THERMOVISI GARDU INDUK 70 KV MALANGBONG
LAPORAN PKL
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan
Mata Kuliah PKL
Oleh :
Susanto
24052216059
PRODI TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS GARUT
2019
HALAMAN
PENGESAHAN
THERMOVISI GARDU INDUK 70 KV MALANGBONG
DI PT. PLN (Persero) GARDU INDUK MALANGBONG
Oleh
NAMA NIM
SUSANTO 24052216044
Garut,31 Juli 2019
Menyetujui,
Dosen Pembimbing Pembimbing Lapangan
HELFY SUSILAWATY, MT HADI SUNANDI
NIDN.04-1128901 NIP.9716203TBY
Mengetahui,
Kepala Program Studi
H. Muchtar, Drs, MSi
NID. 0410106202
HALAMAN
PENGESAHAN
LAPORAN PKL
Judul : THERMOVISI GARDU INDUK 70 KV
MALANGBONG
Penyusun
1. Nama : SUSANTO
2. NIM : 24052216059
Program Studi : TEKNIK ELEKTRO
Jurusan : TEKNIK ELEKTRO
Waktu Pelaksanaan : 1 s/d 31 Juli 2019
Tempat Pelaksanaan : PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong
Ds. Cibares Kec. Malangbong Kab. Garut Prov. Jawa
Barat
Pembimbing Teknik Elektro …………..,…………….
UNIGA Pembimbing Perusahaan
HELFY SUSILAWATY, MT HADI SUNANDI
NIDN.04-1128901 NIP.9716203TBY
Mengesahkan
Ketua Prodi Teknik Elektro Uniga
HELFY SUSILAWATY, MT
NIDN.04-1128901
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapka kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah – Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan dengan
judul “PENGUKURAN THERMOVISI DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK
70 KV MALANGBONG” dengan baik di PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK
70 KV Malangbong. Laporan ini disusun sebagai pertanggungjawaban penulis
selama kerja praktek di kantor dan lapangan, juga sebagai salahsatu syarat untuk
memenuhi mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL) dalam kurikulum studi
Teknik Elektro Universitas Garut.
Pada kesempatan ini, penulis sampaikan banyak terima kasih kepada :
1. Ayah, Ibu, teman – teman, serta seluruh keluarga yang telah
memberikan semangat dan do’a.
2. Bapak Aam Kusriadi selaku Supervisor Gardu Induk 70 KV
Malangbong.
3. Bapak Hadi Sunandi selaku Junior Technician Gardu Induk 70 KV
Malangbong.
4. Bapak Drs.H. Muchtar selaku Dekan Fakultas Universitas Garut.
5. Bapak Akmad Fauzi Iksan, MT selaku ketua Prodi Teknik Elektro
Universitas Garut.
6. Ibu Helfy Susilawati, MT selaku pembimbing Praktek Kerja Lapangan
Prodi Teknik Elektro Universitas Garut.
7. Bapak Iman Koeswara selaku pembimbing dalam pelaksanaan Praktek
Kerja Lapangan di Gardu Induk 70 KV Malangbong.
i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR...............................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................iv
DAFTAR TABEL.....................................................................................v
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Permasalahan........................................................................................1
1.3 Identifikasi Masalah..............................................................................2
1.4 Pra Anggapan........................................................................................2
1.5 Tujuan...................................................................................................3
1.6 Waktu dan tempat pelaksanaan.............................................................3
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Fakta Yang Mempengaruhi..................................................................4
2.2 Batasan Masalah...................................................................................4
2.3 Pengertian Thermovisi..........................................................................4
2.4 Tujuan Thermovisi Switchyard Gardu Induk.......................................4
2.5 Alat Yang Digunakan Untuk Thermovisi.............................................5
2.6 Informasi Umum Tentang FLIR I50.....................................................6
BAB III Pelaksanaan PKL
3.1 Tinjauan Umum PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong...........8
3.2 Kegiatan PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong.......................9
3.3 Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong......10
3.4 Gambaran Pelaksanaan PKL.................................................................11
3.5 Dokumentasi Pelaksanaan PKL............................................................12
3.6 Analisis Permasalahan dan Pembahasan..............................................15
3.6.1 Langkah-langkah Thermovisi pada peralatan Gardu induk di
Switchyard...................................................................................16
ii
3.6.2 Objek Peralatan yang di Thermovisi...........................................17
3.6.3 Hasil Thermovisi Bulan Juli 2019...............................................22
3.6.4 Rekomendasi Selisih suhu atau ∆T akhir Klem (Konektor)
Menurut SK-DIR [Link](Persero) NO.0520-K/DIR/2014.......25
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan...........................................................................................26
4.2 Saran.....................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Alat Thermovisi FLIR 150..........................................................5
Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk
Malangbong...................................................................................10
Gambar 3.2 Transformator unit 1 B&D 30 MVA............................................12
Gambar 3.3 Transformator unit 2 B&D 30 MVA............................................12
Gambar 3.4 Transformator unit 3 XIAN 20 MVA...........................................13
Gambar 3.5 Bay Penghantar 70 kV Tasikmalaya 1..........................................13
Gambar 3.6 Bay Penghantar 70 kV Tasikmalaya 1..........................................14
Gambar 3.7 Tower D.01 SUTT 70 kV Malangbong-Tasikmalaya..................14
Gambar 3.8 Kegiatan CoC................................................................................15
Gambar 3.9 Objek Pengukuran di Bay Trafo unit 1 30 MVA..........................17
Gambar 3.10 Objek Pengukuran di Bay Trafo unit 2 30 MVA........................18
Gambar 3.11 Objek Pengukuran di Bay Trafo unit 3 20 MVA........................19
Gambar 3.12 Objek Pengukuran di Bay Penghantar 70kVTasikmalaya 1......20
Gambar 3.13 Objek Pengukuran di Bay Penghantar 70kV Tasikmalaya 2......21
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Pengukuran Thermovisi di Bay Trafo Unit 1, 2, dan 3....................22
Tabel 3.2 Pengukuran Thermovisi di Bay Penghantar 70kV Tasikmalaya 1
Dan Tasikmalaya 2...........................................................................24
Tabel 3.3 Rekomendasi Selisih suhu atau ∆T akhir Klem (Konektor)............25
Tabel 4.1 Rekomendasi Selisih suhu atau ∆T akhir Klem (Konektor)............26
v
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gardu Induk 70 kV Malangbong merupakan salah satu unit yang berada di PT
PLN (Persero) yang termasuk dalam UPT Cirebon-ULTG Garut yang bertugas
menyalurkan dan menerima tegangan listrik. Gardu Induk Malangbong sendiri
memiliki tiga Bay Trafo dan dua Bay Penghantar. Bay Penghantar (Tasikmalaya 1
dan Tasikmalaya 2), Trafo I 30 MVA memiliki satu penyulang yaitu Wado, di Trafo
II 30 MVA memiliki lima penyulang yaitu Malangbong coklat, Malangbong kota,
Panumbangan, ciawi, dan Berdikari, dan di Trafo III 20 MVA memiliki tiga
penyulang yaitu Malangbong biru, Pagerageng, dan Kurnia.
Titik panas (hot spot) pada peralatan Gardu Induk PLN, merupakan suatu
parameter yang banyak dipantau dan dianalisa perubahannya setiap saat. Hal ini
berkaitan erat dengan keamanan dan keandalan sistem yang terjadi pada Gardu
Induk itu sendiri. Konduktor merupakan bagian yang sangat penting. Klem
menghubungkan peralatan satu dengan yang lain yang melewati konduktor sebagai
transisi arus dan tegangan. Apabila suhu di klem sangat panas, maka akan
berdampak negatif terhadap konduktor yang lama kelamaan akan menyebabkan
konduktor tersebut putus akibat tidak kuat lagi menahan panas,bukan itu saja di
klem tersebut juga akan muncul titik api atau hotspot di seputar klem tersebut,tentu
saja hal ini bisa berdampak buruk pada semua peralatan yang ada di gardu
induk,terutama peralatan gardu induk yang berada di [Link] sebab itu,
guna untuk menjaga peralatan agar tidak terjadinya ketidaknormalan, deteksi titik
panas (hotspot) secara tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan metode
thermovisi.
1.2. Permasalahan
Pengambilan Thermovisi biasanya diambil seminggu sekali sesuai SK-DIR
0520 tetapi dikarenakan keterbatasan alat uji Thermovisi di ULTG Garut sehingga
untuk penggunaan Thermovisi dilakukan secara bergantian sebulan sekali di GI
Karangnunggal dan sebulan sekali di GI Malangbong.
2
1.3. Identifikasi Masalah
Pada saat melakukan Thermovisi terkadang terdapat berbagai macam
kendala seperti :
1. Faktor cuaca (Kabut Asap) turut mempengaruhi suhu klem (konektor)
yang menghubungkan peralatan dengan konduktor
2. Ketidak akuratan alat infrared thermovisi sering kali membuat suhu
yang didapatkan tidak akurat
3. Kurang tepatnya petugas mengarahkan infrared thermovisi ke objek
yang akan diukur membuat suhu yang didapatkan menjadi tidak
akurat
4. Keterbatasan alat uji thermovisi di ULTG Garut, sehingga untuk
penggunaan 1 bulan sekali disetiap GI harus berganti-ganti
5. Waktu pelaksanaan dalam pengambilan thermovisi pada saat beban
puncak sedangkan pada waktu tersebut operator GI sedang dalam
keadaan sendiri sehingga ada 2 kemungkinan yaitu : dilakukan pada
saat jam 4 sore dengan Supervisor GI atau dilakukan pagi hari
sehingga pelaksanaannya kurang maksimal.
1.4. Pra Anggapan
Inspeksi visual ke switchyard memang selalu dilakukan oleh operator di
setiap harinya,dari inspeksi visual operator dapat melihat kondisi peralatan dan
keadaan switchyard. Akan tetapi dengan melihat saja tidak cukup bagi operator
untuk mengetahui keanehan atau ketidak normalan pada peralatan Gardu Induk baik
yang utama maupun [Link] ada satu metode yang dilakukan untuk menemukan
kondisi yang tidak normal dari peralatan Gardu Induk di switchyard,yaitu dengan
melakukan thermovisi pada peralatan Gardu Induk di switchyard, thermovisi
dilakukan dengan suatu alat untuk menentukan kondisi abnormal di jaringan
penghubung antara peralatan utama Gardu Induk dengan peralatan penghubung
(Klem / konektor).dalam proses thermovisi sebaiknya dilakukan antara pukul 7
sampai 10 malam karena pada saat tersebut terjadi beban puncak.
3
1.5 Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya PKL adalah sebagai berikut :
1. Mengenal suanana di lingkungan industri.
2. Mengetahui sistem kerja Gardu Induk 70 kV Malangbong.
3. Mengaplikasikan ilmu yang didapat di kampus untuk bisa diterapkan di
lingkungan industry.
4. Mengetahui cara pengukuran Thermovisi pada peralatan di Gardu Induk 70
kV Malangbong.
5. Mengetahui manfaat dari Thermovisi.
1.6 Waktu Pelaksanaan dan Tempat Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan yaitu pada tanggal 01 Juli s/d
31 Juli 2019 yang bertempat di Gardu Induk Malangbong dengan alamat Jl. Raya
Barat Malangbong, Kmp. Cibares, Kec. Malangbong, Kab. Garut, Prov. Jawa
Barat.
4
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Fakta yang mempengaruhi
Thermovisi dilakukan setiap satu bulan sekali pada saat beban puncak
antara pukul 7 sampai 10 malam untuk melihat hotspot yang ada pada klem yang
menghubungkan peralatan Gardu Induk utama dengan konduktor.
2.2 Batasan Masalah
Melakukan thermovisi peralatan di switchyard Gardu Induk Malangbong
untuk mengetahui dan mendeteksi kelainan di klem masing masing peralatan yang
diakibatkan oleh timbulnya hotspot di area sekitar klem.
2.3 Pengertian Thermovisi
Salah satu tugas operator yaitu melakukan CBM Level 1 dan Level 2.
CBM level 1 yaitu merupakan suatu kegiatan pemeliharaan peralatan yang
dilakukan setiap hari menggunakan indera manusia. CBM level 2 yaitu
pemeliharaan peralatan menggunakan alat salah satunya [Link]
adalah teknik mendeteksi atau mengetahui suhu panas dari jarak tertentu
menggunakan alat infrared Thermovisi.
2.4 Tujuan Thermovisi Switchyard Gardu Induk
Thermovisi digunakan untuk melihat suhu panas pada titik-titik
sambungan peralatan Gardu Induk, dengan menggunakan infrared thermovisi. untuk
mengetahui ada tidaknya titik panas (hotspot) yang timbul pada daerah konektor
(Klem) sambungan antara peralatan gardu induk dengan konduktor.
5
2.5 Alat yang digunakan untuk Thermovisi
Gambar 2.1 Alat Thermovisi FLIR 150
Alat yang digunakan untuk thermovisi di Gardu Induk Malangbong adalah
Infrared Thermovisi FLIR I50 Prinsip dasar dari alat ini adalah semua objek
memancarkan energi infra [Link] panas suhu benda,maka molekulnya
semakin aktif dan semakin banyak energi infra merah yang dipancarkan.
Infrared Thermovisi mengukur suhu menggunakan radiasi kotak hitam
(inframerah) yang dipancarkan objek. untuk membantu pekerjaan pengukuran, atau
thermovisi tanpa sentuhan untuk menggambarkan kemampuan alat mengukur suhu
dari jarak jauh. Dengan mengetahui jumlah energi inframerah yang dipancarkan
oleh objek dan emisi nya, Temperatur objek dapat dibedakan.
Desain utama dari Infrared Thermovisi yakni lensa pemfokus energi
inframerah pada detektor, yang mengubah energi menjadi sinyal elektrik yang bisa
ditunjukkan dalam unit temperatur setelah disesuaikan dengan variasi temperatur
lingkungan.
Konfigurasi fasilitas pengukur suhu ini bekerja dari jarak jauh tanpa
menyentuh objek. Dengan demikian, Infrared Thermovisi berguna mengukur suhu
pada keadaan dimana sensor tipe lainnya tidak dapat digunakan atau tidak
menghasilkan suhu yang akurat untuk beberapa keperluan.
Infrared Thermovisi ini cara penggunaannya hanya diarahkan ke media
atau benda yang akan diukur suhunya, maka alat ini akan membaca suhu media
6
tersebut. Alat ini biasanya sangat berguna dalam pengukuran yang tidak
memungkinkan untuk di sentuh, seperti :
Mengukur suhu benda yang bergerak, contoh : Conveyor, Mesin.
Mengukur suhu benda berbahaya, seperti : tegangan tinggi, jarak yang
tinggi dan sulit dijangkau.
Suhu yang terlalu tinggi dan sulit untuk didekati ataupun disentuh,
misalnya : Furnace, thermocouple.
Mendeteksi awan untuk sistem operasi teleskop jarak jauh.
Memeriksa peralatan mekanika atau kotak sakering listrik atau saluran
hotspot.
Memeriksa suhu pemanas atau oven, untuk tujuan kontrol dan kalibrasi.
Mendeteksi titik api/menunjukkan diagnosa pada produksi papan
rangkaian listrik.
Memeriksa titik api bagi pemadam kebakaran.
Mendeteksi suhu tubuh makhluk hidup, seperti manusia, hewan.
2.6 Informasi umum tentang FLIR I50
a. Instruksi kerja ini dilakasakan dalam keadaan bertegangan, berbeban
maupun tidak berbeban
b. Alat ini membangkitkan energi radio frekuensi sehingga dapat
mempengaruhi frekuensi komunikasi, maka wajib memahami isi dari
buku manual alat.
c. Jangan menggunakan sinar laser langsung ke mata karena akan
menimbulkan iritasi.
d. Jangan membongkar baterai atau memodifikasi, karena baterai asli
telah dilengkapi dengan pengaman terhadap hubung singkat dan
pemanasan yang berlebihan.
e. Jangan melanjutkan penginderaan noktah panas jika diketahui
7
kapasitas baterai sudah rendah.
f. Jangan menggunakan kamera ini pada kondisi sinar matahari dalam
kondisi penuh tanpa dilengkapi dengan pelindung lensa. Seperti
digunakan untuk mengukur panas matahari langsung dalam waktu yang
lama sebab akan merusak keakuratan kamera menyebabkan rusaknya
alat pendeteksi di dalam kamera.
g. Hindari pantulan sinar/cahaya dari objek yang akan diukur.
h. Hindari pemakaian kamera dalam kondisi hujan karena hasil
pengukuran tidak optimal da dapat merusak alat thermovision.
i. Jangan menggunakan kamera pada daerah atau ruangan dengan
temperature diatas 500C sebab akan merusak alat termovision.
j. Buanglah baterai bekas sesuai penempatan jangan dibakar pada api.
k. Jangan menggunakan thinner atau cairan lain yang sama pada kamera,
kabel, dan peralatan bantu (accessories) yang lain.
8
BAB III
PELAKSANAAN
PKL
3.1 Tinjauan Umum PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong
PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong merupakan salah satu dari unit
bisnis yang dimiliki oleh PLN (Persero). Dengan demikian sejarah berdirinya Gardu
Induk Malangbong sangat erat hubungannya dengan sejarah PT. PLN (Persero).
Berawal di akhir abad 19, bidang pabrik gula dan pabrik ketenagalistrikan di
Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak
di bidang pabrik gula dan pebrik teh mendirikan pembangkit tenaga lisrik untuk
keperluan sendiri.
Antara tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-perusahaan
Belanda tersebt oleh Jepang, setelah Belanda menyerah kepada pasukan tentara
Jepang di awal Perang Dunia II.
Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada
Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan
oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delagasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas
yang bersama-sama dengan Pemimpin KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden
Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah
Republik Indinesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan
Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan
kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.
Pada tanggal 1 januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-
PLN (Bada Pemimpin Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang
listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang
sama, 2 (dua) perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai
pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai
pengelola gas diresmikan.
Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 17, status
Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik
Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan
tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.
8
9
Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada
sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun
1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero) dan juga sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan
umum hingga sekarang.
3.2 Kegiatan PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong
Gardu Induk Malangbong atau stasiun transmisi dimana dalam gardu induk
listrik di transformasikan juga diatur tegangannya apabila terjadi drop tegangan atau
tegangan turun akibat saluran yang panjang. Gardu induk Malangbong bisa di
ibaratkan sebagai stasiun atau terminal dalam transportasi listrik.
Gardu induk Malangbong memiliki peranan penting dalam sistem transmisi,
gardu induk Malangbong mempunyai beberapa fungsi diantaranya adalah:
1. Mentransformasikan tegangan (sebagai penaik dan penurun tegangan)
2. Untuk mengatur aliran daya listrik dari saluran transmisi ke saluran transmisi
lainnya yang kemudian didistribusikan ke konsumen
3. Pengukur, Pengawas Operasi serta pengaman sistem tenaga listrik
4. Pengaturan pelayanan beban ke Gardu Induk lain dan ke Gardu Distribusi
5. Sebagai tempat untuk menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan
distribusi
6. Sarana telekomunikasi
Pada awalnya Unit Penyaluran dan Pengatur Beban Jawa-Bali disatukan
dalam satu unit dengan nama PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali
(PLN P3B JB), namun pada akhir 2015 unit penyaluran dan pengaturan beban
dipisah dengan pembagian 3 wilayah penyaluran dan satu pusat pengaturan beban
dengan 5 wilayah. Namun untuk Transmisi Interkoneksi Sumatra tetap PLN Unit
Induk P3B Sumatra karena unit nya masih dalam bentuk Wilayah. Unit induk
transmisi antara lain:
9
10
1. Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat, berkedudukan di Depok
2. Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah, Berkedudukan di Bandung
3. Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali, berkedudukan di Sidoarjo
4. Unit di bawah Unit Induk Transmisi
5. Unit Pelaksana Transmisi (UPT): Sub-Unit untuk melakukan pemeliharaan
peralatan Penyaluran Energi Listrik (Transmisi)
6. Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG): Sub-Unit di bawah UPT
7. Transmisi dan Gardu Induk: Gardu Induk ada di bawah UPT sebagai tempat
mentransformasikan energi listrik atau sub-station listrik dari pembangkitan
untuk sampai ke pelanggan.
3.3 Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong
Struktur organisasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong
berdasarkan SK Mei 2019 ditunjukan pada Gambar 3.1
Spv.
Aam Kusriadi
JT. JARDGI JT. JARDGI
Susanto Hadi Sunandi
Cleaning Service OP. 20kV Security Ground Patrol
Deni Komara Yaya S. Tasmana
Cleaning Service OP. 20kV Security Ground Patrol
Tatang K. Iman K. Ipo S. Yadi M.
Cleaning Service OP. 20kV Security Ground Patrol
Udin Rahman Saudi Acep M. Ikbal
OP. 20kV Security
Ade Ludi J. Engkus K.
Security
Sani A.K.
Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) Gardu Induk Malangbong
10
11
3.4 Gambaran Pelaksanaan PKL
Pelaksanaan PKL dimulai dari hari Senin – Jum’at pukul 07.30 WIB dan
berahir pukul 16.00 WIB. Setiap pagi siswa PKL melakukan absensi di bagian pos
satpam, setelah absensi di bagian pos satpam, absensi dilakukan kembali di ruang
loby dengan menggunakan finger print, prosedur yang sama dilakukan pada saat
pulang. Setelah melakukan absensi siswa PKL pergi bagian tempat PKL (Control
Room) untuk melakukan CBM (Condition Base Maintenance) dan kegiatan
lainnya bersama mentor atau teknisi lain.
Condition Base Maintenance merupakan pengecekan berkala terhadap
peralatan yang berkaitan dengan proses penyaluran. CBM dilaksanakan dengan
upaya menjaga peralatan – peralatan penyaluran supaya dapat bekerja secara
normal. Pengerjaan CBM dilakukan sesuai dengan SPK (Surat Perintah Kerja) di
setiap hari nya.
Setelah melaksanakan CBM siswa PKL diberi waktu istirahat untuk
melaksanaan ibadah dan makan siang sampai pukul 13.00 WIB. Setelah waktu
istrahat siswa PKL menginput hasil CBM ke Server yang sudah terkoneksi di PC
(komputer) di GI Malangbong.
11
12
3.5 Dokumentasi Pelaksanaan PKL
Gambar 3.2 Transformator unit 1 B&D 30 MVA
Transformator ini berfungsi sebagai alat Transformasi tegangan tinggi 70kV
menjadi tegangan rendah 20kV, suply untuk penyulang Wado.
Gambar 3.3 Transformator unit 2 B&D 30 MVA
Transformator ini berfungsi sebagai alat Transformasi tegangan tinggi
70kV menjadi tegangan rendah 20kV, suply untuk penyulang
Malangbong kota,
Malangbong Coklat, Panumbangan, Berdikari dan Ciwi.
12
13
Gambar 3.4 Transformator unit 3 Xian 20 MVA
Transformator ini berfungsi sebagai alat Transformasi tegangan tinggi
70kV menjadi tegangan rendah 20kV, suply untuk penyulang
Malangbong biru,
Pagerageng, dan Kurnia.
Gambar 3.5 Bay Penghantar 70 kV Tasikmalaya 1
Bay Penghantar ini berfungsi menyalurkan listrik dari sumber menuju GI
Malangbong guna mempermudah pengaturan konfigurasi sistem tenaga listrik.
13
14
Gambar 3.6 Bay Penghantar 70 kV Tasikmalaya 2
Bay Penghantar ini berfungsi menyalurkan listrik dari sumber menuju GI
Malangbong guna mempermudah pengaturan konfigurasi sistem tenaga listrik.
Gambar 3.7 Tower D.01 SUTT 70 kV Malangbong-Tasikmalaya
Tower SUTT 70 kV ini adalah saluran udara tegangan tinggi untuk
jalur Malangbong-tasikmalaya.
14
15
Gambar 3.8 Kegiatan CoC
Kegiatan CoC ini Bertujuan Untuk Mengevaluasi hasil kerja di hari sebelumnya
serta membuat planing atau rencana kerja di hari berikutnya.
3.6 Analisis Permasalahan dan Pembahasan
Sejalan dengan perkembangan cara hidup masyarakat modern, energi
listrik merupakan sarana terpenting untuk menunjang aktifitas di berbagai bidang
baik di bidang industri, pendidikan, teknologi, perumahan, dan lainnya. Dengan
demikian tersedianya energi listrik yang besar dengan pengelolaan yang baik akan
dapat meningkatkan kemajuan di berbagai bidang, selanjutnya pertumbuahan
perekonomian masyarakat akan meningkat dengan sendirinya sehingga
masyarakat akan hidup sejahtera.
Oleh karena itu Pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi perlu dilakukan
untuk mempertahankan kondisi dan meyakinkan bahwa peralatan dapat berfungsi
15
16
sebagaimana mestinya sehingga dapat dicegah terjadinya gangguan yang menyebabkan
kerusakan serta untuk menjamin kontinyunitas penyaluran tenaga listrik dan menjamin
keandalan.
Predictive Maintenance (Conditional Maintenance) pemeliharaan yang dilakukan
dengan cara memprediksi kondisi suatu peralatan listrik, apakah dan kapan
kemungkinannya peralatan listrik tersebut menuju kegagalan. Dengan memprediksi
kondisi tersebut dapat diketahui gejala kerusakan secara dini. Cara yang biasa dipakai
adalah memonitor kondisi secara online baik pada saat peralatan beroperasi atau tidak
beroperasi. Untuk ini diperlukan peralatan dan personil khusus untuk analisa.
Pemeliharaan ini disebut juga pemeliharaan berdasarkan kondisi (Condition Base
Maintenance ).
Salah satu yang harus di lakukan dalam menjaga keandalan sistem tenaga listrik
dalam hal ini pemeliharaan berdasarkan kondisi (Condition Base Maintenance) adalah
dengan melakukan pengukuran Thermovisi yang bertujuan untuk mengetahui secara real
time terhadap suhu peralatan (hotspot) yang terpasang di GI Malangbong agar tidak
terjadi anomali di sistem tenaga listrik.
3.6.1 Langkah-langkah Thermovisi pada peralatan Gardu induk di
Switchyard
1. Ambil Infrared thermovisi FLIR I50 dari tempat peralatan
2. Buka penutup lensa Infrared Thermovisi FLIR I50
3. Tekan dan tahan tombol power sampai monitor Infrared thermovisi FLIR
I50 menyala
4. Cek batere Infrared thermovisi FLIR I50 apabila batere habis,cas batere
sampai penuh,cas batere pada posisi off
5. Sebelum thermovisi dilakukan di Switchyard pastikan thermographer
memakai peralatan APD (Alat Pelindung Diri) Sesuai dengan standar K3
seperti Sepatu safety dan helm
6. Lebih mudah apabila thermograper di dampingi satu petugas yang
mencatat hasil thermovisi
7. Arahkan Infrared Thermovisi FLIR I50 pada Objek yang akan diukur
8. Catat hasil suhu objek yang diukur pada kertas ceklis Thermovision
infrared.
16
17
3.6.2. Objek Peralatan yang di Thermovisi
Gambar 3.9 Objek Pengukuran di Bay Trafo unit 1 30 MVA
1. Sambungan dari kabel 20 kV Trafo Daya ke Busbar 20 Kv
Out Door Fasa R,Fasa S,Fasa T
2. Sambungan pada Bushing 20 kV Trafo Daya Fasa R,Fasa S,Fasa T
3. Bushing Trafo Daya sisi 150 kV Fasa R,Fasa S,Fasa T
4. Sambungan pada PMT ( Bawah ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
5. Sambungan pada PMT ( Atas ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
6. Chamber PMT Fasa R,Fasa S,Fasa T
7. Sambungan pada CT ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
8. Sambungan pada CT ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
9. Sambungan pada PMS Bus ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
10. Kontak Utama PMS Bus Fasa R,Fasa S,Fasa T
11. Sambungan pada PMS Bus ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
12. Sambungan pada LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
13. Chamber LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
14. Sambungan dari LA ke Literal Bus 150 kV Fasa R,Fasa S,Fasa T
15. Sambungan dari LA ke Literal Bus 150 kV ke Main Busbar (Atas)
Fasa R,Fasa S,Fasa T
16. Sambungan dari LA ke Literal Bus 150 kV ke Main Busabar
(Bawah) Fasa R,Fasa S,Fasa T
17
18
Gambar 3.10 Objek Pengukuran di Bay Trafo unit 2 30 MVA
1. Sambungan dari kabel 20 kV Trafo Daya ke Busbar 20 Kv
Out Door Fasa R,Fasa S,Fasa T
2. Sambungan pada Bushing 20 kV Trafo Daya Fasa R,Fasa S,Fasa T
3. Bushing Trafo Daya sisi 150 kV Fasa R,Fasa S,Fasa T
4. Sambungan pada PMT ( Bawah ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
5. Sambungan pada PMT ( Atas ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
6. Chamber PMT Fasa R,Fasa S,Fasa T
7. Sambungan pada CT ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
8. Sambungan pada CT ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
9. Sambungan pada PMS Bus ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
10. Kontak Utama PMS Bus Fasa R,Fasa S,Fasa T
11. Sambungan pada PMS Bus ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
12. Sambungan pada LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
13. Chamber LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
14. Sambungan dari LA ke Literal Bus 150 kV Fasa R,Fasa S,Fasa T
15. Sambungan dari LA ke Literal Bus 150 kV ke Main Busbar (Atas)
Fasa R,Fasa S,Fasa T
16. Sambungan dari LA ke Literal Bus 150 kV ke Main Busabar
(Bawah) Fasa R,Fasa S,Fasa T
19
Gambar 3.11 Objek Pengukuran di Bay Trafo unit 3 20 MVA
1. Sambungan dari kabel 20 kV Trafo Daya ke Busbar 20 Kv
Out Door Fasa R,Fasa S,Fasa T
2. Sambungan pada Bushing 20 kV Trafo Daya Fasa R,Fasa S,Fasa T
3. Bushing Trafo Daya sisi 150 kV Fasa R,Fasa S,Fasa T
4. Sambungan pada LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
5. Chamber LA Fasa R,Fasa S, Fasa T
6. Sambungan pada CT ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
7. Sambungan pada CT ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
8. Sambungan pada PMT ( Atas ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
9. Sambungan pada PMT ( Bawah ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
10. Chamber PMT Fasa R,Fasa S,Fasa T
11. Sambungan pada PMS Bus ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
12. Kontak Utama PMS Bus Fasa R,Fasa S,Fasa T
13. Sambungan pada PMS Bus ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
14. Sambungan dari PMS Bus ke Main Busbar Fasa R,Fasa S,Fasa T
20
Gambar 3.12 Objek Pengukuran di Bay Penghantar Tasikmalaya 1 70 kV
1. Isolator Tension Fasa R,Fasa S,Fasa T
2. Klem LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
3. Chamber LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
4. Klem PT Fsa R,Fasa S,Fasa T
5. Klem PMS Line ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
6. Kontak Utama PMS Line Fasa R,Fasa S,Fasa T
7. Klem PMS Line ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
8. Klem CT ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
9. Klem CT ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
10. Klem PMT ( Bawah ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
11. Klem PMT (Atas ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
12. Chamber PMT Fasa R,Fasa S,Fasa T
13. Sambungan dari PMT ke Literal Bus 150 kV Fasa R,Fasa S,Fasa T
14. Klem PMS Bus ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
15. Kontak Utama PMS Bus Fasa R,Fasa S,Fasa T
16. Klem PMS Bus ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
17. Klem dari PMS Bus ke Main Bus Fasa R,Fasa S,Fasa T
21
Gambar 3.13 Objek Pengukuran di Bay Penghantar Tasikmalaya 2 70 kV
1. Isolator Tension Fasa R,Fasa S,Fasa T
2. Klem LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
3. Chamber LA Fasa R,Fasa S,Fasa T
4. Klem PT Fsa R,Fasa S,Fasa T
5. Klem PMS Line ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
6. Kontak Utama PMS Line Fasa R,Fasa S,Fasa T
7. Klem PMS Line ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
8. Klem CT ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
9. Klem CT ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
10. Klem PMT ( Bawah ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
11. Klem PMT (Atas ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
12. Chamber PMT Fasa R,Fasa S,Fasa T
13. Sambungan dari PMT ke Literal Bus 150 kV Fasa R,Fasa S,Fasa T
14. Klem PMS Bus ( In ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
15. Kontak Utama PMS Bus Fasa R,Fasa S,Fasa T
16. Klem PMS Bus ( Out ) Fasa R,Fasa S,Fasa T
17. Klem dari PMS Bus ke Main Bus Fasa R,Fasa S,Fasa T
22
3.6.3 Hasil Thermovisi Bulan Juli 2019
Berikut ini adalah hasil Thermovisi per Bay yang saya dapatkan di
switchyard Gardu Induk Malangbong bulan Juli 2019
Hasil Thermovisi di Bay Trafo unit 1 30 MVA, Bay Trafo unit 2 30 MVA, dan
Trafo unit 3 20 MVA.
23
Tabel 3.1 Pengukuran Thermovisi Di bay Trafo Unit 1, 2, dan 3
Hasil Thermovisi di Bay Penghantar 70kV Tasikmalaya 1 dan Tasikmalaya 2
24
Tabel 3.2 Thermovisi di Bay Penghantar 70kV Tasikmalaya 1 dan
Tasikmalaya 2
25
3.6.4 Rekomendasi Selisih suhu atau ∆T akhir Klem (Konektor) menurut
SK-DIR [Link](Persero) NO.0520-K/DIR/2014
NO ∆T akhir Rekomendasi
1 <10°C Kondisi normal,pengukuran dilakukan sesuai jadwal
2 10°C - 25°C Perlu dilakukan pengukuran satu bulan lagi
3 25°C - 40°C Perlu direncanakan perbaikan
4 40°C - 70°C Perlu dilakukan perbaikan segera
5 >70°C Kondisi darurat
Tabel 3.3 Rekomendasi Selisih suhu atau ∆T akhir Klem (Konektor)
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Thermovisi adalah kegiatan atau metode / teknik untuk mendeteksi suhu panas
pada jarak tertentu dengan menggunakan alat Infrared Thermovisi,,tujuan
thermovisi ialah digunakan untuk melihat suhu panas pada titik-titik sambungan
peralatan Gardu Induk,dengan menggunakan infrared thermovisi untuk mengetahui
ada tidaknya titik panas (hotspot) yang timbul pada daerah konektor (Klem) atau
sambungan antara peralatan gardu induk dengan konduktor. Thermovisi memiliki
rekomendasi selisih akhir atau ∆T akhir,apabila konektor (Klem) memiliki selisih
akhir suhu maka selisih suhu tersebut dapat dibandingkan dengan Rekomendasi
yang telah di tetapkan.
Rekomendasi Selisih suhu atau ∆T akhir Klem (Konektor) menurut SK-DIR
[Link](Persero) NO.0520-K/DIR/2014
NO ∆T akhir Rekomendasi
1 <10°C Kondisi normal,pengukuran dilakukan sesuai jadwal
2 10°C - 25°C Perlu dilakukan pengukuran satu bulan lagi
3 25°C - 40°C Perlu direncanakan perbaikam
4 40°C - 70°C Perlu dilakukan perbaikan segera
5 >70°C Kondisi darurat
Tabel 4.1 Rekomendasi Selisih suhu atau ∆T akhir Klem (Konektor)
Dari data tabel hasil thermovisi dan tabel rekomendasi selisih suhu akhir
atau ∆T akhir konektor ( klem )
Kondisi Konektor (klem) penghubung antara konduktor dan peralatan gardu
induk mulai dari bay Penghantar Tasikmalaya 1, bay Penghantar Tasikmalaya 2,
26
Bay Trafo 1 30MVA , Bay Trafo 2 30MVA dan Bay Trafo 3 20MVA beserta
semua konektor (klem) kondisinya normal dan dalam kondisi baik. diharapkan
pengukuran sesuai jadwal, tepatnya pada satu bulan berikutnya setelah pengukuran
ini.
4.2 Saran
Saran dari penulis terkait pelaksanaan thermovisi yang telah dilakukan :
1. Pastikan infrared thermovisi dalam keadaan normal dalam membaca
suhu,cara mendeteksi apakah alat berfungsi normal dalam membaca suhu
yaitu dengan cara mengarahkan alat tersebut ke objek yang sama minimal
dua kali apabila suhu dari objek tersebut tidak mengalami perbedaan di
setiap hasil yang didapat maka alat tersebut berfungsi normal.
2. Pastikan setiap Thermograper mengetahui objek apa yang akan diukur
sehingga thermograper tidak salah dalam menentukan objek apa yang akan
di thermovisi.
3. Pakailah APD ( Alat Pelindung Diri ) sesuai standar yang telah ditetapkan,
sebelum melakukan thermovisi ke switchyard untuk menghindari hal yang
tidak diinginkan.
4. Sebaiknya jangan memasuki area Switch Yard seorang [Link] lebih
mudah jika Thermograper di dampingi satu petugas tambahan untuk
mencatat hasil thermovisi.
5. Harus ditambahakan satu lagi perlatan Thermovisi
27
DAFTAR PUSTAKA
1. SK-DIR [Link] (Persero) NO.0520-K/DIR/2014
2. Amin, M. (2013). Buku Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Republik
Indonesia - Gardu Induk.
3. Aslimeri, Ganefri, & Hamdi, Z. (2008). Teknik Transmisi Tenaga Listrik.
Klaten: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kujuruan.
4. A. Arismunandar Dr, S. Kuwara Dr, 2004. Buku Pegangan Teknik Tegangan Listrik
Jilid II. Jakarta; PT. Pradnya Paramita.