0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan128 halaman

Prediksi Erosi di Bendungan Temef

Skripsi ini membahas prediksi erosi dan sedimentasi di Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan metode USLE. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besaran erosivitas curah hujan, erosi, dan sedimentasi serta menentukan kelas bahaya erosi di daerah tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan besaran erosi dan volume sedimentasi dengan menggunakan dua formulasi erosivitas. Berdasarkan perbandingan,

Diunggah oleh

Mario Palenga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan128 halaman

Prediksi Erosi di Bendungan Temef

Skripsi ini membahas prediksi erosi dan sedimentasi di Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan metode USLE. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besaran erosivitas curah hujan, erosi, dan sedimentasi serta menentukan kelas bahaya erosi di daerah tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan besaran erosi dan volume sedimentasi dengan menggunakan dua formulasi erosivitas. Berdasarkan perbandingan,

Diunggah oleh

Mario Palenga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HALAMAN JUDUL

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

JUDUL

PREDIKSI EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI


BENDUNGAN TEMEF KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
DENGAN METODE USLE

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna


Mencapai Gelar Sarjana Teknik Pada Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa
Cendana

Oleh :

MARIO F. RATO PALENGA


1406010012

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2019
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar

Nama : Mario F. R Palenga

NIM : 1406010012

Tanda Tangan :

Tanggal : 13 November 2019

II
HALAMAN PERSETUJUAN
PREDIKSI EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAERAH ALIRAN
SUNGAI BENDUNGAN TEMEF KABUPATEN TIMOR
TENGAH SELATAN DENGAN METODE USLE
SKRIPSI
Yang disiapkan dan diserahkan oleh:

Mario F Rato Palenga


NIM. 1406010012

Telah Diuji dan Disetujui:


Kupang, 13 November 2019

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Judi K. Nasjono, ST. MT Jusuf J. S. Pah, ST. Msc


NIP. 19680609 200012 1 001 NIP. 19680324 199802 1 001

Mengetahui

Dekan Fakultas Sains dan Teknik Ketua Program Studi Teknik Sipil
Undana Kupang Fakultas Sains Dan Teknik

Drs. Hery Leo Sianturi, [Link] Tri M.W. Sir, ST. [Link]
NIP. 19651205 199103 1 006 NIP. 19790506 200604 2 001

III
LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini di ajukan oleh :

Nama : Mario F. R Palenga

Nim : 1406010012

Program Studi : Teknik Sipil

Judul Hasil : Prediksi Erosi Dan Sedimentasi Di Daerah Aliran Sungai


Bendungan Temef Kabupaten Timor Tengah Selatan Dengan
Metode USLE

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains dan
Teknik Universitas Nusa Cendana.

DEWAN PENGUJI :

Pembimbing 1 : Dr. Judi K. Nasjono, ST. MT ( )

Pembimbing 2 : Jusuf J. S. Pah, ST. Msc ( )

Penguji : Elsy E. Hangge, ST. [Link] ( )

Ditetapkan di : Kupang

Tanggal : 13 November 2019

IV
MOTTO

“Serahkanlan segala kekuatiranmu


kepada-Nya, sebab ia yang memelihara
kamu”

(1 Petrus 5 : 7)

Dengan penuh kerendahan hati dan rasa syukur saya


persembahkan skripsi ini untuk :

Allah Bapa

Bunda Maria

Tuhan Yesus
Kepada Bapa, Mama, Kakak, Adik dan Keluarga Tercinta

Teman-teman Seperjuangan Angkatan 2014

V
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
hanya atas kasih dan tuntunan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan Tugas Akhir dengan judul “Prediksi Erosi Dan Sedimentasi Di Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef Kabupaten Timor Tengah Selatan Dengan
Metode USLE”. Penulisan ini diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat-syarat guna mencapai gelar sarjana Teknik Pada Fakultas Sains
Dan Teknik Universitas Nusa Cendana.

Menyadari akan keterbatasan kemampuan dalam Penyelesaian dan pengerjaan


Tugas Akhir ini tidak terlepas dari arahan dan bimbingan dosen pembimbing serta
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Bapak Drs. Hery Leo Sianturi, MSi, sebagai Dekan Fakultas Sains dan
Teknik Universitas Nusa Cendana beserta Bapak/Ibu Dosen dan Karyawan.
2. Ibu Tri M.W Sir ST, [Link], sebagai Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana.
3. Bapak Dr. Judi K. Nasjono, ST. MT, sebagai Dosen Pembimbing I yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini.
4. Bapak Jusuf J. S. Pah, ST. Msc, sebagai Dosen Pembimbing II yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Elsy E. Hangge, ST. [Link], sebagai Dosen Penguji yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Ir I Made Udiana, MT, sebagai Dosen Penasehat Akademik yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam perkuliahan.
7. Bapak-ibu dosen, pegawai dan teknisi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Sains
dan Teknik Universitas Nusa Cendana.
8. Keluarga tercinta: Bapa, Mama, Kakak dan Adik dan seluruh keluarga yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang dengan setia mendoakan dan
mendukung sepenuhnya penulis dalam menyelesaikan penelitian ini dan
sepanjang perkuliahan penulis.

VI
9. Teman-teman seperjuangan angkatan 2014 (Agung, Dex, Yandri, Nathan,
Hendrik, Angky, Santus, Eli, Riko, Rinto, Ardo, Obby, Beni, Evan, Allen,
Kevin, Richard, Roby, Chua, Jordy, Yudha, Alyes, Dipo, Mario, Rey, Santy,
Monik, Linda, Mia, Thya, Epril, Kirana, Donna, Ivon, dan Alm. Willy) yang
selalu memberikan dukungan moril dan motivasi serta dukungan doa selama
ini bagi penulis.
10. Agung, Ka Yoan, Charles dan Yandri yang telah membantu dalam
pengambilan sampel tanah.
11. Senior dan junior Teknik Sipil Undana yang selalu memberikan bantuan,
dukungan doa dan motivasi bagi penulis

Penulis menyadari bahwa penulisan Tugas Akhir ini memiliki banyak


kekurangan dan keterbatasan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang positif demi penyempurnaan Tugas Akhir ini. Kiranya Tugas Akhir ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Akhir kata penulis hanya dapat memanjatkan doa semoga Tuhan Yang Maha
Esa melimpahkan berkat-Nya bagi kita semua.

Kupang, 13 November 2019

Penulis

VII
ABSTRAK

PREDIKSI EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI


BENDUNGAN TEMEF KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
DENGAN METODE USLE

1)
Judi K. Nasjono 2)
Jusuf J. S. Pah 3)
Mario F R Palenga

Erosi merupakan proses pengikisan tanah dan batuan yang terjadi secara alami
sehingga menimbulkan pengendapan, pendangkalan dan pencemaran di dataran
rendah, Proses pengendapan setelah terjadinya erosi disebut sebagai proses
sedimentasi, proses erosi dan sedimentasi terjadi pada berbagai Daerah Aliran
Sungai, salah satunya adalah Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef yang
terletak pada Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa
Tenggara Timur, Bendungan Temef dalam tahap pembangunan yang dibangun
mulai dari tahun 2018 dan diperkirakan selesai tahun 2023. Penelitian Ini
bertujuan untuk Memprediksi besarnya nilai Erosivitas Curah Hujan, Besarnya
nilai Erosi dan Sedimentasi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan
Temef dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) serta
menentukan kelas bahaya erosi yang terjadi. Dari hasil penelitian diperoleh
besarnya erosi pada DAS Temef yang dihitung menggunakan metode USLE
dengan formulasi erosivitas Bols adalah 218,074 ton/ha/tahun, formulasi
erosivitas Lenvain adalah 2679,279 ton/ha/tahun, sedangkan hasil perhitungan
volume sedimen dengan menggunakan metode USLE untuk formulasi erosivitas
Bols adalah 755.279,949 m3/tahun dan formulasi erosivitas Lenvain adalah
9.279.432,703 m3/tahun. Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan volume
sedimentasi dari data perencanaan hasil perhitungan volume sedimen
menggunakan metode USLE dengan formulasi erosivitas bols memiliki hasil yang
paling mendekati yakni dengan ketelitian 84,98 %, Sehingga dalam penentuan
kelas bahaya erosi menggunakan nilai perhitungan USLE dengan formulasi
erosivitas Bols, diperoleh kelas bahaya erosi yang terjadi berada pada kelas IV
yang dikategorikan berat.

Kata Kunci : Prediksi, Erosi, Sedimentasi

VIII
1)
Dosen Pembimbing 1 2)
Dosen Pembimbing 2 3)
Peneliti

ABSTRACT

EROSION AND SEDIMENTATION PREDICTION IN THE TEMEF DAM


RIVER BASIN ON SOUTH TIMOR DISTRICT USING USLE METHOD

1)
Judi K. Nasjono 2)
Jusuf J. S. Pah 3)
Mario F R Palenga

Erosion is the process of erosion of soil and rocks that occur naturally, causing
sedimentation, siltation and pollution in the lowlands. The process of deposition
after erosion is called a sedimentation process, erosion and sedimentation
processes occur in various watersheds, one of which is the Dam Basin Temef is
located in Oenino Subdistrict, South Central Timor Regency (TTS), East Nusa
Tenggara, Temef Dam in the construction phase which was built starting in 2018
and is expected to be completed in 2023. This research aims to predict the value
of rainfall erosion, magnitude of erosion value and Sedimentation that occurs in
the Temef Dam Watershed using the USLE (Universal Soil Loss Equation)
method and determines the erosion hazard class that occurs. From the results of
the study, the magnitude of erosion in Temef watershed calculated using the
USLE method with Bols erosivity formulation is 218,074 tons / ha / year, Lenvain
erosivity formulation is 2679,279 tons / ha / year, while the results of the
calculation of sediment volume using the USLE method for the formulation Bols
erosivity is 755,279,949 m3 / year and the Lenvain erosivity formulation is
9,279,432,703 m3 / year. Based on the comparison of sedimentation volume
calculations from planning data the results of sediment volume calculations using
the USLE method with Bols erosivity formulation have the closest results, with
accuracy of 84.98%, so that in determining the erosion hazard class using the
USLE calculation value with the Bols erosivity formula, the class obtained
erosion hazard that occurs is in class IV which is categorized as severe.

Keywords : Prediction, Erosion, Sedimentation

1)
1st Supervisor 2)
2nd Supervisor 3)
Researcher

IX
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................................
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS....................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN...............................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................................
MOTTO...................................................................................................................................
KATA PENGANTAR............................................................................................................
ABSTRAK...........................................................................................................................
ABSTRACT...........................................................................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................................................
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................
DAFTAR TABEL..................................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................
1.1 Latar Belakang................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.3 Batasan Masalah.............................................................................................2
1.4 Tujuan Penelitian............................................................................................3
1.5 Manfaat Penelitian..........................................................................................3
1.6 Konsep Operasional........................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................
2.1 Bendungan.....................................................................................................5
2.1.1 Pengertian umum....................................................................................5
2.1.2 Fungsi bendungan...................................................................................6
2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS).........................................................................7
2.2.1 Pembagian daerah aliran sungai..............................................................8
2.2.2 Bentuk-bentuk daerah aliran sungai........................................................9
2.2.3 Fungsi daerah aliran sungai...................................................................11
2.3 Sedimentasi...................................................................................................12
2.3.1 Pengertian sedimentasi..........................................................................12
2.3.2 Faktor penyebab terjadinya sedimentasi...............................................12

X
2.3.3 Proses terjadinya sedimentasi...............................................................13
2.4 Erosi..............................................................................................................14
2.4.1 Pengertian erosi.....................................................................................14
2.4.2 Jenis Erosi.............................................................................................15
2.4.3 Proses terjadinya erosi..........................................................................15
2.5 Metode Perhitungan Nilai Erosi...................................................................16
2.5.1 Metode USLE (Universal Soil Loss Equation).....................................17
2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi berdasarkan Universal Soil
Loss Equation.......................................................................................17
1. Indeks erosivitas hujan (EI).......................................................................18
2. Indeks erodibilitas tanah (K)......................................................................21
3. Indeks panjang lereng (L)..........................................................................34
4. Indeks kemiringan lereng (S).....................................................................35
5. Faktor Vegetasi atau Tataguna Lahan (C).................................................36
6. Indeks tindakan konservasi tanah (P).........................................................38
7. Perhitungan jumlah sedimen menggunakan Nisbah Pelepasan Sedimen
(Sediment Delivery Ratio).....................................................................39
2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG)................................................................40
2.7 Klasifikasi Bahaya Erosi..............................................................................41
2.8 Penelitian Terdahulu.....................................................................................41
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................................
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian......................................................................44
3.1.1 Tempat Penelitian.................................................................................44
3.1.2 Waktu penelitian...................................................................................44
3.2 Jenis Data.....................................................................................................44
3.2.1 Data Primer...........................................................................................44
3.2.2 Data Sekunder.......................................................................................45
3.3 Teknik Pengambilan Data............................................................................45
3.3.1 Teknik Pengujian..................................................................................45
3.3.2 Teknik Dokumentasi.............................................................................45
3.4 Teknik Analisa Data.....................................................................................45

XI
3.4.1 Perhitungan besarnya erosi menggunakan Metode Universal Soil Loss
Equation (USLE)...................................................................................45
3.4.2 Pembuatan Peta dengan menggunakan Arcgis.....................................46
3.4.3 Perhitungan volume sedimen menggunakan Nisbah Pelepasan Sedimen
...............................................................................................................54
3.5 Diagram Alir................................................................................................54
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................................
4.1 Umum...........................................................................................................55
4.2 Indeks Erosivitas Hujan (EI)........................................................................56
4.2.1 Analisis curah hujan..............................................................................56
4.2.2 Indeks erosivitas hujan (EI) Formulasi Bols.........................................57
4.2.3 Indeks erosivitas hujan (EI) Formulasi Lenvain...................................71
4.3 Indeks Erodibilitas Tanah (K)......................................................................76
4.3.1 Pengujian distribusi ukuran butiran......................................................79
4.3.2 Pengujian kandungan bahan organik (OM)..........................................81
4.3.3. Pengujian permeabilitas tanah (P)........................................................82
4.4 Indeks Panjang dan Kemiringan Lereng.....................................................85
4.5 Indeks Penutupan Vegetasi (C)....................................................................86
4.6 Indeks Tindakan Konservasi Tanah (P)......................................................87
4.7 Perhitungan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE).......................87
4.8 Perhitungan Volume Sedimen Dengan Menggunakan Nisbah Pelepasan
Sedimen (Sediment Delivery Ratio).............................................................89
4.9 Penentuan Klasifikasi Bahaya Erosi............................................................91
4.10 Persentase Perbandingan Volume Sedimen...............................................91
4.11 Pembahasan................................................................................................92
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................
5.1 Kesimpulan..................................................................................................94
5.2 Saran.............................................................................................................94
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................
GLOSARIUM......................................................................................................................
BIODATA PENULIS..........................................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN..................................................................................................

XII
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang rencana Bendungan Temef.............................................5


Gambar 2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS).............................................................8
Gambar 2.3 Bentuk DAS Memanjang atau Bulu Burung......................................9
Gambar 2.4 Bentuk DAS Radial..........................................................................10
Gambar 2.5 Bentuk DAS Parallel........................................................................10
Gambar 2.6 Bentuk DAS komplek......................................................................11
Gambar 2.7 Tahapan Terjadinya Erosi................................................................17
Gambar 2.8 Metode Aritmatik.............................................................................19
Gambar 2.9 Metode Polygon Thiessen................................................................20
Gambar 2.10 Metode Isohyets...............................................................................21
Gambar 2.11 Sistem Klasifikasi Tanah..................................................................23
Gambar 2.12 Jenis Tanah Regosol.........................................................................23
Gambar 2.13 Jenis Tanah Latosol..........................................................................24
Gambar 2.14 Jenis Tanah Organosol.....................................................................25
Gambar 2.15 Jenis Tanah Alluvial.........................................................................26
Gambar 2.16 Jenis Tanah Podsolik Merah Kuning...............................................27
Gambar 2.17 Jenis Tanah Laterit...........................................................................28
Gambar 2.18 Jenis Tanah Litosol...........................................................................29
Gambar 2.19 Jenis Tanah Rendzina.......................................................................29
Gambar 2.20 Jenis Tanah Mediteran.....................................................................30
Gambar 2.21 Jenis Tanah Grumosol......................................................................31
Gambar 2.22 Nomograf untuk menentukan nilai K...............................................32
Gambar 2.23 Grafik Hubungan Antara Luas DAS dan Nilai SDR........................39
Gambar 3.1 Lokasi Penelitian..............................................................................44
Gambar 3.2 Pengunduhan Peta Digital Elevation Model (DEM) dari Internet...46
Gambar 3.3 Proses pemotongan batas DAS dengan ArcMap..............................46
Gambar 3.4 Proses Analisis Spasial dengan ArcMap..........................................47
Gambar 3.5 Hasil Pembuatan Peta DAS dengan ArcMap...................................47

XIII
Gambar 3.6 Pengunduhan Peta Jenis Tanah Kabupaten Timor Tengan Selatan
dalam format ArcGIS.......................................................................48
Gambar 3.7 Proses Pengeditan Peta Jenis Tanah padaKabupaten Timor Tengah
Selatan dengan ArcMap...................................................................48
Gambar 3.8 Pengeditan Keterangan Warna yang di sesuaikan dengan
Klasifikasi Tanah.............................................................................49
Gambar 3.9 Hasil Pembuatan Peta Jenis Tanah Dengan ArcMap.......................49
Gambar 3.10 Pengunduhan Peta Digital Elevation Model (DEM)........................50
Gambar 3.11 Proses Pemotongan Batas DAS dengan ArcMap.............................50
Gambar 3.12 Proses Pembuatan Peta Kemiringan Lereng dengan ArcMap..........51
Gambar 3.13 Pembagian Kelas Kemiringan dan Hasil Pembuatan Peta
Kemiringan Lereng..........................................................................51
Gambar 3.14 Peta Tata Guna Lahan dalam format ArcGIS..................................52
Gambar 3.15 Pengeditan Keterangan Warna Pada Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap............................................................................................52
Gambar 3.16 Gambar 3.16 Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap.............................................................................................53
Gambar 3.17 Hasil Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap............................................................................................53
Gambar 3.18 Diagram Alir Penelitian...................................................................54
Gambar 4.1 Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef........................................55
Gambar 4.2 Letak Pos Hujan Untuk Daerah Aliran Sungai Temef.....................56
Gambar 4.3 Sampel Berdasarkan Jenis Tanah.....................................................77
Gambar 4.4 Titik Pengambilan Sampel...............................................................78
Gambar 4.5 Nilai SDR Daerah Aliran Sungai Temef..........................................89
Gambar 4.6 Grafik Volume Sedimen Berdasarkan Variasi Perhitungan.............92

XIV
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kode Struktur Tanah Untuk Menghitung Nilai K..............................33


Tabel 2.2 Kode Permeabel Tanah Untuk Menghitung Nilai K...........................33
Tabel 2.3 Klasifikasi Butir-Butir Primer Tanah Menurut Sistem USDA...........34
Tabel 2.4 Faktor LS Berdasarkan Kemiringan Lereng.......................................36
Tabel 2.5 Nilai C Untuk Berbagai Jenis Tanaman Dan Pengolahan Tanaman...36
Tabel 2.6 Nilai Faktor P Untuk Berbagai Tindakan Konservasi Tanah Khusus.38
Tabel 2.7 Klasifikasi Bahaya Erosi.....................................................................41
Tabel 2.8 Daftar Penelitian yang berkaitan dengan Erosi dan Sedimentasi........42
Tabel 4.1 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Batinifukoko.............................................................................57
Tabel 4.2 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Fatumnasi.................................................................................58
Tabel 4.3 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Nifukani....................................................................................58
Tabel 4.4 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Noelnoni...................................................................................59
Tabel 4.5 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Oeoh.........................................................................................59
Tabel 4.6 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Polen.........................................................................................60
Tabel 4.7 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik................................................................................61
Tabel 4.8 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik................................................................................61
Tabel 4.9 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko........................................................................................62
Tabel 4.10 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Fatumnasi............................................................................................62
Tabel 4.11 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Nifukani...............................................................................................63
Tabel 4.12 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan

XV
Noelnoni..............................................................................................63
Tabel 4.13 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh.......64
Tabel 4.14 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen.......64
Tabel 4.15 Jumlah Hari Hujan Bulanan (hari) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik................................................................................65
Tabel 4.16 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Batinifukoko.............................................................................66
Tabel 4.17 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Fatumnasi.................................................................................66
Tabel 4.18 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Nifukani....................................................................................67
Tabel 4.19 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Noelnoni...................................................................................67
Tabel 4.20 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Oeoh.........................................................................................68
Tabel 4.21 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Polen.........................................................................................68
Tabel 4.22 Jumlah Curah hujan maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009
Menggunakan Metode Aritmatik........................................................69
Tabel 4.23 Curah Hujan Maksimum Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik................................................................................70
Tabel 4.24 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
Rumus Bols.........................................................................................71
Tabel 4.25 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko........................................................................................72
Tabel 4.26 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Fatumnasi............................................................................................72
Tabel 4.27 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Nifukani...............................................................................................72
Tabel 4.28 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Noelnoni..............................................................................................73
Tabel 4.29 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh.....73
Tabel 4.30 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen.....74
Tabel 4.31 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik.............................................................................................75
Tabel 4.32 Curah Hujan Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik.............................................................................................75

XVI
Tabel 4.33 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
Rumus Bols.........................................................................................76
Tabel 4.34 Lokasi Pengambilan Sampel Tanah....................................................77
Tabel 4.35 Persentase Massa Butiran Tanah Berdasarkan Klasifikasi
Butir-Butir Primer Tanah Menurut Sistem USDA (United States
Department of Agriculture).................................................................79
Tabel 4.36 Nilai M Untuk Jenis Tanah Dalam Daerah Sungai Temef Dinyatakan
Tanpa Satuan.......................................................................................79
Tabel 4.37 Penentuan Kode Struktur Tanah Berdasarkan Ukuran Diameter.......80
Tabel 4.38 Hasil Pengujian Bahan Organik Sampel Tanah Daerah Aliran
Sungai Temef......................................................................................81
Tabel 4.39 Kode Permeabilitas Sampel Tanah Daerah Aliran Sungai Temef......82
Tabel 4.40 Nilai Erodibilitas Sampel Tanah Pada Daerah Aliran Sungai
Temef Dinyatakan Dalam Ton/KJ......................................................83
Tabel 4.41 Perhitungan Indeks Erodibilitas (K) DAS Temef...............................83
Tabel 4.42 Perhitungan Faktor Panjang Dan Kemiringan Lereng Daerah
Aliran Sungai Temef Dinyatakan Tanpa Satuan.................................84
Tabel 4.43 Perhitungan Faktor Penutupan Vegetasi (C) Daerah Aliran
Sungai Temef Dinyatakan Tanpa Satuan............................................85
Tabel 4.44 Nilai Erosi Dengan Metode USLE Menggunakan Formulasi
Erosivitas Bols dan Lenvain................................................................86
Tabel 4.45 Berat Volume Jenis – Jenis Tanah Pada Daerah Aliran Sungai
Temef (ton/m3)...................................................................................89
Tabel 4.46 Berat Volume Tanah Pada Daerah Aliran Sungai
Temef (ton/m3)...................................................................................89

XVII
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Curah Hujan Harian Pada 6 Pos Hujan...............................108


Lampiran 2 Hasil Pengujian Laboratorium.....................................................168
Lampiran 3 Hasil Perhitungan Erosivitas Rumus Bols Dan Lenvain.............206
Lampiran 4 Peta Daerah Aliran Sungai Temef...............................................213
Lampiran 5 Penentuan Klasifikasi Jenis Tanah...............................................216
Lampiran 6 Peta Jenis Tanah Daerah Aliran Sungai Temef...........................219
Lampiran 7 Peta Kemiringan Lereng Daerah Aliran Sungai Temef...............221
Lampiran 8 Peta Tata Guna Lahan Daerah Aliran Sungai Temef...................225
Lampiran 9 Dokumentasi Pengambilan Tanah, Kondisi Lahan Dan Pengujian
Laboratorium...............................................................................226
Lampiran 10 Hasil Perhitungan Volume Sedimentasi Berdasarkan Data
Perencanaan..................................................................................230

XVIII
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Erosi merupakan peristiwa pengikisan tanah dan batuan akibat angin, air, es,
dan akibat aktivitas makhluk hidup sehingga menimbulkan kerusakan pada tempat
terjadi erosi. Menurut Kartasapoetra (1991) Erosi merupakan proses
penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air atau angin, baik yang
berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat/tindakan perbuatan manusia.
Dampak buruk yang di timbulkan erosi adalah pengendapan, pendangkalan dan
pencemaran di dataran rendah. Dataran rendah merupakan tempat dimana
tertimbunnya partikel-partikel hasil erosi. Pada daerah ini hasil erosi akan
mengalami pengendapan bahan beserta senyawa kimia yang dikandungnya. Hasil
pengendapan tersebut akan mengakibatkan pendangkalan sungai, tertimbunnya
tanah subur oleh lumpur, dan dangkalnya bendungan, bahkan pada beberapa kasus
dapat membahayakan kesehatan karena mengandung senyawa kimia yang
beracun. Proses pengendapan material setelah terjadinya erosi disebut sebagai
proses sedimentasi.

Sedimentasi terjadi pada berbagai Daerah Aliran Sungai (DAS) di bumi. Salah
satu tempat yang mengalami sedimentasi adalah Bendungan Temef. Bendungan
Temef terletak di Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dampak negatif dari sedimentasi pada bendungan
ini adalah mengakibatkan pendangkalan akibat tertimbunya tanah pada dasar
bendungan sehingga debit air menjadi berkurang, berkurangnya debit air
tampungan pada bendungan temef akan sangat berpengaruh pada penurunan hasil
pertanian dan kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Timur Tengah Selatan
(TTS).

Salah satu metode untuk menduga atau menghitung nilai erosi melalui
pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation). Parameter-parameter yang
diperhitungkan untuk pendugaan erosi dengan metode USLE adalah erosivitas
hujan (EI), erodibilitas tanah (K), panjang lereng (L), kemiringan lereng (S),
pengelolaan tanaman (C), dan konservasi tanah (P). Proses erosi terjadi melalui

Teknik Sipil, FST, UNDANA


2

tiga tahap, yaitu pelepasan partikel tanah, pengangkutan oleh media seperti air dan
angin, dan selanjutnya pengendapan. Beberapa faktor yang mempengaruhi
besarnya erosi adalah curah hujan, tanah, lereng (topografi), vegetasi, dan aktifitas
manusia. Faktor-faktor tersebutlah yang merupakan komponen-komponen pengali
dalam pendekatan USLE.

Melihat permasalahan tersebut, dilakukan penelitian untuk mengetahui


besarnya sedimentasi yang terjadi pada bendungan Temef akibat erosi pada aliran
sungai dengan judul “Prediksi Erosi Dan Sedimentasi Di Daerah Aliran
Sungai Bendungan Temef Kabupaten Timor Tengah Selatan Dengan Metode
USLE”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan dibahas pada
penelitian ini adalah :

1. Berapa nilai erosivitas curah hujan dengan menggunakan formulasi Bols dan
formulasi Lenvain ?

2. Berapa nilai laju erosi pertahunnya pada Daerah Aliran Sungai Bendungan
Temef ?

3. Berapa nilai laju sedimentasi per tahunnya pada Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef ?

4. Bagaimana kelas bahaya erosi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef ?

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah agar penelitian ini tidak melebar dan memenuhi ketentuan
yang disyaratkan yaitu:

1. Analisis erosi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
menggunakan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dengan
formulasi erosivitas Bols dan Lenvain.

2. Data berat volume tanah, data ukuran butiran tanah, data kandungan bahan
organik tanah dan data permeabilitas tanah merupakan data primer.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


3

3. Data curah hujan, data jenis tanah, data tata guna lahan, dan data kemiringan
lereng merupakan data sekunder.

4. Data curah hujan yang digunakan yaitu curah hujan dengan data pengamatan
10 tahun dari 6 pos hujan.

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui besarnya nilai erosivitas curah hujan dengan


menggunakan formulasi Bols dan formulasi Lenvain.

2. Untuk mengetahui besarnya nilai laju erosi per tahunnya pada Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef.

3. Untuk mengetahui besarnya nilai laju sedimentasi per tahunnya pada Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef.

4. Untuk mengetahui kelas bahaya erosi yang terjadi pada Daerah Aliran
Sungai Bendungan Temef.

1.5 Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian berdasarkan tujuan di atas antara lain :

1. Bagi penulis, penelitian ini sebagai bentuk pengaplikasian ilmu yang


didapat di bangku perkuliahan.

2. Bagi para pengambil kebijakan, penelitian ini dapat membantu dalam


perencanaan dan pengelelolaan Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
yang tererosi.

3. Bagi pembaca, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk
penelitian selanjutnya dalam bidang hidrologi khususnya tentang erosi dan
sedimentasi.

1.6 Konsep Operasional


Untuk menghindari kesalahan yang mungkin terjadi karena adanya perbedaan
pengertian konsep dalam penelitian ini, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

Teknik Sipil, FST, UNDANA


4

Prediksi : kegiatan pengamatan untuk mengumpulkan suatu data


yang kemudian dibandingkan dengan hasil yang terjadi
dilapangan.

Erosi : peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-


bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media
alami.

Sedimentasi : proses pengendapan material hasil erosi.

Daerah Aliran Sungai : suatu kawan yang dibatasi oleh titik-titik tinggi dimana air
yang berasal dari air hujan yang jatuh terkumpul dalam
kawasan tersebut.

Bendungan : konstruksi untuk menahan laju air menjadi danau buatan


atau waduk

Temef : nama desa yang berada dalam Kabupaten Timor Tengah


Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

USLE : Universal Soil Loss Equation

Dengan demikian definisi dari “Prediksi Erosi Dan Sedimentasi Di


Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef Kabupaten Timor Tengah Selatan
Dengan Metode USLE”. adalah cara yang ditempuh untuk mengetahui
kemampuan hujan untuk menimbulkan erosi, untuk menyangka atau
memperkirakan peristiwa pindahnya atau terangkutnya bagian-bagian tanah dari
suatu tempat ke tempat lain oleh media alami dan proses pengendapan material
hasil erosi di Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bendungan
2.1.1 Pengertian umum
Bendungan adalah konstruksi yang berupa urugan tanah, urugan batu, beton,
dan pasangan batu yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau,
atau tempat rekreasi. Selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula
dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang. Menurut
Kartasapoetra (1991), bendungan merupakan bangunan air yang dibangun secara
melintang sungai, sedemikian rupa agar permukaan air sungai di sekitarnya naik
sampai ketinggian tertentu, sehingga air sungai tadi dapat dialirkan melalui pintu
sadap ke saluran-saluran pembagi kemudian hingga ke lahan-lahan pertanian.
Bendungan Temef terletak di Desa konbaki, Kecamatan Polen, Kabupaten
Timor Tengah Selatan dengan koordinat 124o27’22,4” BT dan 9o42’47,4” LS.
Bendungan Temef dalam tahap pembangunan yang dibangun mulai dari tahun
2018 dan diperkirakan selesai tahun 2023, gambar penampang rencana bendungan
temef dapat di lihat pada Gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1 Penampang rencana Bendungan Temef


Sumber : Detail Desain Bendungan Temef, PT Indra Karya

Teknik Sipil, FST, UNDANA


6

Bendungan Temef masih dalam tahap proses pengerjaan, berdasarkan data


perencanaan Luas genangan bendungan 428,35 hektar, tampungan total 45,78 juta
kubik air, debit inflow 1.264,78 meter kubik per detik, debit outflow 1.122,51
meter kubik per detik, dan tinggi berfog bendungan 53 meter serta lebar puncak
12 meter ([Link]

2.1.2 Fungsi bendungan


Bendungan memiliki banyak fungsi, menurut Sarono dkk (2007), terdapat
beberapa fungsi dan manfaat bendungan antaralain sebagai berikut:
A. Irigasi
Pada saat musim hujan, air hujan yang turun di daerah tangkapan air sebagian
besar akan ditampung sehingga pada musim kemarau air yang tertampung
tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai
irigasi lahan pertanian.
B. Penyediaan Air Baku
Waduk selain sebagai sumber untuk pengairan persawahan juga dimanfaatkan
sebagai bahan baku air minum dimana daerah perkotaan sangat langka
dengan air bersih.
C. Sebagai PLTA
Dalam menjalankan fungsinya sebagai PLTA, waduk dikelola untuk
mendapatkan kapasitas listrik yang dibutuhkan. Pembangkit listrik tenaga air
(PLTA) adalah suatu sistem pembangkit listrik yang biasanya terintegrasi
dalam bendungan dengan memanfaatkan energi mekanis aliran air untuk
memutar turbin, diubah menjadi energi listrik melalui generator.
D. Pengendali Banjir
Pada saat musim hujan, air hujan yang turun di daerah tangkapan air sebagian
besar akan mengalir ke sungai-sungai yang pada akhirnya akan mengalir ke
hilir sungai yang tidak jarang mengakibatkan banjir di kawasan hilir sungai
tersebut, apabila kapasitas tampung bagian hilir sungai tidak memadai.
Dengan dibangunnya bendungan-bendungan di bagian hulu sungai maka
kemungkinan terjadinya banjir pada musim hujan dapat dikurangi dan pada
musim kemarau air yang tertampung tersebut dapat dimanfaatkan untuk

Teknik Sipil, FST, UNDANA


7

berbagai keperluan, antara lain untuk pembangkit listrik tenaga air, untuk
irigasi lahan pertanian, untuk perikanan, untuk pariwisata dan lain-lain.
E. Perikanan
Untuk mengganti mata pencaharian para penduduk yang tanahnya digunakan
untuk pembuatan waduk dari mata pencaharian sebelumnya beralih ke dunia
perikanan dengan memanfaatkan waduk untuk peternakan ikan di dalam
jaring-jaring apung atau karamba-karamba.
F. Pariwisata dan Olahraga Air
Dengan pemandangan yang indah waduk juga dapat dimanfaatkan sebagai
tempat rekreasi dan selain tempat rekreasi juga dimanfaatkan sebagai tempat
olahraga air maupun sebagai tempat latihan para atlet olahraga air.

2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS)


Daerah Aliran Sungai didefenisikan sebagai daerah yang dialiri oleh suatu
sistem sungai yang saling berhubungan, dibatasi oleh batas topografi, yang
ditetapkan berdasar aliran permukaan suatu wilayah daratan, sehingga aliran-
aliran yang berasal dari daerah tersebut memiliki outlet tunggal sebagai keluaran
dan berfungsi menampung, menyimpan, serta mengalirkan air yang berasal dari
curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Menurut Asdak, 2014 : 4, DAS
adalah suatu wilayah daratan yang secara topografi dibatasi punggung-punggung
gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian
menyalurkannya ke laut melalui sungai utama.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


8

Gambar 2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS)


Sumber : [Link] daerah-aliran-sungai-terpadu

Menurut Mangundikoro (1985) dalam Anna S., 2001 Dalam suatu ekosistem
Daerah Aliran Sungai terjadi berbagai proses interaksi antar berbagai komponen
yakni tanah, air, vegetasi serta manusia, Luas daerah aliran sungai sangat
berpengaruh terhadap debit sungai. Pada umumnya semakin besar daerah aliran
sungai semakin besar jumlah limpasan permukaan, Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef terletak di kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah
Utara provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas 552,583 km 2. Skema DAS dapat
dilihat pada Gambar 2.2. “

2.2.1 Pembagian daerah aliran sungai


Sungai dimaknai dengan sistem pengaliran air mulai dari mata air sampai
muara dengan dibatasi pada kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh
garis sempadan. (Peraturan Mentri No 39/1989 ). Pembagian Daerah Aliran
Sungai (DAS) dapat dibagi dalam tiga bagian, antara lain sebagai berikut :
A. Bagian hulu adalah suatu wilayah daratan yang merupakan bagian dari daerah
aliran sungai yang dicirikan dengan topografi bergelombang, berbukit atau
bergunung, serta kerapatan drainase relatif tinggi, merupakan sumber air yang
masuk ke sungai utama dan sumber erosi yang sebagian terangkut menjadi
sedimen daerah hilir. Pada bagian hulu sering difungsikan untuk konservasi,
yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan daerah aliran sungai
agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi
tutupan vegetasi lahan daerah aliran sungai, kualitas air, kemampuan
menyimpan air (debit), dan curah hujan.
B. Bagian tengah merupakan daerah peralihan antara bagian hulu dengan bagian
hilir dan mulai terjadi pengendapan. Ekosistem tengah sebagai daerah
distributor dan pengatur air, dicirikan dengan daerah yang relatif datar. Daerah
aliran sungai bagian tengah menjadi daerah transisi dari kedua karakteristik
yang berbeda antara hulu dengan hilir. Didasarkan pada fungsi pemanfaatan air
sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial
dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas

Teknik Sipil, FST, UNDANA


9

air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait
pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
C. Bagian hilir adalah suatu wilayah daratan bagian dari daerah aliran sungai yang
dicirikan dengan topografi datar sampai landai, merupakan daerah endapan
sedimen. Bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang
dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan
ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan
menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan
pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.

2.2.2 Bentuk-bentuk daerah aliran sungai


Bentuk-bentuk Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dibagi dalam empat,
antara lain :
1. Bentuk memanjang atau bulu burung
Karakteristik bentuk DAS ini yaitu jalur anak sungai di kiri-kanan sungai
utama mengalir menuju sungai utama, debit banjir kecil karena waktu tiba
banjir dari anak-anak sungai berbeda-beda. Banjir berlangsung agak lama dan
memiliki topografi yang lebih curam daripada bentuk lainnya. Bentuk dari
DAS ini ditunjukkan pada Gambar 2.3 berikut.

Gambar 2.3 Bentuk DAS Memanjang atau Bulu Burung


Sumber: Sosrodarsono dan Takeda, 2003.

2. Bentuk radial/kipas
Bentuk DAS menyerupai kipas atau lingkaran, seolah olah memusat pada satu titik
sehingga menggambarkan adanya bentuk radial. Sebagai akibat dari bentuk
tersebut maka waktu yang diperlukan aliran yang datang dari segala penjuru anak

Teknik Sipil, FST, UNDANA


10

sungai memerlukan waktu yang hampir bersamaan. Bentuk das Radial/kipas ini
Memiliki topografi yang relatif landai daripada bulu ayam . Bentuk dari DAS ini
ditunjukan pada Gambar 2.4 berikut.

Gambar 2.4 Bentuk DAS Radial


Sumber: Sosrodarsono dan Takeda, 2003.

3. Bentuk parallel/kombinasi
Daerah aliran sungai (DAS) ini dibentuk oleh dua jalur aliran sungai yang
sejajar bersatu dibagian hilir. Apabila terjadi banjir di daerah hilir biasanya
terjadi setelah dibawah titik pertemuan. Bentuk Daerah aliran sungai (DAS) ini
dapat ditunjukan pada Gambar 2.5 berikut.

Gambar 2.5 Bentuk DAS Parallel


Sumber: Sosrodarsono dan Takeda, 2003.

4. Bentuk Kompleks

Teknik Sipil, FST, UNDANA


11

Daerah aliran sungai (DAS) Bentuk kompleks merupakan bentuk gabungan


dari beberapa bentuk Daerah aliran sungai (DAS) yang dijelaskan di atas.
Bentuk DAS ini dapat ditunjukan pada Gambar 2.6 berikut.

Gambar 2.6 Bentuk DAS komplek


Sumber: Sinukaban, 2007

2.2.3 Fungsi daerah aliran sungai


Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai daerah tangkapan air mempunyai
peranan yang penting dalam menyediakan kebutuhan air bagi manusia. Lebih dari
itu, daerah aliran sungai berperan penting dalam menjaga lingkungan termasuk
menjaga kualitas air, mencegah banjir dan kekeringan saat musim hujan dan
kemarau, mengurangi aliran massa (tanah) dari hulu ke hilir. Salah satu upaya
untuk menjaga fungsi daerah aliran sungai adalah dengan melakukan pemantauan
dan evaluasi terhadap kondisi daerah aliran sungai secara teratur. Kegiatan
pemantauan dan evaluasi akan menjadi lebih efektif jika dilakukan bersama-sama
dengan masyarakat (secara partisipatif). Masyarakat bertempat tinggal di areal
daerah aliran sungai mengalami langsung perubahan fungsi hidrologi daerah
aliran sungai yang terjadi. Salah satu fungsi daerah aliran sungai adalah fungsi
hidrologis, dimana fungsi tersebut sangat dipengaruhi oleh jumlah curah hujan
yang diterima, geologi dan bentuk lahan. Fungsi hidrologis yang dimaksud
termasuk kapasitas daerah aliran sungai untuk mengalirkan air, menyangga
kejadian puncak hujan, melepaskan air secara bertahap, memelihara kualitas air,
serta mengurangi pembuangan masa (seperti terhadap longsor). Fungsi suatu
daerah aliran sungai merupakan fungsi gabungan yang dilakukan oleh seluruh

Teknik Sipil, FST, UNDANA


12

faktor yang ada pada daerah aliran sungai tersebut, yaitu vegetasi, bentuk wilayah
(topografi), tanah, dan manusia. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami
perubahan, maka hal tersebut akan mempengaruhi juga ekosistem daerah aliran
sungai tersebut dan akan menyebabkan gangguan terhadap bekerjanya fungsi
daerah aliran sungai. Apabila fungsi suatu daerah aliran sungai telah terganggu,
maka sistem hidrologisnya akan terganggu, penangkapan curah hujan, resapan dan
penyimpanan airnya menjadi sangat berkurang atau sistem penyalurannya menjadi
sangat boros. Kejadian itu akan menyebabkan melimpahnya air pada musim
penghujan dan sangat minimum pada musim kemarau, sehingga fluktuasi debit
sungai antara musim hujan dan musim kemarau berbeda tajam (Asdak C, 2014).

2.3 Sedimentasi
2.3.1 Pengertian sedimentasi
Sedimentasi (Pengendapan) terjadi akibat dari adanya erosi pada suatu daerah.
Menurut Asdak (2010) sedimentasi adalah hasil proses erosi baik berupa erosi
permukaan, erosi parit, atau jenis erosi tanah lainnya. Hasil proses erosi yang
berupa pengendapan akan terbentuk di darat, laut dan sungai. Pada saat pengikisan
batuan hasil pelapukan terjadi, materialnya terangkut oleh angin maupun air
sehingga ketika kekuatan dari pengangkutan material berkurang maka batuan akan
diendapkan di daerah alirannya. Di waduk-waduk, pengendapan sedimen akan
mengurangi volume efektifnya. Sebagian besar jumlah sedimen dialirkan oleh
sungai-sungai yang mengalir ke waduk, hanya sebagian kecil saja yang berasal
dari longsoran tebing-tebing waduk, atau berasal dari longsoran tebing-tebingnya
oleh limpasan permukaan.
Pada daerah aliran sungai, partikel dan unsur hara yang larut dalam aliran
permukaan akan mengalir ke sungai dan waduk, sehingga terjadi pendangkalan
pada tempat tersebut. Keadaan tersebut menurut Soemarwoto (1978) akan
mengakibatkan daya tampung sungai dan waduk menjadi turun sehingga timbul
bahaya banjir dan penyuburan air secara berlebihan.
2.3.2 Faktor penyebab terjadinya sedimentasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi sedimentasi yang masuk ke Daerah Aliran
Sungai yaitu iklim, tanah, topografi, tanaman, kegiatan manusia, karakteristik
hidrolika sungai, karakteristik penampung sedimen, check dam dan waduk serta

Teknik Sipil, FST, UNDANA


13

kegiatan gunung berapi. Sedimentasi yang disebabkan oleh kegiatan manusia


sebaiknya tidak diabaikan begitu saja yang diantaranya adalah penggundulan
hutan, bercocok tanah di atas lereng-lereng pegunungan yang curam dan
pembangunan jaringan jalan di daerah pegunungan. Pada semua keadaan tersebut
ketahanan butiran tanah terhadap titik-titik air yang menimpanya dan terhadap
aliran permukaan sangat menurun, sehingga keseimbangan mekanis dari lereng-
lereng tersebut akan terganggu, menyebabkan timbulnya erosi lereng, keruntuhan
lereng atau tanah longsor. Selanjutnya sedimen yang dihasilkannya akan turun
dari lereng-lereng tersebut dan tertimbun di dasar lembah-lembah dan akan
menjadi penyebab timbulnya sedimen luruh (Kironoto, 2003). Menurut Murdani
2017 Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya sedimentasi yakni :
1. Terdapat sumber material sedimen
2. Terdapat lingkungan yang cocok untuk pengendapan (baik di darat, transisi,
maupun laut)
3. Terjadinya pengangkutan oleh angin, es maupun air terhadap sumber material
(transport)
4. Perbedaan arus atau gaya menyebabkan berlangsungnya pengendapan
5. Adanya replacement (penggantian) dan rekristalisasi (perubahan) material
6. Proses diagenesis atau perubahan yang terjadi ketika pengendapan berlangsung
secara kimia dan fisika.
7. Proses kompaksi, yakni berupa akibat dari gaya berat material sedimen yang
memaksa volume lapisan sedimen berkurang
8. Lithifikasi yang terjadi karena kompaksi yang berlangsung terus menerus
sehingga sedimen menjadi keras

2.3.3 Proses terjadinya sedimentasi


Proses sedimentasi meliputi proses erosi, transportasi (angkutan),
pengendapan (deposition) dan pemadatan (compaction) dari sedimentasi itu
sendiri. Pada permukaan bumi dimulai dari proses pengangkatan yang disebabkan
oleh adanya tenaga endogen, dengan adanya pengangkatan ini, batuan kulit bumi
akan terangkat sebagian kemudian menjadi relative tinggi dari daerah lainnya.
Proses terjadinya pengangkatan juga dipengaruhi oleh factor dari luar yaitu tenaga
eksogen yang terdiri dari pelapukan, transportasi, pengendapan.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


14

Setelah material terangkut barulah terjadi proses pengandapan dimana


kekuatan pengangkutan melemah. Proses sedimentasi dapat dibedakan menjadi
dua bagian berdasarkan proses terjadinya oleh Fatma (2015) yaitu:
1. Proses sedimentasi secara geologis, yaitu proses erosi tanah dan sedimentasi
yang berjalan secara normal atau berlangsung secara geologi, artinya proses
pengendapan yang berlangsung masih dalam batas-batas yang diperkenankan
atau dalam keseimbangan alam dari proses degradasi dan agradasi pada
perataan kulit bumi akibat pelapukan.
2. Proses sedimentasi dipercepat, yaitu proses terjadinya sedimentasi yang
menyimpang dari proses secara geologi dan berlangsung dalam waktu yang
cepat, bersifat merusak atau merugikan dan dapat mengganggu keseimbangan
alam atau kelestarian lingkungan hidup. Kejadian tersebut biasanya disebabkan
oleh kegiatan manusia dalam mengolah tanah. Cara mengolah tanah yang salah
dapat menyebabkan erosi tanah dan sedimentasi yang tinggi.

2.4 Erosi
2.4.1 Pengertian erosi
Erosi Merupakan suatu proses terkikisnya lapisan permukaan tanah yang
berpindah ke tempat lain disebabkan oleh pergerakan air, angin, es atau gravitasi
yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat dari tindakan manusia.
Mekanisme terjadinya erosi oleh Schwab (1999) diidentifikasikan menjadi tiga
tahap yaitu, detachment (penghancuran tanah dari agregat tanah menjadi partikel-
partikel tanah), transportation (pengangkutan partikel tanah oleh limpasan hujan
atau run off dan sedimentation (sedimen/pengendapan tanah tererosi), tanah-tanah
tererosi akan terendapkan pada cekungan-cekungan atau pada daerah-daerah
bagian bawah. Cekungan-cekungan yang menampung partikel-partikel tanah
akibat top soil yang tergerus akan menjadi area pertanian yang subur.
Erosi berlangsung secara alamiah (geological erosion) yang kemudian
berlangsungnya itu dipercepat oleh beberapa tindakan atau perlakuan manusia
terhadap tanah dan tanaman yang tumbuh di atasnya (accelerated erosion). Pada
erosi alamiah tidak menimbulkan malapetaka bagi kehidupan manusia atau
keseimbangan lingkungan, karena peristiwa ini banyaknya tanah yang terangkut
seimbang dengan pembentukan tanah, sedang pada erosi yang dipercepat dapat

Teknik Sipil, FST, UNDANA


15

disebabkan karena kegiatan manusia yang kebanyakan disebabkan oleh


terkelupasnya lapisan tanah bagian atas akibat cara bercocok tanam yang tidak
mengindahkan kaidah-kaidah konservasi.
2.4.2 Jenis Erosi
Pada dasarnya erosi terbagi menjadi dua yaitu erosi yang terjadi secara alami
dan erosi yang dipercepat. Erosi dapat dibedakan berdasarkan produk hasil
akhirnya dan kenampakan lahan akibat erosi itu sendiri. Menurut bentuknya erosi
dapat dibedakan menjadi (Asdak C, 2014 : 339-344) :
1. Erosi percikan (splash erosion) merupakan proses terkelupasnya partikel-
partikel tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air
lolos.
2. Erosi lembar (sheet erosion) merupakan erosi yang terjadi ketika lapisan tipis
permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh lombinasi air hujan dan air
larian (run off).
3. Erosi alur (rill erosion) merupakan pengelupasan yang diikuti dengan
pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian/limpasan yang
terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air.
4. Erosi parit (gully erosion) merupakan tingkat erosi yang akibatnya
menimbulkan parit di atas permukaan lahan. Bentuk parit ini bervariasi yaitu
bila bentuk parit menyerupai huruf U menandakan bahwa tekstur lahan tersebut
adalah tekstur pasir, sementara bila bentuk paritnya menyerupai bentuk V
maka dapat diprediksi bahwa lahan tersebut bertekstur liat. Hal ini disebabkan
karena tekstur liat sulit dihancurkan dihancurkan oleh butiran-butiran hujan;
sehingga menyebabkan perbedaan bentuk yang ditimbulkannya.
5. Erosi tebing sungai (stream bank erosion) merupakan pengikisan tanah pada
tebing-tebing sungai dan penggerusan dasar-dasar sungai oleh aliran air sungai.
Dua proses berlangsungnya erosi tebing sungai adalah adanya gerusan aliran
sungai dan oleh adanya longsoran tanah pada tebing sungai.
6. Tanah longsor (land slide) merupakan erosi dimana pengangkutan atau gerakan
massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang lebih besar.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


16

2.4.3 Proses terjadinya erosi


Pada umumnya erosi adalah proses alami yang mudah dikenali dengan ciri-
cirinya, akan tetapi banyak kejadian bahwa peristiwa erosi ini diperparah oleh
aktivitas manusia dalam penataan hutan atau kegiatan lain seperti pertambangan,
konstruksi pembangunan yang tidak tertata dengan baik sehingga erosi ini
menjadi sulit untuk dikenali. Akibat aktivitas manusialah yang dapat
mempercepat proses terjadinya erosi. Di daerah yang beriklim tropis, seperti
Indonesia penyebab utama terjadinya erosi adalah air. Hal ini disebabkan oleh
daerah tropis memiliki kelembaban dan rata-rata curah hujan per tahun yang
cukup tinggi. Menurut Haryanto (2009) Erosi terjadi melalui 3 tahapan utama,
yaitu :
1. Detachment
Detatchment adalah proses interaksi antara objek padatan (tanah, batuan, dll)
dengan penyebab erosi seperti angin, air, gelombang laut, ataupun es. Interaksi
ini akan menyebabkan pecahnya objek padatan menjadi partikel-partikel yang
lebih kecil dan akhirnya terlepas.
2. Transportation
Partikel kecil yang terlepas dari objek padatan tadi akan dibawa ke tempat lain
dengan pengaruh pergerakan dari penyebab erosi tersebut, biasanya dari tempat
tinggi ke tempat yang lebih rendah.
3. Depotition / Sedimentation
Suatu saat partikel kecil yang ditransportasikan tersebut akan terhenti di tempat
yang baru. Kemudian partikel ini akan mengalami pengendapan di tempat yang
baru.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


17

Gambar 2.7 Tahapan Terjadinya Erosi


Sumber : https: //[Link]

2.5 Metode Perhitungan Nilai Erosi


Perhitungan untuk mengetahui besarnya erosi yang terjadi dapat menggunakan
3 metode yaitu USLE (Universal Soil Loss Equation), MUSLE (Modified
Universal Soil Loss Equation), dan RUSLE (Revised Universal Soil Loss
Equation) (Nugraheni, 2013). Metode yang digunakan untuk memperhitungkan
nilai erosi yang terjadi pada bendungan Temef yaitu USLE (Universal Soil Loss
Equation).
2.5.1 Metode USLE (Universal Soil Loss Equation)
Model pendugaan erosi USLE (Universal Soil Loss Equation) merupakan
suatu model parametrik untuk memprediksi erosi dari suatu bidang tanah. Model
pendugaan erosi USLE (Universal Soil Loss Equation) memungkinkan perencana
menduga laju rata-rata erosi suatu tanah tertentu pada suatu kecuraman lereng
dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam pertanaman dan tindakan
pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang mungkin dilakukan atau yang
sedang dipergunakan (Arsyad, 1989). Parameter-parameter yang diperhitungkan
untuk model pendugaan erosi dengan metode USLE (Universal Soil Loss
Equation) adalah erosivitas hujan (EI), erodibilitas tanah (K), panjang lereng (L),
kemiringan lereng (S), pengelolaan tanaman (C), dan konservasi tanah (P). Alasan
utama menggunakan metode ini karena metode tersebut relatif sederhana dan
input parameter model yang diperlukan mudah diperoleh (Hidayat, 2003).
Prediksi erosi dengan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) diperoleh
dari hubungan antara faktor-faktor penyebab erosi itu sendiri, faktor tersebut akan
di jelaskan pada pembahasan di bawah ini.
2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi berdasarkan Universal Soil
Loss Equation
Hubungan faktor-faktor yang menyebabkan kedalam Metode Universal Soil
Loss Equation dapat dijelaskan sebagai berikut. Faktor-faktor yang yang
mempengaruhi perhitungan laju erosi dalam metode Universal Soil Loss Equation
dirumuskan sebagai berikut (Auliani dan Wijaya, 2017: 66; Wibowo, 2015: 17);
EA = EI x K x LS x C x P….…..…….…………..…………..…..………..… (2.1)

Teknik Sipil, FST, UNDANA


18

Di mana:
EA = Banyaknya tanah yang tererosi (ton/ha/tahun)
EI = Faktor erosivitas hujan (KJ/ha)
K = Faktor erodibilitas tanah (ton/KJ)
LS = Faktor panjang dan kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi atau tataguna lahan
P = Faktor tindakan konservasi tanah
1. Indeks erosivitas hujan (EI)
Faktor curah hujan sangat berhubungan erat dengan indeks erosivitas hujan.
Hubungan faktor curah hujan dan indeks erosivitas hujan menurut Bols
dirumuskan sebagai berikut (Auliyani dan Wijaya, 2017: 65),

EI = 6,119 (R)1,21(D)-0,47(M)0,53...................................................................(2.2)

Dimana;

EI = Erosivitas hujan rata-rata tahunan

R = Curah hujan rata-rata bulanan (cm)

D = Jumlah hari hujan rata-rata bulanan (hari)

M = Jumlah curah hujan maksimum rata-rata dalam 24 jam per bulan untuk
kurun waktu satu tahun (cm).

Perhitungan erosivitas juga dirumuskan oleh Lenvain (Auliyani dan Wijaya,


2017: 65) sebagai berikut:

EI = 2,21R1,36 .............................................................................................(2.3)

Dimana;

EI = Erosivitas hujan rata-rata tahunan (KJ/ha)

R = Curah hujan bulanan (cm)

Menurut Bambang Triadmodjo (2010: 31), analisis curah hujan pada suatu
daerah dapat dilakukan dengan 3 cara sebagai berikut :

1. Metode Rata-Rata Aritmatik (Aljabar)

Teknik Sipil, FST, UNDANA


19

Perhitungan hujan rata-rata metode aritmatik caranya adalah dengan


membagi rata jumlah hujan dari hasil pencatatan Pos Hujan yang ada pada
daerah aliran sungai sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :

1
P= (P1 + P2 +…+ Pn ) ….…………..…….……..……….….……. (2.4)
n
Di mana:

P = rata-rata curah hujan wilayah (mm)


n = jumlah Pos Hujan pengamat
P1,P2,…..Pn = curah hujan pada Pos Hujan 1, 2, ..., n
Model perhitungan rata-rata aritmatik dapat ditunjukkan pada Gambar
2.6 berikut :

Gambar 2.8 Metode Aritmatik


Sumber : Hadisutanto, N. 2011

2. Metode Poligon Thiessen


Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing Pos Hujan yang
mewakili luasan di sekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap
bahwa hujan adalah sama dengan yang terjadi pada Pos Hujan yang terdekat,
sehingga hujan yang tercatat pada suatu Pos Hujan mewakili luasan tersebut.
Metode ini digunakan apabila penyebaran Pos Hujan di daerah yang ditinjau
tidak merata, pada metode ini Pos Hujan minimal yang digunakan untuk
perhitungan adalah tiga Pos Hujan, seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.7
dibawah ini.

Perhitungan hujan rata-rata metode polygon thiessen dapat dilakukan


dengan cara sebagai berikut :

Teknik Sipil, FST, UNDANA


20

a. Menghubungkan masing-masing Pos Hujan dengan garis polygon.


b. Membuat garis berat antara 2 Pos Hujan hingga bertemu dengan garis
berat lainnya pada satu titik dalam polygon.
c. Luas area yang mewakili masing-masing Pos Hujan dibatasi oleh garis
berat pada polygon.
d. Luas sub-area masing-masing Pos Hujan dipakai sebagai faktor pemberat
dalam menghitung hujan rata-rata.
Sehingga perhitungan hujan rata-rata pada suatu daerah aliran sungai
dapat dirumuskan sebagai berikut :

A1 P1+ A 2 P2 +…+ A n Pn
P= ………………………………………….…..…
A 1+ A 2+ …+ A n
(2.5)
Di mana:
P = rata-rata curah hujan wilayah (mm)
A1,A2,...An = luas pengaruh pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (km2)
P1,P2,...Pn = curah hujan pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (mm)

Gambar 2.9 Metode Polygon Thiessen


Sumber : Hadisutanto, N. 2011

3. Metode Isohyet
Isohyet adalah garis kontur yang menghubungkan tempat-tempat yang
mempunyai jumlah hujan yang sama. Pada metode Isohyet, dianggap bahwa
hujan pada suatu daerah di antara dua garis Isohyet adalah merata dan sama
dengan nilai rata-rata dari kedua garis Isohyet tersebut. Sehingga dapat
dirumuskan sebagai berikut :

Teknik Sipil, FST, UNDANA


21

P= A A P +P ¿
n(
2 ) …………...………………………. (2.6)
(
P +P
)
1 2
+¿
1 1 2 +¿ A P + P ¿
2 2
( 2 )
1
+ … A1 + A 2+…+ A n
2

Di mana:
P = rata-rata curah hujan wilayah (mm)
A1,A2,...An = luas wilayah pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (km2)
P1,P2,...Pn = curah hujan pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (mm)
Model perhitungan isohyets dapat ditunjukkan pada Gambar 2.8 berikut :

Gambar 2.10 Metode Isohyets


Sumber : https: //[Link]

Beberapa dari cara-cara untuk menghitung curah hujan daerah (area


rainfall) telah dikemukakan di atas. Umumnya untuk menghitung curah hujan
daerah dapat digunakan standart luas daerah sebagai berikut (Sosrodarsono,
S. dan Takeda, K. 2003:51) :

a. Daerah dengan luas 250 ha yang mempunyai variasi topografi yang kecil,
dapat diwakili oleh sebuah alat ukur curah hujan.
b. Daerah dengan luas antara 250 ha-50.000 ha dengan 2 atau 3 titik
pengamatan dapat digunakan cara rata-rata aritmatik.
c. Daerah dengan luas antara 120.000-500.000 ha yang mempunyai titik-titik
pengamatan yang tersebar cukup merata dan dimana curah hujannya tidak
terlalu dipengaruhi oleh kondisi topografi, dapat digunakan cara rata-rata
aritmatik.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


22

2. Indeks erodibilitas tanah (K)


Dalam penentuan indeks erodabilitas tanah, penetuan klasifikasi jenis tanah
sangat perlu di lakukan dalam menentukan kelas, ordo dan jenis tanah sehingga
dapat di ketahui persebaran luasan dari masing-masing sampel tanah. Terdapat
berbagai macam sistem klasifikasi jenis tanah antara lain :

 Kellog-Thorp (1938)
 Dudal-Soepraptohardjo (1957)
 Pusat Penelitian Bogor
 FAO/UNESCO (1974)
 USDA = Soil Taxonomy (USDA,1975; Soil Survey Satff,
1999;2003)

a. Sistem Klasifikasi Tanah


Klasifikasi tanah adalah pemilahan yang didasarkan pada sifat-sifat tanah
yang dimiliki tanpa menghubungkannya dengan tujuan penggunaan tanah
tersebut. Klasifikasi ini memberi gambaran dasar terhadap sifat-sifat fisik,
kimia, dan mineral tanah yang dimiliki masing-masing kelas yang selanjutnya
dapat digunakan sebagai dasar untuk pengelolaan bagi pengguna tanah
(Hardjowigeno, 1986). Klasifikasi tanah disusun untuk tujuan-tujuan tertentu
dan menggunakan faktor atau karakteristik tanah yang kadang-kadang bukan
sifat-sifat dari tanah itu sendiri sebagai pembeda. Pada tahun 1853, Thaer
menggunakan tekstur tanah sebagai pembeda untuk kategori tinggi dan
produktifitas tanah untuk pembeda kategori rendah (Hardjowigeno, 1993).

Sistem klasifikasi tanah nasional disusun mengacu kepada sistem klasifikasi


tanah yang telah ada (Suhardjo dan Soepraptohardjo 1981, Suhardjo et al. 1983)
yang merupakan penyempurnaan dari sistem klasifikasi Dudal dan
Soepraptohardjo (1957) dan Soepraptohardjo (1961). Sistem klasifikasi tanah ini
didasarkan pada morfogenesis, bersifat terbuka dan dapat menampung semua
jenis tanah di Indonesia. Struktur klasifikasi tanah terbagi dalam dua
tingkat/kategori, yaitu Jenis Tanah dan Macam Tanah. Pembagian Jenis Tanah
didasarkan pada susunan horison utama penciri, proses pembentukan (genesis)
dan sifat penciri lainnya. Pada tingkat Macam Tanah digunakan sifat tanah atau

Teknik Sipil, FST, UNDANA


23

horison penciri lainnya. Tata nama pada tingkat Jenis Tanah lebih dominan
menggunakan nama Jenis Tanah yang lama dengan beberapa penambahan baru.
Sedangkan pada tingkat Macam Tanah sepenuhnya menggunakan nama/istilah
yang berasal dari Unit Tanah FAO/UNESCO dan atau Sistem Taksonomi Tanah
USDA (Subardja D. 2016 Klasifikasi Tanah Nasional). Klasifikasi tanah
dilakukan dengan mengikuti kunci penetapan Jenis dan Macam Tanah, Kunci
penetapan Jenis Tanah berdasarkan pada perkembangan horison tanah dan sifat
penciri lainnya, secara ringkas disajikan pada Gambar 2.11 di bawah ini.

Gambar 2.11 Sistem Klasifikasi Tanah


Sumber : Subardja.D 2016_Klasifikasi Tanah Nasional

b. Jenis-jenis tanah
Penyebaran jenis dan karakter tanah di suatu daerah, biasanya disusun
dalam suatu bentuk Peta Tanah. Peta ini sangat berguna bagi para petani dan
telah disusun berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan langsung (observasi)
di lapangan. Berikut persebaran jenis tanah secara umum berdasarkan karakter,
penyebaran, dan pemanfaatan tanah untuk pertanian, terutama di Indonesia
([Link]

Teknik Sipil, FST, UNDANA


24

 Regosol

Gambar 2.12 Jenis Tanah Regosol


Sumber : [Link]

Menurut USDA, regosol merupakan tanah yang termasuk ordo entisol.


Secara umum, tanah entisol adalah tanah yang belum mengalami perkembangan
yang sempurna, dan hanya memiliki horizon A yang marginal. Contoh yang
tergolong entisol adalah tanah yang berada di sekitar aliran sungai, kumpulan
debu vulkanik, dan pasir. Umur yang masih muda menjadikan entisol masih
miskin sampah organik sehingga keadaannya kurang menguntungkan bagi
sebagian tumbuhan.
Secara spesifik, ciri regosol adalah berbutir kasar, Mempunyai variasi
warna, yakni merah, kuning, coklat kemerahan, coklat, serta coklat kekuningan
(sebenarnya warna- warna yang berbeda- beda ini tergantung pada material yang
dikandungnya), peka terhadap erosi, cenderung gembur mampu mempunyai air
yang tinggi dan bahan organik rendah. Sifat tanah yang demikian membuat
tanah tidak dapat menampung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman dengan
baik.
Dengan kandungan bahan organik yang sedikit dan kurang subur, regosol
lebih banyak dimanfaatkan untuk tanaman palawija, tembakau, dan buah-buahan
yang juga tidak terlalu banyak membutuhkan air. Regosol banyak tersebar di
Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara yang kesemuanya memiliki gunung berapi.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


25

 Latosol

Gambar 2.13 Jenis Tanah Latosol


Sumber : [Link]

Dalam USDA jenis tanah latosol ini masuk dalam golongan inseptisol.
Inseptisol berkembang pada daerah yang lembab. Perkembangan horizon
inseptisol berlangsung lambat sampai sedang. Perkembangan yang lambat
terjadi karena tanah berada pada ligkungan yang lembab, dingin, dan mungkin
terdapat genangan-genangan air.
Secara spesifik, latosol merupakan tanah yang berwarna merah hingga
coklat sehingga banyak yang menamainya sebagai tanah merah Memiliki solum
tanah yang agak tebal hingga tebal, yakni mulai sekitar 130 cm hingga lebih dari
5 meter, Tekstur tanah pada umumnya adalah agak liat, struktur tanah pada
umumnya adalah remah dengan konsistensi gembur, memiliki pH 4,5 hingga 7,
yakni dari asam netral hingga asam, memiliki bahan organik sekitar 1% hingga
9%, namun pada umumnya hanya 5% saja, mengandung unsur hara yang sedang
hingga tinggi. unsur hara yang terkandung di dalam tanah bisa dilihat dari
warnanya. Semakin merah warna tanah maka unsur hara yang terkandung adalah
semakin sedikit, Mempunyai infiltrasi agak cepat hingga agak lambat, daya
tanah air cukup baik, memiliki profil tanah yang dalam, mudah menyerap air,
lumayan tahan terhadap erosi tanah. Kadar humus latosol mudah menurun, dan
memiliki fosfat yang mudah bersenyawa dengan besi dan almunium. Latosol

Teknik Sipil, FST, UNDANA


26

banyak dijumpai di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bali, Jawa, Nusa Tenggara,
Papua, dan Sulawesi. Saat ini, jenis tanah latosol banyak digunakan untuk
pertanaman palawija, padi, kelapa, karet, dan kopi.
 Organosol

Gambar 2.14 Jenis Tanah Organosol


Sumber : [Link]

Organosol merupakan jenis tanah yang terbentuk akibat adanya pelapukan-


pelapukan bahan organik. Sebagai hasil pelapukan bahan organik, tanah jenis ini
subur untuk hampir semua jenis tanaman. Organosol dibedakan menjadi dua
yaitu tanah humus dan tanah gambut.

Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan dan pembusukan bahan organik


khususnya dari tanaman yang sudah mati. Humus sangat subur untuk pertanian.
Kandungan bahan organik yang tinggi membuat tanah humus berwarna kehitam-
hitaman. Humus banyak dimanfaatkan untuk media tanama kelapa, nanas, dan
padi. Persebarannya banyak terdapat di pulau Sumatra, Sulawesi, Jawa Barat,
Kalimantan, dan Papua.

Tanah gambut adalah tanah hasil pembusukan bahan-bahan organik. Akan


tetapi, tanah gambut kurang subur untuk pertanian. Pembusukan pada tanah
gambut berlangsung dalam keadaan tergenang air sehingga tanah menjadi
anaerob dan terlalu masam. Bahan organik yang tidak lapuk sempurna juga

Teknik Sipil, FST, UNDANA


27

menyebabkan tanah gambut tidak subur untuk tanaman. Gambut banyak


terdapat di pantai timur Sumatra, Kalimantan Barat, dan pantai selatan Papua.
Saat ini gambut baru dikembangkan untuk pertanian kelapa sawit.

 Alluvial

Gambar 2.15 Jenis Tanah Alluvial


Sumber : [Link]

Menurut USDA, jenis tanah Alluvial tergolong dalam ordo inseptisol. Ciri
umum sama dengan pada tanah latosol. Alluvial merupakan tanah muda hasil
pengendapan material halus aliran sungai. Ciri utama tanah alluvial adalah
berwarna kelabu dengan struktur yang sedikit lepas-lepas, proses pembentukan
tanah Alluvial sangat tergantung dari bahan induk asal tanah dan topografi,
tingkat kesuburan tanah bervariasi dari rendah sampai tinggi, tekstur dari sedang
hingga kasar, serta kandungan bahan organik dari rendah sampai tinggi dan pH
tanah berkisar masam, netral, sampai alkalin, kejenuhan basa dan kapasitas tukar
kation juga bervariasi karena tergantung dari bahan induknya, Tanah Alluvial
memiliki kadar ,pH yang sangat rendah yaitu kurang dari 4, sehingga sangat
sulit untuk dibudidayakan

Jenis tanah Alluvial terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia yang


memiliki sungai-sungai besar seperti di pulau jawa, Sumatra, Kalimantan, dan
papua. Alluvial banyak dgunakan untuk tanaman padi, palawija, tebu, kelapa,
tembakau, dan buah-buahan.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


28

 Podsolik Merah Kuning

Gambar 2.16 Jenis Tanah Podsolik Merah Kuning


Sumber : [Link]

Podsolik merah kuning merupakan bagian dari tanah Ultisol. Menurut


USDA, ultisol adalah tanah yang sudah mengalami pencucian pada iklim tropis
dan sub tropis. Karakter utama tanah ultisol adalah memiliki horizon A yang
tipis, akumulasi lempung pada horizon B dan bersifat agak masam. Tanah ultisol
bersifat agak lembab dengan kadar lengas tertinggi pada ultisol yang berbentuk
bongkah.

Tanah podsolik merah kuning sendiri merupakan tanah yang terbentuk


karena curah hujan yang tinggi dan suhu yang rendah. Tanah podzolik merah
kuning berwarna merah sampai kuning dengan kesuburan yang relatif rendah
karena pencucian-pencucian. Podsolik merah kuning banyak digunakan untuk
tanaman kelapa, jambu mete, karet, dan kelapa sawit. Podsolik merah kuning
banyak dijumpai di daerah pegunungan Sumatra, Jawa Barat, Sulawesi, Maliku,
Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


29

 Laterit

Gambar 2.17 Jenis Tanah Laterit


Sumber : [Link]

Laterit hampir sama dengan podzolik meah kuning. Hanya saja jenis tanah


ini terbentuk pada suhu yang lebih tinggi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan
tanah laterit memiliki kandungan hara yang rendah sehingga kurang cocok untuk
berbagai jenis tanaman. Laterit banyak dijumpai pada pegunungan yang
hutannya sudah gundul seperti pada Jawa Tengah, Lampung, Jawa Barat,
Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara. Laterit bayak digunakan untuk
pertanaman jambu mete dan kelapa.

 Litosol

Teknik Sipil, FST, UNDANA


30

Gambar 2.18 Jenis Tanah Litosol


Sumber : [Link]

Dalam USDA, litosol termasuk dalam ordo Entisol, sama dengan tanah
regosol. Lebih spesifik, tanah litosol merupakan tanah muda yang berasal dari
pelapukan batuan yang keras dan besar. Litosol belum mengalami
perkembangan lebih lanjut sehingga hanya memiliki lapisan horizon yang
dangkal. Sebagai tanah muda, litosol memiliki struktur yang besar-besar dan
miskin akan unsur hara.

Litosol banyak terdapat di Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa


Tenggara, Maluku Selatan, dan Papua. Latosol baru bisa dimanfaatkan untuk
palawija.

 Rendzina

Gambar 2.19 Jenis Tanah Rendzina


Sumber : [Link]

Rendzina merupakan tanah organik diatas bahan berkapur yang memiliki


tekstur lempung seperti vertisol. Tanah rendzina memiliki kadar lempung yang
tinggi, teksturnya halus dan daya permeabilitasnya rendah sehingga kemampuan
menahan air dan mengikat air tinggi. Tanah rendzina berasal dari pelapukan
batuan kapur dengan curah hujan yang tinggi. Tanah jenis ini memiliki
kandungan Ca dan Mg yang cukup tinggi, bersifat basa, berwarna hitam, serta
hanya mengandung sedikit unsur hara.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


31

Rendzina banyak terdapat di Maluku, Papua, Aceh, Sulawesi Selatan,


Lampung dan pegunungan kapur di selatan Pulau Jawa. Rendzina digunakan
untuk budidaya tanaman keras semusim dan juga tanaman palawija.

 Tanah Mediteran

Gambar 2.20 Jenis Tanah Mediteran


Sumber : [Link]

Dalam USDA, tanah mediteran merupakan tanah ordo alfisol. Alfisol


berkembang pada iklim lembab dan sedikit lembab. Curah hujan rata-rata untuk
pembentukan tanah alfisol adalah 500 sampai 1300 mm tiap tahunnya. Alfisol
banyak terdapat di bawah tanaman hutan dengan karakteristik tanah: akumulasi
lempung pada horizon Bt, horizon E yang tipis, mampu menyediakan dan
menampung banyak air, dan bersifat asam. Alfisol mempuyai tekstur lempung
dan bahan induknya terdiri atas kapur sehingga permeabilitasnya lambat.

Tanah mediteran merupakan hasil pelapukan batuan kapur keras dan batuan
sedimen. Warna tanah ini berkisar antara merah sampai kecoklatan. Tanah
mediteran banyak terdapat pada dasar-dasar dolina dan merupakan tanah
pertanian yang subur di daerah kapur daripada jenis tanah kapur yang lainnya. 
Tanah mediteran ini banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra. Mediteran cocok untuk tanaman
palawija, jati, tembakau, dan jambu mete.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


32

 Grumosol

Gambar 2.21 Jenis Tanah Grumosol


Sumber : [Link]

Dalam USDA, grumosol tergolong dalam ordo vertisol. Vertisol merupakan


tanah dengan kandungan lempung yang sangat tinggi. Vertisol sangat lekat
ketika basah, dan menjadi pecah-pecah ketika kering. Vertisol memiliki
kemampuan menyerap air yang tinggi dan juga mampu menimpan hara yang
dibutuhkan tanaman. Grumosol sendiri merupakan tanah dengan warna kelabu
hingga hitam serta memiliki pH netral hingga alkalis. Di Indonesia, jenis tanah
ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 m di atas
permukaan laut dengan topografi agak bergelombang hingga berbukit,
temperatur rata-rata 25oC, curah hujan <2.500 mm, dengan pergantian musim
hujan dan kemarau yang nyata.

Grumosol banyak terdapat di Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah,


Jawa Timur, serta Nusa Tenggara Timur. Grumosol banyak dimanfaatkan untuk
pertanian jenis rumput-rumputan atau pohon-pohon jati.

c. Formulasi Perhitungan Indeks erodibilitas tanah (K)

Teknik Sipil, FST, UNDANA


33

Erodibilitas tanah adalah mudah atau sulitnya tanah terkena erosi. Beberapa
sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik,
kedalaman, sifat lapisan tanah dan tingkat kesuburan tanah, sedangkan kepekaan
tanah terhadap erosi yang menunjukkan mudah tidaknya tanah mengalami erosi
ditentukan oleh berbagai sifat fisika tanah (Arsyad, 2000).Indeks erodibilitas
tanah (K) menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan dan
transportasi partikel-partikel tanah tersebut oleh adanya energi kinetik air hujan.
Besarnya resistensi tersebut di atas akan bergantung pada topografi, kemiringan
lereng, dan besarnya gangguan oleh manusia (Nugraheni, 2013). Erodibilitas
tanah ditentukan oleh struktur, tekstur, permeabilitas dan bahan organik dari
suatu tanah.

(a) (b)
Gambar 2.22 Nomograf untuk menentukan nilai K
Sumber : Foster, dkk., 1981: 358

Tanah yang memiliki erodibilitas yang rendah seperti pasir sangat halus
dan debu lebih mudah terkena erosi dibandingkan tanah yang memiliki ikatan
yang kuat seperti lempung. Lempung dapat menahan erosi lebih kuat karena
gumpalan dari liat tersebut saling mengikat satu sama lain (Arzi, 2012). Nilai

Teknik Sipil, FST, UNDANA


34

erodibilitas tanah didapat dari Gambar 2.10 Nomograf untuk menentukan nilai
K.

Pada Gambar 2.10 Nomograf (a) merupakan persentase debu (silt) dan pasir
sangat halus. Sedangkan nomograf (b) merupakan nomograf yang digunakan
untuk mencari indeks erodibilitas tanah, dengan parameter struktur tanah dan
permeabilitas tanah. Penentuan nilai erodibilitas tanah (K) pada nomograf
diberikan Tabel 2.1 dan 2.2.

Tabel 2.1 Kode Struktur Tanah Untuk Menghitung Nilai K

Kelas Struktur Tanah (ukuran diameter) Kode


Granuler sangat halus (< 1 mm) 1
Granuler halus (1 sampai 2 mm) 2
Granuler sedang sampai kasar (2 sampai 10 mm) 3
Berbentuk blok, blocky, plast, massif 4
Sumber: Arsyad, 2010: 363

Tabel 2.2 Kode Permeabel Tanah Untuk Menghitung Nilai K

Kelas Permeabilitas Kecepatan (cm/jam) Kode


Sangat lambat <0,5 6
Lambat 0,5 sampai 2,0 5
Lambat sampai sedang 2,0 sampai 6,3 4
Sedang 6,3 sampai 12,7 3
Sedang sampai cepat 12,7 sampai 25,4 2
Cepat >25,4 1
Sumber: Arsyad, 2010: 363

Indeks erodibilitas juga dapat dihitung dengan persamaan berikut (Asdak,


2014: 361),

K ={ 2 ,71 x 10-4 (12-OM) M1,14 + 3,25(S - 2) + 2,5(P - 3) } /100 ...................


(2.7)

Dimana;

K = Faktor erodibilitas tanah (ton/KJ)

Teknik Sipil, FST, UNDANA


35

OM = Persen unsur organik


S = Kode klasifikasi struktur tanah
P = Kode permeabilitas tanah
M = Persentase ukuran partikel (% debu + pasir sangat halus) x (100
- % liat)
Penentuan persentase ukuran partikel (M) dapat menggunakan sistem USDA
(United States Department of Agriculture) dalam Arsyad, 2010 dapat dilihat
pada:

Tabel 2.3 Klasifikasi Butir-Butir Primer Tanah Menurut Sistem USDA


(United States Department of Agriculture)
Sistem USDA (United States Department of Agriculture)
Diameter (mm) Nama
2–1 Pasir sangat kasar
1 – 0,5 Pasir kasar
0,5 – 0,25 Pasir sedang
0,25 – 0,1 Pasir halus
0,1 – 0,05 Pasir sangat halus
0,05 – 0,002 Debu
< 0,002 Liat
Sumber: Arsyad, 2010: 332

3. Indeks panjang lereng (L)


Panjang lereng merupakan ukuran panjang suatu lahan mulai dari titik awal
kemiringan sampai suatu titik di mana air masuk ke dalam sungai atau titik
mulai berubahnya kemiringan. Semakin panjang suatu lereng makin besar aliran
permukaan yang mengalir menuju ke ujung lereng, sehingga memperbesar
peluang erosi. Besarnya aliran erosi yang terjadi di ujung lereng lebih besar
daripada erosi yang terjadi di pangkal lereng. Hal ini akibat adanya akumulasi
aliran air yang semakin besar dan cepat di ujung lereng (Rahayu, dkk, 2009).

4. Indeks kemiringan lereng (S)


Kemiringan lereng merupakan ukuran kemiringan lahan relatif terhadap
bidang datar yang secara umum dinyatakan dalam persen atau derajat.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


36

Kemiringan lahan sangat erat hubungannya dengan erosi. Semakin besar


kemiringan lereng, peresapan air hujan ke dalam tanah menjadi lebih kecil
sehingga limpasan permukaan dan erosi menjadi lebih besar (Rahayu, dkk.,
2009).

Indeks panjang dan kemiringan lereng dapat digabungkan menjadi faktor


topografi (LS) yang didefinisikan sebagai perbandingan besarnya erosi dari
suatu lahan dengan kemiringan dan panjang lereng yang spesifik (i.e.
kemiringan lereng 9% dan panjang lereng 22 m), terhadap besarnya erosi dari
lahan kosong. Nilai dari faktor topografi (LS) dapat diperhitungkan dengan
menggunakan persamaan yang diberikan oleh Smith dan Wischmeir (1962)
(Suresh, 1997: 644).

LS =
√ L ( 0,76+0,53 S+0,076S2 )...........................................................
100
(2.8)

Dimana;

L = Panjang lereng (ft)


S = Kemiringan lereng (%)
Wischmeir dan Smith (1978) kemudian merumuskan faktor topografi (LS)
dengan sistem MKS, berdasarkan penelitian pada potongan tanah dengan
kemiringan antara 3 - 8% dan panjang dari 10 - 100 m (Suresh, 1997: 645), yang
dirumuskan sebagai berikut;

( ) [ 65,41sin θ + 4,58sinθ + 0,065 ]......................................


m
λ 2
LS =
22,13
(2.9)

Dimana;

λ = Panjang lereng (m)


θ = Sudut lereng
m = Variabel yang bergantung pada kemiringan lereng
Dimana;
m = 0,2 untuk S = 1%

Teknik Sipil, FST, UNDANA


37

m = 0,4 untuk S = 3,5 – 4,5%


m = 0,5 untuk S = 5%
Atau dapat pula menggunakan Tabel 2.4 berikut:

Tabel 2.4 Faktor LS Berdasarkan Kemiringan Lereng


Kelas Lereng Kemiringan Lereng (%) Nilai LS
A 0,00 – 5,00 0,25
B 5,00 – 15,00 1,20
C 15,00 – 35,00 4,25
D 35,00 – 50,00 9,50
E > 50,00 12,00
Sumber: Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan RTL-RLKT Jakarta, 1986.E. Indeks
vegetasi dan pengelolaan tanaman (C)

5. Faktor Vegetasi atau Tataguna Lahan (C)


Faktor C menunjukkan keseluruhan pengaruh vegetasi, seresah, kondisi
permukaan tanah, dan pengelolaan lahan terhadap besarnya tanah yang hilang
(erosi) (Asdak, 2010). Nilai faktor C dipengaruhi oleh banyak peubah yang
dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu peubah-peubah alami dan
peubah-peubah yang dipengaruhi oleh sistem pengelolaan. Peubah alami
terutama adalah iklim dan fase pertumbuhan tanaman. Peubah-peubah yang
dipengaruhi oleh keputusan pengelolaan adalah tajuk tanaman, mulsa sisa
tanaman, sisa-sisa tanaman yang dibenamkan dalam tanah, pengolahan tanah,
pengaruh residual pengelolaan tanah, dan interaksi antara peubah-peubah
tersebut (Arsyad, 2010). Nilai faktor C untuk berbagai jenis tanaman dan
pengolahan tanaman dapat di lihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Nilai C Untuk Berbagai Jenis Tanaman Dan Pengolahan Tanaman
No. Pengelolaan Tanaman Nilai C
1 Tanah terbuka/tanpa tanaman 1,000
2 Sawah 0,010
3 Tegalan tidak dispesifikasi 0,700
4 Ubi kayu 0,800
5 Jagung 0,700
6 Kedelai 0,399

Teknik Sipil, FST, UNDANA


38

No. Pengelolaan Tanaman Nilai C


7 Kentang 0,400
8 Kacang tanah 0,200
9 Padi 0,561
10 Tebu 0,200
11 Pisang 0,600
12 Akar wangi / sereh wangi 0,400
13 Rumput bede (tahun pertama) 0,287
14 Rumput bede (tahun kedua) 0,002
15 Kopi dengan penutup tanah buruk 0,200
16 Talas 0,850
17 Kebun campur : - Kerapatan tinggi 0,100
- Kerapatan sedang 0,200
- Kerapatan rendah 0,500
18 Perladangan 0,400
19 Hutan alam: - Serasah banyak 0,001
- Serasah kurang 0,005
20 Hutan produksi: - Tebang habis 0,500
- Tebang pilih 0,200
21 Semak belukar/padang rumput 0,300
22 Ubi kayu + kedelai 0,181
23 Ubi kayu + kacang tanah 0,195
24 Pemukiman 1,000
25 Padi – sorghum 0,345
26 Padi – kedelai 0,417
27 Kacang tanah + gude 0,495
28 Kacang tanah + kacang tunggak 0,571
29 Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/Ha 0,049
30 Padi + mulsa jerami 4 ton/Ha 0,096
31 Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/Ha 0,128
32 Kacang tanah + mulsa crotalaria 3 ton/Ha 0,136

Teknik Sipil, FST, UNDANA


39

No. Pengelolaan Tanaman Nilai C


33 Kacang tanah + mulsa kacang tunggak 0,259
34 Kacang tanah + mulsa jerami 2 ton/Ha 0,377
35 Padi + mulsa crotalaria 3 ton/Ha 0,387
36 Pola tanam tumpang gilir + mulsa jerami 0,079
37 Pola tanam berurutan + mulsa sisa tanaman 0,357
38 Alang – alang murni subur 0,001
Catatan: *) Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981)
**) Pola tanam tumpang gilir: jagung + padi + ubi kayu, setelah
panen padi, ditanami kacang tanah
***) Pola tanam berurutan: padi – jagung – kacang tanah
Sumber: Arsyad, 2010: 368

6. Indeks tindakan konservasi tanah (P)


Faktor tindakan konservasi tanah (P) yaitu nisbah antara besarnya erosi dari
tanah yang diberi perlakuan tindakan konservasi khusus seperti pengolahan
tanah menurut kontur, penanaman dalam strip atau teras terhadap besarnya erosi
dari tanah yang diolah searah lereng dalam keadaan identik (As-syakur, 2008).

Tabel 2.6 Nilai Faktor P Untuk Berbagai Tindakan Konservasi Tanah Khusus

No. Teknik Konservasi Tanah Nilai P


1 Teras bangku :  
  a. konstruksi baik 0,04
  b. konstruksi sedang 0,15
  c. konstruksi kurang baik 0,35
  d. teras tradisional 0,40
2 Strip tanaman rumput bahia 0,40
3 Pengolahan tanah dan penanaman menurut garis kontur:  
  a. kemiringan 0% - 8% 0,50
  b. kemiringan 9% - 20% 0,75
  c. kemiringan lebih dari 20% 0,90
4 Tanpa tindakan konservasi 1,00
Catatan : Konstruksi teras bangku dinilai dari kerataan dasar teras dan keadaan talud
teras
Sumber : Arsyad, 2010: 372

Teknik Sipil, FST, UNDANA


40

7. Perhitungan jumlah sedimen menggunakan Nisbah Pelepasan Sedimen


(Sediment Delivery Ratio)
Perkiraan jumlah sedimen berdasarkan besarnya erosi yang terjadi pada suatu
Daerah Aliran Sungai dapat diketahui melalui perhitungan Nisbah Pelepasan
Sedimen (Sediment Delivery Ratio) atau biasa disingkat SDR. Besarnya SDR
dalam perhitungan-perhitungan erosi atau hasil sedimen untuk suatu daerah
aliran sungai umumnya ditentukan dengan menggunakan grafik hubungan antara
luas DAS dan besarnya SDR seperti yang dikemukakan Roehl (1962) (Asdak,
2010: 407).

Gambar 2.23. Grafik Hubungan Antara Luas DAS dan Nilai SDR
Sumber: Asdak, 2010: 408

Cara penggunaannya sangat sederhana, yaitu apabila luas daerah tangkapan


air suatu DAS diketahui, maka besarnya SDR untuk daerah tersebut dapat
ditentukan dengan cara menarik garis vertikal dari angka luas tertentu pada
sumbu X (luas daerah tangkapan air dalam satuan mil persegi) sampai
bersinggungan dengan kurva SDR yang dicari. Dari titik persinggunagan
tersebut kemudian tarik garis horisontal ke arah kiri sampai menyentuh sumbu Y
yang adalah angka SDR yang dicari. Apabila luas tangkapan dinyatakan dalam
km2 dan tidak ingin merubahnya menjadi satuan mil persegi maka dapat
memanfaatkan sumbu X pada bagian atas kurva hubungan tersebut (Asdak,
2010: 407). Setelah memperoleh nilai SDR yang sesuai berdasarkan kurva

Teknik Sipil, FST, UNDANA


41

hubungan pada Gambar 2.3, maka hasil sedimen yang terjadi dapat dihitung
dengan persamaan berikut (Asdak, 2010: 406; Wibowo, 2015: 22) ;

Y = E (SDR) Ws ....................................................................................
(2.10)
Dimana,
Y = Hasil sedimen (ton/tahun)
E = Erosi total (ton/km2/tahun)
SDR= Nisbah pelepasan sedimen (tanpa satuan)
Ws = Luas daerah tangkapan air (km2)

2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG)


Menurut Prahasta Eddy (2009) Sistem Informasi Geografis adalah sebuah alat
bantu manajemen informasi yang berkaitan erat dengan sistem pemetaan dan
analisis terhadap segala sesuatu serta berbagai peristiwa yang terjadi di muka
bumi. Data grafis/spasial ini merepresentasikan fenomena permukaan bumi yang
memiliki referensi berupa koordinat pada peta, foto udara, maupun citra satelit.
Sedangkan data atribut diperoleh dari data statistik, catatan survei, dan dokumen
lain yang berhubungan.
Dalam pemetaan digital terdapat beberapa tool yang bisa dipakai salah satunya
adalah ArcGIS. Menurut Wahyu Falah, [Link] (2015) ArcGIS adalah paket
perangkat lunak Sistem Informasi Geografis yang dikembang ESRI
(Environment Science & Research Institute) khususnya Arc Gis Desktop, dipakai
oleh 80% pengguna Sistem Informasi Geografis di dunia. Produk utama dari
ArcGIS berisikan kompilasi fungsi-fungsi dari berbagai macam software
Geographic Information System (GIS) yang berbeda seperti GIS desktop, server,
dan GIS berbasis web. Salah satu fitur pengelolahan data GIS pada aplikasi
ArcGIS yang utama dalam pengelolahan data GIS adalah ArcMap. ArcMap
memiliki kemampuan utama untuk visualisasi, membangun database spasial yang
baru, memilih (query), editing, menciptakan desain-desain peta, analisis dan
pembuatan tampilan akhir dalam laporan-laporan kegiatan. Dalam penelitian ini
sangat di perlukan data system informasi geografis berupa Peta Daerah Aliran
Sungai, Peta Jenis Tanah, Peta Kemiringan Lereng dan Peta Tata Guna Lahan

Teknik Sipil, FST, UNDANA


42

yang akan dibuat menggunakan fitur pengelolahan data ArcMap dari aplikasi


ArcGIS.
2.7 Klasifikasi Bahaya Erosi
Untuk memberikan gambaran tentang potensi erosi yang hasilkan, United
States Department of Agriculture (USDA) telah menetapkan klasifikasi bahaya
erosi berdasarkan laju erosi yang dihasilkan dalam ton/ha/tahun seperti
diperlihatkan pada Tabel 2.8 Klasifikasi bahaya erosi ini dapat memberikan
gambaran, apakah tingkat erosi yang terjadi pada suatu lahan ataupun DAS sudah
termasuk dalam tingkatan yang membahayakan atau tidak, sehingga dapat
dijadikan pedoman didalam pengelolaan DAS. Untuk klasifikasi kelas bahaya
erosi dapat dilihat pada Tabel 2.7 berikut.
Tabel 2.7 Klasifikasi Bahaya Erosi
No Kelas Bahaya Erosi Laju Erosi (ton/ha/thn) Keterangan
1. I <15 Sangat ringan
2 II 15 – 60 Ringan
3 III 60 – 180 Sedang
4 IV 180 – 480 Berat
5 V >480 Sangat Berat
Sumber: Kironoto, 2003.

2.8 Penelitian Terdahulu


Erosi dan sedimentasi merupakan permasalahan sudah cukup banyak
dijadikan bahan penelitian, dalam beberapa hasil penelitian yang dilakukan
permasalahan erosi dan sedimentasi di lakukan dengan metode yang bermacam-
macam dan di lokasi yang berbeda-beda serta di gunakan metode perhitungan
yang berbeda pula, sehingga pembaca bisa membandingkan hasil penelitian
terdahulu dengan penelitian yang dilakukan penulis. Hasil penelitian terdahulu
dapat di lihat dalam Tabel 2.8 dibawah ini :

Teknik Sipil, FST, UNDANA


43

Tabel 2.8 Daftar Penelitian yang berkaitan dengan Erosi dan Sedimentasi

No Judul Hasil Penelitian


Tahun Penulis
.
1 2011 Wilhelmus Perubahan Kondisi Tata Besar ruang sedimen
Bunganaen guna Lahan Terhadap dan kaitannya dengan
Volume Sedimentasi Volume sedimen yang
Pada Embung Bimoku terjadi pada Embung
Di Lasiana Kota Bimoku untuk tata guna
Kupang, Nusa Tenggara lahan baik dan buruk
Timur

2 2014 Kurnia Analisis Sedimentasi Jumlah Angkutan


Oktavia Pada Muara Sungai Sedimen total di muara
Usman Komering Kota Sungai Komering dan
Palembang, Sumatera di dapat Metode yang
Selatan paling sesuai adalah
Metode Bagnold

3 2014 Muhamad Analisis Sediment Perkiraan laju erosi di


Ikhsan Delevery Ratio (SDR) DAS Krueng Teungku
Dan Pengguanaan dengan menggunakan
Rumput Vetiver pendekatan USLE di
Sebagai Upaya dapat variasi laju erosi
Konservasi Das tersebar di 7 sub DAS,
Kecamatan Selumin, Laju Erosi Tertinggi
Kabupaten Aceh Besar dan terkecil dan
Penentuan daerah untuk
rencana konservasi
dengan sistem vertiver

4 2016 Romby Studi Karakteristik Gradasi Partikel

Teknik Sipil, FST, UNDANA


44

No Judul Hasil Penelitian


Tahun Penulis
.
Hambali Sedimen Dan Laju Sedimen, Berat Volume
dan yayuk Sedimentasi sungai Sedimen Dan kecepatan
Apriyanti daeng, Kabupaten jatuh partikel sedimen
Bangka Barat dan Laju Transport
Material Dasar per
satuan lebar Sungai (qs)
Meningkatkan dan
peningkatan kedalaman
mengikuti fungsi
persamaan geometrik

5 2017 Romario Analisis Laju Nilai Sespended Load


Seilatuw Sedimentasi Pada dan Bed Load serta
Sungai Way Yori Kota Karakteristik sedimen
Ambon berdasarkan berat jenis

6 2017 Bambang Perhitungan kecepatan Kecepatan sedimentasi


Kun Sedimentasi melalui dan Ketebalan
Cahyono, Pendekatan USLE Dan sedimentasi melalui
Lukman Pengukuran Kandungan Pendekatan USLE Dan
Hakim, Tanah Dalam Air Pengukuran Kandungan
Waljiyanto, Sungai Yang masuk Ke Tanah Dalam Air
dan Agus dalam Waduk Sermo, Sungai Waduk Sermo
Darmawan Kabupaten Kulon
Adhi Progo, Di Yogyakarta

7 2018 Melati Analisis Pendugaan Besarnya erosi dan


Jellica Erosi Dan Sedimentasi volume sedimentasi di
Muskanan Menggunakan Metode Bendungan Raknamo
USLE Dan MUSLE dan Perbandingkan
Pada Daerah Aliran Volume Sedimentasi
Sungai Noel Puames Di antara per-hitungan

Teknik Sipil, FST, UNDANA


45

No Judul Hasil Penelitian


Tahun Penulis
.
Bendungan Raknamo menggunakan metode
Kabupaten Kupang, USLE dan metode
Nusa Tenggara Timur MUSLE

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Nusa
Cendana dan pada lokasi Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef. Obyek
pembahasan dalam penelitian ini adalah Bendungan/Waduk Temef yang terletak
pada 9°42'36.33"S dan 124°27'36.91"E.

Gambar 3.1 Lokasi Penelitian


Sumber: [Link]

3.1.2 Waktu penelitian


Waktu penelitian dimulai dari bulan Desember 2018 sampai Agustus 2019.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


46

3.2 Jenis Data


3.2.1 Data Primer
Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil penelitan
distribusi ukuran butir tanah, kandungan bahan organik tanah, dan kecepatan
permeabilitas tanah pada Daerah Aliran Sungai Temef yang di uji pada
Laboratorium Mekanika Tanah dan Laboratorium Kimia, Fakultas Sains Dan
Teknik, Universitas Nusa Cendana.
3.2.2 Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan berupa data peta daerah aliran sungai
bendungan temef, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng, peta tata guna lahan
dan data curah hujan dengan pengamatan 10 tahun dari 6 pos hujan yang
diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II).

3.3 Teknik Pengambilan Data


3.3.1 Teknik Pengujian
Teknik pengujian dilakukan di laboratorium untuk memperoleh data mengenai
karakteristik suatu benda uji.

3.3.2 Teknik Dokumentasi


Teknik dokumentasi adalah teknik mengumpulkan data-data maupun teori dari
literatur yang menunjang penelitian.

3.4 Teknik Analisa Data


3.4.1 Perhitungan besarnya erosi menggunakan Metode Universal Soil Loss
Equation (USLE)
1. Melakukan analisis untuk memperoleh indeks erosivitas hujan (EI) dengan
Persamaan 2.2 dan 2.3.
2. Menentukan nilai erodibilitas tanah (K) dengan menggunakan peta
kemiringan lereng yang di gambar dengan menggunakan Arcgis dan di
hitung dengan Persamaan 2.7.
3. Menentukan nilai panjang dan kemiringan lereng (LS) dengan
menggunakan peta kemiringan lereng yang di gambar dengan
menggunakan Arcgis dan dihitung dengan Tabel 2.4.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


47

4. Menentukan nilai vegetasi dan pengelolaan tanaman (C) menggunakan


peta tata guna lahan pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef yang di
gambar dengan menggunakan Arcgis dan di hitung dengan menggunakan
Tabel 2.5.
5. Menentukan nilai tindakan konservasi tanah (P) dengan menggunakan
Tabel 2.6.
6. Menentukan besarnya erosi (EA) yang terjadi dengan Persamaan 2.1.
7. Menentukan Klasifikasi Bahaya Erosi yang terjadi dengan Tabel 2.7.
3.4.2 Pembuatan Peta dengan menggunakan Arcgis
1. Peta Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
a. Mendownload Peta Pulau Timor dalam bentuk Digital Elevation Model
(DEM) pada Peta Geologi Indonesia dan di peroleh peta dalam
format .shp yang hanya dapat dibuka dengan menggunakan fitur
pengelolahan data ArcMap dari aplikasi ArcGIS, kemudian di lakukan
pengeditan untuk memotong batas peta menjadi Daerah Aliran Sungai
Temef dengan Perintah Extract By Mask - Spatial Analyst Tool pada
ArcMap, langkah-langkahnya dapat di lihat pada Gambar 3.2 dan

Gambar 3.3

Teknik Sipil, FST, UNDANA


48

Gambar 3.2 Pengunduhan Peta Digital Elevation Model (DEM) dari Internet
Gambar 3.3 Proses pemotongan batas DAS dengan ArcMap
b. Peta dalam format (.shp) ArcGIS tersebut di lakukan Analisis Spasial
untuk memperoleh bentuk Aliran Sungai Temef setelah itu dilakukan
penyesuai dengan batas DAS Temef sehingga di peroleh Gambar
Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef, langkah selanjutnya data
tersebut di edit dan di beri keterangan, skala dan koordinat referensi
pada peta , untuk langkah-langkahnya dapat di lihat pada Gambar 3.4
dan Gambar 3.5 dibawah ini.

Peta Digital Elevation Model (DEM) Hasil Pemotongan

Gambar 3.4 Proses Analisis Spasial dengan ArcMap

Teknik Sipil, FST, UNDANA


49

Gambar 3.5 Hasil Pembuatan Peta DAS dengan ArcMap

2. Peta Jenis Tanah


a. Mendownload peta pada Lapak GIS dan di peroleh peta dalam bentuk
format (.shp) ArcGIS yang hanya dapat dibuka dengan menggunakan
fitur pengelolahan data ArcMap, setelah itu dilakukan penentuan
klasifikasi jenis tanah karena peta tersebut dalam klasifikasi sub grup
peta jenis tanah, sebelum dilakukan klasifikasi penentuan jenis tanah,
data tesebut diedit untuk dilakukan pemotongan peta yang disesuaikan
dengan batas wilayah Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef,
langkah-langkah tersebut di lihat pada Gambar 3.6 dan Gambar 3.7 di

bawah ini.
Gambar 3.6 Pengunduhan Peta Jenis Tanah Kabupaten Timor Tengan Selatan
dalam format ArcGIS
Gambar 3.7 Proses Pengeditan Peta Jenis Tanah Kabupaten Timor Tengah
Selatan dengan ArcMap

Teknik Sipil, FST, UNDANA


50

b. Peta dalam format (.shp) ArcGIS kemudian di Edit dan dilakukan


pemotongan sesuai batas Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef dan
di beri keterangan warna sesuai hasil klasifikasi tanah menurut tata
Klasifikasi Jenis Tanah Nasional dan Kunci Taksonomi Tanah yang
sudah sesuaikan, sehingga di peroleh tiga jenis tanah dan luasan dari
peta jenis tanah tersebut, kemudian data tersebut di edit dan di beri
keterangan, skala dan koordinat referensi. Untuk langkah-langkahnya
dapat di lihat pada Gambar 3.8 dan Gambar 3.9 dibawah ini.

Gambar 3.8 Pengeditan Keterangan Warna yang di sesuaikan dengan Klasifikasi

Tanah
Gambar 3.9 Hasil Pembuatan Peta Jenis Tanah Dengan ArcMap

Teknik Sipil, FST, UNDANA


51

3. Peta Kemiringan Lereng


a. Mendownload Peta Pulau Timor dalam bentuk Digital Elevation
Model (DEM) pada Peta Geologi Indonesia dan diperoleh peta dalam
format .shp yang hanya dapat dibuka dengan menggunakan fitur
pengelolahan data ArcMap dari aplikasi ArcGIS, kemudian di lakukan
analisis untuk memotong batas peta menjadi Daerah Aliran Sungai
Temef. Langkah-langkahnya dapat di lihat pada Gambar 3.10 dan
Gambar 3.11 di bawah ini.

Gambar 3.10 Pengunduhan Peta Digital Elevation Model (DEM)

Peta Digital Elevation Model (DEM) Hasil Pemotongan

Gambar 3.11 Proses Pemotongan Batas DAS dengan ArcMap

Teknik Sipil, FST, UNDANA


52

b. Peta dalam format (.shp) ArcGIS kemudian di lakukan Analisis 3D -


Raster Surface – Slope (kemiringan) untuk memperoleh bentuk
kemiringan lereng yang di bagi menjadi 5 kelas yang di beri
keterangan warna yang berbeda-beda untuk masing-masing kelas
kemiringan, bentuk kemiringan lereng yang dibagi berdasarkan Tabel
2.4, kemudian data tersebut di edit dan di beri keterangan, skala dan
koordinat referensi langkah-langkahnya penggambaran peta
kemiringan lereng dapat di lihat pada Gambar 3.12 dan Gambar 3.13.

Gambar 3.12 Proses Pembuatan Peta Kemiringan Lereng dengan

ArcMap

Teknik Sipil, FST, UNDANA


53

Gambar 3.13 Pembagian Kelas Kemiringan dan Hasil Pembuatan Peta


Kemiringan Lereng
4. Peta Tata Guna Lahan
a. Peta Tata Guna Lahan Diperoleh dari Dosen Pembimbing I, dalam
format (.shp) ArcGIS yang hanya dapat dibuka dengan menggunakan
fitur pengelolahan data ArcMap dari aplikasi ArcGIS, peta tersebut di
bagi berdasarkan faktor penutupan vegetasi yang di bagi dalam 8 kelas
penggunaan tata lahan dan di beri keterangan untuk masing-masing
kelas penggunaan tata lahan. Langkah-langkah tersebut dapat di lihat
pada Gambar 3.14 dan Gambar 3.15 di bawah ini.

Gambar 3.14 Peta Tata Guna Lahan dalam format ArcGIS

Teknik Sipil, FST, UNDANA


54

Gambar 3.15 Pengeditan Keterangan Warna Pada Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap

b. Peta dalam format (.shp) ArcGIS tersebut diedit dan dilakukan


perhitungan luasan masing-masing daerah kelas tata guna lahan yang
sudah dibagi, langkah perhitungan luasan ini merupakan langkah yang
sama untuk menentukan luasan dan pengeditan peta pada peta-peta
sebelumnya yang sudah di gambar. Langkah-langkah tersebut dapat di
lihat pada Gambar 3.16 dan Gambar 3.17 di bawah ini.

Gambar 3.16 Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan ArcMap

Teknik Sipil, FST, UNDANA


55

Gambar 3.17 Hasil Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan ArcMap
3.4.3 Perhitungan volume sedimen menggunakan Nisbah Pelepasan Sedimen
1. Menentukan angka Nisbah Pelepasan Sedimen (Sediment Delivery Ratio)
menggunakan Gambar 2.12.
2. Menghitung volume sedimen menggunakan Persamaan 2.10.

3.5 Diagram Alir

Mulai

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Data Sekunder : Data Primer :


1. Data curah hujan 1. Data ukuran butiran tanah
2. Peta DAS temef 2. Data kandungan organik tanah
3. Peta kemiringan lereng 3. Data permeabilitas tanah
4. Peta tata guna lahan 4. Data berat volume tanah

Menghitung Erosivitas Curah Menghitung Erosivitas Curah


Hujan Formulasi Bols (EI) Hujan Formulasi Lenvain (EI)

USLE : EA = EI . K . LS . C . P

Menentukan Nilai SDR

Menghitung Volume Sedimentasi

Klasifikasi Bahaya Erosi

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

Teknik Sipil, FST, UNDANA


56

BAB IV
Gambar
HASIL3.18DAN
Diagram Alir Penelitian
PEMBAHASAN

4.1 Umum
Proses erosi dan sedimentasi terjadi pada berbagai Daerah Aliran Sungai di
permukaan bumi, salah satu tempat terjadinya Erosi dan Sedimentasi pada Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef yang terletak pada Kabupaten Timor Tengah
Selatan (TTS) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa
Tenggara Timur dengan luas Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef adalah
552,583 km2, gambar penampang yang lebih detail dari Daerah Aliran Sungai
Bendungan temef dapat di lihat pada Lampiran 4. Alasan utama pemerintah
membangun bendungan Temef dikarenakan curah hujan yang tinggi dengan
durasi pendek (Desember hingga Maret) yang rentan banjir dan dengan 8 bulan
musim kemarau yang menyebabkan debit air menurun drastis sehingga terjadi
kekeringan yang akibatnya pasokan air baku kepada masyarakat tidak terpenuhi,
gambar lokasi Daerah Aliran Sungai dan titik lokasi pembangunan Bendungan
Temef dapat di lihat pada Gambar 4.1 dibawah ini.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


57

Gambar 4.1 Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef


Sumber: Modifikasi GIS Perencanaan Bendungan Temef

4.2 Indeks Erosivitas Hujan (EI)


4.2.1 Analisis curah hujan
Analisis curah hujan pada Bendungan Temef menggunakan enam Pos Hujan
yang paling dekat dengan lokasi Bendungan, yaitu Pos Hujan Batinifukoko, Pos
Hujan Fatumnasi, Pos Hujan Nifukani, Pos Hujan Noelnoni, Pos Hujan Oeoh, dan
Pos Hujan Polen. Letak masing-masing pos hujan dapat di lihat pada Gambar 4.2
di bawah ini.

Gambar 4.2 Letak Pos Hujan Untuk Daerah Aliran sungai Bendungan Temef
Sumber: Modifikasi GIS Perencanaan Bendungan Temef

Data curah hujan yang dipakai adalah data curah hujan 10 tahun (2009-2018)
yang didapat dari Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II). Untuk
data curah hujan harian pada masing-masing Pos Hujan terlampir pada Lampiran 1.
Metode yang digunakan dalam perhitungan curah hujan rata-rata wilayah yaitu
Metode Aritmatik (aljabar), dimana pengukuran yang dilakukan di beberapa Pos

Teknik Sipil, FST, UNDANA


58

Hujan dalam waktu yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan
jumlah stasiunnya, sesuai Persamaan 2.4.

4.2.2 Indeks erosivitas hujan (EI) Formulasi Bols


Faktor curah hujan sangat berhubungan erat dengan indeks erosivitas hujan.
Hubungan faktor curah hujan dan indeks erosivitas hujan menurut Bols
dirumuskan sebagai berikut (Auliyani dan Wijaya, 2017: 65),

EI = 6,119 (R)1,21(D)-0,47(M)0,53

Dimana;

EI = Erosivitas hujan rata-rata tahunan

R = Curah hujan rata-rata bulanan (cm)

D = Jumlah hari hujan rata-rata bulanan (hari)

M = Jumlah curah hujan maksimum rata-rata dalam 24 jam per bulan


untuk kurun waktu satu tahun (cm).

Sebelum melakukan perhitungan curah hujan rata-rata wilayah menggunakan


Metode Aritmatik, maka ditentukan data curah hujan yang akan diambil. Data
curah hujan yang akan diambil, diperoleh dari data hujan harian (Lampiran 1),
untuk penentuan indeks erosivitas hujan (EI) dengan rumus Bols data curah hujan
yang di ambil adalah jumlah hujan pada bulan tertentu untuk tahun tertentu yang
kemudian di bagi hari hujan pada bulan dan tahun tersebut yang disebut curah
hujan rata-rata bulanan. Contoh data curah hujan tahun 2009 dapat dirangkum
pada Tabel 4.1. Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Batinifukoko
pada bulan Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan rata-rata
bulanan yaitu sebesar 14,75 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan
selanjutnya yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.1
berikut :

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 14,75 July 0,00


Februari 35,27 Agustus 0,00
Maret 15,80 September 0,00

Teknik Sipil, FST, UNDANA


59

April 13,00 Oktober 0,00


Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan
Mei 17,43 November 21,55
Juni 0,00 Desember 14,08
Tabel 4.1 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan rata-rata bulanan
yaitu sebesar 20,56 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya
yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Fatumnasi
Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan
Januari 20,56 July 0,00
Ferbuari 17,00 Agustus 0,00
Maret 0,00 September 0,00
April 0,00 Oktober 0,00
Mei 0,00 November 13,60
Juni 0,00 Desember 16,86

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan rata-rata
bulanan yaitu sebesar 23,92 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan
selanjutnya yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.3
berikut :
Tabel 4.3 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Nifukani

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 23,92 Juli 0,00


Februari 23,00 Agustus 0,00
Maret 16,81 September 15,00

Teknik Sipil, FST, UNDANA


60

April 13,75 Oktober 18,60


Mei 7,00 November 27,05
Juni 4,25 Desember 0,00
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Noelnoni pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan rata-rata
bulanan yaitu sebesar 11,52 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan
selanjutnya yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.4
berikut :
Tabel 4.4 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Noelnoni

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 11,52 July 2,00


Februari 16,00 Agustus 4,50
Maret 10,67 September 2,00
April 4,00 Oktober 0,00
Mei 24,00 November 19,71
Juni 9,00 Desember 13,90

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan rata-rata bulanan yaitu
sebesar 121,28 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya
yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut :

Tabel 4.5 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Oeoh

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 121,28 Juli 97,33


Februari 197,11 Agustus 0,00
Maret 317,38 September 0,00
April 15,00 Oktober 0,00
Mei 250,60 November 83,40
Juni 90,50 Desember 43,70

Teknik Sipil, FST, UNDANA


61

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan rata-rata bulanan yaitu
sebesar 10,71 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Polen

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 10,71 Juli 6,75


Februari 19,73 Agustus 3,00
Maret 10,83 September 1,00
April 5,73 Oktober 0,00
Mei 6,50 November 18,20
Juni 0,00 Desember 11,20

Data curah hujan bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini, kemudian
dijumlahkan untuk menentukan nilai Curah Hujan Rata-rata Bulanan (R) dengan
menggunakan Metode Aritmatik seperti pada Persamaan 2.4 dari ke 6 pos hujan
dalam mencari nilai erosivitas rumus lenvain. Contoh perhitungan untuk bulan
Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :

Data yang diperoleh :

RBatinifukoko : curah hujan pada Pos Hujan Batinifukoko

= 14,75 mm (Tabel 4.1)

RFatumnasi : curah hujan pada Pos Hujan Fatumnasi

= 20,56 mm (Tabel 4.2)

RNifukani : curah hujan pada Pos Hujan Nifukani

= 23,92 mm (Tabel 4.3)

RNoelnoni : curah hujan pada Pos Hujan Noelnoni

= 11,52 mm (Tabel 4.4)

ROeoh : curah hujan pada Pos Hujan Oeoh

Teknik Sipil, FST, UNDANA


62

= 121,28 mm (Tabel 4.5)

RPolen : curah hujan pada Pos Hujan Polen

= 10,71 mm (Tabel 4.6)

Sehingga curah hujan Rata-rata bulanan untuk bulan Januari tahun 2009 dapat
dihitung sebagai berikut :

1
RJanuari 2009 = x (14,75 + 20,56 + 23,92 + 11,52 + 121,28 + 10,71)
6

202,73
=
6

= 33,79 mm

Perhitungan lengkapnya yaitu bulan Februari sampai Desember tahun 2009


dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut.

Tabel 4.7 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 33,79 Juli 18,51


Februari 51,35 Agustus 1,25
Maret 61,92 September 0,50
April 8,58 Oktober 2,50
Mei 50,92 November 29,18
Juni 17,29 Desember 21,13

Data curah hujan bulanan rata-rata yang sudah diperoleh pada Tabel 4.7,
kemudian diubah dalam satuan sentimeter (cm) yang dapat dilihat pada Tabel 4.8
berikut.
Tabel 4.8 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 3,38 Juli 1,85

Teknik Sipil, FST, UNDANA


63

Februari 5,14 Agustus 0,13


Maret 6,19 September 0,05
April 0,86 Oktober 0,25
Mei 5,09 November 2,92
Juni 1,73 Desember 2,11
Perhitungan curah hujan rata-rata bulanan tahun selanjutnya yaitu pada tahun
2009 sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Setelah dihitung curah hujan rata-rata bulanan untuk rata-rata wilayah dengan
Metode Aritmatik, dihitung jumlah hari hujan per bulan menggunakan Metode
Aritmatik. Contoh data jumlah hari hujan tahun 2009 dapat dirangkum pada
Tabel 4.9. Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Batinifukoko pada
bulan Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan
yaitu sebesar 16 hari. Sehingga untuk data jumlah hari hujan bulanan pada bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut.

Tabel 4.9 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Batinifukoko

Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan

Januari 16 Juli 0
Februari 11 Agustus 0
Maret 10 September 0
April 1 Oktober 0
Mei 7 November 11
Juni 0 Desember 13

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu
sebesar 9 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut.

Tabel 4.10 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Fatumnasi

Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan

Januari 9 Juli 0
Februari 28 Agustus 0

Teknik Sipil, FST, UNDANA


64

Maret 0 September 1
April 0 Oktober 0
Mei 0 November 10
Juni 0 Desember 14

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu
sebesar 12 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut.

Tabel 4.11 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Nifukani

Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan

Januari 12 Juli 3
Februari 12 Agustus 0
Maret 16 September 0
April 12 Oktober 4
Mei 3 November 5
Juni 4 Desember 19

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Noelnoni pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu
sebesar 21 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut.

Tabel 4.12 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Noelnoni

Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan

Januari 21 Juli 1
Februari 16 Agustus 2
Maret 9 September 1
April 1 Oktober 0
Mei 8 November 7
Juni 1 Desember 10

Teknik Sipil, FST, UNDANA


65

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu sebesar
18 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut.

Tabel 4.13 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh

Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan

Januari 18 Juli 3
Februari 18 Agustus 0
Maret 13 September 0
April 1 Oktober 0
Mei 10 November 5
Juni 2 Desember 10

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu sebesar
17 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut.

Tabel 4.14 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen

Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan


Januari 17 Juli 4
Februari 15 Agustus 2
Maret 18 September 1
April 11 Oktober 0
Mei 10 November 5
Juni 0 Desember 5

Data hari hujan bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini, kemudian
dirata-ratakan menggunakan Metode Aritmatik seperti pada Persamaan 2.4.
Contoh perhitungan untuk bulan Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :

Data yang diperoleh :

Teknik Sipil, FST, UNDANA


66

DBatinifukoko : hari hujan pada Pos Hujan Batinifukoko

= 16 hari (Tabel 4.9)

DFatumnasi : hari hujan pada Pos Hujan Fatumnasi = 9 hari (Tabel 4.10)

DNifukani : hari hujan pada Pos Hujan Nifukani = 12 hari (Tabel 4.11)

DNoelnoni : hari hujan pada Pos Hujan Noelnoni = 21 hari (Tabel 4.12)

DOeoh : hari hujan pada Pos Hujan Oeoh = 18 hari (Tabel 4.13)

DPolen : hari hujan pada Pos Hujan Polen = 17 hari (Tabel 4.14)

n : jumlah Pos Hujan pengamat = 6

Sehingga hari hujan bulan rata-rata untuk bulan Januari tahun 2009 dapat
dihitung sebagai berikut :

1
DJanuari 2009 = x (16 + 9 + 12 + 21 + 18 + 17)
6

93
=
6

= 15,50

Untuk perhitungan lengkapnya yaitu bulan Februari sampai Desember tahun


2009 dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut :

Tabel 4.15 Jumlah Hari Hujan Bulanan (hari) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik
Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan
Januari 15,50 Juli 1,83
Februari 16,67 Agustus 0,67
Maret 11,00 September 0,50
April 4,33 Oktober 0,67
Mei 6,33 November 7,17
Juni 1,17 Desember 11,83

Untuk perhitungan jumlah hari hujan bulanan rata-rata pada tahun 2009
sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


67

Setelah dihitung jumlah hari hujan bulanan rata-rata, dihitung curah hujan
maksimum rata-rata bulanan menggunakan Metode Aritmatik. Contoh data curah
hujan maksimum tahun 2009 dapat dirangkum pada Tabel 4.16.

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Batinifukoko pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 31 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.16 berikut.

Tabel 4.16 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum


Januari 31 Juli 0
Februari 162 Agustus 0
Maret 43 September 0
April 13 Oktober 0
Mei 46 November 62
Juni 0 Desember 53

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 34 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.17 berikut.

Tabel 4.17 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Fatumnasi

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum


Januari 34 Juli 0
Februari 58 Agustus 0
Maret 0 September 30
April 0 Oktober 0
Mei 0 November 50
Juni 0 Desember 80

Teknik Sipil, FST, UNDANA


68

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 90 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.18 berikut.

Tabel 4.18 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Nifukani

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum


Januari 90 Juli 10
Februari 60 Agustus 0
Maret 65 September 0
April 80 Oktober 40
Mei 18 November 25
Juni 10 Desember 210

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Noelnoni pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 57 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.19 berikut.

Tabel 4.19 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Noelnoni

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum


Januari 57 Juli 2
Februari 50 Agustus 6
Maret 55 September 2
April 4 Oktober 0
Mei 92 November 37
Juni 9 Desember 37

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan yaitu

Teknik Sipil, FST, UNDANA


69

sebesar 360 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.20 berikut.

Tabel 4.20 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Oeoh

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum


Januari 360 Juli 187
Februari 429 Agustus 0
Maret 800 September 0
April 15 Oktober 0
Mei 611 November 200
Juni 102 Desember 90

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan yaitu
sebesar 360 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.21 berikut.

Tabel 4.21 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Polen

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum


Januari 31 Juli 15
Februari 60 Agustus 4
Maret 42 September 1
April 18 Oktober 0
Mei 15 November 71
Juni 0 Desember 25

Data curah hujan maksimum bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini,
kemudian dirata-ratakan menggunakan Metode Aritmatik seperti pada Persamaan
2.6. Contoh perhitungan untuk bulan Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :

Teknik Sipil, FST, UNDANA


70

Data yang diperoleh:

MBatinifukoko : curah hujan maksimum pada Pos Hujan Batinifukoko

= 31 mm (Tabel 4.16)

MFatumnasi : curah hujan maksimum pada Pos Hujan Fatumnasi

= 34 mm (Tabel 4.17)

MNifukani : curah hujan maksimum pada Pos Hujan Nifukani

= 90 mm (Tabel 4.18)

MNoelnoni : curah hujan maksimum pada Pos Hujan Noelnoni

= 57 mm (Tabel 4.19)

MOeoh : curah hujan maksimum pada Pos Hujan Oeoh

= 360 mm (Tabel 4.20)

MPolen : curah hujan maksimum pada Pos Hujan Polen

= 31 mm (Tabel 4.21)

n : jumlah Pos Hujan pengamat = 6

Sehingga curah hujan maksimum bulanan rata-rata untuk bulan Januari


tahun 2009 dapat dihitung sebagai berikut :

1
MJanuari 2009 = x (31 + 34 + 90 + 57 + 360 + 31)
6

603,00
=
6

= 100.50 mm

Untuk perhitungan lengkapnya yaitu bulan Februari sampai Desember tahun


2009 dapat dilihat pada Tabel 4.22 berikut :

Tabel 4.22 Jumlah Curah hujan maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009
Menggunakan Metode Aritmatik

Teknik Sipil, FST, UNDANA


71

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum


Januari 100,50 Juli 35,67
Februari 136,50 Agustus 1,67
Maret 167,50 September 5,50
April 21,67 Oktober 6,67
Mei 130,33 November 74,17
Juni 20,17 Desember 82,50
Data curah hujan Maksimum bulanan yang sudah diperoleh pada Tabel 4.22,
kemudian diubah dalam satuan sentimeter (cm) yang dapat dilihat pada Tabel
4.23 berikut.

Tabel 4.23 Curah Hujan Maksimum Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik

Bulan Hujan Maksimum Bulan Hujan Maksimum

Januari 10,05 Juli 3,57


Februari 13,65 Agustus 0,17
Maret 16,75 September 0,55
April 2,17 Oktober 0,67
Mei 13,03 November 7,42
Juni 2,02 Desember 8,25

Untuk perhitungan curah hujan maksimum rata-rata wilayah selanjutnya


yaitu pada tahun 2009 sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Setelah dihitung curah hujan bulanan rata-rata, jumlah hari hujan bulanan dan
curah hujan maksimum bulanan, kemudian dimasukkan pada Persamaan 2.2
untuk menghitung nilai faktor curah hujan (EI). Contoh perhitungan faktor curah
hujan bulan Januari tahun 2009 sebagai berikut :

RJanuari 2009 = 3,38 cm (Tabel 4.8)


MJanuari 2009 = 10,05 cm (Tabel 4.23)
DJanuari 2009 = 15,50 hari (Tabel 4.15)

EIJanuari 2009 = 6,119 (3,38)1,21(10,05)-0,47(15,50)0,53

Teknik Sipil, FST, UNDANA


72

= 25,01 (KJ/ha)

Untuk perhitungan lengkapnya yaitu bulan Februari sampai Desember tahun


2009 dapat dilihat pada Tabel 4.24 berikut.

Tabel 4.24 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
rumus Bols

Faktor Curah Hujan Faktor Curah Hujan


Bulan Bulan
(KJ/ha) (KJ/ha)
Januari 1901,14 Juli 72,60
Februari 1454,99 Agustus 0,54
Maret 1792,62 September 2,99
April 27,28 Oktober 5,97
Mei 1096,27 November 239,95
Juni 36,93 Desember 303,28

Untuk Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Menggunakan rumus Bols


selanjutnya pada tahun 2009 sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.

4.2.3 Indeks erosivitas hujan (EI) Formulasi Lenvain


Perhitungan erosivitas juga dirumuskan oleh Lenvain (Auliyani dan Wijaya,
2017: 65) sebagai berikut:

EI = 2,21R1,36

Dimana;

EI = Erosivitas hujan rata-rata tahunan (KJ/ha)

R = Curah hujan bulanan (cm)

Sebelum melakukan perhitungan curah hujan rata-rata wilayah


menggunakan Metode Aritmatik, maka ditentukan nilai curah hujan yang akan
diambil. Nilai curah hujan yang akan diambil, diperoleh dari data hujan harian

Teknik Sipil, FST, UNDANA


73

(Lampiran 1) yaitu jumlah hujan pada bulan tertentu untuk tahun tertentu yang
disebut curah hujan bulanan. Contoh data curah hujan tahun 2009 dapat
dirangkum pada Tabel 4.1. Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan
Batinifukoko pada bulan Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah
curah hujan bulanan yaitu sebesar 236,00 mm. Sehingga untuk data curah hujan
pada bulan selanjutnya yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada
Tabel 4.25 berikut :

Tabel 4.25 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 236 Juli 0,00


Februari 388 Agustus 0,00
Maret 158 September 0,00
April 13,00 Oktober 0,00
Mei 122,00 November 237,00
Juni 0,00 Desember 183,00

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan
yaitu sebesar 185 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya
yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.26 berikut.

Tabel 4.26 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Fatumnasi

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 185,00 Juli 0,00


Februari 476,00 Agustus 0,00
Maret 0,00 September 30,00
April 0,00 Oktober 0,00
Mei 0,00 November 136,00
Juni 0,00 Desember 236.00

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu

Teknik Sipil, FST, UNDANA


74

sebesar 287 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.27 berikut :

Tabel 4.27 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Nifukani

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan


Januari 287,00 Juli 15,00
Februari 276,00 Agustus 0,00
Maret 269,00 September 0,00
April 165,00 Oktober 60,00
Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan
Mei 21,00 November 93,00
Juni 17,00 Desember 514,00

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Noelnoni pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu
sebesar 242 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.28 berikut :

Tabel 4.28 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Noelnoni

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 242,00 Juli 2,00


Februari 256,00 Agustus 9,00
Maret 96,00 September 2,00
April 4,00 Oktober 0,00
Mei 192,00 November 138,00
Juni 9,00 Desember 139,00

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu sebesar
2183 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.29 berikut :

Tabel 4.29 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 2183,00 Juli 292,00

Teknik Sipil, FST, UNDANA


75

Februari 3548,00 Agustus 0,00


Maret 4126,00 September 0,00
April 15,00 Oktober 0,00
Mei 2506,00 November 417,00
Juni 181,00 Desember 437,00

Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu sebesar
182 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.30 berikut :

Tabel 4.30 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 182 Juli 27


Februari 296 Agustus 6
Maret 195 September 1
April 63 Oktober 0
Mei 65 November 91
Juni 0 Desember 56

Data curah hujan bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini, kemudian
dijumlahkan untuk menentukan nilai Curah hujan Bulanan (R) dari ke 6 pos hujan
dalam mencari nilai erosivitas rumus lenvain. Contoh perhitungan untuk bulan
Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :

Data yang diperoleh :

RBatinifukoko : curah hujan pada Pos Hujan Batinifukoko


= 236,00 mm (Tabel 4.25)
RFatumnasi : curah hujan pada Pos Hujan Fatumnasi
= 185,00 mm (Tabel 4.26)
RNifukani : curah hujan pada Pos Hujan Nifukani
= 287,00 mm (Tabel 4.27)
RNoelnoni : curah hujan pada Pos Hujan Noelnoni
= 242,00 mm (Tabel 4.28)
ROeoh : curah hujan pada Pos Hujan Oeoh

Teknik Sipil, FST, UNDANA


76

= 2183,00 mm (Tabel 4.29)


RPolen : curah hujan pada Pos Hujan Polen
= 182 mm (Tabel 4.30)

Sehingga curah hujan bulanan untuk bulan Januari tahun 2009 dapat
dihitung sebagai berikut :

1
RJanuari 2009 = x ¿236 + 185 + 287 + 242 + 2183 + 182)
6

3315
=
6

= 552,50 mm

Perhitungan lengkapnya yaitu bulan Februari sampai Desember tahun 2009


dapat dilihat pada Tabel 4.31 berikut

Tabel 4.31 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 552,50 Juli 56,00


Februari 873,33 Agustus 2,50
Maret 807,33 September 5,50
April 43,33 Oktober 10,00
Mei 484,33 November 185,33
Juni 34,50 Desember 260,83

Data curah hujan bulanan rata-rata yang sudah diperoleh pada Tabel 4.31,
kemudian diubah dalam satuan sentimeter (cm) yang dapat dilihat pada Tabel
4.32 berikut.
Tabel 4.32 Curah Hujan Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik

Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan

Januari 55,25 Juli 5,60

Teknik Sipil, FST, UNDANA


77

Februari 87,33 Agustus 0,25


Maret 80,73 September 0,55
April 4,33 Oktober 1,00
Mei 48,43 November 18,53
Juni 3,45 Desember 26,08

Perhitungan curah hujan bulanan tahun selanjutnya yaitu pada tahun 2009
sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Setelah dihitung curah hujan bulanan, kemudian dimasukkan pada Persamaan


2.3 untuk menghitung nilai faktor curah hujan (EI). Contoh perhitungan faktor
curah hujan bulan Januari tahun 2009 sebagai berikut :

RJanuari 2009 = 55,25 cm (Tabel 4.32)


EIJanuari 2009 = 2,21(55,25)1,36
= 517,56 (KJ/ha)

Untuk perhitungan lengkapnya yaitu bulan Februari sampai Desember tahun


2009 dapat dilihat pada Tabel 4.33 berikut.

Tabel 4.33 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
Rumus Bols

Faktor Curah Faktor Curah


Bulan Bulan
Hujan (KJ/ha) Hujan (KJ/ha)
Januari 517,56 Juli 23,01
Februari 964,71 Agustus 0,34
Maret 866,93 September 0,98
April 16,24 Oktober 2,21
Mei 432,70 November 117,17
Juni 11,91 Desember 186,49

Untuk Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Menggunakan rumus Bols


selanjutnya yaitu tahun 2009 sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


78

4.3 Indeks Erodibilitas Tanah (K)


Klasifikasi tanah disusun untuk tujuan-tujuan tertentu dan menggunakan
faktor atau karakteristik tanah yang merupakan sifat-sifat dari tanah itu sendiri.
Untuk memperoleh nilai indeks erodibilitas penetuan klasifikasi jenis tanah sangat
perlu di lakukan untuk mengetahui persebaran luasan dari masing-masing sampel
tanah, dalam menentukan klasifikasi jenis tanah pada penelitian ini di susun
berdasarkan sistem klasifikasi tanah nasional yang mengacu kepada sistem
klasifikasi tanah yang telah ada (Suhardjo dan Soepraptohardjo 1981, Suhardjo et
al. 1983) yang merupakan penyempurnaan dari sistem klasifikasi Dudal dan
Soepraptohardjo (1957) dan Soepraptohardjo (1961). Sistem klasifikasi tanah ini
didasarkan pada morfogenesis, bersifat terbuka dan dapat menampung semua
jenis tanah di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengambilan sampel tanah untuk masing titik


pengambilan sampel dan setelah di lakukan klasifikasi jenis tanah berdasarkan
sistem klasifikasi tanah nasional (lampiran 5) di peroleh 3 jenis tanah yakni tanah
latosol, tanah regosol dan tanah mediteran. Gambar masing-masing jenis tanah

Jenis Tanah Latosol Jenis Tanah Regosol

Jenis Tanah Mediteran

Teknik Sipil, FST, UNDANA


79

berdasarkan hasil pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah
ini.

Gambar 4.3. Sampel Berdasarkan Jenis Tanah


Sumber: Dokumentasi pengambilan sampel

Perhitungan Indeks erodibilitas tanah diperoleh dengan menggunakan


Persamaan 2.7. Untuk memperoleh nilai indeks erodibilitas dilakukan pengujian,
agar dapat diketahui karakteristik tanah dan juga kandungan organik yang
terdapat dalam tanah. Sampel tanah yang diuji diambil dari Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef dengan dua titik pengambilan untuk masing masing jenis
tanah. Lokasi pengambilan sampel tanah dan sebaran jenis tanah yang berada
dalam Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef dapat di lihat pada Tabel 4.34.

Tabel 4.34 Lokasi Pengambilan Sampel Tanah

No. Jenis Tanah Titik Pengambilan 1 Titik Pengambilan 2

9°45'58.33"S dan 9°43'17.23"S dan


1 &6 Regosol
124°22'34.60"E 124°22'2.96"E
9°41'47.19"S dan 9°40'16.52"S dan
2&3 Mediteran
124°18'22.91"E 124°19'39.96"E
9°43'20.28"S dan 9°45'0.81"S dan
4&5 Latosol
124°25'51.19"E 124°25'0.51"E

Teknik Sipil, FST, UNDANA


80

Lokasi pengambilan sampel tanah untuk masing-masing jenis tanah dapat


dilihat pada peta titik koordinat pengambilan sampel tanah pada Gambar 4.3.
dibawah ini.

Gambar [Link] Pengambilan Sampel


Sumber: Modifikasi GIS Perencanaan Bendungan Temef

Berdasarkan Gambar 4.3 diketahui titik koordinat letak pengambilan sampel


tanah yang di ambil berada pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef.
Penentuan titik pengambilan sampel di ambil menurut peta jenis tanah Kabupaten
Timor Tengah Selatan yang diperoleh dari BWS Nusa Tenggara II, sehingga
ditetapkan persebaran titik pengambilan sampel yang dapat dilihat pada gambar
tersebut, Pengambilan sampel tanah pada lokasi tersebut bejarak kurang lebih 500
m dari titik aliran sungai terdekat. Pengambilan sampel mengikuti syarat-syarat
yang ditentukan yakni sampel untuk pengujian kandungan bahan organik tanah

Teknik Sipil, FST, UNDANA


81

yang di ambil, digali dengan kedalaman 1-30 cm dan untuk pengujian Kadar air,
Spesific Gravity (GS), Hidrometer, Analisa Saringan dan Permeabilitas tanah
yang diambil, digali dengan kedalaman 30-60 cm, penentuan jenis tanah
mengikuti Klasifikasi Jenis Tanah Nasional yang dijelaskan pada Lampiran 5,
dengan hasil klasifikasi jenis tanah (Lampiran 5) diperoleh adalah 3 Jenis Tanah
yaitu Jenis Tanah Regosol yang ditandai dengan warna krem dan titik
pengambilan sampel 1 dan sampel 6 yang memiliki luas 164,570 km2, Jenis Tanah
Latosol yang ditandai dengan warna coklat tua dan titik pengambilan sampel 4
dan sampel 5 yang memiliki luas 199,916 km2 dan Jenis Tanah Mediteran yang
ditandai dengan warna coklat tua dan titik pengambilan sampel 2 dan sampel 3
yang memiliki luas 188,097 km2 untuk penggambaran yang lebih jelas dari
Gambar Peta Jenis Tanah dapat dilihat pada lampiran 6.

4.3.1 Pengujian distribusi ukuran butiran


Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui nilai dari variabel M yang adalah
persentase ukuran partikel dan juga untuk menentukan kode klasifikasi struktur
tanah pada Persamaan 2.7 untuk mencari nilai erodibilitas tanah (K).

a. Persentase ukuran partikel (M)


Untuk memperoleh nilai dari variabel M dapat digunakan persamaan
sebagai berikut, M = persentase ukuran partikel (% debu + pasir sangat
halus) x (100 - %liat) sesuai dengan Tabel 2.3. Berdasarkan hasil penelitian
pada Lampiran 2 diperoleh massa butiran tanah yang berada pada Daerah
Sungai Bendungan Temef seperti pada Tabel 4.35.

Tabel 4.35 Persentase Massa Butiran Tanah Berdasarkan Klasifikasi Butir-


Butir Primer Tanah Menurut Sistem USDA (United States Department of
Agriculture)
Massa pasir Massa debu,
Massa liat,
sangat halus, Ø 0,05 –
No. Jenis Tanah Ø < 0,002
Ø 0,1 – 0,05 0,002 mm
mm (%)
mm (%) (%)
1 Regosol 21,65 17,79 1,26

Teknik Sipil, FST, UNDANA


82

2 Mediteran 35,73 45,95 0,8


3 Mediteran 36,57 48,25 2,3
4 Latosol 36,93 33,95 0,62
5 Latosol 38,13 34,075 0,59
6 Regosol 16,33 21,875 1,43

Dengan merujuk pada Tabel 4.36, nilai persentase ukuran partikel (M)
untuk jenis tanah Regosol yang diambil dari titik pengambilan sampel 1,
dapat dihitung sebagai berikut,
M = persentase ukuran partikel (% debu + pasir sangat halus) x (100 - %liat)
= (17,79 + 21,65) x (100 – 1,26)
= 3894,31
Sedangkan nilai M untuk jenis tanah lainnya yang berada dalam Daerah
Sungai Bendungan Temef dapat di lihat pada Tabel 4.36.
Tabel 4.36 Nilai M Untuk Jenis Tanah Dalam Daerah Sungai Temef
Dinyatakan Tanpa Satuan
No
Jenis Tanah Nilai M
.
1 Regosol 3894,31
2 Mediteran 8102,16
3 Mediteran 8286,43
4 Latosol 7043,56
5 Latosol 7177,40
6 Regosol 3765,37

Kelas struktur tanah didapat berdasarkan persentase massa butiran yang


terbesar dari keseluruhan massa tanah yang diujikan. Dari kelas struktur
tanah ini akan ditentukan kode struktur tanah yang digunakan dalam
perhitungan untuk mencari nilai erodibilitas tanah (K).
Dengan merujuk pada Tabel 2.1 tentang Kode Struktur Tanah, maka
berdasarkan hasil penelitian pada Lampiran 2 diperoleh angka kode struktur

Teknik Sipil, FST, UNDANA


83

tanah untuk jenis tanah yang tersebar pada Daerah Aliran Sungai Temef
seperti pada Tabel 4.37.
Tabel 4.37 Penentuan Kode Struktur Tanah Berdasarkan Ukuran Diameter
2–
<1 1-2 Blok,
10
No. Jenis Tanah mm mm plat, Kode Ket.
mm
(%) (%) masif
(%)
Granuler
1 Regosol 92,00
8 0 - 1 sangat halus
Granuler
2 Mediteran 97,10
2,9 0 - 1 sangat halus
Granuler
3 Mediteran 98,20
1,8 0 - 1 sangat halus
Granuler
4 Latosol 98,80
1,2 0 - 1 sangat halus
Granuler
5 Latosol 99,00
1 0 - 1 sangat halus
Granuler
6 Regosol 83,00
17 0 - 1 sangat halus

4.3.2 Pengujian kandungan bahan organik (OM)


Bahan organik dan kimia tanah mempunyai peranan penting dalam menjaga
kestabilan agregat tanah. Kebanyakan tanah memiliki unsur organik kurang dari
15%. Meskipun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tanah
dengan kandungan unsur organik yang tinggi, misalnya tanah gambut (peat land),
mempunyai erodibilitas tinggi. Sedangkan jenis tanah dengan kandungan unsur
organik rendah, biasanya keras dan dengan demikian menjadi lebih resisten (sifat
erodibilitasnya berkurang) terutama pada keadaan kering. (Asdak, 2010).
Sampel pengujian bahan organik diambil dari permukaan tanah sampai
kedalaman 30 cm, dengan pertimbangan pada permukaan tanah terjadi pelapukan
daun-daun, ranting-ranting pohon, ataupun adanya kotoran hewan sehingga kadar
organiknya sangat tinggi. Pengujian bahan organik dilaksanakan di Laboratorium

Teknik Sipil, FST, UNDANA


84

Kimia, Fakultas Sains Dan Teknik, Universitas Nusa Cendana dengan hasil
laboratorium seperti pada Lampiran 2. Rekapitulasi pengujian bahan organik
dapat di lihat pada Tabel 4.38.
Tabel 4.38 Hasil Pengujian Bahan Organik Sampel Tanah Daerah Aliran Sungai
Temef

No. Kode Sampel Bahan Organik (%)

1 Regosol 1,417
2 Mediteran 1,603
3 Mediteran 0,904
4 Latosol 1,421
5 Latosol 1,077
6 Regosol 0,784

4.3.3. Pengujian permeabilitas tanah (P)


Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tanah dalam
meloloskan air. Dengan mengetahui angka permeabilitas tanah dapat ditentukan
kode permeabilitas profil tanah berdasarkan kecepatan air untuk lolos dalam
satuan cm/jam sesuai dengan Tabel 2.2. Hasil pengujian laboratorium (Lampiran
2) dapat di lihat pada Tabel 4.39.
Tabel 4.39 Kode Permeabilitas Sampel Tanah Daerah Aliran Sungai Temef

No Kecepatan
Jenis Tanah Kode Ket.
. (cm/jam)
1 Regosol 0,012 6 Sangat lambat
2 Mediteran 0,005 6 Sangat lambat
3 Mediteran 0,005 6 Sangat lambat
No Kecepatan
Jenis Tanah Kode Ket.
. (cm/jam)
4 Latosol 0,010 6 Sangat lambat
5 Latosol 0,009 6 Sangat lambat
6 Regosol 0,014 6 Sangat lambat

Teknik Sipil, FST, UNDANA


85

Dari pembahasan tentang beberapa pengujian sebelumnya dapat diketahui


nilai indeks erodibilitas tanah untuk jenis tanah yang tersebar pada Daerah Aliran
Sungai Temef. Dengan menggunakan Persamaan 2.7, dapat dihitung nilai
erodibilitas (K) untuk setiap jenis tanah yang tersebar dalam Daerah Aliran
Sungai Temef, dan dinyatakan tanpa satuan. Perhitungan erodibilitas tanah untuk
jenis tanah Regosol pada titik pengambilan sampel 1 (K1) dan titik pengambilan 6
(K2), sebagai berikut,
K1 = {2 ,71 x 10-4 ( 12-OM ) M 1,14 +3,25 ( S-2 ) +2,5(P-3) } /100

= {2 ,71 x 10-4 ( 12-1,417 ) 3894,311,14 +3,25 ( 1-2 ) +2,5(6-3) } /100


= 0,398 ton/KJ
K2 ={2 ,71 x 10-4 ( 12-OM ) M 1,14 +3,25 ( S-2 ) +2,5(P-3) } /100

= {2 ,71 x 10-4 ( 12-0,784 ) 3765,371,14 +3,25 ( 1-2 ) +2,5(6-3) } /100


= 0,405 ton/KJ

Sehingga untuk jenis tanah Regosol, nilai erodibilitasnya merupakan rata-rata


dari nilai erodibilitas pada titik pengambilan pertama (K1) dan nilai erodibilitas
pada titik pengambilan kedua (K2) untuk jenis tanah tersebut.

K1+K2 0,398+0,405
K= = = 0,401 ton/KJ
2 2

Dengan demikian nilai erodibilitas dari jenis tanah Regosol adalah 0,137
ton/KJ. Untuk nilai erodibilitas jenis-jenis tanah lainnya dapat di lihat pada Tabel
4.40

Tabel 4.40 Nilai Erodibilitas Sampel Tanah Pada Daerah Aliran Sungai Temef
Dinyatakan Dalam Ton/KJ
Kode K1 K2 K
No Jenis Tanah
Sampel (ton/KJ) (ton/KJ) (ton/KJ)
1 Regosol 1&6 0,398 0,405 0,401

Teknik Sipil, FST, UNDANA


86

2 Mediteran 2&3 0,847 0,924 0,885

3 Latosol 4&5 0,741 0,779 0,760

Indeks erodibilitas pada Daerah Aliran Sungai Temef secara keseluruhan


dapat dihitung dengan cara mengalikan nilai erodibilitas dengan luas wilayah
masing-masing jenis tanah seperti pada Tabel 4.41.
Tabel 4.41 Perhitungan Indeks Erodibilitas (K) DAS Temef

Nilai Luas Hasil


No Jenis Tanah Erodibilitas Wilayah Perkalian
ton/KJ km2 ton.km2/KJ
1 Regosol 0,401 164,570 66.058
2 Mediteran 0,885 188,097 166.559
3 Latosol 0,760 199,916 151.883
Jumlah 552,583 384,500

Nilai erodibilitas (K) Daerah Aliran Sungai Temef dapat diperoleh dengan
membagi jumlah perkalian antara nilai erodibilitas dan luas wilayah tiap jenis
tanah dengan luas Daerah Aliran Sungai Temef.
384,500 ton. km 2 /KJ
KDAS Temef = = 0,696 ton/KJ.
552,583 km 2

Sehingga nilai indeks erodibilitas (K) untuk DAS Temef diperoleh 0,696
ton/KJ.

4.4 Indeks Panjang dan Kemiringan Lereng


Indeks panjang dan kemiringan lereng pada Daerah Aliran Sungai Temef
dapat ditentukan dengan menggunakan peta pada Lampiran 7. Peta tersebut
menunjukkan kelas kemiringan lereng pada Daerah Aliran Sungai Temef yang
dibagi dalam 5 bagian. Kemiringan 0 – 5% seluas 23,45 km2 pada peta ditandai
dengan warna hijau tua, kemiringan 5 – 15% seluas 156,43 km 2 ditandai dengan
warna hijau muda, kemiringan 15 – 35% seluas 259,62 km 2 ditandai dengan

Teknik Sipil, FST, UNDANA


87

warna kuning, kemiringan 35 – 50% seluas 67,92 km2 ditandai dengan warna
jingga dan kemiringan >50% seluas 45,17 km2 ditandai dengan warna merah.
Perhitungan indeks panjang dan kemiringan lereng (LS) menggunakan Tabel 2.4.
Nilai LS per kelas kemiringan tersebut dikali dengan luas wilayah per kelas
kemiringan. Hasil perkalian tersebut dapat di lihat pada Tabel 4.42.
Tabel 4.42 Perhitungan Faktor Panjang Dan Kemiringan Lereng Daerah Aliran
Sungai Temef Dinyatakan Tanpa Satuan
Hasil
Kelas Kelas Nilai LS Luas Wilayah
Perkalian
Lereng Kemiringan (km2)

A 0 – 5% 0,250 23,45 5,86


B 5 – 15% 1,200 156,43 187,71
C 15 – 35% 4,250 259,62 1103,39
D 35 – 50% 9,500 67,92 645,20
E >50% 12,000 45,17 542,04
Jumlah 552,583 2484,195

Nilai indeks panjang dan kemiringan lereng (LS) untuk Daerah Aliran Sungai
Temef diperoleh dengan membagi hasil perkalian antara nilai LS per kelas
kemiringan lereng dan luas wilayah per kelas kemiringan lereng, dengan Luas
Daerah Aliran Sungai Temef secara keseluruhan.
2484,195
LSDAS Temef = = 4,496.
552,583 km 2
Dengan demikian diperoleh 4,496 untuk nilai indeks LS pada Daerah Aliran
Sungai Temef.
4.5 Indeks Penutupan Vegetasi (C)
Penutupan vegetasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai Temef dapat di lihat
pada Lampiran 8. Penutupan vegetasi pada Daerah Aliran Sungai Temef yaitu
permukiman seluas 17,833 km2 pada peta ditandai dengan warna Merah Tua,
kebun campuran kerapatan sedang seluas 50,255 km2 ditandai dengan warna
Kuning, sawah seluas 4,929 km2 ditandai dengan warna hijau muda, ladang seluas
80,924 km2 ditandai dengan warna Ungu, hutan serasah kurang seluas 31,860 km2

Teknik Sipil, FST, UNDANA


88

ditandai dengan warna hijau, Alang seluas 23,601 km2 ditandai dengan warna
coklat, semak belukar seluas 339,051 km2 ditandai dengan warna hijau muda,
tanah kosong seluas 4,130 km2 ditandai dengan warna biru, dan sungai utama
seluas 1,298 km2 ditandai dengan warna hitam. Tetapi dalam perhitungan indeks
penutupan vegetasi, luas sungai utama tidak terhitung sehingga untuk faktor
penggunaan lahan, luas Daerah Aliran Sungai Temef yang semula seluas 552,583
km2 menjadi 551,285 km2. Perhitungan indeks penutupan vegetasi (C)
menggunakan Tabel 2.5. Dengan cara yang sama seperti pada perhitungan untuk
nilai faktor LS sebelumnya, nilai C untuk masing-masing jenis penutupan vegetasi
dari Tabel 2.5 dikali dengan luas wilayah masing-masing jenis penutupan
vegetasi. Hasil perkalian tersebut dapat di lihat pada Tabel 4.43.
Tabel 4.43 Perhitungan Faktor Penutupan Vegetasi (C) Daerah Aliran Sungai
Temef Dinyatakan Tanpa Satuan
Luas Wilayah
No. Penutupan Vegetasi Nilai C Hasil Perkalian
(km)
1 Permukiman 1,000 17,833 17,833
2 Kebun campuran 0,200 50,255 10,051

3 Sawah 0,010 4,929 0,049


4 Ladang 0,400 80,924 32,370
5 Hutan serasah kurang 0,005 31,860 0,159
6 Alang 0,001 23,601 0,024
7 Semak 0,300 339,051 101,715
8 Tanah kosong 1,000 4,130 4,130
Jumlah 551,285 166,331

Nilai indeks penutupan vegetasi (C) pada Daerah Aliran Sungai Temef dapat
dihitung dengan membagi jumlah hasil perkalian antara nilai C tiap penutupan
vegetasi dan luas wilayah penutupan vegetasi, dengan jumlah luas wilayah yang
digunakan dalam Daerah Aliran Sungai Temef.
166,331
CDAS Temef = = 0,302
551,285

Teknik Sipil, FST, UNDANA


89

Dengan demikian diperoleh 0,302 untuk indeks penutupan vegetasi pada


Daerah Aliran Sungai Temef.

4.6 Indeks Tindakan Konservasi Tanah (P)


Berdasarkan pengamatan secara visual di daerah – daerah yang masuk dalam
Daerah Aliran Sungai Temef, tidak ditemukan adanya tindakan konservasi. Hal
ini dapat dilihat pada dokumentasi foto kondisi lahan (Lampiran 9). Dengan
demikian berdasarkan Tabel 2.6 untuk tindakan konservasi pada Daerah Aliran
Sungai Temef bernilai 1.
4.7 Perhitungan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE)
Untuk menghitung jumlah tanah tererosi pada Daerah Aliran Sungai Temef
maka dapat menggunakan Persamaan 2.1 dan dinyatakan dalam satuan
ton/ha/tahun. Variabel-variabel yang dibutuhkan dalam perhitungan Metode
USLE yaitu variabel EI yaitu indeks erosivitas hujan dan dinyatakan dalam KJ/ha,
variabel K yaitu indeks erodibilitas tanah dinyatakan tanpa satuan, indeks panjang
dan kemiringan lereng (LS) dinyatakan tanpa satuan, indeks penutupan vegetasi
(C) dinyatakan tanpa satuan dan indeks pengolahan lahan atau tindakan
konservasi tanah (P) dinyatakan tanpa satuan.
Rekapitulasi nilai indeks erosivitas dengan formulasi Bols dari tahun 2009
sampai 2018, indeks erodibilitas DAS Temef, indeks panjang dan kemiringan
lereng DAS Temef, indeks penutupan lahan dan indeks pengolahan lahan untuk
perhitungan metode USLE dapat dilihat pada Tabel 4.44.

Tabel 4.44 Nilai Erosi Dengan Metode USLE Menggunakan Formulasi Erosivitas
Bols dan Lenvain

  EI Bols EI K LS C P Erosi Erosi


Tahun (KJ/ha) Lenvain USLE USLE
(KJ/ha) Bols Lenvain

Teknik Sipil, FST, UNDANA


90

  (ton/ha) (ton/ha)
2009 304,70 3140,240 0,696 4,496 0,302 1,000 287,580 2963,779
2010 131,34 1660,899 0,696 4,496 0,302 1,000 123,958 1567,568
2011 115,06 1316,323 0,696 4,496 0,302 1,000 108,596 1242,354
2012 129,78 2860,877 0,696 4,496 0,302 1,000 122,483 2700,114
2013 122,43 2040,734 0,696 4,496 0,302 1,000 115,546 1926,058
2014 167,35 2250,224 0,696 4,496 0,302 1,000 157,947 2123,776
2015 351,28 3090,459 0,696 4,496 0,302 1,000 331,540 2916,795
2016 360,25 4277,531 0,696 4,496 0,302 1,000 340,006 4037,162
2017 376,96 5006,311 0,696 4,496 0,302 1,000 355,779 4724,989
2018 251,44 2744,410 0,696 4,496 0,302 1,000 237,306 2590,192

Rata-rata (ton/ha/tahun) 218,074 2679,279

Dari hasil analisis pada Tabel 4.44 besarnya erosivitas yang terjadi yaitu sebagai
berikut :
1. Perhitungan USLE dengan rumus erosivitas Bols
Erosi yang terjadi dari tahun 2009 sampai 2018 dan dihitung menggunakan
metode USLE dengan formulasi Bols yaitu,
Erosi2009-2018 = 218,074 ton/ha/tahun.
Erosi2009-2018 = 218,074 ton/0,01 km2/tahun = 21.807,426 ton/km2/tahun.

2. Perhitungan USLE dengan rumus erosivitas Lenvain


Erosi yang terjadi dari tahun 2009 sampai 2018 dan dihitung dengan
menggunakan metode USLE dengan formulasi Lenvain yaitu,
Erosi2009-2018 = 2.679,279 ton/ha/tahun.
Erosi2009-2018 = 2.679,279 ton/0,01 km2/tahun = 267.927,863 ton/km2/tahun.

4.8 Perhitungan Volume Sedimen Dengan Menggunakan Nisbah Pelepasan


Sedimen (Sediment Delivery Ratio)
Nilai Nisbah Pelepasan Sedimen (Sediment Delivery Ratio) yang akan
digunakan untuk menentukan volume sedimen yang terjadi dapat diperoleh
dengan menggunakan Gambar 2.23. Dengan luas DAS Temef sebesar 552,583
km2 (55258,337 ha), maka nilai Sediment Delivery Ratio (SDR) adalah 8.5% atau
0,085.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


91

552,58

8,50

Gambar 4.5 Nilai SDR Daerah Aliran Sungai Temef


Sumber: Modifikasi Gambar Nilai SDR Asdak, 2010

Perhitungan volume sedimen menggunakan Sediment Derlivery Ratio (SDR)


dapat menggunakan Persamaan 2.10. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
adalah erosi total, nilai SDR, dan luas daerah tangkapan air. Sehingga volume
sedimen yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut,
1. Perhitungan berat sedimen per tahun dengan metode USLE formulasi Bols.
Sesuai dengan Persamaan 2.10 maka berat sedimen dihitung sebagai berikut,
Berat sedimen = 21807,426 ton/km2/tahun x 0,085 x 552,583 km2
= 1.025.490,765 ton/tahun.
2. Perhitungan berat sedimen dengam Metode USLE formulasi Lenvain
Sesuai Persamaan 2.10 maka berat sedimen dihitung sebagai berikut,
Berat sedimen = 267927,863 ton/km2/tahun x 0,085 x 552,583 km2
= 12.599.265,419 ton/tahun.
Untuk mengubah satuan berat sedimen menjadi satuan volume sedimen,
maka hasil perhitungan dengan metode USLE tersebut akan dibagi dengan berat
volume tanah. Adapun berat volume tanah berdasarkan hasil penelitian pada
Lampiran 2 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.45 Berat Volume Jenis – Jenis Tanah Pada Daerah Aliran Sungai Temef
(ton/m3)
No. Jenis Tanah Sampel 1 Sampel 2 Rata-rata

Teknik Sipil, FST, UNDANA


92

(gr/cm3) (gr/cm3) (gr/cm3 = ton/m3)


1 Regosol 1,593 1,630 1,611
2 Mediteran 1,527 1,510 1,519
3 Mediteran 1,428 1,399 1,413
4 Latosol 1,516 1,554 1,535
5 Latosol 1,619 1,653 1,636
6 Regosol 1,665 1,621 1,643

Karena sedimen yang berasal dari ketiga jenis tanah pada DAS Temef telah
bercampur di dalam waduk, maka nilai berat jenis tanah secara keseluruhan untuk
ketiga jenis tanah tersebut dapat dicari dengan mengalikan berat volume tanah
dengan luas wilayah masing-masing jenis tanah seperti pada Tabel 4.46.
Tabel 4.46 Berat Volume Tanah Pada Daerah Aliran Sungai Temef (ton/m3)

Berat Volume Luas Wilayah Hasil Perkalian


No. Jenis Tanah
Tanah (ton/m3) (km2) (ton.km2/m3)
1 Regosol 1,327 164,570 218,441
2 Mediteran 1,380 188,097 259,523
3 Latosol 1,362 199,916 272,313
Jumlah 552,583 750,277

Dengan membagi jumlah hasil perkalian berat volume tanah dan luas
wilayah masing-masing jenis tanah dengan luas Daerah Aliran Sungai Temef
secara keseluruhan diperoleh hasil sebagai berikut :
2 3
750,277 (ton. km / m )
Berat volume tanah DAS Temef = 2 = 1,358 ton/m3.
552,283 km
Berat volume tanah secara keseluruhan pada DAS Temef adalah 1,358 ton/m 3.
Volume sedimen dengan menggunakan metode USLE dapat dihitung sebagai
berikut.
1. Perhitungan volume sedimen metode USLE dengan formulasi erosivitas Bols
Volume sedimen = Berat sedimen : Berat volume tanah
= 1.025.490,765 ton/tahun : 1,358 ton/m3
= 755.279,949 m3/tahun.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


93

2. Perhitungan volume sedimen metode USLE dengan formulasi Lenvain


Volume sedimen = Berat sedimen : Berat volume tanah
= 12.706.268,805 ton/tahun : 1,358 ton/m3
= 9.279.432,703 m3/tahun.
4.9 Penentuan Klasifikasi Bahaya Erosi
Berdasarkan hasil perhitungan USLE dengan rumus erosivitas Bols diperoleh
nilai erosi sebesar 218,074 ton/ha/tahun sedangkan untuk perhitungan USLE
dengan rumus erosivitas Lenvain diperoleh nilai erosi sebesar 2679,279
ton/ha/tahun. Dalam penentuan kelas bahaya erosi digunakan perhitungan USLE
dengan rumus erosivitas Bols, karena hasil perhitungan yang diperoleh
mempunyai nilai ketelitian 84,98 %, sesuai Tabel 2.7 kelas bahaya erosi yang
terjadi berada pada kelas IV yang dikategorikan berat.
4.10 Persentase Perbandingan Volume Sedimen
Dalam penelitian ini, perhitungan nilai erosivitas hujan dilakukan dengan
dua persamaan yaitu persamaan Bols dan Lenvain, sedangkan dari data yang
diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II perhitungan nilai erosivitas
hujan menggunakan persamaan Interaksi Energi-Intensitas dengan memanfaatkan
data dari penakar hujan otomatis. Berdasarkan data perhitungan volume
sedimentasi dari Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (Lampiran 10),
diketahui nilai volume sedimentasi pada Bendungan Temef sebesar 641.854,03
m3/tahun. Sehingga dapat dihitung persentase perbandingan volume sedimen
berdasarkan perhitungan USLE (Universal Soil Loss Equation) terhadap data hasil
volume sedimen berdasarkan data perencanaan Bendungan. Berdasarkan data dan
hasil perhitungan diatas dapat diketahui variasi perbandingan volume sedimen
yang di tampilkan pada gambar grafik dibawah ini.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


94

10000000.000
9279432.70327726
9000000.000
8000000.000
7000000.000
Volume Sedimen
(m3/tahun)
6000000.000
5000000.000
4000000.000
3000000.000
2000000.000
1000000.000 641854.03 755279.948627518
0.000
Volume Sedimen Volume Sedimen Bols Volume Sedimen
Bendungan Lenvain

Variasi Perhitungan

Gambar 4.6 Grafik Volume Sedimen Berdasarkan Variasi Perhitungan

1. Perbandingan volume sedimen bendungan dari data perencanaan dengan


perhitungan volume sedimen USLE menggunakan formulasi erosivitas Bols
Volume Sedimen Bendungan 641.854,03 m 3 /tahun
x100% = x100%= 8 4,98 %
Volume sedimen USLEBols 755 . 279,949 m 3 /tahun
2. Perbandingan volume sedimen bendungan dari data perencanaan dengan
perhitungan volume sedimen USLE menggunakan formulasi erosivitas
Lenvain
Volume Sedimen Bendungan 641.854,03 m 3 /tahun
x100% = x100%= 6,92%
Volume sedimen USLELenvain 9.279.432,703 m 3 /tahun

Berdasarkan hasil perhitungan diatas diperoleh hasil perhitungan volume


sedimentasi yang paling sesuai adalah dengan menggunakan Formulasi Erosivitas
Bols dengan tingkat ketelitian mencapai 84,98 %.

4.11 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian untuk memperoleh nilai erosi dengan metode
USLE diperoleh nilai erosi yang terjadi berdasarkan bentuk erosi percikan, erosi
lembar dan erosi alur dimana perhitungan untuk memperoleh nilai erosi dengan
metode ini tidak mencakup limpasan permukaan, volume aliran permukaan,

Teknik Sipil, FST, UNDANA


95

puncak laju aliran permukaan dan debit banjir maksimum yang terjadi (dilihat dari
koefisien yang di cari untuk metode ini), sehingga hasil perhitungan nilai erosi
pada daerah aliran sungai bendungan temef tidak memperhitungkan nilai erosi
yang terjadi untuk cakupan yang lebih luas seperti erosi yang terjadi dalam bentuk
erosi parit, erosi tebing sungai dan tanah longsor.
Hasil perhitungan nilai erosi dan volume sedimen berdasarkan perhitungan
USLE dengan formulasi erosivitas Lenvain memperoleh angka lebih besar
dibandingkan dengan volume sedimen perhitungan USLE menggunakan
formulasi erosivitas Bols. Hal ini dikarenakan nilai indeks erosivitas Lenvain
dihitung menggunakan curah hujan bulanan atau total curah hujan yang terjadi
selama sebulan, Sedangkan faktor erosivitas Bols dihitung menggunakan rata-rata
hujan yang terjadi selama sebulan sehingga sedimen yang terjadi menjadi kecil.
Faktor-faktor lain dalam metode USLE dihitung nilainya untuk keseluruhan DAS
dari tahun ke tahun sehingga indeks erosivitas memiliki pengaruh yang cukup
besar terhadap variasi volume sedimen.
Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan volume sedimentasi dari data
perencanaan, diperoleh prediksi sedimentasi dengan menggunakan erosivitas bols
memperoleh hasil yang paling sesuai, dan disarankan untuk dipakai. Dengan hasil
penelitian tersebut dapat di simpulkan untuk perhitungan prediksi erosi dan
sedimentasi, dalam koefisien penggunaan faktor luas DAS, Kemiringan Lereng,
Faktor Vegetasi dan Jenis Tanah sangat berdampak pada hasil nilai erosi dan
sedimentasi yang terjadi, dan faktor erosivitas curah hujan bukan menjadi faktor
penentu dalam perhitungan nilai erosi dan sedimentasi yang terjadi. Perbandingan
perhitungan volume sedimentasi dari data perencanaan hasil perhitungan volume
sedimen menggunakan metode USLE dengan formulasi erosivitas Bols memiliki
hasil yang paling mendekati yakni dengan ketelitian 84,98 %, Sehingga dalam
penentuan kelas bahaya erosi menggunakan nilai perhitungan USLE dengan
rumus erosivitas Bols, diperoleh kelas bahaya erosi yang terjadi berada pada kelas
IV yang dikategorikan berat.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


96

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis data pada penelitian ini maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Perhitungan jumlah nilai Erosivitas Curah hujan pada Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef dengan formulasi Bols adalah 2.310,58 mm dan dengan
formulasi Lenvain adalah 28.388,01 mm.
2. Perhitungan nilai laju erosi menggunakan metode Universal Soil Loss
Equation (USLE) yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
memiliki hasil:
a. Dengan formulasi erosivitas Bols adalah 218,074 ton/ha/tahun.
b. Dengan formulasi erosivitas Lenvain adalah 2.679,279 ton/ha/tahun.
3. Perhitungan nilai laju sedimentasi menggunakan metode Universal Soil Loss
Equation (USLE) yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
memiliki hasil:
a. Dengan formulasi erosivitas Bols adalah 755.279,949 m3/tahun.
b. Dengan formulasi erosivitas Lenvain adalah 9.279.432,703 m3/tahun.
4. Kelas Bahaya erosi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
tergolong kelas IV yang dikategorikan berat.

5.2 Saran
Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan yaitu:
1. Dalam penelitian ini, metode perhitungan erosi yang digunakan yaitu Metode
Universal Soil Loss Equation (USLE). Pada penelitian selanjutnya disarankan
dapat menggunakan metode perhitungan erosi lain seperti menggunakan
metode Modified Universal Soil Loss Equation (MUSLE) dan Revised
Universal Soil Loss Equation (RUSLE) yang merupakan pengembangan dari
metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dimana untuk memperoleh nilai
erosi yang terjadi memperhitungkan pengendapan yang terjadi dalam proses
pengangkutan pada daerah yang cukup luas jika di bandingkan dengan
Universal Soil Loss Equation (USLE), Dalam metode Musle digunakan faktor

Teknik Sipil, FST, UNDANA


97

aliran atau limpasan permukaan (R), menggantikan erosivitas hujan (EI) yang
digunakan dalam metode Universal Soil Loss Equation (USLE) hal ini
dilakukan untuk mencari nilai erosi yang terjadi.
2. Bagi masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai Temef agar mulai melakukan
usaha konservasi khususnya pada lahan-lahan yang kritis dan daerah dengan
kemiringan yang cukup terjal, sehingga dapat mengurangi terjadinya erosi,
dalam mewujudkannya hal ini, perlu adanya kerjasama yang baik dari
masyarakat maupun pemerintah daerah.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


98

DAFTAR PUSTAKA

Ahablogweb, 2017. Pengertian Erosi, Dampak, dan Jenis Erosi. Diakses dari
[Internet] https: //[Link] /2017/07/Pengertian-Penyebab-
[Link] pada 19 September 2019.

Alexander B H, 2018. Desain Berubah Kapasitas Bendungan Temef Menyusut.


[Internet] 18 Oktober 2018. https: //[Link]/read/desain-
berubah-kapasitas-bendungan-temef-menyusut.

Anna, S. 2001. Model Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai
Secara Terpadu, Makalah Falsafah Sains, Program Pasca Sarjana/S3.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Arsyad, S. 2012. Konservasi Tanah dan Air, Edisi Kedua Cetakan Kedua, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.

Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air, IPB, Bogor.

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air, UPT Produksi Media Informasi,
Lembaga Sumberdaya Informasi, Institut Pertanian Bogor, IPB Press,
Bogor.

Arzi, Z. 2012. Prediksi Erosi Menggunakan Metode USLE di Gunung


Sanggabuana Jawa Barat, Universitas Indonesia, Depok.

Asdak, C. 2014. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Cetakan


Keenam, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Asdak, C. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

As-syakur, A.R. 2008. Prediksi Erosi Dengan Menggunakan Metode USLE dan
Sistem Informasi Geografis (SIG) Berbasis Piksel di Daerah
Tangkapan Air Danau Buyan, Universitas Udayana, Denpasar.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


99

Auliyani, dkk. 2017. Perbandingan Prediksi Hasil Sedimen Menggunaka


Pendekatan Model Universal Soil Loss Equation Dengan Pengukuran
Langsung, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai, Surakarta.

Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah, 1986. Petunjuk Pelaksanaan


Penyusunan RTL-RLKT, Jakarta, Departemen Kehutanan RI.

Banuwa, I. S. 2008. Pengembangan Alternatif Usahatani Berbasis Kopi Untuk


Pembangunan Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan Di DAS
Sekampung Hulu, Disertasi Sekolah Pascasarjana IPB,

Dervish, 2013. Menentukan Hujan Rerata, diakses dari [Internet] https ://
myjihadsoul. [Link] menentukan-hujan-rerata, pada 19
Oktober 2018.

Rahman D, 2014. Klasifikasi Jenis Tanah Indonesia, diakses dari [Internet


https ://organichcs. com/ tag/ jenis - tanah - pertanian -indonesia/ pada
29 Oktober 2019.

Foster, dkk. 1981. Conversation Of The Universal Soil Loss Equation to SI Metric
Units, Soil Conservation Society of America, Iowa.

Kadir Syarifudin, 2016. Gambar Daerah Aliran Sungai Terpadu, diakses dari
[Internet] https ://[Link]/ pengelolaan -daerah -aliran- sungai-
terpadu/ pada 19 September 2019.

Kironoto, B, A. 2003. Hydraulics of Sedimen Transport, Diklat Kuliah MPBA


Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kunang Susi, 2016. Sistem Informasi Geografis Pemetaan Populasi Hewan


Ternak Di Sumatera Selatan Berbasis Web, Universitas Bina Darma,
Palembang

Markus A, dkk. 2016. Kunci Taksonomi Tanah United States Department of


Agriculture (USDA), Balai Besar Penelitian dan Pengembangan

Teknik Sipil, FST, UNDANA


100

Sumberdaya Lahan PertanianBadan Penelitian dan Pengembangan


Pertanian Kementerian Pertanian.

Marseli, Y. 2015. Analisi Laju Erosi Pada Daerah Tangkapan Waduk Sermo
Menggunakan Metode Usle, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.

Nugraheni, A. 2013. Perbandingan Hasil Prediksi Laju Erosi Dengan Metode


USLE, MUSLE, RUSLE di DAS Keduang, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.

Pemerintahan Indonesia, 2009. Peraturan Daerah Pengelolaan Daerah Aliran


Sungai Terpadu, Provinsi Bali Nomor 11 Tahun 2009, Bali.

Pemerintahan Indonesia, 2012. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor


37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Jakarta.

PT. Indra Karya (Persero), 2015. Diskusi Draft Laporan Akhir “Detail Desain
Bendungan Temef Di Kabupaten Timor Tengah Selatan”, Balai
Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Kementerian Pekerjaan Umum,
Nusa Tenggara Timur.

Rahim, S, E. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian


Lingkungan Hidup, Bumi Aksara, Jakarta.

Rahman D, 2014. Klasifikasi Jenis Tanah Indonesia, diakses dari [Internet


https ://organichcs. com/ tag/ jenis - tanah - pertanian -indonesia/ pada
29 Oktober 2019.

Riadi Muclhisin, 2018. Pengertian, Fungsi, Manfaat Dan jenis-jenis Bendungan,


diakses dari [Internet], https ://[Link]/pengertian-
[Link], pada 18 Oktober 2018

Sinukaban, N. 2007. Karakteristik Hidrologi dan Daur Limpasan Permukaan


Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Konservasi Tanah dan Air Kunci
Pembangunan Berkelanjutan, Direktorat Jendral RLPS Departemen
Kehutanan.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


101

Soemarto, CD. 1987. Hidrologi Teknik, Usaha Nasional, Surabaya.

Soemarwoto, O. 1978. Aspek Ekologi dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai,


Yayasan Penerbit PUTL.

Sosrodarsono, S. dan Takeda K. 2003. Hidrologi Untuk Pengairan, Jakarta : PT.


Pradnya Paramita, Cetakan ke-9, Jakarta.

Sulistyo, B. 2011. Pengaruh Erosivitas Hujan yang di Peroleh dari rumus yang
Berbeda Terhadap Permodelan Erosi Berbasis Raster (Studi Kasus di
DAS Merawu, Banjarnegara). Jawa tengah.

Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Penerbit Andi,
Yogyakarta.

Subardja D, dkk. 2016. Klasifikasi Tanah Nasional, Badan Penelitian dan


Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. Bogor

Triatmodjo, B. 2009. Hidrologi Terapan, Beta Offset, Yogyakarta

Tukan Berto, 2015. Peta Buta Indonesia, diakses dari [Internet] https:
//[Link]/2015/11/peta-buta-indonesia/, pada 19 September
2019.

Utomo, W.H. 1994. Erosi Dan Konservasi Tanah, IKIP Malang, Malang.

Wibowo, A. 2015. Laju Erosi Dan Sedimentasi Daerah Aliran Sungai


RawaJombor Dengan Model USLE Dan SDR Untuk Pengelolaan
Danau Berkelanjutan, Universitas Diponegoro, Semarang.

Wischmeier, W. H. and D. D. Smith. 1978. Predicting Rainfall Erosion Losses: A


Guide to Conservation Planning, USDA. Ag.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


102

GLOSARIUM

Alkalis tanah Merupakan unsur kimia yang terkandung dalam tanah, unsur-unsur
tersebut memiliki sifat yang sangat mirip.

Analisis Berat Volume Merupakan analisis yang dilakukan untuk menentukan


berat yang didapat dari hasil perhitungan dengan menggunakan ukuran volume
satu benda.

Analisis GS (Spesific Gravity) Merupakan pengujian laboratorium untuk


mengetahui berat jenis suatu tanah.

Analisis Hidrometer Merupakan pengujian laboratorium untuk mengetahui


distribusi ukuran butir tanah berdasarkan sedimentasi tanah dalam air, atau disebut
juga uji sedimentasi.

Analisis Kadar air Merupakan pengujian laboratorium untuk kandungan air dari
suatu tanah tertentu.

Analisa Saringan Merupakan analisis yang dilakukan untuk menentukan gradasi


butir (distribusi ukuran butir) yaitu dengan menggetarkan contoh tanah kering
melalui satu set ayakan dimana lubang-lubang ayakan tersebut makin kebawah
makin kecil secara berurutan.

ArcGIS Merupakan paket perangkat lunak yang terdiri dari produk perangkat
lunak system informasi geografis yang di produksi oleh Esri.

ArcMap Merupakan aplikasi utama untuk kebanyakan proses analis sistem


geografi pada ArcGIS dan pemetaan computer yang berfungsi untuk visualisasi,
membangun data base spsial yang baru, memilih (query), editing, menciptakan
desai-desain peta, analisis dan pembuatan tampilan akhir laporan-laporan
kegiatan.

Bahan Organik Merupakan bahan dalam suatu permukaan tanah yang berasal dari
sisa-sisa tumbuhan, hewan dan manusia yang telah mengalami pembusukan atau
dekomposisi.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


103

Curam Merupakan keadaan suatu topografi tanah yang terjal dan dalam.

Data grafis Merupakan data digital yang merupakan representasi fenomena


permukaan bumi yang memiliki refrensi koordinat, garis dan symbol serta
biasanya berbentuk peta, foto udara dan citra satelit.

Data spasial Merupakan data yang memiliki refrenso ruang kebumian


(georeference) dimana berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial,
format data spasial dapat berupa vector (polygon, line dan points) ataupun raster.

Debit Inflow Merupakan jumlah air yang masuk kedalam suatu tampungan yang
dapat berupa bendungan, waduk ataupun embung.

Debit Outflow Merupakan jumlah air yang keluar dari suatu tampungan yang
dapat berupa bendungan, waduk ataupun embung.

Degradasi Lahan Merupakan proses dimana kondisi lingkungan biofisik berubah


akibat aktivitas manusia terhadap suatu lahan.

Drainase Merupakan pembuangan massa air secara alami atau buatan dari suatu
permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat.

DEM (Digital Elevation Model) Merupakan bentuk penyajian ketinggian


permukaan bumi secara digital yang dilihat dari distribusi titik yang mewakili
bentuk permukaan bumi dapat di bedakan dalam bentuk teratur, semi teratur dan
acak.

Erodibilitas Tanah Merupakan Mudah tidaknya tanah tererosi, Besarnya


Erodabilitas atau resistensi tanah ditentukan oleh karakteristik tanah, seperti
struktur, stabilitas agregat, kapasitas infiltrasi, kandungan bahan organik dan
kimia tanah.

Erosivitas Hujan Merupakan Kemampuan Hujan Menimbulkan Erosi, tingkat


erosi ini digambarkan dalam bentuk Indek Erosivitas Hujan.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


104

Family Merupakan Penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan sifat-sifat


tanah yang penting untuk pertanian, meliputi sifat tanah: sebaran butiran, susunan
mineral liat, regim temperatu pada kedalam 50 cm dan suhu.

Fluktuasi Debit Merupakan ketidaktetapan Aliran debit yang mengalir dari suatau
tempat yang dilihat dari grafik aliran debit yang ada.

Formulasi Merupakan istilah yang digunakan dalam berbagai pengertian, materi


ataupun abstrak dengan makna untuk menyatukan komponen-komponen dalam
hubungan yang tepat.

Granular tanah Merupakan tanah yang berkomposisi pasir, kerikil, batuan dan
campuranya yang mempunyai kapasitas dukung tanah yang tinggi dan tanahnya
relative padat.

Grup Merupakan Penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan jenis, tingkat


perkembangan, susuna horizon, kejenuhan basah, suhu, kelembaman dan lapisan-
lapisan penciri lainya.

Horizon Tanah Merupakan lapisan tanah atau bahan tanah yang kurang lebih
sejajar dengan permukaan tanah dan berbeda dengan lapisan di sebelah atas
ataupun bawah yang secara genetic ada kaitanya.

Infiltrasi Merupakan aliran air ke dalam tanah melalui permukaan tanah itu
sendiri.

Kadar Lengas Merupakan kandungan uap air atau bentuk campuran antara gas
dan air yang terdapat pada pori tanah.

Kelas Tanah Merupakan pengolongan tanah berdasarkan kelompok unit lahan


yang memiliki tingkat pembatas atau penghambat yang sama jika digunakan
untuk pertanian.

Koordinat Merupakan suatu parameter untuk menunjukan suatu titik di


permukaan bumi yang diukur berdasarkan garis lintang dan garis bujur.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


105

Koordinat Referensi Merupakan system yang termasuk teori, konsep, deskripsi


fisis serta standar dan parameter yang digunakan dalam pendefinisian koordinat
dari suatu atau beberapa titik dalam ruang.

Konservasi Tanah Merupakan serangkaian strategi pengaturan untuk mencegah


erosi tanah dari permukaan bumi yang memberi manfaat optimum dalam jangkah
waktu berkelanjutan.

Kontur Merupakan keadaan suatu tempat atau daerah yang mempunyai ketinggian
yang diukur dalam suatu bidang atau garis acuan tertentu.

Lempung atau Liat Merupakan partikel mineral berkerangka dasar silikat yang
berdiameter kurang dari 4 mikrometer.

Lereng Merupakan permukaan bumi atau tanah yang berbentuk sudut atau
kemiringn tertentu dalam bidang horizontal.

Limpasan Permukaan Merupakan aliran air yang mengalir di atas permukaan


karena penuhnya kapasitas infiltrasi tanah.

Marginal tanah Merupakan suatu keadaan tanah sub-optimum yang memiliki


potensi untuk pertanian, perkebunan, hutan dan tanaman pangan.

Massa Merupakan suatu sifat fisika dari suatu benda yang digunakan untuk
menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau, dalam kegunaannya massa di
sama artikan dengan berat.

Metode Aritmatik Merupakan metode perhitungan curah hujan wilayah dengan


merata-ratakan jumlah curah hujan yang ada pada wilayah tersebut.

Mulsa Tanaman Merupakan material penutup tanaman budidaya yang


dimaksudkan untuk menjaga kelembaman tanah.

Observasi Merupakan aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud
merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena untuk
mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk suatu penelitian.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


106

Ordo Tanah Merupakan penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan ada dan
tidaknya horizon penciri serta jenis (sifat) dari horizon penciri tersebut.

Outlet tunggal Merupakan aliran permukaan suatu wilayah daratan dan sebagai
aliran yang menyatukan seluruh aliran-aliran yang berasal dari daerah tersebut.

Peta Topografi Merupakan adalah suatu peta yang memperlihatkan keadaan


bentuk muka bumi.

Permeabilitas Merupakan kecepatan air menembus tanah pada periode tertentu


yang dinyatakan dalam cm/jam.

pH Tanah Merupakan tingkat keasaman atau kebasahan dari suatu tanah yang
diukur dengan skala pH antara 0 hingga 14.

Resistensi Tanah Merupakan kemampuan sifat atau sikap tanah untuk bertahan
terhadap erosi atau pengikisan akibat air.

Seri Merupakan Penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan jenis, susunan


horizon, warna, tekstur, struktur, konsistensi, reaksi tanah dari masing-masing
horizon, sifat-sifat kimia tanah dan sifat-sifat mineral dari masing-masing horizon.

Skala Merupakan rasio antara jarak pada peta dengan jarak sebenarnya diatas
permukaan bumi.

Sub Grup Merupakan Penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan sifat inti
dan sifat genetik dari grup tanah.

Sub Ordo Merupakan Penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan sifat


genetik dari horizon tanah seperti tingkat pelapukan, bahan organikk
pembentuknya: fibris, hemis dan safris.

Sub Tropis Merupakan wilayah bumi yang berada di utara dan selatan setelah
wilayah tropis yang dibatasi oleh garis balik utara dan garis balik selatan.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


107

Tanah Gambut Merupakan jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa
tumbuhan yang setengah membusuk sehingga memiliki kandungan bahan organic
yang tinggi.

Tekstur tanah Merupakan keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena
terdapatnya perbedaan komposisi kandungan pasir, debu dan liat yang terkandung
pada tanah.

Transisi Merupakan masa pergantian yang ditandai dari perubahan fase awal ke
fase yang baru.

Turbin Merupakan sebuah mesin berputar yang mengambil energy dari aliran
fluida, fluida yang bergerak menjadi baling-baling berputar dang menghasilkan
energi.

Unsur Hara Merupakan sumber nutrisi atau makanan yang dibutuhkan tanaman
baik yang tersedia pada alam (organik) maupun yang di tambahkan.

USLE (Universal Soil Loss Equation) Merupakan salah satu metode untuk
memperkirakan atau menduga laju erosi yang terjadi pada suatu daerah.

Vegetasi Merupakan berbagai macam jenis tumbuhan atau tanaman yang


menempati suatu ekosistem atau dapat di artikan sebagai tumbuhan penutup
permukaan bumi.

Visualisasi Merupakan rekayasa dalam pembuatan gambar, diagram ataupun


animasi untuk menampilkan suatu informasi.

Waduk Merupakan genangan air yang tertampung atau terkumpul karena adanya
konstruksi bendungan ataupun secara alami tanpa bendungan.

Teknik Sipil, FST, UNDANA


108

BIODATA PENULIS

1. Biodata
Nama : Mario F. Rato Palenga
Tempat/tanggal Lahir : Ende, 26 Oktober 1996
Agama : Katholik
Orang Tua
Bapak : Yosep Malo Ngedang
Ibu : Fransiska R. D Longa
Anak ke : 1 dari 6 Bersaudara
Alamat : Jln. Alfa Omega, Penfui - Kupang
Alamat Email : mariofransisco96@[Link]

2. Riwayat Pendidikan
Taman Kanak-Kanak : TK. Andaluri, Waingapu
Sekolah Dasar : SDK. St. Arnoldus Yansen, Kupang
Sekolah Menengah Pertama : SMPK. St. Andaluri, Waingapu
Sekolah Menengah Atas : SMA Negeri 1 Ende
Perguruan Tinggi : Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Sains dan Teknik
Universitas Nusa Cendana

Teknik Sipil, FST, UNDANA


109

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Teknik Sipil, FST, UNDANA


1

Anda mungkin juga menyukai