100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
275 tayangan22 halaman

Model Keselamatan Pasien di Layanan Kesehatan

Makalah ini membahas model-model patient safety yang terdiri dari 3 model, yaitu model patient safety di PONED, pelayanan primer, dan PMB. Makalah ini juga menjelaskan konsep dasar patient safety sebagai sistem untuk membuat asuhan pasien lebih aman dengan melakukan assessment risiko, pelaporan insiden, belajar dari insiden, dan implementasi solusi untuk mencegah cidera akibat kesalahan medis.

Diunggah oleh

Netta Pamela Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
275 tayangan22 halaman

Model Keselamatan Pasien di Layanan Kesehatan

Makalah ini membahas model-model patient safety yang terdiri dari 3 model, yaitu model patient safety di PONED, pelayanan primer, dan PMB. Makalah ini juga menjelaskan konsep dasar patient safety sebagai sistem untuk membuat asuhan pasien lebih aman dengan melakukan assessment risiko, pelaporan insiden, belajar dari insiden, dan implementasi solusi untuk mencegah cidera akibat kesalahan medis.

Diunggah oleh

Netta Pamela Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

” MODEL-MODEL PATIENTS SAFETY”


Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Patient Safety
Dosen Pengajar : Eva Susanti,SST,[Link]

Disusun oleh:
Kelompok 2

1. Erla Widiawati (P01740322109)


2. Fadhilah Rahayu (P01740322110)
3. Febrilianti Hartato (P01740322111)
4. Feyla Enggar W.N (P01740322112)
5. Filka Wilanda (P01740322113)
6. Gita Nelva Marthatila (P01740322114)
7. Hestina Reksi Utami (P01740322115)
8. Istika Maharani (P01740322116)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
PROGRAM ALIH JENJANG
TA.2022/2023

i
KATA PENGANTAR

Dengan kebesaran Allah SWT. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah "Model-Moedel Patient Safety".
Adapun makalah "Patient Safety" ini telah penulis usahakan dapat disusun
dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak, sehingga
penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu. Untuk itu penulis
tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah "Patient Safety" ini bermanfaat, dan
pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya oleh para pembaca.

Curup, 19 Februari 2023

Kelompok 2

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii


DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 5
C. Tujuan ............................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Patient Safety ....................................................................... 6
B. Model-Model Patient Safety ............................................................. 7
C. Model Patient Safety di PONED……………………………...........13
D. Model Patient Safety di Pelayanan Primer………………………….16
E. Model Patient Safety di PMB………………………………………18
F. Tiga Model Safety menurut Charles Vincent dan Rene
Amalberti (2016)…………………………………………………...19
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 21
B. Saran .................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Patient safety merupakan komponen vital dan penting dalam asuhan serta
langkah untuk memperbaiki mutu layanan yang berkualitas (Findyartini et al,
2015; Cahyono S.B, 2008). Penilaian mutu rumah sakit didapatkan melalui
sistem akreditasi, salah satunya adalah sasaran keselamatan pasien karena telah
menjadi prioritas untuk layanan kesehatan di seluruh dunia (Join Commission
International, 2015; Cosway, Stevens, & Panesar, 2012). Salah satu langkah
memperbaiki mutu pelayanan melalui penerapan patient safety di rumah sakit
dan Praktik Mandiri Bidan.
Strategi penerapan patient safety telah dilakukan dengan berbagai upaya
di lingkungan rumah sakit. Komisi Akreditasi Rumah Sakit (2012)
menjelaskan penerapan patient safety harus memenuhi dalam ketepatan
identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan
keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur,
tepat-pasien operasi, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
dan pengurangan risiko pasien jatuh. Sementara Join Commission International
(2015) dan WHO juga telah mengeluarkan “Nine Life-Saving Patient Safety
Solutions”. Kenyataannya, permasalahan patient safety meskipun telah
terakreditasi masih banyak terjadi di seluruh negara di dunia.
Selain penerapan asuhan kebidanan (pelayanan kebidanan) yang
berkualitas, BPM juga perlu menerapkan patient safety untuk menjaga
keselamatan pasien. Pasien sebagai pengguna layanan BPM memiliki hak atas
diberikannya pelayanan yang berkualitas dan aman, mengingat bidan bekerja
sendiri sehingga dibutuhkan standar pelayanan yang tinggi dalam mencegah
terjadinya kejadian yang tidak diinginkan dalam memberikan pelayanan
kebidanan.
Kompleksitas dalam pelayanan kebidanan yang diberikan dapat
menimbulkan kerawanan kesalahan medik yang dapat menyebabkan kesalahan

1
atau kelalaian manusia. Kelalaian medis bisa berupa ketidaksengajaan bidan
dalam tindakan pelayanan yang sering disebut juga medical error. Pada
dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang dengan tidak sengaja melakukan
suatu yang seharusnya tidak dilakukan (commission) atau tidak melakukan
sesuatu (omissioni) yang seharusnya dilakukan oleh orang lain dengan
kualifikasi yang sama pada suatu keadaan dalam kondisi serta situasi yang
sama pula.
Praktik bidan merupakan serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan
yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga, dan masyarakat)
sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Tingginya permintaan
masyarakat terhadap peran aktif bidan dalam memberikan pelayanan terus
meningkat. Ini merupakan bukti bahwa eksistensi bidan di tengah masyarakat
semakin memperoleh kepercayaan, pengakuan dan penghargaan. Berdasarkan
hal inilah, bidan dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan
sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanannya termasuk
pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Melalui pelayanan
berkualitas pelayanan yang terbaik dan terjangkau yang diberikan oleh bidan,
kepuasan pelanggan baik kepada individu, keluarga dan masyarakat dapat
tercapai (Ambarwati, 2010).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana model-model patient safety ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja model-model patient safety

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Patient Safety


a. Defenisi Keselamatan pasien (Patient Safety)
Keselamatan pasien (patient safety) merupakan suatu sistem dimana
rumah sakit membuat asuhan pasien yang lebih aman. Sistem tersebut
memiliki beberapa bagian penting, yaitu assesment resiko, pelaporan dan
analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
melakukan implementasi dari solusi yang didapatkan untuk
meminimalkan terjadinya resiko dan mencegah terjadinya cidera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat salah dalam melaksanakan suatu
tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.
(Kemenkes RI, 2011). Menurut Sunaryo (2009), patient safety adalah tidak
adanya kesalahan atau bebas dari cidera karena kecelakaan. Keselamatan
pasien perlu dikembangkan menjadi suatu budaya kerjadi dalam rumah
sakit, tidak sebatas sebagai suatu ketentuan maupun aturan.
Pelaksanaan keselamatan pasien di Indonesia secara jelas telah
diatur dalam UU No. 44 tahun 2009 pasal 29 ayat 1 yang menyebutkan
bahwa setiap rumah sakit mempunyai kewajiban memberi pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu anti diskriminasi dan efektif dengan
mengutamakan kepentingan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
Dalam UU No. 44 tahun 2009 pasal 43 ayat 1 tentang rumah sakit juga
menyebutkan bahwa keselamatan pasien adalah suatu proses dalam
pemberian layanan rumah sakit terhadap pasien dengan lebih aman.
Pelanggaran terhadap kewajiban tersebut telah diatur secara jelas
dalam ayat 2 pasal tersebut yaitu pelanggaran atas kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam ayat 1 akan dikenakan sanksi administratif berupa teguran
tertulis, denda dan pencabutan izin rumah sakit. Keseriusan dalam upaya
mewujudkan keselamatan pasien adalah dengan dibentuknya komite
keselamatan pasien rumah sakit (KKP-RS) pada 1 Juni tahun 2005.

3
Menurut Vincent (2008) dalam Tutiany, dkk (2017: 2) menyatakan
bahwa keselamatan pasien didefinisikan sebagai penghindaran,
pencegahan, dan perbaikan dari hasil yang buruk atau injury yang berasal
dari proses perawatan kesehatan. Definisi ini membawa beberapa cara
untuk membedakan keselamatan pasien dari kekhawatiran yang lebih
umum mengenai kualitas layanan kesehatan. Berdasarkan beberapa
definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa keselamatan pasien
merupakan suatu sistem untuk melakukan pencegahan serta perbaikan
yang diakibatkan dari kesalahan pelayanan kesehatan terhadap pasien.

B. Model Keselamatan Pasien


Sementara model keselamatan pasien yang baik telah dibangun, Vincent
(2010) mencari model pendekatan yang sederhana, sepenuhnya sesuai dengan
materi pelajaran, dan kompatibel dengan model yang ada. Pada saat yang sama,
seharusnya cukup sederhana sehingga bisa dilihat dalam diagram sketsa yang
mudah dan dinyatakan dalam kalimat sederhana dan sederhana yang mudah
diingat. Hanya model sederhana semacam itu yang bisa menembus batas-batas
pemikiran sehari-hari di antara semua orang yang diperlukan di seluruh
perawatan kesehatan.
Vincent (2010) mengakatakan model sederhana berikut untuk melihat
keselamatan pasien. Ini membagi sistem perawatan kesehatan menjadi empat
domain yaitu:
1. Mereka yang bekerja di bidang kesehatan
2. Mereka yang mendapat perawatan kesehatan atau memiliki saham dalam
ketersediaannya
3. Infrastruktur sistem untuk intervensi terapeutik (proses pemberian layanan
kesehatan)
4. Metode umpan balik dan perbaikan terus menerus
Model ini konsisten dengan definisi keselamatan pasien yang disebutkan di
atas: Apa? dan dimana? Sesuai dengan domain ketiga, yaitu "Sistem untuk
tindakan terapeutik:" Bagaimana ? Sesuai dengan Keempat, "Metode"; Siapa?

4
Sesuai dengan yang pertama dan kedua, yaitu "orang-orang yang bekerja dalam
perawatan kesehatan" dan "orang-orang yang menerimanya atau memiliki
saham dalam ketersediaannya".
Model ini juga konsisten dengan kerangka berfikir yang ada yang
mendukung pasien. Vincent (2010) mengidentifikasi tujuh elemen yang
mempengaruhi keselamatan:
1. Faktor organisasi dan manajemen
2. Faktor lingkungan kerja
3. Faktor tim
4. Faktor individu
5. Karakteristik Pasien
6. Faktor lingkungan eksternal.
Faktor-faktor ini menyebar di antara tiga domain; Sistem untuk tindakan
terapeutik, orang-orang yang bekerja di bidang perawatan kesehatan, dan
orang-orang yang menerimanya atau memiliki saham dalam ketersediaannya.
a) Model nasional untuk akreditasi dan kualitas keselamatan pasien
(Australian Commission on Safety and Quality in Healthcare / ACSQH,
2010)
Pada bulan November 2006, ACSQH memulai tinjauan terhadap sistem
dan standar keselamatan dan kualitas nasional, dan mengusulkan sebuah
paket reformasi termasuk seperangkat standar nasional dimana layanan
kesehatan dapat dinilai. Tahap pertama pelaksanaan reformasi akreditasi
telah difokuskan pada pengembangan seperangkat Standar Pelayanan
Kesehatan Keselamatan dan Mutu Nasional.
Draft Standar berfokus pada area yang penting untuk meningkatkan
keselamatan dan kualitas perawatan bagi pasien dengan memberikan
pernyataan eksplisit tentang tingkat keselamatan dan kualitas perawatan
yang diharapkan yang akan diberikan kepada pasien oleh organisasi
layanan kesehatan. Standar tersebut juga menyediakan sarana untuk
menilai kinerja organisasi. Draft Standar telah dikembangkan untuk:
1) Tata Kelola untuk Keselamatan dan Mutu dalam Organisasi

5
Pelayanan Kesehatan
2) Infeksi terkait kesehatan
3) Keamanan obat
4) Identifikasi Pasien dan Prosedur Pencocokan; dan
5) Timbang terima (Handover) Klinis
Lima topik tambahan saat ini dalam pengembangan, mencakup:

1) Darah dan keamanan darah


2) Bermitra dengan Konsumen
3) Pencegahan dan Penatalaksanaan Ulkus Tekanan
4) Mengakui dan Menanggapi Kerusakan Klinis; dan
5) Keselamatan dari jatuh
Berbagai perangkat pendukung dan pedoman untuk standar sedang
dikembangkan melalui konsultasi dengan pemangku kepentingan utama.
Sebuah studi percontohan mengenai draft standar yang disempurnakan
dilakukan untuk standar pertama di tahun 2010. Tujuan utama adalah
untuk menguji standar, alat pendukung dan pedoman, dan untuk
mengidentifikasi isu-isu untuk implementasi Standar. Setelah selesai
Standar akan diberikan kepada Menteri Kesehatan untuk pengesahan.
Hal ini dimaksudkan agar semua layanan kesehatan yang berpotensi
menimbulkan risiko tinggi merugikan pasien diakreditasi terhadap Standar
Pelayanan Kesehatan dan Mutu Nasional. Organisasi layanan kesehatan
dengan risiko bahaya pasien yang lebih rendah harus menggunakan
Standar sebagai bagian dari mekanisme jaminan kualitas internal mereka
b) Bagaimana menerapkan pertimbangan keselamatan pasien dalam semua
kegiatan pelayanan pasien?
Manajemen Risiko adalah proses dimana kita mengidentifikasi
faktor-faktor yang dapat membantu untuk kita memberikan perawatan
yang sangat baik, aman, efisien dan efektif. Resiko dapat terjadi dalam
berbagai cara, misalnya sebagai akibat dari perubahan bagaimana atau
dimana kita memberikan layanan. Tujuan pengelolaan risiko adalah untuk

6
memastikan risiko ini diidentifikasi sejak dini, dinilaisebagai cara terbaik
untuk mengelola atau mengendalikannya dan untuk mengurangi
pengaruhnya. Inti dari proses risiko ini termasuk memastikan bahwa area
dimana keselamatan pasien dapat dikompromikan atau di mana ada
sesuatu yang teridentifikasi yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada
pasien, dikelola.
Mengidentifikasi dan melaporkan isu keselamatan awal memastikan
bahwa pengendalian dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan
risiko tersebut terjadi lagi. Bila hasil perawatan atau proses tidak seperti
yang diharapkan, kami menyelidiki dengan menggunakan proses yang
disebut Analisis Sebab-Sebab Mendasar untuk mengidentifikasi apa yang
terjadi dan mengapa sehingga kita dapat menerapkan proses untuk
meningkatkan keamanan.
Untuk melakukan ini, tim Manajemen Risiko dan Keselamatan
Pasien bekerja sama dengan tim klinis dan area perusahaan lainnya untuk
mengidentifikasi risikonya, bertindak sebagai sumber daya dan
memberikan saran dan dukungan untuk semua aspek pengelolaan risiko.
Tujuan keseluruhannya adalah untuk memastikan bahwa risiko klinis dan
nonklinis dikelola dengan tepat untuk meningkatkan keamanan bagi
pasien, perawat, staf dan pengunjung.
c) Pelaporan Insiden
Pelaporan insiden adalah cara utama untuk menangkap kejadian
yang diidentifikasi oleh staf berpotensi menimbulkan bahaya atau
mempengaruhi pemberian layanan serta kejadian aktual yang terjadi.
Setiap kejadian dinilai untuk mencerminkan konsekuensi dari kejadian
tersebut dan kemungkinan hal tersebut dapat terjadi lagi untuk
menghasilkan skor risiko antara 1 dan 25. Semakin tinggi nilai, semakin
besar tingkat risiko yang dinilai. Ini membantu staf untuk memprioritaskan
tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi atau mengendalikan
risiko dan mendukung proses eskalasi dan pemantauan untuk memastikan
bahwa risiko dikelola dengan baik. Tujuan sistem pelaporan yang efektif

7
adalah agar jumlah laporan terus meningkat, namun tingkat keparahan
risiko yang dilaporkan turun. Hal ini menunjukkan bahwa staf sadar akan
risiko dan berisiko untuk membuat kerusakan.
d) Investigasi Insiden - Analisis Akar Penyebab
Pada kesempatan langka ketika terjadi kesalahan atau jika sebuah tren
dalam pelaporan diidentifikasi, terlepas dari apakah ada kerusakan,
penyelidikan yang disebut Root Cause Analysis dapat dilakukan. Ini
adalah teknik investigasi terstruktur, dan memberi kesempatan untuk
melihat fakta kejadian yang terjadi dan untuk mengetahui mengapa,
bekerja dengan tim atau staf yang terlibat untuk memastikan semua aspek
kejadian [Link] mencari tahu mengapa sebuah insiden terjadi,
dipastikan bahwa pelajaran dapat dipelajari dan tindakan yang diambil
untuk mengurangi risiko kejadian tersebut terjadi lagi.
e) Perencanaan Darurat
Sebagai bagian dari peran manajemen risiko yang lebih luas, tim juga
mengelola fungsi Perencanaan Darurat. Tujuan perencanaan darurat
adalah memastikan bahwa semua tim dan layanan kami memiliki rencana
kesinambungan bisnis untuk mengurangi gangguan layanan jika terjadi
insiden besar. Tujuannya adalah untuk menjaga agar layanan tetap berjalan
sejauh mungkin dan juga membantu kami untuk membantu Anda tetap
aman. Sebagai bagian dari proses ini, kami memiliki rencana untuk
mengelola berbagai situasi baik sebagai akibat dari sesuatu yang terjadi
secara internal, seperti kegagalan listrik lokal, atau kejadian berskala besar
seperti banjir.
f) Program Keselamatan Pasien
1) Program Pelatihan dengan Menggunakan Team Srategies and Tools
to Enhance Performance and Patient Safety Training (TeamSTEPPS)
Melakukan program pelatihan berbasis skenario khusus antar
departemen. Kompetensi dalam program ini terdiri dari keterampilan
kepemimpinan yang dapat dilatih, pemantauan situasi, saling
mendukung, dan komunikasi. Pelatihan ini ditekankan pada

8
keterampilan tim di bidang kinerja, pengetahuan, dan hasil dari sikap.
Meskipun pelatihan ini diajarkan secara keseluruhan, tim pelaksana
program memilih untuk memfokuskan program ini pada aspek
komunikasi (Brand et al., 2015).
2) Speak Up for Patient Safety di Ramsay Sime Darby Health Care
Indonesia (RSDHI)
Program ini dilakukan kepada seluruh anggota rumah sakit. Pelatihan
ini menerapkan cara yang tepat dalam melakukan Speak Up tanpa
membuat rekan kerja atau pasien merasa tidak nyaman. Pelatihan ini
juga merupakan wadah komunikasi bagi semua anggota agar dapat
melaporkan pengalaman positif maupun negatif. Program ini
mendorong dan memberdayakan anggota rumah sakit agar berani
untuk berbicara, berani untuk menyampaikan pendapatnya dalam
memberikan pelayanan yang aman untuk pasien. Diharapkan adanya
program ini mampu mendorong kesinambungan budaya aman (safety
culture) yang ditujukan kepada seluruh karyawan di rumah sakit
beserta pasien (RSDHI, 2020).
3) Program Pelatihan Pencegahan Pasien Jatuh
Memberikan pelatihan kepada staf klinis yang terdiri dari perawat,
dokter, apoteker, residen medis, dan fisioterapis atau kepada staf non
klinis yang terdiri dari staf pelayanan, staf lingkungan, dan tim
transportasi tentang pencegahan pasien jatuh. Mengajarkan kepada
staf klinis terkait dengan penilaian pasien jatuh dan memberikan tanda
atau label terhadap pasien yang berisiko jatuh. Diharapkan adanya
pelatihan ini dapat mengurangi cidera yang terjadi terhadap pasien dan
meningkatkan handoff yang baik antar departemen maupun shift
(AHRQ, 2013).
4) Pelaporan Kejadian Keselamatan Pasien Elektronik (E-Reporting)
Pelaporan elektronik merupakan mekanisme yang efektif untuk
belajar dari kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien.
Penerapan pelaporan elektronik memberikan manfaat dalam

9
peningkatan jumlah kejadian yang dilaporkan dan pelaporan kejadian
dapat dilakukan oleh staf selain perawat yang terdaftar dalam waktu
48 jam (Citra Budi, Sunartini, Lazuardi, & Tetra Dewi, 2019; Elliott,
Martin, & Neville, 2014; Gong, Kang, Wu, & Hua, 2017).
C. Model Patient Safety di PONED
Model keselamatan kerja poned dalam Dian Gusta Terdiri dari
1. Tujuan dilaksanakannya Keselamatan Pasien di Puskesmas PONED
adalah sebagai berikut:
a. Terciptanya keselamatan pasien di Puskesmas PONED.
b. Meningkatkan akuntabilitas Puskesmas PONED terhadap pasien
dan masyarakat.
c. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di Puskesmas
PONED.
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak
terjadi pengulangan kejadian yang tidak diharapkan.
2. Standar Keselamatan Pasien
Standar keselamatan pasien di Puskesmas PONED, dengan mengadopsi
standar keselamatan pasien rumah sakit, adalah sebagai berikut:
a. Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan
informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk
kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
b. Mendidik pasien dan keluarga
c. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
d. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien
3. Standar Keselamatan Pasien
Demi tercapainya ketujuh standar keselamatan pasien, maka dilakukan

10
tujuh langkah menuju keselamatan pasien, berupa:
a. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien dengan
menciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.
b. Pimpin dan dukung staf dengan membangun komitmen dan fokus
yang kuat dan jelas tentang Keselamatan Pasien di Puskesmas
PONED.
c. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko dengan mengembangkan
sistem dan proses pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi dan
asesmen hal yang potensial bermasalah.
d. Kembangkan sistem pelaporan dengan cara memastikan staf
dengan mudah dapat melaporkan kejadian atau insiden.
e. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Kembangkan cara-
cara komunikasi yang terbuka dengan pasien.
f. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien.
Dengan cara mendorong staf untuk melakukan analisis akar
masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul.
g. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien
dengan menggunakan informasi yang ada tentang kejadian atau
masalah untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan.
4. Deteksi Insiden di Puskesmas PONED
Insiden keselamatan pasien yaitu kejadian tidak teduga yang
berkaitan dengan keselamatan pasien yang dapat menimbulkan cedera,
kecacatan bahkan kematian pada pasien. Insiden keselamatan pasien
juga dapat menimbulkan kerugian aset, kerusakan peralatan,
kehilangan waktu kerja, berkurangnya kualitas kerja dan dapat
menimbulkan kerugian bagi tempat pelayanan kesehatan.
Deteksi insiden sangat penting dalam pelaksanaan program
keselamatan pasien di Puskesmas PONED. Dengan mendeteksi
insiden, maka pihak Puskesmas dapat segera melakukan tindak mitigasi
atau pencegahan terhadap terjadinya insiden tersebut. Berdasarkan
penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa insiden bisa terjadi

11
akibat berbagai faktor. Sehingga deteksi insiden sebaiknya tidak hanya
dilakukan pada faktor dominan saja, melainkan juga dilakukan pada
faktor-faktor yang dianggap kecil sekalipun.
5. Mitigasi Keselamatan
Pasien Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko,
baik melalui pembangunan fisik maupaun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi risiko. Mitigasi faktor adalah suatu tindakan
atau keadaan yang mencegah perkembangan insiden yang merugikan
pasien.
6. Pengelolaan Risiko Keselamatan Pasien
Analisis kesalahan dan pembelajaran kesalahan merupakan hal yang
sangat berpengaruh dalam meningkatkan keselamatan pasien.
Kontribusi dalam pengumpulan data serta monitoring diperlukan dalam
sebuah analisis keselamatan pasien Puskesmas PONED wajib
melakukan pencatatan dan pelaporan insiden yang meliputi kejadian
tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cidera dan kejadian sentinel.
7. Peran Kepemimpinan dalam Keselamatan Pasien di Puskesmas
PONED
Organisasi pelayanan kesehatan serta yang terlibat di dalamnya
harus meningkatkan dan mengembangkan program keselamatan pasien
serta tanggung jawab yang jelas. Suatu program keselamatan pasien
harus kuat, jelas dan perhatian yang serius terhadap keselamatan pasien
serta menerapkan sistem non-hukum pada pelaporan dan analisis pada
kesalahan yang terjadi. Penggabungan prinsip keselamatan dipahami
dengan baik, seperti standardisasi, penyederhanaan, penyediaan serta
proses perlengkapan. Serta membangun multidisiplin team dalam suatu
program misalnya diadakannya training dengan pihak yang
berpengalaman pada ruang kegawatdaruratan, ICU, ruang operasi,
laboratorium dan unit lainnya.
8. Implementasi Keselamatan Pasien di Puskesmas PONED
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas

12
adalah tercapainya kecamatan sehat menuju Indonesia Sehat.
Kecamatan sehat merupakan masyarakat kecamatan masa depan yang
ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni masyarakat yang
hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata seta memilki derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya. Indikator kecamatan sehat adalah lingkungan sehat, perilaku
sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu serta derajat
kesehatan penduduk kecamatan.
Agar Puskesmas dapat menjalankan fungsinya secara optimal perlu
dikelola dengan baik, baik kinerja pelayanan, proses pelayanan maupun
sumber daya yang digunakan. Masyarakat menghendaki pelayanan
kesehatan yang aman dan bermutu serta dapat menjawab kebutuhan,
oleh karena itu upaya peningkatan mutu, manajemen risiko dan
keselamatan pasien perlu ditetapkan dalam pengelolaan Puskesmas
dalam memberikan pelayanan yang komprehensif kepada masyarakat.
D. Model Patient Safety di Pelayanan Primer
Laporan Pemindaian Lingkungan Seperti yang dinyatakan pakar
keselamatan pasien Robert M. Wachter dalam editorial tahun 2006 di Annals
of Internal Medicine: …Kami sekarang memahami bahwa lingkungan rawat
jalan sangat berbeda dari lingkungan rumah sakit sehingga keahlian dalam
perawatan rumah sakit mungkin tidak memprediksi perawatan rawat jalan yang
baik dan bahkan mungkin menciptakan keterampilan dan naluri yang
berbahaya di lingkungan rawat jalan.
Selama pemindaian lingkungan kami, kami ditantang untuk
mengidentifikasi struktur, proses, dan intervensi dimana keselamatan pasien
dalam perawatan primer dapat dipengaruhi, ditingkatkan, dan selanjutnya
dipercepat dengan keterlibatan pasien dan keluarga. Masukan dari praktik studi
kasus kami, Panel Pakar Teknis, dan informan kunci lainnya membantu
menyusun cara mencapai perawatan yang aman di rangkaian perawatan primer.
Berdasarkan pekerjaan kami, kami mengusulkan model konseptual baru yang

13
mengarah pada peningkatan keselamatan pasien dalam perawatan primer
dengan melibatkan pasien, keluarga, dan masyarakat sebagai intinya.
Dalam model, kemitraan adalah kuncinya. Pasien, dokter, dan anggota
staf praktik dihubungkan bersama dalam suatu hubungan berdasarkan
komunikasi, rasa hormat, dan kepercayaan. Mengaktifkan strategi keterlibatan
pasien dan keluarga (segitiga) adalah mekanisme bagi pasien, penyedia, dan
staf praktik untuk meningkatkan hubungan ini dengan aliran informasi yang
terbuka.
Model ini juga mencerminkan bahwa praktik perawatan primer tidak ada
dalam isolasi tetapi merupakan bagian dari sistem perawatan kesehatan yang
lebih luas dan kompleks dan tunduk pada kekuatan budaya, komunitas, dan
lingkungan eksternal. Model "Siklus Keselamatan", didasarkan pada empat
konsep sederhana:
1. Kemitraan: Kemitraan mengacu pada hubungan yang terjalin antara
pasien, penyedia, dan staf praktik dalam praktik perawatan primer.
Perawatan yang aman paling baik ketika hubungan antara aktor-aktor ini
kuat. Ketiga kelompok bersama-sama mewakili "tim perawatan primer,"
bergerak menjauh dari model kedokteran paternalistik tradisional
menjadi salah satu kolaborasi, saling menghormati, dan kepercayaan.
2. Kerja tim: Strategi untuk meningkatkan kerja tim dan keterlibatan pasien
dan keluarga sebagai bagian dari tim perawatan kesehatan adalah
keharusan keselamatan dalam perawatan primer. Sebagai sebuah tim,
semua mitra mengetahui peran mereka dan apa yang diharapkan dari
mereka agar tim dapat bekerja secara efektif. Model tersebut mengakui
bahwa keterlibatan pasien adalah rangkaian dari terlepas menjadi aktif
dan berdaya. Dalam tim yang tangguh, anggota lain beradaptasi dan
mengakomodasi perbedaan individu sambil mengejar tujuan bersama.
Dalam kasus pasien yang terlepas, membawa jaringan pendukung
tambahan, di dalam node pasien atau penyedia, mungkin diperlukan
untuk memindahkan pasien ke jalur menuju aktivasi.
3. Komunitas: Komponen kunci lain dari model kami adalah konsep

14
komunitas. Di sini, pengaruh komunitas, termasuk lokasi praktik,
karakteristik sosiodemografi pasien, dan sumber daya berbasis
komunitas (termasuk toko kelontong, apotek, dan tempat aman untuk
anak-anak bermain dan orang dewasa berolahraga) semuanya merupakan
faktor yang berkontribusi terhadap keselamatan dalam perawatan primer.
Perhatian terhadap kesehatan masyarakat sangat penting untuk
mengembangkan budaya yang aman.
4. Lingkungan perawatan kesehatan: Model ini juga mengakui bahwa
praktik perawatan primer sangat dipengaruhi oleh kekuatan eksternal,
termasuk kebijakan, reformasi kesehatan, dan upaya transformasi
praktik. Dengan menetapkan nilai-nilai inti dari praktik seputar
kemitraan, kerja tim, dan komunitas, praktik perawatan primer akan
menciptakan sistem mikro yang tangguh untuk mempromosikan
keselamatan pasien.
E. Model Patient Safety di PMB
Model Keselamatan Pasien di Bidan Praktik Mandiri terbentuk dari
interaksi antara variabel sasaran keselamatan pasien, pengetahuan, sikap,
motivasi dan perilaku keselamatan pasien. Hubungan antar variabel dalam
model ini sudah valid. Implementasi Model ini dilakukan kepada BPM melalui
pelatihan Model Keselamatan Pasien di Bidan Praktik Mandiri yang
didalamnya disertai dengan Modul Pelatihan Keselamatan Pasien di BPM.
Pelatihan Model Keselamatan Pasien di Bidan Praktik Mandiri secara statistik
bermakna untuk meningkatkan perilaku, pengetahuan, sikap dan motivasi
bidan tentang keselamatan pasien.
F. Tiga Model Safety menurut Charles Vincent dan Rene Amalberti (2016)
Charles Vincent dan Rene Amalberti (2016) memberikan saran yang sangat
membantu dalam kaitannya dengan berbagai strategi keselamatan dan
intervensi dalam tiga model keselamatan. Ketiga model tersebut adalah:
1. Sangat adaptif – Merangkul risiko – Mengambil risiko adalah inti dari
profesi ini. Model yang dibutuhkan adalah para ahli yang mengandalkan
ketahanan pribadi, keahlian pribadi dan teknologi untuk bertahan dan

15
sejahtera dalam kondisi buruk
2. Keandalan Tinggi – Mengelola risiko – Risiko tidak dicari tetapi melekat
dalam profesi. Model yang diperlukan adalah model kelompok devolusi
yang dapat mengatur diri mereka sendiri, memberikan dukungan timbal
balik, dan yang diizinkan untuk menyesuaikan diri dan memahami
lingkungan mereka.
3. Sangat aman – Menghindari risiko – Risiko dikecualikan sejauh mungkin.
Model ini cocok untuk pengaturan dan pengawasan sistem untuk
menghindari paparan staf garis depan dan pasien terhadap risiko yang
tidak perlu
Masing-masing memunculkan cara pengorganisasian keselamatan dengan
pendekatan karakteristiknya sendiri dan kemungkinan peningkatannya sendiri.
Cara berpikir ini memberikan visi baru dan lebih luas untuk menangani
keselamatan pasien yang mencakup perawatan sepanjang perjalanan pasien
termasuk perawatan di rumah. Ini membantu kami juga mempelajari
bagaimana keselamatan dikelola dalam konteks yang berbeda dan untuk
mengembangkan visi strategis dan praktis yang lebih luas.
Tiga model dalam kaitannya dengan kesehatan
a. Contoh lingkungan ultra-adaptif adalah pengobatan darurat atau praktik
umum komunitas (dokter umum). Ini adalah daerah yang memiliki tingkat
otonomi yang sangat tinggi. Menjadi lebih aman adalah tentang membantu
orang beradaptasi dan menanggapi situasi sulit yang mereka hadapi. Ini
juga tentang mengakui bahwa pengobatan darurat dan lingkungan ultra-
adaptif lainnya tidak akan pernah bebas dari bahaya. Ini adalah area di
mana perawatan resep sangat sulit dilakukan dan orang perlu dipercaya
untuk terus beradaptasi dan menyesuaikan apa yang mereka lakukan.
b. Contoh sistem keandalan yang tinggi adalah operasi terjadwal, kebidanan
dan kebidanan. Bidang-bidang ini bergantung pada keterampilan dan
ketahanan pribadi tetapi dengan cara yang lebih siap dan disiplin. Risiko
sementara tidak sepenuhnya dapat diprediksi diketahui dan dipahami.
Dalam bidang manajemen risiko ini selalu menjadi perhatian. Perlu dicatat

16
bahwa organisasi dengan keandalan tinggi sebagai sebuah konsep telah
dipertimbangkan selama beberapa tahun sekarang dengan organisasi yang
bertujuan untuk mendeteksi dan merespons risiko secara lebih proaktif. Ini
adalah area yang membutuhkan resep tetapi juga harus mampu beradaptasi
saat dibutuhkan. Misalnya, induksi anestesi di ruang operasi harus
mengikuti urutan aktivitas dan keputusan yang jelas setiap waktu.
c. Contoh sistem ultra-aman adalah transfusi darah, mikrobiologi, dan
radioterapi. Area-area ini bergantung pada standardisasi, otomasi, dan
penghindaran risiko sedapat mungkin. Keterampilan yang dibutuhkan di
bidang ini adalah pengetahuan dan pelaksanaan prosedur operasi standar
dan rutinitas yang dipraktikkan. Pendekatan ini juga bergantung pada
pengawasan eksternal, peraturan dan regulasi. Ini adalah bidang-bidang
yang memungkinkan untuk meresepkan perawatan dan memang
membutuhkan sebanyak mungkin detail untuk dituliskan. Misalnya
pemberian kemoterapi membutuhkan tingkat akurasi yang tinggi dalam
hal jumlah yang ditentukan dan kepatuhan yang jelas terhadap peraturan
seputar resep dan administrasi.

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Keselamatan pasien merupakan upaya untuk melindungi hak setiap orang
terutama dalam pelayanan kesehatan agar memperoleh pelayanan kesehatan
yang bermutu dan aman. Peran-peran bidan dalam mewujudkan patient safety
di Praktik Mandiri Bidan dapat dirumuskan antara lain sebagai pemberi
pelayanan kebidanan, bidan mematuhi standar pelayanan dan SOP yang telah
ditetapkan; menerapkan prinsip-prinsip etik dalam pemberian pelayanan
keperawatan; memberikan pendidikan kepada pasien dan keluarga tentang
asuhan yang diberikan; menerapkan kerjasama tim kesehatan yang handal
dalam pemberian pelayanan kesehatan; menerapkan komunikasi yang baik
terhadap pasien dan keluarganya, peka, proaktif dan melakukan penyelesaian
masalah terhadap kejadian tidak diharapkan; serta mendokumentasikan dengan
benar semua asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dan keluarga.

B. Saran
untuk para bidan yang mengaplikasikannya di lingkungan rumah sakit maupun
Praktik Mandiri Bidan agar selalu mengutamakan keselamatan pasien
berdasarkan procedure yang telah di tentukan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Erwin Santosa, Sp.A. 2015. Kuliah Manajemen Risiko.S2 Kebidanan


Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Departemen Kesehatan R.I. (2006). PANDUAN NASIONAL
KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT (Patient Safety).
Kemenkes RI. [Link] Nasional Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (Patient Safety): Utamakan Keselamatan Pasien. Jakarta: Depkes
RI. [Link]
[Link] diakses 20
februari 2023
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1691/MENKES/PER/VIII/2011TENTANG KESELAMATAN PASIEN
RUMAH SAKIT. (2011).
Poltekkes Kemenkes Palangkaraya, 2019, Modul Teori 1 Manajemen
Pasien Safety
[Link] diakses 2
Maret 2023
Ina, Herlina (2017) PENGEMBANGAN MODEL KESELAMATAN PASIEN
SEBAGAI STRATEGI IMPLEMENTASI DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI
KABUPATEN BOGOR PROVINSI JAWA BARAT. Doctoral thesis, Universitas
Andalas.

19

Anda mungkin juga menyukai