0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
731 tayangan7 halaman

Contoh Eksepsi Pidana Narkoba

Surat eksepsi pidana kasus narkoba ini memberikan eksepsi terhadap surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dengan alasan Jaksa Penuntut Umum tidak menunjuk penasihat hukum untuk terdakwa secara cuma-cuma sebagaimana diwajibkan oleh Pasal 56 ayat 1 KUHAP, sehingga surat dakwaan dianggap tidak sah. Eksepsi ini didasarkan pada beberapa putusan pengadilan yang menyatakan penuntutan tidak dap

Diunggah oleh

Ali Petrus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
731 tayangan7 halaman

Contoh Eksepsi Pidana Narkoba

Surat eksepsi pidana kasus narkoba ini memberikan eksepsi terhadap surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dengan alasan Jaksa Penuntut Umum tidak menunjuk penasihat hukum untuk terdakwa secara cuma-cuma sebagaimana diwajibkan oleh Pasal 56 ayat 1 KUHAP, sehingga surat dakwaan dianggap tidak sah. Eksepsi ini didasarkan pada beberapa putusan pengadilan yang menyatakan penuntutan tidak dap

Diunggah oleh

Ali Petrus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Hukum Indonesia

Beranda ▼

Senin, 11 April 2022

Contoh Surat Eksepsi Pidana Kasus Narkoba

(iStock)

By:
Mahmud Kusuma, S.H., M.H.
(Certified Attorneys at Law)

Sebelumnya platform [Link] telah membahas mengenai "Antigone Case: Law


Versus Morality", "Contoh Nota Keberatan (Eksepsi) Perkara Pidana", anda juga bisa
membaca "Contoh Surat Dakwaan" dan pada kesempatan yang berharga ini kami akan
membahas mengenai 'Contoh Surat Eksepsi Pidana Kasus Narkoba'.

Secara sederhana, eksepsi dalam hukum acara pidana adalah alat pembelaan dengan
tujuan untuk menghindarkan diadakannya putusan tentang pokok perkara, karena
apabila tangkisan ini diterima oleh pengadilan, pokok perkara tidak perlu diperiksa dan
diputus. Eksepsi menurut Luhut M.P. Pangaribuan adalah untuk menjawab surat
dakwaan dan berhubungan dengan apakah: (a). pengadilan tidak berwenang mengadili
perkara, (b). dakwaan tidak dapat diterima, dan (c). surat dakwaan harus dibatalkan.[1]

Eksepsi di mana pengadilan dinyatakan tidak berwenang dapat bersifat relatif dan
absolut. Eksepsi relatif terjadi bilamana pengadilan tidak berwenang atau dua pengadilan
atau lebih berwenang mengadili perkara yangs ama atau tidak berwenang mengadilinya
karena waktu dan tempat tidak pernah terjadi. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 150
KUHAP dan Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP, yang berbunyi: Pasal 150 KUHAP:
“sengketa tentang wewenang mengadili terjadinya: 1). Jika dua pengadilan atau lebih
menyatakan dirinya berwenang mengadili atas perkara yang sama; 2). Jika dua
pengadilan atau lebih menyatakan dirinya tidak berwenang mengadili perakra yang
sama; Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP: (2) Penuntut umum membuat surat dakwaan
yang diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi: b. uraian secara cermat, jelas dan
lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan
tempat tindak pidana itu dilakukan.[2] Berikut Contoh Surat Eksepsi Pidana Kasus
Narkoba sebagaimana dimaksud.

Bungo, 11 Oktober 2018


No : 01/NP/Pid- /ISP/X/2018
Hal : NOTA KEBERATAN (EXEPTIE)

Kepada
Yth. Ketua Majelis Hakim Perkara No : 197/[Link]/2018/[Link]
Di Pengadilan Negeri Muara Bungo
Jl. RM Thaher No 495 Rimbo Tengah, Bungo.

Dengan hormat,

Perkenankan saya, Indra Setiawan, S.H, selaku Advokat berkewarganegaraan Indonesia


yang beralamat kantor di Jl. Diponegoro BTN BMI No.M-11 Kelurahan Pasir Putih
Kecamatan Rimbo Tengah Kabupaten Bungo. Berdasarkan Penetapan Ketua Majelis
Hakim Perkara No.197/[Link]/2018/[Link] tentang Penunjukan Indra Setiawan, SH
dan Rinaldi, SH sebagai Penasihat Hukum Terdakwa secara Cuma-Cuma. Dalam hal ini
bertindak baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk membela hak dan
kepentingan hukum Terdakwa yaitu :

Nama : X Bin Y
Tempat & Tgl Lahir : Sungai Gambir, 10 Juli 1988
Pekerjaan : Pegawai Honor Satpol PP Kab. Bungo
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMK
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Dusun Pasar Rantau Embacang Kec. Tanah Sepenggal- Bungo.

Bahwa dalam hal ini hedak mengajkan Nota Keberatan terhadap Surat Dakwaan Jaksa
Penuntut Umum [Link]: PDM-96/MBNGO/09/2018 tanggal 30 Agustus 2018,
dengan uraian sebagai berikut :

Adapun eksepsi ini kami buat dengan sistematika sebagai berikut:

1. Pendahuluan
2. Eksepsi
3. Permohonan
4. Penutup

PENDAHULUAN

Setelah pada persidangan lalu kita mendengarkan Surat Dakwaan Jaksa Penuntut
Umum terhadap Terdakwa, maka kini perkenankanlah kami selaku Penasihat Hukum
Terdakwa menyampaikan eksepsi/tangkisan/keberatan dalam perkara yang tengah
diperiksa ini. Berdasarkan Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Yang Terhormat, kiranya kami
merasa sangat perlu untuk menyampaikan eksepsi ini demi kepentingan hukum dan
keadilan serta memperoleh jaminan perlindungan hak-hak asasi tersangka/terdakwa atas
kebenaran, kepastian hukum dan keadilan. Selain itu, eksepsi ini perlu kami sampaikan
demi perlindungan hukum yang lebih luas bagi masyarakat pada umumnya maupun
pembangunan hukum dalam proses beracara pada persidangan perkara pidana yang
semuanya itu telah pula dijamin oleh Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) sebagai landasan hukum beracara di negara ini.

EKSEPSI

Dasar Hukum

Bahwa berdasarkan Pasal 156 ayat (1) KUHAP, berbunyi sebagai berikut : “Dalam hal
terdakwa atau penasehat hukum mengajukan keberatan bahwa pengadilan tidak wenang
mengadili perkara atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus
dibatalkan, maka setelah diberi kesempatan kepada Penuntut Umum untuk menyatakan
pendapatnya, hakim mempertimbangkan kebenaran tersebut untuk selanjutnya
mengambil keputusan”.

Eksepsi Mengenai Surat Dakwaan

Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Tidak Sah. Bahwa berdasarkan Pasal 56 ayat (1)
KUHAP yang menyatakan bahwa “Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau
didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman
pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam
dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai Penasihat hukum sendiri,
pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan
wajib menunjuk Penasihat hukum bagi mereka”.

Bahwa Pasal 56 ayat 1 KUHAP sudah menegaskan bahwa bantuan hukum itu wajib
disediakan (dengan menunjuk Penasihat Hukum) oleh pejabat yang memeriksa disetiap
tingkat pemeriksaan, baik ditingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di
Pengadilan. Terlepas Penasihat Hukum yang ditunjuk menjalankan profesinya atau tidak,
tetapi pejabat yang bersangkutan selaku perwakilan pemerintah telah melaksanakan
kewajibannya menjalankan perintah undang-undang dan tetap menjamin hak asasi
terdakwa. Lantas, bagaimana jika pejabat yang melakukan pemeriksaan terhadap
terdakwa melanggar KUHAP? Maka dapat dikatakan tujuan hukum acara sebagai
landasan bagi aparat penegak hukum untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai
aparat penegak hukum telah gagal diterapkan bahkan dapat dikatakan sebagai suatu
penyalahgunaan jabatan (abuse of power).

Bahwa berdasarkan Pasal 137 KUHAP “Penuntut Umum berwenang melakukan


penuntutan terhadap siapapun yang didakwa melakukan suatu tindak pidana dalam
daerah hukumnya dengan melimpahkan perkara ke Pengadilan yang berwenang
mengadili”

Bahwa berdasarkan BAB XV tentang Penuntutan Pasal 137 sd Pasal 144 UU No 8


Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Jaksa Penuntut Umum adalah pejabat yang
bersangkutan pada tingkat pemeriksaan tahap penuntutan. Oleh karenanya Jaksa
Penuntut Umum berkewajiban melaksanakan perintah undang-undang yang diatur dalam
KUHAP termasuk ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP

In casu, Terdakwa telah disangka dipenyidikan dengan melanggar 114 ayat (1) Jo. Pasal
132 ayat (1) atau Kedua melanggar Pasal 112 ayat (1) atau Ketiga melanggar Pasal 127
ayat (1) huruf a UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana
maksimal 20 tahun, mengharuskan pejabat yang melakukan pemeriksaan terhadap
Terdakwa wajib menunjuk Penasihat Hukum secara Cuma-Cuma sebagaimana
dimaksud Pasal 56 ayat (1) KUHAP. Bahwa pada tahap penyidikan ini, pejabat yang
bersangkutan yaitu pihak Kepolisian RI telah menunjuk Advokat Suwandi, SH, MH selaku
Penasihat Hukum tersangka secara Cuma-Cuma.

Bahwa, begitu pula pada tahap Pemeriksaan di Pengadilan, Terdakwa yang didakwa
melanggar Pasal 114 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) atau Kedua melanggar Pasal 112
ayat (1) atau Ketiga melanggar Pasal 127 ayat (1) huruf a UU No 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika, Pejabat yang bersangkutan yaitu Ketua Majelis Hakim telah memperhatikan
Pasal 56 ayat (1) KUHAP dengan menunjuk Penasihat Hukum bagi Tedakwa secara
Cuma-Cuma

Lalu bagaimana pada tahap Penuntutan?, saat pelimpahan berkas perkara atas nama
Terdakwa dari penyidikan di Kepolisian ke tahap Penuntutan di Kejaksaan, Jaksa
Penuntut Umum yang bersangkutan dan yang memeriksa Tedakwa wajib melaksanakan
ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP. Bahwa setelah mempelajari berkas perkara atas
nama Terdakwa termasuk Berita Acara Pemeriksaan Terdakwa, ternyata Jaksa Penuntut
Umum selaku Pejabat yang melakukan pemeriksaan terhadap Tedakwa, tidak menunjuk
Penasihat Hukum bagi Terdakwa secara Cuma-Cuma. Padahal Jaksa Penuntut Umum
telah mendakwa Tedakwa dengan Dakwaan Pertama melanggar 114 ayat (1) Jo Pasal
132 ayat (1) atau Kedua melanggar Pasal 112 ayat (1) atau Ketiga melanggar Pasal 127
ayat (1) huruf a UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana
maksimal 15 tahun penjara, yang mengharuskan Jaksa Penuntut Umum wajib menunjuk
Penasihat Hukum secara Cuma-Cuma sebagaimana dimaksud Pasal 56 ayat (1)
KUHAP.

Bahwa ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP adalah bagian dari Hukum Acara Pidana
yang wajib ditaati dalam penegakan hukum pidana dan memiliki konsekuensi hukum bila
dengan sengaja mengabaikan atau lalai menerapkan hukum acara sebagaimana kaidah
hukum dibawah ini:

-Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 510 K/Pid/ 1988 tanggal 28 April 1988, yang
menyatakan tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima

-Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 1565 K/Pid/1991 tanggal 16 September 1993


yang menyatakan : apabila syarat-syarat permintaan dan/atau hak tersangka/terdakwa
tidak terpenuhi seperti halnya penyidik tidak menunjuk penasihat hukum bagi tersangka
sejak awal penyidikan, tuntutan penuntut umum dinyatakan tidak dapat diterima

-Putusan Pengadilan Tinggi Yogyakarta Nomor: 03 Pid/2002/PTY tertanggal 07 Maret


2002, menyatakan penuntutan yang dilakukan oleh penuntut umum tidak dapat diterima
karena didasarkan pada penyidikan yang tidak syah, yaitu melanggar Pasal 56 ayat (1)
KUHAP;

-Putusan Pengadilan Negeri Blora, No: 11/Pid.B/2003/[Link] tertanggal 13 Februari


2003, menyatakan penuntutan tidak dapat diterima karena dilakukan atas dasar BAP
yang batal demi hukum, karena dilakukan dengan melanggar ketentuan Pasal 56 ayat (1)
KUHAP;

-Putusan Pengadilan Negeri Tegal No: 34/Pid.B/1995/[Link] tertanggal 26 Juni 1995


yang menyatakan penyidikan yang dilakukan oleh Mabes Polri tidak syah karena Pasal
56 ayat (1) KUHAP tidak diterapkan sebagaimana mestinya, sehingga penuntutan
penuntut umum tidak dapat diterima.

Bahwa oleh karena Jaksa Penuntut Umum dalam melakukan pemriksaan terhadap
Tedakwa pada tahap Penuntutan tidak melaksanakan perintah Pasal 56 ayat (1) KUHAP
tersebut. Maka Surat Dakwaan yang dibuat dan disusun oleh Jaksa Penuntut Umum
dengan [Link]: PDM-96/MBNGO/09/2018 tanggal 30 Agustus 2018, adalah hasil dari
bentuk pelanggaran formal yuridis dan harus dinyatakan tidak sah dan batalkan demi
hukum.

PERMOHONAN

Bahwa atas uraian eksepsi/keberatan yang telah kami sampaikan maka dengan ini kami
selaku Penasihat Hukum Terdakwa memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim yang
pemeriksa perkara a quo agar berkenan memutuskan :

1. Menerima Keberatan Penasihat Hukum Terdawa Afrizal Bin Burhanudin;


2. Menyatakan Surat Dakwaan [Link]: PDM-96/MBNGO/09/2018 tanggal 30 Agustus
2018, tidak sah dan harus dibatalkan demi hukum;
3. Membebaskan Terdakwa Dari Tahanan;
4. Membebankan Biaya Perkara Kepada Negara.

PENUTUP

Demikianlah eksepsi ini kami sampaikan kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim. Atas
perhatian serta terkabulnya eksepsi/keberatan ini kami ucapkan terima kasih dan bila
ada kekurangan atau kesalahan didalamnya kami mohon maaf atas keterbatasan kami
selaku manusia.

Hormat kami,
Penasihat Hukum Terdakwa

Ttd.

Indra Setiawan, S.H.

Ttd.

Rinaldi, S.H.

Menurut hemat kami eksepsi ini cukup baik karena telah membahas pada pokoknya
mengenai surat dakwaan dari JPU. Karena inilah yang sering muncul dan
dipermasalahkan dalam konteks eksepsi perkara pidana. Dan, jika anda maupun
keluarga dan kerabat anda terjerat kasus narkoba serta memerlukan advokat untuk
keperluan pembelaan, hubungi kami dalam 24 jam, kami akan senang membantu
kepentingan hukum anda.

*) Untuk informasi selanjutnya silahkan hubungi:


Mahmud Kusuma Advocate
Law Office
Tokopedia Care Tower, 17th Floor, Unit 2&5,
Outer West Ring Road, 101, Rawa Buaya,
Cengkareng Sub District, West Jakarta City,
Jakarta - Indonesia.
E-mail: mahmudkusuma6@[Link]

________________
References:

1. "Pengertian Eksepsi Perkara Pidana", [Link]., Diakses pada tanggal 8


April 2022, [Link]
2. Ibid.
3. "Contoh Nota Keberatan (Eksepsi) Dalam Perkara Tindak Pidana Narkotika",
[Link]., Diakses pada tanggal 8 April 2022,
[Link]
perkara-tindak-pidana-narkotika/

di April 11, 2022

Berbagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

‹ Beranda ›
Lihat versi web

Mengenai Saya

hukumindo
Hukumindo adalah platform penyedia informasi hukum.
Lihat profil lengkapku

Diberdayakan oleh Blogger.

Anda mungkin juga menyukai