0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan101 halaman

Analisis BSPS di Pekanbaru 2021

Skripsi ini membahas analisis pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kota Pekanbaru. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas perumahan masyarakat melalui bantuan pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan menemukan bahwa pelaksanaan program ini belum optimal karena indikator pemberdayaan masyarakat dan pengembangan mandiri belum terlaksana dengan baik.

Diunggah oleh

MUHAMMAD IQBAL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan101 halaman

Analisis BSPS di Pekanbaru 2021

Skripsi ini membahas analisis pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kota Pekanbaru. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas perumahan masyarakat melalui bantuan pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan menemukan bahwa pelaksanaan program ini belum optimal karena indikator pemberdayaan masyarakat dan pengembangan mandiri belum terlaksana dengan baik.

Diunggah oleh

MUHAMMAD IQBAL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM BANTUAN STIMULAN

PERUMAHAN SWADAYA (BSPS) DI DINAS PERUMAHAN


RAKYAT DAN KAWASAN PERMUKIMAN
KOTA PEKANBARU

SKRIPSI

OLEH :

ALI MUSA
NIM. 11775101392

PROGRAM STUDI S1
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2021
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM BANTUAN STIMULAN
PERUMAHAN SWADAYA (BSPS) DI DINAS PERUMAHAN
RAKYAT DAN KAWASAN PERMUKIMAN
KOTA PEKANBARU

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mengikuti Sidang Skripsi


Strata 1 pada Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

OLEH :

ALI MUSA
NIM. 11775101392

PROGRAM STUDI S1
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2021
ABSTRAK

Analisis Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan


Swadaya (BSPS) Di Dinas Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru

Oleh:
Ali Musa
NIM.11775101392
Email: alimusa1698@[Link]

Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan banyaknya rumah tidak layak
huni yang ada di Kota Pekanbaru. Tidak seluruhnya masuk kedalam lokasi
perumahan dan pemukiman kumuh, Pemerintah kota Pekanbaru melaksanakan
Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya namun demikian dalam
pelaksanaannya bantuan tersebut belum berhasil sesuai targetnya, penerima
bantuan belum tepat sasaran. Rumusan penelitian ini bagaimanakah pelaksanaan
Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya. Tujuan dari penelitian ini yaitu
untuk mengetahui pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya
di Kota Pekanbaru dan kendala yang terdapat dalam pelaksanaan Bantuan
Stimulan Perumahan Swadaya oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan
Permukiman Kota Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan
kualitatif. Data penelitian diambil menggunakan teknik wawancara dengan key
informan. Teknik analisis dilakukan dengan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil
penelitian dapat diketahui bahwa Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan
Perumahan Swadaya di Kota Pekanbaru belum terlaksana dengan optimal
dengan indikator dalam penelitian 1) Pemberdayaan Masyarakat, 2)
Pengembangan Mandiri Pasca Kegiatan, indikator tersebut belum terlaksana
sehingga berdampak terhadap pelaksanaan Program Bantuan Stimulan
Perumahan Swadaya. Dalam pelaksanaan Program Bantuan Stimulan
Perumahan Swadaya Dinas sudah melaksanakan kegiatan secara transparan,
melibatkan masyarakat, dapat dipertanggung jawabkan, akan tetapi
pengembangan mandiri pasca kegiatan belum dilaksanakan dengan optimal.
Selain itu ada beberapa kendala dalam pelaksanaan kegiatan program ini yaitu,
keterbatasan swadaya masyarakat, penerima bantuan berada pada kategori
lanjut usia, dan adanya program lain. Penting juga untuk memperhatikan jumlah
dana, adanya keterbatasan anggaran setiap tahunnya di harapkan pemerintah
dapat meningkatkan lagi anggaran untuk melaksanakan program Bantuan
Stimulasi Perumahan Swadaya.

Kata Kunci: Pelaksanaan, Program, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah Segala puji serta Syukur kehadirat Allah SWT, karena

dengan rahmat dan karunianya lah penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi

dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa juga kita

hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman

kebodahan kepada zaman yang penuh dengan rahmat dan berkah serta ilmu

pengetahun seperti sampai saat sekarang ini.

Penulisan skripsi: “Analisis Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan

Perumahan Swadaya di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan

Permukiman Kota Pekanbaru” bertujuan untuk melengkapi tugas akhir dan

memenuhi syarat untuk mencapai gelar sarjana program strata satu jurusanIlmu

Administrasi Negara pada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial di UIN SUSKA

RIAU.

Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini tidak lepas dari

dukungan dan do’a dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak. Untuk

itu melalui karya ilmiah ini penulis sampaikan ucapan terimakasih sedalam-

dalamnya kepada :

1. Kedua orang tua, Ayahanda tercinta Ferdinan dan Ibunda tersayang Nursaidah

Nst yang telah melahirkan, membesarkan, memberikan kasih sayang dengan

tulus, dukungan baik moril maupun materil, serta do’a yang tiada henti-

hentinya kepada penulis.

ii
2. Bapak Prof. Dr. Hairunnas Rajab, [Link] selaku Rektor Universitas Islam

Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

3. Dr. Mahyarni, SE., MM. selaku dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN

Suska Riau.

4. Dr. Kamaruddin, [Link], [Link] selaku Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu

Sosial UIN Suska Riau.

5. Dr. Khairunsyah Purba, [Link]., [Link] selaku Ketua Jurusan Administrasi

Negara Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau.

6. Mashuri, [Link], M.A selaku Sekretaris Jurusan Administrasi Negara Fakultas

Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau Bapak/Ibu Dosen dan seluruh

Pegawai Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Sultan Syarif kasim

Riau.

7. Candra Jon Asmara, [Link]., [Link]. selaku Dosen Pembimbing Proposal dan

Skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing

dan memberi arahan yang sangat berharga hingga dan penulis selesai dalam

penulisan skripsi ini.

8. Devi Deswimar, [Link]., [Link] selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis

Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau memberikan dukungan

serta motivasi kepada penulis.

9. Abang saya Jamaluddin, S.T , penulis ucapkan terimakasih karena selalu

memberikan dukungan berupa moril dan materil, nasehat dan motivasi demi

mendukung kelancaran studi penulis dari awal kuliah hingga saat ini.

10. Adik saya Nur Hajizah dan Suci Ramadani , yang selalu memberikan

dukungan dan do’a kepada penulis.

iii
11. Kepada sahabat dan teman-teman M. Taufik, Randa Syaputra , [Link], M.

Fakhrurrozi, Sayid Luthfiansyah, [Link],Risanna Aulia Adha Lubis.

12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

berkontribusi dan membantu dalam penyelesaian Skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan Skripsi ini masih jauh dari sempurna

dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran, masukan bahkan kritikan

yang membangun dari berbagai pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

penulis pribadi, bagi para pembaca dan semua pihak terkait. Semoga Allah selalu

melindungi dimanapun kita semua berada. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pekanbaru, Desember 2021

Penulis,

ALI MUSA
NIM: 11775101392

iv
DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. v
DAFTAR TABEL...................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................... 9
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 9
1.4 Manfaat Penelitian .............................................................. 10
1.5 Sistematika Penulisan ......................................................... 11
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pelaksanaan Kebijakan ........................................................ 13
2.1.1 Unsur-Unsur Pelaksanaan Kebijakan......................... 14
2.1.2 Prinsip Efektif Pelaksanaan Kebijakan ...................... 15
2.1.3 Faktor-Faktor yan Mempengaruhi Kebijakan ............ 16
2.2 Program Bantuan Perumahan Swadaya (BSPS) .................. 18
2.2.1 Konsep Program Bantuan Perumahan Swadaya ........ 18
2.2.2 Tujuan Program Bantuan Perumahan Swadaya ......... 21
2.2.3 Keriteria Penerima Program Bantuan Perumahan
Swadaya ..................................................................... 22
2.2.4 Implementasi Program Bantuan Perumahan
Swadaya ..................................................................... 24
2.2.5 Kelompok Sasaran Program Bantuan Perumahan
Swadaya ..................................................................... 26
2.2.6 Bentuk Program Bantuan Perumahan Swadaya ........ 27
2.3 Pemberdayaan Masyarakat .................................................. 27
2.3.1 Tujuan Pemberdayaan Masyarakat ............................ 29
2.3.2 Mekanisme Pemberdayaan Masyarakat ..................... 29

v
2.3.3 Tahapan Pemberdayaan Masyarakat .......................... 30
2.4 Pandangan Islam Terhadap Kemiskinan ............................. 32
2.5 Definisi Konsep ................................................................... 34
2.6 Referensi Peraturan Perundang Undangan .......................... 36
2.7 Penelitian Terdahulu ............................................................ 37
2.8 Konsep Operasional............................................................. 41
2.9 Kerangka Pemikiran ............................................................ 42
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu .............................................................. 43
3.2 Jenis dan Sumber Data ........................................................ 43
3.3 Informan Penelitian ............................................................. 44
3.4 Metode Pengumpulan Data ................................................. 46
3.5 Metode Analisa .................................................................... 48
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ...................
4.1 Gambaran Umum Kota Pekanbaru ...................................... 51
4.2 Profil Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan
Permukiman Kota Pekanbaru ............................................. 52
4.3 Visi dan Misi ....................................................................... 52
4.4 Tugas dan Fungsi ................................................................. 53
4.5 Potensi Pegawai ................................................................. 54
4.6 Struktur Organisasi Dinas Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru. ............................. 55
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan
Swadaya (BSPS) di Dinas Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru .............................. 56
5.2 Faktor-Faktor Penghambat Program Bantuan Stimulan
Perumahan Swadaya (BSPS) di Dinas Perumahan Rakyat
dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru ........................ 86

vi
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan .......................................................................... 90
6.2 Saran ................................................................................. 91
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Tentang Rekapitulasi Pelaksanaan BSPS ................................. 4


Tabel 2.1 Konsep Operasional ................................................................. 41
Tabel 4.1 Potensi Pegawai........................................................................ 54

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ................................................................... 42


Gambar 4.1 Struktur Organisasi .................................................................. 55

ix
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Permasalahan sosial yang paling besar dan berkembang pesat di Indonesia

adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan sudah menjadi suatu hal yang tidak bisa

dihindari bahkan sudah menjadi masalah yang paling mendasar dan tidak mudah

dalam penyelesaiannya hingga tuntas. Salah satu masalah kemiskinan yang paling

pesat perkembangannya di Indonesia yaitu banyaknya masyarakat miskin atau

masyarakat berpenghasilan rendah yang memiliki rumah tidak layak huni,

lingkungan tempat tinggal yang kurang baik dan tidak sehat serta ada juga

masyarakat yang sudah punya tanah namun belum mempunyai rumah. Hal ini

disebabkan karena kurangnya kemampuan masyarakat dalam memenuhi

keperluan rumahnya.

Pemukiman atau rumah layak huni menjadi hal yang utama bagi

kesejahteraan masyarakat. Dimana kesejahteraan merupakan keadaan

terpunuhinya kebutuhan hidup yang layak bagi masyarakat, sehingga masyarakat

tersebut mampu mengembangkan diri menjadi masyarakat yang hidup lebih baik.

Rumah merupakan kebutuhan dasar setiap manusia sebagai tempat tinggal untuk

bertahan hidup dan berlindung dari cuaca panas dan dingin selama jangka waktu

tertentu. Namun bagi mayoritas masyarakat miskin, rumah hanya dijadikan

sebagai tempat untuk berlindung tanpa memperhatikan kondisi kelayakannya.

Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat miskin di desa adalah tidak

terpenuhinya kebutuhan tempat tinggal yang layak huni disebabkan

1
2

ketidakberdayaan masyarakat miskin untuk menjangkau atau memenuhi

kebutuhan rumah layak huni karena kondisi ekonomi yang kurang baik. Selain itu,

karena rendahnya pengetahuan untuk menghuni rumah yang layak dan sehat,

sehingga kurang memperhatikan kondisi kelayakan rumah yang dihuni.

Perumahan dan pemukiman merupakan salah satu keperluan dasar

manusia, yang juga mempunyai peran yang sangat strategis sebagai pusat

pendidikan pada keluarga, persemaian budaya, dan peningkatan kualitas generasi

mendatang. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari pemukiman,

baik perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana dan

utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.

Dalam rangka pemenuhan keperluan perumahan pemerintah melakukan

usaha-usaha pembangunan rumah dengan melibatkan berbagai pihak. Usaha

pemerintah ini tidak terlepas dari tujuan negara untuk menciptakan kesejahteraan

rakyat. Namun hak dasar tersebut saat ini masih belum sepenuhnya terpenuhi,

salah satu penyebabnya adalah adanya kesenjangan pemenuhan keperluan

perumahan yang relatif masih besar. Hal tersebut terjadi antara lain karena masih

kurangnya kemampuan daya beli masyarakat khususnya masyarakat

berpenghasilan rendah (MBR) dalam memenuhi keperluan akan rumahnya.

Pemerintah terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan perumahan layak

huni bagi rumah tangga miskin, yakni dengan memperluas akses layanan

perumahan yang sehat dan layak huni bagi masyarakat miskin. Salah satu upaya

pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) yaitu dengan

memberikan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebagai


3

upaya untuk pengentasan rumah tidak layak huni dan meningkatkan taraf hidup

agar lebih baik. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan

Rakyat Nomor 07 Tahun 2018 tentang Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya.

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya merupakan fasilitasi dari pemerintah

berupa bantuan stimulan bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk

pembangunan/peningkatan kualitas rumah kepada masyarakat berpenghasilan

rendah. Sedangkan Perumahan swadaya merupakan rumah-rumah yang dibangun

atas prakarsa dan upaya masyarakat, baik secara sendiri atau berkelompok, yang

meliputi perbaikan, pemugaran/perluasan atau pembangunan rumah baru beserta

lingkungan.

Program bantuan stimulan perumahan swadaya ini sudah ada sejak tahun

2006, pada tahun 2006 program ini bernama Bantuan Stimulan Pembangunan

Perumahan Swadaya (BSP2S) dan Peningkatan Kualitas Perumahan (PKP),

program ini dalam naungan Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Sesuai

dengan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 8 Tahun 2006, dalam

upaya pencapaian sasaran peningkatan keswadayaan masyarakat berpenghasilan

rendah untuk menempati rumah dan lingkungan yang layak huni dan dalam

rangka mendorong pemerintah kabupaten atau kota dalam memfasilitasi

masyarakat berpenghasilan rendah agar dapat memenuhi kebutuhan rumah dan

lingkungan yang layak huni, pelaksanaan program tersebut melibatkan lembaga

keuangan mikro/lembaga keuangan non bank (LKM/LKNB) dalam penyaluran,

pencairan dan pemanfaatan stimulan program tersebut sehingga penyaluran

dananya masih bersifat bergulir. Kemudian pada tahun 2011, program ini berubah
4

nama menjadi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) masih dalam

naungan Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera). Pada tahun 2015,

program BSPS ini berada dibawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum dan

Perumahan Rakyat.

Munculnya program bantuan stimulan perumahan swadaya merupakan

lanjutan dari program bidang perumahan lainnya yang telah dibuat oleh

pemerintah. Adapun yang membedakan program bantuan stimulan perumahan

swadaya dengan program bidang perumahan lainnya yaitu program ini memiliki

dua jenis kegiatan yaitu peningkatan kualitas bangunan serta pembangunan baru.

Dimana program yang telah dijalankan pemerintah sebelumnya hanya berfokus

kepada peningkatan kualitas bangunan saja. Selain itu, program bantuan stimulan

perumahan swadaya juga disebabkan karena kurang meratanya penerima bantuan

dari program ini.

Berikut ini merupakan besaran bantuan dari program Pelaksanaan BSPS

ini dari tahun 2018 sampai tahun 2020 yang ada di Kota Pekanbaru dapat dilihat

pada tabel 1.1

Tabel 1.1 Tentang Rekapitulasi Pelaksanaan BSPS

BSPS (REGULER)
NO TAHUN KECAMATAN KELURAHAN JUMLAH BANTUAN
Rumbai Pesisir
Limbungan 30
450.000.000 15.000.000
Lembah Sari 44
660.000.000 15.000.000
Lembah Damai 60
1 2018 900.000.000 15.000.000
Tenayan Raya Kulim 30
450.000.000 15.000.000
Lima Puluh
Pesisir 17
255.000.000 15.000.000
Tanjung Rhu 44 15.000.000
5

660.000.000
Senapelan Kampung Baru 30
450.000.000 15.000.000
Rumbai
Rantau Panjang 27
405.000.000 15.000.000
Muara Fajar Timur 21
315.000.000 15.000.000
JUMLAH 303 [Link]
BSPS (REGULER)
Tamoan
Sialang Mungu 20
350.000.000 17.500.000
Air Putih 20
350.000.000 17.500.000
Tenayan Raya
Mentangor 25
437.500.000 17.500.000
Rejosari 20
350.000.000 17.500.000
Bambu Kuning 20 350.000.000 17.500.000
Payung Sekaki Labuh Baru Timur 20 350.000.000 17.500.000
Sungai Sibam 20
350.000.000 17.500.000
Rumbai
Rantau Panjang 20
350.000.000 17.500.000
Muara Fajar Barat 20
350.000.000 17.500.000
Rumbai Bukit 20
350.000.000 17.500.000
Palas 20
350.000.000 17.500.000
Rumbai Pesisir
Sungai Ambang 20
350.000.000 17.500.000
Tebing Tinggi Okura 20
350.000.000 17.500.000
Sungai Ukai 20
350.000.000 17.500.000
JUMLAH 285 [Link]
BSPS (REGULER)
Tampan
Tuah Karya 14
245.000.000 17.500.000
Air Putih 15
262.500.000 17.500.000
Tenayan Raya
Bencah Lesung 15
262.500.000 17.500.000
3 2020
Industri Tenayan 15
262.500.000 17.500.000
Tuah Negeri 15
262.500.000 17.500.000
Sialang Sakti 15
262.500.000 17.500.000
6

JUMLAH 89 [Link]
BSPS (STRATEGIS)
Rumbai Agrowisata 22
385.000.000 17.500.000
Marpoyan Damai
Maharatu 20
350.000.000 17.500.000
4 2020 Sidomulyo Timur 20
350.000.000 17.500.000
Tangkerang Barat 18
315.000.000 17.500.000
Tangkerang Tengah 20
350.000.000 17.500.000
JUMLAH 100 [Link]
Sumber : Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru.

Berdasarkan data diatas dapat lihat bahwa dari tahun 2018 sampai tahun

2019 bantuan tersebut mengalami kenaikan, namun di tahun 2020 mengalami

penurunan yang sangat signifikan. Pada tahun 2018 hingga tahun 2019, dana

mengalami kenaikan yang cukup signifikan dikarenakan kondis keuangan Negara

dan Penerima bantuan masih banyak dari segi data, namun kelemahannya adalah

data tersebut tidak terlalu selektif dalam memilih dan menetapkan data penerima

bantuan tersebut, sehingga masih banyak nya penerima yang seharusnya berhak

menerima bantuan tersebut tidak menerimana bantuan.

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Kasi Perencanaan Dinas

Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Bapak Syah Indrapura Utama, S.T

mengatakan bahwa penyebab terjadinya penurunanan anggaran pada tahun 2020

ini didasarkan pada situasi keuangan negara dan bagaimana mencari penerima

bantuan yang berhak, oleh sebab itu pemberian bantuan untuk program ini masih

belum optimal, seharusnya pada tahun 2020 ini dana mengalami kenaikan, namun

karena kondisi Covid dan juga makin sulitnya mencari penerima yang benar-benar

berhak.
7

Dalam upaya menghadapi permasalahan perumahan dan pemukiman

tersebut, pemerintah menetapkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya melalui

Kementrian Perumahan Rakyat. Berdasarakan peraturan Menteri Pekerjaan

Umum dan Perumahan Rakayat Nomor 07 Tahun 2018 tentang Bantuan Stimulan

Perumahan Swadaya, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya merupakan fasilitasi

pemerintah berupa bantuan stimulan bagi masyarakat berpenghasilan rendah

untuk pembangunan/peningkatan kualitas rumah kepada masyarakat

berpenghasilan rendah.

Munculnya program bantuan stimulan perumahan swadaya merupakan

bentuk kelanjutan dari program bidang perumahan lainnya yang telah dibuat oleh

pemerintah. Adapun yang membedakan program bantuan stimuan perumahan

swadaya dengan program bidang perumahan lainnya yaitu program ini memiliki

dua jenis kegiatan yaitu peningkatan kualitas bangunan serta pembangunan baru.

Dimana program yang telah dijalankan pemerintah sebelumnya hanya berfokus

kepada peningkatan kualitas bangunan saja. Sasaran penerima bantuan ini adalah

masyarakat yang masih memiliki atau bertempat tinggal di pemukiman atau

rumah yang masih dibawah standar layak, yakni dibawah kategori semi permanen,

rumah-rumah ini banyak kita jumpai dipinggiran Kota Pekanbaru dan juga pada

kawasan padat permukiman di Kota Pekanbaru.

Program tersebut dilaksanakan pada lokasi yang telah ditetapkan oleh

pemerintah Kota Pekanbaru melalui Keputusan Walikota Pekanbaru Nomor 15

Tahun 2016, namun seperti yang diketahui banyak rumah tidak layak huni yang

ada di Kota Pekanbaru tidak seluruhnya masuk kedalam lokasi perumahan kumuh
8

dan pemukiman kumuh tersebut. Kemudian adanya penerima bantuan tidak sesuai

dengan kriteria yang telah ditentukan, seperti masyarakat dengan golongan

ekonomi sedang, masyarakat yang telah menerima bantuan lain dari pemerintah

dan masyarakar dengan kondisi rumah masih layak huni. Pelaksanaan program

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kota Pekanbaru dapat dikatakan belum

berhasil secara target. Hal ini dikarenakan penyaluran bantuan Stimulan

perumahan Swadaya belum sepenuhnya terealisasi. Serta adanya indikasi

penerima bantuan yang tidak tepat sasaran dalam pelaksanaan program Bantuan

Stimulan Perumahan Swadaya di Kota Pekanbaru (Raya, 2019).

Berdasarkan uraian diatas dapat diuraikan beberapa fenomena mengenai

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) diantaranya :

1. Banyak rumah tidak layak huni yang ada di Kota Pekanbaru tidak

seluruhnya masuk kedalam lokasi perumahan kumuh dan pemukiman

kumuh

2. Pelaksanaan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya belum

berhasil secara target

3. Penerima bantuan belum tepat sasaran dalam pelaksanaannya

Penelitian ini penting untuk dilakukan karena untuk mengetahui

pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Sadaya yang tekah

dilaksanakan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota

Pekanbaru. Dengan adanya penelitian ini diharapkan nantinya Dinas Perumahan

Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru mampu menjalankan program-

program yang telah dirancang oleh Pemerintah dengan optimal serta mampu
9

memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah agar bisa membangun serta

meningkatkan kulitas rumahnya secara swadaya sehingga bisa menghuni rumah

yang layak huni dan lingkungan yang sehat dan aman.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, mengenai hal ini penulis tertarik

melakukan penelitian dengan merumuskan judul penulisan yaitu “Analisis

Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Di

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dalam penelitian

adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

(BSPS) Di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota

Pekanbaru ?

2. Apa saja faktor-faktor penghambat Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya (BSPS) di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman

Kota Pekanbaru ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan ditas, maka penulis

dalam penelitian ini membuat tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pelakasanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya (BSPS) di Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman

Kota Pekanbaru.
10

2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat Program

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Di Dinas Perumahan

Rakyat dan Kawasan PermukimanKota Pekanbaru.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara

teoritis maupun praktis.

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi

perkembangan khazanah ilmu administrasi negara, terutama dalam

bidangProgram Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Di Dinas

Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Untuk menambah pengetahuan tentang serta syarat dalam memperoleh

gelar Sarjana (S1)

b. Bagi Lokasi Penelitian

Sebagai bahan masukan dan tambahan bagi dan memperbaiki ke arah

yang lebih baik lagi.

c. Bagi Lembaga Pendidikan

Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat dan ilmu

pengetahuan pembaca, serta dapat dijadikan bahan acuan bagi penulis

selanjutnya yang ingin meneliti masalah yang sama dan menjadi

referensi bacaan bagi semua pihak yang membutuhkannya.


11

d. Bagi Pihak Lainnya

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang

memerlukan pelaksanaan program Program Bantuan Stimulan

Perumahan Swadaya (BSPS) Di Dinas Perumahan Rakyat.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

dan manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini membahas teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan

yang dibahas, teori-teori yang diangkat penulis yaitu mengenai teori-

teori tentang pembangunan, kemiskinan dan program Bantuan

Stimulan Perumahan Swadaya.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang lokasi penelitian, jenis dan sumber data,

informan penelitian,tekhnik pengumpulan data dan analisa data.

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Bab ini berbicara tentang gambaran umum lokasi, baik itu berbicara

tentang sejarah ataupun bagaimana keadaan daerah tersebut.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini memuat hasil dari pembahasan dari penelitian

pembahasan yang dilakukan dan disusun sedemikian rupa sehingga

dapat diketahui maksud dan tujuan dari penelitian ini.


12

BAB VI PENUTUP

Bab ini merupakan bab penutup yang berisikan tentang kesimpulan

dari hasil penelitian serta saran-saran yang dapat dijadikan sebagai

bahan pertimbangan bagi pembaca dan lembaga pendidikan.


BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Pelaksanaan Kebijakan

Pelaksanaan kebijakan adalah sebagai tindakan-rindakan yang dilakukan

baik oleh individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah

atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan.

Van Meter dan Van Horn dalam (Wahab, 2014) mengemukakan bahwa

implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik individu/pejabat-

pejabat atau kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada terciptanya

tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan.

Implementasi merupakan aspek penting dari seluruh proses kebijakan,

implementasi adalah langkah lanjutan dari suatu kebijakan formulasi.

Implementasi dalam kebijakan publik adalah salah satu tahapan penting yang

harus dilakukan karena pada dasarnya implementasi kebijakan merupakan cara

agar kebijakan dapat mencapai tujuannya. Implementasi dalam hal ini merupakan

cara pelaksanaan atau penerapan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan

kebijakan yang telah selesai dibuat sebelumnya oleh para pembuat kebijakan.

Implementasi kebijakan menurut (Deddy Mulyadi, 2016) adalah suatu

yang mengarah pada tindakan demi tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan dalam

suatu keputusan. Dimana implementasi merupakan proses pelaksanaan suatu

keputusan dasar. Proses yang dimaksud tersebut terdiri dari beberapa tahapan

yaitu :

13
14

1. Tahapan pengesahan peraturan perundangan

2. Pengimplementasian keputusan oleh instansi/lembaga pelaksana

3. Kesediaan kelompok sasaran menjalankan keputusan

4. Dampak nyata dari keputusan, baik yang telah dikehendaki maupun tidak

5. Dampak keputusan yang diharapkan oleh instansi/lembaga pelaksana

6. Upaya perbaikan kebijakan dan peraturan perundang-undangan

Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa iplemetasi kebijakan adaah

suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh para aktor-aktor pelaksana kebijakan

yang berperan sehingga nanti akhirnya akan tercapai implementasi yang sesuai

dengan yang diinginkan dan juga akan menerima sebuah hasil yang memang

sesuai dengan tujuan apapun sasaran kebijakan itu sendiri. Implementasi itu tidak

dimulai sebelum tujuan dan sasaran kebijakan telah di identifikasikan atau

ditetapkan oleh para pembuat keputusan kebijakan.

2.1.1 Unsur-Unsur Pelaksanaan Kebijakan

Unsur-unsur dari pelaksanaan kebijakan yang mutlak dan harus ada yaitu :

1. Unsur Pelaksana

Unsur pelaksana adalah implementator kebijakan Dimock dalam

(Tachjan, 2006), pelaksanaan kebijakan merupakah pihak-pihak yang

menjalankan kebiajakn yang terdiri dari penentuan tujuan dan sasaran

organisasional analisis serta perumusan kebijakan dan strategi organisasi,

pengambilan keputusan, perencanaan, penyusunan program,

pengorganisasian, penggerakan manusia, pelaksanaan operasional,

pengawasan serta penialaian.


15

2. Adanya Program yang Dilaksanakan

Suatu kebijakan publik tidak mempunyai arti penting tanpa adanya

tindakan yang nyata dilakukan dengan berbagai program atau kegiatan.

Program kegiatan merupakan rencana yang komprehensif yang sudah

menggambarkan sumber daya yang digunakan dan terpadu dalam satu

kesatuan.

3. Target Group atau Kelompok Sasaran

Target group atau kelompok sasaran adalah sekelompok orang atau

organisasi dalam masyarakat yang akan menerima barang atau jasa yang

akan dipengaruhi perilakunya oleh kebijakan.

2.1.2 Prinsip Efektif Pelaksanaan Kebijakan

Menurut Richard Martland dalam (Nugroho, 2003) pada prinsipnya ada

empat tepat yang perlu dipenuhi dalam hal pencapaian keefektifan pelaksanaan

kebijakan, diantaranya :

1. Pertama, kebijakan itu sendiri sudah tepat. Ketepatan kebijakan ini dimulai

dari sejauh mana kebijakan yang ada, telah bermuatan hal-hal yang

memang memecahkan masalah yang hendak dipecahkan. Sisi kedua dari

kebijakan adalah apakah kebijakan tersebut sudah dirumuskan sesuai

dengan karakter masalah yang hendak dipecahkan. Sisi ketiga adalah

apakah kebijakan dibuat oleh lembaga yang mempunyai kewenangan yang

sesuai dengan karakter kebijakannya.

2. Kedua, tepat pelaksanaannya. Aktor implementasi tidak hanya pemerintah,

melainkan ada tiga lembaga yang dapat menjadi pelaksana yaitu


16

pemerintah, kerjasama antara pemerintah, masyarakat/swasta, atau

implementasi kebijakan yang diswastakan. Kebijakan yang bersifat

monopoli seperti KTP. Kebijakan yang bersifat memberdayakan

masyarakat seperti penanggulangan kemiskinan. Kebijakan yang bersifat

mengarahkan kegiatan masyarakat.

3. Ketiga, tepat target. Ketepatan ini berkaitan dengan tiga hal, pertama

apakah target yang diintervensi sesuai dengan yang direncanakan, tidak

tumpang tindih atau tidak bertentangan dengan intevensi kebijakan lain.

Kedua apakah target dalam kondisi siap untuk diintervensi atau tidak.

Ketiga apakah intervensi kebijakan bersifat baru atau memperbaharui

implementasi kebijakan sebelumnya.

4. Keempat, tepat lingkungan. Ada dua lingkungan yang paling menentukan

yaitu lingkungan kebijakan dan lingkungan eksternal kebijakan.

Lingkungan kebijakan yaitu interaksi antara lembaga perumus kebijakan

dan pelaksana kebijakan dengan lembaga lain yang terkait. Lingkungan

kesternal sebagai variabel eksogen terdiri dri opini publik, yaitu persepsi

publik kebijakan dan implementasi kebijakan, lembaga interpretasi dengan

lembaga strategik dalam masyarakat, individu tertentu yang mampu

memainkan peran penting dalam menginterpretasikan kebijakan

implementasi kebijakan.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Kebijakan

Meter dan Horn dalam (Subarsono, 2005) mengadopsi model sistem

kebijaksanaan yang pada dasarnya menyangkut beberapa komponen yang harus


17

selalu ada agar tuntutan kebijaksanaan bisa direalisasikan menjadi hasil

kebijaksanaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan

pelaksanaan kebijakan sebagai berikut :

1. Standar Kebijaksanaan dan Tujuan

Yaitu rincian tujuan keputusan kebijaksanaan secara menyeluruh

yang berwujud dokumen peraturan menuju penentuan standar yang

spesifik dan konkrit untuk menilai kinerja program

2. Sumber Daya

Kebijaksanaan mencakup lebih dari sekedar standar sasaran, tapi

juga menuntut ketersediaan sumber daya yang akan memperlancar

implementasi. Sumber daya ini dapat berupa dana maupun insentif lainnya

yang akan mendukung implementasi secara efektif.

3. Karakteristik Agen Pelaksana

Meliputi karakteristik organisasi yang akan menentukan berhasil

atau tidaknya suatu program, diantaranya kompetensi dan ukuran staff

agen, dukungan legistaltive dan eksekutif, kekuatan organisasi, derajat

keterbukaan komunikasi dengan pihak luar maupun badan pembuat

kebijakan.

4. Komunikasi antar Organisasi dan Aktivitas Pelaksana

Implementasi membutuhkan mekanisme dan prosedur institusional

yang mengatur pola komunikasi antar organisasi mulai dari kewenangan

yang lebih tinggi hingga rendah.


18

5. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik

Lingkungan berpengaruh terhadap implementasi program,

diantaranya sumber daya ekonomi yang dimiliki organisasi pelaksana,

bagaimana sifat opini publik, dukungan elit, peran dan kelompok-

kelompok kepentingan dan swasta dalam menunjuang keberhasilan

program.

6. Disposisi Sikap Para Pelaksana

Persepsi pelaksana dalam organisasi dimana program itu

diterapkan, hal ini dapat berubah sikap menolak, netral dan menerima yang

berkaitan dengan sistem nilai pribadi, loyalitas, kepentingan pribadi dan

sebagainya.

2.2 Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)

2.2.1 Konsep Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) lahir berdasarkan

Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman

yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 4 Tahun 1992. Pada pasal 54

Undang-undang No. 1 Tahun 2011 disebutkan bahwa: (1) Pemerintah wajib

memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, (2)

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib memberikan kemudahan

pembangunan dan perolehan rumah melalui program perencanaan pembangunan

perumahan secara bertahap dan berkelanjutan, (3) kemudahan dan/atau bantuan

pembangunan dan perolehan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah,


19

sebagaimana yang dimaksud ayat 2 dapat berupa: a) subsidi perolehan rumah; b)

stimulan rumah swadaya; c) prasarana, sarana, dan utilitas umum.

Menindaklanjuti berlakunya Undang-undang tersebut, selanjutnya

Kementerian Perumahan Rakyat menerbitkan Peraturan Menteri Perumahan

Rakyat Nomor 06 Tahun 2013 yang merupakan revisi dari Peraturan Menteri

Perumahan Rakyat Nomor 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan

Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). BSPS adalah fasilitasi pemerintah berupa

bantuan sosial kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). MBR adalah

masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat

dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah yang layak huni.

Penerima bantuan stimulan perumahan swadaya yaitu masyarakat miskin

atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang menempati rumah tidak

layak huni. Masyarakat Berpenghasilan Rendah berdasarkan Peraturan Menteri

Perumahan Rakyat Nomor 06 Tahun 2013 adalah masyarakat yang mempunyai

keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan dari pemerintah untuk

memperoleh rumah yang layak huni. Sedangkan rumah tidak layak huni adalah

rumah yang tidak memenuhi persyaratan kecukupan minimal luas, kualitas, dan

kesehatan bangunan. Maksud kegiatan BSPS adalah untuk meningkatkan prakarsa

Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam pembangunan/peningkatan

kualitas rumah beserta prasarana, sarana, dan utilitas sehingga menjadikan

perumahan yang sehat, aman, serasi,dan teratur serta berkelanjutan.

Selain berpenghasilan rendah dan menempati rumah tidak layak huni

penerima bantuan diutamakan dari masyarakat yang telah memiliki rencana


20

membangun atau meningkatkan kualitas rumah, yang dibuktikan dengan memiliki

tabungan bahan bangunan, sebelumnya telah memulai membangun rumah,

memiliki aset lain yang dapat dijadikan dana tambahan, dan memiliki tabungan

uang yang dapat dijadikan dana tambahan BSPS. Lingkup bantuan stimulan ini

yaitu :

1. Pembangunan Baru / Perbaikan Total Pelaksanaan kegiatan pembangunan

baru atau perbaikan total ditujukan kepada masyarakat yang

berpenghasilan rendah penerima bantuan yang memiliki tanah tetapi belum

memiliki rumah, dalam rangka kegiatan pembuatan bangunan rumah layak

huni di atas tanah matang.

2. Peningkatan Kualitas Pelaksananan kegiatan peningkatan kualitas

ditujukan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dikhususkan untuk

penerima bantuan yang sudah memiliki rumah akan tetapi rumah yang

ditempati kurang layak huni, dalam rangka kegiatan memperbaiki

komponen rumah dan/atau memperluas rumah untuk meningkatkan

dan/atau memenuhi syarat rumah layak huni.

3. Pembangunan Prasarana Sarana dan Utilitas umum (PSU) Pembangunan

PSU dibedakan menjadi 2 yaitu yang melekat pada rumah swadaya dan/

atau PSU yang melayani komunitas penerima bantuan. Utilitas yang

melekat pada rumah swadaya adalah penyambungan daya listrik,

penyambungan air bersih, dan/ atau kamar mandi/WC. Sedangkan PSU

yang melayani komunitas penerima bantuan yakni sarana MCK

umum/komunal, jalan lingkungan, jalan setapak, saluran air hujan


21

(drainage), penerangan jalan umum, sumber dan jaringan air bersih, tempat

pembuangan sampah, sumber listrik ramah lingkungan, jaringan listrik,

dan/ atau sarana sosial lainnya seperti tempat ibadah atau balai warga.

2.2.2 Tujuan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)

Tujuan dari program ini adalah untuk memberdayakan masyarakat

berpenghasilan rendah agar bisa membangun serta meningkatkan kulitas

rumahnya secara swadaya sehingga bisa menghuni rumah yang layak huni dan

lingkungan yang sehat dan aman.

Menurut Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 20 Tahun

2017 dalam (Ismi, 2019) rumah bisa dikatakan layak huni apabila bisa memnuhi

persyaratan keselamatan dan juga kecukupan minimum luas bangunan serta

kesehatan para penghuni-penghuninya. Rumah layak huni yang dimaksud adalah

sebagai berikut :

1. Faktor Kesehatan

a. Salah satu kriteria rumah layak huni atau tidak adalah dari sisi

kesehatan, tempat tinggal dianggap layak huni harus berada di lokasi

rumah yang tidak terkena banjir dan juga tidak lembab.

b. Utilitas jaringan listrik yang bisa berfungsi juga menjadi hal penting

dari rumah yang layak huni. Setiap lingkungan rumah harus

mendapatkan daya listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN)

minimum 450 Volt Ampere, tersedia juga penerangan jalan umum dan

setiap ruangan harus memenuhi persyaratan pencahayaan serta

sirkulasi udara yang baik.


22

c. Jaringan air bersih yang tersedia dari PDAM atau dari sumur pompa

juga tersedia. Syarat air bersih yang layak konsumsi adalah jika dengan

fisik terlihat jernih, tidak berasa dan tidak berbau.

2. Faktor kemanan bangunan

a. Bangunan rumah wajib memenuhi persyaratan teknis dan pemilihan

material bangunan yang tepat

b. Bagian atap harus mempunyai kemiringan yang sesuai dengan bahan

penutup yang dipakai sehingga tidak mengakibatkan bocor

c. Bagian lantai terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, tidak lembab

dan kuat menahan beban

d. Pada bagian dinding harus mampu menahan beban diatasnya dan juga

dapat menahan berat angin. Untuk dinding kamar mandi harus

memiliki ketinggian 1,5 meter diatas permukaan lantai.

3. Keindahan dan kenyamanan

Rumah harus dirancang dengan indah dan nyaman. KemenPUPR

menyarankan menggunakan model arsitektur lokal dan penataan serta

penentuan besaran ruangan yang optimal.

2.2.3 Kriteria Penerima Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

(BSPS)

Perumahan swadaya adalah rumah-rumah yang dibangun atas prakarsa dan

upaya masyarakat, baik secara sendiri atau berkelompok, yang meliputi perbaikan,

pemugaran/perluasan atau pembangunan rumah baru beserta lingkungan. Kriteria

Penerima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Berikut ini terdapat


23

beberapa kriteria bantuan menurut Peraturan Menteri Perumahan No. 6 Tahun

2013 tentang Pedoman Pelaksanaan BSPS dalam (Nursifa, 2021), yakni:

1. Kriteria Penerima Bantuan

a. Warga Negara Indonesia;

b. MBR dengan penghasilan dibawah upah minimum provinsi rata-

ratanasional atau masyarakat miskin sesuai dengan data dari

Kementerian Sosial;

c. Sudah berkeluarga;

d. Memiliki atau menguasai tanah;

e. Belum memiliki rumah, atau memiliki dan menghuni rumah tidak

layak huni;

f. Belum pernah mendapat bantuan perumahan dari Pemerintah atau

pemerintah daerah, termasuk yang terkena bencana alam, kebakaran

atau kerusuhan sosial;

g. Didahulukan yang telah memiliki rencana membangun

ataumeningkatkan kualitas rumah yang dibuktikan dengan:

h. Memiliki tabungan bahan bangunan;

i. Telah mulai membangun rumah sebelum mendapatkan

bantuanstimulan;

j. Memiliki aset lain yang dapat dijadikan dana tambahan BSPS;

k. Memiliki tabungan uang yang dapat dijadikan dana tambahanBSPS.

l. Bersungguh-sungguh mengikuti program bantuan stimulanperumahan

swadaya; dan

m. Dapat bekerja secara kelompok.


24

2. Kriteria Objek Bantuan adalah

a. Rumah tidak layak huni yang berada di atas tanah:

b. Dikuasai secara fisik dan jelas batas-batasnya

c. Bukan merupakan tanah warisan yang belum dibagi

d. Tidak dalam status sengketa, dan

e. Penggunaannya sesuai dengan rencana tata ruang :

2.2.4 Implementator Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

(BSPS)

Sementara menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakayat Nomor

07 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Swadaya,

pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Swadaya dilaksanakan oleh Pokja Pusat

dan Pokja Provinsi dan Pokja Kabupaten/Kota.

1. Kelompok Kerja Pusat

Kelompok Kerja Pusat terdiri dari Deputi Bidang Perumahan

Swadaya Kementrian Perumahan Rakyat, Sekretariat Kementrian

Perumahan Rakyat, Pusat Pengembangan Perumahan Kementrian

Perumahan Rakyat. Tugasnya dalam Pelaksanaan Bantuan Stimulan

Perumahan Swadaya yaitu :

a. Menyiapkan bahan perumusan pedoman pelaksanaan kegiatan

b. Mensosialisasikan program dari kegiatan bantuan stimulan perumahan

swadaya ditingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota

c. Menyiapkan rumusan penetapan Kabupaten/Kota penerima bantuan

dan rencana sasaran bantuan stimulan perumahan swadaya


25

d. Menyampaikan hasil verifikasi administrasi calon penerima bantuan

kepada Pokja Kabupaten/Kota untuk dilakukan verifikasi lapangan

e. Merumuskan penetapan masyarakat berpenghasilan rendah penerima

bantuan untuk ditetapkan kepala satuan kerja

f. Melaporkan hasil pelaksanaan bantuan stimulan kepada Deputi

berdasarkan laporan yang telah disampaikan oleh UPK/BKM.

2. Kelompok Kerja Provinsi

Kelompok kerja Provinsi terdiri atas Unsur SKPD yang menangani

tentang perumahan, Unsur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah,

Unsur Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional, Unsur SKPD yang

menangani tentang bidang pemberdayaan masyarakat. Keanggotaan

Kelompok Kerja Provinsi ditetapkan dengan surat keputusan Gubernur.

Tugasnya pada pelaksanaan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

(BSPS) yaitu :

a. Mengkoordinasikan kelompok kerja Kabupaten/Kota yang

melaksanakan tugasnya

b. Mengendalikan pelaksanaan tugas kelompok kerja Kabupaten/Kota

c. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan bantuan stimulasi

3. Kelompok Kerja Kabupaten/Kota

Kelompok kerja Kabupaten/Kota terdiri dari Unsur SKPD yang

menangani tentang bidang perumahan, Unsur Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah, Unsur Kantor Pertanahan, Unsur SKPD yang

menangani tentang Bidang Pemberdayaan Masyarakat, unsur SKPD yang

menangani tentang bidang sosial.


26

Keanggotaan Kelompok Kerja Kabupaten/Kota ditetapkan dengan

surat keputusan Bupati/Walikota. Tugasnya dalam pelaksanaan yaitu :

a. Memverifikasi lapangan data calon penerima bantuan stimulan

perumahan swadaya dan hasil verifikasi administrasi tersebut

dilakukan oleh kelompok kerja pusat

b. Menyampaikan calon penerima bantuan stimulan perumahan swadaya

dan hasil verifikasi lapangan kepada satuan kerja dengan tembusan

kepada kelompok kerja pusat.

c. Melakukan pembinaan serta pengawasan terhadap UPK/BKM, TPM

dan KSM

d. Melapor pelaksanaan tugas kebijakan kepada Bupati/Walikota dengan

tembusan untuk kelompok kerja provinsi dan kelompok kerja pusat.

2.2.5 Kelompok Sasaran Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

(BSPS)

Kelompok sasaran bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS)

kelompok sasaran program ini dalah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)

beranggotakan MBR penerima bantuan stimulan perumahan swadaya. Jumlah

KSM paling rendah yaitu 5 orang dan paling tinggi yaitu 11 orang. Adapun tugas

KSM antara lain :

1. Menyusun Rencana Tindak Komunitas (RTK) dan DED pembangunan

perumahan PSU yang mendapatkan bantuan stimulan perumahan swadaya

2. Membangun rumah yang mendapatkan bantuan stimulan perumahan

swadaya
27

3. Melapor manfaat dana bantuan stimulan dan pembangunan rumah

swadaya pada UPK/BKM

4. Menyetujui dan membuat daftar hadir pada TPM

2.2.6 Bentuk Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)

Bentuk bantuan yang diberikan adalah berupa uang dan barang. Bantuan

dalam bentuk barang dapat diambil ditoko bangunan yang telah ditunjuk senilai

15 juta dan bantuan dalam bentuk uang dapat dicairkan dibank atau dikantor pos

senilai 2,5 juta dan uang tersebut digunakan untuk biaya tukang bangunan.

2.3 Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya pemerintah untuk mendorong

akselerasi penurunan angka kemiskinan yang berbasis partisipasi yang diharapkan

dapat menciptakan proses penguatan sosial yang dapat mengantar masyarakat

miskin menuju masyarakat yang madani, sejahtera, berkeadilan serta

berlandasakan iman dan takwa. Sebagai tujuan pemberdayaan menunjuk pada

keadaan atau hal yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial yaitu

masyarakat yang berdaya memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan

kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik,

ekonomi mapun sosia seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan

aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan

mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya (Sumodiningrat, 2009).

Adapun konsep pemberdayaan tidak mempertentangkan pertumbuhan dan

pemerataan, konsep ini berpandangan bahwa dengan pemerataan tercipta landasan

yang lebih luas untuk pertumbuhan dan yang akan menjamin pertumbuhan yang
28

berkelanjutan. Menurut (Hikmat, 2001) upaya pemberdayaan masyarakat

dilakukan dengan tiga hal :

1. Menciptakan iklim yang memungkinkan potensi manusia berkembang.

Titik tolaknya adalah penekanan bahwa setiap manusia dan masyarkat

memiliki potensi-potensi kemudian diberikan mmotivasi dan penyadaran

bahwa potensi itu dapat dikembangkan.

2. Memperkuat potensi yang dimiliki masyakat dimana perlu langkah-

langkah yang lebih positif dan nyata, penyediaan berbagai masukan serta

pembukaan berbagai akses kepada berbagai peluang yang akan membuat

masyakat mampu dan memanfaatkan peluang. Pemberdayaan pada jalur

ini dapat berupa pemberian berbagai bantuan produktif, pelatihan,

pembangunan sarana dan prasarana baik fisik maupun sosial dan

pengembangan kelambagaan di tingkat masyarakat.

3. Pemberdayaan mengandung arti pemihakan pada pihak yang lemah untuk

mencegah persaingan yang tidak seimbang dan menciptakan kemitraan

yang saling menguntungkan.

Dari pengertian dapat dikatakan bahwa pemberdayaan merupakan proses

partisipatif, pemberdayaan masyarakat ditentukan oleh masyarakat dimana

lembaga pendukung hanya memiliki peran sebagai fasilitator. Penerima manfaat

program pemberdayaan adalah kelompok-kelompok marginal dalam masyarakat.

Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat pada tingkat penentu kebijakan akan

meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan sumber daya pembangunan

yang semakin terbatas.


29

2.3.1 Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Tujuan utama pemberdayaan adalah untuk memperkuat kekuasaan

masyarakat khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik

karena kondisi internal, maupun karena kondisi eksternal (Soekanto, 2017). Ada

beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah atau tidak

berdaya meliputi :

1. Kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender,

maupun etnis

2. Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja,

penyandang cacat, gay dan lesbian, masyarakat terasing.

3. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah

pribadi atau keluarga

Dari tujuan pemberdayaan masyarakat diatas dapat dikatakan bahwa

tujuan pemberdayaan adalah mendirikan masyarakat atau membangun

kemampuan untuk membangun kemampuan untuk memajukan diri kearah

kehidupan yang lebih baik secara seimbang. Karena pemberdayaan masyarakat

adalah upaya memperluas horizon pilihan bagi masyarakat, ini menunjukkan

bahwa masyarakat diberdayakan untuk melihat dan memilih sesuatu yang

bermanfaat bagi dirinya.

2.3.2 Mekanisme Pemberdayaan Masyarakat

Menurut (Noor, 2010) mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat

harus melibatkan berbagai potensi yang ada dalam masyarakat, beberapa elemen

yang terkait misalnya :


30

1. Peranan Pemerintah dalam artian birokrasi, pemerintah harus dapat

menyesuaikan dengan misi, mampu membangun partisipasi, membuka

dialog dengan masyarakat, menciptakan instrument peraturan dan

pengaturan mekanisme pasar yang memihak golongan masyarakat bawah.

2. Organisasi-ogranisasi kamasyarakatn di luar lingkungan masyarakat,

Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi kemasyarakatan Nasional

maupun Lokal.

3. Lembaga masyarakat yang tumbuh dari dan didalam masyarakat itu sendiri

(Local Community Organization) seperti BPD, PKK, Karang Taruna dans

sebagainya.

4. Koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat yang merupakan organisasi sosial

berwatak ekonomi dan merupakan bangun usaha yang sesuai untuk

demokrasi ekonomi Indonesia.

5. Pendamping diperlulan karena masyarakat miskin biasanya mempunyai

keterbatasan dalam pengembangan diri dan kelompoknya.

6. Pemberdayaan harus tercermin dalam proses perencanaan pembangunan

nasional sebagai proses bottom-up.

7. Keterlibatan masyarakat yang lebih mampu khususnya dunia usaha dan

swasta

2.3.3 Tahapan Pemberdayaan Masyarakat

Menurut (Adi, 2012) pemberdayaan masyarakat memiliki tujuh

permberdayaan sebagai berikut :


31

1. Tahap persiapan

Pada tahap ini ada dua tahapan yang dikerjakan, pertama pempinan

petugas yaitu tenaga pemberdayaan masyarakat yang bisa dilakukan oleh

community woker, dan kedua penyiapan lapangan yang pada dasarnya

diusahakan dilakukan secara direktif.

2. Tahapan Pengkajian (assessment)

Pada tahap ini yaitu proses pengkajian dapat dilakukan secara individual

melalui kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dalam hal ini petugas

harus berusaha mengidentifikasi masalah kebutuhan yang dirasakan (feel

needs) dan juga sumber daya yang dimiliki klien.

3. Tahap Perencanaan Alternatif Program

Pada tahap ini petugas sebagai agen perubahan (exchange angent) secara

partisipatif mencoba melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah

yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam konteks ini

masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa aternatif program dan

kegiatan yang dapat dilakukan.

4. Tahap Performalisasi Rencana Aksi

Pada tahapan ini agen perubahan membantu masing-masing kelompok

untuk merumuskan dan menentukan program dan kegiatan apa yang

mereka akan lakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Disamping

itu juga petugas membantu untuk memformalisasikan gagasan mereka

kedalam bentuk tertulis, terutama bila ada kaitannya dengan pembuatan

proposal kepada penyandang dana.


32

5. Tahap Pelaksanaan (Impelemntasi) Program

Dalam upaya pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat peran

masyarakat sebagai kader diharapkan dapat menjaga keberlangsungan

program yang telah dikembangkan. Kerjasama antar petugas dan

masyarakat merupakan hal penting dalam tahapan ini karena terkadang

sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik melenceng saat dilapangan.

6. Tahap Evaluasi

Evaluasi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas program

pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan sebaiknya dilakukan

dengan melibatkan warga. Dengan keterlibatan warga tersebut diharapkan

dalam jangka waktu pendek biasanya membentuk suatu sistem komunitas

untuk pengawasan secara internal dan untuk jangka panjang dapat

membangun komunikasi masyarakat yang lebih mendirikan dengan

memanfaatkan sumber daya yang ada.

7. Tahap Terminasi

Tahap ini merupakan tahap pemutusan hubungan secara formal dengan

komunitas sasaran, dalam tahap ini diharapkan proyek harus segera

berhenti.

2.4 Pandangan Islam tentang Kemiskinan

Islam memandang kemiskinan sebagai suatu problem yang memerlukan

solusi, bahkan bahaya yang mesti segera diatasi dan dicarikan jalan keluar. Dalam

mengentaskan kemiskinan Islam mendahulukan langkah-langkah positif dan

solusi-solusi prosedural yang realistis. Dalam Islam jalan keluarnya telah diatur
33

sejak lama, dengan kewajiban berkerja bagi yang mampu, shadaqah, dan zakat.

Oleh karena itu, dalam sebuah negara dan pemerintahan yang menerapkan syariat-

syariat Islam, pemandangan kemiskinan yang kita saksikan bukan tidak mungkin

terhapuskan sama semua. Islam pada dasarnya adalah agama yang memiliki

konsep keadilan, dengan panduan-panduan prinsip berdasarkan AL-Qur’an dan

Hadist dalam berbagai hal seperti ekonomi, politik, kultural baik terhadap laki-

laki maupun perempuan. Islam juga mengatur hal yang berhubungan dengan

kehidupan umat manusia.

Sebagai aparatur negara, pemerintah berkewajiban mencukupi setiap

kebutuhan warga negaranya, melalui sumber-sumber dana yang sah. Negara

berkewajiban untuk meringankan dan membantu agar dapat memudahkan beban

orang-orang yang berpenghasilan rendah, Al-Qur’an mewajibkan kepada setiap

muslim untuk berpartisipasi menanggulangi kemiskinan sesuai dengan

kemampuannya. Bagi yang tidak memiliki kemampuan material maka paling

sedikit partisipasinya diharapkan dalam bentuk merasakan, memikirkan dan

mendorong pihak lain untuk berpartisipasi secara aktif. Sebagaimana pandangan

islam dalam Al-Qur’an Surat al-Hasyr ayat 7.

            

            

              
Artinya : Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya
(dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah
untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan
beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang
34

diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya


bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Menurut pandangan islam, negara harus menggunakan berbagai sarana

untuk menghapus kemiskinan dan menjamin kehidupan yang layak bagi

warganya. Dengan demikian terciptalah solidaritas Islam dalam suatu masyarakat.

Selain itu Rasulullah SAW dalam sebuah Hadist, tentang kebijakan pengeluaran

pendapatan negara di distribusikan langsung kepada orang-orang yang berhak

menerimanya dan harus dikelola dengan agar dapat dipetanggung jawabkan,

sebagaimana yang termuat dalam salah satu hadist yang berbunyi sebagai berikut :

“Dari Ibnu Umar RA dan Nabi Muhammad SAW sesungguhnya bersabda,

sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan

akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara

adalah pemimpin atas rakayatnya dan akan diminta pertanggung jawaban perihal

rakyatnya dan akan diminta pertanggun jawaban atas perihal rakyat yang

dimpimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan

akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin

atas rumah tanggan dan anak-anaknya dan akan ditanya perilhal tanggun

jawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang

milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu

sekalian pemimpin dan akan ditanya atas petanggung jawabannya”. (H.R Muslim)

2.5 Definisi Konsep

Menurut Singarimbun (2006:34) berpendapat bahwa konsep adalah

abtraksi mengenai fenomena yang dirumuskan atau dasar generalisasi atas jumlah
35

karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu. Untuk

memberikan batasan-batasan yang lebih jelas dari masing-masing konsep guna

untuk menghindari salah pengertian, maka defenisi beberapa konsep yang dipakai

dalam penelitian ini akan dikemukakan sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Kebijakan

Pelaksanaan adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh

individual/pejabat-pejabat atau kelompok pemerintah atau swasta yang yang

diarahkan pada tercapainya tujuan tujuan yang telah digariskan dalam

keputusan kebijaksanaan, yang dimaksud dalam hal ini adalah

2. Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya yang selanjutnya disingkat BSPS

adalah fasilitasi pemerintah berupa bantuan stimulan untuk

pembangunan/peningkatan kualitas rumah kepada Masyarakat

Berpenghasilan Rendah. Pelaksanaan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

di Kota Pekanbaru merupakan jenis Peningkatan Kualitas (PK) Rumah.

3. Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya pemerintah untuk mendorong

akselerasi penurunan angka kemiskinan yang berbasis partisipasi yang

diharapkan dapat menciptakan proses penguatan sosial yang dapat mengantar

masyarakat miskin menuju masyarakat yang madani, sejahtera, berkeadilan

serta berlandasakan iman dan takwa.


36

2.6 Referensi Peraturan Perundang Undangan

Pelaksanaan peogram bantuan stimulan perumahan swadaya dilaksanakan

dengan beberapa regulasi Peraturan Perundang undangan dan Peraturan Menteri

Perumahan Rakyat, regulasinya adalah sebagai berikut :

1. Undang-undang No. 1 Tahun 2011

Undang-Undang ini terkait dengan Perumahan dan Kawasan

Pemukiman yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 4 Tahun

1992. Pada pasal 54 Undang-undang No. 1 Tahun 2011 disebutkan bahwa:

(1) Pemerintah wajib memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat

berpenghasilan rendah, (2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib

memberikan kemudahan pembangunan dan perolehan rumah melalui

program perencanaan pembangunan perumahan secara bertahap dan

berkelanjutan, (3) kemudahan dan/atau bantuan pembangunan dan

perolehan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sebagaimana

yang dimaksud ayat 2 dapat berupa: a) subsidi perolehan rumah; b)

stimulan rumah swadaya; c) prasarana, sarana, dan utilitas umum.

2. Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 06 Tahun 2013

Peraturan ini merupakan revisi dari Peraturan Menteri Perumahan

Rakyat Nomor 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan

Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). BSPS adalah fasilitasi pemerintah

berupa bantuan sosial kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga

perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah yang

layak huni.
37

2.7 Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang Pelaksanaan

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Di Dinas Perumahan

Rakyat. Berikut ini beberapa hasil penelitian yang diperoleh dari jurnal-jurnal di

lapangan.

1. Penelitian Ashifa Rizki Priadi (2018) dalam jurnal yang berjudul

“Implementasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)

Dalam Penyediaan Rumah Layak Huni Di Kabupaten Langkat”. Hasil

penelitian ini menunjukkan pelaksanaan Program Bantuan Stimulan

Perumahan Swadaya dalam penyediaan perumahan yang layak huni di

Kabupaten Langkat belum berjalan optimal. Termasuk kurangnya

partisipasi dan kesadaran masyarakat serta kurangnya pengetahuan tentang

program BSPS. Selain itu, dalam tahap pembangunan yang harus

dilakukan dalam gotong royong dengan kelompok yang telah ditentukan

tetapi pada kenyataannya masih dilakukan secara individual. Peneliti juga

melihat bahwa implementor program ini belum memiliki ketegasan karena

masih membiarkan masyarakat bekerja secara individual dan cenderung

apatis. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama membahas

mengenai Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya. Perbedaannya

adalah penulis membahas mengenai pelaksanaan Program Bantuan

Stimulan Perumahan Swadaya yang dilakukan oleh Dinas Perumahan

Rakyat dan Kawasan Permukiman di Kota Pekanbaru, sedangkan dalam

jurnal Ashifa Rizki Priadi membahas mengenai Implementasi Program

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Dalam Penyediaan Rumah

Layak Huni Di Kabupaten Langkat.


38

2. Ulfa Dadan Raya (2019) dalam Jurnal yang berjudul “Efektvitas

Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kota

Pekanbaru”, dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan

bahwa Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya pelaksanaannya

belum efektif, hal ini ditandai dengan tidak tepatnya pengukuran waktu,

penghitungan biaya dan ketepatan sasaran program. Selain itu terpadat

faktor-faktor yang menjadi penghambat efektivitas Pelaksanaan Program

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kota Pekanbaru yaitu

pengawasan dan kewenangan. Persamaan dalam penelitian ini adalah

sama-sama membahas mengenai Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya. Perbedaannya adalah penulis membahas mengenai pelaksanaan

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya yang dilakukan oleh

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman di Kota Pekanbaru,

sedangkan pada jurnal Ulfa Dadan Raya membahas mengenai Efektivitas

Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Kota

Pekanbaru.

3. Inggriani (2015) dalam Jurnal yang berjudul “Evaluasi Pelaksanaan

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kabupaten

Dharmasraya”, dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan

bahwa evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya (BSPS) di Kabupaten Dharmasraya belum berjalan secara

optimal. Hal ini disebabkan sumber daya pendukung untuk pelaksanaan

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kabupaten


39

Dharmasraya kurang memadai, khusunya sumber daya manusianya dan

koordinasi antara masyarakat, Bappeda serta Kemenpera belum berjalan

seperti yang diharapkan. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-

sama membahas mengenai Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya. Perbedaannya adalah penulis membahas mengenai pelaksanaan

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya yang dilakukan oleh

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman di Kota Pekanbaru,

sedangkan pada jurnal Inggriani membahas mengenai Evaluasi

Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di

Kabupaten Dharmasraya.

4. Sefrika (2019) dalam Jurnal yang berjudul “Sistem Pendukung Keputusan

Pemberian Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)

KemenPUPR”, dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan

bahwa kriteria penerima BSPS yang paling tepat adalah kriteria wilayah

dengan kriteria kemiskinan yang tinggi. Berdasarkan penelitian yang telah

dilakukan terhadap 5 Kecamaran di daerah Kabupaten Bogor, maka

didapatkan nilai preferensi alternatif alternatif sebanyak 0,54 dengan

kriteria C1 yaitu tingkat kemiskinan. Berdasarkan hal tersebut, maka

kriteria Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang

diberikan olehn KemenPUPR yang dilakukan uji terhadap 5 Kecamatan di

Kabupaten Bogor, maka kriteria penerima bantuan utama harus diberikan

kepada Kecamatan dengan jumlah penduduk miskin terbanyak. Hasil uji

coba bisa dilakukan terhadap wilayah lain yang ada di Kota dan
40

Kabupaten serta Provinsi seluruh Indonesia dengan sampel uji yang lebih

banyak. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama membahas

mengenai Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya. Perbedaannya

adalah penulis membahas mengenai pelaksanaan Program Bantuan

Stimulan Perumahan Swadaya yang dilakukan oleh Dinas Perumahan

Rakyat dan Kawasan Permukiman di Kota Pekanbaru, sedangkan pada

jurnal Sefrika membahas mengenai Sistem Pendukung Keputusan

Pemberian Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)

KemenPUPR

5. Asminar (2020) dalam Jurnal yang berjudul “Tingkat Kesejahteraan Petani

Penerima Pemberian Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di

Desa Kuamang Kecamatan Jujuhan Ilir Kabupaten Bungo”, dari hasil

penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kesejahteraan petani

penerima bantuan stimulan perumahan swadaya sesuai dengan indikator

BPS 2017 di Desa Kuamang Kecamatan Jujuhan Ilir Kabupaten Bungo

kategori sedang dengan nilai 1.60. Rumah yang dimiliki adalah rumah

layak huni setelah adanya bantuan BSPS dan mayoritas gaji masyarakat

penerima bantuan stimulan perumahan swadaya masih dibawah Upah

Minimum Provinsi (UMP) kurang lebih 1.500.000 yang mayoritas bekerja

sebagai buruh petani. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama

membahas mengenai Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya.

Perbedaannya adalah penulis membahas mengenai pelaksanaan Program

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya yang dilakukan oleh Dinas


41

Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman di Kota Pekanbaru,

sedangkan pada jurnal Asminar membahasa Jurnal Tingkat Kesejahteraan

Petani Penerima Pemberian Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya di Desa Kuamang Kecamatan Jujuhan Ilir Kabupaten Bungo.

2.8 Konsep Operasional

Menurut (Singarimbun, 2006) definisi konsep operasional merupakan

suatu cara untuk mengukur variabel-variabel, sehingga dengan pengukuran ini

dapat diketahui apa saja yang diketahui sebagai penduduknya untuk dianalisa dari

variabel tersebut.

Adapun yang menjadi konsep operasional dalam penelitian ini sebagai

berikut :

Tabel 2.1 Konsep Operasional

Konsep/Referensi Indikator Sub indikator


Peraturan Menteri a. Bersifat stimulan dalam
Pekerjaan Umum dan 1. Swadaya rangka pengingkatan
Perumahan Rakyat Masyarakat kualitas rumah agar layak
Nomor 47 tahun 2015 huni.
tentang Penggunaan b. Diperlukannya komitmen
Dana Alokasi Khusus serta kesiapan masyarakat
Bidang Infrastruktur berupa dana
Program Bantuan 2. Pemberdayaan a. Merencanakan kegiatan
Stimulan Perumahan Masyarakat b. Membangun dan mengelola
Swadaya pelaksanaan kegiatan
bantuan
c. Mengawasi jalannya
kegiatan bantuan
3. Transparan a. Kegiatan dilaksanakan
secara terbuka
b. Evaluasi oleh semua pihak
4. Dapat a. Dapat dipertanggung
Dipertanggung jawabkan kepada
Jawabkan masyarakat penerima
bantuan
42

Konsep/Referensi Indikator Sub indikator


b. Dapat dipertanggung
jawabkan kepada
masyarakat yang tidak
penerima bantun
5. Pengembangan a. Pengembangan atas inisiatif
Mandiri Pasca penerima bantuan dana dan
Kegiatan bangunan
b. Pengembangan dengan
dana masyarakat itu sendiri

2.9 Kerangka Pemikiran

Adapun bagian alur kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

Gambar 2.1
Kerangka Berpikir
Analisis Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan
Perumahan Swadaya (BSPS)
di Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan
Permukiman Kota Pekanbaru

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat No. 47 Tahun 2015 Tentang
Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang
Infrastruktur Program Bantuan Stimulan
Perumahan Swadaya (BSPS)

1. Swadaya Masyarakat
2. Pemberdayaan Masyarakat
3. Transparan
4. Dapat dipertanggung Jawabkan
5. Pengembangan Mandiri Pasca Kegiatan

Terwujudnya Program Bantuan Stimulan Perumahan


Swadaya yang baik terhadap Pembangunan Rumah
Layak Huni Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan

Permukiman Kota Pekanbaru yang merupakan tempat pelaksanaan program

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Penelitian ini dilakukan pada

bulan Juli hingga Agustus 2021.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

kualitatif. Menurut (Sugiyono, 2011) metode deskriptif kualitatif merupakan jenis

penelitian yang menggambarkan suatu keadaan atau penelitian yang dilakukan

untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa

membuat perbandingan atau hubungan antara variabel satu dengan variabel

lainnya.

Untuk memperoleh data dan informasi yang baik, keterangan-keterangan

dan data yang diperlukan, maka data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

3.2.1 Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan melalui pihak pertama,

biasanya di dapat melalui wawancara, jejak dan lain-lain (Arikunto, 2013).

Adapun data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :

1. Sejarah singkat Kota Pekanbaru

2. Letak geografis Kota Pekanbaru

43
44

3. Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Di Dinas

Perumahan Rakyat

3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca,

mempelajari dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur,

buku-buku serta dokumen (Sugiyono, 2011).

3.3 Informan Penelitian

Informan dalam penelitian kualitatif yaitu informan penelitian yang

memahami informasi tentang objek penelitian (Sugiyono, 2011). Informasi yang

dipilih harus memiliki kriteria agar informasi yang didapatkan bermanfaat untuk

penelitian yang dilakukan.

Informan dalam Penelitian ini sebagai berikut :

1. Kepala Bidang Perumahan

Pemilihan Kepala Bidang Perumahan sebagai informan dalam

penelitian ini karena Kepala Bidang Perumahan mempunyai tugas

membantu sebagian tugas kepala dinas dalam melaksanakan sub urusan

perumahan, serta bertugas melakukan pendataan dan perencanaan bidang

perumahan, rumah umum, rumah khusus, rumah tangga dan rumah

komersil.

2. Kasi Pendataan dan Perencanaan Perumahan

Pemilihan Kasi Pendataan dan Perencanaan Perumahan sebagai

informan dalam penelitian ini karena Kasi Pendataan dan Perencanaan

Perumahan mempunyai tugas membantu Kepala Bidang Perumahan dalam


45

melaksanakan sub urusan pendataan dan perencanaan. Dalam hal ini

berupa pendataan dan perencanaan, rumah umum, rumah khusus, rumah

negara dan rumah komersil dan bantuan rumah swadaya.

3. Kasi Penyediaan dan Pelaksanaan

Pemilihan Kasi Penyediaan dan Pelaksanaan sebagai informan

dalam penelitian ini karena Kasi Penyediaan dan Pelaksanaan mempunyai

tugas membantu Kepala Bidang Perumahan dalam melaksanakan sub

urusan Penyediaan dan Pelaksanaan. Dalam hal ini berupa penyediaan dan

pelaksanaan fasilitasi, rumah umum, rumah khusus, rumah negara dan

rumah komersil dan bantuan rumah swadaya.

4. Staff Bidang Perumahan

Pemilihan Staff Bidang Perumahan sebagai informan dalam

penelitian ini karena Staff Bidang Perumahan mempunyai tugas membantu

sebagian tugas kepala dinas dalam melaksanakan sub urusan perumahan

seperti penyiapan kondisi perumahan, rumah umum, rumah khusus, rumah

komersil dan bantuan rumah swadaya yang diperhitungkan dari

kependudukan, fisik bangunan, lingkungan perumahan termasuk sarana

dan prasarana serta fasilitas yang ada.

5. Masyarakat Penerima Bantuan Perumahan Swadaya

Masyarakat penerima Bantuan Perumahan Swadaya sebagai

informan dalam penelitian ini karena sebagai menerima secara langsung

pelaksanaan Program Bantuan Sitmulan Perumahan Swadaya.


46

6. Sekretaris Desa

Sekretaris Desa dijadikan sebagai informan dalam penelitian ini

karena bertugas membantu Kepala Desa dalam melaksanakan program

Program Bantuan Sitmulan Perumahan Swadaya, pihak Kelurahan

mempunyai tugas untuk mendata masyarakat yang memenuhi kriteria

rumah tidak layak huni.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Untuk melaksanakan penelitian sesuai dengan yang diharapkan, maka

peneliti harus mencari data, informasi dan keterangan-keterangan berdasarkan

fakta-fakta yang terjadi dilapangan atau lokasi penelitian.

Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai

berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis

terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian

(Widoyoko, 2014). Metode ini menggunakan teknik dengan mengamati

langsung serta mencatat hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang diteliti

(Abu Achmadi, 2004), sehingga akan menghasilkan data yang akurat

mengenai PelaksanaanProgram Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya

(BSPS) di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota

Pekanbaru.

Melalui metode observasi yang dilakukan maka diperlukan

dokumentasi yang mendukung pengumpulan data tersebut yaitu dengan


47

mencari, menemukan, dan mengumpulkan catatan-catatan, agenda, dan

foto-foto yang berkaitan dengan Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya (BSPS) di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman

Kota Pekanbaru.

Dalam penelitian ini teknik observasi dilakukan dengan

mewawancarai reponden secara langsung di Dinas Perumahan Rakyat dan

Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru. Objek yang diobservasi yaitu

pegawai di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota

Pekanbaru. Dengan hal tersebut dapat diketahui gambaran tentang

Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru.

2. Wawancara

Wawancara adalah suatu kegiatan dilakukan untuk mendapatkan

informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan

pada para responden. Wawancara bermakna berhadapan langsung antara

peneliti dengan responden, dan kegiatannya dilakukan secara lisan. ( P. Joko

Subagyo, 2011). Menurut (Arikunto, 2010) wawancara adalah dialog yang

dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi terwawancara.

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan

komunikasi dengan sumber data.

Untuk mendapatkan data mengenai analisis pelaksanaan program

ini, maka peneliti melakukan tanya jawab dengan informan (Tabel 3.1) di

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru.

Dalam wawancara ini peneliti melakukan wawancara terstruktu atau


48

wawancara terbuka dengan informan untuk mendapatkan data yang

dibutuhkan dalam penelitian ini.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh

data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan

gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung

penelitian. (Sugiyono, 2015). Dokumentasi digunakan untuk mengumpul

data yang berupa arsip-arsip, catatan-catatan, agenda, dan foto-foto yang

berkaitan dengan Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya (BSPS) diDinas Perumahan Rakyat dan Kawasan

PermukimanKota Pekanbaru.

3.5 Metode Analisa

Analisis data yang digunakan didalam penelitian ini adalah analisa

deskriptif kualitatif. Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan

bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-milah nya menjadi satuan

yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,

menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang

dapat diceritakan pada orang lain ( Moleong, 2011).

Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011) mengemukakan terdapat 3 langkah

dalam analisis data yaitu :

1. Reduksi Data

Menurut (Sugiyono, 2011) mereduksi berarti merangkum, memilih

hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema
49

dan polanya. Tahap ini merupakan tahap dari teknik analisis data

kualitatitf yang merupakan penyederhanaan, penggolongan dan membuang

yang tidak perlu sehingga data tersebut dapat menghasilkan informasi

yang bermakna dan memudahkan dalam mengambil kesimpulan.

2. Display Data/Penyajian Data

Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2011) menyatakan bahwa

yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian

kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dalam tahap ini

merupakan kegiatan saat sekumpulan data disusun secara sistematis dan

mudah dipahami sehingga memberikan kemungkinan menghasilkan

kesimpulan. Bentuk penyajian data kualitatif biasanya berupa teks naratif

(berbentuk catatan lapangan), matriks, grafik, jaringan ataupun bagan.

Melalui penyajian data tersebut, maka nantinya data akan terorganisasikan

dan tersusun dalam pola hubungan sehingga akan semakin mudah

dipahami.

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Data

Penarikan kseimpulan dan verifikasi data merupakan tahap akhir

dalam teknik analisis data kualitatif yang dilakukan melihat hasil reduksi

data tetap mengacu pada tujuan analisis yang hendak dicapai. Tahap ini

bertujuan untuk mencari makna data yang dikumpulkan dengan mencari

hubungan, persamaan atau perbedaan untuk ditarik kesimpulan sebagai

jawaban dari permasalah yang ada. Kesimpulan mungkin dapat menjawab

rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak,
50

karena masalah dan rumusan masalah bersifat sementara dan akan

berkembang setelah peneliti berada di lapangan. Verifikasi dimaksudkan

agar penilaian tentang kesesuaian data dengan maksud yang terkandung

dalam konsep dasar analisis tersebut lebih tepat dan obyektif.


51

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Kota Pekanbaru

Kota Pekanbaru terletak antara 101º14’-101º34’ Bujur Timur dan 0º25’-

0º45’ Lintang Utara. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1987 (7

September 1987) Daerah Kota Pekanbaru diperluas dari 62,96 Km 2 menjadi

446,50 km2, terdiri dari 12 kecamatan dan 45 kelurahan. Namun dari hasil

pengukuran atau pematokan dilapangan oleh Badan Pertanahan Nasional Tingkat

I Riau, maka ditetapkan luas Kota Pekanbaru adalah 632, 26 km 2. Kota Pekanbaru

adalah ibu kota terbesar di Provinsi Riau, kota ini merupakan salah satu sentral

ekonomi terbesar dibagian Timur pulau Sumatera dan termasuk sebagai Kota

dengan tingkat pertumbuhan, migrasi dan urbanisasi yang tinggi.

Kota ini berawal dari sebuah pasar (pekan) yang didirikan oleh para

pedagang Minangkabau di tepi sungai Siak pada abad ke-18. Hari jadi Kota

Pekanbaru ditetapkan pada tanggal 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah dewan

Menteri dari Kesultanan Siak yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir,

Limapuluhm Tanah Datar dan Kampar). Kota pekanbaru tumbuh pesat dengan

berkembangnya industri terutama berkaitan dengan minyak bumi serta

pelaksanaan otonomi daerah.

Secara umum Kota Pekanbaru berbatasan dengan daerah-daerah berikut :

1. Sebelah Utara : Kabupaten Siak dan Kampar

2. Sebelah Selatan : Kabupaten Kampar dan Pelalawan

51
52

3. Sebelah Timur : Kabupaten Siak dan Pelalawan

4. Sebelah Barat : Kabupaten Kampar

4.2 Profil Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota

Pekanbaru

Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru

sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Pekanbaru 9 Tahun 2016

Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kota Pekanbaru,

mempunyai Tugas Menyelenggarakan urusan pemerintah bidang Perumahan

Rakyat dan Kawasan Permukiman dalam pemerintahan untuk membantu

Walikota Pekanbaru dalam Menyelenggarakan pemerintahan daerah.

Secara kelembagaan, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman

Kota Pekanbaruberdasarkan Peraturan Walikota Pekanbaru nomor 95 tahun 2016

Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi,Tugas, Dan Fungsi Serta Tata Kerja

Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru, merupakan

satuan kerja perangkat daerah yang mengemban sebagian urusan pemerintahan di

bidang Perumahan dan Permukiman.

4.3 Visi dan Misi

Visi:

Terwujudnya infrastruktur Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman

yang handal, dan berkelanjutan menuju masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Misi:

1. Meningkatkan efektifitas, efisiensi dan akuntabilitas pelayanan internal

dan eksternal.
53

2. Melakukan pemberdayaan masyarakat dan para pelaku kunci lainnyadi

dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman.

3. Meningkatkan kualitas tempat bermukim dan berusaha masyarakat melalui

pencegahan dan pengendaliankawasan kumuh perkotaan

4. Memfasilitasi dan mendorong terciptanya iklim yang kondusif di dalam

penyelengaraan perumahan dan permukiman.

5. Keningkatkan ketersediaan dan layanan rumah layak huni yang terjangkau

6. Meningkatkan lingkungan yang sehat dan aman yang didukung dengan

sarana dan prasarana dan utilitas umum.

4.4 Tugas dan Fungsi

1. Tugas

Menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang perumahan rakyat

dan kawasan permukiman dan urusan pemerintahan bidang pekerjaan

umum dan penataan ruang pada sub urusan bidang permukiman Kota

Pekanbaru.

2. Fungsi

Penyusunan Rencana Strategis, Rencana Kerja dan Anggaran

Dinas.

a. Pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dinas.

b. Perumusan kebijakan, proses bisnis, standar, dan prosedur dinas.

c. Pelaksanaan kebijakan, proses bisnis, standar, dan prosedur dinas.

d. Pelaksanaan penyelenggaraan infrastruktur pada permukiman di

kawasan strategis daerah.


54

e. Pelaksanaan penyediaan dan rehabilitasi rumah korban bencana.

f. Fasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat yang terkena relokasi

program Pemerintah Daerah.

g. Penataan dan peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh.

h. Penyelenggaraan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU)

permukiman.

i. Perencanaan, penyediaan, pembangunan, penataan, pengelolaan,

pemeliharaan.

4.5 Potensi Pegawai

Tabel 4.1 Potensi Pegawai

No Jejang Pendidikan Laki-Laki Perempuan Total


1. Strata 2 (S2) 8 - 8
2. Strata 1 (S1) 23 7 30
3. Diploma III 3 1 4
4. SLTA/Sederajat 14 2 16
Jumlah 48 10 58
Sumber: SubBagian Umum Tahun 2021
55

4.6 Struktur Organisasi Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan

Permukiman Kota Pekanbaru.

Gambar 4.1
Struktur Organisasi

KEPALA DINAS

Ir
KELOMPOK SEKRETARIS
JABATAN
FUNGSIONAL
SUB SUB
[Link] [Link]

BIDANG KAWASAN BID. PRASARANA,


BID. PERUMAHAN SARANA ,
PERMUKIMAN
UTILITASUMUM

SEKSI PENDATAAN SEKSI PENDATAAN


SEKSI
DAN PERENCANAAN DAN
PENDATAAN DAN
PERENCANAAN PERMUKIMAN PERENCANAAN
PSU

SEKSI SEKSI SEKSI


PENYEDIAAN DAN PENCEGAHAN DAN PENYEDIAAN DAN
PELAKSANAAN PENINGKATAN PELAKSANAAN
KUALITAS

SEKSI SEKSI SEKSI


PEMANTAUAN PEMANFAATAN DAN PEMANTAUAN DAN
DAN EVALUASI PENGENDALIAN EVALUASI

Sumber: Kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota


Pekanbaru.
90

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Pelaksanaan

program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya di Dinas Perumahan Rakyat Dan

Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru belum terlaksana dengan optimal. Untuk

indikator swadaya masyarakat, transparan, dapat dipertanggungjawabkan sudah

terlaksana dengan optimal. Sedangkan indikator pemberdayaan masyarakat yang

berkaitaan dengan tahap perencanaan yang dimulai dari sosialisasi oleh tim teknis

BSPS masih jarang dilakukan sosialisasi sehingga masih banyak masyarakat yang

kurang tau tentang tahap-tahap mengikuti BSPS. Serta Indikator pengembangan

mandiri pasca kegiatan belum terlaksana dengan optimal karena masyarakat masih

sedikit yang melakukan pengembangan atas inisiatif sendiri

Beberapa indikator yang belum terlaksana dengan optimal berdasarkan

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 47 Tahun

2015 Tentang Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Program

Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, dengan komitmen serta kesiapan berupa

dana swadaya yang belum optimal dan masyarakat kurang mampu melakukan

pengembangan pasca kegiatan pasca BSPS, tetapi Swadaya yang disiapkan oleh

masyarakat sesuai dengan kemampuan masing-masing masyarakat. Dalam

pelaksanaan program masyarakat diikut sertakan dalam melakukan perencanaan,

pengelolaan dan pelaksanaan serta pengawasan. Kegiatan pembangunan rumah

dilakukan secara transpansi, dapat dipertanggung jawabkan.

90
91

Untuk mendukung berjalannya program Bantuan Stimulan Perumahan

Swadaya dibutuhkan kegiatan sosialisasi program yang merupakan bagian dari

pemberdayaan masyarakat akan tetapi kegiatan ini belum tercapai. Hal ini

dibuktikan dengan kegiatan sosialisasi yang belum sistematis dan sosialisasi

masih manual, dengan adanya perkembangan sosialisasi akan lebih baik jika

dilakukan menggunakan media digital contohnya menggunakan media sosial

sehingga program BSPS tersampaikan kepada seluruh masyarakat.

Adapun kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Bantuan Stimulan

Perumahan Swadaya Di Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman

Kota Pekanbaru adalah masih kurangnya anggaran dalam pelaksanaan program

BSPS,tidak semua masyarakat yang akan menerima bantuan BSPS ini mampu

untuk memberikan swadaya, kurang tepatnya sasaran Sehingga masih adanya

masyarakat yang protes karna tidak mendapatkan program bantuan ini, hal ini

dikarenakan pemerintah harus memilih masyarakat yang berhak sesuai dengan

syarat dan kriteria yang ditentukan.

6.2 Saran

Dari kesimpulan diatas, maka penulis memberi saran kepada Dinas

Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru agar pelaksanaan

Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) agar lebih ditingkatkan

agar kesejahteraan Masyarakat Berpenghasilan Rendah menjadi lebih baik serta

mampu mengurangi jumlah angka kemiskinan khususnya di Kota Pekanbaru.

Dalam pelaksanaan program perlu memperhatikan kembali masyarakat yang

menjadi target pelaksanaan program karena masih ada yang tidak mampu untuk
92

melakukan swadaya, untuk itu pemerintah perlu membantu masyarakat yang tidak

memiliki kemampuan swadaya agar mewujudkan rumahnya bisa menjadi layak

huni.

Penting juga untuk memperhatikan jumlah dana, adanya keterbatasan

anggaran setiap tahunnya di harapkan pemerintah dapat meningkatkan lagi

anggaran untuk melaksanakan program Bantuan Stimulasi Perumahan Swadaya.

Untuk pelaksanaan progam yang akan dilakukan kembali, Pemerintah perlu

melakukan verifikasi dan identifikasi kembali dengan teliti kepada masyarakat

yang akan menerima bantuan, agar tidak terjadi tumpang tindih program bantuan

pembangunan rumah setelah diverifikasi. Pelaksanaan Bantuan Stimulan

Perumahan Swadaya tidak terfokus pada satu wilayah tertentu agar tidak terjadi

kesenjangan pembangunan pada lain yang tidak menerima bantuan.


DAFTAR PUSTAKA

Al_Qur’an

Al-Qur’an Surat al-Hasyr ayat 7

Buku

Abdul Wahab, Solichin. (2014). Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi ke


Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Adimihardja dan Hikmat. 2001. Participatory Research Appraisal dalam


Pengabdian Masyarakat. Bandung: Humaniora Pres

Adi, Isbandi Rukminto. Intervensi Komunitas dan Pengembang Masyarakat


(Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat). PT. Raja Grafindo
Persada : Jakarta. 2012.

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Deddy. Mulyadi. (2015). Studi Kebijakan Publik, dan Pelayanan Publik, Bandung
: Alfabeta

Fahrudin Adi. (2012). Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: Refika Aditama

Nugroho, Riant. (2003). Kebijakan Publik, Formulasi, Implementasi, dan


Evaluasi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

Singarimbun, M. 2006. Metode Penelitian Survei. Jakarta. LP3ES

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press

Subarsono. (2005). Analisis Kebijakan Publik. Celeban Timur UH III/54B


Yogyakarta

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sumodiningrat, Gunawan. (2009). Membangun Perekonomian Rakyat.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tachjan(2006). Implementasi Kebijakan Publik. Bandung : AIPI


Jurnal

Asminar. (2019). Tingkat Kesejahteraan Petani Penerima Bantuan Stimulan


Perumahan Swadaya Di Desa Kuamang Kecamatan Jujuhan Ilir
Kabupaten Bungo. Jurnal Agri Sains. 15

Budiani, N. W. (2007). Efektivitas Program Penganggulangan Karang Taruna


(Eka Taruna Bhakti) Desa Sumerta Kelod Kecamatan Denpasar Timur
Kota Denpasar. Jurnal Ekonomi dan Sosial, 53.

Daraba, Dahyar. 2015. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas


Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dalam Rangka Mewujudkan
Pemerintahan
Yang Baik Di Kabupaten Takalar. Jurnal Administrasi Publik. Volume
5.
Nomor 1

Inggriani. (2015). Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan


Swadaya (BSPS) Di Kabupaten Dharmasraya. Jurnal Online
Mahasiswa. 3

Nursifa. (2021). Implemetasi Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya


(BSPS) Di Desa Basi Kecamatan Basidondo Kabupaten Tolitoli. Jurnal
Inovasi Penelitian. 2575

Novita Setyawati, D. S. (2018). Sosialisasi Menggunakan Media Sosial Berbasis


Digital. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 1.

Munawar Noor. (2010). Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal ilmiah CIVIC. 98

Ulfa Dadan Raya. (2019). Efektivitas Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan


Perumahan Swadaya Dikota Pekanbaru. Jurnal Online Mahasiswa. 3

Perundang -undangan

Nomor 47 Tahun 2015 Tentang Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang


Infrastruktur dengan Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 39 Tahun


2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Bantuan Stimulasi Perumahan
Swadaya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia

Peraturan Pemerintah Nomor 88 tahun 2014 tentang Pembinaan Penyelenggaraan


Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Undang-Undang No.1, 2011. Perumahan dan Permukiman. Jakarta.


LAMPIRAN

PANDUAN WAWANCARA

1. Bagaimana Pelaksanaan program Bantuan (BSPS) di Dinas Perumahan


Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru berlangsung?
2. Bagaimana kriteria masyarakatsebagai penerimaBSPS?
3. Apa sajapersyaratan masyaraka tsebagai penerimaBSPS?
4. Apa pedoman pemerintah desa dalam melaksanakan BSPS?
5. Siapa saja yang terlibat pada pelaksanaan BSPS?
6. Bagaimana alur pemberian BSPS kepada masyarakat?
7. Bagaimana tahap seleksi pemberian BSPS?
8. Bagaimana inisiatif dan upaya masyarakat dalam melakukan swadaya?
9. Apakah masyarakat sudah mempersiapkan komitmen serta kesiapannya
dalam melakukan swadaya sebagai penerima BSPS tersebut?
10. Apa saja bentuk swadaya masyarakat?
11. Bagaimana pemerintah dalam melakukan pemberdayaan kepada masyarakat?
12. Apa saja bentuk pemberdayaan yang dilakukan oleh tim BSPS kepada
masyarakat?
13. Apa yang dilakukan oleh tim BSPS setelah melakukan sosialisasi?
14. Apakah masyarakat mampu merencanakan kegiatan pembangunan rumah
melalui bantuan tersebut?
15. Apakah apparat desa ikut membantu dalam menyiapkan persyaratan?
16. Bagaiamana cara apparat desa dalam memberikan arahan ataupun sosialisasi
kepada masyarakat?
17. Siapakah yang menunjuk ketua kelompok BSPS?
18. Berapa orang dalam satu kelompok?
19. Apakah masyarakat mampu untuk membangun dan mengelola pelaksanaan
kegiatan?
20. Apakah masyarakat ikut serta dalam mengawasi jalannya kegiatan?
21. Bagaimana kegiatan program BSPS dilaksanakan?
22. Siapa sajakah yang terlibat dalammegevaluasidari kegiatan pelaksanaan
program BSPS?
23. Berapakali evaluasi dilakukan dalam pelaksanaan program BSPS?
24. Berapakali pengawasan dilakukan oleh pendamping selama pelaksanaan
program BSPS?
25. Apakah apparat desa dapat mempertanggungjawabkan pengelolaan kegiatan
kepada masyarakat penerima bantuan?
26. Bagaimana apparat desa dalam mempertanggungjawabkan program BSPS
kepada masyarakat yang tidak menerima bantuan?
27. Apa alasan masyarakat yang telah mengajukan diri dan tidak lulus sebagai
penerima BSPS?
28. Apakah masyarakat mampu melakukan pengembangan mandiri pasca
kegaiatan?
29. Bagaimana masyarakat dalam melakukan pengembangan inisiatif dari dana
mereka sendiri?
30. Siapakah yang berhak sebagai penerima Program BSPS?
31. Bagaiamana keberhasilan dari program tersebut?
32. Berapa persen pemerintah terlibat dalam pelaksanaan BSPS?
33. Apakah ada masyarakat yang menerima bantuan social ganda?
TRANSKRIP WAWANCARA

1. Bagaimana Pelaksanaan BSPS

Ada beberapa sistem pelaksanaan ketik TFL (Tim Fasilitator

Lapangan) yang ditunjuk pemerintah pusat melalui balai perumahan yang

menunjuk TFL, apa itu koordinator fasilitator terus ada lagi tenaga

fasilitatornya setelah ditunjuk di SK kan dan diberikan surat tugas dihadapkan

pada dinas perumahan rakyat dan kawasan permukiman (tim verifikator) yang

kami punya data yang dipertimbangkan untuk dilakukan survey dilapangan

nanti TFL nya melakukan berbgai hal sosialisasi pertama melakukan sosilisasi

program . selanjutnya identifikasi dan verifikasi dilapangan terus tahapan

sosialisasi sampai penentuan toko bangunan yang ditunjuk sampai dengan

pencairan dana. Setelah selesai dilakukan keluarlah SK penerima bantuan

yang sudah disahkan kementerian PUPR (dasar suratnya dari dinas perumahan

rakyat dan kawasan permukiman kota pekanbaru yang sudah disetujui) atas

dasar itulah mereka nanti menerbitkan rekening buku tabungan masing

masing. Akan tetapi penggunaan dananya tidak bisa dipakai sesuka hati.

2. Bagaimana Kriteria Masyarakat sebagai Penerima BSPS

Kalau tidak salah BSPS ini mengacu pada PERMEN NO 7 tahun 2018

tentang bantuan stimulan perumahan swadaya syarat atau kriterianya yang

paling utama adalah wni, kriteria masyarakat berpenghasilan rendah, paling

tinggi 15 % diatas upah minimum pronvinsi atau pemerintah kota (tergantung

daerah masing-masing, memiliki rumah satu satunya yang ditempati (tidak

boleh memiliki tanah yang lain hanya satu yang mau diperbaiki.
3. Apa Pedoman Pemerintah Kelurahan dalam Melaksanakan Program

BSPS

Tim teknis itu adalah dari kelurahan itu sendiri jadi panduanya

pelaksanaan kegiatan ini dari kementrian pupr berarti mengacu pada Permen

no7 tahun 2018 tetang BSPS bisa dilihat disana yang mengacu pada itu

prosedur dan cara-caranya mengacu pada permen no 7 tahun 2018 tidak ada

peraturan tersendiri yang orang dari RT RW dinas hanya verifikasi dan

memvalidasikan yang dari mereka tapi dinas yang validasi dan verifikasi apa

layak diajukan sebagai penerima dan dijika sudah disetujui dengan beberapa

kriteria nanti upload dokumennya ke misal aplikasi intinya. Untuk jumlah tim

teknisnya (tim verifikator) sendiri sudah diatur dalam permen no 7 tahun 2018

tentang BSPS. Yang pertama skpd menanggung perencanaan dan

pembangunan daerah. Kemudian tim teknis yang merencanakan skpd yang

menaungi perumahan terus skpd yang menaungi kecamatan , skpd kelurahan

sama dengan skpd membidangi tentang pemeberdayaan masyarakat.

4. Siapa saja yang terlibat dalam pelaksanaan BSPS

Yang utama adalah tim perencanaanya ,SKPD nya termasuk orang

kementrian yang terlibat mulai dari pengusulan ,persetujuan dari kementrian

terus persetujuan terus pada saat pelaksanaan terlibat pihak perbankan yang

menyalurkan dana bantuan nya pihak toko bangunan menyediakan material

dan masyarakat yang melakukan perbaikan rumahnya. Dan nanti diawasi

semuanya tim teknisnya yang tadi saya sebutkan dan ada juga tenaga

fasilitator lapangannya ada tenaga pendampingnya yang kontrak untuk


melaksanakan tugas dilapangan mulai dari menentukan kelompok pencairan,

pelaksanaan dilapangan sampai nanti buat laporan pertanggung jawaban.

5. Bagaimana alur pemberian BSPS kepada masyarakat

Dari awal melakukan pengusulan dulu sampai nanti ditetapkan SK

sebagai penerima bantuan diteken oleh SATKER provinsi dan setelah pemilik

yang mendapat bantuan membuat rekening masing-masing. Nanti dibantu

difasilitasi dengan tenaga fasilitator lapangan nanti setelah uangnya ditransfer

dari APBN melalui menteri keuangan ke rekening penerima di bank BNI

barulah nanti pelaksanaanya ini yang mengerjakan perumahannya mulai dari

awal yang diperbaiki. Memiliki dua tahap pelaksanaan masyarakat yang

membangun memiliki du tahap . tahap satu nanti dianggarkan dlu apa aja yang

mau dibeli misalnya pembangunan pondasi yang didampingi TFL (TIM

FASILITATOR LAPANGAN) dan setelah pelaksanaanya lebih kurang

tercapai 30 % dari total yang disebutkan tadi masyarakat sudah bisa membuat

laporan penggunaan dana tahap 1. yang mendapat bantuan tadi bisa

mengajukan lagi ke kementrian untuk mendapatkn bantuan tahap kedua. Dan

setelah selesai masyarakat tadi membangun rumahnya setelah sampai selesai.

Dan setelah si penerima membuat laporan pertanggung jawaban dana tahap 1

tahap 2 sampai selesai

6. Bagaimana pemerintah dalam melakukan pemberdayaan kepada

masyarakat

Sebelum kegiatan dimulai tahapan yang harus dilakukan sosialisasi

kepada masyarakat penerima bantuan atau calon penerima bantuan beserta


para aparat kelurahan disuatu tempat dikantor lurah kita lakukan sosialisasi

terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Salah satunya pemberdayaan ini yang

tadinya masyarakat tidak tahu menjadi tahu dari program ini. Bagaimana

mekanisme pelaksanaanya sampai pertanggungjawabannya seperti apa, kita

lakukakan terus . dan kita juga didampingi dengan tenaga pendamping

masyarakat dan juga sama memberikan pemberdayaan sosialisasi pada

masyarakat mulai dari tahap awal sampai akhir. Lambat laun masyarakat

mandiri sudah paham pekerjaan inidanbesok dia juga mengerti dengan

mekanisme tatacara awal pengusulan sampai tahap pertanggungjawaban.

7. Apa bentuk pemberdayaan yang dilakukan tim BSPS kepada masyarakat

Bentuknya dari pemerintah adalah berupa sosialisasi pemberdayaan

pemahaman beserta bantek (bantuan teknis) yang merupakan salah bentuk

pemberdayaan masyarakat

8. Apa yang dilakukan tim bsps setelah melakukan sosialisasi

Setelah melakukan sosialisasi dan telah diundang masyarakat

penerimanya tahap selanjutnya telah melakukan sosialisasi berarti pendamping

tenanga masyarakat atau fasilitator lapangan tadi yang bergerak ke rumah

rumah penerima bantuan untuk dilakukan verifikasi dan validasi lapangan

sampai ke tahap selanjutnya (perpanjangan tangan dari dinas kami)

9. Apakah masyarakat mampu merencanakan kegiatan pembangunan

rumah melalui bantuan tersebut

Pengamalaman yang sudah dilakukan dalam 5 tahun sampai 6 tahun

terakhir mampu. Walaupun ada masalah masalah kecil yang wajartapi sampai

sejauh ini masih bisa diatasi


10. Apa aparat kelurahan ikut membantu dalam membantu persyaratan

Iya pasti . jadi kita ada dokumen teknisnya itu ada msyarakat ada yang

persyaratan dokumen itu harus dilampirkan melalui pihak kelurahan.

Contohnya penerima yang sudah tua harus memiliki ahli waris agar pihak

kelurahan bisa mendapatkan dokumen yang dibutuhkan.

11. Siapakah yang menunjuk ketua kelompok

Masyarakat itu sendiri misalkan dapat bantuan misalkan satu

kelurahan menerima 15 dari 15 orang itu mereka itu dapat didampingi pihak

pendamping tadi melakukan penunjukan siapa yang dijadikan ketua yang

harapannya tadi supaya semua komunikasi satu kelompok itu ketua yang

bertanggung jawab kemudia yang mampu untuk mengakomodir anggota

anggota yang lain

12. Apakah masyarakat ikut mengawasi jalannya kegiatan

Kalau masyarakat mungkin secara ritel anggaran RAP masing masing

mungkin tidak sampai disitu, minimal dia tahu pembangunan rumah telah

selesai, kecuali pembangunan belum selesai mungkin diawasi permasalahanya

itu saja.

13. Siapa sajakah yang terlibat dalam mengevaluasi dari kegiatan

pelaksanaan program BSPS

Dari kementrian, daerah hanya mengikut undangannya saja. Biasanya

satu tahun itu rapat pertama siapa rapat kedua evaluasi mungkin 50 %rapat

ketiga mungkin udah mau selesai pelaksanaan nanti terakhir evaluasi

fasilitator 4 atau 5 kali yang mengevaluasi langsung orang dari pusat dari
kementerian misal dirjen nya kepala balainya merek yang mengevaluasi yang

memilki tim monitoring evaluasi termasuk juga kementerian balai yang ada

perwakilan diwilyah ini

14. Apakah masyarakat mampu melakukan pengembangan mandiri

pascakegiatan

Iya kalau bilang mampunya 100 % belum tapi secara tahap perlahan

program ini sudah lama 5 tahun atau 6 tahun. Kalau sekarang mungkin

masyarakat sudah paham masalah kriteria bagaimana mendapat bantuan tetapi

secara detail sekarang aturannya agak berubah. Untuk menanggapi dari tahun

tahun sebelumnya kalau menurut saya masyarakat paham, mungkin tidak

seluruhnya. Melakukan sosialisasi per kelurahan.

15. Apa yang menjadi alasan masyarakat yang sudah mengajukan diri dan

tidak lolos menjadi penerima bantuan

Selagi masyarakat tidak memenuhu kriteria dalam pemilihan penerima

bantuan sudah pasti masyarakat tidak bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya

untuk mengesahkan sebagai penerima bantuan. Meskipun hanya satu syarat

yang belum terpenuhi otomatis dibatalkan. Apalagi status tanah tidak jelas .

16. Siapa yang berhak menjadi sebagai penerima bsps.

Iya Yang tadi , yang yaitu yang masuk kedalam masyarakat

berpenghasilan rendah yang terdiri tingkat perekonomian masyarakat mulai

dari prasejahtera ada masyarakat miskin ,sangat miskin setau saya masuk

bantuan kedalam kategori masyrakat berpenghasilan rendah ini kalau tidak

salah termasuk desil 4 .jadi dia bukan masyarakat yang sangat sangat miskin ,
dia mampu memiliki keterbatasan jual beli makanya disini programnya

adanya stimulan , harapan masyarakat itu memberikan sebagian dari uang dia

hasil kerja dia tabungan atau aset dia untuk membantu menyelesaikan

rumahnya.

17. Bagaimana keberhasilan dari program tersebut.

Kalau program keberhasilan ini salah tujuannya dalam rangka

mengurangi bentrok perumahan, bentrok kepemilikan yang tadi sudah

memiliki rumah jadi minimal programnya ini buat untuk mengurangi rumah

rumah yang tidak layak huni. keberhasilan dari program tersebut dan yang

paling outcome yang tadinya dia misalkan dari lantainya tanah dindingnya

masih kayu apalagi punya anak yang sekolah waktu malam penerangan

kurang terang harapannya kalau rumah direhap sudah bagus tingkat

perekonomiannya juga semakin baik output yang terakhir yaitu malam dia

kelihatan untuk membaca atau belajar menjadi terang lampu nya karna udah

bagus dan di cat jadi semangat dalam belajar sehingga tingkat pendidikan

menjadi lebih baik.

18. Berapa persen pemerintah terlibat dalam pelaksanaan BSPS

Yang pasti saya agak ragu ,Cuma dalam rangka untuk memenuhi

program program Renja Negara Kementerian PUPR kalau tidak slah bantuan

pemerintah itu hanya sekitar 30 persen lebih besarnya itu di pengembang.

Pengembangan itulah dalam rangka penyediaan rumah itu yang paling besar

kerjanya
19. Apakah ada masyarakat yang menerima bantuan sosial ganda

Sejauh ini kalau kita memvalidasi lapangan salah satu syarat belum

program artinya kalau untuk kegiatan masyarakat yang mendapatkan program

yang sama dia tidak boleh lagi mendapatkan program bantuan yang ganda .

kalau dulu sudah dapat sekarang tidak dapat lagi . tapi kita tidak tahu bantuan

bantuan bukan hanya dari pemerintah daerah saja kadang kadang tentara juga

memiliki bantuan jadi kita tidak tahu. Kadang kadang tidak tahu selagi kita

tidak dilibatkan. tapi kalau kita karna masyarakat sudah dapat dibantu salah

satu syaratnya dia tidak boleh mendapatkan program dengan bantuan program

yang sama .

20. Apa saja yang menjadi faktor penghambat pelaksanaan program

bantuan stimulan perumahan swadaya ini

Program ini kan sifatnya kan stimulan . Sekarang kan harga barang

material kan lgi naik tidak ada yang murah belum lagi upah tukang mahal

salah satu penghambat nya itu. Kan ini kan stimulan kadang kadang

masyarakat yang kita bantu ini sekalipun dia masyarakat berpenghasilan

rendah sekurang kurangnya gaji dia itu ump nya kota . Setidaknya dia

mempunyai swadaya dia yang masyarakat ini . Jadi penghambat nya ini tidak

semua mereka mempunyai dana swadaya dari mereka walaupun sasarannya

masyarakat berpenghasilan rendah. Dan dinamika untuk masyarakat yang

protes karna tidak mendapat bantuan ini ada. Seperti yang tadi kita harus

libatkan perangkat perangkat kelurahan desa tadi krna yang nama nya bantuan

sensitif . Umpamanya kita dikasi anggaran dari pusat cuma 10 unit tau taunya
yang dibutuhin di lapangan 20 , siapa yang mau kita prioritaskan .kita pikir

semuanya perlu di prioritaskan tapi kita pertimbangkan berbagai faktor karna

tidak punya wilayah atau dinas di daerah maka kita libatkanlah lurah atau RT

RW jadi mereka juga bisa membackup dinamika ini . Tapi insyaAllah sampai

saat ini masih bisalah kita dudukkan untuk siapa yang berhak duluan. Terus

yang selanjutnya penghambatnya yaitu pendataan, pendataan. Anggaran

pemda ini kan semakin lama semakin kecil apalagi ada nya masa pandemi ini

tentu prioritas penganggarannya diutamakan untuk kesehatan makanya perlu

sebenarnya kita lakukan pendata pendataan yang dia butuh sdm dan dana

gitukan. Mungkin yang harus kita fokuskan kedepan bagaimana perencanaan

kita ini tetap matang gitu.


DOKUMENTASI WAWANCARA

Staf Bidang Perumahan Bpk. Dendy Putra ST

Kasi Pendataan Perencanaan Perumahan Bapak Indra Syah Putra, ST


Kasi Penyediaan dan Pelaksanaan Bpk. Abraham Abdi, ST

Kasi Pendataan Perencanaan Perumahan Bapak Syah Putra, ST


Kepala Bidang Perumahan Bpk. Afrizal Zakir, ST., MT

Tampak Depan Kantor Dinas Permukiman


Contoh berkas pelaksanaan Program BSPS
Sekretaris Desa Tangkerang Barat Ibu Adhe Ridho, [Link]

Masyarakat yang Menerima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya Ibu Desi

Mahyeni
Masyarakat yang Menerima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya Bapak Tawar
BIOGRAFI PENULIS

Penulis bernama Ali Musa lahir di Kampung Selamat 16

Juni 1998, Sumatera Barat. Anak ke- dua dari empat

bersaudara, dari pasangan bapak Ferdinan dan Ibu

Nursaidah Nst. Pada tahun 2011 penulis telah

menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 05 Serasi

Rao Selatan kemudian pada tahun 2014 penulis telah

menyelesaikan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah Negeri di MTsN

Langsat Kadap Rao dan pada tahun 2017 penulis telah menyelesaikan pendidikan

tingkat Sekolah Menengah Atas di SMA N 1 Lubuk Sikaping. Setelah

menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 2017 penulis melanjutkan

pendidikan ke perguruan tinggi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim

Riau dengan mengambil Prodi Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ekonomi

dan Sosial.

Adapun riwayat lain yang penulis tempuh, yaitu melakukan PKL di PT.

TASPEN (Persero) Kantor Cabang Pekanbaru. Kemudian penulis melakukan

KKN-DR Plus di Nagari Padang Gelugur Kabupaten Pasaman.

Atas berkat dan rahmat Allah SWT serta do`a dan dukungan orang

tercinta, akhirnya penulis mampu menyelesaikan Skripsi dengan judul “Analisis

Pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di

Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman Kota Pekanbaru”.

Berdasarkan hasil ujian munaqasah pada tanggal 22 November 2021, penulis

dinyatakan “LULUS” dan dinyatakan lulus dan menyandang gelar Sarjana Sosial

([Link])

Anda mungkin juga menyukai