i
KOMUNIKASI DALAM MENJAGA KERUKUNAN ANTAR
UMAT BERAGAMA DI DESA PERLUASAN SUKARAJA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana Sosial ([Link])
dalam Bidang Komunikasi Penyiaran Islam
OLEH :
M. WAHYU SAPUTRA
NIM : 1316311119
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
JURUSAN DAKWAH
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU
TAHUN 2018/1439H
ii
iii
iv
MOTTO
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan
apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-
orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al – Mujaddilah : 11)
Hidup bagaikan balapan, jika kamu inginkan kemenangan, maka kejarlah terus
sampai kamu dapat, walaupun lawan mu begitu tangguh. Hingga kamu
merasakan kemenagan apa yang kamu inginkan.
(M. WAHYU SAPUTRA)
v
PERSEMBAHAN
Puji syukur kepada Allah SWT yang tak pernah berhenti memberikan
kenikmatan, kemudahan sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini dan dengan
segala kerendahan hati kupersembahkan skripsi ini kepada:
1. Kedua orang tuaku (H. Suyatno & Hj. Sri Wahyuni) yang tiada hentinya
memberiku doa, semangat, mengarahkan, mendidik. Serta selalu sabar dalam
setiap tingkah lakuku yang sering tidak aku sadari, sentuhan cintanya padaku.
2. Kepada adikku tercinta (Yuni Hidayah) yang selalu memberiku semangat
dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Kepada keluarga besar pasukan Mbah Soekarno yang selalu memberi
semangat dan dorongan.
4. Kepada Bripka Taufik Azzam Wiguna (Bid Propam Polda Bengkulu) selaku
kakak angkat yang selalu memberi motivasi
5. Kepada Aprilia Ningsih S.P yang selalu memberi semangat dan juga perhatian
dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Kepada sahabat-sahabatku Crew BM Production (Gugun, Ali Ridho, Iqbal,
Fernando) yang selalu menghibur baik suka maupun duka.
7. Keluarga besar SeMAR BENGKULU (Seluma Motor Antik Rafflesia) yang
selalu memberi motivasi agar dapat kembali touring.
8. Rekan-rekan KKN 29 Desa Talang Rasau Angkatan 2017 memberi
dukungan.
vi
vii
ABSTRAK
Nama: M. WAHYU SAPUTRA, NIM 1316311119, 2018. Komunikasi
Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Perluasan Sukaraja.
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah “Komunikasi dalam
menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Perluasan Sukaraja”.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pola komunikasi masyarakat Desa Perluasaan
Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma dalam menjaga kerukunan
antar umat beragama dan mengetahui hambatan dalam menjaga komunikasi antar
umat beragama.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan
menggunakan motode purposive sampling dan snowball sampling, dengan kriteria
yang sudah ditetapkan, informan penelitian berjumlah 10 orang. Pengumpulan
data penelitian diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang digunakan antar
umat Islam Dan Kristen di Desa Perluasan Sukaraja menggunakan teori
komunikasi penetrasi sosisal, yang mana berupaa mengidentifikasi proses
penigkatan, keterbukaam, dan keintiman seseorang dalam menjalin suatu
hubungan. Sebagai makhluk sosial, kebutuhan sosial menjadi hal paling utama
dalam kehidupan manusia. Kebutuhan sosial juga menumbuhkan dan
mempertahankan hubungan dengan orang lain, termasuk dalam antar umat
beragama, toleransi, rasa peduli dan saling menghormati. Masyarakat Desa
Perluasan Sukaraja yang menganut agama Islam dan Kristen memiliki fungsi
saling bekerja sama dalam bidang hubungan sosial kemasyarakatan, hubungan
sosial keagamaan, hubungan budaya, dan juga hubungan politik. Hambatan yang
terjadi dalam menjaga komunikasi antar umat beragama di Desa Perluasan
Sukaraja adalah prasangka sosial yang buruk, yang dapat memicu terjadinya
konflik antar umat beragama.
Kata kunci: Komunikasi dan Kerukunan.
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
Rahmat dan Hidayah-Nya penulis diberi kesempatan untuk menyelesaikan
Proposal penelitian tentang “Komunikasi dalam menjaga Kerukunan Umat
Beragama” dengan sebaik-baiknya meskipun ada banyak kendala dan juga
rintangan.
Skripsi ini tentunya tidak dapat selesai dengan baik tanpa bantuan dari
berbagai pihak. Dengan demikian penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih
kepada:
1. Prof. Dr. H. Sirajuddin M, [Link]., M.H., selaku Rektor IAIN Bengkulu
yang telah membantu menyediakan berbagai fasilitas untuk penulis
menuntut ilmu.
2. Dr. Suhirman, [Link] Selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan
Dakwah IAIN Bengkulu.
3. Rahmat Ramdhani, M. Sos.I selaku Ketua Jurusan Dakwah IAIN
Bengkulu.
4. Dr. Ujang Mahadi, [Link] selaku pembimbing 1 dan Moch. Iqbal, [Link]
selaku pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, saran, ilmu
pengetahuan, dan arahan dengan penuh kesabaran kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan dengan baik.
5. Poppi Damayanti. M. Si Sebagai pembimbing akademik.
ix
6. Kedua orang tua ku yang selalu memberikan dukungan dan doa.
7. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN
Bengkulu yang telah memberikan ilmu.
8. Staf dan Karyawan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN
Bengkulu yang telah memberikan pelayanan dan bantuan dengan baik
dalam hal administrasi dan lain-lain
9. Agama dan Almamaterku.
Dalam penulisan skripsi penulis menyadari masih banyak kekurangan,
dengan ini penulis membutuhkan masukan, kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya kepada Allah SWT jualah kita serahkan karya dan jerih payah
kita semua, karena dari Allah-lah datangnya semua kebenaran dan kepada-Nya
pulalah kita memohon kebenaran. Semoga apa yang penulis sajikan dapat
bermakna bagi penulis dan bagi pembaca semua pada umumnya.
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................................... ii
MOTTO ............................................................................................................... iii
PERSEMBAHAN ................................................................................................ iv
PERNYATAAN ................................................................................................... v
ABSTRAK ........................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR........................................................................................ vii
DAFTAR ISI.......................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 4
C. Batasan Masalah........................................................................................ 5
D. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 5
E. Kegunaan Penelitian.................................................................................. 5
F. Kajian Peneletian Terdahulu ..................................................................... 6
G. Sistematika Penulisan Skripsi. .................................................................. 8
BAB II KERANGKA TEORI ............................................................................ 10
A. Pengertian Komunikasi .............................................................................. 10
B. Unsur – unsur Komunikasi ......................................................................... 12
C. Konteks Komunikasi .................................................................................. 13
D. Proses Komunikasi. .................................................................................... 16
xi
E. Jenis Komunikasi. ...................................................................................... 18
F. Kerukunan Umat Beragama dan Toleransi Hidup Beragama .................... 18
G. Agama Dalam Perubahan Sosial. ............................................................... 27
H. Etika Komunikasi dan Multikulturalisme, ................................................. 29
I. Teori Komunikasi. ...................................................................................... 31
k.1.1. Pola Interaksi Hubungan. ................................................................. 32
k.1.2. Skema Hubungan Keluarga. ............................................................. 33
k.1.3. Teori Penetrasi Sosial. ...................................................................... 37
k.1.4. Mengelola Perbedaan. ...................................................................... 39
k.1.5. Teori Dialogis. .................................................................................. 40
k.1.6. Teori Hubungan Dialektif. ............................................................... 41
k.1.7. Teori Privasi Komunikasi. ................................................................ 46
k.1.8. Dialog. .............................................................................................. 48
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 52
A. Jenis Penelitian .......................................................................................... 52
B. Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................................... 53
C. Informan Penelitian ................................................................................... 53
D. Sumber Data .............................................................................................. 55
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 56
F. Teknik Analisis Data ................................................................................. 58
G. Kerangka Pemikiran Penelitian. ................................................................ 61
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 62
A. Deskripsi Wilayah Penelitian .................................................................... 62
xii
B. Profil Informan .......................................................................................... 67
C. Hasil Penelitan .......................................................................................... 68
D. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................................... 78
BAB V PENUTUP ............................................................................................... 96
A. KESIMPULAN ......................................................................................... 96
B. SARAN ..................................................................................................... 97
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 98
DAFTAR TABEL. .............................................................................................. 99
A. Tabel 4.1 Jumlah Penduduk. ............................................................... 63
B. Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan. ............................................................ 64
C. Tabel 4.3 Mata Pencaharian. ............................................................... 65
D. Tabel 4.4 Jumlah Pemeluk Agama ..................................................... 66
E. Tabel 4.5 Sarana Ibadah ...................................................................... 66
F. Tabel 4.6 Profil Informan.................................................................... 68
LAMPIRAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah perilaku.
Sehubungan dengan kenyataan bahwa komunikasi adalah suatu yang tidak
bisa dipisahkan dari aktivitas kehidupan manusia. Dalam komunikasi
dikenal dengan teori tertentu sebagai manifestasi prilaku manusia dalam
berkomunikasi.
Manusia merupakan mahluk sosial akan selalu berinteraksi
dengan lingkungannya, karena bagaimanapun juga manusia saling
membutuhkan satu sama lain guna memenuhi kebutuhan hidup.
Karenanya manusia tidak terlepas dari aktivitas komunikasi baik
antarpribadi maupun kelompok dengan berbagai latar belakang agama.
Menjaga komunikasi antar umat beragama merupakan suatu hal
yang sangat penting dan merupakan ahlak terpuji, hal ini dapat kita
contohkan dibeberapa daerah yang mempunyai pemeluk agama berbeda
dan hal ini sering terjadi konflik apabila komunikasi diantara mereka tidak
terjaga dengan baik (miss communication). Dalam proses berkomunikasi
pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan
seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Hasil dari
pemikiran tersebut merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain.
2
Esensi dari persaudaraan terletak pada kasih sayang yang
diterapkan dalam bentuk perhatian, kepedulian hubungan yang akrab.
Persatuan dan juga kerukunan masyarakat merupakan salah satu prinsip
ajaran Islam. Dalam Al-qu‟an telah mengajarkan umat Islam untuk
menjalin persatuan dan kesatuan antar sesama manusia lainnya,
sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-Hujurat ayat 13.
“Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Al-Hujurat ayat 13).1”
Dapat kita lihat beberapa contoh konflik antar umat beragama
yang dilatar belakangi oleh masalah-masalah dari individu maupun
kelompok antar umat beragama, seperti:
“Misalnya, terjadinya konflik yang berkaitan dengan agama
yakni konflik Tolikara, melibatkan dua agama, yakni Islam dan
Nasrani. Konflik Tolikara di Papua terjadi pada tanggal 17 Juli
2015, konflik ini bermula dengan adanya insiden pembakaran
Masjid oleh jemaat Gereja Injil di Indonesia. Kejadian tersebut
terjadi saat masyarakat muslim hendak melaksanakan sholat Idul
Fitri. Akibat konflik ini dua orang tewas dan sedikitnya 96
rumah warga muslim terbakar. Dari kasus bentrokan yang
melibatkan kelompok agama yang berbeda, dapat menimbulkan
kerusakan material maupun jatuhnya korban jiwa akibat konflik
tersebut.2
1
Departemen Agama RI. Al-Qur‟an dan Tejermahnya juz 26 (Bandung Diponegoro,
2008), cetakan 11. Halaman 412.
2
[Link] diakses pada tanggal 7 Ferbuari 2018.
3
Kerukunan yang dimaksud bukan hanya sekedar terciptanya
keadaan dimana tidak ada pertentangan, namun suatu kondisi yang
terciptanya hubungan yang damai, harmonis, tanpa ada rasa kesenjangan
sosial dalam hidup keberagaman antar umat beragama.
Setiap agama pastinya sudah mengajarkan hal yang benar ketika
berkehidupan sosial dalam bermasyarakat, dan agama juga menghargai
pandangan lain dalam menghormati agama lain. Adanya perubahan
kondisi seperti ini seharusnya meningkatkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya kerukunan antar umat beragama. Budaya bangsa Indonesia
merupakan Negara yang mempunyai keberagaman budaya, hal tersebut
tercemin dalam semboyan Negara yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang
mempunyai makna bahwa berbeda-beda teteapi tetap satu. Selain berbeda
budaya, Indonesia dikenal dengan keberagaman agamanya, (Islam,
Kristen, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu).
Melihat peran komunikasi yang begitu penting dalam
menciptakan hubungan dalam kerukunan dan penuh perbedaan beragama,
maka penulis tertarik untuk lebih jauh mengkajinya dalam ruang lingkup
komunikasi antar umat beragama. Untuk itu penulis akan meneliti sebuah
pola komunikasi dalam menjaga kerukunan antar umat beragama.
Adapun penelitian ini dilakukan di Desa Perluasan Sukaraja,
Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma. Masyarakat Desa Perluasan
Sukaraja hidup dalam sebuah perbedaan antar umat beragama.
Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja menganut agama Islam dan agama
4
Kristen, dimana umat Islam dan umat Kristen hidup berdampingan
sehingga secara langsung terjalin komunikasi antar umat Islam dan umat
Kristen. Hubungan komunikasi yang timbul antara umat Islam dan umat
Kristen, tentunya dipengaruhi oleh faktor, sosial kemasyarakatan, sosial
keagamaan, budaya dan politik yang dilakukan oleh kedua penganut
agama Islam dan penganut agama Kristen.
Adanya hubungan komunikasi yang terjalin antar umat Islam dan
umat Kristen mendorong penulis untuk lebih jauh mengetahui gambaran
secara jelas mengenai pola komunikasi dalam dalam menjaga kerukunan
antar umat beragama, karena pada daerah lain hidup dengan berdampingan
antar umat beragama kerap kali timbul terjadi konflik, yang menyebabkan
perpecahan antar umat beragama. Terlebih tempat ibadah penganut agama
Islam dan Kristen hanya berbatasan langsung dengan lapangan voli yang
jaraknya tidak begitu jauh, dan kondisi kehidupan masyarakatnya begitu
dekat tanpa ada kesenjangan sosial. Hal ini yang mendasari peneliti
tertarik untuk meneliti kerukunan antar umat beragama di Desa Perluasan
Sukaraja. Maka penulis menyusun penelitian ini dalam bentuk skripsi
dengan judul “Komunikasi dalam menjaga Kerukunan Antar Umat
Beragama di Desa Perluasan Sukaraja Kecamatan Sukaraja Kabupaten
Seluma”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan
yang diangkat dalam penelitian ini adalah :
5
1. Bagaimana komunikasi masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma dalam menjaga kerukunan
umat beragama?
2. Apa saja hambatan dalam menjaga komunikasi antar umat beragama?
C. Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka peneliti membatasi
permasalah yang dibahas pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan di Desa Perluasan Perluasan Sukaraja,
Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma.
2. Kerukunan antar umat beragama yang di teliti oleh peneliti meliputi
kerukunan antar pemeluk agama Islam dan pemeluk agama Kristen.
D. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui komunikasi masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
Kabupaten Seluma dalam menjaga kerukunan antar umat beragama.
2. Mengetahui hambatan dalam menjaga komunikasi antar umat
beragama.
E. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara
teoritis dan praktis.
1. Secara Teoritis
a. Dapat dijadikan sumbangan pemikiran dalam bidang ilmu
komunikasi yang berkaitan dengan pola komunikasi kerukunan antar
6
umat beragama, karena Indonesia hidup dalam keberagaman umat
beragama.
2. Secara Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan
kontribusi pada:
a. Bagi mahasiswa, sebagai sarana bacaan dalam menambah ilmu
pengetahuan apabila mahasiswa melakukan penelitian.
b. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat memebrikan informasi dan
wawasan kepada masyarakat umum mengenai pentingnya kerukunan
antar umat beragama.
F. Kajian Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung penelitian ini dan menghindari adanya plagiatisme,
maka penulis melakukan peninjauan penelitian terdahulu yang berkaitan
dan relevan dengan topik yang akan di teliti. Adapun kajian pustaka
terdahulu yang relevan sebagai berikut:
1. Ujang Mahadi. Membangun Kerukunan Masyarakat Beda Agama
Melalui Interaksi dan Komunikasi Harmoni di Desa Talang Benuang
Benuang Provinsi Bengkulu. Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah IAIN
Bengkulu. Penelitian mengangkat pola interaksi masyarakat beda agama di
Desa Talang Benuang Kecataman Air Periukan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kerukunan masyarakat beda agama di Desa Talang
Benuang Kecamatan Air Periukan Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu
saling memberikan toleransi dan tidak meyinggung masalah agama, saling
7
menghargai, menghormati. Faktor lain yang mendukung terjadi
kerukununan umat beragama adalah: pertama, adanya kesadaran tinggi
dalam masyarakat kerukunan hidup beragama yang ditanamkan sejak
kecil. Kedua, tumbuhnya jiwa nasionalisme dalam kehidupan masyarakat,
dan ketiga, adanya ikatan kekerabatan yang dihasilkan dari pernikahan
yang sebelumnya beda agama. Paradigma dalam penelitian ini adalah
kualitatif, dengan menggunakan pendekatan sosiologi dan interaksionisme
simbolik.3
2. Dedy Setiono. Peran Pemuka Agama dalam Harmonisasi Kehidupan
Keberagaman di Desa Rama Agung Kecamatan Kota Argamakmur
Kabupaten Bengkulu Utara. Penelitian menggunakan metode kualitatif,
yang mana peran pemuka agama melakukan pendekatan emosional, yang
memiliki kesamaan budaya, dari suku yang sama. Hasil penelitian
menunjukkan hubungan yang harmonis antar umat beragama, baik itu
yang dicontohkan oleh pemuka agama maupun masyarakatnya. Selain itu,
peran pemuka agama juga sangat penting agar dapat menciptakan
komonikasi yang efektif dalam segala bentuk kegiatan. Kemudian melalui
pendekatan personal , pendekatan ini dilakukan para tokoh agama melalui
tahap tatap muka langsung dengan para tokoh agama, dengan nasehat
ataupun konsultasi permasalahan agama lainnya.4
3
Ujang Mahadi.2013. Membangun Kerukunan Masyarakat Beda Agama Melalui Interaksi
dan Komunikasi Harmoni di Desa Talang Benuang Provinsi Bengkulu. Fakultas Ushuludin, Adab
dan Dakwah IAIN Bengkulu.
4
Dedy Setiono.2015. Skripsi. Peran Pemuka Agama Dalam Harmonisasi Kehidupan
Keberagaman di Desa Rama Agung. Fakultas Ushuludin, Adab, dan Dakwah IAIN Bengkulu.
8
G. Sistematika Penulisan
Agar tidak menyimpang dari pembahasan yang akan dilakukan,
maka dalam penelitian ini berisi 5 bab, antara lain:
BAB I : Merupakan isi pendahuluan yang mencakup tentang latar
belakang penelitian, masalah penelitian, tujuan penelitian,
kegunaan penelitian, kajian penelitian terdahulu, dan
sistematika penulisan skripsi.
BAB II : Merupakan isi dari kerangka teori dari beberapa pengertian:
Pengertian Komunikasi, Unsur Komunikasi, Konteks
Komunikasi, Proses Komunikasi, Jenis Komunikasi,
Kerukunan Umat Beragama dan Toleransi Hidup
Beragama, Agama dan Perubahan Sosial, Etika Komunikasi
dan Multikulturalisme, Teori Komunikasi.
BAB III : Merupakan metode penelitian bab yang menguraikan:
Pendekatan dan jenis penelitian, penjelasan judul penelitian,
waktu dan lokasi penelitian, subjek/informasi penelitian,
sumber data, teknik pengumpulan data, teknik keabsahan
data, teknik analisis data, jadwal penelitian, dan kerangka
teori pemikiran.
BAB IV : Pembahasan yang terdiri dari deskripsisi wilayah penelitian,
profil informan, hasil penelitian, dan pembahasan hasil
penelitian.
BAB V : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.
9
DAFTAR PUSTAKA
10
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Pengertian Komunikasi
Istilah ilmu komunikasi atau dalam bahasa Inggris
communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari
kata communis yang berarti sama. 5 Akan tetapi pengertian komunikasi
yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam arti kata bahwa
komunikasi itu minimal mengandung kesamaan makna antara dua belah
pihak yang terlibat. Joseph A. Devito menambahkan bahwa pengertian
komunikasi yaitu kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih. Yakni
kegiatan menyampaikan dan menerima pesan, yang dapat ditorsi dari
gangguan-gangguan dalam suatu konteks yang menimbulkan efek dan
kesempatan arus balik.6
Pentingnya komunikasi bagi kehidupan sosial, budaya,
pendidikan, dan politik sudah disadari oleh para cendekiawan sejak
Aristoteles yang hidup ratusan tahun sebelum Masehi. Akan tetapi, studi
Aristoteles hanya berkisar pada retorika dalam lingkungan kecil. Baru
pada pertengahan abad ke -20 ketika dunia dirasakan semakin kecil akibat
revolusi industri dan revolusi teknologi elektronik. Setelah ditemukan
kereta api, pesawat terbang, listrik, telepon, surat kabar, film, radio,
televisi. 7
5
Effendy Onong Uchajana. Ilmu Komunikasi. Bandung: 2009. (PT. Remaja Rosdakarya).
Halaman 9.
6
Effendy Onong Uchajana. Ilmu Komunikasi. Halaman 5.
7
Effendy Onong Uchajana. Ilmu Komunikasi. Halaman 9.
11
Komunikasi menurut beberapa ahli:
Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi merupakan upaya
yang sistematis untuk merumuaskan secara tegar asas-asas penyampaian
informasi serta pembentukan pendapat dan sikap, komunikasi juga dapat
mengubah prilaku orang lain (communication is the process to modify the
behavior of other individuals). 8
Definisi lain mengenai komunikasi juga diungkapkan oleh Josep
A. Devito, bahwa komunikasi merupakan kegiatan menyampaikan pesan
dan menerima pesan, yang mendapat ditorsi dari gangguan-gangguan
dalam suatu konteks, menimbulkan efek, dan kesempatan untuk arus
balik.9
Everett M. Rogers juga mengatakan bahwa komunikasi adalah
proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau
lebih , dengan maksud suatu penerima atau lebih.10
Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat
dilancarakan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali mengutip
paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The
11
Structure and Function of Communicationn in Society . Lasswell
mengatakan bahwa cara yang terbaik untuk menjelaskan komunikasi
menjawab pernyataan sebagai berikut : Who Says What In Which Channel
To Whom With What Effect?
8
Effendy Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi. Halaman 10.
9
Effendy Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi. Halaman 5.
10
H. Hafied Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi. Halaman 10
11
Effendy Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi. Halaman 10.
12
Paradigma Lasswell diatas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima
unsur sebagai jawaban dari pernyataan yang diajukan, yaitu:
- Kommunikator (communicator, source, sender)
- Pesan (Mesagge)
- Media (channel, media)
- Komunikan (communicant, communicatee, receiver, recipent)
- Efek (effect, impact, influence)
B. Unsur- unsur Komunikasi
1. Sender : Komunikator yang menyampaikan proses komunikasi itu
adalah seseorang atau jmlah orang.
2. Encoding : Penyandian, yakni proses pengalihan pikiran ke dalam
berbantuk lambang.
3. Mesagge : Pesan yang merupakan seperangkat lamabang bermakna
yang disamapaikan oleh komunikator.
4. Media : Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari
komunikator kepada komunikan.
5. Decoding : Pengawasandian yaitu proses dimana komunikan
menetapkan makana pada lambang yang disampaikan oleh
komunikator.
6. Receiver : Komunikan yang menerima pesan dari komunikator.
7. Response : Tanggapan seperangkat reaksi pada komunikan setelah
diterpa pesan.
13
8. Feedback : Umpan balik, yaitu tanggapn dari komunikan apabila
tersampai atau disampaikan kepada komunikator.
9. Noise : Ganguan tak terduga yang terjadi dalam proses
komunikasi akibat diterima pesan lain oleh komunikan yang berbeda.
C. Konteks Komunikasi
Komunikasi tidak berlangsung dalam suatu ruang hampa-sosial,
melainkan dalam suatu konteks, yang terdiri dari aspek bersifat fisik, aspek
psikologis, aspek sosial, dan aspek waktu (Mulyana, 2001: 70). Maka
dikenallah komunikasi antar pribadi, komunikasi intrapribadi, komunikasi
diadik, komunikasi kelompok kecil, komunikasi publik, komunikasi
organisasi, dan komunikasi massa.12
1. Komunikasi Intrapribadi
Komunikasi intrapribadi adalah komunikasi yang berlangsung
dalam diri seseorang. Dalam komunikasi antarpribadi seseorang dapat
berperan dengan baik sebagi komunikator atau komunikan. Komunikasi
intrapribadi biasanya mencakup suatu kondisi saja, mempersepsikan, dan
menyelesaikan berbabagai persoalan oleh dirinya sendiri. Komunikasi
intrapribadi juga memberikan kesempatan bagi komunikator untuk menilai
diri sendiri.
2. Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi didefinisikan oleh A. Devito dalam
bukunya The Interpersonal Communication Book. Ia mengatakan bahwa
12
Syaiful Rohim. Teori Komunikasi. (Jakarta : Rineka Cipta : 2016, cet. Pertama.
Halaman 19)
14
komunikasi merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan antara
dua orang atau kelompok kecil dengan beberapa efek dan beberapa umpan
balik seketika.
Menurut Deddy Mulyana, komunikasi antarpribadi adalah
komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memmungkinkan
setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik
secara verbal, maupun non verbal. Sedangkan menurut Schramm, diantara
manusia yang saling bergaul, ada yang saling membagi informasi, namun
ada pula yang membagi gagasan dan sikap.13
3. Komunikasi Kelompok
Coopeer dan Jahoda memnyatakan bahwa keanggotaan kelompok
dapat menciptakan sikap dan prasangka yang sulit diubah. Berikut ini tiga
jenis kelompok yang penting : Kelompok primer, kelompok acuan, dan
kelompok kausal.
a. Kelompok primer
Sebuah kelompok dua orang atau lebih yang melibatkan perkumpulan
yang anggotanya bertemu langsung dengan akrab, selama jangka waktu
yang lama.
b. Kelompok acuan
Sebuah kelompok yang dikenali dan digunakan bagi standar acuan, namun
tidak mesti dimiliki.
c. Kelompok kausal
13
Syaiful Rohim. Teori Komunikasi. Halaman 20.
15
Kelompok yang terbentuk dalam satu kali saja, dan anggota kelompoknya
tidak kenal satu dan lainnya sebelum mereka berkumpul.
4. Komunikasi Publik
Merupakan komunikasi antara pembicara dengan jumlah banyak
khalayak yang tidak bisa dikenali satu persatu, sebagai mana ketika
melihat dalam pidato, ceramah, seminar, diskusi publik, dan lainnya.
Komunikasi publik biasa disebut dengan komunikasi pidato, komunikasi
kolektif, komunikasi retorika, public speaking, dan khalayak. Tipe
komunikasi publik biasanya sering kita jumpai dalam beberapa aktivitas,
seperti kuliah umum, khutbah, rapat akbar, dan lainnya. komunikasi publik
termasuk komunikasi intrapersonal, kerena langsung bertatap muka.
Interaksi antara sumber dan penerima berlangsung dengan terbatas.
5. Komunikasi Organisasi
Organisasi merupakan suatu kumpulan atau sistem individu yang
melalui satu hirarki jenjang dan pembagian kerja, berupaya mencapai
tujuan yang ditetapkan. Komunkasi organisasi secara sederhana yaitu
komunikasi organisasi yang terjadi dalam konteks organisasi. Disamping
itu komunikasi organisasi juga membagi sitem kerja, dalam artian setiap
orang dalam sebuah institusi baik komersiial maupun sosial memilki satu
bidang pekerjaaan yang menjadi tanggung jawabnya.
6. Komunikasi Massa
Konsep komunikasi massa pada satu sisi mengandung pengertian
suatu proses dimana organisasi media memproduksi dan menyebarkan
16
pesan kepada publik secara luas. Sebagai sarana komunikasi massa, medai
massa dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu media cetak ( surat kabar,
majalah, tabloid, dan lainnya) dan media elektronik (tv, radio, bioskop,
internet, dan lainnya).
D. Proses Komunikasi
Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahapan, yaitu:
1. Proses Komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian
pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain menggunakan lambang
(symbol) sebagai media. Lambang media primer dalam proses komunikasi
adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya.14 Wilbur
Schramm, seorang ahli komunikasi kenamaan dalam karyanya
Communication Research in the United States. Menyatakan bahwa
komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh
komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of refrence).
Dalam prooses komunikasi antarpesona (interpresonal
communication) yang melibatkan dua orang dalam situasi interaksi.
Umpan balik memainkan peranan penting dalam komunikasi, sebab ia
menentukan keberlanjutannya komunikasi atau berhentinya komunikasi.
Umpan balik secara verbal tanggapan komunikan yang dinyatakan dengan
kata-kata, baik secara singkat maupun secara panjang lebar. Umpan balik
yang secara nonverbal adalah tanggapan komunikan yang dinyatakan
14
Effendy Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi. Halaman 11.
17
bukan dengan kata-kata. Komunikator yang baik selalu memperhatikan
umpan balik sehingga ia mengubah gaya komunikasinya dikala ia
mengetahui bahwa umpan baliknya tersebut dari komunikan negatif. 15
2. Proses Komunikasi secara Sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian
pesan oleh seorang kepada orang lain, dengan menggunakan alat atau
sarana sebagai kedia kedua setelah memakai lambang sebagai media
pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam
melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada
di tempat yang relatif jauh.
Pentingnya peranan media, yakni media sekunder, dalam proses
komunikasi disebabakan oleh efisiensinya dalam mencapai komunikan.
Akan tetapi para ahli komunikasi diakui bahwa efisiensi komunikasi
bermedia hanya menyebarkan pesan-pesan yang bersifat informatif.
Umpan balik dalam komunikasi bermedia, terutama media
massa, biasa dinamakan dengan umpan balik tertunda (delayed feedback).
Karena proses komunikasi sekunder ini merupakan sambungan dari
komunikasi primer untuk menembus dimensi ruangan dan waktu, maka
dalam menata lambang-lambang untuk memformulasiakan isi pesan
komunikasi.16
15
Effendy Onong Uchjana. Ilmu komunikasi. Halaman 15.
16
Effendy Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi. Halaman 18.
18
E. Jenis Komunikasi
Jenis komunikasi dibagi menjadi dua macam, yaitu komunikasi verbal dan
non verbal17.
1. Komunikasi verbal
Simbol ataupun pesan verbal adalah semua jenis simbol yang
menggunakan satu kata ataupun lebih. Bentuk yang tanpa kita sadari
termasuk kedalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha
yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain
secara lisan. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang
mempersentasekan sebagai aspek realitas individual kita.
2. Komunikasi Non Verbal
Istilah non verbal biasanya digunakan untuk menggambarkan semua
peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat
yang sama kita juga harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan
perilaku non verbal.
F. Kerukunan Umat Beragama dan Toleransi Hidup Beragama
Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama
umat beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian,
menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengalaman ajaran agamanya
dan kerjasama dalam kehidupaan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
17
Joseph A. Devito. Komunikasi Antar Manusia. (Jakarta : Professional Books : 1997,
halaman 117 & 176).
19
Kerukunan yang dimaksud bukan hanya sekedar terciptanya
keadaan dimana tidak ada pertentangan intern umat beragama,
pertentangan antar umat beragama. Kerukunan yang dihendaki adalah
suatu kondisi terciptanya hubungan yang harmonis, saling kerjasama,
dengan tetap mengahargai setiap perbedaan antar umat beragama dan
kebebasan untuk menjalankan agama yang diyakininya.
a. Landasan Kerukunan
Dalam era pluralitas internal umat Islam dan pluralitas eksternal
antar umat beragama, filsafat, khususnya pada dimensi epistimologi irfani
diperlukan mengantisipasi dan mengurangi fanatisme kelompok. Makna
penting epistimologi irfani disebabkan karena epistimologi ini mampu
mejembatani sekaligus menghindari kekakuan (rigiditas) dalam berfikir
keagaman.
Dalam kerangka membangun pola pikir yang lebih bagus toleran
dan pluralis, maka yang penting untuk dipahami dan dikembangkan adalah
prinsip memahami keberadaan orang, kelompok, dan penganut agama lain
dengan cara menumbuhsuburkan sikap empati, simpati, social skill, den
berpegang teguh pada prinsip universal.18
Dalam konteks kehidupan yang sara dengan pluralitas
multikultural, di butuhkan pendekatan yang kompatibel dalam memahami
agama. Dengan pendekatan yang semacam ini, diharapkan akan lahir
paradigma keberagaman yang inklusif.
18
Ngainun Naim , Teologi Kerukunan ( Yogyakarta : Teras , 2011), Halaman 147.
20
Dalam konteks relasi masyarakat yang kompleks, pluralitasme
merupakan kunci penting untuk memahami realitas kehidupan. Realitas
kehidupan merupakan hasil kontstruksi, karenanya tidak ada realitas yang
bersifat tunggal.
b. Urgensi Kerukunan Beragama
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta terdiri dari
beri-ribu pulau dengan berbagai latar belakang suku dan adat istiadat,
agama, dan sebagainya. Perbedaan tersebut terkait dalam motto Bhineka
Tunggal Ika, yang artinya beragam dalam satu ikatan. Dahulu motto
tersebut cukup ampuh dan bisa diandalkan oleh seluruh lapisan
masyarakat. Indonesia dikenal dengan negara yang aman, tentram,
haramoni, damai. Kondisi tersebut banyak mengundang pihak asing untuk
datang berduyun-duyun ke Indonesia dengan tujuan wisata, usaha
(investasi), kerja sama dan sebagainya.
Kondisi diatas dapat dijadikan sebagai potensi bagi kemajuan
bagi bangsa dan negara. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik maka akan
menimbulkan konflik antar umat bergama dan disintegrasi bangsa. Hal ini
yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia seperti Poso, Ambon, Papua.
Untuk menghindari disintegrasi ini, dari awal negara ini berdiri
telah meletakkan dasar bagi pembinaan kerukunan antar umat beragama.
Hal ini telah mereka tuangkan melalui UUD 1945, baik yang tepatri
dalam pembukaan (Ketuhanan Yang Maha Esa) atau pun pada batang
tubuh UUD 1945 tersebut (pasal 29). Hal ini menunjukkan kerukunan
21
hidup antar umat beragama merupakan kondisi yang harus diciptakan bagi
pembangunan di Indonesia.
c. Agama dan Konflik
Salah satu persoalan dalam konflik yang memperoleh perhatian
secara serius adalah faktor agama. Agama memang wilayah yang paling
sensitif dalam ranah konstelasi sosial, budaya, politik. Sentimen
keagamaan sangat muda di sulut bangkitkan. Agama tidak hanya berkaitan
dengan keyakinan, tetapi juga berkaitan dengan aspek emosionalitas,
eksistensi, bahkan hidup seseorang. Orang yang akan melakukan
pembelaan secara total ketika agamanya dihina, meskipun ia bukan
seorang hamba yang taat beribadah.
Dalam kompleksitas persoalan dan juga pertarungan kepentingan,
agama menjadi media dalam ajang pertarungan fisik. Mereka yang
memiliki keteguhan dogmatis-doktriner ajaran agama mereka merasa
yakin apa yang ia lakukan adalah tugas yang suci.19
d. Memahami Konflik Keagamaan
Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu
atau kelompok) yang merasa atau memiliki sasaran yang tidak sejalan.
Sebuah perbedaan kepentingan atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi
pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan.
Konflik berbeda dengan kekerasan. Kekerasan meliputi tindakan,
perkataan, sikap berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan
19
Ngainun Naim. Teologi Kerukunan. Halaman 61.
22
kerusakan secara fisik, mmental, sosial, atau lingkungan. Konflik
keagamaan diartikan sebagai sebuah perseteruan menyangkut nilai, klaim
dan identitas yang melibatkan isu-isu keagamaan atau isu-isu yang
dibingkai dalam slogan atau ungkapan keagamaan. Konflik keagamaan
dapat mewujud dalam dua jenis aksi, yaitu aksi damai dan aksi kekerasan.
e. Toleransi
Toleransi merupakan sebuah sikap menghargai, dan juga
menghormati dalam kehidupan, kata toleransi sering digunakan pada
konteks sosial dan budaya dalam ilmu kajian antar budaya yaitu
penghargaan dalam menghargai, dan memahami budaya yang berbeda.
Toleransi secara bahasa bermakna sifat atau sikap, menenggang
(menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat,
pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yang berbeda atau
bertentangan dengan pendirian.
Sedangkan istilah “Tolerance” (toleransi) adalah istilah modern,
baik dari segi nama maupaun kandungannya. Toleransi juga berasal dari
bahasa Latin yaitu “tolerantia” yang artinya kelonggoran. Sedangkan dari
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Toleransi berasal dari kata
“toleran” berarti bersikap, menghargai, pendapat, dan juga pandangan.
Dalam bahasa Arab, toleransi biasa disebut dengan “ikhtimal,
tasamuh” yang artinya sikap membiarkan, lapang dada, (samuha –
yasumuhu- samhan, wasimaahan, wasimaahatan, yang artinya : murah
hati, suka bederma). Jadi toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai
23
dengan sabar, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau
kelompok lain 20 . Pada dasarnnya semua agama besar memiliki ajaran
toleransi 21 . Misalnya Islam, yang langsung ditegaskan Allah melalui
Firman-Nya :
”
Artinya: “katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak
akan menyambah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah
Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa
yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah
Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah
agamaku”. “(Q.S. Al-Kafirun (109) : 1-6)22
Dikisahkan oleh Ibnul Ishak dalam “sirahnya” dan juga Ibnul
Qoyyim dalam Zaadul Maad adalah ketika Nabi SAW kedatangan
utunasan Nasrani dan Najrana berjumlah 60 orang. Diantaranya 14 orang
yang terkemuka termasuk Abu Haritsah Al-Qhomah, sebagai guru dan
uskup. Maksud kedatangan mereka adalah ingin mengenal Nabi SAW dari
dekat dan mereka ingin bicara dengan Rasullah SAW tentang berbagai
masalah agama. Mereka sampai di Madinah saat kaum muslimin telah
selesai shalat Ashar, mereka pun tiba dimasjid dan sembahyang menurut
cara mereka. 23
20
Muhammad Fakhri. Wawasan Kerukunan Beragama di Indonesia, (Jurnal, 2014) hlm 3.
21
Muhammad Fakhri. Wawasan Kerukunan Beragama di Indonesia, (Jurnal, 2014) hlm 5.
22
Departemen Agama RI. Al-qur‟an dan tejermahnya juz 30, (Bandung Diponegoro,
2008), cet 11. Halaman 484.
23
Muhammad Fakhri. Wawasan Kerukunan Beragama di Indonesia. (Jurnal 2014) hlm
10.
24
Menurut Muhammad Arkound, ada dua syarat untuk dapat
menancapkan nilai toleransi, yaitu : kemauan individu untuk bertoleransi
dan keterkaitan kemauan individu ini dengan kepentingan sosial.
f. Prinsip Kerukunan Hidup Antarumat Beragama
Prinsip-prinsip Kerukunan antarumat beragama menurut ajaran
Islam dituangkan dalam Al-quran dan Hadis, serta di terapkan oleh umat
Islam, sejak masa Rasul saw, masa sahabat sampai sekarang. Prinsip-
prinsip itu atara lain:
1. Islam tidak membenarkan adanya paksaan dalam memeluk suatu agama
(Q.S Al-Baqarah, 2 : 256).
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada
Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang
Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha
mengetahui. (Q.S. AL-Baqarah”. 256)24
2. Di dalam hadis juga sudah diatur mengenai kehidupan bertoleransi antar
umat beragama.
ُْحنِ ِيفيَّة َ َب إِلَى اللَّ ِه ق ِ ُّ صلَّى اللَّهُ َعلَيْ ِه َو َسلَّ َم أ ِ ِ ال قِيل لِرس
َ ال ال َ َي اْألَ ْديَان أ
ُّ َح َ ول اللَّه ٍ ََّع ِن ابْ ِن َعب
ُ َ َ َ َاس ق
ُالس ْم َحة.
َّ
Dari Ibnu “Abbas, ia berkata; ditanyakan kepada Rasulullah saw. “Agama
24
Departemen Agama RI. Al-qur‟an dan tejermahnya, juz 1. (Bandung, Diponegoro,
2008) cetakan 11. Halaman 23.
25
manakah yang paling dicintai oleh Allah? maka beliau bersabda: “Al-
Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)”. HR. Al-Bukhari.25
3. Allah SWT tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik, berlaku adil
dan tidak boleh memusuhi penganut agama lain, selama mereka tidak
memusuhi, tidak memerangi dan tidak mengusir orang Islam (Q.S Al-
Muthahanah : 8 ).
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan
Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena
agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. (Q.S Muthahanah 8)26
g. Saling Menghargai dan Menghormati
Meskipun toleransi merupakan sifat yang sangat mendasar dan
juga penting, toleransi masih cukup terbatas jangkauannya. Bersikap
toleran tidak hanya berarti meniadakan, tidak memerangi, dan tidak
memusuhi. Toleransi tidak lebih dari sikap menahan diri, membiarkan,
berbesar hati. Agar hubugan antar agama menjadi positif, toleransi harus
dikembangkan menjadi sikap saling menghormati. Saling menghormati
berarti menghormati hak orang dan juga golongan lain mengikuti
agamanya. Kemampuan untuk menghormati sikap orang lain berarti pula
suatu sikap arif dalam melihat pengembangan suatu budaya hati.
25
www.contoh_hadist_kerukunan_antar_umat_beragama.com//. Diakses pada tanggal 5
Maret 2018.
26
Departemen Agama RI. Al-Qur‟an dan tejermahnya, juz 28. (Bandung, Diponegoro,
2008) cetakan 11. Halaman 439.
26
Budaya hati adalah suatu kemampuan untuk menghormati apa
yang suci, luhur,; ilahi bagi hati orang lain terlepas dari apa keyakinan kita
sendiri. Orang yang memiliki budaya hati tiidak pernah bicara
merendahkan pihak lain, sinis, mengejek tentang apa yang diyakini oleh
orang lain sebagai junjungannya.
h. Regulasi tentang Kerukunan Antar Agama di Indonesia
Sebagai upaya untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama
di Indonesia, ada beberapa kebijakan yang dibuat oleh negara, yaitu :
1. Pembentukan Departemen Agama RI
Di Indonesia terdapat agama yang diakaui oleh negara, yaitu :
Islam (87,25%), Kriten Katholik (3,60%), Protestan (6,03%), Budha
(0,3%), dan Hindu (1,80%). Maka untuk melayani kehidupan beragama
berjalan dengan rukun, maka dibentuklah Departemen Agama RI pada
tanggal 3 Januari 1946. Didalamnya terdapat beberapa Direktorat Jenderal
Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji, pembinaan kelembagaan
Agama Islam, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen
Protestan, Direktorat Bimbingan Kriten Khatolik, dan Direktorat Jenderal
Bimbingan Masyarakat Kristen Hindu dan Buddha.27
2. Tiga Kerukunan
Dalam rangka pembinaan dan juga pemeliharaan kerukunan
hidup umat beragama, diupayakan ada tiga kerukunan, yaitu:
a. Kerukunan Intern Umat Beragama
27
Muhammad Fakhri. Wawasan Kerukunan Beragama di Indonesia. (Jurnal, 2014) hlm
20.
27
b. Kerukunan Antar Umat Beragama
c. Kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah
Kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah sangat
diperlukan bagi terciptanya stabilitas nasional dalam rangka pembangunan
bangsa. Kerukunan ini harus diidukung oleh adanya kerukunan umat
beragama.
3. Perundang-undangan yang mengatur hidup kerukunan dalam umat
beragama.
a. Pancasila, Undang-undang Dasar 1945
Pada sila pertama Pancasila disebutkan “Ketuhanan Yang Maha
Esa. Sedangkan dalam pasal 29 ayat 1 berbunyi: „Negara berdasarkan atas
Ketuhanan Yang Maha Esa”. Menurut Hazairin, pasal 29 ayat 1 bermakna
bahwa Negara Republik Indonesia wajib menjalankan syariat agama Islam
bagi yang beragama Islam, syariat Nasrani bagi orang Nasrani, syariat
Hindu bagi orang Hindu, yang dalam menjalakan perantara Negara. Jika
negara tidak bersedia memikul kewajiab syariat agama yang berupa
hukum dunia, maka negara telah melakukan sabotase terhadap perintah
Allah SWT dan merupakan pelanggaran terhadap pasal 29 ayat 1 UUD
1945.
Pasal 29 Undang – undang Dasar 1945 diatas telah
mengisyaratkan kebebasan untuk menjalankan agama bagi Islam bagi yang
Islam. Perwujudan hal tersebut, pemerintah wajib menjamin berjalannya
hukum-hukum Islam bagi pemeluk agama Islam.
28
G. Agama Dalam Perubahan Sosial
Salah satu unsur universal dalam kehidupan umat manusia adalah
agama. Hampir setiap umat manusia di bumi mengenal keberaan agama.
Kemunculan agama tidak lepas dari munculnya sebuah kesadaran diri
manusia mengenal kekuatan yang melebihi kekuatan dirinya.
Agama juga berkaitan erat dengan kepercayaan manusia akan
kekuatan supernatural tersebut. Kepercayaan ini diwujudkan sebagai
simbol. Agama mampu menggerakkan pola pikir manusia, mampu
mengendalikan prilaku manusia, dan agama juga mampu mengubah gaya
hidup manusia.28
a. Batasan Agama
Agama dapat dimaknai dengan suatu sistem kepercayaan dan
tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib, agama juga sebagai
hubungan yang tetap antara diri manusia dengan yang bukan manusia yang
bersifat suci, supernatural dan berada dengan sendirinya.
Dalam kajian ilmu sosiologi tidak pernah memberikan penilaian
bahwa agama yang satu dengan yang lain, dan tidak pernah mencari agama
yang paling benar. Secara sosiologis, agama mempunyai kedudukan yang
sama dan merupakan bentuk kesatuan dengan manusia. Selain itu agama
juga merupakan yang berkaitan dengan keparcayaan.
28
Nanang Martono. Sosiologi Perubahan Sosial. (Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada:
2011, cet. 1, halaman 301-303).
29
Agama dalam praktiknya juga mengenal berbagai simbol dalam
aktivitasnya. Simbol tersebut misalnya berdoa, sholat bagi yang beragamaa
Islam, begitu juga dengan simbol aktivitas agama yang lainnya.
b. Fungsi Agama
Secara umum, ada dua pandangan mengenai fungsi agama dalam
masyarakat. Dua pandangan tersebut melihat fungsi positif dan fungsi
negatif agama. Kelompok memandang fungsi positif agama didasarkan
pada pandangan kaum fungsional. Salah satu pemikiran Durkheim yang
melihaat fungsi agama dalam kaitannya dengan solidaritas sosial. Agama
memiliki fungsi sebagai menyatukan anggota masyarakat, agama
memenuhi kebutuhan masyarakat unuk secara berkala memperkuat
gagasan. Agama juga dapat membantu penyesuaian dengan lingkungannya
yang baru, membedakan hal yang baik dan tidak.
Disisi lain agama juga kerap kali dituding sebagai sumber konflik
dalam masyarakat, terutama perbedaan keyakinan sering kali
menimbulkan konflik ini. Konflik agama juga terjadi diantara anggota
masyarakat dalam satu agama.
c. Agama sebagai agen perubahan sosial
Secara umum, ada dua aliran yang melihat peran agama dalam
proses perubahan sosial. Posisi pertama, memandang bahwa agama
dimaknai sebagai institusi yang menghambat proses perubahan sosial.
30
Kedua, memandang agama sebagai unsur penting yang turut mempercepat
proses perubahan sosial dalam masyarakat. 29
H. Etika Komunikasi dan Multikulturalisme
Multikulturalisme tidak hanya menentang penyeragaman dan
mendorong penerimaan perbedaan, namun ada impilkasi sosial politik.
Setidaknya ada tiga pemahaman yang berimplikasi terbentuknya sistem
baru representasi, partisipasi, dan kewarganegaraan sehingga ada suatu
forum menciptakan kesatuan tanpa mengingkari kekhasan dan
keberagaman, sikap toleran, tidak diskriminatif, dan menghormati yang
lain. Mutikulturalisme mengandalkan adanya perjumpaan budaya dan
identitas yang berbeda. Implikasi multikulturalisme menjadi jembatan,
tempat, dan cakrawala pemikiran.30
Multikulturalisme mau mengkritisi dan mengingatkan bahwa
institusi bisa menghasilkan rasisme dan bentuk diskriminasi lain. Di
Indonesia, kebijakan multikulturalisme yang sangat mendesak adalah
menyangkut agama.31
Pemerintah perlu mendorong pengelola media massa seperti
radio, televisi, koran, majalah, dan internet agar memperhatikan dan punya
kepedulian multikultural.
1. Tiga Dimensi Etika Komunikasi
- Pertama, dimensi yang langsung terkait dengan perilaku aktor
komunikasi, yaitu aksi komunikasi. Perilaku aktor komunikasi
29
Nanang Martono. Sosiologi Perubahan Sosial. Halaman 305-310.
30
Haryatmoko. Etika Komunikasi. (Yogyakarta : Kanisus : 2007. Halaman 114).
31
Haryatmoko. Etika Komunikasi. Halaman 116.
31
hanya menjadi salah satu dimensi etika komunikasi, yaitu bagian
dari komunikasi.32
- Kedua, hormat dan perlindungan atas hak individual lain dari warga
negara. Yang termasuk didalamnya hak martabat dan kehormatan.
Selain itu terdapat hak akan privasi.33
- Ketiga, ajakan untuk menjaga harmoni masyarakat. Unsur ketiga
deontologi ini melarang semua bentuk tindakan provokasi atau
dorongan yang akan membangkitkan kebencian atau ajakan
pembangkangan sipil.
I. Teori Komunikasi
Menurut kamus Longman pengertian hubungan (relationship)
adalah “The way in which two people or two groups feel about each
other and behave towards each other” (cara dua orang atau dua
kelompok merasakan satu dan lainnya dan cara mereka bertingkah laku
sama dengan lainnya). menurut Stephen W. Little John, banyak orang
yang tertarik dengan topik hubungan, karena setiap hubungan memiliki
dimensi yang sangat berbeda.
Perubahan yang ada juga terjai dengan sangat dramatis hingga
berpengaruh terhadap hubungan anda dan juga keluarga.34
Dalam menjalin suatu hubungan, orang seringkali berfikir
seberapa banyak ia dapat terbuka dengan orang lain, terkadang orang
juga menjaga kehidupan pribadinya. Hal yang menarik dalam hubungan
32
Haryatmoko. Etika Komunikasi. Halaman 120.
33
Haryatmoko. Etika Komunikasi. Halaman 120.
34
Morissan. Teori Komunikasi. Jakarta : Kencana : 2014, cet 2. Hlm 282.
32
adalah orang yang sering kali bernegosiasi dengan dirinya mengenai
topik apa saja yang akan dibicarakan. Hubungan sering kali menjadi
topik penting, mengenai komunikasi interpersonal sejak tahun 1960an.
Berikut ini terdapat beberapa teori mengenai hubungan, yaitu :
k.1.1. Pola Interaksi Hubungan
Hubungan bukanlah interaksi yang bersifat statis, tetapi memiliki
pola-pola interaksi tertentu dimana tindakan dan kata-kata seseorang
mempengaruhi tanggapannya. Gagasan tersebut dikemukakan oleh
Greorgory Batseon dan Paul Watzlawick, memberikan pengaruh yang
sangat besar dalam pemikiran mengenai hubungan dalam ilmu
komunikasi khususnya pada tahun-tahun awal berkembangnya studi
mengenai komunikasi interpersonal.35
Menurut pandangan kelompok Paolo Alto ini, ketika dua orang
berkomunikasi maka merekka mendifinisikan hubungan mereka
berdasarkan cara berinteraksi. Karena pada setiap perilaku berpotensi
menyampaikan pesan pola interaksi akan menjadi mapan maupun stabil.
Dengan kata lain, aturan ini akan selalu berlaku ketika sedang ingin
berinteraksi dengan orang lain karena orang tersebut akan membaca
sikap penghindaran sebagai suatu pernyataan. Paolo menyatakan ada dua
jenis pola hubungan yang penting yaitu “hubungan simentris” dan
“hubungan komplementer”. Hubungan simentris terjadi jika dua orang
memberikan tanggapan dengan cara yang sama. Namun demikian
35
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 284.
33
hubungan simentris tidak selalu dalam bentuk perebutan kekuasaan
secara terbuka teteapi dilakukan dengan cara halus.
Hubungan komplementer terjadi ketika komunikator memberikan
tanggapan dengan arah yang berbeda atau berlawanan. Edna dan Frank
Miller menggambarkan bagaimana kontrol dalam suatu hubungan yang
proses secara sistematis.36
k.1.2. Skema Hubungan Keluarga
Prilaku interpersonal telah menjadi topik penting dalam ilmu
psikologi sosial, dan sejumlah besar penelitian pada ranah ilmu
komunikasi banyak dipengaruhi ilmu psikologi sosial tersebut. Skema
hubungan terdiri atas pengetahuan diri sendiri, diri orang lain, hubungan
yang sudah dikenal dan juga pengetahuan mengenai bagaimana cara
berinteraksi dalam suatu hubungan. Pengetahuan ini memberikan image
atau gambaran terhadap suatu hubungan berdasarkan pengalaman sendiri
dan memandu prilaaku dalam menjalani hubungan tersebut.
Skema hubungan dikelompokkan kedalam jumlah level atau
tingakatan mulai dari umum hingga khusus yang mencakup pengetahuan
menganai hubungan sosial pada umumnya, pengetahuan mengenai tipe-
tipe hubungan khusus. Dengan demikian skema kelurga mencakup tiga
hal, yaitu:
1. Apa yang diketahui seseorang mengenai hubungan secara umum.
2. Apa yang diketahui mengenai hubungan keluarga sebagai suatu tipe.
36
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 290.
34
3. Apa yang diketahui mengenai hubungan dengan anggota keluarga
lainnya.
Interaksi sesorang dengan anggota keluarga lainnya pada waktu
tertentu akan diarahkan oleh skema khusus, kemudian skema keluarga,
dan terakhir dengan skema umum. Menurut Fitzpatrick dan rekannya,
komunikasi keluarga tidaklah bersifat acak (random), tetapi sangat
terpola berdasarkan atas skema-skema tertentu yang menentukan
bagaimana anggota keluarganya berkomunikasi satu dengan lainnya.
skema ini terdiri atas pengetahuan menganai : seberapa intim suatu
keluarga, derajat individualitas dalam keluarga, faktor eksternal keluarga,
seperti teman, jarak geografis, pekerjaan, dan lainnya. berbagai skema
tersebut menciptakan tipr keluarga yang bereda pula. Fitzpatrick telah
mengidentifikasi empat tipe keluarga, yaitu : konsesual, pluralistis,
protektif, dan laisses faire.37
1. Tipe Konsesual
Tipe keluarga yang pertama adalah konsesual, yaitu keluarga
yang sering melakukan percakpan, namun juga memilih kepatuhan yang
tinggi. Keluarga tipe ini suka sekali dengan ngobrol bersama, tetapi
pemegang otoritas kelurga, dalam hal ini adalah orang tua pihak yang
membuat keputusan.
Keluarga jenis ini sangata mengargai komunikasi secara terbuaka,
namun tetap menghendaki kewenagan orang tua yang jelas. Orang tua
37
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 292.
35
seperti ini biasanya sangat mendengarkan apa yang dikatakan anak-
anaknya.
Orang tua yang berbeda dalam tipe keluarga konsesual ini cenderung
tradisional dalam hal orientasi perkawinannya. Ini menunjukkan mereka
sangat cenderung konvensional dalam memmandang lembaga
perkawinan dengan lebih menekankan pada stabilitas dan juga
kesetablilan dari pada keragaman dan spontanitas. 38
Riset menunjukkan tidak banyak konflik dalam tipe perkawinan
tradisional, karena kekuasaan dan juga pengambilan kkeputusan dibagi-
bagi menurut norma-norma yang biasa berlaku.
2. Tipe Pluralistis
Merupakan tipe keluarga yang sangat sering melakukan percakapan,
namun memiliki kepatuhan yang rendah. Angota keluarga pada tipe
pluralitas ini sering sesekali berbicara secara terbuka, tetapi setiap orang
dalam keluarga akan membuat keputusannya masing-masing. Orang tua
tidak merasa perlu ntuk mengontrol anak-anak mereka, karena setiap
pendapat dinilai berdasarkan kebaikannya, yaitu pendapat mana yang
terbaik, dan setiap orang turut serta dalam pengambilan keputusan.
Karena tiap keluarga pluralistis memiliki pandangan yang tidak
konvensional, maka pasangan independent semacam ini akan terus
38
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 293.
36
melakukan negosiasi. Pasangan independen biasanya juga banyak
memiliki konflik, suami istri saling berebut kekuasaan.39
3. Tipe Protektif
Tipe keluarga protektif merupakan keluaraga yang jarang melakukan
percakapan, namun memiliki kepatuhan yang tinggi. Jadi terdapat banyak
sifat patuh dalam keluarga dengan sedikit komunikasi.
Pasangan semacam ini cenderung tidak yakin menegenai peran dan
hubungan mereka. Mereka memiliki pandangan konvensional dalam hal
perkawinan, tetapi tidak saling bergantung dan tidak selalu
menghabiskan waktu bersama. Fitzpattrick menyebut pasangan ini
sebagai emotionally divorced (bercerai secara emosional).40
4. Tipe Laissez-Faire
Tipe keluarga yang semacam ini jarang sekali melakukan percakapan dan
juga memiliki kepatuhan yang rendah dan tipe ini disebut dengan
laissesz-faire, yang berarti lepas tangan dengan keterlibatan yang rendah.
Anggota keluarga ini tidak terlalu peduli dengan apa yang dikerjakan
oleh keluarga lainnya, dan tentu saja mereka ingin membuang waktu
untuk membicarakannya.
Tipe keluarga semacam ini cukup banyak ditemui dimasyarakat, sekitar
40 persen dari keseluruhan pasangan yang menjadi objek penelitian
Fitzpattrick menunjukkan sejumlah kombinasi dari tipe terpisah-
tradisional, tradisional-independen, atau independen-terpisah. Pada
39
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 294.
40
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 295.
37
dasarnya pasangan ini memiliki sifat yang lebih kompleks dari pasangan
yang sudah dibahas. Pada akhirnya kesimpulan teori ini dapat ditaik
bahwa, setiap keluarga memiliki perbedaan dalam kebersamaan
(togetherness) dan jarak pemisah (separateness) yang ada diantara para
anggota suatu keluarga.41
k.1.3. Teori Penetrasi Sosial
Keterbukaan diri (self-disclousre) telah menjadi salah satu
topik penting dalam teori komunikasi sejak tahun 1960an. Teori penetrasi
sosial (social penetration theory) berupaya mengidentifikasi pproses
peningkatan kerterbukaan, dan keintiman seseorang dalam menjalin
hubungan dengan orang lain. Teori yang disusun oleh Irwin Altman dan
Dalmas Taylor, merupakan salah satu karya penting dalam perjalanan
panjang penelitian dibidang perkebangan hubungan (relationship
development).
Pada awalnya tahap penetrasi sosial perhatian terhadap sebagian besar
yang dicurahkan pada prilaku dan motivasi individu berdasarkan tradisi
sosiopsikologi yang sangat kental. Cara pandang yang lebih maju
terhadap teori ini adalah perkembangan hubungan sebagian muncul
secara bertahap. Melalui informasi yang memberikan data terletak
dengan inti merupakan bentuk paling jauh dari luar bagian. Teori pertama
dari Altman dan Taylor disusun berdasarkan suatu gagasan yang sangat
populer dalam tradisi sosiopsikologi, yaitu ide bahwa manusia
41
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 296.
38
mengambil keputusan didasarkan atas prinsip “biaya” (cost) dan
“imbalan” (reward).42
Dalam teori pertukaran sosial, interaksi manuasi adalah suatu transakasi
ekonomi, orang berupaya untuk memaksimalkan imbalan dan
memninimaslisi biaya.
Altman dan Taylor mengajukan empat tahap perkembangan hubugan
antar-individu, yaitu :
1. Tahap orientasi, tahap dimana komunikasi yang terjadi bersifat tidak
pribadi (impersornal). Para individu yang terlibt hanya menyampaikan
informasi yang bersifat sangat umum saja. Jika pada tahap ini mereka
hanya terlibat merasa cukup mendapatkan imbalan dari interaksi awal,
maka mereka perlu melanjutkan ketahap berikutnya, yaitu pertukaran
tahap eksploratif.
2. Tahap pertukaran efek eksploratif, tahap dimana muncul gerakan
menuju kearah keterbukaan yang lebih dalam.
3. Tahap pertukaran efek, tahap munculnya persaan kritis dan evaluatif
pada level yang lebih dalam. Tahap ketiga tidak akan dimasuki
kecuali para pihak tahap sebelumnya telah menerima imbalan yang
cukup berarti dibandingkan biaya yang telah dikeluarkan.
4. Tahap pertukaran stabil, adanya keintiman dan pada tahap ini, masing-
masing individu dimungkinkan untuk memperkirakan masing-masing
tindakan dan memberikan tanggapan dangan sangat baik.
42
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 297.
39
Teori penetrasi sosial awal ini berperan penting dalam
memusatkan perhatian pada perkembangan hubungan, namun
demikian teori ini tidak dapat memeberikan penjelasan yang
memuaskan terhadap praktik hubungan yang sebenarnya. Gagasan
yang menyataka bahwa interaksi bergerak meningkat mulai dari tahap
umum, hingga tahap pribadi dalam suatu garis lurus (liner fahion).43
Teori penetrasi sosial tidak hanya sekedar menggambarkan
perkembangan linier, dari informasi umum kepada informasi pribadi,
perkembangan hubungan kini dipandang sebagai suatu siklus antara
siklus stabilitas dan siklus perubahan. Pasangan individu perlu
mengelola kedua siklus yang saling bertentangan untuk dapat
membuat perkiraan, dan juga untuk kebutuhan fleksibilitas dalam
hubungan.
Sikap seseorang untuk terbuka dan tertutup merupakan suatu siklus
dan keterbukaan suatu pasangan yang memiliki pola perubahan
reguler, atau perubahan yang dapat di perkirakan. Dengan kata lain
pasangan telah dapat mengatur kapan mereka harus terbuka dan
seberapa jauh keterbukaan itu dilakukan.
k.1.4. Mengelola Perbedaan
Sosiopsikologi sangat menekankan pada aspek individu
dengan fokus pada pengelompokan atau tipologi hubungan antara
pasangan individu, sedangkan sosiokultural sangat menekankan pada
43
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 299.
40
interaksinya dengan fokus pada proses interaksinya yang terjadi. Teori
Mikhail Bakhtin menjelaskan bagaiman hubungan mampu memandu
atau mengintregasikan berbagai “suara” yaitu dengan adanya
hubungan pandangan yang berbeda menjadi faktor pendorong,
sekaligus pemisah suatu hubungan sepanjang waktu. Teori deakletis
menjelaskan bagaimana ketegangan yang tercipta oleh berbagai suara-
suara yang dapat dikelola melalui komunikasi. 44
k.1.5. Teori Dialogis
Mikhael Bakhtin adalah seorang guru dan ahli filsafat dari
Rusia yang karyanya ditemukan oleh para ahli komunikasi barat pada
tahun 1960-an. Teori Bakhtin digolongkan oleh beberapa ahli
komunikasi sebagai teori lintas batas, karena berpijak pada dua tradisi
yang berbeda, yaitu sosiokultural dan kritis. Namun Littlejohn dan
Foss dalam bukunya Theories of Human Communication
memasukkan fikiran Bakhtin ini kedalam teori sosiokultural.45
Bakhtin, mengemukakan terdapat dua jenis kekuatan yang membrikan
pengaruh dalam kehidupan manusia pada setiap harinya, yaitu
kekuatan “sentripental” dan kekuatan “sentrifugal”. Adapun kekuatan
sentripental merupakan kekuatan untuk menerapkan aturan pada saat
kekacauan mulai terlihat nyata dalam kehidupan. Sedangkan kekuatan
sentrifugal merupakan kekuatan untuk mengacaukan aturan yang
sudah ada.
44
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 301-302.
45
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 302.
41
Gagasan paling penting Bakhtin lainnya adalah mengenai dialog
Bakhtin menggunakan kata “dialog” dalam beberapa cara
penulisannya, jadi dialog adalah mengenai bagaimana kita berinteraksi
dalam interaksi khusus. Inti dari gagasan Bakhtin adalah ucapan, yaitu
unit pertukaran lisan maupun tulisan diantara dua orang. Komunikator
mengungkapkan suatu gagasan ide dan melakukan evaluasi terhadap
ide itu.
Suatu dialog menyajikan persoalan yang bersifat kontekstual
dan berkembang dengan berperan terhadap redifinisi terus-menerus
oleh peserta dialog. Dialog tidak hanya kegiatan menemukan, tetapi
juga menghidupkan potensi. Masing-masing peserta dialog bersikap
terbuka terhadap segala pandangan dari pihak lain.46
Dialog juga membentuk budaya, karena setiap interaksi dialogis
mewakili pandangan masing-masing budaya berdasarkan sudut
pandang orang lain.47
k.1.6. Teori Hubungan Dialektik
Berdasarkan berbagai konsep yang sudah dikemukakan oleh
Bakhtin, maka suatu hubungan didefinisikan atau ditentukan
maknanya melalui dialog diantara banyak suara. Baxter juga
menjelaskan teorinya sebagai sifat dialektis, yang artinya bahwa suatu
hubungan adalah tempat dimana berbagai pertentangan atau
perbedaan pendapat (kontradiksi) dikelola ataupun diatur.
46
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 309.
47
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 306.
42
Ketegangan diakletik ini sangat mudah kita lihat pada
perusahaa atau pun korporasi besar, miasalnya dengan melihat
perusahan tersebut masih hidup atau pun sudah mati produksinya,
serta keuntungan dan juga kerugiannya. Hubungan yang bersifat
dialogis dan diakletis, yaitu adanya ketegangan yang timbulnya dalam
suatu hubungan (dialogis), dan ketegangan itu dikelola melalui
percakapan yang terkoordinasi. Menurut Baxter hubungan yang
dinamis dan komunikasi pada dasarnya adalah upaya bagaimana orang
mengelola persamaan dan perbedaan. Sebenarnya komunikasi
menuntun kita untuk bersama - sama menuju kesamaan, namun
komunikasi juga menciptakan, mempertahankan, dan mengelola
berbagai perbedaan.
Dengan menggunakan terminologi Bakhtin, komunikasi
menciptakan berbagai kekuatan sentripental yang memberikan rasa
keteraturan, sekaligus mengelola kekuatan sentrifugal yang mengarah
pada perubahan. Menurutnya gagasan mengenai hubungan adalah
bersifat multidimensional, dan benar-benar dapat melihatnya. Baxter
mengemukakan lima sudut pandang untuk melihat prroses dialog
dalam suatu hubugan sebagai berikut :
1. Hubungan Terbentuk Melalui Dialog
Sudut pandang Baxter pertama kali menyatakan bahwa hubungan
terbentuk melalui dialog, dialog menentukan bagaimana Anda
memberi makna ataupun memberikan definisi hubunga Anda dengan
43
orang lain. Hubungan yang terjalin ini dibangun atau pun
dikontruksikan melalui dua pembicaraan yang terjadi dalam dua cara,
yaitu :
Pertama, kita dapat menciptakan peluang ataupun moment yang
sering kali titik baliknya akan diingat sebagai hal yang penting dalam
hidup kita. Menceritkan kembali cerita-cerita lama pada suatu
hubungan antara Anda dan juga orang lain.48
Kedua, pada saat yang sama Anda melihat hal yang sama, antara diri
sendir dan orang lain selama menjalin hubungan. Hal ini
memungkinkan untuk membuat diri teroisah dan berkembang sendiri
sebagai seorang manusia yang berbeda, suatu konsep yang dinamakan
self-becoming atau menjadi diri. Dengan kata lain, persamaan dan
perbedaan merupakan hasil percakapan baik, antara pasangan individu
dalam suatu hubungan ataupun dengan orang-orang yang berada
diluar hubungan.
2. Dialog Memberikan Peluang untuk Mencapai Kesatuan dalam
Perbedaan
Sudut pandang Baxter yang kedua menyatakan bahwa dialog
membrikan peluang untuk mencapai kesatuan dalam perbedaan
(dialogue affords an opportunity to achive a unity within diversity).
Melalui dialog kita dapat mengelola kekuatan sentrifugal dan
sentripetal yang bersifat saling mempengaruhi satu dan lainnya, yaitu
48
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 311.
44
dengan kekuatan yang mendorong terjadinya penyatuan, kekuatan
yang menimbulkan keinginan terjadinya kekacauan untuk
mempertahankan keutuhan. Berbagai kekuatan yang saling
berlawanan ini adalah sifat dialektis yang melibatkan ketegangan
diantara dua elemen atau lebih yang saling betentangan dalam suatu
sistem, dan dalam hal ini hubungan (relationship) menyediakan
konteks yang kita gunakan untuk mengelola berbagai kontradiksi atau
pertentangan. Walaupun kontradiksi sering dikatakan sebagai
pertentangan antara dua kutub (bipolar opposites) misalnya keadaan
independen/dependen, menilai adanya pertentangan semacam ini perlu
menyederhanakan proses kontradiksi yang sebenarnya jauh lebih
kompleks, dimana kekuatan saling berkumpul satu dan lainnya.
masing-masing ikatan terdiri dar berbagai kontradiksi yang saling
berhubungan dan dapat terjadi dalam suatu hubungan . dalam hal ini
terdapat tiga ikatan kontradiksi, yaitu :
a. Penyatuan dan pemiahan. Ikatan kontradiksi pertama adalah
penyatuan dan pemisahan , ikatan kontradiksi penyatuan dan
pemisahan adalah ketegangan yang muuncul karena adanya perasaan
dekat atau perasaan jauh dalam menjalin hubungan dengan seseorang.
b. Ekspresi dan nonekspresi, adalah ketegangan antara keinginan
untuk mengungkapkan informasi atau menyimpan informasi.
45
c. Stabilitas dan perubahan, ketegangan antara keinginan untuk dapat
diperkirakan dan konsisten, melawan keinginan dan bersikap spontan
berbeda.49
Carol Werner dan Leslie Baxter mengemukakan lima kualitas yang
berubah ketika hubungan berkembang yaitu kualitas amplitud,
salience, skala, sekwen, dan langkah.
a. Amplitud, yaitu kualitas perasaan, perilaku, atau keduanya.
Misalnya pada titik tertentu dalam suatu hubungan yang merasa
sangat aktif dalam menjalin hubungan, dan memiliki persaan kuat
mengenai apa yang akan terjadi dalam hubungan bersama orang lain.
b. Salince, kualitas untuk fokus pada masa lalu, sekarang, dan masa
depan. Pada saat tertentu dalam hubungan dengan sesorang, merasa
sangat memikirkan apa yang pernah terjadi diantara orang itu pada
masa lalu.
c. Skala, kualitas dalam hal berapa lama pola kkegiatan tertentu
berlangsung.
d. Sequence, kualitas yang terkait dengan urutan peristiwa dalam
suatu hubungan. Sequence adalah berbeda dengan antar suatu momen
dengan momen lainnya.
e. Ritme, kualitas yang terkait dengan kecepatan peristiwa dalam
suatu hubungan dan interval diantara peristiwa.50
3. Dialog bersifat Estetis
49
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 314.
50
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 314-315.
46
Sudut pandang Baxter ketiga yang menyatakan bahwa dialog
bersifat estetis yang mencakup rasa keseimbangan, kesatuan, bentuk,
dan keseluruhan. Orang tidak saja mampu memberikan nama terhadap
suatu hubungan, tetapi menjelaskan dan menceritakan kepada orang
lain.51
4. Dialog adalah Wacana
Pandangan Baxter keempat menyatakan bahwa dialog adalah
wacana (discourse). Pandangan ini mangacu pada gagasan bahwa
hasil dialog yang bersifat praktis dan estetis tidaklah muncul begitu
saja, tetapi sengaja menciptakan dalam komunikasi. Dialog adalah
suatu percakapan, dan hubungan bukanlah pernyataan dari satu orang
saja, tetapi merupakan proses timbal balik sepanjang waktu.
Hubungan bukanlah sesuatu yang dikerjakan secara kognitif dalam
otak seseorang, tetapi merupakan produk percakapan. Setiap interaksi
terjadi dalam konteks yang lebih besar, interaksi selalu dipahami
melalui apa yang terjadi sebelumnya dan satu interaksi menimbulkan
interaksi lainnya.52
k.1.7. Teori Privasi Komunikasi
Teori yang membahas lebih jauh proses dialektis dalam
hubungan antar individu adalah teori “pengelolaan privasi dalam
komunikasi” yang dikembangkan oleh Sandra Petronio. Teori ini
adalah pengelolaan ketegangan antara keinginan bersikap terbuka atau
51
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 316.
52
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 317.
47
memiliki keterbukaan dan bersikap tertutup, antara menjadiaka diri
sebagai bagian dari publik dan bersikap pribadi. Petronio melihat
proses pengambilan keputusan ini bersikap dialektik, adanya tarik-
manarik antara keinginan untuk mengungkapkan atau manyampaikan
informasi pribadi dengan keinginan untuk menyimpannya. Lebih jauh,
keterbukaan tidaklah semata-mata keputusan individu tetapi dikelola
oleh suatu kontrak hubungan yang mencangkup suatu konsensus.
Dengan demikian, koordinasi antara anggota adalah penting,
mengungkapkan suatu informasi maka harus menegoisasikan
keterbukaannya dalam hal apapun.53
Petronio melihat bahwa pengelolaan perbatasan antara
wilayah pribadi dan publik adalah proses yang menggunakan suatu
aturan. Dalam hal ini aturan yang dibuat dalam mengelola perbatasan
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Aturan dibuat berdasarkan hasil negosiasi
Suatu negosiasi terhadap aturan yang akan menentukan apakah suatu
informasi akan disampaikan atau disimpan. Sebagai contoh sebagian
wanita akan segera memberitahukan kepada suaminya jika dia hamil,
wanita lain akan menunggu lebih dahulu memastikan kehamilannya
dan baik-baik saja. Keputusan apakah akan segera menyampaikan
informasi kehamilan ataukah masih harus menyimpan dan merupakan
hasil negosiasi antara si istri dan suaminya.
53
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 317-319.
48
2. Aturan dibuat dengan memepertimbangkan resiko-manfaat
Aturan dalam perbatasan ini dikembangkan dengan menggunakan
semacam rasio yang disebut “rasio resiko manfaat”. Penilaian resiko
berarti berpikir mengenai cos dan reward karena mengungkapkan
hasil informasi pribadi.
3. Aturan dibuat dengan mempertimbangkan kriteria lain
Menurut petronio, menegosiasikan aturan mengenai kepemilikan
bersama terhadap informasi pribadi dapat menjadi sesuatu yang
menyulitkan.
k.1.8. Dialog
Pemonologi sebagai suatu tradisi pemikiran memfokuskan
perhatiannya pada aspek internal manusia yaitu pengalaman sadar
seseorang. Tradisi ini melihat cara-cara manusia memahami dan
memberikan makkna terhadap berbagai peristiwa dalam hidupnya.54
Carl Rogers dan Martin Buber menjelaskan tradisi pemonologi
sebagai berikut:
a. Carl Rogers
Adalah salah satu yang memiliki pikiran mengenai hubungan
antara manusia. Walaupun ia seorang ahli psikologi namun
gagasannya berlawanan dengan arus utama pemikiran psikologi,
tetapi cenderung kuat pada pemikiran pemonologi. Rogers adalah
seorang ahli terapi yang banyak menghabiskan waktunya dan
54
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 323.
49
mendengarkan keluhan pasien ketika mereka mengungkapkan
pengalamannya dengan diri mereka sendiri. Rogers menghasilkan
teori komunikasi membuat penduan bagaimana berkomunikasi
secara lebih efektif dalam hubungan dengan orang lain. Dalam hal
ini pendekatan yang digunakan Rogers bersifat normatif atau
preskriftif.55
Semakin dewasa seseorang maka bidang penomenalnya
juga semakin tumbuh, dan beberapa bagian diantaranya
teridentifikasi menjadi diri. Diri adalah seperangkat persepsi
terorganisasi mengenai siapa dan apa yang memedakan diri dengan
aspek lainnya. individu yang sehat atau mencapai kedua tujuan jika
mengalami situasi yang disebut “kongruen” yaitu adanya
konsestensi antara siapa dan apa yang dilakukan. Seberapa banyak
seseorang mengalami kongruen adalah sangat dipengaruhi oleh
hubungannya dengan orang lain. Hubungan yang ditandai dengan
komunikasi kritis dan negatif cenderung akan menghasilkan
keadaan inkongruen. Karena komunikasi dengan kritis dan negatif
akan menciptakan inkonsistensi antara rasa diri dan aspek lain dari
pengalaman.56
Sebaliknya kongruen adalah produk dari hubungan yang
bersifat saling mendukung dan memperkuat. Dengan kata lain
suatu hubungan yang mendukung dengan adanya perhatian positif
55
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 323.
56
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 324.
50
tanpa adanya sarat apapun yang menciptakan lingkungan yang
bebas dari ancaman dimana kita dapat melakukan aktualisasi diri.
Terkadang dalam hubungan kita dengan orang lain kita memegang
peran sebagai orang yang mendukung orang lain, kita mencoba
menyediakan sarana bagi pertumbuhan dan perubahan pada pihak
orang lain.
Konsisten beberapa teori lainnya yang telah dibahas dalam
bab ini bahwa Rogers tidak memfokuskan perhatiannya kepada
pariabel psikologis tetapi pada pola komunikasi yang sebenarnya.
Dalam hubungan yang sebenarnya kita mengakui dan mebolehkan
adanya perbedaan dan bersedia untuk saling menerima.
Gagasan Carl dan Rogers mengenai dialog benyak
digunakan para ahli komunikasi pada tahun 1960-an dan 1970-an,
namun selama beberapa tahun pandangan Rogers tidak terlalu
mendapat perhatian karena dianggap sederhana, bahkan naif.
Karya Carl Rogers sering kali dihubungkan dengan Martin
Buber dan kedua teori ini memberikan pandangan yang sama
terhadap hbungan dialogis. Rogers juga mengakui pengaruh Buber
pada karyanya yang pernah bertemu dan menggelar dialog pubik
dan membahas ide mereka masing-masing.57
b. Martin Buber
57
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 327.
51
Martin Buber adalah seorang tokoh penting dalam bidang
pemikiran keagamaan pada abad ke-20. Melalui berbagai
tulisannya buber mengemukakan pandangannya yang utuh
mengenai menjadi manusia pada era modern ini. Bagi Buber,
Tuhan dapat diketahui tidak hanya melalui hubungan personal
dengan tuhan tetapi juga dengan manusia lain serta alam semesta.
dengan demikian tidak terdapat definisi tunggal dan objektif
mengenai tuhan karena bersifat personal dan definisi Tuhan
terdapat dalam satu tipe hubungan khusus antara manusia dan
Tuhan.58
Komunikasi dalam pandangan Buber merupakan hal yang sulit
untuk dilakukan karena keseluruhan dalam segala pengalaman,
pendapat, gagasan dan perasaan yang dimiliki. Buber menamakan
situasi ini sebagai jalan sempit. Terkadang sering kali orang tidak
memperlakukan orang lain sebagai individu yang berharga, orang
sering memperlakukan orang lain sebagai objek yang diberi lebel
atau nama, dimanipulasi, diubah, dan diolah untuk keuntungan diri
sendiri. Tiga tipe interaksi dalam hubungan sebagai berikut yaitu:
1. Monolog, muncul ketika anda memonopoli percakapan
mengutamakan ide dan kepentingan diri sendiri dibandingkan
kepentingan orang lain.
58
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 327.
52
2. Dialog teknis, lebih menekankan pada pertukaran informasi dari
pada pertukaran pengalaman masing-masing individu.
3. Monolog seolah dialog, komunikasi dimana para peserta
berbicara mengenai isu tanpa melibatkan diri sendiri atau orang
lain secara jujur dan langsung kompleksitas dalam dialog
tersebut.59
59
Morissan. Teori Komunikasi. Halaman 328 – 329.
55
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah
deskriptif kualitatif. Menurut Moleong dalam Arikunto, penelitian
kualitatif adalah tampilan yang berupa kata-kata lisan atau tertulis yang
dicermati oleh peneliti, dan benda-benda yang diamati hingga detailnya
agar dapat menghasilkan makna yang tersirat60. Dalam mendapatkan data
penelitian kualitatif peneliti menggunakan observasi, wawancara, dan
dokumentasi seperti yang dikemukakan oleh Bruce A. Chadwich dalam
bukunya “Social Sciense Research Methods”.
“Metode kualitatif mengacu pada strategi penelitian, seperti
observasi penelitian, wawancara, mendalam, partisipasi total kedalam
aktivitas yang diselidiki, kerja lapangan dan sebagainya, yang
memungkinkan peneliti memperoleh informasi dari tangan pertama
mengenai masalah sosial empiris yang hendak dipecahkan, metodologi
kualitatif memungkinkan peneliti mendekati data sehingga mampu
menggabungkan komponen dan keterangan yang analitis, konseptual dan
kategori dari data itu sendiri dan bukannya dari teknik-teknik yang
dikonsepsikan sebelumnya, tersusun secara kaku dan dikuantifikasikan
60
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2010), hlm 22.
53
55
secara tinggi yang memasukkan saja ke dunia sosial empiris kedalam
definisi operasional yang telah disusun peneliti.”61
Sedangkan pendekatan dalam penelitian ini ialah pendekatan
deskriptif, istilah deskriptif berasal dari bahasa Inggris To Describe yang
artinya memaparkan atau menggambarkan sesuatu hal, misalnya kondisi,
situasi, peristiwa, kegiatan, dan lain-lain.62
B. Waktu dan Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti membutuhkan waktu kurang lebih
selama satu bulan, Desember 2017 sampai dengan bulan Januari 2018.
Lokasi penelitian ini di Desa Perluasan Sukaraja dengan alasan untuk
menambah litelatur tentang keberagaman yang terdapat di Indonesia salah
satunya di Desa Perluasan Sukaraja Kecamata Sukaraja Kabupaten Seluma
Provinsi Bengkulu.
C. Informan Penelitian
Informan penelitian adalah orang yang di mamfaatkan untuk
memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. 63
Menurut Qoni, informan penelitian adalah orang yang memberikan
informasi, dalam penelitian yang menjadi sumber informasi adalah
informan yang berkompeten dan mempunyai relevansi dengan penelitian.
Untuk menentukan informan penelitian ini, peneliti menggunakan
61
Rusydi Sulaiman dan Muhammad Holid, Pengantar Metodologi Penelitian Dasar,
(Surabaya: Elkaf, 2007), hlm 85.
62
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Hlm 10.
63
Rusydi Sulaiman dan Muhammad Holid, Pengantar Metodologi Penelitian Dasar. Hlm
152.
56
Purposive Sampling dan Snowball Sampling. Purposive sampling adalah
teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu, seseorang
atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa
seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi
penelitiannya. Sedangkan Snowball Sampling adalah teknik penentuan
sampel yang pada awalnya jumlahnya kecil kemudian bertambah besar
(Sugiyono, 2012).
Pada mulanya, penelitian menggunakan purposive sampling yakni
dengan melakukan wawancara dengan informan yang sesuai dengan
kriteria yang telah ditentukan, yakni status latar belakang dan status
keanggotaan grup yang berbeda-beda, agar didapatkan data yang beragam.
Kemudian dari satu informan tersebut memberikan rekomendasi perihal
informan selanjutnya yang sesuai dengan kriteria penelitian dan masalah
yang diteliti oleh peneliti, maka dalam proses ini dapat disebut
menggunakan snowball sampling. Dalam penelitian ini dengan siapa
peserta atau informan pernah dikontakatau pertama kali bertemu dengan
peneliti kepada orang lainyang berpotensi berpatisipasi atau berkontribusi
dan memberi informasi kepada peneliti 64 . Hal ini dikarenakan dalam
penelitian, namun tidak semua umat beragama di Desa Perluasan Sukaraja
terbuka untuk diwawancarai, maka peneliti memilih pemuka agama yang
bersedia dimintai keterangan dan merekomendasikan beberapa orang
untuk bersedia manjadi informan dalam penelitian ini. Untuk menjadi
64
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan
Ilmu Sosial Lainnya), (Jakarta, 2007), hlm 108.
57
informan, komunikasi dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di
Desa Perluasan Sukaraja 65 . Adapun kriteria yang menyangkut dalam
penelitian ini yaitu :
1. Masyarakat yang menganut agama Islam dan Kristen.
2. Informan bersedia memberikan informasi mengenai komunikasi dalam
menjaga kerukunan antar umat beragama di Desa Perluasan Sukaraja.
Adapun informan pada penelitian ini ialah sebagai berikut:
1. Imam Masjid At-Taqwa
2. Pendeta GPDI Bethesda Sukaraja
3. Jama‟ah Masjid sebanyak 4 orang
4. Jama‟ah Gereja sebanyak 4 orang
Jadi secara keseluruhan jumlah informan pada penelitian ini
sebanyak 10 orang.
D. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data
primer dan sekunder. Menurut Lopland dalam Moleong bahwa sumber
data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan,
sedangkan selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain.66
1. Data Primer
Menurut Lofland dan Lofland (Moleong, 2006: 157) sumber data
primer adalah sumber data utama dalam penelitian kualitatif berasal dari
kata-kata dan tindakan seseorang. Sumber data primer dapat diperoleh
66
Lexy J. Meolong, Metodologi Penelitian Kualitatif , (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2013), hlm 157.
58
melalui wawancara dan pengamatan langsung. Pada penelitian ini
mengambil sumber data primer dari hasil wawancara mengenai
masyarakat beda agama di Desa Perluasan Sukaraja. Selain itu data
diperoleh juga dari lapangan.
2. Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan data yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data (Sugiono, 2010: 225). Data
sekunder digunakan sebagai pendukung data primer. Sumber data
sekunder dapat diperoleh dari dokumentasi dan catatan lapangan yang
diperoleh melalui hasil observasi.67 Dalam hal ini data yang dimaksudkan
ialah data-data berupa letak geografis, dan keagamaan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data,
yaitu sebagai berikut:
1. Observasi
Menurut Sussan Stainback dalam Sugioyono menyatakan
observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang mereka kerjakan,
mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpatisipasi (berperanserta)
dalam aktivitas mereka. 68 Sedangkan menurut Hadi dalam Suioyono
adalah sebuah proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari
67
Etta Sangadji dan Sopiah, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis Dalam
Penelitian, (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2010), hlm 170.
68
Sugioyono, Metode Penelitian Pendidikan Penndekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm 311.
59
berbagai biologis dan psikologis dan dua diantaranya yangterpenting ialah
proses-proses pengamatan dan juga ingatan.69
Pengamatan yang peneliti lakukan dalam penelitian ini
menggunakan kamera untuk mengambil moment-moment penting.
Kemudian hasil dari pengamatan dan pengambilan gambar untuk dijadikan
dasar dalam wawancara untuk mendapatkan data yang berkenaan dengan
penelitian ini. Selain sebagai acuan dalam wawancara gambar yang
diperoleh juga sebagai bukti penelitian yang peneliti lakukan.
2 .Wawancara
Menurut Bungin, secara umum wawancara mendalam adalah
proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya
jawab sambil bertatap muka antara peneliti (pewawancara) dengan
informan atau orang yang diwawancarai, dengan menggunakan pedoman
wawancara atau tidak menggunakan pedoman wawancara, dimana
pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif
lama70. Dalam penelitian ini datang bersilaturahmi dengan informan untuk
di wawancarai mengenai masalah penelitian. Adapun alat yang digunakan
dalam wawancara dengan informan yaitu Handphone.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah proses pencarian data menegenai hal-hal
atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, dan
69
Sugioyono, Metode Penelitian Pendidikan Penndekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D .Hlm 311.
70
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan
Ilmu Sosial Lainnya), (Jakarta, 2007), hlm 111.
60
prasasti.71 Dokumnetasi adalah catatan yang sudah berlaku. Dokumen bisa
berbentuk tulisan, gambar, foto, atau karya-karya monumental dari
seseorang. Dalam penelitian ini foto atau data yang dibutuhkan yaitu foto
atau data yang diperoleh dari kegiatan penelitian komunikasi dalam
menjaga kerukunan antar umat beragama di Desa Perluasan Sukaraja
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma.
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif teknik analisis data memerlukan salah
satu pekerjaan yang sulit, memerlukan kerja keras. Oleh sebab itu
memerlukan kemampuan intlektual yang tinggi. Hal ini bisa dimulai dari
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari
hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat
dipahami dan temuan nya dapat diinformasikan pada orang lain.72 Analisis
data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya dalam
unit-unit, melakukan sintesa, menyusun dalam pola, memilih yang penting
dan yang akan dipelajari, dan membuata kesimpulan yang dapat
diceritakan pada orang lain. Sedangkan menurut Nasution dalam Kahmad
analisis data dapat dilakukan dalam tiga cara:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses penyusunan data yang diperoleh
di lapangan dalam bentuk uraian yang lengkap, data tersebut direduksi,
dirangkum, dan dipilih hal-hal yang pokok, yang penting dan berkaitan
71
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan [Link] 274.
72
Sugioyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Hlm 334.
61
dengan masalah. Data telah direduksi dapat memberikan gambaran yang
lebih tajam tentang hasil pengamatan dan wawancara.
2. Penyajian Data
Analisis ini dilakukan mengingat data yang dilakukan sangat
banyak, data yang tertumpuk ini dapat menimbulkan kesulitan dalam
menggambarkan rincian secara keseluruhan dan sulit pula mengambil
kesimpulan. Oleh karena itu mengapa teknik Display data ini sangat
diperlukan dalam penelitian untuk mengatasi kesulitan dan Display data
ini dapat membuat model, matriks, ataupun grafik sehingga keseluruhan
data dan bagian detailnya dapat dipetakan dengan jelas.
3. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan di akhir penelitian
kualitatif. Peneliti harus sampai pada kesimpulan dan melakukan
verifikasi, baik dari segi makna maupun kebenaran kesimpulan yang
disepakati oleh subjek tempat penelitian itu dilaksanakan. Demikian pula
jika dalam verifikasi ternyata ada kesimpulan yang masih meragukan dan
belum disepakati kebenaran maknanya, maka harus kembali ke proses
pengumpulan data.
Penarikan kesimpulan merupakan langkah ketiga atau terkahir
dalam model analisis interaktive Huberman dan Miles. Dalam metode ini
penarikan kesimpulan masih bersifat sementara dan akan berubah jika
tidak ditemukan data pendukung yang kuat mengenai kesimpulan.73
62
Berikut tabel penarikan kesimpulan dalam penelitian ini
Observasi Sumber
Lapangan Data
Reduksi
Data
Pengumpulan
Data Penyajia
n Data
Kesimpula
n
73
Sugioyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Hlm 338-
345.
63
G. Kerangka Teori Komunikasi
Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
Kristen Teori Penetrasi Islam
Sosial
Saling menghormati
dan menjunjung tinggi
toleransi antar umat
beragama.
Teori penetrasi sosial, merupakan keterbukaan diri (self-
discourse) telah menjadi salah satu topik penting dalam teori komunikasi
sejak tahun 1960-an. Teori penetrasi sosial berupaya mengidentifikasi
proses peningkatan keterbukaan dan keintiman sesorang dalam menjalin
hubungan dengan orang lain. Teori yang disusun oleh Irwin Altman dan
Dimas Taylor tersebut, merupakan salah satu karya penting dalam
perjalanan panjang dalam penelitian dibidang perkembangan hubungan
(relationship development).74
74
Morissan. Teori Komunikasi. (Jakarta : Kencana : 2014, cet 2. Halaman 296.
64
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripi Wilayah Penelitian
1. Profil Desa Perluasan Sukaraja
a. Sejarah Singkat
Awal mula terbentuknya Desa Perluasan Sukaraja dengan
adanya program transmigrasi oleh pemerintah pada tahun 1965, dengan
tujuan untuk mengurangi jumlah penduduk di daerah Jawa Tengah,
Jawa Timur, Madura, Jember, Klaten dan disusul oleh daerah lainnya
seperti Batak, dan Sumatera Selatan. Pada umumnya mereka mulai
membuka hutan untuk dijadikan kebun, dan ada juga yang menjadi
karyawan di PTPN 7 yang merupakan salah satu penghasil komoditi
karet di Sumatera dan menjadi produk impor ke luar negeri. Selain
karet, ada juga tanaman lainnya seperti sawit, yang juga menjadi salah
satu penopang roda ekonomi masyarakat. Selain bertani, ada juga
masyarakat yang berwiraswasta dan sebagai PNS.
Desa Perluasan Sukaraja pada awalnya penduduknya masih
sedikit, dan masih seperti hutan belantara berkisar 5-10 orang saja,
namun dengan seiring perkembangan dan kemajuan zaman, banyak
orang yang mulai menetap di Desa Perluasan Sukaraja, saat ini Desa
Perluasan Sukaraja sudah sangat baik, dikarenakan akses menuju desa
tersebut sudah berkembang dan memperlancar roda perekonomian
daerah tersebut.
65
b. Batas Wilayah
Batas wilayah Desa Perluasan Sukaraja Kecamatan Sukaraja
Kabupaten Seluma adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Talang Sebaris;
2. Sebelaah Selatan berbatasan dengan Desa Sukamaju;
3. Sebelah Utara berbatasan dengan PTPN 7 Padang Pelawi; dan
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Talang Benuang.
c. Keadaan Penduduk
Desa Perluasan Sukaraja Kecamatan Sukaraja Kabupaten
Seluma memiliki jumlah penduduk 965 jiwa, yang terdiri dari 553 laki-
laki dan 412 perempuan. Gambaran rinci keadaan penduduk Desa
Perluasan Sukaraja dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Desa Perluasan Sukaraja
No Jenis kelamin Jumlah
1 Laki-laki 553 Jiwa
2 Perempuan 412 Jiwa
Total Jumlah 965 Jiwa
Sumber : Dokumentasi kantor Desa Perluasan Sukaraja tahun 2017
Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja Kecamatan Sukaraja
Kabupaten Seluma berasal dari berbagai daerah yang berbeda-beda,
dimana mayoritas penduduknya adalah Jawa, dan yang pertama kali
mendiami Desa Perluasan Sukaraja. Selain itu, terdapat suku Serawai,
Sunda, Batak, Madura, dan Sumatera Selatan. Meskipun demikian
mereka tetap menjaga kearifan lokal yang sudah dibangun lama demi
66
menjaga kerukukan dan juga menjujung tinggi pancasila serta toleransi
kepada sesama. Hal tersebut secara efektif dapat menghindari adanya
konflik yang bisa saja terjadi di masyarakat.
d. Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam
menentukan perubahan kehidupan sosial di dalam masyarakat. Tingkat
pendidikan tersebut ditandai dengan lulusan yang terdaftar, mulai yang
paling rendah, hingga yang paling tinggi dalam jenjang pendidikan.
Rincian tingkat pendidikan masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma.
Berdasarkan tabel di bawah dapat diketahui bahwa masyarakat
Desa Perluasa Sukaraja mempunyai latar belakang pendidikan yang
masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari jumlah yang berpendidikan S1
hanya 15 orang sedangkan selebihnya lulusan SMA dan SMP ke bawah.
Dari tabel persentase di bawah, menunjukkan angka pendidikan yang
bertamatan SD masih sangat tinggi. Hal tersebut dapat kita lihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel 4.2
Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 SD 192
2 SMP 113
3 SMA 115
4 Diploma/Sarjana 15
Jumlah 435
Sumber : Dokumentasi kantor Desa Perluasan Sukaraja tahun 2017
67
e. Kehidupan Sosial Ekonomi
Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah petani,
buruh bangunan, pedagang, wiraswasta, PNS, Polri, dan lain-lain. Dalam
berbagai perbedaan mata pencaharian masyarakat Desa Perluasan
Sukaraja, tidak membatasi masyarakat untuk saling berbaur antara umat
beragama.
Pola perekonomian secara umum menurut sifatnya dapat dibagi
menjadi dua bagian. Pertama, bersifat formal yang mempunyai ciri
khusus, yaitu mempunyai penghasilan tetap, seperti pegawai, baik
pegawai negeri maupun swasta. Pekerjaan yang bersifat informal
bercirikan pada penghasilan yang tidak tetap, seperti wiraswasta, petani,
buruh, dan pedagang. Dalam pola perekonomian masyarakat Desa
Perluasan Sukaraja lebih di dominasi petani, dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel 4.3
Mata Pencaharian Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
No Mata Pencaharian Jumlah
1 Petani 88 Orang
2 Swasta 53 Orang
3 Buruh 33 Orang
4 TNI/Polri 2 Orang
5 PNS 13 Orang
Total Jumlah 189 orang
Sumber : Dokumentasi Kantor Desa Perluasan Sukaraja tahun 2017
f. Kehidupan Sosial Keagamaan
Penduduk Desa Perluasan Sukaraja Kabupaten Seluma, sebagian
besar masyarakatnya menganut agama Islam yaitu sebanyak 75%,
68
sedangkan sisanya beragama Kristen berjumlah 25%. Walaupun begitu
mereka hidup dengan penuh kerukunan, menjunjung tinggi toleransi dan
pancasila.
Tabel 4.4
Jumlah Pemeluk Agama di Desa Perluasan Sukaraja
No Agama Jumlah
1 Islam 724
2 Kristen 241
g. Sarana Ibadah
Sarana ibadah masyarakat Desa Perluasan Sukaraja diantaranya
adalah tempat-tempat ibadah sebagai sarana peribadatan masyarakat yang
ada, beberapa tempat ibadah diantaranya, Masjid dan Gereja, yang
merupakan tempat peribadatan umat beragama yang ada di Desa
Perluasan Sukaraja. Sarana ibadah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.4
Data Sarana Ibadah di Desa Perluasan Sukaraja
No Tempat Ibadah Jumlah
1 Masjid 1
2 Gereja Protestan 1
Sumber : Dokumentasi Kantor Desa Perluasan Sukaraja tahun 2017
69
B. Profil Informan
1. Karakteristik Informan
Sebelum membahas hasil penelitian, terlebih dahulu peneliti
paparkan secara singkat profil informan sebagai sumber informasi/data
dalam penelitian ini. Informan dalam penelitian adalah umat beragama
yang hidup berdampingan antar pemeluk agama, serta tokoh yang
berperan penting dalam urusan keagamaan di Desa Perluasan Sukaraja.
Informan dalam penelitian ini terdiri dari imam masjid, umat
muslim, pendeta gereja dan umat kristiani. Adapun informan dari agama
Islam, Masdar, Ratih, Aswaji, Sumiati, dan Anwar. Informan tersebut
merupakan pemuka agama, anggota karang taruna dan warga yang sudah
lama hidup berdampingan dengan mayarakat yang berbeda agama, serta
berperan aktif dalam kegiatan keagamaan.
Informan berikutnya dari agama Kristen yaitu Effendi Manalu,
Aris, Enny, Fran Sinaga, El BR Gultom. Informan tersebut merupakan
pemuka dan jamaah umat kristen di Desa Perluasan Sukaraja. Secara
rinci informan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.5
Profil Informan Penelitian
No Nama Usia Tempat Tanggal Agama
Informan Lahir
1 Masdar 64 tahun Jember, 13-7-1954 Islam
2 Aswaji 50 tahun Jember, 05-04-1968 Islam
3 Sumiati 52 tahun Kediri, 13-06-1966 Islam
70
4 Ratih 22 tahun Ngalam, 08-09- Islam
1995
5 Anwar 24 tahun Klaten, 19-09-1993 Islam
6 Efendi 62 tahun Medan, 05-08-1956 Kristen
Manalu
7 Aris 40 tahun Jogja, 11-10-1978 Kristen
8 Enny 35 tahun Cimahi, 23-12-1983 Kristen
9 Fran Sinaga 27 tahun Sibolga 26-03-1991 Kristen
10 El. BR 52 tahun Medan, 17-11-1966 Kristen
Gultom
C. Hasil Penelitian
Dalam konteks kepentingan negara dan bangsa, kerukunan antar
umat beragama merupakan bagian yang sangat penting. Kerukunan antar
umat beragama merupakan suatu keadaan hubungan sesama umat
beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian,
menghormati, dan saling menghargai antar umat beragama.
Seluruh umat beragama harusnya mampu memberikan
kontribusi yang nyata demi terciptanya hubungan yang harmonis dalam
kerukunan antar umat beragama. Nilai-nilai religius juga dapat
memberikan motivasi yang positif dan juga menjadi arah tujuan dalam
seluruh kegiatan yang melibatkan masyarakat beda agama. Banyak
konflik yang mengarah terjadinya permusuhan dan penghancuran sarana
ibadah yang diakibatkan oleh hubungan yang tidak harmonis antar umat
beragama.
71
Kerukunan yang dimaksud bukan hanya sekedar rukun di depan
pandangan orang lain, namun kerukunan yang dimaksud ialah suatu
kondisi tercipta hubungan yang harmonis dan bekerja sama yang nyata,
dengan tetap menghargai adanya perbedaan antar umat beragama dan
juga menjalankan kayakinan yang mereka pilih sendiri.
Kerukunan yang didorong oleh kesadaran, walaupun berbeda,
semua kelompok agama mempunyai tugas dan tanggung jawab bersama,
yakni menjaga kerukunan antar umat beragama. Kerukunan sebuah
proses yang dinamis yang berlangsung sejalan dengan pertumbuhan
masyarakat itu sendiri. Pembinaan kerukunan antar umat beragama
dilakukan secara sadar, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun,
teratur, dan bertanggung jawab.
Tugas mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama
dilingkungan masyarakat adalah tugas bersama umat beragama. Setiap
individu dan juga kelompok umat beragama dalam kesehariannya selalu
berkomunikasi satu dengan yang lainnya dengan berbagai kepentingan.
Untuk menjaga kerukunan hidup antar umat beragama salah
satunya dengan mengadakan saling bekerja sama, gotong royong, saling
bersilturahmi dengan antar umat beragama. Hal ini yang dapat
menciptakan kerukunan antar umat beragama di antara masyarakat dan
juga dapat menghindari adanya konflik antar umat beragama.
Masyarakat yang hidup dalam keberagaman antar umat beragama,
harusnya dapat menahan diri, tidak mudah percaya dengan adanya berita
72
penyebar isu dan sara‟ yang dapat memecah kerukunan antar umat
beragama dan informasi yang belum tentu pasti terjadi.
Masyarakat dan tokoh agama harus betul-betul menjalin
komunikasi di semua tingkat kehidupan umat beragama, dari atas sampai
ke bawah, tanpa ada rasa perbedaan dalam berkomunikasi dengan umat
antar beragama. Hal itu dapat memberikan contoh panutan dalam
masyarakat, baik formal maupun informal. Bagaimanapun juga panutan
agama harus menyadari bahwa mereka mempunyai tanggung jawab yang
besar dalam agama yang dia yakini, mereka harus menanamkan hal
positif dalam kehidupan antar umat beragama.
Dalam mencapai kehidupan beragama yang dinamis, semua
umat beragama harus saling mengohormati di setiap perbedaan antar
umat beragama, dengan begitu maka saling timbul keterbukaan terhadap
agama lain untuk bisa saling mengenal dan saling memahami timbal
balik antar umat beragama. Kondisi ini sesuai dengan kehidupan realita
yang ada pada masyarakat Desa Perluasan Sukaraja, yang hidup
berdampingan antar umat beragama, dan tempat ibadah mereka
berbatasan dengan lapangan voli saja. Hal ini tercermin dalam kehidupan
sehari-hari, masyarakatnya saling berkomunikasi satu dengan lainnya,
tanpa membedakan agama yang di yakininya. Masyarakat Desa
Perluasan Sukaraja hidup dengan damai, tanpa ada rasa takut akan
terjadinya konflik antar umat beragama. Berikut di sajikan hasil
73
penelitian berupa wawancara dengan beberapa informan yang ada di
Desa Perluasan Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma.
a. Komunikasi dalam menjaga Kerukunan Umat Beragama
Dalam menjaga kerukunan antar umat beragama, masyarakat
dan pemuka agama saling menjaga sikap toleransi antar umat beragama,
dan pemuka agama juga memiliki dalam berkomunikasi dalam menjaga
kerukuan antar umat beragama, terutama dalam kehidupan sehari-hari.
Secara umum, masyarakat juga melakukan komunikasi dalam menjaga
kerukunan antar umat beragama yang ada di Desa Perluasan Sukaraja ini,
dengan berbagai bentuk kegiatan yang dapat menjaga kerukunan antar
umat beragama. Hal ini merupakan hal terpenting dalam menanamkan
nilai-niai kedamaian, dikarenakan masyarakat yang hidup dengan
keberagaman antar umat beragama ini dapat memberikan hal yang positif
bagi kehidupan selanjutnya.
Komunikasi kerukunan antar umat beragama dapat kita ketahui
dari penjelasan Masdar, sebagai berikut;
“Kerukunan yang ada di Desa Perluasan ini sangat baik sekali,
kami hidup dengan damai. Kehidupan kami sehari-hari saling
membaur dan juga saling bekerja sama ketika ada kegiatan desa,
dalam kegiatan sosial bermasyarakat saat ada musibah, ataupun
dalam bentuk kegiatan sosial lainnya, maupun ketika akan ada
acara pesta pernikahan diantara salah satu umat beragama
tersebut. Kami mengesampingkan perbedaan, dalam bentuk
kegiatan budaya, kami menggabungkan budaya – budaya yang
ada, seperti budaya tari persembahan ketika upacara adat, lalu
dipadukan dengan budaya lokal. Bentuk kegiatan sosial yang
ada di masyarakat misalnya berkunjung ke rumah tetangga yang
sedang sakit, terkena musibah, gotong royong, walaupun itu
74
berbeda agama, kami selalu hidup rukun dan damai75. Bicara
mengenai urusan agama memang sudah jalannya masing-
masing dalam mengadap sang pencipta, hanya tinggal
bagaimana kita menghadap kepada Allah SWT. Saya
berpendapat sesuai dengan Al-Qur‟an pada surat Al-Kafirun
ayat 6.”
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."76
Masdar, menegaskan bahwa kita tidak perlu memikirkan agama
orang lain yang, hanya tinggal bagaimana kita menyikapi dan saling
menghormati, gotong royong dalam segala bentuk kegiatan yang ada. Hal
senada disampaikan oleh Sumiati, beliau menyampaikan cara menjaga
kehidupan kerukunan antar umat beragama.
“Mungkin bagi sebagian orang ada yang belum terbiasa dalam
kehidupan antar umat beragama memang sangat sulit, namun
bagi kami itu merupakan suatu anugerah yang sangat bagus,
dikarenakan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan
umat beragama dan juga menjadikan diri kita lebih menghargai
dan menghormati sesama. Bentuk hal yang mencerminkan
kerukunan antar umat beragama di Desa ini yaitu ketika di
Masjid sedang ada acara Maulid Nabi Muhammd SAW, namun
secara bersamaan di Gereja sedang ada acara juga, demi
kelancaran acara di Masjid dan Gereja kami saling menghargai
dan sama-sama mengecilkan volume sound system. Hal ini kami
lakukan semata-mata menjaga kerukunan antar umat beragama,
begitupun dengan Gereja tersebut, mereka sangat menghargai
perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain bentuk
toleransi seperti itu, kami juga menjaga kerukunan saat
menjelang pemilihan kepala daerah, kami berusaha tidak
terpancing dalam isu dan sara, dan menjaga sportifitas. Suami
saya adalah seorang mualaf, kerluarga dia merupakan keluarga
Gereja, yang artinya berasal dari orang-orang keturunan Gereja.
Kami selalu hidup dalam kerukunan, hal ini yang keumudian
saya terapkan ketika untuk menetap di Desa Perluasan Sukaraja
75
Wawancara dengan Masdar, Imam Masjid Desa Perluasan Sukaraja. Tanggal 8 Januari
2018.
76
Departemen Agama RI. Al-Qur‟an dan Tejermahnya, juz 30, (Bandung, Diponegoro,
2008) cetakan 11. Halaman 483.
75
ini. Sejauh ini belum ada terjadi konflik yang di latar belakangi
dari agama, kami sama-sama menjaga kerukunan hidup dalam
keberagaman antar umat beragama.”77
“Sumiati menegaskan bahwa hidup dalam perbedaan itu bukan
sebagai pembatas ruang gerak kita, bahkan menjadikan kita lebih
menghargai serta menghormati antar pemeluk agama, serta menjaga
kerukunan antar umat beragama. Selain itu agama juga berfungsi sebagai
edukatif, yakni mengajarkan kepada manusia agar dapat membedakan
tindakan yang baik dan yang buruk. Ajaran agama membentuk
penganutnya semakin peka terhadap masalah-masalah sosial seperti
kemaksiatan, kemiskinan, keadilan, kesejahteraan, dan juga
kemanusiaan”. Aswaji menyatakan:
“Selama saya tinggal disini, sejak tahun 1980, belum ada terjadi
hal keributan antar umat beragama di Desa kami, mungkin ada
beberapa masalah kecil, seperti perbedaan pendapat, namun
kami segera ambil tindakan untuk meredam, agar tidak terjadi
konflik yang berkepanjangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga
tali silaturahmi yang kami bangun sudah lama dan kami lebih
mengedepankan hidup rukun agar tidak terjadi perselisihan.
Dapat saya contohkan bentuk kerukunan antar umat bergama,
ketika umat Islam sedang merayakan Idul Fitri, maka umat
Kristen juga berkunjung ke rumah kami, dan begitupun
sebaliknya ketika Natal dan Tahun baru kami berkunjung ke
rumah umat Kristiani, untuk bersilaturahmi. Ketika kami
dihidangkan oleh makanan atau pun kue, umat Kristen tersebut
terlebih dahulu memberi tahu kepada kami bahwa yang
membuat makanan tersebut adalah tetangga kami yang
beragama Islam. Tidak hanya itu, bentuk kegiatan yang lainnya
apabila di Desa ini akan ada pesta pernikahan, dan kami
sebelumnya sudah menginformasikan kepihak Gereja bahwa
akan ada pesta pernikahan, biasanya ibadah di Gereja tersebut
dipercepat agar tidak menggangu suasana peribadahan sesama
umat beragama. Hal kegiatan sosial, kami membangun bersama
77
Wawancara dengan Sumiati, sebagai masyarakat Desa Perluasan Sukaraja. Tanggal 8
Januari 2018.
76
fasilitas desa untuk kepentingan bersama, saling tolong
menolong, dan kami juga berlakukan siskamling, dan petugas
setiap malam pun bergantian, dengan bertujuan mempererat tali
silaturahmi antar umat beragama. Dalam roda perekonomian
juga seperti itu, umat Islam ada yang menjadi tengkulak
karet/sawit, kemudian umat Kristen menjualnya kepada mereka,
begitu juga sebaliknya. Dalam kehidupan sosial kami selalu
berusaha hidup dalam kehamonisasian antar umat beragama”.78
Aswaji menambahkan, sekecil apapun permasalan dalam
kehidupan masyarakat dapat kita jadikan pelajaran dalam kehidupan
sehari-hari, terutama dalam keberagaman antar umat beragama. Hal
tersebut bisa saja mengalami perubahan sosial dalam masyarakat, karena
proses sosial tersebut dialami oleh masyarakat serta unsu-unsur budaya
dan juga sistem sosial, dimana tingkat kehidupan masyarakat dipengaruhi
oleh kehidupan budaya yang berbeda. Ratih, mahasiswi perguruan tinggi
Universitas Bengkulu yang tinggal di Desa Perluasan Sukaraja
mengatakan;
“Saya tinggal di Desa Perluasaan Sukaraja sejak kecil, jadi
lingkungan bermain saya sudah pasti sangat beragam tiap
individunya. Dalam kondisi sosial hubungan individu dengan
yang lainnya sangat dekat. Hidup dalam keberagaman antar
umat beragama ini memang sangat menarik, karena kita dapat
belajar menghargai satu dengan lainnya. Dalam proses
berkomunikasi kita dituntut untuk memahami karakter tiap
individu. Sebagai anggota karang taruna, saya sangat
mengahargai perbedaan di tiap anggota, hal ini tercermin setiap
HUT RI yang diadakan setiap bulan agustus, kami saling
bekerja sama untuk memeriahkan hari kemerdekaan tersebut.
Kami juga mengesampingkan perbedaan di setiap anggota dan
saling menghargai. Apabila kegiatan diadakan hari minggu,
maka kami memaklumi bahwa ada anggota yang bergama
Kristen untuk beribadah di Gereja. Dalam menjalin komunikasi
yang efektif disetiap anggota karang taruna kami saling
78
Wawancara dengan Aswaji, sebagai warga Desa Perluasa Sukaraja. Tanggal 7 Januari
2018.
77
menghormati, menghargai, jangan sampai ada permasalahan
yang dapat menimbulkan isu dan sara karena pada dasarnya
bahwa negara Indonesia sendiri bisa merdeka karena perbedaan
disetiap daerah. Tidak hanya sampai disitu, dalam segi politik
kami berusaha tetap tenang, dan mewaspadai orang-orang yang
tak dikenal hanya untuk merusak kehidupan kerukunan antar
umat beragama.79
Anwar, sebagai pemuda di Desa Perluasan Sukaraja
menjelaskan;
“Dalam hal pergaulan sesama teman, terutama dalam perbedaan
mengenai keyakinan dari individu masing-masing bahwa itu
bukan menjadi persoalan bagi kami untuk tetap menjaga
komunikasi. Karena pada dasarnya hubungan komunikasi ini
sudah terjalin cukup lama, mungkin mengenai hambatan dalam
berkomunikasi antar umat beragama ini hampir tidak ada, kami
berupaya menjaga hubungan yang rukun, harmonis dalam
bermasyarakat. Terutama kami sebagai pemuda yang selalu ikut
andil dalam setiap kegiatan, baik kegiatan desa, HUT RI,
kepengurusan karang taruna dan sebagainya. Hal ini kami
ciptakan agar tidak terjadi kesenjangan sosial ataupun perbedaan
yang dilatar belakangi oleh agama, dan kami sebagai pemuda di
desa ini akan memberikan contoh untuk generasi kami
berikutnya mengenai kerukunan antar umat bergama. Dalam
kehidupan sosial sehri-hari, kami selalu bermain voli yang
merupakan batas antara Masjid dan Gereja. Ada satu tradisi
kami yang sampai saat ini masih kami jaga dengan baik, yaitu
buka puasa bersama kami mengajak umat Kristen untuk
menikamati buka puasa bersama.”80
Dari penjelasan informan di atas mengenai kerukunan antar
umat beragama yang ada di Desa Perluasan Sukaraja masih sangat
terjaga. Effendi Manalu, Pendeta Gereja Bethesda Sukaraja mengatakan;
“Saya sudah lama tinggal di Desa Perluasan Sukaraja ini, sejak
tahun 1988 tepatnya pada bulan November. Kerukunan antar
umat beragama disini sangat terjaga dengan baik dan juga sangat
kondusif. Bentuk-bentuk kerukunan antar umat beragama yaitu
79
Wawancara Ratih, sebagai mahasiswi yang tinggal di Desa Perluasan. Tanggal 13
Januari 2018.
80
Wawancara Anwar, sebagai masyarakat dan juga anggota karang taruna Desa Perluasan
Sukaraja. Tanggal 13 Januari 2018.
78
dengan adanya kerja sama, baik itu pembagunan desa maupun
rumah ibadah, baik itu gereja atau pun masjid. Dari pertama
saya tinggal di desa ini belum pernah ada keributan yang
ditimbulkan oleh perbedaan agama, dan tidak ada hambatan
dalam berkomunikasi antar umat beragama, karena kami saling
menghormati dan juga menjunjung tinggi kesatuan NKRI.
Bentuk bentuk yang mencerminkan kerukuan antar umat
bergama kami saling berdiskusi sesama pemeluk agama, baik
sedang ada masalah maupun tidak, karena untuk mempererat tali
silaturahmi. Sederhana saja dalam menjaga kerukunan umat
beragama, jaga lisan, jaga perbuatan, menghargai, dan
menghormati sesama antar umat beragama. Dalam segi budaya
kami juga sering mempersembahkan tarian khas Sumatera Utara
di saat pementasan ketika memperingati hari kemerdekaan
Republik Indonesia. Di dalam Al-Kitab juga sudah diajarkan
bagaimana hidup dalam kedamaian sesama manusia. Yohanes
13:34. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu
supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah
mengasihi kamu, demikian kamu harus saling mengasihi. Begitu
juga dalam kondisi sosial, kami juga saling membantu
sesama.”81
Aris, menjelaskan;
“Selama saya tinggal disini, belum pernah terjadi konflik yang
dilatar belakangi oleh agama, walaupun saya warga baru sejak
tahun 2011, kehidupan disini sangat rukun sekali. Saling
menjaga komunikasi yang efektif agar sejalan apa yang
diinginkan, lalu nilai-nilai kerukunan tersebut memang kita
tanam sejak dulu dan juga kepada anak-anak disini,
bahwasannya hidup berdampingan dengan beda agama sangat
baik, mengajarkan kita lebih menghargai kepada sesama umat
beragama dan menjunjung tinggi toleransi. Dahulu memang
pernah terjadi salah paham antar umat beragama, karena orang
tersebut merupakan warga baru yang ingin memecah kerukunan
antar umat beragama, namun orang tersebut tidak bertahan lama,
karena kami saling menjaga untuk tetap mempertahankan
kerukunan antar umat beragama. Bentuk-bentuk hubungan
simbiosis mutualisme dalam kerukunann antar umat beragama,
contohnya saja ketika Natal dan juga tahun baru, umat muslim
datang ke rumah, untuk mengucapkan selamat Natal, hal ini
yang membuat tali silaturahmi kami semakin kuat. Dalam segi
ekonomi kami sering bertransaksi jual beli dengan umat
81
Wawancara dengan Efendi Manalu, sebagai Pendeta Gereja Bethesdha Sukaraja. 15
Januari 2018.
79
Muslim. Menjaga keamanan desa juga bentuk simbolik dari
sosial kami peduli dengan lingkungan kami, agar tetap aman dan
tenang.”82
“Aris, juga berpendapat bahwa, umat Kristiani dan Islam saling
mempunyai pemikiran yang kuat mengenai kerukunan umat beragama,
bahwa perbebedaan bukan jadi batasan dalam mencipatakan sebuah
hubungan yang rukun dan juga damai, serta masyarakatnya hidup
berdampingan tanpa ada rasa takut atau ancaman lainnya”. EL.B.R
Gultom menyatakan;
“Saya sudah lama tinggal disini, dan sudah menetap sejak tahun
1992, saat itu saya berasal dari provinsi Sumatera Utara, saya
pindah kesini karena mengikuti suami saya, disini kehidupan
antar umat beragama sangat terjaga dengan baik, baik dari pihak
agama Kristen maupun Islam, sama-sama saling menghormati
untuk kemajuan desa ini. Lihat saja, jarak Gereja dan juga
Masjid sangat dekat, hanya berbatasan dengan lapangan voli,
kami tidak merasa tertanggu saat ingin beribadah. Karena sudah
ada jalannya masing-masing untuk melakukan ibadah. Hal yang
menjadi penghambat dalam berkomunikasi antar umat beragama
ini saya rasa tidak ada, karena kami saling menghormati dan
juga menghargai satu dan lainnya agar keutuhan kerukunan
antar umat beragama yang ada di Desa Perluasan Sukaraja ini
dapat terjaga dengan baik sampai ke generasi berikutnya.
Hal ini tercermin di dalam Al Kitab. Roma 12 : 10 “Hendaklah
kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului
dalam memberi hormat.”83
Fran berpendapat;
“Pandangan saya mengenai kerukunan antar umat beragama ini
sangat baik, dan juga relasi hubungan antara kedua agama ini
sama-sama saling ingin menjaga rasa perdamaian, dan juga
saling menghargai sesama manusia. Hal tersebut dapat kita lihat
dalam kehidupan sehari-hari, dimana kami biasa melakukan
komunikasi dengan umat Islam itu sendiri tidak ada masalah,
ditambah ketika orang Islam mempunyai syukuran dan juga
hajatan kami diundang untuk mengahadiri acara tersebut.
82
Wawancara dengan Aris, sebagai jamaah Gereja Bethesdha Sukaraja. 15 Januari 2018.
83
Wawancara dengan EL B.R Gutom sebagai jamaah Gereja Bethesda Sukaraja. 17
Januari 2018.
80
Karena saya tinggal di Desa ini sudah cukup lama, jadi saya
sudah paham betul mengenai kehidupan kerukunan antar umat
beragama.”84
Hal yang sama dinyatakan Eny;
“Hubungan kerukunan antar umat beragama di Desa Perluasan
Sukaraja ini masih terjaga dengan baik, masyarakat disini juga
hidup berdampingan meskipun ada perbedan agama. Saya
tinggal disini sejak umur 5 tahun dan hidup berdampingan antar
umat beragama. Kami disini sangat menghormati, menghargai,
dan peduli sesama antar pemeluk agama. Menurut saya sudah
seharusnya kita menjaga kerukunan antar umat beragama,
jangan sampai terjadi perselisihan dan konflik, karena manusia
merupakan mahkluk sosial, yang membutuhkan orang lain.
Dalam berkomunikasi kami juga sering melakukan kegiatan
bersama, tanpa ada rasa perbedaan, seperti kegiatan gotong
royong, bakti sosial, dan lainnya. hal ini dapat membuat
hubungan antar kedua agama tersebut dapat terjaga dengan baik,
meskipun banyak berita mengenai perpecahan antar umat
beragama.”85
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Setelah menyajikan data tentang pola komunikasi dalam
menjaga kerukunan antar umat beragama, maka perlu adanya pembahasan
lebih lanjut bagaimana pola komunikasi dalam menjaga kerukunan antar
umat beragama di Desa Perluasan Sukaraja. Dengan merujuk apa yang
dijelaskan, maka Pola Komunikasi adalah hubungan yang dilakukan oleh
dua orang atau lebih, guna menyampaikan pesan sesuai yang diinginkan.
Melalui pengamatan dan wawancara kepada informan penelitian, ada
beberapa pola komunikasi yang diterapkan oleh masyarakat Desa
Perluasan Sukaraja dalam menjaga kerukunan antar umat beragama.
84
Wawancara dengan Fran, sebagai anggota karang taruna Desa Perluasan Sukaraja. 15
Januari 2018.
85
Wawancara dengan Eny, sebagai jemaah Gereja Bethesdha Sukaraja 15 Januari 2018.
81
1. Komunikasi dalam menjaga kerukunan antar umat beragama
Komunikasi juga mempunyai peranan yang sangat penting
dalam kehidupan manusia, karena komunikasi merupakan cara
bagaimana kita berkomuikasi dengan orang lain, terutama antar umat
bergama. Komunikasi juga mempunyai beberapa fungsi dalam kehidupan
sehari-hari, yaitu: menyampaikan informasi, mendidik, menghibur, dan
mempengaruhi 86 . Dari keempat fungsi komunikasi di atas bahwa
komunikasi sangat penting bagi kehidupan seluruh masyarakat.
Hal ini juga yang membuat masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
tersebut dapat menjalin sebuah komunikasi yang efektif, tanpa ada
kesenjangan rasa takut untuk saling berkomunikasi antar umat beragama.
Komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat untuk menjaga kerukunan
antar umat beragama menggunakan komunikasi yang efektif, sesuai
dengan teori yang disampaikan oleh Rakhmat, bahwa komunikasi yang
efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan
kesenangan, mempengaruhi sikap, dan meningkatkan hubungan sosial.87
Sesuai dengan teori di atas, mengenai komunikasi yang efektif antar umat
beragama, sebagaimana dijelaskan pada bagan berikut ini:
86
Effendy Onong Uchana. Ilmu komunikasi. Halaman 8.
87
Jalaludin Rakhmat. Psikologi Komunikasi. (Bandung : Remaja Karya, 2008), halaman
13.
82
Kristen Islam
Teori Komunikasi Hubungan
Teori Penetrasi
Sosial
Hubungan Hubungan Komunikasi Komunikasi
kerukunan sosial hubungan hubungan
sosial keagamaan budaya politik
masyarakat
Kerukunan antar
umat beragama
Berdasarkan bagan di atas, dapat dijelaskan bahwa masyarakat
Desa Perluasan Sukaraja dalam menjaga komunikasi kerukunan antar
umat beragama menggunakan teori penetrasi sosial, yang berupaya
mengidentifikasikan proses peningkatan, keterbukaan dan keintiman
seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain. 88 Kebutuhan
sosial juga dapat menumbuhkan dan mempertahankan hubungan dengan
orang lain, baik dalam keberagaman antar umat beragama, asosiasi, rasa
88
Morissan. Teori Komunikasi. (Jakarta : Kencana : 2014, cet 2. Halaman 296.
83
peduli dan saling menghormati. Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
yang menganut agama Islam dan Kristen memiliki fungsi saling bekerja
sama dalam bidang sosial kemasyarakatan, sosial keagamaan, budaya,
dan juga politik. Ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan sosial tidak
lepas dari berbagai permasalahan, baik permasalahan ekonomi, sosial,
budaya, dan juga perbedaan politik. Hal ini memang sudah dirancang
khusus oleh kedua agama untuk saling menghormati dan saling
menjunjung tinggi pancasila agar tidak terjadi konflik diantara dua agama
yang saling berinteraksi, ada beberapa pola komunikasi kerukunan antar
umat beragama yang ada di Desa Perluasan Sukaraja, Kecamatan
Sukaraja, Kabupaten Seluma. Di antaranya sebagai berikut:
a. Hubungan kerukunan sosial kemasyarakatan
Hubungan sosial merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
sesorang atau kelompok untuk saling berinteraksi. Dengan demikian
hubungan sosial membentuk timbal balik antarindividu, antarkelompok,
serta antara individu dan kelompok. Hubungan sosial dapat terbantuk
karena keinginan individu dan kelompok untuk memenuhi keutuhan
hidupnya. Hubungan sosial dapat dikategorikan sebagai salah satu
realitas sosial atau fenomena sosial. Pada dasarnya manusia salalu
berusaha menjalin hubungan sosial. Terdapat beberapa syarat hubungan
sosial, seperti: Kontak Sosial, contoh sederhana ketika ada dua orang
berjabat tangan, itu menunjukkan terjadinya hubungan sosial yang baik
dan komunikasi juga tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dengan
84
kontak sosial, karena terjadinya proses pemberian aksi dan reaksi yang
bersifat intensif.89
Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja, merupakan tipe
masyarakat yang berbentuk paguyuban, dimana kehidupan tiap
individunya ada hubungan batin yang murni, dan bersifat alamiah. Pola
komunikasi sosial pada masyarakat yang berkembang di Desa Perluasan
Sukaraja ini telah menunjukkan pada kehidupan sosial yang saling
berintegrasi dalam kehidupan kerukunan antar umat beragama. Hal ini
dapat dilihat, bahwa belum pernah terjadi konflik yang melibatkan dua
agama tersebut, bahkan mereka saling hidup damai saling menghormati
satu dan yang lainnya. kehidupan yang nyata juga adanya keterkaitan
adanya norma ataupun pancasila sebagai pemersatu antar umat beragama,
sehingga menjadi nilai-nilai kehidupan sosial dimasyarakat dan
kemudian menjadi sebuah kedekatan dalam masyarakat.
Potensi kerukunan yang ada di masyarakat terlihat jelas dalam
berbagai bentuk kegiatan yang ada di Desa Perluasan Sukaraja ini, seperti
memperingati HUT RI pada tiap tahunnya, acara pernikahan salah satu
masyarakat, upacara kematian. Hal ini merupakan salah satu contoh yang
memperlihatkan adanya kerukunan yang sudah di jaga sejak dulu oleh
masyarakat Desa Perluasan Sukaraja ini. 90
89
Soerjono Soekanto. Sosiologi Sosial dalam Masyarakat. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009).
Halaman 71.
90
Wawancara Ratih, sebagai mahasiswi yang tinggal di Desa Perluasan Sukaraja.
Tanggal 13 Januari 2018.
85
Bentuk kerukunan sosial lainnya ketika dari salah satu umat
beragama tersebut sedang mempunyai hajatan/syukuran, maka tuan
rumah sering kali untuk mengundang datang kerumah, agar tali
silaturahmi antara dua agama tersebut tidak luntur oleh zaman. Dari
contoh di atas, bahwa perbedaan agama bukanlah akhir dari segalanya,
tapi mereka menyadari bahwa dari berbagai perbedaan itu harus harus
dibina dan tidak saling mengganggu dalam beribadah. Dalam kehidupan
bermasyarakat, hubungan sosial yang dilakukan individu merupakan
salah satu upaya untuk mempertahankan keberadaanya. Setiap individu
memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam hal kuantitas dan
kualitas, juga intensitas hubungan sosial yang dilakukannya, sekalipun
terbuka luas peluang individu untuk melakukan hubungan sosial secara
maksimal.91
Dari penemuan penulis di lapangan, adanya hubungan dan
kerjasama sosial keagamaan di masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dalam pembentukan nilai –
nilai sosial yang begitu harmonis. Seperti halnya yang di ungkapakan
oleh Aswaji dalam wawancaranya, kami membangun bersama fasilitas
desa untuk kepentingan bersama, saling tolong menolong, dan kami juga
berlakukan siskamling, dan petugas setiap malam bergantian.92
Dengan berbagi kondisi sosial yang ada di dalam masyarakat
desa Perluasan Sukaraja ini menunjukkan bahwa kebersamaan
91
Nanang Martono. Sosisologi Perubahan Sosial. Halaman 185.
92
Wawancara dengan Aswaji, sebagai warga warga Desa Perluasan Sukaraja. Tanggal 7
Januari 2018.
86
masyarakat dalam hal perbedaan agama tidak menjadi faktor
penghambat, justru menjadikan lebih mempererat tali silaturahmi dan
terciptatnya kerukunan antar umat beragama.
b. Hubungan sosial keagamaan
Agama bukan ilusi, tetapi merupakan fakta sosial yang dapat
diidentifikasi dan mempunyai kepentingan sosial. Semua konsep dasar
yang dihubungkan dengan agama seperti dewa, jiwa, nafas dan totem
berasal dari pengalaman manusia terhadap keagungan golongan sosial.
Agama juga memainkan peranan fungsional, karena agama adalah
prinsip soidaritas masyarakat.93.
Masing-masing agama yang ada di Desa Perluasan Sukaraja
menjalankan ajaran agamanya yang telah di gariskan oleh agama
masing-masing, baik ajaran ritual perorangan, kelompok, maupun dalam
kehidupan sehari-hari. Komunikasi keagamaan yang nyata membentuk
interaksi sosial yang harmonis serta komunikasi yang selalu dilakukan
oleh kedua pemeluk agama yang berbeda.
Masyarakat Desa Perluasan Sukaraja memandang bahwa
perbedaan bukan akhir dari segalanya, namun itu sebagai penguat tali
silaturahmi antara kedua agama tersebut, dan urusan ibadah adalah
hubungan tiap individu dengan penciptanya. Joachim Wach
mendefinisikan bahwa agama adalah metode empiris diskriptif,
93
Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997).
Halaman 31.
87
pengaruh agama terhadap masyarakat sama kuatnya dengan pengaruh
masyarakat terhadap agama.94
Kebebasan dalam hal memeluk agama sangat dijunjung tinggi,
serta perbedaan agama tidak menjadi jurang pemisah yang suram bagi
mereka dalam berinteraksi antar pemeluk agama yang berbeda. Seperti
halnya yang pernah diungkapkan oleh Sumiati dalam wawancaranya,
bahwa ketika di Masjid sedang merayakan Maulid Nabi Muhammad saw,
dalam waktu yang sama di Gereja juga sedang ada kebaktian, maka tanpa
diberi arahan, volume speaker Masjid dan Gereja sama-sama dikurangi,
guna kekhusyukan dalam beribadah, dan menghormati umat Islam yang
sedang berpuasa ketika di bulan suci Ramadhan.95
Dari contoh diatas, bahwa perbedaan agama tidak menjadi api
permusuhan, tetapi mereka menyadari bahwa bentuk perbedaan itu harus
dibina dan tidak saling menggangu dalam beribadah. Dari penemuan
penulis dilapangan saat wawancara bahwa adanya hubungan dan
kerjasama dalam sosial keagamaan di Desa Perluasan Sukaraja ini dalam
kehidupan sehari-hari.
c. Komunikasi Hubungan Budaya
Manusia merupakan pencipta kebudayaan, karena manusi
dianugerahi dengan akal dan budi daya. Dengan akal dan budi daya
itulah manusia menciptakan dan mengembangkan kebudayaan.
Tercipatanya kebudayaan adalah hasil interaksi manusia dengan dengan
94
Syamsuddin Abdullah. Agama dan Masyarakat. Halaman 94.
95
Wawancara dengan Sumiati, sebagai masyarakat Desa Perluasan Sukaraja. Tanggal 8
Januari 2018.
88
segala isi alam raya ini. Karena manusia adalah pencipta budaya, maka
manusia disebut dengan makhluk berbudaya.96
Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhayah
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Kebudayaan
sebagai suatu tindakan berpola dari manusi dalam kumpulan masyarakat.
Wujud ini sering disebut dengan sistem sosial, sistem sosial ini terdiri
dari aktivitas manusia yang saling berinterkasi, mengadakan kontak,
bergaul dengan manusia lainnya. 97
Budaya merupakan ciri khas ataupun sesuatu yang telah melekat
pada diri manusia. Budaya juga merupakan tolak ukur dari berbagai
macam budaya yang ada di Indonesia. Budaya masyarakat Desa
Perluasan Sukaraja merupakan budaya asli dari suku serawai, alkulturasi
dari berbagai budaya yang ada. Dari itu menyebabkan banyak ragam dan
jenis budaya. Contoh ketika ada upacara pernikahan akan dilaksankan
tari andun, dimana tari andun tersebut adalah budaya serawai. Selain itu
ada juga pementasan tari adat khas Sumatera Utara, yang sering di
pentaskan ketika HUT Republik Indonesia.98
Dalam berbudaya manusia juga diatur dengan etika, etika
tersebut memiliki makna yang bervariasi, seperti:
1. Etika dalam arti nilai atau norma yang menjadi pegangan badi
seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah laku.
96
Herimanto & Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. (Jakarta : Bumi Aksara, 2010).
Halaman 26.
97
Herimanto & Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Halaman 24.
98
Wawancara dengan Effendi Manalu, sebagai pendeta Gereja Bethesdha Sukaraja. 15
Januari 2018.
89
2. Etika dalam arti sekumpulan asas arti nilai moral (kode etik
berbudaya).
3. Etika dalam ajaran yang baik dan buruk dengan filsafat moral.99
d. Komunikasi Hubungan Politik
Komunikasi politik merupakan sebuah studi yang
interdisiplinari di bangun atas berbagai macam disiplin ilmu, terutama
dalam hubungannya antara proses komunikasi dan proses politik. Ia
merupakan wilayah pertarungan dan di meriahkan oleh beberapa
persaingan teori, pendekatan, agenda dan konsep membangun jati diri100.
Key mempertemukan pembahasan komunikasi dengan disiplin politik
melalui bukunya Public Opinion and American Democrcy, ia meletakkan
dasar-dasar konseptual untuk menganalisis fungsi komunikasi dalam
tatanan suatu sistem politik.101 Dalam segi politik, kami tetap berusaha
tenang, mewaspadai orang-orang yang tidak dikenal untuk merusak
kerukunan antar umat beragama.102
Politik merupakan suatu usaha yang ditempuh oleh warga
negara untuk berdiskusi dan mewujudkan tujuan bersama. Di Desa
Perluasan Sukaraja melakukan komunikasi secara informal dimana
melakukan pertemuan atau tatap muka, tidak mengikuti prosedur atau
organisasi. Contohnya ketika melakukan pemilihan ketua rukun tetangga,
pemilihan Gubernur, Presiden, maupun ketua Karang Taruna, dimana
99
Herimanto & Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Halaman 27.
100
Hafied Cangara. Komunikasi Politik (Jakarta: Rajawali Pers, 2009). Halaman 16.
101
Hafied Cangara. Komunikasi Politik. Halaman 17.
102
Wawancara Ratih, sebagai mahasiswa yang tinggal di Desa Perluasan Sukaraja.
Tanggal 13 Januari 2018.
90
masyarakat Islam dan masyarakat Kristen berkumpul untuk melakukan
musyawarah pemilihan ketua rukun tangga.
2. Hambatan dalam komunikasi antar umat beragama
Sejak lahir manusia mempunyai naluri untuk hidup bergaul dan
berdampingan dengan manusia lainnya. Naluri ini merupakan salah satu
kebutuhan asasi manusia, karena manusia tidak bisa memenuhi
kebutuhannya sendiri untuk bertahan hidup tanpa bantuan orang lain.
Keterikatan tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk
sosial, yang secara sosiologis membutuhkan hubungan timbal balik yang
satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi.
Dalam berkomunikasi tentunya sudah ada hal-hal yang dapat
menyebabkan tergangunya proses berkomunikasi. Baik dari sumber
maupun penerima komunikasi tersebut. Meskipun dilatarbelakangi oleh
perbedaan agama yang menjadi titik rawan hal yang cukup potensial bagi
terjadinya konflik, namun selagi kerjasama antar umat berbeda agama
tersebut tetap terpelihara dengan baik. Hambatan dalam berkomunikasi
antar umat beragama biasanya dilatar belakangi oleh konflik antar umat
beragama, seperti di Singkil 2015. Konflik ini diawali dengan
demonstrasi umat Islam menuntut pemerintah untuk membongka
sejumlah Gereja Kristen, akibat demonstrasi tersebut terjadi konflik dan
sampai sekarang kehidupan masyarakat Singkil hidup dalam
keharmonisan tanpa ada kesenjangan antar umat beragama103.
103
[Link] diakses tanggal 7 Febuari 2018.
91
Prasangka sosial yang buruk merupakan sumber potensial bagi
perpecahan/disintregasi yang dapat mengakibatkan terjadinya konflik.
Dalam hubungannya dengan kehidupan beragama di wilayah Desa
Perluasan Sukaraja. Disini peran tokoh agama sangat signifikan dalam
mengarahkan keberagaman umat beragama. Tokoh agama juga
memerankan fungsi agama sebagai kemaslahatan umat. Mereka juga
mengembangkan komunikasi antar umat beragama yang memiliki
semangat perdamaian, kerukunan, dan mencerahkan keberagaman umat.
Sehingga ajaran agama terutama masalah keadilan, kedamaian, toleransi
dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa.
Dari berbagai penemuan dan juga pembahasan maka dapat disimpulkan
bahwa terdapat faktor-faktor atau potensi terjadinya konflik, yaitu:
1. Hubungan antar umat beragama yang berbeda di Desa Perluasan
Sukaraja ini memiliki potensi konflik, walaupun dalam skala kecil.
Melalui pengembangan sikap saling menghormati, menghargai,
menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama, maka faktor
penghambat dalam proses komunikasi antar umat beragama tersebut
dapat terjalin dengan baik.
2. Prasangka sosial yang juga berkembang diantara kelompok keagamaan
dapat terjadi karena adanya suatu kekhawatiran penguasaan pada suatu
kelompok keagamaan terhadap kelompok keagamaan lainnya melalui:
- Perpindahan agama
92
- Perbedaan budaya
- Kecemburuan sosial
- Penguasaan sektor ekonomi
- Miss communication/komunikasi yang tidak efektif
- Penguasaan pada posisi dan jabatan tertentu di masyarakat
- Kesalah pahaman pada respon setian individu yang berbeda
- Penguasaan sektor ekonomi
- Pengembangan sarana-sarana peribadahan
Dari beberapa faktor diatas yang bisa saja menjadi hambatan-
hambatan dalam proses berkomunikasi dengan baik pada masyarakat
berbeda agama, dan dapat memicu timbulnya konflik104. Tetapi agama
juga mengandung doktrin-doktrin yang bertolak belakang satu dan
lainnya. Tentunya untuk menghindari konflik dan juga hambatan dalam
proses berkomunikasi. Nilai – nilai hubungan dengan kelompok agama
lain yang berbeda inilah perlu dipertemukan untuk membangun dan
membina sebuah kerukunan hidup beragama bersama. Karena semua
agama menerima untuk hidup bersama dalam perbedaan.
Masyarakat juga mulai menyadari akan perlunya kedamaian
antara sesama warga dan juga perpecahan adalah sangat merugikan
mereka., karena pada dasrnya mereka adalahg satu bangsa, satu
Indonesia, meskipun berbeda agama, ras, suku, dan budaya.
104
Nanang Martono. Sosiologi Perubahan Sosial. Halaman 171.
93
Keadaan tersebut terus dipelihara sampai saat ini, hingga sampai
penelitian ini dilakukan, belum pernah terjadinya konflik antar umat
beragama yang dapat menimbulkan perpecahan diantara mereka apalagi
sampai menimbulkan konflik antara agama. Namun demikian, tidak
berarti sama sekali perbedaan-perbedaan pendapat antara mereka, namun
juga diakibatkan oleh permasalahan yang sangat sepele dan bisa saja
dibesar-besarkan oleh kelompok yang tidak senang dan tidak
bertanggung jawab.
Untuk melestarikan keutuhan dalam hubungan tersebut, para
pemimpin agama ataupun tokoh agama dan tokoh masyarakat mencoba
hal-hal berikut:
a. Para tokoh agama selalu memberikan penjelasan tentang kerukunan
dengan didasarkan pada refrensi-refrensi yang tercantum pada
ajarannya.
b. Para tokoh agama dari masing-masing agama tidak membesar-
besarkan masalah bila terjadinya sediikit gesekan antar umat
beragama, dan mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut.
c. Pemerintah desa yang juga mempunyai tanggung jawab mengenai
desa tersebut tidak membedakan hak dan juga kewajiban setiap
pelayanan, pergaulan, dalam kehidupan sehari-hari, agar masyarakat
hidup dalam keberagaman agama ini dapat hidup dangan damai, rukun
tanpa ada perselisihan.
94
Adanya peran dari berbagai tokoh tersebut dapat menciptakan
hubungan yang harmonis dalam kerukunan antar umat beragama,
semangat inilah yang muncul dalam masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
untuk tetap menjaga keharmonisan, kerukuanan antar umat beragama,
serta menjunjung tinggi toleransi, karena pada dasarnya manusia adalah
mahluk sosial yang saling membutuhkan satu dan lainnya.
95
Tabel 4.6
Komunikasi dalam menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama bila
dilihat dari beberapa aspek
Kristen Islam
Masyarakat Desa Perluasan
Sukaraja
Teori Penetrasi
Sosial
Hubungan Hubungan Komunikasi Komunikasi
kerukunan sosial hubungan hubungan
sosial keagamaan budaya politik
masyarakat
Kerukunan antar
umat beragama
Saling menghormati,
menjunjung tinggi toleransi
antar umat beragama, dan
mencegah terjadinya konflik
antar umat beragama.
96
Masyarakat yang dimaksud yaitu masyarakat Desa Perluasan
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Masyarakat Desa Perluasan
beragama Islam dan Kristen, dimana umat Islam dan umat Kristen hidup
dalam satu lingkungan, tempat beribadah yang berbatasan dengan
lapangan voli saja. Dimana umat Islam dan umat Kristen hidup rukun,
saling menghargai,saling membantu dan saling menjaga kerukunan umat
beragama, semua itu menggunakan pendekatan hubungan sosial yang
baik. Dimana pola komunikasi tersebut dapat terjadinya feedback atau
umpan balik yang terjadi arus dari komunikan ke komunikator sebagai
penentu utama keberhasilan dalam komunikasi yang efektif105.
Dari bagan diatas dapat dipahami bahwa masyarakat beragama
Islam dengan Kristen dalam menjalankan komunikasi yang efektif bahwa
kedua agama yang berbeda memberikan sikap dan perlakuan yang sama,
yakni senantiasa mengedepankan sikap menghargai, saling menghormati,
toleransi dan tidak menyinggung atau melibatkan persoalan agama yang
dapat memicu timbulnya konflik antar agama.
Ikhtisar Komunikasi dalam menjaga Kerukunan antar umat
beragama di Desa Perluasan Sukaraja.
N0 Komunikasi Hasil
1 Hubungan Sosial Upacara pernikahan, Kematian,
Kemasyarakatan berkunjung rumah tetangga yang sakit.
2 Hubungan Sosial Toleransi saat sedang beribadah pada
105
Jalaludin Rakhmat. Psikologi Komunikasi. Halaman 13.
97
Keagamaan saat yang bersamaan, menghargai
ketika bulan suci Ramadhan.
3 Hubungan Sosial Budaya Akulturasi serawai tari andun saat
upacara pernikahan, lomba kesenian,
dan bahasa daerah dari berbagai suku.
4 Hubungan Sosial Politik Pemilihan ketua Karang Taruna,
Gubernur, Presiden dan lainnya.
98
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Komunikasi dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Desa
Perluasan Sukaraja berjalan dengan baik, ditandai dengan adanya
hubungan kedekatan antar pemeluk agama Islam dan Kristen yang
saling hidup berdampingan, tanpa ada rasa mencurigai satu dan
lainnya. Termasuk dalam beberapa kegiatan sosial yang sifatnya
saling membutuhkan, seperti kegiatan gotong royong, membangun
fasilitas desa, dan lain sebagainya.
2. Hambatan-hambatan yang terjadi dalam menjaga komunikasi antar
umat beragama di Desa Perluasan Sukaraja adalah prasangka sosial
yang buruk, karena dapat memicu terjadinya konflik antar umat
beragama. Seperti terjadinya perpindahan agama, konflik antar
tetangga, perselisihan, komikasi yang tidak efektif, dan lain
sebagainya.
99
B. Saran
Suatu penelitian akan memiliki arti jika dapat memberikan kontribusi
atau manfaat bagi pembaca maupun penelitian berikutnya. Saran-saran yang
dapat diberikan dalam penelitian ini antara lain:
1. Bagi masyarakat Desa Perluasan Sukaraja
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi literatur serta tambahan
dokumen penting bagi masyarakat Desa Perluasan Sukaraja mengenai
kerukukan antar umat beragama, yang hidup secara berdampingan.
2. Bagi Pemuka Agama
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi penambahan wawasan bagi
para pemuka agama sebagai pemimpin bagi setiap umat agar tetap
menjaga toleransi antar umat beragama agar terhindar dari konflik.
100
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi.2011. Prosedur Penelitin Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
PT Rineka Cipta
Budyatama Muhammad. 2011. Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana
Bungin Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik dan Ilmu Sosial Lainnya). Jakarta: Rajawali Pers.
Bungin Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif. (komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik dan Ilmu Sosial Lainnya). Jakarta: Kencana.
DEPAG. 2008. Al-Qur’an Dan Tejermahnya. Bandung: Diponegoro
Effendy, Onong Uchjana. 2009. Ilmu Komunikasi. Bandung. PT. Remaja
Rosdakarya
Etta Sangadji dan Sopiah. 2010. Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis Dalam
Pendekatan Penelitian. Yogyakarta: CV. Andi Offset
Hafied Cangara. 2009. Komunikasi Politik. Jakarta. Rajawali Pers
Hafied Cangara. 2011. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Kanisus
Herimanto & Winarno. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi
Aksara
[Link] Diakses pada tanggal 7
Febuari 2018
[Link] Diakses
pada tanggal 1 September 2017
[Link] Diakses pada tangal 10 September 2017
[Link] Komunikasi Kerukukan antar umat beragama [Link]. Diakses
pada 9 September 2017
Liliweri Alo, 2009. Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
101
Mawardi, 2015. Reaktulisasi Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam
Kemajemukan Sosial. Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. UIN
Ar-Raniry. Aceh.
Morissan, 2014. Teori Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Naim Ngainun. 2011. Teologi Keukunan. Yogyakarta: Teras
Nukholik Affandi, 2012. Harmoni Dalam Keberagaman (Sebuah Analisis tentanf
Kontruksi Perdamaian Antar Umat Beragama). STAIN Samarinda.
Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Karya
Rosdakarya.
Rusdy Sulaiman dan Muhammad Holid. 2007. Pengantar Metodologi Penelitian
Dasar. Surabaya: Elkaf
Soekanto Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
Sugiyono. 2011. Metodologi Penelitian Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif dan
R&D. Bandung: Alfabeta
Syamsuddin Abdullah. 1997. Agama dan Masyarakat. Jakarta: Logos Wacana
Ilmu
Ujang Mahadi, 2013. Membangun Kerukunan Masyarakat Beda Agama Melalui
Interaksi Dan Komunikasi Harmoni Di Desa Talang Benuang Provinsi
Bengkulu. Fakultas Ushuludding, Adab dan Dakwah IAIN Bengkulu.