NAMA : Desy Rinawaty
Kasus 1 : nyeri abdomen
Definsi : nyeri merupakan suatu perasaan atau pengalaman yang tidak nyaman
baik sensori maupun emosional yang ditandai dengan kerusakaan
jaringan maupun tidak ( Association for the study of pain )
Nyeri abdomen merupakan gejala utama dari acute abdoment yang
terjadi secara tiba-tiba dan tidak spesifik.
Penatalaksanaan : Tekhnik relkasasi merupakan intervensi keperawatan secara mandiri
untuk menurunkan intensitas nyeri.
Tekhnik relaksasi autogenik adalah tekhnik relaksasi yang berdasarkan
konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh yang difasiliasi
oleh sugesti diri sendiri (Kanji, et al 2006 : Saunders.2007) .
Tujuan : untuk memberikan perasan nyaman, mengurangi stres, memberikan
ketenangan dan ketegangan
Langkah-langkah :
1. Persiapan sebelum mulai latihan
- Tubuh berbaring , kepala disanggah bantal , dan mata terpejam
- Atur nafas hingga nafas menjadi lebih lentur
- Tarik nafas sekuat-kuatnya lalu buang secara perlahan lahan sambil katakan
dalam hati “aku merasa tenang dan damai”
2. Merasakan berat
- Fokuskan pada lengan dan bayangkan kedua lengan terasa berat. Selanjutnya
secara perlahan lahan bayangkan kedua lengan terasakendur, ringan hingga
terasa sangat ringan sekali sambil katakan “aku merasa damai dan tenang
spenuhnya”
Lakukan hal yang sama pada bahu, punggung, leher dan kaki
3. Merasakan kehangatan
Bayangkan darah mengalir ke seluruh tubuh dan rasakan hangatnya aliran darah,
seperti merasakan minuman yang hangat , sambil mengatakan dalam diri anda “ aku
merasa tenang dan damai”
4. Merasakan denyut jantung
- Tempelkan tangan kanan pada dada kiri dan tangan kiri pada perut
- Bayangkan dan rasakan jantung berdenyut dengan teratur dan tenang sambil
katkan “jantungku berdenyut dengan teratur dan tenang”
- Ulangi 6 kali
- Katakan dalam hati “aku merasa damai dan tenang”
5. Latihan pernafasan
- Posisi kedua tangan tidak berubah
- Katakan dalam diri “nafasku longgar dan tenang”
- Ulangi 6 kali
Legal etik keperawatan :
Aspek beneficience : kewjiban untuk melakuka hal yang tidak membahayakan klien
dan orang lain, dalam terapi ini tidak ada hal yang membahayakan klien maupun
orang lain karena terapi ini bersumber dengan sugesti.
Aspek nonmaleficience: kewajiban perawat tidak menimbulkan cedera bagi klien dan
orang lain dalam aspek ini tidak bertentangan dengan pemberian terapi relaksasi
autogenik ini, karena tidak menimbulkna cedera dan tidak melakukan gerakan yang
berat.
Aspek justice : kewajiban untuk adil terhadap klien tanpa membedakan suku bangsa
dan agama , tidak ada gerakan yang membedakan gerakan satu dengan yang
lainnya. ‘
Aspek autonomy : dlam aspek ini klien berhak memilih treatment yang terbaik untuk
dirinya tanpa paksaan dan perawat, perawat hanya menjelaskan terapi yang
dilakukan.
Kesimpulan : terapi relaksasi autogenik ini mempunyai pengaruh terhadap kualitas
nyeri abdomen, tekhnik relaksasi ini dapat dilakukan secara sederhana ,
bisa dilakukan mandiri oleh klien dengan diajarkan oleh perawat
sebelumnya, sehingga terapi ini dapat dilakukan kapan saja. Untuk
keadaan darurat mungkin terapi ini bisa digunakan alternatif sebelum
dilakukan penanganan yang lebih lanjut.
Sumber : Jurnal Ilmu keperawatan vol III No. I 1 April 2005
Kasus 2 : Stroke
Definisi : Stroke adalah kerusakan fungsi sarafakibat kelainan vascular yang
berlangsunglebih dari 24 jam atau kehilangan fungsiotak yang
diakibatkan oleh berhentinyasuplai darah kebagian
otaksehinggamengakibatkan penghentian suplai darah keotak,
kehilangan sementara atau permanengerakan, berfikir, memori, bicara
atausensasi dan mobilisasi (Black, 2005).
Penatalaksanaan : Pelatihan ROM (Range of Motion) adalah latihan gerak sendi yang
memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien
menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik
secara aktif ataupun pasif. (Potter and Perry, 2005).
Manfaat :
1. Meningkatkan atau mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan otot.
2. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan
3. Mencegah kontraktur, kelainan bentuk dan kekakuan pada sendi
Kontraindikasi :
1. Klien dengan gangguan pada sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan
2. Pembengkakan dan peradangan pada sendi
3. Cedera di sekitar sendi.
Prosedur :
1. Kepala : Tundukkan kepala ke bawah menuju dada lalu kembalikkan ke posisi
semula , naikkan kepala ke atas dan kembali ke bawah
2. Tangan
Bahu: Naikkan lengan ke atas dan kembalikan ke bawah
Abduksi adduksi : Gerakan lengan menjauhi dan mendekati tubuh
3. Siku: bengkokkan siku hingga jari-jari tangan menyentuh dagu kemudian kembalikan
posisi semula.
4. Pergelangan tangan: dibengkokkan ke bawah dan keatas
5. Memutar pergelangan tangan.
6. Gerakan jari jari tangan : Tangan mengenggam mengepal dan kembalikan ke posisi
semula.
Gerakan jari jari tangan : Memutar jari jari tangan
posisi : Sentuhkan masing– masing jari tangan dengan ibu jari tangan
7. Kaki
Gerakkan atau tekuk lutut kearah paha Kembalikan lutut atau kaki ke posisi semula.
Memutar telapak kaki ke samping dalam dan luar. Menekuk jari jari kaki ke bawah
dan kembalikan ke posisi semula. Regangkan jari-jari kaki yang satu dengan yang
lainnya, rapatkan kembali bersama-sama
Legal etik keperawatan :
1. Autonomi
Dalam hal ini klien berhak memutuskan di lakukannya terapi ROM ini atau tidak
pasien berhak memilih berbagai pengobatan atau terapi untuk dirinya
2. Benefience
Dalam hal inn terapis wajib menyampaikan manfaat yang di dapatkan klien dalam
terapi room ini manfaat yang akan di dapatkan terapis adalah meningkatnya
kekuatan otot penderita tapi jika di lakukan dengan rutin dan benar
3. Non malfience
Latihan rom ini jika di lakukan dengan benar dan sesuai arahan dari terapis kecil
kemungkinan akan menimbulakan cidera pada klien
4. Confidientality
Dalam hal ini klien berhak menentukan kerahasiyaan dari penyakitnya maupun
terapi yang akan di lakukan
5. Justice
Klien berhak mendapatkan pelayanan yang sama dari segi apapun
Kesimpulan : terapi ini pada dasarnya bisa dilakukan pada pasien stroke akan tetapi untuk
pasien stroke yang setelah serangan atau sewaktu serangan terapi ini tidak
pas untuk dilakukan, latihan rom ini lebih cocok dilakukan untuk pasien pasca
pemulihan stroke