MAKALAH PRAKTIKUM PERADILAN TATA
USAHA NEGARA
"Asas-Asas Peradilan Tata Usaha Negara"
DISUSUN OLEH :
Anggun Fitriani ( 2010104007 )
KELAS: HES 1
DOSEN PENGAMPU : Hudri Nurman, [Link]
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARI'AH
FAKULTAS SYARI'AH DAN HUKUM
2023
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah saya ucapkan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya
sehingga saya dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Dan tak lupa pula saya
ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Hudri Nurman, [Link] selaku dosen
pengampu mata kuliah Praktikum Peradilan Tata Usaha Negara yang telah menjelaskan
dan membimbing saya dalam penyelesaian tugas makalah ini yang berjudul "Asas Asas
Peradilan Tata Usaha Negara"
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan para
mahasiswa tentang macam-macam asas yang berlaku dan digunakan pada saat menjalankan
persidangan atau peradilannya di lingkungan peradilan tata usaha negara.
Dan saya harap semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi
para Mahasiswa khususnya kelas HES 1. Karena keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman saya yang jauh dari kata sempurna, saya yakin dalam pembuatan makalah kali ini
masih banyak ditemukan kekurangan, oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Dari segala
bimbingan dan dukungannya saya ucapkan Terima Kasih.
Palembang, 07 Maret 2023
ANGGUN FITRIANI
(2010104007)
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................1
Latar Belakang............................................................................................................................1
Rumusan masalah.......................................................................................................................1
Tujuan..........................................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................2
Asas-Asas Peradilan Tata Usaha Negara..............................................................................2-4
BAB III PENUTUP.......................................................................................................................5
Kesimpulan....................................................................................................................................5
Saran...............................................................................................................................................5
Dafar Pustaka................................................................................................................................6
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dasar hukum Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terdiri dari tiga instrumen, yaitu
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986, Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 (perubahan
pertama dari UU No. 5 Tahun 1986) dan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009
(perubahan kedua dari UU No. 5 Tahun 1986). Sebelum dikeluarkannya UU No. 5 Tahun
1986, peradilan administrasi Indonesia masih bersifat semu. PTUN pada masa itu
merupakan peradilan administratif yang terdapat dalam ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor II/MPRS/1960.
Kemudian berdasarkan Pasal 24 UUD 1945, dikeluarkanlah UU No. 14 Tahun 1970
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Pasal 10 jo. Undang-undang
No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 10. UU ini menyebutkan bahwa
kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum,
peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara.
Selanjutnya berdasarkan UU Kekuasaan Kehakiman, dibentuklah UU No. 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dengan adanya UU ini selain semakin
mengukuhkan eksistensi PTUN di Indonesia, juga membuat semakin terjaminnya
perlindungan hukum terhadap warga masyarakat atas perbuatan penguasa. Masyarakat
yang keberatan dengan keputusan yang dikeluarkan pemerintah, bisa melayangkan
gugatan ke PTUN. Ciri khas PTUN dapat dilihat dari asas-asas khusus yang menjadi
landasan operasional negara acara PTUN dan berbeda dengan peradilan lain.1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja yang menjadi Asas-Asas PTUN dalam menjalankan peradilannya?
1.3 TUJUAN
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami mengenai Asas-Asas PTUN
dalam menjalankan peradilannya.
1
Dian Aries Mujiburohman, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Yogyakarta: STPN Press. Hlm. 14.
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ASAS-ASAS PERADILAN TATA USAHA NEGARA
Asas adalah dasar atau sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat. Berkaitan
dengan PTUN, asas adalah dasar bagi pengadilan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 2 Asas
hukum acara peradilan tata usaha negara disusun dari berbagai sumber baik dari asas dalam
ilmu hukum ataupun asas hukum umum/khusus.
1. Asas Hakim Aktif atau Dominus Litis
Asas hakim aktif bermakna bahwa hakim tidak hanya menunggu dan terikat pada
dalil-dalil yang disampaikan para pihak yang bersengketa. Asas ini didasarkan pada dua
hal, yaitu untuk mengimbangi kedudukan para pihak yang tidak seimbang dan hakim
dibebani tugas untuk mencari kebenaran materiil. Tergugat dalam sengketa tata usaha
negara adalah pemerintah/administrasi yang dilekati dengan kekuasaan/kewenangan
publik, exorbinate rechten atau hak istimewa serta monopoli van het physieke gewel atau
monopoli paksaan fisik. Sedangkan penggugat adalah perorangan atau badan hukum
perdata yang tidak memiliki kekuasaan/keistimewaan seperti tergugat. Maka untuk
mengimbanginya, jika penggugat mengalami kesulitan untuk mendapatkan data yang
diperlukan seputar keputusan tata usaha negara (“KTUN”), maka hakim dapat
memerintahkan penjelasan kepada badan atau pejabat yang bersangkutan.3
2. Asas Pembuktian Bebas atau Vrij Bewijs
Asas ini merupakan konsekuensi logis dari diterapkannya asas hakim aktif. Asas
pembuktian bebas bermakna hakim tidak terikat dengan alat bukti yang diajukan oleh para
pihak dan penilaian pembuktian diserahkan sepenuhnya kepada hakim. Selain itu, hakim
juga dapat menguji aspek lain di luar sengketa.4
3. Asas Het Verdomen van Rechmatigheid atau Asas Presumptio Iustea Causa atau Asas
Praduga Rechtmatig
2
Budi Sastra Panjaitan, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Medan: CV. Manhaji. Hlm. 9.
3
Ridwan, Tiga Dimensi Hukum Administrasi dan Peradilan Administrasi. Yogyakarta: FH UII Press. Hlm. 158.
4
SF. Marbun, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administratif di Indonesia. Yogyakarta: FH UII Press. Hlm.
221
2
Asas ini menyatakan bahwa demi kepastian hukum, setiap keputusan tata usaha
negara dianggap benar menurut hukum, sehingga dapat dilaksanakan terlebih dahulu
sampai dibuktikan sebaliknya dan dinyatakan oleh hakim sebagai keputusan yang melawan
hukum. Artinya, jika KTUN tidak digugat atau masih dalam proses pemeriksaan di
pengadilan, KTUN dianggap sah menurut hukum meskipun di dalamnya mengandung
cacat hukum.5
4. Asas Pengujian Ex-tunc
Asas pengujian ex tunc bermakna pengujian yang dilakukan oleh hakim hanya
terbatas pada fakta-fakta atau keadaan hukum pada saat KTUN yang disengketakan itu
dikeluarkan. Adapun perubahan fakta dan keadaan hukum tidak ikut dipertimbangkan.
Dengan penerapan asas pengujian ex tunc maka KTUN yang disengketakan dinyatakan
batal dan berakibat tidak sah. Keputusan tersebut berlaku surut terhitung dari saat
dikeluarkannya keputusan itu. Sehingga keadaan dikembalikan pada keadaan semula
sebelum KTUN dikeluarkan. Artinya, akibat hukum yang ditimbulkan dari KTUN tersebut
dianggap tidak sah dan tidak pernah ada. Adapun, putusan hakim bersifat deklaratoir dan
bukan konstitutif atau disebut putusan retroaktif. Sehingga putusan hakim tidak berisi
pembatalan yang bersifat konstitutif.6
5. Asas Gugatan Tidak Menunda Pelaksanaan KTUN
Dengan berlakunya asas praduga rechtmatig sebagaimana disebut di atas,
berdampak pada gugatan yang diajukan kepada hakim tidak mempengaruhi pelaksanaan
KTUN. Artinya suatu KTUN akan tetap dijalankan meski ada gugatan atasnya. Namun
demikian, KTUN tetap dapat ditunda pelaksanaannya atau dihentikan sementara dengan
alasan sebagaimana diatur dalam Pasal 67 ayat (4) UU PTUN beserta penjelasannya yaitu:
a. Adanya keadaan yang sangat mendesak yang mengakibatkan kepentingan penggugat
dirugikan jika KTUN tetap dilaksanakan. Kerugian penggugat diukur dari tidak
seimbangnya kerugian dibanding manfaat bagi kepentingan yang dilindungi dari
pelaksanaan KTUN;
b. Pelaksanaan KTUN tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan umum dalam rangka
pembangunan.7
6. Asas Putusan Bersifat Erga Omnes
Asas putusan bersifat erga omnes maksudnya adalah putusan Pengadilan Tata Usaha
3
5
Ibid. Hlm. 157.
6
Ibid. Hlm. 225.
7
Opcit. Hlm. 157.
4
Negara (“PTUN”) mengikat pihak-pihak di luar yang bersengketa karena putusan hakim
berada dalam ranah hukum publik atau mengikat umum. Selain itu, putusan PTUN
mengikat sengketa yang mengandung persamaan yang timbul di masa mendatang.8
7. Asas Pemeriksaan dari Segi Rechtmatig, bukan Doelmatig
Pemeriksaan yang dilakukan oleh PTUN hanya terbatas pada
segi rechtmatigheid atau dari segi yuridis KTUN yang disengketakan. Hakim dilarang
menguji dari segi kebijaksanaan atau doelmatigheid meskipun hakim tidak sependapat
dengan keputusan yang dikeluarkan oleh badan/pejabat yang bersangkutan. Hakim PTUN
hanya boleh menguji bertentangan atau tidak suatu keputusan dengan hukum. Artinya,
hakim hanya menilai keputusan dari segi sah atau tidaknya, bukan dari layak atau tidaknya
suatu keputusan yang dikeluarkan oleh badan/pejabat pemerintah.9
8. Asas Sidang Terbuka Untuk Umum (Keterbukaan).
Asas ini membawa konsekuensi bahwa semua putusan pengadilan hanya sah dan
mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.10
9. Asas Kesatuan Beracara
Asas kesatuan beracara dalam perkara sejenis baik dalam pemeriksaan di peradilan
judex facti, maupun kasasi dengan MA sebagai puncaknya. Secara sederhana, hanya satu
panduan beracara, tidak boleh dua yang memungkinkan dapat mengakibatkan simpang siur
penerapan hukum.
10. Asas Objektivitas
Untuk tercapainya putusan yang adil maka hakim atau panitera wajib
mengundurkan diri apabila terkait hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat
ketiga atau hub suami istri meskipun telah bercerai dengan tergugat, penggugat atau
penasehat hukum atau antara hakim dengan salah seorang hakim atau panitera juga terdapat
hubungan sebagaimana yang disebutkan di atas, hakim atau pnitera tersebut mempunyai
kepentingan langsung atau tidak langsung dengan sengketanya.11
8
Opcit. Hlm. 160.
9
Opcit. Hlm. 161.
10
Pasal 17 dan Pasal 18 UU 14/1970 jo. Pasal 70 UU PTUN.
11
Pasal 78 dan 79 UU 5/1986.
5
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Ada dua perbedaan penting yang terdapat pada UU PTUN dengan peradilan umum
untuk perkara perdata, antara lain:
a. Pada peradilan TUN, hakim berperan lebih aktif dalam proses persidangan guna
memperoleh kebenaran material dan untuk undang-undang ini mengarah pada ajaran
pembuktian bebas;
b. Suatu gugatan TUN pada dasarnya tidak bersifat menunda pelaksanaan
Keputusan TUN yang disengketakan.12
3.2 SARAN
Dari makalah yang telah dipaparkan bahwasanya makalah ini saya harap dapat
menjadikan sarana pengetahuan bagi pembacanya mengenai Asas-Asas Peradilan
TUN. Karena keterbatasan referensi pengetahuan dalam menyusun makalah ini pasti
sekiranya makalah ini jauh dari kata sempurna maka dari itu saya mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar saya dapat memperbaiki
makalah ini dengan sempurna.
12
Rosmery Elsye, Hukum Tata Usaha Negara. Sumedang: IPDN. Hlm. 95-97.
6
DAFTAR PUSTAKA
Aries Mujiburohman Dian, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara.
Yogyakarta: STPN Press. Hlm. 14.
Sastra Panjaitan Budi, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Medan:
CV. Manhaji. Hlm. 9.
Ridwan, Tiga Dimensi Hukum Administrasi dan Peradilan
Administrasi. Yogyakarta: FH UII Press. Hlm. 158.
Marbun. SF, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administratif di
Indonesia. Yogyakarta: FH UII Press. Hlm. 221.
Elsye Rosmery, Hukum Tata Usaha Negara. Sumedang: IPDN. Hlm. 95-97.
Pasal 17 dan Pasal 18 UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Kekuasaan Kehakiman jo. Pasal 70 UU tentang PTUN.
Pasal 78 dan 79 UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.