Prediksi Erosi di Bendungan Temef
Prediksi Erosi di Bendungan Temef
JUDUL
SKRIPSI
Oleh :
KUPANG
2019
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
NIM : 1406010012
Tanda Tangan :
II
HALAMAN PERSETUJUAN
PREDIKSI EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAERAH ALIRAN
SUNGAI BENDUNGAN TEMEF KABUPATEN TIMOR
TENGAH SELATAN DENGAN METODE USLE
SKRIPSI
Yang disiapkan dan diserahkan oleh:
Mengetahui
Dekan Fakultas Sains dan Teknik Ketua Program Studi Teknik Sipil
Undana Kupang Fakultas Sains Dan Teknik
Drs. Hery Leo Sianturi, [Link] Tri M.W. Sir, ST. [Link]
NIP. 19651205 199103 1 006 NIP. 19790506 200604 2 001
III
LEMBAR PENGESAHAN
Nim : 1406010012
DEWAN PENGUJI :
Ditetapkan di : Kupang
IV
MOTTO
(1 Petrus 5 : 7)
Allah Bapa
Bunda Maria
Tuhan Yesus
Kepada Bapa, Mama, Kakak, Adik dan Keluarga Tercinta
V
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
hanya atas kasih dan tuntunan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan Tugas Akhir dengan judul “Prediksi Erosi Dan Sedimentasi Di Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef Kabupaten Timor Tengah Selatan Dengan
Metode USLE”. Penulisan ini diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat-syarat guna mencapai gelar sarjana Teknik Pada Fakultas Sains
Dan Teknik Universitas Nusa Cendana.
1. Bapak Drs. Hery Leo Sianturi, MSi, sebagai Dekan Fakultas Sains dan
Teknik Universitas Nusa Cendana beserta Bapak/Ibu Dosen dan Karyawan.
2. Ibu Tri M.W Sir ST, [Link], sebagai Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana.
3. Bapak Dr. Judi K. Nasjono, ST. MT, sebagai Dosen Pembimbing I yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini.
4. Bapak Jusuf J. S. Pah, ST. Msc, sebagai Dosen Pembimbing II yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Elsy E. Hangge, ST. [Link], sebagai Dosen Penguji yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Ir I Made Udiana, MT, sebagai Dosen Penasehat Akademik yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam perkuliahan.
7. Bapak-ibu dosen, pegawai dan teknisi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Sains
dan Teknik Universitas Nusa Cendana.
8. Keluarga tercinta: Bapa, Mama, Kakak dan Adik dan seluruh keluarga yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang dengan setia mendoakan dan
mendukung sepenuhnya penulis dalam menyelesaikan penelitian ini dan
sepanjang perkuliahan penulis.
VI
9. Teman-teman seperjuangan angkatan 2014 (Agung, Dex, Yandri, Nathan,
Hendrik, Angky, Santus, Eli, Riko, Rinto, Ardo, Obby, Beni, Evan, Allen,
Kevin, Richard, Roby, Chua, Jordy, Yudha, Alyes, Dipo, Mario, Rey, Santy,
Monik, Linda, Mia, Thya, Epril, Kirana, Donna, Ivon, dan Alm. Willy) yang
selalu memberikan dukungan moril dan motivasi serta dukungan doa selama
ini bagi penulis.
10. Agung, Ka Yoan, Charles dan Yandri yang telah membantu dalam
pengambilan sampel tanah.
11. Senior dan junior Teknik Sipil Undana yang selalu memberikan bantuan,
dukungan doa dan motivasi bagi penulis
Akhir kata penulis hanya dapat memanjatkan doa semoga Tuhan Yang Maha
Esa melimpahkan berkat-Nya bagi kita semua.
Penulis
VII
ABSTRAK
1)
Judi K. Nasjono 2)
Jusuf J. S. Pah 3)
Mario F R Palenga
Erosi merupakan proses pengikisan tanah dan batuan yang terjadi secara alami
sehingga menimbulkan pengendapan, pendangkalan dan pencemaran di dataran
rendah, Proses pengendapan setelah terjadinya erosi disebut sebagai proses
sedimentasi, proses erosi dan sedimentasi terjadi pada berbagai Daerah Aliran
Sungai, salah satunya adalah Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef yang
terletak pada Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa
Tenggara Timur, Bendungan Temef dalam tahap pembangunan yang dibangun
mulai dari tahun 2018 dan diperkirakan selesai tahun 2023. Penelitian Ini
bertujuan untuk Memprediksi besarnya nilai Erosivitas Curah Hujan, Besarnya
nilai Erosi dan Sedimentasi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan
Temef dengan menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) serta
menentukan kelas bahaya erosi yang terjadi. Dari hasil penelitian diperoleh
besarnya erosi pada DAS Temef yang dihitung menggunakan metode USLE
dengan formulasi erosivitas Bols adalah 218,074 ton/ha/tahun, formulasi
erosivitas Lenvain adalah 2679,279 ton/ha/tahun, sedangkan hasil perhitungan
volume sedimen dengan menggunakan metode USLE untuk formulasi erosivitas
Bols adalah 755.279,949 m3/tahun dan formulasi erosivitas Lenvain adalah
9.279.432,703 m3/tahun. Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan volume
sedimentasi dari data perencanaan hasil perhitungan volume sedimen
menggunakan metode USLE dengan formulasi erosivitas bols memiliki hasil yang
paling mendekati yakni dengan ketelitian 84,98 %, Sehingga dalam penentuan
kelas bahaya erosi menggunakan nilai perhitungan USLE dengan formulasi
erosivitas Bols, diperoleh kelas bahaya erosi yang terjadi berada pada kelas IV
yang dikategorikan berat.
VIII
1)
Dosen Pembimbing 1 2)
Dosen Pembimbing 2 3)
Peneliti
ABSTRACT
1)
Judi K. Nasjono 2)
Jusuf J. S. Pah 3)
Mario F R Palenga
Erosion is the process of erosion of soil and rocks that occur naturally, causing
sedimentation, siltation and pollution in the lowlands. The process of deposition
after erosion is called a sedimentation process, erosion and sedimentation
processes occur in various watersheds, one of which is the Dam Basin Temef is
located in Oenino Subdistrict, South Central Timor Regency (TTS), East Nusa
Tenggara, Temef Dam in the construction phase which was built starting in 2018
and is expected to be completed in 2023. This research aims to predict the value
of rainfall erosion, magnitude of erosion value and Sedimentation that occurs in
the Temef Dam Watershed using the USLE (Universal Soil Loss Equation)
method and determines the erosion hazard class that occurs. From the results of
the study, the magnitude of erosion in Temef watershed calculated using the
USLE method with Bols erosivity formulation is 218,074 tons / ha / year, Lenvain
erosivity formulation is 2679,279 tons / ha / year, while the results of the
calculation of sediment volume using the USLE method for the formulation Bols
erosivity is 755,279,949 m3 / year and the Lenvain erosivity formulation is
9,279,432,703 m3 / year. Based on the comparison of sedimentation volume
calculations from planning data the results of sediment volume calculations using
the USLE method with Bols erosivity formulation have the closest results, with
accuracy of 84.98%, so that in determining the erosion hazard class using the
USLE calculation value with the Bols erosivity formula, the class obtained
erosion hazard that occurs is in class IV which is categorized as severe.
1)
1st Supervisor 2)
2nd Supervisor 3)
Researcher
IX
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................................
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS....................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN...............................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................................
MOTTO...................................................................................................................................
KATA PENGANTAR............................................................................................................
ABSTRAK...........................................................................................................................
ABSTRACT...........................................................................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................................................
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................
DAFTAR TABEL..................................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................
1.1 Latar Belakang................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.3 Batasan Masalah.............................................................................................2
1.4 Tujuan Penelitian............................................................................................3
1.5 Manfaat Penelitian..........................................................................................3
1.6 Konsep Operasional........................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................
2.1 Bendungan.....................................................................................................5
2.1.1 Pengertian umum....................................................................................5
2.1.2 Fungsi bendungan...................................................................................6
2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS).........................................................................7
2.2.1 Pembagian daerah aliran sungai..............................................................8
2.2.2 Bentuk-bentuk daerah aliran sungai........................................................9
2.2.3 Fungsi daerah aliran sungai...................................................................11
2.3 Sedimentasi...................................................................................................12
2.3.1 Pengertian sedimentasi..........................................................................12
2.3.2 Faktor penyebab terjadinya sedimentasi...............................................12
X
2.3.3 Proses terjadinya sedimentasi...............................................................13
2.4 Erosi..............................................................................................................14
2.4.1 Pengertian erosi.....................................................................................14
2.4.2 Jenis Erosi.............................................................................................15
2.4.3 Proses terjadinya erosi..........................................................................15
2.5 Metode Perhitungan Nilai Erosi...................................................................16
2.5.1 Metode USLE (Universal Soil Loss Equation).....................................17
2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi berdasarkan Universal Soil
Loss Equation.......................................................................................17
1. Indeks erosivitas hujan (EI).......................................................................18
2. Indeks erodibilitas tanah (K)......................................................................21
3. Indeks panjang lereng (L)..........................................................................34
4. Indeks kemiringan lereng (S).....................................................................35
5. Faktor Vegetasi atau Tataguna Lahan (C).................................................36
6. Indeks tindakan konservasi tanah (P).........................................................38
7. Perhitungan jumlah sedimen menggunakan Nisbah Pelepasan Sedimen
(Sediment Delivery Ratio).....................................................................39
2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG)................................................................40
2.7 Klasifikasi Bahaya Erosi..............................................................................41
2.8 Penelitian Terdahulu.....................................................................................41
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................................
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian......................................................................44
3.1.1 Tempat Penelitian.................................................................................44
3.1.2 Waktu penelitian...................................................................................44
3.2 Jenis Data.....................................................................................................44
3.2.1 Data Primer...........................................................................................44
3.2.2 Data Sekunder.......................................................................................45
3.3 Teknik Pengambilan Data............................................................................45
3.3.1 Teknik Pengujian..................................................................................45
3.3.2 Teknik Dokumentasi.............................................................................45
3.4 Teknik Analisa Data.....................................................................................45
XI
3.4.1 Perhitungan besarnya erosi menggunakan Metode Universal Soil Loss
Equation (USLE)...................................................................................45
3.4.2 Pembuatan Peta dengan menggunakan Arcgis.....................................46
3.4.3 Perhitungan volume sedimen menggunakan Nisbah Pelepasan Sedimen
...............................................................................................................54
3.5 Diagram Alir................................................................................................54
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................................
4.1 Umum...........................................................................................................55
4.2 Indeks Erosivitas Hujan (EI)........................................................................56
4.2.1 Analisis curah hujan..............................................................................56
4.2.2 Indeks erosivitas hujan (EI) Formulasi Bols.........................................57
4.2.3 Indeks erosivitas hujan (EI) Formulasi Lenvain...................................71
4.3 Indeks Erodibilitas Tanah (K)......................................................................76
4.3.1 Pengujian distribusi ukuran butiran......................................................79
4.3.2 Pengujian kandungan bahan organik (OM)..........................................81
4.3.3. Pengujian permeabilitas tanah (P)........................................................82
4.4 Indeks Panjang dan Kemiringan Lereng.....................................................85
4.5 Indeks Penutupan Vegetasi (C)....................................................................86
4.6 Indeks Tindakan Konservasi Tanah (P)......................................................87
4.7 Perhitungan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE).......................87
4.8 Perhitungan Volume Sedimen Dengan Menggunakan Nisbah Pelepasan
Sedimen (Sediment Delivery Ratio).............................................................89
4.9 Penentuan Klasifikasi Bahaya Erosi............................................................91
4.10 Persentase Perbandingan Volume Sedimen...............................................91
4.11 Pembahasan................................................................................................92
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................
5.1 Kesimpulan..................................................................................................94
5.2 Saran.............................................................................................................94
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................
GLOSARIUM......................................................................................................................
BIODATA PENULIS..........................................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN..................................................................................................
XII
DAFTAR GAMBAR
XIII
Gambar 3.6 Pengunduhan Peta Jenis Tanah Kabupaten Timor Tengan Selatan
dalam format ArcGIS.......................................................................48
Gambar 3.7 Proses Pengeditan Peta Jenis Tanah padaKabupaten Timor Tengah
Selatan dengan ArcMap...................................................................48
Gambar 3.8 Pengeditan Keterangan Warna yang di sesuaikan dengan
Klasifikasi Tanah.............................................................................49
Gambar 3.9 Hasil Pembuatan Peta Jenis Tanah Dengan ArcMap.......................49
Gambar 3.10 Pengunduhan Peta Digital Elevation Model (DEM)........................50
Gambar 3.11 Proses Pemotongan Batas DAS dengan ArcMap.............................50
Gambar 3.12 Proses Pembuatan Peta Kemiringan Lereng dengan ArcMap..........51
Gambar 3.13 Pembagian Kelas Kemiringan dan Hasil Pembuatan Peta
Kemiringan Lereng..........................................................................51
Gambar 3.14 Peta Tata Guna Lahan dalam format ArcGIS..................................52
Gambar 3.15 Pengeditan Keterangan Warna Pada Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap............................................................................................52
Gambar 3.16 Gambar 3.16 Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap.............................................................................................53
Gambar 3.17 Hasil Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap............................................................................................53
Gambar 3.18 Diagram Alir Penelitian...................................................................54
Gambar 4.1 Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef........................................55
Gambar 4.2 Letak Pos Hujan Untuk Daerah Aliran Sungai Temef.....................56
Gambar 4.3 Sampel Berdasarkan Jenis Tanah.....................................................77
Gambar 4.4 Titik Pengambilan Sampel...............................................................78
Gambar 4.5 Nilai SDR Daerah Aliran Sungai Temef..........................................89
Gambar 4.6 Grafik Volume Sedimen Berdasarkan Variasi Perhitungan.............92
XIV
DAFTAR TABEL
XV
Noelnoni..............................................................................................63
Tabel 4.13 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh.......64
Tabel 4.14 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen.......64
Tabel 4.15 Jumlah Hari Hujan Bulanan (hari) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik................................................................................65
Tabel 4.16 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Batinifukoko.............................................................................66
Tabel 4.17 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Fatumnasi.................................................................................66
Tabel 4.18 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Nifukani....................................................................................67
Tabel 4.19 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Noelnoni...................................................................................67
Tabel 4.20 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Oeoh.........................................................................................68
Tabel 4.21 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Polen.........................................................................................68
Tabel 4.22 Jumlah Curah hujan maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009
Menggunakan Metode Aritmatik........................................................69
Tabel 4.23 Curah Hujan Maksimum Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik................................................................................70
Tabel 4.24 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
Rumus Bols.........................................................................................71
Tabel 4.25 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko........................................................................................72
Tabel 4.26 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Fatumnasi............................................................................................72
Tabel 4.27 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Nifukani...............................................................................................72
Tabel 4.28 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Noelnoni..............................................................................................73
Tabel 4.29 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh.....73
Tabel 4.30 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen.....74
Tabel 4.31 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik.............................................................................................75
Tabel 4.32 Curah Hujan Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik.............................................................................................75
XVI
Tabel 4.33 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
Rumus Bols.........................................................................................76
Tabel 4.34 Lokasi Pengambilan Sampel Tanah....................................................77
Tabel 4.35 Persentase Massa Butiran Tanah Berdasarkan Klasifikasi
Butir-Butir Primer Tanah Menurut Sistem USDA (United States
Department of Agriculture).................................................................79
Tabel 4.36 Nilai M Untuk Jenis Tanah Dalam Daerah Sungai Temef Dinyatakan
Tanpa Satuan.......................................................................................79
Tabel 4.37 Penentuan Kode Struktur Tanah Berdasarkan Ukuran Diameter.......80
Tabel 4.38 Hasil Pengujian Bahan Organik Sampel Tanah Daerah Aliran
Sungai Temef......................................................................................81
Tabel 4.39 Kode Permeabilitas Sampel Tanah Daerah Aliran Sungai Temef......82
Tabel 4.40 Nilai Erodibilitas Sampel Tanah Pada Daerah Aliran Sungai
Temef Dinyatakan Dalam Ton/KJ......................................................83
Tabel 4.41 Perhitungan Indeks Erodibilitas (K) DAS Temef...............................83
Tabel 4.42 Perhitungan Faktor Panjang Dan Kemiringan Lereng Daerah
Aliran Sungai Temef Dinyatakan Tanpa Satuan.................................84
Tabel 4.43 Perhitungan Faktor Penutupan Vegetasi (C) Daerah Aliran
Sungai Temef Dinyatakan Tanpa Satuan............................................85
Tabel 4.44 Nilai Erosi Dengan Metode USLE Menggunakan Formulasi
Erosivitas Bols dan Lenvain................................................................86
Tabel 4.45 Berat Volume Jenis – Jenis Tanah Pada Daerah Aliran Sungai
Temef (ton/m3)...................................................................................89
Tabel 4.46 Berat Volume Tanah Pada Daerah Aliran Sungai
Temef (ton/m3)...................................................................................89
XVII
DAFTAR LAMPIRAN
XVIII
1
BAB I
PENDAHULUAN
Sedimentasi terjadi pada berbagai Daerah Aliran Sungai (DAS) di bumi. Salah
satu tempat yang mengalami sedimentasi adalah Bendungan Temef. Bendungan
Temef terletak di Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dampak negatif dari sedimentasi pada bendungan
ini adalah mengakibatkan pendangkalan akibat tertimbunya tanah pada dasar
bendungan sehingga debit air menjadi berkurang, berkurangnya debit air
tampungan pada bendungan temef akan sangat berpengaruh pada penurunan hasil
pertanian dan kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Timur Tengah Selatan
(TTS).
Salah satu metode untuk menduga atau menghitung nilai erosi melalui
pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation). Parameter-parameter yang
diperhitungkan untuk pendugaan erosi dengan metode USLE adalah erosivitas
hujan (EI), erodibilitas tanah (K), panjang lereng (L), kemiringan lereng (S),
pengelolaan tanaman (C), dan konservasi tanah (P). Proses erosi terjadi melalui
tiga tahap, yaitu pelepasan partikel tanah, pengangkutan oleh media seperti air dan
angin, dan selanjutnya pengendapan. Beberapa faktor yang mempengaruhi
besarnya erosi adalah curah hujan, tanah, lereng (topografi), vegetasi, dan aktifitas
manusia. Faktor-faktor tersebutlah yang merupakan komponen-komponen pengali
dalam pendekatan USLE.
1. Berapa nilai erosivitas curah hujan dengan menggunakan formulasi Bols dan
formulasi Lenvain ?
2. Berapa nilai laju erosi pertahunnya pada Daerah Aliran Sungai Bendungan
Temef ?
3. Berapa nilai laju sedimentasi per tahunnya pada Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef ?
4. Bagaimana kelas bahaya erosi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef ?
1. Analisis erosi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
menggunakan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dengan
formulasi erosivitas Bols dan Lenvain.
2. Data berat volume tanah, data ukuran butiran tanah, data kandungan bahan
organik tanah dan data permeabilitas tanah merupakan data primer.
3. Data curah hujan, data jenis tanah, data tata guna lahan, dan data kemiringan
lereng merupakan data sekunder.
4. Data curah hujan yang digunakan yaitu curah hujan dengan data pengamatan
10 tahun dari 6 pos hujan.
2. Untuk mengetahui besarnya nilai laju erosi per tahunnya pada Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef.
3. Untuk mengetahui besarnya nilai laju sedimentasi per tahunnya pada Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef.
4. Untuk mengetahui kelas bahaya erosi yang terjadi pada Daerah Aliran
Sungai Bendungan Temef.
3. Bagi pembaca, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk
penelitian selanjutnya dalam bidang hidrologi khususnya tentang erosi dan
sedimentasi.
Daerah Aliran Sungai : suatu kawan yang dibatasi oleh titik-titik tinggi dimana air
yang berasal dari air hujan yang jatuh terkumpul dalam
kawasan tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bendungan
2.1.1 Pengertian umum
Bendungan adalah konstruksi yang berupa urugan tanah, urugan batu, beton,
dan pasangan batu yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau,
atau tempat rekreasi. Selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula
dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang. Menurut
Kartasapoetra (1991), bendungan merupakan bangunan air yang dibangun secara
melintang sungai, sedemikian rupa agar permukaan air sungai di sekitarnya naik
sampai ketinggian tertentu, sehingga air sungai tadi dapat dialirkan melalui pintu
sadap ke saluran-saluran pembagi kemudian hingga ke lahan-lahan pertanian.
Bendungan Temef terletak di Desa konbaki, Kecamatan Polen, Kabupaten
Timor Tengah Selatan dengan koordinat 124o27’22,4” BT dan 9o42’47,4” LS.
Bendungan Temef dalam tahap pembangunan yang dibangun mulai dari tahun
2018 dan diperkirakan selesai tahun 2023, gambar penampang rencana bendungan
temef dapat di lihat pada Gambar 2.1 dibawah ini.
berbagai keperluan, antara lain untuk pembangkit listrik tenaga air, untuk
irigasi lahan pertanian, untuk perikanan, untuk pariwisata dan lain-lain.
E. Perikanan
Untuk mengganti mata pencaharian para penduduk yang tanahnya digunakan
untuk pembuatan waduk dari mata pencaharian sebelumnya beralih ke dunia
perikanan dengan memanfaatkan waduk untuk peternakan ikan di dalam
jaring-jaring apung atau karamba-karamba.
F. Pariwisata dan Olahraga Air
Dengan pemandangan yang indah waduk juga dapat dimanfaatkan sebagai
tempat rekreasi dan selain tempat rekreasi juga dimanfaatkan sebagai tempat
olahraga air maupun sebagai tempat latihan para atlet olahraga air.
Menurut Mangundikoro (1985) dalam Anna S., 2001 Dalam suatu ekosistem
Daerah Aliran Sungai terjadi berbagai proses interaksi antar berbagai komponen
yakni tanah, air, vegetasi serta manusia, Luas daerah aliran sungai sangat
berpengaruh terhadap debit sungai. Pada umumnya semakin besar daerah aliran
sungai semakin besar jumlah limpasan permukaan, Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef terletak di kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah
Utara provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas 552,583 km 2. Skema DAS dapat
dilihat pada Gambar 2.2. “
air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait
pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
C. Bagian hilir adalah suatu wilayah daratan bagian dari daerah aliran sungai yang
dicirikan dengan topografi datar sampai landai, merupakan daerah endapan
sedimen. Bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang
dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan
ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan
menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan
pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.
2. Bentuk radial/kipas
Bentuk DAS menyerupai kipas atau lingkaran, seolah olah memusat pada satu titik
sehingga menggambarkan adanya bentuk radial. Sebagai akibat dari bentuk
tersebut maka waktu yang diperlukan aliran yang datang dari segala penjuru anak
sungai memerlukan waktu yang hampir bersamaan. Bentuk das Radial/kipas ini
Memiliki topografi yang relatif landai daripada bulu ayam . Bentuk dari DAS ini
ditunjukan pada Gambar 2.4 berikut.
3. Bentuk parallel/kombinasi
Daerah aliran sungai (DAS) ini dibentuk oleh dua jalur aliran sungai yang
sejajar bersatu dibagian hilir. Apabila terjadi banjir di daerah hilir biasanya
terjadi setelah dibawah titik pertemuan. Bentuk Daerah aliran sungai (DAS) ini
dapat ditunjukan pada Gambar 2.5 berikut.
4. Bentuk Kompleks
faktor yang ada pada daerah aliran sungai tersebut, yaitu vegetasi, bentuk wilayah
(topografi), tanah, dan manusia. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami
perubahan, maka hal tersebut akan mempengaruhi juga ekosistem daerah aliran
sungai tersebut dan akan menyebabkan gangguan terhadap bekerjanya fungsi
daerah aliran sungai. Apabila fungsi suatu daerah aliran sungai telah terganggu,
maka sistem hidrologisnya akan terganggu, penangkapan curah hujan, resapan dan
penyimpanan airnya menjadi sangat berkurang atau sistem penyalurannya menjadi
sangat boros. Kejadian itu akan menyebabkan melimpahnya air pada musim
penghujan dan sangat minimum pada musim kemarau, sehingga fluktuasi debit
sungai antara musim hujan dan musim kemarau berbeda tajam (Asdak C, 2014).
2.3 Sedimentasi
2.3.1 Pengertian sedimentasi
Sedimentasi (Pengendapan) terjadi akibat dari adanya erosi pada suatu daerah.
Menurut Asdak (2010) sedimentasi adalah hasil proses erosi baik berupa erosi
permukaan, erosi parit, atau jenis erosi tanah lainnya. Hasil proses erosi yang
berupa pengendapan akan terbentuk di darat, laut dan sungai. Pada saat pengikisan
batuan hasil pelapukan terjadi, materialnya terangkut oleh angin maupun air
sehingga ketika kekuatan dari pengangkutan material berkurang maka batuan akan
diendapkan di daerah alirannya. Di waduk-waduk, pengendapan sedimen akan
mengurangi volume efektifnya. Sebagian besar jumlah sedimen dialirkan oleh
sungai-sungai yang mengalir ke waduk, hanya sebagian kecil saja yang berasal
dari longsoran tebing-tebing waduk, atau berasal dari longsoran tebing-tebingnya
oleh limpasan permukaan.
Pada daerah aliran sungai, partikel dan unsur hara yang larut dalam aliran
permukaan akan mengalir ke sungai dan waduk, sehingga terjadi pendangkalan
pada tempat tersebut. Keadaan tersebut menurut Soemarwoto (1978) akan
mengakibatkan daya tampung sungai dan waduk menjadi turun sehingga timbul
bahaya banjir dan penyuburan air secara berlebihan.
2.3.2 Faktor penyebab terjadinya sedimentasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi sedimentasi yang masuk ke Daerah Aliran
Sungai yaitu iklim, tanah, topografi, tanaman, kegiatan manusia, karakteristik
hidrolika sungai, karakteristik penampung sedimen, check dam dan waduk serta
2.4 Erosi
2.4.1 Pengertian erosi
Erosi Merupakan suatu proses terkikisnya lapisan permukaan tanah yang
berpindah ke tempat lain disebabkan oleh pergerakan air, angin, es atau gravitasi
yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat dari tindakan manusia.
Mekanisme terjadinya erosi oleh Schwab (1999) diidentifikasikan menjadi tiga
tahap yaitu, detachment (penghancuran tanah dari agregat tanah menjadi partikel-
partikel tanah), transportation (pengangkutan partikel tanah oleh limpasan hujan
atau run off dan sedimentation (sedimen/pengendapan tanah tererosi), tanah-tanah
tererosi akan terendapkan pada cekungan-cekungan atau pada daerah-daerah
bagian bawah. Cekungan-cekungan yang menampung partikel-partikel tanah
akibat top soil yang tergerus akan menjadi area pertanian yang subur.
Erosi berlangsung secara alamiah (geological erosion) yang kemudian
berlangsungnya itu dipercepat oleh beberapa tindakan atau perlakuan manusia
terhadap tanah dan tanaman yang tumbuh di atasnya (accelerated erosion). Pada
erosi alamiah tidak menimbulkan malapetaka bagi kehidupan manusia atau
keseimbangan lingkungan, karena peristiwa ini banyaknya tanah yang terangkut
seimbang dengan pembentukan tanah, sedang pada erosi yang dipercepat dapat
Di mana:
EA = Banyaknya tanah yang tererosi (ton/ha/tahun)
EI = Faktor erosivitas hujan (KJ/ha)
K = Faktor erodibilitas tanah (ton/KJ)
LS = Faktor panjang dan kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi atau tataguna lahan
P = Faktor tindakan konservasi tanah
1. Indeks erosivitas hujan (EI)
Faktor curah hujan sangat berhubungan erat dengan indeks erosivitas hujan.
Hubungan faktor curah hujan dan indeks erosivitas hujan menurut Bols
dirumuskan sebagai berikut (Auliyani dan Wijaya, 2017: 65),
EI = 6,119 (R)1,21(D)-0,47(M)0,53...................................................................(2.2)
Dimana;
M = Jumlah curah hujan maksimum rata-rata dalam 24 jam per bulan untuk
kurun waktu satu tahun (cm).
EI = 2,21R1,36 .............................................................................................(2.3)
Dimana;
Menurut Bambang Triadmodjo (2010: 31), analisis curah hujan pada suatu
daerah dapat dilakukan dengan 3 cara sebagai berikut :
1
P= (P1 + P2 +…+ Pn ) ….…………..…….……..……….….……. (2.4)
n
Di mana:
A1 P1+ A 2 P2 +…+ A n Pn
P= ………………………………………….…..…
A 1+ A 2+ …+ A n
(2.5)
Di mana:
P = rata-rata curah hujan wilayah (mm)
A1,A2,...An = luas pengaruh pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (km2)
P1,P2,...Pn = curah hujan pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (mm)
3. Metode Isohyet
Isohyet adalah garis kontur yang menghubungkan tempat-tempat yang
mempunyai jumlah hujan yang sama. Pada metode Isohyet, dianggap bahwa
hujan pada suatu daerah di antara dua garis Isohyet adalah merata dan sama
dengan nilai rata-rata dari kedua garis Isohyet tersebut. Sehingga dapat
dirumuskan sebagai berikut :
P= A A P +P ¿
n(
2 ) …………...………………………. (2.6)
(
P +P
)
1 2
+¿
1 1 2 +¿ A P + P ¿
2 2
( 2 )
1
+ … A1 + A 2+…+ A n
2
Di mana:
P = rata-rata curah hujan wilayah (mm)
A1,A2,...An = luas wilayah pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (km2)
P1,P2,...Pn = curah hujan pada Pos Hujan 1, 2, ..., n (mm)
Model perhitungan isohyets dapat ditunjukkan pada Gambar 2.8 berikut :
a. Daerah dengan luas 250 ha yang mempunyai variasi topografi yang kecil,
dapat diwakili oleh sebuah alat ukur curah hujan.
b. Daerah dengan luas antara 250 ha-50.000 ha dengan 2 atau 3 titik
pengamatan dapat digunakan cara rata-rata aritmatik.
c. Daerah dengan luas antara 120.000-500.000 ha yang mempunyai titik-titik
pengamatan yang tersebar cukup merata dan dimana curah hujannya tidak
terlalu dipengaruhi oleh kondisi topografi, dapat digunakan cara rata-rata
aritmatik.
Kellog-Thorp (1938)
Dudal-Soepraptohardjo (1957)
Pusat Penelitian Bogor
FAO/UNESCO (1974)
USDA = Soil Taxonomy (USDA,1975; Soil Survey Satff,
1999;2003)
horison penciri lainnya. Tata nama pada tingkat Jenis Tanah lebih dominan
menggunakan nama Jenis Tanah yang lama dengan beberapa penambahan baru.
Sedangkan pada tingkat Macam Tanah sepenuhnya menggunakan nama/istilah
yang berasal dari Unit Tanah FAO/UNESCO dan atau Sistem Taksonomi Tanah
USDA (Subardja D. 2016 Klasifikasi Tanah Nasional). Klasifikasi tanah
dilakukan dengan mengikuti kunci penetapan Jenis dan Macam Tanah, Kunci
penetapan Jenis Tanah berdasarkan pada perkembangan horison tanah dan sifat
penciri lainnya, secara ringkas disajikan pada Gambar 2.11 di bawah ini.
b. Jenis-jenis tanah
Penyebaran jenis dan karakter tanah di suatu daerah, biasanya disusun
dalam suatu bentuk Peta Tanah. Peta ini sangat berguna bagi para petani dan
telah disusun berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan langsung (observasi)
di lapangan. Berikut persebaran jenis tanah secara umum berdasarkan karakter,
penyebaran, dan pemanfaatan tanah untuk pertanian, terutama di Indonesia
([Link]
Regosol
Latosol
Dalam USDA jenis tanah latosol ini masuk dalam golongan inseptisol.
Inseptisol berkembang pada daerah yang lembab. Perkembangan horizon
inseptisol berlangsung lambat sampai sedang. Perkembangan yang lambat
terjadi karena tanah berada pada ligkungan yang lembab, dingin, dan mungkin
terdapat genangan-genangan air.
Secara spesifik, latosol merupakan tanah yang berwarna merah hingga
coklat sehingga banyak yang menamainya sebagai tanah merah Memiliki solum
tanah yang agak tebal hingga tebal, yakni mulai sekitar 130 cm hingga lebih dari
5 meter, Tekstur tanah pada umumnya adalah agak liat, struktur tanah pada
umumnya adalah remah dengan konsistensi gembur, memiliki pH 4,5 hingga 7,
yakni dari asam netral hingga asam, memiliki bahan organik sekitar 1% hingga
9%, namun pada umumnya hanya 5% saja, mengandung unsur hara yang sedang
hingga tinggi. unsur hara yang terkandung di dalam tanah bisa dilihat dari
warnanya. Semakin merah warna tanah maka unsur hara yang terkandung adalah
semakin sedikit, Mempunyai infiltrasi agak cepat hingga agak lambat, daya
tanah air cukup baik, memiliki profil tanah yang dalam, mudah menyerap air,
lumayan tahan terhadap erosi tanah. Kadar humus latosol mudah menurun, dan
memiliki fosfat yang mudah bersenyawa dengan besi dan almunium. Latosol
banyak dijumpai di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bali, Jawa, Nusa Tenggara,
Papua, dan Sulawesi. Saat ini, jenis tanah latosol banyak digunakan untuk
pertanaman palawija, padi, kelapa, karet, dan kopi.
Organosol
Alluvial
Menurut USDA, jenis tanah Alluvial tergolong dalam ordo inseptisol. Ciri
umum sama dengan pada tanah latosol. Alluvial merupakan tanah muda hasil
pengendapan material halus aliran sungai. Ciri utama tanah alluvial adalah
berwarna kelabu dengan struktur yang sedikit lepas-lepas, proses pembentukan
tanah Alluvial sangat tergantung dari bahan induk asal tanah dan topografi,
tingkat kesuburan tanah bervariasi dari rendah sampai tinggi, tekstur dari sedang
hingga kasar, serta kandungan bahan organik dari rendah sampai tinggi dan pH
tanah berkisar masam, netral, sampai alkalin, kejenuhan basa dan kapasitas tukar
kation juga bervariasi karena tergantung dari bahan induknya, Tanah Alluvial
memiliki kadar ,pH yang sangat rendah yaitu kurang dari 4, sehingga sangat
sulit untuk dibudidayakan
Laterit
Litosol
Dalam USDA, litosol termasuk dalam ordo Entisol, sama dengan tanah
regosol. Lebih spesifik, tanah litosol merupakan tanah muda yang berasal dari
pelapukan batuan yang keras dan besar. Litosol belum mengalami
perkembangan lebih lanjut sehingga hanya memiliki lapisan horizon yang
dangkal. Sebagai tanah muda, litosol memiliki struktur yang besar-besar dan
miskin akan unsur hara.
Rendzina
Tanah Mediteran
Tanah mediteran merupakan hasil pelapukan batuan kapur keras dan batuan
sedimen. Warna tanah ini berkisar antara merah sampai kecoklatan. Tanah
mediteran banyak terdapat pada dasar-dasar dolina dan merupakan tanah
pertanian yang subur di daerah kapur daripada jenis tanah kapur yang lainnya.
Tanah mediteran ini banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra. Mediteran cocok untuk tanaman
palawija, jati, tembakau, dan jambu mete.
Grumosol
Erodibilitas tanah adalah mudah atau sulitnya tanah terkena erosi. Beberapa
sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik,
kedalaman, sifat lapisan tanah dan tingkat kesuburan tanah, sedangkan kepekaan
tanah terhadap erosi yang menunjukkan mudah tidaknya tanah mengalami erosi
ditentukan oleh berbagai sifat fisika tanah (Arsyad, 2000).Indeks erodibilitas
tanah (K) menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan dan
transportasi partikel-partikel tanah tersebut oleh adanya energi kinetik air hujan.
Besarnya resistensi tersebut di atas akan bergantung pada topografi, kemiringan
lereng, dan besarnya gangguan oleh manusia (Nugraheni, 2013). Erodibilitas
tanah ditentukan oleh struktur, tekstur, permeabilitas dan bahan organik dari
suatu tanah.
(a) (b)
Gambar 2.22 Nomograf untuk menentukan nilai K
Sumber : Foster, dkk., 1981: 358
Tanah yang memiliki erodibilitas yang rendah seperti pasir sangat halus
dan debu lebih mudah terkena erosi dibandingkan tanah yang memiliki ikatan
yang kuat seperti lempung. Lempung dapat menahan erosi lebih kuat karena
gumpalan dari liat tersebut saling mengikat satu sama lain (Arzi, 2012). Nilai
erodibilitas tanah didapat dari Gambar 2.10 Nomograf untuk menentukan nilai
K.
Pada Gambar 2.10 Nomograf (a) merupakan persentase debu (silt) dan pasir
sangat halus. Sedangkan nomograf (b) merupakan nomograf yang digunakan
untuk mencari indeks erodibilitas tanah, dengan parameter struktur tanah dan
permeabilitas tanah. Penentuan nilai erodibilitas tanah (K) pada nomograf
diberikan Tabel 2.1 dan 2.2.
Dimana;
LS =
√ L ( 0,76+0,53 S+0,076S2 )...........................................................
100
(2.8)
Dimana;
Dimana;
Tabel 2.5 Nilai C Untuk Berbagai Jenis Tanaman Dan Pengolahan Tanaman
No. Pengelolaan Tanaman Nilai C
1 Tanah terbuka/tanpa tanaman 1,000
2 Sawah 0,010
3 Tegalan tidak dispesifikasi 0,700
4 Ubi kayu 0,800
5 Jagung 0,700
6 Kedelai 0,399
Tabel 2.6 Nilai Faktor P Untuk Berbagai Tindakan Konservasi Tanah Khusus
Gambar 2.23. Grafik Hubungan Antara Luas DAS dan Nilai SDR
Sumber: Asdak, 2010: 408
hubungan pada Gambar 2.3, maka hasil sedimen yang terjadi dapat dihitung
dengan persamaan berikut (Asdak, 2010: 406; Wibowo, 2015: 22) ;
Y = E (SDR) Ws ....................................................................................
(2.10)
Dimana,
Y = Hasil sedimen (ton/tahun)
E = Erosi total (ton/km2/tahun)
SDR= Nisbah pelepasan sedimen (tanpa satuan)
Ws = Luas daerah tangkapan air (km2)
Tabel 2.8 Daftar Penelitian yang berkaitan dengan Erosi dan Sedimentasi
BAB III
METODE PENELITIAN
Gambar 3.3
Gambar 3.2 Pengunduhan Peta Digital Elevation Model (DEM) dari Internet
Gambar 3.3 Proses pemotongan batas DAS dengan ArcMap
b. Peta dalam format (.shp) ArcGIS tersebut di lakukan Analisis Spasial
untuk memperoleh bentuk Aliran Sungai Temef setelah itu dilakukan
penyesuai dengan batas DAS Temef sehingga di peroleh Gambar
Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef, langkah selanjutnya data
tersebut di edit dan di beri keterangan, skala dan koordinat referensi
pada peta , untuk langkah-langkahnya dapat di lihat pada Gambar 3.4
dan Gambar 3.5 dibawah ini.
bawah ini.
Gambar 3.6 Pengunduhan Peta Jenis Tanah Kabupaten Timor Tengan Selatan
dalam format ArcGIS
Gambar 3.7 Proses Pengeditan Peta Jenis Tanah Kabupaten Timor Tengah
Selatan dengan ArcMap
Tanah
Gambar 3.9 Hasil Pembuatan Peta Jenis Tanah Dengan ArcMap
ArcMap
Gambar 3.15 Pengeditan Keterangan Warna Pada Peta Tata Guna Lahan dengan
ArcMap
Gambar 3.16 Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan ArcMap
Gambar 3.17 Hasil Perhitungan Luasan Peta Tata Guna Lahan dengan ArcMap
3.4.3 Perhitungan volume sedimen menggunakan Nisbah Pelepasan Sedimen
1. Menentukan angka Nisbah Pelepasan Sedimen (Sediment Delivery Ratio)
menggunakan Gambar 2.12.
2. Menghitung volume sedimen menggunakan Persamaan 2.10.
Mulai
Studi Literatur
Pengumpulan Data
USLE : EA = EI . K . LS . C . P
Kesimpulan
Selesai
BAB IV
Gambar
HASIL3.18DAN
Diagram Alir Penelitian
PEMBAHASAN
4.1 Umum
Proses erosi dan sedimentasi terjadi pada berbagai Daerah Aliran Sungai di
permukaan bumi, salah satu tempat terjadinya Erosi dan Sedimentasi pada Daerah
Aliran Sungai Bendungan Temef yang terletak pada Kabupaten Timor Tengah
Selatan (TTS) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa
Tenggara Timur dengan luas Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef adalah
552,583 km2, gambar penampang yang lebih detail dari Daerah Aliran Sungai
Bendungan temef dapat di lihat pada Lampiran 4. Alasan utama pemerintah
membangun bendungan Temef dikarenakan curah hujan yang tinggi dengan
durasi pendek (Desember hingga Maret) yang rentan banjir dan dengan 8 bulan
musim kemarau yang menyebabkan debit air menurun drastis sehingga terjadi
kekeringan yang akibatnya pasokan air baku kepada masyarakat tidak terpenuhi,
gambar lokasi Daerah Aliran Sungai dan titik lokasi pembangunan Bendungan
Temef dapat di lihat pada Gambar 4.1 dibawah ini.
Gambar 4.2 Letak Pos Hujan Untuk Daerah Aliran sungai Bendungan Temef
Sumber: Modifikasi GIS Perencanaan Bendungan Temef
Data curah hujan yang dipakai adalah data curah hujan 10 tahun (2009-2018)
yang didapat dari Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II). Untuk
data curah hujan harian pada masing-masing Pos Hujan terlampir pada Lampiran 1.
Metode yang digunakan dalam perhitungan curah hujan rata-rata wilayah yaitu
Metode Aritmatik (aljabar), dimana pengukuran yang dilakukan di beberapa Pos
Hujan dalam waktu yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan
jumlah stasiunnya, sesuai Persamaan 2.4.
EI = 6,119 (R)1,21(D)-0,47(M)0,53
Dimana;
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan rata-rata bulanan
yaitu sebesar 20,56 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya
yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Fatumnasi
Bulan Curah Hujan Bulan Curah Hujan
Januari 20,56 July 0,00
Ferbuari 17,00 Agustus 0,00
Maret 0,00 September 0,00
April 0,00 Oktober 0,00
Mei 0,00 November 13,60
Juni 0,00 Desember 16,86
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan rata-rata
bulanan yaitu sebesar 23,92 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan
selanjutnya yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.3
berikut :
Tabel 4.3 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Nifukani
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan rata-rata bulanan yaitu
sebesar 121,28 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya
yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Oeoh
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan rata-rata bulanan yaitu
sebesar 10,71 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut :
Tabel 4.6 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Polen
Data curah hujan bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini, kemudian
dijumlahkan untuk menentukan nilai Curah Hujan Rata-rata Bulanan (R) dengan
menggunakan Metode Aritmatik seperti pada Persamaan 2.4 dari ke 6 pos hujan
dalam mencari nilai erosivitas rumus lenvain. Contoh perhitungan untuk bulan
Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :
Sehingga curah hujan Rata-rata bulanan untuk bulan Januari tahun 2009 dapat
dihitung sebagai berikut :
1
RJanuari 2009 = x (14,75 + 20,56 + 23,92 + 11,52 + 121,28 + 10,71)
6
202,73
=
6
= 33,79 mm
Tabel 4.7 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik
Data curah hujan bulanan rata-rata yang sudah diperoleh pada Tabel 4.7,
kemudian diubah dalam satuan sentimeter (cm) yang dapat dilihat pada Tabel 4.8
berikut.
Tabel 4.8 Curah Hujan Rata-rata Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik
Setelah dihitung curah hujan rata-rata bulanan untuk rata-rata wilayah dengan
Metode Aritmatik, dihitung jumlah hari hujan per bulan menggunakan Metode
Aritmatik. Contoh data jumlah hari hujan tahun 2009 dapat dirangkum pada
Tabel 4.9. Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Batinifukoko pada
bulan Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan
yaitu sebesar 16 hari. Sehingga untuk data jumlah hari hujan bulanan pada bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut.
Tabel 4.9 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Batinifukoko
Januari 16 Juli 0
Februari 11 Agustus 0
Maret 10 September 0
April 1 Oktober 0
Mei 7 November 11
Juni 0 Desember 13
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu
sebesar 9 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut.
Tabel 4.10 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Fatumnasi
Januari 9 Juli 0
Februari 28 Agustus 0
Maret 0 September 1
April 0 Oktober 0
Mei 0 November 10
Juni 0 Desember 14
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu
sebesar 12 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut.
Tabel 4.11 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Nifukani
Januari 12 Juli 3
Februari 12 Agustus 0
Maret 16 September 0
April 12 Oktober 4
Mei 3 November 5
Juni 4 Desember 19
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Noelnoni pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu
sebesar 21 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut.
Tabel 4.12 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Noelnoni
Januari 21 Juli 1
Februari 16 Agustus 2
Maret 9 September 1
April 1 Oktober 0
Mei 8 November 7
Juni 1 Desember 10
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu sebesar
18 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut.
Tabel 4.13 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh
Januari 18 Juli 3
Februari 18 Agustus 0
Maret 13 September 0
April 1 Oktober 0
Mei 10 November 5
Juni 2 Desember 10
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah hari hujan bulanan yaitu sebesar
17 hari. Sehingga untuk data hari hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut.
Tabel 4.14 Hari Hujan Bulanan (Hari) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen
Data hari hujan bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini, kemudian
dirata-ratakan menggunakan Metode Aritmatik seperti pada Persamaan 2.4.
Contoh perhitungan untuk bulan Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :
DFatumnasi : hari hujan pada Pos Hujan Fatumnasi = 9 hari (Tabel 4.10)
DNifukani : hari hujan pada Pos Hujan Nifukani = 12 hari (Tabel 4.11)
DNoelnoni : hari hujan pada Pos Hujan Noelnoni = 21 hari (Tabel 4.12)
DOeoh : hari hujan pada Pos Hujan Oeoh = 18 hari (Tabel 4.13)
DPolen : hari hujan pada Pos Hujan Polen = 17 hari (Tabel 4.14)
Sehingga hari hujan bulan rata-rata untuk bulan Januari tahun 2009 dapat
dihitung sebagai berikut :
1
DJanuari 2009 = x (16 + 9 + 12 + 21 + 18 + 17)
6
93
=
6
= 15,50
Tabel 4.15 Jumlah Hari Hujan Bulanan (hari) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik
Bulan Hari Hujan Bulan Hari Hujan
Januari 15,50 Juli 1,83
Februari 16,67 Agustus 0,67
Maret 11,00 September 0,50
April 4,33 Oktober 0,67
Mei 6,33 November 7,17
Juni 1,17 Desember 11,83
Untuk perhitungan jumlah hari hujan bulanan rata-rata pada tahun 2009
sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.
Setelah dihitung jumlah hari hujan bulanan rata-rata, dihitung curah hujan
maksimum rata-rata bulanan menggunakan Metode Aritmatik. Contoh data curah
hujan maksimum tahun 2009 dapat dirangkum pada Tabel 4.16.
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Batinifukoko pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 31 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.16 berikut.
Tabel 4.16 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 34 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.17 berikut.
Tabel 4.17 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Fatumnasi
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 90 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.18 berikut.
Tabel 4.18 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Nifukani
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Noelnoni pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan
yaitu sebesar 57 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.19 berikut.
Tabel 4.19 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Noelnoni
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan yaitu
sebesar 360 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.20 berikut.
Tabel 4.20 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos
Hujan Oeoh
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat curah hujan maksimum bulanan yaitu
sebesar 360 mm. Sehingga untuk data curah hujan maksimum bulanan pada bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.21 berikut.
Tabel 4.21 Curah Hujan Maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Polen
Data curah hujan maksimum bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini,
kemudian dirata-ratakan menggunakan Metode Aritmatik seperti pada Persamaan
2.6. Contoh perhitungan untuk bulan Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :
= 31 mm (Tabel 4.16)
= 34 mm (Tabel 4.17)
= 90 mm (Tabel 4.18)
= 57 mm (Tabel 4.19)
= 31 mm (Tabel 4.21)
1
MJanuari 2009 = x (31 + 34 + 90 + 57 + 360 + 31)
6
603,00
=
6
= 100.50 mm
Tabel 4.22 Jumlah Curah hujan maksimum Bulanan (mm) Tahun 2009
Menggunakan Metode Aritmatik
Tabel 4.23 Curah Hujan Maksimum Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan
Metode Aritmatik
Setelah dihitung curah hujan bulanan rata-rata, jumlah hari hujan bulanan dan
curah hujan maksimum bulanan, kemudian dimasukkan pada Persamaan 2.2
untuk menghitung nilai faktor curah hujan (EI). Contoh perhitungan faktor curah
hujan bulan Januari tahun 2009 sebagai berikut :
= 25,01 (KJ/ha)
Tabel 4.24 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
rumus Bols
EI = 2,21R1,36
Dimana;
(Lampiran 1) yaitu jumlah hujan pada bulan tertentu untuk tahun tertentu yang
disebut curah hujan bulanan. Contoh data curah hujan tahun 2009 dapat
dirangkum pada Tabel 4.1. Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan
Batinifukoko pada bulan Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah
curah hujan bulanan yaitu sebesar 236,00 mm. Sehingga untuk data curah hujan
pada bulan selanjutnya yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada
Tabel 4.25 berikut :
Tabel 4.25 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan
Batinifukoko
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Fatumnasi pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan
yaitu sebesar 185 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya
yaitu bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.26 berikut.
Tabel 4.26 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Fatumnasi
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Nifukani pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu
sebesar 287 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.27 berikut :
Tabel 4.27 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Nifukani
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Noelnoni pada bulan
Januari yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu
sebesar 242 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu
bulan Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.28 berikut :
Tabel 4.28 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Noelnoni
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Oeoh pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu sebesar
2183 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.29 berikut :
Tabel 4.29 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Oeoh
Pada data hujan harian tahun 2009 untuk Pos Hujan Polen pada bulan Januari
yang terdapat pada Lampiran 1, didapat jumlah curah hujan bulanan yaitu sebesar
182 mm. Sehingga untuk data curah hujan pada bulan selanjutnya yaitu bulan
Februari sampai Desember dapat dilihat pada Tabel 4.30 berikut :
Tabel 4.30 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Untuk Pos Hujan Polen
Data curah hujan bulanan (mm) dari keenam Pos Hujan ini, kemudian
dijumlahkan untuk menentukan nilai Curah hujan Bulanan (R) dari ke 6 pos hujan
dalam mencari nilai erosivitas rumus lenvain. Contoh perhitungan untuk bulan
Januari pada tahun 2009 sebagai berikut :
Sehingga curah hujan bulanan untuk bulan Januari tahun 2009 dapat
dihitung sebagai berikut :
1
RJanuari 2009 = x ¿236 + 185 + 287 + 242 + 2183 + 182)
6
3315
=
6
= 552,50 mm
Tabel 4.31 Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik
Data curah hujan bulanan rata-rata yang sudah diperoleh pada Tabel 4.31,
kemudian diubah dalam satuan sentimeter (cm) yang dapat dilihat pada Tabel
4.32 berikut.
Tabel 4.32 Curah Hujan Bulanan (cm) Tahun 2009 Menggunakan Metode
Aritmatik
Perhitungan curah hujan bulanan tahun selanjutnya yaitu pada tahun 2009
sampai tahun 2018 dapat dilihat pada Lampiran 3.
Tabel 4.33 Perhitungan Faktor Curah Hujan (EI) Tahun 2009 Menggunakan
Rumus Bols
berdasarkan hasil pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah
ini.
yang di ambil, digali dengan kedalaman 1-30 cm dan untuk pengujian Kadar air,
Spesific Gravity (GS), Hidrometer, Analisa Saringan dan Permeabilitas tanah
yang diambil, digali dengan kedalaman 30-60 cm, penentuan jenis tanah
mengikuti Klasifikasi Jenis Tanah Nasional yang dijelaskan pada Lampiran 5,
dengan hasil klasifikasi jenis tanah (Lampiran 5) diperoleh adalah 3 Jenis Tanah
yaitu Jenis Tanah Regosol yang ditandai dengan warna krem dan titik
pengambilan sampel 1 dan sampel 6 yang memiliki luas 164,570 km2, Jenis Tanah
Latosol yang ditandai dengan warna coklat tua dan titik pengambilan sampel 4
dan sampel 5 yang memiliki luas 199,916 km2 dan Jenis Tanah Mediteran yang
ditandai dengan warna coklat tua dan titik pengambilan sampel 2 dan sampel 3
yang memiliki luas 188,097 km2 untuk penggambaran yang lebih jelas dari
Gambar Peta Jenis Tanah dapat dilihat pada lampiran 6.
Dengan merujuk pada Tabel 4.36, nilai persentase ukuran partikel (M)
untuk jenis tanah Regosol yang diambil dari titik pengambilan sampel 1,
dapat dihitung sebagai berikut,
M = persentase ukuran partikel (% debu + pasir sangat halus) x (100 - %liat)
= (17,79 + 21,65) x (100 – 1,26)
= 3894,31
Sedangkan nilai M untuk jenis tanah lainnya yang berada dalam Daerah
Sungai Bendungan Temef dapat di lihat pada Tabel 4.36.
Tabel 4.36 Nilai M Untuk Jenis Tanah Dalam Daerah Sungai Temef
Dinyatakan Tanpa Satuan
No
Jenis Tanah Nilai M
.
1 Regosol 3894,31
2 Mediteran 8102,16
3 Mediteran 8286,43
4 Latosol 7043,56
5 Latosol 7177,40
6 Regosol 3765,37
tanah untuk jenis tanah yang tersebar pada Daerah Aliran Sungai Temef
seperti pada Tabel 4.37.
Tabel 4.37 Penentuan Kode Struktur Tanah Berdasarkan Ukuran Diameter
2–
<1 1-2 Blok,
10
No. Jenis Tanah mm mm plat, Kode Ket.
mm
(%) (%) masif
(%)
Granuler
1 Regosol 92,00
8 0 - 1 sangat halus
Granuler
2 Mediteran 97,10
2,9 0 - 1 sangat halus
Granuler
3 Mediteran 98,20
1,8 0 - 1 sangat halus
Granuler
4 Latosol 98,80
1,2 0 - 1 sangat halus
Granuler
5 Latosol 99,00
1 0 - 1 sangat halus
Granuler
6 Regosol 83,00
17 0 - 1 sangat halus
Kimia, Fakultas Sains Dan Teknik, Universitas Nusa Cendana dengan hasil
laboratorium seperti pada Lampiran 2. Rekapitulasi pengujian bahan organik
dapat di lihat pada Tabel 4.38.
Tabel 4.38 Hasil Pengujian Bahan Organik Sampel Tanah Daerah Aliran Sungai
Temef
1 Regosol 1,417
2 Mediteran 1,603
3 Mediteran 0,904
4 Latosol 1,421
5 Latosol 1,077
6 Regosol 0,784
No Kecepatan
Jenis Tanah Kode Ket.
. (cm/jam)
1 Regosol 0,012 6 Sangat lambat
2 Mediteran 0,005 6 Sangat lambat
3 Mediteran 0,005 6 Sangat lambat
No Kecepatan
Jenis Tanah Kode Ket.
. (cm/jam)
4 Latosol 0,010 6 Sangat lambat
5 Latosol 0,009 6 Sangat lambat
6 Regosol 0,014 6 Sangat lambat
K1+K2 0,398+0,405
K= = = 0,401 ton/KJ
2 2
Dengan demikian nilai erodibilitas dari jenis tanah Regosol adalah 0,137
ton/KJ. Untuk nilai erodibilitas jenis-jenis tanah lainnya dapat di lihat pada Tabel
4.40
Tabel 4.40 Nilai Erodibilitas Sampel Tanah Pada Daerah Aliran Sungai Temef
Dinyatakan Dalam Ton/KJ
Kode K1 K2 K
No Jenis Tanah
Sampel (ton/KJ) (ton/KJ) (ton/KJ)
1 Regosol 1&6 0,398 0,405 0,401
Nilai erodibilitas (K) Daerah Aliran Sungai Temef dapat diperoleh dengan
membagi jumlah perkalian antara nilai erodibilitas dan luas wilayah tiap jenis
tanah dengan luas Daerah Aliran Sungai Temef.
384,500 ton. km 2 /KJ
KDAS Temef = = 0,696 ton/KJ.
552,583 km 2
Sehingga nilai indeks erodibilitas (K) untuk DAS Temef diperoleh 0,696
ton/KJ.
warna kuning, kemiringan 35 – 50% seluas 67,92 km2 ditandai dengan warna
jingga dan kemiringan >50% seluas 45,17 km2 ditandai dengan warna merah.
Perhitungan indeks panjang dan kemiringan lereng (LS) menggunakan Tabel 2.4.
Nilai LS per kelas kemiringan tersebut dikali dengan luas wilayah per kelas
kemiringan. Hasil perkalian tersebut dapat di lihat pada Tabel 4.42.
Tabel 4.42 Perhitungan Faktor Panjang Dan Kemiringan Lereng Daerah Aliran
Sungai Temef Dinyatakan Tanpa Satuan
Hasil
Kelas Kelas Nilai LS Luas Wilayah
Perkalian
Lereng Kemiringan (km2)
Nilai indeks panjang dan kemiringan lereng (LS) untuk Daerah Aliran Sungai
Temef diperoleh dengan membagi hasil perkalian antara nilai LS per kelas
kemiringan lereng dan luas wilayah per kelas kemiringan lereng, dengan Luas
Daerah Aliran Sungai Temef secara keseluruhan.
2484,195
LSDAS Temef = = 4,496.
552,583 km 2
Dengan demikian diperoleh 4,496 untuk nilai indeks LS pada Daerah Aliran
Sungai Temef.
4.5 Indeks Penutupan Vegetasi (C)
Penutupan vegetasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai Temef dapat di lihat
pada Lampiran 8. Penutupan vegetasi pada Daerah Aliran Sungai Temef yaitu
permukiman seluas 17,833 km2 pada peta ditandai dengan warna Merah Tua,
kebun campuran kerapatan sedang seluas 50,255 km2 ditandai dengan warna
Kuning, sawah seluas 4,929 km2 ditandai dengan warna hijau muda, ladang seluas
80,924 km2 ditandai dengan warna Ungu, hutan serasah kurang seluas 31,860 km2
ditandai dengan warna hijau, Alang seluas 23,601 km2 ditandai dengan warna
coklat, semak belukar seluas 339,051 km2 ditandai dengan warna hijau muda,
tanah kosong seluas 4,130 km2 ditandai dengan warna biru, dan sungai utama
seluas 1,298 km2 ditandai dengan warna hitam. Tetapi dalam perhitungan indeks
penutupan vegetasi, luas sungai utama tidak terhitung sehingga untuk faktor
penggunaan lahan, luas Daerah Aliran Sungai Temef yang semula seluas 552,583
km2 menjadi 551,285 km2. Perhitungan indeks penutupan vegetasi (C)
menggunakan Tabel 2.5. Dengan cara yang sama seperti pada perhitungan untuk
nilai faktor LS sebelumnya, nilai C untuk masing-masing jenis penutupan vegetasi
dari Tabel 2.5 dikali dengan luas wilayah masing-masing jenis penutupan
vegetasi. Hasil perkalian tersebut dapat di lihat pada Tabel 4.43.
Tabel 4.43 Perhitungan Faktor Penutupan Vegetasi (C) Daerah Aliran Sungai
Temef Dinyatakan Tanpa Satuan
Luas Wilayah
No. Penutupan Vegetasi Nilai C Hasil Perkalian
(km)
1 Permukiman 1,000 17,833 17,833
2 Kebun campuran 0,200 50,255 10,051
Nilai indeks penutupan vegetasi (C) pada Daerah Aliran Sungai Temef dapat
dihitung dengan membagi jumlah hasil perkalian antara nilai C tiap penutupan
vegetasi dan luas wilayah penutupan vegetasi, dengan jumlah luas wilayah yang
digunakan dalam Daerah Aliran Sungai Temef.
166,331
CDAS Temef = = 0,302
551,285
Tabel 4.44 Nilai Erosi Dengan Metode USLE Menggunakan Formulasi Erosivitas
Bols dan Lenvain
(ton/ha) (ton/ha)
2009 304,70 3140,240 0,696 4,496 0,302 1,000 287,580 2963,779
2010 131,34 1660,899 0,696 4,496 0,302 1,000 123,958 1567,568
2011 115,06 1316,323 0,696 4,496 0,302 1,000 108,596 1242,354
2012 129,78 2860,877 0,696 4,496 0,302 1,000 122,483 2700,114
2013 122,43 2040,734 0,696 4,496 0,302 1,000 115,546 1926,058
2014 167,35 2250,224 0,696 4,496 0,302 1,000 157,947 2123,776
2015 351,28 3090,459 0,696 4,496 0,302 1,000 331,540 2916,795
2016 360,25 4277,531 0,696 4,496 0,302 1,000 340,006 4037,162
2017 376,96 5006,311 0,696 4,496 0,302 1,000 355,779 4724,989
2018 251,44 2744,410 0,696 4,496 0,302 1,000 237,306 2590,192
Dari hasil analisis pada Tabel 4.44 besarnya erosivitas yang terjadi yaitu sebagai
berikut :
1. Perhitungan USLE dengan rumus erosivitas Bols
Erosi yang terjadi dari tahun 2009 sampai 2018 dan dihitung menggunakan
metode USLE dengan formulasi Bols yaitu,
Erosi2009-2018 = 218,074 ton/ha/tahun.
Erosi2009-2018 = 218,074 ton/0,01 km2/tahun = 21.807,426 ton/km2/tahun.
552,58
8,50
Karena sedimen yang berasal dari ketiga jenis tanah pada DAS Temef telah
bercampur di dalam waduk, maka nilai berat jenis tanah secara keseluruhan untuk
ketiga jenis tanah tersebut dapat dicari dengan mengalikan berat volume tanah
dengan luas wilayah masing-masing jenis tanah seperti pada Tabel 4.46.
Tabel 4.46 Berat Volume Tanah Pada Daerah Aliran Sungai Temef (ton/m3)
Dengan membagi jumlah hasil perkalian berat volume tanah dan luas
wilayah masing-masing jenis tanah dengan luas Daerah Aliran Sungai Temef
secara keseluruhan diperoleh hasil sebagai berikut :
2 3
750,277 (ton. km / m )
Berat volume tanah DAS Temef = 2 = 1,358 ton/m3.
552,283 km
Berat volume tanah secara keseluruhan pada DAS Temef adalah 1,358 ton/m 3.
Volume sedimen dengan menggunakan metode USLE dapat dihitung sebagai
berikut.
1. Perhitungan volume sedimen metode USLE dengan formulasi erosivitas Bols
Volume sedimen = Berat sedimen : Berat volume tanah
= 1.025.490,765 ton/tahun : 1,358 ton/m3
= 755.279,949 m3/tahun.
10000000.000
9279432.70327726
9000000.000
8000000.000
7000000.000
Volume Sedimen
(m3/tahun)
6000000.000
5000000.000
4000000.000
3000000.000
2000000.000
1000000.000 641854.03 755279.948627518
0.000
Volume Sedimen Volume Sedimen Bols Volume Sedimen
Bendungan Lenvain
Variasi Perhitungan
4.11 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian untuk memperoleh nilai erosi dengan metode
USLE diperoleh nilai erosi yang terjadi berdasarkan bentuk erosi percikan, erosi
lembar dan erosi alur dimana perhitungan untuk memperoleh nilai erosi dengan
metode ini tidak mencakup limpasan permukaan, volume aliran permukaan,
puncak laju aliran permukaan dan debit banjir maksimum yang terjadi (dilihat dari
koefisien yang di cari untuk metode ini), sehingga hasil perhitungan nilai erosi
pada daerah aliran sungai bendungan temef tidak memperhitungkan nilai erosi
yang terjadi untuk cakupan yang lebih luas seperti erosi yang terjadi dalam bentuk
erosi parit, erosi tebing sungai dan tanah longsor.
Hasil perhitungan nilai erosi dan volume sedimen berdasarkan perhitungan
USLE dengan formulasi erosivitas Lenvain memperoleh angka lebih besar
dibandingkan dengan volume sedimen perhitungan USLE menggunakan
formulasi erosivitas Bols. Hal ini dikarenakan nilai indeks erosivitas Lenvain
dihitung menggunakan curah hujan bulanan atau total curah hujan yang terjadi
selama sebulan, Sedangkan faktor erosivitas Bols dihitung menggunakan rata-rata
hujan yang terjadi selama sebulan sehingga sedimen yang terjadi menjadi kecil.
Faktor-faktor lain dalam metode USLE dihitung nilainya untuk keseluruhan DAS
dari tahun ke tahun sehingga indeks erosivitas memiliki pengaruh yang cukup
besar terhadap variasi volume sedimen.
Berdasarkan hasil perbandingan perhitungan volume sedimentasi dari data
perencanaan, diperoleh prediksi sedimentasi dengan menggunakan erosivitas bols
memperoleh hasil yang paling sesuai, dan disarankan untuk dipakai. Dengan hasil
penelitian tersebut dapat di simpulkan untuk perhitungan prediksi erosi dan
sedimentasi, dalam koefisien penggunaan faktor luas DAS, Kemiringan Lereng,
Faktor Vegetasi dan Jenis Tanah sangat berdampak pada hasil nilai erosi dan
sedimentasi yang terjadi, dan faktor erosivitas curah hujan bukan menjadi faktor
penentu dalam perhitungan nilai erosi dan sedimentasi yang terjadi. Perbandingan
perhitungan volume sedimentasi dari data perencanaan hasil perhitungan volume
sedimen menggunakan metode USLE dengan formulasi erosivitas Bols memiliki
hasil yang paling mendekati yakni dengan ketelitian 84,98 %, Sehingga dalam
penentuan kelas bahaya erosi menggunakan nilai perhitungan USLE dengan
rumus erosivitas Bols, diperoleh kelas bahaya erosi yang terjadi berada pada kelas
IV yang dikategorikan berat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis data pada penelitian ini maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Perhitungan jumlah nilai Erosivitas Curah hujan pada Daerah Aliran Sungai
Bendungan Temef dengan formulasi Bols adalah 2.310,58 mm dan dengan
formulasi Lenvain adalah 28.388,01 mm.
2. Perhitungan nilai laju erosi menggunakan metode Universal Soil Loss
Equation (USLE) yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
memiliki hasil:
a. Dengan formulasi erosivitas Bols adalah 218,074 ton/ha/tahun.
b. Dengan formulasi erosivitas Lenvain adalah 2.679,279 ton/ha/tahun.
3. Perhitungan nilai laju sedimentasi menggunakan metode Universal Soil Loss
Equation (USLE) yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
memiliki hasil:
a. Dengan formulasi erosivitas Bols adalah 755.279,949 m3/tahun.
b. Dengan formulasi erosivitas Lenvain adalah 9.279.432,703 m3/tahun.
4. Kelas Bahaya erosi yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Bendungan Temef
tergolong kelas IV yang dikategorikan berat.
5.2 Saran
Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan yaitu:
1. Dalam penelitian ini, metode perhitungan erosi yang digunakan yaitu Metode
Universal Soil Loss Equation (USLE). Pada penelitian selanjutnya disarankan
dapat menggunakan metode perhitungan erosi lain seperti menggunakan
metode Modified Universal Soil Loss Equation (MUSLE) dan Revised
Universal Soil Loss Equation (RUSLE) yang merupakan pengembangan dari
metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dimana untuk memperoleh nilai
erosi yang terjadi memperhitungkan pengendapan yang terjadi dalam proses
pengangkutan pada daerah yang cukup luas jika di bandingkan dengan
Universal Soil Loss Equation (USLE), Dalam metode Musle digunakan faktor
aliran atau limpasan permukaan (R), menggantikan erosivitas hujan (EI) yang
digunakan dalam metode Universal Soil Loss Equation (USLE) hal ini
dilakukan untuk mencari nilai erosi yang terjadi.
2. Bagi masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai Temef agar mulai melakukan
usaha konservasi khususnya pada lahan-lahan yang kritis dan daerah dengan
kemiringan yang cukup terjal, sehingga dapat mengurangi terjadinya erosi,
dalam mewujudkannya hal ini, perlu adanya kerjasama yang baik dari
masyarakat maupun pemerintah daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahablogweb, 2017. Pengertian Erosi, Dampak, dan Jenis Erosi. Diakses dari
[Internet] https: //[Link] /2017/07/Pengertian-Penyebab-
[Link] pada 19 September 2019.
Anna, S. 2001. Model Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai
Secara Terpadu, Makalah Falsafah Sains, Program Pasca Sarjana/S3.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Arsyad, S. 2012. Konservasi Tanah dan Air, Edisi Kedua Cetakan Kedua, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air, UPT Produksi Media Informasi,
Lembaga Sumberdaya Informasi, Institut Pertanian Bogor, IPB Press,
Bogor.
Asdak, C. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
As-syakur, A.R. 2008. Prediksi Erosi Dengan Menggunakan Metode USLE dan
Sistem Informasi Geografis (SIG) Berbasis Piksel di Daerah
Tangkapan Air Danau Buyan, Universitas Udayana, Denpasar.
Dervish, 2013. Menentukan Hujan Rerata, diakses dari [Internet] https ://
myjihadsoul. [Link] menentukan-hujan-rerata, pada 19
Oktober 2018.
Foster, dkk. 1981. Conversation Of The Universal Soil Loss Equation to SI Metric
Units, Soil Conservation Society of America, Iowa.
Kadir Syarifudin, 2016. Gambar Daerah Aliran Sungai Terpadu, diakses dari
[Internet] https ://[Link]/ pengelolaan -daerah -aliran- sungai-
terpadu/ pada 19 September 2019.
Marseli, Y. 2015. Analisi Laju Erosi Pada Daerah Tangkapan Waduk Sermo
Menggunakan Metode Usle, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.
PT. Indra Karya (Persero), 2015. Diskusi Draft Laporan Akhir “Detail Desain
Bendungan Temef Di Kabupaten Timor Tengah Selatan”, Balai
Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Kementerian Pekerjaan Umum,
Nusa Tenggara Timur.
Sulistyo, B. 2011. Pengaruh Erosivitas Hujan yang di Peroleh dari rumus yang
Berbeda Terhadap Permodelan Erosi Berbasis Raster (Studi Kasus di
DAS Merawu, Banjarnegara). Jawa tengah.
Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Penerbit Andi,
Yogyakarta.
Tukan Berto, 2015. Peta Buta Indonesia, diakses dari [Internet] https:
//[Link]/2015/11/peta-buta-indonesia/, pada 19 September
2019.
Utomo, W.H. 1994. Erosi Dan Konservasi Tanah, IKIP Malang, Malang.
GLOSARIUM
Alkalis tanah Merupakan unsur kimia yang terkandung dalam tanah, unsur-unsur
tersebut memiliki sifat yang sangat mirip.
Analisis Kadar air Merupakan pengujian laboratorium untuk kandungan air dari
suatu tanah tertentu.
ArcGIS Merupakan paket perangkat lunak yang terdiri dari produk perangkat
lunak system informasi geografis yang di produksi oleh Esri.
Bahan Organik Merupakan bahan dalam suatu permukaan tanah yang berasal dari
sisa-sisa tumbuhan, hewan dan manusia yang telah mengalami pembusukan atau
dekomposisi.
Curam Merupakan keadaan suatu topografi tanah yang terjal dan dalam.
Debit Inflow Merupakan jumlah air yang masuk kedalam suatu tampungan yang
dapat berupa bendungan, waduk ataupun embung.
Debit Outflow Merupakan jumlah air yang keluar dari suatu tampungan yang
dapat berupa bendungan, waduk ataupun embung.
Drainase Merupakan pembuangan massa air secara alami atau buatan dari suatu
permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat.
Fluktuasi Debit Merupakan ketidaktetapan Aliran debit yang mengalir dari suatau
tempat yang dilihat dari grafik aliran debit yang ada.
Granular tanah Merupakan tanah yang berkomposisi pasir, kerikil, batuan dan
campuranya yang mempunyai kapasitas dukung tanah yang tinggi dan tanahnya
relative padat.
Horizon Tanah Merupakan lapisan tanah atau bahan tanah yang kurang lebih
sejajar dengan permukaan tanah dan berbeda dengan lapisan di sebelah atas
ataupun bawah yang secara genetic ada kaitanya.
Infiltrasi Merupakan aliran air ke dalam tanah melalui permukaan tanah itu
sendiri.
Kadar Lengas Merupakan kandungan uap air atau bentuk campuran antara gas
dan air yang terdapat pada pori tanah.
Kontur Merupakan keadaan suatu tempat atau daerah yang mempunyai ketinggian
yang diukur dalam suatu bidang atau garis acuan tertentu.
Lempung atau Liat Merupakan partikel mineral berkerangka dasar silikat yang
berdiameter kurang dari 4 mikrometer.
Lereng Merupakan permukaan bumi atau tanah yang berbentuk sudut atau
kemiringn tertentu dalam bidang horizontal.
Massa Merupakan suatu sifat fisika dari suatu benda yang digunakan untuk
menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau, dalam kegunaannya massa di
sama artikan dengan berat.
Observasi Merupakan aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud
merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena untuk
mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk suatu penelitian.
Ordo Tanah Merupakan penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan ada dan
tidaknya horizon penciri serta jenis (sifat) dari horizon penciri tersebut.
Outlet tunggal Merupakan aliran permukaan suatu wilayah daratan dan sebagai
aliran yang menyatukan seluruh aliran-aliran yang berasal dari daerah tersebut.
pH Tanah Merupakan tingkat keasaman atau kebasahan dari suatu tanah yang
diukur dengan skala pH antara 0 hingga 14.
Resistensi Tanah Merupakan kemampuan sifat atau sikap tanah untuk bertahan
terhadap erosi atau pengikisan akibat air.
Skala Merupakan rasio antara jarak pada peta dengan jarak sebenarnya diatas
permukaan bumi.
Sub Grup Merupakan Penggolongan tanah yang dibedakan berdasarkan sifat inti
dan sifat genetik dari grup tanah.
Sub Tropis Merupakan wilayah bumi yang berada di utara dan selatan setelah
wilayah tropis yang dibatasi oleh garis balik utara dan garis balik selatan.
Tanah Gambut Merupakan jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa
tumbuhan yang setengah membusuk sehingga memiliki kandungan bahan organic
yang tinggi.
Tekstur tanah Merupakan keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena
terdapatnya perbedaan komposisi kandungan pasir, debu dan liat yang terkandung
pada tanah.
Transisi Merupakan masa pergantian yang ditandai dari perubahan fase awal ke
fase yang baru.
Turbin Merupakan sebuah mesin berputar yang mengambil energy dari aliran
fluida, fluida yang bergerak menjadi baling-baling berputar dang menghasilkan
energi.
Unsur Hara Merupakan sumber nutrisi atau makanan yang dibutuhkan tanaman
baik yang tersedia pada alam (organik) maupun yang di tambahkan.
USLE (Universal Soil Loss Equation) Merupakan salah satu metode untuk
memperkirakan atau menduga laju erosi yang terjadi pada suatu daerah.
Waduk Merupakan genangan air yang tertampung atau terkumpul karena adanya
konstruksi bendungan ataupun secara alami tanpa bendungan.
BIODATA PENULIS
1. Biodata
Nama : Mario F. Rato Palenga
Tempat/tanggal Lahir : Ende, 26 Oktober 1996
Agama : Katholik
Orang Tua
Bapak : Yosep Malo Ngedang
Ibu : Fransiska R. D Longa
Anak ke : 1 dari 6 Bersaudara
Alamat : Jln. Alfa Omega, Penfui - Kupang
Alamat Email : mariofransisco96@[Link]
2. Riwayat Pendidikan
Taman Kanak-Kanak : TK. Andaluri, Waingapu
Sekolah Dasar : SDK. St. Arnoldus Yansen, Kupang
Sekolah Menengah Pertama : SMPK. St. Andaluri, Waingapu
Sekolah Menengah Atas : SMA Negeri 1 Ende
Perguruan Tinggi : Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Sains dan Teknik
Universitas Nusa Cendana
LAMPIRAN-LAMPIRAN