LAPORAN
PRAKTIKUM ILMU BAHAN DAN KOROSI
DISUSUN OLEH :
Nama : Karima Sahila (021200020)
Swastika Novitasiwi (021200058)
Salma Malya Sari (021200073)
Fakultas/Prodi : Teknik Industri/D3 Teknik kimia
Plug/Kelompok : B/4
Dosen pembimbing : Susanti Rina N,S.T., [Link].,
LABORATORIUM ILMU BAHAN DAN KOROSI
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA PROGRAM DIPLOMA TIGA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2022
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN
PRAKTIKUM PEMISAHAN DIFUSIONAL
Penyusun:
Kelompok : 4
Fakultas/Prodi/plug : Teknik Industri/D3 Teknik kimia/C
Dosen pembimbing : Susanti Rina N,S.T., [Link].,
Yogyakarta, 7 Januari 2022
koordinator kelompok 4
(Salma Malya Sari)
Mengetahui
Asisten laboratorium Asisten laboratorium Asisten laboratorium
(…………………..) (…………………..) (…………………..)
Menyetujui
Dosen pengampuh
Yuli Ristianigsih,S.T., [Link].,
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Utilitas dengan sebaik-baiknya
dan tepat waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan laporan praktikum ini adalah sebagai syarat
untuk menyelesaikan Tugas Mata Kuliah Praktikum. Selain itu pembuatan
Laporan Praktikum ini adalah sebagai bukti hasil jadi percobaan-percobaan yang
dilakukan saat praktikum dan untuka melengkapi tugas praktikum.
Penulisan laporan ini daidasarkan pada hasil percobaan yang dilakukan
selama praktikum secara literatur- literatur yang ada baik dari buku maupun
sumber lainnya.
Dengan ini, praktikum juga menyampaikan terimakasih kepada :
1. Orang tua yang telah memberikan dukungan akan adanya
praktikum ini.
2. Kepala Laboratorium yang telah mengizin kan ada nya praktikum
ini.
3. Asisten- asisten laboratorium
Laporan ini kami susun untuk memenuhi tugas Praktikum Utilitas
semester ganjil yaitu semester 3 D3 Teknik Kimia Universitaas Pembangunan
Nasional “Veteran” Yogyakarta.
Demikian laporan Praktikum Ilmu Bahan dan Kororsi yang telah kami
susun. Laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu sangat di
harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaannya.
Semoga laporan utilitasini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan juga
bermanfaat bagi kami selaku penilis
Yogyakarta, 7 Januari 2022
Penulis
iii
DAFTAR ISI
ACARA 1 KECEPATAN KOROSI LOGAM PADA LARUTAN ENCER ......... 5
ACARA 2 KECEPATAN KOROSI LOGAM PADA LARUTAN PEKAT ........ 18
ACARA 3 ELEKTROPLATING BESI DENGAN LOGAM SENG .................. 31
ACARA 4 ELEKTROPLATING BEI DENGAN LOGAM TEMBAGA............ 45
ACARA 5 PENGARUH INHIIBITOR TERHADAP KECEPATAN KOROSI.. 59
ACARA 6 KECEPATAN KOROSI PADA BERBAGAI KEADAAN ............... 72
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 95
LAMPIRAN ...................................................................................................... 96
iv
ACARA 1 KECEPATAN KOROSI LOGAM PADA LARUTAN ENCER
5
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Korosi telah menjadi kajian yang sangat menarik bagi ilmuwan,
karena keberadaannya dapat dikatakan sebagai musuh besar yang dapat
menimbulkan kerugian yang begitu banyaknya pada kehidupan manusia.
Institut Battelle pernah menaksir kerugian yang diderita oleh Amerika
Serikat akibat korosi mencapai 70 milyar dolar ( Avner, 1987).
Penelitian yang lain yang dilakukan di Inggris, diperkirakan 1 ton baja
berubah menjadi karat pada setiap 90 detik ( Allen, 1982). Sementara itu
perlindungan terhadap korosi membutuhkan biaya yang sangat mahal
(Editorial, 1980).
Karena adanya korosi ini maka setidaknya ada dua kerugian
yang ditimbulkan yaitu pemakaian sumber daya alam menjadi sangat
boros dan orang yang berada pada lingkungan yang bersifat korosi, juga
akan terganggu keamanan dan kenyamanan hidupnya. Contoh pertama,
pada tahun 1761 lambung kapal fregat HMS Alarm telah mengalami
kerusakan. Paku-paku besi yang digunakan untuk menempelkan lapisan
tembaga ke kayu telah lapuk. Dari penyelidikan yang dilakukan
menyimpulkan bahwa besi tidak boleh kontak langsung dengan tembaga
dilingkungan air (Trethewey & Chamberlain, 1988). Contoh kedua, pada
tahun 1985 atap kolam renang di Swiss yang baru berusia 13 tahun telah
roboh dan menewaskan 12 orang serta melukai banyak yang [Link]
diselidiki ternyata penyebab kecelakaan itu adalah baja nirkarat yang
menyangga atap beton bertulang terkena korosi sehingga keropos
(Windarta, 2014).
6
I.2 TUJUAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan yang bertujuan
untuk menentukan kecepatan korosi suatu benda logam dalam berbagai
larutan encer.
I.3 DASAR TEORI
Paku termasuk dalam golongan logam di mana sering digunakan
dalam bidang industri sejak lama sampai sekarang. Permasalahan utama
dari besi dan baja adalah korosi, karena korosi dapat menyebabkan
penurunan mutu (Trethewey, 1991) dan menyebabkan kerugian biaya.
Penurunan mutu dapat memendekkan umur dari baja. Korosi tidak dapat
dihilangkan namun dapat dicegah dengan memproteksi material dari
lingkungan. Kecepatan laju korosi dapat dihitung dengan metode
kehilangan berat dan dapat mengetahui ketahanan besi jika bereaksi
dengan lingkungan. Metode kehilangan berat adalah metode yang
digunakan pada logam untuk menentukan laju korosi yang
pengukurannya dengan membandingkan berat awal dan berat sesudah
dipasang pada suatu sistem dalam waktu tertentu (Ismail, 2010).
Korosi dapat didefinisikan sebagai kerusakan atau penurunan
kualitas suatu bahan terutama logam karena berinteraksi dengan
lingkungannya. Penurunan kualitas ini banyak memberikan kerugian,
salah satunya adalah umur pemakaian bahan menjadi lebih pendek
(Penyusun, 2021).
Menurut penyebabnya, korosi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
1. Korosi basah, korosi yang terjadi bila ada cairan, misalnya air udar
7
a lembab dan bahan kimia.
2. Korosi kering, korosi yang terjadi tanpa adanya fase cair atau terjad
i di atas titik embun dari lingkungan.
Menurut bentuknya korosi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Uniform attack, bentuk korosi karena reaksi kimia atau proses elekt
rokimia yang terjadi secara merata pada seluruh permukaan atau pa
da permukaan yang luas.
2. Korosi logam tak sejenis (korosi dwi logam), korosi yang diakibatk
an oleh dua logam tidak sejenis yang dihubungkan langsung di dala
m elektrolit.
3. Korosi celah, korosi yang terjadi karena adanya celah yang terdapat
pada suatu media korosif.
4. Korosi erosi, proses yang diakibatkan turbulensi atau olakan yang ti
dak terhindarkan karena fluida yang terpaksa mengalir di daerah ter
sebut.
Pengendalian korosi
Korosi tidak dapat dihindarkan, karena korosi adalah gejala yang
timbul secara alami yang dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi dapat
ditekan semaksimal mungkin dengan cara (Penyusun, 2021) :
1. Mengisolir permukaan logam dengan lapisan pelindung
i. Pelapisan dengan zat
ii. Pelapisan dengan logam
iii. Pelapisan dengan beton
iv. Pelapisan dengan plastik
2. Penggunaan zat penghambat korosi (corrosion inhibitor)
8
BAB II
PELAKSANAAN DAN PERCOBAAN
II.1 ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
1. Cup plastik, 4. Penjepit,
2. Gelas ukur, 5. Pengaduk.
3. Timbangan,
B. BAHAN
1. Larutan HCl, 4. Larutan KOH,
2. Larutan H2SO4, 5. Larutan NaCl.
3. Larutan NaOH, 6. Paku besi.
II.2 RANGKAIAN ALAT
(Gambar 1. II.2 Rangkaian Alat Uji Kecepatan Korosi)
Keterangan :
1. Cup plastik, 3. Paku besar/kecil.
2. Larutan penguji (KOH, NaOH, NaCl, HCl, H2SO4),
9
II.3 DIAGRAM ALIR
Menyiapkan alat dan bahan
Menghaluskan permukaan paku dengan amplas
Mengukur tinggi, diameter, dan berat paku
Larutan HCl,
H2SO4,
NaOH, KOH, Menuangkan masing-masing larutan ke cup
NaCl plastik
Paku besar Memasukkan paku besar dan paku kecil ke
& paku kecil larutan
Mendiamkannya selama 3
hari
Mengambil, membersihkan, menimbangnya,
dan mencatat berat pada paku setelah percobaan
(Gambar 2. II.3 Diagram Alir Proses Kecepatan Korosi Logam pada
Larutan Encer)
10
BAB III
HASIL DAN PERCOBAAN
III.1 DATA HASIL PERCOBAAN
1. Paku Besar
Diameter : 0,2 cm
Tinggi : 4 cm
2. Paku Kecil
Diameter : 0,1 cm
Tinggi : 2 cm
Tabel 1. III.1 Data Percobaan Kecepatan Korosi Logam pada Larutan Encer
Berat logam (gram)
Larutan T awal 72 jam 120 jam
No
encer Paku Paku Paku Paku Paku Paku
besar kecil besar kecil besar kecil
1 KOH 3,5 2,1 2,66 1.67 1,5 0,91
2 NaOH 3,5 2,1 2,64 1,64 1,5 0,91
3 NaCl 3,5 2,1 2,68 1,70 1,90 0,9
4 HCl 3,5 2,1 2,00 1,59 0,9 0,83
5 H2SO4 3,5 2,1 1,80 1,00 0,9 0,82
11
III.2 ANALISA PERHITUNGAN
A. Luas Permukaan (A)
i. Paku besar
A=2.π.r.t
= 2 . 3,14 . 0,1 cm . 4 cm = 2,512 cm2
ii. Paku kecil
A=2.π.r.t
= 2 . 3,14 . 0,05 cm . 2 cm = 0,628 cm2
B. Volume Paku (V)
i. Paku besar
V = 2 . π . r2 . t
= 2 . 3,14 . (0,1 cm)2 . 4 cm = 0,2512 cm3
ii. Paku kecil
V = 2 . π . r2 . t
= 2 . 3,14 . (0,05 cm)2 . 2 cm = 0,0314 cm3
C. Densitas Paku (ρ)
i. Paku besar
ρ = m/v = 3,5 gram / 0,2512 cm3 = 13,9331 gram/cm3
ii. Paku kecil
ρ = m/v = 2,1 gram / 0,0314 cm3 = 66,8790 gram/cm3
D. Kecepatan Korosi
Rumus : V (perubahan waktu) = =
12
i. Paku besar
Percobaan 1 Larutan Encer KOH
Vsetelah 72 jam = = 3,3333 x 10-4
cm/jam
Vsetelah 120 jam = = 4,7619 x 10-4
cm/jam
Dengan cara yang sama, maka diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 2. III.2 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Besar
No Larutan Uji Setelah 72 Jam (cm/jam) Setelah 120 Jam (cm/jam)
1 KOH 3,3333 x 10-4 4,7619 x 10-4
2 NaOH 3,4127 x 10-4 4,7619 x 10-4
3 NaCl 3,2540 x 10-4 3,8095 x 10-4
4 HCl 5,9524 x 10-4 6,1905 x 10-4
5 H2SO4 6,7460 x 10-4 6,1905 x 10-4
ii. Paku kecil
Percobaan 1 Larutan Encer KOH
Vsetelah 72 jam = = 1,4220 x 10-4
cm/jam
Vsetelah 120 jam = = 2,3611 x 10-4
cm/jam
Dengan cara yang sama, maka diperoleh data sebagai berikut :
13
Tabel 3. III.2 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Kecil
No Larutan Uji Setelah 72 Jam (cm/jam) Setelah 120 Jam (cm/jam)
1 KOH 1,4220 x 10-4 2,3611 x 10-4
2 NaOH 1,5212 x 10-4 2,3611 x 10-4
3 NaCl 1,3228 x 10-4 2,3810 x 10-4
4 HCl 1,6865 x 10-4 2,5198 x 10-4
5 H2SO4 3,6376 x 10-4 2,5397 x 10-4
III.3 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakuka percobaan yang bertujuan
untuk menentukan kecepatan korosi suatu benda logam dalam berbagai
larutan encer. Percobaan dilakukan dengan mengujikan paku besar dan
paku kecil ke dalam beberapa larutan yaitu larutan encer KOH, NaOH,
NaCl, HCl, dan H2SO4 yang kemudian didiamkan selama 3 hari untuk
mengamati perubahan pada paku berupa korosi.
Korosi adalah kerusakan atau penurunan nilai guna dari material
disebabkan oleh lingkungannya, secara kimia ataupun secara
elektrokimia. Jadi korosi bukan kerusakan material akibat pengaruh
mekanik secara langsung. Berdasarkan definisi diatas material akan
rusak atau mengalami korosi apabila bereaksi dengan lingkungannya.
Lingkungan sekeliling ini bisa berupa air, larutan asam, larutan basa,
larutan garam, udara dan sebagainya. Semua lingkungan pada dasarnya
bersifat korosif, pada udara yang kelihatan bersih inipun logam bisa
mengalami korosi. Perbedaan lingkungan satu dengan lainnya adalah
daya rusaknya terhadap material (Windarta, 2014).
Pada paku besar, kecepatan korosi yang dihasilkan dapat dilihat
pada tabel berikut :
14
Tabel 3. III.3 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Besar
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
-4
1 KOH 3,3333 x 10 4,7619 x 10-4
2 NaOH 3,4127 x 10-4 4,7619 x 10-4
3 NaCl 3,2540 x 10-4 3,8095 x 10-4
4 HCl 5,9524 x 10-4 6,1905 x 10-4
5 H2SO4 6,7460 x 10-4 6,1905 x 10-4
Pada paku kecil, kecepatan korosi yang dihasilkan dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 4. III.2 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Kecil
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
1 KOH 1,4220 x 10-4 2,3611 x 10-4
2 NaOH 1,5212 x 10-4 2,3611 x 10-4
3 NaCl 1,3228 x 10-4 2,3810 x 10-4
4 HCl 1,6865 x 10-4 2,5198 x 10-4
5 H2SO4 3,6376 x 10-4 2,5397 x 10-4
Dari kedua tabel data yang dihasilkan, dapat diketahui bahwa
asam sulfat atau H2SO4 encer memiliki nilai kecepatan korosi tercepat,
baik paku besar maupun paku kecil. Hal ini dikarenakan asam sulfat
merupakan senyawa elektrolit kuat, yang menunjukkan bahwa asam
sulfat merupakan media yang sangat korosif. Elektrolit kuat adalah suatu
larutan atau zat terlarut yang hampir sepenuhnya atau bahkan
sepenuhnya terionisasi atau terdisosiasi dalam suatu larutan. Ion-ion ini
adalah sekumpulan konduktor arus listrik yang baik dalam larutan.
15
Untuk larutan encer NaCl memiliki kecepatan korosi terkecil,
dikarenakan NaCl merupakan larutan garam yang menyebabkan korosi
dapat terjadi lebih stabil dan tidak terjadi perubahan yang signifikan.
16
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan uji kecepatan korosi
dalam berbagai larutan encer, dapat diambil kesimpulan bahwa :
Tabel 5. IV.1 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Besar
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
1 KOH 3,3333 x 10-4 4,7619 x 10-4
2 NaOH 3,4127 x 10-4 4,7619 x 10-4
3 NaCl 3,2540 x 10-4 3,8095 x 10-4
4 HCl 5,9524 x 10-4 6,1905 x 10-4
5 H2SO4 6,7460 x 10-4 6,1905 x 10-4
Tabel 6. IV.1 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Kecil
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
1 KOH 1,4220 x 10-4 2,3611 x 10-4
2 NaOH 1,5212 x 10-4 2,3611 x 10-4
3 NaCl 1,3228 x 10-4 2,3810 x 10-4
4 HCl 1,6865 x 10-4 2,5198 x 10-4
5 H2SO4 3,6376 x 10-4 2,5397 x 10-4
1. Larutan asam sulfat memiliki kecepatan korosi terbesar, Semakin lama per
endaman paku, semakin besar kecepatan korosi.
17
ACARA 2 KECEPATAN KOROSI LOGAM PADA LARUTAN PEKAT
18
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Korosi telah menjadi kajian yang sangat menarik bagi ilmuwan,
karena keberadaannya dapat dikatakan sebagai musuh besar yang dapat
menimbulkan kerugian yang begitu banyaknya pada kehidupan manusia.
Institut Battelle pernah menaksir kerugian yang diderita oleh Amerika
Serikat akibat korosi mencapai 70 milyar dolar ( Avner, 1987).
Penelitian yang lain yang dilakukan di Inggris, diperkirakan 1 ton baja
berubah menjadi karat pada setiap 90 detik ( Allen, 1982). Sementara itu
perlindungan terhadap korosi membutuhkan biaya yang sangat mahal
(Editorial, 1980).
Karena adanya korosi ini maka setidaknya ada dua kerugian
yang ditimbulkan yaitu pemakaian sumber daya alam menjadi sangat
boros dan orang yang berada pada lingkungan yang bersifat korosi, juga
akan terganggu keamanan dan kenyamanan hidupnya. Contoh pertama,
pada tahun 1761 lambung kapal fregat HMS Alarm telah mengalami
kerusakan. Paku-paku besi yang digunakan untuk menempelkan lapisan
tembaga ke kayu telah lapuk. Dari penyelidikan yang dilakukan
menyimpulkan bahwa besi tidak boleh kontak langsung dengan tembaga
dilingkungan air (Trethewey & Chamberlain, 1988). Contoh kedua, pada
tahun 1985 atap kolam renang di Swiss yang baru berusia 13 tahun telah
roboh dan menewaskan 12 orang serta melukai banyak yang [Link]
diselidiki ternyata penyebab kecelakaan itu adalah baja nirkarat yang
menyangga atap beton bertulang terkena korosi sehingga keropos
(Windarta, 2014).
19
I.2 TUJUAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan yang bertujuan
untuk menentukan kecepatan korosi suatu benda logam dalam berbagai
larutan pekat.
I.3 DASAR TEORI
Korosi dapat didefinisikan sebagai kerusakan atau penurunan
kualitas suatu bahan terutama logam karena berinteraksi dengan
lingkungannya. Penurunan kualitas ini banyak memberikan kerugian,
salah satunya adalah umur pemakaian bahan menjadi lebih pendek (Tim
Penyusun, 2021).Sebagian orang mengartikan korosi sebagai karat,
yakni sesuatu yang hampir dianggap sebagai musuh umum masyarakat.
Karat (rust) adalah sebutan yang belakangan ini hanya dikhususkan bagi
korosi pada besi, padahal korosi merupakan gejala destruktif yang
mempengaruhi hampir semua [Link] besi bukan logam
pertama yang dimanfaatkan oleh manusia, tidak perlu diingkari bahwa
logam itu paling banyak digunakan, dan karena itu, paling awal
menimbulkan masalah korosi serius. Karena itu tidak mengherankan bila
istilah korosi dan karat hampir dianggap sinonim (Chamberlain, 1991).
Korosi dapat digambarkan sebagai sel galvanik yang
mempunyai hubungan pendek dimana beberapa daerah permukaan
logam bertindak sebagai katoda dan lainnya sebagai anoda, dan
rangkaian listrik dilengkapi oleh aliran electron menuju besi itu sendiri.
Sel elektrokimia terbentuk pada bagian logam dimana terdapat pengotor
atau di daerah yang terkena tekanan (Oxtoby, dkk., 1999).
Menurut penyebabnya korosi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut (Tim Penyusun, 2021) :
1. Korosi basah, korosi yang terjadi bila ada cairan, misalnya air udar
20
a lembab dan bahan kimia.
2. Korosi kering, korosi yang terjadi tanpa adanya fase cair atau terjad
i di atas titik embun dari lingkungan.
Menurut bentuknya korosi dapat diklasifikasikan sebagai berikut
(Tim Penyusun, 2021) :
1. Uniform attack, bentuk korosi karena reaksi kimia atau proses elekt
rokimia yang terjadi secara merata pada seluruh permukaan atau pa
da permukaan yang luas.
2. Korosi logam tak sejenis (korosi dwi logam), korosi yang diakibatk
an oleh dua logam tidak sejenis yang dihubungkan langsung di dala
m elektrolit.
3. Korosi celah, korosi yang terjadi karena adanya celah yang terdapat
pada suatu media korosif.
4. Korosi erosi, proses yang diakibatkan turbulensi atau olakan yang ti
dak terhindarkan karena fluida yang terpaksa mengalir di daerah ter
sebut.
Pengendalian korosi
Korosi tidak dapat dihindarkan, karena korosi adalah gejala yang
timbul secara alami yang dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi dapat
ditekan semaksimal mungkin dengan cara (Tim Penyusun, 2021) :
1. Mengisolir permukaan logam dengan lapisan pelindung
a. Pelapisan dengan zat
b. Pelapisan dengan logam
c. Pelapisan dengan beton
d. Pelapisan dengan plastik
2. Penggunaan zat penghambat korosi (corrosion inhibitor)
21
BAB II
PELAKSANAAN DAN PERCOBAAN
II.1 ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
1. Gelas beker, 4. Timbangan,
2. Gelas ukur, 5. Penjepit,
3. Pengaduk, 6. Penggaris.
B. BAHAN
1. Larutan HCl, 4. Larutan KOH,
2. Larutan H2SO4, 5. Larutan NaC,.
3. Larutan NaOH, 6. Paku besi.
II.2 RANGKAIAN ALAT
(Gambar 1. Rangkaian Alat Korosi Logam pada Larutan Pekat)
Keterangan :
3. Gelas beker, 3. Paku besar/kecil.
4. Larutan penguji (KOH, NaOH, NaCl, HCl, H2SO4)
22
II.3 DIAGRAM ALIR
Menyiapkan alat dan bahan
Menghaluskan permukaan paku dengan amplas
Mengukur tinggi, diameter, dan berat paku
Larutan pekat
HCl, H2SO4,
NaOH, KOH, Menuangkan masing-masing larutan ke grlas
NaCl beker
Memasukkan paku besar dan paku kecil ke
Paku besar
& paku kecil larutan
Mendiamkannya selama 3
hari
Mengambil, membersihkan, menimbangnya,
dan mencatat berat pada paku setelah percobaan
(Gambar 2. Diagram Alir Kecepatan Korosi Logam pada Larutan Pekat)
23
BAB III
HASIL DAN PERCOBAAN
III.1 DATA HASIL PERCOBAAN
1. Paku besar
Diameter : 0,2 cm
Tinggi : 4 cm
2. Paku kecil
Diameter : 0,1 cm
Tinggi : 2 cm
Tabel 1. III.1 Data Percobaan Kecepatan Korosi Logam pada Larutan Pekat
Berat logam (gram)
Larutan T awal 72 jam 120 jam
No
pekat Paku Paku Paku Paku Paku Paku
besar kecil besar kecil besar kecil
1 KOH 3,3 2,1 1,45 0,94 1,26 0,92
2 NaOH 3,3 2,1 1,47 0,97 1,30 0,94
3 NaCl 3,3 2,1 1,42 0,92 1,56 0,90
4 HCl 3,3 2,1 1,40 0,90 1,52 0,89
5 H2SO4 3,3 2,1 1,28 0,89 1,50 0,87
24
III.2 ANALISA PERHITUNGAN
E. Luas Permukaan (A)
iii. Paku besar
A=2.π.r.t
= 2 . 3,14 . 0,1 cm . 4 cm = 2,512 cm2
iv. Paku kecil
A=2.π.r.t
= 2 . 3,14 . 0,05 cm . 2 cm = 0,628 cm2
F. Volume Paku (V)
iii. Paku besar
V = 2 . π . r2 . t
= 2 . 3,14 . (0,1 cm)2 . 4 cm = 0,2512 cm3
iv. Paku kecil
V = 2 . π . r2 . t
= 2 . 3,14 . (0,05 cm)2 . 2 cm = 0,0314 cm3
G. Densitas Paku (ρ)
iii. Paku besar
ρ = m/v = 3,3 gram / 0,2512 cm3 = 13,1369 gram/cm3
iv. Paku kecil
ρ = m/v = 2,1 gram / 0,0314 cm3 = 66,8790 gram/cm3
H. Kecepatan Korosi
Rumus : V (perubahan waktu) = =
25
iii. Paku besar
Percobaan 1 Larutan Encer KOH
Vsetelah 72 jam = = 7,7862 x 10-4
cm/jam
Vsetelah 120 jam = = 5,1515 x 10-4
cm/jam
Dengan cara yang sama, maka diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 2. III.2 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Besar
No Larutan Uji Setelah 72 Jam (cm/jam) Setelah 120 Jam (cm/jam)
1 KOH 7,7862 x 10-4 5,1515 x 10-4
2 NaOH 7,7020 x 10-4 5,0505 x 10-4
3 NaCl 7,9125 x 10-4 4,3940 x 10-4
4 HCl 7,9967 x 10-4 4,4950 x 10-4
5 H2SO4 8,5017 x 10-4 4,5455 x 10-4
iv. Paku kecil
Percobaan 1 Larutan Encer KOH
Vsetelah 72 jam = = 3,8360 x 10-4
cm/jam
Vsetelah 120 jam = = 2,3413 x 10-4
cm/jam
26
Dengan cara yang sama, maka diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 3. III.2 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Kecil
No Larutan Uji Setelah 72 Jam (cm/jam) Setelah 120 Jam (cm/jam)
1 KOH 3,8360 x 10-4 2,3413 x 10-4
2 NaOH 3,7368 x 10-4 2,3016 x 10-4
3 NaCl 3,9021 x 10-4 2,3810 x 10-4
4 HCl 3,9683 x 10-4 2,4008 x 10-4
5 H2SO4 4,0013 x 10-4 2,4405 x 10-4
III.3 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakuka percobaan yang bertujuan
untuk menentukan kecepatan korosi suatu benda logam dalam berbagai
larutan pekat. Percobaan dilakukan dengan mengujikan paku besar dan
paku kecil ke dalam beberapa larutan yaitu larutan pekat KOH, NaOH,
NaCl, HCl, dan H2SO4 yang kemudian didiamkan selama 3 hari untuk
mengamati perubahan pada paku berupa korosi.
Korosi adalah kerusakan atau penurunan nilai guna dari material
disebabkan oleh lingkungannya, secara kimia ataupun secara
elektrokimia. Jadi korosi bukan kerusakan material akibat pengaruh
mekanik secara langsung. Berdasarkan definisi diatas material akan
rusak atau mengalami korosi apabila bereaksi dengan lingkungannya.
Lingkungan sekeliling ini bisa berupa air, larutan asam, larutan basa,
larutan garam, udara dan sebagainya. Semua lingkungan pada dasarnya
bersifat korosif, pada udara yang kelihatan bersih inipun logam bisa
mengalami korosi. Perbedaan lingkungan satu dengan lainnya adalah
daya rusaknya terhadap material (Windarta, 2014).
27
Pada percobaan yang telah dilakukan, diketahui hasil untuk
pengujian korosi paku besar dan paku kecil terhdadap larutan pekat.
Untuk paku besar, dapat diketahui melalui data berikut :
Tabel 4. III.3 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Besar
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
-4
1 KOH 7,7862 x 10 5,1515 x 10-4
2 NaOH 7,7020 x 10-4 5,0505 x 10-4
3 NaCl 7,9125 x 10-4 4,3940 x 10-4
4 HCl 7,9967 x 10-4 4,4950 x 10-4
5 H2SO4 8,5017 x 10-4 4,5455 x 10-4
Sementara hasil percobaan pada paku kecil, dapat diketahui melalui data
berikut :
Tabel 5. III.3 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Kecil
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
1 KOH 3,8360 x 10-4 2,3413 x 10-4
2 NaOH 3,7368 x 10-4 2,3016 x 10-4
3 NaCl 3,9021 x 10-4 2,3810 x 10-4
4 HCl 3,9683 x 10-4 2,4008 x 10-4
5 H2SO4 4,0013 x 10-4 2,4405 x 10-4
Dari tabel, terlihat bahwa semakin lama proses pendiaman
dilakukan, semakin kecil pula kecepatan korosi terhadap paku besar
maupun paku kecil. Hal dikarenakan faktor lingkungan berupa
konsentrasi larutan, di mana kandungan oksigen akan memengaruhi
kecepatan korosi yang terjadi. Dalam percobaan ini digunakan
28
konsentrasi larutan pekat, di mana Fe (besi) akan sukar larut dalam
larutan pekat.
Tingkat kecepatan korosi tertinggi pada larutan H2SO4 yang
merupaka asam mineral kuat atau wlwktrolit kuat. Logam setelah
terendam asam sulfat kemudian berada pada permukaan atau
bersentuhan dengan udara (oksigen) akan lebih cepat mengalami korosi
daripada larutan lainnya.
Faktor-faktor yang memengaruhi korosi, yaitu (Ruang Guru,
2017)
1. Air dan kelembaban udara, udara lembab dengan kandungan uap
air yang banyak akan mempercepat proses korosi
2. Elektrolit, media yang baik untuk terjadinya transfer muatan yang
mengakibatkan elektron mudah diikat oleh oksigen
3. Permukaan logam yang tidak rata, memudahkan terjadinya kutub-
kutub muatan yang berperan sebagai anode dan katode
4. Terbentuknya sel elektrokimia, akibat logam yang berbeda potens
ial bersinggungan pada lingkungan lembab atau berair. Logam de
ngan potensial rendah akan melepas elektron ketika bersentuhan d
engan logam berpotensial tinggi, serta mengalami oksidasi oleh o
ksigen. Hal ini mengakibatkan proses korosi lebih cepat tejadi pad
a logam dengan potensial rendah.
29
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan uji kecepatan
korosi dalam berbagai larutan pekat, dapat diambil kesimpulan bahwa :
Tabel 1. IV.1 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Besar
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
1 KOH 7,7862 x 10-4 5,1515 x 10-4
2 NaOH 7,7020 x 10-4 5,0505 x 10-4
3 NaCl 7,9125 x 10-4 4,3940 x 10-4
4 HCl 7,9967 x 10-4 4,4950 x 10-4
5 H2SO4 8,5017 x 10-4 4,5455 x 10-4
Tabel 2. IV.1 Data Perhitungan Kecepatan Korosi Paku Kecil
Setelah 72 Jam Setelah 120 Jam
No Larutan Uji
(cm/jam) (cm/jam)
1 KOH 3,8360 x 10-4 2,3413 x 10-4
2 NaOH 3,7368 x 10-4 2,3016 x 10-4
3 NaCl 3,9021 x 10-4 2,3810 x 10-4
4 HCl 3,9683 x 10-4 2,4008 x 10-4
5 H2SO4 4,0013 x 10-4 2,4405 x 10-4
1. Larutan asam sulfat (H2SO4) memiliki kecepatan korosi terbesar Konsentr
asi larutan apabila semakin pekat maka kecepatan korosi akan semakin kec
il
-
30
ACARA 3 ELEKTROPLATING BESI DENGAN LOGAM SENG
31
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Seiring berkembangnya zaman khususnya dunia industri tidak
terlepas dari penggunaan baja sebagai bahan konstruksi. Terlebih pada
industri perminyakan dan gas dengan jaringan pipa terbuat dari logam
tersebut. Pada umumnya baja yang dipergunakan ialah baja karbon
rendah. Hal ini disebabkan karena baja karbon memiliki sifat mekanik
yang baik dan juga harga ekonomis. (Nabhani, 2007) . Baja karbon
rendah rentan terhadap korosi di lingkungan udara, air, atau tanah.
Korosi ini terjadi karena baja melepaskan elektron sehingga
menyebabkan baja menjadi teroksidasi. Baja yang teroksidasi menjadi
lemah dan rapuh, dan tidak bisa menahan beban yang seharusnya
ditanggung oleh suatu struktur baja,oleh karena itu korosi dapat
mengurangi kekuatan struktur baja karbon rendah seperti pipa. Akan
tetapi baja karbon rendah dapat dilindungi dari korosi dengan pelapisan
(coating) (Kiefner, 2001).
Pelapisan baja menggunakan logam dapat dilakukan dengan
berbagai metoda salah satunya yaitu electroplating atau juga dikenal
dengan pencelupan dingin. Pelapisan ini menggunakan arus listrik
searah. Dengan cara kerja yang mirip elektrolisa, di mana logam pelapis
seng bertindak sebagai anoda sedangkan logam dasar (spesimen)
sebagai katoda (Yerikho, 2013). Selain tampilan hasil pelapisan,
terdapat faktor dalam memilih elektroplating seperti ketahanan dan
perlindungan terhadap korosi. Karena pada kondisi tertentu, ketahanan
terhadap korosi adalah hal utama (Edward, 1983). Pelapisan yang
dimaksud ialah surface coating (pelapisan permukaan) yaitu proses
mengubah permukaan material dalam mencapai sifat seperti kekerasan
32
yang tinggi, ketahanan aus, ketahanan suhu tinggi dan ketahanan korosi,
tanpa ada perubahan yang signifikan terhadap karakteristik pada struktur
(Yanuar Dwi Prasetyo, 2016).
Elektroplating merupakan salah satu bentuk surface coating
(pelapisan permukaan yang menghasilkan lapisan yang padat, homogen
dan lekat berupa logam atau paduan yang melekat pada permukaan
dengan menggunakan arus listrik. Lapisan yang dihasilkan biasanya
untuk tujuan dekoratif, pelindung serta meningkatkan sifat secara
spesifik pada permukaan. Permukaan yang terbentuk berupa konduktor
seperti logam atau non konduktor seperti plastik. Bagian inti dari proses
electroplating ialah sel elektrolit (elektroplating unit). Pada sel elektrolit
(electroplating unit), arus melewati bath yang mengandung elektrolit,
anoda dan katoda. Selain itu, dalam industri produksi tahap pre-
treatment dan post-treatment biasanya diperlukan juga (Lou,2006).
Seng merupakan logam yang sering digunakan untuk melapisi
logam lain, salah satunya baja karbon rendah. Aplikasi seng pada
pelapisan logam, khususnya baja, dimanfaatkan sebagai sacrificial
anode. Sifat perlindungan sacrificial ini dapat diartikan bahwa lapisan
seng bersifat anodis terhadap logam [Link] ada pori-pori
yang terjadi pada lapisan, karena logam pelapis lebih reaktif terhadap
lingkungan dari pada logam dasar (Fe) maka reaksi pada logam dasar
tidak berlangsung. Dari segi biaya produksi, pelapisan seng relatif lebih
rendah dibandingkan dengan logam lain yang dapat dipakai untuk
melindungi baja atau besi dari serangan korosi yaitu cadnium (Cd),
Cupper (Cu), dan chromium (Cr). Dari beberapa karakteristik dan sifat
pelapisan seng dengan metoda electroplating, sifat perlindungan
sacrificial yang baik dan biaya produksi yang relatif murah, hal tersebut
mendorong pelapisan seng banyak digunakan secara komersil (Yerikho,
2013).
33
I.2 TUJUAN
Pada praktikum kali ini melalkukan percobaan yang bertujuan
untuk mengetahui proses melapisi logam yang mudah korosi dengan
logam yang tidak mudah korosi. Dilapisi dengan logam seng (Zn).
I.3 DASAR TEORI
Korosi tidak mungkin dihindarkan atau dicegah, yang bisa
dilakukan hanyalah upaya pengendalian korosi, dalam arti usaha untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya atau menghambat lajunya.
Sebagian besar korosi logam merupakan suatu gejala galvanik, dimana
dalam bahan terdapat bagian-bagian yang dapat berlaku sebagai anoda
dan katoda. Karena itu pengendalian korosi dapat dilakukan dengan cara
(Tim Penyusun, 2021) :
1. Memberi lapisan pelindung
2. Menghindarkan terjadinya pasangan galvanik
3. Mengadakan proteksi galvanik
4. Pengaturan desain
Lapisan pelindung
Memberi lapisan pelindung merupakan cara untuk pengendalian
korosi yang bisa diterapkan. Lapisan pelindung mengisolir logam di
bawahnya terhadap elektrolit yang bisa menyebabkan korosi. Terdapat
beberapa macam bahan yang dapat dipakai untuk lapisan pelindung,
diantaranya adalah minyak atau gemuk, cat, logam, dan keramik.
Perkakas yang digantungkan di bengkel-bengkel atau yang akan
dikemas untuk dikirimkan, diolesi dengan minyak atau gemuk supaya
tidak mudah berkarat (Tim Penyusun, 2021).
34
Baja yang dilapisi logam yang lebih anodik daripada besi, tidak
akan terkorosi selama logam pelapisnya masih ada. Pelapisan logam
dilakukan dengan cara pencelupan di dalam logam cair, proses ini
disebut juga galvanisasi. Email (enamel) merupakan lapisan jenis
keramik yang berupa serbuk yang dicairkan, lapisan pada peralatan
dapur yang terbuat dari logam. Lapisan email keras, tahan suhu tinggi,
tahan terhadap bahan-bahan kimia, akan tetapi lapisan ini rapuh. Batas
keampukan lapisan pelindung. Ditentukan oleh perilakunya selama
pemakaian (Tim Penyusun, 2021).
Lapisan atau selaput tipis yang bisa berfungsi sebagai pelindung
adalah oksida dari aluminium, titanium, dan khrom. Baja tahan karat
mengandung khrom, maka dapat mengalami pasivasi selama bagian
lapisan pelindung nya masih ada. Bila kondisi pemakaian berubah
sehingga lapisan pelindung nya rusak, maka korosi akan terjadi (Tim
Penyusun, 2021).
Sifat-sifat ideal bahan pelapis dari logam ini dapat diringkas
sebagai berikut (Tim Penyusun, 2021) :
1. Logam pelapis harus lebih tahan terhadap serangan lingkungan di
bandingkan dengan logam yang dilindungi.
2. Logam pelapis tidak boleh memicu korosi pada logam yang dilind
ungi seandainya mengalami goresan atau pecah permukaannya.
3. Sifat-sifat fisik seperti kelenturan dan kekerasannya harus cukup
memenuhi persyaratan operasional struktur atau komponen bersan
gkutan.
4. Metode pelapisannya harus bersesuaian dengan proses fabrikasi y
ang digunakan untuk membuat produk akhir.
5. Tebal lapisan harus merata dan bebas pori-pori.
35
Tahapan tahapan paling penting sebelum suatu logam menjalani
proses pelapisan adalah tahapan persiapan, yaitu (Tim Penyusun, 2021) :
1. Membuang semua kotoran yang masih menempel pada logam yan
g akan dilapisi seperti gemuk, minyak, debu, dan serpihan dari pr
oses produksi.
2. Membuang produk-produk korosi yang sudah terbentuk pada per
mukaan logam yang akan dilapisi.
3. Mengatur karakteristik fisik permukaan.
Cara paling mudah dan sederhana untuk membuang kotoran-
kotoran pada logam adalah dengan mencelupkannya ke bak berisi
pelarut seperti aseton, trikloroetilen, karbon tetraklorida, atau benzen
pada temperatur kamar (Tim Penyusun, 2021).
Metode-metode pelapisan (Tim Penyusun, 2021) :
1. Elektroplating
2. Pencelupan panas
3. Pelapisan dengan penyemprotan
4. Pelapisan dengan penempelan
5. Pelapisan difusi
Elektroplating
Dalam metode ini, komponen bersama dengan batangan atau
lempengan logam yang akan dilapisi direndam dalam suatu larutan
elektrolit yang mengandung garam-garam logam pelapis (plating metal).
Apabila suatu potensial listrik yang diberikan ke dalam sel itu sehingga
komponen menjadi katoda dan batangan atau lempengan logam pelapis
menjadi anoda, ion-ion logam pelapis dari larutan akan mengendap ke
36
permukaan komponen, sementara dari anoda, ion-ion juga terus terlarut
(Tim Penyusun, 2021).
Dengan larutan-larutan dan anoda-anoda yang diformulasikan
dengan tepat, kita dapat menyepuh bukan saja logam yang murni, tetapi
juga logam-logam paduan (alloy). Ditangan mereka yang ahli, ketebalan
lapisan dapat dikendalikan dengan baik, demikian juga kehalusan
ukuran butirannya, sehingga lapisan kemungkinan besar bisa bebas dari
porositas. Dalam metode ini, kita mengenal istilah throwing power yang
diartikan dengan kemampuan larutan pelapis untuk menghasilkan
lapisan dengan ketebalan merata tertentu sejalan dengan terus
berubahnya jarak antara anoda dan permukaan komponen selama proses
pelapisan berjalan (Tim Penyusun, 2021).
Khrom memiliki throwing power yang buruk, sehingga
memerlukan seperangkat anoda yang disusun secara rumit agar
ketebalan lapisan merata, khususnya pada permukaan melengkung,
meliuk-liuk, atau lubang-lubang buntu. Perapuhan hidrogen dapat terjadi
selama pelapisan, karena itu, komponen mungkin harus menjalani
proses pasca pelapisan berupa pemanasan untuk mendifusikan hidrogen
dan mencegah retaknya logam yang dilindungi (Tim Penyusun, 2021).
BAB II
PELAKSANAAN DAN PERCOBAAN
II.1 ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
1. Gelas beker, 4. Alat penyepuh,
37
2. Logam besi (paku), 5. Katup-katup listrik.
3. Logam seng,
B. BAHAN
1. Larutan ZnSO4.
II.2 RANGKAIAN ALAT
4 5
(Gambar 1. II.2 Rangkaian Alat Elektroplating Besi dengan Logam
Seng)
Keterangan :
1. Katup katoda, 4. Lempengan seng,
2. Larutan ZnSO4 5. Paku,
3. Katup anoda,
38
II.3 DIAGRAM ALIR
Menyiapkan alat dan bahan
Mengukur diameter dan panjang logam besi
Menimbang logam besi
Logam
seng Memasang katoda dan anoda pada sumber
arus
Logam Memasukkan katoda dan anoda ke dalam
besi larutan ZnSO4
Larutan Mengatur tegangan pada sumber arus sebesar
6 Volt
ZnSO4
Mematikan tegangan dan menimbang logam
besi yang disepuh
Mengulangi prosedur dengan tegangan listrik
berbeda (9 dan 12 Volt)
(Gambar 2. II.3 Diagram Alir Elektroplating Besi dengan Logam Seng)
39
BAB III
HASIL DAN PERCOBAAN
III.1 DATA HASIL PERCOBAAN
Panjang paku : 8,5 cm
Diameter paku : 0,4 cm
Berat awal : 9,40 gram
Berat jenis seng : 7,135 gram/cm3
Tabel 1. III.1 Data Hasil Pengamatan
Berat Logam (gram) Waktu
No Tegangan (volt)
Awal akhir (menit)
1 6 9,40 9,42 5
2 9 9,40 9,45 10
3 12 9,40 9,47 15
III.2 ANALISA PERHITUNGAN
Luas permukaan paku
A = 2. π. r2 + 2. π . r. t
= 2 . 3,14 . (0,2)2 + 2 . 3,14 . (0,2) . 8,5
= 10,93 cm
40
Selisih berat
ΔW = W akhir - W awal
1. Tegangan 6 V
ΔW = 9,42 - 9,40 = 0,02 gram
2. Tegangan 9 V
ΔW = 9,45 - 9,40 = 0,05 gram
3. Tegangan 12 V
ΔW = 9,47 - 9,40 = 0,7 gram
Ketebalan
Ketebalan = /A
1. Tegangan 6 V
Ketebalan = / 10,93 cm2 = 0,00026 cm
2. Tegangan 9 V
Ketebalan = / 10,93 cm2 = 0,00064 cm
3. Tegangan 12 V
Ketebalan = / 10,93 cm2 = 0,00090 cm
III.3 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan yang bertujuan
untuk mengetahui proses melapisi logam yang mudah korosi dengan
logam yang tidak mudah korosi, dengan logam seng (Zn) sebagai
pelapisnya.
41
Korosi adalah adalah kerusakan atau kehancuran material akibat
adanya reaksi kimia di sekitar lingkungannya. Secara umum, korosi
dibedakan menjadi korosi basah dan korosi kering. Korosi disebabkan
adanya faktor kimia fisika, metalurgi, elektrokimia dan termodinamika.
Proses yang dilakukan yaitu elektroplating atau penyepuhan,
merupakan salah satu proses pelapisan bahan padat dengan lapisan
logam menggunakan arus listrik searah melalui suatu larutan elektrolit.
Dalam metode ini, komponen bersama dengan batangan atau lempengan
logam yang akan dilapisi direndam dalam larutan elektrolit yaitu ZnSO 4.
Penggunaan larutan ini dikarenakan ZnSO4 mengandung garam-garam
logam pelapis (plating metal).Dari percobaan, diperoleh hasilnya seperti
data berikut :
Tabel 2. III.3 Data Hasil Pengamatan
Tegangan Berat Logam (gram) Waktu Ketebalan
No
(volt) awal Akhir (menit) (cm)
1 6 9,40 9,42 5 0,00026
2 9 9,40 9,45 10 0,00064
3 12 9,40 9,47 15 0,00090
Dari tabel hasil percobaan, didapatkan perbedaan pada ketebalan
yang melapisi logam. Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu
1. Potensial dan arus yang diberikan
2. Suhu
3. Kerapatan arus
4. Konsentrasi ion
5. Waktu
42
Semakin besar tegangan yang diberikan, semakin lama pula waktu
selama proses pelapisan, semakin tebal pula lapisan yang melapisi
logam percobaan. Hal ini disebabkan karena adanya throwing power,
yaitu kemampuan larutan pelapis untuk menghasilkan lapisan dengan
ketebalan merata tertentu sejalan dengan terus berubahnya jarak antara
anoda dan permukaan komponen selama proses.
43
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan yang bertujuan
untuk mengetahui proses pelapisan besi dengan logam seng, dapat
diambil kesimpulan bahwa :
1. Data hasil percobaan sebagai berikut :
Tabel 1. IV.1 Data Hasil Pengamatan
Berat Logam Diameter
Tegangan Waktu ρ Zn Ketebalan
No (gram) Paku
(volt) (menit) (gr/cm3) (cm)
awal akhir (cm)
1 6 9,40 9,42 5 0,4 7,135 0,00026
2 9 9,40 9,45 10 0,4 7,135 0,00064
3 12 9,40 9,47 15 0,4 7,135 0,00090
2. Semakin lama waktu proses elektroplating, semakin tinggi
tegangan yang diberikan, semakin besar pula ketebalan penyepuhan
pada logam yang diujikan.
3. Ketebalan lapisan deposit mempengaruhi lama tidaknya baja
terlindungi dari korosi
44
ACARA 4 ELEKTROPLATING BEI DENGAN LOGAM TEMBAGA
45
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Logam adalah unsur kimia yang siap membentuk ion (kation)
dan memiliki ikatan logam. Logam merupakan salah satu dari tiga
kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan, bersama
dengan metaloid dan nonlogam. Memiliki sifat yang dapat ditempa dan
diubah bentuk, penghantar panas dan listrik, keras terhadap goresan;
potongan; keausan, tahan patah bila dibentang, kuat terhadap benturan,
dapat ditarik (Dosenpendidikan : 2021).
Salah satu permasahalan logam untuk industri yaitu korosi.
Korosi merupakan kerusakan atau degradasi dari material akibat reaksi
reduksioksidasi (redoks) antara bahan dengan berbagai zat yang ada di
lingkungan sehingga menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.
Berbagai macam cara digunakan untuk mencegah terjadinya korosi.
Salah satu tekniknya adalah dengan melapisi logam dengan bahan yang
tidak mudah korosi (Fitri Hardiyati dan Mochammad Yusuf Santoso :
2018).
I.2 TUJUAN
Melapisi logam yang mudah korosi dengan logam yang tidak
mudah korosi. Dilapisi dengan logam tembaga (Cu).
46
I.3 DASAR TEORI
Korosi tidak mungkin dihindarkan atau dicegah, yang bisa
dilakukan hanyalah upaya pengendalian korosi, dalam arti usaha untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya atau menghambat lajunya.
Sebagian besar korosi logam merupakan suatu gejala galvanik, dimana
dalam bahan terdapat bagian-bagian yang dapat berlaku sebagai anoda
dan katoda. Karena itu pengendalian korosi dapat dilakukan dengan
cara:
1. Memberi lapisan pelindung
2. Menghindarkan terjadinya pasangan galvanik
3. Mengadakan proteksi galvanik
4. Pengaturan desain
Lapisan pelindung
Memberi lapisan pelindung merupakan cara untuk pengendalian
korosi yang bisa diterapkan. Lapisan pelindung mengisolir logam di
bawahnya terhadap elektrolit yang bisa menyebabkan korosi. Terdapat
beberapa macam bahan yang dapat dipakai untuk lapisan pelindung,
diantaranya adalah minyak atau gemuk, cat, logam, dan keramik.
Perkakas yang digantungkan di bengkel-bengkel atau yang akan
dikemas untuk dikirimkan, diolesi dengan minyak atau gemuk supaya
tidak mudah berkarat.
Baja yang dilapisi logam yang lebih anodik daripada besi, tidak
akan terkorosi selama logam pelapisnya masih ada. Pelapisan logam
dilakukan dengan cara pencelupan di dalam logam cair, proses ini
47
disebut juga galvanisasi. Email (enamel) merupakan lapisan jenis
keramik yang berupa serbuk yang dicairkan, lapisan pada peralatan
dapur yang terbuat dari logam. Lapisan email keras, tahan suhu tinggi,
tahan terhadap bahan-bahan kimia, akan tetapi lapisan ini rapuh. Batas
keampukan lapisan pelindung. Ditentukan oleh perilakunya selama
pemakaian.
Lapisan atau selaput tipis yang bisa berfungsi sebagai pelindung
adalah oksida dari aluminium, titanium, dan khrom. Baja tahan karat
mengandung khrom, maka dapat mengalami pasivasi selama bagian
lapisan pelindung nya masih ada. Bila kondisi pemakaian berubah
sehingga lapisan pelindung nya rusak, maka korosi akan terjadi.
Sifat-sifat ideal bahan pelapis dari logam ini dapat diringkas
sebagai berikut:
1. Logam pelapis harus lebih tahan terhadap serangan lingkungan d
ibandingkan dengan logam yang dilindungi.
2. Logam pelapis tidak boleh memicu korosi pada logam yang dili
ndungi seandainya mengalami goresan atau pecah permukaanny
a.
3. Sifat-sifat fisik seperti kelenturan dan kekerasannya harus cukup
memenuhi persyaratan operasional struktur atau komponen bers
angkutan.
4. Metode pelapisannya harus bersesuaian dengan proses fabrikasi
yang digunakan untuk membuat produk akhir.
5. Tebal lapisan harus merata dan bebas pori-pori.
Tahapan tahapan paling penting sebelum suatu logam menjalani
proses pelapisan adalah tahapan persiapan, yaitu:
1. Membuang semua kotoran yang masih menempel pada logam ya
48
ng akan dilapisi seperti gemuk, minyak, debu, dan serpihan dari
proses produksi.
2. Membuang produk-produk korosi yang sudah terbentuk pada pe
rmukaan logam yang akan dilapisi.
3. Mengatur karakteristik fisik permukaan.
Cara paling mudah dan sederhana untuk membuang kotoran-
kotoran pada logam adalah dengan mencelupkannya ke bak berisi
pelarut seperti aseton, trikloroetilen, karbon tetraklorida, atau benzen
pada temperatur kamar. Metode-metode pelapisan :
1. Elektroplating
2. Pencelupan panas
3. Pelapisan dengan penyemprotan
4. Pelapisan dengan penempelan
5. Pelapisan difusi.
Elektroplating
Dalam metode ini, komponen bersama dengan batangan atau
lempengan logam yang akan dilapisi direndam dalam suatu larutan
elektrolit yang mengandung garam-garam logam pelapis (plating metal).
Apabila suatu potensial listrik yang diberikan ke dalam sel itu sehingga
komponen menjadi katoda dan batangan atau lempengan logam pelapis
menjadi anoda, ion-ion logam pelapis dari larutan akan mengendap ke
permukaan komponen, sementara dari anoda, ion-ion juga terus terlarut.
Dengan larutan-larutan dan anoda-anoda yang diformulasikan
dengan tepat, kita dapat menyepuh bukan saja logam yang murni, tetapi
juga logam-logam paduan (alloy). Ditangan mereka yang ahli, ketebalan
49
lapisan dapat dikendalikan dengan baik, demikian juga kehalusan
ukuran butirannya, sehingga lapisan kemungkinan besar bisa bebas dari
porositas. Dalam metode ini, kita mengenal istilah throwing power yang
diartikan dengan kemampuan larutan pelapis untuk menghasilkan
lapisan dengan ketebalan merata tertentu sejalan dengan terus
berubahnya jarak antara anoda dan permukaan komponen selama proses
pelapisan berjalan.
Khrom memiliki throwing power yang buruk, sehingga
memerlukan seperangkat anoda yang disusun secara rumit agar
ketebalan lapisan merata, khususnya pada permukaan melengkung,
meliuk-liuk, atau lubang-lubang buntu. Perapuhan hidrogen dapat terjadi
selama pelapisan, karena itu, komponen mungkin harus menjalani
proses pasca pelapisan berupa pemanasan untuk mendifusikan hidrogen
dan mencegah retaknya logam yang dilindungi.
50
BAB II
PELAKSANAAN DAN PERCOBAAN
II.1 ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
1. Gelas beaker, 5. Elektroda,
2. Gelas ukur, 6. Penjepit,
3. Sumber arus, 7. Timbangan digital.
4. Kertas amplas,
B. BAHAN
1. Logam Tembaga,
2. Logam Besi,
3. Larutan Elektrolit CuSO4.
51
II.2 RANGKAIAN ALAT
(Gambar 1. II.2. Rangkaian Alat Elektroplating Besi dengan Logam
Tembaga)
Keterangan :
1. Katup Katoda
2. Larutan CuSO4
3. Katup Anoda
4. Logam Besi
5. Logam Tembaga
52
II.3 DIAGRAM ALIR
Menyiapkan alat dan bahan
Mengukur diameter dan panjang logam besi
Menimbang logam besi
Logam
seng Memasang katoda dan anoda pada sumber
arus
Logam Memasukkan katoda dan anoda ke dalam
besi larutan CuSO4
Larutan Mengatur tegangan pada sumber arus sebesar
9, 9, dan 12 Volt
CuSO4
Mematikan tegangan dan menimbang logam
besi
Mengulangi prosedur dengan tegangan listrik
berdeba-beda
(Gambar 2. II.3 Diagram Alir Elektroplating Besi dengan Logam
Tembaga)
53
BAB III
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
III.1 DATA HASIL PERCOBAAN
Panjang Paku : 8,75 cm
Diameter Paku : 0,4 cm
Berat awal : 9,30 gram
Berat jenis tembaga : 8,9 gram/cm3
Tabel 1. III.1. Hasil Pengamatan
Berat Logam (gram) Waktu
No Tegangan (Volt)
Awal Akhir (menit)
1 6 9,30 9,37 5
2 9 9,30 9,39 10
3 12 9,30 9,40 15
III.2 ANALISA PERHITUNGAN
Luas permukaan paku
A = 2. π. r2 + 2. π . r. t
= 2 . 3,14 . (0,2)2 + 2 . 3,14 . (0,2) . 8,75
= 11,24 cm2
54
Selisih berat
ΔW = W akhir - W awal
4. Tegangan 6 V
ΔW = 9,37 - 9,30 = 0,07 gram
5. Tegangan 9 V
ΔW = 9,39 - 9,30 = 0,09 gram
6. Tegangan 12 V
ΔW = 9,40 - 9,30 = 0,1 gram
Ketebalan
Ketebalan = /A
4. Tegangan 6 V
Ketebalan = / 11,24 = 0,0007 cm
5. Tegangan 9 V
Ketebalan = / 11,24 = 0,0009 cm
6. Tegangan 12 V
Ketebalan = / 11,24 = 0,0010 cm
55
III.3 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan pelapisan tembaga
dengan tembaga lain yang tidak mudah korosi. Korosi adalah adalah
kerusakan atau kehancuran material akibat adanya reaksi kimia di
sekitar lingkungannya. Secara umum, korosi dibedakan menjadi korosi
basah dan korosi kering. Korosi disebabkan adanya faktor kimia fisika,
metalurgi, elektrokimia dan termodinamika.
Proses yang dilakukan yaitu elektroplating atau penyepuhan,
merupakan salah satu proses pelapisan bahan padat dengan lapisan
logam menggunakan arus listrik searah melalui suatu larutan elektrolit.
Faktor-faktor yang memengaruhi elektroplating yaitu
1. Potensial dan arus yang diberikan
2. Suhu
3. Kerapatan arus
4. Konsentrasi ion
5. Waktu.
Teknik elektroplating merupakan teknik elektrolisa yang
menggunakan bejana sel elektrolisa berisi larutan elektrolit. Skema
proses elektroplating ditunjukkan pada Gambar 2. Pada larutan tersebut,
minimal terdapat dua elektroda yang tercelup. setiap elektroda
dihubungkan dengan arus listrik untuk menjadi kutub positif (anoda) dan
kutub negatif (katoda).
Prinsip dasar pelapisan logam dengan teknik elektroplating
adalah menempatkan ionion logam dan elektrom pada logam yang
dilapisi. Ion-ion tersebut berasal dari anoda dan eletrolit yang
digunakan. Arus listrik akan mengalirkan elektron melalui anoda
menuju katoda. Persiapan permukaan logam yang akan dilapisi perlu
56
dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan daya ikat antara lapisan
dan spesimen. Material pelapis yang digunakan adalah tembaga dan
larutan elektrolitnya menggunakan larutan tembaga sulfat (CuSO4).
Percobaan diawali dengan pemasangan katoda dan anoda pada
sumber arus, yang bertujuan untuk menyalurkan listrik dan
memasukkannya ke larutan CuSO4. Dilanjutkan dengan mengatur
tegangan sumber arus sebesar 6, 9, dan 12 Volt (percobaan dilakukan 3
kali). Setelah mematikan tegangan lalu menimbangnya dan
mencatatnya.
Hasil dari percobaan yang dilakukan, dapat diketahui dari tabel
berikut :
Tabel 2. III.3 Data Hasil Percobaan
Selisih berat
Tegangan (V) Waktu (menit) Ketebalan (cm)
(ΔW)
6 0,07 gram 5 0,0007
9 0,09 gram 10 0,0009
12 0,1 gram 15 0,0010
57
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
Dari praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Semakin lama waktu yang digunakan untuk proses elektroplating, ma
ka semakin besar pula ketebalan yang dihasilkan
Selisih berat
Tegangan (V) Waktu (menit) Ketebalan (cm)
(ΔW)
6 0,07 gram 5 0,0007
9 0,09 gram 10 0,0009
12 0,1 gram 15 0,0010
Grafik hubungan waktu dengan ketebalan.
Hubungan waktu vs ketebalan
0.0012
0.001
0.001 0.0009
Ketebalan (cm)
0.0008 0.0007
0.0006
0.0004
0.0002
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu (menit)
58
ACARA 5 PENGARUH INHIIBITOR TERHADAP KECEPATAN
KOROSI
59
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Korosi didefinisikan sebagai penghancuran paksa zat seperti
logam dan bahan bangunan mineral media sekitarnya, yang biasanya
cair (agen korosif). Ini biasanya dimulai pada permukaan dan
disebabkan oleh kimia dan dalam kasus logam, reaksi elektrokimia.
Kehancuran kemudian dapat menyebar ke bagian dalam materi.
Organisme juga dapat berkontribusi pada korosi bahan bangunan, selain
itu korosi juga dapat diartikan sebagai penurunan mutu logam yang
disebabkan oleh reaksi elektrokimia antara logam dengan lingkungan
sekitarnya (Yudha Kurniawan Afandi : 2015).
Korosi logam merupakan masalah utama di bidang konstruksi
mesin yang berbahan baku logam. Hal ini disebabkan, karena
bertambahnya aktivitas industri, sehingga menghasilkan gas buang yang
menyebabkan lingkungan menjadi korosif. Untuk mengamati gejala
korosi logam di industri dapat dibuatkan suatu sistem pengujian korosi.
Setiap industri mempunyai sistem air panas dan air pendingin yang
merupakan unit pendukung yang vital. Untuk melihat laju korosi logam
pada inlet dan outlet boiler dan cooling tower atau kondensor diperlukan
percobaan. Untuk itu, percobaan dapat dilakukan dalam skala
laboratorium yang memberikan gambaran secara umum tentang
korosivitas lingkungan (Gatot Subiyanto dan Ngatin Agustinus : 2015).
60
I.2 TUJUAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan yang bertujuan
untuk menentukan kecepatan korosi suatu benda logam dalam larutan
inhibitor dan air.
I.3 DASAR TEORI
Korosi tidak dapat dihindari karena korosi adalah gejala yang
timbul secara alami yang dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi dapat
ditekan semaksimal mungkin, antara lain dengan menggunakan zat
penghambat korosi yang berupa inhibitor. Inhibitor adalah bahan yang
bila ditambahkan dalam jumlah tertentu dalam lingkungan yang korosif
terhadap logam atau paduan logam akan memperlambat laju korosi.
Inhibitor menurut cara kerjanya dibedakan menjadi :
1. Inhibitor Anodik
Inhibitor yang paling efektif dari seluruh inhibitor
lainnya, karena dapat memasifkan laju korosi pada logam dengan
membentuk selaput selaput pasif tipis (lapisan film) sebagai
lapisan pelindung. Contoh : Natrium nitrit.
2. Inhibitor Katodik
Inhibitor yang bereaksi dengan ion hidroksil untuk
mengendapkan senyawa-senyawa tidak dapat larut ke permukaan
katoda, sehingga menyelimuti katoda dari elektrolit dan
mencegah masuknya oksigen. Contoh : Garam-garam seng dan
magnesium.
3. Inhibitor Adsorpsi
61
Molekul-molekul organik rantai panjang yang teradsorpsi
dari permukaan logam sehingga dapat membatasi difusi oksigen
ke permukaan logam. Contoh : Lemak.
62
BAB II
PELAKSANAAN DAN PERCOBAAN
II.1 ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
1. Gelas beker, 6. Tali rafia,
2. Gelas ukur, 7. Jangka sorong,
3. Timbangan digital, 8. Penjepit,
4. Cup plastik, 9. Pengaduk,
5. Plastik, 10. Penggaris.
B. BAHAN
1. Air PDAM, 3. Larutan NaNO2 pekat,
2. Larutan NaNO2 encer, 4. Paku besi.
II.2 RANGKAIAN ALAT
(Gambar 1 & 2 II.2 Rangkaian Alat Uji Korosi)
63
II.3 DIAGRAM ALIR
Menyiapkan alat dan bahan
Menghaluskan permukaan paku besi dengan
kertas amplas
Mengukur diameter dan panjang paku besi
NaNO2
encer Menimbang paku besi
NaNO2 Memasukkan larutan sampel ke dalam cup
pekat plastik
Air Memasukkan paku besi ke dalam masing-masing
PDAM larutan sampel
Menutup sampel dengan plastik
Mendiamkannya selama 3
hari
Membuka penutup dan menimbangnya
Mengamati perubahan dan mencatat hasilnya
(Gambar 3. II.2 Diagram Alir Pengaruh Inhibitor Terhadap Kecepatan
Korosi)
64
BAB III
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
III.1 DATA HASIL PERCOBAAN
A. Paku Besar
Diameter (D) : 0,21 cm
Panjang (t) : 4,11 cm
Tabel 1. III.1 Data Percobaan Paku Besar
Berat paku (gram)
Larutan dan keadaan
Awal 72 jam 120 jam
NaNO2 encer 1,3 1,27 1,25
NaNO2 pekat 1,29 1,28 1,26
Air PDAM tertutup 1,29 1,27 1,26
B. Paku Kecil
Diameter (D) : 0,12 cm
Panjang (t) : 2,13 cm
Tabel 2. III.1 Data Percobaan Paku Kecil
Berat paku (gram)
Larutan dan keadaan
Awal 72 jam 120 jam
NaNO2 encer 0,22 0,21 0,20
NaNO2 pekat 0,19 0,18 0,17
Air PDAM tertutup 0,20 0,19 0,18
65
III.2 ANALISA PERHITUNGAN
Paku Besar
A. Volume
V = π . r2 . t
= 3,14 . 0,01103 cm2 . 4,11 cm
= 0,1423 cm3
B. Luas permukaan
A = 2 . π . r2 + 2 . π . r . t
= 2 . 3,14 . 0,01103 cm2 + 2 . 3,14 . 0,105 cm . 4,11 cm
= 2,7794 cm2
C. Densitas
Percobaan 1 NaNO2 encer
ρ = berat paku awal (m) / volume paku (v)
= 1,3 gram / 0,1423 cm3 = 9,1356 gram/cm3
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data 2-3 yaitu
Tabel 3. III.2 Data Hasil Densitas Paku Besar Pada Berat Awal
Larutan m Paku (gram) ρ Paku (gram/cm3)
NaNO2 pekat 1,29 9,0654
Air PDAM 1,29 9,0654
D. Kecepatan korosi
Percobaan 1 NaNO2 encer setelah 72 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,03 / 9,1356 gram/cm3 . 2,7794 cm2 . 72 jam
= 1,6409 x 10-5 cm/jam
66
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data 2-3 yaitu
Tabel 4. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
NaNO2 pekat 0,01 9,0654 5,5123 x 10-5
Air PDAM 0,02 9,0654 1,1025 x 10-5
Percobaan 1 NaNO2 encer setelah 120 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,05 / 9,1356 gram/cm3 . 5,4896 cm2 . 120 jam
= 8,3083 x 10-6 cm/jam
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data 2-3 yaitu
Tabel 5. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
NaNO2 pekat 0,03 9,0654 5,1236 x 10-6
Air PDAM 0,03 9,0654 5,1236 x 10-6
Paku Kecil
A. Volume
V = π . r2 . t
= 3,14 . 0,0036 cm2 . 2,13 cm
= 0,0241 cm3
B. Luas permukaan
A = 2 . π . r2 + 2 . π . r . t
= 2 . 3,14 . 0,0036 cm2 + 2 . 3,14 . 0,06 cm . 2,13 cm
= 0,02261 cm2 + 0,8026 cm2 = 0,8252 cm2
67
C. Densitas
Percobaan 1 NaNO2 encer
ρ = berat paku awal (m) / volume paku (v)
= 0,22 gram / 0,0241 cm3 = 9,1286 gram/cm3
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data 2-3 yaitu
Tabel 6. III.2 Data Hasil Densitas Paku Kecil Pada Berat Awal
Larutan m Paku (gram) ρ Paku (gram/cm3)
NaNO2 pekat 0,19 7,8838
Air PDAM 0,20 8,2988
D. Kecepatan korosi
Percobaan 1 NaNO2 encer setelah 72 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,01 / 9,1286 gram/cm3 . 0,8252 cm2 . 72 jam
= 1,8438 x 10-5 cm/jam
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data 2-3 yaitu
Tabel 7. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
NaNO2 pekat 0,01 7,8838 2,1349 x 10-5
Air PDAM 0,01 8,2988 2,0267 x 10-5
Percobaan 1 NaNO2 encer setelah 120 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,02 / 9,1286 gram/cm3 . 0,8252 cm2 . 120 jam
= 2,2125 x 10-5 cm/jam
68
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data 2-3 yaitu
Tabel 8. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
NaNO2 pekat 0,02 7,8838 2,5618 x 10-5
Air PDAM 0,02 8,2988 2,4337 x 10-5
III.3 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan yang bertujuan
untuk menentukan kecepatan korosi suatu benda logam dalam larutan
inhibitor dan air. Korosi adalah kehancuran atau kerusakan material
karena reaksi dengan lingkungannya. Korosi ini sendiri bisa
mengakibatkan menurunnya kualitas dari besi sehingga mengakibatkan
besi menjadi cepat lemah dan rusak. Korosi dapat terjadi apabila
terdapat empat elemen di bawah ini :
1. Anoda
Terjadi reaksi oksidasi, maka daerah tersebut akan timbul korosi,
2. Katoda
Terjadi reaksi reduksi, daerah tersebut mengkonsumsi elektron,
3. Ada hubungan (Metallic Pathaway)
Tempat arus mengalir dari katoda ke anoda,
4. Larutan (electrolyte)
Larutan korosif yang dapat mengalirkan arus listrik, mengandung
ion-ion.
Percobaan diawali dengan penghalusan permukaan paku dengan
amplas dan pengukuran diameter serta panjangnya. Dilanjutkan dengan
penimbangan paku yang kemudian dimasukkan ke larutan sampel yaitu
NaNO2 encer, NaNO2 pekat, dan air PDAM. Proses korosi dimulai dan
membutuhkan beberapa hari untuk mengamati perubahannya. Dari
69
percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil pengamatan untuk
paku besar dan paku kecil sebagai berikut :
Tabel 9. Data Hasil Perhitungan Untuk Paku Besar
ΔW (g ρ Paku (gra V 72 jam (cm V 120 jam (c
larutan
ram) m/cm3) /jam) m/jam)
NaNO2 ence
0,03 9,1356 1,6409 x 10-5 8,3083 x 10-6
r
NaNO2 pek
0,01 9,0654 5,5123 x 10-5 5,1236 x 10-6
at
air PDAM 0,02 9,0654 1,1025 x 10-5 5,1236 x 10-6
Tabel 10. Data Hasil Perhitungan Untuk Paku Kecil
ΔW (g ρ Paku (gra V 72 jam (cm V 120 jam (c
larutan
ram) m/cm3) /jam) m/jam)
NaNO2 ence
0,02 9,1286 1,8438 x 10-5 2,2125 x 10-5
r
NaNO2 pek
0,02 7,8838 2,1349 x 10-5 2,5618 x 10-5
at
air PDAM 0,02 8,2988 2,0267 x 10-5 2,4337 x 10-5
Dari data hasil percobaan, diketahui bahwa kecepatan korosi
terbesar setalah 72 jam proses korosi pada paku besar terdapat pada
larutan NaNO2 pekat yaitu 5,5123 x 10-5 cm/jam, sementara setelah 120
jam terdapat pada larutan NaNO2 encer 8,3083 x 10-6 cm/jam. Untuk
hasil dari perhitungan paku kecil, didapatkan kecepatan korosi terbesar
setelah 72 jam yaitu NaNO2 pekat 2,1349 x 10-5 cm/jam, serta setelah
120 jam yaitu 2,5618 x 10 -5 cm/jam. Pemberian inhibitor encer memiliki
kecepatan korosi yang lebih rendah dibandingkan inhibitor pekat
70
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini di mana melakukan percobaan
penentuan kecepatan korosi dalam larutan inhibitor dan air, dapat
diambil kesimpulan bahwa :
1. Hasil perhitungan kecepatan korosi paku besar yaitu
ΔW (g ρ Paku (gra V 72 jam (cm V 120 jam (c
larutan
ram) m/cm3) /jam) m/jam)
NaNO2 ence
0,03 9,1356 1,6409 x 10-5 8,3083 x 10-6
r
NaNO2 pek
0,01 9,0654 5,5123 x 10-5 5,1236 x 10-6
at
air PDAM 0,02 9,0654 1,1025 x 10-5 5,1236 x 10-6
2. Hasil perhitungan kecepatan korosi paku kecil yaitu
ΔW (g ρ Paku (gra V 72 jam (cm V 120 jam (c
larutan
ram) m/cm3) /jam) m/jam)
NaNO2 ence
0,02 9,1286 1,8438 x 10-5 2,2125 x 10-5
r
NaNO2 pek
0,02 7,8838 2,1349 x 10-5 2,5618 x 10-5
at
71
ACARA 6 KECEPATAN KOROSI PADA BERBAGAI KEADAAN
72
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Korosi khususnya di industri adalah suatu fenomena degradasi
material logam yang akan membahayakan keadaan suatu peralatan.
Penggunaan material logam semakin meningkat, dengan sendirinya akan
diikuti dengan meningkatnya permasalahan korosi, dengan kerugian
yang tidak sedikit. Hasil riset yang berlangsung tahun 2002 di Amerika
Serikat memperkirakan kerugian akibat korosi yang menyerang
permesinan industri, infrastruktur, sampai perangkat transportasi di
negara adidaya itu mencapai 276 miliar dollar AS. Ini berarti 3,1 persen
dari Gross Domestic Product (GDP)-nya. Sebenarnya, negara-negara di
kawasan tropis seperti Indonesia paling banyak menderita kerugian
akibat korosi. Namun demikian tidak ada data yang jelas di negara-
negara tersebut tentang jumlah kerugian setiap tahunnya. Korosi adalah
reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya
yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tak dikehendaki. Contoh
korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi. Pada peristiwa korosi,
logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami
reduksi (Agung Tri dkk, 2016).
I.2 TUJUAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan yang bertujuan
untuk menentukan kecepatan korosi suatu benda logam pada berbagai
keadaan yaitu
1. larutan garam, 3. udara terbuka (kontak dengan udara).
73
2. air pada suhu tinggi
I.3 DASAR TEORI
Besi adalah logam yang berasal dari biji besi (tambang) yang
banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang
bermanfaat sampai dengan yang merusakkan. Dalam tabel periodik besi
memiliki simbol Fe dengan nomor atom 26. Besi juga memiliki nilai
ekonomis yang tinggi. Besi adalah logam yang paling banyak dan paling
beragam penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, di antaranya
kelimpahan besi di kulit bumi yang cukup besar. Besi mempunyai sifat-
sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi. Salah satu
kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan
banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang dan
bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat
dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless
steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan
penggunaan besi. Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai
jenis logam contohnya Zinc dan Magnesium dapat melindungi besi dari
korosi (Penyusun, 2021).
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi
redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang
menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa
sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim
adalah perkaratan besi (Penyusun, 2021).
Pada peristiwa korosi, logam yang mengalami oksidasi,
sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya
adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah
Fe2O3.nH2O suatu zat padat yang berwarna coklat merah (Penyusun,
2021).
74
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian
tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode di mana besi mengalami
oksidasi (Penyusun, 2021).
Fe (s) ↔ Fe2+(aq) + 2e-
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari
besi itu yang bertindak sebagai katoda, dimana oksigen tereduksi.
O2 (g) + 4H+ (aq) + 4e- ↔ 2H2O (l)
atau O2 (g) + 2H2O (l) + 4e- ↔ 4OH- (aq)
Ion besi (II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi
membentuk ion besi (III) yang kemudian membentuk senyawa oksida
terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang
bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai
katode, tergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau
perbedaan kerapatan logam itu. Korosi dapat juga diartikan sebagai
serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau
elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan
bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih
mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada
dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi
dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja
atau baja paduan. Selama pemakaian, pada tersebut akan bereaksi
dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi
senyawa besi oksida) (Penyusun, 2021).
Deret volta hukum Nerst akan membantu untuk dapat
mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat
bergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida,
karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap
75
elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari
oksida (Penyusun, 2021).
Korosi tidak dapat dihindari karena korosi adalah gejala yang
timbul secara alami yang dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi dapat
ditekan semaksimal mungkin, antara lain dengan menggunakan zat
penghambat korosi yang berupa inhibitor (Penyusun, 2021).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi laju korosi,
diantaranya (Penyusun, 2021). :
1. Faktor gas terlarut (oksigen dan karbondioksida)
2. Faktor suhu
3. Faktor pH (keasaman)
4. Faktor-faktor produksi atau asam sulfat reducing bacteria (SRB)
5. Faktor padatan terlarut : klorida (Cl), karbonat (CO 3), sulfat (SO4)
Laju korosi dapat dihitung dengan rumus :
( )
Kecepatan korosi =( ) ( ) ( )
Keterangan : W = berat logam (gram)
D = densitas logam (gram/cm3)
A = luas permukaan logam (cm3)
T = waktu (jam)
76
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari
lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur
bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik
pencampuran bahan, dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi
tingkat pencemaran lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara,
suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan
sebagainya. Bahan-bahan korosif (dapat menyebabkan korosi) terdiri
dari asam, basa, serta garam baik dalam bentuk senyawa organik
ataupun anorganik. Penguapan dan pelepasan bahan bahan korosif ke
udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang
terlalu asam atau basa dapat mempercepat proses korosi peralatan
elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida
beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif.
Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan
organik. Amoniak merupakan bahan kimia yang cukup banyak
digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal,
bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara
(Penyusun, 2021).
77
BAB II
PELAKSANAAN DAN PERCOBAAN
II.1 ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
1. Gelas beker, 6. Pengaduk,
2. Amplas, 7. Jangka sorong,
3. Gelas ukur, 8. Penggaris,
4. Timbangan, 9. Pemanas,
5. Penjepit, 10. Cup plastik.
B. BAHAN
1. Paku besi / lempengan logam,
2. Garam
3. Air PDAM
II.2 RANGKAIAN ALAT
(Gambar 1. II.2 Rangkaian Alat Uji Korosi pada Paku Besi)
78
II.3 DIAGRAM ALIR
Menyiapkan alat dan bahan
Menghaluskan permukaan paku dengan amplas
Mengukur diameter dan panjang paku besi
Larutan Menimbang paku besi
garam pekat.,
Larutan
garam encer, Menuangkan larutan sampel ke dalam cup plastik
Air PDAM
panas,
Memasukkan paku besi ke setiap larutan sampel
Air PDAM
dingin
Menutup sebagian sampel dengan plastik
Mendiamkannya selama 3
hari
Menimbang paku setelah didiamkan dan
mengamati perubahannya
(Gambar 2. II.3 Diagram Alir Uji Kecepatan Korosi)
79
BAB III
HASIL DAN PERCOBAAN
III.1 DATA HASIL PERCOBAAN
A. Keadaan Terbuka
Paku Besar Paku Kecil
Diameter (D) : 0,32 cm Diameter (D) : 0,15 cm
Panjang (t) : 4,2 cm Panjang (t) : 2,1 cm
Tabel 1. III.1 Data Percobaan Korosi pada Keadaan Terbuka
Berat paku (gram)
Larutan & keadaa
n Awal 72 jam 120 jam
P. besar P. kecil P. besar P. kecil P. besar P. kecil
Garam pekat 1,77 0,22 1,76 0,21 1,75 0,20
Garam encer 1,77 0,22 1,76 0,21 1,75 0,20
Air PDAM panas 1,76 0,25 1,74 0,23 1,73 0,22
Air PDAM dingin 1,76 0,25 1,74 0,23 1,73 0,21
B. Keadaan Tertutup
Paku Besar Paku Kecil
Diameter (D) : 0,31 cm Diameter (D) : 0,13 cm
Panjang (t) : 4,03 cm Panjang (t) : 2,04 cm
Tabel 2. III.1 Data Percobaan Korosi pada Keadaan Tertutup
Berat paku (gram)
Larutan & keadaa
n Awal 72 jam 120 jam
P. besar P. kecil P. besar P. kecil P. besar p. kecil
Garam pekat 1,78 0,24 1,77 0,23 1,76 0,22
Garam encer 1,76 0,24 1,75 0,23 1,74 0,22
Air PDAM panas 1,79 0,22 1,78 0,21 1,77 0,20
Air PDAM dingin 1,77 0,22 1,76 0,21 1,75 0,20
80
III.2 ANALISA PERHITUNGAN
Keadaan Terbuka (Paku Besar)
E. Volume
V = π . r2 . t
= 3,14 . 0,0256 cm2 . 4,2 cm
= 0,3376 cm3
F. Luas permukaan
A = 2 . π . r2 + 2 . π . r . t
= 2 . 3,14 . 0,0256 cm2 + 2 . 3,14 . 0,16 cm . 4,2 cm
= 4,381 cm2
G. Densitas
Percobaan 1 Garam Pekat
ρ = berat paku awal (m) / volume paku (v)
= 1,77 gram / 0,3376 cm3 = 5,2429 gram/cm3
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data 2-3 yaitu
Tabel 3. III.2 Data Hasil Densitas Paku Besar Pada Berat Awal
Larutan m Paku (gram) ρ Paku (gram/cm3)
Garam pekat 1,77 5,2429
Garam encer 1,77 5,2429
Air PDAM panas 1,76 5,2133
Air PDAM dingin 1,76 5,2133
81
H. Kecepatan korosi
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 72 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,01 / 5,2429 gram/cm3 . 4,381 cm2 . 72 jam
= 6,0468 x 10-6 cm/jam
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 4. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 5,2429 6,0468 x 10-6
Garam encer 0,01 5,2429 6,0468 x 10-6
Air PDAM
0,02 5,2133 1,2162 x 10-5
panas
Air PDAM
0,02 5,2133 1,2162 x 10-5
dingin
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 120 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,02 / 5,2429 gram/cm3 . 4,381 cm2 . 120 jam
= 7,2561 x 10-6 cm/jam
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 5. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 5,2429 7,2561 x 10-6
Garam encer 0,02 5,2429 7,2561 x 10-6
Air PDAM
0,03 5,2133 1,0946 x 10-5
panas
Air PDAM
0,03 5,2133 1,0946 x 10-5
dingin
82
Keadaan Terbuka (Paku Kecil)
E. Volume
V = π . r2 . t
= 3,14 . 0,0056 cm2 . 2,1 cm
= 0,0369 cm3
F. Luas permukaan
A = 2 . π . r2 + 2 . π . r . t
= 2 . 3,14 . 0,0056 cm2 + 2 . 3,14 . 0,075 cm . 2,1 cm
= 1,0243 cm2
G. Densitas
Percobaan 1 Garam Pekat
ρ = berat paku awal (m) / volume paku (v)
= 0,22 gram / 0,0369 cm3 = 5,9621 gram/cm3
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 6. III.2 Data Hasil Densitas Paku Kecil Pada Berat Awal
Larutan m Paku (gram) ρ Paku (gram/cm3)
Garam pekat 0,22 5,9621
Garam encer 0,22 5,9621
Air PDAM panas 0,25 6,7751
Air PDAM dingin 0,25 6,7751
H. Kecepatan korosi
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 72 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,01 / 5,9621gram/cm3 . 1,0243 cm2 . 72 jam
= 2,2743 x 10-5 cm/jam
83
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 7. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 5,9621 2,2743 x 10-5
Garam encer 0,01 5,9621 2,2743 x 10-5
Air PDAM
0,02 6,7751 4,0027 x 10-5
panas
Air PDAM
0,02 6,7751 4,0027 x 10-5
dingin
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 120 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,02 / 5,9621 gram/cm3 . 1,0243 cm2 . 120 jam
= 2,7291 x 10-5 cm/jam
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 8. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 5,9621 2,7291 x 10-5
Garam encer 0,02 5,9621 2,7291 x 10-5
Air PDAM
0,03 6,7751 3,6024 x 10-5
panas
Air PDAM
0,03 6,7751 3,6024 x 10-5
dingin
84
Keadaan Tertutup (Paku Besar)
A. Volume
V = π . r2 . t
= 3,14 . 0,0240 cm2 . 4,03 cm
= 0,3037 cm3
B. Luas permukaan
A = 2 . π . r2 + 2 . π . r . t
= 2 . 3,14 . 0,0240 cm2 + 2 . 3,14 . 0,155 cm . 4,03 cm
= 4,0735 cm2
C. Densitas
Percobaan 1 Garam Pekat
ρ = berat paku awal (m) / volume paku (v)
= 1,78 gram / 0,3037 cm3 = 5,8610 gram/cm3
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 9. III.2 Data Hasil Densitas Paku Besar Pada Berat Awal
Larutan m Paku (gram) ρ Paku (gram/cm3)
Garam pekat 1,78 5,8610
Garam encer 1,76 5,7952
Air PDAM panas 1,79 5,5840
Air PDAM dingin 1,77 5,8281
D. Kecepatan korosi
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 72 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,01 / 5,8610 gram/cm3 . 4,0735 cm2 . 72 jam
= 5,8174 x 10-6 cm/jam
85
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 10. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 5,8610 5,8174 x 10-6
Garam encer 0,01 5,7952 5,8834 x 10-6
Air PDAM
0,01 5,5840 6,1060 x 10-5
panas
Air PDAM
0,01 5,8281 5,8502 x 10-5
dingin
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 120 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,02 / 5,8610 gram/cm3 . 4,0735 cm2 . 120 jam
= 6,9809 x 10-6 cm/jam
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 11. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 5,8610 6,9809 x 10-6
Garam encer 0,02 5,7952 7,0601 x 10-6
Air PDAM
0,02 5,5840 7,3272 x 10-6
panas
Air PDAM
0,02 5,8281 7,0203 x 10-6
dingin
86
Keadaan Tertutup (Paku Kecil)
A. Volume
V = π . r2 . t
= 3,14 . 0,0042 cm2 . 2,04 cm
= 0,0269 cm3
B. Luas permukaan
A = 2 . π . r2 + 2 . π . r . t
= 2 . 3,14 . 0,0042 cm2 + 2 . 3,14 . 0,065 cm . 2,04 cm
= 0,8591 cm2
C. Densitas
Percobaan 1 Garam Pekat
ρ = berat paku awal (m) / volume paku (v)
= 0,24 gram / 0,0269 cm3 = 8,9219 gram/cm3
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 12. III.2 Data Hasil Densitas Paku Kecil Pada Berat Awal
Larutan m Paku (gram) ρ Paku (gram/cm3)
Garam pekat 0,24 8,9219
Garam encer 0,24 8,9219
Air PDAM panas 0,22 8,1784
Air PDAM dingin 0,22 8,1784
D. Kecepatan korosi
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 72 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,01 / 8,9219 gram/cm3 . 0,8591 cm2 . 72 jam
= 1,8120 x 10-5 cm/jam
87
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 13. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 8,9219 1,8120 x 10-5
Garam encer 0,01 8,9219 1,8120 x 10-5
Air PDAM
0,01 8,1784 4,0027 x 10-5
panas
Air PDAM
0,01 8,1784 4,0027 x 10-5
dingin
Percobaan 1 Garam Pekat setelah 120 jam
V = ΔW / ρ . A . t
= 0,02 / 8,9219 gram/cm3 . 0,8591 cm2 . 120 jam
= 2,1744 x 10-5 cm/jam
Dengan cara yang sama, maka dihasilkan data yaitu
Tabel 14. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 8,9219 2,1744x 10-5
Garam encer 0,02 8,9219 2,1744 x 10-5
Air PDAM
0,02 8,1784 2,3721 x 10-5
panas
Air PDAM
0,02 8,1784 2,3721 x 10-5
dingin
88
III.3 PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini melakukan percobaan pengujian korosi
pada paku besi. Tujuannya untuk menentukan kecepatan korosi suatu
benda logam pada berbagai keadaan yaitu larutan garam, air pada suhu
tinggi, dan pada udara terbuka (kontak dengan udara).
Percobaan diawali dengan persiapan paku besi yang dihaluskan
permukannya serta pengukuran diameter, panjang, dan berat. Kemudian
paku dicelupkan ke masing-masing cup plastik berisi larutan garam
pekat, larutan garam encer, air PDAM panas, dan air PDAM dingin.
Beberapa objek ditutupi menggunakan plastik dan beberapa tidak, yang
kemudian dibiarkan selama 3 hari untuk diamati perubahan pada berat
paku besi.
Korosi merupakan kerusakan material yang disebabkan oleh
pengaruh lingkungan sekelilingnya. Adapun proses korosi yang terjadi
disamping oleh reaksi kimia, juga diakibatkan oleh proses elektrokimia
yang melibatkan perpindahan elektron-elektron, entah dari reduksi ion
logam maupun pengendapan logam dari lingkungan sekeliling.
Terkorosinya suatu logam dalam lingkungan elektrolit (air) adalah
proses elektrokimia. Proses ini terjadi bila ada reaksi setengah sel yang
melepaskan elektron dan reaksi setengah yang menerima elektron
tersebut. Kedua reaksi ini akan terus berlangsung sampai terjadi
kesetimbangan dinamis dimana jumlah elektron yang dilepas sama
dengan jumlah elektron yang diterima. Korosi bisa disebut sebagai
kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang
korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak
logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan
lingkungan (Agung Tri dkk, 2016).
89
Pada percobaan dalam keadaan terbuka, dihasilkan data
pengamatan sebagai berikut :
Tabel 15. III.3 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 5,2429 6,0468 x 10-6
Garam encer 0,01 5,2429 6,0468 x 10-6
Air PDAM panas 0,02 5,2133 1,2162 x 10-5
Air PDAM dingin 0,02 5,2133 1,2162 x 10-5
Tabel 16. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 5,2429 7,2561 x 10-6
Garam encer 0,02 5,2429 7,2561 x 10-6
Air PDAM panas 0,03 5,2133 1,0946 x 10-5
Air PDAM dingin 0,03 5,2133 1,0946 x 10-5
Tabel 17. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 5,9621 2,2743 x 10-5
Garam encer 0,01 5,9621 2,2743 x 10-5
Air PDAM panas 0,02 6,7751 4,0027 x 10-5
Air PDAM dingin 0,02 6,7751 4,0027 x 10-5
90
Tabel 18. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 5,2429 7,2561 x 10-6
Garam encer 0,02 5,2429 7,2561 x 10-6
Air PDAM panas 0,03 5,2133 1,0946 x 10-5
Air PDAM dingin 0,03 5,2133 1,0946 x 10-5
Dari tabel dapat diketahui bahwa semakin besar berat paku maka
semakin besar pula kecepatan korosi yang terjadi. Namun, apabila semakin
lama waktu pengujian maka semakin lambat kecepatan korosi pada paku.
Pada percobaan dalam keadaan tertutup, dihasilkan data
pengamatan sebagai berikut :
Tabel 19. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 5,8610 5,8174 x 10-6
Garam encer 0,01 5,7952 5,8834 x 10-6
Air PDAM panas 0,01 5,5840 6,1060 x 10-5
Air PDAM dingin 0,01 5,8281 5,8502 x 10-5
Tabel 20. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Besar Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 5,8610 6,9809 x 10-6
Garam encer 0,02 5,7952 7,0601 x 10-6
Air PDAM panas 0,02 5,5840 7,3272 x 10-6
Air PDAM dingin 0,02 5,8281 7,0203 x 10-6
91
Tabel 21. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 72 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,01 8,9219 1,8120 x 10-5
Garam encer 0,01 8,9219 1,8120 x 10-5
Air PDAM panas 0,01 8,1784 4,0027 x 10-5
Air PDAM dingin 0,01 8,1784 4,0027 x 10-5
Tabel 22. III.2 Data Kecepatan Korosi Paku Kecil Setelah 120 Jam
Larutan ΔW (gram) ρ Paku (gr/cm3) V
Garam pekat 0,02 8,9219 2,1744x 10-5
Garam encer 0,02 8,9219 2,1744 x 10-5
Air PDAM panas 0,02 8,1784 2,3721 x 10-5
Air PDAM dingin 0,02 8,1784 2,3721 x 10-5
Pada keadaan tertutup, kecepatan korosi bergantung pada
besarnya densitas paku. Semakin tinggi besaran densitasnya maka
semakin cepat pula kecepatan korosi pada paku.
Dari semua percobaan pada keadaan terbuka maupun tertutup,
dapat diketahui bahwa semakin tinggi suhu yang digunakan dalam
pengujian maka semakin cepat pula proses korosi terjadi karena kontak
dengan udara semakin besar. Begitu pula pada keadaan larutan, semakin
pekat larutan untuk pengujian, maka semakin cepat pula proses korosi
pada paku besi.
92
BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Data kecepatan korosi pada keadaan terbuka :
Tabel 1. IV.1 Data Kecepatan Korosi Paku Besi pada Keadaan Terbuka
V paku besar V paku besar V paku kecil V paku kecil
larutan
72 jam 120 jam 72 jam 120 jam
Garam pekat 6,0468 x 10-6 7,2561 x 10-6 2,2743 x 10-5 7,2561 x 10-6
Garam encer 6,0468 x 10-6 7,2561 x 10-6 2,2743 x 10-5 7,2561 x 10-6
Air PDAM
1,2162 x 10-5 1,0946 x 10-5 4,0027 x 10-5 1,0946 x 10-5
panas
Air PDAM
1,2162 x 10-5 1,0946 x 10-5 4,0027 x 10-5 1,0946 x 10-5
dingin
2. Data kecepatan korosi pada keadaan tertutup :
Tabel 1. IV.1 Data Kecepatan Korosi Paku Besi pada Keadaan Terbuka
V paku besar V paku besar V paku kecil V paku kecil
larutan
72 jam 120 jam 72 jam 120 jam
Garam pekat 5,8174 x 10-6 6,9809 x 10-6 1,8120 x 10-5 2,1744x 10-5
Garam encer 5,8834 x 10-6 7,0601 x 10-6 1,8120 x 10-5 2,1744 x 10-5
Air PDAM
6,1060 x 10-5 7,3272 x 10-6 4,0027 x 10-5 2,3721 x 10-5
panas
Air PDAM
5,8502 x 10-5 7,0203 x 10-6 4,0027 x 10-5 2,3721 x 10-5
dingin
93
3. Semakin tinggi suhu larutan pengujian dan kepekatan larutan
pengujian semakin cepat pula proses korosi terjadi karena kontak
dengan udara semakin besar.
94
DAFTAR PUSTAKA
Dosenpendidikan. 2021. Diakses dari [Link]
pada 19 September 2021.
Hardiyanti, Fitri dan Mochammad Yusuf Santoso. 2018. Analisis Pelapisan
Tembaga Terhadap Laju Korosi dan Struktur Mikro Grey Cast Iron.
Politeknik Negeri Perkapalan Surabaya. Diakses dari
[Link] pada 19 September 2021 pada 19 September
2021.
Ruang Guru. 2017. “Pengertian Korosi dan Faktor Penyebabnya” yang diakses
dari [Link] pada 27 Oktober 2021.
Prasetyo, Yanuar Dwi. 2016. “Pengaru Variasi Tegangan dalam Proses
Elektroplating Seng pada Baja Api 5L Grade B terhadap Ketahanan
Korosi, Kekuatan Adhesi, dan Ketebalan Lapisan” Tugas Akhir.
Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember, TL-141584
Afandi, Yudha Kurniawan dkk. 2015. “Analisa Laju Korosi pada Pelat Baja
Karbon dengan Variasi Ketebalan Coating” Jurnal Teknik. Surabaya:
Institus Teknologi Sepuluh November, 4(1).
Penyusun. 2021. Buku Petunjuk Praktikum Ilmu Bahan dan Korosi. Yogyakarta:
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yoyakarta.
95
LAMPIRAN
96
97
98
99
100
101