PENGGUNAAN DIKSI ATAU PILIHAN KATA
MAKALAH
Dengan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yang dibina oleh
Ibu Welli Merlisa [Link]
Oleh
1. Dhea Siti Nurfaliza (12110221999)
2. Wahdini Syafitri (12110224601)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH & KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
T.A 2021/2022
KATA PENGANTAR
Bissmillahirrahmanirrahim. Puji dan syukur atas kehadirat Allah Subhanahu
Wata’ala yang telah memberikan limpahan rahmat, kasih sayang serta rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isi yang sangat sederhana. Semoga dengan adanya makalah ini dapat di
pergunakan dengan baik dan bias menjadi salah satu acuan.
Dalam penyusunan makalah ini kami sangat sadar mungkin masih banyak
kekurangan, baik secara kepenulisan maupun materi yang ingin kami sampaikan
didalam makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami
harapkan demi menyempurnakan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami ingin menyampaikan banyak terimakasih yang
tak terhingga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Akhirnya sebagai penyusun makalah ini kami berharap kepada Allah semoga
dilimpahkannya kasih sayang dan rahmat nya kepada para pihak yang telah
membantu kami. Aamiin ya rabbal alamin.
September 25, 2022
PENYUSUN
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................... ……………………..ii
DAFTAR ISI ........................................................................ ……………………..iii
BAB I. PENDAHULUAN ................................................... ……………………..1
1. LATAR BELAKANG .............................................. ……………………..1
2. RUMUSAN MASALAH .......................................... ……………………..1
3. TUJUAN MAKALAH .............................................. ……………………..1
BAB II. PEMBAHASAN .................................................... ……………………..3
A. PENGERTIAN DIKSI MENURUT PARA AHLI .. ……………………..3
B. SYARAT DIKSI ...................................................... ……………………..3
C. KATA DENOTATIF DAN KONOTATIF.............. ……………………..5
D. KATA UMUM DAN KATA KHUSUS .................. ……………………..5
E. KATA ABSTRAK DAN KATA KONKRET ......... ……………………..5
F. PEMBENTUKAN KATA ....................................... ……………………..6
G. KESALAHAN PEMBENTUKAN KATA DAN PEMILIHAN KATA…8
H. UNGKAPAN/ IDIOMATIK.................................... …………………….10
BAB III. PENUTUP ............................................................ …………………….11
KESIMPULAN .................................................................... …………………….11
SARAN ................................................................................ …………………….11
DAFTAR PUSTAKA .......................................................... …………………….12
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Diksi adalah pilihan kata dalam tulisan yang biasa digunakan untuk
menggambarkan suatu cerita atau memberi makna sesuai dengan keinginan
penulis.
Menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat serta selaras dan bertujuan
agar pembaca dapat memahami teks dalam tulisan.
Dalam setiap penulisan kalimat, selalu membutuhkan diksi. Pemilihan kata atau
diksi ini penting untuk merangkai kata, kesesuaian dalam kalimat serta
memberikan ekspresi pada kalimat penulis. Diksi dapat menentukan gaya bahasa
pada suatu tulisan. Setiap kalimat, paragraf bahkan wacana membutuhkan gaya
bahasa. Gaya bahasa yang dibentuk oleh diksi dapat membentuk kejujuran,
kesopanan, tingkat keresmian dari suatu tulisan dan bahkan suasana.
2. RUMUSAN MASALAH
- pengertian diksi
- syarat diksi
- kata konotatif dan kata denotatif
- kata umum dan khusus
- kata Abstrak dan kata konkret
- pembentukan kata
- kesalahan pembentukan kata dan pemilihan kata
- ungkapan/ idiomatik
3. TUJUAN MAKALAH
- Menjelaskan pengertian diksi
- Menjelaskan syarat diksi
- Menjelaskan kata konotatif dan kata denotatif
- Menjelaskan kata umum dan khusus
- Menjelaskan kata konkret dan kata abstrak
- Menjelaskan pembentukan kata
- Menjelaskan kesalahan pembentukan kata dan pemilihan kata
- Menjelaskan ungkapan/ idiomatik
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN DIKSI MENURUT PARA AHLI
1. Gorys Keraf
Keraf berpendapat bahwa diksi terbagi menjadi dua yaitu pilihan kata atau tentang
pengertian kata yang digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan,
pengungkapan yang tepat serta gaya penyampaian yang lebih baik dan sesuai
dengan situasi.
2. Susilo Mansurudin
Menurut Susilo Mansurudin pemakaian atau pemilihan diksi yang benar, tepat
serta cermat dapat membantu penulis dalam memberi nilai pada suatu kata.
Pilihan diksi yang seusia dengan kata lain, akan mencegah terjadinya kesalahan
penafsiran atau penafsiran yang berbeda dari penulis ke pembaca.
3. Widyamartaya
Widyamartaya mendefinisikan diksi sebagai kemampuan seseorang untuk
membedakan suatu nuansa makna dengan tepat sesuai dengan gagasan yang
disampaikan.
B. SYARAT DIKSI1
1. Membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim misalnya:
ialah, adalah, dalam pemakaian berbeda beda. Kata ialah harus diikuti sinonim,
bukan definisi formal. Jika menggunakan kata ialah maka harus disertai sinonim.
Manusia ialah orang. ( benar dan cermat)
Manusia ialah makhluk yang berakal budi ( salah, tidak cermaat)
Manusia adalah makhluk yang berakal budi. ( benar dan cermat)
2. Membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat. Denotasi yaitu kata
yang bermakna lugas dan tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi dapat
1
Gorys keraf . diksi dan gaya bahasa komposisi lanjutan 1 hal. 88-89
2
menimbulkan makna yang bermacam macam , lazim digunakan dalam pergaulan,
untuk tujuan estetika dan kesopanan
3. Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya,
misalnya : interferensi (saling mempengaruhi) dan inferensi ( kesimpulan),
sarat (penuh, bunting) dan syarat (ketentuan).
4. Menggunakan kata abstrak dan konkret secara cermat, kata abstrak
(konseptual, misalnya: pendidikan, wirausaha, dan pengobatan modern) dan
kata konkret atau kata khusus (misalnya: mangga, sarapan, berenang)
5. Menggunakan dengan cermat kata bersinonim (misalnya pria dan laki laki,
saya dan aku, serta buku dan kitab) berhomofon ( misalnya: bang dan bank)
berhomograf (misalnya: apel( buah) dan apel (upacara) teras ( serambi) dan
teras (pejabat) berhomonim ( misalnya buku (tulang) dan buku (kitab).
6. Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya:isu
(dalam bahasa Indonesia berarti kabar yang tidak jelas asal usulnya,kabar
angin, desas desus).
7. Menggunakan kata umum dan kata khusus secara cermat. Untuk
mendapatkan pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya
menggunakan kata khusus, misalnya: mobil (kata umum) fortuner (kata
khusus).
8. Menggunakan kata –kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang
benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.
9. Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya
secara tepat, misalnya dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir
seharusnya koordinasi.
10. Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat
sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan, pemakai kata harus
menemukan
3
makna yang tepat dalam kamus, misalnya modern sering diartikan secara
subjektif canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau mutakhir;
canggih berarti banyak cakap, suka mengganggu, rewel,bergaya intelektual
C. KATA DENOTATIF DAN KONOTATIF
Djajasudarma mengungkapkan makna denotatif adalah makna yang menunjukkan
adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna denotatif ini
memiliki arti yang sebenarnya atau sesuai dengan yang dilihat, tidak mengandung
makna yang tersembunyi.
Sedangkan Kridalaksana dalam Suwandi menyatakan bahwa makna konotatif
(connotative meaning) adalah aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang
didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan oleh
pembicaraan (penulis) dan pendengar (pembaca).
D. KATA UMUM DAN KATA KHUSUS
Kata umum adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas,
kata-kata umum menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan
kepada keseluruhan. Contoh kata umum: binatang, tumbuh-tumbuhan,
penjahat, kendaraan.
Kata khusus adalah kata-kata yang mengacu kepada pengarahanpengarahan
yang khusus dan konkrit. Kata khusus memperlihatkan kepada
objek yang khusus. Contoh kata khusus: Yamaha, nokia, kerapu, kakak tua,
sedan.
E. KATA ABSTRAK DAN KATA KONKRET
Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen berupa konsep, kata
abstrak sukar digambarkan karena referensinya tidak dapat diserap dengan
pancaindera manusia. Kata-kata abstrak merujuk kepada kualitas (panas,
dingin, baik, buruk), pertalian (kuantitas, jumlah, tingkatan), dan pemikiran
(kecurigaan, penetapan, kepercayaan). Kata-kata abstrak sering dipakai
untuk menjelaskan pikiran yang bersifat teknis dan khusus.
Kata konkrit adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat
atau diindera secara langsung oleh satu atau lebih dari pancaindera. Katakata
4
konkrit menunjuk kepada barang yang actual dan spesifik dalam
pengalaman. Kata konkrit digunakan untuk menyajikan gambaran yang hidup
dalam pikiran pembaca melebihi kata-kata yang lain. Contoh kata konkrit: meja,
kursi, rumah, mobil dsb.
F. PEMBENTUKAN KATA
Ada banyak ragam pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Sebagian b
esar kata dibentuk dengan cara menggabungkan beberapa komponen yang berbed
a. Untuk memahami cara pembentukan kata-kata tersebut kita sebaiknya mengeta
hui lebih dahulu beberapa konsep dasar dan istilah seperti yang dijelaskan di bawa
h ini. Untuk mempersingkat dan memperjelas pembahasannya, kami menggunaka
n kata-kata yang tidak bersifat gramatikal atau teknis untuk menjelaskan kata-kata
tersebut sebanyak mungkin.
Definisi Istilah kata dasar (akar kata) = kata yang paling sederhana yang b
elum memiliki imbuhan, juga dapat dikelompokkan sebagai bentuk asal (tunggal)
dan bentuk dasar (kompleks), tetapi perbedaan kedua bentuk ini tidak dibahas di s
ini.
Afiks (imbuhan) = satuan terikat (seperangkat huruf tertentu) yang apabila
ditambahkan pada kata dasar akan mengubah makna dan membentuk kata baru. A
fiks tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada satuan lain seperti kata das
ar. Istilah afiks termasuk prefiks, sufiks dan konfiks.
Contoh : membacakan
Bertemu
Prefiks (awalan) = afiks (imbuhan) yang melekat di depan kata dasar untu
k membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
Contoh : Men + Makan = Memakan
Men + Maki = Memaki
Sufiks (akhiran) = afiks (imbuhan) yang melekat di belakang kata dasar
untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
Contoh : i + perang = perangi
i + jalan= jalani
Konfiks (sirkumfiks / simulfiks) = secara simultan (bersamaan), satu afiks melek
at di depan kata dasar dan satu afiks melekat di belakang kata dasar yang bersama
-sama mendukung satu fungsi.
5
Kata turunan (kata jadian) = kata baru yang diturunkan dari kata dasar
Yang mendapat imbuhan.
Keluarga kata dasar = kelompok kata turunan yang semuanya berasal dari s
atu kata dasar dan memiliki afiks yang berbeda.
Afiks Bahasa Indonesia yang Umum:
prefiks: ber-, di-, ke-, me-, meng-, mem-, meny-, pe-, pem-, peng-, peny-, per-, se
-, ter-
sufiks: -an, -kan, -i, -pun, -lah, -kah, -nya
konfiks: ke - an, ber - an, pe - an, peng - an, peny - an, pem - an, per - an, se – nya
6
G. KESALAHAN PEMBENTUKAN KATA DAN PEMILIHAN
KALIMAT
1. Penanggalan Awalan me-
Penanggalan awalan me- pada judul berita dalam
surat kabar diperbolehkan, tetapi dalam teks berita
harus dieksplisitkan.
Contoh: luncurkan – meluncurkan, nulis – menulis.
2. Penanggalan Awalan berbeda
– berbeda
jumpa – berjumpa
keberatan – berkeberatan
3. Peluluhan Bunyi /c/
Kata dasar yang diawali bunyi c sering menjadi luluh
apabila merndapat awalan me- dan ini adalah bentuk
bahasa yang salah, seharusnya bunyi c tidak luluh jika
mendapat awalan me-
Contoh: menyintai – mencintai menyuci -
mencuci
4. Penyengauan Kata Dasar
Penyengauan kata dasar sebenarnya adalah ragam
bahasa lisan yang dipakai dalam ragam bahasa tulis.
Akibatnya, terjadi pencampuadukan antara ragam
bahasa lisan tulis yang menimbulkan kesalahan.
7
Contoh: nulis, nabrak, nanam, nolak. Seharusnya
menulis, menabrak, menanam, dan menolak.
5. Bunyi /s/, /k/, /p/, /t/ yang Tidak Luluh
Kata dasar yang berhuruf awal s, k, p, dan t sering
tidak luluh jika mendapatkan awalan me-. Padahal,
menurut kaidah baku bunyi tersebut harus luluh
menjadi bunyi sengau.
Contoh: mensuplai, mengkalkulasi, mentaati, mempidanakan,
dan menyeponsori seharusnya menyuplai,
mengalkulasi, menaati, dan memidanakan.
6. Kesalahan Awalan ke- dan Akhiran –ir
Kesalahan sering terjadi pada kata-kata yang
seharusnya berawalan ter- menjadi ke. Dalam bahasa
Indonesia, padanan –ir adalah -asi atau -isasi. Contoh
kebawa, ketawa, koordinir seharusnya terbawa,
tertawa, dan koordinasi.
8
H. UNGKAPAN/ IDIOMATIK
Idiom adalah gabungan kata yang berupa frase maupun kalimat yang maknanya
tidak dapat diramalkan atau ditebak dari unsur yang membentuk gabungan
tersebut.
Bentuk-Bentuk Idiom
Menurut Chaer (2007:296) idiom terbagi atas dua jenis yaitu idiom penuh dan
idiom sebagian. Di bawah ini peneliti akan menjelaskan yang dimaksud dengan
kedua jenis idiom tersebut.
a. Idiom Penuh
Idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi
satu kesatuan sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu.
Misalnya, ringan tangan berarti suka membantu.
b. Idiom Sebagian
Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna
leksikalnya sendiri. Misalnya, gelap gulita berarti situasi yang sunyi. Tangan besi
berarti kuasa karena kekerasan.
Dengan kata lain idiom ialah sekelompok kata hasil penelitian berita, dua buah
kata atau lebih untuk menyatakan suatu maksud yang mempunyai asumsi, berkias
atau berkonotasi. Memiliki dari frekuensi pemakaiannya ungkapan lebih banyak
digunakan dalam bahasa sehari-hari, maupun karangan jika dibandingkan dengan
peribahasa. Bagian dari unsur inti dan unsur penjelas yang dibangun oleh dua
unsur tetap ada.
9
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Diksi dapat menentukan gaya bahasa pada suatu tulisan. Setiap kalimat, paragraf
bahkan wacana membutuhkan gaya bahasa. Gaya bahasa yang dibentuk oleh diksi
dapat membentuk kejujuran, kesopanan, tingkat keresmian dari suatu tulisan dan
bahkan suasana.
Diksi sangat diperlukan dalam berbahasaIndonesia yang baik dan benar karena tak
jarang kita sebagai masyarakat Indonesia kurang bisa berbahasa Indonesia yang
baik.
Dengan mempelajari gaya bahasa kita dapat mengetahui kesalahan-kesalahan
yang kita tidak sadari itu.
PESAN
Semoga dengan ada nya makalah ini dapat membantu pembaca lebih memahami
apa itu pilihan kata atau diksi.
Sebagai pemakalah, kami tentu menyadari jika makalah ini memiliki beberapa
Kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan
adanya kritik serta saran mengenai pembahasan di atas.
Kami berharap penyusunan makalah ini dapat membantu pembelajaran kita. Lebih
dan kurangnya kami mohon maaf.
10
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2007. Kamus Idiom Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah
[Link]
Keraf, Gorys. 2001. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende Flores: Nusa Indah
Priambodo, Yudho. 2015. Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fotojurnalistik
Bencana Alam Tanah Longsor di Banjarnegara pada Harian Kompas Edisi 13-18
Desember [Link]: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
11