0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan8 halaman

Kerusakan Daun Pohon Balangeran

This document summarizes a study that identified leaf damage on Shorea balangeran plants in the Tumbang Nusa Forest Area with Special Purposes in Central Kalimantan, Indonesia. The study observed 639 plants in 2015 and identified different types of leaf damage. The most dominant damage was holes in the leaves, making up 82.26% of damage. The lowest was yellow rolled leaves at 0.48%. Overall, 65.72% of leaves showed damage. The conclusion is that the greatest leaf damage was from holes in leaves.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan8 halaman

Kerusakan Daun Pohon Balangeran

This document summarizes a study that identified leaf damage on Shorea balangeran plants in the Tumbang Nusa Forest Area with Special Purposes in Central Kalimantan, Indonesia. The study observed 639 plants in 2015 and identified different types of leaf damage. The most dominant damage was holes in the leaves, making up 82.26% of damage. The lowest was yellow rolled leaves at 0.48%. Overall, 65.72% of leaves showed damage. The conclusion is that the greatest leaf damage was from holes in leaves.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Sylva Scienteae Vol. 04 No.

1 Februari 2021 ISSN 2622-8963 (media online)

IDENTIFIKASI KERUSAKAN DAUN PADA TANAMAN BALANGERAN


(Shorea balangeran) DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS
(KHDTK) TUMBANG NUSA
Identification of Balangeran Leaf Damage (Shorea balangeran) in Forest Area with
Special Objective Tumbang Nusa
Anggri Feriditya Putri, Normela Rachmawati dan Dina Naemah
Program Studi Kehutanan
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat

ABSTRACT. Damage to the plant leaves can affect the health of the plant. The research aims to
identify the damage that occurs in the leaves of the Sorea balangeran plant and calculate the
percentage (%) of leaf damage. The location of the study was conducted at the Tumbang Nusa
KHDTK BP2LHK Banjarbaru, Central Kalimantan, determined by purposive sampling or deliberate
data collection with a specified starting point, observing 639 plants on the leaf section in 2015,
identifying plants based on the leaf part written in the form of a tallysheet, calculate the percentage
of damages to Sorea balangeran. The types of damages that occur in the leaves include holes, rolling,
yellowing, perforating and rolling, rolling and inhaling. The dominant damage to the leaf is hollow
leaves by 348 and the lowest is yellow roll by 2 with a percentage of 82.26% for leaves with holes
and 0.48 for leaf rolling and yellowing. The percentage of damage to the leaves of the balageran
plant showed a percentage of 65.72% that on the leaves of the Balangeran plant studied showed
that the leaves were not good. The conclusion from the study of the greatest leaf damage occurred
due to perforated leaves and the percentage of damage to the leaves as a whole by 65.72%.
Keywords: Balangeran, Damage, Leaf, Identification, Forest
ABSTRAK. Kerusakan daun pada tanaman dapat mempengaruhi kesehatan tanaman tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kerusakan yang terjadi pada daun tanaman
S. balangeran dan menghitung persentase (%) kerusakan daun. Lokasi penelitian dilakukan di
KHDTK Tumbang Nusa BP2LHK Banjarbaru Kalimantan Tengah, ditentukan secara purposive
sampling atau pengambilan data secara sengaja dengan starting point yang sudah di tentukan,
mengamati tanaman pada bagian daun tahun 2015 sebanyak 639, mengidetifikasi tanaman
berdasarkan bagian daun di tulis dalam bentuk tallysheet, menghitung besar persentase kerusakan
S. balangeran. Jenis kerusakan yang terjadi pada bagian daun antara lain belubang, menggulung,
menguning, berlubang dan menggulung, menggulung dan mengining. Kerusakan yang dominan
pada bagian daun yaitu daun berlubang sebesar 348 dan yang terendah menggulung menuning
sebesar 2 dengan persentase sebesar 82,26% pada daun berlubang dan 0,48 pada daun
menggulung dan menguning. Persentase kerusakan pada daun tanaman balageran menunjukan
persentase 65,72% bahwa pada daun tanaman balangeran yang diteliti menunjukan bahwa daun
tersebut kurang baik. Kesimpulan dari penelitian kerusakan daun terbesar terjadi akibat daun
berlubang dan persentase kerusakn pada daun secara keseluruhan sebesar 65,72%.
Kata kunci: Balangeran, Kerusakan, Daun, Identifikasi, Hutan
Penulis untuk korespondensi, surel: anggrifp@[Link]

PENDAHULUAN memiliki beragam fungsi diantaranya ialah


sebagai penghasil oksigen, karena proses
fotosintesis akan mengubah karbon dioksida
Hutan merupakan suatu gabungan menjadi oksigen dan dapat dihirup oleh
komunitas lingkungan biotik maupun abiotik makhluk hidup. Kondisi hutan yang baik akan
yang didalamnya terdapat bermacam-macam terjadi apabila seluruh bagian yang menjadi
tanaman yang hidup dan berinteraksi secara penyusunnya dapat menjalankan fungsinya
berkesinambungan, diantaranya pohon, masing-masing sementara dan sebaliknya jika
tumbuhan bawah, berbagai macam flora pohon sebagai bagian dari penyusun hutan
lainnya dan fauna serta iklim mikro. Hutan

28
Putri. A. F. et al. 2021. Identifikasi Kerusakan Daun … (04): 28 - 35

terganggu secara fisiologis maka fungsi hutan dapat tumbuh dengan baik sebagai
akan ikut terganggu. Kerusakan tanaman permudaan buatan ialah yang mempunyai
secara fisiologis dapat menyebabkan tinggi 30-50 cm dengan memperhatikan jarak
terganggunya metabolisme sehingga tanam. Jarak tanam yang disarankan ialah 3 m
menyebabkan hail akhir dari sebuah proses setiap bibit dan memiliki jarak antar jalur 5-6 m.
fisiologis tanaman akan ikut berpengaruh Setelah penanaman, diperlukan pemeliharaan
seperti oksigen, tumbuh dan kembang sekitar 4-5 tahun hingga tanaman dewasa.
tanaman serta penyangga kehidupan Tanaman ini termasuk tanaman intoleran
mikroorganisme disekitarnya. Hal ini tentu saja sehingga memerlukan kondisi cahaya penuh
dalam kurun waktu yang Panjang akan yaitu pada tempat yang terbuka (Heyen, 1987).
dirasakan pengaruh secara langsung maupun
Keunggulan tanaman S. balangeran ialah
tidak langsung pada lingkungan dimana
walaupun tumbuh pada lahan rawa gambut
tanaman tersebut tumbuh.
tetapi kayunya dapat dimanfaatkan secara
Hutan rawa gambut banyak tersebar di komersil (Martawijata, et al., 1989). Kayu
Indonesia khususnya di Kalimantan, namun balangeran mempunyai berat jenis 0,86
sekarang ini hutan rawa gambut mengalami sehingga termasuk dalam kelas kuat kayu II
kerusakan akibat dari pembukaan wilayah dan kelas awet III (I-III), yang artinya tahan
hutan untuk berbagai kepentingan misalnya terhadap rayap/ pemakan kayu lainnya.
untuk wilayah perkebunan, perladangan, Kayunya pada saat proses pengeringan
pemukiman ditambah lagi dengan kebakaran cenderung tidak mengalami penyusutan kayu.
hutan dan lain sebagainya. Hutan rawa gambut Kayu Balangeran dapat digunakan sebagai
yang dibangun dengan perencanaan yang baik balok dan papan kayu untuk pembangunan
dapat memenuhi fungsi produksi, perlindungan lunas perahu, perumahan, jembatan serta
sehingga tercapai kestabilan lingkungan. tiang listrik (Heyne, 1987).
(Adinugroho, 2008).
Dalam menjaga kelestarian hutan yang
Tanaman Balangeran (Shorea balangeran) perlu diperhatikan ialah kesehatan hutan baik
ialah salah satu jenis spesies Meranti yang lingkungan maupun makhluk hidup
dapat tumbuh pada lahan rawa gambut. didalamnya. Sumardi dan Widyastuti (2007)
Tanaman ini juga termasuk dalam famili menyatakan kesehatan hutan ialah upaya
Dipterocarpaceae, tanaman ini tersebar dan memadukan berbagai macam pengetahuan
dapat ditemui di Pulau Sumatera (Bangka tentang dimulainya genetika organisme, lalu
Belitung) dan hampir di seluruh daerah membentuk dinamika populasi hingga terciptalah
Kalimantan. Balangeran memiliki nama lain ekosistem serta adanya penggangu tumbuhan
yang berbeda-beda di setiap daerah. Pada yang harus mempertimbangkan faktor
daerah Kalimantan, tanaman ini dikenal ekonomi sehingga resiko kerusakan tidak
dengan balangiran, kawi, kahoi sedangkan di menimbulkan kerugian yang berarti. Hutan
daerah Sumatera biasa disebut dengan belangir dapat dikatakan sehat bila ekosistem
atau melangir. Selain dapat tumbuh pada didalamnya dapat hidup dengan baik dan
daerah rawa gambut, tanaman ini dapat mampu menjalankan fungsinya, fungsi ini
tumbuh juga pada lahan terbuka hingga hutan berhubungan dengan kemampuan ketahanan
kerangas, yaitu hutan yang memiliki lahan dan adaptasi terhadap adanya gangguan
ekstrem dan rawan kebakaran dan memiliki ataupun perubahan yang berasal dari faktor
keasaman yang relatif tinggi.. Balangeran biotik dan faktor abiotik. Nurhamara, et al., (2001)
termasuk jenis fast growing species atau menyatakan bahwa tiga fungsi utama hutan
tanaman cepat tumbuh jika dibandingkan yaitu fungsi produksi, lindung, dan konservasi
dengan jenis tumbuhan rawa gambut lainnya. yang berkesinambungan dan terpenuhi dapat
memperlihatkan bahwa hutan itu termasuk
Balangeran dapat tumbuh dengan baik dan
sehat. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan
tersebar pada hutan primer tropis basah yang
kerusakan hutan ialah faktor internal dan faktor
mempunyai jenis tanah liat hingga tanah liat
eksternal dari hutan itu sendiri (Sumardi dan
berpasir pada ketinggian 0-100 mdpl (meter
Widyastuti, 2004) sehigga sangat diperlukan
diatas permukaan laut) dengan tipe curah
pemantauan kesehatan hutan untuk menjaga
hujan A hingga B (Hayne, 1987). Tanaman ini keberlangsungan hutan yang berdampak pada
hidup dan tumbuh secara berkelompok dan makhluk hidup.
mampu hidup dengan jenis yang heterogen
seperti jenis trembesi, ramin, keruing dan jenis Hama dapat diartikan sebagai semua
bintangur. Bibit tanaman Balangeran yang fauna, baik mikro maupun makro yang dapat

29
Jurnal Sylva Scienteae Volume. 04 No. 1 Edisi Februari 2021

menimbulkan kerusakan pada tanaman atau termasuk penyakit parasit.


tegakan maupun hasil hutan. Hama tanaman
b. Rontok
terdiri atas bermacam- macam makhluk hidup.
Menurut Tjahjadi (2011), hama ialah suatu Rontok ialah kondisi dimana bagian
organisme yang menyerang sebagian atau tanaman akan gugur, baisanya untuk
seluruh bagian tumbuhan sehingga mengurangi penguapan. Rontok dapat
mengganggu pertumbuhan dan dikatakan normal maupun bisa disebabkan
perkembangannya. Hama yang menyerang oleh penyakit jika berlebihan seperti penyakit
tumbuhan dapat berukuran besar seperti tikus, parasit, nonparasit maupun hama.
walang sangit, ulat hingga yang berukuran
c. Perubahan warna
sangat kecil seperti wereng, tungau dan rayap.
Menurut Beny Rahmanto, et al., (2016) Perubahan warna yang terjadi pada daun
penelitian hama di persemaian KHDTK dapat disebut kloris, yaitu daun yang awalnya
Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah berwarna hijau kemudian warna kuning atau
menunjukan bahwa hama ulat Ophiusa hijau pucat. Penyebab perubahan warna ini
triphaenoides menyerang bibit balangeran, dapat terjadi karena kekurangan cahaya
pada bagian pucuk dan daun muda tanaman. matahari sehingga klorofil tidak bekerja
Hama perusak hutan dan hasil hutan adalah dengan baik. Selain itu, perubahan warna juga
binatang-binatang yang termasuk dalam dapat terjadi dengan munculnya bercak pada
golongan serangga yang sering menyerang daun berwarna coklat karat ataupun ungu yang
tanaman balangeran. disebabkan oleh serangga penyakit.
Salah satu faktor yang menyebabkan d. Etiolasi
kerusakan hutan ialah penyakit tanaman.
Penyakit tanaman dapat diartikan sebagai Etiolasi dapat terjadi karena kekurangan
suatu penyimpangan atau perubahan dalam cahaya matahari sehingga pertumbuhan
bagian tanaman dari rangkaian proses tanaman mudah memanjang , batang kecil,
sehingga mengakibatkan hilangnya koordinasi pucat dan lemah. Tanaman yang terkena
dalam tubuh inang. Gangguan ini membuat etiolasi sangat mudah terserang penyakit
kemunduran aktivitas sel yang pada semai roboh, yaitu semai yang tidak dapat
visualisasinya ditunjukan oleh perubahan mempertahankan pertumbuhannya.
morfologi tanaman (Sumardi, 2004). Di dalam e. Kanker
hutan, penyakit bukan hanya dapat menyerang
satu individu pohon tetapi patogen dapat Kanker sering terjadi pada batang kayu
menyebar ke individu yang lain, terkhusus yang mempunyai luka sehingga batang akan
untuk tanaman yang ditanam sejenis. Tingkat menjadi rapuh dan mudah lepas kulit kayunya.
kesehatan pohon atau kelompok pohon, pada Kanker dapat bertahan lama dan semakin
setiap saat, pada dasarnya merupakan hasil besar karena dapat hidup pada semua musim.
akhir intraksi antara pohon dengan faktor Penyakit dapat terjadi karena beberapa
lingkungan biotik dan abiotik yang saling faktor, antara lain ialah gulma yang hidup pada
bereaksi. Pada kondisi tertentu intraksi dengan inang dan berkompetisi dengan tanaman
faktor- faktor lingkungan dapat menyebabkan pokok untuk memenuhi nutrisinya. Selain itu,
kerusakan pohon penyusun hutan dan banyak faktor abiotik dapat menimbulkan penyakit
diantaranya berupa kerusakan fisiologis. pada tanaman yang tidak disebabkan oleh
Munculnya kerusakan karena tanaman dan patogen atau makhluk hidup lainnya. Gejala
jaringan yang masih muda, penanaman yang dari penyakit abiotik tidak seperti penyakit
rapat, sejenis dan lingkungan yang lainnya, penyakit ini memiliki ciri-ciri khusus
mendukung, sehingga kerusakannya namun tidak mudah untuk dikenali.
menyebar sangat cepat, gejala penyakit
tanaman adalah sebagai berikut: Berdasarkan uraian di atas maka
pengetahuan mengenai kondisi kesehatan
a. Layu tanaman sangatlah penting dalam mendukung
Layu ialah kondisi dimana daun tanaman keberhasilan penanaman. Penulis tertarik
menjadi tidak tegap dan lemah. Layu dapat pada tanaman balangeran di Tumbang Nusa
disebabkan oleh kekurangan air maupun karena merupakan jenis asli tanaman rawa
musim yang kemarau. Layu dapat diatasi gambut dan daerah Tumbang Nusa
dengan menyiram tanaman dengan air yang merupakan rawa gambut yang pernah terjadi
cukup sehingga kelayuan seperti ini tidak kebakaran. Bekas kebakaran yang pernah
terjadi dapat berpengaruh terhadap tanaman

30
Putri. A. F. et al. 2021. Identifikasi Kerusakan Daun … (04): 28 - 35

dan kesehatan tanaman. Hal ini menjadi titik analisis secara deskriptif kualitatif dan di
penting dimana peneliti tertarik untuk meneliti tuangkan dalam bentuk tabel, grafik dan
kesehatan tanaman yang masuk kedalam gambar dan mengidentifikasi langsung dan
famili dipterocarpaceae, selain itu menurut memeriksa tanaman berdasar keaadan di
informasi dari BP2LHK tanaman balangeran lapangan.
tersebut belum pernah di survey kondisi
Menentukan persentase kerusakan
kesehatannya.
pada daun tanaman dihitung dengan rumus
(Abadi, 2003).
METODE PENELITIAN
Jumlah tanaman yang menderita
Penelitian ini dilaksanakan di areal KHDTK =
kerusakan pada daun
100 %
Tumbang Nusa BP2LHK Banjarbaru Jumlah seluruh tanaman
Kalimantan Selatan. Waktu penelitian ini
dilakukan selama kurang lebih 3 bulan, mulai
bulan Agustus sampai Desember 2019 yang
meliputi kegiatan pengambilan data, HASIL DAN PEMBAHASAN
pengolahan data dan penulisan laporan
penelitian.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini Identifikasi Kerusakan Tanaman
ialah Peta lokasi, tallysheet, Global Positioning Balangeran (Shorea balangeran)
System (GPS), kamera, kalkulator dan alat
tulis. Objek dalam penelitian ini adalah Pengamatan dilakukan pada tanaman
tanaman S. balangeran yang berumur 4 tahun balangeran sebanyak 639 yang ditanamam
yang ada di KHDTK Tumbang Nusa. sejak tahun 2015. Mengidentifikasi dan
menganalisis kerusakan yang terdapat pada
Lokasi penelitian ditentukan secara bagian daun secara kualitatif. Pengamatan
purposive sampling atau pengambilan data yang dilakukan yaitu untuk mengetahui
secara sengaja dengan starting point yang kerusakan akibat serangan hama dan penyakit
sudah di tentukan, mengamati tanaman tahun serta melihat tingkat keparahannya.
2015 sebanyak 639, mengidetifikasi tanaman
berdasarkan kerusakan pada bagian daun dan Jenis kerusakan yang terdapat pada bagian
menghitung besar persentase kerusakan S. daun yang teridentifikasi di lapangan adalah
balangeran. daun merlubang, menggulung dan menguning,
serta gabungan dari semua kerusakan tersebut
Data yang diperoleh diolah berdasarkan Gambar 1
rumusan yang sudah ditentukan kemudian di

(a) (b) (c)

Gambar 1. Daun S. belangeran (Keterangan: (a) Berlubang; (b) Menggulung; (c) Menguning)

Kerusakan yang paling dominan adalah kerusakan daun berlubang. Daun berlubang
daun berlubang sebanyak 348 kasus artinya artinya menunjukkan kehilangan bagian daun
lebih dari 50% tanaman tersebut mengalami secara fisik dan hal tersebut dapat mengurangi

31
Jurnal Sylva Scienteae Volume. 04 No. 1 Edisi Februari 2021

hasil fotosintesis. Jenis kerusakan lainnya adalah bentuk kerusakan karena Sebagian
adalah menggulung dan menguning kurang besar diakibatkan oleh hama yang
lebih 1-2%. Keruskan yang lain adalah memanfaatkannya sebagai habitat sementara
gabungan dari kerusakan utama yang diamati sedangkan menguning dapat disebabkan oleh
yaitu berlubang dan mennggulung serta srangan hama dan akibat lanjutan atau karena
menggulung dan menguning. Menggulung factor abiotic.

Tabel 1. Jenis Kerusakan pada Bagian Daun


No Jenis Kerusakan Jumlah Kasus
1 Berlubang 348
2 Menggulung 11
3 Menguning 10
4 Berlubang, Menggulung 49
5 Menggulung, Menguning 2

Ulat daun pada daun S. balangeran yang Kutu daun yang berumur dewasa
diduga menyebabkan daun menggulung. biasanya menyrrang pucuk tanaman daun S.
Diketahui bahwa ulat pada daun S. balangeran. Cairan pucuk tanaman biasanya
balangeran memakan seluruh jaringan daun akan dihisap sehingga pada pucuk daun
mulai dari bagian daun lunak sampai pada menjadi berkerut, mengering dan kemudian
urat daun dan tulang saja. Hama biasanya akan gugur. Apabila cairan pada pucuk daun
menyrrang pada musim awal hujan. Kondisi habis, maka kutu daun akan bepindah
cuaca pada daerah Tumbang Nusa memang menyerang daun yang lain yang masih bisa
sedang berada pada musim hujan dan panas dihisap cairannya. Serangan kutu daun terjadi
silih berganti. Hal ini yang menyebabkan semakin besar pada musim kemarau, seperti
hama pada tanaman S. balangeran semakin pada saat pengambilan data kelapangan
banyak, terbukti dengan ditemukanya kondisi pada pada musim kemarau, kemudian pada
pada daun tanaman S. balangeran berlubang musim hujan serangan sedikit berkurang
karena serangan hama. Daun berlubang pada karena kekuatan menghisap jadi berkurang,
tanaman tersebut sudah sangat tinggi maka yang disebabkan oleh kekuatan dari air hujan
perlu dilakukan pengendalian hama dengan yang dapat merontokan kutu daun yang
penyemprotan insektisida pada tanaman dan menempel pada daun tanaman tersebut. Hal
sekitarnya. tersebut sesuai dengan yang terjadi di lokasi
pengamatan, gejala serangan hama ini tidak
Belalang adalah salah satu anggota dari
begitu Nampak karena factor cuaca yang
ordo Orthoptera yang dikenal sebagai
tidak menentu dan kemungkinan jumlah
pemakan tumbuhan. Ordo ini memiliki mulut
hama ini tidak begitu banyak, sehingga jarang
bertipe penggigit dan pengunyah (Da Lopes,
ditemukan daun S. balangeran yang
2017) yang memudahkan memakan daun
menunjukan gejala serangan kutu daun.
pada tanaman. Belalang dapat memakan
Hama kutu daun putih biasanya menyerang
daun tanaman S. balangeran pada bagian
bagian pucuk sehingga pucuk yang diserang
tepi daun sampai tulang daun sehingga
menjadi keriting sehingga menjadi normal.
menimbulkan daun-daun berlubang,
kerusakan daun secara langsung akan Kerusakan yang ditimbulkan oleh oleh
mempengaruhi produktifitas tanaman yang jenis-jenis hama tanaman S. balangeran yang
diserang. Jika serangan yang terjadi pada masih tergolong rusak sedang namun
tanaman sangat parah maka daun tanaman sebaiknya hal tersebut jangan dibiarkan,
pada S. balangeran akan rusak bahkan habis apabila hal tersebut tidak diperhatikan secara
dimakan. Pada bagian daun yang teramati serius dan dibiarkan terus menerus maka
terlihat daun yang dimakan tidak hanya pada kemungkinan akibat yang ditimbulkan dapat
satu titik tetapi berpindah-pindah pada satu lebih parah bahkan sampai kematian
daun itu, seperti mencari bagian yang enak tanaman, hal ini dapat menjadi salah satu
untuk dimakan. Hal ini sependapat dengan fakor lingkungan yang mendukung untuk
Rahmanto dan lestari (2013), belalang hanya perkembangan hama-hama.
memakn Sebagian daun tidsk secara
menyeluruh.

32
Putri. A. F. et al. 2021. Identifikasi Kerusakan Daun … (04): 28 - 35

100%
82.86%
Persentase Kerusakan 80%

60%

40%

20% 2.61% 2.39% 11.66%


0,48%

0%
B G K B,G G,K
Jenis

Gambar 2. Grafik kerusakan pada daun


Keterangan:
B = Berlubang
G = Menggulung
K = Menguning
B,G = Berlubang, Menggulung
G,K = Menggulung, Menguning

Grafik diatas menggambarkan persentase yang paling dominan terjadi pada bagian
serangan yang ada pada bagian daun daun hal ini dikarenakan hampir keseluruhan
balangeran. Persentase tertinnggi didominasi tanaman daunnya terserang hama penyakit.
daun berlubang dengan jumlah persentasi Hama yang menyerang pada daun
sebesar 82,86% sedangkan persentase rendah balangeran menyebabkan daun menjadi
yaitu menggulung, menguning sebesar 0,48%. berlubang dan agak menguning hampir
Penyebab kerusakan pada S. balangeran yang seluruh bagian daun. Menurut Mulya (2019)
disebabkan oleh hama dapat disebabkan daun berlubang di karenakan adanya kontak
oleh penyakit juga. Penyakit yang dengan hama atapun penyakit biasanya
mengjangkit disebabkan oleh faktor biotik. hama yang menyerang daun merupakan ulat,
Seperti ulat kantong kecil (Pteroma
Daun berlubang dikarenakan adanya
plagiophleps) dan ulat kupu-kupu kuning
kontak dengan hama dan penyakit yang
(Eurema blanda).
menyerang bagian daun dan menyebabkan
daun berlubang hampir rusak seluruh bagian Daun menggulung atau daun yang saling
daun, hama yang menyeranag seperti ulat berlengketan satu sama lain, kondisi ini
dan belalang. Tingkat keparahan yang terjadi ditemukan pada seluruh bagian daun baik itu
berbeda- beda ada yang rusak sebagian daun muda maupun daun tua, kerusakan yang
ataupun seluruh bagian, ada yang daunnya ditimbulkan pada daun dapat mengganggu
berlubang 10% sampai 85%. Menurut pertumbuhan tanaman. Daun belangeran
Susilawati dan Naemah (2018) berdasarkan tersebut banyak dijumpai di lokasi ini walaupun
informasi yang didapat pada penelitian ini tidak sebanyak daun berlubang, pada bagian
mereka menyebut bahwa hama belalang yang menggulung terdapata lipatan kecil
merupakan salah satu penyebab daun ditengah daun, dimana didalamnya terdapat
berlubang dan di tandai adanya bekas gigitan serangga dan telur serangga yang akhirnya
dibagian daun yang terserang. Tanaman daun akan berwarna hitam dan hancur itulah
balangeran yang daunnya berlubang dapat yang membuat daun tersebut menggulung.
mengurangi proses respirasi pada tanaman. Daun keriting bisa di istilahkan seperti daun
menggulung hal ini sependapat dengan Danu
Berdasarkan identifikasi dilapangan
(2012) yang menyebutnya daun keriting atau
pendapat yang disampaikan diatas hampir
menggulung dapat disebabkan adanya hama
sama dengan yang saya jumpai dilapanagan
ulat, hama tersebut menghubungkan dua sisi
karena pada bagian dauan balangeran
daun sehingga menggulung seperti tabung
menunjukan adanya bekas gigitan, kerusakan

33
Jurnal Sylva Scienteae Volume. 04 No. 1 Edisi Februari 2021

yang panjang. Gulungan daun tersebut Daun menguning merupakan perubahan


digunakan sebagai tempat tinggal hama ulat. warna daun pada tanaman balangeran yang
Pada saat melakukan pengambilan data menunjukan adanya ketidakwajaran dimana
dilapangan hama ulat yang telah daun yang seharusnya berwarna hijau menjadi
menyebabkan daun menjadi menggulung berwarna kuning artinya tanaman tersebut
tersebut tidak ditemukan. Semangun (1999) diduga terserang penyakit atau kekurangan
dikutip oleh Mulya (2019) menyatakan bahwa unsur hara tanaman yang menyebakan
daun keriting dapat di artikan seperti dan berubahnya warna. Pracaya (2009)
menggulung dengan memiliki ciri-ciri seperti menyatakan bahwa daun dapat mengalami
daun berkerut, tepinya membelok keatas atau klorosis, yaitu daun yang mulanya berwarna
kebawah dan kadang-kadang seperti hijau cerah lalu berubah menjadi warna kuning
mangkuk, penyakit keriting ini bisa atau hijau redup. Klorosis disebabkan oleh
menyebebkan terhambatnya pertumbuhan tidak berfungsinya atau rusaknya klorofil atau
tanaman, adapun pengendalian yang dapat zat hijau daun.
dilakukan dengan cara penyemprotan
insektisida.

Tabel 2. Persentase kerusakan S. balangeran


Jenis Penyebab Kerusakan Jumlah %
Hama 230 35,99%
Balangeran Penyakit 39 6,10%
Hama dan Penyakit 136 21,28%

Berdasarkan hasil pada tabel dapat dilihat menggulung. Jenis kerusakan yang paling
pada kondisi tanaman balangeran yang dominan terjadi pada bagian daun yaitu
terserang hama sebanyak 230 tanaman berlubang.
dengan persentase 35,99% , terserang
Salah satu upaya untuk pencegahan dan
penyakit sebanyak 39 tanaman dengan
penanggulangannya yang dapat di lakukan
persentase 6,10%, yang terserang hama dan
pada tanaman S. balangeran yaitu mengingat
penyakit sebesar 136 dengan persentase
pentingnya tanaman shorea sebagai salah
21,28%. Table di atas membuktikan bahwa
satu tanaman yang mampu menyelamatkan
lebih banyaj yang terserang oleh hama dari
dunia, karena dapat mencegah pemanasan
pada penyakit karena persentase yang
global melalui penyerapan karbon (CO2).
diperoleh sangat jauh berbeda.
Tanaman shorea sangat diperlukan suatu
komunitas hutan yang terdiri dari individu
Perhitungan Persentase Kerusakan
pepohonan yang sehat yang tidak terserang
oleh hama dan penyakit dan yang tidak sehat.
=
Pencegahan serangan hama dan penyakit
Jumlah tanaman yang menderita pada tanaman sangat diperlukan untuk
kerusakan pada daun meminimalisir kondisi di lapangan yang
100 % nantinya menjadi tempat untuk berkembang
Jumlah seluruh tanaman
biak dan bergenerasi hama dan penyakit,
420
= 100 % sebaiknya harus dilakukan perbaikan kualitas
639 dan kuantitas tanaman. Cara yang dapat
P = 65,72% dilakukan ialah dengan melakukan perekaan
maupun pengujian terhadap tanaman yang
tahan atau resisten oleh serangan hama dan
Persentasi kerusakan daun pada tanaman penyakit.
balangeran menunjukan persentase 65,72%
bahwa pada daun tanaman belangeran yang
ada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus
(KHDTK) Tumbang Nusa Kalimantan Tengah
kurang baik. Hama dan penyakit yang terjadi
pada daun tanaman balangeran ini bermacam-
macam, ada daunya berlubang, menguning,

34
Putri. A. F. et al. 2021. Identifikasi Kerusakan Daun … (04): 28 - 35

KESIMPULAN DAN SARAN Mulya, N. S. 2019. Analisis Kesehatan


Tanaman Sengon Laut (Paraserientes
falcataria) dan Sengon Buto (Enterolobium
Kesimpulan dari penelitian menunjukkan cyciocarpum) di Persemaian. Skripsi.
bahwa kerusakan pada daun S. balangeran Banjarbaru: Fakultas Kehutanan
dominan daun berlubang sebanyak 348 kasus, Universitas Lambung Mangkurat
menguning 10 kasus, menggulung 11 kasus Banjarbaru.
dan 51 kasus gabungan. Persentase Nuhamara ST, Kasno, & Irawan US. 2001.
kerusakan daun secara keseluruhan sebesar Assessment on Damage Indicators in
65,72% hal ini menunjukan bahwa banyaknya Forrest Health Monitoring to Monitor
daun yang rusak pada S. balangeran y a n g Sistainability of Indonesia Tropical Rain
d a p a t d i s e b a b k a n karena hama dan Forrest. Bogor: JP: ITTO dan SEAMEO-
penyakit. BIOTROP. Volume II.
Peneliti menyarankan kepada pihak Nuhamara, S.T., Kasno & Irawan U.S. 2001.
KHDTK Tumbang Nusa agar melakukan Assessment on Damage Indicators in
pengecekan atau perawatan seperti Forest Health Monitoring to Monitor the
penyemprotan insektisida pada tanaman Sustainability of Indonesian Tropical Rain
balangeran dengan tahaun tanam 2015 karena Forest. Bogor: ITTO dan SEAMEO-
persentasi kesehatannya sangan rendah dan BIOTROP. Volume II.
intensitas kerusakan tanaman S. balangeran
yang masih tergolong rusak sedang namun Pracaya, 2009. Hama dan Penyakit Tanaman.
sebaiknya hal tersebut jangan dibiarkan, Jakarta: Penerbit Swadaya.
apabila hal tersebut tidak diperhatikan secara Susilawati & Naemah, Dina. 2018. Identifikasi
serius dan dibiarkan terus menerus maka Kesehatan Bibit Belangeran (Shorea
kemungkinan akibat yang ditimbulkan dapat belangeran) di Persemaian. Jurnal Hutan
lebih parah bahkan sampai kematian tanaman. Tropis, Vol. 6 No. 1.
Peneliti juga berharap agar adanya penelitian
lanjutan mengenai kesehatan tanaman Sumardi & Widyastuti. S. M. 2004. Dasar-
balangeran mengingat tanaman tersebut Dasar Perlindungan Hutan. Yogyakarta:
sudah mulai sulit di temui atau sudah langka. Gadjah Mada University Press.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, A. L. 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan III.


Malang: Bayumedia Publishing.
Adinugroho, W. C. 2008. Persepsi Mengenai
Tanaman Sehat. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.
Da Lopes Y, F. 2017. Pandungan Bergambar
Pengenalan Ordo Serangga Hama.
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan
Kering (MPLK). Kupang: Politeknik Negeri
Kupang.
Danu, Rina. K. 2012. Teknik Persemaian.
Bogor: Balai Penelitian Teknologi Tanaman
Hutan.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna
Indonesia Jilid II. Jakarta: Badan Litbang
Kehutanan.
Martawijaya, A., I. Kartasujana, K. Kadir, &
S.A. Prawira. 1989. Atlas Kayu Indonesia
Jilid I. Jakarta: Puslitbang Ditjen
Kehutanan.

35

Common questions

Didukung oleh AI

Tanaman S. balangeran termasuk tanaman intoleran yang memerlukan kondisi cahaya penuh untuk tumbuh optimal. Kekurangan cahaya dapat menghambat fotosintesis dan menyebabkan gejala seperti etiolasi yang membuat tanaman lemah dan mudah terserang penyakit .

Konservasi diintegrasikan ke dalam hutan produksi dengan menjaga keseimbangan antara fungsi produksi dan perlindungan. Penting untuk memelihara keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem dengan cara mengurangi pembukaan lahan yang berlebihan, pengendalian hama, serta pemeliharaan tanaman yang sehat untuk menjaga fungsi ekosistem dari gangguan .

Untuk mencapai pertumbuhan maksimal, tanaman S. balangeran memerlukan pemeliharaan selama 4-5 tahun setelah penanaman dengan jarak tanam 3 meter antar bibit. Pemeliharaan ini termasuk penyemprotan insektisida dan memastikan tanaman mendapatkan cahaya penuh .

Pencegahan dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida secara teratur, pemantauan kesehatan tanaman, dan penanaman varietas tanaman yang resisten terhadap serangan hama dan penyakit. Pemeliharaan lingkungan dengan kontrol biotik dan abiotik juga penting untuk mengurangi luka fisik yang dapat menarik serangan lanjut .

Kerusakan fisiologis tanaman dapat mengganggu metabolisme yang berarti hasil akhir dari proses fisiologis, seperti produksi oksigen, pertumbuhan, dan perkembangan tanaman, serta dukungan kehidupan mikroorganisme di sekitarnya, akan terpengaruh. Jika pohon yang merupakan penyusun utama hutan terganggu, maka fungsi hutan secara keseluruhan juga akan ikut terganggu .

Klorosis adalah kondisi ketika daun mengalami perubahan warna dari hijau menjadi kuning atau hijau pucat akibat tidak berfungsinya klorofil. Untuk mendiagnosis klorosis, Anda harus memerhatikan perubahan warna ini, terutama jika tanaman tidak mendapatkan cukup cahaya atau nutrisi yang diperlukan .

Penyebab utama kerusakan daun pada tanaman S. balangeran di kawasan KHDTK Tumbang Nusa adalah serangan hama dan penyakit yang menyebabkan daun berlubang dan mengalami klorosis. Hampir 65,72% dari tanaman mengalami kerusakan daun dengan kerusakan paling dominan adalah daun berlubang .

Hutan rawa gambut dapat menjaga stabilitas lingkungan dengan memberikan fungsi produksi dan perlindungan yang baik ketika direncanakan dengan benar, sehingga memastikan terpenuhinya konservasi. Namun, kerusakan sering disebabkan oleh kegiatan seperti pembukaan lahan untuk perkebunan, perladangan, dan pemukiman, ditambah dengan kebakaran hutan .

Hama dapat menyebabkan kerusakan fisik seperti daun berlubang dan keriting yang mengganggu aktivitas fisiologis tanaman, termasuk fotosintesis dan respirasi. Jika tidak dikendalikan, ini dapat memperlemah pertumbuhan tanaman, mengurangi produktivitas hutan secara keseluruhan, dan mengganggu fungsi ekosistem sebagai habitat .

Tanaman S. balangeran bermanfaat secara ekonomis karena kayunya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pembuatan balok, papan kayu, serta konstruksi lunas perahu, perumahan, dan jembatan, mengingat kayunya kuat meskipun tumbuh di lahan rawa gambut .

Anda mungkin juga menyukai