0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan11 halaman

Model dan Metode Pembelajaran SD

Makalah ini membahas tentang pendekatan, strategi, metode, model, dan teknik pembelajaran. Terdapat perbedaan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran. Beberapa jenis model pembelajaran kooperatif juga dijelaskan.

Diunggah oleh

Luthfi Apriadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan11 halaman

Model dan Metode Pembelajaran SD

Makalah ini membahas tentang pendekatan, strategi, metode, model, dan teknik pembelajaran. Terdapat perbedaan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran. Beberapa jenis model pembelajaran kooperatif juga dijelaskan.

Diunggah oleh

Luthfi Apriadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PENDEKATAN,STRATEGI,METODE,MODEL, DAN TEKNIK


PEMBELAJARAN

Disusun untuk memenuhi Persyaratan Nilai Perencanaan dan Pembelajaran di SD

Disusun Oleh :

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH [Link]

KATA PENGANTAR

1
Assalamu’alaikum [Link].
Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami menyelesaikan makalah ini dengan
penuh kemudahan dan menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah
curahkan kepada baginda tercinta yakni nabi Muhammad SAW.
      Makalah ini bertujuan untuk memenuhi dan melengkapi tugas Perencenaan dan
Pembelajaran tentang “PENDEKATAN,STRATEGI,METODE,MODEL, DAN TEKNIK
PEMBELAJARAN” 
      Makalah ini memuat tentang Pendekatan , Strategi , Metode,Model, dan Teknik
Pembelajaran yang sangat penting kita mempelajarinya. Walaupun makalah ini mungkin
kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
      Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Saya mohon untuk saran dan
kritiknya. Terima kasih.
Waalaikum salam [Link].

                                                                                                                      November 2022
                                                                                                                                
                     
penyusun

                                                                                                                    

2
3
BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Pada dasarnya seorang pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang
dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu
menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh
pendidik adalah dengan mengajar dan salah satu yang paling penting pada saat mengajar
adalah performance pendidik, penguasaan keadaan kelas dan penerapan metode
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. Metode pembelajaran ialah
ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah
lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam
melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan
pengajaran tercapai.

2.      Tujuan Penulisan
Tujuan utama kami menulis makalah ini adalah untuk mendapatkan nilai yang
memuaskan. Diluar itu, makalah ini ditulis karena kami ingin mengingatkan kepada para
pembaca bahwa metode pembelajaran ialah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk
melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan
peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan.

3.      Permasalahan
Banyak hal yang perlu diketahui dan dipahami oleh semua siswa untuk mengetahui
dan memahami Pendekatan , Strategi , Metode,Model, dan Teknik Pembelajaran sebagai
berikut:

BAB II
4
PEMBAHASAN

1.      Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik Dan Model Pembelajaran


Seni tari adalah seni yang mengekspresikan nilai batin melalui gerak yang indah dari
tubuh/fisik dan mimik. seni yang dihasilkan mimik, gerak dan tingkah laku seseorang.
Dengan gerak yang teratur diiringi musik, tarian akan menjadi indah. Tari dapat di artikan
juga sebagai gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk
keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran.
  Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,
menguatkan, dan melatar belakangi metode pembelajaran dengan cakupan teoretis
tertentu. Dalam pendekatan pembelajaran ada muatan-muatan etis-pedagogis yang
menyertai kegiatan proses pembelajaran yang berisi religius/spiritual,
Rasional/intelektual, Emosional, Fungsional, Keteladanan, Pembiasaan, dan Pengalaman.
Dilihat dari pendekatannya dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada peserta didik (student centered approach) dan (2)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada pendidik (teacher centered
approach).

  Strategi Pembelajaran

5
Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan pendidik dan peserta didik agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Kegiatan ini dilakukan dengan cara-
cara tertentu yang digunakan secara sistematis & prosedural dalam kegiatan pembelajaran
untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Selanjutnya, dengan mengutip
pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran
terkandung makna perencanaan, artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat
konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan
pembelajaran. Contoh : contextual teaching-learning, Quantum teaching-learning, Active
learning, Mastery learning, Discovery-inquiry learning, cooperative Learning dan PAIKEM.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:
(1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina
Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran
dapat dibedakan antara lain strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

  Metode Pembelajaran

metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk


mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran
yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1)
ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman
lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

  Teknik Pembelajaran

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya


pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang
dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan,
penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah peserta didik yang relatif banyak
membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan
penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah peserta didiknya terbatas. Sementara
taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik
pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama
menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang

6
digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor
karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi
kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik
karena dia memang sangat menguasai bidang itu

  Model pembelajaran berbasis kompetensi

Standar kompetensi yang menjadi dasar untuk pembentukan kompetensi adalah


KKNI. Sehingga seharusnya model pembelajarannya juga menerapkan model
pembelajaran berbasis kompetensi. Model pembelajaran berbasis kompetensi
digambarkan sebagai sebuah tangga dengan setiap anak tangga mempengaruhi anak
tangga di atasnya atau di bawahnya. Anak tangga yang terbawah adalah Foundation,
kedua keterampilan, yaitu kemampuan dan pengetahuan yang dikembangkan dalam
proses belajar. Anak tangga ketiga adalah kompetensi yang diperoleh melalui
pembelajaran dan pengalaman, dan yang terakhir adalah demonstration (unjuk kerja)
sebagai hasil menerapkan kompetensi-kompetensi yang diperoleh. Pada level teratas
inilah pembelajaran berdasarkan unjuk kerja bisa dinilai (assessed).

2.      Jenis Model Pembelajaran Kooperatif


Salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada pandangan kontruktivisme
adalah pembelajaran kooperatif. Menurut Kagan (2000:1), belajar kooperatif adalah suatu
istilah yang digunakan dalam prosedur pembelajaran interaktif, dimana peserta didik belajar
bersama-sama dalam kelompokkelompok kecil untuk memecahkan berbagai masalah. Setiap
peserta didik tidak hanya menyelesaikan tugas individunya, tetapi juga berkewajiban

7
membantu tugas teman kelompoknya, sampai semua anggota kelompok memahami suatu
konsep. Setiap kelompok dengan peserta didik dari tingkat kemampuan berbeda,
menggunakan aktivitas belajar yang bervariasi untuk meningkatkan pemahaman mereka
terhadap suatu konsep. Tujuan akhir yang ingin dikembangkan dari pembelajaran kooperatif
adalah mengoptimalkan kompetensi individu menjadi kompetensi kelompok dalam mencapai
tujuan pembelajaran bersama, hal ini memberikan kesempatan kepada peserta didik agar
dapat terlibat secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, sebagai fondasi yang baik
untuk meningkatkan prestasi peserta didik.
Berdasarkan pada prosedur pelaksanaan pembelajarannya, Lie (2002: 14)
membedakan pembelajaran kooperatif dalam beberapa tipe, yaitu make a match (mencari
pasangan), Think–Fair–Share (berpikir - berpasangan - berbagi), bertukar pasangan, berkirim
salam dan soal, numbered heads together (kepala bernomor), two stay two stray (dua tamu
dua tinggal), talking chips (kartu berbicara), roundtable (meja bundar), inside–outside–circle
(lingkaran besar lingkaran kecil), paired storytelling (berbicara berpasangan), three steps
interview (tiga tahap wawancara), dan jigsaw dan lain-lain.

3. Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Chips


Pembelajar kooperatif tipe taliking chips pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada
tahun 1992. Dalam kegiatan talking chips, masing-masing anggota kelompok mendapat
kesempatan untuk memberikan kontruksi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran
anggota yang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah untuk mengatasi hambatan
pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok. Dalam pelaksanaan talking
chips setiap anggota kelompok diberi sejumlah kartu / Dzchipsdz (biasanya dua sampai tiga
kartu). Setiap kali salah seorang anggota kelompok menyampaikan pendapat dalam diskusi, ia
harus meletakan satu kartunya ditengah kelompok. Setiap anggota diperkenankan menambah
pendapatnya sampai semua kartu yang dimilikinya habis.

4. Student Teams-Achievement Divisions (Stad : Tim Peserta didik Kelompok Prestasi Slavin, 1995)
langkah-langkah :

8
a. membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi,
jenis kelamin, suku, dll)
b. dosen menyajikan pelajaran
c. dosen memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu
mengerti.
d. dosen memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. pada saat menjawab kuis tidak
boleh
saling membantu
e. memberi evaluasi
f. kesimpulan

5. Ceramah
Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada
sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif
besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa
tujuan. Dengan metode ceramah, pendidik dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi
pendengarnya. Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk
digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian
bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan Metode
ceramah dapat dilakukan dengan berbagai kombinasi Metode pembelajaran ceramah adalah
penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk
mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan
oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode
ceramah, pendidik dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya. Gage dan Berliner
(1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan
ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan
jika bahan belajar tersebut sukar didapatkanvariasi. Mengapa disebut demikian, sebab ceramah
ditujukan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat, disko, pleno,
penugasan, studi kasus, dll). Selain itu, ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah yang
cenderung interaktif, yaitu melibatkan peserta melalui adanya tanggapan balik atau
perbandingan dengan pendapat dan pengalaman peserta.

9
6. Metode Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi
saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah
sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode
diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil
penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan peserta didik dalam
pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi
pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah.
Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada
metode diskusi.

7. Games
mencocokan, teka-teki silang, misteri, kompetisi, gambar Permainan (games), populer dengan berbagai
sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker
adalah Ǯpemecah esǯ. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan
fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang
dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk
penciptaan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh
menjadi riang (segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan
efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau [Link]
permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong
atau sekedar permainan. Permainan sebaiknya dirancang menjadi suatu Ǯaksiǯ atau kejadian yang
dialami sendiri oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang
mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang dipengaruhi adalah
rana sikap-nilai.

8. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)


Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit
untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan peserta didik sejak

10
perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi.
Metode ini menuntut para peserta didik untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi
maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para pendidik yang
menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok
yang beranggotakan 5 hingga 6 peserta didik dengan karakteristik yang heterogen. Adapun deskripsi
mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topik
Parapeserta didik memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya
digambarkan lebih dahulu oleh pendidik. Para peserta didik selanjutnya diorganisasikan menjadi
kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6
orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parapeserta didik beserta pendidik merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan
umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parapeserta didik melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus
melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para peserta
didik untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah.
Pendidik secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika
diperlukan.

11

Common questions

Didukung oleh AI

Interactive lecture techniques can significantly improve student comprehension and engagement by incorporating elements like discussions, questioning, and multimedia aids. These techniques promote active participation, allow immediate feedback, and cater to various learning preferences, which can enhance understanding and retention of information compared to traditional lectures .

Learning strategies are dual-oriented as they can be categorized into exposition-discovery and group-individual learning. Exposition-discovery focuses on uncovering knowledge through structured or open-ended strategies, while group-individual emphasizes collaborative versus independent learning. This duality affects learning outcomes by accommodating various learning styles and promoting balanced knowledge acquisition and application skills .

Group investigation is perceived as complex and challenging due to its demand for high levels of student initiative, communication, and group process skills. It requires educators to guide without overt direction, and students must cooperatively plan and conduct investigations on selected topics. The need for heterogeneity in group composition adds complexity to manage diverse capabilities and backgrounds effectively .

The STAD strategy facilitates inclusive learning by grouping students heterogeneously, promoting diversity in interaction and learning. It uses structured team collaboration to ensure all members understand the material through shared responsibility, enhancing individual comprehension and peer learning. This structure allows for differentiated instruction, catering to various learning abilities within the classroom .

The ethical-pedagogical elements in teaching approaches include religiosity/spirituality, rational/intellectual aspects, emotional, functional, exemplary behavior, habituation, and experiential learning. These elements accompany the teaching process, contributing to a well-rounded educational experience. Approaches are divided into student-centered and teacher-centered, each carrying distinct ethical-pedagogical implications .

The integration of games in learning creates a dynamic and engaging environment. Games serve as ice-breakers or energizers, transforming passive learning into active involvement. They help minimize monotony, making complex material more approachable and creating a fun yet purposeful atmosphere for learning, encouraging interaction and participation .

The lecture method remains relevant because it effectively conveys large amounts of information to many students. It is particularly useful for introducing new material that may be difficult to access independently. Interactive elements within lectures can engage students actively, thus combining traditional and contemporary educational methods to inspire and inform learners, maintaining its relevance in the modern educational landscape .

The group investigation method introduces complexity by engaging students from the outset in selecting and investigating topics, fostering decision-making and problem-solving skills. It requires effective communication and group process skills, challenging students to work collaboratively in diverse teams to explore topics deeply. Educators facilitate but do not dictate, allowing for an exploration of varying perspectives and the development of critical thinking .

Cooperative learning optimizes individual and group competencies by encouraging active involvement and responsibility. Each student not only completes their tasks but also supports others, promoting a deeper understanding of the concepts. Techniques like 'Talking Chips' ensure equal participation, addressing imbalances typically seen in group dynamics. The ultimate goal is to convert individual competencies into collective group strengths, enhancing overall learning outcomes .

The document discusses balance by highlighting the strengths of both teacher-centered and student-centered approaches. Teacher-centered focuses on structured knowledge dissemination, suitable for large groups with difficult content. Student-centered emphasizes learner involvement and autonomy, enhancing engagement and critical thinking. Balancing these can cater to diverse learning needs and outcomes .

Anda mungkin juga menyukai