0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan13 halaman

Peningkatan Pemecahan Masalah Matematika

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VII setelah menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada materi trapesium. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa dan rata-rata peningkatan sebesar 0,619. Kemampuan pemecahan masalah siswa meningkat pada semua indikator setelah menerima treatment model pem

Diunggah oleh

Rizki alfaridz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan13 halaman

Peningkatan Pemecahan Masalah Matematika

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VII setelah menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada materi trapesium. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa dan rata-rata peningkatan sebesar 0,619. Kemampuan pemecahan masalah siswa meningkat pada semua indikator setelah menerima treatment model pem

Diunggah oleh

Rizki alfaridz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS

MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN


PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA

Iwit Prihatin
Prodi Pendidikan Matematika, IKIP-PGRI Pontianak, Jl. Ampera No. 88
Pontianak e-mail: iwitprihatin82@[Link]

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan


pemecahan masalah matematis siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pontianak
setelah diterapkan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) pada materi
trapesium. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa: (1) Terdapat peningkatan kemampuan pemecahan
masalah setelah diberi model PBM. (2) Rata-rata peningkatan kemampuan
pemecahan masalah siswa setelah diberi model PBM pada materi trapesium
sebesar 0,619 dengan kategori sedang. (3) Kemampuan pemecahan masalah
siswa dilihat dari tiap indikator adalah sebagai berikut, pada pre-test:
indikator pertama dengan kriteria tinggi, indikator kedua dengan kriteria
cukup, indikator ketiga dengan kriteria rendah, dan indikator keempat
dengan kriteria rendah, sedangkan pada post-test: indikator pertama dengan
kategori sangat tinggi, indikator kedua dengan kategori tinggi, indikator
ketiga dengan kategori tinggi, indikator keempat dengan kategori cukup. (4)
Peningkatan kemampuan pemecahan masalah dilihat dari tiap indikator
yaitu pada indikator pertama dengan kategori sedang, indikator kedua
dengan kategori sedang, indikator ketiga dengan kategori sedang, dan
indikator keempat dengan kategori sedang.

Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), Kemampuan


Pemecahan Masalah

Abstract

The purpose of this study was to determine the increase in mathematical


problem solving ability of students of class VII SMP Negeri 8 Pontianak
after application of problem-based learning model (PBM) on the material
trapezoid. This study was an experimental study. The results showed that:
(1) There is an increased problem-solving ability after being given a PBM
models. (2) The average increase students' problem solving abilities after
being given the material trapezoid PBM models of 0.619 with medium
category. (3) The ability of the student problem solving views of each
indicator is as follows, on the pre-test: first indicator with high criteria, a
second indicator with sufficient criteria, the third indicator with low criteria
and indicators fourth with low criteria, while the posttest: The first indicator
categorized as very high, both indicators with high category, the third
indicator with high category, the fourth indicator with enough category. (4)
Improved troubleshooting capabilities of each indicator is seen on the first
indicator of the medium category, the second indicator in the medium
category, the third indicator medium category, and fourth indicator medium
category.

Keywords: Problem Based Learning (PBM), Troubleshooting Capabilities

1
Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Vol. 4, No. 1, Juni 2015

PENDAHULUAN

Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan


yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang
mampu bersaing di era global (Trianto, 2010: 4). Permasalahan yang sering
muncul dalam dunia pendidikan adalah lemahnya siswa dalam memahami konsep
untuk menyelesaikan suatu masalah. Oleh karena itu, setiap penggalan dari proses
mengajar yang dirancang dan diselenggarakan harus mampu memberikan
kontribusi yang konkret bagi pencapaian tujuan pembelajaran matematika. Tujuan
pembelajaran matematika telah mengalami perubahan, tidak lagi hanya
menekankan pada peningkatan hasil belajar, namun juga diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan: (1) komunikasi matematis (mathematical
communication); (2) penalaran matematika (mathematical reasioning); (3)
pemecahan masaah metematika (mathematical problem solving); (4) mengaitka
ide-ide matematika (mathematical connections); (5) representasi matematika
(mathematical representation) (NCTM, 2000).
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
No.22 tahun 2006, bahwa tujuan mata pelajaran matematika adalah agar siswa
memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Memahami konsep matematika,
menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep secara luwes,
akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. (2) Menggunakan penalaran
pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika. (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami
masalah, merencanakan model matematika, menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang diperoleh. (4) Mengkomunikasikan gagasan dengan
simbol, tabel, diagram atau metode lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah.
(5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Berdasarkan tujuan
tersebut maka kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan yang utama
dalam pembelajaran matematika.

2
Menurut Meliyani (2013: 14), “kemampuan pemecahan masalah
matematika merupakan kemampuan pengetahuan yang dimiliki setiap orang yang
dalam pemecahannya berbeda-beda tergantung pada apa yang dilihat, diamati,
diingat dan dipikirkannya sesuai pada kejadian kehidupan nyata”. Klurik dan
Rudnik (1995: 4) juga mendefinisikan pemecahan masalah adalah suatu usaha
individu menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pemahamannya untuk
menentukan solusi dari suatu masalah. NCTM (Fadillah: 2008), memecahkan
masalah bermakna menjawab suatu pertanyaan dimana metode untuk mencari
solusi dari pertanyaan tersebut tidak dikenal terlebih dahulu. Untuk menemukan
suatu solusi, siswa harus menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya
dan melalui proses dimana mereka akan mengembangkan pemahaman-
pemahaman matematika baru. Berdasarkan ketiga pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika adalah suatu
potensi yang harus dimiliki siswa dalam menjawab suatu pertanyaan di mana
untuk menjawab pertanyaan tersebut menggunakan pengetahuan yang sudah
dipelajari. Dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah siswa diharuskan
memahami konsep dari soal tersebut.
Model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang
melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode
ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan
masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan memecahkan masalah
(Purwanti, 2013: 3). Menurut Moffit (dalam Rusman, 2013: 241), ”Model
pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar
tentang berpfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Ibrahim
dan Nur (dalam Rusman, 2013: 241) menyatakan bahwa “Model pembelajaran
berbasis masalah merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan
untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi yang berorentasi pada
masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar.

3
Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Vol. 4, No. 1, Juni 2015

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran


berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang didalamnya terdapat
serangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian
masalah. Dalam menyelesaikan masalah tersebut siswa harus menggali kembali
materi yang telah dipelajari sebelumnya sehingga menuntut siswa untuk lebih
berfikir kritis dan kreatif dalam memecahkan suatu masalah. Melalui model
pembelajaran berbasis masalah ini, kemampuan pemecahan masalah diharapkan
dapat ditingkatkan.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model
pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa pada materi trapesium di kelas VII SMP Negeri 8
Pontianak. Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1)
peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah diterapkan
model pembelajaran berbasis masalah, (2) besar peningkatan kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa setelah diterapkan model pembelajaran
berbasis masalah, (3) kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dilihat
dari masing-masing indikator, dan (4) peningkatan kemampuan pemecahan
masalah siswa dilihat dari masing-masing indikator.

METODE

Bentuk Penelitian
Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian pre experimental. Pre-
Eksperimental adalah salah satu bentuk desain penelitian eksperimen yang
memanipulasi variabel bebas ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel
terikat. Pre- Eksperimental digunakan untuk mendapatkan informasi awal
terhadap rumusan masalah yang ada dalam penelitian. Subjek dalam penelitian
yang menggunakan desain pre-eksperimental tidak memiliki variabel kontrol
sehingga hasil eksperimen variabel terikat masih dipengaruhi oleh variabel bebas.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah One
Group Pretest-Posttest Design. Bentuk rancangan penelitian tersebut disajikan
pada Tabel 1.

4
Tabel 1. Rancangan Penelitian
Kelompok Pretest Treatment Posttest

Eksperimen T1 X T2

(Subana dan Sudrajat, 2011: 99)


Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 8
Pontianak yang terdiri dari enam kelas yaitu kelas VII A, VII B, VII C, VII D, VII
E, dan VII F. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Cluster
random Sampling. Pemilihan sampel dilakuan dengan cara pengundian dengan
syarat populasinya homogen. Terpilih siswa kelas VII B sebagai kelas eksperimen
dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik
pengukuran. Teknik pengukuran dilakukan dengan pemberian tes untuk melihat
kemampuan pemecahan masalah. Tes diberikan sebelum dan sesudah perlakuan.

Alat Pengumpul Data


Alat pengumpul data atau instrument penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tes. Menurut Budiyono (2003: 54), “Metode tes adalah cara
pengumpulan data yang menghadapkan sejumlah pertanyaan-pertanyaan atau
suruhan-suruhan kepada subyek penelitian”. Tes yang digunakan berupa tes essay
sebanyak 5 nomor dan telah divalidasi. Tes ini digunakan untuk mengukur
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Teknik Analisis Data


Berdasarkan masalah-masalah yang telah di uraikan sebelumnya, data
yang diperoleh dari hasil pre-test dan post-test pada kelas eksperimen dianalisis
secara statistik. Adapun langkah-langkah dalam menganalisis data sebagai
berikut.

5
Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Vol. 4, No. 1, Juni 2015

1. Masalah 1 dan hipotesis, untuk mengetahui peningkatan kemampuan


pemecahan masalah matematis siswa setelah diberikan model pembelajaran
berbasis masalah dilakukan prosedur perhitungan uji statistik sebagai berikut:.
(a) Menguji normalitas skor pre-tes dan post-test menggunakan rumus chi
Square;. (b) Jika data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji-t satu
kelompok;. tetapi (c) Jika data tidak berdistribusi normal, maka digunakan
statistik non-parametric (uji Wilcoxon).
2. Masalah 2 dan 4 dijawab dengan, menggunakan rumus Gain Ternormalisasi
sebagai berikut:

… (1)

dengan kriteria:
g < 0,3 : tergolong rendah
0,3 g 0,7 : tergolong sedang
g > 0,7 : tergolong tinggi
Hake (dalam Gordah, 2009: 57)
3. Masalah 3 dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif, yaitu dengan
menentukan skor pada setiap indikator sesuai dengan kriteria penskoran yang
telah ditetapkan. Adapun indikator yang dilihat dari soal kemampuan
pemecahan masalah adalah: (1) memahami masalah, (2) merencanakan
penyelesaian, (3) menyelesaikan masalah, dan (4) memeriksa kembali.
Pengujian hipotesis menggunakan taraf signifikansi  = 0,05.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pre-test diberikan sebelum peneliti memberikan perlakuan pada kelas
ekperimen. Adapun rangkuman data hasil pre-test kemampuan pemecahan
masalah siswa dapat dilihat pada Tabel 2.

6
Tabel 2. Rangkuman Hasil Pre-Test Kemampuan Pemecahan
Masalah Tiap indikator
Indikator 1 2 3 4
Jumlah 207 167 164 48
Rata-rata 5.91429 4.77143 4.68571 1.37143
Persentase 73.9286 47.7143 33.4694 34.2857

Berdasarkan Tabel 2, terlihat jelas persentase rata-rata tiap indikator


kemampuan pemecahan masalah. Adapun uraiannya sebagai berikut: (1)
Persentase kemampuan memahami masalah sebesar 73,93% dengan kategori
tinggi. (2) Persentase kemampuan merencanakan penyelesaian sebesar 47,71%
dengan kategori cukup. (3) Persentase kemampuan menyelesaikan masalah
sebesar 33,47% dengan kategori rendah. (4) Persentase kemampuan memeriksa
kembali sebesar 34,29% dengan kategori rendah.
Post-test diberikan setelah peneliti memberikan perlakuan pada kelas
eksperimen. Adapun rangkuman data hasil post-test kemampuan pemecahan
masalah siswa dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rangkuman Hasil Post-Test Kemampuan Pemecahan Masalah
Tiap Indikator
Indikator 1 2 3 4
Jumlah 252 240 316 83
Rata-rata 7.2 6.85714 9.02857 2.37143
Persentase 90 76.1905 75.2381 59.2857

Berdasarkan Tabel 3, terlihat jelas persentase rata-rata tiap indikator


kemampuan pemecahan masalah. Adapun uraiannya sebagai berikut: (1)
Persentase kemampuan memahami masalah sebesar 90% dengan kategori sangat
tinggi. (2) Persentase kemampuan merencanakan penyelesaian sebesar 76,19%
dengan kategori tinggi. (3) Persentase kemampuan menyelesaikan masalah
sebesar 75,24% dengan kategori tinggi. (4) Persentase kemampuan memeriksa
kembali sebesar 59,29% dengan kategori cukup.

7
Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Vol. 4, No. 1, Juni 2015

Dari data hasil pre-test dan post-test di atas dapat dilihat peningkatan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada tiap indikator.
Peningkatan tersebut dapat ditentukan dengan menggunakan rumus gain
ternormalisasi. Adapun peningkatan kemampuan pemecahan masalah pada tiap
indikator adalah sebagai berikut. Indikator pertama sebesar 0,616 dengan kategori
sedang, indikator kedua sebesar 0,399 dengan kategori sedang, indikator ketiga
sebesar 0,466 dengan kategori sedang, dan indikator keempat 0,380 dengan
kategori sedang.
Analisis yang digunakan untuk menguji signifikansi peningkatan
kemampuan pemecahan masalah siswa yaitu menggunakan uji statistik. Langkah-
langkah yang dilakukan sebagai berikut. Pertama disajikan perhitungan uji
normalitas, diperolehlah 2
hitung < 2
tabel (pada pre-test yaitu 5,86 < 7,815 dan pada
post-test yaitu 4,93 < 7,815). Artnya, data nilai pre-test dan post-test berdistribusi
normal. Karena data nilai pre-test dan post-test berdistribusi normal maka
perhitungan dilanjutkan dengan uji t. Adapun rangkuman hasil perhitungannya
sebagai berikut. t0,95;db

Tabel 4. Rangkuman Perhitungan Uji t


db Keputusan

34 42,43 1,6909 ditolak

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung > ttebel atau 42,43 > 1,6909 sehingga
H0 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang
signifikan kemampuan pemecahan masalah siswa setelah diberi model
pembelajaran berbasis masalah.
Berdasarkan data hasil penelitian di atas diperoleh informasi bahwa rata-
rata pre-test sebesar 46,57 dan rata-rata post-test sebesar 79,66. Data ini
menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII SMP
Negeri 8 Pontianak mengalami peningkatan. Peningkatan kemampuan pemecahan
masalah siswa setelah diberikan model pembelajaran berbasis masalah dihitung

8
menggunakan rumus gain ternormalisasi dengan rata-rata peningkatan sebesar
0,619 dengan kategori sedang.

Pembahasan
Pada pertemuan pertama peneliti memberikan pre-test. Pemberian pre-test
bertujuan untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum diberikan perlakuan dan
sebagai tolak ukur untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa
sebelum diberi model pembelajaran berbasis masalah. Setelah itu pada pertemuan
berikutnya peneliti memberikan perlakuan dengan menggunakan model
pembelajaran berbasis masalah pada kelas eksperimen. Dalam pelaksanaannya
guru membagikan LKS pada tiap anak kemudian siswa dibagi dalam beberapa
kelompok. Guru meminta tiap kelompok untuk mendiskusikan masalah-masalah
atau soal-soal yang ada di LKS. Kemudian salah satu kelompok
mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sedangkan guru dan kelompok
lain memperhatikan dan memeriksa presentasi kelompok lain.
Pertemuan berikutnya peneliti memberikan post-test pada siswa. Post-test
ini bertujuan untuk melihat kemampuan pemecahan masalah siswa setelah diberi
perlakuan. Setelah memperoleh data pre-test dengan post-test, maka data dihitung
menggunakan statistik yang sesuai yaitu kedua data dihitung uji normalitasnya
menggunakan rumus chi square. Hasil yang diperolah dapat kedua data
berdistribusi normal. Oleh karena kedua data berdiatribusi normal maka
perhitungan dilanjutkan dengan uji t. Hasil yang diperoleh adalah thitung > ttabel
yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa setelah diberi
model pembelajaran berbasis masalah pada materi trapesium di kelas VII SMP
Negeri 8 Pontianak.
Besar peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
dihitung dengan menggunakan rumus gain ternormalisasi. Perhitungan gain
ternormalisasi diperoleh rata-rata peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa sebesar 0,619 dengan kategori sedang. Kemampuan pemecahan

9
Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Vol. 4, No. 1, Juni 2015

masalah matematis siswa pada setiap indikator dapat dilihat dari persentase rata-
rata tiap indikatornya.
Persentase kemampuan pemecahan masalah siswa sebelum diberi model
pembelajaran berbasis masalah (pre-test) dilihat dari tiap indikator yaitu pada
indikator pertama sebesar 73,93% dengan kriteria tinggi, indikator kedua 47,71%
dengan kriteria cukup, indikator ketiga 33,46% dengan kriteria rendah, dan
indikator keempat 34,29% dengan kriteria rendah. Data hasil pre-test
menunjukkan bahwa dari keempat indikator kemampuan pemecahan masalah
hanya pada indikator pertama yang mencapai kategori tinggi yakni sebesar
73,93%, sedangkan untuk indikator yang lain belum mencapai kriteria tersebut.
Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran konvensional siswa sudah memiliki
kemampuan memahami masalah. Namun pada kemampuan merencanakan
penyelesaian, menyelesaikan masalah, dan memeriksa kembali siswa masih
kurang memahami.
Persentase kemampuan pemecahan masalah siswa sesudah diberi model
pembelajaran berbasis masalah (post-test) pada tiap indikator yaitu pada indikator
pertama sebesar 90% dengan kriteria sangat tinggi, indikator kedua sebesar
76,19% dengan kriteria tinggi, indikator ketiga sebesar 75,24% dengan kriteria
tinggi, indikator keempat sebesar 59,29% dengan kriteria cukup. Data hasil post-
test menunjukkan bahwa dari keempat indikator kemampuan pemecahan masalah
hanya pada indikator keempat yang belum mencapai kriteria tinggi. Hal ini
disebabkan karena siswa masih kurang paham bagaimana memeriksa kembali
jawaban soal dengan menggunakan cara yang berbeda.
Setelah memperoleh hasil persentase pre-test dan post-test maka
selanjutnya dilihat peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa pada tiap
indikatornya. Rumus yang digunakan untuk melihat peningkatan kemampuan
pemecahan masalah siswa tiap indikator yaitu dengan rumus gain ternormalisasi.
Adapun hasil yang diperoleh yaitu pada peningkatan kemampuan memahami
masalah sebesar 0,616 dengan kategori sedang, peningkatan kemampuan
merencanakan penyelesaian sebesar 0,399 dengan kategori sedang, peningkatan
kemampuan menyelesaikan masalah sebesar 0,466 dengan kategori sedang, dan

10
peningkatan kemampuan memeriksa kembali sebesar 0,380 dengan kategori
sedang.
Berdasarkan penjelasan di atas peningkatan kemampuan pemecahan
masalah siswa dilihat tiap indikator seluruhnya mengalami peningkatan dengan
kategori sedang. Namun jika dilihat dari persentase hasil pre-test dan post-test
pada indikator keempat belum mencapai kategori yang diinginkan. Pada hasil pre-
test kemampuan siswa memeriksa kembali soal masih tergolong rendah. Hal ini
disebabkan karena siswa tidak terbiasa dalam memeriksa kembali jawaban siswa.
Selama ini jika siswa sudah mendapatkan hasil dari soal yang diberikan, siswa
tidak memeriksa kembali kebenaran dari jawaban yang diperolehnya. Situasi ini
berpengaruh pada saat peneliti menerapkan model pembelajaran berbasis masalah
dan memberikan soal post-test. Hasil yang diperoleh siswa untuk kemampuan
memeriksa kembali hanya mencapai kategori cukup, sedangkan untuk
kemampuan memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan
masalah sudah mencapai kategori tinggi sebagaimana diharapkan.
Untuk memperkuat hasil penelitian, peneliti membandingkan dengan
penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Meliyani
yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMK, dimana
pada siklus 1 mencapai ketuntasan sebesar 51,16% dan pada siklus 2 sebesar
86,04% dengan peningkatan sebesar 34,88%. Ini menunjukkan bahwa penelitian
terdahulu dan penelitian yang dilakukan penelitian relevan yaitu terdapat
peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dengan penerapan
model pembelajaran Problem Based Learning.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis terhadap data penelitian yang telah dilaksanakan,


maka diperoleh kesimpulan yang mengacu pada rumusan masalah sebagai
jawaban dari hipotesis penelitian sebagai berikut.

1
Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Vol. 4, No. 1, Juni 2015

1. Terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa setelah diberi


model pembelajaran berbasis masalah di kelas VII SMP Negeri 8 Pontianak
pada materi trapesium.
2. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa setelah diberi model
pembelajaran berbasis masalah di kelas VII SMP Negeri 8 Pontianak pada
materi trapesium sebesar 0,619 dengan kategori sedang.
3. Kemampuan pemecahan masalah siswa dilihat dari tiap indikator
mendapatkan persentase sebesar sebagai berikut: pada pre-test indikator
pertama sebesar 73,93% dengan kriteria tinggi, indikator kedua 47,71%
dengan kriteria cukup, indikator ketiga 33,46% dengan kriteria rendah, dan
indikator keempat 34,29% dengan kriteria rendah, sedangkan pada post-test
indikator pertama sebesar 90% dengan kategori sangat tinggi, indikator kedua
76,19% dengan kategori tinggi, indikator ketiga 75,24% dengan kategori
tinggi, indikator keempat 59,29% dengan kategori cukup.
4. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa dilihat dari tiap indikator,
yaitu peningkatan kemampuan memahami masalah sebesar 0,616 dengan
kategori sedang, peningkatan kemampuan merencanakan penyelesaian sebesar
0,399 dengan kategori sedang, peningkatan kemampuan menyelesaikan
masalah sebesar 0,466 dengan kategori sedang, dan peningkatan kemampuan
memeriksa kembali sebesar 0,380 dengan kategori sedang.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta: UNS Press.

Fadillah, S. 2008. Menumbuh kembangkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan


Representasi Matematis Melalui Pembelajaran Open Ended. (Online),
tersedia: [Link]
ended. Html, diakses tanggal 25 Februari 2014.

Gordah, E. K. 2009. Meningkatkan Kemampuan Koneksi dan Pemecahan


Masalah Matematika Melalui Pendekatan Open Ended. Tesis pada
Program Studi Matematika UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.

12
Klurik, S & Rudnick, J. A. 1995. The New Source Book for Teaching Reasoning
and Problem Solving in Elementary School. Boston, London, Toronto:
Allyn and Bacon.

Meliyani. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk


Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa
SMK .Skripsi Matematika Fakultas MIPA Universitas Negeri Medan.
(Online), tersedia: [Link] Html, diakses tanggal 24
Februari 2014.

NCTM. 2000. Principles and Standard for School Mathematics. Resto, Virginia:
The National Council of Teacher of Mathematics, Inc.

Purwati, Riska. 2013. Pembelajaran Berbasis Masalah. (Online), tersedia:


[Link]
masalah. html, diakses tanggal 14 Februari 2014.

Rusman. 2013. Model-model Pembelajaran mengembangkan Profesionalisme


Guru. Jakarta: Rajawali.

Subana, M.& Sudrajat. 2011. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: CV


Pustaka Setia.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Surabaya:


Kencana.

Anda mungkin juga menyukai