Optimalisasi Perawatan Sensor Ingress Air
Optimalisasi Perawatan Sensor Ingress Air
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Duapertiga bagian dunia ini adalah laut, maka transportasi laut merupakan salah satu
unsur yang memiliki peranan penting dalam mempersatukan dunia. Transportasi laut
yang terdiri dari jaringan sarana dan prasarana, dimana jaringan prasarana transportasi
laut dan arus perdagangan sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan yang
meningkat pesat dari tahun ketahun yang membawa dampak besar bagi perekonomian
bangsa. Pelabuhan laut di seluruh negara mempunyai peranan yang sangat penting
sebagai mata rantai kegiatan transportasi dan perekonomian. Oleh karena itu
pembangunan fasilitas dalam perekonomian laut harus mampu menunjang masyarakat
dan sekaligus mengendalikan dinamika pembangunan, mendukung mobilitas manusia,
serta barang dan jasa.
Dalam sebuah negara maritime seperti halnya negara kita, peranan pelayaran sungguh
sangat penting bagi kehidupan social ekonomi penduduknya. Demikian pula bagi
kepentingan administrasi pemerintahan pada umumnya, serta dalam rangka pertahanan
negara dan lain-lain, peranan pelayaran sangatlah penting.
Adanya barang yang harus diangkut dalam keadaan tertentu, pelabuhan pemuatan dan
pelabuhan pembongkaran yang berbed-beda, barang-barang tertentu yang akan saling
merusak kalau dicampur satu sama lain, menimbulkan kebutuhan akan kapal yang
berbeda-beda pula.
Demikianlah dalam dunia pelayaran niaga modern, kita telah mengenal adanya kapal-
kapal : container ship,bulk carrier, tanker dimana setiap tipe kapal mempunyai ciri
yang berbeda beda.
Selain itu, perbedaan sifat perairan juga menentukan kebutuhan kapal niaga. Dari sudut
pandangnya, biaya kapal dapat dibagi tergantung pada konstruksi kapal dan sifat muatan
yang akan diangkut oleh kapal yang bersangkutan.
Kapal general cargo adalah kapal yang mengangkut bermacam-macam muatan berupa
[Link] yang diangkut biasanya merupakan barang yang sudah [Link]
general cargo dilengkapi dengan crane pengangkut barang untuk memudahkan bongkar-
muat muatan. Dalam penelitian ini, direncanakan desain lambung kapal. Menurut
Spesialisai pengangkutan barang-barang ini, kami membagi kargo lebih lanjut sebagai
berikut:
1. General Cargo
2. Container Ship
3. Log Carrier
4. Bulk Carrier
6. Tanker Ship
Bulk Carrier adalah kapal besar dengan hanya satu dek yang mengangkut muatan yang
tidak dibungkus atau curah (bulk). Muatan curah adalah muatan yang bentuk dan
jenisnya sama. Cara memuatnya dengan cara curah atau melalui pipa conveyor atau
grab.
Kargo curah yang dimuat ke kapal curah yang diperdagangkan di dunia adalah:
1. Produk pertanian seperti : sereal (jagung, gandum, kedelai, beras dan lainya).
Dalam proses bongkar muat di kapal curah, terdapat faktor-faktor dan alat-alat yang
dapat menunjang efisiensi proses bongkar muat di kapal tersebut. Faktor-faktor dan
alat-alat yang dapat menunjang proses bongkar muat di kapal curah diantara lain
adalah: cuaca, terminal bongkar muat, crane, conveyor, operator crane / conveyor,
loading rates, ballast system, bilges system, cargo water ingress sensor atau water
level detector.
Alat yang khusus untuk mengontrol dan mendeteksi kandungan air dari muatan yang
terdapat di dalam ruang muat adalah cargo water ingress sensor, prinsip kerja alat ini
bekerja mendeteksi level air di dalam ruang muat sesuai dengan letak dari alat tersebut
dipasang di dalam ruang muat yang telah ditentukan di SOLAS XII Regulation 12
dimana tertulis disana “di setiap ruang muat harus berada alarm suara dan alarm visual
yang diletakkan di ketinggian 0.5 meter dari dasar ruang muat dan 15% dari kedalaman
ruang muat tetapi tidak lebih dari 2 meter”. Sering kali setelah proses bongkar atau saat
akan memasuki pelabuhan bongkar perawatan terhadap komponen-komponen dari
cargo water ingress sensor kurang diperhatikan dan kurangnya keterampilan serta
pemahaman awak kapal akan fungsi dari cargo water ingress sensor tersebut sehingga
tidak terlaksananya pemeriksaan dan perawatan yang tetap dan teratur secara berkala
terhadap komponen-komponen cargo water ingress sensor yang membahayakan
keselamatan muatan yang dapat mengakibatkan rusaknya muatan, ditolaknya muatan
karena tidak sesuai dengan permintaan, penambahan biaya singgah di pelabuhan atau
berlabuh jangkar untuk membuang air yang tidak terdeteksi tersebut.
Karena konteks masalah di atas maka penulis mengangkat penulisan skripsi ini dengan
judul :
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan pokok masalah diatas, dapat mengetahui beberapa perkara yang menjadi
pokok permasalahan yang terdapat di dalam skripsi ini, yaitu :
2. Kurangnya keterampilan dan pemahaman awak kapal akan fungsi dari cargo water
ingress sensor tersebut.
3. Tidak terlaksananya pemeriksaan dan perawatan yang tetap dan teratur secara
berkala terhadap komponen-komponen dari cargo water ingress sensor tersebut.
4. Kurangnya pengamatan mualim 1 saat akan memulai proses bongkar muat.
5. Kurangnya strategi atau metode oleh pihak kapal dalam melakukan perawatan
cargo water ingress sensor.
C. BATASAN MASALAH
D. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang terkandung dalam skripsi ini tentang bagaimana upaya
perawatan cargo water ingress sensor di atas kapal [Link] LAUT. Oleh karena
adanya masalah tersebut, maka penulis mengemukakan rumusan masalah pokok di
dalam skripsi ini, yaitu :
2. Mengapa awak kapal kurang terampil dan memahami akan fungsi dari cargo water
ingress sensor ?
Agar tujuan tercapai dan bermanfaat, maka dalam penulisan laporan penelitian yang
penulis buat ini diberikan uraian kerangka pemikiran yang diambil untuk memudahkan
pemahaman penyajian skripsi ini. Berikut penulis menyajikan laporan berdasarkan
penelitian dalam bentuk bab yang saling berkaitan :
BAB I : PENDAHULUAN
Menyatakan masalah dan alasan pemilihan judul dan tujuan diskusi serta
masalah utama yang muncul dalam laporan [Link] yang dapat
diperoleh dari pembahasan laporan kerja ini adalah bagi para perwira dan
awak kapal atau bagi kita yang sedang menempuh perkuliahan. Dalam
pembahasan akan dijelaskan secara rinci dan teratur tentang optimalisasi
perawatan cargo water ingress sensor di kapal [Link] LAUT yang
pada akhirnya ditemukan penyelesaian masalah tersebut.
Bab ini menjelaskan data yang diambil dari lapangan berupa fakta-fakta
yang berkaitan dengan komponen cargo water ingress sensor, analisis
data yang menganalisis hingga penyebab masalah ditemukan, alternatif
solusi untuk masalah yang ditemukan dan evaluasi masalah dengan
evaluasi solusi alternatif dari penyelesaian masalah yang ditemukan.
Bab ini berisi kesimpulan yang merupakan pokok jawaban yang telah
dikaji dalam karya tulis singkat dari seluruh bab yang saling berkaitan,
seperti penyebab dan kendala pelaksanaan terhadap perawatan seperti
kurangnya perawatan cargo water ingress sensor sehingga terdapat
masalah mengalami kerusakan dan menghambat proses bongkar muat.
Berikutnya saran-saran dalam penambahan wawasan bagi seluruh awak
kapal tentang pentingnya perawatan cargo water ingress sensor.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam kajian ini perlu adanya teori-teori yang diambil dari buku-buku penunjang yang
akan membantu dalam pemahaman tentang perawatan alat-alat penunjang bongkar
muat diatas kapal. Oleh karena itu, perlu dijelaskan beberapa teori yang mendukung
dalam kajian ini.
1. Optimalisasi Perawatan Cargo Water Ingress Sensor.
Optimalisasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996 : 705) optimalisasi adalah suatu
proses, cara atau perbuatan untuk menjadikan sesuatu paling baik dan paling tinggi.
Maka, optimalisasi akan membuat segala sesuatu menjadi terbaik dengan melalui
segala proses.
Optimalisasi juga adalah hasil yang dicapai sesuai dengan keinginan, jadi
optimalisasi merupakan pencapaian hasil sesuai harapan secara efektif dan efisien
serta menguntungkan berbagai pihak (W. J. S. Poerdwadarminta,1997 : 753).
Menurut Winardi (1996 : 363) optimalisasi adalah ukuran yang menyebabkan
tercapainya tujuan sedangkan jika dipandang dari sudut usaha, optimalisasi adalah
usaha untuk memaksimalkan kegiatan sehingga mewujudkan keuntungan yang
diinginkan atau dikehendaki.
Perawatan
Menurut Supandi (1997 : 26) perawatan merupakan kegiatan untuk menjaga atau
memelihara fasilitas-fasilitas dan peralatan, serta mengadakan perbaikan,
penyesuaian atau penggantian yang diperlukan untuk mendapatkan suatu kondisi
operasi produksi yang memuaskan dan sesuai dengan yang direncanakan. Maka dari
itu, perawatan sangat penting untuk dilakukan.
Perawatan adalah suatu konsepsi dari semua aktifitas yang diperlukan untuk
menjaga ataupun mempertahankan kualitas peralatan agar tetap dapat berfungsi
dengan baik seperti dalam kondisi yang sebelumnya. Sehingga segala aktifitas tidak
dapat terbentur dengan kendala yang disebabkan oleh tidak terawatnya suatu
peralatan (Assauri, 1995 : 115)
2. Perawatan Operasional
Perawatan operasional dilakukan ketika dalam keadaan beroperasi atau
selama kapal melakukan pengerjaan. Pemeriksaan bulanan dengan
menggunakan plan maintenance system yang diberikan dari
perusahaan untuk meminimalkan kerusakan atau pencegahan
kerusakkan.
3. Perawatan Periodik
Perawatan pencegahan biasanya terjadi pada pembukaan secara
periodik mesin dan perlengkapan untuk menentukkan apakah
diperlukan penyetelan-penyetelan dan penggantian-penggantian.
Jangka waktu inspeksi demikian biasanya didasarkan atas jam kerja
mesin atau waktu kalender. Inspeksi yang sering dilakukan akan
mengurangi kesiapan kapal berlayar dan mempertinggi kesalahan.
Pengukuran terus menerus terhadap pengukuran periodik, maksud
utama dari pengukuran periodik adalah untuk memberikan
pengamanan yang cukup luas atas terjadinya suatu kerusakan yang
terus bertambah atau terjadi kemunduran kondisi.
Proses
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian kata proses adalah runtunan
perubahan (peristiwa) di perkembangan sesuatu.
Menurut Veithzal Rivai (2008 : 170) proses adalah serangkaian langkah sistematis,
atau tahapan yang jelas dan dapat ditempuh berulangkali, untuk mencapai hasil
yang diinginkan. Jika ditempuh, setiap tahapan itu secara konsisten mengarah pada
hasil yang diinginkan.
Bongkar Muat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian bongkar adalah mengangkat
atau menurunkan muatan dari atau ke kapal sedangkan muat adalah mengeluarkan
atau memasukkan muatan dari atau ke kapal.
Menurut Subandi (1992 : 127) pengertian bongkar muat adalah suatu rangkaian
kegiatan perusahaan pelayaran untuk melaksanakan kegiatan pemuatan atau
pembongkaran dari ke atas kapal.
Menurut M. Husseyn Umar (1990 : 25) definisi kegiatan bongkar muat adalah
kegiatan jasa yang bergerak dalam kegiatan bongkar muat dari dan ke kapal, yang
terdiri dari kegiatan stevedoring, cargodoring, dan receiving / delivery.
Menurut M.L Palumian (2002 : 1) dalam melakukan pekerjaan bongkar muat maka
perlu dipegang teguh suatu prinsip agar segala sesuatunya berjalan dengan lancar.
Prinsip-prinsip itu adalah :
d. Bongkar muat secara teratur, tepat dan sistematis yaitu dengan meneliti
secara seksama trim dan perhitungan stabilitas dari chief planer. Bila
ada rencana pemuatan yang akan menyebabkan terjadinya hal-hal lain
yang dapat merugikan, pihak kapal segera melakukan perubahan-
perubahan.
1. Fasilitas
Fasilitas ini meliputi :
a. Peralatan bongkar muat seperti keran-keran darat, keran terapung,
perahuangkat dan lain-lain.
b. Pembangkit tenaga listrik, tenaga mekanis, tenaga manusia dan lain-lain.
c. Bangunan seperti jalan-jalan, rel-rel kereta api, gudang-gudang dan lain-lain.
d. Peralatan pelabuhan seperti kapal keruk, adanya break water dan lain-lain.
e. Alat angkut di darat yaitu alat yang meneruskan muatan - muatan
inikepedalaman, misalnya tongkang - tongkang, perahu-perahu, truk-truk,
keretaapi dan lain - lain.
2. Barang muatan yang akan diangkut termasuk cara - cara pengepakan.
3. Alat angkutan laut yaitu kapal yang digunakan untuk pengangkutan muatan
termasuk alat-alat muat bongkar dikapal.
4. Pengaturan yaitu cara-cara mengatur, menjumpai atau menemukanberita-berita
yang berhubungan dengan perjalanan muatan tersebut.
Teknik-teknik pengawasan :
1. Pengawasan langsung adalah apabila pemimpin organisasi mengadakan sendiri
pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan.
2. Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan dari jarak jauh, melalui laporan
yang disampaikan oleh para bawahan, berbentuk :
a. Lisan.
b. Tertulis.
Menurut Drs. Herry Gianto dan Capt. Arso Martopo Dalam buku Pengoperasian
Pelabuhan Laut (1990 ; 36) keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemuatan atau
pembongkaran merupakan suatu kerugian bagi pemilik kapal karena seharusnya
kapal sudah dapat meninggalkan pelabuhan muat tetapi karena keterlambatan
pekerjaan tersebut maka terpaksa menunda keberangkatan.
B. KERANGKA PEMIKIRAN
Pada prinsipnya perawatan terhadap cargo water ingress sensor yang dilakukan di
kapal meliputi hal-hal yang telah dijabarkan pada tinjauan pustaka. Berdasarkan asumsi
teori diatas penulis maka penulis yang mengalami masalah pada kurangnya
keterampilan dan pemahaman awak kapal akan fungsi dari cargo water ingress sensor
serta mendapatkan beberapa kajian yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
PENYEBABNYA
AKIBATNYA
1. Tertundanya proses bongkar muat
2. Ditolaknya muatan oleh pihak darat karena kerusakan muatan
PEMECAHAN MASALAH
1. Perawatan secara berkala
2. Familiarisasi tentang guna cargo water ingress sensor terhadap awak kapal
3. Safety meeting diatas kapal
2. Tempat Penelitian
Penulis melakukan penelitian selama di atas kapal MV. PEONY LAUT
Adapun data kapal tersebut sebagai berikut :
Name of Vessel : MV. PEONY LAUT
Official Number : 9286853
Type of Vessel : BULK CARRIER
Flag State : INDONESIA
IMO Number : 9286853
Port Registry : JAKARTA
Call Sign : YCQA2
Owner Name :[Link] INTERNATIONAL SHIPPING
Management : [Link] DAMAI LESTARI
Builder : IMABARI SHIPBUILDING CO., LTD
Launched Date : 19 JANUARY 2004
Class : CCS
Length Over All (LOA) : 224.94 meters
Length (B.P) : 217.00 meters
Breadth (MLD.) : 32.26 meters
Depth (MLD.) : 19.50 meters
Freeboard : 5.628 meters
Lightweight : 10,522.00 M/tons
Gross Tonnage : 39,871.00 M/tons
Net Tonnage : 25,754.00 M/tons
Main engine : MITSUI-MAN B & W 2-CYCLE DIESEL ENGINE
6S60MC (MARK VI)
Draft : Tropical : 14,433 meters
Summer : 14,139 meters
Winter : 14.845 meters
Tropical Fresh : 14,759 meters
Fresh : 14,465 meters
24
Tropical Fresh : 78,220 MT
Fresh : 76,305 MT
B. METODE PENDEKATAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. MetodePendekatan
Metode pendekatan yang digunakan oleh penulis untuk membahas skripsi adalah
deskriptif kualitatif, yaitu metode paparan menganalisis data berupa hasil yang
diperoleh di lapangan dengan instrumen pengukuran di bentuk relevan dengan
masalah yang diteliti, sehingga masalah ditemukan.
2. TeknikPengumpulan Data
Berikut ini erat kaitannya dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan, oleh
karena itu teknik pengumpulan data harus diperhatikan. Penjelasan tentang teknik
pengumpulan data yang digunakan berikut ini:
a. Observasi
Yaitu suatu metode untuk mencari data dengan mengamati objeknya.
Pengamatannya harus seksama dan perlu adanya pencatatan supaya datanya
sesuai harapan.
Observasi dapat juga dikatakan sebagai pengambilan data dengan cara visual
tanpa bantuan orang lain untuk tujuan yang telah direncanakan secara sistematis
dan digunakan untuk tujuan penelitian. Dengan observasi, data yang diperoleh
adalah data primer, dan bukan data sekunder yang diperoleh dari orang. Selain
itu, jenis data ini lebih objektif dan bertanggung jawab. Karena peneliti terlibat
langsung dalam banyak hal yang penulis dapat dari pengamatan ini.
25
dan main yang berwarna merah hidup pada palka no. 2, itu menandakan adanya
kandungan air yang melebihi batas normal pada palka no. 2 yang ternyata kapal
pada saat itu dalam keadaan muat. Sehingga perwira jaga pada waktu saat itu
langsung menekan tombol acknowledge pada panel yang berbunyi dan menyala
tersebut dengan maksud telah mengetahui keadaan cargo water ingress sensor,
dan langsung memberitahukan kepada mualim satu beserta penulis untuk
memeriksa keadaan sebenarnya di dalam palka dan keadaan cargo water ingress
sensor tersebut yang berada di duct keel. Asumsi sementara yang dapat
disimpulkan yaitu, cargo water ingress sensor mengalami kerusakan yang
diakibatkan kurangnya perawatan.
b. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara dengan mengumpulkan data yang dilakukan
dengan proses tanya jawab secara lisan dan langsung kepada sasaran penelitian
yang mengetahui sumber masalah yang ada. Wawancara sebagai suatu alat
dengan cara mengumulkan data yang membutuhkan komunikasi langsung
antara peneliti dan target penelitian. Wawancara dilakukan secara terbuka
dimana peneliti menanyakan kepada perwira fakta-fakta dari suatu peristiwa
pendapat mereka tentang suatu peristiwa yang sedang diselidiki.
Dalam hal ini penulis melaksanakan wawancara dengan nahkoda (Master) dan
mualim satu (Chief Officer).
c. Dokumentasi
Merupakan teknik pengumpulan data yaitu dengan mengumpulkan data dari.
sebagai bukti otentik agar semua hal yang bekenaan dengan bongkar muat dapat
terkoodinir dengan baik. Karena pada saat bongkar muat semua kegiatan harus
dicatat di dokumen kapal tentang apa saja yang terjadi, mengapa dapat terjadi
dan kapan waktu terjadinya. Tujuannya agar tidak adanya kesalahpahaman
antara pihak kapal dengan pihak pelabuhan.
26
Adapun dokumen kapal itu antara lain :
1) Mate’s receipt
2) Bill of lading
3) Cargo manifest
4) Ship condition
5) Time sheet
6) Notice of readiness
7) Port checklist
8) Loading and discharging sequence
9) Stowage plan
10) Cargo water ingress picture
11) Cargo water ingress checklist for maintenance
d. Studi pustaka
Pengumpulan data dan informasi dari beberapa literature atau sumber bacaan
yang erat hubunganya dengan masalah skripsi ini serta membandingkan hal yang
telah dilakukan di atas kapal dengan teori yang terdapat di buku dan peraturan-
peraturan yang berlaku yang telah ditetapkan IMO yang berhubungan dengan
masalah yang dibahas, sehingga diketahui sejauh mana penerapannya di atas
kapal. teknik pengumpulan data yang melibatkan pengumpulan data dari. Data-
data tersebut dijadikan sebagai tolak ukur referensi dalam pembuatan skripsi ini.
Dari materi-materi yang didapat berhubungan dengan penulis bahas sehingga
dapat membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Adapun buku referensi
tersebut yang penulis baca sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini adalah :
1) Manual book of cargo water ingress sensor
27
2) Safety Of Life At Sea (SOLAS) 1974
3) International Safety Management Code (ISM Code)
4) Standard of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW)
1978
C. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian adalah komponen-komponen yang terdapat pada cargo water ingress
sensor di atas kapal dimana sumber daya manusia di atas kapal belum sepenuhnya
mengerti tentang fungsi dari komponen cargo water ingress sensor tersebut, serta
perawatan dan perbaikan cargo water ingress sensor yang belum maksimal.
28
3. Jadwal pemeriksaan dan pemeliharaan yang tidak tetap dan tidak teratur terhadap
komponen-komponen cargo water ingress sensor.
4. Penyediaan suku cadang cargo water ingress sensor di atas kapal belum tersedi
alengkap.
Dari keempat masalah yang didapat tersebut, penulis hanya mengambil permasalahan
tentang sumber daya manusia di atas kapal belum sepenuhnya mengerti tentang fungsi
dari perawatan cargo water ingress sensor, serta perawatan dan perbaikan cargo water
ingress sensor belum maksimal.
Penulis mencoba untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi yaitu mulai dari sarana
dan prasarana pendukung perawatan dan perbaikan cargo water ingress sensor, seperti
tidak adanya safety meeting secara berkala tentang pembahasan perawatan cargo water
ingress sensor dan kurangnya pengetahuan awak kapal terutama pada perwira kapal
terhadap system pemeriksaan alat-alat atau komponen cargo water ingress sensor di
atas kapal. Penulis juga mencari pemecahan masalahnya untuk setiap factor
penghambat dan memberikan menggambarkan saran yang baik berdasarkan teori yang
ada daripada pengetahuan dan pengalaman onboard.
29
BAB IV
C. DESKRIPSI DATA
Pelaksanaan pemeriksaan komponen cargo water ingress sensor di atas kapal harus
dilaksanakan dengan baik dan teratur, karena jika pemeriksaan tersebut tidak dilakukan
dengan baik dan teratur serta tidak sesuai dengan peraturan dalam petunjuk
pemeriksaan dan pemeliharaannya akan berakibat pada rusaknya komponen-komponen
cargo water ingress sensor, sehingga berdampak pada pemakaian cargo water ingress
sensor yang tidak optimal di atas kapal.
Dibawah ini terdapat beberapa kejadian atau masalah yang terjadi selama bongkar muat
akibat kurangnya pemeriksaan dan perawatan terhadap komponen-komponen cargo
water ingress sensor diatas kapal MV. PEONY LAUT milik perusahaan PT.
LANDSEADOOR INTERNATIONAL SHIPPING
30
Karena tidak ada perubahan dari tindakan tersebut, maka Mualim I segera
memberitahu Nahkoda sebagai penanggung jawab kapal. Mengetahui hal itu,
Nahkoda segera memerintahkan Mualim I, Masinis I beserta dengan deck dan
engine cadet untuk memastikan terlebih dahulu ada tidaknya kesalahan dalam
pengoperasian cargo water ingress sensor.
Setelah diketahui tidak adanya kesalahan dalam pengoperasian cargo water ingress
sensor, Mualim I, Masinis I beserta dengan cadet segera menuju ke kamar mesin,
memasuki duct keel guna memeriksa secara seksama semua komponen cargo water
ingress sensor di masing-masing ruang muat. Setelah diperiksa, Masinis I
menemukan kejanggalan pada sekring yang berada di dalam panel box cargo water
ingress sensor di dalam palka.
Ternyata sekring tersebut tidak terpasang dengan baik, dikarenakan muatan dan
ombak maka posisi dari sekring tersebut berubah. Akibatnya antara sensor dengan
lampu indikator yang berada di panel di atas anjungan tidak terhubung. Setelah
mengetahui hal tersebut, Masinis I segera mengambil avometer untuk mengecek
kelistrikan dari sekring tersebut dan sebuah obeng minus untuk mengadjust sekring
tersebut. Setelah di adjust, Mualim I memerintahkan Mualim III yang berada di
anjungan untuk mengaktifkan kembali cargo water ingress sensor yang berada di
anjungan.
Pada saat diaktifkan, ternyata semua lampu indikator dan sensor bunyi menyala
semua. Mengetahui hal itu, Mualim III segera memberi tahu Mualim I yang masih
berada di dalam duct keel untuk mengecek kembali. Mualim I dan Masinis I
mencari penyebab menyalanya semua sensor dan lampu indikator karena semua
panel sudah di cek dan tidak menemukan masalah lagi .Mualim I mengambil
inisiatif untuk membuka kedua sensor cargo water ingress yang di atas dan
[Link] dibuka, ternyata di dalamnya banyak terdapat air dan pasir-pasir
atau kotoran bekas muatan batubara yang terhisap kedalam sensor. Mualim I segera
31
memerintahkan cadet untuk membersihkan sensor tersebut dan mengeringkan agar
bebas dari kandungan air.
2. Pada tanggal 25 November 2015, kapal di jadwalkan akan tiba di Port of Haldia,
India. Dua hari kemudian, kapal dijadwalkan akan sandar sesuai dengan berthing
schedule. Maka kapal terlebih dahuluakan berlabuh jangkar menyiapakan segala
sesuatu yang akan dipersiapkan pada saat sandar nanti.
Jika saja cargo water ingress sensor mengalami kerusakan, maka proses bongkar
muat dapat tertunda yang menyebabkan kerugian bagi pihak pencharter. Pada saat
Mualim I melakukan pengecekan di temani oleh Masinis I, Mualim I menemukan
beberapa indikator yang berada pada panel box mengalami kerusakan atau tidak
beroperasi. Mualim I menghubungi perwira jaga di anjungan pada saat itu, yaitu
Mualim II.
33
Akhirnya Mualim II meminta bantuan Mualim III yang sedang makan siang untuk
naik ke anjungan dan memberi tahu dimana letak dari sekring [Link] III
pun naik dan segera memberi tahu Mualim I bahwa sekring tidak terpasang dengan
baik, bahkan beberapa tidak berada pada tempatnya. Mualim III pun mengambil
sekring cadangan yang berada di anjungan dan langsung memasangnya. Setelah
terpasang semua dengan baik, Mualim I dan Masinis I pun dapat melanjutkan
pemeriksaan ke palka-palka selanjutnya.
3. Saat kapal dalam perjalanan dari suva anchorage, Fiji menuju Port of Huanghua,
China pada tanggal 05 Januari 2015 di jadwalkan akan ada pergantian Mualim I.
Sesampainya di Huanghua, ternyata kapal tidak dapat langsung masuk kedalam
pelabuhan untuk sandar tetapi kapal berlabuh jangkar terlebih dahulu dikarenakan
masih ada kapal yang akan keluar pelabuhan.
Port of Huanghua merupakan salah satu pelabuhan bongkar muat bijih besi tersibuk
yang berada di China. Pada saat berlabuh jangkar tersebut, terjadilah pergantian
Mualim I lama dengan Mualim I yang baru serta surveyor muatan yang akan naik
ke atas kapal untuk memeriksa keadaan ruang muat. Karena mengetahui hal
tersebut, maka Nahkoda memerintahkan Mualim I yang baru beserta pada deck
crew untuk membuka tutup palka guna memeriksa ruang muat, sebelum diperiksa
oleh surveyor. Deck crew yang ditugaskan Mualim I, bekerja memeriksa bagian atas
ruang muatan beserta dengan tutup palkanya, sedangkan Mualim I beserta deck
cadet mengecek bagian bawah ruang muat melalui duct keel yang berada di kamar
mesin.
Pada saat pengecekan yang dilakukan Mualim I terhadap bagian bawah ruang muat,
ia mendapati panel box cargo water ingress sensor yang tidak menyala atau mati.
Mualim I segera menghubungi perwira jaga yang sedang berada di anjungan untuk
memeriksa kondisi panel box cargo water ingress sensor yang berada di anjungan
34
yang sedang diperiksa oleh Mualim 1, ternyata di dapati bahwa cargo water ingress
sensor tersebut dalam keadaan mati atau tidak menyala.
B. ANALISIS DATA
Setiap kapal untuk memperlancar pengoperasiannya haruslah mempunyai perencanaan
perawatan yang baik, sehingga pelayaran dapat terlaksana sesuai dengan jadwal. Kapal
bulk carrier yang sudah berumur tua memerlukan pemeriksaan dan perawatan khusus
yang tentunya sangat berbeda dengan kapal yang masih baru. Kapal bulk carrier yang
baik adalah suatu kapal yang dirawat dengan tepat dan sempurna serta dapat dipakai
dengan aman dan berhasil dalam proses pemuatan guna untuk modal keuangan
perusahaan. Berdasarkan deskripsi data diatas, maka dapat dianalisis penyebab
masalah-masalah yang timbul dari data diatas sebagai berikut:
1. Kurangnya perawatan yang dilakukan oleh awak kapal atau pihak
perusahaan terhadap komponen-komponen cargo water ingress sensor.
35
adanya pemberitahuan dari pihak perusahaan bahwa komponen-komponen dari
cargo water ingress sensor masih sangatlah mahal sehingga apabila pihak kapal
meminta kepada pihak perusahaan belum tentu komponen-komponen tersebut
akan langsung dikirim. Mualim I sebagai koordinator perawatan cargo water
ingress sensor seharusnya melakukan pengecekan sebelumnya, minimal
seminggu sekali atau sebulan sekali sesuai dengan prosedur terhadap
komponen-komponen cargo water ingress sensor maka akan dengan segera
diketahui apa yang menjadi penyebab dari kerusakan tersebut, sehingga
kemungkinan cargo water ingress sensor berhenti beroperasi dapat dihindari.
b. Masinis I yang bertanggung jawab terhadap komponen-komponen elektrik
cargo water ingress sensor kurang memperhatikan sistem pemeriksaan dan
pemeliharaan terhadap komponen seperti Is Barrier.
c. Tidak adanya jadwal pemeriksaan dan pemeliharaan yang tetap dan teratur
terhadap komponen-komponen cargo water ingress sensor, sehingga
kemungkinan terjadinya kerusakan pada komponen-komponen cargo water
ingress sensor lebih besar.
d. Mualim I tidak melakukan pemeriksaan awal terhadap komponen-komponen
cargo water ingress sensor sebelum dioperasikan sehingga tidak diketahui
adanya komponen cargo water ingress sensorseperti Is Barrier yang tidak
beroperasi.
e. Kurang tanggapnya perwira jaga terhadap kondisi yang terjadi terhadap
komponen-komponen cargo water ingress sensor, sehingga ketika terjadi
kerusakan tidak dapat memperkirakan komponen-komponen cargo water
ingress sensor mana yang mengalami masalah atau kerusakan. Padahal pada
saat pelayaran, alarm dan lampu indikator yang berada di panel box cargo water
ingress sensor yang ada di anjungan telah berbunyi dan menyala dan perwira
jaga pada saat itu hanya mengabaikan dengan menekan tombol acknowledge
lalu mencabut sekring kelistrikan yang ada di dalam panel box tersebut agar
36
alarm dan lampunya tidak menyala dan berbunyi terus dikarenakan berisik dan
mengganggu pada saat berdinas jaga di anjungan, terlebih lagi pada saat
berdinas jaga malam hari. Padahal sesuai prosedurpemberitahuan seperti itu
tidak boleh diabaikan. Tindakan yang harus dilakukan oleh perwira jaga jika
mendapati keadaan seperti adalah memberitahu Mualim I agar segera
mengambil tindakan, karena alat itu adalah tanggung jawab Mualim I diatas
kapal.
f. Kurangnya perawatan terutama terhadap sistem pemeriksaan alat-alat atau
komponen dari cargo water ingress sensor di atas kapal serta kurang cakapnya
perwira dalam mengatasi setiap kerusakan dan masalah yang terjadi pada system
cargo water ingress sensor.
g. Kurangnya tanggung jawab dari para perwira kapal yang bertugas dalam
menangani masalah pemeriksaan alat pendukung bongkar muat termasuk
komponen dari cargo water ingress sensor yang ada diatas kapal MV. PAN
CLOVER yang ditugaskan pada Mualim I dan Masinis I, hal ini dapat
ditunjukkan dengan tidak dibuatnya jadwal pemeriksaan secara teratur terhadap
cargo water ingress sensor di atas kapal.
h. Tidak adanya pengawasan khusus dan dukungan dari pihak perusahaan terhadap
sistem pemeriksaan dan perawatan pada komponen-komponen dari cargo water
ingress sensortersebut.
2. Kurangnya keterampilan dan pemahaman awak kapal akan fungsi dari cargo
water ingress sensor.
37
a. Kurangnya pengetahuan Mualim I dalam mengatasi setiap masalah atau
kerusakan yang terjadi pada komponen-komponen cargo water ingress sensor,
sehingga akhirnya harus memanggil Masinis I.
b. Pihak perusahaan tidak melakukan pelatihan khusus atau traning kepada awak
kapal yang baru saja bergabung dengan kapal bulk carrier.
c. Tidak adanya seleksi yang benar terhadap awak kapal yang akan naik ke atas
kapal.
d. Tidak adanya familiarisasi terhadap awak kapal baru, walaupun awak kapal
tersebut telah memiliki pengalaman.
e. Jadwal pemeriksaan yang tidak teratur terhadap komponen-komponen cargo
water ingress sensor sehingga ketika ada kerusakan atau masalah pada
komponen-komponen cargo water ingress sensor tidak diketahui.
f. Tidak adanya penerapan perawatan terhadap komponen cargo water ingress
sensor sesuai dengan prosedur yang ada.
g. Nahkoda kapal sebagai pimpinan tertinggi di kapal tidak memberikan
pengarahan secara langsung terhadap pelaksanaan perawatan komponen dari
cargo water ingress sensor di atas kapal.
38
Maka dilakukan dengan cara memperbaiki dan meningkatkan sistem pengawasan
komponen-komponen dari cargo water ingress sensoryang sudah ada di atas kapal
serta adanya tindakan dan perhatian khusus dari pihak perusahaan terhadap sistem
pemeriksaan dan perawatan komponen cargo water ingress sensor di atas kapal.
Hal itu dapat diwujudkan dengan cara sebagai berikut:
a. Pembuatan jadwal pemeriksaan dan pemeliharaan terhadap komponen-
komponen dari cargo water ingress sensor dan pembuatan checklist untuk
pemeriksaan komponen cargo water ingress sensor ketika sedang beroperasi
seperti cargo water ingress sensor checklistdan cargo water ingress sensor
record.
b. Pembuatan prosedur tertulis tentang pengoperasian cargo water ingress sensor
yang harus diketahui oleh awak kapal yang ikut terlibat dalam operasi bongkar
muat, sehingga dapat meminimalkan terjadinya kerusakan akibat kesalahan
pengoperasian.
c. Pihak perusahaan menugaskan salah satu orang yang bertanggung jawab untuk
mengawasi atau memeriksa pelaksanaan sistem kontrol dan perawatan cargo
water ingress sensortersebut. Orang yang telah ditunjuk perusahaan tersebut
akanmemberikan penilaian dari pengamatan langsung terhadap pemeriksaan dan
perawatan yang dilakukan oleh pihak kapal kepada komponen cargo water
ingress sensor. Dengan demikian akan diketahui sejauh mana pelaksanaan
sistem pemeriksaan dan perawatan cargo water ingress sensor di atas kapal.
d. Pihak perusahaan memerintahkan Mualim I dan Masinis I sebagai penanggung
jawab kerja di deck dan engine room, untuk melaporkan hasil pemeriksaan dan
perawatan komponen dari cargo water ingress sensor serta melaporkan
pemakaian suku cadang komponen cargo water ingress sensor yang dilaporkan
satu bulan sekali.
e. Nahkoda kapal sebagai pimpinan tertinggi di atas kapal harus ikut turun tangan
mengawasi pelaksanaan sistem pemeriksaan dan perawatan komponen-
39
komponen dari cargo water ingress sensor di atas kapal dan meminta awak
kapal untuk bekerja sama dalam melakukan pemeriksaan dan perawatan
komponen cargo water ingress sensor tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara pembagian tugas antara deck department dan engine department, misalnya
deck department bertanggung jawab atas pemeriksaan dan perawatan komponen
cargo water ingress sensor sepertitest device, electrode, Is Barrier, chamber,
filter, level detector dan yang lainnya. Sedangkan engine deprtment bertanggung
jawab atas pemeriksaan dan perawatan komponen cargo water ingress
sensorbagian kelistrikannya seperti fuse dan yang lainnya
2. Kurangnya keterampilan dan pemahaman awak kapal akan fungsi dari cargo
water ingress sensor.
Oleh karena itu perlu meningkatkan pengetahuan awak kapal tentang sistem
pemeriksaan serta cara mengantisipasi setiap kerusakan dan permasalahan yang
terjadi pada komponen-komponen dari cargo water ingress sensor. Peningkatan
pengetahuan para awak kapal tersebut dapat dilakukan dengan cara seperti :
a. Pelatihan atau training
Sebelum dipekerjakan di atas kapal, semua personil yang akan berdinas di atas
kapal bulk carrier yang dilengkapi dengan cargo water ingress sensor terutama
para perwira dan awak kapal yang terlibat dalam proses bongkar muat harus
menerima pelatihan dan menerima cukup informasi tentang cargo water ingress
sensor agar dapat mengetahui bagaimana cara mengoperasikan, mengontrol,
memelihara, memperbaiki dan cara mengganti komponen-komponen dari cargo
water ingress sensor. Training tersebut dapat dilakukan sendiri oleh pihak
perusahaan atau dengan memberi kepercayaan ke balai pendidikan dan pelatihan
pelaut, untuk diberi pelatihan yang tersebut di atas kepada awak kapal yang
akan naik ke atas kapal.
b. Familiarisasi atau pengenalan awal
40
Setiap perwira dan awak kapal yang baru maupun yang sudah berpengalaman
yang akan naik ke atas kapal dan yang terlibat dalam operasi bongkar muat
harus diberikan familiarisasi atau pengenalan awal mengenai cargo water
ingress sensor. Sehingga mempermudah dalam memahami pemeriksaan,
pemeliharaan, pengoperasian dan perbaikan cargo water ingress sensor di atas
kapal.
c. Safety meeting
Diadakan pertemuan umum atau safety meeting antara deck department
danengine department yang membahas tentang sistem pemeriksaan dan
perawatan komponen dari cargo water ingress sensor di atas kapal, yang
minimal dilakukan dua bulan sekali.
41
dengan awak kapal lain, sehingga pengetahuan umum tentang cargo water
ingress sensor dapat dimengerti secara merata oleh seluruh awak kapal.
42
a. Pelatihan atau training tentang sistem pemeriksaan, pemeliharaan, dan
pengoperasian pada komponen cargo water ingress sensor yang dilakukan
pada awak kapal seperti para perwira, bosun, mandor, oiler, kelasi, dan juru
mudi sebelum naik ke kapal oleh perusahaan.
b. Familiarisasi atau pengenalan awak bagi awak kapal (yang disebut di atas)
yang baru naik kapal maupun yang sudah berpengalaman tentang cargo
water ingress sensor, yang dilakukan oleh Mualim I dan Masinis I.
c. Diadakannya pertemuan umum atau safety meeting antara deck department
dan engine departmet yang membahas tentang sistem pemeriksaan
komponen dari cargo water ingress sensor tersebut.
43
4. Pelaksanaan pemeriksaan dan perawatan pada komponen cargo water
ingress sensor sesuai prosedur yang telah ditetapkan yang didapat selama
pelatihan.
44
b. Pembuatan checklist untuk mengontrol kerja komponen-komponencargo
water ingress sensor ketika sedang beroperasi.
c. Menugaskan salah seorang dari perusahaan yang bertanggung jawab untuk
mengawasi dan memeriksa pelaksanaan sistem kontrol dan pemeliharaan
komponen cargo water ingress sensor di atas kapal pada waktu kapal
berlabuh jangkar atau di pelabuhan.
d. Memerintahkan Mualim I dan Masinis I untuk melaporkan hasil
pemeriksaan dan perawatannya terhadap komponen-komponen cargo water
ingress sensor di atas kapal ke pihak perusahaan.
e. Nahkoda kapal harus ikut langsung dalam mengawasi pelaksanaan sistem
pemeriksaan dan perawatan komponen cargo water ingress sensor di atas
kapal. Bila perlu memberikan teguran atau peringatan kepada perwira yang
bertanggung jawab jika sistem pemeriksaan terhadap komponen cargo water
ingress sensor tidak berjalan sesuai dengan prosedur, serta Nahkoda ikut
membagi tugas secara langsung antara deck crew dan engine crew dalam hal
melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan komponen cargo water ingress
sensor di atas kapal.
45
4. Pihak perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya yang lebih besar
dibandingkan harus mengadakan pelatihan bagi awak kapal yang akan naik
ke atas kapal.
5. Dengan ditugaskannya pengawas ke kapal, pihak perusahaan akan lebih
mengetahui kekurangan dan keluhan-keluhan pihak kapal mengenai
pemeriksaan dan perawatan komponen-komponen cargo water ingress
sensor.
6. Dari laporan Mualim I dan Masinis I mengenai hasil pemeriksaan dan
pemeliharaan komponen-komponen cargo water ingress sensor di atas
kapal akan diketahui sejauh mana perkembangan pelaksanaan pemeriksaan
dan perawatan komponen cargo water ingress sensor di atas kapal. Melalui
laporan tersebut pihak perusahaan juga dapat memberikan penilaian secara
langsung terhadap pelaksanaan pemeriksaan dan perawatan tersebut.
7. Dengan pengawasan langsung yang diberikan Nahkoda mungkin akan
membuat sistem pemeriksaan berjalan sesuai prosedur.
46
bertambah lagi jika kapal-kapal yang dilengkapi dengan cargo water ingress
sensor dimiliki oleh perusahaan yang berada pada jarak atau berada di
pelabuhan yang berbeda-beda bahkan jika salah satunya sedang memuat
yang jaraknya sangat jauh dari daratan.
3. Para awak kapal terutama para perwira akan lebih tertekan dengan adanya
pengawas khusus dari perusahaan yang melakukan pengecekan terhadap
sistem pemeriksaaan dan perawatan komponen-komponen cargo water
ingress sesnsor. Hal ini bahkan dapat menyebabkan kesalahan dalam sistem
pemeriksaan komponen cargo water ingress sensor.
4. Nahkoda akan dianggap terlalu ikut mencampuri urusan kerja Mualim I,
Kepala Kamar Mesin dan Masinis I yang seharusnya merupakan tugasnya
sehingga membuat suasana kerja di atas kapal menjadi tidak nyaman lagi
bagi awak kapal yang lain.
5. Pengawasan yang terlalu berlebihan dari Nahkoda akan membuat awak
kapal yang melaksanakan pemeriksaan dan perawatan pada komponen cargo
water ingress sesnor merasa tertekan, akibatnya hasil yang diperoleh tidak
maksimal.
E. PEMECAHAN MASALAH
Setelah memperhatikan dan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang telah
dipaparkan pada evaluasi pemecahan masalah di atas, maka kedua alternatif pemecahan
masalah tersebut adalah yang paling tepat untuk memecahkan masalah seputar masalah
pelaksanaan pemeriksaan dan perawatan komponen dari cargo water ingress sensor di
atas kapal yaitu :
1. Meningkatkan pengetahuan awak kapal tentang sistem pemeriksaan dan perawatan
serta cara mengantisipasi setiap kerusakan dan permasalahan yang mungkin terjadi
pada komponen-komponen cargo water ingress sensor
47
2. Memperbaiki dan meningkatkan sistem pemeliharaan dan perawatan cargo water
ingress sensor yang ada diatas kapal serta serta adanya tindakan dan perhatian
khusus dari pihak perusahaan terhadap sistem pemeriksaan dan perawatan
komponen cargo water ingress sensor di atas kapal
48
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang telah penulis dapatkan dari masalah tersebut adalah sebagai
berikut :
B. SARAN
Adapun saran yang akan disampaikan oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman awak kapal tentang system
pemeriksaan serta cara mengantisipasi setiap kerusakan dan permasalahan yang
terjadi pada komponen-komponen dari cargo water ingress sensor perlu
diadakannya :
a. Pelatihan atau training
b. Familiarisasi atau pengenalan awal
c. Safety meeting
49
c. Pengiriman superintendent keatas kapal untuk pemeriksaan yang dilakukan oleh
awak kapal secara langsung.
Solusi yang akan dijabarkan oleh penulis dimaksudkan dapat menjadi masukan yang
membangun demi tercapainya tujuan perawatan cargo water ingress sensor diatas kapal
MV. PEONY LAUT dengan mempertimbangkan masalah yang dihadapi, saran yang
disampaikan oleh penulis adalah sebagai berikut :
50
51
52