Representasi Fatherhood dalam Dua Garis Biru
Representasi Fatherhood dalam Dua Garis Biru
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan guna Memperoleh Gelar
Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia
Oleh:
ADAM HARISTIAN
17321029
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan guna Memperoleh Gelar
Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia
Oleh:
ADAM HARISTIAN
17321029
Disusun oleh
Adam Haristian
17321029
Disusun oleh
ADAM HARISTIAN
17321029
Dosen Penguji :
1. Sumekar Tanjung, [Link].,M.A
NIDN 0514078702 (…………………)
2. Ratna Permata Sari, [Link]., M.A
NIDN 0509118601 (…………………..)
Mengetahui
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia
Bismillahirrahmanirrahim
1. Selama menyusun skripsi ini saya tidak melakukan tindak pelanggaran akademik
dalam bentuk apapun, seperti penjiplakan, pembuatan skripsi oleh orang lain, atau
pelanggaran lain yang bertentangan dengan etika akademik yang dijunjung tinggi
Universitas Islam Indonesia.
2. Karena itu, skripsi ini merupakan karya ilmiah saya sebagai penulis, bukan karya
jiplakan atau karya orang lain.
3. Apabila di kemudian hari, setelah saya lulus dari Program Studi Ilmu Komunikasi,
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia, ditemukan
bukti secara meyakinkan bahwa skripsi ini adalah karya jiplakan atau karya orang lain,
maka saya bersedia menerima sanksi akademis yang ditetapkan Universitas Islam
Indonesia.
Yang menyatakan,
Adam Haristian.
NIM : 17321029
MOTTO
PERSEMBAHAN :
1. Bapak, Mama, dan Adek tercinta
2. Semua orang di dunia pendidikan
Kata pengatar
Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Representasi Fatherhood
dalam Film Dua Garis Biru”. Shalawat dan salam senantiasa saya ucapkan kepada teladan umat
Nabi Besar Muhammad SAW semoga semua bisa mendapat syafaat serta pertolongannya kelak di
Hari Akhir. Skripsi ini di selesaikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam
Indonesia. Selama penyusunan skripsi ini, saya banyak memperoleh selaga bentuk bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Orang tua yang selalu memberikan dukungan serta doa yang tak kunjung henti. Tidak lupa
saya berterima kasih kepada adik kandung saya serta seluruh saudara dan keluarga besar.
2. Ibu Ratna Permata Sari, [Link]., MA., selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih
atas waktu dan tenaga dalam memberikan bimbingan berupa ilmu dan saran selama proses
penulisan skripsi ini.
3. Seluruh dosen dan staff Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas islam Indonesia.
4. Untuk sahabat dan kerabat saya yang telah memberikan dukungan, hiburan, dan
mendengarkan keluh kesah saya selama pengerjaan skripsi ini.
5. Teman-teman seperjuangan Ilmu Komunikasi angkatan 2017.
6. Serta segala pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini, yang tidak
bisa saya tulis satu persatu. Semoga Allah SWT, berkenan untuk membalas segala kebaikan
dari seluruh pihak yang telah membantu penulis selama ini.
Peneliti sangat mengakui kalau skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, peneliti berharap agar adanya kritik dan saran yang membangun dalam rangka
perbaikan dan pengembangan skripsi ini. Peneliti juga berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pihak yang bersangkutan, serta dapat menjadi perbandingan bagi
i
penelitian selanjutnya. Akhir kata, Peneliti sebagai pribadi memohon maaf apabila dalam
proses pembuatan skripsi ini melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Adam Haristian
ii
Daftar Isi
iii
C. Korpus 3 (00.21.40-00.22.44) ............................................................................................................... 36
D. Korpus 4 (00.31.10-00.32.43) .............................................................................................................. 39
E. Korpus 5 (00.33.56-00.40.08) ............................................................................................................... 42
F. Korpus 6 (00.52.09-00.53.09) ............................................................................................................... 50
G. Korpus 7 (00.53.12-00.55.13) .............................................................................................................. 53
H. Korpus 8 (00.59.06-01.0156) ............................................................................................................... 56
I. Korpus 9 (01.25.07-[Link]) ........................................................................................................... 60
J. Korpus 10 (01.28.24-01.31.30) ............................................................................................................. 63
K. Korpus 11 (01.38.54-01.40.47) ............................................................................................................. 66
BAB IV ........................................................................................................................................................... 70
A. Elemen fatherhood karakter ayah : Pak Rudy ..................................................................................... 70
B. Elemen fatherhood karakter ayah : Pak David..................................................................................... 71
C. Analisis mitos fatherhood dalam film Dua Garis Biru (2019) ............................................................... 73
1. Konstruksi ayah normatif ................................................................................................................. 73
2. Kedudukan ayah dalam keluarga ..................................................................................................... 74
3. Ayah sebagai pelindung secara fisik maupun emosional ................................................................. 75
D. Analisis Fatherhood film Dua garis biru dan penelitian lainnya .......................................................... 75
BAB V ............................................................................................................................................................ 78
A. Kesimpulan ........................................................................................................................................... 78
B. Keterbatasan penelitian ....................................................................................................................... 79
C. Saran ..................................................................................................................................................... 79
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................................... 80
iv
Abstrak
Adam Haristian. 17321029. Representasi Fatherhood Dalam Film Dua Garis Biru (Analisis
Semiotika Roland Barthes) Skripsi Sarjana. Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas
Psikologi Dan Ilmu Social Budaya, Universitas Islam Indonesia. 2021.
Film merupakan media massa yang dapat dijadikan sebagai representasi dari keadaan sosial
yang ada dalam sebuah masayrakat tertentu. bahkan film lebih jauh menghadirkan kembali nilai-
nilai kebudayaan dan mitos yang ada di masyarakat. Salah satu tema yang sering dibahas dalam
film adalah mengenai maskulinitas. Fatherhood merupakan konsep yang lebih spesifik dari
maskulinitas, membahas tentang tanggung jawab ayah. Film dengan tema fatherhood yang akhir-
akhir ramai diperbincangkan adalah film Dua Garis Biru (2019) dengan berhasil meraih lebih dari
2,5 juta penonton di bioskop indonesia. Oleh karena itu, peneliti akan meneliti bagaimana
representasi elemen fatherhood dalam film Dua Garis Biru (2019).
Metode pendekatan penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif kualitatif.. Penelitian
ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes untuk melihat lebih dalam pemaknaan setiap
elemen fatherhood berupa yaitu intimacy, provision, protection dan endowment yang digambarkan
dalam film Dua Garis Biru (2019).
Berdasarkan hasil penelitian, secara umum film Dua Garis Biru (2019) merepresentasikan
sosok ayah mengambil peran yang sangat besar dalam keluarga. Ayah tidak sekedar menjadi
pencari nafkah utama, tetapi juga ikut serta dalam urusan pengasuhan anak. Kedua karakter ayah
dalam film ini menampilkan semua elemen fatherhood dengan cara yang berbeda. Pak Rudy (Ayah
Bima) mengutamakan ketenangan dan keterbukaan sedangkan Pak David (Ayah Dara) lebih
emosional serta protective terhadap anak. Peneliti juga melihat beberapa mitos yang ada dalam
film ini, baik itu melawan sterotype maskulinitas (terkait hegemoni laki-laki terhadap perempuan)
yang digambarkan dalam bentuk kepemimpin dan perlindungan fisik dari seorang ayah ataupun
stereotype baru masyakarat modern yang menocoba medekonstruksi makna ayah yang ideal.
Kata kunci : Fatherhood, Ayah dan Anak, Representasi, Semiotika, Film, Dua garis biru.
1
Abstrak
Adam Haristian. 17321029. The Representation of Fatherhood in Dua Garis Biru Film
(Roland Barthes Semiotics Analysis) Undergraduate Thesis. Departement of communication
science, Physchology and sosio cultural science, Islamic university of indonesia. 2021.
Film as mass media that can be a representation of the social conditions that of a particular
society. Even farther, a film can bring back the cultural values and myths that exist in society. One
of the themes of film that are often discussed is about masculinity. Fatherhood is a more specific
concept of masculinity, discussing the responsibility of the father. The film with the fatherhood
theme that has recently been widely discussed is the film Dua Garis Biru (2019) which had more
than 2.5 million viewers in Indonesian theater. Therefore, the researcher will examine how the
representation of fatherhood elements in the film Dua Garis Biru (2019) .
The research approach method that will be used is descriptive qualitative. This study uses
Roland Barthes' semiotic analysis to look more deeply into the meaning of each element of
fatherhood in the form of intimacy, provision, protection and endowment depicted in the film Dua
Garis Biru (2019).
Based on the results of the research, in general the film Dua Garis Biru (2019) represents
the father figure taking a very big role in the family . Father are not only the main breadwinner ,
but also participate in parenting. The two father characters in this film display all the elements of
fatherhood in different ways. Mr. Rudy (Father of Bima) prioritizes calm and openness while Mr.
David (Father of Dara) is more emotional and protective of his children. Researchers also saw
some of the myths that exist in this film, it against the stereotypes of masculinity (hegemony of
men over women) are depicted in father leadership and physical protection or new modern society
stereotypes that try to deconstruction meaning ideal father.
Keywords : Fatherhood, Father and Son, Representation, Semiotics, Film, Dua Garis Biru.
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Maskulin merupakan sebuah sifat yang dimiliki seseorang agar bisa terima sebagai
sosok laki-laki di masyarakat. Darwin (1999) mendefinisikan maskulinitas sebagai
stereotype sifat yang dimiliki laki-laki yang berlawanan dengan feminitas.
Maskulinitas sendiri memang sangat di identikkan dengan patriarki, kekuasaan, dan
power atas perempuan. Namun perlu dipahami bahwa nilai-nilai maskulinitas tidak
mutlak karena sangat bergantung pada masyarakatnya. Setiap masyarakat memilki nilai
laki-laki idealnya masing-masing. Darwin (1999) juga menyebutkan bahwa baik
maskulinitas maupun feminitas bukanlah suatu konsep yang nilai-nilai di dalamnya
disepakati secara universal.
Dalam sejarah ilmu pengetahuan, sangat jarang ada membahas secara khusus
mengenai sosok ayah yang terlibat dalam urusan rumah tangga. Dahulu figur ayah
cenderung hanya sebagai pencari nafkah, bukan sebagai pengasuh anak. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh maskulinitas yang cenderung memposisikan ayah hanya sebagai
pencari nafkah. Dalam beberapa referensi buku tentang parenting juga terkadang sosok
ayah tidak dianggap penting dalam membentuk karakter seorang anak.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, para ilmuan psikologi mulai menyadari
pentingnya seorang ayah ikut berpartisipasi langsung dalam perkembangan anaknya
(Dagun, 2002). Kehadiran ayah dalam keluarga tidak lagi hanya sebatas pencari nafkah
semata. Menurut Andayani dan Koentjoro (2004) keterlibatan seorang ayah dalam
mengasuh anak akan menghasilkan dampak langsung kepada perkembangan anak.
Selain itu seorang ayah yang ikut dalam berkontribusi langsung dalam pengasuhan
anak setidaknya akan meringankan beban seorang ibu.
Pengasuhan orang tua terhadap anaknya bukan pekerjaan yang dapat diselesakan
dengan satu langkah saja. Hal itu dikarenakan mengasuh anak adalah tanggung jawab
yang dilakukan secara bertahap dan terus menerus. Seorang ayah juga dianggap sudah
3
terlibat dalam pengasuhan anak apabila sudah melibatkan aspek afeksi, fisik, dan
koneksinya sehingga menghasilkan dampak pada karakter anak (Abdullah,2009).
Hasil penelitian Brotherson, Yamamoto, dan Acock (2009) dalam jurnalnya
memperlihatkan bahwa memang tidak ada dampak yang didapatkan dari komunikasi
langsung ayah dan anak terhadap kebaikan hidup anak. Namun aspek kualitas
hubungan yang akan menentukan kesejahteraan hidup anaknya. Hal ini membuktikan
bahwa seorang ayah harus selalu menemani setiap fase perkembangan anak, sehingga
mereka memilki kualitas hubungan yang baik. Karena memang elemen penting
mengasuh anak adalah kualitas hubungan. Sebaliknya apabila kualitas hubungan ayah
dan anak memilki kualitas yang buruk, maka akan sangat rentan seorang anak akan
mendapatkan penyimpangan sifat dari yang seharusnya, seperti kenakalan remaja.
Bahkan menurut Dagun (2002) Seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian dari
ayah akan cenderung mendapatkan hasil akademik yang menurun hingga kemampuan
sosial yang terhambat. Terutama bagi anak laki-laki, kekurangan perhatian akan
mengaburkan sifat-sifat maskulin yang harusnya menurun dari figur seorang ayah.
Ketika proses pengasuhan yang melibatkan seorang ayah dan anak terjadi tentu saja
akan ada efek timbal balik. Hal itu dikarenakan seorang anak juga dapat mempengaruhi
ayahnya. Hubungan baik yang tercipta antara ayah dan anak juga akan berdampak
positif bagi seorang ayah. Seorang ayah dapat berkembang menjadi lebih matang dan
bertanggung jawab terhadap anaknya seiring berjalannya waktu (Dagun,2002).
Kualitas hubungan yang baik antara ayah dan anak juga akan memberikan dampak
positif bagi keluarga secara keseluruhan.
Dikarenakan para ilmuan modern sekarang mulai menyadari pentingnya sosok ayah
dalam mengurus rumah tangga, maka munculah konsep fatherhood. Fatherhood dalam
bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sikap seorang ayah dalam keluarga. Konsep
keayahan sendiri merupakan sebuah konsep baru yang lebih spesifik dari maskulinitas,
tentang sosok ayah dengan tanggung jawab dalam mengasuh anak dan urusan rumah
tangga dalam sebuah keluarga (Evan,2015 dalam Mahadi,2016).
Fatherhood digambarkan sangat bervariasi dalam berbagai media di Indonesia.
Khusus dalam film kita dapat melihat secara total keseluruhan karakter mulai dari yang
bersifat fisik seperti postur, gesture, dan ekspresi hingga yang bersifat tersirat seperti
4
sifat dan sikapnya. Sehingga film merupakan media yang sangat komplit untuk melihat
Penggambaran fatherhood.
Film merupakan salah satu media visual yang umumnya befungsi sebagai sarana
hiburan bagi semua lapisan masyarakat. Lebih dari itu film merupakan sebuah karya
seni yang dirancang sedemikian rupa oleh para creator film berdasarkan persepsi dan
pengalaman personal mereka. Para pembuat film akan sebisa mungkin menempatkan
unsur-unsur kehidupan sosial yang ada di dunia nyata dalam filmnya. Hal itulah yang
menyebabkan film seringkali sangat relate dengan kehidupan para penontonnya
sehingga dapat dinikmati dengan baik oleh penonton.
Film dengan tema fatherhood yang akhir-akhir ramai diperbincangkan adalah film
Dua Garis Biru (dirilis pada tahun 2019) karya sutradara Gina S Noer. Dilansir dari
akun Instagram resminya @duagarisbirufilm Film ini berhasil menembus angka 2,5
juta penonton. Film ini bercerita tentang dua orang remaja SMA yang bernama Bima
dan Dara yang melakukan hubungan diluar nikah sehingga berdampak buruk yang
menimpa bukan hanya mereka, namun orang-orang disekitar mereka. Film ini
mengangkat isu sex education pada pesan utamanya. Layaknya film keluarga pada
umumnya pasti akan menghadirkan karakter ayah dan anak didalamnya. Tidak hanya
satu, bahkan ada dua karakter ayah yang menjadi pemeran utama dalam film ini. Film
ini juga berhasil meraih penghargaan Piala Citra “FFI” pada tahun 2019 dalam kategori
Penulis Skenario asli terbaik sehingga tidak diragukan lagi kekuatan tulisannya. Oleh
karena itu peneliti ingin melihat bagaimana representasi fatherhood dalam film Dua
Garis Biru.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana representasi dari elemen-elemen fatherhood pada film Dua Garis Biru
(2019) ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat elemen-elemen fatherhood pada
keluarga Indonesia yang digambarkan di film Dua Garis Biru (2019).
5
D. Manfaat Peneltian
1. Manfaat Praktis
Penelitan ini dapat bermanfaat sebagai bahan referensi bagi insan film untuk
menambah wawasan tentang penggambaran karakter ayah dalam sebuah film di
Indonesia.
2. Manfaat Akademis
Penelitan ini dapat bermanfaat sebagai pelengkap dari tinjauan-tinjauan
sebelumnya yang membahas tentang representasi fatherhood. Selain daripada itu
penelitian ini dapat digunakan sebagai tinjauan pustaka pada penelitan selanjutnya
dengan tema yang bersinggungan dengan penelitian ini.
E. Kajian Pustaka
1. Penelitian Terdahulu
- Dalam tinjauan teoritis yang dilakukan oleh Sri Muliati Abdullah dari
Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada tahun 2009, yang berjudul
“Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Anak (Parental Involvement).
Penelitian ini menyebutkan bahwa keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh
anak adalah tindakan yang bersifat aktif, berlangsung terus menerus.
Pengasuhan ayah terhadap anaknya meliputi aspek fisik, kognisi dan afeksi.
Sehingga keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan akan mempengaruhi
dari segi fisik, emosi, intelektual, sosial dan moral anak. Ukuran keterlibatan
seorang ayah dalam mengasuh anak berupa : 1. Waktu yang dihabiskan
Bersama, 2. Kualitas hubungan, 3. Upaya dalam menjalankan peran menjadi
seorang ayah, 4. Konseptualisasi multidimensional. Walaupun sama-sama
membahas mengenai keterlibatan ayah dalam mengasuh anak, penelitian ini
tidak meneliti representasi fatherhood dalam sebiah film.
- Penelitian dari Farida Hidayati, Dian Veronika Sakti Kaloeti dan Karyono dari
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Penelitian ini terbitkan
pada pada tahun 2011 dengan judul “Peran Ayah Dalam Pengasuhan Anak”.
6
Penelitan ini bertujuan meneliti peran ayah terhadap determinasi diri seorang
remaja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran ayah berpengaruh
positif terhadap determinasi diri seorang anak. Peran ayah sebagai pemberi
perhatian dan kasih sayang berpengaruh terhadap rasa kemandirian, peran ayah
sebagai konsultan dan penasihat berpengaruh terhadap rasa kompetensi, dan
peran ayah sebagai sumber daya sosial dan akademik berpengaruh terhadap rasa
keterhubungan seorang remaja. Persamaan penelitian ini dengan penelitan saya
adalah terletak pada topik yang di bahas yaitu hubungan ayah dan anak. Namun
penelitian ini berada di ruang lingkup kajion psikologi sehingga memiliki
berbedaan dengan penelitian saya yang menggunkan metode Semiotika untuk
mengungkap representasi fatherhood dalam film.
- Syafiratun Nida dari Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
pada tahun 2018 dengan judul “Peran Ayah Terhadap Perilaku Moral Anak”.
Penelitian ini dibuat dengan tujuan mengetahui bagaimana peran ayah dalam
membentuk perilaku moral anak. Kesimpulan dari penelitian ini menyebutkan
bahwa seorang anak apabila mendapatkan kasih sayang dan pola asuh maksimal
dari seorang ayah akan tumbuh menjadi anak yang baik secara intelektual
maupun perilaku sosial. Sebaliknya seorang anak akan rentan memiliki
penyimpangan sosial dan serta kecakapan intelektual yang buruk apabila
kurang mendapatkan kasih sayang dan pola asuh dari orang tua. Penelitian ini
mencakup tema yang sama dengan penelitian saya, yaitu tentang keluarga atau
lebih spesifiknya fatherhood. Walaupun demikian, penelitian ini hanya bisa
saya jadikan sebatas referensi untuk melihat pengaruh ayah untuk
perkembangan anak.
- Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Masfi Syafi’atul Ummah Dari UIN
Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2019. Penelitian yang berjudul “Simbol
Nilai Parenting dalam Film Sabtu Bersama Bapak (Analisis Semiotika Roland
Barthes)” bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana simbol-simbol dari
nilai-nilai parenting dari film “Sabtu Bersama Bapak”. Kemudian, hasil
penelitian ini menunjukan bahwa dalam film “Sabtu Bersama Bapak” terdapat
beberapa penanda dan petanda dari nilai parenting dan dapat ditarik maknanya.
7
Penelitian ini sama-sama mengangkat tema besar pengasuhan orang tua, namun
pada penelitian saya lebih ke arah lebih spesifik ke fatherhood. Penelitian ini
juga mempunyai kesamaan dalam objek penelitian berupa film, namun berbeda
filmnya
- Terakhir ada penelitian dari Elly Manika Maya Mahadi Dari Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Univeritas Diponenogoro Semarang pada tahun 2016
yang berjudul representasi fatherhood dalam majalah “Ayahbunda”. Penelitian
ini bertujuan untuk menjelaskan representasi fatherhood dalam majalah
“Ayahbunda”. Hasil penelitian ini penelitian ini menunjukkan representasi
fatherhood dalam Majalah “Ayahbunda” berupa 2 tipikal sosok ayah, pertama
ayah yang supportive. Figur ayah suportive direpresentasikan dalam bentuk
pemberi dukungan kepada ibu dalam pengasuhan seorang anak karena Majalah
“Ayahbunda” menggambarkan sosok ibu yang bekerja di rumah dan
membutuhkan bantuan ayah. kedua ayah yang sensitive. Figur seperti ini cukup
berlawanan dengan nilai maskulitas yang beredar ditengah masyarakat dengan
kultur patriarki. Seorang ayah yang emosinonal, ekspresif, dan terbuka terhadap
perasaannya baik itu secara verbal maupun non verbal. Penelitian ini memiliki
kesamaan tema dengan penelitian saya yaitu fatherhood dan metode yang
dilakukan juga sama-sama semiotika. Yang berbeda adalah pemilihan objek
penelitian, penelitian ini menggunakan majalah sebagai objek, sementara
penelitian saya menggunakan film.
2. Kerangka Konsep
a. Maskulinitas dan Fatherhood
Menurut Darwin dalam (1999) dalam tulisannya yang berjudul
“Maskulinitas Posisi Laki-laki Dalam Masyarakat Patriakis” mendefinisikan
maskulinitas adalah sebuah stereotype tentang sifat khas yang dilekatkan pada
laki-laki yang berlawanan dengan feminimitas (sifat khas perempuan).
maskulinitas dan feminimitas mencakup berbagai karakteristik yang dimiliki
seseorang seperti karakter atau kepribadian, sifat dan perilaku, okupasi, bentuk
fisik/tubuh, dan orientasi seksual.
8
Selanjutnya Darwin (1999) juga menyebutkan bahwa baik maskulinitas
maaupun feminimitas bukanlah suatu konsep yang nilai-nilai di dalamnya dapat
disepakati secara universal. Hal ini dikarenakan kedua konsep tersebut sangat
bervariasi bergantung pada aspek sosial dan kebudayaan yang ada di suatu
masyarakat. Sebagai contoh di masyakat kerajaan yang menggangap sosok laki-
laki ideal itu hanya sebatas raja atau ksatria, beda halnya dengan sosok lakilaki
ideal di era sekarang yang sudah bervariasi seperti atlet, ilmuwan, polisi, musisi
hingga politisi yang sudah memiliki standard ideal untuk laki-laki. Hal ini
menunjukan bahwa setiap masyarakat mempunyai kemampuan untuk
mengerakan dan mengubah nilai-nilai yang sudah ada.
Dahulu orang-orang beranggapan bahwa dalam urusan rumah tangga
sosok ayah tidak terlalu diperlukan. Karena memang urusan rumah dan anak
dikategorikan sebagai sifat-sifat dari feminitas. Menurut Dagun (2002)
Dahulunya figur ayah cenderung diindentikan sebagai pencari nafkah, bukan
sebagai pengasuh. Dalam beberapa referensi buku tentang parenting juga
terkadang sosok ayah tidak dianggap penting dalam membentuk karakter
seorang anak. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan terutama
mengenai parenting. Para peneliti mulai menyadari bahwa pentingnya sosok
ayah untuk ikut berpartisipasi dalam pengasuhan anak. Bahkan Menurut
Andayani dan Koentjoro (2004) Keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh
anak akan menghasilkan dampak setidaknya dalam 2 hal; pertama pada
perkembangan anak secara langsung, kedua efek tidak langsung berupa
dukungan untuk ibu atau paling tidak meringankan beban seorang ibu.
Oleh karena itu di era sekarang, masyarakat modern mengakui sifat
maskulin seorang ayah tidak hanya didapatkan dari bekerja dan mencari nafkah.
Menurut Evan (2015) dalam Mahadi (2016) fatherhood dalam bahasa Indonesia
dapat diartikan sebagai sikap seorang ayah dalam keluarga. Konsep keayahan
sendiri merupakan sebuah konsep baru yang lebih spesifik dari maskulinitas,
tentang sosok ayah dalam tanggung jawab dalam mengasuh anak dan urusan
rumah tangga. Oleh karena itu Konsep fatherhood mengakui bahwa kehadiran
ayah dalam keluarga tidak lagi hanya sebatas pencari nafkah semata.
9
b. Konsep fatherhood dalam keluarga
Seperti yang telah dijelaskan diatas, konsep fatherhood meletakan posisi
seorang ayah dalam tanggung jawab yang lebih besar karena mereka telah
diberikan lebih banyak ruang untuk meberikan interaksi berupa pengasuhan anak
di dalam sebuah keluarga. Pengasuhan yang baik dari orang tua memiliki ciri
utama seperti kehangatan, perhatian, penerimaan yang bersifat sensitif dan saling
berbalasan. Hail itupun harus dilakukan secara tepat sesuai pada kebutuhan sang
anak (Garbarino dan Benn, 1992 dalam Abdullah ,2009).
Ketika proses pengasuhan dari seorang ayah terjadi tentu saja akan tercipta
efek timbal balik. Dampak dari pengasuhan tidak hanya satu arah dari ayah ke
anak, lebih dari itu seorang anak juga dapat mempengaruhi ayahnya. Hubungan
baik antara ayah dan anak juga akan meberikan efek yang positif bagi seorang
ayah. Hal itu berupa perkembangan kedewasaan ayah yang menjadi lebih
matang dan bertanggung jawab terhadap anaknya seiring berjalannya waktu
(Dagun,2002). Ketika hubungan baik terjadi antara ayah dan anak maka dampak
positif tidak hanya baik untuk perkembangan Anak namun bagi Ayah bahkan
keluarga secara keseluruhan.
Menurut Abdullah (2009) keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan
akan berpengaruh terhadap aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan moral anak.
Hal ini tentunya tidak bersifat langsung dalam sekali sentuhan, namun
diperlukan proses yang bersifat terus menerus. Abdullah dalam penelitannya
juga menyebutkan ukuran keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh anak ;
pertama waktu yang dihabiskan Bersama, kedua kualitas hubungan, ketiga upaya
dalam menjalankan peran menjadi seorang ayah, terakhir konseptualisasi yang
multidimensional.
Hasil penelitian Brotherson, yamamoto, dan Acock (2009) dalam jurnalnya
yang berjudul “Connection and Communication in Father-Child Relationships
and Adolescent Child Well-Being” menerangkan bahwa memang tidak ada
dampak yang didapatkan dari komunikasi langsung ayah dan anak terhadap
kebaikan hidup anak. Namun kualitas hubungan yang baik akan akan
meningkatkan kesejahteraan hidup anaknya. Oleh karena itu seorang ayah harus
10
selalu menemani setiap fase perkembangan anak mulai sejak lahir hingga
dewasa, karena faktor penting kesuksesan dalam mengasuh anak adalah kualitas
hubungan yang dibagun secara terus menerus. Sebaliknya apabila kualitas
hubungan ayah dan anak menjadi buruk, maka akan sangat rentan seorang anak
akan mendapatkan penyimpangan sifat dari yang seharusnya.
c. Elemen-Elemen fatherhood
Dalam Mahadi (2016) yang mengutip dari Nicohlas Townsend terdapat 4
elemen fatherhood yaitu ;
Poin pertama dalam elemen ini dalah pengasuhan secara aktif dan kognitif
dari ayah. Poin kedua, adalah penentuan standar materi bagi anak dan keluarga
hal ini mencakup standar materi, kehidupan yang layak, keuangan dan skala
prioritas keluarga (Mahadi,2016). Sosok ayah adalah seorang yang diposisikan
sebagai pemimpin dalam keluarga. tentunya seorang ayah akan menjadi pihak
11
yang paling bertanggung jawab dalam menentuan sesuatu yang berhubungan
dengan jalan yang akan ditempuh keluarga itu.
3. Protection (Perlindungan)
12
Ketika seseorang menyerap sebuah informasi lalu diungkapkan kembali
kepada orang lain dalam sebuah Bahasa atau gambar maka terjadilah proses
representasi. Representasi secara umum diartikan sebagai sebuah proses
penerimaan pesan lalu dipahami hingga dijelaskan kembali. Menurut Danesi
(1999) dalam Suyanto (2014) representasi adalah sebuah proses pemaknaan
kembali terhadap sebuah pesan, atau secara lebih mendalam diartikan sebagai
memahami tanda-tanda untuk menjelaskan ulang suatu hal yang dapat di indera
oleh manusia.
Menurut Mahadi (2016) Terdapat dua sistem representasi. Sistem yang
pertama adalah mental representations. Pemahaman setiap manusia terhadap
suatu hal sangatlah beraneka ragam. Agar dapat menyampaikan pesan dengan
baik diperlukan sebuah persamaan kerangka berpikir, hal ini diperoleh dari
kesamaan budaya. Tetapi persamaan konsep berpikir saja masih kurang,
dibutuhkan sebuah proses pertukaran makna dan konsep agar bisa saling
memahami dalam berkomunikasi.
Oleh karena itu, terdapat sistem representasi yang kedua yaitu Language
atau bahasa. Supaya dapat menyampaikan pesan yang kita pikirkan, manusia
membutuhkan bahasa yang berbentuk tanda berupa suara, tulisan, gambar dan
lain hal yang dapat di rasakan oleh panca indera. Selanjutnya, menurut Hall
(2011) dalam Rahmasari (2018) yang menyatakan bahwa pada akhirnya
representasi berarti sebuah budaya yang diserap lalu ditunjukkan kepada orang
lain atau subjek lain menggunakan sebuah media yang dapat berupa tanda-tanda
seperti bahasa dan gambar.
13
Menurut Irawanto (2017) para teoritis pada awalnya hanya memaknai
film dari sudut pandang estetika formal. Kajian-kajian yang dilakukan hanya
mengkaji teknis pembuatan film tanpa mengkaji substansi pesan yang ada di film
itu sendiri. Dewasa ini mulai ada upaya meneliti film guna mencari pesan atau
makna yang lebih bersifat substantif.
Jika mengambil definisi dari komunikasi massa, film adalah sebuah media
massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari pembuatnya kepada
penonton. Khususnya untuk film fiksi, Film Maker sudah dengan sengaja
membuat setiap alur, scene, dan adegannya. Bahkan menurut Graeme turner
dalam Irwanto (2017) sebuah film tidak seperti media massa lain yang merekam
lalu mencerminkan relaitas. Film lebih bersifat menghadirkan kembali nilai-nilai
kebudayaan dan mitos yang ada di masyarakat. Oleh karena itu pastinya setiap
pembuat film memiliki pesan yang ingin disampaikan di setiap bagian filmnya.
Pada umumnya film memilki 2 elemen pembentuk yaitu elemen naratif
dan elemen sinematic (Nisa,2014). Elemen naratif dapat dikatakan sebagai pesan
dasar pembuat film yang berupa ide dasar seperti tema, cerita, karakter dan hal
lain yang bersifat penceritaan. Dalam sebuah film elemen ini adalah sebagai roh
yang fungsinya sebagai nyawa yang membuat film hidup di pikiran audience.
Hal ini dikarenakan tanpa unsur naratif sebuah film hanyalah potongan audio
visual tanpa cerita.
Sementara itu elemen sinematic merupakan metode dari sang kreator film
dalam mengolah elemen naratif yang sudah disiapkan, salah satu elemen
sinematik adalah sinematografi. Sinematografi menurut Miyarso (2011)
sinematografi adalah tekni pengambilan gambar dengan menggunakan alat-alat
teknologi seperti kamera dan lighting. Salah satu pembahasan mengenai
Sinematografi adalah tentang scene dan shot. Scene adalah sebuah kejadian di
satu latar tempat yang sama, didalam satu scene terdapat beberapa shot atau
bahkan satu shot saja.
14
F. Metodelogi Penelitian
1. Jenis dan pendekatan Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. pendekatan ini
bertujuan untuk mendeskripsikan suatu prilaku ataupun situasi secara rinci dan
mendalam berdasarkan fenomena yang terjadi. Fenomena dalam penelitian in
adalah tanda-tanda dari repsentasi fatherhood dalam film Dua Garis Biru.
Dikarenakan hanya bersifat deskriptif, penelitian ini hanya sekedar menjabarkan
dan menjelaskan suatu variabel saja, tidak mencari hubungan antar variabel.
15
harum (petanda). Selanjutnya tahapan yang sudah menyatu tersebut memuat sebuah
konotasi yaitu pemaknaan terhadap petanda sebelumnya.
Menurut Barker (2016) dalam Rahmasari (2018) menyebutkan bahwa
Roland Barthes membagi tanda menjadi 3 jenis yaitu denotasi, konotasi dan mitos.
Menurut emmison (2000) Denotasi adalah level pertama dari sitem tanda yang
bersifat inderawi, jelas dan mendasar. Kemudian di level kedua ada konotasi yang
di dapatkan ketika denotasi dihadapkan dengan nilai budaya dan pengetahuan.
Sehingga memiliki pemaknaan yang didasarkan aspek-aspek budaya dan
pengetahuan setiap orang.
3. Objek penelitian
Objek penelitian ini dalam penelitian ini adalah 11 scene Film Dua Garis
Biru yang dipilih berdasarkan unit analisis.
4. Teknik analisis
Analisis data yang dilakukan adalah menggunakan semiotika dari Roland
Barthes. Dengan teknik ini dapat menjelaskan secara lebih rinci bagaimana
representasi fatherhood dalam film melalui tahapan sebagai berikut :
16
i. Mengumpulkan beberapa scene (korpus) yang mengandung didalamnya
nilai-nilai dari fatherhood.
ii. Mengamati data yang kemudian peneliti dapat menuliskan makna denotasi.
17
BAB II
Film Dua Garis Biru (2019) merupakan sebuah film drama yang dirilis pada tahun
2019 oleh rumah produksi Starvision Plus yang bekerja sama dengan wahana kreator. Film
karya Sutradara sekaligus penulis Gina S. Noer ini sendiri berhasil mendapatkan banyak
sekali penghargaan di tingkat nasional. Dari segi komersil, film ini mendapatkan sambutan
yang sangat baik di kalangan penonton indonesia, hal itu terbukti jumlah penonton yang
sudah lebih dari 2 juta penonton hingga akhir penayangan di bioskop.
Dalam jajaran cast utamanya, film ini dibintangi oleh aktor dan aktris muda berbakat
seperti Angga Yunanda berperan sebagai Bima, Zara JKT48 berperan sebagai Dara, dan
Rachel Amanda berperan sebagai kakak Bima. Selain itu, beberapa aktor/aktris sudah senior
dan sudah sangat berpengalaman yaitu ;Lulu Tobing (Bu Yuni),Dwi Sasono (Pak David),Cut
mini (Bu Yuni),Arswendi Bening Swara (Pak Rudy). Oleh karena itu tidak mengherankan
jika film ini mendapatkan cukup banyak nominasi dan penghargaan untuk para pemerannya.
18
B. Sinopsis cerita film Dua Garis Biru (2019)
Film ini bercerita tentang dua siswa SMA yaitu Bima dan Dara yang harus
mengalami kondisi sulit setelah hubungan diluar nikah yang mereka menyebabkan Dara
hamil. Setelah itu dunia remaja yang sedang mereka nikmati berubah menjadi masa sulit
karena memang mereka belum siap untuk itu. Situasi sulit tidak hanya menimpa mereka
namun juga keluarga kedua belah pihak.
Bima merupakan anak bungsu dari sebuah keluarga kecil yang tinggal di
pemukiman kumuh pinggiran kali DKI Jakarta. Ayah dan Ibu Bima digambarkan sebagai
sosok yang taat agama merasa sangat malu akibat ulah Bima, belum lagi Dewi (Kakak Bima)
yang harus menunda pernikahannya. Oleh karena itu, tragedi yang menimpa Bima sangat
membuat keluarganya mengalami guncangan hebat.
Film ini sejatinya memiliki fokus penceritaan pada kehidupan remaja, namun dalam film
ini kita dapat melihat banyak nilai-nilai fatherhood karena memang campur tangan karakter
ayah dalam film ini cukup besar. Ditambah lagi kedua karakter ayah dalam film ini
digambarkan sangat berbeda. Pak David (Ayah Dara) merupakan seorang yang secara
psikologi cukup emosional dan seringkali ditunjukan adegan di filmnya. Pak David juga
merupakan seorang yang berkecukupan dari segi ekonomi jelas sekali memiliki pola asuh
berbeda dengan Ayah Bima. sementara itu Pak Rudy (Ayah Bima) digambarkan sebagai
seorang yang agamis dan juga tenang dalam menghadapi masalah. Interaksi dalam antara
keluarga Pak Rudy dan Pak David semakin hari selalu menimbulkan konflik baru. oleh
karena itu sosok ayah dalam film ini berperan penting dalam memimpin keluarganya dalam
menghadapi berbagai masalah.
19
C. Profil Sutradara dan Penulis skenario
Ginarti [Link] merupakan nama lengkap dari sutradara sekaligus penulis film Dua
Garis Biru (2019). Wanita kelahiran Balikpapan 35 tahun lalu ini adalah seorang pembuat
filmmaker, Penulis Buku, serta orang yang aktif di industri kreatif lainnya. Dalam dunia film
Gina mengeluti berbagai bidang yang mencakup penulis skenario, p roduser hingga
sutradara. Gina [Link] juga merupakan co-founder dan head of development dari Wahana
Kreator Nusantara. Sekarang Gina tinggal di DKI Jakarta bersama suami dan kedua anak
mereka.
Kebangsaan : Indonesia
([Link]
pialacitra-kategori-penulis-naskah) Diakses tanggal 23 juni 2021
Dalam film Dua Garis Biru (2019), Gina memulai debutnya di posisi sutradara. Film
tersebut berhasil menjadi box office dan laris manis dipasaran bahkan telah ditayangkan
diberbagai bioskop di negara-negara Asia Tenggara seperti, Malaysia. Film Dua Garis Biru
(2019) juga bisa disaksikan melalui layanan Netflix, Iflix dan WeTV.
20
Gina [Link] meraih prestasi yang luar bisa ketika gelaran Piala Citra FFI 2019, masuk
ke dalam 4 kategori nominasi yaitu penulis skenario asli terbaik, penulis skenario adaptasi
terbaik, sutradara terbaik, dan film terbaik. 2 diantara di menangkan oleh Gina yaitu penulis
skenario asli terbaik dan penulis skenario adaptasi terbaik. Hal itu membuat Gina menjadi
penulis pertama Indonesia yang memenangkan 2 kategori penulis terbaik FFI di tahun yang
sama
D. Karakter Utama
Profil pemeran
Umur : 64 Tahun
Kebangsaan : Indonesia
([Link]
Diakses terakhir 23 juni 2021
21
2. Bima
Profil Pemeran
Umur : 21 tahun
Kebangsaan : Indonesia
([Link]
Bima dalam film Dua Garis Biru (2019) diceritakan sebagai Siswa SMA yang
berumur 17 tahun. Anak Dari pasangan Pak Rudy dan Ibu Yuni serta memiliki seorang
kakak perempuan bernama Dewi . Bima tinggal di di lingkungan padat penduduk
pinggiran kali di Jakarta Bersama kedua orang tuanya. Bima merupakan salah satu
karakter yang memiki dinamika perubahan sifat yang cukup drastis di film ini. Hal itu
karena proses pendewasaan dari berbagai masalah yang dia alami akibat tindakanya
sendiri.
22
3. Pak David (Ayah Dara)
Profil Pemeran
Umur : 41 tahun
Kebangsaan : Indonesia
([Link]
filmyang-pernah-dibintangi-dwi-sasono) Diakses terakhir 25 juni 2021
Pak David diperankan oleh Dwi Sasono yang sejatinya memang sudah memilki
porsi tubuh ideal secara biologis. Hal itu dikukung oleh karakternya yang memang
emosional. Matang secara finansial namun masih berkembang secara emosional.
Pasang surut emosi Pak David terlihat jelas dari awal hingga akhir film. Bernama
lengkap David Farhadi, Ayah Dara tinggal disebuah rumah yang cukup mewah
Bersama Bu Rika (istri), Dara (anak ke-1) dan Putri (anak ke-2).
23
4. Dara
Profil Pemeran
Dara yang merupakan seorang siswi yang cukup berprestasi disekolahnya namun
kejadian dalam film Dua garis ini merubah alur cerita kehidupannya. Dengan latar
belakang keluarga yang cukup matang secara ekonomi dan pendidikan memungkinkan
Dara menjadi anak yang memilki cita-cita yang tinggi. Dara yang masih duduk di
bangku SMA tinggal dirumah Bersama kedua orang tuanya dan adiknya.
E. Unit analisis
24
III. Elemen-elem Fatherhood : seperti yang dijelaskan di kerangka
konsep fatherhood memilki 4 elemen yaitu ; Intimacy (kedekatan),
Provision (Ketentuan), Protection (Perlindungan), Endownment
(Penganugrahan karakter).
Ketiga bentuk tanda diatas merupakan patokan untuk mencari scene yang
nantinya akan dianalisis. berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti menemukan total
11 korpus :
No Visual Penjelasan
1 Makan malam
keluarga Pak Rudy,
kedua orang tua
Bima sedang
bertanya kepada
Bima tentang
masalah yang terjadi.
2 Pembicaraan tertutup
antara Pak Rudy dan
putranya.
25
3 Pak Rudy yang
mengajak Bima
beserta teman-
temanya untuk
segera melaksanakan
ibadah sholat.
5 Keributan di UKS,
yang bermula dari
Dara yang ketahuan
hamil diluar nikah.
26
7 Perbincangan
keluarga Pak Rudy
setelah mereka sholat
berjamaah.
8 Prosesi lamaran
Bima & Dara yang
diadakan secara
dadakan.
9 Perdebatan antara
keluarga Pak Rudy
dan Pak David
mengenai hak asuh
calon anak Bima dan
Dara.
10 Terjadi perbedaan
pendapat antara Bu
Rika dan Pak David.
27
11 Dara yang tidak
terima dengan
keputusan kedua
orang tuanya.
28
BAB III
TEMUAN PENELITIAN
Dalam bab ini peneliti akan mengolah data yang didapat dari unit analisis yaitu 11 Korpus dari
film Dua Garis Biru. Setiap korpus akan dibedah untuk memisahkan visual dan dialognya
kemudian akan dijelaskan denotasi dari setiap tanda. Setelah itu maka akan didapatkan makna
konotasi dari elemen-elemen fatherhood pada setiap korpus.
29
anak kita narkoba Pak, kayak si Riski
anaknya Bu Ani.
Bapak Bima : Anaknya Ncim apa Bu
Ani?
Bu Yuni: Ani !
Pak Rudy: Oh, kalau itu mah gak
sama sama anak kita. Pipi
setembem ini kok narkoba
Bu Yuni: Bisa aja, bapak liatin
(Melihat ekspresi Bima, Bu Yuni menduga kalau dong pa
Bima mengkonsumsi narkoba) Pak Rudy: Iya
(Pak Rudy memegang pipi anaknya) Bu Yuni: Bima, kamu harus cerita
semuanya sama Ibu, kamu narkoba
kan? iya kan? Pak Rudy: Iya Bim?
Bu Yuni: Tuh, aduh kalo gini Ibu
pingsan aja nih, Ibu udah gak kuat
Bima : Enggak Bu !
Pak Rudy: Ada apa sih sebernya
kamu? Ada masalah di sekolahmu?
(Ekspresi panik Bu Yuni karena menduga Bima Ada masalah dengan GuruGurumu?
memakai narkoba) atau masalah dengan Wali
30
(Pak Rudy menepuk-nepuk bahu Bima mencoba Pak Rudy: Sudah Bu, biar dia
menenangkan Bima) makan dulu Ibu : Duh, Bima
Pak Rudy: Bima, Bima, tunggu
Analisis denotasi:
Adegan ini berlatar di ruang makan keluarga Pak Rudy pada malam hari. Teknik
pengambilan gambar close-up untuk menunjukan ekspresi Bima yang menunduk murung,
Bima terlihat masih memakai seragam sekolah dan Bu Yuni sedang mempersiapkan makan
malam. Kemudian gambar diambil dengan medium shot terlihat keadaan meja makan
mereka, terlihat ada satu rice cooker dan ceret air. Korpus ini juga menunjukan keadaan
dapur Bima yang diterangi lampu seadanya, cukup untuk menerangi sekitar meja makan saja
yang dikelilingi perabotan rumah tangga lainnya
Berdasarkan dari dialog diatas, Bu Yuni sedang heran kenapa Bima bisa-bisanya
meniggalkan motornya disekolah. Bima yang saat itu duduk dengan raut wajah kusam,
mengatakan pada ibunya kalau dia lupa membawa pulang motornya. Mendengar jawaban
Bima, Bu Yuni tidak percaya dengan mengatakan “Bima, gak ada orang pulang itu lupa
bawa pulang motornya. Kamu ya ada-ada aja”. Bima tetap saja mengatakan pada ibunya
kalau dia memang benar-benar lupa membawa motornya. Melihat gerak-gerik Bima yang
mencurigakan, Bu Yuni menjadi curiga “Jangan-jangan, kamu narkoba ya? Kamu jual ya
motornya?” beliau ucapkan dengan volume suara yang tinggi.
Sesaat kemudian, Pak Rudy pulang, terlihat mengenakan baju koko dan kain sarung
lalu mengucapkan salam. Bu Yuni menjawab salam, lalu lanjut mengatakan “Kayak si Riski
anaknya Bu Ani?”. Mendengar hal itu Pak Rudy yang sedang duduk di sebelah Bima
bertanya “Ada apa lagi sih bu?”. Bu Yuni mengakatakan kepada suaminya kalau anak
mereka mengkonsumsi narkoba. Namun Pak Rudy malah lebih berfokus pada sambal pete.
Bu Yuni memperingatkan suaminya agar tidak terlalu banyak makan pete dan memberi tahu
31
kalau anaknya mengkonsumsi narkoba seperti anaknya Bu Ani. Mendengar penjelasan
istrinya, Pak Rudy mencoba mengatakan “Oh kalau itu mah gak sama sama anak kita, pipi
setembem ini kok narkoba” sambil mencubit pipi anaknya. Bu Yuni tetap curiga dan berkata
“Tuh, aduh kalo gini ibu pingsan aja nih, ibu udah gak kuat”.
Mendengar reaksi ibunya yang semakin curiga dengan dirinya, Bima membentak dan
dengan mengatakan “Enggak Bu !” lalu tertunduk menangis. Menanggapi situasi tersebut,
Pak Rudy menepuk bahu anaknya dengan lembut dan bertanya “Ada apa sih sebernya kamu?
Ada masalah di sekolahmu? Ada masalah dengan guru-gurumu? atau masalah dengan wali
kelasmu? Atau, jangan-jangan ini ada masalah dengan percintaan ni, kamu putus ya sama
si dara itu? iya, Namanya Dara kan? hm”. Mendengar Bima yang sudah mulai pacaran, Ibu
Bima semakin marah mengatakan kepada Bima “kamu pacaran? kan udah ibu bilang
berkali-kali kamu jangan pacaran Bima! Tuh jadinya tu begini” Selanjutnya Pak Rudy
menyarakan agar Bima biarkan makan dulu, Namun, Bima malah berdiri dan meninggalkan
ruang makan sambil menagis.
Analisis Konotasi
Seperti yang dijelaskan di kerangka konsep, fatherhood adalah sebuah konsep baru dari
maskulinitas yang memberikan ruang untuk sosok ayah dalam tanggung jawabnya di rumah
(Evan,2015 dalam mahadi,2018). Dalam korpus ini terlihat karakter Pak Rudy juga ikut
makan malam dan berdiskusi bersama istri dan anaknya. Dialog Pak Rudy pada saat baru
pulang “Ada apa lagi sih bu?” mengkonotasikan kalau Pak Rudy merasa mempunyai rasa
tanggung jawab dengan apa yang terjadi pada internal keluarganya.
Dialog Pak Rudy “Ada masalah di sekolahmu? ada masalah dengan guru-gurumu? atau
masalah dengan wali kelasmu? Atau, jangan-jangan ini ada masalah dengan percintaan ni,
kamu putus ya sama si dara itu? iya, namanya Dara kan? hm”. Dialog itu diucapkan Pak
Rudy dengan gaya bicara yang santai sehingga memberikan kehangatan dalam obrolan
keluarganya. Pak Rudy juga tidak langsung percaya yang dikatakan istrinya, namun lebih
mencoba bertanya dulu kepada anaknya tentang apa yang terjadi, hal itu menunjukkan kalau
Pak Rudy ingin anaknya lebih terbuka tentang masalahnya.
32
Selanjutnya aspek kehangatan ditunjukan Pak Rudy yang memberikan sentuhan fisik
pada bahu dan pipi Bima. Menurut Fatmawati (2018) dimensi kedekatan rasional memiliki
4 aspek yaitu; ketergantungan,keterbukaan, kebersamaan, dan juga kehangatan. Itu berarti
adegan ini secara konotasi menunjukan elemen fatherhood berupa kedekatan emosional
(intimacy).
B. Korpus 2 (00.18.48-00.20.18)
Visual Dialog
33
Analisis denotasi :
Merupakan lanjutan dari korpus 1, dengan setting lokasi berada di dalam kamar Bima,
Pak Rudy masih berusaha menasehati putranya yang masih menangis. Beliau memberikan
nasehat kepada Bima untuk tidak menangis gara-gara urusan wanita. Pak Rudy yang sedang
duduk di sebelah pintu kamar Bima yang sedang terbuka berkata “Jadi anak cowo itu, jangan
mau nangis gara-gara cewek, Bapak malu lho kam cengeng kaya gitu”.
Bima masih sedih terlihat dari ekspresinya yang cemberut dan suaranya yang masih berat
karena menahan air mata. Bima yang saat itu sedang duduk di atas kasurnya dan bersandar
di dinding mengatakan ” Tapi Bima salah besar Pak”. Mendengar penyataan dari Bima sang
ayah tersenyum dan bertanya “Kamu masih sayang sama dia?”. Bima mngganggukan
kepala.
Dengan senyuman lebar Pak Rudy mengatakan “gampang kalau gitu”. Kemudian Pak
Rudy menutup pintu kamar Bima dengan perlahan dan bergeser duduk ke sebelah Bima. Di
iringi dengan irama musik yang tenang dan kamera zoom in kearah mereka berdua. Pak Rudy
berkata “Kalo kamu salah, minta maaf, minta maaf kalo salah” dilanjutkan dengan menepuk
kaki Bima. Pak Rudy melanjutkan dengan berkata “Tapi jangan bilang-bilang Ibu ya kalau
Bapak ngomong kayak gini”. Bima kembali menjawab perkataan Ayah dengan mengatakan
“Tapi Bima salah besar Pak”
Pak Rudy kembali menepuk-nepuk kaki Bima sambil tersenyum dan mengatakan
“Kalau sudah jodoh, ga akan kemana.” Kemudian sang ayah meberikan tatapan dengan
senyuman. Bima ikut tersenyum dan menatap kedepan dengan mata yang masih
berkacakaca.
Analisis Konotasi
Berlatar di kamar Bima, menunjukan kalau pembicaraan ini merupakan obrolan yang
besifat personal. Senyuman dan nada bicara yang lembut dari Pak Rudy menunjukan
pendekatan yang lebih santai dan terbuka. Posisi duduk Pak Rudy berada di sebelah dan lebih
rendah Bima, hal itu mengkonotasikan Pak Rudy tidak memposisikan diri sebagai orang
yang memberikan perintah secara horizontal kepada anaknya, namun vertikal sebagai teman
bercerita sehingga mulai membuka ruang untuk Bima bercerita. Hasil penelitian dari
34
fatmasari (2020) menunjukan bahwa sikap seorang ayah yang lebih santai, terbuka, memberi
kepercayaan kepada anak, sehingga menjadi teman yang baik merupakan aspek
ketehubungan dalam dimensi kedekatan antara ayah dan anak.
35
C. Korpus 3 (00.21.40-00.22.44)
Visual Dialog
(Pak Rudy mengajak Bima dan teman-temannya Teman 1 : Ini anaknya tadi nanya
untuk segera ke mushala) mana, ehh aduh, sakit.
Teman 1 : Itu obat Bapaklu?
Bima : Rumah Naim dimana sih?
Teman 1 : Gua juga mau nanya
Teman 2 : Tuh
Bima : Nih, buat lu,gua cabut dulu
36
Analisis Denotasi
Adegan ini awalnya diambil dengan camera movement yang perlahan zoom out untuk
memperlihatakan keadaan sekitar. Bima dan teman-temannya sedang duduk di sebuah Pos
Ronda tepat persimpangan jalan kecil pinggiran kali di daerah pemukiman padat penduduk
Jakarta. Bima memakai baju kaos polo dan celana pendek sedang memegang minuman
dingin yang ada di dalam kantong plastik. Teman bicaranya Bima, keduanya juga memakai
kaos dan salah satunya terlihat sedang memegang gitar. Terlihat juga ada aktivitas warga
yang sedang mengangkut perlengkapan ondel-ondel.
Terdengar teman Bima berkata “Iye, itu Mila iye, waktu itu dia datang ama Naim”
kemudian bertanya “Emng napa lu nanya-nanya, lu buntingin anak orang?”. Pertanyaan itu
menunjukan kalau Bima sebelumnya bertanya tentang tempat penggguran kandungan. Bima
kemudian mengelak dan mengatakan kalau itu untuk tugas sekolah.
Kemudian Pak Rudy datang dari kejauhan, terlihat mengenakan baju koko lengkap
dengan peci dan kain sarung. Beliau melihat Bima yang terlihat sibuk mengobrol lalu berkata
“Astagfirullah hal adzim si Bima, Bapak tunggu-tungguin, katanya ada titipan obat Bapak”.
Bima dan teman-temannya langsung berdiri, kemudian Bima mencari obat dengan
merabameraba kantong celananya lalu menanyakan obatnya kepada temannya. Bima
mengambil obat tersebut yang ada di tempat duduk mereka. Namun, Obatnya terjatuh dan
segera dengan cepat diambil lagi oleh Bima.,
Setelah menerima obatnya, Pak Rudy menanyakan apakah Bima sudah shalat. Bima
terbata-bata menjawab pertanyaan itu, “Ee, Iya, Ini mau ke mushala“. Pak Rudy langsung
berkata “Kalau udah dengar adzan, harus segera ke mushala ya, semuanya ya, ayo ayo
sekarang” Pak Rudy lalu pergi dari sana. Bima juga ikut pergi sesaat kemudian namun, tidak
untuk ke mushala.
37
Analisis Konotasi
Dalam Adegan ini ditunjukkan secara jelas sisi agamis dari Pak Rudy. Secara visual Pak
Rudy mengenakan baju koko dan setelan kain sarung dan peci, itu mengkonotasikan setelan
baju muslim di Indonesia. Pada 2 korpus sebelumnya, juga terlihat Pak Rudy selalu
mengenakan baju koko serupa. Hal itu merupakan cara Pak Rudy mencontohkan cara
berpakaian yang islami kepada anaknya.
Selain terlihat dari visual, karakter islami Pak Rudy terlihat dari dialognya yang
menanamkan kewajiban untuk shalat apabila sudah mendengar adzan kepada Bima. hal itu
berbanding lurus apa yang dilakukan Pak Rudy, sebagai ayah yang digambarkan memiliki
sisi agamis yang cukup kuat, tentunya elemen penganugrahan karakter (endowment) islami
sangat terlihat disini.
38
D. Korpus 4 (00.31.10-00.32.43)
Visual Dialog
39
Bu Yuni: Punya pacar baru,
sekolahnya di Jakarta?
Pak Rudy: Ga ada yang larang
kamu Bim. Pokonya kamu harus
negri, dan kalau perlu tunda tahun
depan, ambil kerja dulu.
Bima : Masih gabisa
(Pak Rudy, Bu Yuni dan Bima tetap melakukan Bu Yuni: Ditekan, ditekan itu on
aktivitas mereka )
offnya.
Bu Yuni: Rusak, buang aja
Analisis Denotasi
Korpus 5 berlatar di depan rumah keluarga Pak Rudy, terlihat disana papan tanda ketua
RT.007 yang menandakan kalau Pak Rudy seorang ketua RT dan juga papan tanda warung
Gado-gado Bu yuni yang menandakan kalau Bu Yuni seorang penjual gado-gado. Disana
terlihat aktivitas siang keluarga mereka, Bima sedang memperbaiki kipas angin, Pak Rudy
sedang mengutak-atik mesin motor Vespa berwarna biru muda, dan Bu Yuni yang turut
membantu mereka dengan memberikan gulungan kabel kepada Bima. Disana juga terlihat
motor Vespa Bima yang berwarna biru tua. Setelan baju yang dipakai mereka juga setelan
rumahan biasa, Bu Yuni memakai daster dan rok Panjang, Bima memakai kaos dan celana
pendek dan Pak Rudy memakai kaos dan celana Panjang.
Pada dialog korpus ini, mereka membahas tentang rencana Bima yang setelah tamat
SMA yang ingin melanjutkan kuliah. Diawali dengan Bima yang mengatakan “Pokonya
harus di Jakarta Pak, swasta juga gapapa.”. Pak Rudy mencoba memberikan opsi lain untuk
kuliah di Jogja saja. Bu Yuni juga memberikan opsi kalau ada paman Bima yang membuka
lowongan kerja.
Namun, Bima tetap bersikeras bahwa dia akan ingin kuliah di Jakarta. Bima bertanya “Mba
Dewi kenapa boleh kuliah swasta?”. Ibu menjawab pertanyaan Bima “Beda Bima, dulu
kan Bapak belum pensiun, lagian kamu juga nilainya pas-pasan.” Pak Rudy juga
40
menambahkan alasan lain “Yah, Mba dewi juga setelah Idul Adha rencana akan nikah
Bim”.
Bima tidak terima dengan penjelasan kedua orang tuanya. Ditengah-tengah argumen
Bima, dia menyebut nama Dara. Bu Yuni mulai meduga lagi kalau Bima masih pacaran,
Bahkan Bu Yuni menduga kalau Bima ingin kuliah di Jakarta karena Dara. Namun, Bima
mengelak dengan mengatakan kalau Dara ingin kuliah di Korea. Bu Yuni kembali mencari
celah, dengan beranggapan kalau Bima mempunyai pacar baru.
Mendengar perdebatan Ibu dan Bima yang malah melebar ke masalah pacaran, Pak Rudy
mencoba kembali fokus ke permasalahan awal. Beliau menghentikan aktivitas dengan
motornya sejenak dan menatap kearah Bima. Pak Rudy kemudian mengatakan kalau tidak
ada yang melarang Bima untuk kuliah di Jakarta, yang penting harus negeri, Kalau perlu
Bima disarankan untuk menunda satu tahun agar dia bisa kerja dulu.
Analisis konotasi
Korpus ini memperlihatakan bagaimana sudut pandang masing-masing keluarga Pak
Rudy tentang masa depan yang akan ditempuh Bima. Dimulai dari Bima yang ingin kuliah
tetap di Jakarta. Awalnya, Pak Rudy mencoba memberikan alternatif tempat lain seperti di
Jogja. Kemudian, terlihat dari Bu Yuni yang menduga kalau Bima ingin kuliah jogja karena
pacarnya.
Pak Rudy mencoba bertindak tegas dengan mengatakan “Ga ada yang larang kamu Bim.
Pokonya kamu harus negri, dan kalau perlu tunda tahun depan. Ambil kerja dulu.” Yang
ada diakhir pembicaraan mereka.. Itu menunjukan kalau elemen fatherhood berupa
penentuan terhadap tujuan masa depan (provison) kembali diperlihatan pada karakter Pak
Rudy.
Tidak hanya elemen Provison, elemen penganugrahan karakter (endowment) juga
diperlihatkan. Dalam scene ini hal itu digambarkan dengan Pak Rudy yang menemani Bima
dalam melakukan aktivitas yang positif. Berdasarkan kerangka konsep, penganugrahan
karakter (endowment) menurut Nicholas Townsend dalam Mahadi (2016) dapat didefinisikan
sebagai proses pengasuhan berupa memberikan uang, meluangkan waktu, dan memberikan
kesempatan dalam menemani aktivitas positif anaknya, yang nanti akan menghasilkan
karatker dari seorang ayah terhadap anaknya.
41
E. Korpus 5 (00.33.56-00.40.08)
Visual Dialog
42
Bu Yuni : Anak kita!
Pak David : Anak Saya-
Bu Yuni : Anak kita !
Pak David : Anak saya di tidurin
sama anak-
Pak David: Anak saya gak mungkin
macam-macam kalau bukan
Pak Rudy : Pak David
(Pak Rudy kembali menarik baju Bima dan
Pak David : Saya akan laporin
mendorongnya ke dinding)
kepolisi
Ayah dan Bu Yuni mencoba menjauhkan Pak
Pak Rudy : Kita bisa bicarakan ini
David dari anaknya)
baik-baik
Bu Rika : Kamu dipaksa sama dia?
Pak David : Dara, Kamu dipaksa
sama dia? Dara, kamu liat Papa,
kamu dipaksa kan sama dia?
Bu Rika : Jawab dong Dar!
Bu Yuni : Ngomong sama Ibu, bener
Bima?
Bu Yuni : Bima !
Dara : Aku sayang sama Bima
Bima : Saya akan tanggung jawab
Bima : Saya pasti akan menanggung
Dara dan anak saya. Saya serius
(Ayah dan Bu Rika menatap tajam Dara untuk
Tante saya pasti akan tanggung
meminta jawaban Dara, begitupun yang
dilakukan Ayah dan Bu Yuni) jawab.
Dara : Mama bilang kan, Bima baik.
Bu Rika : Kamu pikir gampang jadi
orang tua? hah?
Bu Rika : Saya aja gagal jadi orang
tua
43
Bima : Pokoknya Tante, sehabis kita
lulus saya akan cari kerja, kita pasti
ga akan ngerepotin siapa siapa lagi
Pak David : Mah
Bu Rika : Kamu dikeluarin dari
sekolah, kamu tau?
Pak David : Dirumah aja yuk ma
Bu Rika : Kamu di DO ! Cuman
kamu yang di DO, dia enggak Bu
(Kekecewaan dari orang tua Bima dan Dara)
Rika : Dan mereka lepas tangan,
semua yang disini lepas tangan
Kepala sekolah : loh, tadi saya
tidak bicara begitu loh bu. Kalau
sekolah punya aturan, Dara tidak
mungkin dikeluarkan tapi, apakah
Dara siap menanggung
resikonya? Apa
mentalnya siap Bu?
Bu Rika : Tadi Bapak yang bawa
nama baik sekolah minta anak saya
mengundurkan diri. sekarang gini
ngomongnya?
(Beberapa siswa-siswi melihat dari luar jendela) Pak David : Saya bisa tuntut sekolah
ini Pak
Kepala sekolah : Bapak-Ibu
Pak David : Saya bisa tuntut sekolah
ini, Serius saya
Kepala Sekolah : Kami minta
pengertiannya, disini banyak
muridmurid lain bapak ibu.
44
Pak David : kalau begitu kenapa dia
tidak diminta mengundurkan diri
juga Pak?
Pak Rudy : Lho maaf, kalau
keduanya dikeluarkan bagaimana
nanti mereka memberi makan anak
mereka?
Bima : Saya ga akan lepas tangan
(Pak David mengajak Bu Rika untuk
kok om. Saya pasti tanggung jawab
menyelesaikan masalah dirumah saja)
Bu Rika : Mama pikir kamu bias
(Pak David kaget mendengar pernyataan Bu
mama andelin, bisa mikir buat diri
Rika)
kamu sendiri. Sekarang kalau udah
begini, kamu mau jadi apa Dar? ha?
Pak David : Mah, udah-udah kita
bahas dirumah aja
Bu Rika : Bahas apa dirumah?
Bahas dia mau nikah dimana?
Bahas mau lahiran dimana? Ayah :
Iya, tapi inikan ga enak di sekolah
Bu Rika : Bahas apalagi? Bahas
mereka mau tinggal dimana, Iya? Bu
Rika : Kamu hari ini gausah pulang
ke rumah !
Bu Rika : Kamu mau tanggung
jawab kan? iya kan? mulai hari ini
Pak David : Rika.
45
Analisis Denotasi
Diawali dengan Ayah dan Bu Rika menarik-narik gagang pintu dengan keras lalu
masuk raut wajah kusam dan tatapan mata tajam. Disana juga terlihat Pak David mengenakan
kaos kerah, celana panjang, dan sepatu. Bu Rika memakai blazer wanita, Celana Panjang,
Sepatu high heels, serta membawa tas sandang kecil. korpus ini berlatar di UKS sekolah, hal
itu ditandai dengan adanya kota P3K, thermometer, beberapa poster tentang kesehatan
remaja yang menempel di dinding. Tempat tidur pasien yang terlihat ada Dara sedang
berbaring disana. Awalnya Bu Rika langsung mengajak Dara untuk segera pulang, Pak
David juga membantu dara untuk berdiri.
Bima yang mengikuti di belakang kemudian mencoba membantu, namun tangan Bima
dengan cepat dipukul oleh Pak David. Selanjutnya Pak David membentak “Jangan kamu
sentuh anak saya” menunjuk kearah Bima dengan sorot mata tajam. Bima kemudian berkata
“Ini memang salah saya.”, kemudian Bu Rika menjawab pernyataan Bima dengan berkata
“Ya emang salah kamu, kalau bukan karena kamu anak saya ga mungkin bandel gini.”
Dara yang sebelumnya memang sudah terlihat pucat kemudian menutup mulutnya
dengan tanganya dan terlihat mual. Kemudian Bu Rika berkata “Kamu kenapa Dar?” terlihat
juga Pak David yang memegangi pundak anaknya. Bima yang melihat hal itu kemudian
mengatakan “bentar ya Ra” berjalan dengan cepat cepat kearah luar
Pak David yang melihat Bima berjalan keluar mengejar Bima lalu berkata “Mau kemana
kamu?”. Dilanjutkan dengan menarik bajun dan mendorong Bima ke dinding “Mau kemana
kamu? Heh! Mau kabur kamu“. Bima kemudian menjawab “Engga om” dengan terbata-bata.
Pak David membentak “Berani-beraninya kamu ninggalin anak saya. Ga punya otak kamu
!”.
Sesaat kemudian Pak Rudy dan Bu Yuni masuk ke UKS. Bu Yuni mendorong Pak
David untuk memisahkannya dengan Bima sembari berkata “Jangan macam-macam dengan
anak saya”. Tidak terima dengan pernyataan Bu Yuni, Pak David mengatakan “Jangan
macam-macam sama anak saya?. Anak ibu susah macam-macamin anak saya.” Dan
menambahkan “Anak Saya ga mungkin macam-macam kalau bukan-“ dipotond dengan Bu
Yuni “Anak kita!” . Disaat itu juga Pak Rudy mencoba menenangkan Pak David.
Kemudian Bima berjalan kearah belakang dari mereka namun dihentikan lagi oleh Pak
46
David, kembali ditarik bajunya dan didorong lagi ke dinding. Melihat hal itu Bu Yuni dan
Pak Rudy memisahkan mereka lagi. Setelah dipisahkan Pak David mengancam akan melapor
kepolisi sambal menunjuk kearah keluarga Pak Rudy. Terlihat Pak Rudy mencoba
menengahi Pak David dengan menahan tubuhnya dan mengaktan “Kita bisa bicarakan ini
baik-baik”
Kemudian terlihat kedua orang tua dari Bima dan Dara mendekati anaknya untuk
meminta penjelasan. Pak David dan Bu Rika meminta agar Dara mengatakan kalau di
dipaksa oleh Bima. Pak David duduk di depan Dara dengan menatap tajam mata anaknya
dari dekat. sementara orang tua Bima berdiri mendekati anaknya meminta kejelasan
mengenai kejadian sebenarnya, dan akhirnya Bu Yuni berteriak kepada anaknya.
Dara kemudian mengakui kalau perbuatan mereka disengaja karena dia cinta dengan
Bima. terlihat ekspresi sedih dari Pak David ditandai dengan beliau mengusap wajahnya dan
tertunduk hingga menagis. Kemudian Bima mendekat kearah Dara dan mengatakan “Saya
akan tanggung jawab Om, Tante”. Ayah terlihat tidak tahan dengan kesedihannya berdiri
menjauh dari sana dan duduk di kursi yang terletak di sudut lain ruangan, sambil mengusap
air mata.
Dara kemudian mengatakan “Mama bilang kan, Bima baik?”. kemudian dengan raut
wajah kesal, Bu Rika menjawa “kamu pikir gampang jadi orang tua? Saya aja gagal jadi
orang tua!” terlihat juga air mata jatuh dari mata Bu Rika. Bima juga menambahkan kalau
setelah mereka lulus dia akan mencari uang untuk menafkahi Dara dan anaknya, dan berjanji
tidak akan merepotkan orang tua Dara. Bu Rika yang sudah tersulut emosi kemudian
menyatakan kalau Dara dikeluarkan dari sekolah, Bu Rika kemudian menambahkan kalau
pihak sekolah hanya mengeluarkan Dara, sedangkan Bima tidak.
Sesaat kemudian kepada sekolah masuk ke ruang UKS Bersama guru olahraga. Kepala
mengatakan “Loh, tadi saya tidak bicara begitu loh bu. Kalau sekolah punya aturan, Dara
tidak mungkin dikeluarkan tapi, apakah Dara siap menanggung resikonya? Apa mentalnya
siap bu?”. Bu Rika tentu tidak terima dan bahkan Pak David mengancam akan melapor ke
polisi terkait perlakukan sekolah anaknya.
Kemudian Pak David juga mempertanyakan kenapa Bima tidak diminta untuk
mengundurkan diri juga. Pak Rudy kemudian menengahi pembcicaraan antara Pak David
47
dan kepala sekolah dengan berkata “ Lho maaf, kalau keduanya dikeluarkan bagaimana
nanti mereka memberi makan anak mereka?. Terlihat dari luar jendela juga siswa-siswi
SMA sedang melihat. Bima mencoba menyakinkan kalau dia tidak akan lepas tangan dan
akan bertanggung jawab.
Bu Rika duduk di sebelah Dara dan memgungkapkan rasa kecewaanya kepada Dara
“Mama pikir kamu bisa Mama andelin, bisa mikir buat diri kamu sendiri. Sekarang kalau
udah begini, kamu mau jadi apa Dar? ha?”. Dara hanya bisa menunduk kebawah mendengar
perkataan Ibunya. Pak David kemudian mengajak istrinya untuk pulang saja dan
menyelesaikan masalah di rumah saja. Bu Rika tidak terima dan mengatakan “Bahas apa
dirumah? Bahas dia mau nikah dimana? Bahas mau lahiran dimana? Bahas apalagi? Bahas
mereka mau tinggal dimana, Iya?”. Pak David yang melihat istrinya terus terbwa emosi
kembali mengajak agar mereka pulang dulu saja karena ini disekolah tidak baik didengar
oleh anak-anak lain juga. Pada akhirnya, Bu Rika memutuskan agar Dara untuk tidak pulang
kerumah mulai hari itu karena Bima berjanji akan bertanggung jawab. Bu Rika kemudian
bergegas pergi meniggalkan ruangan dan disusul oleh Pak David yang kaget mendengar
ucapan istrinya.
Tersisa Pak Rudy, Bu Yuni, Bima Dan Dara yang masih ada di ruang UKS. Bu Yuni
masih terus menangis kemudian menatap wajah anaknya. Tiba-tiba menampar keras wajah
Bima dan pergi meninggalkan ruangan. Hingga tinggal tersisa Bima dan Dara di ruangan itu.
Analisis Konotasi
Korpus ini menampilkan 2 karakter ayah, pertama adalah Pak David dan yang kedua
adalah Pak Rudy. Pak David disini terlihat sangat meledak-ledak secara emoosi. Mulai dari
marah, malu, sedih hingga kecewa. Hal itu diawali dengan Pak David dan Bu Rika masuk
ke ruangan dengan langkah yang terburu-buru kemudian mengetok pintu dengan keras.
Kedua orang tua Dara sangat malu dengan kejadian ini, hal itu dikarenakan mereka memiliki
latar belakang sosial yang cukup tinggi, dapat dilihat style pakaian yang mereka pakai.
Karena malu langsung bertindak untuk langsung membawa Dara pulang.
Pak David terpancing emosinya ketika melihat Bima yang mencoba membantu
mereka. Bantuan Bima dianggap Pak David sebagai ancaman terhadap anaknya. Disini
peneliti melihat adanya elemen fatherhood berupa perlindungan (protection). Hal itu
48
ditunjukan dari dialog pertama Pak David yaitu “jangan kamu sentuh anak saya”.
Selanjutnya, elemen perlindungan lain ditunjukan ketika Pak Rudy menarik baju dan
mendorong Bima ke dinding dan “Mau kemana kamu? Heh! Mau kabur kamu?” dan
“Berani-beraninya kamu niggalin anak saya. Ga punya otak kamu !”. tanda tersebut dapat
diartikan sebagai perlindungan dari Pak David terhadap tindakan Bima.
Selain elemen perlindungan elemen fatherhood lain juga ditampilkan di scene ini,
pertama ada kedekatan (Intimacy) secara emosional. Repinski & Zook (2005) menyebutkan
bahwa kedekatan dalam aspek ketergantungan dapat terlihat dari adanya saling
mempengaruhi secara emosi, hal ini muncul aktivitas yang sudah dijalin secara terus menerus
oleh ayah dan anak (Fatmawati,2020). Dalam scene ini terlihat ekspresi sedih dan kecewa
Pak David saat Dara mengakui kalau perbuatannya bukan karena dipaksa oleh Bima namun
karena cinta. kekecewaan Pak David menunjukan kalau pengakuan Dara mempengaruhi
emosi ayahnya.
Elemen perlindungan (protection) dari Pak Rudy sedikit digambarkan pada korpus ini.
Namun perlindungan yang dilakukan Pak Rudy tidak sama dengan yang dilakukan Pak
David. Dapat dilihat dari cara Pak Rudy menyikapi situasi rumit ketika Pak David yang
mengancam akan melapor ke polisi namun, Pak Rudy mengatakan “Kita bisa bicarakan ini
baik-baik”. Hal itu juga dapat dikonotasikan sebagai sifat tenang dan memilih jalan berbicara
baik-baik dari Pak Rudy. Hal itu secara tidak langsung memberikan aspek penganughrahan
karakter (Endownment) dari Pak Rudy kepada Bima.
49
F. Korpus 6 (00.52.09-00.53.09)
Visual Dialog
50
Analisis Denotasi
Korpus ini berlatar lokasi di rumah keluarga Pak David, Tepatnya di living room. hal
itu ditandai dengan adanya rak buku tempat Pak David bersandar sambil membaca buku.
Kemudian terlihat beberapa sofa tempat Bu Rika duduk sambal memenagn laptop. Beberapa
pernak-pernik perhiasan rumah seperti piring, mangkuk, lampu hias, dan beberapa lukisan
juga ada.
Adegan di diawali dengan Dara yang marah kepada Bu Rika dikarenakan mereka
berniat menyerahkan anak Dara kepada Om Adi. Ibunya yang kaget langsung menghentikan
aktivitasnya dan menghadapkan tubuhnya langsung kearah Dara. Pak David juga bereaksi
dengan mengatakan “ Dara kamu seharusnya istirahat loh”.
Namun Dara tetap melanjutkan protesnya terhadap tindakan orang tuanya. Sehingga Bu
Rika menejelaskan alasanya “Tapi Dar, mereka itu lebih siap jadi orang tua daripada
kamu”. Dara yang yang tidak terima menjawab “Tapi aku juga orang tuanya Ma” dengan
nada membentak. Bu Rika dengan balik membentak “Dar, jadi orang tua itu bukan Cuma
hamil 9 bulan 10 hari! ini tanggung jawab seumur hidup”. Dara yang masih tidak terima
balik bertanya “Kenapa mama ninggalin Dara kemarin?” . Mendengar keributan antara Bu
Rika dan Dara, Pak David menghampiri Dara dan berkata dengan lembut kepada Dara
“Dara, kamu istirahat ya. Nanti kita bicarakan masalah ini”. Kemudian Dara pergi
meniggalkan ruangan.
Analisis Konotasi
Dari korpus ini peneliti melihat adanya elemen fatherhood berupa kedekatan
(intimacy). Pertama, diperlihatakan ketika Pak David memberikan kecil pada bahu Dara.
Hal itu sejalan dengan pernyataan Ariesandi (2008) dalam Mahadi (2016) orang tua yang
memberikan sentuhan lembut kepada anak akan menghasilkan rasa aman bagi anaknya. Hal
itu dapat berupa tepukan kecil pada bahunya. Sentuhan fisik sendiri memang merupakan
bagian dari elemen kedekatan Nicholas townsend menurut mahadi (2016).
Selain itu, dua dialog ayah dalam scene ini yang menunjukan kepedulian Pak David
terhadap kesehatan anaknya. Hal ini merupakan bentuk dari elemen fatherhood berupa
perlindungan (protection) yang dilakukan oleh Pak David karena beliau berusaha menjaga
kesehatan Dara. menurut Mahadi (2016) perlindungan yang dilakukan ayah tidak
51
sematamata hanya melindugi secara fisik namun dari dampak negatif juga. Dampak negatif
disini berupa perdebatan antara Bu Rika dan Dara yang nantinya akan menimbulkan masalah
kepada kesehatan Dara yang sedang hamil.
52
G. Korpus 7 (00.53.12-00.55.13)
Visual Dialog
53
Pak Rudy : Bu, biasakan
bicarakan dengan dingin
Pak Rudy : Bu, Astagfirullah
Analisis Denotasi
Korpus 7 berlatar di ruang tengah yang berada di rumah keluarga Pak Rudy. Keluarga
Pak Rudy terlihat baru saja menjalankan ibadah sholat berjama’ah. Terlihat Pak Rudy sedang
memakai baju koko biru, kain sarung, dan peci yang juga dipakai di beberapa korpus
sebelumnya. Bu Yuni mengenakan mukena putih, Bima memakai kaos polos dan kain
sarung.
Adegan diawali dengan Bima setelah mencium tangan ayahnya sehabis sholat,
kemudian meminta tolong kepada ayahnya. Permintaan itu di dukung oleh ibunya,
ditunjukan dengan dialog “Bener juga pak, ini kan cucu kita juga, mereka mau kasih ke
orang lain tanpa bicara sama kita, Kenapa? Apa karena kita ini miskin?”. Pak Rudy
menjawab pertanyaan istrinya dengan berkata “Bukan itu masalahnya bu”. Merasa tidak
menemukan jawabanya ibu bertanya lagi “terus apa?”. Kembali berusaha menjawab, Pak
Rudy membalik badan dan menghadap ke istrinya dan berkata “Ini masalah nikah lo bu”
Ibu mendengar jawaban ayah kembali bertanya dan meminta kejelasan dari suaminya
dan berkata “Maksud Bapak, lebih baik berzina daripada menikah?”. Pak Rudy mencoba
menerangkan kepada Bu Yuni dengan berkata “Bukan itu, bukan masalah zina tapi ini
masalah waktu”. Mendengar jawaban Pak Rudy, Bu Yuni makin sedih. Hal itu ditandai
dengan tangisan ditengah dialog “ Terus maksud bapak gimana? Bima tidak udah nikah
sama Dara? kita ini tidak punya apa-apa, kita hanya punya iman dan harga diri. Ibu jualan
aja udah malu, Ibu tau betul satu kampung ngomogin keluarga kita Pak, Ibu tau. Kita ini
gagal, kita ini gagal buat didik anak laki kita”. Kemudian Pak Rudy mencoba menenangkan
ibu dengan berkata “Bu, biasakan bicarakan dengan dingin”. Karena sudah larut dalam
kesedihan, Bu Yuni meninggalkan ruangan.
54
Analisis Konotasi
Dalam Scene ini kembali diperlihatakan Pak Rudy dengan elemen fatherhood yaitu
penganugrahan karakter (Endowment). Tanda pertama yang dapat di konotasikan sebagai
elemen endowment adalah Pak Rudy yang mengimami sholat dalam keluarga. Berbanding
lurus dengan definisi dari penganugrahan karakter (Endowment) sebagai proses pengasuhan
berupa memberikan uang, meluangkan waktu, dan memberikan kesempatan dalam
menemani aktivitas positif anaknya. Dalam hal ini mengimami shalat merupakan bentuk
dari usaha Pak Rudy dalam melakukan aktivitas yang positif Bersama keluarga.
Kemudian dialog terakhir “Bu, biasakan bicarakan dengan dingin” merupakan salah
satu bentuk elemen fatherhood penganugerahan karakter (Endowment). Walaupun perkataan
itu tidak ditunjukan langsung kepada Bima, Tetap saja Bima pasti akan mendengar nasehat
dari Pak Rudy yang berupa tata krama dalam berbicara.
55
H. Korpus 8 (00.59.06-01.0156)
Visual Dialog
56
Pak David : Sini, duduk.
Bu Rika : Aku ga siap.
Pak David : Tapi kita harus hadapi.
Bu Rika : Aku ga bisa.
Pak David : bisa, ya.
Pak Rudy : Assalamualaikum
Bima : Assalamualaikum
Pak David :Waalaikumsalam
Pak Rudy : Pak David
(Pak Rudy beserta keluarga datang)
Pak David : Pak, Apa kabar?
(Disambut oleh Dara, kemudian dipersilahkan duduk
Pak Rudy : Alhamdulillah baik
oleh Pak David)
Bima : Om
Pak David : Kita belum siapin apa-
apa nih, mendadak soalnya.
silahkan-silahkan, silahkan duduk
pak
Pak Rudy : Terimakasih
Pak David : Eni, Eni Tolong bikini
minum ya
Pak David : Silahkan Pak, silahkan
Bu Yuni : Buk
Putri : Ayo mah aku udah siap
Pak David : Putri berenangnya di
rumah dulu ya. Papa lagi ada tamu,
ya.
Pak Rudy : Sebelumnya mohon maaf
Pak. Maksud kami sekeluarga
datang kemari, untuk melamar
ananda Dara agar bisa dinikahkan
bisa dinikahkan dengan anak kami
Bima
57
Pak Rudy : Maaf pak
Analisis Denotasi
Diawal diperlihatkan dialog Bu Rika “Ga bisa, aku mesti nemenin puput berenang,
ibu-ibu lain udah nunggu, ga bisa kan aku batalin gitu aja” Sambil berjalanan menuruni
tangga rumahnya. Selanjutnya, ayah mencoba untuk mengajak bicara sebentar, namun Bu
Rika kembali menolak ajakan Pak David dengan alasan dia ingin mencari handphone dulu.
Selanjutnya giliran Dara yang mencoba menjelaskan kenapa dia sengaja tidak memberitahu
Bu Rika kalau keluarga Pak Rudy akan datang kerumahnya dengan mengatakan “Ma, aku
itu ga bilang sama Mama karena belum tentu Mama sama Papa mau ketemu, tolong dong
ma.” Bu Rika tetap mengatakan tidak bisa karena sudah ada janji dengan ibu-ibu lain. Bu
Rika malah kembali mencoba mencari handphone dengan mengangkat-angkat beberapa
barang dirumahnya.
Pak David membawa handphone dan memberikannya ke Bu Rika. Kemudian Pak
David duduk sambil berkata ‘Sini, duduk”. Akhirnya Bu Rika mau untuk duduk, namun juga
berkata “Aku ga siap”. Melihat keraguan pada istrinya, Pak David mengatakan kalau mereka
harus hadapi kenyataan dengan berkata. Bu Rika berkata lagi “Aku ga bisa” kemudian Pak
David mencoba meyakinkan lagi dengan berkata “Bisa, ya”
Sesaat kemudian, Pak Rudy beserta seluruh anggota keluarga datang seserahan
lamaran. Pak Rudy terlihat memakai batik begitu juga dengan Bima, Bu Yuni dan Dewi juga
memakai baju yang sopan. Pak Rudy berjalan paling depan dan menjadi orang pertama untuk
berjabat tangan dengan Pak David. Setelah mengucapkan salam kemudian dijawab salamnya
oleh Pak David. Keluarga Pak Rudy langsung dipersilahkan duduk oleh Pak David “Kita
belum siapin apa-apa nih, mendadak soalnya. Silahkan, silahkan, Silahkan duduk pak”
Semua keluarga Pak Rudy sudah duduk di sofa tiba-tiba, Putri berlari hendak
menghampiri Bu Rika. Pak David tersenyum dan memegang tangan anaknya lalu
mengatakan kepada putri kalau Putri berenang di rumah saja, karena mereka sedang
kedatangan tamu.
58
Setelah hening sejenak, Pak Rudy mengawali pembicaraan dengan mengatakan
maksud dan tujuan mereka datang “Sebelumnya mohon maaf Pak. Maksud kami sekeluarga
datang kemari, untuk melamar ananda Dara agar bisa dinikahkan bisa dinikahkan dengan
anak kami Bima”. kemudian ada bunyi dari handphone Bima yang mengeluarkan suara dari
google maps, sehingga memotong bicara ayahnya. Pak Rudy bereaksi dengan meminta maaf
kepada Pak David.
Analisis konotasi
Diawali dengan Bu Rika yang terlihat panik dan tidak mau untuk menghadapi keluarga
Pak Rudy yang ingin melamar Dara. Pak David mencoba mengajak istrinya itu untuk bicara
sebentar, namun istrinya tetap menolak. Pada akhirnya Pak David menemukan handphone
yang dicari-cari istrinya agar istrinya lebih tenang dan bisa diajak untuk duduk sejenak.
Kejadian tersebut merupakan penggambaran dari sisi kepemimpinan Pak David Dara
dalam rumah tangga. Awalnya istrinya terlihat panik dan merasa tidak siap kemudian
diyakinkan untuk bisa menghadapi kenyataan. Hal itu Pak David lalukan karena menyangkut
masa depan anaknya juga. Sejalan dengan elemen fatherhood dari nicholas townsend yaitu
provision, dimana ayah sebagai pemimpin dapat menentukan skala prioritas bagi keluarga
(Mahadi,2016).
Ketika keluarga Pak Rudy datang Pak David mempersilahkan mereka duduk. Tibatiba
Putri datang berniat mengajak ibunya berenang. Melihat kondisi itu David mengambil
tindakan dengan berkata lembut kepada Putri kemudian menyarakan agar putri berenang
dirumah saja karena ada tamu. Hal itu dapat dikonotasikan sebagai bentuk kedekatan
(intimacy) menurut Ariesandi (2008) dalam Mahadi (2016) orang tua yang memberikan
sentuhan lembut dan berbicara dengan tatapan lembut merupakan salah satu usaha
membangun kedekatan dengan anak.
Selanjutnya pembahasan mengenai karakter Pak Rudy. Pertama, beliau yang berjalan
paling depan dan berjabat tangan dengan Pak David. Kedua, dalam dialog juga Pak Rudy
sebagai perwakilan keluarga untuk menjelaskan secara formal tenang maksud dan tujuan
mereka sekeluarga datang ke sana. Tanda-tanda tersebut dapat dikonotasikan sebagai elemen
fatherhood berupa penganugerahan karakter (endowment) karena disni terlihat Pak Rudy
59
berusaha menjadi pemimpin dalam keluarga, sehingga Bima dapat melihat nilai-nilai
kepemimpinan dari ayahnya.
I. Korpus 9 (01.25.07-[Link])
Visual Dialog
60
Bu Yuni : Bima sedang belajar untuk
menjadi seorang Bapak
Bu Rika : Buk, anak saya sudah menjadi
ibu. Semenjak Dara hamil dia sudah
menjadi ibu. Kita kan sama-sama
perempuan, sama-sama pernah hamil,
mestinya ngerti bedanya menjadi orang tua
dengan menjadi ibu.
Bu Yuni : Saya sangat paham sekali
Dewi : Bu
Bu Yuni : Maka dari itu saya gak mau anak
saya berpisah, tidak mungkin kan mengurus
anak itu seorang diri?
(Pak David mengkhawatirkan kondisi Dara)
Bu Rika : Makanya bayinya harus
diserahin, Bima sama Dara ini masih
samasama anak kecil, mana mungkin anak-
anak kecil ngurus bayi bu
Bima : Maaf, mungkin kita bisa bahas ini
lagi setelah Dara lahiran aja kali ya Dewi :
Iya betul kata Bima. Sambil nunggu kondisi
Dara juga lebih baik sih
Analisis denotasi
Korpus ini berlatar di ruang tamu rumah Dara, disana terlihat ada Pak Rudy beserta
semua anggota keluarganya yaitu Bu Yuni, Bima dan Dewi. Disana tentu ada juga keluarga
Pak David yaitu Pak David, Bu Rika, dan Dara. Pembicaraan ini mengenai rencana
perceraian antara Bima dan Dara diawali oleh dialog Pak David “Menurut lawyer kami,
61
pastinya nanti dari pihak pengadilan agama akan mengusahakan dan bertanya, ini apakah
Bima dan Dara tidak bisa Bersatu kembali, betul ga?”.Kemudian disambung oleh Bu Rika
yang mengatakan “Dan jawabannya sudah jelas, ga mungkin”.
Hal itu tidak disetujui dengan Bu Yuni dengan bertanya “Kenapa? Kok kita kayak
mempermainkan agama. Tanggung jawab kita ini bukan Cuma ada di dunia, tapi juga di
akhirat. Kamu yakin Dara. Kenapa harus Korea?”. Dara kemudian menjawab pertanyaan
Bu Yuni dengan mengatakan “Ada masa depan saya tante. Saya gak mau kalau jadinya saya
menjadi ibu yang menyalahkan anak saya sendiri . “Kenapa harus dipustuskan sekarang?
kenapa ga nanti setelah kamu melahirkan?” Bu Yuni kembali bertanya. Dara menjawab lagi
”Semakin lama, pasti semakin berat tante” dilanjutkan dengan Bu Rika yang bertanya
kepada Bima “Bima juga pasti belum siap kan Bim?. Malah Bu Yuni yang menjawab
pertanyaan dari Bu Rika “Bima sedang belajar untuk menjadi seorang Bapak”.
Ditengah perdebatan antara Bu Rika dan Bu Yuni, terlihat Dara yang sakit perut dan
Pak David menatap kearah Dara. Terlihat dari ekspresi wajah dan gesture tubuh Pak David,
beliau mengkhawatirkan kondisi fisik Dara. Bima mengambil inisiatif, menyarakan agar
membahas masalah ini lagi ketika kondisi Dara sudah pulih. Bu Yuni yang masih kesal pergi
meninggalkan ruangan. Pak Rudy meminta maaf kepada keluarga Pak David dan menyusul
istrinya.
Analisis konotasi
Pak David disini awalnya sedang menjelaskan Pak Rudy untuk rencana kedepannya
pada persidangan cerai antara Bima dan Dara. Namun, pembicaraan itu terhenti ketika Bu
Rika dan Bu Yuni sibuk berdebat. Hingga Dara diperlihatkan mendadak sakit perut dan mual.
Secara gesture tubuh Pak David terlihat akan menopang tubuh anaknya, dan ekspersi muka
yang tegang menunjukan kekhawatiran. Pak David khawatir akan kesehatan Dara disini
memberikan indikasi bahwa Pak David memiliki keterikatan secara emosional. Repinski &
Zook (2005) menyebutkan bahwa kedekatan dalam aspek ketergantungan dapat terlihat
adanya saling mempengaruhi secara emosi, hal ini muncul aktivitas yang sudah dijalin secara
terus menerus oleh ayah dan anak (Fatmawati,2020). Kemudian, diakhir pembicaraan Pak
Rudy menyempatkan mengucapkan kata “maaf” . Permitaan maaf disini dapat diartikan
berbagai macam, pertama maaf untuk mengakhiri pembicaraan dan menyusul istrinya.
62
J. Korpus 10 (01.28.24-01.31.30)
Visual Dialog
63
Pak David : Kamu bisa ga sih dengerin
orang? Sekali aja
Bu Rika : Bisa kalau kamu bisa bantu
mikir
Dara : Pah, Mah, Inget ga sih dulu
pertama kali aku punya kamar sendiri.
Setiap jam 3 pagi, aku pasti pindah, ke
kamar Papa sama Mama. Pas aku masuk
Papa sama Mama lagi pelukan. Terus aku
tidur ditengah-tengahnya, biar dipeluk
juga.
(Pak David, Bu Rika Dan Dara duduk bersebelahan
sambal berpegangan tangan) Bu Rika : Terus papa gendong kamu balik
ke kamar ini
Pak David : Mana berat banget lagi
Dara : Enggak ah
Dara : Aku tu suka inget ini kalau aku lagi
sedih
Analisis denotasi
Pak David dan Dara sedang berada di kamar Dara, hal itu ditandai dengan adanya meja
belajar, piala, boneka, kasur serta beberapa foto Dara di bagian atas kasurnya. Terlihat Dara
sedang berdiri dan memasukan beberapa baju kedalam koper untuk persiapannya ke korea.
Adegan diawali dengan ayah yang sedang duduk diatas kasur Dara.
Pak David dari dialognya berniat mengajak Dara untuk belanja baju bayi untuk
anaknya Dara. Pak David menambahan kalau dia berniat untuk menyenangkan hati putrinya,
terlihat dari dialognya “ Paling ga ada hal yang bikin kamu seneng lah, Sekali aja”.Ajakan
itu diucapkan oleh Pak David dengan lembut. Ajakan ayahnya akhirnya di iyakan oleh Dara
dan juga ditambah senyuman, Pak David ikut tersenyum.
64
Selanjutnya Bu Rika masuk ke kamar Dara sambal berkata “Apartemen kamu di Korea
udah oke ya. Yang bisa dikirim kita paketin aja. Ini udah semua?”. Namun Dara mengatakan
kalau Ayahnya telah mengajaknya untuk belanja baju bayi. Mendengar pernyataan Dara Bu
Rika tidak terima dan berkata “Kan semua rencananya udah jelas, tante Lia yang siapin
semuanya. Kamu lahiran, bayinya dibawa pulang, kita terbang ke Korea.”mendengar
pernyataan istrinya, Pak David mencoba menjelaskan maksudnya dengan berkata “Ya engga
kali aja Dara pengen beli sesuatu untuk kenang-kenangan”. Bu Rika bertanya “untuk apa?”,
hal itu membuat Pak David meninggikan nada bicaranya dengan berkata “Untuk anaknya!”
kemudian Pak David berdiri lalu menambahkan “Ada yang lebih penting disini daripada
kuliah, daripada ke Korea”. Bu Rika tetap yang dengan pendiriannya berkata “Buat kamu
selalu aja ada hal kecil yang lebih penting dari masa depan”. Pak David bertanya “ Kamu
bisa ga sih dengerin orang? Sekali aja” langsung dijawab oleh Bu Rika “Bisa kalau kamu
bisa bantu mikir”.
Melihat ayah dan ibunya yang berdebat, Dara mencoba mencairkan suasana dengan
bercerita tenang kenangan masa kecilnya dengan ayah dan ibunya “Pah, Mah, Inget ga sih
dulu pertama kali aku punya kamar sendiri. Setiap jam 3 pagi, aku pasti pindah, ke kamar
Papa sama Mama. Pas aku masuk Papa sama Mama lagi pelukan. Terus aku tidur
ditengahtengahnya, biar dipeluk juga.” Mendengar cerita Dara, ayah dan ibunya terlihat
tersenyum kepada Dara, bahkan menyambung ceritanya. Kemudian adegan diakhiri dengan
mereka bertiga duduk bersebelahan dan saling berpegangan tangan.
Analisis Konotasi
Pak David berniat mengajak Dara untuk belanja baju bayi untuk anaknya Dara, hal itu
dia lakukan untuk menyenangkan hati Dara. Pak David mengajak dengan nada lembut
dengan penuh kasih sayang. Hal itu, menunjakan kalau Pak David mencoba membangun
kedekatan emosional (intimacy) dengan dara dengan cara melakukan aktivitas bersama yang
membuat perasaan Dara menjadi senang.
Selain untuk membangun kedekatan emosional, terlihat dari dialog “Ada yang lebih
penting disini daripada kuliah, daripada ke Korea” dari dialog itu dapat dipahami bahwa
65
Pak David juga berusaha untuk menentukan skala prioritas untuk Dara. Dalam Mahadi
(2016) terkait definisi salah satu elemen fatherhood yaitu provision dapat dilihat dengan
bagaimana ayah menentukan skala prioritas dalam keluarga, khusunya berkaitan dengan
anak.
Sejalan dengan Mahadi (2016) elemen penganugerahan karakter (endowment)
diwujudkan dengan memberikan waktu,uang, seta tenaga nantinya akan membangun
karakter anak itu sendiri. Dalam hal ini Pak David membangun karakter feminim dari Dara
dengan mengajak Dara belanja baju bayi untuk anak Dara.
Dari bagian akhir scene ini, pada saat Dara bercerita tentang masa kecilnya. “Pah,
Mah, Inget ga sih dulu pertama kali aku punya kamar sendiri. Setiap jam 3 pagi, aku pasti
pindah, ke kamar Papa sama Mama. Pas aku masuk Papa sama Mama lagi pelukan. Terus
aku tidur ditengah-tengahnya, biar dipeluk juga.” Dialog itu menunjukkana kedekatan Pak
David dan keluarga memang sudah dibangun sejak Dara masih kecil. Hal itu sejalan dengan
pernyataan Abdullah (2009) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa keterlibatan ayah
dalam pengasuhan tentunya tidak bersifat langsung dalam sekali sentuhan, namun diperlukan
proses yang bersifat terus menerus. Hal itu diperkuat lagi diakhir adegan keluarga Pak David
yang duduk di pinggir Kasur dan saling perpegangan tangan. Menunjukan kedekatan dan
kehangatan keluarga mereka. Adegan ini menunjukkan elemen fatherhood berupa kedekatan
(intimacy).
K. Korpus 11 (01.38.54-01.40.47)
Visual Dialog
66
(Pak David mengajak puput pergi dari ruang Bu Rika : Gampang banget kamu
makan dan ganti baju) ngomong batal-batalin, emangnya ini
belanja online apa?
Dara : Mama juga gampang banget kan
mau nyerahin cucu mama sendiri? Bu
Rika : kamu ngomong apa tadi? Dara,
kamu pikir ini gampang buat Mama?
kamu pikir hati Mama ga hancur?
Mama ga nangis-nangis sendirian? Ini
sama sekali ga gampang buat Mama
Dar!
Bu Rika : Dara dengerin Mama kamu
dulu ! Cuma karena kamu ga ngeliat
bukan berarti gak kejadian dar Pak
David : Biar aku yang ngomong
67
Analisis Denotasi
Berlatar tempat di ruang makan rumah Pak David. Disana terlihat lengkap anggota
keluarga, Pak David, Bu Rika, Dara dan Putri. Mereka baru selesai makan malam, Pak David
berdiri disebelah meja, Bu Rika berdiri didekat westafel, Dara yang masih duduk di kursi,
Putri juga terlihat masih duduk di kursinya yang terlihat juga ada beberapa bekas makan
malam. Diawali dengan Dara yang mengaktan kalau dia yakin Bima bisa menjadi ayah yang
baik. Bu Rika yang tidak terima balik bertanya dengan nada tinggi “Trus Mama ngomong
apa ke tante lia ke om adi, hah?”.
Mendengar keributan itu, Pak David mengajak Putri meninggalkan ruang makan untuk
mengganti baju dulu setelah makan. Setelah itu perdebatan antara Bu Rika dan Dara
berlanjut. Dara yang masih yakin untuk membiarkan Bima bertanggung jawab atas anak
mereka berkata kepada ibunya agar membatalkan perjanjian dengan Om Adi. “Gampang
banget kamu ngomong batal-batalin, emangnya ini belanja online apa?” bantah Bu Rika.
Dara berdiri dari tempat duduknya, kemudian ibunya juga mengahampirinya. Setelah
diam selama beberapa detik kemudian Dara menatap tajam kearah ibunya berkata “Mama
juga gampang banget kan mau nyerahin cucu mama sendiri?”. Dara langsung berjalan
menjauhi ibunya. Bu Rika terlihat marah dan mengikuti Dara yang terus berjalan menuju
kamarnya sambal berkata “ kamu ngomong apa tadi? Dara, kamu pikir ini gampang buat
Mama? kamu pikir hati Mama ga hancur? Mama ga nangis-nangis sendirian? Ini sama
sekali ga gampang buat Mama Dar. Dara dengerin Mama kamu dulu ! Cuma karena kamu
ga ngeliat bukan berarti gak kejadian Dar”.
Ayah yang mendengar keributan itu kemudian langsung berkata “Biar aku yang
ngomong”. Kemudian Bu Rika pergi dan gantian Pak David yang berbicara kepada Dara.
Tepat di depan pintu kamar Dara, Pak David memanggil anaknya dengan suara keras lalu
lanjut berkata “kamu ga bisa setiap ada masalah sama Mama kamu, kamu pakai nada tinggi
kayak gitu. Ngerti kamu?” sambil memegang dengan kuat lengan anaknya. Dara kemudian
berkata “ Papa juga gitu”. Mendengar perkataan Dara, ayahnya kemudian melepas
genggaman tangannya dan mengambil nafas Panjang kemudian berkata dengan lebih lembut
“Kamu bukan Papa dan kamu bukan Mama. Kamu harus lebih baik.”.
68
Analisis makna konotasi
Korpus 11 bagian awal berawal dari perdebatan Bu Rika dan Dara. Bu Rika dan Dara
berdebat tentang masalah anak Dara nantinya akan diserahkan ke Om Adi atau Bima.
perdebatan itu membuat mereka berdua terbawa emosi. Hal itu juga terjadi kepada Pak David
yang sebelumnya mengantarkan putri untuk ganti baju.
Dalam korpus ini kita melihat bagaimana Dara juga memberikan dampak terhadap
perubahan gaya bicara orang tuanya. Semula Pak David berbicara dengan nada tinggi yang
terkesan membentak, kemudian beliau menghela nafas dan menurunkan nada bicaranya.
Dari sana, peneliti menemukan bagaimana efek timbal-balik terjadi antara Pak David dan
juga Dara. menurut Dagun (2002) hubungan baik dari seorang ayah tidak hanya satu arah,
namun berisfat dua arah. Artinya seorang anak juga dapat mempengaruhi Ayahnya.
Hubungan baik dari ayah dan anak juga akan berdampak positif bagi seorang Ayah.
Bagian dialog Pak David dan anaknya “kamu ga bisa setiap ada masalah sama Mama
kamu, kamu pakai nada tinggi kayak gitu!” dan “Kamu bukan Papa dan kamu bukan Mama.
Kamu harus lebih baik.”. kedua dialog itu menunjukan bagaimana Pak David ingin
memberikan sebuah sikap yang menurutnya perlu dimilkiki Dara. Apalagi di dialog
terakhirnya diperjelaskan kalau Pak David ingin Dara lebih baik daripada ayah dan ibunya.
Hal itu menunjukan kalau Pak David berusaha membangun karakter anaknya yaitu berupa
elemen fatherhood penganugerahan karakter (endowment).
69
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam film “Dua Garis Biru (2019), terdapat 2 karakter ayah yaitu Pak Rudy dan Pak David.
Kedua karakter ini digambarkan cukup berbeda mulai dari postur tubuh, kelas sosial, ekonomi,
sikap dan tindakan. Oleh karena itu film ini akan menghasilkan dua karakteristik representasi
fatherhood yang berbeda.
Pak Rudy memiliki sifat yang mengutamakan ketenangan dan kehangatan dalam
menanggapi sebuah permasalahan. Dalam membangun kedekatan secara emosional
(intimacy) dialog dengan lebih santai serta terbuka merupakan suatu sifat dari karakter Pak
Rudy.. Hasil penelitian dari Fatmasari (2020) menunjukan bahwa sikap seorang ayah yang
lebih santai, terbuka, memberi kepercayaan kepada anak, sehingga menjadi teman yang baik
merupakan aspek ketehubungan dalam dimensi kedekatan antara ayah dan anak. Dimensi
kedekatan rasional memiliki 4 aspek yaitu; ketergantungan,keterbukaan, kebersamaan dan
juga kehangatan (Fatmawati, 2018).
Pak Rudy juga bisa bertindak tegas terhapat anaknya dalam beberapa topik, sebagai
wujud dari elemen fatherhood yaitu penentuan standar (provision). Mengenai kuliah sang
anak yang harus di PTN, karena memang beliau hanya bisa membiayai kuliah Bima jika dia
kuliah di PTN. Pak Rudy juga mengajarkan dasar-dasar ajaran agama, menanamkan
kewajiban untuk shalat apabila sudah mendengar adzan.
Pak Rudy melakukan perlindungan (protection) secara fisik maupun mental terhadap
Bima. Perlindungan yang dilakukan yang dilakukan Pak Rudy tidak sama dengan Pak David
70
karena memang karakter yang dimiliki mereka berbeda. Pak Rudy disini digambarkan
sebagai karakter yang tenang dan memilih jalan berbicara baik-baik,
Pak Rudy selalu berusaha memberikan contoh yang baik kepada putranya. Pertama,
dari segi cara berpakaian, yaitu baju koko lengkap dengan kain sarung dan peci yang
merupakan setelan baju muslim di Indonesia. Hal itu merupakan cara Pak Rudy
mencontohkan cara berpakaian yang islami kepada anaknya. Kedua, dari tindakan, Pak Rudy
memberii contoh laki-laki dengan penuh tanggung jawab untuk meminta maaf. Pak Rudy
juga menyepatkan menemani Bima untuk melakukan kegiatan positif. penganugrahan
karakter (endowment) Nicholas Townsend dalam Mahadi (2016) dapat didefinisikan sebagai
proses pengasuhan berupa memberikan uang, meluangkan waktu, dan memberikan
kesempatan dalam menemani aktivitas positif anaknya, yang nanti akan mengahasilakan
karatker dari seorang ayah terhadap anaknya
71
anaknya. menurut Ariesandi, 2008 dalam Mahadi (2016) orang tua yang memberikan
sentuhan lembut dan berbicara dengan tatapan lembut merupakan salah satu usaha
membangun kedekatan dengan anak. Peneliti juga menemukan efek timbal-balik terjadi
antara Pak David dan juga Dara. menurut Dagun (2002) hubungan baik dari seorang ayah
tidak hanya satu arah, namun berisfat dua arah. artinya seorang anak juga dapat
mempengaruhi Ayahnya. Pak David sudah membangun kedekatan (intimacy) dengan
anaknya sejak Dara masih kecil. Pak David mencoba membangun kedekatan emosional
dengan Dara dengan cara melakukan aktivitas Bersama yang mebuat perasaan Dara menjadi
senang. Hal ini sejalan dengan penyataan Abdullah (2009) keterlibatan ayah dalam
pengasuhan tentunya tidak bersifat langsung dalam sekali sentuhan.
Pak David sebagai kepala rumah tangga berusaha untuk menjadi orang yang
menentukan kepuutusan penting keluarga. Sebagai contoh ketika Ibu Dara tidak siap dengan
kedatangan keluarga Pak Rudy yang hendak melakukan lamaran. Hal itu sejalan dengan
elemen Fatherhood dari Nicholas Townsend yaitu provision, dimana ayah sebagai pemimpin
dapat menentukan skala prioritas bagi keluarga (Mahadi,2016).
Pak David digambarkan memiliki tubuh tegap dan cukup berotot tentunya akan sangat
memungkinkan melindungi anaknya secara fisik. Terbukti ketika Pak David terpancing
emosinya ketika melihat Bima yang mencoba membantu mereka. Tidak hanya dengan
perlakuan kasar, Pak David jugaitu Pak David berusaha memberikan perlidungan dari
dampak negatif. Hal itu seseuai dengan elemen fatherhood dari townsend menurut mahadi
(2016) perlindungan yang dilakukan ayah tidak semata-mata hanya melindugi secara fisik
namun dari dampak negatif juga.
Sebagai seorang ayah, bukan berarti tidak bisa memberikan karakter kepada anak
perempuan. Elemen penganugerahan karakter (endowment), definisi dari Nicholas townsend
Dalam mahadi (2016) adalah memberikan waktu,uang, seta tenaga nantinya akan
membangun karakter anak itu sendiri. Dalam hal ini Pak David membangun karakter keibuan
dari Dara dengan mengajaknya belanja baju bayi untuk anaknya Dara. Selanjutnya pada
sebuah dialog “Kamu bukan Papa dan Kamu bukan Mama. Kamu harus lebih baik.”. Dialog
itu menunjukan Pak David yang ingin Dara lebih baik daripada ayah dan ibunya.
72
C. Analisis mitos fatherhood dalam film Dua Garis Biru (2019)
Mitos dalam kajian semiotika artinya adalah sebuah pemahaman akan sebuah tanda
yang menjadi pemaknaan tunggal di suatu masyarakat, hal itu disebakan oleh dominasi suatu
kebudayaan. menurut Ida (2016) dalam Rahmasari (2018) Roland Barthes mendefinisikan
mitos yaitu pemahaman akan sebuah tanda yang didasari oleh pengaruh dominasi kekuasaan
di masyarakat.
Mitos yang dikemukakan Rahmasari (2018) yang mengutip dari Wibowo (2013)
mengungkapkan bahwa mitos di era sekarang banyak terkait topik maskunlintitas dan
feminitas bahkan ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Mengenai topik maskulinitas,
fatherhood merupakan salah satu kajian yang lebih spesifik dari maskulinitas. Pembahasan
mengenai fatherhood akan selalu menilai figure ayah dalam keterlibatannya terkait
keterlibatan ayah dalam mengasuh anak.
Rekonstruksi mengenai tentang fatherhood penting untuk bahas. Karena, Susan B.
Murray (1996) menemukan sebuah fenomena yang ada pada budaya barat, masyarakat
disana melihat pengasuhan anak merupakan sebuah pekerjaan gender, atau dapat dikatakan
sebagai tindakan yang feminism (Darwin,1999). Mengenai sex role, Kate Millet
mendefinisikannya sebagai bagian dari kajian sosiologi yang membahas secara detail
perbedaan fungsi sosial antara laki-laki dan perempuan sehingga menghasilkan stereotype
laki-laki bekerja untuk urusan luar rumah dan perempuan bekerja di dalam rumah (Kate
Millet, dalam Mahadi, 2016). Stereotype tersebut mecoba dilawan oleh Film Dua Garis Biru
(2019) dengan membbuat penggambaran dua karakter ayah yang sama-sama mampu
memberikan perhatian terhadap urusan rumah tangga khususnya pengasuhan anak.
1. Konstruksi ayah normatif
Menurut Adji (2020) Masyarakat Indonesia secara umum beranggapan bahwa
sosok ayah adalah sebagai tokoh utama dalam. Ayah tidak sekedar menjadi pencari
nafkah, tetapi juga menjadi figur bagi keluarganya. Konstruksi ayah normatif adalah
ayah yang menjadi role model bagi keluarganya. Bagi anak laki-laki anak, mereka dapat
belajar menjadi seorang laki-laki yang ideal yarng berasal dari nilai-nilai yang diajarkan
oleh ayah. Kontruksi ayah normatif pada umumnya disebarkan melalui lingkungan
keluarga dan sekolah, juga dapat melalui aturan-aturan negara dan agama.
73
Dalam “Film Dua garis biru (2019), baik Pak Rudy maupun Pak David
digambarkan sebagai figur yang sangat penting dalam keluarga. Mereka berdua memiliki
rasa tanggung jawab terhadap permasalahan dalam keluarganya, apalagi menyakut
anaknya. Pak Rudy memiliki pendekatan yang mengutamakan ketenangan, kehangatan,
dan keterbukaan dalam menanggapi sebuah permasalahan. Pak Rudy merupakan sosok
yang memberi contoh kepada Bima, mulai dari cara berpakaian, beribadah, nilai sosial
seperti meminta maaf dan bertanggung jawab dengan apa yang telah diperbuat.
Pak David sejak Dara masih kecil sudah mencoba membangun kedekatan dengan
anaknya tersebut. Pak David mencoba membangun kedekatan emosional dengan Dara
dengan cara melakukan aktivitas Bersama yang mebuat perasaan Dara menjadi senang.
Hal itu coba dia lakukan terus menerus hingga Dara remaja. Oleh karena itu Pak David
memiliki kedekatan secara emosional yang sangat baik dengan Dara. Sebagai orang tua,
Pak David juga ikut serta mengajarkan karakter keibuan kepada anaknya. Sebegai contoh
mengajak Dara belanja baju anaknya dan Pak David ingin Dara lebih baik daripada ayah
dan ibunya.
74
berusaha untuk menjadi orang yang menentukan kepurtusan penting keluarga. Ibu Dara
disini juga terlihat mengambil banyak peran ketika berdebat, namun Pak David juga
mampu memposisikan dirinya sebagai pemimpin.
Dalam film Dua Garis Biru (2019) Pak David digambarkan memiliki tubuh tinggi
dan kekar. Pak David selalu berupa melindungi anaknya secara fisik. Bahkan kepada
pihak luar cenderung akan lebih kasar. Tidak hanya sebatas melindungi dari bahaya
fisik, Pak David juga berusaha memberikan perlidungan dari dampak negative terhadap
anaknya.
Berbeda dengan Pak David, Pak Rudy digambarkan sudah cukup tua. Kondisi
fisik Pak Rudy tidak prima lagi layaknya Pak David. oleh karena itu perlindungan yang
dilakukan yang dilakukan Pak Rudy tidak sama dengan Pak David. Sesuai dengan sifat
karakternya, Pak Rudy cenderung tenang dan memilih menghindari kekerasan
75
berumur yang memiliki latar belakang agama yang kental dan dari kelas ekonomi menengah
kebawah. Sementara Pak David merepresentasikan sosok ayah muda yang dengan kedadann
ekonomi kelas atas namun masih muda dan labil secara ekonomi. Perbedaan ini dikarenakan
karena memang konsep fatherhood merupakan kajian yang selalu berkembang
Darwin (1999) juga menyebutkan bahwa baik maskulinitas maupun feminitas bukanlah
suatu konsep yang nilai-nilai di dalamnya disepakati secara universal. Oleh karena itu konsep
fatherhood sangat bervariasi bergantung pada aspek sosial dan kebudayaan saat itu pada
suatu masyarakat. Bahkan setiap kelompok masayarkat setiap masyarakat mempunyai
kemampuan untuk mengerakan dan mengubah nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya.
Peneliti menemukan bahwa kedua sosok ayah dalam film Dua Garis Biru (2019)
Sejalan dengan apa yang coba dibangun oleh banyak penelitan mengenai fatherhood lainnya.
Setidaknya pada poin utama fatherhood yaitu rekonstruksi nilai ayah yang dahulunya hanya
sebatas pencari nafkah kini mulai direpresentasikan sebagai sosok yang dekat dengan
keluarga.
Penelitian skripsi oleh Elly Manika Maya Mahadi pada tahun 2016, yang berjudul
“Representasi Fatherhood Dalam Majalah Ayahbunda” menyimpulkan bahwa terdapat 2
sosok ayah yang terdapat pada majalah Ayahbunda. Pertama seorang ayah yang supportive,
figur seperti ini akan selalu meberi dukungan kepada istrinya dalam mengurus rumah tangga.
Peran ayah yang seperti ini memungkinkan terciptanya dua pencari nafkah sehingga ayah
bukan menjadi satu-stunya orang yang mencari nafkah. Oleh karena itu, ayah juga bisa turut
melaksanakan tugas pengasuhan anak
Kedua, seorang ayah yang sensitive. Figur seperti ini cukup berlawanan dengan nilai
maskulitas yang beredar ditengah masyarakat dengan kultur patriarki. Seorang ayah yang
emosional, ekspresif, dan terbuka terhadap perasaannya baik itu secara verbal maupun non
verbal. Oleh karena itu dalam majalah Ayahbunda terdapat pergesseran makna maskulinitas
yang berkembang di Indonesia.
Penelitian lainya berjudul “Representasi Fatherhood Dalam Novel Ayah Karya
Andrea Hirata” yang diteliti oleh Almira Hakim pada tahun 2018 menunjukkan
penggambaran fatherhood Dalam novel Ayah yang cukup beragam. Mulai dari bagaimana
pengaruh ayah terhadap anaknya hingga perubahan karakter seorang pria yang menjadi
76
seorang ayah. Novel Ayah juga berusaha merepresentasikan karakter ayah yang ideal.
Namun, ideal dalam novel ini tidak terpaku pada satu karakter saja karena terdapat banyak
karakter ayah yang sama-sama berusaha menjadi ayah yang ideal dengan menggambarkan
ayah yang aktif dalam pengasuhan anaknya.
77
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, peneliti mendapatakan beberapa representasi dari
elemen-elemen fatherhood yang ada dalam karakter Pak Rudy antara lain: seorang ayah
memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada internal keluarga. Dalam
membangun kedekatan dengan anak (intimacy) seorang ayah yang lebih dewasa sangat
mengutamakan ketenangan dan keterbukaan dalam menghadapi berbagai permasalahan.
Sebagai kepala keluarga, sosok ayah akan selalu menjadi teladan bagi putranya
(endowment). Sedikit terlihat elemen perlindungan (protection) yang dilakukan oleh seorang
Pak Rudy. Dalam memimpin keluarganya, Pak Rudy sangat berusaha menentukan standar
(Provision) untuk anaknya mengenai aturan agama, ekonomi dan tata krama.
Kemudian Pak David digambarkan sebagai seorang ayah yang lebih muda dari Pak
Rudy, namun dengan kemampuan finansial yang lebih baik. Ketika stereotype seorang ayah
yang sibuk bekerja tidak akan bisa menemani tumbuh kembang anaknya. Hal itu
digambarkan berlawanan dengan Pak David, sebagai orang tua beliau berusaha membangun
kedekatan emosional (Intimacy) dengan anaknya sejak kecil hingga remaja. Sebagai kepala
keluarga seorang ayah harus berusaha untuk menjadi orang yang menentukan standar
prioritas dalam keluarga (provison). Sangat emosional dan cenderung kasar dalam
memberikan perlidungan (protection). Seorang seperti ayah akan tetap berusaha lemah
lembut kepada putrinya. Hal itu dilakukan agar tumbuh karakter feminim dari putrinya dan
menjadi orang yang lebih baik (endowment).
Penelitian ini secara garis besar menunjukkan bahwa representasi fatherhood dalam
film Dua Garis Biru (2019) menunjukkan bahwa film ini mulai merekonstruksi makna
maskulin yang melekat pada karakter ayah. Hal itu dikarekan karena memang figur ayah
dalam sebuah masyarakat akan selalu dinamis. Karakter ayah tidak lagi secara
terangterangan digambarkan sebagai orang yang memiliki dominasi terhadap anggota
keluarga lain. Ayah tidak sekedar menjadi pencari nafkah utama, tetapi juga menjadi menjadi
orang yang ikut campur dalam internal keluarganya.
78
B. Keterbatasan penelitian
Dalam penelitian ini sebagai manusia biasa, peneliti sangat berpotensi melakukan
kesalahan baik itu dari segi penulisan maupun teknis penelitian. Selanjutnya faktor eksternal
yang membatasi peneliti adalah kekurangan referensi penilitian mengenai fatherhood dalam
media di Indonesia, ditambah lagi kondisi pandemi covid-19 sehingga peneliti mengalami
kesulitan untuk menemukan referensi berupa buku cetak.
C. Saran
Penelitian Representasi Fatherhood dalam Film Dua Garis Biru (2019) merupakan
penelitian yang menggunakan metodelogi analisis semiotika dalam pengerjaannya.
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya dengan
meneliti fatherhood dalam film dan media massa lainnya. Masih sangat banyak peluang
penelitian lanjutan dalam tema film dan fatherhood.
79
DAFTAR PUSTAKA
Buku / E-Book :
Andayani, B & Koentjoro. (2004) Peran Ayah menuju Coparenting. Surabaya: CV Citra media.
Irawanto, B. (2017). Film, Ideologi, Dan Militer: Hegemoni Militer Dalam Sinema Indonesia,
Analisis Semiotik Terhadap Enam Djam Di Jogja, Janur Kuning, Dan Serangan Fajar. Warning
Books.
Penelitian/Jurnal/E-Jurnal :
Adji, M. (2020). Konstruksi Ayah dan Dominasi Maskulinitas Dalam Novel Sabtu Bersama
Bapak Karya Adhitya Mulya. Diglosia: Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, Dan Kesusastraan
Indonesia, 4(2). Diakes terkahir : 09-07-2021. Pada website
: [Link]
SabtuBersama-Bapak-Karya-Adhitya-Mulya-dan-Novel-Ayah-Karya-Andrea-Hirata
Brotherson, S. E., Yamamoto, T., & Acock, A. C. (2003). Connection and communication in
father-child relationships and adolescent child well-being. Fathering, 1(3), 191. Diakses terakhir
pada tanggal : 28-06-2020. Pada website : [Link]
Brotherson/publication/247896826_Connection_and_Communication_in_Father-
Child_Relationships_and_Adolescent_Child_Well-
Being/links/55806cbe08aed40dd8cd26b9/Connection-and-Communication-in-Father-Child-
[Link]
Darwin, M. (1999). Maskulinitas: Posisi Laki-laki dalam Masyarakat Patriarkis. Center for
Population and Policy Studies Gadjah Mada University, 4, 1-10., Diakses terakhir tanggal 28-
80
06-2020. Pada website : [Link]
content/uploads/2015/02/S281_Muhadjir-Darwin_Maskulinitas-Posisi-Laki-laki-
[Link]
Fatmasari, A. E., & Sawitri, D. R. (2020, September). Kedekatan Ayah-Anak Di Era Digital:
Studi Kualitatif Pada Emerging Adults. In Prosiding Seminar Nasional Milleneial 5.0 Fakultas
Psikologi UMBY. Diakses terakhir : 27-06-2020 pada website :
[Link]
Hakim, A. (2018). Representasi Fatherhood Dalam Novel Ayah Karya Andrea Hirata (Doctoral
dissertation, Universitas Airlangga). Diakses terakhir : 27-06-2020 pada website :
[Link]
Hidayati, F., Kaloeti, D. V. S., & Karyono, K. (2011). Peran ayah dalam pengasuhan anak. Jurnal
Psikologi, 9(1). Diakses terakhir pada tanggal 31-03-2020 pada website :
[Link]
h%20dal am%20Pengasuhan%20Anak_2011.pdf
Lustyantie, N. (2012,). Pendekatan Semiotik Model Roland Barthes dalam Karya Sastra Prancis.
In Seminar Nasional FIB UI (pp. 1-15). Diakses terakhir tanggal 28-06-2020. Pada website :
[Link]
Mahadi, E. M. M., Dwiningtyas, H., & S Sos, M. A. (2016). Representasi Fatherhood dalam
Majalah Ayahbunda. Interaksi Online, 16(4), 1-11. Diakses terakhir pada tanggal 31-03-2020
pada website :
[Link]
Miyarso, E. (2011). Peran Penting Sinematografi dalam pendidikan pada era teknologi Informasi
& Komunikasi. Majalah Pendidikan. Diakses terakhir tanggal 28-06 2020. Pada website :
[Link]
81
Nida, S. (2018). Peran ayah terhadap perilaku moral anak. Fakultas Psikologi: Universitas
Ahmad Dahlan Yogyakarta., diakses terakhir pada 31-03-2020 Pada website :
[Link]
RAL%[Link]
Pradopo, R. D. (1998). Semiotika: Teori, Metode, dan Penerapannya. Jurnal Humaniora, 10(1),
42-48. Diakses terakhir pada 13-06-2020. Pada website :
[Link]
Rahmasari, D. (2018). Homofobia Dalam Film Indonesia (Analisis Semiotika Dalam Film Suka
Ma Suka dan Film Lovely Man). Diakses terakhir : 27-06-2020 pada website
[Link]
Suyanto, S., & Anofrina, H. Analisis Semiotika Representasi Persahabatan dalam Film
АЬHugoАЭ (Doctoral dissertation, Riau University). Diakses terakhir pada tanggal 23-06-2020.
Ummah, M. S. A. (2019). Simbol nilai Parenting dalam film Sabtu Bersama Bapak: analisis
semiotika model Roland Barthes (Doctoral dissertation, UIN Sunan Ampel Surabaya). Diakses
terakhir pada 31-03-2020 . Pada website : [Link]
Wijaya, A. S. (2019). TA: PenyutraDaraan dalam Pembuatan Film Pendek Bergenre Drama
Tentang Konflik Interpersonal dalam Keluarga (Doctoral dissertation, Institut Bisnis dan
Informatika Stikom Surabaya). Diakses terakhir pada tanggal : 27-06-2020. Pada website
[Link]
Berita Online :
82
[Link]
2021
[Link]
pernahdibintangi-dwi-sasono
83