MAKALAH UTANG PEMERINTAH
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 7
SUNTRA YANTI 210302036
TARY ASMAWATI 210302042
ZULPARDI 210302035
DOSEN PENGAMPU:
M. FIKRY HADI, SE., [Link]
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU
JL. TUANKU TAMBUSAI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
EKONOMI PEMBANGUNAN
TEORI MAKRO EKONOMI
TA 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang sudah melimpahkan rahmat,
taufik, dan hidayah- Nya sehingga kami bisa menyusun Utang Pemerintah ini dengan
baik serta tepat waktu. Tugas ini kami buat untuk memberikan pembahasan tentang
Utang Pemerintah. Mudah-mudahan makalah yang kami buat ini bisa menambah
pengetahuan kita jadi lebih luas lagi.
Makalah ini dapat diselesaikan semata karena penyusun menerima banyak sumber
dari beberapa buku terkenal, jurnal, dan website-website terpercaya. Kami selaku
penyusun mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak [Link]
Hadi, SE.,[Link] selaku Dosen Pengampu mata kuliah Teori Makro Ekonomi yang
memberikan kami tugas makalah tentang Utang Pemerintah sehingga pengetahuan
kami tentang Utang luar negeri Indonesia bertambah.
Penyusun menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna
karena pengalaman dan pengetahuan penulis yang terbatas. Oleh karena itu, saran dan
kritik dari semua pihak sangat diharapkan demi perbaikan makalah di masa
mendatang.
Pekanbaru, 15 Desember 2022
Penyusun
i
DAFTAR ISI
COVER.....................................................................................................................
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................3
1.3 Tujuan dan Manfaat Makalah....................................................................3
BAB 2 : PEMBAHASAN.........................................................................................4
2.1 Utang Pemerintah........................................................................................4
2.1.1 Pengertian Utang Pemerintah................................................................4
2.1.2 Jumlah Utang Pemerintah Indonesia.....................................................4
2.1.3 Negara Sumber Utang Indonesia..........................................................5
2.2 Masalah Perhitungan Utang Pemerintah.................................................6
2.2.1 Inflasi.....................................................................................................6
2.2.2 Aset Modal............................................................................................7
2.2.3 Kewajiban Yang Tidak Dihitung..........................................................7
2.2.4 Siklus Bisnis..........................................................................................7
2.3 Pandangan Para Ahli Terhadap Utang Pemerintah...............................8
2.3.1 Pandangan Tradisional Terhadap Utang Pemerintah.....................8
2.3.2 Pandangan Ricardian Terhadap Utang Pemerintah.......................9
ii
BAB 3 : PENUTUP..................................................................................................12
3.1 Kesimpulan...................................................................................................12
3.2 Saran..............................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak merdeka, Indonesia sudah menanggung utang . Hal ini diungkapkan oleh
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Selepas pengakuan kemerdekaan pada Konferensi
Meja Bundar (KMB) pada 1949, pemerintahan yang baru terbentuk sudah
menanggung utang warisan kolonial Belanda. Saat itu, nilai utang sebesar US$1,13
miliar atau 12,4 triliun sebagai nilai kerusakan perang serta investasi yang dibekukan
oleh Belanda di Indonesia. Angka tersebut tentu berat bagi Indonesia yang produk
domestik bruto (PDB) saat itu masih kecil. Pemerintah Indonesia di bawah Presiden
Soekarno saat itu otomatis menanggung beban keuangan yang tak sederhana. Biaya
operasional pemerintah tidak [Link] juga belum bisa menerbitkan Surat
Utang Negara (SUN). Sebagai solusi, Bank Indonesia (BI) saat itu diminta mencetak
uang dalam jumlah besar. Tentu saja efeknya langsung terasa yakni hiperinflasi.
Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, mekanisme penganggaran dengan
balance budget mulai dijalankan. Meskipun saat itu belum ada Undang-undang (UU)
yang mengatur neraca keuangan pemerintah. Pembangunan saat itu mulai dibiayai
dengan kerja sama multilateral atau bilateral. Saat orde baru mulai diterapkan disiplin
pembiayaan utang multilateral atau bilateral untuk pembangunan. Pemerintah juga
mulai ketat menentukan porsi utang yang bisa diambil setiap tahun anggaran. Pada
masa orde baru, rasio utang sempat mencapai 57,7 persen terhadap keseluruhan PDB.
Pada 1998 lalu misalnya, saat terjadi krisis moneter, utang pemerintah berada di
angka Rp551,4 triliun. Sementara nilai PDB keseluruhan sebesar Rp955,6 triliun.
Ambruknya ekonomi pada 1997-1998 membuat pemerintahan Presiden BJ
Habibie harus menarik utang dalam jumlah besar. Hal itu dilakukan karena situasi
ekonomi, sosial, dan politik dalam negeri yang jauh dari stabil. Utang di masa
pemerintahan Habibie mencapai Rp938,8 triliun. Padahal PDB nasional saat itu
sebesar Rp1.099 triliun. Artinya, rasio utang saat itu mencapai 85,4 persen. Andai
1
saja UU nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara saat itu sudah berlaku, maka
rasio utang di era Habibie menyalahi batas rasio utang terhadap PDB, yakni maksimal
60 persen.
Di era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur, rasio utang
sedikit membaik ke level 77,2 persen. Nilai utang pemerintah saat itu sebesar
Rp1.271 triliun, sementara PDB-nya sebesar Rp1.491 triliun. Berlanjut, di bawah
kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, perekonomian Indonesia mulai
pulih dari krisis. Rasio utang juga mulai menurun. Nilai utang saat itu sebesar
Rp1.298 triliun, sementara PDB sebesar Rp2.303. Artinya rasio utang mencapai 56,5
persen dari PDB. Kemudian di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY), 2004-2014, nilai utang Indonesia mencapai Rp2.608 triliun.
Kabar baiknya, PDB Indonesia juga terus tumbuh menjadi Rp10.542 triliun. Artinya,
rasio utang di era SBY sebesar 24,7 persen terhadap PDB.
Utang pemerintah di era Presiden Joko Widodo kembali membengkak.
Kementerian Keuangan per 28 Februari 2022, utang pemerintah sudah menembus Rp
7.014,58 triliun. Utang tersebut bertambah cukup signifikan apabila dibandingkan
posisi utang pemerintah pada sebulan sebelumnya atau per 31 Januari 2022 yakni Rp
6.919,15 triliun. Artinya, dalam rentan waktu sebulan, utang negara sudah bertambah
sebesar Rp 95,43 triliun. Selain itu, utang pemerintah tersebut juga mencatatkan rekor
baru, yakni menembus level di atas Rp 7.000 triliun.
Utang pemerintah 2 periode Jokowi Di akhir tahun 2014 atau masa peralihan,
dari pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuju
pemerintahan Presiden Jokowi, jumlah utang pemerintah tercatat yakni sebesar Rp
2.608.78 triliun dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 24,7 persen. Utang
pemerintah di era Presiden Jokowi memang terus mengalami kenaikan, baik di
periode pertama maupun periode kedua pemerintahannya. Artinya lonjakan utang
memang sudah terjadi jauh sebelum pandemi Covid-19. Bahkan dalam kurun waktu
2
2014 hingga 2019 atau periode pertama, pemerintah sudah mencetak utang baru
sebesar Rp 4.016 triliun.
Total utang pemerintah tahun 2014 adalah Rp 2.608,78 triliun hingga 2022
Utang pemerintah adalah Rp 7.014,58 triliun. Dengan demikian, apabila
membandingkan utang pemerintah dari akhir tahun 2014 hingga Februari 2022,
setelah dikurangi pelunasan utang serta ditambah dengan penambahan utang baru,
maka kenaikan utang pemerintah Jokowi sejak menjabat sebagai Presiden RI adalah
Rp.4.405,8.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa alasan pemerintah menerima utang luar negeri?
1.2.2 Negara mana yang menjadi sumber pinjaman utang pemerintah?
1.2.3 Bagaimana cara mengatasi masalah perhitungan utang pemerintah?
1.2.4 Apa saja landasan teori dari pandangan tradisional dan pandangan
Ricardian?
1.2.5 Mengapa ada dua pandangan terhadap utang pemerintah?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Mengetahui alasan pemerintah menerima utang luar negeri dan
menganalisis apakah alasan tersebut sesuai dengan kebutuhan
Indonesia.
1.3.2 Mengetahui negara mana saja yang menjadi sumber pinjaman utang
bagi Indonesia dan mengetahui mengapa negara-negara tersebut
memberikan pinjaman berupa utang kepada Indonesia.
1.3.3 Menganalisis permasalahan yang terjadi dalam perhitungan utang
luar negeri.
1.3.4 Mengenal pandangan tradisional dan pandangan Ricardian.
1.3.5 Memahami perbedaan antara pandangan tradisional dan pandangan
Ricardian.
3
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Utang Pemerintah.
2.1.1 Pengertian Utang Pemerintah
Utang pemerintah adalah utang yang diterbitkan atau dijamin oleh pemerintah
suatu negara, lebih dikenal sebagai utang luar negeri. Dalam rangka mengumpulkan
uang, pemerintah akan menerbitkan obligasi dan menjualnya kepada investor asing.
Alasan utang dilakukan adalah salah satunya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi,
untuk pembiayaan umum, utang negara mampu digunakan untuk membiayai Belanja
produktif dan Penyertaan Modal Negara (PMN). Hal ini nantinya akan berisiko akan
membebankan generasi mendatang. Dalam jangka panjang akumulasi hutang luar
negeri menjadi tanggung jawab negara dan menjadi beban rakyat, ini sama artinya
dengan mengurangi tingkat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Alasan
pembangunan dari hutang itu bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat, tetapi sebenarnya pembangunan dari utang akan menjadi pisau
bermata dua bagi rakyat itu sendiri. Ditinjau dari sudut manfaat, ada dua peran utama
bantuan luar negeri (utang luar negeri), yaitu untuk mengatasi kekurangan mata uang
asing dan untuk mengatasi masalah kekurangan tabungan. Kedua masalah tersebut
biasa disebut dengan masalah jurang ganda (the two problems), yaitu jurang tabungan
(saving gap) dan jurang mata uang asing (foreign exchange gap).
2.1.2 Jumlah Utang Pemerintah Indonesia
Utang negara terbagi menjadi pinjaman dan Surat Berharga Negara. Utang
negara jenis pinjaman adalah pembiayaan melalui utang yang diperoleh Pemerintah
dari pemberi pinjaman dalam negeri atau luar negeri yang diikat oleh suatu perjanjian
pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali
dengan persyaratan tertentu.
4
Utang negara Indonesia mengalami peningkatan di setiap pergantian era
kepemimpinan. Hal ini merupakan lingkaran setan yang terus menghantui Indonesia,
karena yang diwariskan kepada anak cucu nya bukanlah kekayaan dan kemakmuran
melainkan utang yang terus bertambah setiap dekade nya.
Berikut adalah data utang negara Indonesia dari masa ke masa.
UTANG INDONESIA DARI MASA KE MASA
Masa Jumlah Utang(Rp)
Masa Soekarno 794 M
Masa Soeharto 551,4 T
Masa BJ. Habibie 938,8 T
Masa Abdurrahman Wahid 1.271,4 T
Masa Megawati 1.298 T
Masa Susilo Bambang Yudhoyono 2.608,8 T
Masa Joko Widodo 7.490,7 T
2.1.3 Negara Sumber Utang Indonesia
Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam Statistik
Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi September 2022 mencatat setidaknya
terdapat 21 negara yang saat ini telah memberikan pinjaman kepada Indonesia.
Berikut daftar negara pemberi utang terbesar ke Indonesia :
Negara Pemberi Utang Terbesar Indonesia(Per-Juli 2022)
Singapura 938.143 T
Amerika Serikat 523,555 T
Jepang 397,972 T
China 325,420 T
Hongkong 275,371 T
Korea Selatan 100,067 T
Jerman 85,512 T
Belanda 81,359 T
5
Demikianlah data dari negara pemberi pinjaman kepada Indonesia. Jumlah angka
peminjaman tersebut dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan
mendorong pemulihan ekonomi. Disebutkan juga dalam laporan tersebut bahwa
struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia terbilang masih sehat, ditambah didukung
oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kita akan membahas
sedikit mengenai alasan pemerintah mengambil utang. Untuk saat ini, utang diambil
untuk membiayai berbagai pembangunan infrastruktur dan belanja lain dalam
kebijakan fiskal yang ekspansif. Artinya, belanja negara memang lebih besar daripada
pendapatannya. Pendapatan negara memang dianggap belum cukup untuk memenuhi
seluruh kebutuhan pembangunan sehingga memunculkan defisit. Untuk menutupnya,
dilakukan utang. Namun pemerintah mengklaim bahwa utang yang ditarik saat ini
aman karena digunakan untuk belanja produktif.
2.2 Masalah Pengukuran Utang Pemerintah
Masalah dengan ukuran defisit anggaran biasanya adalah:
2.2.1 Inflasi
Pengukuran yang paling tidak kontroversial adalah koreksi terhadap inflasi.
Hampir semua ekonomi sepakat bahwa utang pemerintah seharusnya diukur dalam
bentuk riil, bukan nominal. Defisit yang diukur seharusnya sama dengan perubahan
utang riil pemerintah, bukan perubahan uang nominal. Defisit anggaran yang biasa
diukur tidak mengkoreksi inflasi. Contoh untuk melihat seberapa besar pengaruh
kesalahan ini, asumsinya utang pemerintah riil tidak berubah, anggarannya seimbang
Dalam kasus ini, utang nominal harus naik pada tingkat inflasi yaitu:
∆D/D=π
Dimana, π adalah tingkat inflasi dan D adalah stok utang pemerintah. Ini
menunjukkan
∆D =πD
6
Pemerintah akan melihat perubahan utang nominal ∆D dan akan melaporkan
defisit anggaran sebesar πD. Jadi sebagian ekonom percaya bahwa defisit anggaran
yang dilaporkan berlebih sebesar πÐ.
2.2.2 Aset modal
Penilaian akurat atas defisit anggaran pemerintah memerlukan perhitungan atas
aset pemerintah serta kewajibannya. Biasanya, ketika mengukur utang pemerintah
secara keseluruhan, kita seharusnya mengurangi aset pemerintah dari utang
pemerintah. Karena itudefisit anggaran seharusnya diukur sebagai perubahan utang
dikurangi perubahan Aset.
2.2.3 Kewajiban yang Tidak Dihitung
Defisit anggaran yang diukur adalah keliru karena mengabaikan beberapa
kewajiban pemerintah yang penting. Contohnya, pensiunan pegawai negeri. Pegawai
negeri memberikan jasanya kepada pemerintah saat ini, tapi bagian kompensasi
mereka dipotong untuk masa depan. Pada dasarnya mereka memberikan pinjaman
kepada pemerintah kewajiban pemerintah untuk membayar pensiunan tersebut tidak
jauh berbeda dengan utang pemerintah. Namun, kewajiban itu tidak dimasukkan
sebagai bagian dari utang pemerintah, dan akumulasi kewajiban ini tidak dimasukkan
sebagai bagian dari defisit anggaran.
2.2.4 Siklus Bisnis
Banyak perubahan dalam defisit anggaran pemerintah secara otomatis
menanggapi perekonomian yang berfluktuasi. Misalnya, ketika perekonomian
mengalami resesi, pendapatan akan turun, sehingga kemampuan seseorang untuk
membayar pajak akan berkurang. Laba juga turun, sehingga perusahaan membayar
lebih sedikit pajak pendapatan. Semakin banyak orang yang tergantung pada bantuan
7
pemerintah, sehingga pengeluaran pemerintah naik dan defisit anggaran akan
meningkat Perubahan otomatis dalam defisit ini karena pemerintah meminjam lebih
banyak ketika resesi, menekan penerimaan pajak, dan mendongkrak pengeluaran
pemerintah.
Pemerintah biasanya menghitung defisit anggaran yang disesuaikan secara siklis.
Defisit yang disesuaikan secara siklis didasarkan pada estimasi mengenai berapa
pengeluaran pemerintah dan penerimaan pajak yang terjadi jika perekonomian
beroperasi pada tingkat ouput dan kesempatan kerja alamiahnya. Defisit yang
disesuaikan secara siklis adalah ukuran yang berguna karena mencerminkan
perubahan kebijakan tetapi bukan tahapan dari siklus bisnis saat ini.
2.3 Pandangan Para Ahli Terhadap Utang Pemerintah
2.3.1 Pandangan Tradisional Terhadap Utang Pemerintah
Pandangan tradisional terhadap utang pemerintah menyatakan bahwa pemerintah
mengambil tindakan defisit dengan melakukan pemotongan pajak dan melakukan
utang. Dalam waktu pendek pemotongan pajak yang dilakukan oleh pemerintah
menyebabkan pendapatan masyarakat jadi lebih tinggi, sehingga masyarakat
meningkatkan pengeluarannya. Peningkatan pengeluaran masyarakat, akan
menambah permintaan dan barang dan jasa, sehingga meningkatkan produksi dan
menambah kesempatan kerja. Kondisi tersebut menyebabkan suku bunga ikut
meningkat dan mendorong aliran masuk modal dari luar negeri
Efek jangka panjang kebijakan defisit dan pemotongan pajak pemerintah ialah
berkurangnya tabungan pemerintah dan utang yang lebih besar. Manfaat dari
konsumsi yang tinggi dan kesempatan kerja yang luas ini akan dinikmati oleh
generasi sekarang. Akan tetapi generasi mendatang, kan lebih banyak menanggung
beban dari defisit, karena mereka dilahirkan dari negara yang memiliki sedikit
persediaan modal namun memiliki hutang yang lebih besar.
8
Peningkatan hutang pemerintah di dalam membiayai defisit dapat meningkatkan
tabungan masyarakat sehingga tidak menaikkan tingkat suku bunga. Bagaimana
pemotongan pajak dan defisit anggaran mempengaruhi perekonomian dan
kemakmuran ekonomi negara?
Pemotongan pajak mendorong belanja konsumen dan mengurangi tabungan
nasional. Penurunan tabungan menaikkan tingkat bunga, yang mengurangi investasi.
Model pertumbuhan Solow menunjukkan bahwa investasi lebih rendah menimbulkan
persediaan modal kondisi-mapan lebih rendah dan output lebih rendah. Kita tahu
perekonomian lalu akan memiliki modal kurang dari kondisi-mapan Kaidah Emas,
yang berarti konsumsi dan kemakmuran ekonomi lebih rendah. Kita bisa
menganalisis dampak jangka-pendek dari perubahan kebijakan lewat model IS-LM.
Kita bisa lihat bagaimana perdagangan internasional mempengaruhi perubahan
kebijakan ini. Ketika tabungan nasional turun, orang meminjam dari luar negeri,
menyebabkan defisit perdagangan. Ini juga menyebabkan dolar berapresiasi. Model
Mundell Fleming menunjukkan bahwa apresiasi dan lalu turunnya ekspor neto
mengurangi dampak ekspansif jangka-pendek dari perubahan fiskal.
Jangka pendek:
↑Y.↓u
Jangka panjang
Y dan u kembali pada tingkat alaminya
Perekonomian tertutup: Tr.(Pajak)
Perekonomian terbuka: [Link] (atau defisit perdagangan yang lebih tinggi)
Jangka yang sangat panjang:
Pertumbuhan lebih lambat sampai perekonomian mencapai kondisi mapan,
pemerintah dengan pendapatan per kapita dana lebih.
2.3.2 Pandangan Ricardian
9
Menurut ekonom Ricardian, pengurangan pajak tidak akan ditanggapi oleh
konsumen dengan melakukan pengeluaran lebih banyak, karena konsumen juga akan
melihat situasi lebih jauh ke depan (current and future). Argumen ini dikenal dengan
Ricardian Equivalence Proposition. Pertama kali dinyatakan oleh David Ricardo,
seorang ahliekonomi inggris pada abad ke-19. Argumen tersebut dikembangkan lebih
lanjut oleh Robert Barro tahun 1970 sehingga dikenal juga sebagai Ricardo-Barro
proposition. Logika dari proposisi dapat diambil dari contoh perubahan pajak:
Misalkan pemerintah menurunkan pajak 1 pada tahun ini. Sehingga untuk
membayar/melunasi utang tersebut, pemerintah akan menaikkan pajak sebesar(1 + r)
ditahun berikutnya. Apakah yang akan menjadi dampak dari pemotongan pajak awal
pada konsumsi?
Kemungkinan jawaban adalah tidak ada dampak apapun. Mengapa? Karena
konsumen menyadari bahwa pemotongan pajak tersebut bukan suatu gift. Pajak yang
rendah ditahun ini pasti akan diimbangi dengan pajak yang lebih tinggi di tahun
berikutnya. Pajak saat ini turun 1, tapi present value dari kenaikan pajak tahun
depan(1 +r)/ (1 +r) = 1. Jadi dampak dari perubahan itu 0.
Beberapa permasalahan dalam Ricardian Equivalence ini adalah kenaikan pajak
muncul pada waktu yang tidak dapat ditentukan, sehingga beberapawarga negara
pada kenyataannya, cenderung mengabaikan hal tersebut. Adanya kendala
pembiayaan bagi konsumen, sehingga mereka menghabiskantabungan saat ini, hasil
dari pemotongan pajak. Menurut Kesetaraan Ricardian pemotongan pajak yang
didanai oleh utang memiliki tidak berpengaruh konsumsi, tabungan nasional, tingkat
bunga riil, investasi, ekspor bersih, atau PDB riil, bahkan dalam jangka pendek.
Logika Kesetaraan Ricardian Konsumen memandang ke depan, tahu bahwa yang
didanai oleh utang pajak dipotong hari ini menyiratkan peningkatan pajak masa depan
yaitu sebesar - di nilai sekarang - untuk pemotongan pajak. Pemotongan pajak tidak
membuat konsumen lebih baik, sehingga mereka tidak meningkatkan pengeluaran
10
konsumsi. Sebaliknya, mereka menyimpan pemotongan pajak penuh untuk melunasi
kewajiban pajak.
Masalah dengan Kesetaraan Ricardian:
a. Kerabunan, tidak semua konsumen berpikir begitu jauh ke depan, beberapa
melihat pemotongan pajak sebagai rezeki nomplok.
b. Kendala pinjaman, beberapa konsumen tidak dapat meminjam cukup untuk
mencapai konsumsi optimal, sehingga mereka menghabiskan pemotongan
pajak.
c. Generasi masa depan, jika konsumen mengharapkan bahwa beban membayar
pemotongan pajak akan jatuh pada generasi.
Bukti terhadap Kesetaraan Ricardian?
1980-an:
Pemotongan pajak Reagan meningkat defisit. Tabungan nasional turun,
tingkat bunga riil naik, nilai tukar dihargai, dan NX jatuh.
1992:
Pemotongan pajak penghasilan berkurang untuk merangsang ekonomi.
Ini tertunda pajak tapi tidak membuat konsumen lebih baik.
Hampir setengah dari konsumen peningkatan
Para pendukung R.E. berpendapat bahwa pemotongan pajak Reagan tidak
memberikan tes wajar RE
Konsumen dapat mengharapkan utang akan dilunasi dengan pemotongan
belanja di masa depan bukan kenaikan pajak di masa depan.
Tabungan swasta mungkin telah jatuh untuk alasan lain selain pemotongan
pajak, seperti optimisme tentang ekonomi.
Karena data tunduk pada interpretasi yang berbeda, baik dilihat dari utang
pemerintah maupun cara bertahan hidupnya.
11
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Utang pemerintah adalah utang yang diterbitkan atau dijamin oleh pemerintah
suatu negara, lebih dikenal sebagai utang luar negeri. Dalam rangka mengumpulkan
uang, pemerintah akan menerbitkan obligasi dan menjualnya kepada investor asing.
Utang negara terbagi menjadi pinjaman dan Surat Berharga Negara. Utang negara
jenis pinjaman adalah pembiayaan melalui utang yang diperoleh Pemerintah dari
pemberi pinjaman dalam negeri atau luar negeri yang diikat oleh suatu perjanjian
pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali
dengan persyaratan tertentu.
Pengukuran yang paling tidak kontroversial adalah koreksi terhadap inflasi.
Hampir semua ekonomi sepakat bahwa utang pemerintah seharusnya diukur dalam
bentuk riil, bukan nominal. Defisit yang diukur seharusnya sama dengan perubahan
utang riil pemerintah, bukan perubahan uang nominal. Defisit anggaran yang biasa
diukur tidak mengkoreksi inflasi. Contoh untuk melihat seberapa besar pengaruh
kesalahan ini, asumsinya utang pemerintah riil tidak berubah, anggarannya seimbang
Dalam kasus ini, utang nominal harus naik pada tingkat inflasi.
Penilaian akurat atas defisit anggaran pemerintah memerlukan perhitungan atas
aset pemerintah serta kewajibannya. Biasanya, ketika mengukur utang pemerintah
secara keseluruhan, kita seharusnya mengurangi aset pemerintah dari utang
pemerintah. Karena itudefisit anggaran seharusnya diukur sebagai perubahan utang
dikurangi perubahan Aset. Defisit anggaran yang diukur adalah keliru karena
mengabaikan beberapa kewajiban pemerintah yang penting.
Banyak perubahan dalam defisit anggaran pemerintah secara otomatis
menanggapi perekonomian yang berfluktuasi. Misalnya, ketika perekonomian
mengalami resesi, pendapatan akan turun, sehingga kemampuan seseorang untuk
12
membayar pajak akan berkurang. Laba juga turun, sehingga perusahaan membayar
lebih sedikit pajak pendapatan.
Pandangan tradisional terhadap utang pemerintah menyatakan bahwa pemerintah
mengambil tindakan defisit dengan melakukan pemotongan pajak dan melakukan
utang. Dalam waktu pendek pemotongan pajak yang dilakukan oleh pemerintah
menyebabkan pendapatan masyarakat jadi lebih tinggi, sehingga masyarakat
meningkatkan pengeluarannya. Peningkatan pengeluaran masyarakat, akan
menambah permintaan dan barang dan jasa, sehingga meningkatkan produksi dan
menambah kesempatan kerja. Kondisi tersebut menyebabkan suku bunga ikut
meningkat dan mendorong aliran masuk modal dari luar negeri Efek jangka panjang
kebijakan defisit dan pemotongan pajak pemerintah ialah berkurangnya tabungan
pemerintah dan utang yang lebih besar. Peningkatan hutang pemerintah di dalam
membiayai defisit dapat meningkatkan tabungan masyarakat sehingga tidak
menaikkan tingkat suku bunga. Pemotongan pajak mendorong belanja konsumen dan
mengurangi tabungan nasional. Penurunan tabungan menaikkan tingkat bunga, yang
mengurangi investasi. Model pertumbuhan Solow menunjukkan bahwa investasi
lebih rendah menimbulkan persediaan modal kondisi-mapan lebih rendah dan output
lebih rendah.
Pandangan Ricardian dikemukakan David Ricardo (1820), dan dilanjutkan oleh
Robert Barro tahun 1970 sehingga dikenal juga sebagai Ricardo-Barro proposition.
Menurut Kesetaraan Ricardian, pemotongan pajak yang didanai oleh utang memiliki
tidak berpengaruh konsumsi, tabungan nasional, tingkat bunga riil, investasi, ekspor
bersih, atau PDB riil, bahkan dalam jangka pendek. Logika Kesetaraan Ricardian,
konsumen memandang ke depan, tahu bahwa yang didanai oleh utang pajak dipotong
hari ini menyiratkan peningkatan pajak masa depan yaitu sebesar - di nilai sekarang -
untuk pemotongan pajak. Pemotongan pajak tidak membuat konsumen lebih baik,
sehingga mereka tidak meningkatkan pengeluaran konsumsi. Sebaliknya, mereka
menyimpan pemotongan pajak penuh untuk melunasi kewajiban pajak.
13
3.2 Saran
a. Indonesia memang sudah terjerat dalam utang sejak lama, hal ini dikarenakan
kondisi ekonomi Indonesia yang masih dalam tahap berkembang. Namun,
ada baiknya Indonesia fokus untuk memperbaiki perekonomian dengan
memanfaatkan sumber daya milik sendiri daripada mengandalkan utang luar
negeri. Fokuskan pada produk-produk nusantara yang mampu bersaing dalam
pasar Internasional.
b. Perkembangan utang luar negeri harus terus diperhatikan, agar posisinya
tetap berada pada posisi normal dan menguntungkan. Sebab dalam jangka
panjang utang dapat merugikan perekonomian.
c. Perbanyak makalah serupa mengenai utang luar negeri supaya dapat
memperbaiki kekurangan dalam makalah ini.
14
DAFTAR PUSTAKA
Sukirno, Sadono.(2006). Ekonomi Pembengunan. Jakarta:Kencana
Mankiw, N, Gregory(2007).[Link]:Erlangga
Tambunan, Tulus(2009).Pembangunan Ekonomi & Utang Luar
[Link]:Rajawali Pers
Wikipedia(2022).Utang [Link] diubah pada 23 November 2022,
pukul 19.48, [Link]
CNBC Indonesia. (2022). Utang RI. Diakses Juni 2022, pukul 21.33, dari
[Link]
bayar-utang-ri-sampai-menyusut-dari-mana-uangnya#:~:text=Salah%20satunya
%20disebabkan%20pembayaran%20utang,adalah%20Rp
%206.031%2C52%20triliun.
BI. (2022). Utang Indonesia Triwulan III 2022. Diakses 15 November 2022, dari
[Link]
spx#:~:text=Utang%20Luar%20Negeri%20(ULN)
%20Indonesia,403%2C6%20miliar%20dolar%20AS.
[Link](2022). Daftar negara pemberi Utang Indonesia. Diakses 21
September 2022, pukul 12:00, dari
[Link]
pemberi-utang-negara
15