0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan110 halaman

Asuhan Kebidanan di Puskesmas Kombos

Laporan ini membahas asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan kepada Ny. N.A di Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan lulus dari program Diploma III Kebidanan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado. Laporan ini berisi tentang konsep dasar kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan keluarga berencana serta manajemen asuhan ke

Diunggah oleh

Trini Himpede
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan110 halaman

Asuhan Kebidanan di Puskesmas Kombos

Laporan ini membahas asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan kepada Ny. N.A di Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan lulus dari program Diploma III Kebidanan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado. Laporan ini berisi tentang konsep dasar kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan keluarga berencana serta manajemen asuhan ke

Diunggah oleh

Trini Himpede
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY.N.

A
DI PUSKESMAS KOMBOS KECAMATAN SINGKIL
KOTA MANADO

LAPORAN TUGAS AKHIR

Untuk Memenuhi Sebagian Persayaran Memyelesaikan


Pendidikan Diploma III Kesehatan
Jurusan Kebidanan
Politeknik Kesehatan Kemenke Manado

Oleh :
Tarisah Mangempaus
711540120075

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MANADO
2023

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Tugas Akhir

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY.X.X


DI PUSKESMAS KOMBOS KECAMATAN SINGKIL
KOTA MANADO

Yang diajukan oleh Tarisah Mangempaus 711540120075

Telah disetujui oleh :

Pembimbing 1

tanggal 2023
NIP

Pembimbing II

tanggal 2023
NIP

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Tugas Akhir ini telah diterima dan disetujui oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program

Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado Jurusan Kebidanan sebagai salah satu persyaratan

untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III pada tanggal 2023

Ketua Penguji

NIP

Anggota Penguji

1. 2.
NIP NIP

Manado, 2023

Ketua Jurusan

Atik Purwandari, SKM.M Kes

NIP 197511062002122003

iii
CURRICULUM VITAE

A. IDENTITAS
Nama : Tarisah Mangempaus
NIM : 711540120075
Tempat/tanggal lahir : Maros, 29 Agustus 2001
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Indonesia
Status : Belum Menikah
Alamat : Dosun VI,Lolak

B. RIWAYAT PENDIDIKAN
Tahun 2006 : Tk. Kartika Chandra Kirana Maros
Tahun 2007-2013 : Madrasah ibtdaiyah Negeri 1 Bolmong
Tahun 2013-2016 : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Bolmong
Tahun 2016-2019 : SMA Negeri 2 Kota Kotamobagu
Tahun 2020-2023 : Mahasiswa Jurusan Kebidanan Prodi D-III
Kelas 3B Regular Politeknik Kesehatan
Kemenkes Manado.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan

rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir dengan judul “Asuhan

Kebidanan Komprehensif Pada Ny.N.A di Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota

Manado ” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan Diploma III di

Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado Jurusan Kebidanan. Dengan terselenggaranya

Laporan Tugas Akhir ini, penulis mendapat banyak bimbingan, bantuan dan dorongan dari

berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui pengantar ini penulis ingin menyampaikan ucapan

terima kasih sedalam-dalamnya kepada :

1. Dra. Elisabeth N. Barung, [Link], Apt selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes

Manado yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti dan

menyelesaikan pendidikan di Politeknik kesehatan Kemenkes Manado.

2. Atik Purwandari, SKM. [Link], selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan

Kemenkes Manado sekaligus dosen pembimbing akademik juga menjadi pembimbing I

dan penguji 3, yang telah banyak membimbing dan memberikan arahan selama penulis

mengikuti pendidikan di Jurusan Kebidanan dan telah memberikan masukan dan saran

yang membangun selama penyusunan Laporan Tugas Akhir.

3. Fredrika Nancy Losu, [Link], [Link], selaku Sekretaris Jurusan Kebidanan Politeknik

Kesehatan Kemenkes Manado yang telah membimbing dan memberikan arahan selama

penulis mengikuti pendidikan di Jurusan Kebidanan

4. [Link],[Link],[Link] selaku Ketua Program Studi Diploma III Kebidanan

Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado sekaligus Dosen Penguji II yang telah banyak

membimbing dan memberikan arahan selama penulis mengikuti pendidikan di Jurusan

Kebidanan

v
5. , selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan kritik dan saran yang

membangun dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

6. , selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing, membantu,

dan memberikan arahan serta saran yang membangun dalam penyusunan Laporan Tugas

Akhir ini.

7. Seluruh Dosen dan Staf Operator Program Studi Kebidanan yang telah memberikan

bekal ilmu, keterampilan serta bimbingan selama penulis menempuh pendidikan di

Program Studi Kebidanan.

8. Dr. [Link] selaku kepala Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota

Manado, Staf Tata Usaha, pembimbing lahan praktek serta para bidan dan perawat

terlebih khusus bidan Alwina Pontolawokang [Link] yang telah memberikan

kesempatan dan telah banyak membantu penulis melaksanakan penelitian di Puskesmas

Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado

9. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih, sayang dan hormat sebesar-besarnya

kepada Ibu lia, Papa sahrul dan Kakak Fitrah serta adik yang motivasi dan doa demi

keberhasilan dan kelancaran selama menempuh pendidikan.

10. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada teman seperjuangan

Siti,Nur,Naomi,Lita,Virginia dan,nanda yang selama ini sering membantu penulis dalam

menempuh pendidikan dan kepada para bujang bujang di ikon,seventeen,got7 yang

membantu penulis disaat penulis berada di titik ingin menyerah dan membuat saya

kembali termotivasi

11. Terima kasih kepada ibu N.A yang telah bersedia menjadi pasien pendampingan penulis

serta doa dan dukungannya.

Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penyusunan Laporan Tugas

Akhir. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk

vi
kesempurnaan Laporan Tugas Akhir ini. Penulis mengharapkan semoga Laporan Tugas

Akhir ini dapat bermanfaat bagi teman-teman seprofesi untuk meningkatkan mutu

pelayanan kesehatan.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan karunia dan rahmatNya serta membalas semua

kebaikan dari pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

Manado, 2023

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN......................................................................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN......................................................................................................iii
CURRICULUM VITAE...........................................................................................................iv
KATA PENGANTAR...............................................................................................................v
DAFTAR ISI...........................................................................................................................viii
ABSTRAK.............................................................................................................................viii
BAB I. PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................6
C. Tujuan Penelitian..................................................................................................6
D. Manfaat Penenlitian...........................................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................9
A. KONSEP DASAR................................................................................................9
1. Kehamilan............................................................................................................9
2. Persalinan...........................................................................................................25
3. Bayi Baru Lahir..................................................................................................41
4. Nifas...................................................................................................................50
5. Keluarga Berencana...........................................................................................57
B. Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen Varney Dan Pendokumentasian
62
SOAP....................................................................................................................................62
1. Asuhan Kebidanan Kehamilan...........................................................................62
2. Asuhan Kebidanan Persalinan............................................................................70
3. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir..................................................................76
4. Asuhan Kebidanan Nifas....................................................................................80
5. Asuhan Keluarga Berencana..............................................................................85
BAB III METODE PENELITIAN...........................................................................................88
A. Jenis Penelitian...................................................................................................88
B. Waktu dan Tempat Penelitian............................................................................88
C. Definisi Operasional...........................................................................................89
E. Teknik Pengumpulan Data.................................................................................89
F. Analisis Data......................................................................................................89

viii
Tarisah Mangempaus. 2023. Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N.A di
Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado. (Pembimbing
I…………………….dan Pembimbing II …………………..).

ABSTRAK

Kata Kunci :Asuhan Kebidanan Komprehensif Ny. N.A

ix
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dilanjutkan dengan nidasi dan implantasi. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi

partus kira-kira 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan

40 minggu ini disebut matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut

kehamilan postmatur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur.

Dalam perkembangan kehamilan, persalinan dan nifas dapat menjadi keadaan yang

patologis sehingga dapat menimbulkan komplikasi apabila tidak terdeteksi secara dini dan

berujung kematian. Peran bidan sangat penting dalam membarikan asuhan kebidanan untuk

melakukan deteksi dini dengan menerapkan asuhan kebidanan sesuai standar pelayanan

kebidanan yang diharapkan dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu sreta

kematian bayi (Dartiwen dan Nurhayati, 2019).

Kematian ibu merupakan kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil, bersalin, dan

masa nifas dalam 42 hari setelah persalinan. Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian

bayi (AKB) merupakan indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu negara

dan status kesehatan masyarakat (Andanawarih dan Baroroh, 2018)

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) bukan hanya merupakan

salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu dan anak, namun juga

dapat menggambarkan tingkat akses terhadap pelayanan kesehatan, efisiensi dan efektifitas

dalam pengelolaan program kesehatan baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas

(Kemenkes, 2019).

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pada tahun 2015 sekitar

830/harinya wanita meninggal di seluruh dunia akibat komplikasi kehamilan dan persalinan,

sedangkan secara keseluruhan Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 303.000/100.000

1
kelahiran hidup (KH). Hampir semua kematian ibu terjadi di negara berkembang yaitu lebih

dari setengah kematian terjadi di Afrika Sub-Sahara dan hampir di sepertiga terjadi di Asia

Selatan. Ini masih dalam kategori tinggi karena belum mencapai target Sustainable

Development Goals (SDG’s) yaitu<70 per 100.000 kelahiran hidup (WHO, 2018).

Berdasarkan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012,

Angka Kematian Ibu sebesar 359/100.00 KH mengalami penurunan pada tahun 2017 sebesar

305/100.000 KH. Jumlah AKB tahun 2012 sebesar 32/1000 KH mengalami penurunan pada

tahun 2017 sebesar 24/1000 KH (SDKI, 2017). Data diatas menunjukkan adanya penurunan

AKI di tahun 2012 ke tahun 2017, angka ini masih tinggi dari target Sustainable

Development Goals (SDG’s) tahun 2024 AKI sebesar 183/100.000 KH dan tahun 2030 AKI

sebesar 70/100.000 KH.

AKB mengalami penurunan pada tahun 2012 ke tahun 2017, namun angka ini masih

tinggi dari target SDG’s tahun 2024 AKB sebesar 16/1000 KH. Tahun 2030 AKB sebesar

25/1000 KH, tahun 2024 AKN sebesar 10/1000 KH dan tahun 2030 AKN sebesar 12/1000

KH (Kemenkes RI, 2020).

Pada tahun 2020, jumlah kasus kematian bayi sebanyak 40 kasus dengan penyebab

kematian BBLR 17 (42%), asfiksia 9 (22%), infeksi 2 (5%), kelainan kongenital 3 (8%), lain-

lain 9 (23%). Pada tahun 2021, jumlah kasus kematian bayi sebanyak 129 kasus dengan

penyebab kematian BBLR 42 (33%), asfiksia 32 (25%), infeksi 4 (3%), kelainan kongenital

20 (15%), covid-19 1(1%), lain-lain 30 (23%). Jumlah kasus kematian bayi 2021 meningkat

dibandingkan pada tahun 2020 (Kemenkes RI, 2021).

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara tahun 2020, jumlah kasus kematian ibu

sebanyak 48 kasus dengan penyebab kematian hipertensi dalam kehamilan 10 (21%),

perdarahan 15 (31%), infeksi 1 (2%), gangguan system peredaran darah 10 (21%) dan lain-

lain 12 (25%). Pada tahun 2021, jumlah kasus kematian ibu sebanyak 64 kasus dengan

penyebab kematian perdarahan 12 (19%), hipertensi dalam kehamilan 9 (14%), infeksi 5

2
(8%), gangguan metabolik 1 (2%), jantung 2 (3%), covid-19 20 (31%), lain-lain 15 (23%).

Pada tahun 2021 jumlah kasus kematian ibu meningkat dibandingkan pada tahun 2020.

Pada tahun 2020, jumlah kasus kematian bayi sebanyak 40 kasus dengan penyebab

kematian BBLR 17 (42%), asfiksia 9 (22%), infeksi 2 (5%), kelainan kongenital 3 (8%), lain-

lain 9 (23%). Pada tahun 2021, jumlah kasus kematian bayi sebanyak 129 kasus dengan

penyebab kematian BBLR 42 (33%), asfiksia 32 (25%), infeksi 4 (3%), kelainan kongenital

20 (15%), covid-19 1(1%), lain-lain 30 (23%). Jumlah kasus kematian bayi 2021 meningkat

dibandingkan pada tahun 2020 (Kemenkes RI, 2021).

Data Dinas Kesehatan Kota Manado tahun 2020 jumlah kasus kematian ibu

sebanyak 1 kasus dengan penyebab lain-lain 1 (100%). Tahun 2021, jumlah kasus kematian

ibu sebanyak 6 kasus dengan penyebab asma dalam kehamilan 1 (16,6%), pre eklamsia 1

(16,6%) dan lain-lain 5 (83,3%). Pada tahun jumlah kasus kematian bayi 2020 sebanyak 5

kasus dengan penyebab sepsis 2 (40%), dan lain-lain 3 (60%). Pada tahun 2021 jumlah kasus

kematian bayi sebanyak 3 (60%) kasus dengan penyebab prematur, sepsis, dan jantung

bawaan (Dinkes Provinsi Sulawesi Utara, 2021).

Hasil survey awal yang dilakukan penulis di Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota

Manado pada tanggal 07 April 2022 diperoleh data dari laporan Pemantauan Wilayah

Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS/KIA) .Pada tahun 2020 didapatkan jumlah sasaran

ibu hamil 476, cakupan kunjungan pertama ibu hamil (K1) 487 (100%), cakupan pelayanan

lengkap ibu hamil (K4) 480 (100%). Data menunjukan K1 dan K4 di Puskesmas kombos

pada tahun 2020 K1 memenuhi target nasional yaitu 100% dan K4 sudah memenuhi target

nasional yaitu 95%. Jumlah sasaran ibu bersalin 444 dengan cakupan persalinan tenaga

kesehatan (Pn) 470 (100%) artinya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan

(Pn) di Puskesmas kombos tahun 2020 memenuhi target nasional yaitu 90%.

Jumlah sasaran bayi baru lahir (BBL) 470, cakupan kunjungan pertama neonatus (KN1)

yaitu pada 6-48 jam sejak kelahiran sebesar 470 (100%), cakupan kunjungan lengkap

3
neonatus (KN3) yaitu pada 8-28 hari sejak kelahiran sebesar 458 (97,4%) memenuhi target

nasional 90%. Jumlah sasaran ibu nifas 470 dengan cakupan kunjungan nifas yang mendapat

pelayanan kesehatan (KF) KF1 (6 jam- 2 hari pasca persalinan), KF2 ( 3 -7 hari pasca

persalianan) dan KF3 (8-28 hari pasca persalinan) yaitu 470 (100%) memenuhi target

nasional yaitu 90%. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) tahun 2020 yaitu 6,076 dengan

jumlah peserta KB aktif 2,741 (45,1%), belum memenuhi target nasional yaitu 75%, dengan

penggunaan terbanyak yaitu alat kontrasepsi suntik 1,844 (67,3%) (Puskesmas Kombos.

2020).

Data tahun 2021 didapatkan jumlah sasaran ibu hamil 435, cakupan kunjungan pertama

ibu hamil (K1) 472 (100%), cakupan pelayanan lengkap ibu hamil (K4) 464 (100%). Data

menunjukan K1 dan K4 di Puskesmas Kombos pada tahun 2021 K1 memenuhi target

nasional yaitu 100% dan K4 memenuhi target nasional yaitu 95%. Jumlah sasaran ibu

bersalin 423 dengan cakupan persalinan tenaga kesehatan (Pn) 443 (100%) artinya cakupan

persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Pn) di Puskesmas kombos tahun 2021

memenuhi target nasional yaitu 90%.

Jumlah sasaran bayi baru lahir (BBL) 470, cakupan kunjungan pertama neonatus (KN1)

470 (100%), cakupan kunjungan lengkap neonatus (KN3) 458 (97,4%) memenuhi target

nasional 90%. Jumlah sasaran ibu nifas 470 dengan cakupan kunjungan nifas yang mendapat

pelayanan kesehatan (KF) KF1, KF2 dan KF3 yaitu 470 (100%) memenuhi target nasional

yaitu 90%. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) tahun 2021 yaitu 4,891 dengan jumlah

peserta KB aktif 2,935 (60,0%), belum memenuhi target nasional yaitu 75%, , dengan

penggunaan terbanyak yaitu alat kontrasepsi suntik 2.143 (73 %) (Puskesmas kombos.

2021).Berdasarkan data PWS KIA Puskesmas Kombos Tahun 2020 dan 2021,yang menjadi

masalah yang terdapat di puskesmas Kombos yaitu cakupan peserta KB aktif belum

mencapai target nasional 75%

4
Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dapat di tangani dengan Melaksanakan

program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dalam rangka

peningkatan peran aktif suami, keluarga atau masyarakat dalam merencanakan persalinan

yang aman dan deteksi dini serta persalinan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil yang

memerlukan tindakan segera dan perlunya rujukan sehingga dapat dicapai derajat kesehatan

yang tinggi pada ibu dan bayi serta berkontribusi menurunkan AKI.

Berdasarkan hasil penelitian Harahap Hasanah (2019) di Desa Taraha Kecamatan

Mandrehe Utara Kabupaten Nias Barat, banyak Pasangan Usia Subur (PUS) tidak

mengetahui bahwa keluarga berencana adalah untuk mengatur jumlah anak, jarak dan usia

melahirkan. Ini disebabkan karena kurang pengetahuan tentang kontrasepsi, budaya yang

dianut, serta dukungan suami. Dengan memberikan wawasan ke dalam konteks lokal terkait

pengetahuan, sikap, persepsi dan praktik keluarga berencana, dan perlindungan terhadap

kesehatan reproduksi perempuan, maka wanita dan pasangan akan mencari layanan keluarga

berencana.

Hasil penelitian Sujana,(2018) dengan judul “Peran Tenaga Kesehatan Dalam Usaha

Pencegahan Kesakitan dan Kematian Bayi Baru Lahir” dengan layanan bidan berfokus pada

bayi dan neonatal dengan resiko dan bidan sebagai pemberi pelayanan kesehatan primer

yang memiliki peran sangat penting dalam memastikan bahwa setiap neonatal harus

mengikuti program KN1 dan bidan juga melakukan beberapa inisiatif dalam strategi

menghadapi masalah dengan bantuan kader dalam memberdayakan masyarakat guna

menurunkan tingkat kematian bayi dan balita.

Upaya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi melalui 4 pilar upaya safe

motherhood yaitu Keluarga Berencana, Asuhan Antenatal, Persalinan Bersih dan Aman,

serta Pelayanan Obstetri Esensia (Ardayani, 2020). Upaya lain melalui P4K untuk deteksi

dini, menghindari resiko pada kehamilan, menyediakan Pelayanan Kegawatdaruratan Obstetri

dan Neonatal Komprehensif (PONEK) (Kemenkes, 2016).

5
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan Penelitian dengan judul :

Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N..A di Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil

Kota Manado”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah seperti

berikut : “Bagaimana penerapan Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N.A di

Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado ? ”

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :

1. Tujuan Umum

Menarapkan asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N.A di Puskesmas Kombos

Kecamatan Singkil Kota Manado.

2. Tujuan Khusus meliputi :

a. Melakukan asuhan kebidanan dan dokumentasi selama kehamilan pada Ny.N.A di

Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado.

b. Melakukan asuhan kebidanan dan dokumentasi selama persalinan pada Ny. N.A di

Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado.

c. Melakukan asuhan dan dokumentasi bayi baru lahir Ny. N.A di Puskesmas Kombos

Kecamatan Singkil Kota Manado.

d. Melakukan asuhan kebidanan dan dokumentasi selama nifas pada Ny. N.A di Puskesmas

Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado.

e. Melakukan asuhan dan dokumentasi Keluarga Berencana pada Ny. N.A di Puskesmas

Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado.

6
D. Manfaat Penenlitian
1. Manfaat Teoritis

Dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari pembelajaran untuk mengembangkan

pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian asuhan Kebidanan yang Kompherensif

2 .Manfaat Praktis

a. Bagi institusi Pendidikan

Sebagai masukan untuk dijadikan bahan bacaan di perpustakaan dan dapat

mengembangkan Laporan Tugas Akhir ini lebih lanjut

b. Bagi tempat penelitian

Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan pada umumnya

dan khususnya dalam penerapan asuhan kebidanan komprehensif.

c. Bagi responden

Hasil ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman serta perubahan

sikap dan perilaku responden dalam menjalani Asuhan Kebidanan saat hamil,

bersalin, bayi baru lahir, nifas dan KB yang sehat dan aman.

d. Bagi Peneliti

Hasil ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang mendalam mengenai

kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana sehingga peneliti

mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dimasa mendatang.

7
9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR

1. Kehamilan
a. Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterine mulai

sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan. Lamanya kehamilan mulai

dari ovulasi sampai partus kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300

hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan).

Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan post matur. Kehamilan antara

28 dan 36 minggu disebut kehamilan premature (Miftahul, 2019).

b. Tanda dan Gejala Kehamilan

1) Tanda-tanda dugaan kehamilan

a) Amenorrhea (tidak dapat haid)

b) Mual dan muntah (nusea dan vomiting)

c) Mengidam (ingin makan/minuman tertentu)

d) Tidak tahan suatu bau-bauan

e) Pingsan

f) Tidak ada selera makan (anoreksia)

g) Lelah

h) Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri yang disebabkan pengaruh

estrogen yang merangsang duktus dan alveoli payudara kelenjar Montgomery

terlihat lebih membesar

i) Sering kencing

j) Konstipasi/obstipasi

k) Pigmentasi kulit
10

l) Epulis (hipertrofi dan papil gusi)

m) Pemekaran vena-vena (varises)

2) Tanda pasti hamil (tanda positif)

Tanda pasti kehamilan terdiri atas:

a) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasakan atau diraba gerakan janin pada

primigravida dapat dirasakan oleh ibunya pada kehamilan 18 minggu,

sedangkan pada multigravida pada 16 minggu.

b) Denyut jantung janin:

(1) Didengar dengan stetoskop monoral leanec

(2) Dicatat dan didengar dengan dopler

(3) Dicatat dengan feto-elektro kardiogram (pada kehamilan 12 minggu)

(4) Dilihat pada ultrasonografi

Dengan USG, akan dapat terlihat gambaran janin yang berupa ukuran

kantong janin, panjangnya janin dan diameter biparentalis hingga dapat di

perkirakan tuanya kehamilan.

c. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil

Kebutuhan dasar ibu hamil menurut Dartiwen & Nurhayati (2019) sebagai berikut:

1) Kebutuhan ibu hamil

a) Oksigen

Hal ini yang diperlukan ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan oksigen yaitu:

(1) Latihan nafas senam hamil

(2) Tidur dengan bantal yang lebih tinggi

(3) Makan tidak terlalu banyak

(4) Kurangi atau hentikan merokok

(5) Konsultasi ke dokter bila ada gangguan pernapasan seperti asma dan lain-

lain
11

b) Nutrisi dalam kehamilan

Gisi pada waktu hamil harus ditinggikan sehingga 300 kalori perhari ibu hamil

seharusnya mengkonsumsi makanan yang mengandung protein dan zat besi

serta cukup cairan (menu seimbang).

(1) Kalori

Kebutuhan kalori untuk orang tidak hamil di Indonesia adalah 2000 Kkal

sedangkan hamil dan menyusui masing-masing adalah 2300 dan 2800

Kkal, kalori dipergunakan untuk produksi energi.

(2) Protein

Protein sangat dibutuhkan untuk perkembangan buah kehamilan yaitu

untuk pertumbuhan janin uterus plasenta selain itu untuk ibu penting untuk

pertumbuhn payudara dan kenaikan sirkulasi ibu (protein plasma

hemoglobin), bagi wanita tidak hamil konsumsi protein yang ideal adalah

0,9 gr/kg BB/hari tetapi selama kehamilan dibutuhkan tambahan protein

yang dianjurkan adalah protein hewani seperti daging, susu, telur, keju,

dan ikan karena mengandung komposisi asam amino yang lengkap. Susu

dan produk susu disamping sebagai sumber protein adalah juga kaya

dengan kalsium.

(3) Mineral

Mineral dapat terpenuhi dengan makan makanan sehari-hari yaitu buah-

buahan, sayur-sayuran dan susu hanya zat besi pada pertengahan kedua

kehamilan kira-kira 17 mg/hari, dibutuhkan suplemen besi 30 mg sebagai

ferosus, ferofumarat atau feroglukonat perhari dan pada kehamilan kembar

atau pada wanita yang sedikit anemik, dibutuhkan 60-100 mg/hari.

Kebutuhan kalsium umumnya terpenuhi dengan minum susu suplemen

kalsium yang dapat dikonsumsi dengan dosis 1 gram per hari. Pada
12

umumnya dokter selalu memberi suplemen dan vitamin untuk mencegah

kemungkinan terjadinya defisiensi.

(4) Vitamin

Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makan sayur dan buah-buahan

tetapi dapat pula diberikan ekstra vitamin pemberian asam folat terbukti

mencegah kecacatan pada bayi.

c) Personal Hygiene

Kebersihan harus dijaga pada masa kehamilan, mandi dianjurkan

sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk mengeluarkan

banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama pada bagian lipatan kulit

(ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dengan

air lalu dikeringkan. Kebersihan gigi dan mulut perlu mendapat perhatian

karena seringkali mudah terjadi gigi berlubang terutama pada ibu yang

kekurangan kalsium, rasa mual selama masa hamil dapat memperburuk

hygiene mulut dan dapat menimbulkan karies gigi.

d) Pakaian selama kehamilan

Baju hendaknya yang longgar dan mudah dipakai serta bahan yang mudah

menyerap keringat, ada dua hal yang harus diperhatikan serta dihindari, yaitu:

(1) Sabuk dan stoking yang terlalu ketat karena akan menghambat aliran

peredaran darah

(2) Sepatu dan hak yang tinggi akan menambah lordosis sehingga akan

menambah sakit pinggang, payudara perlu ditopang dengan BH yang

memadai untuk mengurangi rasa tidak nyaman

e) Eliminasi BAB

Masalah buang air kecil tidak mengalami kesulitan, bahkan cukup lancar

dengan kehamilan, terjadi perubahan hormonal, sehingga daerah kelamin


13

menjadi lebih basah. Situasi basah ini, menyebabkan jamur (trikomonas)

tumbuh sehingga wanita hamil mengeluh gatal dan mengeluarkan keputihan,

rasa gatal sangat mengganggu sehingga sering di garuk saat berkemih terdapat

residu (sisa) yang memudahkan infeksi kandung kemih untuk melancarkan

dan mengurangi infeksi kandung kemih dengan minuman air yang cukup dan

menjaga kebersihan sekitar alat kelamin, dianjurkan minum 8-12 gelas cairan

setiap hari, ibu hamil harus cukup minum agar produksi air kemihnya cukup

dan jangan sengaja mengurangi minum untuk menjarangkan berkemih apabila

rasa ingin berkemih muncul jangan diabaikan, menahan berkemih akan

membuat bakteri di dalam kandung kemih berlipat ganda. Bakteri biasa masuk

sewaktu melakukan hubungan seksual dan minum banyak air untuk

meningkatkan kandung kemih.

f) Seksual

Selama kehamilan berjalan normal, koitus diperbolehkan sampai akhir

kehamilan, meskipun beberapa ahli berpendapat sebaiknya tidak lagi

berhubungan seks selama 14 hari menjelang kelahiran. Koitus tidak

dibenarkan apabila:

(1) Terdapat perdarahan pervagina

(2) Terdapat riwayat abortus berulang

(3) Abortus atau partus iminies

(4) Ketuban pecah

(5) Serviks telah membuka

Pada saat organisme dapat dibuktikan dengan adanya fetal bradycardia karena

kontraksi uterus dan para peneliti berpendapat wanita yang melakukan

hubungan seks dengan aktif menunjukkan insidensi fetal distress yang lebih

tinggi, pria yang menikmati kunikulus (stimulasi oral genetalia wanita)


14

biasanya kehilangan gairahnya ketika mendapati bahwa secret vagina

bertambah dan mengeluarkan bau berlebih selama masa hamil, pasangan yang

melakukan kunikulus harus berhati-hati untuk tidak meniupkan udara ke dalam

vagina. Pernah dilaporkan adanya satu kasus kematian yang disebabkan

karena emboli udara gara-garau meniup udara melalui vagina selagi

melakukan kunikulus, apabila sedikit terbuka (karena sudah mendekati

aterem), ada kemungkinan udara akan terdesak diantara ketuban dan dinding

rahim.

g) Mobilisasi dan Body Mekanik

Ibu hamil melakukan kegiatan atau aktifitas fisik biasa selama tidak terlalu

melelahkan, ibu hamil dapat melakukan pekerjaan seperti menyapu, mengepel,

masak dan mengajar semua pekerjaan tersebut harus sesuai dengan

kemampuan wanita tersebut dan mempunyai cukup waktu untuk istirahat.

Secara anatomi ligamen sendi putar dapat meningkatkan pelebaran atau

pembesaran rahim pada ruang abdomen karena adanya pembesaran rahim.

Nyeri pada ligament merupakan suatu ketidaknyamanan pada ibu hamil maka

dari itu berikut merupakan sikap tubuh yang perlu diperhatikan oleh ibu hamil:

(1) Duduk, tempatkan tangan di lutut dan tarik tubuh ke posisi tegak atau dagu

dan tarik bagian atas kepala seperti ketika berdiri.

(2) Berdiri, sikap berdiri yang benar sangat membantu sewaktu hamil, disaat

berat janin semakin bertambah, jangan berdiri untuk jangka waktu yang

lama.

(3) Berjalan, ibu hamil penting untuk tidak memakai sepatu berhak tinggi atau

tanpa hak. Hindari juga sepatu bertumit runcing karena mudah kehilangan

keseimbangan.
15

(4) Tidur, ibu hamil boleh tidur tengkurap, kalau sudah terbiasa, namun

tekuklah sebelah kaki dan pakailah guling supaya ada ruang bagi bayi

anda. Posisi miring juga menyenangkan, namun jangan lupa memakai

guling untuk menopang berat rahim. Sebaliknya setelah usia kehamilan 6

bulan, hindari tidur terlentang karena tekanan rahim pada pembuluh darah

utama dapat menyebabkan pingsan.

(5) Bangun dari berbaring, untuk bangun dari tempat tidur geser dulu tubuh

ibu ketepi tempat tidur kemudian tekuk lutut. Angkat tubuh ibu perlahan

dengan kedua tangan, putar tubuh lalu perlahan turunkan kaki ibu.

Diamlah dulu dalam posisi duduk beberapa saat sebelum berdiri.

h) Membungkuk, terlebih dahulu menekuk lutut dan gunakan otot kaki untuk

tegak kembali.

i) Exercise atau senam hamil

Ibu hamil perlu menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara berjalan-jalan di

pagi hari, renang, olahraga ringan dan senam hamil.

(1) Berjalan-jalan di pagi hari

Jalan-jalan saat hamil terutama pagi hari mempunyai arti penting untuk

dapat menghirup udarah pagi yang bersih dan segar, dapat mempercepat

turunnya kepala bayi kedalam posisi optimal dan normal, dan

mempersiapkan mental menghadapi persalinan. Agar latihan fisik ibu

hamil tidak menimbulkan masalah sebaiknya:

(a) Konsultasilah dengan tenaga kesehatan mengenai latihan fisik yang

ingin dilakukan selama masa kehamilan.

(b) Cari bantuan untuk menentukan latihan fisik rutin, yang sesuai dengan

kemampuan terutama jika ada anda tidak melakukan latihan fisik

secara teratur sebelumnya.


16

(c) Hindari aktifitas dan latihan beresiko dan membutuhkan kekuatan

seperti berselancar ataupun mendaki gunung. Hindari aktifitas yang

membutuhkan menahan napas. Gerakan melompat sebaiknya juga

dihindar.

(d) Berlatih secara teratur, sekurang-kurangnya tiga kali seminggu selama

anda sehat, untuk meningkatkan tonus otot dan meningkatkan atau

mempertahankan stamina anda.

(e) Batasi waktu aktifitas dan kurangi tingkat latihan. Latihan selama 10

sampai 15 menit. Latihan berat untuk waktu yang lama dapat

menimbulkan stress fisiologis.

(f) Hitung denyut nadi setiap 10 menit sampai 15 menit sewaktu latihan

fisik, apabila denyut nadi melampaui 40 kali/menit kurangi intensitas

latihan sampai denyut nadi mencapai 90 kali/menit.

(g) Hindari lingkungan yang terlalu panas dan berendam dalam air panas

atau sauna. Sebaiknya anda tidak melakukan latihan lebih dari 35

menit, terutama dalam kondisi udara panas dan lembab. Seiring

peningkatan suhu, panas akan ditransmisi ke janin. Peningkatan suhu

janin untuk waktu yang lama atau berulang dapat menimbulkan efek

kelahiran terutama selama tiga bulan pertama. Suhu tubuh anda tidak

boleh melampaui 38℃

(h) Periode pendinginan setelah latihan dengan melakukan aktifitas ringan

yang melibatkan tungkai bawah dapat membuat pernafasan, denyut

jantung dan tingkat metabolism tubuh kembali normal serta

menghindari akumulasi darah di otot-otot yang banyak bekerja dalam

latihan tersebut.
17

(i) Istirahat selama 10 menit setelah melakukan latihan, berbaring dan

miring kiri. Peningkatan ukuran rahim akan menekan ukuran vena

besar disisi kanan perut yang membawa darah kembali ke jantung. Saat

bangun dari posisi berbaring lakukan secara bertahap agar tidak merasa

pusing atau pingsan (hipotensi ortostatik)

(j) Minum 2 atau 3 gelas air setelah melakukan fisik untuk mengganti

cairan yang hilang di tubuh lewat system ekskresi

(k) Tambah asupan kalori untuk mengganti kalori yang terbakar saat

latihan dan untuk menyediakan energy tambahan yang dibutuhkan

pada masa kehamilan

(l) Bersantai, ini bukan saatnya melakukan aktifitas yang membutuhkan

ketahanan fisik yang lama

(m)Kenakan sepatu penopang, karena uterus bertambah besar, pusat berat

bergeser. Perubahan normal ini bisa membuat ibu hamil kehiangan

keseimbangan dan mudah jatuh. Ibu hamil dapat menyeimbangkan

dengan melengkungkan punggung kea rah belakang.

(n) Segera berhenti berlatih dan kunjungi tenaga kesehatan jika mengalami

sesak nafas, pusing, nyeri kontraksi lebih dari empat kali dalam satu

jam, aktifitas janin berkurang atau terjadi perdarahan pervagina.

j) Senam Hamil

Senam hamil dimulai pada umur kehamilan setelah 22 minggu, senam hamil

bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot-otot sehingga dapat

berfungsi secara optimal dalam persalinan normal serta mengimbangi

perubahan titik berat tubuh, senam hamil ditunjukkan bagi ibu hamil tanpa

kelainan atau tidak terdapat penyakit yang menyertai kehamilan yaitu penyakit

jantung, ginjal, dan penyulit dalam kehamilan (hamil dengan perdarahan


18

kelainan letak dan kehamilan yang disertai dengan anemia). Adapun beberapa

syarat senam hamil:

(1) Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh dokter atau

bidan

(2) Latihan dilakukan setelah kehamilan 22 minggu

(3) Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin

(4) Sebaiknya latihan dilakukan di rumah sakit atau klinik bersalin dibawah

pimpinan instruktur senam hamil.

k) Istirahat/tidur

Jadwal istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani

dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin, tidur

pada malam hari selama kurang lebih 8 jam dan istirahat dalam keadaan rileks

pada siang hari selama 1 jam. Ibu hamil harus menghindari posisi duduk dan

berdiri dengan menggunakan kedua ibu jari yang dilakukan 2 kali sehari

selama 5 menit.

l) Imunisasi

Vaksinasi terhadap tetanus (TT) di Indonesia diberikan 2 kali sebaiknya

setelah bulan ketiga dengan jarak sekurang-kurangnya 4 minggu. Vaksinasi

kedua sebaiknya kurang dari 1 bulan sebelum anak lahir agar serum anti

tetanus mencapai kadar optimal.


19

Tabel 2. 1 Imunisasi TT

Antigen Interval Masa Dosis


Perlindungan
TT1 Pada kunjungan - 0,5 cc
antenatal pertama 3 tahun 0,5 cc
5 tahun 0,5 cc
TT2 4 minggu setelah
TT1
TT3 6 bulan setelah
TT2
TT4 1 tahun setelah 10 tahun 0,5 cc
TT3
TT5 1 tahun setelah 25 tahun seumur 0,5 cc
TT4 hidup

(Dartiwen & Nurhayati Y, 2019)

m) Travelling

Bila berpergian jauh ibu hamil harus beristirahat, sambal duduk ibu hamil

dapat melakukan latihan nafas serta memutar-mutar kaki dan secara

bergantian mengencangkan dan melemaskan otot di bagian tubuh yang

berlainan. Ibu hamil perlu menghindari keletihan dengan cara berjalan teratur

guna melancarkan sirkulasi darah dan vena, jika waktu terbatas pilih

alternative lain dalam berjalan.

d. Perubahan-perubahan pada ibu hamil

1) Trimester Pertama

Segala setelah terjadi peningkatan hormone estrogen dan progesterone dalam

tubuh, maka akan muncul berbagai macam ketidaknyamanan secara fisiologis

pada ibu misalnya mual dan muntah keletihan dan pembesaran payudara.

2) Trimester Kedua

Trimester kedua misalnya ibu merasa sehat dan sudah terbiasa dengan kadar

hormon yang tinggi. Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan kehadiran

bayinya sebagai seseorang diluar dirinya dan dirinya sendiri.


20

3) Trimester Ketiga

a) Sakit punggung yang disebabkan karena meningkatnya beban berat yang ibu

bawa yaitu dalam kandungan

b) Pernapasan, pada kehamilan 33-36 minggu banyak ibu hamil yang susah

bernafas, ini karena tekanan bayi yang berada dibawah diafragma sehinggan

menekan paru-paru ibu

c) Sering buang air kecil, pembesaran rahim dan penurunan bayi ke PAP

membuat tekanan pada kandung kemih ibu.

d) Kontraksi perut, Braxton-hiks kontraksi palsu berupa rasa sakit yang ringan,

tidak teratur dan kadang hilang bila duduk atau istirahat.

e. Tanda Bahaya Dalam Kehamilan

Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan adanya

bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan periode antenatal. Yang apabila tidak

dilaporka atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu.

Tanda bahaya kehamilan selama periode antenatal (Dartiwern & Nurhayati, 2019):

1) Perdarahan pervaginam

2) Sakit kepala yang hebat

3) Masalah penglihatan

4) Bengkak pada muka dan tangan

5) Nyeri abdomen yang hebat

6) Bayi kurang bergerak seperti biasa

f. Asuhan kehamilan/antenatal care

Asuhan antenatal care terbagi atas dua yaitu kunjungn awal kehamilan dan

kunjungan ulang, kunjungan awal kehamilan adalah kunjungan yang dilakukan oleh

ibu hamil ke tempat bidan pada trimester pertama, yaitu minggu pertama kehamilan
21

hingga minggu ke-12 dan kunjungan ulang adalah kunjungan selama hamil yang

dilakukan setelah kunjungan kehamilan pertama sampai memasuki masa akhir

kehamilan atau menjelang persalinan (Dartiwen & Nurhayati, 2019)

1) Tujuan ANC

Tujuan ANC menurut (Dartiwen & Nurhayati, 2019) meliputi:

(a) Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan

memberikan pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses kelahiran bayi.

(b) Mendeteksi dan menatalaksanaan komplikasi medis, bedah ataupun obstetric

selama kehamilan

(c) Mengembangkan persiapan persalinan serta rencana kesiapan menghadapi

komplikasi

(d) Mempersiapkan kelahiran bayi dan kemungkinan kegawatdaruratan

(e) Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan baik, menjalankan

puerperium normal, dan merawat anak secara fisik psikologi dan social

(f) Memeriksa fisik secara terfokus

2) Jadwal pemeriksaan antenatal

Jadwal pemeriksaan antenatal menurut Dartiwen & Nurhayati (2019) adalah

sebagai berikut:

(a) Pemeriksaan pertama

Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid.

(b) Pemeriksaan ulang

Setiap bulan sampai umur kehamilan 6-7 bulan setiap 2 minggu sampai

kehamilan berumur 8 bulan setiap 1 minggu sejak umur kehamilan 8 bulan

sampai terjadi persalinan


22

3) Frekuensi pelayanan antenatal

Frekuensi pelayanan antenatal menurut Dartiwen & Nurhayati (2019). Ditetapkan

4 kali kunjungan ibu hamil dalam pelayanan antenatal selama kehamilan dengan

ketentuan sebagai berikut:

Satu kali pada trimester pertama (K1)

Satu kali pada trimester kedua (K2)

Dua kali pada trimester ketiga (K3)

4) Pelayanan Asuhan Standar Antenatal

Pelayanan ANC minimal 5T, meningkat menjadi 7T, dan sekarang menjadi 12T.

Sedangkan untuk daerah gondok dan endemic malaria menjadi 14T, yakni:

(a) Timbang berat badan tinggi badan

Tinggi badan ibu dikategorikan adanya risiko apabila hasil pengukuran ≤145

cm. Peningkatan berat badan optimal untuk rata-rata kehamilan adalah 12,5

kg, 9 kg diperoleh pada 20 minggu terakhir.

(b) Tekanan darah

Diukur setiap kali ibu datang atau berkunjung. Tekanan darah normal adalah

berkisar systole/diastole: 110/80 mmHg

(c) Pengukuran tinggi fundus uteri

Menggunakan pita sentimeter, letakkan dititik nol pada tepi atas sympisis dan

rentangkan sampai fundus (fundus tidak boleh di tekan).


23

Tabel 2. 2 Tinggi Fundus Uterus Sesuai Dengan Umur Kehamilan

No Tinggi Fundus Uteri (cm) Umur Kehamilan Dalam


Hitungan Minggu
1 12 cm 12
2 16 cm 16
3 24 cm 20
4 28 cm 24
5 32 cm 28
6 36 cm 32
7 36 cm 36
8 40 cm 40

(Dartiwen & Nurhayati, 2019)

(d) Pemberian Tablet Tambah Darah

Untuk memenuhi kebutuhan volume darah pada ibu hamil dan nifas, karena

masa kehamilan kebutuhan meningkat sering dengan pertumbuhan janin,

minimal 90 tablet yang dikonsumsi.

(e) Pemberian imunisasi TT

Untuk melindungi dan tetanus neonatrum efek samping TT yaitu nyeri,

kemerah-merahan dan bengkak untuk 1-2 hari pada tempat penyuntikan.

(f) Pemeriksaan Hb

Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu hamil yang pertama kali lalu

diperiksa lagi menjelang persalinan pemeriksaan Hb adalah salah satu upaya

untuk mendeteksi anemia pada ibu hamil.

(g) Pemeriksaan protein urin

Untuk mengetahui adanya protein urin ibu hamil. Protein urin ini untuk

mendeteksi ibu hamil kea rah preeklamsi.

(h) Pengambilan darah untuk pemeriksaan veneral disease research laboratory

Pemeriksaan VDRL untuk mengetahui adanya treponema pallidum/penyakit

menular seksual, antara lain syphilish.


24

(i) Pemeriksaan urin reduksi

Dilakukan pemeriksaan urin reduksi hanya kepada ibu dengan indikasi

penyakit gula pada keluarga dan suami.

(j) Perawatan payudara

Manfaat perawatan payudara adalah untuk:

(1) Menjaga kebersihan payudara

(2) Mengencangkan serta memperbaiki bentuk putting susu (putting susu

terbenam)

(3) Merangsang kelenjar-kelenjar susu sehingga produksi ASI lancar

(4) Perawatan payudara dilakukan dalam 2 kali sehari sebelum mandi dan

mulai pada kehamilan 6 bulan

(k) Senam ibu hamil

Bermanfaat membantu ibu dalam persalinan dan mempercepat pemulihan

setelah melahirkan serta mencegah sembelit

(l) Pemberian obat malaria

Pemberian obat malaria diberikan khusus pada wanita hamil di daerah

endemik malaria atau kepada ibu dengan gejala khas malaria yaitu panas

tinggi disertai menggigil.

(m)Memberikan kapsul minyak beryodium

Kekurangan yodium dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dimana tanah

dan air tidak mengandung unsur yodium sehingga dapat mengakibatkan

gondok dan kretin yang ditandai dengan:

(1) Gangguan fungsi mental

(2) Gangguan fungsi pendengaran

(3) Gangguan pertumbuhan


25

(4) Gangguan kadar hormone yang rendah

(n) Temu wicara

(1) Definisi konseling

Merupakan suatu wawancara (tatap muka) untuk menolong orang lain

memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai dirinya dalam usaha

untuk memahami dan mengatasi permasalahan yang dihadapi.

(2) Prinsip-prinsip konseling

Ada lima prinsip pendekatan kemanusiaan yaitu:

(a) Membantu ibu hamil memahami kehamilannya

(b) Membantu ibu hamil untuk menemukan kebutuhan asuhan kehamilan,

penolong persalinan yang bersih dan aman

2. Persalinan
a. Pengertian persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup

bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang

berlangsung selama 18 jam produk konsepsi dikeluarkan sebagai akibat kontraksi

teratur, progresif, sering dan kuat yang nampaknya tidak saling berhubungan bekerja

dalam keharmonisan untuk melahirkan bayi (Walyani & Puruwoastuti, 2019)

b. Faktor yang mempengaruhi persalinan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi persalinan menurut Walyani &

Purwoastuti (2019) yaitu power (tenaga mengejan), passenger (janin dan plasenta),

passage (keadaan janin).

1) Power (tenaga mengejan)

(a) Kekuatan primer adalah titik pemicu dalam membuat serviks menipis

sehingga janin dapat turun

(b) Kekuatan sekunder adalah usaha mendorong janin kebawah PAP


26

(c) His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan

(1) His palsu tidak memiliki pengaruh pada serviks

(2) His persalinan meliputi his permulaan atau pembukaan serviks, his

pengeluaran, dan his pelepasan uru

2) Passage (keadaan jalan lahir)

(a) Bagian keras panggul

Bagian keras panggul terdiri atas tulang pangkal paha atau Os coxae yang

terdiri atas:

(1) Os ilwum (tulang usus)

(2) Os iskium (tulang duduk)

(3) Os pubis (tulang kemaluan)

(4) Os sacrum (tulang kelangkang)

(b) Bagian lunak panggul

Bagian lunak panggul terdiri atas:

(1) Bagian otot

(2) Bagian ligamen

(c) Ukuran panggul

(1) Ukuran panggul luar

(a) Distanisa Kristarium : 28-30 cm

(b) Distanisa Spinarum : 24-26 cm

(c) Konjugata Ekstena : 18-29 cm

(d) Lingkaran Panggul : 80-90 cm

(2) Ukuran panggul dalam

(a) Konjugata diagonalis : 12,5 cm

(b) Konjugata vera : 11 cm

(c) Konjugata tranvesa : 12-13 cm


27

(d) Konjugata : 13 cm

3) Passenger (janin dan plasenta)

Bergeraknya janin disepanjang jalan akibat beberapa faktor passenger yaitu:

a) Ukuran kepala janin

b) Presentasi janin

c) Letak janin

d) Sikap janin

e) Posisi janin

c. Tahapan persalinan

Menurut Sri Rahayu, (2017) tahap persalinan dibagi menjadi empat fase yaitu:

1) Kala I

Kala I disebut juga dengan kala pembukaan yang berupa pembukaan lengkap (10

cm). Proses pembukaan serfiks sebagai akibat his dibagi menjadi 2 fase, yaitu:

(a) Fase laten

Berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambar sampai mencapai

ukuran diameter 3 cm

(b) Fase aktif, dibagi selama 3 fase, yaitu:

(1) Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm

(2) Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat

cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm

(3) Fase deselarasi, pembukaan menjadi lambat sekali. Dalam waktu 2 jam

pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap

2) Kala II

Kala II disebut juga dengan kala pengeluaran, kala ini dimulai dari pembukaan

lengkap (10 cm) sampai bayi lahir, proses ini berlangsung 2 jam pada

primigravida dan 1 jam pada multigravida.


28

3) Kala III

Setelah kala II kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Kala III

dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak

lebih dari 30 menit maka harus diberi penanganan yang lebih lanjut.

4) Kala IV

Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum

paling sering terjadi pada 2 jam pertama observasi yang dilakukan adalah:

(a) Tingkat perdarahan penderita

(b) Pemeriksaan tanda-tanda vital, tekanan darah nadi dan pernafasan

(c) Kontraksi uterus

(d) Terjadi perdarahan

d. Partograf

Partograf adalah alat untuk mencatat hasil observasi dan pemeriksaan fisik ibu

dalam proses persalinan serta merupakan alat utama dalam mengambil keputusan

klinis khususnya pada persalinan kala I (Walyani & Purwoastuti, 2019).

Cara pengisian halaman depan partograf

1) Informasi tentang ibu

Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat memulai asuhan

(tertulis sebagai: jam pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu datang

dalam fase laten persalinan.

2) Kesehatan dan kenyamanan

(a) Denyut jantung janin

Nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika

ada tanda-tanda gawat janin), setiap kotak dibagian atas partograf

menunjukkan DJJ catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis sesuai
29

dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang satu

dengan titik yang lain dengan garis tidak terputus.

(b) Warna dan adanya air ketuban

Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam warna air ketuban

jika selaput ketuban pecah, catat temuan dalam kotak yang sesuai dibawah

lajur DJJ.

Gunakan lambang sebagai berikut

U : ketuban utuh (belum pecah)

J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium

D : ketuban sudah pecah dan bercampur darah

K : ketuban sudah pecah tapi ketuban tidak mengalir lagi (kering)

(c) Molase (penyusupan kepala janin)

Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat

menyesuaikan diri terhadap bagian kersa (tulang) panggul ini setiap kali

melakukan pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin, catat temuan di

kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban. Gunakan lambing-lambang

berikut:

O : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura sagitalis dengan mudah dilapisi

1 : tulang-tulang kepala janin saling bersentuhan

2 : tulang kepala janin saling tumpeng tindih tapi masih dapat dipisahkan

3 : tulang kepala janin tumpeng tindih dan tidak dapat dipisahkan

3) Kemajuan persalinan

Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk mencatat kemajuan persalinan

(a) Pembukaan serviks


30

Nilai dan catat kemajuan persalinan setiap 4 jam saat ibu berada di fase aktif

persalinan tanda X harus dicantumkan di garis waktu sesuai dengan lajur

bersama pembukaan serviks. Untuk pemeriksaan pertama fase aktif pada

persalinan, pembukaan serviks harus dicantumkan pada garis waspada

cantumkan pada tanda X pada angka yang sesuai dengan pembukaan serviks,

dan hubungan dengan garis utuh (tidak terputus).

(b) Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin

Dilakukan setiap kali pemeriksaan dalam (setiap 4 jam) tulis “turunnya

kepala” dan garis tidak terputus dari 0-5, tertera diisi yang sama dengan angka

pembukaan serviks. Sebagai contoh jika hasil pemeriksaan adalah 4/5 maka

tuliskan tanda “O” dari setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus.

(c) Garis waspada dan garis bertindak

Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik

dimana pembukaan 1 cm per jam, garis bertindak tertera sejajar dan disebelah

kanan (berjarak 4 jam) garis waspada jika pembukaan serviks telah melampaui

dan berada disebelah kanan garis bertindak maka hal ini menunjukkan perlu

dilakukan tindakan untuk menyelesaikan persalinan.

4) Jam dan waktu

Waktu mulainya fase aktif, setiap kotak dimulai satu jam sejak dimulainya fase

aktif. Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian saat ibu masuk dalam fase

aktif persalinan, cantumkan pembukaan serviks di garis waspada kemudian

catatkan waktu aktual ini dikotak waktu yang sesuai.

5) Kontraksi uterus

Setiap kotak menyatakan satu kontraksi setiap 30 menit raba dan catat jumlah

kontraksi dalam satuan detik, nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam 10
31

menit dengan cara kotak kontraksi yang tersedia dan disesuaikan dengan angka

yang mencerminka temuan dari hasil pemeriksaan kontraksi.

6) Kesehatan dan kenyamanan

Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan. Beri tanda

pada kolom dalam waktu yang sesuai. Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4

jam selama fase aktif persalinan.

7) Pencatatan pada lembar belakang partograf

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang

dilakukan sejak kala I hingga IV (termasuk bayi)


32

Gambar 2. 1 Partograf bagian depan


33

Gambar 2. 2 Partograf bagian belakang


34

e. Asuhan pada tahap persalinan

Menurut Walyani & Purwoastuti (2019), memberikan asuhan yang memadai

selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan yang bersih dan aman, dengan

memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi.

Kebijakan pelayanan asuhan persalinan:

1) Semua persalinan harus dihadiri dan dipantau oleh petugas kesehatan terlatih.

2) Rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai kegawatdaruratan

obstetric dan neonatal harus tersedia 24 jam.

3) Obat-obat esensial, bahan dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas

terlatih.

4) Rekomendasi kebijakan teknis asuhan persalinan dan kelahiran.

Asuhan sayang ibu dan sayang bayi harus dimasukkan sebagai bagian dari

persalinan bersih dan aman, termasuk hadirnya keluarga atau orang-orang yang

memberi dukungan bagi ibu.

(a) Partograf harus digunakan untuk memantau persalinan dan berfungsi sebagai

suatu catatan atau rekam medis untuk persalinan, selama persalinan normal,

intervensi hanya dilaksanakan jika benar-benar dibutuhkan. Prosedur ini hanya

dibutuhkan jika infeksi atau penyulit.

(b) Manajemen kala III, termasuk melakukan penjepitan tali pusat (TTP) dan

segera melakukan massase fundus, harus dilakukan pada semua persalinan

normal.

(c) Penolong persalinan harus tetap tinggal bersama ibu dan bayi setidak-tidaknya

2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu sudah dalam keadaan stabil.

Fundus harus diperiksa selama 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap 30

menit pada jam kedua.


35

(d) Massase fundus harus dilakukan sesuai kebutuhan untuk memastikan tonus

uterus tetap baik, perdarahan minimal dan pencegahan perdarahan.

(e) Selama 24 jam pertama setelah persalinan, fundus harus sering diperiksa dan

di massase sampai tonus baik. Ibu atau anggota keluarga dapat diajarkan

melakukan hal ini.

(f) Segera setelah lahir seluruh tubuh terutama kepala bayi harus segera diselimuti

dan bayi segera dijaga kehangatannya untuk mencegah terjadinya hipotermia.

(g) Obat-obatan essensial, bahan dan perlengkapan harus disediakan oleh petugas

dan keluarga.

f. Penatalaksanaan dalam proses persalinan

Asuhan persalinan normal menurut Walyani & Purwoastuti (2019) adalah:

1) Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua

2) Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan

ampul oksitosin dan memasukkan 1 buah alat suntik sekali pakai 3 cc ke dalam

wadah partus set.

3) Memakai celemek plastik.

4) Memastikan lengan/tangan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dengan

sabun di air mengalir.

5) Memakai sarunng tangan DTT pada tangan kanan yang digunakan untuk periksa

dalam.

6) Mengambil alat suntik sekali pakai dengan tangan kanan, isi dengan oksitosin dan

letakkan kembali kedalam wadah partus set. Bila ketuban belum pecah,

1
pinggirkan kocher pada partus set.
2
36

7) Membersihkan vulva dan perineum menggunakan kapas DTT (basah) dengan

gerakan dari vulva ke perineum (bila daerah perineum dan sekitarnya kotor karena

kotoran ibu yang keluar, bersihkan daerah tersebut dari kotoran).

8) Melakukan pemeriksaan dalam dan pastikan pembukaan sudah lengkap dan

selaput ketuban sudah pecah.

9) Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%,

membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan

klorin 0,5%.

10) Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai pastikan DJJ

dalam batas normal (120-160 x/menit).

11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu

untuk meneran saat ada his, bila ia sudah meras ingin meneran.

12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (pada saat

ada his, bantu ibu dalam posisi setelah duduk dan pastikan ia merasa nyaman).

13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk

meneran.

14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, letakkan handuk

bbersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.

15) Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.

16) Membuka partus set.

17) Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum

dengan satu tangan yang di lindungi kain 1/3, letakkan tangan yang lain di kepala

bayi dengan lakukan tekanan lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,

membiarkan kepala keluar dengan perlahan-lahan.


37

19) Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kassa

yang bersih.

20) Memeriksa lilitan tali pusat.

21) Menunggu kepala melakukan putaran paksi luar secara spontan.

22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan masing-

masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi

berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke arah luar hingga

bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik

ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior.

23) Setelah kedua bahu dilahirkan menelusuri tangan mulai dari kepala bayi yang

berada di bawah kearah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir

ketangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati

perineum, menggunakan lengan bagian bawah untuk menyanggah tubuh bayi saat

dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku

dan tangan anterior saat keduanya lahir.

24) Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusuri tangan yang ada di atas (anterior) dari

punggung kearah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung kaki lahir.

25) Melakukan penilaian selintas

(a) Apakah bayi menangis kuat dana tau bernapas tanpa kesulitan

(b) Apakah bayi bergerak aktif

26) Segera mengeringkan bayi dengan handuk biarkan kontak kulit ibu dan bayi.

Lakukan penyuntikan oksitosi/IM.

27) Menjepit tali pusat menggunakan klem ± 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan

pada tali pusat mulai dari klem kearah ibu dan memasang klem kedua ± 2 cm dari

klem pertama.
38

28) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari guntingan dan

memotong tali pusat diantara dua klem tersebut.

29) Mengeringkan bayi, mengganti kain yang basah dan menyelimuti bayi dengan

kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan

tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami kesulitan bernafas, ambil tindakan yang

sesuai.

30) Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya

dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.

31) Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen

memastikan adanya janin kedua.

32) Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik.

33) Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntik oksitosin 10 IU secara

IM di gluteus atau 1/3 paha kanan bagian luar ibu setelah mengaspirasinya

terlebih dahulu.

34) Memindahkan klem pada tali pusat.

35) Meletakkan tangan diatas kain yang ada di perut ibu tepat di atas tulang pubis dan

menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan

uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.

36) Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan kearah

bawah tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada

bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus kearah atas dan belakang (dorso

kranial) dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadinya inverio uteri. Jika

plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan

menunggu hingga kontraksi berikut dimulai.


39

37) Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambal menarik tali pusat

kearah bawah dan kemudian kearah atas, mengikuti kurva jalan lahir sambal

meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.

38) Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan

menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan kedua tangan dan

dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut

perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.

39) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan massase dengan

gerakan emlingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi

keras).

40) Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan

selaput ketuban untuk memastikan bahwa plasenta dan selaput ketuban lengkap

dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantong plastic atau tempat khusus.

41) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagin dan perineum, segera menjahit laserasi

yang mengalami perdarahan aktif.

42) Menilai ulang uterus dan memastikan berkontraksi dengan baik.

43) Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin

0,5%, membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air

disinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkannya dengan kain bersih dan kering.

44) Menempatkan klem tali pusat DTT/steril atau mengikatkan tali DTT dengan

simpul mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.

45) Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang bersebrangan dengan simpul

yang pertama.

46) Melepaskan klem bedah dan meletakkannya di dalam larutan klorin 0,5%.

47) Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya, memastikan handuk

atau kainnya bersih dan kering.


40

48) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.

49) Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam.

50) Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan massase uterus dan

memeriksa kontraksi uterus.

51) Mengevaluasi kehilangan darah.

52) Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit

selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedus

pascapersalinan.

53) Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk

didekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah

dekontaminasi.

54) Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang

sesuai.

55) Membersihkan ibu dengan menggunakan air desinfeksi tingkat tinggi.

Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian

yang bersih dan kering.

56) Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI dan

menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan.

57) Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan

klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.

58) Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% membalikkan

bagian dalam keluar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10

menit.

59) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

60) Melengkapi partograf.

Inisiasi Menyusui Dini (IMD)


41

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sebagai salah satu dari Evidence for the ten

steps to successful breastfeeding yang harus diketahui oleh setiap tenaga kesehatan.

Segera setelah dilahirkan, bayi diletakkan di dada atau perut atas ibu selama paling

sedikit satu jam untuk memberi kesempatan pada bayi untuk mencari dan menemukan

putting susu ibunya.

Manfaat IMD bagi bayi adalah membantu stabilisasi pernapasan menempatkan

suhu bayi tetap hangat. Menenangkan ibu dan bayi dengan tenaga yang dipakai bayi.

Kemungkinan bayi untuk mulai menyusu, mengatur tingkat kadar gula dalam

darah dan biokimia lain dalam tubuh bayi. Mempercepat keluarnya meconium

(kotoran bayi berawarna hijau agak kehitaman yang pertama keluar dari bayi karena

minum air ketuban). Bayi akan terlatih motoriknya saat menyusu sehingga

mengurangi kesulitan menyusu.

Membantu perkembangan persyaratan bayi (nervonus system). Memperoleh

kolostrum yang sangat bermanfaat bagi system kekebalan bayi. Mencegah

terlewatnya puncak reflex menghisap pada bayi yang terjadi 20-30 menit setelah lahir.

Jika bayi tidak disusui, reflex akan berkurang cepat, dan hanya akan muncul kembali

dalam kadar secukupnya 40 jam kemudian. Manfaat IMD bagi ibu meningkatkan

hubungan khusus ibu dengan bayi.

3. Bayi Baru Lahir


a. Pengertian Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang dilahirkan oada usia kehamilan 37-42

minggu dengan berat lahir 2500-4000 gram (Runjati, 2018).

b. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir

1) Pengkajian fisik pada bayi baru lahir

Pengakajian ini dilakukan di kamar bersalin setelah bayi lahir dan sesudah itu

dilakukan pembersihan jalan napas atau resusitasi serta pembersihan badan bayi
42

dan perawatan tali pusat. Bayi ditempatkan diatas tempat tidur yang hangat.

Tujuan dari pemeriksaan ini untuk mengenal atau menemukan kelainan yang perlu

mendapatkan tindakan segera dan kelainan yang berhubungan dengan kehamilan,

persalinan, dan kelahiran, misalnya: bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes

mellitus, eklamsia berat dan lain-lain, biasanya akan mengakibatkan kelainan

bawaan pada bayi.

(a) Pemeriksaan umum

Pengakuan antropometri meliputi, pemeriksaan berat badan dan panjang

badan, pengukuran lingkar kepala yang dalam keadaan normal berkisar 33-35

cm, lingkar dada 30,5-33 cm, panjang badan 45-50 cm.

(b) Pemeriksaan tanda-tanda vital

Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar 36,5-37,5 ℃ pada pengukuran

diaxila, nadi bayi normal antara 120-140 x/menit, pernafasan 30-60 x/menit.

(c) Menilai skor APGAR

Menurut Walyani & Purwoastuti (2019), APGAR diambil dari nama belakang

penemunya yaitu Virginia Apgar, seorang ahli anak sekaligus ahli anestesi.

Skor ini dipublikasikan pada tahun 1952. Pada tahun 1962, seorang ahli anak

bernama Dr. Joseph Butterfield membuat akronomi dari kata APGAR yaitu

Appearance (warna kulit), Pulse (denyut jantung), Grimace (respon reflex),

Activity (tonus otot), Respiration (pernapasan). Evaluasi ini digunakan mulai 5

menit pertama sampi 10 menit. Hasil pengamatan masing-masing aspek

dituliskan dalam skala skor 0-2.


43

Table 2. 3 Apgar score


Tanda 0 1 2
Appearance Blue (seluruh Body Pink Limbs All pink (seluruh
(warna kulit) tubuh biru atau (tubuhan tubuh
pucat) kemerahan kemerahan)
ekstermitas biru)
Pulse (denyut Absent (tidak <100 >100
jantung) ada)
Grimace None (sedikit Grimace (sedikit Cry (relaksi
(refleks) bereaksi) gerakan) melawan,
menangis)
Activity (tonus Limp (lumpuh) Some Flexion of Active moment
otot) Limbs (ektremitas limbs well flexed
sedikit refleksi) (gerakan aktif,
ekstremitas fleksi
dengan baik)
Respiratory None (tidak ada) Slow, irregular Good strong cry
Effort (usaha (lambat, tidak (menangis kuat)
bernafas) teratur)
(Walyani & Purwoastuti, 2019)

Klarifikasi nilai APGAR:

Nilai 7-10 menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan baik

Nilai 4-6 menunjukkan bahwa bayi mengalami depresi serius dan

membutuhkan tindakan resusitasi

Nilai 0-3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius dan membutuhkan

resusitasi segera sampi ventilasi.

(d) Melakukan resusitasi naonatus

(e) Melakukan perawatan tali pusat, pemotongan jangan terlalu pendek dan harus

diawasi setiap hari.

(f) Memberikan identifikasi bayi dengan memberi kartu bertuliskan nama ibu,

diletakkan di pergelangan tangan atau kaki.


44

(g) Melakukan pemeriksaan fisik dan observasi tanda vital.

(h) Meletakkan bayi di kamar transisi (jika keadaan umum baik) atau dalam

incubator jika ada indikasi

(i) Menentukan tempat perawatan. Rawat gabung, rawat khusus atau rawat

intensif

(j) Melakukan prosedur rujukan bila perlu. Jika ada penyakit yang dirujukkan

dari ibu, misalnya penyakit hepatitis B aktif, langsung diberikan vaksinasi

(k) Globulin pada bayi

(1) Tunjukkan pengkajian fisik bayi baru lahir

(a) Untuk mendeteksi kehamilan-kehamilan. Pemeriksaan awal pada bayi

baru lahir harus dilakukan sesegera mungkin sesudah persalinan untuk

mendeteksi kelainan-kelainan dan melakukan diagnose untuk

persalinan yang beresiko tinggi.

(b) Untuk mendeteksi segera kelainan dan dapat menjelaskan pada

keluarga. Apabila ditemukan kelainan pada bayi maka petugas harus

dapat menjelaskan kepada keluarga, karena apabila keluarga

menemukannya di kemudian hari, akan menimbulkan dampak yang

tidak baik dan menganggap dokter atau petugas kesehatan tidak bida

mendeteksi kelainan pada bayinya.

2) Tafsiran Maturnitas Neonatus

Mengetahui dengan tepat lamanya masa gestasi untuk tiap neonatus sangat

penting karena:

(a) Pengetahuan ini penting untuk penatalaksanaan tiap neonatus terutama bayi

BBLR serta individu

(b) Faktor mastrubasi bayi sangat berpengaruh pada morbiditas dan mortalitas

perinatal
45

(c) Pengetahuan ini sangat penting untuk menilai tingkat perkembangan bayi lahir

secara premature

(d) Penelitian fisiologis neonatus dilakukan dengan mempertimbangkan lamanya

masa gestasi

3) Pemantauan Bayi Baru Lahir

Indikator pemantauan tumbuh kembang neonatus, bayi, balita dan anak

prasekolah. Untuk maternal pola tumbuh kembang yang dimiliki individu

bersangkutan indikator tersebut antara lain sebagai berikut:

1) Kondisi keluarga

Peran keluarga sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan

perkembangan anak. Anak akan mewarisi sifat-sifat khusu dari orang tuanya.

2) Nutrisi (Gizi)

Anak yang memperoleh asupan makanan yang bergizi proses pertumbuhan

dan perkembangannya lebih baik dibandingkan dengan anak yang kekurangan

gizi.

3) Perubahan emosional

Emosi akan menyebabkan produksi hormone adrenalin meningkat. Akibatnya,

produksi hormone pertumbuhan yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary akan

terhambat. Pertumbuhan anak yang cenderung serius dengan emosi yang labil

akan terhambat dibandingkan dengan anak-anak yang penuh keceriaan.

4) Jenis kelamin

Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan untuk

perempuan pada usia 12-15 tahun, karena jumlah tulang dan ototnya lebih

banyak. Akan tetapi jenis kelamin bagi anak 0-1 tahun belum menunjukkan

perbedaan nyata karena system hormonalnya belum tumbuh dengan baik.

5) Suku bangsa
46

Suku bangsa akan mempengaruhi variasi ukuran tubuh individu.

6) Integrasi

Anak-anak dengan integrasi tinggi cenderung memiliki tubuh lebih tinggi dan

berat badan yang lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki

integrasi rendah.

7) Status social ekonomi

Tubuh anak yang dibesarkan dengan kondisi social ekonomi yang kurang,

cenderung akan lebih kecil dibandingkan dengan anak-anak yang kondisi

social ekonominya cukup terjamin.

8) Tingkat kesehatan

Anak yang dibesarkan dengan tingkat kesehatan yang baik dan jarang sakit

akan tumbu lebih baik dibandingkan dengan anak yang sring sakit-sakitan.

9) Fungsi kelenjar hormone thyroxine

Jika individu mengalami (defisiensi) hormone thyroxine akan menyebabkan

kekerdilan (kretinisme). Sebaliknya, jika kelebihan hormone akan bertumbuh

raksasa (gigantisme).

10) Keadaan dalam kandungan ibu

4) Penanganan Bayi Baru Lahir

(a) Pencegahan infeksi

Pencegahan merupakan penatalaksanaan awal yang harus dilakukan pada bayi

baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Pada saat

perawatan bayi baru lahir, pastikan penolong melakukan tindakan pencegahan

infeksi pada bayi baru lahir dengan cara sebagai barikut:

(1) Mencuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak

dengan bayi
47

(2) Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum

dimandikan

(3) Memastikan semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat

didesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet

penghisap, pakai yang bersih dan baru.

(4) Memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut, serta kain yang

digunakan untuk bayi telah dalam keadaan bersih

(5) Memastikan bahwa timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop,

dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam

keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan)

(6) Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama payudara dengan

mandi setiap hari (putting susu tidak boleh disabun)

(7) Membersihkan muka, pantat dan tali pusat bayi baru lahir dengan bersih,

hangat dan sabun setiap hari

(8) Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan memastikan

orang yang memegang bayi sudah mencuci tangan sebelumnya

(b) Menjaga kehilangan panas

Mencegah kehilangan panas pada bayi dapat dilakukan melalui upaya

diantaranya mengeringkan tubuh bayi tanpa membersihkan verniks,

meletakkan bayi di dada ibu agar terjadi kontak kulit ke kulit bayi,

menyelimuti ibu dan bayi dengan kain dan memasang topi di kepala bayi serta

melakukan penimbangan setelah 1 jam kontak kulit ibu ke kulit bayi dan bayi

selesai menyusu.

(c) Membebaskan jalan nafas


48

Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis spontan segera

setelah lahir, apabila bayi tidak langsung penolong segera membersihkan jalan

nafas dengan cara sebagai berikut:

(1) Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat

(2) Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehinga leher lebih

lurus dan kepal tidak menekuk. Posisi kepala di atur sedikit tengadah ke

belakang

(3) Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan

yang dibungkus kassa steril

(4) Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi

dengan kain kering dan kasar

(5) Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang

steril, tabung oksigen dengan segalanya harus sudah di tempat.

(6) Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung. Memantau dan

mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score)

(7) Warna kulit, adanya cairan atau meconium dalam hidung atau mulut harus

diperhatikan

(d) Pengikatan dan pemotongan tali pusat

Pengikatan dan pemotongan tali pusat dilakukan segera setelah bayi baru lahir.

Ketika bayi baru lahir tali pusat biasanya masih terdapat pada abdomennya

dengan beberapa tipe penjepitan atau pengikatan tali pusat. Segera setelah

lahir pembuluh umbilicus masih dapat menyebabkan perdarahan yang fatal

bila penjepit atau pengikatnya kendur. Kadang-kadang bakteri memasuki area

tersebut sebelum terjadi penyembuhan hal inilah yang dapat menyebabkan

infeksi pada tali pusat, dan mengakibatkan tali pusat dapat dilakukan dengan

cara:
49

(1) Bersihkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam

larutan klorin 0,5% untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.

(2) Klemlah tali pusat dengan dua buah klem yang steril kira-kira 2 dan 3 cmn

dari pangkal tali pusat, kemudian potonglah tali pusat antar kedua klem

sambal melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri.

(3) Pertahankan kebersihan saat memotong tali pusat, ganti sarung tangan

yang telah kotor.

(4) Bilas tangan dengan air matang atau desinfeksi tingkat tinggi.

(5) Keringkan tangan dengan handuk bersih yang kering.

(6) Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan

benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastic tali pusat yang steril.

(e) Cara perawatan tali pusat

Agar bagian tali pusat yang menempel pada perut bayi tidak terinfeksi maka

harus selalu dibersihkan juga agar tetap kering dan bersih. Sisa-sisa tali pusat

ini akan terlepas dalam waktu 7-10 hari, kadang-kadang sampai 3 minggu baru

lepas tali pusat ini akan meninggalkan bekas yang kasr, yang memerlukan

waktu beberapa hari lagi (kadang-kadang beberapa minggu) untuk

mengeringkan dan sembu. Penyembuhan yang berlangsung lambat akan

menyebabkan bercak kasar serta bertambah tebal dengan jaringan yang

disebut jaringan granulasi yaitu jaringan baru yang tumbuh, jika ada luka,

mkasudnya menggantikan jaringan yang lama yang rusak. Jaringan yang

berlebih akan lebih menonjol dari kulit sekitarnya.

(f) Memberikan vitamin K

Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K1 injeksi 1 mg intramuskuler

di paha kiri sesegera mungkin untuk pencegahan perdarahan bayi baru lahir

akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.
50

(g) Memberikan obat tetes atau salep mata

Obat mata eritrromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan

penyakit mata akibat klamidia (penyakit menular seksual). Obat perlu

diberikan pada jam pertama setelah persalinan.

(h) Pemberian imunisasi pada BBL

Biasanya bayi yang baru lahir akan diberikan imunisasi Hepatitis B ini sangat

penting untuk mencegah bayi tertular penyakit tersebut. Manfaat imunisasi

Hepatitis B akan meningkat jika diberikan sejak dini, biasanya pada usis bayi

0 sampai 7 hari dengan cara disuntikkan secara intramuskuler.

4. Nifas
a. Pengertian Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan

berakhir ketika alat kandungan kembali seperti semula sebelum hamil, masa nifas

berlangsung selama 6 minggu atau ±40 hari (Sutanto, 2018).

b. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas

Berikut merupakan kebutuhan ibu nifas menurut Sutanto (2018)

1) Nutrisi dan Cairan

Untuk menghasilkan 100 ml susu, ibu memerlukan kalori sebanyak 83 kalori. Pil

zat besi perlu diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca

persalinan. Minum setidaknya 3 liter setiap hari dan makan dengan menu

seimbang bergizi dan mengandung cukup kalori.

2) Kebutuhn Ambulasi

Pada ibu dengan partus normal ambulasi dini dilakukan secara berangsur-angsur,

sebaiknya ambulasi dikerjakan setelah 2 jam postpartum (ibu boleh miring ke kiri
51

atau ke kanan untuk mencegah adanya trombosit), sedangkan pada ibu dengan

sectio secarea ambulasi dini dilakukan setidaknya 12 jam postpartum setelah ibu

sebelumnya beristirahat (tidur). Tahapan ambulasi yaitu miring ke kiri terlebih

dahulu, kemudian duduk dan apabila sudah cukup kuat berdiri maka ibu

dianjurkan untuk berjalan. Manfaat dari ambulasi dini yaitu untuk memperlancar

sirkulasi darah dan mengeluarkan cairan vagina (lochea) dan mempercepat

pengembalian tonus otot dan vena.

3) Kebutuhan Istirahat

Istirahat membantu mempercepat proses involusi uterus dan mengurangi

perdarahan, memperbanyak jumlah pengeluaran ASI dan mengurangi penyebab

terjadinya depresi. Istirahat atau tidur dapat dilakukan pada siang hari dan malam

hari ataupun kapan saja selagi bayi tertidur pada ibu nifas.

4) Kebutuhan Kebersihan Diri

Untuk mencegah terjadinya infeksi baik pada luka jahitan maupun kulit, maka ibu

harus menjaga kebersihan diri atau personal hygiene secara keseluruhan.

5) Kebutuhan Seksual

Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah

berhenti dan ibu dapat memasukan satu atau dua jari ke dalam vagina tanpa rasa

nyeri. Tidak dianjurkan melakukan hubungan seksual sampai dengan 6 minggu

postpartum, hubungan seksual dapat dilanjutkan apabila ibu merasa nyaman untuk

memulai sehingga aktifitas itu dapat dinikmati.

6) Pijat Okstitosin

Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang pada costa 5-6

sampai scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis merangsang

hipofise posterior untuk mengeluarkan oksitosin. Pijat oksitosin juga dapat

didefinisikan sebagai tindakan pemijatan pada ibu menyusui yang berupa pijatan
52

pada punggung ibu. Menurut penelitian Wulandari D, dkk (2019) pijat oksitosin

merupakan salah satu cara untuk mengatasi ketidaklancaran produksi ASI. Pijat

oksitosin dilakukan pada sepanjang tulang belakang ibu yang akan menimbulkan

efek tenang dan reliks. Salah satu manfaat dari pijat oksitosin adalah

meningkatkan let down reflex yang artinya membuat ASI cepat turun. Pijat

oksitosin juga memiliki manfaat yang lain seperti menenangkan dan mengurangi

stress, membangkitkan rasa percaya diri, membantu ibu postpartum agara

mempunyai pikiran dan perasaan yang baik tentang bayinya.

c. Perubahan Fisiologi pada Masa Nifas

1) Perubahan system reproduksi

Perubahan pada system reproduksi yang berangsur pulih ke keadaan yang semula

itu disebut dengan involusi, disamping itu juga terjadi perubahan-perubahan

penting yaitu terjadinya hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi. Organ dalam

system reproduksi yaitu:

(a) Involusi Uterus

Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras karena

kontraksi dan retraksi otot-ototnya, sehingga dapat menutup pembuluh darah

besar yang bermuara pada bekas implantasi plasenta. Otot rahim tersebut

terdiri dari 3 lapis otot membentuk anyaman sehingga pembuluh darah dapat

tertutup sempurna, dengan demikian terhindar dari perdarahan postpartum.

Fundus uteri 3 jari di bawah pusat selama 2 hari berikutnya, besarnya tidak

seberapa berkurang tetapi sesudah 2 hari ini terus mengecil dengan cepat

sehingga pada hari ke 10 tidak teraba lagi dari luar, dan sampai dengan 2

minggu tercapai lagi ukurannya yang normal.

Involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil karena

cytoplasma yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan oleh proses


53

autolysis dimana zat protein dinding rahim dipecah, diapsorpsi, dan dibuang

dengan air kering.

Table 2. 4 Involusi Uteri


Involusi TFU Berat Keadaan Serviks
Uterus
(gr)
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 Lembek
Uri lahir 2 jari dibawah 750
pusat
Satu minggu Pertengahan 500 Beberapa hari setelah
pusat-sympisis postpartum dapat
dilalui 2 jari, akhir
minggu pertama dapat
dimasuki 1 jari
Dua minggu Tak teraba 350
diatas sympisis
Enam minggu Bertambah 50-60
kecil/tidak
teraba

(b) Involusi Tempat Plasenta

Setelah persalinan tempat plasenta merupakan tempat dengan

permukaan kasar, tidak rata, dan kira-kira besarnya setelapak tangan. Dengan

cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke 2 hanya sebesar 3-4 cm dan

pada akhir nifas 1-2 cm. Pada pemulihan nifas, bekas plasenta mengandung

banyak pembuluh darah yang tersumbat oleh thrombus. Pada luka bekas

plasenta, endometrium tubuh dari pinggir luka dan juga dari sisa-sisa kelenjar

pada dasar luka sehingga bekas luka plasenta tidak meninggalkan luka parut.

(c) Lochea

Pada bagian pertama masa nifas biasanya keluar cairan dari vagina

yang dinamakan lochea. Lochea berasal dari luka dalam rahim terutama luka

plasenta. Jadi, sifat lochea berubah seperti secret, luka berubah menurut

tingkat penyembuhan luka.


54

(1) Lochea rubra (cruenta)

Muncul pada hari pertama sampai hari kedua postpartum, warnanya merah

segar mengandung darah dari luka bekas plasenta dan serabut dari decidua

dan choiron.

(2) Lochea sanguinolenta

Berwarna merah kekuningan berisi darah dan lendir terjadi pada hari ke 3-

7 pasca persalinan.

(3) Lochea serosa

Berwarna kecoklatan mengandung lebih banyak serum, lebih sedikit darah

juga leukosit dan laserasi plasenta terjadi pada hari ke 7-14 pasca

persalinan.

(4) Lochea alba

Berwarna putih kekuningan mengandung leukosit selaput lendir dan

serabut jaringan yang nanti mati keluar sejak 2-8 minggu pasca persalinan.

(d) Serviks dan Vagina

Beberapa hari setelah persalinan osteum eksternum dapat dilalui oleh 2

jari. Pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam

persalinan. Selain itu, disebabkan hiperplasi dan retaksi serta sobekan serviks

menjadi sembuh. Namun, setelah involusi selesai osteum eksternum tidak

dapat serupa seperti sebelum hamil. Vagina yang sangat diregang waktu

persalinan lambat laun mencapai ukuran-ukuran yang normal pada minggu ke

3 postpartum rugae mulai nampak kembali.


55

Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerperium merupakan

suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur-angsur luasnya

berkurang, tetapi jarang sekali dapat kembali seperti semula atau seperti

ukuran nulipara.

2) Perubahan system perkemihan

Dalam hari pertama postpartum biasanya terjadi diuresis yang sangat banyak

dimulai segera setelah persalinan sampai 5 hari postpartum, system urinase dapat

kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu postpartum.

3) Perubahan system pencernaan

Konstipasi dapa menjadi masalah pada awal masa nifas akibat dari kurangnya

makanan dan pengendalian diri terhadap BAB karena kurangnya pengetahuan dan

kekhawatiran lukanya akan terbuka lagi. Sebaiknya buang air besar harus

dilakukan 3-4 hari setelah persalinan.

4) Perubahan system musculoskeletal

Dinding abdominal lembek setelah proses persalinan karena peregangan selama

hamil biasanya pulih dalam 6 minggu.

5) Perubahan system endokrin

Adanya perubahan dari hormon plasenta yaitu estrogen dan progesterone yang

menurun. Hormon pituitary mengakibatkan prolactin meningkat, FSH menurun

dan LH menurun, produksi ASI mulai pada hari ke 3 postpartum yang

mempengaruhi hormon prolactin.

6) Perubahan tanda-tanda vital

Tekanan darah seharusnya stabil dalam kondisi normal, suhu kembali ke normal

dari sedikit peningkatan selam periode intrapartum dan menjdai stabil dalam 24

jam pertama postpartum. Nadi dalam keadaan normal kecuali pada partus lama

dan persalinan sulit (Susanto, 2018).


56

d. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit 4 kali

melakukan kunjungan pada masa nifas:

1) Kunjungan nifas 1 (6-8 jam setelah persalinan)

a) Mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas

b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan memberikan rujukan

bila perdarahan berlanjutan

c) Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai

bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karen atonia uteri

d) Pemberian ASI pada masa awal menjadi ibu

e) Mengajarkan ibu untuk mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

f) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia

2) Kunjungan nifas 2 (6 hari setelah persalinan)

a) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uteru berkontraksi, fundus

dibawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal dan tidak ada bau

b) Menilai adanya tanda-tanda deman, infeksi atau kelainan pasca persalinan

c) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat

d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda penyulit

e) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, cara merawat

tali pusat dan menjaga bayi agar tetap hangat

3) Kunjungan nifas 3 (2 minggu setelah persalinan)

Sama seperti diatas (14 hari setelah persalinan)

4) Kunjungan nifas 4 (6 minggu setelah persalinan)

a) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami baik ibu atau

bayinya

b) Memberikan konseling untuk KB secara dini


57

e. Asuhan Komplementer Masa Nifas

Pada ibu nifas involusi uterus merupakan proses yang sangat penting sehingga

memerlukan perawatan yang khusus, bantuan dan pengawasan demi pulihnya

kesehatan seperti sebelum hamil. Involusi merupakan suatu proses dimana uterus

kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Mobilisasi dini

sangat diperlukan ibu nifas agar merasa lebih sehat dan kuat, dapat segera mungkin

untuk merawat bayinya, mencegah terjadinya infeksi masa nifas, kontraksi uterus

akan baik sehingga fundus menjadi keras maka resiko terjadinya perdarahan dapat

dihindarkan.

Untuk menurunkan angka morbiditas pada masa postpartum selain mobilisasi

dini salah satu untuk mempercepat involusi uterus yaitu dengan melakukan yoga nifas

yang bertujuan merangsang otot-otot rahim agar berfungsi secara optimal sehingga

diharapkan tidak terjadi perdarahan postpartum dan mengembalikan rahim pada posisi

semula. Manfaat yoga nifas adalah memulihkan kembali kekuatan otot dasar panggul,

mengencangkan otot-otot dinding perut dan perineum membentuk sikap tubuh yang

baik dan mencegah terjadinya komplikasi yaitu perdarahan postpartum, saat

melakukan yoga nifas terjadi kontraksi otot-otot perut yang akan membantu proses

involusi.

5. Keluarga Berencana
a. Pengertian Keluarga Berencana

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan

usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan

bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas

(WHO, 2016).

b. Macam-macam Alat Kontrasepsi


58

Menurut Mandang dkk (2016), ada beberapa macam alat kontrasepsi yaitu:

1) Metode Kontrasepsi Sederhana

a) Tanpa Alat

(1) Metode KB alamiah

(a) Metode kalender

Metode kalender atau dikenal sebagai metode Knaus-Ogino

bergantung pada perhitungan hari untuk memperhitungkan waktu

terjadinya fase subur. Wanita harus mengetahui periode menstruasi

sehingga dapat memprediksi waktu akan berovulasi.

(b) Metode ovulasi

Metode ini mengharuskan wanita untuk mengecek pola lendir serviks

selama siklus menstruasi. Sebelum ovarium melepas telur, wanita akan

mengeluarkan lendir yang lebih encer dari biasanya.

(c) Metode suhu basal tubuh

Suhu tubuh basal adalah suhu terendah yang dicapai oleh tubuh pada

waktu istirahat/tidur, suhu basal dapat diketahui dengan melakukan

pengukuran suhu tubuh dengan menggunakan thermometer secara oral,

pervagina atau melalui dubur selama 5 menit.

(d) Metode gejala suhu

Suhu akan turun pada 12 minggu hingga jam sebelum telur dilepaskan

dari ovarium. Tetapi turunnya suhu tubuh tidak terlalu signifikan yakni

hanya 1 derajat saja dari suhu tubuh semula, kemudian suhu tubuh

akan naik kembali setelah telur sudah dilepaskan.

(e) Metode Amenore Laktasi (MAL)

Metode Amenore Laktasi (MAL) adalah metode kontrasepsi sementara

yang mengandalkan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif,


59

artinya hanya diberikan ASI saja tanpa makanan dan minuman lainnya.

Semakin sering menyusu, maka kadar prolactin semakin meningkat

sehingga hormon gonatropin melepas hormon penghambat (inhibitor).

Hormon penghambat akan mengurangi kadar estrogen, sehingga tidak

terjadi ovulasi (Mandang dkk, 2016).

b) Dengan Alat

(1) Mekanis

(a) Kondom laki-laki dan perempuan

Kondom merupakan selubang karet yang terbuat dari berbagai bahan

diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (produksi

hewani).

(b) Diafragma

Diafragma merupakan plastik berbentuk kuba dengan sabuk yang

lentur, dipasang pada serviks dan menjaga agar sperma tidak masuk

kedalam rahim diafragma dipasang sebelum melakukan hubungan

seksual dan tetap terpasang sampai minimal 8 jam tetapi tidak boleh

lebih dari 24 jam (Mandang dkk, 2016).

(c) Kap serviks

Cervical caps atau kap serviks adalah kap karet yang lembut berbentuk

bulat cembung, terbuat dari lateks yang diinsersikan kedalam vagina

kira-kira 6 jam sebelum berhubungan seksual (tetapi tidak lebih dari 3

hari setelah hubungan seks).

(2) Kimiawi

Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahakn kimia yang

digunakan untuk membunuh sperma.

2) Kontrasepsi Modern (hormonal)


60

a) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Mekanisme kerja:

(1) Timbulnya reaksi radang lokal yang non-spesifik di dalam vacum uteri

sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu

(2) Produksi local prostaglandin yang meninggi sehingga menyebabkan

terhambatnya implantasi

(3) Gangguan/terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di dalam

endometrium

(4) Pergerakan ovum yang semakin cepat di dalam tuba fallopi

(5) Imobilisasi spermatozoa saat melewati vacum uteri

(6) AKDR juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur (mencegah

fertilisasi) (Mandang dkk, 2016).

b) Pil Kombinasi

Pil kombinasi adalah pil yang mengandung antara estrogen dan progesterone

dimana pil kombinasi ini dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:

(1) Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasana 21 tablet yang mengandung

hormon aktif estrogen/progestin dalam dosis yang sama dengan 7 tablet

tanpa hormon aktif.

(2) Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon

aktif estrogen/progestin dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet

tanpa hormon aktif.

(3) Trifasik: pil yang tersedia dalam 21 tablet yang mengandung hormon aktif

estrogen/progestin dengan 3 dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa

hormon aktif.

(a) Pil kontrasepsi progestin-tunggal


61

Pil progestin/mini pil adalah pil yang hanya mengandung progesterone

saja

(b) Kontraspesi pasca-coitus darurat

Sediaan yang mengandung dietilstilbestrol (DES) atau estrogen dosis

tinggi dapat mencegah kehamilan jika diberikan segera koitus yang

tidak dilindungi

c. Indikasi dan Kontraindikasi

1) Kontrasepsi Suntikan Hormonal

a) Indikasi

(1) Usia reproduksi

(2) Telah memiliki anak

(3) Ingin mendapatkan kontrasepsi yang tinggi efektifitasnya

(4) Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan

(5) Pasca persalinan dan tidak menyusui

(6) Anemia

(7) Nyeri haid hebat

b) Kontraindikasi

(1) Hamil atau diduga hamil

(2) Menyusui dibawah 6 minggu pasca persalinan

(3) Perdarahan pervagina yang belum jelas penyebabnya

(4) Penyakit hati akut (virus hepatitis)

(5) Usia > 35 tahun yang merokok

(6) Waktu mulai menggunakan suntik kombinasi

c) Keuntungan dan kerugian


62

Keruntungan: tidak berpengaruh terhadap hubungan seksual, tidak

dilakukan pemeriksaan dalam, efek samping kecil, mencegah anemia,

mencegah penyakit payudara jinak, kista ovarium, dan kehamilan ektopik.

Kerugian: terjadi penambahan berat badan, terlambat kesuburan, tidak

menjamin perlindungan untuk PMS, bergantung pada sarana pelayanan (harus

kembali suntikan), terjadi gangguan siklus haid seperti haid tidak teratur dan

tidak haid sama sekali (Mandang dkk, 2016).

B. Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen Varney Dan Pendokumentasian

SOAP

1. Asuhan Kebidanan Kehamilan


b. Pengertian

Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan

kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu menghadapi persalinan, kala

nifas, dengan frekuensi kunjungan minimal 4 (empat) kali selama kehamilan

(Rodiyatum dkk, 2018).

c. Tujuan

1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh

kembang bayi

2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan social ibu juga

bayi

3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau yang mungkin terjadi selama

hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan

4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, pada ibu

maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin

5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif
63

6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat

tumbuh kembang secara normal (Dartiwen & Nurhayati, 2019).

d. Langkah-langkah

1) Langkah I: mengumpulkan semuan data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan

pasien secara keseluruhan

a) Anamnesa

(1) Identitas

Nama, umur, pekerjaan, agama, dan alamat

(2) Keluhan utama

Sadar/tidak akan memungkinkan hamil, apakah semata-mata ingin periksa

hamil, atau ada keluhan/masalah lain yang dirasakan

(3) Riwayat kehamilan sekarang

Riwayat kehamilan sekarang meliputi HPHT dan apakah normal gerak

janin (kapan mulai dirasakan dan apakah ada perubahan yang terjadi),

masalah atau tanda-tanda bahaya keluhan-keluhan lazim pada kehamilan,

penggunaan obat-obatan (termasuk jamu-jamuan), kekhawatiran-

kekhawatiran lain yang dirasakan oleh ibu

(4) Riwayat kebidanan yang lalu

Riwayat kebidanan yang lalu meliputi jumlah anak, anak yang lahir hidup,

persalinan aterm, persalinan prematur, keguguran atau kegagalan

kehamilan, persalinan dengan tindakan (forceps, vacum, atau operasi

seksio secarea), riwayat perdarahan pada kehamilan, persalinan, atau nifas

sebelumnya, kehamilan dengan tekanan darah tinggi, berat badan bayi

<2500 gram atau >4000 gram


64

(5) Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan termasuk penyakit-penyakit yang diidap sebelum

kehamilan maupun sekarang seperti masalah-masalah kardiovaskuler

hipertensi, diabetes, malaria, PMS atau HIV/AIDS, dan lain-lain

(6) Riwayat social ekonomi

Riwayat social dan ekonomi meliputi status perkawinan, respon ibu dan

keluarga terhadap kehamilan ibu, riwayat KB, dukungan keluarga,

pengambilan keputusan dalam keluarga, gizi yang di konsumsi dan

kebiasaan makan, kebiasaan hidup sehat, merokok dan minum minuman

keras, mengkonsumsi obat terlarang, beban kerja dan kegiatan sehari-hari,

tempat petugas kesehatan yang akan membantu persalinan

(7) Pemeriksaan umum

Keadaan umum dan kesadaran penderita, composmentis (kesadaran baik),

gangguan kesadaran (apatis samolen spoor, koma)

(a) Tekanan darah

Tekanan darah yang normal adalah 110/80 mmHg, hati-hati adanya

hipertensi/preeklamsi

(b) Nadi

Nadi normal adalah 60 sampai 100x/menit. Bila abnormal mungkin

ada kelainan pada paru-paru atau jantung.

(c) Suhu badan

Suhu badan normal adalah 36,5℃ sampai 37,5℃ . Bila suhu lebih

tinggi dari 37,5℃ kemungkinan ada infeksi

(d) Tinggi badan


65

Diukur dalam satuan sentimeter (cm) tanpa sepatu. Tinggi badan

kurang dari 145cm ada kemungkinan terjadinya cephalopelvic

disproportion (CPD)

(e) Berat badan

Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang perlu

mendapatkan perhatian khusus karena kemungkinan terjadi penyulit

kehamilan. Kenaikan berat badan tidak boleh dari 0,5 kg/minggu.

a. Pemeriksaan kebidanan

(1) Pemeriksaan luar

(a) Inspeksi

Muka : periksa palpebral (gejala odema),

konjungtiva (anemia) dan sclera (icterus)

Mulut : karies, tonsillitis atau faringitis

(sumber infeksi)

Jantung : bila tampak sesak, kemungkinan ada

kelainan jantung yang dapat

menimbulkan risiko tinggi bagi ibu

maupun bayinya

Payudara : bentuk payudara, benjolan,

pigmentasi putting susu. Palpasi bila

ada benjolan (tumor mammae) dan

colostrum

Abdomen : pembesaran perut, pigmentasi linea

alba, gerakan anak atau kontraksi

rahim, adakah striae atau luka bekas

operasi
66

Tangan dan tungkai : inspeksi pada tangan dan

jari untuk melihat adanya

odema dan varises. Bila

terjadi odema pada tempat-

tempat tersebut

kemungkinan terjadinya

preeklamsia

Vulva : untuk mengetahui adanya odema, varises,

keputihan, perdarahan, luka, cairan yang

keluar dan sebagainya

(b) Palpasi

Palpasi yaitu pemeriksaan kehamilan pada abdomen dengan

menggunakan maneuver leopold untuk mengetahui keadaan

janin di dalam abdomen.

Leopold I : TFU, bagian yang berada pada fundus

Leopold II : letak janin melintang atau

memanjang, punggung kanan atau kiri

Leopold III : bagian janin yang akan ada dibawah

Leopold IV : sudah masuk PAP atau belum

(c) Auskultasi

Dengan menggunakan stetoskop monoaural atau doplet

untuk mengetahui DJJ (setelah umur kehamilan 18 minggu)

DJJ normal 120 sampai 160 per menit

(d) Perkusi

Melakukan pada daerah patella untuk memastikan adanya

refleks pada ibu


67

(2) Pemeriksaan dalam

Pemeriksaan dalam (PD) dilakukan oleh dokter/bidan pada usia

kehamilan 34 sampai 36 minggu untuk primigravida atau 40

minggu pada multigravida dengan janin besar. Pemeriksaan ini

untuk mengetahui keadaan serviks, ukuran panggul, dan

sebagainya.

(3) Pemeriksaan penunjang

(a) Pemeriksaan lab : protein urin, glukosa urin dan

hemoglobin (HB)

(b) Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

(Dartiwen & Nurhayati, 2019)

2) Langkah II: interpretasi data dasar

Setelah pengkajian data ibu dan janin selesai, langkah selanjutnya menentukan

diagnosis. Ada empat kemungkinan diagnosis pada ibu hamil yaitu:

a) Hamil normal (sertakan usia kehamilan)

b) Hamil normal dengan masalah khusus (keluarga, masalah psikososial, KDRT,

masalah keluarga dan lain-lain)

c) Hamil dengan penyakit atau komplikasi (hipertensi, anemia, preeklamsia,

pertumbuhan dan perkembangan janin terlambat, infeksi saluran kencing,

penyakit kelamin dan lain-lain), kondisi ini merupakan tindakan rujukan untuk

konsultasi penanganan bersama.

d) Hamil dengan keadaan darurat (perdarahan, eklamsia, KPD dan lain-lain)

merupakan tindakan rujukan segera.

Diagnosa : G1P0A0 hamil 16 minggu dengan wasir berdarah

Masalah : wanita tersebut tidak menginginkan kehamilannya

Kebutuhan : konseling dan rujukan segera


68

3) Langkah III: mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial

Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial

berdasarkan masalah yang sudah teridentifikasi.

Contoh: seorang wanita datang ke ruangan KIA dengan wajah pucat, keringat

dingin, tampak kesakitan, mules-mules hilang timbul, cukup bulan pemuaian perut

sesuai hamil.

4) Langkah IV: mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan

penanganan segera.

Diperlukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan

kondisi pasien.

5) Langkah V: merencanakan asuhan yang menyeluruh

Langkah ini ditentukan oleh hasil pengkajian data pada langkah sebelumnya.

Rencana asuhan umum yang menyeluruh dan harus diberikan pada ibu hamil

antara lain sebagai berikut :

a) Jelaskan kondisi kehamilan dan rencana asuhan yang akan diberikan

b) Diskusikan jadwal pemeriksaan dan hasil yang diharapkan

c) Jelaskan pada ibu bila diperlukan pemeriksaan khusus/ke tenaga ahli/fasilitas

kesehatan yang lebih lengkap

d) Beritahu beberapa hal/gejala klinis penting dalam kehamilan yang

menyebabkan ibu harus segera melakukan kunjungan ulang

e) Pastikan ibu mengerti informasi dan hasil pemeriksaan/diagnosa serta

penatalaksanaannya

f) Berikan kartu ibu, antar ibu keluar dan ucapkan salam

6) Langkah VI: pelaksanaan perencanaan

Pelaksanaan asuhan ini sebagian dilaksanakan oleh bidan, sebagian oleh klien

sendiri atau oleh petugas kesehatan lainnya. Kolaborasi dengan dokter misalnya
69

karena adanya komplikas manajemen yang efisien berhubungan dengan waktu

biaya serta peningkatan mutu asuhan.

7) Langkah VII: evaluasi

Pada langkah ini dievaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan, apakah telah

memenuhi kebutuhan asuhan yang telah teridentifikasi dalam diagnosa maupun

masalah. Di dalam pendokumentasian/catatan asuhan dapat diterapkan dalam

bentuk SOAP

S : data subjektif

Data dari pasien didapat dari anamnesa

O : data objektif

Hasil pemeriksaan fisik beserta pemeriksaan diagnostik dan pendukung lain,

juga catatan rekam medis lain

A : analisis dan interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat

Kesimpulan:

1 : diagnosa

2 : antisipasi diagnosa/masalah potensil

3 : perlunya tindakan segera

P : planning/penatalaksanaan

Merupakan gambaran pendokumentasian dari tindakan (implementasi),

evaluasi rencana di dalamnya termasuk:

a. Asuhan mandiri

b. Kolaborasi

c. Tes diagnostic/lab

d. Konseling

e. Follow up
70

2. Asuhan Kebidanan Persalinan


a. Pengertian

Asuhan kebidanan pada intranatal adalah asuhan yang bersih dan aman selama

persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya pencegahan komplikasi terutama

perdarahan pasca persalinan hipotermia dan asfiksia bayi baru lahir.

b. Tujuan

Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang

tinggi bagi ibu dan bayinya melalui berbagai upaya yang terintergritas dan lengkap

serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat

terjaga pada tingkat optimal (Prawiroharjo, 2016).

c. Langkah-langkah (7 langkah Varney dan SOAP)

1) Langkah I: tahap pengumpulan data

Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua

data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap. Data

diperoleh melalui :

a) Anamnesa : biodata, data demografi, riwayat kesehatan termasuk faktor

herediter dan kecelakaan, riwayat mesntruasi, riwayat obstetri dan ginekologi

termasuk nifas dan laktasi, bio-psiko-spiritual, pengetahuan klien.

b) Pemeriksaan fisik, sesuai kebutuhan dan tanda-tanda vital

c) Pemeriksaan khusus

(1) Inspeksi

(2) Palpasi

(3) Auskultasi
71

(4) Perkusi

d) Pemeriksaan penunjang

(1) Laboratorium

(2) Diagnosa lain USG, radiologi

e) Catatan terbaru dan sebelumnya

Data yang terkumpul ini sebagai data dasar untuk interpretasi kondisi klien

untuk menentukan langkah berikutnya.

2) Langkah II: interpretasi data dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap masalah atau diagnosa

berdasarkan interpretasi yang benar atas data dasar yang telah dikumpulkan.

Dirumuskan diagnosa yang spesifik, masalah psikososial berkaitan dengan hal-hal

yang sedang dialami oleh wanita tersebut.

Diagnosa : G2P1A0, hamil 39 minggu, inpartu kala I fase aktif

Masalah : wania tersebut tidak menginginkan kehamilan ini

Kebutuhan : konseling atau rujukan konseling

3) Langkah III: mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial

Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial

berdasarkan diagnosa masalah yang sudah teridentifikasi. Contoh: seorang wanita

masuk kamar bersalin dengan pemuaian uterus yang berlebihan. Bidan harus

mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus yang berlebihan ini,

misalnya hidramnion, makrosomi, kehamilan ganda, ibu diabetes dan lain-lain.

4) Langkah IV: menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera baik oleh bidan

maupun dokter untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan

lain berdasarkan kondisi klien. Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari


72

proses manajemen kebidanan. Manajemen ini berlaku baik asuhan primer periodic

dan pada antenatal juga selama wanita tersebut bersama bidan, misalnya pada

masa intranatal. Data baru harus terus menerus dikumpulkan dan dievaluasi.

Beberapa data mengindikasikan bidan harus segera bertindak untuk keselamatan

ibu dan bayi (misalnya perdarahan antepartum, perdarahan postpartum, distosi

bahu atau pada bayi yang lahir dengan nilai APGAR yang rendah). Beberapa

kasus mengidentifikasikan situasi yang membutuhkan penanganan awal dilakukan

dengan segera sambal menunggu tindakan dokter.

5) Langkah V: menyusun rencana asuhan yang komprehensif

Rencana asuhan menyeluruh tidak hanya meliputi yang sudah terindentifikasi atau

setiap masalah tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita

tersebut apa yang terjadi berikutnya, apakah dia membutuhkan penyuluhan,

konseling atau rujukan bila ada masalah yang berkaitan dengan aspek social-

kultural, ekonomi atau psikologi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua

pihak sehingga asuhan yang diberikan dapat efektif.

a) Rencana asuhan pada kala I

(1) Bantulah ibu dalam masa persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan

kesakitan

(a) Berilah dukungan dan yakinkan dirinya

(b) Berikan informasi mengenai proses dari kemajuan persalinannya

(c) Dengarkan keluhan dan cobalah lebih sensitive

(2) Jika ibu tersebut tampak kesakitan dukungan/asuhan yang dapat diberikan:

(a) Lakukan perubahan posisi

(b) Posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika ibu ingin di tempat tidur

sebaiknya dianjurkan tidur miring

(c) Sarankan ibu untuk berjalan


73

(d) Ajaklah orang yang menemaninya (suami atau ibunya) untuk memijat

atau menggosok punggungnya

(e) Ibu diperbolehkan untuk melakukan aktivitas sesuai kesanggupannya

(f) Ajarkan kepadanya teknik bernafas: ibu diminta untuk menarik nafas

panjang, menahan nafas sebentar kemudian dilepaskan dengan cara

meniup udara keluar sewaktu terasa kontraksi

(3) Penolong menjaga hak privasi ibu dalam persalinan antara lain

menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa

sepengetahuan atau seijin ibu

(4) Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta

prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil pemeriksaan

(5) Memperbolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya

setelah buang air kecil/besar

(6) Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat, hal ini bisa

diatasi dengan cara:

(a) Gunakan kipas angina atau AC dalam kamar

(b) Menggunakan kipas biasa

(c) Menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya

(7) Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi berikan cukup

minum

(8) Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin

(9) Lakukan pemantauan: tekanan darah, suhu badan, nadi, denyut jantung

janin, kontraksi, pembukaan serviks, penurunan sesuai dengan frekuensi

yang telah ditetapkan (fase aktif/laten)

b) Rencana asuhan pada kala II

(a) Memberikan dukungan terus-menerus pada ibu


74

(1) Mendampingi ibu agar merasa nyaman

(2) Menawarkan minum, mengipasi dan memijat ibu

(b) Menjaga kebersihan diri

(1) Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi

(2) Jika ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan

(c) Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau

ketakutan ibu dengan cara:

(1) Menjaga privasi ibu

(2) Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan

(3) Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu

(d) Mengatur posisi ibu dalam membimbing mengejan dapat dipilih posisi

sebagai berikut:

(1) Jongkok

(2) Menungging

(3) Tidur miring

(4) Setengah duduk

(e) Menjaga kandung kemih agar tetap kosong, dianjurkan berkemih sesering

mungkin

(f) Memberikan cukup minum untuk memberi tenaga dan mencegah dehidrasi

c) Rencana asuhan pada kala III

1) Melakukan manajemen aktif kala III, meliputi:

(a) Pemberian oksitosin dengan segera

(b) Pengendalian tarikan pada tali pusat

(c) Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir

2) Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum lahir dalam waktu

15 menit berikan oksitosin 10 IU (IM)


75

3) Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum lahir dalam waktu

30 menit

(a) Periksa kandung kemih dan lakukan kateterisasi pada kandung kemih

(b) Periksa adanya tanda pelepasan plasenta

(c) Berikan oksitosin 10 IU (IM) dosis ketiga

4) Periksa ibu hamil secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks

atau vagina atau perbaiki episiotomi

d) Rencana asuhan pada kala IV

1) Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan 20-30 menit selama

jam kedua jika kontraksi lemah, massase uterus

2) Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih dan perdarahan setiap 15

menit pada jam pertama dan setiap 30 menit setelah jam kedua

3) Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi, tawarkan ibu untuk

makan dan minum yang disukai

4) Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering

5) Biarkan ibu beristirahat, bantu ibu memilih posisi yang nyaman

6) Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan

bayinya, sebagai permulaan dengan menyusui bayinya, menyusui juga

membantu uterus berkontraksi

6) Langkah VI: pelaksanaan langsung asuhan yang efisien dana man

Pelaksanaan asuhan ini sebagian dilakukan oleh bidan, sebagian oleh klien sendiri

atau oleh petugas kesehatan lainnya. Manajemen perlu bekerja sama dengan

dokter misalnya karen adanya komplikasi. Manajemen yang efisien berhubungan

dengan waktu, biaya serta peningkatan mutu asuhan.

7) Langkah VII: evaluasi


76

Pada langkah ini dievaluasi keefektifan asuhan yang diberikan apakah telah

memenuhi kebutuhan asuhan yang telah teridentifikasi dalam diagnosa maupun

masalah, pelaksanaan rencana asuhan tersebut dapat dianggap efektif bila mana

benar-benar efektif.

Pendokumentasian SOAP:

S : data subjektif, menurut perspektif klien. Data ini diperoleh melalui

anamnesa

O : data objektif yaitu hasil pemeriksaan fisik klien serta pemeriksaan

diagnostik dan pendukung lain. Data ini termasuk catatan medis

pasien yang lalu

A : analisis/interpretasi berdasarkan data yang terkumpul, dibuat

kesimpulan berdasarkan segala sesuatu yang dapat diidentifikasi:

1) Diagnosa masalah

2) Antisipasi diagnosa/masalah potensial

3) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/kolaborasi dan

rujukan

P : penatalaksanaan, merupakan gambaran pendokumentasian dan

tindakan (implementasi) dan evaluasi rencana. Misalnya: rencana

asuhan pada kala I, II, dan III serta tindakan dan evaluasi

3. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir


a) Pengertian

Asuhan segera pada bayi baru lahir normal adalah asuhan yang diberikan pada

bayi pada jam pertama setelah kelahiran, dilanjutkan sampai 24 jam setelah kelahiran

(Walyani, 2019).

b) Tujuan
77

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan

memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan dalam persalinan dan keadaan bayi

segera setelah dilahirkan.

c) Langkah-langkah (7 langkah Varney dan SOAP)

1) Langkah I: pengkajian

(a) Pertama, seorang petugas mengkaji keadaan umum bayi, melihat cacat bawaan

yang jelas seperti hidrosefal, mikrosefal, anensefal, keadaan gizi dan

maturnitas, aktivitas tangis, warna kulit, kulit kering atau mengelupas, vernik

caseosa, kelainan kulit karena fravina lahir, toksikum, tanda-tanda meconium

dan sikap bayi tidur.

(b) Langkah kedua, petugas melakukan pemeriksaan pada kulit, ketidakstabilan

vasomotor dan kelambatan sirkulasi perifer ditampakan oleh warna merah tua

atau biru keunguan pada bayi yang menangis.

(c) Pada pemeriksaan kepala bisa dilihat besar, bentuk, molding, sutura tertutup

atau melebar, caput suksedanium, hematoma sefal dan karnio tabes. Pada

pemeriksaan telinga dapat mengetahui kelainan daun atau bentuk telinga.

(d) Pada pemeriksaan mata yang bisa dinilai perdarahan konjungtiva, mata yang

menonjol, katarak dan lain-lain.

(e) Mulut dapat menilai apakah bayi; labioskisis, labiopalatoskisis dan lain-lain.

(f) Leher; hematoma, duktus tirolusus, higromakoli

(g) Dada; bentuk, pembesaran buah dada, pernafasan retraksi intercostal, sifoi,

merintih, pernafasan cuping hidung, bunyi paru.

(h) Jantung; pulsasi, frekuensi bunyi jantung, kelainan bunyi jantung

(i) Abdomen; membuncit (pembesaran hati, limfa, tumor, asites), skafoid

(kemungkinan bayi mengalami hernia diafragmatika atau atresia esophagus


78

tanpa fistula), tali pusat berdarah, jumlah pembuluh darah tali pusat, warna

besar tali pusat, hernia di pusat atau selangkangan.

(j) Alat kelami; tanda-tanda hematoma karena letak sungsang, testis belum turun,

fisnosis, adanya perdarahan atau lendir dari vagina, besar dan klitoris dan labia

minora, atresia ani.

(k) Tulang punggung; spina bifida, pilonidal sinus dan dumple.

(l) Anggota gerak; fekomeria, sindaktili, polidaktili, fraktor, paralisis talipes dan

lain-lain.

(m) Keadaan neuromuskula; refleks moro, refleks genggam, refleks rooting dan

sebagainya: tonus otot, tremor.

(n) Pemeriksaan lain-lain: meconium harus keluar dalam 24 jam sesudah lahir,

bila tidak harus waspada terhadap atresia ani atau obstruksi usus. Urin harus

ada juga pada 24 jam. Bila tidak ada harus diperhatikan kemungkina obstruksi

saluran kencing.

2) Langkah II: diagnosa, masalah dan kebutuhan bayi baru lahir

Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah diagnosa berdasarkan

interpretasi yang benar atas data yang telah dikumpulkan.

Contoh diagnosa:

(a) Bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan dengan asfiksia

(b) Bayi kurang bulan, kecil masa kehamilan dengan hipotermia dan gangguan

pernapasan.

Masalah:

(1) Ibu kurang informasi

(2) Ibu tidak periksa ANC

(3) Ibu post section caesarea

Kebutuhan:
79

(1) Jaga agar bayi tetap kering dan hangat

(2) Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera

mungkin.

3) Langkah III: identifikasi diagnosa dan masalah potensial

Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi

berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi.

Contoh diagnosa potensial:

(a) Hipotermia potensial menyebabkan gangguan pernapasan

(b) Hipoksia potensial asidosis

(c) Hypoglycemia potensial hipotermia

Masalah potensial:

Potensial timbul masalah ekonomi bagi orang tua yang tidak mampu karena bayi

prematur atau asfiksia berat yang memerlukan perawatan yang lama dan intensif.

4) Langkah IV: identifikasi tindakan segera

Mengidentifikasi tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan

atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan

kondisi bayi.

Contoh:

Bila bayi baru lahir tidak bernapas dalam waktu 30 detik, segeralah cari bantuan

dan mulailah langkah-langkah resusitasi pada bayi tersebut.

5) Langkah V: rencana asuhan bayi baru lahir

Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan dan

langkah sebelumnya.

6) Langkah VI: implementasi asuhan BBL

(a) Mempertahankan suhu tubuh bayi tetap hangat

(b) Perawatan mata


80

(c) Memberikan identitas pada bayi

(d) Tunjukan bayi pada orang tua dan keluarga yang lain

(e) Kontak dini dengan ibu

(f) Berikan vitamin K1

7) Langkah VII: evaluasi

Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi kembali

proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah

dilaksanakan tetapi belum efektif.

Pendokumentasian SOAP:

S : data subjektif (data dari pasien didapat dari anamnesa)

O : data objektif (hasil pemeriksaan fisik serta pemeriksaan diagnostik).

Pemeriksaan fisik meliputi: KU, TTV dan Head To Toe.

A : analisis dan interpretasi berdasarkan data yang terkumpul dibuat

kesimpulan (diagnosa, antisipasi diagnosa/masalah potensial dan

perlunya tindakan segera)

P : planning/penatalaksanaan, merupakan gambaran pendokumentasian

dari tindakan evaluasi

4. Asuhan Kebidanan Nifas


a. Pengertian

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika

alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung

selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari.

b. Tujuan

1) Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas


81

2) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya

3) Menjaga kebersihan diri

4) Melaksanakan screening secara komprehensif

5) Memberikan pendidikan laktasi dan perawatan payudara

6) Pendidikan tentang peningkatan pengembangan hubungan yang baik antara ibu

dan anak

7) Konseling Keluarga Berencana (KB)

8) Mempercepat involusi alat kandungan

9) Melancarkan fungsi gastrointestinal atau perkemihan

10) Melancarkan pengeluaran lochea

11) Meningkatkan kelancaran perederan darah sehingga mempercepat fungsi hati dan

pengeluaran sisa metabolisme (Susanto, 2018).

c. 7 langkah manajemen menurut Helen Varney

1) Langkah I: pengkajian (pengumpulan data dasar)

Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk

mengevaluasi keadaan ibu.

Melakukan pemeriksaan awal postpartum

Meninjau catatan/rekam medis pasien

a) Catatan perkembangan antepartum dan intrapartum

b) Berapa lam (jam/hari) pasien postpartum

c) Pemeriksaan sebelumnya dan catatan perkembangan

d) Suhu, denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah postpartum

e) Pemeriksaan laboratorium dan laporan pemeriksaan tambahan

f) Catatan obat-obatan

g) Catatan bidan/perawatan

Menanyakan riwayat kesehatan dan keluhan ibu


82

(a) Mobilisasi

(b) BAK

(c) BAB

(d) Nafsu makan

(e) Ketidaknyamanan/rasa sakit

(f) Kekhawatiran

(g) Hal yang tidak jelas

(h) Makanan bayi

(i) Reaksi pada bayi

(j) Reaksi terhadap proses melahirkan dan kelahiran

Pemeriksaan fisik

(a) Tekanan darah, suhu badan, denyut nadi

(b) Tenggorokan jika diperlukan

(c) Buah dada dan putting susu

(d) Auskultasi paru-paru jika diperlukan

(e) Abdomen: kandung kemih, uterus diastasis

(f) CVA

(g) Lochea: warna, jumlah, bau

(h) Perineum: odema, inflamasi, hematoma, PUS, bekas luka episiotomy/robek,

jahitan

(i) Ekstermitas: varises, betis apakah lemah dan panas, odema, tanda-tanda

hormone, refleks

2) Langkah II: diagnose masalah dan kebutuhan ibu postpartum

Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan

interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.


83

Diagnosa masalah dan kebutuhan ibu postpartum dan nifas tergantung dari hasil

pengkajian terhadap ibu.

3) Langkah III: identifikasi diagnosa dan masalah potensial

Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi

berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi dan merencanakan

antisipasi tindakan.

4) Langkah IV: identifikasi dan menetapkan tindakan segera

Megidentifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter

dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim

kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.

5) Langkah V: membuat rencana asuhan

Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan dari

langkah sebelumnya.

Manajemen asuhan awal puerperium

Kontak dini dan sesering mungkin dengan bayi

(a) Mobilisasi/istirahat baring di tempat tidur

(b) Gizi (diet)

(c) Perawatan perineum

(d) Buang air kecil spontan/kateter

(e) Obat penghilang rasa sakit bila diperlukan

(f) Obat tidur bila diperlukan

(1) Pemberian methergine jika diperlukan

(2) Tidak dilanjutkan IV jika diberikan asuhan lanjutan

(3) Tambahan vitamin atau zat besi atau keduanya jika diperlukan

(4) Bebas dan ketidaknyamanan postpartum

(5) Perawatan buah dada


84

(6) Pemeriksaan laboratorium terhadap komplikasi jika diperlukan

(7) Rencana KB

(8) Rh Immune globulin jika diperlukan

(9) Rubella vaccine 0,5 cc jika diperlukan

(10) Tanda-tanda bahaya

(11) Kebiasaan rutin yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan

6) Langkah VI: implementasi asuhan

Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman

terhadap:

(a) Kontak dini sesering mungking dengan bayi

(b) Mobilisasi/istirahat baring di tempat tidur

(c) Gizi (diet)

(d) Perawatan perineum

(e) Buang air kecil spontan/keteter

(f) Pemberian obat penghilang rasa sakit bila diperlukan

(g) Pemberian obat tidur bila diperlukan

(h) Pemberian methergine jika diperlukan

(i) Tidak dilanjutkan IV jika diberikan

(j) Pemberian tambahan vitamin atau zat besi atau keduanya jika diperlukan

(k) Bebas dan ketidaknyamanan postpartum

(l) Perawatan buah dada

(m)Pemeriksaan terhadap komplikasi jika diperlukan

(n) Rencana KB

(o) Rh immune globulin, jika diperlukan

(p) Rubella vaccine 0,5 cc jika diperlukan

(q) Tanda-tanda bahaya


85

(r) Penjelasan tentang kebiasaan rutin yang tidak bermanfaar bahkan

membahayakan

7) Langkah VII: evaluasi

Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan ulangi kembali proses

manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan

tetapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana.

Pendokumentasian SOAP:

S : ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan

O : keadaan umum (KU), tanda-tanda vital (TTV), tekanan darah (TD), respirasi

(R), nadi (N), suhu badan (SB), tinggi fundus uteri (TFU). Kontraksi uterus,

konsistensi uterus, lochea, personal hygiene.

A : partus (P) berapa, abortus (A) berapa, postpartum hari keberapa

P : observasi keadaan umum (KU) dan tanda-tanda vital (TTV), observasi tinggi

fundus uteri (TFU) dan kontraksi uterus. Beritahu ibu tentang cara menyusui dan

merawat payudara. Jelaskan tentang vulva hygiene.

5. Asuhan Keluarga Berencana


a. Pengertian

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan

usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan

bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas

(WHO, 2016).

b. Tujuan

Agar bidan mampu memberiksan asuhan kebidanan yang adekuat,

komprehensif dan berstandar pada ibu untuk menjarangkan kehamilan.

c. Langkah-langkah (7 langkah Varney dan SOAP)


86

Teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu yang

menggunakan alat kontrasepsi sebagai berikut:

1) Langkah I: pengumpulan data

(a) Anamnesa

(1) Keluhan

(2) Riwayat menstruasi

(3) Riwayat penyakit

(4) Riwayat social budaya

(5) Riwayat psikologi

(6) Riwayat pemakaian alat dan obat kontrasepsi

(b) Pemeriksaan fisik

(1) Keadaan umum

(2) Tanda-tanda vital

(3) Pemeriksaan head to toe dengan inspeksi, perkusi, palpasi dan auskultasi

(4) Pemeriksaan penunjang

2) Langkah II: interpretasi data

Melakukan interpretasi data dasar (menentukan diagnosis, masalah dan

kebutuhan).

Contoh:

Diagnosa : Ny, para, abortus, umur dengan akseptor KB suntik

depoprovera

Masalah : mengalami kenaikan berat badan

Kebutuhan : KIE tentang keluarga berencana

3) Langkah III: melakukan identifikasi diagnosis atau masalah potensil

4) Langkah IV: melakukan tindakan segera

5) Langkah V: melakukan perencanaan


87

Berikan suntikan depoprovera

KIE tentang keluarga berencana

6) Langkah VI: melakukan pelaksanaan terhadap perencanaan

Menyuntikkan depoprovera di 1/3 paha lateral

Memberikan penyuluhan tentang KB

7) Langkah VII: evaluasi

Pada langkah ketujuh ini dilaukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah

diberikan meliputi apkah pemenuhan kebutuhan telah terpenuhi sesuai diagnosis

dan masalah.

Evaluasi menggunakan bentuk SOAP

S : subjektif

Untuk mendapatkan suntikan KB

O : objektif

Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, kesadaran, TTV dan head to toe

A : assessment

Diagnosa misalnya P1A0 akseptor KB progestin

P : planning

Menjelaskan kondisi ibu sehat, sehinggan suntik ulang KB untuk jadwal hari

ini bisa diberikan.

Memberikan suntikan KB progestin 3 ml melalui injeksi intramuskuler.


88

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah deskriptif dengan melakukan studi kasus menggunakan

manajemen asuhan kebidanan metode 7 langkah Varney dan didokumentasikan 4 langkah

SOAP.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


1. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sejak pendampingan pada Ny. N.A bulan Oktober 2022

sampai dengan Februari 2023.

a. Kehamilan

1) Kunjungan 1 (K1) 03 Oktober 2022

2) Kunjungan 2 (K2) :

3) Kunjungan 3 (K3) :

4) Kunjungan 4 (K4) :

b. Persalinan

Kala I, II, III, IV :

c. Bayi Baru Lahir

1) Kunjungan 1 (KN1) :

2) Kunjungan 2 (KN2) :
89

3) Kunjungan 3 (KN3) :

d. Nifas

1) Kunjungan 1 (KF1) :

2) Kunjungan 2 (KF2) :

3) Kunjungan 3 (KF3) :

e. Keluarga Berencana :

2. Tempat penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado.

C. Definisi Operasional

Asuhan Kebidanan Komprehensif adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam

menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, diagnosa

kebidanan, tindakan segera, perencanaan, penatalaksanaan, evaluasi dan pendokumentasian

pada Ny. N. A pada masa hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana di

Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado.

D. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seorang ibu yaitu Ny. N. A dengan kehamilan normal

yang datang berkunjung di Puskesmas Kombos Kecamatan Singkil Kota Manado dan akan

diberikan Asuhan Kebidanan sejak masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan

kelurga berencana

E. Teknik Pengumpulan Data


1. Data Primer

Data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan pada ibu

menggunakan format pengkajian pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas dan KB.

2. Data Sekunder
90

Data yang diperoleh dari buku KIA, profil puskesmas, kohort ibu, kohort bayi, buku

register, laporan PWS KIA dan dokumentasi lain di Puskesmas Molompar Kecamatan

Tombatu Timur Kabupaten Minahasa Tenggara.

F. Analisis Data

Data yang diperoleh melalui format asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, bayi baru

lahir, nifas dan KB selanjutnya dianalisis berdasarkan 7 langkah manajemen asuhan

kebidanan dan didokumentasikan dengan metode 4 langkah SOAP.

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. N.A HAMIL TRIMESTER II

DI PUSKESMAS KOMBOS KECAMATAN SINGKIL

KOTA MANADO

I. PENGUMPULAN DATA

A. Identitas/Biodata

Nama Ibu : Ny. N.A Nama : Tn. M.T

Umur : 17 tahun Umur : 19 tahun

Suku/Bangsa : Indonesia Suku/Bangsa : Indonesia

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMK Pendidikan : SMK

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta

Alamat : kombos timur, ling 5 Alamat : kombos timur, ling 5

B. Anamnesa

Pada Tanggal : 27 September Pukul : 10.20 WITA

1. Kunjungan ke : Ibu mengatakan ini kunjungan ke 2

Alasan masuk : Ibu mengatakan alasan kunjungan ini


91

untuk memeriksakan kehamilannya

Keluhan utama : Ibu mengatakan tidak ada keluhan

2. Riwayat menstruasi

 Menarche : Ibu mengatakan haid pertama kali umur

14 tahun

 Siklus : Ibu mengatakan haidnya teratur setiap

bulan (28 hari)

Lamanya : Ibu mengatakan lamanya waktu

menstruasi 7 hari

 Sifat darah : Ibu mengatakan sifat darah encer

 Banyaknya : Ibu mengatakan saat menstruasi 1 atau

2 kali ganti pembalut

 Dismenorhoe : Ibu mengatakan merasakan nyeri haid

pada hari pertama

 Teratur/tidak teratur : Ibu mengatakan haidnya teratur setiap

bulan

3. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

4. Riwayat kehamilan sekarang

a. HPHT : Ibu mengatakan hari pertama haid

terakhir 10 April 2022

b. HPL/TP : 17-1-2023

c. UK : 21 Minggu

d. Keluhan selama hamil

- Trimester I : Ibu mengatakan mual muntah


92

- Trimester II : Ibu mengatakan tidak ada keluhan

- Trimester III :

e. Pergerakan janin pertama kali dirasakan : Pada usia kehamilan 16 minggu

f. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir : Ada, sering dirasakan ibu, ± 10 kali

g. Keluhan yang dirasakan

- Rasa lelah : Tidak ada

- Mual muntah terus menerus : Tidak ada

- Nyeri perut yang hebat : Tidak ada

- Panas tinggi dan demam : Tidak ada

- Sakit kepala terus menerus : Tidak ada

- Penglihatan kabur : Tidak ada

- Rasa gatal pada vulva dan vagina : Tidak ada

- Pengeluaran cairan pervaginam : Tidak ada

- Bengkak muka dan tangan : Tidak ada

h. Diet/makan

- Makan sehari-hari : Ibu makan 3 kali sehari

- Jenis makanan : Nasi, ikan, sayur kadang buah

- Perubahan nafsu makan : Meningkat

- Minum : Air putih 7 – 8 gelas sehari

i. Pola Eliminasi

1. BAB

- Frekuensi : 1-2 kali sehari

- Warna : Kecoklatan

- Bau : Bau khas

- Konsistensi : Padat

2. BAK
93

- Frekuensi : 3 kali sehari

- Warna : Kekuningan

- Bau : Pesing

- Konsistensi : Encer

j. Aktivitas sehari-hari

1. Pola istirahat/tidur

- Tidur siang : 2 jam sehari

- Tidur malam : 7-8 jam sehari

2. Seksualitas : Jarang melakukan

3. Riwayat Imunisasi

- TT1 : 30-8-2022

- TT2 : 27-9-2022

4. Riwayat kontrasepsi : KB suntik selama 4 bulan

5. Riwayat Sistemik

a. Penyakit jantung : Tidak ada

b. Hipertensi : Tidak ada

c. Diabetes Melitus : Tidak ada

d. Asma : Tidak ada

e. Penyakit ginjal : Tidak ada

f. Riwayat alergi : Tidak ada

6. Riwayat Penyakit Keluarga

a. Hipertensi : Tidak ada

b. Diabetes melitus : Tidak ada

c. Epilepsy : Tidak ada

7. Riwayat Sosial dan Ekonomi

a. Perkawinan : Pertama
94

b. Kehamilan ini : Di inginkan

c. Perasaan tentang kehamilan ini : Senang

d. Status perkawinan : SAH

e. Kawin pertama umur : 17 Tahun

f. Dengan suami umur : 19 Tahun

g. Lamanya : 8 bulan

h. Anak : pertama

C. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum : Baik

2. Tingkat kesadaran : Composmentis

3. Keadaan emosional : Satbil

4. Tanda – tanda vital

- Tekanan Darah : 120/70 mmHg

- Nadi : 88 kali/menit

- Respirasi : 22 kali/menit

- Suhu Badan : 36,50 C

5. Antropometri

- Tinggi badan : 152 cm

- LILA : 22 cm

- Berat badan : 48 kg

- Berat badan sebelum hamil : 45 kg

6. Pemeriksaan Head to toe

a. Kepala : Rambut bersih,wana hitam kecoklatatan

,tidak berketombe, tidak rontok

b. Wajah : Tidak ada oedema, tidak ada cloasma,

wajah tidak pucat


95

c. Mata : Sklera tidak icterus, konjungtiva tidak

pucat

d. Telinga :Bersih, tidak ada gangguan pendengaran

e. Hidung : Bersih, tidak ada polip, tidak ada

gangguan pernapasan

f. Mulut : Tidak ada stomatitis, tidak ada karies,

mukosa bibir tidak pucat

g. Leher

- Pembengkakan kelenjar tiroid : Tidak ada

- Pembesaran pembuluh limfe : Tidak ada

- Peningkatan vena jugularis : Tidak ada

h. Dada

- Payudara : Simetris

- Putting susu : Menonjol

- Colostrum : Belum ada

- Areola : Hiperpigmentasi

- Benjolan : Tidak ada

i. Abdomen

1. Inspeksi

b. Bekas luka operasi : Tidak ada

c. Pembesaran perut : Sesuai dengan usia kehamilan

d. Bentuk perut : Memanjang

2. Palpasi

- Leopold I : TFU = 22 cm

Pada fundus teraba bagian lunak, tidak

bulat dan tidak melenting (Bokong).


96

- Leopold II : Pada bagian kanan teraba bagian keras,

datar dan memanjang serta ada tahanan

(Punggung janin), sedangkan pada

bagian kiri teraba tonjolan-tonjolan

kecil (Ekstermitas janin)

- Leopold III : Bagian terbawah teraba bagian yang

bulat, keras dan melenting (Kepala)

- Leopold IV : Kedua jari masih bertemu (Konvergen),

kepala belum masuk PAP

3. TBBJ :

4. Auskultasi

a. DJJ : 147 kali/menit

b. Frekuensi : Teratur

5. Ekstremitas atas

a. Oedema :Tidak ada

b. Varices : Tidak ada

6. Ekstremitas bawah

a. Refleks patella : kanan (+), kiri (-)

b. Oedema : Tidak ada

c. Varices : Tidak ada

7. Pemeriksaan Genetalia : Tidak dilakukan

D. Uji Diagnostik

Tidak dilakukan

II. INTERPRETASI DATA

A. Diagnosa : Ny. N.A umur 17 tahun, G1P0A0 dengan usia kehamilan 21 minggu,
97

janin intra uterin (dalam rahim), tunggal hidup, presentasi kepala,

punggung kanan.

Dasar S : - Ibu mengatakan hamil anak Pertama

- Ibu mengatakan HPHT 10 April 2022

- Ibu mengatakan tidak ada keluhan

Dasar O :

a. Hasil pemeriksaan Head to toe dalam keadaan normal

b. TTV

- TD : 120/70mmHg

- N : 88 x/menit

- R : 22 x/menit

- S : 36,5 ºC

c. Antropometri

- TB :152 cm

- LILA : 22 cm

- BB sebelum hamil : 45 kg

d. Palpasi Abdomen

- Leopold I : TFU = 22 cm

Pada fundus teraba bagian lunak, tidak

bulat dan tidak melenting (Bokong).

- Leopold II : Pada bagian kanan teraba bagian keras,

datar dan memanjang serta ada tahanan

(Punggung janin), sedangkan pada


98

bagian kiri teraba tonjolan – tonjolan

kecil (Ekstermitas janin)

- Leopold III : Bagian terbawah teraba bagian yang

bulat, keras dan melenting (Kepala)

- Leopold IV : Kedua jari masih bertemu (Konvergen),

kepala belum masuk PAP

e. Auskultasi

- DJJ : 147 kali/menit

- Frekuensi : Teratur

B. Masalah : Tidak ada

C. Kebutuhan : Tidak ada

III. DIAGNOSA POTENSIAL

Tidak ada

IV. TINDAKAN SEGERA

Tidak ada

V. PERENCANAAN

Tanggal : 27 september 2022 Pukul : 10.25 WITA

1. Beritahu ibu mengenai hasil pemeriksaan kehamilannya

2. Berikan konseling tentang:

a. Istirahat yang cukup

b. Pola makan yang bergizi seimbang

c. Perawatan payudara

d. Personal Hygiene

e. Tanda – tanda bahaya kehamilan

f. Konsumsi tablet Fe
99

3. Jadwalkan kunjungan ulang

VI. PELAKSANAAN

Tanggal : 27 september 2022 Pukul : 10.28 WITA

1. Memberitahu ibu mengenai hasil pemeriksaan kehamilan bahwa kehamilannya

normal, umur kehamilan 21 minggu, janin intra uterin, tunggal, hidup, presentasi

kepala, punggung kanan, pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilan.

2. Memberikan konseling tentang:

1. Istirahat yang cukup

Memberitahukan ibu agar mengurangi aktifitas yang berlebihan dan istirahat

yang cukup minimal siang hari ±2 jam, malam hari 7 -8 jam. Karena dengan

istirahat dapat memulihkan kondisi ibu.

2. Pola makan yang bergizi seimbang

Memberitahukan ibu agar memperhatikan pola makan yang bergizi seimbang

karena selama kehamilan ibu membutuhkan gizi untuk kesehatan dan

pertumbuhan janin. Ibu hamil bisa mengonsumsi makanan yang bergizi yang

dapat disesuaikan dengan kebutuhan/kemampuan, yaitu:

- Karbohidrat : Nasi,roti,kentang, atau umbi – umbian lainnya dan sebagainya

- Vitamin : Buah – buahan

- Kalsium : Susu

- Protein : Ikan, telur, tahu, tempe

- Zat besi : Sayuran berwarna hijau, kacang – kacangan

3. Perawatan payudara

Menganjurkan ibu untuk melakukan perawataan payudara, hal ini dianjurkan

untuk mempersiapkan payudara agar ASI keluar dan cukup untuk persiapan

laktasi, caranya:
100

1. Licinkan kedua tangan dengan minyak kelapa/baby oil

2. Kompres putting susu dengan kapas berminyak

3. Kedua putting dipegang dan ditarik bersamaan

4. Pangkal payudara dipegang oleh kedua tangan lalu dilakukan pengurutan

dari pangkal keputting

5. Pijat areola sehingga air susu keluar

6. Gunakan BH atau bra yang menyokong payudara

4. Personal Hygiene

Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene agar selalu sehat dan

berpenampilan menarik, menjaga kebersihan diri dapat dilakukan dengan:

- Mandi 2 kali sehari dan keramas 3 kali seminggu

- Menggosok gigi minimal 2 kali setelah makan dan sebelum tidur

- Payudara dibersihkan sehabis mandi

Mengganti pakaian minimal 3 kali sehari setelah buang air kecil atau bila

pakaian basah

5. Tanda – tanda bahaya kehamilan

Menjelaskan kepada ibu tentang tanda – tanda bahaya kehamilan

- Perdarahan

- Nyeri kepala hebat

- Oedema pada wajah dan tangan

- Keluar air ketuban sebelum waktunya

- Janin tidak bergerak seperti biasanya

- Muntah terus/tidak mau makan


101

- Demam tinggi

- Penglihatan kabur

6. Ingatkan ibu tentang tablet Fe, cara minumnya yaitu 1 x 1 diminum pada malam

hari sebelum tidur. Sebaiknya Fe diminum dengan iar hangat, air jeruk atau

yang mengandung vitamin C untuk mempercepat penyerapan tablet Fe. Jangan

diminum dengan susu, kopi, maupun teh karena dapat memperlambat proses

penyerapan.

7. Menjadwalkan kunjungan ulang 1 bulan kemudian pada tanggal 24 oktober

2022 atau apabila sewaktu – waktu ibu merasakan tanda –tanda bahaya

kehamilan bisa langsung menghubungi dokter atau bidan untuk memeriksakan

tanpa menunggu jadwal kunjungan ulang.

VII. EVALUASI

Tanggal: 27 september 2022 Pukul: 10.30 WITA

1. Ibu mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan dan bersedia

melakukan hal yang dianjurkan

2. Ibu mengatakan akan melakukan kunjungan ulang 1 bulan kemudian yaitu pada

tanggal 24 oktober 2022 atau apabila sewaktu – waktu ibu mengalami masalah /

keluhan dalam kehamilannya dapat segera menghubungi petugas kesehatan

(Dokter/Bidan)

3. Ibu merasa senang setelah mendapat penjelasan/arahan tentang kehamilannya


102

Anda mungkin juga menyukai