, prinsip takwa. Prinsip ini menjadi landasan gerak
setiap individu Muslim di dalam menjalankan tabligh. Mengingat
takwa di dalam Islam menjadi standar kualitas seseorang di
hadapan Allah. Dan segala aktivitas yang kita lakukan semuanya
mengharap kepada keridlaannya. Oleh karena itu, takwa hendaknya
dijadikan landasan untuk individu Muslim dalam melakukan
aktivitasnya.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa tabligh merupakan
elemen penting di dalam membangun individu dan masyarakat.
Tak heran apabila Ibn Khaldun mengatakan bahwa tabligh dan
Ashabiah merupakan dua faktor penting untuk kebangkitan dan
kekuatan sebuah negara atau komunitas.177 Lebih jauh Ibn Khaldun
memahami tabligh sebagai insitusi sosial yang tumbuh berdasarkan
kebutuhan dari masyarakat. Tabligh merupakan sebuah forum
umum yang berguna untuk bertukar pikiran antara orang-orang
yang berbeda ras, bahasa dan sejarah. Oleh karenanya, sistem
negara, pemerintahan dan politik akan memiliki kekuatan dan
otoritas yang tinggi manakalasistem tersebut bersumber dari
persaudaraan (ashhabiyah) dan tabligh yang dibawa oleh para orator
(komunikator).178

177
Ibid.
178
Ibid., hlm. 119.

163
Adanya tradisi tabligh yang berkembang di kalangan Islam –
seperti yang diakui oleh Ibn Khaldun- memberikan indikasi yang
jelas bahwa tradisi komunikasi yang dominan dalam Islam adalah
tradisi komunikasi lisan (oral communication). Hal ini pun diperkuat
dengan beberapa keterangan ayat al-Qur’an yang membicarakan
tentang tradisi lisan yang banyak dijadikan dalil oleh para ilmuwan
Muslim. Al-Qur’an memerintahkan agar seorang da’i
(komunikator) mengajak kepada mad’u (komunikan) dengan
perkataan yang ma’ruf (‫ )ﻗﻮﻻﻣﻌﺮوﻓﺎ‬seperti tercantum dalam QS. an-
Nisa ayat 5, perkataan yang mulia (‫ )ﻗوﻻ ﻛر ﳝا‬seperti tercantum dalam
QS. Al-Isra ayat 23, perkataan yang lemah lembut (‫ ) ﻗﻮﻻ ﻟﻴﻨﺎ‬seperti
tertera pada QS. Thaha ayat 44, dan perkataan yang berbekas pada
jiwa (‫ )ﻗﻮﻻ ﺑﻠﻴﻐﺎ‬seperti yang terdapat dalam QS. an-Nisa ayat 63.
Meskipun demikian, pada zaman Rasulullah juga
berkembang tradisi tulis-menulis. Terbukti ketika Rasulullah
menerima wahyu, langsung beliau memerintahkan kepada para
Sahabat yang memiliki kemampuan menulis untuk menulis wahyu
yang diterimaNya. Padahal saat itu secara teknis sulit untuk
melakukan tulis-menulis disebabkan belum tersedianya sarana
seperti kertas dan alat tulis pena, di samping budaya yang kurang
mendukung. Tetapi para Sahabat berupaya untuk melakukannya.
Begitu juga terhadap Hadits Rasulullah, sebagian Sahabat yang
memiliki kemampuan menulis dengan baik banyak menulis Hadits,
meskipun ada sebagian riwayat yang mengatakan bahwa Sahabat
dilarang untuk menulis hadits.179
Al-Qur’an secara eksplisit memberikan penekanan tentang
perlunya menulis, seperti yang digambarkan oleh Jalaluddin
Rakhmat ketika menafsirkan surat al-Qalam ayat 1 yang mengutip
hadits Rasulullah, yaitu: “Sesungguhnya yang pertama diciptakan

179
Berkenaan dengan aktivitas menulis Hadits, ada dua Hadits yang
berbeda. Satu hadits (riwayat Sa’id al-Hudry) mengatakan untuk melarang
menulis Hadits dan satu Hadits lain (riwayat Abu Hurairah) memperbolehkan
untuk menulis Hadits. Dua Hadits yang bertentangan ini oleh para ulama
dikompromikan, yakni larangan untuk menulis Hadits ini diberikan kepada
orang-orang yang tidak memiliki kemampuan menulis yang baik dan
larangan terjadi pada awal Islam karena khawatir bercampur antara al-Qur’an
dengan al-Hadits.

164
Allah adalah Al-Qalam, kemudian Allah menciptakan Nun, yakni
tinta. Kemudian ia berkata kepadanya: tulislah. Kata al-Qalam:
‘Apa yang harus kutulis?’ Ia berfirman: ‘Tulislah’ apa yang telah
terjadi dan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat baik
perbuatan, peninggalan, maupun pemberian.’ Lalu al-Qalam pun
menuliskan apa yang telah dan yang akan terjadi sampai hari
kiamat. Itulah maksud firman Allah: “Nun, perhatikan al-Qalam
dan apa yang dituliskannya”.180
Tradisi tulis-menulis yang pernah terjadi pada zaman
Rasulullah tidak berkembang pada zaman Sahabat dan Tabi’in.
Pada era ini tradisi yang berkembang lebih di dominasi oleh tradisi
lisan. Tradisi tulis baru mengalami perkembangan signifikan ketika
tumbuh industri-industri kertas dan banyaknya penulisan serta
penerjemahan yang terjadi pada zaman dinasti Abbasiyah (± abad
ke-VIII dan ke-X).181 Tradisi ini pun pada akhirnya mengalami
kemunduran dengan hancurnya dinasti-dinasti Islam dan
munculnya kejumudan-kejumudan di kalangan umat Islam,
terutama setelah abad ke-XI.
Kesadaran mulai bangkit kembali ketika umat Islam
berkenalan dengan dunia luar, terutama Barat. Di samping ada
motivasi yang tumbuh dari intern umat Islam dan dari ajaran Islam
itu sendiri yang banyak mendorong umatnya untuk maju, seperti
ajaran yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan (QS. al-
Mujadalah: 11), bekerja keras (QS. al-Jumu’ah: 10, QS. al-Insyirah:
7), memanfaatkan waktu seefektif mungkin (QS. al-‘Ashr: 1-3),
memiliki tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi (QS. an-Nisa:
58, QS. An-Nahl: 90), dan berbagai ajaran lain yang memberikan
dukungan positif untuk manju.
Sementara hubungan dengan dunia luar –dalam konteks
komunikasi– terjadi pertama kali dengan diperkenalkannya mesin
cetak oleh penguasa Mongol pada awal abad ke-13 di wilayah Iran.
Umat Islam di wilayah ini diperkenalkan mesin percetakan model

180
Jalaluddin Rakhmat, “Di mana kita sekarang dan Mau kemana?
Peranan Jurnalis Islam”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.), op. cit.,
hlm. 52.
181
Alamsjah Ratu Perwiranegara, “Prospek Media Massa Islam dalam
Era Informasi”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.), Ibid., hlm. 42.

165
Cina yang dipergunakan untuk mencetak uang kertas.182 Dan pada
abad ke-15 Turki mengenal mesin cetak yang ditemukan oleh
Gutenberg yang banyak dimanfaatkan oleh Barat untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan.183 Pengenalan dengan mesin
cetak ini membawa perubahan dan perkembangan bagi umat
Islam, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Banyak
buku-buku yang berasal dari Barat dan juga peninggalan-
peninggalan umat Islam (termasuk al-Qur’an) dicetak dan
disebarluaskan ke berbagai wilayah Islam. Dari sanalah umat Islam
mulai menunjukkan geliatnya untuk bangkit dari tidurnya. Umat
Islam mulai menyadari akan ketertinggalannya dengan dunia Barat.
Dan pada awal abad ke-18 umat Islam mulai bangkit untuk
mengadakan pembaharuan-pembaharuan, terutama di bidang
pemikiran dan politik

HEGEMONI BARAT DALAM KOMUNIKASI GLOBAL


Sejak jatuhnya Islam dan terjadinya revolusi industri di
negara-negara Barat, maka Barat mulai tampil sebagai pemain
utama dalam penguasaan di bidang komunikasi. Ditemukan mesin
cetak oleh Gutenberg membawa dampak yang cukup besar bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat terus melaju
dalam pengembangan dan penemuan-penemuan media komunikasi
yang semakin canggih seperti photography, film, telephone, telegraphy,
broadcasting, satellite dan computer serta internet.
Dengan berkembang pesatnya teknologi komunikasi di
Barat, maka Barat terutama Amerika Serikat menguasai informasi
dunia. Semua informasi yang berkembang di seluruh dunia
bersumber dari media-media yang dikembangkan oleh Barat. Barat
telah melakukan hegemoni dengan kekuatan komunikasi yang
dimilikinya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh
Huntington bahwa komunikasi global merupakan salah satu
manifestasi terpenting dari kekuatan Barat. Hegemoni Barat,
bagaimana pun juga mendorong kaum populis Barat untuk

182
Bernard Lewis, What Went Wrong? The Clash Between Islam and
Modernity in the Middle East, New York: Oxford University Press, 2002,
hlm. 143.
183
Ibid., hlm. 142.

166
menunjukkan bahwa budaya imperealisme Barat tengah bangkit
dan memperingatkan masyarakatnya supaya waspada terhadap
kelangsungan hidup dan integritas kebudayaan mereka. Perluasan
komunikasi global didominasi oleh Barat. Itulah yang menjadi
sumber utama keengganan dan penolakan masyarakat-masyarakat
non-Barat terhadap Barat.184
Pernyataan Huntington di atas juga diakui oleh Akbar S.
Ahmed bahwa pada abad ke-20 dan ke-21, Amerika dan negara-
negara Eropa Barat tampak mendominasi dunia, terutama melalui
media komunikasi.185 Kantor-kantor berita yang dimiliki negara-
negara maju yang berpusat di New York, London dan Paris,
seperti AP, UPI, AFP dan Reuter, tidak saja berpesan dalam
pembuat berita, tetapi juga penentu berita-berita apa yang layak
disalurkan ke negara-negara berkembang.
Berita-berita yang dilansir oleh media Barat tentang Islam
umumnya bersifat pejoratif dan stereotif. Menurut Edward W.
Said, banyak pemberitaan tentang Islam yang disajikan secara
superfisial oleh media massa Barat. Hal ini terjadi bisa karena
ketidaktahuan atau kesengajaan. Yang sering terjadi adalah bahwa
wartawan yang dikirim bukan hanya tidak mengetahui bahasa atau
budaya lokal, tetapi juga asing terhadap wilayah di mana ia
ditugaskan. Dalam situasi demikian, apa yang diberitakan adalah
apa yang diketahui secara superfisial atau sesuatu yang ada di
tangan. Dalam hal demikian, kualitas dan akurasi berita tidak
menjadi persoalan lagi. Toh, demikian kesimpulan Said, berita yang
superfisial itu pun tidak akan ditentang konsumen berita di
Barat.186
Selain itu, hegemoni Barat di bidang komunikasi global juga
berdampak terhadap sektor-sektor lain, seperti ekonomi, politik
dan budaya. Hal ini tidak terlepas dari adanya kemajuan-kemajuan
di bidang media komunikasi, seperti yang diungkapkan oleh Majid
Tehranian dalam bukunya Global Communication and World Politics

184
Samuel P. Huntington, op. cit., hlm. 78.
185
Akbar S. Ahmed, Islam Today A Short Introduction to The Muslim
World, London and New York: I.B. Tauris Publishers, 2001, hlm. 216.
186
Edward W. Said, Covering Islam, terj. Apri Danarto, Yogyakarta:
Penerbit Jendela, 2002, hlm.1xix.

167
bahwa betapa media komunikasi mempengaruhi berbagai area
seperti militer, diplomasi, ekonomi, sains, pendidikan, budaya dan
sebagainya.187 Dengan adanya hegemoni tersebut, Barat menjadi
penentu di bidang ekonomi, politik dan budaya. Sedangkan negara-
negara dunia ketiga, termasuk negara-negara Islam, sangat
bergantung kepada Barat.

POSISI DAN PERAN ISLAM DALAM KOMUNIKASI


GLOBAL
Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa secara teologis,
Islam tidak menjadi hambatan untuk menjadikan umatnya maju
dan berkembang. Bahkan, Islam sangat mendorong umatnya untuk
menjadi umat yang terbaik di muka bumi ini (QS. Ali ‘Imran: 110).
Persoalan mendasarnya terletak pada posisi Islam (negara Islam)
dalam komunikasi globaldi mana hegemoni Barat begitu kokoh
dan menjadi pemain utamanya.
Dihadapkan pada persoalan tersebut, ternyata Islam tidak
memiliki posisi yang signifikan. Sama halnya dengan negara-negara
dunia ketiga pada umumnya. Mereka hanya sebagai negara yang
banyak bergantung kepada informasi yang diberikan oleh Barat,
khusunya Amerika Serikat. Dalam hal media komunikasi pun,
umumnya negara-negara dunia ketiga, termasuk Islam, hanya
sebagai konsumen yang pemanfaatannya belum maksimal
dirasakan oleh seluruh warga negaranya. Apalagi menjadi produsen
dalam menciptakan media komunikasi, rasanya teralu jauh untuk
diharapkan.
Implikasi yang timbul dari posisi Islam seperti itu, dalam
komunikasi global tentunya Islam belum memiliki kekuatan untuk
berperan secara signifikan. Kehadiran Islam dalam komunikasi
global baru sebatas wacana yang memiliki potensi besar untuk
[Link]-media yang banyak dimanfaatkan oleh Iran dalam
membangun revolusinya seperti yang diungkapkan oleh Majid
Tehranian dalam bukunya Global Communication and World Politics
belum memberikan peran dalam percaturan global. Begitu juga,
kantor-kantor berita yang ada di negara Arabbelum mampu

187
Majid Tehranian, op cit., hlm. 59.

168
menjadi pemasok berita utama di kalangan masyarakat Muslim
maupun masyarakat dunia.
Agar lebih meningkatkan perannya dalam komunikasi global,
maka umat Islam sudah seharusnya melakukan upaya-upaya
sistematis untuk mengejar ketertinggalannya. Oleh karena itu, ada
beberapa agenda yang dapat ditempuh, yaitu:
Pertama, era global merupakan moment penting bagi
kebangkitan agama-agama. Menurut Naisbitt dan Aburdene, ketika
orang-orang diterpa perubahan kebutuhan akan kepercayaan
spiritual semakin menguat. Ilmu dan teknologi tidak mengajarkan
kepada kita apa makna hidup. Agamalah yang menjelaskan hal itu.
Bagi kebanyakan orang, mencantelkan diri pada suatu budaya dan
atau agama yang unik adalah suatu keniscayaan. Menganut suatu
budaya atau agama tersebut adalah bagian identitas mereka yang
membuat mereka tetap eksis di antara bangsa-bangsa dan
penganut-penganut agama lain dan tidak terasing dari lingkungan
mereka yang semakin anonim. Manusia memang mempunyai
banyak identitas yang berkaitan dengan peran-peran tertentu,
namun salah satu identitas terpenting adalah identitas yang
berkaitan dengan latar belakang etnik dan agama mereka, baik
disadari atau pun tidak.188
Di tengah-tengah momentum yang sangat bagus inilah sudah
seharusnya umat Islam memfungsikan agama Islam sebagai
sumber vitalitas peradaban. Karena agama, kata Arnold Toynbee
dapat menjadi sumber vitalitas suatu peradaban. Selanjutnya
dikatakan: “Saya yakin bahwa gaya suatu peradaban adalah
perwujudan dari agamanya. Saya amat setuju bahwa agama telah
menjadi sumber vitalitas yang telah menyebabkan kehadiran
peradaban di dunia dan telah mempertahankan kehadirannya.”
Bahkan lebih dari itu, agama merupakan daya ikat spiritual yang
telah menyatukan masyarakat yang beradab. “Dua penyakit sosial
bawaan bagi peradaban adalah perang dan ketidakadilan sosial.
Agama adalah daya pengikat spiritual yang telah menyatukan
masyarakat yang beradab untuk suatu kurun waktu, walaupun

188
Deddy Mulyana, op. cit., hlm. 7.

169
vitalitasnya digerogoti oleh dua penyakit sosial yang menakutkan
itu.189
Upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan ajaran Islam
sebagai ajaran yang dinamis dan relevan dengan tuntutan zaman
serta diorientasikan kepada kehidupan yang bersifat mondial.
Dalam catatan sejarah, di zaman klasik umat Islam dengan
pandangan dan orientasi mondial yang positif berhasil
menciptakan ilmu pengetahuan yang benar-benar berdimensi
universal atau internasional, dengan dukungan dari semua pihak.
Hal ini digambarkan oleh Bernard Lewis, seperti yang dikutip oleh
Cak Nur:
Pada masa-masa permulaan, banyak pergaulan sosial yang
lancar terdapat di antara kaum muslim, Kristen dan Yahudi,
dengan menganut agama masing-masing. Mereka membentuk
masyarakat yang satu, di mana perkawanan pribadi, kerjasama
bisnis, hubungan guru-murid dalam ilmu, dan bentuk-bentuk
aktivitas bersama lainnya berjalan normal dan sungguh umum di
mana-mana. Kerjasama budaya ini dibuktikan dalam banyak cara.
Misalnya, kita dapatkan kamus-kamus biografi pada dokter yang
terkenal. Karya-karya ini, meskipun ditulis oleh orang-orang
Muslim, mencakup para dokter Muslim, Kristen dan Yahudi tanpa
perbedaan. Dari kumpulan besar biografi itu bahkan dimungkinkan
menyusun semacam proposografi dari profesi kedokteran – untuk
melacak garis hidup beberapa ratus dokter praktik di dunia Islam.
Dari sumber-sumber ini kita mendapatkan gambaran yang jelas
tentang adanya usaha bersama. Di rumah-rumah sakit dan di
tempat-tempat praktik pribadi, para dokter dari tiga agama itu
bekerjasama sebagai rekan atau asisten, saling membaca buku
mereka dan saling menerima yang lain sebagai murid. Tidak ada
yang menyerupai semacam pemisahan yang bisa didapati di dunia
Kristen Barat pada masa itu atau di dunia Islam pada masa
kemudian.190

189
Said Tuhuleley, “Agama Pasar: Titik Temu ‘Langit’ dan ‘Bumi’?”
Dalam Jurnal Media Inovasi No. 3 TH. X/2001, hlm. 4.
190
Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban, Jakarta: Paramadina,
2002, hlm. 59-60.

170
Kedua, mengingat hubungan antara Islam dengan media
Barat kurang harmonis, maka perlu dilakukan upaya-upaya konkrit.
Berikut ini langkah-langkah yang diusulkan oleh Akbar S. Ahmed,
yaitu:
1. Islam dan Barat masing-masing memposisikan media sebagai
pemberi pemahaman dan penyeimbang. Media tidak
memberikan keputusan-keputusan dan prasangka-prasangka
negatif. Media Barat harus melihat Islam secara obyektif,
bersikap empati dan jangan membuat permusuhan.
2. Umat Islam perlu ditampilkan di dalam media Barat seperti di
dalam film, program diskusi, radio dan sebagainya, agar dapat
menangkal kesan dan pandangan negatif terhadap Islam.
3. Perlu diadakan konferensi-konferensi dan seminar-seminar
bagi masyarakat umum untuk menjelaskan Islam di Barat.
Sebaliknya, masyarakat Islam juga perlu diberikan informasi
tentang Barat.
4. Pengetahuan dasar Islam dapat diajarkan di sekolah-sekolah
Barat agar anak-anak tidak tumbuh dalam kerangka yang salah
dan berburuk sangka kepada Islam. Sebaliknya, nilai-nilai
Barat, seperti demokrasi dan buku-buku tentang Barat agar
diperkenalkan di sekolah-sekolah Muslim.
5. Problem utama yang banyak menimpa umat Islam perlu
diperhatikan seperti di Kosovo, Bosnia, Afganistan dan
sebagainya.191

Ketiga, umat Islam perlu meningkatkan kemampuannya di


bidang teknologi komunikasi, penelitian dan pengembangan ilmu,
serta menciptakan kantor-kantor berita agar berita yang disiarkan
tidak menimbulkan bias dan umat Islam tidak dirugikan. Selama
ini, ketergantungan umat Islam terhadap berita-berita yang
bersumber dari Barat tidak bisa dinafikan. Akibatnya Islam
seringkali menjadi sasaran empuk untuk konsumsi media Barat dan
menjadi pihak yang seringkali tertuduh.
Keempat, institusi-institusi yang telah terbentuk di kalangan
umat Islam, seperti OKI, Liga Arab, WAMY dan sebagainya dapat

191
Akbar S. Ahmed, op cit., hlm. 235-236.

171
memainkan perannya dalam percaturan global. Karena dalam
percaturan global, peran utama tidak lagi ada di tangan negara,
melainkan pada aktor-aktor non-negara. Oleh karena itu, pada era
global ini merupakan kesempatan yang baik bagi institusi-institusi
Islam untuk menunjukkan kiprahnya dalam masyarakat luas.
Kelima, kerjasama antar negara-negara Islam perlu
ditingkatkan, terutama di bidang ekonomi dan sosial-budaya.
Kerjasama regional dan memiliki kesamaan kultur atau agama
dapat menjadikan kekuatan inti pada era global. Negara-negara
Islam dengan kesamaan ideologi atau agama dapat menjadi
kekuatan di masa depan apabila mau melakukan kerjasama dengan
baik. Persoalannya tinggal seberapa besar kemauan itu untuk
direalisir dalam kehidupan nyata.

PENUTUP
Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin memiliki nilai-nilai
dan tradisi berkomunikasi. Dalam perjalanan sejarahnya, nilai-nilai
dan tradisi berkomunikasi yang telah dibangun pondasi-pondasinya
pada zaman Rasulullah, mengalami pasang surut sesuai dengan
dinamika yang berkembang dalam perjalanan sejarah umat Islam.
Dalam era global seperti sekarang ini, posisi dan peran Islam
dalam komunikasi global belum menunjukkan peran yang
signifikan. Hegemoni Barat masih begitu kuat dalam menguasai
komunikasi global. Semua lini –bisa dikatakan- tidak terlepas dari
intervensi Barat. Pada posisi demikian, Islam tidak harus
berpangku tangan sambil merenungi nasibnya, melainkan perlu
upaya-upaya yang sistematis agar dapat memainkan perannya di
dalam komunikasi global.
Upaya-upaya yang harus dilakukan, yaitu: Pertama, jadikan
ajaran Islam sebagai sumber vitalitas peradaban. Kedua,
membangun kerja sama yang harmonis antara Islam dengan Barat,
terutama medianya. Ketiga, meningkatkan kemampuan umat Islam
dalam penguasaan ilmu dan teknologi, khususnya komunikasi serta
membangun kantor-kantor berita dunia. Keempat, institusi-institusi
Islam dapat memainkan perannya dalam percaturan global. Kelima,
kerjasama antar negara Islam perlu ditingkatkan.

172
Dengan adanya upaya-upaya tersebut diharapkan Islam dapat
memainkan perannya secara signifikan dan umat Islam memiliki
posisi terbaik dalam komunitas peradaban dunia.

173
174
DAKWAH DAN PEMAHAMAN
TENTANG TAKDIR

PENDAHULUAN
Sejak zaman primitif dan sebelum hadirnya agama-agama
berkitab suci, pembicaraan tentang takdir telah ada.192 Mereka
mempercayai takdir sebagai suatu kekuasaan luar biasa yang
menentukan kesenangan dan kekuasaan hidupnya. Demikian pula,
pada zaman Yunani diskursus tentang takdir menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dalam pembahasan-pembahasan filsafat.193
Di kalangan umat Islam, perbincangan tentang takdir tidak
terlepas dari perbincangan di seputar kalam dan aliran-alirannya.194
Perbincangan ini muncul di masa akhir sahabat (khulafaurrasyidin)
bersamaan dengan tersebarnya Islam secara meluas ke wilayah-
wilayah di luar Jazirah Arabiyah.195 Persoalan intinya berkenaan
dengan bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
Persoalan ini dalam perkembangan berikutnya menjadi doktrin dari
masing-masing aliran, terutama Jabariyah, Qadariyah dan Ahl al-
Sunnah.196

192
Abbas Mahmud al-Aqqad, Filsafat Qur’an, Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1996, hlm. 197.
193
Ibid., hlm. 206.
194
Toshihiko Izutsu mencatat bahwa konsep qadha dan qadar bukan
merupakan penemuan ahli teologi. Hal ini di tunjukkan bahwa sebelum
munculnya Islam, gagasan yang hampir mirip tersebut tampaknya telah
beredar di kalangan orang-orang Arab yang memiliki kecenderungan religius
tertentu. Bahkan di luar kelompok kecil para hanif. Penyair besar Labib
adalah seorang yang terang-terangan mengakui keyakinannya terhadap qadha
dan qadar. Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1997, hlm. 142.
195
M. Sa’id Ramadhan al-Buthi, Al-Insan Musayyar am Mukhayyar,
Beirut: Dar al-Fikr al-Mua’shir, 2001, hlm. 14.
196
Ali Musthafa al-Ghurabi, Tarikh al-Farq al-Islamiyah wa Nasyatu
Ilm Kalam ‘inda al-Muslim, al-Azhar: Maktabah wa mathba’ah Muhammad
‘Ali Shalih wa Auladuh, t.t. hlm. 21.

175
Dalam perkembangan sejarah berikutnya, aliran ahl al-
Sunnah atau yang biasa disebut dengan aliran Asy’ariyah
mendominasi pemikiran kalam di kalangan umat Islam, tidak
terkecuali pemikiran tentang takdir. Di kalangan Asy’ariyah dalam
memahami takdir tidak terlepas dari pemahaman kaum Asy’ariyah
tentang hubungan manusia dengan Tuhan atau yang dikenal
dengan teori kasabnya. Menurut Zainun Kamal, al-Asyari dalam
memberikan penjelasan tentang teori kasabnya sulit untuk
ditangkap. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam
perbuatannya. Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa
kasab itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi, dalam teori
kasab manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam
perbuatannya.197
Imbas dari pemahaman tersebut, banyak penganut
Asy’ariyah yang memahami takdir sebagai suatu kepasrahan
seseorang kepada Tuhan, terutama berkaitan dengan rizki, hidup,
mati dan jodoh. Pemahaman ini berimbas lebih jauh kepada
perilaku umat Islam yang umumnya memiliki motivasi yang rendah
dalam mengejar kehidupan dunia. Umat Islam hanya pasrah dan
menerima apa adanaya sesuai dengan apa yang diberikan oleh
Tuhan. Hidup tidak perlu terlalu ngoyo atau bekerja keras karena
takdir Tuhan telah mendahuluinya. Siapa pun yang bekerja keras
kalau Tuhan telah menakdirkan menjadi orang miskin dan bodoh
tentu tidak akan mengubah keadaannya. Sebaliknya, orang yang
bekerja santai tatapi Tuhan menakdirkan menjadi orang kaya dan
pintar tentu ia akan memperolehnya. Begitulah pemahaman di
kalangan awam umat Islam pada umumnya tentang takdir,
terutama yang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Pemahaman ini tentunya menjadi hambatan yang bersifat
teologis di tengah-tengah kondisi bangsa yang sedang terpuruk dan
memiliki semangat baru untuk membangun. Dalam hal ini, tugas
pemerintah bukan hanya menggali potensi alam dengan sebaik-
baiknya, melainkan juga perlu pemberdayaan sumber daya
manusia. Dalam pemberdayaan manusia, peningakatan pendidikan

197
Zainun Kamal, “Kekuatan dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai
Doktrin Akidah” dalam Budhy Munawar Rachman (Ed.), Kontekstualisasi
Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta: Paramadhina, 1994, hlm. 140.

176
dan pembangunan mental yang menjadi pilihan utama. Dalam
pembangunan mental, hambatan teologis ini perlu dihilangkan agar
masyarakat Indonesia memiliki mental yang kuat dalam bekerja dan
bersikap disiplin.
Dalam pembangunan mental ini, keterlibatan aktivitas
dakwah amat diperlukan. Dakwah berperan sebagai penguat
(i’tiyadi), penggerak (muharrik), preventif (iqaf) dan meringankan
(tahrif) manusia dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini, dakwah
berperan dalam mencegah pemahaman takdir yang bias dan
menggerakkan manusia menjadi makhluk yang memiliki motivasi
yang tinggi dalam mengejar kehidupan dunia seperti halnya dalam
mengejar kehidupan akhirat. Oleh karena itu, tugas seorang da’i
amat diperlukan dalam memberikan pemahaman yang
komprehensif tentang takdir dan sekaligus dapat menawarkan dan
menggerakkan umat Islam dalam mengejar kehidupan dunia.
Tulisan ini dapat diharapkan dapat menjadi pintu pembuka
untuk memahami konsep takdir dan menjadi bekal utama bagi para
da’i. Takdir dalam tulisan ini dipahami dalam perspektif al-Qur’an,
agar umat Islam tidak terjebak dalam salah satu aliran kalam yang
ada.

PENGERTIAN TAKDIR DAN QADHA


a. Pengertian Takdir
Kata ‘takdir’ merupakan masdar dari kata qaddara yang berasal
dari akar kata qadara. Kata ini mengandung arti dugaan, perkiraan,
pertimbangan, penilaian, dan penetapan.198 Di dalam al-Qur’an,
kata takdir (‫ )ﺗﻘﺪﻳﺮ‬digunakan untuk makna pengaturan dan
ketentuan yang sangat teliti. Kata ini terulang di dalam al-Qur’an
sebanyak tiga kali (QS. 6: 96, 36: 38, 41: 12) dalam konteks uraian
tentang penciptaan alam semesta. Takdir digunakan untuk
menunjukkan konsistensi hak-hak Allah yang berlaku di alam
raya.199 Selain itu, Allah menggunakan istilah takdir (‫ )ﺗﻘﺪﻳﺮا‬sebanyak
dua kali (QS. 25: 2, 76: 16) yang menunjuk kepada makna ukuran

198
Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab
Indonesia¸Yogyakarta: Pesantren Krapyak, 1984, hlm. 1178.
199
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol. IV, Jakarta: Lentera
Hati, 2001, hlm. 205.

177
yang sebaik-baiknya. Dengan demikian, al-Qur’an ketika menyebut
kata takdir dimaksudkan sebagai pengaturan dan ketentuan yang
sangat teliti berkaitan dengan penciptaan alam semesta.
Dari keterangan yang diberikan oleh al-Qur’an dari kata
takdir di atas, nampaknya kita belum dapat menangkap makna
takdir yang terkait dengan kehidupan manusia. Oleh karena itu
perlu dikaji dari akar kata qadara dan pencabangannya yang kurang
lebih ada 131 ayat.200 Dari jumlah tersebut, makna yang terkandung
dari kata qadara dan pencabangannya adalah: Pertama, Allah
membatasi atau mempersempit rizki atau sesuatu, sebagaimana
firman Allah yang berbunyi: ( ‫واﻣﺎ اذاﻣﺎاﺑﺘﻠﻪﻓﻘﺪرﻋﻠﻴﻪرزﻗﻪﻓﻴﻘﻮل رﺑﻰاﻫﺎﻧﻦ‬
)١٦:‫ اﻟﻔﺠﺮ‬artinya: “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi
rizkinya maka dia berkata: Tuhanku menghinaku.” Senada dengan ayat
tersebut terdapat di dalam al-Qur’an (21: 87, 13: 26, 17: 30, 28: 82,
29: 62, 30: 37, 34: 36, 34: 39, 39: 52, 41: 12, 65: 7).
Kedua, Allah menentukan atau menetapkan segala sesuatu.
Hal ini seperti diungkapkan dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat
20-23 “ ‫ ﻓﺠﻌﻠﻨﻪ ﻓﻰ ﻗﺮار ﻣﻜﻴﻦ اﱃﻗﺪر ﻣﻌﻠﻮم ﻓﻘﺪر ﻧﺎ ﻓﻨﻌﻢ‬.‫اﱂ ﻧﺨﻠﻘﻜﻢ ﻣﻦ ﻣﺎء ﻣﻬﻴﻦ‬
.‫ ”اﻠﻘﺪرون‬Artinya: Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?
Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (Rahim) sampai
waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kamilah
sebaik-baik yang menentukan. Senada dengan makna kedua terdapat
di dalam al-Qur’an surat (41: 10, 87: 3, 15: 60, 34: 18, 56: 60, 36:
39, 27: 57, 10: 5, 25: 2, 80: 19, 54: 12, 73: 20, 65: 3, 6: 96, 36: 38,
41: 12, 33: 38).
Ketiga, Allah berkuasa atas segala sesuatu. Makna ini sejalan
dengan firman Allah dalam surat al-An’am ayat 37 “ ‫وﻗﺎﻟﻮا ﻟﻮ ﻻ ﻧﺰل‬
‫”ﻋﻠﻴﻪ اﻳﺔ ﻣﻦ رﺑﻪ ﻗﻞ انﷲ ﻗﺎدر ﻋﻠﻰ ان ﻳﺘﺮل اﻳﺔ وﻟﻜﻦ اﻛﺜﺮ ﻫﻢ ﻻ ﻳﻌﻠﻤﻮن‬
Artinya” Dan mereka(orang-orang musyrik) berkata: mengapa diturunkan
kepadanya (Muhammad) suatu mu’jizat dari Tuhannya? Katakanlah:
Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu’jizat tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui. “ Ayat al-Qur’an yang memiliki makna
senada dengan ayat di atas adalah (QS. 6: 65, 17: 99, 36: 81, 46: 33,

200
Muhammad Fuad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh
al-Qur’an al-Karim, Dar al-Fikr, 1981, hlm. 536-538.

178
75: 40, 86: 8, 23: 18, 23: 95, 70: 40, 77: 23, 75: 4, 54: 42, 54: 55, 18:
45, 43: 42 dan 39 ayat yang berkaitan dengan kata qadir).
Keempat, berkaitan dengan ukuran yang sebaik-baiknya.
Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Insan ayat 15-16 “ ‫وﻳﻄﺎف‬
‫”ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﺎ ﻧﻴﺔ ﻣﻦ ﻓﻀﺔ واﻛﻮاب ﻛﺎﻧﺖ ﻗﻮارﻳﺮا ﻗﻮارﻳﺮا ﻣﻦ ﻓﻀﺔ ﻗﺪرو ﻫﺎ ﺗﻘﺪﻳﺮا‬
Artinya: “Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan
piala-piala yang bening laksana kaca. (Yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari
perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.” Makna senada
terdapat di dalam al-Qur’an surat (34: 11, 25: 12, 13: 8, 33: 38, 32:
5, 70: 4, 15: 21, 20: 40, 23: 18, 42: 27, 43: 11, 54: 49, 77: 22, 13: 17).
Kelima, kemuliaan. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-
Qadar ayat 1-3 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah
menurunkan (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah
kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih
baik dari seribu bulan.
Keenam, menghormati mengenal atau mengagungkan.
Makna ini terdapat di dalam al-Qur’an surat al-Hajj atau 74, yang
artinya “Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.
Dan juga terdapat di dalam al-Qur’an surat 6: 91 dan surat 39: 67.
Ketujuh, berkaitan dengan kemampuan atau penguasaan
yang ada pada manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-
Baqarah ayat 236.
ٗۚ
‫ﻋﻠَﻰ‬
َ ‫ﻀﺔ َو َﻣﺘِﻌُﻮﻫ اُﻦ‬ َ ِ‫طﻠا ۡﻘﺘ ُ ُﻢ ٱﻟﻨ‬
َ ‫سﺎ ٓ َء َﻣﺎ ﻟَ ۡﻢ ﺗ َ َﻤسُّﻮﻫ اُﻦ أ َ ۡو ﺗ َۡﻔ ِﺮضُﻮاْ ﻟَ ُﻬ اﻦ ﻓَ ِﺮﻳ‬ َ ‫اﻻ ُجﻨَﺎ َح‬
َ ‫ﻋﻠَ ۡﻴ ُﻜ ۡﻢ إِن‬
ۡ
٢٣٦ َ‫ﻋﻠَﻰ ٱﻟ ُﻤحۡ ِسﻨِﻴﻦ‬ ۡ َٰ ۡ ۡ
َ ‫ﻋﻠَﻰ ٱﻟ ُﻤﻘﺘ ِِﺮ ﻗَﺪَ ُر ۥهُ َﻣﺘَ َۢﻌَﺎ ﺑِٱﻟ َﻤﻌۡ ُﺮوفِِۖ َحﻘًّﺎ‬ َ ‫ِع ﻗَﺪَ ُر ۥهُ َو‬ ۡ
ِ ‫ٱﻟ ُﻤﻮس‬
Artinya: Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu,
jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur
dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan
hendaklah kamu berikan suatu mut´ah (pemberian) kepada
mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang
yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian
menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi
orang-orang yang berbuat kebajikan
Senada dengan makna tersebut terdapat dalam al-Qur’an
surat (2: 264, 5: 34), 10: 24, 14: 18, 16: 75, 16: 76, 48: 21, 57: 29, 68:
25).

179
Dari makna-makna yang terdapat dalam kata qadara dan
pencabangannya –seperti iuraikan di atas—dapatlah diambil
kesimpulan tentang makna takdir, yakni: pertama, takdir umumnya
digunakan dalam konteks uraian tentang hak-hak Allah yang
berlaku di alam raya. Meskipun demikian, kata takdir juga
dipergunakan dalam konteks hak-hak Allah yang berlaku bagi
manusia. Makna ini terutama diambil dari makna yang pertama
hingga makna yang keempat. Kedua, takdir digunakan oleh al-
Qur’an dalam pengertian yang tunggal. Artinya, makna takdir
memiliki arti tersendiri seperti kemuliaan, mengenal, menghormat,
kemampuan atau penguasaan. Makna ini diambil dari pemahaman
terhadap makna takdir yang kelima hingga ketujuh.

b. Pengertian Qadha
Kata qadha secara lafal berarti menyempurnakan dari sesuatu
yang kosong, pemenuhan, atau keputusan.201
Kata qadha dan pencabangannya di dalam al-Qur’an
digunakan kurang lebih sebanyak 56 kali.202 Makna yang
terkandung dari kata qadha yang terdapat di dalam al-Qur’an yakni:
pertama, menjadikan, seperti terdapat dalam surat Fushilat ayat 12,
yang artinya Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan
Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Kedua, perintah,
seperti yang terdapat dalam surat al-Isra ayat 23, “Dan Tuhanmu
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-
baiknya....” Makna yang sejalan dengan terdapat dalam surat (8: 44,
11: 44, 28: 44).
Ketiga, Allah berkehendak menciptakan atau menetapkan
sesuatu. Makna ini terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat
117, artinya “Allah pencipta langit dan bumi dan bila Dia
berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia
hanya mengatakan kepadanya “jadilah” lalu jadilah ia.” Ayat lain
yang sejenis dengan ini adalah 3: 47, 19: 35, 33: 36, 40: 68. Menurut

201
Al-Ustadz Muhammad Taqi Mishbah al-Yazdi, Durus fi al-Aqidah al-
Islamiyah, Juz I, al-Syirkah al-‘Alamiah lil Thahabah wa al-Nasyr Munazzamah
al-A’lam al-Islami, 1995, hlm. 179.
202
Muhammad Fuad Abd al-Baqi, op. cit., hlm. 546-547.

180
Wahbah al-Juhaedi, al-Qur’an apabila mengatakan (....) menyatakan
ada 14 cara atau tujuan, yakni: agama (9: 48), perkataan (20: 62, 11:
40), azab (14: 22), Isa as (19: 35), perang Badar (8: 42, 40: 78),
fathu Mekkah (9: 24), peperangan antara Bani Quraizhah dengan
Bani Nadir (2: 109), qiyamah (16: 1), qadha (13: 2), wahyu (65: 12,
32: 5), perintah penciptaan (42: 53), pertolongan (3: 154), dosa (65:
9), perbuatan (24; 63, 11: 97).203
Keempat, ketentuan atau ketetapan Allah. Sebagaimana
firman Allah dalam surat al-An’am yang artinya, “Dialah yang
menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal
(kematianmu) dan ada lagi satu ajal yang ditentukan (untuk
berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendiri
mengetahuinya). Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang
berbangkit itu).” Makna yang hampir sama terdapat di dalam surat
(6: 60, 10: 11, 11: 110, 17: 4, 19: 21, 19: 71, 34: 14, 39: 42, 42: 14,
42: 21, 69: 27).
Kelima, keputusan. Makna ini seperti tertera dalam surat
Yunus ayat 47, yang artinya, “Tiap-tiap umat mempunyai rasul,
maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan
antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak
dianiaya.” Sejalan dengan makna ayat tersebut, di dalam surat (
2:210, 4: 65, 10: 19, 10: 71, 10: 93, 12: 41, 14: 22, 19: 39, 20: 72, 39:
36, 40: 20, 40: 78).
Keenam, menyelesaikan, menyempurnakan atau mengakhiri.
Sebagaimana firman Allah di dalam surat al-Jum’ah ayat 10, artinya,
“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu
di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-
banyak supaya kamu beruntung.” Sejalan dengan makna ini
terdapat di dalam al-Qur’an surat(2:200, 4: 103, 20: 114, 33: 37, 46:
29).
Ketujuh, mati atau gugur. Sebagaimana firman Allah yang
artinya, “....maka orang yang dari golongannya meminta
pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari
musuh-musuhnya lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya

203
Wahbah al-Juhaedi, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-
Manhaj, Juz 1-2, Beirut: Dar al-fikr al-Mua’shir, 1998, hlm. 291-293.

181
itu.” Makna yang hampir sama terdapat di dalam surat 33: 23 dan
35: 36.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa lafal qadha dalam al-
Qur’an merupakan lafal yang musytarak atau lafal yang memiliki
makna yang beragam. Karenanya, lafal qadha yang terkait dengan
pembahasan dalam tulisan ini tentunya akan difokuskan pada
makna yang ketiga sampai dengan makna yang kelima, yakni
kehendak, ketentuan, ketetapan, dan keputusan yang bersumber
dari Allah SWT.

HUBUNGAN QADHA DAN QADAR


Al-Qur’an memunculkan kata qadha dan qadar dalam bentuk
yang sangat serius dengan adanya kenyataan bahwa al-Qur’an
meletakkan seluruh rangkaian kehidupan di alam semesta dan
manusia menurut kendali kehendak Tuhan secara mutlak.
Meskipun demikian, al-Qur’an dalam menempatkan kedua kata ini
umumnya secara terpisah antara kata qadha dengan kata qadar. Al-
Qur’an hanya menyebutkan satu kali (QS. Fushshilat (41): 12) kata
qadha dan qadar dirangkaikan. Hal itupun dalam konteks
pembicaraan tentang penciptaan alam semesta yang sudah menjadi
ketentuan yang bersumber dari Allah.
Pertanyaan menarik untuk diajukan, bagaimana hubungan
qadha dan qadar yang terkait dengan manusia dan menjadi
keyakinan di kalangan umat Islam? menurut Muhammad Sa’id
Ramdlan al-Buthi bahwa keyakinan ini muncul dari dua sumber
utama, yakni: pertama, bersumber dari hadits shahih yang
diriwayatkan oleh Muslim dari hadits ‘Umar ibn Khaththab.......
Kedua, bersumber dari keyakinan umat Islam terhadap sifat ilmu
yang dimiliki oleh Allah.204
Selain itu, jika diamati lebih mendalam makna qadha dan
qadar yang terpisah-pisah seperti disebutkan di atas, maka akan
didapat suatu kesimpulan bahwa segala yang maujud dan terjadi di
alam semesta ini adalah karena qadha Allah dan masing-masing
telah ditentukan qadar atau takdirnya. Manusia tidak mempunyai

204
M. Said Ramdlan al-Buthi, op. cit., hlm. 36.

182
kekuatan mutlak atas segala usahanya, tetapi takdir Allah yang
berlaku secara mutlak.

HUBUNGAN QADHA DAN QADAR DENGAN


PERBUATAN MANUSIA
Ada dua hal pokok yang terkait ketika membahas hubungan
qadha-qadar dengan perbuatan manusia. Pertama, terkait dengan
konsepsi manusia itu sendiri. Di dalam al-Qur’an ada tiga bentuk
kata yang digunakan untuk menunjuk kepada arti manusia, yakni:
insan/ins/al-nas/unas, basyar, dan kata bani/dzurriyat adam.205
Menurut Jalaluddin Rahmat, manusia sebagai basyar
berkaitan dengan unsur material yang dilambangkan manusia
dengan unsur tanah. Pada keadaan ini, manusia secara otomatis
tunduk kepada takdir Allah di alam semesta. Sama taatnya seperti
matahari, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Manusia dengan
sendirinya musayyar (terpaksa).206 Hal ini sejalan dengan firman
Allah dalam QS. Ar-Rum: 20-21.

‫ َوﻣِ ۡﻦ َءا َٰﻳَﺘِ ِ ٓۦﻪ أَ ۡن َخﻠَقَ ﻟَ ُﻜﻢ‬٢٠ َ‫َﺮ ﺗَﻨﺘَش ُِﺮون‬ٞ ‫اب ث ُ اﻢ ِإذَآ أَﻧﺘُﻢ ﺑَش‬
ٖ ‫َوﻣِ ۡﻦ َءا َٰﻳَﺘِ ِ ٓۦﻪ أ َ ۡن َخﻠَﻘَ ُﻜﻢ ِﻣﻦ ﺗ ُ َﺮ‬
َٰ ٗۚ
َ ٖ َ‫ِﻣ ۡﻦ أَﻧﻔُ ِس ُﻜ ۡﻢ أ َ ۡز َٰ َوجﺎ ِﻟﺘ َسۡ ُﻜﻨُ ٓﻮاْ إِﻟَ ۡﻴ َﻬﺎ َو َجﻌَ َﻞ ﺑَﻴﻨَﻜﻢ اﻣ َﻮداة َو َر ۡح َﻤﺔ إِ ان ﻓِي ذﻟِكَ َلﻳ‬
‫ﺖ ِﻟﻘ ۡﻮ ٖم‬ َٰ ٓ َ َ ُ ۡ
٢١ َ‫ﻳَﺘَﻔَ اﻜ ُﺮون‬

Namun, manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan


unsur hembusan Ilahi, kepadanya dikenakan aturan-aturan, tetapi
ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri darinya.
Ia menjadi makhluk yang mukhayyar (punya pilihan). Ia menyerap
sifat-sifat rabbaniyyah. Karenanya ia dituntut untuk bertanggung
jawab.207

205
Pembahasan lengkap tentang perbedaan istilah menusia di dalam al-
Qur’an dapat dilihat pada tulisan Prof. Rif’at Syauqi Nawawi, “Konsep
manusia menurut al-Qur’an, dalam Rendra K. (peny.) Metodologi Psikologi
Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, hlm. 5-7.
206
Jalaluddin Rahmat, “Konsep-konsep Antropologis” dalam Budhy
Munawar Rahman, Konstruksi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta:
Paramadina, 1994, hlm. 80.
207
Ibid.

183
Kedua, terkait dengan kasab (perbuatan) manusia. Al-Qur’an
menyebutkan berbagai persyaratan ketika mengemukakan teori
kasab pada manusia, yaitu tangan, qalb (akal dan rasa), iradah,
masyiah, qudrah, dan istitha’ah. Al-Qur’an mengaitkan perbuatan
dengan tangan manusia karena kebanyakan perbuatan manusia
terjadi dengannya. Kelekatan perbuatan dengan pelakunya, wakil
anggota-anggota badan yang lain dan pertanda-pertanda lahir
perbuatan dikaitkan pula dengan qalb. Qalb menentukan nilai
suatu perbuatan dan sebagai pertanda perbuatan tersembunyi.
Al-Qur’an menyebut pula, manusia mempunyai iradah,
masyiah, qudrah, dan istitha’ah. Iradah dan masyiah menunjuk
manusia memiliki kehendak pilihan dan putusan. Qudrah dan
istitha’ah menunjuk potensi, daya dan kemampuan manusia.
Keempat hal itu diperlukan dalam berbuat.208
Dari uraian di atas tampak bahwa manusia di satu sisi sebagai
makhluk yang mukhayyar dan pada sisi yang lain sebagai makhluk
yang musayyar. Lantas bagaimana posisi takdir dan qadha terkait
dengan kedua hal yang melekat dalam diri manusia? Di sinilah
manusia perlu bersikap bijak bahwa dalam diri manusia ada suatu
sistem yang telah dikendalikan oleh Sang Pencipta, misalnya
manusia adalah makhluk yang memiliki nafs dan Allah telah
membuat ketentuan bahwa setiap yang bernyawa akan mata (QS.
21: 35). Demikian juga Allah tidak akan menjadikan manusia hidup
abadi (QS. 21: 34, dan 4: 78) dan semua manusia akan mengalami
mati (QS. 56: 60). Oleh karena itu, Allah yang memberikan hidup
dan mati menurut kehendak-Nya (QS. 9: 116).
Berkenaan dengan mati dan hidup, manusia perlu berusaha
sekuat tenaga dalam menjalani hidup. Ketika manusia sakit, maka
manusia berusaha semaksimal mungkin utnuk berobat. Manusia
tidak boleh pasrah dalam menghadapi kematian. Mati memang
menjadi takdir semua makhluk, bukan hanya manusia, karena mati
menjadi sistem yang dibuat oleh Allah bagi makhluk yang
mempunyai nyawa. Persoalan kapan dan dimana manusia mati
bukanlah persoalan, karena telah diatur secara khusus oleh Tuhan.

208
Jalaluddin Rakhmat, Konsep Perbuatan Manusia Menuru Qur’an, Jakarta:
Bulan Bintang, hlm. 119.

184
Al-Qur’an tidak menyebutkan secara eksplisit persoalan tersebut.
Karenanya, usaha manusialah yang paling penting untuk
menghadapi kematian ini.
Begitu juga ketika manusia berinteraksi dengan alam raya,
manusia tidak bisa mengubah desain Tuhan yang telah ditentukan
dengan sebaik-baiknya. Air senantiasa mencari tempat yang lebih
rendah, api memiliki sifat membakar, garam bersifat asin, dan
sebainya. Manusia hanya bisa berikhtiar untuk memanfaatkan
potensi yang ada pada alam raya, tetapi manusia tidak dapat
mengubah karakter yang ada pada alam raya. Kemajuan-kemajuan
pengetahuan dan teknologi yang tekait dengan pengembangan
alam raya sifatnya hanya memanfaatkan potensi yang ada. Hal ini
bukan berarti manusia tidak memiliki kemampuan untuk ikhtiar.
Manusia tidak boleh menghamba kepada alam semesta, justru
manusia perlu berikhtiar untuk dapat memakmurkan alam semesta.
Berkaitan dengan utusan Allah pun, manusia tidak bisa
menolaknya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-An’am ayat
91 yang berbunyi:

‫ب‬ َ َ‫ﻋﻠَ َٰﻰ ﺑَش َٖﺮ ِﻣﻦ ش َۡي ٖ ٖۗء ﻗُ ۡﻞ َﻣ ۡﻦ أَﻧﺰَ َل ۡٱﻟ ِﻜ َٰﺘ‬َ ُ‫ٱَّلل‬‫ٱَّلل َح اق ﻗَ ۡﺪ ِر ِٓۦه إِ ۡذ ﻗَﺎﻟُﻮاْ َﻣﺎ ٓ أَﻧﺰَ َل ا‬ َ ‫َو َﻣﺎ ﻗَﺪَ ُرواْ ا‬
ِۖ‫ﻴس ﺗ ُ ۡﺒﺪُوﻧَ َﻬﺎ َوﺗ ُ ۡﺨﻔُﻮنَ َﻛﺜِﻴﺮا‬ َ ِ‫ﺎس ﺗ َۡﺠ َﻌﻠُﻮﻧَ ۥﻪُ ﻗَ َﺮاط‬ ِۖ ِ ‫س َٰﻰ ﻧُﻮرا َوﻫُﺪى ﻟِﻠﻨا‬ َ ‫ٱﻟاﺬِي َجﺎ ٓ َء ِﺑِۦﻪ ُﻣﻮ‬
٩١ َ‫ض ِﻬ ۡﻢ ﻳَ ۡﻠﻌَﺒُﻮن‬ ِۖ ‫َوﻋُﻠ ِۡﻤﺘُﻢ اﻣﺎ ﻟَ ۡﻢ ﺗ َﻌۡ ﻠَ ُﻤ ٓﻮاْ أَﻧﺘ ُ ۡﻢ َو َﻻٓ َءاﺑَﺎ ٓ ُؤ ُﻛ ۡ ِۖﻢ ﻗُ ِﻞ ا‬
ِ ‫ٱَّللُ ث ُ اﻢ ذَ ۡرﻫ ُۡﻢ ﻓِي خ َۡﻮ‬

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan


penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah
tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah:
"Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa
sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu
lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan
(sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya,
padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak
kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang
menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al
Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam
kesesatannya.”

185
Ibn Katsir dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa
mereka (orang-orang Yahudi) tidak mengagungkan Allah dengan
sebesar-besar pengagungan. Mereka mendustakan utusan yang
datang kepada mereka. Demikian pula, orang-orang Arab dan
Quraisy mengingkari kerasulan Muhammad karena dia berasal dari
manusia biasa. Padahal mereka tidak dapat mencegah manusia
beriman tatkala datang petunjuk kepadanya (QS. 17: 94) dan tidak
dapat mencegah adanya utusan Allah.209
Oleh karena itu, menurut Muhammad Rasyid Ridha, manusi
perlu mengenal Allah dengan cara mengenal dirinya dan juga
mengenal utusan Allah yang membawa kitab sebagai petunjuk.
Kebutuhan manusia terhadap utusan Allah, menurut Muhammad
Abduh yang dikutip Rasyid Ridha, yaitu: pertama, bersumber dari
keyakinan tentang kebutuhan manusia untuk mengetahui
kehidupan yang abadi, maka manusia membutuhkan petunjuk
seorang rasul. Kedua, fitrah manusia yang ingin hidup harmonis
dan saling tolong-menolong, tetapi realitasnya ada orang yang ingin
berkuasa dan merasa lebih tinggi. Akibatnya sering terjadi
pertengkaran atau perbedaan. Di sinilah dibutuhkan seorang rasul
yang dapat memberikan petunjuk agar kehidupan menjadi
harmonis.210
Dari interpretasi ayat di atas jelaslah bahwa manusia tidak
dapat menolak takdir yang berasal dari Allah berkaitan dengan
adanya seorang rasul. Tetapi manusia juga tidak dapat berdiam diri
untuk mendapatkan hidayah dari Allah. Manusia perlu belajar dan
mengenal dirinya dan kitab-kitab yang diturunkan kepada rasulNya.
Berdasarkan uraian di atas, mengenai hubungan qadha dan
takdir dengan perbuatan manusia bisa diumpamakan seperti orang
bermain catur. Manusia dengan perbuatannya bisa bermain catur
dengan sebebas-bebasnya, tetapi dalam bermain manusia tidak bisa
mengubah aturan-aturan jalan dari masing-masing anak catur dan
tidak bisa keluar dari sistem yang ada. Raja sesuai aturannya hanya
bertindak satu langkah, benteng hanya boleh berjalan lurus

209
Abu al-Fida Ismail Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Juz II, Suriah: Dar
Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1969, hlm. 156.
210
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim al-Syahir bi Tafsir al-
Manar, Juz VII, Dar al-Fikr, t.t., hlm. 611-613.

186
vertikal-horisontal, dan sebagainya. Demikian pula, manusia bebas
melaksanakan aktivitas apa saja di dalam kehidupan ini, tetapi
manusia tidak bisa menghindar dari garis ketentuan dan aturan
yang telah ditetapkan oleh Allah di alam semesta dan pada
kehidupan manusia.

PENUTUP
Perkataan takdir yang digunakan oleh al-Qur’an terkait
dengan hak-hak Allah dalam mencipta alam semesta dan
menentukan ukuran yang sebaiknya-baiknya. Meskipun demikian,
jika ditelusuri lebih jauh dari akar katanya (qadara dan
pencabangannya) akan didapatkan bahwa perkataan takdir juga
terkait dengan hak-hak Allah yang berlaku pada kehidupan
manusia. Di samping ada makna-makna lain yang berdiri sendiri.
Hubungan takdir dengan qadha tidak dikaitkan dalam satu
rangkaian yang secara spesifik membahas kehidupan manusia.
Justru hubungan ini dibangun dari sumber hadits dan keyakinan
umat Islam terhadap sifat ilmu yang dimiliki oleh Allah. Al-Qur’an
dalam membangun hubungan qadha dan qadar bersifat sinergis.
Artinya, segala sesuatu yang ada di dunia ini sudah menjadi
ketentuan (qadha) Allah dan masing-masing telah ditentukan qadar
atau takdirnya.
Sementara berkaitan dengan hubungan qadha-qadar dengan
perbuatan manusia, yakni manusia dengan takdir Allah telah
diberikan potensi (berupa basyar) untuk dapat dipergunakan
sebaik-baiknya sesuai dengan usaha dan kemampuan yang
dimilikinya. Dalam melaksanakan usahanya, manusia juga tidak
bisa menghindar dari ketentuan (qadha) dan aturan (takdir) yang
berlaku di alam semesta ini. Hal ini tidak berarti manusia pasrah
dan mengabdi pada alam, tetapi manusia perlu berikhtiar untuk
dapat memanfaatkan dan mengembangkan alam dengan sebaik-
baiknya.

187
188
DAKWAH DAN PERILAKU
GHIBAH

PENDAHULUAN
Dalam salah satu pengajian seorang ustadz bercerita bahwa
nanti di hari kiamat kebanyakan para penghuni neraka adalah kaum
wanita. Mendengar cerita tersebut, salah seorang jama’ah wanita
terhentak dan mempertanyakan cerita tersebut, mengapa demikian?
Padahal setiap pengajian, jama’ah yang paling banyak hadir adalah
kaum wanita. Dengan tenangnya ustadz menjelaskan bahwa
memang benar wanita banyak hadir di tempat-tempat pengajian,
tetapi banyak wanita yang memamerkan auratnya dan banyak pula
wanita yang melakukan perbuatan ghibah atau menggunjing.
Cerita ini terlepas dari adanya pendeskreditan terhadap kaum
wanita, nyatanya dalam kehidupan sehari-hari kita dipamerkan oleh
iklan-iklan televisi dan tabloid-tabloid atau majalah-majalah yang
memamerkan wanita sebagai daya tariknya. Belum lagi kita
disuguhkan oleh media televisi yang hampir setiap hari dan setia
station televisi mengkemas adanya infotainment-infotainment yang
tidak terlepas dari adanya gosip dan perilaku ghibah.
Hal ini merupakan salah satu tantangan dakwah pada era
sekarang ini. Mampukah dakwah membentengi umat dari
inforamasi-informasi yang dapat merugikan umat dan bagaimana
upaya dakwah dalam mengatasi tantangan tersebut? Mengingat
pada era modern ini manusia atau seseorang tidak bisa menolak
kehadiran informasi di rumahnya. Tidak ada seorang pun yang
mampu membendung informasi yang datang ke rumahnya baik
secara langsung melalui proses komunikasi maupun melalui media
massa seperti radio, surat kabar, majalah, televisi, buku, dan
sebagainya.
Berkenaan dengan tulisan ini, penulis tidak akan mengkaji
dampak dari adanya media massa atau mengulas tentang maraknya
pornografi yang ditampilkan oleh media massa. Dalam hal ini
penulis akan mengkaji tentang ghibah dan namimah yang sekarang
ini menjadi sesuatu yang biasa dan menjadi lahan bisnis media yang

189
sangat subur. Apa yang dimaksud dengan ghibah dan namimah,
bagaimana bahaya ghibah dan namimah bagi individu dan
masyarakat, faktor apa saja yang menyebabkan seseorang
melakukan ghibah dan namimah, dan solusi apa yang bisa
menghindari seseorang untuk melakukan ghibah dan namimah
serta bagaimana upaya dakwah untuk mengatasi perilaku ghibah?

PENGERTIAN GHIBAH DAN NAMIMAH


Ghibah secara etimologi berasal dari kata ghaib (‫)ﻏﻴب‬yang
artinya tidak hadir. Ghibah adalah menceritakan orang lain yang
tidak hadir di hadapan penyebutnya tentang suatu keburukan atau
sesuatu yang samar atau mendengarkannya. Jika sesuatu yang
diceritakannya itu benar, maka ia telah berghibah, dan jika sesuatu
yang diceritakannya tidak benar, maka ia telah berdusta.211
Pemahaman ghibah lebih luas diuraikan oleh al-Mubarakafuri (W.
1354 H) yang mengutip pendapatnya Imam Nawawi
(631H/1233M-676H/1277M), yakni mengatakan kepada
saudaramu tentang sesuatu yang tidak disenanginya, baik
berkenaan dengan badan, agama, keduniaan, diri, akhlak, harta,
anak, orang tua, pasangan hidup, pembantu, pakaian, gerakan
tubuh, dan sebagainya. Penyebutan tersebut baik dengan lisan,
tulisan, simbol, isyarat, kerlingan mata, tangan atau kepala dan
sebagainya.212
Sedangkan namimah (‫) اﻟﻨﻢ و اﻟﻨﻤﻴﻤﺔ و اﻟﻨﻢ‬, artinya adu domba,
fitnah.213 Menurut Ibn Manzhur, namimah adalah memindahkan
pembicaraan dari satu kaum kepada kaum lain atas jalan keburukan
dan kejahatan (‫) ﻧﻘﻞ اﳊﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﻗﻮم اﱃ ﻗﻮم ﻋﻠﻰجﻬﺔ اﻻﻓسﺎد واﻟشﺮ‬214.

211
Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, jilid I, Beirut: Dar Shadr, 1990, hlm,
656.
212
Al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwaza, Beirut: Dar al-Fikr, t.t. hlm.
63-64.
213
Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab Indonesia,
Yogyakarta: Krapyak, 1984, hlm. 1565.
214
Ibn Manzhur, op. cit, Jilid 12, hlm. 592.

190
BATASAN GHIBAH DAN NAMIMAH
Secara eksplisit, ada beberapa riwayat hadits (Muslim,
Tirmidzi, Darimi, dan Abu Dawud) yang menjelaskan tentang apa
yang dimaksud dengan ghibah dan batasan-batasannya. Salah
satunya adalah riwayat muslim:
Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibn Hajar telah menceritakan kepada
kami, mereka berkata bahwa Ismail telah menceritakan kepada kami dari
al ‘Ala, dari ayahnya, dari Abi Hurairah bahwasannya Rasulullah saw
bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu? Mereka berkata Allah dan
RasulNya yang lebih mengetahui, Nabi bersabda kamu menceritakan
saudaramu tentang hal yang tidak disukainya. Seseorang berkata,
“Bagaimana pendapat Nabi jika yang aku ceritakan itu memang ada pada
diri saudaraku yang aku ceritakan itu?” Nabi menjawab: “Bila apa yang
kamu ceritakan itu memang ada pada diri saudaramu, maka kamu telah
melakukan ghibah terhadapnya. Dan apabila yang kamu ceritakan itu tidak
ada pada diri saudaramu, berarti kamu telah mengada-ada tentangnya,”
(HR. Muslim).215
Berdasarkan hadits di atas, ada batasan yang tegas tentang
ghibah, yakni menceritakan keburukan orang lain yang tidak
disukainya. Jika keburukan yang diceritakan memang benar adanya,
maka ia telah melakukan ghibah. Tetapi jika yang diceritakan
tersebut tidak ada, maka ia telah berbohong. Selain itu, dalam
hadits tersebut juga ada isyarat bahwa orang yang diceritakannya
tidak hadir di hadapannya (‫)ذﻛﺮك اخﺎك‬. Hal ini juga diperkuat oleh
hadist Nabi saw yang berbunyi.
‘Aisyah telah berkata kepada Nabi saw: “Sudahlah, si Shafiyah itu
orangnya begini dan begitu.” Abu Dawud berkata selain dari Musaddad
bahwa yang dimaksud oleh ‘Aisyah bahwa Shafiyah itu pendek tubuhnya.
Maka Rasulullah berkata kepada ‘Aisyah: “Engkah telah mengucapkan
kata-kata yang seandainya dicampurkan dengan air lautan tentulah akan
mencampurinya”. ‘Aisyah lalu menceritakan kepada beliau tentang seseorang
lalu beliau bersabda: “Aku tidak suka diceritakan tentang seseorang,
sementara aku sendiri begini dan begitu”.216

215
Muslim, Shahih Muslim, jilid II, Kitab al-Bir, Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiah, t.t., hlm. 432.
216
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, jilid IV, Kitab Adab, hlm. 293.

191
Dalam hadits di atas jelas sekali bahwa ‘Aisyah telah
menceritakan kepada Nabi tentang madunya (Shafiyah) yang tidak
ada dihadapan Nabi. Oleh karena itu, perbuatan ‘Aisyah dikatakan
sebagai ghibah. Meskipun demikian, menurut Ibnu Hajar al-
‘Asqalani (W. 852 H), di kalangan ulama terjadi perbedaan
mengenai batasan ghibah. Ada yang membatasi ghibah, yakni
menceritakan aib seseorang dengan tanpa ada dusta. Ada juga yang
membatasi ghibah dengan menceritakan keburukan orang lain dan
orang tersebut tidak hadir.217 Semantara al-Ghazali (450H/1058M-
505H/1111M) memberikan batasan tentang ghibah, yakni
menyebut kekurangan dan keburukan seseorang dalam hal
dunianya, agamanya, akhlaknya, istri dan anaknya, gaya jalannya,
pembantu rumah tangganya, baik menyebut dengan lisan maupun
dengan isyarat (kedipan mata, tangan, dan sebagainya).218
Berdasarkan keterangan hadits dan pendapat dari para
ulama, dapatlah diambil benang merah yang menjadi batasan dari
ghibah yaitu: pertama, ghibah merupakan perbuatan menceritakan
atau menyebutkan keburukan/kejelekan orang lain yang tidak
disenangi oleh orang yang diceritakannya, baik dengan lisan
ataupun dengan isyarat. Kedua, orang yang diceritakan tidak hadir
dihadapan orang yang bercerita. Kedua hal tersebut tidak dilihat
secara terpisah, melainkan antara satu dengan lainnya saling
menguatkan.
Dari batasan-batasan di atas, jelaslah bahwa infotainment-
infotainment di televisi atau media lainnya yang memberikan
adanya gosip-gosip atau gunjungan-gunjingan terhadap seseorang
dapat dimasukan sebagai perbuatan ghibah.
Adapun menyangkut pelaku ghibah, menurut Muhammad bin
‘Alan al-Shadiqi (W. 1057 H), bukan hanya orang yang melakukan
perbuatan ghibah secara langsung, tetapi lebih jauh dikatakan
bahwa orang yang mendengarkan orang lain melakukan ghibah dan
ia sendiri memiliki sikap kekaguman dan menyetujui apa yang
diceritakannya, maka ia termasuk orang yang melakukan ghibah.

217
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari,
jilid III, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2003, hlm. 194.
218
Al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub al-Muqarrab ila ‘Allam al-
Guyub, Beirut: Dar al-Jil, t.t., hlm. 108.

192
Bahkan, hukum mendengarkan ghibah adalah haram.219 Hal ini
didasarkan kepada firman Allah SWT: “Dan apabila mereka
mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling
darinya,” (QS. Al-Qashashs:55). Ghibah merupakan perbuatan
atau perkataan yang tidak bermanfaat. Karena ghibah dapat
menyakiti orang lain atau dapat merusak hubungan persaudaraan.
Bagitu juga hadits Nabi memperkuat tentang tidak diperbolehkan
mendengarkan ghibah, sebagaimana sabdanya:
Dari Abu al-Darda ra, dari Nabi saw bersabda: “Barangsiapa mencegah
ghibah yang menyinggung kehormatan saudaranya, niscaya Allah akan
mencegah wajahnya dari api neraka pada hari kiamat,” ([Link])220
Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa seorang muslim
diharuskan mencegah adanya ghibah dan ia harus menjauhkan diri
dari mendengar orang yang melakukan ghibah, sehingga ia
terhindar dari perbuatan mendengarkan ghibah. Dengan sikap
seperti itu, Allah akan membalas orang tersebut dengan di jauhkan
dari api neraka.
Ghibah dibolehkan kalau ghibah tersebut dimaksudkan
untuk kemaslahatan, sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad
bin ‘Alan al-Shadiqi (W. 1057 H). Menurutnya, ada enam hal yang
diperbolehkan melakukan ghibah,221 yaitu:
pertama, mengadukan dan menggugat suatu perbuatan aniaya
di depan hakim. Saat seseorang yang teraniaya mengadu kepada
hakim, ia dibolehkan menerangkan aib orang yang melakukan
penganiayaan terhadapnya guna memperjalas kedudukan perkara
yang sedang diajukan.
Kedua, sebagai sarana untuk mencegah kemungkaran. Barang
siapa yang mampu mencegah kemungkaran dan ia melakukannya
dengan cara menceritakan kemungkaran tersebut, maka hal
tersebut diperbolehkan agar maksud dari mencegah kemungkaran
itu tercapai.

219
Muhammad bin ‘Alan al-Shadiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq
Riyadh al-Shalihin, Beirut: Dar al-Fikr, t.t., hlm. 361.
220
Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, jilid III, Kitab al-Bir wa al-Shilah,
hlm. 380.
221
Muhammad bin ‘Alan al-Shadiqi, op. cit., hlm, 365-370.

193
Ketiga, untuk meminta fatwa. Seseorang boleh menyebutkan
aib orang lain di hadapan mufti guna meminta fatwanya
menyangkut kasus yang sedang dihadapinya. Keempat, untuk
memberi peringatan kepada muslim lainnya agar tidak terjerumus
kepada kejahatan. Seseorang boleh menceritakan kejahatan atau
keburukan orang lain. Kebolehan ini berdasarkan ijma kaum
muslimin, bahkan hal tersebut wajib untuk dilaksanakan manakala
tujuan utamanya untuk menasehati agar tidak terjerumus kepada
kejahatan. Kelima, untuk menyatakan suatu kejahatan. Orang boleh
menyebut aib seseorang untuk membongkar kejahatannya. Keenam,
bila aib itu sudah merupakan nama panggilan seseorang.
Sementara berkenaan dengan batasan namimah, ada hadits
yang menjelaskan secara sekilas, yaitu:
“Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibn Basyar telah menceritakan kepada
kami. Keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah. Aku mendengar Aba
Ishak bercerita dari Abu al-Ahwash, dari Abdullah bin Mas’ud
bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda: ”Maukah aku beritahu
kepadamu tentang ‘idhah (memfitnah), yaitu mengadu domba diantara
manusia, selanjutnya Nabi Muhammad saw bersabda:“Sesungguhnya
seseorang berkata jujur sehingga ia ditulis (di sisi Allah) sebagai orang yang
benar, dan seseorang berdusta sehingga ia ditulis (di sisi Allah) sebagai orang
yang dusta,” (HR. Muslim).222
Abdullah telah menceritakan kepada kami: Telah menceritakan kepada
ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibn Abi al-
Husain dari Syahar bin Hausab dari Abdurrahman bin Ghanam
bahwsannya Nabi saw telah menyampaikan kepadanya: “Sebaik-
baik hamba Allah adalah setiap dilihat, mereka dalam keadaan berdzikir
kepada Allah dan seburuk-buruk hamba Allah adalah orang-orang yang
berjalan kian kemari menyebarkan fitnah, memecah belah diantara yang
berkasih-kasihan, dan suka berbuat kerusakan,” (HR. Ahmad).223
Dari hadits-hadits di atas jelaslah bahwa namimah adalah
mengadu domba atau memfitnah yang bertujuan untuk memecah
belah diantara dua orang. Oleh karena itu, dalam hadits lain, Nabi

222
Muslim, op. cit., Jilid II, Kitab al-Bir, hlm. 438.
223
Ahmad bin Hanbal, op. cit., Jilidi IV, hlm. 227.

194
menggambarkan orang yang suka memfitnah adalah orang yang
memiliki dua wajah, sebagaimana sabdanya:
Musadad telah menceritakan kepada kami. Sufyan telah
menceritakan kepada kami dadri Abu al-Junad dari al-A’raj, dari
Abi Hurairah bahwasannya Nabi saw bersabda: “Orang yang paling
jahat ialah orang yang memiliki dua wajah yang datang kepada seseorang
dengan satu wajah dan kepada yang lain dengan wajah yang lain pula,”
(HR. Abu Dawud).224

BAHAYA GHIBAH DAN NAMIMAH


Ghibah merupakan perbuatan tercela. Allah SWT
mengumpamakan pelakunya seperti orang yang memakan mayat
saudaranya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat
12, yaitu:

‫سﻮ ْا َو َﻻ ﻳَ ۡﻐﺘَب‬
ُ ‫س‬ ‫ ِۖﻢ َو َﻻ ﺗ َ َﺠ ا‬ٞ ‫ظ ِﻦ ِإ ۡث‬
‫ﺾ ٱﻟ ا‬َ ۡ‫ظ ِﻦ ِإ ان ﺑَﻌ‬ ‫َٰﻳَٓأَﻳُّ َﻬﺎٱﻟاﺬِﻳﻦَ َءا َﻣﻨُﻮاْ ٱجۡ ﺘَﻨِﺒُﻮاْ َﻛﺜِﻴﺮا ِﻣﻦَ ٱﻟ ا‬
‫اب‬
ٞ ‫ٱَّلل ﺗ اَﻮ‬ َ ٗۚ ‫ﻀ ُﻜﻢ ﺑَﻌۡ ﻀ ۚٗﺎ أَﻳُحِ بُّ أ َ َحﺪُ ُﻛ ۡﻢ أَن ﻳَ ۡأ ُﻛ َﻞ ﻟَ ۡح َﻢ أَخِ ﻴ ِﻪ َﻣ ۡﻴﺘﺎ ﻓَﻜ َِﺮ ۡﻫﺘ ُ ُﻤﻮ ۚٗهُ َوٱﺗاﻘُﻮاْ ا‬
َ ‫ٱَّلل ِإ ان ا‬ ُ ۡ‫ﺑاﻌ‬
١٢ ‫ﻴﻢ‬ٞ ِ‫ارح‬
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari dugaan, sesungguhnya
sebagian dugaan itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan
janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu
yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Redaksi yang digunakan ayat di atas mengandung sekian


banyak penekanan untuk menggambarkan betapa buruknya
menggunjing. Penekanan pertama pada gaya pertanyaan yang
dinamai istifham taqriri, yakni yang bukan bertujuan meminta
informasi, tetapi mengundang yang ditanya membenarkan. Kedua,
ayat ini menjadikan apa yang pada hakikatnya sangat tidak
disenangi, dilukiskan sebagai disenangi. Ketiga, ayat ini
mempertanyakan kesenangan itu langsung kepada setiap orang,
yakni dengan menegaskan: “Sukakah salah seorang di antara
kamu?”. Keempat, daging yang dimakan bukan sekedar daging
224
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitab al-Adab, Beirut: Dar Ibn
Hajm, 1998, hlm. 737.

195
manusia tetapi daging saudara sendiri. Penekanan kelima pada ayat
ini adalah bahwa saudara itu dalam keadaan mati, yakni tidak dapat
membela diri.225
Ghibah merupakan penyakit individual dan sosial yang tidak
pantas dilakukan oleh seorang muslim. Ia diharamkan berdasarkan
ijma’ dan termasuk dalam kategori dosa besar.226 Secara individu,
ghibah memiliki dampak negatif yang dapat melukai hati seseorang
sehingga dapat menimbulkan permusuhan. Sedangkan bagi
masyarakat, ghibah dapat mengacaukan hubungan persaudaraan
dan kemasyarakatan serta menimbulkan saling curiga.
Lebih jauh, Thabathaba’i227 mengatakan tentang bahaya
ghibah, seperti yang dikutip oleh M. Quraish Shihab, bahwa ghibah
merupakan perusakan bagian dari masyarakat, satu demi satu
sehingga dampak positif yang diharapkan dari wujudnya satu
masyarakat menjadi gagal dan berantakan. Yang diharapkan dari
wujudnya masyarakat adalah hubungan harmonis antara anggota-
anggotanya, di mana setiap orang dapat bergaul dengan penuh rasa
aman dan damai. Masing-masing mengenal anggota masyarakat
lainnya sebagai seorang manusia yang disenangi, tidak dibenci atau
dihindari. Adapun bila ia dikenal dengan sifat yang mengundang
kebencian atau memperkenalkan aibnya, maka akan terputus
hubungan dengan sebesar kebencian dan aib itu. Dan ini pada
gilirannya melemahkan hubungan kemasyarakatan sehingga
gunjingan tersebut bagaikan rayap yang menggerogoti anggota
badan yang digunjing sedikit demi sedikit sehingga berakhir dengan
kematian.228
Besarnya bahaya ghibah bagi individu dan masyarakat, maka
Rasulullah saw melarang umatnya untuk melakukan ghibah,
sebagaimana sabdanya:
‘Utsman bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami, al-
Aswad bin ‘Am telah menceritakan kepada kami. Abu Bakar bin

225
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol. 3, Jakarta: Lentera Hati,
2003, hlm. 257.
226
Ibn Hajar al-‘Asqalani, [Link]., hlm. 194.
227
Nama lengkapnya Al-allamah al-Sayyid Muhammad Husain al-
Thabathaba’i, seorang pengarang kitab Tafsir al- Mizan.
228
Ibid.,

196
‘Iyas dadri al-A’masy dari Sa’id bin Abdullah bin Juraiz, dari Abi
Barzah al-Islami yang berkata, bersabda Rasulullah saw: “Wahai
sekalian orang yang beriman dengan lidahnya, sedangkan iman itu belum
masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim
dan janganlah mencari-cari aib mereka karena siapa yang mencari-cari aib
saudaranya, nisaya Allah akan mencari-cari aib dirinya, dan siapa yang
Allah mencari-cari aib dirinya, niscaya Dia akan membuka kejelekannya
sekalipun ia bersembunyi di dalam rumahnya,” (HR. Abu Dawud).229
‘Abdullah bin Muhammad bin Asma bin ‘Ubaid telah
menceritakan kepada kami, Ibn al-Mubarak dari Yahya bin Ayub,
dari Abdullah bin Sulaiman, dari Ismail bin Yahya al-Ma’afuri, dari
Sahal bin Mu’adz bin Asad al-Jahni, dari ayahnya dari Nabi saw
yang bersabda: “Barangsiapa membela seorang mukmin dari orang
munafik yang menggunjingnya, maka Allah mengutus seorang malaikat yang
menjaga dagingnya dari sengatan neraka jahannam pada hari kiamat. Dan
barang siapa yang menyakiti seorang muslim dengan tujuan untuk
mencelanya, maka Allah akan melemparkannya ke dalam neraka
Jahannam sampai keluar apa yang pernah dikatakannya,” (HR. Abu
Dawud).230
Berdasarkan keterangan hadits di atas bahwa manusia dalam
perjalanan hidupnya tidak terlepas dari adanya aib. Maka sudah
sepantasnya setiap hamba menyibukkan diri dalam upaya
perbaikan aib sendiri dan membina pribadi. Berbahagialah orang
yang sibuk dengan aib sendiri dan celakalah orang yang sibuk
membuka, mengorek, dan mencari-cari aib orang lain.
Berbahagialah orang yang mampu menjaga diri dari melakukan
ghibah dan menghindarkan diri dari membuka aib saudaranya
sendiri.
Demikian juga terhadap perilaku namimah, Nabi
menjelaskan orang yang melakukan namimah tidak akan masuk
surga.
Ancaman yang diberikan kepada pelaku namimah
menunjukkan bahwa perbuatan namimah merupakan perbuatan
tercela dan termasuk perbuatan dosa besar. Namimah termasuk
perbuatan yang keji untuk memisahkan dua kelompok, merusak
229
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, jilid IV, Kitab al-Adab, hlm. 292.
230
Ibid., hlm. 291.

197
keutuhan ukhuwah dan menghancurkan mahabbah di antara
sesama manusia.
Al-Qur’an mengecam orang yang melakukan namimah
sebagai orang yang celaka (‫( )وﻳﻞﻟﻜﻞ ﻫﻤﺰة ﳌﺰة‬QS. Al-Humazah (104)
ayat 1). Kata humazah (‫)ﻫﻤﺰة‬, dalam ayat tersebut adalah bentuk
jamak dari kata hammaz (‫)ﻫﻤﺎز‬yang terambil dari kata al-hamz (‫)اﳍﻤﺰ‬
yang pada mulanya berarti tekanan dan dorongan yang keras.
Kalimat humazati syayatin (‫)ﻫﻤﺰات اﻟشﻴﺎﻃﻴﻦ‬, berarti dorongan-
dorongan setan untuk melakukan kejahatan. Pengertian ini
kemudian berkembang sehingga berarti juga mendorong atau
menusuk dengan tangan atau tongkat. Ini lebih jauh berkembang
sehingga ia diartikan mendorong orang lain dengan lidah (ucapan)
atau dengan kata lain menggunjing, mengumpat atau menyebut sisi
negatif (mencela) orang lain tidak dihadapan yang bersangkutan.231
Bahkan lebih jauh al-Qur’an mengatakan bahwa umat Islam
dilarang mengikuti orang yang melakukan namimah ( ‫وﻻﺗﻂع ﻛﻞ‬
‫ ﻫﻤﺎز ﻣشﺎء ﺑﻨﻤﻴﻢ‬.‫( )حﻼف ﻣﻬﻴﻦ‬QS. Al-Qalam : 10-11). Kata ‫ﻣشﺎء ﺑﻨﻤﻴﻢ‬
berarti memfitnah atau mengadu domba.232 Orang yang melakukan
namimah termasuk orang fasik, di mana setiap orang mukmin
harus berhati-hati dalam menerima informasi dari mereka dan
harus menyaring serta menimbang dengan jernih informasi dari
orang yang biasa melakukan namimah, banyak mengandung
kebohongan (Q.S. al-Hujurat (49) ayat 6).
Oleh karena itu, para ulama menjelaskan enam sikap yang
wajib dilakukan oleh setiap orang yang berhadapan dengan orang
yang melakukan namimah, yaitu:
a. Tidak perlu mempercayai orang yang menukil perkataan
seseorang tentang orang lain. Sebab orang seperti itu adalah
orang fasik dan kesaksikannya tidak bisa terima.
b. Harus melarang perbuatannya itu dan manasehatinya.
c. Membencinya karena Allah, karena dia orang yang dibenci di
sisi Allah.
d. Tidak menduga yang tidak-tidak terhadap saudaranya yang tidak
ada di sisinya.

231
M. Quraish Shihab, op. cit., vol. 15, hlm. 512.
232
Muhammad bin ‘Alan al-Shadiqi, op. cit., hlm 374.

198
e. Tidak mendorongnya untuk mencari-cari kesalahan orang yang
diceritakan.
f. Tidak meridhai bagi dirinya apa yang dilarangnya sehingga dia
juga tidak boleh menceritakan apa yang diceritakan kepadanya
itu.233

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ORANG


MELAKUKAN GHIBAH DAN NAMIMAH
Secara umum, faktor yang menyebabkan orang melakukan
ghibah disebabkan karena kecintaan terhadap dunia, kehormatan,
kekuasaan, dan persaingan untuk memperoleh sesuatu. Orang yang
mencintai dunia, kehormatan dan kekuasaan tentu akan berupaya
semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. Ia bisa melakukan
apa saja, termasuk ghibah dan namimah, agar dapat merendahkan
dan manjatuhkan saingan-saingannya.234
Faktor-faktor lain yang menyebabkan seseorang melakukan
ghibah, yaitu:
a. Sebagai pelampiasan rasa bengis dan marah. Jika kemarahan
seseorang kepada orang lain telah meluap-luap, biasanya dia
akan menghilangkan rasa marah itu dengan menyebut-nyebut
kekurangannya serta keburukan orang itu.
b. Karena ingin mengambil hati teman dalam pergaulan atau
karena pengaruh teman bicara.
c. Karena ingin menarik perhatian orang lain.
d. Ingin menunjukkan kesucian dan kemuliaan dirinya dengan
menyebutkan kekurangan dan aib orang lain.
e. Untuk membanggakan diri sendiri dengan cara menyebut
kekurangan atau aib orang lain.
f. Dengki. Bisanya gunjingan diarahkan kepada seseorang yang
banyak dipuji, dicintai dan dimuliakan oleh orang lain. Orang
yang dengki itu ingin agar kenikmatan yang dimiliki orang itu
lenyap darinya, tetapi dia tidak memperoleh jalan untuk

233
Ibn Qudamah, Minhajul Qashidin, terj. Katur Sukardi, Jakarta: Pustaka al-
Kautsar, 1997, hlm. 70.
234
Ibrahim M. Al-Jamal, Amradh al-Nufus: al-Ghibah, al-Namimah, al-
Syahwah min Manzhar al-Islam, Dar al-Kitab al-Araby, 1985, hlm. 59.

199
menjatuhkannya kecuali dengan memburuk-burukkan orang
tersebut.
g. Senda gurau. Untuk memeriahkan gurauannya, dia
menyebutkan cela orang lain agar orang banyak gembira
mendengarkannya serta tertawa karenanya.
h. Sengaja untuk menghina dan menjelakkan orang lain.235

Ghibah juga bisa terjadi pada orang khawash (orang yang


tingkatan ibadahnya tinggi). Dalam hal ini, ghibah bisa merugikan
disebabkan karena kealpaan yang dilakukan oleh orang-orang
khawash. Ghibah tidak memandang siapa yang melakukannya,
yang jelas dilarang kecuali para enam hal seperti penulis uraikan
pada bagian awal. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan ghibah
para orang khawash adalah: pertama, rasa kagum kepada seseorang
yang dihormatinya, sementara pada saat yang sama menyebut
kejelakkan orang lain. Misalnya, seseorang berkata, “saya kagum
terhadap si A tetapi sayang anaknya bodoh”. Kedua, karena rasa
kasihan terhadap seseorang sehingga terucap kata-kata yang
melecehkan orang tersebut. Misalnya seseorang berkata, “saya
sangat kasihan terhadap si A yang miskin itu”. Ketiga, karena rasa
marah yang diizinkan agama. Umpamanya, seseorang yang
menyebut aib seseorang yang suka berbuat jahat. Karena marahnya
kepada penjahat itu, ia menyebut keburukan itu bukan untuk amar
ma’ruf nahi munkar, tetapi karena dorongan rasa marah semata.

CARA MENGATASI GHIBAH


Mengingat ghibah dan namimah bisa terjadi dan menimpa
siapa saja, maka perlu diupayakan pencegahannya. Nabi
Muhammad di dalam salah satu hadisnya memberikan solusi untuk
mengatasi ghibah dengan memperbanyak puasa karena puasa
merupakan benteng yang dapat mencegah seorang untuk
melakukana ghibah.
Selain itu, sikap zuhud merupakan sikap yang dapat
mencegah seseorang melakukan ghibah dan namimah. Orang yang
bersikap zuhud adalah orang yang mampu menjaga kemurnian dan

235
Ibid.

200
kestabilan hati dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Kemurnian
hati dan keterlepasannya dari kecintaan terhadap zat dan
ketamakan terhadap dunia adalah faktor yang menjadikan manusia
mempu menstabilkan jiwanya. Dengan demikian, dia tidak pernah
mendapatkan jiwanya membenci orang lain atau dengki terhadap
nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada orang lain.
Sikap introspeksi diri juga dapat mencegah seseorang
melakukan ghibah dan namimah. Seorang yang senantiasa
melakukan muhasabah akan mampu mengontrol hawa nafsunya
dari hal-hal yang dapat menjerumuskan dirinya dan dapat
menentramkan hatinya serta menjauhkan dirinya dari kemaksiatan.
Dengan muhasabah, seseorang mampu melihat kelebihan dan
kelemahan yang ada pada dirinya sehingga ia mampu
mengendalikan dirinya.
Demikian juga, belajar dan mengamalkan ilmu yang ada
dapat mencegah seseorang melakukan ghibah dan namimah. Tidak
ada seorang pun yang meragukan bahwa ilmu dapat
mengembangkan akal, mempertajam daya nalar dalam mengambil
berbagai kesimpulan, menggapai cita-cita serta mencapai target-
target dengan cara yang baik dan benar disertai tawakal kepada
Allah. Orang yang banyak belajar dan mengamalkan ilmu yang
diperolehnya tentu akan bersikap bijak dan dewasa dalam setiap
tindakannya. Dia akan berfikir panjang untuk melakukan ghibah
dan namimah demi mengejar prestasi dan prestisenya.
Selain itu perlu upaya-upaya dakwah yang dilakukan kepada
masyarakat, yakni: pertama, membentengi umat dengan cara
memberikan pemahaman yang mendalam bahwa benar kita tidak
bisa menolak informasi, tetapi kita harus mampu memfilter
informasi yang masuk pada diri kita. Karena manusia oleh Allah
diberikan kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang
benar dan tidak, mana yang jelek dan baik, serta mana yang terpuji
dan tercela. Oleh karena itu, pembinaan individu muslim menjadi
penting dilakukan oleh para aktivitas dakwah.
Kedua, lembaga-lembaga dakwah dapat melakukan gerakan-
gerakan moral dalam menjaga dan mengontrol kegiatan-kegiatan
yang dilakukan oleh media massa agar tidak keluar dari norma-
norma yang ada. Selain itu, lembaga-lembaga dakwah dapat bekerja

201
sama dengan station-station televisi atau pengelola media massa
dalam menampilkan beragam kegiatan yang dapat menarik pemirsa
atau pembaca. Ketiga, ada upaya kaderisasi atau penyiapan tenaga
profesional yang siap terjun dan memainkan peranan di bidang
media massa. Kita perlu menyiapkan jurnalis-jurnalis yang dapat
memainkan peranan dalam memberikan kontribusi yang positif
kepada umat. Keempat, umat Islam perlu memiliki dan
mengupayakan adanya media tersendiri, seperti televisi, radio,
majalah, dan sebagainya.

PENUTUP
Sebaga catatan akhir, tidak ada yang bisa mengatasi ghibah
dan namimah yang berkembang di masyarakat manakala tidak ada
kesadaran diri setiap individu muslim untuk membentengi dirinya
dalam memilah dan memilih informasi. Islam sangat menekankan
individu yang aktif dalam menjalani berbagai aktivitas, termasuk
dalam mengelola informasi. Oleh karena itu, upaya dakwah yang
terpenting adalah bagaimana membentengi individu muslim
menjadi individu yang siap dalam menghadapi berbagai tantangan
zaman.

202
POLIGAMI DALAM
PERSPEKTIF DAKWAH
ISLAM

PENDAHULUAN
Saat pertama kali saya diminta menulis tentang poligami, saya
teringat dengan seorang aktor yang bernama Malih. Dengan logat
Betawinya yang medok, Malih tampil dalam sinetron Norak Tapi
Beken, sebagai seorang juragan yang memiliki isteri dua. Malih
tampil sebagai suami yang berkeinginan untuk berlaku adil kepada
kedua istrinya, tetapi sayangnya Malih punya kecenderungan untuk
lebih mengutamakan isterinya yang lebih muda. Selain itu, keluarga
yang dibangun oleh Malih sangat sulit sekali untuk harmonis
disebabkan seringnya terjadi percekcokan diantara anggota
keluarga.
Penggambaran Malih dalam sinetron tersebut merupakan
salah satu wacana yang berkembang secara umum dalam realitas
masyarakat Indonesia. Mereka (masyarakat) umumnya memandang
orang yang berpoligami sulit untuk berlaku adil, akan terjadi
pertentangan dalam rumah tangganya, merendahkan martabat
perempuan, dan berbagai penilaian pejoratif lainnya.
Tetapi sebaliknya saya begitu terkagum menyaksikan
langsung seorang tenaga medis yang memiliki tiga isteri dan hidup
secara berdampingan di wilayah pinggiran kota Bekasi. Begitu pula,
saat saya membaca pengalaman hidup dari Puspo Wardoyo,
seorang pengusaha rumah makan Wong Solo, dalam buku
Indahnya Poligami, tampak betapa indah kehidupan yang dijalani
oleh mereka. Dengan empat orang isteri, Puspo Wardoyo
menjalankan usahanya dan hidup bersama-sama dalam keadaan
yang harmonis dan berbahagia.
Dua penggambaran yang kontradiktif di atas memberikan
ilustrasi bagi kita bahwa wacana poligami merupakan wacana yang
kontroversial dan menarik untuk dikaji. Ada yang sepakat tentang
perlunya poligami dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat dan
sebaliknya, ada yang tidak sepakat dengan poligami. Bahkan,

203
sebagian orientalis Barat melakukan penyerangan terhadap Islam
melalui wacana poligami ini. Seperti yang dilakukan oleh Muir,
Dermenghem, Washington, Irving, dan Lammens.236 Mereka
menyerang perilaku Nabi yang mempraktikkan poligami dengan
alasan bahwa Nabi memiliki nafsu seksual yang tinggi terhadap
wanita. Sampai-sampai Nabi Muhammad menikahi Zainab binti
Jahsy bekas isteri anak angkatnya sendiri (Zaid bin Haritsah)
lantaran Nabi tertarik ketika melihat kecantikan dan kemolekan
Zainab saat Nabi berkunjung ke rumahnya.
Serangan yang dilakukan oleh kaum orientalis terhadap Nabi
mendapatkan respon dari kalangan ulama Islam bahwa Nabi
melakukan praktik poligami tidak berdasarkan kepada dorongan
seksual, melainkan dalam kerangkan dakwah Islamiyah atau
memiliki tujuan-tujuan yang bersifat sosial politik. Respon lain
juga datang dari kalangan Barat sendiri seperti Thomas Carlyle, W.
Montgomery Watt, dan Karen Amstrong yang menolak adanya
penggambaran negatif terhadap praktik poligami yang dilakukan
oleh Rasulullah.
Terlepas dari kontroversi adanya penyerangan yang
dilakukan oleh kaum orientalis dan pembelaan yang dilakukan oleh
umat Islam dan tokoh-tokoh dari Barat, tulisan ini mencoba
mendudukkan persoalan poligami ini secara proporsional, terutama
dalam konteks dakwah Islam. Dalam hal ini penulis berusaha
membaca ulang terhadap ayat al-Qur’an yang berbicara tentang
poligami dan juga membaca ulang tentang kehidupan Rasulullah,
terutama berkaitan dengan praktik poligami yang dilakukannya.
Kemudian dari hasil bacaan ulang ini, penulis akan mendudukkan
persolan poligami dalam kerangka dasar yang lebih luas agar
persoalannya menjadi lebih jelas. Kerangka dasar yang dimaksud
adalah kerangkan perkawinan dan kerangka dakwah Islam. Setelah
itu penulis akan mencoba menganalisis bangunan dasar tersebut
dalam konteks dakwah Islam.

236
Lihat Ahmad Zuhdi DH, Perkawinan Kontroversial Muhammad
dengan Zainab binti Jahsy, dalam Jurnal Akademika Vol. 08 No. 2 Maret
2001, hal. 92.

204
MEMBACA ULANG AYAT AL-QUR’AN TENTANG
POLIGAMI
Mendudukkan persoalan poligami dalam dakwah Islam
tentunya perlu melihat al-Qur’an sebagai kitab dakwah dan kitab
pergerakan.237 Di dalam al-Qur’an, ayat yang membicarakan secara
eksplisit tentang poligami adalah surat an-Nisa’ ayat 3 yang
berbunyi:

َ َ‫سﺎٓءِ َﻣ ۡﺜﻨ ََٰﻰ َوث ُ َٰﻠ‬


‫ﺚ َو ُر َٰ َﺑ ِۖ َع ﻓَإِ ۡن‬ ِ َ‫ﺎب ﻟَ ُﻜﻢ ِﻣﻦ‬
َ ‫ٱﻟﻨ‬ َ ‫ط‬ َ ‫ﻄﻮاْ ﻓِي ۡٱﻟ َﻴ َٰﺘ َ َﻤ َٰﻰ ﻓَٱﻧ ِﻜ ُحﻮاْ َﻣﺎ‬ ُ ‫َو ِإ ۡن خِ ۡﻔﺘ ُ ۡﻢ أ َ اﻻ ﺗ ُ ۡﻘ ِس‬
ْ ُ ‫ا‬ َ َ َٰ
٣ ‫خِ ۡﻔﺘ ُ ۡﻢ أ َ اﻻ ﺗ َﻌۡ ِﺪﻟُﻮاْ ﻓَ َٰ َﻮحِ ﺪَة أ ۡو َﻣﺎ َﻣﻠَﻜ َۡﺖ أ ۡﻳ َٰ َﻤﻨُ ُﻜ ۡﻢ ذَﻟِكَ أ ۡدﻧ َٰ َٓﻰ أﻻ ﺗَﻌُﻮﻟﻮا‬
ٗۚ َ َ
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap
(hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya),
maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga
atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku
adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu
miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya
Dari ayat inilah kemudian timbul interpretasi yang berbeda-
beda antara yang pro dan kontra. Letak perbedaannya disebabkan
karena ayat tersebut mengandung dua tesa, yakni tesa pertama
mengatakan adanya kebolehan untuk mengawini lebih dari satu,
dan tesa kedua menyatakan adanya pembatasan untuk memilih satu
saja. Bagi mufassir yang memiliki kecenderungan untuk memilih
tesa pertama, maka poligami diperbolehkan, dan bagi mufassir
yang memiliki kecenderungan pada tesa kedua, maka poligami
tidak dibolehkan. Terlepas dari perbedaan tersebut, sebenarnya
ayat ini berbicara tentang poligini (suami beristeri lebih dari satu).
Mengingat istilah poligami merupakan istilah umum yang di
dalamnya mengandung unsur poligini dan poliandri (isteri
bersuami lebih dari satu). Meskipun demikian, masyarakat kita
sudah begitu dekat dengan istilah poligami dibandingan dengan
istilah poligini.
Dalam konteks dakwah Islam, meskipun ayat ini
menimbulkan interpretasi yang kontroversial, seorang da’i
hendaknya dapat mendudukkan dan memberikan penjelasan

Lihat Abu A’la al-Maududi, Mabadi Asasiyah li Fahm al-Qur’an,


237

Lahore: Dar al-‘Arubah li al-Da’wah al-Islamiyyah, 1969, hlm. 53.

205
tentang ayat poligami ini secara jelas. Untuk itu, seorang da’i perlu
mengetahui kedua perbedaan tersebut dan juga mengetahui latar
belakang munculnya ayat tersebut.
Menurut Abi al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi al-Naisaburi
bahwa ayat ini turun dalam konteks pembahasan tentang harta
anak yatim perempuan yang dipelihara oleh seorang wali. Nabi
melarang walinya untuk menikahi anak yatim tersebut supaya tidak
memakan harta anak yatim. Karenanya, dia diperintahkan untuk
menikahi orang lain.238 Sementara para mufassir dalam melihat ayat
ini adalah bahwa ayat ini turun dalam rangka mengubah konsep
yang buruk barkaitan dengan pemikiran-pemikiran Arab Jahiliyah
dan bangsa-bangsa lain mengenai janda yang dianggap sedemikian
buruk, hina dan rendah.239 Dan ada juga yang berpandangan bahwa
ayat ini turun dalam rangka membatasi praktik poligami yang
berkembang di masyarakat Arab agar tidak memiliki isteri lebih
dari empat orang.240
Jika dicermati lafal yang terkandung dalam surat an-Nisa’
ayat 3 tersebut, al-Qur’an membolehkan untuk melakukan
poligami. Kebolehan ini tidak berarti mewajibkan untuk
berpoligami. Kebolehan dalam ayat ini lebih melihat kepada
fleksibilitas hukum. Artinya, bahwa al-Qur’an melihat realitas yang
terjadi pada masyarakat bahwa praktik poligami telah berlangsung
lama. Nabi Sulaiman dan Nabi Dawud saja pernah melakukan
praktik poligami dan mempunyai isteri yang banyak,241 begitu juga
orang-orang Arab Jahiliyah. Jika kebolehan ini tidak ada, maka
praktik-praktik perzinahan akan merajalela di masyarakat.
Karenanya, al-Qur’an memberikan batasan empat yang dibolehkan
untuk dinikahi.

238
Abi al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi al-Naisaburi, Asbab al-
Nuzul, Beirut: al-Maktabah al-Sakafiah, t.t., hlm. 81-82.
239
Lihat Agus Ahmad Safei, Memimpin dengan Hati yang Selesai
Jejak Langkah dan Pemikiran Baru Dakwah K.H. Syukriadi Sambas,
Bandung: Pustaka Setia, 2003, hlm. 74.
240
Lihat al-Qur’an dan Terjmahnya Departemen Agama RI, hlm. 115.
Dan juga Yusuf Ali, The Holy Qur’an Text, Translation, & Comentary,
Lahore: SH. Muhammad Ashraf, 1980, hlm. 179.
241
Lihat Muhammad Mahmud Asshauwaf, Isteri-isteri Nabi yang Suci
dan Hikmahnya, Padang: Angkasa Raya, 1992, hlm. 17.

206
Mengapa empat? Jawaban pastinya sulit untuk diketahui.
Menurut analisis yang diberikan oleh Syukriadi Sambas
berdasarkan pendapat al-Jurjawi, yaitu: pertama, unsur bahan
kejadian manusia (ikhtilat jasadiyat) terdiri dari empat unsur besar,
yakni tanah, api, hawa, dan air. Kedua, bahwa pada umumnya
macam usaha manusia (yang digerakkan laki-laki) berputar di
empat macam bidang: imarah (jasa), tijarah (perdagangan), shinaah
(teknologi), dan jira’ah (pertanian).242
Meskipun ayat al-Qur’an membolehkan untuk berpoligami,
tetapi lafal ayat tersebut juga secara jelas memberikan persyaratan
tentang perlunya berlaku adil. Dalam konteks manusia, berlaku adil
sulit untuk dipenuhi. Apalagi keadilan tersebut menyangkut dua
aspek: meterial dan spiritual (rohani). Hal ini karena disebabkan
manusia dihiasi oleh nafsu yang cenderung negatif (QS. 4: 36, 2:
109, 17: 11, 17: 100, 70: 19-20, 10: 12). Bahkan al-Qur’an
mengingatkan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di
antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian,”
(QS. 4: 129). Oleh karena itu, ayat ini menurut Yusuf Ali
merupakan ayat yang cenderung untuk bermonogami.243

MEMBACA KEHIDUPAN RASULULLAH TENTANG


PRAKTIK POLIGAMI
Kontroversi poligami yang bersumber dari al-Qur’an surat
an-Nisa’ ayat 3 tersebut bertambah kuat setelah kita membaca
hadits atau pengalaman hidup yang dilakukan oleh Rasulullah.
Beliau sebagai seorang da’i pertama dan utama dalam Islam
merupakan tauladan bagi umatnya dan hadits beliau dijadikan
sumber rujukan kedua setelah al-Qur’an. Allah SWT dalam al-
Qur’an menyatakan bahwa Rasulullah ada seorang da’i yang
mengajak kepada jalan Allah dan kemudian dilanjutkan oleh para
pengikutnya (QS. 12: 108) dan Rasulullah merupakan
contoh/teladan yang menjadi panutan umatnya (QS. 33: 21).

242
Agus Ahmad Safei, op. cit., hlm. 72
243
Yusuf Ali, op. cit., hlm. 179.

207
Rasulullah mempraktikkan poligami dan memiliki sembilan
isteri, ada yang berpendapat sebelas isteri245 yang melebihi
244

ketentuan yang ada dalam al-Qur’an yakni empat orang isteri (QS.
4: 3). Isteri-isteri Rasulullah adalah Siti Khadijah, Saudah binti
Zam’ah, ‘Aisyah binti Abu Bakar Assiddiq, Hafshah binti ‘Umar
bin Khathab, Zainab binti Khuzaemah, Ummu Salamah, Zainab
binti Jahsh Ummu Habibah, Juwayriyah binti Harits, Safiyyah binti
Huyay, dam Maimunah binti Harits.
Dalam membaca kehidupan Rasulullah di kalangan ulama
telah terjadi perbedaan. Praktik poligami yang dilakukan oleh
Rasulullah –apapun alasan dan keistimewaan yang dimiliki oleh
Rasulullah—merupakan contoh yang perlu diteladani. Keteladanan
yang bisa ditiru dalam kehidupan Rasulullah bukan menyangkut
persoalan ibadah atau mu’amalah an sich, dalam kehidupan
berkeluarga dan bermasyarakat juga perlu meneladani Rasulullah.
Inilah pandangan ulama yang menyetujui adanya poligami.
Bagi ulama yang tidak setuju untuk berpoligami menyatakan
bahwa pernikahan Nabi tidak semata-mata dorongan hawa nafsu
seksual, melainkan dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT.
Nabi menikahi isteri-isterinya yang delapan, kecuali ‘Aisyah,
disebabkan karena alasan sosial dan alasan politik. Sebagai contoh,
Nabi menikah Zainab dan Hafshah karena alasan sosial, yakni
mengangkat derajat orang yang miskin dan memberikan pelajaran
kepada orang Arab agar tidak terjadi jurang sosial yang jauh antara
si miskin dan si kaya. Demikian juga Nabi menikahi Saudah dan
Juwairiyah dengan alasan politik mengingat jasa-jasa yang telah
diberikan oleh suaminya dalam memperjuangkan Islam.246
Adanya perbedaan di kalangan ulama dalam
menginterpretasikan praktik poligami yang dilakukan oleh
Rasulullah merupakan suatu hal yang wajar. Sebuah fenomena
apapun yang ada di dunia ini bisa diinterpretasikan secara ganda,

244
Lihat pendapat Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (terj.), juz
4, Semarang: Toha Putra, 1993, hlm. 329.
245
Lihat Muhammad Mahmud Asshauwaf, op. cit., hlm. 9-10. Dan juga
pendapat Ibn Sa’ad, Purnama Madinah, Bandung: Al-Bayan.
246
Ismail R. Al- Faruqi and Lois Lamya al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam,
New York: Macmillan Publishing Company, 1986, hlm. 123-124.

208
baik positif maupun negatif. Persoalannya bukan memperdebatkan
atau memperpanjang perbedaan tersebut, tetapi perlu mencari
sebuah kompromi yang baik agar mengeliminir adanya jurang
perbedaan yang semakin jauh. Di sinilah diperlukan adanya kajian
ulang secara komprehensif terhadap sejarah kehidupan Rasulullah.
Dalam konteks dakwah Islam, poligami yang dilakukan oleh
Rasulullah mengandung nilai-nilai yang cukup tinggi. Pertama,
dengan memiliki isteri-isteri yang banyak, Rasulullah dapat
membuka jaringan dakwah yang lebih luas. Isteri-isteri Rasulullah –
seperti wanita lain—memiliki kewajiban secara individu untuk
mendakwahkan Islam, baik kepada keluarganya maupun kepada
masyarakat. Isteri-isteri Rasulullah dijadikan contoh dan sebagai
sumber informasi dalam menggali kehidupan Rasulullah. Banyak
contoh-contoh yang dapat diambil hikmahnya dari kehidupan
Rasulullah bersama isteri-isteri beliau.247 Sebagai contoh, Rasulullah
menikah Saudah binti Zam’ah, seorang janda berusia 55 tahun,
disebabkan karena Saudah akan mendapatkan ancaman bunuh
apabila kembali ke kampung halamannya (Habasyah/Etiopia)
karena telah memeluk Islam. kemudian Rasulullah menikahinya.
Setelah peristiwa itu banyak kaum Saudah memeluk Islam. mereka
masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong karena
kagum terhadap dakwah Islamiyyah.248 Demikian juga, banyak
hadits yang menyangkut kehidupan Rasulullah bersumber dari
isteri Rasulullah, seperti banyak yang dilakukan oleh ’Aisyah binti
Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Kedua, Rasulullah melakukan perombakan terhadap sistem
sosial yang berlaku di masyarakat Arab yang memposisikan wanita
dan janda cukup rendah. Perombakan yang dilakukan oleh
Rasulullah diantaranya: membangun relasi yang baik antara laki-laki
dengan perempuan. Perempuan tidak hanya dijadikan sebagai
obyek dan pemuas nafsu laki-laki, tetapi dijadikan sebagai mitra
dalam membangun keluarga dan masyarakat. Selain itu, perempuan
diangkat statusnya dari status yang rendah di dalam keluarga atau

247
Lebih jelasnya, baca tulsian Muhammad Mahmud Asshauwaf, Isteri-isteri
Nabi yang Suci dan Hikmahnya, Padang: Angkasa Raya, 1992.
248
Ibid., hlm. 32-33.

209
masyarakat menjadi perempuan yang memiliki posisi yang sama
antara laki-laki dengan perempuan.
Ketiga, Rasulullah melakukan perombakan di bidang hukum.
Perkawinan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsh merupakan salah
satu contoh. Masyarakat Arab pada waktu itu menganggap bahwa
anak angkat sama dengan anak kandung. Setelah ada perintah Allah
(QS. 33: 37), Nabi menikahi Zainab sebagai bekas isteri anak
angkatnya Zaid bin Haritsah. Dengan pernikahan ini, maka terjadi
perombakana hukum bahwa anak angkat tidak sama dengan anak
kandung.

PRINSIP-PRINSIP DALAM PERNIKAHAN


Setelah membaca ulang terhadap ayat al-Qur’an dan praktik
poligami yang dilakukan oleh Rasulullah dapatlah diambil sebuah
manfaat bahwa di balik kontroversi tentang poligami sebenarnya
ada konstruk besar yang ingin dibangun oleh Islam, yakni perlunya
perkawinan dan dakwah Islamiyyah. Konstruk inilah yang menurut
penulis dapat menjembatani titik perbedaan tersebut dan dapat
diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pada
pembahasan berikutnya, penulis akan menguraikan prinsip-prinsip
perkawinan dalam Islam dan prinsip-prinsip dakwah Islam.
Dalam konteks dakwah Islam, perkawinan merupakan
anjuran yang disunnahkan oleh Rasulullah untuk diikuti oleh
umatnya: ‫ اﻟﻨﻜﺎحسﻨﺘﻰﻓﻤﻦرﻏبسﻨﺘﻰﻓﻬﻮﻣﻨﻰ‬, “Nikah itu sunnah, barangsiapa
mengikuti sunnahku, maka ia termasuk golonganku”. Anjuran ini sangat
ditekankan (sunnah muakkadah) oleh Rasulullah. Orang yang telah
melakukan perkawinan adalah orang yang telah melakukan
setengah kewajiban agama dan mengikuti sunnah Nabi.
Anjuran Rasulullah ini tentunya memiliki tujuan yang mulia,
bukan hanya kenikmatan dunia saja, melainkan juga dalam
kerangka ibadah kepada Allah. Untuk mencapai tujuan tersebut,
ada beberapa prinsip pokok yang harus dipegang dalam rangka
mengarungi kehidupan rumah tangga yang diridhai Allah.
Pertama, perkawinan/pernikahan hendaknya dilandasi oleh
niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Allah memerintahkan dalam salah satu
ayat-Nya agar manusia dalam melakukan aktivitasnya hendaknya
berada dalam kerangka lillahi ta’ala (QS. 98: 5). Niat inilah yang

210
menjadi pondasi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Jika
seseorang menikah dengan alasan untuk mendapatkan harta, status
sosial, atau keturunan saja, maka keberadaan rumah tangga
tersebut akan mudah goyah dan dapat menimbulkan perceraian.
Kedua, perkawinan dilandasi oleh sikap kasih dan sayang
diantara keduanya (QS. 30: 21). Sikap ini terus menerus dibangun
dan diperbaharui. Banyak orang yang memiliki sikap ini pada saat-
saat awal pernikahan. Setelah perkawinan berlangsung agak lama,
sikap ini semakin menipis dan bahkan menghilang. Akibatnya,
banyak terjadi perselingkuhan, pertentangan, dan mencari
pasangan lain. Oleh karena itu, membangun dan menjaga sikap
kasih dan sayang diantara keduanya menjadi urgen dalam
kehidupan rumah tangga. Para psikolog banyak memberikan cara
untuk menjaga sikap tersebut, diantaranya: menjaga penampilan
diri, bersikap terbuka, memiliki perhatian yang tinggi terhadap
keluarga, memenuhi kebutuhan, baik fisik maupun rohani, dan
sebagainya.
Ketiga ayat al-Qur’an ‫( ﻫﻦ ﻟﺒﺎس ﻟﻜﻢ ﻮاﻧﺘﻢ ﻟﺒﺎس ﳍﻦ‬QS. 2: 187)
merupakan pedoman dalam prinsip yang ketiga. Kekurangan dan
kelebihan dari masing-masing pasangan hendaknya dijadikan bahan
untuk saling melengkapi, bekerja sama, dan menjadi mitra dalam
membangun keluarga. Seorang suami hendaknya dapat mengetahui
apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh isterinya dan
sebaliknya. Dengan mengetahui hal tersebut, pasangan dapat
melakukan kerja sama dan saling menjaga kekurangan-kekurangan
tersebut.
Keempat, dalam rumah tangga ada seorang pemimpin yang
dapat dijadikan pemandu, juru bicara dan pengayom. Dalam al-
Qur;an surat an-Nisa’ ayat 34 dijelaskan bahwa laki-laki merupakan
pemimpin dalam kehidupan rumah tangga. Karena laki-laki
diberikan kelebihan dalam hal menafkahkan harta. Meskipun
demikian, tidak berarti laki-laki dapat menjalankan
kepemimpinannya secara sewenang-wenang dan mengeksploitasi
wanita. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat
mengayomi dan mengetahui aspirasi dari bawahannya (dalam hal
ini isteri dan anggota famili lainnya). Oleh karena itu, prinsip yang
ketiga di atas dapat dijadikan pedoman oleh pemimpin rumah

211
tangga agar tidak terjadi dominasi kekuasaan di dalam rumah
tangganya.
Kelima, peningkatan sumber daya manusia dan pewarisan
nilai yang Islami merupakan program utama yang harus dibangun
dalam keluarga. Di dalam al-Qur’an dijelaskan: “Jagalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka,” (QS. 66: 6). Dalam ayat lain Allah
mengajarkan kepada Luqman bagaimana cara mendidik anak yang
baik dalam keluarga, yakni menyembah Allah, berbakti kepada
orang tua, memiliki kejujuran, bersikap terbuka, sabar, dan
sederhana (QS. 31: 12-19). Bahkan al-Qur’an mendorong kita
untuk memberikan kepada mereka kesejahteraan agar
pertumbuhan sumber daya manusianya menjadi tangguh (QS. 65:
6, 65: 7, 2: 233). Rasulullah saw juga mengingatkan kepada
umatnya: ‫اﻧك انﺗﺬرور ثﺘك اﻏﻨﻴﺎء خﻴﺮ ﻣﻦانﺗﺬرﻫﻢ ﻋﺎﻟﺔ ﻳﺘﻜﻔﻔﻮ ﻧﺎﻟﻨﺎس‬
“Sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam
keadaan cukup daripada meninggalkan mereka menjadi beban tanggungan
orang banyak,” (HR. Bukhari-Muslim).

PRINSIP-PRINSIP DALAM DAKWAH ISLAM


Ada dua prinsip pokok dalam dakwah Islam berkaitan
dengan pengembangan masyarakat. Pertama, prinsip tawsi’ah
(perluasan). Peningkatan kuantitas merupakan salah satu sasaran
utama dalam dakwah. Betapa tidak, banyak ayat al-Qur’an yang
memerintahkan umat Islam untuk mengajak menusia ke jalan
dakwah, baik secara fardiyah (interpersonal), jama’ah(group), maupun
secara massal. Misalnya al-Qur’an menyebutkan: “Ajaklah ke jalan
Tuhanmu dengan cara hikmah, mau’izhah hasanah dan ajaklah mereka
berdebat dengan cara yang terbaik,” (QS. 16: 125), “Hendaklah ada
diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,” (QS. 3: 104),
“Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, akau dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata,”
(QS. 12: 108), dan sebagainya.
Ajakan ini tentunya berkaitan dengan ajaran Islam yang
terdapat di dalam al-Qur’an dan hadits. Al-Qur’an sendiri
menyatakan bahwa ia merupakan petunjuk bagi semua manusia
(QS. 2: 185). Sementara manusia di dunia ini yang menyatakan diri

212
sebagai muslim kurang lebih 1/5 dari penduduk dunia. Hal ini
berarti umat Islam memiliki tugas berat untuk memberikan
informasi atau mengajak umat yang belum memeluk Islam. Di
sinilah pentingnya bahwa dakwah Islam perlu disebarluaskan dalam
kerangka memperbanyak jumlah umat Islam.
Kedua, prinsip tarqiyah (peningkatan). Dalam al-Qur’an
dijelaskan bahwa Allah menghendaki agar umat Islam menjadi
umat terbaik yang senantiasa melakukan humanisasi, liberasi, dan
transendensi (QS. 3: 110). Untuk menjadi umat yang terbaik,
diperlukan adanya upaya peningkatan kualitas secara individual
melalui tahapan khair al-bariyah, yakni kualitas iman dan amal
shaleh individu muslim (QS. 98: 7).
Jumlah umat manusia yang telah memeluk Islam sudah
seharusnya terus-menerus ditingkatkan, baik menyangkut motivasi,
pemahaman, pengamalan maupun penghayatan terhadap ajaran
Islam. Peningkatan ini sangat urgen bagi umat Islam. Bukan hanya
pada tataran mempertahankan jumlah mereka saja (supaya tidak
keluar dari Islam), tetapi lebih jauh lagi agar Islam tetap eksis dan
sesuai dengan perkembagnan zaman, dapat meningkatkan
keimanan dan ketakwaan umat, juga dimaksudkan agar Islam dapat
menjadi rahmat bagi semua yang ada di muka bumi.
Dalam aplikasinya, dua prinsip ini tidak harus
dipertentangkan atau dipisahkan secara rigid. Dua prinsip ini perlu
dibangun secara sinergis dan funsional. Artinya, bisa jadi prinsip
pertama lebih cocok diterapkan pada satu wilayah dan tidak cocok
pada wilayah lainnya, atau sebaliknya prinsip kedua lebih cocok
diterapkan pada wilayah tertentu dan tidak cocok pada wilayah
lainnya. Bisa juga kedua-duanya dapat diterapkan dalam satu
wilayah. Jelasnya bahwa target yang ingin dicapai dalam dakwah
Islam perlu dibuat secara sistematis dan terorganisir agar kedua
prinsip tersebut dapat diaplikasikan secara fungsional. Untuk
konteks Indonesia, prinsip kedua (tarqiyah) dapat dijadikan
prioritas utama tanpa harus meninggalkan prinsip yang pertama.
Berbeda dengan masyarakat yang ada di Eropa atau Amerika,
prinsip pertama bisa dijadikan sasaran utama tanpa meninggalkan
prinsip kedua. Demikianlah sedikit penggambaran tentang

213
bagaimana kedua prinsip tersebut dapat diaplikasikan dalam
masyarakat.
Dalam konteks perkawinan, kedua prinsip ini dapat dijadikan
pegangan bagi keluarga muslim bahwa mereka punya kewajiban
secara individual untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan
masing-masing anggota keluarga. Lebih jauh lagi, keluarga tersebut
punya kewajiban pula untuk menyebarkan ajaran Islam kepada
orang lain yang belum memeluknya dan memberikan pemahaman
kepada orang lain yang telah memeluk Islam agar keimanan dan
ketakwaan mereka meningkat.

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP PERKAWINAN DAN


DAKWAH ISLAM DALAM MENGKAJI POLIGAMI
PERSPEKTIF DAKWAH ISLAM
Apabila dicermati secara mendalam prinsip-prinsip
perkawinan dan dakwah Islam seperti diuraikan di atas, tampak
sekali bahwa betapa berat tanggung jawab seorang muslim yang
menyatakan dirinya dalam satu ikatan perkawinan. Keluarga yang
dibangunnya tidak hanya berjalan secara alamiah, tetapi perlu
dipersiapkan dan diorganisir dengan baik agar kehamonisan,
kesejahteraan, dan aktivitas dakwah dapat berjalan dengan baik.
Persoalan yang menarik untuk diajukan, apakah bisa membangun
keluarga yang sejalan dengan prinsip-prinsip di atas dengan cara
berpoligami?
Jawaban sederhananya tentu bergantung kepada masing-
masing individu yang akan melaksanakannya. Oleh karena itu,
persoalan yang muncul berkaitan dengan poligami tidak berangkat
dari boleh atau tidaknya berpoligami, tetapi yang paling penting
adalah kapabilitas, sikap, dan peluang seseorang ketika ia mau
berpoligami.
Bagi orang yang mempunyai kemampuan lebih dari sisi
materi dan intelektual, sementara isteri pertama tidak memberi
keturunan, lantas apa orang semacam ini tidak diperbolehkan
untuk berpoligami? Rasanya tidak adil jika ini diberlakukan kepada
orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, seorang yang
berpenghasilan rendah (pas-pasan untuk makan saja), sementara
isteri pertamanya memberikan keturunan yang banyak, lantas ia

214
melakukan poligami. Apakah ia bisa berlaku adil dan dapat
membangun keluarga yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip yang
ada? Menurut penulis, orang yang seperti ini sulit diharapkan untuk
bisa membangun keluarga yang baik.
Dengan demikian, poligami sifatnya sangat kondisional dan
fleksibel. Sifat seperti inilah yang dianut oleh al-Qur’an. Al-Qur’an
memberikan peluang dan tidak menabukan bahwa di dalam realitas
masyarakat ada perkawinan yang bersifat poligami dan ada yang
bersifat monogami. Jika peluang poligami ditutup, tentu pelacuran
dan perzinahan akan merajalela. Seseorang yang memiliki peluang
untuk berpoligami, sedangkan peluang ditutup sama sekali oleh
ajaran agamanya, maka ia mencari jalan di luar pernikahan. Padahal
perkawinan di luar pernikahan (pelacuran dan perzinahan)
ditentang keras oleh Islam.
Dilihat dari konteks dakwah Islam, bisa jadi poligami dapat
memberikan peluang untuk menyebarluaskan Islam secara lebih
luas. Mengingat keluarga yang dibentuk melalui perkawinan
poligami semakin banyak. Tiap-tiap isteri yang dinikahi memiliki
keluarga atau famili dan secara tidak langsung kita dapat
mendakwahkan ajaran Islam kepada keluarga isteri yang dinikahi.
Pemahaman seperti ini bisa dibenarkan menakala kita berpegang
teguh pada salah satu prinsip dakwah Islam, yakni prinsip tawsi’ah.
Sayangnya banyak praktik poligami yang dilakukan oleh
masyarakat cenderung kepada prestise dan kebutuhan seksual.
Mereka menikahi isteri kedua, ketiga, atau keempat, cenderung
untuk memilih-milih perempuan-perempuan yang lebih cantik dan
lebih menarik atau mereka menikahi isteri-isterinya karena ia
menganggap dirinya mampu/kaya sehingga prestisenya terangkat.
Jika orang yang mau berpoligami konsisten untuk mengembangkan
dakwah Islam tentu perempuan-perempuan yang dinikahinya
benar-benar orang yang membutuhkan perlindungan, baik dari
aspek pengamalan kegamaan, secara rohani atau pun dari sisi
material.
Persoalannya memang tidak sesederhana itu. Kita tidak
hanya berhitung dengan menggunakan logika matematika bahwa
satu tambah satu sama dengan dua. Jika kita menikahi dua orang,
maka anggota keluarga bertambah menjadi empat orang dan secara

215
otomatis jumlah Islam akan bertambah. Padahal dibalik itu semuan
terdapat persoalan-persoalan besar yang bisa menghadang kita.
Apakah prinsip-prinsip perkawinan yang ada di dalam Islam telah
diterapkan di dalam kehidupan keluarga yang kita jalani? Bisakah
berlaku adil antara isteri yang satu dengan isteri yang lain?
Dapatkan mewariskan keturunan yang berkualtias? Mampukah
membangun keluarga yang harmonis? Bisakah membangun
kesejahteraan kepada isteri-isteri dan anak-anak? Serta segudang
pertanyaan lain yang tidak bisa disebutkan. Jika kita mampu
menjawab segudang pertanyaan tersebut, maka kita dapat
menempuh prinsip kedua dalam pengembangan dakwah Islam,
yakni prinsip tarqiyah.
Keluarga yang dibangun dengan perkawinan monogami akan
lebih mudah meningkatkan kualitas anggota keluarga atau umat
dibandingkan dengan keluarga yang dibangun dengan perkawinan
poligami. Keluarga yang dibangun dengan satu orang ayah dan satu
orang ibu akan memberikan peluang yang besar dalam menerapkan
prinsip-prinsip perkawinan yang ada dalam Islam. kedua orang tua
memiliki peluang besar dalam mendidik, membesarkan, dan
menyanyangi anggota keluarganya. Dengan adanya peluang
tersebut, seorang pemimpin keluarga dapat mendesain dan
mengorganisir bangunan keluarganya secara dinamis dan
konstruktif sehingga menghasilkan generasi yang berkualitas.
Generasi yang diharapkan dapat meneruskan dan mengembangkan
nilai-nilai Islam di muka bumi ini.

PENUTUP
Kontoversi di sekitar poligami hendaknya tidak berkutat
pada persoalan boleh atau tidaknya berpoligami, tetapi lebih jauh
perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas, yakni dalam kerangka
perkawinan dan penyebaran nilai-nilai Islam. dengan pemahaman
yang komprehensif terhadap prinsip-prinsip perkawinan dan
prinsip-prinsip dalam penyebaran nilai-nilai Islam (dakwah Islam)
akan mampu memposisikan poligami dalam kerangka yang
proporsional. Sebagai tidak lanjutnya seseorang dapat
mempraktikan atau meninggalkan poligami. Oleh karena itu, dalam
perspektif dakwah Islam, poligami bisa ditolerir manakala poligami

216
tersebut dapat memberikan peluang yang lebih besar dalam
penyebaran Islam. Namun, apabila poligami hanya sebatas
pemenuhan kebutuhan seksual dan prestise belaka, maka sudah
seharusnya poligami ditinggalkan dan memilih perkawinan
monogami. Monogami akan memberikan kesempatan besar dalam
menerapkan prinsip tarqiyah (peningkatan kualitas) sumber daya
manusia yang berkualitas dan dapat memikul tanggung jawab yang
bersifat rabbaniyah. Akhinya, penulis berharap mudah-mudahan
tulisan ini dapat memberikan pencerahan (enlightenment) bagi umat
Islam pada umumnya dan para pembaca khususnya.

217
218
DAKWAH MELALUI FILM DAN
SINETRON: SEBUAH
ALTERNATIF

A. PENDAHULUAN
Dalam pertemuan warga di Rukun Tetangga, penulis
mendapatkan pepatah dari seorang purnawirawan ABRI “dengan
ilmu hidup menjadi terarah, dengan seni hidup menjadi indah dan
dengan agama hidup menjadi bermakna”. Pepatah itu Beliau
ungkapkan dalam rangka mengajak para warga untuk mengikuti
kegiatan seni suara yang Beliau adakan setiap malam sabtu. Tujuan
kegiatan itu sederhana saja yakni untuk mengisi hiburan dan
kegiatan warga.
Bagi penulis, pepatah tersebut memberikan inspirasi untuk
melihat realitas yang ada dan sekaligus menjadi titik tolak dalam
tulisan ini. Betapa pepatah yang diungkapkan tersebut begitu
mendalam apabila direnungi dan dilaksanakan. Fenomena yang ada
di masyarakat ternyata antara ilmu, seni dan agama berjalan di rel
masing-masing. Ilmu berkembang di dunianya tanpa
mempertautkan dengan seni dan agama. Seni juga berjalan dengan
melodinya sendiri tanpa memperhatikan nilai agama dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Demikian pula agama berjalan
dengan alurnya tanpa mengindahkan nilai seni dan ilmu
pengetahuan.
Dengan keterbelahan ini, dalam realitas kita menyaksikan ada
ATM untuk kondom, Bank sperma, kloning, perampokan Bank
melalui teknologi komunikasi, foto telanjang demi keindahan,
karikatur yang menelanjangi agama orang lain demi ekspresi
kebebasan, banyaknya tato dan perhiasan yang melekat di tubuh
manusia yang dianggap tabu demi keindahan, sikap para pemeluk
agama yang menghancurkan tempat tinggal dan tempat ibadah
sesamanya, bom bunuh diri demi agama, perang atas nama Tuhan,
dan segudang realitas yang dapat kita saksikan setiap hari, bahkan
setiap menit melalui berbagai media.

219
Melihat fenomena-fenomena yang ada di masyarakat, terlalu
simplistis apabila disimpulkan dari satu penyebab saja, yakni
adanya keterbelahan antara dunia ilmu pengetahuan, seni, dan
agama. Banyak faktor yang mempengaruhi dan melatarbelakangi
lahirnya berbagai fenomena yang ada di masyarakat. Paling tidak,
penulis ingin memberikan satu nuansa baru bahwa dari sekian
benang kusut yang ada di masyarakat, ada sedikit benang yang bisa
diluruskan dan dapat memberikan nuansa yang lebih
mengembirakan. Mengingat ketiga bidang tersebut menjadi
substansi bagi kehidupan manusia. Mungkinkah ketiganya bisa
berjalan secara beriringan dan berkelindan serta bagaimana hal
tersebut bisa dibangun sehingga akan melahirkan kedamaian dan
kesejahteraan bagi umat manusia?
Di kalangan umat Islam kajian tentang kesenian relatif
sedikit. Kalau pun ada, kajian kesenian yang dilakukan oleh para
Ulama lebih menekankan pada aspek fiqih dan teologis. Seni dilihat
dari sudut pandang hitam-putih, apakah boleh atau tidak boleh
(haram). Demikian juga secara teologis, seni dianggap sebagai
sekuler sehingga menjauhkan manusia dari Tuhan. Dengan
anggapan ini seni sulit berkembang di kalangan umat Islam.
Karena umat Islam terbebani oleh justifikasi fiqih dan teologi yang
menjadi pandangan hidupnya. Implikasinya, umat Islam tidak bisa
berkreasi dan berinovasi lebih jauh dalam bidang seni. Padahal seni
sangat membutuhkan ekspresi dan kreativitas individu.
Berkenaan dengan tulisan ini, penulis ingin menjelajahi lebih
jauh bagaimana pandangan Islam tentang dakwah, seni dan
dakwah alternatif di masa depan. Tulisan ini akan dirangkai melalui
paradigma besar terlebih dahulu agar dapat dioperasionalkan dalam
tataran yang lebih strategis dan teknis.

B. DAKWAH SEBAGAI AKTIVITAS, SENI, DAN ILMU.


Menurut Ismail Raji al-Faruqi, tidak ada agama yang dapat
menghindari dakwah, jika ia memiliki kekuatan intelektual.249

249
Pendapat ini berbeda dengan pendapat Max Muller yang dikutip
oleh Thomas W. Arnold bahwa tidak semua agama di dunia sebagai agama
dakwah. Islam, Budha, dan Kristen termasuk agama dakwah Sedangkan
Yahudi, Hindu dan Zoroaster tidak termasuk agama dakwah. Lihat Thomas

220
Menolak dakwah berarti menolak kebutuhan untuk mendapatkan
persetujuan orang lain terhadap apa yang diklaim sebagai
kebenaran agama. Tidak menuntut persetujuan berarti tidak serius
dengan klaim itu atau berarti menyatakan klaim itu subyektif,
partikularis atau relatif secara mutlak, karena itu tidak berlaku bagi
orang lain selain pembuat klaim itu.250
Berdasarkan pendapat di atas berarti dakwah merupakan
sebuah keharusan. Apalagi setelah Rasulullah wafat, kewajiban
dakwah menjadi sebuah keniscayaan bagi umat Islam untuk terus
menerus mensyiarkan agama Islam. Kewajiban ini sudah menjadi
ketentuan (doktrin) Ilahiah yang dinyatakan secara langsung di
dalam al-Qur’an seperti Q.S. al-Imran ayat 104, an-Nahl ayat 125,
dan surat Yusuf ayat 108.
Konsekuensi logis dari kewajiban tersebut, umat Islam perlu
mengembangkan kreasi dan inovasi dalam melakukan aktivitas
dakwah. Dakwah tidak hanya bualan atau permainan kata-kata saja,
tetapi membutuhkan penalaran kritis sesuai dengan tingkat
kemampuan obyek dakwah. Dakwah selalu terbuka terhadap bukti
baru, alternatif baru, membangun bentuk baru berulang-ulang,
memperhatikan temuan baru ilmu pengetahuan, dan
memperhatikan kebutuhan baru situasi manusia. Dakwah juga
tidak boleh memaksakan kehendak kepada jama’ahnya. Obyek
dakwah harus merasa bebas sama sekali dari ancaman dan harus
benar-benar yakin bahwa kebenaran yang diperolehnya merupakan
hasil penilaiannya sendiri. Karenanya semua manusia boleh menilai
dan mengapresiasi dakwah, sehingga kebenaran dan rahmatan
lilalamin benar-benar tercipta.
Dalam catatan sejarah, sejak Nabi Nuh memiliki kesadaran
untuk mengajak kaumnya mengikuti aturan Tuhan, maka pada saat
itu telah berlangsung aktivitas dakwah. Nabi Nuh mengajarkan
tentang amar ma’ruf nahi munkar kepada para pengikutnya.
Demikian pula Nabi-Nabi selanjutnya memberikan misi yang sama

W. Arnold, ibid, hlm. 1. Perbedaan ini hanya terletak pada fokus dari
pemahaman dakwah. Max Muller lebih menekankan pada aspek
penyebaran, sementara al-Faruqi lebih pada pembelaan kebenaran.
250
Ismail Raji al-Faruqi dan Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam,
Bandung: Mizan, 2001, hlm. 219.

221
menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam rangka tunduk dan
patuh kepada sang Khalik Allah SWT.
Aktivitas dakwah semakin terorganisir dengan baik dan
menjadi dakwah Islam251 setelah Rasulullah menerima wahyu dan
menyebarkan agama Islam kepada umatnya. Pada saat itu dakwah
disebarkan dengan berbagai cara baik dengan lisan, tulisan, dan
perbuatan. Sayangnya generasi setelah Rasulullah tidak
menindaklanjuti dakwah menjadi kajian keilmuan. Kalaupun ada,
dakwah baru sebatas seni penyampaian (retorika).
Dalam era globalisasi dan informasi ini, tuntutan terhadap
profesionalisme semakin menguat. Karenanya dakwah perlu
menyiapkan kader-kader profesional agar dakwah dapat diterima
oleh masyarakat. Menyiapkan tenaga profesional memerlukan
keilmuan sebagai landasan dan etika dalam tataran teknisnya.
Untuk membuat film dakwah, majalah atau koran dakwah,
konselor di lembaga dan profesi dakwah lainnya tentu harus ada
tenaga profesional. Disinilah arti penting adanya perguruan tinggi
atau lembaga-lembaga dakwah yang menyiapkan tenaga-tenaga
profesional.
Kelemahan yang ada selama ini, umat Islam belum memiliki
tenaga-tenaga da’i profesional. Kalau pun ada, da’i yang dimaksud
lebih berorientasi pada kemampuan retorika (muballigh). Kondisi
demikian bisa dimaklumi mengingat dalam perjalanan panjang
sejarah Islam, dakwah banyak disebarkan melalui ceramah. Bahkan,
setiap minggu ada kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar bahwa
umat Islam melakukan aksi ceramah (khutbah). Tidak heran
kemudian masyarakat menangkap bahwa perlu ada kader-kader
yang disiapkan untuk pandai merayu dan menarik penonton. Maka
diadakanlah lomba da’i yang ditentukan oleh selera pasar seperti
halnya lomba Indonesian Idol, lomba dangdut atau akademi fantasi.
Lomba ini tidak ditentukan pada sejauhmana kedalaman da’i dalam
menguasai ajaran Islam. Unsur yang terpenting bagaimana da’i bisa
membuat orang tertawa dan mampu memikat penonton.

251
Penulis menyebut dakwah Islam dimaksudkan untuk
membedakan Islam dalam makna Pasrah dan patuh pada Tuhan dengan
makna Islam sebagai agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW

222
Belum lagi umat Islam dihadapkan pada muballigh-
muballigh yang muatan dakwahnya tidak jauh dari surga-neraka.
Umat Islam tidak mendapatkan muatan bagaimana berdemokrasi,
bagaimana menegakkan HAM, bagaimana berpolitik yang santun,
bagaimana merekayasa masyarakat, bagaimana merespons zaman
yang terus berubah dan sebagainya. Muballigh cenderung normatif
dalam kajian-kajiannya. Bahkan, terkadang ada sebagian muballigh
yang cenderung reaktif dan provokatif. Begitu bencana tsunami
menimpa aceh, di berbagai mimbar muballigh seakan-akan
“menghukum rakyat aceh” bahwa kejadian itu pantas untuk rakyat
aceh dengan berbagai interpretasinya. Begitu juga, akhir-akhir ini
ada sebagian muballigh yang mengutuk Ahmadiyah dan karikatur
yang dimuat di majalah Jyllands Posten Denmark, sehingga
kekerasan-kekerasan di masyarakat tidak bisa dielakkan.
Saya tidak bermaksud untuk menafikan peran muballigh dan
mengecilkan semangatnya. Sebagai seorang yang profesional
mestinya muballigh bisa bersikap lebih bijak dengan tidak menjadi
Tuhan, melainkan berada pada tingkat kemanusiaannya. Muballigh
juga bisa belajar dan mengkaji perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang semakin canggih sehingga bisa memberikan
muatan Islam yang lebih compatible dengan perkembangan zaman.
Di samping itu, perlu diciptakan da’i-da’i profesional yang
memiliki keahlian di bidangnya. Dengan cara itu dakwah bisa
tampil dalam berbagai varian dan lini kehidupan, sehingga dakwah
sebagai pengemban misi Islam bisa tercapai. Dakwah bisa
dilakukan dengan cara-cara damai dan usaha-usaha yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Sekarang masyarakat butuh makan,
pengetahuan, ketrampilan dan suasana yang harmonis. Dakwah
akan ditinggalkan masyarakat apabila dakwah tidak beranjak dari
cara-cara normatif yang selama ini dipakai.
Selain dakwah membutuhkan tenaga profesional, dakwah
juga membutuhkan wahana atau situasi yang memungkinkan
dakwah bisa berkembang dengan baik. Dalam tataran realitas
dakwah belum dijadikan sebagai bagian dari sistem kehidupan
bermasyarakat. Dakwah masih diposisikan secara marginal untuk
urusan-urusan akhirat. Seorang da’i hanya diposisikan sebagai
tukang do’a, pemimpin tahlilan/yasinan, pengusir roh jahat, guru

223
ngaji, dan pemimpin shalat. Keberhasilan dan kegagalam
masyarakat atau bangsa seringkali hanya diukur dari sisi ekonomi,
politik, pendidikan, hukum, budaya dan ideologi. Dakwah tidak
pernah diperhitungkan sebagai bagian yang bisa menyumbang atau
merusak tatanan masyarakat.

C. SENI DALAM PERSPEKTIF ISLAM.


Pada bagian awal penulis telah menyinggung bahwa kajian
seni jarang diminati dan digeluti oleh umat Islam. Sewaktu penulis
kuliah program pascasarjana di IAIN Jakarta, penulis sempat
terkaget dan heran ada mata kuliah pilihan yang namanya kesenian
Islam. Dalam benak penulis ada pertanyaan, apa ada yang namanya
seni Islam dan bagaimana wujud atau model kesenian islam itu?
Pertanyaan ini muncul bisa dijadikan karena ada pandangan yang
berkembang selama ini di masyarakat dan adanya praktek-praktek
kesenian yang membentuk image penulis pada saat itu bahwa seni
itu sekuler dan jauh dari nilai-nilai Islam. Bisa juga pandangan ini
muncul karena kajian kesenian selama ini berkutat pada kajian fiqih
dan teologi yang memunculkan wacana boleh dan tidak boleh
(haram) kesenian tersebut.
Salah satu contoh buku berjudul “al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-
Nahy ‘an al-Munkar” yang ditulis oleh Abi Bakar Ahmad bin
Muhammad bin Harun al-Khilal yang hidup pada tahun 311 H dan
ditahqiq oleh Abd al-Qadir Ahmad ‘Atha, diterbitkan oleh Dar al-
Kutub al-‘Ilmiah, Beirut, 1986, membahas tinjauan hukum berkaitan
dengan nyanyian, seruling, qasidah, not-not musik, dan syair.
Contohnya: dimakruhkan mendengar qasidah (Akhbarana Ismail bin
Ishak al-Tsaqafi Anna Aba Abd Allah suila ‘an isma’i al-qashaid faqaala:
akrihhu) dan bid’ah mendengarkan dan membaca not-not musik
(wa anna Abuu Bakr al-Marwaji qaala: suila Abu ‘Abd Allah ‘an al-
qiraah bi-alhan faqaala: bid’ah, la yusma’).
Sebaliknya, ketika penulis membaca buku Ismail Raji al-
Faruqi dan Lamya al-Faruqi tentang Atlas Budaya Islam dan buku
karya Sayyed Husein Nasr, Islamic Art and Spirituality ternyata seni
Islam bersumber dari al-Qur’an dan al-Qur’an digambarkan

224
sebagai karya seni pertama dalam Islam.252 Lebih jauh al-Faruqi
menjelaskan bahwa seni Islam dilihat sebagai ekspresi Qur’an
dalam warna, garis, gerak, bentuk, dan suara. Ada tiga alasan:
Pertama, seni Islam mempunyai tujuan yang sama dengan tujuan
al-Qur’an, mengajar dan memperkuat persepsi tentang
transendensi Tuhan dalam diri manusia. Kedua, al-Qur’an
memberikan model pertama dan utama bagi kreativitas dan
produksi estetis. Ketiga, al-Qur’an memberikan kepada peradaban
Islam ideologi yang diekspresikan di dalam seninya, al-Qur’an juga
memberikan model kandungan dan bentuk artistik yang pertama
dan terpenting, serta al-Qur’an memberikan material terpenting
bagi ikonografi seni Islam.253
Bertitik tolak dari pandangan di atas, seni sebaiknya tidak
dipandang secara ideologis (fiqih oriented). Karena jawaban halal,
haram, dan mubah sekalipun, tetap saja industri hiburan yang
memanfaatkan karya dan kreatifitas seni akan tetap berlalu.
Jawaban keagamaan terhadap seni sama sekali tidak akan
mengubah produksi dan kreatifitas karya seni. Untuk itulah,
penulis sepakat dengan pendapat M. Amin Abdullah bahwa seni
perlu didekati dengan pendekatan keilmuan.254 Sekarang ini, hampir
semua karya seni telah diproduksi dengan menggunakan teknologi
canggih, yang semuanya dimungkinkan juga karena aktivitas
keilmuan itu sendiri. Dengan sudut pandang keilmuan
memungkinkan umat Islam dapat berkreasi lebih luas di bidang
seni dan lebih selektif dalam memanfaatkan seni bagi kehidupan
keberagamaan.
Setelah memahami kedudukan seni, sudah seharusnya umat
Islam membangun kesadaran akan perannya dalam membangun
dan mengembangkan kreasi di bidang seni. Tanpa kesadaran akan

252
Ismail Raji al-Faruqi & Lamya al-Faruqi, op cit, hlm. 202
253
Ibid, hlm. 199-205
254
M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural, Bandung: Mizan,
2000, hlm. 214. Pendapat senada juga diungkapkan oleh A. Muis bahwa
pemahaman agama dengan memakai pendekatan ilmu merupakan pilihan
tepat jika kita bermaksud memecahkan berbagai masalah kehidupan
manusia sekarang dan di masa mendatang. A. Muis, Komunikasi Islam,
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, hlm. 132.

225
peran, sebuah visi akan menjadi angan-angan. Tanpa kesadaran
akan peran, sebuah strategi hanya akan menciptakan peran dan
sebuah program yang baik akan menjadi omong kosong. Oleh
karena itu, seni dapat dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan
dakwah.
Namun perlu dicatat bahwa seni jangan hanya dianggap
sebagai alat dakwah. Jadikan seni sebagai sebuah ekspresi
seseorang yang bersifat universal artinya jika pelaku seni adalah
umat Islam, maka seni yang dilakukan merupakan cerminan dari
ekspresi seorang muslim, yakni seni yang bernuansa Islam. Dengan
cara seperti ini akan memberikan peluang besar bagi uamt Islam
untuk mengembangkan kreatifitas di bidang seni. Jika seni hanya
dijadikan alat untuk perjuangan dakwah, penulis khawatir nantinya
nuansa dakwahnya lebih kental dibandingkan dengan seninya,
akhirnya orang menjadi tidak tertarik untuk melihatnya.
Kemungkinan lain, si pelaku seni hanya bisa berakting demi seni
dan menarik orang untuk mengikuti pesan dakwahnya, sementara
seni hanya sekedar alat, tentulah kalau tujuannya sudah tercapai
alatnya boleh ditinggalkan. Benar apa yang dikatakan oleh
Kuntowijoyo, belum pernah ia mendengar ada orang masuk Islam
setelah membaca puisi Sutardji Calzoum Bachri, atau menonton
lukisan Amri Yahya atau melihat film Rhoma Irama, atau
menyaksikan koreografi Huriah Adam, atau mendengar lagu Sam
Bimbo.255
Untuk itulah, Kuntowijoyo mengatakan ada tiga fungsi seni
yaitu: Pertama, seni dapat berfungsi sebagai ibadah, tazkiyah,
tasbih, shadaqah dan sebagainya bagi pencipta dan penikmatnya.
Kedua, seni dapat dijadikan identitas kelompok. Ketiga, seni dapat
berarti syiar lambang kejayaan.256 Dengan tiga fungsi tersebut, seni
Islam akan lahir dari para pengikutnya dan Islam akan ditampilkan
dengan sejuk dan damai manakala dengan menggunakan seni
karena seni tidak memaksa orang untuk menonton atau
membacanya.

255
Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Mesjid, Bandung: Mizan, 2001,
hlm. 208.
256
Ibid, hlm. 209.

226
D. DAKWAH DI TELEVISI
Kehadiran televisi bagi masyarakat industri bagaikan “agama
baru”. Betapa tidak, televisi telah menggeser agama-agama
konvensional. Khotbahnya didengar dan disaksikan oleh jamaah
yang lebih besar dari jemaah agama apapun. Rumah ibadahnya
tersebar di seluruh pelosok bumi, ritus-ritusnya diikuti dengan
penuh kekhidmatan dan dapat menggetarkan hati serta
mempengaruhi bawah sadar manusia. Kehadiran televisi juga telah
mengambil sebagian besar waktu manusia untuk menonton
televisi. Menurut Broadcasting Yearbook (1985) rumah-rumah di
Amerika Serikat, 25 % menonton TV di waktu pagi, 30 % di waktu
sore, dan 63 % di waktu malam (jam 8-11), dan hampir ¾ atau 84
% dari mereka adalah menonton televisi.257
Selain kehadiran televisi yang luar biasa dahsyatnya, televisi
juga memberikan pengaruh sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Secara sosial, televisi mempengaruhi efek psikologis dari para
penonton, terutama pengaruh kekerasan dan hubungan antar jenis.
Secara politik, televisi mempengaruhi struktur politik, opini publik,
dan kultur politik. Secara ekonomi, televisi dapat mempengaruhi
pola konsumsi individu/masyarakat dan harga-harga di pasar.
Terakhir, secara budaya televisi berpengaruh terhadap
perkembangan budaya di berbagai negara.258
Mengingat dampak televisi yang luar biasa bagi masyarakat,
maka kegiatan-kegiatan dakwah pada era sekarang perlu diarahkan
kepada pemanfaatan media elektronik, khususnya televisi. Dalam
prosesnya umat Islam jangan hanya terjebak pada kegiatan-kegiatan
dakwah yang selama ini berkembang di masyarakat, dakwah
dengan menggunakan model-model ceramah. Umat Islam perlu
menciptakan kreasi dan model baru dalam berdakwah di televisi.
Secara garis besar, program di televisi dibagi menjadi dua
bagian, yaitu: Program-program fiksi dan reality programs. Program
fiksi dapat berupa film-film cartoon atau sitcom (film atau sinetron
yang menampilkan kehidupan keluarga dengan menampilkan

257
Lihat Leo W. Jeffres, Mass Media Process and Effects,
(Illinois: Waveland Press), 1986, hlm. 122.
258
Pembahasan lengkap dapat dilihat pada Leo W. Jeffres, hal.
122.

227
tokoh-tokoh fiktif). Sementara program realitas dapat berupa
berita-berita, dokumen-dokumen (seperti acara ABRI, keindahan
alam, kreasi kerajinan dan sebagainya), memasak, olah raga, dan
acara hiburan (musik) secara live.
Umat Islam dapat mengisi program-program televisi yang
fiksi. Saat ini program-program fiksi lebih banyak menampilkan
kekerasan-kekerasan. Anak-anak kita setiap hari dalam beberapa
jam ditampilkan film-film cartoon yang menampilkan kekerasan.
Dalam suatu laporan dari Pusat Penelitian Anak bahwa program-
program televisi untuk orang dewasa jauh lebih sedikit
kekerasannya dibandingkan dengan program komersial untuk anak.
Ada kurang lebih 20 sampau 25 aksi kekerasan perjam diberikan
kepada anak melalui cartoon, sementara 3 sampai 5 aksi kekerasan
selama perjam diberikan kepada orang dewasa.259 Belum lagi
ditambah dengan sinetron-sinetron atau film-film keluarga yang
menampilkan kekerasan-kekerasan pada anak seperti sinetron
ratapan anak tiri, si jamin dan si joan, joshua oh joshua, tangisan
anak tiri, dan sebagainya. Demikian juga, sinetron/film remaja
yang banyak menampilkan aksi-aksi kekerasan yang ditayangkan
pada jam-jam tayang dimana anak-anak sulit untuk menghindar
dan tidak mau beranjak dari hadapan televisi, seperti kodrat, putri
cahaya, pinokio, bawang putih-bawang merah, anakmu bukan
anakku, maling kundang, dan banyak lagi sinetron remaja yang
sedang digandrungi seluruh station televisi.
Kekerasan-kekerasan yang ditampilkan oleh televisi itu
sangat berpengaruh terhadap perilaku anak-anak. Televisi akan
membentuk pikiran anak-anak, terutama imagenya tentang
kekerasan. Selain itu, televisi juga mampu mendistorsi jalan pikiran
anak-anak tentang realitas kehidupan sehingga anak-anak mudah
frustasi, kurang bersahabat, dan lebih agresif. Ada beberapa alasan
yang mendasarinya, diantaranya: pertama, sebelum usia tujuh
tahun, anak tidak mampu menghubungkan cerita dari awal hingga
akhir atau tidak memahami alur (plot) cerita. Kedua, anak lebih
mengingat aksi fisiknya dibandingkan dengan percakapan-
percakapan yang ada. Ketiga, sebelum usia lima tahun anak belum

259
Http://[Link]/television, Televisi and Violence

228
mampu membedkan antara hayalan dengan realita, akibatnya anak
mudah sekali untuk berperilaku kekerasan.
Memang harus diakui juga bahwa pada saat ini di beberapa
station televisi sedang maraknya sinetron-sinetron religius.
Keberadaan sinetron ini, paling tidak, dapat meramaikan syiar
Islam dan sekaligus dapat meminimalisir adanya adegan-adegan
kekerasan di televisi. Kita sebagai umat Islam semestinya bersyukur
dan berterima kasih kepada para pengelola station televisi dan
rumah produksi (production house) beserta para aktor/aktris yang
terlibat dalam sinetron-sinetron religius.
Meskipun demikian, ada beberapa hal yang menurut penulis
perlu diperbaiki dan dikembangkan di masa depan. Pertama,
sinetron-sinetron yang ada pada umumnya masih berkutat pada
tema-tema penebalan iman atau penghukuman Allah atas pendosa.
Sayangnya, penebalan iman yang disampaikan hanya dilihat dengan
kacamata hitam putih. Si pendosa mendapatkan hukuman di dunia
ini, biasanya menjelang kematian atau di tempat pemakaman.
Hukuman yang diberikan seakan-akan benar terjadi, padahal dalam
realitas bisa jadi hal tersebut sulit ditemukan keberadaannya.
Apakah benar itu sebuah hukuman Tuhan ataukah itu hanya gejala
alamiah yang disebabkan oleh penyakit yang diderita oleh
makhluknya. Kejadian yang belum jelas dasarnya kemudian
dijustifikasi oleh seorang Ustadz tentang kebenaran cerita tersebut
berdasarkan kutipan ayat atau hadits. Akibatnya penonton
diarahkan pada pemahaman keagamaan yang dangkal dan akal
yang diberikan Tuhan tidak difungsikan secara kritis dan analitis.
Kedua, ada sebagian sinetron yang bersifat sinkretis
(penggabungan unsur mistik dengan unsur agama), terkadang
unsur mistiknya lebih kuat. Sinetron semacam ini sulit untuk
dikatakan bisa menebakan iman seseorang, justru dapat membawa
seseorang kepada jurang kemusyrikan. Banyak cerita-cerita aneh
yang sulit diterima secara logika atau nalar kritis seorang manusia.
Dalam ajaran Islam, aktivitas-aktivitas yang berbau mistik (magic)
dilarang dalam Islam, karena hal tersebut dapat menimbulkan
kemusyrikan.

229
Ketiga, terkadang penonton televisi dipamerkan dengan
akting dari para aktor/aktris sinetron religius yang begitu bagus
keislamannya. Tetapi di tempat yang sama penonton juga
dipamerkan oleh aktor/aktris sinetron religius dengan perilaku
yang justru bersebrangan dengan apa yang dimainkan. Dalam
ungkapan lain, si aktor/aktris dalam sinetron religius bisa jadi
Ustadz, tetapi di luar sinetron bisa jadi “penjahat” atau bisa
mengotori ajaran agama itu sendiri. Jadi masih banyak aktris/aktor
yang hanya memenuhi tuntutan pasar atau rating saja. Mereka
belum menjadikan apa yang diperankannya itu sebagai ekspresi
keimanannya sebagai seorang muslim dalam mengembangkan seni.
Bertitik tolak dari urain di atas, peluang besar menantang kita
sebagai umat Islam untuk mengisi kekosongan-kekosongan atau
kelemahan-kelemahan yang ada. Film-film fiksi (cartoon) anak-anak
yang membawa nuansa sejuk, penuh pendidikan dan memiliki
nilai-nilai keagamaan menjadi lahan empuk untuk dikembangkan.
Begitu juga, film-film/sinetron-sinetron keluarga yang bertitik
tolak dari realitas dan mampu membangkitkan semangat untuk
berusaha keras serta jauh dari aksi-aksi kekerasan.
Berkaitan dengan sinetron religius, masih banyak tema-tema
yang bisa diangkat ke permukaan dan relevan dengan realitas umat
Islam. Kehidupan sosial keagamaan remaja, seorang muslim taat
yang sukses berkarir dari bawah, kehidupan keberagamaan
masyarakat pedesaan yang unik dan bersahaja, santri yang sukses
dalam berwiraswasta, dan sebagainya. Angkatlah tema-tema yang
bisa memotivasi dan menjadi contoh bagi umat Islam untuk
menjadi maju dalam kehidupan dunia dengan tetap memperhatikan
nilai-nilai keislaman dan buatlah alur cerita yang tidak begitu kental
dengan nuansa dakwahnya. Pada prinsipnya nilai-nilai Islam
menjadi warna dalam alur cerita di dalam sinetron. Itulah yang
penulis maksudkan bahwa seni tidak bisa dilepaskan dengan
dakwah. Dalam seni terpancar nilai-nilai Islam sehingga orang
terpanggil untuk mengikuti. Demikian juga, dakwah yang sejuk dan
tidak memaksa merupakan cerminan rasa estetika (seni) yang ada
pada diri da’i yang bisa disalurkan melalui media atau secara
langsung.

230
Untuk terciptanya keinginan tersebut, upaya-upaya yang bisa
dilakukan adalah: Pertama, merubah paradigma dakwah di
masyarakat dengan cara da’i/lembaga dakwah/Perguruan Tinggi
menampilkan atau mensosialisasikan aktivitas-aktivitas dakwah
secara variatif sehingga pemahaman umat tentang dakwah semakin
terbuka. Kedua, mengajak dan memberikan pemahaman keagamaan
kepada para aktor/aktris seniman bahwa mereka adalah bagian dari
umat Islam yang sedang melakukan dakwah kepada para
penonton/pembacanya. Karenanya ekspresi, tutur kata dan
perilakunya dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam
menjalankan kehidupannya.
Ketiga, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang utuh
dan mendalam tentang agama dan media massa. Mengingat antara
media massa dengan agama terjadi interaksi yang kontroversial.
Media massa dengan tuntutan industrialisasi bisa jadi menampilkan
sesuatu yang dianggap “haram” bagi agama. Karenanya sikap
selektif dan menjadi penonton/pembaca akktif (active recipient)
sangat diperlukan di era informasi ini.
Keempat, perlu dibentuk dan difungsikan institusi-institusi
atau komunitas-komunitas/klub-klub yang concern dalam
pengembangan dakwah yang menggunakan media, khususnya
media elektronik. Sebenarnya sudah ada lembaga-lembaga yang
concern di bidang audio-visual seperti komunitas FUN yang
merupakan gabungan dari institusi-institusi: M-Screen (divisi
audio-visual KAMMI), sigma (divisi audio-visual UNJ), mimazah
(mahasiswa/i Islam IKJ), Mer-C, Forum Lingkar Pena, Teater
Kanvas, Teater Bening, dan Lembaga seni Budaya
Muhammadiyah. Lembaga-lembaga semacam ini perlu
diberdayakan dan disupport oleh lembaga atau umat Islam
sehingga menghasilkan karya-karya terbaik untuk pengembangan
Islam.
Kelima, adanya kerjasama yang baik antar
lembaga/komunitas/klub yang concern pada dakwah melalui audio-
visual dan juga kerjasama dengan production house yang telah
memiliki reputasi dan kepedulian terhadap kemajuan bangsa serta
kerjasama dengan lembaga-lembaga lain yang memungkinkan
untuk dilakukan. Keenam, perlu diadakan kegiatan-kegiatan

231
pameran, lomba karya seni (produksi audio-visual), dan kegiatan-
kegiatan lain yang dapat memacu umat Islam untuk berpartisipasi
dan berkreasi. Ketujuh, umat Islam diupayakan memiliki station
televisi yang dapat mengimbangi station-station yang ada.

E. PENUTUP
Sebagai catatan akhir, penulis ingin menyampaikan satu
rumus yang diberikan oleh Malik bin Nabi bahwa untuk tercapai
peradaban masa depan yang gemilang (arah peradaban), kuncinya
adalah adanya prinsip moral plus cita rasa keindahan.260 Prinsip
moral didapat melalui unsur agama yang disebarkan melalui
aktivitas dakwah dan cita rasa keindahan didapat melalui unsur
seni. Keduanya dakwah dan seni dapat berkolaborasi menuju
peradaban yang penuh kedamaian sesuai dengan karakter Islam itu
sendiri. Oleh karena itu, dakwah yang ditampilkan melalui seni,
terutama dalam bentuk film dan sinetron menjadi pilihan alternatif
untuk dakwah di masa depan.
Buku yang ditangan Saudara ini dapat dijadikan salah satu
bahan untuk memperdalam pemahaman tentang dakwah melalui
sinetron dan film. Karenanya, Penulis apresiatif terhadap karya
yang ditulis oleh Saudara Zaenal Arifin. Karya ini memberi
sumbangsih besar dalam pengembangan dakwah melalui film dan
sinetron. Apalagi tokoh yang dibidik dalam karya ini adalah Deddy
Mizwar, seorang senior, penulis, aktor, dan da’i, yang tidak asing
lagi dalam dunia perfilm-an dan sinetron. Karya ini layak untuk
dibaca dan dikritisi agar umat Islam dapat mengambil pelajaran
untuk diterapkan dalam pengembangan dakwah dan juga bisa
mencontoh tokoh yang ditulis ini dalam pengembangan dunia
perfilm-an dan sinetron. Semoga..

260
Malik Bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, Bandung:
Mizan, 1994, hlm. 113

232
KRITIS TERHADAP MEDIA
Tema ini menarik untuk disampaikan karena akhir-akhir ini
peran dan pengaruh media massa begitu dominan dan berdampak
besar bagi kehidupan dan keberlangsungan masyarakat dan bangsa.
Di era globalisasi ini, kehadiran dan peran media massa tidak bisa
kita tolak. Pada era ini, seolah-olah informasi tak perlu lagi dicari,
tapi ia datang layaknya banjir yang tak bisa dihindari
kedatangannya. Surat kabar, majalah, radio, film, televisi, dan
internet semuanya menyuguhkan informasi yang berbeda-beda
dengan pasar yang berbeda-beda pula. Bahkan, Internet sekarang
ini bukan lagi sesuatu yang dianggap sekedar media dalam arti
perantara yang menghantarkan pesan dari satu pihak ke pihak lain.
Jauh lebih dari itu, internet adalah sebuah ruang ekspresi. Ia adalah
rumah, perpustakaan, toko buku, bioskop, televisi, tempat rekreasi,
ruang komunitas, juga sebagai ekspresi keagamaan. Persoalannya
tinggal bagaimana kita sebagai umat Islam menyikapi keberadaan
media massa tersebut?
Kita sebagai umat Islam harus mengakui beberapa sisi
kelemahan yang kita miliki terkait dengan penguasaan informasi
dan hendaknya ke depan perlu menjadi agenda utama kita untuk
terus menerus meningkatkan kemampuan diri dengan cara
menguasai ilmu dan teknologi, sebagaimana pendapat orang bijak
yang menyatakan.

‫ﻣن أراد الدنيﺎ ﻓﻌليه بﺎلﻌلم و ﻣن أراد األخﺮة ﻓﻌليه بﺎلﻌلم و ﻣن أرادهمﺎ ﻓﻌليه بﺎلﻌلم‬
Artinya: Barang siapa yang menghendaki dunia, maka ia hanya
dapat meraihnya dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki akhirat, maka
harus dengan ilmu dan barang siapa yang inginkan kedua-duanya juga harus
dengan ilmu.
Kelemahan yang dimiliki oleh umat Islam: Pertama, Islam
lemah dalam penguasaan IT (informasi teknologi). Pada era
informasi ini, arus informasi dunia dikuasai dan dikendalikan non
muslim yang memandang Islam sebagai musuh yang harus
dihancurkan. Mereka menggunakan sarana informasi untuk
mengangkat isu-isu global dan kepentingan mereka sendiri. Seperti
isu HAM, demokrasi, lingkungan hidup,terorisme, jender, syar’iat

233
islam, khilafah islamiyah yang semuanya itu dijadikan alat
propaganda demi kepentingan mereka.
Sedangkan umat Islam tidak mempunyai media massa yang
memadai untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam
atau membela kepentingan agama dan umat. Akibatnya yang terjadi
tidak tersalurkannya aspirasi umat,umat Islam hanya menjadi
konsumen dan rebutan media massa lain yang tidak jarang
membawa informasi yang tidak seimbang, subjektif dan terkadang
menyesatkan.
Umat Islam kini dibidik oleh media massa yang tidak islami.
Akibatnya umat dikuasai dan dijejali oleh nilai-nilai, budaya,
sekulerisme, materialisme, hedonisme, kekerasan dan sebagainya.
Akibat dari itu, tentunya dapat mempengaruhi pola pikir dan sikap
sehingga lambat laun dapat terbentuk karakter muslim yang
fanatik.
Kedua, adanya pemojokan terhadap Islam, yakni pemberitaan
yang tidak seimbang dan memojokkan islam di dunia internasional.
Agar dunia membenci dan memandang negatif kepada Islam. Di
samping itu, media massa kaum kafir gencar menyosialisasikan
nilai-nilai, pemikiran, dan budaya mereka ke dunia Islam, agar pola
pikir dan gaya hidup umat Muslim bertentangan dengan nilai-nilai
Islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa link media massa, kantor-
kantor berita, surat kabar (pers), penerbitan, jaringan TV, radio
dikuasai oleh orang-orang non muslim, dalam hal ini Yahudi
seperti reuter, jaringan TV internasional (CNN, BBC, CBS, NBS).
Selain itu mereka juga menguasai perusahaan perfilman seperti
FOX Company, Golden Company, Metro Company,Warners &
Broos Company dan Paramount Company serta lain sebagainya.
Melalui media-media tersebut Islam diopinikan negatif. Mereka
menciptakan pendapat umum bahwa Islam dan umatnya sebagai
agama berbahaya, intoleran, anti demokrasi, ortodoks, haus darah
dan entah apalagi melalui media massanya.
Ketiga, Fobia terhadap Islam, yakni adanya pengaruh dari
pemberitaan yang terus memojokkan dan mengopinikan Islam
mengakibatkan terjadinya fobia terhadap Islam. penyakit ini pernah
ditularkan oleh kaum kafir Quraisy. Ketakutan yang menimbulkan
rasa benci terhadap Islam yang berasal dari ketidaktahuan mereka

234
tentang Islam. Dan lebih dari itu mereka khawatir dengan Islam
sebagai agama yang memiliki potensi mengancam kelangsungan
hidup mereka.
Boleh jadi, jika sekarang wajah Islam terkesan menakutkan,
disamping karena banyak umat yang tidak melaksanakan Islam
secara baik dan benar, juga terutama akibat keberhasilan
propaganda kaum Salibis-Zionis lewat jaringan media massa yang
mereka kuasai. Diantaranya dengan mempopulerkan istilah
fundamentalis, radikalis, militant, ekstrimis, bahkan teroris. Hal
seperti inilah yang membangun citra Islam sebagai agama yang
menakutkan.
Dalam konteks keindonesiaan pun, pemberitaan yang
berkembang nampaknya kurang berimbang antara pemberitaan
positif yang mengarah pada penguatan karakter dan pemberdayaan
masyarakat dibandingkan dengan pemberitaan yang mengarah
pada kemaksiatan, gosip, korupsi, dan krisis multidimensi yang
melanda bangsa ini. Masyarakat seakan-akan dibawa ke jurang
kehancuran dan menjadi bangsa yang hilang dari peradabannya.
Ketika berita-berita “negatif” terus dibombardir di masyarakat,
sementara mayoritas penduduk indonesia adalah Islam, maka
secara otomatis umat Islamlah yang akan terkenah getahnya dan
implikasi lebih jauhnya, Islam dianggap sebagai agama yang tidak
mampu memberikan peran dan pengaruh yang signifikan bagi
pemeluknya dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa.
Oleh karena itu, sikap yang perlu dibangun adalah: Pertama,
jadilah pembaca dan penonton yang aktif. Karena kehadiran media
massa tidak bisa ditolak, maka kitalah yang perlu aktif untuk
menyikapi kehadiran media massa. Kitalah yang menentukan
apakah media ini perlu dibaca atau ditonton, dan kitalah yang
memutuskan apakah berita yang ada dapat dijadikan pedoman atau
tidak. Disinilah kita dituntut untuk terus menerus mengkritisi
media massa yang hadir di tengah-tengah kita sekalian. Bisa jadi
berita yang ditampilkan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri
media massa, pemilik media, ideologi yang dibangun oleh media
atau ada pesanan tertentu. Semua itu tentunya membutuhkan
kehati-hatian kita sebagai umat Islam,sebagaimana firman Allah:

235
ِ ‫ق ب ِ ن َ ب َ إ ٍ ﻓ َ ت َ ب َ ي َّ ن ُ ﻮا أ َ ْن ت‬
‫ُص ي ب ُ ﻮا ﻗ َ ْﻮ ًﻣ ﺎ‬ ِ ‫ج ﺎ ءَ ك ُ ْم ﻓ َ ﺎ‬
ٌ ‫س‬ َ ‫ن آ َﻣ ن ُ ﻮا إ ِ ْن‬ َ ‫ي َ ﺎ أ َي ُّ هَ ﺎ ا ل َّ ِذ ي‬
َ
‫ح ﻮا ع َ ل َ ٰى َﻣ ﺎ ﻓ ﻌ َ ل ْ ت ُمْ ن َ ﺎ ِد ِﻣ ي َن‬ ْ ُ ‫ج هَ ﺎ ل َ ةٍ ﻓ َ ت‬
ُ ِ‫ص ب‬ َ ِ‫ب‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar
kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6)

Kedua, kita perkuat terus sumber daya insani umat islam


dengan cara terus belajar ilmu pengetahuan, terutama teknologi
informasi dan media massa serta ikut berpartisipasi dalam mengisi
peran media massa yang lebih islami. Karena media massa
merupakan senjata yang mampu membentuk image agama islam
sebagai rahmatan lil alamin. agama yang toleran, cinta damai, dan
sadar HAM. Firman Allah yang artinya: Katakanlah:"Hai kaumku,
berbuatlah sepenuh kemampuanmu sesungguhnya akupun berbuat (pula).
Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kamu) yang akan
memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang
zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan”. (Q.S. al-An’am 135)
Ketiga, bagi para pelaku dan pemilik media, hendaknya dapat
menampilkan berita-berita yang memiliki karakter yang jelas dan
dapat mendorong umat lebih giat untuk mengisi pembangunan dan
kehidupan yang penuh dengan makna dan nilai-nilai kebaikan.
Perbuatan saudara adalah amal baik saudara yang akan dimintai
pertanggungjawabannya di hari akhir nanti. Bangun bangsa ini
dengan menampilkan citra yang positif, bangsa yang memiliki etos
kerja tinggi, bangsa yang terbaik dalam menjalankan ajaran agama,
dan bangsa yang ramah dan toleran serta bangsa yang cinta pada
perdamaian dan keselamatan dunia.

236
MEMBANGUN ARAH
PENGEMBANGAN
KUALITAS PENYULUH YANG
PROFESIONAL

A. PENDAHULUAN
Secara keilmuan, kondisi dakwah pada masa sekarang ini
diibaratkan seperti “benang kusut” yang sulit sekali untuk
diluruskan dan diorganisir dengan baik. Aktivitas dakwah berjalan
secara stagnan dari waktu ke waktu tanpa mengalami perubahan
yang signifikan. Dakwah tidak dilakukan dari filosofi dakwah yang
jelas, belum ada parameter yang dijadikan alat ukur dari
keberhasilan dakwah yang dilakukan, kode etik dalam berdakwah
belum terumuskan secara operasional, kurang adanya sinergitas
antar organisasi dakwah, dan belum adanya perhatian dari
pemerintah terhadap aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para
da’i.
Implikasi dari kondisi tersebut, tanpa disadari jumlah
pemeluk Islam di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami
penurunan. Jumlah penduduk Islam pada sensus penduduk tahun
1990 sebanyak 87,7% dari total penduduk Indonesia. Pada sensus
penduduk tahun 2000 penduduk yang beragama Islam sebanyak
87,21% dari total penduduk Indonesia dan tahun 2010 penduduk
Indonesia yang beragama Islam menjadi 85,1% dari total
penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 orang. Penulis
belum menemukan hasil penelitian apakah penurunan ini akibat
dari kegagalan dakwah, pindahnya umat Islam ke agama lain,
berkembangnya aliran kebatinan, ataukah karena keberhasilan
pemerintah dalam menekan umat Islam memiliki keluarga kecil,
sementara umat lain tidak melakukannya.
Begitu pula ada fenomena yang menarik setelah adanya
reformasi di Indonesia. Islam yang berkembang di Indonesia dan
menguasai wacana adalah Islam yang radikal dan fundamental.
Islam yang keras terhadap umat di luar Islam dan bahkan terhadap
umat Islam sendiri. Islam yang umatnya menggunakan baju taqwa,

237
memegang tongkat, mulutnya mengucapkan “Allahu Akbar”, tetapi
perilakunya menghancurkan orang-orang yang tidak berdosa,
fasilitas umum dan pusat-pusat perdagangan dan ekonomi. Jika di
Amerika dan negara-negara Eropa, akibat meletusnya peristiwa 11
september 2001 di Amerika yang menghebohkan dunia, banyak
pemeluk di luar Islam yang tertarik terhadap Islam dan telah terjadi
peningkatan secara dramatis penjualan al-Qur’an dan buku-buku
lain tentang Islam setelah serangan itu terjadi. Islam menjadi
fenomena Amerika, dan bahkan bagian dari kebudayaan global.261
Lantas di Indonesia apakah dengan munculnya Islam radikal dan
fundamental ini dapat meningkatkan kualitas atau kuantitas umat
Islam? Saudara-saudara sekalian yang tahu dan dapat memberikan
penilaian tentang hal tersebut.
Islam juga mendapatkan tekanan yang luar biasa dari para
pemeluknya. Islam ibarat daging yang sedang ditusuk duri dari
dalam dirinya. Banyak umat Islam yang mendirikan aliran dan
paham sesat. Mereka mengaku Nabi atau wali yang mendapatkan
ilham dari Tuhan dengan mengacak-ngacak ajaran Islam yang
dicampurbaurkan dengan budaya atau tradisi-tradisi yang
menyimpang dari ajaran Islam. Para pengikutnya seakan ditusuk
mata dan hatinya. Mereka ikut ajaran tersebut bagaikan dihipnotis.
Mereka tidak sadar kalau salah dalam mengikuti ajaran. Dalam
kondisi tersebut, kita tidak bisa menghakimi dan menyalahkan
mereka seratus persen, tetapi perlu mempertanyakan dan
mengevaluasi strategi dakwah yang kita lakukan. Sudahkan dakwah
kita berhasil menyentuh pikiran, hati dan jiwa mereka?
Masih banyak cerita unik dari Islam Indonesia yang dapat
disaksikan dan dialami langsung di lapangan. Penulis tidak bisa
membeberkan secara keseluruhan dalam tulisan yang terbatas ini.
Hal yang terpenting adalah bagaimana persoalan tersebut dapat
diatasi dan bagaimana dakwah Islam di Indonesia dapat dilakukan
secara profesional serta bagaimana mempersiapkan kader-kader
penyuluh yang berkualitas?

261
Zakiyudin Baidhawy, “Dinamika Radikalisme dan Konflik
Bersentimen Keagamaan di Surakarta”, Makalah ACIS ke-10, Banjarmasin 1-
4 November 2010.

238
B. DAKWAH YANG PROFESIONAL
Untuk mengatasi segala persoalan yang menimpa umat islam,
aktivitas dakwah bukanlah satu-satunya alternatif. Banyak elemen
dan sistem kehidupan lain yang terlibat dalam mengatasi persoalan
umat Islam. Bidang politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan
lainnya ikut terlibat dalam mengatasi problem umat Islam. Meski
demikian, tidak berarti aktivitas dakwah diabaikan dan tidak
mendapatkan perhatian dari masyarakat dan pemerintah. Umat
Islam tidak bisa berpikir secara parsial dalam mengatasi persoalan
umat dengan mengutamakan yang satu dan mengabaikan yang lain.
Umat Islam perlu berpikir komprehensif dan dapat
melakukan dialog dengan elemen dan bidang lainnya. Dalam
catatan sejarah pertumbuhan Islam di Indonesia, Islam mampu
berdialog dan melakukan proses akulturasi dengan budaya lokal.
Para penganjur Islam yang datang ke Nusantara menyadari betul
bahwa keberhasilan dakwah Islam bukan terletak bagaimana Islam
dianut oleh sebanyak-banyak penganut, tetapi bagaimana Islam
dapat diterima oleh penduduk yang sebelumnya memeluk agama
Hindu, Budha, atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh sebab itu, berbagai medium sosial-budaya dipergunakan oleh
penyuluh Islam agar agama Islam dapat hidup berdampingan
dengan agama-agama lain yang telah ada sebelumnya. “Islam
Indonesia” adalah Islam berbaju kebudayaan Indonesia, Islam
bernalar Nusantara, Islam yang menghargai pluralitas, Islam yang
ramah dan menghargai kebudayaan lokal.
Jika Islam pada masa awal perkembangannya mampu
melakukan proses akulturasi dengan berbagai medium sosial-
budaya, lantas bagaimana dengan kehadiran Islam pada masa
sekarang? Apakah mampu menyesuaikan perkembangan
masyarakat atau justru ditinggalkan oleh masyarakat. Pada konteks
inilah peran da’i dalam melakukan dakwah secara profesional 262

262
Kata “profesi” berasal dari bahasa Inggris “professional” yang
artinya pekerjaan. Orang yang ahli dalam bidangnya dikatakan profesional,
ini diartikan sebagai pemain bayaran dalam olah raga (pemain profesional).
Sedangkan kata “profesi” berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan
dan keahlian. Konon “profesi” berakar dari tradisi gereja, berasal dari kata
professio, yang artinya sumpah atau ikrar yang dilakukan oleh para calon

239
amat dibutuhkan. Harus diakui bahwa problem dan tantangan
dakwah pada masa sekarang jauh lebih kompleks dibandingkan
dengan dakwah pada masa awal perkembangannya di Indonesia.
Sementara metode dakwah yang dijelaskan al-Qur’an dan al-Hadits
dari dulu hingga sekarang sama saja. Oleh karena itu, dibutuhkan
adanya semangat dan kreativitas dari para da’i untuk meng-create
metode dakwah yang amat dibutuhkan oleh masyarakat sehingga
dakwah bisa dilakukan secara profesional.
Agenda dakwah ke depan yang memerlukan penangan secara
profesional dan membutuhkan keseriusan dari para da’i untuk
mewujudkannya adalah:
1. dakwah tabligh menuju dakwah riset dan aksi.
2. dakwah teks-normatif menuju dakwah sosial-kemasyarakatan.
3. dakwah individual dan komunal menuju dakwah organisasional
dan institusional.
4. Dakwah struktural menuju dakwah yang multikultural.
5. Dakwah yang bersifat verbalistik menuju pada social welfare
(kesejahteraan sosial)

Profesionalisme dalam pekerjaan merupakan sebuah


keharusan. Jika pekerjaan dilakukan secara tidak profesional,
hasilnya pun kurang sempurna dan kurang berkualitas. Rasulullah
saja mengajarkan kepada umatnya agar menyembelih binatang
hendaknya dilakukan secara ahsan atau profesional. Apalagi
dengan dakwah yang memiliki tanggung jawab yang besar, tentu
profesionalisme amat diperlukan.
Dakwah yang profesional adalah dakwah yang dilakukan
oleh seorang yang memiliki keahlian (expertise) baik secara teoritis
maupun praktik,263 dapat dipertanggungjawabkan dakwahnya

biarawan sebelum melaksanakan pekerjaan pelayanan kepada umat. Intinya,


mereka berikrar akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencintai
pekerjaan itu, dan mengabdikan manfaat pekerjaan itu untuk kepentingan
kemanusiaan. Lihat Abdul Basit, Wacana Dakwah Kontemporer,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar & STAIN Press), 2006, hal. 56.
263
keahlian adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu pekerjaan
tertentu yang agar bisa menguasainya seseorang harus menempuh pendidikan
dan latihan khusus, dalam waktu yang relatif lama dengan tingkat kesulitan
yang tinggi.

240
secara sosial dan agama, memiliki kesejawatan (perkumpulan), dan
berdasarkan panggilan jiwa.
Penjelasan tentang dakwah yang profesional dapat
diturunkan dari sumber ajaran Islam yakni al-Qur’an dan al-Hadits.
Di dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122 yang artinya:
“Tidaklah semestinya kaum beriman pergi seluruhnya ke medan perang.
Mengapa tidak ada sekelompok di antara yang mendalami agama dan
memberikan peringatan kepada kaumnya manakala mereka pulang ke
tengah mereka, kiranya mereka bersikap waspada”. Ayat ini menjelaskan
bahwa ada sebagian kelompok yang mendalami agama sehingga ia
menjadi seorang yang ahli. Ayat ini juga memperkuat ayat perintah
dakwah dalam surat al-Imran ayat 104 yakni “Dan hendaklah ada di
antara kamu sebagian umat yang mengajak kepada jalan kebaikan,
memerintahkan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran, mereka itulah
orang-orang yang beruntung”.
Maududi memandang kewajiban amr al-Marûf wa al-Nahy al-
Munkar berkaitan dengan derajat keimanan seseorang. Dengan
berpikir analogis, Maududi membandingkan derajat keimanan
seseorang dengan salju/api. Salju pada esensinya disifati dengan
sifat dingin (kesempurnaan pertama) dan sifat dingin ini bisa
menularkan kepada lainnya (kesempurnaan kedua). Demikian pula
orang mukmin yang keimanannya melekat secara sempurna di
dalam ketaatannya kepada kebenaran, maka ia mencapai
kesempurnaan pertama. Kemudian apabila kesempurnaan pertama
ini diwujudkan dalam bentuk mengajak kepada orang lain untuk
mencapai kebenaran dan ketaatan kepada Allah, maka ia telah
mencapai kesempurnaan yang kedua. Dengan perkataan lain,
Maududi ketika menafsirkan surat al-Imran ayat 104, ia melihat
bahwa kewajiban amr al-Marûf wa al-nahy al-Munkar merupakan
upaya lebih lanjut dari kewajiban individu dalam ayat sebelumnya,
yakni taqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan taat
kepada hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan hingga akhir
hayatnya serta berpegang teguh kepada tali (agama) Allah 264.
Sementara, hadits Nabi yang menekankan “segala perbuatan
tergantung pada niatnya” dan “barang siapa melakukan pekerjaan
264
Maududi. Mafâhîm Islâmiah Hawl al-Dîn wa al-Daulah. (Kuwait :
Dar al-Qalam Linnasr wa al-Taujî), 1994, hal. 84.

241
tanpa membaca basmalah, maka pekerjaan tersebut akan terputus
atau sia-sia” menunjukkan bahwa segala perbuatan kita harus dapat
dipertanggungjawabkan secara sosial dan agama. Da’i yang
melakukan kegiatan dakwah hendaknya dapat
mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilakukannya.
Dakwah yang profesional tidak hanya ditentukan oleh
kualitas da’i saja, melainkan banyak faktor yang mempengaruhinya,
diantaranya penghargaam masyarakat terhadap aktivitas dakwah.
Menurut Komaruddin Hidayat, penghargaan masyarakat terhadap
profesi dakwah masih rendah. Beliau mencontohkan secara
karikatur, jika guru privat bahasa Inggris, matematika atau piano
datang ke rumah melalui pintu depan, tetapi kalau yang datang
guru ngaji masuknya lewat pintu samping.265 Bahkan, tidak jarang
para penceramah, khotib dan guru ngaji di berbagai daerah dihargai
oleh masyarakat hanya dengan ucapan “terima kasih”.
Faktor lain yang mendukung dakwah profesional adalah
adanya kebijakan dan dukungan dari pemerintah terhadap aktivitas
dan gerakan dakwah. Dulu sebelum ada sertifikasi guru banyak
orang yang tidak mau menjadi guru karena takut jadi “Umar
Bakri”. Para praktisi dan ilmuwan pendidikan selalu bersuara,
“mana mungkin guru menjadi profesional dalam mengajar jika
kesejahteraan guru tidak mendapatkan jaminan hidupnya”.
Karenanya para guru banyak yang “ngamen” di berbagai lembaga
pendidikan lain atau “nyambi” pekerjaan lain di luar bidangnya.
Walhasil, guru masuk ke ruang kelas tanpa ada persiapan
pembelajaran. Semuanya dilakukan secara mendadak dan
mengandalkan buku teks. Kurang ada kreasi dan inovasi dalam
penyiapan pembelajaran. Setelah ada sertifikasi guru, banyak
masyarakat yang tertarik untuk menjadi guru dan paling tidak guru-
guru yang biasanya banyak “ngamen” atau “nyambi” mulai fokus
pada pekerjaannya sehingga kualitas pembelajaran dapat
ditingkatkan.
Kondisi yang sama juga terjadi pada kegiatan dakwah. Ketika
pemerintah tidak memperhatikan aktivitas dakwah, banyak orang
yang tidak mau masuk dalam lembaga pendidikan dakwah dan bisa
265
Komaruddin Hidayat, Wahyu Di Langit Wahyu Di Bumi,
(Jakarta: Paramadina), 2003, hal. 205.

242
jadi orang yang terjun di dunia dakwah hanya mengisi kekosongan
waktu yang tersisa dari pekerjaan lain. Implikasinya, dakwah yang
dilakukan tidak terrencana dengan baik, materinya diputar seperti
“kaset” di berbagai daerah lokasi yang berbeda tanpa
memperhatikan perbedaan psikologis dan sosiologis masyarakat.

C. KOMPETENSI PENYULUH AGAMA ISLAM


Pintu gerbang menuju dakwah yang profesional salah
satunya terletak pada kualitas da’i. Peran da’i dalam kegiatan
dakwah bukan hanya sebagai transfer of knowledge, melainkan juga
sebagai dinamisator, problem solver, motivator, dan teladan umat.
Oleh karena itu, kualitas da’i perlu ditingkatkan kompetensi yang
dimilikinya.
Kompetensi diperoleh melalui proses pembelajaran, usaha
keras dan melalui pengalaman seperti yang disampaikan oleh Lucia
& Lapsinge (1999) “A competence is build on the foundation of inherent
talent and incorporating the types of skill and knowledge that can be acquired
through learning, effort, and experience. The all innate and acquired abilities
manifests in a specific set of behaviors.”
Adapun kompetensi yang harus dimiliki seorang da’i atau
penyuluh agama266 adalah sebagai berikut:267

266
Dalam Himpunan Peraturan Tentang Jabatan Fungsional Penyuluh
Agama dan Angka Kreditnya pasal 1 di sebutkan bahwa “Penyuluh Agama
adalah Pegawai negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang
dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan
bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan kepada masyarakat
melalui bahasa agama”. Dalam tulisan ini, penyuluh agama diartikan sebagai
bagian dari da’i karena penyuluh lebih menekankan pada aktivitas dakwah
yang bersifat verbal. Namun, kompetensi yang dimiliki antara da’i dengan
penyuluh agama pada dasarnya sama saja.
267
Kompetensi ini penulis modifikasi dari pendapat al-Bayanuni
tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang da’i yaitu: memiliki
keimanan yang mendalam, menjalin hubungan yang baik dengan mad’u,
memiliki ilmu dan wawasan yang luas, mengamalkan ilmu dan istiqomah di
jalannya, memiliki pemahaman yang sempurna, bijaksana dalam berdakwah,
memiliki akhlak yang baik, berprasangka baik terhadap umat Islam, menutup
aib orang lain, mampu membedakan antara yang bathil dengan yang baik,
mengenal obyek dakwah, saling tolong menolong, bermusyawarah dan saling

243
1. Kompetensi Personal
Kompetensi personal lebih menekankan pada
kemampuan yang berkenaan dengan moralitas dan
kemampuan intelektual. Secara moralitas, penyuluh agama
hendaknya memiliki performance dan sikap yang menarik.
Penyuluh agama harus memiliki kesadaran pada dirinya
bahwa dirinya merupakan seorang prominent figure di kalangan
masyarakat karenanya segala tutur kata, sikap, dan
perilakunya menjadi sorotan dari seluruh masyarakat.
Menumbuhkan kesadaran diri dapat dilakukan dengan cara
muhasabah (diri cermin)268, meminta kepada orang lain yang
dapat dipercaya untuk menilai diri penyuluh agama tersebut
seperti yang dilakukan oleh para Sahabat Rasulullah dengan
membentuk dua saudara, atau mengikuti training motivasi
(achievment training) seperti ESQ Training.
Kemampuan moralitas mengantarkan setiap pribadi
membina tata pergaulan yang seimbang antara hak dan
kewajiban, antara individu, keluarga dan masyarakat; antara
hamba Allah dan khaliknya; antara kebutuhan rohani dan
jasmani; antara tradisi, budaya dan transformasi; dan antara
sebagai warga negara dan sebagai pemeluk agama yang
taat.269 Sedangkan kemampuan intelektual akan
mengantarkan penyuluh agama pada kemampuan
beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi, seperti
pemanfaatan teknologi informasi dalam setiap kegiatan

menasehati. Al-Bayanuni, Al-Madkhal ila ‘ilm al-Da’wah, (Beirut:


Muassasah al-Risalah), 1991, hal. 155-166.
268
Diri cermin adalah istilah yang diperkenalkan oleh Charles
Horton Cooley (1922) dengan istilah looking-glass self dengan cara kita
membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain, kita membayangkan
bagaimana orang lain menilai penampilan kita, dan kita mengalami perasaan
bangga atau kecewa, orang mungkin merasa sedih atau malu. Lihat Joseph A.
Devito, The Interpersonal Communication Book, (New York: Longman),
2001, hal. 60.
269
Fadhal AR Bafadal, “Strategi Pengembangan Peran Pemuda:
Moralitas, Intelektualitas, Pribadi, Sosial, dan Profesional”, dalam Fadhal AR
Bafadal, Pemuda dan Pergumulan Nilai Pada Era Global, (Jakarta:
Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan), 2003, hal. 65.

244
dakwah. Di samping itu dengan kemampuan intelektual,
penyuluh agama memiliki kreativitas dalam menjalani
aktivitas kedakwahan dan dalam mempersiapkan masa
depan.

2. Kompetensi Sosial
Keyakinan agama seringkali kurang dirasakan
dampaknya di masyarakat. Terbukti ketika semarak
keagamaan tampak sangat ramai pada satu sisi, tetapi
penyakit sosial tak kalah meningkatnya di sisi lain. Seperti
gejala kemiskinan, pengangguran dan kekerasan atas nama
agama. Peningkatan angka-angka setiap tahunnya dari
variabel-variabel tersebut seakan semakin memperlihatkan
bahwa tingkat keberagamaan masyarakat belum berbanding
lurus dengan tingkat kepedulian sesama. Padahal dalam
ajaran Islam, keyakinan agama atau akidah perlu
diaplikasikan dalam kesalehan sosial atau tauhid sosial.
Menurut Amin Abdullah, isu-isu sosial kemanusiaan tidak
dapat ditangani hanya lewat pemahaman akidah atau
keyakinan agama yang lebih menekankan pada kesalehan
individual, melainkan dengan upaya-upaya praksis yang
mengarah pada keselamatan sosial.270
Untuk itulah penyuluh agama perlu mengambil peran
tersebut dalam bentuk kesadaran sosial (social awareness).
Karakteristik saleh sosial digambarkan dalam pribadinya
yang pemurah dan bijak terhadap setiap kenyataan yang
dihadapinya serta memiliki sikap simpati dan empati. Dia
tidak hanya sibuk dengan aktivitas keagamaannya dalam
mencari pahala Tuhan, tapi juga sibuk dengan beramal bagi
masyarakat. Selain kesadaran sosial, penyuluh agama juga
dapat mengambil peran dalam bentuk keahlian sosial.
Keahlian sosial diwujudkan dalam bentuk kemampuan
membangun tim dan menjalin interaksi secara konstruktif.
Dengan kemampuan ini, dalam diri penyuluh agama akan
tumbuh sikap kepemimpinan yang baik, keahlian dalam
270
Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural, (Bandung: Mizan),
2000, hal. 66.

245
hubungan interpersonal, intim dan dapat dipercaya, mampu
mengatur konflik, dan aktif mendengar berbagai keluhan dan
masukan serta berbagai keahlian sosial lainnya. Memiliki
kesadaran sosial dan keahlian sosial inilah yang dimaksudkan
seorang penyuluh agama memiliki kompetensi sosial.

3. Kompetensi Substantif
Kompetensi substantif berkenaan dengan kemampuan
penyuluh agama dalam penguasaan terhadap pesan-pesan
atau materi-materi yang akan disampaikan kepada objek
dakwah.271 Dalam hal ini, penyuluh agama harus memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas tentang Islam baik yang
menyangkut akidah, syari’ah maupun muamalah. Materi-
materi pokok tersebut dikemas dalam bahasa yang mudah
dipahami dan dikembangkan dengan menggunakan
pendekatan ilmu-ilmu sosial serta memanfaatkan
perkembangan teknologi informasi.
Penyuluh agama jangan merasa puas dan cukup dengan
keilmuan yang dimilikinya sekarang. Ilmu senantiasa
mengalami perkembangan sesuai dengan tingkat kebutuhan
masyarakat yang notabene mengalami perkembangan sesuai
dengan tuntutan zaman dan situasi yang terus berubah dari
waktu ke waktu, bahkan dari menit ke menit. Ruang lingkup
perubahan dalam masyarakat amat luas. Ia dapat mengenai
nilai, norma, pola perilaku, organisasi, lembaga sosial,
kekuasaan, interaksi sosial dan sebagainya. 272
Apalagi melihat kecenderungan masyarakat sekarang ini
dan pada masa depan yang lebih berorientasi pada
pemenuhan kebutuhan hidupnya dengan menggunakan cara
berfikir rasional dan pemanfaatan teknologi tinggi. Dalam
hal ini, penyuluh agama tidak hanya dituntut untuk
menguasai ilmu-ilmu yang berbasiskan agama saja, melainkan

271
Abdul Munir Mulkhan, Ideologisasi Gerakan Dakwah,
(Yogyakarta: SI Press), 2002, hal. 234.
272
Sidi Gazalba, Islam dan Perubahan Sosiobudaya, (Jakarta:
Pustaka al-Husna), 1983, hal. 17.

246
juga ilmu-ilmu dasar yang mendukung kebutuhan hidup
manusia seperti ilmu ekonomi, politik, psikologi, dan
sosiologi. Penyuluh agama dituntut bagaimana mengaitkan
ilmu-ilmu agama yang dimiliki dengan ilmu-ilmu lainnya atau
mengaitkan dengan tema-tema yang sedang up to date seperti
tema demokrasi, global warming, HAM, good governance,
masyarakat madani dan sebagainya. Dengan cara tersebut
tidak lagi terkesan penyuluh agama hanya menyampaikan
materi-materi dakwah yang tidak jauh dengan surga dan
neraka atau objek dakwah menjadi enggan untuk menghadiri
majlis ta’lim/pengajian karena materinya tidak berhubungan
langsung dengan kebutuhan masyarakat pada era kekinian.
Sebenarnya untuk mendapatkan materi-materi dasar
yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia tidak harus
melalui pendidikan formal yang tinggi, tetapi jika
memungkinkan memang lebih baik. Penyuluh agama dapat
memanfaatkan buku-buku bacaan, majalah-majalah,
menonton televisi, mendengarkan radio, dan bisa mengikuti
forum-forum diskusi. Walhasil, penyuluh agama dituntut
untuk banyak membaca buku/majalah/artikel dan
lingkungan sebagai sumber utama dalam menyampaikan
pesan-pesan dakwahnya.
4. Kompetensi Metodologis
Kompetensi metodologis berkenaan dengan
kemampuan dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah
secara efektif dan efisien. Penyampaian yang efektif, menurut
Jurgen Hubermas, harus mencapai kesepakatan mengenai
klaim-klaim validitas (claim validity) antara seorang pelaku
dakwah dengan objek dakwah. klaim validitas tersebut
mencakup ”klaim kebenaran” (claim of truth), yaitu
kesepakatan tentang dunia alamiah dan objektif, ”klaim
ketepatan” (claim of rightness), yaitu kesepakatan tentang
pelaksanaan norma-norma dalam dunia sosial dan ”klaim
autentisitas” (claim of sincerety), yaitu kesesuaian antara dunia

247
batiniah secara intersubjektif dalam lingkungan sosial
tertentu.273
Dengan menggunakan terminologi claim validity dari
Habermas ini, maka penyampaian pesan dakwah perlu
dirubah dari bentuk komunikasi dogmatik ke dalam bentuk
komunikasi intersubjektif yang bersifat emansipatoris. Di
sini, pelaku dakwah jangan memperlakukan objek dakwah
bagaikan wadah kosong yang harus diisi perangkat keyakinan
dan nilai moral dalam praktek kehidupan, tanpa memberi
kesempatan kepada objek dakwah untuk memahaminya
secara kritis.274 Dengan kata lain, pelaku dakwah dan objek
dakwah harus sama-sama aktif memahami pesan-pesan
moral yang disampaikan Tuhan melalui Rasul-Nya.
Dalam konteks sosio kultural, proses dakwah harus
mampu mengembangkan humanisasi umat yang telah
terjebak dalam suasana fatalistik. Dakwah harus diarahkan
untuk menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang
memiliki potensi untuk menjadi pelaku dakwah bagi dirinya
sendiri, dan bukan menumbuhkan pemahaman bahwa objek
dakwah itu lemah sehingga ia menjadi sasaran transfer
pengetahuan dan nilai dari seorang pelaku dakwah. Jadi,
dakwah dapat dilakukan melalui proses dialog untuk
menumbuhkan kesadaran akan potensi objek dakwah
sebagai makhluk kreatif, yang berkemampuan untuk
mengelola diri dan lingkungannya. Dengan demikian, esensi

273
Ketiga klaim tersebut memiliki validitas masing-masing yang
secara berutut-turut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, validitas
objektif (objective validity) bahwa apa yang saya katakan benar atau sesuai
dengan fakta (what I say is true or in line with the facts). Kedua, validitas
subjektif (subjective validity) bahwa saya sedang berkata tentang apa yang
benar-benar saya pikirkan (I am saying what I really think) Ketiga, validitas
intersubjektif (intersubjective validity) bahwa saya sedang mengerjakan
sesuatu yang benar bagi saya dalam lingkungan tertentu (I am doing
something that it is right for me to do in this circumstance). Lihat Jürgen
Habermas, The Theory of Communicative Action, Volume 1 (Boston: Beacon
Press), 1987, , hal. 319-328.
274
Lihat Mansour Fakih, “Dakwah : Siapa Yang Diuntungkan?”
dalam Pesantren, No. 4/Vol. IV/1987, hal. 9.

248
dakwah bukan mencoba merubah masyarakat, tapi
menciptakan kesempatan bagi masyarakat untuk merubah
diri dengan kesadaran dan pemahamannya terhadap masalah
yang mereka hadapi.275

Penyuluh agama yang memiliki kompetensi metodologis ditandai


dengan kemampuan:
a. berkomunikasi
Komunikasi adalah proses penciptaan makna antara dua
orang atau lebih lewat penggunaan simbol-simbol atau tanda-
tanda. Keberhasilan atau efektivitas komunikasi berbanding
lurus dengan derajat kesamaan atau kesesuaian makna yang
tercipta di antara para pesertanya. Komunikasi efektif bila
makna yang tercipta relatif sama atau bila hasil komunikasinya
relatif sesuai dengan yang diinginkan komunikator. Inti dari
proses komunikasi adalah persepsi, yakni proses internal yang
menentukan manusia untuk memilih, mengevaluasi,
mengorganisasikan dan menafsirkan rangsangan dari
sekitarnya. Dalam kenyataan, tidak ada dua manusia yang
mempunyai pengalaman (rujukan nilai) yang persis sama,
maka tidak ada dua manusia yang mempunyai persepsi sama
terhadap suatu rangsangan. Oleh karena itu, tidak ada
komunikasi yang 100% efektif. Efektivitas berada dalam suatu
continuum antara 0% hingga 100%.276
b. Mengenal kebutuhan objek dakwah
Sekurang-kurangnya penyuluh agama dalam menyampaikan
pesan-pesan harus memperhatikan kebutuhan psikologis dan
sosiologis dari objek dakwah. Lebih baik lagi apabila penyuluh
agama dapat mengenali karakteristik dari objek dakwah seperti

275
Ilyas Supena, “Pengembangan Ilmu Dakwah Dalam Perspektif
Filsafat Ilmu Sosial”, Makalah dipresentasikan dalam semiloka nasional:
pengembangan keilmuan dakwah dan prospek kerja, yang diselenggarakan
oleh Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang pada tanggal 19-20
Desember 2008.
276
Deddy Mulyana, Nuansa-Nuansa Komunikasi Meneropong
Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer, (Bandung:
Remaja Rosdakarya), cet. Ke-1, 1999, hal. 49-50.

249
tingkat pendidikan, ideologi yang digunakan, sistem nilai/
tradisi yang dipakai, dan pemahaman keagamaannya.
Pengenalan ini dimaksudkan agar apa yang disampaikan
penyuluh agama dapat diterima oleh objek dakwah dan dapat
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
c. Menggunakan Teknologi Informasi.
Dalam era globalisasi informasi seperti sekarang ini,
perkembangan di bidang teknologi informasi (komputer dan
telekomunikasi) sedemikian pesatnya sehingga kalau
digambarkan secara grafis, kemajuan yang terjadi terlihat
secara eksponensial dan tidak ada yang dapat menahan lajunya
perkembangan teknologi informasi.277 Amat disayangkan
manakala kemajuan teknologi informasi ini tidak dimanfaatkan
untuk kepentingan dakwah. Apalagi dalam realitas sekarang
ini, hampir sebagian besar masyarakat telah memiliki peralatan
teknologi informasi, baik komputer, internet, hand phone, dan
sebagainya. Ibaratnya, dunia masyarakat sekarang ini adalah
dunia teknologi informasi. Masyarakat akan dianggap “kuper”
(kurang pergaulan) atau “gaptek” (gagap teknologi) apabila
tidak mempunyai peralatan teknologi informasi.

D. PENINGKATAN KUALITAS PENYULUH AGAMA


ISLAM
Ada beberapa langkah konkrit yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kualitas dan kompetensi dari penyuluh agama.
Pertama, mempersiapkan in put penyuluh agama yang
berkualitas dengan melakukan kerjasama intensif antara Perguruan
Tinggi Agama Islam, kementerian Agama, organisasi dakwah dan
masyarakat.
Kedua, pemetaan terhadap latar belakang pendidikan para
penyuluh agama. Peninjauan dari latar belakang pendidikan ini
dipandang perlu dilakukan karena masih banyak penyuluh agama
Islam fungsional yang latar belakang pendidikannya belum sesuai
dengan kualifikasi. Hal ini mungkin terjadi karena sebagian dari
mereka ada yang berasal dari penyuluh honorer yang kemudian
277
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana), cet.
Ke-3, 2008, hal. 143.

250
melakukan pemberkasan untuk diangkat sebagai CPNS. Pemetaan
ini diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan
proses pendidikan dan pelatihan serta sebagai bahan evaluasi untuk
pengangkatan penyuluh agama berikutnya.
Ketiga, membuat standarisasi kemampuan dasar bagi para
penyuluh agama, seperti mampu membaca al-Qur’an secara tartil
dan mengenal hukum tajwidnya, memiliki hapalan surat-surat
pendek dan hadits-hadits singkat serta do’a-do’a harian, bisa
khutbah jum’at atau bisa mengisi pengajian, memiliki pengetahuan
dasar tentang fiqh ibadah dan muamalah, dan sebagainya.
Standarisasi ini amat penting agar citra dan peran penyuluh agama
dapat diperhitungkan oleh masyarakat.
Keempat, para penyuluh agama diwajibkan untuk memiliki
kelompok binaan tetap yang secara rutin disuluh dan dibimbing.
Hasil penyuluhan dan materi yang disampaikan hendaknya dibuat
laporan rutin sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Fungsi
utamanya agar para penyuluh agama terus menerus belajar
meningkatkan pengetahuan dirinya dan sekaligus memiliki
pengalaman dalam menyampaikan ajaran Islam.
Kelima, ada pelatihan intensif dan berjenjang bagi para
penyuluh agama agar mereka memiliki kemampuan teknis,
manajerial, metodologis dan substantif. Pelatihan ini berfungsi
untuk memotivasi semangat, menambah wawasan dan ketrampilan,
menjalin kerjasama dan berbagai fungsi lainnya.
Keenam, ada koordinasi antara penyuluh yang satu dengan
yang lainnya. Jauh lebih baik apabila ada komunitas atau organisasi
penyuluh agama sehingga bisa merencanakan kegiatan dakwah
secara profesional. Dengan adanya organisasi kegiatan penyuluh
agama tidak hanya verbalistik, tetapi bisa melakukan kegiatan-
kegiatan lain yang lebih menyentuh pada kesejahteraan sosial.
Koordinasi juga bisa diperluas dengan para penyuluh agama lain
sehingga terjadi toleransi dan saling memahami antara agama satu
dengan agama lain.
Ketujuh, membuat peta dakwah agar kondisi sosiologis,
ideologi dan pemahaman masyarakat dapat diketahui lebih awal.
Dengan cara ini akan memudahkan penyuluh agama dalam
menggunakan metode dakwahnya. Penyuluh agama dapat

251
mengetahui mana basis yang awam terhadap agama, memiliki
pemahaman yang tinggi, daerah rawan konflik, dan sebagainya.
Kedelapan, adanya kebijakan dan dukungan kuat dari
pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan kegiatan
dakwah dan pada peningkatan kesejahteraan para penyuluh agama.
Mereka dilibatkan untuk mendukung proses pembangunan melalui
bahasa agama, tetapi para penyuluh agama kurang mendapatkan
penghargaan dari pemerintah maupun masyarakat.

E. PENUTUP
Dari paparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa untuk
meningkatkan kualitas penyuluh agama yang profesional
dibutuhkan: Pertama, kesadaran dan komitmen dari para penyuluh
untuk terus menerus meningkatkan kualitas dirinya. Kedua, sistem
dakwah yang digunakan oleh penyuluh hendaknya dibangun dari
landasan keilmuan yang kokoh. Ketiga, adanya dukungan yang kuat
dari pemerintah dan masyarakat terhadap peran dan eksistensi
penyuluh agama. Jika ketiga hal ini berjalan secara sinergis dan
fungsional, insya Allah dakwah di Indonesia dapat berjalan secara
profesional.

252
MANAJEMEN LEMBAGA
DAKWAH

PENDAHULUAN
Dalam era globalisasi dan era informasi seperti sekarang ini,
perubahan masyarakat begitu cepat. Dari waktu ke waktu, jam per
jam, dan bahkan detik perdetik, masyarakat senantiasa mengalami
perubahan. Dulu orang belanja ke pasar dengan jalan kaki yang
cukup jauh. Sekarang hampir setiap lingkungan ada pusat
perbelanjaan, seperti indomaret, alfamart, dan sebagainya. Bahkan,
kalau tidak ada waktu untuk belanja, sekarang ini banyak orang
belanja hanya pesan melalui Handphone atau pesan melalui e-mail di
internet.
Perubahan yang ada pada masyarakat bukan hanya
menyangkut kegiatan di bidang ekonomi saja, melainkan telah
merambah pada seluruh lini kehidupan manusia. Implikasi dari
perubahan yang ada tidak saja membawa pengaruh pada
performance, pola pikir dan gaya hidup (lifestyle), melainkan juga
berimbas pada perubahan cara beragama di kalangan masyarakat.
Belajar al-Qur’an, pada zaman dahulu, biasanya langsung
melalui guru-guru ngaji yang ada di lingkungannya. Sekarang ini,
masyarakat belajar mengaji al-Qur’an, selain dengan guru-guru
ngaji, bisa juga belajar langsung melalui kaset, komputer, dan
internet. Demikian juga, dalam mencari hadits-hadits atau materi-
materi keagamaan, orang-orang sekarang lebih banyak
memanfaatkan CD-room dan perangkat internet.
Adanya perubahan cara beragama pada masyarakat dewasa
ini merupakan tantangan dan sekaligus tuntutan bagi para aktivis
organisasi dakwah untuk menyesuaikan perkembangan tersebut.
Para aktivis perlu mengkemas dakwah secara profesional dan
modern. Jika tidak, dakwah akan ditinggalkan oleh jama’ahnya dan
Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin akan kehilangan daya
tariknya.

253
WACANA GERAKAN DAKWAH DI KALANGAN
PEREMPUAN
Kesetaraan gender menjadi wacana penting di kalangan
intelektual di Timur Tengah sejak awal abad ke-19. Qasim Amin,
salah seorang pioner kebangkitan intelektual Arab menunjukkan
keprihatinan terhadap posisi perempuan. Dia mengatakan ”Islam
declared women’s freedom and emancipation, and granted women all human
rights during a time when women occupied the lowest status in all societies”.
(dikutip dari Charles Kurzman, 2002:64). Setelah Qasim Amin,
bermunculan intelektual Muslim lain yang memiliki keprihatinan
terhadap posisi perempuan. Gema keprihatinan itu secara
berkelanjutan mengalami perkembangan sejalan dengan munculnya
gerakan feminisme dan ide-ide kesataraan gender (gender equality) di
belahan dunia Barat.
Wacana ini terus mengalami pertumbuhan di Timur Tengah
dan negara-negara Islam lainnya, termasuk Indonesia. Pada tahun
1980-an, di Indonesia tumbuh gerakan gender dan pembangunan
(Gender and Development yang disingkat GAD). Gerakan ini
mengembangkan strategi PUG (pengarusutamaan gender) yang
bertujuan menjadikan gender sebagai arus utama (mainstream)
dalam pembangunan dengan sasaran utama kebijakan negara, aksi
masyarakat, serta institusi negara dan masyarakat.
Di kalangan NU, wacana kesetaraan gender dan pemberdayaan
perempuan mengemuka pada Musyawarah Nasional Alim Ulama
NU di Lombok tahun 1997. Dalam munas tersebut melahirkan
keputusan:
1. Islam mengakui eksistensi perempuan sebagai manusia yang
utuh dan karenanya patut dihormati.
2. Islam mengakui hak perempuan sama dengan hak laki-laki
dalam hal pengabdian kepada agama, nusa, dan bangsa.
3. Islam mengakui adanya perbedaan fungsi antara laki-laki dan
perempuan yang disebabkan karena perbedaan kodrati.
4. Islam mengakui peran publik perempuan di samping peran
domestiknya.
5. ajaran Islam yang menempatkan perempuan pada posisi yang
setara dengan laki-laki itu dalam realitasnya telah mengalami

254
distorsi akibat pengaruh kondisi sosial dan budaya. (Hamidah,
2006)

Keputusan ini merupakan keputusan strategis yang


menguntungkan bagi upaya pemberdayaan perempuan di
lingkungan organisasi perempuan, termasuk organisasi dakwah
seperti Muslimat dan Fatayat. Organisasi ini dapat menurunkan
program-program riil dalam kehidupan kaum perempuan di
Indonesia.
Fenomena yang ada di kalangan perempuan Nahdiyin yang
notabene berbasis masyarakat desa, banyak yang belum memahami
tentang hak-hak yang mesti diterima sebagai perempuan. Perlakuan
kasar dan semena-mena dari laki-laki, dipandang sebagai bagian
dari kodrat yang mesti diterimanya. Mereka tidak bisa berbuat apa-
apa, dia hanya pasrah dan mengadu kepada sang kholik. Kalaupun
perempuan itu tahu bahwa perlakuan kasar itu bertentangan
dengan Islam, lantas apa ada organisasi Islam yang peduli dengan
persoalan yang menimpanya.
Perempuan-perempuan Nahdiyin juga banyak yang datang
ke majelis-majelis ta’lim dan forum-forum ilmiah, tetapi mereka
lebih banyak berbicara tentang kehidupan akhirat. Kalaupun
berbicara tentang masalah hidup lebih banyak retorika dan bersifat
abstrak. Mereka tidak banyak tahu kalau saudaranya sesama
muslim yang menjadi anggota pengajian tersebut tidak mampu
menyekolahkan anaknya, tidak bisa membelikan baju seragam, dan
terkadang tidak bisa makan. Bahkan, lebih tragis lagi, para ibu-ibu
atau remaja putri sering ikut pengajian, tetapi mereka tidak bisa
membaca al-Qur’an dan tidak tahu mana yang termasuk rukun
shalat dan sunat shalat.
Fenomena lain yang menjadi pemandangan kita sehari-hari,
banyak waktu yang dihabiskan oleh kaum hawa ini dengan
percuma. Mereka hanya jalan sana jalan sini tanpa ada tujuan yang
jelas. Terkadang mereka hanya ”ngerumpi” untuk menghilangkan
kepenatan dalam rumah tangga. Kondisi demikian bisa jadi karena
mereka tidak ada kesibukan yang berarti. Mereka dibiarkan saja
tanpa ada yang mau turun tangan untuk memberikan pekerjaan,
permodalan, atau pembinaan. Bank-bank akan berfikir 1000 kali

255
untuk bisa membantu atau memberikan modal mereka. Begitu
juga, lembaga-lembaga donatur lain akan berfikir ulang untuk
membantu mereka karena mereka tidak memiliki ketrampilan dan
pengetahuan tentang usaha.
Begitulah fenomena-fenomena yang ada pada perempuan
Indonesia pada umumnya. Dalam kondisi semacam itu, apakah kita
hanya bisa berwacana dengan teori-teori yang sophisticated atau
“jlimet”. Apalah artinya dakwah yang berarti perubahan, manakala
dakwah jauh dari persoalan kemanusiaan. Padahal al-Qur’an jelas-
jelas menyatakan bahwa dakwah adalah pembebasan manusia dari
berbagai penindasan, tirani, dan hal-hal yang membelenggu
kehidupan manusia

ِ ‫ﺎس تَأ ْ ُﻣ ُﺮونَ ِبﺎ ْل َم ْﻌ ُﺮ‬


ِ َّ ‫وف َوتَ ْنه َْﻮنَ ع َِن ا ْل ُم ْنك َِﺮ َوت ُؤْ ﻣِ نُﻮنَ ِب‬
‫ﺎّلل‬ ِ ‫ُك ْنت ُ ْم َخي َْﺮ أ ُ َّﻣ ٍة أ ُ ْخ ِﺮجَتْ لِل َّن‬
َ‫سقُﻮن‬ ْ َ َ ْ
ِ ‫ب لَكَﺎنَ َخي ًْﺮا ل ُه ْم ﻣِ ن ُه ُم ال ُمؤْ ﻣِ نُﻮنَ َوأ ْكث ُﺮهُ ُم الفﺎ‬
َ ْ َ ِ ‫َولَ ْﻮ آ َﻣنَ أ َ ْه ُل ا ْل ِكتَﺎ‬
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan
beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih
baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. 3:110). Dakwah, menurut
Abdul Munir Mulkhan (2002), terlalu sibuk “ngurusi Tuhan”,
bukan manusia. Akibatnya dakwah gagal mengembangkan daya
rasional dan sikap empiris.

REKONSTRUKSI GERAKAN DAKWAH PEREMPUAN


Al-Faruqi (1986) menyatakan bahwa Islam tidak bisa
menolak dakwah jika memiliki kekuatan intelektual. Menolak
dakwah berarti menolak kebutuhan untuk mendapatkan
persetujuan orang lain terhadap apa yang diklaim sebagai
kebenaran Islam. Tidak menuntut persetujuan berarti tidak serius
dengan klaim itu atau berarti menyatakan klaim itu subyektif,
partikularis atau relatif secara mutlak. Karena itu, tidak berlaku bagi
orang lain selain pembuat klaim itu sendiri.
Begitu urgennya aktivitas dakwah bagi umat Islam, maka
proses pelaksanaan dakwah tidak hanya dibebankan kepada para
utusan-Nya saja, tetapi pada seluruh orang yang menyatakan diri
sebagai muslim. Dalam hal ini, umat Islam perlu terus menerus

256
menggali, memaknai, dan mengaplikasikan dakwah sesuai dengan
tuntutan dan perkembangan kehidupan manusia. Dakwah tidak
boleh berhenti, monoton, dan usang dari perkembangan
peradaban manusia.
Menurut John L. Esposito (1995), dakwah harus dapat
menciptakan dan bukan mengikuti situasi karena dakwah sangat
menekankan pada ketepatan metode. Bahkan, menurut Amin
Islahi yang dikutip oleh Larry Poston (1992) “the prophets never
insisted on any one exclusive method in their missionary work” (para Nabi
tidak pernah berhasrat untuk menggunakan satu metode saja dalam
kegiatan dakwah mereka).
Al-Qur’an dalam surat An-Nahl ayat 125 dapat dijadikan
landasan kuat untuk senantiasa menciptakan kreasi-kreasi baru
dalam pengembangan dakwah:

َ ‫ِي أَ ْح‬
َ‫سنُ إِنَّ َربَّك‬ َ ‫سنَ ِة َوجَﺎ ِد ْل ُه ْم ِبﺎ َّلتِي ه‬َ ‫ظ ِة ا ْل َح‬ َ ‫س ِبي ِل َر ِبكَ ِبﺎ ْلحِ ْك َم ِة َوا ْل َم ْﻮ ِع‬
َ ‫ع إِلَى‬ ُ ‫ا ْد‬
َ‫سبِي ِل ِه َوه َُﻮ أَ ْعلَ ُم بِﺎ ْل ُم ْهتَ ِدين‬ ْ َ ْ َ َ
َ ‫ه َُﻮ أ ْعل ُم بِ َمن ض َّل عَن‬
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk”.
Oleh karena itu, tugas umat Islam adalah bagaimana
menyusun strategi dan teknik yang efektif dalam menyampaikan
dakwah kepada masyarakat sehingga benar-benar diterima dan
dilaksanakan. Dakwah perlu dikembangkan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa dipakai
dalam merekonstruksi gerakan dakwah yaitu:
Pertama, Dalam melaksanakan aktivitas dakwah, muballighah
atau da’i harus membuat perencanaan dakwah yang sistematis dan
terpadu. Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan kepada orang-
orang yang beriman agar merencanakan segala sesuatu, termasuk
dakwah, untuk kepentingan masa depan yang lebih baik dan
menjanjikan (QS. 59:18). Menurut Abdul Munir Mulkhan (1996),
ada beberapa keuntungan manakala aktivitas dakwah dibuat
perencanaan dengan baik, yaitu:

257
1. kegiatan dakwah pada hakekatnya merupakan kegiatan yang
berkesinambungan. Tidak akan berhasil tujuan dakwah
manakala kegiatan itu tidak direncanakan secara sistematis.
2. mengingat kegiatan dakwah merupakan kegiatan yang multi-
dialog atau memiliki ragam cara, maka aktivitas dakwah
dilakukan dengan cara mengkombinasikan berbagai dialog.
Untuk itulah diperlukan perencanaan secara matang dan
terpadu.
3. dengan perencanaan yang baik akan terhindar dari kegiatan
yang itu-itu juga sehingga terhindar dari adanya pemborosan
energi, waktu, dan dana.
4. keterbatasan seorang muballighah dalam informasi dan ilmu-
ilmu bantu yang diperlukan untuk penyusunan perencanaan
dakwah akan dapat diatasi secara bersama, karena kegiatan
perencanaan adalah suatu kegiatan kolektif.

Perencanaan yang baik tentunya bertitik tolak dari data


empiris yang berkembang di masyarakat (obyek dakwah).
Perencanaan tidak berangkat dari kertas kosong atau tumpukan
buku yang jauh dari kepentingan masyarakat. Perencanaan
berangkat dari kebutuhan apa saja yang mendesak dan primer dari
obyek dakwah, problem apa yang dihadapi oleh masyarakat, dan
apa yang diharapkan oleh mereka dari aktivitas dakwah.
Melalui data tersebut akan lahir model-model, metode-
metode, materi-materi dan medium-medium yang cocok
dipergunakan di kalangan masyarakat yang menjadi obyek dakwah.
Dakwah tidak dikesani sebagai kegiatan yang verbalistik, asal-asalan
dan penuh bujuk rayuan dari para aktor dakwah. Dakwah menjadi
kegiatan yang dapat memahami kebutuhan manusia dan
membebaskan mereka dari beban-beban yang selama ini dihadapi
oleh masyarakat.
Kedua, menyusun strategi dakwah. Menurut Larry Poston
(1992), ada dua strategi utama dalam pengembangan dakwah yaitu
strategi internal-personal dan strategi external-institusional. Strategi
internal-personal adalah strategi yang menekankan kepada
pembangunan atau peningkatan kualitas kehidupan individu.
Sedangkan strategi external-institusional adalah strategi yang

258
menekankan pada pembangunan struktur organisasi masyarakat.
Dua strategi tersebut dalam aplikasinya tidak berjalan secara
hirarkis atau terpisah, melainkan berjalan secara beriringan dan
saling mengisi (bersifat komplementar).
Strategi internal-personal dapat dikembangkan melalui
aktivitas-aktivitas dakwah di majelis ta’lim-mjaleis ta’lim, halaqah-
halaqoh, kelompok tarekat, tabligh akbar, konseling dan
sebagainya. Dalam hal ini yang perlu diperbaiki yakni menyangkut
muatan materi dan kiat-kiat yang efektif agar kegiatan dakwah
dapat dirasakan manfaatnya. Materi yang diberikan kepada mad’u
tidak hanya sebatas persoalan fikih dan akidah, tetapi lebih jauh
pada persoalan yang terkait dengan muamalah, etos kerja, gender,
politik, kesadaran masyarakat dan bernegara.
Demikian juga, kiat-kiat atau metode penyampaiannya perlu
dilakukan perubahan. Metode ceramah (lecturing) mestinya
diimbangi dengan penggunaan media seperti LCD, papan tulis,
slide dan catatan makalah atau dengan menggunakan kitab kuning.
Selain itu, metode dakwah bisa dikembangkan kepada metode-
metode yang lebih bersifat partisipatif artinya mad’u dapat
dilibatkan dalam mengemukakan persoalan-persoalan yang
dihadapinya.
Sementara dalam pengembangan strategi dakwah yang
bersifat external-institusional, aktivitas dakwah dapat memasuki
berbagai lini kehidupan yang ada di masyarakat. Dakwah dapat
memasuki wilayah pendidikan dengan cara memiliki lembaga
pendidikan yang berkualitas dan profesional. Dakwah dapat
memasuki dunia kesehatan dengan memiliki rumah sakit atau
lembaga pengobatan yang memiliki manajemen dengan baik.
Dakwah dapat memasuki sektor ekonomi dengan memiliki
lembaga perekonomian dan mengembangkan ekonomi yang
berbasis nilai-nilai Islam. Akhirnya, dakwah juga dapat memasuki
wilayah politik, sosial dan sebagainya.
Ketiga, mempersiapkan subyek atau pelaku dakwah yang
profesional. Sebuah rencana dan strategi yang baik tidak akan
berjalan dengan baik manakala para pelakunya tidak memiliki
kapabilitas dan kompetensi yang mumpuni. Perguruan Tinggi yang
concern dalam menyiapkan sumber daya dakwah nampaknya belum

259
banyak diminati oleh masyarakat. Kondisi demikian bisa
disebabkan karena masyarakat masih memandang bahwa bidang
profesi dakwah tidak bisa menjanjikan masa depan yang cerah bila
dibandingkan dengan bidang lainnya. Selain itu, perguruan tinggi
dakwah juga masih diliputi masalah dalam pengembangan
keilmuannya yang cenderung normatif-doktrinal.
Organisasi-organisasi yang bergerak di bidang dakwah juga
kurang mempersiapkan para pelaku dakwah secara profesional.
Organisasi hanya melakukan kaderisasi secara alamiah, kurang
terencana secara baik dan pemberdayaannya yang masih lemah.
Mereka menyelenggarakan training-training bagi para kadernya,
tetapi dalam proses per-trainingan-nya kadang terkesan kurang
terencana secara matang sehingga hasil dari per-trainingan-nya
tidak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan
dakwah. Belum lagi follow up (tindak lanjut) dari hasil per-training-
annya yang tidak berjalan. Kader-kader tidak merasakan dan
mengetahui apakah hasil training ini dapat memberi perubahan
dalam aktivitas dakwah atau tidak. Selama ini jarang terjadi evaluasi
dari hasil training dan follow up.
Terakhir adalah mempersiapkan dan mengembangkan
keahlian yang bersifat teknis sesuai dengan tingkat kemampuan
dari obyek dakwah, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw
“kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal
(kecerdasan) mereka masing-masing” (HR. Muslim). Langkah ini
dilakukan dengan cara memperhatikan tingkat perkembangan
masyarakat yang menjadi obyek dakwah. Apakah dakwah
dilakukan di masyarakat kota, trnasisi atau desa? Media apa yang
cocok digunakan di kalangan masyarakat yang akan didakwahi,
apakah media lisan, tulisan, visual, audiovisual atau media lainnya?
Materi apa yang layak diberikan kepada mad’u, apakah menyangkut
akidah, iabadah, muamalah, politik dan sebagainya. Alat apa yang
digunakan untuk melakukan evaluasi dari berbagai aktivitas
dakwah. Semua itu tentunya membutuhkan data dan pusat
infomrasi yang mesti dimiliki oleh lembaga dakwah. Oleh karena
itu, mempersiapkan dan mengembangkan langkah teakhir ini perlu
melibatkan perkembangan teknologi di bidang komunikasi.

260
PENUTUP
Perubahan yang bekembang begitu cepat di kalangan
masyarakat akibat dari proses modernisasi dan globalisasi,
menuntut aktivitas dakwah di kalangan perempuan juga perlu
perubahan dan penyesuaian. Muslimat NU Kabupaten Banyumas
(dulu Purwokerto), pada tahun 1946, menjadi pelopor dalam
melakukan kongres pertama Muslimat NU, sekarang ini Muslimat
NU perlu mencatat ulang sejarah baru dengan cara melakukan aksi
dalam pemberdayaan perempuan, yang nantinya menjadi contoh
Muslimat NU Lainnya. Pemberdayaan perempuan melalui aktivitas
dakwah dapat memiliki peran yang signifikan apabila dakwah
dikemas dalam orientasi yang lebih empiris dan bertitik tolak dari
problem kemanusiaan. Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini
dapat dijadikan sebagai inspirasi dan setitik pencerahan dalam
pengembangan dakwah di kalangan masyarakat, khususnya
Muslimat NU.

261
262
HERMENEUTIKA DAKWAH KAMPUS :
RADIKALISME ISLAM, KONTESTASI
IDEOLOGI, DAN KONSTRUKSINYA

PENDAHULUAN
Adanya isu radikalisme dalam beragama di kalangan kampus
telah meresahkan berbagai kalangan, bukan hanya civitas
akademika, melainkan juga, orang tua, pemerintah, tokoh agama,
dan masyarakat secara luas. Pihak kampus seakan “kebakaran
jenggot” ketika hasil riset dan media massa menampilkan data-data
yang menunjukkan adanya bukti-bukti radikalisme di dalam
kampus.278 Mereka seakan “tidak percaya” dengan fakta yang ada
dan berupaya untuk menangkal berbagai isu yang berkembang
tersebut di kampus masing-masing.279 Demikian halnya orang tua,
278
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengklaim
bahwa mahasiswa di tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hampir terpapar
dengan paham radikalisme. BNPT merinci kampus-kampus dicurigai sebagai
tempat persemaian bibit radikalisme adalah Universitas Indonesia (UI),
Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB),
Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya
(UB) ([Link] 31/5/2018). Kemudian Badan
Intelijen menemukan 39% mahasiswa perguruan tinggi di 15 Provinsi telah
terpapar radikalisme ([Link], 1/5/2018). Jauh sebelumnya, riset
kementerian Agama tahun 1996 menunjukkan ada kecenderungan semakin
meningkatnya aktivitas keagamaan yang semakin eksklusif dan radikal di 4
universitas umum di Indonesia. Hasil riset ini diperkuat oleh penelitian yang
dilakukan oleh LIPI tahun 2011. Kemudian pada tahun 2015, Balai Litbang
Agama Makasar menemukan adanya pergeseran paham keagamaan
Mahasiswa Islam di empat (4) perguruan tinggi besar di Makassar
“pemikiran dan sikap berpikir yang moderat dari kalangan anak muda
terdidik ini telah bergeser ke arah radikalisme dengan corak berpikir lebih
radikal dan fanatik ekstrem”. (Laporan Tim BLA, 2015).
279
Menanggapi hal ini, Rektor ITS Prof Joni Hermana mengatakan
selama ini kondisi kampusnya justru kondusif dan adem ayem. Ia juga
mengaku tidak melihat adanya aktivitas mencurigakan di kampusnya. Saat
dimintai pendapat, Joni juga mengaku tengah menunggu data resmi dari
BNPT ([Link] 4/6/2018), Sementara, Rektor Universitas
Paramadina Firmanzah yang turut tergabung dalam Forum Rektor Indonesia,

263
mereka gelisah dan khawatir, jangan-jangan putra-putrinya terlibat
dalam kegiatan-kegiatan yang menjurus pada radikalisme agama.
Kegelisahan dan kekhawatiran orang tua menyebabkan ada
sebagian orang tua yang melarang anaknya untuk mengikuti
kegiatan-kegiatan keagamaan atau dakwah. Bahkan, Pemerintah
dengan lantangnya akan mengambil kebijakan yang tegas untuk
mengontrol berbagai aktivitas kemahasiswaan yang mengarah
kepada radikalisme Islam.280
Masuknya radikalisme agama dalam kampus secara nyata
telah meruntuhkan pandangan yang berkembang selama ini bahwa
kehidupan kampus adalah kehidupan yang netral, lepas dari hiruk
pikuk politik dan vested interest, serta adanya kebebasan akademik.
Sementara, radikalisme agama merupakan bentuk islamisme yang
memanfaatkan agama sebagai kendaraan politiknya. Agama
“diperalat” oleh kelompok tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan
politik, baik secara terang-terangan atau dalam bentuk terselubung.
Tatanan kehidupan kampus yang bernalar ilmiah “dirusak” oleh
nalar politik yang kental dengan kekuasaan dan ideologi kelompok
radikal. Dalam tinjaun ilmu politik, radikalisme merupakan bagian
dari studi gerakan sosial yang banyak diinspirasi dari kejadian-
kejadian nyata dalam kehidupan manusia. Menurut Thomas Olesen
“developments in the social movement field have always been
inspired by real-life events”.281
Sejatinya, agama merupakan sumber nilai dan pedoman
hidup yang dapat dipergunakan oleh civitas akademik, tenaga
kependidikan, dan masyarakat dalam mengembangkan ilmu,
mencari kebenaran, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan

menyayangkan sikap BNPT yang langsung mengeluarkan data tersebut


tanpa adanya pola komunikasi terlebih dahulu dan BNPT seharusnya dapat
menjelaskan metodologi dalam menentukan sebuah perguruan tinggi
terindikasi radikalisme ([Link] 9/6/2018).
280
Menristek dikti mengeluarkan kebijakan pendataan nomor ponsel
dan akun media sosial bagi mahasiswa baru tahun 2018
([Link] 25/6/2018),
281
Thomas Olesen, Social Movement Theory And Radical Islamic
Activism, Centre for Studies in Islamism and Radicalisation (CIR)
Department of Political Science Aarhus University, Denmark, May 2009,
hlm. 8.

264
membangun kehidupan yang harmonis dan toleran. Agama tidak
bisa dilepaskan dalam kehidupan kampus, tetapi tidak juga
dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan politik
tertentu, apalagi dilakukan dengan cara-cara yang radikal. Agama
hendaknya didudukkan secara proporsional dan difungsikan sesuai
dengan hakekat dari agama itu sendiri, yakni sebagai sumber nilai
dan pedoman manusia.
Mengingat peran agama tidak bisa dinafikan dalam
kehidupan kampus, persoalannya pada bagaimana mendakwahkan
ajaran agama secara proporsional dan fungsional sehingga tidak
mengarah pada pemahaman dan tindakan yang radikal dan liberal,
mengapa radikalisme agama tumbuh dan berkembang di dalam
kehidupan kampus, dan bagaimana mengkonstruk keberagamaan
masyarakat kampus ke depannya yang lebih harmonis dan toleran?
Persoalan-persoalan inilah yang akan penulis uraikan pada tulisan
ini. Uraian didasarkan pada hasil riset para peneliti, sharing dengan
kolega dan mahasiswa, serta pengalaman dan pengamatan yang
dilakukan oleh penulis sendiri secara langsung. Tulisan dikonstruk
dengan menggunakan pendekatan hermeneutika mendalam (dept-
hermeneutics) yang dikembangkan oleh Paul Ricoeur.

GENEOLOGI DAN PERKEMBANGAN DAKWAH


KAMPUS
Kajian tentang dakwah kampus atau gerakan Islam di
kampus secara mendalam belum banyak dilakukan oleh para
peneliti. Tulisan Ali Said Damanik (2002) “Fenomena Partai Keadilan:
Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia”, Rifki Rosyad
(2006) “A Quest For True Islam: A Study of the Islamic Resurgence
Movement Among the Youth in Bandung, Indonesia”, Nurhayati Djamas
dkk (2009), “Pola Aktivitas Keagamaan Mahasiswa Islam Perguruan
Tinggi Umum Negeri Pasca Reformasi”, Saifudin (2011), “Radikalisme
Islam di Kalangan Mahasiswa: Sebuah Metamorfosa Baru”, dan
Muhammad Roy Purwanto (2017), “Mapping of Religious Thought and
Radical Ideology For Higher Education Lecturers In Indonesia”, belum
menunjukkan gambaran yang komprehensif tentang aktivitas
dakwah mahasiswa di kampus, apalagi dikaitkan dengan kontestasi
ideologi dan konstruksinya.

265
Jika ditelaah secara historis, cikal bakal gerakan dakwah
kampus tidak terlepas dari peran para senior Jong Islamieten Bond
(JIB) yang mendirikan Studenten Islam Studieclub (SIS) pada bulan
Desember 1934 di Jakarta pada saat mereka menjadi mahasiswa.
SIS merupakan kelanjutan dari JIB di lingkungan perguruan tinggi.
Kemudian setelah kemerdekaan, gerakan dakwah kampus tidak
bisa dilepaskan dari peran mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI)
Jakarta yang selanjutnya berubah menjadi Universitas Islam
Indonesia (UII) Yogyakarta. STI merupakan Perguruan Tinggi
Islam pertama yang ada di Indonesia. Landasan dasar berdirinya
STI dikarenakan adanya kesadaran bahwa masyarakat muslim
tertinggal dalam pengembangan pendidikan dibandingkan dengan
masyarakat Barat dan Agama Islam diyakini sebagai faktor penting
dan mutlak diperlukan dalam membangun masyarakat.282
Ada dua organisasi yang aktif dalam kegiatan dakwah di STI,
yakni Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang lahir pada 2
November 1945 dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang
berdiri pada 5 Februari 1947. Kedua organisasi ini, selain berjuang
dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan para
penjajah, juga keduanya melakukan kegiatan dakwah yang
berorientasi pada peningkatan pemahaman Islam dan penguatan
akhlak para mahasiswa pada saat itu yang dianggap jauh dari nilai-
nilai Islam.283
Setelah Fakultas Agama Islam yang ada di UII diambil alih
oleh Pemerintah, yang selanjutnya dikembangkan menjadi
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di bawah
pengawasan Kementerian Agama. Aktivitas dakwah kampus
semakin menunjukkan signifikansinya dengan mengembangkan
sayapnya di PTAIN. Dalam konteks ini, organisasi kemahasiswaan
yang bergerak di bidang dakwah kampus bertambah dengan
munculnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada
tanggal 17 April 1960 dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

282
Mastuki HS, Kebangkitan Santri Cendekia Jejak Historis, Basis
Sosial, dan persebarannya, Ciputat: Pustaka Compass, 2016, hlm. 160-173.
283
Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan
Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, Jakarta: Integrita Dinamika Press,
1986, hlm. 20

266
(IMM) yang berdiri pada 14 Maret 1964. Tiga organisasi ekstra
kampus HMI, PMII, IMM inilah yang mewarnai kegiatan dakwah
kampus, baik di kampus Islam Negeri maupun Swasta. Bahkan,
dalam perkembangan selanjutnya ketiga organisasi tersebut terlibat
secara aktif dalam pengembangan dakwah ke kampus-kampus
umum, seperti UGM, UI, UNPAD, ITB, UNS, dan sebagainya.
Pergerakan ketiga organisasi ekstra kampus tersebut berbeda
antara organisasi esktra kampus yang ada di PTAIN dengan
Kampus-Kampus Umum. Di PTAIN, ketiganya saling “berseteru”
dalam mencari kader dan menduduki tempat-tempat strategis di
organisasi intra kampus. Perseteruan ini masih berlangsung hingga
sekarang ini. Sementara, di kampus-kampus umum, ketiga
organisasi tersebut “perseteruan”nya kurang signifikan, karena
mereka diperhadapkan dengan organisasi ekstra kampus dari
agama lain dan kalangan nasionalis, seperti GMNI (Gerakan
Mahasiswa Nasionalis Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa
Katolik Republik Indonesia), Gerakan Mahasiswa Kristen
Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos),
Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan sejak
tahun 1990-an hingga sekarang ini, di kampus-kampus umum,
pergerakan ketiga organisasi Islam tersebut semakin melemah dan
kurang mengakar di kalangan mahasiswa.
Pada pertengahan tahun 70-an, setelah peristiwa malari
(15/1/1974), aktivitas mahasiswa mengalami penekanan dari
pemerintah. Dewan mahasiswa dibekukan dan mahasiswa
dikembalikan ke dalam kampus dengan mengeluarkan kebijakan
NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) dan Badan Koordinasi
Kemahasiswaan (BKK) pada 19 April 1978, sehingga
mengharuskan mahasiswa hadir di kampus dalam ruang kuliah
minimal 75%. Adanya kebijakan NKK/BKK tersebut, di satu sisi
menimbulkan kemandulan mahasiswa dalam bidang sosial-politik,
namun di sisi lain ada arus baru dalam kegiatan kemahasiswaan
dengan maraknya kegiatan-kegiatan keagamaan di masjid-masjid
kampus dan munculnya kelompok-kelompok studi. Beberapa
organisasi ekstra dan intra kampus pun membentuk bagian khusus
yang mengurusi dakwah kampus.

267
Arus baru tersebut semakin menguat ketika memasuki era
tahun 80-an. Faktor penyebabnya, diantaranya: Pertama, adanya
gerakan baru yang menarik agama pada arus kehidupan publik di
berbagai belahan dunia, seperti yang disinyalir oleh hasil riset Jose
Casanova.284 Kedua, pada tahun 1979 ditandai dengan munculnya
genderang abad kebangkitan Islam (abad ke-15 H), yang diawali
dari Revolusi Iran, penerapan berbagai hukum Islam di Pakistan,
Libya, dan negara-negara muslim di Afrika, munculnya gerakan
oposisi Islam di Mesir dan Turki, dan bangkitnya gerakan Islam di
sebagian negara minoritas muslim seperti philipina, dan lain
sebagainya.285 Ketiga, munculnya para da’i yang berasal dari Timur
Tengah dan menterjemahkan buku-buku pergerakan karya-karya
tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Jama’at Islami di Pakistan.
Keempat, munculnya kajian-kajian kritis tentang keislaman yang
bersumber dari kelompok studi dan Lembaga Swadaya Masyarakat
yang menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu sosial kritis.
Perubahan yang paling signifikan dalam gerakan dakwah
kampus pada era 80-an dengan hadirnya berbagai harakah yang
berbeda dengan gerakan-gerakan dakwah yang konvensional dan
formal, seperti yang dilakukan oleh para aktivis HMI, PMII, dan
IMM. Gerakan ini muncul sebagai antitesis terhadap gerakan
dakwah yang dilakukan oleh organisasi formal tersebut. Mereka
“kecewa dan tidak puas” dengan gerakan-gerakan organisasi formal
yang cenderung politis dan kurang menekankan pada
pembentukan akhlak mahasiswa. Karenanya, mereka melakukan
kajian-kajian Islam secara tidak formal dan bahkan bergerak
Underground---dengan sebutan jama’ah tarbiyah--- di masjid-masjid
atau halaman-halaman kampus. Ciri lain, pengisi materi atau
dikenal dengan sebutan mentor/murabbi, berasal dari jama’ah
sendiri yang dianggap lebih cakap dan mumpuni dalam bidang

284
Jose Casanova, “Public Religions Revisited”, International
Conference “Religion Revisited – Women’s Rights and the Political
Instrumentalisation of Religion”, Heinrich-Böll-Foundation & United
Nations Research Institute for Social Development (UNRISD), 5-6 June
2009, Berlin.
285
Rifki Rosyad, A Quest True Islam, The Australian National
University, E Press, 1995, hlm. 3.

268
agama, namun mereka tidak dididik dari lembaga pendidikan Islam
yang berkualitas seperti pesantren atau sekolah agama. Mereka
mengambil materi-materi dakwah yang berasal dari buku-buku
terjemahan yang bersumber dari tokoh-tokoh pergerakan yang ada
di Timur Tengah, seperti Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Abu A’la
al-Maududi, Yusuf Qordlowi, Fathia Yakan, dan Muhammad Qutb
serta Taqiyuddin An-Nabhani.286
Kecenderungan lain yang berkembang pada era 80-an,
dakwah kampus sudah mengarah kepada kajian Islam yang
fundamentalis. Islam dijadikan sebagai ideologi pergerakan dan
sebagai satu-satunya alternatif atau solusi krisis kemanusiaan yang
bersumber dari ideologi kapitalis dan sosialis yang berkembang di
Indonesia. Fundamentalis nampak pada materi-materi yang
disajikan yang cenderung pada penguatan aqidah yang kental
dengan perlawanan terhadap ideologi kapitalis dan sosialis,
penafsiran ajaran Islam yang bersifat literar seperti tafsir yang
berkembang di kalangan ikhwanul muslimin, menolak berbagai
macam isme yang berasal dari Barat dan Komunis, dan mereka
cenderung eksklusif.287
Memasuki era tahun 90-an, gerakan harakah atau jama’ah
tarbiyah memasuki etafe baru yang bersifat politis, terorganisir, dan
massif. Pada era ini, pembentukan karakter pribadi islam (takwin
asy-Syakhsyiyyah al-Islamiyyah) dan karakter aktivis gerakan semakin
menguat (takwin asy-Syakhsiyyah al-harookiyyah/ ad-daa’iyyah).
Implikasi dari menguatnya karakter tersebut, para kader mulai
merambah pada gerakan-gerakan dakwah yang lebih terbuka.
Mereka ikut menginisiasi lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI) dan membentuk Lembaga Dakwah Kampus
(LDK) sebagai media dan strategi mereka dalam melakukan
rekrutmen kader. LDK mengadakan berbagai model kegiatan
dakwah dan diimplementasikan secara praktis, seperti liqo
(pertemuan kelompok kecil, dalam bahasa lain biasa disebut
mentoring), daurah (penguatan wawasan atau pengetahuan anggota)

286
Untuk lebih jelasnya baca tulisan Ali Said Damanik, Fenomena
Partai Keadilan Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia,
Jakarta: Teraju, 2002.
287
Rifki Rosyad, A Quest True Islam....hlm. 16-20.

269
yang tersusun dari beberapa tingkatan, rihlah (perjalanan untuk
pembinaan fisik), mabit (bermalam, untuk melatih kekuatan
spiritual), seminar/bedah buku, dan lain sebagainya.288
Menariknya, LDK antar kampus membentuk jaringan
dengan nama Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FS-
LDK). Forum ini dilakukan secara intens baik pada tingkat lokal,
seperti FS-LDK se-Bandung Raya dan Priangan Timur, regional
maupun nasional. Dari forum FS-LDK inilah lahir gerakan
kemahasiswaan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia) yang dibentuk pada saat FS-LDK se-Indonesia ke-10 di
Universitas Muhammadiyah Malang pada tanggal 25-29 Maret
1998. Selain itu, para aktivis LDK juga mengembangkan sayap
dakwah dengan membuka beberapa lembaga dan kegiatan dakwah
strategis seperti lembaga bimbingan belajar, sekolah Islam
Terpadu, Nasyid (seni Islam), lembaga pengkajian dunia Islam
kontemporer, lembaga percetakan dan penerbitan, menguasai
lembaga-lembaga formal kemahasiswaan, dan lembaga filantropi
Islam.
Ideologi pergerakan Islam yang tumbuh pada era 80-an terus
mengalami penguatan pada gerakan dakwah kampus pada era 90-
an. Gerakan ideologisasi Jama’ah Tarbiyah dilakukan dengan tiga
strategi: Pertama, persebaran gagasan Islam untuk masyarakat
umum secara luas. Kedua, strategi kaderisasi dengan melakukan
training-training intensif untuk anak-anak, remaja, dan mahasiswa.
Ketiga, menggunakan media massa untuk mesosialisasikan gagasan-
gagasannya.289
Memasuki era milenial ini, gerakan dakwah kampus tidak
terlepas dari dinamika perkembangan sosial dan politik nasional
dan global. Apalagi, setelah era reformasi, di Indonesia
bermunculan berbagai organisasi keagamaan yang cenderung
fundamental/radikal, baik organisasi yang sebelumnya telah ada
(berjuang secara underground, seperti Hizbut Tahrir Indonesia,
Pelajar Islam Indonesia, dan Negara Islam Indonesia/NII)
maupun organisasi yang baru tumbuh pada era reformasi, seperti

288
Ali Said Damanik, Fenomena...hlm. 109-163.
289
Zuly Qodir, Gerakan Sosial Islam Manifesto Kaum Beriman,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hlm. 101-102.

270
Front Pembela Islam dan Majelis Mujahidin Indonesia. Beberapa
organisasi keagamaan tersebut ikut terlibat dalam meramaikan
kegiatan dakwah kampus, baik kampus umum maupun kampus
agama. Kecenderungan umum dari organisasi-organisasi yang
masuk pada era milenial ini merupakan organisasi-organisasi yang
cenderung fundamentalis/radikal. Merekalah yang menguasai
wacana dan menghegemoni keberagamaan mahasiswa.
Setelah tragedi World Trade Centre (WTC, 9/11/2001),
gelombang radikalisme Islam semakin menguat baik dalam wacana
maupun praktek di lapangan. Mengingat organisasi keagamaan
yang berkembang pada era milenial ini bukan hanya organisasi
keagamaan tingkat nasional, tetapi juga berkembang organisasi
keagamaan yang berasal dari Timur Tengah atau bersifat
transnasional, maka gelombang radikalisme Islam---yang dipicu
oleh arus radikalisme Islam secara global-- disinyalir memasuki
gerakan dakwah kampus yang ada di Indonesia.
Fakta-fakta yang menunjukkan adanya gerakan radikalisme di
kampus atau di kalangan terpelajar telah ditulis oleh para ahli,
diantaranya: Anthony Welch “Countering Campus Extremism in
Southeast Asia”,290 Dan Berrett “Does Engineering Education Breed
Terrorist?”,291 Saifuddin, “Radikalisme Islam Di Kalangan
Mahasiswa”,292 Diego Gambetta and Steffen Hertog, “Engineers of
Jihad”,293 dan Muhammad Roy Purwanto “Mapping of Religious
Thought And Radical Ideologyfor Higher Education Lecturers In
Indonesia”.294
HERMENEUTIKA TINDAKAN SOSIAL

290
Anthony Welch, “Countering Campus Extremism in Southeast
Asia”, International Higher Education, Number 82: Fall 2015.
291
Dan Berrett “Does Engineering Education Breed Terrorist?”, The
Chronicle of Higher Education, 23 Maret 2016.
292
Saifuddin, “Radikalisme Islam Di Kalangan Mahasiswa”, Analisis,
Volume XI, Nomor 1, Juni 2011.
293
Diego Gambetta and Steffen Hertog, “Engineers of Jihad”,
Sociology Working Papers, Paper Number 2007-10.
294
Muhammad Roy Purwanto “Mapping of Religious Thought And
Radical Ideologyfor Higher Education Lecturers In Indonesia”, Proceedings
of 85th ISERD International Conference, Cairo, Egypt, 11th-12th September
2017.

271
Pada saat menyebut kata hermeneutika, asosiasi/ingatan kita
umumnya mengarah kepada penafsiran teks. Memang asosiasi
tersebut tidak bisa disalahkan atau dianggap keliru. Dari awal
lahirnya, hermeneutika berkaitan dengan penafsiran teks,
khususnya penafsiran terhadap kitab suci bible. Seperti dinyatakan
dalam Webster’s Third New International Dictionary “ Hermeneutics is the
study of the methodological principles of interpretation and explanation, specif:
the study of the general principles of biblical interpretation”.295 Ketika
memasuki abad ke sembilan belas dan abad ke dua puluh,
pemahaman hermeneutika mengalami pergeseran, bukan hanya
pada penafsiran teks, tetapi memiliki enam makna yaitu: (1). The
theory of biblical exegesis. (2). General philological methodology. (3). The
science of all linguistic understanding. (4). The methodological foundation of
geisteswissencchaften. (5). Phenomenology of existence and of existential
understanding. (6). The systems of interpretation, both recollective and
iconoclastic, used by man to reach the meaning behind myths and symbols.296
Dari enam makna tersebut, kesimpulan yang bisa didapat dari kata
hermeneutika adalah kajian tentang proses bagaimana seseorang
mengambil makna sebuah teks dan teks tidak dipahami hanya
sebuah dokumen, melainkan juga tradisi sosial, mitologi budaya,
dan segala sesuatu yang berisi pesan yang dapat dibaca.297
Dalam konteks tulisan ini, penulis menggunakan
hermeneutika yang dikembangkan oleh Paul Ricoeur yang tidak
saja menekankan pada refleksi filosofis akan kehidupan dan
pemahaman, tetapi juga refleksi metodologis tentang sifat dan
tugas interpretasi dalam penelitian sosial. Kunci dari refleksi
tersebut oleh Ricoeur disebut dengan “hermeneutika mendalam
(dept-hermeneutics)”.298 Dalam tataran yang lebih operasional,
hermeneutika ini dipergunakan untuk menjelaskan bagaimana
295
Dikutip dari Richard E. Palmer, Hermeneutics, Evanston:
Northwestern University Press, 1969, hlm. 4.
296
Richard E. Palmer, Hermeneutics, hlm. 33.
297
Lihat tulisan Zijad Delic, Hermeneutics of Islamic Education and
the Construction of New Muslim Cultures in the West: Faithful, but reformed,
Dissertation of Simon Fraser University, 2006, hlm. 12-13.
298
Paul Ricoeur, History and Hermeneutics, The Journal of
Philosophy, Vol. 73, No. 19, American Philosophical Assosiation, Nov, 4,
1976, pp. 683-695.

272
bentuk-bentuk simbol keberagamaan diinterpretasikan dan
dipahami oleh para aktivis dakwah kampus yang memproduksi dan
menerimanya dalam konteks kehidupan sehari-harinya. Untuk bisa
memahami lebih jauh diperlukan metodologi, yakni dengan cara
melakukan analisis historis karena bentuk-bentuk simbol tidak
berada dalam suasana yang vakum: ia dibuat, lalu ditransmisikan
dan diterima dalam kondisi sosial dan historis tertentu. Kemudian
dikaji juga konstruksi simbol yang kompleks yang menunjukkan
struktur artikulasinya. Banyak cara untuk mengkaji analisis diskursif
ini, bisa menggunakan semiotika, wacana, sintaksis, dan lainnya.
Dalam hal ini, penulis akan menggunakan analisis wacana terhadap
produk tindakan yang dilakukan oleh para aktivis dakwah kampus.
Langkah terakhir adalah melakukan interpretasi/reinterpretasi
dengan cara mendekonstruksi konteks sosial dan analisis diskursif
menjadi konstruksi alternatif dakwah kampus di masa depan.
Berikut ini kerangka berfikir dalam tulisan ini:

RADIKALISME ISLAM DI KALANGAN MAHASISWA:


ANALISIS SOSIO HISTORIS
Kata radikalisme berasal dari akar kata radikal dan isme. Kata
radikal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti (1). Secara
mendasar sampai kepada hal yang prinsip. (2). Amat keras
menuntut perubahan dalam undang-undang atau pemerintahan.
(3). Maju dalam berpikir atau bertindak. Sedangkan kata
radikalisme berarti paham atau aliran yang radikal dalam
politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau
pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau
drastis; sikap ekstrem dalam aliran politik.299 Dari arti tersebut, kata

299
[Link]

273
radikal/radikalisme bermakna positif. Seorang beragama secara
radikal bisa dibenarkan apabila maknanya berpegang teguh pada
hal yang prinsip atau mendasar. Makna ini sangat berhimpitan
dengan kata “fundamental” yang berarti bersifat dasar (mendasar).
Kata radikal/radikalisme memiliki makna yang berbeda
ketika dipicu oleh tragedi WTC (9/11/2001) dimana orang
beragama (Islam) melakukan tindakan kekerasan. Pada titik inilah
gelombang deras dari kalangan ilmuwan gerakan sosial mulai
mengkaji gerakan aktivis Islam radikal. Mereka mulai membangun
landasan teori baru di tengah-tengah perdebatan panjang dari
pristiwa tersebut.300 Meskipun ada sebagian ilmuwan mencoba
menarik gerakan radikalisme agama berawal dari munculnya
kelompok khawarij pada zaman pemerintahan Ali ibn Abi Thalib
dan terjadi lagi pada peristiwa mihnah, gerakan wahabi, dan
revolusi Iran.
Wacana radikalisme Islam semakin mencuat--- 4 tahun
setelah tragedi WTC--- pada saat munculnya gerakan ISIS (Islamic
State of Iraq and al-Sham) yang menghebohkan dunia dan menjadi
ancaman keamanan global. ISIS berhasil memanfaatkan media
internet untuk melakukan rekrutmen anggotanya dari kalangan
generasi muda dan sekaligus menunjukkan kepada dunia tindakan-
tindakan brutal yang dilakukannya.301
Kemunculan radikalisme Islam tersebut menimbulkan
pertanyaan besar dari kalangan luar Islam dan umat Islam sendiri.
Mengapa orang yang beragama (umat Islam) melakukan tindakan
semacam itu, apakah ada ajaran Islam yang memerintahkan
tindakan kekerasan ataukah adanya kekeliruan dalam pemahaman
ajaran Islam atau ada faktor lain yang menjadi penyebabnya?
Memang tidak ada faktor tunggal yang menjadi penyebab
munculnya radikalisme Islam. Banyak faktor yang
menyebabkannya, diantaranya: faktor ekonomi, lemahnya
pemahaman agama, kondisi sosio-psikologis pelaku, politik global,
dan sebagainya. Jelasnya, radikalisme tidak muncul dengan

300
Thomas Olesen, Social Movement..., hlm. 7.
301
Agung Sasongkojati, Countering islamic radicalization:
Indonesian experiences, A Research Report Submitted to the Faculty In
Partial Fulfillment of the Graduation Requirements, 16 February 2016, hlm.3.

274
sendirinya, melainkan ada aktor yang menggerakkannya. Oleh
karenanya, para peneliti dan ilmuwan mengatakan bahwa
radikalisme dikembangkan oleh kelompok/lembaga, baik yang
mengatasnamakan ISIS, al-qaedah, Jama’ah Islamiyah atau sebutan
lainnya. Mereka membangun gerakannya dengan berpedoman pada
ideologi jihadiyah yang dipahaminya.
Dalam konteks Indonesia, gerakan radikalisme Islam
dikaitkan dengan munculnya gerakan Darul Islam (DI) yang
dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (1907-1962 M),
seorang pengikut paham sufisme dan penganut mazhab Syafi’i. DI
menghukumi orang yang menolak syari’at Islam sebagai orang
murtad, jihad melawan pemerintah Indonesia hukumnya fardlu
a’in, mereka berjihad dengan cara merampas nyawa dan harta
warga sipil yang tak mau bergabung dengan mereka. Paham dan
ajaran Kartosuwiryo tersebut belum tumbuh pada masa
penjajahan, tetapi berkembang pada saat revolusi setelah
kemerdekaan Indonesia. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa
lahan yang paling subur untuk tumbuhnya gagasan-gagasan jihad
dalam arti perang pada saat situasi perang atau revolusi. Kemudian
Paham dan ajaran Kartosuwiryo memiliki banyak kesamaan
dengan ajaran kelompok salafy jihadisme yang banyak dianut oleh
kelompok radikalisme Islam di berbagai wilayah di Indonesia dan
paham ini bersumber dari para pejuang/tokoh agama di
Afghanistan.302
Setelah meninggalnya Kartosuwiryo pada tahun 1962, ajaran
DI/TII mengalami kemunduran dan bahkan menuju kematian,
namun pada pertengahan tahun 70-an, para pengikut setia
Kartosuwiryo ingin menghidupkan kembali gerakan Negara Islam
Indonesia (NII). Mereka mulai membangun ideologi pergerakan,
reorganisasi dan perekrutan anggota. Dari sinilah mahasiswa mulai
direkrut oleh kelompok NII dengan menggunakan pendekatan face-
to-face (dakwah antar individu). Faktor utama yang menyebabkan
bangkitnya gerakan NII disebabkan maraknya dekadensi moral
terutama di Aceh, adanya aksi represif dari keamanan terhadap
para anggota DI, dan kuatnya ideologisasi paham Tauhid rububiyah-
302
Untuk lebih jelasnya bisa dibaca tulisan Solahudin, NII sampai JI
Salafy Jihadisme di Indonesia, Jakarta: Komunitas Bambu, 2011, hlm. 53-80.

275
mulkiyah-uluhiyah yang melahirkan sikap tafkir (mengkafirkan)
orang-orang yang tidak mau bergabung dengan DI.
Di samping itu, pada era tahun 80-an, seperti yang penulis
sampaikan di bagian awal bahwa pada era ini faham
fundamentalisme mewarnai gerakan dakwah kampus. Faham ini
banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dari tokoh-tokoh Islam yang
bersumber dari Timur Tengah dan Pakistan. Ciri utama dari ajaran
fundamentalisme: pertama, memiliki interpretasi literal terhadap
kitab-kitab suci agama. Kedua, memiliki sikap fanatisme,
eksklusifisme, intoleran, radikalisme dan militanisme. Ketiga,
memiliki penekanan kepada pembersihan agama dari isme-isme
modern seperti modernisme, liberalisme, dan humanisme. Keempat,
kaum fundamentalis mendakwa diri mereka sebagai penafsir agama
yang benar, dan selain mereka adalah sesat dan menyeleweng.303
Paham fundamentalis ini dikembangkan terutama oleh kelompok
jama’ah tarbiyah, NII, dan hizbut tahrir yang banyak mewarnai
kegiatan dakwah di kampus-kampus, terutama di kampus-kampus
umum.
Mahasiswa yang terlibat dalam kelompok
fundamentalis/radikalisme Islam bisa disebabkan karena
mahasiswa tersebut tertarik dengan model dan pendekatan dakwah
yang dilakukan oleh ketiga kelompok tersebut atau ketiga
kelompok (organisasi) tersebut secara aktif mencari orang-orang
yang potensial untuk direkrut, atau seseorang direkrut melalui
jaringan pertemanan dan keluarga. Para ilmuwan dalam hal ini
menyatakan bahwa ada empat pola rekrutmen yang dilakukan oleh
organisasi radikal,304 yakni: Pertama, pandangan yang menyatakan
bahwa orang bisa direkrut oleh organisasi radikal karena individu
mahasiswa yang kurang memiliki pemahaman mendalam terhadap
ajaran agama, kurang memiliki sikap kritis, dan kondisi sosio-
psikologis mahasiwa yang kurang berkembang. Kedua, pandangan
yang menyatakan bahwa seseorang direkrut oleh organisasi radikal
Islam karena adanya jaringan informal (personal) akibat

303
Abdul Qohar, “Fundamentalisme Islam Mahasiswa Iain Raden
Intan Lampung”, Jurnal TAPIs Vol.12 No.1 Januari-Juni 2016, hlm. 111-
129.
304
Thomas Olesen, Social Movement....hlm. 10.

276
pertemanan atau karena terlibat dalam jaringan organisasi atau
institusi. Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa lingkungan
sosial dan politik yang tidak baik (islami) dapat menjadi pemicu
seseorang terlibat dalam organisasi radikal. Keempat, pandangan
yang menyatakan bahwa media komunikasi dapat menjadi
pendorong seseorang terlibat dalam kelompok radikal, seperti ISIS
dan kelompok al-Qaeda yang merekarut anggotanya melalui media
internet.305

KONTESTASI IDEOLOGI DI KALANGAN AKTIVIS


DAKWAH KAMPUS
Karakteristik kegiatan dakwah pada akhir abad ke-19 dan
memasuki awal abad ke-20 yakni munculnya organisasi-organisasi
sosial keagamaan di berbagai belahan dunia. Di Mesir, M. Rasyid
Ridla (1865-1935 M) menghidupkan organisasi Jam’iyyah al-Da’wah
wa al-Irsyâd (Organisasi dakwah dan pembimbingan) yang berdiri
tahun 1911. Selain itu, pada tahun 1928 muncul organisasi Ikhwan
al-Muslimîn (Persaudaraan Muslim) dan Jam’iyyah al-Syubbân al-
Muslimîn (Organisasi Pemuda Muslim). Selanjutnya, pada
Desember 1972, kaum Wahabiyah di Arab Saudi mengadakan
konferensi pemuda internasional untuk dakwah Islam, yang
menjadi cikal bakal lahirnya World Assembly of Muslim Youth (Majelis
Pemuda Muslim Dunia). di Indonesia bermunculan organisasi-
organisasi sosial keagamaan yang menjadikan dakwah sebagai
perhatian utamanya, di antaranya: Sarekat Dagang Islam (1905),
Muhammadiyah (1912), al-Irsyad (1914), Persatuan Islam (1923),

305
Bruce Hoffman, The Use of the Internet By Islamic Extremists,
Santa Monica: the RAND Corporation, 2006.

277
Nahdlatul Ulama (1926), dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
(1967).
Tumbuh dan berkembangnya organisasi-organisasi
keagamaan di berbagai belahan dunia menandakan adanya
perubahan orientasi dalam aktivitas dakwah. Dakwah telah
memasuki era institusionalisasi, menurut John L. Esposito.306
Perjalanan dan perkembangan organisasi-organisasi keagamaan
tersebut mengalami dinamika sesuai dengan tantangan dan
problematika yang dihadapi pada masing-masing wilayah. Namun,
secara umum ada beberapa faktor struktural yang menghambat
suksesnya institusionalisasi dakwah di berbagai wilayah yaitu:
pertama, dakwah transnasional tidak dapat memobilisasi bentuk-
bentuk lokal dari budaya Islam. Kedua, para aktivis muslim yang
berasal dari luar jarang merasuk ke dalam budaya lokal. Ketiga,
perhatian dakwah lebih difokuskan pada memobilisasi keberadaan
institusi dibandingkan dengan membangun sistem
institusionalnya.307
Kegiatan dakwah di kalangan kampus pun tidak terlepas dari
keberadaan dan peran organisasi kemahasiswaan, khususnya
organisasi ekstra kampus. Tumbuh dan berkembangnya organisasi
dakwah kampus tentu tidak terlepas dari paham dan ideologi308
yang dikembangkan oleh para pengurus dan anggotanya. Menurut
Noorhaidi Hasan, Ideologi memiliki kontribusi penting dalam
memobilisasi pemuda dalam kegiatan politik, konfrontatif, dan

306
John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic
World, Volume I, Oxford: Oxford University Press, 1995, 1995, hlm. 346.
307
John L. Esposito, The Oxford ..., 1995, hlm. 348-349.
308
Istilah ideologi pertama kali diperkenalkan oleh Destutt de Tracy
(1754-1836), seorang psikolog Prancis berpaham materialis. Pada tahun
1796, ia menyatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui benda-benda dalam
dirinya, tetapi hanya melalui ide-ide yang terbentuk berdasarkan sensasi kita
terhadap benda-benda tersebut. Dengan demikian ideology dimaksudkan
sebagai suatu metode untuk mengetahui asal-usul pikiran yang timbul dalam
otak manusia atau ideology adalah ilmu tentang ide. M. Dawam Rahardjo,
“Topik Kita”, Dalam majalah Prisma No. 6, 1985, Tahun XIV, hlm. 2.
Ideologi yang dimaksud dalam tulisan ini lebih dipahami sebagai gagasan
atau paham yang mengilhami tindakan konkrit dan memberikan kerangka
orientasi bagi tindakan tersebut.

278
bahkan radikal, untuk memperkuat identitas dan posisi mereka
sebagai pemuda dalam menanggapi perkembangan global. Pemuda
beradaptasi dan menyebarluaskan ideologi Islam mereka sebagai
alternatif untuk menggantikan sistem dan budaya global sekuler.309
Setidaknya ada empat alasan mengapa mahasiswa percaya
pada ideologi yang dikembangkan oleh organisasi dakwah: Pertama,
ideologi yang dikembangkan oleh organisasi dakwah telah teruji
melalui sejarah dan disusun secara sistematis yang memberikan
lebih banyak keuntungan kepada mereka. Kedua, ideologi yang
dikembangkan oleh organisasi dakwah memiliki banyak
keunggulan dibandingkan dengan organisasi lain. Ketiga, tujuan
organisasi dakwah yang terkait dengan perkembangan kehidupan
mahasiswa dan partisipasi Islam pada kesejahteraan sosial diyakini
menjadi kenyataan. Keempat, Keberhasilan organisasi dakwah adalah
sebuah kepastian. Keyakinan ini didasarkan pada ajaran Islam yang
mungkin disesuaikan dengan kehidupan era modern (ajaran ghair
mahdlah) dan ada ajaran untuk melestarikan nilai-nilai islam yang
suci (ajaran mahdlah). Dengan memiliki keyakinan itu, para
mahasiswa dapat melakukan kegiatan kemodernan tanpa
kehilangan iman mereka.310
Pada prinsipnya ideologi yang dikembangkan oleh organisasi
dakwah kampus semuanya berlandaskan pada ideologi Islam yang
diturunkan dari al-Qur;an dan al-Hadits. Tetapi ideologi Islam
macam apakah yang dikembangkan oleh masing-masing organisasi
dakwah kampus? Itulah masalah pokok yang akan diperbincangkan
dalam tulisan ini.
Ada tiga arus besar dalam perkembangan ideologi yang
digunakan oleh para aktivis organisasi dakwah kampus, yakni
moderat, radikalis/fundamentalis, dan liberalis. Klasifikasi ini agak
berbeda dengan klasifikasi yang dibuat oleh para penulis lain,

309
Noorhaidi Hasan, “Violent Activism, Islamist ideology, and the
Conquest of Public Space Among Youth in Indonesia”, in Kathryn (Ed.),
Being Young and Growing up in Indonesia, Leiden, and Boston: Brill, 2015,
15.
310
Abdul Basit, Dakwah Remaja: Kajian Remaja Dan Institusi
Dakwah, Yogyakarta: Fajar
Pustaka & STAIN Press, 2011, 179.

279
seperti William E. Shepard yang mengklasifikasikan ideologi yang
ada dalam Islam menjadi “sekularis, modernisme Islam,
radikalisme islam, tradisionalis, dan neo-tradisionalis”.311 Klasifikasi
yang dibuat oleh penulis bisa jadi sangat simplisistis dan belum
mewakili dinamika yang ada. Penulis tidak ingin memperdebatkan
perbedaan ini secara panjang lebar dalam tulisan singkat ini.
Jelasnya, penulis hanya mengamati dari kecenderungan yang ada
dan dipraktekkan oleh para aktvis organisasi dakwah.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan awal organisasi
dakwah kampus hingga tahun 1980-an, ideologi yang
dikembangkan bersifat moderat. Ideologi ini dikembangkan oleh
organisasi HMI, PMII, dan IMM. Meskipun moderasi yang
digunakan oleh ketiga organisasi tersebut memiliki kecenderungan
yang berbeda-beda. Namun, ada beberapa karakteristik yang
menunjukkan adanya kesamaan di antara mereka, yakni: (1). Tidak
menggunakan kekerasan dalam dakwah, tetapi mengedepankan
kebebasan, rasionalitas, dan universalitas. (2). Mengadopsi
kehidupan modern dengan segala karakteristiknya seperti
demokrasi, pluralitas, penegakan hak asasi manusia, dan
pengembangan sains modern. (3). Menggunakan pendekatan
kontekstual dalam memahami Islam. (4). Memberikan ruang pintu
ijtihad dalam menyelesaikan persoalan-persoalan umat dan bangsa.
(5). Memiliki sikap toleran, inklusif, dan mau bekerjasama dengan
siapa pun selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Dalam mengimplementasikan ideologi moderat tersebut,
terjadi kontestasi312 di antara ketiga organisasi. Kontestasi ini tidak
terlepas dari latar belakang terbentuknya ketiga organisasi. HMI
yang lahir dari rahim kaum modernis yang terdidik pada masa
penjajahan, PMII berasal dari kalangan santri yang tradisionalis,

311
William E. Shepard, Islam and Ideology: Towards a Typology ,
International Journal of
Middle East Studies, Vol. 19, Num. 3 (Aug., 1987), 307-335.
312
Kata kontestasi berarti kontroversi atau terjadi perdebatan. Istilah
kontestasi banyak digunakan dalam kajian politik aliran. Secara teoritis,
politik aliran diperkenalkan oleh Clifford Geertz untuk menjelaskan
pemilahan karakteristik masyarakat di Jawa yang terkait dengan
kecenderungan ideologi politik.

280
dan IMM berasal dari kelompk revivalis yang menghendaki adanya
purifikasi dan pembaharuan ajaran Islam. Selain itu, kontestasi
terjadi akibat dari adanya perbedaan strategi dan metode dalam
pengembangan organisasi dan juga dipengaruhi oleh faktor sosil-
politik yang berkembang di masing-masing kampus.313 Meskipun
terjadi kontestasi ideologi, dalam moment-moment untuk
memajukan umat Islam dan bangsa Indonesia, mereka bersatu
padu seperti yang mereka lakukan pada pembentukan KAMI
(Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan juga adanya Kelompok
Cipayung (22/1/1972).314
Memasuki tahun 1980-an hingga sekarang ini terjadi
pergeseran ideologi dari kecendrungan moderat menjadi radikalis
dan banyak peneliti menyebutnya dengan Istilah fundamentalis,
terutama di kampus-kampus umum. Kelompok jama’ah tarbiyah
(yang kemudian bermetamorfosis menjadi organisasi KAMMI),
Hizbuttahrir Indonesia (HTI), dan kelompok NII (Negara Islam
Indonesia) merupakan organisasi yang banyak terlibat dalam
pengembangan ideologi radikalis. Karakteristik dari ideologi
radikalis, banyak peneliti yang mengaitkan dengan paham
keagamaan kalangan fundamentalis, seperti yang penulis sebutkan
di atas, juga ciri lain dari kelompok ini, yakni: (1). Menggunakan
istilah-istilah arab untuk memanggil teman, seperti akhi, ukhti,
ikhwan, dan akhwat. (2). Mereka cenderug fanatis, eksklusif, dan
memiliki militansi yang tinggi dalam berdakwah (3). Menggunakan
simbol-simbol keislaman yang ketat, seperti berjenggot, jilbab
panjang, celana jungklang, dan baju taqwa. (4). Membaca buku-
buku atau majalah-majalah pergerakan dan keislaman, terutama
terjemahan dari karya-karya ulama Timur Tengah dan Pakistan. (5).
Mereka seringkali melakukan liqo di masjid, rumah atau tempat lain

313
Untuk pembahasan lebih jelas, bisa dibaca dalam tulisan Abdul
Basit, “The ideological fragmentation of Indonesian Muslim students and
da’wa movements in the postreformed era”, Indonesian Journal of Islam and
Muslim Societies, Vol. 6, no.2 (2016), pp. 185-208.
314
Meski pertemuan atau gerakan tersebut tidak spesifik berbicara
masalah dakwah kampus, tetapi di dalamnya ada organisasi-organisasi
dakwah kampus yang terlibat dalam kelompok tersebut.

281
yang dirasa cukup aman untuk mengkaji Islam, pergerakan, dan
masalah-masalah sosial-politik bangsa .
Tidak berbeda dengan kalangan moderat, kelompok radikalis
pun dalam mengejawantahkan ideologi pergerakannya terjadi
kontestasi antara satu dengan lainnya. Kelompok Jama’ah Tarbiyah
(JT) dan HTI merupakan dua organisasi yang dipengaruhi oleh
gerakan Islam yang berkembang di Timur Tengah. Jama’ah
Tarbiyah dipengaruhi gerakan Ikhwanul Muslimin, sementara HTI
merupakan bagian dari gerakan Hizbut Tahrir yang dibangun (1953
M) oleh Taqiyuddin An-Nabhani (1909-1977 M). Hasan al-Banna
(1906-1949) dan An-Nabhani, keduanya banyak memiliki
pemikiran-pemikiran yang sama dan bahkan pernah bergabung
dalam organisasi Ikhwanul Muslimin. Karena terjadi perbedaan
prinsip dalam politik Islam, dimana Al-Banna cenderung evolutif
dalam mengembangkan politik Islam (pemerintahan Islam),
sedangkan An-Nabhany bersifat revolusioner, sehingga keduanya
berpisah dalam pengembangan perjuangannya.
Perbedaan inilah yang juga berdampak dalam kontestasi
ideologi di kalangan para aktivis dakwah kampus. Kelompok JT
mudah untuk beradaptasi dan masuk ke dalam sistem kampus,
sementara kelompok HTI berjuang di luar kampus yang cenderung
underground. Pada awal pergerakannya keduanya dikenal sebagai
kelompok “usroh”, tetapi kedua kelompok ini sulit untuk bersama
dan cenderung berkontestasi. Mereka saling berebut pengaruh
untuk menduduki jabatan senat mahasiswa, juga dalam mencari
kader-kader yang ada di kampus. Setelah JT bermetamorfosis
dengan mendirikan KAMMI dan masuk dalam sistem organisasi
kemahasiswaan yang ada di Indonesia, sementara HTI tidak masuk
dalam sistem, orientasi perjuangan kedua organisasi tersebut mulai
nampak adanya perbedaan yang signifikan. Namun keduanya
sama-sama mengembangkan ideologi yang radikal.
Menurut Zuly Qadir, JT dan HTI merupakan gerakan Islam
politik yang memiliki basis massa pada kelompoknya masing-
masing, hanya belakangan dalam menyebarkan gagasan-gagasannya
dibungkus (memanipulasi dirinya) dalam gerakan dakwah Islam
amar ma’ruf nahi munkar, seperti yang dilakukan oleh NU dan

282
Muhammadiyah.315 Lebih lanjut dikatakan bahwa Islam tidak
membutuhkan partai politik sebagai bagian dari gerakannya. Islam
adalah agama dan gerakan dakwah, sementara politik adalah
gerakan kekuasaan. Dalam sejarah jika agama ditunggangi politik,
bukan agama yang akan keluar sebagai pemenang tetapi agama
akan dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan politik
316
kekuasaan.
Berbeda dengan JT dan HTI, NII (kadang dikenal dengan
sebutan IIN, Lembaga Kerasulan (LK), atau Darul Islam)
merupakan organisasi yang tumbuh dari gerakan separatis DI/TII
yang ada di Indonesia. Gerakan ini pun ambil bagian dalam
pembentukan ideologi radikal di kalangan mahasiswa. Mereka
merekrut mahasiswa untuk menjadi kader-kader yang
memperjuangkan tegaknya negara Islam Indonesia. Gerakan yang
dilakukan oleh mereka lebih smooth dan biasanya cenderung
menggunakan dakwah fardiyah. Kalau pun dilakukan kajian dan
pembai’atan, mereka menggunakan tempat-tempat yang agak
tertutup, biasanya di luar kampus. Jika ditelusuri lebih jauh paham
dan ideologi mereka lebih radikal. Aktivis NII tidak mau
mengucapkan salam kepada sesama mahasiswa yang bukan
kelompoknya, belum ada kewajiban untuk shalat, boleh berbohong
kepada orang tua yang dianggap belum Islam seperti mereka, bisa
menggunakan uang SPP untuk penyucian dosa dan perjuangan
tegaknya negara, dan lain sebagainya. Paham dan ideologi NII
bukan hanya berkontestasi dengan kelompok radikal lainnya,
bahkan kelompok ini cendrung berkontestasi dengan semua
organisasi dakwah kampus yang tidak sepaham dengan mereka.
Selanjutnya, ideologi liberal tumbuh dan berkembang di
kalangan mahasiswa terutama setelah era reformasi. Pertumbuhan
ini pun lebih banyak dipicu oleh lahirnya berbagai organisasi dan
paham keagamaan yang bersifat radikal dan juga dipengaruhi oleh
pemikir-pemikir Islam dunia yang westernis dan liberal. Meskipun
ada sebagian pandangan yang mengaitkan dengan tokoh-tokoh
liberalis yang berkembang pada tahun 1970-an, seperti Nurcholish
Madjid dan Harun Nasution. Namun, pendapat ini cukup lemah
315
Zuly Qodir, Gerakan Sosial Islam...., hlm. 98.
316
Zuly Qodir, Gerakan Sosial Islam...., hlm. 120.

283
karena JIL (jaringan Islam Liberal), JIMM (Jaringan Islam Muda
Muhammadiyah), dan Post-tradisionalisme yang banyak
menyuarakan Islam liberal mulai tumbah dan berkembang setelah
era reformasi.
Perkembangan ideologi liberal di kalangan aktivis dakwah
kampus kurang mendapatkan tempat. Mengingat kampus-kampus
umum sudah didominasi oleh kelompok Islam yang berideologi
radikal, sementara di kampus-kampus agama amat jarang organisasi
semacam LDK yang berjuang khusus untuk kegiatan dakwah,
kebanyakan kegiatan dakwah digerakkan oleh organisasi ekstra
kampus. Oleh karenanya, ideologi liberal bisa masuk hanya pada
sebagian kecil aktivis dakwah kampus yang terlibat di HMI, PMII,
dan IMM dan hal ini amat sulit untuk bisa eksis di kampus-kampus
umum. Apalagi muncul keputusan Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI No.
26?DIKTI/KEP/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra
Kampus atau Partai Politik Dalam Kehidupan Kampus, praktis
organisasi HMI, PMII, dan IMM yang sebagian kecil berpaham
ideologi liberal kurang berkembang di dalam aktivitas dakwah
kampus.

KONTRUKSI DAKWAH KAMPUS ERA MILENIAL


Dari uraian di atas menunjukkan secara jelas bahwa gerakan
dakwah kampus sejak diberlakukan BKK/NKK oleh Pemerintah
RI (memasuki era tahun 1980-an) cenderung didominasi oleh
kelompok yang berpaham ideologi radikalis/ fundamentalis hingga
sekarang ini. Mereka masuk dengan mudah melalui masjid yang
dianggap netral dan sebagai basis perjuangan umat seperti yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.
Terbentuknya kelompok radikalis di kalangan aktivis masjid
atau dakwah kampus tentu tidak terlepas dari perbincangan
masalah-masalah sosial-politik, keberagamaan, kemahasiswaan, dan
kehidupan kampus. Masalah-masalah tersebut tidak hanya
dibicarakan sekali atau dua kali saja, tetapi berulang-ulang dan
bahkan sering mengkaitkan bahasan tersebut dengan institusi,
wacana global, atau pranata sosial lainnya. Dalam konteks inilah
wacana tumbuh dan berkembang. Bagaimana strategi diskursif

284
(discourse) yang dikembangkan oleh kelompok radikal sehingga
mendominasi kegiatan dakwah di kampus menjadi penting untuk
dijelaskan dalam tulisan ini.
Menurut teori wacana, Manusia ada bukan karena ia berpikir
rasional, melainkan karena bahasa. Manusia berpikir dan mengada
dengan dan melalui bahasa. Bahasa adalah sistem simbol yang
secara arbitrer (sekonyong-konyong) menghubungkan antara
penanda (signifier/isim/nama) dengan petanda (signified/
musamma/yang dinamai). Munculnya kata “islam radikal” karena
menandakan adanya simbol-simbol yang bersifat radikal. Bagi
Michael foucault (1926-1984 M), seorang filsuf Perancis,
pengetahuan identik dengan kekuasaan. Kekuasaan tidak terpusat
melainkan menyebar kemana-mana. Kekuasaan tidak terletak pada
subjek manusia, melainkan pada bahasa itu sendiri. Pandangan
Foucault semacam itu karena wacana, baginya, tidak bisa berdiri
sendiri melainkan tumbuh dalam relasi-relasi kuasa. Wacana
merupakan suatu kelompok dari berbagai pernyataan, bukan satu
atau dua pernyataan dan kumpulan pernyataan itu dibentuk melalui
sistem formasi tertentu.317
Kata “terorisme” menjadi wacana yang trendi setelah tragedi
9/11 di Amerika dan kata ini tidak akan menjadi wacana apabila
yang menyampaikan tidak memiliki kekuasaan. Kata ini diucapkan
seorang presiden Amerika yang menjadi negara adi daya. Kata ini
selanjutnya ditulis dan di blow up oleh media massa yang notabene
dikuasai oleh negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.
Kebetulan atau memang disengaja, pelaku tragedi tersebut adalah
orang yang menggunakan simbol-simbol keislaman berjenggot,
pakai jubah, dan bersorban, maka wacana yang berkembang
dikaitkan dengan Islam sehingga lahirlah kata “Islam sebagai agama
teroris” atau “terorisme Islam” .
Selain itu, di dalam teori wacana juga dinyatakan bahwa
dibalik bahasa dan kekuasaan, ada ideologi tersembunyi yang
menjadi pemicu lahirnya bahasa yang diwacanakan. Ideologi bisa
diungkap manakala peneliti mengkaji kata-kata atau dialog yang

317
Penny Powers, “The Philosophical Foundations of Foucaultian
Discourse Analysis”, Critical Approaches to Discourse Analysis across
Disciplines 1 (2): 18-34.

285
diperbincangkan. Muhammad Abid Al-Jabiri, mengungkap
peristiwa mihnah yang dianggap sebagai bentuk radikalisme yang
ada di dalam sejarah Islam, merupakan sebuah pertarungan
kekuasaan di antara anak-anak Harun al-Rasyid, yakni al-Amin, al-
Ma’mun, dan al-Mu’tamin. Penguasa pada saat itu yang berideologi
“mu’tazilah” menekan Imam Ahmad Ibn Hanbal yang berideologi
“Sunni” untuk mengakui kemakhlukan al-Qur’an. Hubungan
Ideologi dan kekuasaan ini terungkap setelah al-Jabiri mengkaji
dialog-dialog yang terjadi antara Imam Ahmad dan Penguasa.
Bukan dialog yang humanis yang terjadi, tetapi sebuah pemaksaan
ideologi dari penguasa kepada Imam Ahmad.318
Demikian halnya dengan gerakan dakwah kelompok radikal.
Mereka disebut berideologi radikal karena strategi diskursif yang
dikembangkan menunjukkan bentuk-bentuk radikal. Penggunaan
kata “Islam Kaffah”, “penerapan Syari’at Islam”, “jahiliyah
modern”, “al-walla wa al-barra”, “jihad fi sabilillah”, Amar Ma’ruf
Nahi Munkar”, “syakhsiyyah islamiyyah”, “daurah Islamiyyah”,
“usroh”, “murabbi”, “thogut”, dan lain sebagainya, merupakan
kata-kata yang paling banyak diperbincangkan dalam proses
kaderisasi yang ada di lembaga dakwah kampus. Kata-kata tersebut
sebenarnya tidak ada masalah dan relevan dengan ajaran-ajaran
Islam. Namun, problemnya ketika mereka menafsirkan makna-
makna tersebut bersifat eksklusif, subyektif, ideologis, a-historis,
dan benar menurut tafsir mereka saja. Akhirnya, kata-kata itu
menjadi wacana dan wacana tersebut membentuk pribadi dan
kelompok yang fanatik, intoleran, dan dalam kadar tertentu bersifat
radikal.
Strategi diskursif yang mereka kembangkan bisa melalui
pertemuan yang informal, kegiatan mentoring, daurah Islamiyah,
rihlah, mabit, seminar/bedah buku, penyebaran buletin/majalah
mingguan atau bulanan, dan halaqah atau forum pertemuan antar
aktivis dakwah kampus. Strategi diskursif yang dikembangkan
selain memperkuat pemahaman keislaman para anggota dan aktivis
dakwah kampus, juga agama dikaitkan dengan persoalan-persoalan
yang menjerat umat Islam dan bangsa Indonesia hingga akhirnya
318
Mujiburrahman, Mengindonesiakan Islam: Representasi dan
Ideologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, hlm. 40-42.

286
mereka mewacanakan perlunya khilafah Islamiyah, pemerintahan
yang islam atau tegaknya negara Islam Indonesia. Wacana ini
tentunya akan bertentangan dengan ideologi yang telah disepakati
oleh bangsa Indonesia, yakni ideologi Pancasila dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bagaimana merubah kekuasaan atau ideologi radikal yang
telah menghegemoni319 di kalangan aktivis dakwah kampus atau
mahasiswa pada umumnya? Menurut Antonio Gramsci (1891-
1937 M), seorang Filsuf Italia, kekuasaan agar dapat abadi dan
langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama,
adalah perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan
yang bersifat memaksa atau dengan kata lain kekuasaan
membutuhkan perangkat kerja yang bernuansa law enforcemant.
Kedua, perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta
pranata-pranata untuk taat pada mereka yang berkuasa melalui
kehidupan beragama, pendidikan, kesenian dan bahkan juga
keluarga. Perangkat kerja ini biasanya dilakukan oleh pranata
masyarakat sipil (civil society) melalui lembaga-lembaga masyarakat
seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi sosial dan
keagamaan, paguyuban-paguyuban dan kelompok-kelompok
kepentingan (interest groups).320
Kita bisa belajar dari sejarah pergerakan mahasiswa, apabila
mereka ditekan atau dipaksa oleh pemerintah, seperti yang terjadi
pada era tahun 1978 dimana pemerintah mengeluarkan kebijakan
BKK/NKK, dipastikan mahasiswa akan melakukan perlawanan
dan mengatur strategi alternatif sehingga lahirlah gerakan-gerakan
Islam radikal di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, pilihan
perangkat pertama kurang sesuai untuk diterapkan dalam

319
Hegemoni, menurut Gramsci, adalah sebuah konsensus dimana
ketertundukan diperoleh melalui penerimaan ideologi kelas yang
menghegemoni oleh kelas yang terhegemoni. Hegemoni bukan hubungan
dominasi dengan menggunakan kekuasaan, tetapi hubungan persetujuan
dengan mengunakan kepemimpinan politik dan ideologis. Endah Siswati,
“Anatomi Teori Hegemoni Antonio Gramsci”, Jurnal Translitera Edisi
5/2017, hlm. 26.
320
Mark C. J. Stoddart, ”Ideology, Hegemony, Discourse: A Critical
Review of Theories of Knowledge and Power”, Social Thought & Research,
Vol. 28, hlm. 200.

287
mengatasi gerakan dakwah kampus yang cenderung berideologi
radikal. Kekuasaan memaksa yang melahirkan dominasi akan
menghasilkan stabilitas dan keamanan yang sesaat karena mereka
tidak memiliki daya untuk melakukan perlawanan.
Pilihan yang memungkinkan kekuasaan itu langgeng atau
menggantikan hegemoni yang ada dalam dakwah kampus,
dibutuhkan adanya hegemoni moral dan intelektual secara
konsensus. Mahasiswa melakukan aktivitas dakwah atau
kemahasiswaan tidak karena terpaksa, tetapi karena kesukarelaan
(voluntarisme) dan partisipasi mahasiswa itu sendiri. Kesadaran
akan pentingnya moralitas dan intelektualitas dalam berinteraksi,
menjalankan ajaran agama, dan berbagai aktivitas lainnya menjadi
prasyarat penting dakwah kampus di masa depan. Dakwah kampus
tidak boleh dihegemoni oleh kelompok tertentu, tetapi
dikembangkan berdasarkan konsensus dari berbagai kekuatan
organisasi dakwah atau organisasi kemahasiswaan lainnya. Untuk
mencapai hal tersebut diperlukan perjuangan politik,
kepemimpinan intelektual, dan penyadaran ideologi melalui
pendidikan dan mekanisme kelembagaan.
Kampus hendaknya memberikan ruang publik (public sphere)
terbuka kepada semua organisasi/lembaga dakwah untuk ambil
bagian dalam kegiatan dakwah kampus. Adanya Keputusan Dirjen
Dikti yang melarang organisasi ekstra kampus masuk ke dalam
kegiatan kampus sudah tidak relevan lagi. Saya mengapresiasi
ketika Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
meluncurkan Permenristekdikti No. 55 Tahun 2018 tentang
Pembinaan Ideologi Bangsa dalam Kegiatan Kemahasiswaan di
Perguruan Tinggi pada tanggal 29 Oktober 2018. Dalam peraturan
ini disebutkan bahwa Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP)
diperbolehkan masuk kampus.321 Meski demikian, peraturan yang
baru ini mesti dikritisi dalam implementasinya, jangan sampai ada
ruang pembatasan dan pemaksaan yang dilakukan oleh Rektor
yang diberi kewenangan untuk mengawasi kegiatan organisasi
kemahasiswaan yang dibentuk melalui Unit Kegiatan Mahasiswa
Pengawal Ideologi Bangsa (UKM-PIB). Jika hal ini terjadi, kita

321
[Link] 29 Oktober 2018.

288
terlepas dari satu hegemoni Islam radikal akan menimbulkan
hegemoni baru yang mengekang kreativitas dan keberagamaan
mahasiswa.
Dengan adanya ruang terbuka, organisasi dakwah kampus
yang berideologi moderat dan liberal dapat masuk ke dalam
aktivitas dakwah kampus. Kampus menjadi arena konsensus yang
dapat mengembangkan dakwah yang rahmatan lil’alamin. Semua
orang bisa berpartisipasi dan dengan kesadaran sendiri mahasiswa
ikut terlibat dalam berbagai organisasi dakwah kampus. Hal yang
perlu diperkuat sikap kritis dan toleran antar organisasi perlu
ditumbuhkembangkan di kalangan mahasiswa.
Selain itu, pada saat ini belajar agama Islam kurang
komprehensif manakala hanya menggunakan satu pendekatan
agama saja (Pendekatan normatif). Agama bukan hanya berada
dalam teks-teks tertulis atau lisan saja, tetapi agama sangat terkait
dengan keberagamaan seseorang. Keyakinan, ideologi, spiritualitas,
ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial seorang pemeluk agama
merupakan realitas kehidupan yang begitu kompleks dan nyata.
Jika persoalan hidup manusia hanya didekati dengan satu
pendekatan agama saja, hasilnya tidak akan maksimal. Karenanya
pada era sekarang ini, ahli hukum banyak mengeluarkan fatwa
dengan menggunakan berbagai disiplin keilmuan. Dalam bahasa
lain, an-nushush al-mutanaahiyah wa al-waqi’ ghair mutanaahiyah (Nash-
nash itu terbatas, sementara realitas kehidupan manusia tidak
terbatas).
Oleh karena itu, materi-materi dakwah yang disampaikan
oleh para aktivis dakwah, jangan hanya berisi pada materi pokok
aqidah, syari’ah, dan akhlak yang berorientasi pada fiqh, al-qur’an
dan al-hadits (dalam tafsir literar dan terbatas), dan pandangan
ulama salaf. Da’i hendaknya memasukkan dan mengintegrasikan
materi-materi agama dengan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam.
Materi dikemas dalam tema-tema keseharian mahasiswa yang
terkait dengan kehidupan modern, tantangan masa depan,
problematika remaja, dan perkembangan iptek.
Kemudian materi-materi dakwah yang selama ini diajarkan
oleh kelompok Islam radikal maupun islam liberal perlu dilakukan
revitalisasi dengan memperkuat pemahaman ajaran Islam yang

289
moderat dan mensinergikan dengan pendidikan kewarganegaraan.
Menurut Nailil Muna Yusak “integration of knowledge and revitalizing
the content of civics education subjects are two key strategies taken by the
university to address the issue of radicalism”.322
Demikian juga, materi-materi pendidikan agama Islam yang
diajarkan di kampus-kampus, tidak hanya sekedar mengenalkan
ajaran Islam dan selesai sampai pada tataran kognitif. Meskipun sks
pendidikan agama Islam ditambah, tetapi proses pembelajaran
sebatas hapalan dan indoktrinasi, kurang memberikan dampak
yang signifikan. Mahasiswa perlu diberikan materi-materi yang
mudah untuk dipraktekkan dalam kehidupan mahasiswa dan
diperkuat dengan menggunakan pendekatan interdisipliner/
multidisipliner/ lintas disiplin.

PENUTUP
Radikalisme Islam yang disinyalir menyasar kalangan
mahasiswa tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Paham ini masuk
melalui kegiatan dakwah kampus yang tumbuh pesat akibat dari
pengaruh konflik di Timur Tengah dan adanya tindakan refresif
dari pemerintah Indonesia terhadap kegiatan kemahasiswaan.
Mengingat radikalisme Islam telah menghegemoni kegiatan
dakwah kampus hingga sekarang ini, maka diperlukan adanya
gerakan moral dan intelektual yang dilakukan secara konsensus
sebagai counter terhadap gerakan radikalisme Islam. Organisasi
kemasyarakatan pemuda (OKP) atau organisasi dakwah kampus
diberi kesempatan masuk ke kampus untuk mengawal gerakan
moral dan intelektual tersebut. Gerakan dilakukan dengan cara
melakukan perjuangan politik, kepemimpinan intelektual, dan
penyadaran ideologi melalui pendidikan dan mekanisme
kelembagaan. Selain itu, materi-materi dakwah hendaknya dikemas
dalam balutan Islam moderat dengan mensinergikan ajaran agama
Islam, sains, dan pendidikan kewargaan melalui pendekatan
interdisipliner/multidisipliner/lintas disiplin.

322
Nailil Muna Yusak, “The Liberal Arts in Islamic Higher Education:
Problem and Prospect in Indonesia, International Journal of Social
Sciences,Special Issue Vol.1 Issue 1, pp. 724-736.

290
BELAJAR TOLERANSI BERAGAMA
DARI KEPOLISIAN

Pembangunan rumah ibadah di suatu daerah merupakan hal


yang biasa. Tetapi ada hal yang berbeda dan menarik dari
pembangunan rumah ibadah di Sekolah Polisi Negara (SPN)
Purwokerto. Menurut penuturan kepala SPN Purwokerto, saat
meresmikan pembangunan masjid Nurul Ikhlas pertengahan Juli
lalu, pembangunan masjid di kompleks SPN dibangun oleh para
donatur dan tenaga yang berasal dari umat Islam dan umat
beragama lainnya. Mulai dari peletakan batu pertama hingga
selesainya pembangunan masjid, dilakukan kerjasama antar umat
beragama. Bahkan, alat pengeras suara yang ada di masjid pun
didesain supaya tidak mengganggu rumah ibadah yang ada di
sebelah kiri dan kanan yaitu Gereja dan Pura. Karena
pembangunan Gereja dan Pura pun juga tidak hanya dilakukan
oleh penganut Kristen dan Hindu saja, melainkan oleh umat
beragama lain, termasuk umat Islam.
Pengalaman dalam membangun rumah ibadah semacam itu
merupakan modal dasar yang kuat untuk membangun toleransi
antar umat beragama. Kenyataan yang telah terjadi di masyarakat,
ada pembangunan rumah ibadah suatu agama digagalkan oleh
umat agama lain disebabkan karena adanya jurang pemisah antara
agama yang satu dengan agama yang lain. Kecurigaan dan antipati
terhadap agama lain merupakan faktor utama yang menyebabkan
para pemeluk agama berupaya untuk menghalangi pembangunan
rumah ibadah.
Sementara, dengan berbekal pengalaman bersama dalam
membangun rumah ibadah, maka para pemeluk agama yang ada di
lingkungan tersebut merasa memiliki rumah ibadah. Meskipun
demikian, dalam persoalan ibadah, masing-masing melakukan
sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Tidak mungkin
mereka akan mencampurbaurkan antara agama yang satu dengan
agama yang lainnya. Bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku
(lakum diinukum waliyadiin), itulah prinsip dan semangat yang harus
dipegang teguh.

291
Semangat toleransi beragama semacam itulah yang ingin
ditanamkan kepada para anggota polisi, kata kepala SPN
Purwokerto, Kombes Didik Andiono. Pembangunan toleransi
beragama harus dimulai dari hal-hal yang mendasar terlebih
dahulu, yakni kebersamaan antar pemeluk agama. Semangat
kebersamaan merupakan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia
sebagai makhluk sosial. Sejak lahir ke dunia ini manusia sudah
membutuhkan bantuan orang lain dan secara naluriah orang lain
pun bersedia membantunya. Bantuan tidak mengenal perbedaan
dari sisi adat, suku, ras dan agama. Semangat membantu dan
kebersamaan semacam itulah yang seharusnya tidak hilang dari diri
seorang pemeluk agama ketika dalam realitasnya ia berbeda-beda
dalam memeluk agama.
Gagasan untuk membangun toleransi beragama di kalangan
polisi ini patut diapresiasi dan didukung sepenuhnya oleh berbagai
elemen masyarakat dan para pemeluk agama. Apalagi gagasan ini
berangkat dari SPN yang nota bene sebagai lembaga yang mendidik
para anggota polisi yang profesional. SPN memiliki tanggung
jawab besar untuk meningkatkan citra dan profesionalisme jajaran
kepolisian.
Setidaknya, ada tiga implikasi positif yang dapat
ditindaklanjuti dari gagasan tersebut: Pertama, secara internal jajaran
kepolisian harus melakukan proses pendidikan yang tidak hanya
menyentuh aspek fisik dan intelektual saja, melainkan juga aspek
sosial, emosional dan spiritual. Selain itu, polisi juga perlu dilatih
melalui pendidikan life skill (ketrampilan hidup) secara langsung di
masyarakat. Tujuannya agar polisi lebih mengenal dan memahami
masyarakat dan sebaliknya masyarakat juga lebih mengetahui
kedudukan dan peran polisi di masyarakat. Adanya saling
memahami antara polisi dengan masyarakat akan menimbulkan
hubungan yang harmonis antar keduanya.
Konsepsi pendidikan tersebut sesuai dengan konsepsi
pendidikan yang dikembangkan oleh UNESCO, bahwa pendidikan
tidak sekedar mengenalkan pengetahuan kepada peserta didik
(learning to know), tetapi peserta didik perlu dimotivasi untuk
melakukan sendiri dalam proses pengembangan ilmu (lerning to do)
dan merubah dirinya menjadi manusia yang lebih berguna (learning

292
to be) dan bisa hidup bersama di masyarakat dengan baik (learning to
life together).
Kedua, semangat toleransi beragama dan kebersamaan yang
ditanamkan polisi pada saat pendidikan, hendaknya diwujudkan
ketika mereka berkiprah di masyarakat. Kesan ekslusif dan hanya
ada di masyarakat pada saat ada masalah, hendaknya dibuang jauh-
jauh. Polisi perlu berbaur dan berinteraksi secara intensif dengan
masyarakat. Dengan cara tersebut, sikap kebersamaan dan toleransi
beragama yang dimiliki oleh Polisi dapat dikembangkan di
masyarakat dan secara perlahan dapat merubah citra negatif polisi
di masyarakat.
Ketiga, masyarakat perlu mengapresiasi gagasan toleransi
beragama yang dikembangkan oleh polisi. Citra negatif yang
melekat pada polisi hendaknya disingkirkan dari pandangan
masyarakat. Sebagai pemeluk agama yang baik, masyarakat
hendaknya mampu berpikir positif (positive thinking) terhadap
gagasan atau masukan dari orang atau lembaga lain. Dengan
berpikir positif akan lahir persepsi, sikap dan tindakan yang baik.
Betapa banyak kerusuhan, tindakan anarkis dan penghancuran
rumah ibadah disebabkan karena adanya pikiran yang sempit dan
negatif terhadap orang lain. Mengingat pola pikir seseorang
merupakan faktor utama dalam pembentukan sikap dan tindakan
yang dilakukannya. Jika pola pikirnya positif, maka sikap dan
tindakannya pun akan positif dan sebaliknya jika pola pikirnya
negatif, akan lahir sikap dan tindakan yang negatif.
Untuk itulah gagasan toleransi beragama yang dibangun dari
kerjasama antara pemeluk agama perlu diperluas dalam berbagai
kegiatan kemasyarakatan. Toleransi tidak hanya dibangun melalui
wacana dan dialog antar umat beragama, melainkan perlu
diwujudkan dalam kerja-kerja nyata di masyarakat. Kita memiliki
problem kemanusiaan yang bersifat universal dan membutuhkan
pemecahan dari berbagai pemeluk agama. Kemiskinan,
pengangguran, global warming, dan krisis moral merupakan
problem kemanusiaan yang sedang dihadapi oleh bangsa dan
masyarakat Indonesia. Sudah seharusnya, para pemeluk agama
saling bahu membahu dalam mengatasi problem kemanusiaan
tersebut. Dan kita juga berharap agar pak polisi terus berkomitmen

293
untuk mengembangkan gagasan toleransi beragama dan
kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

294
URGENSI KEBERPIHAKAN POLITIK
NEGARA DALAM AGENDA DAKWAH DI
INDONESIA

PENDAHULUAN
Hasil temuan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan
Masyarakat (P3M) tentang 41 masjid lingkungan kantor
pemerintahan yang terpapar radikalisme menjadi wacana yang
terbuka untuk diperdebatkan. Pro dan kontra terhadap hasil
temuan tersebut tidak bisa dielakkan. Dalam salah satu acara
Indonesia Lawyers Club yang disiarkan oleh TV one pada tanggal
27 November 2018 dengan tema “benarkah 41 masjid terpapar
radikal? telah menunjukkan adanya perdebatan tersebut. Dalam
acara tersebut, ada yang meragukan hasil riset yang ditemukan,
salah paham terhadap makna radikal, dan bahkan ada yang
mengatakan bahwa riset tersebut merupakan pesanan khusus
untuk menyerang kelompok tertentu.
Terlepas dari perdebatan yang ada, bagi penulis, hasil temuan
tersebut bisa menjadi bahan introspeksi dan evaluasi terhadap
aktivitas dakwah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian
dalam evaluasinya. Wilayah dakwah menjadi arena terbuka untuk
siapapun bisa aktif di dalamnya. Dakwah yang dinyatakan dalam
hadits Nabi sebagai kewajiban individu dapat menjadi dasar setiap
individu bisa terlibat dalam aktivitas dakwah. Kalangan ulama,
birokrat, artis, seniman, pekerja sosial, guru, dokter, pelajar,
mahasiswa, dan lainnya bisa terlibat dalam aktivitas dakwah.
Apalagi di kalangan masyarakat umum, dakwah dikenal dengan
aktivitas penyampaian Islam yang dilakukan dengan menggunakan
kemampuan bahasa verbal (ceramah), maka mereka yang memiliki
kemampuan atau keahlian dalam berbicara bisa dengan mudah
masuk dalam ranah dakwah.
Dakwah juga menjadi arena yang banyak diperebutkan oleh
kalangan ormas dan organisasi-organisasi sosial-politik yang ada di
Indonesia. Para aktivis ormas dan organisasi memanfaatkan ruang
dakwah untuk menyampaikan visi, misi, program, dan
kepentingan-kepentingan tertentu. Mereka membungkus semuanya

295
dalam ranah dakwah, sehingga terkesan bahwa apa yang dibawanya
merupakan titah Tuhan dan memberi manfaat bagi kehidupan
masyarakat. Meski terkadang apa yang disampaikan bertentangan
dengan dalil dan logika agama. Seorang aktivitis dari satu ormas
terkadang kurang peduli dengan ormas dan organisasi lain yang
berseberangan dengannya. Hal terpenting, apa yang menjadi misi
dna kepentingannya bisa tersampaikan. Pada konteks inilah, tidak
mengherankan apabila seringkali terjadi perseteruan, konflik, dan
perpecahan antar ormas dan organisasi.
Dengan demikian, aktivitas dakwah merupakan aktivitas
yang sulit untuk di evaluasi, di supervisi, dan tidak ada lembaga
yang memiliki kekuatan yang superbody untuk bisa menghentikan
gerak langkah dakwah. Untuk itulah keberpihakan peran politik
negara amat diperlukan. Negara dengan karakteristiknya bisa
memaksa, memonopoli, dan memiliki jangkauan yang amat luas
dalam mengendalikan gerak langkah masyarakatnya. Negara juga
bisa memiliki kemampuan dalam mengarahkan masyarakatnya
untuk bisa beraktivitas lebih tertib, teratur, kondusif, dan nyaman.
Negara dengan berbagai perangkatnya bisa melakukan kerjasama
dengan berbagai pihak yang berkepenitngan untuk mengatur dan
mengkoordinasikan jalannya aktivitas dakwah yang lebih santun
dan bijaksana. Untuk itulah, tulisan ini menawarkan beberapa
gagasan penitng yang terkait dengan urgensi keberpihakan politik
negara dalam aktivita dakwah.

AGENDA DAKWAH YANG TERMARJINALKAN


Betitik tolak dari ayat al-Qur’an surat al-Imran ayat 104,
dakwah hendaknya dilakukan secara profesional dan sistemik. Ayat
terebut menyebut ada empat unsur utama yang tidak bisa
dipisahkan dalam aktivitas dakwah, yakni da’i, mad’u (umat
dakwah), materi dakwah, dan tujuan dakwah. Da’i yang profesional
adalah da’i yang bisa memahami kondisi mad’u, memiliki
penguasaan dan pemahaman yang mendalam terhadap materi
dakwah, dan tentunya mampu menyampaikan materi dakwah
dengan baik. Oleh karena itu, da’i hendaknya memiliki empat
kompetensi utama: kompetensi substantif (penguasaan dan
pemahaman materi dakwah), metodologis (kemampuan

296
menyampaikan materi dakwah), personal (kualitas diri da’i), dan
sosial (kemampuan memahami dan bersikap terhadap mad’u).
Empat kompetensi inilah yang mestinya dijadikan standar minimal
bagi seorang da’i, sehingga tidak semua orang bisa dimasukkan
sebagai da’i.
Pada saat pemerintah membuat list (daftar) da’i, belum
disepakati secara bersama antara pemerintah, perguruan tinggi yang
membidangi dakwah, ormas yang bergerak di bidang dakwah, dan
asosiasi dakwah Islam tentang standar apa yang dijadikan indikator
untuk menentukan bahwa seseorang disebut sebagai da’i. Di badan
standar nasional profesi pun belum ada keahlian khusus yang
berkaitan dengan dakwah. Bisa jadi mereka beranggapan bahwa
dakwah bukanlah sebuah profesi, tetapi hanya tugas suci atau
hanya skill individu saja. Padahal dari sisi persyaratan bahwa
aktivitas dikatakan menjadi profesi telah dipenuhi oleh dakwah:
ada lembaga pendidikan yang bergerak di bidang dakwah, ada
asosiasi dakwah, memiliki objek kajian yang jelas sebagai bahan
dalam proses pendidikan, dan mendapatkan penghargaan dari
masyarakat.
Selanjutnya dari sisi aktivitas, kesan yang muncul bahwa
semua kegiatan Islam disebut sebagai kegiatan dakwah. Dakwah
seakan dipahami sebagai sebuah nilai yang memberi justifikasi pada
semua aktivitas kehidupan manusia. Ada dakwah di parlemen,
dakwah di pertanian, dakwah di arena musik, dakwah di bidang
perdagangan, dan sebagainya. Dakwah menjadi kegiatan yang omni
present, bisa hadir dimana saja dan kapan saja. Pada konteks ini,
akan memunculkan problem dimanakah letak profesionalitas
dakwah, bagaimana mengevaluasi kegiatan dakwah, dan bagaimana
standarisasi dakwah yang baik? Problem ini juga perlu dijembatani
oleh pemerintah untuk mengkoordinasikan beberapa elemen atau
institusi untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan
tersebut.
Dalam ranah kebijakan negara, aktivitas dakwah belum
diperhitungkan sebagai bagian dari penentu perubahan masyarakat.
Keamanan, ideologi, ekonomi, politik, pendidikan, dan budaya
merupakan bidang-bidang yang dianggap memberi sumbangsih
besar dalam kehidupan berbangsa, sehingga kebijakan dan politik

297
anggaran ditujukan kepada bidang-bidang tersebut. Sementara,
kegiatan dakwah dan pendidikan luar sekolah masih diabaikan.
Negara kurang adil dan bijaksana dalam mengakomodir
kepentingan masyarakat. Jika memperhatikan jumlah penduduk
orang dewasa di Indonesia tentu jauh lebih besar dibandingkan
dengan jumlah penduduk yang wajib sekolah. Artinya sebagian
besar penduduk Indonesia membutuhkan pendidikan di luar
sekolah dan aktivitas dakwah di masyarakat. Diperkuat lagi,
penduduk Indonesia kebanyakan tinggal di pedesaan yang kurang
mengenyam pendidikan tinggi, sehingga mereka memerlukan
pendidikan yang ada di masyarakat. Bahkan, agama Islam
mengajarkan tentang konsep pendidikan sepanjang hayat dan
memberi pahala yang besar bagi umatnya yang mengikuti
pendidikan, khususnya pendidikan agama. Oleh karena itu, tidak
mengherankan apabila pendidikan agama di masyarakat senantiasa
dihadiri oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Selama ini, kegiatan dakwah dan pendidikan luar sekolah
lebih banyak mengandalkan kepedulian dan partisipasi masyarakat.
Negara mengabaikan keberadaan majelis taklim, masjid, panti
asuhan, bimbingan rohani Islam di rumah sakit, konseling di
lembaga pemasyarakatan, dakwah yang dilakukan oleh ormas
Islam, pembinaan media Islam, dan lain sebagainya.
Implikasi yang ditimbulkan akibat dari kurang pedulinya
politik negara terhadap aktivitas dakwah diantaranya: Pertama,
radikalisme bisa masuk dalam lembaga dakwah di sekolah dan
kampus, lembaga masjid, pondok pesantren, dan majelis taklim
selama aktivitas dakwah masih dalam konsep yang liar dan tidak
sistematis. Kedua, konflik antar dan inter agama memiliki peluang
besar untuk terus berkembang karena da’i, ustadz atau Kyai
merupakan pigur-pigur penting dalam menggerakkan dan
memberdayakan masyarakat. mereka di satu sisi bisa menjadi
motivator, penggerak, dan penyejuk masyarakat, tetapi di sisi lain
mereka juga bisa menjadi provokator, pemecah belah umat, dan
pembangkang negara. Ketiga, pembentukan dan pengembangan
karakter yang menjadi nawacita dari pemerintah Indonesia kurang
efektif karena elemen masyarakat sebagai pembentuk lingkungan
sosial kurang dilibatkan dalam proses tersebut. Keempat, Partisipasi

298
masyarakat dalam mensukseskan program-program pemerintah
kurang mendapatkan dukungan secara penuh karena pemerintah
kurang memberikan dukungan dan apresiasi terhadap kegiatan-
kegiatan yang dilakukan ole masyarakat.

POLITICAL WILL PEMERINTAH TERHADAP


AGENDA DAKWAH DI INDONESIA
Pemilihan Umum tahun 2019 menjadi togak penting bagi
perbaikan bangsa Indonesia ke depan. Dari pemilu ini diharapkan
akan lahir pemimpin-pemimpin yang memiliki perhatian dan
kepedulian pada peningkatan kesejahteraan dan keamanan
masyarakat serta memiliki kepedulian terhadap kegiatan-kegiatan
yang diadakan oleh masyarakat, khususnya umat Islam. Mereka
tidak hanya berjanji dengan program yang manis-manis saja saat
kampanye, tetapi yang paling penting terletak pada
implementasinya setelah terpilih menjadi pemimpin. Rakyat tidak
butuh janji, tetapi bukti. Rakyat sudah memiliki pengalaman yang
panjang dalam mengikuti pemilu dan nyatanya rakyat belum
banyak merasakan dampak yang signifikan dari hasil pemilu.
Umat Islam sebagai komunitas terbesar sudah saatnya
mendapatkan perhatian dan menjadi tuan rumah di negerinya.
Keberpihakan terhadap umat Islam menjadi agenda utama
pemimpin masa depan Indonesia. Banyak agenda umat Islam yang
perlu diselesaikan dan membutuhkan keterlibatan pemimpin
negara. Produk-produk hukum atau perundang-undangan yang
selama ini menyulitkan masyarakat Indonesia (tentunya umat
Islam) perlu direformasi dan diganti dengan peraturan perundang-
undangan yang lebih berpihak pada masyarakat, khususnya
masyarakat kecil dan kelas menengah ke bawah. Demikian juga,
peraturan perundang-undangan yang belum ada dan dianggap
penting untuk perkembangan umat perlu diupayakan.
Beberapa peraturan yang bisa mendukung aktivitas dakwah
dapat menjadi agenda pemimpin masa depan. Peraturan penyiaran
agama yang pernah diproduksi pada era orde baru, SKB Menag
No. 70/1978, SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri
No. 1 Tahun 1978, sudah saatnya perlu ditinjau dan dikembangkan
dengan peraturan penyiaran agama yang lebih mengakomodir

299
kebutuhan pada era modern ini. Dalam peraturan tersebut lebih
banyak bicara tentang penyiaran antar agama dan belum mengatur
tentang penyiaran intern umat beragama. Selain itu, peraturan
tentang kewajiban umat Islam untuk bisa bebas dari buta aksara al-
Qur’an atau bisa membaca al-Qur’an; peraturan tentang
pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis masjid, pondok
pesantren, dan majelis taklim; peraturan tentang keharusan adanya
pengobatan rohani di rumah sakit, dan peraturan tentang adanya
alokasi anggaran untuk kegiatan dakwah dan pendidikan luar
sekolah. Semua produk-produk peraturan tersebut hendaknya
dimusyawarahkan dengan melibatkan masyarakat dan stakeholders
yang terkait dengan bidangnya, sehingga peraturan tidak terkesan
top down dan memaksa rakyat.
Pemerintah sebagai pengayom dan pelayan masyarakat dapat
melakukan koordinasi antar ormas-ormas dan lembaga-lembaga
keagamaan yang bergerak di bidang dakwah serta perguruan tinggi
dalam menyusun konsepsi dakwah, orientasi dakwah, kode etik
dakwah, standarisasi da’i, penyusunan contents dakwah, dan
supervisi lembaga dakwah. Koordinasi diperlukan agar aktivitas
dakwah lebih terarah dan dapat dikelola secara sistemik dan
berkesinambungan, sehingga sejalan dengan program-program
yang dikembangkan oleh pemerintah.
Dalam fasilitasi dan politik anggaran pun diperlukan untuk
pengembangan dakwah. Jika pada zaman era Sahabat Nabi,
pembiayaan dakwah banyak dipenuhi oleh bait al-mal, sementara
pada era sekarang ini tidak ada bait al-mal, akhirnya masyarakat yang
banyak membiayai pengembangan dakwah. Agar fasilitasi dan
pembiayaan tidak membebani masyarakat, kehadiran pemerintah
dalam konteks ini menjadi solusi terbaik. Dengan political will dan
komitmen Pemerintah untuk memajukan masyarakat, fasilitasi dan
penganggaran kegiatan dakwah bisa dilaksanakan.

PENUTUP
Dakwah di era modern ini memerlukan pengelolaan yang
profesional dan tersturktur. Dakwah kurang maksimal manakala
dilakukan oleh orang perorang, tetapi dibutuhkan lembaga dakwah.
Untuk memaksimalkan peran lembaga dakwah dan menghindari

300
adanya konflik antar lembaga dakwah, diperlukan keterlibatan
pengurus, masyarakat, dan pemerintah. Selama ini, aktivitas
dakwah yang dilakukan oleh lembaga dakwah lebih banyak
dilakukan oleh pengurus dan masyarakat, sehingga banyak agenda
dakwah dan agenda masyarakat yang belum terselesaikan secara
efektif. Untuk itulah keterlibatan dan keberpihakan pemerintah
amat diperlukan. Pemerintah bisa menjadi motivator, pemersatu,
dan fasilitator dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan dakwah.

301
DAFTAR PUSTAKA

A. Muis, Komunikasi Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya,


2001.
Abbas Mahmud al-Aqqad. Filsafat Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus.
1996.
Abd al-Hayy al-Farmawi. “Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu’iy:
Dirasah Manhajiah Mawdhuiyyah”. Terjemahan oleh
Suryan A. Jamrah. Metode Tafsir Mawdhu’iy” Sebuah Pengantar.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994.
Abdul Basit, “The ideological fragmentation of Indonesian
Muslim students and da’wa movements in the
postreformed era”, Indonesian Journal of Islam and
Muslim Societies, Vol. 6, no.2 (2016), pp. 185-208.
Abdul Basit, Dakwah Remaja: Kajian Remaja Dan Institusi
Dakwah, Yogyakarta: Fajar Pustaka & STAIN Press,
2011.
Abdul Halim Mahmud. Dakwah Fardiyah Metode Membentuk Pribadi
Muslim. Jakarta: Gema Insani Press. 1995.
Abdul Munir Mulkhan, Ideologisasi Gerakan Dakwah,
(Yogyakarta: SI Press), 2002.
Abdul Munir Mulkhan. Ideologisasi Gerakan Dakwah Episod
Kehidupan M. Natsir dan Azhar Basyir. Yogyakarta: Sipress,
1996.
Abdul Qohar, “Fundamentalisme Islam Mahasiswa Iain Raden
Intan Lampung”, Jurnal TAPIs Vol.12 No.1 Januari-Juni
2016.
Abdulrahman Abdulkadir Kurdi. The Islamic State A Study Based on
The Islamic Holy Constitution. London: Mansell Publishing
Limited.
Abu A’la al-Maududi. Mabadi Asasiyah li Fahm al-Qur’an. Lahore:
Dar al-‘Arubah li al-Da’wah al-Islamiyyah, 1969.
Abu A’la al-Maududi. Mafahim Islamiah Hawl al-Din wa al-Dawlah.
Kuwait: Dar al-Qur’an Linnasyr wa al-Tauji, 1994.
Abu A’la al-Maududi. The Meaning of The al-Qur’an. Vol. 1. Lahore:
Islamic Publications LTD, 1984.

302
Abu al-Fida Ismail Ibn Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Suriah:
Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1969.
Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi al-Naisaburi. Asbab al-
Nuzul. Beirut: al-Maktabah al-Sakafiah, tt.
Abu Dawud. Sunan Abu Dawud. Beirut: Dar al-Fikr, tt.
Achmad [Link] dalam al-Qur’an. Jakarta: Paramadina. 2000.
Achmad Zuhdi DH. “Perkawinan Kontroversial Muhammad
dengan Zaynab binti Jahsh”. Dalam Jurnal Akademika Vol.
08 No. 2 Maret 2001.
Adam Kuper and Jessica Kuper (Ed). The Social Science Encyclopedia.
London & New York: Routledge, 2001.
Agung Sasongkojati, Countering islamic radicalization:
Indonesian experiences, A Research Report Submitted to the
Faculty In Partial Fulfillment of the Graduation Requirements,
16 February 2016.
Agus Ahmad Safei. Memimpin dengan Hati yang Selesai Jejak
Langkah dan Pemikiran Baru Dakwah K.H. Syukriadi
Sambas. Bandung: Pustaka Setia, 2003.
Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan
Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, Jakarta: Integrita
Dinamika Press, 1986.
Ahmad bin Hanbal. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beirut:
Dar al-Fikr, tt.
Ahmad Musthafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi (Terj.). Juz. 4.
Semarang: Toha Putra, 1993.
Ahmad Subandi dan H. Syukriadi Sambas. Dasar-dasar Bimbingan
(al-Irsyad) dalam Dakwah Islam. Bandung: KP Hadid,
1999.
Ahmad Warson Munawwir. Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia.
Yogyakarta: Pesantren Krapyak, 1984.
Ahmad Watik Pratiknya & Abdul Salam M. Sofro (Ed.). Islam,
Etika, dan Kesehatan. Jakarta: CV. Rajawali, 1986.
Akbar S. Ahmed. Islam Today A Short Introduction to The
Muslim World. London and New York : I.B. Tauris
Publishers, 2001.

303
Al-‘Allamah al-Sayyid M. Husein al-Thabathabai. Al-Mizan fi
Tafsir al-Qur’an. Juz II. Beirut: Muassasah al-A’lami lil
Mathbu’at, 1991.
Alamsjah Ratu Perwiranegara. “Prospek Media Massa Islam dalam
Era Informasi”. Dalam Rusdy Hamka dan Rafiq (Peny.)
Islam dan Era Reformasi. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1989.
Al-Bayanuni, Al-Madkhal ila ‘ilm al-Da’wah, (Beirut:
Muassasah al-Risalah), 1991.
Ali al-Usiy. “Metodologi Penafsiran al-Qur’an: Sebuah Tinjauan
Awal”. Dalam al-Hikmah, No. 4 November 1991-Februari
1992.
Ali Musthafa al-Gurabi. Tarikh al-Farq al-Islamiyyah wa nasyatu
Ilm al-Kalam ‘inda al-Muslim. Al-Azhar: Maktabah wa
Mathaba’ah Muhammad Ali Shalih wa Auladuh, tt.
Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan Transformasi 20
Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia, Jakarta: Teraju,
2002.
Amrullah Achmad (Ed.). “Dakwah Islam Sebagai Ilmu: Sebuah
Kajian Epistimologis dan Struktur Keilmuan Dakwah”.
Makalah tidak dipublikasikan.
Amrullah Achmad (Ed.). Dakwah Islam dan Perubahan Sosial.
Yogyakarta: Prima Duta, 1983.
Anders Uhlin. Oposisi Bergerak. Bandung: Mizan, 1988.
Anthony Welch, “Countering Campus Extremism in Southeast
Asia”, International Higher Education, Number 82: Fall
2015.
Aunur Rahim Faqih. Bimbingan dan Konseling dalam Islam.
Yogyakarta: UII Press, 2001.
Awis Karni. “Dakwah Islam di Perkotaan: Studi Kasus Yayasan
Wakaf Paramadina”. Disertasi. Jakarta: PPS IAIN Syarif
Hidayatullah, 2000.
Bahtiar Effendy. Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan
Praktek Politik Islam di Indonesia. Jakarta: Paramadina,
1998.
Basit, Abdul, “The ideological fragmentation of Indonesian
Muslim students and da’wa movements in the

304
postreformed era”, Indonesian Journal of Islam and
Muslim Societies, Vol. 6, no.2 (2016).
Basit, Abdul, Dakwah Remaja: Kajian Remaja Dan Institusi
Dakwah, Yogyakarta: Fajar Pustaka & STAIN Press, 2011.
Bernard Lewis. What Went Wrong? The Clash Between Islam and
Modernity in the Middle East. New York: Oxford
University Press, 2002.
Berret, Dan, “Does Engineering Education Breed Terrorist?”, The
Chronicle of Higher Education, 23 Maret 2016.
Bruce Hoffman, The Use of the Internet By Islamic Extremists,
Santa Monica: the RAND Corporation, 2006.
Budhy Munawar Rachman, “Kata Pengantar”, dalam Hidayat &
Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial.
Jakarta: Paramadina, 1995.
Bukhari. Shahih Abi Abdillah al-Bukhari bi Syarah al-Kirmani.
Beirut: Dar al-Fikr, tt.
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana), cet.
Ke-3, 2008.
Casanova, Jose, “Public Religions Revisited”, International
Conference “Religion Revisited – Women’s Rights and the
Political Instrumentalisation of Religion”, Heinrich-Böll-
Foundation & United Nations Research Institute for Social
Development (UNRISD), 5-6 June 2009, Berlin.
Clifford Geertz. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius,
1993.
Damanik, Ali Said, Fenomena Partai Keadilan Transformasi 20
Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia, Jakarta: Teraju,
2002.
Dan Berrett “Does Engineering Education Breed Terrorist?”,
The Chronicle of Higher Education, 23 Maret 2016.
Darimi. Sunan al-Darimi. Beirut: Dar al-Fikr, tt.
Deddy Djamaluddin Malik. “Peranan Pers Islam di Era
Informasi”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.)Islam
dan Era Informasi. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989.
Deddy Mulyana, Nuansa-Nuansa Komunikasi Meneropong
Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat

305
Kontemporer, (Bandung: Remaja Rosdakarya), cet. Ke-
1, 1999.
Dedi Supriadi. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta:
Adicita Karya Nusa, cet. ke-2, 1999.
Dedy Mulyana. Nuansa-nuansa Komunikasi Meneropong Politik
dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer.
Bandung: Rosda Karya, 1999.
Delic, Zijad, Hermeneutics of Islamic Education and the
Construction of New Muslim Cultures in the West:
Faithful, but reformed, Dissertation of Simon Fraser
University, 2006.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta,
1986.
Departemen Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
004/Menkes/Sk/I/2003, tentang Desentralisasi dalam
Bidang Kesehatan. Jakarta: 2003.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1994.
Diego Gambetta and Steffen Hertog, “Engineers of Jihad”,
Sociology Working Papers, Paper Number 2007-10.
Din Syamsudin dalam Ulumul Qur’an 2/IV/1983.
Ditbinperta Depag RI. Hasil Rumusan Kompetensi Lulusan
Program Studi di PTAI. Jakarta, 2003.
Dzikron Abdillah. Kata Dakwah dalam al-Qur’an. Semarang: IAIN
Walisongo.
Edward W. Said. Covering Islam. terj. Apri Danarto. Yogyakarta:
Penerbit Jendela, 2002.
Endah Siswati, “Anatomi Teori Hegemoni Antonio Gramsci”,
Jurnal Translitera Edisi 5/2017.
Erich Fromm. Memiliki dan Menjadi Tentang Dua Modus
Eksistensi. Jakarta: LP3ES, 1987.
Esposito, John L., The Oxford Encyclopedia of the Modern
Islamic World, Volume I, Oxford: Oxford University
Press, 1995.
Everret K. Rowson. A Muslim Philosopher on the Soul and its
Fate al-‘Amiri’s Kitab al-Amad ala al-Abad. New Haven:
American Oriental Society, 1988.

306
Everret M. Rogers and Thomas M. Steinfatt. Intercultural
Communication. Illinois: Wafeland Press Inc, 1999.
Fadhal AR Bafadal, “Strategi Pengembangan Peran Pemuda:
Moralitas, Intelektualitas, Pribadi, Sosial, dan
Profesional”, dalam Fadhal AR Bafadal, Pemuda dan
Pergumulan Nilai Pada Era Global, (Jakarta: Balitbang
Agama dan Diklat Keagamaan), 2003
Fathi Yakan. Komitmen Muslim Sejati. Solo: Era Intermedia, 2002.
Fathi Yakan. Yang Berjatuhan di Jalan Da’wah. Jakarta: al-I’tishom,
2000.
Fazlurrahman. Cita-cita Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Fazlurrahman. Etika Pengobatan Islam. bandung: Mizan, 1999.
Fazlurrahman. Tema Pokok al-Qur’an. Bandung: Penerbit Pustaka,
1995.
Gambetta, Diego and Steffen Hertog, “Engineers of Jihad”,
Sociology Working Papers, Paper Number 2007-10.
Ghazali. Mukasyafah al-Qulub al-Muqarrab ila ‘Allam al-Guyub.
Beirut: Dar al-Jil, tt.
Hamid Mowlana. Global Communication in Transition The End
of Diversity?. London: Sage Publications, 1996.
Harun Nasution. Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa
Perbandingan. Jakarta: UI Press, 1986.
Hasan Mas’ud al-Thawir. Al-Dakwah Ila Allah Ta’ala ‘Ala Dhau’i
al-Kitab wa al-Sunnah. Beirut: Dar Qutaibah, 1992.
Hasan, Noorhaidi Hasan, “Violent Activism, Islamist ideology, and
the Conquest of Public Space Among Youth in Indonesia”,
in Kathryn (Ed.), Being Young and Growing up in Indonesia,
Leiden, and Boston: Brill, 2015.
Hidayat & Hendroprasetyo. Problem dan Prospek IAIN Antologi
Pendidikan Tinggi Islam. Jakarta: Ditbinperta, 2000.
Hoffman, Bruce, The Use of the Internet By Islamic Extremists,
Santa Monica: the RAND Corporation, 2006.
[Link]
Hugh Kennedy. The Prophet and the Age of the Caliphates.
London: Longman, 1991.
Ibn Hajar al-‘Asqalani. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari.
Beirut: Dar al-Kutub al-‘ilmiah, 2003.

307
Ibn Manzur. Lisan al-‘Arab. Beirut: Dar Shadr, 1990.
Ibn Qayyim al-Jauzi. Al-Tafsir al-Qayyim. Beirut: Dar al-Fikr,
1998.
Ibn Qudamah. Minhajul Qashidin. Terj. Katur Sukardi. Jakarta:
Pustaka al-Kautsar, 1997.
Ibn Sa’ad. Purnama Madinah. Bandung: Al-Bayan.
Ibrahim M. Al-Jamal. Amradh al-Nufus: al-Ghibah, al-Namimah,
al-Syahwah min Manzhar al-Islam. Dar al-Kitab al-‘Araby.
1985.
Ilyas Supena, “Pengembangan Ilmu Dakwah Dalam Perspektif
Filsafat Ilmu Sosial”, Makalah dipresentasikan dalam
semiloka nasional: pengembangan keilmuan dakwah dan
prospek kerja, yang diselenggarakan oleh Fakultas
Dakwah IAIN Walisongo Semarang pada tanggal 19-20
Desember 2008.
Ismail R. Al-Faruqi and Lois Lamya al-Faruqi. The Cultural Atlas
of Islam. New York: Macmillan Publishing Company,
1986.
Ismail Raji al-Faruqi dan Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam,
Bandung: Mizan, 2001.
Jalaludin Rahman. Konsep Perbuatan Manusia Menurut Qur’an.
Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Jalaludin Rahmat. “Konsep-konsep Antropologis”, dalam Budhy
Munawar Rahman, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam
Sejarah. Jakarta: Paramadina, 1994.
John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of the Modern
Islamic World, Volume I, Oxford: Oxford University
Press, 1995, 1995.
John L. Esposito. Islam The Straight Path. New York: Oxford
University Press, 1988.
John M. Echols dan Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia.
Jakarta: Gramedia, 1997.
Jose Casanova, “Public Religions Revisited”, International
Conference “Religion Revisited – Women’s Rights and
the Political Instrumentalisation of Religion”, Heinrich-
Böll-Foundation & United Nations Research Institute for
Social Development (UNRISD), 5-6 June 2009, Berlin.

308
Joseph A. Devito, The Interpersonal Communication Book,
(New York: Longman), 2001.
Joseph A. Devito. The Interpersonal Communication Book. New
York: Longman, 2001.
Journal of Health Communication International Perspective Vol.
8. No. 6 Nov-Dec 2003.
Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action,
Volume 1 (Boston: Beacon Press), 1987.
Komaruddin Hidayat, Wahyu Di Langit Wahyu Di Bumi,
(Jakarta: Paramadina), 2003.
Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Mesjid, Bandung: Mizan, 2001.
Kuntowijoyo. Muslim Tanpa Masjid. Bandung: Mizan, 2001.
Larry Poston. Islamic Da’wah in the West. New York: Oxford
University Press, 1992.
Lee Thayer. Communication and Communication Systems.
Illinois: Richard D. Irwin, Inc, 1968.
Leo W. Jeffres, Mass Media Process and Effects, (Illinois:
Waveland Press), 1986.
Luthfi Hamidi. “Agama dan Tantangan Modernitas”, dalam
Insania No. 7 Th. IV Mei-Juli 1999.
M. al-Razi Fakhruddin. Mafatih al-Ghaib, juz XI. Beirut: Dar al-
Fikr, 1994.
M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural, Bandung: Mizan,
2000.
M. Arifin. Teori-Teori Counseling Umum dan Agama. Jakarta: PT.
Golden Terayon Press, 1994.
M. Dawam Rahardjo, “Topik Kita”, Prisma No. 6, 1985, Tahun
XIV.
M. Natsir. Fiqhud Da’wah. Surakarta: Ramadhani, 1987.
M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
M. Sa’id Ramdlan alButhi. Al-Insan Musayyar am Mukhayyar.
Beirut: Dar al-Fikr al-Mua’shir, 2001.
M. Utsman Najati. Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa. Bandung: Penerbit
Pustaka, 1985.
Majid Tehranian. Global Communication and World Politics.
London: Lynne Rienner Publisher Inc, 1999.

309
Makrum Kholil. “Komunikasi Massa dalam Perspektif al-Qur’an”,
dalam Religia Vol. 3 No. 1 Februari, 2000.
Malik Bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, Bandung:
Mizan, 1994
Malik bin Nabi. Membangun Dunia Baru Islam. Bandung: Mizan,
1994.
Mansour Fakih, “Dakwah : Siapa Yang Diuntungkan?” dalam
Pesantren, No. 4/Vol. IV/1987
Marcel A. Boisard. Humanisme dalam Islam. Jakarta: Bulan
Bintang, 1980.
Mark C. J. Stoddart, ”Ideology, Hegemony, Discourse: A
Critical Review of Theories of Knowledge and Power”,
Social Thought & Research, Vol. 28.
Marshall G.S. Hodgson. The Venture of Islam, terj. Mulyadhi
Kartanegara. Jakarta: Paramdina, Cet. II, 2002.
Masdar F. Mas’udi. “Kemelaratan Musuh Utama Agama-Agama”,
Kompas 14 November 2003.
Mastuki HS, Kebangkitan Santri Cendekia Jejak Historis, Basis
Sosial, dan persebarannya, Ciputat: Pustaka Compass,
2016.
Mastuki HS, Kebangkitan Santri Cendekia Jejak Historis, Basis
Sosial, dan persebarannya, Ciputat: Pustaka Compass,
2016.
Maududi. Mafâhîm Islâmiah Hawl al-Dîn wa al-Daulah.
(Kuwait : Dar al-Qalam Linnasr wa al-Taujî), 1994.
Mehdi Hairi Yazdi. Ilmu Hudhuri Prinsip-Prinsip Epistemologi
dalam Filsafat Islam. Bandung: Mizan, 1994.
Mir Zohair Husain. Global Islamic Politics, Second Edition. New
York: Longman, 2003.
Mubarakfuri. Tuhfat al-Ahwaza. Beirut: Dar al-Fikr, TT.
Muhammad Abu al-Fath al-Bayanuni. Al-Madkhal ila ‘ilm al-
Da’wah. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1991.
Muhammad Baqir Shadr. ”Madrasatil Quraniyah”, terj.
Hidayaturrahman. Pedoman Tafsir Modern. Jakarta:
Risalah Masa, 1992.
Muhammad bin ‘Alan al-Shidiqi. Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh
al-Shalihin. Beirut: Dar al-Fikr, TT.

310
Muhammad Fuad abd al-Baqi. Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-
Qur’an al-Karim. Dar al-Fikr, 1981.
Muhammad Husain Haekal. Sejarah Hidup Muhammad. Bogor:
Litera Antar Nusa, 2000.
Muhammad Khalid Masud. “Modern Usage”, dalam John L.
Esposito, The Oxford Encyclopedia of the Modern
Islamic World, Vol. 1. New York: Oxford University Press,
1995.
Muhammad Mahmud Asshauwaf. Isteri-Isteri Nabi Yang Suci dan
Hikmahnya. Padang: Angkasa Raya, 1992.
Muhammad Rasyid Ridla. Tafsir al-Qur’an al-Hakim al-Syahir bi
Tafsir al-Manar, Juz VII. Dar al-Fikr, TT.
Muhammad Roy Purwanto “Mapping of Religious Thought And
Radical Ideologyfor Higher Education Lecturers In
Indonesia”, Proceedings of 85th ISERD International
Conference, Cairo, Egypt, 11th-12th September 2017.
Muhammad Taqi Misbah al-Yazdi. Durus fi al-‘Aqidah al-
Islamiyah, juz I, al-Syirkah al-‘Alamiyah lil Thaba’ah wa al-
Nasyr Munazzamah al-‘Alam al-Islami, 1995.
Mujiburrahman, Mengindonesiakan Islam: Representasi dan
Ideologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Mujiburrahman, Mengindonesiakan Islam: Representasi dan
Ideologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Munawar A. Anees (Ed). Health Sciences in Early Islam. Vol. I,
Noor Health Foundation and Zahra Publications, 1983.
Muslim. Shahih Muslim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah. TT.
Mustafa Ceric. Roots of Syntthetic Theologi in Islam: A Study of
the Theology of Abu Mansur al-Maturidi. Kualalumpur:
ISTAC, 1995.
Nailil Muna Yusak, “The Liberal Arts in Islamic Higher
Education: Problem and Prospect in Indonesia,
International Journal of Social Sciences,Special Issue
Vol.1 Issue 1, pp. 724-736.
Nasai. Sunan al-Nasai bi Syarah al-Hafizh jalal al-Din al-Suyuthi.
Beirut: Dar al-Fikr, TT.
Noorhaidi Hasan, “Violent Activism, Islamist ideology, and the
Conquest of Public Space Among Youth in Indonesia”,

311
in Kathryn (Ed.), Being Young and Growing up in
Indonesia, Leiden, and Boston: Brill, 2015, 15.
Nurcholish Madjid. Islam Agama Peradaban. Jakarta: Paramadina,
2000.
Olesan, Thomas, Social Movement Theory And Radical Islamic Activism,
Centre for Studies in Islamism and Radicalisation (CIR)
Department of Political Science Aarhus University,
Denmark, May 2009.
Palmer, Richard E., Hermeneutics, Evanston: Northwestern
University Press, 1969.
Paul Ricoeur, History and Hermeneutics, The Journal of
Philosophy, Vol. 73, No. 19, American Philosophical
Assosiation, Nov, 4, 1976, pp. 683-695.
Penny Powers, “The Philosophical Foundations of Foucaultian
Discourse Analysis”, Critical Approaches to Discourse
Analysis across Disciplines 1 (2): 18-34.
Powers, Penny, “The Philosophical Foundations of Foucaultian
Discourse Analysis”, Critical Approaches to Discourse
Analysis across Disciplines 1 (2).
Purwanto, Muhammad Roy, “Mapping of Religious Thought And
Radical Ideologyfor Higher Education Lecturers In
Indonesia”, Proceedings of 85th ISERD International
Conference, Cairo, Egypt, 11th-12th September 2017.
Qodir, Zuly, Gerakan Sosial Islam Manifesto Kaum Beriman,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Qohar, Abdul, “Fundamentalisme Islam Mahasiswa Iain Raden
Intan Lampung”, Jurnal TAPIs Vol.12 No.1 Januari-Juni
2016.
Rahardjo, M. Dawam, “Topik Kita”, Dalam majalah Prisma No. 6,
1985, Tahun XIV.
Ramli Abdul Wahid. Ulumul Qur’an. Jakarta: Rajawali Press, 1993.
Richard E. Palmer, Hermeneutics, Evanston: Northwestern
University Press, 1969.
Ricoeur, Paul, History and Hermeneutics, The Journal of
Philosophy, Vol. 73, No. 19, American Philosophical
Assosiation, Nov, 4, 1976.

312
Rif’at Syauqi Nawawi. “Konsep Manusia Menurut al-Qur’an”,
dalam Rendra K. (Peny.), Metodologi Psikologi Islami.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Rifki Rosyad, A Quest True Islam, The Australian National
University, E Press, 1995.
Robert W. Hefner. Islam Pasar Keadilan. Yogyakarta: LKIS, 2000.
Rosyad, Rifki, A Quest True Islam, The Australian National
University, E Press, 1995.
Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.) Islam dan Era Informasi. Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1989.
S. Noor Chozin. “Dakwah dalam Perspektif Hasan Al-Banna”,
dalam al-Jami’ah Journal of Islamic Studies, Vol. 38 No.2,
2000.
Said Tuhuleley. “Agama Pasar: Titik Temu ‘Langit’ dan ‘Bumi’?
dalam Journal Media Inovasi No. 3 TH. X / 2001.
Saifuddin, “Radikalisme Islam Di Kalangan Mahasiswa”,
Analisis, Volume XI, Nomor 1, Juni 2011.
Samuel P. Huntington. Benturan Antara Peradaban dan Masa
Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001.
Sayyid Qutb. “Ma’alim fi al-Thariq”, terj. Abdul Hayyie al-Kattani
dan Yodi Indrayadi, Petunjuk Jalan. Jakarta: Gema Insani
Press, 2001.
Seyyed Hossein Nasr. Islam Religion History and Civilization.
New York: Harper San Francisco, 2003.
Sidi Gazalba, Islam dan Perubahan Sosiobudaya, (Jakarta:
Pustaka al-Husna), 1983.
Siswati, Endah, “Anatomi Teori Hegemoni Antonio Gramsci”,
Jurnal Translitera Edisi 5/2017.
Sitompul, Agussalim, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan
Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia, Jakarta: Integrita
Dinamika Press, 1986.
Solahudin, NII sampai JI Salafy Jihadisme di Indonesia, Jakarta:
Komunitas Bambu, 2011.
Solahudin, NII sampai JI Salafy Jihadisme di Indonesia, Jakarta:
Komunitas Bambu, 2011.
Sri Budi Eko Wardani. “Dinamika Politik Internasional dan Posisi
Indonesia”, dalam Saksi No. 20 Th. IV 9 Juli 2002.

313
Stoddart, Mark C. J., ”Ideology, Hegemony, Discourse: A Critical
Review of Theories of Knowledge and Power”, Social
Thought & Research, Vol. 28.
Stuart Allam. Issues in Cultural and Media Studies. Philadelphia:
Open University Press, 1999.
Syeikh Ali Mahfudz. Hidayah al-Mursyidin, terj. Yogyakarta: Usaha
Penerbit Tiga A, 1970.
Taufik Adnan Amal. Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an. Yogyakarta:
FKBA, 2001.
Taufik al-Wa’i. Al-Da’wah ila Allah. Mesir: Dar al-Yakin, 1995.
Thalhas, T.H. dkk. Tafsir Pase. Jakarta: Bale Kajian Tafsir al-
Qur’an Pase, 2001.
Thomas Olesen, Social Movement Theory And Radical Islamic
Activism, Centre for Studies in Islamism and
Radicalisation (CIR) Department of Political Science
Aarhus University, Denmark, May 2009.
Thomas W. Arnold. Sejarah Dakwah Islam. Jakarta: Widjaya, 1981.
Tirmidzi. Sunan al-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Fikr, TT.
Toshihiko Izutsu. Relasi Tuhan dan Manusia. Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1997.
Wahbah al-Juhaeli. Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa a-Syari’ah wa
al-Manhaj, juz 1-2. Beirut: Dar al-Fikr al-Mua’shir, 1998.
Welch, Anthony, “Countering Campus Extremism in Southeast
Asia”, International Higher Education, Number 82: Fall
2015.
Wensinck. Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawy.
Leiden: Brill, 1965.
William E. Shepard, Islam and Ideology: Towards a Typology ,
International Journal of Middle East Studies, Vol. 19,
Num. 3 (Aug., 1987), 307-335.
Yunahar Ilyas. Feminisme dalam Kajian Tafsir al-Qur’an Klasik
dan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
Yusak, Nailil Muna, “The Liberal Arts in Islamic Higher
Education: Problem and Prospect in Indonesia,
International Journal of Social Sciences,Special Issue Vol.1
Issue 1.

314
Yusuf Ali. The Holy Qur’an Translation and Commentary. Jiddah:
Dar al-Qiblah, 1413 H.
Zainun Kamal. “Kekuatan dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai
Doktrin Akidah”, dalam Budhy Munawar Rachman (Ed).
Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta:
Paramadina, 1994.
Zakiyudin Baidhawy, “Dinamika Radikalisme dan Konflik
Bersentimen Keagamaan di Surakarta”, Makalah ACIS
ke-10, Banjarmasin 1- 4 November 2010.
Zijad Delic, Hermeneutics of Islamic Education and the
Construction of New Muslim Cultures in the West:
Faithful, but reformed, Dissertation of Simon Fraser
University, 2006.
Zuly Qodir, Gerakan Sosial Islam Manifesto Kaum Beriman,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

315
PROFIL PENULIS
Prof. Dr. H. Abdul Basit, [Link] adalah
anak ke-2 dari 8 saudara yang dilahirkan
pada tanggal 19 Desember 1969 di
Pisangan Desa Satria Mekar Kecamatan
Tambun Utara Bekasi dari pasangan
H.M. Syapei dan Hj. Marhayati.
Pendidikannya diawali di Madrasah
Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan
Sekolah Menengah Atas yang semuanya ditempuh di Bekasi. Di
tengah kesibukannya sebagai pelajar, dia menjadi santri dari Ustadz
Syafi’i dan Ustadz Ahmad Ali serta mengajar di MI Manbaul
Khair. Pada tahun 1990 melanjutkan ke IAIN Sunan Gunung Djati
Bandung Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah. Selama menjadi
mahasiswa, dia aktif di berbagai organisasi baik intra kampus
maupun ekstra kampus, seperti Himpunan mahasiswa Jurusan
Dakwah, Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Lembaga Dakwah
Mahasiswa IAIN Bandung, Senat Mahasiswa Institut, Himpunan
Mahasiswa Islam, dan organisasi kedaerahan ”Kapemasi-
Bandung”.
Kemudian atas beasiswa dari Departemen Agama RI, pada
tahun 1996 melanjutkan studi ke program Pascasarjana IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta dengan konsentrasi Islamic Studies;
Belum selesai kuliah di Pascasarjana IAIN Jakarta, pada bulan
Maret tahun 1998, dia diangkat sebagai dosen Tetap di Jurusan
Dakwah STAIN Purwokerto (sekarang menjadi Fakultas Dakwah
IAIN Purwokerto). Selanjutnya, pada tahun 2003 dia kembali
melanjutkan program Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dengan konsentrasi Dakwah dan Komunikasi dan Pada Tahun
2018 memperoleh jabatan akademik sebagai Guru Besar Ilmu
Dakwah.
Selain aktif sebagai tenaga pengajar dan di organisasi, dia juga
aktif menulis buku, artikel dan melakukan penelitian. beberapa
buku yang telah diterbitkan diantaranya: Wacana Dakwah
Kontemporer (Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2006), Dakwah Antar
Individu (Grafindo Litera Media Yogyakarta, 2008), Dakwah Remaja

316
(Fajar Pustaka Yogyakarta, 2011), Filsafat Dakwah (Rajawali Press
Jakarta, 2013), dan Konseling Islam (Prenada Jakarta, 2018).

317
318

Anda mungkin juga menyukai