0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan15 halaman

Proses Penyulingan Minyak Nilam Uap

Makalah ini membahas proses penyulingan minyak atsiri dari daun nilam dengan metode uap. Pengaruh tekanan uap terhadap persentase hasil dan analisis kualitas minyak nilam meliputi indeks bias, densitas dan bilangan asam dibandingkan dengan standar nasional. Tujuannya adalah mempelajari proses ekstraksi minyak atsiri nilam dan komponen kimiawinya.

Diunggah oleh

Sintia Efrinelti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan15 halaman

Proses Penyulingan Minyak Nilam Uap

Makalah ini membahas proses penyulingan minyak atsiri dari daun nilam dengan metode uap. Pengaruh tekanan uap terhadap persentase hasil dan analisis kualitas minyak nilam meliputi indeks bias, densitas dan bilangan asam dibandingkan dengan standar nasional. Tujuannya adalah mempelajari proses ekstraksi minyak atsiri nilam dan komponen kimiawinya.

Diunggah oleh

Sintia Efrinelti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PROSES PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DENGAN


METODE UAP BERBAHAN BAKU DAUN NILAM

OLEH:
Nama: Sintis Efrinelti
Bp:2010003350001

Dosen Pengampu:
[Link],MP

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS EKASAKTI PADANG
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa karena telah memberikan kesempatan pada
penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Proses Penyulingan Minyak Atsiri Dengan
Metode Uap Berbahan Baku Daun Nilam tepat waktu.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dosen pada Teknologo rempah dan minyak atsiri di
Universitas Ekasakti Padang. Selain itu, penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah
wawasan bagi pembaca tentang.

Penulis juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan
makalah [Link] menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun akan penulis terima demi kesempurnaan makalah ini.

Padang,27 Maret 2023

Sintia Efrinelti

i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.........................................................................................................1
1.2 Tujuan Pembahasan................................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar Penyulingan Uap................................................................................................ 2
2.2 Parameter Kualitas Minyak Atsiri.........................................................................................4
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Metode Penelitian.................................................................................................................. 5
3.2 Pengaruh Tekanan Terhadap % Rendemen............................................................................7
3.3 Analisa kualitas minyak Nilam...............................................................................................8
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan...........................................................................................................................10
4.2 Saran.....................................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................ 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang tiap tahun memasok sekitar
75% kebutuhan dunia. Dari jumlah itu, 60% diproduksi di Nanggroe Aceh Darussalam dan sisanya
berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah. Agroindustri minyak atsiri merupakan
salah satu industri yang patut diperhitungkan untuk dikembangkan mengingat Indonesia memiliki
keunggulan dalam pengadaan bahan baku disamping teknologi pengolahannya yang cukup sederhana
sehingga mudah dikembangkan. Minyak nilam secara tidak langsung mengembangkan Industri
minyak atsiri yang menimbulkan efek berganda berupa peningkatan kesejahteraan hidup petani
(Sumangat dan Risfaheri 1998).
Nilam telah lama dikenal sebagai komoditas ekspor, dan minyak Nilam dari Indonesia dikenal
dengan nama (Pogostemon cablin Benth). Selain itu komponen penyusun yang paling menentukan
mutu minyak nilam tersebut adalah patchouli alcohol yang kadar nya tidak kurang dari 30%. Minyak
atsiri Nilam (Pogostemon cablin Benth), diperoleh melalui proses penyulingan dari bagian daun atau
batang tanaman nilam dan Minyak ini mempunyai aroma yang lembut dan halus. Minyak Nilam
digunakan secara luas untuk pembuatan parfum, kosmetika, pewangi sabun dan obat-obatan, serta
pembasmi dan pencegah serangga. Namun Selain pemanfaatan dalam bentuk minyak, tanaman nilam
juga dapat digunakan untuk bahan pelembap kulit, menghilangkan bau badan, dan gatal gatal pada
kulit. Daun nilam dapat pula dimanfaatkan sebagai pewangi pada berbagai masakan atau kue-kue..
Penyulingan adalah pemisahan komponen-komponen suatu campuran dari dua jenis cairan atau
lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya. Proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut
dalam air. Handayani, [Link] (2006) telah meneliti minyak atsiri berbahan baku daun nilam
menggunakan metode penyulingan dengan air yang didalamnya terdapat daun nilam yg direbus dan
menghasilkan rendemen 1,8-2,0% setelah dilakukan proses destilasi selama 1-2 jam. Salim, et al.,
(2005) telah melakukan penelitian penyulingan nilam pada daerah Purbalingga dan Banyumas
menggunakan metode penyulingan uap diperoleh rendemen sebesar 1,5%.
Pada penelitian ini akan difokuskan untuk mengolah daun nilam yang belum banyak
dimanfaatkan untuk menjadi minyak atsiri dengan menggunakan metode penyulingan uap. Steam
lewat jenuh dengan memvariasikan tekanannya dan dikontakkan dengan daun nilam diharapkan akan
memaksimalkan minyak yang dihasilkan. Standarisasi minyak nilam dilakukan dengan menganalisa
karakterisasinya seperti indeks bias, densitas dan bilangan asam dan dibandingkan dengan Standarisasi
Nasional Indonesia (SNI) untuk minyak nilam.

1.2 Tujuan dari penelitian


Tujuan dari penelitian ekstraksi minyak atsiri dari nilam ini adalah untuk mempelajari bagaimana
proses pengolahan daun nilam menjai minyak atsiri dan mempelajari komponen-komponen kimiawi
yang terdapat minyak atsiri nilam.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar Penyulingan Uap

Tabel 1. Karakteristik Minyak Nilam Berdasarkan SNI


(Dumadi,2008)

Mutu minyak nilam yang memenuhi standar SNI dipengaruhioleh banyak faktor,antara lain bibit
yang baik, teknik budidaya yang tepat, umur panen yang cukup, dan penangananbahan yang tepat
sebelum penyulingan (Hayani, 2005). Minyak nilam juga harus memenuhi standar ISO, standar ini
digunakan untuk menentukan baku mutu dari minyak nilam yang dapat diterima oleh dunia.

2
Tabel 2. Standar ISO 3757: 2002 baku mutu minyak nilam

(Maryadhi, 2007)

Menurut Neidig (1998) Secara umum fraksinasi destilasi merupakan terbawanya keluar
campuran yang saling larut (miscible). Dengan mengasumsikan campuran tersebut ideal maka tekanan
total uap pada sistem dapat didekati dengan menggunakan Hukum Roult yaitu:

PT = Po1X1 + Po2X2 (1)


Fraksinasi terjadi pada campuran yang tidak saling larut (immiscible) disebut codistillation, jika
salah satu zat tersebut berupa air ,maka proses ini disebut steam destillation/penyulingan uap. Kondisi
dimana suatu bahan tidak saling larut tekanan total dapat dicari dengan Hukum Dalton yaitu:

o o
PT = P 1 + P 2 (2)
Menurut Hendartomo (2005), penyulingan uap atau penyulingan tak langsung. Pada prinsipnya,
model ini sama dengan penyulingan langsung. Hanya saja air penghasil uap tidak diisikan
bersamasama dalam ketel penyulingan. Uap yang digunakan berupa uap jenuh atau uap yang kelewat
panas dengan tekanan lebih dari 1 atmosfer. Di dalam proses penyulingan dengan uap ini, uap
dialirkan melalui pipa uap yang berlingkar yang berpori dan berada dibawah bahan tanaman yang akan
disuling, Kemudian uap akan bergerak menuju ke bagian atas melalui bahan yang disimpan di atas
saringan.
Salah satu kelebihan model ini antara lain sebuah ketel uap dapat melayani beberapa buah ketel
penyulingan yang dipasang seri sehingga proses produksi akan berlangsung lebih cepat. Proses
penyulingan dengan model ini sayangnya memerlukan konstruksi ketel yang lebih kuat, alat-alat
pengaman yang lebih baik dan sempurna, biaya yang diperlukan lebih mahal.

3
2.2 Parameter Kualitas Minyak Atsiri
Menurut Feryanto (2007) beberapa parameter yang biasanya dijadikan standar untuk mengenali
kualitas minyak atsiri adalah sebagai berikut :
a. Warna dan Bau
Untuk pengamatan warna didasarkan pada pengamatan visual dengan menggunakan indra
penglihatan langsung terhadap contoh minyak nilam. Sedangkan untuk parameter bau didasarkan
pada pengamatan visual dengan mengunakan indra penciuman langsung terhadap contoh minyak
nilam.
b. Berat Jenis
Berat jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam menentukan mutu dan kemurnian
minyak atsiri. Nilai berat jenis minyak atsiri didefinisikan sebagai perbandingan antara berat
minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada yang sama
pula. Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung
didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula
nilai densitasnya. Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar dibandingkan
dengan terpen tak teroksigenasi.
c. Indeks Bias
Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan
kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu. Indeks bias minyak atsiri berhubungan
erat dengan komponen-komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Sama
halnya dengan berat jenis dimana komponen penyusun minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai
indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai panjang seperti sesquiterpen atau komponen
bergugus oksigen ikut tersuling, maka kerapatan medium minyak atsiri akan bertambah sehingga
cahaya yang datang akan lebih sukar untuk dibiaskan. Hal ini menyebabkan indeks bias minyak
lebih besar. Menurut Guenther, nilai indeks juga dipengaruhi salah satunya dengan adanya air
dalam kandungan minyak nilam tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil
nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang.
Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak
atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil.
d. Bilangan Asam
Analisa bilangan asam dalam minyak atsiri menyatakan besarnya gugus asam karboksilat
yang terbentuk akibat adanya oksidasi. Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi
terhadap kualitas minyak nilam, yaitu dapat merubah bau khas dari minyak nilam itu sendiri.
Perubahan bau ini dapat disebabkan oleh beberapa hal dan salah satunya adalah pada lamanya
penyimpanan minyak, dan adanya kontak antara minyak nilam yang dihasilkan tersebut dengan
sinar dan udara disekitar pada saat penyimpanan di dalam botol.

4
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 METODE PENELITIAN


a. Alat dan Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini daun nilam yang berasal dari daerah Desa Cibojong
Kecamatan Padarincang. Daun nilam yang diperoleh sudah berumur lebih dari satu tahun, sehingga
akan mempengaruhi rendemen yang dihasilkan.
Peralatan yang digunakan adalah satu set penyulingan uap yang terdiri dari boiler, ketel
penyulingan, kondenser, pompa dan penampung sampel.
b. Cara Penelitian
Daun nilam kering seberat 1,5 kg yang sudah bersih dari kotoran dimasukkan dalam ketel suling
dan ditutup dengan rapat. Steam dari boiler dialirkan ke ketel suling dengan tekanan 0,5 barG, 1 barG
dan 1,5 barG selama 4, 5 dan 6 jam. Cairan yang keluar dari condenser diamkan selama 24 jam untuk
memisahkan air dan minyak. Pada tahap pemurnian minyak daun nilam menggunakan metode yang
telah dilakukan oleh Marwati et al (2005), minyak daun nilam dimurnikan dengan bentonit 10% dari
berat minyak pada suhu 50oC sambil diaduk selama 1 jam. Minyak daun nilam yang telah terpisah
dari

bentonit ditambahkan Na2SO4 anhidrat dan diamkan selama 15 menit kemudian pisahkan air dan
Na2SO4 dalam minyak. Minyak daun nilam yang diperoleh dihitung % rendemennya. Sampel
dianalisa karakteristiknya yaitu indeks bias, densitas dan bilangan asam.

5
Valve 3

12,
32 5
36 cm cm cm 82 cm

Valve 2
7
6

51 cm
1
30 cm

Valve 1

5
Keterangan Gambar :
1. Boiler (Carbon Steel) Air
Baru
2. Ketel Penyulingan (Stainless Steel )
3. Kondenser (Stainless Steel )
4. Bak Penampunga Air Pendingin (Plastik )
5. Pompa
6. Penampung Sampel (Plastik )
7. Pengukur Tekanan

Gambar 1. Rangkaian Alat Penyulingan Uap

6
3.2 Pengaruh Tekanan Terhadap % Rendemen

2
% Rendemen

1.5

1 0,5 barG
1 barG
0.5
1,5 barG
0
4 5 6

Waktu (jam)

Gambar 2. Pengaruh Tekanan Terhadap % Rendemen

Hasil penelitian tekanan yang diberikan pada proses penyulingan dan lamanya waktu penyulingan
memberikan pengaruh terhadap hasil % rendemen minyak nilam yang di dapatkan. Pada tekanan 0.5
dan 1 bar terlihat bahwa % rendemen mengalami kenaikan seiring dengan lamanya waktu penyulingan.
tetapi pada kondisi penyulingan 6 jam mengalami penurunan untuk tekanan operasi 1.5 bar.
Penurunan rendemen yang dihasilkan pada tekanan 1,5 bar dan pada setiap waktu operasi 6 jam
ini, disebabkan oleh tekanan yang terlalu besar sehingga menghasilkan steam yang terlalu banyak untuk
mengangkat minyak pada daun nilam, namun kurang efektifnya penukar panas di kondensor sehingga
menyebabkan banyaknya minyak nilam yang belum berubah fase kembali terbawa keudara bersama
uap keluar produk. pada penyulingan daun nilam ini, dapat dilihat rendemen berkisar antara 1,4 - 1,8 %.
Dari data tersebut % rendemen minyak nilam yang didapat tidak sesuai dengan literatur yaitu 4 - 5 %
(Hayani, 2005). Menurut Hendartomo (2005), hasil yang kurang maksimal ini disebabkan oleh
beberapa kemungkinan dan salah satunya adalah Bahan baku yang kurang baik. hal ini disebabkan
oleh terlalu lamanya proses pengeringan dan penyimpanan yang menyebabkan daun mejadi kurang baik
untuk di proses dan diambil minyaknya, sehingga di khawatirkan banyak berkurangnya minyak nilam
yang terkandung dalam daun nilam tersebut.

7
Hasil penelitian tekanan yang diberikan pada proses penyulingan dan lamanya waktu penyulingan
memberikan pengaruh terhadap hasil % rendemen minyak nilam yang di dapatkan. Pada tekanan 0.5
dan 1 bar terlihat bahwa % rendemen mengalami kenaikan seiring dengan lamanya waktu penyulingan.
tetapi pada kondisi penyulingan 6 jam mengalami penurunan untuk tekanan operasi 1.5 bar.
Penurunan rendemen yang dihasilkan pada tekanan 1,5 bar dan pada setiap waktu operasi 6 jam
ini, disebabkan oleh tekanan yang terlalu besar sehingga menghasilkan steam yang terlalu banyak
untuk mengangkat minyak pada daun nilam, namun kurang efektifnya penukar panas di kondensor
sehingga menyebabkan banyaknya minyak nilam yang belum berubah fase kembali terbawa keudara
bersama uap keluar produk. pada penyulingan daun nilam ini, dapat dilihat rendemen berkisar antara
1,4 - 1,8 %. Dari data tersebut % rendemen minyak nilam yang didapat tidak sesuai dengan literatur
yaitu 4 - 5 % (Hayani, 2005). Menurut Hendartomo (2005), hasil yang kurang maksimal ini
disebabkan oleh beberapa kemungkinan dan salah satunya adalah Bahan baku yang kurang baik. hal
ini disebabkan oleh terlalu lamanya proses pengeringan dan penyimpanan yang menyebabkan daun
mejadi kurang baik untuk di proses dan diambil minyaknya, sehingga di khawatirkan banyak
berkurangnya minyak nilam yang terkandung dalam daun nilam tersebut.

3.3 Analisa kualitas minyak Nilam


Untuk analisa kualitas minyak nilam digunakan beberapa parameter yang sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia yang meliputi densitas, indeks bias dan bilangan asam.
[Link] jenis

0.965
Berat Jenis (gr/ml)

0.955
0.5 bar
0.945
1 bar
0.935
1.5 bar
0.925
3.5 4.5 5.5 6.5
Waktu (jam)

Gambar 3. Berat Jenis Minyak Nilam


Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa perbedaan tekanan dan lamanya proses penyulingan
memberikan pengaruh pada berat jenis untuk setiap minyak nilam yang di hasilkan.
Perbedaan berat jenis minyak atsiri disebabkan oleh kandungan kimia dalam minyak. Dalam
minyak atsiri mengandung molekul berrantai panjang dan banyak berikatan rangkap. Semakin banyak
ikatan rangkap dalam minyak maka semakin tinggi nilai berat jenis minyak yang dihasilkan (Guenther,
1987).
Berat jenis yang disarankan dari Standar Nasional Indonesia untuk minyak nilam adalah
berkisar antara 0,943-0,983. Dari data penelitian ini hasil pengukuran berat jenis memenuhi SNI yaitu
sekitar 0,947-0,961.

8
[Link] Bias

1.510
1.510
1.509

indek bias
1.508
1.507 0.5 bar
1.506 1 bar
1.506
1.505 1.5 bar
1.504
1.503 [Link].5
1.502
Gambar [Link]
Indeks(Jam)
Bias Minyak Nilam
Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa minyak nilam tersebut memiliki indeks bias yang memenuhi
standar SNI dengan kisaran antara 1,504-1,514. Menurut Guenther (1952), nilai indeks bias
dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam kandungan minyak nilam tersebut. Semakin
banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indeks biasnya. Hal ini disebabkan karena sifat
dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang.
Menurut Ketaren (1986) dalam Sihete (2009), semakin panjang rantai karbon, serapan semakin
tinggi dan ikatan rangkap yang banyak akan mempengaruhi indeks bias. Pembiasan terjadi karena
cahaya yang melewati media yang kurang rapat ke media yang lebih rapat sehingga cahaya akan
membelok dan membias. Pembiasan terjadi karena adanya gaya elektromagnetik dari atom-atom
dalam molekul.
[Link] Asam

4.3
4.2
Bilangan asam

4.1
4
3.9 0.5 bar
3.8 1 bar
3.7
3.6 1.5 bar
3.5 [Link].5
3.4
Waktu (jam)

Gambar 5. Bilangan Asam Minyak Nilam


Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi terhadap kualitas minyak nilam, yaitu
dapat merubah bau khas dari minyak nilam itu sendiri. Perubahan bau ini dapat disebabkan oleh
beberapa hal dan salah satunya adalah pada lamanya penyimpanan minyak, dan adanya kontak antara
minyak nilam yang dihasilkan tersebut dengan sinar dan udara disekitar pada saat penyimpanan di
dalam botol.
Penyimpanan minyak yang tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan udara sekitar,
akan dapat menambah senyawa-senyawa asam yang terbentuk. Oksidasi komponen-komponen minyak
atsiri dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam minyak
atsiri tersebut. Hal ini juga dapat disebabkan oleh penyulingan pada tekanan tinggi (temperatur tinggi),
dimana pada kondisi tersebut kemungkinan terjadinya proses oksidasi sangat besar.
Pada Tabel 3 berikut ini adalah analisa kualitas minyak atsiri nilam yang dibandingkan dengan
mutu dari Standar Nasional Indonesia (SNI).

9
Tabel 3. Syarat Mutu Minyak Atsiri Nilam
Karakteristik SNI (06-2385-1998) Hasil Penelitian
Indeks Bias 20oC 1,506-1,516 1,5045-1,5076
Densitas 25/25oC 0,943-0,983 0,947-0,961
Bilangan Asam Maks 5 3,17-4,14

[Link] dan bau


Minyak nilam Aceh berwarna kuning muda sampai coklat tua, dan tidak berbau saat dibakar. Kadar
patchouli alcohol (PA) dalam minyak Aceh berada di atas 30% dengan kandungan minyak berkisar 2,5-
5,0%.

BAB IV
PENUTUP

4.1KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan kondisi penyulingan pada tekanan 1 bar dan waktu 4
jam diperoleh rendemen tertinggi sebesar 1.82 % dengan berat jenis 0,943-0,983, indeks bias 1,504-
1,514 dan bilangan asam 3,79-4,14. Karakterisasi minyak nilam yang dihasilkan sesuai dengan SNI.

4.2 SARAN

Nilai tambah dan keuntungan usaha penyulingan minyak nilam sangat dipengaruhi oleh biaya produksi
dalam pengolahan, oleh karena itu untuk memperoleh nilai tambah dan keuntungan yang besar maka
pemilik usaha harus lebih mengefisienkan biaya produksi penyulingan minyak nilam yang dikeluarkan,
terutama dalam penggunaan bahan baku yang berkualitas agar minyak yang dihasilkan lebih banyak
sehingga mendapatkan keuntungan yang tinggi dari hasil penjualan minyak atsiri.

10
DAFTAR PUSTAKA
Dumadi, S . 2008. Kajian Fraksinasi Minyak Nilam dengan Menggunakan Rotary Evaporator. Jurnal
Ilmiah dalam <URL: [Link]
Ginting, S., 2004. Pengaruh Lama Penyulingan Terhadap Rendemen Dan Mutu Minyak Atsiri Daun
Sereh Wangi. Fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
Guenther, E. 1987, Minyak Atsiri. Jilid 1. Diterjemahkan Oleh S. Ketaren. Universitas Indonesia
Press. Jakarta.
Handayani, T., Mulyanto, A dan Titiresmi. 2006. Kualitas Minyak Nilam Sebagai Tanaman Sela Pada
Areal Lahan Hutan Rakyat Di Desa Cibojong, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.
Konferensi Nasional Minyak Atsiri. Jawa Tengah.
Hayani, E., 2005. Teknik Analisis Mutu Minyak Nilam. Buletin Teknik Pertanian. Vol. 10 Nomor 1.
Bogor.
Hendartomo., 2005. Pengambilan Minyak Atsiri Dari Daun dan Ranting Nilam (posgostemon Cablin
benth) Dengan Cara Penyulingan Uap. Artikel Penelitian. Jogjakarta.
Hidayat, A dan Sutrisno., 2006. karakterisasi budidaya nilam dan prospek pengembangannya pada
kawasan hutan. Prosiding seminar hasil litbang hasil hutan. Sumatera.
Imron.1994. Pengaruh peubah Lingkungan Fisik terhadap Pertumbuhan, hasil dan Kandungan Minyak
Nilam. Tesis pasca sarjana institute Pertanian Bogor.
Marwati, T., M.S. Rusli, E. Noor dan E. Mulyono. Peningkatan mutu minyak daun cengkeh melalui
proses pemurnian. Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian. 2 (2):93-100,2005.
Maryadhi, A,. 2007. Pembuatan Bahan Acuan Minyak Nilam.
Neidig, H.A., 1998. Isolating Clove Oil From Cloves Using Steam Distillation, Modular Laboratory
Program in Chemistry, Chemical Education Resources, USA.
Sumangat, D. dan Risfahery. 1998. Standard dan masalah mutu minyak nilam Indonesia. Monograf
nilam (5). Balai Penelitian Tanaman Rempah dan obat, Bogor.
Nuryani, Y., 2006. Budidaya Tanaman Nilam. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian..
Salim, T., Siregar H.P., Supriyanto, Sumaryadi, P., 2005. Pengaruh Pemakaian Bahan Bakar
Terhadap Kinerja Penyulingan Minyak Nilam Di Dua Daerah. Prosiding Kebijakan Enegi dan
Energy Alternatif. ISSN 1410-9891.
Sihete, D.T., 2009. Karakteristik Minyak Jerangau. Laporan Skripsi Departemen Kehutanan. Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
[Link]

11

Anda mungkin juga menyukai