Buletin Konsumsi Pangan 2021 Vol. 12 No. 2
Buletin Konsumsi Pangan 2021 Vol. 12 No. 2
Ukuran Buku :
21,0 cm x 29,7 cm
Penanggung Jawab:
Roby Darmawan, M. Eng
Redaktur :
Dr. Ir. Anna Astrid Susanti, MSi
Penyunting/Editor:
Sri Wahyuningsih, [Link]
Penulis Artikel :
Ir. Sabarella, [Link] (Susu)
Ir. Wieta B. Komalasari, [Link] (Telur Ayam Ras)
Sri Wahyuningsih, [Link] (Jeruk)
Megawati Manurung, SP (Kopi)
Sehusman, SP (Minyak Goreng)
Yani Supriyati, SE (T e h)
Karlina Seran, [Link] (Kacang Tanah)
Rinawati, SE (Bawang Putih)
Maidiah Dwi Naruri Saida, [Link] (Ubikayu)
Desain grafis:
Rinawati, SE
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan karuniaNya
sehingga publikasi Buletin Konsumsi Pangan komoditas pertanian tahun 2021 dapat
diterbitkan. Buletin Konsumsi Pangan komoditas pertanian yang terbit setiap
semester merupakan salah satu upaya Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian dalam
meningkatkan pelayanan data dan informasi pertanian. Buletin Konsumsi Pangan Volume
12 Nomor 2 Tahun 2021 menyajikan perkembangan konsumsi dan neraca penyediaan
dan penggunaan komoditas Ubikayu, Bawang Putih, Kacang Tanah, Jeruk, Minyak
Goreng, Kopi, t e h, Telur Ayam Ras dan Susu. Data yang disajikan dalam buletin ini
diolah oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian
bersumber dari publikasi hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS, website
FAO (Food Agriculture Organization) dan website USDA (United States Departement of
Agriculture) dan sumber lainnya.
Besar harapan kami bahwa buletin ini dapat bermanfaat bagi para pengguna baik
di lingkup Kementerian Pertanian maupun para pengguna lainnya. Kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan guna penyempurnaan di masa mendatang.
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN .......................................................................................................1
II. METODOLOGI.........................................................................................................3
XI. KONSUMSI DAN NERACA PENYEDIAAN – PENGGUNAAN TELUR AYAM RAS ............... 66
BAB I. PENDAHULUAN
Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, karena itu pemenuhan
atas pangan yang cukup, bergizi dan aman menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia
untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan
pembangunan nasional. Kebutuhan pangan merupakan penjumlahan dari kebutuhan
pangan untuk konsumsi langsung, kebutuhan industri dan permintaan lainnya. Konsumsi
langsung adalah jumlah pangan yang dikonsumsi langsung oleh masyarakat.
Tahun
No Kelompok Pangan
2015 2016 2017 2018 2019
Konsumsi energi per kelompok pangan (kkal/kapita/hari)
1 Padi-padian 54,2 54,0 53,8 53,6 53,3
2 Umbi-umbian 2,5 3,2 3,9 4,6 5,3
3 Pangan Hewani 8,9 9,3 9,7 10,1 10,5
4 Minyak dan Lemak 11,1 10,8 10,5 10,3 10,0
5 Buah/biji berminyak 2,0 2,3 2,5 2,8 3,0
6 Kacang-kacangan 3,0 3,4 3,7 4,1 4,4
7 Gula 4,4 4,5 4,7 4,8 5,0
8 Sayur dan Buah 5,2 5,2 5,3 5,3 5,3
9 Lain-lain 1,9 2,2 2,5 2,8 3,0
% AKG 93,2 94,9 96,6 98,3 100,0
Realisasi:
Konsumsi Energi (kkal/kap/hari) 2.099 2.147 2.128 2.165 na
Skor PPH (menggunakan AKE
85,2 86 90,4 91,3 90,4
2.000 kkal/kap/hari)
Sumber: Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian
Keterangan: Menggunakan data dasar Susenas 2014
1.2. Tujuan
Data konsumsi rumah tangga yang digunakan dalam analisis ini bersumber dari
publikasi hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional, BPS (hasil survei Maret). Sejak tahun 2011,
BPS melaksanakan SUSENAS setiap triwulan, namun dalam publikasi buletin ini digunakan
data hasil SUSENAS terbaru yaitu Bulan Maret tahun 2017, dengan menggunakan kuesioner
modul konsumsi/pengeluaran rumah tangga. Pengumpulan data dalam SUSENAS dilakukan
melalui wawancara dengan kepala rumah tangga dengan cara mengingat kembali (recall)
seminggu yang lalu pengeluaran untuk makanan dan sebulan untuk konsumsi bukan
makanan.
2.2. Metode
Cara perhitungan neraca bahan pangan adalah sebagai berikut:
1. Penyediaan (supply) :
Ps = S awal + P + I – E
dimana:
Ps = total penyediaan dalam negeri
P = produksi
S awal = stok awal tahun
I = Impor
E = ekspor
2. Penggunaan (utilization)
Pg = Pk + Bn + Id + Tc + F
dimana:
Pg = total penggunaan
Pk = pakan
Bn = benih
Id = industri
Tc = tercecer
F = total penggunaan untuk bahan makanan
Total penggunaan untuk bahan makanan dihitung berdasarkan data konsumsi (RT dan
di luar RT) dikalikan dengan jumlah penduduk. Besaran konsumsi rumah tangga
menggunakan data hasil SUSENAS, sementara konsumsi di luar RT menggunakan data hasil
survei Industri Mikro Kecil (IMK) dan Industri Besar Sedang (IBS) – BPS atau menggunakan
proporsi dari Tabel I/O – 2005. Besarnya penggunaan untuk benih diperoleh dari perhitungan
data luas tanam dikalikan dengan kebutuhan benih per hektar. Data penggunaan untuk pakan
dan tercecer menggunakan besaran konversi terhadap penyediaan dalam negeri, seperti yang
digunakan pada perhitungan Neraca Bahan Makanan (NBM) Nasional.
Hukum ekonomi menurut Ernst Engel (1857), menyatakan bahwa bila selera tidak
berbeda maka persentase pengeluaran untuk makanan menurun dengan semakin
meningkatnya pendapatan. Hal ini dapat digunakan untuk menggambarkan kesejahteraan
masyarakat. Berdasarkan data SUSENAS, pengeluaran penduduk Indonesia per bulan untuk
makanan dan non makanan selama tahun 2011 - 2020 menunjukkan adanya fluktuasi
pergeseran. Pada awalnya persentase pengeluaran untuk makanan lebih besar dibandingkan
pengeluaran untuk non makanan, namun di tahun 2011 dan 2015 – 2020 kecuali 2017
persentase pengeluaran non makanan sedikit lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk
makanan.
Persentase pengeluaran per bulan pada tahun 2011 untuk makanan sebesar 49,45%
dan non makanan sebesar 50,55%, tahun 2011, 2015-2020 kecuali 2017 persentase non
makanan menjadi sedikit lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk makanan. Tahun 2020
persentase ini menjadi sebesar 49,22% untuk pengeluaran makanan dan 50,78% untuk non
makanan, seperti tersaji pada Gambar 3.1. Besarnya rata-rata pengeluaran per kapita per
bulan tahun 2019 untuk bahan makanan sebesar Rp. 603.238,- dan non makanan sebesar
Rp. 622.449,-.
(%)
60,00
49,45 51,08 50,66 50,04 47,47 48,68 50,94 49,51 49,14 49,22
50,00
40,00
30,00
20,00
10,00
0,00
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Makanan Non Makanan
11,35% 12,17%
7,91% 12,32% 11,07%
7,52%
6,62% 7,72%
Makanan dan minuman jadi Padi-padian Makanan dan minuman jadi Rokok dan Tembakau
Rokok dan Tembakau Sayur-sayuran Padi-padian Ikan/Udang/Cumi/Kerang
Ikan/Udang/Cumi/Kerang Telur dan susu Sayur-sayuran Telur dan susu
Daging Buah-buahan Buah-buahan Daging
Bahan minuman Minyak dan Kelapa Bahan minuman Minyak dan Kelapa
Kacang-kacangan Konsumsi lainnya Kacang-kacangan Bumbu-bumbuan
Bumbu-bumbuan Umbi-Umbian Konsumsi lainnya Umbi-Umbian
Gambar 3.2. Persentase Pengeluaran Bahan Pangan Menurut Jenis Tahun 2019 dan 2020
Perkembangan pengeluaran nominal bahan makanan per kapita per bulan tahun 2019
– 2020 mengalami kenaikan baik nominal maupun riil. Apabila ditinjau menurut kelompok
barang, pengeluaran per kapita sebulan untuk semua kelompok sedikit meningkat. Tahun
2020 ini ada perubahan tahun dasar untuk IHK sehingga tidak bisa diperbandingkan dengan
tahun sebelumnya (Tabel 3.1). Pertumbuhan tertinggi pengeluaran nominal terjadi pada
kelompok sayuran dan buah-buahan yaitu rata-rata sebesar 19,78% dan 9,74% dibandingkan
tahun sebelumnya. Fenomena ini terjadi diduga kuat karena adanya pandemi yang membuat
kesadaran masyarakat untuk meningkatkan imun dengan konsumsi bahan makanan sehat
seperti sayur dan buah.
dibandingkan komoditas lainnya. Secara rinci perkembangan pengeluaran nominal dan riil
menurut kelompok komoditas dapat dilihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1. Perkembangan Pengeluaran Nominal dan Riil Kelompok Bahan Makanan,
Tahun 2019 – 2020
(Rp/Kapita/Bulan)
2019 2020
No. Kelompok Barang
Nominal IHK Riil Nominal IHK Riil
1 Padi-padian 64.961 136,81 47.483 66.789 106,51 62.707
2 Umbi-Umbian 5.886 136,81 4.302 6.361 106,51 5.972
3 Ikan 45.304 158,05 28.664 46.570 106,51 43.724
4 Daging 24.783 144,61 17.138 26.441 106,51 24.825
5 Telur dan susu 32.435 137,72 23.552 34.860 106,51 32.729
6 Sayur-sayuran 37.898 178,92 21.182 45.393 106,51 42.619
7 Kacang-kacangan 11.273 134,03 8.411 11.654 106,51 10.942
8 Buah-buahan 27.444 166,68 16.465 30.116 106,51 28.275
9 Minyak dan Kelapa 13.211 117,34 11.259 14.155 106,51 13.290
10 Bahan minuman 16.823 131,72 12.771 18.337 106,92 17.150
11 Bumbu-bumbuan 10.830 205,70 5.265 11.810 106,51 11.088
12 Konsumsi lainnya 10.059 146,56 6.863 10.574 106,51 9.928
13 Makanan & minuman jadi 201.107 145,12 138.581 206.736 106,51 194.100
14 Rokok dan Tembakau 70.537 168,53 41.854 73.442 113,26 64.844
Bahan Makanan 572.551 151,60 377.683 603.238 106,51 566.367
Sumber: Badan Pusat Statistik
Keterangan: IHK 2019 tahun dasar 2012; IHK 2020 tahun dasar 2018
DKI Jakarta merupakan daerah dengan nilai pengeluaran per kapita sebulan yang
tertinggi di tahun 2020 yaitu sebesar Rp. 2.257.991,- sementara yang terendah adalah NTT
dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp. 794.361,- per kapita sebulan. Secara rata-rata
nasional, pengeluaran per kapita sebulan adalah Rp. 1.225.685,-. Proporsi pengeluaran untuk
makanan di DKI Jakarta hanya sebesar 41,84% dari total pengeluaran. Sebaliknya di provinsi
NTT proporsi pengeluarannya adalah yang tertinggi secara nasional yaitu sebesar 55,73%
dari total pengeluaran. Secara rinci proprosi pengeluaran makanan dan bukan makanan
menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.3.
Konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia tahun 2020 berdasarkan data
SUSENAS menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2019. Rata-rata konsumsi kalori
penduduk Indonesia pada tahun 2019 sebesar 2.112,06 kkal atau turun sebesar 8,46 kkal
dibandingkan tahun 2019. Sementara konsumsi protein turun 0,15 gram. Penurunan
konsumsi kalori terjadi pada hampir semua kelompok barang, dimana tertinggi terjadi pada
kelompok makanan dan minuman jadi sebesar 14,07 kkal. Konsumsi kalori dari padi-padian
mengalami penurunan sebesar 0,72 kkal sebaliknya dari umbi-umbian naik 0,77 kkal.
Konsumsi protein dari ikan mengalami kenaikan paling tinggi dibandingkan sumber protein
lainnya yaitu naik sebesar 0,17 gram (Tabel 3.2).
Tabel. 3.2. Rata-rata Konsumsi Kalori (kkal) dan Protein (gram) per kapita sehari menurut
kelompok makanan, Tahun 2019 dan 2020
Kalori (kkal/kapita/hari) Protein (gram/kapita/hari)
No. Kelompok Barang
2019 2020 Perubahan 2019 2020 Perubahan
1 Padi-padian 814,77 814,05 -0,72 19,18 19,16 -0,02
2 Umbi-Umbian 36,79 37,56 0,77 0,37 0,37 0,00
3 Ikan 50,55 49,89 -0,66 8,54 8,43 -0,11
4 Daging 62,19 65,03 2,84 3,88 4,05 0,17
5 Telur dan susu 60,20 60,62 0,42 3,42 3,47 0,05
6 Sayur-sayuran 39,01 38,51 -0,50 2,32 2,32 0,00
7 Kacang-kacangan 52,44 52,98 0,54 5,16 5,20 0,04
8 Buah-buahan 46,97 45,37 -1,60 0,53 0,51 -0,02
9 Minyak dan Kelapa 259,42 265,49 6,07 0,20 0,19 -0,01
10 Bahan minuman 96,17 95,47 -0,70 0,81 0,80 -0,01
11 Bumbu-bumbuan 10,49 10,46 -0,03 0,45 0,44 -0,01
12 Konsumsi lainnya 56,01 55,20 -0,81 1,11 1,09 -0,02
13 Makanan dan minuman jadi 535,50 521,43 -14,07 16,17 15,94 -0,23
Jumlah 2.120,52 2.112,06 -8,46 62,13 61,98 -0,15
Sumber: SUSENAS, BPS
Penurunan pada pola konsumsi protein penduduk Indonesia terjadi pada hampir
semua kelompok barang, dimana penurunan tertinggi terjadi pada kelompok makanan dan
minuman jadi sebesar 0,23 gram/kapita/hari. Rata-rata konsumsi kalori dan protein
penududuk Indonesia tahun 2019 - 2020 secara rinci tersaji pada Tabel 3.2.
2,36%
2,38%
24,69%
25,25%
2,93% 3,08%
12,57%
12,23% 2,84% 2,87%
1,84%
2,47% 1,82%
2,22% 2,51%
2,64% 2,61% 2,15%
0,50% 4,52%
Padi-padian 0,49% 4,54%
Umbi-Umbian Ikan Padi-padian Umbi-Umbian Ikan
Daging Telur dan susu Sayur-sayuran Daging Telur dan susu Sayur-sayuran
Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan Kelapa Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan Kelapa
Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya
Makanan dan minuman jadi Makanan dan minuman jadi
Gambar 3.3. Persentase Konsumsi Kalori Penduduk IndonesiaTahun 2019 dan 2020
Gambar 3.4. Persentase Konsumsi Protein Penduduk IndonesiaTahun 2019 dan 2020
Sumber utama konsumsi kalori penduduk Indonesia adalah dari kelompok padi-padian
yang mencapai 38,54% pada tahun 2020, diikuti oleh kelompok makanan dan minuman lain
sebesar 24,69%. Demikian pula, sumber protein pada pola konsumsi protein penduduk
Indonesia berasal dari kelompok padi-padian yang mencapai 30,92% pada tahun 2020 dan
disusul dari kelompok makanan dan minuman jadi sebesar 25,72% (Gambar 3.3 dan Gambar
3.4).
Tahun 2020 terjadi kenaikan share konsumsi kalori dari kelompok padi-padian dari
menjadi 38,54 di tahun 2020. Sebaliknya share makanan minuman jadi terhadap konsumsi
kalori menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara share konsumsi ikan
terhadap konsumsi protein menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sebaliknya share
daging meningkat dibandingkan tahun 2019. (Gambar 3.3 dan Gamba 3.4).
Ubi kayu, ketela pohon atau singkong (Manihot Utilissima) adalah tumbuhan berkayu
tahunan tropika dan subtropika yang umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil
karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat
cocok sebagai media tanam untuk tanaman ubi kayu. Sebagai bahan makanan, ubi kayu
merupakan komoditas pangan tradisional yang dapat dijadikan sebagai sumber karbohidrat,
dan melalui diversifikasi konsumsi dapat dimanfaatkan sebagai subsitusi atau pengganti
beras. Meskipun demikian masih banyak kendala yang dihadapi dalam merubah pola
konsumsi masyarakat yang sudah terbentuk selama ini. Adapun produk olahan ubi kayu yang
dihasilkan di Indonesia seperti tapioka, industri makanan ringan berupa kripik, industri olahan
makanan tradisional berupa getuk, bahan baku bio ethanol, pellet, onggok dan gaplek.
Tepung tapioka dapat digunakan untuk menggantikan tepung gandum.
Selain sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, ubi kayu dapat juga digunakan
sebagai bahan pakan ternak dan bahan baku industri. Oleh karena itu pengembangan ubi
kayu sangat penting artinya di dalam upaya penyediaan bahan pangan karbohidrat nonberas,
diversifikasi/penganekaragaman konsumsi pangan lokal, pengembangan industri pengolahan
hasil dan argo-industri dan sebagai sumber devisa melalui ekspor serta upaya mendukung
peningkatan ketahanan pangan dan kemandirian pangan.
Ubi kayu memilik nilai gizi yang cukup baik dan sangat diperlukan untuk menjaga
kesehatan tubuh. Sebagai bahan pangan terutama sumber karbohidrat, ubi kayu juga
mengandung air sekitar 60%, pati 25%-35%, serta protein, mineral, serat, kalsium, dan fisfat.
Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibandingkan padi, jagung, ubi jalar dan
sorgum.
4.1. Perkembangan serta Prediksi Konsumsi Ubi Kayu dalam Rumah Tangga di
Indonesia
Konsumsi ubi kayu di tingkat rumah tangga di Indonesia selama tahun 2010-2020
berfluktuasi namun cenderung mengalami peningkatan sebesar 1,66%. Selama periode tahun
2010-020, konsumsi ubi kayu terbesar terjadi pada tahun 2017 mencapai 6,355
kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi terendah terjadi pada tahun 2014 hanya sebesar 3,441
kg/kapita/tahun. Data konsumsi tahun 2017 perlu dicermati kembali karena terjadi lonjakan
yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya maupun tahun setelahnya. Kondisi data
yang seperti ini perlu dikonfirmasi ulang kepada penyedia data. Pada tahun 2021 konsumsi
ubi kayu diprediksi naik sebesar 3,04% dibandingkan tahun 2020 yaitu sebesar 4,974
kg/kapita/tahuan. Kemudian pada tahun 2022 konsumsi ubi kayu kembali naik 5,85% menjadi
5,264 kg/kapita/tahun begitu pula tahun 2023 naik sebesar 6,55% atau 5,609
kg/kapita/tahun. Perilaku masyarakat beberapa tahun terakhir ini yang banyak menjadikan
ubi kayu sebagai bahan subsitusi pengganti nasi diperkirakan menjadi faktor yang
menyebabkan peningkatan jumlah konsumsi ubi kayu mulai dari tahun 2017. Perkembangan
konsumsi ubi kayu per kapita tahun 2010 - 2020 serta prediksinya tahun 2021 – 2023 disajikan
pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1.
Tabel 4.1. Perkembangan Konsumsi Dalam Rumah Tangga di Indonesia, 2010 - 2020 Serta
Prediksi Tahun 2021 – 2023
Konsumsi Pertumbuhan
Tahun
(Kg/Kap/Minggu) (Kg/Kap/Tahun) (%)
2010 0,097 5,058 -8,49
2011 0,111 5,788 14,43
2012 0,069 3,598 -37,84
2013 0,067 3,494 -2,90
2014 0,066 3,441 -1,49
2015 0,069 3,598 4,55
2016 0,073 3,806 5,80
2017 0,122 6,355 66,95
2018 0,091 4,739 -25,43
2019 0,084 4,363 -7,93
2020 0,093 4,827 10,63
Rata-rata 0,086 4,461 1,66
2021 *) 0,095 4,974 3,04
2022 *) 0,101 5,264 5,85
2023 *) 0,108 5,609 6,55
Sumber : SUSENAS bulan Maret, BPS
*) Prediksi diolah Pusdatin
(Kg/kapita/tahun)
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021 *)
2022 *)
2023 *)
Gambar 4.1. Perkembangan Konsumsi ubi Kayu Per Kapita Pertahun di Indonesia,
2010 – 2020 Dan Prediksi 2021 – 2023
Jika diurutkan tingkat konsumsi per provinsi tahun 2020, maka Provinsi Papua adalah
provinsi dengan tingkat konsumsi ubi kayu terbanyak yaitu sebesar 16,444 kg/kap/tahun.
Selanjutnya adalah Maluku Utara dengan tingkat konsumsi 12,273 kg/kap/tahun, Maluku
11,473 kg/kap/tahun, Papua Barat 9,513 kg/kap/tahun, Kalimantan Tengah 6,972
kg/kap/tahun dan Kalimantan Utara 6,565 kg/kap/tahun. Provinsi yang berada di Indonesia
bagian timur termasuk provinsi dengan tingkat konsumsi ubi kayu tertinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa masyarakat di Indonesia bagian timur menggunakan ubi kayu sebagai
pengganti makanan pokok atau beras. Namun Provinsi Sumatera Barat, Aceh, Bali dan
Sulawesi Selatan memiliki nilai kosumsi ubi kayu terendah masing-masing sebesar 1,257
kg/kap/tahun; 1,501 kg/kap/tahun; 2,465 kg/kap/tahun dan 2,820 kg/kap/tahun. Provinsi
lainnya memiliki tingkat konsumsi ubi kayu berkisar antara 3,285 kg/kap/tahun sampai
dengan 6,442 kg/kap/tahun. Tingkat konsumsi ubi kayu perprovinsi tahun 2018 sampai 2020
dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan Table 4.2.
Kg/Kap/Th
18,00
16,00
14,00
12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00
Kalimantan Utara
Kalimantan Tengah
Kalimantan Barat
Sulawesi Selatan
Nusa Tenggara Timur
Sumatera Utara
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Kalimantan Timur
Nusa Tenggara Barat
Kalimantan Selatan
Lampung
Sumatera Barat
Sulawesi Tengah
Bangka Belitung
Jawa Barat
Kepulauan Riau
Papua Barat
Jawa Timur
Gorontalo
Jawa Tengah
Jambi
Bali
DI Yogyakarta
Banten
Maluku Utara
Riau
Sulawesi Tenggara
Papua
Aceh
Maluku
DKI Jakarta
Sumatera Selatan
Bengkulu
Tabel 4.2. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Ubi Kayu menurut Provinsi
Kg/Kap/Tahun
No Provinsi
2018 2019 2020
1 Aceh 1,388 1,387 1,501
2 Sumatera Utara 4,704 4,608 4,778
3 Sumatera Barat 1,880 1,441 1,257
4 Riau 3,916 3,902 4,463
5 Jambi 4,487 4,431 4,555
6 Sumatera Selatan 4,439 4,858 5,119
7 Bengkulu 3,517 3,635 3,756
8 Lampung 4,354 4,754 5,006
9 Bangka Belitung 3,807 4,475 5,804
10 Kepulauan Riau 3,621 4,023 3,285
11 DKI Jakarta 3,178 2,781 3,440
12 Jawa Barat 4,646 4,584 4,961
13 Jawa T engah 4,652 3,727 4,476
14 DI Y ogyakarta 3,596 3,675 4,088
15 Jawa T imur 4,539 3,773 4,724
16 Banten 4,717 5,303 6,038
17 Bali 2,781 3,045 2,465
18 Nusa T enggara Barat 3,733 3,193 4,376
19 Nusa T enggara T imur 9,132 5,708 5,343
20 Kalimantan Barat 5,616 5,597 5,781
21 Kalimantan T engah 6,431 5,257 6,972
22 Kalimantan Selatan 3,525 2,850 3,714
23 Kalimantan T imur 5,563 4,743 5,718
24 Kalimantan Utara 5,786 7,230 6,565
25 Sulawesi Utara 6,170 5,688 5,191
26 Sulawesi T engah 7,284 5,457 6,442
27 Sulawesi Selatan 4,076 2,709 2,820
28 Sulawesi T enggara 6,084 5,637 4,299
29 Gorontalo 5,434 4,993 4,233
30 Sulawesi Barat 5,773 4,357 5,290
31 Maluku 13,258 11,198 11,473
32 Maluku Utara 14,358 12,434 12,273
33 Papua Barat 7,334 8,851 9,513
34 Papua 13,797 17,180 16,444
Indonesia 4,739 4,363 4,827
Sumber : Badan Pusat Statistik
Apabila dilihat dari besarnya pengeluaran untuk konsumsi ubi kayu bagi penduduk
Indonesia tahun 2016 – 2020 menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2016
pengeluaan nominal penduduk Indonesia sebesar Rp 12.462,-/kapita dan naik menjadi Rp
19.894,-/kapita tahun 2020. Pengeluaran riil untuk konsumsi ubi kayu setelah dikoreksi
dengan faktor inflasi, tahun 2020 adalah sebesar Rp 18.845,-/kapita. Tahun dasar IHK tahun
2020 menggunakan tahun dasar 2018=100 yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Perkembangan pengeluaran untuk konsumsi ubi kayu nominal dan riil dalam rumah tangga
di Indonesia tahun 2016 – 2020 secara rinci tersaji pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Perkembangan Pengeluaran Nominal Dan Riil Rumah Tangga Untuk Konsumsi
Ubi Kayu, 2016 – 2020
Tahun
No. Ubi Kayu
2016 2017 2018 2019 2020*)
1 Pengeluaran Nominal (Rp/kapita) 12.462 18.455 16.158 16.798 19.894
Penyediaan total ubi kayu Indonesia berasal dari produksi dalam negeri ditambah impor
kemudian dikurangi ekspor. Ketersediaan data produksi ubi kayu tahun 2018 dan 2019
merupakan angka harmonisasi Kementan dengan BPS sedangkan produksi tahun 2020
berdasarkan angka estimasi dari Dit. Akabi. Produksi ubi kayu di Indonesia pada tahun 2020
meningkat dibandingkan tahun 2018 dan 2019 yaitu dari 16,4 juta ton produksi ubi kayu di
tahun 2019 menjadi 18,7 juta ton di 2020 atau meningkat sebesar 14,56%. Data ekspor dan
impor bersumber dari data BPS dan tersedia sampai dengan tahun 2020. Cakupan kode HS
yang digunakan untuk menghitung ekspor impor ubi kayu dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4. Cakupan Kode HS Ubi Kayu Yang Digunakan Untuk Data Ekspor Impor
Kode HS Deskripsi
07141091 Ubi kayu beku
07141099 Ubi kayu selain diiris dalam bentuk pellet, segar, dingin, beku atau dikeringkan
07141011 Ubi kayu diiris dalam bentuk pellet, kepingan dikeringkan
07141019 Ubi kayu dalam bentuk pellet lain-lain
11062010 Tepung, tepung kasar dari ubi kayu
11081400 Pati ubi kayu
Berdasarkan Tabel 4.5. dapat dilihat perkembangan volume ekspor ubi kayu di
Indonesia periode 2018 – 2020 meningkat, dimana tahun 2018 Indonesia mengekspor ubi
kayu sebesar 10,7 ribu ton dan meningkat ditahun 2019 menjadi 12,2 ribu ton. Kemudian
ditahun 2020 ekspor ubi kayu meningkat cukup besar dari tahun 2019 menjadi 95,4 ribu ton.
Volume impor ubi kayu lebih besar dibandingkan dengan volume ekspor namun pada periode
2018 - 2020 realisasi impor ubi kayu cenderung menurun. Penurunan volume impor pada
tahun 2020 terjadi cukup besar dibandingkan tahun 2019 yaitu dari 348,1 ribu ton turun
menjadi 151,0 ribu ton. Penyediaan total ubi kayu di Indonesia dominan dipasok dari produksi
dalam negeri, ditambah dengan realisasi impor yang cukup besar dibandingkan volume
ekspor.
Pada periode tersebut, rata-rata 98% total penyediaan ubi kayu berasal dari produksi.
Penyediaan ubi kayu tahun 2018 dan 2019 tidak jauh berbeda yaitu sebesar 16,5 juta ton
tahun 2018 dan 16,7 juta ton tahun 2019. Pada tahun berikutnya, yakni tahun 2020 total
penyediaan ubi kayu mengalami peningkatan disebabkan meningkatnya produksi.
Peningkatan penyediaan sebesar 12,59% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 18,8 juta
ton. Dengan volume impor 151,0 ribu ton dan volume ekspor 95,4 ribu ton.
Kacang tanah adalah salah satu komoditas tanaman pangan yang merupakan sumber
gizi protein nabati, meskipun demikian popularitas kacang tanah tidak setinggi kacang kedelai
sebagai sumber protein nabati. Kacang tanah pada umumnya dikonsumsi langsung oleh
masyarakat dengan cara diolah menjadi kacang goreng, kacang rebus, dan makanan ringan
lainnya. Namun dengan semakin berkembangnya industri makanan, pemanfaatan kacang
tanah sebagai salah satu bahan baku dalam industri makanan olahan juga meningkat. Selain
dapat diolah menjadi berbagai makanan olahan, kacang tanah pun dapat menghasilkan
minyak nabati yang bernilai ekonomi tinggi
Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari mengkonsumsi kacang tanah, diantaranya
adalah kandungan asam lemak tak jenuh dalam kacang tanah baik untuk mengendalikan
kadar kolesterol dalam darah, yang pada akhirnya dapat menurunkan risiko penyakit jantung
dan stroke. Selain itu kandungan serat makanan dalam kacang tanah dapat melancarkan
pencernaan.
Produksi kacang tanah nasional selama tahun 2018-2020 cenderung menurun dengan
rata-rata penurunan sebesar 4,55%. Meskipun dari sisi impor kacang tanah juga menurun
dengan rata-rata penurunan sebesar 4,08% pada periode yang sama, akan tetapi kontribusi
impor terhadap penyediaan kacang tanah dalam negeri masih tinggi yaitu pada kisaran 40%
dari total penyediaan dalam negeri. Produksi kacang tanah dalam negeri belum mampu
memenuhi kebutuhan dan permintaan kacang tanah dalam negeri, terutama kebutuhan dari
sektor industri. Defisit produksi kacang tanah nasional antara lain disebabkan oleh tidak
tersedianya lahan yang cukup luas untuk memproduksi kacang tanah, luas panen tidak
mencukupi guna memproduksi kacang tanah sesuai kebutuhan nasional, prioritas
pengembangan kacang tanah dinilai rendah, dan belum dianggap sebagai komoditas pangan
strategis (Sumarno, 2015).
5.1. Perkembangan Dan Prediksi Konsumsi Kacang Tanah Dalam Rumah Tangga
di Indonesia
Data konsumsi kacang tanah dalam Susenas adalah dalam wujud segar kacang tanah
dengan kulit dan kacang tanah tanpa kulit/lepas kulit. Tahun 2015 – 2020 kacang tanah
dengan kulit dihilangkan dari cakupan konsumsi kacang tanah di SUSENAS, kecuali tahun
2017 sempat dimunculkan kembali. Dalam tulisan ini yang dianalisis adalah wujud kacang
tanah tanpa kulit untuk konsumsi dalam rumah tangga.
Perkembangan konsumsi kacang tanah tanpa kulit di tingkat rumah tangga di
Indonesia selama tahun 2010-2020 cenderung menurun. Rata-rata konsumsi kacang tanah
tanpa kulit tahun 2010-2020 adalah sebesar 0,277 kg/kapita/tahun dengan rata-rata
pertumbuhan konsumsi setiap tahun sebesar -2,03%.
Prediksi konsumsi kacang tanah tanpa kulit tahun 2021 diperkirakan sebesar 0,275
kg/kapita, menurun dibandingkan konsumsi tahun 2020 yang sebesar 0,287 kg/kapita. Pada
tahun 2022 dan 2023 konsumsi kacang tanah tanpa kulit diprediksi menurun juga menjadi
0,264 kg/kapita dan 0,252 kg/kapita. Perkembangan konsumsi kacang tanah tanpa kulit tahun
2010-2020 serta prediksi tahun 2021 – 2023 disajikan pada Tabel 5.1 dan Gambar 5.1.
Tabel 5.1. Perkembangan Konsumsi Kacang Tanah Tanpa Kulit dalam Rumah Tangga
di Indonesia, 2010 -2020 serta Prediksi 2021- 2023
Konsumsi Pertumbuhan
Tahun
(Kg/kapita/minggu) (Kg/kapita/tahun) (%)
(Kg/kap/tahun)
0,350
0,313 0,308
0,292 0,287
0,300 0,282 0,275
0,261 0,264
0,252
0,250
0,209 0,209 0,209
0,200
0,150
0,100
0,050
0,000
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021*) 2022*) 2023*)
Gambar 5.1. Perkembangan Konsumsi Kacang Tanah Tanpa Kulit dalam Rumah Tangga di
Indonesia, 2012 – 2023
Apabila dilihat dari besarnya pengeluaran untuk konsumsi kacang tanah oleh rumah
tangga tahun 2016-2020 menunjukkan kecenderungan yang fluktuatif. Pada tahun 2016-2018
pengeluaran nominal untuk konsumsi kacang tanah cenderung meningkat yaitu sebesar Rp
4.797/kapita pada tahun 2016 dan terus meningkat hingga sebesar Rp 6.038/kapita pada
tahun 2018. Tahun berikutnya menurun menjadi Rp 5.965/kapita dan kembali meningkat di
tahun 2020 menjadi Rp 6.262/kapita.
Setelah dikoreksi dengan faktor inflasi, pengeluaran untuk konsumsi kacang tanah
secara riil juga cenderung berfluktuasi selama periode tahun 2016-2019. Pada tahun 2016-
2018 pengeluaran riil untuk konsumsi kacang tanah meningkat, namun tahun 2019
mengalami sedikit penurunan. Pengeluaran riil tertinggi untuk konsumsi kacang tanah terjadi
pada tahun 2018 yaitu sebesar Rp 4.544/kapita dan terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu
sebesar Rp 3.675/kapita. Pada tahun 2020 pengeluaran riil untuk konsumsi kacang tanah
adalah sebesar Rp 5.931/kapita. Adanya perubahan tahun dasar yang digunakan pada IHK
tahun 2020 menyebabkan pengeluaran riil untuk konsumsi kacang tanah tahun 2020 tidak
dapat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil
untuk konsumsi kacang tanah dalam rumah tangga di Indonesia tahun 2016 – 2020 secara
rinci tersaji pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Perkembangan Pengeluaran Nominal dan Riil Rumah Tangga untuk Konsumsi
Kacang Tanah Tanpa Kulit, 2016 – 2020
(Rp/Kapita)
No Kelompok Barang
2016 2017 2018 2019 2020
1 Pengeluaran Nominal 4,797 5,615 6,038 5,965 6,262
2 IHK*) 130.55 131.60 132.89 134.03 105.57
3 Pengeluaran Riil 3,675 4,267 4,544 4,451 5,931
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) IHK tahun 2016-2019 menggunakan tahun dasar 2012
*) IHK tahun 2020 menggunakan tahun dasar 2018
(Kg/kap/tahun)
0,900
0,800 0,775
0,700
0,600
0,546 0,543
0,513
0,500 0,453
0,409
0,400
0,337 0,342
0,319
0,288 0,290 0,280
0,270 0,280
0,300 0,265
0,235 0,245
0,223
0,194 0,204 0,204
0,188 0,177 0,179 0,181 0,184 0,201 0,187
0,200 0,170
0,147
0,125 0,132
0,094 0,099
0,100
0,000
JATIM
KALBAR
JABAR
JATENG
KALUT
SULTENG
SULSEL
PAPUA BARAT
SUMSEL
SULUT
SUMUT
RIAU
BENGKULU
KEP RIAU
DKI JAKARTA
DIY
KALSEL
KALTIM
GORONTALO
BANTEN
KALTENG
SULBAR
MALUKU UTARA
PAPUA
ACEH
SUMBAR
JAMBI
BALI
NTB
NTT
SULTRA
MALUKU
LAMPUNG
KEP BABEL
Gambar 5.2. Konsumsi Kacang Tanah Tanpa Kulit menurut Provinsi di Indonesia, 2020
Tabel 5.3. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Kacang Tanah menurut Provinsi
Kg/kapita/tahun
No Provinsi
2018 2019 2020
1 Aceh 0,183 0,152 0,188
2 Sumatera Utara 0,346 0,325 0,288
3 Sumatera Barat 0,162 0,115 0,125
4 Riau 0,297 0,270 0,290
5 Jambi 0,166 0,134 0,177
6 Sumatera Selatan 0,095 0,101 0,132
7 Bengkulu 0,179 0,118 0,094
8 Lampung 0,190 0,160 0,223
9 Kepulauan Bangka Belitung 0,085 0,107 0,099
10 Kepulauan Riau 0,377 0,353 0,170
11 DKI Jakarta 0,265 0,306 0,270
12 Jawa Barat 0,239 0,339 0,280
13 Jawa Tengah 0,143 0,212 0,194
14 DI Yogyakarta 0,235 0,363 0,546
15 Jawa Timur 0,429 0,395 0,409
16 Banten 0,189 0,237 0,179
17 Bali 0,442 0,548 0,513
18 Nusa Tenggara Barat 0,699 0,774 0,775
19 Nusa Tenggara Timur 0,417 0,300 0,265
20 Kalimantan Barat 0,185 0,200 0,181
21 Kalimantan Tengah 0,208 0,181 0,147
22 Kalimantan Selatan 0,222 0,202 0,184
23 Kalimantan Timur 0,299 0,253 0,337
24 Kalimantan Utara 0,281 0,252 0,204
25 Sulawesi Utara 0,312 0,208 0,201
26 Sulawesi Tengah 0,332 0,342 0,235
27 Sulawesi Selatan 0,579 0,656 0,543
28 Sulawesi Tenggara 0,297 0,269 0,187
29 Gorontalo 0,307 0,347 0,280
30 Sulawesi Barat 0,289 0,304 0,342
31 Maluku 0,268 0,243 0,245
32 Maluku Utara 0,257 0,209 0,204
33 Papua Barat 0,492 0,434 0,319
34 Papua 0,416 0,326 0,453
Indonesia 0,282 0,308 0,287
Sumber : Susenas BPS, diolah Pusdatin
produksi dalam negeri menyumbang 58,36% dari total penyediaan kacang tanah dalam
negeri, angka ini meningkat dibandingkan kontribusi tahun 2019 yang sebesar 55,79%.
Cakupan kode HS yang digunakan untuk data ekspor impor kacang tanah adalah kode
HS kacang tanah wujud segar yang terdiri dari 12023000 (kacang tanah benih), 12024100
(kacang tanah berkulit), dan 12024200 (kacang tanah dikuliti, pecah maupun tidak). Volume
ekspor kacang tanah Indonesia tahun 2019 menurun menjadi 2.137 ton dibandingkan ekspor
tahun 2018 yang sebesar 2.312 ton, akan tetapi ekspor kacang tanah kembali meningkat
menjadi 2.615 ton pada tahun 2020. Sementara itu impor kacang tanah Indonesia tahun 2020
justru menurun menjadi 299.277 ton jika dibandingkan impor tahun 2018 dan 2019 yang
masing-masing sebesar 326.821 ton dan 334.979 ton. Ekspor kacang tanah Indonesia sangat
kecil dibandingkan impornya. Volume impor kacang tanah selama tahun 2018-2020 berada
pada kisaran 299.000 sd 334.000 ton per tahun sementara volume ekspor kacang tanah
hanya berada pada kisaran 2.000 ton per tahun. Pada tahun 2020 sekitar 42,01% dari total
penyediaan kacang tanah Indonesia berasal dari impor, sedikit menurun dibandingkan
kontribusi impor tahun 2019 yang sebesar 44,49% dari total penyediaan kacang tanah
Indonesia.
Penggunaan kacang tanah di Indonesia terutama untuk bahan makanan atau
konsumsi langsung, benih/bibit, industri (makanan dan non makanan), penggunaan untuk
horeka (hotel, restoran, dan katering), pakan, dan angka tercecer. Penggunaan kacang tanah
untuk konsumsi langsung dihitung dengan mengalikan tingkat konsumsi per kapita dengan
jumlah penduduk pada tahun tersebut, konsumsi langsung ini hanya untuk konsumsi rumah
tangga kacang tanah tanpa kulit. Penggunaan kacang tanah untuk benih, industri, horeka,
pakan, dan tercecer dihitung dengan mengalikan angka konversi hasil pengolahan Tabel I-O
tahun 2016 dengan total penyediaan kacang tanah dalam negeri.
Tingkat konsumsi per kapita kacang tanah tanpa kulit menggunakan data dari hasil
perhitungan SUSENAS-BPS Triwulan I. Jika diasumsikan pada tahun 2020 kacang tanah
dikonsumsi oleh seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 270,2 juta jiwa maka konsumsi
langsung kacang tanah tahun 2020 adalah sebesar 77.491 ton. Konsumsi langsung kacang
tanah tahun 2020 ini menurun dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 82.114 ton.
Pada tahun 2020 penggunaan kacang tanah untuk benih dan tercecer sebesar 21.802
ton, menurun dibandingkan tahun 2018 dan 2019 yang sebesar 23.915 ton dan 23.040 ton.
Penggunaan kacang tanah untuk pakan juga menurun selama tahun 2018-2020, dari 2.032
ton di tahun 2018 menurun menjadi 1.852 ton di tahun 2020. Penggunaan paling besar dari
total penyediaan kacang tanah dalam negeri adalah penggunaan untuk industri makanan dan
minuman, dengan proporsi 54,2% dari total penyediaan kacang tanah dalam negeri. Pada
tahun 2020 penggunaan kacang tanah untuk industri makanan dan minuman menurun
dibandingkan tahun 2018 dan 2019 menjadi 389.866 ton. Sementara itu penggunaan untuk
industri non makanan tahun 2020 juga mengalami penurunan dibandingkan dua tahun
sebelumnya, tahun 2018 penggunaan untuk industri non makanan sebesar 32.590 dan terus
menurun hingga menjadi 29.710 ton di tahun 2020.
Penggunaan kacang tanah untuk horeka selama tahun 2018-2020 juga terus
menurun, pada tahun 2018 penggunaan untuk horeka sebesar 174.204 ton dan terus
menurun di tahun berikutnya hingga menjadi 158.811 ton pada tahun 2020. Penggunaan
untuk jasa dan lainnya sekitar 0,99% dari total penyediaan dalam negeri, pada tahun 2018
penggunaan untuk jasa dan lainnya sebesar 7.737 ton dan tahun berikutnya menurun hingga
menjadi 7.053 ton pada tahun 2020.
Neraca kacang tanah Indonesia selama periode tahun 2018 – 2020 menunjukkan
adanya surplus pasokan kacang tanah. Surplus pasokan kacang tanah tersebut dapat
diasumsikan untuk stok pedagang maupun industri dan penggunaan lainnya yang datanya
belum tersedia. Menurunnya volume impor kacang tanah pada tahun 2020 menunjukkan
bahwa permintaan kacang tanah di dalam negeri untuk penggunaan selain konsumsi langsung
terutama industri mengalami penurunan. Secara umum kebutuhan kacang tanah tahun 2020
mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2018 dan 2019. Hal ini diperkirakan karena
turunnya permintaan masyarakat akibat adanya pandemi Covid-19 yang membuat
pertumbuhan sektor ekonomi menurun dan tingkat konsumsi masyarakat juga turun. Secara
rinci penyediaan dan penggunaan kacang tanah tahun 2018 – 2020 dapat dilihat pada Tabel
5.4.
Tabel 5.4. Neraca Penyediaan dan Penggunaan Kacang Tanah di Indonesia, 2018-2020
Tahun
No. Uraian
2018 2019 2020
A. PENYEDIAAN KACANG TANAH (Ton) 781.535 752.941 712.475
1 Produksi 457.026 420.099 415.812
2 Impor 326.821 334.979 299.277
3 Ekspor 2.312 2.137 2.615
B PENGGUNAAN KACANG TANAH (Ton) 742.515 725.802 686.585
1 Konsumsi Langsung (penduduk x tkt konsumsi) 74.380 82.114 77.491
2 Benih dan Tercecer (3,06% dari total penyediaan) 23.915 23.040 21.802
3 Pakan (0,26% dari total penyediaan) 2.032 1.958 1.852
4 Industri 460.246 443.407 419.576
-Makanan dan Minuman (54,2% dari total penyediaan) 427.656 412.009 389.866
-Non Makanan (4,17% dari total penyediaan) 32.590 31.398 29.710
5 Horeka (22,29% dari total penyediaan) 174.204 167.830 158.811
6 Jasa dan lainnya (0,99% dari total penyediaan) 7.737 7.454 7.053
C Neraca (A-B) 39.020 27.138 25.889
Keterangan
Jumlah penduduk (000 jiwa) 264.162 266.912 270.204
Tingkat konsumsi (kg/kapita/tahun) 0,282 0,308 0,287
Ket : -Data produksi kacang tanah bersumber dari Ditjen Tanaman Pangan,
-Produksi tahun 2020 berdasarkan angka estimasi Direktorat Akabi Ditjen Tanaman Pangan
-Tingkat konsumsi menggunakan data Susenas BPS Triwulan I
-Data ekspor impor kacang tanah yang digunakan merupakan kode HS kacang tanah segar,
kode HS yang dimaksud adalah 12023000, 12024100, dan 12024200
-Angka konversi untuk penggunaaan kacang tanah berdasarkan hasil pengolahan Tabel I-O tahun 2016,
kecuali konsumsi langsung
-Jumlah penduduk sumber SUPAS 2015 kecuali 2020 menggunakan sensus penduduk 2020
domestik kacang tanah tahun 2020 masing-masing kurang 2,82% dari total konsumsi dunia.
Kontribusi negara-negara dengan konsumsi domestik kacang tanah terbesar di dunia tahun
2016-2020 disajikan pada Tabel 5.5 dan Gambar 5.3.
Tabel 5.5. Negara dengan Konsumsi Domestik Kacang Tanah Terbesar di Dunia, 2016 – 2020
(1000 Ton)
Share 2020
No Negara 2016 2017 2018 2019 2020
(%)
1 Cina 16.012 16.675 17.153 18.319 18.743 37,99
2 India 5.227 5.506 4.956 5.369 5.639 11,43
3 Nigeria 4.189 4.525 4.600 4.700 4.513 9,15
4 Sudan 1.674 1.732 1.920 2.257 2.390 4,84
5 Amerika Serikat 2.161 2.150 2.136 1.939 2.171 4,40
6 Indonesia 1.427 1.445 1.460 1.439 1.390 2,82
7 Myanmar 1.370 1.457 1.478 1.280 1.382 2,80
8 Senegal 830 1.015 1.060 1.006 1.175 2,38
9 Tanzania 1.335 1.235 1.235 1.195 1.095 2,22
10 Chad 865 868 894 907 910 1,84
Lainnya 9.218 9.196 9.722 9.744 9.929 20,12
Dunia 44.308 45.804 46.614 48.155 49.337 100,00
Sumber : USDA, diolah Pusdatin
Tanzania
Senegal 2,22%
2,38% Chad Lainnya
Myanmar 1,84% 20,12%
2,80%
Indonesia
2,82%
Cina
37,99%
Amerika Serikat
4,40%
Sudan Nigeria
4,84% 9,15%
India
11,43%
Gambar 5.3. Negara dengan Konsumsi Domestik Kacang Tanah Terbesar di Dunia, 2020
Bawang Putih merupakan salah satu komoditas pertanian yang banyak dikonsumsi
oleh masyarakat di Indonesia karena memiliki berbagai macam manfaat. Bawang putih
merupakan bahan utama untuk bumbu dasar masakan Indonesia. Dalam beberapa tahun
terakhir, pengobatan tradisional dengan mengkonsumsi bawang putih mulai banyak diminati
oleh masyarakat Indonesia.
Kebutuhan bawang putih dalam negeri meningkat setiap tahunnya yang dapat dilihat
dari konsumsi yang terus meningkat mengikuti pertambahan jumlah penduduk. Manfaat
bawang putih untuk kesehatan dapat kita rasakan diantaranya menjaga kesehatan jantung
dan menurunkan kolesterol jahat (LDL). Bawang putih juga mampu memangkas LDL
(kolesterol jahat) dalam tubuh secara signifikan. Kedua, bawang putih mengandung Allicin
yang merupakan zat anti bakteri dan sangat besar peranannya dalam kesehatan. Ketiga,
mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Keempat, bawang putih merupakan antivirus/anti
bakteri/antioksidan karena bawang putih adalah sumber antioksidan yang sangat kaya dan
tentunya dibutuhkan oleh tubuh. Bukan hanya untuk mencegah, virus dan bakteri, zat yang
dapat membantu mencegah perkembangan bakteri, jamur, ragi, dan virus serta cacing dalam
tubuh. Manfaat bawang putih lainnya, bahwa bawang putih efektif untuk kecantikan kulit,
yaitu dapat membersihkan komedo, jerawat dan menghilangkan noda bekas luka. Berbagai
manfaat yang mampu diberikan oleh bawang putih membuat bawang putih menjadi
komoditas yang mempunyai tingkat konsumsi yang besar. Selain itu, bawang putih juga
bermanfaat bagi penderita diabetes dan herbal anti kanker (sumber: Wikipedia)
Saat ini sentra daerah penghasil bawang putih cukup menyebar. Realisasi kebijakan
wajib tanam bawang putih yang dilakukan importir hingga kini sejak kebijakan tersebut
dijalankan pada 2017 masih tetap berjalan sampai sekarang. Sesuai Peraturan Menteri
Pertanian Nomor 38 Tahun 2017 junto 24 Tahun 2018, importir bawang putih wajib menanam
5 persen dari volume rekomendasi impor (RIPH) yang didapat. Kebijakan wajib tanam bawang
putih tidak hanya semata-mata mengejar target swasembada, namun sekaligus
menghubungkan importir dengan petani melalui skema kemitraan.
6.1. Perkembangan Dan Prediksi Konsumsi Bawang Putih Dalam Rumah Tangga
di Indonesia
Prediksi konsumsi bawang putih untuk tahun 2021 mengalami kenaikan sebesar 3,71%
dengan kebutuhan Konsumsi bawang putih sebesar 1,87 kg/kapita/tahun. Sedangkan tahun
2022 dan 2023 perkembangan konsumsi bawang putih dalam rumah tangga di Indonesia
mengalami sedikit penurunan sebesar 2,23% dan 2,18%. Perkembangan konsumsi bawang
putih dalam rumah tangga di Indonesia dapat dilihat pada tabel 6.1 dan gambar 6.1
Konsumsi
Pertumbuhan
Tahun
(kg/kap/mgg) (kg/kap/thn) (%)
1,955
2,000 1,914
1,872
1,768 1,805
1,747 1,723
1,800 1,669
1,632
1,564
1,600
1,400
1,205
1,200
(kg/kapita)
1,000
0,800
0,600
0,400
0,200
0,000
Tahun
Gambar 6.1. Perkembangan Konsumsi Bawang Putih Dalam Rumah Tangga di Indonesia
2013 – 2023
Apabila dilihat dari besaran pengeluaran untuk konsumsi bawang putih bagi penduduk
Indonesia, maka tahun 2016 – 2020 secara nominal berfluktuatif, pada tahun 2017
mengalami kenaikan kemudian mengalami penurunan sampai tahun 2019 sedangkan tahun
2020 mengalami kenakan yang cukup signifikan menjadi Rp. 62,675 kapita/tahun. Apabila
dikoreksi dengan faktor inflasi, pengeluaran untuk konsumsi bawang putih secara riil juga
berfluaktif. Pada tahun 2016-2019 Pengeluran riil menggunakan Indeks harga konsumsi (IHK)
tahun dasar 2012=100 sedangkan pada tahun 2020 mengalami perubahan tahun dasar yaitu
2018=100 dan masuk ke dalam kelompok makanan. Perkembangan pengeluaran nominal dan
riil konsumsi bawang putih dalam rumah tangga di Indonesia tahun 2016-2020 secara rinci
tersaji pada Tabel.6.2.
Tabel 6.2. Perkembangan Pengeluaran Nominal Dan Riil Rumah Tangga Untuk Konsumsi
Bawang Putih, 2016 – 2020
Tahun
Uraian
6.2. Perkembangan Konsumsi Bawang Putih Dalam Rumah Tangga Per Provinsi
3,000
Konsumsi Bawang Putih Per Provinsi 2020
2,500
2,000
1,500
1,000
0,500
0,000
JAMBI
BALI
BANTEN
SULAWESI BARAT
LAMPUNG
SULAWESI UTARA
GORONTALO
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
KALIMANTAN TIMUR
KALIMANTAN BARAT
SULAWESI TENGAH
PAPUA BARAT
SUMATERA BARAT
PAPUA
SUMATERA SELATAN
DKI JAKARTA
MALUKU UTARA
BENGKULU
SUMATERA UTARA
KALIMANTAN UTARA
DI YOGYAKARTA
JAWA TIMUR
ACEH
MALUKU
KEPULAUAN RIAU
RIAU
KALIMANTAN TENGAH
JAWA BARAT
SULAWESI SELATAN
JAWA TENGAH
SULAWESI TENGGARA
KALIMANTAN SELATAN
Gambar. 12.2. Perkembangan Rata-Rata Konsumsi Bawang Putih Dalam Rumah Tangga Per
Provinsi, 2020
Tabel 6.3. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Bawang Putih menurut Provinsi
Konsumsi
No Provinsi (Kg/kapita/tahun)
lahan yang sesuai bawang putih yang luas, maka diterbitkan kebijakan untuk menggenjot
produksi bawang putih dengan target swasembada 2 hingga 3 tahun kedepan. Mengacu pada
Peraturan Menteri Pertanian 38 tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura
(RIPH), disebutkan bahwa impor harus diintegrasikan dengan pengembangan komoditas
dalam negeri. Selanjutnya dalam Permentan tersebut diatur pelaku usaha yang melakukan
impor bawang putih wajib melakukan penanaman bawang putih di dalam negeri.
Pada sisi penggunaan terdapat dua komponen yang dominan yaitu konsumsi rumah
tangga dan konsumsi non rumah tangga (non ruta) secara nilai, konsumsi rumah tangga
meningkat tiap tahunnya. Untuk konsumsi rumah tangga yang mencakup konsumsi hotel,
restoran dan catering, dan rumah makan dan PMM lainnya, industri juga tercecer. Dilihat dari
persentase penyerapan oleh komponen sisi penggunaan produksi output bawang putih
menunjukkan bahwa rumah tangga dan hotel, restoran, rumah makan dan lain-lain
merupakan dua sektor yang paling banyak menyerap bawang putih. Surplus pasokan
digunakan untuk kebutuhan penggunaan lainnya.
Tabel 6.4. Neraca Penyediaan dan Penggunaan Bawang Putih di Indonesia, 2018-2020
Keterangan
-Jumlah Penduduk (000 jiwa) Sumber SUPAS 2015,
264.161,60 266.911,90 270.203,92
kecuali 2020-SP
Keterangan :
- Produksi : Badan Pusat Statistik
- Ekspor Impor : angka tetap 2020
Jeruk atau limau adalah tumbuhan berbunga anggota keluarga Citrus dari suku
Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Anggotanya berbentuk pohon dengan buah yang berdaging
dengan rasa masam yang segar, meskipun banyak di antara anggotanya yang memiliki rasa
manis. Rasa masam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang menjadi terkandung
pada semua anggotanya. Asal jeruk adalah dari Asia Timur dan Asia Tenggara, membentuk
sebuah busur yang membentang dari Jepang terus ke selatan hingga kemudian membelok ke
barat ke arah India bagian timur. Jeruk manis dan sitrun (lemon) berasal dari Asia Timur,
sedangkan jeruk bali, jeruk nipis dan jeruk purut berasal dari Asia Tenggara.
([Link]
Indonesia memiliki tiga jenis jeruk lokal yang komersial, yaitu jeruk besar atau Pamelo
(C. grandis), Jeruk Siam (C. nobilis Lour. Var. microcarpa) dan jeruk Keprok (C. reticulata
Blanco), sekitar 70-80% jeruk yang dikembangkan adalah Jeruk Siam. Produksi Jeruk
Indonesia tahun 2020 mencapai 2,72 juta ton (sumber: BPS dan Ditjen Hortikultura).
Beberapa manfaat jeruk untuk kesehatan adalah, pertama mencagah kanker. Jeruk adalah
sumber antioksidan vitamin C yang sangat baik. Dengan kandungannya ini, jeruk dapat
mencegah pembentukan radikal bebas yang menyebabkan kanker. Kedua, mengurangi resiko
tekanan darah tinggi. Jeruk tidak mengandung natrium sehingga dapat membantu menjaga
tekanan darah berada dibatas normal. Ketiga, Mendukung kesehatan jantung. Jeruk
merupakan sumber serat dan potasium yang baik sehingga jeruk bermanfaat untuk
mendukung kesehatan jantung. Keempat, mengatasi diabetes. Jeruk berukuran sedang
dengan berat 131 gram mampu memberikan 3,14 gram serat yang merupakan 10 persen dari
kebutuhan harian orang dewasa. Terakhir manfaat jeruk adalah dapat menjaga kesehatan
kulit ([Link])
sebesar 25,53% menjadi 3,30 kg/kapita di tahun 2020 (tabel 7.1). Untuk konsumsi jeruk
terendah terjadi di tahun 2013 dengan konsumsi hanya sebesar 2,24 kg/kapita/tahun.
Konsumsi
Pertumbuhan
Tahun (Kg/kapita/Minggu
(%)
) (kg/kapita/Tahun)
2010 0,080 4,171
2011 0,067 3,494 -16,25
2012 0,053 2,764 -20,90
2013 0,043 2,242 -18,87
2014 0,052 2,711 20,93
2015 0,063 3,285 21,15
2016 0,069 3,598 9,52
2017 0,067 3,494 -2,90
2018 0,064 3,337 -4,48
2019 0,085 4,433 32,83
2020 0,063 3,301 -25,53
rata-rata 0,064 3,348 -0,448
2021*) 0,063 3,262 -1,17
2022*) 0,061 3,165 -2,99
2023*) 0,059 3,053 -3,53
Sumber: SUSENAS, BPS
Keterangan : *) Angka prediksi diolah Pusdatin, Kementan
6,00
4,43
kg/kapita/thn
2,00
0,00
Hasil prediksi konsumsi jeruk tahun 2021 sampai dengan tahun 2023 diperkirakan
terus mengalam penurunan. Pada tahun 2021 konsumsi jeruk yaitu sebesar 3,262 kg/kapita
atau turun sebesar 1,17% dibandingkan tahun 2020. Pada tahun berikutnya yakni 2022 dan
2023 prediksi konsumsi jeruk masing-masing sebesar 3,165 kg/kapita dan 3,053 kg/kapita.
Keragaan konsumsi jeruk tahun 2010 – 2020 serta prediksinya hingga tahun 2023 tersaji
secara lengkap pada Tabel 7.1 dan Gambar 7.1. Apabila ditinjau dari besaran pengeluaran
untuk konsumsi jeruk bagi penduduk Indonesia tahun 2016 – 2019 secara nominal
menunjukkan peningkatan sebesar 5,29%, yakni dari Rp. 51.934/kapita pada tahun 2016
menjadi Rp. 58.139/kapita pada tahun 2019. Namun demikian setelah dikoreksi dengan faktor
inflasi, pengeluaran untuk konsumsi jeruk secara riil periode 2016 – 2019 hanya mengalami
peningkatan sebesar 2,65%. Pengeluaran nominal jeruk untuk tahun 2020 sebesar Rp.
50.318/kapita.
Namun demikian setelah dikoreksi dengan faktor inflasi, pengeluaran untuk konsumsi
jeruk secara riil pada tahun 2020 sebesar Rp. 47.663/kapita. Hal ini menunjukkan bahwa
secara kuantitas, konsumsi per kapita jeruk penduduk Indonesia terjadi tendensi peningkatan
secara riil. Perlu diketahui bahwa IHK untuk konsumsi jeruk tahun 2016 – 2019 dimasukkan
ke dalam kelompok buah-buahan, sementara tahun 2020, menggunakan IHK kelompok
makanan. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil konsumsi jeruk dalam rumah tangga
di Indonesia tahun 2016-2020 secara rinci tersaji pada Tabel. 7.2.
Tabel 7.2. Perkembangan Pengeluaran Nominal Dan Riil Rumah Tangga Untuk Konsumsi
Jeruk, 2016 – 2020
Tahun
No. Uraian
2016 2017 2018 2019 2020
1 Nominal 51.934 50.474 44.634 58.139 50.318
2 IHK 122,44 125,29 127,46 131,72 105,57
3 Riil 42.415 40.286 35.018 44.137 47.663
Sumber : BPS diolah Pusdatin-Kementan
Keterangan : tahun 2016 - 2019 menggunakan IHK Kelompok Buah-buahan, tahun dasar 2012 = 100
tahun 2020 menggunakan IHK Makanan dan tahun dasar 2018 =100
Pada Periode tahun 2018-2020 perkembangan konsumsi Jeruk di Indonesia ter tinggi
terjadi di Provinsi Sumatera Utara. Pada tahun 2020, konsumsi jeruk di provinsi tersebut
sebesar 6,17 kg/kapita. Sedangkan untuk konsumsi jeruk terendah di tahun 2020 adalah
Provinsi Gorontalo yang hanya sebesar 0,17 kg/kapita. Apabila di lihat secara nasional
konsumsi jeruk di Indonesia tahun 2020 sebesar 3,30 kg/kapita, ini mengalami penurunan
dibandingkan tahun 2019 yang mencapai sebesar 4,43 Kg/kapita tahun. Secara rinci tersaji
pada tabel 7.3 dan Gambar 7.3.
Tabel 7.3. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Jeruk menurut Provinsi
Konsumsi
No Provinsi (kg/kapita/tahun)
2018 2019 2020
1 Aceh 6,61 6,90 6,04
2 Sumatera Utara 7,51 10,57 6,17
3 Sumatera Barat 5,40 6,48 4,34
4 Riau 6,15 6,69 5,07
5 Jambi 4,73 5,36 4,49
6 Sumatera Selatan 3,00 4,45 2,86
7 Bengkulu 3,04 4,03 3,08
8 Lampung 2,59 4,26 3,45
9 Kepulauan Bangka 4,37 4,93 3,42
10 Kepulauan Riau 4,99 7,09 5,50
11 DKI Jakarta 5,91 7,19 5,76
12 Jawa Barat 3,71 5,48 4,63
13 Jawa Tengah 2,89 4,05 3,15
14 DI Yogyakarta 3,30 4,17 3,74
15 Jawa Timur 2,13 2,83 1,57
16 Banten 3,93 5,97 4,91
17 Bali 5,73 6,60 5,10
18 Nusa Tenggara Barat 1,43 3,30 1,76
19 Nusa Tenggara Timur 0,31 0,41 0,20
20 Kalimantan Barat 3,12 2,80 1,77
21 Kalimantan Tengah 1,61 1,41 0,98
22 Kalimantan Selatan 0,71 0,90 0,67
23 Kalimantan Timur 1,69 1,73 1,45
24 Kalimantan Utara 1,03 1,15 0,71
25 Sulawesi Utara 0,58 0,37 0,34
26 Sulawesi Tengah 0,86 0,63 0,71
27 Sulawesi Selatan 0,61 0,60 0,42
28 Sulawesi Tenggara 0,76 0,54 0,45
29 Gorontalo 0,37 0,32 0,17
30 Sulawesi Barat 0,55 0,80 0,35
31 Maluku 0,87 1,11 0,77
32 Maluku Utara 0,88 0,63 0,81
33 Papua Barat 1,27 1,91 1,56
34 Papua 2,70 2,05 1,94
Indonesia 3,33 4,43 3,30
Sumber: BPS, di ol ah Pusdati n
(Kg/Kapita/th
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00
SULAWESI TENGAH
BENGKULU
SUMATERA BARAT
PAPUA BARAT
ACEH
RIAU
BALI
JAWA BARAT
JAWA TENGAH
KALIMANTAN TIMUR
MALUKU
JAMBI
DKI JAKARTA
JAWA TIMUR
BANTEN
SULAWESI TENGGARA
SULAWESI BARAT
PAPUA
LAMPUNG
D I YOGYAKARTA
KALIMANTAN UTARA
MALUKU UTARA
SUMATERA UTARA
SULAWESI UTARA
KALIMANTAN SELATAN
SULAWESI SELATAN
GORONTALO
SUMATERA SELATAN
KEPULAUAN RIAU
KALIMANTAN BARAT
KALIMANTAN TENGAH
Gambar. 7.2. Konsumsi Jeruk Dalam Rumah Tangga Per Provinsi, 2020
Kode HS Uraian
0805.10.10 Buah Jeruk-segar
0805.10.20 Buah Jeruk-dikeringkan
0805.21.00 Mandarin (termasuk tangerin dan satsuma)
0805.40.00 Grapefruit, termasuk pomelo
0805.50.10 Lemon (Citrus Limon, Citrus limonum )
0805.50.20 Limau (Citrus aurantifolia, Citrus latifolia )
0805.90.00 Jeruk lainnya, segar atau kering
Mengandung tambahan gula atau bahan pemanis lainnya
2008.30.10
atau alkohol (buah jeruk)
Kebutuhan jeruk dihitung dari jumlah konsumsi langsung, tercecer dan bahan baku
industri dengan bahan dasar dari jeruk. Konsumsi langsung dihitung berdasarkan total
konsumsi rumah tangga hasil Susenas dikalikan dengan jumlah penduduk. Produksi jeruk
tahun 2018 sebesar 2,51 juta ton dan terus mengalami kenaikan yaitu menjadi 2,72 juta ton
pada tahun 2020. Ekspor jeruk tahun 2020 sebesar 1,46 ribu ton menurun 16,64%
dibandingkan tahun 2019 sebesar 1,75 ribu ton.
Apabila dilihat dari penggunaan komoditas jeruk pada tahun 2020 mengalami
penurunan dibandingkan tahun 2019 sebesar 23,92%. Penggunaan jeruk untuk konsumsi
langsung mengalami penurunan dari 1,18 juta ton di tahun 2019, menjadi 891,96 ribu ton di
tahun 2020. Perhitungan penggunaan jeruk termasuk yang tercecer sekitar 1,1% dari
penyediaan atau sekitar 28 – 30 ribu ton. Sementara data penggunaan untuk industri yang
berbahan baku jeruk tidak tersedia.
Neraca komoditas jeruk Indonesia selama periode 2018 – 2020 menunjukkan adanya
surplus yang cukup besar. Pada tahun 2020, surplus neraca jeruk sebesar 1,88 juta ton
meningkat dibandingkan tahun 2019 yang hanya sebesar 1,49 juta ton. Surplus ini
diasumsikan terserap ke sektor industri pengolahan berbahan baku jeruk, untuk horeka dan
penggunaan lainnya. Neraca penyediaan dan penggunaan jeruk di Indonesia tahun 2018 -
2020 seperti tersaji pada Tabel 7.5 berikut ini.
Pada periode tahun 2016 – 2020, negara Cina merupakan negara dengan total
penyediaan jeruk untuk konsumsi domestik terbesar di dunia. Kontribusi Cina tahun 2020
mencapai 23,79% dari total penyediaan jeruk untuk konsumsi dunia. Disusul kemudian oleh
Uni Eropa yang menepati urutan kedua dengan penyediaan tahun 2020 sebesar 6,08 juta ton
atau 20,30% dari total penyediaan jeruk dunia. Brazil menempati urutan ketiga dalam
penyediaan jeruk di dunia yang mencapai 4,78 juta ton atau 16,50%. Negara-negara
berikutnya dalam urutan 8 besar adalah Meksiko, Mesir, Turki, Amerika Serikat, dan Vietnam
dengan kontribusi di bawah 8%. Kontribusi negara-negara dengan penyediaan jeruk terbesar
di dunia disajikan pada Gambar 7.3 dan Tabel 7.6.
Tabel 7.6. Negara Dengan Total Penyediaan Jeruk Terbesar Di Dunia, 2016 – 2020
Vietnam, 3,34
Lainnya, 14,60
Turki, 4,51
Mesir, 5,02
Meksiko, 7,63 Uni Eropa, 20,30
Brazil, 16,50
Cina Uni Eropa Brazil Meksiko Mesir Turki Amerika Serikat Vietnam Lainnya
Kelapa sawit (Elaeis guineensis) adalah penghasil utama minyak nabati yang mempunyai
produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Luas
perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun, pada tahun
2020 luas areal mencapai 14,86 juta hektar dengan produksi mencapai 48,30 juta ton (angka
sementara, Ditjen Perkebunan) dimana saat ini Indonesia menjadi salah satu negara terbesar
di dunia penghasil minyak kelapa sawit.
Minyak sawit identik sebagai bahan baku minyak goreng. Padahal, minyak sawit punya
berbagai macam produk turunan dan banyak mengisi ragam kebutuhan sehari-hari. Turunan
produk minyak sawit antara lain margarin, sabun mandi, mi instan, kosmetika, obat-obatan,
hingga makanan ringan, bahan bakar nonfosil, selai, cokelat, sampo, detergen, dan masih
banyak lagi, semuanya mengandung minyak sawit. Minyak sawit sangat mengakar dalam
kehidupan sehari-hari dan meluas penggunaannya ke banyak negara di dunia.
Industri minyak sawit Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu isu
yang menarik perhatian masyarakat dunia, karena perkembangannya yang sangat cepat,
mengubah peta persaingan minyak nabati global maupun adanya berbagai isu sosial, ekonomi
dan lingkungan yang terkait dengan industri minyak sawit. Sejak tahun 2011 Indonesia telah
mendorong hilirisasi minyak sawit di dalam negeri melalui tiga jalur hilirisasi yakni jalur
hilirisasi industri oleofood, jalur hilirisasi industri oleokimia dan jalur hilirisasi biofuel.
Tujuannya selain meningkatkan nilai tambah juga mengurangi ketergantungan Indonesia
pada pasar CPO dunia.
Selama ini, minyak nabati (termasuk minyak sawit) sekitar 80 persen dikonsumsi
sebagai bahan pangan (oleofood), sedangkan 20 persen sisanya untuk energi (biodiesel,
pembangkit listrik) dan produk oleokimia (biosurfaktan, biolubrikan, dan lain-lain).
Berdasarkan data OECD/FAO (2015) konsumsi minyak nabati untuk oleofood (rata-rata dunia)
baru mencapai 19 Kg/Kapita. Konsumsi per kapita tertinggi adalah Amerika Serikat dan
Kanada (38 Kg), EU (24 Kg), Cina (22 Kg), Indonesia (19 Kg), dan India (15 Kg). Jika konsumsi
non-oleofood diperhitungkan maka rataan konsumsi minyak nabati dunia baru mencapai
sekitar 25 Kg/kapita/tahun. Dengan produksi 4 minyak nabati utama dunia tahun 2016
sebesar 162 juta ton, maka dengan proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia tersebut berarti
diperlukan tambahan produksi minyak nabati dunia sebesar 125 juta ton menuju tahun 2050.
Untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati tersebut, dari minyak rapeseed dan
minyak bunga matahari tidak dapat lagi diharapkan. Sumber penyediaan minyak nabati dunia
yang masih dapat diharapkan adalah dari minyak kedelai dan minyak sawit
([Link]
Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia tidak tumbuh secara maksimal karena ada
beberapa dinamika di pasar global khususnya di negara tujuan utama ekspor Indonesia
seperti India, Uni Eropa, China dan Amerika Serikat. Di India, Indonesia kalah bersaing
dengan Malaysia khususnya untuk refined products di mana bea masuk refined products dari
Indonesia lebih tinggi daripada Malaysia dengan selisih 9% (tarif bea refined products dari
Malaysia adalah 45% dari tarif berlaku 54%). Uni Eropa memberlakukan aturan ILUC (in direct
land use change), aturan yang mempermasalahkan dampak perubahan penggunaan lahan
secara tidak langsung dari industri minyak sawit yang sudah diubah menjadi bahan bakar
nabati alias biofuel karena dianggap lebih banyak melepaskan emisi karbon yang berdampak
pada pencemaran udara dan tuduhan subsidi biodiesel ke Indonesia sedikit banyak juga telah
mempengaruhi ekspor Indonesia ke Uni Eropa. Perang dagang China dan Amerika Serikat
juga telah mempengaruhi pasar minyak nabati dunia ([Link]
Berdasarkan keragaan data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan
Pusat Statistik perkembangan konsumsi minyak goreng sawit di tingkat rumah tangga di
Indonesia selama periode 2010 - 2020 pada umumnya mengalami peningkatan dengan rata-
rata pertumbuhan sebesar 3,82% per tahun. Peningkatan yang cukup signifikan terjadi di
tahun 2015 dibanding tahun sebelumnya yakni dari 7,68 Kg/kap/tahun meningkat menjadi
8,97 Kg/kap/tahun atau naik sebesar 16,73%. Tahun 2015 terjadi peningkatan cukup
signifikan dikarenakan ada pengembangan modul dan diimplementasikan pada tahun 2015
dengan pertimbangan bahwa tahun 2015 merupakan tahun pertama dari pemerintahan
kabinet baru, sekaligus tahun berakhirnya program MDGs. Perubahan yang terjadi pada
kegiatan Susenas Kor Tahun 2015 dibandingkan dengan kegiatan Susenas Kor Tahun 2011
(Modul Konsumsi/Pengeluaran Rumah Tangga) adalah adanya perubahan frekuensi kegiatan
dari triwulanan menjadi semesteran, Sebaliknya penurunan konsumsi minyak goreng sawit
dalam rumah tangga terjadi di tahun 2013 dan 2017 dengan penurunan konsumsi terbesar
terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 8,23%. Pada tahun 2019, konsumsi minyak goreng
sawit sebesar 11,02 liter/kap/tahun atau sebesar 8,82 kg/kap/tahun, sementara tahun 2020
mengalami sedikit peningkatan menjadi sebesar 11,41 liter/kap/tahun atau sebesar 9,13
kg/kap/tahun. Prediksi konsumsi minyak goreng sawit di tingkat rumah tangga untuk tahun
2021 yaitu sebesar 11,67 liter/kap/tahun atau sebesar 9,34 kg/kap/tahun, konsumsi ini
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020, begitu juga tahun 2022 dan 2023
diprediksi mengalami peningkatan masing-masing sebesar 11,91 liter/kap/tahun atau 9,53
kg/kap/tahun dan 12,15 liter/kap/tahun atau 9,72 kg/kap/tahun. Sebagai catatan hasil
Susenas tahun 2010 sampai 2014 data diambil dari kelompok konsumsi minyak goreng
lainnya dimana mencakup konsumsi minyak goreng kelapa sawit, sementara tahun 2015
sampai 2020 data sudah terpisah menjadi data minyak goreng (minyak sawit) seperti terlihat
pada Tabel 8.1 dan Gambar 8.1.
Tabel 8.1. Perkembangan Konsumsi Minyak Goreng Sawit Dalam Rumah Tangga
di Indonesia, 2010 - 2020 Serta Prediksi 2021- 2023
Konsumsi 1) Pertumbuha
Tahun n
(Liter/kap/minggu) (Liter/kap/tahun) (Kg/kap/tahun)
(%)
2010 0,154 8,030 6,424
2011 0,158 8,239 6,591 2,60
2012 0,179 9,334 7,467 13,29
2013 0,171 8,916 7,133 -4,47
2014 0,184 9,604 7,683 7,71
2015 0,215 11,211 8,969 16,73
2016 0,224 11,680 9,344 4,19
2017 0,206 10,719 8,575 -8,23
2018 0,208 10,865 8,692 1,36
2019 0,211 11,023 8,818 1,46
2020 0,219 11,411 9,129 3,52
rata-rata 0,194 10,094 8,075 3,82
2021*) 0,224 11,674 9,339 2,30
2022*) 0,228 11,913 9,531 2,05
2023*) 0,233 12,153 9,723 2,01
Sumber: SUSENAS, BPS
Keterangan : 1) Merupakan konsumsi minyak goreng sawit
*) Angka prediksi diolah Pusdatin, Kementan
Asumsi 1 liter = 0,8 Kg
12.00
10.00
8.00
kg/kapita/thn
6.00
4.00
2.00
0.00
Gambar 8.1. Perkembangan Konsumsi Minyak Goreng Sawit Dalam Rumah Tangga
di Indonesia, 2010 – 2023
Apabila dilihat dari besarnya pengeluaran untuk konsumsi minyak goreng (minyak
sawit) bagi penduduk Indonesia periode tahun 2016 – 2020 secara nominal menunjukan
peningkatan yang positif. Pada tahun 2016 pengeluaran untuk konsumsi minyak goreng
secara nominal sebesar Rp. 127,39 ribu/kapita dan menjadi sebesar Rp. 139.73 ribu/kapita
pada tahun 2020. Besarnya pengeluaran nominal tersebut apabila dikoreksi dengan faktor
inflasi menggunakan pertumbuhan indeks harga konsumen (IHK) lemak dan minyak pada
tahun 2016-2019 dengan tahun dasar 2012=100 dan pada tahun 2020 menggunakan IHK
makanan dengan tahun dasar 2018=100 menunjukkan pengeluaran riil untuk konsumsi
minyak goreng sawit.
Secara kuantitas terjadi penurunan konsumsi per kapita minyak goreng sawit
penduduk Indonesia, walaupun dalam jumlah yang relatif kecil, dimana pada tahun 2016
pengeluaran riil sebesar Rp. 112,23 ribu/kapita menjadi sebesar Rp. 110,15 ribu/kapita tahun
2019. Untuk tahun 2020 karena pengelompokan dan nilai IHK tahun dasar berbeda yaitu
tahun 2018=100 yang sebelumnya tahun dasar 2012=100, maka terlihat nilai tahun 2020
cukup tinggi dan tidak bisa dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu secara nominal
sebesar 139,73 ribu/kapita dan secara riil mencapai Rp 132,35 ribu/kapita. Perkembangan
pengeluaran nominal dan riil konsumsi minyak goreng sawit dalam rumah tangga di
Indonesia tahun 2016-2020 secara rinci tersaji pada Tabel 8.2.
Tabel 8.2. Perkembangan Pengeluaran Nominal dan Riil Rumah Tangga untuk Konsumsi
Minyak Goreng Sawit, 2016 – 2020
Pengeluaran (Rupiah/kapita/tahun)
No. Uraian
2016 2017 2018 2019 2020
8.2. Perkembangan Konsumsi Minyak Goreng Dalam Rumah Tangga Per Provinsi
Perkembangan konsumsi minyak goreng sawit per provinsi dalam rumah tangga yang
bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS, tahun 2018 sampai 2020
terlihat besaran konsumsi per kapita bervariasi dengan konsumsi rata-rata nasional sebesar
8,88 Kg/kapita/tahun. Sebaran konsumsi minyak goreng sawit per kapita menurut provinsi
tahun 2020 menunjukkan terdapat 19 provinsi dengan konsumsi diatas konsumsi nasional
yaitu provinsi Riau menduduki urutan pertama mencapai 12,17 kg/kapita, disusul Jambi
sebesar 11,74 kg/kapita, Sumatera Barat sebesar 11,00 kg/kapita, Lampung sebesar 10,97
kg/kapita, Sumatera Utara sebesar 10,52 kg/kapita, Kepulauan Riau sebesar 10,35 kg/kapita,
Banten sebesar 10,29 kg/kapita, Kalimantan Tengah sebesar 10,27 kg/kapita, Gorontalo
sebesar 10,23 kg/kapita, Bengkulu sebesar 10,15 kg/kapita, Kalimantan Selatan sebesar
10,10 kg/kapita dan Kalimantan Timur, Papua Barat, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Aceh,
Papua, Jawa Timur dan Kepulauan Bangka Belitung masing—masing di bawah 9,00 kg/kapita.
Sementara konsumsi terendah atau kurang dari 6 kg/kapita terjadi di 2 (dua) Provinsi yaitu
Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat seperti tersaji pada Gambar 8.2
Riau
Jambi
Sumbar
Lampung
Sumut
Kep. Riau
Banten
Kalteng
Gorontalo
Bengkulu
Kalsel
Kaltim
Papua Barat
Sumsel
Jakarta
Aceh
Papua
Jatim
Kep. Babel
Jateng
Jabar
Sulut
Kalut
Kalbar
Yogyakarta
Bali
NTB
Sulsel
Sulteng
Malut
Maluku
Sultra
NTT
Sulbar
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00
Kg/Kap/Tahun
Gambar. 8.2. Perkembangan Konsumsi Minyak Goreng Sawit Dalam Rumah Tangga
Per Provinsi Di Indonesia, 2020
Tabel 8.3. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Minyak Goreng menurut Provinsi
Kg/Kapita/Tahun
No. Provinsi
2018 2019 2020
1 Aceh 8,758 9,001 9,399
2 Sumatera Utara 9,714 10,151 10,517
3 Sumatera Barat 10,296 10,754 11,002
4 Riau 11,340 11,404 12,167
5 Jambi 11,222 11,262 11,738
6 Sumatera Selatan 9,334 9,517 9,585
7 Bengkulu 9,893 9,877 10,149
8 Lampung 11,001 11,302 10,968
9 Kepulauan Bangka Belitung 9,131 9,303 9,161
10 Kepulauan Riau 10,263 10,303 10,354
11 DKI Jakarta 8,699 8,963 9,503
12 Jawa Barat 8,570 8,730 8,735
13 Jawa Tengah 8,270 8,364 8,810
14 DI Yogyakarta 7,755 7,847 7,776
15 Jawa Timur 8,609 8,683 9,226
16 Banten 9,841 9,689 10,287
17 Bali 7,439 7,277 7,746
18 Nusa Tenggara Barat 7,130 7,871 7,678
19 Nusa Tenggara Timur 5,166 5,507 5,923
20 Kalimantan Barat 7,666 7,529 8,243
21 Kalimantan Tengah 10,273 10,468 10,275
22 Kalimantan Selatan 9,558 9,866 10,101
23 Kalimantan Timur 9,450 9,348 9,851
24 Kalimantan Utara 8,874 8,358 8,360
25 Sulawesi Utara 8,292 8,507 8,480
26 Sulawesi Tengah 6,422 6,225 6,699
27 Sulawesi Selatan 6,663 6,467 6,998
28 Sulawesi Tenggara 6,136 6,028 5,995
29 Gorontalo 10,250 10,216 10,231
30 Sulawesi Barat 5,782 5,475 5,737
31 Maluku 5,714 5,952 6,092
32 Maluku Utara 6,731 6,349 6,305
33 Papua Barat 9,790 10,123 9,617
34 Papua 8,274 8,319 9,257
Indonesia 8,692 8,818 9,129
Sumber : Susenas, BPS
Keterangan : Asumsi 1 liter = 0,8 Kg
menggunakan faktor konversi sebesar 2,39% terhadap total produksi, ditambah impor lalu
dikurang ekspor (data ekspor impor tahun 2021 sampai bulan Juli 2021 angka sementara
ditambah data Agustus – Desember 2020). Untuk penggunaan minyak sawit, data yang
tersedia hanya data bahan baku industri, data didapat dari penyediaan kg per kapita per
tahun di neraca bahan makanan di kurangi konsumsi kg per kapita per tahun dari hasil
Susenas, selisih angka tersebut dikalikan jumlah penduduk, selanjutnya dibagi dengan faktor
konversi 68,28%. Sehingga sisa dari penyediaan minyak sawit dikurang penggunaan minyak
sawit diasumsikan merupakan minyak sawit yang siap untuk diolah lebih lanjut menjadi
minyak goreng sawit dengan faktor konversi sebesar 68,28%. Total penyediaan minyak
goreng sawit Indonesia adalah berasal dari minyak goreng sawit hasil konversi ditambah hasil
produksi dari industri minyak goreng.
Penggunaan minyak goreng sawit di Indonesia terdiri dari konsumsi di rumah tangga
per kapita ditambah tercecer dari penyediaan minyak goreng sawit ditambah lagi
penggunaan untuk industri dan penggunaan lainnya. Pada analisis ini, total konsumsi rumah
tangga minyak goreng sawit diperoleh dari konsumsi per liter per kapita dari Susenas-BPS,
yang selanjutnya dikonversi menjadi per kg dengan konversi 1 liter =0,8 kg, kemudian
dikalikan dengan jumlah penduduk. Besaran konsumsi per kapita minyak goreng sawit tahun
2019 sebesar 8,82 kg/kapita/tahun dan tahun 2021 diprediksi menjadi 9,34 kg/kapita/tahun.
Sementara minyak goreng yang tercecer menggunakan faktor konversi sebesar 1,56% seperti
pada perhitungan prognosa, Badan Ketahanan Pangan.
Hasil perhitungan neraca penyediaan dan penggunaan minyak goreng sawit tahun
2019 – 2021 tersaji pada Tabel 8.4. Data produksi minyak sawit (CPO) tahun 2020 merupakan
angka sementara dan tahun 2021 merupakan angka estimasi Ditjen Perkebunan. Selama
periode tersebut, total penyediaan minyak sawit berfluktuasi dengan kecenderungan
mengalami peningkatan, yang dominan disebabkan oleh meningkatnya produksi minyak sawit
nasional, meskipun ekspor minyak sawit cukup besar. Pada tahun 2019, total penyediaan
minyak sawit Indonesia mencapai 17,81 juta ton dan meningkat menjadi sebesar 21,21 juta
ton pada tahun 2020, pada tahun 2021 diprediksi mengalami penurunan menjadi 18,53 juta
ton yang disebabkan peningkatan volume ekspor minyak sawit yang cukup besar menjadi
29,99 juta ton.
Selisih antara penyediaan dengan penggunaan minyak sawit merupakan kuantitas
minyak sawit yang siap diolah lebih lanjut atau tersedia dalam wujud minyak goreng sawit,
yakni dengan faktor konversi sebesar 68,28%. Berdasarkan angka konversi tersebut di atas,
maka besarnya penyediaan minyak goreng sawit tahun 2019 sebesar 12,16 juta ton dan
menjadi sebesar 12,65 juta ton pada tahun 2021.
Penggunaan minyak goreng sawit diantaranya untuk konsumsi di rumah tangga. Total
konsumsi di rumah tangga diperoleh dari angka konsumsi langsung per kapita (Susenas)
dikalikan dengan jumlah penduduk. Tahun 2019 konsumsi rumah tangga sebesar 2,35 juta
ton dan menjadi 2,54 juta ton tahun 2021. Untuk data minyak goreng sawit yang tercecer
dengan faktor konversi sebesar 1,56% dari total penyediaan. Selain itu ada data penggunaan
untuk industri dan penggunaan lainnya, akan tetapi data tidak tersedia. Berdasarkan rincian
penggunaan minyak goreng sawit tersebut diatas, maka total penggunaan minyak goreng
sawit Indonesia mencapai 2,50 juta ton pada tahun 2019 dan mengalami sedikit peningkatan
menjadi 2,70 juta ton pada tahun 2021.
Neraca penyediaan dan penggunaan minyak goreng sawit adalah selisih antara total
penyediaan dengan penggunaan minyak goreng sawit. Selama periode tahun 2019 hingga
2021 terjadi surplus minyak goreng sawit yang mencapai 9,66 juta ton pada tahun 2019
hingga 9,95 juta ton pada tahun 2021. Surplus neraca penyediaan dan penggunaan minyak
goreng sawit ini diasumsikan merupakan minyak goreng sawit yang digunakan untuk industri,
minyak goreng yang disimpan di masyarakat dan minyak goreng untuk penggunaan lainnya.
Tabel 8.4. Neraca Penyediaan dan Penggunaan Minyak Goreng di Indonesia, 2019-2021
Tahun
No. Uraian
2019 2020*) 2021**)
A. PENYEDIAAN MINYAK SAWIT 17.808.008 21.208.470 18.528.923
- Produksi (CPO) dalam Ton 47.120.247 48.297.070 49.710.345
- Tercecer (2,39% dari produksi) 1.126.174 1.154.300 1.188.077
- Impor (Ton) 93.285 957 1.790
- Ekspor (Ton) 28.279.350 25.935.257 29.995.135
B PENGGUNAAN MINYAK SAWIT 4.101.259 4.028.914 3.975.642
- Bahan baku industri 4.101.259 4.028.914 3.975.642
C MINYAK SAWIT TERSEDIA UNTUK DIOLAH ( A-B) 13.706.749 17.179.555 14.553.280
D PENYEDIAAN MINYAK GORENG SAWIT 12.159.308 14.481.143 12.651.548
- Penyediaan Minyak Goreng Sawit (CPO ke M. Goreng= 68,28%) 9.358.968 11.730.200 9.936.980
- Hasil produksi industri minyak goreng 2.800.339 2.750.943 2.714.569
E PENGGUNAAN MINYAK GORENG SAWIT 2.499.729 2.649.686 2.697.567
- Konsumsi Rumah Tangga 2.353.729 2.466.695 2.542.550
- Tercecer (1,56% dari D) 146.000 182.991 155.017
- Penggunaan untuk industri na na na
- Penggunaan lainnya na na na
Neraca (D-E) 9.659.578 11.831.457 9.953.982
Keterangan :
- Jumlah Penduduk sumber SUPAS 2015, kecuali 2020 menggunakan SP (Jiwa) 266.911.900 270.203.917 272.248.500
- Tingkat konsumsi Kg/kapita/tahun (1 liter=0,8 kg) 8,82 9,13 9,34
- Tingkat konsumsi liter/kapita/tahun 11,02 11,41 11,67
- Produksi dalam bentuk CPO, 2020 = Angka Sementara, 2021 = Angka Estimasi, Ditjen Perkebunan
- Ekspor impor bersumber dari BPS diolah Pusdatin, jumlah dari kode HS 1511, 2021 data sampai bulan Juli ASEM ditambah Agts-Des 2020
- * Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara
Penyediaan minyak sawit dunia yang bersumber dari USDA (United State Departement
of Agiculture), periode tahun 2016 – 2020 berfluktuatif. Pada periode ini total penyediaan
minyak sawit dunia terlihat meningkat dari tahun ke tahun. Terdapat 6 negara dengan total
penyediaan minyak sawit terbesar di dunia. Keenam negara tersebut pada tahun 2020
memberikan kontribusi hingga mencapai 68,29% dari total penyediaan dunia. Indonesia
menduduki peringkat pertama dengan total penyediaan minyak sawit pada tahun 2020
mencapai 48,13 juta ton atau sebesar 35,73% share dari total penyediaan minyak sawit
dunia. Negara berikutnya adalah Malaysia sebesar 20,79 juta ton atau 15,43% share dari total
penyediaan minyak sawit dunia.
Dua negara berikutnya adalah India dan China masing-masing sebesar 9,05 juta ton
dan 7,25 juta ton dengan kontribusi terhadap total penyediaan dunia masing-masing sebesar
6,72% dan 5,38%. Negara terbesar kelima dan keenam adalah Pakistan dan Thailand dengan
kontribusi masing-masing sebesar 2,73% dan 2,30%, sedangkan negara lainnya memiliki
kontribusi terhadap total penyediaan dunia masing-masing kurang dari 2%. Persentase
kontribusi total penyediaan minyak sawit di 6 negara terbesar di dunia dapat dilihat pada
Gambar [Link] Tabel 8.5.
China Pakistan
India 5,38% 2,73% Thailand
6,72%
2,30%
Malaysia
15,43%
Negara lainnya
31,71%
Indonesia
35,73%
Gambar 8.3. Negara Dengan Penyediaan Minyak Sawit Terbesar di Dunia, 2020
Tabel 8.5. Negara Dengan Total Penyediaan Minyak Sawit Terbesar di Dunia, 2016 – 2020
Konsumsi domestik minyak sawit per tahun terbesar dunia menurut data USDA periode
tahun 2016 – 2020 terdapat enam negara dengan peringkat utama yaitu Indonesia, India,
China, Malaysia, Pakistan dan Tahiland. Yang dimaksud dengan konsumsi domestik meliputi
konsumsi langsung, konsumsi industri maupun konsumsi lainnya bagi penduduk suatu
negara.
Berdasarkan data tahun 2020 Indonesiaa merupakan negara urutan pertama dengan
konsumsi domestik minyak sawit sebesar 15,03 juta ton atau 20,30% dari total konsumsi
dunia. Indonesia sebagai negara eksportir nomor satu kelapa sawit atau CPO terbesar di dunia
juga negara urutan kesatu yang banyak mengkonsumsi minyak sawit. India menjadi negara
yang banyak konsumsi minyak kelapa sawit atau CPO terbesar kedua di dunia, dengan
konsumsi domestik sebesar 8,86 juta ton atau 11,96% dari total konsumsi dunia. Apa
penyebab India menjadi importir CPO terbesar kedua di dunia, karena satu-satunya minyak
nabati yang tidak diproduksi di India ialah CPO. Alhasil pemenuhan kebutuhan CPO hanya
bisa melalui impor. Pasar minyak sawit India masih tetap prospektif bagi Indonesia kedepan,
sebab (1) konsumsi minyak sawit India sebagian besar adalah kelompok berpendapatan
menengah dan rendah yang memiliki marginal propensity to consume relatif tinggi, (2) pangsa
minyak sawit dalam konsumsi minyak nabati meningkat dari 29 persen tahun 2002 menjadi
45 persen tahun 2015, (3) sekitar 50 persen impor minyak nabati India masih minyak sawit
dan (4) kebutuhan minyak nabati india akan naik dari sekitar 20 juta ton tahun 2016 menjadi
sekitar 34 juta ton tahun 2025 ([Link]
China merupakan negara urutan ketiga terbesar dunia dengan konsumsi domestik minyak
sawit tahun 2020 sebesar 6,79 juta ton (9,17%). Negara berikutnya adalah Malaysia, Pakistan
dan Thailand dengan konsumsi domestik tahun 2020 masing-masing sebesar 4,55 juta ton,
4,59 juta ton dan3,61 juta ton. Perkembangan konsumsi domestik minyak sawit per kapita
negara-negara di dunia tahun 2016 - 2020 tersaji secara lengkap pada Gambar 8.4 dan Tabel
8.6.
Thailand
Pakistan 3,61%
4,59%
Malaysia
4,55% Negara lainnya
45,82%
China
9,17%
India
11,96%
Indonesia
20,30%
Tabel 8.6. Negara dengan Total Konsumsi Domestik Minyak Sawit Terbesar di Dunia,
2016 – 2020
Kopi merupakan salah satu minuman yang paling digemari di Indonesia. Di Indonesia
sendiri kopi sangat bermacam-macam, tergantung dari daerah masing-masing. Mulai dari kopi
Aceh, Kopi Toraja, Kopi Flores, Kopi Ternate, dan masih banyak lagi jenis kopi yang berasal
dari hampir seluruh daerah di Indonesia. Selain itu, kopi adalah salah satu sumber alami
kafein (Nawrot et al, 2003) zat yang dapat menyebabkan peningkatan kewaspadaan dan
mengurangi kelelahan (Smith, 2002). Minuman kopi, minuman dengan bahan dasar ekstrak
biji kopi, dikonsumsi sekitar 2,25 milyar gelas setiap hari diseluruh dunia (Ponte, 2002).
Tanaman kopi (Coffea spp.) termasuk kelompok tanaman semak belukar dengan
genus Coffea. Linnaeus merupakan orang pertama yang mendeskripsikan spesies kopi arabika
(Coffea arabica) pada tahun 1753 (Panggabean, 2011). Kini lebih dari 120 spesies kopi telah
diidentifikasi namun hanya satu spesies yaitu Coffea canephora atau kopi robusta yang
dibudidayakan mendekati kuantitas kopi arabika di seluruh dunia (Hoffman, 2014). Mekuria
et al (2004) menyatakan bahwa 66% produksi kopi dunia merupakan jenis kopi arabika dan
sisanya berasal dari kopi robusta.
Kopi di Indonesia pertama kali dibawa oleh pria berkebangsaan Belanda sekitar tahun
1646 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arab (Prastowo et al, 2010). Tanaman kopi
kemudian ditanam hingga tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Berikut adalah manfaat
mengkonsumsi kopi untuk kesehatan tubuh yang harus anda ketahui seperti di lansir dari
[Link]
Kopi terkenal dengan kandungan kafeinnya, kafein memang sangat bermanfaat untuk
tubuh, namun perlu diingat, takaran kafein yang masuk ke dalam tubuh hendaknya tetap di
jaga agar tidak terlalu banyak. Jika takaran kafein yang masuk dalam tubuh sesuai, maka hal
itu akan dapat menambah energi dan juga stamina. Stamina yang dihasilkan oleh kafein itulah
yang membuat Anda tetap terjaga. Dan banyak sekali orang yang percaya bahwa kopi dapat
menghilangkan kantuk, meningkatkan daya ingat terhadap sesuatu, pusing, maag dan
beberapa penyakit yang lainnya, termasuk bisa untuk menurunkan berat badan.
Kopi juga mengandung zat antioksidan, yang dapat mengurangi efek radikal bebas
yang dapat merusak sel dalam tubuh. Fungsi pencegahan ini membuat Anda lebih sehat
dengan mengurangi jumlah kerusakan sel-sel tubuh Anda. Menurut penelitian yang
diterbitkan pada bulan Juli 2004 dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry, antioksidan
asam klorogenat dalam biji kopi hijau dapat mencegah perkembangan empat jenis sel kanker,
sehingga dapat membantu mencegah beberapa jenis kanker.
Menurunkan darah tinggi, kopi dapat mengurangi tekanan darah, Menurut sebuah
penelitian yang diterbitkan pada tahun 2006 di Clinical and Experimental Hypertension
menunjukkan bahwa pasien yang mengonsumsi 140 mg ekstrak biji kopi per hari
menunjukkan penurunan tekanan darah. Selama ini, belum ada efek samping yang dilaporkan
oleh pasien, sehingga minuman ini dapat kita sebut sebagai cara yang aman untuk membantu
mengurangi tekanan darah tinggi. Metabolisme tubuh, agar metabolisme tubuh menjadi
lancar dan kinerja organ terjaga, kopi hitam dapat memberikan manfaat tersebut. Manfaat
kopi hitam yang satu ini cukup menjanjikan karena sudah memiliki banyak bukti.
Berdasarkan hasil Susenas BPS, data konsumsi langsung rumah tangga berbeda dalam
wujud kopi bubuk/biji. Bahasan berikut mengulas keragaan konsumsi kopi untuk periode
2010-2020 serta prediksi 2021 - 2023.
Perkembangan data konsumsi rumah tangga untuk komoditas kopi menurut susenas
BPS dalam wujud kopi selama periode tahun 2010 – 2020 dan prediksi 2021-2023 relatif
berfluktuasi namun cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Selama periode
tahun 2010 – 2020, konsumsi kopi terbesar terjadi pada tahun 2013 yang mencapai 1,371
kg/kapita/tahun sebesar 28,92%, urutan berikutnya tahun 2011 mencapai 1,366
kg/kapita/tahun sebesar 6,07%. Sedangkan konsumsi terendah terjadi pada tahun 2017
sebesar 1,042 kg/kapita/tahun. Dan urutan terendah berikutnya Tahun 2019 dan 2020
konsumsi kopi adalah sebesar 1,046 kg/kapita/tahun atau turun sedikit 0,50% dibandingkan
tahun sebelumnya yaitu tahun 2018.
Prediksi kopi tahun 2021 – 2022 akan mengalami peningkatan, yaitu tahun 2021 konsumsi
kopi sedikit mengalami peningkatan menjadi 1,080 kg/kapita/tahun atau naik 2,66%
dibandingkan tahun 2020. Tahun 2022 konsumsi kopi sekitar 1,069 kg/kapita/tahun atau
turun dari tahun sebelumnya, begitu juga tahun 2023 konsumsi kopi sebesar 1,059
kg/kapita/tahun atau turun sebesar 0,94%. Perkembangan konsumsi kopi dari tahun 2010 –
2020 serta prediksinya tahun 2021 – 2023 disajikan pada Tabel 9.1 dan Gambar 9.1.
Jika diurutkan tingkat konsumsi kopi per provinsi tahun 2018 - 2020, maka provinsi
Nusa Tenggara Timur adalah provinsi dengan tingkat konsumsi kopi terbanyak yaitu masing-
masing sebesar 1.992 kg/kap/tahun, 2.026 kg/kap/tahun dan 1.913 per/kap/tahun.
Selanjutnya adalah provinsi Bengkulu dengan tingkat konsumsi masing-masing sebesar 2.000
kg/kap/tahun, 1.844 per/kap/tahun dan 1.879 kg/kap/tahun. Dan urutan berikutnya adalah
provinsi Sulawesi Barat dengan tingkat konsumsi kopi masing-masing sebesar 1.835
kg/kap/tahun, 1.900 kg/kap/tahun dan 1.907 kg/kap/tahun. Sedangkan konsumsi terendah
kopi adalah provinsi Maluku dengan tingkat konsumsi masing-masing sebesar 0.447
kg/kap/tahun, 0.463 kg/kap/tahun dan 0.507 kg/kap/tahun. Provinsi terendah kedua adalah
provinsi Maluku Utara dengan tingkat konsumsi masing-masing sebesar 0.470 kg/kap/tahun,
0.489 kg/kap/tahun dan 0.530 kg/kap/tahun. Dan urutan berikutnya adalah provinsi DI
Yogyakarta dengan tingkat konsumsi masing-masing sebesar 0.469 kg/kap/tahun, 0.538
kg/kap/tahun dan 0.502 kg/kap/tahun. Perkembangan konsumsi kopi per provinsi di
Indonesia tahun 2018 - 2020, dengan tingkat konsumsi masing-masing sebesar 1.051
kg/kap/tahun, 1.046 kg/kap/tahun. Tingkat konsumsi kopi dalam rumah tangga di setiap
provinsi dapat dilihat pada Gambar 9.2 dan Tabel 9.2.
Tabel 9.2. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Kopi menurut Provinsi
konsumsi kopi nominal dan riil dalam rumah tangga di Indonesia tahun 2016-2020 secara
rinci tersaji pada Tabel 9.3.
Tabel 9.3. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil rumah tangga untuk konsumsi kopi,
2016-2020
Pengeluaran (Rupiah/Kapita)
Uraian
2016 2017 2018 2019 2020
Penyusunan neraca kopi terbagi menjadi dua komponen yaitu komponen penyediaan
dan penggunaan. Komponen penyediaan terdiri dari produksi, impor dan ekspor. Sementara
komponen penggunaan terdiri dari tingkat konsumsi langsung oleh rumah tangga dihitung
berdasarkan data hasil Susenas BPS dan jumlah penduduk pada tahun yang sama.
Perkembangan penyediaan kopi Indonesia berasal dari produksi ditambah impor
kemudian dikurangi ekspor. Ketersediaan data kopi saat ini hingga tahun 2020 yaitu produksi
yang bersumber dari Ditjen. Perkebunan dan ekspor impor bersumber dari BPS. Produksi kopi
di Indonesia pada periode tahun 2019 - 2021 sedikit mengalami peningkatan sebesar 0,86%.
Cakupan kode HS yang digunakan untuk menghitung ekspor impor dapat dilihat pada tabel
9.4.
Tabel 9.4 Cakupan kode HS kopi yang digunakan untuk data ekspor impor
Kode HS Deskripsi
produksi dalam negeri, walaupun ada realisasi impor namun dalam kuantitas yang kecil,
sementara yang diekspor dalam kuantitas lebih besar dari pada impor.
Produksi kopi Indonesia tahun 2021 (angka estimasi) dari Ditjen. Perkebunan. Pada
tahun 2021, penggunaan kopi untuk ekspor dan impor 2021 ini berdasarkan realisasi angka
tetap bulan Januari-Juni, angka sementara bulan Juli 2021 dan angka tetap bulan Agustus
sampai dengan bulan Desember 2020. Berdasarkan hal ini maka penyediaan kopi pada tahun
2021 adalah sebesar 406.27 ratus ton.
Konsumsi kopi dalam rumah tangga tahun 2021 masih menggunakan data konsumsi tahun
2020. Jika angka ini dikalikan dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama, maka besarnya
konsumsi kopi adalah 221,11 ribu ton. Data susenas dari tahun 2015 untuk konsumsi di bedakan
2 (dua) yaitu kopi bubuk/biji dan kopi instan.
Secara umum pada periode 2019-2021 penyediaan kopi nasional mengalami kenaikan.
Keragaan impor dan ekspor kopi pada periode yang sama cenderung berfluktuasi dimana tahun
2019 tercatat impor tertinggi yaitu sebesar 32,10 ribu ton. Sementara ekspor tertinggi tercatat
pada tahun 2020 sebesar 379,35 ribu ton.
Konsumsi langsung kopi oleh rumah tangga terlihat cenderungan meningkat dari
tahun ke tahun. Konsumsi paling tinggi terlihat pada tahun 2021 sebesar 221,11 ratus ton.
Neraca penyedian dan penggunaan kopi tahun 2019 – 2021 secara rinci tersaji pada tabel
9.4.
Tabel 9.4. Neraca Penyediaan dan Penggunaan Kopi Tahun 2019 – 2021
Menurut data USDA, penyediaan kopi hijau berdasarkan rata-rata data selama tahun
2016-2020, tercatat Uni Eropa merupakan negara dengan penyedia domestik kopi hijau
terbesar di dunia mencapai 42,124 juta ton/tahun dan memiliki kontribusi terhadap total
penyediaan dunia sebesar 32,81%. Penyedia terbesar kedua dan ketiga adalah Brazil dan
Jepang dengan konstribusi penyedia masing-masing 18,91% dan 6,14%. Negara-negara
berikutnya dengan total penyedia terbesar kopi adalah Filipina, Kanada, Indonesia, Rusia,
Cina, Etiopia dan Korea Selatan masing-masing dengan kontribusi di bawah 5%. Indonesia
merupakan negara penyedia kopi dengan urutan yang ke enam dengan mencapai 4,900 juta
ton/tahun dan memiliki kontribuasi terhadap total penyediaan dunia sebesar 3,61%. Secara
lengkap disajikan pada Tabel 8.4., sedangkan kontribusinya dapat dilihat pada Gambar 9.4.
Tabel 9.4. Negara dengan Penyediaan Kopi Hijau terbesar di Dunia 2016 – 2020
7,45% 6,08%
22,94%
4,90%
4,38%
4,13%
3,84%
39,79% 3,49%
3,00%
Uni Eropa Brazil Jepang Filipina Kanada Indonesia Rusia Cina Etiopia Korea Selatan
Gambar 9.4. Negara dengan Penyediaan Kopi Hijau terbesar di Dunia Rata-rata,
2016 - 2020
Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara
menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia
sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi empat
kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Istilah "teh" juga digunakan untuk
minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh,
misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan jiaogulan. teh yang tidak mengandung daun teh
disebut teh herbal. Teh merupakan sumber alami kafeina, teofilin, dan antioksidan dengan
kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Cita rasa sedikit pahit dari teh
merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.
Teh adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi dunia. Teh diperkirakan
berasal dari Tiongkok dimana teh telah dikonsumsi selama ribuan tahun. Sekitar abad ke-16,
waktu Portugis memperluas kekuasaan mereka, komoditas ini diimpor ke Eropa dan segera
menjadi populer sehingga Portugis dan Belanda kemudian memutuskan untuk mendirikan
perkebunan-perkebunan teh skala besar di koloni-koloni mereka di daerah tropis.
Temperatur dan kelembaban yang konstan adalah keadaan ideal untuk pertumbuhan
tanaman teh. Kondisi tersebut dapat ditemukan di wilayah iklim tropis dan subtropis di Asia
tempat lebih dari 60% teh dunia diproduksi. Dataran tinggi yang dingin merupakan tempat
paling baik untuk memproduksi daun teh berkualitas tinggi. Tanaman teh dapat dipanen untuk
pertama kalinya setelah mencapai usia kira-kira empat tahun. Ketika panen, hanya daun-daun
muda yang dipilih, mengimplikasikan bahwa pemetikan manual lebih efisien dibandingkan
menggunakan peralatan mesin. Karenanya, produksi teh adalah bisnis padat tenaga kerja.
(Indonesia Investment)
Perkembangan konsumsi Teh di tingkat rumah tangga di Indonesia selama tahun 2010-
2020 pada umumnya mengalami penurunan dengan rata-rata penurunan 3,91% per tahun.
Penurunan terbesar untuk teh terjadi di tahun 2015 dimana konsumsi dalam rumah tangga
turun sebesar 26,91 % dibandingkan tahun sebelumnya, disebabkan adanya penggolongan
komoditas teh yaitu teh bubuk dan teh celup yang sebelum hanya digolongkan sebagai teh.
Peningkatan pertumbuhan konsumsi terbesar terjadi pada tahun 2013 yaitu 19,19% dengan
konsumsi teh sebesar 0.615 kg/kapita/tahun. Konsumsi teh pada tahun 2020 mengalami
penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun 2019 yaitu 4,32 untuk konsumsi teh bubuk
maupun teh celup. Sedangkan konsumsi tahun 2021 relatif tetap, sementara tahun 2022 dan
2023 diprediksi mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu masing-masing sebesar
5,75% dan 6,10 persen. Perkembangan konsumsi teh dalam rumah tangga di Indonesia serta
prediksi 2021-2023 tersaji dalam tabel 10.1 dan gambar 10.1
Tabel 10.1. Perkembangan Konsumsi Teh Dalam Rumah Tangga di Indonesia, 2010 -2020
Serta Prediksi 2021-2023
Konsumsi Pertumbuhan
Tahun
(Kg/kapita/minggu) (kg/kapita/tahun) (%)
2010 0,013 0,688 7,32
2011 0,013 0,657 -4,55
2012 0,010 0,516 -21,43
2013 0,012 0,615 19,19
2014 0,012 0,610 -0,85
2015 0,009 0,446 -26,91
2016 0,009 0,460 3,25
2017 0,008 0,436 -5,28
2018 0,008 0,434 -0,57
2019 0,008 0,395 -8,87
2020 0,007 0,378 -4,32
rata-rata 0,010 0,512 -3,909
2021*) 0,007 0,378 0,07
2022*) 0,007 0,357 -5,75
2023*) 0,006 0,335 -6,10
Sumber: SUSENAS, BPS
Keterangan : *) Angka prediksi diolah Pusdatin, Kementan
Mulai tahun 2015 Teh terdiri dari teh bubuk dan teh celup
Gambar 10.1. Perkembangan Konsumsi Teh Dalam Rumah Tangga di Indonesia, 2015-
2023
Apabila dilihat dari besaran pengeluaran untuk konsumsi Teh bagi penduduk
Indonesia, tahun 2016-2020 secara nominal menunjukkan peningkatan. Tahun 2019 nilai
nominalnya naik dari Rp. 25.080.-/kapita menjadi Rp. 25.967-/kapita pada tahun 2020.
Setelah dikoreksi dengan faktor inflasi, pengeluaran untuk konsumsi teh secara riil mengalami
kenaikan mengikuti nilai nominalnya. Namun untuk nilai riil di tahun 2020 adanya perbedaan
tahun dasar yaitu 2018=100 sehingga adanya perubahan IHK yang cukup signifikan yaitu
131,72(tahun 2019) menjadi 106,90 (tahun 2020), apabila di lihat pengeluaran riil tahun 2019
sebesar Rp.19.040/kapita menjadi Rp. 24.286/ kapita (2020) mengalami kenaikan harga
cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa secara kuantitas, konsumsi per kapita teh
penduduk Indonesia terjadi tendensi kenaikan. IHK untuk konsumsi teh dimasukkan ke dalam
kelompok minuman yang tidak beralkohol. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil
konsumsi teh dalam rumah tangga di Indonesia tahun 2016-2020 secara rinci tersaji pada
Tabel.10.2.
Tabel 10.2. Perkembangan Pengeluaran Nominal Dan Riil Rumah Tangga Untuk Konsumsi
Teh 2016 – 2020
Tahun
No. Uraian
2016 2017 2018 2019 2020
1 Nominal 24.299 23.099 24.872 25.081 25.967
2 IHK 122,44 125,29 127,46 131,72 106,92
3 Riil 19.845 18.437 19.514 19.040 24.286
Sumber : BPS diolah Pusdatin-Kementan
Keterangan : IHK Kelompok Minuman yang tidak beralkohol
Teh terdiri dari teh bubuk dan teh celup
IHK Tahun 2016-2019 menggunakan tahun dasar 2012=100, Tahun 2020 menggunakan
tahun dasar 2018=100
Tabel 10.3 Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga T e h menurut Provinsi
Konsumsi
No Provinsi (Kg/kapita/minggu) (Kg/kapita/tahun)
2018 2019 2020 2018 2019 2020
1 Aceh 0.004 0.004 0.004 0.211 0.213 0.195
2 Sumatera Utara 0.008 0.007 0.007 0.426 0.379 0.389
3 Sumatera Barat 0.009 0.007 0.007 0.469 0.370 0.361
4 Riau 0.009 0.009 0.008 0.467 0.445 0.421
5 Jambi 0.008 0.008 0.008 0.423 0.413 0.395
6 Sumatera Selatan 0.007 0.006 0.006 0.345 0.325 0.332
7 Bengkulu 0.005 0.003 0.004 0.244 0.176 0.189
8 Lampung 0.011 0.012 0.010 0.582 0.621 0.524
9 Kepulauan Bangka Belitung 0.004 0.004 0.004 0.225 0.222 0.202
10 Kepulauan Riau 0.007 0.005 0.006 0.364 0.287 0.312
11 DKI Jakarta 0.008 0.006 0.006 0.426 0.317 0.290
12 Jawa Barat 0.009 0.008 0.008 0.486 0.443 0.405
13 Jawa Tengah 0.016 0.014 0.015 0.836 0.741 0.779
14 DI Yogyakarta 0.016 0.015 0.014 0.811 0.779 0.729
15 Jawa Timur 0.005 0.006 0.005 0.274 0.289 0.248
16 Banten 0.007 0.006 0.005 0.381 0.325 0.261
17 Bali 0.002 0.002 0.002 0.110 0.103 0.113
18 Nusa Tenggara Barat 0.002 0.002 0.002 0.099 0.095 0.085
19 Nusa Tenggara Timur 0.004 0.004 0.004 0.203 0.195 0.198
20 Kalimantan Barat 0.003 0.003 0.003 0.172 0.145 0.159
21 Kalimantan Tengah 0.007 0.007 0.007 0.369 0.365 0.371
22 Kalimantan Selatan 0.008 0.007 0.007 0.393 0.359 0.355
23 Kalimantan Timur 0.006 0.005 0.005 0.330 0.278 0.286
24 Kalimantan Utara 0.007 0.005 0.005 0.345 0.265 0.282
25 Sulawesi Utara 0.004 0.003 0.003 0.190 0.157 0.174
26 Sulawesi Tengah 0.005 0.005 0.006 0.273 0.277 0.293
27 Sulawesi Selatan 0.007 0.006 0.005 0.374 0.300 0.274
28 Sulawesi Tenggara 0.007 0.006 0.006 0.354 0.318 0.303
29 Gorontalo 0.007 0.006 0.006 0.346 0.331 0.326
30 Sulawesi Barat 0.005 0.004 0.003 0.272 0.191 0.173
31 Maluku 0.006 0.005 0.005 0.292 0.272 0.254
32 Maluku Utara 0.006 0.006 0.005 0.327 0.307 0.283
33 Papua Barat 0.006 0.006 0.006 0.336 0.295 0.317
34 Papua 0.005 0.004 0.004 0.263 0.215 0.223
Indonesia 0.008 0.008 0.007 0.434 0.395 0.378
Keterangan : T e h Bubuk dan T E H Celup
Sumber: SUSENAS, BPS
Gambar. 10.3. Perkembangan Rata-Rata Konsumsi Gula Pasir Dalam Rumah Tangga, 2018
Penyediaan teh di Indonesia berasal dari produksi dalam negeri ditambah impor
kemudian dikurangi ekspor. Data produksi teh berupa wujud daun kering bersumber dari
Direktorat Jenderal Perkebunan, sedangkan data impor dan ekspor bersumber dari Badan
Pusat Statistik (BPS). Produksi teh dari tahun 2019-2020 mengalami penurunan sebesar
1,60% dari 129,83 ribu ton menjadi 128,02 ribu ton. Sedangkan tahun 2021 produksi teh di
prediksi mengalami kenaikan sekitar 1,18% yaitu 129,53 ribu ton (Angka sangat sementara
sumber dari Ditjen Perkebunan). Penyediaan teh pada tahun 2019-2020 rata-rata mengalami
penurunan sebesar 5,50%. Prediksi penyediaan teh Tahun 2021 juga mengalami penurunan
sebesar 4,16% dari 97,66 ribu ton (2020) menjadi 93,59 ribu ton (2021). Penyediaan teh
menurun disebabkan adanya ekpor teh yang cukup tinggi setiap tahunnya sedangkan
produksi teh di Indonesia menurun. Ekspor teh cukup tinggi pada tahun 2020 sekitar 45,26
ribu ton sedangkan di tahun 2021 diprediksi akan naik menjadi 46,45 ribu ton. Kode HS yang
di gunakan dalam penghitungan Neraca adalah semua kode HS teh di pergunakan untuk
konsumsi rumah tangga. Kode HS yang di gunakan adalah kode HS yaitu 09021010,
09021090, 09022010, 09022090, 09023010, 09023090, 09024010 dan 09024090. Deskripsi
kode HS the dapat di lihat pada tabel 10.4
Kode HS Deskripsi
Keterangan
- Jumlah Penduduk (000 jiwa) Sumber SUPAS 2015, kecuali 2020-SP 266.911,9 270.203,9 272.248,5
- Tingkat konsumsi Kg/kapita/tahun (Susenas) 0,25 0,23 0,23
Keterangan :
Data Produksi Teh *) Angka sementara **) Angka estimasi
Sumber : Ditjen Perkebunan
Keterangan : Ekspor impor tahun 2021 adalah angka sampai bulan Januari-Juli 2021 dan Agust-Des 2020
Teh digunakan sebagai bahan minuman atau konsumsi langsung dalam rumah
tangga dan konsumsi bahan baku industri. Konsumsi langsung dihitung dari data SUSENAS
dikalikan dengan jumlah penduduk. Untuk data konsumsi teh dalam rumah tangga digunakan
angka konsumsi teh bubuk saja, tidak dengan teh celup karena teh celup satuannya tidak
termasuk katungnya. konsumsi langsung teh dari tahun 2019 -2020 mengalami penurunan
yaitu dari 67,06 ribu ton menjadi 62,96 ribu ton, sedangkan 2021 mengalami kenaikan menjadi
63,44 ribu ton. Surplus Neraca diperkirakan untuk bahan baku industri minuman seperti teh
kotak, thai tea, teh pucuk dan sebagainya.. Secara rinci neraca teh tahun 2019–2021 dapat di
lihat pada Tabel. 10.5
Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memiliki banyak kandungan nutrisi
penting bagi tubuh kita. Telur biasanya disajikan pada saat sarapan untuk memenuhi
kebutuhan protein, juga diolah menjadi berbagai macam masakan atau langsung dimakan
mentah yang biasanya digunakan untuk meningkatkan stamina tubuh. Seluruh bagian pada
telur baik itu kuning telur, putih telur maupun cangkangnya bisa diambil manfaatnya.
Telur sebagai sumber protein mempunyai banyak keunggulan antara lain, kandungan
asam amino paling lengkap dibandingkan bahan makanan lain seperti ikan, daging, ayam,
tahu, tempe, dan lain sebagainya. Telur yang biasa dikonsumsi adalah telur yang berasal dari
unggas seperti ayam, bebek, angsa dan beberapa jenis burung seperti burung unta dan
burung puyuh. Harga telur yang relatif murah dan mengandung nilai gizi yang tinggi membuat
permintaan akan konsumsi telur menjadi meningkat. Produksi telur ayam ras di Indonesia
pada tahun 2020 sebesar 5,04 juta ton atau meningkat dari tahun 2019 sebesar 6,12% (Ditjen
Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan).
Kandungan nutrisi telur ayam terdiri atas 13% protein, 12% lemak, vitamin dan mineral,
nilai tertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino
esensial, mineral yang dibutuhkan oleh tubuh seperti besi, fosfor, sedikit kalsium dan B
komplek, 50% protein dan sebagian besar lemak terdapat pada kuning telur, sedangkan putih
telur yang jumlahnya mencapai 60% dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein
dan sedikin telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat.
Manfaat mengkonsumsi telur ayam menurut beberapa literatur adalah meningkatkan
perkembangan sel-sel otak yang berperan dalam penyimpanan memori, meningkatkan fungsi
dan menjaga kerusakan indra penglihatan, telur ayam juga mampu menurunkan berat badan
dan telur ayam bermanfaat dalam mencegah pecahnya pembuluh darah.
11.1. Perkembangan dan Prediksi Konsumsi Telur Ayam Ras Dalam Rumah
Tangga di Indonesia
Berdasarkan keragaan data hasil SUSENAS, BPS, konsumsi telur ayam ras selama
periode tahun 2010 – 2020 cenderung mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,34% per
tahun. Peningkatan konsumsi telur ayam ras cukup signifikan terjadi pada tahun 2017
dibanding tahun sebelumnya yakni dari 6,24 kg/kapita pada tahun 2016 meningkat menjadi
6,65 kg/kapita pada tahun 2017 atau naik sebesar 6,62%. Tahun 2020 konsumsi telur ayam
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 66
Buletin Konsumsi Pangan Tahun 2021
ras naik 2,74% dari tahun sebelumnya menjadi 6,92 kg/kapita. Selain periode waktu tadi,
konsumsi telur ayam ras relatif berfluktuasi.
Hasil Susenas tahun 2019 seperti halnya tahun 2015 sedikit berbeda dari tahun-tahun
sebelumnya, dimana konsumsi telur ayam ras jika pada sebelum tahun 2015 dalam satuan kg
per minggu maka di tahun 2015 menjadi butir per minggu, sehingga diperlukan ada konversi
untuk menyamakannya. Asumsi yang digunakan dalam perhitungan konversi ini adalah berat
1 kilogram telur ayam ras diasumsikan berisi 16 butir. Berdasarkan asumsi ini maka konsumsi
telur ayam ras menurut hasil susenas tahun 2020 adalah 0,13 kg/kapita/minggu atau 6,92
kg/kapita/tahun.
Tahun 2021 – 2023 konsumsi telur ayam ras diperkirakan akan meningkat dibanding
tahun sebelumnya. Tahun 2021 tingkat konsumsinya diperkirakan sebesar 6,69 kg/kapita,
sementara tahun 2022 dan 2023 diperkirakan akan menjadi 6,74 kg/kapita dan 6,75 kg/kapita.
Keragaan konsumsi telur ayam ras tahun 2010 – 2020 dan prediksi 2021 – 2023 tersaji secara
lengkap pada Tabel 11.1 dan Gambar 11.1.
Tabel 11.1. Perkembangan Konsumsi Telur Ayam Ras Dalam Rumah Tangga di Indonesia,
Tahun 2010 – 2020 dan Prediksi 2021 – 2023
Konsumsi Pertumbuhan
Tahun
(kg/kap/mgg) (kg/kap/thn) (%)
2010 0,129 6,726
2011 0,127 6,622 -1,55
2012 0,125 6,518 -1,57
2013 0,118 6,153 -5,60
2014 0,121 6,309 2,54
2015 0,117 6,088 -3,51
2016 0,120 6,238 2,46
2017 0,128 6,651 6,62
2018 0,130 6,776 1,89
2019 0,129 6,735 -0,61
2020 0,133 6,919 2,74
Rata-rata 0,115 5,977 0,34
2021*) 0,129 6,690 0,59
2022*) 0,129 6,743 0,80
2023*) 0,129 6,748 0,08
Sumber: SUSENAS, BPS
*) Prediksi diolah Pusdatin
(Kg/Kapita)
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00
2013
2021*)
2022*)
2023*)
2010
2011
2012
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Gambar 11.1. Perkembangan Konsumsi Telur Ayam Ras Dalam Rumah Tangga
di Indonesia, Tahun 2010– 2021 dan Perkiraan 2021 - 2023
Perkembangan pengeluaran untuk konsumsi telur ayam ras secara nominal dan riil
dalam rumah tangga di Indonesia tahun 2015 – 2019 secara rinci tersaji pada Tabel 11.2 dan
Gambar 11.2. Apabila ditinjau dari besaran pengeluaran untuk konsumsi telur ayam ras bagi
penduduk Indonesia tahun 2016 – 2020 secara nominal menunjukkan peningkatan sebesar
yakni dari Rp. 136.197,14/kapita pada tahun 2016 menjadi Rp. 172.227,86/kapita pada tahun
2020. Jika dikoreksi dengan faktor inflasi, pengeluaran untuk konsumsi telur ayam ras secara
riil dari tahun 2016 – 2019 hanya mengalami peningkatan sebesar 2,80%. Pengeluaran secara
riil tahun 2020 tidak bisa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena ada
perbedaan tahun dasar IHK yang digunakan. IHK untuk komoditas telur sampai dengan tahun
2019 masuk ke dalam kelompok telur, susu dan hasil-hasilnya. Sejak tahun 2020 dimana tahun
dasar IHK menggunakan 2018=100, telur masuk ke dalan kelompok makanan.
Tabel 11.2. Perkembangan Pengeluaran untuk Konsumsi Telur Ayam Ras Secara
Nominal dan Rill Dalam Rumah Tangga di Indonesia, 2016 – 2020
(Rp/Kapita)
Tahun
Uraian
2016 2017 2018 2019 2020
Nominal 136.197,14 133.850,71 149.754,29 157.888,57 172.227,86
IHK *) 126,79 128,10 133,84 137,72 105,57
Riil 107.416,64 104.491,27 111.890,53 114.644,62 163.140,91
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) 2016-2019 IHK Kelompok telur, susu dan hasil-hasilnya
2020 IHK kelompok Makanan Tahun Dasar 2018=100
11.2. Perkembangan Konsumsi Telur Ayam Ras dalam rumah tangga Per Provinsi.
Konsumsi telur ayam ras dalam rumah tangga menurut Susenas tahun 2018 – 2020 adalah
seperti pada Tabel 11.4 dan Gambar 11.2 berikut. Secara nasional, konsumsi dalam rumah
tangga tahun 2020 adalah sekitar 2,12 butir/kapita/minggu atau sekitar 6,92
kg/kapita/tahun. Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi dengan konsumsi per kapita
paling tinggi dibandingkan provinsi lainnya yaitu sekitar 9,04 kg/kapita/tahun. Sementara
provinsi Maluku Utara merupakan provinsi dengan konsumsi paling rendah yaitu sekitar 2,74
kg/kapita/tahun.
Tabel 11.4. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Telur Ayam Ras menurut Provinsi
Butir per minggu Tahun (Kg)
PROVINSI
2018 2019 2020 2018 2019 2020
1. Aceh 2,00 1,88 2,08 6,51 6,14 6,77
2. Sumatera Utara 2,11 2,07 2,07 6,86 6,74 6,76
3. Sumatera Barat 2,08 2,00 2,10 6,79 6,53 6,85
4. Riau 2,46 2,32 2,41 8,03 7,55 7,86
5. Jambi 2,15 2,00 2,06 7,00 6,51 6,73
6. Sumatera Selatan 2,30 2,27 2,37 7,48 7,40 7,71
7. Bengkulu 2,06 1,94 2,20 6,72 6,33 7,16
8. Lampung 2,23 2,22 2,20 7,25 7,23 7,16
9. Kep. Bangka Belitung 2,26 2,21 2,29 7,37 7,19 7,45
10. Kepulauan Riau 2,73 2,76 2,77 8,89 8,98 9,04
11. DKI Jakarta 2,63 2,57 2,63 8,57 8,38 8,57
12. Jawa Barat 2,47 2,49 2,51 8,06 8,11 8,18
13. Jawa Tengah 1,90 1,98 2,00 6,20 6,47 6,52
14. DI Yogyakarta 2,26 2,28 2,26 7,37 7,43 7,37
15. Jawa Timur 1,90 1,89 1,95 6,21 6,17 6,36
16. Banten 2,49 2,41 2,30 8,12 7,85 7,51
17. Bali 2,02 2,01 2,13 6,58 6,55 6,96
18. Nusa Tenggara Barat 1,72 1,83 2,08 5,62 5,97 6,79
19. Nusa Tenggara Timur 0,68 0,69 0,92 2,21 2,24 3,00
20. Kalimantan Barat 2,16 2,09 2,30 7,04 6,81 7,48
21. Kalimantan Tengah 2,18 2,19 2,26 7,09 7,12 7,38
22. Kalimantan Selatan 1,99 2,04 2,16 6,47 6,63 7,03
23. Kalimantan Timur 2,47 2,42 2,53 8,05 7,88 8,25
24. Kalimantan Utara 2,37 2,03 2,26 7,71 6,62 7,36
25. Sulawesi Utara 1,33 1,23 1,39 4,32 4,02 4,52
26. Sulawesi Tengah 1,13 1,13 1,31 3,69 3,70 4,29
27. Sulawesi Selatan 1,91 1,81 1,88 6,23 5,91 6,14
28. Sulawesi Tenggara 1,48 1,42 1,63 4,82 4,63 5,30
29. Gorontalo 0,99 1,06 1,18 3,24 3,44 3,83
30. Sulawesi barat 1,12 1,15 1,26 3,66 3,75 4,12
31. Maluku 0,94 0,87 0,95 3,05 2,83 3,11
32. Maluku Utara 0,82 0,77 0,84 2,68 2,51 2,74
33. Papua Barat 1,57 1,39 1,50 5,13 4,52 4,88
34. Papua 1,08 1,14 1,17 3,53 3,73 3,83
INDONESIA 2,08 2,07 2,12 6,78 6,74 6,92
Sumber: Susenas, BPS
Keterangan: Asumsi berat telur 16 butir untuk 1 kilogram
(Kg/Kapita)
10,00
9,00 Nasional 6,92 kg/kap
8,00
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00
Gambar 11.2. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Telur Ayam Ras menurut Provinsi
Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang melanda Indonesia sejak Maret
2020 berdampak negatif terhadap 2 (dua) aspek ketahanan pangan yaitu ketersediaan
pangan (food availability) dan keterjangkauan pangan (food accessibility). Masyarakat
Indonesia juga mulai mengurangi konsumsi di pelbagai kategori produk, kecuali bahan pokok
atau konsumsi pangan (food consumption). Imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk
melakukan pekerjaan dari rumah (working from home), pembatasan sosial berskala besar
(PSBB), dan menjaga jarak secara fisik dan sosial (physical and social distancing), serta
penutupan wilayah secara terbatas (partial lockdown), menyebabkan disrupsi pola rantai
pasok pangan mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Telur ayam merupakan salah
satu produk peternakan yang termasuk sepuluh bahan pangan strategis yang ketahanannya
terdampak COVID-19.
Tingkat konsumsi telur ayam ras selama pandemi cenderung meningkat. Hal tersebut
karena adanya himbauan mengkonsumsi minimal 2 (dua) butir telur setiap pagi untuk
menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh menghadapi pandemi. Sementara ketersediaan
produk agak terdampak karena adanya pembatasan mobilitas sehingga mengakibatkan harga
telur cenderung meningkat. Namun upaya pemerintah telah banyak membuahkan hasil yang
sangat positif dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat selama pandemi yang telah
berlangsung lebih dari 1 tahun.
Penyusunan prognosa penyediaan dan kebutuhan telur ayam ras dilakukan oleh
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di bawah koordinasi Badan Ketahanan
Pangan. Beberapa data pendukung yang diperlukan terkait perkiraan kebutuhan telur ayam
ras diantaranya adalah kebutuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi di luar rumah tangga,
kebutuhan untuk industri dan jasa. Neraca pangan dalam buletin analisis ini dikutip dari
prognosa yang telah disusun oleh Ditjen PKH, dapat dilihat pada tabel 11.3.
Penyediaan telur ayam ras Indonesia menurut Angka Sementara produksi tahun 2020
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah sebesar 5,04 juta ton.
Sementara komponen penyusun untuk perkiraan besarnya kebutuhan telur ayam ras dihitung
berdasarkan proporsi hasil survei Bahan Pokok (Bapok) BPS tahun 2017. Total kebutuhan
telur ayam ras tahun 2020 menurut data Ditjen PKH adalah sebesar 18,35 kg per kapita. Jika
dirinci maka angka konsumsi hasil Bapok ini terbagi menjadi 6,65 kg/kapita untuk konsumsi
dalam rumah tangga, kemudian berturut-turut 5,76 kg/kapita, 5,86 kg/kapita dan 0,08
kg/kapita untuk horeka, industri dan jasa.
Tabel 11.3. Neraca Penyediaan dan Kebutuhan Telur Ayam Ras, Tahun 2018-2020
Total kebutuhan telur ayam ras tahun 2020 adalah sebesar 4,96 juta ton, sehingga
ada surplus sekitar 86,15 ribu ton. Perkiraan surplus ini diasumsikan untuk kebutuhan lain
yang datanya tidak tersedia. Telur ayam ras merupakan komoditas dengan daya simpan
rendah (sekitar 15 hari) sehingga angka stok dapat diabaikan dalam penyusunan neraca ini.
Susu dan produk olahannya memiliki kandungan protein, lemak, dan vitamin yang
sangat dibutuhkan tubuh dalam perkembangan tiap individu pada setiap fase kehidupan.
Namun, konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah. Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat, konsumsi susu masyarakat Indonesia pada tahun 2020 sebesar 3 kg per kapita per
tahun atau meningkat 2,32% dibandingkan konsumsi susu tahun 2019. Jenis susu yang bayak
dikonsumsi 30% berupa susu bubuk, 24,92% susu bubuk bayi, 24,29% susu kental manis,
16,59% susu cair pabrik dan 4,1% susu lainnya. Sementara itu total konsumsi domestik
berupa susu bubuk berdasarkan data yang bersumber dari USDA, Indonesia menduduki urutan
ke-5 setelah Cina, Brazil, Uni Eropa dan Algeri dengan total konsumsi sebesar 136 ribu ton
pada tahun 2020.
Susu memiliki berbagai kandungan nutrisi dan vitamin yang berperan penting terhadap
peningkatan kesehatan tubuh. Susu sangat baik untuk kesehatan dan sejumlah manfaat
lainnya. Pertama, beberapa produk susu mengandung kalsium dan protein dengan tingkat
tinggi. Kedua, Kalsium di dalam susu merupakan zat yang paling penting untuk kesehatan
tulang. Ketiga, memperbaiki tekanan darah rendah. Keempat, mengurangi stress karena
segelas susu hangat akan membantu mengendurkan otot yang tegang dan menenangkan
saraf. Kelima, efektif Untuk menurunkan berat badan. Keenam, menjaga kesehatan dan
kelembaban kulit karena berbagai nutrisi serta vitamin yang terkandung didalam susu ikut
berperan penting dalam hal menyediakan berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh kulit.
Konsumsi dan kebutuhan susu segar maupun produk turunannya diperkirakan terus
meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, perbaikan tingkat
pendidikan, kesadaran gizi dan perubahan gaya hidup. Data konsumsi susu menurut
SUSENAS, BPS dibedakan atas konsumsi susu murni, susu cair pabrik susu kental manis, susu
bubuk, susu bubuk bayi, keju dan Hasil lain dari susu. Namun mulai tahun 2015 BPS tidak
lagi menyajikan konsumsi susu murni dan keju, sehingga hanya lima jenis susu tersebut yang
dalam penyajian data pada tulisan ini dikonversi ke dalam wujud susu, selain itu juga akan di
bahas penyediaan dan penggunaan untuk konsumsi susu di Indonesia serta analisis konsumsi
domestik susu di negara-negara dunia.
12.1. Perkembangan dan prediksi konsumsi susu dalam rumah tangga di Indonesia
Cakupan data konsumsi menurut hasil SUSENAS, BPS dibedakan atas konsumsi susu
murni, susu cair pabrik, susu kental manis, susu bubuk, susu bubuk bayi, keju sert susu lainnya
dan hasil lain dari susu, namun publikasi Susenas mulai tahun 2015 tidak mencakup susu
murni dan keju. Dalam bahasan berikut telah dilakukan kompilasi konsumsi wujud tersebut ke
dalam konsumsi susu bubuk dengan besaran konversi seperti tersaji pada Tabel 12.1.
Konsumsi total susu di tingkat rumah tangga di Indonesia selama tahun 2010-2020
berfluktuasi namun cenderung meningkat sebesar rata-rata sebesar 4,56% atau 2,47
kg/kapita per tahun. Peningkatan konsumsi total susu terbesar terjadi pada tahun 2013
sebesar 22,8% atau 2,07 kg/kapita karena tahun 2012 terjadi penurunan yang cukup
signifikan mencapai 20,24% dibandingkan dengan tahun sebelumnya atau menjadi 1,69
kg/kapita. Selanjutnya pada tahun 2015 kembali terjadi peningkatan konsumsi susu sebesar
17,35% atau menjadi 2,58 kg/kapita. Konsumsi susu terbesar terjadi pada tahun 2018
mencapai 3,04 kg/kapita, dan sedikit menurun menjadi 2,93 kg/kapita tahun 2019 namun
meningkat kembali menjadi 3 kg/kapita pada tahun 2020.
Dari ketujuh jenis susu yang dikonsumsi oleh rumah tangga di Indonesia, empat jenis
yang dominan adalah susu bubuk, susu kental manis, susu bubuk bayi disusul kemudian susu
cair pabrik. Konsumsi susu bubuk pada tahun 2010 sebesar 0,78 kg/kapita kemudian
mengalami peningkatan menjadi 0,90 kg/kapita pada tahun 2020 atau meningkat sebesar
6,73% per tahun, sementara konsumsi bubuk bayi tahun 2020 sebesar 0,75 kg/kapita.
konsumsi susu kental manis sebesar 0,73 kg/kapita dan susu cair pabrik 0,5 kg/tahun.
Berdasarkan hasil proyeksi konsumsi total susu di Indonesia tahun 2021 diprediksikan
akan mengalami peningkatan 2,57% dibandingkan tahun 2020 yakni menjadi 3,07 kg/kapita.
Tahun 2022 diprediksikan akan kembali mengalami peningkatan sebesar 3,54% hingga
menjadi 3,18 kg/kapita dan tahun 2023 meningkat menjadi 3,29 kg/kapita atau naik 3,45%.
Perkembangan konsumsi total susu di Indonesia tahun 2010 – 2020, serta prediksi tahun 2021
– 2023 secara lengkap tersaji pada Tabel 12.2 dan Gambar 12.1.
Tabel 12.2. Perkembangan Konsumsi Total Susu Dalam Rumah Tangga di Indonesia,
2010 – 2020 Serta Prediksi 2021 – 2023
Kg/Kapita
3,50
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
Gambar 12.1. Perkembangan Konsumsi Total Susu Per Kapita Per Tahun di Indonesia,
2010 – 2020 Dan Prediksi 2021 – 2023
Apabila ditinjau dari besarnya pengeluaran untuk konsumsi total susu bagi penduduk
Indonesia tahun 2016 – 2019 secara nominal menunjukkan peningkatan. Peningkatan
pertumbuhan rata-rata pengeluaran nominal penduduk Indonesia untuk konsumsi susu pada
periode tersebut sebesar 5,53%, yakni dari Rp. 190,6 ribu/kapita pada tahun 2016 menjadi
Rp. 219,69 ribu/kapita pada tahun 2019. Untuk tahun 2020 karena pengelompokan dan nilai
IHK tahun dasar berbeda yaitu tahun 2018=100 yang sebelumnya tahun dasar 2012=100,
maka terlihat nilai riil tahun 2020 cukup tinggi dan tidak bisa dibandingkan dengan tahun
sebelumnya yaitu secara riil mencapai Rp 222,9 ribu/kapita. Perkembangan pengeluaran
nominal dan riil untuk konsumsi susu dalam rumah tangga di Indonesia tahun 2016 – 2020
secara rinci tersaji pada Tabel 12.3.
Tabel 12.3. Perkembangan Pengeluaran Nominal Dan Riil Untuk Konsumsi Susu Dalam
Rumah Tangga di Indonesia, 2016 – 2020
Tahun (Rp/Kapita)
No. Uraian
2016 2017 2018 2019 2020
Perkembangan konsumsi susu dalam rumah tangga per provinsi yang bersumber dari
Susenas-BPS terlihat mengalami sedikit penurunan selama 2018 sampai 2020 sebesar 0,72%
dengan konsumsi rata-rata sebesar 2,99 Kg/kapita/tahun. Sebaran konsumsi susu per kapita
menurut provinsi tahun 2020 menunjukkan terdapat 12 provinsi dengan konsumsi diatas
konsumsi nasional sebesar 3 kg/kapita yaitu provinsi DKI Jakarta menduduki urutan pertama
mencapai 7,47 kg/kapita, disusul Kepulauan Riau sebesar 4,75 kg/kapita, Banten sebesar
4,11 kg/kapita, Kalimantan Timur sebesar 3,84 kg/kapita, Kepulauan Bangka Belitung sebesar
3,71 kg/kapita, DI Yogyakarta 3,67 kg/kapita, Kalimantan Selatan sebesar 3,62 kg/kapitan,
Kalimantan Tengah sebesar 3,59 kg/kapita, dan Jawa Barat, Kalimantan Selatan, kalimantan
Utara dan Sumatera Selatan masing-masing di bawah 3,3 kg/kapita (Gambar 12.2).
Sementara konsumsi terendah atau kurang dari 2 kg/kapita terjadi di 6 (enam) Provinsi yaitu
Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Aceh, Papua dan Nusa Tenggara Barat
seperti tersaji pada Gambar 12.2.
NTT
Sulbar
Malut
Aceh
Papua
NTB
Sumbar
Gorontalo
Sulteng
Lampung
Jambi
Maluku
Bengkulu
Sultra
kalbar
Jatim
Sumut
Susel
Jateng
Bali
Papua Barat
Riau
Sumsel
Sulut
Kalsel
Jabar
Kalteng
Kalut
DIY
Kep Babel
Kaltim
Banten
Kepri
DKI Jakarta
Gambar 12.2. Konsumsi Susu Per Kapita Per Tahun Dalam Rumah Tangga Menurut Provinsi,
2020
Sementara perkembangan konsumsi susu selama periode 2018 sd. 2020 terlihat terjadi
penurunan terbesar terjadi di Provinsi Sumatera Barat sebesar 7,54%, Kepulauan Riau sebesar
6,37%, Jambi sebesar 6,25%, Aceh sebesar 5,93% dan Kalimantan Timur sebesar 5,64%.
Sebaliknya konsumsi susu terbesar terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 12,81%,
Nusa Tenggara Barat sebesar 9,06%, DKI Jakarta sebesar 8,54% dan Maluku sebesar 8,17%.
Perkembangan Konsumsi susu dalam rumah tangga Per Provinsi tahun 2018-2020 secara rinci
tersaji pada Tabel 12.4.
Tabel 12.4. Konsumsi per Kapita Dalam Rumah Tangga Susu menurut Provinsi
Tabel 12.5. Neraca Penyediaan dan Penggunaan Susu di Indonesia, 2018 – 2020
Penyediaan susu di Indonesia dari tahun 2018 – 2020 terlihat fluktuatif dengan
kecenderung rata-rata peningkatan per tahun sebesar 0,98%. Pada tahun 2018, produksi susu
Indonesia mencapai 951 ribu ton dan sedikit mengalami penurunan menjadi sebesar 947,69
ribu ton pada tahun 2020. Realisasi impor susu Indonesia pada periode tersebut dalam
besaran yang cukup besar yakni mencapai 455,56 ribu ton pada tahun 2018 dan meningkat
hingga pada tahun 2020 menjadi sebesar 494,38 ribu ton.
Pada periode tahun 2018 – 2020, penggunaan susu untuk konsumsi langsung
mengalami sedikit penurunan karena tingkat konsumsi per kapita mengalami penurunan. Susu
untuk konsumsi langsung mencapai 376,1 ribu ton pada tahun 2018 dan mengalami
penurunan tahun 2020 menjadi 370,8 ribu ton. Susu untuk pakan dihitung dengan pendekatan
faktor konversi yang digunakan dalam perhitungan Neraca Bahan Makanan yaitu diasumsikan
sebesar 10 % dari total penyediaan. Pada tahun 2018, penggunaan susu untuk pakan sebesar
137,13 ribu ton dan meningkat menjadi 139,82 ribu ton pada tahun 2020. Seiring dengan
peningkatan penyediaan susu, maka susu yang tercecer juga mengalami peningkatan. Selisih
antara penyediaan susu dengan penggunaan untuk konsumsi langsung, pakan dan yang
tercecer diasumsikan diserap oleh industri pengolahan susu misalnya industri biskuit, coklat
maupun makanan lain berbahan baku susu serta di hotel, restoran dan katering (horeka).
Pada tahun 2018, susu yang terserap untuk industri pengolahan dan horeka sebesar 858,1
ribu ton dan terus meningkat hingga pada tahun 2020 sebesar 887,5 ribu ton (Tabel 12.5).
Data konsumsi domestik susu yang bersumber dari USDA (United State Departement of
Agiculture) menyajikan tiga wujud yakni konsumsi domestik susu bubuk, susu cair dan susu
non fat (non lemak). Yang dimaksud dengan konsumsi domestik adalah meliputi konsumsi
langsung, konsumsi industri dan konsumsi lainnya bagi penduduk suatu negara.
Negara dengan konsumsi domestik susu bubuk terbesar di dunia tahun 2020 sebesar
3,6 juta terhadap total dunia dengan konsumsi domestik Cina mencapai 1,59 juta ton atau
berkontribusi sebesar 43,99% terhadap total konsumsi domestik susu bubuk dunia. Negara
berikutnya adalah Brazil dan Uni Eropa dengan kontribusi masing-masing sebesar 18,04%,
dan 11,63%, disusul kemudian oleh Algeria, Indonesia dan Meksiko masing-masing sebesar
6,88%, 3,77%, dan 2,91%. Indonesia menempati urutan ke-5 (lima) sebagai negara dengan
konsumsi domestik susu bubuk terbesar dunia, dengan konsumsi sebesar 136 ribu ton atau
berkontribusi sebesar 3,77% terhadap total konsumsi domestik dunia (Gambar 12.3).
Kontribusi negara-negara dengan konsumsi domestik susu bubuk terbesar di dunia, 2016 –
2020 disajikan pada Tabel 12.6.
Meksiko
Indonesia 2,91%
3,77%
Cina
43,99%
Algeria
6,88%
Uni Eropa
11,63%
Brazil
18,04%
Gambar 12.3 Negara Dengan Konsumsi Domestik Susu Bubuk Terbesar Di Dunia, 2020
Tabel 12.6. Negara dengan Konsumsi Domestik Susu Bubuk Terbesar di Dunia, 2016 – 2020
Konsumsi domestik susu cair di dunia 2018- 2020 didominasi oleh negara India dan
Uni Eropa. Tahun 2020 konsumsi susu cair dunia mencapai 643,81 juta ton, dengan konsumsi
domestik India dan Uni Eropa masing-masing mencapai 194,79 juta ton dan 161,16 juta ton
atau sekitar 29,96% dan 25,20% dari total konsumsi domestik susu cair dunia. Berikutnya
adalah Amerika Serikat sebesar 15,79% terhadap total konsumsi domestik susu cair dunia.
Negara-negara selanjutnya Cina, Rusia, Brazil, New Zealand, Meksiko dengan konsumsi
domestik susu cair masing-masing di bawah 6% (Gambar 12.4 dan Tabel 12.7).
Meksiko
New Zealand Lainnya
2,01%
3,38% 8,87%
Brazil India
4,12% 30,26%
Rusia
4,95%
Cina
5,67%
USA
15,71%
Uni Eropa
25,04%
Gambar 12.4 Negara dengan Konsumsi Domestik Susu Cair Terbesar Di Dunia, 2020
Tabel 12.7. Negara dengan Konsumsi Domestik Susu Cair Terbesar Di Dunia, 2016 – 2020
Demikian pula konsumsi domestik susu non lemak di dunia terlihat makin meningkat
yaitu tahun 2016 sebesar 3,61 juta ton meningkat tahun 2020 menjadi 3,98 juta ton. Konsumsi
susu non lemak didominasi oleh negara-negara uni Eropa mencapai 993 ribu ton atau 24,97%
dari total konsumsi domestik susu non lemak di dunia tahun 2020. Disusul berikutnya adalah
India dan Amerika Serikat masing-masing sebesar 15,99% dan 10,11%, selanjutnya Cina,
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 82
Buletin Konsumsi Pangan Tahun 2021
Meksiko dan Philipina masing-masing sebesar 8,93%, 8,00% dan 5,13% terhadap total
konsumsi domestik susu non lemak dunia. Negara-negara selanjutnya Indonesia, Brazil,
Jepang, Rusia dan Algeria dengan kontribusi konsumsi domestik susu non lemak masing-
masing kurang dari 5%, dimana Indonesia menempati urutan ke-7 (tujuh) sebagai negara
dengan konsumsi domestik susu non lemak terbesar dunia tahun 2020, dengan konsumsi
sebesar 196 ribu ton atau berkontribusi sebesar 4,93% terhadap total konsumsi susu non
lemak domestik dunia. Secara rinci tersaji pada Gambar 12.5 dan Tabel 12.8.
Lainnya
5,96%
Rusia
Jepang Algeria
3,72% Uni Eropa
4,22% 3,65%
24,97%
Brazil
4,40%
Indonesia
4,93%
Philipina
5,13% India
15,99%
Meksiko
8,00%
Gambar 12.5 Negara dengan Konsumsi Domestik Susu Non Lemak Terbesar Di Dunia,
2020
Tabel 12.8. Negara dengan Konsumsi Domestik Susu Non Lemak Terbesar Di Dunia, 2016 –
2020
Konsumsi Domestik Susu Non Lemak (000 Ton) Share
No Negara
2020(%)
2016 2017 2018 2019 2020
1 Uni Eropa 804 985 1,127 979 993 24.97
2 India 531 576 572 601 636 15.99
3 Amerika Serikat 450 430 369 422 402 10.11
4 Cina 223 276 299 358 355 8.93
5 Meksiko 325 351 347 340 318 8.00
6 Philipina 136 147 159 177 204 5.13
7 Indonesia 172 146 161 187 196 4.93
8 Brazil 188 189 184 183 175 4.40
9 Jepang 165 174 167 164 168 4.22
10 Rusia 198 190 171 176 148 3.72
11 Algeria 140 145 147 145 145 3.65
Lainnya 282 254 257 224 237 5.96
Total dunia 3614 3,863 3,960 3,956 3,977 100.00
Sumber : USDA diolah Pusdatin
13.1. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pengeluaran penduduk Indonesia untuk makanan tahun 2020 berdasarkan data
SUSENAS sebagian besar dialokasikan untuk makanan dan minuman jadi yang
mencapai 34,27%, disusul rokok sebesar 12,17%, padi-padian 11,07%, ikan, telur
dan susu 7,72%, sayur-sayuran sebesar 7,52%, sementara kelompok makanan
lainnya kurang dari 5%.
2. Konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia selama 2 (dua) tahun terakhir
menunjukkan terjadi penurunan pada tahun 2020. Rata-rata konsumsi kalori
penduduk Indonesia pada tahun 2019 sebesar 2.120 kkal menjadi 2.112 kkal
tahun 2020 atau turun sebesar 8,46 kkal dibandingkan tahun 2019. Sementara
konsumsi protein juga mengalami penurunan sebesar 0.15 gram, hal ini di
sebabkan oleh dampaknya dari adanya penyakit covid 19.
3. Neraca penyediaan dan penggunaan ubikayu periode 2020 terjadi surplus yang
mencapai 4 juta ton dibandingkan tahun 2019 atau mengalami kenaikan di ikuti
pula oleh naik produksi ubikayu sebesar 18.79 juta ton, Surplus tersebut
diasumsikan ubi kayu yang di gunakan sebagai bahan industri yang akan di olah
menjadi bahan makanan
4. Perhitungan bawang putih menunjukan perkiraan terjadinya surplus pada tahun
2020 sebesar 162,9 ribu ton. Surplus bawang putih di dapat dari impor sebesar
594,27 ribu ton sedangkan kebutuhan hanya sebesar 507,09 ribu ton. Produksi
bawang putih didalam negeri hanya di gunakan sebagai benih sedangkan
kebutuhan untuk konsumsi lebih banyak dari impor.
5. Produksi kacang tanah Indonesia selama periode tahun 2018 – 2020 menunjukkan
adanya penurunan dari 420.099 ton (2019) menjadi 415.812 ton (2020). Neraca
pasokan kacang tanah mengalami surplus sekitar 25.899 ton, Surplus tanah
tersebut dapat diasumsikan untuk penggunaan lainnya yang datanya belum
tersedia
6. Perhitungan Neraca komoditas jeruk antara penyediaan dan penggunaannya
surplus diasumsikan di olah oleh Industri sebagai bahan minuman atau jus sebesar
1,48 juta ton pada tahun 2019 dan 1,87 juta ton pada tahun 2020. Kelabihan ini
12.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. Survei Sosial Ekonomi Nasional, Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk
Indonesia per Provinsi tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 Jakarta.
Badan Ketahanan Pangan. Kementerian Pertanian. Neraca Bahan Makanan Indonesia Tahun
2016 sampai dengan Tahun 2020. Jakarta
[Link] (terhubung
berkala).
[Link]
3971 (terhubung berkala)
[Link]
replanting-sawit-2 (terhubung berkala).
[Link]
[Link]
[Link]
Ridhoi, M.A., 2020. Ekonomi Terpukul Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat selama Covid-
19. Katadata. Jakarta.
Mahieu, A., 2018. [Link]
and-malnutrition-developing-regions. [terhubung berkala]
Sutawi, M.P, [Link]., 2020. Ketahanan Pangan Produk Peternakan Masa Pendemi COVID-19.
Poultry Indonesia. Jakarta.
[Link]
pangan-dan-kesejahteraan-petani-1622707602/10. [terhubung berkala]